Body, Lips, and Eyes

 

Srakk srakkk

Gratakk gratakk gratakk

Yoona menoleh heran kearah pintu ruangannya ketika suara berisik terdengar saling bersahut-sahutan di sepanjang koridor rumah sakit tempatnya bekerja. Ini pukul sebelas malam, biasanya rumah sakit begitu sunyi di jam-jam seperti ini. Namun malam ini berbeda, di malam yang semakin larut ini ia masih mendengar suara berisik dan juga suara panik yang bercampur menjadi satu bersama suara roda blangkar yang didorong terburu-buru kearah UGD. Merasa penasaran, Yoona memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju pintu ruangannya untuk mengintip apa yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa, kenapa berisik sekali?” Tanya Yoona pada salah satu suster yang kebetulan melintas di depan ruangannya. Suster itu sedikit melirik kearah blangkar yang telah berada jauh di depannya sambil menunjuk pada ceceran darah di lantai di bawahnya.

“Seseorang baru saja melakukan percobaan bunuh diri, ia memotong pergelangan tangannya menggunakan pisau dapur. Untung kekasih pria itu menemukannya sebelum ia mati kehabisan darah.”

“Pria?” Tanya Yoona heran. Ia pikir cara bunuh diri dengan memotong pembuluh darah adalah cara bunuh diri yang hanya dilakukan oleh wanita, ternyata pria pun sama saja. Tekanan hidup pasti adalah salah satu penyebab mengapa mereka memutuskan untuk mengakhiri kehidupan mereka di dunia yang indah ini.

“Mungkin pria itu nantinya akan menjadi pasienmu dokter Im.”

“Oh ya, memangnya ada apa dengannya?”

“Menurut kekasihnya, pria itu beberapa hari terakhir ini terlihat murung. Ia juga memiliki riwayat pernah mengalami depresi parah beberapa bulan yang lalu. Dugaan sementara ia melakukan bunuh diri adalah karena adanya gangguan psikis yang ia alami.” Beritahu suster itu berapi-api. Yoona mengangguk-angguk mengerti dan menolehkan kepalanya kearah ruang UGD yang pintunya baru saja tertutup.

“Semoga pria itu berhasil diselematkan. Sayang jika ia harus pergi dengan cara bunuh diri.” Gumam Yoona kecil sambil berjalan masuk kedalam ruangannya.

-00-

Tokk tokk

Yoona mengetuk pelan pintu kayu bernomor tiga kosong tujuh yang berdiri menjulang di depannya. Sambil mendekap map berisi rekam medik pasiennya, ia membuka pintu itu perlahan dan segera masuk sambil tersenyum kecil kearah sang pasien yang sedang menatap lurus kearah jendela.

“Selamat pagi…”

Yoona memulai kunjungan pertamanya ke ruangan pasien baru itu dengan sapaan hangat dan juga ramah. Namun sedikitpun sapaannya tak dibalas oleh sang pasien yang sejak tadi terus menatap kosong kearah jendela, seperti ada sesuatu yang lebih menarik di sana daripada menyambut sapaan dokter cantik yang pagi ini akan melakukan pemeriksaan psikis padanya.

“Halo, saya adalah dokter yang akan memeriksa kondisi anda pagi ini, bisa kita melakukannya sekarang?”

Yoona sengaja berjalan kearah kiri untuk berdiri langsung di depan pasiennya. Sejak tadi pasien itu tidak sedikitpun menoleh kearahnya, sehingga ia harus lebih banyak mengalah dengan berdiri di sisi kanan ranjang dan menghadap langsung kearah pasien.

“Tuan Lee Donghae, apa anda mendengarkan saya?”

“Ya, aku mendengarnya.”

Akhirnya pria itu membuka suaranya dan mau mengalihkan tatapannya dari pemandangan di luar jendela yang tampak monoton. Sambil tersenyum hangat, Yoona mulai mengambil kursi dan memposisikan dirinya berada di depan Donghae yang saat ini sedang bersandar pada kepala ranjang.

“Tuan Lee, hari ini saya akan memeriksa kondisi anda. Apa anda ingat kenapa saat ini anda berada di rumah sakit?”

“Aku memotong nadiku.” Ucap pria itu datar sambil mengangkat tangannya yang masih diperban dengan rapat. Yoona mengangguk mengerti, kemudian ia segera menuliskannya di dalam kertas rekam medik yang dibawanya.

“Kenapa anda memotong nadi anda?”

“Karena aku bosan mendengar suara berisiknya.”

“Siapa? Kekasih anda?”

“Bukan. Seorang anak kecil yang selalu menghantuiku selama bertahun-tahun.” Jawab Donghae datar. Pria itu tiba-tiba menoleh kearah Yoona, lalu menatap wajah Yoona sambil mengamati gerak gerik Yoona yang sedang menuliskan informasi penting kedalam lembaran kertas di pangkuannya. Dan saat Yoona mendongak, tatapan mata mereka bertemu. Yoona balas menatap manik coklat itu intens sambil menyunggingkan senyum manisnya yang menenangkan. Namun hal itu tak bertahan lama, karena beberapa detik kemudian Donghae langsung menolehkan kepalanya kearah lain untuk menghindari kontak mata dengan dokter cantik di depannya.

“Kau seorang psikiater?”

“Ya, aku seorang psikiater. Hasil pemeriksaan anda tiga hari yang lalu menunjukan bahwa, anda terindikasi mengalami gangguan psikis. Apa sebelumnya anda pernah memiliki masalah yang menyebabkan anda merasa tertekan?”

Hening cukup lama. Donghae terlihat belum mau menceritakan apa yang terjadi padanya. Namun Yoona tetap menunggu dengan sabar sambil menatap pria itu intens dengan mata bulatnya. Dan akhirnya setelah keheningan panjang itu, Donghae memutuskan untuk berkata jujur pada Yoona, terkait masa lalunya yang membuatnya mengalami gangguan.

“Akhir-akhir ini aku merasa stress, kekasihku terus menekanku untuk menikahinya, tapi aku tidak mau.”

“Apakah anda belum siap untuk membangun hubungan rumah tangga bersama kekasih anda?”

“Aku tidak mencintainya. Aku menjadikannya kekasihku karena aku bosan mendengar suara rengekannya satu tahun yang lalu.” Jawab Donghae sambil mengernyitkan dahinya. Yoona melihat Donghae sebenarnya sedikit tidak nyaman ketika menceritakan hal itu padanya. Namun ada hal lain yang sepertinya mengganggu Donghae. Diluar masalah mengenai kekasihnya, Yoona yakin jika pria itu memiliki masalah yang lebih pelik karena gangguan ilusi yang dialami pria itu berwujud seorang anak kecil. Mungkin pria itu pernah melakukan sesuatu di masa lalu yang berhubungan dengan anak kecil. Perlahan-lahan ia akan segera mengorek informasi itu dari Donghae.

“Apa kau ingat siapa nama kekasihmu?”

“Bae Irenne… Ia adalah adik kelasku saat senior high school. Dulu ia memang selalu berusaha menarik perhatianku, tapi aku tidak pernah berminat. Dan satu tahun yang lalu aku dipertemukan lagi dengannya ketika aku sedang bekerja, ia adalah model di majalah tempatku bekerja.”

“Jadi anda bekerja sebagai fotografer?”

“Ya, aku seorang fotografer. Dokter Im, bisakah kau menggunakan bahasa informal? Aku tidak nyaman.” Pinta Donghae. Yoona menganggukan kepalanya mengerti, dan ia pun mulai mengubah aksen bicaranya menjadi lebih santai, seperti sedang mengobrol dengan teman lama.

“Baiklah. Apa aku boleh tahu dimana keluargamu saat ini? Sejak kemarin beberapa suster menanyakan dimana keluargamu, dan kekasihmu sampai saat ini juga belum datang, padahal ia yang membawamu ke sini.”

Donghae terdiam cukup lama dan tak kunjung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Yoona. Pria itu justru kembali bersikap lebih acuh dengan memutar tubuhnya ke kanan, membelakangi Yoona.

“Aku ingin istirahat, bisakah kau keluar dokter Im.”

Yoona menggigit bibirnya kecil, lantas menganggukan kepalanya mengerti. Mengorek informasi pribadi dari seorang pasien memang tidaklah mudah. Terlebih lagi jika pasien itu memiliki trauma di masa lalu yang sulit untuk diungkapkan. Mungkin ia harus melakukan pendekatan secara perlahan agar Lee Donghae mau terbuka padanya dan bersedia menceritakan sumber masalahnya sebelum pria itu memutuskan untuk bunuh diri.

“Baiklah aku akan keluar, selamat beristirahat tuan Lee.”

Yoona berjalan perlahan keluar dari ruang rawat Donghae dan menutup pintu itu dengan pelan, nyaris tak bersuara agar tidak mengusik ketenangan Donghae. Pertemuan singkatnya hari ini dengan Donghae membuatnya yakin jika pria itu memang memiliki masalah serius yang membuatnya mengalami gangguan psikis. Sayangnya ia belum bisa menyimpulkan jenis masalah apa yang sedang disembunyikan oleh pria itu, karena Lee Donghae masih memasang tameng yang cukup besar disekitarnya.

“Permisi, apa kau dokter Im Yoona?”

Yoona menoleh cepat kebelakang dan langsung menemukan seorang pria berambut coklat yang sedang menatapnya dengan tatapan ramah. Pria itu tiba-tiba mengulurkan tangannya di depan Yoona dan berniat untuk mengajak Yoona berkenalan.

“Aku Lee Hyukjae, sepupu dari Lee Donghae.”

“Oh… kau salah satu anggota keluarga tuan Lee, kebetulan sekali.” Ucap Yoona senang. Ia menjabat tangan Hyukjae dengan semangat dan segera mengajak pria itu untuk membicarakan masalah Donghae di ruangannya.

“Sejak tiga hari ini aku selalu bertanya-tanya dimana keberadaan keluarga tuan Lee, dan syukurlah akhirnya kau muncul.”

Yoona mengajak Hyukjae mengobrol santai sembari berjalan menuju ruangannya. Merasa jika usia mereka tidak terpaut jauh, Yoona sengaja menggunakan bahasa informal untuk mengajak pria itu mengobrol santai membicarakan masalah Donghae. Ia benar-benar perlu banyak informasi dari Hyukjae agar ia bisa membantu Donghae keluar dari masalahnya yang pelik.

“Aku sebenarnya baru saja kembali dari Swiss untuk melakukan beberapa pekerjaan di sana, lalu pagi ini aku mendapatkan informasi dari asisten pribadiku jika Donghae dirawat di rumah sakit karena percobaan bunuh diri, apa itu benar?”

“Dari apa yang kudengar, sepertinya memang seperti itu. Terlebih lagi tuan Lee juga mengakuinya saat aku melakukan visit pagi ini, ia mengatakan jika ia baru saja mengiris pergelangan tangannya.”

Desahan napas berat langsung terdengar dari mulut Hyukjae begitu Yoona menyelesaikan kalimat panjangnya terkait Donghae. Sejak dulu sepupunya itu memang aneh. Itulah yang selama ini tertanam di otak Hyukjae hingga ia jarang menjenguk sepupunya yang memilih tinggal di apartemen daripada di rumah utama yang diwariskan padanya. Terkadang ia meminta asisten rumah tangga Donghae untuk melaporkan kondisi Donghae padanya. Namun tetap saja itu tidak membantunya untuk mengetahui bagaimana kondisi Donghae yang sebenarnya. Terlalu banyak misteri yang disimpan oleh Donghae hingga ia sulit untuk mengungkapnya satu per satu.

“Silahkan masuk tuan Hyukjae.”

Yoona mempersilahkan Hyukjae masuk kedalam ruangannya yang rapi dan segera menutup pintu kayu di depannya rapat. Setelah itu ia mulai bersiap untuk duduk di atas singgasanannya yang nyaman sambil memberikan senyuman ramah pada Hyukjae.

“Tuan Hyukjae, sebelumnya aku ingin bertanya, apa kau mengenal Bae Irenne?”

“Entahlah, aku hanya sekedar tahu jika wanita itu adalah kekasih Donghae. Memangnya ada apa dokter Im?”

“Tidak, aku hanya ingin memastikan jika tuan Donghae benar-benar menjawab pertanyaanku dengan jujur. Tapi jika wanita itu kekasihnya, kenapa ia tidak datang menjenguk sejak tiga hari yang lalu, padahal wanita itu yang membawa tuan Donghae ke rumah sakit saat kondisinya kritis.”

Hyukjae mengernyitkan dahinya bingung, lalu ia menggelengkan kepalanya pelan, tanda ia tidak tahu. Sejujurnya ia merasa jika sebutan sepupu diantara mereka hanyalah status belaka karena nyatanya mereka tidak pernah saling menyapa satu sama lain. Lee Hyukjae lebih suka menyibukan diri dengan berbagai pekerjaan yang dilimpahkan Donghae padanya. Jadi, semua hal yang ia dapatkan saat ini adalah milik Donghae. Pekerjaan, harta, rumah, dan seluruh kemewahan yang ia miliki adalah milik Donghae. Sayangnya sepupunya itu menolak semua tanggungjawab itu dan memilih untuk hidup liar sebagai seorang fotografer, sehingga ia yang pada akhirnya mengambil alih semua tanggungjawab itu.

“Sejak dulu Donghae selalu menyimpan banyak rahasia dari kami semua.”

“Apa tuan Donghae adalah orang yang pendiam?”

“Emm… tidak juga. Menurutku Donghae adalah orang yang hangat dan penuh perhatian. Tapi perlahan-lahan ia berubah menjadi pribadi yang tertutup ketika berusia tujuh belas tahun.”

“Apa yang terjadi pada tuan Donghae ketika berusia tujuh belas tahun?” Tanya Yoona ingin tahu. Saat ini ia berharap Hyukjae dapat sedikit memberinya clue agar ia bisa mengambil tindakan untuk menangani Donghae. Ia merasa penanganan Donghae di rumah sakit ini sangat terlambat karena tidak ada satu orangpun yang mengetahui latar belakang Donghae. Kebanyakan perawat hanya sebatas mengenal Donghae sebagai pewaris dari Sheen Group yang selama ini selalu dibicarakan oleh media. Namun lebih dari itu, tidak ada yang mengetahui bagaimana kehidupan Donghae selama ini.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya saat itu. Namun aku pernah melihatnya pulang larut malam dalam keadaan basah kuyup dan kacau. Seragam sekolahnya dipenuhi lumpur dan ada sedikit noda merah di sisi kemejanya. Sejak saat itu, sikap Donghae perlahan-lahan berubah. Ibu Donghae juga tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan setiap kali aku menanyakan kondisi Donghae padanya. Ibu Donghae atau bibiku, justru terlihat berputar-putar saat menceritakan tentang kondisi Donghae. Dan setelah itu aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi karena aku malas mendengar jawaban bibiku yang selalu melenceng dari konteks pembicaraan.”

“Lalu dimana ibunya sekarang? Kenapa ia tidak datang untuk menjenguk anaknya?”

“Ibunya pergi ke China dan memutuskan untuk tinggal di sana bersama dengan kerabatnya setelah ia bercerai dengan suaminya bertahun-tahun yang lalu. Mungkin saat ibunya pergi ke China Donghae berusia sembilan belas tahun.”

“Lalu bagaimana dengan kehidupan tuan Lee selanjutnya setelah kedua orangtuanya berpisah?”

Hyukjae menatap sayu Yoona dan menggelengkan kepalanya pelan kearah wanita itu. Kehidupan Donghae di masa lalu pasca perceraian orangtuanya terdengar begitu menyedihkan untuk diceritakan karena Donghae benar-benar menjadi pribadi yang berbeda setelah kedua orangtuanya bercerai. Namun beruntungnya pria itu masih menjadi ahli waris ayahnya karena ayahnya hanya memiliki satu anak laki-laki, yaitu dirinya. Sedangkan bersama isteri barunya, pria itu tidak memiliki keturunan.

“Ia hancur, ia menjadi Lee Donghae yang liar semenjak ibunya tinggal di China. Selama ini ia memang selalu dekat dengan ibunya, sedangkan dengan sang ayah ia tidak terlalu dekat. Dan setelah kedua orangtuanya bercerai, ayahnya langsung melimpahkan seluruh tanggungjawab perusahaan padanya. Namun ia langsung menolak semua pemberian ayahnya dan memilih untuk bekerja sebagai fotografer, sesuai dengan bidang yang disukainya. Tapi sebelum menjadi seorang fotografer, Donghae sempat menggantikan ayahnya sebagai CEO ketika berusia delapan belas tahun. Sebenarnya Donghae adalah pria yang cerdas karena di usianya yang sangat muda, ia mampu membawa perusahaannya ayahnya menjadi lebih maju. Namun satu tahun kemudian ia memilih untuk mengundurkan diri sebagai CEO dengan alasan yang tidak jelas. Menurut asistennya sebelum Donghae memutuskan untuk mengundurkan diri, ia berkali-kali terlihat melamun di dalam ruang kerjanya sambil menatap ketakutan pada sesuatu yang…. tak kasat mata. Donghae seolah-olah sedang melihat hantu dan terkadang pria itu bergumam sendiri pada udara kosong. Beberapa kali asisten Donghae sempat menanyakan keadaanya dan menyarankan untuk pergi ke dokter jika memang ia merasa tidak enak badan, namun Donghae selalu diam dan hanya mengacuhkan nasihat itu dengan wajah datar. Kira-kira apa yang sebenarnya terjadi pada Donghae, kenapa dari hari ke hari ia semakin aneh.”

“Aku sebenarnya tidak yakin, dan ini hanya dugaan sementaraku.”

Yoona terlihat begitu berat untuk memberitahu hasil analisisnya pada Hyukjae. Tapi melihat keingintahuan Hyukjae yang begitu besar membuat Yoona pada akhirnya memberitahu pria itu jika Donghae kemungkinan sedang mengalami gangguan jiwa.

“Skizofrenia, itu semacam penyakit kejiwaan yang membuat seseorang melihat adanya sosok-sosok mengganggu yang tak kasat mata. Mungkin selama ini tuan Donghae mampu bertahan dengan semua ilusi itu, tapi jika tidak diobati, semakin lama ilusi itu akan menggiring tuan Donghae menjadi pribadi yang aneh di mata orang-orang. Bukankah selama ini ia sering terlihat berbicara sendiri pada udara kosong? Mungkin sebenarnya ia sedang berbicara dengan ilusinya yang tak bisa kita lihat. Dan tadi ia sempat mengatakan padaku jika ia risih mendengar suara anak kecil yang selama ini terus mengganggunya. Kemungkinan besar bentuk dari ilusi yang dilihat oleh tuan Donghae berwujud seorang anak kecil.”

“Maksudmu sepupuku gila?” Tanya Hyukjae tak terima dengan suara nyaring yang begitu mengganggu. Namun Yoona tetap mencoba tenang dengan memberikan senyuman memaklumi sambil mengambil sebuah brosur yang tertata rapi di atas mejanya.

“Saat ini kondisi seperti itu sudah bisa disembuhkan, salah satunya menggunakan obat-obatan seperti ini. Jadi kau tidak perlu khawatir. Tapi aku mohon kerjasamamu tuan Lee untuk mencaritahu penyebab tuan Donghae menjadi seperti ini. Kemungkinan besar tuan Donghae belum bersedia untuk berkata jujur mengenai masa lalunya, jadi saya minta anda untuk mencaritahunya melalui ibunya.” Mohon Yoona penuh harap.

“Baiklah, aka kuusahakan. Tolong beritahu aku bagaimana perkembangan kondisinya.”

Hyukjae menyerahkan selembar kartu nama berwarna hitam kearah Yoona yang langsung diterima Yoona dengan anggukan pelan.

-00-

Di dalam kamar yang sunyi dan gelap itu, Donghae menatap kearah jendela sambil menghela napas berkali-kali atas kesialan hidupnya yang tak berujung ini. Padahal ia telah berencana untuk mengakhiri hidupnya dengan mengiris nadinya, tapi sialnya Irenne justru menemukannya dan berakhir membawanya ke rumah sakit disaat ia berada di ambang batas kesadaran.

“Wanita sialan itu…. sampai kapan ia akan mengacaukan hidupku.” Geram Donghae tertahan. Ia mengepalkan tangannya kuat di atas selimutnya sambil memikirkan rencana untuk menyingkirkan Irenne dari hidupnya. Ia muak hidup bersama Irenne setahun ini karena wanita itu benar-benar cerewet dan menyusahkan. Jika bukan karena terpaksa, ia tidak akan pernah mau menjalin hubungan dengan wanita sialan itu. Semua ini ia lakukan demi menghilangkan rasa traumanya pada kejadian yang sangat buruk di masa lalu. Ia ingin menghilangkan bayang-bayang gadis kecil di dalam kepalanya yang telah ia sakiti dengan sangat dalam, hingga membuatnya tak pernah bisa melupakan bagaimana suara teriakannya ketika merontan, bagaimana tatapan matanya yang memohon untuk dilepaskan, dan bagaimana bibir merah mudanya yang nikmat itu terus bergerak liar untuk menghindari ciumannya yang brutal. Ya, ia pernah melakukan perbuatan buruk pada seorang anak kecil. Ia pernah memperkosa seorang anak kecil berusia sepuluh tahun ketika ia berusia tujuh belas tahun.

Krieettt…

Donghae menoleh cepat kearah pintu kamarnya dan langsung terdiam kaku di tempat. Di sana, di ambang pintu ia melihat anak kecil itu sedang melihat kearahnya dengan air mata penuh kesedihan yang terus mengalir di sepanjang pipi pucatnya. Gadis kecil itu perlahan-lahan berjalan kearah Donghae sambil menyeret kaki-kaki kecilnya yang tampak kotor oleh lumpur. Donghae dapat melihat jejak-jejak tanah basah mulai mengotori lantai kamar rawatnya seiring dengan langkah gadis itu yang mulai mendekat kearahnya.

“Kkau… apa yang kau lakukan di sini?”

Tolong lepaskan aku….. Ibuku akan mencariku. Tolong…

Donghae menutup telinganya rapat-rapat sambil berteriak-teriak keras untuk mengusir gadis kecil itu keluar dari kamarnya. Ia muak mendengar suara rengekan dan tangisan itu terus menerus di telinganya. Ia ingin hidup normal lagi seperti dulu, sebelum gadis kecil itu datang dan mulai menghantuinya.

“PERGI! KAU GADIS SIALAN!”

Donghae bergerak-gerak brutal dan semakin lebih liar ketika ia merasa tangan gadis itu mulai menggapai kakinya. Gadis kecil itu menarik kakinya perlahan hingga kaki kananya kini telah menggantung di ranjang. Kemudian setelah kakinya, gadis kecil itu mulai menggapai tangannya dan menggenggamnya erat dengan tangannya yang dingin hingga membuat Donghae harus mengerahkan tenaga ekstra untuk mendorong gadis kecil itu pergi dari hadapannya.

“Jangan ganggu aku! Pergi!”

“Tuan Lee Donghae.. Donghae!”

Donghae terdiam seketika dengan napas memburu sambil menatap bingung kearah Yoona yang saat ini sedang menahan kedua tangannya di udara. Wanita itu menatap kedua matanya intens sambil menyelami keadaanya yang tampak kacau itu.

“Kau baik-baik saja?”

Donghae diam. Ia tidak menjawab apapun dan hanya menatap manik coklat Yoona sambil mencoba menormalkan orientasinya yang masih terasa kabur. Ia takut apa yang ia lihat saat ini hanyalah sebuah khayalan yang tidak nyata. Namun ketika Yoona mengulurkan salah satu tangannya untuk memegang pipinya barulah ia sadar jika Yoona yang berdiri di hadapannya adalah Yoona yang nyata. Wanita itu bukanlah ilusinya seperti gadis kecil menyeramkan yang selalu menghantuinya selama ini.

“Tenanglah tuan Lee, kau tidak sedang berhalusinasi saat ini. Minumlah.”

Yoona menyodorkan segelas air putih kearah Donghae untuk membantu pria itu menormalkan deru napasnya yang masih memburu. Dengan tangan gemetar Donghae menerima gelas itu dan mulai meminumnya perlahan. Namun karena kedua tangannya masih terasa lemas, gelas itu hampir saja terjatuh ke atas lantai jika Yoona tidak menggenggam tangannya untuk meredakan sensai gemetar yang masih dirasakannya.

“Aku terus mendengarmu berteriak-teriak sambil menyebut gadis sialan, sebenarnya siapa gadis yang kau maksud itu?” Tanya Yoona perlahan setelah dirasa Donghae cukup tenang. Malam ini secara kebetulan ia melewati kamar rawat Donghae untuk kembali ke ruangannya setelah ia melakukan visit malam. Namun tanpa diduga ia justru mendengar suara teriakan nyaring dari dalam kamar rawat Donghae yang sebelumnya terlihat sunyi. Ia kemudian memutuskan untuk melihat apa yang terjadi pada Donghae dan menemukan pria itu sedang berteriak-teriak sambil menendang udara kosong. Gerakannya terlihat seperti sedang mengsir seseorang untuk pergi, namun pria itu sebenarnya sedang mengusir sesuatu yang tak kasat mata.

“Sejak kapan kau berada di dalam kamarku?”

Donghae menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yoona dengan sebuah pertanyaan lain. Pria itu melepaskan tangan Yoona dari pipinya dan mencoba membetulkan letak duduknya yang terlihat hampir merosot ke atas lantai.

“Belum begitu lama. Aku masuk ke dalam kamarmu setelah mendengar suara teriakanmu yang nyaring. Aku awalnya ingin menegurmu karena suaramu dapat mengganggu pasien lain. Tapi tanpa diduga, kau justru terlihat sedang menendang-nendang udara kosong sambil berteriak-teriak mengenai gadis sialan, siapan gadis itu?”

Yoona menghilangkan aksen formalnya di depan Donghae dan memilih untuk menggunakan bahasa informal agar mereka terlihat lebih akrab. Saat ini ia ingin memposisikan dirinya sebagai seorang teman, jadi ia harus bersikap sesantai mungkin layaknya seorang teman yang mampu memahami bagaimana kondisi temannya.

“Aku… gila bukan? Aku mengalami gangguan jiwa karena aku bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.”

“Itu adalah ilusimu, kau hanya melihat bayangan yang kau ciptakan sendiri.” Ucap Yoona lembut. Namun Donghae sepertinya belum puas dengan jawaban Yoona. Raut wajahnya terlihat semakin mendung seiring dengan ingatannya yang memutar banyak kejadian-kejadian abnormal yang sering dialaminya beberapa tahun terakhi ini.

“Aku merasa gadis kecil itu nyata. Menangis meraung-raung di depanku dan memohon padaku untuk dilepaskan. Bagaimana cara menyingkirkan ia dari hidupku? Awalnya aku berpikir untuk mati, karena dengan begitu ia pasti akan hilang bersama dengan jiwaku yang lenyap. Tapi wanita sialan itu justru menyelamatkanku sebelum Tuhan berhasil mencabut nyawaku dari dalam ragaku. Apa yang harus kulakukan untuk mengakhiri semua penderitaan ini dokter Im?” Tanya Donghae datar penuh rasa frustrasi. Melihat Donghae yang menyedihkan membuat Yoona begitu iba pada pria itu. Banyaknya permasalahan yang disembunyikan oleh pria itu membuatnya mengalami depresi hingga pada akhirnya semua kenangan-kenangan paling buruk yang berusaha ia tekan di dalam otaknya muncul dalam bentuk sebuah ilusi yang menyerupai sesosok gadis kecil.

“Siapa gadis kecil yang sering muncul di dalam kepalamu itu?”

“Korbanku.”

“Korban? Kau pernah melakukan kejahatan sebelumnya?”

“Ia adalah gadis berusia sepuluh tahun yang pernah kuperkosa saat aku berusia tujuh belas tahun.”

Yoona terlihat syok dan untuk beberapa saat hingga ia hanya dapat mematung di tempat tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bibirnya terlalu kelu untuk hanya sekedar mengucakan sebuah kata karena ia tidak pernah menyangka jika pria yang terlihat baik seperti Donghae ternyata pernah melakukan sebuah tindakan asusila yang mengerikan pada seorang gadis di bawah umur.

“Kenapa, kau terkejut?”

Donghae menolehkan kepalanya kearah Yoona dan memberikan wanita itu sebuah seringaian yang tampak mengerikan. Namun anehnya Yoona tidak takut dengan hal itu, ia justru membalasnya dengan senyuman lembut miliknya yang mungkin dapat membuat Donghae lebih tenang.

“Aku hanya terkejut. Aku tidak menyangka kau pernah melakukan hal itu. Apa kau ingin menceritakan sesuatu padaku, terkait masa lalumu? Di sini aku akan menjadi temanmu, jadi kau tidak perlu sungkan untuk menceritakan apapun masalah yang sedang kau hadapi.”

“Terimakasih, kau baik sekali dokter Im. Tapi mungkin cerita ini akan terlalu panjang untuk kau dengarkan dan mengganggu waktu tidurmu, apa kau tidak keberatan?”

Yoona menggeleng cepat dan segera mengambil kursi hitam untuk duduk di sebelah Donghae. Mengetahui masa kelam pria itu adalah keinginannya sejak berhari-hari yang lalu. Jadi sedikit mengabaikan waktu tidurnya rasanya tidak masalah demi mendapatkan apa yang ingin ia ketahui.

“Sekarang aku siap untuk mendengarkan ceritamu.”

-00-

Satu minggu berlalu dengan cepat untuk Yoona. Sejak ia mendengarkan semua cerita Donghae mengenai masa lalunya, kini hubungannya dengan Donghae menjadi lebih dekat. Pria itu empat hari yang lalu sebenarnya sudah diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit karena kondisinya sudah stabil. Hanya saja Yoona harus terus menerus memantau kondisi psikis Donghae yang bisa saja mengalami lonjakan drastis karena berbagai masalah yang tiba-tiba muncul. Namun sebelum hal-hal buruk terjadi pada Donghae, ia telah memberikan obat untuk menstabilkan moodnya agar pria itu tidak cepat mengalami euforia atau kesedihan setiap kali mendapatkan tekanan dari lingkungan di sekitarnya. Namun hingga saat ini Yoona belum pernah bertemu dengan kekasih Donghae yang bernama Bae Irenne itu. Donghae sendiri juga tidak menceritakannya dengan detail. Ia hanya sebatas membahas Irenne sebagai kekasihnya yang berisik dan juga menyusahkan karena kerap merengek-rengek di depannya setiap permintaanya tidak dipenuhi. Dan mengenai masa lalunya yang pernah memperkosa seorang gadis di bawah umur, ia akui jika itu adalah pengalaman yang mengerikan. Bahkan dirinyapun langsung merinding saat Donghae menceritakan detail kejadiannya malam itu padanya. Mungkin jika gadis kecil itu saat ini ada, ia bisa memintanya untuk membantu Donghae menyembuhkan ketakutannya. Tapi mungkin gadis kecil itu ini telah beranjak dewasa dan tidak ingin lagi masa lalunya yang buruk diungkit kembali. Terlalu menyakitkan untuk mengingat hal-hal yang sangat mengerikan dimana ia belum mengerti apapun mengenai dunia orang dewasa.

Tok tok tok

“Masuk…”

Yoona menjawab ketukan pintu di ruangannya tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan matanya pada beberapa kertas rekam medik milik pasiennya yang berserakan di atas meja. Namun setelah cukup lama tak ada respon dari sang pengetuk, barulah Yoona mendongakan kepala dan ia langsung menemukan Donghae sedang berdiri di ambang pintu sambil menjinjing tas kameranya.

“Selamat siang dokter Im, maaf mengganggumu.”

“Oh tidak, sama sekali tidak. Aku baru saja memikirkanmu. Bagaimana kondisimu tuan Lee?”

“Panggil aku Donghae, kurasa itu terlalu formal.”

“Baiklah, bagaimana kondisimu Hae? Apa kau masih mendengar suara-suara gadis kecil itu lagi?” Tanya Yoona sambil menaikan alisnya. Ia mempersilahkan Donghae duduk di depannya, lalu kembali menyimak jawaban Donghae yang sedikit berbelit-belit.

“Tidak terlalu, tapi aku masih mendengarnya samar-samar beberapa kali. Namun intensitasnya tidak terlalu sering seperti dulu.”

“Syukurlah kalau begitu. Jangan pernah berpikir untuk bunuh diri lagi karena itu tidak baik. Kau masih memiliki masa depan yang cerah. Ooya, hari ini kita akan melakukan terapi relaksasi agar kau bisa mengontrol emosimu saat kau mulai mendapatkan tekanan-tekanan yang mengganggu. Sebenarnya cara untuk menghilangkan gangguan itu mudah, yaitu kau harus selalu terhindar dari rasa stress dan depresi. Akhir-akhir ini kau mengalami tekanan karena kekasihmu terus memintamu untuk menikahinya bukan? Itu yang menyebabkan kau kembali mendengar suara-suara itu setelah sekian lama kau tidak mendengarnya.”

“Begitukah? Hampir setiap hari aku mengalami stress dokter Im. Tapi kurasa bukan itu yang menyebabkanku tiba-tiba mendapatkan gangguan itu lagi.”

Yoona mengernyit heran dan dengan isyarat wajahnya ia meminta Donghae menjelaskan maksud dari ucapannya yang ambigu itu.

“Rasa bersalahku pada gadis itu sangat besar, begitu juga rasa cintaku padanya juga sangat besar. Aku memperkosanya saat itu bukan hanya dipenuhi napsu semata, tapi karena aku juga menyukainya. Ia adalah seorang gadis kecil yang sering kutemui saat aku kembali dari sekolah. Ia adalah anak dari tetangga pamanku. Dulu karena orangtuaku sering bertengkar, aku memutuskan untuk tinggal di rumah pamanku untuk sementara waktu. Disanalah aku bertemu dengan gadis itu. Gadis kecil polos dengan mata bulat, bibir merah tipis, dan tubuh mungil yang sangat cantik. Setiap sore ia selalu bermain bersama teman-temannya di taman di dekat rumahnya dengan penuh suka cita dan tanpa beban. Melihatnya yang begitu indah diantara teman-temannya membuatku selalu ingin melihatnya lagi dan lagi. Hingga pada suatu malam aku melihatnya sedang berjalan sendiri ketika ia hendak pulang ke rumahnya setelah seharian ia bermain di rumah salah satu temannya.”

“Lalu kau menyergapnya di jalan dan memperkosanya di dalam box telepon…. di tengah badai yang tiba-tiba menerjang Seoul malam itu.” Ucap Yoona melanjutkan cerita Donghae. Pria itu mengangguk. Menyeringai penuh misteri dan tiba-tiba menarik pergelangan tangan Yoona kuat agar wanita itu sedikit condong kearahnya.

“Im Yoona… bukankah itu kau, gadis kecil yang kuperkosa di dalam box telepon umum?” Bisik Donghae seringan kapas, namun berhasil membuat wajah Yoona pucat pasi dan bergidik takut sambil menatap manik coklat Donghae tajam.

End or Next?? Wanna more?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.