Kontratransferensi: Scared To Be Lonely Part 2 (Seven)

 

Satu hari berlalu tanpa seorang pengganggu seperti Donghae membuat hidup Yoona merasa lebih baik. Seharian penuh ia merasa hidupnya lebih ringan karena Donghae tidak menghubunginya sama sekali untuk melakukan sesi curhat yang biasanya akan berakhir dengan kejengkalan untuknya. Selain itu kemarin ia juga tidak mendapatkan klien yang terlalu rumit, sehingga hari ini ia dapat bersantai dan menghabiskan waktu di rumah lebih lama untuk bersenang-senang bersama Aleyna. Namun hari ini mungkin ia akan mendapatkan masalah karena tiba-tiba saja ia mendapatkan pesan lagi dari Lee Seunggi yang memaksanya untuk bertemu. Padahal kemarin ia telah mengabaikan pria itu dengan tidak menjawab puluhan pesan yang dirimkan pria itu padanya. Tapi sekarang pria itu kembali mengirimkan pesan padanya, bahkan menghubunginya dengan suara memaksa agar ia bersedia untuk menemuinya. Hal itu jelas membuat Yoona merasa geram karena sejak awal ia telah menunjukan keengganan pada pria itu. Ia tidak mau terlibat apapun lagi bersama Lee Seunggi. Ia hanya ingin hidupnya bahagia tanpa bayang-bayang pria pengganggu itu.

“Yoona, kau akan menjemput Aleyna?”

Tiba-tiba Jihoo muncul dari balik pintu sambil membawa setumpuk map. Pria itu meletakan map-map yang dibawanya keatas meja Yoona dan memutuskan untuk duduk sejenak di atas kursi klien di depan Yoona.

“Ya, aku akan menjemput Aleyna setengah jam lagi. Itu map apa?” Tanya Yoona sambil menunjuk tumpukan map yang tersusun rapi di depannya.

“Itu kumpulan arsip milik klien. Ngomong-ngomong kau belum memasukan data-data milik klien priamu.” Ucap Jihoo setengah menggoda. Yoona mengernyitkan dahinya bingung kearah Jihoo sambil menuntut penjelasan atas kalimat absurd yang baru saja dilontarkan oleh Jihoo padanya.

“Siapa?”

“Pria yang pergi berkencan denganmu.”

“Astaga! Kami tidak berkencan, kami hanya sekedar makan malam. Kau jangan berlebihan Choi Jihoo.” Ucap Yoona kesal. Selain Yunho, ternyata Jihoo juga menjadi salah paham dengan kedekatannya dengan Lee Donghae. Tapi memang pria itu yang membuat rumit hubungan diantara mereka dengan sering datang mengunjunginya di luar jam praktek konseling.

“Bagiku itu sama saja. Data diri milik pria itu belum ada, kau tidak menggabungkannya bersama data diri klienmu yang lain.”

“Aku membuangnya saat itu karena kupikir aku tidak akan menanganinya lagi. Nanti aku akan membuatnya yang baru setelah ia kembali dari Itali.”

“Oh, jadi ia sedang pergi ke Itali? Kenapa kau sangat tahu jadwalnya?” Goda Jihoo dengan wajah menggoda. Yoona ingin sekali memukul wajah asistennya yang sangat menyebalkan itu dengan map yang bertumpuk di depannya. Kenapa semua orang menganggapnya memiliki hubungan dengan Lee Donghae, padahal kenyataanya mereka selama ini selalu bertolak belakang seperti magnet. Mereka tidak bisa disatukan terlalu lama, karena mereka pasti hanya akan berakhir dengan pertengkaran seperti hari-hari sebelumnya.

“Kau sama saja dengan Yunho oppa yang sering menggodaku memiliki hubungan dengan Lee Donghae, padahal kami tidak memiliki hubungan khusus apapun. Lee Donghae telah memiliki seorang isteri yang cantik, ia tidak mungkin berminat dengan seorang janda sepertiku.”

“Kenapa kau merendahkan dirimu sendiri seperti itu? Bersemangatlah sedikit. Gagal membangun hubungan pernikahan sebanyak dua kali bukanlah akhir dari segalanya. Lihatlah, aku baru saja menemukan berita klienmu di sebuah platform bisnis ternama.”

Jihoo mengangsurkan ponselnya pada Yoona dan menunjukan foto besar Lee Donghae yang sedang menghadiri sebuah acara di Italia. Pria itu dengan wajah datarnya memandang kearah lain sambil menunjukan sorot mata tegasnya yang mengagumkan. Jika seperti itu, Donghae tidak terlihat seperti seorang klien manja yang kemarin malam mendatangi rumahnya dengan wajah kusut yang berantakan. Lee Donghae di foto itu terlihat lebih tampan, berwibawa, dan tampak beribu ribu kali lebih baik dari Lee Donghae super menyebalkan yang selama ini sering ia temui. Andai Donghae memiliki manner yang baik seperti apa yang terlihat di dalam foto itu, mungkin Yoona tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra setiap kali melakukan sesi konsultasi. Dan kemungkinan, ia juga akan menyukai Lee Donghae secara harfiah.

“Ini adalah wajah yang menipu. Jika kau bertemu secara langsung dengannya, kau pasti akan dibuat jengkel sama sepertiku.” Ucap Yoona sedikit mencemooh sambil mengembalikan ponsel hitam itu pada Jihoo. Jihoo mengedikan bahunya acuh tak acuh sambil memasukan ponsel miliknya kedalam saku celana hitamnya. Sebagai seorang rekan yang telah lama mendampingi Yoona, Jihoo akan sangat bahagia jika Yoona segera menemukan seorang pria yang tepat untuk menggantikan posisi Yunho di sampingnya. Terkadang ia merasa kasihan pada Yoona yang sering mendapatkan cibiran dari beberapa orang tak bertanggungjawab terkait masa lalunya dengan Lee Seunggi atau kondisi Yoona yang terlihat kewalahan untuk mengurus Aleyna sendiri di tengah-tengah kesibukannya menjadi konselor. Tapi ia juga tidak yakin jika Yoona akan bersama dengan pria bernama Lee Donghae itu, karena selain pria itu telah memiliki isteri seorang super model yang cantik, Yoona juga tidak mungkin akan menjadi perusak hubungan rumah tangga orang lain karena Yoona selalu mematuhi setiap kode etik yang telah ditetapkan oleh para tetua organisasi mereka. Ia adalah salah satu terapis yang sangat tegas bila menyangkut masalah kode etik. Hanya saja akhir-akhir ini ia merasa jika Yoona mulai terlihat goyah dengan aturan-aturan yang mengikatnya itu. Yoona yang sebelumnya tidak pernah menerima sesi konseling di luar jam kantornya, kini mulai melakukan hal itu. Bahkan dari apa yang ia dengar dari Aleyna, pria bernama Lee Donghae itu juga pernah menginap di rumah Yoona beberapa hari yang lalu.

“Yoona…”

Yoona menghentikan aktivitas beres-beresnya sejenak dan menatap Jihoo penuh tanda tanya ketika pria itu tiba-tiba memanggilnya dengan nada serius.

“Ah tidak jadi, lanjutkan saja kegiatanmu. Bukankah kau harus menjemput Aleyna sekarang?”

“Ada apa? Kau aneh sekali.”

“Bukan apa-apa. Ini bukan masalah serius, mendadak aku lupa apa yang ingin kutanyakan padamu.” Bohong Jihoo beralasan. Sebelumnya ia ingin menanyakan masalah Lee Donghae yang menurut Aleyna pernah menginap di rumahnya. Tapi kemudian ia membatalkan niatnya tersebut karena ia merasa itu terlalu mencampuri urusan pribadi Yoona. Seandainya itu masalah penting, Yoona pasti akan menceritakannya secara langsung padanya seperti masalah-masalah sebelumnya. Tidak ada yang ditutup-tutupi diantara mereka. Ia dan Yoona sudah seperti sepasang kakak dan adik. Jadi jika Yoona tidak menceritakan apapun padanya, itu berarti memang tidak tidak ada apapun yang perlu dikhawatirkan.

“Aku pergi dulu, jika ada yang mencariku untuk melakukan terapi pindahkan jamnya di jam setengah dua siang karena aku dan Aleyna akan pergi ke supermarket terlebihdahulu untuk berbelanja bulanan.” Pesan Yoona sebelum menghilang dibalik pintu. Jihoo mengangguk paham. Ia kemudian segera mengeluarkan ponselnya untuk membalas pesan singkat dari Lee Seunggi yang satu jam yang lalu mendatanginya untuk membuat janji dengan Yoona. Untung saja satu jam yang lalu Yoona masih melakukan sesi terapi bersama seorang pasien, sehingga pria itu gagal bertemu dengan Yoona. Dan sekarang pria itu terus menghubunginya untuk menanyakan kapan sesi terapi itu akan berakhir agar ia dapat menemui Yoona. Namun karena ia tidak menyukai Lee Seunggi, maka ia sedikit memanipulasi pesan singkatnya pada pria itu agar ia tidak bisa bertemu dengan Yoona siang ini.

Kuharap kau tidak mengganggu kehidupan Yoona lagi Lee Seunggi ssi.

            Batin Jihoo kesal sambil menekan tombol send pada layar ponselnya yang sedang menampilkan sederet pesan singkat untuk Lee Seunggi.

-00-

Di ruangan yang sepi itu, Jessica berkali-kali menghembuskan napasnya keras sambil menempelkan benda persegi itu di sisi telinganya. Sejak siang tadi ibunya terus menghubunginya untuk menanyakan masalah cucunya yang hingga saat ini belum ditemukan. Padahal Jessica telah berada di Korea sejak berminggu-minggu yang lalu. Ibunya merasa Jessica tidak melakukan tugasnya dengan benar di Korea dan hanya menyibukan diri sebagai seorang guru TK yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dilakukan oleh Jessica.

“Bersabarlah eomma, aku sedang berusaha. Saat ini petugas catatan sipil sedang melacak data-data milik Jung Nicole yang telah menghilang sejak empat tahun yang lalu. Aku juga sama seperti eomma, ingin segera bertemu dengan keponakanku, tapi aku tidak bisa melakukan apapun jika data-data mengenai Jung Nicole belum didapatkan. Bahkan selama ini oppapun tidak tahu dimana keberadaan isterinya. Dan oppa hanya sebatas meninggalkan surat wasiat dan foto mantan isterinya yang tengah hamil tujuh bulan. Menurut eomma apa aku bisa menemukan Jung Nicole dengan cepat jika data-data yang diberikan Jiwon oppa hanya sebatas itu?” Ucap Jessica berapi-api menumpahkan seluruh rasa kesalnya pada sang eomma. Sejak kemarin ia sudah terlalu jengah dengan seluruh omelan ibunya yang membuat telinganya panas. Ibunya tidak pernah mau tahu mengenai keadaannya di Seoul yang serba terbatas. Ia tidak bisa bergerak kemanapun jika ia tidak memiliki data-data mengenai Jung Nicole dengan lengkap. Dan saat ini ia pun masih menunggu hasil pencarian dari petugas catatan sipil yang entah kenapa terasa sangat lama untuknya.

“Pokoknya kau harus segera mencari dimana keberadaan cucu eomma. Eomma sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya, bertemu dengan satu-satunya darah daging Jiwon yang tidak pernah dilihat oleh Jiwon semasa hidupnya karena Tuhan sudah terlebihdulu mengambilnya dari kita.” Isak nyonya Jung pelan. Jessica tiba-tiba merasa menyesal karena sempat meluapkan seluruh rasa kesalnya pada ibunya. Padahal apa yang terjadi pada ibunya semata-mata karena ibunya sudah terlalu lama memendam kesedihan akibat kematian kakak laki-lakinya yang bernama Jung Jiwon. Empat tahun yang lalu ia mendapati Jiwon kembali ke Amerika setelah memberitahukan kabar mengenai perceraiannya dengan isterinya. Ia yang saat itu tidak tahu mengenai penyakit radang otak yang diderita oleh kakaknya sempat menyalahkan kakaknya yang tiba-tiba mengambil keputusan gegabah dengan menceraikan isterinya begitu saja. Namun setelah satu bulan Jiwon berada di Amerika dan mulai menunjukan tanda-tanda penyakitnya, barulah Jessica sadar jika kakaknya melakukan hal itu karena tidak ingin membuat isterinya sedih dan stress. Terlebih lagi isteri dari kakaknya itu sudah berada di bulan-bulan genting mendekati hari persalinan. Sayangnya kondisi Jiwon selama di Amerika terus mengalami penurunan. Dokter mengatakan jika Jiwon mengalami radang otak sekaligus telah terinfeksi oleh virus berbahaya yang perlahan-lahan menggerogoti sistem kekebalan tubuhnya. Dengan napas yang pendek-pendek, malam itu Jiwon menitipkan surat wasiat padanya untuk mencari dimana keberadaan isteri dan juga anaknya setelah ia tidak lagi berada di dunia. Dan seminggu kemudian setelah memberikan surat wasiat itu, Jiwon benar-benar pergi meninggalkan seluruh keluarganya bersama dengan penyakit yang terus menggerogoti tubuh lemahnya. Jessica yang saat itu merasa terpuruk merasa belum siap untuk memberikan kabar duka itu pada mantan isteri kakak tertuanya, sehingga ia memutuskan untuk mencari waktu yang tepat untuk pergi ke Seoul dan menemukan kakak iparnya yang menghilang. Tapi niat Jessica untuk menemukan kakak iparnya itu terus mengalami penundaan karena kebetulan juga harus menyelesaikan masa studinya yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Barulah tiga tahun kemudian setelah sang kakak pergi, Jessica baru benar-benar merealisasikan keinginan sang kakak untuk mencari isteri dan juga anaknya. Meskipun memang sudah sangat terlambat, tapi Jessica berharap kakak iparnya dan juga keponakannya akan menerima kedatangannya nanti saat ia membawa sebuah kabar yang sangat buruk untuk disampaikan.

“Eomma, aku pasti akan terus berusaha untuk mencari keberadaan Jung Nicole dan keponakanku. Sekarang biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku di sini terlebihdahulu. Sore nanti aku akan kembali ke kantor catatan sipil untuk menanyakan masalah keberadaan Jung Nicole.”

“Baiklah, eomma akan menunggunya dengan sabar di sini. Jaga dirimu baik-baik, sampai jumpa.”

Jessica mematikan sambungan teleponnya dan segera merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku setelah berjam-jam berdebat alot dengan ibunya yang terus mendesaknya untuk menemukan Jung Nicole dan keponakannya.

Drrt drrt

Jessica melirik malas ponselnya yang kembali berdering di depannya. Ia pikir ibunya kembali menghubunginya untuk mengatakan sesuatu yang mungkin terlupakan. Namun ketika nama salah satu petugas catatan sipil muncul di layar ponselnya, ia cepat-cepat menyambar ponsel kuningnya untuk menjawab panggilan penting yang mungkin saja akan memberikan kabar terbaru mengenai Jung Nicole.

“Halo!” Sapa Jessica tidak sabar dan terkesan seperti membentak. Wanita itu terlihat tidak bisa menyembunyikan kegirangan hatinya kala salah satu petugas catatan sipil akhirnya menghubunginya sore ini.

“Selamat sore nona Jessica, kami dari petugas catatan sipil ingin memberikan kabar mengenai keberadaan nyonya Jung Nicole yang telah menghilang sejak empat tahun yang lalu.”

“Ya, jadi bagaimana? Dimana keberadaan kakak iparku sekarang dan juga keponakanku?”

Jessica ranya benar-benar tidak sabar dan ingin melewati semua omong kosong sang petugas catatan sipil yang terkesan seperti bertele-tele di depannya. Tapi wanita itu mencoba bersabar dengan tetap menunggu hingga petugas catatan sipil itu menyampaikan semua informasi yang mereka dapat kepadanya.

“Jadi setelah kami melakukan penelusuran melalui seluruh daftar riwayat hidup milik nyonya Jung Nicole, kami menemukan sebuah catatan kematian yang menyebutkan jika nyonya Jung Nicole telah meninggal sejak empat tahun yang lalu.”

“Apa? Kalian pasti bercanda.” Ucap Jessica tidak percaya. Wanita itu langsung terlihat pucat sambil meremas pinggiran meja dengan kuat untuk meredakan kesesakan hatinya yang tiba-tiba melingkupinya. Ia sudah mencari Jung Nicole hingga sejauh ini. Dan ia tidak bisa menerima jika Jung Nicole dengan mudahnya dinyatakan telah meninggal hanya karena selembar catatan kematian. Ia tidak bisa menerima hal itu!

“Beberapa hari ini kami melakukan penelusuran untuk mencari daftar riwayat hidup nyonya Jung Nicole, dan kemudian kami menemukan catatan kematian itu di dalam arsip-arsip negara yang telah lama di simpan di dalam brangkas arsip. Nyonya Jung Nicole dinyatakan meninggal empat tahun yang lalu karena bunuh diri.”

“Ii itu tidak mungkin. Bagaimana bisa?” Tanya Jessica lemas sambil bersandar pada dinding dingin di belakangnya. Seluruh harapannya selama ini tiba-tiba menguap begitu saja ke udara dan menyebabkan kedua kakinya gemetar karena terlalu lemas. Sebersit rasa menyesalpun muncul di dalam hati Jessica karena dulu ia tidak segera mencari keberadaan Jung Nicole hingga sekarang Jung Nicole telah dinyatakan meninggal karena bunuh diri.

“Di dalam surat kematian itu tidak ditulis lebih lanjut mengenai penyebab nyonya Jung Nicole melakukan bunuh diri, tapi jika anda menginginkan untuk dilakukan penyelidikan, kami bisa merekomendasikan anda untuk melaporkan hal ini pada badan penyelidikan negara. Disana anda akan dibantu untuk menemukan penyebab kematian dari nyonya Jung Nicole.”

“Lalu dimana keberadaan keponakanku sekarang?” Tanya Jessica dengan suara lirih. Tak bisa ia bayangkan bagaimana hancurnya eommanya nanti saat mengetahui jika menantunya telah meninggal. Eommanya pasti akan sangat kecewa karena ia tidak bisa melihat cucu yang selama ini selalu ia nantikan siang dan malam.

“Untuk saat kami tidak mengetahui dimana keberadaan keponakan anda. Tapi kemungkinan keponakan anda juga telah meninggal bersana nyonya Jung Nicole.”

Setelah mendengar serentetan berita buruk itu, Jessica rasanya tidak sanggup lagi melanjutkan percakapannya dengan sang petugas catatan sipil terlalu lama. Ia merasa sangat sakit saat mengetahui semua kebenaran itu. Dan harapannya untuk bertemu dengan satu-satunya pemilik gen dari kakaknya musnah. Ia tidak akan pernah bisa bertemu dengan keponakannya jika apa yang dikatakan oleh petugas catatan sipil itu benar. Keponakan mungkin memang telah pergi bersama kakak iparnya yang malang, Jung Nicole.

“Aaaku ingin tahu penyebab kematian kakak iparku lebih lanjut. Tolong bantu aku untuk mendapatkan semua informasi itu. Kumohon.” Isak Jessica kecil di ujung telepon. Petugas catatan sipil itu kemudian merekomendasikan Jessica untuk mendatangi kantor badan penyelidikan negara agar ia dapat mendapatkan informasi yang lebih detail mengenai penyebab kematian kakak iparnya dan juga kejelasan mengenai dimana keberadaan keponakannya sekarang. Apakah keponakannya telah meninggal ataukah keponakannya masih hidup di suatu tempat di Korea?

-00-

Sore itu langit begitu kelabu dan mendung. Rintik-rintik hujan mulai jatuh perlahan-lahan membasahi tanah Seoul yang dingin. Yoona, wanita itu menatap rintikan hujan yang mulai membasahi pekarangan rumahnya dengan wajah mendung karena sore ini ia tidak bisa berjalan-jalan bersama Aleyna sesuai dengan rencananya siang tadi. Padahal ini adalah kesempatan bagus dimana ia kebetulan tidak sedang mendapatkan banyak klien dan ia juga terbebas dari si pembuat onar Lee Donghae yang menyebalkan. Tapi mungkin Tuhan belum mengijinkannya untuk pergi bersenang-senang, sehingga sore ini ia hanya menghabiskan waktu di rumah bersama Aleyna sambil memasak sup jamur hingga membuat dapur indahnya kotor karena ulah Aleyna.

“Eomma, ayo kita bermain hujan di luar.”

Tiba-tiba Aleyna muncul di sampingnya dengan setelan jas hujan bergambar kodok yang membungkus seluruh tubuh mungilnya. Yoona yang melihat itu hanya mampu berkacak pinggang sambil bersiap untuk memarahi Aleyna agar segera melepaskan jas hujannya. Namun sebelum ibunya itu mengamuk dan mengeluarkan serangkaian kata-kata berisiknya, Aleyna segera berlari keluar rumah sambil mengeluarkan tawa kerasnya yang terkesan mengejek.

“Aleyna! Cepat masuk, jangan bermain hujan di luar.” Teriak Yoona spontan ketika Aleyna mulai menari-nari dengan gerakan acak di depan teras rumahnya sambil menikmati guyuran hujan yang mulai deras. Yoonapun segera menyambar payung birunya dan menyusul Aleyna ke teras rumah untuk menyeret gadis kecil itu masuk ke dalam rumah. Ia tidak mau mengambil resiko Aleyna terkena demam keesokan paginya karena terlalu asik bermain hujan seperti dulu. Meskipun Aleyna telah menggunakan jas hujan sekalipun, hal itu tidak menjamin bahwa tubuh Aleyna akan tetap kering dan hangat.

“Ayo masuk, jangan bermain-main hujan seperti itu Aleyna Jung.” Geram Yoona kesal sambil mencoba menarik tangan Aleyna masuk.

“Eomma, aku ingin bermain hujan. Sudah lama aku tidak bermain hujan seperti dulu bersama Yunho appa.” Protes Aleyna kesal. Ia dengan keras kepala tetap bertahan di tempatnya untuk menikmati guyuran hujan yang semakin deras. Sementara itu Yoona terlihat sudah jengkel di sebelahnya dan berniat untuk menggendong tubuh mungil Aleyna dan memaksa gadis itu masuk kedalam rumah. Namun sebelum ia benar-benar mengangkat tubuh Aleyna untuk masuk kedalam rumah, sebuah suara menginterupsi gerakannya dan membuatnya terdiam kaku di tempat dengan berbagai macam pikiran yang menari-nari di kepalanya.

“Yoona…”

Tiga orang itu secara bersamaan memanggil nama Yoona dan menoleh satu sama lain ketika tanpa diduga bibir mereka meneriakan nama sang wanita yang kini sedang berdiri kaku di depan mereka dengan wajah terkejut.

“Yoona, apa yang kau lakukan di tengah hujan seperti ini?”

Menyadari adanya kecanggungan diantara mereka, Yunho mulai berinisiatif untuk menyapa Yoona terlebihdahulu. Setidaknya ia perlu membuat Yoona tidak merasa canggung dengan kedatangan mereka yang tanpa sengaja bisa datang diwaktu yang bersamaan.

“Aku sedang memaksa Aleyna untuk masuk ke dalam rumah. Apa yang kalian lakukan di sini, Yunho oppa, Lee Donghae ssi, dan Lee Seunggi ssi?” Tanya Yoona heran. Hari ini ia benar-benar tak menyangka jika ketiga pria itu akan datang secara bersamaan di rumahnya. Dan parahnya, mereka bertiga datang disaat yang tidak tepat, dimana ia sedang dalam mode sebagai ibu rumah tangga yang lusuh, yang hanya menggunakan kaus kebesaran dan juga celana pendek di atas lutut.

“Kami kebetulan bertemu di depan. Aku baru saja tiba dari Itali.”

“Aku baru saja tiba dari Daegu.”

“Dan aku baru saja selesai syuting drama.”

Ketiga pria itu tanpa diminta menyebutkan agenda mereka masing-masing yang sebenarnya sama sekali tidak penting untuk Yoona. Lagipula untuk apa ia mengetahui jadwal mereka bertiga? Itu semua tidak akan membantunya agar cepat kaya. Justru ia sekarang dibuat pusing dengan kecanggungan yang terasa seperti mencekiknya. Mereka bertiga masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda. Yunho yang datang karena mungkin merindukan Aleyna, lalu Donghae yang datang karena ingin melakukan sesi konseling seperti biasa, dan Lee Seunggi yang mungkin datang karena ingin mengorek masa lalu Aleyna. Dengan adanya tiga kepentingan yang berbeda seperti itu, apa yang harus ia lakukan sekarang? Bahkan setelah sepuluh menit pria-pria itu datang ke rumahnya, ia sama sekali belum mempersilahkan mereka masuk dan justru membiarkan mereka terkena sedikit cipratan air hujan yang mengalir dari atap rumahnya.

“Yunho appa, ayo kita bermain hujan.” Ajak Aleyna bersamangat sambil menarik tangan Yunho untuk ikut bersamanya berlarian di sekitar halaman rumahnya yang tak beratap. Gadis kecil itu kemudian juga menarik tangan Donghae yang kebetulan sedang berdiri di sebelah Jung Yunho.

“Paman Donghae juga harus ikut bermain hujan denganku.” Ucap Aleyna sedikit memaksa. Kedua pria itu lantas memberikan tatapan penuh keteduhan pada Aleyna sambil memberikan pengertian pada gadis kecil itu agar tidak bermain-main hujan karena sejak tadi Yoona sudah memberikan tatapan penuh peringatan pada mereka berdua.

“Sayang, sebaiknya kita masuk kedalam dan meminum coklat panas buatan eomma yang lezat. Yoong, bukankah kau membuat kue?”

Dengan gelagapan Yoona langsung menganggukan kepalanya kaku pada Yunho agar Aleyna bersedia untuk masuk ke dalam rumah. Padahal ia sebenarnya tidak sedang membuat kue apapun. Tapi ia bisa saja membuat kue secara kilat jika Aleyna memang menghendakinya.

“Kue? Aleyna suka kue. Ayo eomma kita makan kue.”

Gadis kecil itu dengan girang langsung menarik tangan Yoona untuk masuk kedalam rumah dan meninggalkan appa serta kedua pamannya begitu saja di luar rumah. Yunho yang merasa lebih memiliki kuasa di rumah itu dengan inisiatif sendiri langsung mengajak dua tamu Yoona untuk masuk ke dalam rumah. Meskipun ia sebenarnya tidak menyukai keberadaan Lee Seunggi di sana. Sejak tadi ia meras Lee Seunggi terus memberikan tatapan kelaparan pada Yoona dan Aleyna dengan gelagat yang sedikit mencurigakan. Sedangkan Lee Donghae, ia tidak memiliki masalah apapun pada pria itu. Ia justru senang dan ingin melihat interaksi langsung diantara keduanya dan ingin mencari tahu, hubungan jenis apa yang sedang dikembangkan oleh mereka berdua saat ini. Meskipun Yoona telah menyangkal dan memberikan bukti konkret jika mereka tidak memiliki hubungan apapun, tapi ia tetap tidak mempercayai ucapan Yoona. Baginya kedekatan Yoona dan Donghae yang tidak biasa itu telah menyiratkan sebuah kecurigaan di benak Yunho.

“Seunggi ssi, apa yang membawamu datang ke sini? Kenapa kebetulan sekali.” Tanya Yunho mencoba berbasa basi. Donghae yang tidak paham dengan jenis kedekatan antara Yunho dan Seunggi memilih untuk diam sambil memperhatikan dua pria itu memberikan tatapan tajam satu sama lain. Namun meskipun ia tidak tahu hubungan apa yang terjalin diantara keduanya, setidaknya ia tahu bagaimana latar belakang mereka selama ini. Jadi sedikit banyak Donghae dapat menyimpulkan jika kedua pria itu saat ini sedang berebut perhatian dari Yoona.

“Hanya sedikit masalah di masa lalu yang belum terselesaikan. Lalu bagaimana denganmu Lee Donghae ssi?”

Donghae yang namanya tiba-tiba disebut menjadi tidak suka pada Lee Seunggi. Padahal sejak tadi ia tidak mencampuri urusan mereka berdua, tapi pria itu dengan menyebalkannya ikut menyeretnya kedalam pusara masalah mereka yang sama sekali tidak ia ketahui.

“Aku adalah salah satu klien Yoona, dan aku ke sini untuk mendiskusikan sesuatu dengan Yoona.”

“Ya, Lee Donghae adalah salah satu klien yang sedang ditangani oleh Yoona, wajar jika ia datang ke sini. Sedangkan kau, aku tidak yakin kau pernah mendiskusikan masalahmu pada Yoona, jadi seharusnya kau tidak memiliki kepentingan apapun di sini.” Ucap Yunho sakarstik. Entah mengapa Donghae merasa jika Yunho saat ini sedang berada di pihaknya. Dan ia sangat bersyukur atas hal itu.

“Aku memiliki sebuah urusan penting dengan Yoona, jadi aku membutuhkan Yoona sekarang.” Ucap Seunggi mulai terpancing emosi. Mereka bertigapun akhirnya bersama-sama masuk kedalam ruang tamu rumah Yoona dengan berbagai perasaan tidak suka yang berkecamuk di dalam hati mereka. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Seunggi dan Yunho. Sedangkan Donghae, ia tidak merasakannya. Ia justru merasa gusar dengan kedua pria dewasa di depannya yang bertingkah seperti seorang anak-anak yang sama sekali tidak mencerminkan pribadi pria dewasa. Seharusnya saat ini Yoona bersikap tegas dengan mengusir dua orang itu karena suasana disekitarnya mulai tidak kondusif karena adanya aura peperangan yang menguar dari tubuh Yunho maupun Seunggi. Ia kemudian berinisiatif untuk pergi meninggalkan mereka berdua untuk menyusul Yoona ke dapur. Rasanya benar-benar tidak enak menjadi satu-satunya pria waras diantara dua pria sakit jiwa yang sedang berebut perhatian dari Yoona.

“Maaf, sepertinya aku harus ke kamar kecil.”

“Oh silahkan, kamar kecil ada di sisi kiri setelah pintu itu.” Ucap Yunho mengarahkan. Donghae berdecih kesal dalam hati dan hanya memberikan anggukan kecil pada Yunho. Padahal ia sebenarnya sudah sangat hafal semua seluk beluk rumah Yoona karena ia pernah menginap sekali di sini. Hanya saja ia tidak mau menambah keributan dengan dua pria sakit jiwa itu jika ia mengatakan pada mereka jika sebenarnya ia pernah menginap di rumah Yoona sekali.

“Yoona, kenapa kau tidak menemui mereka?”

Donghae tiba-tiba mencekal lengan Yoona yang sedang sibuk membuat adonan kue di dapur bersama Aleyna. Wanita itu sepertinya memang sengaja berlama-lama di dapur karena ia sangat tahu apa yang akan terjadi pada kedua pria masa lalunya jika dipertemukan dalam satu ruangan.

“Aku malas. Lee Seunggi pasti ingin membahas masalah Aleyna, sedangkan Yunho oppa sangat tidak menyukai Lee Seunggi. Jadi bisa kau bayangkan sendiri bagaimana ini akan berakhir.” Ucap Yoona dengan nada sedikit frustrasi. Setelah itu ia kembali berkutat dengan adonan kuenya yang hendak ia masukan kedalam oven.

“Tapi kau harus segera mengambil tindakan karena mereka mulai mengeluarkan aura peperangan yang sangat mengganggu. Lagipula jika kau tidak segera mengusir mereka pergi, kita tidak bisa melakukan sesi konseling sekarang.”

“Kau yakin ingin melakukan sesi konseling saat ini? Kau tidak lelah? Bahkan kau baru saja kembali dari Itali.” Tanya Yoona tak habis pikir. Donghae menggeleng tegas dan mengatakan pada Yoona jika ia baik-baik saja. Justru saat ini ia sebenarnya sedang dalam keadaan dilema karena beberapa hari kemarin Jihyun terus menghubunginya untuk meminta maaf karena saat itu ia tidak menjawab telepon darinya dan justru pria lain yang harus mengangkat panggilan darinya. Namun setelah mendapatkan telepon dari Jihyun ia justru merasa aneh. Ia yang seharusnya merasa marah pada Jihyun karena telah bersenang-senang bersama pria lain di belakangnya, justru sekarang merasa biasa-biasa saja ketika Jihyun menghubunginya untuk melakukan klarifikasi. Ia terkesan masa bodoh terhadap keadaan Jihyun saat ini dan tidak terlalu ambil pusing dengan kejadian beberapa hari yang lalu.

“Aku meras aneh dengan perasaanku saat ini. Aku sepertinya telah kehilangan perasaanku untuk Jihyun.”

“Apa? Kau tidak mencintai Jihyun lagi?”

“Entahlah, aku tidak bisa mengatakan aku tidak mencintai Jihyun. Tapi aku juga tidak bisa mengatakan jika saat ini aku memikirkan Jihyun. Jadi aku seperti sedang berada di ambang kebingungan, apakah aku masih peduli pada Jihyun atau tidak.”

“Ya ampun, kenapa kau rumit sekali. Kau ini seorang pria, tapi kenapa kau justru memiliki perasaan seperti wanita.” Cibir Yoona kesal. Ia sekarang menjadi bingung dengan kliennya yang semakin hari semakin aneh. Ada saja masalah-masalah baru yang Donghae keluhkan padanya. Ia sepertinya telah memecahkan rekor sebagai klien terumit sepanjang ia menjadi seorang kosenlor selama ini.

“Jadi seperti itukah cara seorang konselor menilai kliennya? Kau benar-benar tidak netral.”

“Ck, aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya. Lagipula saat ini kita sedang tidak dalam sesi konseling. Di sini aku hanya seorang wanita biasa.” Kilah Yoona penuh kemenangan. Donghae mencibir kesal pada Yoona dan memilih untuk ikut bermain-main adonan bersama Aleyna. Melihat Aleyna yang begitu sibuk memasukan adonan kedalam loyang cup cake kecil dan memberikan hiasan di atasnya membuat Donghae gemas. Ia ingin sedikit menggoda Aleyna dan meramaikan suasana memasak kue antara ibu dan anak itu.

“Apa yang sedang kau lakukan Aleyna?”

“Akhhh paman!”

Aleyna berteriak kesal ketika Donghae dengan jahilnya mencolek hidungnya dengan telunjuk yang penuh dengan adonan coklat, sehingga saat ini ujung hidung Aleyna menjadi kotor terkena adonan.

“Kau terlihat serius sekali, paman gemas padamu.” Ucap Donghae terbahak-bahak. Aleyna lalu mengusap ujung hidungnya dengan kaus putih yang ia gunakan dan membuat Yoona langsung berteriak panik karena gadis kecil itu telah berlaku jorok.

“Astaga kalian!” Ucap Yoona geram. Ia segera meraih tisu di dekatnya untuk membersihkan sisa adonan coklat di lengan kaus Aleyna. Tapi percuma saja hal itu ia lakukan karena noda coklat itu terlanjur menempel di sana dan tidak mungkin akan hilang.

“Ini hanya sekedar baju, kenapa kau marah seperti itu?”

“Hanya sekedar baju kau bilang? Aku yang mencucinya. Noda ini akan sangat sulit untuk dihilangkan.” Geram Yoona kesal. Donghae yang melihat itu hanya tertawa-tawa kecil sambil mengambil alih tisu yang digunakan Yoona untuk mengelap noda coklat dari ujung lengan Aleyna. Pria itu dengan telaten mencoba membersihkan sisa-sisa adonan yang masih menempel di sana lalu berjanji pada ibu muda itu jika ia akan membelikan kaos putih yang baru.

“Kita bisa membelinya lagi lain waktu. Sayang, kau mau membeli baju baru bersama paman?” Tanya Donghae penuh provokasi. Aleyna yang sangat menyukai baju baru langsung mengangguk setuju dan berteriak girang. Gadis kecil itu refleks memeluk tubuh Donghae dan membuat sebagian kemeja biru muda itu kotor terkena adonan coklat yang menempel dari jari-jari Aleyna.

“Hahahaa…. Rasakan!”

Yoona tertawa puas melihat raut kesal Donghae karena kemejanya sekarang terlihat kotor. Pria itu lalu berdecak kesal dan segera menarik tisu sebanyak-banyaknya dari kotak tisu di samping Yoona untuk menghilangkan noda coklat yang tidak mungkin akan hilang itu.

“Bukankah kau masih bisa membeli kemeja itu lagi? Jadi tidak perlu dibersihkan. Orang kaya sepertimu bahkan bisa membeli butik dan desainernya sekaligus.” Ejek Yoona terdengar menyebalkan.

“Diamlah! Aku tidak membawa pakaian, asistenku telah membawa koporku pulang. Sekarang bagaimana aku bisa bertahan dengan pakaian kotor seperti ini?”

“Ck, dasar berlebihan. Bukankah kau masih memiliki kemeja di sini? Kau ingat saat kau mabuk kemarin, aku sudah mencucinya.” Ucap Yoona santai.

“Kalau begitu ambilkan kemejaku sekarang, aku tidak suka melihat kemejaku kotor seperti ini.” Perintah Donghae menyebalkan. Yoona kemudian beranjak untuk mencuci tangannya sambil menggerutu sebal dengan sikap Donghae yang terlihat semena-mena itu.

“Rupanya kau di sini, aku mencarimu di toilet.”

Tiba-tiba Yunho muncul diantara mereka dan memergoki Donghae sedang berdiri di samping Yoona yang sedang membersihkan sisa noda coklat di kemejanya.

“Aku kebetulan melihat mereka membuat kue, jadi aku memutuskan untuk menyusul mereka karena aku gemas melihat keseriusan Aleyna menghias kue-kuenya.” Ucap Donghae beralasan. Padahal alasannya berada di sana karena ia ingin menyusul Yoona. Ia muak berada di tengah-tengah dua pria tidak waras yang sejak tadi tampak seperti sedang berebut perhatian dari Yoona.

“Yoong cepatlah kau temui Lee Seunggi agar ia segera pergi dari sini, aku muak melihatnya.”

Yunho tiba-tiba berucap ketus dan menarik tangan Yoona mendekat kearahnya agar segera mengikutinya menemui Lee Seunggi. Namun wanita itu tampak berhenti sebentar sambil memberikan kode pada Donghae untuk mengambil kemejanya sendiri di lemari pakaian di kamarnya.

“Suruh Aleyna untuk menemanimu mengambil kemejamu di kamarku, aku meletakannya di sana.”

“Ada apa dengan kemejanya?” Tanya Yunho heran yang sejak tadi tidak menyadari jika kemeja Donghae sangat kotor terkena adonan coklat.

“Aleyna memeluknya dengan tangan penuh dengan adonan coklat. Sekarang kemejanya menjadi kotor.” Tunjuk Yoona pada setengah kemeja Donghae yang telah dipenuhi oleh noda coklat. Pria bermarga Jung itu kemudian mengangguk mengerti dan segera menarik tangan Yoona untuk pergi ke ruang tamu. Meskipun sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin ditanyakan Yunho terkait kemeja milik Donghae yang bisa berada di lemari pakaian milik Yoona. Namun ia memilih untuk menundanya karena saat ini yang ia inginkan adalah mengusir Lee Seunggi sejauh-jauhnya dari rumah Yoona, sebelum ia semakin muak pada pria itu dan bersikap di luar batas.

-00-

“Jadi Aleyna benar-benar bukan putriku?” Tanya Lee Seunggi kecewa. Yoona dengan berat hati menggeleng pada Seunggi sambil merapikan berkas-berkas bukti hak asuh Aleyna untuk menunjukan pada Seunggi jika Aleyna bukanlah putrinya.

“Maafkan aku Seunggi ssi, Aleyna bukanlah putrimu.” Ucap Yoona penuh penyesalan sambil menatap Seunggi prihatin. Ia sebenarnya tidak tega melihat wajah Seunggi yang tampak sendu itu. Namun memang seperti itulah kenyataanya. Aleyna bukanlah putri kandungnya. Jadi pria itu tidak memiliki alasan untuk terus berspekulasi jika Aleyna adalah putrinya. Lagipula semua bukti itu telah secara kuat menunjukan pada Seunggi jika Aleyna memanglah bukan putrinya dan Yoona. Jadi sepertinya ia memang harus segera mundur dan tidak terlalu berharap pada Yoona karena sesungguhnya hungan rumah tangga mereka memang tidak akan pernah kembali seperti dulu.

Sementara itu, Yunho tampak puas di sebelah Yoona sambil terus tersenyum sinis menertawakan wajah menyedihkan Seunggi. Ia tahu pria itu pasti sangat kecewa karena niatnya untuk mengambil simpati Yoona dan kembali bersama Yoona gagal. Lagipula seratus persen ia yakin jika Yoona tidak akan mungkin mau kembali bersama pria jahat itu. Seseorang yang telah menorehkan luka di hati Yoona selamanya tidak akan pernah mendapatkan tempat di hati Yoona lagi.

“Kupikir selama ini Aleyna adalah putriku karena beberapa rumor yang sering kudengar.”

“Yahh, itu hanya rumor. Banyak orang yang memang menyebarkan rumor palsu ketika mereka melihatku menggendong Aleyna pasca perceraian kita. Tapi percayalah jika semua rumor itu tidak benar. Aleyna adalah putri dari klienku yang telah meninggal karena bunuh diri.”

“Ya, aku percaya. Maafkan aku Yoona.”

Lee Seunggi terlihat begitu menyesal dan juga merasa bersalah dengan kebodohannya hari ini. Seharusnya ia memang mencari tahu terlebihdahulu mengenai rumor itu sebelum memutuskan untuk mendatangi rumah Yoona. Sekarang percuma saja ia menyesali semuanya karena ia sudah terlanjur mempermalukan dirinya sendiri di depan Yoona, terlebih lagi Yunho. Pria itu saat ini tengah menyeringai puas dengan wajah seolah-olah sedang mengejeknya. Pria itu jelas sangat bahagia di atas penderitaanya.

“Kudengar kalian telah bercerai, apa itu benar?”

Entah mendapatkan keberanian darimana, tiba-tiba Lee Seunggi memutuskan untuk mengangkat topik sensitif itu di depan Yoona dan Yunho. Ia sepertinya ingin melakukan balas dendam pada Yunho yang sejak tadi terlihat bahagia di atas penderitaanya.

“Benar, kami telah bercerai sejak beberapa bulan yang lalu. Kira-kira sekitar tujuh bulan yang lalu.” Jawab Yunho mantap tanpa keraguan. Seunggi terlihat berpura-pura terkejut di depan Yoona sambil menunjukan wajah simpatinya. Namun dibalik itu ia terlihat senang karena ia berhasil membuat kedudukannya dengan Yunho menjadi seimbang.

“Oh maafkan aku, aku tidak tahu. Semoga Tuhan selalu memberi kebahagiaan untukmu Yoona, meskipun kau sedang memiliki banyak masalah seperti saat ini.”

Yoona tersenyum kaku mengiyakan ucapan Seunggi sambil menggerutu dalam  hati karena pria itu bukannya sedang bersimpati padanya, tapi lebih seperti sedang mengejek kehidupannya yang terlihat menyedihkan pasca bercerai dengan kedua mantan suaminya. Namun ia juga tidak bisa menyalahkan Seunggi terlalu jauh karena kehidupannya memang seperti ini. Dan bahkan Seunggi bukanlah orang pertama yang menatapnya dengan tatapan bersimpati palsu yang sangat menyebalkan. Sebelumnya ia telah menerima tatapan jenis itu dari orang-orang munafik di luar sana yang berpura-pura memberikan simpati padanya atas semua hal yang menimpanya selama ini.

“Tentu saja Yoona akan selalu bahagia, karena aku sendiri yang akan memastikan Yoona bahagia. Meskipun kami telah bercerai, aku tidak akan pernah membuat Yoona sedih dan mengecewakannya. Aku akan terus berada di sisinya untuk mendukungnya apapun yang terjadi.” Ucap Yunho berapi-api. Aura permusuhan yang begitu kental kembali menguar di udara hingga membuat Yoona sesak. Ia sebenarnya benci melihat kedua mantan suaminya bertingkah kekanakan di depannya. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apapun untuk meredakan ketegangan yang terjadi diantara keduanya. Saat ini ia justru memikirkan Aleyna dan juga Donghae yang mungkin sedang berada di kamarnya untuk mengambil kemejanya yang ia simpan di dalam lemarinya. Namun sejak tadi kedua orang itu tidak nampak batang hidungnya. Bahkan Aleyna yang sering mengacau dengan suara teriakannya yang nyaring juga tak terdengar suaranya. Kemana perginya mereka berdua? Batin Yoona sambil melirik pintu kamarnya di lantai dua.

Seunggi melihat Yoona sejak tadi hanya diam sanbil mencuri-curi pandang kearah lantai dua. Ia tahu jika Yoona mulai tidak nyaman dengan pembicaraan mereka dan ingin segera mengakhiri semua ini. Sehingga ia memutuskan untuk berpamitan pada Yoona karena ia tidak ingin mengusik kehidupan Yoona lebih jauh lagi. Meskipun ia sebenarnya sangat ingin memberikan pembalasan pada Yunho atas sikap tak bersahabatnya selama Yoona mengklarifikasi masalah status Aleyna, tapi ia tidak akan memperpanjang masalah itu lagi. Kali ini ia akan mengalah dan benar-benar merelakan Yoona untuk bahagia dengan kehidupannya sendiri. Sekarang ia sadar jika ia memang sudah kehilangan Yoona untuk selama-lamanya.

“Sepertinya aku harus pulang sekarang, Yeon Ju menungguku di rumah untuk acara makan malam keluarga bersama.” Ucap Seunggi berbohong. Tentu saja tidak pernah ada acara makan malam keluarga seperti yang sering ia lakukan di dalam drama-drama yang ia bintangi. Kehidupan rumah tangganya adalah kehidupan rumah tangga palsu yang jauh dari kata kekeluargaan. Setiap hari ia menghabiskan hidupnya secara individualis tanpa pernah peduli pada Yeon Ju. Hanya sesekali ia terlihat peduli pada Yeon Ju sebagai formalitas, selebihnya ia lebih suka menenggelamkan diri dengan urusannya sendiri.

“Oh, kalau begitu hati-hati. Maaf untuk semua kejadian yang tidak mengenakan hari ini.”

“Itu bukan masalah, aku yang seharusnya meminta maaf padamu karena telah mendesakkmu untuk mengatakan jika Aleyna adalah putriku. Sekali lagi maafkan aku.”

Lee Seunggi bangkit berdiri, menatap Yoona dengan wajah penyesalan, lalu ia segera berlalu pergi dari rumah Yoona dengan langkah berat. Kini pria itu merasa kesempatannya untuk menjalin hubungan lagi bersama Yoona telah hilang. Setelah adanya kejadian ini, ia tidak akan memiliki keberanian lagi untuk bertemu Yoona. Ia terlalu malu untuk menghadapi Yoona yang selama ini telah ia sakiti dengan sangat dalam.

“Huh, dasar pria tak tahu malu.”

Jung Yunho berdecak kesal di ambang pintu ketika mobil yang membawa Lee Seunggi melintas di depan rumah Yoona dengan kaca jendela yang tertutup rapat. Yoona yang mengetahui kekesalan Yunho sejak tadi hanya dapat menhela napas pendek sambil membereskan sisa cangkir minuman yang telah kosong di atas meja. Wanita itu lantas berjalan menuju dapur untuk mencari keberadaan Donghae dan Aleyna yang tidak terdengar suaranya sejak tadi.

“Aku senang akhirnya kau berani memberikan ketegasan pada Lee Seunggi keparat itu.”

“Oppa, jangan berkata seperti itu. Aleyna bisa mendengarnya.” Peringat Yoona tajam sambil mencuci cangkir serta peralatan dapur bekas ia membuat kue bersama Aleyna.

“Maaf Yoong, tapi aku  merasa jengah dengannya. Pria tak tahu malu itu masih bisa-bisanya menganggap Aleyna sebagai putrinya setelah apa yang ia lakukan padamu dulu. Apa ia tidak memiliki urat malu di wajahnya, seenaknya saja mengklaim Aleyna sebagai putrinya. Untung kau memiliki bukti-bukti itu untuk membungkam mulut lebarnya.” Ucap Yunho berapi-api. Dari tempatnya berdiri, Yoona hanya mampu memutar bola matanya malas sambil tetap berkutat pada peralatan dapurnya yang sedang ia cuci. Ia malas menanggapi Yunho yang sedang dalam mode kesal seperti itu, karena pasti apa yang mereka bahas tidak akan menemukan titik terang atau justru semakin panjang dan berakhir rumit.

“Sepertinya aku harus kembali sekarang, ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan. Ngomong-ngomong dimana Aleyna dan Lee Donghae? Sejak tadi aku tidak melihat keberadaan mereka.” Tanya Yunho yang mulai menyadari ketidak munculan Donghae dan Aleyna. Yoona mengedikan bahunya tidak tahu pada Yunho sambil melirik kearah lantai dua yang terlihat sepi.                “Mungkin mereka sedang bermain di atas.”

“Apa ia pernah menginap di sini? Kenapa menyuruhnya untuk mengambil pakaiannya di lemarimu.”

Yunho yang sebelumnya telah melupakan pertanyaan itu, tiba-tiba mengingatnya lagi dan mulai menyeringai kearah Yoona untuk mengorek informasi itu lebih lanjut pada Yoona yang wajahnya seketika berubah menjadi kaku.

“Apa oppa gila? Aku tidak mungkin mengijinkan pria asing menginap di rumahku. Lagipula saat itu aku hanya meminjamkan pakaianmu karena kemejanya basah kuyup ketika ia datang untuk melakukan sesi konseling.” Bohong Yoona gugup. Yunho yang menemukan adanya banyak kejanggalan dari kalimat Yoona justru semakin bersemangat untuk memojokan Yoona dan membuat Yoona semakin mati kutu dengan pertanyaan jebakannya.

“Kau melakukan konseling di rumah?”

“Hah aa apa? Itu bukan seperti yang kau pikirkan. Aku melakukannya karena aku menyesuaikan jadwalnya yang sangat sibuk. Lagipula ia adalah klienku, jadi aku harus mengusahakan berbagai macam cara agar aku tetap bisa membantunya mencari jalan keluar dari masalah yang sedang ia hadapi. Sudahlah oppa, jangan memojokanku seperti itu. Pertanyaanmu seolah-olah kau sedang mencurigaiku telah melakukan sesuatu dengan Lee Donghae.”

“Kenapa kau marah? Bukankah aku hanya sekedar bertanya?” Tanya Yunho santai. Yoona mulai terlihat kesal dengan arah pembicaraan mereka dan berharap dalam hati agar Yunho segera pergi dari rumahnya agar ia tidak perlu menahan-nahan kekesalannya lagi pada pria itu.

“Pulanglah oppa, ini sudah malam. Bukankah kau masih memiliki banyak pekerjaan?”

Yunho menaikan alisanya sekilas dan memutuskan untuk segera pulang karena pengusiran terang-terangan yang Yoona  berikan padanya. Wanita itu sepertinya benar-benar tersinggung karena ia menuduhnya memiliki hubungan khusus dengan Lee Donghae. Tapi bagaimana mungkin ia tidak curiga jika hubungan yang terjalin diantara Yoona dan Donghae tidak seperti hubungan antara klien dan konselor seperti pada umumnya.

“Baiklah aku akan pulang, jaga dirimu baik-baik Yoong.”

Setelah berpamitan, Yunho segera pergi dari dapur Yoona dan meninggalkan Yoona sendiri di sana yang masih sibuk memikirkan berbagai kejadian tak terduga yang menimpanya hari ini. Dimulai dari kedatangan Donghae, Yunho, dan Seunggi yang tak terduga. Lalu dilanjutkan dengan pengklarifikasian masalah status Aleyna. Kemudian ucapan Yunho yang sangat menyebalkan hingga membuatnya terpaksa mengusir pria itu pergi dari rumahnya. Dan… dan entahlah. Yoona tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini padanya dan Donghae karena ia masih memiliki satu pekerjaan lagi untuk melakukan pengetesan pada Donghae menggunakan kartu-kartu. Sudah saatnya ia mengorek semua masalah Donghae lebih dalam dan lebih serius agar masalah yang dialami Donghae segera terselesaikan.

“Aleyna… Kau dimana nak?”

Yoona perlahan-lahan menaiki tangga di rumahnya sambil memanggil-manggil nama Aleyna untuk memastikan dimana keberadaan gadis kecil itu. Namun setelah cukup lama ia memanggil-manggil nama putrinya, gadis kecil itu tak kunjung menjawab panggilannya. Sejak tadi ia hanya disuguhi dengan suasana sepi yang begitu kental di rumahnya tanpa mendengar sedikitpun suara celotehan Aleyna yang biasanya berisik.

“Aley….”

“Sshhuuhh… Jangan berisik, ia sedang tidur.”

Yoona menatap tak percaya pemandangan yang tersaji di atas tempat tidurnya yang berisi Aleyna dan Donghae. Kedua manusia itu rupanya sejak tadi sedang bergelung hangat di bawah selimut dengan nyamannya tanpa peduli pada dirinya yang mengalami kerepotan di bawah karena harus menenangkan dua pria yang saling mengobarkan api kebencian.

“Sejak kapan kau berada di sana? Kenapa kau tidur di kamarku?” Tanya Yoona kesal. Ia dengan kasar menggeser turun kaki Donghae dan membuat kedua kaki pria itu sekarang terjulur begitu saja di atas lantai.

“Aku lelah, aku tidak jadi mengambil kemejaku, aku meminjam kaos ini.”

Donghae menunjuk kaos hitam yang dikenakannya lalu mulai bangkit berdiri dari ranjang Yoona yang nyaman.

“Apa dua pengganggu itu sudah pergi? Kapan kita akan melakukan sesi konseling?”

“Sudah, mereka baru saja pulang. Ayo turun, aku akan melakukan beberapa tes kecil padamu.” Ucap Yoona sambil berjalan pergi keluar dari kamarnya. Donghae lantas mengekori Yoona di belakangnya sambil merapikan rambutnya yang berantakan setelah tertidur cukup lama di ranjang Yoona. Awalnya ia tidak berniat untuk tidur. Ia hanya iseng menemani Aleyna yang sedang mewarnai buku gambarnya di atas ranjang Yoona. Lalu entah kenapa tiba-tiba saja ia sudah tertidur bersama Aleyna di sana. Mungkin karena efek lelah yang menderanya sejak tadi. Ia baru saja kembali dari Itali, tapi bukannya pulang ke mansionnya, ia justru memilih untuk datang ke rumah Yoona. Sekarang ia merasa malas untuk tinggal di mansionnya karena ia selalu merasa sendiri dan kesepian. Berbeda jika ia berada di rumah Yoona yang selalu merasa nyaman karena di sini ia bisa berdebat dengan Yoona atau bermain-main bersama Aleyna yang menggemaskan. Selain itu ia juga ingin melupakan bayang-bayang Jihyun dari kepalanya karena wanita itu entah sejak kapan telah membuatnya merasa muak dan kehilangan rasa sayangnya pada wanita itu perlahan-lahan.

“Duduklah, kau bisa minum tehmu dulu sebelum melakukan tes kecil ini.” Ucap Yoona sambil membawa setumpuk kartu yang tidak jelas gambarnya. Wanita itu seperti sedang menyembunyikan gambar-gambar itu sambil sesekali melirik Donghae yang juga sedang meliriknya dengan raut wajah kebingungan.

“Itu kartu apa? Kau ingin berperan sebagai cenayang yang ingin meramalku dengan kartu-kartu mistismu itu?” Tanya Donghae mulai menyebalkan. Yoona mendelik sebal kearah Donghae lalu meminta Donghae untuk segera menyelesaikan kegiatan minum tehnya yang terasa lambat.

“Jangan banyak bertanya dan lakukan apa yang kuperintahkan. Ini semua juga untuk masalah-masalah rumitmu agar aku segera terbebas dari klien menyusahkan sepertimu.” Ucap Yoona kesal. Mendengar itu Donghae langsung meletakan cangkir tehnya pelan sambil menatap Yoona tajam.

“Jadi kau tidak suka dengan kehadiranku di sini? Apa aku sangat menyusahkanmu?”

“Eh, kenapa kau menjadi serius seperti itu? Aku tidak bermaksud menanggapmu sebagai pria yang menyusahkan. Hanya saja kedatanganmu ke sini membuat beberapa orang berspekulasi negatif tentang hubungan kita. Yunho oppa, Jihoo, dan beberapa orang di sekitar rumahku mulai mencurigai hubungan kita. Padahal kita tidak pernah melakukan apapun selain melakukan sesi konseling.” Ucap Yoona tergelak. Membicarakan jalan pikiran Jihoo dan Yunho yang mencurigai hubungannya dan Donghae membuatnya merasa geli dan ingin menertawakan pikiran konyol mereka. Tapi hal itu rupanya tidak dianggap lucu oleh Donghae karena pria itu saat ini justru sedang menatapnya dengan serius.

“Lalu apa yang kau rasakan selama bersamaku?”

Donghae mencondongkan tubuhnya mendekati Yoona dan mengunci kedua mata rusa itu dalam dengan kedua mata sendunya yang memancarkan ketegasan. Dan hal itu membuat Yoona seketika merasa gugup. Ia tidak terbiasa mendapatkan tatapan tajam dari seorang pria seintens itu. Apalagi posisi Donghae saat ini benar-benar berbahaya. Pria itu tengah memenjaranya dengan kedua tangannya yang kokoh.

“Mmi minggir, jangan melakukan hal-hal aneh sesuka hatimu, aku adalah kosenlormu.” Ucap Yoona gugup. Ia mencoba menghindari tatapan tajam Donghae yang begitu menusuk kedalam matanya. Sayangnya hal itu tidak bisa ia lakukan karena Donghae seperti sudah bisa membaca pikirannya dan ia telah melakukan antisipasi untuk hal itu.

“Kau tahu, aku sebenarnya merasa nyaman di sini. Bersamamu dan Aleyna, aku bisa melupakan rasa kesepianku. Tapi jika kau menganggap aku adalah pengganggu dan hanya bisa menyusahkanmu, maka aku tidak akan datang lagi lain waktu. Mungkin ini adalah yang terakhir.” Ucap Donghae sendu. Pria itu kemudian kembali ke tempatnya dan meninggalkan Yoona dengan rasa bersalah yang menyesakan hatinya. Wanita itu sebenarnya tidak bermaksud untuk membuat Donghae seperti itu. Sejujurnya ia tidak keberatan dengan adanya Donghae di rumahnya daripada pria itu mengacau tidak jelas di bar seperti beberapa hari yang lalu. Kalimat candaannya mungkin terlalu dianggap serius oleh Donghae atau mungkin karena pria itu sedang sensitif malam ini. Entahlah, ia tidak tahu.

“Bukan begitu. Aku juga senang kau berada di sini, itu lebih baik daripada kau membuat kekacauan di luar sana dan semakin menyusahkan banyak orang. Hanya saja…”

“Hanya saja apa? Kau malu dengan tanggapan orang-orang tentangmu? Ayolah, kau tidak seharusnya memikirkan ucapan mereka. Mereka bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi seharusnya kau abaikan saja apa yang orang lain katakan padamu. Jadilah dirimu sendiri dan lakukan apapun yang kau suka.”

“Mudah bagimu untuk mengatakannya, tapi sangat sulit untuk dilakukan. Kau tahu, hati wanita lebih sensitif dari pria. Wanita tidak bisa hanya menganggap semua itu sebagai angin lalu dan tetap pada kesenangan mereka. Pada akhirnya mereka akan terus memikirkannya dan mencoba untuk tampil lebih sempurna di hadapan orang-orang yang membicarakannya. Meskipun sebenarnya itu semua hanya keterpaksaan.”

“Cih, itu munafik.” Cibir Donghae kejam. Yoona menghela napas pendek dan memilih untuk tidak melanjutkan topik pembahasan mereka. Percuma saja ia menjelaskan semua hal itu pada Donghae jika kenyataanya mereka berdiri di titik yang berbeda. Ia tidak bisa mengabaikan begitu saja ucapan orang-orang. Ia bukan tipe wanita acuh tak acuh yang tidak peka pada lingkungan. Ia sangat peka pada lingkungan. Oleh karena itu ia merasa harus selalu tampil sempurna di hadapan semua orang yang menyukainya maupun yang tidak menyukainya.

“Besok malam perusahaanku mengadakan pesta untuk merayakan ulangtahun perusahaan. Datanglah bersamaku, aku akan menjemputmu.”

Tiba-tiba Donghae bersuara disaat Yoona sedang menyiapkan kartu-kartunya untuk melakukan tes kecil pada Donghae. Wanita itu untuk sesaat sedikit melongo tidak percaya sambil menatap Donghae menuntut penjelasan.

“Aku tidak memiliki pasangan.”

“Lalu kau ingin mengajakku untuk menjadi pasanganmu? Yang benar saja, kau ingin aku dihujat lagi karena telah merebut suami dari seorang super model? Aku tidak mau membuat skandal denganmu. Aku tidak mau kehidupan tenangku terusik karena ulahmu.”

“Kau tega melihat klienmu menderita? Apa yang akan mereka katakan jika CEO pemilik maskapai penerbangan terlihat sendiri di acara ulangtahun perusahaannya? Aku bisa saja memperkenalkanmu sebagai rekan kerjaku atau sepupu jauhku di depan seluruh tamu-tamu undangan yang hadir. Jadi aku tidak menerima penolakan. Suka atau tidak suka, kau harus hadir untuk menemaniku. Aku akan menjemputmu besok pukul enam.”

“Ya Tuhan, aku belum menyiapkan apapun. Kau tahu, aku tidak memiliki gaun yang pantas untuk digunakan di acara berkelas seperti itu. Apalagi di sana aku harus mendampingimu sebagai rekan kerja dari seorang CEO ternama, Lee Donghae, apa yang akan orang-orang katakan tentang penampilanku yang tidak sebanding denganmu.” Dengus Yoona frustrasi. Pada akhirnya wanita itu tetap tidak bisa menolak permintaan Lee Donghae yang begitu menuntut dan memaksa.

“Kenapa kau selalu saja memikirkan perkataan orang lain? Seharusnya seorang konselor tidak memiliki sikap rendah diri sepertimu. Apa yang dikatakan Yunho benar, kau itu terlalu menilai rendah dirimu sendiri padahal kau memiliki banyak kelebihan yang tidak pernah kau sadari selama ini. Lihatlah, kau memiliki wajah yang cantik, kau menarik, dan kau juga memiliki bibir seksi yang menggairahkan.”

Donghae menangkup pipi Yoona dan lagi-lagi membuat Yoona gugup. Pria itu sejak tadi benar-benar telah membuat Yoona merasa seperti seorang remaja ingusan yang sedang dimabuk asmara karena sikapnya yang terus membuatnya melambung dengan berbagai pujian ataupun kata-kata menyebalkan namun sebenarnya berisi nasihat agar ia tidak perlu mempedulikan tanggapan orang-orang mengenai dirinya. Jika pria itu terus memperlakukannya seperti ini ia bisa-bisa kehilangan orientasinya sebagai konselor. Ia akan dengan mudah berbelok dari kode etik yang mengikatnya selama ini.

“Menggairahkan? Apa kau sedang mabuk? Lepaskan tanganmu dari wajahku!” Ucap Yoona pura-pura galak untuk menutupi kegugupannya. Ia pun segera mendorong tubuh Donghae keras ke belakang dan membuat punggung pria itu otomatis membentur sandaran sofa dengan bunyi “bug” yang terdengar cukup nyaring di tengah-tengah ruangan yang sepi itu.

“Nah, sekarang kau lihat kartu ini. Jadi aku memiliki beberapa kartu yang perlu kau lihat lalu kau ceritakan bagaimana awal dari gambar yang sedang kau lihat saat ini, lalu bagaimana cerita dari gambar itu, dan bagaimana akhirnya. Kuharap kau bisa menceritakannya dengan serius, karena ini tidak sekedar bermain-main, tapi ini untuk mengetes beberapa hal dari dalam dirimu. Apa kau paham dengan instruksinya?”

“Hmm ya, aku paham. Hanya saja aku merasa ini terlalu kekanakan. Apa kau pikir aku adalah Aleyna yang harus mengarang sebuah cerita dari selembar kartu? Yang benar saja Im! Kau membuat harga diriku turun.” Keluh Donghae menyebalkan. Yoona rasanya ingin memukul kepala pria itu dengan bantal sofa yang tergolek cantik di sebelahnya. Kenapa rasanya sulit sekali membuat pria itu mau mematuhi perintahnya dan tidak terlalu banyak bicara seperti ini?

“Terserah apa katamu, tapi sekarang mulailah untuk mengarang sebuah cerita dari gambar ini karena aku tidak menerima banyak protes.” Ucap Yoona meniru gaya Donghae yang arogan. Akhirnya Donghae mau tidak mau harus mengerahkan seluruh imajinasinya untuk membuat sebuah jalan cerita dari sebuah gambar yang bentuknya saja sebenarnya sangat abstrak dan sulit dikenali sebagai sebuah gambar.

“Itu gambar seorang anak laki-laki yang merasa kesepian.”

“Hmm, apa yang terjadi padanya sebelum ia berada di sana?” Tanya Yoona serius sambil mengamati ekspresi wajah Donghae yang mulai berubah setelah melihat gambar pertama yang diberikannya.

“Dia… baru saja ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Ia ditinggalkan oleh orangtuanya, dan seluruh teman-temannya. Lalu ia memutuskan untuk duduk di sana, bertopang dagu sambil memikirkan semua kesalahan yang membuatnya ditingglkan begitu saja. Padahal selama ini ia merasa telah menjadi anak yang baik, namun orang lain justru meninggalkannya sendiri seperti itu. Jadi ia kemudian mengambil kesimpulan jika selama ini sebenarnya ia belum benar-benar menjadi anak yang baik. Ia masih memiliki banyak kekurangan dalam hidupnya hingga ia berakhir seperti itu. Ditinggalkan dan diacuhkan, meskipun ia telah mengorbankan banyak hal untuk kebahagiaan orang lain.”

“Kira-kira berapa usia anak laki-laki ini?”

“Mungkin sembilan atau sepuluh tahun.” Jawab Donghae sambil mengernyitkan dahinya. Pria itu seperti sedang melihat seseorang yang sangat ia kenal dari dalam diri laki-laki kecil di kartu milik Yoona. Seseorang seperti Lee Donghae kecil yang juga pernah ditinggalkan.

“Baiklah, kita lanjutkan ke kartu berikutnya.”

Yoona kemudian mengeluarkan sebuah kartu yang gambarnya tidak terlalu jelas, kartu itu memiliki banyak goresan hitam dan hanya sedikit sekali goresan putih yang tercetak di kartu itu, yang membentuk sebuah pola tertentu sebagai kunci dari gambar kartu itu yang sesungguhnya.

“Kau tahu ini gambar apa?”

“Sebenarnya tidak terlalu jelas. Terlalu banyak bayangan hitam di kartu ini. Tapi menurutku ini adalah gambar jendela dan seseorang yang ingin melompat dari jendela.”

“Hmm, kira-kira siapa orang yang kau sebutkan itu? Nama, jenis kelamin, dan usianya?”

“Aku harus memberinya nama juga? Kenapa kau tidak sekalian saja memberiku sebuah boneka seperti milik Aleyna agar aku juga punya teman khayalan seperti Aleyna.” Dengus Donghae malas. Pria itu sebenarnya mulai jengah dengan bentuk tes yang diberikan Yoona karena wanita itu seperti sedang mengorek masa lalunya dengan berbagai gambar aneh yang merangsang pikirannya untuk mengingat masa lalunya yang menyedihkan.

“Ceritakan saja bagaimana gambar ini dari sudut pandanganmu. Bagaimana awalnya hal ini bisa terjadi dan bagaimana akhirnya.” Ucap Yoona jengkel.

“Ck, menyebalkan! Jadi ini adalah gambar seorang pria dewasa, berusia sekitar dua puluh puluh empat tahun yang ingin melompat dari jendela kamarnya untuk mengakhiri hidupnya. Pria ini merasa frustrasi dengan kehidupannya yang terlalu rumit dan membosankan, yang selalu menuntutnya untuk melakukan banyak pekerjaan hingga ia merasa lelah. Tapi disaat ia akan melompat ke bawah, ia teringat pada sahabat baiknya, pada segelintir orang yang masih menyayanginya. Pria itu mengingat semuanya dan merasa begitu bersalah dengan mereka semua karena selama ini sebenarnya ia masih memiliki banyak dukungan. Ia masih memiliki beberapa orang yang tetap mempedulikannya. Dengan ia melakukan bunuh diri, ia akan mengecewakan mereka semua yang telah memberinya dukungan hingga sejauh ini. Jadi akhirnya ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya untuk melakukan bunuh diri dan kembali kepada rutinitasnya. Kembali pada kesibukannya yang padat demi membalas kebaikan orang-orang yang telah mendukungnya selama ini. Lagipula pada akhirnya pria itu juga bersyukur dengan keputusannya saat itu yang membatalkan niatnya untuk melakukan bunuh diri karena disaat usianya menginjak tiga puluh tahun, ia bertemu dengan seseorang yang bisa menariknya dari keterpurukan.”

“Hmm menarik, ternyata kau bisa mengimajinasikan gambar ini dengan sangat baik. Aku bangga padamu. Secara tidak langsung kau telah membuktikan padaku jika kau memang benar-benar CEO yang cerdas.” Ucap Yoona sambil terkekeh pelan. Donghae mendengus pelan dengan ejekan yang dilontarkan Yoona padanya. Jadi selama ini wanita itu tidak menganggapnya sebagai pria cerdas, melainkan hanya pria kaya manja yang terlalu sensitif dan juga rumit dengan berbagai macam rintangan yang menghadang jalannya.

“Baiklah, kita akan melanjutkan ke gambar berikutnya.”

“Sebenarnya ada berapa kartu lagi?”

“Tidak banyak, hanya tersisa beberapa kartu lagi. Nah, ini gambar apa?”

“Itu… gambar pemakaman.” Ucap Donghae pelan dengan mimik wajah yang berubah mendung. Pria itu mengamati gambar di kartu itu dengan seksama dan ia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memulai ceritanya daripada dua kartu sebelumnya.

“Seorang pria dengan wajah penuh penyesalan berdiri sendiri di tengah makam yang kosong dan sepi. Pria itu menatap batu nisan di depanya yang di permukaannya tertulis nama kedua orangtuanya. Itu… itu adalah makam milik kedua orangtuanya. Jadi pria itu baru saja kehilangan kedua orangtuanya dan ia sangat sedih dengan kematian kedua orangtuanya. Ia merasa belum bisa menghandle semua kehidupannya sendiri, dan tiba-tiba kedua orangtuanya pergi. Ia kemudian berdiri di sana untuk merenungi semuanya. Semua kehidupannya selama ini yang terlalu mudah hingga ia tumbuh menjadi seorang pria manja yang terlalu bergantung pada orang lain. Tapi kemudian ia bertekad pada dirinya sendiri bahwa ia akan berubah. Ia akan merubah kehidupannya dan membuat kedua orangtuanya bangga padanya dan dapat beristirahat dengan tenang di surga. Yoona, sebenarnya untuk apa semua gambar ini? Bisa kau jelaskan padaku?” Tanya Donghae serius. Yoona menarik mundur kartu ke tiga yang diberikan pada Donghae, kemudian ia justru memberikan kartu selanjutnya tanpa menjawab pertanyaan Donghae sebelumnya.

“Ceritakan gambar berikutnya.”

“Ck!”

Donghae berdecak kesal. Ia menatap Yoona sekilas dengan tatapan gusarnya, lalu ia segera menceritakan hasil imajinasinya terkait gambar ke empat yang diberikan Yoona padanya. Dalam hati ia bersumpah, ia tidak akan melepaskan Yoona setelah gambar keempat ini diberikan padanya. Ia juga akan menarik wanita itu kedalam ceritanya.

“Ini gambar seorang pria, dengan seorang wanita yang sedang tertidur pulas di belakangnya. Pria itu merasa menyesal karena ia tidak bisa menyentuh wanita yang sedang tertidur di belakangnya. Ia tidak memiliki gairah untuk wanita itu karena berbagai hal yang telah mereka lewatkan selama ini. Sebaliknya, pria itu justru memiliki gairah pada wanita lain dan ingin menjadikan wanita itu menjadi miliknya. Jadi di sini ia merasa aneh dengan dirinya, ia yang seharusnya merasa menyesal karena telah kehilangan perasaanya untuk wanita itu, tapi justru merasakan sebaliknya. Ia tidak lagi menyesal seperti sebelumnya, ia merasa baik-baik saja dengan hal itu, dan ia kemudian memiliki ambisi yang besar untuk menarik wanita lain agar berada lebih dekat dengannya. Karena tanpa ia sadari wanita lain itu telah memberikan kenyamanan tersendiri untuknya.” Akhir Donghae dengan aura misterius. Pria itu menatap Yoona dengan tatapan tajam dan lagi-lagi membuat gerakan tiba-tiba untuk menyudutkan Yoona di kursinya.

“Kau sengaja memberikan kartu itu untuk mengorek kehidupan ranjangku bersama Jihyun?”

“Hah, apa? Darimana kau mendapatkan pikiran seperti itu? Aku hanya menyuruhmu untuk berimajinasi dengan semua kartu itu. Aku tidak pernah mengatakan ingin mengorek kehidupan pribadimu.” Kilah Yoona tidak terima. Wanita itu balas menatap tajam Donghae, namun pada akhirnya ia merasa gagal karena ia justru merasa terintimidasi dibawah tatapan setajam elang yang dimiliki oleh Donghae.

“Sebenarnya Yoona… daripada bergairah pada Jihyun, aku justru merasa bergairah padamu.”

Yoona mematung di tempat, syok dengan apa yang baru saja didengarnya dari bibir penuh dusta milik Donghae. Pria itu baru saja mengatakan bergairah padanya, itu berarti ia sedang dalam bahaya. Posisi mereka saat ini sangat beresiko untuk menghantarkannya ke arah hal-hal negatif yang seharusnya segera ia hindari sebelum semuanya terlambat.

“Jangan bermain-main denganku Lee Donghae, sekarang kembali ke tempatmu dan kita lanjutkan sesi terapi kita malam ini.” Peringat Yoona dengan suara bergetar. Sebenarnya ia takut dengan sisi kelam Donghae yang sangat mengerikan saat ini, namun ia berusaha berani agar pria itu tidak bisa mempermainkannya sesuka hatinya.

“Aku tidak bermain-main Im Yoona, aku serius. Sejak aku melihat bibirmu ketika aku mabuk, aku mulai memikirkanmu di dalam kepalaku. Setiap detik hidupku, tidak pernah aku melewatkannya dengan berbagai fantasi liar tentangmu.”

Kali ini Donghae mulai bertindak lebih jauh dengan menyentuh ujung bibir Yoona dengan ibu jarinya lalu mendekatkan bibirnya tepat di depan bibir Yoona sambil menyeringai licik kearah Yoona yang sedang mematung di tempat.

“Rileks, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku masih memiliki kontrol diri yang bagus. Lagipula bibir ini tidak akan terasa nikmat dan hanya akan terasa seperti bongkahan es jika kau hanya terdiam kaku seperti ini. Bicaralah Yoona, katakan sesuatu tentang perasaanmu selama ini.”

Seketika otak Yoona merasa buntu. Ia tidak bisa mempertahankan kewarasannya lebih lama jika Donghae terus bersikap menggoda seperti itu. Terlebih lagi ia juga tidak bisa menyimpulkan perasaanya saat ini dengan pasti. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan sebenarnya ketika Donghae hadir di hidupnya, yang jelas ia merasa kehidupannya lebih berwarna semenjak Donghae masuk kedalam kehidupannya. Pria itu memberika warna baru dengan berbagai hal konyol atau perdebatan sengit yang sering pria itu ciptakan untuk menambah perasaan dekat diantara mereka. Namun ia tidak bisa menyimpulkan jenis perasaan apa yang ia miliki untuk Donghae.

“Aku tidak tahu. Tapi aku sadar jika kau berbeda dari yang lainnya. Aku…”

Cup

Yoona terdiam kaku di tempat ketika Donghae benar-benar mengecup bibirnya dengan lumatan kecil yang terasa menggetarkan hatinya. Pria itu membuat seluruh kulitnya meremang geli dengan setiap sentuhan yang pria itu berikan padanya. Apalagi gerakan ciuman Donghae yang halus, tanpa sadar membuat Yoona ikut bergerak mengikuti alunan bibir Donghae yang semakin lama semakin menggiringnya untuk bermain dengan tempo cepat.

“Bagaimana? Aku tidak berbohong bukan. Aku merasakan gairah ini padamu Yoona.”

“Donghae, aku adalah konselormu, aku terapismu, kau tidak seharusnya seperti ini padaku. Aku akan mengajukan orang lain untuk menangani masalahmu setelah ini, aku tidak bisa melanjutkannya karena ini akan merusak kode etik profesiku.”

“Jadi kau memilih lari? Huh, pengecut.” Cibir Donghae tajam. Pria itu menatap manik mata Yoona dalam lalu memberikan satu kecupan lagi di sudut bibir Yoona dengan lebih singkat.

“Kau memilih untuk lari begitu saja daripada menghadapinya? Lalu untuk apa kau menjadi konselor jika kau tidak berani untuk menghadapi setiap rintangan yang ada? Itu sungguh memalukan.”

“Tapi ini berbeda.” Ucap Yoona lirih sambil meremas kartu-kartunya dengan perasaan gamang. Sekarang ia justru ikut terseret kedalam kehidupan Donghae yang rumit, yang penuh dengan berbagai intrik. Ia harus segera mencari jalan keluar atau semuanya akan berakhir buruk untuk karirnya dan juga masa depannya.

“Berbeda dari yang lainnya? Tentu saja berbeda, karena kami membawa karakter kami masing-masing. Dan kau juga harus ingat jika setiap manusia itu diciptakan unik, jadi kau tidak akan pernah menemukan kesamaan diantara kami.”

“Lebih baik kita lanjutkan saja ke kartu berikutnya karena ini adalah kartu terakhir. Bukankah kau lelah, kau bisa segera pulang setelah ini.”

Donghae bersandar dengan gaya kesal di kursinya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Cepat berikan kartu berikutnya karena aku mulai muak dengan permainan kartu ini. Jika kau memang tidak mau membangunkan sisi lain dari diriku, seharusnya kau juga tidak memancingnya Im Yoona.”

“Nah, menurutmu gambar apa ini? Ceritakan padaku.”

Tanpa menghiraukan kalimat Donghae, Yoona segera memberikan kartu berikutnya yang harus diceritakan oleh Donghae padanya.

“Itu adalah gambar seorang pria bertopi yang sedang menunggu seseorang di bawah lampu jalan dengan gelisah. Pria itu baru saja menyatakan perasaanya dan ia sedang menunggu seorang wanita untuk menyambut ajakannya, namun wanita itu tidak memberikan jawaban yang jelas pada pria itu. Ia tidak menolaknya, namun juga tidak menerimanya. Jadi pria itu memutuskan untuk terus menunggu di sana dengan ketidakpastian hingga wanita itu datang untuk menyambut ajakannya.” Cerita Donghae cepat dengan tatapan tajam yang terus menghunus kearah Yoona. Namun Yoona pura-pura mengabaikannya dengan bermain-main dengan sisa kartu yang digenggamnya. Ia sadar jika cerita yang baru saja dikisahkan Donghae adalah cerita mereka. Dan ia secara tidak langsung telah mengarahkan pria itu untuk menceritakan kisah mereka dengan adanya insiden yang mengejutkan beberapa saat yang lalu. Kartu terakhir yang ia berikan jelas tidak valid untuk mengukur sejauh mana kepribadian Donghae selama ini. Namun satu hal yang ia tangkap dari cerita pria itu, bahwa ia sangat mengharapkannya menyambut ajakannya. Ajakan untuk melakukan sesuatu yang menyimpang!

“Baiklah, ini sudah selesai. Kau boleh pulang. Hasilnya akan kuberikan lusa di kantorku. Ahh… ini hari yang melelahkan.”

Yoona bangkit berdiri dari duduknya dan perlahan-lahan mulai berjalan menjauh menghindari Donghae sambil berpura-pura baik-baik saja. Ia merentangkan tangannya ke udara tinggi-tinggi dan mulai melakukan gerakan perenggangan untuk melenturkan tubuhnya yang kaku. Dan disaat ia sedang asik melakukan perenggangan, tiba-tiba Donghae muncul di belakangnya dan merangkul pinggangnya dengan posesif.

“Aku akan menjemputmu besok pukul enam, aku tidak menerima penolakan.”

Pria itu kemudian memberikan satu kecupan basah di pipi Yoona sebelum berjalan pergi, keluar dari rumah Yoona, meninggalkan Yoona sendiri dengan kebimbangan hatinya yang membingungkan.

32 thoughts on “Kontratransferensi: Scared To Be Lonely Part 2 (Seven)

  1. Woooah daebak..
    Dongek bener2 mesum..wkakakkak
    Tapi syukir dia udah menyadari perasaanya ke yoona…
    Tapi gimana nanti di pesta apakah yoona akan dihujat????
    Makin penasaran…lanjut thoor jangan lama2

  2. Uwwaaaa next ny jangan lama”
    Aku suka suka suka
    Sifar yoong yg engga mudah itu bwt aku jd salut sama dia krn masih menjunjung tinggi kode etik.
    Ditambah hae pria dgn 1000 macam sifat ny hihiii

  3. Sip..moment yoonhae nya muncul… jd gak sabar nunggu kelanjutannya …tetep semangat😘😘😘

  4. Waah Donghae udah mulai berani ya , dia mencium Yoona . Next chingu. Penasaran bagaimana hubungan mereka selanjutnya?

  5. Bingung mau gmg apa,,, seneng donghae dan yoona memiliki ketertarikan satu sama lain tapi melihat status donghae ini benar-benar salah…
    Apa donghae tulus dengan perasaan nya ke yoona atau cuma main main aja??
    Akhh,,, apapun itu yg pasti yoona yg akan di cap buruk dan yoona yg akan banyak tersakiti…
    Next thor….

  6. Huwaaa…makin seru thor.. Tapi tetep aja aku gak suka kalo yoona jadi perusak rumah tangga orang.. Mudah2an aja dia gak mudah goyah.. 😂😂

  7. Aah. So sweet, suka banget sama FFnya, please chapter selanjutnya di percepat yah onnie. 😍😍

  8. Kocak banget di Donghae. Keras kepala tapi juga gak terduga banget orgnya. Next yah thor. Makin seru ini. 😫😂

  9. Dasar donghae,, dia nekat skali.
    Mudahan dia memang peduli dengan yoona. Bukan untuk mmbawa yoona hnya mlkukan ksalahan dgn brsenang” sejenak

  10. Wow…hbngan mereka smkin dkat ya…trus bgaimna msalah donghae dgn istri y…akan kh brakhir nnti y….akan kh yoonhae brsatu nnti y….q hrap iya…..bgaimna dgn aylena…jika jessica tau aylena adlh keponakan y aknkh dia mngambil dri yoona…ohhh jgn…dia psti sdih…mga yoonhae brsatu ya…ditunggu ya klnjutan y….semangat…😉😊😃

  11. Yahhh kurang panjang chingu moment donghae yoona aleyna banyakin hubungan mereka benar benar rumit ditunggu part selanjutnya lebeih panjang ya chingu 😊😊😊😊👏👍👍👍👍👍

  12. Akhirnya ,Donghae mulai terus terang sama perasaannya dan penyimpangan itu mulai terjadi ,tinggal nunggu sedikit aja respon dari Yoona dan semuanya bakal seruuu hahahaha..
    btw aku pikir chapter ini bakal nyeritain yg di teaser kemaren, tapi ternyata engga.. dan teaser chapter ini pun justru udah di post jauh sebelum chapternya muncul.
    Soal Jessica, kenapa penting banget ya buat dia nyari keberadaan Jung Nichole dan anaknya?? berharap semoga aja ini gk ada urusannya sama hubungan YoonHae.. udah kebayang ribetnya gimana masalah ini sampe nanti Jihyun tau dan jangan sampe ada hal lain lagi, kalau nantinya Jessica cuma datang biasa aja buat ngambil keponakannya sih gk masalah.
    btw di tunggu lanjutannya lagi un, semoga cepet dan semoga moment YoonHae nya lebih sweet lagi.

  13. sy suka perlakuan haepa ke yoona,
    perlakuannya makin maniz sekaligus
    kasian dong yoona klo dianggap
    sebagai pelakor…
    kadang single parent dianggap
    sebelah mata klo gak kenal dekat.
    next partnya…makin penasaran.
    keren…semangat thor

  14. Ini ceritanya ttg perselingkuhan Rp kok perasaan membacanya jd malah jd super super romantis kalau Yoonhae ya ha..ha..

  15. Akhirnya dilanjut jugaaa…
    Asli, makin seru ceritanya, gemes sm YoonHae, rumit hubungannya..
    Donghae udh mulai nyleweng, tp manis bgt 🙂
    Suka cerita yg rumit2 gini, makin smangat bacanya..
    Next chapter smoga lebih banyak YH momentnya..
    Ditunggu, jgn lama2 y thor hehe
    Hwaiting!!

  16. Yayaya, apa yang baru saja dilakukan donghae terhadap yoona.. ya ampun ikut gregetan aku!
    YoonHae akhirnya kisseu.. seneng banget ihh..
    nextnya ngga pake lama ya thor..

  17. uuuuuuuh mau comment apa yah???
    yg pasti ini makin seru n menarik di tunggu chapter selanjutnya please jangan lamaaa min

  18. Hubungan yoonhae smkn rumit..
    Satu sisi suka mereka deket tp di sisi lain gak suka klau yoona akhirnya jd selingkuhannya donghae..
    Jangan2 aleyna ponakan jessica yg sedang dicari2..

  19. ANJIRRRR LEEDONGHAE LANGSUNGG AJAAAA .. GW EMOSI MASAAAA..YOONA TERIMA AJA ONGEKK KALI WKWKKWKWK.setelah lebih 20x gw bolak balik blog ini akhirnya diupdate jg hehe..lanjut minn.bkn shipper sih tp ff ini bikin gw penasran sma mereka dan gw jadi ikutan nonton moment mereka d utube dan ngefollow fanacc di insta dan akhirnya gw jd ngeship wkwkkwkwkwkwkwk..

  20. Semakin menarik
    Makin suka
    Makin PENASARAN
    KU tunggu kelanjutannya author fighting💪💪😉😉

  21. Udah mulai ada cinta nih. Gk sabar nunggu yoona bisa nerima donghae dan donghae ceraiin istrinya.

  22. Akhirnya seunggi tau kalo aleyna bkn anaknya
    Apa aleyna keponakannya jessica? Kalo bener apa nanti dy bakal misahin yoona dg aleyna?
    Donghae udh mulai berani ngegoda yoona, dan kayanya dy udh mulai ilang rasa sm jihyun
    pengennya pertahanan yoona lbh kuat dlm ngadepin donghae
    dan apa donghae ga mikir, kalo ngajakin yoona bakal bikin dy jd bahan omongan org”, kasian yoona kalo itu beneran trjd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.