Black Swan: Month One, Problem One (Six)

Siang ini Yoona telah diijinkan pulang oleh dokter setelah menjalani perawatan intensif selama lima hari di rumah sakit. Sejak pagi Yoona terlihat sudah tidak sabar untuk meninggalkan ruangan pesakitan itu karena selama lima hari ia benar-benar tidak bisa pergi kemanapun. Ia bosan terus berdiam diri di sana dengan berbagai penjagaan ketat yang sengaja di tempatkan Donghae di sekitar kamar rawatnya. Dan untungnya Donghae sama sekali tidak pernah menampakan batang hidungnya sejak perdebatan mereka malam itu, sehingga ia bisa sedikit menghemat tenaganya untuk tidak bertengkar dengan pria itu.

“Yoona, aku masih tidak percaya jika kau hamil.” Ucap Tiffany yang saat itu tengah membantu Yoona membereskan pakaiannya. Yoona tampak acuh tak acuh sambil mengendikan bahunya sebagai respon atas pertanyaan wanita itu.

“Ini bukan sandiwaramu untuk menjebak Donghae bukan?” Tanya Tiffany lagi. Yoona berdecak sebal pada Tiffany, dan memutuskan untuk turun dari ranjang pesakitannya.

“Apa kau pikir aku semurahan itu? Ini kenyataan Tiffany, aku benar-benar hamil anak pria brengsek itu. Aku bahkan juga syok saat mendengarnya, dan dia justru menamparku saat aku hampir bunuh diri.” Cerita Yoona berapi-api. Ia masih merasa tidak terima dengan perlakuan Donghae padanya yang masih kasar, padahal pria itu juga mengajukan diri untuk mempertanggungjawabkan perbuatan bejatnya. Bagaimana mungkin ia akan menerima lamarannya jika pria itu masih bersikap kasar seperti itu.

“Mungkin saja ia geram dengan sikap nekatmu itu. Jika aku berada di posisi Donghae, aku pasti juga akan melakukannya.”

“Tapi aku masih tidak mengerti, kenapa ia ingin menikahiku. Bukankah kau tahu bagaimana sikap Donghae selama ini?“ Tanya Yoona tak habis pikir. Kata-kata Donghae semalam memang sedikit aneh karena Donghae tidak pernah sepeduli itu pada orang lain. Bertahun-tahun ia hidup di bawah tanggungjawab pria itu, hanya sekali ia pernah melihat Donghae peduli padanya. Saat pria itu ingin menguasai tubuhnya. Tapi sekarang, ia yakin Donghae sedang tidak memiliki maksud terselubung padanya karena ia sudah tidak memiliki apapun untuk dikuasai oleh pria itu.

“Entahlah, terkadang pria memang akan menjadi seseorang yang misterius dan sulit untuk dipahami. Lebih baik kau ikuti saja alur permainannya, dan buat dia bertekuk lutut di kakimu.”

“Ahh… Kurasa aku tahu apa yang harus kulakukan dengan kehamilanku ini.”

Tiffany menatap Yoona dengan dahi berkerut sambil mengamati ekspresi wajah Yoona yang tampak berkilat-kilat. Ia tahu, Yoona pasti saat ini sedang memiliki rencana baru di dalam kepalanya.

“Apa? Kau ingin membaginya denganku?”

“Mungkin nanti, ini belum saatnya kau tahu. Ucap Yoona dengan senyuman. Setelah itu mereka berdua tak lagi berbicara dan memilih untuk menyibukan diri dengan ponselnya. Yoona harus mulai mengatur jadwalnya dengan Jimin karena ia telah meliburkan diri dari pekerjaanya pasca insiden pingsan yang sangat merepotkan. Siang ini juga ia harus bertemu dengan fotografer dan juga pihak sponsor untuk meminta maaf atas penundaan jadwal pemotretan yang terjadi beberapa hari yang lalu.

“Kau sudah siap?”

Dua orang wanita itu refleks menoleh kearah pintu sambil memincingkan matanya aneh kearah Donghae. Tanpa diduga pagi ini pria itu muncul dengan kemeja hitam yang digulung sebatas siku dan celana jeans biru gelap yang tampak begitu pas dengan tampilannya yang maskulin. Namun meskipun begitu, Yoona justru tampak tidak senang dan hanya melirik pria itu sekilas tanpa minat.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Yoona dingin. Ia malas melihat wajah Donghae yang selalu menguarkan aura mendominasi dan juga wajah pias yang selalu menjadi ciri khasnya setiap hari. Bahkan meskipun sedang berada di rumah sakitpun, pria itu juga tidak merubah ekspresi wajahnya agar lebih menarik untuk dilihat.

“Menjemputmu. Kita pulang sekarang, Jimin yang akan mengurus semua barang-barangmu.”

“Tapi aku harus pergi menemui pihak sponsor dan fotografer. Siang ini ada jadwal pemotretan pengganti dan beberapa kontrak iklan yang harus kutandatangani bersama Jimin.”

“Aku sudah mengurus semuanya. Kau tidak boleh melakukan kegiatan apapun selama kehamilanmu masih rentan.”

“Apa? Kau memaksaku untuk menjadi seorang pengangguran?” Teriak Yoona kesal. Dua orang itu lantas sibuk berdebat di dalam ruangan itu dengan Tiffany yang terus menonton aksi perdebatan mereka di ujung ruangan sambil terbengong-bengong. Ini adalah sebuah peristiwa yang sangat langka dimana Yoona dan Donghae tidak hanya saling melemparkan tatapan sinis, namun juga saling berteriak satu sama lain.

“Aku melakukannya untuk kebaikanmu. Jangan pernah membuatku cemas dengan sikapmu yang pembangkang. Kali ini aku sudah berusaha untuk berkompromi denganmu.”

“Cih, aku tahu kau hanya berpura-pura. Kita lihat saja, dalam satu minggu ke depan kau pasti akan kembali menjadi Lee Donghae yang egois dan brengsek.” Ucap Yoona mencemooh. Wanita itu lantas pergi meninggalkan Donghae sambil berdecak kesal disepanjang perjalanan menuju loby. Ia yakin Donghae tidak akan bisa berubah secepat itu. Meskipun ia sedikit tersentuh saat pria itu mengatakan jika ia mencemaskannya, namun hal itu bukan jaminan jika suatu saat Donghae tidak akan menyakitinya lagi. Ia sudah hafal bagaimana sifat Donghae selama ini. Paling-paling pria itu hanya akan bertahan dengan sikap manisnya dalam waktu tiga hari, setelah itu, ia pasti akan kembali pada sikap aslinya yang brengsek.

“Jangan berjalan terlalu cepat, kandunganmu masih sangat rentan. Sedikit saja guncangan akan membuatmu keguguran.”

Yoona menghempaskan tangan Donghae kasar dari pergelangan tangannya sambil melirik pria itu sinis. Ini bukan jenis perhatian yang ingin ia dapatkan dari Donghae. Ia justru merasa jijik dengan sikap sok over protektif Donghae yang membuatnya terlihat sebagai wanita lemah.

“Aku tidak selemah itu, dan aku sangat tahu jika kandunganku lebih dari kuat untuk menahan banyaknya goncangan yang kulakukan.”

“Terserah, sekarang masuk.”

Tanpa menanggapi penolakan keras yang dilayangkan oleh Yoona, Donghae memaksa Yoona masuk dan memutuskan untuk menjadi pria pendiam. Ia sudah berjanji pada dokter kandungan Yoona untuk memberikan perawatan yang terbaik pada Yoona karena wanita itu akan lebih rentan di kehamilan ke dua. Apalagi Yoona sudah pernah keguguran sekali, hal itu akan membuat kandungan Yoona lebih lemah dari kehamilan sebelumnya. Tapi sikap keras kepala Yoona membuat semuanya menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Bahkan hari ini ia rela menunda seluruh pekerjaanya untuk menjemput Yoona pulang dan memastikan wanita itu tidak melakukan tugas-tugas berat. Bisa dikatakan ia ingin menebus kesalahannya di masa lalu karena pernah membuat Yoona keguguran. Meskipun ia bukan pria baik-baik yang menyukai komitmen, tapi ia tidak akan menjadi pria brengsek seperti Hyukjae yang akan lari begitu saja dari tanggungjawabnya sebagai seorang pria yang telah menghamili seorang wanita. Apalagi wanita yang dihamilinya adalah Yoona, putri dari sahabatnya sendiri. Ia jelas tidak akan membiarkan wanita itu berjuang sendiri untuk sesuatu yang mereka lakukan bersama.

“Kenapa kau harus repot-repot melakukan hal ini?” Tanya Yoona di sela-sela keheningan mereka. Suara hembusan angin dari pendingin mobil menjadi satu-satunya suara yang menemani kebisuan mereka. Namun pada akhirnya Yoona memilih untuk mencairkan suasana kaku diantara mereka dengan sebuah pertanyaan klise yang menurutnya pasti akan dijawab Donghae dengan jawaban yang tidak jelas.

“Aku sudah pernah mengatakannya padamu, apa kau lupa?” Jawab Donghae dengan suara datar. Mendengar itu Yoona tampak kesal dan langsung memalingkan wajahnya kearah jendela. Ia merasa bodoh dan tolol karena telah melayangakan pertanyaan itu pada Donghae. Seharusnya mereka berdua memang hanya diam dan tidak perlu berkata apapun.

“Aku tidak tahu jika kau pernah hamil sebelumnya, dan keguguran.” Ucap Donghae tiba-tiba, yang membuat Yoona langsung kaku. Ia tidak tahu jika Donghae ternyata sudah mengetahui hal itu. Dan sudah dapat dipastikan jika dalang dari semua ini adalah Lee Hyukjae karena hanya pria itulah yang tahu tentang masa lalunya. Selama ini ia mampu menjaga rahasia itu rapat-rapat dan meminta Hyukjae untuk merahasiakan semuanya dari Donghae. Bodoh, ia memang tidak seharusnya berurusan dengan Lee Hyukjae untuk masalah-masalah yang krusial, karena pada akhirnya pria itu yang justru membeberkannya pada Lee Donghae.

“Kau tidak pernah bertanya. Huh, memangnya kau peduli padaku?” Balas Yoona sengit. Tanpa menoleh, Donghae membalas ucapan sinis Yoona sambil tetap mengemudikan mobilnya dengan tenang. Pria itu sepertinya sedang dalam suasana hati yang bagus, sehingga apapun sikap Yoona hari ini, ia tidak mudah tersulut emosi seperti biasanya. Justru Yoona yang terus merasa emosi dan merasa ingin meledak saat ini juga karena sikap Donghae yang dinilainya aneh juga berlebihan.

“Aku sebenarnya cukup peduli jika saat itu kau mengatakannya padaku. Salah satu alasanku mengapa aku tidak ingin terikat dengan siapapun karena aku tidak ingin keturunanku akan menjadi sepertiku. Liar, bebas, tak terkendali, kurang kasih sayang. Tapi jika itu sudah terlanjur, aku ingin membuatnya dapat merasakan kehidupan yang lebih baik daripada kehidupanku.”

“Tapi kau merusakku. Kenapa kau tidak memperlakukanku dengan baik?” Seloroh Yoona sengit. Terkadang ia merasa Donghae terlalu jauh memikirkan sesuatu, namun ia tidak peduli pada hal-hal kecil di sekitarnya. Ia tidak ingin keturunannya menderita, tapi selama ini ia selalu merusak hidup orang lain. Tak bisa dibayangkan berapa banyak wanita yang telah dikencani oleh Donghae selama ini, dan mereka semua mungkin telah menyerahkan harta berharga milik mereka pada pria brengsek seperti Lee Donghae.

“Semua itu terjadi atas dasar suka sama suka Yoona. Aku tidak pernah memaksa wanita manapun untuk menjadi teman tidurku, tapi mereka sendiri yang memintanya. Dan kurasa hal itu juga berlaku padamu.”

“Sialan! Kau telah menipuku selama ini. Kau memperlakukanku dengan baik di awal, menganggapku seperti kekasihmu dan selalu memberikan perhatian padaku. Tapi setelah kau mendapatkan semuanya, kau langsung membuangku begitu saja tanpa belas kasihan.”

“Aku hanya tidak ingin kau terlalu berharap padaku, hanya itu. Meskipun kau telah hidup denganku bertahun-tahun Yoona, kuyakin kau tidak pernah tahu apapun tentangku.” Ucap Donghae dingin dengan rahang mengetat yang tampak mengerikan. Topik obrolan mereka kali ini telah membuat emosinya tersulut, dan ia begitu kesal karena tidak bisa melampiaskan semua itu dengan mudah. Jika Yoona tidak sedang hamil, mungkin ia akan bersikap seperti biasa, kasar dan brengsek. Tapi untuk kali ini ia akan berusaha untuk berkompromi dengan bayi yang sedang dikandung Yoona, karena sepertinya ia mulai menginginkan bayi itu.

“Kita sudah sampai.”

“Lalu?”

“Turunlah.”

“Aku tidak ingin jalan. Kau yang harus menggendongku.” Ucap Yoona datar penuh arogansi. Donghae semakin menipiskan kedua bibirnya dan tampak mencoba bersabar dengan semua sikap menyebalkan Yoona. Ia kemudian memutari sisi mobilnya dan menggendong Yoona seperti keinginan wanita itu. Mereka perlahan-lahan masuk kedalam rumah dengan Yoona yang terlihat terayun-ayun di dalam dekapan Donghae. Namun dengan gaya angkuhnya Yoona memilih untuk memalingkan wajahnya kearah lain, meskipun kedua tangannya saling bertaut erat di balik lerh Donghae.

“Tuan, anda sudah kembali.”

“Kamar untuk Yoona sudah siap?”

“Sudah tuan.”

Tuan Kim tampak menunduk hormat dan mempersilahkan Donghae untuk mengantar Yoona ke kamarnya. Pria tua itu tampak terkekeh geli melihat tuannya yang tampak tak berkutik dengan kehamilan Yoona. Dan ia sangat menanti kelanjutan hubungan tuannya dan juga nonanya setelah ini. Bisa jadi rumah akan semakin ramai dengan suara teriakan Yoona ataupun suara rengekan Yoona yang memiliki banyak keinginan selama kehamilannya.

“Kau tidak ke kantor?”

“Tidak. Hari ini aku akan di rumah?”

“Kau tidak pergi ke klub?”

“Tidak, tidak ada apapun yang harus kulakukan di sana?”

“Lalu apa yang akan kau lakukan di rumah?”

“Menjagamu agar kau tidak melakukan hal-hal bodoh seperti kemarin. Sekarang tidurlah.”

Dengan hati-hati Donghae meletakan Yoona di atas ranjangnya dan menyelimuti wanita itu hingga sebatas dada. Melihat bagaimana perlakuan Donghae yang lembut membuat Yoona merasa aneh sekaligus jijik dengan dirinya sendiri karena ia merasa seperti seorang wanita sakit yang sama sekali tidak berguna.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri, kau bisa pergi.” Usir Yoona kasar sambil berbalik memunggungi Donghae. Di kepalanya ia sudah merencanakan banyak hal untuk dikerjakan besok. Hari ini ia memilih untuk menurut pada Donghae karena ia sedang malas berdebat dengan pria itu. Lagipula ia juga belum merasa benar-benar baik sekarang. Kondisinya seperti mengalami fluktuasi yang sangat menyebalkan dan tidak bisa diprediksi. Beberapa menit yang lalu ia merasa baik-baik saja dan sangat bersemangat untuk melakukan banyak hal, tapi sekarang ia justru merasa lemas dan hanya ingin tidur seharian di atas ranjangnya yang hangat. Tak berapa lama ia mendengar suara pintu ditutup perlahan yang diikuti dengan suara sol sepatu yang berbunyi nyaring menjauhi kamarnya. Yoona lantas memejamkan matanya sambil merasakan berbagai perasaan aneh yang mulai melingkupi hatinya. Batinnya masih tidak percaya jika saat ini ia sedang mengandung anak dari pria yang sangat dibencinya. Jika seperti ini ia hanya akan semakin terikat pada Lee Donghae dan ia akan semakin sulit untuk lepas dari cengkeraman pria itu. Kecuali, jika ia bisa memanfaatkan keadaan ini untuk menghancurkan Donghae dan membuat pria itu merasakan karma dari seluruh sikap buruknya selama ini.

-00-

“Apa ia sedang tidur?”

Donghae menghentikan langkahnya di ujung tangga ketika melihat Hyukjae sedang menatapnya dengan penuh tanda tanya. Pria bergusi pink itu mengangkat alisnya sekilas kearah Donghae ketika pertanyaanya tak kunjung mendapatkan jawaban dari sang lawan bicara.

“Mungkin, tapi mungkin juga tidak. Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku ingin menjenguknya.”

Hyukjae mengikuti langkah Donghae yang membawanya menuju ruang kerja sambil terus berceloteh dengan berisik.

“Kemarin aku ingin menjenguknya di rumah sakit tapi kau bilang ia harus istirahat total, jadi aku memutuskan untuk menjenguknya saat ia sudah kembali dari rumah sakit.”

Sembari berceloteh, ia berjalan menuju lemari pendingin di sudut ruangan Donghae, lalu mengambil dua kaleng bir dingin untuk dirinya dan juga Donghae.

“Kau tidak pergi ke kantor?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Aku hanya ingin memastikan keadaanya hari ini sebelum aku meninggalkannya ke kantor. Ia bisa saja melakukan tindakan bodoh untuk bunuh diri lagi.” Ucap Donghae datar. Hari ini wajahnya terlihat lebih muram dari biasannya. Kehamilan Yoona yang tidak pernah terduga membuatnya cukup kebingungan untuk bersikap pada wanita itu. Ia ingin bersikap tegas, namun kondisi Yoona sedang tidak memungkinkan. Tapi jika ia terlalu lunak, wanita itu pasti akan jadi wanita pembangkang yang yang merepotkan. Jadi sekarang ia benar-benar dibuat bingung dengan hidupnya yang bertambah rumit.

“Menurutku kau harus bersabar dalam menghadapi sikap Yoona. Wanita hamil akan cenderung merepotkan dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba.”

Donghae menghembuskan asap tipis dari mulutnya sambil merasakan efek nikotin yang mulai mengalir di otaknya. Sejenak ia merasa tenang setelah menghisap sebatang rokok yang nikmat. Namun ia tahu jika ketenangan itu hanya akan bertahan sementara dan sangat singkat.

“Aku sudah merasakan sendiri bagaimana perubahan moodnya, dan itu cukup menyebalkan. Ini masih dalam tahap awal Hyuk, entah bagaimana sikapnya nanti setelah kandungannya semakin bertambah besar.”

“Kalau begitu selamat dude, kau sekarang resmi menjadi calon ayah siaga.” Ejek Hyukjae sambil terkekeh. Lee Donghae hanya menatap datar pria bergusi pink itu tanpa berminat sedikitpun untuk menanggapinya. Ia memilih untuk memejamkan matanya sejenak sambil memikirkan hal-hal yang harus ia pikirkan. Dalam waktu dekat ini ia mungkin harus membasmi satu persatu hama-hama yang sering mengaku-ngaku sebagai kekasih Yoona. Kemudian ia juga perlu memikirkan Cho Kyuhyun karena pria itu berpotensi untuk mengacaukan hubungannya dengan Yoona. Pria itu adalah satu-satunya pria yang mendapatkan hati Yoona setelah Yunho dan juga Hyukjae. Tapi kedua pria itu tidak perlu diwaspadai karena Yoona jelas tidak mungkin memiliki perasaan cinta untuk mereka, tapi untuk Kyuhyun, Yoona mungkin saja memilikinya karena hingga saat ini ia masih belum bisa menyimpulkannya dengan jelas dari Yoona.

“Kau sudah mencaritahu mengenai Cho Kyuhyun?”

Tiba-tiba Donghae bersuara dan membuat Hyukjae sedikit kaget karena ia tidak siap.

“Apa? Cho Kyuhyun? Ohh… pegawai baru dari Busan. Hmm… bagaimana ya, sebenarnya belum banyak yang aku dapat dari pria itu. Tapi sejauh ini ia adalah pegawai yang baik. Hasil kerjanya juga bagus, jadi ia sekarang menjadi pegawai kesayangan di divisi keuangan. Jika kinerjanya terus seperti itu, bisa saja ia direkomendasikan menjadi pemimpin divisi dan ia akan bekerja langsung di bawahku. Kenapa? Tentang Yoona?”

“Pria itu mencintai Yoona, dan aku tidak suka karena ia bukan pria yang tepat untuk Yoona.”

“Memangnya pria seperti apa yang tepat untuk Yoona?” Tanya Hyukjae menyeringai. Ia sengaja memberikan pertanyaan jebakan itu untuk menguji Lee Donghae yang terlalu rumit dengan perasaanya. Pria itu selalu mengekang Yoona dengan pria manapun, namun ia juga tidak mau mengikatnya. Sungguh itu adalah jenis sikap pria plin plan yang terlalu naif dengan perasaanya.

“Pria yang benar-benar bisa mendidik Yoona menjadi wanita tangguh. Seperti apa yang diinginkan Seulong selama ini.”

“Maksudmu?”

Lee Donghae menyeringai tipis kearah Hyukjae sambil menekuni pekerjaanya yang tertunda. Pria itu, ia salah jika ingin menguji Lee Donghae karena Donghae akan selalu memiliki seribu satu jawaban yang masuk akal untuk seluruh tindakannya.

 

Flashback

Bungkukan hormat itu langsung diterima Donghae ketika ia melangkahkan kakinya kedalam rumah megah sahabatnya yang berada di Gangnam. Sebenarnya bukan kali pertama ia menginjakan kaki di sini, Seulong telah ia anggap sebagai sahabat sekaligu kakaknya. Persahabatan mereka yang terjalin cukup lama membuat Donghae benar-benar dekat dengan pria itu. Dan Sore ini ia merasa rindu pada sahabatnya itu. Akhir-akhir ini Seulong terlalu sulit diajak untuk bersenang-senang di klub. Sejak isterinya pergi bersama pria lain, Seulong lebih memilih untuk menyibukan dirinya dengan mengurus perusahaan dan juga mengurus putrinya yang masih berusia sepuluh tahun.

“Paman Donghae?”

Donghae menaikan alisnya ketika ia mendapati Yoona sedang menyapanya ramah. Gadis kecil yang sedang mewarnai di atas karpet bulu itu terlihat manis sambil melambaikan tangannya pelan. Dengan senyum kakunya, Donghae menghampiri gadis itu dan memutuskan untuk duduk di atas sofa di dekat Yoona.

“Dimana ayahmu?” Tanya Donghae tanpa membalas sapaan Yoona. Pria muda itu tampak  benar-benar kaku dan sama sekali tidak memiliki keramahan sedikitpun pada gadis manis di depannya.

“Ayah… emmm… di belakang?” Ucap Yoona seperti tidak yakin. Sejak tadi ia terus menggambar di sana dan hanya melihat ayahnya sekali ketika meletakan koran di atas meja.

“Paman, apa kau bisa menggambar?”

“Tidak.” Jawab Donghae pendek. Ia terlihat mengeluarkan ponselnya untuk mengusir rasa bosannya selama menunggu Seulong.

“Paman Hyukjae bisa menggambar. Paman Hyukjae memberiku peralatan gambar, dan menggambar ini untukku.”

Yoona menunjukan gambar dua orang manusia, ayah dan anak yang menurut Donghae mungkin itu Yoona dan Seulong. Sejak dulu Hyukjae memang pintar menggambar, dan pria itu juga sangat ahli dalam memikat hati siapapun, termasuk gadis kecil polos seperti Yoona.

“Bagus.”

Lagi-lagi Donghae menanggapinya singkat dan malas-malasan. Berbicara dengan seorang anak kecil sama sekali bukan gayanya. Selama dua puluh lima tahun hidupnya ia tidak pernah sekalipun berinteraksi dengan anak-anak. Menurutnya mereka terlalu merepotkan dan juga berisik.

“Oya, apa bajuku bagus paman? Ini kado dari bibi Naeun.”

Donghae menaikan alisnya sekilas dan mengangguk kecil sebagai jawaban. Son Naeun, wanita itu adalah mantan kekasih Seulong yang pada akhirnya menjadi sahabat baik pria itu. Mungkin Naeun akan memikat Seulong lagi dengan memberikan Yoona hadiah-hadiah kecil seperti itu.

“Jangan salah paham, Naeun sekarang telah bertunangan dengan kekasihnya. Ia tidak mungkin akan kembali padaku.”

Tiba-tiba Seulong datang dan menjawab pransangka buruk Donghae padanya. Pria itu tersenyum sekilas melihat putrinya yang sedang tekun mewarnai sambil mengelus pelan surai hitamnya yang panjang.

“Mereka terlalu memanjakannya. Setiap hari Yoona selalu mendapatkan hadiah-hadiah dari mereka.” Ucap Seulong dengan nada sedih. Donghae lagi-lagi menaikan alisnya sambil menatap bingung kearah Seulong.

“Kau aneh, bukannya bagus jika mereka perhatian pada Yoona. Sepertinya hanya aku yang tidak pernah memberinya apapun.” Ucap Donghae tanpa malu. Pria kaku sepertinya memang tidak pernah peka pada anak kecil. Keberadaan mereka saja bahkan sering diabaikan olehnya, bagaimana mungkin ia akan memberikan mereka hadiah.

“Tidak juga, mereka hanya akan membuat Yoona manja. Dunia ini kejam Hae, Yoona tidak bisa terus menerus mendapatkan kemudahan tanpa pernah melihat kejamnya dunia. Jika suatu saat aku pergi, dan Yoona belum terbiasa dengan kejamnya dunia, ia tidak akan bisa mengambil alih perusahaanku.”

“Kau terlalu berlebihan. Yoona masih anak-anak, suatu saat pasti ia bisa melanjutkan perusahaanmu. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang rumit.” Ucap Donghae menasihati. Tapi Seulong agaknya masih tetap tidak setuju. Terbukti dengan sikap pria itu yang langsung menentang keras pendapat Donghae sambil menatap getir kearah Yoona.

“Yoona harus dibiasakan untuk hidup keras. Lihat, saat ditinggal ibunya ia terlihat sangat terpukul. Jika sejak lama aku mendidiknya dengan keras, mungkin ia tidak akan menangis diam-diam setiap malam.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan untuk mendidiknya?”

“Aku tidak tahu. Sepertinya kau yang lebih cocok untuk mendidik Yoona.”

Seketika Donghae tertawa terbahak-bahak menanggapi ucapan Seulong. Pria itu memang sudah gila jika akan memberikan Yoona padanya untuk dididik.

“Paman Donghae kenapa?” Tanya Yoona kaget. Suara tawa Donghae yang tiba-tiba mengganggu konsentrasinya yang sedang asik mewarnai hasil karya Hyukjae.

“Bukan apa-apa, lanjutkan saja mewarnaimu. Ahh… apa kau yakin? Sayangnya aku tidak berminat untuk mengurus Yoona. Urus anakmu sendiri.” Dengus Donghae kesal. Seulong menghembuskan napasnya pelan dan terlihat sedikit murung.

“Aku hanya ingin kau yang mengasuh Yoona. Aku yakin, kau tidak mungkin memanjakannya seperti teman-teman kita yang lain.”

“Ck, aku tidak berminat untuk mengurus Yoona. Aku hanya akan merusaknya jika ia bersamaku.” Ucap Donghae beralasan. Sampai kapanpun ia tidak mau hidupnya dibuat rumit dengan seorang gadis kecil seperti Yoona.

“Tidak apa-apa. Terkadang hal-hal buruk memang perlu terjadi untuk menguatkan mental kita. Dan Yoona juga membutuhkan hal itu untuk melatih mentalnya agar ia kuat dan menjadi pemimpin yang tangguh.”

Flashback end

 

Donghae masih mengingat jelas percakapannya dengan Seulong empat belas tahun yang lalu. Apa yang terjadi pada Yoona sekarang semata-mata juga bukan salahnya. Seulong sendiri yang memintanya untuk mendidik Yoona dengan keras. Hanya saja, mungkin ia sudah terlalu berlebihan pada wanita itu hingga membuat Hyukjae geram seperti ini padanya.

“Kau tidak ada pekerjaan lain? Pergilah.” Usir Donghae kejam. Hyukjae mengerutkan alisnya kesal dan segera bangkit dari duduknya untuk pergi. Bertahan di sana dengan sikap Donghae yang tidak bersahabat memang tidak ada gunananya. Ia justru akan terus dibuat kesal dengan sikap angkuh Donghae yang selalu menyebalkan.

“Baiklah, aku akan pergi. Jaga Yoona baik-baik. Jika aku melihatnya menangis dan akan bunuh diri lagi, kau adalah orang pertama yang akan kuhajar.”

“Hmm… Aku tidak akan membiarkannya melakukan hal bodoh itu lagi. Tapi untuk menangis, aku tidak janji akan membuatnya tidak menangis. Suatu saat pasti aku akan melukainya lagi dan membuatnya menangis lagi.”

-00-

Yoona bergulung-gulung di ranjangnya dengan bosan sambil menatap detik jam yang berlalu sangat lama. Sudah tiga hari ia berada di rumah tanpa aktivitas dan kesibukan yang berarti. Hidupnya sekarang terasa semakin membosankan tanpa semua jadwal pemotretan yang selalu menemaninya selama ini. Dan yang paling membuatnya kesal, pria itu sejak kemarin telah kembali pada rutinitasnya yang padat, sehingga ia sekarang benar-benar merasa bosan karena tidak bisa membuat keributan dengan pria itu.

“Nona, saatnya makan siang.”

Seorang pelayan masuk kedalam kamar Yoona sambil menatap lembut Yoona yang tampak malas untuk beranjak dari ranjangnya. Ia masih merasa kenyang sekarang, saat ini yang ia inginkan hanya sekotak strawberry yang terasa begitu segar di mulutnya.

“Aku belum lapar. Apa kau memiliki strawberry?”

“Maaf nona, kami tidak punya. Jika nona mau, saya akan membelikannya di supermarket.”

“Oh, tidak perlu. Kau boleh pergi, nanti jika aku lapar aku akan turun ke bawah.”

Sepeninggal pelayan itu, Yoona langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Donghae. Ini adalah kesempatan pertama untuk membuktikan padanya jika pria itu memang layak menjadi ayah yang baik untuk bayinya.

“Aku ingin sekotak strawberry.”

Dengan gaya angkuhnya Yoona langsung meminta Donghae membelikan strawberry tanpa memberikan sapaan hangat atau basa basi apapun. Sementara itu, Donghae tampak mengernyit heran sambil menatap layar ponselnya datar.

“Suruh saja Kim atau yang lainnya, aku sedang sibuk.”

“Aku tidak mau. Kau ayahnya, bukan Kim atau pelayan-pelayan yang bekerja di rumahmu. Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus membelikan aku strawberry sekarang atau aku akan mencari cara untuk menggugurkan janin ini.”

“Jangan macam-macam Yoona.” Desis Donghae murka. Ia tidak suka jika Yoona menggunakan kehamilannya untuk mengancamnya. Memang benar janin itu adalah miliknya, tapi ia sedang sibuk sekarang. Satu jam lagi ia memiliki meeting dengan tuan Takeshi dari Jepang.

“Aku tidak bisa. Suruh Kim untuk membelikannya, dan jangan coba-coba untuk bunuh diri.” Ucap Donghae keras. Mendengar itu, Yoona hanya menanggapinya acuh tak acuh sambil memainkan kuku-kukunya yang berkutek merah.

“Aku tak peduli, sibuk ataupun tidak kau tetap harus membelikanku sekotak strawberry. Waktumu tiga puluh menit tuan Lee, jika kau tidak tiba dalam tiga puluh menit….. katakan selamat tinggal pada anakmu.”

Klik

Yoona tersenyum puas pada ponselnya sambil merebahkan tubuh kecilnya di atas ranjang. Ini… benar-benar sangat menarik. Mengancam Donghae dengan anaknya dan memeras pria itu ternyata jauh lebih mudah dalam keadaan seperti ini. Sekarang ia merasa kehamilannya cukup menguntungkan. Dan perlahan-lahan ia akan menggiring pria itu untuk bertekuk lutut di bawah kakinya.

“Nona…”

“Ada apa?”

Yoona menaikan alisnya bingung ketika pelayan yang sebelumnya datang ke kamarnya, kini datang lagi dengan raut wajah yang terlihat gelisah.

“Katakan saja ada apa.” Ucap Yoona tidak sabar. Pelayan itu meringis kecil kearah Yoona, lalu sedikit menggeser tubuhnya ke samping.

“Hai, bagaimana kabarmu?”

“Kyuhyun!”

Yoona melompat turun dari ranjangnya dan langsung menghambur kedalam pelukan Kyuhyun. Pria yang ia nantikan selama ini akhirnya datang juga. Ia pikir Kyuhyun telah jijik padanya karena sekarang ia sedang mengandung anak Donghae. Tapi syukurlah jika ternyata Kyuhyun tidak seperti yang ia pikirkan.

“Hai, aku merindukanmu Yoong.”

“Aku juga. Kau kemana saja, kupikir kau tidak mau lagi bertemu denganku setelah apa yang terjadi padaku.” Ucap Yoona sedih. Kyuhyun langsung mengelus puncak kepala Yoona sambil menggelengkan kepalanya tegas.

“Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk datang karena aku tidak ingin ayah angkatmu memarahimu lagi. Dan siang ini aku mendapatkan kabar dari Jimin jika Donghae sudah mulai bekerja dan tidak lagi mengawasimu di rumah.”

“Jadi, kau bersekongkol dengan Jimin?” Tanya Yoona sedikit kaget. Ia pikir Jimin tidak berani mengambil resiko berbahaya seperti itu, mengingat bagaimana menyebalkannya Jimin selama ini.

“Yah… mungkin ia bosan mendengar suaraku setiap hari menanyakan keadaanmu.” Kekeh Kyuhyun geli. Ia ingat bagaimana kesalnya Jimin saat menerima panggilannya kemarin malam yang terus menerus menanyakan keadaan Yoona. Sejak ia membawa Yoona ke rumah sakit, ia belum mendapatkan kabar apapun dari wanita itu. Dan setiap hari ia selalu mengkhawatirkan keadaan Yoona hingga ia tidak bisa tidur.

“Oya, jadi kau hamil?” Tanya Kyuhyun berubah serius. Yoona mengangguk pelan memberi jawaban sambil meremas kedua tangannya gugup.

“Maafkan aku Kyu, aku mengecewakanmu. Ini adalah salah satu alasanku mengapa aku tidak bisa menerimamu. Aku adalah wanita murahan yang pernah disentuh oleh ayah angkatku sendiri.”

“Ssshhh… jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kuyakin ini semua terjadi di luar kehendakmu. Kau hanya korban dari kebejatan pria itu, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri. Dan apapun yang terjadi padamu, aku akan tetap mencintaimu.”

Yoona tampak berkaca-kaca di depan Kyuhyun sambil menatap manik bulat Kyuhyun nanar. Cinta memang sangat mengerikan dan sangat berbahaya. Bahkan sesuatu yang sebenarnya salahpun, akan tampak benar karena sebuah cinta. Jadi… cinta itu benar-benar mengerikan. Dan Yoona telah merasakan bagaimana kejamnya cinta menghempaskan hatinya.

-00-

Donghae menggeram kesal sambil menenteng plastik putih besar berisi beberapa kotak strawberry. Meetingnya hari ini terpaksa ia limpahkan pada asistennya karena ia harus menuruti keinginan aneh Yoona sebelum wanita itu bertindak nekat. Dari pintu utama ia melihat beberapa pelayan langsung menunduk hormat sambil menatap gugup kearahnya. Mereka tampak ingin mencegahnya untuk naik ke kamar Yoona, namun tatapan tajam Donghae berhasil membuat nyali mereka ciut dan mereka memilih untuk bungkam.

“Tuan, kenapa anda sudah pulang?”

Tuan Kim yang baru saja muncul dari dalam dapur langsung menghampirinya cepat sambil melirik takut-takut kearah kamar Yoona. Sedangkan Donghae, ia terlihat seperti biasa dengan wajah datar yang selalu menyiratkan keangkuhan.

“Yoona memintaku membelikan strawberry, ia mengancam akan menggugurkan kandungannya jika aku tidak menuruti keinginannya. Sekarang dimana dia?”

“Nona Yoona… sepertinya berada di taman.” Jawab Kim mencoba berasalan. Tanpa mengatakan apapun, Donghae langsung melangkah menuju taman belakang dengan langkah lebarnya yang terkesan tergesa-gesa. Ia ingin tahu bagaimana reaksi wanita itu setelah mendapatkan strawberry darinya. Apakah ia akan berterimakasih atau tetap bersikap angkuh seperti biasanya dengan gaya sombong yang menyebalkan.

“Ck, dimana Yoona? Apa kau sedang menipuku, Kim!”

Donghae berseru keras sambil berdecak kesal saat dilihatnya taman belakang tidak ada siapapun. Taman itu kosong dan hanya terlihat air kolam yang terlihat beriak kecil. Dengan langkah lebar-lebar, ia segera masuk kedalam rumah dan hendak menaiki tangga menuju kamar Yoona. Namun baru beberapa langkah ia berjalan menaiki tangga, ia melihat Kyuhyun sedang menggenggam tangan Yoona, tampak sedang berpamitan sambil mengelus surai hitam itu lembut. Seketika genggaman tangannya pada plastik putih semakin mengencang, seiring dengan emosinya yang semakin membumbung tinggi. Ini benar-benar tidak akan berakhir bagus.

“Kau, wanita sialan! Jadi ini balasan dari semua pengorbananku hari ini? Aku terpaksa meninggalkan jadwal meetingku hanya untuk membeli sekotak strawberry bodoh yang kau inginkan. Dan sekarang kau justru sibuk bermesraan bersama pria sialan itu.”

Donghae tak kuasa menahan amarahnya hingga seluruh kata-kata kasar terucap begitu saja dari bibirnya. Seluruh pelayan yang melihat kejadian itu hanya mampu mengatupkan bibir mereka rapat-rapat sambil menatap kasihan pada Yoona yang kembali menjadi sasaran kemarahan Donghae.

“Oh kau sudah datang. Terimakasih untuk strawberrynya, aku akan memakannya nanti.”

Tanpa takut sedikitpun Yoona berjalan turun untuk menghampiri Donghae dengan Kyuhyun yang terlihat was-was di belakangnya. Pria itu juga mengikuti Yoona turun di belakang wanita itu, namun ia juga bersiap-siap untuk melindungi Yoona jika Donghae berani berbuat kasar pada wanita itu. Tapi syukurlah, hingga Yoona berdiri di depan Donghae, pria itu tak melakukan apapun pada Yoona. Ia hanya menatap Yoona penuh amarah, lalu menyuruh Kyuhyun pergi tanpa mau melihat wajah pria itu sedikitpun.

“Keluar dari rumahku.”

“Yoona, jaga dirimu baik-baik. Telepon aku jika kau membutuhkan bantuanku.” Ucap Kyuhyun lembut tanpa menghiraukan kemarahan Donghae yang telah mencapai ubun-ubun. Beruntung pria itu tidak sampai mendapatkan serangan fisik dari Donghae karena biasanya Donghae tidak akan segan-segan menghajar siapapun yang berani mendekati wanitanya.

“Aku akan baik-baik saja Kyu, terimakasih sudah datang menjengukku.”

Dengan tatapan lembut, Yoona mengantar kepergian Kyuhyun hingga pria itu benar-benar menghilang dari pintu besar di ruang utama. Dan setelah Kyuhyun pergi, barulah ia berbalik untuk bertatapan dengan Donghae.

“Terimakasih. Untuk pembuktian pertama kau berhasil, tapi kau harus belajar untuk mengontrol emosimu Lee Donghae.”

Yoona bersiap untuk kembali ke kamarnya dengan wajah angkuh sebelum Donghae menarik lengannya kasar dan menyeretnya menuju meja makan.

Brakk

Donghae membanting plastik di tangannya ke atas meja dengan seluruh emosi yang telah melingkupinya. Ia lalu menyuruh Yoona untuk memakan semua strawberry-strawberry itu di depannya hingga habis tak tersisa.

“Makan! Aku sudah membawakannya untukmu, dan kau harus menghabiskannya.”

“Aku sudah kenyang. Selera makanku hilang setelah melihat wajah menjijikanmu.” Balas Yoona sengit. Amarah Donghae yang telah membumbung tinggi semakin tak bisa dikendalikan. Dengan kasar ia memakan beberapa strawberry itu, lalu memasukannya dengan paksa kedalam mulut Yoona sambil melumat bibir kecil itu penuh amarah.

Sementara Yoona, ia tampak memberontak sambil terbatuk-batuk karena tersedak strawberry yang dimasukan Donghae secara paksa kedalam mulutnya. Kini yang  bisa ia lakukan hanyalah menerima itu semua sambil memukul-mukul punggung Donghae keras penuh amarah.

“Hahh brengsek!”

Yoona memaki keras ketika akhirnya Donghae melepaskan tautan bibir mereka. Warna merah strawberry yang berhasil dijejalkan Donghae kedalam mulut Yoona membuat seluruh bibir hingga dagu Yoona berlumuran remah-remah strawberry yang telah bercampur dengan salliva mereka masing-masing. Namun Donghae tak peduli, karena bagaimanapun caranya Yoona tetap harus memakan buah-buah itu hingga habis tak tersisa.

“Habiskan semua strawberry itu atau aku akan memaksamu makan dengan caraku.”

“Kenapa kau suka sekali menyiksaku? Apa tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan selain menyakitiku?” Teriak Yoona marah sambil mengelap sisi wajahnya yang kotor oleh strawberry. Ia pun dengan gerakan kesal mulai memakan satu per satu buah strawberry itu sambil menggerutu kesal pada pria bermata coklat di depannya. Sedangkan Donghae, ia tetap bergeming di tempatnya sambil terus memperhatikan Yoona yang mulai menghabiskan sekotak strawberry yang dimakannya.

“Aku tidak bisa menghabiskan semuanya.” Ucap Yoona ketus sambil mendorong tiga kotak strawberry yang masih utuh. Namun Donghae tampaknya tak peduli dengan semua itu karena ia tetap memaksa Yoona untuk menghabiskan semuanya.

“Habiskan. Apapun alasanmu, kau harus menghabiskan semuanya. Dan satu lagi, aku tidak suka kau kembali dekat dengan Kyuhyun.”

“Kenapa? Kyuhyun sahabatku. Dan kau tidak berhak untuk mengaturku.” Balas Yoona sengit. Ia mengambil tiga strawberry sekaligus, lalu langsung mengunyahnya dengan gerakan kasar. Tetesan-tetesan merah yang berasal dari buah strawberry langsung mengalir turun dari bibir Yoona, menuju dagu, hingga menetes di atas kaus putih Yoona. Melihat hal itu, Donghae langsung memajukan wajahnya kearah Yoona, dan kembali melumat bibir seksi itu untuk membersihkan sisa-sisa buah strawberry yang dikunyah Yoona dengan brutal.

“Asam, tapi juga manis, sama sepertimu.” Gumam Donghae di depan bibir Yoona. Wanita itu langsung mendorong Donghae menjauh dari tubuhnya sambil memakan sisa buah strawberry yang masih cukup banyak di dalam kotak.

“Aku tidak mungkin bisa menghabiskannya semua.” Ucap Yoona mulai lunak. Kali ini ia mengunyah strawberry itu pelan dengan gaya anggun sambil menatap nanar strawberry-strawberry yang tampak menggiurkan di depannya.

“Kau bisa menyimpan sisanya di kulkas. Jangan dipaksakan jika memang tidak mampu.” Jawab Donghae datar. Donghae lalu menyingkirkan strawberry itu dari meja dan meminta salah satu pelayan yang kebetulan lewat untuk memasukannya kedalam kulkas.

“Kapan aku boleh kerja? Aku bosan di rumah terus menerus, seperti pengangguran yang tak berguna.” Sungut Yoona kesal.

“Sampai kau benar-benar layak untuk pergi bekerja.”

“Pihak sponsor akan marah jika aku terlalu lama absen dari pemotretan.”

“Aku sudah membayar dendanya, kau tidak perlu khawatir.”

“Ck, kau selalu mengambil keputusan sepihak tanpa mendiskusikannya terlebih dulu padaku.” Decak Yoona sebal. Kebiasaan Donghae yang penuh kuasa dan tak mau dibantah benar-benar menyusahkannya.

“Soal hama-hama pengganggu itu, kau sudah menghubungi mereka?”

“Siapa yang kau sebut hama? Aku tidak mengerti.” Tanya Yoona sambil mengernyitkan dahinya. Donghae berdecak kesal.

“Semua kekasihmu, kau sudah memberitahu mereka jika kau sedang hamil dan tidak bisa lagi bersenang-senang seperti dulu? Selama kau hamil, kegiatan pesta seperti apapun dilarang. Tiffany dan Jessica tidak boleh mengajakmu pergi ke klub, dan semua kegiatanm harus selalu di bawah pengawasanku.”

“Apa! Peraturan macam apa itu. Tidak bisa, kau tidak bisa mengekangku seperti itu. Kau masih dalam tahap pembuktian untuk menjadi ayah yang baik, kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini.” Tolak Yoona keras. Bahkan tiga hari di rumah sudah membuatnya merasa bosan setengah mati. Tak bisa ia bayangkan bagaimana jenuhnya ia jika harus terus menerus di rumah tanpa hiburan dan juga teman-teman yang selalu menghiburnya selama ini.

“Ini juga kulakukan untuk kebaikanmu. Kau wanita hamil. Kau seharusnya diam di rumah dan memperhatikan kehamilanmu dengan baik.”

“Tidak mau! Aku ingin tetap beraktivitas seperti biasa. Suka atau tidak suka, kau harus mengikuti keinginanku, atau aku akan melakukan hal-hal nekat yang tidak pernah kau duga sebelumnya.”

“Jangan mengancam!”

Donghae berteriak jengkel di depan Yoona sambil menggeram marah. Wanita keras kepala di depannya ini sungguh memusingkan. Jika saja Yoona tidak sedang hamil, ia pasti akan berbuat lebih untuk mendisiplinkan Yoona yang pembangkang.

“Kau sudah makan?”

Yoona menaikan alisnya heran melihat kearah Donghae sambil menggeleng pelan. Perubahan nada bicara dan juga mimik wajah yang terjadi pada Donghae benar-benar membuatnya bingung pada pria itu.

“Aku malas.”

“Ayo makan. Kim, siapkan makanan untuk Yoona.” Teriak Donghae keras. Beberapa pelayan yang mendengar hal itu langsung ribut kesana kemari untuk membawakan Yoona makan siang. Sedangkan Yoona, ia tampak bertopang dagu di atas meja sambil menatap Donghae malas.

“Aku tidak mau makan sendiri, kau juga harus makan.”

“Kau yang makan, aku tidak.”

“Kalau begitu aku juga tidak. Sampai jumpa.”

Dengan gaya angkuhnya, Yoona segera turun dari kursi dan hendak berjalan pergi menuju kamarnya. Namun cekalan tangan Donghae berhasil menahannya dan membuatnya kembali duduk di tempat semula.

“Makan sekarang dan jangan banyak membantah.”

Yoona tersenyum puas ketika melihat Donghae juga ikut menyendokan makanan ke mulutnya. Sepertinya rencana awal untuk memperbudak Donghae cukup berhasil. Dan pelan tapi pasti pria itu akan segera masuk ke dalam perangkapnya. Ia akan membuat Donghae bertekuk lutut di bawah kakinya, dan setelah itu ia akan menghempaskan Donghae seperti pria itu menghempaskannya selama ini.

Nikmati saja keangkuhanmu tuan Lee, karena semua itu sebentar lagi akan berakhir….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3 thoughts on “Black Swan: Month One, Problem One (Six)

  1. sifat donghae bener bener gak bisa ditebak dan kasian yoona selalu disakiti sama donghae.. kapan donghae bisa bener bener luluh sama yoona .. ditunggu kelanjutannya ya 😊😊

  2. aku gak suka ah ama yoona yg jahat gini, jauhkan kyuhyun. Gak ppa deh yoona jahat gtu tp sebentar aja dan jauhkan kyuhyun biar konfliknya antara hae yoona dan kehamilan yoona aja

  3. Emm makin penasaran aja ni. Kapan Donghae bisa berhenti bersikap semena mena pada Yoona..? Apa Yoona juga mencintai kyuhyun? Masih teka teki ni Thor..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.