Body, Lips, and Eyes (Full Vers)

Recomended Song Love The Way You Lie

Srakk srakkk

Gratakk gratakk gratakk

Yoona menoleh heran kearah pintu ruangannya ketika suara berisik terdengar saling bersahut-sahutan di sepanjang koridor rumah sakit tempatnya bekerja. Ini pukul sebelas malam, biasanya rumah sakit begitu sunyi di jam-jam seperti ini. Namun malam ini berbeda, di malam yang semakin larut ini ia masih mendengar suara berisik dan juga suara panik yang bercampur menjadi satu bersama suara roda blangkar yang didorong terburu-buru kearah UGD. Merasa penasaran, Yoona memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju pintu ruangannya untuk mengintip apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa, kenapa berisik sekali?” Tanya Yoona pada salah satu suster yang kebetulan melintas di depan ruangannya. Suster itu sedikit melirik kearah blangkar yang telah berada jauh di depannya sambil menunjuk pada ceceran darah di lantai di bawahnya.

“Seseorang baru saja melakukan percobaan bunuh diri, ia memotong pergelangan tangannya menggunakan pisau dapur. Untung kekasih pria itu menemukannya sebelum ia mati kehabisan darah.”

“Pria?” Tanya Yoona heran. Ia pikir cara bunuh diri dengan memotong pembuluh darah adalah cara bunuh diri yang hanya dilakukan oleh wanita, ternyata pria pun sama saja. Tekanan hidup pasti adalah salah satu penyebab mengapa mereka memutuskan untuk mengakhiri kehidupan mereka di dunia yang indah ini.

“Mungkin pria itu nantinya akan menjadi pasienmu dokter Im.”

“Oh ya, memangnya ada apa dengannya?”

“Menurut kekasihnya, pria itu beberapa hari terakhir ini terlihat murung. Ia juga memiliki riwayat pernah mengalami depresi parah beberapa bulan yang lalu. Dugaan sementara ia melakukan bunuh diri adalah karena adanya gangguan psikis yang ia alami.” Beritahu suster itu berapi-api. Yoona mengangguk-angguk mengerti dan menolehkan kepalanya kearah ruang UGD yang pintunya baru saja tertutup.

“Semoga pria itu berhasil diselematkan. Sayang jika ia harus pergi dengan cara bunuh diri.” Gumam Yoona kecil sambil berjalan masuk kedalam ruangannya.

-00-

Tokk tokk

Yoona mengetuk pelan pintu kayu bernomor tiga kosong tujuh yang berdiri menjulang di depannya. Sambil mendekap map berisi rekam medik pasiennya, ia membuka pintu itu perlahan dan segera masuk sambil tersenyum kecil kearah sang pasien yang sedang menatap lurus kearah jendela.

“Selamat pagi…”

Yoona memulai kunjungan pertamanya ke ruangan pasien baru itu dengan sapaan hangat dan juga ramah. Namun sedikitpun sapaannya tak dibalas oleh sang pasien yang sejak tadi terus menatap kosong kearah jendela, seperti ada sesuatu yang lebih menarik di sana daripada menyambut sapaan dokter cantik yang pagi ini akan melakukan pemeriksaan psikis padanya.

“Halo, saya adalah dokter yang akan memeriksa kondisi anda pagi ini, bisa kita melakukannya sekarang?”

Yoona sengaja berjalan kearah kiri untuk berdiri langsung di depan pasiennya. Sejak tadi pasien itu tidak sedikitpun menoleh kearahnya, sehingga ia harus lebih banyak mengalah dengan berdiri di sisi kanan ranjang dan menghadap langsung kearah pasien.

“Tuan Lee Donghae, apa anda mendengarkan saya?”

“Ya, aku mendengarnya.”

Akhirnya pria itu membuka suaranya dan mau mengalihkan tatapannya dari pemandangan di luar jendela yang tampak monoton. Sambil tersenyum hangat, Yoona mulai mengambil kursi dan memposisikan dirinya berada di depan Donghae yang saat ini sedang bersandar pada kepala ranjang.

“Tuan Lee, hari ini saya akan memeriksa kondisi anda. Apa anda ingat kenapa saat ini anda berada di rumah sakit?”

“Aku memotong nadiku.” Ucap pria itu datar sambil mengangkat tangannya yang masih diperban dengan rapat. Yoona mengangguk mengerti, kemudian ia segera menuliskannya di dalam kertas rekam medik yang dibawanya.

“Kenapa anda memotong nadi anda?”

“Karena aku bosan mendengar suara berisiknya.”

“Siapa? Kekasih anda?”

“Bukan. Seorang anak kecil yang selalu menghantuiku selama bertahun-tahun.” Jawab Donghae datar. Pria itu tiba-tiba menoleh kearah Yoona, lalu menatap wajah Yoona sambil mengamati gerak gerik Yoona yang sedang menuliskan informasi penting kedalam lembaran kertas di pangkuannya. Dan saat Yoona mendongak, tatapan mata mereka bertemu. Yoona balas menatap manik coklat itu intens sambil menyunggingkan senyum manisnya yang menenangkan. Namun hal itu tak bertahan lama, karena beberapa detik kemudian Donghae langsung menolehkan kepalanya kearah lain untuk menghindari kontak mata dengan dokter cantik di depannya.

“Kau seorang psikiater?”

“Ya, aku seorang psikiater. Hasil pemeriksaan anda tiga hari yang lalu menunjukan bahwa, anda terindikasi mengalami gangguan psikis. Apa sebelumnya anda pernah memiliki masalah yang menyebabkan anda merasa tertekan?”

Hening cukup lama. Donghae terlihat belum mau menceritakan apa yang terjadi padanya. Namun Yoona tetap menunggu dengan sabar sambil menatap pria itu intens dengan mata bulatnya. Dan akhirnya setelah keheningan panjang itu, Donghae memutuskan untuk berkata jujur pada Yoona, terkait masa lalunya yang membuatnya mengalami gangguan.

“Akhir-akhir ini aku merasa stress, kekasihku terus menekanku untuk menikahinya, tapi aku tidak mau.”

“Apakah anda belum siap untuk membangun hubungan rumah tangga bersama kekasih anda?”

“Aku tidak mencintainya. Aku menjadikannya kekasihku karena aku bosan mendengar suara rengekannya satu tahun yang lalu.” Jawab Donghae sambil mengernyitkan dahinya. Yoona melihat Donghae sebenarnya sedikit tidak nyaman ketika menceritakan hal itu padanya. Namun ada hal lain yang sepertinya mengganggu Donghae. Diluar masalah mengenai kekasihnya, Yoona yakin jika pria itu memiliki masalah yang lebih pelik karena gangguan ilusi yang dialami pria itu berwujud seorang anak kecil. Mungkin pria itu pernah melakukan sesuatu di masa lalu yang berhubungan dengan anak kecil. Perlahan-lahan ia akan segera mengorek informasi itu dari Donghae.

“Apa kau ingat siapa nama kekasihmu?”

“Bae Irenne… Ia adalah adik kelasku saat senior high school. Dulu ia memang selalu berusaha menarik perhatianku, tapi aku tidak pernah berminat. Dan satu tahun yang lalu aku dipertemukan lagi dengannya ketika aku sedang bekerja, ia adalah model di majalah tempatku bekerja.”

“Jadi anda bekerja sebagai fotografer?”

“Ya, aku seorang fotografer. Dokter Im, bisakah kau menggunakan bahasa informal? Aku tidak nyaman.” Pinta Donghae. Yoona menganggukan kepalanya mengerti, dan ia pun mulai mengubah aksen bicaranya menjadi lebih santai, seperti sedang mengobrol dengan teman lama.

“Baiklah. Apa aku boleh tahu dimana keluargamu saat ini? Sejak kemarin beberapa suster menanyakan dimana keluargamu, dan kekasihmu sampai saat ini juga belum datang, padahal ia yang membawamu ke sini.”

Donghae terdiam cukup lama dan tak kunjung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Yoona. Pria itu justru kembali bersikap lebih acuh dengan memutar tubuhnya ke kanan, membelakangi Yoona.

“Aku ingin istirahat, bisakah kau keluar dokter Im.”

Yoona menggigit bibirnya kecil, lantas menganggukan kepalanya mengerti. Mengorek informasi pribadi dari seorang pasien memang tidaklah mudah. Terlebih lagi jika pasien itu memiliki trauma di masa lalu yang sulit untuk diungkapkan. Mungkin ia harus melakukan pendekatan secara perlahan agar Lee Donghae mau terbuka padanya dan bersedia menceritakan sumber masalahnya sebelum pria itu memutuskan untuk bunuh diri.

“Baiklah aku akan keluar, selamat beristirahat tuan Lee.”

Yoona berjalan perlahan keluar dari ruang rawat Donghae dan menutup pintu itu dengan pelan, nyaris tak bersuara agar tidak mengusik ketenangan Donghae. Pertemuan singkatnya hari ini dengan Donghae membuatnya yakin jika pria itu memang memiliki masalah serius yang membuatnya mengalami gangguan psikis. Sayangnya ia belum bisa menyimpulkan jenis masalah apa yang sedang disembunyikan oleh pria itu, karena Lee Donghae masih memasang tameng yang cukup besar disekitarnya.

“Permisi, apa kau dokter Im Yoona?”

Yoona menoleh cepat kebelakang dan langsung menemukan seorang pria berambut coklat yang sedang menatapnya dengan tatapan ramah. Pria itu tiba-tiba mengulurkan tangannya di depan Yoona dan berniat untuk mengajak Yoona berkenalan.

“Aku Lee Hyukjae, sepupu dari Lee Donghae.”

“Oh… kau salah satu anggota keluarga tuan Lee, kebetulan sekali.” Ucap Yoona senang. Ia menjabat tangan Hyukjae dengan semangat dan segera mengajak pria itu untuk membicarakan masalah Donghae di ruangannya.

“Sejak tiga hari ini aku selalu bertanya-tanya dimana keberadaan keluarga tuan Lee, dan syukurlah akhirnya kau muncul.”

Yoona mengajak Hyukjae mengobrol santai sembari berjalan menuju ruangannya. Merasa jika usia mereka tidak terpaut jauh, Yoona sengaja menggunakan bahasa informal untuk mengajak pria itu mengobrol santai membicarakan masalah Donghae. Ia benar-benar perlu banyak informasi dari Hyukjae agar ia bisa membantu Donghae keluar dari masalahnya yang pelik.

“Aku sebenarnya baru saja kembali dari Swiss untuk melakukan beberapa pekerjaan di sana, lalu pagi ini aku mendapatkan informasi dari asisten pribadiku jika Donghae dirawat di rumah sakit karena percobaan bunuh diri, apa itu benar?”

“Dari apa yang kudengar, sepertinya memang seperti itu. Terlebih lagi tuan Lee juga mengakuinya saat aku melakukan visit pagi ini, ia mengatakan jika ia baru saja mengiris pergelangan tangannya.”

Desahan napas berat langsung terdengar dari mulut Hyukjae begitu Yoona menyelesaikan kalimat panjangnya terkait Donghae. Sejak dulu sepupunya itu memang aneh. Itulah yang selama ini tertanam di otak Hyukjae hingga ia jarang menjenguk sepupunya yang memilih tinggal di apartemen daripada di rumah utama yang diwariskan padanya. Terkadang ia meminta asisten rumah tangga Donghae untuk melaporkan kondisi Donghae padanya. Namun tetap saja itu tidak membantunya untuk mengetahui bagaimana kondisi Donghae yang sebenarnya. Terlalu banyak misteri yang disimpan oleh Donghae hingga ia sulit untuk mengungkapnya satu per satu.

“Silahkan masuk tuan Hyukjae.”

Yoona mempersilahkan Hyukjae masuk kedalam ruangannya yang rapi dan segera menutup pintu kayu di depannya rapat. Setelah itu ia mulai bersiap untuk duduk di atas singgasanannya yang nyaman sambil memberikan senyuman ramah pada Hyukjae.

“Tuan Hyukjae, sebelumnya aku ingin bertanya, apa kau mengenal Bae Irenne?”

“Entahlah, aku hanya sekedar tahu jika wanita itu adalah kekasih Donghae. Memangnya ada apa dokter Im?”

“Tidak, aku hanya ingin memastikan jika tuan Donghae benar-benar menjawab pertanyaanku dengan jujur. Tapi jika wanita itu kekasihnya, kenapa ia tidak datang menjenguk sejak tiga hari yang lalu, padahal wanita itu yang membawa tuan Donghae ke rumah sakit saat kondisinya kritis.”

Hyukjae mengernyitkan dahinya bingung, lalu ia menggelengkan kepalanya pelan, tanda ia tidak tahu. Sejujurnya ia merasa jika sebutan sepupu diantara mereka hanyalah status belaka karena nyatanya mereka tidak pernah saling menyapa satu sama lain. Lee Hyukjae lebih suka menyibukan diri dengan berbagai pekerjaan yang dilimpahkan Donghae padanya. Jadi, semua hal yang ia dapatkan saat ini adalah milik Donghae. Pekerjaan, harta, rumah, dan seluruh kemewahan yang ia miliki adalah milik Donghae. Sayangnya sepupunya itu menolak semua tanggungjawab itu dan memilih untuk hidup liar sebagai seorang fotografer, sehingga ia yang pada akhirnya mengambil alih semua tanggungjawab itu.

“Sejak dulu Donghae selalu menyimpan banyak rahasia dari kami semua.”

“Apa tuan Donghae adalah orang yang pendiam?”

“Emm… tidak juga. Menurutku Donghae adalah orang yang hangat dan penuh perhatian. Tapi perlahan-lahan ia berubah menjadi pribadi yang tertutup ketika berusia tujuh belas tahun.”

“Apa yang terjadi pada tuan Donghae ketika berusia tujuh belas tahun?” Tanya Yoona ingin tahu. Saat ini ia berharap Hyukjae dapat sedikit memberinya clue agar ia bisa mengambil tindakan untuk menangani Donghae. Ia merasa penanganan Donghae di rumah sakit ini sangat terlambat karena tidak ada satu orangpun yang mengetahui latar belakang Donghae. Kebanyakan perawat hanya sebatas mengenal Donghae sebagai pewaris dari Sheen Group yang selama ini selalu dibicarakan oleh media. Namun lebih dari itu, tidak ada yang mengetahui bagaimana kehidupan Donghae selama ini.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya saat itu. Namun aku pernah melihatnya pulang larut malam dalam keadaan basah kuyup dan kacau. Seragam sekolahnya dipenuhi lumpur dan ada sedikit noda merah di sisi kemejanya. Sejak saat itu, sikap Donghae perlahan-lahan berubah. Ibu Donghae juga tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan setiap kali aku menanyakan kondisi Donghae padanya. Ibu Donghae atau bibiku, justru terlihat berputar-putar saat menceritakan tentang kondisi Donghae. Dan setelah itu aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi karena aku malas mendengar jawaban bibiku yang selalu melenceng dari konteks pembicaraan.”

“Lalu dimana ibunya sekarang? Kenapa ia tidak datang untuk menjenguk anaknya?”

“Ibunya pergi ke China dan memutuskan untuk tinggal di sana bersama dengan kerabatnya setelah ia bercerai dengan suaminya bertahun-tahun yang lalu. Mungkin saat ibunya pergi ke China Donghae berusia sembilan belas tahun.”

“Lalu bagaimana dengan kehidupan tuan Lee selanjutnya setelah kedua orangtuanya berpisah?”

Hyukjae menatap sayu Yoona dan menggelengkan kepalanya pelan kearah wanita itu. Kehidupan Donghae di masa lalu pasca perceraian orangtuanya terdengar begitu menyedihkan untuk diceritakan karena Donghae benar-benar menjadi pribadi yang berbeda setelah kedua orangtuanya bercerai. Namun beruntungnya pria itu masih menjadi ahli waris ayahnya karena ayahnya hanya memiliki satu anak laki-laki, yaitu dirinya. Sedangkan bersama isteri barunya, pria itu tidak memiliki keturunan.

“Ia hancur, ia menjadi Lee Donghae yang liar semenjak ibunya tinggal di China. Selama ini ia memang selalu dekat dengan ibunya, sedangkan dengan sang ayah ia tidak terlalu dekat. Dan setelah kedua orangtuanya bercerai, ayahnya langsung melimpahkan seluruh tanggungjawab perusahaan padanya. Namun ia langsung menolak semua pemberian ayahnya dan memilih untuk bekerja sebagai fotografer, sesuai dengan bidang yang disukainya. Tapi sebelum menjadi seorang fotografer, Donghae sempat menggantikan ayahnya sebagai CEO ketika berusia delapan belas tahun. Sebenarnya Donghae adalah pria yang cerdas karena di usianya yang sangat muda, ia mampu membawa perusahaannya ayahnya menjadi lebih maju. Namun satu tahun kemudian ia memilih untuk mengundurkan diri sebagai CEO dengan alasan yang tidak jelas. Menurut asistennya sebelum Donghae memutuskan untuk mengundurkan diri, ia berkali-kali terlihat melamun di dalam ruang kerjanya sambil menatap ketakutan pada sesuatu yang…. tak kasat mata. Donghae seolah-olah sedang melihat hantu dan terkadang pria itu bergumam sendiri pada udara kosong. Beberapa kali asisten Donghae sempat menanyakan keadaanya dan menyarankan untuk pergi ke dokter jika memang ia merasa tidak enak badan, namun Donghae selalu diam dan hanya mengacuhkan nasihat itu dengan wajah datar. Kira-kira apa yang sebenarnya terjadi pada Donghae, kenapa dari hari ke hari ia semakin aneh.”

“Aku sebenarnya tidak yakin, dan ini hanya dugaan sementaraku.”

Yoona terlihat begitu berat untuk memberitahu hasil analisisnya pada Hyukjae. Tapi melihat keingintahuan Hyukjae yang begitu besar membuat Yoona pada akhirnya memberitahu pria itu jika Donghae kemungkinan sedang mengalami gangguan jiwa.

“Skizofrenia, itu semacam penyakit kejiwaan yang membuat seseorang melihat adanya sosok-sosok mengganggu yang tak kasat mata. Mungkin selama ini tuan Donghae mampu bertahan dengan semua ilusi itu, tapi jika tidak diobati, semakin lama ilusi itu akan menggiring tuan Donghae menjadi pribadi yang aneh di mata orang-orang. Bukankah selama ini ia sering terlihat berbicara sendiri pada udara kosong? Mungkin sebenarnya ia sedang berbicara dengan ilusinya yang tak bisa kita lihat. Dan tadi ia sempat mengatakan padaku jika ia risih mendengar suara anak kecil yang selama ini terus mengganggunya. Kemungkinan besar bentuk dari ilusi yang dilihat oleh tuan Donghae berwujud seorang anak kecil.”

“Maksudmu sepupuku gila?” Tanya Hyukjae tak terima dengan suara nyaring yang begitu mengganggu. Namun Yoona tetap mencoba tenang dengan memberikan senyuman memaklumi sambil mengambil sebuah brosur yang tertata rapi di atas mejanya.

“Saat ini kondisi seperti itu sudah bisa disembuhkan, salah satunya menggunakan obat-obatan seperti ini. Jadi kau tidak perlu khawatir. Tapi aku mohon kerjasamamu tuan Lee untuk mencaritahu penyebab tuan Donghae menjadi seperti ini. Kemungkinan besar tuan Donghae belum bersedia untuk berkata jujur mengenai masa lalunya, jadi saya minta anda untuk mencaritahunya melalui ibunya.” Mohon Yoona penuh harap.

“Baiklah, aka kuusahakan. Tolong beritahu aku bagaimana perkembangan kondisinya.”

Hyukjae menyerahkan selembar kartu nama berwarna hitam kearah Yoona yang langsung diterima Yoona dengan anggukan pelan.

-00-

Di dalam kamar yang sunyi dan gelap itu, Donghae menatap kearah jendela sambil menghela napas berkali-kali atas kesialan hidupnya yang tak berujung ini. Padahal ia telah berencana untuk mengakhiri hidupnya dengan mengiris nadinya, tapi sialnya Irenne justru menemukannya dan berakhir membawanya ke rumah sakit disaat ia berada di ambang batas kesadaran.

“Wanita sialan itu…. sampai kapan ia akan mengacaukan hidupku.” Geram Donghae tertahan. Ia mengepalkan tangannya kuat di atas selimutnya sambil memikirkan rencana untuk menyingkirkan Irenne dari hidupnya. Ia muak hidup bersama Irenne setahun ini karena wanita itu benar-benar cerewet dan menyusahkan. Jika bukan karena terpaksa, ia tidak akan pernah mau menjalin hubungan dengan wanita sialan itu. Semua ini ia lakukan demi menghilangkan rasa traumanya pada kejadian yang sangat buruk di masa lalu. Ia ingin menghilangkan bayang-bayang gadis kecil di dalam kepalanya yang telah ia sakiti dengan sangat dalam, hingga membuatnya tak pernah bisa melupakan bagaimana suara teriakannya ketika merontan, bagaimana tatapan matanya yang memohon untuk dilepaskan, dan bagaimana bibir merah mudanya yang nikmat itu terus bergerak liar untuk menghindari ciumannya yang brutal. Ya, ia pernah melakukan perbuatan buruk pada seorang anak kecil. Ia pernah memperkosa seorang anak kecil berusia sepuluh tahun ketika ia berusia tujuh belas tahun.

Krieettt…

Donghae menoleh cepat kearah pintu kamarnya dan langsung terdiam kaku di tempat. Di sana, di ambang pintu ia melihat anak kecil itu sedang melihat kearahnya dengan air mata penuh kesedihan yang terus mengalir di sepanjang pipi pucatnya. Gadis kecil itu perlahan-lahan berjalan kearah Donghae sambil menyeret kaki-kaki kecilnya yang tampak kotor oleh lumpur. Donghae dapat melihat jejak-jejak tanah basah mulai mengotori lantai kamar rawatnya seiring dengan langkah gadis itu yang mulai mendekat kearahnya.

“Kkau… apa yang kau lakukan di sini?”

Tolong lepaskan aku….. Ibuku akan mencariku. Tolong…

Donghae menutup telinganya rapat-rapat sambil berteriak-teriak keras untuk mengusir gadis kecil itu keluar dari kamarnya. Ia muak mendengar suara rengekan dan tangisan itu terus menerus di telinganya. Ia ingin hidup normal lagi seperti dulu, sebelum gadis kecil itu datang dan mulai menghantuinya.

“PERGI! KAU GADIS SIALAN!”

Donghae bergerak-gerak brutal dan semakin lebih liar ketika ia merasa tangan gadis itu mulai menggapai kakinya. Gadis kecil itu menarik kakinya perlahan hingga kaki kananya kini telah menggantung di ranjang. Kemudian setelah kakinya, gadis kecil itu mulai menggapai tangannya dan menggenggamnya erat dengan tangannya yang dingin hingga membuat Donghae harus mengerahkan tenaga ekstra untuk mendorong gadis kecil itu pergi dari hadapannya.

“Jangan ganggu aku! Pergi!”

“Tuan Lee Donghae.. Donghae!”

Donghae terdiam seketika dengan napas memburu sambil menatap bingung kearah Yoona yang saat ini sedang menahan kedua tangannya di udara. Wanita itu menatap kedua matanya intens sambil menyelami keadaanya yang tampak kacau itu.

“Kau baik-baik saja?”

Donghae diam. Ia tidak menjawab apapun dan hanya menatap manik coklat Yoona sambil mencoba menormalkan orientasinya yang masih terasa kabur. Ia takut apa yang ia lihat saat ini hanyalah sebuah khayalan yang tidak nyata. Namun ketika Yoona mengulurkan salah satu tangannya untuk memegang pipinya barulah ia sadar jika Yoona yang berdiri di hadapannya adalah Yoona yang nyata. Wanita itu bukanlah ilusinya seperti gadis kecil menyeramkan yang selalu menghantuinya selama ini.

“Tenanglah tuan Lee, kau tidak sedang berhalusinasi saat ini. Minumlah.”

Yoona menyodorkan segelas air putih kearah Donghae untuk membantu pria itu menormalkan deru napasnya yang masih memburu. Dengan tangan gemetar Donghae menerima gelas itu dan mulai meminumnya perlahan. Namun karena kedua tangannya masih terasa lemas, gelas itu hampir saja terjatuh ke atas lantai jika Yoona tidak menggenggam tangannya untuk meredakan sensai gemetar yang masih dirasakannya.

“Aku terus mendengarmu berteriak-teriak sambil menyebut gadis sialan, sebenarnya siapa gadis yang kau maksud itu?” Tanya Yoona perlahan setelah dirasa Donghae cukup tenang. Malam ini secara kebetulan ia melewati kamar rawat Donghae untuk kembali ke ruangannya setelah ia melakukan visit malam. Namun tanpa diduga ia justru mendengar suara teriakan nyaring dari dalam kamar rawat Donghae yang sebelumnya terlihat sunyi. Ia kemudian memutuskan untuk melihat apa yang terjadi pada Donghae dan menemukan pria itu sedang berteriak-teriak sambil menendang udara kosong. Gerakannya terlihat seperti sedang mengsir seseorang untuk pergi, namun pria itu sebenarnya sedang mengusir sesuatu yang tak kasat mata.

“Sejak kapan kau berada di dalam kamarku?”

Donghae menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yoona dengan sebuah pertanyaan lain. Pria itu melepaskan tangan Yoona dari pipinya dan mencoba membetulkan letak duduknya yang terlihat hampir merosot ke atas lantai.

“Belum begitu lama. Aku masuk ke dalam kamarmu setelah mendengar suara teriakanmu yang nyaring. Aku awalnya ingin menegurmu karena suaramu dapat mengganggu pasien lain. Tapi tanpa diduga, kau justru terlihat sedang menendang-nendang udara kosong sambil berteriak-teriak mengenai gadis sialan, siapan gadis itu?”

Yoona menghilangkan aksen formalnya di depan Donghae dan memilih untuk menggunakan bahasa informal agar mereka terlihat lebih akrab. Saat ini ia ingin memposisikan dirinya sebagai seorang teman, jadi ia harus bersikap sesantai mungkin layaknya seorang teman yang mampu memahami bagaimana kondisi temannya.

“Aku… gila bukan? Aku mengalami gangguan jiwa karena aku bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.”

“Itu adalah ilusimu, kau hanya melihat bayangan yang kau ciptakan sendiri.” Ucap Yoona lembut. Namun Donghae sepertinya belum puas dengan jawaban Yoona. Raut wajahnya terlihat semakin mendung seiring dengan ingatannya yang memutar banyak kejadian-kejadian abnormal yang sering dialaminya beberapa tahun terakhi ini.

“Aku merasa gadis kecil itu nyata. Menangis meraung-raung di depanku dan memohon padaku untuk dilepaskan. Bagaimana cara menyingkirkan ia dari hidupku? Awalnya aku berpikir untuk mati, karena dengan begitu ia pasti akan hilang bersama dengan jiwaku yang lenyap. Tapi wanita sialan itu justru menyelamatkanku sebelum Tuhan berhasil mencabut nyawaku dari dalam ragaku. Apa yang harus kulakukan untuk mengakhiri semua penderitaan ini dokter Im?” Tanya Donghae datar penuh rasa frustrasi. Melihat Donghae yang menyedihkan membuat Yoona begitu iba pada pria itu. Banyaknya permasalahan yang disembunyikan oleh pria itu membuatnya mengalami depresi hingga pada akhirnya semua kenangan-kenangan paling buruk yang berusaha ia tekan di dalam otaknya muncul dalam bentuk sebuah ilusi yang menyerupai sesosok gadis kecil.

“Siapa gadis kecil yang sering muncul di dalam kepalamu itu?”

“Korbanku.”

“Korban? Kau pernah melakukan kejahatan sebelumnya?”

“Ia adalah gadis berusia sepuluh tahun yang pernah kuperkosa saat aku berusia tujuh belas tahun.”

Yoona terlihat syok dan untuk beberapa saat hingga ia hanya dapat mematung di tempat tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bibirnya terlalu kelu untuk hanya sekedar mengucakan sebuah kata karena ia tidak pernah menyangka jika pria yang terlihat baik seperti Donghae ternyata pernah melakukan sebuah tindakan asusila yang mengerikan pada seorang gadis di bawah umur.

“Kenapa, kau terkejut?”

Donghae menolehkan kepalanya kearah Yoona dan memberikan wanita itu sebuah seringaian yang tampak mengerikan. Namun anehnya Yoona tidak takut dengan hal itu, ia justru membalasnya dengan senyuman lembut miliknya yang mungkin dapat membuat Donghae lebih tenang.

“Aku hanya terkejut. Aku tidak menyangka kau pernah melakukan hal itu. Apa kau ingin menceritakan sesuatu padaku, terkait masa lalumu? Di sini aku akan menjadi temanmu, jadi kau tidak perlu sungkan untuk menceritakan apapun masalah yang sedang kau hadapi.”

“Terimakasih, kau baik sekali dokter Im. Tapi mungkin cerita ini akan terlalu panjang untuk kau dengarkan dan mengganggu waktu tidurmu, apa kau tidak keberatan?”

Yoona menggeleng cepat dan segera mengambil kursi hitam untuk duduk di sebelah Donghae. Mengetahui masa kelam pria itu adalah keinginannya sejak berhari-hari yang lalu. Jadi sedikit mengabaikan waktu tidurnya rasanya tidak masalah demi mendapatkan apa yang ingin ia ketahui.

“Sekarang aku siap untuk mendengarkan ceritamu.”

-00-

Satu minggu berlalu dengan cepat untuk Yoona. Sejak ia mendengarkan semua cerita Donghae mengenai masa lalunya, kini hubungannya dengan Donghae menjadi lebih dekat. Pria itu empat hari yang lalu sebenarnya sudah diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit karena kondisinya sudah stabil. Hanya saja Yoona harus terus menerus memantau kondisi psikis Donghae yang bisa saja mengalami lonjakan drastis karena berbagai masalah yang tiba-tiba muncul. Namun sebelum hal-hal buruk terjadi pada Donghae, ia telah memberikan obat untuk menstabilkan moodnya agar pria itu tidak cepat mengalami euforia atau kesedihan setiap kali mendapatkan tekanan dari lingkungan di sekitarnya. Namun hingga saat ini Yoona belum pernah bertemu dengan kekasih Donghae yang bernama Bae Irenne itu. Donghae sendiri juga tidak menceritakannya dengan detail. Ia hanya sebatas membahas Irenne sebagai kekasihnya yang berisik dan juga menyusahkan karena kerap merengek-rengek di depannya setiap permintaanya tidak dipenuhi. Dan mengenai masa lalunya yang pernah memperkosa seorang gadis di bawah umur, ia akui jika itu adalah pengalaman yang mengerikan. Bahkan dirinyapun langsung merinding saat Donghae menceritakan detail kejadiannya malam itu padanya. Mungkin jika gadis kecil itu saat ini ada, ia bisa memintanya untuk membantu Donghae menyembuhkan ketakutannya. Tapi mungkin gadis kecil itu ini telah beranjak dewasa dan tidak ingin lagi masa lalunya yang buruk diungkit kembali. Terlalu menyakitkan untuk mengingat hal-hal yang sangat mengerikan dimana ia belum mengerti apapun mengenai dunia orang dewasa.

Tok tok tok

“Masuk…”

Yoona menjawab ketukan pintu di ruangannya tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan matanya pada beberapa kertas rekam medik milik pasiennya yang berserakan di atas meja. Namun setelah cukup lama tak ada respon dari sang pengetuk, barulah Yoona mendongakan kepala dan ia langsung menemukan Donghae sedang berdiri di ambang pintu sambil menjinjing tas kameranya.

“Selamat siang dokter Im, maaf mengganggumu.”

“Oh tidak, sama sekali tidak. Aku baru saja memikirkanmu. Bagaimana kondisimu tuan Lee?”

“Panggil aku Donghae, kurasa itu terlalu formal.”

“Baiklah, bagaimana kondisimu Hae? Apa kau masih mendengar suara-suara gadis kecil itu lagi?” Tanya Yoona sambil menaikan alisnya. Ia mempersilahkan Donghae duduk di depannya, lalu kembali menyimak jawaban Donghae yang sedikit berbelit-belit.

“Tidak terlalu, tapi aku masih mendengarnya samar-samar beberapa kali. Namun intensitasnya tidak terlalu sering seperti dulu.”

“Syukurlah kalau begitu. Jangan pernah berpikir untuk bunuh diri lagi karena itu tidak baik. Kau masih memiliki masa depan yang cerah. Ooya, hari ini kita akan melakukan terapi relaksasi agar kau bisa mengontrol emosimu saat kau mulai mendapatkan tekanan-tekanan yang mengganggu. Sebenarnya cara untuk menghilangkan gangguan itu mudah, yaitu kau harus selalu terhindar dari rasa stress dan depresi. Akhir-akhir ini kau mengalami tekanan karena kekasihmu terus memintamu untuk menikahinya bukan? Itu yang menyebabkan kau kembali mendengar suara-suara itu setelah sekian lama kau tidak mendengarnya.”

“Begitukah? Hampir setiap hari aku mengalami stress dokter Im. Tapi kurasa bukan itu yang menyebabkanku tiba-tiba mendapatkan gangguan itu lagi.”

Yoona mengernyit heran dan dengan isyarat wajahnya ia meminta Donghae menjelaskan maksud dari ucapannya yang ambigu itu.

“Rasa bersalahku pada gadis itu sangat besar, begitu juga rasa cintaku padanya juga sangat besar. Aku memperkosanya saat itu bukan hanya dipenuhi napsu semata, tapi karena aku juga menyukainya. Ia adalah seorang gadis kecil yang sering kutemui saat aku kembali dari sekolah. Ia adalah anak dari tetangga pamanku. Dulu karena orangtuaku sering bertengkar, aku memutuskan untuk tinggal di rumah pamanku untuk sementara waktu. Disanalah aku bertemu dengan gadis itu. Gadis kecil polos dengan mata bulat, bibir merah tipis, dan tubuh mungil yang sangat cantik. Setiap sore ia selalu bermain bersama teman-temannya di taman di dekat rumahnya dengan penuh suka cita dan tanpa beban. Melihatnya yang begitu indah diantara teman-temannya membuatku selalu ingin melihatnya lagi dan lagi. Hingga pada suatu malam aku melihatnya sedang berjalan sendiri ketika ia hendak pulang ke rumahnya setelah seharian ia bermain di rumah salah satu temannya.”

“Lalu kau menyergapnya di jalan dan memperkosanya di dalam box telepon…. di tengah badai yang tiba-tiba menerjang Seoul malam itu.” Ucap Yoona melanjutkan cerita Donghae. Pria itu mengangguk. Menyeringai penuh misteri dan tiba-tiba menarik pergelangan tangan Yoona kuat agar wanita itu sedikit condong kearahnya.

“Im Yoona… bukankah itu kau, gadis kecil yang kuperkosa di dalam box telepon umum?” Bisik Donghae seringan kapas, namun berhasil membuat wajah Yoona pucat pasi dan bergidik takut sambil menatap manik coklat Donghae tajam.

 

Flashback

Siang itu keadaan taman begitu riuh. Beberapa anak kecil tengah bermain kejar-kejaran di tengah siang yang terik sambil berteriak ketika salah satu teman mereka berhasil mengejar atau menangkap salah satu diantara mereka yang sedang berlari.

Donghae menatap datar sekumpulan anak-anak itu sambil menegak minuman kalengnya di bawah pohon yang rindang. Setiap siang ia selalu berada di sana untuk mengamati anak-anak itu bermain. Entah kenapa ia begitu suka melihat para tetangga pamannya itu berlari-lari di depan matanya dengan ekspresi wajah ceria yang begitu lepas. Diantara segerombolan anak-anak itu, ia paling suka melihat senyum manis milik seorang anak kecil yang ia ketahui bernama Im Yoona. Yoona adalah gadis kecil berusia sepuluh tahun yang tinggal di samping rumah pamannya. Lebih tepatnya di rumah nomor dua belas, yang letaknya di samping kanan rumah pamannya.

Pertama kali ia melihat Yoona adalah satu bulan yang lalu, saat ia kabur dari rumah dan memutuskan untuk menginap di rumah pamannya karena ia bosan dengan pertengkaran kedua orangtuanya di rumah. Setiap hari mereka selalu bertengkar, merusak apapun yang bisa dirusak sambil mengeluarkan suara-suara teriakan berisik yang begitu memuakan untuk didengar. Untung saja ibunya masih memiliki saudara sepupu yang tinggal di pinggir kota Seoul, sehingga ia dapat mengalihkan kesesakan pikirannya dengan pergi ke rumah pamannya agar ia tidak perlu melihat orangtuanya bertengkar di rumah.

“Hae, appa memintaku untuk memanggilmu, saatnya makan siang.”

Hyukjae tiba-tiba datang. Saudara sepupunya itu menepuk pundaknya pelan sambil mengikuti arah pandang Donghae yang sedang fokus menatap kumpulan anak-anak di sekitar kompleksnya yang sedang bermain dengan riuh, tak jauh dari tempak Donghae duduk.

“Aku akan menyusul nanti.” Jawab Donghae acuh tak acuh. Ia masih ingin melihat gadis manisnya tertawa bersama teman-temannya yang lain. Gadis itu benar-benar terlihat paling menonjol diantara yang lainnya karena ia begitu cantik dan memiliki wajah yang paling bersinar.

“Bukankah mereka begitu ceria, begitu lepas dan seolah-olah tidak memiliki beban apapun.” Celetuk Hyukjae berkomentar. Pria bergusi pink itu tiba-tiba juga tertarik untuk mengamati mereka sambil tersenyum simpul, membayangkan bagaimana indahnya kehidupan mereka yang bebas tanpa beban. Berbeda dengannya maupun Donghae yang sudah memiliki banyak masalah dan juga tanggungjawab yang harus dipikul. Terkadang ia ingin kembali ke masa-masa indah itu, dimana setiap hari pikirannya hanya diisi dengan rencana untuk bermain, bermain, dan bermain tanpa harus memikirkan masa depan.

“Hmm, andai aku bisa seperti mereka, tertawa lepas tanpa memiliki beban apapun yang mengganggu. Aku terkadang bosan dengan semua kehidupan ini, jika aku bisa meminta pada Tuhan, aku ingin diberikan kematian saat ini juga agar aku tidak perlu merasakan kejamnya dunia yang perlahan-lahan akan menyakitiku.”

“Jangan berbicara seperti itu, banyak orang yang menginginkan hidup sepertimu. Kaya, memiliki wajah tampan, dan juga cerdas. Lihatlah sisi positif dari kedudukanmu saat ini, jangan hanya melihatnya dari sudut tergelap hidupmu.” Nasihat Hyukjae bijak. Donghae hanya tersenyum sinis menertawakan nasihat konyol Hyukjae tanpa mau menimpalinya sedikitpun. Baginya Hyukjae tidak pernah tahu bagaimana perasaanya yang selalu diabaikan oleh keluarganya, sehingga pria itu dapat mengeluarkan nasihat sampahnya dengan mudah. Semua harta atau kelebihan yang ia miliki saat ini sama sekali tidak berguna. Mereka semua sampah! Sampah yang tidak bisa menolong hidupnya menjadi lebih baik dan justru membuatnya semakin terpuruk. Lihatlah, karena semua kekayaan itu, orangtuanya justru bertengkar. Orangtuanya sering berteriak-teriak di rumah dan menghancurkan barang-barang di rumahnya tanpa pernah berpikir jika barang itu dibeli menggunakan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Jika sepupu bodohnya itu merasakan apa yang ia rasakan, ia tidak akan pernah bisa memberikan nasihat bijak seperti itu.

“Masuklah ke dalam terlebihdahulu, aku masih ingin di sini. Katakan pada paman aku akan memakan makanannya nanti.”

“Baiklah, cepatlah masuk jika kau sudah selesai melihat mereka berteriak-teriak.” Ucap Hyukjae akhirnya sambil berjalan menjauh untuk masuk kedalam rumahnya.

Sepeninggal Hyukjae, Donghae kembali mengamati kumpulan anak-anak itu sambil menyeringai misterius kearah Yoona. Entah kenapa daya tarik gadis itu padanya begitu kuat. Sejak pertama kali ia melihatnya, seluruh rasa sukanya pada gadis-gadis seusianya menjadi hilang. Ia tidak lagi merasa bernapsu pada kekasihnya, Jessica. Dan sejak sebulan yang lalu ia juga tidak pernah memikirkan Jessica. Selalu hanya Yoona yang menari-nari di dalam kepalanya hingga ia merasa pening. Terkadang ia juga bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah ia normal? Apakah normal jika ia merasa tertarik dengan seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun yang masih begitu polos?

Ya, aku normal!

Donghae tiba-tiba berdiri dari duduknya. Berjalan lebih mendekat kearah gadisnya sambil memberikan senyuman manis pada anak-anak kecil yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung.

“Halo…” Sapa Donghae lembut pada Yoona sambil mengelus puncak kepala gadis itu pelan. Melihat Donghae yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya, Yoona langsung mendongakan wajahnya dan menatap Donghae bingung dengan mata bulatnya yang terlihat menggemaskan.

“Apa yang oppa lakukan di sini?” Tanya Yoona polos. Gadis kecil itu terlihat begitu murni dengan wajah polos yang menentramkan. Melihat wajah Yoona yang begitu polos membuat hati Donghae merasa damai seketika. Ia merasa gadis kecil itu mampu mendinginkan hatinya yang panas, yang selalu dipenuhi oleh rasa marah akibat kedua orangtuanya yang tak pernah memberikan perhatian apapun padanya.

“Oppa ingin menyapamu.”

Yoona menatap bingung kearah Donghae, lalu ia beringsut ke kiri untuk lebih merapat pada gadis kecil di sebelahnya yang bernama Kwon Yuri.

“Siapa namamu gadis manis?”

“Yoona…” Jawab Yoona ragu-ragu. Sekilas ia dapat merasakan adanya aura yang tidak beres yang menguar dari dalam diri Donghae, namun ia tidak yakin jika apa yang ia rasakan itu adalah nyata. Lagipula apa yang bisa dilakukan oleh seorang gadis kecil sepertinya pada seorang pemuda dewasa seperti Donghae? Selama pria itu tidak melakukan apapun padanya atau pada teman-temannya, maka ia tidak perlu merasa takut. Ia hanya perlu membalas uluran tangan pria itu dan berlari pulang bersama Yuri.

“Yuri-ah, ayo kita pulang. Ini sudah siang, eomma pasti akan mencariku.”

Donghae tersenyum miring mendengar percakapan yang terjadi antara Yoona dan temannya. Gadis kecil itu rupanya lebih sulit untuk didekati dari apa yang ia duga. Lihatlah bagaimana ekspresi wajahnya yang terlihat polos, namun sebenarnya ia memiliki kewaspadaan diri yang baik. Ia tidak serta merta bersedia untuk berkenalan terlalu lama dengan orang asing. Ia memilih untuk menggunakan alasan klise agar bisa segera terbebas dari cengkeraman Donghae yang berbahaya.

“Kau mau pulang?”

“Ini sudah jam makan siang, aku harus berada di rumah sebelum eomma mencariku.”

Tanpa mengucapkan apapun lagi Yoona kecil segera berlari menuju rumahnya bersama Yuri. Sedangkan beberapa temannya masih berada di tengah-tengah taman itu bersama Donghae yang sedang tersenyum kecil menatap kepergian Yoona.

“Kita pasti akan bertemu lagi gadis manis.”

-00-

Yoona menarik tangan Yuri cepat sambil sesekali menoleh ke belakang untuk mengintip sosok Donghae yang masih menatapnya dari kejauhan. Dengan kening yang dipenuhi keringat, Yoona segera menarik Yuri untuk masuk kedalam rumahnya dan segera mengunci pagar rumahnya rapat-rapat agar Dongae tidak bisa lagi mengawasinya dari kejauhan.

“Yoona, kenapa kita harus buru-buru pulang? Bukankah eommamu sedang pergi bersama appamu ke luar kota?” Tanya Yuri kesal. Gadis kecil itu masih mencoba menormalkan degup jantungnya sambil menyentak tangan Yoona dari pergelangan tangannya.

“Yuri, aku takut. Pria itu, ia sejak tadi terus mengawasiku. Aku mulai menyadarinya sejak dua hari yang lalu. Ia selalu berada di bawah pohon sambil terus mengawasiku. Menurutmu apa ia akan melakukan hal buruk padaku?”

Yoona terlihat takut. Ia menyeka butir-butir keringat yang mengalir dari keningnya, lalu sedikit mengintip dari celah pagar rumahnya untuk memastikan keberadaan Donghae. Tapi syukurlah, Donghae sudah pergi dari taman tempatnya bermain. Pria itu sudah tidak ada di sana dan hanya menyisakan teman-temannya yang masih melanjutkan permainan mereka.

“Benarkah? Aku tidak pernah tahu jika oppa tampan itu sering mengawasi kita. Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Lebih baik kita masuk dan makan masakan bibi Anna, aku lapar.” Ringis Yuri kecil. Kedua gadis itu lantas berjalan beriringan masuk kedalam rumah Yoona yang besar dan sepi. Sejak satu minggu yang lalu kedua orangtua Yoona pergi Busan untuk menjenguk neneknya yang sakit. Kemarin ibunya sempat menelponnya jika kemungkinan mereka akan pulang lusa karena saat ini neneknya masih sakit. Jadi selama ini Yoona hanya tinggal bersama bibi Anna, asisten rumah tangganya yang telah bekerja di rumahnya sejak ia baru berusia satu tahun. Namun keberadaan Donghae disekitarnya membuat perasaanya menjadi was-was. Ia takut jika pria itu ternyata memiliki niat jahat padanya karena kedua orangtuanya sedang pergi. Dan parahnya semakin lama pria itu mulai menunjukan keberaniannya. Bahkan hari ini ia dengan berani mendekatinya untuk mengajak berkenalan. Bukankah itu sangat menakutkan? Ia ingin ayah ibunya segera kembali dari Busan agar mereka bisa melindunginya dari pria misterius yang sangat mengerikan itu.

“Bibi Anna…”

Yoona memanggil bibi Anna pelan yang sedang menyiapkan sup ayam di atas meja. Wanita berusia empat puluhan itu menolehkan kepalanya cepat dan langsung tersenyum manis kearah Yoona.

“Ada apa Yoona, kau terlihat sangat serius.” Komentar bibi Anna sambil tetap menata piring di atas meja. Yoona menatap bibi Anna lama dan terlihat ragu untuk mengungkapkan kegundahan hatinya. Namun pada akhirnya ia berusaha memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan.

“Bibi, apa bibi mengenal laki-laki dewasa yang tinggal di sebelah rumah?”

“Siapa Yoona? Apa yang kau maksud pama Lee Jinri?”

“Emm.. bukan, ia adalah laki-laki muda. Mungkin usianya sama seperti Hyukjae oppa.” Ucap Yoona memberitahu. Bibi Anna sedikit mengerutkan dahinya untuk berpikir. Ia lalu menjentikan jarinya keras ketika ia mendapatkan jawaban untuk pertanyaan Yoona.

“Apakah yang kau maksud Lee Donghae?”

“Lee Donghae? Siapa itu Lee Donghae?” Tanya Yoona tak mengerti. Mata bulatnya mulai bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri untuk memikirkan siapa itu Lee Donghae.

“Ia adalah sepupu Lee Hyukjae, keponakan paman Jinri. Akhir-akhir ini bibi sering bertemu dengannya di depan rumah. Kata paman Jinri keponakannya itu sedang memiliki masalah, sehingga ia memutuskan untuk tinggal sementara di rumah paman Jinri. Kenapa tiba-tiba kau menanyakannya Yoona?”

“Ee… aku hanya ingin bertanya karena aku juga sering melihatnya sedang duduk di taman.” Ucap Yoona beralasan. Mengetahui jika Donghae merupakan keponakan dari paman Jinri, membuat Yoona seketika merasa lega. Selama ini paman Jinri adalah orang yang baik dan pria itu juga sering membantu keluarganya jika keluarganya sedang kesusahan. Jadi sekarang tidak ada alasan lagi untuk mencurigai Donghae sebagai pria jahat karena pria itu adalah keponakan paman Jinri. Sekarang Yoona benar-benar bisa bernapas lega sambil menyantap makan siangnya dengan lahap. Pikiran-pikiran buruk yang sebelumnya menghantuinya, kini perlahan-lahan mulai lenyap. Dan besok ia dapat bermain bersama teman-temannya dengan santai karena ia tidak perlu takut lagi dengan pria bernama Lee Donghae.

-00-

Donghae lagi-lagi berada di taman untuk mengawasi Yoona dari kejauhan yang sedang bermain bersama teman-temannya. Hari ini gadis itu terlihat menggemaskan dengan stelan rok mini di atas lutut dan kaus merah yang tampak kontras dengan kulit putihnya yang bersih. Wajahnya yang selalu berbinar-binar itu juga terlihat menakjubkan saat tertimpa cahaya matahari. Dari hari ke hari Yoona semakin terlihat mengagumkan bagi Donghae. Gadis kecil itu tidak terlihat seperti teman-temannya yang lain. Yoona terlihat lebih menonjol dengan kecantikan alaminya dan gadis kecil itu juga terlihat lebih cerdas dari yang lainnya.

 

Dugg

Glatak glatak glatak

 

Donghae melihat sebuah bola tiba-tiba melayang kearahnya, kemudian jatuh dan memantul tepat di kakinya. Dengan alis terangkat, Donghae mengambil bola itu dan melihat kearah segerombolan anak kecil yang sedang berteriak-teriak, meminta bola mereka dikembalikan.

“Oppa, tolong lemparkan bola kami!”

Segerombolan anak-anak berteriak-teriak, meminta Donghae untuk melemparkan bola mereka. Namun Donghae tidak ingin melakukannya, ia akan menyerahkan bola itu pada mereka, asalkan Yoona yang mengambilnya sendiri.

“Suruh Yoona untuk mengambilnya ke sini.” Balas Donghae dengan suara bass nyaringnya. Tak berapa lama segerombolan anak-anak itu mulai meminta Yoona untuk mengambil bola mereka pada Donghae. Dan dengan langkah berat, Yoona segera berlari-lari kecil kearah Donghae sambil mengulurkan tangannya untuk meminta Donghae mengembalikan bola milk teman-temannya.

“Oppa, tolong kembalikan bola kami.”

“Kau ingin bola ini? Hmm, lalu apa yang akan kudapatkan sebagai imbalan karena telah mengembalikan bola ini?” Tanya Donghae dengan seringaian licik. Yoona menatap Donghae kebingungan dan terlihat ingin berjalan mundur untuk kembali bersama teman-temannya. Namun Donghae segera menarik tangannya dan memberikan satu kecupan lembut di pipi kanan Yoona.

“Ini bolamu, bermainlah lagi bersama teman-temanmu.”

Donghae langsung memberikan bola itu kepada Yoona dan meninggalkan Yoona sendiri yang masih syok dengan apa yang baru saja dilakukan Donghae padanya. Dan ketakutannya kemarin kembali menyusup masuk kedalam hatinya hingga membuat wajahnya pucat pasi. Pria itu seharusnya tidak menciumnya, eommanya selalu mengatakan padanya untuk menjauhi orang asing. Apalagi orang asing yang dengan terang-terangan menyentuh anggota tubuhnya. Meskipun Donghae adalah keponakan dari paman Jinri, tapi tetap saja hal itu tidak boleh dilakukan. Pria dewasa itu tidak seharusnya mencium seorang gadis kecil yang belum mengetahui apa itu cinta.

-00-

“Kau benar-benar akan pulang sekarang? Cuaca terlihat mendung, sebentar lagi pasti akan turun hujan.”

Yuri menengadahkan kepalanya ke atas sambil merasakan hawa dingin yang mulai berhembus menerpa kulitnya. Langit di atasnya terlihat sangat kelabu dan gelap, ia yakin setelah ini Seoul pasti akan dilanda hujan lebat dengan angin yang bergemuruh. Namun gadis kecil di depannya terus bersikukuh untuk pulang karena ia telah berjanji pada bibi Anna untuk segera pulang dan tidak menginap di rumah Yuri.

“Bibi Anna sudah menungguku, lagipula besok orangtuaku akan pulang, jadi besok aku akan memasak menu sarapan spesial bersama bibi Anna.” Ucap Yoona berasalan. Gadis kecil itu lantas melambaikan tangannya ke arah Yuri dan segera berjalan menuju rumahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh, hanya dua blok. Jadi tidak masalah jika malam ini ia harus berjalan sendiri untuk mencapai rumahnya yang jaraknya hanya sekitar empat ratus meter.

“Ughhh.. kenapa dingin sekali?”

Yoona menggosok-gosokan kedua telapak tangannya intens dengan tubuh menggigil karena udara dingin yang menerpa tubuhnya. Ia malam ini sama sekali tidak menggunakan jaket, dan itu benar-benar sangat menyiksanya. Seharusnya ia memang tidak terlalu asik bermain di rumah Yuri agar ia tidak perlu pulang selarut ini dengan kondisi jalan gelap dan hawa dingin. Tapi tadi memang sangat menyenangkan, ia hari ini membantu ibu Yuri membuat puding dan bermain game baru milik Yuri yang baru saja dibelikan oleh ayahnya.

Srakk srakk

Yoona menoleh cepat ke belakang sambil memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan. Gadis itu mengedikan bahunya acuh tak acuh ketika dilihatnya tak ada apapun yang terlihat mencurigakan di belakangnya. Hanya ada beberapa ranting dan juga daun yang baru saja jatuh di atas aspal hingga menimbulkan suara gesekan yang cukup nyaring. Sambil tetap memeluk tubuhnya, Yoona terus berjalan menyusuri jalanan gelap di depannya dan mulai menghitung nomor demi nomor yang terpasang di depan pagar rumah tetangganya. Sebentar lagi ia akan segera tiba di rumahnya. Bahkan sekarang ia sudah bisa melihat pagar rumahnya yang berwarna biru terang di ujung blok. Ia pun semakin mempercepat langkah kakinya supaya ia bisa segera masuk kedalam rumah dan menghangatnya tubunya di depan perapian. Sungguh ia sudah tidak tahan dengan hawa dingin menusuk yang semakin lama semakin ekstrem.

“Yoona…”

Yoona terkesiap kaget ketika tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang. Seorang pria muda yang sangat dikenalnya tiba-tiba berdiri di sebelahnya sambil menunjukan seringaian mengerikan yang tampak menakutkan. Yoona lantas melirik ke kiri dan ke kanan dengan was-was ketika menyadari adanya sesuatu yang janggal dari diri pria yang saat ini sedang berdiri di sebelahnya. Pria itu terlihat tenang, namun tangan kanannya masih setia berada di pundaknya dan terasa seperti sedang mencengkeramnya dengan erat.

“Oppa.. apa yang oppa lakukan di sini?”

Dengan wajah tenang, Yoona bertanya pada Donghae sambil meringis kecil karena hawa dingin yang semakin menjadi-jadi. Melihat Yoona yang kedinginan, Donghae segera melepas jaketnya dan menyampirkan jaket itu di sekitar tubuh Yoona agar hangat.

“Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?”

“Aku baru saja pulang dari rumah Yuri.”

 

Tess tess tess

 

Tiba-tiba rintik-rintik hujan mulai turun dan berubah menjadi hujan deras yang disertai angin kencang. Melihat itu, Donghae segera menarik tangan Yoona untuk masuk kedalam box telepon agar mereka berdua bisa berteduh sementara di sana sambil menunggu hujan reda.

“Oppa bajumu basah.”

Yoona menyentuh lengan kemeja Donghae yang basah sambil menatap pria itu meminta maaf. Karena ia menggunakan jaketnya, maka kemeja Donghae menjadi basah terkena air hujan yang tiba-tiba turun dengan lebat.

“Tidak masalah, aku bisa melepasnya.” Ucap Donghae sambil melepaskan kemejanya dan mengibaskannya cepat di depan Yoona.

“Kau masih kedinginan?”

“Tidak terlalu, jaket ini hangat. Terimakasih oppa.”

Donghae seketika merasa terpana dengan senyum manis Yoona yang sangat meneduhkan di depannya. Di tambah lagi dengan ucapan terimakasih yang terdengar begitu tulus dari seorang gadis berusia sepuluh tahun yang sangat polos di depannya. Ia benar-benar merasa sangat dihargai sebagai seorang manusia untuk pertama kalinya.

“Apapun akan kulakukan agar kau merasa hangat Yoona.” Bisik Donghae lembut sambil mencondongkan tubuhnya kearah Yoona. Pria itu menatap wajah Yoona lekat dan sedikit menarik tangan mungil Yoona agar merapat kearahnya. Hembusan napasnya yang hangat berhembus pelan disekitar wajah Yoona dan membuat Yoona merasa semakin hangat berada di dekat pria dewasa itu.

“Kau hangat oppa.”

“Aku akan semakin menghangatkanmu.”

Donghae memeluk Yoona erat dan melingkupi tubuh mungil itu dengan tubuh besarnya yang cukup atletis. Perasaan nyaman dan tenang itu perlahan-lahan menyusup kedalam hati Donghae ketika ia merasakan aroma tubuh Yoona yang begitu menggoda. Aroma khas anak-anak yang sangat unik dan berbeda dari aroma wanita dewasa yang membosankan. Ia benar-benar menyukainya dan ia ingin memiliki gadis kecil itu sendiri untuk dirinya.

“Oppa… bisa kau lepaskan tubuhku? Aku tidak bisa bernapas.”

Yoona meronta-ronta kecil di dalam dekapan Donghae sambil menatap panik suasana disekitarnya yang sangat sepi. Saat ini ia benar-benar ingin pulang. Berlari sejauh-jauhnya dari Donghae karena ia takut dengan aura kelam yang menguar dari tubuh Donghae.

“Ada apa Yoona? Bukankah kau merasa kedinginan?”

“Tapi aku tidak bisa bernapas, ini terlalu sesak.”

Donghae segera melonggarkan pelukannya dari tubuh Yoona dan menatap wajah gadis kecil di depannya intens. Saat ini bibir tipis Yoona terlihat pucat dan sedikit menggigil. Ia yakin jaket hitamnya tidak bisa sepenuhnya menghangatkan tubuh Yoona. Gadis kecil itu memerlukan kehangat lebih dari dirinya.

“Bibirmu menggigil dan pucat Yoona…”

“Benarkah op…

Donghae tiba-tiba mencium bibir Yoona dan melumatnya lembut penuh perasaan. Yoona yang tahu jika itu salah, langsung mendorong tubuh Donghae dan semakin meronta-ronta di dalam kungkungan Donghae. Apa yang ia takutkan sejak tadi akhirnya benar-benar terjadi. Dan sialnya saat ini ia sedang berada di dalam box telepon yang sempit dengan suasana sepi yang sangat mencekam di luar sana.

“Oppa… hmmpphh… hmmppfffhh…”

“Ssshhh… tenang Yoona… tenang, rileks. Aku sedang menghangatkan bibirmu yang membeku.”

Donghae menatap wajah Yoona dengan mata berkabut dan ia semakin merasa bergairah saat melihat bibir pucat Yoona kini telah berubah menjadi pink dengan kilatan-kilatan menggoda yang tercipta dari salivanya. Ia ingin mencicipi bibi mungil itu lagi dan lagi, karena rasanya ia tidak akan pernah puas hanya dengan satu kecupan singkat yang tadi ia lakukan.

“Aku ingin pulang… hikss.”

Yoona mulai menangis dan terlihat tidak nyaman dengan keberadaan mereka di dalam box telepon. Gadis kecil itu melihat keluar sebentar dan berniat untuk menerobos hujan lembat yang sejadi terjadi karena ia sudah tidak tahan berada di dalam box telepon itu bersama Donghae. Terlebih pria dewasa itu baru saja menciumnya dengan ciuman yang sangat berbeda dari ciuman yang sering diberikan oleh ayahnya atau ibunya. Ia takut.. Ia merasa benar-benar takut pada Donghae…

“Di luar sedang hujan Yoona, tinggalan di sini bersamaku hingga hujan di luar mereda. Aku janji akan terus menemanimu di sini.”

“Aku ingin pulang. Aku ingin bibi Anna…”

Yoona menangis sesenggukan di depan Donghae dan hal itu membuat Donghae merasa geram. Ia tidak suka jika gadis kecil itu justru takut padanya. Ia ingin Yoona juga bisa merasakan perasaan yang saat ini ia rasakan. Perasaan penuh gairah yang sedang meletup-letup di dalam dirinya.

“Ssshh… jangan menangis, lihat mataku.”

Donghae menarik dagu Yoona dan mendongakan paksa kepala gadis kecil itu kearahnya. Perlahan-lahan jari-jari Donghae mengelus sisi wajah Yoona yang basah sambil memberikan senyuman manis yang hangat. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Sedetik kemudian Donghae langsung mencium bibir Yoona dan melumatnya dengan kasar hingga Yoona merasa telah kehilangan seluruh pasokan oksigennya karena gadis sekecil Yoona sama sekali tidak berpengalaman dalam hal itu.

Sementara itu Donghae justru terlihat semakin rakus dan semakin gila akan rasa unik yang ditawarkan Yoona. Gadis polos itu memberikan sensasi luar biasa yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya hingga ia menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Ia menginginkan tubuh gadis kecil itu! Dengan penuh napsu, Donghae kemudian segera melucuti pakaian Yoona dan menyetubuhi gadis kecil itu di dalam box telepon. Tak peduli seberapa keras teriakan Yoona agar dilepaskan dan bagaimana tangisan pilu Yoona mengiringi setiap desahan yang ia keluarkan. Yang jelas ia sangat menginginkan tubuh Yoona dan tidak akan melepaskannya hingga ia merasa puas.

-00-

Malam itu Yoona kembali ke rumahnya dengan wajah sembab dan pakaian kacau yang terlihat koyak di beberapa sisinya. Dengan langkah terseok-seok, Yoona mencoba berjalan menuju rumahnya yang hanya berjarak beberapa langkah lagi di depannya. Namun langkahnya yang begitu berat dan kedua matanya yang kabur karena dipenuhi oleh air mata membuat posisi rumahnya terasa sangat jauh untuk dijangkau.

“Hikss… eomma..”

Yoona bergumam lirih sambil terus berjalan dengan perasaan hancur. Entah apa yang akan ia lakukan setelah ini. Ia begitu takut dengan monster kejam yang saat ini masih berdiri jauh di belakangnya, mengawasinya yang tengah berjalan menuju ke rumahnya. Pria itu sebelumnya telah mengancamnya untuk merahasiakan semua perbuatan bejat yang ia lakukan padanya dan mengancam akan semakin menghancurkan hidupnya jika ia berani buka suara pada orangtuanya. Namun tanpa diancampun, Yoona jelas tidak akan memberitahu hal buruk itu pada orangtuanya karena mereka pasti akan sangat malu dengan apa yang menimpa putri semata wayang mereka. Putri mereka telah kotor oleh seorang pemuda brengsek yang tidak bertanggungjawab!

“Yoona!”

Bibi Anna memekik terkejut saat menemukan Yoona dalam keadaan kacau di balik pintu. Wanita berusia empat puluhan tahun itu lantas menarik Yoona masuk dan menyuruh Yoona untuk segera mengganti pakaiannya karena gadis kecil itu terlihat basah kuyup dengan bibir membiru karena kedinginan. Namun Yoona justru semakin menangis sesenggukan di tempatnya berdiri tanpa sedikitpun mengindahkan perintah bibinya untuk berganti baju.

“Ada apa? Kenapa bajumu basah dan sobek? Apa kau jatuh?” Tanya bibi Anna khawatir. Wanita itu terlihat semakin cemas ketika melihat adanya luka lebam di pergelangan tangan Yoona dan di sekitar wajah Yoona. Bekas-bekas kemerahan itu terlihat begitu jelas di atas kulit tubuh Yoona yang putih hingga bibi Anna yang melihatnya terlihat semakin panik. Besok kedua orangtua Yoona akan kembali dari Busan, jika melihat kondisi putri mereka seperti ini, ia pasti akan dimarahi habis-habisan oleh orangtua Yoona karena dianggap tidak bisa mengurus Yoona dengan baik.

“Bibi… aku bertemu monster.”

“Apa kau diganggu oleh anak-anak nakal? Katakan pada bibi Yoona, bibi akan melaporkannya pada polisi!” Ucap bibi Anna menggebu-gebu. Namun Yoona justru tetap menangis tersedu-sedu di depan bibinya tanpa mau memberikan jawaban yang jelas atas pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Karena dari balik jendela hitam yang berada di ruang keluarga miliknya, Yoona dapat melihat kilatan mata coklat Donghae yang sedang mengintainya dari balik kegelapan malam dengan mengerikan.

“Monster jahat…. ia memakanku bibi, monster itu memakanku dan melukaiku….”

Flashback end

 

“Kau masih mengingatku Donghae oppa? Setelah bertahun-tahun lamanya?”

Yoona berucap dengan nada sinis sambil menghempaskan tangan Donghae dari pergelangan tangannya. Wanita itu menatap Donghae datar sambil menyandarkan punggung kecilnya pada sandaran kursi kebesarannya. Bertahun-tahun ia berusaha berjuang sendiri untuk menyembuhkan ketakutannya karena peristiwa mengerikan yang terjadi padanya malam itu. Tidak ada satupun yang tahu apa yang terjadi padanya. Selama ini ia selalu menyembunyikan rapat-rapat dari bibi Anna, bahkan orangtuanya, agar mereka tidak malu memiliki seorang anak yang kotor sepertinya. Dan malam itu ia memutuskan untuk pergi dari rumahnya. Ia meminta kedua orangtuanya untuk memasukannya ke sekolah asrama yang letaknya jauh dari Seoul hingga ia berusia delapan belas tahun. Kemudian saat tiba waktunya mendaftar di perguruan tinggi, ia memutuskan untuk mengambil jurusan psikiater agar ia bisa menolong orang lain, dan terutama untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari ketakutan masa lalunya yang tidak bisa hilang begitu saja. Lee Donghae telah menorehkan kenangan mengerikan yang cukup dalam hingga ia tidak pernah bisa melupakan pria itu barang sedikitpun. Bahkan ketika ia melihat Donghae untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa dunianya sebentar lagi akan benar-benar hancur. Namun satu-satunya cara agar ia bisa terbebas dari trauma masa lalunya adalah dengan menghadapi Donghae secara langsung. Sehingga malam itu sudah ia putuskan, bahwa ia akan menjadi psikiater Donghae untuk mengobati rasa takutnya karena kejadian pemerkosaan di masa lalu. Sialnya ingatan Donghae ternyata jauh lebih tajam dari dugaanya, sehingga pria itu dengan mudah dapat mengenalinya dalam beberapa kali pertemuan. Tapi sekarang ia cukup senang karena Donghae ternyata juga mengalami mimpi buruk yang sama sepertinya. Kejadian pemerkosaan itu membuat Donghae memiliki ilusi yang sangat mengganggu di dalam kepalanya dan membuat Donghae terlihat seperti orang gila di mata orang lain.

“Aku mencarimu. Sejak malam itu aku terus mencarimu, tapi kau menghilang. Kau sengaja menghilangkan jejakmu dariku?”

“Huh… kau kira apa yang akan dilakukan oleh seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun yang baru saja diperkosa? Bahkan ia tidak pernah tahu apa itu cinta, bagaimana hubungan antara orang dewasa itu seharusnya, dan seperti apa hasrat itu membakar jiwa manusia. Tapi kau dengan bejatnya justru melampiaskan seluruh napsu menjijikanmu pada seorang gadis polos berusia sepuluh tahun! Dimana hati nuranimu keparat!”

“Sssshhh…. tenang Yoona, tarik napas dan bersikaplah manis seperti dokter Im yang kukenal. Sejujurnya aku tidak berharap kau pergi dariku Yoona. Aku berharap kau bisa menjadi milikku.”

“Hmm… brengsek sepertimu tidak berhak memilikiku. Aku sudah menikah!”

Yoona mengakat tangan kanannya dengan angkuh dan menunjukan sebuah cincin berlian putih yang tersemat di jari manisnya. Dengan angkuh wanita itu mendongakan kepalanya sambil menikmati setiap kepedihan yang terpancar di mata Donghae. Ia tahu pria itu saat ini pasti sangat hancur, gadis yang sudah lama ditandai olehnya, telah menikah dengan pria lain. Tapi memang inilah salah satu tujuannya menikah bersama Changmin, karena ia tidak ingin terus menerus berkubang di dalam kesedihan yang sama karena masa lalunya.

-00-

Donghae memejamkan matanya erat dan mulai mengatur deru napasnya agar lebih stabil. Fakta pedih yang baru diketahuinya kemarin membuat jiwanya benar-benar terkoyak saat ini. Wanita incarannya, cinta pertamanya, dan satu-satunya wanita yang masih bertahan di dalam kepalanya, ternyata telah menjadi milik pria lain. Yoonanya telah menjadi milik orang lain! Donghae tak henti-hentinya memutar kalimat itu di dalam kepalanya sambil berbaring terlentang di dalam kamarnya yang gelap. Harapannya untuk menjadikan Yoona miliknya telah pupus. Percuma saja selama ini ia bertahan pada fantasinya tentang Yoona, sambil berharap jika suatu saat fantasinya itu akan menjadi kenyataan, nyatanya semua itu hanya akan menjadi abu masa lalu yang benar-benar menyakitkan untuk diingat.

“Oppa…”

Suara cempreng wanita itu tiba-tiba membuat Donghae mendengus gusar di dalam hati. Wanita yang tak pernah ia harapkan keberadaanya akhirnya muncul. Wanita itu dengan langkah ringan berjalan menghampirinya dan ikut berbaring di sebelahnya sambil memeluk lengan kanannya manja.

“Oppa aku senang kau akhirnya pulang. Maaf karena aku tidak menjengukmu di rumah sakit karena aku harus pulang ke Jeju untuk menemui orangtuaku.”

Kau seharusnya memang pergi sejauh-jauhnya dariku wanita sialan, dan jangan pernah kembali.”

            Donghae tetap bergeming di tempat tanpa sedikitpun membuka matanya untuk menyambut irenne. Sejak awal ia tidak pernah menyukai wanita itu. Ia hanya sebatas menggunakan Irenne untuk memuluskan pekerjaanya karena wanita itu adalah salah satu model yang sedang naik daun saat ini. Keberadaanya di perusahaan tempatnya bekerja sangat diperlukan untuk meningkatkan pamor perusahaan. Dan untungnya wanita itu sangat menggilainya, sehingga saat ini ia menjadi satu-satunya fotografer kesayangan perusahaan karena ia berhasil menggaet Irenne unuk menjadi model di perusahaan tempatnya bekerja. Sayangnya imbalan untuk semua itu tidaklah murah. Ia harus rela mengorbankan kebebasannya untuk menjalin hubungan dengan wanita paling cerewet seperti Irenne. Tidak pernah sekalipun hidupnya tenang semenjak ia menjadikan Irenne sebagai kekasihnya karena setiap detik wanita itu selalu menghujaninya dengan berbagai kata-kata yang sangat memuakan.

“Oppa.. aku tahu kau tidak tidur. Aku merindukanmu, hmm…”

Irenne memeluk Donghae erat sambil mengeluskan kepalanya di atas dada bidang Donghae seperti seekor kucing yang sedang mengiba pada majikannya. Hal itu sukses membuat Donghae membuka matanya dan menjauhkan kepala Irenne sejauh-jauhnya dari atas dadanya.

“Enyahlah dari sini Irenne, aku muak melihatmu.”

“Oppa, ada apa?” Tanya Irenne kaget. Ia tidak mengerti mengapa Donghae tiba-tiba bersikap seperti ini padanya. Padahal sebelum ia menemukan pria itu bersimbah darah seminggu yang lalu, hubungan mereka masih baik-baik saja. Tidak pernah ada sedikitpun pertengkaran yang terjadi diantara mereka, karena Donghae memang selalu mengalah untuk meredam seluruh masalah diantara mereka. Lalu mengapa tiba-tiba pria itu bersikap dingin padanya? Apa karena ia tidak menjenguk pria itu selama di rumah sakit?

“Oppa, aku minta maaf karena tidak berada di sisimu saat kau sakit. Tapi kumohon jangan bersikap seperti ini padaku.” Mohon Irenne memelas. Namun Donghae tetap saja bersikap sinis pada wanita itu sambil mendorongnya menjauh dari tubuhnya.

“Kita berakhir sampai di sini Irenne, pergilah!”

“Apa? Kenapa kau memutuskanku oppa? Aku tidak mau!” Tolak Irenne mentah-mentah dengan suara tinggi. Donghae langsung menggeram marah dengan sikap keras kepala Irenne dan langsung menggendong tubuh Irenne keluar dari kamarnya. Pria itu lantas membuka pintu apartemennya kasar dan melemparkan tubuh Irenne begitu saja di depan pintu apartemennya hingga menimbulkan suara debum yang nyaring, berpadu dengan suara teriakan Irenne yang sangat memekakan telinga.

“Pergi, dan jagan pernah ganggu hidupku lagi. Aku muak melihatmu berkeliaran seperti tikus di sekitarku.”

“Oppa! Ada apa denganmu? Oppa!”

Donghae menutup pintu apartemennya rapat-rapat dan berlalu begitu saja menuju kamarnya untuk menyumpal kedua telinganya dengan bantal. Suara teriakan Irenne yang sangat nyaring itu membuat kepalanya berdenyut seketika, dan tiba-tiba saja bayangan gadis kecil itu kembali muncul di depan matanya.

“Sial!”

Donghae mengumpat keras dan langsung menerjang bayangan gadis kecil itu begitu saja dengan langkah terburu-buru menuju kamarnya. Ia kemudian segera menyambar botol obatnya di dalam laci nakasnya dan langsung menelan satu butir kapsul berwarna putih pemberian Yoona untuk menghilangkan bayangan gadis kecil itu di dalam pikirannya. Saat ini ia tidak mau ketikdawarasannya mengambil alih tubuhnya karena ia sekarang telah menemukan semangatnya kembali untuk hidup. Karena ia ingin mendapatkan Yoonanya kembali.

-00-

Di rumah yang sepi dan gelap itu, Yoona termenung sendiri sambil bertopang dagu. Wanita itu terlihat kacau pasca kemunculan Donghae di depan matanya. Ia sungguh kesal pada dirinya sendiri yang bisa dengan mudahnya termakan provokasi Donghae. Setelah pria itu mengatakan akan mendapatkannya kembali, ia menjadi tidak tenang dan seperti dihantui oleh masa lalunya kembali. Padahal selama tiga belas tahun ini perlahan-lahan ia mampu melupakan semuanya. Namun semua itu hancur ketika Donghae tiba-tiba datang dan menebarkan teror lagi di depan matanya.

“Changmin oppa…. maafkan aku.”

Yoona mendesah kecil sambil menatap foto pernikahannya dengan sang suami tercinta, Shim Changmin. Pertemuan mereka yang sangat tak terduga, pada akhirnya menghantarkan mereka pada sebuah ikatan suci pernikahan.

Dulu ia adalah seorang psikiater muda. Setelah lulus dari pendidikan psikiaternya, ia memilih untuk memulai karirnya dengan melakukan pengabdian masyarakat di desa-desa terpencil. Ia ingin ilmunya selama ini benar-benar berguna untuk orang yang tepat. Dan ketika ia sedang mengikuti sebuah projek kemanusiaan di sebuah desa terpencil di kaki gunung, ia bertemu Shim Changmin. Pria muda itu adalah seorang relawan yang saat itu tengah bertugas di desa yang sama tempat ia mengabdi. Awalnya mereka berdua hanyalah dua orang tak saling kenal yang sama-sama sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Namun karena mereka sering bertemu di dalam tenda-tenda pengungsian, akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi teman mengobrol sebelum pada akhirnya mereka menjadi sepasang teman dekat dan menjadi sepasang kekasih. Lalu tiga bulan kemudian Changmin melamar Yoona. Pria itu cepat-cepat melamar Yoona dengan alasan, bahwa ia tidak ingin kehilangan Yoona. Selama ia masih memiliki kesempatan, maka ia ingin menggunakan kesempatan itu dengan baik agar Yoona tidak jatuh ke tangan orang lain. Pada awalnya Yoona menolak lamaran yang diajukan oleh Changmin karena ia merasa belum siap untuk menjadi seorang isteri yang seharusnya mengabdikan kehidupannya pada sang suami. Tapi selama berhari-hari Changmin terus meyakinkannya agar ia tidak perlu merasa takut dengan kehidupan pernikahan mereka kelak. Dan akhirnya bujukan Changmin itu berhasil. Yoona bersedia untuk menikah dengan Changmin dan menjadi pasangan abadi pria itu. Sayangnya setelah pernikahan itu dilaksanakan, Yoona merasakan kembali ketakutan-ketakutannya di masa lalu. Setiap kali Changmin akan menyentuhnya, ia merasa semua traumanya muncul dan akan memakannya hidup-hidup. Sehingga pada akhirnya ia dan Changmin tidak pernah melakukan apa yang disebut sebagai hubungan suami isteri. Padahal usia pernikahan mereka hampir menginjak satu tahun. Tapi untung saja Changmin tidak pernah memaksanya. Pria itu memberikan Yoona kesempatan untuk membiasakan diri terlebihdahulu terhadap kehidupan pernikahan mereka dan tidak ingin terlalu terburu-buru untuk menyentuh Yoona. Lagipula usia pacaran mereka saat itu baru menginjak tiga bulan. Jadi Changmin selalu mengaggap bahwa kehidupan pernikahan mereka saat ini tak ubahnya seperti kehidupan mereka saat berpacaran dulu.

“Changmin oppa, aku merindukanmu.”

“Hai Yoong, oppa juga merindukanmu. Kau baru saja pulang dari rumah sakit?”

“Tidak, aku libur hari ini.” Jawab Yoona pelan sambil mengeratkan ponsel putihnya pada telinga kanannya. Hari ini ia sengaja libur dan bertukar shift dengan dokter lain karena ia belum siap untuk bertemu Donghae. Hari ini seharusnya ia mulai melakukan treatmen untuk membantu pria itu menghilangkan ilusinya. Namun ia belum bisa melakukannya dan memutuskan untuk mengundurnya lusa. Ia merasa harus mempersiapkan mentalnya terlebihdahulu sebelum berhadapan dengan Donghae secara langsung. Ia…. masih menyimpan ketakutan untuk monster itu.

“Kenapa? Bukankah ini bukan hari liburmu?”

“Aku hanya sedang lelah dan ingin beristirahat di rumah. Kapan kau akan kembali ke Seoul oppa?” Tanya Yoona pelan dengan desahan berat. Ia merasa benar-benar sendiri sekarang karena Changmin sedang melakukan tugasnya sebagai relawan di perbatasan Korea. Padahal ia sangat berharap saat ini Changmin berada di sisinya untuk menguatkan jiwanya yang rapuh.

“Aku akan memberitahumu nanti.”

Yoona mengangguk pelan di ujung telepon sambil mengerang pasrah. Ia tahu, suaminya pasti belum mengetahui jadwal kepulangannya. Hal itu memang biasa terjadi pada mereka, karena memang seperti itulah pekerjaan Changmin. Terkadang Changmin akan bekerja selama satu bulan penuh tanpa pulang. Terkadang Changmin hanya bekerja selama satu minggu. Semua itu tergantung oleh pemerintah yang memberikan mandat untuk Changmin.

“Maafkan aku Yoong, tapi akan kuusahakan dalam waktu dekat ini.”

“Hmm, jangan memberiku harapan palsu oppa. Kau sudah sering melakukannya.” Delik Yoona tajam. Ia benar-benar sudah kenyang dengan segala harapan palsu yang sering diberikan Changmin padanya.

“Maaf.”

“Aku sudah bosan mendengar kata maaf darimu oppa. Jangan meminta maaf lagi karena itu bukan salahmu. Aku tahu bagaimana perasaanmu di sana, kau pasti juga ingin pulang bukan?”

“Sangat ingin. Aku merindukanmu.”

“Kalau begitu bersemangatlah, jangan terus menerus memikirkanku agar kau bisa segera kembali ke Seoul. Aku akan menunggumu di sini.”

“Tapi aku merasa bersalah padamu karena sering meninggalkanmu sendiri. Aku janji akan segera pulang.” Ucap Changmin bersungguh-sungguh. Andai Yoona dapat melihat wajah Changmin saat ini, maka ia pasti akan melihat adanya tekad yang begitu kuat yang terpancar dari kedua mata hitamnya.

“Baiklah, aku akan menunggumu di sini. Sampai jumpa oppa, selamat bekerja.”

Yoona menutup panggilan teleponnya dengan senyum lega yang sedikit ia paksakan. Ia lantas berjalan kearah jendela untuk melihat sinar bulan yang kebetulan sedang bersinar indah di atas rumahnya. Namun saat ia berada di pinggir balkon, raut wajahnya seketika berubah menjadi pucat. Kedua tangannya yang sedang memegang pembatas balkon tiba-tiba langsung mengepal sambil mencengkeram besi pembatas itu erat-erat. Di bawah sana, tepatnya di bawah lampu jalan yang sedang bersinar temaram, ia dapat melihat sosok mengerikan itu tengah menyeringai kearahnya. Pria itu, dengan jaket kulit hitam dan topi hitam yang membungkus rambut coklatnya, tengah mendongak kearahnya sambil memamerkan seulas senyum mengancam yang sangat tidak disukai Yoona.

Ini gawat, monster itu pasti kembali untuk memakanku hidup-hidup.”

-00-

“Pejamkan matamu dan mulailah untuk membayangkan hal-hal yang menjadi ancamanmu akhir-akhir ini.”

Yoona duduk di tempat yang cukup jauh sambil memberikan perintah pada Donghae yang sedang menjalani sesi terapi desentisisasi. Wanita itu dengan beberapa kertas putih di tangannya, mulai mencoretkan beberapa progress yang telah dicapai Donghae selama sesi terapi hari ini berlangsung. Sayangnya di tengah-tengah melakukan terapi, pikirannya sedang tidak fokus. Setiap melihat Donghae di depannya, ia selalu teringat akan kejadian buruk yang menimpanya tiga belas tahun yang lalu dan hal itu selalu membuatnya merasa takut hingga kepalanya pening.

“Kau baik-baik saja?”

Yoona terkesiap kaget ketika Donghae tiba-tiba memegang lengannya sambil mencondongkan kepalanya kearah wajahnya. Dengan wajah linglung, Yoona sedikit melirik kursi relaksasi yang kosong sambil menghempaskan tangan Donghae di lengannya.

“Kembalilah ke kursimu.”

“Kurasa kau sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Apa kau bisa melanjutkannya ketika keadaanmu sedang kacau seperti ini?”

“Aku pasti bisa. Sekarang kembalilah!”

Yoona mendorong Donghae menjauh darinya dan memberikan tatapan tegas pada pria itu untuk kembali duduk di atas kursi panjang hitam yang berjarak dua setengah meter di depannya.

Sementara itu, Donghae tampak tersenyum sinis kearah Yoona sambil mendudukan dirinya kembali ke atas kursi hitam yang terlihat bagaikan kursi pesakitan untuknya.

“Sepertinya kau juga harus mendapatkan terapi.”

“Pejamkan matamu dan mulailah untuk memutar seluruh kenangan yang menjadi sumber katakutanmu. Tarik napas sedalam-dalamnya, lalu rasakan bagaimana sensasinya. Rasakan bagaimana saat kenangan itu mengalir di dalam otakmu, menjalar di seluruh pembuluh darahmu, dan menyebar ke seluruh tubuhmu. Resapi semua kenangan itu hingga kau benar-benar merasa tidak nyaman. Jangan buka matamu sebelum kau benar-benar merasa menyerah dengan seluruh kenangan itu.”

Yoona mulai mensugesti Donghae untuk memanggil semua kenangan buruk yang selama ini ditekan oleh Donghae di dalam dirinya. Dan dalam sekejap Yoona dapat melihat wajah Donghae tampak berkerut-kerut sambil memejamkan matanya. Pria itu mulai memutar seluruh kenangan yang berusaha dilupakannya selama ini dan mencoba menghadapinya di dalam alam bawah sadarnya. Sesekali Yoona melihat Donghae mengerang tertahan sambil mencengkeram pinggiran kursi di samping kanan kirinya, namun Yoona membiarkan saja hal itu terjadi karena itu memang proses yang harus dilewati Donghae untuk menghilangkan seluruh traumanya yang menyebabkan pria itu memiliki ilusi.

Satu persatu kenangan yang selama ini ditekan Donghae di dalam pikirannya mulai bermunculan. Dimulai dari saat kedua orangtuanya sering bertengkar di rumah. Kemudian suara teriakan-teriakan ibunya saat ayahnya menampar ibunya juga mulai terdengar saling bersahut-sahutan di dalam telinganya hingga kepalanya terasa sangat sakit. Suara teriakan itu begitu memekakan telinga dan membuatnya ingin menyerah sampai di sana. Namun tak berapa lama suara teriakan itu menghilang, digantikan dengan suasana tenang saat ia berada di sekolahnya. Di sana ia melihat dirinya sedang duduk bersama teman-temannya di dalam kelas dan ia terlihat sedang mendengarkan penjelasan dari gurunya dengan serius. Lalu munculah seorang siswi pindahan baru yang masuk ke kelasnya dan duduk di sebelahnya. Siswi itu bernama Jung Jessica, dan ia adalah murid pindahan dari California. Selama beberapa saat ingatannya memutar kejadian-kejadian menyenangkan saat ia tengah bercengkerama dengan Jessica. Ia beberapa kali melihat dirinya pergi ke suatu tempat bersama Jessica. Namun kejadian buruk tiba-tiba menimpa mereka. Jessica, gadis itu mulai menyukainya, wanita itu kemudian menjadi kekasihnya, tapi ia belum sepenuhnya merasa mencintai Jessica, sehingga mereka pada akhirnya bertengkar hebat dan memutuskan untuk tidak saling kenal satu sama lain. Donghae tanpa sadar menghembuskan napasnya kecil ketika kenangan mengenai Jessica ternyata masih tersimpan di dalam otaknya. Ia pikir semua kenangannya dengan gadis itu telah hilang karena beberapa tahun terakhir ini ia tidak pernah ingat jika ia memiliki seorang teman wanita bernama Jessica. Setelah Jessica, kenangannya yang lain mulai muncul. Kenangannya ketika ia kabur ke rumah pamannya dan untuk pertama kalinya ia melihat Yoona, gadis kecil manis yang sangat menggemaskan untuknya. Saat mengingat kenangan itu, tanpa sadar Donghae menyunggingkan senyumnya dan ia merasa sangat damai untuk beberapa saat. Namun saat kenangan mengenai Yoona itu ternyata hidup, ia tiba-tiba menjadi panik. Sosok Yoona kecil yang selalu hadir di dalam dunia nyatanya, juga turut hadir di dalam pikirannya mengenai masa lalunya. Gadis kecil itu menatapnya tajam, seakan-akan ia dapat melihat Donghae dewasa yang saat ini sedang melihat masa lalunya. Padahal sebelumnya, ia selalu menjadi makhluk tak kasat mata di dalam pikirannya karena semua tokoh di dalam kenangan itu tidak dapat melihatnya. Tapi Yoona berbeda, gadis itu dapat melihatnya dan dapat menatap sinis kearahnya. Ia perlahan-lahan mendekati Donghae, kemudian menebarkan teror mencekam yang sangat ditakuti Donghae, hingga pada akhirnya Donghae membuka matanyaa sambil terengah-engah ketakutan.

“Aku melihatnya!”

“Apa yang kau lihat? Aku kecil?” Tanya Yoona datar. Ia mengetahui hal itu karena beberapa kali ia mendengar Donghae menggumamkan namanya. Pria itu sepertinya sangat menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya dulu, namun ia selalu berpura-pura baik-baik saja dan terlihat seolah-olah ia sangat menikmati saat-saat ia memperkosa gadis kecil berusia sepuluh tahun yang polos itu.

“Kau kecil yang sangat menyeramkan. Ia berteriak nyaring di dalam telingaku. Suaranya bahkan lebih nyaring dari suara ibuku saat sedang bertengkar dengan ayahku. Ia lalu berjalan mendekat kearahku dan seperti ingin mencekikku.” Cerita Donghae masih dengan napas memburu. Yoona mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan mulai berjalan menghampiri Donghae. Sekarang ia tahu pasti apa yang menyebabkan Donghae mengalami gangguan ilusi seperti itu, jadi ia harus membuat pria itu membuka realita pikirannya agar ia tidak terus menerus terjebak oleh kenangan pahit di masa lalu.

“Sekarang tarik napasmu lagi dalam-dalam, lalu hembuskan.”

Donghae melakukan dengan patuh apa yang Yoona perintahkan untuk membuat dirinya rileks kembali. Menjadi seorang pria yang memiliki gangguan jiwa memang tidak menyenangkan. Baru saja ia menunjukan sisi lemahnya di hadapan Yoona, dan itu sangat meruntuhkan harga dirinya.

“Sekarang lihat aku, apa kau merasa sangat bersalah setelah kejadian pemerkosaan itu?”

“Menurutmu? Aku menginginkanmu menjadi milikku, dan kau justru pergi begitu saja. Selain karena rasa bersalahku padamu, ilusiku muncul karena aku sangat terobsesi padamu. Sebenarnya aku bisa saja menghilangkan bayanganmu dari pikiranku, tapi disaat aku tidak melihatnya aku merasa sangat kehilangan. Satu-satunya hal yang bisa membuatku memilikimu adalah bayangan itu. Kau seharusnya menjadi milikku Yoona.”

Donghae menyentak pergelangan tangan Yoona dan membisikan kalimat terakhirnya dengan tatapan tajam tepat di depan wajah Yoona. Pria itu menyeringai licik dan tiba-tiba saja telah melumat bibir Yoona kasar hingga membuat Yoona hanya mampu membeku di tempat karena traumanya juga mulai bermunculan.

“Apa kau merasakannya Yoona? Traumamu? Kau merasakannya?”

“Brengsek!”

Yoona mendorong dada Donghae keras dan langsung menghapus bekas ciuman Donghae di bibirnya kasar. Ia tidak tahu mengapa ia bisa diam begitu saja saat pria itu menyentuhnya. Tapi saat semua itu terjadi ia benar-benar seperti seorang patung yang tidak bisa melakukan apapun. Tubuhnya kaku dan yang bisa ia lakukan hanya menikmatinya sambil merasakan kenangan itu kembali muncul di kepalanya.

“Kita adalah dua orang yang sakit Yoona, kau tidak bisa hanya menyembuhkan ilusi di dalam kepalaku, tapi kau juga harus menyembuhkan traumamu sendiri.” Ucap Donghae santai dengan nada mengejek.

“Aku bukan manusia sakit sepertimu Lee Donghae! Aku sehat, dan aku bisa mengatasi traumaku sendiri.”

Yoona lantas berjalan menjauh dari Donghae sambil melempar kasar rekam mediknya ke atas meja. Sesi terapinya hari ini benar-benar sangat kacau. Bisa-bisanya ia masuk kedalam arus yang diciptakan oleh Donghae mengenai masa lalu mereka. Ia sepertinya harus mengambil cuti tiga hari untuk pergi ke suatu tempat. Ia ingin menyusul Changmin dan melihat wajah menenangkan pria itu agar ia bisa melupakan seluruh katakutannya di masa lalu. Saat ini hanya pria itulah yang bisa menjadi obat untuk seluruh ketakutannya karena hanya pria itu jugalah yang mengetahui masa lalunya.

-00-

Yoona memejamkan matanya rapat, merasakan hembusan udara dingin yang terasa seperti sedang menampar wajahnya dari atas balkon rumahnya. Malam ini ia begitu kacau. Setelah semua pertemuannya dengan Donghae, pikirannya yang semula baik-baik saja, perlahan-lahan mulai kacau karena semua kenangan pahitnya di masa lalu mulai bermunculan lagi. Semua kenangan yang selama bertahun-tahun telah berhasil ia tekan di dalam kepalanya kembali muncul dan membuat pertahanannya hampir runtuh. Seharusnya saat itu ia memikirkan konsekuensi juga. Saat suster itu memintanya untuk menjadi dokter jiwa Donghae, ia seharusnya menolaknya. Keyakinan yang sebelumnya membumbung tinggi di hatinya, perlahan-lahan runtuh. Kesombongan bahwa dirinya yang merasa baik-baik saja, telah membutakan segalanya. Ia seharusnya sadar jika ia sebenarnya bukanlah wanita hebat yang bisa melupakan seluruh kenangan itu dengan mudah. Ia seharusnya sadar jika masa lalunya itu benar-benar sangat mengerikan, hingga ia sendiri bahkan tidak bisa menyembuhkannya meskipun selama bertahun-tahun ia telah mencoba.

Siingg….

Yoona merasakan bulu kuduknya berdiri saat hantaman udara dingin mulai menerbangkan helai demi helai rambutnya yang panjang. Ia lantas menoleh ke belakang, melihat kearah gorden putih di kamarnya yang juga tengah bergerak-gerak ribut. Malam ini Seoul mungkin akan dilanda hujan badai yang dahsyat, mengingat bagaimana kencangnya angin malam ini yang berhembus. Yoona kemudian segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup rapat-rapat pintu balkon di depannya agar angin malam yang dingin tidak menembus masuk kedalam kamarnya yang hangat.

“Huh… Aku harus menghadapi badai hari ini sendiri…. tanpa Changmin oppa..”

Srett

Yoona menoleh cepat ke arah pintu kamarnya ketika suara langkah kaki yang diseret samar-samar terdengar dari luar pintu kamarnya. Dengan wajah datar, Yoona segera berjalan mendekati pintu kamarnya dan membuka lebar-lebar pintu kayu itu dengan gerakan cepat.

Slapp

“Kosong.” Gumam Yoona pelan dengan wajah pias. Ia tahu jika rumah yang ia tinggali tidak mungkin berhantu seperti apa yang dikatakan oleh tetangga-tetangga di sekitar rumahnya. Rumah yang ia tinggali saat ini hanya menyimpan banyak hewan-hewan kecil atau hewan pengerat yang terkadang sering mengusiknya dengan suara-suara aneh khas mereka. Tiba-tiba saja Yoona merasa tenggorokannya terasa kering. Ia kemudian segera berjalan menuju dapur yang berada di lantai satu untuk membuat segelas susu sebelum tidur agar tidurnya nyenyak. Besok pagi ia akan berangkat ke Daegu untuk menyusul Changmin yang sedang bertugas di sana. Selama tiga hari kedepan ia akan menjernihkan pikirannya di samping Changmin agar akal sehatnya yang terkontaminasi oleh Donghae bisa segera pulih kembali.

Klik

Yoona menyalan saklar lampu yang berada di sudut ruangan, lalu berjalan santai kearah lemari kayu di dapurnya untuk mengambil sekotak susu coklat yang ia simpan di sana. Kebiasaannya untuk meminum susu mulai muncul pasca pemerkosaan itu terjadi padanya. Setiap malam ia selalu bermimpi buruk hingga berujung pada terganggunya siklus tidurnya. Namun setelah salah satu temannya memberi saran untuk meminum susu sebelum tidur, ia mulai bisa tertidur dengan nyaman tanpa dihantui oleh mimpi-mimpi buruk yang mengganggu. Hanya sesekali mimpi buruk itu datang menyapa tidur lelapnya, saat ia sedang merasa stress atau memiliki banyak tekanan di hidupnya.

Setelah selesai membuat susu, Yoona lantas kembali ke kamarnya di lantai dua dengan membawa gelas bening di tangan kanannya yang berisi susu. Malam ini udara terasa begitu dingin di luar. Akan sangat menyenangkan bila ia bisa meminum susu hangat di dalam kamarnya sambil memutar lagu-lagu klasik favoritnya dan bergelung di balik selimut yang hangat. Membayangkannya membuat Yoona ingin segera berlari ke kamarnya agar ia bisa segera menghangatkan tubuhnya yang terasa beku.

Klontang

Brakk

Yoona mengernyitkan dahinya bingung dan segera berlari menuju kamarnya untuk melihat apa yang terjadi. Baru saja ia mendengar suara berisik khas benda jatuh yang berada di kamarnya. Ia khawatir, hewan-hewan pengerat itu akan kembali mengobrak-abrik kamarnya seperti dulu hanya untuk mencari remah-remah makanan kecil.

“Astaga!”

Yoona memekik terkejut ketika ia menemukan tumpukan buku-buku fiksinya telah berserakan di atas lantai bersama dengan lampu tidur yang kini telah pecah berkeping-keping karena baru saja jatuh dari atas lemari pakaiannya. Hewan-hewan itu pasti mengamuk atau apa hingga mereka nekat membuat keributan di dalam kamarnya. Dengan jengkel, Yoona segera meletakan gelas susunya di atas nakas untuk membersihkan seluruh kekacauan yang terjadi di kamarnya yang berubah menjadi gelap. Namun baru beberapa langkah ia berjalan menuju sudut kamarnya untuk menyalakan saklar lampu, sepasang tangan besar tiba-tiba membelitnya dan membuat tubuh Yoona terkesiap seketika. Seseorang yang tengah memeluknya itu menghembuskan napas panas di atas kulit leher Yoona yang sensitif, lalu berbisik pelan di telinga kanan Yoona dengan suara serak.

“Im Yoona.. gadis kecilku.”

“Lee Donghae! Apa yang kau lakukan di rumahku?” Teriak Yoona marah. Ia melihat pantulan wajah Donghae dari permukaan cermin kamarnya sambil meronta-ronta untuk dilepaskan. Entah bagaimana caranya pria itu menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Setahunya untuk masuk kedalam kompleks perumahan tempat ia tinggal, pria itu harus melewati beberapa petugas keamanan yang bewajah garang. Namun bagi pria segila Donghae, hal itu pasti bukan perkara sulit. Ia pasti bisa menggunakan berbagai macam cara untuk mendapatkan kembali wanita yang menjadi obsesinya.

“Apa aku mengagetkanmu? Maaf atas kekacauan yang kubuat malam ini sayang.”

Donghae melirik sekilas pecahan-pecahan lampu tidur di bawah kakinya dan juga beberapa buku fiksi milik Yoona yang sengaja ia jatuhkan untuk mendramatisir suasana mencekam malam ini. Sudah lama ia menunggu saat-saat yang tepat untuk mengunjungi Yoona. Dan akhirnya malam ini ia bisa merealisasikan keinginannya untuk berkunjung ke rumah Yoona yang sepi. Ia sangat bersyukur Yoona memiliki seorang suami yang jarang berada di rumah, sehingga kesempatannya untuk bertemu dengan Yoona menjadi lebih leluasa.

“Kau berencana untuk meninggalkanku? Kau psikiater yang tidak bertanggungjawab.”

Donghae melirik kopor abu-abu Yoona sinis sambil tetap mengeratkan pelukannya pada tubuh Yoona. Ia tahu wanitanya itu mulai terbawa arus masa lalu mereka yang kelam, dan untung saja selama ini ia selalu mengawasi gerak-gerik Yoona, sehingga sekarang ia memiliki kesempatan untuk mencegah Yoona pergi. Ia tidak akan kehilangan wanita obsesinya untuk yang kedua kalinya. Ia akan terus mengikat Yoona agar wanita itu terus berada di sisinya.

“Lepaskan aku Lee Donghae, aku hanya ingin mengunjungi suamiku. Aku ingin berlibur agar aku tidak terpengaruh oleh penyakit jiwamu yang mengerikan itu.”

“Penyakit jiwa ya? Kupikir kau memerlukan terapi Yoona. Sama sepertiku, kau juga sakit. Di sini….”

Donghae menunjuk pelipis Yoona dengan jari telunjuknya. Lalu pria itu memindahkan jari telunjuknya kearah dada kiri Yoona.

“Dan di sini… Kita berdua sama-sama sakit. Bagaimana jika kita saling menyembuhkan.”

“Akhh…”

Brukk

Donghae mendorong tubuh Yoona ke atas ranjang hingga menimbulkan bunyi berdebum yang keras. Pria itu lalu berada di atas tubuh Yoona. Menjulang tinggi penuh kuasa dan dominasi. Lalu ia mencondongkan wajahnya sedikit kearah rambut panjang Yoona dan mengendusnya pelan penuh nikmat.

“Aku tahu kau tidak pernah bisa melakukan hal ini pada suamimu.”

“Darimana kau tahu? Jangan asal bicara Lee Donghae karena aku…”

“Apa? Aku bisa melihat adanya sorot keputusasaan di matamu. Kau, bukankah kau memiliki trauma pada peristiwa itu? Kau takut bersentuhan dengan pria.” Bisik Donghae tenang. Yoona mencengkeram kerah kemeja Donghae kuat sebagai upaya untuk mengantisipasi tubuh pria itu agar tidak semakin meringsek kearahnya. Saat ini berada di bawah kuasa tubuh Donghae yang besar membuat jantung Yoona berdebar kencang. Ia takut! Sangat takut hingga ia merasakan peluh mulai membanjiri kening indahnya yang mulus.

“Rileks sayang, aku hanya ingin menyembuhkan traumamu. Maka kita mulai semuanya dari sini.”

Donghae mengusap peluh Yoona yang bercucuran dengan deras menggunakan tangan kirinya. Ia lalu mendekatkan wajahnya semakin mendekat kearah Yoona dan menyeringai licik.

Sementara itu, Yoona terlihat sudah memejamkan matanya takut sambil memalingkan wajahnya kearah kanan. Saat ini wajah Donghae begitu dekat dengan wajahnya, dan ia sangat takut pria itu akan memakannya seperti dulu.

Cup

Donghae mencium kening Yoona penuh kelembutan selama lima detik. Setelah itu, pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Yoona lembut melalui mata sendunya.

“Apa yang kau rasakan Yoona? Buka matamu dan tatap mataku.”

Yoona merasakan jantungnya berdebar dan keningnya memanas. Kecupan Donghae di dahinya benar-benar luar biasa. Sangat mengerikan untuknya, karena membawa sensasi yang hampir sama dengan apa yang pernah ia alami dulu. Namun bedanya, sekarang Donghae memperlakukannya dengan lebih lembut, penuh perasaan.

“Tolong lepaskan aku.” Ucap Yoona lirih. Saat ini yang ia inginkan hanyalah terbebas dari Donghae dan menghilangkan seluruh sensasi terbakar yang ia rasakan. Ia merasa sangat sesak karena semua kenangan pahit yang telah ia lupakan kembali muncul dan meluluhlantahkan semua pertahanannya. Jika pria itu tidak segera mengakhirinya, maka ia akan berakhir seperti dulu lagi. Menyerah di bawah kuasa sang monster kejam yang akan memakannya untuk yang ke dua kalinya.

“Ssshhh… kecupan itu hanya permulaan Yoona, karena aku akan melakukannya lebih dari ini. Kau tahu bukan jika aku sangat terobsesi padamu? Bahkan saat kau masih kanak-kanakpun, aku sudah terobsesi padamu. Jadi aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi Yoona. Tidak lagi setelah kau berhasil melarikan diri dariku bertahun-tahun lamanya. Aku menjadi gila seperti ini karena aku terus memikirkanmu dan takut kehilanganmu.”

“Alasan! Dari dulu kau memang sudah sakit Lee Donghae. Kau pedofil gila yang memanfaatkan kepolosan gadis kecil yang tak tahu apapun hanya untuk kepuasanmu semata. Sekarang lepaskan aku! Lepaskan aku brengsek!”

Yoona menendang-nendang tubuh Donghae di depannya sambil meronta-ronta keras agar dilepaskan. Sayangnya suara teriakannya yang nyaring telah tertutup oleh suara kerasnya hujan yang turun dengan deras, menghujam tanah Seoul malam ini. Percuma saja ia berteriak-teriak hingga pita suaranya putus, karena pada kenyataanya Lee Donghae akan tetap merealisasikan keinginannya yang telah lama terpendam di dalam dirinya. Memiliki seorang Im Yoona untuk dirinya sendiri.

-00-

Keesokan paginya Yoona terlihat sangat berantakan dengan rambut yang terurai tak beraturan dan tubuh polos yang hanya tertutup selimut. Wanita itu meringkuk kacau di sudut kamarnya setelah ia bangun dari mimpi buruknya yang mengerikan. Untuk yang ke dua kalinya, Lee Donghae berhasil menguasai tubuhnya hingga ia tak berdaya. Monster itu kembali mengoyak dirinya hingga jiwanya terasa hancur lebur tak tersisa. Namun anehnya Yoona tak terlihat sedih. Wanita itu sama sekali tidak menangis meskipun Donghae telah merusaknya untuk yang ke dua kalinya. Saat ini Yoona justru sedang tersenyum, benar-benar tersenyum dalam artian yang sesungguhnya. Lalu salah satu tangannya terulur kala Donghae menawarkan diri untuk menarik dirinya dari keterpurukan.

“Bagaimana perasaanmu sayang?”

“Luar biasa. Kau berhasil melakukannya.”

“Hmm, sudah kukatakan jika kau sebenarnya hanya membutuhkan sentuhanku untuk menghilangkan semua mimpi burukmu. Setelah ini kau tidak akan merasakan apapun lagi. Kesedihan, ketakutan, keraguan, atau kesulitan apapun yang akan menghambat hidupmu. Hanya tetaplah di sisiku, maka semuanya akan berjalan lancar.”

Yoona tersenyum menyeringai kearah Donghae, lalu meringsekan kepalanya di atas permukaan dada Donghae yang nyaman. Mereka saling berpelukan satu sama lain di sudut tergelap kamar Yoona yang sangat berantakan dan kacau pagi itu. Semalam telah terjadi sesuatu yang sangat mengerikan di sana. Dimana tangisan, jeritan, erangan, dan desahan bercampur menjadi satu di kamar itu. Disaat segalanya telah kacau, Donghae melakukan hal kotor itu pada Yoona. Ia mencuci otak wanita malang itu dan membuat Yoona hanya akan melihat kearahnya untuk selamanya. Ia menghapus seluruh kenangan pahit Yoona, dan mengganti semua itu dengan kebahagiaan yang hanya berasal darinya.

            “Yoona, kau selamanya hanya akan menjadi milikku. Milikku!”

 

Epilog

“Mmpphhfff…. mmppffhhh….”

“Tenanglah sayang, ini tidak akan lama.”

Donghae melirik Yoona sebentar dan kembali menekuni pekerjaanya yang tertunda. Melihat Yoona yang saat ini sedang terbaring tak berdaya di atas ranjang, dengan kaki dan tangan yang terikat, membuat Donghae merasa senang. Wanitanya terlihat lebih menggoda saat sedang meronta-ronta seperti itu. Sayangnya tidak akan ada satupun yang bisa menyelematkan Yoona malam ini dari cengkeramannya. Ia akan membuat Yoona menjadi miliknya, hanya miliknya.

“Mmmppffhhh…. mmmpppffhh…”

Yoona berteriak-teriak panik dengan mulut tersumpal kain saat Donghae mulai mendekatinya dengan sebuah jarum suntik yang tampak berkilat-kilat di tangannya. Pria itu dengan wajah psikopatnya mulai mengelus satu persatu bagian tubuh Yoona. Dimulai dari ujung kepala dan terus turun hingga ujung kaki.

“Ssshhh…. aku hanya akan membebaskanmu dari rasa sakit Yoona. Setelah ini kau tidak akan merasakan apapun lagi. Ketakutan, rasa sakit, dan perasaan terluka yang pernah kau rasakan dulu, semuanya akan hilang. Hilang sepenuhnya dari dalam kepala cantikmu.” Bisik Donghae lirih tepat di samping telinga Yoona. Melihat Donghae yang sangat mengerikan, membuat Yoona hanya mampu memejamkan matanya ketakutan sambil terus berdoa dalam hati. Seumur hidupnya ia tidak pernah menyangka jika jalan hidupnya akan menjadi semengerikan ini. Dan ia juga tidak pernah menduga jika ia akan mendapatkan cinta yang begitu gila dari seorang pria gila yang sangat mengerikan seperti Donghae.

“Ahh.. sepertinya lebih baik aku melepaskan kain ini dari mulutmu agar aku bisa mendengar suara seksimu yang sedang mengerang kesakitan.”

Dengan kasar Donghae menarik gumpalan kain itu dari mulut Yoona dan membuangnya asal di atas lantai kamar Yoona yang berantakan. Dan tanpa menunggu-nunggu lagi, pria itu langsung menusukan jarum suntik itu tepat di pelipis Yoona dengan tusukan cepat yang menghantarkan rasa sakit untuk Yoona.

“Aaaaaaarrrgggghhhhhhh!!!”

“Ssshhh…. Kau tidak akan merasakan sakit lagi Yoona. Ini yang terakhir, aku janji.” Bisik Donghae lembut sambil mengecup kening Yoona dalam hingga Yoona akhirnya kehilangan seluruh kesadarannya dan tertidur pulas di dalam dekapan Donghae yang hangat.

23 thoughts on “Body, Lips, and Eyes (Full Vers)

  1. wooaahh daebaakk.. donghae gangguan jiwa daj yoong yg nggak bisa hilangin traumanya.. trus donghae yg obsesi bnget sma yoong.. daebakkl.. nggk bisa berkata apa2 lgi deh kk,, pokoknya keren selalu dan penuh kejutan 😂
    fighting!!

  2. aku gagal paham sama ending nya?._.buat sequel dong?changmin gimana?terus yg di suntik ke yoona itu apa?duh aku bingung:”)

  3. Ya ampun.. itu Donghae kejam banget ya sama Yoona otaknya Yoona dicuci sama Donghae.. trus max gimana ya reaksinya pas pulanggg 🤔

  4. Ya ampun.. itu Donghae kejam banget ya sama Yoona otaknya Yoona dicuci sama Donghae.. trus max gimana ya reaksinya pas pulanggg 🤔

  5. praahhhh….donghae.a psikopat
    iikhh seremm amat ya nasib.a yoona,,,happy end buat donghae niih

  6. Wahhhh… Terus gimana hubungan yoona ama changmin…
    Ini dongek kenapa jahat sekali.. yoonaa di cuci otaknya yaaaa terusss,,,terus,,,,terus,,, gimana thor kelanjutannya

  7. Apa ini maksudnya? Apa yang donghae suntikan ke yoona? Apa mereka sembuh dua”nya…
    Need sequel author-nim… Sequel…Sequel…

  8. Wahh donghae bukan hny jd pedofil tp jd psychopat jugaa.
    Pasti yoong bnr” trauma bgt. Ff ny menegangkan hihi

  9. Aku bingung…aku galau bacanya kenapa dongek bisa sejahat itu…
    Terus gimana hubungan dongek sama Yoona selanjutnya…terus Changmin gimana???
    Apa Yoona itu di cuci otaknya ya…
    Terus,,,terus,,,terus,,, terus gimana thooor…huaaaa😯😭😭😭😭😭

  10. walaupun ini ff yoonhae, disini q tdk bsa mndukung donghae utk mndpatkn yoona. krna dia bnar” mnyakiti yoona
    dan sjujur.a q jg ndk tdk trllu mngerti dgn ending.a
    jdi changmin gmna pas pulang nnti

  11. Jadi donghae emang sakit jiwa krn terobsesi sama yoona ya?
    Epilog nya juga agak gila yaaa… Kasian yoona. Kirain donghae bakal sembuh ternyata emang dalam tanda kutip karakter nya donghae psycho

    Ditunggu kelanjutan ff nya kak….

  12. Yah.. Habis.. Sampai mereka benar benar bersama donk Thor. Hehehehe
    Keren Thor.. Selalu suka ceritamu (y)

  13. Ya ampun ceritanya bikin tegang tp kerenn hehee
    Jadi suntikan itu buat mencuci otaknya yoona? makanya pas bangun yoona malah senyum ke donghae bukannya marah? hiii ngeri banget donghae bener bener psikopat.
    Ditunggu cerita yoonhae lainnya thor 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.