Black Swan: The Brown Eyes (One)

 

Hingar bingar musik yang menghentak mengiringi langkah seorang wanita cantik berambut coklat sepunggung yang sedang sibuk meliuk-liukan tubuhnya, menggoda setiap pria yang ia temui disepanjang jalan menuju lantai disko. Dengan pakaian ketat berwaran hitam sebatas paha, dan wajah cantik yang begitu memikat, wanita itu mampu menarik pria manapun yang ia sukai. Siulan, decakan, dan ajakan untuk menaripun berbondong-bondong datang mengiringi setiap langkahnya, namun tak banyak dari mereka yang benar-benar bisa menaklukan hati sang ratu yang angkuh itu, karena ia tidak benar-benar menyukai apa yang ia lakukan saat ini.

“Hai manis, ingin berkencang denganku? Menghabiskan malam yang begitu panjang ini di ranjang kamarku, hmm?”

“Hai tampan, senang bertemu denganmu malam ini. Tapi…. aku tidak bisa melakukannya denganmu.” Jawab wanita itu angkuh dengan aksen manjanya. Sang pria berjaket hitam itu tampak kecewa, namun ia tidak menyerah begitu saja. Ia tetap akan merayu wanita itu agar ia bersedia menghangatkan ranjangnya malam ini.

“Ayolah, hanya satu malam. Aku tidak akan mengikatmu atau memaksamu untuk menjadi kekasihku. Hanya menjadi teman kencanku malam ini, bagaimana?”

“Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku… tidak suka dengan mata coklatmu.”

“Apa? Aku tidak mengerti?” Tanya pria itu setengah berteriak. Suara musik yang semakin keras dan semakin menghentak membuat suara mereka berdua sama-sama tertelan oleh suara bising disekitar mereka.

“Aku tidak suka pria bermata coklat. Apa kau dengar?” Ucap wanita itu setengah berteriak juga. Raut wajahnya yang semula tampak baik-baik saja, perlahan-lahan mulai berubah gusar karena perbuatan pria cerewet pemaksa di depannya. Ia benar-benar tidak suka dengan jenis pria yang terlalu banyak bertanya seperti ini. Ia lebih suka pria dingin pendiam yang misterius, dan memancarkan aura mengintimidasi yang kuat, seperti seorang pria yang saat ini sedang menatapnya dari lantai dua gedung diskotik ini.

“Ada apa dengan pria bermata coklat? Apa kau akan menerima ajakanku untuk berkencan jika aku menggunakan lensa mata berwarna lain? Aku benar-benar ingin mengajakmu berkencan manis.” Goda pria itu. Yoona menyentak tangan pria itu dari wajahnya dan menatap mata pria itu tajam dengan wajah fake smilenya.

“Tentu kau bisa mengajakku berkencan, tapi aku tidak suka sesuatu yang palsu. Aku lebih suka sesuatu yang…. hmm… original. Jadi kau bisa mencongkel mata coklatmu terlebihdulu dan menggantinya dengan warna lain sebelum kau mengajakku untuk berkencan. Sampai jumpa tampan.”

Pria itu menganga tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh wanita itu. Hanya karena bola matanya berwarna coklat, ia gagal melakukan kencan dengan wanita seksi itu. Huh, selamanya ia jelas tidak bisa mendapatkan wanita itu karena ia tidak mungkin benar-benar mencongkel mata coklatnya seperti apa yang diminta oleh wanita seksi yang menawan itu.

“Kau gagal bung.”

Ucap salah seorang pria mencemooh. Pria itu hanya mendengus gusar, lantas berjalan pergi meninggalkan lantai disko itu untuk mencari mangsa yang lain.

Sementara itu, Yoona telah berada di tengah-tengah lantai disko untuk mulai menggerakan pinggulnya kesana kemari, sesuai dengan irama menghentak yang sedang dimainkan oleh DJ. Satu persatu teman-temannya pun mulai datang berbondong-bondong sambil merangkul Yoona yang sedang asik dengan kegiatan menarinya yang begitu erotis.

“Kau terlihat bersemangat sekali babe, sesuatu terjadi padamu hari ini?” Tanya Tiffany sambil merangkul bahu Yoona. Wanita cantik itu menghentikan gerakan tarinya seketika, dan langsung memeluk kedua sahabatnya heboh tanpa mempedulikan orang-orang yang masih menatapnya penuh napsu.

“Tebak apa yang kudapatkan hari ini, kontrak baru untuk pemotretan milik brand Gucci dan Jestina. Oh My Gosh, these two make me feel like fucking crazy! Kalian tahu bukan, selama ini aku selalu ingin menjadi model untuk brand mereka, sayangnya si jalang Hyerin selalu berhasil mendapatkannya karena ia menggunakan cara licik yang sangat menjijikan.”

“Menjual tubuhnya?” Tanya Jessica memastikan.

Yeah, something like that. Malam ini kita harus merayakan keberhasilanku dengan minum sepuasnya, aku akan mentraktir kalian minum.”

“Apa kau yakin Yoona? Jam malammu sepertinya akan segera habis.”

Tiffany melirik jam tangannya sekilas dan langsung mengarahkan kedua bola matanya pada seorang pria yang sejak tadi masih sibuk mengintai sang ratu disko malam ini, Im Yoona. Pria itu dengan mata tajamnya terus mengawasi gerak-gerik Yoona di lantai disko sambil menyesap martininya dengan gaya aristrokat khasnya yang begitu memikat. Di samping kiri kanannya, duduk dua orang wanita seksi yang sejak tadi terus membelai dadanya untuk memprovokasi. Namun tetap saja kedua mata tajam pria itu hanya terarah pada Yoona seorang.

“Persetan dengan jam malam Tiffany, malam ini aku hanya ingin merayakan keberhasilanku sebagai model untuk brand yang paling kuinginkan.”

Yoona lantas menarik kedua temannya untuk menari bersama di lantai disko sambil menggoda pria-pria tampan yang sejak tadi telah menatap mereka dengan tatapan kelaparan, terutama padanya karena ia adalah wanita yang paling diinginkan untuk menjadi teman kencan mereka, namun tak pernah ada satupun dari mereka yang berhasil mendapatkannya. Wanita itu, ia misterius. Ia sering terlihat berada di dalam club bersama kedua temannya, Tiffany dan Jessica, namun wanita itu sangat sulit untuk ditaklukan. Berbagai pria dari strata rendah hingga tinggi selalu berlomba-lomba untuk menaklukan Yoona, bahkan dengan cara-cara kotor sekalipun, namun Yoona tetap tidak bisa dijangkau. Wanita itu selalu dilindungi oleh bayang-bayang hitam sang penguasa dunia malam, Lee Donghae. Jadi tak pernah ada satupun pria yang benar-benar bisa mengajak Yoona berkencan. Selain karena Yoona memiliki kualifikasi yang sangat tinggi, pria-pria yang berani mendekati Yoona akan mendapatkan ancaman yang mengerikan dari Lee Donghae. Meskipun begitu, Yoona tetap saja gemar menggoda pria-pria kelaparan itu dengan tubuh seksinya. Ia berpura-pura seperti seorang jalang yang membutuhkan teman kencan di klub, namun pada akhirnya ia hanya akan mencampakan mereka dengan sadis, terutama pria-pria dengan bola mata berwarna coklat.

“Saatnya pulang, seret dia sekarang juga.”

Donghae berbisik tegas pada dua anak buahnya dan segera beranjak dari kursinya. Dengan langkah tegas ia berjalan meninggalkan gedung klub malam itu bersama dua wanita seksi yang sejak tadi masih terus menggelayuti kedua lengan kekarnya dengan manja. Ia lantas menunggu di dalam mobil limosinnya sambil menyesap sebatang cerutu yang asapnya telah membumbung tinggi di dalam mobil. Malam ini ia merasa kesal dengan wanita itu. Seenaknya saja ia memamerkan tubuh indahnya pada semua orang dan menggoda mereka dengan gaya nakalnya. Yoona memang wanita paling cantik yang pernah ia ketahui, dan beruntung ia telah memiliki wanita itu untuk dirinya sendiri. Sayang, ia lebih suka Yoonanya yang dulu. Yoonanya yang polos dan penuh kelembutan, yang selalu menatapnya dengan kedua mata bulatnya yang indah. Harta dan pergaulan telah merubah Yoona menjadi wanita yang tak terkontrol. Entah apa yang telah ia lewatkan selama ini, tiba-tiba saja Yoona telah menjadi seorang wanita yang berbeda. Tepatnya satu setengah tahun yang lalu Yoona mulai menjadi pribadi yang sangat bertolak belakang dengan pribadinya yang dulu. Mungkin ini memang salahnya karena selama ini ia selalu membiarkan Yoona bersikap sesuka hatinya. Ia tidak pernah memperhatikan siapa saja teman bergaul Yoona hingga pada akhirnya Yoona berakhir seperti seorang jalang yang gemar menggoda pria-pria di klub malam.

“Sialan! Kenapa kau mengganggu kesenanganku Lee Donghae!” Maki Yoona keras dari ujung pintu. Wanita itu terlihat gusar dan langsung memberikan tatapan tajamnya pada dua orang wanita yang masih setia menjadi parasit dikedua lengan Donghae. Dengan kasar Yoona menarik mereka semua keluar dan segera membanting pintu mobil Donghae keras untuk menyalurkan seluruh amarahnya pada pria menyebalkan di sampingnya.

“Saatnya pulang.” Jawab Donghae datar. Ia melirik Yoona sekilas dan segera meminta supirnya untuk pergi menuju ke kediamannya.

“Kenapa kau selalu membatasi ruang gerakku? Aku ingin bebas, aku ingin bersenang-senang dengan Tiffany dan Jessica. Selama ini aku juga tidak pernah mengusik kesenanganmu. Kau bebas pergi dengan wanita manapun di luar sana. Kau bebas! Tapi kenapa kau selalu mengekangku hah?” Marah Yoona berapi-api. Ia kesal dengan sikap Donghae yang selalu menarik ulurnya seperti ini. Di satu sisi pria itu melindunginya, namun di sisi lain pria itu juga membiarkannya bersikap sesuka hatinya. Sesekali ia ingin bebas, tanpa ada Lee Donghae yang selalu menjadi bayang-bayang hitamnya.

“Aku tidak pernah mengajaraimu untuk bersikap tidak sopan, panggil aku…”

“Oppa? Kau bahkan tidak mengadopsiku untuk menjadi adikmu, lalu untuk apa aku memanggilmu oppa? Kau seharusnya menjadi ayahku.”

Donghae mengetatkan rahangnya jengkel dan tiba-tiba tangan kanannya telah menarik tangan kiri Yoona agar wanita itu merapat pada tubuhnya. Sudah cukup ia menahan kesabarannya untuk wanita itu malam ini. Dan sekarang tak akan ada ampun lagi untuk Im Yoona.

“Kau masih ingin aku menjadi ayahmu setelah apa yang terjadi selama ini, hmm?” Tanya Donghae penuh penekanan. Yoona memalingkan wajahnya kearah lain dan tampak malas untuk menatap wajah Donghae. Ia sangat benci dengan kedua mata Donghae yang selalu memancarkan warna coklat yang sangat dibencinya. Lee Donghae adalah pria dengan bola mata berwarna coklat pertama yang dibenci Yoona. Karena pria itu, ia sekarang sangat membenci semua pria dengan bola mata berwarna coklat!

“Lihat aku, aku tidak suka diabaikan!”

“Kenapa kau selalu memperlakukanku seperti ini? Seharusnya kau tidak perlu mengadopsiku karena kau tidak pernah bersikap baik padaku. Kau brengsek!” Teriak Yoona marah tepat di depan wajah Donghae. Dengan kasar Donghae melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Yoona dan membiarkan wanita itu beringsut menjauh darinya. Yoona memang telah berubah. Dulu mungkin wanita itu masih bisa bersikap baik padanya, menghargainya sebagai seseorang yang mengadopsinya dari panti asuhan, dan menganggapnya sebagai seorang oppa yang baik, meskipun ia sebenarnya lebih pantas untuk menjadi ayahnya.

 

Flashback

Saat itu bulan November ketika Donghae untuk kali pertama menginjakan kakinya di sebuah panti asuhan yang berada di pinggiran kota. Bangunan sederhanan dengan warna putih lusuh itu terlihat berdiri kokoh dengan berbagai anak-anak yang sedang berlarian kesana kemari sambil tertawa terbahak-bahak dengan lepas. Donghae cukup lama memperhatikan semua kegiatan itu hingga tiba-tiba asistennya telah berdiri di sampingnya sambil menunjuk seorang gadis kecil yang selama ini telah dicarinya.

“Itu anak dari Im Seulong.”

“Sudah berapa lama ia berada di sini?” Tanya Donghae datar. Ia sejujurnya sangat malas berurusan dengan seorang anak kecil. Lebih tepatnya seorang anak kecil yang sedang beranjak menuju fase remaja. Anak itu sekarang berusia empat belas tahun, memang tidak terlalu terlihat seperti anak-anak. Tapi tetap saja Lee Donghae menganggapnya sebagai anak-anak, mengingat usianya yang telah menginjak tiga puluh tahun saat ini.

“Kira-kira empat tahun. Sejak ayahnya meninggal karena insiden itu, ia langsung dimasukan kedalam panti asuhan ini oleh pihak kepolisian. Anak itu sama sekali tidak memiliki keluarga, sehingga polisi memutuskan untuk membawa anak itu ke sini. Tuan, apa anda yakin akan mengadopsi gadis kecil itu?”

Donghae terdiam sejenak. Memikirkan jawaban untuk pertanyaan yang diajukan oleh asistennya. Ia sebenarnya tidak suka jika harus berurusan dengan anak kecil. Terlalu repot dan menyusahkan, namun ia telah berjanji pada ayah gadis kecil itu jika ia akan menjaga putrinya setelah pria itu meninggal. Jadi apapun alasannya, janji tetap harus ditepati. Meskipun ia brengsek, tapi ia selalu menepati janjinya dengan baik.

“Ayo kita masuk.”

Tanpa menghiraukan pertanyaan dari asistennya, Donghae segera melangkah masuk kedalam bangunan panti. Kesan pertama yang ditangkap Donghae dari panti asuhan itu adalah berisik, ramai, dan sesak. Bangunan panti itu ternyata tidak sebesar yang ia kira. Saat ia masuk ke dalam, ia bisa melihat betapa kecilnya bangunan panti itu dengan puluhan anak-anak panti yang malang. Tak bisa ia bayangkan bagaimana kehidupan mereka selama ini. Sudah pasti mereka hidup dengan kehidupan yang sangat seadanya di sana.

“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?”

Seorang wanita paruh baya yang merupakan pengurus panti menyapa Donghae dengan ramah sambil mempersilahkan Donghae untuk duduk di atas kursi kayu yang terlihat lapuk. Wanita itu kira-kira berusia akhir lima puluhan dengan beberapa rambut putih yang terlihat menghiasi kepalanya. Namun aura keibuan yang dipancarkan oleh wanita itu mampu menentramkan siapapun yang melihat senyum bijaknya, termasuk Donghae.

“Aku ingin mengadopsi salah satu anak di sini.” Ucap Donghae langsung. Pria itu benar-benar tidak suka berbasa basi dan hanya ingin segera menyelesaikan urusannya untuk menepati janjinya pada Im Seulong. Ia sebenarnya sudah lama menunda hal ini cukup lama. Kira-kira empat tahun. Ia telah menunda hal ini selama empat tahun karena rasa malas yang terus menggelayutinya sejak dulu. Lagipula ia sendiri adalah seorang pria yang bebas. Mengadopsi seorang anak perempuan sebenarnya sangat tidak cocok untuknya. Terlebih lagi selama ini ia tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu. Ibunya meninggal saat melahirkannya, dan sang ayah adalah seorang yang sangat diktaktor ketika mendidiknya, sehingga ia sekarang tumbuh menjadi pria arogan yang berhati keras, sama seperti ayahnya. Dan sudah sejak lama ia tinggal sendiri. Ia memutuskan untuk meninggalkan rumah utama dan menjalankan bisnisnya sendiri sejak sepuluh tahun yang lalu. Ia bosan tinggal satu atap dengan ayahnya yang keras. Terkadang mereka terlibat adu argumen yang sangat panjang karena mereka sama-sama memiliki sifat keras kepala yang sangat merepotkan.

“Benarkah? Saya sangat senang mendengarnya. Sudah lama tidak ada keluarga yang datang untuk mengadopsi anak di panti asuhan ini. Mungkin karena letaknya yang berada di pinggir kota, sehingga panti asuhan ini sulit untuk ditemukan. Jika anda ingin mengadopsi salah satu anak di panti asuhan ini, saya akan menyiapkan mereka sebentar agar anda lebih mudah untuk memilihnya.”

Wanita itu hendak beranjak dari duduknya untuk memanggil seluruh anak-anak asuhnya yang sedang asik bermain di halaman panti. Namun Donghae langsung mencegah wanita itu melakukannya sambil menyebutkan nama sang anak panti yang akan diadopsinya hari ini.

“Tidak perlu, aku ingin mengadopsi Im Yoona.”

Wanita itu mengerutkan alisnya sekilas dan ia kembali duduk di kursinya sambil menatap penuh tanya pada Lee Donghae.

“Gadis itu adalah putri dari rekan kerjaku, sebelum meninggal aku berjanji untuk merawatnya. Namun karena ada beberapa masalah, hal itu menjadi sedikit tertunda.” Jawab Donghae dengan wajah datar tanpa ekspresi. Sekilas wanita itu tampak ragu dengan cerita Donghae. Tapi pada akhirnya ia memilih untuk percaya dan memerintahkan salah satu anak yang lewat untuk memanggil Yoona. Gadis kecil itu harus bertemu dengan ayah angkatnya sebelum ia nantinya dibawa pergi oleh pria tampan yang terlihat angkuh itu.

“Ibu memanggilku?”

Seorang gadis belia dengan rambut panjang sepunggung tiba-tiba muncul di ambang pintu sambil menunjukan wajah bingungnya. Gadis itu menatap ibu panti itu dan juga Donghae secara bergantian dengan wajah polos yang terlihat lugu.

“Masuklah Yoona, ada seseorang yang ingin mengadopsimu.”

Mendengar hal itu Yoona langsung terlihat berbinar-binar dan dengan sopan ia membungkuk hormat pada Donghae. Ia sudah lama berharap mendapatkan keluarga baru karena kehidupannya di panti bisa dibilang pas-pasan dan sangat sederhana untuk gadis seusianya. Di sekolah ia sering melihat teman-temannya yang hidup berkecukupan karena orangtua mereka selalu memberikan apa yang mereka inginkan. Sedangkan dirinya selama ini harus menahan semua keinginan itu karena ia sadar jika ia tidak mungkin bisa mendapatkannya. Panti asuhan tempatnya tinggal memiliki cukup banyak anak-anak kurang beruntung sepertinya, sehingga uang yang dimiliki oleh panti pasti selalu habis untuk biaya kehidupan mereka sehari-hari. Sedangkan untuk sekolah, mereka mendapatkan keringanan dari pemerintah setempat yang merasa iba pada nasib malang mereka.

“Selamat siang tuan.”

Yoona tersenyum manis kearah Donghae dan langsung menghampiri ibu panti yang telah melambaikan tangan kearahnya. Gadis kecil itu terlihat begitu bahagia dengan kabar gembira yang baru saja diterimanya dari ibu panti. Apalagi melihat bagaimana penampilan Donghae yang sangat rapi dan menunjukan kesan sebagai orang kaya, membuat Yoona semakin tidak sabar untuk menjadi salah satu anggota keluarga dari pria itu.

“Ini adalah tuan Lee Donghae dan asistennya, tuan Donghae hari ini ingin mengadopsimu.”

“Benarkah? Tuan terimakasih, terimakasih banyak atas kebaikan hati tuan.”

Donghae menatap datar senyuman manis yang terlihat tulus itu. Namun dalam hatinya ia merasa senang dan tenteram secara bersamaan karena senyuman manis itu.

Gadis yang manis, semoga kau tidak akan pernah kehilangan senyuman manis itu….

Flashback end

 

Brakk

Donghae berjengit kaget ketika suara bantingan terdengar begitu keras di dekatnya dan membuatnya kembali lagi ke realitasnya yang suram. Pria itu menatap tajam kepergian Yoona dari mobilnya sambil membayangkan bagaimana dulu wanita angkuh itu saat bertemu dengannya pertama kali. Waktu telah mengubah segalanya. Semua kepolosan gadis kecil itu telah bertransformasi menjadi sebuah keangkuhan khas wanita kelas atas yang penuh dengan gelimang harta. Mungkin semua ini memang salahnya karena tidak pernah memperhatikan Yoona selama ini hingga pada akhirnya gadis polos itu berubah menjadi seorang wanita dewasa yang jauh dari kata polos.

-00-

Siang hari yang panas itu, Yoona terlihat sedang berpose di sebuah kolam renang dengan bikini seksi berwarna merah menyala yang sangat kontras dengan kulit putihnya yang bersih. Sambil berpose seksi, kilatan blits itu terus menghujani Yoona hingga pada akhirnya sesi pemotretan itu berakhir dengan lancar.

“Terimakasih atas kerja kerasmu Yoona.”

Yoona mengangguk sekilas pada sang fotografer dan langsung menghampiri asistennya untuk meminta bathdrobe. Ia merasa benar-benar terbakar siang ini karena cuaca panas yang melanda Seoul. Kulit putihnya yang tampak bersinar itu perlahan-lahan berubah menjadi kemerahan karena ia terlalu lama terpapar oleh sinar matahari.

“Yoona, Yunho mencarimu.”

“Yunho oppa? Dimana?”

Yoona terlihat berbinar-binar ketika seorang pria tampan sedang melambaikan tangan kearahnya dari kejauhan. Dengan semangat Yoona langsung menghampiri pria itu dan memeluknya.

“Oppa, kau lama tidak menemuiku. Aku merindukanmu.” Rengek Yoona manja. Wanita itu langsung bergelung kedalam pelukan Yunho dan mengabaikan tatapan orang-orang yang terlihat jijik dengan sikapnya.

“Maafkan aku sayang, aku terlalu banyak pekerjaan di luar negeri. Wow… konsep pemotretanmu hari ini sangat seksi.” Goda Yunho nakal. Ia sengaja menepuk pantat Yoona pelan sebelum melepaskan pelukan wanita itu dari lehernya.

“Ini spesial untuk edisi musim panas. Oppa hari ini kita harus bersenang-senang di klub karena aku baru saja mendapatkan kontrak pemotretan untuk brand Gucci dan Jestina.”

“Wah.. selamat untuk keberhasilanmu sayang, aku selalu bangga padamu.”

Yunho mengecup sekilas bibir Yoona dan membiarkan wanita cantik itu berjalan menjauh untuk mengganti pakainnya. Sudah lama ia menjalin persahabatan dengan Yoona. Dulu ia yang pertama kali menawari Yoona untuk menjadi model karena ia melihat wanita itu memiliki bakat. Pertemun pertama mereka terjadi saat Yoona berada di tahun pertama masa perkuliahannya. Saat itu ia menjadi senior pembimbing Yoona untuk tugas pertama sebagai mahasiswa baru di kampus. Awalnya Yoona adalah gadis polos yang sangat ceria dan memiliki banyak teman. Saat itu Yoona adalah mahasiswa baru yang paling banyak dibicarakan karena kecantikan dan kebaikan yang dimilikinya. Saat itu ia berkali-kali menawari Yoona untuk mengikuti sebuah casting pencarian model, namun berkali-kali pula ia mendapatkan penolakan karena Yoona yang dulu tidak seperti Yoonanya saat ini. Yoona yang dulu begitu polos dan penurut. Ia setiap hari selalu pergi ke kampus diantar oleh seorang supir pribadi, dan pulang dengan supir pribadi yang sama. Siklus pulang dan perginya di kampus juga selalu sama. Tidak pernah ia melihat Yoona masih berkeliaran di kampus lebih dari jam pulang kampus. Wanita itu selalu pulang tepat waktu sesuai jadwal kuliahnya dan sangat jarang sekali mengikuti kegiatan di kampus. Ia hanya pernah melihat Yoona sekali mengikuti klub voli di kampusnya, namun di minggu ke dua ia tidak lagi melihat wanita itu di sana. Alasannya karena waktu selesai klub voli selalu lebih lama dua jam dari waktu jam kuliahnya, sehingga ia tidak bisa melanjutkan kegiatannya untuk mengikuti klub voli. Pernah suatu ketika ia mendekati Yoona, bertanya secara lebih pribadi kepada wanita itu, mengapa ia selalu pulang tepat waktu dan jarang mengikuti kegiatan di luar jam kampus. Saat itu Yoona menjawab jika ayah angkatnya tidak suka melihatnya pulang terlambat dari waktu yang seharusnya. Lalu saat ia diam-diam mengikuti Yoona pulang ke rumahnya untuk melihat bagaimana sosok ayah menakutkan yang selama ini diceritakan oleh Yoona, ia justru merasa terkejut. Ia benar-benar tidak percaya jika ayah angkat Yoona masih terlihat sangat muda. Pria itu justru lebih cocok menjadi kakak Yoona atau kekasih Yoona karena usia mereka yang tak jauh berbeda. Setelah itu ia tidak mau lagi ikut campur dengan urusan Yoona dan hubungan mereka menjadi sedikit renggang. Ia yang sudah bosan menawari Yoona pekerjaan sebagai model, memilih untuk fokus pada masa studinya yang sebentar lagi akan berakhir. Namun tiba-tiba, di suatu siang yang terik, Yoona mendatanginya dengan mata sembab. Wanita itu meminta padanya untuk menjadikannya sebagai seorang model. Sayangnya Yoona tidak mau memberitahu penyebab dari kesedihannya dan hanya memohon-mohon untuk dijadikan sebagai model, sehingga pada akhirnya ia hanya menuruti permintaan wanita itu tanpa pernah bertanya lagi apa masalah yang saat itu sedang menimpa Yoona. Hingga detik inipun ia tidak pernah lagi membahas masalah itu di depan Yoona. Hanya saja ia menjadi heran dengan perubahan sikap Yoona setelah wanita itu memohon-mohon untuk dijadikan super model. Yoona tidak pernah lagi terlihat polos. Setiap hari ia selalu datang ke kampus dengan pakaian seksi dan menjadi bahan pembicaraan seisi kampus. Gaya bergaulnya pun dari ke hari juga mengalami perubahan. Yoona kemudian bertemu dengan Jessica dan Tiffany yang dulunya merupakan salah satu dari sekian banyak mahasiswi populer di kampus. Dan untung saja dua wanita itu mau menerima Yoona apa adanya. Ia sempat khawatir jika Tiffany dan Jessica hanya akan memanfaatkan Yoona belaka. Tapi syukurlah, ternyata mereka berdua mampu menjalin persahabatan lebih lama dari apa yang ia duga sebelumnya. Setidaknya Jessica dan Tiffany bisa menemani hari-hari Yoona yang membosankan, dan mengajari Yoona bagaimana menjadi wanita yang sesungguhnya.

“Ayo oppa, kau melamun?” Tanya Yoona sambil merangkul bahu Yunho santai. Di belakangnya, Jimin sedang membawakan tas Yoona dan beberapa barang Yoona yang lain dengan kesusahan. Pria yang telah menjadi asisten Yoona selama dua setengah tahun itu tampak ingin buru-buru pergi menuju mobil milik Yoona yang telah terparkir di depan gedung majalah Allure. Sayangnya sang majikan ternyata masih ingin bersantai bersama Yunho sambil mengobrolkan berbagai hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

“Tidak juga, hanya memikirkan wanita cantik yang kutemui di Puerto Rico.”

“Ck, berapa banyak wanita yang kau kencani selama di sana oppa? Kau pasti sibuk menggoda wanita-wanita seksi di sana hingga melupakanku di sini.” Sungut Yoona berpura-pura marah. Yunho meringis kecil menanggapi racaun Yoona, lantas ia merangkul bahu wanita itu agar berbelok menuju mobilnya.

“Katakan pada ayah angkat Yoona jika putri kecilnya aku pinjam sebentar malam ini.” Teriak Yunho pada Jimin dari pintu mobilnya. Pria berwajah imut itu tampak keberatan dan ingin mencegah Yoona untuk masuk kedalam mobil Yunho, namun terlambat. Yoona sudah terlebihdulu masuk kedalam mobil Yunho dan membanting pintu mobilnya keras-keras, tanda ia tidak ingin dicegah.

“Apa ayah angkatmu akan baik-baik saja jika aku membawamu pergi?”

“Anggap saja seperti itu. Bukankah ia memang pemarah. Ada atau tidaknya diriku di rumah besar itu, ia akan tetap marah pada siapapun. Jadi biarkan saja, sesekali Jimin mungkin memang perlu syok terapi.” Jawab Yoona acuh tak acuh. Wanita itu benar-benar tidak mau terlalu pusing dengan nasib Jimin karena ia yakin Donghae pasti tidak akan sampai membunuh Jimin. Hanya sedikit bentakan kasar dan umpatan, itu tidak akan membuat nyawa Jimin melayang.

“Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu selama aku berada di luar negeri, kau masih menjalin hubungan dengan Choi Siwon, Lee Minho, Park Jungso, Kim Kibum, Ji Chang Wook, dan… siapa lagi kekasihmu? Otakku sepertinya sudah tidak sanggup untuk mengingat nama-nama kekasihmu yang segudang itu.” Keluh Yunho berlebihan. Yoona tertawa terbahak-bahak menertawakan tingkah konyol Yunho dan sedikit menambahkan nama beberapa pria yang menjadi teman kencannya minggu ini.

“Aku baru saja menambahkan beberapa koleksi priaku, lima hari yang lalu aku mendapatkan Changmin, empat hari yang lalu aku mendapatkan Lee Seunggi, dan kemarin aku mendapatkan Oh Sehun.”

“Dan mereka semua tidak memiliki bola mata berwarna coklat?”

“Tepat sekali! Aku tidak akan pernah sudi memiliki kekasih dengan bola mata coklat. Tapi… sebenarnya mereka semua juga bukan kekasihku, mereka hanyalah mainanku. Kau tahu oppa, rasanya benar-benar menyenangkan saat bisa mempermainkan hati banyak pria.” Ucap Yoona terbahak-bahak. Yunho menggelengkan kepalanya tak habis pikir sambil tetap berkonsentrasi pada setir kemudinya. Ia tidak tahu masalah apa yang bisa membuat Yoona segila ini, tapi wanita itu selalu saja menghindari pria-pria bermata coklat. Sungguh itu alasan yang sangat konyol. Tapi seperti itulah Yoona, ia tidak pernah memberikan alasan yang logis terkait prinsipnya yang aneh itu, namun ia pikir semua itu masih berkaitan dengan masalah yang dimiliki Yoona tiga tahun yang lalu.

“Kau jahat, bagaimana jika mereka tahu dan ingin membalasmu?”

“Huh, tentu saja aku akan meminta Lee Donghae untuk menangani mereka, bukankah ia ayahku.” Jawab Yoona santai. Wanita itu benar-benar tidak peduli lagi pada hidupnya sejak pria bermata coklat itu merusak semua kepolosannya. Dalam kurun waktu satu tahun, pria itu berhasil membuat Yoona menjadi seorang wanita yang berbeda. Wanita yang kehilangan semua kepolosannya, lalu berganti dengan kelicikan yang selalu terpancar dari mata bulatnya.

-00-

Donghae memijit pelipisnya lelah. Hari ini pekerjaanya di kantor begitu menguras emosi. Belum lagi ia mendapatkan laporan dari Jimin jika hari ini Yoona pergi bersenang-senang bersama Yunho. Gadis kecilnya yang polos memang telah berubah. Ia tidak pernah tahu apa yang menyebabkan Yoona berubah menjadi seperti itu. Yang jelas keacuhannyalah yang membuat Yoona pada akhirnya berubah menjadi seorang wanita pesolek yang angkuh.

“Tuan, nona Yoona sudah pulang.”

Donghae melirik jam tangannya sekilas, lalu menggeram kesal setelahnya. Ini sudah pukul satu dini hari, dan wanita itu baru pulang ke rumahnya setelah menghabiskan hampir seluruh harinya di luar rumah. Ia sepertinya harus memberikan Yoona pelajaran. Kebebasan yang selama ini diberikannya seharusnya tidak disalahartikan oleh wanita itu.

“Ya ampun Choi, jangan menggodaku seperti itu. Kau membuatku ingin segera memakanmu di sini.”

Donghae melirik sinis kearah ruang keluarganya yang berisi Yoona dan seorang pria yang sama sekali tak dikenalnya. Pria itu pasti salah satu mainan Yoona untuk hari ini. Dengan langkah terburu-buru Donghae segera turun dari lantai dua dan berjalan lebar-lebar menuju ke ruang keluarga untuk memberikan pelajaran pada pria lancang itu. Seenaknya saja ia menginjakan kakinya di rumahnya. Meskipun hal itu terjadi karena Yoona, tapi ia tetap tidak akan mengampuni pria itu. Pria itu harus segera pergi dari rumah ini atau ia akan mati di tangannya.

“Siapa yang mengijinkanmu membawa pria asing ke rumahku?”

“Oh, hai appa… maaf mengusik ketenanganmu malam ini. Kenalkan, ini Choi Minho, kekasihku.” Ucap Yoona acuh tak acuh. Tak ada sedikitpun emosi yang terpancar di wajah Yoona. Wanita itu hanya menunjukan wajah datarnya kearah Donghae, lalu ia kembali asyik bercengkrama dengan Minho yang terlihat setengah mabuk.

“Suruh pria sialan ini pergi Yoona, atau ia akan berakhir mengenaskan di tangan mereka.”

Donghae menggeram kesal sambil mengarahkan tatapan matanya pada segerombolan tukang pukulnya yang sudah siap di ujung pintu. Mereka semua hanya tinggal menunggu perintah dari bos besar mereka, dan dalam sekejap wajah tampan Minho akan berubah menjadi buruk rupa, penuh luka lebam.

“Huh, kau benar-benar curang. Kau bebas membawa masuk jalang manapun kedalam rumahmu, sedangkan aku harus selalu menuruti kemauanmu. Kau tidak adil!”

Yoona lantas berlalu begitu saja dari hadapan Donghae tanpa menghiraukan Minho yang terus meneriaki namanya. Donghae kemudian segera menyuruh dua anak buahnya untuk menyeret Minho keluar dari rumahnya karena ia benar-benar muak melihat pria menjijikan itu di dalam rumahnya. Beruntung pria itu malam ini tidak menjadi objek kemarahannya seperti pria-pria lain yang beberapa kali terlihat menempel pada Yoonanya.

-00-

“Keluar dari kamarku!” Usir Yoona keras ketika ia melihat Donghae justru mengekorinya masuk kedalam kamar. Pria itu dengan baju tidur sutra yang melekat di tubuhnya, tampak begitu angkuh dan berbahaya disaat yang bersamaan. Setiap kali ia melihat Yoona bersama pria-pria sialan di luar sana, emosinya selalu meluap-luap tak terkendali. Ia hanya ingin memiliki Yoona untuk dirinya sendiri. Namun apa yang dikatakan Yoona benar, ia adalah pria yang curang.

“Darimana saja kau hari ini?”

“Bukan urusanmu! Ini adalah hidupku, jadi kau tidak perlu mengaturku Lee Donghae.”

Yoona menyahut sengit pertanyaan Donghae sambil mengobrak abrik lemarinya untuk mencari pakaian tidur yang nyaman untuk ia kenakan malam ini. Setelah menemukan baju tidur yang pas, Yoona segera melepaskan celana hot pantsnya yang ketat dan membuang asal tank top hitamnya di atas lantai. Tanpa menghiraukan keberadaan Donghae di dalam kamarnya, Yoona segera menggunakan piyama tidurnya yang tipis dan segera berjalan menuju ranjangnya untuk tidur. Hari ini ia terlalu banyak menggunakan energinya untuk bersenang-senang bersama teman-temannya di klub. Sekarang ia merasa ranjangnya yang empuk itu tengah memanggil-manggilnya untuk mendekat dan segera merebahkan tubuh lelahnya di atas permukaan ranjangnya yang empuk.

“Jangan harap kau bisa lepas dari genggamanku malam ini Im Yoona.”

“Apa? Kau ini seks lagi? Apa kemarin malam belum cukup?”

“Bukankah kau tahu jika aku tidak pernah puas pada tubuhmu yang menggoda?”

Donghae mengamati tubuh seksi Yoona lekat-lekat dibalik gaun tidur tipisnyang sangat menggoda malam ini. Yoona dari ke hari memang selalu menggairahkan. Ia terkadang menyesali kebodohannya dulu, mengapa ia tidak pernah menyadari adanya aset yang begitu besar dari dalam diri Yoona. Lebih dari enam tahun ia hanya membiarkan Yoona berkeliaran disekitarnya tanpa pernah memperhatikan wanita itu. Dan setelah enam tahun berlalu, barulah ia sadar jika Yoona adalah seorang wanita yang sangat cantik dan juga seksi. Wanita itu selalu bisa memuaskannya di atas ranjang hingga ia tidak lagi bergairah dengan wanita manapun di luar sana. Sayangnya Yoona terkadang memilih untuk bermain-main dengan pria-pria menjijikan di luar sana daripada melayaninya di rumah dengan nyaman.

“Aku hanya ingin tidur malam ini Lee Donghae, jangan sentuh aku.” Ucap Yoona malas sambil mendorong sejauh-jauhnya tubuh Donghae dari hadapannya. Namun bukannya terdorong menjauhi Yoona, Donghae justru dengan mudahnya mendorong Yoona ke belakang hingga wanita itu kini telah terbaring kesal di atas ranjangnya.

“Aku membencimu!”

“Aku tahu, tapi aku lebih menyukai tubuhmu.”

Yoona mendengus kesal dan langsung memalingkan wajahnya ke arah lain ketika Donghae mulai mengecupi seluruh wajahnya dengan kecupan-kecupan basah yang menggelikan untuknya.

“Ahh… kau menjijikan Lee Donghae.” Desah Yoona disela-sela kemarahannya. Entah kenapa ia tidak pernah bisa benar-benar lepas dari cengkeraman Donghae. Pria itu selalu saja memenangkan tubuhnya, dan dulu mungkin juga memenangkan hatinya. Tapi sekarang ia telah mematikan seluruh perasaanya untuk Donghae, karena pria itu sampai kapanpun tidak akan pernah pantas mendapatkan cinta tulus darinya. Terlalu sakit mencintai seorang Lee Donghae yang notabenenya adalah ayah angkatnya sendiri. Dan mungkin ini memang karma dari Tuhan untuknya karena dulu ia pernah memberikan perasaan laknat untuk pria brengsek seperti Lee Donghae.

“Kau sudah meminum pil kontrasepsimu?”

“Hmm, aku tidak mungkin betingkah bodoh dengan membiarkan benihmu berada di rahimku.”

“Bagus, karena aku tidak pernah suka menggunakan pengaman saat bersamamu.”

Setelah itu Donghae langsung menerjang tubuh Yoona tanpa ampun dan ia tidak sedikitpun membiarkan Yoona tidur malam ini, karena ia akan membuat wanita itu terus menggila di bawahnya dengan desahan seksi yang tidak akan pernah berhenti menghiasi suasana kamar Yoona yang sunyi malam ini.

22 thoughts on “Black Swan: The Brown Eyes (One)

  1. jadi kepo sebenarnya yoona kenapa kok bisa jadi liar kaya gitu? next eonni ditunggu <3

  2. Menarik ceritanya..
    Msh byk masalah yg blum trpecahkan y keknyaa..
    Penasaran hubungan YoonHae awalnya gmna..
    Next thor jgn lama2 hehe

  3. Wooow…q masih bingung sama ceritanya..
    Kok mereka bisa berhubungan layaknya suami istri
    Kok Yoona bisa berubah… Ckckkckcck
    Lanjut thoooorrrrrr

  4. What? Donghae Ayah angkat Yoona? Pasti rumit kisah cinta mereka..
    Ditunggu part selanjutnya..

  5. Sepertinya yoona merasa kalo donghae hanya menyukai tubuhnya saja tanpa mencintai nya makanya dia berubah jadi seperti itu,, lalu apa yg donghae rasakan sebenarnya,, cinta atau hanya sekedar nafsu?
    Next author-nim….

  6. Omo jd donghae ayah angkatnya yoona.
    Sekaligus orang yg mengubah yoona jd liar seperti sekarang ini aducchhh paraaahhh.

  7. Penasaran kenapa yoona membenci donghae ?? Apa ada sesuatu yg terjadi sehingga membuat yoona begitu membenci lee dongahe ??

    Lanjut thorr….

  8. Gila yoona disini nakal banget,penasaran apa yg buat yoona benci banget sama donghae. Aku tunggu lanjutannya kak.

  9. Wah rumit juga permasalahannya tidak bisa diungkapkan dengan kata kata hehee
    bagus thor apakah ada sequelnya? 😀

  10. Apa Yoona pernah memiliki perasaan atau mencintai Donghae ayah angkatnya??
    Kenapa ia berubah membenci Donghae dikala tubuhnya sendiri menerima sentuhan Donghae??
    Jikapun Donghae selalu terlihat dengan wanita wanita yang menginginkannya,apa Donghae selaluberganti ganti wanita hingga membuat Yoona membencinya??
    Atau karena Donghae yang berstatus sebagai ayah angkatnya??
    Bagaimana awalnya Donghae bisa menyentuh Yoona yang ia angkat sebagai putrinya anak dari temannya??
    Perasaan Donghae untuk Yoona??cinta atau hanya menganggapnya pemuas nafsunya semata??
    Ditunggu kelanjutannya…😊😉

  11. Wah daebak sich ayah angkat yg ada rasa sama anak angkat ny sndiri hihihi. Apalagi umur mereka enggak jauh beda. Dan mereka bnr” melakukan hub. ” “.
    Cerita ny aku suka jrg” ada cerita mcm gini. Eonni semangat nulis ny biar bisa update cepet

  12. ternyata dong hae sendiri yang merubah paksa
    yoona yang maniz jd yoona tak berhati.
    oppa donghae jahat ih…kasian yoona

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.