If Our Love Is Wrong (Sequel Body, Lips, and Eyes)

If Our Love Is Wrong – Calum Scott

 

“Yoona… sayang, kau dimana?”

Changmin masuk kedalam rumahnya dengan senyum mengembang yang terus terukir di wajahnya. Setelah lebih dari satu bulan ia terjebak di perbatasan Korea dengan segala kesibukan yang mencekiknya, akhirnya sekarang ia bisa kembali untuk bertemu dengan sang isteri tercinta. Bayangan Yoona yang telah menunggu di rumah dengan senyum manis mengembang di wajah telah menjadi fantasi Changmin selama ia berada di pesawat hingga ia masuk kedalam rumahnya beberapa saat yang lalu. Namun semua fantasi itu sirna seketika, tergantikan oleh kekecewaan karena ternyata sang isteri tidak berada di rumah. Ia pikir Yoona sedang marah padanya karena beberapa minggu ini wanita itu sudah tidak pernah lagi menghubunginya. Terakhir ia berbicara dengan Yoona adalah di malam ketika wanita itu sedikit marah padanya karena ia tak kunjung pulang. Dan sekarang setelah ia akhirnya pulang, isterinya itu justru tidak ada dimanapun.

“Yoona, apa kau masih marah padaku? Kau dimana sayang?”

Changmin terus berjalan kesana kemari untuk mencari dimana keberadaan sang isteri. Namun hanya kekosongan yang sejak tadi ia temui karena sosok sang isteri benar-benar tidak berada dimanapun. Bahkan kondisi rumah yang selama ini telah mereka tinggali hanya tampak seperti tidak pernah dihuni. Debu-debu halus mulai terlihat menumpuk di setiap sudut-sudut ruangan. Dan di dalam kamarnya, Changmin menemukan beberapa buku miliknya dan juga Yoona tampak jatuh berserakan di atas karpet dengan kondisi yang sangat berantakan. Changmin lalu berjalan mendekat kearah ranjang dan mulai mengamati setiap sudut kamarnya dengan dahi berkerut. Semua yang berada di kamarnya seperti telah lama tak disentuh. Bahkan ranjang yang berantakan itu tampak sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya hingga terlihat beberapa noda coklat yang tercetak jelas di atas permukaan spreinya yang putih.

“Yoona, kau dimana?”

Changmin bergumam khawatir sambil mengitari seluruh kamarnya. Ia lalu membuka pintu kamar mandinya lebar-lebar dan mulai mengecek setiap sudut kamar mandinya yang tampak kering. Jelas sekali kamar mandi itu seperti sudah lama tidak dipakai. Ia lantas berjalan menuju ranjangnya untuk menghubungi siapapun yang bisa dihubunginya. Dan tentu saja, nomor yang pertama kali dihubunginya adalah nomor ponsel milik Yoona. Sayangnya panggilan itu justru hanya menyambungkannya pada sang operator yang sama sekali tidak ingin ditemuinya. Lalu Changmin mencoba menghubungi pihak rumah sakit karena ia pikir mereka pasti tahu dimana keberadaan Yoona saat ini.

“Halo, bisa kau sambungkan aku dengan dokter Im Yoona?”

Cukup lama Changmin menunggu hingga suara seorang wanita yang merupakan petugas resepsionis mengalun lembut di indera pendengarannya.

“Sudah lama dokter Im tidak datang. Di sini kami juga sibuk mencarinya karena seluruh pasiennya mulai menanyakan dimana keberadaanya. Emm… apakah anda salah satu pasiennya?” Tanya wanita itu ragu. Changmin semakin frustrasi mendapatkan jawaban seperti itu, dan sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah mengusap wajahnya kasar karena ia tidak tahu lagi kemana ia harus mencari Yoona.

“Aku suaminya. Apa kau tahu kapan terakhir kali Yoona pergi ke rumah sakit?”

“Tunggu sebentar tuan, saya akan mencarinya di jadwal kehadiran dokter Im.”

Changmin mengangguk samar dibalik ponselnya sambil mencoba mengamati kamarnya yang sangat berantakan. Pikiran-pikiran buruk yang sejak tadi ditepisnya mulai bermunculan di dalam kepalanya dan membuatnya semakin panik. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa Yoona. Tak sengaja ekor matanya menatap sebuah benda berkilauan dibawah selimut yang terhampar di bawah kakinya. Sebuah ponsel putih milik Yoona yang telah retak di bagian layarnya menunjukan jika memang telah terjadi sesuatu yang buruk pada isterinya. Sekarang ia tidak bisa lagi tidak berpikiran buruk mengenai Yoona karena pada kenyataanya semua bukti ini telah menunjukan jika Yoona tidak sedang baik-baik saja.

“Halo tuan, apa kau masih di sana?”

“Yya ya, aku masih di sini. Jadi kapan terakhir kali Yoona datang ke rumah sakit?”

“Dokter Im terakhir kali datang ke rumah sakit pada tanggal lima belas, itu sekitar tiga minggu yang lalu kurasa.”

Changmin langsung mengernyitkan dahinya sambil menghitung waktu terakhir kali mereka bertelepon. Dan setelah diingat-ingat, ternyata tanggal lima belas adalah hari dimana mereka bertelepon sebelum Yoona akhirnya hilang tanpa kabar hingga ia pulang hari ini.

“Baiklah, terimakasih atas informasinya. Jika ada informasi mengenai Yoona, tolong hubungi aku.”

Setelah selesai dengan urusan teleponnya, Changmin segera berlari menuju ruang monitor yang berada di basement rumahnya. Ia baru ingat jika ia telah memasang cukup banyak kamera cctv di setiap sudut rumahnya agar ia lebih mudah mengawasi gerak-gerik Yoona di rumah. Dan ternyata di saat-saat seperti ini, benda kecil itu cukup berguna untuk membantunya menemukan dimana keberadaan Yoona saat ini.

“Sial! Apa-apaan ini!”

Changmin mengumpat keras ketika dilihatnya seluruh layar itu terlihat mati. Monitor yang seharusnya menunjukan seluruh sudut-sudut rumahnya tampak telah disabotasi dengan seluruh kabelnya yang sudah terputus dengan rapi. Sekarang ia yakin jika Yoona pasti sedang bersama dengan seseorang yang jahat. Tidak mungkin semua ini terjadi secara kebetulan karena semua yang terjadi di rumahnya tampak dilakukan oleh seseorang yang ahli. Sambil mengacak rambutnya gusar, Changmin langsung berlari menuju mobilnya untuk mencari dimana keberadaan Yoona. Ia harus menanyakan hal ini pada petugas keamanan di kompleks rumahnya karena seharusnya mereka tahu dimana keberadaan Yoona. Atau setidaknya mereka tahu siapa orang terakhir yang datang ke rumahnya tiga minggu yang lalu.

“Tuan Shim, selamat siang.”

Setibanya di pos penjagaan, Changmin langsung mendapatkan sambutan baik dari tiga orang petugas keamanan bertubuh kekar yang selama ini selalu menjaga kompleks perumahan. Dari wajah dan juga perawakannya, Changmin yakin jika tiga orang itu bukanlah orang-orang sembarangan yang tentunya telah dilatih dengan keras untuk melindungi orang-orang penting yang tinggal di kompleks elit ini. Namun melihat bagaimana bentuk rumahnya yang sangat kacau, Changmin tidak yakin jika pria-pria itu adalah pria yang hebat.

“Apa kalian melihat Yoona tiga minggu yang lalu? Ia hilang, dan aku menemukan rumahku dalam keadaan berantakan dan seperti baru saja dirampok.”

“Maaf tuan, kami tidak mengerti maksud anda. Setahu kami tidak ada apapun yang terjadi di kompleks ini, namun kami memang jarang sekali melihat nyonya Yoona seperti biasanya.”

“Apa saja yang kalian lakukan selama ini? Lihatlah, rumahku benar-benar baru saja dimasuki oleh perampok, dan sekarang isteriku telah diculik.” Teriak Changmin emosi. Melihat Changmin yang telah dilingkupi emosi, mereka bertiga justru hanya saling bertatapan tanpa berinisiatif untuk melakukan apapun. Mereka sepertinya masih menganggap jika Changmin sedang membual karena mereka sama sekali tidak melakukan apapun hingga Changmin pada akhirnya harus membentak mereka untuk pergi memastikan keadaan rumahnya yang memang sangat berantakan.

“Kalian benar-benar tidak berguna. Sekarang pergi ke rumahku dan lihat apa yang telah terjadi di sana.”

Secepat kilat mereka berlari kearah rumah putih di ujung kompleks sambil menatap takut-takut pada Changmin yang ikut berlari di samping mereka. Dan gelagat mereka yang aneh itu membuat salah satu penghuni kompleks yang bernama nenek Kang menatap mereka dengan tatapan bertanya-tanya.

“Apa yang terjadi, kenapa kalian berlarian seperti itu?”

“Nenek Kang, kami… akan mengecek rumah milik tuan Shim.”

“Maksudmu rumah putih di ujung sana?”

“Ya, itu adalah rumahku. Kau kenal dengan isteriku?”

Changmin yang selama ini jarang berada di rumah membuat nenek Kang mengernyit heran. Namun sedetik kemudian ia mengangguk pelan sambil menunjuk-nunjuk rumah putih milik Changmin dengan tongkat kayunya yang panjang.

“Aku sering melihat isterimu, beberapa kali ia lewat dan menyapaku yang sedang duduk di sini. Tapi akhir-akhir ini aku tidak pernah lagi melihatnya, semenjak…”

“Semenjak apa?”

Dengan tidak sopannya Changmin menyela kata-kata nenek Kang hingga membuat wanita tua itu mengernyit tidak suka.

“Dasar tidak sopan. Aku tidak pernah lagi melihatnya sejak seorang pria dengan wajah yang tidak terlalu jelas mengendap-endap di depan rumahmu.” Jawab nenek Kang ketus. Mendengar itu Changmin terlihat semakin panik dan memutuskan untuk segera menghubungi polisi. Tidak ada gunanya ia mengandalkan tiga petugas kompleks yang justru sedang terbengong-bengong seperti pria dungu yang tak berguna. Mereka semua benar-benar payah!

“Seorang pria? Baiklah, terimakasih atas informasinya, aku akan segera mencari isteriku sekarang.”

Tanpa mempedulikan tiga petugas yang sedang terbengong bodoh, Changmin segera mempercepat langkahnya untuk mengambil mobilnya dan pergi secepat yang ia bisa menuju kantor polisi. Ia rasa Yoona saat ini benar-benar sedang diculik dan ia harus melaporkan hal itu pada pihak kepolisian agar mereka dapat membantunya mencari dimana keberadaan isterinya.

“Emmonim, ini aku Changmin.”

Hembusan napas berat terdengar keras setelah Changmin berhasil menghubungi ibu mertuanya dengan berbagai perasaan takut yang bergelayut di benaknya. Sudah lama ia tidak menyapa ibu mertuanya yang tinggal jauh dari Seoul karena kesibukannya yang sangat padat. Dan siang ini sungguh disayangkan karena ia harus menghubungi ibu mertuanya untuk sebuah berita yang kurang baik.

“Changmin, bagaimana kabarmu nak? Ibu merindukanmu. Kau dan Yoona, lama kalian tidak mengunjungi kami di sini. Apa kalian sangat sibuk?”

“Ehem.. maaf eommonim.”

Changmin berdeham sebentar untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Rasanya ia tidak sanggup untuk mengabarkan berita ini pada ibu mertuanya, tapi ia harus melakukannya.

“Maaf eommonim, Yoona menghilang.”

Untuk beberapa saat tidak ada jawaban apapun dari ibu mertuanya dan hanya ada keheningan yang membuat Changmin semakin was-was. Dan beberapa detik kemudian barulah ia mendengar suara panik dari ibu mertuanya yang disertai dengan suara isak tangis yang samar.

“Bagaimana bisa? Sejak kapan?” Tanya ibu mertuanya dengan suara parau. Perasaan bersalah yang sudah lama dikuburnya rapat-rapat, perlahan-lahan mulai muncul seiring dengan kabar buruk yang baru saja disampaikan Changmin. Lagi-lagi ia menjadi ibu yang buruk dengan tidak tahu apapun mengenai kondisi Yoona. Dan semua itu mulai terjadi semenjak ia kembali dari Busan empat belas tahun yang lalu.

“Sepertinya sejak tiga minggu yang lalu eommonim. Maafkan aku karena aku terlambat menyadarinya, aku baru saja kembali dari perbatasan Korea.” Ucap Changmin penuh nada bersalah. Sedangkan nyonya Im terdengar semakin tersengguk-sengguk di ujung telepon setelah mendengar berita itu. Ia merasa bersalah karena tidak pernah memperhatikan Yoona sedikitpun selama ini. Sejak Yoona menikah ia jarang menghubungi Yoona karena ia takut akan mengganggu Yoona yang sedang sibuk dengan pasien-pasiennya. Selain itu, ia pikir Yoona selama ini selalu membencinya karena sikap Yoona langsung berubah begitu saja semenjak ia kembali dari Busan. Malam itu ia sangat ingat bagaimana Yoona menangis tersedu-sedu di depannya untuk dimasukan ke sebuah sekolah asrama yang cukup jauh dari Seoul. Dan setelah itu mereka jadi semakin jarang bertemu karena Yoona tidak pernah mau pulang ketika libur natal atau musim panas. Yoona lebih suka menghabiskan seluruh hari liburnya dengan tetap tinggal di asrama atau menginap di rumah temannya yang berada di sekitar asrama.

“Apa kau sudah menghubungi teman-temannya, siapa tahu mereka tahu dimana keberadaan Yoona. Mungkin ini ada kaitannya dengan pribadi Yoona yang sedikit aneh selama ini.” Ucap nyonya Im parau.

“Maksud eommonim?” Tanya Changmin tak mengerti. Selama ini Yoona tidak pernah menunjukan keanehan apapun di depannya, dan hubungan mereka juga selalu baik-baik saja. Tapi mereka memang jarang membahas masa lalu karena Yoona selalu menghindar setiap kali ia menanyakan mengenai masa kecilnya. Dan terkadang hal itu juga akan disertai dengan luapan emosi yang sedikit aneh dari Yoona.

“Yoona, empat belas tahun yang lalu secara tiba-tiba menangis di depanku dan ayahnya, ia memohon-mohon pada kami agar dimasukan kedalam sekolah asrama. Saat itu ia terlihat seperti sedang memiliki sesuatu yang disembunyikan pada kami, tapi ia tak pernah sedikitpun mengungkapkannya dan hanya menangis di depan kami. Akhirnya kami mengabulkan permintaannya untuk mendaftarkannya ke sekolah asrama yang letaknya di luar Seoul. Tapi setelah ia pergi, kami sempat menanyakan keanehan Yoona itu pada asisten rumah tangga kami yang saat itu berada di rumah bersama Yoona selama kami pergi ke Busan untuk menjenguk neneknya. Dan bibi Anna bercerita pada kami jika Yoona pernah pulang dalam keadaan kacau saat Seoul sedang dilanda hujan badai. Sayangnya kami tidak tahu apa yang terjadi pada Yoona di malam itu karena Yoona tidak pernah bercerita apapun pada bibi Anna. Dan saat aku bertanya pada Yuri, salah satu teman dekatnya, gadis itu hanya mengatakan jika Yoona malam itu langsung pulang saat hujan badai karena takut bibi Anna mencarinya. Tapi gadis itu mengatakan padaku jika Yoona sangat takut pada seorang pemuda bernama Lee Donghae yang merupakan keponakan dari tetangga kami.”

“Lee Donghae? Apa eommonim pernah bertemu dengan pria itu? Yoona sepertinya pernah memimpikan pria itu sekali hingga ia mengigau saat tidur. Tapi karena kupikir itu mantan kekasihnya, jadi aku tidak pernah menanyakannya pada Yoona.”

“Aku hanya pernah melihatnya dua kali, sebelum aku pergi ke Busan dan saat Yoona telah pergi ke sekolah asrama. Saat itu aku melihatnya sedang berdiri di depan rumahku sambil menatap jendela kamar Yoona cukup lama. Tapi saat aku akan keluar untuk menyapanya, ia justru pergi begitu saja dan tidak pernah terlihat lagi hingga saat ini.”

Changmin mengerutkan dahinya dalam dan mencoba menyatukan kepingan-kepingan puzzle itu satu persatu. Ternyata ia benar-benar sangat awam dengan Yoona. Bahkan ia tidak pernah tahu bagaimana Yoona di masa lalu karena ia memang tidak pernah mencoba untuk mencari tahunya. Selama ini ia hanya diam, pasif, dan terus menunggu hingga Yoona benar-benar mau terbuka padanya, dan menjadi isteri yang sesungguhnya untuknya.

“Baiklah eommonim, aku akan menyelidiki hal itu dan melaporkannya pada pihak polisi. Jika eommonim mendapatkan kabar mengenai Yoona, tolong hubungi aku segera.”

Dan panggilan itu pada akhirnya berakhir dengan banyak pertanyaan yang justru semakin banyak berjubel di dalam kepala Changmin. Sekarang tugasnya menjadi dua kali lipat lebih banyak. Dan sekarang ia justru merasa takut. Ia takut jika semua ini ternyata akan membawa sesuatu yang buruk untuk hubungannya dan Yoona kelak.

-00-

Sementara itu di belahan bumi lain, tepatnya di barat daya kota London, sepasang pria dan wanita tampak baru saja menyelesaikan ritual panas mereka dengan deru napas yang terdengar saling bersahut-sahutan satu sama lain. Sang pria yang terlihat begitu mendominasi sedang mengurung sang wanita yang terlihat masih terengah-engah setelah melalui badai dahsyat yang baru saja mereka ciptakan. Dan ketika dirasa sang wanita sudah tidak sanggup lagi untuk melayaninya, pria itu memilih untuk berguling ke kanan dan berbaring di samping wanita itu dengan salah satu tangan yang masih setia berada di sekitar pinggang sang wanita.

“Kau lelah sayang?”

“Hmm… cukup lelah, tapi ini menakjubkan.” Ucap wanita itu genit dengan kerlingan nakal yang tampak menggoda. Sang pria yang melihat itu hanya terkekeh kecil sambil membawa wanita itu kedalam pelukannya. Kota Bristol di akhir bulan September memang mulai dingin, jadi wajar jika mereka pada akhirnya memutuskan untuk mencari kehangatan dengan cara mereka sendiri. Dan ini merupakan cara yang paling ia suka daripada mereka hanya saling bersandar di depan perapian dengan secangkir coklat panas yang nikmat buatan wanitanya. Ahh… betapa beruntungnya ia karena berhasil mendapatkan wanita cantik ini kedalam pelukannya. Untuk itu ia telah berjanji pada dirinya sendiri jika ia tidak akan pernah melepaskan wanita itu lagi dari genggaman tangannya, meskipun wanita itu saat ini masih berstatus sebagai isteri pria lain.

“Calistha, lusa aku akan pergi ke London untuk menyelesaikan beberapa urusan di sana. Kau ingin ikut?”

“Ah, sepertinya tidak. Aku akan tetap di sini karena aku telah berjanji pada nyonya Smith untuk menjaga putrinya selama ia pergi ke desa untuk menjenguk paman dan bibinya.”

“Baiklah, aku janji akan segera pulang setelah semua urusanku selesai.”

Setelah melakukan sedikit percakapan ringan, mereka berdua memilih untuk saling bergelung satu sama lain agar tubuh mereka tetap hangat meskipun mereka saat ini tidak menggunakan apapun dibalik selimut tebal yang membungkus tubuh mereka. Sementara itu Aiden beberapa kali sibuk mengecupi puncak kepala Calistha yang selalu menguarkan aroma wangi kesukaannya. Aroma mint yang berpadu dengan aroma anggur memang sangat pas untuk Calistha karena pribadi wanita itu yang kadang terkesan dingin, namun kadang juga terkesan manis seperti buah anggur.

“Aiden… sampai kapan kita akan tetap seperti ini?”

“Maksudmu?”

“Sampai kapan kita akan menjalani kehidupan tanpa ikatan ini. Apa kau mencintaiku?”

“Tentu saya sayang, aku sangat mencintaimu. Bahkan aku rela melakukan apapun hanya untuk mendapatkanmu.” Ucap Aiden meyakinkan sambil mengecup kening Calistha lembut. Ini sudah tiga minggu berlalu sejak ia menculik wanita itu dan mencuci otak Calistha dengan obat khusus miliknya. Sayangnya ia belum bisa tenang karena ia masih belum tahu apakah obat itu efektif untuk menghilangkan seluruh memori Calistha selamanya, atau suatu saat Calistha akan mengingat lagi semua memorinya. Yang pasti saat ini ia sedang berupaya mencari seorang dokter syaraf yang ahli agar dapat menghilangkan seluruh memori Calistha sepenuhnya.

“Aiden, apa aku memiliki keluarga? Kenapa aku merasa pikiranku benar-benar kosong. Seperti aku baru saja terbangun dari tidur panjang yang sangat lama.”

“Ssshh… bukankah sudah kukatakan berulang kali padamu, bahwa kau hanya memilikiku. Seluruh keluargamu meninggal dalam sebuah kecelakaan yang mengerikan, dan kau memang baru saja sadar dari koma yang cukup lama.”

Aiden merasa Calistha saat ini sedang mengangguk kecil di dalam dekapannya sambil mengeratkan pelukannya rapat-rapat. Kebohongan yang telah lama dilakukan oleh Donghae untuk menipu Yoona memang cukup keji. Namun pria itu terpaksa melakukannya karena ia tidak mungkin akan mendapatkan Yoona dalam keadaan seratus persen sadar. Wanita itu berkali-kali menolaknya dan justru pernah menghilang hingga ia mengalami depresi berkepanjangan karena banyaknya tekanan hidup yang menyerangnya. Tapi sekarang ia cukup bersyukur karena meskipun Yoona dalam keadaan hilang ingatan, wanita itu masih bertahan di sisinya dengan banyaknya cinta yang wanita itu miliki untuknya.

-00-

Keesokan harinya Calistha bangun dengan senyum manis yang tercetak jelas di wajahnya. Sebelum turun untuk menyiapkan sarapan dan keperluannya yang lain, Calistha menyempatkan diri untuk mengelus pipi kanan Aiden yang saat ini sedang tidur dengan nyenyak di sebelahnya. Pria itu adalah segalanya untuknya. Tak bisa ia bayangkan bagaimana kehidupannya tanpa Aiden karena ia benar-benar tidak ingat apapun tentang masa lalunya. Yang ia tahu saat ia membuka matanya, ia sedang berada di sebuah kamar gelap yang berantakan. Dan setelah itu Aiden datang dengan senyum manis yang mampu menghangatkan hatinya yang terasa beku.

“Aiden, aku sangat mencintaimu.” Bisik Calistha manja sambil terkekeh geli saat melihat Aiden yang sedang bergerak-gerak kecil sambil menggumam sesuatu. Setelah puas memandangi wajah Aiden yang tampan, Calistha langsung melompat turun untuk mandi dan bersiap. Pagi ini ia harus segera menyiapkan sarapan untuk Aiden dan pergi ke rumah nyonya Smith yang berada di kompleks lain yang jaraknya akan memakan waktu hingga lima belas menit jika ditempuh dengan berjalan kaki.

Dulu awalnya ia tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang babysitter. Bahkan Aiden juga sempat marah padanya saat ia menerima tawaran nyonya Smith untuk menjadi babysitter putrinya. Namun karena ia terus merengek dan merajuk, akhirnya pria itu mengijinkannya untuk menjadi babysitter. Ia mengatakan pada Aiden jika ia tidak bisa hanya terus menerus berada di rumah tanpa melakukan apapun. Ia jenuh, dan juga bosan jika harus berdiam diri di dalam rumah seharian di saat Aiden sedang bekerja di kantornya yang bergerak di bidang fotografi. Lagipula bekerja di rumah nyonya Smith juga menyenangkan karena di sana ia bisa bermain sepanjang hari bersama si lucu Helena.

“Aiden, aku pergi!”

Calistha berteriak nyaring di ujung tangga sambil menenteng tas tangannya yang berisi bekal makan siang dan sedikit makanan untuk tetangga nyonya Smith. Hari ini ia memasak makanan cukup banyak dan ia ingin membagikan makanan itu pada seorang wanita tua yang tinggal sendirian di sebelah rumah nyonya Smith. Namun saat ia sedang berjalan, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan sesuatu yang kabur seperti sedang berputar-putar di dalam kepalanya hingga ia hanya mampu berjongkok sambil menahan rasa sakit yang semakin lama semakin berdentam di dalam kepalanya.

Yoona…

            Eomma!!! Tolong aku…

            Changmin oppa….

            Kau pria brengsek! Lepaskan aku!

            “Arghhh….”

Yoona mengerang pelan di pinggir jalan sambil terus memegangi kepalanya. Suara-suara yang begitu berisik itu terdengar nyaring di dalam kepalanya dan membuat telinganya berdenging untuk beberapa saat.

“Nona, kau baik-baik saja?”

“Iiya.. aku tidak apa-apa.”

Calistha berusaha berdiri dan menormalkan pandangannya yang sempat mengabur untuk beberapa saat. Seorang pemuda yang kebetulan melihatnya sedang  mengerang kesakitan refleks menahan tubuhnya yang hampir terjerembam ke depan karena sensasi pusing yang masih dirasakannya.

“Kau ingin aku membawamu ke rumah sakit?”

“Tidak, aku baik-baik saja, sungguh. Terimakasih atas bantuanmu.”

Calistha tersenyum tulus pada pria itu sambil memungut tas tangannya yang tergletak di bawah kakinya. Sekarang ia merasa keadaanya sudah jauh lebih baik. Suara-suara itu kini telah hilang sepenuhnya dari kepalanya hingga ia tidak lagi merasakan rasa sakit itu. Dan setelah memastikan keadaan Calistha baik-baik saja, pria itu langsung meminta ijin untuk pergi karena ia masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Apa yang terjadi padaku?

Sepanjang perjalanan menuju rumah nyonya Smith, Calistha tak henti-hentinya memikirkan kondisi kepalanya yang tiba-tiba merasa sakit. Padahal selama ini ia tidak pernah mengalami kejadian apapun. Kehidupannya bersama Aiden selalu berjalan lancar dan membahagiakan. Meskipun Aiden belum memberitahunya secara pasti jenis hubungan seperti apa yang mereka jalani, tapi Aiden pernah berjanji padanya jika suatu saat pria itu akan menikahinya. Sempat terlintas di benaknya jika apa yang terjadi padanya beberapa saat yang lalu adalah akibat dari kecelakaan yang pernah ia alami. Aiden dulu mengatakan padanya jika ia baru saja kehilangan ingatannya karena sebuah kecelakaan mengerikan yang terjadi padanya dan juga pada keluarganya.

“Calistha…. Hey!”

Calistha menoleh cepat kearah sumber suara sambil melambai riang pada nyonya Smith. Ternyata ia sudah terlalu lama melamun hingga ia tidak sadar jika ia telah sampai di depan rumah nyonya Smith.

“Hai, apa yang kau bawa?”

“Oh, ini bekal makan siangku dan makanan untuk nenek Carlos. Apa aku terlambat?” Tanya Calistha tidak enak ketika melihat penampilan nyonya Smith yang telah rapi. Wanita single parent itu tampak sudah siap dengan dress merah selututnya dan juga clucth bag yang menggantung sempurna di pundaknya.

“Tidak juga. Helena ada di dalam, ia sedang menonton tv sambil memakan serealnya. Karena kau sudah datang, jadi aku akan pergi sekarang.”

“Baiklah, hati-hati nyonya Smith.”

Calistha melambai pada nyonya Smith yang mulai menyalakan mesin mobilnya. Dan setelah wanita itu pergi dengan mobilnya, Calistha segera masuk ke dalam rumah untuk menemani Helena, gadis kecil berusia tujuh tahun yang seharian ini akan berada di bawah pengawasannya.

“Helena, aku datang.”

“Wahh… aunty Calistha, aku sudah lama menunggumu, kemarin kau tidak datang ke rumahku.” Sambut gadis kecil itu heboh. Helena langsung meninggalkan serealnya begitu saja dan langsung berlari menghampiri Calistha yang sedang menggantung mantelnya di tiang gantungan di samping pintu.

“Maaf, uncle Aiden mengajak aunty pergi kemarin.”

“Kemana aunty?”

“Hmm… rahasia.” Goda Calistha jahil. Ia sengaja tidak memberitahu Helena karena gadis kecil itu sangat cerewet. Apapun yang ia ceritakan pada Helena tentang hubungannya dengan Aiden pasti akan langsung diceritakan Helena pada ibunya. Seperti yang terjadi dua minggu yang lalu saat ia bercerita tentang pengalaman kencannya dengan Aiden yang sangat romantis di depan London Eyes. Tanpa diduga Helena ternyata menceritakan hal itu pada ibunya hingga keesokan harinya saat ia bertemu nyonya Smith di super market, wanita itu langsung menggodanya habis-habisan hingga pipinya berubah merah seperti kepiting rebus. Lalu setelah kejadian itu ia tidak mau lagi bercerita pada Helena, tapi gadis itu terus merengek-rengek ingin mendengar ceritanya tentang hubungannya dan Aiden, sehingga mau tidak mau ia terpaksa menceritakan pada gadis itu bagaimana sikap Aiden selama ini. Seperti dugaannya, Helena kembali menceritakan hal itu pada ibunya, padahal sebelumnya ia telah berjanji akan merahasiakan semua itu dari ibunya. Dan sekarang ia tidak mau lagi berbagi cerita pada Helena, karena gadis itu hanya akan membuatnya malu setengah mati oleh godaan ibunya yang menyebalkan.

“Yaahh.. aunty, kau tidak asik!” Protes Helena cemberut. Calistha tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Helena. Ia lalu menggelitik perut Helena gemas dan membuat gadis kecil itu semakin berteriak-teriak heboh karena merasa geli.

“Aunty hentikan, hahahahahaaa…. hentikan aunty….”

Calistha terus menggelitik Helena hingga ia tiba-tiba melihat bayangan anak kecil di dalam kepalanya sedang memohon ampun padanya, dan bayangan itu terus berlanjut disertai dengan suara tawa yang terdengar seperti tawanya.

Yoona…. hahahahahaha… hentikan Yoona! Akan kuadukan kau pada eommaku….

            Seketika Calistha langsung membeku di tempat sambil memegangi kepalanya yang kembali berdenyut. Ia lantas berjalan menjauh dari Helena sambil berusaha menormalkan degup jantungnya yang menggila.

“Aunty ada apa?”

Helena menatap Calistha khwatir dan langsung berlari memeluk pinggang Calistha. Ia takut melihat wajah Calistha yang seketika berubah pucat setelah menggelitikinya dengan ganas. Helena lalu menawarkan diri untuk menghubungi Aiden, namun hal itu langsung ditolak Calistha karena ia tidak ingin membuat Aiden semakin khawatir.

“Aku tidak apa-apa Helen, jangan beritahu uncle Aiden. Nanti setelah ia pulang dari London, aku akan mengatakan sendiri padanya.”

Calistha berucap lembut pada Helena sambil mengelus surai kecoklatan itu lembut. Sekarang ia merasa semakin khawatir dengan keadaanya. Entah mengapa semua itu seperti sangat nyata untuknya, dan ia merasa jika semua itu adalah bagian dari masa lalunya yang selama ini terlupakan. Sayangnya ia tidak bisa menanyakan hal itu pada Aiden karena ia tidak ingin membuat pria itu khawatir. Tapi yang jelas, dua hari lagi ia pasti akan langsung menanyakannya pada Aiden agar ia tidak dihantui perasaan khawatir lagi dengan keadaanya yang tiba-tiba berubah aneh.

-00-

“Apa belum ada tanda-tanda dari isteriku?”

“Maaf tuan, kami masih dalam tahap pencarian. Saat ini kami sedang melacak keberadaan tuan Lee Donghae karena menurut dugaan kami saat ini nona Yoona sedang bersama dengannya.”

Changmin mendengus gusar dengan hasil pencarian yang sangat lambat itu. Sudah lebih dari seminggu ia menunggu kabar mengenai Yoona, namun hasil yang ia dapat selalu nihil. Padahal petunjuk mengenai Yoona sekarang sudah lebih jelas diketahui setelah ia mendapatkan informasi dari pihak rumah sakit jika pasien terakhir yang ditangani Yoona dalah Lee Donghae. Dan ia pikir saat ini Yoona memang sedang diculik oleh pria itu karena ternyata Lee Donghae memiliki riwayat sakit jiwa yang parah. Namun anehnya, jika Donghae adalah pria yang diceritakan oleh ibu Yoona, seharusnya Yoona tidak menerima pria itu sebagai pasiennya. Bukankah Yoona takut pada Donghae? Tapi jika Donghae adalah mantan kekasih Yoona, seperti dugaannya selama ini, bisa saja menghilangnya Yoona adalah sebuah kesengajaan karena wanita itu ingin kabur bersama pria yang ia cintai.

“Tuan, mungkin anda bisa menemui tuan Lee Hyukjae karena menurut data milik kami, tuan Lee Donghae adalah sepupu dari tuan Lee Hyukjae.”

Changmin tampak tidak fokus ketika petugas polisi itu memberikan sebuah kertas berisi alamat rumah dan kantor milik Lee Hyukjae. Sejak tadi ia terlalu banyak berspekulasi tentang menghilangnya Yoona hingga ia lupa jika saat ini ia sedang di markas kepolisian Seoul.

“Baiklah, aku akan mencoba menemui Lee Hyukjae. Terimakasih atas informasinya.”

Changmin langsung bergegas pergi menuju alamat kantor milik Lee Hyukjae seperti yang tertera jelas di dalam kertas. Ia pikir tidak ada salahnya pergi ke kantor sepupu Lee Donghae  karena mungkin pria itu bisa memberikan sedikit petunjuk untuknya. Lagipula ia sudah cukup pusing dengan kasus menghilangnya Yoona karena setiap malam ia selalu berpikiran buruk mengenai Yoona. Ia takut jika ternyata Yoona sebenarnya telah meninggalkannya bersama pria lain. Selama itu ia tidak pernah tahu bagaimana perasaan Yoona untuknya. Setiap ia menyatakan cintanya, Yoona tidak pernah benar-benar menanggapi pernyataan cintanya dengan serius, seperti hanya dirinya saja yang memiliki perasaan itu, sedangkan Yoona, ia tidak pernah tahu bagaimana perasaan wanita itu padanya.

“Permisi, bisa aku bertemu dengan Lee Hyukjae?”

Ketika tiba di gedung pencakar langit milik Lee Corps, Changmin langsung melesat begitu saja ke meja resepsionist untuk menanyakan dimana keberadaan Lee Hyukjae. Ia bahkan tidak memarkirkan mobilnya dengan benar hingga harus mendapatkan teguran dari petugas keamanan. Namun ia tidak peduli. Ia hanya terus berlari menuju meja resepsionist dengan harapan agar segera menemukan Yoona.

“Itu tuan Lee Hyukjae.” Tunjuk wanita muda itu. Seketika Changmin menoleh ke kanan dan ia langsung menemukan seorang pria berjas hitam yang sedang berjalan dikelilingi oleh orang-orang berjas yang sama-sama seorang eksekutif muda.

“Apa anda telah membuat…. tuan! tuan! kau tidak bisa bertemu tuan Lee tanpa membuat janji. Tuan!”

Tanpa menghiraukan panggilan dari petugas resepsionist itu, Changmin langsung berlari kearah Hyukjae yang sebentar lagi akan melangkah masuk kedalam lift.

“Tuan Lee Hyukjae!” Teriak Changmin nyaring. Orang-orang yang berada di sekitar loby langsung menoleh kearah Changmin dengan tatapan aneh. Namun Changmin sama sekali tidak peduli dan ia hanya terus berlari untuk mengejar Hyukjae yang agaknya tidak terlalu menghiraukannya.

“Tuan Lee tunggu, aku ingin membicarakan masalah Lee Donghae.”

Seketika pintu lift itu terbuka dengan Hyukjae yang langsung menatap datar dengan gaya angkuh khas seorang CEO.

“Masuklah.”

Dengan nafas memburu, Changmin segera masuk ke dalam lift itu bersama dengan beberapa pria berjas yang tampak kaku. Mereka dengan terang-terangan melirik pakaian Changmin yang tampak lusuh dan dipenuhi keringat karena seharian ini ia telah pergi kesana kemari untuk mencari petunjuk mengenai keberadaan Yoona.

“Maaf, apa kau benar sepupu dari Lee Donghae?”

“Kita akan membahasnya di ruanganku.”

Changmin mengangguk mengerti dan langsung membungkam bibirnya rapat-rapat. Mungkin ia memang harus menunggu sedikit lebih lama untuk mendapatkan informasi yang ia inginkan. Tapi ia berharap Hyukjae benar-benar akan memberinya informasi mengani Lee Donghae atau dimanapun keberadaan pria itu karena ia sudah tidak sabar untuk membawa Yoona kembali kedalam pelukannya.

-00-

Calistha terlihat lelah sambil memandangi jam dindingnya yang sebentar lagi bergerak ke angka tiga. Siang ini seharusnya ia memiliki janji makan siang bersama Aiden. Tapi entah kenapa hingga tiga jam lamanya ia menunggu di restoran tempat mereka berjanji untuk bertemu, pria itu tak kunjung datang juga. Bayang-bayang buruk yang sejak tadi ditepisnya mulai berlomba-lomba masuk kedalam otaknya hingga ia merasa semakin panik. Tak biasanya Aiden mengingkari janji seperti ini. Jika memang ia datang terlambat, biasanya Aiden akan menghubunginya terlebih dahulu agar ia tidak khawatir.

“Permisi, apa kau akan memesan makanan sekarang?”

Entah sudah berapa kali pelayan itu datang ke meja Calistha untuk menanyakan makanan yang akan dipesan Calistha. Sayangnya kali ini Calistha kembali menggelengkan kepalanya sambil menatap getir pada wanita itu.

“Maaf pria yang kutunggu belum datang, bisakah kau memberiku sedikit waktu.” Ringis Calistha kecil. Ia sebenarnya cukup malu pada pelayan itu, namun ia tidak bisa berbuat apapun karena hingga detik ini Aiden belum juga datang ke restoran itu.

“Baiklah, tapi anda telah duduk di sini selama tiga jam. Apa tidak sebaiknya…”

“Calistha…”

Calistha menoleh cepat kearah sumber suara sambil tersenyum senang. Akhirnya pria yang ia tunggu sejak tadi datang juga. Namun bukanya duduk di sebelah Calistha, Aiden justru langsung menarik tangan Calistha dan pergi begitu saja dari restoran itu.

“Aiden hentikan, kenapa kita pergi dari sini? Pelayan itu menatapku dengan tatapan galak, Aiden!”

Calistha berteriak gusar sambil menghentikan langkah Aiden yang lebar-lebar. Namun seperti tuli, Aiden justru terus menyeretnya kedalam mobil dan membanting keras-keras pintu itu hingga Calistha berjengit kaget di dalam mobil.

“Apa-apaan kau ini? Seenaknya saja datang dan menyeretku pergi. Aku telah mengubungimu hingga beratus-ratus kali, tapi semuanya selalu berakhir dengan suara operator. Dan sekarang kau justru mempermalukanku seperti ini.” Omel Calistha panjang lebar. Aiden masih tetap bergeming di tempatnya sambil mengemudikan mobilnya dalam diam. Ia sepertinya tak berminat untuk meladeni Calistha. Namun semakin dibiarkan, wanita itu justru semakin berisik di sampingnya dan membuatnya kehilangan konsentrasi untuk mengemudikan mobilnya.

“Kau sudah selesai?” Tanya Aiden datar.

“Sudah. Sebenarnya ada apa denganmu Aiden, kau tidak pernah seperti ini sebelumnya.”

“Ponselku mati, aku tidak bisa menghubungimu untuk membatalkan acara makan siang kita karena aku ada urusan mendadak dengan klienku.”

Calisha berdecak jengkel mendengar alasan itu. Sungguh ia merasa malu pada pelayan tadi karena Aiden langsung menariknya begitu saja tanpa memberinya kesempatan untuk sekedar meminta maaf pada pelayan yang telah puluhan kali menawarkan makanan padanya.

“Tidak seharusnya kau langsung menarikku seperti ini, aku malu pada pelayan itu.”

“Abaikan saja.” Jawab Aiden dingin. Entah kenapa aura Aiden hari ini sedang buruk. Pria itu tampak sangat dingin dan juga kasar, suatu hal yang sangat jarang terlihat dari Aiden sejak ia tinggal bersama Calistha.

“Ada apa denganmu hari ini, kau tidak seperti Aiden yang kukenal?”

“Memangnya kau benar-benar mengenalku?” Tanya Aiden datar. Pria itu masih tetap terpaku pada jalanan di depannya tanpa sedikitpun menoleh pada Calistha. Ia seperti sedang memiliki masalah yang serius, dan dugaan Calistha masalah itu masih berkaitan dengan percakapan mereka tadi malam.

“Apa kau marah karena aku menanyakan masa laluku padamu? Ayolah Aiden, aku tidak bermaksud menuduhmu berbohong. Aku tahu kau mungkin sedang melindungiku dari sesuatu yang buruk di masa lalu.”

“Sudah berapa kali kukatan, aku tidak mau membahas masa lalu. Lebih baik kau hilangkan seluruh prasangkamu itu dan diam.”

Aiden berseru kasar dengan rahang yang terlihat mengeras. Sedangkan Calistha, ia tampak syok karena ia tidak pernah mendapatkan bentakan dari Aiden sebelumnya. Dan semalam mereka hampir saja berakhir dengan sebuah pertengkaran jika ia tidak mengalah dan meredamnya dengan segelas coklat panas kesukaan Aiden.

“Aku tahu kau tidak suka dengan masa laluku, tapi aku terus melihat bayangan-bayangan aneh di dalam kepalaku. Aiden, kumohon bantu aku menemukan jawabannya. Aku tersiksa dengan semua ini.” Ucap Calistha dengan wajah memelas. Wanita itu tampak frustrasi dengan seluruh mimpi-mimpi buruknya yang semakin lama semakin intens. Bahkan semalam ia memimpikan seorang pria dengan tuksedo hitam sedang menggandengnya di altar dengan dirinya yang tersenyum manis pada pria itu. Tapi yang membuatnya bingung, di dalam mimpinya ia justru menikah dengan pria lain, dan mimpinya tentang Aiden justru mimpi yang sangat mengerikan tentang penculikan.

“Aiden, semalam aku bermimpi sedang bergandengan dengan seorang pria di altar. Apa dulu aku sudah pernah menikah?”

Seketika tangan Aiden mengepal dengan buku-buku jari yang tampak memutih. Ia benci dihadapkan pada situasi dimana ia tidak bisa mengatakan apapun, dan hanya bisa menggeram karena marah. Calistha tidak boleh mengingat masa lalunya. Wanita itu harus menjadi miliknya, dan selamanya hanya untuknya.

“Itu hanya mimpi, jangan terlalu dipikirkan. Maafkan aku.” Akhir Aiden dengan lembut. Pria itu memanfaatkan lampu lalu lintas yang sedang menunjukan warna merah untuk menghentikan mobilnya, dan menatap manik Calistha lembut.

“Kau saat itu terbentur dengan keras sayang, jika aku menceritakan masa lalumu, syaraf-syaraf di otakmu akan bereaksi lebih dahsyat. Dokter memintaku untuk tidak mengingatkanmu pada kejadian di masa lalu karena kau akan mengalami kesakitan yang lebih parah nantinya. Jadi, tolong jangan paksa aku untuk menceritakan apapun tentang masa lalumu hmm?”

Aiden mengelus puncak kepala Calistha lembut dan mulai mengecupi punggung tangan Calistha penuh sayang. Perlakuannya yang manis itu tak ayal membuat Calistha luluh dan akhirnya memilih untuk memahami kondisi Aiden. Jika berada di posisi Aiden ia mungkin juga akan melakukan hal yang sama karena ia juga tidak ingin menyakiti orang yang dicintainya.

“Maafkan aku Aiden, aku sudah memaksamu untuk menceritakan masa laluku.”

“Tidak masalah, sekarang ayo kita pulang. Aku memiliki kejutan untukmu.”

“Kejutan?” Tanya Calistha sambil mengernyitkan dahinya. Ia menatap Aiden sungguh-sungguh dan meminta pria itu untuk menjelaskannya. Namun dengan menyebalkannya pria itu hanya memberikan kerlingan misterius pada Calistha sebagai jawaban atas permintaan wanita itu.

-00-

Perlahan-lahan Aiden membimbing langkah Calistha untuk berjalan ke halaman belakang rumah mereka yang telah ia sulap menjadi tempat makan malam romantis yang penuh dengan taburan kelopak bunga mawar. Hari ini Aiden sengaja mempersiapkan ini semua untuk Calistha dan membiarkan wanita itu menunggu di restoran karena ia tidak ingin semua rencananya gagal. Meskipun rencananya sedikit keterlaluan, tapi semua itu terbayar dengan semua kejutan yang berhasil ia siapkan hari ini.

“Aiden, sampai kapan aku harus menutup mataku?”

“Sebentar lagi sayang, kita akan segera sampai.”

Calistha berjalan dengan langkah yang sedikit diseret sambil terus memegang bahu Aiden kuat-kuat. Heels lima centinya sedikit membuatnya terantuk-antuk saat melewati beberapa kerikil. Namun hal itu sama sekali tidak menyurutkan tekad Calistha untuk tetap berjalan karena ia merasa tidak sabar untuk melihat kejutan yang Aiden siapkan untuknya.

“Apa aku sudah bisa membuka mataku?”

Ketika langkahnya berhenti, Calistha langsung menoleh kesana kemari sambil berteriak keras. Ia merasakan tubuh Aiden sudah tidak ada lagi di sampingnya, dan sekarang ia mulai takut dengan keheningan yang tiba-tiba tercipta di sekitarnya.

“Aiden… kau dimana?”

Suara teriakan Calistha membuat Aiden terkekeh geli. Pria itu saat ini sedang berjongkok di sudut taman untuk menyalakan beberapa kembang api yang telah ia siapkan.

“Aiden!! Jangan mengerjaiku seperti ini.” Teriak Calistha kesal sambil melepas penutup matanya kasar. Dan bersamaan dengan itu, suara letusan-letusan kecil dari kembang api yang disulut oleh Aiden mulai terdengar, meramaikan suasana senyap yang terjadi di sekitar mereka.

“Aiden….”

Calistha tak kuasa menahan air matanya saat melihat halaman belakang mereka yang telah disulap menjadi sebuah tempat dinner yang romantis dan juga indah. Di tempatnya berdiri saat ini telah terhampar ratusan kelopak mawar yang sangat indah. Dan di tengah-tengah taman, ia dapat melihat sebuah meja kecil dengan lilin juga beberapa makanan di atasnya, tampak telah menunggu untuk mereka berdua. Dengan senyum merekah Aiden menghampiri Calistha dan menggandeng tangan wanita itu lembut untuk mengikutinya duduk di atas kursi.

“Kau suka kejutanku?”

“Suka. Sangan suka! Terimakasih Aiden.”

Calistha langsung memeluk Aiden erat dan menangis haru di pundak pria itu sambil terus menggumankan terimakasih pada Aiden. Ia tak menyangka jika pria itu dapat seromantis ini padanya dengan segala kejutan yang tampak manis di matanya.

“Spesial untukmu sayang, apa kau mau menikah denganku?”

Calistha refleks melepaskan pelukannya sambil menganga tak percaya di depan Aiden. Pria itu, apakah ia bersungguh-sungguh?

“Aiden, benarkah kau….”

“Aku mencintaimu Calistha, maukah kau menikah denganku?”

Calistha mengangguk antusias dan langsung menerima sebuah cincin berlian putih yang disematkan Aiden di jari manisnya. Ini sungguh kejutan yang luar biasa manis. Akhirnya ia tidak lagi merasa ragu dengan semua sikap Aiden padanya karena pria itu ternyata juga mencintainya.

“Aku juga mencintaimu Aiden, sangat.”

Mereka saling berpelukan di tengah taman dengan senyum manis yang terus terkembang di wajah Calistha. Namun di balik kebahagiaan Calistha, Aiden saat ini justru tampak muram. Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa merasakan dekapan hangat Calistha dan dapat merasakan wanita itu berada di sisinya karena cepat atau lambat mungkin wanita itu akan meninggalkannya.

-00-

Changmin duduk dengan tidak sabar di sofa hitam di ruangan Hyukjae sambil menatap Hyukjae yang sejak tadi terus sibuk dengan pekerjaanya tanpa mengindahkan keberadaanya sedikitpun. Ia pikir empat puluh menit yang lalu Hyukjae tidak akan selama ini, tapi ternyata pria sok sibuk itu justru mengacuhkannya selama ini.

“Apa kau masih lama tuan Lee Hyukjae? Aku juga memiliki pekerjaan lain.” Geram Changmin gusar. Hyukjae menatap datar Changmin dari singgasananya. Setelah itu ia bangkit dan berjalan dengan langkah tenang kearah Changmin.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?”

“Masalah Donghae, ia telah menculik isteriku.”

“Im Yoona?” Tanya Hyukjae datar. Dari wajahnya sama sekali tak terlihat adanya keterkejutan sedikitpun. Pria itu justru sibuk melonggarkan dasinya sambil berdeham pelan dengan gaya angkuh khas seorang CEO.

“Aku baru ingat jika Yoona adalah gadis kecil tetanggaku.”

“Maksudmu? Jadi kau mengenal Yoona?” Tanya Changmin tak mengerti.

“Tidak, tapi aku sering melihatnya bermain dengan teman-temannya di dekat rumahku, sekitar empat belas tahun yang lalu.” Jawab Hyukjae tenang. Namun sebaliknya, Changmin semakin terlihat tidak sabar dan ingin membombardir pria itu dengan berbagai pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Sayang, Lee Hyukjae terlalu angkuh untuk semua pertanyaan-pertanyaan itu, sehingga ia memilih untuk tetap bersabar sambil menenangkan dirinya yang mulai gusar.

“Ceritakan padaku apa yang terjadi pada Yoona dan Lee Donghae, kenapa selama ini Yoona tidak pernah mengatakan apapun tentang pria itu. Dan secara misterius Yoona menghilang setelah menangani Donghae yang memiliki penyakit kejiwaan beberapa minggu yang lalu.”

“Seharusnya sejak awal aku bisa mengenalinya. Saat itu, kira-kira satu setengah bulan yang lalu aku bertemu Yoona di rumah sakit. Wanita itu tampak kebingungan di depanku karena ia belum menemukan satupun keluarga Donghae yang datang untuk menjenguk Donghae setelah ia melakukan percobaan bunuh diri. Aku yang saat itu baru saja tiba dari perjalanan bisnisku secara kebetulan bertemu Yoona yang sedang kebingungan mencari keluarga Donghae. Setelah memperkenalkan diriku sebagai sepupu Donghae, Yoona mengajakku untuk ke ruangannya, dan kami mengobrol seputar gangguan jiwa yang dialami Donghae. Sayangnya saat itu aku lupa jika Yoona sebenarnya adalah gadis kecil yang dulu tinggal di sebelah rumahku. Baru beberapa minggu ini aku sadar jika dokter Im adalah gadis kecil yang selama ini dicari-cari oleh sepupuku.”

“Jadi apa yang terjadi pada mereka?”

“Apa kau benar-benar suaminya? Kau tampak tidak mengetahui apapun tentang Yoona.” Ejek Hyukjae dengan pandangan mencemooh. Changmin mencoba mengabaikan ejekan itu dengan sikap tenangnya sambil menyunggingkan senyum hambar yang terlihat tidak tulus.

“Aku memang tidak pernah mencari tahu latar belakang Yoona, karena kupikir itu akan mengganggunya. Dan ternyata hal itu saat ini sangat dibutuhkan untuk melacak keberadaanya saat ini. Jadi tuan Lee, maukah kau membagi ceritamu padaku.”

Kentara sekali jika Changmin sedang menahan emosinya. Namun pria itu cukup memiliki pertahanan diri yang baik karena hingga sejauh ini ia belum meledakan amarahnya di depan Hyukjae.

“Baiklah, kurasa ini juga demi kebaikan sepupuku yang gila itu. Jadi, selama ini Donghae ternyata mencintai Yoona. Sejak Yoona berusia sepuluh tahun, Donghae telah memiliki ketertarikan pada wanita itu. Tapi awalnya kupikir Donghae hanya sebatas sedang merenung di taman karena banyaknya masalah yang dimiliknya. Perceraian yang terjadi pada orangtuanya dan limpahan tanggungjawab untuk menjadi CEO membuat Donghae sering stress dan memutuskan untuk menginap di rumahku. Dan selama berada di rumahku, hampir setiap hari aku melihat Donghae selalu berada di taman sambil memperhatikan segerombolan anak kecil yang sedang bermain di sana. Awalnya kupikir itu normal, namun saat Yoona tidak lagi berada di sana, Donghae terlihat seperti pria aneh yang kehilangan kekasihnya. Setiap hari Donghae berdiri di taman dengan tatapan kosong sambil menatap segerombolan anak-anak yang sedang bermain di sana. Tidak hanya itu, kadang aku juga melihatnya sedang berdiri di depan rumah Yoona sambil menatap jendela kamar Yoona yang selalu tertutup. Berbulan-bulan Donghae seperti itu dan melupakan seluruh tanggungjawabnya sebagai CEO. Namun pada akhirnya Donghae tidak pernah lagi datang ke rumahku dan mulai menyibukan diri di kantor sebagai seorang pria yang gila kerja. Ia mendorong dirinya sendiri seperti sebuah mesin yang terus bekerja tanpa henti, hingga akhirnya ia merasa jenuh dan melimpahkan semua tanggungjawab itu padaku. Jadi perusahaan ini sebenarnya milik Donghae, aku hanya sebatas menggantikan Donghae di sini karena perusahaan ini tidak bisa dilepas begitu saja tanpa pemimpin.”

“Lalu apa lagi yang kau ketahui tentang Donghae? Emm… kurasa ada sesuatu yang terjadi pada Yoona hingga ia memutuskan untuk disekolahkan di sekolah asrama yang letaknya jauh dari Seoul.” Ucap Changmin sambil menghubung-hubungkan petunjuk yang telah ia dapatkan selama satu bulan ini. Apa yang dikatakan oleh ibu Yoona mulai masuk akal sekarang. Sikap aneh Yoona yang terlihat selama ini disebabkan karena masa lalunya yang berkaitan dengan Donghae.

“Pantas saja Yoona memilih pergi, ia pasti ketakutan.”

Tiba-tiba Hyukjae berseru dengan mimik wajah serius sambil menatap Changmin sungguh-sungguh.

“Yoona adalah korban pemerkosaan Donghae.” Ucap Hyukjae tenang.

“Apa? Jangan bercanda, itu tidak mungkin.”

Changmin hampir saja maju untuk mencengkeram kerah kemeja Hyukjae, tapi tatapan bersungguh-sungguh Hyukjae membuat Changmin kembali mundur sambil mengontrol emosinya yang hampir meledak.

“Ibunya yang mengatakan padaku. Setelah sekian lama bibiku bungkam mengenai hal itu, akhirnya ia menceritakan juga padaku setelah aku memberitahunya jika Donghae mengalami gangguan jiwa dan sempat melakukan percobaan bunuh diri. Bibiku secara tidak sengaja pernah melihat Donghae memperkosa Yoona di dalam box telepon saat Seoul sedang dilanda hujan badai.”

“Brengsek! Sepupumu memang sakit jiwa! Ia memperkosa gadis berusia sepuluh tahun?” Ucap Changmin emosi. Tak bisa ia bayangkan bagaimana perasaan Yoona selama ini, berjuang sendiri dengan semua rahasia kelam yang berusaha ia sembunyikan dari semua orang. Pantas saja selama ini Yoona selalu menolak berhubungan dengannya, wanita itu pasti mengalami trauma karena pengalaman buruknya di masa lalu.

“Memang. Sepupuku memang sakit jiwa. Ia terobsesi pada Yoona dan ingin memiliki Yoona untuk dirinya sendiri. Dan setelah Yoona pergi ia menjadi hancur, ia mengalami depresi dan sering melihat bayangan-bayangan aneh di dalam kepalanya.”

“Tunggu, jika ibunya melihat perilaku bejat putranya, kenapa ia hanya diam saja? Kenapa ia tidak berusaha menyelamatkan Yoona dari perbuatan keparat anaknya?”

“Kurasa bibiku saat itu terlalu syok hingga tidak bisa melakukan apapun. Bahkan setelah itu ia langsung pergi ke China dan tidak mau bertemu dengan anaknya. Apa kau pikir bibiku juga menginginkan hal itu? Tentu saja tidak, ia tidak pernah ingin melihat putra yang paling dicintainya menjadi seperti itu. Tapi bibiku sadar jika sedikit banyak hal itu terjadi karena ketidakharmonisan hubungan keluarganya. Jadi selama ini bibiku juga terus menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu.” Jelas Hyukjae bijak. Sesuatu yang sudah terlanjur terjadi memang tidak perlu disesali. Hal itulah yang saat ini sedang dilakukan Hyukjae. Daripada menyesali masa lalu, ia lebih memilih untuk mencari solusi atas masalah yang melibatkan sepupunya.

“Lalu apa yang harus kulakukan untuk menemukan Yoona? Ini sudah lebih dari sebulan sejak ia menghilang, dan aku yakin jika saat ini Yoona sedang bersama Donghae. Tapi aku sendiri juga bingung, mengapa Yoona belum juga menghubungiku. Padahal aku sangat berharap ia menghubungiku dan mengatakan dimana keberadaannya sekarang. Apa Donghae telah melakukan sesuatu yang buruk pada Yoona?”

“Kurasa tidak. Donghae tidak mungkin melakukan apapun pada Yoona, bahkan menyakitinya, itu tidak akan mungkin terjadi. Tapi Donghae bisa saja melakukan hal licik lain yang bisa membuat Yoona tetap berada di sisinya.”

“Melakukan apa?” Tanya Changmin mulai was-was. Pikiran-pikiran buruk mengenai Yoona mulai menyusup lagi kedalam kepalanya. Namun kali ini lebih parah hingga membuatnya merasa takut.

“Aku tidak tahu. Hanya Donghae dan pikiran gilanya yang tahu.”

-00-

“Apa tidak ada cara lain? Lakukan sesuatu!”

Aiden membentak pria tua di depannya dengan kasar sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ini sudah lebih dari seminggu, tapi pria tua itu belum juga memberinya obat untuk mencegah ingatan Calistha agar tidak kembali lagi. Padahal ia telah memberikan waktu cukup lama untuk pria itu berpikir. Tapi otak kecilnya terlalu lambat untuk memikirkan solusi atas masalahnya yang mendesak. Padahal setiap detiknya bayangan-bayangan masa lalu Calistha mulai muncul di dalam kepalanya.

“Hanya obat itu yang bisa kau gunakan, tidak ada yang lain.”

“Tapi obat itu hanya memiliki efek sementara. Aku tidak bisa terus menerus menggunakannya karena ia mulai curiga saat aku memberikan obat itu berkali-kali padanya. Berikan aku serum atau apapun yang bisa membuatnya lupa ingatan selamanya.” Teriak Aiden murka. Saat ini ia sudah berada di ambang kesabarannya. Dan jika pria tua itu tak juga memberikan solusi untuknya, ia akan segera melenyapkan pria itu saat ini juga.

“Semua yang kau berikan untuk menghilangkan ingatannya hanya akan menyakitinya. Perlahan-lahan memorinya akan rusak dan ia bisa saja menjadi cacat karena saraf-sarafnya juga ikut rusak. Lebih baik kau biarkan saja memorinya kembali, semua itu adalah bagian darinya. Kau tidak bisa menghilangkannya begitu saja dari ingatannya.” Nasihat dokter itu bijak. Namun Aiden tidak setuju dan tetap ingin ingatan Calistha hilang. Sampai kapanpun ia tidak pernah melepaskan Calistha dari sisinya. Wanita itu harus menjadi miliknya, apapun yang terjadi! Bahkan jika ia harus melakukan cara-cara kotor sekalipun, ia tidak peduli. Pokoknya apapun akan ia lakukan demi mempertahankan Calistha tetap di sisinya.

“Hmm.. kalau begitu kau sudah tidak kubutuhkan lagi. Kau tidak bergunan.” Gumam Aiden pelan. Ia menyeringai licik kearah pria tua berkacamata di depannya sambil mengelus kantong belakang celananya yang berisi pistol.

“Aaa apa yang akan kau lakukan?”

“Menurutmu?”

Pria tua tercekat ketakutan sambil berjalan mundur dengan wajah pucat. Ini bukanlah akhir yang ia inginkan. Namun Aiden rupanya sudah benar-benar jengah dengan kinerja pria itu hingga ia tak memiliki pilihan lain selain melenyapkan nyawanya untuk menebus rasa kecewanya karena ia gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.

“Jaa jangan… aa akan kubuatkan obatnya, beri aku kesempatan.” Cicit pria itu ketakutan. Ia sudah terpojok di sudut ruangan dengan wajah pucat sambil menatap moncong pistol Aiden yang telah berada di pelipisnya.

“Waktumu sudah habis pak tua. Ini adalah kesempatan terakhirmu, dan kau tidak memanfaatkannya dengan baik. Jadi…. membusuklah di neraka.”

DORR!!

Suara letusan yang diredam itu terdengar samar di tengah hiruk pikuk keramaian kota Bristol di siang hari. Tubuh kaku bersimbah darah itu tergeletak begitu saja di sudut ruang praktiknya yang sepi dan juga senyap. Sementara itu, Aiden langsung meletakan pistolnya di atas tubuh kaku sang pria tua dengan terlebih dulu mengelap wajahnya yang terkena sedikit cipratan darah. Ia memang bukanlah pria normal. Ia gila! Ia adalah pria gila yang selamanya akan tetap gila, terutama jika itu menyangkut tentang Calistha.

-00-

Calistha tampak gelisah di dalam rumahnya sambil menyandarkan tubuh lelahnya pada sandaran sofa. Sudah tiga hari ini ia tidak bisa tidur dengan tenang. Mimpi-mimpi aneh dan juga suara-suara aneh terus mengganggunya hingga ia tidak bisa memejamkan mata barang sejenak. Sayangnya Aiden selalu marah setiap kali ia menanyakan hal itu. Padahal ia ingin tahu, apakah benar semua itu adalah bagian dari masa lalunya ataukah hanya bunga tidur yang tidak penting.

“Aiden….”

Calistha memanggil Aiden pelan ketika melihat pria itu tampak tergesa-gesa masuk kedalam rumah mereka. Tatapan dingin dan juga datar dilayangkan pria itu ketika Calistha dengan terang-terangan menhadang jalannya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada pria itu.

“Ada apa dengan wajahmu, kau tampak memiliki masalah.”

“Minggir Calistha, aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun.”

“Kenapa? Meskipun itu denganku?” Tanya Calistha sedih. Semenjak ia mendapatkan mimpi-mimpi aneh itu, sikap Aiden padanya mulai berubah. Pria itu sering terlihat dingin dan juga uring-uringan bila bersamanya. Dan kadang Aiden juga memaksanya untuk meminum obat aneh yang menurut pria itu untuk mengurangi efek sakit kepalanya. Ia tidak pernah tahu obat apa yang Aiden berikan padanya, tapi ia selalu merasa aneh setelah meminum obat itu. Seperti ada sebuah lubang hitam di dalam kepalanya yang menyedot semua bayang-bayang itu, dan semuanya akan kembali kabur setelah ia meminumnya.

“Calistha… maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu.”

Suara isak tangis Calistha membuat Aiden gelagapan dan berbalik untuk menenangkan wanita itu. Ia memeluk Calistha erat dan membawa Calistha ke sofa terdekat agar wanita itu lebih rileks. Saat ini pikirannya sedang kacau karena banyaknya masalah terkait memori Calistha yang bisa kembali kapan saja. Padahal dulu obat itu sangat ampuh dan bisa menahan cukup lama memori Calistha agar tidak kembali. Tapi semakin lama, tubuh Calistha sudah mulai terbiasa dengan obat itu, sehingga efek yang ditimbulkan menjadi kurang akurat.

“Aiden… jangan seperti ini lagi, aku takut. Melihatmu yang marah-marah membuatku takut. Aku janji tidak akan membahas masalah itu lagi.”

“Baiklah, maafkan aku. Aku juga tidak akan membentakmu lagi.”

Aiden semakin mengeratkan pelukannya pada Calistha sambil menciumi kening Calistha berkali-kali. Kebersamaan mereka selama hampir dua bulan ini membuat Aiden benar-benar tidak ingin kehilangan Calistha. Ia tidak mau kembali ke masa-masa mengerikan itu. Masa ketika ia harus berkutat dengan halusinasi-halusinasinya yang mengganggu dan rasa penyesalannya yang begitu besar karena tidak bisa menahan Calistha di sisinya.

-00-

Ini sudah dua bulan sejak Calistha hilang. Changmin masih sibuk mencari Yoona kesana kemari dengan bantuan banyak pihak yang sudah tak terhitung jumlahnya. Tapi semua pengorbanan itu untungnya telah terbayar dengan kabar gembira yang pagi ini baru ia dapatkan dari rekannya yang bekerja di kepolisian pusat. Mereka telah berhasil melacak keberadaan Yoona melalui penggunaan kartu kredit yang digunakan Donghae. Dan menurut dugaan, saat ini Yoona sedang berada di Bristol.

“Kapan kita akan ke sana?” Tanya Changmin tak sabar pada Junpyo.

“Besok? Sebenarnya kapanpun kau ingin ke sana, aku akan segera menyiapkan timku. Kau bilang Lee Donghae adalah pria berbahaya yang memiliki riwayat sakit jiwa, jadi kita harus mempersiapkan beberapa personel untuk mengantisipasi jika ia memberontak saat kita datang.”

“Kau benar. Kemungkinan Donghae akan melakukan pemberontakan saat kita menangkapnya. Jadi kapan kira-kira timmu siap? Aku sudah tidak sabar untuk membawa Yoona pulang.”

“Akan kuusahakan besok timku sudah siap. Nanti malam aku akan menghubungimu lagi.”

Changmin mengangguk mengerti dan memutuskan untuk pulang. Ia harus mempersiapkan banyak hal untuk pergi ke Bristol. Dan yang terpenting ia harus segera memberitahu orangtua Yoona jika putrinya telah ditemukan.

“Halo, Yoona sudah ditemukan eommonim. Aku akan segera menjemputnya.”

-00-

“Saatnya minum obat.”

Aiden meletakan sebutir obat berwarna biru di tangan Calistha sambil mengangsurkan segelas air putih. Rutinitasnya sejak Calistha bermimpi buruk adalah memberikan wanita obat dan menunggunya hingga obat itu benar-benar ditelan oleh Calistha.

“Oh baiklah. Aiden… bisakah kau mengambil ikat rambutku di kamar mandi, rambutku terus menjuntai dan mengganggu.”

Tanpa merasa curiga sedikitpun Aiden segera bangkit menuju kamar mendi mereka yang berada di sudut ruangan. Dan ketika Aiden pergi, Calistha langsung membuang obat itu ke kolong tempat tidur mereka, lalu cepat-cepat ia meminum air yang dibawa Aiden agar pria itu mengira ia telah meminum obat yang ia berikan.

“Tidak ada ikat rambut di kamar mandi.”

“Ooh.. maafkan aku Aiden, ternyata aku meletakannya di laci.” Jawab Calistha beralasan sambil tersenyum malu. Sekilas Aiden melihat air yang diminum Calistha telah tandas, dan obat itu juga sudah tidak ada, jadi ia berpikir jika obat itu benar-benar telah diminum Calistha.

“Apa kau masih sering merasa sakit kepala?”

“Tidak, sakit kepalaku sudah hilang. Terimakasih Aiden, ini karena obat darimu.” Ucap Calistha tulus. Sandiwaranya sebagai wanita penurut memang sangat bagus hingga Aiden tidak menyadari kebohongannya selama ini. Padahal sebenarnya ini sudah kali ke tiga ia tidak meminum obat itu. Ia merasa Aiden cukup aneh dan sedikit menyembunyikan sesuatu darinya. Belakangan ini ia juga sering melihat Aiden uring-uringan. Hal itu pada akhirnya membuat Calistha memutuskan untuk membiarkan semua gambar-gambar kabur itu menyakiti kepalanya, berkumpul menjadi satu, kemudian terangkai menjadi sebuah cerita yang akan menunjukan masa lalunya yang terlupakan.

“Ayo tidur. Kemarilah, aku akan memelukmu.”

Calistha meringsek masuk kedalam dekapan Aiden dan langsung memejamkan matanya damai, menikmati alunan detak jantung Aiden yang menenangkan. Tak bisa dipungkiri, ia sangat menyukai aroma tubuh Aiden dan suara detak jantungnya yang terdengar sebagai melodi pengantar tidur yang indah. Rasanya berada di dalam dekapan Aiden membuatnya benar-benar merasa aman dan juga nyaman.

“Calistha, berjanjilah untuk selalu di sampingku.”

“Hmm….”

Calistha bergumam kecil dan tampak tidak fokus dengan kata-kata Aiden. Kedua matanya kini telah diambang batas kesadaran. Aktivitasnya yang padat karena mengurus Helena membuatnya benar-benar lelah hingga ia tidak bisa menahan godaan kantuk yang sedang membuainya.

“Aku mencintaimu Calistha, sangat mencintaimu. Apapun yang terjadi kau harus menjadi milikku.” Bisik Aiden lagi sambil mengecupi kening Calistha yang indah. Pria itu kemudian melirik sekilas kearah Calistha yang telah damai dengan mimpinya. Hembusan napasnya yang teratur dan wajahnya yang damai menunjukan jika Calistha memang sudah benar-benar tertidur hingga tak bisa merespon doktrinasinya yang begitu kuat beberapa saat yang lalu.

-00-

Brakk Brakk Brakk

Bughh

Calistha mencoba membuka matanya yang berat sambil mencoba memfokuskan pendengarannya yang masih kabur. Suara gedoran dan debuman yang begitu berisik membuat Calistha terbangun seketika sambil menatap pemandangan di sekitarnya dengan linglung.

“Kita harus pergi sekarang, mereka akan menangkap kita.”

Suara Aiden dan tarikan pria itu yang tiba-tiba membuat Calistha berjalan terseok-seok kesana kemari karena kesadaranny yang belum terisi penuh. Namun dari apa yang ia lihat dari wajah Aiden, saat ini mereka memang dalam keadaan genting.

“Aiden, ada apa?”

Setelah berlari-lari cukup lama menembus pekatnya malam melalui pintu belakang, akhirnya Calistha berani buka suara sambil menatap rumah mereka yang tampak ramai di belakangnya. Ia merasa kesadarannya saat ini telah pulih, dan ia juga cukup sadar jika saat ini ia sedang berlari menjauhi rumahnya bersama Aiden tanpa alas kaki.

“Seseorang akan menangkapku dan membawamu pergi.”

“Siapa?”

Calistha mengernyit tak mengerti sambil memelankan laju larinya. Ia merasa saat ini mereka telah berada di jarak yang cukup aman untuk membahas peristiwa mengejutkan yang baru saja ia alami.

“Orang-orang jahat. Mereka tidak suka kau hidup bersamaku. Ayo, kita harus pergi dari sini.”

“Tunggu! Sebenarnya apa yang terjadi. Aku tidak mengerti Aiden, bisakah kau menjelaskannya lebih detail.” Pinta Calistha memelas. Namun hal itu sama sekali tidak mempengaruhi Aiden untuk berubah kasihan padanya. Justru Aiden saat ini sedang menggeram sambil menahan emosi yang sebentar lagi akan meledak.

“Turuti saja apa kataku, kau tidak perlu banyak bertanya!”

“Tapi kenapa aku tidak boleh tahu? Aku berhak tahu Aiden! Aku ingin tahu apa yang terjadi selama ini.”

Tanpa diduga Calistha mengeluarkan seluruh amarahnya di depan Aiden sambil mengontrol napasnya yang mulai tersenggal-senggal. Ia tidak tahan lagi dengan semua sikap misterius Aiden. Ia hanya ingin sebuah kebenaran yang selama ini selalu ditutup-tutupi Aiden darinya.

“Kau berani membentakku?”

Aiden mendesis pelan dengan emosi tertahan yang hampir meledak. Namun secara ajaib Calistha justru semakin berani untuk melawan Aiden. Padahal selama ia hidup bersama pria itu, sedetikpun ia belum pernah memarahi Aiden karena ia sangat menghormati pria itu. Tapi sekarang, ia merasa Aiden sudah terlalu kelewatan dengan segala misteri yang pria itu simpan rapat-rapat darinya.

“Aku hanya ingin mengetahui kebenaran, apa itu tidak boleh? Aku hanya ingin mengetahui masa laluku Aiden.” Ucap Calistha lirih. Bulir-bulir bening yang sejak tadi ditahannya, perlahan-lahan mulai meluncur turun seiring dengan tatapan Aiden yang semakin tajam kearahnya.

“Kau tidak perlu tahu Calistha, semua itu hanya sampah! Masa lalumu adalah sampah yang seharusnya kau buang jauh-jauh dari otakmu karena semua itu hanya akan membuatmu jauh dariku.”

“Apa maksudmu Aiden, aku tidak mengerti.” Isak Calistha pelan. Saat ini ia merasa kepalanya semakin berdenyut dan berputar-putar. Seluruh bayangan yang selalu menghantuinya selama ini mulai bermunculan di kepalanya hingga ia tiba-tiba jatuh terduduk karena rasa sakit luar biasa yang menyerang kepalanya.

“Calistha… sayang, sadarlah! Calistha!”

Aiden menepuk-nepuk pipi Calistha keras dan mencoba membangunkan Calistha dari ketidaksadarannya.

Dari kejauhan Aiden melihat para polisi itu tengah berlari-lari kearahnya dengan suara hentakan kaki mereka yang nyaring. Namun Aiden sama sekali tidak bergerak ketika mereka semakin mendekat. Ia justru terduduk di atas aspal dengan kedua tangan yang saling memeluk Calistha yang tak tak sadarkan diri. Cepat atau lambat, ini memang akan terjadi. Dan ia sepertinya sudah tidak bisa menghindar lagi.

“Lee Donghae! Lepaskan Yoona! Kau telah terkepung.”

Donghae tetap bergeming di tempatnya sambil memeluk Yoona. Ia sama sekali tidak takut pada mereka, ia hanya takut kehilangan Yoona.

“Angkat tanganmu dan lepaskan sandera! Cepat!”

Donghae tetap memeluk Yoona erat meskipun ia mendapat bentakan dari pria-pria berseragam polisi itu. Seluruh telinganya telah ia tulikan sepenuhnya, dan saat ini yang ingin ia dengar hanyalah suara hembusan napas Yoona yang teratur, yang sedang memejamkan matanya damai di dalam pelukannya.

“Lee Donghae, lepaskan isteriku. Kau tidak berhak menyentuhnya seperti itu karena Yoona adalah milikku.”

Kali ini Changmin maju dan berhasil membuat amarah Donghae memuncak. Seharusnya pria itu yang tidak berhak mendapatkan Yoona karena sejak awal dirinyalah yang mengenal Yoona. Bahkan ia telah menandai Yoona sebagai miliknya sejak empat belas tahun yang lalu.

“Brengsek! Jangan usik kehidupanku dan Yoona. Kalian semua minggir atau aku akan melakukan kekerasan juga.”

Donghae mengeluarkan pistol dari saku celananya dan mulai mengarahkan moncong pistol itu pada polisi-polisi yang hendak menangkapnya. Dari kejauhan ia dapat melihat Hyukjae sedang menatapnya dengan tatapan prihatin sambil memohon dengan kedua matanya agar ia menyerah. Namun ia tidak akan pernah menyerah begitu saja, karena ia harus tetap mempertahankan Yoona. Apapun yang terjadi.

“Jatuhkan pistol itu, jangan macam-macam Lee Donghae!”

Changmin berteriak gemas melihat sikap Donghae yang justru semakin nekat. Padahal ia pikir penyelamatan Yoona tidak akan berjalan serumit ini, tapi nyatanya ia terlalu meremehkan kehebatan Donghae.

“Aku tidak akan menyerah hingga kalian melepaskanku. Pergilah! Yoona sudah bahagia bersamaku.”

“Bohong! Kau pasti telah memperdaya Yoona hingga ia mau tunduk di bawah kakimu. Kau seharusnya dipenjara karena telah melakukan banyak kesalahan. Kau akan dihukum dengan sangat berat.” Ucap Changmin berapi-api. Ia gemas melihat polisi-polisi yang tak kunjung bergerak untuk menyelamatkan Yoona. Mereka justru hanya menatap Donghae dengan wajah bodoh yang memuakan.

“Kalian, cepat tangkap pria gila itu! Apa yang kalian tunggu?” Tanya Changmin gemas. Polisi-polisi itu lantas bersiaga sambil mengarahkan moncong pistolnya kearah Donghae.

“Eungghhh… Oppa…”

Donghae menundukan wajahnya kearah Yoona sambil tetap mengarahkan moncong pistolnya pada polisi-polisi itu. Tapi kewaspadaanya saat ini sedikit hilang karena seluruh perhatiannya hanya terarah pada Yoona yang mulai membuka matanya.

“Oppa… Changmin oppa….”

Deg

Donghae terpaku di tempat sambil mencengkeram tubuh Yoona kuat. Wanita itu telah mengingat semuanya. Ingatan yang telah ia hapus telah kembali kedalam memori wanita itu. Ini buruk!

“Kau tidak pernah meminum obatmu?” Geram Donghae marah. Ia lantas mengarahkan moncong pistolnya kearah kepala Yoona sambil menyeret tubuh lemas Yoona sedikit mundur ke belakang.

“Jangan bergerak, atau aku akan menembak Yoona!”

“Donghae? Apa yang kau lakukan padaku? Lepaskan!”

Yoona meronta-ronta kuat sambil merintih kesakitan karena Donghae terus menyeret tubuhnya untuk mundur ke belakang. Ia sebenarnya belum sepenuhnya sadar dimana dirinya sekarang, tapi ia terus berusaha untuk lepas dari Donghae karena ia tahu jika pria itu jahat.

“Yoona! Lepaskan Yoona brengsek!”

“Oppa? Changmin oppa tolong aku!”

“Diam! Kau tidak boleh pergi kemana-mana. Kau milikku!” Teriak Donghae marah. Pria itu terus menyeret Yoona untuk kabur, dan mereka pada akhirnya bisa berlari menjauh dari kerumunan para polisi itu untuk segera melarikan dari dari Bristol.

“Apa yang kau lakukan padaku? Aku ingin pulang!”

“Diam! Kau tidak boleh pergi kemanapun.” Teriak Donghae di tengah-tengah pelarian mereka. Yoona berusaha melepaskan cengkeraman Donghae dari lengannya, namun pria itu langsung menarik rambutnya dengan tangannya yang lain agar Yoona tidak bisa pergi kemanapun.

Sementara itu, Changmin dan para polisi terus mengejar mereka yang tampak lihai berbelok-belok kedalam gang. Hidup selama dua bulan di sana membuat Donghae sangat hafal letak-letak tersembunyi yang akan menyamarkan langkah mereka dari para polisi. Namun jika Yoona tidak bisa diajak kerjasama seperti ini, pergerakan mereka menjadi lebih sulit.

“Kenapa kau melakukan hal ini? Lepaskan aku Donghae, aku ingin pulang.”

“Tidak! Kau milikku. Kau tidak boleh pergi kemanapun.”

“Kenapa kau menjadi seperti ini? Aku ingin hidupku kembali.” Mohon Yoona memelas. Ia sudah terlalu lelah berlarian kesana kemari dengan bunyi tembakan yang saling bersahut-sahutan di belakang mereka. Kakinya sudah lemas, ia ingin berhenti sekarang juga dari semua mimpi buruk yang berkaitan dengan Donghae.

“Hidupmu bersamaku Yoona, kau milikku.” Teriak Donghae geram sambil terus berlari. Ia kemudian berbelok kedalam sebuah gang sempit dan mulai memojokan tubuh Yoona di tembok dengan napas memburu yang terdengar terengah-engah.

“Lepaskan aku Lee Donghae! Aku tidak mau hidup dengan pria gila sepertimu!” Teriak Yoona berang. Ia telah kehabisan seluruh kesabarannya untuk menghadapi Donghae.

“Huh, benarkah? Tapi tubuhmu selalu menginginkanku Yoona. Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri.”

“Tidak! Kau picik! Kau mencuci otakku dan membuatku melupakan identitasku yang sesungguhnya. Aku ingin kembali pada Changmin oppa.”

“Hmm… apa kau pikir Changmin akan menerimamu? Wanita kotor yang pernah diperkosa oleh pria gila ini, hmm?”

“Brengsek kau Lee Donghae! Changmin oppa tidak akan melepaskanku begitu saja. Changmin oppa mencintaiku.” Balas Yoona tak kalah keras. Dengan gerakan tiba-tiba Yoona menggigit lengan Donghae dan mendorong tubuh Donghae kuat hingga pria itu terjungkal ke belakang. Sekuat tenaga Yoona berlari menyusuri gang-gang yang tak terlalu dikenalinya. Namun insting terus membawanya hingga ia menemukan jalan besar yang tampak ramai. Dari kejauhan ia melihat rombongan Changmin dan para polisi sedang berlari mencarinya. Ia pun segera memacu langkahnya lagi untuk mencapai mereka sambil terus menengok keberadaan Donghae di belakang yang semakin dekat dengan posisinya.

“Sialan! Berhenti Yoona! Berhenti sekarang juga!”

“Aku tidak mau kembali bersamamu, kau pria gila menjijikan! Changmin oppa….”

Yoona berteriak keras memanggil Changmin sambil melambai-lambaikan tangan kearah pria itu. Di belakangnya Donghae menggeram kesal dan mulai mengarahkan pistolnya kearah Changmin. Jika ia tidak bisa mendapatkan Yoona, maka pria itu juga tidak boleh mendapatkan Yoona.

“Changmin oppa..”

“Yoona! Awas!”

Dorr

Changmin berguling di atas aspal dengan darah yang mulai merembes dari perutnya. Yoona yang melihat hal itu langsung berlari kearah Changmin sambil berteriak-teriak memanggil nama Changmin yang mulai tak sadarkan diri.

“Oppa… jangan pergi. Maafkan aku oppa, aku tidak bisa menjadi isteri yang baik.” Isak Yoona tersedu-sedu. Polisi-polisi itu lantas bergerak cepat untuk meringkus Donghae yang sudah tidak melakukan perlawanan. Hati pria itu terlalu hancur ketika melihat wanita yang sangat dicintainya lebih mengkhawatirkan pria lain dan sedang menangisi pria lain yang sedang sekarat.

“Kau pria brengsek! Kau lebih pantas mati dan pergi ke neraka.” Teriak Yoona marah ketika Donghae diseret menjauh oleh pihak polisi. Namun pria itu hanya menatap Yoona sendu sambil berlalu pergi dengan hati hancur yang menyedihkan.

-00-

Satu bulan berlalu dengan cepat. Yoona kini telah kembali menjadi dokter jiwa di rumah sakit tempatnya bekerja, dan ia juga sudah memulai kehidupannya seperti biasa. Ia sekarang memutuskan untuk tinggal di apartemen bersama Changmin untuk menghilangkan seluruh traumanya pada Donghae. Namun meskipun begitu, ia tetap tidak bisa menghapus Donghae dari otaknya karena pria itu sudah terlalu dalam masuk kedalam pikirannya.

“Yoona, aku membawakan makan siang untukmu.”

Changmin tersenyum sumringah kearah Yoona dan langsung meletakan bungkusan plastik yang berisi makanan kesukaan Yoona di atas meja.

“Terimakasih oppa, ayo kita makan bersama.”

Yoona dan Changmin lantas duduk saling berhadapan untuk menyantap menu makan siang yang sangat menggugah selera. Namun semenjak kejadian itu, keceriaan Yoona sedikit berkurang. Entah kenapa Changmin merasa Yoonanya telah berubah. Ia bukan lagi Yoona yang ia kenal dulu, wanita itu sudah banyak kehilangan cahaya di hidupnya yang suram.

“Ada yang sedang kau pikirkan?”

“Aaa ah.. tidak, aku tidak memikirkan apa-apa.” Kilah Yoona gelagapan. Ia tersenyum masam kearah Changmin, lalu kembali melanjutkan makan siangnya yang tertunda. Namun meskipun saat ini ia sedang menyantap makanan kesukaanya, ia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.

“Ooya, hari ini sidang hukuman untuk Lee Donghae akan diadakan pukul satu siang, kau ingin ke sana?”

“Oh tidak, aku tidak mau bertemu dengannya lagi.” Jawab Yoona lirih sambil tersenyum getir. Pengalamannya hidup selama dua bulan bersama Lee Donghae ternyata tidak hilang begitu saja. Ia ingat setiap detail kehidupannya bersama pria itu, bahkan ia juga masih ingat bagaimana sentuhan Donghae selama mereka tinggal bersama. Itu sungguh pengalaman yang cukup mengganggu, tapi entah kenapa ia tidak bisa melupakannya. Bersama Donghae selama dua bulan membuatnya tahu bagaimana sifat pria itu yang sesungguhnya. Donghae sebenarnya adalah pria yang baik, tapi takdir yang terlalu kejam padanya.

“Emm.. oppa, apa kau akan kembali bertugas ke luar kota?” Tanya Yoona tiba-tiba. Changmin yang sedang memakan makanannya dengan lahap lantas mendongak kearah Yoona sambil tersenyum lembut pada isterinya.

“Mungkin nanti. Aku mengambil cuti selama satu bulan ke depan, aku akan terus menemanimu sayang.”

“Wahh… kau yakin? Kau tidak akan bosan? Kurasa kau akan mati kebosanan karena tidak memiliki pekerjaan.” Canda Yoona. Ia tahu bagaimana sikap Changmin selama ini yang selalu gila kerja. Pria itu pasti tidak akan betah berada di rumah terus menerus tanpa ada kesibukan.

“Kenapa aku harus bosan? Bukankah aku memilikimu? Mulai sekarang aku akan selalu berada di sampingmu. Aku janji.” Ucap Changmin bersungguh-sungguh sambil menggenggam tangan Yoona erat. Wanita itu tersenyum lembut kearah Changmin sambil menggumamkan terimakasih yang cukup lirih pada pria itu. Namun ia merasa hatinya tidak berdesir saat bersama Changmin, justru saat ini ia sedang memikirkan Donghae yang sedang meringkuk sendirian di dalam penjara.

“Yoong, bagaimana jika waktu satu bulan ke depan kita gunakan untuk melakukan program bayi, aku ingin memiliki anak darimu.” Ucap Changmin hati-hati. Yoona tiba-tiba saja merasa seluruh oksigennya terkuras habis dan membuatnya tidak bisa bernafas. Memiliki anak dari Changmin rasanya… ia belum memikirkan hal itu. Masih banyak urusan yang harus ia selesaikan sebelum ia benar-benar mantap bersama Changmin. Bahkan saat inipun hatinya masih risau dengan dugaanya yang belum tentu benar mengenai keadaan dirinya yang sepertinya tidak baik-baik saja.

“Eee… oppa…”

Yoona tak kuasa melanjutkan kalimatnya ketika melihat wajah Changmin yang memelas di depannya. Ia tahu Changmin sangat mencintainya, tapi perasaanya untuk pria itu masih kosong.

“Kumohon Yoong, aku sudah bersabar terlalu lama.”

“Bb baiklah, akan kucoba.” Ucap Yoona berat sambil menelan ludahnya pahit. Ini sungguh janji yang akan sulit untuk ia penuhi. Ia takut nantinya Changmin akan terluka dengan kenyataan pahit yang sebentar lagi akan menamparnya.

-00-

Pukul satu persidangan untuk Donghae telah dimulai. Dengan ditemani dua orang opsir polisi di sisi kanan kirinya, Donghae di dudukan di atas kursi terdakwa yang berhadapan langsung dengan sang hakim. Dengan wajah datarnya, Donghae menatap hakim itu sekilas dan tampak tak peduli dengan hukuman apapun yang akan ia terima. Baginya hukuman apapun tidak jadi masalah baginya karena hidupnya sudah tak berarti lagi. Ia sekarang hanyalah cangkang kosong tanpa nyawa setelah kepergian Yoona yang direnggut paksa darinya. Tak lama setelah ia duduk, hakim mulai membacakan pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan Donghae selama ini, sesuai dengan apa yang dilakukan oleh penuntut, Shim Changmin.

“Apa kau benar telah memperkosa gadis berusia sepuluh tahun yang bernama Im Yoona?”

“Ya benar.” Jawab Donghae singkat. Tak ada lagi yang perlu ia tutup-tutupi. Bahkan puluhan kamera wartawan yang membidik wajahnya sama sekali tak ia pedulikan. Toh ia memang pernah melakukannya dan ia tidak malu dengan itu semua. Justru ia merasa bangga karena hingga saat ini ia adalah pria satu-satunya untuk Yoona.

“Apa benar kau telah menculik Im Yoona selama dua bulan?”

“Ya benar.”

“Kenapa kau melakukannya tuan Lee Donghae?”

“Karena aku mencintainya.”

Satu jawaban itu membuat orang-orang yang hadir dan juga wartawan berbisik-bisik heboh. Pasalnya alasan Donghae itu terdengar mengharukan, namun perilaku yang dilakukan Donghae adalah perilaku yang salah.

“Apa yang selama ini kau lakukan selama di Bristol?”

“Hidup seperti manusia pada umumnya.” Jawab Donghae apa adanya. Kedua mata pria itu sama sekali tak bergairah dan ia tampak malas dengan semua pertanyaan bertele-tele yang diucapkan oleh sang hakim.

“Hakim, bisakah kau langsung menjatuhi hukuman untukku? Aku bosan.” Ucap Donghae datar.

“Baiklah, atas semua kejahatanmu kau mendapatkan hukuman penjara selama sepuluh tahun.”

Tok tok tok

Suara palu yang diketuk tiga kali menandakan jika hukuman untuk Donghae telah ditetapkan. Pria itu lantas dibawa opsir polisi untuk keluar dari ruang sidang yang sangat menyesakan itu. Dan saat ia melewati pintu keluar, tak sengaja kedua matanya bertatapan dengan iris karamel milik Yoona yang sedang menatapnya penuh kesedihan. Wanita itu berdiri di tengah-tengah kerumunan wartawan sambil menahan buliran air mata yang sebentar lagi akan jatuh membasahi kedua pipinya.

“Yoona…”

Donghae bergumam pelan ketika melewati Yoona sambil menyunggingkan senyum tulus yang baru kali ini dilihat Yoona. Pria itu terlihat pasrah saat dua opsir iru menyeretnya menuju mobil tahanan. Namun kedua matanya sama sekali tak bisa lepas dari Yoona hingga ia benar-benar masuk kedalam mobil dan opsir itu menutup pintunya rapat-rapat.                                                                                                                              -00-

Yoona terpaku di tempat sambil menatap kepergian Donghae bersama polisi-polisi itu. Sejujurnya siang ini ia tidak berencana untuk mendatangi pengadilan dan melihat prosesi persidangan Donghae. Tapi entah kenapa langkah kakinya justru membawanya ke sini dan membuatnya harus berdesak-desakan dengan banyaknya manusia yang ingin melihat proses persidangan pewaris Lee Corp.

Tes

Tak terasa bulir-bulir bening itu mulai menetes membasahi kedua pipinya yang putih. Ia tidak tega melihat Donghae diperlakukan seperti itu. Meskipun pria itu memang harus mempertanggungjawabkan semuanya perbuatannya, tapi ia benar-benar tak kuasa menahan kesedihannya kala pria itu lewat dan menggumamkan namanya sambil tersenyum tulus kepadanya. Andai waktu dapat diulang, ia tidak ingin semua ini terjadi. Seharusnya saat itu ia tidak nekad mengambil kasus Donghae untuk ditangani agar sisi gila pria itu tidak membuat kacau hidupnya maupun kehidupan pria itu. Tapi… semuanya telah terjadi. Percuma saja ia menyesalinya. Dan sekarang ia justru terperangkap di dalam permainan yang Donghae ciptakan untuknya. Tanpa sadar ia telah mencintai pria itu hingga sekarang hatinya terasa sakit saat pria itu pergi.

Yoona lantas memejamkan matanya, mencoba memanggil semua ingatannya saat ia berperan sebagai Calistha di Bristol. Ia merindukan saat-saat itu. Ia merindukan Aiden yang lembut, dan Aiden yang selalu menjadi tempatnya bersandar kapanpun ia membutuhkan sandaran.

 

Hahaha… Kau lucu, seperti badut!

            Aiden… apa kau mencintaiku?

            Kau menyebalkan!     

            Aiden… jangan pergi…

            Aiden, apa suatu saat kita akan menikah dan memiliki anak?

            Aiden…..

            Aiden…. Aku mencintaimu….

            Aiden… maafkan aku……

-00-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

~~5 tahun kemudian~~

“Appa!!”

Gadis kecil itu berlari lucu kearah seorang pria yang baru saja melangkah keluar dari pintu penjara. Dengan menggunakan seragam orange yang mencolok pria itu merentangkan tangannya lebar sambil tersenyum sumringah pada putri kecilnya yang cantik.

“Mirae-ah… appa merindukanmu, bagaimana kabarmu nak?”

“Hmm… kabar Mirae baik, Mirae juga merindukan appa.”

“Dimana eommamu?” Tanya Donghae sambil mencari-cari keberadaan Yoona. Tak biasanya wanita itu mengijinkan Mirae masuk sendiri kedalam ruang tahanannya. Meskipun di sini banyak polisi yang berjaga, tapi itu sama sekali bukan gaya Yoona.

“Menunggu di taman.” Jawab Mirae polos. Donghae lantas berjalan keluar menuju taman sambil menggendong Mirae yang cerewet. Gadis itu memang sangat mirip dengan Yoona kecil yang menggemaskan. Ia merasa beruntung telah mendapatkan kesempatan dari Yoona untuk menjadi ayah Mirae sembari merenungkan kesalahannya di penjara.

“Eomma….”

Yoona melambai kecil pada putri kecilnya sambil menata makanan yang ia bawa di atas karpet. Ini adalah hari minggu, dan ia ingin menghabiskan waktunya pagi ini untuk berpiknik bersama keluarga kecilnya di taman, meskipun itu adalah taman penjara.

“Ayo duduk…”

“Wow… tumben kau menyiapkan semua ini.” Komentar Donghae takjub. Yoona tersenyum sumringah dengan hasil masakannya hari ini lalu menurunkan Mirae dari gendongan Donghae.

“Ini semua untukmu dan untuk merayakan ulang tahun Mirae yang ke empat.”

“Ahh… maaf aku tidak bisa hadir kemarin.”

“Tidak apa-apa. Seharusnya Changmin oppa memang tidak perlu berlebihan dengan membuatkan pesta perayaan yang meriah untuk Mirae. Oh… dan juga Hyukjae, ia benar-benar gila. Apa kau tahu jika Mirae baru saja mendapatkan apartemen mewah dari Hyukjae. Ck, dia memang paman yang berlebihan.”

Donghae terkekeh mendengar cerita dari Yoona sambil meminum jus jeruk yang diberikan Yoona padanya. Lee Hyukjae memang seperti itu. Meskipun terkadang ia tampak aneh, namun sebenarnya ia memiliki hati yang baik.

“Bagaimana kabar Changmin sekarang, apa ia telah bertunangan dengan kekasihnya?”

“Belum…”

Yoona mendesah berat sambil menata makanan yang ia bawa kedalam piring-piring kecil.

“Ia benar-benar keras kepala dan menyebalkan. Aku bahkan sudah berulang kali mengingatkannya untuk segera mengikat Victoria, tapi selalu saja ada alasan untuk menolaknya. Entah apa yang ia tunggu, mungkin ia masih takut dengan kegagalan rumah tangga kami.” Jawab Yoona apa adanya. Sekarang tak ada lagi beban yang menggelayuti pundak mereka. Sejak Mirae lahir ke dunia, semua permasalahan itu perlahan-lahan mulai menghilang satu persatu. Dan meskipun saat ini mereka tampak seperti keluarga bahagia yang manis, percayalah jika pada awalnya mereka melaluinya dengan banyak rintangan. Dimulai dari kekecewaan Changmin dan kemarahan kedua orangtua Yoona karena ia justru memilih untuk bercerai dari Changmin setelah ia dinyatakan hamil oleh dokter. Setelah itu dengan bodohnya ia justru berlari menuju tahanan negara dan menangis tersedu-sedu di depan Donghae sambil memohon-mohon pada pria itu untuk kembali bersamanya. Konyol memang, dan mungkin terkesan tolol karena wanita baik-baik seperti Yoona justru memilih untuk bersanding bersama pria gila seperti Lee Donghae. Tapi begitulah cinta. Cinta itu mengaburkan kesalahan yang seolah-olah tampak seperti kebanaran.

“Yoona, hukumanku akan berakhir satu bulan lagi.”

“Benarkah? Ohhh selamat oppa, aku senang mendengarnya.”

Yoona langsung memeluk Donghae erat dan memberikan satu kecupan ringan di pipi pria itu. Ini sungguh berita yang luar biasa membahagiakan untuknya.

“Aku mendapatkan penguranganan masa tahanan dan Hyukjae juga membayar beberapa dollar untuk menebusku keluar.” Beritahu Donghae dengan gaya ponggah. Hingga saat ini ia masih mendapatkan pemasukan dari sahamnya yang dikelola Hyukjae. Jadi wajar saja jika Hyukjae melakukan hal itu.

“Ck, kalian orang-orang kaya yang sombong.” Decak Yoona kesal. Tapi dibalik wajah mencibir Yoona tersembunyi kebahagiaan yang begitu besar. Akhirnya setelah sekian lama ia berjuang sendiri, kini Donghae benar-benar akan berdiri di sampingnya dan melindungi keluarga kecil mereka.

“Kita akan segera menikah Yoona, aku pasti akan segera melakukannya setelah aku keluar dari penjara.”

“Aku tahu, kau pasti akan segera menikahiku. Ngomong-ngomong terimakasih atas kejutan ini, aku sangat terharu.”

Yoona menyeka sedikit air matanya yang menggenang di pelupuk mata sambil menatap Donghae dengan senyum bahagia yang manis. Melihat itu Donghae lantas menarik tangannya dan langsung menyandarkan kepalanya pada pundaknya.

“Kau tahu Yoona, aku terkadang masih tidak mempercayai ini semua.” Ucap Donghae sambil menatap ke langit, menerawang masa lalunya yang rumit dan penuh kegilaan. Tapi ia tidak pernah menyesal dengan semua kegilaan yang pernah dilakukannya karena dengan begitu sekarang ia bisa mendapatkan Yoona.

“Kenapa?”

“Rasanya seperti mimpi kau tahu. Aku ini pria brengsek, gila, dan pembunuh. Kenapa kau ingin bertahan bersamaku hmm?”

“Hahahaha…”

Yoona tertawa hambar menanggapi pertanyaan Donghae. Jika pria itu mengungkit-ungkit masa lalu mereka, ia merasa jika dirinya memang benar-benar bodoh. Dan sialnya pria itu yang telah membuatnya menjadi seperti ini. Terlalu banyak kenangan yang tak bisa ia lupakan dari Aiden, membuatnya memilih untuk hidup bersama Donghae. Lagipula ia juga merasa iba pada Changmin jika ia tetap mempertahankan pernikahan mereka karena kenyataannya ia hanyalah seorang wanita kotor yang pernah dijamah oleh pria lain. Jadi ia memang lebih baik kembali bersama Donghae dan menerima semua kekurangan pria itu.

“Aku masih menunggu jawabanmu Yoona.” Geram Donghae kesal.

“Kenapa? Kau bertanya kenapa aku ingin bertahan bersamamu? Hmm… tentu saja karena kita memiliki Mirae. Sudahlah jangan bahas lagi masa lalu kita yang rumit itu, aku hanya ingin kebahagiaan sekarang. Cheers!”

Yoona mengangkat tinggi-tinggi gelas jusnya dan mengajak Donghae bersulang untuk kebahagiaan mereka yang akan segera datang. Tak peduli serumit apapun hubungan mereka di masa lalu, yang penting saat ini mereka telah bahagia dengan kehidupan mereka yang manis. Dan hanya tinggal menunggu beberapa saat lagi hingga Donghae benar-benar keluar dari penjara untuk berkumpul bersama mereka berdua, dan menjadi ayah yang sesungguhnya untuk Lee Mirae.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.