Sequel Kontratransferensi: There Are Too Many Problems Between Us

Setelah aksi gila yang dilakukan Donghae di bandara untuk menghentikan kepergian Yoona dan pengakuan pria itu atas semua kesalah pahaman yang terjadi selama ini, Donghae memutuskan untuk segera menikahi Yoona dan menjadikan wanita itu sebagai miliknya. Tak ada lagi keraguan sedikitpun dalam hatinya untuk memperisteri Yoona karena sejak awal ia memang telah jatuh kedalam pesona konselor cantik itu. Namun kehidupan yang mereka bayangkan akan berjalan indah dan penuh keceriaan, nyatanya tak berjalan sesuai dengan harapan. Satu bulan setelah Donghae resmi menikahi Yoona, berita perselingkuhan mereka yang selama ini tidak pernah terungkap oleh media perlahan-lahan mulai muncul dan membuat kehidupan rumah tangga mereka terombang-ambing. Perubahan status Yoona yang tiba-tiba menjadi isteri sah Lee Donghae membuat banyak media menuduh Yoona sebagai wanita murahan lagi. Tak hanya sampai di situ, berita mengenai perceraiannya dulu dengan Lee Seunggi juga mulai dimunculkan kembali oleh media yang tak bertanggungjawab dan hanya sekedar mementingkan karir mereka semata. Hal itu kemudian memancing kemarahan Donghae hingga pria itu bersikap tegas dengan menghancurkan majalah-majalah murahan yang dengan seenaknya menghembuskan berita bohong terkait kehidupannya, terutama Yoona. Sejujurnya ia tak masalah jika media-media itu hanya mengolok-oloknya, tapi parahnya media itu justru lebih banyak menyoroti tentang Yoona dan semakin menuliskan berita buruk mengenai Yoona. Bahkan ada salah satu majalah yang membuatnya sangat marah hingga di hari itu juga ia langsung mengobrak-abrik seluruh manajemen majalan itu hingga hancur tak tersisa. Namun yang membuat Donghae akhirnya luluh dengan semua kemarahan dahsyatnya adalah kebaikan hati Yoona. Wanita muda itu dengan penuh kelembutan mengatakan pada Donghae jika ia tidak apa-apa. Ia mengaku telah siap menanggung semua resiko itu ketika pertama kali menerima lamaran Donghae saat mereka berada di ruang tunggu bandara. Baginya semua cemoohan itu tidak bisa melunturkan cintanya untuk pria itu dan keinginannya untuk hidup mendampingi pria itu bersama anak-anak mereka kelak. Lagipula semua berita itu jarang sampai ke telinganya secara langsung karena di dalam mansion Donghae, ia sangat terlindungi dari hal-hal buruk mengenai skandalnya yang mencuat ke media. Tapi, mungkin satu-satunya rintangan yang harus ia lewati ketika tinggal di mansion Donghae adalah ia harus membuat seluruh maid di mansion Donghae melihat kearahnya dengan tulus. Entah itu hanya perasaanya atau bagaimana, selama satu bulan pertama ia tinggal di mansion itu, perlakuan para maidnya tidak seramah dugaanya. Mereka mungkin memang melayaninya dengan baik ketika Donghae ada di sampingnya, namun ketika Donghae pergi ke kantor, sikap ramah mereka padanya perlahan-lahan mulai hilang. Setiap berpapasan dengannya mereka semua hanya menatapnya sekilas dan langsung mengabaikannya. Hal serupa juga ia temukan pada bibi Jang yang lebih banyak diam ketika beberapa kali mereka berpapasan. Selain itu ia juga sering mendengar bisikan-bisikan tak menyenangkan dari para maid yang sibuk membicarakannya. Meskipun begitu, ia tidak pernah sedikitpun menceritakannya pada Donghae. Ia tidak mau pria itu semakin terbebani dengan masalahnya di rumah karena ia tahu jika pria itu sudah memiliki banyak masalah di luar rumah.

“Kau terlihat kusut, ada apa?”

Malam itu Yoona menyapa Donghae hangat yang baru saja melangkah masuk kedalam mansion. Dengan jas yang telah ia sampirkan di lengannya serta kancing kemeja yang telah terbuka sebanyak dua kancing membuat Donghae terlihat begitu menyedihkan dan berantakan. Namun melihat Yoona yang sedang tersenyum hangat kearahnya, membuat Donghae mau tidak mau juga ikut tersenyum kearah isterinya. Perlahan-lahan seluruh mimpi-mimpinya dulu mulai terwujud. Dulu ia sangat berharap setiap ia pulang dari kantor dalam keadaan lelah, seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya akan menyapanya dengan hangat. Kini Yoona telah mewujudkan keinginan terbesarnya dan membuatnya merasakan bagaimana menjadi kepala keluarga dan seorang calon ayah yang begitu dihargai.

“Ini biasa Yoong, masalah kantor dan berbagai masalah pelik lainnya. Semuanya adalah makanan sehari-hariku sejak dulu. Bagaimana kabarmu hari ini?”

Donghae berjalan menghampiri Yoona dan langsung merangkul bahu wanita itu untuk masuk kedalam mansion. Hari ini ia tidak sabar untuk bermanja-manja bersama isterinya selepas makan malam agar ia bisa meluruhkan seluruh masalah peliknya yang sangat menyiksa. Dan rasanya ini sangat menyenangkan karena ia tidak perlu lagi pergi ke rumah Yoona seperti dulu. Sekarang ia bisa menjadikan Yoona teman curhat kapanpun ia membutuhkan wanita itu karena sekarang Yoona adalah bagian dari hidupnya yang sangat berharga.

“Aku sudah  menyiapkan makan malam, kau ingin makan malam dulu atau mandi?”

“Sepertinya mandi, tubuhku sangat lengket karena terlalu banyak mengeluarkan emosi di kantor.”

“Ada apa lagi?” Tanya Yoona sambil terkekeh pelan. Donghae yang sangat manja dan kekanakan selalu membuat Yoona ingin tertawa geli karena pria itu ternyata sangat jauh dari dugaannya dulu. Ia pikir Donghae adalah pria dewasa matang yang selalu bersikap dewasa, tapi nyatanya pria itu sama saja dengan Aleyna yang kekanakan dan juga manja.

“Hyukjae, ia membuatku harus mengecek ulang laporan keuangan yang ia buat karena ia salah mengaudit lagi minggu ini. Entah apa yang dipikirkan oleh si bodoh itu, mungkin ia terlalu asik dengan program bayinya karena Jisung merengek-rengek ingin memiliki adik.”

“Benarkah? Hyoyeon hamil?”

“Belum, tapi ia mengatakan akan secepatnya membuat Hyoyeon hamil. Akhir-akhir ini kulihat ia selalu datang ke kantor dalam keadaan kantung mata menghitam. Menurutmu apa lagi yang ia lakukan selain bercinta hingga pagi? Lagipula pria mesum seperti Hyukjae pasti tidak akan pernah puas hanya dalam satu kali ronde.” Cibir Donghae berapi-api.

“Kalian berdua sama saja. Kau juga seperti itu.” Balas Yoona cepat sambil menyenggol lengan Donghae. Keduanya lantas berjalan bersama-sama melewati ruang keluarga sambil sesekali menceritakan keseharian mereka masing-masing. Meskipun mereka adalah pengantin baru, namun kehidupan mereka tidak layaknya seperti pengantin baru. Sehari selepas menikah, mereka langsung bekerja dan tidak ada waktu untuk berbulan madu. Seminggu setelah menikah Yoona justru disibukan dengan kegiatannya untuk memindahkan semua barang-barangnya ke mansion Donghae. Pria itu langsung bergerak cepat dengan menyingkirkan seluruh barang-barang milik Jihyun yang tersisa di mansionnya, lalu menggantinya dengan seluruh barang-barang milik Yoona yang jumlahnya tak seberapa. Sebenarnya Donghae ingin membelikan rumah untuk ditempati bersama Yoona karena ia tidak ingin menyakiti Yoona dengan meminta wanita itu tinggal di rumah yang pernah ia tempati bersama Jihyun. Namun Yoona dengan keras melarangnya untuk membeli rumah baru karena ia tidak masalah jika harus tinggal di mansion Donghae yang lama. Ia tahu jika mansion yang ditempati Donghae saat ini memiliki banyak kenangan yang berharga untuk pria itu. Sejak kecil Donghae sudah tinggal di mansion itu bersama kedua orangtuanya. Dan selama sesi konseling yang selama ini mereka lakukan, Donghae selalu menceritakan perihal keluarganya yang sangat berharga untuknya. Jadi sedikit mengalah untuk kebahagiaan Donghae rasanya tidak masalah untuk Yoona. Lagipula saat ini Donghae adalah miliknya, Jihyun hanya akan menjadi masa lalu Donghae yang selamanya akan tetap menjadi bagian dari hidup Donghae. Jika Donghae tidak menikah dengan Jihyun, maka mereka juga tidak akan menjadi sebuah keluarga seperti ini. Bisa dikatakan gangguan psikis yang diderita Donghae selama ini adalah mukjizat untuknya karena dengan begitu sekarang ia bisa memiliki sebuah keluarga dan ia bisa memiliki anak dari rahimnya sendiri.

“Dimana Aleyna? Aku tidak melihatnya sejak tadi?”

Tiba-tiba Donghae bertanya sambil melongokan kepalanya kesana kemari karena sejak tadi ia tidak melihat dimana keberadaan gadis kecilnya. Padahal biasanya Aleyna selalu terlihat bersemangat setiap kali ia pulang dari kantor.

“Ia pergi bersama appanya.”

“Yunho appa?” Tanya Donghae sambil menirukan gaya bicara Aleyna setiap kali memanggil Yunho. Sejujurnya ia tidak pernah cemburu dengan kedekatan Aleyna dengan Yunho karena ia sadar jika keduanya telah memiliki ikatan layaknya ayah dan anak sejak lama. Tapi ia terkadang merasa kesal setiap kali mengingat Yunho dan insiden saat pernikahannya.

“Kenapa? Kau selalu saja terlihat kesal pada Yunho oppa.”

“Apa kau sedang berpura-pura lupa? Lihat bagaimana foto pernikahan kita yang menampilkan wajah babak belurku di sana.” Tunjuk Donghae pada foto pernikahan mereka yang terpampang besar di tengah-tengah dinding ruang keluarga mansion mereka. Reflek Yoona langsung tertawa terbahak-bahak sambil memukul pelan lengan Donghae karena merasa gemas dengan sikap kekanakan pria itu. Bisa-bisanya ia masih mengingat-ingat kejadian itu dan menjadikannya sebagai sebuah kenangan terburuk dalam hidupnya.

“Kau memang pantas mendapatkannya, kau telah melukai perasaanku.” Ucap Yoona santai.

“Tapi kenapa disaat pernikahan kita, saat itu ia hampir saja mengacaukan pernikahan kita jika pastor yang akan menikahkan kita tidak menyeretku ke altar. Sungguh aku ingin membalasnya saat itu.”

“Sudahlah oppa, itu hanyalah satu dari ribuan rintangan yang harus kita lewati untuk mendapatkan kebahagiaan.”

“Tapi aku tidak pernah bisa melupakannya.” Ucap Donghae bersikeras sambil bersungut-sungut menatap potret dirinya yang tampak menyedihkan di dinding ruang keluarga mansionnya.

 

Flashback

“Oppa kumohon, jangan seperti ini.”

“Tidak Yoong! Dia telah menyakitimu dan menghancurkan hatimu. Seharusnya kau tidak semudah ini menerimanya menjadi calon suamimu. Ck, aku tidak menyangka kau bisa mempercayainya begitu saja.”

Yoona tertunduk lesu di ruang tunggu gereja kathedral yang pagi ini akan menjadi tempat pemberkatan pernikahannya berlangsung. Seharusnya saat ini ia dilingkupi kebahagiaan karena sebentar lagi ia akan resmi menjadi isteri dari Lee Donghae. Tapi semua itu tidak semudah yang ia bayangkan. Untuk bisa mencapai tahap ini, ia perlu berbicara alot dengan kedua orangtuanya. Terlebih lagi ia harus membuat pengakuan di depan kedua orangtuanya jika saat ini ia tengah hamil. Kemudian setelah ia mendapatkan ijin dari orangtuanya, ia harus menghadapi masalah lain yang lebih merepotkan, yaitu menghadapi Jung Yunho. Sejak ia memberitahu pria itu jika ia membatalkan rencananya untuk pergi ke New York dan akan menikah dengan Lee Donghae, pria itu langsung bersikap uring-uringan sepanjang hari padanya. Hampir setiap hari saat pria itu mengunjunginya, ia pasti akan terus membujuknya untuk membatalkan rencana penikahannya. Tapi tentu saja hal itu tidak bisa ia lakukan karena ia begitu mencintai Lee Donghae. Dan pagi ini pria itu kembali membujuknya untuk membatalkan pernikahannya disaat semuanya telah siap.

“Oppa, aku mencintainya. Aku juga tidak ingin bayi ini terlahir tanpa ayah. Meskipun dulu aku pernah mengatakan padamu jika aku akan mengurusnya sendiri, tapi jika Lee Donghae menginginkanku menjadi isterinya, kenapa aku harus menolaknya. Lagipula ini juga untuk kebahagiaanku, bukankah kau menginginkanku bahagia?”

“Aku memang menginginkanmu bahagia Yoong, tapi tidak dengan menikah dengan Lee Donghae. Ia telah menyakitimu dan hampir membuatmu celaka.” Balas Yunho keras. Kedua rahangnya tampaka mengetat dan pria itu sejak tadi tidak mau sedikitpun menatap wajah Yoona. Ia terus berdiri membelakangi Yoona sambil menyilangkan kedua tangannya penuh arogansi yang begitu kental.

“Aku sudah memaafkannya oppa, itu bukan keinginannya. Ia terpaksa menyakitiku.”

“Tidak bisa, ia tetap saja menyakitimu. Kau harus memikirkan lagi kehidupanmu setelah menikah dengan Lee Donghae Yoong. Apa kau lupa jika Lee Donghae adalah pria yang sangat penting di Korea, pernikahanmu dengannya akan membuat media heboh dan mempertanyakan bagaimana kehidupan pernikahannya dengan Jihyun. Lalu kau akan kembali tersakiti seperti saat kau baru saja bercerai dengan Seunggi. Yoong, pikirkanlah dampak negatifnya dari pernikahan ini.”

Yoona menghela napas kecil sambil menatap manik Yunho dalam setelah pria itu akhirnya bersedia membalikan tubuhnya untuk menatapnya. Ia tahu Yunho sangat menyayanginya dan menginginkan ia bahagia. Tapi untuk saat ini ia yakin jika kebahagiaanya hanyalah bersama Lee Donghae, dan ia juga sadar jika untuk mendapatkan kebahagiaan itu memang tidak mudah.

“Aku sudah memikirkannya matang-matang oppa, aku akan menerima semua konsekuensinya. Bukankah sejak awal aku memang salah. Tolong biarkan aku menikah dengan Lee Donghae hari ini.”

“Yoona…”

Bersamaan dengan itu pintu kayu di depan mereka terbuka dan memunculkan sosok Donghae yang sedang menatap kedua manik hitam Yunho dengan sengit. Sejak tadi pria itu telah berdiri di depan pintu coklat itu sambil mendengarkan setiap percakapan yang tengah dilakukan Yunho dan Yoona melalui celah pintu yang terbuka.

“Jangan menghasut calon isteriku Jung Yunho ssi, kami akan menikah sebentar lagi.” Desis Donghae marah dan langsung mencengkeram kerah kemeja Yunho kuat. Melihat itu Yoona langsung memekik dan mencoba memesihkan dua pria dewasa yang sama-sama sedang tersulut emosi itu.

“Donghae, lepaskan Yunho oppa. Bukankah kau seharusnya berdiri di altar untuk menungguku masuk bersama ayahku? Kumohon jangan memperkeruh keadaan dengan sikap kekanakanmu.”

“Kenapa kau membelanya, ia telah menghasutmu Yoong. Mungkin jika aku tidak datang untuk mencarimu pria brengsek ini akan membawamu kabur.”

“Asataga, bagaimana mungkin kau bisa berpikiran buruk seperti itu. Aku tidak akan pergi kemanapun. Donghae, lepaskan Yunho sekarang juga.” Ucap Yoona tegas. Namun Donghae tetap pada sikap tempramentalnya yang kasar. Sambil tetap menatap wajah Yoona, pria itu terus mencengekram kerah kemeja Yunho hingga membuat Yunho semakin muak pada pria itu. Dan tanpa pikir panjang, Yunho langsung memukul wajah Donghae keras hingga Donghae terhuyung ke belakang dan melepaskan cengkeraman tangannya karena ia tidak siap dengan serangan tiba-tiba itu.

“Sialan! Sebenarnya apa maumu keparat!”

Donghae bangkit dan langsung menerjang Yunho hingga punggung pria itu membentur tembok. Yoona yang melihat keadaan justru semakin memburuk langsung berteriak-teriak untuk meminta pertolongan. Sayangnya ruang tunggu yang ia tempati sangat sepi karena semua orang saat ini sedang menunggunya di dalam gereja.

Bughh

Yoona memekik kaget ketika Donghae tiba-tiba jatuh tersungkur di kakinya setelah Yunho memukul wajahnya sekali lagi.

“Oppa hentikan! Donghae, kau baik-baik saja?”

Yoona berusaha menarik tubuh Donghae yang hampir menerjang tubuh Yunho di depannya. Ia benar-benar tidak bisa diam saja tanpa melakukan pembalasan pada Yunho yang telah membuat hari pernikahannya menjadi kacau.

“Minggir, aku harus membuat perhitungan pada brengsek sialan itu.”

“Donghae hentikan! Lebih baik kau segera pergi ke altar.” Marah Yoona keras. Ia sudah kehabisan seluruh kesabarannya untuk menangani pria sekeras kepala Donghae. Apalagi saat ini Yunho juga semakin memparah keadaan emosi Donghae, sehingga jalan terbaik untuk mengakhiri semua ini adalah dengan membawa Donghae pergi sejauh-jauhnya dari Yunho.

“Lihatlah Yoong, pria itu sangat tidak pantas untukmu.”

“Oppa, hentikan! Jangan membuat keadaan semakin buruk.”

“Tidak Yoong, kau harus membatalkan pernikahanmu.”

“Sialan! Yoona milikku, kau tidak berhak mengaturnya lagi!” Maki Donghae keras. Hampir saja pria itu maju untuk memukul Yunho, namun hal itu berhasil digagalkan oleh sang pastor yang tiba-tiba datang untuk melerai pertengkaran diantara keduanya. Dengan sigap pastor itu menyeret Donghae keluar dari ruang tunggu pengantin wanita bersama dengan beberapa petugas keamanan yang ikut memegangi tubuh Donghae yang tengah bergerak brutal ingin memukul Yunho.

Sementara itu Yoona langsung berjalan pergi keluar dari ruangannya sambil memberikan tatapan tajam pada Yunho yang juga sedang menatapnya dalam diam di sudut ruangan.

“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku lagi oppa, karena sampai kapanpun Lee Donghae pasti akan menjagaku dengan baik.”

Flashback end

 

“Sudahlah, jangan terlalu banyak memikirkan masa lalu. Sekarang cepatlah mandi, aku akan menunggumu di meja makan.”

Yoona mendorong pelan tubuh Donghae kedalam kamar dan segera menutup pintu kamar itu rapat. Di pandangnya pintu coklat itu sebentar sebelum ia memutuskan untuk turun menuju ruang makan. Sejujurnya terkadang ia merasa aneh saat tidur di kamar itu bersama Donghae. Ia merasa menjadi seorang… jalang. Bayang-bayang mengenai perselingkuhannya dengan Donghae masih melekat erat di kepalanya, meskipun kini statusnya telah berubah menjadi nyonya Lee. Namun ia merasa sangat bersalah pada Jihyun. Ia ingin sekali bertemu dengan wanita itu dan meminta maaf atas seluruh perbuatannya. Tak peduli jika wanita itu dulu juga pernah menyakitinya, namun ia tidak ingin membalas kejahatan dengan kejahatan.

“Selamat malam bibi Jang.”

Yoona menyapa cepat bibi Jang yang tiba-tiba melintas di depannya. Wanita paruh baya itu terlihat kaget dengan sapaan Yoona yang tiba-tiba, namun pada akhirnya ia hanya mampu menunduk dalam sambil berjalan pergi melewati Yoona begitu saja.

Sepeninggal bibi Jang, Yoona hanya mampu menghela napas berat sambil menatap punggung wanita paruh baya itu  nanar. Rasanya sulit membuat orang-orang di rumah ini berbalik menyukainya, tapi ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan tetap berjuang untuk membuat orang-orang di rumah itu berbalik menyukainya.

-00-

“Pagi bibi Jang, biar aku saja yang membawanya ke meja makan.”

Yoona melihat bibi Jang tampak kesulitan dengan mangkuk besar berisi sup di tangannya. Namun ketika melihat Yoona hendak membantunya, wanita paruh baya itu langsung melengos dan meninggalkan Yoona begitu saja. Yoona kemudian menghela napas kecil dan segera berjalan ke dapur untuk membuatkan Donghae kopi. Suami tercintanya itu mengatakan jika kopi buatannya lebih enak dari kopi buatan para maidnya, sehingga tugas wajibnya setiap pagi adalah membuatkan kopi hitam kesukaan Lee Donghae. Tapi terkadang ia melihat bibi Jang juga sudah membuatkannya, jadi ia terkadang merasa tidak enak pada wanita itu karena kopi buatannya tidak akan disentuh oleh Donghae.

“Pagi Minah, apa yang sedang kau masak?”

Yoona melongok sedikit dari balik tubuh maidnya yang lebih pendek darinya. Ia melihat gadis itu sedang menata beberapa potong ayam goreng di dalam piring. Namun gadis itu sama sekali tidak menanggapi pertanyaannya. Ia hanya diam, dan setelah itu segera pergi sambil membawa piring besar itu menuju meja makan. Lagi-lagi Yoona menghela napas kecil sambil berusaha menyemangati dirinya yang perlahan-lahan mulai merasa frustrasi. Ia tidak tahu sampai kapan semua penghuni rumah ini akan membencinya. Padahal dulu ia begitu antusias saat menghapal seluruh nama mereka satu per satu agar mereka semua menjadi lebih akrab. Ia ingin membuat seluruh penghuni di mansion ini menganggapnya sebagai keluarga, bukan sebagai majikan yang harus mereka hormati. Tapi nyatanya, mereka justru bersikap acuh tak acuh padanya. Menganggapnya sebagai seorang penyusup yang tiba-tiba masuk kedalam kehidupan tuannya dan menyingkirkan ratu terdahulu yang sebelumnya berkuasa, Lee Jihyun.

“Ah Sora…”

Yoona tiba-tiba berseru lantang pada Sora dan segera berjalan menghampiri gadis itu. Dengan senyum cantiknya yang begitu tulus, Yoona menghampiri gadis muda itu untuk menanyakan perihal hubungannya dengan Jimin, tukang kebun baru yang baru satu bulan yang lalu bekerja di mansionnya untuk menggantikan tukang kebun lama yang sudah sangat tua.

“Ii iya nyonya.”

Sora membungkuk kikuk di depan Yoona dan tampak ingin mengacuhkan Yoona seperti yang lainnya. Namun sedikit hati kecilnya tidak bisa melakukannya karena ia merasa jika Yoona tidak seburuk apa yang dikatakan oleh bibi Jang padanya. Yoona justru memiliki sikap yang lebih baik dari Lee Jihyun yang selalu bersikap kasar pada seluruh pelayannya. Namun semua rekannya terlanjur menilai buruk Yoona karena bibi Jang beberapa kali menceritakan bagaimana kisah perselingkuhan tuannya yang pastinya telah ditambahi dengan sedikit bumbu-bumbu kebohongan ala bibi Jang.

“Bagaimana hubunganmu dan Jimin sekarang?”

“Hu hubungan saya?” Tanya Sora gelagapan. Ia tidak menyangka jika nyonya barunya itu sangat memperhatikan gerak geriknya selama ini yang selalu mencuri-curi kesempatan untuk menggoda Jimin. Ia takut nyonya mudanya akan mengadukan hal itu pada Donghae dan membuatnya dipecat.

“Tidak apa-apa, tidak usah takut. Aku tahu kau menyukai Jimin, kejarlah pria itu.” Bisik Yoona menggoda. Seketika wajah Sora menjadi bersemu merah dan salah tingkah. Gadis muda berusia dua puluh tahun itu terlihat malu-malu sekaligus berseri-seri karena nyonya mudanya ternyata mendukungnya. Ia pikir ia akan diadukan pada Donghae karena karena telah memiliki perasaan itu untuk Jimin.

“Nyonya… tolong jangan adukan saya pada tuan Lee Donghae.”

Yoona mengernyit heran, namun sedetik kemudian ia menggeleng sambil memberikan senyuman lembut pada Sora.

“Aku tidak akan mengatakannya pada Donghae oppa. Tapi apa di mansion ini ada peraturan untuk tidak boleh saling mencintai antar pekerja?”

“Se sebenarnya saya juga tidak tahu. Tapi menurut beberapa pekerja senior, tuan Donghae sangat menyukai keprofesionalitasan dalam bekerja. Jadi saya takut jika perasaan saya itu akan membuat saya dipecat.” Ucap Sora dengan jujur. Pengakuan yang dilontarkan oleh seorang gadis polos seperti Sora membuat hatinya tiba-tiba menjerit. Dulu hubungannya dengan Donghae juga hanya sebatas klien dan konselor. Kemudian perlahan-lahan cinta itu mulai muncul dan membuat sikap profesional mereka tenggelam kedalam pusara cinta mereka yang begitu menggairahkan.

“Tenang saja, aku tidak akan…”

“Yoona!”

Suara tegas itu tiba-tiba menginterupsi pembicaraanya dan membuat wajah Sora berubah tegang dan menjadi pucat pasi. Dengan wajah takut-takut gadis itu segera membungkukan tubuhnya pada Yoona dan berjalan pergi dengan langkah terburu-buru menuju halaman belakang.

Sementara itu Yoona langsung membalikan tubuhnya ke belakang sambil menatap Donghae penuh tanda tanya. Ia heran saat melihat wajah Donghae yang tampak tidak bersahabat di depannya. Wanita itu sedikit bertanya-tanya dalam hati, apakah ia telah berbuat salah pada pria itu. Tapi sedetik kemudian ia memutuskan untuk menanyakannya langsung pada Donghae karena ia merasa belum melakukan kesalahan apapun pagi ini.

“Ada apa? Kau membuat Sora ketakutan saat melihatmu.” Tegur Yoona lembut dengan senyum manisnya. Namun Donghae tetap saja memasang wajah datarnya yang sangar meskipun Yoona telah menunjukan sikap lembutnya di depan pria bermarga Lee itu.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”

“Mengatakan apa?” Tanya Yoona bingung. Ia benar-benar belum membuat kesalahan apapun pagi ini. Ia juga tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari pria itu. Jadi topik apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh pria ini?

“Kenapa selama ini kau diam saja jika ternyata kau mendapatkan perlakuan buruk dari seluruh penghuni rumah ini. Sudah berapa lama mereka mengacuhkanmu? Katakan padaku.” Ucap Donghae emosi. Yoona langsung memberi isyarat Donghae untuk mengecilkan suaranya karena ia merasa tidak enak dengan seluruh pelayan di rumah Donghae.

“Oppa, kecilkan suaramu. Kau tidak perlu memperpanjang masalah kecil seperti ini.”

“Tidak bisa Yoong, mereka semua seharusnya menghormatimu sebagai isteriku. Aku akan memecat mereka semua jika mereka berbuat acuh tak acuh padamu lagi.”

“Termasuk bibi Jang? Kau akan memecatnya juga?” Tanya Yoona tegas. Yoona menatap manik Donghae tajam sambil sedikit mengangkat dagunya menantang.

“Apa kau akan memecat bibi Jang karena ia juga bersikap acuh tak acuh padaku. Sudahlah oppa, jangan membuat masalah kecil seperti ini menjadi rumit. Mereka semua tidak salah, aku yang salah.” Ucap Yoona lesu dengan wajah frustrasi. Donghae tampak mematung di tempat sambil menatap Yoona tanpa ekspresi. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu setelah mengetahui semua kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh Yoona. Yang pasti ia benar-benar terkejut karena isterinya ternyata tidak mendapatkan perlakuan yang semestinya di rumahnya sendiri. Dan ia yakin, semua ini pasti karena masa lalu Yoona yang pernah menjadi selingkuhannya.

“Sudah berapa lama kau mendapatkan perlakuan buruk seperti ini?”

“Sejak aku menjadi isterimu dan tinggal di sini.” Jawab Yoona apa adanya. Percuma juga jika ia tetap berbohong jika pada kenyataanya Donghae telah mengetahui semuanya. Mungkin memang sudah saatnya bagi Donghae untuk mengetahui sedikit kebohongan kecilnya selama ini.

“Kau tidak pernah menceritakannya padaku.”

“Karena bagiku ini bukan sesuatu yang penting untuk diceritakan. Mereka hanya memerlukan sedikit waktu untuk menerima kehadiranku di sini, jadi jangan salahkan mereka atas semua sikap acuh tak acuh yang mereka tunjukan padaku. Seharusnya aku memang sadar diri karena posisiku di sini hanyalah sebagai perusak dalam hubungan rumah tanggamu dan Jihyun.”

“Yoona hentikan!”

Donghae terlihat sangat murka ketika Yoona kembali mengungkit masalah itu setelah sekian lama mereka tidak pernah membahasnya. Ia pikir Yoona tidak akan membahas wanita itu lagi di depannya karena mereka berdua telah sepakat untuk melupakan kejadian tidak menyenangkan itu selama-lamanya.

“Sudahlah oppa, terima saja kenyataan itu. Sampai kapanpun semua orang tetap akan memandangku sebagai jalang yang hina dan buruk.” Ucap Yoona getir sambil menyeka setitik kristal bening yang menetes di sudut matanya. Perlahan-lahan Yoona segera melangkah pergi meninggalkan Donghae yang masih setia berdiri di tempatnya sambil mengetatkan rahangnya marah. Ingin rasanya pria itu berteriak pada Yoona dan menyadarkan wanita itu jika ia bukanlah wanita rendahan yang sangat hina, seperti apa yang wanita itu katakan. Namun luapan emosinya yang membuncah justru membuatnya kehilangan kata-kata hingga ia hanya mampu menggeram sambil menatap nyalang punggung Yoona yang perlahan-lahan menghilang, tertelan tangga spiral di rumahnya.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, segerombolan pelayan sedang berdiri di balik tembok sambil berbisik-bisik heboh. Mereka semua mulai membicarakan nyonya baru mereka yang tampak menyedihkan di depan tuan besarnya yang sedang murka. Dan diantara para pelayan itu, bibi Jang tampak tertegun sendiri sambil meremas jari-jarinya gugup penuh rasa bersalah karena selama ini ia lah yang membuat seluruh pelayan muda itu bersikap acuh tak acuh terhadap Yoona.

“Nyonya Jang, kasihan sekali nyonya Yoona. Ia… mendapat amukan dari tuan Donghae karena berusaha melindungi kita.” Ucap Sora lirih di sebelah bibi Jang. Namun wanita paruh baya itu hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hatinya juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan oleh Sora, ia merasa bersalah pada Yoona dan ingin meminta maaf pada wanita baik hati itu. Tapi, apakah permintaan maafnya akan diterima?

“Sora, kembalilah bekerja dan jangan menggunjing seperti yang lain.”

-00-

Yoona terduduk sendiri di depan teras mansion milik Donghae sambil memandang kosong kearah halaman mansion milik suaminya yang luas. Ia merasa sendiri dan tidak berdaya di sini. Saat Donghae meninggalkannya, ia merasa harus berjuang sendiri. Dan sekarang semua itu semakin parah dengan adanya pertengkaran mereka pagi ini karena Donghae langsung mendiaminya tanpa mau memahami bagaimana posisinya.

“Aku merindukan Jihoo, Yunho oppa, eomma, dan appa.” Lirih Yoona pelan. Bertahun-tahun menjadi seorang kosenlor, Yoona tidak pernah merasa sangat tak berdaya seperti ini. Biasanya ia selalu berhasil mengatasinya dengan baik. Tapi ini, sungguh di luar kemampuannya. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat Donghae paham jika semua sikap diamnya itu bukan berarti ia lemah dan ingin diperlakukan semena-mena oleh seluruh pelayannya, tapi karena ia ingin membuat mereka sadar bahwa ia bukanlah wanita jahat seperti yang mereka pikirkan selama ini.

Bruummm

Suara gesekan aspal dan mesin mobil yang menyala cukup nyaring membuat perhatian Yoona teralihkan pada sebuah mobil sedang berwarna kuning yang baru saja berhenti di depannya. Sambil menyipitkan matanya intens, Yoona mulai menerka-nerka sang pengemudi mobil yang wajahnya tak begitu terlihat karena terhalangi oleh kaca hitam tebal yang terpasang sempurna di bagian depan mobilnya.

“Jihyun…”

Yoona bergumam pelan ketika akhirnya sang pengemudi mobil menurunkan kaki jenjangnya keluar dari mobil sedan kuning itu.

“Yoona… Bagaimana kabarmu jalang?”

Plakk

Satu tamparan lolos begitu saja dari tangan Jihyun dan membuat Yoona sedikit terhuyung ke belakang karena perlakuan yang tiba-tiba itu.

“Apa kau hanya datang untuk menamparku?” Tanya Yoona datar sambil menahan rasa panas dan juga perih yang menjalar di pipi kanannya. Ia benar-benar tidak menyangka jika siang ini ia akan mendapatkan kejutan yang sangat luar biasa dari Lee Jihyun, oh…. mungkin sekarang namanya bukan Lee Jihyun, tapi Kim Jihyun.

“Kau ingin masuk? Aku akan membuatkanmu secangkir teh.” Tawar Yoona masih dengan nada datar sambil melenggang masuk kedalam rumahnya. Wanita itu terlihat acuh tak acuh tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun ke belakang. Namun dari ekor mata kirinya ia tahu jika Jihyun saat ini sedang mengikutinya masuk kedalam bekas mansionnya.

“Aku sudah lama mencarimu, kemana saja kau selama dua bulan ini?” Tanya Yoona santai seperti tidak pernah terjadi apapun diantara mereka. Padahal baru saja Jihyun menamparnya dengan keras, dan hal itu disaksikan oleh sebagian besar pelayannya. Namun Yoona masih bisa bersikap tenang sambil menyajikan secangkir teh hangat, lengkap dengan berbagai kudapan yang ia miliki di dapur.

“Silahkan diminum dan dimakan, semua itu bebas dari racun.”

Yoona mendudukan dirinya di kursi di seberang milik Jihyun dan mulai mengamati wanita cantik itu dalam diam. Sedangkan Jihyun, wanita itu justru sekarang terlihat seperti patung sambil meremas-remas kedua tangannya gelisah. Sejak tadi ekor matanyapun juga tak henti-hentinya berputar untuk mengamati seluruh sudut ruang tamu mansion Donghae yang sebagian besar telah berubah sejak Yoona tinggal di rumah megah itu.

“Aku akan menunggu. Apa kau datang ke sini untuk bertemu dengan Donghae oppa? Kalau begitu aku akan menghubunginya agar ia segera pulang.”

“Tunggu.”

Yoona mengentikan langkahnya seketika dan segera berbalik kearah Jihyun. Ia kemudian kembali mendudukan dirinya di atas single sofa yang sebelumnya ia duduki.

“Katakan saja, aku akan mendengarkannya.”

“Aku telah bertemu Donghae oppa sebelum datang ke sini.”

“Lalu?” Tanya Yoona tanpa ekspresi. Dari apa yang ia lihat dari raut wajah Jihyun, kedatangan wanita itu ke kantor Donghae pasti telah mendapatkan penolakan keras. Tapi saat ini ia berada di sini bukan untuk menertawakan keadaan Kim Jihyun yang tiba-tiba berubah menjadi buruk setelah menamparnya. Ia tahu saat ini Kim Jihyun sedang mengalami depresi karena banyaknya masalah yang datang bertubi-tubi menghampirinya. Akhir-akhir ini wanita itu juga banyak dibicarakan oleh media, namun hal itu bukan karena perselingkuhan mantan suaminya, melainkan karena banyaknya pembatalan kontrak yang ia dapatkan setelah ia bercerai dari Donghae.

“Ia mengusirku…”

“Akhir-akhir ini Donghae oppa sedang memiliki banyak masalah. Bisa dikatakan kehidupan kami belum stabil dan kami masih harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan kebahagiaan. Bagaimana dengan dirimu, apa yang kau lakukan selama ini?”

Yoona perlahan-lahan mulai merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih lembut. Ketika ia melihat tak ada lagi sikap arogansi yang penuh kuasa dari Kim Jihyun, ia pun mulai memperlakukan wanita itu layaknya teman akrab yang terlihat seperti tidak pernah memiliki masalah sedikitpun sebelumnya.

“Beberapa minggu terakhir aku memilih untuk menyendiri di apartemenku. Aku mengabaikan seluruh kontrak kerjaku dan benar-benar hanya berdiam diri di apartemen tanpa melakukan apapun hingga manajerku geram. Lalu mereka semua dengan seenaknya membatalkan seluruh kontrak kerjaku dan menilaiku sebagai wanita malas. Mereka semua, tidak pernah mengerti bagaimana perasaanku.”

“Tapi hari ini kau hebat, kau sudah berani untuk keluar dari apartemenmu dan menemui Donghae oppa, juga aku. Bagaimana perasaanmu selama ini?”

Jiwa konselornya tanpa sadar tiba-tiba muncul begitu saja tanpa bisa dicegah. Lagipula sikap buruk Jihyun tidak bisa dibalas dengan sikap buruk juga. Wanita itu saat ini sedang terpuruk karena masalahnya, dan ia tidak mau memperparahnya dengan memberikan sikap jahat juga pada wanita itu.

“Aku merasa gugup dan juga lega. Maaf karena telah menamparmu.” Bisik Jihyun lirih di akhir kalimatnya. Sambil menundukan kepalanya, ia sesekali mencoba mencuri-curi pandang kearah Yoona, menelisik kearah wanita itu dan mulai menilai wanita itu perlahan-lahan. Pantas saja Donghae memilih untuk meninggalkannya demi wanita cantik itu, ternyata Yoona memang seorang wanita berharga yang patut untuk diperjuangkan. Bodoh jika saat itu Donghae memilih untuk mempertahankannya karena pria itu tidak akan pernah mendapatkann apapun darinya. Bahkan seorang anakpun tidak akan didapat Donghae darinya karena ternyata ia sudah tidak memiliki rahim saat ini. Dulu ia pernah menjalani operasi pengangkatan rahim ketika masih duduk di bangku senior high school karena rahimnya rusak pasca kecelakaan. Dan hal itu benar-benar baru diketahuinya dua minggu yang lalu saat ia bertemu dengan ibunya dan menceritakan semua permasalahan peliknya. Jadi Donghae memang tidak salah saat memutuskan untuk menceraikannya, dan sekarang ia benar-benar sangat bersyukur atas keputusan itu. Namun ia tetap saja tidak bisa menerima kondisinya saat ini yang seakan-akan seperti wanita terbuang. Tidak ada yang memperhatikan dirinya sedikitpun. Mereka semua menjauhinya dan menganggapnya seperti sesosok hantu yang tak kasat mata. Ia benar-benar hancur saat ini.

“Sebenarnya sejak kapan kalian menjalin hubungan?” Tanya Jihyun ingin tahu. Yoona langsung menatap Jihyun penuh rasa bersalah sambil menggigit bibirnya bimbang.

“Aku… juga tidak tahu. Semuanya berjalan tanpa rencana dan mengalir seperti air. Tapi semuanya berawal dari kedatangannya di biro konsultasi milik negara. Saat itu ia datang dengan sikap menyebalkan yang berhasil membuatku ingin sekali mengusirnya dari kantorku. Bahkan aku sempat melakukan hal-hal konyol untuk menghindarinya, tapi itu tidak berhasil. Aku tertangkap basah saat sedang bersembunyi darinya, dan sejak saat itu ia seperti mengikatku untuk menjadi penasihat kejiwaannya. Kau tahu, Donghae oppa memiliki banyak masalah pelik yang ia sembunyikan. Jadi ia tidak suka ditinggalkan sendiri oleh orang-orang terdekatnya.”

“Hmm… Selama ini aku selalu meninggalkannya dan selalu bersikap semena-mena di depannya. Pantas jika pada akhirnya ia berpaling dariku karena aku tidak pernah memberikan apa yang ia inginkan. Justru aku yang selalu memaksanya untuk mengabulkan seluruh keinginanku. Berapa kali kalian pergi berkencan di belakangku?”

Yoona lagi-lagi langsung terlihat kikuk sambil mengalihkan tatapan matanya kearah lain. Ia tidak menyangka jika keputusannya untuk membawa Jihyun masuk kedalam rumahnya justru akan berakhir dengan kegiatan introgasi yang sangat menyebalkan. Lagipula siapa juga yang mau jika masa lalunya diungkit-ungkit oleh mantan isteri suaminya. Hell, itu benar-benar mengganggu. Tapi Yoona jadi teringat pada sebuah kejadian dimana ia dan Donghae benar-benar nekat untuk bertemu di belakang Jihyun. Literly, mereka benar-benar bertemu di belakang Jihyun saat wanita itu sedang mengobrol bersama rekan sesama artisnya di sebuah acara amal yang diselenggarakan oleh perusahaan asuransi swasta.

 

Flashback

Yoona melirik jam tangannya sekilas, memastikan jika ia belum terlambat untuk datang ke sebuah acara amal yang diselenggarakan oleh salah satu mitra kerjanya. Perusahaan swasta yang bergerak di bidang asuransi itu pernah meminta bantuannya untuk melakukan penilaian psikologis terhadap calon karyawan di perusahaanya, sehingga sekarang ia mendapatkan kehormatan untuk berpartisipasi dalam sebuah acara amal yang diselenggerakan oleh perusahaan itu.

Sambil merapikan letak gaun malamnya yang panjang, Yoona perlahan-lahan mulai berjalan masuk bersama para tamu undangan lain yang tampak berdesak-desakan di depan pintu utama karena sedang mengantre untuk pemeriksaan barang bawaan. Ia pun dengan sabar berdiri di belakang sepasang pria dan wanita tua yang terlihat begitu serasi menggunakan stelan bernuansa biru gelap. Setelah pasangan serasi di depannya bergerak maju, petugas pemeriksaan itu pun segera memeriksa tas tangannya dan juga tubuhnya menggunakan detector metal yang digenggamnya.

Ketika berada di dalam aula, suasana di sana telah ramai dan begitu berisik. Banyak lalu lalang tamu undangan sedang mengobrol sambil menikmati jamuan istimewa yang telah disiapkan oleh pemilik acara. Di atas panggung, ia dapat melihat seorang MC sedang berkoar-koar heboh membicarakan sang pemilik acara yang saat ini sedang menyibukan diri dengan para tamu undangannya. Dan diantara tamu-tamu undangan itu, terselip sepasang pria dan wanita yang sangat dikenalnya, Lee Donghae dan Lee Jihyun.

“Astaga, kenapa aku harus bertemu mereka di sini?” Gumam Yoona kesal sambil berjalan menjauh dari pasangan yang tampak serasi itu. Ia begitu minder jika melihat interaksi antara Donghae dan Jihyun secara langsung karena itu membuatnya merasa tidak sebanding dengan Lee Donghae. Pria itu terlalu sempurna untuk bersanding bersamanya, dan memang hanya Jihyun yang pantas berada di sisi seorang Lee Donghae. Dengan wajah yang sedikit tertunduk, Yoona segera membaur diantara tamu-tamu undangan agar Donghae tidak menyadari kehadirannya. Ia kemudian berjalan kearah meja panjang untuk mengambil segelas cocktail yang tampak begitu menggoda dengan warna-warna mencolok yang terlihat begitu cantik. Sambil menyesap cocktailnya, Yoona sesekali melirik kearah Donghae dan Jihyun yang masih terlihat mengobrol dengan beberapa rekan bisnis mereka. Kemudian perhatiannya teralihkan kearah lain ketika seorang pelayan tiba-tiba datang sambil menawarkan sepiring kue yang lezat.

“Anda ingin kue nona?”

“Ah, aku mau satu. Kue strawberry itu kelihatannya enak.” Ucap Yoona sambil menerima sepiring kue dari tangan pelayan. Setelah memberikan kue untuk Yoona, pelayan pria itu masih setia berdiri di depan Yoona sambil mengamati bagaimana bahagianya Yoona saat memakan kue itu.

“Kau terlihat cantik nona.”

“Oh, terimakasih.” Jawab Yoona tersipu malu. Ia kemudian mengalihkan wajahnya kearah lain dan menggeser tubuhnya sedikit ke kanan agar pelayan itu segera pergi, karena ia merasa tidak nyaman saat kegiatan makannya di perhatikan oleh orang lain.

“Ahh.. kemana perginya tuan Lee menyebalkan itu?” Desah Yoona kesal sambil melongokan kepalanya kesana kemari. Padahal ia baru mengalihkan tatapan matanya tak lebih dari tiga menit, tapi pria itu sudah menghilang begitu saja dan meninggalkan isterinya sendiri yang sedang mengobrol beberapa langkah dari tempatnya berdiri.

“Mencariku nona?”

“Ahh!!”

Yoona terpekik kaget sambil menatap horor pada Donghae yang tiba-tiba sudah menarik lengannya ke belakang. Pria bermarga Lee itu tampak begitu puas melihat ekspresi terkejut yang diperlihatkan Yoona sambil tersenyum lebar menampakan gurat-gurat ketampanan di wajahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Apa yang kulakukan di sini? Entahlah. Lalu apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku sedang bertanya padamu, kenapa kau justru balik bertanya. Pergilah, Jihyun mencarimu.” Usir Yoona pelan. Ia mendengus gusar dan membuang wajahnya kearah lain sambil berpura-pura mengacuhkan Donghae. Akan sangat gawat jika kedekatan mereka malam ini berhasil disadari oleh orang lain, terutama Jihyun.

“Hey, jangan memalingkan wajahmu saat aku berada di depanmu. Kau, kenapa menggunakan pakaian terbuka seperti ini?” Tanya Donghae penuh selidik. Ia mengamati seluruh tubuh Yoona, dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil mengernyit kesal.

“Ini hadiah dari Yunho oppa.”

“Yunho? Harus berapa kali kukatakan padamu, untuk jangan terlalu dekat pada Yunho lagi. Sekarang aku adalah kekasihmu.” Marah Donghae kekanakan. Yoona memutar bola matanya malas kearah Donghae sambil menyilangkan kedua tangannya kesal. Satu hal yang membuatnya kesal selama menjalin hubungan dengan Lee Donghae adalah sikap posesif pria itu yang sangat kelewat batas. Bahkan pada Yunhopun ia cemburu. Padahal ia jelas tidak mungkin akan melakukan hal-hal aneh bersama Yunho.

“Sudahlah Hae, jangan membuat masalah kecil menjadi besar. Sekarang kembalilah pada Jihyun, ia terus menerus mencarimu sejak tadi.” Tunjuk Yoona dengan dagunya kearah Jihyun yang tampak kebingungan mencari dimana keberadaan suaminya. Namun dengan seenaknya Donghae justru menarik tangannya dan menyeret langkahnya yang terasa berat untuk dibawa ke suatu tempat, hingga pada akhirnya mereka berdua kini telah berada di dalam sebuah toilet wanita yang sepi.

“Toilet? Lagi…” Tanya Yoona sangsi. Entah ini kali keberapa Donghae menyeretnya kedalam toilet. Dulu saat di rumahnyapun pria itu juga menyudutkannya di toilet.

“Aku bosan menjadi wanita penghuni toilet, kenapa kau tidak bisa bersikap romantis sedikit saja dengan membawaku…..”

“Ke kamar. Kau ingin aku membawamu ke kamar dan menghabiskan malam berdua denganku? Baiklah, ayo.” Ucap Donghae penuh semangat. Namun Yoona segera menyentak tangan kekar itu dan berdiri kaku di tempat sambil menyilangkan kedua tangannya kesal.

“Aku juga tidak menginginkan hal itu. Kita bahkan bisa melakukannya di rumah.” Sungut Yoona.

“Lalu apa yang kau inginkan sekarang, hmm? Kau membuatku gila di dalam aula itu dengan pakaian seksi yang terbuka seperti ini. Sekarang semua pria bisa melihat punggung telanjangmu yang lembut ini.” Ucap Donghae sambil menyapukan punggung tangannya ke permukaan punggung halus. Wanita itu memejamkan matanya dalam, menikmati kelembutan sentuhan Donghae di punggungnya. Inilah alasannya mengapa ia tidak bisa lepas begitu saja dari Donghae, ia tidak bisa melupakan setiap sentuhan Donghae di tubuhnya. Dan keberadaan pria itu di sisinya juga merupakan candu yang selalu membuatnya selalu ketergantungan. Jadi pada akhirnya mereka berdua menjadi dua orang individu yang saling membutuhkan satu sama lain, dan ikatan diantara keduanya menjadi semakin kuat dari hari ke hari.

“Yoona, aku menginginkanmu…”

Seketika Yoona langsung membuka matanya nyalang sambil memundurkan kakinya ke belakang. Namun Donghae lebih dulu bertindak dengan menahan pinggang Yoona sambil memberikan smirk andalannya untuk menggoda  wanita manis di depannya.

“Foreplay sekali di sini dan nanti aku akan mengunjungimu di rumah, bagaimana?” Tawar Donghae. Yoona menaikan salah satu alisnya sangsi dan sedikit mendorong dada bidang Donghae agar wajah pria itu tidak terlalu dekat padanya. Ia merasa geli dengan udara-udara panas yang pria itu hembuskan di depan wajahnya dengan sengaja.

“Aku tidak mau, lagipula saat ini Yunho oppa sedang berada di rumah untuk menjaga Aleyna. Kemungkinan besar mungkin ia akan menginap.”

“Menginap? Kalau begitu kita lakukan di sini.”

“Apa kau gila!” Teriak Yoona kesal. Ia mendorong tubuh Donghae sekali lagi ke belakang dan berharap pria itu akan melepaskan kungkungan tangannya dari tubuh kecilnya. Sayangnya harapannya tidak terkabul. Donghae justru semakin menyudutkannya ke dinding dan pria itu perlahan-lahan mulai menggerayangi tubuhnya dengan gerakan intens.

“Jangan berpura-pura menolakku jika pada kenyataanya kau menginginkannya Yoong. Nikmati saja malam panas kita di sini karena malam ini toilet ini milik kita.” Bisik Donghae serak. Yoona bergidik jijik di depan Donghae sambil tetap mempertahankan kewarasannya. Namun sekeras apapun ia mencoba, pada akhirnya ia tetap akan terhisap masuk kedalam permainan gila pria itu hingga pada akhirnya mereka sama-sama kehilangan akal sehat mereka untuk melakukan tindakan yang lebih jauh.

Flashback end

Yoona bergidik ngeri membayangkan bagaimana kelakuannya dulu yang sangat menjijikan. Bahkan sekarang ia merasa heran pada dirinya sendiri, mengapa dulu ia mau mengikuti permintaan Donghae untuk bercinta di toilet hotel. Sungguh ia adalah pengalaman paling liar dan paling menjijikan yang pernah ia alami sepanjang ia menjalin hubungan dengan seorang pria. Tapi… sudahlah, itu semua hanyalah bagian dari masa lalunya yang terkadang masih ia rindukan. Ia merindukan saat-saat ia dan Donghae harus berjuang mati-matian demi menutupi hubungan terlarang mereka dari semua orang.

“Sepertinya kalian menyimpan lebih banyak rahasia dari apa yang selama ini kuperkirakan.”

“Maksudmu?”

“Sejak awal kalian berdua memang sudah memperdayaiku bukan? Kau tidak perlu berbohong lagi Yoona, sekarang kau bisa mengungkapkan seluruh rahasia kalian. Aku tidak akan marah.”

“Tidak, kau salah. Kami tidak memiliki banyak rahasia seperti yang kau perkirakan karena selama ini kau telah menyisipkan banyak mata-mata disekitar kehidupanku. Apa yang kau ketahui dari mata-matamu adalah apa yang kami lakukan selama ini. Aku minta maaf.”

Jihyun menghembuskan napasnya panjang sambil menatap nanar pada gelas porselin putih yang masih dipenuhi oleh teh di depannya. Kehidupan sempurnanya memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk berhenti sampai di sini. Dan setelah ini ia hanya perlu belajar untuk lebih menghargai orang-orang disekitarnya yang selalu memberikan banyak limpahan kasih sayang untuknya. Mungkin setelah ini ia bisa memulainya dari kedua orangtuanya, lalu Yeun, asisten pribadinya yang tidak pernah berhenti untuk mendukungnya hingga detik ini.

-00-

Donghae termenung sendiri di dalam mobilnya sambil menatap jendela kamarnya yang masih menampakan cahaya temaram. Sejak sepuluh menit yang lalu ia merasa ragu untuk turun karena ia merasa bersalah pada Yoona. Pertengkaran mereka pagi ini adalah pertengkaran pertama mereka selama mereka menjadi sepasang suami isteri. Dan seharian ia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanya karena bayang-bayang Yoona terus berputar-putar di otaknya seperti kaset rusak yang mengganggu.

Tok tok tok

Donghae memberi isyarat tunggu pada sang pengetuk dan langsung bergegas keluar dari mobilnya sambil membawa tas kerjanya yang berisi dokumen-dokumen penting dari kantornya.

“Tuan, apa yang anda lakukan malam-malam di sini?”

“Tidak, hanya sedang memikirkan sesuatu. Aku akan masuk sekarang, tolong parkirkan mobilku ke garasi.”

Donghae mengangsurkan kunci mobilnya pada sang penjaga rumah, Kim Bongsan, dan setelah itu ia segera masuk kedalam rumahnya dengan langkah berat. Malam ini ia begitu takut untuk bertemu Yoona karena ia telah menyakiti wanita itu tadi pagi.

“Tuan…”

“Bibi Jang, selamat malam.” Sapa Donghae lembut. Pria itu sedikit menaikan alisnya bingung ketika dilihatnya bibi Jang tampak resah di depannya sambil memilin ujung bajunya berkali-kali.

“Ada apa? Apa sesuatu terjadi selama aku pergi?”

“Tuan, maafkan saya. Selama ini saya telah mengacuhkan nyonya Yoona. Dan hari ini nyonya Jihyun datang menemui nyonya Yoona.”

“Jihyun?”

Donghae langsung merasa was-was ketika nama itu kembali disebut di rumahnya. Sejak ia bercerai, tidak ada satupun pelayan di rumahnya yang berani mengucapkan nama itu di depannya karena ia memang ingin melupakan rasa kecewanya yang disebabkan oleh Jihyun. Siang ini tanpa disangka-sangka Jihyun datang ke kantornya, dan kemudian ia pikir Jihyun akan langsung pergi setelah ia mengusirnya. Namun tanpa disangka-sangka wanita itu justru datang ke rumahnya dan mungkin…. membuat keributan dengan Yoona.

“Apa ia membuat masalah? Apa ia menyakiti Yoona?”

“Nyonya Jihyun menampar nyonya Yoona tuan.”

“Menampar? Lalu bagaimana kondisi Yoona sekarang? Kenapa ia tidak mengatakan apapun lagi padaku.” Dengus Donghae geram. Ia kesal dengan sikap Yoona yang selalu diam terhadap masalah yang sedang menimpanya. Entah itu karena latar belakang Yoona yang merupakan seorang konselor atau bagaimana, ia tidak tahu.

“Nyonya Yoona mengatakan baik-baik saja, dan saat ini nyonya Yoona sedang menemani nona Aleyna di kamarnya.”

Donghae berdecak kasar di depan bibi Jang dan segera berlari kecil menuju ke lantai dua untuk melihat kondisi Yoona. Lagi-lagi ia merasa terlambat untuk membela Yoona. Setelah wanita itu diacuhkan oleh seluruh pelayannya sendiri, sekarang Yoona juga harus mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari Jihyun. Sebenarnya terbuat dari apa hati Yoona selama ini? Wanita itu begitu sabar dalam menghadapi berbagai masalah dan cenderung seperti mengabaikannya. Padahal dibalik sikap tenang yang ditunjukan oleh Yoona, ia yakin wanita itu lebih banyak menyembunyikan perasaan sedih di hatinya.

Hoeekk hoeekkk

Donghae mengernyitkan dahinya ketika ia berjalan melewati pintu kamarnya. Dari dalam kamarnya ia mendengar suara seperti orang muntah begitu keras. Tanpa pikir panjang, ia segera membuka pintu kamarnya cepat dan langsung menemukan Yoona sedang bersandar di depan pintu kamar mandi sambil menahan rasa mual yang bergejolak di perutnya.

“Yoong…”

“Oh hai, kau sudah pulang.” Sapa Yoona terlihat lemas. Dengan sigap Donghae segera menghampiri Yoona sambil menatap wajah isteri cantiknya intens untuk memastikan jika kondisi Yoona baik-baik saja. Namun di sudut kanan pipinya, Donghae dapat melihat sedikit luka lebam keunguan yang ukurannya cukup besar tercetak di sana. Dengan lembut ia pun mengelus luka itu sambil menatap Yoona dengan mata teduhnya yang menenangkan.

“Kenapa kau tidak memberitahuku jika Jihyun datang dan menyakitimu hmm?”

“Aku takut kau marah. Maaf, tapi aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil.” Ringis Yoona kecil. Namun Donghae yakin jika Yoona saat ini sedang berbohong. Mungkin wanita itu bisa mengelabuhi orang lain dengan mengatakan bahwa ia baik-baik saja, namun tidak dengannya. Ia tahu jika saat ini Yoona tidak sedang baik-baik saja.

“Berbaringlah, aku akan mengompres luka memarmu. Apa kau masih mual?”

“Sedikit, aku butuh air lemon untuk menghilangkan sensasi mual ini. Kau tahu, ini adalah bagian dari proses mengandung. Ini akan hilang saat usia kehamilanku menginjak empat atau lima bulan.” Ucap Yoona menenangkan. Meskipun begitu Donghae tetap tidak bisa tenang dan terus saja menunjukan wajah khawatir di hadapan Yoona.

“Besok aku akan mengantarnu ke dokter.”

“Aww.. kau manis sekali oppa. Terkadang aku merindukan saat-saat kita menjadi konselor dan klien.” Kekeh Yoona. Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir pada isterinya sambil menyelimuti tubuh kecil itu hingga sebatas dagu.

“Kau sedang mengalihkan topik pembicaraan kita agar aku tidak mengintrogasimu terkait Jihyun? Selain menamparmu, apa ia melakukan hal lain?”

“Tidak. Ia menamparku karena ia terlalu depresi dengan keadaannya. Ditambah lagi dengan sikap dinginmu padanya, ia sangat frustrasi oppa. Aku jadi merasa kasihan padanya. Ia mengatakan padaku jika ternyata ia tidak bisa hamil, rahimnya telah diangkat saat dulu ia mengalami kecelakaan tapi orangtuanya tidak pernah mengatakan hal itu padanya.”

“Pantas saja kami tidak pernah memiliki anak.” Timpal Donghae datar. Yoona langsung memukul lengan Donghae gemas sambil melotot galak.

“Jangan seperti itu, kau seharusnya bersimpati padanya.”

“Untuk apa, ia telah melukai isteriku.”

“Aww.. pelan-pelan!”

Yoona memekik keras ketika Donghae sedikit kasar menekan luka lebam di pipinya dengan handuk basah yang ia dapatkan dari bibi Jang untuk mengompres pipi Yoona.

“Maaf, aku terlalu emosi.”

“Oppa, setelah semua masalah pelik ini terselesaikan, aku ingin pergi berlibur. Bersama Yunho oppa dan Jihoo, aku merindukan mereka berdua.”

Tiba-tiba Yoona berseru pelan menyuarakan keinginannya. Sehjak mereka menikah, mereka belum pergi berlibur kemanapun karena mereka langsung dihadapkan pada berbagai skandal yang tiba-tiba muncul tanpa diduga. Belum lagi saat ini hubungan Donghae dan Yunho belum terlalu membaik. Mereka seperti masih menempatkan tameng yang begitu kuat di depan mereka, sehingga jika Yunho datang ke rumah untuk mengunjungi Aleyna, dua orang pria itu hanya sekedar saling menyapa dan setelah itu mereka akan menyibukan diri dengan kegiatan mereka masing-masing, entah itu mengajak Aleyna bermain atau pergi ke ruang kerja dengan alasan ingin menyelesaikan tugas kantor yang belum selesai.

“Kau tidak ingin pergi berbulan madu?”

“Untuk apa? Lagipula tujuan berbulan madu adalah untuk mendapatkan keturunan dan saling mendekat diri, sedangkan kita sudah mendapatkan semuanya. Jadi untuk apa berbulan madu. Lebih menyenangkan jika kita pergi berlibur bersama-sama. Kau bisa mengajak Hyukjae oppa juga, Aleyna pasti senang jika Jisung juga ikut.” Ucap Yoona berbinar-binar. Sedangkan Donghae justru mendengus tidak suka karena ia tidak mau waktu berharganya bersama Yoona harus diusik oleh pria-pria pengganggu seperti Hyukjae, Yunho, dan juga Jihoo.

“Mereka akan mengganggu kita Yoong.”

“Kau memang pelit oppa. Lagipula apa salahnya jika mengajak mereka, dulu kita sudah pernah pergi berlibur berdua di Busan. Aku ingin merasakan sensasi lain saat bersama mereka.” Rengek Yoona berisik. Bersamaan dengan rengekan Yoona yang berisik, Donghae juga telah selesao dengan kegiatannya mengompres wajah Yoona dengan air hangat. Pria itu lantas melemparkan kain basah itu asal ke atas nakas dan ikut menyusul Yoona untuk meringsek kedalam selimut yang hangat.

“Sayang, bagaimana perasaanmu setelah menikah denganku?”

“Wow… ini pertanyaan pertama setelah lebih dari satu bulan kita menikah.”

“Jawab saja nona konselor, jangan membuat klienmu yang tampan ini menunggu.”

“Ck, dasar!” Dengus Yoona gemas. Namun pada akhirnya ia justru menangkup wajah Donghae dan tertawa terbahak-bahak di depan wajah suaminya.

“Perasaanku? Aku sangat senang. Sekarang aku bebas menyentuhmu di depan umum tanpa harus sembunyi-sembunyi lagi, apalagi bersembunyi di dalam toilet untuk bercinta.”

Mereka berdua tiba-tiba tertawa terbahak-bahak bersama sambil mengenang masa-masa perselingkuhan mereka. Saat itu meskipun mereka sadar jika itu salah, namun mereka tetap melakukannya karena mereka merasa telah nyaman satu sama lain.

“Itu adalah pertama kalinya aku melihatmu seliar itu. Ternyata kau memiliki sisi liar yang tak terduga. Selama ini sisi liar itu selalu tersembunyi dibalik wajah innocentmu yang menipu.” Komentar Donghae terbahak-bahak. Yoona langsung mencubit keras lengan Donghae dan menatap pria itu dengan galak.

“Kau yang memulainya, jadi jangan salahkan aku jika aku berubah menjadi liar.”

“Aku tidak menyalahkanmu sayang, aku hanya… terkejut. Di awal kau mengatakan padaku tidak ingin bercinta, tapi pada akhirnya kau sendiri yang membuat kita berada di ruangan sempit itu selama satu jam.”

“Tapi aku penasaran, bagaimana bisa kau menyewa toilet untuk bercinta? Benar-benar tidak masuk akal.”

“Aku menyuruh salah satu bodyguardku untuk berjaga di depan pintu.”

“Apa! Kau membuat bodyguard itu mendengarkan desahan-desahan kita selama satu jam? Kau benar-benar gila tuan Lee, sangat gila!” Ucap Yoona berapi-api sambil menggungcang-guncang bahu Donghae gemas. Ia tidak menyangka jika Lee Donghae akan melakukan hal-hal memalukan seperti itu. Pantas saja ia selalu merasa jika salah satu bodyguard Donghae kerap menatapnya dari kejauhan sambil tersenyum-senyum aneh. Ia pasti sedang membayangkan bagaimana dirinya dan Donghae bercinta di dalam toilet yang sempit itu.

“Aku memang telah kehilangan kewarasanku semenjak bertemu denganmu. Jadi bisakah kau tetap di sisiku agar kegilaanku ini tidak semakin parah.”

“Yah… sepertinya itu adalah sebuah kutukan untukku. Tuhan mengutukku untuk menjadi konselormu, lalu isterimu, dan ibu dari anak-anakmu. Oh… nasibku benar-benar malang.”

“Justru itu adalah bagian terbaik dalam drama hidupmu.”

Srett

Dalam sekali sentakan, Donghae saat ini telah berada di atas tubuh Yoona sambil memandang lembut kearah manik mata Yoona yang mengagumkan.

“Lihatlah, semua kutukanmu justru mengantarkamu pada banyak kebahagiaan yang tak terduga. Sekarang kau juga bisa merealisasikan keinginan terbesarmu untuk memiliki anak dari rahimmu sendiri. Bukankah ini benar-benar luar biasa?”

“Owhh… aku tidak menyangka kau bisa bersikap sebijak ini oppa..”

Cup

Yoona mendaratkan satu kecupan ringan di bibir Donghae dan mulai mengalungkan lengannya untuk kegiatan yang lebih intim dari sekedar sebuah ciuman.

“Menginginkanku nona?”

“Uhhum.. aku sangat menginginkanmu tuan Lee, malam ini kau milikku.” Bisik Yoona penuh penekanan dengan gaya angkuh khas seorang Im Yoona yang kental.

 

 

Haii guyss…

yang mau tanya2 soal FF Kontratransferensi dari chapter 1-13 bisa Chat aq via WA yaa.. thanks

082134910721

18 thoughts on “Sequel Kontratransferensi: There Are Too Many Problems Between Us

  1. Daebak….
    Setelah ditunggu akhirnya mereka menikah…
    Ckckckckck kasian yoona..
    Ragara cintanya dia dihujat

  2. alhamdulillah bisa baca sequel.a
    thanks thor. walauoun hrus mnahan rasa penasaran dgn chap sblm”.a

  3. waw tak terasa sudah end ini cerita wkwkw😂😍tetep semangat kak, ku menunggu cerita mu yg lain😉

  4. Sukaaaaaaaaaa
    Apalagi pas tw mereka bener nikah
    Duuuchh hati yoona terbuat dr baja yg tahan benturan
    Kereenn laaaa

  5. Aww manisnya 😅 Stelah scandal mereka, mrk ttp berthn dan kuat ngehadpinnya 😅 btw buat sequelnya lagi dong kk smpe yoong ngelahirin 😅😅 ayo kk..

    fighting!!

  6. pantesan ceritanya enggak nyambung, berasa ada yg hilang tiba2 langsung menikah…
    enggak d publish ya kak…
    ceritanya seru, beda dari yang lain…

  7. Sempat bingung koq tiba2 sequel
    Emang kapan baca part ending nya?

    Ternyata emang part 8 – end gak ada… 😅
    Kan penasaran jadinya. Gmna kelanjutannya konselor im dan klien lee. 😃

  8. syukurlah kalo jihyun udah gk ganggu hubungan yoonhae. semoga aja yoona cepat melahirkan dan aleyna punya adik….

  9. Eonie sebenernya aku kurang paham sama bagian bagian di ff ini gimana..
    trakhir aku baca yg bagian scared to be lonely part 2 (seven) itu kalau gk slah dan sekarang udah kesini aja..
    butuh penjelasana detail sih, karna suka banget sama ff ini dan penasaran aja sama keseluruhan ceritanya gimana, apalagi di note eonie bilang yg mau tau part 1 sampe 13 bisa tanya kan makin penasaran aku.. hee

  10. Bingung kol tiba2 sequel. Perasaan terakhir baca part 7
    Ternyataa hehehehheeee

    Penasaran kak sama part 8 s/d ending… Gk akan di posting di sini ya??

  11. Sequelnya bagus thor 😍
    Akhirnya mereka menikah juga setelah mereka mengalami banyak rintangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.