Kontratransferensi: On Being Therapist (Part Two)

Recomended Song Marshmello ft Anne Marie – Friends

 

“Jadi siapa nama anda tuan?”

“Hmm, Lee Donghae.”

Yoona lalu menuliskan nama lengkap Donghae di atas kertas data diri klien yang seharusnya diisi oleh Donghae sendiri. Meskipun ini merepotkan, tapi ia benar-benar harus melakukannya jika tidak ingin pria itu semakin berulah.

“Tanggal lahir anda dan tempat anda dilahirkan tuan?”

“Aku lahir di Seoul, tanggal lima belas oktober. Kapan kita akan memulai sesi konselingnya? Apakah kau petugas pencatatan sipil?” Tanya Donghae sakarstik. Yoona mengangkat kepalanya kearah Donghae dan tersenyum sedikit tidak ikhlas pada pria itu.

“Maafkan saya tuan, tapi ini adalah prosedur yang harus dilakukan. Seharusnya anda yang mengisinya sendiri agar lebih valid.” Sindir Yoona. Donghae terlihat tak peduli dan kembali menyandarkan punggungnya dengan gaya angkuh khas aristrokratnya.

“Selanjutnya, bisa anda sebutkan alamat lengkap anda dan apa pekerjaan anda?”

“Aku tinggal di Seoul, kau tidak perlu tahu dimana pastinya dan pekerjaanku adalah CEO di perusahaan penerbangan.”

Tanpa Donghae sadari, Yoona sedang mendelik sebal sambil menuliskan data diri milik Donghae. Ia sungguh tak habis pikir dengan kliennya yang sangat ajaib sore ini. Sepertinya pria itu juga memiliki gangguan kepribadian akut yang menyebabkannya bertingkah aneh seperti itu. Ditambah lagi gaya sombongnya yang sangat menyebalkan, ia benar-benar tidak suka pada kliennya yang satu ini. Semoga saja masalah pria itu akan segera selesai dalam satu kali konseling karena ia tidak mau lagi bertemu dengan pria menyebalkan itu.

“Kenapa lama sekali? Apa kau sedang tidur?” Tanya Donghae sambil melirik kertas yang sedang ditekuni Yoona. Yoona menggeram tertahan di tempatnya dan memperlihatkan hasil tulisannya yang baru saja selesai.

“Maaf tuan, saya perlu waktu sedikit lama untuk menuliskan jenis pekerjaan anda.” Bohong Yoona. Padahal sejak tadi ia sibuk mengumpati pria itu di dalam hati.

“Pertanyaan selanjutnya, apa anda sudah menikah?”

“Sudah. Aku memiliki satu isteri bernama Lee Jihyun, kau pasti mengenalnya. Ia adalah seorang model ternama kebanggaan Korea.”

Yoona meringis kecil dibalik mejanya sambil menuliskan semua hal yang diucapkan Donghae. Bahkan ia sama sekali tidak mengenal dan tidak ingin mengenal isteri dari pria menyebalkan itu, tapi kenapa pria itu harus menyebutkannya dengan gaya angkuh seperti itu? Sudah pasti pria itu sakit jiwa atau mengalami depresi akibat masalah pelik yang menumpuk-numpuk di dalam pikirannya.

“Jumlah anak dan riwayat penyakit yang mungkin pernah anda derita?”

“Ck, sejak tadi kau terus menanyakan omong kosong seperti itu, kapan kita kita akan memulai sesi konseling yang kau janjikan? Waktuku tidak banyak, aku masih memiliki banyak pekerjaan di kantor.” Decak Donghae kesal.

“Ini yang terakhir tuan, setelah itu anda bisa menceritakan sumber-sumber permasalahan yang sedang anda hadapi.” Ucap Yoona mencoba bersabar. Sebenarnya bukan hanya pria itu saja yang masih memiliki pekerjaan, ia pun juga seperti itu. Dan bisa saja ia meninggalkan pria itu begitu saja dengan keadaanya yang tidak waras. Tapi karena ia menjunjung tinggi profesionalitas pekerjaanya, ia rela pulang lebih lama dari jam yang seharusnya.

“Aku belum memiliki anak dan aku tidak memiliki riwayat penyakit apapun yang serius.”

“Baiklah, sekarang anda bisa menceritakan pada saya apa yang sedang anda alami hingga anda memutuskan untuk datang ke tempat ini.”

Setelah selesai menuliskan serangkaian data diri yang cukup menguras emosi, akhirnya Yoona bisa sedikit berlega diri karena setelah ini ia tidak akan terlalu banyak bicara seperti sebelumnya. Ia hanya perlu mendengarkan keluh kesah Donghae dan memberikan sedikit nasihat yang bisa membuat pria itu merasa lebih baik.

“Masalahku sangat banyak, darimana aku harus memulainya?”

Yoona rasanya ingin berteriak pada pria itu dan menghujaninya dengan berbagai sumpah serapah yang sejak tadi telah ditahannya.

“Anda bisa menceritakan kehidupan anda sehari-hari anda terlebihdulu, mungkin diantara cerita anda, saya bisa menemukan beberapa permasalahan yang mengganggu anda.” Ucap Yoona berusaha bijak.

“Apa kau sudah menikah?”

“Ah, saya? Ssu sudah.” Jawab Yoona terbata-bata. Ia sekarang merasa bingung dengan kliennya yang justru berbalik mewawancarainya, alih-alih ia yang seharusnya memberikan pertanyaan, bukan pria itu yang memberikan pertanyaan padanya.

“Baguslah, jadi aku tidak perlu menjelaskan terlalu detail masalah rumah tanggaku karena kurasa kau juga bisa memahaminya jika kau sudah menikah.”

“Saya sudah menikah, jadi anda tidak perlu khawati tentang masalah itu.”

“Kau memiliki anak?”

“Ya, saya memilikinya.”

“Kalau begitu bagaimana perasaanmu saat menjadi ibu?”

Yoona mengernyitkan dahinya. Ia benar-benar dibuat bingung oleh kliennya sore ini. Sekarang posisi mereka justru berbalik, dengan ia yang menjadi klien dan pria itu yang justru memainkan peran sebagai seorang konselor. Sebenarnya apa masalah pria itu sebenarnya? Batin Yoona geram.

“Maaf, itu adalah ranah pribadi saya. Seharusnya anda yang bercerita mengenai masalah anda, bukan saya.” Ucap Yoona tegas. Kali ini ia tidak akan menggunakan kelembutan hatinya untuk melayani pria menyebalkan di depannya karena pria itu memang tidak pantas mendapatkannya. Ia lebih baik langsung bersikap tegas untuk menghindari arah pembicaraan yang keluar jalur seperti ini.

“Tapi masalahku berkaitan dengan itu. Aku ingin memiliki seorang anak untuk meneruskan garis keturunanku, tapi isteriku tidak mau. Lebih tepatnya ia ingin menundanya lagi karena ia baru saja mendapatkan kontrak untuk menjadi model Victoria Secret. Menurutmu apa yang harus kulakukan? Mungkin dengan kau menceritakan pengalamanmu saat memiliki anak, aku bisa menceritakannya pada isteriku nanti.”

“Jadi permasalahan anda juga berkaitan dengan isteri anda? Kenapa anda tidak membawa serta isteri anda untuk datang besok, saya rasa itu akan lebih baik karena jika anda dan isteri anda datang bersama, maka saya bisa memberikan saran yang lebih maksimal untuk masalah anda.”

“Isteriku tidak akan mungkin datang. Ia sibuk, sangat sibuk hingga menelantarkanku sendiri.” Cerita pria itu menyedihkan. Sekarang Yoona justru berbalik mengasihani pria itu karena ternyata dibalik sikap menyebalkannya, ia sangat menderita dengan kondisi rumah tangganya.

“Anda sudah mencoba membicarakan hal ini pada isteri anda?” Tanya Yoona melembut. Donghae mendongakan wajahnya kearah Yoona dan menatap manik karamel Yoona sungguh-sungguh dengan mata sendunya. Pria itu cukup lama terdiam, hingga akhirnya ia menganggukan kepalanya dengan lesu.

“Aku bahkan sudah membicarakan hal itu hingga ratusan kali sebelum aku memutuskan untuk datang ke sini. Isteriku adalah wanita yang keras dan peuh dominasi. Ia kemarin menantangku untuk menceraikannya jika aku coba-coba menghentikan kegiatannya menjadi model. Apa kau memiliki saran untuk itu?”

Yoona berpikir sejenak, mencoba menelaah lebih jauh ke dalam masalah Donghae. Memang menurutnya masalah yang paling berat setelah menikah adalah masalah menyesuaikan diri dengan pasangannya. Ia sendiri bahkan tidak berhasil melaluinya dengan baik, rumah tangganya hancur sebanyak dua kali. Apakah sekarang ia pantas memberikan saran jika seperti itu? Tapi tidak! Ia adalah konselor yang profesional, ia tidak bisa mencampuradukan masa lalunya dengan masalah kliennya yang menyedihkan ini. Justru ia harus memberikan nasihat dan dorongan agar rumah tangga kliennya tidak berakhir sama seperti rumah tangganya yang hancur.

“Sebenarnya ini harus dilakukan dengan isteri anda, tapi jika isteri anda tidak bisa hadir, maka saya rasa anda sendiri sudah cukup. Jadi begini, dari apa yang anda ceritakan, saya melihat bahwa isteri anda adalah seorang wanita yang memiliki tempramen yang tinggi dan juga keras kepala. Jika anda ingin mengomunikasikan keinganan anda untuk memiliki keturunan, anda seharusnya menggunakan cara-cara lembut dan romantis. Bukankah setiap wanita menyukai hal-hal romantis? Coba anda lakukan itu pada isteri anda, mungkin isteri anda akan luluh.” Jelas Yoona. Ia memberikan senyum manis kearah Donghae sambil menunggu reaksi pria itu selanjutnya. Tapi dari apa yang ia lihat sepertinya sarannya itu tidak berhasil. Donghae justru menghembuskan napasnya berat sambil menatap sendu kearahnya.

“Hal romantis apa yang harus kulakukan padanya? Aku pernah menyiapkan dinner romantis di atas Namsan Tower, aku pernah memberikan bunga, aku pernah memberikan perhiasan mahal, dan aku juga sudah memberikannya rumah agar ia mau menuruti permintaanku. Tapi hasilnya tetap sama saja, ia tetap bersikeras untuk berkarir di dunia modeling dan tidak mau mengikuti keinginanku untuk diam di rumah mengurusku.”

Yoona lagi-lagi berpikir keras. Ternyata cukup sulit membuat pria di depannya itu puas dengan jawabannya. Lagipula ia belum melihat sendiri bagaimana sosok isteri dari pria itu, jika pria itu datang bersama isterinya, mungkin ia bisa mengetahui alasan sebenarnya dari sisi isterinya mengapa wanita itu bersikeras untuk tetap berkarir meskipun suaminya telah memiliki segalanya.

“Apakah anda sudah pernah mencoba memberikan sesuatu yang tidak berkaitan dengan materi? Saya rasa tidak semua wanita menyukai materi, dan mungkin isteri anda adalah jenis wanita yang seperti itu. Mungkin sebagai langkah awal anda jangan terlalu menekan isteri anda untuk meninggalkan dunia modelling yang ia sukai. Anda bisa melakukannya perlahan, pertama-tama anda menyapanya ketika isteri anda pulang dari kegiatannya di luar. Kemudian anda bisa memberikan perhatian-perhatian kecil, seperti memijatnya, membuatkan secangkir teh, atau mengajaknya mengobrol sambil menonton film kesukaan isteri anda. Lakukanlah pendekatan yang lembut di awal untuk mendapatkan apa yang anda inginkan tuan, dan jangan membuat isteri anda merasa tertekan atau justru berbalik menantang anda seperti sebelumnya. Kunci dari keberhasilan anda adalah bersabar. Anda harus bisa bersabar dan jangan membuat isteri anda emosi dengan tuntutan yang anda berikan.”

“Seperti itukah? Akan kucoba nanti. Kuharap saranmu ini benar-benar akan bekerja, karena aku akan menuntutmu jika itu tidak berhasil.”

Yoona berdecak kesal dalam hati sambil menatap kliennya sengit. Bisa-bisanya pria itu masih mengancamnya setelah apa yang ia lakukan hingga sejauh ini. Apa ia pikir memberikan jalan keluar itu mudah? Bahkan setiap jalan keluar yang ia berikan pada kliennya selalu memiliki tanda tanya tersendiri di benaknya, apakah hal itu benar-benar akan bekerja atau tidak? Tapi itu lebih baik daripada ia tidak memberikan jalan keluar apapun dan justru menendangnya keluar dari kantornya karena seharusnya saat ini ia sudah tiba di rumah Yuri dengan nyaman sambil berceloteh bersama Aleyna.

“Anda bisa melakukan sesi konseling berikutnya jika anda masih tidak puas dengan sesi pertemuan kita hari ini. Karena anda sudah menemukan jalan keluar sementara untuk masalah anda, maka sesi konseling hari ini saya nyatakan selesai. Terimakasih atas kedatangan anda, dan semoga hubungan anda dengan isteri anda segera membaik.”

Yoona mengulurkan tangannya sopan sambil tersenyum manis pada Donghae untuk mengakhiri sesi konseling mereka yang cukup menguras emosi itu. Dalam hati Yoona berharap jika pria itu tidak akan pernah kembali lagi lain waktu karena ia sudah muak menangani seorang klien sepertinya. Lebih baik ia menangani klien lain dengan masalah yang lebih kompleks daripada berurusan dengan klien menyebalkan tak tahu diri seperti Lee Donghae.

“Ya, terimakasih atas saran-saran yang kau berikan. Tapi ingat, aku benar-benar akan menuntutmu jika semua saran yang kau berikan tidak berhasil membuat isteriku luluh.”

Donghae menjabat tangan Yoona erat dan segera berjalan pergi meninggalkan ruangan konseling Yoona yang cukup luas. Pria itu dengan gaya angkuhnya berjalan keluar sambil menenteng jas hitam yang dikenakannya sore tadi.

Sementara itu Yoona hanya mampu berteriak-teriak kesal di dalam ruangannya sambil meremas-remas kertas data diri milik Donghae yang langsung ia lemparkan ke dalam keranjang sampah. Ia tidak sudi menyimpan data diri seorang klien yang sangat menyebalkan seperti Donghae. Lebih baik ia mengalihkan Donghae pada konselor lain jika pria itu datang lagi untuk meminta saran atas permasalahan rumah tangganya yang pelik.

-00-

Ting tong!

Ting tong!

Yoona menekan bel rumah Yuri dengan tidak sabar sambil terus melirik jam tangannya yang telah menunjukan angka tujuh. Hari ini ia pulang sangat terlambat karena ulah kliennya yang menyebalkan di kantor. Dan sialnya saat di jalan ia terjebak macet yang cukup panjang karena ada sebuah kecelakaan lalu lintas yang membuatnya harus menunggu di jalan dengan tidak sabar selama lebih dari tiga puluh menit.

“Yoona! Apa-apaan kau ini? Jangan membunyikan bel rumahku seperti itu.” Semprot Yuri ketika wanita berambut pendek itu membukakan pintu rumahnya. Yoona tersenyum kecil menatap Yuri, lalu ia langsung melangkahkan kakinya ke dalam sambil menenteng satu paper bag berisi burger keju kesukaan Aleyna.

“Dimana Aleyna? Aku merindukanya.” Ucap Yoona kebingungan pada Yuri. Tidak biasanya Aleyna menghilang saat ia pulang. Selama ini Aleyna selalu berlari menyambutnya setiap ia pulang dari kantor, apalagi jika ia membawa sebungkus burger keju kesukaanya.

“Ia sedang mengerjakan tugas menggambarnya di atas. Tadi siang ia baru saja pergi bersama Yunho.”

“Yunho? Ia tidak mengatakan padaku jika ia akan mengajak Aleyna pergi. Tapi.. biarlah, Yunho juga ayah aleyna. Ia berhak mengajak Aleyna pergi.” Ucap Yoona sambil meletakan tas kerjanya di sofa ruang tamu milik Yuri. Wanita itu kemudian melangkah menuju kamar Yuri dan meminta Yuri untuk meminjamkannya pakaian santai.

“Katanya ia sudah menghubungimu, tapi kau tidak mengangkatnya. Bahkan sore tadi saat mengantarkan Aleyna ke sini, ia juga menghubungimu, tapi lagi-lagi kau tidak mengangkatnya.”

Yoona lantas berpikir keras, mengingat-ingat apa yang membuatnya tidak mengangkat panggilan dari Yunho. Lalu ia teringat pada kliennya yang sangat menyebalkan hari ini.

“Hari ini aku sangat sibuk hingga tidak sempat mengecek ponselku. Kau tahu, hari ini adalah hari paling sial yang pernah kualami.”

“Memangnya kenapa?” Tanya Yuri heran sambil mengangsurkan satu set kaos dan celana longgar pada Yoona.

“Aku mendapatkan klien super menyebalkan dan sangat merepotkan. Bahkan aku pulang terlambat hari ini juga karena klien menyebalkan itu. Ia tiba-tiba datang dan ngotot ingin melakukan sesi konseling di jam lima kurang lima menit. Tidak sampai di situ saja, ia juga membuatku terus menahan kesabaran selama sesi konseling karena ia terus berbuat ulah dengan tingkahnya yang menyebalkan. Ia tidak mau mengikuti prosedur konseling dan membuatku harus menuliskan data dirinya sebagai arsip. Huh, aku tidak mau lagi menghadapi klien seperti itu. Jika ia kembali lagi, aku akan langsung mengalihkannya pada konselor lain. Biarkan ia mendapatkan pelayanan dari konselor yang lebih sabar, karena aku benar-benar tidak sabar menghadapinya!” Cerita Yoona berapi-api. Yuri hanya menatap Yoona geli sambil membayangkan rupa sang klien yang bisa membuat sahabatnya menjadi semarah itu. Selama ini Yoona tidak pernah sekesal ini pada kliennya. Semerepotkan apapun kliennya, Yoona selalu menanggapinya dengan kalem. Tapi kali ini Yoona terlihat sangat berapi-api pada kliennya, sudah pasti orang itu sangat menguras kesabaran seorang Im Yoona.

“Aku jadi ingin bertemu dengan klienmu itu.” Goda Yuri. Yoona langsung menggelengkan kepalanya keras sambil menyilangkan tangannya di depan dada.

“Jangan sekali-kali bertemu dengannya, kau akan dibuat berasap dengan tingkahnya yang sangat menyebalkan. Aku yakin, isterinya pasti juga jengah menghadapi sikapnya yang menjengkelkan itu.”

“Jadi klienmu seorang pria?”

“Hmm, begitulah. Ia seorang CEO di perusahaan entahlah, aku lupa dan isterinya adalah seorang model. Di awal sesi konseling ia sudah bersikap sombong dengan memperkenalkan dirinya sebagai CEO dan suami dari seorang super model kebanggaan Korea. Sayangnya aku tidak mengenal siapa isterinya dan tidak pernah melihatnya di televisi.” Cibir Yoona penuh emosi. Hari ini ia sudah terlalu banyak menyimpan emosinya karena kliennya yang bernama Lee Donghae. Dan ini adalah kesempatannya untuk membuang semua kekesalannya dengan menceritakannya pada Yuri.

“Bagaimana mungkin kau mengenal super model itu jika kau tidak pernah menonton chanel gosip semacam VOA di tv. Satu-satunya chanel yang sering kau tonton adalah chanel disney ketika menemani Aleyna menonton tv.” Seloroh Yuri.

“Ahh, untuk apa aku menonton hal-hal tidak berguna seperti itu. Bahkan hidup kita setiap hari sudah penuh dengan masalah, untuk apa kita menonton permasalahan orang lain.” Balas Yoona masih sengit. Yuri lantas beranjak pergi dari kamarnya dan membiarkan Yoona untuk segera mengganti pakaiannya. Berbicara dengan Yoona malam ini justru membuatnya menjadi gusar. Yoona terlalu berapi-api menceritakan harinya di kantor. Dan ia sudah menyerah untuk meladeni setiap kata-kata yang dilontarkan Yoona.

“Cepat bersihkan dirimu. Aku dan Aleyna menunggumu di meja makan.”

-00-

Donghae melangkah masuk ke dalam rumahnya yang mewah di kawasan Gangnam. Sambil menenteng jas dan juga tasnya, Donghae berjalan dengan langkah berat ke dalam rumahnya yang sepi. Setiap hari ia selalu merasakan hal yang sama ketika masuk ke dalam rumahnya yang besar.  Ia merasakan kehampaan dan kekosongan. Di rumah yang sangat luas  itu tidak ada sedikitpun kesan hangat yang dipancarkan, rumah itu justru terlihat seperti bangunan besar kokoh yang membuatnya merasa terpenjara setiap kali memasukinya.

“Selamat malam tuan.” Sapa asisten rumah tangganya hangat. Bibi Jang menyambut Donghae dengan senyum keibuannya yang hangat dan juga menenangkan khas seorang ibu.

“Selamat malam. Jihyun sudah pulang?”

“Nyonya Jihyun belum pulang tuan.”

Donghae menghembuskan napasnya berat lalu tersenyum getir kearah bibi Jang. Setiap hari ia selalu mendapati hal yang sama di rumah. Hampir setiap hari Jihyun pulang larut malam. Sangat jarang menemukan Jihyun pulang sebelum dirinya pulang. Jika hal itu terjadi, pasti karena wanita itu kehabisan uang dan ingin memintanya lagi darinya.

“Kalau begitu tolong siapkan makan malam untuk empat orang, hari ini Hyukjae dan keluarganya akan makan malam di sini.”

Bibi Jang mengangguk mengerti dan langsung berjalan pergi meninggalkan Donghae menuju dapur.

Sementara itu, Donghae masih setia berdiri di tempat sambil menatap nanar seluruh sudut rumahnya yang bersih dan rapi. Sesekali ia ingin rumahnya menjadi berantakan. Berantakan karena mainan anak-anak atau lumpur dan jejak kaki kecil yang mengotori lantai-lantai rumahnya. Ia merindukan kehadiran seorang anak-anak. Sayangnya Jihyun tidak mau mengabulkan keinginannya. Pernah ia berpikir untuk menyewa rahim seseorang untuk mewujudkan keinginannya, tapi hal itu selalu dibuangnya jauh-jauh dari kepalanya karena ia tidak mau menyakiti Jihyun. Sejauh ini ia masih menghormati Jihyun sebagai isterinya dan ia akan terus bersabar hingga suatu saat Jihyun bersedia melahirkan anak-anaknya.

Donghae melangkah perlahan menuju pigura besar berisi foto pernikahannya dan Jihyun empat tahun yang lalu. Di sana ia terlihat begitu bahagia sambil menggenggam tangan Jihyun erat di sampingnya. Tapi kini, ia sepertinya sudah lama tidak menggenggam tangan Jihyun seperti itu. Terakhir mungkin satu tahun yang lalu saat mereka merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke tiga. Saat itu ia memberikan kejutan pada Jihyun dengan mengajaknya berkeliling laut Mediterania menggunakan kapal pesiar selama tujuh hari. Ia sungguh merindukan saat-saat itu, dimana Jihyun masih bersikap hangat padanya dan tidak mengabaikannya dengan urusan pekerjaan sialannya.

Ting tong!

Donghae berbalik, tersenyum cerah kearah pintu utama yang baru saja dibuka oleh salah satu pelayan di rumahnya.

“Aku sudah menunggumu.”

Hyukjae masuk ke dalam mansion mewah milik Donghae sambil menggendong si kecil Jisung yang tampak nyaman di dalam dekapan sang ayah. Di sampingnya, Lee Hyoyeon sedang tersenyum manis kearah Donghae sambil menenteng sebuah paper bag yang kemungkinan berisi oleh-oleh.

“Aku sebenarnya cukup terkejut dengan undanganmu yang mendadak ini, tapi terimakasih karena telah mengundangku datang untuk makan malam. Kebetulan Hyoyeon hari ini tidak memasak di rumah.” Kekeh Hyukjae yang langsung mendapat sikutan dari Hyoyeon. Wanita itu berjalan mendekati Donghae, lalu mengangsurkan bungkusan paper bag yang dibawanya pada Donghae.

“Apa ini?”

“Hasil eksperimenku hari ini. Maaf, aku tidak sempat membuat apapun untuk dibawa sebagai oleh-oleh.”

“Ah, tidak masalah. Ini sudah lebih dari cukup. Hyukjae selalu mengatakan padaku jika kue buatan isterinya sangat lezat. Aku jadi tidak sabar untuk mencicipinya. Ayo kita ke meja makan, kita lanjutkan obrolan kita di sana sambil menyantap kue buatanmu dan menu makan malam buatan bibi Jang.”

Donghae menggiring tamu-tamunya menuju meja makan sambil sesekali menimpali celotehan Hyukjae. Sore ini ia sengaja mengundang keluarga Hyukjae untuk datang ke rumahnya, karena ia yakin jika Jihyun tidak ada di rumah dan ia akan merasa kesepian. Setidaknya jika Hyukjae datang bersama keluarganya, ia bisa melupakan sedikit masalahnya dan kehampaan hatinya yang sangat mengganggu.

“Oooya, dimana Jihyun? Aku tidak melihatnya sejak tadi?” Tanya Hyukjae dengan ekor mata yang sibuk mengitari sudut-sudut rumah Donghae yang tampak sepi.

“Ia masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia baru akan pulang pukul sepuluh nanti.” Jawab Donghae apa adanya, namun terselip nada getir disetiap kalimatnya.

“Sepertinya Jisung bosan kau gendong, kau bisa menurunkannya. Biarkan ia berlari-lari dengan bebas.”

“Jangan, ia bisa mengotori rumahmu. Nah, jisung!” Marah Hyoyeon tiba-tiba ketika bocah laki-laki itu melemparkan snack coklat yang sudah penuh dengan air liurnya ke lantai. Kini lantai marmer putih milik Donghae sudah terlihat kotor dengan bercak coklat yang nodanya mungkin akan sulit untuk dihilangkan.

“Biarkan saja, bibi Jang akan membersihkannya nanti. Jisung-ah, bermainlah sepuasmu.”

Donghae mengelus puncak kepala Jisung lembut dan membuat Hyoyeon melotot sebal pada putranya yang sedang tertawa mengejek kearahnya karena baru saja mendapatkan dukungan dari Donghae.

“Ck, semakin hari ia semakin merepotkan. Minggu lalu neneknya memberikannya spidol dan krayon, setelah itu ia menjadi semakin sering menghiasi tembok rumah kami dengan gambar-gambar abstraknya yang… arghh.. aku tidak bisa menjelaskannya. Bahkan ia juga menggambari speri kamar kami dengan spidol pemberian neneknya.” Cerita Hyoyeon pening. Menjadi seorang ibu rumah tangga memang sangat melelahkan. Ada saja kelakuan Jisung yang membuatnya harus berteriak-teriak marah.

“Itu berarti Jisung mewarisi sikap nakal ayahnya.” Lirik Donghae pada Hyukjae. Hyoyeon langsung mengangguk setuju dan membenarkan apa yang Donghae katakan. Sikap Jisung yang menjengkelkan adalah warisan dari Lee Hyukjae yang sangat nakal dan juga menyebalkan di masa lalu.

“Aku hanya berharap semoga Jisung tidak mewarisi sikap player ayahnya. Tapi kemarin ia baru saja menggoda seorang pelayan toko di mini market ketika aku mengajaknya membeli buah. Ck, entah apa lagi yang akan ditunjukan Jisung setelah ini. Aku sudah pusing melihat tingkahnya yang sangat mirip dengan Hyukjae oppa.”

“Hey, bahkan Jisung selalu bersamamu di rumah. Aku tidak pernah mengajarkan hal-hal buruk padanya.” Sangkal Hyukjae tak terima karena sejak tadi menjadi bahan pembicaraan isteri dan juga sahabatnya.

“Akui saja jika kau memang seperti itu Hyuk. Bahkan setiap minggu kau selalu datang ke rumahku sambil memohon-mohon untuk kupinjami mobil dan uang. Ia dulu sangat player, kekasihnya banyak di luar sana.” Beritahu Donghae pada Hyoyeon. Pria itu tersenyum penuh kemenangan kearah Hyujae yang berhasil ia pojokan malam ini. Ia baru saja membuka salah satu kartu hitam Hyukjae yang sangat sensitif untuk dibicarakan di depan Lee Hyoyeon.

“Jadi ini tujuanmu sebenarnya mengundangku makan malam di rumahmu? Kau hanya ingin mengolok-olokku di depan isteri dan anakku?”

“Yahh.. anggap saja seperti itu.” Kekeh Donghae puas sambil mengambil makanan yang baru saja diletakan bibi Jang di atas meja. Terlihat beberapa hidangan yang sangat menggiurkan telah tersaji di depan mereka, siap untuk dipindahkan kedalam perut mereka.

“Ngomong-ngomong kau sudah mempertimbangkan saranku untuk datang ke konselor?”

Uhukk uhukk

Donghae langsung terbatuk-batuk ketika Hyukjae menyinggung masalah konselor. Ia tidak mungkin mengatakan pada Hyukjae jika ia baru saja melakukan sesi konseling dengan seorang konselor yang sikapnya sangat berbanding terbalik dengan apa yang disebutkan di dalam kertas brosur.

“Apa kau pikir aku benar-benar akan mendatangi konselor itu?”

“Mungkin saja. Tapi sebenarnya aku tidak yakin karena kau langsung menolaknya ketika aku merekomendasikannya padamu.” Jawab Hyukjae acuh sambil mengedikan bahunya tak peduli.

Tiba-tiba dari arah ruang tamu, Jihyun muncul dengan suara heelsnya yang menggema disetiap penjuru mansion milik Donghae. Wanita itu tersenyum kikuk ketika melewati ruang makan dan hanya memberikan sapaan seadanya sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya di lantai dua.

“Hai semua.”

“Jihyun, bergabunglah bersama kami.” Ucap Donghae. Namun Jihyun langsung menolaknya dengan mimik wajah yang cukup disadari oleh seluruh orang dewasa yang berada di sana.

“Maaf, aku tidak bisa bergabung bersama kalian. Aduhh!”

Tiba-tiba Jihyun mengaduh dan semua orang langsung menatap Jihyun yang sedang mengomel tidak jelas pada sepatu sepuluh sentinya yang baru saja menginjak bekas coklat milik Jisung. Wanita itu dengan gusar menghentak-hentakan heelsnya dengan keras dan membuat suara yang cukup gaduh di tengah-tengah ruang makan yang menjadi hening setelah kedatangannya. Hyoyeon yang merasa cukup bersalah pada Jihyun lantas berdiri sambil mengulurkan tisu untuk membersihkan sepatu mahal Jihyun dari sisa coklat milik Jisung, namun niat baik itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Jihyun yang memilih untuk langsung pergi menuju kamarnya di lantai dua.

“Maaf, aku membuat sepatu Jihyun kotor karena sisa snack Jisung.”

“Santai saja, itu bisa dibersihkan. Jihyun memang berlebihan.”

“Kyaaa!!”

Sontak ketiga orang dewasa itu langsung menoleh kearah tangga dimana Jihyun baru saja berteriak sambil memandang syok pada tembok dan lantai rumahnya.

“Siapa yang berani mengotori rumahku dengan spidol!” Teriak Jihyun meraung-raung histeris. Hyoyeon dan Hyukjae spontan saling berpandang-pandangan, dan mereka berdua dengan sigap segera mencari dimana keberadaan Jisung yang malam ini menjadi penyebab kekacaun di rumah Donghae.

“Donghae, maafkan Jisung.” Ucap Hyoyeon merasa bersalah. Ibu muda itu langsung membawa Jisung ke meja makan dan memenjarakannya dengan seluruh tubuhnya. Hyukjae yang berada di sebelah Hyoyeon juga melakukan hal yang sama dengan memegangi tangan Jisung yang sibuk meronta-ronta di dalam dekapan ibunya.

“Tidak masalah, lanjutkan saja makan malam kalian.”

Donghae kemudian pamit pergi sebentar untuk melihat keadaan Jihyun di lantai dua. Ia sendiri sebenarnya merasa tidak habis pikir dengan sikap Jihyun hari ini yang sangat kekanakan. Seharusnya wanita itu bisa memaklumi sikap anak-anak seperti Jisung yang sangat aktif bermain hingga menimbulkan kekacauan kecil seperti tadi.

Sementara itu, Hyoyeon dan Hyukjae terlihat merasa bersalah sambil memakan makanan mereka dengan kaku. Mereka tahu bagaimana sikap Jihyun selama ini yang terlihat cukup sombong dan menyebalkan. Tapi mereka tidak mengira jika malam ini putra mereka akan menjadi sumber kemarahan dari Lee Jihyun.

“Pantas jika Donghae merasa frustrasi dengan kehidupannya, sikap isterinya sangat menjengkelkan seperti itu.”

“Ssshhh.. pelankan suaramu oppa. Mereka bisa mendengarnya.” Bisik Hyoyeon geram sambil menyikut pinggang Hyukjae di sebelahnya. Mereka kemudian melanjutkan acara makan mereka dalam diam dan juga terburu-buru karena karena suasana disekitar mereka yang berubah menjadi tidak nyaman.

-00-

Di dalam kamar, Donghae menghampiri Jihyun sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Hari ini ia sudah banyak dikecewakan oleh tingkah Jihyun yang sangat menjengkelkan. Bahkan hanya karena anak kecil seperti Jisung, ia membuat suasana makan malam bersama sahabatnya menjadi tidak nyaman.

“Kenapa kau di sini? Apa mereka sudah pulang?” Tanya Jihyun tidak peduli. Wanita itu justru terlihat sibuk membersihkan wajahnya dari semua make-up yang menempel di kulit wajahnya sejak siang tadi. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun yang tercetak di wajahnya setelah apa yang ia lakukan beberapa menit yang lalu.

“Kau tidak seharusnya bersikap seperti itu di depan mereka. Lagipula Jisung hanya anak-anak, kita bisa mengecatnya lagi nanti.” Tegur Donghae gusar. Jihyun yang masih sibuk dengan alat-alat pembersih wajahnya hanya menatap Donghae sekilas dan kembali menekuni kegiatannya tanpa sedikitpun menghargai keberadaan Donghae di sana.

“Aku tidak suka rumahku dikotori oleh anak kecil. Mereka jorok dan menjijikan.”

“Apa kau pikir kau tidak menjijikan? Kau dulu juga seorang anak-anak sebelum berubah menjadi wanita dewasa. Kuharap kau bisa mengubah sikapmu yang angkuh itu Lee Jihyun.” Perintah Donghae tegas. Tapi lagi-lagi Jihyun hanya mengabaikan Donghae dan menatap pria itu sekilas dari pantulan cermin.

“Aku tidak akan pernah mengubah apapun karena aku tidak salah. Terserah apa yang ingin kau lakukan oppa, yang jelas aku tidak suka melihat mereka di rumahku. Apalagi anaknya yang menjijikan itu.” Tutup Jihyun sebelum ia melenggang pergi menuju kamar mandi. Donghae membuang wajahnya ke samping sambil menahan setiap emosinya yang hampir meledak. Ia tidak boleh menunjukan emosinya sekarang karena Hyukjae akan mendengar pertengkarannya dari bawah. Selain itu, ancaman yang diberikan Jihyun siang tadi jelas masih berlaku. Ia tidak mau mengambil resiko wanita itu menceraikannya atau pergi meninggalkannya, karena ia masih mencintai Jihyun. Hanya Jihyun satu-satunya wanita yang mengisi hatinya. Ia tidak mencintai wania lain, dan hanya Jihyun yang ia inginkan tetap di sampingnya hingga nanti Tuhan mengambil nyawanya.

-00-

“Sayang, apa yang sedang kau lakukan?”

Aleyna menoleh cepat kearah sumber suara dan langsung tersenyum sumringah ketika Yoona datang dengan segelas susu coklat kesukaanya. Gadis berusa empat setengah tahun itu langsung berdiri dari posisi tengkurapnya dan meninggalkan kegiatan menggambarnya sejenak untuk menghampiri sang ibu di ujung pintu.

“Eomma, Alyena sedang menggambar. Yunho appa yang memberikan Aleyna buku gambar dan pensil warna.” Cerita Aleyna semangat. Yoona mengelus lembut puncak kepala Alyena dan tersenyum kecil pada putri cantiknya. Setelah ini ia harus menghubungi Yunho untuk berterimakasih karena pria itu telah memberikan hadiah yang sangat disukai Aleyna.

“Jadi kau pergi kemana saja hari ini bersama Yunho appa?” Tanya Yoona penasaran.

“Aleyna pergi ke toko buku dan makan es krim. Eomma, apa lain kali Aleyna boleh pergi bersama Yunho appa?”

“Tentu sayang, kau boleh pergi bersama Yunho appa. Sekarang minum susumu, eomma akan menelpon Yunho appa dan mengucapkan terimakasih karena telah membelikanmu buku gambar.”

Aleyna mengangguk mengerti dan segera menghabiskan susu coklatnya. Sedangkan Yoona terlihat berjalan menuju ranjang king size milik Aleyna dan segera memposisikan diri dengan nyaman untuk menghubungi Yunho.

“Halo, oppa?”

Yoona menyapa Yunho pelan ketika pria itu akhirnya menjawab panggilan teleponnya di dering ke lima. Samar-samar Yoona mendengar suara berisik khas pria yang sedang tertawa terbahak-bahak di ujung telepon. Sambil mengernyit, Yoona mencoba memfokuskan pendengarannya pada suara Yunho yang hampir tertelan oleh suara berisik di seberang sana.

“Yoona? Sebentar, di sini terlalu berisik.”

Yoona menunggu sekitar satu menit sebelum akhirnya ia dapat mendengar suara Yunho dengan lebih jelas.

“Aku sedang merayakan ulangtahun salah satu rekanku di bar, ada apa kau menghubungiku?”

“Oh, apa aku mengganggumu? Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih karena hari ini kau telah mengajak Aleyna jalan-jalan. Ia sangat senang dengan hadiah buku gambar dan juga pensil warna yang kau berikan.” Ucap Yoona tersenyum cerah. Wanita muda itu lantas berdiri, berjalan menghampiri Aleyna yang sibuk menggambar lalu duduk di sebelah gadis kecil itu di atas karpet.

“Tidak masalah, aku senang mengajak Aleyna jalan-jalan. Aku sudah lama tidak mengajaknya pergi sejak aku memiliki proyek baru di Busan dua minggu lalu. Bagaimana kabarmu sekarang? Sepertinya kau semakin sibuk.”

“Aku baik, tapi memang ya.. aku semakin sibuk dengan berbagai permasalahan pelik klien-klienku.” Ucap Yoona diiringi kekehan. Yunho ikut terkekeh di seberang sana sambil menimpali ucapan Yoona.

“Menjadi tong sampah lagi untuk masalah-masalah klienmu? Kadang aku tak mengerti dengan jalan pikiran seorang konselor sepertimu, disaat orang-orang merasa pening dengan masalah yang mereka hadapi, kau justru semakin menambah masalah dengan masalah orang lain. Kau tidak lelah, atau bosan mungkin?” Tanya Yunho masih dengan kekehannya. Yoona mengerucutkan bibirnya lucu di sebelah Aleyna sambil memainkan ujung kausnya yang terlihat kusut. Pria itu jelas-jelas sedang mengoloknya dengan kalimatnya yang menyebalkan.

“Aku baik-baik saja dengan masalahku. Bukankah aku ini hebat, disaat aku sendiri memiliki masalah, aku masih bisa menampung masalah orang lain. Kau harus mengakui itu oppa, jika aku ini memang hebat.”

“Yayaya.. aku tahu kau hebat. Jadi adakah diantara klienmu yang cukup menarik untuk dijadikan kekasih?”

Yoona mengernyit heran. Ia bingung mengapa tiba-tiba Yunho mengangkat topik seputar kekasih padanya seperti ini.

“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Kau aneh. Lagipula seorang konselor tidak boleh memiliki perasaan lebih pada kliennya, itu menyalahi aturan.”

“Aku mengkhawatirkanmu Yoong. Aku ingin kau bahagia. Segeralah mencari pria yang bisa menjagamu setiap saat.”

“Oppa.. aku baik-baik saja.” Desah Yoona pelan. Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba Yunho mengganti topik pembicaraan mereka kearah pasangan hidup. Ia tahu Yunho adalah pria yang baik yang akan selalu mengkhawatirkannya karena secara tidak langsung pria itu yang menyebabkan dirinya menjadi seorang single parent seperti ini.

“Aku merasa hidupmu terlalu beresiko hingga kau memiliki seseorang untuk menjagamu. Lagipula Aleyna juga membutuhkan sosok ayah. Jangan sia-siakan masa mudamu Yoong, carilah kekasih secepatnya dan lupakan semua kenangan buruk di masa lalu.”

“Jadi sekarang kau seolah-olah bertindak sebagai konselorku? Baiklah, aku akan segera mencari kekasih. Tapi aku tidak yakin apakah aku akan mendapatkannya, kau tahu sendiri jika aku sudah mengalami kegagalan sebanyak dua kali.”

“Maafkan aku.”

“Bukan bukan. Bukan begitu maksudku. Aku tidak menyalahkanmu oppa, hanya saja akan lebih sulit untuk mencarinya sekarang. Lagipula aku lebih menikmati hari-hariku yang bebas ini. Aku tidak perlu repot-repot memikirkan suami yang akan mengkhawatirkanku di rumah dan repot-repot meminta ijin jika aku ingin menginap di rumah Yuri.”

“Dasar. Tapi jika kau membutuhkan bantuanku, jangan ragu untuk menghubungiku. Aku pasti akan selalu datang untukmu.”

“Terimakasih oppa, aku tahu kau pria yang baik.” Ucap Yoona tulus sambil membayangkan wajah Yunho yang selalu membuatnya tenang setiap kali mengingat senyuman manis pria itu.

“Kalau begitu sampai jumpa, aku harus segera kembali ke dalam bersama teman-temanku. Semoga kau selalu bahagia Yoong, aku menyayangimu.”

“Hmm, aku juga menyayangimu oppa.”

Yoona menutup sambungan teleponnya dengan senyum cerah yang terpatri di wajahnya. Andai ia bisa memilih, ia tidak ingin melepaskan Yunho. Yunho adalah pria yang terlalu sempurna untuk dilewatkan. Ia baik, perhatian, dan sangat peduli pada hidupnya. Sayang, pria itu tidak bisa memberikan apa yang ia inginkan selama ini. Anak. Pria itu tidak bisa memberinya anak yang akan membuat hidupnya menjadi lebih sempurna. Meskipun ia memiliki Aleyna, tapi rasanya akan tetap berbeda jika ia bisa mengandung sendiri dan melahirkan sendiri anaknya, dan tentunya dari pria yang ia cintai. Ia berharap suatu saat ia bisa menemukan sosok pengganti Yunho yang benar-benar bisa menerimanya apa adanya dan tidak terlalu memikirkan soal status rumah tangganya di masa lalu. Dan ia harap Tuhan benar-benar akan mengabulkan doanya.

-00-

Brukk

Donghae mendorong tubuh Jihyun ke atas ranjang dan menindih tubuh ramping Jihyun dengan tubuh besarnya yang berotot. Di bawahnya Jihyun tampak mengerling nakal sambil menarik kerah kemeja Donghae agar pria itu semakin mendekat kearahnya.

“Kau tidak lupa menggunakan pengaman bukan?”

Donghae menggeram tertahan dan langsung melumat bibir Jihyun rakus. Sejujurnya ia benci menggunakan pengaman. Untuk apa ia tetap menggunakan pengaman jika ia menyentuh isterinya sendiri. Pengaman hanya akan mengurangi kenikmatannya. Tapi, ia tidak menggunakannya Jihyun pasti akan mengamuk.

“Aku malas.”

“Apa? Pegi, aku tidak mau jika kau tidak menggunakan pengaman oppa!”

Jihyun sedikit mendorong tubuh Donghae dan kembali menaikan badrobenya yang sedikit merosot karena ulah Donghae. Pria itu mengerang tertahan dan meremas rambutnya gusar karena malam ini ia gagal mendapatkan pelepasan hanya karena sebuah pengaman. Oh, apa ia perlu menyewa jalang untuk memuaskannya?

“Damn! Kau isteriku, untuk apa aku harus menggunakannya?” Protes Donghae kesal. Kali ini pria itu bangkit berdiri sambil berkacak pinggang di depan tubuh isterinya yang sedang terduduk santai di atas ranjang.

“Aku tidak ingin hamil oppa. Harus berapa kali kukatakan padamu hah?” Balas Jihyun sengit. Wanita itu berusaha mengabaikan kemarahan Donghae dengan meraih ponselnya dan mulai asik berbalas pesan dengan teman-teman sosialitanya.

“Aku akan berhati-hati. Kemungkinan kau akan langsung hamil dalam sekali bercinta hanya sepuluh persen Lee Jihyun, sisanya kau akan baik-baik saja.”

“Tapi sepuluh persen tetap saja beresiko, aku tidak mau mengambil resiko oppa. Sekarang kau tentukan sendiri, menggunakan pengaman atau tidak sama sekali.” Putus Jihyun tegas. Donghae langsung berdecak gusar dan berlalu keluar dari kamarnya sambil membanting pintu kamarnya keras.

Brakk!

 

“Sial!” Umpat Donghae keras. Beberapa pelayan yang sedang melintas di lantai dua tampak terkejut sambil mencuri-curi pandang kearah Donghae. Namun Donghae memilih tak mempedulikan semua pelayannya yang sedang menatap bingung kearahnya, dan lebih memilih untuk melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Ia tidak mungkin akan mendapatkan pelepasan dari Jihyun. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mengalihkannya dengan mengerjakan seluruh laporan perusahaanya yang menggunung. Apalagi besok ia akan kedatangan seorang klien penting asal Yunani yang ingin melakukan kerjasama dengan perusahaanya. Ia harus membuat strategi untuk mempertahankan klien khusus itu, dan segera mengenyahkan seluruh kekesalannya hari ini pada Jihyun.

-00-

Yoona tergesa-gesa berjalan ke dalam sebuah toko kue yang cukup terkenal di kawasan Myeongdong. Wanita itu dengan stelan hitam dan heels tujuh sentinya yang berbunyi nyaring di atas aspal tampak terburu-buru sambil sesekali menoleh ke arah mobilnya untuk memberikan kode pada Aleyna agar menunggunya sebentar. Pagi ini ia terlambat bangun karena semalam ia terlalu asik bergosip dengan Yuri hingga pukul dua belas malam. Dan pagi ini ia harus menerima konsekuensinya karena ia jadi terlambat untuk mengantar Aleyna ke sekolah, padahal gadis kecil itu juga belum sempat sarapan di rumah Yuri. Jadi ia harus sedikit merelakan waktu sempitnya untuk membeli roti agar gadis kecilnya tidak kelaparan selama di sekolah.

“Tolong dua roti gandum tuna.” Ucap Yoona terburu-buru pada pelayan yang menyambutnya. Ia kemudian segera berjalan menuju kasir \ sambil menghentak-hentakan heelsnya tidak sabar ketika ia harus mengantre di barisan ke tiga.

“Yoona?”

Tiba-tiba seseorang meneriakan namanya dan membuat Yoona mau tidak mau harus menoleh ke belakang dengan wajah malasnya.

“Oh, Lee Seunggi ssi?”

Yoona cukup terkejut ketika menemukan mantan suaminya sedang berada di tempat yang sama dengannya. Terhitung sudah lebih dari empat tahun ia tidak bertemu Lee Seunggi. Selama ini ia hanya sering melihat mantan suaminya itu melalui televisi karena ia sendiri juga tidak mau mengusik kehidupan mantan suaminya yang telah berbahagia bersama keluarga barunya.

“Lama tak berjumpa, kau sendiri?” Sapa Lee Seunggi ramah. Yoona tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Lee Seunggi sambil menunjuk pada mobilnya yang terparkir di depan toko roti.

“Aku bersama Aleyna, putriku.”

“Kau sudah menikah lagi? Kapan? Kenapa kau tidak mengundangku?”

Yoona mendengus gusar dalam hati sambil meruntuki mantan suaminya yang terlihat semakin menyebalkan. Bahkan dulu ia juga tidak diundang ketika pria itu melangsungkan pernikahan. Jadi bukan salahnya jika ia juga tidak mengundang pria itu ketika ia menikah dengan Yunho.

“Maaf, aku lupa memberitahumu karena pernikahan itu sedikit mendadak.” Jawab Yoona berasalan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kearah antrian yang sudah semakin menyusut. Hanya tersisa satu pelanggan lagi sebelum ia bisa membawa pulang rotinya dan pergi sejauh-jauhnya dari Lee Seunggi.

“Berapa usia putrimu sekarang?”

“Empat tahun.” Jawab Yoona singkat. Ia mulai menunjukan gelagat malas di depan Lee Seunggi agar pria itu berhenti mengorek kehidupan keluarganya. Tapi sepertinya pria itu tidak peka dengan gelagatnya karena ia justru semakin membanjirinya dengan berbagai pertanyaan tidak penting seputar kehidupan pribadinya.

“Wah, putrimu dan putraku seumuran. Anakku laki-laki, berusia empat tahun enam bulan. Lalu bagaimana dengan suamimu? Siapa namanya?”

“Maaf, aku terburu-buru. Aleyna sudah terlambat. Sampai jumpa.”

Yoona buru-buru membayar rotinya dengan uang pas dan segera berjalan pergi keluar dari toko roti yang terasa cukup menyesakan karena kemunculan Lee Seunggi. Seharusnya pria itu tidak perlu memunculkan batang hidungnya lagi karena ia tidak ingin bertemu dengan pria itu. Ada sedikit luka yang masih terasa sakit setiap ia melihat wajah pria itu. Perasaan terkhianati yang ditorehkan pria itu di hatinya tidak bisa ia hilangkan begitu saja, entah karena apa. Padahal ia sudah mensugesti dirinya sendiri jika ia baik-baik saja dengan semua itu. Tapi tetap saja ia tidak bisa melupakannya. Apalagi melihat Lee Seunggi telah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya yang sempurna, membuatnya iri. Andai dulu pria itu tidak mengkhianatinya, mungkin ia juga akan memiliki keluarga kecil yang bahagia dan sempurna.

“Eomma, kenapa lama sekali? Aleyna sudah terlambat.” Protes gadis kecil itu dengan wajah gusar. Yoona segera menutup pintu mobilnya terburu-buru dan mengucapkan maaf pada gadis kecilnya karena ia mendapatkan sedikit gangguan ketika berada di toko roti.

“Maaf, sekarang makan rotimu. Eomma akan berusaha cepat agar kau tidak dimarahi oleh gurumu.” Ucap Yoona sambil menginjak pedal gasnya kuat-kuat.

-00-

“Dasar tidak berguna! Apa yang kalian lakukan selama ini hah?” Marah Donghae pada staff marketing yang hari ini telah melakukan kesalahan fatal dan hampir membuat perusahaanya mengalami kerugian. Semua orang yang berada di ruang itu terlihat menahan napas ketakutan ketika atasan mereka yang terkenal perfectionist itu memergoki mereka melakukan kesalahan besar yang benar-benar sangat fatal. Bila Donghae tidak cepat tanggap ketika melihat kejanggalan pada papan iklan yang terpasang di jalan utama Seoul, mungkin perusahaannya benar-benar akan mengalami kerugian besar. Bagaimana mungkin mereka tidak mengecek lagi konten iklan yang mereka pasang besar-besar di jalan utama Seoul. Di dalam iklan itu mereka menuliskan biaya penerbangan hingga bulan depan mendapatkan potongan seratus persen. Padahal seharusnya hanya sepuluh persen. Dalam waktu satu menit, pihak customer service mereka menjadi sibuk karena dibanjiri oleh telepon dari berbagai pelanggan yang ingin mengambil penerbangan gratis. Dan lima menit kemudian mereka kembali dibanjiri oleh telepon bernada marah dari pelanggan karena merasa tertipu. Melihat konten iklan perusahaanya yang salah membuat Donghae langsung mengambil tindakan dengan memanggil seluruh staffnya yang bertanggungjawab dan mengambil langkah cepat dengan mengganti potongannya menjadi lima puluh persen.

“Maafkan kami tuan, kami tidak teliti.”

“Memang! Kalian semua tidak teliti. Sekarang perusahaan harus rela menanggung kerugian hingga bulan depan. Untuk masalah itu, apa yang akan kalian lakukan? Solusi apa yang akan kalian berikan agar perusahaanku tidak semakin mengalami kerugian?” Tantang Donghae marah. Ia sangat berharap anak buahnya tidak menawarkan untuk mengurangi jatah gaji mereka karena itu tidak akan cukup untuk mengganti kerugian empat puluh persen yang ditanggung oleh perusahaanya.

“Kami… akan segera mencari solusinya tuan, tolong berikan kami kesempatan.”

Brakk!

 

Donghae menggebrak meja di depannya sambil mengacak rambutnya gusar ketika jawaban yang didapatkannya semakin jauh dari apa yang ia harapkan. Ia harus menunggu? Yang benar saja!

“Kalian menyuruhku untuk menunggu sedangkan kerugian yang kalian lakukan terus berjalan. Aku tidak mau tahu, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam kalian sudah harus mendapatkan solusinya, atau kalian tidak akan mendapatkan gaji kalian hingga dua bulan ke depan.”

Donghae berjalan gusar keluar dari ruang meeting di lantai sepuluh sambil melonggarkan ikatan dasi yang terasa hampir mencekiknya. Sejak kemarin ia terus saja dibanjiri masalah hingga membuat kepalanya terasa akan pecah. Entah itu masalah perusahaan atau masalah rumah tangga, semuanya terasa berdesak-desakan di dalam kepalanya yang kecil. Ia ingin sekali membuang semua masalah itu ke suatu tempat dan hanya hidup dengan perasaan tenang yang damai. Rasanya sudah lama ia tidak merasakan hal itu. Semenjak hubungan rumah tangganya berubah rumit, ia merasa semua aspek dalam hidupnya juga berubah menjadi rumit.

“Santai bung, tarik napas dan minum ini.”

Hyukjae muncul tiba-tiba di sampingnya sambil mengangsurkan segelas kopi yang entah didapatkan pria itu darimana.

“Mereka semua benar-benar tidak becus bekerja.” Umpat Donghae keras. Hyukjae mencoba meredakan kemarahan sahabatnya dengan menepuk pundak Donghae pelan beberapa kali dan menyuruh Donghae untuk menghirup napas sebanyak-banyaknya.

“Apa kau pikir aku wanita hamil yang akan melahirkan? Aku tidak butuh melakukan latihan pernapasan bodoh seperti itu.”

“Tenang Hae, kita pikirkan jalan keluarnya bersama-sama. Jika kau ingin mengembalikan sedikit dana perusahaan, kau harus memenangkan tender layanan penerbangan untuk program kunjungan kerja pemerintah Korea Selatan bulan depan. Kurasa dengan memenangkan tender itu, perusahaanmu tidak akan mengalami kerugian yang cukup banyak.” Usul Hyukjae. Namun Donghae masih saja menunjukan wajah gelapnya setelah ia mendapatkan solusi dari permasalahannya. Karena sebenarnya bukan hanya masalah perusahaan yang berjubel di dalam kepalanya. Ada masalah lain juga yang turut serta dan memperkeruh pikirannya!

“Itu ide yang bagus, tapi tetap saja aku yang harus bergerak untuk mendapatkan hal itu. Aku harus meloby pihak-pihak yang terlibat dalam proyek itu dan sedikit memberikan iming-iming menggiurkan agar mereka tertarik untuk menggunakan jasa penerbanganku. Lalu, jika semua hal kukerjakan, untuk apa aku memperkerjakan mereka dengan gaji yang fantastis? Staff-staff tolol itu akan menari kesenangan jika aku yang melakukan semuanya. Pikirkan solusi lain yang sekiranya tidak harus merepotkanku.” Perintah Donghae semena-mena. Lee Hyukjae mengela napasnya pelan dan mencoba sedikit bersabar dengan perubahaan emosi yang sedang terjadi pada sahabatnya. Terkadang memang menyenangkan memiliki sahabat seorang CEO seperti Lee Donghae, tapi terkadang juga menyusahkan.

“Nanti akan kupikirkan. Ngomong-ngomong, Hyoyeon terus merasa bersalah karena insiden kemarin. Apa kau sudah memperbaiki kekacauan yang dilakukan Jisung? Sebagai ayahnya aku minta maaf yang sedalam-dalamnya atas tingkah Jisung yang membuat Jihyun marah seperti kemarin.”

Tiba-tiba Donghae tertawa terbahak-bahak di sebelah Hyukjae dan membuat beberapa karyawan yang melintas di sekitar mereka menoleh aneh. Baru saja bos besar pemilik maskapai penerbangan itu mengamuk, dan sekarang ia justru terlihat lebih mengerikan dengan tawa kerasnya yang tidak wajar.

“Sejak kapan kau merasa bersalah seperti itu? Santai saja, itu bukan masalah yang besar. Jihyun yang terlalu berlebihan dalam menyikasi sikap Jisung kemarin.”

“Hae? Kau tidak sedang mengidap gangguan kepribadian bukan? Dari hari ke hari emosimu semakin tak terkendali. Kau seharusnya memang mengikuti saranku untuk datang ke kantor konselor itu.”

Seketika Donghae teringat pada nona konselor yang mengajarinya untuk bersikap romantis pada Jihyun. Tapi hingga sejauh ini nyatanya saran itu tidak berhasil. Ia harus menemui kosenlor itu untuk menuntut pertanggungjawaban.

“Kau masih saja bersikeras menyuruhku datang ke konselor itu. Tapi terimakasih, sekarang aku jadi memiliki ide.”

“Ide? Ide apa yang kau maksud?”

“Kau tidak perlu tahu. Sekarang pergilah, kembali bekerja. Aku memiliki urusan penting yang harus kulakukan.”

-00-

Yoona tersenyum manis pada kliennya sambil mengangsurkan selembar tisu untuk menghapus sisa air mata yang masih menganak sungai di pipi sang klien. Sore ini ia mendapatkan klien seorang korban pelecehan seksual yang baru saja mendapatkan pelecehan seksual dari pamannya. Wanita itu sejak siang datang padanya dan menceritakan semua masalah yang ia pendam karena ia sudah tidak kuat lagi untuk menyembunyikan masalah itu sendirian. Sang paman yang sangat jahat itu mengancam akan membunuhnya jika sampai ia mengadukan perilaku bejatnya pada kedua orangtuanya atau bahkan pada polisi.

“Tenanglah, kau tidak usah takut. Kami akan memberikan fasilitas perlindungan hukum untuk masalahmu. Sekarang kau bisa pulang dengan tenang, besok pamanmu pasti akan segera mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.” Ucap Yoona lembut. Wanita berusia dua puluh dua tahun itu mengangguk pelan dan menyeka air matanya sekali lagi sebelum akhirnya ia beranjak dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

“Terimakasih banyak nona Im, sekarang saya merasa lega setelah menceritakan semuanya pada anda. Semoga anda selalu diberikan kebahagiaan oleh Tuhan.”

“Sama-sama, itu sudah menjadi tugasku. Semoga Tuhan juga memberikan kebahagiaan untukmu.”

Yoona mengantarkan sang klien keluar dari ruangannya dan melambaikan tangannya pelan sebelum wanita itu menghilang dibalik pintu bening yang memisahkan antara ruangannya dengan jalan keluar. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam ruangannya untuk membereskan alat-alat yang telah ia gunakan sore ini untuk menghitung skor kecemasan yang dialami oleh kliennya. Setelah itu ia mengambil ponsel putihnya yang tergeletak di atas meja dan mengecek pesan masuk dari Jihoo yang siang tadi ia tugaskan untuk menjemput Aleyna, sekaligus mengantarkan hasil tes kerpibadian milik calon karyawan di suatu bidang khusus di pemerintahan. Lagi-lagi hari ini ia sangat sibuk hingga ia tidak bisa menjemput Aleyna di sekolahnya. Sejak pagi ia telah ditunggu oleh lima orang klien. Saat ini ia baru benar-benar selesai dan sepertinya ia akan pulang. Meskipun jam kerjanya masih tersisa satu jam lagi sebelum pukul empat, tapi sepertinya tidak masalah jika ia pulang lebih awal. Lagipula ia juga tidak mungkin melakukan sesi konseling selama satu jam, kecuali sesi konseling yang ia lakukan bersama pria aneh beberapa hari yang lalu.

“Nona Im, selamat sore. Mau menjemput Aleyna?”

“Tidak, aku sepertinya akan pulang sekarang. Hari ini aku sudah cukup banyak menangani klien, aku ingin beristirahat di rumah. Kepalaku sudah pusing mendengarkan berbagai macam keluhan yang sangat bervariasi hari ini. Jika nanti ada yang mencariku, katakan untuk kembali lagi besok.” Pesan Yoona pada Nara. Nara mengangguk mengerti dan melambai pelan pada Yoona yang sedang berjalan santai menuju pintu keluar. Namun sedetik kemudian wanita itu kembali dengan langkah terburu-buru sambil bersembunyi di balik meja resepsionis milik Nara.

“Ada apa nona Im?”

“Pria gila itu, dia datang! Cepat usir dia dan jangan katakan jika aku berada di sini.” Mohon Yoona memelas sambil menundukan kepalanya lebih dalam di bawah meja. Dari tempatnya berdiri Nara bisa melihat pria aneh yang dimaksud Yoona sedang berjalan dengan gaya ponggahnya sambil melepas kacamata hitam yang membingkai matanya dengan pas. Seketika Nara menelan ludah gugup sambil menyiapkan serangkaian kalimat kebohongan untuk mengusir pria itu jauh-jauh dari kantor konselor tempatnya bekerja.

-00-

Donghae memarkirkan mobilnya, kemudian ia melirik jam tangannya sekilas yang masih menunjukan pukul empat sore. Hari ini ia sengaja datang lebih awal agar ia tidak perlu mendapatkan penolakan seperti sebelumnya. Rasanya malas harus berdebat panjang lebar pada petugas resepsionis yang galak itu. Untung saja saat itu ia bertemu dengan seorang konselor yang cukup baik hati, meskipun juga sama-sama galak, yang bersedia untuk mendengarkan keluhan masalahnya.

“Selamat sore.”

Donghae memincingkan matanya angkuh ketika petugas resepsionis yang ia temui beberapa hari yang lalu sedang tersenyum ramah kearahnya. Wanita itu benar-benar terlihat tidak tahu malu menurutnya, setelah kemarin memarahinya, dan hampir mengusirnya dengan tidak terhormat, sekarang wanita itu justru terlihat lembut di depannya.

“Aku ingin bertemu dengan nona Im.”

“Maaf, nona Im sedang tidak di tempat, nona Im sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan.”

“Kapan ia akan pulang?” Dengus Donghae kesal. Ia benar-benar tidak suka jika harus menunggu seperti ini. Urusannya sangat mendesak, dan ia ingin segera menyelesaikan semua masalahnya.

“Maaf, saya juga tidak tahu. Saya sarankan anda untuk melakukan sesi konseling dengan konselor lain. Saya bisa membuatkan anda jadwal jika anda bersedia untuk berganti konselor.”

“Aku tidak mau! Aku hanya ingin nona Im yang menangani masalahku karena jika aku berganti konselor, aku harus memulainya lagi dari awal. Aku tidak mau membuang-buang waktuku yang berharga hanya untuk melakukan hal-hal sia-sia seperti itu. Katakan saja kapan nona Im kembali, aku akan datang lagi setelah ia kembali.” Ucap Donghae kesal sambil berkacak pinggang di depan meja resepsionis.

Sementara itu, Yoona sedang mengendap-endap keluar dari meja resepsionis menuju pintu belakang yang kebetulan sedang dibuka oleh petugas kebersihan. Dengan langkah sepelan mungkin, ia berusaha untuk tidak menimbulkan suara agar Donghae tidak melihatnya yang sedang berjalan mengendap-endap menuju pintu belakang. Sesampainya di luar, Yoona langsung menghembuskan napasnya lega sambil berjalan terburu-buru menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia harus cepat pergi dari sana sebelum Donghae melihat keberadaanya dan semua rencananya menjadi kacau.

Cklekk

Yoona memasukan kunci mobilnya dengan cepat dan segera membuka pintu mobilnya terburu-buru. Baru saja ia akan melangkah masuk ke dalam mobilnya, tapi sesuatu menghentikannya dan membuatnya membeku di tempat.

“Nona Im, aku tahu kau masih di sini.”

Seketika kedua lutut Yoona melemas dan dengan terpaksa ia memutar tubuhnya ke belakang untuk bertatapan dengan si pria menyebalkan, Lee Donghae.

“Aku tahu mobilmu masih terparkir dengan rapi di sini. Jadi kau berusaha kabur dariku?” Tanya Donghae datar sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan angkuh. Yoona mencoba menetralkan kegugupannya dengan tersenyum canggung di hadapan Donghae.

“Maaf, anda mencari saya?” Tanya Yoona berpura-pura tidak tahu. Sejujurnya ia sangat tahu jika pria itu sedang mencarinya dan beberapa menit yang lalu pria itu juga sempat mendebat Nara yang berusaha berbohong demi menyelamatkannya.

“Apa kau sedang menguji kesabaranku? Jelas-jelas aku sedang mencarimu sejak tadi, dan kau justru berusaha kabur dengan menyuruh petugas resepsionis itu mengarang cerita bodoh seputar kepergianmu ke luar kota. Apa kau pikir aku pria tolol yang mudah kau perdaya?” Marah Donghae berapi-api. Yoona yang sadar jika kebohongannya telah terbongkar mencoba mencari alasan agar Donghae tidak semakin marah padanya. Selain itu ia juga bisa membahayakan karirnya. Jika Donghae sampai melaporkan perbuatannya hari ini pada kepala asosiasi, karirnya sebagai konselor akan benar-benar tamat karena ia dengan sengaja berencana menolak memberikan pelayanan pada seorang klien yang sedang membutuhkan bantuannya.

“Maaf, ini pasti hanya kesalahpahaman belaka.” Dalih Yoona. Donghae menatap Yoona tajam sambil memincingkan matanya kesal.

“Kesalahpahaman seperti apa yang kau maksud? Mulai sekarang kau harus menjadi konselorku karena kau belum memberikan solusi yang tepat untuk masalahku. Sekarang ikut aku!”

Yoona membelalakan matanya terkejut ketika Donghae tiba-tiba menarik tangannya kasar dan menyeretnya menuju mobilnya. Wanita itu sekuat tenaga mencoba melepaskan cekalan tangan Donghae sambil berjalan terseok-seok di belakang Donghae.

“Lepaskan, kau mau membawaku kemana? Aku akan melaporkanmu karena perbuatanmu yang tidak sopan ini tuan Lee Donghae.”

“Hah, kalau begitu aku juga akan melaporkanmu atas kebohongan yang baru saja kau lakukan. Aku akan menyebarkan pada semua orang jika konselor kebanggaan Korea Selatan baru saja merencanakan sebuah konspirasi untuk menolak seorang klien yang sedang membutuhkan bantuannya.”

Dengan gugup Yoona meneguk ludahnya sambil menatap punggung tegap Donghae yang masih setia menarik tangannya. Jika ia tidak menuruti kemauan pria itu, karirnya benar-benar akan tamat setelah ini karena Donghae bukanlah orang sembarangan. Pria itu memiliki kekuasaan yang akan menyeretnya kedalam bahaya jika ia berani menentang keinginan pria itu. Jadi, mungkin sekarang ia memang harus mengikuti permainan pria gila di depannya ini.

“Tttunggu, kita bicarakan masalah ini baik-baik.” Cegah Yoona cepat sebelum pria itu menyeretnya lebih jauh kedalam mobilnya.

“Kita memang akan membicarakan masalah ini baik-baik nona Im. Tapi, sebagai jaminannya kau harus ikut denganku. Aku yang akan menentukan tempat dimana kita membahas masalah ini.”

“Tidak bisakah kita membicarakan masalah kita di sini, di ruanganku?” Mohon Yoona dengan wajah memelas. Ia belum pernah melangkah sejauh ini dengan kliennya. Semua aktivitas yang berhubungan dengan sesi konseling selalu ia lakukan di gedung tempatnya bekerja untuk menghindari hal-hal yang tidak inginkan. Karena terkadang beberapa masalah besar muncul karena sesuatu yang kecil dan terkesan tidak disadari.

“Bukankah kau baru saja melakukan kebohongan bersama petugas resepsionis itu untuk mengusirku pergi? Kau ingin mempermalukan dirimu sendiri dengan kembali masuk ke dalam bersamaku?”

Yoona menggigit-gigit bibirnya bingung dengan pertanyaan yang diberikan Donghae. Pria itu benar, ia pasti akan sangat malu karena ia tadi sempat bertingkah bodoh untuk menghindari pria itu. Dan sekarang ia justru kembali ke dalam bersama pria yang dihindarinya. Ini sungguh sebuah pilihan yang sulit. Ia sungguh membenci posisinya saat ini!

“Baiklah, kita pergi ke tempat yang kau inginkan. Tapi lepaskan tanganku dan biarkan aku berjalan sendiri.” Ucap Yoona akhirnya dengan berat hati. Donghae melepaskan cekalan tangannya dari telapak tangan Yoona dan memilih untuk segera masuk ke dalam mobilnya tanpa mau repot-repot menunggu Yoona yang masih terlihat enggan untuk masuk ke dalam mobilnya.

“Cepatlah! Kau semakin membuang waktu berhargaku.” Teriak Donghae keras. Yoona segera menyentak pintu mobil sport di depannya keras dan mendarat dengan kasar di sebelah Donghae. Sungguh ini adalah pengalaman pertamanya mendapatkan klien yang sangat menyebalkan, sekaligus pengalaman pertamanya melakukan sesi konseling di luar jam kerjanya. Tapi ia harap semua ini akan baik-baik saja. Semakin cepat ia menyelesaikan urusannya dengan pria sakit jiwa di sebelahnya, maka semakin cepat ia terbebas dari kesialannya ini.

36 thoughts on “Kontratransferensi: On Being Therapist (Part Two)

  1. Jangan terlalu benci Yoona, nanti bisa jatuh cinta sama donghae
    Wkwkekkek
    Next thor lanjuttt
    Jangan lama” 😀😀

  2. Okeyyy..
    Masih gue liatin dah tuh bocah berdua.. Kkkkk
    Makasih dek udah dilanjut.. Next chapter bisa kali 3 hari kemudian dek.. Kkkkk
    FIGHTING!

  3. Jangan terlalu benci Yoona, nanti bisa jatuh cinta sama donghae
    Wkwkekkek
    Next thor lanjuttt
    Jangan lama” 😀

  4. Sukaaaaaaa, tapi eneg sama sikap Jihyun.. segitunya banget sama Donghae kalau udah Donghae berpaling baru tau ntar haha
    btw nunggu banget moment Yoonhae yg lebih waw nya lagi, disini masih kenabanyaka adu mulut mungkin nextnya bakal adu yg lain hahaha #ngacoo
    ditunggu banget next part nya gk sabar hehe

  5. Jihyun bener” nyebelin, bingung kenapa donghae bisa cinta sm dy
    Semoga mereka cpt cerai 😂

    Donghae nyebelin bgt, bikin yoona naik pitam mulu, penasaran kapan mereka bakal bersatu

  6. Ini momentnya masih lucu si sama” keras kepala ya,
    Ayo eon chapter 3 jangan lama” 🙂

  7. kk aku komen dlu yah,, nnti baru baca,, soalnya kuotanya lagi sekarat kk 😅😅 next kk.. fighting!!

  8. Lee donghae benar-benar menguji kesabaran…
    Seru konflik nya thor biarpun donghae nyebelin,,, tapi kasihan juga ya donghae, dia bisa bersikap seperti monster sama orang lain tapi pas ngadepin istrinya dia mati kutu, gk bisa apa-apa…
    Next thor… fighting 💪

  9. Ngeliat sifatnya,rasanya kepengen getook kepala Donghae😌
    Tapi seruu sih disini mereka konflik teruus,tp konflik yang gemesin gituu 😍😍😍ff nya seruu seriusan😍😍semangat buat chapter selanjutnya kak❤❤

  10. Bener bener si dongek ini ngerepotin yoona bgt 😂 semoga hubungannya lebih deket lagi..

  11. Gk sabar nunggu kelanjutannya.
    Apa mungkin donghae minta bantuan sama yoona untuk manas-manasin jihyun biar dia mau punya anak??? Jihyun ngejengkelin banget sih sama anak kecil aja marahnya sampe begitunya.

  12. Yeeyy,fast update mkasih unn.
    Ceritanya makin seru n disini suka ma karakter yoonhae yang masih kyak anjing ma kucing gk bisa akur tp nanti sekalinya udah cinta so sweet banget
    Next chapter nya ditunggu unn jangan lama2
    Yoonhae saranghae

  13. Donghae songong banget sih jadi orang hehehe, moga aja Yoona betah sama sikapnya Donghae yg kayak gitu. Next chingu

  14. Keren ish sukak!!!
    Ohh ya thor moment yoonhae nya di banyakin lagi dong hehe sama kurang panjang tau thor 😁
    Okey di tunggu next chap nya
    Btw cepet update ya…

  15. Lucu ngeliat hubungan yoonhae, atu ati hae nanti oppa suka loh ke yoona unnie, next nya berharap donghae bertemu aleyna

  16. Makin keren sukak!!!
    Ohh ya thor moment yoonhae nya di banyakin lagi dong hehe sama kurang panjang tau thor 😁
    Okey di tunggu next chap nya
    Btw cepet update ya…

  17. Hahahha donghae emng lucu ya, kshan ya liat donghae, tpi knapa jga donghae msh mau pertahanin jihyun jelas”jihyun mentingkan karirya dri pda si donghae, tpi suka liat pertengkaran yoonhae di tnggu crta slanjutnya thor

  18. moga yoonhae makin deket..
    yoona harus ekstra sabar ngehadapin donghae nya..

    ditunggu chapter selanjutnya eonni..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.