Kontratransferensi: Scared To Be Lonely Part 1 (Six)

Suasana di dalam mobil itu terlihat hening. Baik Donghae maupun Yoona, keduanya sama-sama tidak tertarik untuk memulai pembicaraan atau sekedar mengatakan sesuatu untuk mengusir suasana hening yang melingkupi mereka. Yoona yang sedang berkonsentrasi pada jalanan di depannya tampak tak ambil pusing dengan keheningan yang ada, karena baginya itu lebih baik daripada ia harus memulai sebuah percakapan yang hanya akan berakhir dengan adu mulut sengit diantara keduanya. Seperti yang terjadi pada lima belas menit yang lalu, sebelum ia menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumahnya, ia lagi-lagi terlibat adu mulut dengan Lee Donghae hanya karena masalah sepele. Pria itu bersikeras memintanya untuk mengantarnya ke kantor, padahal pria itu tahu jika ia sudah terlambat bekerja karena sesi “curhat” mereka yang cukup lama beberapa jam yang lalu. Tapi pada akhirnya ia memilih untuk mengalah dan mengantarkan Donghae menuju kantornya, karena mobil milik pria itu masih berada di bar.

Sementara Yoona sedang sibuk menyetir, Donghae terlihat sedang sibuk berpikir, melamunkan berbagai macam hal yang terasa seperti potongan film yang rumit untuknya. Baru saja ia mendengarkan cerita mengenai masa lalu Yoona yang baginya terasa menyedihkan. Ia merasa wanita itu cukup malang dengan masa lalunya yang rumit. Dan parahnya, ia justru mempeparah kerumitan hidup wanita itu dengan menghujaninya dengan kata-kata kasar dua hari yang lalu. Rasanya ia sangat menyesal telah menghakimi Yoona sesuka hatinya, sedangkan ia tidak pernah tahu permasalahan apa yang sebenarnya terjadi pada Yoona. Ia seperti ditampar oleh wanita itu karena nyatanya ia selama ini sangatlah lemah dan terlalu manja. Ia tidak bisa menyelesaikan sendiri masalahnya dengan Jihyun, dan hanya bisa merengek-rengek pada Yoona agar wanita itu mencarikan solusi untuk masalahnya. Sedangkan Yoona, wanita itu begitu hebat. Ia bisa mencari sendiri jalan keluar atas seluruh masalah peliknya. Dan yang terpenting, Yoona tidak pernah merengek-rengek sepertinya pada orang lain.

“Kapan aku bisa melakukan sesi konseling lagi?” Tanya Donghae memecah suasana hening diantara mereka. Yoona menoleh sekilas kearah Donghae, lalu ia berpikir sejenak untuk menentukan waktu yang tepat bagi Donghae melakukan sesi konseling.

“Mungkin lusa. Jadwalku tidak terlalu padat di hari Kamis.” Ucap Yoona kalem. Wanita itu terlihat membelokan setir kemudinya kedalam area parkir kantor jasa penerbangan milik Donghae dan memberikan tatapan pada Donghae untuk segera turun dari mobilnya.

“Kau mengusirku?” Tanya Donghae kesal ketika ia sadar dengan arti tatapan Yoona yang seakan-akan ingin agar ia cepat-cepat keluar dari mobil hitamnya.

“Jika kau sadar, maka sebaiknya kau segera keluar. Jangan lupa untuk mengambil mobilmu di bar, karena aku tidak mau kau repotkan lagi dengan segala tingkah manjamu yang merepotkan itu.”

“Mobilku sudah tiba di sana sejak tiga puluh menit yang lalu. Kau kalah cepat.” Ejek Donghae menyebalkan sambil menunjuk mobil sport putihnya yang memang benar-benar sudah terparkir di area parkir khusus dengan tulisan “CEO Lee”.

“Jadi kau sudah mengambil mobilmu dari bar? Lalu untuk apa kau merengek-rengek padaku untuk mengantarmu ke kantor. Lagipula aku memang bodoh, seharusnya pria kaya sepertimu tidak akan benar-benar tidak bisa pergi ke kantor tanpa mobil. Bukankah kau bisa meminta supirmu untuk menjemputmu? Atau meminta para bawahanmu untuk melakukan sesuatu untukmu?” Sungut Yoona kesal. Wanita itu benar-benar merasa emosi setelah menyadari kebodohannya karena mau menuruti permintaan Donghae.

“Kau memang bodoh, kenapa kau mau menuruti permintaanku begitu saja? Tadinya aku berencana meminta supir pribadiku untuk menjemputku jika kau menolak permintaanku yang ke tiga kalinya. Tapi karena kau bersedia melakukannya, aku langsung membatalkan niatku untuk memanggil supir pribadiku. Jadi kau sendiri yang bodoh.”

“Keluar! Cepat keluar sekarang juga. Aku benar-benar muak denganmu. Aku sudah terlambat.” Marah Yoona sambil mendorong tubuh Donghae keluar dari mobilnya. Wanita itu membuka paksa sabuk pengaman yang masih melilit tubuh Donghae, lalu mendorong pria itu sekuat tenaga dengan seluruh kekuatannya hingga Donghae hampir terjungkal jatuh dari kursi mobil Yoona yang cukup tinggi.

“Kau gila! Aku akan turun sekarang!” Bentak Donghae kesal. Pria itu juga terlihat emosi sambil menepuk-nepuk jas hitamnya yang sebenarnya sama sekali tidak kotor. Ia kemudian membanting pintu mobil Yoona keras-keras dan menggerutu kesal sepanjang jalan menuju kedalam kantornya yang menjulang tinggi di depannya.

“Hae!”

Donghae menoleh kebelakang. Ia melihat Hyukjae sedang melambaikan tangan kearahnya sambil menunjukan senyum gusinya yang lebar. Dengan malas pria itu menghentikan langkahnya sebentar dan memutuskan untuk menunggu Hyukjae hingga mendekat kearahnya.

“Kau darimana saja? Semalam Jihyun menghubungiku dan terus menanyakan keberadaanmu.” Tanya Hyukjae sambil menatap atasannya itu dengan tatapan menyelidik. Donghae terlihat malas membahas masalah itu dan segera berjalan lurus menuju lift khsus yang berjarak lima meter di depannya. Lagipula ia sedang malas membahas masalah Jihyun. Selama ini wanita itu selalu bebas pergi kemanapun sesuka hatinya tanpa mau memberitahu dimana keberadaanya. Jadi ia sebenarnya juga tidak wajib melaporkan dimana keberadaanya semalam. Ia bebas pergi kemanapun, seperti Jihyun yang bebas melakukan apapun sesuka hatinya.

“Hae, aku sedang berbicara padamu.”

“Aku malas membahas Jihyun. Kau tahu, ia yang sering meninggalkanku. Jadi jangan salahkan aku jika aku merasa bosan dan memilih untuk bersenang-senang di luar rumah.”

“Jadi kau memiliki wanita simpanan sekarang? Kau bermain-main di belakang Jihyun?” Tanya Hyukjae menyelidik. Donghae mendelik tajam kearah Hyukjae dan segera melangkah masuk kedalam lift khusus miliknya yang langsung diikuti Hyukjae di sampingnya.

“Atas dasar apa kau mengatakan hal itu?”

“Aku melihatmu datang bersama seorang wanita. Dan penampilanmu saat ini menunjukan jika kau baru saja menginap di rumah seseorang tanpa membawa pakaian ganti.”

Donghae lalu melirik setelan jas yang ia kenakan dan juga kemeja biru muda yang saat ini melekat di tubuhnya. Memang semua yang kenakan saat ini adalah milik Yunho. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan pakaian milik Yunho karena ia tidak memiliki waktu untuk kembali ke rumah. Percakapan mereka mengenai masa lalunya maupun Yoona pagi ini cukup mengasyikan hingga pada akhirnya ia tidak sadar jika ia telah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk sebuah cerita tak menyenangkan di masa lalu.

“Wow, aku terkesan dengan kemampuan analisis yang kau miliki.” Komentar Donghae singkat. Lee Hyukjae mendengus gusar dan mencoba kembali mengorek informasi mengenai keberadaan Donghae semalam.

“Karena aku pernah mengalaminya sebelum menikah dengan Hyoyeon. Sekarang katakan padaku, kemana saja kau semalam dan apa kau pergi menghabiskan waktu bersama seorang wanita?”

“Menurutmu? Aku hanya pergi untuk mengobrol dengan teman lama. Lagipula untuk apa Jihyun menerormu untuk menanyakan dimana keberadaanku? Bukankah selama ini ia juga tidak pernah peduli padaku?” Tanya Donghae dengan nada menyebalkan. Hyukjae rasanya ingin sekali meninju wajah Donghae atau menampar wajah Donghae agar pria itu segera sadar jika sejak tadi ia sedang mengharapkan sebuah jawaban serius dari pria bermarga Lee di sampingnya ini.

“Sebenarnya aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu dan Jihyun, tapi sebagai seorang teman aku ingin tahu dimana keberadaanmu semalam karena aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Jika saat ini kau sedang berencana untuk melakukan sebuah perselingkuhan di belakang Jihyun, lebih baik kau segera kembali ke jalurmu, karena aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa rumah tangga sahabatku.”

“Wow, itu sangat menyentuh. Terimakasih Hyuk atas nasihat yang kau berikan. Tapi aku sama sekali tidak berencana untuk melakukan perselingkuhan. Aku hanya pergi ke bar, mengobrol dengan teman lama hingga aku lupa waktu karena terlalu asyik berbagi pengalaman dengannya. Wanita yang kutemui semalam, ia sangat menarik. Ia adalah teman mengobrol yang asyik. Dan kurasa wanita itu dapat memahamiku, sehingga aku merasa nyaman ketika bersamanya.

Lee Hyukjae mengernyitkan alisnya sambil menatap penuh selidik kearah Donghae. Ia pikir sahabatnya itu pagi ini sedikit aneh dengan wajah datarnya yang juga menyiratkan banyak misteri. Ditambah lagi kedatangannya pagi ini bersama seorang wanita yang sama sekali tidak dikenalnya, membuatnya sibuk berspekulasi buruk mengenai hubungan sahabatnya dengan wanita itu. Terlebih lagi Lee Donghae adalah tipe pria yang sangat sulit untuk menjalin kedekatan dengan seorang wanita. Jadi rasanya aneh jika tiba-tiba Donghae mengatakan jika semalam ia pergi mengobrol bersama dengan seorang teman lama. Apalagi teman lama yang dimaksud Donghae adalah seorang teman wanita. Pasti telah terjadi sesuatu antara Donghae dan wanita itu yang tidak ia ketahui selama ini. Mungkinkah Donghae sudah mulai bosan dengan hubungan rumah tangganya dengan Jihyun yang memang monoton itu, tanpa gairah ataupun letupan cinta yang selama ini sering ia lihat diantara keduanya bila ia bertemu dengan pasangan Lee itu.

“Apa kau mulai bosan dengan Jihyun?” Tanya Hyukjae sekali lagi, berusaha mengorek informasi sedalam-dalamnya dari sang sahabat yang sejak tadi sibuk berkelit. Atau sebenarnya itu bukan sebuah bentuk penghindaran? Entahlah, Hyukjae juga tidak mengerti dengan jalan pikiran Donghae yang cukup rumit itu.

“Bosan? Sepertinya belum. Jihyun masihlah wanita yang mengisi ruang di hatiku saat ini. Aku hanya jenuh dengan kegiatannya yang sering meninggalkanku sendirian di rumah.

“Jadi kau memutuskan untuk mencari pelarian dengan wanita lain? Kau menduakan Jihyun?” Tanya Hyukjae heboh yang berhasil memancing perhatian para dewan direksi yang kebetulan sedang berdiri di depan lift ketika lift terbuka di lantai tiga puluh.

“Kecilkan suaramu!” Geram Donghae kesal.

“Selamat pagi direktur Lee.” Sapa orang-orang itu ramah. Donghae mengangguk kecil pada mereka dan segera berjalan tenang menuju ruangannya yang berada di ujung lorong.

“Hae! Tunggu, aku belum selesai.” Kejar Hyukjae di belakangnya. Lee Hyukjae hari ini terlihat begitu mengganggu seperti lalat bagi Donghae. Dan ingin rasanya pria aristrokat itu menendang Hyukjae jauh-jauh dari tempatnya berdiri saat ini.

“Ada apa lagi?”

“Aku masih penasaran dengan wanita asing tadi, ceritakan padaku. Aku janji tidak akan mengadukannya pada Jihyun.”

“Kau pikir aku akan takut pada Jihyun? Bahkan jika kau mengadukannyapun, aku tidak masalah. Wanita itu adalah konselorku.”

“Apa?”

Lee Hyukjae memekik terkejut dengan gaya berlebihan yang membuat Donghae menjadi malas. Ia sudah bisa memprediksi jika Hyukjae pasti akan bertingkah berlebihan, seolah-olah ia baru saja mendapatkan musibah mengerikan dalam hidupnya. Padahal itu hanya sekedar Yoona, konselor yang akan membimbingnya keluar dari masalah rumit yang ia ciptakan sendiri.

“Konselor? Kau mendatangi konselor?”

Dan setelah itu seisi ruangan Donghae langsung dipenuhi dengan suara tawa Hyukjae yang benar-benar menyebalkan. Sekarang pria itu sangat yakin untuk segera menendang pantat Hyukjae dari ruangannya karena pria itu benar-benar sudah tidak bisa dipertahankan lagi di dalam ruangannya. Semakin lama Hyukjae berada di dekatnya, maka ia akan semakin gila dengan sikap Hyukjae yang sangat mengganggu bak lalat pagi ini.

“Kau puas menertawakanku? Sekarang pergilah! Aku sibuk.”

“Sejak kapan seorang Lee Donghae mendatangi seorang konselor? Kau seperti sedang menjilat ludahmu sendiri Hae.” Ejek Hyukja dengan wajah puas.

“Aku tidak peduli! Sekarang keluarlah, aku sudah mengetahui semuanya bukan?”

“Belum, aku masih ingin mendengar apa alasanmu hingga akhirnya memutuskan untuk mendatangi konselor? Apa kau sudah mulai gila?”

“Aku akan menceritakannya nanti. Bahkan aku juga akan mengenalkanmu pada Yoona.”

“Yoona? Jadi nama konselor itu Yoona? Hmm, menarik. Ini adalah kali pertama aku melihatmu menjalin hubungan dengan wanita lain disaat kau telah berkomitmen.”

“Jangan mengatakan seolah-olah aku sedang berselingkuh Hyuk!” Peringat Donghae mulai jengah. Sejak tadi pria aristrokat itu tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaanya karena ulah sahabatnya yang terus menjejalinya dengan sederet kalimat tak penting masalah kehidupan konselingnya dengan Yoona.

“Jadi kau merasa seperti itu? Padahal aku tidak mengatakan apapun mengenai perselingkuhan. Tapi baiklah, aku akan menunggumu menceritakan semuanya. Sampai jumpa.”

Lee Hyukjae berjalan cepat menuju pintu keluar ruangan Donghae sambil meringis kecil pada sahabatnya yang sejak tadi terus melemparkan tatapan dingin menusuk yang sangat mengerikan. Mungkin jika Hyukjae tidak segera keluar dari ruangannya, Donghae akan benar-benar menendang pria itu dari ruangannya karena sikap cerewet Hyukjae yang benar-benar kelewat batas.

Setelah Hyukjae pergi, Donghae benar-benar bisa bernapas lega sambil mengeluarkan ponsel putihnya dari dalam saku jasnya. Entah kenapa pagi tadi ia menemukan ponsel putih itu berada di dalam saku celana hitamnya, bukan di dalam mobilnya seperti yang ia katakan pada Yoona tadi padi. Tapi memang ponsel putih itu ia temukan dalam keadaan off karena ia tidak ingin Jihyun mengganggunya semalam yang sedang pusing dengan berbagai masalah kantornya dan juga karena rasa bersalahnya pada Yoona. Ia sadar jika salah satu pemicu kesemerawutan hidupnya dua hari yang lalu adalah karena ia dihantui oleh perasaan bersalahnya pada Yoona.

Oppa, kau dimana?

            Oppa, apa kau lembur di kantor? Kenapa kau tidak pulang? Aku mengkhawatirkanmu.

            Oppa, aku akan pergi ke New York untuk menghadiri fashion week selama satu minggu. Jangan merindukanku. Hahaha

Donghae membaca sederet pesan yang dikirimkan Jihyun padanya sambil tertawa hambar. Isterinya bahkan hanya mengiriminya tiga pesan yang diakhiri dengan kalimat pemberitahuan jika ia akan pergi ke New York selama satu minggu. Itu hebat! Ia merasa benar-benar ditinggalkan sekarang. Ia merasa sendiri dan juga tak dianggap. Tak seharusnya Jihyun pergi begitu saja disaat keberadaanya belum jelas. Bagaimana jika ia ternyata sedang bersama wanita lain di sebuah hotel? Pemikiran itu tiba-tiba muncul begitu saja di kepalanya dan membuatnya semakin miris. Mungkin Jihyun tidak akan peduli jika ia pada akhirnya berselingkuh dengan wanita lain karena wanita itu tidak pernah memikirkannya. Lee Jihyun hanya memikirkan karirnya sendiri tanpa pernah memikirkan perasaan suaminya yang begitu tertekan dengan hidupnya.

-00-

“Ahh.. dimana kertas itu berada?”

Seorang wanita berambut coklat panjang terlihat sibuk membolak-balik semua tumpukan map di mejanya sambil berdecak kesal karena sejak tadi ia tidak bisa menemukan kertas putih miliknya yang tiba-tiba raib. Padahal beberapa hari yang lalu ia masih melihat kertas itu di atas meja setelah ia membacanya untuk mencari tahu dimana keberadaan anggota keluarganya yang menghilang.

“Miss Jessica…”

Suara cempreng seorang gadis kecil tiba-tiba mengagetkan Jessica. Mau tidak mau Jessica harus menghentikan kegiatannya sejenak untuk menyambut sang tamu yang kebetulan berkunjung ke ruangannya.

“Aleyna, kau belum pulang sayang?” Tanya Jessica ramah pada Aleyna yang sedang menggendong tas bergambar tinker bell di pundaknya. Gadis kecil berambut panjang itu lantas menggelengkan kepalanya sambil menatap Jessica dengan mata bulatnya yang menggemaskan.

“Hari ini eomma yang akan menjemput Aleyna, dan mungkin eomma akan sedikit terlambat karena eomma sibuk.”

“Memangnya apa pekerjaan eomma Aleyna?” Tanya Jessica penasaran. Wanita yang baru saja menjadi guru sejak dua minggu yang lalu itu memang belum terlalu mengenal latar belakang orangtua muridnya secara keseluruhan. Hanya beberapa orangtua murid yang sering mengantar putra putrinya ke sekolah yang dihafal oleh Jessica. Sedangkan Aleyna, selama ini gadis kecil itu selalu terlihat datang atau pulang dengan orang yang berbeda, membuat Jessica tidak mengetahui siapa orangtua Aleyna yang sesungguhnya.

“Eomma adalah seorang konselor. Eomma pernah mengatakan pada Aleyna jika pekerjaan eomma adalah menolong orang-orang yang bersedih. Kata paman Jihoo, eomma sering membuat orang-orang merasa lebih baik dengan pelukan dan kata-kata eomma yang lembut.” Cerita Aleyna dengan wajah polos. Seketika Jessica ingin tertawa dan mencubit pipi Aleyna yang chubby karena gadis kecil itu benar-benar menggemaskan.

“Wahh, eomma Aleyna pasti orang yang baik. Lalu apa pekerjaan ayah Aleyna?” Tanya Jessica lagi sambil mendudukan Aleyna di atas sofa di ruangannya. Mengobrol bersama Aleyna tiba-tiba terasa lebih menyenangkan daripada ia harus pusing-pusing memikirkan kertas wasiat milik mendiang kakaknya yang telah meninggal empat tahun yang lalu.

“Appa? Aleyna tidak tahu apa pekerjaan appa, tapi appa sering pergi jauh untuk menyelesaikan pekerjaanya. Ngomong-ngomong, apa yang miss Jessica lakukan di sini? Miss Jessica tidak pulang?”

Jessica lantas menoleh kearah meja kerjanya dan juga lemarinya yang tampak berantakan. Hari ini rencananya ia akan mendatangi petugas catatan sipil untuk mencari dimana keberadaan kakak iparnya yang menghilang saat sedang mengandung. Padahal saat itu oppanya mengatakan jika kemungkinan kakak iparnya akan melahirkan dan menetap di Seoul setelah perceraian mereka yang mendadak.

“Miss Jessica sedang mencari kertas milik miss Jessica yang hilang. Apa Aleyna melihatnya? Beberapa hari yang lalu bukankah Aleyna bermain bersama Nana di sini sebelum paman Aleyna menjemput Aleyna. Apa Aleyna mengingatnya?”

Gadis kecil itu menggeleng kecil pada guru barunya dan membuat Jessica seketika mendesah kecewa. Padahal ia sangat berharap Aleyna mungkin membawanya karena saat itu Aleyna dan Nana sedang bermain-main melipat kertas dengan kertas-kertas origami yang ia sediakan di atas meja, sementara ia menyelesaikan lembar evaluasi milik murid-muridnya.

“Seperti apa kertasnya? Nanti Aleyna akan mencarinya di rumah miss.”

“Kertas itu berwarna putih dan ada banyak tulisan tangan di dalamnya dan juga foto. Foto kakak miss Jessica dan isterinya.”

“Nanti Aleyna akan meminta eomma untuk membantu mencarinya di rumah. Ahh, itu eomma!”

Tiba-tiba Aleyna melompat berdiri ketika melihat Yoona sedang melongokan kepalanya di ambang pintu sambil tersenyum manis pada Jessica.

“Selamat siang, maaf aku terlambat menjemput Aleyna.” Ucap Yoona di ambang pintu dengan wajah menyesal. Pagi ini ia terlambat datang ke kantornya karena harus mengantar Donghae ke kantornya. Dan saat ia menginjakan kaki di ruangannya, ia telah ditunggu oleh tiga pasien yang akan berkonsultasi padanya. Sehingga pada akhirnya ia tidak menjemput Aleyna tepat waktu.

“Tidak apa-apa. Aleyna justru menemani saya di sini. Perkenalkan, saya guru baru Aleyna. Jessica Jung.”

“Oh, aku eommanya Aleyna, Im Yoona.”

Kedua wanita muda itu lantas saling berjabat tangan dan saling melemparkan senyum satu sama lain.

“Kau bukan orang Korea? Wajahmu seperti orang Amerika.” Terka Yoona sambil mengamati wajah Jessica yang sedikit tersipu.

“Ah tidak juga, eomma saya adalah orang Korea. Tapi ayah saya adalah orang Amerika. Jadi wajah saya memang tidak terlihat terlalu oriental.”

“Oh, pantas. Kalau begitu kami permisi, terimakasih telah menemani Aleyna hingga aku datang.”

Yoona menundukan tubuhnya sedikit di depan Jessica dan langsung menggandeng tangan Aleyna untuk mengikutinya menuju mobil yang terparkir di depan gedung sekolah Aleyna yang besar.

“Eomma, aku lapar.”

“Eomma juga, ayo kita makan siang di restoran.”

Drrt drrt drrt

Tiba-tiba Yoona merasakan ponselnya bergetar. Dan dengan cepat ia segera mengangkatnya dan menempelkan benda persegi itu di samping telinganya.

“Apa? Kau ingin menyusahkanku lagi?” Tanya Yoona ketus. Pria di ujung sana lantas langsung mendengus kesal dengan kalimat sapaan Yoona yang sangat kasar itu.

“Aku hanya ingin mengajakmu makan siang. Kenapa kau senang sekali berburuk sangka padaku?” Dengus Donghae kesal. Yoona yang sedang mendengarkan ucapan Donghae juga ikut mendengus karena pria itu selama ini selalu merepotkannya hingga ia tidak bisa sedikit saja tidak berburuk sangka pada pria itu.

“Bagaimana mungkin aku tidak berburuk sangka padamu jika kau selalu membuat sulit hidupku. Aku sedang bersama Aleyna sekarang, jadi aku akan mengajak Aleyna jika kau mengajakku untuk makan siang.”

“Tidak masalah. Datanglah bersama Aleyna, itu justru akan lebih menyenangkan. Restoran jepang di Ilsandong, aku menunggumu di sana.”

“Baiklah, aku akan segera kesana bersama Aleyna. Sampai….”

Klik

“Sial!” Umpat Yoona kesal. Baru saja ia akan mengakhiri sambungan teleponnya dengan pria itu, tapi Lee Donghae sudah terlebihdulu memutuskan sambungan teleponnya disaat ia belum selesai berbicara.

“Ada apa eomma?”

“Tidak apa-apa. Ayo kita pergi, paman Donghae telah menunggu kita.”

“Paman Donghae? Asyikk.. paman Donghae!” Teriak Aleyna heboh. Yoona menggelengkan kepalanya tak habis pikir melihat tingkah Aleyna yang sangat antusias hanya karena akan bertemu dengan pria menyebalkan macam Lee Donghae. Semoga saja siang ini mereka benar-benar hanya akan makan siang, tanpa pertengkaran atau adu mulut yang menyebalkan seperti biasanya.

-00-

Donghae tersenyum puas sambil memasukan ponselnya kedalam saku celananya. Ia yakin saat ini Yoona sedang mengumpatinya karena ia tiba-tiba memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Tapi ia memang ingin menggoda Yoona karena Yoona akan terlihat lebih menggemaskan jika sedang mengomel.

“Ada apa? Kau sepertinya sangat senang.”

Donghae menoleh cepat kebelakang dan langsung bertatapan dengan Hyukjae yang sedang menatapnya aneh.

“Bukan apa-apa. Urus saja urusanmu sendiri.” Jawab Donghae datar dan segera berjalan pergi meninggalkan Hyukjae. Pria itu sengaja menulikan telinganya dari suara Hyukjae yang terus menerus berteriak di belakangnya dengan berisik. Ia tidak ada waktu untuk menjawab setiap pertanyaan Hyukjae yang pada akhirnya pasti akan berakhir lama seperti tadi pagi.

Drtt drtt

Tiba-tiba ponsel putih di saku kiri Donghae bergetar. Dengan malas Donghae segera mengambil benda persegi itu dan segera menempelkannya pada telinga kiri sembari berjalan menyusuri lobi kantornya yang cukup padat di jam makan siang.

“Oppa!”

Donghae refleks menjauhkan ponselnya dari telinganya ketika suara nyaring Jihyun langsung terdengar heboh di ujung teleponnya. Pria bermarga Lee itu kemudian menempelkan ponselnya kembali pada telinganya setelah dirasa Jihyun tidak akan bersikap bar-bar dengan berteriak-teriak melalui teleponnya.

“Sayang, kau membuat telingaku hampir tuli.”

“Oppa, kenapa semalam oppa tidak pulang? Aku mengkhawatirkan oppa.” Ucap Jihyun manja dan kekanakanakan. Mendengar itu Donghae langsung mendengus dalam hati karena jika wanita itu benar-benar mengkhawatirkannya, seharusnya ia tidak pergi begitu saja dan hanya meninggalkan tiga buah pesan di ponselnya. Isteri macam apa yang tega meninggalkan suaminya yang tidak jelas dimana keberadaanya tanpa benar-benar memastikan keberadaan suaminya terlebihdahulu. Untung saja Donghae bukan tipe pria liar yang gemar menyinggahi wanita-wanita di bar. Jika ya, maka Jihyun akan benar-benar menyesal karena telah menjadi seorang isteri yang tidak pernah peduli pada suaminya. Tapi untuk saat ini Jihyun memang aman, posisinya sebagai nyonya Lee belum tergeser. Namun ia tidak bisa memprediksi masa depan. Karena Donghae masihlah pria normal yang bisa kapan saja berpindah haluan pada wanita lain yang mampu membuat hatinya nyaman.

“Aku pulang ke apartemen setelah lembur.” Bohong Donghae lancar. Sejak tadi pagi ia telah mempersiapkan kebohongan itu di dalam kepalanya untuk mengantisipasi jika Jihyun menghubunginya dan menanyakan dimana keberadaanya semalam.

“Kenapa ponsel oppa tidak bisa dihubungi?”

“Aku lembur, ponselku tertinggal di meja kerja.” Bohong Donghae lagi. Mulai saat ini Donghae benar-benar akan menjadi Lee Donghae yang berbeda. Ia akan lebih sering menjadi sosok pembohong yang akan terus mengarang cerita untuk Jihyun.

“Lain kali jangan membuatku khawatir. Apa oppa sudah makan siang?”

“Aku baru saja akan pergi ke restoran jepang.” Jawab Donghae sambil memasang hands free pada telinganya sembari mengarahkan kemudi mobilnya keluar dari area parkir kantornya.

“Oh syukurlah, jangan sampai oppa sakit karena terlambat makan. Apa oppa akan pergi sendiri?”

“Tidak, aku akan makan bersama relasi bisnisku.” Bohong Donghae lagi. Tapi jika dipikir-pikir Yoona memang salah satu relasi bisnisnya. Namun dalam konteks lain.

“Baiklah, kalau begitu aku akan menutup teleponnya sekarang. Hari ini aku memiliki jadwal pemotretan di sebuah pantai yang cukup indah di New York. Nanti aku akan mengirimkan hasil fotonya pada oppa. Sampai jumpa, aku mencintai oppa.”

Klik

Donghae melepas hands freenya dan melirik ponsel putihnya sekilas yang berada di atas dashboard mobilnya. Ternyata melakukan kebohongan pada Jihyun cukup menyenangkan. Ia merasa sangat puas karena ia berhasil menipu wanita itu dan sedikit membalaskan rasa sakitnya karena kerap kali ditinggalkan untuk melakukan pemotretan di negara lain.

“Maafkan kau sayang, tapi.. kau yang memulainya terlebihdulu.” Gumam Donghae datar pada diri sendiri sambil mengarahkan kemudinya pada sebuah halaman parkir restoran jepan di depannya. Secara bersamaan mobilnya dan mobil Yoona masuk kedalam area parkir itu dan membuat Donghae tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis.

“Yoona.” Panggil Donghae sedikit keras. Aleyna yang melihat Donghae sedang melambai-lambaikan tangan kearahnya lantas berlari menghampiri Donghae dan meninggalkan eomannya begitu saja yang masih sibuk mengunci pintu mobilnya.

“Aleyna, astaga!” Keluh Yoona sebal ketika melihat Aleyna sudah berada di dalam gendongan Donghae. Gadis kecil itu lalu terlihat bersenda gurau dengan Donghae sambil menertawakan sesuatu yang tidak diketahui Yoona. Namun melihat keakraban Aleyna dengan Donghae membuat Yoona sedikit cemburu. Ia sekarang diabaikan oleh Aleyna yang menjadi sibuk mengobrol bersama Donghae.

“Hai, kenapa wajahmu terlihat lebih kusut?” Tanya Donghae ringan sambil bermain-main bersama Aleyna. Yoona tanpa sadar menekan-nekan pipinya sendiri dan sibuk bercermin pada cermin besar yang terpasang di depan pintu masuk restoran.

“Mungkin aku hanya lelah.” Jawab Yoona apa adanya. Mereka bertiga lantas memesan sebuah tempat vvip yang lebih tertutup agar acara makan siang mereka terbebas dari pihak-pihak lain yang tidak diinginkan.

“Bagaimana dengan isterimu? Aku khawatir ia akan salah paham karena semalam kau tidak pulang.”

“Ia baik-baik saja, bahkan sekarang ia telah berada di New York untuk melakukan pemotretan.” Jawab Donghae santai. Yoona mengangguk-anggukan kepalanya kecil dan mulai mengeluarkan ponselnya untuk membalas pesan-pesan dari kliennya.

“Paman, apa Aleyna cantik?” Tanya Aleyna genit sambil mengedip-ngedipkan matanya. Lee Donghae tertawa terbahak-bahak melihat tingkah menggemaskan Aleyna dan ia tidak bisa menahan diri untuk mencubit pipi Aleyna kemudian.

“Sangat cantik. Bahkan eommamu kalah cantik denganmu.” Ejek Donghae sambil melirik Yoona. Namun sang objek lirikan tampak tak peduli dan hanya sibuk dengan ponsel pintarnya.

“Ck, simpan ponselmu saat kita sedang makan.”

“Tapi makanan kita belum datang. Aku perlu membalas pesan-pesan dari klienku. Beberapa dari mereka memintaku untuk mengatur ulang jadwal mereka untuk pertemuan selanjutnya.”

“Lalu bagaimana denganku? Ingat, kau masihlah konselorku.”

“Aku sudah menyiapkan waktu khusus untukmu. Kau tidak perlu khawatir.”

Kemudian Yoona kembali menekuni ponselnya dan membiarkan Donghae bersenda gurau bersama Aleyna. Saat ini ia memiliki lebih dari belasan pesan penting dan satu pesan dari Seunggi yang memintanya untuk bertemu. Entah darimana pria itu berhasil mendapatkan nomornya, tapi sangat mungkin jika pria itu memilikinya karena ia membagikan nomor ponselnya pada banyak orang yang jumlahnya tak terhitung.

 

Ayo kita bertemu, aku ingin membicarakan masalah Aleyna.

 

Yoona mengernyit dan tampak aneh dengan isi pesan itu. Untuk apa Lee Seunggi meminta bertemu dan untuk membahas masalah Aleyna? Pikir Yoona sangsi. Jelas-jelas pria itu tak ada hubungannya dengan Aleyna. Lee Seunggi baru beberapa kali bertemu dengan Aleyna, jadi tidak mungkin pria itu memiliki topik bahasan khusus yang berkaitan dengan Aleyna. Atau mungkin pria itu ingin mengorek masa lalu Aleyna? Ck, Yoona rasanya muak pada orang-orang yang selalu ingin tahu mengenai kehidupannya dan Aleyna. Mereka semua pasti hanya akan menghakiminya atau akan menuduhnya sebagai wanita tidak benar yang tiba-tiba bisa memunculkan anak setelah bercerai dari Lee Seunggi.

“Ada apa denganmu?”

“Tidak apa-apa.” Ucap Yoona berkilah. Ia segera meletakan ponselnya di atas meja dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun padanya.

“Aku tahu kau berbohong. Ceritakan padaku, bukankah kita teman?”

“Ck, itu hanya permintaan sepihakmu. Aku tidak pernah setuju untuk menjadi temanmu. Tapi, mungkin sebaiknya aku menceritakan ini padamu karena aku tidak akan mungkin menceritakannya pada Yunho oppa. Ia pasti tidak akan suka bila mendengarnya.”

“Jadi? Ada apa?” Tanya Donghae tidak sabar.

“Lee Seunggi menghubungiku, ia memintaku bertemu untuk membicarakan masalah Aleyna.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Tentu saja itu adalah masalah. Untuk apa tiba-tiba Lee Seunggi meminta bertemu untuk membicarakan masalah Aleyna. Pria itu tdak memiliki hubungan apapun dengan Aleyna. Aku malas jika pada akhirnya ia hanya ingin menghakimiku, menganggapku sebagai jalang yang tiba-tiba memiliki Aleyna setelah perceraian kami. Setidaknya dulu beberapa artikel pernah membahasnya, dan aku takut pria itu telah terpengaruh oleh artikel lama.”

“Sepertinya ia masih memiliki perasaan untukmu. Kau lihat bagaimana gelagatnya? Setelah aku menyudutkanmu di toilet, tatapannya padaku menjadi lebih tajam. Sepanjang pesta itu berlangsung ia terus menatapku dengan sorot mata tajam yang menusuk, seolah-olah ia sedang marah padaku.”

Yoona tersenyum getir menanggapi ucapan Donghae dan memilih untuk tidak membahasnya lebih lanjut. Benar atau tidak, tapi ia juga merasakan hal itu. Ia merasa Lee Seunggi masih memiliki rasa untuknya. Tapi ia tidak mau menjadi seorang pengganggu di tengah-tengah kehidupan pria itu karena ia tidak ingin kesalahan yang sama terulang kembali. Sudah cukup hanya dirinya yang tersakiti di masa lalu. Ia tidak ingin ada wanita lain yang juga merasakan apa yang pernah ia rasakan di masa lalu. Karena sejujurnya hal itu memang sangat menyakitkan.

-00-

Di dalam ruangan yang gelap itu Lee Donghae termenung sendiri sambil menatap kosong pada jendela besar di kamarnya yang sunyi. Lagi-lagi ia merasakan kesunyian yang sama. Semenjak Jihyun memulai perdebatan dengannya dan memutuskan untuk berkarir, ia sering merasa terabaikan. Perasaanya seolah-olah seperti mengejeknya. Mencacinya dengan kata-kata kasar yang mengatakan jika ia adalah pria tolol yang hanya bisa dimanfaatkan oleh isterinya. Ia selalu merasa begitu lemah dan tak berdaya bila Jihyun telah berkhendak untuk dirinya sendiri.

Takk

Donghae meletakan kasar gelas winenya dan segera bangkit berdiri sambil menyambar mantel yang tersampir di sofa ruang kerjanya. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak boleh hanya diam dan bertopang dagu hingga keadaan tiba-tiba berubah dengan sendirinya. Ia yang harus melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan itu.

“Halo?”

Donghae menghubungi nomor ponsel Jihyun sambil mengemudikan mobilnya keluar dari area parkir rumahnya yang luas. Pria itu samar-samar mendengar suara berisik teriakan orang-orang dan suara musik menghentak yang hampir menulikan telinganya. Dan baru saja ia akan menutup sambungan teleponnya untuk menghubungi Jihyun lagi nanti, namun suara bass seorang pria tiba-tiba menghentikan pergerakan ibu jarinya untuk menekan tombol merah pada layar ponselnya.

“Halo?”

“Bukankah ini ponsel milik Jihyun?” Tanya Donghae mengernyitkan dahinya. Pria di seberang sana tampak berdeham sejenak lalu mulai menjawab pertanyaan yang dilontarkan Donghae.

“Benar, ini ponsel milik Jihyun. Saat ini Jihyun sedang berpesta bersama teman-temannya di lantai dansa.”

“Lalu kau siapa?”

“Aku? Aku hanya kenalannya.” Jawab pria itu singkat. Donghae langsung mematikan sambungan teleponnya dan melempar asal ponsel putihnya kebelakang dengan geraman tertahan di tenggorokannya. Niat awal menghubungi Jihyun malam ini untuk meyakinkan hatinya jika ia tidak benar-benar merasa ditinggalkan oleh Jihyun. Ia hanya ingin membuktikan jika itu hanya ketakutannya belaka. Tapi setelah apa yang ia dengar beberapa menit yang lalu, semuanya menjadi jelas. Ia sebenarnya mulai ditinggalkan oleh Jihyun perlahan-lahan. Wanita itu semakin lama akan semakin bergerak menjauh dari hidupnya, dan kemudian membuatnya hanya berdiri sendiri di tengah kesendirian hidupnya yang sunyi.

Ting Tong! Ting Tong!

Donghae menekan bel pintu rumah itu dengan tidak sabar sambil mengusap wajahnya kasar. Ia sepertinya sedikit mabuk malam ini setelah meneguk beberapa gelas wine. Tapi ia masih bisa menyadari dimana keberadaanya sekarang dan apa tujuannya datang ke tempat ini. Ia ingin mengobati perasaan kesepiannya yang mengerikan ini, lalu menggantinya dengan perasaan tenang yang menentramkan.

“Donghae? Apa kau gila! Ini pukul dua belas malam, dan kau….”

Grep

Donghae langsung memeluk tubuh konselornya yang mungil hingga menyebabkan Yoona hampir terjengkang ke belakang. Beruntung wanita itu sempat berpegangan pada pinggiran pintu, sehingga ia mampu menahan beban tubuh Donghae yang cukup berat di depannya.

“Kau mabuk?” Tanya Yoona bingung sambil mencoba mendorong tubuh Donghae menjauh darinya. Namun Donghae terus mengeratkan pelukannya hingga akhirnya Yoona memilih menyerah dan membiarkan Donghae tetap berada di dalam posisi seperti itu untuk beberapa saat.

“Yoona, aku tidak mau ditinggalkan. Aku takut merasa kesepian dan sendiri.”

Yoona mengernyitkan dahinya bingung sambl menatap wajah Donghae yang sayangnya terhalang oleh punggung tegap pria itu yang masih setia menempel di tubuhnya.

“Ada apa denganmu? Bagaimana jika kita membicarakannya di dalam, tidak enak jika ada orang lain yang melihatnya.” Ucap Yoona mencoba bersabar sambil membawa tubuh Donghae masuk ke dalam rumahnya. Dengan langkah gontai Donghae mengikuti arah langkah Yoona dan ia baru benar-benar sadar jika ia telah mengganggu waktu istirahat konselornya.

“Apa aku mengganggu waktu tidurmu?”

“Tidak masalah, ini lebih baik daripada kau melampiaskan emosimu dengan membuat kekacaun di bar. Tunggu sebentar, aku akan mengganti pakainku dengan pakaian yang lebih layak.”

Yoona langsung berjalan cepat menuju kamarnya untuk mengganti gaun tidur tipis yang sebelumnya ia kenakan. Jika dipikir-pikir tindakan Yoona membukakan pintu rumahnya dengan gaun tidur setipis itu memang sangat beresiko dan terkesan ceroboh. Namun ia tak memiliki pilihan lain karena ia sangat terkejut ketika tiba-tiba serentetan bunyi bel ditekan dengan begitu kasar oleh seseorang di depan pintu rumahnya. Ia takut suara bel itu membangunkan tidur pulas Aleyna dan juga tetangganya yang lain karena pria itu menekan bel di tengah malam yang sunyi dan senyap.

“Minumlah, coklat panas dapat membuat tubuhmu sedikit rileks.”

Yoona meletakan secangkir coklat panas yang masih mengepulkan uang tipis di atas meja kaca di depan Donghae. Melihat Yoona yang datang dengan secangkir coklat panas membuat Donghae sedikit menaikan alisnya karena ternyata wanita itu tidak meninggalkannya untuk tidur seperti dugaanya.

“Kupikir kau tertidur karena kau sangat lama.”

“Aku membuatkan coklat panas untukmu. Malam ini kau terlihat kacau lagi, ada apa?”

“Entahlah, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Tapi aku merasa kesepian. Dan baru saja aku menghubungi Jihyun, ia sedang berpesta dengan teman-temannya di New York.” Cerita Donghae datar. Yoona dapat melihat adanya gurat-gurat kekecewaan dan juga kesedihan di wajah Donghae. Namun ia tak mengerti mengapa Donghae terus merasakan hal itu di hatinya. Pria itu pasti belum benar-benar menceritakan sisi lain kehidupannya selama ini. Masih ada hal-hal khusus yang disembunyikan Donghae darinya hingga ia tidak bisa menjangkau pria itu lebih jauh untuk sekedar memberikan saran atau mencarikan jalan keluar untuk masalah pria itu.

“Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kau masih memiliki banyak hal yang tidak kuketahui bukan?”

“Menurutmu? Aku tidak bisa membagi rahasiaku begitu saja padamu bukan? Kau dan aku, kita adalah dua orang asing. Tapi perlahan-lahan mungkin aku akan mempercayaimu dan membagi semua rahasiaku padamu. Sekarang katakan padaku bagaimana caranya agar aku tidak merasakan kehampaan ini lagi.”

Yoona mendengus sebal dengan gaya angkuh Donghae yang lagi-lagi dimunculkan oleh pria itu di depannya. Mungkin pria itu memang memiliki gangguan kepribadian seperti dugaanya dulu karena pria itu sering sekali terlihat berubah-ubah di depannya. Di satu sisi pria itu akan terlihat seperti pria rapuh, namun di sisi lain pria itu akan menunjukan kearogannya yang menyebalkan dan memuakan.

“Kau terlalu banyak memakai topeng untuk menutupi semua masalah yang menimpamu. Jika kau benar-benar ingin masalahmu selesai, kau harus mempercayaiku sebagai konselormu.” Omel Yoona kesal. Donghae tiba-tiba menarik tangannya. Memaks Yoona untuk mendekat kearahnya, lalu menatap wanita itu tajam hingga membuat Yoona seketika berdebar-debar karena perilaku Donghae yang tiba-tiba itu.

“Jika kau seorang kosenlor yang hebat, sekarang lihat mataku dan cari tahu apa yang terjadi padaku.”

Yoona menatap manik kelam Donghae ragu dan mulai menyelami kehidupan pria itu dari sorot matanya. Sejujurnya posisi mereka saat ini membuat Yoona tidak nyaman, karena Donghae tengah menahan pinggangnya dan mendudukannya di atas pangkuannya. Tapi ia juga tidak bisa menghindar karena pria itu memaksanya untuk mencari tahu sendiri keadaan hidupnya yang penuh misteri.

“Kau pria yang rapuh.” Ucap Yoona sambil menatap tajam manik kelam Donghae. Kemudian satu persatu hipotesis Yoona mulai muncul dan membuat Donghae sedikit puas karena ternyata Yoona benar-benar hebat, seperti apa yang tertulis di dalam brosur yang pernah ia baca.

“Kau takut ditinggalkan karena kau tidak suka kesendirian. Kau mempunya trauma di masa lalu yang menyebabkan kau menjadi seperti ini. Dugaanku itu karena kau kehilangan kedua orangtuamu diwaktu yang bersamaan. Lalu….”

“Cukup. Itu sudah cukup Yoona. Aku tahu kau bisa membaca semua masa-masa kelamku melalui kedua mataku. Tapi untuk saat ini itu cukup. Dan sekarang kau bisa memberiku saran agar aku tidak merasakan hal itu lagi karena sejujurnya aku bosan hidup dengan keadaan seperti ini.”

Yoona kemudian segera turun dari pangkuan Donghae setelah pria itu dengan sendirinya melepaskan tangan kirinya dari pinggangnya. Dengan gerakan kaku, Yoona mulai berjalan menjauh dan mengambil posisi duduk yang jaraknya lebih jauh dari posisi duduk Donghae sekarang. Ia tidak mau dibuat canggung lagi oleh Donghae karena pria itu memiliki jalan pikiran yang terkadang diluar pikiran manusia normal.

“Kau takut aku akan memakanmu?”

“Hanya mempertahankan keprofesionalitasan. Sikapmu tadi sungguh tidak etis, tapi aku berusaha memahaminya karena kupikir dengan cara itu kau bisa sedikit terbuka padaku.” Ucap Yoona beralasan. Mereka kemudian dilanda keheningan cukup panjang hingga Yoona akhirnya berinisiatif untuk berbicara.

“Jika kau takut merasa sendiri, kau harus mencari seseorang yang bisa membuatmu merasa nyaman. Selain Jihyun, apa kau memiliki sahabat? Untuk tahap awal, keberadaan pihak ke tiga di sekitarmu akan membantu untuk mengurangi perasaan mengganggu yang sering kau rasakan setiap Jihyun meninggalkanmu untuk berkarir.”

“Aku tidak terlalu dekat pada siapapun sejauh ini. Sulit mencari seorang teman yang benar-benar bisa memposisikan dirinya sebagai teman disaat aku memiliki kekayaan dan jabatan penting di kantor. Orang-orang yang mendekatiku, mereka tidak murni. Mereka hanya ingin memanfaatkanku untuk keuntuntungan mereka sendiri. Dan sebenarnya aku memiliki seorang sahabat, Lee Hyukjae namanya. Tapi aku tidak mungkin terus menerus mengganggu kehidupannya, karena ia sudah memiliki keluarga yang harus ia jaga.”

“Tapi kau bisa menggangguku, kenapa kau tak bisa mengganggu Lee Hyukjae?” Tanya Yoona tiba-tiba dengan raut wajah gusar.

“Aku membayarmu untuk menjadi kosenlorku Im Yoona.” Ucap Donghae penuh peringatan. Yoona mendecih kesal dalam hati, lalu ia meminta Donghae untuk melanjutkan ceritanya mengenai Lee Hyukjae yang belum sepenuhnya disampaikan oleh pria itu.

“Hyukjae memiliki keluarga. Sebuah keluarga yang sempurna, padahal dulu Hyukjae adalah seorang bad boy dan player. Tapi pada akhirnya ia bisa menemukan seorang isteri yang pas untuknya dan mampu memberikan kebahagiaan untuknya. Hyukjae juga telah memiliki seorang putra yang sangat lucu bernama Jisung. Melihat mereka, terkadang membuatku iri pada Hyukjae. Aku tak menyangka jika pria seliar Hyukjae dapat menemukan seorang isteri yang tepat untuknya. Sementara aku, aku selama ini tidak pernah mempermaikan wanita. Aku selalu menghormati mereka dan berusaha bersikap baik pada mereka. Tapi entah kenapa aku justru selalu dikecewakan oleh mereka. Sejak senior high school aku tidak pernah benar-benar mendapatkan wanita yang tepat untukku.”

Yoona mendengarkan cerita yang dilontarkan Donghae dengan seksama sambil berusaha menggali lebih dalam apa yang sebenarnya Donghae rasakan selama ini. Dan ia telah menemukan beberapa hal yang menjadi sumber masalah untuk Donghae, yaitu kesibukan isterinya, masa lalunya bersama orangtuanya, dan rasa iri pada sahabatnya, Lee Hyukjae.

“Untuk saat ini aku menyarankanmu untuk melakukan hal-hal yang bisa membuatmu melupakan rasa kesepianmu. Kau mungkin bisa menyibukan diri di kantor dan mulai menata jadwalmu untuk melakukan kegiatan sosial. Kegiatan sosial bukankah bagus untuk pengusaha sepertimu?”

“Tapi aku menginginkan sebuah solusi yang akan menyembuhkanku secara permanen, bukan secara temporer.”

“Itu tergantung pada dirimu sendiri Lee Donghae ssi. Dan aku sebenarnya masih bingung, apakah kesepianmu itu hanya ketika Jihyun meninggalkanmu dengan kesibukannya atau itu terjadi terus menerus meskipun Jihyun berada di sampingmu?”

“Kurasa semakin lama hal itu semakin parah. Dulu aku merasakannya ketika Jihyun sibuk dengan dunianya karena dengan begitu aku merasa terabaikan. Dan sekarang, meskipun Jihyun berada di sampingku aku tetap merasakan hal itu. Apa menurutmu aku telah berubah menjadi orang gila?” Tanya Donghae dengan gelak tawa hambar. Yoona mengernyitkan dahinya heran dan merasa semakin pusing dengan gangguan psikis yang dialami Donghae. Mungkin sebenarnya semua itu akan hilang jika Jihyun tidak pergi untuk karir keartisannya dan wanita itu bersedia memberikan keturunan untuk Donghae. Ya, sekarang ia tahu apa jawabannya. Tapi ini tidak semudah itu karena Lee Jihyun telah bertekad untuk menjadi seorang super model yang sukses. Dan bahkan Donghae sendiri tidak bisa menghentikan ambisi isterinya. Lalu apa yang harus ia lakukan untuk kliennya yang malang ini? Menggantikan posisi Jihyun? Hah, Yoona rasanya ingin tertawa keras memikirkan hal itu. Pikirannya yang konyol itu jelas sangat mengerikan. Bagaimana mungkin ia bisa memikirkan ide gila yang sama saja akan melanggar kode etik profesinya. Bahkan kegiatannya saat ini bersama Donghaepun telah melanggar beberapa pasal dalam kode etiknya. Ia seharusnya tidak boleh membawa kliennya ke rumah, apapun kondisinya karena hubungan mereka hanya sebatas klien dan konselor, tidak lebih!

“Apa lagi yang kau pikirkan? Kau tidak memiliki solusi untukku?” Tanya Donghae menginterupsi pemikiran konyol Yoona. Wanita itu menggeleng pelan dan mulai mengeluarkan jawaban briliannya dari dalam kepalanya.

“Kurasa solusi satu-satunya untukmu adalah membawa Jihyun kembali padamu dan membuatnya bersedia mengandung anak untukmu. Bukankah itu masalah sebenarnya yang kau hadapi. Tapi kemudian semua itu menjadi menjalar ke berbagai hal, seperti kematian orangtuamu dan rasa irimu pada Lee Hyukjae.”

“Jadi, inti dari jawabanmu adalah aku tidak bisa mendapatkan solusi dari masalahku karena Jihyun jelas-jelas tidak akan mau melakukannya hingga setidaknya dua tahun lagi. Jika aku terus bertahan dengan keadaan seperti ini, tidak menutup kemungkinan kau akan mendapatkan heading di koran jika CEO perusahaan penerbangan, Lee Donghae, mengalami depresi berat karena ditinggalkan oleh isterinya.” Ucap Donghae berlebihan. Yoona tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Donghae sambil memegangi perutnya yang terasa sakit karena benar-benar merasa geli dengan cara bicara Donghae yang menjadi lebih hiper bola.

“Kau berlebihan. Aku pasti akan menolongmu sebelum kau benar-benar menjadi topik pembicaraan masyarakat Korea.”

“Oya? Bagaimana caranya? Kau ingin menggantikan posisi Jihyun mengandung anakku?”

Seketika Yoona langsung menghentikan tawanya sambil menatap tajam Lee Donghae.

“Itu tidak lucu tuan Lee. Ingat, hubungan kita hanya sebatas rekan kerja. Kau harus profesional.”

“Ck, kenapa kau menanggapinya terlalu serius? Tapi kurasa kita benar-benar cocok dalam hal itu. Bukankah kau ingin mengandung darah dagingmu sendiri, dan aku juga ingin memiliki keturunan. Jadi kurasa kita bisa saling melengkapi.”

Bughh

Yoona melemparkan bantal sofa yang bisa dijangkaunya kearah Donghae dan tepat mengenai kepala pria itu yang semakin lama semakin tidak waras.

“Jangan harap aku mau melakukannya karena aku hanya akan mengandung anak dari seorang pria yang kucintai.” Ucap Yoona sinis. Wanita itu terlihat sangat kesal pada Donghae karena pria itu semakin lama semakin menjengkelkan dengan pikiran liarnya.

“Oh ya? Jangan salahkan aku jika tiba-tiba kau berbalik menyukaiku.” Ucap Donghae penuh percaya diri. Pria itu tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berjalan penuh seringaian kearah Yoona.

“Hey, ada apa dengan wajahmu?” Tanya Yoona was-was. Wanita itu beringsut mundur, menempelkan tubuhnya semakin rapat pada sandaran kursinya ketika tiba-tiba Donghae mencondongkan tubuhnya sedikit rendah di depannya dengan kedua tangan yang bertumpu pada kedua lengan sofa yang diduduki oleh Yoona.

“Menurutmu apa?” Tanya Donghae dengan seriangain mengerikan.

“Jangan main-main Lee Donghae atau aku akan berteriak!” Ancam Yoona mulai ketakutan. Saat ini ia hanya sendiri di rumah itu. Tidak menutup kemungkinan jika Donghae akan melakukan perbuatan nekat padanya karena bagaimanapun mereka berdua adalah dua orang manusia dewasa dengan jenis kelamin berbeda dan juga tidak memiliki hubungan darah apapun.

“Kau tahu Yoona….”

Donghae menggantungkan kalimatnya dengan gaya sensual yang sangat menyebalkan dan semakin mencondongkan tubuhnya kearah Yoona hingga Yoona mau tak mau harus merasakan hembusan napas Donghae yang panas di wajahnya. Dan sedetik kemudian pria itu berbisik pelan di telinganya sambil mendaratkan sebuah kecupan ringan yang berhasil membuat Yoona berteriak-teriak marah hingga hampir menendang pria itu jauh-jauh darinya.

“Aku sebenarnya ingin pulang.”

“Sialan kau Lee Donghae! Pergi dari rumahku sekarang!”

Donghae tertawa terbahak-bahak menatap wajah konselornya yang berubah menjadi merah padam di depannya. Menggoda Yoona ternyata sangat mengasyikan dan bisa membuat rasa kesepiannya menghilang.

“Sshhhhh… kau akan membangunkan Aleyna dan tetangga-tetanggamu.” Bisik Donghae sambil membekap mulut Yoona rapat-rapat. Wanita itu lantas meronta-ronta brutal di depan Donghae sambil menendang-nendang pria itu tak tentu arah, namun gagal.

“Lepaskan hmmpphh… Per…. Hmmppff..”

“Aku akan melepaskanmu, tapi jangan berteriak.”

Donghae kemudian mundur tiga langkah dari tempatnya berdiri di tempat semula sambil menatap puas Yoona yang terlihat terengah-engah dengan wajah merah padam karena marah. Rasanya ia senang sekali melihat wanita itu berubah beringas karena ulah jahilnya.

“Sekali lagi kau bersikap kurang ajar padaku, aku tidak mau lagi menjadi konselormu. Pergi dari rumahku sekarang.”

“Kenapa kau berlebihan seperti itu? Aku hanya mencium pipimu, bukan mencium bibirmu. Bukankah itu hal biasa? Jangan terlalu norak Im Yoona.” Ucap Donghae mengejek. Yoona menggeram kesal di kursinya sambil menggenggam buku-buku tangannya hingga memutih. Pria itu bisa dengan santainya mengatakan hal itu, tapi ia tidak demikian. Sampai saat ini ia masih berdebar karena perilaku pria itu yang tiba-tiba menciumnya. Sejak ia bercerai, ia belum pernah melakukan hal seintim itu pada seorang pria karena selama ini ia selalu menutup diri. Ia belum siap kembali menjalin hubungan dengan seorang pria dan masih ingin menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya bersama Aleyna.

“Tetap saja itu tidak bisa dilakukan pada sembarangan orang. Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja, aku tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti..”

“Seperti apa?” Tantang Donghae. Yoona terdiam kaku dan terlihat tak bisa menjawab pertanyaan Donghae yang seolah-olah seperti sedang memojokannya dan pikiran nistanya.

“Ssse seperti… ahh, terserah! Sekarang cepatlah pulang, ini sudah terlalu larut untuk bertamu. Aku lelah, aku perlu istirahat untuk menyiapkan hariku yang melelahkan nanti.”

Donghae tersenyum simpul melihat reaksi Yoona yang sangat lucu di depannya. Pria itu lalu melirik jam tangannya sekilas dan memutuskan untuk benar-benar pulang setelah ini. Kasihan Yoona jika ia terus mengganggu wanita itu di jam dua dini hari seperti ini. Apalagi wanita itu nanti masih memiliki banyak pekerjaan untuk diselesaikan di kantornya sebagai seorang konselor dan juga sebagai seorang ibu yang menakjubkan untuk Aleyna. Jadi, sekarang ia benar-benar akan pulang. Ia tidak akan membuat masalah lagi dengan Yoona yang akan berujung pada perdebatan kecil yang sangat lucu ini menurutnya.

“Baiklah, aku pulang. Terimakasih untuk waktumu malam ini. Dua hari kedepan mungkin aku tidak akan datang karena aku memiliki perjalanan bisnis ke Itali, jadi jangan merindukanku.” Kekeh Donghae percaya diri. Yoona mendengus kesal di hadapan pria itu dan segera mengambil bantal sofa untuk memukul lengan kiri pria itu pelan.

“Aku tidak akan merindukanmu. Justru kau yang mungkin akan merindukanku.” Ucap Yoona acuh tak acuh. Donghae mengedikan bahunya sekilas. Namun kemudian ia mengiyakan ucapan wanita itu dalam hati karena mungkin ia memang akan meridukan suara berisik Yoona dan kata-kata bijak Yoona yang menenangkan dua hari kedepan.

 

23 thoughts on “Kontratransferensi: Scared To Be Lonely Part 1 (Six)

  1. Yahh makin menarik nih ceritanya moment yoonhae banyakin chingu dan panjangin ceritanya pengen liat kedekatan donghae sama aleyna

  2. Hahh,,yoonhae bner* mkin mkin mkin dket jga mkin lengket….tp klo ingt knytaan klo donghae udh mnikah tuhh jd gmna ya…
    Hwaiting,,post cpet yaaa

  3. Wah… Sudah mulai tercium bau2 cinta diantara mereka 😂😂. Mungkinkah suatu hari nanti mereka bisa bersatu menjadi sepasang suami istri? Next chingu semangat 💪💪

  4. Hahaha kampret emang si Donghae. Ditunggu next chapternya Thor. Semoga YH bisa bersatu

  5. Tanpa donghae sadari dia sudah merasa nyaman dengan keberadaan yoona, dan mulai bergantung pada yoona…

    Jessica adik dari ayah kandung aleyna? Semoga aja setelah bertemu yoona dan melihat bagaimana yoona merawat aleyna dia gk akan tega buat ngambil aleyna dari yoona…

    Next thor… Ditunggu part berikutnya… Fighting

  6. Ekhem ekhem seprti ny ada yg mulai tumbuh hihihi
    Suka interaksi mereka kaya kucing sama tikus hihihi

  7. Owowwh&,,makin mesra(?) 😅😅 moga ja jihyun bener2 slingkuh 😁😁😂 kesepiannya hae hnya(?) bisa hilang saat sma yoong,, mkin deket makin brani makin sosweet 😂😂 nikah nikah aja..

    next kk.. figting,, terima kasih telah post malam ini dan maaf untuk teror2 ffnya kk 😂😂

  8. Suka suka sama ceritanya 😂
    Ketawa sendiri bayangin adegan mereka yg terakhir

  9. Aaah yoonhae udah mulai saling goda, lucunyaa..
    Btw keknya yg dicari jessica itu aleyna deh.
    Duh makin rumit pasti ceritanya, tp gpp makin seru jg, feelnya jg dapet. Bagus..
    Ditunggu lanjutannya 🙂

  10. beneran Lee Donghae pengacau…
    bikin kesel, lucu kasian juga haepa.
    Yoong sabar ya…
    next part plzzz. gomawo

  11. Akhirnyaa di lanjutttttt…
    Jessica? setahuku Jessica itu kan ibunya Aleyna mantan pasien Yoona yg bunuh diri itu ,tapi kenapa Jessica ada lagi sebagai gurunya Aleyna yg nyari kk iparnya yg hamil??
    dan soal Donghae, makin seneng sifat dia udah rada berubah sama Jihyun.. bagus deh dia jangan terlalu peduli ,biar makin peduli aja sama Yoona hahahaha di tunggu kelanjutan kisah mereka semoga makin sweet lagi ya di next chapter.

  12. Ahhh…manis sekali😚 cukup dibuat penasaran sama hbungan mereka kedepannya..next ditunggu😊

  13. Duh duh.. Ini gimana ya.. Aku galau gini nih. Posisi Donghae kan udah nikah. Jadi aku bingung. Seneng sih sama interaksi Yoona sama Donghae. Dan aku berharap banget mereka bakal bersama..
    Tapi kalau gitu kan Yoona jadi orang ketiga ya.
    Makin penasaran sama ceritanya.
    Jihyun juga itu selingkuh atau emang cuma teman aja.
    Lanjut baca chapter selanjutanya ah.. Hihi..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.