Black Swan: Part Of Us (Five)

Cheat Codes ft Little Mix – Only You

Pluk

Hyukjae melemparkan sebuah majalah di atas meja sambil menjatuhkan dirinya dengan kasar di atas sofa ruang kerja Donghae. Sambil menatap Donghae serius, pria itu berucap pelan sambil melirik majalahnya yang sedang menampilkan potret wajah manis Yoona yang sedang tersenyum kearah kamera.

“Ini senyum palsu bukan? Yoona tidak pernah lagi tersenyum manis seperti ini sejak seorang pria merusaknya.”

“Apa yang kau lakukan di sini? Kembalilah bekerja.”

Tanpa mengindahkan kehadiran Hyukjae, Donghae tetap berkutat dengan seluruh pekerjaanya yang tampak menggunung di atas meja. Pria itu tak sedikitpun melirik kearah Hyukjae atau bahkan pada majalah bersampul putih di depannya. Saat ini ia sedang asik dengan dunia bisnisnya yang sedang berkembang pesat. Minggu ini ia sedang disibukan dengan urusan kerjasamanya dengan sebuah perusahaan mobil terbesar di Eropa. Dan rencananya mereka akan bekerjasama untuk membuat sebuah produk baru yang akan menggebrak pasar otomotif. Saat ini ia sungguh tidak ada waktu untuk memperhatikan foto Yoona atau apapun tentang Yoona. Sikap wanita itu padanya akhir-akhir ini benar-benar membuatnya sakit kepala. Bahkan sejak ia memarahi wanita itu karena kemunculan Kyuhyun di rumahnya, mereka belum pernah lagi bertegur sapa. Yoona memilih untuk bersikap acuh dan selalu mengabaikan kehadirannya di rumah begitu saja. Setiap ia pulang, ia pasti hanya akan mendapatkan laporan dari pelayan Kim jika Yoona sedang tidur atau sedang pergi bersama-sama dengan teman-teman pesoleknya.

“Sudah lama aku tidak melihat senyum manisnya. Hari ini aku sengaja membeli majalah ini di mini market setelah melihat foto sampulnya yang menunjukan senyuman manis Yoona. Apa saja yang kau lakukan selama ini padanya? Kau telah membuat putri kesayangan Seulong menderita karena sikap kejammu padanya.”

“Kau bukan dalam kapasitas untuk mengaturku Hyuk, jadi lebih baik kau kembali ke ruanganmu untuk bekerja.”

Donghae tetap fokus pada pekerjaanya tanpa mau repot-repot mendongakan kepalanya untuk menatap Hyukjae. Moodnya untuk membahas Yoona hari ini benar-benar sedang tidak ada. Ia bahkan terlalu muak hanya untuk memikirkan wanita liar itu. Selama ini ia sudah banyak mengorbankan banyak hal hanya demi mengabulkan keinginan Seulong. Dan sekarang wanita itu justru menjadi pembangkang tanpa tahu balas budi.

“Jelas itu menjadi kapasitasku karena kurasa kau sudah sangat keterlaluan pada Yoona. Kau membuat Yoona menangis setiap hari dan kau yang membuat Yoona bertingkah liar selama ini. Jika bukan karena sikapmu yang brengsek itu, Yoona tidak akan menjadi seperti ini.”

“Sudah kukatakan padamu untuk jangan mencampuri urusanku, Yoona adalah urusanku. Dan kau, kau hanyalah karyawan yang kugaji untuk bekerja di perusahaanku.” Balas Donghae sengit. Kesabarannya untuk sahabatnya itu telah menguap. Ia tidak mau lagi hanya diam sambil mendengarkan serentetan kalimat penuh nada menyindir yang terlontar dari bibir laknat Lee Hyukjae.

“Ya, aku memang hanya karyawanmu Hae, tapi aku juga sahabat Seulong. Melihat putrinya yang kau perlakukan semena-mena seperti itu membuatku tidak bisa berhenti untuk memikirkannya. Apa kau tahu apa yang telah terjadi padanya tiga tahun yang lalu? Yoona hamil! Dia mengandung anakmu.”

Donghae sekilas terlihat kaget, namun ia berusaha bersikap normal dengan menunjukan wajah datar di depan Hyukjae sambil memain-mainkan pena emasnya dengan santai. Ia pikir saat ini Hyukjae sedang membuat lelucon di depannya agar ia merasa bersalah pada Yoona dan segera pulang untuk berlutut di depan wanita itu. Sayangnya lelucon bodoh yang dilontarkan Hyukjae sama sekali tidak akan mempengaruhinya untuk berempati pada Yoona.

“Leluconmu sama sekali tidak lucu Hyuk. Lebih baik kau kembali ke ruanganmu dan selesaikan seluruh pekerjaanmu. Siang ini aku sama sekali tidak berminat untuk mendengar lelucon apapun darimu.”

Dengan acuh tak acuh Donghae kemnbali melanjutkan pekerjaannya tanpa menghiraukan wajah Hyukjae yang tampak bersungut-sungut di depannya. Namun di sisi lain tiba-tiba ia memikirkan Yoona sambil membayangkan apa yang pernah terjadi diantara mereka di masa lalu. Memang dulu ia sangat bejat. Ia memanfaatkan kepolosan Yoona untuk memuaskan nafsu binatangnya dan memperdaya Yoona dengan sikapnya yang berpura-pura lembut di awal hubungan mereka. Dan setelah ia mengungkapkan seluruh kebusukannya pada wanita itu, Yoona perlahan-lahan mulai menjauhinya. Wanita itu mulai menunjukan penolakan dan lebih sering mengurung diri di kamar. Namun beberapa bulan kemudian sikap Yoona padanya kembali normal. Wanita itu tidak terlalu mendiaminya lagi dan mulai bersedia untuk mengikuti ritme hidupnya yang bebas. Lalu mereka berdua pada akhirnya justru menjadi partner sex tanpa pernah ia tahu apa alasan Yoona dibalik semua sikapnya selama ini.

“Lelucon? Itu semua adalah fakta karena aku sendiri yang saat itu membawanya ke rumah sakit saat ia keguguran. Ia hampir melakukan percobaan bunuh diri tiga tahun yang lalu, sayangnya semua itu gagal karena aku berhasil menghentikannya sebelum tubuhnya dihantam oleh sebuah mobil yang sedang melaju kencang kearahnya.”

“Kalau itu benar-benar terjadi padanya, kenapa aku tidak pernah mengetahuinya? Apa kau sedang mempermainkanku?”

Hyukjae tampak kesal dan juga jengah dengan sikap Donghae yang sangat menyebalkan di depannya. Lagipula untuk apa ia mengarang sebuah cerita untuk berbohong? Itu sama sekali bukan gayanya. Selama ini ia selalu bungkam karena ia terlanjur berjanji pada Yoona untuk menutupi semua hal itu dari Donghae. Kejadian tiga tahun yang lalu yang menimpa Yoona benar-benar sangat menohok hatinya. Bagaimana mungkin putri dari sahabatnya akan berakhir dengan sangat mengenaskan seperti itu di tangan Donghae. Memang sejak awal ia tidak pernah mempercayai Donghae dalam hal pengasuhan Yoona, namun ia tidak pernah sampai berpikir jika Donghae akan merusak Yoona hingga sejauh itu. Dan kali ini ia sudah benar-benar tidak tahan hingga semua rahasia itu keluar begitu saja dari bibirnya.

“Huh, apa kau pikir kau adalah Tuhan? Sadarlah Hae, kau bukanlah pria rumahan yang akan sering-sering berada di rumah. Setiap hari keberadaanmu bahkan tidak menentu. Terkadang kau berada di rumah ataupun di luar negeri, jadi wajar saja jika kau tidak pernah tahu apa yang terjadi pada Yoona.”

“Kim? Apa ia juga tidak mengetahuinya?”

Hyukjae menggeleng pelan dari tempat duduknya sambil menatap Donghae tajam. Apa yang terjadi pada Yoona di masa lalu, tidak ada yang mengetahuinya. Bahkan ia sendiri juga tidak akan mengetahuinya jika ia tidak memergorki Yoona yang sedang menyeberang jalan dengan tatapan kosong di jalan raya Gangnam. Semua itu benar-benar terjadi di luar dugaanya. Namun ia sangat bersyukur karena saat itu ia belum terlambat untuk menghentikan Yoona, meskipun pada akhirnya ia tidak bisa mempertahankan janin yang sedang dikandung Yoona saat itu.

“Tidak ada yang tahu mengenai keadaanya karena saat itu usia kandungannya baru berjalan lima minggu. Setelah aku menariknya dari tengah jalan, ia langsung jatuh terduduk dengan banyak darah yang mengalir dari pahanya. Dengan panik aku langsung membawanya ke rumah sakit saat itu karena kupikir kakinya terluka atau apa, tapi setelah dokter memeriksanya, ternyata saat itu Yoona mengalami keguguran. Dan saat itu juga aku langsung yakin jika bayi yang sedang dikandung oleh Yoona adalah anakmu karena satu minggu sebelumnya kau baru saja bercerita jika kau pernah menyentuh Yoona dan kau adalah pria pertama untuk Yoona.”

Donghae tampak diam, ia sepertinya tidak bisa berkomentar apapun saat ini karena pikirannya sedang buntu. Memang ada banyak hal yang terjadi pada Yoona tiga tahun yang lalu. Saat itu ia membuat Yoona berpikir jika ia mencintainya, dan ia juga membuat Yoona pada akhirnya mau menyerahkan dirinya seutuhnya padanya. Namun ia tidak pernah sampai berpikir jika Yoona akan hamil karena ia pikir Yoona selalu memimun obatnya dengan teratur. Tapi, apapun memang bisa terjadi. Yoona yang polos dan lugu belum berpikir hingga sejauh itu. Ia pasti tidak pernah berpikir akan mengandung dalam keadaan yang tidak tepat.

 

Flashback

Suara desahan dan erangan terdengar saling bersahut-sahutan di dalam sebuah kamar hingga membuat Yoona merasa pening. Ini sudah yang ke empat kalinya dalam seminggu ia mendengar suara seperti itu dari kamar tamu di sebelah kamarnya. Hampir setiap hari Donghae memang membawa seorang wanita ke rumah. Setelah Donghae merusaknya dan mengklaim tubuhnya, pria itu perlahan-lahan mulai meninggalkannya. Sikap manis yang dulu sempat ia tunjukan di awal hubungan mereka perlahan-lahan mulai hilang dan digantikan dengan sikap sinis yang selalu ia terima setiap mereka berpapasan di rumah. Sambil bergelung tidak nyaman, Yoona mencoba mengambil bantal untuk menyumpal kedua telinganya agar ia tidak perlu mendengar suara-suara menjijika itu lagi. Rasanya ia tidak sanggup untuk mendengarnya karena semua itu selalu mengingatkannya pada malam mengerikan saat ia dengan bodohnya justru terlena pada rayuan Donghae. Saat itu ia pikir Donghae benar-benar mencintainya dan akan membahagiakannya seperti kisah cinta teman-temannya yang manis. Namun semua harapan itu musnah ketika ia mendapatkan sebuah fakta jika ternyata Lee Donghae bukanlah seorang pria yang bersedia untuk terikat dengan satu wanita. Dengan kejamnya pria itu memupuskan seluruh harapannya yang terlanjur membumbung tinggi penuh angan-angan. Ia pikir pria itu benar-benar mencintainya. Tidak ada hubungan darah diantara mereka membuat Yoona yakin jika Donghae adalah pria yang sangat ia cintai dan akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Namun, pria itu ternyata tidak pernah berpikir demikian. Hubungan mereka selama ini hanya dianggap sebagai sebuah permainan belaka yang tidak terlalu berharga untuk pria itu. Dan ini memang sudah sangat terlambat untuk menyesalinya. Ia sudah terlanjur kotor oleh pria itu.

“Oppa…”

Yoona Membuka paksa kamar tamu di sebelahnya yang ternyata tidak terkunci. Di tengah-tengah ruangan yang temaram itu ia dapat melihat punggung polos Donghae yang sedang membungkuk di atas tubuh seorang wanita. Sambil menghembuskan napasnya perlahan, Yoona mulai berjalan maju untuk menghentikan semuanya. Ia sudah tidak tahan lagi dengan semua suara-suara itu. Sekarang kepalanya terasa pening, dan langkahnya juga perlahan-lahan mulai terasa berat ketika tubuhnya telah berada di sebelah ranjang besar yang saat ini sedang bergoyang hebat.

“Oppa..”

Dengan suara tercekat Yoona berusaha memberitahu Donghae tentang keberadaanya di sana. Dengan suara pelan ia terus memanggil-manggil nama Donghae hingga akhirnya ia memutuskan untuk menarik lengan Donghae kuat, menghentikan pria itu dari kegiatan bercintanya dengan seorang wanita yang entah siapa namanya.

“Jangan ganggu aku Yoona, pergi dari sini.”

“Oppa, aku sudah tidak tahan dengan semua ini.” Isak Yoona keras di depan Donghae. Tak ia hiraukan tatapan kesal wanita berambut merah di bawah Donghae yang sedang menatap Yoona malas karena telah mengganggu kegiatan panasnya dengan sang pelanggan.

“Dia siapa?”

“Putri sahabatku. Tunggu sebentar di sini sayang, aku akan segera kembali.”

Donghae mengecup bibir wanita berambut merah itu singkat dan segera bangkit untuk menyeret tubuh lemas Yoona keluar dari kamarnya.

“Keluar! Jangan pernah ganggu aku.”

Yoona terhempas begitu saja di atas lantai sambil menahan segala rasa perih yang menyayat hatinya. Pria yang sangat dicintainya tega melakukan hal itu padanya.

“Oppa, aku mencintaimu. Jangan lakukan ini padaku.” Mohon Yoona dengan suara tercekat. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi melalui semua ini. Kesakitan yang ia rasakan saat ini begitu dahsyat hingga mampu mengalahkan rasa sakit ketika ayahnya meninggal. He broke her heart into a pieces.

“Cinta? Cinta itu hanya omong kosong Yoona. Aku tidak mencintaimu.” Bentak Donghae kejam. Pria itu dengan mata sinisnya tampak seperti sedang mengolok-olok Yoona yang sedang bersimpuh di bawah kakinya. Sampai kapanpun ia memang tidak akan membiarkan siapapun masuk kedalam hatinya karena ia tidak mau berakhir menyedihkan seperti sahabat-sahabatnya yang tolol hanya karena sebuah cinta.

“Jika kau mencintaiku, itu adalah hakmu. Tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintaimu.”

Blarr!

Flashback end

 

Donghae membuka matanya seketika setelah ia puas dengan kenangan masa lalunya saat ia sedang membentak-bentak Yoona di depan pintu kamarnya. Saat itu dengan penuh emosi ia langsung membanting pintu itu di depan Yoona dan meninggalkan Yoona begitu saja dalam keadaan mengenaskan. Jika dipikir-pikir perlakuannya pada Yoona memang sangat keterlaluan. Ia telah melukai wanita itu terlalu jauh hingga tanpa sadar ia telah merubah Yoona menjadi seorang wanita liar yang penuh dengan ambisi licik untuk menghancurkannya. Ia memang pantas mendapatkan itu. Tapi bagaimana dengan jiwa Yoona? Apakah ia masih bisa menyelamatkan jiwa Yoona yang terlanjur rusak karena dirinya.

“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya?”

“Huh, memangnya kau akan percaya jika aku mengatakannya? Bahkan sekarangpun kau menganggap semua yang kuceritakan hanyalah lelucon belaka. Kau brengsek Hae, brengsek! Selama ini aku hanya berusaha untuk menjaga janjiku pada Yoona. Malam itu ia menangis sesenggukan di depanku dan memohon-mohon padaku agar aku tidak memberitahumu jika ia baru saja keguguran. Dan setelah dirawat selama tiga hari di rumah sakit, Yoona yang kukenal mulai menghilang. Tatapan matanya begitu kosong saat aku membawanya pulang ke rumahmu. Ia seperti telah kehilangan harapan hidupnya. Namun saat aku datang ke rumahmu untuk memastikan keadaanya, ia sepenuhnya telah berubah. Tatapan kosong itu telah hilang dari kedua matanya, tapi ia membawa sorot mata baru yang sangat mengerikan. Dan pagi itu aku mulai menyadarinya, jika Yoona bukan lagi Yoona yang kita kenal selama ini, tapi ia telah berubah menjadi seorang wanita dewasa yang penuh akan ambisi untuk menghancurkanmu.”

“Ceritamu benar-benar lucu. Tenanglah Hyuk, Yoona tidak akan bisa menghancurkanku. Cintanya padaku terlalu besar hingga membutakan hatinya.” Ucap Donghae terkekeh santai. Hyukjae mungkin memang terlalu berlebihan dengan ceritanya, dan ia tidak akan terpengaruh begitu saja hingga ia mendengar sendiri semua itu dari mulut Yoona. Lagipula semua cerita yang dikatakan Hyukjae terlalu aneh dan terdengar tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seluruh pelayannya tidak tahu mengenai hal itu. Jika Yoona mengalami keguguran dan harus dirawat di rumah sakit selama tiga hari, seharusnya para pelayannya tahu. Terutama pelayan Kim karena ia menyerahkan seluruh tugas untuk mengawasi Yoona pada pria itu.

“Kau benar-benar pria sakit jiwa Hae. Manusia macam apa kau ini sebenarnya?”

“Keluarlah Hyuk. Kurasa sesi curhatmu telah berakhir, aku harus melanjutkan pekerjaanku.”

Hyukjae tampak bersungut-sungut kesal sambil memberikan tatapan tajam pada Donghae. Sayangnya Lee Donghae memilih untuk tidak mempedulikannya dan tetap pada pekerjaanya.

“Kau harus memita maaf pada Yoo….”

Drrt drrt drrt

“Halo…”

“………………”

“Dimana? Apa yang sebenarnya terjadi?”

“…………….”

“Aku akan ke sana. Tahan dia, lakukan apapun sebisa kalian untuk membuatnya tenang.”

Donghae mematikan sambungan teleponnya segera dan langsung melangkah lebar-lebar menuju pintu ruangannya. Hyukjae yang melihat itu langsung menghentikan langkahnya sambil menatap wajah sahabatnya serius meminta jawaban. Firasatnya mengatakan jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada Donghae.

“Yoona…. ia mencoba untuk bunuh diri.”

-00-

“Yoona, kau hari ini terlihat pucat.”

“Ya, aku tahu.” Jawab Yoona pendek. Wanita itu terus menyeka keringat dingin yang mulai bercucuran di dahinya sambil tetap membaca naskah iklan yang tergletak di atas pahanya. Sejak pagi tadi ia memang merasa tubuhnya sangat sakit. Kepalanya juga pusing, dan semua itu karena pola hidupnya yang akhir-akhir ini tidak sehat. Semenjak pertengkarannya dengan Donghae malam itu, ia menjadi malas untuk melakukan apapun. Bahkan untuk makan saja ia malas. Padahal ia memiliki riwayat penyakit maagh. Ia sendiri tidak habis pikir mengapa Donghae masih memiliki efek yang begitu besar pada tubuhnya. Setelah ia bertekad untuk mengabaikan pria itu dan mengikuti ritmenya yang bebas, ia masih saja merasa tidak enak tiap kali mereka bertengkar. Selalu saja moodnya akan benar-benar buruk saat Donghae mulai mengekangnya lagi atau bertindak kasar untuk mengatur hidupnya. Memang saat ini hatinya belum sepenuhnya beralih dari Donghae, tapi cepat atau lambat ia akan segera menemukan pria yang tepat untuk hidup bersamanya kelak.

“Yoona….”

“Kyuhyun!”

Yoona berseru girang pada Kyuhyun sambil memeluk pria itu erat. Semenjak malam itu, ia belum berani menghubungi Kyuhyun karena ia takut pria itu akan mendapatkan masalah dari Donghae, mengingat Donghae adalah bosnya di kantor. Bisa saja Donghae bertindak nekat dengan memecat Kyuhyun secara tidak terhormat karena nekad mencari gara-gara dengannya. Tapi syukurlah, ternyata Kyuhyun masih baik-baik saja, dan pria itu sepertinya juga belum mendapatkan tindak kekerasan apapun dari Donghae.

“Bagaimana kabarmu, maaf soal malam itu. Aku tidak tahu jika Donghae ada di sana.” Ucap Yoona pelan penuh penyesalan. Kyuhyun menggeleng kecil di depan Yoona dan meremas bahu Yoona lembut. Beberapa hari yang lalu ia telah bertemu Yunho dan memaksa pria itu untuk menceritakan semua yang terjadi padanya selama ia pergi ke Busan. Dan sekarang ia telah mengerti apa yang sedang terjadi pada Yoona dan ayah angkatnya. Jadi sekarang ia cukup memahami Yoona dan mengerti bagaimana posisi wanita itu yang serba salah di bawah kendali Lee Donghae.

“Tidak masalah, jangan terlalu dipikirkan. Aku justru merasa khawatir padamu. Apa kau baik-baik saja. Ayah angkatmu… eemm… ia tidak melakukan hal-hal buruk padamu bukan?”

“Tidak, aku baik-baik saja.”

Yoona lantas menarik Kyuhyun untuk duduk di sebelahnya dan mereka larut dalam percakapan yang cukup asik hingga melupakan suasana di sekitar mereka yang cukup gaduh.

“Apa pekerjaanmu baik-baik saja? Maksudku, kau tidak mendapatkan masalah di kantor bukan?”

“Tidak, sama sekali tidak. Kau takut ayah angkatmu memecatku? Tenang saja Yoong, aku bisa mencari perusahaan lain yang lebih bagus jika ayah angkatmu memecatku.”

Yoona tersenyum kecil menanggapi celotehan Kyuhyun. Dan setelah itu mereka berdua habya diam dalam kebisuan tanpa ada satupun yang memulai untuk bicara. Yoona sendiri sepertinya mulai merasa semakin pusing dan juga mual. Sementara itu, Kyuhyun tampak kebingungan untuk memulai berbicara dengan Yoona karena hal yang ingin ditanyakannya berkaitan dengan kehidupan Yoona dan juga ayah angkatnya yang rumit.

“Jadi, ayah angkatmu sangat posesif padamu?”

Kyuhyun memulai dengan perlahan tanpa berani menatap wajah Yoona untuk melihat reaksi wanita itu. Namun ketika suara pertama mulai terdengar dari bibir Yoona, ia mulai berani untuk menatap mata Yoona yang saat ini juga sedang menatapnya.

“Hmm… begitulah. Aku terjebak di dalam sangkar emas yang ia buat. Kehidupanku sangat rumit Kyu, aku tidak ingin melibatkanmu terlalu jauh kedalamnya. Jadi soal pernyataan cintamu waktu itu, lebih baik kau mencari wanita lain yang lebih pantas untukmu.”

Setelah mengucapkan hal itu Yoona langsung menundukan kepalanya sambil memejamkan matanya untuk menghalau rasa sakit yang perlahan-lahan mulai menyusup kedalam hatinya. Sebenarnya ia sudah lama menyimpan rasa sakit itu. Hanya saja ia selalu tidak memiliki kesempatan untuk mengeluarkannya. Dan untuk sekarang, ia tidak bisa lagi menahannya. Bersama Kyuhyun di sampingnya entah kenapa membuat seluruh pertahanannya selama ini runtuh. Mungkin karena Kyuhyun adalah satu-satunya orang yang tidak pernah melihatnya menggunakan topeng, sehingga ia sekarang menjadi lebih sensitif ketika bersama pria itu.

“Tapi aku hanya menginginkanmu Yoona, hanya dirimu.” Ulang Kyuhyun dengan suara mantap. Yoona seketika langsung mendongakan kepalanya sambil menatap Kyuhyun getir. Rasanya Tuhan memang kejam karena membiarkan pria sebaik Kyuhyun memiliki cinta untuk dirinya.

“Kenapa kau mencintaiku? Aku… bukan wanita baik-baik Kyu, dan aku masih terikat dengan Donghae.” Ucap Yoona pelan. Sebutir air mata tiba-tiba lolos begitu saja dari mata bulatnya ketika ia melihat bagaimana kesungguhna Kyuhyun terhadap dirinya. Pria itu benar-benar memiliki cinta yang begitu besar untuk dirinya. Hanya saja, hatinya belum siap untuk menerima Kyuhyun. Selain ia takut akan melukai Kyuhyun dengan keberadaan Donghae di sekitarnya, ia juga takut akan mengecewakan Kyuhyun karena ia sudah pernah disentuh oleh Donghae.

“Jangan menangis, aku akan berusaha mengeluarkanmu dari belenggu ayah angkatmu, jadi kau tenang saja. Percayakan semuanya padaku.”

“Semuanya bersiap di tempat masing-masing!”

Suara sutradara yang begitu nyaring tiba-tiba mengusik percakapan mereka berdua dan membuat Yoona mau tidak mau segera berdiri untuk mulai melakukan shooting produk skin carenya yang baru. Sambil menyeka air matanya, Yoona tersenyum tipis pada Kyuhyun sambil melambaikan tangannya beberapa kali. Namun di tengah jalan ia tiba-tiba merasa limbung dan pusing. Seluruh dunianya terasa berputar dan ia merasa sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Akhirnya ia hanya berjongkok di tempat sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Sementara itu, beberapa crew yang melihat keadaanya langsung berlari menghampirinya dan mulai mengangkat tubuhnya untuk di bawa ke rumah sakit.

“Aku pusing…” Gumam Yoona pelan dengan keringat dingin yang mulai bercucuran lebih banyak di keningnya. Kyuhyun yang melihat itu langsung berinisiatif untuk membawa Yoona ke rumah sakit bersama Jimin.

“Bawa masuk ke mobilku, aku akan mengantarnya ke rumah sakit.”

Kedua pria itu lantas bergegas masuk ke dalam mobil, dengan Jimin yang duduk di belakang untuk menemani Yoona yang mulai kehilangan kesadarannya perlahan-lahan.

“Tolong cepatlah sedikit, nona Yoona mulai pingsan.”

Jimin menatap prihatin pada Yoona sambil terus menyeka keringat dingin yang terus bercucuran di kening Yoona. Wajah pria itu seketika ikut pucat ketika Yoona mulai tak sadarkan diri di pangkuannya karena sebentar lagi ia pasti akan mendapatkan amukan dari Donghae seperti dulu. Pria kejam itu jelas akan menghujaninya dengan berbagai sumpah serapah karena ia tidak bisa menjaga Yoona dengan baik. Dan sekarang bahkan ia mengijinkan Kyuhyun untuk membawa Yoona ke rumah sakit. Hari ini ia pasti tidak akan selamat dari amukan Donghae.

“Sejak tadi Yoona terlihat pucat, apa ia memang sedang sakit?”

Sambil tetap berkonsentrasi pada jalanan di depannya, Kyuhyun mencoba mengorek sedikit informasi dari Jimin. Ia takut jika semua ini terjadi karena Yoona masih memikirkan keributannya dengan Donghae beberapa hari yang lalu.

“Nona Yoona memang sudah mengeluh tidak enak badan, tapi ia terus memaksa untuk tetap shooting karena kami tidak bisa membatalkan jadwal shooting yang telah ditentukan oleh pihak sponsor.”

“Apa Yoona selama ini makan dengan teratur?”

“Tidak. Akhir-akhir ini nona Yoona jarang makan karen ia mengeluh mual. Mungkin penyakit lambungnya sedang kambuh.”

Kyuhyun tampak mendesah berat sambil menatap prihatin Yoona yang terlihat tak berdaya di kursi penumpang.

“Yoona pasti sangat tertekan dengan banyaknya masalah yang menghimpitnya. Apa ia mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari ayah angkatnya?”

Jimin tampak bingung untuk menjawabnya. Sejujurnya selama ini Donghae bisa saja dinilai jahat dan juga dinilai baik di saat bersamaan. Hampir semua hal yang dilakukan Donghae untuk Yoona adalah untuk kebaikan wanita itu. Namun perlakuan kasar Donghae pada Yoona dan sikap otoriter yang dilakukan pria itu jelas sangat menyakiti Yoona hingga wanita itu menjadi wanita yang menyedihkan seperti ini. Jadi apa yang harus ia katakan pada Kyuhyun terkait masalah nonanya dan juga tuannya?

“Kita sudah sampai, terimakasih karena telah mengantarkan nona Yoona.”

Jimin cepat-cepat membuka pintu mobil di sebelahnya sambil bernapas lega karena setidaknya ia tidak perlu menjawab pertanyaan Kyuhyun yang jawabannya sangat rumit. Dan tak berapa lama sekumpulan perawat langsung membawa Yoona untuk diperiksa di ruang IGD. Sementara itu, Jimin langsung mengusir Kyuhyun pergi karena ia takut Donghae akan marah besar saat tahu jika Kyuhyun berada di sana.

“Lebih baik kau pergi, tuan Donghae akan datang sebentar lagi. Ia tidak akan suka jika melihatmu di sini.”

“Baiklah, tapi tolong beritahu aku jika Yoona sudah sadar. Ini kartu namaku.”

Jimin mengangguk pelan kearah Kyuhyun sambil menerima selembar kartu nama yang berisi nomor telepon Kyuhyun. Dan setelah Kyuhyun pergi, Jimin langsung masuk ke ruang IGD untuk mendampingi Yoona selama pemeriksaan.

“Nona Yoona harus dirawat untuk beberapa hari karena kondisinya sangat lemah. Ia kekurangan gizi dan tekanan darahnya cukup rendah.”

“Tidak apa-apa jika nona Yoona harus dirawat, saya akan menghubungi keluarganya.”

“Oh kupikir kau suaminya, kalau begitu beritahu pada suaminya juga jika saat ini isterinya sedang hamil.”

Jimin langsung mematung di tempat sambil menatap wajah Yoona tak percaya. Nona mudanya saat ini sedang hamil. Dan kemungkinan besar ayah dari janin itu adalah tuan besarnya. Ini benar-benar gawat. Ia yakin, nona mudanya nanti pasti akan semakin membenci Lee Donghae jika ia tahu jika ia sedang mengandung.

-00-

“Keluar kalian semua aku tidak mau bayi ini, aku ingin menggugurkannya!”

Yoona berteriak histeris di dalam ruang perawatan dengan lima orang suster yang tampak kewalaha untuk menenangkannya yang sedang mengamuk. Di luar kamar, Jimin tampak panik sambil menghubungi Donghae agar segera datang karena Yoona benar-benar tidak bisa lagi dikendalikan oleh suster-suster yang mulai kewalahan itu.

“Nona… tenanglah nona, jangan berkata seperti itu.”

“Pergi kalian dari sini, aku tidak ingin bayi ini. Gugurkan saja bayiku sekarang juga.” Teriak Yoona lagi dengan seluruh air mata yang telah membanjiri pipi tirusnya. Wanita itu terlihat begitu kacau dengan kabar kehamilannya yang baru saja diberitahukan oleh dokter yang menanganinya. Ini semua sungguh di luar dugaanya karena ia tak pernah mengira jika ia akan hamil anak dari pria yang paling dibencinya. Sudah cukup ia pernah merasakan hal itu satu kali, sekarang ia tidak ingin merasakannya lagi karena ia ingin balas dendam pada pria itu. Ia sudah menyusun banyak rencana di dalam kepalanya, dan jika ia mengandung, ia tidak akan pernah bisa membalaskan seluruh rasa bencinya pada pria keparat itu.

“Jangan! Jangan suntik aku, lepas!”

Yoona menyentak tangan seorang perawat yang sedang menyuntikan obat penenang kedalam jarum infusnya hingga suster itu jatuh tersungkur di atas lantai. Melihat ruang geraknya sedikit bebas, ia secepat kilat langsung mengambil pisau buah di samping ranjangnya dan mulai mendekatkan pisau itu ke perutnya sambil mengancam siapapun yang hendak mencekal tangannya lagi.

“Jika kalian mendekat, aku akan bunuh diri sekarang juga di depan kalian.”

“Nona, letakan pisau itu sekarang juga. Jangan menyakiti diri anda sendiri.”

“Diam kau Jimin, kau sama saja dengan si keparat itu. Kau selama ini diam-diam selalu melaporkan seluruh aktivitasku padanya bukan? Kau memang pengkhianat.”

Jimin langsung bungkam di tempat tanpa berani menjawab kata-kata Yoona karena semua yang dikatakan oleh nona mudanya memang benar. Ia selama ini selalu menjadi mata-mata untuk Donghae karena pria itu selama ini selalu mengancamnya dengan ancaman yang sangat mengerikan.

“Aku tidak mau hidup dengan bayi ini Jimin, aku tidak mau. Aku lebih baik mati daripada harus membesarkan benih si brengsek itu di rahimku.”

“Nona!”

Jimin memekin heboh ketika Yoona tiba-tiba saja sudah mengayunkan pisau itu pada perutnya. Dan seluruh suster yang berada di sana juga ikut menambah kehebohan suasana mencekam di kamar vvip itu dengan suara teriakan mereka yang nyaring. Namun sebelum pisau itu berhasil menggores permukaan kulit perut Yoona, sebuah suara keras tiba-tiba mengagetkan mereka semua dari keterkejutan yang belum usai mereka rasakan.

Plakk

Satu tamparan lolos dari tangan Donghae begitu saja disusul dengan suara nyaring dari pisau buah yang berhasil dijatuhkan oleh Donghae dari tangan Yoona. Pria itu tanpa belas kasihan sedikitpun langsung menghujani Yoona dengan serentetan kalimat bernada kemarahan yang membuat Yoona semakin menangis dengan histeris di depannya.

“Dasar bodoh! Apa menurutmu mati dapat menyelesaikan segalanya? Jangan menyakitinya hanya karena kau membenciku. Kau boleh membenciku, tapi kau tidak boleh membencinya yang tidak pernah memiliki kesalahan apapun.”

“Ini semua salahmu, kau yang selalu memperkosaku hingga semua ini terjadi. Aku tidak sudi mengandung darah dagingmu, aku ingin dia mati!”

“Yoona, lihat aku!”

Donghae mengguncang pundak Yoona keras dan memaksa manik madu itu menatap manik coklatnya yang telah diselimuti oleh kabut hitam kemarahan. Ia tidak suka melihat Yoona menyakiti dirinya sendiri hanya karena sebuah kesalahan yang mereka perbuat. Meskipun ia brengsek, tapi ia tidak suka menjadi pembunuh untuk sesuatu yang tidak berdosa.

“Berhenti bertindak bodoh dengan mencoba melakukan bunuh diri. Janin itu tidak salah, kau yang salah karena ceroboh tidak menggunakan kontrasepsi.”

“Jadi kau menyalahkanku? Kau menyalahkanku setelah apa yang kau lakukan selama ini? Hahahaha brengsek! Kau memang brengsek Lee Donghae!”

Yoona kembali mengamuk brutal sambil memukul-mukul dada Donghae. Wanita itu kali ini terlihat lebih emosi dan juga tak terkendali. Namun dengan seluruh tenaganya Donghae berhasil menekan tubuh Yoona dengan kedua tangannya, dan setelah itu ia langsung memberikan kode pada para suster untuk memberikan obat bius pada Yoona. Untuk saat ini memang membius Yoona adalah satu-satunya jalan agar wanita itu dapat tenang untuk sementara waktu.

“Jangan! Jangan suntik aku.”

“Diam! Kau lebih baik tidur dan jernihkan pikiranmu.” Bentak Donghae keras sambil tetap menekan tubuh Yoona. Dan perlahan-lahan Yoona merasa kesadarannya mulai menghilang. Matanya terasa semakin lama semakin berat dan juga meredup. Samar-samar ia hanya  mampu menatap wajah Donghae yang sedang menatapnya dengan tatapan khawatir, dan setelah itu semuanya gelap. Benar-benar gelap hingga ia tidak bisa melihat wajah pria brengsek itu lagi di depan matanya.

 

Flashback

Yoona merosot, tubuhnya terasa melemah setelah ia mendapatkan satu fakta, bahwa ia tengah mengandung. Dua garis merah terlihat jelas di tiga tes pack yang ia gunakan malam ini. Hasilnya ia positif hamil. Ia mengandung anak dari Lee Donghae. Dengan tangan bergetar Yoona mencoba mengambil semua tes pack itu dan langsung membuangnya di tempat sampah. Ia tidak ingin orang-orang tahu jika ia sedang hamil karena mereka pasti akan membencinya. Ia wanita murahan yang telah tidur dengan ayah angkatnya sendiri. Ia seorang jalang, dan pria itu jelas tidak akan menerima bayi yang sedang dikandungnya karena pria itu tidak pernah mau terikat dengan wanita manapun.

“Ayah, maafkan aku.”

Yoona menangis terisak sendirian di dalam kamar mandi sambil meratapi nasibnya yang malang. Akhir-akhir ini Lee Donghae terus membawa teman-teman kencannya ke rumah. Pria itu sudah melupakannya dan sering bersikap kasar padanya. Ia sekarang benar-benar bingung. Seseorang yang seharusnya menjadi walinya dan melindunginya, justru terus menyakitinya seperti ini. Ia menyesal telah memiliki harapan yang besar pada Donghae. Ia pikir semua ini akan berakhir bahagia hingga ke altar pernikahan. Tapi nyatanya, semua itu hanya angan-angan semunya yang tidak mungkin akan menjadi kenyataan.

Tok tok tok

“Nona, saatnya makan malam.”

Suara tuan Kim yang mengetuk pintu kamar mandinya membuat Yoona tersadar dari lamunannya dan ia segera menghapus sisa-sisa air mata yang masih membekas di pipinya.  Ia harus tetap bersikap biasa dan seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi.

“Yyya tunggu sebentar, aku akan segera ke bawah.”

Yoona bergegas berdiri sambil merapikan pakaiannya agar tuan Kim atau pelayan yang lain tidak menaruh curiga padanya. Setelah itu ia segera berjalan keluar dari kamarnya dengan sedikit mengintip terlebihdahulu di ambang pintu karena ia takut untuk bertemu Donghae saat ini.

“Apa yang kau lakukan di sana?”

“Hahhh..”

Yoona terperanjat kaget dan langsung menemukan Donghae di belakangnya. Pria itu terlihat sedang menatap aneh kearahnya, namun kemudian memilih untuk bersikap acuh tak acuh sambil berjalan mendahuluinya untuk turun ke bawah.

“Apa yang baru saja kau lakukan?”

Yoona sedikit menggigit bibir bawahnya gugup sambil mengikuti langkah lebar Donghae yang tampak cepat di depannya. Ia ingin sekali mengatakan padanya jika saat ini ia sedang hamil. Tapi ia takut. Banyak bayangan buruk yang menari-nari di dalam kepalanya. Termasuk penolakan Donghae yang tidak pernah mau terikat dengan wanita manapun.

“Hanya memastikan sesuatu.” Jawab Yoona pelan.

“Memastikan apa?”

“Memastikan…. bukan apa-apa, lupakan saja.” Jawab Yoona masam. Hatinya sakit saat ini. Dan ia sebenarnya sangat berharap agar tidak bertemu Donghae, karena setiap melihat pria itu ia selalu teringat malam-malam percintaan panas mereka dan semua sikap manisnya dulu.

“Apa kau masih berhubungan dengan Yunho?”

Yoona tanpa sadar berdecak kesal saat Donghae menanyakan hal itu. Tentu saja saat ini ia masih berhubungan dengan Yunho karena hanya pria itulah satu-satunya teman yang ia miliki. Meskipun Yunho tidak bisa dikatakan sebagai teman yang baik atau senior yang baik, tapi pria itu selalu ada untuknya. Disaat ia sedang terpuruk atau disaat ia sedang bahagia, Jung Yunho selalu ada untuknya. Tidak seperti pria brengsek di depannya, yang hanya muncul disaat ia sedang menginginkan tubuhnya.

“Aku hanya memiliki Yunho oppa sebagai satu-satunya teman, jadi aku masih berhubungan dengannya.”

“Kau boleh berteman dengannya, hanya teman.” Tekan Donghae sambil menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. Yoona tampak diam tanpa menggerakan sedikitpun kepalanya untuk menanggapi doktrin menyebalkan pria itu. Lagipula pria itu sama sekali tidak berhak untuk mengatur dengan siapa ia boleh berteman karena ini adalah hidupnya. Miliknya!

“Siapa dia?”

Yoona berhenti di ambang pintu dan tampak enggan untuk masuk kedalam ruang makan ketika ia melihat seorang wanita cantik berambut pirang keemasan sedang duduk manis di sana sambil membaca sebuah majalah fashion dengan tenang. Mendengar suara sedikit berisik yang berasal dari ujung pintu membuat wanita itu refleks mendongakan kepalanya sambil tersenyum manis kearah Donghae. Hanya pada Donghae.

“Kenapa lama sekali?”

“Hai Sica, Yoona sepertinya sedikit gugup untuk bertemu denganmu.”

Dengan penuh paksaan Donghae mendorong bahu Yoona ke depan dan menuntun wanita itu untuk duduk di sebelah Jessica. Ia tahu jika Yoona hendak kabur beberapa saat yang lalu, oleh karena itu ia sengaja mendorong bahu Yoona kuat-kuat agar wanita itu tidak bisa pergi kemanapun.

“Oooo jadi ini putri Seulong? Hmm… ia sudah lebih dewasa dari yang kulihat terakhir kali.” Komentar Jessica sambil memperhatikan postur tubuh Yoona yang memang lebih tinggi darinya.

“Kau mengenal ayahku?” Tanya Yoona begitu saja di depan Jessica.

“Sangat mengenalnya, kami dulu adalah teman dekat.” Jawab Jessica ringan. Yoona mengangguk kecil menanggapi jawaban Jessica, dan setelah itu ia hanya fokus pada makanannya yang sama sekali tidak terlihat menggiurkan di matanya. Ia hanya mencoba menyibukan diri di tengah-tengah dua orang manusia dewasa yang sedang asik mengobrol tanpa menghiraukan keberadaanya di sana.

“Aku tidak menyangka kau akan memenuhi permintaan terakhir Seulong untul merawat putrinya.”

“Aku juga tidak. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain.”

Yoona menghentikan gerakan tangannya untuk mengiris daging ketika dirasa hatinya terasa berdenyut. Sejak awal perasaan bodoh itu hanya ia yang memilikinya, sedangkan Donghae, pria itu hanya menganggapnya sebagai wanita penghibur sama seperti yang lainnya. Jadi pantas saja jika pria itu bisa dengan mudah memperlakukannya semena-mena tanpa memikirkan bagaimana hatinya saat ini yang sedang terluka.

“Aku sudah selesai.”

Yoona tiba-tiba berdiri dan pergi begitu saja dari ruang makan. Ia tidak mau lagi mendengarkan apapun cerita dari Donghae atau Jessica. Keduanya saat ini justru saling menurunkan kondisi psikisnya dengan cerita-cerita mereka yang terdengar asik, namun tanpa sedikitpun melibatkannya di dalamnya.

“Kau belum menghabiskan makananmu.”

“Aku kenyang. Besok akan ada ujian, jadi aku harus belajar malam ini.” Jawab Yoona beralasan sambil menyentak tangan Donghae dari pergelangan tangannya. Dengan lunglai Yoona mulai menaiki satu persatu anak tangga menuju ke kamarnya. Memang mencintai seseorang di saat orang lain tidak akan membalas perasaanmu itu sangat berat.

Sesampainya di kamar, Yoona langsung berbaring di atas ranjangnya sambil memikirkan banyak hal yang memusingkan pikirannya akhir-akhir ini. Tiba-tiba air matanya menetes dan ia mulai menangis lagi untuk yang ke sekian kalinya. Semua ini terasa berat untuknya. Ia menyesal pernah bahagia dengan perubahan sikap Donghae dan meminta pria itu untuk menjadi keluarga yang sesungguhnya untuknya.

“Halo… Yunho oppa?”

Yoona menyapa Yunho dengan suara serak yang terdengar megkhawatirkan. Berkali-kali ia mencoba menghapus lelehan air matanya yang mengaburkan mata, namun semua itu rasanya hanya sia-sia. Apalagi dengan keadaan hatinya yang teramat menyedihkan seperti ini.

“Yoona, apa yang terjadi? Hey.. kau menangis?”

“Oppa, apa penawaranmu masih berlaku? Aku ingin menjadi model.”

“Penawaran? Tentu, penawaran itu akan terus berlaku untukmu Yoona. Tapi ada apa, kenapa kau tiba-tiba ingin menjadi model?”

“Aku…”

Yoona menghembuskan napasnya berat sambil mencoba merangkai kata-kata di dalam kepalanya. Masalah ini jelas bukan masalah sederhana yang bisa ia umbar pada siapapun. Namun ia harus menceritakannya sekarang pada Yunho.

“Oppa, aku membutuhkan pekerjaan agar aku bisa segera lepas dari ayah angkatku.”

“Kenapa? Kau ada masalah dengannya?”

“Masalah? Selalu ada masalah disetiap hidupku oppa.” Jawab Yoona dengan suara lemah. Air matanya telah mengering, namun perih di hatinya masih belum usai, dan justru semakin sakit menggerogoti hatinya.

“Ceritakan padaku, mungkin aku bisa membantumu.”

“Bantu aku untuk menjadi model dan menjadi terkenal.”

“Aku pasti akan membantumu. Tapi ada apa sebenarnya?”

“Kau akan tahu nanti oppa. Kalau begitu terimakasih.”

Tanpa menunggu jawaban dari Yunho, Yoona langsung mematikan sambungan teleponnya dan melempar asal ponselnya entah kemana. Malam ini ia terlalu lelah dengan hatinya hingga ia merasa tak memiliki tenaga sedikitpun untuk melakukan aktivitas. Tapi kerongkongannya terasa kering sekarang karena ia terlalu banyak menangis untuk seorang pria tak penting seperti Lee Donghae.

“Ck, aku benci harus kembali ke bawah.”

Yoona sedikit merapatkan mantel tidurnya sambil berjalan lunglai ke bawah. Suasana hening yang begitu kental di mansion itu terasa sudah tak asing lagi untuknya. Ini adalah potret nyata kehidupan Lee Donghae yang suram dan tanpa warna.

“Apa kau yakin tidak melibatkan perasaanmu?”

“Kau masih menanyakan hal itu? Sudah berapa tahun kita menjadi partner Sica?”

Yoona berhenti di ujung tangga dan memilih untuk mencuri dengar pembicaraan antara Donghae dan Jessica. Rasanya apa yang mereka bicarakan sangat menarik, dan mungkin saja ia bisa mendapatkan informasi baru yang belum pernah ia dengar.

“Setelah aku bertemu sendiri dengannya, kurasa sedikit mustahil jika kau tidak memiliki perasaan untuk Yoona.”

Deg

Yoona semakin menajamkan pendengarannya untuk mencuri dengar seluruh percakapan Donghae dan Jessica. Sejak awal ia sudah menduga jika kedua orang itu memang aneh dan mencurigakan.

“Huh, omong kosong macam apa itu? Menggelikan, aku hanya memanfaatkan tubuhnya.”

Yoona menggigit bibir bawahya kuat sambil menahan isak tangis yang hampir lolos dari bibirnya. Tanpa sadar ia mengelus perut ratanya sendiri, dan setelah itu ia meremasnya dengan perasaan benci yang telah bercampur dengan tangis yang tak bisa ia bendung lebih lama lagi.

“Kupikir kau akan memperlakukan putri Seulong dengan berbeda. Ia bukan wanita liar seperti teman-teman kencanmu Hae.”

“Kau juga bukan, tapi kita sering menghabiskan malam bersama.”

“Aku dan Yoona berbeda. Kita hanya sebatas memenuhi nafsu kita tanpa pernah melibatkan perasaan di dalamnya. Tapi Yoona, ia mencintaimu.”

“Aku tidak mau berkomitmen Sica, aku tidak butuh cinta. Aku hanya butuh tubuh mereka untuk memuaskanku.”

“Seulong pasti akan marah jika ia masih hidup.”

“Dan aku juga tidak mungkin akan menyentuh putrinya jika si brengsek itu tidak menitipkan putrinya padaku.” Balas Donghae kasar.

Yoona memejamkan matanya dalam dan semakin menggigit bibirnya untuk menghalau setiap denyutan nyeri yang ia rasakan. Ini semua bukanlah jalan hidup yang ia inginkan selama ini. Ia mungkin terlalu polos untuk memaknai kehidupan yang ia kira akan selalu lurus dan dipenuhi kebahagiaan, padahal nyatanya kehidupan itu sangatlah kejam. Bahkan sewaktu-waktu kehidupan ini bisa saja membunuhnya dengan keji.

“Aaakkhh… kita tidak bisa melakukannya di sini Hae. Yoona bisa terbangun karena suara kita.”

“Aku tidak peduli. Kita selesaikan ini secepatnya, dan aku akan segera terbang ke Australi malam ini.”

Yoona memalingkan wajahnya cepat dari dua manusia yang sedang bergumul intim di atas sofa dengan suara desahan yang membuatnya mual. Sorot jijik dan juga terluka tampak jelas di kedua mata Yoona yang saat ini tampak kosong tanpa cahaya. Dengan wajah datar, Yoona berjalan naik ke kamarnya sambil mencengkeram perut ratanya erat. Sepertinya ia sudah tahu apa yang akan ia lakukan saat ini. Melanjutkan hidup rasanya terlalu berat untuk dilakukan. Jadi ia memang lebih baik mati dan menjadi santapan hewan-hewan menjijikan di dalam tanah daripada ia harus hidup, namun terus menjadi santapan monster jahat seperti Lee Donghae.

-00-

Dengan air mata yang meleleh di kedua pipinya, Yoona terus berjalan menyusuri jalanan sekitar kampusnya yang sepi. Siang ini ia begitu sedih ketika ingatannya memutar seluruh kejadian semalam yang sangat menyakitkan. Hingga pukul satu pagi ia belum bisa memejamkan mata, dan saat ia keluar dari kamarnya untuk mengambil minum di bawah, ia bertemu Jessica di ruang tamu yang saat itu sedang menatapnya dengan penuh senyuman. Sayang senyuman itu hanyalah sebuah senyuman palsu yang sarat akan pengasihanan. Ia sama sekali tidak butuh sikap munafik seperti itu. Ia hanya butuh kebahagiaan dan ketenangan untuk hidupnya.

Tiiiinnnnn!!!

Yoona terduduk kaku di pinggir jalan dengan seluruh mata yang menghujam kearahnya. Ia baru saja ingin mengakhiri hidupnya. Tapi sayang semua itu gagal karena ulah seseorang yang berhasil menarik tubuhnya menjauh dari tengah jalan.

“Apa yang kau lakukan? Kau ingin mati!” Bentak pria itu geram. Yoona masih menangis tersengguk-sengguk di atas aspal dan tampak tak peduli dengan bentakan yang sedang dilayangkan kearahnya. Saat ini di pikirannya hanya ada kata mati, mati, dan mati. Ia sama sekali tidak ingin hidup. Apalagi dengan aib besar yang saat ini sedang membayang-bayangi hidupnya.

“Aku ingin mati….”

“Astaga, kau berdarah!”

Hyukjae langsung menyeret tubuh Yoona untuk berdiri dan mulai memeriksa kondisi tubuh Yoona satu persatu. Tak sengaja siang ini ia melihat Yoona yang sedang berjalan lunglai di pinggir jalan. Niat hati ia ingin menyapa, namun ia justru dikejutkan dengan sikap Yoona yang tiba-tiba menyebrang begitu saja ketika lampu untuk pejalan kaki masih menunjukan tanda merah.

“Oppa… sakit…”

Yoona meremas kuat perut bawahnya sambil menangis di dalam dekapan Hyukjae. Kedua kakinya terasa lemas dan ia merasa tidak bisa menopang berat tubuhnya lagi. Ia hampir saja ambruk di atas tanah jika Hyukjae tidak sigap untuk menopangnya dan langsung mengangkatnya untuk di bawa ke dalam mobil.

“Kita ke rumah sakit sekarang, ada sesuatu yang tidak beres denganmu.” Putus Hyukjae panik. Di tengah ketidaksadarannya Yoona terus mencengkeram bahu Hyukjae untuk menyalurkan seluruh rasa sakitnya. Ini sungguh rasa sakit yang sama mengerikannya dengan rasa sakit yang ia rasakan semalam. Dan kemudian ia baru sadar jika saat ini darah sedang merembes turun membasahi pahanya.

“Oppa, aku hamil…” Ucap Yoona lirih sebelum ia kehilangan seluruh kesadarannya dan membuat Hyukjae menjadi panik.

“Yoona! Yoona! Sadarlah…. Im Yoona!!”

Flashback end

 

Yoona membuka matanya pelan sambil mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang menusuk matanya. Kedua matanya yang belum sepenuhnya menemukan fokus membuatnya harus mengernyit berkali-kali sebelum akhirnya ia benar-benar bisa melihat seluruh isi dari kamarnya yang sunyi.

“Kau tidur sangat lama.”

Suara itu… Yoona rasanya tidak ingin mendengar suara itu lagi untuk selamanya. Ia terlalu muak untuk melihat mata coklat pria itu.

“Aku tidak ingin melihatmu lagi, sebaiknya kau pergi dari hidupku selama-lamanya.”

“Kau menginginkanku pergi dan kau akan menggugurkan anak itu? Jangan harap kau bisa melakukannya Yoona karena aku akan selalu mengawasimu agar kau tidak bertindak bodoh seperti tadi.”

“Tapi aku tidak mau mengandung anakmu! Kau yang telah membuatku seperti ini.”

Donghae menggeram kesal dari tempat duduknya dan ia memutuskan untuk bangkit menghampiri Yoona. Kali ini ia perlu berbicara empat mata dengan wanita itu agar permasalahan diantara mereka segera menemukan titik terang.

“Aku akan menikahimu.”

Yoona menatap tajam Donghae sambil memberikan tatapan mencemooh pada pria itu.

“Cih, menikah hanya untuk status? Aku tidak mau.” Balas Yoona sengit. Ia telah bersiap untuk berbalik dan memunggungi Donghae, namun hal itu gagal karena Donghae langsung menahan pundaknya kuat.

“Anak itu tidak bersalah. Meskipun aku brengsek dan tidak pernah mau terikat dengan wanita manapun, tapi dia tetap anakku. Aku akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanku selama ini.”

“Aku tidak mau. Pernikahan bukan sesuatu yang mudah seperti yang kau ucapkan. Jika aku menikah denganmu, aku hanya akan menjadi sampah di hidupmu seperti dulu. Kau hanya akan mencampakanku dan membuatku menjadi penonton dalam setiap malam-malam panasmu dengan seluruh jalangmu di luar sana.” Ucap Yoona sengit. Mungkin jika Donghae menawarkan hal itu tiga tahun yang lalu, ia pasti akan langsung menerimanya dengan senang hati. Tapi sekarang ia bukan lagi gadis polos bodoh yang bisa dimanfaatkan dengan mudah. Semua hal yang ia lakukan selama ini bersama Donghae semata-mata hanyalah untuk membalaskan rasa sakitnya karena pernah disakiti oleh pria itu berkali-kali. Ia ingin membuat Donghae bertekuk lutut di kakinya, dan setelah itu ia akan menghempaskan pria itu dengan kejam, sama seperti apa yang pria itu lakukan padanya selama ini.

“Aku bukan satu-satunya pihak yang bersalah dalam hal ini Yoona, kau yang terlalu ceroboh karena tidak meminum pil pencegah kehamilanmu.”

“Aku sibuk, dan aku lelah dengan seluruh pekerjaanku. Apa aku masih bisa memikirkan pil kontrasepsi bodoh yang semua itu hanya untuk kesenanganmu semata. Ingat, aku bersedia mengikuti kemauanmu untuk menjadi partner sex, tapi bukan berarti aku mencintamu. Semua perasaan itu telah mati tiga tahun yang lalu bersama darah dagingmu yang menjijikan itu.”

Donghae hampir saja melayangkan tangannya untuk menampar mulut Yoona yang sangat kasar. Beruntung akal sehatnya mampu mencegah hal itu, hingga saat ini tangannya hanya berhenti di udara tanpa benar-benar menyentuh pipi mulus Yoona yang kini tampak biru karena tamparannya siang tadi.

“Kau tidak pernah mengatakannya padaku Yoona.”

“Mengatakan kau bilang? Kuyakin kau juga tidak akan mempedulikannya.” Balas Yoona acuh tak acuh. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk memunggungi Donghae sambil menaikan seluruh selimutnya hingga sebatas dada. Ia lelah untuk melanjutkan perdebatan itu lebih lama dengan Donghae. Semua masalah ini membuatnya semakin pusing dan tidak bisa berpikir jernih. Tanpa sadar ia mengelus perut ratanya sendiri sambil menghitung usia kandungannya dalam hati. Anak itu tidak mungkin terjadi karena percintaanya beberapa hari yang lalu. Itu pasti karena kejadian satu bulan yang lalu saat ia tengah lelah dan Donghae langsung menyusup begitu saja kedalam kamarnya. Ia memang tidak pernah melarang Donghae untuk menyentuhnya, karena ia piker hal itu akan lebih mudah untuk membuat Donghae bertekuk lutut di bawah kakinya. Dan setelah dua tahun berjalan, ia merasa rencananya sudah sedikit berhasil karena Donghae mulai kehilangan minat dengan teman-teman kencannya dan pria itu juga semakin posesif padanya. Namun ia lupa jika rencananya itu juga akan memberikan risiko yang sangat besar seperti ini.

“Apapun yang terjadi aku akan tetap bertanggungjawab.”

“Aku bersedia untuk menikah denganmu, tapi…”

Yoona sengaja menjeda kalimatnya sambil menyeringai licik dengan rencana yang baru saja dipikirkannya.

“Tapi apa?”

“Buktikan padaku jika kau memang pantas menjadi ayah untuknya.”

 

10 thoughts on “Black Swan: Part Of Us (Five)

  1. Semoga ini awal yg baik untuk hubungan yoona dan donghae. Next chingu jangan lama2 ya

  2. setuju dgn yoona. lok hnya menikah untuk status, rasa.a ndk akan ada yg berubah. lok hrus ttp d sakiti, lbih baik ndk usah

  3. Sampai kapan yoona akan merasakan sakit itu sendiri,,,
    Ingatlah karma hae,,, haruskah kamu merasakan apa yg yoona rasakan selama ini agar kamu sadar, Haruskah yoona merealisasi kan ucapan nya,,,

    Gedeg bener ama donghae, pengen banget rasanya melihat donghae jatuh sedalam-dalam nya… Next author-nim…

  4. pengen banget liat donghae suka sama yoona. permintaan yoona yang seperti itu semoga aja donghae mau menerimanya.

  5. sebel banget sama donghae……
    yoona hamil lagi semoga aja donghae mau nurutin permintaan yoona.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.