Black Swan: Fake Love (Two)

 

 

“Yoona, kau benar-benar akan pergi?”

            Yoona menoleh sekilas kearah gadis kecil di sebelahnya sambil memasukan barang-barangnya yang sedikit kedalam tas jinjingnya yang kecil.

            “Pria baik hati itu telah mengadopsiku Seohyun, jadi aku harus pergi.”

            Yoona terlihat berjalan kesana kemari untuk memasukan beberapa barang-barangnya yang masih tertinggal di dalam kamarnya. Semua barang itu adalah satu-satunya barang berharga miliknya yang dulu pernah diberikan oleh orangtuanya. Sayang, kecelakaan itu telah merenggut ayahnya, sehingga selama beberapa tahun ini ia harus merasakan sulitnya tinggal di panti asuhan. Terkadang ia merasa marah pada Tuhan karena Ia dengan teganya mengambil seluruh kebahagiaanya dan juga satu-satunya keluarga yang ia miliki. Saat ia berusia dua tahun ibunya pergi bersama pria lain yang sama sekali tidak dikenalnya. Ayahnya selama ini selalu berkata jujur padanya jika sang ibu memang telah meninggalkan mereka untuk pria lain. Dan untung saja gadis seusianya telah mengerti akan hal itu, sehingga ia tidak pernah lagi mengungkit-ungkit mengenai ibunya di depan ayahnya. Hanya saja ia juga terkadang ingin merasakan bagaimana kasih sayang keluarga lengkap. Ibunya pergi disaat ia belum bisa merasakan apa itu kasih sayang, dan saat ia duduk di bangku sekolah dasar, ia mulai merasa iri pada teman-temannya yang memiliki keluarga lengkap. Kemudian kemalangan mulai menimpanya lagi. Di suatu malam yang mencekam polisi tiba-tiba mendatangi rumahnya dan mengatakan jika ayahnya telah meninggal. Saat itu ia bagaikan disengat oleh ribuan volt listrik, seluruh tubuhnya terasa kaku dan ia tidak bisa melakukan apapun selain menangis di dalam pelukan bibi Nam, asisten rumah tangganya yang selama ini selalu ada untuk menemaninya di rumah. Sayangnya setelah ayahnya meninggal ia tidak bisa ikut bibi Nam pulang ke kampung halamannya. Polisi justru memasukannya kedalam sebuah panti asuhan kecil yang berada di pinggir kota. Sempat terbersit dibenaknya jika polisi-polisi itu berniat untuk membuangnya. Namun pada akhirnya ia mencoba menerima seluruh nasibnya dengan beradaptasi dengan lingkungan barunya yang keras.

            Satu tahun berada di panti asuhan, membuat Yoona merasa hidupnya benar-benar berat. Setiap ia menginginkan sesuatu, ia tidak bisa langsung mendapatkannya seperti dulu. Ia harus menahan keinginan itu berbulan-bulan lamanya hingga datang seorang donatur baik hati yang akan menyumbangkan sedikit uang mereka untuk kehidupan anak-anak panti. Dan biasanya saat ia telah mendapatkan uang, maka barang yang ia inginkan sudah habis dibeli oleh orang lain. Jadi pada akhirnya ia hanya mampu menahan kepedihan hatinya sambil menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya yang gelap. Namun semua kesedihan itu langsung menguap begitu saja setelah ia mendapatkan kabar gembira mengenai keluarga baru yang akan mengadopsinya. Ia sungguh telah melupakan semua masa-masa kelamnya yang pahit, dan saat ini ia hanya sibuk membayangkan masa depan yang akan segera menjemputnya sebentar lagi.

            “Kalau kau pergi, lalu bagaimana denganku?” Tanya Seohyun sedih. Gadis kecil itu terduduk lesu di atas kasur kapas lusuh milik Yoona sambil menggoyang-goyangkan kakinya pelan. Selama ini ia hanya memiliki Yoona sebagai satu-satunya teman yang memahami dirinya. Jika Yoona pergi bersama keluarga barunya, lalu apa yang akan terjadi dengannya?

            “Maafkan aku Seohyun, aku memang harus pergi. Bergabunglah bersama yang lain, mereka pasti akan menerimamu sama baiknya denganku.”

            “Tapi mereka tidak pernah sebaik dirimu Yoona. Jangan pergi.” Ucap Seohyun pelan. Gadis itu hampir saja mengeluarkan butiran-butiran bening itu dari pelupuk matanya sebelum ibu panti tiba-tiba datang dan menyuruh Yoona untuk segera keluar.

            “Yoona, tuan Lee telah menunggumu di depan.”

            “Baik ibu, aku akan berpamitan dengan Seohyun terlebihdahulu.” Ucap Yoona dengan nada berat sambil melirik Seohyun sedih. Sejujurnya ia juga merasa berat untuk kehilangan Seohyun, tapi ini adalah satu-satunya kesempatan untuk dapat merasakan kehidupan yang lebih baik di luar panti. Kehidupannya di panti jelas tidak akan bisa membawanya menjadi seorang Im Yoona yang sukses karena pada kenyataanya mereka semua selalu hidup dalam kekurangan. Dengan berat hati ia memang harus meninggalkan Seohyun untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi bersama tuan Lee, ayah angkatnya.

            “Sampai jumpa Seohyun. Semoga kita bisa bertemu lagi.”

            Yoona memeluk tubuh Seohyun singkat dan segera berjalan pergi meninggalkan Seohyun yang masih tersengguk-sengguk di dalam kamarnya, namun ia tidak memiliki pilihan lain selain terus berjalan lurus sambil mengeraskan hatinya agar ia tidak tergiur untuk berbalik dan memeluk tubuh kecil Seohyun yang masih tersengguk-sengguk.

            “Yoona, kau sudah siap?”

            “Sudah, aku sudah siap.”

            Yoona menjawab mantap sambil memamerkan senyum manisnya pada ayah barunya yang sedang berdiri di ambang pintu. Pria berjas itu tampak angkuh dengan kacamata hitam yang membingkai kedua mata sendunya. Namun hal itu tidak membuat Yoona ragu sedikitpun untuk berjalan mengekori Donghae menuju mobil sedan hitam yang telah menunggu mereka di halaman depan panti asuhan. Ketika ia mulai masuk kedalam mobil, seluruh teman-temannya mulai riuh mengucapkan selamat tinggal padanya sambil melambaikan tangannya berkali-kali. Dengan wajah sedih, Yoona hanya menatap itu semua dalam diam tanpa bisa membalas lambaian tangan mereka karena kaca mobil di sampingnya sama sekali tidak bisa dibuka.

            “Bagaimana cara membuka ini? Aku ingin berpamitan pada mereka untuk terakhir kali.” Tanya Yoona dengan wajah sendu. Ia berkali-kali mencoba menekan tombol hitam di sebelahnya, namun tombol itu seperti tidak berfungsi dan hanya sekedar menjadi pemanis dari mobil itu. Sedangkan Donghae, ia sejak tadi hanya menatap lurus kedepan tanpa sedikitpun menghiraukan Yoona yang tampak gelisah di sebelahnya.

            “Mereka sudah tidak terlihat, percuma saja kau membuka jendelanya.” Jawab Donghae dingin sambil menatap kedepan. Yoona kemudian menundukan kepalanya sedih sambil meremas-remas tanganya dengan gugup. Ini bukanlah awal mula yang ia harapkan. Ia ingin mengenal ayah angkatnya dengan baik dan bercengkeraman layaknya sebuah keluarga yang bahagia. Namun melihat Donghae yang sangat dingin seperti itu, membuat Yoona ragu dan memilih untuk menghibur hatinya dengan melihat pemandangan indah yang tersaji di sisi kanannya.

            “Jangan terlalu banyak berharap.”

            Yoona refleks menoleh sambil menatap Donghae tak mengerti.

            “Maksud ayah?”

            “Aku bukan ayahmu.” Balas Donghae ketus. Sungguh itu adalah panggilan paling menggelikan yang pernah ia dengar seumur hidupnya.

            “Lalu, aku harus memanggil anda siapa?” Tanya Yoona ketakutan dengan suara bergetar. Untuk pertama kalinya, Donghae menatap kedua manik karamel Yoona intens sambil menyeringai licik pada gadis polos itu.

            “Jangan pernah panggil aku apapun. Dan jangan pernah berharap terlalu banyak padaku.”

 

Yoona membuka matanya perlahan sambil membayangkan mimpinya yang sangat mengerikan. Pertemuan pertamanya dengan Donghae dan awal mula ia menjadi bagian dari pria brengsek itu. Ia sungguh membencinya hingga hal itu menjadi mimpi buruk baginya setiap kali ia merasa tertekan atau merasa begitu marah pada pria keparat yang saat ini tengah duduk di sofa hitam di dalam kamarnya.

“Kau sudah bangun….”

Pernyataan itu dilayangkan oleh Donghae sambil menyesap winenya pelan. Pria itu dengan penuh kuasa terlihat mengamati Yoona sambil menunjukan sinar kecokalatan dari matanya yang tertimpa oleh cahaya rembulan dari jendela besar di ujung ruangan. Melihat Donghae yang masih berada di dalam kamarnya, membuat Yoona mendengus sebal sambil bangkit berdiri untuk mengenakan kembali gaun tidurnya yang dibuang asal oleh Donghae sebelum mereka bercinta.

“Pergilah, kau sudah mendapatkan apa yang kau mau.” Usir Yoona kasar. Tanpa mempedulikan Donghae yang masih menatapnya, Yoona terus menggunakan gaun tidurnya hingga tiba-tiba sebuah tangan membelai punggung telanjangnya dan mulai menaikan resleting gaun tidurnya perlahan.

“Jangan sungkan untuk meminta bantuan Yoona.”

“Aku bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanmu.” Desis Yoona tajam. Ia menyingkirkan tangan Donghae dari tubuhnya dan segera berjalan menjauh menuju ranjangnya yang nyaman.

“Sombong dan keras kepala….. berhati-hatilah Yoona, karena dua sifat itu dapat menghancurkanmu perlahan-lahan.”

“Huh, benarkah? Aku justru merasa sebaliknya.” Sangkal Yoona cepat. Dari atas tempat tidurnya ia tampak menatap Donghae sengit sambil mengepalkan kedua tangannya di balik selimut. Dulu, dirinya yang lugu dan baik hati justru selalu dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggungjawab untuk kepentingan mereka masing-masing. Sejak saat itu ia bertekad untuk menjadi seorang wanita yang angkuh agar ia tidak lagi dimanfaatkan oleh orang lain, terutama dimanfaatkan oleh ayah angkatnya.

“Dua sifat itulah yang melindungiku saat itu. Kepolosan dan kebaikan hatiku justru sering dimanfaatkan oleh orang-orang jahat di luar sana.”

“Siapa? Kau tidak pernah mengatakannya padaku? Jika kau mengatakannya, aku dapat menghancurkan orang-orang yang telah melukaimu dengan mudah.”

Yoona tertawa hambar di atas ranjangnya sambil berbalik memunggungi Donghae. Ternyata pria itu cukup bodoh untuk menyadari jika orang jahat yang ia maksud adalah pria itu sendiri. Lee Donghae memang seorang pria yang buta menurut Yoona. Disaat ia telah melakukan banyak kesalahan pada Yoona, ia justru selalu menyalahkan orang lain dan menghancurkan orang lain yang ia anggap sebagai pihak yang menyakiti Yoona.

“Keluarlah, aku ingin tidur.”

Yoona lagi-lagi mengusir Donghae sambil menatap nyalang pada pemandangan gelap di kamarnya. Sejujurnya ia sama sekali tidak mengantuk. Ia hanya ingin pria itu pergi dan meninggalkannya sendiri di sini untuk berpikir. Ada banyak masalah yang berjubel di dalam pikirannya, yang ingin segera ia selesaikan. Keberadaan Donghae di kamarnya jelas membuat seluruh akal sehatnya hilang karena sejak tadi ia sedang menahan seluruh amarahnya untuk pria itu.

“Choi Siwon menghubungimu. Aku mengatakan padanya jika kau sedang tidur. Apa kau sekarang memilih untuk berhubungan serius dengannya?”

“Kenapa kau ingin tahu? Itu urusanku. Jangan lakukan apapun pada Siwon, ia pria yang baik.”

“Hmm, jika ia tidak berbuat macam-macam padamu, aku tidak akan melukainya.”

“Kenapa kau selalu membatasi ruang gerakku dengan kekasih-kekasihku? Aku bahkan tidak pernah membatasimu pergi dengan wanita manapun.” Ucap Yoona datar. Saat ini hatinya benar-benar merasa sesak. Ia merasa sikap Donghae terlalu membingungkan untuknya. Pria itu selalu melarangnya berdekatan dengan pria-pria brengsek di luar sana, bahkan ia tidak segan-segan melakukan tindakan kotor untuk memberi pelajaran pada pria-pria brengsek itu. Namun di satu sisi ia selalu bertanya-tanya, untuk apa Donghae melakukan hal itu padanya jika pria itu sama sekali tidak memiliki perasaan apapun untuknya?

“Itu berbeda, kau adalah wanita lugu yang tidak bisa membedakan mana pria brengsek dan mana pria baik-baik.”

“Apa kau pikir kau bukan salah satu dari mereka, pria brengsek yang tega meniduri anak angkatnya sendiri.” Marah Yoona berapi-api. Masih dengan membelakangi Donghae, Yoona tampak terengah-engah sambil mengatur napasnya karena terlalu emosi dengan sikap Donghae yang selalu membingungkannya.

“Aku tidak pernah menganggapmu anakku Yoona, kau sendiri yang menyimpulkannya sejak pertama kali aku menjemputmu di panti.”

Yoona tampak diam. Ia tidak lagi menanggapi ucapan Donghae dan memilih untuk memejamkan matanya. Percuma saja ia membalas setiap ucapan pria itu jika kenyataanya pria itu selalu memiliki seribu satu jawaban untuk membolak balikan jawabannya.

“Aku tahu kau belum tidur.”

“Lalu apa yang kau harapkan dariku jika aku memang belum tidur. Kau ingin memulai pertengkaran denganku?” Tanya Yoona sengit. Pria bermata coklat itu benar-benar telah menguji kesabarannya malam ini.

“Jika sejak awal kau tidak berniat untuk menjadi ayah angkatku, lalu untuk apa kau mengadopsiku? Kau membuatku berharap lebih akan masa depanku, tapi nyatanya justru kehidupan seperti ini yang kudapatkan.”

“Kau akan tahu suatu saat nanti. Tidurlah Yoona, kurasa kau memang seharusnya mengistirahatkan pikiranmu yang kacau.”

Dengan santai Donghae melenggang pergi, meninggalkan botol winenya yang masih tersisa separuh begitu saja di dalam kamar Yoona sambil memakai jubah tidurnya untuk membungkus tubuh tegapnya yang polos. Malam ini ia benar-benar puas dengan permainan panasnya dengan Yoona. Wanita itu selalu berhasil memberikan sensasi yang berbeda dari jalang-jalang murahan di luar sana. Dan Yoona memang bukanlah seorang jalang, sehingga wanita itu jelas memiliki rasa yang berbeda dari mereka semua.

“Donghae…”

Donghae menaikan alisnya sekilas dan memutuskan untuk berhenti di ambang pintu. Tanpa menoleh ke belakang, pria itu menunggu Yoona menyelesaikan kalimatnya yang terdengar seperti menggantung di udara.

“Apa kau mencintaiku?”

Hening…

Untuk beberapa saat suasana di dalam kamar itu menjadi lebih hening dan mencekam. Lee Donghae tidak pernah suka dengan kalimat sentimentil macam cinta. Tidak pernah ada cinta di dalam kamus hidupnya. Sayangnya Yoona masih saja menanyakan hal itu padanya setelah lebih dari sembilan tahun mereka hidup bersama.

“Kau tahu pasti bagaimana perasaanku Yoona. Kosong!”

“Lalu untuk apa semua ini? Kau seharusnya membiarkanku memilih priaku sendiri tanpa harus mengganggu kehidupanku.”

“Kau adalah tanggungjawabku. Dan aku sudah mengatakan hal ini sejak awal Yoona, jangan pernah berharap lebih padaku. Apalagi mendapatkan cinta dariku.”

Yoona tertawa hambar di dalam kegelapan kamarnya sambil mencengkeram selimut putihnya erat-erat. Kalimat yang baru saja diucapkan oleh Donghae, adalah kalimat yang sama dengan yang pernah diucapkan oleh pria itu tiga tahun yang lalu ketika ia dengan tololnya memiliki perasaan laknat itu untuk si pria bermata coklat Lee Donghae.

 

Flashback

Tahun demi tahun berlalu begitu cepat untuk Yoona. Tak terasa ia telah menghabiskan enam tahun waktunya dengan hidup di bawah tanggungjawab Lee Donghae sebagai ayah angkatnya. Namun selama ia tinggal di mansion mewah itu, tak pernah sedikitpun ia bertemu dengan sosok ayah angkatnya yang mengerikan itu. Setiap hari sebelum ia berangkat ke sekolah, ia tidak pernah pernah menemukan ayah angkatnya berada di meja makan untuk sarapan bersamanya. Dan saat malam haripun, ia juga tidak pernah melihat sosoknya berada di rumah itu. Sempat ia bertanya pada kepala pelayan mengenai keberadaan Lee Donghae selama ini, namun pria tua itu hanya menjawab jika “tuan Lee Donghae” memang jarang menghabiskan waktu di rumah.

Bosan dengan rasa ingin tahunya itu, akhirnya Yoona memutuskan untuk mengabaikan semuanya. Ia menganggap keberadaan Donghae di rumah itu sudah tidak penting lagi dan memilih untuk menjalankan hidupnya dengan baik. Diam-diam ia memiliki cita-cita untuk keluar dari mansion mewah itu suatu saat nanti dan memiliki kehidupannya sendiri. Ia sadar jika ia tidak mungkin akan selamanya seperti ini, tinggal di rumah Donghae sendiri tanpa status yang jelas dan merepotkan pria mengerikan itu hingga ia tua. Ia ingin belajar untuk mandiri, dan setelah itu menemukan pria yang tepat untuk menemani kehidupannya yang selalu sendiri ini.

“Ini jus jeruk anda nona.”

“Terimakasih.”

Yoona tersenyum ramah pada Jina dan segera meminum jus jeruknya sebagai bagian dari sesi terakhir sarapannya. Hari ini ia memiliki mata kuliah pagi yang harus ia hadiri, sehingga ia harus cepat menyelesaikan sarapannya sebelum ia mendapatkan masalah karena keterlambatannya pagi ini.

Tap tap tap

Suara ketukan sol sepatu dan lantai marmer putih yang nyaring itu membuat Yoona menoleh cepat kearah sumber suara sambil menatap sang pemilik sepatu itu heran. Akhirnya setelah enam tahun lamanya ia tidak melihat Lee Donghae di mansionnya, kini ia dapat melihat pria itu lagi di hadapannya dengan wajah angkuh khasnya yang tidak pernah berubah sedikitpun.

“Selamat pagi…. ayah.” Sapa Yoona ragu. Ia sebenarnya masih ingat dengan jelas kata-kata pria itu enam tahun yang lalu, namun ia tidak memiliki sebutan lain selain ayah yang cocok untuk memanggil pria itu. Mungkin jika ia memang tidak suka jika dipanggil ayah, maka ia akan memanggilnya dengan panggilan yang lebih formal.

“Aku bukan ayahmu.”

Tepat seperti dugaan Yoona, pria itu tidak suka dipanggil ayah. Dan dengan tatapan tajamnya pria itu menatap Yoona sambil mendudukan dirinya dengan tenang di atas kursi utama yang berada di ujung meja.

“Selamat pagi tuan Lee Donghae.” Sapa Yoona dengan suara pelan. Dari raut wajahnya ia tidak bisa berbohong jika saat ini ia sangat takut dengan tatapan tajam yang dilayangkan Donghae padanya. Namun ia tidak bisa mengelak sedikitpun karena pria itu memiliki aura mendominasi yang begitu ditakutinya.

“Bagaimana kehidupanmu selama ini?”

“Baik.” Jawab Yoona singkat. Ia benar-benar tidak menyangka jika hari ini akan tiba. Hari dimana Lee Donghae akan duduk di meja yang sama dengannya sambil menanyakan bagaimana kehidupannya selama ini.

“Aku.. tidak pernah melihat anda selama enam tahun terakhir ini, sebenarnya anda berada dimana?”

Yoona berusaha memberanikan diri untuk menanyakan kemana perginya Lee Donghae selama enam tahun ini karena ia merasa ganjil dengan pria itu. Ia yakin jika sebenarnya Donghae selalu berada di mansionnya. Hanya saja pria itu tidak pernah menunjukan batang hidungnya. Atau mungkin Lee Donghae selama ini memang menghindarinya karena pria itu tidak terlalu menyukai keberadaanya di mansion ini.

“Aku selalu berada dimanapun yang aku mau Yoona. Dan bahkan aku juga berada di mansion ini.”

“Tapi aku tidak pernah melihat anda.” Balas Yoona cepat. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya terhadap pria itu. Rasanya selama enam tahun tinggal di mansion mewah itu sama sekali tidak bisa membuat Yoona mengenal bagaimana sosok Donghae yang sebenarnya. Ia justru semakin buta dengan semua hal yang berkaitan dengan pria itu. Ditambah lagi tidak ada satupun yang bersedia membagikan informasi mengenai ayah angkatnya itu padanya. Kepala pelayan Kim tidak pernah mau menceritakan hal-hal detail mengenai Donghae dan hanya berbicara seperlunya jika ia bertanya mengenai keberadaan pria itu.

“Kita hanya hidup di waktu yang berbeda Yoona. Saat aku berada di sini, kau mungkin sudah terlelap, dan saat kau membuka matamu, aku sudah pergi untuk bekerja.”

“Begitukah? Tapi, bukankah itu memang perintah anda? Anda yang memintaku melalui tuan Kim untuk selalu mematuhi jam malam yang telah anda tetapkan. Aku tidak diperkenankan untuk tidur lebih dari jam sembilan malam dan aku harus pulang tepat waktu dari kampus. Tuan, sebenarnya aku ingin hidup seperti gadis-gadis seusiaku pada umumnya. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu di kampus untuk melakukan kegiatan sosial yang sering diadakan oleh rekan-rekanku atau bergabung di salah satu klub olahraga yang kusukai.”

“Jenis olahraga apa yang kau sukai?”

Sambil memasukan makanan kedalam mulutnya, Donghae bertanya serius mengenai jenis olahraga yang disukai Yoona. Sementara itu, Yoona terlihat tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya karena pria ituuntuk pertama kalinya lagi menanyakan sesuatu yang terdengar aneh untuk ditanyakan oleh seorang Lee Donghae yang acuh.

“Aku menyukai voli. Dulu aku pernah mengikutu klub voli, tapi sejak ayahku meninggal, aku tidak mengikutinya lagi karena di sekolahku yang baru mereka tidak memiliki klub voli.”

“Sedikit banyak itu karena salahku, maafkan aku Yoona.”

“Maksud anda?” Tanya Yoona tidak mengerti. Ia benar-benar dibuat pusing dengan sikap pria matang yang saat ini sedang menyantap menu sarapannya dengan tenang di depannya. Pagi ini benar-benar sebuah pencapaian yang begitu luar biasa untuknya, karena untuk pertama kalinya ia dapat berbicara cukup panjang dengan Lee Donghae. Namun ia sedikit sedih dengan dirinya sendiri karena sepanjang ia berbicara dengan pria itu, tak ada satupun hal yang bisa ia pahami dari pria itu. Semua hal yang ditanyakan oleh Donghae padanya terkesan ambigu dan sebenarnya menyimpan sebuah makna tersembunyi di belakangnya.

“Lupakan saja. Apa kau tidak ingin pergi ke kampus? Dosen Kang akan segera memulai perkuliahannya lima menit lagi.”

“Aa apa?”

Yoona memekik terbata sambil melirik jamnya heboh. Sungguh ia lupa jika pagi ini ia memiliki jadwal kuliah dengan dosen killer yang paling dihindarinya. Namun si misterius Lee Donghae justru tiba-tiba datang dan membuatnya melupakan dosen killer yang pagi ini pasti akan memberikan hukuman karena keterlambatannya.

“Tidak perlu panik seperti itu Yoona, aku akan mengantarmu.”

“Apa?”

Yoona lagi-lagi memekik terkejut tanpa menutupi sedikitpun raut heran yang tercetak jelas di wajahnya. Lagi-lagi, ayah angkatnya melakukan sesuatu yang membuatnya terheran-heran dan juga terkejut di saat yang bersamaan. Setelah enam tahun lamanya mereka tidak pernah saling bersua, pria-pria itu tiba-tiba menawarkan diri untuk mengantarkannya ke kampus. Terlebih lagi pria itu juga mengetahui jadwal dosen killernya yang sangat menyebalkan itu.

Apa selama ini ia diam-diam memperhatikanku?

            Yoona refleks menjeritkan hal itu di dalam kepalanya sambil terus mengikuti langkah lebar Donghae di depannya. Pria itu tanpa kata terus memimpin jalannya dengan gaya angkuh khas seorang pria aristrokat yang begitu mendominasi. Dan ketika tiba di depan mobil, Donghae tiba-tiba membukakan pintu mobil silver untuknya sambil memberikan seulas senyum yang tanpa sadar juga membuat Yoona ikut tersenyum kearah pria itu.

“Terimakasih. Anda baik sekali tuan Lee Donghae.”

-00-

Pukul tiga Yoona keluar dari kelasnya sambil melirik kearah pintu utama di kampusnya. Biasanya mobil tuan Han telah menunggu di sana untuk menjemputnya pulang. Namun sore ini ia sama sekali tidak melihat keberadaan mobil Han di sana dan tempat yang biasa digunakan oleh tuan Han justru telah terisi oleh mobil lain.

“Yoona, tumben kau tidak langsung pulang dengan supirmu.”

Cho Kyuhyun, salah satu mahasiswa populer di kampusnya, dan salah satu teman sekelasnya tiba-tiba datang sambil menepuk bahunya pelan.

“Oh, supirku belum datang. Kau… kenapa kau tahu jika aku selalu pulang tepat waktu dengan supirku?”

Yoona tampak terkejut sambil menatap wajah Kyuhyun tak mengerti. Ia pikir pria itu tidak pernah memperhatikannya karena setiap hari Kyuhyuh selalu menjadi incaran para siswi di kampusnya. Lagipula ia bukanlah bagian dari siswi-siswi populer yang setiap hari selalu menjadi sorotan. Di sini ia hanyalah mahasiswi biasa dengan sedikit teman yang jarang menghabiskan banyak waktu di kampus. Jadi ia sangat merasa aneh jika tiba-tiba seorang Cho Kyuhyun mengetahui salah satu kebiasaanya selama ini.

“Kau pasti tidak tahu.”

“Apa?”

“Kau sebenarnya cukup banyak dibicarakan oleh mahasiswa-mahasiswa di sini. Kau cantik Yoona, dan polos.”

Seketika Yoona tersipu malu sambil mengalihkan tatapan matanya kearah lain. Sungguh ia tidak pernah tahu jika ia sering dibicarakan oleh mahasiswa di kampusnya karena ia sendiri selalu tidak memiliki waktu untuk berbaur dengan mereka. Hanya saat mengerjakan tugas kelompok saja ia membaur dengan teman-temannya, selebihnya ia jarang berinteraksi dengan teman-temannya di kelas.

“Aa aku tidak tahu jika teman-teman sering membicarakanku. Selama ini aku jarang berinteraksi dengan mereka.”

“Kenapa kau selalu pulang tepat waktu? Apa kau memiliki pekerjaan yang mendesak di rumah?”

Yoona terkekeh pelan mendengar pertanyaan yang dilontarkan Kyuhyun padanya. Tentu Kyuhyun bukanlah orang pertama yang menanyakan hal itu padanya. Beberapa seniornya di klub dan juga teman-temannya yang lain juga sering menanyakannya. Dan dari seluruh pertanyaan itu, hanya satu jawaban yang selalu diberikan oleh Yoona pada mereka.

“Ayah angkatku tidak suka jika aku pulang terlambat, ia membuat peraturan yang sangat ketat di rumah.”

“Benarkah?”

Yoona mengangguk mengiyakan sambil membayangkan serentetan aturan yang dulu pernah dikatakan tuan Kim padanya. Saat pertama ia menginjakan kaki di mansion milik Lee Donghae, tuan Kim, selaku kepala pelayan di mansion itu langsung memberikan banyak aturan yang cukup memusingkan untuknya. Dan saat ia mulai masuk ke sekolah, tuan Kim memberikan aturan tambahan padanya. Salah satu aturan itu adalah ia dilarang untuk pulang melebihi jam pelajaran yang telah ditetapkan oleh sekolah. Dulu sebenarnya ia cukup tidak nyaman dengan peraturan itu karena semua peraturan itu jelas-jelas telah membatasi ruang geraknya. Namun semakin lama ia semakin terbiasa dengan semua itu, dan sekarang ia justru menikmati semua itu dengan santai.

“Apa ayah angkatmu orang yang galak?”

Yoona langsung terbahak-bahak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Kyuhyun sambil menutup mulutnya agar tawanya tidak sampai membuat mahasiswa yang berlalu lalang merasa terganggu.

“Ayahku tidak galak.” Jawab Yoona pendek. Ia masih tertawa membayangkan Donghae yang bahkan sangat jarang ditemuinya di rumah. Justru sekali-sekali ia ingin tahu bagaimana bentuk kemarahan Lee Donghae karena pria itu selama ini sangat jarang ia temui di rumah.

“Lalu kenapa ia tidak memperbolehkanmu pulang terlambat?”

“Itu karena…..”

“Yoona.”

Suara dingin dan tegas itu tiba-tiba menginterupsi kata-kata Yoona dan membuat wanita itu menoleh terkejut kearah sumber suara. Di samping kirinya telah berdiri Lee Donghae dengan stelan kantornya yang terlihat gagah sambil memasukan tangan kanannya ke dalam saku jas. Pria itu menatap Yoona dan Kyuhyun bergantian dengan tatapan intens, dan terakhir ia kembali menatap Yoona sambil mendesis tajam pada wanita itu.

“Ayo pulang, kau sudah membuatku menunggu lama Yoona.”

“Oo oh, maafkan aku. Kyuhyun, aku duluan. Sampai jumpa.”

Yoona tersenyum kecil pada Kyuhyun dan segera melangkah mengikuti Donghae yang telah berjalan terlebihdulu di depannya. Beberapa pasang mata tampak mencuri-curi pandang kearah Donghae sambil berdecak kagum karena ketampanan pria itu. Namun Donghae hanya diam sambil menunjukan wajah datarnya pada semua orang tanpa  mempedulikan semua tatapan memuja yang diarahkan kepadanya.

“Masuk.”

Yoona mengikuti perintah Donghae tanpa suara sambil menunjukan wajah terheran-herannya pada pria itu. Lagi-lagi ia mendapatkan sebuah kejutan yang luar biasa. Pagi tadi pria itu menampakan dirinya setelah lebih dari enam tahun tidak pernah terlihat batang hidungnya. Dan sekarang tiba-tiba pria itu menjemputnya di kampus. Apakah benar yang bersamanya saat ini Lee Donghae, ayah angkatnya yang dingin dan juga mengerikan itu?

“Kenapa tiba-tiba anda menjemputku?”

“Panggil aku oppa, aku tidak suka bahasa formal seperti itu.”

“Oppa? Tapi kau lebih pantas untuk menjadi ayahku.” Ucap Yoona dengan suara pelan. Ia takut Donghae akan tersinggung dengan ucapannya. Dan benar saja, Donghae memang langsung menatap kearahnya dengan tatapan tajam yang terlihat mengerikan.

“Aku bukan ayahmu. Aku mengambilmu dari panti asuhan bukan untuk menjadi ayahmu.”

“Lalu untuk apa? Aku berharap untuk memiliki sebuah keluarga, tapi kau memperlakukanku seperti ini.”

Yoona tanpa sadar telah mengeluarkan seluruh emosinya yang telah ia pendam selama enam tahun terakhir ini.

“Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu untuk tidak mengharapkan apapun padaku? Kau lupa baby? Di sini aku hanya menepati janjiku pada ayahmu. Ia ingin aku menjagamu setelah dirinya tidak ada.”

Donghae menatap jalanan di depannya dengan rahang mengeras sambil mencengkeram kemudi mobilnya erat. Ternyata Yoona dewasa sangat berbeda dengan Yoona remaja yang tampak diam dan pemalu. Yoona dewasa lebih berani hingga ia dibuat geram dengan sikap menuntut yang ditunjukan wanita itu beberapa detik yang lalu. Untung saja Yoona adalah putri dari sahabat baiknya, jika tidak, mungkin ia akan melempar keluar wanita itu sekarang juga dari mobilnya.

“Kau sekarang adalah tanggungjawabku, jadi menurutlah dengan semua aturan yang telah kuberikan padamu.”

“Jika aku adalah tanggungjawabmu, kau seharusnya memperlakukanku sebagaimana mestinya. Aku ingin kau menjadi keluargaku dalam artian yang sebenarnya.”

Donghae menoleh cepat kearah Yoona, dan sedetik kemudian pria itu langsung menyeringai misterius kearah wanita itu.

Deal! Akan kutunjukan bagaimana sebuah keluarga itu Im Yoona. Sekarang turunlah, aku harus kembali ke kantor.”

Tanpa terlihat takut sedikitpun, Yoona segera melangkah turun sambil membalas tatapan tajam Donghae dengan tatapan polos miliknya. Tanpa sadar ia mengagumi netra coklat itu dan ingin sekali menatapnya untuk waktu yang lebih lama. Sayangnya pria itu sudah lebih dulu menutup pintu mobilnya keras-keras dan pergi begitu saja dengan mobil mewahnya, meninggalkan mansion miliknya dengan hembusan asap tipis yang membumbung tinggi ke udara.

-00-

Tok tok tok

 

Yoona menguap pelan sambil merentangkan tangannya ke udara. Dengan rambut acak-acakan ia segera menuruni ranjangnya sambil berusaha membuka matanya lebar-lebar yang terasa lengket. Semalam ia tidur terlalu larut karena harus mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang begitu banyak. Dan setelah ia selesai mengerjakan seluruh tugasnya, ia justru menonton drama yang akhir-akhir ini cukup populer di kalangan teman-teman sekelasnya. Setiap hari ia selalu dibuat penasaran oleh teman-temannya yang tidak pernah berhenti membicarakan sang tokoh utama yang menurut mereka tampan. Tapi setelah ia bertemu dengan ayah angkatnya, ia merasa tokoh utama itu sama sekali tidak tampan. Lee Donghae justru jauh lebih tampan dengan mata coklatnya yang tajam dan juga stelan jasnya yang selalu membuatnya terlihat lebih seksi.

“Nona, tuan Donghae menunggu anda di meja makan untuk sarapan bersama.”

Yoona mengucek-ucek matanya sekali lagi dan langsung menoleh kearah jam dindingnya yang masih menunjukan pukul lima pagi. Pantas saja langit di luar jendela kamarnya masih terlihat gelap. Ini benar-benar terlalu pagi untuk sarapan. Ia tidak pernah makan sepagi ini karena jam makan paginya selalu pukul tujuh.

“Ini masih terlalu pagi untuk sarapan.” Ucap Yoona terlihat enggan. Ia kemudian melirik tubuhnya sendiri yang masih dibalut hot pants pendek dan juga kaus yang terlihat kusut di sana sini karena digunakannya untuk tidur. Bagaimana mungkin ia akan sarapan dengan pakaian seperti itu? Paling tidak ia membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih pantas untuk dibawa ke meja makan.

“Tapi tuan Donghae biasa sarapan di pagi hari seperti ini. Lima belas menit lagi tuan Donghae harus sudah berangkat ke kantor, jadi lebih baik anda segera bersiap untuk sarapan bersama tuan Donghae sekarang.”

“Tapi aku setidaknya memerlukan waktu tiga puluh menit untuk bersiap-siap. Tuan Kim, apa ini yang membuat aku tidak pernah bertemu dengan Donghae oppa selama ini? Ia selalu sarapan di pagi hari saat aku masih terlelap dan ia akan pulang larut malam saat aku sudah tertidur?”

“Benar nona. Dan sekarang tuan Donghae ingin sarapan bersama dengan anda….”

“Bukankah kau ingin memiliki keluarga yang sesungguhnya baby.”

Yoona langsung terkesiap terkejut sambil memiringkan wajahnya ke samping untuk melirik sosok Donghae yang baru saja memotong ucapan tuan Kim. Melihat Donghae yang telah siap dan tampak segar membuat Yoona langsung mengernyitkan dahinya bingung. Ia benar-benar tak habis pikir dengan pola hidup Lee Donghae selama ini. Jika pria itu selalu pulang larut malam, lalu berapa jam pria itu menghabiskan waktunya untuk tidur jika sepagi ini saja ia sudah terlihat rapi dengan kemeja biru yang terlihat begitu menawan di depan matanya?

“Tapi aku belum bersiap-siap.”

Donghae melirik tubuh Yoona intens dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dengan tatapan yang terlihat datar, Donghae sebenarnya sedang mengagumi tubuh Yoona yang mulai beranjak dewasa. Yoona dewasa ternyata lebih memukau daripada Yoona anak-anak yang masih terlihat polos. Tapi meskipun Yoona telah beranjak dewasa, tatapan wanita itu masih tetap menunjukan tatapan polos yang menggemaskan. Ia tiba-tiba saja berpikir untuk merusak kepolosan itu. Namun pikiran itu seketika buyar ketika Yoona tiba-tiba menggerakan tangan kanannya di depannya sambil menatapnya aneh.

“Oppa, kau melamun?”

“Hanya sedang berpikir. Cepatlah bersiap-siap. Aku memberimu waktu sepuluh menit.”

Mendengar itu, Yoona langsung berlari cepat kedalam kamarnya untuk bersiap-siap. Ia tidak ingin Donghae menunggunya terlalu lama di meja makan, sedangkan pria itu sudah berusaha untuk mewujudkan keinginannya sebagai seorang anggota keluarga yang baik.

Sambil berlari-lari kecil, Yoona masuk kedalam kamar mandinya dan langsung mandi secepat yang ia bisa. Pagi ini ia hanya menggosok sedikit tubuhnya dan langsung berjalan menuju westafel untuk menggosok gigi. Setelah itu ia segera meraih jubah mandinya dan berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil satu dress yang sudah lama ingin ia gunakan di depan Donghae. Setelah itu Yoona segera menyisir rambutnya asal dan membiarkan rambut itu menggantung indah dibalik punggungnya.

“Astaga!”

Yoona memekik heboh saat melihat jam di dindingnya telah menunjukan pukul lima lebih sepuluh menit. Ia telah kehabisan waktu untuk sekedar memoles wajahnya dengan makeup tipis. Akhirnya tanpa sempat membubuhkan apapun di wajahnya, Yoona segera berlari turun menuju meja makan untuk sarapan bersama Donghae. Selama menuruni tangga, Yoona terus berpikir, kata-kata apa yang sebaiknya ia gunakan untuk menyapa Donghae. Ia terlalu senang dan juga bersamangat pagi ini karena Donghae akhirnya mau menganggapnya sebagai bagian dari anggota keluarganya.

“Maaf telah membuatmu menunggu lama, op pa.”

Yoona tampak belum terbiasa memanggil Donghae dengan sebutan oppa. Rasanya sedikit aneh untuknya memanggil Donghae dengan sebutan itu. Namun ia juga tidak memiliki pilihan lain karena Lee Donghae tidak suka dipanggil dengan sebutan ayah.

“Duduklah.”

Tanpa mengalihkan tatapan matanya dari layar ponsel pintarnya, Donghae meminta Yoona duduk. Dan hal itu langsung dipatuhi oleh Yoona tanpa banyak berkomentar. Saat mendudukan tubuhnya di kursi di samping Donghae, Yoona benar-benar gugup hingga ia merasa sulit untuk bernapas. Kegiatan makan pagi yang selama ini ia idam-idamkan akhirnya terlaksana juga. Meskipun kemarin ia sudah melakukannya, namun kali ini terasa berbeda karena pria itu melakukannya karena ia yang memintanya kemarin.

“Kau ada kelas pagi bukan?”

“I iya, jam setengah delapan.”

“Kalau begitu kau pergi bersamaku.”

Yoona langsung mengangkat wajahnya dan terlihat ingin protes pada Donghae. Ia tidak mungkin berangkat bersama pria itu karena ini masih terlalu pagi untuk pergi ke kampus. Lagipula kampus masih sangat sepi di jam setengah enam seperti ini. Ia takut berada di kampus sendirian.

“Kita ke kantor dulu pagi ini. Bukankah kita keluarga, Yoona? Sudah sepantasnya kau mengetahui apa pekerjaanku selama ini.”

Tanpa sadar Yoona menelan salivanya gugup sambil berpura-pura sedang mengaduk supnya di dalam mangkuk. Tatapan pria itu sungguh mengerikan hingga membuat jantungnya berdebar-debar. Namun jika dipikir-pikir, apa yang dikatakan oleh Donghae memang benar. Ia sudah seharusnya mengetahui jenis pekerjaan Donghae dan juga dimana letak kantor pria itu.

“Memangnya kau bekerja dimana?”

“Pertanyaan bagus, tapi kita akan mengetahuinya nanti. Sekarang makanlah sarapanmu, dan setelah itu bersiaplah. Aku tahu, kau pasti memerlukan waktu untuk memoles wajahmu setelah ini.”

Tanpa sadar Yoona menyentuh pipinya sambil menatap Donghae keheranan. Pria itu, meskipun mereka tidak pernah bertemu selama ini, namun ia selalu tahu apa saja yang berkaitan dengannya. Bahkan Donghae juga tahu nama-nama dosennya yang selama ini tidak pernah ia sebutkan pada pria itu. Apakah Lee Donghae selama ini diam-diam mengawasinya.

“Kau terlihat sudah hafal dengan beberapa hal yang berkaitan denganku.”

“Itu karena wajahmu mudah untuk dibaca. Kau terlalu polos untuk ukuran wanita seusiamu.”

Yoona menggigit bibir bawahnya jengkel dan segera melanjutkan kegiatan makannya kembali. Berbicara dengan Donghae memang tidak pernah semenyenangkan berbicara dengan orang lain yang selama ini selalu ditemuinya, karena Lee Donghae adalah pria dewasa misterius yang terkadang jalan pikirannya sulit sekali untuk ditebak. Setiap kata-kata yang terlontar dari bibirnya, pasti akan dijawab dengan jawaban bernada datar dan terkadang berisi hal-hal yang membuat ia emosi saat mendengarnya.

“Aku sudah selesai.”

Yoona meninggalkan sarapannya yang masih tersisa separuh begitu saja dan segera melangkah pergi menuju kamarnya. Tiba-tiba saja ia sudah kenyang dan tidak ingin lagi menghabiskan sarapannya, sehingga ia memilih untuk kembali ke kamarnya dan bersiap-siap. Mungkin moodnya bisa kembali bagus setelah ia sedikit menjauhi Donghae untuk sementara waktu.

-00-

Yoona tidak bisa menyembunyikan wajah kagumnya ketika Donghae membawanya kedalamm kantornya yang sangat besar dan juga mewah. Bangunan tinggi yang didominasi oleh arsitektur bergaya eropa itu membuat Yoona terus berdecak kagum selama mereka berjalan menyusuri lobi kantor yang tampak sepi.

“Oppa, kantormu bagus. Kau memiliki bisnis apa hingga memiliki kantor sebesar ini?”

“Otomotif. Perusahaanku memproduksi mobil.”

“Apa? Mobil! Kalau begitu berikan aku satu mobil keluaran perusahaanmu.”

Tanpa sungkan Yoona meminta hal itu pada Donghae sambil bergelayut manja di lengan kekar pria itu. Sekilas mereka  berdua tampak seperti sepasang kekasih jika dilihat dari kejauhan. Sikap Yoona yang terlihat sedikit manja pada Donghae membuat orang-orang bisa saja berpikiran yang tidak-tidak tentang mereka. Meskipun Donghae sebenarnya memang cukup tua untuk menjadi kekasih Yoona, namun wajah tampan penuh karisma milik pria itu mampu menyamarkan garis-garis usia yang seharusnya tercetak jelas di wajahnya.

“Akan kuberikan setelah kau bisa mengemudikannya.” Janji Donghae. Yoona langsung berteriak girang sambil berjalan mengikuti Donghae kedalam sebuah lift khusus yang hanya diperuntukan untuk Donghae. Setelah itu mereka bersama-sama naik ke lantai dua puluh untuk melihat bagaimana rupa ruangan Donghae di sana. Dan Yoona sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya, kala lift yang membawanya dapat menunjukan pemandangan indah kota Seoul saat Donghae menekan sebuah tombol untuk membuka tabir abu-abu yang sebelumnya menutupi seluruh badan lift.

“Ini indah oppa, kau memiliki perusahaan yang menakjubkan.”

“Kau masih bisa melihat yang lebih menakjubkan nanti.”

Ketika lift berhenti dan berdenting nyaring, Donghae langsung melangkah keluar sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana dengan gaya angkuhnya. Pria itu lantas membuka pintu kantornya lebar-lebar dan membuat Yoona langsung terkagum-kagum dengan desain interior ruangan Donghae yang menakjubkan.

“Ini indah, sungguh indah! Kenapa kau tidak memberitahuku semua ini sejak awal?”

“Hanya menunggu waktu yang tepat.” Jawab Donghae asal. Sejujurnya ia tidak pernah berencana untuk memperkenalkan pada Yoona tentang bagaimana  kehidupannya selama ini. Tapi tiba-tiba saja ia memiliki ide gila itu setelah mengetahui bagaimana wajah cantik Yoona yang luar biasa. Untuk pertama kalinya, ia merasa tertarik dengan seorang wanita. Dan sayangnya wanita itu adalah anak dari sahabatnya sendiri.

“Jadi kau sering menghabiskan waktumu di sini?”

“Kantor ini sudah kuanggap seperti rumahku sendiri sejak aku berusia dua puluh lima tahun.”

“Dua puluh lima? Sekarang berapa usiamu oppa?” Tanya Yoona penasaran. Selama ini ia hanya sebatas menerka-nerka berapa usia Donghae sebenarnya tanpa pernah tahu berapa tepatnya usia pria itu. Tapi dari paras yang ditunjukan oleh Donghae, mungkin usianya sekitar tiga puluh empat tahun.

“Usia hanyalah angka Yoona, itu tidak terlalu penting. Lihatlah pantulan dirimu di dalam cermin, bukankah kita sama? Manusia sebenarnya hanya digolongkan kedalam empat jenis, anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia. Saat ini kita sama-sama berada di tahap manusia dewasa, jadi bukankah kita sama?”

Yoona mengamati pantulan dirinya di dalam cermin dengan serius sambil sesekali melirik pantulan Donghae yang berada tepat di belakangnya. Apa yang dikatakan oleh Donghae padanya sedikit banyak memang benar. Ia dan Donghae terlihat tidak ada bedanya sekarang. Mereka berdua sama-sama dua orang manusia dewasa dan jika diamati secara sekilas mereka berdua tampak berada di usia yang hampir sama.

“Kau benar oppa, usia hanyalah angka. Kau akan menunjukan apa lagi padaku?”

“Untuk hari ini aku hanya akan menunjukan bagaimana kehidupanku di kantor. Aku janji, kau akan mendapatkan lebih banyak lagi setelah ini.” Bisik Donghae menggoda di telinga Yoona. Wanita itu refleks memundurkan kepalanya sambil menatap pantulan wajah Donghae dengan raut takut. Ia belum pernah berada sedekat itu dengan seorang pria. Keberadaan Donghae di belakangnya yang sedang berbisik di telinganya, membuat bulu kuduknya seketika meremang karena sensasi geli yang ditimbulkan Donghae dari hembusan napasnya yang hangat.

“Sebelum kita pergi, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

“Dimana keluargamu yang lain?”

Untuk beberapa saat Donghae hanya diam sambil membuang wajahnya kearah lain. Pria itu terlihat enggan untuk membahas masalah keluarga yang terasa seperti sebuah omong kosong untuknya. Sejak dulu ia tidak terlalu menyukai sebuah ikatan yang dinamakan dengan keluarga karena ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki sebuah keluarga. Ayahnya yang keras tidak pernah memperlakukannya seperti seorang keluarga, tapi lebih kepada seorang pekerja yang harus diperbudak untuk memenuhi seluruh keinginannya.

“Aku tidak memiliki keluarga. Lebih baik kita pergi sekarang, dosen Kang Jiwon akan segera tiba untuk memberikan kuliah pagi.”

Tanpa menunggu jawaban dari Yoona, Donghae segera melangkah keluar dari ruangannya sambil mengepalkan tangannya dibalik saku celana hitamnya.

-00-

Sepekan berlalu sejak Donghae mulai membuka diri untuk menjadi salah satu bagian dari keluarga Yoona. Kini setiap pagi mereka selalu menghabiskan waktu bersama untuk sarapan dan beberapa kali mereka juga menghabiskan waktu di malam hari untuk makan malam. Dan malam ini ada satu hal yang sedikit berbeda dari makan malam sebelumnya, karena kali ini Lee Donghae tidak hanya sekedar makan malam, tapi juga ingin mengajak Yoona minum untuk merayakan keberhasilannya dalam berbisnis.

“Apa kau yakin aku boleh meminum ini?”

Yoona tampak sangsi sambil menatap cairan merah yang berada di dalam gelas bening tinggi di depannya. Selama ini ia belum pernah mengonsumsi semua jenis alkohol apapun. Ia lebih suka meminum aneka macam jus daripada meminum alkohol yang bisa membuat kepalanya berputar. Namun kali ini Donghae memaksanya untuk minum dengan alasan agar ia terbiasa meminum cairan merah itu. Lagipula umurnya sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mengonsumsi segelas alkohol, hanya saja ia terlalu takut untuk melakukannya karena ini adalah pengalaman pertamanya meminum alkohol bersama seorang pria.

“Kau sudah dewasa Yoona, mari kita bersulang. Cheers!”

Ting

Donghae membenturkan ujung gelasnya pada ujung gelas Yoon dan langsung meminum winenya sendiri dengan santai. Pria itu melirik Yoona sekilas yang tampak ragu sambil tetap menegak cairan merah itu dengan gaya aristrokatnya yang khas. Tak berapa lama, ia melihat Yoona mulai mendekatkan ujung gelas itu ke dalam mulutnya, dan perlahan-lahan cairan merah itu mulai ditegak oleh Yoona sedikit demi sedikit. Melihat Yoona yang sedang menikmati cairan merah itu untuk pertama kali, membuat Donghae merasa gemas dengan berbagai ekspresi yang sedang ditunjukan Yoona. Padahal malam ini Yoona baru meminum wine, ia belum memperkenalkan Yoona pada berbagai jenis alkohol berkadar tinggi seperti vodka, martini, tequilla, dan berbagai jenis alkohol liannya yang pasti akan membuat Yoona semakin mengernyit dalam saat meminumnya.

“Bagaimana? Bukankah itu enak?”

“Aku sepertinya lebih menyukai jus anggur daripada wine ini.” Dengus Yoona pelan sambil meletakan gelas bening itu jauh-jauh dari hadapannya. Namun Donghae segera menahan tangan mungil itu dan kembali mendekatkan gelas milik Yoona yang masih terisi setengah cairan wine.

“Habiskan!” Perintah Donghae mutlak. Pria itu menatap Yoona tajam dan meminta Yoona untuk segera menghabiskan minumannya melalui sorot matanya yang tajam. Sambil mendengus kesal, Yoona lantas menegak cairan merah itu dengan cepat hingga ia tanpa sadar memekik tertahan kala cairan merah itu mulai terasa membakar kerongkongannya perlahan-lahan.

“Aku menyuruhmu untuk menghabiskan, bukan meminumnya dalam sekali teguk. Kau akan terbakar jika seperti itu.”

Donghae berucap datar sambil mengambil alih gelas wine milik Yoona yang telah kosong. Pria itu kemudian berjalan menuju rak minuman miliknya dan segera mengambil salah satu botol minuman beralkohol yang seluruh cairannya berwarna putih bening.

“Itu apa? Air putih?” Tanya Yoona polos. Donghae refleks terkekeh pelan saat melihat betapa polosnya Yoona saat melihat sebotol minuman beralkohol yang sedang dipegangnya. Ia tidak tahu, apa saja yang telah dilakukan Yoona selama enam tahun ini, namun ia telah bertekad pada dirinya sendiri jika ia perlahan-lahan akan memperkenalkan pada Yoona bagaimana kehidupannya selama ini.

“Ini vodka, salah satu minuman beralkohol favoritku. Kau harus mencobanya.”

“Tapi itu terlihat seperti air putih. Kau yakin itu bukan air putih?” Tanya Yoona sambil mengamati gerakan tangan Donghae yang sedang membuka tutup botol vodkanya. Beberapa detik kemudian terdengar bunyi “flop” dari tutup botol yang sedang dibuka Donghae dan pria itu langsung menuang isinya sedikit kedalam gelas milik Yoona yang telah ia siapkan.

“Kalau begitu kau harus merasakannya, apakah ini air putih atau bukan.”

Yoona mengamati gelas bening miliknya lekat-lekat dengan tangan ragu yang mulai meraih gelas itu. Diciumnya permukaan cairan bening itu sebentar, sebelum akhirnya ia meneguk cairan itu perlahan sambil mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Ia sepertinya tidak suka dengan salah satu minuman favorit Donghae berwarna bening itu.

“Yiekss!! Apa ini, akhhh… ini tidak enak!” Seru Yoona keras sambil menjauhkan gelas bening itu dari hadapannya. Ia benar-benar tidak suka dan tidak akan mau lagi meminum cairan menjijikan itu karena rasanya benar-benar terasa mengerikan di dalam mulutnya.

“Bukankah kau ingin mengenalku? Kau seharusnya memulainya dari hal-hal kecil seperti ini karena aku sangat suka minum. Bisa jadi aku akan selalu memintamu menjadi teman minumku. Jadi kau harus mulai berlatih dari sekarang.”

“Tapi ini tidak enak! Ini seperti segelas racun. Kau saja yang menghabiskan!”

Yoona mendorong gelas beningnya kearah Donghae dan tidak mau lagi meminum cairan itu. Namun Donghae justru mengangsurkan gelas bening itu kedalam tangan Yoona dan dengan gerakan sedikit memaksa pria itu mengajak Yoona untuk bersulang bersama.

Ting

“Kau harus meminumnya Yoona.”

Dengan pasrah Yoona meminum cairan itu hingga tandas sambil menunjukan berbagai macam ekspresi jijik yang terasa seperti sebuah hiburan untuk Donghae. Melihat Yoona yang sedang meminum alkohol dengan gaya kaku seperti itu membuat Donghae tak bisa menyembunyikan wajah gelinya. Yoona yang lugu, perlahan-lahan ia rusak dengan gaya hidupnya yang tak sehat.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Pusing. Kurasa aku sudah mulai mabuk.” Jawab Yoona sambil memijit-mijit kepalanya pelan. Tiba-tiba Donghae menjulurkan tangannya kearah Yoona, dan ia mulai membelai pipi Yoona lembut dengan raut datar yang berhasil menghipnotis Yoona.

“Kau belum terlalu mabuk.”

“Aa apa?”

“Kita minum sekali lagi.”

Dengan gerakan cepat Donghae langsung berdiri menuju rak minumannya dan mengambil salah satu botol lagi yang berisi cairan berwarna coklat terang. Sambil mengernyit heran, Yoona mengamati setiap gerakan Donghae yang terlihat lincah di depannya sambil menerka-nerka rasa minuman yang sebentar lagi akan meluncur ke dalam kerongkongannya.

“Ini, brandy.”

Tanpa mengajak Yoona bersulang, Donghae langsung meneguk cairan coklat itu cepat dan meletakan gelasnya dengan gerakan halus hingga membuat Yoona terpana saat melihatnya. Ia kemudian ikut menegak minumannya cepat dan langsung membanting gelas itu refleks kala ia merasakan rasa tidak enak itu kembali mengalir di kerongkongannya.

“Ini benar-benar tidak enak.”

“Kau akan terbiasa. Sekarang tidurlah, ini sudah malam.”

Donghae berjalan pergi meninggalkan Yoona begitu saja tanpa mempedulikan kondisi Yoona yang terlihat pusing di atas meja. Wanita itu dengan malas justru merebahkan kepalanya di atas meja dan mulai memejamkan matanya untuk tidur. Malam ini ia merasa begitu pusing. Seluruh cairan memabukan itu telah mengambil alih seluruh kesadarannya dan membuatnya tidak mampu bangkit untuk hanya sekedar berjalan menuju kamarnya di lantai dua.

“Erghh… Kepalaku pusing dan berat. Lee Donghae… kau harus bertanggungjawab.” Racau Yoona sebelum kesadarannya hilang dan digantikan dengan suara dengkuran halus yang berasal dari mulutnya.

-00-

Keesokan paginya Yoona masih merasa sedikit pusing saat berada di kampus. Wajahnya yang biasanya berbinar cerah, kini tampak pucat dan lesu. Semalam ia benar-benar tidur di dapur dengan posisi yang membuat punggungnya sakit saat bangun. Tidak ada satupun pelayan yang membangunkannya untuk pindah. Bahkan sang tersangka utama yang membuatnya mabuk justru pergi begitu saja tanpa sedikitpun mempedulikan kondisinya yang mengenaskan.

“Yoona, selamat pagi.”

Dengan gerakan malas Yoona langsung menoleh kesamping sambil memberikan senyuman seadanya pada sang pemanggil yang langsung terheran-heran.

“Ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat pucat.”

Pria itu mengulurkan tangan kanannya kearah dahi Yoona dan mulai merasakan suhu tubuh Yoona yang ternyata normal.

“Aku baik-baik saja, hanya sedikit mabuk semalam.” Jawab Yoona jujur. Wanita itu benar-benar tidak memperhatikan bagaimana raut wajah Kyuhyun yang langsung berubah terkejut saat ia mengatakan jika semalam ia baru saja mabuk.

“Kau minum? Siapa yang mengajakmu minum?”

“Ayah angkatku.” Jawab Yoona lagi dengan jujur. Ia kemudian berjalan gontai menuju kelasnya, meninggalkan Kyuhnyun sendiri yang masih sibuk berpikir di belakangnya.

“Ayah angkatmu adalah pria yang waktu itu menjemputmu?”

“Hmm, dia ayah angkatku. Kenapa?”

“Tidak. Hanya saja, ia terlihat belum terlalu tua.”

Yoona menganggukan kepalanya setuju dengan pernyataan yang baru saja dilontarkan oleh Kyuhyun. Beberapa minggu menghabiskan waktu bersama Donghae membuatnya perlahan-lahan merubah cara pandangnya terhadap pria itu. Sekarang ia tidak lagi menganggap Donghae sebagai pria tua yang lebih cocok menjadi ayahnya, tapi sekarang ia justru menganggap Donghae sebagai pria dewasa matang yang benar-benar tampan. Tak pernah sekalipun ia melihat teman-teman prianya memiliki aura seksi yang begitu pekat seperti Donghae. Pria paling populer di kampusnya pun tidak akan bisa menyaingi ketampanan Donghae yang selalu dilapisi oleh kabut misterius yang terlihat begitu menawan di matanya. Sayang, ia tidak mungkin memiliki perasaan untuk ayah angkatnya sendiri. Jadi ia memutuskan untuk membuang jauh-jauh semua pikiran picik itu dari dalam kepalanya, dan memutuskan untuk fokus pada materi kuliahnya yang kian hari kian mencekiknya. Lagipula ia juga ingin segera lepas dari bayang-bayang Lee Donghae. Setelah lulus ia ingin hidup mandiri dan bekerja sesuai dengan bidang perkuliahan yang saat ini ia ambill.

“Kyuhyun ssi aku masuk ke kelas dulu, sampai jumpa.”

Kyuhyun tampak tidak rela saat Yoona meninggalkannya begitu saja untuk masuk ke dalam kelas. Padahal ia pikir mereka bisa pergi bersama karena mereka saat ini berada di kelas yang sama. Sayangnya Yoona lebih memilih untuk masuk terlebihdahulu dan meninggalkannya sendiri dengan raut kecewa yang tercetak jelas di wajahnya.

-00-

Sebulan berlalu dengan cepat. Hubungan Yoona dan Donghae semakin lama semakin dekat. Yoona yang dulunya selalu terlihat takut saat berhadapan dengan Donghae, pelahan-lahan ia mulai berani menunjukan sikap aslinya di hdapan pria itu. Tak ada lagi kecanggungan yang terselip diantara mereka. Justru Yoona semakin lama semakin terlihat manja pada Donghae karena pria itu juga memberikan perhatian yang cukup banyak pada Yoona semenjak ia memutuskan untuk menampakan diri di hadapan Yoona.

“Oppa, saatnya sarapan.”

Yoona melongokan kepalanya kedalam ruang fitness milik Donghae sambil tersenyum cerah pada pria itu. Tapi saat melihat tubuh seksi Donghae yang dipenuhi banyak keringat, Yoona merasa tertarik dan memutuskan untuk menyusul Donghae kedalam ruang fitness pria itu.

“Saatnya sarapan.”

“Aku tahu, makanlah lebih dulu. Tidak usah menungguku.”

Yoona tanpa sadar meneguk salivanya kagum saat ia melihat wajah serius Donghae yang sedang sibuk berlatih dengan bulir-bulir keringat yang terus turun di atas permukaan kulit coklatnya. Dan entah mendapatkan keberanian dari mana, tangan kanan Yoona tiba-tiba saja telah terulur untuk mengelus bisep keras milik Donghae yang menggiurkan.

“Apa yang kau lakukan?”

Gerakan tangan Yoona seketika terhenti kala pria itu justru mencengkeram pergelangan tangannya sambil menatapnya tajam dengan kedua manik hitamnya yang mengerikan.

“Aa aaku… Aa aku…”

Yoona terlihat kesulitan untuk berkata-kata sambil mencoba mengalihkan tatapannya dari tatapan Donghae yang mengerikan. Ia pun dengan gerakan memohon meminta Donghae untuk melepaskan pergelangan tangannya dan ia langsung beringsut mundur beberapa meter ke belakang.

“Maaf.”

Yoona berseru pelan dalam kegugupannya sambil memilin ujung kausnya pelan. Ia kemudian berniat untuk segera pergi dari ruangan yang menyesakan itu, namun gerakannya langsung ditahan oleh Donghae kala pria itu menarik tubuhnya dan membuat tubuh kecilnya membentur tubuh berotot Donghae yang dipenuhi oleh keringat.

“Kau menginginkan ini bukan?”

“Hah? Tti tidak. Tolong lepaskan aku oppa, aku harus menghabiskan sarapanku di meja makan.” Bohong Yoona beralasan. Jelas-jelas ia sama sekali belum memulai sarapannya karena ia memang ingin mengajak Donghae untuk sarapan bersama. Tapi melihat Donghae yang memperlakukannya seperti ini, membuatnya gugup setengah mati dan ingin segera pergi dari kungkungan pria berbahaya ini.

“Jangan menggodaku lagi dengan wajah polosmu Yoona. Sekarang pergilah.”

Donghae berbisik pelan di telinga kiri Yoona, lalu ia melepaskan begitus aja tubuh Yoona yang telah dibuat lemas olehnya. Sekilas ia melihat tubuh Yoona sedikit limbung saat ia melepaskan tangannya dari pinggang wanita itu. Namun tak berapa lama, Yoona dapat kembali mengendalikan dirinya dan segera berlari terbirit-birit keluar dari ruang fitness yang membuat jantungnya tiba-tiba berdetak dua kali lipat lebih brutal.

Sementara itu, Donghae hanya menatap datar kepergian Yoona sambil melirik lengannya yang sempat dibelai oleh Yoona. Desir-desir halus yang tadi sempat ia rasakan saat Yoona mengelus lengannya, masih ia rasakan samar-samar setelah kepergian wanita itu dari ruangan fitnessnya. Dengan seringaian licik, Donghae segera mengakhiri aktivitas olahraganya sambil menyusun berbagai rencana yang tiba-tiba muncul di otaknya.

“Maafkan aku Seulong, tapi mungkin putrimu akan menjadi salah satu mainanku.”

-00-

Yoona bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya sambil menutup kedua telinganya yang merasa terganggu dengan bunyi petir yang saling bersahut-sahutan. Malam ini Seoul diterpa badai hebat hingga suara gemuruhnya terdengar begitu keras dan saling bersahut-sahutan di luar kamarnya.

“Ahh… aku tidak bisa tidur!”

Yoona mendengus gusar dan segera melangkah turun untuk mengambil air di dapur. Ia mungkin perlu membuat segelas minuman hangat agar malam ini ia bisa segera terlelap dengan nyaman. Besok pagi-pagi sekali ia sudah harus berada di kampus karena ia memiliki jadwal kuis pukul delapan pagi.

Dengan langkah pelan, Yoona mulai berjalan menyusuri lorong gelap yang terasa begitu mencekam untuknya. Namun ia terus memberanikan diriya sendiri untuk turun ke bawah karena ia perlu membuat segelas minuman hangat yang bisa membuatnya segera tertidur nyenyak malam ini. Ketika melewati pintu kamar Donghae yang berada di ujung lorong, Yoona tiba-tiba saja merasa penasaran dan ingin masuk kedalam kamar itu. Ia perlahan-lahan memegang kenop pintu kamar Donghae, dan mulai memutarnya dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak membangunkan siapapun yang mendengarnya. Setelah berhasil membuka pintu kayu itu, Ia kemudian mengintip sedikit isi kamar ayah angkatnya yang gelap itu sambil mengernyitkan dahinya heran. Ternyata Donghae belum pulang dari kantornya. Kamar itu terlihat kosong dan gelap. Ia pun akhirnya memutuskan untuk menutup pintu kayu itu kembali karena ia merasa dirinya sudah melebihi batas malam ini. Ia tidak seharusnya memiliki keinginan untuk masuk ke dalam kamar milik ayah angkatnya dan bertingkah seperti seorang pencuri yang hendak melakukan kejahatan.

“Apa yang  kau lakukan di depan kamarku?”

Yoona langsung berjengit kaget sambil memutar tubuhnya cepat. Di belakangnya, ia menemukan Donghae sedang menatapnya tajam dengan rambut dan ujung kemeja atas yang sedikit basah karena air hujan. Dengan gelagapan Yoona langsung mencari-cari alasan di dalam kepalanya untuk menghilangkan kecurigaan Donghae terhadapnya.

“Op oppa… aku… aku hanya ingin memastikan kau sudah pulang atau belum. Aku mengkhawatirkanmu.” Ucap Yoona terbata-bata. Ia terlihat cukup kesulitan untuk mencari alasan yang logis di depan Donghae. Dan pada akhirnya hanya alasan itulah yang bisa ia berikan untuk menyamarkan perbuatannya malam ini.

“Apa yang kau lakukan malam-malam di luar kamarmu?”

“Aku hanya ingin membuat minuman hangat di dapur. Malam ini aku tidak bisa tidur karena suara badai yang sangat mengerikan di luar sana. Oh! Kau terluka.”

Yoona refleks menjulurkan tangannya untuk membelai ujung bibir Donghae yang sedikit mengeluarkan darah, tapi hal itu langsung ditepis Donghae dengan kasar hingga membuat Yoona terkejut.

“Ambilkan aku kotak obat, aku membutuhkannya sekarang.”

Dengan langkah tergesa Yoona segera melesat pergi menuju dapur untuk mengambil kotak obat yang selalu berada di sudut dinding di ruangan itu. Sejak awal kepindahannya ke mansion itu, tuan Kim selalu memberitahunya jika ia meletakan kotak obat itu di sana sebagai antisipasi jika salah satu pekerjanya di dapur terluka.

 

Tok tok tok

 

Yoona mengetuk pintu kamar Donghae pelan dan segera membukanya setelah ia mendengar suara samar Donghae yang menyuruhnya untuk masuk. Pria itu tampak sedang memejamkan mata lelahnya di atas sofa hitam di sudut kamarnya dan tampak belum mengganti bajunya sedikitpun. Saat Yoona berdiri di sisi tubuhnya, Donghae refleks membuka matanya nyalang dan langsung menarik tangan Yoona untuk duduk di sebelahnya.

“Kau bisa mengobatinya?”

“Bb bisa, aku bisa melakukannya.”

Yoona mulai membuka kota obat itu dengan cekatan dan langsung mengeluarkan beberapa kapas dari dalam kotak obat itu. Ia kemudian menuangkan obat merah ke atas kapas itu dan hendak menempelkannya pada luka terbuka di sudut bibir Donghae. Tapi ia kemudian mengurungkan niatnya itu dan lebih memilih untuk mencari handuk di lemari Donghae untuk mengeringkan kepala Donghae yang basah terlebih dahulu.

“Aku akan mengeringkan rambutmu dulu sebelum mengobati lukamu. Apa itu terasa sakit?”

“Tidak.”

“Apa yang kau lakukan hingga bibirmu bisa terluka seperti ini?”

“Aku hanya melakukan salah satu rutinitas malamku. Ini bukan masalah serius.”

Yoona memilih untuk diam dan lebih fokus pada kegiatannya mengeringkan ujung rambut Donghae yang basah. Perlahan tapi pasti, gerakan tangan Yoona yang lembut membuat Donghae terbuai hingga pria itu memejamkan matanya nikmat. Dan samar-samar Yoona dapat mendengar suara erangan Donghae yang terdengar begitu seksi di telinganya. Namun sebisa mungkin ia segera  menghilangkan pikiran nista itu dari dalam kepalanya agar hal-hal gila itu tidak semakin merusak otak warasnya. Setelah rambut Donghae cukup kering, Yoona lantas mengambil kapas putihnya dan mulai mengobati ujung bibir Donghae dengan obat merah yang telah ia bubuhkan di atas kapas putih itu. Dengan penuh kelembutan, Yoona mulai menekan ujung bibir itu pelan sambil menundukan kepalanya di depan wajah Donghae. Kedua mata Donghae yang terpejam membuat Yoona sangat bersyukur karena dengan begitu ia tidak perlu dibuat gugup oleh tatapan Donghae yang mematikan. Namun ketika tiba-tiba Donghae membuka matanya dan menatap kedua matanya tajam, Yoona langsung memalingkan wajahnya kearah lain sambil menahan rasa panas yang mulai menjalar di seluruh wajahnya.

“Aku tahu kau gugup.”

“Hah? Ttti tidak. Aku hanya sedang melihat-lihat isi kamarmu.”

“Kalau begitu lihat aku.”

Yoona dengan terpaksa memalingkan wajahnya lagi kearah Donghae sambil menelan salivanya gugup saat iris coklat itu mulai menatapnya dengan tatapan tajam. Pria itu kemudian menekan tengkuknya kuat dan memaksa bibir merah muda miliknya beradu dengan bibir tipis dingin milik pria itu yang mulai melumatnya dengan lembut. Untuk beberapa saat Yoona tidak bisa berpikir jernih dan hanya membiarkan Donghae menguasai bibirnya. Dan saat ia mulai sadar dengan apa yang sedang dilakukan oleh Donghae, ia langsung mendorong tubuh Donghae kuat-kuat sambil menatap pria itu ketakutan.

“Apa yang kau lakukan padaku?” Tanya Yoona getir. Apa yang baru saja dilakukan oleh Donghae membuatnya takut dan juga gugup. Ini adalah pengalaman pertamanya berciuman dengan seorang pria. Dan parahnya pria yang telah mencuri ciuman pertamanya adalah Lee Donghae, ayah angkatnya sendiri.

“Menciummu tentu saja. Kau terlihat menginginkannya sejak tadi, apa aku salah?”

“Seharusnya kau tidak menciumku. Ini salah.”

Yoona terisak pelan di depan Donghae sambil menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa sangat malu sekarang karena telah mencium ayah angkatnya sendiri. Namun Donghae langsung membawanya ke dalam pelukannya dan mengelus surai coklat itu pelan agar Yoona merasa lebih tenang.

“Tidak ada yang salah dalam hubungan ini, kita tidak memiliki hubungan darah apapun. Jadi kau bisa menciumku sebanyak yang kau mau.”

“Tapi kau adalah…”

“Aku bukan ayah angkatmu jika itu yang ingin kau katakan. Aku hanyalah walimu karena ayahmu menitipkanmu padaku sebelum ia meninggal. Jadi berhenti untuk mengatakan padaku jika aku adalah ayah angkatmu.” Geram Donghae kesal. Ia kemudian melepaskan tubuh Yoona dari dekapanya dan langsung melumat bibir tipis itu kuat penuh nafsu. Sejak awal ia memang telah menginginkan Yoona. Gadis kecil polos yang dulu ia ambil dari panti asuhan itu, perlahan-lahan mulai tumbuh menjadi seorang wanita dewasa mengagumkan yang mampu menggetarkan hatinya. Dan keputusannya untuk menunjukan sosoknya di depan Yoona setelah selama enam tahun lamanya ia bersembunyi dari wanita itu adalah untuk mendapatkan wanita itu kedalam genggamannya. Ia ingin menjadikan Yoona sebagai salah satu mainannya, ia ingin mencicipi bagaimana rasa gadis polos seperti Yoona, dan bagaimana nikmatnya tubuh mungil itu berada di bawah kuasanya.

-00-

Jangan pernah berharap lebih padaku Yoona, semua ini hanyalah bagian dari kesenangan duniawi semata. Kau hanya perlu menikmati semua permainan ini tanpa memasukan sedikitpun perasaanmu kedalamnya. Karena jika kau melakukannya, maka kau akan hancur.

 

Yoona terisak pelan di dalam kamarnya sambil memeluk tubuhnya sendiri seperti seorang bayi. Bayangan percintaanya dengan Donghae tak pernah sedikitpun hilang dari ingatannya, meskipun semua itu telah berlalu sejak dua bulan yang lalu. Setiap hari ia selalu memikirkan bagaimana nasibnya setelah semua ini berlalu karena Lee Donghae terlanjur merusaknya menjadi seorang wanita murahan. Malam itu ia berhasil mendorongnya kedalam jurang kenikmatan hingga ia lupa akan kehidupan nyata yang telah menunggunya dengan berbagai masalah pelik yang sebentar lagi akan memangsanya. Dan sialnya, setelah malam itu sikap Donhae padanya mulai berubah. Pria itu kembali menjadi Lee Donghae yang dingin dan acuh seperti dulu. Bahkan beberapa hari kemudian pria itu menghancurkan seluruh cintanya dengan membawa seorang jalang ke mansionnya, dan mereka bermain di dalam ruang kerja pria itu hingga suaranya berhasil membuat kepala Yoona terasa pening. Ia telah menghancurkan dirinya sendiri dengan membiarkan Donghae menyentuh tubuhnya, dan membuatnya kehilangan kesempatan untuk meraih mimpi-mimpinya di masa depan. Ia tidak akan pernah bisa lagi meraih semua itu dengan kondisinya yang begitu hina dan kotor. Namun ia juga tidak bisa terus berdiam diri seperti ini sambil menyesali kebodohannya tanpa melakukan apapun. Ia sekarang harus bangkit. Keluar dari semua keterpurukan yang telah membelenggunya selama ini dan mulai menjadi seorang Im Yoona yang berbeda.

Dengan gerakan cepat ia segera mengambil ponsel putihnya dan mulai mengetikan pesan untuk Yunho. Ia akan mengambil tawaran yang diberikan pria itu untuk menjadi seorang model. Ia tidak boleh lagi terlihat kacau dan lemah seperti ini. Lee Donghae, tidak boleh lagi menginjak-injak harga dirinya. Dan ini adalah saatnya ia menunjukan pada dunia jika Im Yoona bukanlah seorang gadis polos yang terlihat lemah, tapi ia adalah seorang wanita berbahaya yang begitu kejam dan juga licik.

Flashback end

-00-

Di tengah cuaca terik yang yang begitu menyengat, Yoona tampak menggerutu sambil berjalan bersama asistennya untuk pergi ke sebuah restoran di depan lokasi pemotretannya siang ini. Sejak pagi ia belum memasukan apapun ke dalam perutnya, dan sekarang ia benar-benar lapar hingga ia ingin memakan apapun yang berada di depannya. Tapi sialnya, menu makan siang yang disediakan oleh pihak agensinya sama sekali tidak cocok dengan lidahnya hari ini, sehingga sekarang ia harus bersusah payah berjalan di bawah terik matahari untuk makan di sebuah restoran jepang yang letaknya berada di depan kantor agensi tempatnya bekerja. Sambil menggerutu Yoona terus berjalan dengan salah satu tangan yang menutupi kepalanya untuk menghalau teriknya matahari yang membakar kulitnya. Karena ia terlalu banyak menggerutu dan tidak memperhatikan jalan, tiba-tiba saja ia sudah terpental dan mendarat dengan mulus di atas aspal. Seseorang telah menabraknya, atau mungkin…. ia yang telah menabrak seseorang.

“Nona Yoona!”

Jimin berteriak heboh dan langsung membantu Yoona untuk berdiri. Sementara itu, Yoona justru terlihat marah sambil memaki-maki siapapun yang telah menabraknya hingga ia berakhir memalukan di tengah jalan.

“Apa kau tidak punya mata, hah? Kau telah membuatku jatuh dengan sangat memalukan di tengah jalan! Kau harus….”

“Yoona?”

Yoona menghentikan gerakan jarinya tepat di depan wajah pria yang menabraknya sambil melebarkan matanya tak percaya. Dan dalam sekejap Yoona merasa seluruh harga dirinya akan runtuh saat ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

22 thoughts on “Black Swan: Fake Love (Two)

  1. Aaaaa keren banget.. itu yang nabrak Yoona siapa yah ? Ditunggu kelanjutannya ya thor 😊😊

  2. Seru ceritanyaa..
    Tp sebel sm sikapnya donghae, jahat bgt..
    Next thor, jgn lama2 yaa 🙂

  3. Kau benar benar brengs*k lee donghae… Aku menunggu saat kamu memohon dan berlutut di kaki yoona nantinya,,,

    Siapa pria yg menabrak yoona? Donghae atau pria yg dekat dengan yoona?

    Next author-nim….

  4. Wooow ternyata begitu ceritanya..
    Semoga Yoona bisa membalaskan rasa sakit hatinya pada dongek..n nantinya dongek yang akan nguber2 Yoona…

  5. Penasaran siapa namja yg di tabrak yoona itu?
    Donghae benar2 kejam banget merubah yoona ku yg polos menjadi

  6. Semoga yang menabrak yoona nantinya bisa membuat donghae cemburu. benar benar jahat perilaku donghae kasian yoona

  7. Ahhh lagi seru serunyaa malah tbc kayanya..
    penasaran siapa yg manggil Yoona noona dan siapa yg manggi Yoona sampe Yoona keliatan syok gitu..
    ntah kenapa langsung mikir mungkin kah itu Ayahnya yg ternyata blm meninggal? hahaha bisa gitu gk sih ..tercetus aja pikiran kaya gitu.
    atau mungkin Donghae? kecil sih kemungkinannya ,tapi siapa yg tau kan hahah di tunggu nextnya un ^^

  8. siapa yang manggil yoona??? apa mungkin seohyun?? ya ampun donghae ngajarin yoona begitu sih, jadinya udah gk polos lagi deh.

  9. Sukaa kenapa ff ini seru. Apalagi di sn perasaan saana benar” d uji sama hae.
    Sbnr ny apa motif hae sbnr nya.
    Tega aja hae anak sahabat ny sndiri dibuat mainan

  10. Tuan Lee tidak punya hati….kapan yoona bisa lepas
    semoga yoona akan dapat kebahagiannya

  11. Tuan Lee tidak punya hati….kapan yoona bisa lepas
    semoga yoona akan dapat kebahagiannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.