Black Swan : Strangers (Three)

Strangers – Halsey ft Lauren

 

“Yoona? Kau Im Yoona bukan?”

Yoona menatap tak percaya pria di depannya  dan perlahan-lahan mulai menurunkan jari telunjuknya yang masih menggantung di udara. Dengan wajah memerah karena malu, ia menganggukan kepalanya cepat sambil tersenyum ramah pada pria itu.  

“Cho Kyuhyun, lama tidak berjumpa. Apa kabar?”

Yoona mencoba menyapa Kyuhyun dengan sapaan yang paling ramah sambil menghalau pria itu untuk masuk ke dalam restoran jepang. Saat ini ia  begitu malu karena telah membentak-bentak pria itu sambil mengacung-ngacungkan telunjuknya tepat di depan wajahnya. Jika Kyuhyun bukanlah salah satu mantan temannya saat kuliah, dan mantan pria yang pernah menjalin hubungan baik dengannya, mungkin ia akan langsung melempar pria itu jauh-jauh dari hadapannya karena pria itu telah membuatnya jatuh dengan sangat memalukan di tengah jalan. Sayangnya, pria yang tadi menabraknya adalah Cho Kyuhyun. Salah satu pria yang dulu sangat baik padanya dan juga cukup berjasa padanya, sama seperti Yunho. Jadi, ia seharusnya memperlakukan pria itu dengan baik dan mencoba memperbaiki imagenya yang sudah terlanjur buruk di depan pria itu.

“Eee…. soal tadi, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membentak-bentakmu.”

Kyuhyun tersenyum santai di hadapan Yoona sambil mengibaskan tangan kanannya pelan ke udara. Pria itu justru tertawa cukup keras di depannya dan tiba-tiba ia berdiri sambil memeluknya seperti seorang teman lama yang sudah lama tidak bertemu.

“Aku merindukanmu. Akhirnya kita bisa bertemu lagi Yoona.”

“Aku juga merindukanmu. Kau kemana saja selama ini?”

Kyuhyun melepaskan pelukannya pada Yoona dan kembali duduk di tempatnya semula. Yoona kemudian memberikan tatapan pada Jimin untuk memanggil pelayan selagi ia berbicara dengan Kyuhyun untuk mengenang masa-masa kuliah mereka yang menyenangkan.

“Aku bekerja di Busan. Dan tahun ini aku dipindahkan ke kantor pusat di Seoul.”

“Oh ya, kau bekerja dimana?” Tanya Yoona antusias. Melihat Kyuhyun yang sudah sukses seperti ini membuat Yoona juga ikut senang. Dulu ia dan Kyuhyun adalah teman dekat hingga seluruh teman-temannya mengira mereka memiliki hubungan. Padahal dirinya tidak pernah memiliki hubungan apapun dan ia sadar jika Kyuhyun adalah pria yang terlalu baik untuk dirusaknya.

“Aku bekerja di perusahaan otomotif, Cardillac, kau pasti tahu perusahaan itu. Mereka cukup terkenal.”

Yoona langsung tersenyum hambar sambil mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Ia jelas tahu, bahkan sangat tahu karena perusahaan itu milik Donghae. Dulu ia sering datang ke sana dan mengganggu kegiatan pria itu saat sedang bekerja. Sayangnya semua itu hanyalah bagian dari masa lalunya. Sekarang ia lebih suka hidup bebas sambil mengembangkan karir modelnya agar suatu saat ia bisa terbebas dari belenggu Lee Donghae yang menyebalkan.

“Kau hebat bisa bekerja di perusahaan yang cukup terkenal itu. Bagaimana dengan kehidupanmu, kau sudah memiliki kekasih?”

Yoona sengaja mengganti topik pembicaraan mereka seputar kekasih karena ia cukup malas untuk membicarakan perusahaan milik ayah angkatnya. Lagipula ia juga merasa penasaran dengan kehidupan Kyuhyun selama tiga tahun ini, setelah mereka lulus dari bangku perkuliahan.

“Aku? Hmm.. tidak, maksudku belum. Aku belum memiliki kekasih, tapi aku memiliki wanita yang kucintai.”

“Benarkah? Siapa itu? Apa dia Seo Jo Hyun, wanita cantik yang pernah dikabarkan dekat denganmu saat semester akhir tiga tahun yang lalu?” Goda Yoona dengan wajah jahil. Khyun langsung menggelengkan kepalanya keras dan melirik Yoona sebal karena godaan wanita itu benar-benar tidak lucu. Lagipula saat ini Seo Jo Hyun telah menikah dengan seorang guru dan sedang mengandung anak mereka.

“Seohyun sudah menikah. Kami tidak pernah memiliki hubungan apapun sejak dulu. Kau jangan terlalu berlebihan.”

“Ck, lalu siapa wanita yang kau sukai? Beritahu padaku, jika aku mengenalnya, aku pasti akan membantumu untuk mendapatkannya.”

“Nanti aku akan memberitahumu, sekarang aku ingin makan.”

Tak berapa lama pelayan yang membawakan pesanan mereka. Sepertinya Jimin telah melakukan tugasnya dengan baik, karena pria itu langsung memesankan menu kesukaan modelnya tanpa harus menanyakan terlebihdahulu pada Yoona yang sedang asik mengobrol. Sedangkan untuk Kyuhyun, pria itu hanya asal memesankan makanan dan berharap rekan modelnya itu mau memakan apa saja yang telah dipesankannya.

“Asistenmu hebat, ia tahu apa menu favoritku.”

Kyuhyun memakan sushinya dengan lahap sambil menatap penuh terimakasih pada Jimin yang duduk tak jauh dari mereka. Sedangkan Yoona hanya mengedikan bahunya asal dan mulai menyantap makanannya sendiri yang terlihat menggiurkan. Dan untung saja di dalam restoran ini tidak banyak pengunjung yang datang, sehingga ia bisa makan sebanyak yang ia mau tanpa harus menjaga imagenya yang terkenal angkuh dan sombong. Selain itu, ia juga tidak perlu bersikap angkuh di depan Kyuhyun karena pria itu adalah sahabatnya. Sejauh ini sikapnya di depan teman-temannya tidak pernah berubah. Hanya saat bersama Donghae ia akan memasang wajah angkuhnya untuk menunjukan pada pria itu jika ia bukan wanita murahan yang bisa digunakan dengan sesuka hati. Meskipun selama ini ia tidak pernah bisa menolak pria itu untuk melayaninya di ranjang, tapi sebenarnya saat ini ia telah memiliki rencana untuk menghancurkan pria itu perlahan-lahan. Ia ingin pria itu juga merasakan rasa sakit seperti apa yang ia rasakan selama ini. Selama bertahun-tahun ia harus bertahan dengan perasaan terhina dan juga perasaan tidak diharagai yang disebabkan oleh pria itu. Belum lagi, ia pernah mengalami pengalaman buruk yang sangat mengerikan hingga ia harus merenggang nyawa karena pria itu. Beruntung, Tuhan masih memberinya umur panjang untuk membalas sikap bejat pria itu dan menjalankan karirnya yang sedang melambung tinggi saat ini.

“Tiga tahun berlalu, kau sekarang semakin sukses. Aku sering melihatmu di televisi dan menjadi model untuk produk-produk ternama, aku sangat bangga padamu.”

“Terimakasih. Ini semua karena Yunho oppa yang dulu memberiku pekerjaan ini. Saat itu aku sangat membutuhkan pekerjaan, dan untungnya Yunho oppa masih bersedia mengorbitkanku untuk menjadi seorang model.”

“Tapi kenapa kau harus bekerja, bukankah ayah angkatmu sangat kaya? Sebenarnya apa pekerjaan ayahmu angkatmu?”

Yoona tampak berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Kyuhyun padanya. Sejak dulu ia memang tidak pernah memberitahu secara detail perihal Donghae padanya. Berbeda dengan Yunho, pria sejak awal telah mengetahui semuanya karena tanpa sepengetahuannya pria itu telah membuntutinya dan mencaritahu sendiri perihal Donghae. Sedangkan Tiffany dan Jessica, keduanya mengenal Donghae karena mereka sering pergi ke klub milik pria itu, dan di sana reputasi Donghae sebagai seorang pria kaya yang berbahaya sudah sangat terkenal, jadi mereka berdua pada akhirnya tahu seperti apa Lee Donghae sebenarnya. Hanya Kyuhyun yang tidak pernah tahu mengenai Donghae karena ia sendiri merasa enggan untuk membagi informasi itu pada Kyuhyun. Lagipula Kyuhyun sendiri adalah satu-satunya teman dekatnya yang tidak memiliki reputasi buruk apapun. Selama ini Kyuhyun selalu hidup di jalan yang lurus dan hampir tanpa hambatan. Latar belakang Donghae yang penuh dengan catatan gelap itu mungkin akan tidak cocok dengan kepribadiannya yang sangat bersih dan tanpa cela.

“Aku tidak ingin selamanya bergantung pada ayahku. Bagaimanapun aku ini bukan putrinya, dan pada akhirnya aku pasti juga akan memiliki kehidupanku sendiri.” Ucap Yoona sedikit tidak yakin. Sejujurnya ia tidak tahu apakah pada akhirnya ia bisa terbebas dari belenggu Donghae atau tidak. Mengingat bagaimana sikap pria itu selama ini padanya. Ia jelas tidak akan dilepaskan dengan mudah. Tapi selama ia masih bisa berdiri dengan kakinya sendiri, apa salahnya jika ia mencoba.

“Kau benar, selamanya kita memang tidak bisa menggantungkan kehidupan kita pada orang lain. Yoona, apa kita masih bisa bertemu lagi lain waktu?”

Yoona sedikit heran dengan pertanyaan Kyuhyun, namun pada akhirnya ia menganggukan kepalanya juga untuk mengiyakan pertanyaan pria itu.

“Tentu saja, kita pasti akan bertemu lagi. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku hanya takut kau akan sulit untuk ditemui, mengingat kau sekarang adalah seorang model yang sangat terkenal.”

“Ck, kau terlalu berlebihan Cho. Kau bisa menemuiku kapanpun kau mau. Selama aku tidak memiliki pekerjaan, kita bisa pergi ke kafe untuk mengobrol seperti ini. Dan mungkin lain kali aku juga akan membawa Yunho oppa untuk bergabung bersama kita.”

“Baiklah, boleh aku meminta nomor ponselmu?”

Tanpa berpikir dua kali Yoona langsung memberikan nomor ponselnya begitu saja tanpa menghiraukan adanya binar bahagia di mata Kyuhyun yang mungkin nantinya akan menjadi sesuatu yang buruk. Sesuatu yang dinamakan harapan, yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan malapetaka jika sedang dirasakan oleh orang yang tidak tepat. Dan pertemuan mereka siang itu menjadi sesuatu yang sangat membahagiakan untuk Kyuhyun karena pada akhirnya ia dapat bertemu lagi dengan cinta pertamanya sejak masa kuliah. Namun untuk kali ini Kyuhyun telah bertekad untuk mendapatkan Yoona, bagaimanapun caranya ia pasti akan mendapatkan wanita itu untuk dirinya sendiri.

-00-

Asap tipis itu membumbung ke udara, disusul dengan asap berikutnya yang keluar bersamaan dengan hembusan berat napas seseorang yang sedang duduk di atas kursi kebesaran miliknya. Lee Donghae tampak memejamkan matanya sambil merasakan setiap mili nikotin yang mulai mengalir kedalam tenggorokannya. Malam ini ia sedang membutuhkan ketenangan. Dan sedikit bermain dengan seolang jalang sebenarnya sangat menggiurkan untuk mengurangi beban pikirannya yang menumpuk. Tapi ia tidak sedang menginginkan jalang. Saat ini ia hanya membutuhkan Yoona untuk menuntaskan gairahnya yang sedang membumbung tinggi ke udara.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak ingin pulang?”

“Ini kantorku, aku bebas melakukan apapun di sini. Lagipula apa yang kau lakukan di sini Hyuk?”

Hyukjae mengedikan bahunya acuh dan segera berjalan masuk kedalam ruangan Donghae. Niatnya untuk pulang ke rumah ia urungkan karena melihat sahabatnya sekaligus atasannya itu sedang bersantai sendiri sambil terus mengepulkan asap tipis dari bibirnya.

“Aku baru saja menyelesaikan tugasku. Bulan ini banyak sekali tugas yang harus kukerjakan hingga aku kekurangan waktu untuk tidur. Kapan kau akan memberiku jatah cuti? Aku mulai jenuh dengan semua pekerjaanku yang membosankan itu.” Protes Hyukjae berapi-api. Donghae memilih untuk tidak menanggapi Hyukjae dan kembali pada kegiatan awalnya yang sedang menghisap nikotin sambil memikirkan berbagai hal yang berdesak-desakan di dalam kepalanya. Hari ini ia mendapatkan laporan dari Jimin jika Yoona baru saja bertemu dengan teman kuliahnya, Cho Kyuhyun. Dan sedikit banyak ia mengetahui siapa itu Cho Kyuhyun. Pria itu dulu adalah salah satu sahabat Yoona yang sebenarnya memiliki perasaan lebih untuk Yoona. Tapi bodohnya Yoona karena ia tidak pernah menyadari perasaan itu dan hanya menganggap Kyuhyun sebagai sahabatnya belaka, sama seperti hubungannya dengan Yunho. Jadi sejauh ini ia masih aman dan tidak perlu melakukan tindak kekerasan apapun pada Kyuhyun.

“Bagaimana kabar Yoona? Lama ia tidak pernah mengunjungimu di kantor.”

Hyukjae seperti biasa, ia akan menjadi pihak yang paling cerewet saat menanyakan masalah Yoona. Mungkin karena pria itu merasa iba dengan nasib Yoona yang harus jatuh ditangan Donghae. Padahal Im Seulong sebenarnya memiliki banyak relasi yang lebih baik daripada seorang Lee Donghae yang sangat brengsek.

“Ia sedang sibuk, berkencan dengan banyak pria sesuka hatinya. Ia mulai menjadi wanita bebas setelah karirnya semakin melejit.”

“Wow, itu bagus.” Komentar Hyukjae singkat. Ia melirik jenaka kearah Donghae sambil menjentikan jarinya di depan wajahnya.

“Bukankah ia telah berhasil meniru gayamu. Like father like daughter.”

“Aku bukan ayahnya Hyuk, dan aku tidak akan pernah menjadi ayahnya.” Dengus Donghae ksal sambil menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat kearah Hyukjae. Meskipun ia memang lebih pantas untuk menjadi ayah Yoona, namun ia tidak akan pernah mau menjadi ayah bagi Yoona karena ia mengambil Yoona bukan untuk menjadi putrinya. Ia hanya ingin menepati janjinya pada Im Seulong. Dan tanpa disangka-sangka, ia justru merusak putrinya dan mulai kecanduan dengan tubuh Yoona yang manis. Oh… rasanya ia ingin segera pulang dan menyelinap masuk kedalam selimut hangat Yoona untuk ‘bermain’ dengan wanita itu sepanjang malam. Sayangnya, Yoona sekarang bukanlah wanita manisnya yang dulu lagi. Yoonanya yang sekarang lebih galak dan juga telah berubah menjadi wanita pembangkang yang sangat keras kepala. Ia hari ini bahkan dibuat kesal dengan sikap Yoona yang berani menunjukan sikap manis di depan Kyuhyun. Meskipun mereka berdua adalah sahabat baik sejak di bangku perkuliahan, namun ia tetap tidak suka jika wanitanya terlihat memberikan harapan untuk pria lain.

“Kau selalu saja berkata seperti itu, tapi kau juga menghancurkan hatinya. Kau tahu dia mencintaimu, tapi kau justru mempermainkannya dengan sikap brengsek sialanmu itu. Andai Seulong masih hidup, kau pasti akan habis di tangannya karena berani mempermaikan perasaan putrinya.”

“Sayangnya Seulong telah mati, membusuk bersama cacing-cacing dan juga hewan-hewan menjijikan di pemakaman. Yoona adalah urusanku, kau tidak perlu mencampurinya Hyuk. Urus saja masalahmu sendiri dan jangan bersikap seolah-olah kau adalah flower boy yang suci. Aku tahu betapa brengseknya kau selama ini. Menghamili lima wanita hah, dan tidak mau mempertanggungjawabkannya.” Ucap Donghae santai, namun sarat akan nada sindiran di dalamnya. Sejak awal ia memang tidak suka kehidupan pribadinya dicampuri oleh orang lain. Itulah salah satu alasannya mengapa ia memilih untuk hidup sendiri, menjauh dari sikap mengekang ayahnya yang memuakan. Dan sekarang Hyukjae justru bersikap menyebalkan dengan terlihat sok prihatin terhadap kehidupan Yoona, padahal ia sendiri juga sama brengseknya dengan dirinya. Atau mungkin justru lebih parah!

“Lima wanita itu adalah kesalahan. Mereka sendiri yang bodoh karena tidak menggunakan kontrasepsi saat berhubungan denganku. Dan mereka semua jelas sangat berbeda dengan Yoona. Yoona adalah wanita terhormat, ia tidak sama dengan jalang-jalang yang sering kau gunakan selama ini.”

“Apa kau lupa jika Yoona juga terlahir dari seorang jalang? Jalang kesayangan Seulong lebih tepatnya. Karena itulah Seulong mau mempertanggungjawabkan perbuatannya karena ia sudah tergila-gila dengan wanita itu. Sayangnya Jang Nara terlalu serakah dan memutuskan untuk meninggalkan keluarganya bersama pria lain. Dan sepuluh tahun kemudian Seulong justru pergi meninggalkan Yoona untuk selama-lamanya karena ulah licik rivalnya.”

Donghae membuang puntung rokonya ke dalam asbak, dan mulai beralih pada minumannya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering akibat terlalu banyak menghabiskan batang nikotin. Malam ini ia merasa sangat malas untuk melakukan apapun dan hanya ingin menenggelamkan dirinya kedalam gelapnya ruangan tempat ia bekerja setiap hari agar pikirannya dapat bekerja normal kembali. Pagi ini ia baru mengetahui satu fakta jika karyawan yang telah direkomendasikan oleh pemimpin kantor cabang perusahaannya di Busan adalah Cho Kyuhyun. Dan ia tidak memiliki kesempatan untuk memindahkan pria itu lagi ke Busan karena kinerja pria itu memang bagus. Jadi, ia mungkin akan merelakan Yoona untuk terus berhubungan dengan pria bermarga Cho itu selama ia ditempatkan di kantor pusat miliknya di Seoul.

“Hae, apa kau sudah menceritakan perihal kecelakaan Seulong pada putrinya?”

“Menurutmu?” Tanya Donghae tanpa minat. Tentu saja ia belum menceritakan hal itu pada Yoona, dan mungkin ia tidak akan pernah menceritakannya karena hal itu pasti akan menyakiti Yoona. Wanita itu telah ditinggal pergi oleh ayahnya saat usianya masih sangat muda. Ia tidak akan membuka luka lama itu lagi pada Yoona dan hanya membiarkan wanita itu terus bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.

“Tapi ia berhak mengetahuinya. Kau juga harus memberikan harta warisan milik Seulong pada Yoona saat wanita itu genap berusia dua puluh lima tahun. Dan satu hal lagi, jika kau memang tidak akan pernah membalas rasa cintanya, lebih baik kau melepaskan Yoona untuk pria lain.”

Donghae menggeram kesal menghadapi sikap cerewet Hyukjae sambil menegak kasar minumannya. Ia pikir Lee Hyukjae sudah terlalu ikut campur kedalam masalahnya dan bersikap seolah-olah ia dalah pria bijak yang baru saja turun dari surga.

“Kau terlalu banyak mencampuri urusanku Hyuk. Masalah Yoona, itu adalah tanggungjawabku. Dan saat ini aku merasa belum ada pria manapun yang tepat untuk bersanding dengan Yoona, jadi aku tidak akan melepaskan Yoona hingga aku benar-benar menemukan seorang pria yang tepat untuknya.”

“Ck, kau itu rumit dan juga membingungkan. Di satu sisi kau bersikap sebagai seorang ayah yang terlalu over protective pada putrinya, namun di sisi lain kau juga bersikap sebagai pria brengsek dengan merusak kepolosannya. Sebenarnya peran mana yang sedang kau mainkan saat ini? Kau jelas tidak akan melakukannya terus menerus karena pada akhirnya Yoona juga akan memiliki kehidupannya sendiri.”

“Kau tahu Hyuk, terkadang pemikiran yang terlalu jauh kedepan juga akan menyusahkanmu. Jadi untuk apa kau harus merepotkan kehidupan Yoona di masa depan yang belum pasti akan terjadi atau tidak. Yang jelas saat ini aku sedang memainkan peranku sebagai seorang wali untuknya. Aku terikat janji dengan Seulong, dan saat ini aku mencoba untuk memenuhinya.” Ucap Donghae mulai emosi. Pria itu kemudian mulai menyibukan diri dengan berbagai email dari rekan kerjanya untuk meredam emosinya pada Hyukjae. Tapi sialnya, ia justru disuguhkan dengan gambar pemotretan Yoona yang sedang menggunakan pakaian renang berwana merah menyala di pinggir kolam renang. Salah satu anak buahnya pasti baru saja menyelesaikan tugasnya untuk memberikan laporan harian terkait kegiatan Yoona selama ini. Dan meskipun itu sangat berguna untuk memantau Yoona, tapi terkadang itu juga cukup menyebalkan karena ia harus melihat Yoona sibuk berinteraksi dengan teman-teman sialannya yang jelas memiliki ketertarikan pada Yoona.

“Kau memiliki stok wanita? Aku butuh pelepasan malam ini.”

Tiba-tiba Donghae bangkit berdiri sambil mengacak asal rambutnya dan juga melepas simpul dasinya yang menyesakan. Ia lalu memberikan tatapan pada Hyukjae agar mengikutinya untuk pergi ke klub dan bersenang-senang bersama wanita-wanita penggoda di sana. Seharian ini pikirannya terlalu kacau dan ia tidak akan mungkin memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaanya. Jadi lebih baik ia pergi bersenang-senang untuk meredakan denyutan masalah yang semakin mengganggu di kepalanya.

“Hmm… aku suka ini. Kau memang lebih baik menyalurkan seluruh emosimu pada mereka, dan aku akan mencarikan satu wanita terbaik khusus untukmu malam ini dude. Mari kita pergi bersenang-senang.”

Hyukjae segera merangkul pundak Donghae penuh semangat dan menggiring pria itu menuju basement untuk mengambil mobilnya yang berada di sana. Membuat Donghae bahagia adalah salah satu tugasnya karena selama ini ia sudah berhutang budi terlalu banyak pada Donghae. Meskipun ia tidak pernah setuju dengan sikap Donghae yang gemar mempermainkan Yoona, namun ia juga tidak akan mencegah Donghae untu bermain-main dengan para jalang karena mereka berdua adalah pria-pria bebas yang sampai kapanpun tidak akan pernah terikat pada sebuah komitmen.

-00-

Pukul dua pagi, Yoona keluar dari kamarnya setelah mendengar suara ribut-ribut yang cukup mengganggu dari lantai bawah. Dengan menggunakan jubah tidur yang tipis, Yoona menuruni tangga di mansion Donghae untuk sedikit mengintip apa yang sedang terjadi di bawah sana. Tapi sesuai dugaan, wanita itu langsung menemukan Donghae sedang bercumbu dengan seorang wanita di ruang tamu dan mungkin sebentar lagi mereka akan melangkah ke tahap yang lebih intim.

“Eww… kau menjijikan Lee Donghae! Pergilah ke kamarmu jika kau memang ingin meniduri jalang ini.”

“Sayang, siapa wanita itu?” Tanya wanita itu heran. Ia membelai kepala Donghae yang sudah setengah mabuk sambil menuntut penjelasan pada pria itu agar segera menjawab pertanyaannya. Namun Donghae hanya menyeringai kecil kearah Yoona sambil mengibaskan tangannya agar Yoona pergi.

“Lebih baik kau kembali ke kamarmu gadis kecil. Jangan mengganggu urusan pria dewasa.”

“Cih, aku bukan gadis lagi tuan Lee. Apa kau lupa, siapa yang telah mengubah gadis polos ini menjadi seorang wanita dewasa?” Tanya Yoona kesal sambil berkacak pinggang. Ia mendengus jijik kearah Donghae yang kembali serius dengan mainannya. Ia pun berencan untuk kembali ke kamarnya, sesuai dengan perintah Donghae sebelumnya. Namun tanpa diduga Donghae justru mencekal tangannya dan mendorong pergi wanita berambut pirang yang sebelumnya sedang menjadi objek pelampiasan gairahnya.

“Tetap di sini, temani aku.”

Donghae mendorong kasar wanita berambut pirang itu dan langsung menarik tangan Yoona agar terduduk di pangkuannya. Pria itu tidak peduli lagi dengan teriakan tidak terima sang jalang yang seharusnya malam ini menjadi objek pemuas nafsunya. Saat ini yang ia butuhkan hanyalah Yoona. Dan sejak tadipun seluruh pikirannya juga telah dipenuhi oleh sosok Yoona yang menggairahkan.

“Minggir, aku tidak mau menjadi budak seksmu Lee Donghae!” Geram Yoona kesal. Ia mendorong kepala Donghae menjauh darinya sambil memalingkan wajahnya ke samping agar Donghae tidak menciumi wajahnya dengan mulut penuh aroma alkohol yang sangat menjijikan. Seketika Yoona ingin muntah saat mencium aroma alkohol yang begitu pekat dari hembusan napas Donghae. Pria itu pasti telah meminum berbotol-botol alkohol hingga berakhir dengan sangat menjijikan seperti ini.

“Aku tidak menerima penolakan.”

“Dan aku juga tidak menerima paksaan.” Balas Yoona tak kalah sengit sambil memberontak hebat di dalam kungkungan Donghae. Wanita itu mencoba berdiri dan segera pergi dari hadapan Donghae agar ia tidak perlu melayani nafsu binatang pria brengsek di depannya. Ia muak hanya menjadi pemuas nafsu pria itu saat malam hari, sedangkan di siang hari, mereka hanya akan menjadi dua individu yang tidak saling kenal dan hanya sibuk dengan urusan masing-masing.

“Berhenti bergerak atau aku akan menggunakan kekerasan.”

Plakk!

Yoona menampar pipi Donghae keras dan membuat pria itu seketika tersadar dari efek mabuknya. Pria itu menatap Yoona tajam sambil mencengkeram pinggang Yoona kuat-kuat hingga Yoona dibuat meringis karena menahan sakit dari cengkeraman pria itu.

“Kau berani menamparku?” Desis Donghae tidak terima. Yoona membalas tatapan Donghae sama tajamnya sambil mendongak ponggah untuk menunjukan pada pria itu jika ia bukanlah wanita lemah yang hanya akan diam atas seluruh perbuatan kurangajarnya. Sudah saatnya ia menunjukan pada Donghae jika sebenarnya ia tidak selemah itu. Ia bisa saja menggunakan kekerasan untuk melawan Donghae agar pria itu tidak semakin menginjak-injak harga dirinya yang telah hancur.

“Kenapa? Kau terkejut? Hmm… aku tidak selemah yang kau pikirkan Lee Donghae. Aku bisa saja bersikap kasar padamu jika kau juga bersikap kasar padaku.”

“Kurangajar, kau anak jalang sialan yang tak tahu terimakasih. Aku yang telah memungutmu dari panti asuhan, dan aku yang telah membiayaimu hingga kau bisa hidup mewah seperti ini. Tanpaku, kau hanya akan menjadi sampah di panti asuhan itu bersama gelandangan-gelandangan kotor yang tinggal di sana. Asal kau tahu, kau bukanlah wanita terhormat Yoona. Kau terlahir dari seorang jalang yang dipungut oleh ayahmu di bar. Jadi jangan bersikap seolah-olah kau adalah wanita terhormat yang bisa seenaknya bersikap sombong di hadapanku.”

Yoona mencengkeram kerah kemeja Donghae kuat-kuat sambil menahan seluruh gejolak emosi yang sebentar lagi akan meledak. Pria itu baru saja menghinanya dan menyebutnya sebagai wanita rendahan yang tak terhormat. Hatinya benar-benar sakit saat mendengar semua penghinaan itu keluar dari mulut Donghae. Selama bertahun-tahun ia memendam perasaan cinta pada pria itu dan selalu diam atas seluruh perbuatan pelecehan yang pria itu lakukan padanya. Namun pria itu justru semakin dalam menancapkan duri di hatinya. Apakah semua pelecehan itu tidak cukup bagi Donghae untuk mengoyak seluruh jiwanya? Ia bahkan berencana untuk mengakhiri hidupnya agar ia tidak perlu lagi bertemu dengan pria brengsek sialan di depannya. Sayang, ia Tuhan justru menyelamatkannya saat ia berusaha untuk bunuh diri tiga tahun yang lalu.

“Anak dari seorang jalang sepertiku jauh lebih baik daripada dirimu, pria tua menjijikan yang tega menghancurkann kepolosan seorang gadis yang saat itu baru berusia dua puluh tahun. Asal kau tahu Lee Donghae, aku sendiri sudah muak hidup denganmu. Aku ingin bebas dari cengkeramanmu dan hidup dengan bahagia bersama orang yang kucintai. Tapi kau selalu menahanku dan memperlakukanku layaknya budak seksmu yang bisa kau sentuh setiap saat. Aku membencimu Lee Donghae!”

Dengan seluruh tenaga yang ia miliki, Yoona mendorong tubuh Donghae kuat-kuat hingga pria itu terhempas ke belakang dan ia bisa segera melarikan diri, menjauh menuju kamarnya di lantai dua. Saat ini hatinya remuk, dan ia hanya ingin menangis sekencang-kencangnya di kamarnya sambil menenggelamkan kepalanya di atas bantal. Sejujurnya ia tidak pernah sekuat itu. Hatinya selama ini selalu rapuh dan terlampau tidak berdaya pada kuasa Donghae. Namun ia selalu bersembunyi dibalik topeng keangkuhan dan berpura-pura jika semua hal yang ada dunia ini dapat ia genggam dengan mudah. Padahal, nyatanya semua itu hanya kepalsuan semata yang ia ciptakan untuk melawan sang diktator Lee Donghae.

“Kau keparat Lee Donghae! Keparat! Aku membencimu!”

Yoona menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya sambil memaki-maki Donghae sekeras yang ia bisa. Hatinya yang hancur terasa semakin hancur dengan seluruh kata-kata Donghae yang menyakitkan. Terkadang ia berpikir, mengapa ayahnya dulu tega menyerahkannya pada seorang monster seperti Lee Donghae. Ia lebih baik berada di panti asuhan dan hidup serba kekurangan daripada ia harus berakhir di dalam cengkeraman Donghae yang tidak pernah sedikitpun memberikan kebahagiaan untuknya. Dan mengenai asal usul ibunya, bahkan ayahnya selama ini tidak pernah mengatakan hal sekasar itu di depannya dan selalu menceritakan hal-hal baik mengenai ibunya. Tapi sekarang, Donghae justru memperjelas status ibunya yang berasal dari kasta terbawah dalam tatanan masyarakat hanya untuk merendahkan harga dirinya yang telah hancur sejak tiga tahun yang lalu.

Sambil meratapi nasibnya yang sial, Yoona meringkuk sendiri dalam kesedihan di samping tempat tidurnya yang dingin. Kedua matanya kini terasa ikut perih karena lelehan air mata yang tak kunjung kering sejak tadi. Entah akan berapa banyak air mata yang ia teteskan setelah ini. Mungkin seluruh lautanpun tidak akan cukup untuk menampung seluruh air matanya, karena selama Lee Donghae masih bernafas di sekitarnya, maka ia tidak akan pernah berhenti menangis karena pria itu.

-00-

Prang!

“Sial!”

Donghae mengacak rambutnya frustrasi sambil melemparkan apapun yang bisa dijangkaunya untuk melampiaskan seluruh amarahnya yang terus menggelegak di ubun-ubun kepalanya. Sejak semalam perasaan bersalah itu tak kunjung hilang dan justru semakin menggila di dalam kepalanya. Bayang-bayang Yoona yang sedang menatapnya dengan sorot terluka dan hati hancur membuat Donghae tidak pernah bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri karena telah memperlakukan wanita itu dengan sangat kejam. Bahkan ia melanggar sendiri sumpahnya di depan Seulong untuk tidak menyebutkan asal usul ibu Yoona di depan wanita itu, karena sejak dulu Seulong tidak ingin Yoona hidup dengan perasaan rendah diri hanya karena latar belakang ibunya yang bekerja sebagai wanita malam. Sayangnya semalam Yoona justru memancing emosinya dengan menampar wajahnya dan membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya yang telah dilingkupi oleh pengaruh alkohol. Kini setelah semua kesadarannya telah kembali, ia justru dilanda rasa bersalah yang tak bertepi hingga membuatnya pusing setengah mati karena ia tidak bisa melakukan apapun. Ia tidak mungkin pergi mendatangi Yoona dan mengatakan pada wanita itu jika ia menyesal karena harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan hal rendahan seperti itu. Huh, meminta maaf sama sekali bukan gayanya. Tapi ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri dengan bersikap baik-baik saja jika pada kenyataanya ia merasa bersalah. Ia merasa bersalah pada Yoona hingga ia nyaris gila karena tidak bisa memperbaiki keadaan yang terlanjur keruh karena perbuatannya.

Prang!

Brakk!

“Sialan! Kau tidak seharusnya membuatku seperti ini Yoona!”

Dengan gusar Donghae segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat keluar dari ruang kerjanya. Malam ini ia harus menyelesaikan permasalahannya dengan Yoona, apapun yang terjadi. Persetan dengan harga diri yang jelas akan jatuh karena seorang Lee Donghae tidak pernah meminta maaf pada siapapun.

Tok tok tok

“Buka pintunya.”

Dengan kasar Donghae mengetuk pintu kamar Yoona membabi buta hingga membuat para maidnya bergidik takut. Melihat Donghae yang tampak kusut di depan kamar Yoona membuat mereka segera lari terbirit-birit untuk menghindari sang tuan yang sedang dilingkupi oleh emosi. Namun diantara para pelayan itu, tuan Kim justru berjalan mendekat kearah Donghae sambil membungkuk hormat pada pria itu.

“Dimana Yoona?”

“Maaf tuan, nona Yoona pergi dengan seorang pria siang tadi.” Lapor tuan Kim sungguh-sungguh. Mendengar itu, wajah Donghae terlihat semakin menggelap, dan ia dengan kasar melampiaskan seluruh amarahnya pada pintu kamar Yoona. Ia menendang pintu kamar itu sekeras yang ia bisa hingga salah satu engsel yang terpasang di sisi pintu lepas dan hancur di kakinya.

“Siapa yang mengajak Yoona pergi hari ini? Kenapa kau tidak mencegahnya.”

Tuan Kim sedikit gugup mendengar pertanyaan dari Donghae sambil beringsut mundur. Sekarang justru dirinya yang menjadi sasaran kemarahan Donghae. Alih-alih Yoona yang harus menanggungnya. Namun karena tuan Kim datang di saat yang tidak tepat, sekarang pria itu juga ikut terkena imbasnya dari kemarahan Donghae yang mengerikan.

“Maaf tuan, saya tidak tahu dengan siapan nona Yoona pergi.” Jawab tuan Kim sambil menunduk. Donghae semakin marah dan melampiaskan semua kemarahannya dengan menedang pintu kamar Yoona sekali lagi. Seharian ini ia terus berkutat dengan rasa penyesalannya karena telah menghina wanita itu dengan kata-kata kasarnya kemarin, namun di luar dugaan, Yoona saat ini justru bersenang-senang dengan pria lain dan telah melupakan seluruh masalah mereka.

Setelah puas melampiaskan kemarahannya di depan tuan Kim, Donghae segera berjalan keluar dari mansionnya dan berniat untuk mendinginkan kepalanya di klub. Ia sudah bosan dengan seluruh perasaan menjijikan yang menderanya sejak tadi pagi. Bahkan ia merasa seperti tidak mengenali dirinya sendiri yang tiba-tiba memiliki sebuah perasaan yang dinamakan rasa penyesalan untuk seorang Im Yoona yang sama sekali tak memiliki arti apapun di hidupnya.

“Hahaha… dasar bodoh! Kau bahkan tidak bisa membuka kaleng minuman yang sangat mudah seperti ini? Huh, berikan padaku. Aku akan membukanya untukmu.”

Donghae mengepalkan tangannya kesal saat mendengar suara tawa Yoona dengan seorang pria yang ia ketahui bernama Kyuhyun. Saat ini dua orang manusia itu sedang tertawa terbahak-bahak di kursi taman sambil bermain-main dengan kaleng soft drink yang isinya berhamburan ke mana-mana karena Yoona sengajanya mengocoknya dengan keras.

“Kyu, bagaimana dengan wanita incaranmu, kau sudah menyatakan perasaanmu padanya?”

Donghae mengurungkan niat untuk pergi dan memilih untuk pergi tak jauh dari posisi Yoona dan Kyuhyun agar ia dapat mencuri dengar percakapan yang sedang mereka lakukan.

“Entahlah, aku belum melakukannya. Wanita itu sepertinya tidak mencintaiku.”

“Hah, tidak mungkin.” Sangkal Yoona tidak percaya. Ia yakin wanita manapun pasti akan bertekuk lutut dengan mudah pada Kyuhyun karena pria itu memiliki karisma yang begitu memikat. Hanya wanita bodoh yang akan menyia-nyiakan cinta tulus Kyuhyun jika sampai ia menolaknya. Dan tanpa mereka sadari, Lee Donghae saat ini sedang menyeringai licik di belakang Kyuhyun sambil memikirkan rencananya yang luar biasa. Ia akan merusak persahabatan diantara mereka berdua dengan membeberkan pada Yoona, jika Cho Kyuhyun sebenarnya mencintai sahabatnya sendiri yang tak lain adalah Yoona.

“Mungkin saja Yoona, karena wanita yang dicintai sahabatmu ini adalah kau. Kyuhyun mencintaimu Yoona.”

Yoona berjengit kaget di sebelah Kyuhyun sambil menatap tak percaya pada Donghae yang entah sejak kapan telah berada di sana. Sedangkan Kyuhyun, ia refleks memeluk pinggang Yoona sambil menarik  Yoona untuk mendekat kearahnya. Namun dengan kasar Donghae langsung memisahkan mereka berdua dan mencengkeram pinggang Yoona agar berdiri di sampingnya.

“Pria bodoh ini telah mencintaimu Yoong. Ia merusak hubungan persahabatan diantara kalian dengan perasaan cintanya padamu. Apa kau tidak pernah menyadari perasaan itu?”

“Kyu… benarkah kau mencintaiku?”

Kyuhyun menunduk lesu di depan Yoona sambil mengangguk pasrah di depan wanita itu. Harapannya untuk mendekati Yoona secara perlahan, hancur begitu saja karena ulah Lee Donghae yang datang tiba-tiba diantara mereka berdua.

“Maafkan aku Yoona, aku tidak bermaksud merusak hubungan persahabatan kita dengan perasaan yang kumiliki. Tapi aku memang mencintaimu sejak kita masih bersama-sama menempuh pendidikan di bangku perkuliahan. Tolong maafkan aku Yoona.”

Yoona menatap Kyuhyun tak percaya sambil menunjukan rasa bersalahnya pada pria itu. Selama ini ia tidak pernah tahu jika Kyuhyun ternyata menyimpan perasaan yang begitu besar padanya. Hatinya terlanjur tertutup oleh cintanya untuk Donghae, hingga ia tak pernah menyadari adanya cinta Kyuhyun yang begitu tulus untuknya. Namun sebelum Yoona berhasil merangkai kata-kata di kepalanya untuk menjawab kata-kata Kyuhyun, Donghae sudah lebih dulu menariknya dan menyeret tubuh kurusnya kedalam rumah dengan tarikan kasar hingga Yoona meringis kesakitan. Dan dengan suara menggelegar, Donghae memerintahkan anak buahnya untuk mengusir Kyuhyun dari rumahnya agar Yoona tidak bisa menemui pria itu lagi.

“Lepaskan! Kubilang lepaskan! Apa yang salah denganmu Lee, kau jahat! Aku membencimu!”

Yoona berteriak sekencang yang ia bisa sambil mencoba melepaskan tangan Donghae dari lengannya karena pria itu terus menariknya tanpa perasaan seperti hewan. Dan saat mereka tiba di ujung tangga, Donghae tiba-tiba menghempaskan tubuhnya begitu begitu saja hingga wanita malang itu membentur tembok di belakangnya.

“Masuk ke kamarmu Yoona.” Desis Donghae penuh emosi. Pria itu mencoba menormalkan degup jantungnya yang menggila karena terlalu emosi dengan berbagai hal yang menghimpit kepalanya. Seharian ini ia terus merasa bersalah pada Yoona karena telah menghina wanita itu dengan menyebutkan asal usul ibunya, dan sekarang ia semakin emosi karena wanita yang dipikirkannya itu sejak tadi justru sedang bersenang-senang dengan sahabat lamanya.

“Pergi dari sini brengsek, aku muak melihat wajahmu!” Ucap Donghae keras sambil beringsut mundur untuk naik ke kamarnya. Namun Donghae justru menahan tangan Yoona dan memojokan wanita itu ke dinding sambil mencengkeram dagu wanita itu kuat.

“Kau semakin berani padaku Yoona, kau tidak takut lagi padaku?” Desis Donghae penuh peringatan.

“Huh, kenapa aku harus takut padamu? Kau bahkan bukan ayahku, jadi untuk apa aku harus takut padamu?” Kekeh Yoona datar sambil memandang acuh pada Donghae. Ia sungguh muak hidup dipermainkan seperti ini. Setiap hari pria itu bebas bermesraan dengan kekasih-kekasih jalangnya, sedangkan dirinya tidak boleh melakukan apapun dan harus tunduk di bawah kekuasaannya. Apakah itu adil?

“Apa yang terjadi padamu Yoona, kemana perginya Yoonaku yang manis dan polos?”

Sambil mencengkeram dagu Yoona, Donghae mendesisi pelan sambil menatap manik karamel itu tajam. Dan seketika ingatanya mulai terlempar ke masa beberapa tahun silam, saat Yoona masih menjadi gadisnya yang polos dan juga manis tanpa sisi liar yang pembangkang.

 

Flashback

“Bagaimana Kim, apa yang ingin kau laporkan hari ini?”

Donghae sibuk membolak-balik kertas di depannya sambil menunggu tuan Kim bercerita. Setiap hari ia tidak pernah absen mendengarkan tuan Kim melaporkan perkembangan Yoona yang semakin hari semakin tumbuh dengan cepat. Bahkan tak terasa, kini Yoona telah genap berusia dua puluh tahun. Gadis polos yang dulu pernah ia adopsi dari panti asuha itu perlahan-lahan telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang begitu mengagumkan. Sebenarnya tanpa Yoona sadar, Lee Donghae sering mengamati gadis itu melalui cctv di ruangannya. Namun baru beberapa minggu terakhir ini Lee Donghae menyadari jika ternyata putri dari Im Seulong itu begitu cantik. Wajah polosnya yang penuh kelembutan itu berhasil membuat hatinya menghangat saat melihat senyum manisnya tiap ia mengamati wanita itu diam-diam dibalik layar cctvnya.

“Hari ini nona Yoona baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya bersama teman-teman kampusnya. Dan ia baru saja menyelesaikan makan malamnya.”

“Hmm, apa lagi yang ia lakukan hari ini?”

“Nona Yoona menanyakan anda lagi tuan. Apa anda tidak ingin menemuinya?”

Donghae menghentikan kegiatan mengecek laporan bulanan kantornya dan mulai menatap Kim Jungki serius.

“Sejujurnya akhir-akhir ini aku mulai berpikir untuk keluar dari persembunyianku dan menemuinya. Setelah melihat bagaimana mengagumkannya dirinya, aku jadi berubah pikiran untuk bersembunyi lebih lama darinya. Padahal aku berencana untuk mengusirnya pergi dari mansionku saat ia berusia dua puluh lima tahun sesuai dengan surat wasiat yang dituliskan Seulong. Saat ia berusia dua puluh lima tahun, aku akan memberikan seluruh harta warisan peninggalan Seulong padanya. Dan setelah itu aku akan terbebas dari tanggungjawabku untuk menjaganya. Tapi siapa sangka jika gadis panti polos sepertinya bisa tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang cantik.” Ucap Donghae sambil tersenyum misterius kearah tuan Kim. Pria itu membayangkan bagaimana senyum Yoona yang selama ini selalu ia kagumi dari kejauhan. Dan semua itu bermula dari ketidaksengajaannya yang saat itu berencana untuk  memantau kinerja anak buahnya. Ia yang saat itu sedang mengamati area taman belakang tiba-tiba merasa tertarik dengan Yoona yang saat itu sedang tersenyum sumringah bersama salah satu maidnya. Sejak saat itu ia menjadi seperti seorang penguntit yang selalu sibuk mengamati Yoona dari kejauhan. Dan terkadang ia juga dibuat tersenyum sendiri oleh tingkah manis Yoona yang menggemaskan.

“Apa anda menyukai nona Yoona?”

“Apa Kim? Apa yang  baru saja kau katakan? Sudah berapa lama kau bekerja padaku Kim hingga kau harus menanyakan pertanyaan sampah seperti itu?” Kekeh Donghae geli. Pria tua itu langsung menundukan kepalanya meminta maaf, namun setelah itu ia langsung mendongakan kepalanya lagi sambil menatap Donghae sungguh-sungguh.

“Nona Yoona…. ia berbeda dengan kekasih anda selama ini tuan. Jangan sakiti nona Yoona.”

“Apa maksudmu Kim? Aku mempekerjakanmu di sini bukan untuk mencampuri urusanku. Sejak aku memungutnya dari panti asuhan, dia sepenuhnya berada di bawah kekuasaanku. Jadi aku bebas memperlakukannya sesuka hatiku.”

Tuan Kim menundukan kepalanya sekilas dan segera pergi meninggalkan Donghae sendiri di ruangannya. Ia merasa tidak berhak lagi mengatakan apapun pada Donghae karena Yoona memanglah bukan tanggungjawabnya. Di sana kedudukannya hanya sebagai seorang kepala pelayan dan tidak berhak sedikitpun mengeluarkan suara untuk membela nona mudanya.

Selepas kepergian tuan Kim, Donghae memutuskan untuk keluar dari ruangannya. Ia berjalan dengan langkah tenang menuju kamar Yoona yang berada di ujung lorong di sudut kiri. Bunyi sol pantofel yang beradu dengan keramik marmer yang keras membuat langkah Donghae terdengar lebih mencekam dan juga berbahaya. Sayang, Yoona tidak tahu jika sang monster telah keluar dari persembunyiaannya, dan ia hendak menengok sang mangsa yang saat ini sedang tertidur lelap dibalik selimut hangatnya.

Krieett

Donghae membuka perlahan pintu kayu di depannya dan langsung menemukan gundukan putih di tengah-tengah ruangan yang begitu mencolok. Sang putri tidur yang telah menjadi target incarannya sejak berminggu-minggu yang lalu, kini tengah bergelung manja di balik selimut dengan napas teratur yang begitu menggemaskan. Melihat Yoona yang tampak polos di bawahnya membuat Donghae merasa aneh dan juga geli. Ini sungguh pencapaian yang luar biasa, karena untuk pertama kalinya seorang wanita dapat hidup dengan baik di dalam mansionnya selama lebih dari enam tahun. Sejujurnya ia tidak pernah suka dengan kedatangan orang baru yang dapat merusak kehidupan bebasnya yang menyenangkan. Tapi untuk Yoona, itu pengecualian. Ia terlanjur menyanggupi permintaan Seulong yang saat itu sedang sekarat. Jadi karena alasan itulah tidak pernah menampakan diri di hadapan Yoona, karena ia malas bertemu dengan gadis kecil itu. Dan ia lebih suka hidup sendiri dengan seluruh hidupnya yang bebas tanpa kekangan.

“Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu gadis kecil. Dan aku juga tidak sabar untuk mencicipimu.” Bisik Donghae lirih sambil mencondongkan tubuhnya sedikit ke bawah. Setelah itu Donghae melihat adanya gerakan-gerakan kecil yang berasal dari tubuh Yoona. Namun pria itu tak berniat sedikitpun untuk menegakan tubuhnya. Ia memilih untuk bertahan pada posisinya sedikit lebih lama sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Mm… ayah… ayah…. tunggu, jangan pergi!”

Seketika Yoona membuka matanya nyalang sambil menatap linglung pemandangan di sekitarnya. Wanita itu dalam ketidaksadarannya masih sempat bertatapan dengan Donghae selama empat detik, dan setelah itu ia kembali memejamkan matanya dengan napas teratur yang tampak tenang.

Sedangkan Donghae, ia tampak mematung di tempat tanpa mengucapkan sepatah katapun sambil menatap Yoona dalam. Untuk pertama kalinya ia dibuat tercengang oleh seorang wanita hanya dengan satu tatapan mata yang sangat singkat. Ia sepertinya mulai gila.

“Kau milikku Yoona. Hanya aku yang boleh memilikimu, hanya aku.”

Dan malam itu, tanpa Yoona sadari, ia telah terlelap dengan serangkaian doktrinasi yang di masa depan akan membuatnya terus terbelunggu di dalam kungkungan sang pria bermata coklat.

Flashback end

 

“Kau telah berubah Yoona…”

“Memang, dan kau terlalu lambat untuk menyadarinya.”

Bugh

Saat Donghae lengah, Yoona langsung mendorong dada pria itu kuat-kuat hingga Donghae terdorong ke belakang dan tanpa sadar cengkeraman pria itu pada dagunya lepas. Melihat itu, Donghae memilih untuk diam sambil memperhatikan setiap langkah Yoona yang perlahan-lahan mulai meninggalkannya sendiri di ujung tangga. Ini adalah terakhir kalinya ia membiarkan Yoona bersikap kasar di hadapannya. Besok, tidak akan ada ampun lagi untuk wanita liar itu.

 

23 thoughts on “Black Swan : Strangers (Three)

  1. Greget aku sama sifat nya donghae ingin ku lempar ke sungai amazon biar di makan binatang buas disana
    Author cerita mu benar2 keren😎
    Ku tunggu kelanjutannya fighting💪💪😉😉

  2. Makin seru dan bikin penasaran..
    Kasian Yoona, dan sikap Donghae bikin emosi.. aaa next chapter ditunggu thor.. fighting

  3. cerita d preview.a ini, eeeeh d full.a malah ndk ada.
    brrti sudah jdi bbrapa part ne.
    cpat d post thor

  4. Wahhh gimana kelanjutannya ya yoona udah mulai ngebangkang ya dan donghae sebernarnya suka tpi tak mau mengakui bukin yang ada NC chingu sesekali 😂😂

  5. As expected, bagus thor..
    Asli makin sebel sm donghae jahat bgt dahh..
    Pngn bgt ada YoonHae moment yg manis dong, ribut mulu sh mrk..
    Next chapter jgn lama2 thor 🙂
    Thank u 🙂

  6. Kau benar-benar brengs*k lee,,, kau akan menyesali semua perbuatanmu itu lee,,, suatu saat nanti kau pasti akan bersujud dikaki yoong untuk mendapatkan maaf dan cintanya,,, ingat, karma akan menghampirimu lee…

    Next author-nim,,, gregetan aku bacanya,,

  7. Donghae jahat bgt klo dia g mau yoona jadi milik orang lain seharusnya dia belajar mencintai yoona..
    Next thor😊

  8. Haeeeee jahat banget sich
    Sbnr ny hae itu knp bsa jd monster ky gitu sich.
    Truz ayah ny yoong bisa” ny nitipin yoona ke hae.
    Aku enggak sabar sm kelanjutan ny

  9. Kirain sama kaya yg di teaser ceritanya…
    makin sukaa, Donghae kejam sih tapi selama Yoona bisa mengimbangin kekejaman Donghae sih gk terlalu masalah hehe..
    tapi yg bikin gk ngerti itu kenapa Donghae tetep gak bisa bales rasa cinta Yoona?
    di tunggu part yg di teaser nya un ..

  10. Donghae jahat banget, kasian yoona nya. Aku tunggu lanjutannya kak, aku juga penasaran sama kematoan seulong .

  11. Kenapa sih donghae selalu kasar sama yoona…… Sebenarnya donghae suka juga sama yoona apa enggak sih???

  12. Donghae tega banget sih sama yoona. Sebenarnya donghae suka sama yoona apa enggak sih?? Kok gk boleh ada yang deket sama yoona.

  13. kasian banget sama yoona yang di manfaatin donghae doang. semoga aja donghae cepet bisa suka sama yoona.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.