Black Swan: Let The River Run

River – Eminem ft Ed Sheeran

Donghae Pov

Sudah kuduga jika pertemuanku malam itu dengannya akan menjadi sebuah pertemuan terakhir yang penuh emosi dan berbagai macam kepelikan tiada akhir. Persahabatanku dengannya yang telah terjalin selama lima tahun membuatku tidak pernah bisa mengatakan tidak padanya setiap kali ia memintaku untuk melakukan sesuatu. Dan meskipun begitu, Im Seulong memang jarang sekali meminta sesuatu padaku. Jika ia tidak benar-benar dalam keadaan terdesak ia tidak akan mungkin meminta sesuatu padaku. Namun malam itu ia tampak berbeda. Dengan suara sedikit kasar dan juga terburu-buru, ia memintaku untuk menemuinya di sebuah klub tempat biasa kami bertemu untuk melepas penat selepas bekerja. Tanpa pikir panjang aku mengiyakan permintaanya untuk bertemu dan pada akhirnya kami benar-benar bertemu di klub itu dengan auranya yang kurasakan sedikit berbeda.

“Ada apa? Kau terlihat aneh.”

Malam itu kusapa dirinya seperti biasa sambil menepuk pundaknya pelan. Saat aku tiba di sana, ia tengah melamun sambil menatap gelas kristal di depannya yang masih terisi separuh cognac. Namun aku tahu jika ia baru saja menghabiskan satu botol penuh cognac dan sekarang ia tengah meneguk botol ke duanya. Untuk beberapa saat ia tak kunjung menjawab sapaanku dan hanya membisu. Kurasa ini sebuah kebisuan yang aneh karena Im Seulong tidak pernah tampak sediam ini meskipun ia memiliki berbagai masalah yang bersarang di kepalanya. Bahkan saat ia mengetahui isterinya sedang berselingkuh dengan pria lain, ia hanya diam sambil menandatangi surat cerai yang telah ia siapkan dengan tenang. Namun memang, dibalik sikap datarnya itu tersembunyi banyak kesakitan yang tidak bisa ia ungkapkan. Cintanya untuk isterinya kurasa sangat besar, hanya saja ia terlalu malas untuk kembali mengejar isterinya, karena ia tahu jika cinta wanita itu bukan lagi untuk dirinya. Tapi ngomong-ngomong, masalah apa lagi yang sedang ia hadapi saat ini?

“Hae… kurasa aku memiliki masalah.”

Aku mengangkat alisku bingung sambil menunggunya untuk melanjutkan ceritanya yang kutahu pasti akan panjang. Hmm.. ini akan menjadi sesi curhat yang penuh emosi, seperti biasa.

“Aku merasa hidupku terancam.”

“Lalu?”

Aku bingung dengannya. Ia malam ini terlihat seperti seorang wanita lemah yang seakan-akan telah kehilangann seluruh kekuatannya untuk mengendalikan dunia. Well, Im Seulong dan aku, kami tidak jauh berbeda. Kami berdua sama-sama licik dalam menjalankan bisnis dan kami tidak akan pernah segan-segan untuk menggunakan cara-cara kotor. Namun kali ini aku merasa Seulong telah kehilangan seluruh kekuatannya untuk menaklukan dunia. Dan sebentar lagi ia pasti akan merengek-rengek padaku untuk melakukan sesuatu.

“Aku mendapatkan ancaman dari rivalku, dan kali ia tidak main-main. Beberapa hari ini aku mendapatkan surat ancaman di rumah maupun di kantor, dan kemarin aku hampir saja celaka ketika sedang mengantar Yoona ke sebuah pusat perbelanjaan. Seseorang ingin aku mati Hae.”

“Kau serius?”

Aku masih menanggapinya dengan santai sambil menuangkan cognac untuk diriku sendiri. Ini sungguh lelucon paling lucu yang penah kudengar dari seorang Im Seulong. Untuk pertama kalinya Seulong takut pada ancaman pembunuhan? Ini menggelikan! Tentu saja hal seperti ini sudah biasa terjadi diantara para pebisnis seperti kami. Jadi, kurasa masalah yang dialami Seulong tidak seharusnya sampai membuat pria itu menjadi murung seperti ini.

“Aku takut mereka akan menyakiti Yoona.”

“Hmm, gadis kecilmu itu memang bisa saja menjadi sasaran empuk untuk para musuh-musuhmu. Tapi bukankah kau sudah memiliki puluhan boduguard yang akan menjaganya, jadi kurasa itu bukan masalah besar. Ayolah dude, kekuasaan yang kau miliki sudah lebih dari cukup untuk melindungi gadis kecilmu dan juga dirimu sendiri.”

“Ini berbeda Hae, ancaman mereka kali ini tidak bisa kuremehkan begitu saja. Kemarin, salah satu anak buahku mati tertembak saat aku menugaskannya untuk menyelidiki teror-teror yang kualami selama ini. Jasadnya tadi pagi diletakan di depan rumahku dalam keadaan yang sudah membusuk. Kurasa mereka ingin aku mati.”

“Lalu apa keuntungan mereka jika kau mati?”

Mungkin aku memang bukan sahabat yang baik dan memiliki empati tinggi. Disaat Seulong telah menunjukan wajah paniknya dan frustrasinya, aku masih saja menanggapinya santai. Aku tidak sedikitpun berpikir ini akan berakhir buruk karena kuyakin Seulong tidak selemah itu untuk menghadapi musuh-musuhnya.

“Proyek di Australia. Kurasa orang itu mengincarnya. Dua minggu yang lalu aku baru saja mendapatkannya, dan proyek itu adalah proyek besar yang sangat potensial. Pembangunan taman hiburan terbesar di Australia jelas akan menghasilkan banyak pundi-pundi dollar yang jumlahnya sangat fantastis.”

“Kalau begitu kau sudah tahu siapa orang-orang yang berpotensi untuk mencelakakanmu dan Yoona?”

Seulong tampak mendesah kecil sambil menggelengkan kepalanya lemah. Lelucon macam apa itu? Ia tidak mungkin tidak mengetahui identitas rivalnya. Apa ia sengaja tidak ingin mengungkapnya agar orang lain tidak terseret kedalam masalahnya?

“Terlalu banyak pihak-pihak yang ingin menggulingkanku hingga aku tidak tahu siapa dalang dibalik semua teror ini. Tapi aku ingin meminta satu hal darimu. Tolong jaga Yoona, jika aku tidak ada, tolong jaga Yoona untukku.”

Aku menegak cognacku cepat sambil menggeram kesal kearahnya. Apa teror itu telah membuatnya menjadi pria lemah dan idiot seperti ini? Aku bukanlah pria baik-baik yang bisa menjadi seorang babysitter untuk gadis berusia sepuluh tahun. Aku adalah pria bebas yang tidak suka hidup dengan aturan. Jika Seulong menitipkan Yoona padaku, apa yang akan terjadi pada gadis kecil itu nantinya? Ia akan hidup menjadi wanita liar yang tidak terhormat karena aku sama sekali tidak bisa mengurus seorang anak kecil.

“Urus anakmu sendiri, aku tidak mau. Lihatlah, aku adalah pria brengsek yang bebas. Mengurus seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun sama sekali bukan gayaku. Jika kau ingin pergi meninggalkann Yoona, carilah pengasuh yang bisa mengurusnya terlebihdahulu, karena aku tidak mau mengurusnya dan menjadikannya bagian dari kehidupanku.”

“Hae, saat ini hanya kaulah satu-satunya harapanku.”

“Sialan, jangan menunjukan wajah menjijikanmu di depanku, kau membuatku mual. Sekarang katakan padaku, siapa yang telah menerormu selama ini? Akan kuhabisi dia dengan tanganku sendiri bila perlu agar kau bisa kembali menjadi Seulong yang kukenal.”

“Lupakan saja, aku tidak ingin melibatkan siapapun kedalam masalahku.”

Brakk

“Kau tolol!” Makiku keras sambil menggebrak meja. Sungguh aku merasa muak dengan sikapnya yang berubah menjadi lembek seperti ini. Sejak kepergian isterinya karena pria lain, Seulong memang perlahan-lahan berubah. Ia tidak lagi terlihat garang seperti dulu dan cenderung lebih suka mengalah. Seulong juga perlahan-lahan berubah menjadi seorang ayah yang sangat memperhatikan putrinya. Beberapa minggu terakhir ini aku jarang mendapatinya di klub dan lebih sering mendapatkan kabar jika Seulong sedang menghabiskan akhir pekannya bersama Yoona untuk berlibur. Selain itu, Hyukjae mengatakan padaku jika akhir-akhir ini Seulong lebih banyak berinvestasi atas nama Yoona. Sikap Seulong yang aneh itu membuatku tak habis pikir padanya hingga malam ini aku berencana untuk membantunya mencari si peneror itu secara diam-diam.

“Kuharap kau tidak berusaha mencari tahu tentang peneror itu dan hanya melakukan apa yang kuminta padamu. Aku tidak ingin Yoona celaka. Ia pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik.”

Setelah itu Seulong pergi begitu saja dari klub. Malam itu ia pergi dengan wajah lesu yang masih setia membingkai wajah tirusnya. Dan keesokan harinya aku mendapatkan kabar jika Seulong telah mati karena sebuah kecelakaan tunggal yang sangat parah. Pria itu dengan brengseknya benar-benar meninggalkan Yoona padaku. Ia mempercayakan putri satu-satunya yang berharga pada seorang pria brengsek yang tidak pernah sekalipun berhubungan dengan seorang anak kecil.

Sore harinya, aku datang ke rumah Seulong untuk memberikan pernghormatan terakhir padanya. Berbagai karangan bunga dari berbagai pihak tampak menghiasi halaman rumah Seulong yang telah dipenuhi oleh ratusan pelayat yang hari ini juga datang untuk mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. Namun dari banyaknya pelayat yang memadati rumah Seulong, ada satu orang yang begitu menarik perhatianku. Orang itu adalah Yoona, gadis kecil yang dititipkan Seulong padaku. Dari kejauhan aku melihat Yoona sedang menangis meraung-raung di dalam dekapan pelayannya. Gadis itu sungguh malang. Sayangnya sang ayah juga tolol karena telah mempercayakan gadis sebaik Yoona pada seorang pria brengsek sepertiku. Setelah ini aku tidak akan mau menjaganya. Biarlah pihak kepolisian memasukan Yoona ke panti asuhan hingga gadis kecil itu siap menerima seluruh harta warisan yang disiapkan oleh ayahnya. Dan kurasa, Yoona memang akan jauh lebih aman bila berada di panti asuhan karena kemungkinan rival Seulong itu masih berkeliaran dan akan menjadikan Yoona sebagai sasaran selanjutnya.

-00-

“Anda harus merawat nona Yoona seperti apa yang tertulis di surat wasiat tuan Seulong. Sudah hampir empat tahun anda  membiarkan nona Yoona berada di panti asuhan dan hidup dalam keterbatasan di sana.”

“Keterbatasan seperti apa yang kau maksud?”

Tanpa menghiraukan pengacara cerewet itu aku terus mengerjakan seluruh laporan bulanan yang harus kutanda tangani hari ini. Sudah lebih dari lima kali pengacara itu datang ke kantorku selama seminggu ini untuk mengingatkanku pada surat wasiat bodoh yang ditulis oleh Seulong. Pria itu ternyata telah merencanakan semuanya dari awal. Ia ingin aku yang merawat Yoona saat ia telah mati, dan ia merealisasikan semuanya dalam sebuah surat wasiat resmi yang telah dibubuhi oleh cap bernilai hukum yang membuatku tidak bisa berkelit lagi. Dulu aku masih bisa berkelit dengan mengatakan pada pengacara cerewet itu jika Yoona tidak akan aman bersamaku selama pembunuh itu belum ditemukan. Dan dua bulan yang lalu pihak kepolisian baru saja mengumumkan jika mereka telah berhasil menangkap sang penjahat. Sungguh sial! Kesempatanku untuk menghindari semua tanggungjawab itu telah usai. Mau tidak mau aku memang harus memenuhi keinginan terakhir Seulong untuk merawat Yoona.

“Panti asuhan itu sama sekali tidak layak untuk ditinggali. Di sana nona Yoona hidup serba kekurangan dan dalam keterbatasan.”

“Kalau kau tahu, kenapa kau tidak mengadopsinya? Bukankah Seulong adalah klienmu?”

“Tapi penjahat itu baru saja ditemukan. Akan sangat berbahaya jika saya membawa nona Yoona saat penjahat itu belum ditemukan.”

Sial! Ia justru menggunakan kata-kataku sebagai senjata untuk menyerangku.

“Kenapa kau tidak menyerahkan gadis itu pada ibunya? Bukankah ibunya masih hidup dan sedang hidup berkecukupan dengan suami barunya?”

“Saya tidak bisa tuan, di sini tertulis jika tuan Seulong menyerahkan putrinya untuk diasuh oleh anda.”

“Sialan! Kenapa kau dan Seulong sama saja. Sekarang pergilah dari kantorku, aku akan segera menjemput gadis itu di panti asuhan sesuai surat wasiat yang ditulis Seulong.”

Akhirnya dengan terpaksa aku mendatangi panti asuhan itu bersama asistenku untuk membawa Yoona pergi dari gubug itu. Ternyata apa yang dikatakan oleh pengacara itu benar. Selama empat tahun ini Yoona tidak mendapatkan fasilitas yang sesuai dengan latar belakangnya yang berasal dari keluarga kaya. Namun kulihat Yoona dapat bertahan dengan semua kesulitan itu selama empat tahun ini. Hal itu terlihat dari bagaimana kondisi Yoona yang masih terlihat baik-baik saja tanpa ada satu cacat sedikitpun di kulitnya. Sayangnya gadis itu telah melatakan harapan yang terlalu tinggi di awal pertemuan kami, hingga dengan berat hati aku harus mematahkan semua harapan itu dan membuatnya hidup menderita di masa depan.

-00-

Ini adalah malam ke dua puluh satu setelah aku memungut Yoona dari panti asuhan. Selama lebih dari dua puluh hari aku tidak pernah menampakan diriku sedikitpun di depan Yoona dan hanya membiarkan gadis itu tumbuh bersama para pelayanku. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk untuk mengerjakan pekerjaanku dan sibuk bermain-main bersama wanita baru yang menggairahkan, dan untuk beberapa saat aku melupakan Yoona yang saat ini telah tinggal di rumahku. Namun malam ini aku sedikit tergelitik untuk melihatnya dan mengunjunginya di kamar. Kim mengatakan padaku jika hari ini Yoona baru saja memulai kegiatan sekolahnya setelah kepindahannya dari panti asuhan, dan hari ini ia pergi tidur lebih cepat karena kelelahan dengan seluruh kegiatan di sekolah barunya.

“Tidak ada masalah apapun yang harus dikhawatirkan, nona Yoona tumbuh dengan baik dan ia dapat beradaptasi dengan lancar di rumah ini.”

“Hmm, bagaimana dengan kepribadiannya selama di sekolah?”

“Menurut saya nona Yoona dapat beradaptasi dengan baik, meskipun nona Yoona sedikit mengeluh tentang peraturan yang anda buat.”

Aku mengangguk mengerti, dan dengan isyarat jari aku menyuruh Kim untuk keluar dari kamar Yoona. Seulong, apa kau sudah puas sekarang? Aku telah membawa putrimu ke rumahku dan menjadikannya bagian dari keluargaku. Tapi apakah kau tahu? Aku sama sekali tidak berbakat untuk menjadi wali yang baik. Di awal pertemuanku dengannya, aku justru menakutinya dengan aura mengintimidasiku. Belum lagi dengan sikapku yang setiap hari selalu acuh tak acuh dengannya. Aku jelas tidak bisa menjadi wali yang baik untuk putrimu. Seharusnya daripada bersamaku, kau lebih baik memberikan hak asuh Yoona pada ibunya atau pada Hyukjae. Kurasa dua orang itu jauh lebih bisa mengurus Yoona daripada ia kau biarkan bersamaku.

“Ayah… hikss… ayah…”

Samar-samar aku mendengar suara Yoona mengigau dalam tidurnya sambil menangis kecil. Kulihat ia sedikit menitikan air matanya dalam tidur. Namun aku memilih untuk hanya menatapnya dalam diam sambil menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Ia sepertinya memang hanya sebatas bermimpi, karena setelah itu ia kembali tidur dengan suara dengkurannya yang halus. Jadi seperti inikah rasanya memiliki seorang putri? Ahh… ini sungguh aneh. Tak bisa kubayangkan bagaimana kehidupanku jika memiliki isteri dan juga anak nantinya, pasti sangat merepotkan. Entah kenapa aku tidak pernah bercita-cita untuk memiliki sebuah keluarga. Melihat bagaimana keluargaku yang tidak berkembang sebagaimana mestinya membuatku berpikir untuk tidak perlu memiliki keluarga. Ayahku yang otoriter membuatku selalu membenci sosoknya dimanapun ia berada. Beruntungnya aku karena aku bisa lepas dari jeratnya setelah berusia dua puluh tahun berkat harta warisan dari kakek. Huh, tua bangka itu setidaknya cukup berguna sebelum ia membusuk di dalam tanah dan dimakan oleh cacing-cacing karena ternyata ia mewariskan seluruh kekayannya untukku, satu-satunya cucu laki-laki yang ia miliki. Jadi aku dengan mudah bisa membangun kehidupanku sendiri dengan seluruh kekayaan milik kakek dan dengan sedikit usaha keras yang kulakukan untuk mengembangkan usaha yang dirintis oleh kakek sebelumnya.

“Semoga kau bahagia dengan kehidupanmu Yoona, dan jangan terlalu berharap lebih pada kehidupan yang keras ini.”

Setelah mengelus sedikit surai hitamnya, aku segera pergi meninggalkannya untuk kembali ke ruang kerjaku. Masih ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan malam ini, dan pukul sebelas nanti aku juga harus bertemu dengan teman-temanku di klub. Kehidupan seorang taipan kaya memang tidak akan jauh-jauh dari bekerja dan berpesta. Dua hal itulah yang selama ini kulakukan sebagai pria bebas yang tak memiliki aturan. Tapi meskipun begitu, aku adalah orang yang cukup licik, karena aku lebih suka mengatur orang lain dengan aturanku sendiri.

-00-

Ini menyenangkan. Kini aku memiliki rutinitas baru untuk mengamati Yoona dari seluruh kamera cctv yang kupasang. Setelah lebih dari enam tahun aku tidak pernah memperhatikannya, kini aku mulai berbalik untuk memperhatikannya. Dan semua itu terjadi karena ketidaksengajaanku saat mengamati cctv satu minggu yang lalu. Saat itu tanpa sengaja aku melihat Yoona sedang tertawa bersama para maid saat sedang menonton sebuah siaran televisi yang entah apa. Saat melihatnya tertawa, tiba-tiba aku merasa tertarik dengannya. Gadis kecil Seulong yang polos, kini perlahan-lahan telah tumbuh dewasa dan berubah menjadi sosok wanita yang mengagumkan. Sayang, selama ini aku tidak pernah memperhatikannya dan lebih suka bersenang-senang di luar rumah tanpa pernah berpikir jika aku memiliki sebuah aset di rumahku yang bisa kujadikan sebagai salah satu mainanku. Well, mungkin sudah saatnya Seulong melakukan balas budi padaku. Selama ini ia telah merepotkan hidupku dengan kehadiran putrinya yang tumbuh di bawah tanggungjawabku. Jadi hari ini aku akan menyapanya dan melihat bagaimana potensi yang ia miliki. Apakah ia layak untuk menjadi salah satu mainanku atau tidak.

“Jam berapa ia biasa sarapan?”

“Jam tujuh tuan.”

“Baiklah, aku akan sarapan bersamanya hari ini.”

Tanpa menghiraukan keterkejutan Kim, aku segera berjalan turun menuju meja makan. Ini adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi dalam kehidupanku karena aku memang jarang menghabiskan waktu di rumah. Semenjak kedatangan Yoona, aku lebih suka hidup di luar rumah dan terkadang tidur di apartemen karena aku malas bertemu dengan gadis itu. Ia membuatku merasa tidak bebas dan seakan-akan memiliki sebuah tanggungjawab yang besar di rumah. Jadi hari ini untuk pertama kalinya setelah enam tahun lamanya, aku akan menampakan diri di hadapan Yoona. Yoonaku yang dewasa dan juga manis.

“Selamat pagi…. ayah.”

Pertama kali saat aku menginjakan kakiku di ruang makan, aku mendengar suara sapaanya yang terdengar ragu dan kaku. Gadis itu sejak tadi terus menatapku dengan tatapan terheran-herannya sambil mengamati tubuhku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Hmm, sejujurnya ini sangat mengganggu dan juga tidak sopan. Tapi untuk hari ini, aku akan memaafkan seluruh ketidaksopanannya karena aku cukup memaklumi bagaimana keheranannya saat melihatku untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir ini. Dan… aku benar-benar tidak suka dengan panggilannya yang ia berikan padaku. Ia pasti lupa dengan peringatan yang kuberikan di awal ketika aku baru saja menjemputnya dari panti asuhan.

“Aku bukan ayahmu.”

Harus berapa kali kutekankan padanya jika aku bukan ayahnya dan tidak akan pernah menjadi ayahnya? Tapi melihat bagaimana Yoona saat ini membuatku ingin mengucapkan terimakasih pada Seulong karena untungnya ia memberikan hak asuh Yoona padaku. Tak bisa kubayangkan bagaimana nasibnya jika Yoona jatuh di tangan Hyukjae atau yang lainnya, gadis polos ini pasti akan habis dalam semalam karena dimangsa oleh mereka semua. Tapi bukan berarti aku bukan pria brengsek seperti mereka. Tentu aku juga akan tergiur pada tubuh indah Yoona yang sangat mengagumkan ini, hanya saja aku lebih bisa bersabar daripada mereka karena pertama-tama aku akan membuat Yoona jatuh bertekuk lutut pada pesonaku terlebih dahulu sebelum aku menyerangnya seperti semua mainanku yang lainnya.

-00-

Ternyata menjerat Yoona untuk masuk kedalam pelukanku sangat mudah. Hanya dalam waktu dua bulan, aku sudah bisa mendapatkan Yoona di atas ranjangku dan aku berhasil menjadi pria pertama untuknya. Ini sungguh pengalaman yang luar biasa. Bercinta dengan seorang gadis polos yang masih sangat suci seperti Yoona sangat berbeda dengan bercinta dengan para jalang yang sering kutemui di klub. Gerakan Yoona yang kaku saat bercinta justru membuatku semakin bersemangat untuk menyentuhnya lagi dan lagi. Selain itu, desahannya yang terdengar malu-malu membuatku tidak bisa berhenti tertawa saat membayangkannya. Jadi seperti inikah rasa dari putri kecil Im Seulong. Hahaha… ini luar biasa. Kuharap ia tidak mengutukku dari atas sana karena aku dengan lancangnya telah merusak putrinya. Tapi kurasa ini balasan yang setimpal untuk membayar seluruh hutang jasanya padaku selama ini.

“Erghhh… oppa?”

Aku tersenyum kearahnya sambil memeluknya erat agar tubuhnya yang polos ini merasa hangat. Wanitaku rupanya telah bangun dari tidur panjangnya. Dengan rambut acak-acakannya yang sedikit menggelitik dadaku, ia bergelung manja di dalam pelukanku seperti seekor anjing kecil yang meminta kenyamanan dari tuannya. Sekali lagi, aku berhasil menjeratnya kedalam kehidupanku yang bebas dan tanpa aturan ini. Banyak pelajaran yang kuberikan pada Yoona beberapa bulan ini, termasuk pelajaran untuk meminum alkohol hingga ia sekarang menjadi seorang peminum yang handal. Lalu puncaknya, aku mengajarinya untuk belajar memuaskan seorang pria dewasa seperti yang telah kami lakukan beberapa saat yang lalu. Seulong, sekali lagi maafkan aku. Aku… telah merusak putri polosmu.

“Oppa….”

“Hmm, ada apa sayang?”

“Bisakah kau keluar, aku ingin memakai pakaianku?”

Hahaha… gadis ini benar-benar polos. Bahkan setelah apa yang kami lakukan, ia masih bisa tersipu malu di depanku. Baiklah Im Yoona, jangan salahkan aku bila aku ingin menerkammu lagi.

“Haruskah? Aku sudah melihat semuanya.”

Seketika pipi putihnya semakin merona saat tertimpa cahaya bulan yang menyusup masuk dari balik jendela kamarnya. Sikapnya yang malu-malu itu justru membuatku bergairah lagi padanya. Sial!

“Kumohon, aku… malu.”

“Ck, kau justru membuatku semakin menginginkanmu sayang.”

“Akhh…”

Yoona memekik terkejut saat aku mengurung tubuhnya tepat di bawahku sambil menatap manik bulatnya lekat-lekat. Wanita ini memang berbeda dari wanita-wanita yang selama ini kukencani. Jadi sudah sepantasnya jika aku juga memperlakukannya sedikit istimewa. Untuk permulaan, aku tidak akan langsung meninggalkannya begitu saja seperti wanitaku yang lainnya. Kali ini aku akan bermain lembut bersamanya dan juga tetap berada di sampingnya hingga esok pagi.

“Tenang Yoona, kali ini rasanya tidak akan sesakit sebelumnya.”

“Kau janji? Emm… ini adalah sebuah kesalahan oppa, kita harus segera mengakhirinya sebelum semuanya terlambat.”

“Ssshhh…. tidak ada yang perlu kau khawatirkan Yoona, semua ini akan baik-baik saja selama kita tidak memiliki ikatan darah apapun.”

Kulihat Yoona masih menunjukan keraguan padaku, namun ia sama sekali tidak melakukan perlawanan ketika aku mulai mengecupi satu persatu bagian wajahnya dengan ciuman-ciuman basah yang intens. Kurasa ia telah terbawa oleh arus permainanku hingga ia sendiri tak kuasa untuk menghentikannya meskipun logikanya terus menjerit.

“Oppa, bagaimana jika aku hamil?”

Astaga! Aku sama sekali tidak peduli. Masalah kehamilan, aku bisa memikirkannya nanti. Sekarang yang kubutuhkan adalah sebuah pelepasan yang panjang dan penuh nikmat. Jadi setelah ini aku benar-benar tidak ingin dikacaukan lagi dengan kata-katanya yang mengganggu.

“Kita pikirkan itu nanti, sekarang nikmati saja setiap permainan yang kuciptakan. Persetan dengan kehamilan, kau bisa menggugurkannya.”

Samar-samar aku merasakan tubuhnya menegang saat aku mengatakan hal itu padanya. Namun aku memilih untuk tidak peduli dan tetap pada tujuan awalku untuk mencari kepuasan pada tubuh Yoona. Lagipula ia memang sudah sepantasnya melakukan balas budi dengan tubuhnya yang seksi dan menggairahkan ini.

“Oppaaahhh… arghh…”

“Hmm… sebuat namaku Yoong, ingat baik-baik jika kau hanyalah milikku. Hanya milikku.”

Mendengar desahannya yang seksi dan wajahnya yang tampak memerah di bawahku membuatku semakin menggila hingga aku benar-benar lepas kendali. Permainan yang kuperkirakan akan berjalan lembut, justru menjadi semakin kasar dan brutal kala Yoona terus saja mendesahkan namaku dengan seksi. Mungkin besok ia benar-benar akan merasakan sakit yang luar biasa karena malam ini aku tidak bisa menahan-nahan diriku lebih lama. Yoona berhasil membangkitkan sisi liarku yang kasar dan penuh dominansi. Kau Yoona, malam ini kau benar-benar habis di tanganku.

-00-

Ini tidak sesederhana yang kupikirkan. Hubunganku dan Yoona semakin lama memang semakin berkembang baik. Tapi kurasa ada sedikit kesalah pahaman di sini. Dan aku tidak bisa berbuat banyak untuk meluruskannya.

“Oppa, aku membuatkan teh untukmu.”

Sore ini Yoona tampak cantik dengan dress selutut bermotif bunga yang tampak serasi dengan wajah meronanya yang manis. Aku lalu melambai kearahnya untuk mendekat dan duduk di pangkuanku. Meskipun hubungan ini sebenarnya adalah sebuah kesalah pahaman, tapi kurasa aku menikmatinya. Biarlah Yoona menganggap aku memiliki perasaan yang sama padanya, karena ini sama sekali tidak merugikanku. Huh, Yoona yang malang.

“Bagaimana kuliahmu hari ini?”

“Semuanya berjalan dengan baik, tapi beberapa temanku mulai menanyakan hubungan kita. Menurutmu apa yang harus kukatakan pada mereka?”

“Katakan saja apapun yang sedang kau pikirkan sekarang.” Jawabku santai sambil mengecup puncak kepalanya. Mendapatkan satu kecupan ringan dariku, membuat Yoona semakin menempelkan tubuhnya lebih rapat padaku. Sebelumnya aku tidak pernah menyangka jika sedikit bermain-main dengan Yoona akan memberikan efek yang semenyenangkan ini. Kupikir Yoona adalah tipe wanita membosankan yang akan dengan mudah ditinggalkan, ternyata dugaanku salah besar. Yoona justru semakin hari semakin menggemaskan dengan tingkah polosnya yang terkadang betingkah sok dewasa, namun hal itu sama sekali tidak menyamarkan sisi kekanak-kanakannya yang menggemaskan.

“Oppa,  apa kau suka memiliki keluarga?”

“Hmm, tidak. Kenapa?”

Sejak dulu keluarga hanyalah sebuah pengganggu yang akan menghambat kesuksesanku, jadi aku tidak pernah menyukai hal itu sampai kapanpun.

“Kupikir kau senang kau juga sama senangnya denganku saat kita berdua bisa menjadi sebuah keluarga yang utuh.”

Perlahan-lahan aku mengangkat wajahnya yang tertunduk sambil memaksanya untuk menatap kearahku.

“Itu tidak semudah yang kau bayangkan. Lebih baik kau biarkan semua ini mengalir begitu saja seperti air. Dan setelah itu, kau baru benar-benar akan mengerti akhir dari semua ini.”

Yoona menggigit bibir bawahnya gugup sambil menatapku dengan mata bulatnya. Oh, sepertinya aku sudah terlalu banyak memberikan harapan padanya. Sebelum semua ini menjadi rumit, aku harus menunjukan padanya bagaimana kehipanku selama ini. Ia tidak boleh terlalu berharap padaku yang jelas-jelas tidak akan memberikan apapun padanya. Semua ini, semua hal yang telah kulakukan padanya semata-mata hanya sebuah permainan belaka. Dan ia harus tahu jika kehidupan ini tidak semuanya memberikan ketulusan. Ada saatnya dimana ia harus berhadapan dengan seorang pria brengsek sepertiku dan mengambil konsekuensi yang begitu pahit dari semua hal yang telah dilakukannya.

-00-

“Oppa…”

Ini adalah malam ke tujuh dimana aku harus melihat tatapan terlukanya itu lagi. Sejak aku sering membawa teman-teman kencanku ke rumah, ia selalu terlihat terluka sambil menghapus bulir-bulir air matanya kasar. Tapi biarlah, biarlah ia tahu jika aku ini memang tidak pernah memiliki perasaan apapun padanya. Dan ia bodoh jika pernah memiliki perasaan itu untukku karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah membalasnya.

“Oppa, kenapa kau tega melakukannya padaku? Aku mencintaimu.”

Dengan malas aku meninggalkan mainanku sejenak untuk menariknya pergi dari ruang tengah. Kurasa aku sudah mulai jengah dengan sikapnya yang sangat berisik dan juga cengeng. Setiap malam ia selalu menggangguku dengan isakannya yang terdengar menyayat hati. Sayangnya aku bukanlah jenis pria yang akan luluh hanya karena sebuah tangisan. Semua hal itu benar-benar tidak ada gunanya jika dilakukan di depanku.

“Dengar, aku tidak pernah mencintaimu Yoona. Semua ini hanya untuk bersenang-senang. Aku seorang pria dewasa yang butuh pelepasan. Dan kau secara suka rela memberikan tubuhmu padaku, jadi jangan salahkan aku jika aku merenggutnya darimu.”

“Tapi, kau telah mengambil semuanya. Kupikir kau mencintaiku.” Isaknya pelan sambil menatapku dengan wajah berlinang air mata. Aku berkacak pinggang kesal di depannya sambil membuang wajah kearah lain. Gadis ini benar-benar bodoh dan juga menjengkelkan.

“Aku adalah pria yang bebas, dan aku tidak pernah mau memiliki ikatan dengan siapapun. Jadi buang saja seluruh perasaan cintamu yang tak berguna itu. Jika kau ingin bersenang-senang, aku bisa memuaskanmu kapanpun kau membutuhkanku.”

Plakk

Sial! Berani-beraninya dia menamparku!

“Kau jahat! Aku membencimu Lee Donghae!”

Tanpa menghiraukan kemarahanku, ia segera berlari menaiki tangga sambil menangis meraung-meraung. Dan tak berapa lama aku mendengar bunyi bantingan yang cukup keras dari kamarnya. Ia pasti baru saja membanting pintu. Tapi…. aku sama sekali tidak peduli. Perasaan bodoh itu hanyalah miliknya, sedangkan aku, aku akan melanjutkan kehidupanku yang bebas tanpa ikatan dan juga cinta.

-00-

Tiga bulan kemudian setelah ia menamparku, aku mulai sadar jika perlahan-lahan Yoona mulai berubah. Gadis polos yang dulu kukenal, telah bertaransformasi menjadi sesosok wanita muda yang modis dan penuh keangkuhan. Gaya hidupnya juga perlahan-lahan mulai berubah. Ia yang tidak pernah pergi ke klub untuk berpesta, kini mulai menjadi seorang penghuni klub yang setiap malam tidak pernah absen untuk memanaskan arena dansa bersama teman-temannya. Semua perubahan yang terjadi pada Yoona itu tak pelak membuatku penasaran. Namun justru aku lebih suka melihatnya yang berubah liar seperti itu karena ia benar-benar jauh lebih menggoda. Hanya saja aku memang harus ekstra berhati-hati untuk mengawasinya, karena salah sedikit saja, maka ia akan berakhir di tangan pria-pria brengsek itu.

“Hai tampan, kau mau menemaniku berdansa?”

Itu adalah salah satu dari sekian banyak godaan yang dilayangkan Yoona pada pria-pria yang ditemuinya ketika berada di klub. Dan sekarang dari tempatku berdiri, aku dapat melihat Yoona mulai meliuk-liukan tubuh seksinya di samping sang pria beruntung yang malam ini menjadi sasarannya. Well, tapi sampai kapanpun aku tetap yakin jika hati Yoona tidak akan pernah beralih pada pria manapun. Karena hanya aku yang selalu bisa memenangkan hatinya.

“Panggil Yoona ke sini, aku membutuhkannya.”

2 thoughts on “Black Swan: Let The River Run

  1. haepa tega yah..g punya hati, apalagi cinta.
    yoong kapan kau dapat kebahagiaanmu.
    haepa jahat memperlakukan mu seperti
    wanita murahan oh yong

  2. Donghae kok tega banget sih ke yoona tapi cerita.y seru
    Lanjutan.y pasti lebih menarik lg
    Cepet* di lanjut ya thor cerita.y

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.