Imperfect Therapist Part 2 (Chapter Five)

Recomended Song Taeyeon – I Blame On You

 

Yoona menghembuskan napasnya lega sambil membasuh tangannya dan juga wajahnya di depan cermin toilet hotel. Ia benar-benar sangat lega sekarang karena berhasil kabur dari suasana canggung yang terjadi antara dirinya, Lee Seunggi, Lee Donghae, dan isteri-isteri mereka. Sejak tadi ia tidak berani membuka sedikitpun suara untuk menimpali ucapan mereka. Ia hanya diam sambil meremas-remas tangannya gelisah karena ia ingin segera pergi dari kerumunan orang-orang yang terasa mengintimidasinya itu. Dan untung saja Aleyna datang disaat yang tepat untuk memintanya mengambil puding di meja di bagian utara, sehingga ia segera memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi menjauh dari pasangan keluarga Lee yang seolah-olah tidak pernah menganggapnya ada diantara mereka. Karena hanya Seunggi yang terus mengajaknya berbicara, sedangkan isterinya dan rekannya seperti sedang mengulitinya hidup-hidup dengan tatapan mereka yang tajam. Ditambah lagi Donghae juga melakukan hal yang sama padanya. Pria itu sejak tadi terus menatapnya dengan tatapan yang… entahlah. Jenis tatapan yang diberikan Donghae sangat sulit untuk ditafsirkan. Pria itu seolah-olah terlihat marah, benci, kasihan, dan menuntut penjelasan disaat yang bersamaan padanya.

“Ya Tuhan, kenapa sial sekali hari ini. Seharusya aku dan Aleyna tidak perlu datang jika pada akhirnya aku hanya akan mendapatkan tatapan mencemooh dari wanita-wanita sosialita itu.” Ucap Yoona bermonolog dengan cermin. Wanita itu lantas segera menyelesaikan kegiatannya bercermin dan merapikan kembali penampilannya. Ia sepertinya akan segera mengajak Aleyna pulang setelah ini karena ia sudah tidak tahan berada di dalam ruangan yang sama bersama Lee Seunggi. Pria itu sejak tadi terlalu gegabah dengan terus mendekatinya dan mengajaknya mengobrol masalah Aleyna, padahal jelas-jelas mereka sedang diintai oleh puluhan kamera para papparazi dan sepasang iris tajam Yeon Ju yang tak terima jika suaminya berdekatan dengan mantan isterinya.

Setelah memastikan penampilannya rapi, Yoona segera berjalan keluar dari toilet hotel yang sunyi itu. Namun baru beberapa langkah ia berjalan meninggalkan toilet itu, seseorang tiba-tiba mendorongnya masuk ke dalam toilet dan mengunci pintu toilet itu rapat-rapat hingga membuat Yoona panik seketika. Namun ketika ia tahu siapa yang telah membuat masalah padanya beberapa saat yang lalu, Yoona segera berkacak pinggang sambil menatap pria itu horor.

“Ada apa denganmu? Menyingkirlah dari sana, aku harus pulang bersama Aleyna.” Ucap Yoona gusar. Namun pria di depannya hanya menatap wajah Yoona datar sambil menyilangkan kedua tangannya dengan gaya angkuh.

“Bukankah ini sebuah kebetulan yang tidak terduga. Kita bertemu lagi nona Im.”

“Ck, kenapa kau bergaya ponggah seperti itu Lee Donghae ssi? Bisakah kau menyingkir dari jalanku sekarang juga? Aku harus mencari Aleyna dan pulang. Kami sudah terlalu lama berada di sini, dan aku masih memiliki banyak pekerjaan di rumah.” Ucap Yoona kesal. Ia lantas mendorong tubuh Donghae ke kanan dengan kasar dan mencoba untuk meraih gagang pintu yang di tahan oleh tubuh Donghae. Namun usahanya itu gagal begitu saja ketika Donghae langsung memojokannya ke dinding sambil menatap manik coklat itu tajam.

“Jelaskan padaku apa yang selama ini kau sembunyikan dariku dan dari semua klienmu.” Desis Donghae mengerikan. Yoona balas menatap manik hitam Donghae tajam sambil mencoba melepaskan kedua telapak tangan lebar Donghae yang menekan pundaknya dengan keras.

“Aku tidak pernah menyembunyikan apapun darimu. Aku selalu bersikap profesional di hadapanmu dan juga seluruh klienku, jadi sekarang kuminta kau menyingkir dariku agar aku tidak perlu berteriak untuk memancing orang-orang agar datang ke sini.”

Lee Donghae terkekeh pelan, menertawakan kebodohan dan juga ketakutan yang tampak terpatri jelas dari kedua manik coklat Yoona. Ia bahkan telah mengantisipasi hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi jika Yoona berusaha berteriak. Ia telah memasang tanda di depan toilet jika toilet itu rusak, jadi tidak akan ada satupun yang mendekati toilet itu selama mereka masih berada di dalam sana.

“Kau yakin? Lalu bagaimana dengan para mantan suamimu dan putrimu, Aleyna. Bisakah kau jelaskan hal itu padaku?”

Tiba-tiba saja seluruh wajah Yoona memucat dan ia tidak langsung kehilangan keberaniannya untuk melawan Donghae. Dengan suara bergetar Yoona bertanya pada Donghae sambil mencengkeram lengan Donghae erat.

“Dddarimana kau tahu?”

“Oh, jadi semua rumor itu benar? Selama ini kau telah menikah sebanyak dua kali dan kesemuanya gagal. Kau gagal mempertahankan hubungan rumah tanggamu dan kau dengan sok bijaksana memberikan nasihat pada orang-orang yang datang padamu terkait masalah pernikahan. Profesionalitas macam apa yang kau maksudkan selama ini, hah?” Tanya Donghae sakarstik. Yoona lantas mengalihkan tatapan matanya kearah lain sambil menahan bulir-bulir air mata yang hampir menets dari kedua matanya. Kata-kata yang dilontarkan Donghae padanya terlalu menyakitkan meskipun hal itu benar adanya. Ia adalah seorang konselor yang gagal, yang hanya bisa memberikan nasihat omong kosong yang tak berarti. Seharusnya orang-orang memang tidak perlu meminta saran darinya karena ia sendiri saja bahkan tidak bisa mencari jalan keluar untuk masalahnya sendiri.

“Maaf, bisa kau lepaskan tanganmu?” Tanya Yoona parau. Wanita itu tiba-tiba saja terlihat begitu rapuh dan tak berdaya. Namun Donghae sama sekali tak terpengaruh dengan ekspresi wajah Yoona yang tampak menyedihkan di depannya. Ia justru semakin mendorong Yoona ke dinding agar wanita itu segera menjelaskan masalahnya yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang. Sebagai seorang klien ia merasa tertipu dan tolol karena telah diperdaya oleh wanita itu dengan semua saran-saran yang terdengar begitu meyakinkan.

“Kau akan lari begitu saja setelah membohongiku dan seluruh klienmu? Cih, tidak bertanggungjawab.” Decih Donghae kejam.

“Lalu apa yang harus kulakukan? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Seharusnya saat itu kau tidak memaksaku untuk menjadi konselormu jika kau pada akhirnya hanya akan mencemoohku. Dan lagi, kau tidak tahu apapun tentangku, jadi kau tidak berhak menghakimiku seperti ini!” Ucap Yoona berapi-api. Ia terlihat terengah-engah setelah kalimat panjangnya yang cukup menguras emosinya yang sedang meledak-ledak. Jika pria itu memang menginginkan penjelasan darinya, maka ia akan menceritakan semua kehidupannya pada pria itu. Semuanya! Hingga pria itu puas dan mengijinkannya pergi dari cengkeraman kedua tangannya yang menyakitkan.

“Aku ingin kau jujur padaku karena aku merasa menjadi klien yang telah kau tipu mentah-mentah selama ini. Pantas semua saran yang kau berikan tidak pernah berhasil karena selama ini kau hanya memberikan saran omong kosong yang sama sekali tidak berguna untukku.”

Yoona memejamkan matanya pelan, mencoba meredam emosinya dan juga kesedihannya agar ia tidak terlihat semakin menyedihkan di depan Donghae. Andai waktu dapat diputar, ia ingin sekali menghapus Donghae dari daftar nama-nama kliennya dan menjauhkan pria itu dari kehidupannya. Ia sadar jika akhir-akhir ini ia terlalu mudah menerima pria itu masuk kedalam kehidupannya hingga kini pria itu dapat menghakiminya dengan sesuka hati tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.

“Ya, aku memang pernah menikah dua kali dan gagal. Aku dulu pernah menikah dengan Lee Seunggi dan Yunho. Pria yang saat itu bertemu denganmu adalah mantan suamiku. Yunho oppa bukanlah suamiku sekarang karena kami telah bercerai lebih dari setengah tahun yang lalu. Apa kau puas sekarang!”

“Belum. Aku ingin tahu kenapa kau bercerai dan kenapa kau menipu semua orang dengan mengatakan jika kau adalah konselor hebat jika pada kenyataanya kau sangat payah.” Ucap Donghae semakin keterlaluan. Yoona tak kuasa membendung air matanya dan akhirnya ia benar-benar menangis di depan Donghae.

“Karena aku sendiri juga tidak tahu kenapa! Aku tidak tahu kenapa hidupku sangat sial seperti ini? Dikhianati oleh Lee Seunggi dan mendapatkan pri mandul seperti Yunho oppa! Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin hidup seperti ini. Aku ingin hidup normal, bersama suami dan juga anak-anakku. Tapi aku tidak bisa! Tuhan tidak membiarkan aku bahagia dengan keluargaku. Tapi untung saja Tuhan mengirimkan Aleyna padaku. Aleyna adalah sesosok malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku agar aku tidak perlu lagi terpuruk bersama kesedihanku. Apa kau sekarang sudah puas Lee Donghae?”

“Lalu siapa Aleyna sebenarnya jika ia bukan anakmu dengan Lee Seunggi dan Jung Yunho?”

“Kurasa kau sudah terlalu jauh mencampuri masalah pribadiku Lee Donghae ssi.” Desis Yoona dengan kilatan amarah yang tercetak jelas di kedua matanya. Namun Donghae sama sekali tak mempedulikan hal itu dan tetap menekan Yoona untuk memuaskan keingintahuannya yang sudah melebihi batas itu.

“Siapa Aleyna?”

“Aleyna adalah putri dari klienku yang mati karena bunuh diri. Sekarang lepaskan aku dan biarkan aku pergi.” Ucap Yoona tegas. Donghae lantas melepaskan kedua telapak tangannya dari pundak Yoona, namun pria itu sedikit memberikan sentakan pada tubuh Yoona hingga Yoona sedikit membentur dinding di belakangnya.  Lalu pria itu segera pergi begitu saja tanpa merasa bersalah sedikitpun dan meninggalkan Yoona yang langsung merosot turun di atas permukaan lantai kamar mandi yang dingin.

“Yoona?”

Yoona menoleh lemah kearah sumber suara dan langsung membuang wajahnya kesamping untuk menutupi kondisi wajahnya yang berantakan. Ia lalu bangkit berdiri dan segera membasuh wajahnya di westafel sebelum pria yang sempat memanggilnya itu terlihat semakin khawatir.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau di sini? Aku mencarimu sejak tadi karena Aleyna terus merengek ingin pulang.” Beritahu Lee Seunggi sambil mengamati pantulan wajah Yoona yang terlihat memerah dan juga berantakan. Yoona berusaha mengabaikan keberadaan Lee Seunggi di sana dan ia mencoba menyusun kalimat alibi agar Seunggi tidak menaruh curiga padanya jika ia baru saja terlibat masalah dengan Lee Donghae.

“Aku terpleset dan terkunci di kamar mandi. Tapi baru saja seorang petugas hotel datang untuk menolongku.” Kilah Yoona terdengar konyol. Lee Seunggi mengamati raut wajah Yoona khawatir, namun ia tidak menanyakan apapun terkait masalah Yoona. Ia tahu jika wanita itu baru saja bertemu dengan suami Lee Jihyun, Lee Donghae, karena ia sempat berpapasan dengan Lee Donghae beberapa saat yang lalu sebelum menemukan Yoona terduduk menyedihkan di atas lantai toilet yang dingin. Tapi ia tak mengerti mengapa Yoona bisa berurusan dengan Lee Donghae? Padahal mereka baru saja berkenalan di samping panggung bersama isterinya dan isteri pria itu. Namun untuk sesaat Lee Seunggi sedikit mengesampingkan hal itu dan memilih untuk fokus pada kondisi Yoona yang berantakan. Ia pun dengan tulus menawarkan diri untuk mengantar Yoona dan Aleyna pulang karena ia tidak tega membiarkan Yoona pulang dalam kondisi kacau seperti itu.

“Aku akan mengantarmu pulang.”

“Tidak perlu, aku bisa membawa mobil sendiri. Aku baik-baik saja. Sampai jumpa Seunggi ssi, dan terimakasih banyak.”

Yoona segera berjalan pergi meninggalkan Lee Seunggi sambil menundukan kepala untuk menghindari kontak mata dengan orang lain. Sedangkan Lee Seunggi hanya mampu memandang nanar punggung Yoona sambil menghembuskan napasnya berat karena sekarang ia mengkhawatirkan Yoona. Sudah pasti Yoona telah berbohong padanya terkait alasannya yang sangat konyol itu. Mungkin ia sedang memiliki masalah dengan Donghae, dan mungkin mereka tadi hanya berpura-pura tidak saling kenal di depannya jika pada kenyataanya ia melihat Donghae keluar dari toilet wanita dengan wajah dingin yang terlihat penuh emosi.

Lee Seunggi lantas berjalan kembali kearah ballroom untuk kembali berbaur bersama para tamu undangan yang diundangnya. Namun ia telah bertekad akan mencari tahu kondisi Yoona lebih lanjut setelah pesta ulangtahun putranya berakhir karena ia masih memiliki satu pertanyaan di dalam kepalanya, apakah Aleyna anak kandungnya?

-00-

Yoona berjalan gontai menuju kamarnya dan melemparkan tubuhnya begitu saja ke atas ranjang dengan keras. Entah kenapa ia begitu sedih setelah mendengarkan serentetan nada mencemooh Donghae yang dilontarkan padanya, padahal seharusnya ia bersikap biasa karena hal itulah yang memang terjadi padanya. Tapi entah mengapa ia merasa perkataan Donghae begitu menohok hatinya. Pria itu memporak-porandakan pertahanan hatinya yang sudah lama ia keraskan agar ia tidak perlu bersedih menangisi nasibnya yang menyedihkan.

Dulu hal serupa juga pernah ia dapatkan. Suatu ketika ia mendapatkan seorang klien yang selama ini adalah fans berat Lee Seunggi dan Yeon Ju. Klien itu dengan sengaja berpura-pura datang ke kantornya dan menyamar menjadi kliennya untuk memberikan serentetan cacian yang kata-katanya sangat tidak pantas untuk diucapkan. Namun ajaibnya saat itu ia tidak merasakan apapun. Ia hanya diam mendengarkan wanita itu memaki-makinya, lalu setelah itu ia langsung memanggil petugas keamanan untuk menyeret wanita itu pergi dari kantornya. Namun hari ini semuanya terasa berbeda. Ia tiba-tiba saja ingin menangis ketika Donghae menuduhnya sebagai penipu dan sebagai konselor gagal yang dengan sombongnya memberikan nasihat pada masalah orang lain yang bahkan kadarnya jauh lebih berat dari masalahnya. Mungkin ia sedih karena ia terlalu terbawa emosi hari ini. Sejak ia menginjakan kakinya di lantai ball room semua lensa menyorot kearahnya dan mereka semua seperti seseorang yang akan memangsanya sewaktu-waktu ketika ia lengah. Ditambah lagi tatapan mengintimidasi Yeon Ju dan isteri dari Lee Donghae yang mungkin telah terprovokasi oleh Lee Yeon Ju,  sehingga ia merasa begitu tertekan dan rapuh di sana. Tapi dengan begitu ia yakin, ia tidak perlu lagi berurusan dengan Lee Donghae yang menyebalkan karena pria itu pasti tidak akan datang kepadanya untuk berkonsultasi. Pria itu pasti sudah jera untuk berkonsultasi dengannya yang notabenenya adalah seorang penipu. Ya, dia adalah penipu! Penipu yang bersembunyi dibalik keprofesionalitasan dan wajah menenangkan bak malaikat penolong.

Drtt drtt drtt

Yoona merasakan ponsel putihnya bergetar di samping tubuhnya. Dengan malas ia meraih ponselnya dan segera menempelkan benda persegi itu pada telinganya tanpa melihat nama sang penelpon yang tertera di layar ponselnya.

“Ya, dengan Im Yoona di sini.” Sapa Yoona dengan suara formal. Tak berapa lama munculah suara seorang pria yang tidak asing untuknya, dan mengetahui hal itu Yoona langsung beranjak duduk sambil mengecek layar ponselnya sekali lagi.

“Sial!” Gumam Yoona kesal. Ia langsung mencari posisi yang nyaman untuk berbicara dengan sang penelpon yang sudah pasti akan menasihatinya panjang lebar.

“Kau masih di sana Yoong?”

“Aaaku masih di sini oppa, tumben oppa menghubungiku. Ada apa?” Tanya Yoona berbasa-basi. Yoona lantas mulai memutar otak untuk menyiapkan jawaban-jawaban yang masuk akal agar Yunho tidak membombardirnya dengan serangkaian nasihat yang sangat mengganggu indera pendengarannya.

“Aku menghubungimu karena aku ingin berbicara penting padamu. Kau baik-baik saja?”

Yoona memutar bola matanya malas. Sudah lebih dari tiga kali ia mendapatkan pertanyaan seputar keadaanya. Namun dari semua pertanyaan itu, tak ada satupun yang berhasil Yoona jawab dengan jujur karena ia pasti akan menjawabnya dengan jawaban klise jika ia baik-baik saja.

“Ya, aku baik-baik saja. Ada apa oppa?” Tanya Yoona berusaha lembut dan tenang. Yunho terdengar menghembuskan napasnya sekali di ujung telepon, lalu pria itu mulai melanjutkan percakapan mereka yang sempat tertunda.

“Aku melihat beritamu yang baru saja menghadiri acara ulangtahun putra mantan suamimu bersama Aleyna. Kenapa kau memutuskan untuk datang jika pada akhirnya media hanya akan mengorek luka lamamu ke permukaan.”

“Oppa…”

Yoona mendesah berat. Ia menyandarkan tubuh lelahnya pada nakas ranjangnya, kemudian ia mulai menjawab pertanyaan dari Yunho dengan perasaan ragu.

“Aku tidak mungkin akan menghindarinya terus oppa. Aku harus berani dan keluar dari bayang-bayang masa laluku. Meskipun menyakitkan, namun aku harus tetap menghadapinya. Lagipula setelah semua itu berlalu, aku merasa baik-baik saja. Oppa tidak perlu khawatir.” Ucap Yoona menenangkan. Namun Yunho tampaknya tahu jika Yoona sedang berbohong padanya karena pria itu langsung menyangkal semua alasan palsu itu dengan telak. Dan hal itu langsung membuat Yoona mati kutu hingga tidak bisa mengatakan apapun.

“Kau mengatakan jika kau baik-baik saja. Tapi dari suara yang kudengar, kau justru berkata sebaliknya. Kau saat ini tidak sedang baik-baik saja. Aku tahu Yoong, aku bahkan lebih mengenalmu daripada dirimu sendiri. Jadi sekarang jujurlah padaku.”

“Haha.. kau memang selalu mengetahui diriku oppa. Aku tidak baik-baik saja.” Ucap Yoona akhirnya. Rasanya berbohong juga akan percuma karena Yunho memang lebih mengetahui kehidupannya dibandingkan dirinya sendiri.

“Jika kau tahu kau akan kembali tersakiti, kenapa kau memutuskan untuk datang?”

“Sebenarnya aku merasa tidak baik-baik saja bukan karena bertemu Lee Seunggi dan keluarganya, tapi karena hal ini. Untuk masalah Lee Seunggi, aku sudah tidak memikirkannya lagi. Tapi untuk masalah ini, aku merasa aneh. Masalah ini sama sekali tidak berhubungan denganku secara langsung, maksudnya penyebab dari masalah ini tidak ada ikatan apapun denganku. Ia adalah orang lain.”

“Sebenarnya siapa yang kau maksud jika itu bukan Lee Seunggi?”

“Kau tidak mengenalnya, dia adalah orang lain.” Ucap Yoona dingin. Ia merasa harus segera mengakhiri kesedihan hatinya dan segera menata kembali harga dirinya yang telah dihancurkan oleh pria sombong penuh kuasa itu.

“Kalau begitu aku ingin mengenalnya.”

“Tidak perlu oppa. Lebih baik sekarang oppa beristirahat karena aku juga ingin beristirahat. Sampai jumpa oppa.”

Yoona segera mematikan sambungan teleponnya dan menyimpan benda elektronik itu di atas nakas ranjangnya. Malam ini ia tidak boleh memikirkan semua masa lalunya yang pahit. Cukup sekali saja Lee Donghae menghancurkan hatinya dengan kalimat menyakitkan penuh tuduhan yang pria itu lontarkan padanya beberapa saat yang lalu.

-00-

Brakk

Donghae menggebrak meja kayu di depannya dengan kesal sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi karena semua masalah yang menghujaninya pagi ini. Sejak ia membuka mata, semua hal yang terjadi di sekitarnya selalu salah. Pertama, Jihyun membuat masalah dengannya dengan menghilangkan dasi bergaris kesukaanya yang merupakan hadiah pemberian mendiang ibunya. Kemudian saat di kantor ia kembali dibuat kesal karena sekretarisnya salah memasukan berkas penting ke dalam map yang seharusnya ia bawa untuk presentasi, sehingga waktu presentasinya menjadi lebih lama dan calon investor yang sebelumnya berniat untuk berinvestasi di perusahaanya menjadi enggan dengan tidak memberikan jawaban pasti seputar rencananya yang hendak berinvestasi. Selanjutnya ketika ia sedang makan siang bersama Hyukjae dan beberapa manager keuangan, seorang remaja awal dua puluhan tiba-tiba menabraknya yang sedang membawa satu cup kopi. Hal itu membuat seluruh kemeja bagian depannya kotor karena noda kopi dan membuatnya semakin uring-uringan karena ia harus membeli kemeja baru terlebihdahulu sebelum kembali lagi ke kantor. Dan sekarang ia merasa kesal karena ia tidak tahu harus menumpahkan seluruh kekesalannya pada siapa karena ia sudah tidak memiliki siapapun untuk mendengarkan seluruh keluh kesahya seharian ini. Sudah dua hari ia tidak menghubungi Yoona atau meminta wanita itu untuk menjadi konselornya karena ia muak dengan kebohongan yang dilakukan oleh wanita itu. Seenaknya saja ia memberikan nasihat pada orang lain, sementara dirinya gagal membangun kehidupan rumah tangganya sendiri. Untung saja Jihyun dan Yeon Ju segera memberitahunya, jika tidak, ia mungkin akan semakin tersesat dengan semua nasihat omong kosong yang diberikan wanita itu padanya.

“Berikan aku sebotol vodka.”

Donghae duduk di atas kursi bar sambil mengamati suasana ramai yang tersaji disekitarnya. Malam ini bar tempatnya singgah lebih ramai dari biasanya. Tapi mungkin saja juga tidak, karena ia jarang mendatangi bari ini. Ia hanya sesekali minum bersama Hyukjae atau rekan-rekan bisnisnya yang lain jika mereka terpaksa pulang terlambat karena harus lembur.

“Kau hanya sendirian manis.”

Donghae berdecak kesal dan segera mengusir wanita itu jauh-jauh dari tempat duduknya karena ia tidak suka dengan wanita murahan. Baginya mereka semua terlalu pasaran dan sangat tidak cocok untuk seorang pria ekslusif sepertinya.

“Kau yakin tidak ingin kutemani? Aku tidak akan meminta bayaran darimu. Ini murni karena keinginanku sendiri untuk menemanimu.”

“Apa kau tuli? Aku jelas-jelas telah menolakmu.” Ucap Donghae dingin sambil menegak vodkanya kasar. Setelah itu sensasi terbakar langsung memenuhi kerongkongannya hingga ia tanpa sadar mengerang kecil.

“Eranganmu sangat seksi. Bagaimana jika kita mengerang bersama di kamar apartemenku.”

Donghae mengepalkan tangannya gusar dan mencoba untuk tidak mempedulikan wanita berambut pirang di sebelahnya. Namun ia bersumpah, jika ia sudah benar-benar kehilangan kesabarannya ia akan membentak wanita itu dan menyeretnya keluar dari bar ini tanpa belas kasihan.

“Manis, jangan acuhkan aku seperti ini. Jika kau tidak ingin menghabiskan malam di kamar apartemenku, kau bisa mengajakku kemanapun sesukamu. Aku akan…”

“Pergi! Aku tidak membutuhkan wanita murahan sepertimu. Bahkan isteriku sendiri lebih cantik dan lebih menarik daripada tubuh kurusmu yang menjijikan itu. Sekarang pergi, atau aku akan menyeretmu keluar sekarang juga!” Marah Donghae mengerikan hingga membuat wanita berambut pirang itu pucat pasi. Dengan langkah terbirit-birit, wanita itu segera menyambar tas tangannya dan pergi meninggalkan Donghae yang sedang asik menikmati vodkanya tanpa mempedulikan tatapan mencemooh yang diberikan oleh orang-orang disekitarnya karena perilaku bar-barnya yang mengganggu. Tapi meskipun begitu, tidak ada satupun petugas keamanan atau pekerja di sana yang berani menegur Donghae atas sikapnya yang mengganggu itu. Mereka semua memilih untuk diam dan justru segera menyingkirkan sang wanita pengganggu yang menjadi penyebab kemarahan Donghae malam ini. Lagipula, mereka juga tidak akan berani bermain-main dengan sang pemilik bar karena mereka masih sangat membutuhkan pekerjaan mereka.

-00-

Drrt drrt drrt

“Eunghh…”

Yoona mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar dan terlihat begitu terganggu dengan panggilan telepon yang tiba-tiba datang di saat ia sedang tidur. Dengan malas ia segera meraih benda persegi itu sambil melirik jam yang tertera di layar ponselnya.

“Siapa orang gila yang menghubungiku di jam selarut ini? Setengah satu, yang benar saja!” Gumam Yoona kesal dan langsung menempelkan benda persegi itu pada telinganya.

“Halo? Sia….”

“Nyonya, tolong datanglah ke sini, tuan Donghae mabuk dan memukul beberapa karyawan yang hendak menghentikannya untuk minum.” Potong seorang pria yang terdengar begitu panik. Yoona mengernyitkan dahinya tidak mengerti dan segera melirik layar ponselnya untuk memastikan jika sang pemanggil tidak salah alamat dengan menghubunginya.

“Apa ini ponsel milik tuan Lee Donghae?”

“Benar nyonya. Saya menemukan nomor anda berada di urutan teratas daftar panggilan keluar, jadi saya memutuskan untuk menghubungi nyonya. Apa nyonya bisa menjemput tuan Donghae sekarang? Beberapa penjaga sudah mulai kewalahan untuk menahannya yang sejak tadi terus bergumam tidak jelas.”

“Kau salah sambung, aku tidak mengenal Lee Donghae.” Jawab Yoona ketus dan berniat untuk mematikan sambungan teleponnya. Namun pria di seberang sana mencegah tindakannya dan terus memohon-mohon dengan suara memelas yang membuatnya menjadi iba.

“Tolong nyonya, hanya anda yang bisa kami hubungi.”

“Cih, bohong!” Decih Yoona kesal. Wanita itu rupanya tak percaya dengan pengakuan dusta yang dikatakan pria itu padanya karena Donghae tidak mungkin hanya menyimpan nomor ponselnya di dalam kontak ponselnya. Pria itu pasti juga menyimpan nomor ponsel Jihyun dan beberapa nomor ponsel sahabatnya di sana. Jadi ia tidak akan tertipu dengan kalimat penuh kebohobgan yang baru saja dikatakan oleh sang penelpon padanya.

“Kau salah sambung! Hubungi saja nomor isterinya.”

Yoona segera menutup panggilan teleponnya dan melemparkan benda persegi itu kasar ke atas ranjangnya. Namun tanpa diduga-duga ia justru bangkit berdiri, berjalan menuju lemari pakainnya dan mengambil satu set mantel untuk menjemput Donghae di bar. Ia tidak bisa mengabaikan Donghae begitu saja!

“Sial! Kenapa aku harus memikirkannya.” Gerutu Yoona kesal ketika ia hendak menutup pintu rumahnya dan berjalan menuju kearah mobilnya yang terparkir di depan teras. Dengan kecepatan tinggi ia segera melajukan mobilnya kearah bar yang yang disebutkan oleh sang penelepon sebelumnya. Tapi dalam hati ia bertekad tidak akan melakukan banyak hal ketika tiba di bar. Jika pria itu ternyata telah dijemput oleh salah satu keluarganya, maka ia akan diam dan hanya memandang pria itu dari kejauhan. Karena seharusnya ia tidak perlu melakukan hal ini pada pria yang telah merendahkan harga dirinya. Seharusnya ia memang hanya mengabaikan Donghae dan membiarkan pria itu hidup dengan urusannya sendiri. Sekarang ia bukanlah konselor dari pria itu. Sekarang mereka berdua hanyalah dua orang manusia biasa tanpa status apapun yang mengikatnya. Jadi ia tidak perlu repot-repot ikut campur kedalam masalah pelik mantan kliennya itu.

Prangg!

Yoona mengernyitkan dahinya ketika ia baru saja tiba di pelataran parkir bar dan ia langsung disuguhi dengan bunyi pecahan kaca yang begitu nyaring dari dalam bar. Dengan perasaan was-was Yoona segera masuk ke dalam bar yang kini keadaannya terlihat cukup kacau dengan banyak pengunjung yang sedang berkerumun untuk menonton tontonan gratis yang tersaji di depan mereka.

“LEPASKAN! LEPASKAN AKU SIALAN!”

Bughh

Yoona menatap ngeri Lee Donghae yang terlihat seperti bukan Donghae. Pria itu tampak berantakan di semua sisi dan wajahnya juga lebam. Entah apa yang terjadi pada pria itu, tapi orang-orang disekililingnya terlihat sudah kewalahan menghadapi Lee Donghae yang  mabuk.

“Lee Donghae ssi.”

Yoona memberanikan diri membelah kerumunan manusia di sana dan maju untuk menghampiri Donghae yang saat ini juga tengah menatapnya dengan mata sayu.

“Apa yang kau lakukan? Lihatlah, kau menghancurkan tempat ini!” Bentak Yoona kesal. Pria itu terkekeh pelan di depan Yoona dan menghentakan seluruh tangan petugas keamanan yang sejak tadi menahan tangannya. Lalu dengan sempoyongan ia berjalan mendekat kearah Yoona dengan wajah mengerikan yang membuat Yoona langsung beringsut mundur karena ketakutan.

“No.. nona Im?” Gumam Donghae dengan wajah sayu. Ia kemudian berjalan cepat kearah Yoona dan menubruk tubuh kecil Yoona hingga Yoona hampir saja terjerembam ke belakang jika tubuhnya tidak ditahan oleh salah satu pekerja di sana.

“Nonaaaa Im… Ahhh… kenapaa kaauuu lama sekali?” Racau Donghae seperti orang gila di dalam pelukan Yoona. Wanita itu menggeram kesal dan mendorong tubuh Donghae begitu saja ke belakang hingga Donghae jatuh terduduk di atas lantai dengan tawa aneh yang membuat Yoona jengah dan juga geram.

“Cepat bangun! Jangan mempermalukanku.” Bentak Yoona kesal. Donghae lantas bangkit berdiri lalu berjalan sempoyongan menghampiri Yoona dan merangkul pundak kecil Yoona hingga Yoona lagi-lagi hampir jatuh karena tidak siap untuk menahan berat tubuh Donghae yang lebih besar dari tubuhnya.

“Ck, merepotkan!” Decak Yoona kesal. Ia kemudian membawa Donghae keluar dari dalam bar itu dengan terlebihdulu meminta maaf pada semua orang yang dibuat kerepotan dengan tingkah bar-bar Donghae malam ini. Wanita itu terlihat tak habis pikir dengan Donghae yang ternyata memiliki sikap aneh saat mabuk. Padahal selama ini ia menganggap Donghae adalah pria aristrokrat berkelas yang tidak mungkin akan bertingkah semengerikan itu di sebuah bar yang cukup terkenal di Seoul.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bersikap seperti ini?” Tanya Yoona mencoba lembut. Ia menjatuhkan tubuh Donghae yang cukup berat kedalam kursi penumpang lalu bersiap untuk menutupnya. Namun sebelum ia beranjak pergi, tiba-tiba Donghae menahan tangannya dan menarik tubuh kecilnya hingga jatuh menabrak dada bidang Donghae yang keras.

“Nona Im…. Kenapa kau tidak menghubungiku? Bukankah kau masih menjadi konselorku? Aku membutuhkan bantuanmu.” Racau Donghae keras di atas kepala Yoona. Yoona berusaha menjauhkan tubuh Donghae darinya dan melepaskan rengkuhan Donghae yang sangat tidak nyaman. Apalagi ia sekarang merasa ingin muntah karena bau menyengat alkohol yang memenuhi seluruh tubuh Donghae.

“Aku bukan konselormu lagi. Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika aku adalah konselor gagal yang payah. Untuk apa kau berkonsultasi pada konselor payah sepertiku.” Ucap Yoona kesal. Ia masih merasa sakit hati dengan ucapan Donghae dua hari lalu ketika pria itu dengan kejamnya memojokannya dengan serentetan kalimat penuh tuduhan yang sangat keterlaluan.

“Tapi aku membutuhkanmu…. Hanya kau yang bisa memahamiku. Aku… kesepian.”

Yoona tiba-tiba merasa iba pada Donghae. Saat ini di tengah ketidaksadaran yang melingkupi Donghae, pria itu benar-benar terlihat menyedihkan dengan raut wajah memelas yang tidak akan mungkin ditunjukan Donghae dalam keadaan sadar. Pria itu jelas akan memasang benteng pertahanan tinggi agar orang lain tidak melihat sisi lemahnya. Tapi sekarang, pria itu meruntuhkan benteng pertahanan itu. Lee Donghae benar-benar sedang memiliki masalah hingga pada akhirnya ia melarikan seluruh kepenatan hatinya pada alkohol yang tidak akan pernah memberikan jalan keluar untuknya. Tapi yang membuat Yoona heran adalah dimana keberadaan Lee Jihyun? Kenapa wanita itu seperti tidak mempedulikan suaminya sama sekali hingga Donghae menjadi seperti ini.

Yoona kemudian berjalan menuju kursi kemudi dan mulai menjalankan mobilnya menuju rumahnya. Malam ini ia tidak mungkin akan membawa Donghae ke rumahnya karena ia tidak tahu dimana letak rumah Donghae dan ia juga tidak mungkin bertanya pada pria mabuk yang sedang dalam keadaan tidak sadar di belakangnya. Bisa-bisa pria itu justru memberikan alamat orang lain dan akan membuatnya semakin pusing dengan tingkah merepotkan pria itu.

“Nona Im…”

“Hmm?”

Yoona berdeham pelan dan sedikit melirik kaca spionnya untuk melihat Donghae yang saat ini sedang memejamkan matanya dengan damai di atas kursi penumpangnya.

“Hah, kau benar-benar merepotkan.” Gumam Yoona kecil pada dirinya sendiri sambil tersenyum kecil melihat tingkah Donghae yang sedang tertidur damai seperti seorang anak kecil tanpa dosa.

-00-

Krieett

Srekk srekkk

Yoona membuka pintu rumahnya pelan sambil menyeret tubuh berat Donghae yang sedang bersandar di bahunya. Ia kemudian membawa Donghae menuju ruang tengah dan menjatuhkan pria mabuk itu di atas sofa putihnya yang untung saja kosong karena biasanya Aleyna meletakan buku-bukunya atau mainannya di sana.

“Huh, kenapa kau merepotkan sekali? Dan kenapa juga aku harus menolongmu.” Gerutu Yoona kesal pada dirinya sendiri. Ia kemudian melepas sepatu hitam Donghae dan pergi ke dapur untuk mengambil air hangat karena ia melihat sudur bibir Donghae sedikit sobek dan lebam. Mungkin ia sempat melakukan perkelahian dengan petugas keamana di bar itu hingga menyebabkan keadaanya sangat berantakan seperti ini.

“Nona Im…”

Yoona mengernyitkan dahinya dan mengedikan bahunya tidak peduli sambil membasuh wajah Donghae dengan air hangat. Sungguh ia tidak tahu mengapa ia sampai melakukan hal ini. Tapi ia juga tidak mungkin membiarkannya begitu saja karena ia masih memiliki hati. Ia bukanlah wanita yang akan tega membiarkan orang lain menderita di depan matanya.

“Nona Im?”

“Ck, ada apa? Kau berisik sekali.” Decak Yoona kesal. Rasanya Yoona sangat konyol sekarang. Di satu sisi ia ingin membiarkan Donghae begitu saja, namun di satu sisi ia tidak bisa. Sehingga ia sekarang terlihat seperti tidak ikhlas untuk membasuh luka-luka Donghae yang mulai membiru.

“Jangan pergi. Jadilah konselorku, aku membutuhkanmu.”

Yoona mematung di tempat. Ia menatap manik hitam Donghae lekat-lekat dan untuk sesaat ia terhanyut pada tatapan Donghae yang meneduhkan. Pria itu dalam keadaan setengah sadar terlihat begitu hangat dan sangat berbeda dengan dirinya ketika sadar. Apalagi saat ini pria itu tengah tersenyum lemah kearahnya, membuatnya ikut tersenyum dan mau tidak mau ia langsung menganggukan kepalanya untuk mengiyakan permintaan Donghae.

“Aku akan menjadi konselormu.”

“Terimakasih.”

Grep

Donghae tiba-tiba memeluknya dan membuat Yoona semakin kaku karena gerakan tiba-tiba Donghae. Yoona melirik ragu kearah Donghae yang terlihat begitu nyaman di pundaknya. Ia pun perlahan-lahan mulai mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan Donghae dan menepuk punggung pria itu pelan. Sambil memeluk Donghae, Yoona kemudian memikirkan seluruh jalan hidupnya yang terasa tidak tertebak akhir-akhir ini. Ia merasa apa yang ia lakukan sekarang sangat bertolak belakang dengan komitmennya selama ini. Dulu ia selalu menjunjung tinggi etika profesinya dan sangat menghindari membuat skandal dengan mantan suaminya. Namun sekarang ia seperti menerjang itu semua, dan ternyata ia juga menikmati hal itu. Ia menikmati sesi konselingnya dengan Donghae yang sering berjalan tidak biasa, dan ia menyukai sikapnya yang kini lebih berani untuk menghadapi Lee Seunggi. Tapi harapannya, semoga yang ia lakukan akhir-akhir ini hanya salah satu bagian dari kepenatannya semata. Nanti setelah ia merasa lebih baik, ia akan kembali menjalani kehidupan lamanya yang membosankan dan penuh masalah. Ya, ia akan kembali lagi menjadi Im Yoona, seorang konselor kaku yang hanya akan mengahabiskan waktunya dengan berbagai masalah milik kliennya tanpa sedikitpun masuk kedalam kehidupan kliennya seperti yang ia lakukan saat ini.

-00-

“Selamat pagi! Eomma, mana susuku?”

“Aleyna, jangan berteriak-teriak. Eomma sudah menyiapkannya di meja makan.”

Yoona menoleh sebentar kearah putrinya lalu kembali melanjutkan kegiatan masaknya yang hampir selesai. Ibu muda itu dengan lincah bergerak kesana kemari untuk mengambil bahan-bahan masakan yang telah ia siapkan di atas kontainer dapur.

Sementara itu, Aleyna dengan wajah cerianya segera berjalan menuju meja makan untuk mengambil segelas susunya dan juga semangkuk sereal yang telah disipkan Yoona untuknya. Gadis kecil itu kemudian berjalan menuju ruang tengah untuk menonton kartun kesukaanya sebelum paman Jihoo menjemputnya untuk pergi ke sekolah.

“Paman tampan?”

Aleyna menghentikan langkahnya di depan sofa ruang tengah ketika ia melihat Donghae sedang duduk di atas sofa itu sambil mengacak-acak rambutnya yang terlihat sangat berantakan.

“Ahh… Aleyna?” Tanya Donghae tidak yakin. Ia merasa masih mengalami hangover. Dan sedikit linglung dengan keberadaanya sekarang. Ditambah lagi kepalanya juga sangat sakit, seperti ia baru saja dihantam oleh sebuah benda keras yang sangat berat.

“Kenapa paman di sini?” Tanya Aleyna ingin tahu. Gadis kecil itu duduk dengan manis di sofa single yang letaknya tak jauh dari sofa putih panjang yang ditempati Donghae, lalu dengan santai gadis kecil itu mulai memasukan sesendok sereal kedalam mulutnya yang lebar.

“Paman juga tidak tahu. Dimana ibumu?” Tanya Donghae sambil mengerang kecil. Ia sepertinya harus menemui Yoona untuk menanyakan apa yang terjadi padanya semalam karena seingatnya ia semalam sedang menegak vodka di bar miliknya, lalu ia mendapatkan gangguan dari seorang pelacur yang sangat memuakan untuknya. Setelah itu… ia tidak tahu lagi apa yang terjadi padanya. Tapi samar-samar ia masih bisa mengingat suara seperti pecahan kaca dan teriakan orang-orang disekitarnya.

“Eomma di dapur, sedang memasak.” Beritahu Aleyna. Dengan kepalanya yang masih sedikit berdenyut, Donghae segera bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur yang ditunjukan Aleyna sebelumnya. Saat ini ia sangat membutuhkan Yoona untuk menjelaskan semua hal yang ia lewatkan semalam. Mungkin semalam ia telah melakukan hal-hal gila hingga menyebabkan Yoona datang untuk menolongya. Tapi kenapa harus Yoona? Dari sekian banyak orang yang bisa membantunya, kenapa Yoona yang harus membantunya. Dua hari yang lalu ia telah membuat kesalahan fatal dengan menghakimi Yoona sesuka hatinya. Dan sekarang, ia justru dibuat berhutang budi karena wanita itu yang ternyata menolongnya dari sesuatu yang tidak ia ketahui semalam.

“Oh, kau sudah bangun. Minumlah, ini bisa meredakan sedikit sakit kepala yang kau alami.”

Yoona meletakan segelas teh hangat dan sebutir obat sakit kepala di atas meja bar di dapurnya. Wanita itu kemudian kembali berkutat dengan masakannya tanpa mempedulikan perubahan ekspresi wajah Donghae cukup gusar karena ia seolah-olah mengabaikan pria itu dan hanya berkonsentrasi pada masakannya.

“Apa yang terjadi padaku semalam?” Tanya Donghae dingin sambil menegak obat yang diberikan Yoona. Saat ini ia tak memiliki pilihan lain selain meminum obat itu karena semakin lama kepalanya semakin berdenyut menyakitkan hingga ia ingin sekali melepas kepalanya untuk sementara. Tapi ketika ia kemudian beralih pada Yoona untuk menunggu jawaban dari wanita itu, ia justru hanya mendapatkan jawaban singkat yang sangat menyebalkan.

“Kau mabuk.”

“Lalu? Aku tahu aku mabuk semalam, dan mungkin aku telah membuat kekacauan hingga akhirnya kau dipanggil untuk mengakhiri kekacauan yang kubuat.”

“Nah, bahkan kau sudah mengerti tanpa harus kujelaskan.” Ucap Yoona acuh sambil mencicipi sup dagingnya yang telah matang. Wanita itu dengan acuh tak acuh berjalan kesana kemari, melewati Donghae yang sejak tadi terus menatapnya tajam sambil menunjukan ekspresi menuntut penjelasan yang sangat kentara di wajahnya. Jika Donghae bukan tipe pria sabar, mungkin ia akan langsung menarik Yoona kasar, mendudukan Yoona di sebelah kursinya, dan membentak wanita itu karena sikapnya yang sangat menjengkelkan.

“Tapi kenapa kau yang datang untuk membawaku pulang dari bar itu?”

“Kenapa? Aku sendiri juga tidak tahu. Pukul setengah satu aku mendapatkan telepon dari seorang pegawai bar yang terdengar panik. Ia mengatakan padaku jika kau mengamuk dan tidak bisa ditenangkan. Sejujurnya aku sangat malas untuk mendatangimu di sana, mengingat kita sama sekali tidak memiliki hubungan apapun. Aku mengatakan pada pegawai itu jika ia salah sambung dan menyuruhnya untuk menghubungi isterinya atau kerabatnya yang lain, tapi pegawai itu mengatakan jika nomor ponselku yang berada di urutan teratas dalam daftar panggilan keluar, sehingga ia hanya bisa menghubungiku. Ngomong-ngomong, apa kau tidak menyimpan nomor ponsel isterimu atau nomor ponsel seseorang yang bekerja di rumahmu, supirmu mungkin atau bibi Jang.” Ucap Yoona menelisik. Donghae terlihat merenung sejenak untuk mengingat-ingat isi dari ponsel hitamnya yang memang tidak tersedia nomor Jihyun.

“Aku meninggalkan ponsel pribadiku di mobil. Di ponsel hitam itu aku memang hanya menyimpan nomor ponselmu dan nomor ponsel semua klienku. Kau tahu bukan, aku tidak suka mencampuradukan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.”

“Oh, jadi kau selama ini menganggapku sebagai rekan kerja.”

Yoona terlihat cukup kecewa, entah karena apa. Namun ia segera mengalihkan rasa kecewa itu dengan memeluk Aleyna yang tiba-tiba masuk kedalam dapur sambil menggendong tas sekolahnya.

“Eomma, paman Jihoo sudah datang. Aleyna berangkat sekolah sekarang.” Pamit gadis kecil itu lucu. Donghae mengamati interaksi antara ibu dan anak itu dalam diam sambil membayangkan posisinya jika menjadi ayah dan memiliki seorang putri yang akan berangkat ke sekolah.

“Paman, Aleyna pergi dulu. Sampai jumpa.”

Tanpa diduga Aleyna menghampirinya dan memberikan satu pelukan kecil di kakinya yang tinggi. Pria itu kemudian membungkukan tubuhnya, mengusap kepala Aleyna lembut dan memberikan satu kecupan ringan di pipi Aleyna sebagai tanda perpisahan sebelum berangkat sekolah. Donghae tersenyum kecil memperhatikan langkah kecil Aleyna yang mulai menjauh dari pintu dapur, dan ia sedikit terharu pada gadis kecil itu karena telah membuat angan-angannya menjadi kenyataan.

“Apa kau ingin mandi? Semalam aku terpaksa mengganti kemejamu dengan baju tidur milik Yunho oppa karena pakaianmu kotor terkena alkohol. Jika kau ingin mandi, aku akan meminjamkan pakaian milik Yunho yang masih tertinggal di sini.”

“Tidak usah, aku akan mandi di rumah.”

Yoona mengedikan bahu acuh lalu berjalan begitu saja melewati Donghae untuk mengambil bekas gelas kotor dan piring kotor milik Aleyna di ruang tengah. Namun Donghae langsung mencegahnya dengan mencekal pergelangan tangan Yoona erat hingga mau tidak mau Yoona menghentikan langkahnya untuk memuaskan permintaan Donghae.

“Yoona…”

“Hmm, ada apa? Oya, jika kau ingin makan, aku sudah menyiapkan sarapan di meja makan.”

“Bukan, duduklah. Aku ingin berbicara denganmu.”

Donghae mendorong Yoona untuk duduk di atas kursi di sebelahnya, lalu dengan tatapan intens pria itu menatap kedua manik mata Yoona sambil tetap menggenggam erat pergelangan tangan Yoona.

“Kenapa kau melakukan ini padaku? Bukankah aku telah menyakitimu?”

Yoona menghembuskan napas pelan dan balas menatap tatapan tajam Donghae yang sejak tadi diarahkan kepadanya. Sejak tadi sebenarnya ia sadar jika pria itu pasti sedang membahas masalah ini, namun ia sengaja berpura-pura bertingkah menyebalkan karena ia malas membahas hal itu. Ia telah melupakan semua kejadian menyakitkan dua hari yang lalu, dan hanya menganggapnya sebagai cobaan hidup yang harus ia lewati. Lagipula semua yang dikatakan Donghae tentangnya dua hari yang lalu adalah sebuah fakta, jadi tidak seharusnya ia membenci pria itu karena telah menyakitinya.

“Aku masih memiliki hati. Aku tidak mungkin mengabaikanmu begitu saja karena aku jelas-jelas mengenalmu, meskipun hubungan kita sebagai klien dan konselor telah berakhir.”

“Ceritakan padaku apa yang terjadi padamu selama ini? Buat aku mengerti agar aku tidak salah paham padamu.”

“Apa yang ingin kau dengar dariku? Bukankah kau sudah mengetahuinya?” Ucap Yoona getir sambil menyingkirkan tangan Donghae pergelangan tangannya. Wanita itu lantas memilih untuk menghadap kearah kanan, dimana sekarang ia tidak perlu berhadapan dengan tatapan sendu Donghae yang membuat hatinya terasa bergetar.

“Kau belum menceritakan semuanya. Kau mengatakan padaku jika kau dikhianati, jenis pengkhianatan seperti apa yang terjadi padamu?”

“Perselingkuhan. Lee Seunggi berselingkuh dengan Lee Yeon Ju dan menghamili Yeon Ju ketika usia pernikahan kami baru menginjak enam bulan. Dan masalah yang kami alami sama seperti yang sedang kau alami sekarang dengan isterimu. Aku dan Seunggi terlalu sibuk dengan dunia kami masing-masing hingga pada akhirnya Lee Seunggi menjalin hubungan dengan lawan mainnya dalam sebuah drama. Saat aku tahu kau memiliki permasalahan yang hampir sama denganku, aku langsung berpikir untuk membantumu karena aku tidak ingin orang lain juga bernasib sama sepertiku. Kau tahu, aku sebenarnya bukanlah seorang konselor yang sempurna. Aku juga memiliki banyak kekurangan yang sama seperti orang lain, tapi aku selalu berusaha untuk menjalankan pekerjaanku sebaik mungkin agar orang lain tidak perlu bernasib sama denganku. Karena aku tahu bagaimana rasanya berada di posisi itu. Apalagi setelah aku bercerai dengan Lee Seunggi, beberapa media terus memberitakanku. Para fans Lee Seunggi yang tidak suka denganku menjadikan skandal itu sebagai senjata untuk menyakitiku, sehingga mereka sering membuat masalah hingga aku mengalami stress dan depresi. Tapi untung saja aku bisa melewatinya dengan lancar.”

“Lalu bagaimana dengan Aleyna? Ia bukan anak kandungmu dan Lee Seunggi?”

“Bukan. Aleyna bukanlah anakku dan Seunggi. Aleyna adalah putri dari mantan klienku yang bunuh diri setelah melahirkan Aleyna.” Jawab Yoona santai. Donghae mengernyitkan dahinya dan mulai merubah pemikirannya perlahan-lahan mengenai Yoona. Selama dua hari ini ia terus merasa bersalah pada Yoona, namun ia berusaha membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan semuanya baik-baik saja hingga pada akhirnya ia melarikan semua kepenatannya pada alkohol. Tapi nyatanya Yoona bukanlah wanita yang seburuk itu. Yoona adalah seoran konselor yang sangat baik dengan hati yang terbuat dari emas karena seluruh kebaikan dan juga kesabarannya selama ini.

“Bagaimana bisa klienmu bunuh diri dan memberikan Aleyna padamu?”

“Klienku, saat itu ia datang padaku dalam keadaan hamil sembilan bulan setelah diceraikan oleh suaminya tiba-tiba. Wanita itu dengan buliran air mata menceritakan padaku mengenai sikap suaminya yang berubah beberapa hari terakhir sebelum memutuskan untuk menceraikannya, padahal mereka saat itu sedang menunggu kelahiran putri pertama mereka. Setelah mendengar ceritanya dan melihat adanya tanda-tanda bahwa ia akan melakukan percobaan bunuh diri, selama dua minggu penuh aku mengawasinya. Aku terus memantaunya dengan sering mendatangi apartemennya atau mengajaknya makan di luar sambil mengobrol. Karena saat itu aku baru saja bercerai dengan Lee Seunggi, kami menjadi lebih mudah akrab. Kami berdua saling menguatkan satu sama lain dan ia perlahan-lahan juga mulai melupakan masalahnya. Kemudian saat ia melahirkan, ia terlihat begitu berbinar-binar sambil menunjukan putri kecilnya yang sangat menggemaskan. Tapi beberapa hari kemudian aku tidak mendatanginya karena aku sedang disibukan dengan pekerjaanku di pusat rehabilitasi untuk orang-orang depresi yang saat itu kebetulan sedang mengalami lonjakan pasien. Selama seminggu aku terus berada di pusat rehabilitasi itu untuk menolong orang-orang yang mengalami depresi agar mereka tidak melakukan hal-hal nekat seperti bunuh diri atau melukai orang lain. Namun keesokan harinya, aku dikejutkan dengan kedatangan dua orang polisi yang mengatakan padaku jika klienku itu telah meninggal karena bunuh diri. Tentu saja saat itu aku tidak percaya, karena selama ini aku mengira ia telah melupakan kesedihannya dan mulai bisa menatap masa depannya setelah putrinya lahir. Tapi aku lupa jika motivasi seperti itu bisa hilang begitu saja jika seseorang dalam keadaan terpuruk. Namun yang menjadi masalah berikutnya adalah karena wanita itu memberikan putrinya padaku. Aku yang saat itu baru saja terlilit masalah pasca perceraianku dengan Lee Seunggi langsung menolak mentah-mentah permintaan wanita itu yang dituliskan di dalam surat wasiatnya. Selama satu minggu aku tidak mau mengambil bayi itu di rumah sakit dan mengabaikan panggilan dari rumah sakit atau pihak kepolisian. Tapi kemudian aku menjadi tidak tega ketika di hari ke delapan aku pergi ke rumah sakit dan melihat bayi itu sedang menangis di dalam dekapan perawat yang selama ini menjaganya. Bayi mungil itu terlihat rapuh dan sangat membutuhkan perlindungan untuk menjaga tubuh kecilnya yang rapuh. Akhirnya aku membulatkan tekad untuk mengambil hak asuh Aleyna dan menganggap Aleyna sebagai putriku sendiri seperti apa yang tertulis di dalam surat wasiat.”

Tanpa sadar Donghae meremas telapak tangan Yoona yang tergolek begitu saja di atas meja. Semua yang diceritakan Yoona terasa begitu menohoknya karena selama ini ia telah berpikiran buruk pada Yoona. Ia menghakimi Yoona hanya karena cerita sepihak yang ia dengar dari isterinya.

“Aku merasa buruk karena pernah menghakimu secara sepihak.” Kekeh Donghae hambar. Yoona hanya mampu menatap Donghae dengan senyum kecil memaklumi sambil membalas remasan tangan Donghae di telapak tangan kirinya.

“Tidak masalah, kau bukan orang pertama yang melakukannya. Tapi karena semua hal itu, sekarang aku justru merasa lebih kuat dan lebih siap untuk menghadapi segala tantangan besar di masa depan.”

“Lalu bagaimana dengan Yunho?”

“Ahh.. kenapa sekarang justru aku yang berada di posisi klien? Huh, menyebalkan.” Dengus Yoona kesal.

“Ceritakan saja, aku akan menjadi pendengar yang baik.” Ucap Donghae setengah memaksa. Akhirnya Yoona memutuskan untuk menceritakan masa lalunya dengan Yunho karena ia sendiri sepertinya memang sedang membutuhkan seorang teman untuk berbagi keluh kesah karena masalah pelik yang ia hadapi akhir-akhir ini.

“Sebenarnya aku dan Yunho oppa masih saling mencintai dan kami tidak ingin berpisah.”

“Lalu? Kurasa kalian memang masih saling mencintai dan saling membutuhkan satu sama lain.” Komentar Donghae. Hal itu ia katakan karena ia melihat sendiri bagaimana interaksi Yunho dan Yoona ketika berciuman beberapa hari yang lalu.

“Yunho oppa menceraikanku setelah ia positif didiagnosa mengalami kelainan hormon dan tidak bisa memiliki anak. Selama ini Yunho oppa bekerja sebagai teknisi yang mengharuskannya harus terkena paparan radiasi. Sebenarnya cukup berat untuk memutuskan hal itu, tapi Yunho oppa bersikeras untuk berpisah karena ia tahu aku sangat ingin hamil dan memiliki anak dari rahimku sendiri.”

“Maafkan aku, aku pernah berburuk sangka padamu.”

Tiba-tiba Donghae mengucapkan permintaan maaf yang sangat tulus dan membuat Yoona terhanyut akan ketulusan yang terpancar dari wajah pria di depannya.

“Aku sudah memaafkanmu.”

“Kalau begitu mulai sekarang kau harus menjadi konselorku lagi. Aku membutuhkanmu. Dua hari ini aku mendapatkan masalah dan aku terus uring-uringan karena aku tidak bisa mencari jalan keluar untuk masalahku sendiri. Aku membutuhkanmu untuk keluar dari masalahku yang rumit ini.” Mohon Donghae dengan wajah memelas. Yoona tertawa terbahak-bahak menertawakan wajah menyedihkan Donghae yang sangat jauh dari sikap Donghae selama ini yang terkenal angkuh yang menyebalkan.

“Kenapa tertawa? Aku benar-benar membutuhkan bantuanmu.”

“Ya Tuhan, kau terlihat tidak pantas dengan wajah seperti ini.”

Yoona tanpa sadar mencubit pipi Donghae dan menggoyang-goyangkannya ke kanan dan ke kiri hingga Donghae terpaksa harus mendorong Yoona agar menjauh darinya.

“Berhentilah bersikap kekanakan dan jadilah seorang konselor yang profesional. Ingat kode etik profesimu, kau tidak boleh menyakiti klienmu seperti ini.”

“Huh, dasar manja! Aku sama sekali tidak menyakitimu, aku hanya mencubitmu.” Ucap Yoona membela diri. Donghae tetap saja mendengus kesal dan menjauhkan tangan-tangan Yoona dari wajahnya yang hendak mencubitnya lagi.

“Jauhkan tanganmu atau aku akan menggigitnya!” Ancam Donghae sungguh-sungguh. Yoona tertawa terbahak-bahak menanggapi ancaman Donghae, dan secepat kilat ia mencubit pipi Donghae sebelum ia berlari meninggalkan dapur dengan suara teriakan Donghae yang menggelegar di belakangnya.

“Awas kau Im Yoona!”

-00-

Ruangan itu temaram dengan satu penerangan yang berasal dari lampu tidur yang terpasang di sudut dinding. Seorang wanita dengan rambut bergelombang sepunggung tampak memandang sendu foto seorang pria yang merupakan mendiang kakak kandungnya yang telah meninggal empat tahun yang lalu.

“Oppa, aku pasti akan menemukannya. Aku pasti akan menemukan putrimu yang hilang dan membawanya kembali ke rumah kita di Amerika.”

 

31 thoughts on “Imperfect Therapist Part 2 (Chapter Five)

  1. Wah wah semakin seruuu. Di tunggu next chapter nya yah thor. Smngat buat nulis. Kami sangat menantikan part selanjutnya 😂

  2. Akhirnya, yoona sm donghae baikan..
    Semoga scepetnya mereka deket..
    Btw itu siapa, keknya anak yg dimaksud itu aleyna yaa..
    Ditunggu bgt thor lanjutannya
    Jangan lama2 🙂

  3. Donghae yang pemaksa telah mengetahui semua kebenaran kehidupan kelam Yoona sebelumnya..
    Dan sekarang hidup Donghae sangat bergantung pada Yoona!!
    Entah kenapa pengin cepet2 Donghae menceraikan isterinya dan beralih mengejar cinta Yoona.. pengin cepet sampai dititik itu.. haha ngga sabaran banget deh… cepet dilanjut kaka..

  4. Cieee baikan 😂😂 ada yang mau muncul dipart berikutnya thor? Makin penasaran aja nihh… fighting😁😁

  5. Donghae jahat bgt sii, kasar bgt kata”nya, tp untung aja dy minta maaf
    Penasaran kapan mereka bakal saling suka
    Pengen donghae dibuat cemburu nantinya, masih sakit hati sm kata”nya

    Ditunggu kelanjutannya

  6. Jangan dilihat dari covernya tapi juga isinya, jangan ngejudge orang tanpa tahu permasalahannya. Ceritanya bagus konfliknya mulai muncul. Semangat buat penulis untuk ngelanjutin cerita ini. Aku selalu menanti cerita ini

  7. Eonni kenapa suka bgt buat ff menggantung, aku mau kelanjutan ny
    Kenapa cobaan untuk yoona makin bnyk.
    Dsn aku yakin perempuan td mau ambil aleyna dr yoong

  8. Ciee Ongek ama Yoona mulai akrab…siapa wanita itu apa tantenya Aleyna??nextnya jgn lamaaa yaa…

  9. putri siapa yang hilang?? sebenarnya aleyna anak yoona apa bukan?? atau yoona pura2 bilang aleyna bukan anaknya biar seunggi gk tau…….. di tunggu lanjutannya.

  10. Akhirnya lee donghae tau bagaimana kehidupan yoona sebenarnya…

    Siapa yg sedang mencari anak oppa nya, apa adik dari ayah kandung aleyna? Kalo iya gk kebayang gimana perasaan yoona yg udah merawat aleyna selama ini…
    Semoga aja donghae ada disaat yoona bersedih nantinya

    Next author-nim… Fighting

  11. Heeeeemmmm
    Ochh jd aleyna bkn anak kndung yoona.
    Heeeem donghae makanya jgn sok …
    Blm tahu yg sebenarnya terjdi dah buruk sangka & ngomong yg kasar2 ke yoona
    Dan pada akhirnya dia sendiri masih butuh yoona sebagai konselornya

  12. Oh kupikir ini awal dari hubungan baik mereka bukan??? Dan siapa wanita itu??? Juga foto siapa yg di pandangnya?? Lalu anak yg menghilang?? Apa itu aleyna??? Banyak banget pertanyaan yg timbul dalam benak saya??? 😂😂 good story 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

  13. Seperti melihat sepasang suami istri saja hehee. Kok diakhir cerita ada seseorang yang mencari anak dari kakaknya ya, apakah yang dicari itu aleyna? Kalau iya berarti dia nanti akan dibawa ke Amerika dong? Bagaimana dengan Yoona? Next chingu

  14. aaa aku berharap sesuatu terjadi ketika donghae mabuk… kekekeke
    ternyataaa engakkk kkkkk

    thankyou thor for updating 😉

  15. Ahh aku suka chapter ini, kaya mulai ada bau bau perselingkuhan nih.. hahha nunggu banget moment” itu.. moment YoonHae yg pastinya bakalan manis ,tapi masalah Lee Seunggi agak risih sama dia yg nganggap Aleyna anak kandungnya ..aduh bener” minta di tendang tuh orang gk di kenyataan gk di ff sama” menyebalkan!

    dan yg part terakhir itu, apa yg di masuk Aleyna? ntahlah sepertinya masih banyak kejutan dan beberapa pendatang baru hahah di tunggu next chapterny unnn ^^

  16. Jgn2 putri kandung y itu aylena…ohhh nooo..jgn ksihan yoona low sprti itu….donghae jdi baek ge sma yoona ya…mga ja hbngan mereka da prkembangan ya….

  17. Makin seru…
    Donghae udah ketergantungan nih sama konselor cantiknya. Hati-hati nanti jadi baper lho..
    HIhi.. Dan di ending itu tantenya Aleyna ya?
    Duh.. Konflik baru..
    Gak sabar nunggu next chapter..

  18. Seorang wanita rambut gelombang ???
    Seorang putri???
    Siapakah itu???
    Yoona Donghae sweet bgt si

  19. Cieeee donghae udh mulai takut kyaknya khilangan yoona, itu perempua misterius siapa ya apa mngkin dia mau ambil aleyna ya

  20. kezellll pas donghae menghakimi yoona
    sepihak ….kasian yoona.
    siapa tuh perempuan misterius???
    next part thor semangat ya…penasaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.