Black Swan: Month Two, How Dare You (Seven)

 

Yoona berdecak kecil sambil menghempaskan majalah fashionnya ke atas meja. Bulan ke dua, minggu ke tiga, rasanya benar-benar bosan terus menerus berada di rumah tanpa pekerjaan yang bisa dilakukan. Semenjak hamil kehidupannya menjadi semakin kacau. Setiap hari kegiatannya hanya tidur, makan, membaca, atau menonton televisi. Jika tidak, ia akan berdiam di taman belakang sambil menghitungi kelopak-kelopak mawar yang terlihat seperti wanita bodoh. Semua kegiatan monoton itu benar-benar hampir membuatnya gila dan ingin meledak. Ia bosan diperlakukan seperti wanita sakit seperti ini. Sedangkan Donghae, pria itu selama dua minggu ini justru terus meninggalkannya untuk pergi ke luar negeri dengan alasan urusan bisnis. Tapi ia tahu, Donghae pasti juga akan bersenang-senang di luar sana bersama jalang-jalangnya yang cantik. Hanya ketika di rumah saja Donghae akan terlihat seperti pria baik-baik sok suci yang mengatakan jika sekarang ia tidak lagi bermain-main dengan wanita.

“Kau, ambilkan aku jus jeruk.”

Melihat seorang pelayan yang lewat di depannya, Yoona langsung memerintahkan pelayan itu dengan angkuh sambil menaikan dagunya. Terlalu banyak mengumpati Donghae di dalam kepalanya membuat Yoona merasa tenggorokannya haus. Dan tiba-tiba saja ia mendapatkan ide untuk menghubungi Yunho. Sudah lama ia tidak menyapa pria itu dan menanyakan bagaimana kondisinya. Mungkin Yunho bisa menghibur hatinya yang sedang hampa seperti saat ini.

“Halo, oppa?”

Yoona mengerutkan alisnya ketika dilihatnya Yunho tampak seperti baru saja bangun dengan kedua mata yang tampak disipitkan. Yoona lalu melirik jam tangannya sekilas sambil memutar kedua matanya malas. Pukul setengah dua belas! Ini bahkan sudah terlalu siang untuk bangun tidur. Tapi ia tak heran juga jika Yunho demikian karena pria itu pasti baru saja bersenang-senang hingga pagi.

“Yoong?”

Akhirnya Yunho terlihat sedikit sadar sambil menyunggingkan senyum tipisnya pada Yoona. Pria itu terlihat sedikit menendang selimutnya ke samping dan tiba-tiba berbicara dengan seseorang yang wajahnya tak terlihat di dalam layar.

“Ohh… let me guess, your one night stand?” Tanya Yoona dengan intonasi jijik. Yunho tersenyum kecil di seberang telepon sambil mengendikan bahunya tak peduli.

“Okey, bagaimana kabarmu sweet heart? You look so… uhmmm… chubby?” Tanya Yunho sambil menatap wajah Yoona lekat-lekat. Yoona membuang napasnya jengkel dan tampak malas untuk menatap Yunho. Akhir-akhir ini semua orang mengatakannya gendut, dan itu semua karena ulah Lee Donghae yang tidak mengijinkannya melakukan aktivitas apapun. Setiap hari pria itu hanya menjejalkannya makanan, makanan, dan makanan hingga ia terlihat seperti seekor sapi yang sangat gendut dan mengerikan.

“Yahh… Lee Donghae sialan itu memberiku terlalu banyak makanan tanpa membiarkanku melakukan aktivitas apapun. Berikan aku pekerjaan oppa, aku bosan terus menerus di rumah seperti pesakitan.” Mohon Yoona dengan wajah memelas. Pekerjaanya sebagai model telah dihancurkan Donghae sejak bulan lalu. Pria itu dengan seenaknya membatalkan semua kontrak kerjanya dan mengancam Jimin untuk tidak memberinya pekerjaan. Bahkan pria itu sekarang telah berubah fungsi sebagai tukang kebun di rumah Donghae karena ia tidak memiliki pekerjaan apapun untuk menjadi asisten Yoona seperti dulu.

“Apa? Aku bisa dibunuh oleh ayah galakmu itu. Ayolah Yoona, ini juga untuk kebaikanmu. Kau sedang mengandung, pantas jika ia menjadi over protektif seperti ini.”

“Cih, itu benar-benar bukan gayanya oppa. Percayalah jika hingga detik ini ia sebenarnya masih sering bersenang-senang di luar sana. Ia tidak mungkin bisa bertahan hidup tanpa wanita-wanitanya yang memuakan itu. Bahkan ia sekarang juga tidak bisa mencari pelampiasan di rumah. Jadi bisa kupastikan saat ini ia tengah bersenang-senang dengan jalang koleksinya di suatu tempat yang tidak terjamah olehku.” Dengus Yoona gusar. Hari ini ia sudah bertekad untuk melakukan sesuatu. Terus menerus berada di rumah seperti ini hanya akan membunuhnya secara perlahan. Sejak awal ia adalah wanita bebas dengan berbagai macam pria yang selalu mengelilinya. Persetan dengan larangan Lee Donghae yang tidak mengijinkannya untuk kembali ke dunia hitam itu. Yang jelas saat ini ia butuh bersenang-senang dan ia menginginkannya.

“Ayo kita pergi bersenang-senang oppa.”

“Kau yakin? Aku masih menyayangi nyawaku Yoona. Lebih baik kau merajut kaos kaki lucu untuk bayimu atau menyiapkan hal-hal yang berkaitan dengan bayimu. Kurasa itu jauh lebih baik daripada kau merealisasikan keinginan bodohmu yang membahayakan itu.”

“Apa? Kau menyuruhku untuk merajut? Yang benar saja!” Maki Yoona kesal. Merajut? Jika ini adalah kehamilannya tiga tahun yang lalu mungkin ia benar-benar akan melakukannya. Tapi sekarang? Menginginkannya saja tidak. Ia justru berharap janinya tiba-tiba mati atau mengalami gangguan agar ia tidak perlu membawa benih Lee Donghae di dalam rahimnya.

“Jangan seperti itu Yoong, bagaimanapun janin itu juga anakmu. Jangan sampai kau menyesali perbuatanmu di akhir. Aku sangat tahu bagaimana rasanya menjadi seseorang yang tidak diinginkan.” Ucap Yunho sendu. Yoona terlihat sedikit merasa bersalah pada Yunho sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. Ia tahu sedikit tentang masa lalu Yunho yang dibuang oleh orang tuanya. Mereka sama sekali tidak mau mengurus Yunho, dan mereka membiarkan Yunho bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Beruntung Yunho adalah pria supel yang sangat mudah bergaul, sehingga industri hiburan manapun mau menerimanya menjadi asisten agen pecarian bakat hingga ia sukses seperti sekarang ini. Namun rasa diabaikan dan tidak diinginkan itu sampai kapanpun tidak akan pernah bisa pergi dari diri seorang Jung Yunho karena bagaimanapun semua itu sudah terlalu membekas di hatinya yang rapuh.

“Maafkan aku oppa, aku tidak bermaksud mengungkit-ungkit masa lalumu. Aku hanya merasa kesal dengan hidupku saat ini. Sungguh maafkan aku.”

“Tidak apa-apa Yoong, tidak usah terlalu dipikirkan. Oya, jika kau memang membutuhkan pekerjaan, aku punya pekerjaan untukmu. Salah satu teman lamaku membutuhkan seorang model untuk mengiklankan produk real estatenya. Tapi yahhh… ia masih pebisnis baru, bayaran yang kau terima mungkin tidak akan sebesar gaji yang kau terima dari klien-klienmu selama ini. Jadi… apa kau mau?”

“Aku mau! Untuk saat ini bayaran bukanlah prioritas utamaku, aku hanya membutuhkan pekerjaan untuk mengusir kejenuhanku yang memuakan ini. Jadi kapan aku bisa bertemu dengan teman lamamu itu?”

“Emm… secepatnya akan kuhubungi jika temanku setuju untuk menggunakanmu.”

“Baiklah, terimakasih oppa…”

Yoona memberikan flying kiss pada Yunho sambil bergulung-gulung senang di atas ranjangnya. Menghubungi Yunho di saat-saat seperti ini memang sangat tepat. Pria itu pasti memiliki banyak jalan keluar untuk masalahnya. Dan meskipun Yunho bukanlah pria baik-baik atupun pria suci, namun setidaknya pria itu masih bisa memberikan nasihat yang terdengar masuk akal untuk diterima oleh akal sehatnya. Tidak seperti Donghae yang hanya bisa memberinya doktrinasi dengan berbagai embel-embel yang memusingkan.

“Yoong, sepertinya aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa, semoga harimu menyenangkan sayang.”

“Kau juga, sampai jumpa.”

Yoona mematikan sambungan video callnya sambil berguling sekali untuk turun dari ranjangnya. Dengan sedikit malas, ia menghampiri cermin besar yang berada di sudut kamarnya dan mulai memperhatikan dirinya yang tampak berbeda. Dulu, ia selalu tampil dengan rambut hitam lurus sepunggung yang tampak cantik. Sekarang, ia telah memotong pendek rambutnya dengan warna coklat terang yang tampak kontras dengan kulit putihnya. Dulu, ia selalu tampil natural dengan wajah polos tanpa makeup. Sekarang, huh… kemanapun ia pergi, ia pasti tidak akan lupa dengan makeup noraknya yang selalu terlihat menantang dengan warna-warna lipstik yang tampak berani. Dulu, ia selalu menggunakan pakaian serba tertutup yang sangat sopan. Tapi sekarang, ia terlihat seperti wanita murahan dengan tank top pendek yang menggantung di atas pusarnya, serta celana hot pants super pendek yang sangat ketat melingkupi bokong indahnya. Ohh… itu sungguh transformasi yang luar biasa dari seorang Im Yoona. Dan semua itu terjadi karena ulah si brengsek Lee Donghae yang telah memporak-porandakan hidupnya hingga kini ia harus menanggung aib terbesar dalam hidupnya. Mengandung benih dari seorang Lee Donghae yang sangat tidak diinginkannya. Tapi semua sudah terjadi. Ingin menyesalinyapun rasanya sia-sia. Sekarang yang harus ia lakukan adalah pergi dari rumah besar itu dan bersenang-senang bersama teman-temannya untuk melampiaskan seluruh rasa bosannya hari ini. Ya, siang ini ia tidak akan lagi menjadi wanita penurut yang hanya diam di rumah seperti seorang pesakitan. Siang ini ia akan bersenang-senang bersama teman-temannya dan juga pria-pria baru yang tentunya akan selalu bertekuk lutut di bawah kakinya untuk menyenangkan hatinya yan suram.

-00-

Suara desahan itu lolos begitu saja dari wanita berambut sebahu yang saat ini tengah terkapar tak berdaya di bawah kuasa seorang Lee Donghae yang mendominasi. Udara dingin kota Seoul yang begitu pekat membuat Donghae tak bisa menahan lebih lama lagi penyatuan mereka. Setelah ia menginjakan kakinya di Seoul dua jam yang lalu, ia langsung meminta asistennya untuk membawakannya seorang jalang yang bisa memuaskan hasratnya sore ini. Sudah lebih dari dua minggu ia tidak melampiaskan seluruh gairahnya karena terlalu sibuk dengan proyek barunya yang cukup menyita waktu. Selain itu, ia juga tidak mungkin meminta Yoona untuk melayaninya seperti biasa karena wanita itu masih berada di masa rentan kehamilannya.

“Kau luar biasa tuan.” Desah wanita itu sambil menormalkan deru napasnya yang masih memburu-buru. Sisa-sisa badai dahsyat yang diciptakan Donghae nyatanya masih menghantamnya hingga ia merasa kesulitan untuk mengendalikan diri. Sayangnya Donghae masih belum puas dengan pelepasannya yang seharusnya terasa hebat untuk dirinya itu. Entah kenapa ia justru mendambakan tubuh Yoona yang saat ini berada di bawahnya.

“Pergilah, aku sudah selesai denganmu.”

Donghae bangkit begitu saja dari tubuh sang wanita berambut pendek, dan ia langsung menyambar pakaiannya untuk segera pergi dari sana. Rasanya tidak ada gunanya terus berada di sana, sedangkan pikirannya justru melayang-layang memikirkan Yoona. Selama dua minggu berada di Spanyol tidak sekalipun wanita itu menghubunginya. Hanya tuan Kim yang terus menerus memberinya kabar jika selama ia pergi, Yoona selalu menjadi wanita penurut yang manis tanpa sedikitpun melanggar aturan yang dibuatnya. Mungkin wanita itu sudah menyadarinya bagaimana posisinya, sehingga ia memilih untuk menurut menjadi wanita yang baik.

“Urus pembayaran untuknya dan siapkan mobil sekarang juga.”

Donghae berjalan angkuh menyusuri loby hotel tempatnya bersenang-senang sambil memerintahkan asistennya untuk menyelesaikan beberapa hal yang perlu diselesaikan. Saat ia hendak masuk kedalam mobilnya, tak sengaja ekor matanya menatap siluet tubuh Jessica yang hendak masuk kedalam hotel. Refleks ia menyunggingkan senyum manisnya pada wanita itu sambil berjalan tenang kearah Jessica yang saat ini juga sedang menyambutnya dengan tangan terbuka.

“Sebuah kehormatan dapat bertemu denganmu tuan Lee, apa kabar?”

Jessica memeluk Donghae hangat dan tersenyum lembut kearah pria itu. Lama mereka tidak bertemu sejak mereka sama-sama disibukan dengan urusan mereka masing-masing. Dan secara kebetulan hari ini mereka dipertemukan di sebuah hotel yang akan menjadi tempat Jessica menggelar pertunjukan peragaan busananya. Ini sungguh kebetulan yang menyenangkan.

“Aku baik Sica. Kau sepertinya juga baik-baik saja.”

“Begitulah, beberapa hari lagi aku akan menggelar pertunjukan peragaan busana di sini. Ayo, kita harus mencari tempat untuk mengobrol karena aku sangat merindukanmu tuan Lee.” Ucap Jessica girang sambil menyeret lengan Donghae untuk mengikutinya. Mereka berdua lantas masuk kedalam kafe hotel untuk meminum kopi sambil bercengkrama, membicarakan kehidupan mereka masing-masing selama mereka hidup terpisah satu tahun belakangan ini.

“Kau tampak tak banyak berubah dari terakhir kali aku melihatmu.”

Jessica memulai pembicaraan diantara mereka dengan sebuah kalimat ringan yang penuh makna. Dengan terang-terangan wanita itu menelisik tubuh Donghae dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu kembali ke mata coklat Donghae yang meneduhkan.

“Memangnya apa yang kau harapkan dariku Sica? Hidupku hanya seperti ini, tidak ada yang berubah dariku, kecuali…”

Donghae menggantungkan kalimatnya di udara dengan seringaian misterius yang berhasil membuat Jessica penasaran. Tapi sialnya pria itu justru hanya menatapnya jenaka sambil terkekeh geli pada Jessica.

“Apa? Kecuali apa? Sialan kau Lee Donghae, jangan buat aku penasaran seperti ini.” Maki Jessica kesal. Donghae tertawa terbahak-bahak menertawakan Jessica dan setelah itu ia memilih untuk menyesap kopinya dengan gaya aristrokatnya yang sangat menyebalkan.

“Nanti kau akan tahu Sica. Oya, bagaimana kehidupanmu selama ini? Kau sudah memiliki kekasih atau tunangan?”

“Huhh…”

Jessica menghembuskan napasnya berat dan tampak terlihat frustrasi dengan pertanyaan Donghae seputar kekasih. Pasalnya selama satu tahun hidup di California ia justru terus dimainkan oleh pria-pria di sana tanpa perasaan. Mungkin itu karma karena selama ini ia selalu mempermainkan hati pria-pria korea.

“Jangan tanyakan aku soal itu karena aku mulai menyerah untuk mencari kekasih. Ini adalah salah satu alasanku kembali ke Korea, aku ingin mencari pria Korea yang mau menerimaku apa adanya daripada pria-pria California yang brengsek. Apa kau mau menjadi kekasihku?” Tawar Jessica dengan wajah bersungguh-sungguh. Namun setelah melihat tatapan datar Donghae yang tak bersahabat, ia tiba-tiba justru tertawa sambil memegangi perutnya karena terlalu geli dengan sikap Donghae yang sepertinya terlalu serius menanggapi ucapannya.

“Singkirkan wajah menjijikanmu itu tuan Lee, aku hanya bercanda.” Ucap Jessica di sela-sela tawanya. Donghae mendecih kesal melihat sikap Jessica yang menyebalkan itu, dan ia lagi-lagi meraih cangkir kopinya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.

“Leluconmu itu sama sekali tidak lucu Sica, bukankah kau tahu sendiri jika aku ini bukan pria berkomintmen. Tapi akhir-akhir ini aku mulai merubah cara pandangku tentang hal itu.”

“Kenapa?” Tanya Jessica heran. Tak menyangka jika seorang Lee Donghae akhirnya akan merubah cara pandanganya soal berkomitmen. Rasanya itu terdengar cukup mustahil mengingat Donghae adalah pria beraliran keras soal komitmen.

“Kau akan tahu nanti.” Jawab Donghae misterius. Jessica berdecih sebal kearah Donghae dan ia memutuskan untuk menyesap kopinya agar mulutnya tidak terasa kering karena terus menerus tertawa di depan Donghae.

“Ee… bagaimana dengan Yoona? Akhir-akhir ini aku sering melihat beritanya di platform situs-situs online, karirnya benar-benar meningkat belakangan ini. Apa ia masih tinggal bersamamu?”

“Tentu saja masih. Ia akan selalu berada di bawah kendaliku Sica.”

“Kenapa kau tidak membiarkannya bebas Donghae, bukankan ia sudah bisa hidup mandiri? Dan lagi, dua tahun lagi ia akan berumur dua puluh lima tahun, itu berarti ia akan mulai menjalankan perusahaan peninggalan Seulong. Apa kau tak ingin membiarkannya hidup bersama pria yang ia cintai?”

Donghae menggeram kesal dengan pertanyaan terakhir Jessica sambil membuang wajahnya kearah lain. Setiap teman-temannya yang mengenal Yoona pasti akan menanyakan hal itu padanya. Hidup bersama pria yang ia cintai? Huh… itu terdengar konyol karena ia yakin perasaan Yoona untuknya masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Jika Yoona memang ingin hidup dengan pria yang ia cintai, wanita itu pasti tidak akan terus bermain-main dengan hama-hama pengganggu itu seperti saat ini. Tapi nyatanya sejak tiga tahun yang lalu Yoona tidak pernah benar-benar hidup bersama satu pria. Hanya ia satu-satunya pria yang selalu ada di sampingnya meskipun mereka juga sering bertengkar satu sama lain.

“Yoona tidak pernah mencintai pria manapun Sica, ia hanya terus bermain-main dengan mereka.”

“Kau yakin? Mungkin ia seperti itu karena kau terus mengekangnya. Kau tidak bisa seperti ini selamanya Donghae. Ada kalanya kau harus melonggarkan ikatanmu pada Yoona dan membiarkan wanita itu hidup dengan jalan hidupnya.”

“Sampai kapanpun Yoona akan terus terikat denganku karena saat ini ia sedang mengandung anakku.”

“Apa?”

Jessica tampak tercekat sambil menutup mulutnya tak percaya. Setahun pergi dari Seoul ternyata membuatnya melewatkan banyak hal. Termasuk perkembangan hubungan Donghae dan Yoona yang selalu mengalami fluktuasi hingga puncaknya ia mendapatkan berita mengenai kehamilan wanita itu. Wow… itu sungguh berita yang sangat mengejutkan.

“Sejak kapan?” Tanya Jessica masih tak percaya. Dengan santai Donghae menjawab pertanyaan itu sambil menyandarkan punggug tegapnya pada sandaran kursi.

“Dua bulan yang lalu. Kurasa.” Tambah Donghae tidak yakin. Ia sebenarnya tidak terlalu menghitung usia kehamilan Yoona. Ia hanya asal mengira-ngira karena selama ini ia selalu pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya.

“Kau… bagaimana bisa?”

“Entahlah, mungkin karena Yoona tidak meminum obatnya. Atau mungkin wanita itu sengaja melakukannya untuk menjebakku.”

“Bagaimana bisa kau berpikiran picik seperti itu Hae? Bisa saja itu memang sebuah kecelakaan karena keserakahanmu yang sering menyentuhnya. Ya Tuhan… untung saja aku tidak pernah mengalami hal itu. Pasti sangat mengerikan rasanya.”

“Mengerikan? Yahh… kurasa Yoona memang tidak memprediksi hal itu akan terjadi karena ia sempat akan melakukan percobaan bunuh diri saat dokter mengatakan padanya jika ia sedang hamil. Oh dan kau juga harus tahu Sica, sebenarnya tiga tahun yang lalu Yoona juga sudah pernah hamil. Milikku.” Tambah Donghae lagi dengan wajah santai. Jessica terlihat semakin terkejut dengan berita itu dan hampir-hampir menyiram wajah Donghae dengan capucino miliknya yang masih tersisa separuh. Bagaimana bisa pria itu terlihat santai dengan semua hal mengerikan yang baru saja terjadi pada Yoona? Ckckckck… malang sekali nasib wanita itu.

What the hell! Kau brengsek sialan yang sangat mengerikan Hae! Darimana kau tahu jika Yoona pernah mengandung tiga tahun yang lalu? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?” Umpat Jessica kasar. Ia rasanya sudah kehabisan stok kata-kata untuk memaki-maki sikap Donghae yang dinilainya terlalu santai ini. Jika ia menjadi Yoona, mungkin sebelum bunuh diri ia akan membunuh Donghae terlebih dahulu karena pria itu adalah sumber dari segala kesengsaraan yang terjadi.

“Hyukjae. Ternyata Hyukjae selama ini menyembunyikan rahasia itu dariku karena Yoona memang tidak ingin aku tahu. Ia baru memberitahukannya padaku satu bulan yang lalu, sesaat sebelum aku menerima kabar jika Yoona sedang hamil. Jadi selama ini aku juga tidak pernah tahu jika dulu Yoona ternyata pernah mengandung anakku.”

“Lalu apa yang kau lakukan sekarang setelah mengetahui kabar kehamilannya? Kau tetap membiarkan Yoona berkeliaran dengan gaya hidupnya?”

“Tentu saja tidak. Aku telah membatasi ruang geraknya dan hanya memintanya untuk berdiam diri di rumah. Kandungannya sangat rentan, ia masih berpotensi untuk keguguran hingga ia melewati bulan ke tiga masa kehamilannya.”

“Wow..”

Hanya satu kata itu yang berhasil dikeluarkan Jessica untuk mengomentari ucapan Donghae. Ia masih merasa syok dengan berita kehamilan Yoona dan sikap pria itu pada Yoona. Rasanya pasti sangat berat jika menjadi Yoona. Hidup itu memang kejam. Dan memang orang-orang yang bisa mencapai tangga kesuksesan itu pastilah orang-orang kejam yang tak memiliki hati seperti Donghae. Jadi pantas jika pada akhirnya pria itu juga bersikap kejam pada orang lain.

“Jadi Hae, kau sekarang benar-benar telah berhenti bermain-main dengan wanita? Kau tidak mungkin….”

“Tidak juga.” Potong Donghae cepat dengan seringaian licik di wajahnya. Jessica langsung memincingkan matanya kearah Donghae sambil menggoda pria itu jenaka.

“Ah… Sudah kuduga jika kebiasaan burukmu tidak akan hilang hanya karena Yoona hamil. Tapi semoga saja kau bisa berubah setelah anak itu lahir. Aku merasa kasihan jika anak itu harus memiliki ayah sepertimu.”

“Ini semua salahnya. Yoona tidak mau menikah denganku.”

“Apa? Bahkan jika aku menjadi Yoona, aku pasti juga tidak akan mau. Terlalu beresiko menerima lamaranmu jika sikapmu masih sama seperti dulu. Kuharap kau tidak mengambil langkah yang salah Hae, karena kesempatan tidak akan datang dua kali.” Nasihat Jessica bijak. Namun Donghae sepertinya tak mau terlalu ambil pusing dengan peringatan Jessica karena selama Yoona belum benar-benar terikat padanya, maka kehidupannya akan tetap seperti semula. Lagipula jika anak itu lahir nantinya, ia hanya akan memposisikan diri sebagai wali yang akan memenuhi semua kebutuhan anak itu. Persetan dengan tanggungjawabnya sebagai ayah, jika Yoona belum menerimanya, maka ia juga tidak akan memposisikan diri sebagai ayahnya.

-00-

Yoona berjalan dengan penuh percaya diri kedalam sebuah klub sambil mengerling nakal pada setiap pria yang ia temui di pintu masuk. Hari ini ia merasa bahagia karena ia telah berhasil mengelabui tuan Kim dan seluruh pelayannya yang lain dengan mengatakan jika ia ingin berbelanja di super market. Namun saat ia berada di super market, ia langsung meminta Summer untuk menjemputnya. Hari ini ia sedang ingin bersenang-senang dan mencari mainan baru di klub yang mungkin bisa mengisi kebosanan hidupnya yang menyebalkan.

“Kau yakin ini akan aman? Jika Donghae sampai membunuhku karena telah mengajakmu pergi ke tempat terkutuk ini, kau adalah orang pertama yang akan kuhantui.” Bisik Summer was-was sambil menatap orang-orang disekitarnya. Beberapa pria yang dengan terang-terangan hendak mengajak Yoona ke lantai dansa langsung diusir Summer dengan galak karena malam ini Yoona tidak boleh bersentuhan dengan pria manapun. Hari ini Yoona hanya boleh meminum jus sambil menikmati dentuman musik yang dimainkan oleh DJ tanpa boleh bergabung dengan mereka semua.

“Kau menyebalkan! Kau sama saja dengan si brengsek itu Summer.” Runtuk Yoona kesal ketika Summer lagi-lagi mengusir pria tampan yang sedang mengajaknya untuk menari. Ia rasa semua orang disekitarnya terlalu berlebihan dengan kondisi kehamilannya. Padahal ia sendiri merasa semua ini akan baik-baik saja.

“Aku melakukan ini karena aku menyayangi nyawaku Yoona. Aku tiak mau menjadi sasaran amarah Donghae yang mengerikan karena telah membawamu ke sini. Tapi aku juga tidak bisa melihatmu mati kebosanan di rumah tanpa mendapatkan hiburan apapun, jadi turuti saja kata-kataku dan jadilah anak yang baik untuk malam ini.”

Yoona mendengus sebal dan mulai mengikuti langkah Summer yang cukup lebar-lebar di depannya. Ia sebenarnya ingin pergi ke lantai dansa dan memanaskan arena itu dengan tariannya yang seksi. Sayangnya ia tidak ingin membuat Summer menjadi sasaran amukan Donghae. Jadi, malam ini ia mungkin hanya akan diam sambil melihat berbagai macam manusia yang sibuk menari di depannya dengan hati iri.

“Yoona…”

“Yoona menoleh ke belakang dan langsung menemukan Siwon yang sedang tersenyum kearahnya dengan senyuman manisnya yang sangat khas. Pria itu terlihat begitu senang saat menemukan Yoona berada di klub karena sudah lama mereka tidak pernah bertemu semenjak Donghae mengancamnya untuk menjauhi Yoona.

“Senang melihatmu di sini Yoona, akhirnya aku memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu.”

Tanpa meminta ijin pada Yoona pria itu langsung memeluk Yoona erat dan memberikan kecupan lembut di pipi chubby Yoona. Dan saat melihat perubahan yang terjadi pada fisik Yoona, pria itu tampak sedikit mengernyit. Namun pada akhirnya ia hanya mengendikan bahunya sekilas, dan tiba-tiba telah melumat bibir Yoona intens.

“Yaa ampunn….”

Summer memekik histeris dan langsung memisahkan Yoona dari Siwon. Jika sampai salah satu mata-mata Donghae melihatnya, maka mereka berdua akan berada dalam masalah besar.

“Yoona, apa yang kau lakukan.” Teriak Summer kesal. Suara dentuman musik yang cukup keras membuat suaranya terdengar tidak jelas. Beruntungnya Yoona masih bisa menangkap maksud ucapan Summer dari gerakan bibir wanita itu, sehingga ia bisa sedikit menyingkir ke samping agar Siwon tidak bisa menyentuhnya terlalu intim seperti sebelumnya.

“Maafkan aku Siwon.”

“Kau sudah memiliki kekasih?” Tanya Siwon sedih. Ia tahu wanita seperti Yoona tidak mungkin tidak memiliki kekasih baru setelah hubungan mereka kandas. Karena pada kenyataannya Yoona adalah salah satu wanita yang paling diinginkan di Seoul.

“Tapi jika kau ingin mengajakku untuk bersenang-senang, kurasa itu tidak masalah.” Ucap Yoona memberi angin segar untuk Siwon. Summer yang melihat itu hanya membelalakan matanya gusar sambil menatap dua manusia itu sebal. Seharusnya ia memang tidak mengikuti permintaan Yoona untuk pergi ke klub jika pada akhirnya nyawanya akan menjadi taruhan seperti ini. Semoga saja Donghae memang belum kembali dari perjalanan bisnisnya, karena jika pria itu kembali dan tidak mendapatkan wanitanya di rumah, maka bersiaplah untuk menghadapi kemarahan Donghae yang dahsyat.

“Yoona! Kau cari mati!”

Summer langsung merebut gelas bening berisi scotch yang hendak diminum Yoona. Bisa-bisanya wanita itu masih menerima minuman beralkohol pemberian Siwon saat tahu jika dirinya sedang hamil.

“Ada apa Summer?” Tanya Siwon bingung. Ia baru saja hendak menyesap scotchnya jika Summer tidak membuatnya kaget dengan teriakan nyaring wanita itu.

“Yoona hanya boleh minum jus. Pencernaanya sedang sakit.” Ucap Summer asal. Ia lalu meminta salah satu bartender untuk memberikan Yoona jus jeruk karena wanita itu tidak boleh meminum alkohol setetespun.

“Benarkah? Kau sakit Yoong?”

“Yahh… akhir-akhir ini aku memang memiliki masalah pencernaan.”

Yoona tersenyum menenangkan pada Siwon dan langsung menerima minumannya ketika bartender itu mengangsurkan gelas tinggi berisi jus jeruk. Andai Summer tak mencegahnya untuk meminum scotch, ia pasti sudah menegak cairan kecoklatan itu dalam sekali tegak. Sayangnya Summer masih begitu mencintai nyawanya, dan masih menyayangi janin di dalam kandungannya yang akan terancam karena ulah nekatnya. Tapi ia benar-benar tidak peduli dengan janinya. Sejak awal ia sangat menginginkann janin itu mati, jadi meminum alkohol sebanyak apapun rasanya tidak masalah untuknya. Hanya saja ia masih menyayangi Summer, ia tidak mau wanita itu mendapatkan masalah hanya karena sikap kekanak-kanakannya malam ini.

“Kau pasti terlalu banyak bekerja hingga tidak memikirkan kondisi tubuhmu sendiri. Yoona, sejujurnya aku belum bisa melupakanmu. Aku masih sangat mencintaimu.”

Yoona tersenyum mencemooh melihat raut wajah Siwon yang tampak memelas di depannya. Ia tahu pria itu masih sangat mengharapkannya, tapi ia sendiri sudah bosan pada pria itu. Rasanya satu minggu sudah cukup untuk bermain-main dengan Siwon, dan sekarang ia justru ingin mencari mangsa baru yang lebih segar dan juga menggairahkan daripada Siwon.

“Jangan seperti itu, carilah wanita lain yang lebih baik dariku. Lihatlah, ada banyak wanita yang menginginkanmu, kau harus memberikan mereka kesempatan.”

“Tapi aku hanya menginginkanmu.”

Tiba-tiba Siwon menyentak tangan Yoona dan membuat wanita itu sedikit terhuyung ke depan karena tidak siap dengan gerakan tiba-tiba itu. Dan tanpa diduga Siwon langsung melumat bibirnya rakus sambik menekan tengkuknya kuat agar ia bisa terus memperdalam ciumannya pada bibir Yoona yang menggairahkan. Sayang, tautan itu tiba-tiba terlepas begitu saja dan disusul dengan bunyi debuman keras yang berasal dari tubuh Siwon yang telah jatuh menghantam lantai.

“Keparat, siapa yang mengijinkanmu menyentuh wanitaku?”

Siwon menyeka aliran darah di sudut bibirnya sambil menatap gentar mata Donghae yang menunjukan kilatan marah yang mengerikan.

Sementara itu, Yoona hanya memandang sebal kearah Donghae sambil berjalan menjauh untuk pergi dari klub itu. Rasanya tidak asik jika kegiatan panasnya harus diganggu oleh Donghae yang selalu over protektif padanya. Ia muak melihat pria itu menyakiti mantan-mantan kekasihnya, sedangkan ia tidak boleh menyakiti jalang-jalangnya yang menjijikan.

“Aku masih memiliki urusan denganmu nona Im.”

Dengan kasar Donghae menyentak tangan Yoona dan memojokan wanita itu ke sudut klub yang terlihat sepi dan tidak dilewati banyak orang. Dengan mata yang masih berkilat-kilat marah, pria itu menatap manik hitam Yoona intens sambil menebarkan teror yang menakutkan pada wanita itu.

“Hai, selamat datang di Seoul Lee Donghae.” Sapa Yoona santai tanpa rasa takut. Melihat Donghae yang berapi-api seperti ini adalah sesuatu yang biasa untuk Yoona. Bahkan ia sudah pernah melihat yang lebih mengerikan daripada ini.

“Beraninya kau pergi tanpa seijinku, kau ingin menantangku, hah!” Maki Donghae keras. Melihat itu Yoona hanya mendecih kecil sambil memutar bola matanya malas. Pria ini, apakah pantas membentak-bentaknya seperti ini jika pria itu juga pergi bersenang-senang dengan jalangnya, Jessica Jung!

“Oh hai oppa, sekarang mari kita cek apa yang telah kau lakukan di belakangku.”

Yoona menarik kerah kemeja Donghae kuat dan membuat wajah pria itu semakin dekat dengan wajahnya. Lalu dengan alis memincing, Yoona mulai mengendus kemeja Donghae dan menyeringai licik pada pria itu sambil membelai collar bone Donghae yang tertutupi kemeja.

“Bau parfum wanita, kau baru saja bermain-main bersama mereka bukan? Hmm… ada sedikit noda lipstik di sini.”

Tunjuk Yoona pada noda merah yang sedikit memudar di sisi kiri kerah kemeja Donghae. Lalu tangan kanan Yoona naik menuju rambut hitam Donghae dan mengacaknya perlahan dengan gaya sensual yang membuat Donghae semakin menggeram kesal.

“Rambut yang tidak rapi lagi, ini adalah bukti jika kau baru saja bermain-main dengan jalangmu Lee Donghae. Hmm… bukankah kau ingin membuktikan padaku jika kau layak menjadi pria yang baik untuk anak ini? Mana janjimu Lee, kenapa kau justru menipuku?” Tanya Yoona lembut namun sarat akan sindiran. Meskipun ia sangat ingin meledak dengan segala kemarahan yang membuncah di hatinya, namun Yoona memilih untuk bersikap tenang di hadapan Donghae karena ia tahu jika Donghae akan lebih kesal jika diperlakukan seperti ini.

“Kau tahu aku pergi dengan Jessica dan wanita lain, tapi kenapa kau tidak menghentikanku?” Geram Donghae kesal. Alasannya pergi dengan wanita-wanita itu semata-mata karena ia tidak ingin menyakiti Yoona. Ia adalah pria normal, melihat Yoona yang terus menerus berkeliaran di rumahnya hanya menambah gairahnya pada wanita itu. Sedangkan Yoona tidak bisa disentuh dalam keadaan seperti ini. Lalu apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi semuanya?

“Untuk apa? Kau sudah dewasa, kau bukan lagi anak kecil yang harus diajari tentang benar dan salah. Sebenarnya aku juga tidak peduli dengan apapun kegiatanmu di luar sana, hanya saja kau terlalu egois. Aku tidak pernah memberimu batasan apapun, tapi kau selalu mengekangku dan mencampuri urusanku. Jika menetapkan peraturan yang ketat pada orang lain, seharusnya kau juga melakukannya pada dirimu sendiri brengsek!”

Bugh

Yoona memukul dada Donghae keras sekaligus membuat pria itu mundur agar ia bisa bebas dari cengkeraman pria itu. Namun baru beberapa langkah, ia tiba-tiba saja merasakan perutnya terasa sangat sakit hingga ia harus berjongkok untuk mengurangi rasa sakit menusuk yang begitu luar biasa di perutnya.

“Aaahhhh…. perutku…”

Yoona merintih kesakitan di atas lantai sambil terus memegangi perut bagian bawahnya yang terasa seperti ditusuk-tusuk. Sedangkan Donghae, pria itu hanya menatap Yoona datar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia pikir Yoona sedang bersandiwara setelah menyindirnya habis-habisan tentang peraturan ketat yang ia buat.

“Cepat berdiri, tidak usah memainkan drama murahan seperti itu Yoona.” Ucap Donghae datar sambil terus menatap Yoona yang mengerang kesakitan. Wanita itu tampak tak mempedulikan kata-kata Donghae dan justru semakin dalam menundukan kepalanya di antara lututnya untuk menahan sakit yang teramat menyiksa. Dan ketika rembesan darah mulai terlihat di kaki Yoona, barulah Donghae percaya jika Yoona tidak sedang berpura-pura di depannya. Wanita itu saat ini benar-benar mengerang kesakitan dan mungkin akan mengalami keguguran lagi.

“Shit! Kau benar-benar sakit.” Umpat Donghae panik dan langsung menggendong Yoona menuju mobilnya. Dengan kecepatan penuh ia memacu mobilnya kearah rumah sakit terdekat sambil melirik kondisi Yoona yang berada di sampingnya. Sejak tadi wanita itu tak henti-hentinya merintih sambil memegangi perut bagian bawahnya. Sementara itu, darah tampak mengalir pelan diantara sela-sela paha Yoona yang hanya tertutupi oleh dress selutut berwarna baby pink.

“Sekarang lihatlah apa yang terjadi, ini akibatnya jika kau menjadi gadis pembangkang.”

“Ahh…. sakit… Donghae sakit… rasanya aku ingin mati…”

Yoona mencengkeram lengan kanan Donghae kuat untuk menahan rasa sakit yang semakin menggila di perutnya. Keringat dingin perlahan-lahan mulai membanjiri keningnya yang indah hingga tercipta titik-titik sebesar biji jagung yang terus mengalir deras meskipun pendingin ruangan telah distel dengan suhu maksimal. Melihat itu, seketika Donghae merasa iba dan memutuskan untuk tidak menyalahkan Yoona. Tangan kanannya kemudian bergerak untuk mengelus surai kecoklatan Yoona sambil menenangkan wanita itu agar ia tidak semakin panik dengan rasa sakit yang menderanya.

“Tenanglah, sebentar lagi kita akan sampai.”

“Sakittt…. perutku sakit Hae…” Racau Yoona lagi dengan air mata yang semakin deras membanjiri wajahnya.

Setibanya di rumah sakit, Donghae langsung menggendong Yoona dan memasukan Yoona kedalam ruang IGD sambil berteriak pada siapapun untuk segera menolong Yoona. Ia tidak tega melihat wajah kesakitan Yoona yang tampak menyedihkan dibalik dadanya. Padahal beberapa saat yang lalu wanita itu baru saja bersikap angkuh di depannya, tapi sekarang semuanya telah berubah menjadi raut kesakitan yang terlihat sangat menyedihkan.

“Cepat lakukan sesuatu padanya, ia sedang hamil.” Teriak Donghae pada seorang suster. Dengan perlahan Donghae meletakan tubuh kesakitan Yoona di atas blangkar sambil menatap penuh iba pada Yoona yang masih mengerang kesakitan sambil memegangi perut bagian bawahnya.

“Hae… sakitt… aku akan keguguran lagi….” Isak Yoona pelan. Wajah Yoona yang semula merona, kini terlihat sangat pucat seperti mayat. Wanita itu benar-benar terlihat menyedihkan dan membuatnya was-was. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Yoona dan membuatnya tidak bisa melihat wanita itu lagi untuk selamanya.

“Ssshhh… tenanglah, kau akan baik-baik saja. Aku di sini.” Ucap Donghae lembut. Meskipun ia juga sama paniknya, namun sebisa mungkin ia menunjukan wajah tenangnya di depan Yoona agar wanita itu tidak berpikiran macam-macam mengenai kematian. Dan meskipun nanti ia harus kehilangan bayinya, ia tidak peduli. Yang terpenting Yoona harus selamat dan bisa kembali lagi menjadi Yoona yang angkuh untuknya. Ia tidak mau kehilangan Yoona, ia takut wanita itu pergi dari hidupnya.

“Permisi, kami akan memeriksa nyonya Yoona. Sebaiknya anda menunggu di luar tuan.”

Dengan berat, Donghae melepaskan tautan tangannya dari Yoona dan mencium kening Yoona lembut sebelum ia berjalan keluar dari ruang IGD yang menyesakan. Wajah yang biasanya menunjukan aura dingin yang mencekam itu kini tampak kacau dan juga panik. Melihat Yoona yang terus menerus merintih kesakitan di depannya sambil memegangi perutnya membuat Donghae merasa tidak tega. Yoona sedang berjuang diantara hidup dan mati untuk anaknya. Ia seharusnya bisa menjadi pria yang baik dan tidak mengecewakan wanita itu dengan bersenang-senang dengan wanita lain. Brengsek kau Lee!

            Donghae mengumpat dalam hati sambil meruntuki kebodohannya hari ini yang terlalu tergoda pada nafsu sesaatnya. Padahal meskipun ia menyalurkan gairahnya pada wanita lainpun, tidak sepenuhnya hal itu bisa memuaskannya. Ia sadar jika apa yang dilakukannya hari ini hanyalah sebuah kesia-siaan belaka yang justru membuatnya berakhir menjadi pria kacau seperti ini. Ia menyesal, dan untuk pertama kalinya ia merasa takut pada sesuatu yang tidak pernah ia anggap berharga sebelumnya.

-00-

Malam semakin larut, Donghae masih terjaga di samping Yoona sambil menggenggam tangan wanita itu erat. Sejak dua jam yang lalu Yoona telah dipindahkan ke ruang rawat biasa setelah beberapa dokter melakukan beberapa tindakan untuk menghentikan kontraksi yang dialami Yoona. Dan syukurlah, hingga sejauh ini kandungan Yoona masih baik-baik saja. Wanita itu hampir saja keguguran hari ini jika Donghae tidak segera membawanya ke rumah sakit. Peningkatakan emosi dan sedikit kelelahan adalah penyebab dari terjadinya kontraksi yang dialami Yoona. Beberapa saat yang lalu dokter mengatakan jika Yoona setelah ini harus istirahat total dan tidak boleh banyak bergerak karena kandungan wanita itu sangat rentan. Bahkan orang-orang disekitarnya juga diharuskan untuk menjaga emosi Yoona agar tidak terlalu meledak-ledak seperti tadi.

“Eungghhh…”

Suara erangan Yoona yang terdengar samar membuat Donghae langsung menegakan tubuhnya sambil menatap kaku kearah Yoona yang perlahan-lahan mulai membuka matanya. Dengan penuh antipati ia menunggu Yoona sadar hingga tanpa sadar ia telah menahan napasnya sendiri karena terlalu was-was dengan apa yang akan terjadi setelah ini.

“Bayiku?” Gumam Yoona lemah sambil meraba perutnya yang masih datar. Entah kenapa Yoona saat ini terlihat lebih peduli dari kehamilannya setelah beberapa kali ia mengatakan pada semua orang jika ia tidak menginginkan bayi itu.

“Dia baik-baik saja.” Jawab Donghae pelan sambil meletakan tangannya di atas perut Yoona. Tiba-tiba saja ia merasa seluruh bebannya terangkat sempurna dari tubuhnya dan membuatnya mampu kembali bernapas dengan normal.

“Rasanya benar-benar sakit, seperti yang kurasakan tiga tahun yang lalu.”

“Kau hampir keguguran, tapi sekarang semuanya telah kembali normal. Kau tidak perlu khawatir.” Ucap Donghae menenangkan. Sejak tadi genggaman tangannya di tangan Yoona sama sekali tak terlepas dan justru semakin kuat melingkupi jari jemari Yoona. Ia harap Yoona dapat merasakan kesungguhan hatinya yang tidak ingin kehilangan mereka berdua.

“Aku ingin tidur, kau tidurlah.”

Yoona tiba-tiba berbalik memunggungi Donghae dan membuat tautan diantara mereka terlepas. Melihat itu Donghae hanya menghembuskan napasnya kecil sambil berbalik pergi menuju sofa di sudut ruangan. Malam ini ia perlu tidur untuk mengistirahatkan pikirannya yang sangat kacau akibat ulah Yoona. Wanita itu benar-benar telah berhasil menjungkir balikan hatinya hingga ia merasa takut seperti ini.

Dilain tempat, Yoona sedang merenungkan semua kejadian yang menimpanya hari ini. Dimulai saat tak sengaja ia melihat Donghae sedang bersama Jessica di hotel milik keluarga Summer yang berada di Gangnam. Dari sana emosinya benar-benar memuncak karena ternyata pria itu masih tetap pada sifatnya yang suka bermain-main wanita meskipun ia pernah memintanya untuk menjadi isterinya. Dan setelah itu ia memilih untuk melupakan semuanya dengan bersenang-senang karena ia muak dengan seluruh hidupnya yang seperti wanita tolol. Selama dua bulan ia menuruti semua perintah pria itu. Ia tetap berada di rumah, ia tidak bekerja, dan ia benar-benar menjaga kandungannya dengan baik. Tapi semua itu menjadi suatu hal yang tak berarti kala ia melihat Donghae justru bersenang-senang dengan wanita lain di luar sana. Ia benci pada perasaanya yang ternyata belum mati untuk pria itu. Padahal seharusnya ia bisa mengeraskan hatinya agar ia tidak terlihat lemah seperti tadi. Dan setelah semua hal yang terjadi hari ini, ia benar-benar menyesal. Hampir saja ia kehilangan janinya yang berharga. Saat rasa sakit itu menderanya, ia teringat pada kejadian tiga tahun lalu saat ia kehilangan janinya. Ia menyesal pernah mengatakan benci pada darah dagingnya sendiri, dan ingin membunuhnya karena sekarang ia merasa jika semua ini sangat berarti. Sekarang ia mulai berpikir jika anak itu nantinya bisa menjadi penyelamat hidupnya. Suatu saat ketika tidak ada lagi yang peduli pada hidupnya, maka anak itulah yang nantinya akan menjadi penguat untuk kehidupannya yang rapuh. Dan syukurlah ia belum terlambat untuk mempertahankan janinya. Ia benar-benar sangat bersyukur atas hal itu. Namun ada satu hal yang menggelitik hatinya. Saat ia sedang mengerang kesakitan, ia melihat Donghae begitu khawatir padanya sambil menggenggam tangannya erat. Pria itu terus berada di sampingnya selama ia berada di ruang IGD dan mencium keningnya sebelum keluar dari sana. Yoona perlahan-lahan membalik tubuhnya untuk melihat tubuh tegap Donghae yang sedang meringkuk di atas sofa sempit di sudut ruangan. Kentara sekali jika pria itu sebenarnya tidak nyaman, tapi ia berusaha untuk bertahan di atas sofa kecil itu demi menjaga wanita yang saat ini cukup berarti dalam hidupnya.

“Aku tidak pernah tahu bagaimana perasaanmu untukku, tapi kau harus tahu jika perasaanku belum berubah untukmu….”

26 thoughts on “Black Swan: Month Two, How Dare You (Seven)

  1. Deg degan, aku pikir Yoona keguguran lagi, tapi syukurlah ternyata tidak. Next thor ditunggu kelanjutannya

  2. Wahh.. Puas bgt, makin bagus aja ceritanya..
    Selalu suka sm karyamu thor..
    Donghae spertinya punya rasa yg sama kek yoona yaa..
    Semoga abis ini dia bner2 brubah 🙂
    Next chapter, smoga cpet dipost kya skrg hehe
    Hwaiting 🙂

  3. part 7.a yg mana thor?
    syukur sekali author.a baik bnget cepet post.a
    jngal jahil untuk buat readers nunggu lama ya

  4. Uhhh selalu ngerasa kurang panjang aja kalau baca ff ini haha gak pernah puas un saking greget nya..
    Btw.. Apa yg Yoona alamin itu kaya karma buat mereka berdua yaa, Donghae yg masih selalu main sama cewek lain dan Yoona yg selalu gk mau ngakuin anak itu dan berharap malah mati.
    Sebenernya saling sayang cuma pada gengsi aja gitu buat ngungkapin masing masing, di tunggu lah next chapter gimana.. Semoga cepet lagi besok mungkin hahaha

  5. Wahh.. Puas bgt, makin bagus aja ceritanya..
    Selalu suka sm karyamu thor..
    Donghae spertinya punya rasa yg sama kek yoona yaa..
    Semoga abis ini dia bner2 brubah 🙂
    Next chapter, smoga cpet dipost kya skrg hehe
    Hwaiting 🙂

  6. Uhhh selalu ngerasa kurang panjang aja kalau baca ff ini haha gak pernah puas un saking greget nya..
    Btw.. Apa yg Yoona alamin itu kaya karma buat mereka berdua yaa, Donghae yg masih selalu main sama cewek lain dan Yoona yg selalu gk mau ngakuin anak itu dan berharap malah mati.
    Sebenernya saling sayang cuma pada gengsi aja gitu buat ngungkapin masing masing, di tunggu lah next chapter gimana.. Semoga cepet lagi besok mungkin hahaha

  7. Yang part seven ko belum sihh dan berikutnya lebih dipanjangin chingu dan bikin sikap donghae yang mulai berubah ketika punya anak ntar kalo lahir laki apa perempuan ya 😀😀😀😀

  8. Donghae cuma gengsi aja itu, atau dia emang bener2 buta sama perasaan dia ke yoona. Aku tunggu lanjutannya kak.

  9. Ternyata yoona masih suka sama donghae. semoga sikap donghae mulai berubah ke yoona. ditunggu next nya thor 🙂

  10. Sii ikan, udah dibilangin jangan bikin emosi naik eh masih bandel aja, tapi ada hikmahnya juga sii, dengan begitu yoona jadi tau betapa berartinya sang janin dalam hidup nya dan donghae juga mulai menyadari betapa dia takut kehilangan yoona dan janin nya…

  11. Loh? Kok aku dah baca yang eight aja ya Thor. Sedang sevennya belum hahhaaa.. Semakin ditunggu part selanjutnya..

  12. Akhirnyaa, sedikit demi sedikit perasaan LDH terbuka semogaa di next chap bakal lebih banyak romancenya hahaha. Semangat authorr.

  13. Akhirnyaa, sedikit demi sedikit perasaan LDH terbuka semogaa di next chap bakal lebih banyak romancenya hahaha. Semangat authorr.

  14. semoga aja donghae gk terus menyakiti hati yoona. dan semoga aja donghae cepet sadar kalo dia tuh cinta sama yoona.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.