Kontratransferensi: Imperfect Therapist (Chapter Four)

Recomended Song Camila Cabello – She Loves Control

 

Lee Seunggi tersenyum cerah sambil menatap rumah minimalis berlantai dua di depannya yang tampak tertata begitu rapi. Di tangannya pria itu membawa selembar kartu undangan bergambar tokoh kartun mickey mouse kesukaan putranya yang akan menjadi tema dalam ulangtahun putranya minggu depan.

Dengan penuh percaya diri ia masuk ke dalam pekarangan luas rumah Yoona sambil memikirkan berbagai macam hal yang ingin ia sampaikan pada  Yoona. Akhirnya setelah bertahun-tahun ia kehilangan keberanian untuk bertemu Yoona, kini ia mendapatkan kembali keberanian itu. Sejak ia bertemu dengan Yoona di toko roti, tekadnya untuk menemui Yoona semakin kuat. Dulu ia merasa sangat bersalah pada Yoona karena telah menyakiti wanita itu dengan pengkhianatan yang sangat tak termaafkan. Padahal ia masih sangat mencintai Yoona. Yoona adalah cinta pertamanya. Dan saat itu perselingkuhannya hanya sebatas karena ia jenuh dengan kehidupannya yang membosankan. Ia jenuh dengan kehidupan artisnya yang begitu mengekangkanya hingga ia tidak pernah bisa bergerak bebas sesuka hatinya. Sedikit saja ia terlihat bersama Yoona, maka fans-fansnya yang tidak menyukai Yoona langsung menyerang wanita itu tanpa sepengetahuannya. Ia kemudian mencoba mengurangi kedekatannya dengan Yoona di muka umum agar Yoona tidak menjadi korban dari kefanatikan fansnya. Namun pemikiran itu justru menghantarkannya pada sebuah malapetaka karena ia justru melampiaskan kefrustrasian hidupnya pada wanita lain yang sama sekali tidak dicintainya. Kang Yeon Ju, ia sejak awalnya hanyalah lawan mainnya dalam sebuah drama yang tidak pernah benar-benar menarik perhatiannya. Namun karena banyaknya tuntutan yang terus menghimpitnya, ia menjadi gerah dan ingin sedikit bersenang-senang untuk melupakan sejenak semua tuntutan itu. Tapi ternyata semua itu justru menghantarkannya pada kehancuran. Ia kehilangan Yoona untuk selama-lamanya karena Yeon Ju ternyata mengandung darah dagingnya setelah kesenagan sesaat yang mereka lakukan malam itu.

Menyesal. Tentu saja ia menyesal. Bahkan hingga saat inipun penyesalan itu masih ada. Ia begitu menyesal karena saat itu ia tidak bisa mengendalikan emosi sesaatnya dan justru memilih untuk menuruti kemauan napsunya. Andai waktu dapat diputar, ingin sekali ia memperbaiki semua kesalahannya di masa lalu agar ia tidak kehilangan Yoona dari sisinya. Karena ia masih sangat mencintai Yoona hingga detik ini.

Ting tong

Pria bermarga Lee itu memencet bel berbentuk bulat itu sekali dan menunggu dengan perasaan cemas di depan pintu utama rumah Yoona. Ia sangat bersyukur memiliki teman seorang terapis yang dulunya adalah rekan satu tim Yoona di kantor, sehingga ia dapat menemukan rumah Yoona diantara ribuan rumah penduduk Korea yang memadati distrik Gangnam. Yeah, ia memang cukup beruntung, atau mungkin ini adalah sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk sedikit menebus kesalahannya di masa lalu.

“Seunggi ssi?”

Lee Seunggi tersenyum manis kearah Yoona dan langsung menegakan tubuhnya yang semula bersandar pada kusen kayu yang membingkai sisi-sisi jendela besar rumah Yoona. Dengan sikap gentlenya pria itu mulai bersandiwara layaknya seorang pria baik hati yang sedang mengantarkan sebuah surat undangan untuk sang tuan putri.

“Hai, aku datang untuk mengantarkan ini.”

Lee Seunggi mengangsurkan sebuah kartu undangan mini bergambar tokoh kartun tikus yang sangat populer di kalangan anak-anak. Dengan dahi berkerut Yoona menerima undangan itu dengan ragu dan langsung membacanya sekilas.

“Ulang tahun putramu? Lee Jinri?” Eja Yoona setelah membaca sekilas nama sang tokoh utama di dalam kartu undangan itu. Lee Seunggi mengangguk kecil, menatap Yoona penuh harap sambil menunjuk kartu kecil yang masih berada di dalam genggaman Yoona.

“Datanglah bersama putrimu, aku dan isteriku akan senang bila kau datang.”

“Oh, akan kuusahakan.” Jawab Yoona seadanya. Wanita itu tidak terlalu berminat untuk datang ke acara itu. Apalagi jika itu diadakan oleh Lee Seunggi. Ia benar-benar tidak ingin datang. Tapi jika Aleyna melihat undangan ini, gadis kecil itu pasti akan merengek-rengek padanya untuk datang karena putri kecilnya itu sangat menyukai pesta, kue, balon, dan segala macam pernak-pernik lucu yang hanya akan ditemukan dalam acara anak-anak itu. Jadi… mungkin ia nanti akan datang. Tapi mungkin juga tidak. Tergantung pada suasana hatinya nanti. Semoga saja suasana hatinya sedang buruk, sehingga ia tidak perlu menyaksikan keluarga harmonis milik Lee Seunggi yang sedang berbahagia. Sebenarnya ia sama sekali tidak iri. Sungguh ia telah melupakan semua kenangan masa lalunya yang pahit. Hanya saja ia malas bertemu dengan papparazi karena ia pernah mendapatkan pengalaman buruk dengan papparazi. Dulu selama berbulan-bulan pasca perceraiannya dengan Lee Seunggi hampir setiap hari ia menjadi bahan incaran papparazi hingga membuatnya trauma untuk melangkahkan kaki keluar dari rumahnya atau kantornya. Syukurlah setelah itu ia dapat terbebas dari papparazi-papparazi sialan itu setelah pemerintah memberikan perlindungan padanya karena ia masihlah aset milik negara yang harus dijaga.

“Ngomong-ngomong dimana putrimu? Aku tidak melihatnya.”

Lee Seunggi melongokan kepalanya kedalam rumah minimalis Yoona sambil terus menerus mencari sosok putri kecil Yoona yang menurut rumor sangat menggemaskan. Meskipun ia memang telah berpisah dengan Yoona, tapi selama ini ia selalu menyempatkan diri untuk menanyakan kabar Yoona pada beberapa rekannya yang mengenal Yoona.

“Ia tadi pergi ke taman. Ahh, aku jadi khawatir. Aku akan mencarinya.”

Yoona lantas berjalan meninggalkan Lee Seunggi untuk mencari keberadaan Aleyna di taman yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Hanya berjarak dua ratus meter, dan ia bisa menempuhnya dengan berjalan kaki. Namun langkahnya segera terhenti ketika ia melihat sosok Aleyna dari kejauhan sedang berbincang-bincang dengan seorang pria. Seketika jiwa protectivenya muncul dan ia segera memanggil putri kecilnya itu agar segera pulang karena ia takut Aleyna akan dipengaruhi oleh orang asing yang baru saja dikenalnya.

“Itu putrimu? Ia sedang mengobrol dengan siapa?”

“Aku tidak tahu. Tapi aku sudah mengatakan pada Aleyna untuk tidak berbicara pada orang asing yang tidak dikenalnya.”

“Jadi pria itu bukan orang asing untuk Aleyna? Ia membawa pria itu ke sini.”

Yoona terlihat was-was dan mulai menajamkan penglihatannya. Dari tempatnya berdiri ia merasa mengenali pria itu. Tapi ia tidak tahu pasti jati diri pria itu sebenarnya. Dan ia sangat berharap jika dugaanya salah karena perlahan-lahan ia mulai mengenai siapa sosok pria itu sebenarnya.

“Nona Im?”

Bingo! Yoona mematung di tempat sambil mengumpat jengkel. Lagi-lagi ia harus dipertemukan dengan klien menyebalkannya. Tak bisakah sehari saja ia terbebas dari pria sakit jiwa itu? Bahkan ketika sedang di rumahpun, ia juga harus bertemu dengan pria itu. Sungguh sial nasibnya.

“Yoona…”

“Aku pasti akan datang ke pesta putramu Seunggi ssi.”

Dengan terpaksa Yoona memberikan janji pada Lee Seunggi agar pria itu cepat-cepat pergi dari rumahnya. Ia tidak mau Donghae berpikir macam-macam tentangnya ketika melihat Lee Seunggi di rumahnya. Apalagi sejak tadi pria itu menatapnya tajam sambil terus menuntut penjelasan darinya.

“Kalau begitu sampai jumpa….”

Yoona tidak benar-benar mendengarkan kalimat yang dilontarkan Lee Seunggi dan hanya fokus pada kalimat perpisahan yang diucapkan pria itu. Rasanya ia cukup lega mengetahui pria itu akan pergi dari rumahnya. Sejak tadi ia merasa terus dilingkupi kecanggungan ketika bersama Lee Seunggi. Sayangnya meskipun Lee Seunggi telah pergi, ia masih memiliki satu pengganggu yang justru sedang berdiri dengan angkuh di sebelahnya.

“Aleyna ayo masuk.”

“Kau akan meninggalkanku begitu saja di sini?”

“Lalu apa yang kau inginkan tuan Lee? Lagipula ini bukan jam konseling, jadi kau tidak bisa memaksaku sesukamu.

“Kalau begitu anggap aku sebagai temanmu mulai sekarang.”

Yoona rasanya ingin tertawa terbahak-bahak di depan pria itu sambil mengumpat. Ya! Ia benar-benar ingin mengumpat karena ide konyol pria itu. Menjadi teman? Yang benar saja? Bahkan ia tidak pernah sedikitpun bermimpi untuk berteman dengan Lee Donghae. Jika ia berteman dengan pria itu, hidupnya pasti akan bertambah menjadi suram dan rumit.

“Kita hanya akan menjadi sebatas klien dan konselor tuan Lee. Lagipula aku tidak yakin bisa mengikuti arus hidupmu yang sangat glamour dan berkelas itu. Kau tahu sendiri kan, aku ini hanya seorang konselor yang jauh dari hiruk pikuk kemewahan. Menjadi temanmu, pasti juga akan menyeretku ke pusara kehidupan don juan kaya yang mewah.” Ucap Yoona halus, namun terkesan menyindir. Donghae terlihat sebal. Niat baiknya langsung mendapatkan penolakan secara langsung dari wanita yang akhir-akhir ini menjadi sandarannya. Well, Yoona benar-benar telah menjadi pelariannya dari Jihyun yang selama ini selalu mengabaikannya dengan kesibukan wanita itu yang tidak jelas.

“Kau menolakku? Sayang sekali, padahal seorang CEO sepertiku tidak akan memberikan tawaran untuk kedua kalinya. Tapi, aku lebih suka melakukan pemaksaan jika kehendakku tidak disambut dengan baik. Jadi kita sekarang berteman. Terserah kau akan menerimanya atau tidak, aku tetap akan menjadikanmu temanku.”

“Keputusan macam apa itu? Kau tidak bisa mengambil keputusan sepihak seperti itu. Hey!”

Yoona berteriak keras pada Donghae yang telah melenggang masuk dengan santai ke dalam rumahnya. Padahal ia tidak pernah mengijinkan, bahkan mempersilahkan pria itu masuk ke dalam rumahnya. Tapi ia dengan santainya telah melangkah ke dalam rumahnya bersama Aleyna yang langsung terlihat akrab dengan pria aneh itu.

“Paman, aku memiliki ikan.” Pamer Aleyna dari taman belakang. Gadis kecil itu berlari menghampiri Donghae yang sedang mengamati satu persatu foto keluarga Yoona di ruang tamu dan langsung menarik tangan pria itu untuk melihat salah satu koleksi hewan peliharaanya selain kelinci putih yang baru saja dibelikan Yunho empat hari yang lalu.

Sementara itu, Yoona terlihat bersungut-sungut kesal sambil mengintip keseruan Aleyna bersama Donghae. Rasanya aneh melihat putri kecilnya langsung terlihat akrab dengan orang lain yang notabenenya baru dikenalnya. Apa Donghae setampan itu hingga mampu membius Aleyna? Putri kecilnya itu memang sejak kecil memiliki kegemaran yang menurutnya sangat high end. Ia menyukai pria-pria tampan! Hell no! Bahkan dirinya saja terkesan selalu menghindari pria-pria tampan karena baginya mereka hanya penipu, penebar pesona belaka dengan segala omong kosong yang tidak bisa dipercaya.

“Hey, apa yang kau lakukan di sana?”

Donghae menginterupsi lamunannya mengenai Aleyna dan membuatnya langsung menunjukan tatapan kesal pada pria itu.

“Bukan urusanmu! Aleyna, ayo masuk. Saatnya makan malam.” Panggil Yoona lembut pada putrinya. Aleyna langsung berlari masuk ke dalam rumahnya sambil menarik tangan Donghae untuk mengikutinya ke meja makan. Hari ini ibunya memasakan makanan kesukaanya, iga panggang dengan saus berbaque dan juga salad yang sangat enak. Gadis kecil itu hampir tidak pernah menolak menu daging yang sangat menggoda itu setiap Yoona membuatkannya sejak dua tahun yang lalu.

“Kau bisa memasak juga rupanya.” Cibir Donghae ketika tiba di meja makan dan melihat beberapa hidangan yang tersaji di atas meja. Tanpa mengindahkan Donghae, Yoona lalu membantu Aleyna duduk dan menyiapkan piring beserta kawan-kawannya untuk kegiatan santap malam putri kecilnya itu.

“Kebetulan aku belum makan malam.”

“Lalu?” Tanya Yoona mendelik. Ia sudah menyiapkan berbagai macam penolakan di dalam kepalanya jika tiba-tiba saja Donghae setelah ini meminta jatah makan malam padanya.

“Aku akan mencicipi masakanmu.” Jawab Donghae santai. Yoona langsung menggeser jauh-jauh seluruh makananya dari Donghae dan memberikan pria itu tatapan tajam yang jelas-jelas penuh penolakan.

“Ayolah, aku ingin membuktikan ucapan Aleyna mengenai hasil masakanmu yang katanya sangat enak. Lagipula kau tidak boleh bersikap pelit pada klienmu. Aku akan membayar biaya tambahan saat sesi konseling untuk membayar makanan ini.” Ucap Donghae ponggah. Yoona semakin kesal dengan sikap Donghae dan benar-benar tidak akan memberikan pria itu makan. Persetan jika ia akan terlihat kejam. Pria itu juga sangat menyebalkan!

“Masakan eomma sangat enak. Eomma, eomma juga harus memberikan pada paman, bukankah eomma selalu memasak lebih banyak?”

“Makanan seperti ini tidak cocok dengan paman Donghae yang kaya.”

“Tapi aku suka makanan rumahan.” Ucap Donghae cepat dengan senyum penuh kemenangan yang terlihat begitu menyebalkan di mata Yoona. Dengan terpaksa Yoona memberikan seporsi iga panggang di piring Donghae dan mengangsurkan semangkuk nasi yang masih mengepulkan uap tipis di sebelahnya.

“Makanlah. Kuharap kau tidak kecewa dengan rasanya. Aku bukanlah wanita yang pandai memasak, aku hanyalah ibu yang menjalankan tugasku sebagaimana mestinya.”

“Kau tenang saja, kali ini aku tidak akan bersikap menyebalkan dan hanya akan memakan masakanmu. Oh, dan jika suamimu datang nanti, aku akan menjelaskan alasan keberadaanku di sini padanya. Jadi kau tidak perlu khawatir.” Ucap Donghae penuh percaya diri. Namun Yoona memilih untuk tidak menanggapinya dan menyibukan diri pada makanannya sendiri. Lagipula suami mana yang akan datang ke rumahnya. Bahkan jika pria itu memutuskan untuk menginappun, ia tidak akan pernah menemukan sosok suami itu di dalam rumahnya. Mungkin beberapa foto dirinya bersama Yunho dulu yang masih ia pajang di ruang tamu berhasil mengecoh Donghae dan membuat pria itu percaya jika Yunho adalah suaminya. Tapi setidaknya Yunho memang pernah menjadi suaminya. Dulu.

“Paman, bagaimana masakan eomma? Apakah enak?”

“Hmm, lumayan. Ini sama seperti masakan rumahan di rumah paman.”

Yoona lagi-lagi mendengus. Meruntuki kata-kata pria itu yang terkesan setengah-setengah. Jika memang ingin mencelanya, ia tidak masalah. Toh masakannya juga hanya masakan biasa.

“Siapa yang sering membuatkanmu makanan di rumah?” Tanya Yoona tiba-tiba. Entah kenapa kali ini ia ingin sedikit bermain-main dengan kehidupan pribadi Donghae. Tapi tidak, sebenarnya ini bagian dari membangun rapport antara seorang konselor dan klien. Lagipula mereka berdua sudah terlanjur berada di satu meja yang sama. Jadi sedikit  melakukan konseling di luar jam konseling sepertinya tidak masalah.

“Bibi Jang. Kenapa? Kau pikir isteriku yang akan membuatkan makanan untukku?” Balas Donghae sengit.

“Mungkin. Memangnya kenapa? Apa isterimu tidak pernah membuatkan makanan untukmu?”

“Dulu ia pernah memasak. Tapi ia hanya bisa membuat makanan sederhana, seperti pancake dan telur dadar. Sejak kecil ia tidak terbiasa berada di dapur dan hanya sibuk mengembangkan karir keartisannya, jadi ia tidak terlalu pintar memasak.” Cerita Donghae datar. Yoona mengangguk-anggukan kepalanya kecil dan mulai menyimpan informasi itu di dalam kepalanya. Ternyata Donghae memiliki cukup banyak katarsis di dalam kepalanya mengenai isterinya. Pantas jika pria itu akhirnya menyerah dan memutuskan untuk mencari jalan keluar untuk semua masalah rumah tangganya yang menyedihkan.

“Apa kau tipe pria yang menyukai makanan rumahan? Maksudku, biasanya pria kelas atas sepertimu akan lebih menyukai makanan restoran dengan harga selangit.”

“Setelah ini kau mungkin harus mengubah pandanganmu mengenai pria-pria kelas atas, karena aku sama sekali tidak seperti itu. Memang sesekali aku harus menjamu tamuku di restoran-restoran mewah. Tapi sejujurnya aku lebih menyukai makanan rumahan dan suasana makan yang hangat di rumah. Jika tidak benar-benar terpaksa, aku tidak akan mungkin melewatkan jam makanku di rumah karena bibi Jang pasti telah menyiapkan menu makanan yang tak kalah dengan menu makanan di restoran mahal. Lain kali kau harus datang ke rumahku, dan mencicipi sendiri masakan bibi Jang yang lezat.”

“Kalau aku boleh tahu, seperti apa hubunganmu dengan bibi Jang? Ia sepertinya juga sangat berarti untukmu selain isterimu.” Korek Yoona lebih dalam. Jiwa konselornya memang tidak bisa lepas begitu saja setelah bertahun-tahun berkecimpung di dunia membosankan penuh manusia-manusia bermasalah itu.

“Entahlah, tapi ia sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Kenapa tiba-tiba kau tertarik untuk mengetahui hubunganku dengan bibi Jang?”

“Bukan, hanya untuk memastikan hubunganmu dengan keluargamu.”

“Lalu bagaimana dengan keluargamu? Kapan suamimu akan pulang? Aku tidak mau mengambil resiko menyebabkan kesalahanpahaman dengan keberadaanku di sini.”

“Huh, rupanya kau sadar diri juga.” Seloroh Yoona sebal. Bahkan pria itu sudah mengganggu hidupnya sejak beberapa hari yang lalu, tapi ia baru benar-benar merasa sedikit bersalah setelah berhari-hari lamanya. Dasar! Pria arrogan memang tidak pernah peka.

“Maaf jika selama ini aku menyusahkanmu, aku tahu aku ini memang menyebalkan. Mungkin saat ini kau sedang mengumpatiku di dalam kepalamu.”

“Percaya diri sekali kau, aku….”

“Yoona? Oh, maaf apa aku mengganggu kalian?”

Ketiga manusia itu langsung menoleh kearah pintu dengan berbagai tatapan yang berbeda. Aleyna yang merupakan pemilik tatapan paling normal segera berlari menghampiri pria itu dan memeluknya dengan antusias sambil mengeluarkan suara teriakannya yang cempreng.

“Yunho appa!”

“Hai, bagaimana kabarmu sayang, sekarang sepertinya tubuhmu semakin berat. Atau appa yang semakin tua?” Keluh Yunho bercanda sambil mencolek hidung Aleyna pelan. Aleyna terkikik geli di dalam pelukan Yunho dan langsung memeluk Yunho erat seperti sebuah perangko yang menempel pada permukaan amplop. Namun berbeda dengan Aleyna yang tampak antusias, Yoona justru terlihat kikuk dan bingung di depan Donghae sambil menyuapkan makanannya setengah hati.

“Kenapa kau hanya diam?” Tanya Donghae bingung. Wanita di depannya itu bukannya memberikan sambutan hangat kepada suaminya, tapi justru membiarkan Yunho bersikap heboh bersama Aleyna di dekapannya.

“Oppa, ayo makan. Dan kenalkan ini klienku, tuan Lee Donghae.”

Donghae sedikit menaikan alis sebentar sebelum berbalik dan menyalami Yunho. Ia terlihat masih kebingungan dengan suasana aneh yang tiba-tiba tercipta diantara  mereka, namun ia mencoba menahan diri untuk tidak langsung menyerang Yoona dengan serentetan pertanyaan yang saat ini bagai ingin menyembur keluar dari mulutnya.

“Jung Yunho, senang berkenalan denganmu. Jadi kau salah satu klien Yoona?”

“Begitulah. Maaf, mungkin keberadaanku di sini sedikit membuat kalian tidak nyaman. Tadi aku hanya sekedar lewat, dan Yoona menawariku untuk makan malam.” Seringai Donghae menyebalkan. Yoona mendelik sebal kearah pria itu sambil mengangsurkan sepiring iga panggang pada Yunho. Bahkan pria itu sendiri yang berinisiatif untuk mampir dan meminta makan di rumahnya.

“Kau adalah klien pertama yang datang ke rumah sejauh ini. Yoona biasanya tidak pernah membawa klien ke rumah.” Ucap Yunho dengan maksud menggoda Yoona. Namun Donghae justru merasa Yunho sedang menyindirnya karena jelas-jelas ia telah melanggar aturan privasi orang lain.

“Benarkah? Ini karena sesi konseling kami belum maksimal. Aku masih membutuhkan banyak bantuannya untuk menyelesaikan beberapa masalah yang kumiliki.”

“Oppa, igamu akan semakin dingin jika kau tidak cepat memakannya.”

Yoona sengaja menginterupsi pembicaraan mereka dan membuat Donghae tidak terlalu banyak berinteraksi pada Yunho. Ia belum siap mendapatkan serangkaian pertanyaan dari Donghae jika pria itu tahu jika Yunho sebenarnya adalah mantan suaminya. Hingga sejauh ini Donghae masih mengira Yunho sebagai suaminya, dan itu bagus untuk kelangsungan hidupnya. Setidaknya dengan adanya Yunho di sini dan terlihat sebagai suaminya, Donghae tidak akan menyerangnya dengan berbagai pertanyaan retoris atau membanjirinya dengan semua tingkah menyebalkan pria itu yang memuakan. Untuk beberapa saat kedepan, ia akan benar-benar aman di sini. Bersama Yunho dan Aleyna yang manis.

-00-

“Aku menyukai klienmu tadi, siapa namanya? Lee Donghae?”

Yunho mencoba mengangkat topik yang sangat dihindari Yoona sejak tadi. Pria itu sadar jika sejak tadi Yoona berusaha menghindar darinya, namun ia tidak bisa menahan-nahannya lagi dan memutuskan untuk mengangkat topik pembicaraan itu sekarang. Lagipula kesan pertama yang ia tangkap dari Donghae benar-benar bagus. Pria itu adalah tipe pria bertanggung jawab, menurutnya dengan latar belakang pekerjaan yang sangat menakjubkan. Ia yakin, pria itu dapat menggantikan posisinya di samping Yoona.

“Jangan mulai lagi oppa, kami tidak ada hubungan apapun selain klien dan konselor. Ia adalah salah satu klienku dengan masalah yang cukup kompleks, sehingga aku memutuskan untuk melakukan konseling di luar jam kantor karena ia adalah pria yang sibuk.”

“Aku tahu. Seorang CEO di sebuah perusahaan penerbangan yang cukup berpengaruh di kota ini pasti sangat sibuk. Tapi masalah apa yang menyebabkannya harus datang padamu? Aku penasaran.”

Yoona mendecih malas. Kenapa Yunho harus membahas Donghae ketika mereka sedang bersama? Apa pria itu tidak ingin sekali saja membicarakan bagaimana kehidupannya pasca perceraian mereka? Ia terkadang merasa jahat pada Yunho karena setelah mereka bercerai, ia terlihat kurang perhatian pada pria itu. Berbeda dengan Yunho yang masih memberikan perhatian padanya dan juga Aleyna hingga ia kerap kali merepotkan pria itu dengan memintanya untuk menjemput Aleyna jika ia sedang sibuk.

“Maaf oppa, tapi aku tidak bisa memberitahukannya padamu. Itu privasi. Tapi mungkin aku akan sedikit mengecewakanmu karena Lee Donghae sudah memiliki isteri. Isterinya seorang model papan atas yang cantik, dan itu tidak mungkin sebanding denganku yang sangat buruk rupa ini.” Ucap Yoona terdengar menyebalkan.

“Kau cantik, lebih cantik dari model-model yang sering kulihat di televisi. Kenapa kau merendahkan dirimu sendiri seperti itu? Tapi kulihat kalian sangat cocok tadi, apalagi dengan kehadiran Aleyna di tengah-tengah kalian. Kalian sangat cocok untuk berperan sebagai keluarga bahagia yang harmonis.”

“Pikiran konyol macam apa itu? Percayalah jika apa yang kau lihat sama sekali tidak nyata oppa! Lee Donghae adalah pria paling menyebalkan dan juga merepotkan yang pernah kukenal. Jika kau tahu bagaimana sifat aslinya, kau pasti akan memilih untuk menghindarinya. Sayangnya aku terikat kontrak dengannya untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin demi permasalahannya yang pelik, jadi untuk beberapa waktu kedepan aku akan terus terikat dengannya.”

“Tapi.. ah sudahlah, mungkin itu karena aku terlalu berharap lebih pada hubunganmu dan Donghae. Aku benar-benar mengira kau telah menjalin hubungan dengannya. Apalagi selama ini kau tidak pernah membawa klien ke rumahmu. Aku ingin melihatmu bahagia.”

“Ya ampun oppa, aku bahagia. Aku sangat bahagia sekarang. Berhentilah untuk terus menerus mengkhawatirkan keadaanku atau Aleyna, karena kami baik-baik saja. Justru seharusnya kau memikirkan dirimu sendiri, apa kau selama ini bahagia oppa? Apa kau selama ini hidup dengan baik? Aku mengkhawatirkanmu.” Lirih Yoona sendu. Yunho tersenyum kecil kearah Yoona dan membawa wanita itu kedalam pelukannya. Jujur ia masih sangat mencintai Yoona dan menganggap wanita itu sebagai satu-satunya wanita yang mengisi hatinya meskipun mereka telah berpisah. Andai ia tidak memiliki kelainan aneh yang menyebabkan ia cacat, ia pasti akan selalu berada di sisi Yoona dan menjadi satu-satunya pria yang akan memberikan kebahagiaan pada wanita itu.

“Aku baik-baik saja Yoong, dan aku masih berharap untuk kita kembali bersama. Tapi itu jelas tidak akan mungkin terjadi.” Kekeh Yunho getir. Yoona mendongakan kepalanya sendu kearah Yunho dan membelai pipi pria itu lembut. Ia sebenarnya juga masih memiliki perasaan untuk Yunho. Pria itu adalah satu-satunya pria yang hingga sejauh ini masih memberikan perhtian dengan tulus padanya, meskipun mereka jelas sudah tidak memiliki hubungan apapun. Terkadang ia ingin protes pada Tuhan, menuntut, mengapa Tuhan begitu tega pada pria sebaik Yunho yang sangat langka untuk ditemukan. Seharusnya Tuhan menghukum orang-orang jahat di luar sana yang lebih berhak mendapatkan hukuman daripada Yunho. Yunho terlalu baik untuk menanggung semua beban ini sendiri. Terlebih lagi ia baru saja kehilangan ibunya satu bulan yang lalu. Pasti Yunho benar-benar tertekan dengan keadaanya saat ini.

“Bagaimana jika kita kembali bersama? Kurasa tidak masalah jika tidak memiliki anak. Kita sudah memiliki Aleyna sebagai pelengkap hidup kita.” Tawar Yoona lirih. Saat ini separuh hatinya masih berperang. Ia sebenarnya masih berharap memiliki anak dari rahimnya sendiri. Tapi di sisi lain ia tidak tega pada Yunho yang terlihat begitu menyedihkan dengan berbagai tekanan yang berusaha ditutup-tutupi pria itu darinya. Sesekali mungkin ia harus berkorban untuk pria itu. Untuk menggantikan semua kasih sayang tanpa batas yang pria itu berikan pada wanita egois sepertinya.

“Tidak Yoona, kau harus mencari pria lain yang normal tanpa kecacatan sepertiku. Kau tahu, setelah diagnosis dari rumah sakit itu tiba di tanganku, aku tidak bisa tidak merasa bersalah padamu setiap memikirkannya. Kau berhak untuk bahagia Yoona, aku tidak mau menjadi penghalang untuk kebahagiaanmu. Tapi kau tenang saja, selamanya aku pasti akan selalu ada untukmu. Aku tidak akan pernah menikah lagi setelah ini, dan hanya akan mendedikasikan hidupku untukmu.”

“Oppa…”

Yoona sudah tidak bisa berkata-kata apapun lagi selain menangis dan menyambut ciuman penuh cinta dari Yunho. Hatinya saat ini terasa teriris dan juga pedih setelah mendengar semua ucapan manis sekaligus menyakitkan dari mantan suaminya yang sangat tulus mencintainya. Betapa beruntungnya ia selama ini karena memiliki Yunho yang selalu memberikan cinta tanpa batas untuknya.

-00-

Donghae menurunkan kaca mobilnya sedikit sambil menyipitkan kedua matanya untuk melihat interaksi antara Yoona dan Yunho yang menurutnya aneh. Pria aristrokat itu terlihat seperti seorang stalker yang tiba-tiba saja tertarik pada kehidupan Yoona. Sejak melihat Lee Seunggi berada di rumah Yoona, ia menjadi begitu ingin tahu bagaimana kehidupan wanita itu. Seperti sesuatu yang besar sedang disembunyikan oleh Yoona. Tapi sayangnya wanita itu tidak mungkin akan membagikan rahasia itu padanya. Lagipula sikapnya ini memang sudah melanggar privasi. Tidak seharusnya ia begitu ingin tahu masalah keluarga Yoona hingga memutuskan untuk mengintip kebersamaan Yoona bersama suaminya yang sedang membicarakan sesuatu di teras rumah. Namun menurutnya Yunho tak terlalu menunjukan gelagat sebagai seorang suami karena perlakuan pria itu pada Yoona seperti mereka berdua memiliki gap begitu besar yang memisahkan mereka. Bahkan Yunho tak terlihat curiga sedikitpun dengan keberadaanya di rumah Yoona untuk mengganggu kehidupan wanita itu. Justru Yunho terlihat senang ketika ia berada di sana dan pria itu sempat menggoda Yoona dengan seringaian jahilnya.

Jadi sebenarnya seperti apa kehidupanmu nona Im? Aku penasaran dengan kepribadianmu yang…. Oh!

            Donghae semakin menyipitkan matanya ketika ia melihat Yoona dan Yunho mulai berciuman di depan teras rumah mereka. Dengan dahi berkerut, Donghae segera menaikan kaca mobilnya dan segera pergi dari rumah Yoona. Ia tidak akan melanjutkan kegiatan mengintipnya lagi karena ia merasa telah menjadi pria paling brengsek dengan mengintip sepasang suami isteri sedang berciuman di depan teras rumah.

drtt drrtt

“Ya?”

Donghae mengangakt panggilan di ponselnya tanpa melihat nama sang pemanggil dan langsung menempelkan benda persegi itu di samping telinga. Saat ini pikirannya masih berkelana pada Yoona dan juga jalanan padat di depannya, sehingga ia tidak sempat melihat nama sang pemanggil di ponselnya.

“Oppa, bisa kau jemput aku?”

Donghae mengerutkan keningnya lalu menjauhkan ponselnya sejenak untuk memastikan jika sang pemanggil itu benar isterinya.

“Kau dimana?”

“Di rumah Yeon Ju, aku baru saja menemani Yeon Ju untuk mengurus pesta ulangtahun putranya yang akan diadakan minggu depan.”

“Oh.” Jawab Donghae singkat. Entah kenapa ia tidak terlalu antusias pada isterinya hari ini. Ia justru merasa lebih tertarik untuk menerka-nerka kehidupan Yoona di dalam kepalanya.

“Dimana alamatnya, aku akan ke sini.”

“Aku akan mengirimnya setelah ini. Apa kau sudah makan malam?” Tanya Jihyun lembut.

“Sudah.” Jawab Donghae datar.

“Dimana? Apa bibi Jang memasakan sesuatu untukmu?”

“Aku makan di rumah rekanku, ia memasak iga panggang hari ini.” Jawab Donghae jujur. Jihyun terlihat mengernyit di ujung telepon sambil berspekulasi mengenai kemungkinan terburuk mengenai suaminya.

“Siapa? Lee Hyukjae?”

“Menurutmu? Apa aku memiliki rekan lain selain Lee Hyukjae?” Balas Donghae bertanya. Pria itu tiba-tiba saja ingin mempermainkan Jihyun setelah sebelumnya ia berniat untuk menceritakan mengenai Yoona pada wanita itu. Awalnya ia berniat untuk mengenalkan Yoona pada Jihyun, namun ia masih ingin menyimpan informasi mengenai masalah konselingnya dengan Yoona lebih lama karena ia sekarang merasa tertarik untuk mengenal kepribadian Yoona lebih lanjut.

“Aku tidak menyangka jika Hyukjae bisa membuat iga panggang.”

“Jangan menilai Hyukjae seburuk itu. Ia sebenarnya adalah seorang pekerja keras dan kepala keluarga yang baik.”

“Ck , kau selalu saja membela Lee Hyukjae di depanku. Kau jarang membelaku seperti itu.” Balas Jihyun bersungut-sungut. Lee Donghae terkekeh. Isterinya itu selalu saja bersikap manja dan kekanakan.

“Aku selalu membanggakan isteriku yang cantik di depan seluruh relasi bisnisku. Dan mereka langsung kagum padamu setelah mereka tahu jika kau adalah seorang super model terkenal.” Ucap Donghae penuh rayuan. Jihyun tersipu malu dibalik ponselnya sambil menggigit-gigit jarinya kecil. Selain tampan, Lee Donghae juga sangat ahli dalam merayu wanita. Sayang pria itu tidak memiliki sikap bad boy seperti Hyukjae. Jika ia memiliki sikap bad boy seperti Hyukjae, ia pasti sudah menjadi seorang lady killer yang mematikan.

“Aww, kau manis sekali oppa. Kau membuat pipiku merona.”

“Hmm, aku mencintaimu sayang.” Ucap Donghae semakin gencar. Pria itu terkekeh pelan pada dirinya sendiri sambil berkonsentrasi pada jalanan macet di depannya. Ia merasa geli dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba saja berubah menjadi sesosok perayu ulung yang sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang kaku dan arogan ketika di kantor. Mungkin ini efek dari melihat adegan romantis yang ia lihat beberapa saat yang lalu di depan rumah konselornya. Dan sampai saat ini ia masih tak habis pikir, kenapa ia harus bersikap seperti seorang penguntit untuk memata-matai kegiatan pribadi konselornya. Sungguh tidak masuk akal! Itu benar-benar bukan gayanya. Ia tidak pernah merasa sepeduli itu pada orang lain. Terutama pada seorang wanita yang baru dikenalnya tidak lebih dari satu minggu.

“Oppa, kau masih di sana?”

“Ya, ada apa?” Tanya Donghae langsung ketika ia sadar jika ia sudah terlalu lama melamunkan Yoona dan Yunho. Rasanya ia cukup iri pada wanita itu karena ia memiliki keluarga yang sempurna dan juga manis. Ahh, dan jangan lupakan juga putrinya yang menggemaskan bernama Aleyna. Itu sungguh membuatnya iri.

“Minggu depan jadwalmu kosong? Aku ingin kau datang ke acara ulangtahun putra Yeon Ju bersamaku. Ia dan suaminya ingin sekali bertemu denganmu oppa, dan aku tidak enak jika tidak mengiyakan permintaan mereka.” Mohon Jihyun. Donghae terlihat malas untuk mengiyakan permintaan Jihyun, namun akhirnya menyanggupi ajakan itu karena ia tidak mau mendengar rengekan Jihyun sepanjang hari seperti biasanya jika permintaanya tidak dituruti. Tapi sebenarnya ia sangat malas. Benar-benar malas karena ia tidak suka berpura-pura terlihat ceria di hadapan sekumpulan anak kecil yang nantinya pasti akan berlari-lari kesana kemari di sekitarnya. Ia sebenarnya menyukai anak kecil, hanya saja ia tidak menyukai keributan.

“Akan kuusahakan. Ngomong-ngomong aku sudah sampai, kelurlah.”

“Kau sudah sampai oppa? Cepat sekali. Kau tidak ingin turun untuk bertemu Yeon Ju dan suaminya?”

“Tidak, lain kali saja. Aku sedang lelah hari ini.” Jawab Donghae beralasan. Sebenarnya yang ia inginkan saat ini adalah segera tiba di rumah dan menghubungi Yoona. Ia ingin menanyakan sesuatu pada wanita itu mengenai perubahan hatinya yang tidak bisa ia pahami. Beberapa jam yang lalu ia merasa kesepian. Kemudian ia merasa senang untuk beberapa saat. Dan sekarang ia merasa kosong. Kosong dalam arti yang sebenarnya, meskipun ada Jihyun di sampingnya saat ini yang sedang memandangnya dengan senyuman manis, tapi ia tidak lagi merasakan kehangatan seperti dulu.

“Ayo oppa kita pulang.” Ajak Jihyun sambil bersandar manja pada pundak tegap Donghae. Sedangkan pria itu hanya mencengkeram setir kemudinya kaku dan menatap lurus ke depan tanpa merasakan debaran yang dulu pernah ia rasakan pada isterinya.

-00-

“Selamat siang. Wah, hari ini sepertinya kita akan bekerja keras.”

Lee Seunggi menyapa para staff yang hari ini akan bekerjasama dengannya untuk sebuah pemotretan. Pria berwajah tampan itu terus tersenyum manis pada semua staff yang juga terlihat antusias dengan kedatangannya. Beberapa staff yang baru pertama kali bekerjasama dengan Lee Seunggi langsung meminta berfoto bersama pada pria itu sebagai kenang-kenangan untuk mereka pamerkan pada keluarga mereka di rumah.

“Lee Seunggi ssi?”

Lee Seunggi menoleh ke belakang. Ia kemudian tersenyum lebar pada seorang pria paruh baya yang merupakan seorang jurnalis yang dulu pernah menjadi musuhnya ketika pria itu selalu mengikutinya untuk dijadikan bahan perbincangan di halaman majalah gosip yang sangat populer.

“Lama tak berjumpa tuan Shin Jino, bagaimana kabarmu?”

“Sangat baik. Kehidupanku lebih baik semenjak aku berhenti menjadi jurnalis. Kini aku hanya menjadi editor dan menyerahkan seluruh pekerjaan melelahkan itu pada anak-anak muda yang lebih lincah dariku.” Ucap pria itu tertawa. Lee Seunggi ikut tertawa dan menepuk pundak pria itu beberapa kali. Menjadi jurnalis memang sangat melelahkan. Selain harus mengikuti kemanapun artis incarannya pergi, mereka juga harus membuat berita yang sangat menarik agar para pembaca tidak bosan dengan karya-karya mereka. Tapi sejujurnya ia tidak menyukai pekerjaan itu, karena ia pernah menjadi target incaran pria paruh baya itu pasca perceraiannya dengan Yoona empat tahun silam.

“Ya, memang bekerja menjadi jurnalis majalah gosip sangat melelahkan. Bahkan bukan hanya kau saja yang merasa lelah, para artis yang kau incarpun juga merasa lelah karena harus berlari kesana kemari untuk menghindarimu dan kamera ajaibmu.” Balas Seunggi berkelakar. Kedua pria berbeda generasi itu sebentar saja sudah terlihat akrab sambil melemparkan candaan mereka terkait masa lalu yang cukup menjengkelkan, namun juga lucu untuk dikenang.

“Tapi terkadang aku juga merindukan saat-saat bertugas di luar. Rasanya itu lebih menantang daripada hanya duduk diam di depan komputer sambil membaca berderet-deret kalimat yang membosankan.”

“Lalu kenapa kau memutuskan untuk bertukar posisi menjadi editor? Kuras usiamu belum terlalu tua untuk berhenti menjadi jurnalis.”

Shin Jino memandang sedih pada kakinya, lalu ia menyingkap sedikit celana jeansnya yang sejak tadi menutupi hampir seluruh kakinya hingga sebatas mata kaki.

“Aku mengalami patah tulang di pergelangan kakiku ketika sedang meliput berita mengenai skandal seorang model dengan pejabat. Karena kecelakaan itu, dokter melarangku untuk melakukan pekerjaan berat seperti berlari atau berjalan terlalu cepat. Menurut dokter kondisi kakiku sudah sangat parah. Jika aku memaksakan diri, kakiku akan diamputasi.”

“Oh maafkan aku, aku tidak tahu. Sudah berapa lama?” Tanya Seunggi merasa bersalah. Shin Jino tersenyum tipis. Ia lalu mengibaskan tangannya santai sambil menggeleng tak masalah pada Seunggi.

“Sejak satu tahun yang lalu. Setelah kecelakaan itu aku harus beristirahat di rumah selama tiga bulan hingga kakiku benar-benar kuat untuk menopang tubuhku. Setelah itu aku harus selalu menjalankan terapi untuk melatih pergelangan kakiku pasca operasi. Oya, ngomong-ngomong bagaimana kabar mantan isterimu sekarang? Dulu aku sempat bertemu dengannya ketika ia sedang mengurus perceraiannya dengan mantan suaminya.”

Lee Seunggi mengernyit bingung. Setahunya Yoona telah menikah dan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya yang terlihat manis. Tapi mengenai perceraian, ia sama sekali tidak pernah mendengarnya.

“Aku tidak tahu jika Yoona sudah bercerai. Setahuku ia masih bersama Jung Yunho, suami barunya.”

“Tidak, ia sudah bercerai beberapa bulan yang lalu. Saat itu aku bertemu dengannya ketika mengawasi salah satu juniorku yang meliput berita di pengadilan. Ia terlihat sangat lelah saat itu, tapi ia masih mengingatku dengan baik sebagai salah satu penguntitnya dulu. Mengingat itu aku jadi merasa bersalah padanya karena pernah menyusahkannya dengan berita-berita penuh skandal yang kubuat. Apa kau masih sering bertemu dengannya?”

“Tidak, kami cukup lama menjauh dan tidak berkomunikasi lagi karena aku tidak mau mengganggu kehidupannya dengan suaminya. Tapi beberapa hari yang lalu aku baru saja menemuinya untuk memberikan undangan pesta ulangtahun putraku karena putraku dan putrinya berada di rentang usia yang sama.”

Shin Jino mengangguk-angguk. Pria itu lalu melontarkan sebuah pertanyaan yang cukup membingungkan Lee Seunggi.

“Apa ia mengadopsi anak? Setahuku setelah bercerai denganmu, beberapa bulan kemudian ia mulai terlihat dengan seorang bayi. Padahal saat itu ia belum menikah lagi dengan mantan suaminya sekarang.”

“Aa apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

Lee Seunggi tampak tidak mengerti dan benar-benar bingung dengan arah pembicaraan Shin Jino yang begitu memusingkannya. Bahkan pria itu seperti tahu kehidupan Yoona lebih detail daripada dirinya yang selama ini mengaku masih memiliki perasaan untuk Yoona. Ia memang pria brengsek bodoh yang tak tahu malu!

“Aku pernah mengikutinya beberapa bulan untuk mencari tahu keadaanya pasca perceraiannya denganmu untuk dijadikan bahan berita di majalahku. Ketika sedang mengikutinya, aku melihatnya sedang menggendong seorang bayi yang ditutup dengan selimut putih. Ia berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam mobil dan langsung pergi begitu saja dengan raut ketakutan. Aku kemudian terus mengikutinya untuk mencari tahu apa yang terjadi. Tapi kemudian ia mendapatkan perlindungan ketat dari pemerintah karena ia merupakan salah satu staff terbaik milik pemerintah, sehingga berita mengenai dirinya diblok besar-besaran di seluruh madia. Awalnya kupikir ia anakmu, tapi aku juga tidak yakin karena selama ini aku tidak pernah melihatnya dalam keadaan mengandung.”

Lee Seunggi tiba-tiba menjadi kaku dan pucat. Bayang-bayang jika Aleyna adalah putrinya mulai menghantuinya. Dulu ia dan Yoona memang pernah melakukan beberapa kali seks seperti pasangan suami isteri pada umumnya. Dan mungkin saja saat itu Yoona sedang hamil, hanya saja ia sudah terlajur menghamili Yeon Ju dan mendapatkan gugatan cerai dari Yoona, sehingga ia tidak pernah berpikir untuk memastikan keadaan Yoona terlebihdahulu sebelum meninggalkan Yoona bersama seluruh kesedihan yang ditorehkannya. Pantas jika Aleyna terlihat seumuran dengan Jinri, padahal usia pernikahan Yoona dan suami barunya mungkin baru berjalan sekitar dua atau tiga tahun.

“Semenjak bercerai aku tidak pernah menghubunginya atau melihat kondisinya. Aku terlalu fokus pada kehamilan Yeon Ju dan kelahiran putraku hingga aku melupakan kondisi Yoona yang mungkin sangat tertetekan pasca perceraian kami karena banyaknya papparazi yang mengikutinya sepanjang waktu. Mungkin lain kali aku akan bertanya pada Yoona mengenai anak itu.” Ucap Lee Seunggi terlihat bimbang. Pria itu mulai berpikir jika Aleyna adalah putrinya dengan Yoona karena Yoona tidak mungkin hamil bersama suami barunya. Tapi yang membuatnya cukup bingung adalah mengapa Yoona tidak mengatakan hal sebenarnya padanya. Wanita itu kemarin hanya diam, tidak mengatakan apapun perihal pernikahannya yang telah berakhir, padahal mereka pernah bertemu secara tak sengaja di toko roti dan ketika ia dengan sengaja mendatangi rumah Yoona untuk memberikan undangan ulangtahun Jinri. Sekarang ia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Di satu sisi ia merasa senang karena ia masih mencintai Yoona. Jika Aleyna ternyata adalah putrinya, ia akan menggunakan kesempatan itu untuk membawa Yoona kembali padanya. Tapi di sisi lain ia telah memiliki Jinri dan Yeon Ju. Membawa Yoona kembali padanya jelas akan memberikan luka untuk kedua orang itu.

“Shin Jino ssi, beritahu aku apa lagi yang kau ketahui tentang Yoona?”

-00-

Brukk!

“Aleyna, cepatlah sedikit! Kita sudah terlambat sayang.”

Yoona melemparkan setumpuk paper bag ke atas kursi, lalu segera berlari menuju kamar Aleyna untuk melihat apakah gadis kecil itu sudah selesai dengan pakaiannya. Beberapa saat yang lalu ia meninggalkan Aleyna sebentar untuk membli kado untuk Jinri, putra Lee Seunggi karena hari ini mereka akan menghadiri undangan ulangtahun putra Lee Seunggi itu. Tapi ketika mereka akan berangkat, Yoona lupa jika ia ternyata belum menyiapkan kado apapun. Akhir-akhir ini ia disibukan dengan penilaian kinerja untuk karyawan perhotelan di seluruh Seoul, sehingga ia tidak memiliki waktu hanya untuk sekedar memikirkan pesta ulangtahun putra Lee Seunggi yang diadakan minggu ini.

“Eomma, Aleyna tidak bisa mengancingkan baju.”

Aleyna muncul dari dalam kamarnya dengan pakaian kusut yang terlihat acak-acakan. Wanita muda itu lantas memutar bola matanya gemas sambil berlari menuju putrinya untuk membantu mencari pakaian lain yang keadaanya jauh lebih baik. Tidak mungkin ia membiarkan putrinya datang ke acara ulangtahun dengan pakaian kusut dan terlihat kumal seperti itu.

“Kita pakai dress ini saja, itu sudah kusut sayang.”

Yoona segera mengganti pakaian Aleyna dengan kecepatan super dan merapikan rambut Aleyna yang sedikit berantakan. Ibu muda itu menggelung rambut Aleyna tinggi-tinggi dan memberikan satu jepit bunga di sisi kanan rambutnya untuk mempermanis penampilan Aleyna sore ini.

“Nah, sekarang kau sudah terlihat lebih cantik. Ayo berangkat! Cepat pakai sepatumu.”

Aleyna mengangguk patuh dan segera berlari menuju lemari sepatu di depan rumah. Sedangkan Yoona terlihat menutupi seluruh pintu rumahnya terlebihdahulu sebelum ia ikut menyusul Aleyna ke depan untuk pergi ke pesta ulangtahun putra Lee Seunggi.

“Eomma! Apa ini kado untuk Jinri?” Teriak Aleyna dari ruang depan. Yoona yang sedang menutup pintu dapur langsung berteriak kencang mengiyakan pertanyaan Aleyna dan segera berjalan tergesa-gesa menuju ruang depan.

“Bawa kadonya, kita sudah terlambat.”

Yoona segera menyeret tangan Aleyna keluar dan mengunci pintu utama rumahnya dengan tergesa-gesa. Ia takut datang terlambat karena pasti akan ada banyak papparazi di sana yang menyorot pesta ulangtahun putra Seunggi. Tidak mungkin pria itu tidak membuat papparazi heboh dengan pesta ulangtahun putranya karena ia bahkan telah melihat salah satu berita di televisi menayangkan rencana pesta ulangtahun itu kemarin.

“Eomma, apa paman Seunggi adalah orang yang kaya?”

“Paman Seunggi adalah artis sayang, ia memiliki banyak uang untuk membuat pesta ulangtahun yang mewah.” Jawab Yoona malas.

“Aleyna juga ingin pesta ulangtahun Aleyna dirayakan seperti Jinri, apa boleh eomma?” Tanya Aleyna penuh harap dengan mata bulatnya. Yoona rasanya tidak tega untuk menolak permintaan gadis kecilnya. Tapi ia bukan wanita dengan taraf kekayaan seperti Lee Seunggi. Bisa dibilang ia berada di kelas menengah untuk strata sosial di lingkungannya.

“Kita buat pesta ulangtahun di rumah seperti biasanya, bagaimana?”

“Aleyna ingin merayakan ulangtahun seperti Jinri, atau di sekolah. Aleyna ingin merayakan ulangtahun di sekolah.” Ucap Aleyna girang. Yoona tersenyum kecil pada putrinya, lalu menganggukan kepalanya setuju. Tidak masalah sepertinya jika membuat pesta ulangtahun sedikit mewah untuk Aleyna, lagipula ia sudah lama tidak memberikan sesuatu yang istimewa pada putri kecilnya itu.

“Nah ayo turun, kita sudah sampai.”

Yoona berhenti di depan sebuah hotel bintang lima yang tampak padat. Dari depan ia sudah bisa melihat banyaknya mobil yang berjejer di area parkir untuk menghadiri acara pesta ulangtahun putra sang artis. Sambil menghembuskan napasnya pelan, Yoona segera menggandeng tangan Aleyna masuk kedalam hotel. Namun ia tetap tidak bisa menyembunyikan kegugupa hatinya sekarang karena ia takut bertemu dengan papparazi. Ia tidak mau kedatangannya ke sini menjadi bahan perbincangan mereka di televisi atau majalah karena mereka semua tahu jika ia adalah mantan isteri sang aktor terkenal itu.

“Yoona, akhirnya kau datang.”

Yoona tersenyum ramah pada Seunggi dan segera menghampiri pria itu yang sedang sibuk menyambut para tamu. Di sampingnya, Yeon Ju terlihat berdiri kaku ketika ia melihat Yoona datang bersama putrinya dengan senyum manis yang terpatri di wajahnya.

“Maaf kami terlambat, apa acaranya sudah lama dimulai?” Tanya Yoona berbasa basi. Wanita itu terlihat berusaha tenang sambil mengabaikan kilatan lampu blitz yang mulai menyerangnya sejak ia melangkahkan kaki di dalam ballroom hotel. Sudah dapat dipastikan jika besok wajahnya akan terpampang besar-besaran di heading majalah dengan sederet kalimat provokasi yang memuakan. Oh, Yoona sungguh membenci fakta itu! Fakta dimana ia akan berada di posisi sebagai pihak ke tiga yang akan mengganggu keseimbangan hubungan rumah tangga Lee Seunggi dan isterinya. Bahkan sekarang ia bisa melihat tatapan berkilat wanita cantik di sebelah Lee Seunggi yang sudah pasti adalah isterinya.

“Tidak, kau belum terlambat. Terimakasih sudah datang bersama Aleyna.”

Lee Seunggi tersenyum manis kearah Aleyna sambil mengelus puncak kepala Aleyna lembut. Pria itu terlihat menelisik kedalam wajah Aleyna yang sekilas mirip seperti Yoona. Hatinya pun mulai resah memikirkan perkataanya dengan jurnalis Shin beberapa hari yang lalu. Mungkinkah Aleyna adalah putrinya?

“Kau tidak datang bersama suamimu?” Tanya Lee Seunggi memancing. Yoona terlihat cukup kaget, namun ia bisa menyembunyikan wajah terkejutnya dengan baik di depan pria menyebalkan yang baru saja membuat moodnya semakin memburuk.

“Yunho oppa sedang pergi ke luar kota, ada beberapa pekerjaan di sana yang harus ia selesaikan.”

“Oh, kau belum pernah mengenalkan suamimu padaku sejak kita bercerai. Dan ini isteriku, Lee Yeon Ju.”

Seunggi mendorong sedikit bahu isterinya dan hal itu disambut Yeon Ju dengan uluran tangan kaku kearah Yoona.

“Lee Yeon Ju, senang bertemu denganmu Yoona ssi.” Ucap wanita itu seperti robot. Ada sedikit ketidakikhlasan di dalam hatinya ketika tangan kanannya bersentuhan dengan jari-jari lentik Yoona. Ia iri pada wanita cantik yang sampai saat ini masih dicintai oleh suaminya.

“Im Yoona, senang bertemu denganmu Yeon Ju ssi.”

“Eomma eomma, aku ingin memberikan hadiah pada Jinri.”

Tiba-tiba Aleyna menarik ujung dressnya dan membuat wanita cantik itu seketika menundukan kepalanya sambil mengelus puncak kepala Aleyna lembut.

“Dimana birthday boy kita? Kurasa kami harus bertemu dengannya dan mengucapkan selamat atas pertambahan usianya.” Ucap Yoona pada Seunggi dan isterinya. Pasangan itu lantas menunjuk pada kerumunan anak-anak yang sedang mengelilingi seorang badut di atas panggung. Di atas pangkuan badut itu duduk seorang pria kecil dengan mahkota berwarna emas di kepalanya. Yoona dan Aleyna pun langsung mengerti dan meminta ijin pada Seunggi dan isterinya untuk bertemu dengan putra mereka.

“Kami akan memberikan selamat ulangtahun pada putramu.”

“Oh silahkan, dan jangan lupa untuk mencicipi kue-kue di sini.” Ucap Seunggi ramah. Yoona mengangguk pelan dan segera menghela Aleyna untuk mengikuti langkahnya kearah panggung.

Sepeninggal Yoona, Yeon Ju langsung menunjukan wajah kusut sambil menarik tangan Seunggi kasar kearahnya.

“Kau sengaja mengundangnya?”

“Iya, kenapa? Aku ingin memperbaiki hubunganku dengannya yang merenggang.” Jawab Seunggu lugas dan tajam pada Yeon Ju. Wanita muda bergaun kuning itu mendecih gusar dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tahu jika semua alasan itu hanya akal-akalan Lee Seunggi untuk kembali menjalin hubungan dengan mantan isterinya yang kini telah kembali menjanda.

“Kau ingin kembali padanya? Aku tahu kau masih mencintainya.” Decih Yeon Ju gusar. Lee Seunggi menyeringai penuh kemenagan kearah isterinya dan menarik sedikit kasar tangan wanita itu agar beralih menatapnya.

“Kau tahu rupanya, kalau begitu kau harus sadar pada posisimu yang selamanya tidak akan pernah mendapatkan tempat di hatiku.”

Setelah itu Lee Seunggi langsung pergi begitu saja meninggalkan isterinya yang tampak terluka dan ingin menangis. Dengan kasar wanita itu menghapus air matanya yang telah menggenang di pelupuk matanya.

“Aku tidak akan pernah melepaskanmu Lee Seunggi! Tidak akan pernah!” Tekad Yeon Ju berapi-api dengan mata tajam yang menyorot tepat kearah punggung Seunggi yang telah berjalan menjauh menuju panggung untuk menghampiri Yoona.

-00-

“Oppa cepatlah!”

Donghae berjalan malas-malasan menyusul Jihyun yang terlihat begitu bersemangat untuk menghadiri acara ulangtahun putra sahabatnya yang digelar disebuah hotel bintang lima di Seoul. Sejak siang tadi isterinya itu terus membanjirinya dengan ribuan panggilan yang kesemuanya hanya untuk mengingatkan rencana mereka yang akan menghadiri pesta ulangtahun salah satu aktor terkena di Korea. Padahal ia seharusnya memiliki meeting dengan investor baru dari UAE, tapi semua itu ia batalkan demi permintaan kekanakan Jihyun yang sangat merepotkan.

“Kenapa kau bersemangat sekali untuk menghadiri pesta kekanakan seperti ini?” Tanya Donghae gusar. Ketika ia menginjakan kakinya di karpet merah hotel, beberapa lampu blitz langsung membajirinya hingga ia mau tidak mau harus terlihat gentle dengan merangkul pinggang Jihyun.

“Ini adalah putra dari sahabatku, aku juga harus berbahagia atas kebahagiaannya.”

“Tapi kau tidak menyukai anak kecil, di sana kau akan bertemu banyak anak-anak.”

“Ah, itu tidak masalah. Aku hanya akan mengobrol bersama Yeon Ju nanti.” Ucap Jihyun berkilah. Mereka berdia lantas berjalan beriringan dengan gaya mesra yang berhasil mengundang decak kagum orang lain saat melihat mereka. Apalagi sejak tadi Jihyun terus menerus menebarkan senyum manisnya pada semua orang, membuat mereka semakin antusias untuk menyapa pasangan sempurna itu.

“Dimana sahabatmu? Di sini aku hanya melihat anak-anak berlarian dan para orang dewasa yang sibuk dengan diri mereka sendiri. Apa mereka tidak mengawasi anak-anak mereka yang bisa saja terjatuh?” Decih Donghae miris ketika segerombolan anak laki-laki terlihat berlari-lari di depannya sambil memegang sebuah bando milik anak perempuan yang sedang berteriak-teriak tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Sebenarnya itulah yang membuatku tidak terlalu menyukai anak-anak karena mereka merepotkan dan senang mengganggu kesenangan kami para orang dewasa. Ahh, dimana Yeon Ju berada, aku ingin menyapanya.” Gumam Jihyun sambil melongokan kepalanya kesana kemari. Dari kejauhan Jihyun dapat melihat Lee Seunggi sedang berdiri di sebelah panggung bersama seorang wanita. Dan ketika ia akan menghampirinya, ia kemudian justru mendecih sambil menghentikan langkahnya, membuat Donghae bingung dan menatap penuh tanya kearah isterinya.

“Bukankah kau akan menghampiri sahabatmu?”

“Ck, lihatlah oppa, itu adalah mantan isteri Lee Seunggi yang dulu sering menjadi incaran papparazi. Aku tidak menyangka ia akan datang ke acara ini dan kembali membuat kehebohan dengan hanya berdiri berdua bersama Lee Seunggi tanpa Yeon Ju diantara mereka.” Tunjuk Jihyun sinis. Donghae lantas mengikuti arah telunjuk Jihyun dan ia langsung menyadari jika wanita yang saat ini sedang berdiri bersama Lee Seunggi adalah Yoona, konselornya.

“Siapa nama mantan isteri Lee Seunggi?” Tanya Donghae tanpa sadar.

“Entahlah, sepertinya Im Yoona. Kenapa? Oppa pasti sering melihatnya dulu karena ia sering muncul di sampul depan majalah gosip. Tapi setelah bercerai dengan Lee Seunggi ia dikabarkan telah menikah lagi dengan seorang pria biasa. Namun beberapa rumor pernah menyebutkan jika ia sempat mengandung anak Lee Seunggi karena sebelum menikah dengan suami barunya, ia sudah terlihat memiliki anak.”

“Darimana kau tahu semua itu?” Tanya Donghae heran. Ia tidak pernah tahu jika isterinya sangat suka ikut campur urusan orang lain. Bahkan hingga sedetail itu.

“Yeon Ju pernah menceritakannya padaku. Kasihan sekali Yeon Ju karena wanita itu seperti ular. Meskipun ia telah bercerai dengan Lee Seunggi, tapi ia masih mencari perhatian pada Lee Seunggi.” Cibir Jihyun pedas. Donghae mengernyitkan dahinya heran dan kembali menatap Yoona dari kejauhan yang sedang asik berbicara pada Seunggi. Dari gestur tubuh mereka tampak Yoona seperti sedang menunjuk kearah Aleyna dan seorang anak laki-laki yang sedang bermain di sebelah Aleyna.

“Dimana sahabatmu itu? Aku pusing melihat anak-anak itu berlarian.” Keluh Donghae. Mereka berdua lantas berjalan lebih jauh kedalam ball room sambil mencari-cari dimana keberadaan Yeon Ju karena sesungguhnya mereka tidak terlalu mengenal orang-orang yang datang di acara pesta ulangtahun putra semata wayang Lee Yeon Ju.

“Jihyun? Hai!”

Yeon Ju tiba-tiba muncul entah darimana dan langsung memeluk Jihyun heboh. Wanita dengan gaun kuning tersenyum sumringah pada Jihyun dan langsung menggiring Jihyun bersama Donghae sedikit ke tepi untuk mengobrol.

“Aku mencarimu sejak tadi. Kau membuat kami terlihat aneh diantara pada bocah-bocah itu.” Tunjuk Jihyun pada segerombolan anak-anak yang masih saja sibuk menggoda seorang anak perempuan cantik dengan gaun violet.

“Anak-anak memang seperti itu. Bahkan orangtua mereka tidak bisa mencegah mereka untuk berlarian kesana kemari. Ayo kita bertemu Jinri, ia pasti senang melihatmu datang karena sejak tadi ia menanyakan keberadaanmu. Oh, apa ini suamimu?”

Tiba-tiba Yeon Ju tersadar pada Donghae yang sejak tadi hanya mengawasi setiap obrolan isterinya bersama sahabatnya tanpa melakukan apapun.

“Hai, terimakasih telah mengundangku dan Jihyun.”

Donghae sedikit menundukan kepalanya sopan dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan pada Jihyun.

“Sama-sama. Terimakasih juga karena kau sudah bersedia hadir di tengah-tengah tugas kantormu yang padat.” Ucap Yeon Ju bercanda.

“Yeon Ju-ah, apa itu mantan isteri suamimu?” Tanya Jihyun berbisik di sebelah Yeon Ju. Wanita itu lantas menoleh lalu mengangguk getir sambil menunjukan wajah sedih di depan Jihyun.

“Seunggi oppa mengundangnya, dan dengan tak tahu malunya ia datang bersama anak tidak jelas itu.” Cibir Yeon Ju kesal. Jihyun mengangguk-angguk kearah Yeon Ju dan memberikan sebuah belaian menenangkan di pundak Yeon Ju agar sahabatnya itu lebih tenang.

Di sisi lain, Donghae justru merasa kesal dengan kedua wanita di depannya yang sejak tadi justru sibuk mencibir wanita lain yang menurutnya sedang tidak melakukan apapun. Menurutnya Yoona dan Seunggi masih terlihat normal dan hanya saling mengobrol. Tapi kedua wanita di depannya justru menganggap interaksi yang terjadi diantara Yoona dan Seunggi adalah sebuah adegan perselingkuhan yang sanga buruk.

“Ayo kita hampiri mereka, jangan sampai wanita penggoda itu menggoda Lee Seunggi lebih jauh.” Ajak Jihyun sambil menarik tangan Yeon Ju. Donghae yang melihatnya hanya mampu menggelengkan kepalanya tak habis pikir tanpa bisa mencegah sikap kekanakan isterinya. Tapi sekarang ia justru satu pertanyaan baru terkait Yoona di dalam pikirannya. Mengapa wanita itu selama ini bertingkah seolah-olah ia adalah seorang wanita paling bijaksana dengan lusinan solusi jika pada kenyataanya wanita itu justru memiliki banyak masalah pelik yang melingkupinya? Itu sungguh sangat bertolak belakang dengan profesi yang ditekuninya selama ini. Dan sekarang ia merasa ragu dengan keputusannya untuk berkonsultasi pada Yoona jika nyatanya masalahnya dan wanita itu hampir sama. Mereka sama-sama memiliki masalah dengan keluarga dan juga pasangan mereka.

“Lee Seunggi ssi…”

Dua orang yang sebelumnya sibuk bercakap-cakap itu lantas berbalik sambil menunjukan berbagai macam ekspresi yang tampak kontras. Seuggi yang terlihat santai dengan senyum lebarnya, sedangkan Yoona tampak terkejut sambil memandang Donghae penuh kekakuan.

Kenapa ia berada di sini?

 

            Im Yoona, apa kau merasa tertangkap basah?

35 thoughts on “Kontratransferensi: Imperfect Therapist (Chapter Four)

  1. Oooh, jdi saat donghae mnyalahkn yoona itu ada d part slnjut.a?
    Kpn d post thor? Mlm inikah???
    Berharap

  2. Woaahh,, yoona ketahuan sma hae.. ckck,, hae kyknya udh ada rasa(?) ma yoong 😅😅 So,, dia udh nggk rasain berdebar ketika sma jihyun 😅😅

    next kk.. jgn lama2 yah.. kan kntnya part slnjutnya udh slesai jga 😅😅

    Fighting!!

  3. Yunho donghae dan seunggi…wow yoona benar benar akan memiliki konflik antara ketiganya bukan? Aku rasa akan benar benar complicated dan akan klimaks…oh pasti akan benar menguras emosi ketika yoona menjelaskan permasalahannya…tidak sabar untuk menunggu kelanjutannya…good storyy 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤️

  4. Wow.. Konflik yoona ma donghae yg kmren di post di fb ternyata nggak di part ini. Jd makin nggak sabr nunggu part slnjutnya..

  5. Hahaha….donghae sprti mnangkap tngkapan bsar mnemukan yoona jga disitu….trus kedua istri itu mnyebalkn skli….bgaimna hbnhan yoonhae kedepan y????

  6. mulai ada konflik
    hufff kasian ya yoona hrus berhadapan dengan 2 wanita ular 😁
    dan di tunggu scane yoonhae eonni buat donghae benar benar jatuh cinta kpada yoona gtu eonni 😊😊
    di tunggu kelanjutannya eonni

  7. Thor nanggung thor… Masa di cut pas lg seru serunya… Aarrgh penasaran nya udah tingkat dewa ini… Bagaimana sikap donghae kedepannya ya….
    Next thor ditunggu banget kelanjutannya…

  8. Waa ular ngatain ular, ga sadar diri bgt
    Ga sabar pengen donghae cpt” cerai sm jihyun, kayanya dy udh mulai berpaling dr jihyun

  9. Makin rumit aja ceritanya..
    Kasihan yoona dipojokin gtu..
    Aku baca sinopsis sblumnya, keknya donghae jg bakal salah paham sm yoona jg.
    Nungguin bgt, moment yoonhae mulai pdkt keknya lama nih diliat dr ceritanya, tp bagus kok 🙂
    Lanjut thor, jangan lama2 penasaran 🙂
    Thank u 🙂

  10. kasihan banget yoona kalo sampe donghae salah paham. kalo yunho gk bisa ngasih yoona anak berarti aleyna anaknya yoona sama seunggi dong. ya ampun tambah rumit aja masalah yoona.

  11. Hahah masalah baru muncul, mantan wartawan nya nyebar gosip baru yg ngebuat Lee Seung Gi kepedean sekaleeee..
    btw, Soal Yoona-Yunho kenapa hubungan mereka tetep kaya gitu padahal udah bercerai ,jadi berasa gimana gitu hahaha..
    Dan soal teaser yg sempet di baca kemaren tumben agak beda sama full nya yg ini ?tapi mungkin yg itu buat kejutan ya.. di tunggu aja buat next chapternya un, semoga di nextnya nanti moment YoonHae nya lebih banyakkkkk… kangen mereka soalnya ^^

  12. Sumpah, bikin penasaran bgtt endingnya,
    Siapa yg bakalan di pilih yoona???
    Semoga saja happy ending

  13. Tuh kan makin complicated deh..
    Kesel sama Jihyun dan Yeon Ju. Gitu ya suka lihat sesuatu dari luar aja jd menyimpulkan yg gak-gak.
    Wah Yoona tertangkap basah tuh kata Donghae..
    Makin penasaran. Serius bagus banget tulisan km author..
    Ditunggu next chapter..

  14. Waahhh… makin seru.. Apa Donghae bakal marah ke Yoona ? Ditunggu chapter selanjutnya thor 😉😉

  15. ih greget,rasanya aku pengen cepet-cepet liat Donghae nikah sama Yoona,abis itu punya anak hehe

    Nextt eon,semangat nulisnya yaaa😘😘

  16. Keren thor cerita.y
    Bagaimana reaksi yoona setelah ia bertemu dengan donghae di pesta ulang tahun anak.y seunggi oppa?
    Buat konflik.y lebih greget lg thor hhehehe

  17. Looooooolllllll hidup yoona kayaknya rumit bgeeet nichhhhhh.
    Bakal ada kisah cinta segi empat apa yawww

    Dan mungkin yoona bkal pnya musuh baru hhhhhh

  18. Dipart ini lebih banyak menceritakan Lee sunggi moment yoonhaenya jadi sedikit 🙁
    Apa Yoona merasa ketangkep basah Donghae ?

  19. waduhh.. semoga seunggi ngak mikir macam² tentang aleyna..
    itu kan anak kliennya yoona.. dan semoga yoona juga ngejelasin, biar ngak salah paham

    btw, donghae udah tau tentang kehidupan pribadi yoona yg pernah menikah 2x dan bercerai..

    aduh semoga aja donghae ngak kecewa sama saran yoona karena yoona sendiri punya pengalaman yg pernah gagal utk membina rumah tangganya.. dan yoona juga ngejelasin semua masalah pribadinya ke donghae, biar donghae ngak komentar terus.

    dan setelah masalah clear.. semoga donghae lebih respect ke yoona, dan mereka jadi temen kencan
    .

  20. aihhhh dasar awalnya pelakor rebut paksa
    suami orang…yoona aja biasa eh pelakor
    g dapet cinta…yang ketar ketir.
    hadeuh tuh cewek dua nyebelin bingit
    merasa paling sempurna menghakimi yoona
    klo ada boleh jenggut ga thor maaf dink.
    kezel bingit pingin???

  21. aihhhh dasar awalnya pelakor rebut paksa
    suami orang…yoona aja biasa eh pelakor
    g dapet cinta…yang ketar ketir.
    hadeuh tuh cewek dua nyebelin bingit
    merasa paling sempurna menghakimi yoona
    klo ada boleh jenggut ga thor maaf dink.
    kezel bingit pingin???

  22. Jihyun sma istrinya seunggi jengkelin bnget ya pdhal dia yg rebut seunggi, suka liat donghae sma yoona kya anak kcil kelahi mulu hehehe

  23. Perlahan rahasia yoona bakal diketahui donghae..
    Gue nggak suka ngeliat yeon ju sama jihyun bicara kayak gitu untung donghae nggak terpengaruh sama mereka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.