Kontratransferensi: Crazy Guy (Chapter Three)

Recomended Song Charlie Puth ft Kehlani – Done For Me

 

 

Suasana ramai dan padat yang terlihat di jalanan Seoul begitu kontras dengan suasana hening yang terjadi di dalam mobil yang dikendarai Donghae bersama Yoona. Sejak lima menit yang lalu mereka hanya diam tanpa mengeluarkan suara sepatahpun untuk meramaikan suasana hening yang terasa tidak mengenakan untuk Yoona. Wanita itu terlihat kesal ditengah kebisuan yang melandanya karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan apa yang akan ia lakukan bersama pria gila yang tiba-tiba menyeretnya ke dalam mobil. Ingin rasanya ia memaki-maki kliennya itu, menumpahka segala kesesakan batinnya hari ini setelah mendengarkan berbagai macam masalah yang datang dari klien-klienya yang lain. Andai ia tidak bersikap kekanakan beberapa menit yang lalu untuk menghindari kliennya yang menyebalkan ini, mungkin ia tidak akan terjebak di dalam mobil mahal bersama kliennya dengan suasana hening yang sangat dibencinya ini.

“Jadi anda akan membawa saya kemana tuan?”

Yoona mencoba bertanya dengan aksen sopan yang rasanya sangat sulit untuk ia keluarkan ditengah suasana batinnya yang sedang tidak baik-baik saja. Namun ia masih berusaha mempertahankan wibawanya sebagai seorang konselor yang baik di hadapan klien gilanya ini.

“Suatu tempat yang tenang untuk makan.”

“Apa?”

Yoona memekik spontan, merasa dongkol dengan kliennya yang ternyata akan membawanya untuk makan. Ia pikir mereka akan pergi untuk melakukan sesi konseling seperti apa yang pria itu katakan sebelumnya. Daripada menemani pria itu makan, lebih baik ia pulang dan bertemu Aleyna di rumah. Malam ini ia sudah berencana untuk membawa Aleyna makan di restoran sushi milik salah satu rekan kuliahnya.

“Kau tidak perlu berisik seperti itu nona Im, karena aku juga akan mentraktirmu.”

Yoona berdecih sebal dalam hati. Apa pria itu pikir ia semiskin itu hingga ingin ditraktirnya? Bahkan sekarang ia membawa lebih dari cukup uang untuk makan di restoran paling mahal di Seoul. Yang ia inginkan saat ini adalah segera menyelesaikan permasalahannya dengan pria itu dan pergi sejauh-jauhnya dari pria itu. Bila perlu, ia tidak ingin lagi melihat wajah pria itu di depannya.

“Aku sebenarnya tidak mengerti kenapa kau menyeretku seperti ini? Apa kau ingin membuat perhitungan padaku?”

“Wow, kemana sopan santunmu nona?” Tanya Donghae penuh ejekan.

“Persetan dengan sopan santunku, aku tak peduli. Ini sudah diluar jam kerjaku, dan aku tidak seharusnya bersikap sopan pada seseorang yang tidak memiliki sopan santun padaku.” Balas Yoona sengit. Seluruh kesabarannya telah menguap ke udara hingga sekarang ia tidak memiliki sedikitpun kesabaran untuk menutupi rasa kesalnya. Marah, kesal, dongkol, dan juga konyol telah menjadi satu di dalam benaknya hingga menciptakan sebuah bom emosi besar yang sewaktu-waktu dapat meledak di depan pria menyebalkan itu.

“Oh, jadi seperti ini sifat aslimu? Sungguh aku merasa tertipu dengan brosur yang kudapatkan dari rekanku. Di brosur itu mengatakan jika kau adalah seorang konselor profesional dengan semboyan kerja untuk melayani klien sepenuh hati. Kemana saja semua omong kosong itu?”

“Apa kau sengaja menguji kesabaranku Lee Donghae ssi? Aku sudah cukup bersabar untuk menghadapi sikapmu sejak beberapa hari yang lalu, tapi kenapa kau selalu menunjukan sikap menyebalkanmu yang sangat memuakan ini? Pantas jika isterimu terus memberontak padamu. Bahkan akupun juga akan melakukan hal yang sama jika menjadi isterimu.” Ucap Yoona penuh emosi. Seluruh amarah yang sejak kemarin ia tahana akhirnya meledak keluar hingga tanpa sadar ia telah menyinggung ego seorang Lee Donghae.

“Kau bahkan tidak mengenalku sedikitpun, darimana kau tahu jika aku seburuk itu? Dimana kredibilitasmu sebagai seorang koselor?” Geram Donghae tertahan. Ia juga hampir saja mengeluarkan amarahnya. Namun pertahannya masih lebih baik daripada Yoona hingga ia hanya membalas ucapan wanita itu dengan suara desisan bak ular.

“Bagaimana aku bisa mengenalmu dengan baik jika kau terus menunjukan sikap yang sangat menyebalkan sejak kemarin.” Balas Yoona tak mau kalah.

“Kalau begitu mulai sekarang kau harus belajar memahamiku. Sekarang turun!”

Tanpa mereka sadari, mereka telah tiba di sebuah restoran bergaya country yang tempatnya cukup asing untuk Yoona. Selama ini ia tidak pernah makan di tempat-tempat aneh yang sekiranya akan menimbulkan banyak resiko. Selama ini ia berpikir jika restoran bergaya country adalah restoran dengan banyak pria-pria hidung belang yang sedang mabuk dengan para wanita di pelukan mereka. Tapi setelah ia masuk ke dalam restoran itu bersama Donghae, semua prasangka di benaknya menguap. Ternyata restoran itu tidak jauh berbeda dengan restoran-restoran pada umumnya, hanya saja suasana di sana memang lebih terlihat remang-remang daripada restoran yang selama ini ia datangi.

“Duduk.”

Yoona tersadar dari lamunannya ketika pria itu menginterupsinya dengan suaranya yang cukup menyebalkan untuk didengar oleh telinga sensitifnya. Sejak pria itu melakukan hal-hal menyebalkan di depannya, semua yang berhubungan dengan pria itu selalu terlihat memuakan untuknya. Meskipun pria itu sedang tidak berbuat apapapun, tapi stigma di dalam kepalanya terlanjur buruk bila menyangkut pria itu.

“Kenapa kita datang ke sini?”

“Karena kurasa kau belum pernah mendatanginya, dan ini adalah salah satu restoran favoritku. Bukankah kau ingin mengetahui diriku lebih jauh agar kau tidak hanya menilaiku berdasarkan apa yang kau lihat.” Ucap Donghae cepat penuh sindiran. Yoona mendengus gusar di tempatnya, dan memilih untuk diam sambil memperhatikan suasana di dalam restoran yang cukup asing untuknya.

“Berikan ponselmu.”

“Apa? Untuk apa?” Tanya Yoona sengit. Donghae langsung merampas benda persegi itu dari tangan Yoona, dan mengetik sesuatu di layar ponsel itu dengan gerakan cepat.

“Hey, kembalikan!” Protes Yoona kesal. Ia terus menggapai-gapai ponselnya yang terus dijauhkan Donghae darinya, dan beberapa detik kemudian pria itu terdiam sambil mendengarkan dering ponsel miliknya sendiri.

“Hmm, sekarang aku mendapatkan nomor ponselmu.”

“Ck, apa kau harus bersikap kekanakan seperti itu? Bahkan aku akan langsung memberikannya jika kau memintanya secara baik-baik.” Dengus Yoona gusar sambil merampas ponsel miliknya. Pria itu lalu mentapnya dalam dan terlihat menelisik tepat di depan wajah Yoona.

“Sayangnya aku tidak bisa memintanya secara baik-baik.”

“Dasar arogan. Kenapa aku tiba-tiba mendapatkan seorang klien yang sangat menyebalkan sepertimu? Apakah Tuhan sedang memberiku cobaan.” Gerutu Yoona. Donghae menaikan alisnya sekilas dan cukup terkejut dengan ucapan wanita itu. Ia tidak tahu jika ternyata sikapnya seburuk itu di mata Yoona hingga wanita itu menyebutnya sebagai cobaan.

“Entahlah, mungkin memang seperti itu. Jadi dimana kau tinggal sekarang?” Tanya Donghae membuka pembicaraan yang lebih serius. Yoona menaikan alisnya kearah Donghae dan terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan pria itu. Tapi sorot mata Donghae yang menunjukan pemaksaan membuatnya mau tidak mau menyebutkan juga alamat rumahnya pada pria itu.

“Aku tinggal di kompleks Daesan, kau tahu kan?”

“Aku tahu. Itu cukup dekat dari mansionku. Apa pekerjaan suamimu?”

“Apa itu penting? Kau sudah terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan pribadiku.” Protes Yoona keras. Tiba-tiba seorang pelayan datang di tengah-tengah mereka dengan dua porsi burger dan kentang goreng porsi besar serta dua gelas beer yang masih mengeluarkan buih-buih menggelegak di bibir gelasnya.

“Sejak kapan kita memesan makanan?” Tanya Yoona tak mengerti. Setahunya sejak tadi ia hanya duduk diam sambil berdebat dengan Donghae dan belum memesan apapun.

“Aku yang memesannya. Makanlah, burger di sini adalah yang terbaik.” Ucap Donghae acuh tak acuh. Pria itu kemudian mulai mengambil bagiannya dan memakan burger itu santai tanpa mempedulikan Yoona yang terlihat tidak yakin untuk memakan bagiannya.

“Makanlah, itu tidak beracun. Sambil makan, kita akan melanjutkan obrolan kita. Masih ada banyak hal yang ingin kuketahui darimu.”

“Kenapa harus aku? Justru aku yang seharusnya mengetahui latar belakang kehidupanmu karena kau adalah klienku.” Balas Yoona keras.

“Baiklah, terserah kau. Apa dimatamu aku terlihat sangat menyebalkan?”

Yoona mengangkat wajahnya dan menatap Donghae tidak mengerti. Tiba-tiba saja pria itu melontarkan sebuah pertanyaan yang jawabannya jelas sudah diketahui oleh pria itu. Bahkan sejak tadi ia juga telah meneriakannya secara terang-terangan hingga tenggorokannya terasa sakit.

“Jujur, kau adalah klien pertama yang berhasil membuatku merasa sangat konyol. Sikapmu saat di kantor benar-benar membuatku ingin mencekikmu. Kenapa kau ingin sekali kutolong saat itu?”

“Karena aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan untuk merubah kehidupanku. Isteriku sangat tidak menyukai anak-anak. Mungkin karena tumbuh di tengah-tengah keluarga berkecukupan dengan kedua orangtua yang selalu memanjakannya, ia menjadi seorang wanita yang keras kepala dan angkuh. Semakin lama aku merasa pernikahanku tidak berjalan baik. Padahal kupikir dulu Jihyun dapat memberikanku kebahagiaan. Bagaimana caranya agar aku bisa menyadarkan Jihyun jika aku menginginkannya menjadi isteriku seutuhnya. Bukan wanita karir yang terus menerus meninggalkanku di rumah.”

“Eee… itu….”

Yoona tiba-tiba merasa otaknya buntu. Ia bingung. Saran apa yang harus ia berikan pada pria malang menyebalkan di depannya. Di satu sisi pria itu terlihat menyedihkan dengan ceritanya, tapi di sisi lain pria itu juga terlihat menyebalkan dengan berbagai tingkahnya yang hampir membuat kesabarannya habis. Ketika bersama Lee Seunggi dulu, ia juga merasa diabaikan dan terbuang. Hampir seluruh hari-harinya ia habiskan sendiri dengan berkutat bersama klien-kliennya di kantor. Dan karena keacuhannya dengan keadaan, ia pada akhirnya justru ditinggalkan pria itu bersama wanita lain. Apa yang terjadi pada Donghae saat ini benar-benar sangat mirip dengan keadaanya dulu. Hanya saja Lee Donghae lebih peduli dengan keadaanya dan mau berusaha untuk memperbaikinya, sedangkan ia tidak pernah berpikir sedikitpun untuk memperbaikinya, dan justru memilih menyerah dengan perceraian.

“Aku salut dengan usahamu ini. Kau rela menurunkan harga dirimu yang sangat tinggi itu dengan pergi ke kantor konselor dan mencoba mencari jalan keluar untuk masalah rumah tanggamu. Isterimu benar-benar beruntung memiliki suami sepertimu.”

“Jadi sekarang penilaianmu padaku telah berubah? Baguslah kalau begitu. Tapi jika bukan aku yang memulainya, siapa lagi? Aku hanya memiliki Jihyun sebagai keluargaku. Aku yatim piatu sejak berusia dua puluh tahun. Orangtuaku meninggal karena penyakit yang perlahan-lahan menggerogoti tubuh mereka. Jadi aku merasa harus mencari jalan keluar sendiri untuk semua masalah yang menerpaku. Apa kau pernah merasa benar-benar muak dengan hidup dan ingin pergi meninggalkannya?”

“Pernah, semua orang pasti pernah mengalaminya.” Ucap Yoona getir. Dulu ia pernah benar-benar stress ketika Lee Seunggi terbukti berselingkuh dengan wanita lain. Selama lebih dari satu bulan ia selalu menjadi bahan incaran papparazi yang selalu ingin tahu bagaimana keadaan rumah tangganya. Itu adalah saat-saat terberat dalam hidupnya. Bahkan setelah semua itu berlalu, ia sempat kembali diberitakan buruk karena tiba-tiba memiliki Aleyna. Mereka pikir selama ini ia juga telah berselingkuh hingga menghasilkan seorang anak. Tapi setelah itu ia memilih untuk mengabaikannya dan hanya fokus pada Aleyna. Menurutnya masih ada banyak hal yang perlu dikhawatirkan daripada hanya sebuah berita miring tentang dirinya yang tidak akan pernah usai jika ia tidak memutuskan untuk keluar dari pusara mengerikan itu.

“Ceritakan padaku bagaimana kehidupan pernikahan kalian.” Pinta Yoona tiba-tiba. Ia merasa bisa menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi pada Donghae jika pria itu menceritakan secara lengkap bagaimana kehidupannya selama ini. Daripada ia hanya meraba-rabanya dari sikap Donghae yang sering terlihat menyebalkan di depannya. Akan lebih akurat jika pria itu menceritakan semuanya dari awal.

“Aku bukan orang yang pandai bercerita. Selama ini aku hanya menjalani kehidupanku seperti air. Hanya saja akhir-akhir ini aku sadar jika air yang membawaku telah mengalir kearah yang salah. Jadi aku harus segera merubah haluanku agar aku tidak terhanyut bersama ketidakpastian yang membawaku entah kemana.”

Yoona berdecak dalam hati. Ternyata selain menyebalkan, Donghae juga cukup puitis. Sungguh sangat tidak terduga!

“Ceritakan saja hal-hal yang bisa kau ceritakan. Aku tidak bisa memberimu jalan keluar jika kau tidak menceritakan sedikit masa lalumu.” Paksa Yoona. Sesekali ia melirik jam tangannya untuk memastikan waktunya tidak terbuang sia-sia hanya untuk menunggu pria itu mengungkapkan kisahnya. Terkadang disaat-saat tertentu ia memang harus memberikan dorongan pada kliennya agar mereka tidak  berhenti di tengah jalan seperti ini. Menceritakan sesuatu memanglah tidak mudah, apalagi jika cerita itu adalah bagian dari kehidupan yang tidak menyenangkan.

“Sebenarnya alasanku kenapa aku ingin Jihyun berhenti dari karir modelnya adalah karena aku takut ia meninggalkanku. Selama ini aku melihatnya perlahan-lahan mulai menjauhiku. Tidak ada lagi tatapan penuh cinta yang ia tunjukan padaku. Sekarang sikapnya terkesan acuh dan ia lebih sering mengabaikanku dengan rekan-rekannya. Menurutmu apa ia berpotensi meninggalkanku?”

Tiba-tiba kilasan masa lalunya bersama Seunggi bermunculan satu persatu di dalam kepalanya ketika Donghae mulai menceritakan isterinya yang berubah menjadi lebih acuh setelah berkarir. Dulu ia juga pernah merasakan hal itu. Ia pernah merasakan saat-saat dimana ia meragukan suaminya dan tidak bisa melihat adanya cinta di mata Lee Seunggi. Saat itu ia benar-benar takut, namun ia tidak memiliki siapapun untuk berbagi. Ia merasa sendiri saat itu karena ia juga tidak terlalu terbuka dengan orangtuanya. Beberapa kali ibunya mengkhawatirkan keadaanya, namun ia selalu berhasil menutupinya dengan senyum palsu di wajahnya yang akan terlihat menenangkan di masa ibunya. Ibunya pikir ia selama ini selalu baik-baik saja, padahal ia sebenarnya sedang memendam banyak masalah.

“Kau memang harus segera bergerak sebelum isterimu semakin menjauh. Berikan ia perhatian-perhatian kecil agar ia merasa kau benar-benar membutuhkannya.”

“Begitukah? Lalu apa yang bisa kau sarankan agar hubungan ranjangku dengannya menjadi lebih bergairah seperti dulu.”

Seketika pipi Yoona merona merah ketika pria itu mulai memasukan topik pembicaraanya seputar ranjang. Sudah lama ia tidak melakukan aktivitas itu. Tentu saja pria terakhir yang pernah menyentuhnya adalah Yunho. Dan setelah ia bercerai, ia tidak pernah lagi merasakan belaian pria. Yah.. ia adalah wanita berpikiran timur yang selalu berkomitmen pada satu pria yang telah mengikatnya. Ia tidak suka model one night stand yang terkesan seperti remaja urakan yang sering ia temui di beberapa jalan tertentu di Seoul ketika ia kebetulan sedang lewat selepas bekerja.

“Itu sebenarnya tergantung dari isterimu. Kira-kira apa yang membuatnya bisa bergairah?”

“Dulu, ia selalu bergairah dengan apapun permainan yang kulakukan. Tapi sekarang ia tidak seperti itu. Ia selalu mengingatkanku untuk menggunakan pengaman, dan jika aku tidak menggunakannya maka ia benar-benar tidak akan melanjutkan permainan. Kau pikir pria mana yang terima diperlakukan seperti itu. Aku dalam keadaan horny, dan ia mengacuhkanku begitu saja.”

Yoona meringis kecil, sedikit tidak nyaman membicarakan masalah pribadi seperti itu pada kliennya. Tapi sekali lagi, itu adalah bagian dari pekerjaannya. Setidak nyaman apapun dirinya, ia tetap harus memutar kepala untuk memberikan solusi.

“Untuk sekarang aku hanya bisa memberikanmu saran untuk menuruti apapun setiap keinginan isterimu. Jika ia memang menginginkanmu untuk menggunakan pengaman, maka ikuti saja kemauannya. Yang terpenting saat ini adalah kau bisa menarik kembali rasa simpati isterimu. Jadi kau benar-benar harus mengalah untuknya.”

“Aku tidak yakin aku bisa melakukannya lebih lama lagi.” Desah Donghae berat. Ia sepertinya sudah cukup malas untuk menahan semua gejolak batinnya sekali lagi. Dulu ia sudah pernah melakukannya, dan hal itu hanya berujung pada tingkat dominasi Jihyun yang lebih kuat. Atau mungkin selama ini Jihyun salah mengartikan bahasa tubuhnya sebagai sebuah kekalahan, bukan sebagai bentuk sikap mengalah.

“Cobalah dulu beberapa hal yang kusarankan, kita bisa mendiskusikan langkah selanjutnya jika kau masih belum puas dengan hasil yang kau dapatkan. Mungkin dua hari lagi kau bisa datang ke kantorku, dan kita bisa sedikit melakukan uji coba dengan kartu-kartu yang kumiliki. Aku jadi penasaran dengan kepribadianmu yang sebenarnya. Setelah sejauh ini, aku melihat kau bukanlah pria yang buruk.”

“Hmm, apakah aku harus tersanjung dengan pujianmu?” Tanya Donghae setengah tersenyum. Ia tidak menyangka jika penilaian Yoona padanya akan berubah secepat itu. Setelah ia menunjukan sedikit sisi lemahnya dalam tanda kutip sebagai ego pria paling memalukan sepanjang hidupnya, tapi rupanya itu tidak terlalu sia-sia karena pada akhirnya pandangan Yoona padanya berubah. Konselor itu tidak lagi mengecapnya sebagai pria buruk pemaksa yang hanya bisa memaksakan kehendak tanpa pernah melakukan hal-hal baik sepanjang hidupnya.

Well,  kesan pertama terkadang memang salah. Tapi kuharap ini memanglah dirimu. Karena aku tidak suka pria munafik.” Canda Yoona dengan kekehan. Donghae juga ikut terkekeh menertawakan ucapan Yoona dan segera menghabiskan potongan burgernya yang tak terasa sudah hampir habis. Mengobrol dengan Yoona rupanya cukup menyenangkan hingga ia bisa melupakan sejenak seluruh masalahnya yang sejak kemarin terus berjubel di dalam otaknya.

“Terimakasih, semoga kita bisa menjadi partner yang saling menguntungkan di masa depan.”

“Hmm, sama-sama. Semoga saja memang seperti itu.” Balas Yoona dengan senyum manisnya yang terlihat lebih indah di mata Donghae. Kini pandangannya pada Yoona juga turut berubah, ia tidak lagi melabeli Yoona sebagai konselor amatiran galak yang tidak bisa melakukan apapun. Yoona, benar-benar wanita yang luar biasa. Wanita itu hebat, dan ia tidak menampik hal itu.

-00-

“Lee Jihyun!”

Suara keras seorang wanita membuat Jihyun refleks menoleh ke belakang dan langsung melambaikan tangannya heboh. Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu lantas berbalik dan berjalan tergesa-gesa menghampiri sahabat lamanya yang beberapa tahun ini sempat menghilang dari dunia hiburan yang sama-sama telah melambungkan nama mereka.

“Lee Yeon Ju! Ya Tuhan, aku tidak percaya kita bisa bertemu lagi setelah sekian lama kau memutuskan untuk vakum dari dunia hiburan. Bagaimana kabarmu?” Sapa Jihyun heboh. Wanita itu memeluk erar sahabatnya dan segera menyeretnya menuju kursi terdekat untuk menumpahkan seluruh rasa rindunya yang sudah lama terpendam.

“Aku baik, bagaimana denganmu? Kau sekarang telah berubah, kau lebih bersinar setelah pria tampan dan kaya itu menikahimu empat tahun yang lalu.” Goda Yeon Ju jenaka. Jihyun tersipu malu di depan sahabatnya dan mengibas-ngibaskan tangannya ke udara untuk menyangkal itu semua. Menurutnya ia masih tetap sama setelah Donghae menikahinya karena ia tidak pernah berpikir jika pernikahanya dengan Donghae membawa banyak perubahan pada hidupnya.

“Kau terlalu berlebihan. Aku masih sama seperti dulu. Kau sendiri, bagaimana kehidupanmu sekarang? Aku sempat terkejut ketika mendengar keputusanmu yang memilih vakum setelah Lee Seunggi menikahimu.”

“Aku ingin menjadi ibu rumah tangga. Kau tahu sendiri jika Jinri sangat aktif di usianya yang sudah menginjak empat tahun. Sebagai ibunya aku merasa harus terus mengawasi tumbuh kembangnya. Nah, itu putraku.”

Yeon Ju menunjuk seorang bocah kecil yang tengah berlari-lari bersama ayahnya. Pria kecil itu memang terlihat sangat aktif dengan sebuah mobil mainan kecil di tangan kanannya dan robot ninja di tangan kirinya.

“Halo pria tampan, siapa namamu?” Tanya Jihyun lembut pada Jinri yang langsung bergelayut di pangkuan ibunya. Bocah kecil itu melirik wajah Jihyun sekilas, kemudian ia menyembunyikan wajahnya malu-malu tanpa menyambut uluran tangan Jihyun.

“Jihyun ssi, apa kabar? Lama tidak berjumpa.”

Lee Seunggi menyapa Jihyun ramah ketika pria itu telah duduk di samping isterinya sambil mengangkat tubuh Jinri agar duduk di pangkuannya.

“Aku baik. Putramu ternyata cukup pemalu, seperti ibunya.” Tambah Jihyun berkelakar. Kedua wanita muda itu lantas tertawa bersama-sama sambil mencoba berinteraksi dengan Jinri yang belum terbiasa dengan kehadiran Jihyun.

“Jinri-ah, ayo berikan salam pada imo.” Pinta Yeon Ju. Ibu muda itu kemudian sedikit menarik tangan Jinri agar mau melambaikan tangannya kearah Jihyun, meskipun ia masih malu-malu dan terlihat enggan untuk melakukannya.

“Wahh… putramu sangat lucu dan menggemaskan, jika suamiku melihatnya ia pasti akan menyukainya. Suamiku sangat menginginkan kehadiran seorang anak sebenarnya.” Cerita Jihyun tiba-tiba.

“Lalu?” Tanya Yeon Ju ingin tahu. Sebenarnya ia cukup penasaran, mengapa wanita sempurna seperti Jihyun belum memiliki seorang anak di usia pernikahannya yang telah menginjak empat tahun. Padahal wanita itu jelas telah memiliki segalanya. Harta, suami tampan, karier, dan hal-hal lain yang selama ini selalu diinginkan oleh wanita-wanita di luar sana. Memutuskan untuk megandung jelas bukan sesuatu yang sulit menurutnya untuk dilakukan oleh seorang Lee Jihyun yang sempurna.

“Aku hanya belum menginginkannya. Aku masih terikat kontrak dengan Victoria Secret hingga tahun depan, itu paling cepat. Tapi bisa saja hingga dua tahun yang akan datang aku masih terikat kontrak dengan Victoria Secret. Itu tergantung kinerjaku saat ini. Dari dulu aku sangat menginginkan tawaran pekerjaan ini, jadi ketika manajerku memberitahukan kabar gembira itu, aku tidak perlu berpikir dua kali untuk mengiyakannya. Saat itu juga aku langsung menerima tawaran dari salah satu perwakilan Victoria Secret yang berkantor di Korea.”

“Tapi untuk apa kau masih memikirkan pekerjaan? Bukankah suamimu sudah memiliki segalanya? Kau seharusnya mulai fokus pada keluargamu.”

“Kenapa sih semua orang selalu berpikiran seperti itu.” Ucap Jihyun sedikit kesal. Yeon Ju sebenarnya bukanlah orang pertama yang mengatakan hal itu. Ada puluhan orang yang menasehatinya supaya ia lepas dari dunia hiburan dan mulai berfokus pada hubungan rumah tangganya. Tapi semua itu tidak semata-mata karena materi. Apa yang ia lakukan saat ini nilainya lebih dari materi dan ia merasa kesempatan ini tidak akan datang padanya dua kali.

“Sebenarnya ini bukan karena materi semata. Aku memutuskan untuk tetap berkarir karena aku merasa ini adalah kesempatan langka yang tidak akan datang dua kali. Semakin hari usiaku semakin bertambah. Nanti akan muncul banyak pendatang baru yang kepopulerannya pasti akan melejit melebihi kepopuleranku saat ini. Jadi aku merasa harus mengambil kesempatan itu sekarang sebelum aku tidak bisa lagi meraihnya. Lagipula memiliki anak bukanlah sesuatu yang sulit. Aku bisa menundanya hingga dua atau tiga tahun lagi setelah kontraku selesai. Selain itu, Donghae oppa juga tidak keberatan. Ia sangat mencintaiku, dan ia tidak akan keberatan jika harus menunggu sedikit lebih lama lagi untuk memiliki anak yang sangat diinginkannya.” Ucap Jihyun panjang lebar. Sejujurnya Yeon Ju tidak terlalu setuju dengan pernyataan yang dilontarkan oleh sahabatnya itu, tapi ia memilih untuk tidak terlalu ikut campur karena ia yakin Jihyun sudah lebih dari dewasa untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Lagipula untuk apa ia memikirkan kehidupan orang lain disaat kehidupannya sendiri belum sepenuhnya lurus. Dulu ia dan suaminya menikah karena kekhilafan sesaat yang mereka lakukan. Hamil di luar ikatan suci pernikahan membuatnya harus memaksa Lee Seunggi untuk menikahinya. Ia tidak mau membesarkan janin itu sendirian dan mendapatkan cap buruk dari keluarganya yang masih berpegang teguh pada pemikiran masyarakat timur yang kolot. Dengan berbagai alasan dan drama, akhirnya ia berhasil memenangkan Lee Seunggi untuk mendampinginya membesarkan anak yang telah ia kandung. Tapi meskipun begitu, hingga detik ini ia belum juga mendapatkan cinta dari Lee Seunggi. Pria itu masih menyimpan cinta untuk mantan isterinya yang sudah lama tidak ia dengar bagaimana kabarnya. Terakhir ia mendapatkan kabar jika wanita itu telah menikah lagi dan hidup bahagia bersama suaminya yang merupakan teknisi hebat di bidang nuklir. Namun, tetap saja suaminya itu tidak bisa melepaskan bayang-bayang mantan isterinya begitu saja dari benaknya. Berbagai cara telah ia lakukan agar pria itu mau melihat kearahnya dan tidak terus menerus menoleh ke belakang untuk sesuatu yang tidak akan pernah ia dapatkan lagi. Tapi semua usaha yang telah ia lakukan hingga sejauh ini tetap tidak membuahkan hasil. Lee Seunggi tetap tidak bisa memberikan cinta padanya dan hanya sekedar menjalankan perannya sebagai seorang ayah bagi Lee Jinri. Sedih memang jika melihat hubungan rumah tangganya yang fake, penuh kepalsuan belaka. Di hadapan kamera ia saling merangkul dan mengumbar senyum, sedangkan di belakang kamera mereka tak ubahnya hanya seperti sepasang sahabat yang sedang mengasuh seorang anak kecil.

“Eomma… susu.” Rengek Jinri manja dan membuat Yeon Ju segera meraih tas bayi Jinri yang berisi semua perlengkapan Jinri yang merepotkan.

“Anakmu sangat pintar, berbeda dengan putra dari sahabat Donghae oppa yang merepotkan. Beberapa hari yang lalu aku dibuat sial karena kedatangan bocah nakal itu bersama kedua orangtuanya di rumahku. Anak itu mencoret-coret tembok rumahku. Dan orangtuanya sama sekali tidak melakukan apapun setelahnya. Aku benar-benar kesal dengan mereka. Tapi Donghae oppa justru membela mereka dan mengatakan jika hal itu biasa dilakukan oleh anak-anak.” Cerita Jihyun berapi-api. Yeon Ju terkekeh pelan sambil mengelus puncak kepala Jinri lembut. Baginya Jinri dan bocah laki-laki yang diceritakan oleh Jihyun sama saja. Bahkan seluruh tembok di rumahnya sudah penuh dengan berbagai macam gambaran abstrak hasil karya Jinri.

“Jinri juga sama saja, tapi ia memang sedikit pemalu dengan orang asing yang baru dikenalnya.”

“Ngomong-ngomong minggu depan adalah ulang tahun Jinri.”

Lee Seunggi tiba-tiba ikut bergabung kedalam pembicaraan isterinya dan juga sahabatnya dengan maksud untuk mengundang wanita itu ke acara pesta ulang tahun anaknya yang akan dilaksanakan tanggal empat minggu depan.

“Kami ingin kau datang bersama dengan suamimu, apa kau bisa?”

“Tentu. Tentu saja aku bisa. Pasti di sana akan ada banyak anak-anak yang menggemaskan. Tapi kuharap mereka memang benar-benar menggemaskan dan tidak akan berubah menjadi monster kecil yang mengerikan.” Kekeh Jihyun. Lee Seunggi ikut tertawa menimpali ucapan Jihyun sambil menggelengkan kepalanya tidak setuju karena ia yakin semua anak kecil itu sama. Mereka mengerikan dan dapat berubah menjadi sesosok monster kecil kapanpun mereka mau.

“Mereka jelas akan berubah menjadi sesosok monster kecil yang sangat mengerikan Jihyun ssi, tapi disaat bersamaan mereka juga bisa bersikap manis layaknya kelinci kecil dalam perayan paskah. Kau harus segera memilikinya Jihyun ssi, kuyakin pandanganmu mengenai seorang anak akan segera berubah jika kau memutuskan untuk segera hamil. Tapi itu tergantung dari kesiapanmu, kami hanya sekedar berbagi pengalaman.”

Jihyun mengangguk mengerti. Ia membayangkan bagaimana wajah Donghae yang selalu ingin mendapatkan seorang keturunan darinya. Namun untuk saat ini ia benar-benar tidak bisa. Tawaran dari Victoria Secret terlalu sayang untuk ditolak. Tapi ia janji, setelah kontrak itu selesai ia benar-benar akan melepas segalanya dan hanya fokus pada hubungan rumah tangganya. Ia bersumpah akan menjadi seorang ibu rumah tangga setelah ini. Meninggalkan seluruh kehidupan glamornya untuk mengabdi pada sang suami tercinta yang telah memberikan segala-galanya untuknya.

-00-

Brakk

Setelah menutup pintu mobilnya, Yoona berjalan dengan kalem ke dalam rumahnya sambil menenteng sebuah paper bag yang berisi dua porsi burger daging kesukaan Aleyna. Malam ini, lagi-lagi ia pulang terlambat. Padahal sebelumnya ia telah merencanakan banyak hal untuk dilakukan bersama Aleyna sepulang dari kantor, tapi sialnya semua rencana itu berakhir kacau. Lee Donghae menahannya cukup lama di restoran country tempat mereka makan sebelumnya dengan cerita-cerita menyedihkan yang ia sendiri tidak tahu, apakah itu asli atau hanya sebatas karangan pria itu. Pasalnya ia tidak melihat adanya tanda-tanda kesedihan di wajahnya, ia justru melihat wajah kesepian yang tercetak jelas di wajah pria itu. Jadi sekarang ia dapat menarik kesimpulan jika masalah utama dari seorang Lee Donghae adalah merasa kesepian, bukan karena masalah keturunan seperti yang sebelumnya pria itu ceritakan.

“Darimana saja kau?”

“Oh hai, dimana Aleyna?” Tanya Yoona tidak bersemangat. Tenaganya hari ini terkuras cukup banyak karena beberapa klien bermasalah yang ia tangani hari ini. Ingin rasanya segera berlari ke dalam kamarnya lalu terjun ke atas ranjang empuknya yang nyaman, dan tertidur di sana hingga keesokan paginya tanpa gangguan. Tapi, hal itu jelas tidak bisa ia lakukan. Aleyna masih membutuhkannya, ia harus mendampingi Aleyna setelah Jihoo pulang dari rumahnya.

“Di belakang, memberi makan ikan.”

“Ikan? Sejak kapan ia memiliki ikan?” Tanya Yoona tidak percaya. Ia sebenarnya tidak suka memiliki hewan peliharaan di rumahnya, tapi Aleyna menyukainya. Gadis kecil itu selalu merengek-rengek padanya untuk memiliki hewan peliharaan. Dan karena rengekan dari putri kecilnya itulah, akhirnya tahun lalu ia membelikan seekor anak kucing yang sangat lucu di hari ulang tahun putrinya. Tapi untung saja kucing itu pergi. Ia benar-benar bersyukur ketika satu bulan kemudian kucing itu tidak bisa ditemukan dimanapun. Tiba-tiba saja kucing itu menghilang dari rumahnya dan membuat Aleyna menangis histeris sepanjang hari. Namun masalah itu bisa diatasi dengan mudah karena Yunho langsung menenangkan Aleyna dengan berbagai macam rayuan yang sangat ampuh untuk meredakan tangisan Aleyna yang sangat kencang.

“Aku yang membelikannya, ia terus menunjuk-nunjuk ikan kecil itu ketika aku mengajaknya membeli ikan di pasar. Aku sudah memasak untuk makan malam, Aleyna juga sudah makan.” Beritahu Jihoo. Yoona mengangguk pasrah dan hanya memberikan ibu jarinya sebagai tanggapan karena ia sedang malas berbicara. Ia lelah, dan ia sangat ingin berlari ke kemarnya untuk merebahkan dirinya dengan nyaman di atas ranjang empuknya yang sangat…. menggoda.

“Kalau begitu bawa pulang ini, aku membelikannya untukmu tadinya. Tapi jika kalian sudah makan, lebih baik kau membawanya pulang. Aku juga sudah makan bersama klienku.”

“Tumben?” Tanya Jihoo menghentikan langkahnya. Yoona berbalik sebentar kearah Jihoo, lalu mengedikan bahunya acuh sambil berjalan pergi menuju kamarnya di lantai dua.

“Klien mana yang bisa membawamu pergi di luar jam konseling?”

“Klien menyebalkan yang benar-benar tidak bisa kuhindari hingga aku terpaksa mengikuti keinginannya.”

“Siapa? Seorang pria?” Tanya Jihoo lagi menghentikan langkahnya. Yoona mendelik tajam kearah Jihoo dan memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan dari pria cerewet itu. Lagipula jika ia nekat menjawabnya, pria itu akan semakin mencecarnya dengan berbagai pertanyaan tak berujung nantinya. Dan itu sangat merepotkan dirinya!

“Ingatlah dengan kode etik profesimu, kau masih mengingatnya bukan?”

“Hmm, pulanglah. Aku lelah.” Balas Yoona dari lantai dua. Wanita itu dengan langkah gontai segera berjalan menuju kamarnya sambil memikirkan kata-kata yang diucapkan Jihoo sebelumnya. Ia memang harus berhati-hati pada pria itu. Bukan karena pria itu jahat atau yang lainnya, tapi bisa saja ia melakukan kesalahan seperti beberapa kasus yang pernah menimpa rekan-rekan sesama profesinya.

“Eomma..”

Entah darimana Aleyna tiba-tiba datang dan menubruk tubuhnya. Dengan sikap manjanya gadis kecil itu memeluk perut rata ibunya sambil menyandarkan kepalanya dengan nyaman di sana.

“Eomma, Aleyna punya ikan.” Pamer Aleyna bangga. Yoona mengelus rambut panjang Aleyna lembut dan menganggukan kepalanya mengerti. Asalkan putrinya bahagia, ia akan mengabulkan apapun keinginan Aleyna. Termasuk memelihara hewan peliharaan yang sangat tidak disukainya. Ia benci mengurus makhluk lemah yang pada akhirnya akan mati sia-sia di tangannya bila ia nekat mengurusnya. Tapi mau bagaimana lagi, ini demi putrinya. Jadi ia harus melakukannya.

“Sayang, kau boleh memelihara ikan, tapi ingat, jangan lupa untuk memberi makan ikanmu agar tidak mati.”

“Siap eomma! Aleyna pasti akan merawat ikan Aleyna dengan baik. Eomma, Aleyna mau susu.” Rengek Aleyna manja.

“Tunggu sebentar, eomma akan membuatkanmu susu setelah eomma mengganti pakaian eomma.”

Aleyna segera melepaskan tautan tangannya di pinggang Yoona dan berlari menuju kamarnya di lantai dua. Gadis itu berlari-lari dengan langkah kecilnya yang lucu, lalu membuka tasnya untuk mengambil satu set buku gambar yang diberikan oleh Yunho. Saat membuka tasnya, tak sengaja sebuah kertas ikut terjatuh keluar dari selipan buku gambarnya. Sambil mengernyit bingung, ia memungut kertas putih yang terlipat itu lalu meletakannya di atas meja belajarnya, bersama dengan beberapa tumpukan buku yang sengaja ia susun rapi di sana agar ia tidak mendapatkan omelan dari Yoona karena telah membuat kamarnya kotor berantakan.

-00-

Donghae melangkah dengan wajah lelah, keluar dari mobilnya sembari menggulung tinggi-tinggi lengan kemejanya yang tampak lusuh. Pria berusia tiga puluh tiga tahun itu mendesah kecil sambil melirik jam hitam di pergelangan tangannya yang telah menunjukan angka setengah sepuluh. Setelah ia mengantarkan Yoona kembali ke kantornya dalam keadaan selamat, ia memutuskan untuk kembali lagi ke kantor dan menyelesaikan beberapa masalah yang ditimbulkan oleh karyawannya yang tidak becus bekerja. Ia baru saja membuat sebuah proposal untuk memenangkan tender milik pemerintah yang bisa menutup sedikit kerugiannya. Meskipun memang tidak banyak, tapi setidaknya hal itu bisa menolong keuangan perusahaanya yang cukup terguncang akibat ulah ceroboh karyawan-karyawannya.

“Selamat malam tuan.”

Donghae tersenyum kecil pada bibi Jang yang selalu setia menyambutnya. Memberikan senyum hangat yang menenangkan dan juga membuatnya merasa tidak sendiri di dalam rumah besar yang ia tinggali.

“Jihyun sudah pulang?”

“Nyonya Jihyun sempat pulang dua jam yang lalu, tapi nyonya kemudian pergi bersama teman-temannya untuk menghadiri pesta di Incheon. Nyonya mengatakan jika ia akan pergi selama dua hari.”

“Oh, terimakasih bibi Jang.”

Donghae melangkah begitu saja kedalam rumahnya dan meninggalkan bibi Jang sendiri yang sedang menatap punggungnya dengan tatapan prihatin. Wanita berusia akhir lima puluhan itu tampak prihatin dengan kondisi tuannya yang terlihat kesepian dan juga terpuruk karena sifat isterinya yang keras kepala dan begitu mendominasi hingga tuannya tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah isterinya berbuat sesuka hatinya di luar sana.

Sementara itu, Donghae tampak gusar karena lagi-lagi ia ditinggalkan begitu saja dengan kesunyian yang benar-benar terasa memuakan untuknya. Ingin rasanya ia memanggil Hyukjae untuk datang ke rumahnya, tapi hal itu jelas tidak mungkin ia lakukan karena Hyukjae pasti sedang sibuk dengan keluarganya. Mengingat tentang keluarga, tiba-tiba membuat Donghae merasa miris. Sejak dulu ia selalu bermimpi memiliki keluarga yang bahagia dan harmonis, dengan banyak anak di dalamnya. Tapi karena ia menikahi seorang model, maka inilah konsekuensi yang harus ia dapatkan. Terasingkan dan merasa kesepian di rumahnya sendiri. Lagipula ia bukanlah pria malam yang gemar menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang di bar. Entah kenapa sejak dulu ia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah untuk berkumpul bersama ayah dan ibunya. Mungkin itu karena ayahnya juga tidak pernah terlihat bersenang-senang di bar. Meskipun keluarganya kaya dan terpandang, mereka bukan jenis keluarga yang gemar menghambur-hamburkan harta mereka untuk bersenang-senang bersama wanita-wanita murahan. Sebisa mungkin ia ingin seperti ayahnya yang hingga akhir hayatnya hanya bertahan dengan mencintai satu isteri yang dinikahinya dengan penuh cinta.

“Halo?”

Entah mendapatkan ide darimana, Donghae memutuskan untuk menghubungi konselornya di jam malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat. Sebenarnya pria itu tahu jika menghubungi seseorang di jam istirahat adalah sesuatu yang tidak sopan. Tapi ia merasa perlu berkonsultasi untuk membicarakan masalah kesepian yang sedang ia alami saat ini.

“Ya, ada yang bisa saya bantu?”

Suara sapaan formal yang begitu halus terdengar di indera pendengaran Donghae dan membuat pria itu tersenyum seketika. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Donghae langsung menyapa wanita itu dan memintanya untuk memberikan saran atas masalahnya yang mengganggunya akhir-akhir ini.

“Hai, kau masih ingat denganku? Aku memiliki masalah, kau bisa memberiku nasihat?”

Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Donghae berjalan menuju balkon dan bersandar pada pagar balkon sambil mendengarkan setiap kata-kata yang diucapkan Yoona melalui ponselnya.

“Lee Donghae? Ada apa kau menghubungiku malam-malam seperti ini? Kupikir kau adalah salah satu klienku yang memiliki masalah serius. Aku menyesal telah mengangkat panggilan darimu.” Dengus Yoona di ujung telepon. Donghae terkekeh geli mendengarkan nada marah Yoona sambil membayangkan bagaimana wajah gusar wanita itu yang pasti akan terlihat sangat lucu bila ia benar-benar bisa melihatnya.

“Aku adalah klienmu dan aku juga memiliki masalah serius. Ingat, kau masih berhutang banyak hal padaku karena nasihat-nasihat yang kau berikan belum terbukti menyelesaikan masalahku.”

“Baiklah baiklah, sekarang katakan apa yang terjadi padamu?” Tanya Yoona gusar.

“Aku kesepian.”

“Lalu?”

“Lalu? Lalu kau harus mencarikan jalan keluar untuk masalahku! Apa kau pikir aku menghubungimu hanya untuk mendengarkanmu berkata lalu?” Balas Donghae menyebalkan. Yoona hampir saja melempar ponselnya jauh-jauh dari telinganya karena gusar dengan sikap Donghae yang kembali menyebalkan setelah sebelumnya pria itu mampu bersikap cukup baik di depannya.

“Jika kau tidak ingin kesepian, maka carilah pekerjaan yang bisa membuatmu sibuk. Kenapa kau harus menggangguku hanya karena masalah kecil seperti itu. Masih banyak hal yang lebih  penting dari masalah kesepianmu itu tuan Lee, jadi aku mohon, jangan menghubungiku jika kau tidak benar-benar sedang terdesak.”

“Jadi kau pikir masalahku adalah masalah kecil? Asal kau tahu nona Im, masalah kecil adalah akar dari masalah besar. Jadi bersikaplah profesional dan segeralah mencari jalan keluar untuk masalahku.” Ucap Donghae semena-mena. Pria itu mengamati barisan bintang yang bersinar di langit Seoul dengan tenang sambil menunggu Yoona memberikan nasihat untuknya. Tapi ketika menunggu wanita itu menyuarakan suaranya, samar-samar ia dapat mendengar suara rengekan anak kecil yang berasal dari panggilan suaranya dengan Yoona.

“Apa kau sedang bersama anakmu?”

“Putriku memintaku untuk menemaninya menyikat gigi. Jadi mungkin aku akan sedikit lama untuk menjawab pertanyaanmu yang merepotkan itu.”

“Ck, cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu.”

“Kalau begitu cari saja konselor lain. Aku juga memiliki kehidupan pribadi yang harus kuurus. Kenapa aku bisa sesial ini. Bertemu dengan klien menyebalkan yang sangat pemaksa.” Ucap Yoona penuh kekesalan di ujung telepon. Donghae ingin sekali tertawa terbahak-bahak mendengarkan serentetan kalimat penuh nada kekesalan yang dilontarkan Yoona. Ia sadar jika sikapnya akhir-akhir ini memang sangat menyebalkan, namun entah kenapa ia merasa cukup terhibur ketika melakukan hal itu. Membuat orang lain kesal ternyata sangat menyenangkan baginya.

“Kalau begitu katakan padaku, apa yang kau lakukan setiap kali kau merasa kesepian?”

“Aku? Aku tidak pernah merasa kesepian karena aku memiliki putri yang menggemaskan di rumah. Lagipula aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk merasa kesepian karena pekerjaanku sudah terlalu banyak.”

“Kalau begitu kau benar-benar beruntung.” Ucap Donghae kecil. Satu-satunya hal yang tidak ia miliki di dunia ini adalah keluarga. Jika harta kekayaannya bisa ia tukarkan dengan sebuah keluarga, maka ia rela melakukannya tanpa harus berpikir dua kali.

“Apa kau sudah mencoba untuk melakukan relaksasi? Mungkin itu hanya efek dari pikiranmu yang sedang kacau.”

“Bagaimana caranya?” Tanya Donghae penasaran. Pria itu lalu berbalik dari posisinya yang sedang menghadap langit untuk bersandar pada pagar balkon yang cukup tinggi di belakangnya. Semilir angin malam yang tidak begitu dingin seakan-akan sedang memberikan belaian lembut pada ujung-ujung rambutnya sejak tadi yang terus bergerakan berirama kesana kemari.

“Kau bisa memulainya dengan memejamkan mata dan melakukan latihan pernapasan. Gunakan imajinasimu untuk membayangkan sesuatu yang menenangkan seperti padang rumput hijau atau suasana pantai yang sepi dan indah.”

Tanpa sadar Donghae mengikuti instruksi yang diberikan oleh Yoona dan mulai menutup matanya damai. Otaknya kemudian mencoba memikirkan hal-hal menyenangkan yang bisa mengurangi perasaan mengganggu yang sering ia rasakan akhir-akhir ini. Lalu kilasan mengenai pernikahannya dengan Jihyun empat tahun yang lalu muncul. Di dalam kepalanya ia melihat dirinya empat tahun yang lalu sangat bahagia dan dipenuhi oleh cinta dari seluruh keluarganya. Tapi perlahan-lahan banyakan indah itu digantikan dengan bayangan menyedihkan ketika satu persatu keluarganya meninggalkannya hingga pada akhirnya hanya menyisakan dirinya sendiri yang sedang berdiri dengan kebingungan di tengah-tengah padang rumput yang gersang. Seketika ia membuka matanya nyalang sambil merasakan sensasi berdebar yang tiba-tiba menelusup kedalam hatinya. Baru saja ia melihat ketakutan terbesar dalam dirinya. Ia takut ditinggalkan.

“Halo? Lee Donghae ssi? Kau masih di sana? Tuan Lee?”

“Ya, aku masih di sini.” Jawab Donghae cepat. Pria itu masih terlihat syok dengan apa yang ia bayangkan sebelumnya dan ia mencoba menormalkan perasaanya dengan menghirup udara malam sebanyak-banyaknya yang ternyata tidak terlalu banyak membantu mengurangi serangan panik mendadak yang dialaminya.

“Aku… sepertinya mengalami gangguan kecemasan serius.”

“Apa yang sedang kau rasakan sekarang? Coba ceritakan padaku?”

“Aku….”

Donghae berhenti sejenak. Ia mencoba mengatur rangkaian cerita panjang yang ingin ia ceritakan pada Yoona. Namun kemudian ia merasa bimbang untuk menceritakannya, terlebih lagi setelah mendengar suara rengekan anak kecil yang cukup berisik di seberang sana.

Eomma.. ayo temani Aleyna tidur. Aleyna ingin eomma membacakan dongengn untuk Aleyna..

            Iya sebentar, eomma sedang menelpon seseorang. Pergilah ke kamarmu dulu, eomma akan menyusul.

            Eomma… ayooo…

“Nona Im?”

“Ya, aku masih mendengarkanmu tuan Lee, maafkan putriku yang sedang merengek-rengek.” Ucap Yoona merasa bersalah. Donghae menarik napasnya panjang dan ia telah memantapkan hatinya untuk menceritakan sedikit masalahnya malam ini agar setidaknya ia bisa tertidur nyenyak malam ini.

“Aku baru saja membayangkan keluargaku yang perlahan-lahan meninggalkanku. Aku merasa kesepian Yoona, dan aku benci perasaan ditinggalkan yang sedang menghantuiku saat ini.” Cerita Donghae terdengar frustrasi. Yoona mengernyit heran dibalik ponselnya sambil membayangkan wajah kliennya yang ternyata memiliki masalah yang cukup rumit. Setiap orang memang tidak suka hidup sendiri, begitu pula dengan dirinya. Untung saja ia memiliki Aleyna yang dapat menemani kesendiriannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kacaunya Donghae dengan perasaan takutnya yang pasti sangat-sangat mengganggu itu.

“Sebenarnya kau butuh penanganan lebih lanjut di kantorku tuan Lee, tapi untuk saat ini cobalah untuk rileks sambil membayangkan hal-hal menyenangkan yang kau miliki di dalam memorimu. Aku yakin, selama kau hidup kau pasti paling tidak memiliki satu kenangan menyenangkan yang benar-benar kau simpan di dalam memorimu bukan?”

“Hmm, tapi rasanya sulit. Mudah bagimu mengatakan hal itu, karena kau tidak pernah mengalami apa yang pernah kualami.” Seloroh Donghae sakarstik. Yoona tiba-tiba saja menjadi jengkel dengan sikap Donghae yang kembali terdengar ponggah setelah sebelumnya pria itu mampu bersikap normal. Lagipula apa yang pria itu katakan tentang dirinya salah. Ia bahkan telah mengalami perasaan itu berkali-kali dalam beberapa tahun belakangan ini. Namun hebatnya ia mampu menyelesaikan permasalahannya itu sendiri di tengah berbagai masalah klien yang juga menumpuk-numpuk di dalam otaknya.

“Aku juga manusia biasa, dan setiap manusia memiliki masalah tuan Lee. Mungkin aku belum pernah benar-benar merasakan apa yang kau rasakan karena kita adalah dua individu yang berbeda, tapi percayalah jika selama ini aku juga mengalami perasaan takut untuk ditinggalkan dan hidup sendiri. Di dunia ini terkadang harta memang tidak cukup untuk membeli semuanya. Kita tidak bisa membeli kebahagiaan, kita tidak bisa menukar kesedihan dengan harta kita, dan kita tidak bisa semata-mata bahagia karena sebuah harta. Namun kita bisa menciptakan kebahagiaan. Jadi jika kau ingin lepas dari ketakutanmu itu kau harus mencipatkan sebuah kebahagiaan di dalam hatimu agar kau bisa mengganti perasaan tidak nyaman itu dengan perasaan nyaman yang lebih baik. Kukira untuk saat ini hanya itu yang bisa kuberikan padamu. Apa kau memiliki pertanyaan lain?”

Donghae mencoba merenungi setiap ucapan yang dilontarkan Yoona padanya. Memang benar ia tidak bisa membeli kebahagiaan dengan seluruh uang yang ia hasilkan selama ini. Uang itu terasa tidak ada artinya ketika ia sedang membutuhkan kebahagiaan seperti saat ini. Bahkan uang-uang itu juga tidak bisa membuat isterinya berhenti dari pekerjaannya sebagai model. Jadi sebenarnya untuk apa ia mencari uang? Mengumpulkannya, hingga menumpuk di dalam brankas banknya yang tersebar di berbagai negara. Sebuah pertanyaan besar justru muncul begitu saja di dalam hatinya hingga membuat kepalanya menjadi pening. Malam ini sepertinya ia benar-benar tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Malam ini ia akan tidur dengan berbagai mimpi buruk yang ia ciptakan sendiri di dalam kepalanya.

“Sayang….”

Donghae tersentak kaget dan langsung menoleh ke belakang ketika sebuah tangan tiba-tiba melingkar di lehernya. Refleks pria itu berbalik dan tersenyum pada Jihyun yang sedang menatapnya dengan tatapan manjanya.

“Kau sudah pulang?”

Pertanyaan klise yang seharusnya tidak ia tanyakan terlontar begitu saja dari bibirnya untuk sekedar membuka percakapan dengan isterinya. Untuk sejenak ia lupa jika saat ini ia masih tersambung pada Yoona. Namun saat ia hendak mengakhiri sambungan teleponnya dengan konselornya, wanita itu sudah lebih dulu mematikannya dan meninggalkannya dengan perasaan tidak enak yang mengganjal di hatinya.

“Siapa yang sedang kau hubungi?”

“Seorang teman lama. Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” Tanya Donghae sambil melirik jam tangannya yang telah menunjukan pukul setengah sebelas. Ia tidak sadar jika ia telah menghabiskan sekitar satu jam untuk berbicara dengan Yoona. Dan ia cukup bersyukur karena ternyata wanita itu mampu membuatnya sedikit terhibur di tengah-tengah ketakutan yang ia ciptakan.

“Pekerjaanku hari ini sangat melelahkan. Tadi aku bertemu dengan teman lamaku, Lee Yeon Ju, kau tahu, ia isteri dari Lee Seunggi. Selain itu aku juga bertemu dengan putra mereka yang manis, bocah kecil itu sangat berbeda dengan putra dari sahabatmu Lee Hyukjae yang sangat nakal itu.” Cibir Jihyun tidak suka.

“Kenapa kau masih saja menyimpan rasa kesal pada Jisung, dia hanya anak-anak. Lagipula ia tidak melakukan sesuatu yang benar-benar merusak, hanya sebuah coretan di tembok.” Balas Donghae santai. Ia tidak tahu mengapa Jihyun terlihat begitu membenci Jisung, sedangkan dengan anak-anak lain ia terlihat biasa saja, dan cenderung menyukai mereka.

“Oppa… apa kau sangat ingin memiliki anak?” Tanya Jihyun manja sambil melingkarkan tangannya di pundak Donghae. Wanita berambut sebahu itu lalu menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dalam dada bidang Donghae sambil mendengarkan setiap alunan detak jantung Donghae yang terdengar indah baginya.

“Menurutmu? Usia pernikahan kita sudah menginjak empat tahun, dan aku sangat ingin memiliki keturunan untuk melanjutkan kerajaan bisnisku. Apa aku harus menunggu lebih lama lagi?” Tanya Donghae terdengar tidak bersemangat. Jihyun mengangguk samar dibalik dada bidangnya sambil memeluk Donghae erat. Ia sebenarnya tidak ingin mengecewakan suaminya terlalu dalam karena keputusannya. Tapi untuk kali ini ia benar-benar berharap Donghae mau menunggunya untuk beberapa tahun kedepan lagi.

“Tunggulah sebentar oppa, aku janji akan memberimu keturunan. Aku saat ini sedang berusaha untuk mengejar mimpiku sebelum aku memutuskan untuk vakum dan hanya fokus pada keluarga kita.”

“Kau tahu bukan jika aku memiliki batas kesabaran? Jangan sampai kau melebihinya Jihyun, karena aku mungkin tidak akan pernah memberimu kesempatan ke dua.” Balas Donghae tajam sambil melepaskan belitan tangan Jihyun dari tubuhnya.

Jihyun menatap nanar punggung Donghae yang perlahan-lahan berjalan menjauh darinya. Entah mengapa sekarang ia takut dengan sikap Donghae yang berubah menjadi lebih keras dari sebelumnya. Pria itu dengan terang-terangan memberikan ancaman padanya, dan ancaman kali ini terdengar tidak main-main. Pria itu malam ini terlihat jauh berbeda dari Lee Donghae yang ia kenal selama ini. Seseorang pasti telah melakukan sesuatu padanya.

“Lee Hyukjae! Ya, pasti pria itu yang telah mempengaruhi Donghae oppa agar bersikap seperti ini padaku. Awas saja, aku tidak akan tinggal diam jika sesuatu yang buruk terjadi pada rumah tanggku.” Gumam Jihyun kesal sambil menatap tajam pintu kamarnya yang baru saja ditutup oleh Donghae.

-00-

“Halo?”

Yoona mengernyit heran ketika suara Donghae lagi-lagi menghilang dari pengeras suara di ponselnya. Sejak tadi pria itu seperti tidak terlalu fokus pada pembicaraan mereka dan sering meninggalkannya sendiri dengan berbagai celotehannya untuk menasihati pria itu.

Sayang….

            Yoona mengernyit heran. Menjauhkan ponsel putih itu dari telinganya lalu menatap layar ponselnya sambil mengernyit.

“Apa ia sedang bersama isterinya?” Gumam Yoona pada dirinya sendiri. Ia lalu mendekatkan ponsel putih itu lagi pada telinganya dan sedikit mencuri dengar pembicaraan Donghae dengan isterinya. Meskipun itu tidak sopan, tapi ia sedikit penasaran dengan sosok isterinya yang cukup misterius dan sedikit membawa stigma buruk di pikirannya karena cerita negatif pria itu mengenai isterinya. Tapi dari apa yang ia dengar baru saja, sepertinya sosok isteri dari Lee Donghae tidak seburuk itu. Meskipun ia memang dapat menangkap adanya nada manja disetiap kalimatnya yang membuat ia bergidik jijik. Namun sepertinya isteri pria itu bukan jenis wanita kejam yang penuh diktator seperti yang pria itu katakan.

Setelah mencuri dengar beberapa kalimat dari pembicaraan kliennya dengan isterinya, Yoona memutuskan untuk mematikan sambungan telepon mereka. Tidak ada gunanya ia tetap menunggu Donghae menyelesaikan pembicaraanya karena ia yakin pria itu tidak lagi merasa sendiri setelah isterinya datang. Yeah… itulah nasibnya sebagai seorang konselor. Ia akan ditinggalkan begitu saja oleh kliennya setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Dengan langkah gontai, ia segera berjalan menuju kamar Aleyna di sebelah kamarnya dan menyimpan ponselnya di dalam lemari pakaiannya di sudut ruangan. Malam ini ia harus melupakan seluruh masalah kliennya. Ia hanya harus fokus pada Aleyna, dan kebahagiaan putri kecilnya itu. Dan besok, ia akan kembali berkutat dengan masalah-masalah lain yang tentunya akan semakin membuat pikirannya pusing.

-00-

Di sebuah taman yang cukup ramai di salah satu distrik elit di Kota Seoul, Donghae tampak mengamati sekumpulan anak kecil yang sedang bermain-main kesana kemari dengan riangnya. Pria berkaca mata hitam itu sesekali tersenyum kecil melihat tingkah mereka yang sangat polos dan juga lucu sambil bermain kejar-kejaran tanpa beban. Melihat mereka membuat ia teringat pada masa kecilnya yang tak jauh berbeda dengan anak-anak yang sedang bermain di depannya sekarang. Dulu masa kecilnya juga dipenuhi keceriaan dan kebahagiaan. Bahkan dulu ia tidak pernah berpikir jika nantinya ia akan tumbuh menjadi dewasa dan memikul banyak beban seperti sekarang. Dulu yang ada di dalam pikirannya hanyalah bermain, bermain, dan bermain. Tiada hari tanpa bermain hingga ia kerap mendapatkan omelan dari ibunya yang terlalu lelah menasihatinya yang sulit untuk diatur, apalagi di perintah untuk belajar. Ia adalah tipe pria nakal pemalas yang tidak suka belajar. Mungkin baru benar-benar sadar untuk belajar dan menyiapkan masa depannya ketika duduk di bangkul kelas dua senior high school. Selebihnya ia sama sekali tidak pernah memikirkan masa depannya dan hanya menganggap hidup itu indah. Tanpa beban, tanpa kesedihan, dan tanpa kekhawatiran akan nasib di masa depan.

dukk dukk dukk

Tiba-tiba sebuah bola kaki bergaris-garis biru menggelinding di dekat kakinya dan berhenti tepat di ujung sepatu fantofel hitamnya yang mengkilap. Dengan dahi berkerut Donghae mengangkat bola itu sambil mencari sang pemilik bola yang mungkin sedang kebingungan karena bolanya baru saja menghilang.

“Paman… itu bola milikku.”

Seorang gadis kecil berkuncir kuning dengan mata bulat tiba-tiba menghampirinya dengan napas memburu yang tampak terengah-engah.

“Kau barus aja berlari?”

“Aku mencari bolaku yang menggelinding jauh dari sana.” Tunjuk gadis kecil itu pada area playground yang dipenuhi oleh bocah-bocah seusia gadis kecil itu. Ia kemudian kembali menatap gadis kecil berkuncir itu dan memberikan bola yang sebelumnya ia pegang kepadanya.

“Ini. Siapa namamu? Apa kau tinggal di sekitar sini?”

“Kata eomma aku tidak boleh mengatakan siapa namaku dan memberikan alamat rumahku pada orang yang tidak kukenal. Apa paman orang jahat?”

Seketika tawa Donghae meledak setelah mendengar serentetan kalimat polos yang diberikan oleh gadis kecil menggemaskan di depannya. Sungguh gadis kecil ini sangat menggemaskan. Kira-kira seperti apa ibunya yang telah mengajarinya berkata seperti itu?

“Apa paman terlihat jahat di matamu?” Tanya Donghae sambil tersenyum manis. Gadis kecil itu menggeleng kecil sambil menatap Donghae dengan mata bulatnya yang sangat menggemaskan.

“Paman sepertinya tidak jahat. Paman terlihat baik dan tampan.” Ucap gadis kecil itu tersipu malu. Donghae lalu melepas kacamata hitamnya dan mengelus lembut puncak kapala gadis kecil di depannya.

“Kalau begitu dimana orangtuamu? Ini sudah sore, matahari akan tenggelam sebentar lagi.”

“Eommaku di rumah, dan aku memang akan pulang paman. Setelah mengambil bolaku, aku akan segera pulang.”

“Apa kau ingin paman mengantarmu pulang?”

Gadis kecil itu tampak berpikir sejenak. Ia dengan gaya lucunya bertingkah seperti tengah berpikir keras hingga membuat Donghae gemas dan ingin mencubit pipi chubby gadis kecil itu.

“Eee.. sebenarnya eomma tidak suka menerima seorang tamu asing di rumah. Tapi karena paman sepertinya bukan orang jahat, paman boleh mengantarku pulang.”

Gadis itu dengan gaya lucu menarik tangan Donghae dan menggandeng tangan pria dewasa itu layaknya teman sebaya yang telah dikenalnya lama.

Dari samping Donghae mengamati gadis tanpa nama itu lucu sambil membayangkan bagaimana wajah kedua orangtuanya nanti saat melihatnya datang bersama putrinya. Semoga saja ia tidak dianggap seorang penjahat atau semacamnya yang tiba-tiba datang bersama putrinya.

“Hey, ngomong-ngomong siapa namamu? Apa paman tetap tidak boleh mengetahuinya?”

Gadis kecil itu mendongak ke atas lalu terlihat berpikir. Ia seperti ingin mengatakan siapa namanya pada pria asing, tapi ia masih mengingat kata-kata eommanya dengan jelas bahwa ia tidak boleh memberitahu siapa namanya pada orang asing yang tidak ia kenal.

“Sebenarnya aku ingin mengatakan namaku paman, tapi….”

“Aleyna!”

Seketika gadis kecil itu mendongak sambil melambaikan tangannya pada seorang wanita muda yang sedang menunggunya di depan pintu gerbang bersama seorang pria berkemeja biru dan bercelana hitam yang tampak rapi di sebelahnya.

“Itu eomma.” Seru Aleyna sambil menunjuk ibunya yang sedang menatap khawatir padanya karena ia datang bersama seorang pria asing yang tidak dikenal.

Donghae menyipitkan matanya sedikit dan tampak berusaha mengenali wanita muda bergaun pink selutut yang sepertinya tidak terlalu asing untuknya.

“Nona Im?”

Begitu jarak mereka semakin menipis, Donghae langsung berseru pelan sambil menunjuk Yoona dengan tatapan terkejutnya. Sedangkan Aleyna langsung berlari menghabur kedalam pelukan ibunya sambil menunjuk Donghae yang sedang berdiri di belakangnya.

“Ini paman tampan yang menemukan bolaku eomma. Apa aku boleh memberitahu siapa namaku pada paman ini, ia bukan paman jahat eomma.”

“Bbo boleh.” Jawab Yoona terbata-bata. Aleyna langsung tersenyum sumringah sambil menarik kemeja Donghae agar pria itu melihat kearahnya.

“Namaku Aleyna Jung paman, siapa nama paman?”

Seketika pria di sebelah Yoona menoleh bingung kearah Yoona sambil meminta penjelasan lebih lanjut pada wanita itu melalui tatapan matanya.

“Yoona….”

“Aku pasti akan datang ke pesta ulangtahun anakmu Seunggi ssi. Bukankah kau harus segera pergi menjemput putramu.” Potong Yoona cepat dan terkesan seperti sedang mengusir. Donghae yang cukup mengenali siapa Lee Seunggi juga ikut menatap Yoona untuk menuntut penjelasan pada wanita itu.

“Ahh iya, kalau begitu sampai jumpa. Aku menunggu kedatanganmu minggu depan, jangan kecewakan aku.”

Lee Seunggi lantas tersenyum lembut pada Yoona dan segera berjalan pergi menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah. Pria itu sesekali melirik Donghae dengan mata menyipit. Namun ketika Donghae balik melihatnya, pria itu langsung mengalihkan pandangannya kearah Yoona sambil melambaikan tangan.

“Kau mengenal Lee Seunggi?”

“Memangnya kenapa?”

Yoona tiba-tiba menjadi pening karena hari ini dua pria yang sangat tidak diharapkannya datang ke rumah secara kebetulan. Dan yang paling membuatnya was-was adalah mengenai nama Aleyna yang tidak menggunakan nama marganya. Pria itu pasti akan memburunya untuk menuntut jawaban. Tapi semoga saja Lee Seunggi akan segera melupakannya dan hanya fokus pada pesta ulangtahun putranya minggu depan. Ia sungguh tidak bisa membayangkan jika pria itu sampai tahu jika Aleyna bukanlah putri kandungnya. Pria itu pasti akan menganggap kehidupannya menyedihkan setelah perceraian mereka empat tahun yang lalu.

“Aleyna ayo masuk.”

Yoona menarik tangan Aleyna sedikit keras dan mencoba mengacuhkan Donghae yang sejak tadi masih setia berdiri di sana sambil menanti jawaban darinya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku nona Im.”

“Eomma, ada apa? Aleyna belum mengetahui siapa nama paman ini.”

Yoona memutar bola matanya malas sambil menatap sengit kearah Donghae. Saat ini ia sedang malas menjelaskan apapun mengenai kehidupannya pada orang lain. Terutama orang asing seperti Donghae yang sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Tapi sepertinya ia tidak akan bisa berkelit dengan mudah, karena pria di sampingnya adalah tipikal pria keras kepala yang pemaksa. Bahkan ia sudah lebih dari tiga kali menjadi korban pemaksaan dari pria itu.

“Ini paman Lee Donghae sayang, sekarang ayo kita masuk.”

“Kau akan meninggalkanku begitu saja di sini?” Cegah Donghae sambil menarik lengannya. Yoona melirik sinis lengannya yang dicekal Donghae sambil memberikan isyarat pada pria itu untuk melepaskannya. Namun Donghae dengan sikap arogannya justru menariknya lebih kuat dan tampak tidak mau melepaskannya hingga wanita itu menjelaskan semua kejanggalan yang baru saja terjadi. Setidaknya begitulah apa yang ia tangkap dari interaksi anatara Yoona dan sang aktor terkenal yang baru saja pergi itu.

“Lalu apa yang kau inginkan tuan Lee? Ini bukan jam konseling, jadi kau tidak bisa memaksaku sesukamu.”

“Kalau begitu anggap aku sebagai temanmu mulai sekarang.”

“Apa?”

Yoona menatap aneh pria itu, melemparkan tatapan tidak percaya sekaligus gusar. Sekali lagi ia harus berurusan dengan Lee Donghae yang sangat ingin ia hindari. Dan baru saja pria itu menyuruhnya untuk menjadikannya temannya?

Apa pria ini gila?” Batin Yoona tak habis pikir sambil berjalan masuk meninggalkan pria itu di luar rumah.

35 thoughts on “Kontratransferensi: Crazy Guy (Chapter Three)

  1. Semuanya saling berhubungann.. aaakkkhh makin seru aja thor.. 😁😁 next yaaaa semangat

  2. Lee seung gi suami dari lee yeon ju sahabat dari lee jihyun dan jihyun istri lee donghae, sedangkan lee seung gi mantan suami yoona, dan sekarang yoona berteman dengan donghae *maunya donghae.. Kenapa mereka harus saling kenal sii…

    Aku seneng pas bagian yeon ju yg katanya belum bisa dapetin hatinya seung gi, menyesalkah kau bang mantan??

    Next thor makin seru, aku nunggu saat donghae tau bagaimana kehidupan yoona yg sesungguhnya, biar dia juga tau kalo beban yoona sebenarnya juga sangat besar.

  3. ternyata aleyna bukan anak kandung dri yoona.
    kayaknya donghae sma yoona smakin deket deh😊
    di tunggu part selanjutnya eonni 😍😘

  4. Selalu seru jalan ceritanya..
    Makin penasaran lanjutannya..
    Next thor, jangan lama2 🙂
    Thank u

  5. Donghae bner” juara keras kepalanya, bnyakin moment yoonhae dong thor, mksudnya bnyakin lgi kekekeke seunggi bner” ga tau malu ya udh khianatin mlh skrng ngdeketin

  6. Donghae sudah tau rumah yoona, pasti setelah ini dia akan sering berkunjung ketika dia mulai merasa kesepian..
    Haha.. ku mulai mencium sebuah kisah cinta antara YoonHae akan segera dimulai..

  7. donghae nyeselin banget sih…..
    aku juga kalo jadi yoona pasti akan lebih kesel…. semoga aja donghae cepet suka sama yoona jadi biar cerai sama jihyun.

  8. Siapa coba yg enggk kesal sama sikap ny hae ckckck
    Aku setuji kalau hae bersikap kaya gitu ke jihyun hufft

  9. Makin suka ceritanya.. Berharap nextnya nanti ceritanya ini bakal datang seminggu 2 kali biar puas hehehehe

    Jadi Yoon Ju itu selingkuhan Lee Seunggi ,mantan suami Yoona ..trrus berteman sama Jihyun yg dimana itu istrinya Donghae.. Omg, cukup berbelit belit yaaa ,dan soal. Kertas putih yg Aleyna temuin ,aku jadi curiga iti kertas sesuatu..
    Di tunggu nextnya banget un, semoga makin banyak YHM nya nanti. ^^

  10. Duhhh yoona donghae berantem mulu, jadi nunggu part nya donghae yoona saling suka huhu,
    Next chapter di tunggu yah

  11. aaaaaaah greget…semakin menarik ceritanya
    gue suka bgt karakter dongek disini uuuhhh
    pleaseeeeee next jangan lama2 😅😅😢😢

  12. Iyaaa donghae gilaaaa..
    Kkkkkk..
    Makin seru nih..
    Kayanya masih panjang ceritanya buat liat percikan Cinta dari yoonhae..
    Hmmm.
    Aku sabar menunggu dah.
    Semangat terus dek.. 😙😙

  13. Jalan ceritanya aku suka Thor. Ditunggu next chapternya. Jangan lama2 yah thor semoga happy ending. Hehe fighting 💙💙😂😂

  14. Donghae senang banget deh gangguin yoona,hehe sekarang minta dianggap teman lama kelamaan minta dianggap suami😂😂

  15. kasian yoona diganguin donghae terus wkwk
    Lee Seunggi ternyata masih berharap pada
    Yoona aih padahal dia sendiri yang berulah
    mencari kebahagiaan sesaat yang semu.
    apakah kekosongan dan kekurangan Yoonhae
    bisa saling melengkapi hingga akhirnya happy
    ending?? next part thor…bikin penasaran

  16. Suka banget sama cerita ini. Unik. Complicated tapi seru.
    Jadi penasaran deh ternyata pada berhubungan semua gitu ya.
    Tapi udah tercium nih gelagat-gelagat Donghae.
    Kayanya dia mulai lelah sm Jihyun.

  17. sebenarnya kasian juga sih donghae nya..
    dia harus lebih teges lagi sama jihyun, masa’ dia yang harus ngalah terus..

    buat jihyun merasa bersalah atas ke egois’an nya selama ini..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.