When The Wind Blows

Pada akhirnya kisah cinta mereka yang rumit dan penuh dengan intrik itu berakhir. Menyisahkan sebuah kekosongan besar di hati mereka masing-masing yang masih berpegang pada masa lalu yang terasa indah untuk mereka. Namun di satu sisi mereka akhirnya juga belajar jika sikap mereka di masa lalu sangatlah buruk. Kisah cinta yang awalnya manis penuh kebahagiaan, rusak karena keegoisan mereka masing-masing. Dan sekarang, setelah waktu terus berjalan dan semakin mendewasakan mereka, mereka kemudian bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi di masa depan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti masa lalu mereka yang pahit, dan juga manis.

“Kau sudah lama?”

“Tidak terlalu lama. Duduklah.”

Yoona meletakan ponselnya begitu saja dan langsung mempersilahkan sang tamu untuk duduk di kursi di seberang kursi miliknya. Sore ini udara terasa begitu sejuk karena telah memasuki musim semi. Dan momen-momen seperti ini rasanya pas untuk kembali bertemu dengan masa lalunnya untuk melanjutkan hubungan pertemanan mereka yang selama ini telah terjalin dengan cukup baik pasca badai dahsyat yang pernah menerjang mereka.

“Americano dingin dan sepiring tartlet buah. Aku telah memesankannya untukmu.” Ucap Yoona menginterupsi sebelum Donghae mengangkat tangan kanannya untuk memanggil pelayan yang kebetulan lewat. Pria itu lantas menurunkan jari telunjuknya yang teracung ke udara dan memberikan senyuman manis kearah Yoona.

“Terimakasih, ternyata kau masih mengingatnya. Ngomong-ngomong, bagaimana kegiatanmu akhir-akhir ini?”

Donghae membuka pembicaraan mereka dengan sebuah pertanyaan standar yang sudah sangat klise untuk digunakan. Namun entah kenapa Yoona sangat bersyukur Donghae memberikan pertanyaan itu padanya karena dengan begitu ia tidak akan merasakan aura kecanggungan diantara mereka yang semakin membumbung tinggi ke udara. Lagipula, sudah lama mereka tidak saling bertemu. Hanya sesekali mereka saling mengirim pesan untuk sekedar membangun hubungan baik diantara mereka agar tidak merenggang. Dan hari ini, entah mendapatkan ide darimana Yoona tiba-tiba saja mengajak Donghae untuk bertemu. Wanita itu ingin sedikit mengobati rasa rindunya pada Donghae dan juga ingin membuktikan bahwa hatinya sudah lebih dari baik-baik saja untuk bertemu dengan pria itu secara langsung dalam keadaan yang tentunya sudah jauh berbeda dari keadaan mereka yang sebelumnya.

“Seperti biasa, padat. Tapi tidak sepadat bulan lalu karena aku masih mendapatkan libur di bulan ini dan bisa bertemu denganmu sekarang. Kau sendiri?”

“Tidak jauh berbeda. Kami sedang melakukan tour untuk album baru kami dan aku beberapa kali menerima tawaran pemotretan di luar negeri. Kebetulan sekali saat kau mengajakku untuk bertemu, jadwalku sedang tidak padat. Semalam aku baru saja pulang dari Hongaria.”

“Oh ya Tuhan, apa aku mengganggu waktu istirahatmu?” Tanya Yoona merasa bersalah. Ia tidak bermaksud mengganggu waktu libur pria itu yang diberikan perusahaan. Tapi jelas itu sebenarnya bukan salahnya karena pria itu juga langsung menerima begitu saja tawarannya untuk bertemu kemarin malam.

“Aku sudah cukup tidur pagi tadi, sekarang aku merasa lebih baik. Oya, aku beberapa kali melihat acara reality showmu, dan kulihat kau tampak natural di sana.”

“Benarkah? Aku senang mendengarnya. Itu adalah acara reality show yang sangat menyenangkan, tidak ada script apapun di sana, jadi aku bisa melakukan apapun sesukaku. Lagipula Hyori eonni juga sangat baik, ia membuatku bisa menikmati hari-hariku di sana, hingga aku tidak pernah sadar jika selama aku di sana banyak kamera yang mengawasiku.” Cerita Yoona riang. Hari-harinya selama di Jeju bersama pasangan Lee itu memang sangat menyenangkan. Bahkan ia sempat berpikir ingin memiliki keluarga yang hangat seperti milik Hyori. Sayangnya saat ini ia belum mendapatkan seorang priapun yang cocok dengannya. Terlalu banyak hal yang tak bisa ia lupakan dari hubungannya dengan Donghae, membuatnya sulit untuk membuka hati pada pria manapun.

“Ia dan suaminya adalah orang yang hangat dan juga rendah hati. Saat melihat bagaimana bentuk rumahnya, aku jadi berpikir untuk pergi ke sana. Aku ingin merasakan bagaimana tinggal di sebuah tenda yang hangat di depan rumahnya. Apa kau akan ke sana lagi?”

“Mungkin, sepertinya pihak tv akan melanjutkan syuting itu saat musim panas nanti. Ada apa? Apa kau mau ikut?” Tanya Yoona bercanda. Sekarang ia merasa lebih rileks ketika berbicara dengan Donghae karena pria itu juga terlihat lebih santai di depannya. Jadi ia pikir sedikit melemparkan candaan sepertinya tidak masalah agar suasana canggung diantara mereka benar-benar hilang.

“Ya, ajak aku saat kau akan pergi ke sana. Tapi mungkin aku akan berada di balik layar.” Kekeh Donghae kecil. Yoona sekilas terpana dengan kekehan Donghae yang sudah lama tidak dilihatnya. Dulu mungkin hampir setiap hari ia mendengar suara riang pria itu di sekitarnya, tapi kini, ia benar-benar harus melakukan banyak hal agar ia bisa melihat pria itu tertawa di depannya.

“Baiklah. Aku akan mengatakan pada Hyori eonni jika ia akan kedatangan tamu spesial di rumahnya.”

Setelah Yoona mengucapkan hal itu, pembicaraan diantara mereka berhenti. Donghae tiba-tiba saja tidak menimpali ucapannya dan memilih untuk menyantap sepiring kue cantik yang begitu menggoda di depannya. Sedangkan Yoona, ia tampak kebingungan dengan dirinya sendiri karena ia tidak bisa mengatakan sesuatu untuk membuat suasana hening diantara mereka menjadi lebih berisik seperti tadi. Donghae sedang makan, dan ia tidak mau mengganggu pria itu saat sedang menyantap kue favoritnya.

“Kau tidak makan? Ini enak, kau harus mencobanya.”

Donghae menyodorkan seiris kue tartlet di depan mulut Yoona dan memberikan isyarat pada wanita itu untuk membuka mulutnya. Sekilas Yoona tampak ragu untuk memakannya, namun karena Donghae terus menatapnya dengan tatapan berharap, akhirnya ia memutuskan untuk melahap kue itu dan mengunyahnya dengan perlahan karena gugup.

“Bagaimana, bukankah ini enak?”

“Yah… kurasa kafe ini memang memiliki menu tratlet yang enak. Emm.. mengenai drama barumu, bagaimana?”

“Bagaimana? Apa maksudnya Yoong?”

Yoona berdeham kecil dan sedikit menormalkan sikapnya yang sempat terlihat gugup sebelumnya. Tidak seharusnya ia bersikap aneh seperti ini hanya karena Donghae menyuapinya sepotong tratlet. Lagipula Donghae juga tampak biasa saja di depannya. Perasaan itu sudah lama hilang diantara mereka, jadi seharusnya ia bersikap santai saja di depan pria itu.

“Eee.. bagaimana perkembangannya? Kau bermain drama bersama Jihyun bukan?”

“Oh.. ya begitulah, semuanya baik-baik saja. Dua minggu lagi aku akan menyelesaikan syuting untuk episode terakhir. Apa kau menonton dramaku?” Tanya Donghae tiba-tiba. Yoona langsung merasa mati kutu saat Donghae menanyakan pertanyaan itu karena sejujurnya ia jarang menonton drama. Apalagi jika pemeran drama itu adalah Lee Donghae. Selama di Jeju ia sendiri juga tidak pernah menonton tv, karena seluruh waktunya sudah terkuras habis untuk melayani para pengunjung home stay. Sedangkan beberapa bulan yang lalu ia masih berada di tahap penyembuhan, sehingga ia jarang menonton drama yang dibintangi oleh Donghae. Tapi ia pernah menonton drama itu dua kali, saat Donghae melakukan adegan kissing dengan Jihyun dan saat Donghae sedang melakukan aksi laga di drama itu.

“Aku… menontonya, tapi memang tidak seluruhnya. Aku tidak sempat menonton tv ketika berada di Jeju.” Jawab Yoona apa adanya. Donghae tersenyum kecil memaklumi sambil memasukan potongan terakhir tartletnya kedalam mulut.

“Aku tahu kau sibuk. Bagian mana yang sempat kau tonton?”

Yoona langsung membeku di tempat dan tampak salah tingkah dengan pertanyaan itu. Apakah ia harus menjawab jika ia tanpa sengaja menonton bagian dimana ia melakukan kissing dan ia merasa aneh dengan hal itu setelah menontonya?

“Saat kau melakukan adegan kissing dan laga.”

“Mana yang kau sukai diantara itu?”

“Haruskah aku memilih?” Tanya Yoona malas. Sejujurnya ia sangat menyukai keduanya karena di sana karakter Donghae benar-benar bagus. Pria itu memerankan peran seorang lady killer yang menggoda dan seorang petarung sejati yang tangguh. Meskipun ia merasa aneh dengan adegan kissing yang dilakukan oleh Donghae, tapi ia akui, ia menyukai keduanya. Andai ia memiliki waktu untuk menonton, ia pasti akan menontonya.

“Kau harus melakukannya. Aku ingin tahu bagaimana respon penonton secara langsung. Dan untuk langkah awal, aku ingin mengetahui bagaimana pendapatmu.”

“Aku menyukai keduanya. Aktingmu bagus, kau benar-benar berbakat dalam hal itu.”

“Begitukah? Kurasa semakin lama aku semakin menyukai dunia bermain peran. Aku sedikit menyesal kenapa dulu aku selalu menolak tawaran untuk membintangi drama setiap prduser menawariku sebuah proyek.” Jawab Donghae santai. Yoona menaikan sedikit alisnya tak mengerti dan terlihat menuntut Donghae untuk melanjutkan kalimatnya.

“Memangnya kenapa?”

“Karena aku takut melebihi batas dan menyakiti seseorang.” Jawab Donghae singkat. Yoona tampak tersenyum getir menanggapi ucapan pria itu. Ia tahu jika apa yang dimaksudkan oleh pria itu adalah masa lalu mereka yang pahit. Tapi tidak! Sekarang ia telah melupakan semua hal getir itu dan ia akan bersikap baik-baik saja sekarang.

“Jadi setelah kau terjun di dunia bermain peran, bagaimana menurutmu sekarang? Tidak seburuk yang kau bayangkan bukan?” Tanya Yoona ringan. Donghae menggeleng kecil di depan Yoona sambil memberikan senyum kecilnya yang tampak malu.

“Tidak, aku merasa santai sekarang. Mungkin karena aku tidak merasa harus melindungi perasaan siapapun. Jadi perasaanku lebih ringan. Walau kuakui beberapa adegan intim di dalam drama mampu membuat adrenalinku meningkat.”

“Oya, seperti apa?” Tanya Yoona penasaran. Sejujurnya ia tidak tahu jika beberapa adegan dapat membuat adrenalin seseorang meningkat. Selama ini ia selalu merasa biasa saja setiap melakukan adegan romantis dengan lawan mainnya. Tapi mungkin Donghae berbeda, karena seperti yang ia  tahu pria itu begitu rumit dan sangat perasa.

“Aku tidak bisa menjelaskannya seperti apa, tapi aku merasa begitu ingin menyalurkannya pada orang yang tepat.”

“Oh… nafsu pria, itu biasa.” Ucap Yoona santai. Tidak ada rasa marah ataupun jijik saat pria itu mengatakan hal yang sejujurnya padanya. Justru ia merasa kejujuran Donghae adalah nilai plus yang dimiliki oleh pria itu. Sekarang menemukan pria yang sangat menghormati wanita seperti Donghae benar-benar sulit. Kebanyakan pria selalu mementingkan nafsunya sebelum mereka benar-benar terikat dengan pasangan mereka. Dan kemarin ia sangat bersyukur karena ternyata bukan Donghae yang menghamili Eunso. Ngomong-ngomong soal Eunso, bagaimana kabar wanita itu sekarang? Apakah ia telah melahirkan? Dan apakah ia hidup bahagia setelah membuat gempar seluruh netizen Korea karena perbuatan nekatnya?

“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Eunso sekarang? Lama kabarnya tak terdengar lagi setelah….”

Yoona tampak tidak enak untuk melanjutkan kalimatnya, namun Donghae langsung melanjutkan kalimat itu dengan nada santai dan wajah cerah tanpa beban.

“Setelah pernikahan kami batal karena ia memilih untuk kembali dengan kekasihnya?”

Yoona mengangguk kecil dengan kalimat Donghae dan tampak menunggu dengan sabar untuk mendengar jawaban Donghae berikutnya.

“Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku tidak pernah menghubunginya, dan ia juga tidak pernah menghubungiku. Tapi dari apa yang kulihat di instagramnya, ia sepertinya bahagia. Sejak awal sebenarnya ia masih sangat mencintai kekasihnya, tapi pria itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar setelah Eunso memberitahu berita kehamilannya. Kemudian aku berinisiatif untuk menolongnya agar ia tidak dicap buruk oleh netizen. Saat itu ia menceritakannya padaku dalam keadaan kacau dan ia hampir saja menggugurkan kandungannya malam itu jika aku tidak mencegahnya.”

“Semudah itukah kau memutuskan untuk bertanggungjawab atas perbuatan orang lain? Maksudku saat itu bisa saja karirmu hancur karena seluruh media menuduhmu telah menghamili Eunso. Lalu kau juga bertengkar dengan Leeteuk oppa dan Shindong oppa. Apa kau tidak memikirkan dampak buruk dari sikap heromu itu?”

“Huh, kurasa saat itu aku sedang mati rasa.” Jawab Donghae sambil terkekeh. Pria itu tergelak getir cukup lama sambil mengusap rambutnya beberapa kali saat mengenang sedikit kebodohannya di masa lalu. Bisa-bisanya dulu ia berpikir untuk menikahi Eunso dan ingin menjadi ayah untuk anak yang jelas-jelas bukan anaknya. Ia tidak tahu apa yang saat itu sedang ia pikirkan sehingga ia bisa memutuskan untuk melakukan hal itu. Tapi sedikit banyak apa yang ia lakukan di masa lalu adalah hasil dari emosi sesaatnya belaka. Saat itu ia hanya berpikir untuk menghilangkan rasa sakitnya dan rasa kecewanya pada sikapnya yang kasar pada Yoona, sehingga ia memutuskan untuk menggunakan Eunso sebagai pelariannya. Beruntung Tuhan masih menyayanginya dan tidak menghendakinya untuk menikahi Eunso. Bahkan sejujurnya malam dimana ia akan menikah dengan Eunso, ia tiba-tiba merasa ragu dan ingin mundur. Sayangnya ia tidak berani untuk melakukan hal itu karena ia takut akan mengecewakan Eunso. Jadi saat keesokan harinya ia merasa lega ketika Eunso menghilang dan memutuskan untuk kembali pada kekasihnya.

“Saat itu kau menjadi Lee Donghae yang lain.”

“Memang, bahkan aku sendiri sampai sekarang tidak habis pikir, kenapa aku bisa melakukan hal itu. Tapi malam itu Leeteuk hyung datang ke apartemenku dan membuatku menyadari banyak hal. Ia dengan wajah pasrah membiarkanku memutuskan jalanku sendiri, namun hal itu justru membuatku benar-benar merasa bersalah pada semua orang. Termasuk padamu.”

“Aku sudah melupakannya.” Jawab Yoona cepat dan terkesan acuh tak acuh. Wanita itu lantas mengambil gelas minumanya yang masih tersisa separuh untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.

“Baguslah, jangan terlalu terpaku dengan masa lalu. Sekarang mari kita bicarakan hal-hal lain yang lebih menyenangkan. Ngomong-ngomong bagaimana hubunganmu dengan Ji Chang Wook?”

Yoona terlihat cukup terkejut dengan topik pembicaraan Donghae yang tiba-tiba muncul tanpa pernah ia duga sebelumnya. Ia pikir Donghae tidak peduli lagi dengan kehidupannya, tapi ternyata Donghae masih peduli padanya, meskipun kadarnya mungkin sangat kecil.

“Hah, kenapa harus membicarakan hal itu?”

“Karena aku ingin. Ayolah, katakan padaku apa kalian sudah menjalin hubungan serius?” Tanya Donghae setengah memaksa. Yoona berdecak kesal sambil sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya yang nyaman.

“Aku dan Ji Chang Wook oppa hanya sebatas rekan kerja, kami tidak memiliki hubungan serius apapun.”

“Benarkah? Kukira kau akan bersama dengan Ji Chang Wook karena ia sepertinya tertarik padamu.”

“Aku belum ingin menjalin hubungan dengan siapapun.” Kilah Yoona cepat. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Donghae memang benar. Ji Chang Wook tertarik padanya dan beberapa kali mengutarakan perasaanya secara tersirat ketika pria itu mengajaknya makan malam. Namun ia memilih untuk tidak memberikan harapan pada pria itu karena ia belum siap untuk menjalin hubungan baru dengan pria manapun. Saat ini ia masih menikmati hari-harinya yang lebih bebas karena ia sekarang tidak terikat dengan siapapun. Namun terkadang ia juga merindukan saat-saat ia memiliki kekasih karena semua eonninya kini sedang menjalin hubungan dengan pria-pria yang mereka cintai. Jika mereka sedang berkumpul, mereka sering membicarakan pria-pria mereka dengan heboh, sedangkan dirinya hanya harus berpuas diri dengan mendengarkan cerita mereka tanpa bisa ikut menimpali.

“Kenapa?”

“Hanya belum ingin. Sudahlah, sekarang giliranmu. Apa kau sekarang sedang dekat dengan Irenne?”

“Red Velvet?” Tanya Donghae sambil menaikan sebelah alisnya.

“Ya, beberapa kali kau terlihat bersamanya.”

“Darimana kau tahu?” Tanya Donghae penuh selidik. Seketika wajah Yoona menjadi salah tingkah. Wanita itu terlihat mengalihkan tatapannya kearah lain untuk menghindari kontak mata dengan Donghae. Sayangnya hal itu gagal karena Donghae sudah sangat mengenal bagaimana sifat Yoona, sehingga dengan mudahnya pria itu langsung menarik dagu Yoona dan memaksa wanita itu untuk menatapnya.

“Katakan padaku, hmm?”

“Ck, jangan memaksaku seperti ini oppa, aku hanya melihat di instagram smtown.” Ucap Yoona akhirnya dengan wajah kesal. Donghae langsung bertepuk tangan heboh di depan Yoona sambil menggoda wanita itu hingga Yoona semakin kesal pada pria itu. Ia bahkan membentak Donghae sekali untuk menghentikan tawa pria itu yang sangat mengerikan, namun gagal!

“Jangan terlalu percaya diri.”

“Apa aku terlihat seperti itu? Aku hanya menertawakanmu yang terlihat salah tingkah seperti ini. Tidak apa-apa jika kau memang ingin memata-matai kehidupanku, aku tidak keberatan.”

“Siapa yang memata-mataimu? Percaya diri sekali. Lagipula aku hanya melihatmu yang sering berfoto bersama Irenne dan mendengar beberapa bisikan dari beberapa staff di kantor.”

“Bisikan apa?”

“Itu tidak penting.” Jawab Yoona sebal. Ia benar-benar merasa bodoh dan tolol. Seharusnya ia tidak mengangkat topik itu di depan Donghae karena ia yakin pria itu pasti akan merasa di atas angin karena selama ini ia sebenarnya masih memperhatikan pria itu dari kejauhan. Bahkan ia juga sering melihat beberapa postingan fansnya yang masih mengharapkan hubungannya bersama Donghae berakhir bahagia.

“Aku tidak tahu jika kau masih memperhatikanku.”

“Ck, aku hanya sekedar mendengar mereka berbisik-bisik. Lagipula jika kau memang tertarik pada Irenne, jangan memberikannya harapan semu. Ia sepertinya benar-benar tertarik padamu.”

“Benarkah? Selama ini aku memperlakukannya sama seperti yang lain, aku tidak pernah memberika perhatian lebih padanya.” Ucap Donghae berkilah.

“Apa kau tidak pernah menyadari gelagatnya saat berada di sekitarmu? Ia terlihat ingin selalu dekat denganmu.”

“Hmm.. kalau begitu aku akan mengurangi intensitas kedekatanku dengannya.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak ingin memberikannya harapan semu. Lagipula aku hanya menganggapnya seperti adik perempuanku sendiri, tidak lebih. Kuharap kau tidak salah paham dengan foto-foto itu.”

“Siapa yang salah paham!” Dengus Yoona kesal. Suasana canggung dan aneh yang sebelumnya menguar diantara mereka kini telah berganti menjadi suasana riang yang menyenangkan. Dan tak terasa mereka telah menghabiskan waktu dua jam di kafe itu untuk membicarakan banyak hal yang telah mereka lewatkan semenjak mereka tidak lagi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Namun agaknya hal itu justru membuat hubungan mereka menjadi lebih baik. Tidak ada lagi perasaan cemburu yang menghasilkan pertengkaran atau perasaan kesal karena diabaikan seperti dulu. Hubungan tanpa ikatan seperti ini justru membuat mereka lebih santai dan tidak dipenuhi prasangka buruk.

“Yoona…”

Yoona menghentikan aktivitasnya yang sedang membereskan barang-barangnya di atas meja karena ia harus segera pulang sekarang. Satu jam lagi ia harus menghadiri acara makan malam bersama keluarganya di rumah bibinya. Jadi ia harus segera bergegas sekarang.

“Kuharap kita bisa bertemu lagi untuk mengobrol.”

“Tentu saja. Hubungi aku jika kau memiliki waktu kosong, sebisa mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.”

Donghae mengangguk kecil dan tampak diam kemudian sambil memperhatikan Yoona yang masih berkutat dengan barang-barangnya.

“Nah aku pamit, sampai jumpa.”

“Yoona…”

“Ada apa? Kenapa nada bicaramu seperti itu?” Tanya Yoona jengkel. Pria itu entah kenapa tiba-tiba berubah menjadi misterius, dan itu membuatnya merasa aneh.

“Jika suatu saat aku melamarmu, apa kau akan menerimanya?”

Yoona menaikan alisnya bingung dan tampak sangsi dengan kalimat pertanyaan yang dilontarkan Donghae. Ia yakin pria itu saat ini sedang bercanda dan hanya ingin mempermainkan dirinya yang tampak bodoh ini.

“Apa kau mabuk? Kau aneh.”

“Mungkin suatu saat nanti aku akan mengikatmu karena kuakui, aku masih belum bisa melupakanmu. Tapi aku tidak akan pernah membatasimu untuk dekat dengan pria manapun lagi seperti dulu. Biarkan kehidupan kita berjalan sebagaimana mestinya hingga benang merah mengikat hati kita untuk selamanya.”

“Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti. Sampai jumpa Donghae oppa….”

Perlahan tapi pasti, Yoona berjalan menjauh meninggalkan Donghae yang masih setia duduk di atas kursinya sambil menatap kosog kursi di depannya yang baru saja ditinggalkan Yoona. Pertemuannya hari ini dengan Yoona merupakan awal yang baik untuk memperbaiki hubungan mereka di masa lalu yang rusak. Tanpa sadar Donghae memasukan salah satu tangannya kedalam saku celana kirinya, kemudian ia menarik sesuatu dari dalam sana sambil bergumam pelan pada udara kosong yang menemaninya siang ini.

“Kuharap suatu saat kau menerima cincin ini dan menjadi separuh jiwaku lagi seperti dulu…”

17 thoughts on “When The Wind Blows

  1. Wwwooo woooo wooo growing painnn…
    Hohohohosuka sekali akhirnya mereka bisa berbaikan…
    Tapi semoga saja yoona mau menerima dongek lagi…
    Lanjut thor. Sequellll

  2. Woahh baru ngeh ini lanjutan ff yg growing pains itu yaa..
    Manis bgt mereka 🙂
    Pliss satuin mrk lagi thor, sequel dongg 🙂

  3. ngantungggg huaaaa😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

  4. Di tunggu kelanjutan ff yg ini
    Semoga yoona mw terima lamaran hae nanti n hub. Mereka baik” lagii

  5. Ah kenapa pas dibagian akhir malah syedih yah liat donghae
    Ku harap hubungan mereka seperti yg diharapkan oleh donghae tetap bersama hingga akhir
    Good story 👍🏻👍🏻👍🏻

  6. OMG ini doa ku setiap hari semoga Yoona dan Donghae segera menikah. Author tau banget sih hehee

  7. aww 😇😅 mereka udh baikan,, moga aja balikan 😅😅 Nah klo gini berarti masih ada sequel lainnya nih 😅

    fighting!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.