Black Swan: Month Three, Everyday Sickness (Eight)

Taeyeon – Circus

 

“Yaa Tuhan… cobaan apa lagi ini… Huekk.. Hueekk..”

Yoona berjongkok lemah di depan kloset sambil menumpahkan seluruh makanannya yang baru saja ia makan. Sejak memasuki bulan ke tiga, Yoona mulai merasakan apa itu yang dinamakan morning sickness. Namun apa yang ia alami saat ini bukan hanya sekedar rasa mual di pagi hari, tapi setiap hari, bahkan setiap saat ia merasa mual dan selalu ingin memuntahkan seluruh makanan yang telah ia makan. Dan ini adalah ritual muntahnya yang ke enam sepanjang hari ini hingga ia merasa benar-benar tak memiliki tenaga untuk bangun dari toilet. Kemarin Donghae telah memanggil dokter kandungannya untuk memeriksa kondisinya di rumah, dan dokter itu mengatakan jika ia mengalami hiperemesis yang cukup parah.

“Kau masih muntah?”

“Jangan mendekat!”

Yoona berteriak keras pada Donghae yang baru pulang dari kantor. Pria itu tampak terpaku di ambang pintu sambil menatap jijik pada Yoona yang masih berjongkok di depan kloset. Namun ia segera mengenyahkan seluruh rasa jijiknya demi mengangkat Yoona yang tampak tak berdaya di dalam kamar mandi.

“Kubilang jangan mendekat!” Teriak Yoona lagi ketika Donghae mulai berjongkok di depannya dan bersiap untuk mengangkat tubuh lemah itu. Aroma parfum Donghae yang begitu maskulin dan juga aroma aftershave Donghae yang begitu kuat membuat Yoona langsung membungkam mulutnya sambil menatap panik kearah Donghae yang mulai membawa tubuhnya keluar dari kamar mandi. Ia takut sesuatu yang buruk akan segera terjadi setelah ini.

“Hueekk!”

Yoona sukses memuntahkan seluruh sisa makanannya di atas kemeja Donghae hingga pria itu hampir saja melemparkan tubuh Yoona dari gendongannya. Beruntung akal sehatnya masih memegang kendali cukup kuat di otaknya hingga ia tak sampai melempar tubuh lemah itu dari gendongannya.

“Menjijikan! Apa kau sengaja melakukannya?” Geram Donghae kesal. Pria itu membuang wajahnya ke samping sambil mengernyit jijik pada bau amis yang menguar dari kemejanya. Seketika Yoona meminta turun dari gendongan Donghae sambil mengomel kesal karena pria itu telah mengabaikan peringatannya.

“Aku sudah mengatakan padamu untuk jangan mendekat. Aroma parfummu dan aftershavemu membuatku mual. Hueekk!”`

Yoona langsung berlari kedalam toilet dan kembali memuntahkan isi perutnya yang hanya tersisa lendir. Sedangkan Donghae, ia tampak khawatir melihat kondisi Yoona dan ingin melakukan sesuatu untuk wanita itu. Sayangnya ia sendiri terlalu jijik dengan semua bau amis yang menguar dari seluruh tubuhnya. Ia bersumpah tidak akan mendekati Yoona lagi setelah ini.

“Hae… Bisa kau bantu aku, kakiku lemas.” Teriak Yoona parau dari dalam toilet. Donghae ingin mengabaikan teriakan itu, namun kakinya justru berjalan mendekati pintu toilet sambil melirik Yoona dari ambang pintu.

“Dasar merepotkan! Kemejaku kotor karena ulahmu, kau yakin ingin kubantu?”

“Aku akan menutup hidungku agar aku tidak mencium bau apapun dari tubuhmu, termasuk bau parfummu yang menjijikan.”

Dengan wajah malas, Donghae masuk ke dalam toilet sambil membantu memapah Yoona yang terlihat benar-benar lemas. Ia tidak pernah tahu jika wanita hamil akan menjadi semerepotkan ini, bahkan juga sangat menjijikan. Tapi ini semua juga karena salahnya, ia tidak seharusnya menyentuh Yoona berkali-kali tanpa pengaman seperti dulu.

“Tidurlah, aku akan meminta pelayan untuk membersihkan semua kekacauan ini.”

“Aku tidak kuat Hae, bayi ini mengerikan…” Racau Yoona sambil memejamkan matanya. Masih teringat di benaknya jika tiga minggu yang lalu ia berjanji akan meyayangi bayinya dengan sepenuh hati. Tapi melihat bagaimana kondisinya sekarang, ia rasanya ingin menarik semua janjinya karena ia sudah benar-benar tidak kuat dengan semua rasa mual yang mengaduk-aduk perutnya. Saat ini ia ingin makan, tapi ia tidak bisa karena rasa mual yang masih tertinggal di perutnya. Seluruh obat yang diberikan dokter Hwang sama sekali tidak berguna untuk mengurangi semua penderitannya selama satu minggu ini.

“Aku akan menghubungi dokter Hwang lagi.”

“Untuk apa, obat yang diberikan dokter Hwang sama sekali tidak berguna. Aku justru semakin ingin muntah saat meminumnya.” Gerutu Yoona kesal. Melihat itu Donghae tampak tak ingin berkomentar dan langsung meninggalkan wanita itu sendiri untuk mengganti pakaiannya yang kotor. Ini sungguh sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Menemani seorang wanita hamil, melihat muntahan yang menjijikan, dan bersikap sabar pada Yoona. Damn! Permainan apa yang sebenarnya sedang wanita itu mainkan hingga ia bisa begitu mudah masuk kedalam permainan wanita itu karena rasa iba yang tiba-tiba muncul di hatinya. Sungguh menggelikan!

“Kim, siapkan Yoona makanan. Berikan dia makanan apapun asalkan bisa mengurangi rasa mualnya. Aku jijik melihatnya terus muntah sepanjang hari.” Perintah Donghae setelah ia mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah. Tuan Kim tampak sedikit terkejut melihat Donghae yang telah berada di rumah di jam enam sore seperti ini. Rasanya hampir tidak bisa dipercaya karena Donghae tidak pernah berada di rumah sesore ini karena biasanya Donghae selalu menginjakan kakinya di rumah pukul sebelas malam. Itu pun jika Donghae tidak memiliki banyak pekerjaan yang membuatnya harus lembur. Selebihnya, terkadang Donghae baru pulang pukul dua pagi dan akan kembali lagi ke kantor pukul enam pagi.

“Tuan, mungkin nona Yoona perlu menghirup udara segar di luar rumah agar gangguan mualnya tidak semakin parah.” Saran tuan Kim ketika sedang menata beberapa irisan buah di atas piring. Pria itu dengan cekatan berjalan kesana kemari untuk menyiapkan sepiring puding dan buah-buahan untuk Yoona. Sedangkan Donghae, ia hanya menatap tuan Kim datar sambil memikirkan saran tuan Kim yang cukup brilian.

“Ini pengalaman pertamaku Kim, kira-kira apa yang harus kulakukan untuk menghadapi kondisinya yang fluktuatif? Terutama emosinya.” Ucap Donghae bersungguh-sungguh. Sejak Yoona dirawat di rumah sakit karena hampir keguguran, ia selalu berusaha untuk memahami wanita itu. Ia yang tidak pernah menyentuh buku-buku kehamilan, mulai membiasakan diri untuk membacanya agar ia bisa menghadapi Yoona yang sering menyusahkan. Selain itu, hingga detik ini ia belum sekalipun menyentuh wanita manapun. Ia benar-benar tidak pergi ke klub sejak Yoona dirawat di rumah sakit hingga detik ini. Bahkan Hyukjae sendiri sampai dibuat heran dengan sikapnya yang langsung berubah total semenjak Yoona sakit. Dan semua itu ia lakukan semata-mata untuk membuktikan pada Yoona jika ia bukan pria brengsek yang tak bertanggungjawab. Sebisa mungkin ia akan membuat Yoona terkesan dan membuat wanita itu kembali menjadi Yoonanya yang dulu.

“Anda harus sabar tuan. Memang di trimester pertama kondisi wanita hamil akan sangat membingungkan. Terkadang mereka baik-biak saja, namun beberapa detik kemudian mereka bisa saja terlihat mengkhawatirkan hingga membuat orang-orang disekitarnya menjadi panik. Ketika isteri saya mengandung, saya tidak terlalu banyak berada di sampingnya, sehingga saya juga tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapi wanita hamil. Tapi isteri saya sering mengonsumsi buah-buahan untuk mengurangi rasa mualnya, jadi saya harap ini juga bisa membantu mengurangi kondisi mual yang dialami oleh nona Yoona.”

Tuan Kim mengangsurkan senampan buah-buahan yang telah dipotong kecil kepada Donghae. Dengan senyum meneduhkannya pria itu memberikan semangat untuk Donghae agar senantiasa sabar dalam menghadapi Yoona, karena hal itu memang biasa terjadi pada wanita hamil di trimester pertama.

“Terimakasih Kim, semoga saran yang kau berikan bisa membantuku menghadapi Yoona.”

Tuan Kim tampak tersenyum lembut sambil menatap punggung Donghae hingga pria itu benar-benar menghilang dibalik tangga. Terkadang ia merasa jika tuannya itu terlalu kejam dan mengerikan bak monster. Namun disaat-saat seperti ini ia merasa jika tuannya tidak sejahat itu. Memang Donghae adalah pria dingin yang liar dan tidak menyukai komitmen, namun jika ia dipaksa untuk menghadapinya ternyata Donghae juga bisa melakukannya demi janin yang sedang dikandung oleh Yoona.

-00-

Yoona menggeliat pelan di atas ranjangnya sambil merasakan sensasi mual yang sejak tadi belum hilang juga dari perutnya. Dengan kasar ia menyibak selimut yang menutupi separuh tubuhnya, lalu ia berjalan menuju balkon untuk menghirup udara malam yang saat ini terasa lembab karena bercampur dengan rintik-rintik hujan yang mulai membasahi Seoul.

“Sampai kapan kau akan menyiksaku sayang?”

Yoona mengelus perutnya yang mulai buncit sambil mendesah pelan meratapi kondisinya yang tidak baik-baik saja. Ia merasa saat ini perutnya lapar, tapi ia takut akan kembali muntah setelah ia memakan makananya seperti yang terjadi beberapa saat yang lalu.

“Apa yang kau lakukan di sana?”

Tanpa menoleh, Yoona bergumam pelan menanggapi pertanyaan Donghae sambil tetap merasakan hembusan angin lembab yang menerpa wajahnya. Rasanya aneh berada di dekat Donghae dalam keadaan baik-baik saja tanpa sebuah pertengkaran karena ia sudah terbiasa memaki-maki pria itu dengan kalimat-kalimatnya yang kasar

“Kau harus makan, Kim sudah menyiapkan buah-buahan segar untukmu.”

“Letakan saja di sana, aku akan memakannya jika perutku sudah lebih baik.”

“Tidak, kau harus makan sekarang. Buka mulutmu.”

Yoona berdecak kesal melihat sikap arogan Donghae yang kembali muncul. Namun pada akhirnya ia tetap membuka mulutnya untuk menerima sepotong apel yang disodorkan Donghae di dekat mulutnya.

“Akhir-akhir ini aku tidak melihatmu membawa wanita ke rumah.” Ucap Yoona tiba-tiba seperti tanpa minat. Kedua matanya masih setia memandangi rintik-rintik hujan yang semakin turun dengan deras di depannya, namun pikirannya saat ini sebenarnya sedang tertuju pada Donghae.

“Kau yakin ingin membahasnya? Lupakan saja, aku sedang tidak ingin membicarakan wanita manapun saat ini.”

“Bagaimana dengan Jessica, apa ia masih menjadi teman tidurmu? Kulihat saat ini ia telah kembali ke Seoul dan baru saja menggelar pertunjukan busana di hotel milik Summer.”

“Saat ini ia sedang mendekati seorang pengusaha incarannya, ia tidak mungkin mengambil resiko dengan menjadi teman tidurku.” Jawab Donghae apa adanya. Pria itu kembali menyodorkan sepotong jeruk di depan mulut Yoona dan menyuruh wanita itu untuk membuka mulutnya lebar-lebar agar semua buah yang dibawanya habis tak tersisa.

“Kau harus makan untuk janin yang sedang tumbuh di rahimmu. Apa kau masih merasa mual?”

Yoona menggelengkan kepalanya kecil sambil mengunyah pelan buah jeruk di mulutnya. Setelah memakan beberapa potong buah ia baru sadar jika saat ini perutnya tidak bergejolak lagi. Ia bisa makan semua buah-buahan itu dengan lancar tanpa harus mengalami drama yang sangat merepotkan. Dan seketika juga ia baru sadar jika akhir-akhir ini sikap Donghae padanya mulai terlihat lunak. Ia sudah jarang mendapatkan bentakan dari Donghae ataupun umpatan yang terdengar kasar seperti dulu. Bahkan sekarang Donghae tidak pernah terlihat merokok di depannya. Pernah ia melihat Donghae terlihat gelisah saat sedang menemaninya di ruang tengah, dan saat ia menyuruh pria itu merokok, Donghae langsung menggeleng tegas sambil menyibukan diri dengan membaca koran. Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini pada Donghae. Namun ia tidak tahu apakah hal itu akan bertahan lama atau tidak karena ia yakin jika semua sifat brengsek Donghae tidak akan bisa hilang begitu saja.

“Saat pertama kali aku mendatangimu di panti asuhan, apa kau lupa padaku?” Tanya Donghae tiba-tiba. Yoona yang awalnya masih menatap rintik-rintik hujan di depannya refleks menoleh ke samping sambil menatap pria itu dengan wajah penuh tanda tanya.

“Saat itu kau menyapaku dengan formal dan tampak tidak mengenalku. Apa kau saat itu benar-benar tidak mengenalku sebagai sahabat mendiang ayahmu?”

“Sepertinya aku memang lupa. Setelah ayahku meninggal aku berusaha mengubur semua kenangan yang berkaitan dengan ayahku karena aku selalu merasa sedih saat mengingatnya, padahal dunia ini kejam. Aku tidak bisa sukses jika terus dibayangi kematian ayahku, sehingga aku memilih untuk menguburnya rapat hingga kau datang untuk menjemputku saat itu.”

“Apa kehidupanmu sulit selama berada di sana?”

Yoona menghembuskan napasnya berat dan menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan pria itu. Hari harinya selama di panti asuhan sangatlah sulit karena sebelumnya ia sudah terbiasa dengan seluruh fasilitas yang diberikan oleh ayahnya.

“Menurutmu? Panti asuhan itu sangat kecil dan tak layak. Setiap hari aku harus berjuang dengan anak-anak panti lainnya sambil berharap jika suatu saat ada seorang baik hati yang akan mengadopsiku. Lalu kau datang membawa angin segar untukku. Aku masih ingat tatapan iri teman-temanku ketika kau akan mengadopsiku. Mereka mengira aku sangat beruntung karena diadopsi seorang pria kaya yang single, tapi nyatanya mereka salah. Kehidupan di panti jauh lebih baik daripada kehidupan kejam yang kau ciptakan di sini.”

Saat Yoona bercerita, Donghae dapat melihat adanya sorot kesedihan, amarah, dan juga kekecewaan yang bercampur menjadi satu di mata Yoona. Bagaimanapun kehidupan wanita itu selama ini memang jauh dari kata baik. Diabaikan olehnya, dipaksa untuk melayaninya, dan dibentak olehnya setiap hari membuat Yoona pada akhirnya tumbuh menjadi wanita yang berusaha mengeraskan hatinya. Seulong, Lee Donghae telah berhasil mendidik putrimu dengan baik. Sayangnya hal itu juga membawa efek samping untuk Yoona karena semua perlakuan Donghae padanya menimbulkan bekas luka yang begitu dalam di hatinya.

“Makan pudingmu.”

Donghae mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka dari cerita masa lalu agar Yoona tidak lagi merasa sedih. Entah kenapa ia tidak suka melihat Yoona yang terlihat rapuh seperti ini. Apalagi penyebab dari semua kerapuhan itu adalah dirinya. Ia benci dengan fakta itu, tapi ia juga tidak bisa mengelaknya.

“Terimakasih untuk buahnya.” Ucap Yoona kecil sambil menyendokan pudingnya sendiri kedalam mulutnya. Ia telah mencegah Donghae untuk menyuapinya lagi karena ia merasa aneh dengan semua perlakuan Donghae yang terlalu baik padanya akhir-akhir ini.

“Kau juga harus makan.”

Yoona mengarahkan sesendok puding itu ke depan mulut Donghae dengan tatapan memohon agar pria itu mau membuka mulutnya.

“Aku ingin kau makan Lee Donghae.” Geram Yoona kesal ketika Donghae tak kunjung membuka mulutnya.

“Ini milikmu.”

“Tidak, aku juga ingin kau makan.” Paksa Yoona lagi. Akhirnya Donghae memutuskan untuk membuka mulutnya dan menerima suapan dari Yoona dengan setengah hati.

“Mengenai Kyuhyun, kau tidak melakukan apapun padanya bukan? Aku belum bertemu lagi dengannya sejak kau membentaknya saat itu. Kau tidak melukainya kan?”

Donghae mendengus kesal mendengar nama pria itu disebuat di depannya. Akhir-akhir ini ia bahkan telah melupakan Kyuhyun dan menganggap pria itu sudah tidak berarti lagi untuk Yoona. Tapi ternyata Yoona masih mengingatnya dan justru mengkhawatirkan keadaanya selama ini. Sial!

“Dia masih bekerja dengan baik di perusahaanku.” Jawab Donghae datar. Seketika ia menjadi malas dan meletakan makanan Yoona yang masih tersisa sedikit ke atas meja.

“Kenapa kau tidak menyukai Kyuhyun? Ia bukan pria yang jahat, dan ia juga tidak brengsek seperti kebanyakan kekasihku selama ini. Kyuhyun adalah sahabatku.” Terang Yoona sebal. Ia heran pada Donghae yang terus menerus menunjukan wajah permusuhan pada Kyuhyun. Padahal Cho Kyuhyun justru teramat sangat baik padanya hingga ia sendiri kadang merasa bersalah karena selalu mengecewakan pria itu.

“Entahlah, aku merasa Kyuhyun tidak sebaik yang kau katakan. Ayo, sudah saatnya kau tidur.”

Tanpa diduga, Donghae tiba-tiba menggendong tubuh Yoona dan membawanya kedalam kamar. Udara Seoul yang semakin dingin membuat Donghae langsung menyalakan pemanas ruangan dan menutup semua jendela kamar Yoona dengan rapat. Ia tidak ingin Yoona sakit karena terlalu lama berdiri di depan balkon. Dan tanpa diduga lagi, pria itu menyusup masuk kedalam selimut Yoona sambil menarik tubuh wanita itu agar semakin merapat ke tubuhnya yang menguarkan sensasi hangat.

“Kenapa kau tidur di sini, pergi!” Usir Yoona galak. Ia merasa tidak nyaman dengan sikap Donghae yang kelewat lembut seperti ini. Biasanya Donghae hanya tidur di kamarnya saat pria itu ingin menyentuhnya, dan semua itu biasanya juga tidak dilakukan dengan selembut ini. Apa yang dilakukan Donghae akhir-akhir ini justru membuat Yoona takut karena semua kebenciannya bisa meluruh begitu saja tanpa sisa jika Donghae terus memperlakukannya bak permata mahal yang sangat berharga seperti ini.

“Tidurlah Yoona, tutup mulutmu atau aku akan menutupnya dengan caraku.”

“Apa yang kau rencanakan, kenapa kau tiba-tiba berubah baik padaku?” Geram Yoona sambil mendongakan wajahnya kearah Donghae. Ia ingin melihat bagaimana ekspresi pria itu saat menjawab pertanyaannya.

“Tidak ada. Aku hanya ingin menebus semua sikap brengsekku selama ini.”

“Bohong!” Tuduh Yoona telak. Ia jelas tidak bisa mempercayai mulut manis Donghae karena pria seperti Donghae pasti bisa membuat wanita manapun terkesan jika pria itu memiliki maksud tersembunyi di belakangnya.

“Terserah apa katamu, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.”

Di luar dugaan, kali ini Donghae bisa bersikap calm dengan sikap keras Yoona yang terlihat menyebalkan. Dan hal itu semakin membuat Yoona kesal karena Donghae tak pernah benar-benar bersikap baik di depannya.

“Kau pasti sedang berencana menjebakku dengan sikap baikmu. Huh maaf saja, aku sama sekali tidak tersentuh. Kau….”

Donghae tiba-tiba membungkam bibir pedas itu dengan bibirnya sambil melumat pelan dengan gerakan lembut yang terkesan tidak menuntut seperti biasanya. Gerakan bibir Donghae kali ini seperti seorang pria yang sedang mencium bibir kekasihnya dengan penuh cinta. Dan mau tidak mau Yoona akhirnya mengikuti alur pergerakan Donghae dengan lumatan kecil yang sama-sama ia lakukan di bibir pria itu. Ini gawat! Malam ini ia sedikit terlena dengan sikap Donghae hingga membuatnya menurunkan sedikit pertahanannya. Hal itu membuat batin Donghae bersorak keras karena usahanya untuk menghancurkan bongkahan es di hati Yoona sedikit berhasil. Hanya harus sedikit bersabar dengan sikap menantang Yoona, maka ia akan mendapatkan wanita itu dalam genggamannya. Dengan begitu usahanya untuk menjauhkan Yoona dari Kyuhyun akan segera berhasil. Setelah ini ia akan mengendalikan Yoona seperti dulu lagi. Seperti sebelum wanita itu kehilangan sisi polosnya yang manis.

-00-

Hyukjae masuk kedalam ruangan Donghae sambil mengernyit heran kearah sahabatnya yang sedang menekuni berkas-berkas dengan serius di atas singgasananya. Seminggu tak berjumpa Donghae karena urusan luar kotanya membuat Hyukjae heran karena sahabatnya itu terlihat begitu berbeda dari terakhir kali ia bertemu sebelum keberangkatannya ke Daegu satu minggu yang lalu.

“Apa yang terjadi pada wajahmu Hae?” Tanya Hyukjae heran. Ia melihat begitu banyak jambang yang tumbuh di dagu Donghae hingga pria itu sekarang terlihat seperti model-model seksi yang terpampang di masalah forbes.

“Kau sudah kembali? Bagaimana anak perusahaan di Daegu?” Tanya Donghae acuh tak acuh. Ia seolah-olah tidak peduli dengan pertanyaan Hyukjae yang mengarah pada bentuk penampilannya sekarang yang memang jauh dari kata rapi.

“Aku bertanya padamu dan kau justru membalasnya dengan pertanyaan? Apa yang terjadi padamu?” Tekan Hyukjae sekali lagi sambil menyeret kursi untuk duduk di samping kursi kebesaran Donghae.

“Aku tidak bisa menggunakan aftershave. Yoona selalu muntah setiap kali mencium parfum atau aroma aftershaveku.”

“What the!”

Tiba-tiba Hyukjae tertawa dengan tawa menyebalkannya sambil memegangi perutnya yang terasa kebas. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kehidupan seorang Lee Donghae, pria itu rela mengorbankan kebiasaanya hanya untuk seorang wanita. Damn! Itu sungguh luar biasa!

“Kau? Wow… apa aku harus bertepuk tangan sekarang?” Tanya Hyukjae menyebalkan. Donghae mendengus gusar di sebelah Hyukjae dan mendorong dada Hyukjae kuat agar pria itu segera menyingkir dari posisinya sekarang. Ia muak mendapatkan tatapan itu dari orang-orang sejak seminggu ini. Karena Yoona, ia harus rela meninggalkan kebiasaanya sebagai pria sempurna yang rapi agar Yoona tidak terus menerus muntah saat di dekatnya.

“Minggirlah Hyuk, jangan membahas hal itu. Aku bosan menanggapi pertanyaan yang sama dari rekan-rekan bisnisku.”

“Mereka pasti juga akan berpikiran sama denganku. Tapi itu bagus, sekarang kau bisa sedikit berkompromi dengan kehamilan Yoona, aku suka itu.” Tambah Hyukjae bangga sambil menepuk bahu Donghae. Pria itu lantas berjalan menuju sudut ruangan Donghae untuk mengambil sekaleng cola dan sedikit camilan yang biasanya selalu tersedia di sana. Dan tiba-tiba ia teringat pada percakapannya dengan Kyuhyun selama seminggu ini karena pria itu juga baru saja kembali dari Daegu untuk menemaninya meninjau anak perusahaan Donghae di sana.

“Soal Kyuhyun, kurasa kau harus berhati-hati.”

“Ada apa dengan Kyuhyun?”

Mendengar nama Kyuhyun disebut membuat Donghae langsung beralih begitu saja dari pekerjaan yang ditekuninya. Seminggu ini ia cukup merasa aman karena pria pengganggu itu telah ia kirim untuk pergi bersama Hyukjae. Sayangnya keberadaan pria itu sekarang mampu membuatnya kembali was-was karena bisa saja pria itu menemui Yoona lagi di rumah.

“Selama di Daegu aku mencoba mencari tahu bagaimana kepribadiannya selama ini. Beruntung ia tidak tahu jika aku adalah sahabat dekatmu, jadi ia cukup banyak menceritakan kehidupannya selama ini.”

“Apa yang ia katakan padamu?” Tanya Donghae tidak sabar.

“Banyak hal. Pertama ia menceritakan kehidupannya yang tidak terlalu bermasalah karena kedua orang tuanya adalah seorang pemilik restoran masakan Korea di Seoul. Lalu ia menceritakan kehidupan kuliahnya yang menurutku sangat lurus. Dia bukanlah pria bermasalah saat kuliah dan memiliki banyak penggemar. Hmm.. yang satu itu ia cukup percaya diri kurasa karena beberapa kali ia membanggakan dirinya yang pernah menjadi cassanova di kampusnya. Tapi ia mengatakan padaku jika sampai saat ini ia hanya tertarik dengan seorang wanita, yaitu Im Yoona.”

“Apa Kyuhyun mengatakannya dengan jelas?” Tanya Donghae mulai gusar. Ia tidak suka melihat pria lain menyukai Yoona dengan terang-terangan, karena sampai kapanpun Yoona harus berada di dalam genggamannya.

“Tidak, ia tidak mengatakan nama wanita itu di depanku. Tapi dari semua yang ia ceritakan aku dapat menarik kesimpulan jika wanita yang dimaksud Kyuhyun adalah Yoona. Berkali-kali ia mengatakan padaku jika wanita yang sangat ia cintai adalah teman kuliahnya yang berada di kelas yang sama saat kuliah. Tapi kemudian ia mengaku jika ia cukup kesulitan untuk mendapatkan hatinya karena wanita itu memiliki ayah angkat yang mengerikan, which is itu adalah kau.” Tunjuk Hyukjae telak. Donghae tampak tidak suka dengan cerita Hyukjae dan mulai mencari-cari kesibukan untuk mengalihkan pikirannya. Sejak dulu ia selalu berpikir jika Yoona tidak mungkin akan pergi dari hidupnya dengan pria lain. Ia selalu berpikir jika selamanya Yoona akan tinggal bersamanya dan terus menjadi teman bertengkarnya di rumah. Tapi akhir-akhir ini ia mulai sadar jika cepat atau lambat Yoona akan meninggalkannya. Terutama jika ia tidak mengikat wanita itu untuk menjadi isterinya. Sayangnya Yoona tidak mau menerima lamarannya dan justru menyuruhnya untuk menjadi pria baik-baik yang harus bertahan pada satu wanita. Untuk hal itu, ia rasa ia belum bisa benar-benar melakukannya dengan benar karena ia sudah terbiasa dengan kehidupannya yang bebas dan juga keras selama ini.

“Bukankah seharusnya aku mengikat Yoona untuk menjadi isteriku?” Tanya Donghae dengan pandangan kosong. Hyukjae memincingkan matanya aneh kearah Donghae dan ia mengangguk setuju setelahnya. Menikah dengan Yoona adalah satu-satunya cara jika pria itu ingin terus mendominasi Yoona. Tapi jika kelakuan Donghae masih saja buruk seperti itu, ia tidak yakin Yoona akan menerimanya sebagai seorang suami dan juga calon ayah untuk anaknya. Lagipula sejak awal Yoona adalah wanita baik-baik yang selalu memiliki mimpi indah akan masa depannya. Sikapnya yang galak dan juga kasar saat ini hanyalah topeng untuk menutupi semua luka batinnya yang terlanjur menganga karena perbuatan bejat Donghae selama ini.

“Mengikat itu berarti kau harus siap untuk berkomitmen. Kau pikir Yoona mau membagi suaminya dengan wanita lain? Yoona tidak seperti Jessica atau wanita-wanitamu yang lain yang hanya menginginkan kepuasaan sesaat. Sejak dulu Yoona selalu ingin memiliki keluarga yang bahagia seperti dongeng putri-putri yang selalu dibacakan Seulong sebelum ia tidur.”

“Kau tahu, sekarang usiaku tiga puluh sembilan tahun. Sejak usiaku sembilan belas tahun aku sudah menjalani kehidupanku dengan sangat liar dan bebas. Kau pikir mudah merubah semua kebiasaanku selama dua puluh tahun ini dalam waktu beberapa bulan? Ini gila Hyuk! Terkadang aku harus menggunakan cara-cara licik untuk memuluskan bisnisku. Termasuk merayu rekan bisnisku dengan pergi berkencan atau menjadikan mereka teman tidurku. Hal-hal seperti itu yang tidak biasa dilihat Yoona selama ini. Ia pikir semua yang kulakukan hanya untuk kesenanganku semata, padahal aku juga perlu melakukannya untuk memuluskan jalan bisnisku.” Ucap Donghae berapi-api mencari pembenaran. Tapi di mata Hyukjae hal itu tetaplah salah. Meskipun tidak melibatkan cinta, tapi jika Donghae telah menahan seorang wanita di sisinya, seharusnya pria itu bisa memikirkan berbagai konsekuensi yang membuntuti jalannya.

“Ingat Hae, kau tidak bisa menggenggam semua hal yang kau inginkan di dalam genggamanmu. Ada kalanya kau harus menjatuhkan pilihan dan mengorbankan banyak hal untuk untuk satu pilihan yang paling kau anggap berharga itu. Ck, kau ini memang payah! Untuk hal-hal remeh seperti itu saja kau harus meminta saran dariku? Ckckck… aku sekarang yakin jika kau tidaklah sesempurna itu.” Ejek Hyukjae mencemooh. Donghae langsung melempar wajah menjijikan Hyukjae dengan pulpen yang sedang digenggamnya.

Takk

“Sialan kau! Singkirkan wajah sok bijakmu sekarang atau aku akan memukulnya.”

“Hey! Aku hanya sedikit memberi nasihat bung, aku tidak mau kau terperosok ke dalam lubang penderitaan karena kesalahan fatal yang kau buat. Lagipula Cho Kyuhyun adalah jenis manusia yang gigih, ia telah bersumpah di depanku bahwa ia akan mendapatkan wanita itu untuk dirinya. Jadi sebaiknya kau persiapkan dirimu baik-baik, jangan sampai cinta Yoona untukmu direbut oleh Kyuhyun.”

Setelah mengatakan hal itu, Hyukjae langsung pergi begitu saja dari ruangan Donghae tanpa bertanggungjawab untuk semua kekacauan yang telah ia buat, terutama pada Donghae. Karena sejak pria itu membahas mengenai Kyuhyun, Donghae mulai merasa ada sesuatu yang aneh dengan hatinya.

-00-

Hari ini cuaca sore di Seoul cukup mendung. Yoona yang sedang membaca majalah kesehatan wanita mulai merasa kedinginan sambil menatap langit Seoul yang tampak kelabu. Ia lantas berjalan menuju sisi lain tempat duduknya untuk mengambil selimut yang diletakan oleh seorang pelayan di sana. Ia sebenarnya cukup bosan berada di rumah tanpa mengerjakan apapun, tapi usia kandungannya yang masih rentan membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain tetap berdiam diri di rumah sesuai perintah yang diberikan Donghae. Hanya saja sesekali ia ingin keluar, menikmati udara segar yang sejuk di pinggir pantai atau di sebuah villa milik Donghae yang berada di pegunungan. Tidak mungkin pengusaha kaya seperti Donghae tidak memiliki sebuah villa yang indah di puncak gunung atau di pinggir pantai.

“Tuan Kim…”

Yoona tiba-tiba memanggil tuan Kim yang kebetulan lewat di depannya. Pria berusia akhir lima puluhan itu tampak masih gagah dengan seragam hitam kebanggaannya dan juga sebuah dasi kupu-kupu yang menghiasi sepanjang leher keriputnya.

“Iya nona? Anda ingin sesuatu?”

“Tidak, kemarilah tuan Kim, temani aku di sini.”

Yoona menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya sambil menatap tuan Kim penuh permohonan.

“Ada apa nona, ada yang ingin nona katakan?”

“Ahh… kau tahu sekali apa yang kuinginkan tuan Kim. Sejak kapan kau bekerja pada Donghae?”

“Sejak tuan Donghae berusia tujuh tahun.” Jawab tuan Kim apa adanya. Ia terlihat sedikit curiga dengan tingkah laku Yoona hari ini karena bisa saja Yoona sedang merencanakan sesuatu untuk membuat tuan besarnya marah.

“Kau sudah cukup lama bekerja padanya, sejak kapan ia menjadi pria brengsek seperti itu?”

“Maksud anda tentang kebiasaan tuan Donghae bermain-main wanita?”

Yoona mengangguk mengiyakan dan tampak tidak sabar dengan jawaban tuan Kim. Sejak dulu ia selalu penasaran dengan masa lalu Donghae, hanya saja ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk menanyakan hal itu pada tuan Kim.

“Saya juga tidak tahu pasti kapan hal itu terjadi, tapi sejak mendiang ibu tuan Donghae meninggal, tuan Donghae menjadi pria yang liar. Ditambah lagi dengan hubungan tuan Donghae dan ayahnya yang tidak terlalu baik membuat tuan Donghae menjadi pribadi yang sangat tak terkendali.”

“Ya, dulu Donghae pernah bercerita padaku mengenai ayahnya yang keras dan penuh ambisi. Tapi apa yang terjadi pada ibunya sebelum meninggal?”

“Eee….”

Tuan Kim tampak berat untuk menceritakannya. Namun tatapan penuh permohonan Yoona membuat tuan Kim mau tidak mau menceritakan juga sedikit tentang masa lalu Donghae yang kelam.

“Ibu tuan Donghae meninggal karena sebuah kecelakaan bersama kekasihnya.”

“Owhh… sebenarnya apa yang terjadi pada Donghae di masa lalu?” Tanya Yoona terlihat prihatin. Ia tidak pernah tahu jika Donghae memiliki cerita masa lalu yang hampir sama dengannya. Dulu ibunya juga pergi bersama pria lain.

“Mendiang nyonya Lee tidak bahagia dengan pernikahannya karena tuan Lee terlalu berambisi pada perusahaanya hingga ia sering melupakan keluarganya. Lalu cinta pertama nyonya Lee muncul dan membuat semuanya menjadi kacau. Pertengkaran dan teriakan menjadi sering terjadi di rumah tuan Donghae. Tak jarang tuan Donghae memilih pergi dari rumah untuk bersenang-senang dengan teman-temannya di klub.”

“Dan sekarang ia melampiaskan semuanya padaku? Ia menjadikanku korban dari ketidakberhasilan hubungan keluarganya di masa lalu?” Ucap Yoona tiba-tiba. Ia seperti terbawa suasana hingga tanpa sadar ia telah mengeluarkan sedikit emosinya pada Donghae mengenai kehidupannya.

“Anda secara tidak sengaja ikut terseret kedalam kehidupan suram tuan Donghae. Sejak awal tuan Donghae tidak mau mengadopsi anda, tapi ia terikat oleh hukum karena pesan terakhir mendiang ayah anda menginginkan demikian.”

“Ck, aku sebenarnya juga tak habis pikir pada ayahku, mengapa ia justru memilih Donghae sebagai waliku. Kurasa ayahku memiliki banyak teman yang bisa ia ajukan sebagai waliku, bukan si brengsek Lee Donghae seperti ini.” Decak Yoona emosi. Salah satu kebiasaan wanita hamil yang sangat dihafal oleh tuan Kim adalah mereka sangat mudah sekali mengalami lonjakan emosi yang tiba-tiba, sama seperti Yoona.

“Mungkin karena hanya tuan Donghae yang bisa menjadi wali anda. Maksud saya, menjadi wali anda itu tidaklah mudah nona. Ayah anda memiliki banyak aset yang nantinya akan diserahkan pada anda, jika ayah anda memberikan hak asuh pada orang yang salah bisa-bisa seluruh aset milik anda diambil oleh orang-orang itu.”

“Begitukah? Selama ini aku tidak pernah tahu mengenai aset apapun yang dimiliki oleh ayahku. Kurasa aku terlalu banyak mendengarkan dongeng-dongeng tentang putri cantik yang berakhir bahagia hingga aku buta akan kerasnya kehidupan yang harus kujalani saat ini.”

“Sejujurnya saya juga tidak suka dengan sikap tuan Donghae selama ini. Tapi saya harap anda bisa terus berjuang untuk melunakan hati tuan Donghae yang keras.”

“Hmm.. Terimakasih tuan Kim, kau pria yang sangat baik. Maafkan aku jika selama ini aku sering membuatmu dalam masalah.”

Yoona tersenyum tulus kearah tuan Kim dan mengijinkan pria paruh baya itu kembali melakukan pekerjaanya.

Senja ini rasanya begitu menentramkan setelah ia sedikit berbicara dengan tuan Kim. Setidaknya pria itu mampu memberikan pemahaman jika apa yang dilakukan Donghae tidak sepenuhnya buruk untuknya. Masih ada setitik kebaikan yang dimiliki oleh pria itu untuknya. Hanya saja setitik kebaikan itu rasanya memang tidak sepadan dengan berbagai kesalahan yang dilakukan pria itu padanya selama ini.

-00-

“Kemana kita akan pergi hari ini?”

Yoona mengerutkan alisnya bingung kearah Donghae sambil mengamati pria itu menyetir dengan tenang. Ini adalah hari minggu, dan tiba-tiba saja Donghae mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat. Rasanya aneh melihat Donghae yang terus menunjukan sikap perhatiannya seperti ini. Ia terlalu terbiasa dengan sikap semena-mena Donghae yang galak dan juga menyebalkan.

“Kau akan tahu nanti.” Jawab Donghae misterius sambil tetap menatap jalanan yang sedikit ramai di depannya.

Perlahan-lahan mobil yang membawa mereka masuk ke area tol yang mengarah ke luar Seoul. Hal itu membuat tanda tanya besar di kepala Yoona hingga ia tidak bisa menahan diri untuk bertanya lagi.

“Kita akan pergi kemana? Kau tidak bermaksud membuangku kan?” Tanya Yoona sakarstik. Lee Donghae lantas menggeram kesal sambil menambah laju kecepatan mobilnya agar ia tidak bersikap emosi di depan Yoona.

“Kau selalu berburuk sangka padaku. Bisakah kau diam dan nikmati perjalanan ini. Bukankah kau ingin pergi menghirup udara segar di luar rumah? Aku sedang mewujudkan keinginanmu sekarang.”

“Tapi kau terlalu misterius. Dan sikap burukmu selama ini membuatku tidak bisa tidak berpikiran buruk padamu.” Balas Yoona terlihat emosi. Ia lalu memutuskan untuk diam sambil mengamati lalu lalang mobil di depannya yang terlihat melaju lebih kencang dari mobil yang dikendarai Donghae. Namun ia sedikit merasa aneh sekarang, tumben sekali Donghae tidak menggunakan supirnya untuk mengantar mereka pergi. Bukankah Donghae selalu terbiasa dengan sikap bossynya?

“Kenapa kau tidak meminta tuan Kang untuk menyetir?”

“Kau tidak suka jika aku yang menyetir?” Tanya Donghae terlihat kesal.

“Tidak juga, hanya merasa aneh dengan sikapmu yang tiba-tiba berubah baik. Ini mengingatkanku pada dirimu yang dulu, saat kau dengan brengseknya membohongiku dan mengambil banyak hal dariku.”

“Hmm.. lupakan saja hal itu. Ini berbeda dari sikapku tiga tahun yang lalu.”

“Apa jaminanya jika ini memang berbeda? Sejak kau merusak kepercayaanku padamu, aku menjadi sulit untuk mempercayaimu. Bisa saja semua ini hanya tipuanmu untuk mengambil sesuatu dariku? Sayangnya aku sendiri tidak tahu apa lagi yang akan kau ambil dariku setelah kau mengambil semua hal yang kumiliki. Apa kau menginginkan harta warisan ayahku?”

Lee Donghae menggeram kesal dari kursi kemudinya sambil mencengkeram setir kemudinya kuat-kuat. Menunjukan sikap baik di depan Yoona ternyata tidak semudah bayangannya. Wanita itu terlalu banyak memiliki imajinasi liar di dalam kepalanya hingga setiap tindakan yang ia lakukan selalu berujung dengan prasangka buruk.

“Kau pikir aku menginginkan harta ayahmu? Huh maafkan aku Yoona, tapi aku sama sekali tidak tertarik. Jika aku menginginkannya, aku pasti sudah mengambilnya sejak dulu. Bukankah mudah mengambil semua itu darimu setelah kau kuadopsi dari panti asuhan. Bahkan sampai detik inipun aku tidak pernah menggunakan sepeserpun uang milik ayahmu untuk merawatmu di rumahku. Jadi kau salah besar jika aku menginginkan harta ayahmu.”

“Lalu apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Kau tidak mungkin berbuat baik jika kau tidak ingin sesuatu dariku.” Tantang Yoona dengan gaya angkuh. Ia mulai menunjukan sisi berkuasanya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan mengangkat tinggi-tinggi dagunya di samping Donghae. Semua yang dilakukan oleh Yoona itu tak luput dari tatapan tajam Donghae yang sekilas melirik kearahnya. Namun pria itu memilih untuk tidak terpancing emosi dan hanya menanggapi pertanyaan itu dengan nada dingin yang terkesan tak peduli.

“Aku hanya ingin kau dan anakku sehat.”

Yoona terpaku di tempat sambil merasakan degup jantungnya yang bergemuruh. Ia baru saja mendengarkan sesuatu yang sangat tidak mungkin diucapkan oleh seorang Lee Donghae yang brengsek. Tapi sayangnya hal itu benar-benar terjadi dan pendengarannya tidak mungkin salah karena di dalam mobil ini mereka hanya berdua tanpa suara bising apapun. Kata-kata itu seketika membuat hati Yoona menghangat dan juga takut di saat bersamaan karena bisa saja Donghae kembali menjatuhkannya setelah pria itu membuatnya terbang dengan semua perhatiannya selama ini.

-00-

Yoona menatap tak percaya hamparan pasir putih di depannya sambil menatap Donghae penuh tanda tanya. Rasanya ini seperti mimpi dan ia belum mempercayainya hingga detik ini.

“Kau tidak ingin turun?” Tanya Donghae sambil mengetuk kaca mobil di sebelah Yoona. Dari dalam mobil Yoona dapat melihat Donghae sedikit memejamkan mata saat semilir angin pantai menerpa kulit wajahnya.

“Kenapa kau tiba-tiba mengajakku ke sini?”

“Anggap saja hari ini aku sedang baik, dan ngomong-ngomong kau sangat berisik!”

“Aaakkhh…”

Tiba-tiba Yoona berteriak kencang saat Donghae menggendong tubuhnya dan membawanya hingga ke bibir pantai. Kedua tangannya refleks langsung memeluk leher Donghae sambil berteriak-teriak kesal pada pria itu agar menurunkannya. Ia takut pada air dan ia sama sekali tidak bisa berenang.

“Turunkan aku Lee Donghae! Aku tidak bisa berenang!”

“Bisakah kau diam?”

“Turunkan aku sekarang juga, aku….”

Donghae membungkam bibir Yoona paksa dengan satu ciuman basahnya dan membuat Yoona langsung meronta-ronta histeris di dalam gendongan Donghae.

“Brengsek! Aku ingin turun!”

Byuurr

Donghae menjatuhkan tubuh Yoona begitu saja ke dalam air dan membuat wanita itu langsung panik seketika. Ia refleks mengangkat kedua tangannya ke atas sambil berteriak-teriak meminta tolong dengan suaranya yang telah bercampur dengan air.

“Sepanjang hari ini kau terus berpikiran buruk tentangku. Jika aku memang ingin membunuhmu, aku tidak mungkin akan memegangmu seperti ini dan memelukmu di tengah air laut yang hendak menenggelamkanmu.”

Tubuh Yoona tampak bergetar ketika Donghae mendekapnya dan mencoba menenangkannya dari ketakutannya pada air. Dan tanpa diduga Yoona langsung memeluk tubuh itu erat hingga seluruh tubuh Donghae kini juga sepenuhnya basah oleh air yang menetes dari tubuh Yoona.

“Jja jangan lakukan itu lagi. Aaa aku takut.” Racau Yoona terbata-bata. Degup jantungnya saat ini masih menggila dan bibirnya juga tampak bergetar. Ia ingin sekali menangis, namun ia terlalu malu melakukannya di depan Donghae.

“Ssshhh tenanglah, aku sudah memegangmu.” Bisik Donghae pelan sambil menepuk-nepuk punggung Yoona berkali-kali. Ia lalu menggendong tubuh bergetar itu dari dalam air dan meletakannya dengan perlahan di atas hamparan pasir putih yang lembut.

“Menangislah jika kau ingin menangis, wajahmu terlihat pucat.”

“Ii ini semua karena ulahmu.” Balas Yoona dengan emosi. Ia merasa benar-benar akan mati ketika Donghae menjatuhkan tubuhnya tiba-tiba kedalam air. Pria itu tidak tahu jika dulu ia pernah memiliki pengalaman buruk dengan air yang membuatnya hampir mati.

“Itu adalah hukuman untuk semua pikiran burukmu tentangku. Ingat Yoona, sikap lunakku selama ini bukan berarti aku lemah, tapi karena aku peduli pada kalian. Jangan membuatku marah lagi karena aku bisa saja melakukan hal yang lebih buruk daripada ini.” Ancam Donghae serius dengan wajah mengeras menahan emosi. Yoona seketika membuang wajahnya ke samping sambil mengepalkan tangannya kesal di belakang tubuhnya. Ia bersumpah akan membuat pria itu menyesal karena telah mengancamnya hari ini.

-00-

Malam semakin larut dan Yoona masih terjaga di dalam kamarnya sambil memeluk lututnya di atas ranjang. Sejak tadi ia ingin sekali memejamkan matanya dan melupakan semua hal buruk yang terjadi hari ini, sayangnya pikirannya justru terus memikirkan Donghae yang tak kunjung kembali setelah mengantarkannya ke kamar hotel. Pria itu memilih pergi tanpa kata pasca insiden di pantai yang membuat hubungan mereka kembali merenggang. Pikirannya saat ini Donghae mungkin sedang bersenang-senang dengan wanita pantai yang cantik dan juga seksi, sehingga pria itu melupakannya yang saat ini sedang menunggu dengan gusar di dalam kamar.

“Ck, kemana perginya pria kejam itu? Ini sudah lebih dari tiga jam sejak ia pergi meninggalkanku sendirian. Dan ahh… sial! ponselku jusru tertinggal di dalam mobilnya.”

Yoona terus menggerutu tak jelas sambil memukul-mukul bantal di depannya. Saat ini ia membayangkan jika bantal itu adalah wajah Donghae yang bisa ia pukuli sesuka hatinya hingga ia puas. Sayangnya semakin lama ia justru mengkhawatirkan keadaan Donghae hingga akhirnya ia memilih untuk pergi mencari Donghae di sekitar hotel. Lagipula ia juga ingin sedikit mencari udara segar agar emosinya tidak terus berubah-ubah seperti ini.

“Permisi, apa kau tahu dimana bar hotel berada?” Tanya Yoona pada petugas resepsionis.

“Bar hotel ada di lantai tiga nona.”

“Ah baiklah, terimakasih.”

Setelah mendapatkan informasi dari petugas resepsionis Yoona langsung masuk ke dalam lift yang kebetulan baru saja terbuka saat seorang pria baru saja masuk ke dalam kotak listrik itu.

“Lantai tiga.”

“Lantai tiga? Kebetulan yang sungguh luar biasa. Kemana kau akan pergi di lantai tiga?”

“Bar.” Jawab Yoona pendek. Ia mulai merasa risih dengan pria asing itu karena sejak tadi ia terus menatapnya dengan tatapan kelaparan. Mungkin jika saat ini ia tidak sedang mengandung dan sedang berada di Seoul, ia akan mencoba bermain-main dengan pria itu. Sayangnya kali ini ia tidak sedang berniat untuk bermain dengan pria manapun karena ia sedang malas. Kali ini ia hanya ingin menemukan Donghae dan setelah itu tidur dengan nyaman di kamarnya yang hangat.

“Kau sendirian?”

“Ya, seperti yang kau lihat.”

Ting!

Lift berdenting nyaring dan langsung terbuka lebar ketika mereka tiba di lantai tiga. Secepat kilat Yoona keluar dari kotak listrik itu dan masuk ke dalam bar yang cukup ramai. Ketika masuk, ia langsung disambut dengan hembusan asap rokok dari beberapa pengunjung bar dan teriakan-teriakan nyaring dari para pria-pria hidung belang yang sedang menonton pertunjukan rope dance. Yoona rasanya benar-benar ingin muntah saat masuk kedalam ruangan sesak itu. Sayangnya ia tidak bisa keluar begitu saja tanpa mencari keberadaan Donghae terlebih dahulu. Entah mengapa saat ini ia hanya ingin melihat pria itu dan memastikan jika pria itu tidak melakukan hal-hal buruk di belakangnya.

“Hai manis, ingin menari denganku?”

Sebuah tangan nakal tiba-tiba mencolek dagu Yoona dan membuat Yoona menggeram marah. Diabaikannya godaan menjijikan itu sambil terus berjalan menyusuri arena rope dance yang cukup ramai.

“Astaga… huekk..”

Yoona mulai merasakan gejolak mual yang begitu kuat di perutnya. Cepat-cepat ia berlari kearah toilet sambil membungkam bibirnya rapat-rapat agar ia tidak sampai memuntahkan isi perutnya di lantai bar.

“Hueekkk hueekk hueekk…”

Yoona benar-benar langsung memuntahkan seluruh isi perutnya ketika ia sampai di toilet hingga membuat kakinya lemas. Sekuat tenaga ia berpegangan pada pinggiran wastafel agar ia tidak jatuh terduduk di lantai toilet yang dingin dan juga kotor.

 

Tap tap tap

 

Samar-samar Yoona mendengar suara langkah kaki mulai mendekat kearahnya. Dengan keadaan yang cukup lemas, Yoona lalu berjalan menuju ke sudut ruangan sambil mencoba mencari apapun yang bisa ia gunakan untuk pertahanan diri.

 

Tap tap tap

 

Semakin lama suara langkah kaki itu semakin nyaring dan membuat jantung Yoona semakin bergemuruh hebat. Ia lalu semakin kuat mencengkeram pipa bekas yang berhasil ditemukannya di sudut toilet sambil memandang awas kearah pintu.

Bughh Bughh Bughh!

“Brengsek!”

Yoona berjengit kaget ketika suara debuman terdengar begitu jelas di depan pintu disusul dengan suara umpatan nyaring dari seseorang. Iapun semakin mengeratkan pegangannya pada pipa pralon sambil bersiap untuk memukul siapapun yang hendak masuk ke dalam toilet.

Brakk

Klontang

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Grepp

Donghae menggeram tertahan di tempatnya sambil merasakan tubuh Yoona yang langsung menempel di tubuhnya. Hampir saja wanita itu memukul kepalanya ketika ia mendobrak paksa pintu toilet yang tertutup rapat itu. Tapi syukurlah ia berhasil merebut paksa pipa pralon itu dan membuangnya asal di bawah kakinya hingga menimbulkan suara nyaring yang cukup berisik.

“Aku mencarimu.” Racau Yoona di atas pundak Donghae. Hampir saja tubuh Yoona meluruh di lantai jika Donghae tidak sigap menahan pinggangnya agar wanita itu tidak merosot jatuh ke bawah.

“Siapa yang mengijinkanmu berkeliaran di bar? Kau hampir saja menjadi santapan pria keparat itu.”

“Aku mencarimu. Kau terlalu sibuk mencari gadis-gadis pantai hingga melupakanku.” Seloroh Yoona geram. Sikap aslinya yang pemarah mulai kembali dan ia juga langsung melepaskan pelukannya dari Donghae begitu saja. Ia sepertinya malu dengan sikapnya dan mencoba menutupinya dengan bersikap sinis di depan Donghae.

“Kita pergi ke kamar sekarang, di sini terlalu berbahaya untukmu.”

Tanpa mempedulikan sikap kasar Yoona, Donghae langsung menarik tangan Yoona keluar dari toilet untuk kembali ke kamar mereka di lantai lima. Dan malam ini Yoona dapat sedikit bernapas lega karena nyawanya terselamatkan oleh Donghae. Namun itu bukan berarti ia telah melupakan semua kesalahan yang telah Donghae lakukan. Saat ini ia justru sedang mempelajari sifat Donghae untuk melakukan sesuatu yang lebih dahsyat pada pria itu.

18 thoughts on “Black Swan: Month Three, Everyday Sickness (Eight)

  1. Aku takut sakit hati di next ny krn d part ini mereka sedikit manis menurut ku hihihi
    Smg d sn yg luluh duluan hae

  2. Ff mu ga pernah mengecewakan thor 🙂 Keren 🙂
    Manis bgt YoonHae momentnya, sukaaa 🙂 Donghae udh mulai baik, kayanya dia jg cinta sm Yoona 🙂
    Pokoknya harus happy ending y thor hehe
    Next chapter jgn lama2 🙂
    Hwaiting!!

  3. Daeebbbaakkk… Sukak banget. Gini dong thor makin melunak sikapnya Donghae.. Gak sabar untuk cerita selanjutnya.. Good..

  4. Suka banget sama YoonHae momentnya di chapter ini… semoga di next chapter lebih sweet yaaa ..
    Dan semoga sikap Yoona juga bisa makin lunak, trus Donghae nya makin sabar.
    Soal Kyuhyun ntahlah berharap gak macem macem aja dia hahahahah

  5. Ayoo kyu deketin yoona lg aja,,, mungkin dengan begitu donghae akan benar-benar memperbaiki diri nya karna takut yoona akan lebih memilih kamu…
    Sepertinya donghae takut kalo dia berkomitmen akan berakhir seperti orang tua nya, sehingga dia lupa apa yg dia lakukan tidak beda dengan yg dilakukan appa nya dan bisa saja yoona pergi dari nya seperti eoma nya pergi dari sisi appa nya….

    Next author-nim….

  6. duh yoon jangan jahat“ amat ama dongek kasian dia mencoba berubah loh demimu dan demi anakmu

  7. Yoona masih dengan ambisi nx,,, dan donghae masih penasaran dg sikap nx tulus atw tidak???? Smga mereka bisa lebih baik lagi….

  8. Sukak banget donghae mulai lunak sikapnya… Semoga emang baby nya bisa mempersatukan daddy n mommy nya yaaaah

    Pengen ini di lanjutkan di blog ini…. 😍😍

  9. ayolah yoona jangan mikirin cara untuk balas dendam ke donghae mulu. sepertinya donghae udah berubah jadi lebih baik…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.