Kontratransferensi Part 1: Becoming A Helper

Recomended Song Twenty One Pilots Cover – Stressed Out

 

“Selamat pagi nona Yoona.”

“Pagi.”

“Selamat pagi Yoona.”

“Pagi.”

Yoona tersenyum sumringah pada semua staff kantor badan konselor milik pemerintah tempatnya bekerja. Pagi ini cuaca di Seol cukup bagus, dan moodnya juga sangat bagus untuk memberikan pelayanan pada klien-kliennya yang memiliki masalah. Hari ini ia siap menampung semua masalah mereka dan siap untuk memberikan solusi untuk kelancaran hidup mereka.

“Yoona, kau memiliki klien pukul sembilan nanti.” Beritahu Jihoo, asisten khusus Yoona yang telah membantu Yoona selama tiga tahun ini. Jihoo adalah asisten yang sangat berjasa untuk Yoona, karena tanpa Jihoo, Yoona benar-benar tidak akan bisa menjalani pekerjaanya hingga sekarang ini. Setiap klien yang ia tangani tidak pernah sama. Mereka terkadang justru membuat keributan dengannya karena ia dinilai belum bisa memberikan solusi yang jitu. Atau terkadang beberapa klien justru menuntut lebih dan semakin ketergantungan dengannya. Ya.. begitulah kehidupan seorang konselor, terkadang manis, terkadang juga pahit. Tapi, disitulah peran Jihoo. Sebagai seorang pria berusia pertengahan dua puluhan, Jihoo memiliki kesabaran dan juga kekuatan yang dapat menolong Yoona dari klien-kliennya yang merepotkan. Tak jarang Jihoo memerankan karakter sebagai ayah tiri yang jahat dengan menyeret pergi klien-klien yang mulai mengalami ketergantungan pada Yoona. Sebenarnya Yoona tidak masalah jika mereka ingin melakukan sesi konseling lebih lama atau melakukan pertemuan beberapa kali, tapi bagaimana jika hal itu terus berlanjut? Bahkan di luar jam bekerjapun mereka mulai meneror Yoona dan membuat wanita muda itu tidak nyaman. Apalagi ia bukan seorang gadis pengangguran yang hidup sendiri, ia memiliki seorang putri yang harus ia urus di rumah dan berbagai macam kesibukan lain yang tidak bisa ia lewatkan begitu saja hanya untuk mendengarkan orang lain berkeluh kesah dengannya. Jadi, ia terpaksa membuat Jihoo menjadi sosok pria kejam yang pada akhirnya ditakuti oleh kliennya sendiri.

“Pukul sembilan? Baiklah. Kau sudah meletakan data-datanya di mejaku? Aku perlu mempelajari latar belakangnya sebelum melakukan sesi konseling dengannya nanti.” Ucap Yoona sambil melepas mantel coklatnya. Wanita itu menggelung rambutnya rapi ke atas dengan sanggulan sederhana, lalu beranjak menuju meja kerjanya yang selalu terlihat bersih dan rapi. Ia terlihat sudah siap untuk menerima klien hari ini.

“Ini data-datanya. Ia adalah seorang wanita dengan dua orang anak yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya yang mengalami kecelakaan. Ia sepertinya mengalami depresi berat karena di sini adik kandungnya menulis jika kakaknya seminggu yang lalu hampir melakukan percobaan bunuh diri bersama kedua putranya.”

“Kasihan sekali wanita ini. Aku tahu bagaimana perasaanya, pasti berat. Jadi wanita itu tinggal bersama adiknya sekarang?”

“Entahlah, kemungkinan memang seperti itu. Adiknya pasti khawatir jika kakaknya akan melakukan percobaan bunuh diri lagi.” Terang Jihoo sambil menunjuk beberapa poin yang tertulis di atas kertas putih milik klien Yoona. Pria itu kemudian  berjalan pergi meninggalkan Yoona untuk menyelesaikan pekerjaan lain di mejanya. Dua minggu yang lalu mereka mendapatkan proyek untuk melakukan pengetesan pada calon karyawan pemerintahan, sehingga selain fokus melayani klien, mereka juga harus membagi waktu mereka untuk menyelesaikan laporan analisis kepribadian para calon karyawan itu sebelum pihak Human Resource menagih hasilnya minggu depan.

Yoona bersandar pada kursinya sebentar, menatap satu persatu berkas di atas meja yang menantinya untuk dikerjakan. Ia lalu menatap foto gadis kecilnya, Aleyna Jung. Gadis itu adalah sumber kekuatannya sekarang. Tanpa Aleyna, ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Dan sekarang Aleyna telah berusia empat tahun, sebuah angka yang cukup fantastis untuk Yoona karena ia tidak menyangka ia dapat mengurus Aleyna hingga sebesar ini, meskipun Aleyna bukan anak kandungnya. Dulu Aleyna adalah anak dari mantan kliennya yang sudah meninggal. Yeahh.. terdengar cukup rumit untuk dijelaskan, tapi meskipun ia terlihat masih sangat muda dengan usia akhir dua puluhan, sebenarnya ia telah menikah sebanyak dua kali. Dan dari kedua pernikahan itu, tidak ada yang benar-benar membawa kebahagiaan untuknya. Semua pernikahannya hancur di tengah jalan karena banyaknya masalah pelik yang menimpanya.

Suami pertamanya, Lee Seunggi, adalah seorang entertainer sukses yang karya-karyanya selalu mendapatkan apresiasi positif dari para fansnya. Ia bertemu Lee Seunggi pertama kali ketika senior high school. Saat itu Lee Seunggi adalah salah satu senior yang cukup populer di sekolahnya. Hampir seluruh siswi di sekolahnya ingin menjadi kekasih Lee Seunggi. Namun pria itu secara ajaib justru memilihnya. Seorang gadis yang saat itu hanyalah gadis biasa dengan prestrasi yang juga biasa-biasa saja. Sejak senior high school ia tidak terlalu menonjol di kalangan teman-temannya. Ia hanyalah gadis biasa yang bisa dikatakan tanpa ambisi yang menggebu-gebu. Dulu ia bahkan tidak memiliki cita-cita. Ia hanya ingin menjadi seorang ibu rumah tangga yang bahagia bersama keluarga kecilnya. Namun ketika lulus dari senior high school ibunya menyarankannya untuk melanjutkan kuliah di bidang psikologi agar ia memiliki teman dan memiliki wawasan luas mengenai masa depan. Akhirnya ia menerima usulan dari ibunya dan memutuskan untuk menjadi seorang konselor di masa depan. Mengenai hubungannya dengan Lee Seunggi, mereka masih tetap menjalin hubungan hingga ia lulus dari universitas. Meskipun banyak rintangan yang menghalangi perjalanan cinta mereka, namun hal itu tidak membuat mereka patah semangat. Sebenarnya Yoona sudah cukup frustrasi dengan hubungannya bersama Lee Seunggi, namun pria itu selalu menahannya dan meyakinkannya jika pria itu hanya mencintainya.

Satu tahun kemudian setelah ia lulus dari universitasnya, Lee Seunggi melamarnya. Pria itu dengan sikap yang sangat jantan datang ke rumahnya dan menemui kedua orangtuanya untuk melamar putri mereka. Tentu saja sebagai seorang wanita Yoona sangat bahagia karena kekasih yang sudah menjalin hubungan dengannya sejak bertahun-tahun yang lalu akhirnya memutuskan untuk menjadikannya seorang isteri. Hanya berselang satu minggu, berita mengenai pernikahannya dan Lee Seunggi menjadi topik panas di kalangan masyarakat. Beberapa fans dari Lee Seunggi menunjukan respon negatif atas berita membahagiakan itu. Namun Yoona memilih tidak peduli dengan menutup kedua mata dan telinganya dan berita-berita miring mengenai dirinya. Ia tidak mau pernikahannya dan Lee Seunggi gagal hanya karena pembicaraan orang yang menurutnya tidak penting.

Kehidupan pernikahannya dan Lee Seunggi pada awalnya menyenangkan. Mereka berdua yang menikah karena saling mencintai sama-sama tidak memiliki beban apapun dalam pernikahan mereka. Bahkan mereka sempat menghabiskan dua minggu waktu berbulan madu dengan berkeliling Eropa dengan segala keromantisan yang ditawarkan oleh negara-negara itu. Tapi hal itu tidak bertahan lama, di bulan ke empat pernikahannya, Yoona mulai merasa gelisah. Ia merasa Lee Seunggi semakin lama semakin sibuk dan jarang meluangkan waktunya untuk pulang. Mereka berdua menjadi dua individu yang tak saling menyapa dan hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Yoona yang saat itu sedang sibuk pada karirnya mulai tidak peduli pada Lee Seunggi. Ia hanya sesekali menghubungi Lee Seunggi untuk menanyakan bagaimana kabar pria itu di luar sana. Tapi suatu ketika ia mendapatkan berita mengejutkan mengenai suaminya yang ternyata sedang terlibat perselingkuhan dengan lawan mainnya di sebuah drama. Pria itu secara sembunyi-sembunyi telah menjalin hubungan dan menghamili wanita itu hingga Yoona merasa sakit. Tanpa perlu mendiskusikan apapun pada suaminya, Yoona langsung menggugat cerai Lee Seunggi saat itu juga ketika berita mengenai skandal hubungan terlarang suaminya terkuak ke media. Menurutnya sudah tidak ada lagi hal yang perlu dipertahankan dari hubungan pernikahannya dengan Lee Seunggi karena mereka selama ini juga sudah menjauh. Ia sadar jika apa yang dilakukan oleh Lee Seunggi juga berkaitan dengan renggangnya hubungan mereka selama ini, jadi dengan cukup dewasa Yoona memutuskan untuk merelakan Lee Seunggi bersama wanita yang bisa menyayangi suaminya melebihi dirinya.

Enam bulan hidup sendiri dengan status baru membuat Yoona menjadi pribadi yang lebih dewasa. Ia sibuk menjalani hari-harinya dengan menangani beberapa kasus klien yang sebagian besar sebenarnya adalah kasus yang pernah ia alami, perceraian. Ia sengaja menggunakan cerita masa lalunya sebagai pembelajaran yang bisa ia sampaikan kepada kliennya agar mereka tidak bernasib sama sepertinya. Salah satu klien yang kemudian datang kepadanya adalah seorang wanita muda yang tengah hamil sembilan bulan. Wanita itu mengaku jika ia memiliki masalah dengan suaminya, dan suaminya telah mengajukan surat cerai padanya tiga hari yang lalu. Di hadapannya wanita itu menangis histeris, menceritakan semua pengalaman pahitnya dan mengatakan pada Yoona jika ia tidak sanggup menghadapi kehidupannya. Wanita itu berniat bunuh diri bersama anak yang dikandungnya, namun hal itu langsung dicegah oleh Yoona karena anak yang yang sedang dikandungnya tidak bersalah. Seminggu kemudian Yoona didatangi oleh petugas rumah sakit yang mengabarkan padanya bahwa mantan kliennya itu telah meninggal akibat bunuh diri. Mendengar itu Yoona sangat terkejut. Ia pikir sesi konselingnya minggu lalu telah membuat sang klien berubah pikiran untuk melakukan bunuh diri karena wanita itu sudah berjanji padanya akan hidup bahagia bersama anak yang sedang dikandungnya.

Setelah petugas rumah sakit itu mengabarkan berita kematian mantan kliennya, petugas rumah sakit itu memberikan sebuah amplop pada Yoona yang berisi surat wasiat dari mantan kliennya dan juga akta kelahiran milik putrinya. Dalam surat itu, sang klien meminta Yoona untuk merawat anaknya dan menganggap anaknya seperti putri kandungnya sendiri. Awalnya Yoona tidak bersedia karena ia merasa belum layak untuk menjadi ibu yang baik. Ia dengan segala cara mencoba mencari ayah dari bayi itu dan keluarganya yang lain. Tapi ayah dari bayi itu tidak bisa ia temukan keberadaanya, pun dengan anggota keluarganya yang lain. Akhirnya Yoona memutuskan untuk merawat bayi itu dan memberinya nama Aleyna Jung, sesuai dengan permintaan mendiang ibu kandungnya.

Tahun pertama bersama Aleyna membuat Yoona berubah menjadi sosok wanita yang lebih dewasa dan juga matang. Banyak hal yang ia pelajari selama menjadi ibu dan merawat Aleyna. Bahkan ia menjadi sangat menyayangi Aleyna lebih dari apapun. Ia benar-benar menganggap Aleyna sebagai putri kandungnya sendiri dan menunjukan pada semua orang jika ia adalah wanita yang pantas untuk menjadi seorang ibu meskipun ia telah gagal menjalankan perannya sebagai seorang isteri.

Ketika Aleyna berusia dua tahun, ia secara kebetulan bertemu dengan Jung Yunho. Pria itu adalah sepupu dari rekan kerjanya yang saat itu memang berniat menjodohkan Yoona dengan sepupunya. Di pertemuan pertamanya, Yoona sengaja mengajak Aleyna ikut serta karena ia tidak ingin Yunho tertipu dengan penampilannya. Ia ingin Yunho menerima semua masa lalunya yang telah menikah dan memiliki seorang anak, meskipun Aleyna hanya seorang anak angkat. Di awal pertemuan, Yunho masih belum memberikan respon apapun. Mereka hanya bertemu lalu mengobrol seperti seorang teman akrab yang hangat. Berminggu-minggu pertemuan mereka terus berjalan seperti itu. Mereka hanya mengobrol, makan, dan membicarakan hal-hal tidak penting mengenai keseharian mereka. Yoonapun mulai merasa jika Yunho tidak serius, apalagi Yunho secara terang-terangan mengaku padanya jika ia tidak menyukai anak kecil. Harapan Yoona untuk bisa melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih seriuspun semakin lama semakin tipis. Ia hanya menganggap Yunho sebagai teman mengobrolnya yang asik dan juga menyenangkan tanpa pernah berharap akan menikah bersama Yunho nantinya.

Hari demi hari berlanjut, hingga tak terasa hubungan mereka sudah berjalan selama tiga bulan lamanya. Yunho kini mulai terlihat akrab dengan Aleyna dan mulai bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan Yoona yang super sibuk. Dan tiba-tiba saja di suatu sore yang cerah, Yunho datang ke rumah Yoona sambil membawa sebuket bunga untuk melamar Yoona. Melihat itu, Yoona langsung syok dan justru ragu untuk menerima lamaran yang diajukan Yunho. Namun setelah Yunho terus meyakinkannya, akhirnya Yoona bersedia untuk menjadi isterinya.

Pernikahan megahpun kembali digelar untuk yang ke dua kalinya dengan Yoona sebagai tokoh utamanya. Ia, dengan gaun putih yang sangat indah, bersumpah di hadapan Tuhan untuk kembali mengikat janji sehidup semati bersama seorang pria yang sangat dicintainya. Aura kebahagiaanpun terpancar dari wajah Yoona karena akhirnya ia dapat menikah dengan seorang pria yang benar-benar menerimanya apa adanya setelah hidup sendiri selama lebih dari satu tahun.

Dua tahun pertama hubungan pernikahan Yoona dan Yunho berjalan lancar. Hanya sesekali mereka terlibat pertengkaran kecil, dan setelahnya mereka akan kembali berbaikan. Setiap hari mereka juga tetap meluangkan waktu untuk membicarakan masalah sehari-hari mereka ketika bekerja. Meskipun Yunho bekerja sebagai enginer  yang dituntut untuk pergi ke beberapa kota dalam satu bulan, tapi ia tetap bisa membagi waktunya dengan baik bersama Yoona dan Aleyna. Kehidupan percintaan merekapun selalu berjalan menyenangkan dan menggairahkan. Hampir setiap malam jika mereka tidak memiliki kegiatan di luar rumah, maka mereka akan menghabiskannya dengan bercinta penuh gairah di dalam kamar mereka yang hangat. Baik Yoona maupun Yunho, mereka sama-sama sangat ahli dalam urusan ranjang. Hanya saja masalah mulai muncul ketika usia pernikahan mereka telah menginjak dua tahun. Di usia yang sudah cukup matang bagi sepasang suami isteri untuk memiliki seorang anak, mereka belum juga diberikan karunia itu oleh Tuhan. Berbagai hal telah dicoba Yoona agar ia bisa segera hamil dan memberikan adik untuk Aleyna, tapi semua usahanya itu tidak pernah membuahkan hasil. Ia pun akhirnya menaruh curiga pada Yunho. Selama ini ia telah melakukan pemeriksaan terkait kondisi rahimnya di rumah sakit dan mendapatkan hasil bahwa semuanya baik-baik saja. Dengan penuh paksaan, Yoona membawa Yunho ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi tubuhnya. Dan setelah mendapatkan hasilnya, ternyata kecurigaan Yoona selama ini benar. Yunho didiagnosa mengidap kelainan hormon yang menyebabkan ia mandul akibat aktivitasnya sebagai teknisi yang mengharuskan ia selalu terpapar radiasi. Hubungan pernikahan merekapun mulai merenggang setelah kejadian itu. Yunho tidak lagi menyentuh Yoona seperti biasanya. Pria itu merasa bersalah pada Yoona karena ia yang menyebabkan Yoona tidak bisa mengandung dan memiliki keturunan. Akhirnya ia memutuskan untuk menceraikan Yoona. Ia tidak mau mengikat Yoona lebih lama bersamanya yang jelas-jelas tidak bisa memberikan Yoona keturunan. Meskipun berat, Yoona akhirnya menyetujui keputusan Yunho dan bercerai dengan pria itu secara baik-baik.

Sekarang Yoona kembali menjalani kehidupannya sendiri. Berdua dengan Aleyna, ia manjalani kehidupannya sebagai single mother dan sebagai seorang konselor super sibuk kebanggan Korea. Sebisa mungkin ia mengatur waktunya dengan baik agar ia bisa tetap mendampingi Aleyna di sela-sela kesibukannya sebagai seorang konselor yang cukup disegani di Korea.

-00-

“Aku tidak mau kau mengatur hidupku terlalu jauh, aku tidak bisa menjadi isteri ideal yang hanya berdiam diri di rumah. Catwalk adalah hidupku, aku tidak mungkin meninggalkannya!”

Donghae menatap datar isterinya yang sedang berteriak-teriak dengan tak tahu malu di kantornya. Pertengkaran antara dirinya dan Jihyun memang sudah terjadi sejak berbulan-bulan yang lalu. Isterinya yang keras kepala itu tidak pernah mau meninggalkan dunia hiburan yang selama ini telah membesarkan namanya. Wanita itu tidak suka ketika Donghae memintanya untuk tinggal di rumah dan hanya melayaninya sebagai isteri. Sedangkan sebagai seorang suami, Donghae merasa jika ia sudah cukup mampu untuk membiayai semua kebutuhan isterinya tanpa perlu sang isteri bekerja lagi. Daripada menghabiskan waktu di luar rumah dengan bersenang-senang bersama teman-temannya, Donghae lebih senang jika Jihyun di rumah dan menjadi isteri yang manis untuknya.

“Lakukan apapun kau kau suka, aku tidak peduli.” Komentar Donghae. Jihyun tersenyum puas. Menyeringai penuh kemenangan dari kursinya sambil memandang Donghae dari kejauhan yang sedang berkutat dengan berkas-berkas kantornya.

“Sebagai suami, kau memang harus memberiku kelonggaran. Pekerjaan isteri bukan hanya sebatas melayani suami di rumah. Aku juga membutuhkan waktu pribadi untuk kuhabiskan bersama teman-temanku di luar rumah. Jika kau tidak bisa memahami kondisiku, kau bisa menceraikanku sekarang.” Tantang Jihyun penuh arogansi. Donghae langsung mendongak cepat dan memberikan tatapan tajam pada Jihyun.

“Kau boleh melakukan apapun sesukamu, asal kau tidak memintaku untuk menceraikanmu.”

Selalu saja ia menjadi pihak yang harus mengalah. Dalam segala hal dan keputusan, selalu Jihyun yang memegang kendali. Terkadang ia merasa seperti seorang pecundang ketika Jihyun telah mendominasinya. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apapun karena ia tidak mau kehilangan Jihyun. Jihyun adalah cinta pertamanya, sekaligus cinta sejatinya. Sejak bertemu Jihyun tiga tahun yang lalu, ia langsung jatuh hati pada wanita itu dan tidak mau menggantikan Jihyun dengan wanita lain. Hanya saja akhir-akhir ini Jihyun terlihat semakin menyebalkan di depannya. Ditambah lagi wanita itu menolak keras keinginannya untuk segera memiliki keturunan. Padahal usianya sudah menginjak tiga puluh tiga tahun. Ia memerlukan penerus untuk kerajaan bisnisnya. Sementara itu Jihyun masih enggan untuk meninggalkan dunia entertainment yang selama ini telah ditekuninya sejak lama. Jadi satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mengalah. Sekali lagi ia akan mengalah pada Jihyun demi keharmonisan hubungan rumah tangganya.

“Nah, tetaplah seperti itu sayang. Suatu saat aku pasti akan memberimu keturunan, hanya saja kau perlu bersabar sedikit lebih lama lagi. Kemarin aku baru saja mendapatkan tawaran untuk menjadi model Victoria Secret. Kau tahu sendiri kan bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan tawaran itu, jadi aku harus berusaha keras mulai sekarang agar tubuhku tetap ramping dan seksi hingga kontrakku dan Victoria Secret berakhir. Kalau begitu aku pergi, semoga harimu indah sayang. Aku mencintaimu.”

Donghae menerima satu kecupan singkat dari Jihyun dengan wajah datar tanpa selera. Kecupan yang diberikan Jihyun justru membuat moodnya semakin hancur karena wanita itu lagi-lagi meninggalkannya dalam keadaan kalah. Kalah di bawah dominasi wanita itu dan membuatnya harus rela membagi tubuh menawan isterinya untuk dinikmati orang lain.

“Shit! Wanita sialan!” Maki Donghae pada udara kosong. Ia memukul meja di depannya keras dan membuat beberapa kertas yang sedang ia tekuni berhamburan ke atas lantai. Jika sudah seperti ini, ia akan kehilangan selera untuk melakukan apapun. Ia kehilangan selera untuk mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk dan ia akan semakin mendapatkan masalah dari kliennya yang selalu tidak puas dengan hasil kerjanya yang kacau.

 

Tok tok tok

 

“Hae, kau sudah… Wow, apa yang  baru saja terjadi?”

Hyukjae masuk ke dalam ruangan Donghae dan langsung dibuat terkejut dengan keadaan Donghae yang sangat berantakan. Kertas-kertas penting terlihat berhamburan di atas lantai, dan kondisi sahabat sekaligus atasannya itu juga terlihat memprihatinkan dengan dasi yang sudah dilempar asal ke atas meja. Bahkan ia sempat menginjak salah satu kertas saham milik Donghae bernilai jutaan dolar yang bertebaran di atas lantai. Untung saja alas sepatunya tidak membuat kertas itu terlalu kotor, sehingga ia langsung memungut semua kertas-kertas itu dan menyusunnya secara rapi di atas meja kerja Donghae yang berantakan.

“Ini pasti karena Jihyun lagi.” Tebak Hyukjae. Memang benar. Dalam sejarah kehidupan Lee Donghae, hanya Jihyun yang mampu membuat pria itu tampak sekacau ini. Bahkan ketika Donghae kehilangan tender bernilai milyaran dolar, pria itu tidak pernah sekacau ini. Ia hanya duduk santai di atas singgasananya sambil menikmati sebotol vodka dan alunan musik klasik karya Mozart yang terkenal di era seribu delapan ratusan.

“Ia mengancamku lagi Hyuk, dan kali ini dengan perceraian. Sial!” Maki Donghae lagi. Entah akan ada berapa makian yang didengar Hyukjae siang ini. Yang jelas ia akan segera berubah menjadi buku diary hidup untuk Donghae dengan segala keluh kesah pria itu.

“Lalu? Apa yang membuatnya mengancammu dengan perceraian?”

“Aku memintanya untuk berhenti dari dunia entertainer. Apa menurutmu permintaanku itu sangat sulit? Untuk apa ia bekerja jika aku sudah bisa mencukupi semua kebutuhannya?”

“Well, mungkin baginya permintaanmu itu sangat sulit.” Jawab Hyukjae. Ia sendiri cukup bingung bagaimana cara memberi saran pada Donghae karena ia sendiri tidak terlalu berpengalaman dalam urusan rumah tangga yang rumit seperti milik Donghae. Selama ini hidupnya tenang dan damai. Ia memiliki satu orang isteri bernama Kim Hyoyeon dan satu orang anak laki-laki berusia dua tahun bernama Lee Jisung. Kehidupannya sudah sangat indah hingga sejauh ini. Bila ia memiliki masalah dengan Hyoyeonpun, masalahnya tidak sampai serumit Donghae. Ia hanya akan bertengkar dengan Hyoyeon di pagi hari, kemudian di sore hari saat ia pulang dari kantor semuanya akan membaik, seolah-olah mereka tidak pernah melakukan apapun dan kembali menjadi keluarga bahagia yang harmonis.

“Aku benar-benar frustrasi dengan kehidupan rumah tanggaku yang rumit ini Hyuk. Kenapa aku tidak memiliki kehidupan rumah tangga yang indah sepertimu? Kau memiliki isteri yang cantik dan juga seorang anak laki-laki yang lucu. Kehidupanmu sangat sempurna, sedangkan kehidupan rumah tanggaku? Hmm.. sangat buruk! Lebih buruk dari sebuah gempa bumi dan bencana alam yang lain.”

Lee Hyukjae mengedikan bahunya ringan dan tampak tidak bisa berkomentar apapun. Menurutnya ia memang beruntung karena memiliki Kim Hyoyeon. Apa jadinya bila dulu ia tidak bertemu Kim Hyoyeon, ia pasti juga akan sama mengenaskannya seperti Lee Donghae, karena ia sebenarnya bukanlah pria yang cukup baik di masa lalu. Dulu ia hanyalah seorang pria biasa, dengan kepintaran yang biasa-biasa saja, namun player. Dulu ia benar-benar player yang setiap minggunya akan menggandeng wanita yang berbeda. Beruntung saat itu ia berteman dengan Donghae, sehingga ia bisa meminta bantuan pada sahabatnya itu untuk meminjam mobil atau meminjam uang agar terlihat lebih keren di hadapan wanita-wanitanya. Namun kebiasaan buruk itu segera hilang ketika ia mengenal Hyoyeon dan menjadikan wanita itu sebagai kekasihnya. Kim Hyoyeon yang lembut dan tidak terlalu banyak menuntut membuat Hyukjae kagum pada sosok wanita itu. Ia yang awalnya hanya akan menjalin hubungan selama satu minggu bersama Hyoyeon kemudian memperpanjangnya menjadi satu bulan. Setelah satu bulan, ia merasa tidak bisa berpisah dengan Hyoyeon dan memutuskan untuk menjadikan Hyoyeon sebagai kekasih abadinya. Ia akhirnya melamar Hyoyeon dan menikahi Hyoyeon setelah ia yakin jika Hyoyeon memanglah wanita yang ditakdirkan Tuhan untuk menemani masa tuanya yang suram nanti. Lalu mengenai Donghae…. Dulu pria itu tidak senakal Hyukjae. Lee Donghae adalah pria aristrokat sejati yang sangat menjunjung tinggi sebuah cinta. Selama sejarah hidupnya, ia tidak pernah sedikitpun mengecewakan wanita. Justru ia yang sering mendapatkan kekecewaan karena wanita yang dikencaninya selalu membuatnya bermasalah. Pernah ketika senior high school ia memergoki kekasihnya sedang berciuman dengan salah satu rivalnya di sekolah, padahal selama ini ia telah memberikan apapun yang diinginkan oleh kekasihnya itu. Uang, sepatu bermerk, tas, gaun, dan segala macam pernak pernik wanita seharga ratusan ribu dolar sudah ia berikan, tapi yang ia dapatkan justru sebuah pengkhianatan. Tapi apa yang terjadi pada Donghae bukan berarti karena ia adalah pria lemah dan idiot, tapi ia hanya terlalu menghargai perasaan wanita sehingga ia dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh wanita-wanita licik itu.

“Mungkin sudah saatnya kau mendatangi psikolog untuk mengonsultasikan masalahmu.”

“Apa kau pikir aku gila? Aku masih lebih dari waras untuk menyelesaikan masalahku ini. Lagipula aku hanya meminta sedikit saranmu sebagai seorang teman, bukannya memintamu untuk menyuruhku mendatangi psikolog.” Ucap Donghae gusar. Siang ini ia sudah terlalu frustrasi dengan masalah isterinya hingga hal-hal kecil seperti pergi ke psikolog dapat membuat emosinya semakin memuncak. Lagipula apa yang dikatakan oleh Hyukjae tidak ada salahnya jika dicoba. Pria itu sudah memberikan saran yang tepat sebagai seorang sahabat.

“Kau memang belum gila Hae, tapi kau akan segera gila. Lihatlah bayangan dirimu di cermin, kau sangat berantakan! Bagaimana jika klienmu melihatmu yang sangat berantakan seperti ini? Mereka akan membatalkan niat mereka untuk berinvestasi di perusahaanmu. Lagipula mendatangi seorang psikolog bukan berarti karena kau gila, tapi kau bisa meminta sedikit nasihat darinya agar kau bisa segera menemukan jawaban dari permasalahan yang kau hadapi. Ini, kebetulan aku baru saja mendapatkan brosur mengenai seorang psikolog hebat yang bekerja di biro konsultasi milik pemerintah. Siapa tahu kau tertarik, kau bisa pergi ke kantornya untuk melakukan konsultasi masalah pernikahanmu yang rumit.”

Hyukjae meletakan selembar kertas yang sudah tampak kusut di atas meja Donghae. Sepertinya kertas itu baru saja diremas-remas Hyukjae dan langsung dimasukan ke dalam saku saat ia sedang dalam perjalanan menuju kantor, karena brosur itu ia dapatkan dari seorang pemuda penjual koran yang tadi sempat menawarkan koran padanya.

“Aku tidak berminat.” Tolak Donghae mentah-mentah. Ia hanya menatap sekilas gumpalan kertas itu tanpa berniat menyentuhnya atau membacanya. Namun Hyukjae tetap meninggalkannya di sana tanpa berniat untuk mengambilnya lagi.

“Suruh sekretarismu membuangnya nanti. Sekarang aku membutuhkan laporan keuangan minggu lalu untuk kuaudit ulang, ada beberapa selisih angka yang baru kusadari. Aku lupa memasukan pengeluaran perusahaan minggu lalu yang digunakan untuk memberikan tunjangan pada karyawan pensiun.”

Donghae menunjuk map merah di sisi kanannya malas-malasan sambil menyuruh Hyukjae untuk mengambilnya sendiri.

Setelah Hyukjae pergi, ia kembali berkutat dengan seluruh pekerjaanya yang sempat ia tinggalkan. Sambil mengecek laporan bulanan perusahaanya, Donghae sedikit melirik kertas lusuh yang diletakan Hyukjae di atas mejanya. Entah kenapa ia cukup penasaran dengan isi kertas itu dan memutuskan untuk mengambilnya. Ia membaca seluruh informasi yang tertera di dalam kertas itu sambil berpikir cukup keras mengenai saran yang diberikan Hyukjae.

“Apa aku harus menemui konselor ini?” Tanya Donghae pada dirinya sendiri. Ia membaca cv singkat sang konselor yang tertera di sana sambil menimbang-nimbang keuntungan yang mungkin akan ia dapatkan setelah mendatangi konselor itu.

“Mungkin memang konselor ini jalan keluar untuk masalahku.” Pikir Donghae akhirnya sambil memasukan kertas lusuh itu ke dalam saku kemejanya. Sore ini juga, selepas jam kantornya selesai, ia akan mendatangi konselor itu untuk menemukan jawaban dari seluruh masalah pelik yang menimpanya akhir-akhir ini.

-00-

Yoona menghela napasnya panjang. Lagi-lagi ia harus menyaksikan drama menyedihkan yang dimainkan oleh kliennya. Siang ini ia mendapatkan klien yang cukup… menyebalkan untuknya. Ia adalah wanita yang hendak melakukan percobaan bunuh diri minggu lalu, tapi menurutnya wanita itu hanya mencari perhatian. Dari semua tanda-tanda yang ditunjukan wanita itu selama melakukan sesi konseling, ia yakin jika wanita itu benar-benar hanya ingin mencari perhatian dari keluarga mendiang suaminya yang cukup kaya agar mendapatkan harta warisan yang lebih banyak.

“Nona.. hiks hiks hiks, aku ingin menyusul suamiku ke surga. Aku tidak kuat jika harus membesarkan anak-anakku sendiri dengan biaya hidup yang semakin membengkak.”

“Nyonya, pikirkanlah masa depan anak anda jika anda ingin melakukan bunuh diri. Anda seharusnya merawat anak anda dengan baik agar anak anda kelak dapat mewarisi perusahaan milik mendian suami anda.” Ucap Yoona memberi saran. Seketika wanita itu menghentikan tangisannya sambil memadang Yoona berbinar-binar, seperti baru saja mendapatkan undian jakpot bernilai jutaan dollar.

“Kau benar nona Im, aku seharusnya membesarkan anak-anakku dengan baik. Jika aku mati, anak-anakku akan terlantar dan seluruh harta warisan mendiang suamiku akan jatuh ke tangan adiknya yang serakah itu. Huh, itu benar-benar tidak bisa dibiarkan.” Ucap wanita itu berapi-api. Yoona hanya dapat mengangguk-anggukan kepalanya sebagai respon tanpa berniat untuk masuk terlalu dalam pada masalah kliennya yang mulai tidak waras ini. Untung saja ia hanya anak tunggal di keluarganya, jika ia memiliki saudara serakah seperti wanita di depannya, ia justru akan membiarkannya mati daripada ia hidup, namun hanya menyusahkan orang lain dengan sikapnya yang tak tahu malu.

“Jadi sekarang anda telah menyadari kesalahan anda dan apa yang harus anda lakukan setelah ini? Tolong jangan sia-siakan hidup anda hanya karena masalah kecil, sesungguhnya ada banyak orang di luar sana yang memiliki masalah yang lebih berat dari anda.”

“Hmm ya, aku mengerti. Terimakasih nona Im atas saran yang telah kau berikan padaku. Aku… sekarang mengerti apa yang harus kulakukan. Setelah ini aku akan mendidik anak-anakku dengan baik agar kelak mereka menjadi pria sejati yang sukses dan bisa mengambil seluruh harta warisan milik suamiku dari keluarganya.”

Yoona hanya tersenyum kaku menanggapi ucapan wanita itu dan segera menyuruhnya keluar dari ruangannya karena ia mulai gila setelah menangani wanita itu. Lebih dari dua jam waktunya hari ini hanya digunakan untuk melayani seorang klien menyebalkan dengan masalah fiktif. Sebenarnya hal itu sudah sering terjadi padanya, namun tetap saja ia merasa gusar dengan orang-orang yang selalu berlebihan dalam menyikapi masalah mereka. Bahkan ia pikir ada lebih banyak masalah yang seharusnya mereka khawatirkan daripada hanya sekedar harta atau cinta, tapi tetap saja beberapa dari klienya bersikap berlebihan saat kehilangan cinta atau harta dari kehidupan mereka.

“Apa ia sudah pergi?” Tanya Yoona pada Jihoo dari ujung pintu kantornya. Jihoo menganggukan kepalanya dua kali sambil menunjuk arah pintu keluar yang baru saja dilewati oleh klien menyebalkannya itu.

“Aku menyesal telah menerimanya hari ini, karena celotehan tidak pentingnya kita sampai menolak beberapa klien yang mungkin benar-benar membutuhkan bantuan kita hari ini.” Keluh Yoona. Jihoo meringis kecil melihat keletihan yang tercetak jelas di wajah Yoona. Ia sangat tahu bagaimana perasaan Yoona saat berhadapan dengan klien-klien menyebalkan seperti itu karena ia juga pernah mengalaminya beberapa kali ketika harus menggantikan posisi Yoona sebagai konselor.

“Istirahatlah, ini jam makan siang. Kau tidak menjemput Alyena?”

“Aku membawa bekal, dan Aleyna hari ini menginap di rumah Yuri, jadi aku tidak perlu menjemputnya siang ini.”

“Kau tidak kesepian di rumah tanpa Aleyna? Tumben kau mengijinkannya menginap di rumah Yuri.” Tanya Jihoo heran. Tidak biasanya Yoona membiarkan putri kecilnya pergi berjauhan dengannya. Bahkan ketika Aleyna mengikuti acara mini camp di sekolahnya, Yoona sampai menyusul Aleyna di sekolahnya karena ia tidak tahan berjauhan terlalu lama dengan putri kecilnya yang menggemaskan. Jadi sekarang Jihoo cukup heran ketika Yoona tiba-tiba mengijinkan Aleyna menginap di rumah Yuri yang notabenenya memiliki jarak rumah yang cukup jauh dari rumahnya.

“Malam ini aku juga akan menginap di rumah Yuri.” Cengir Yoona malu. Ia sadar jika sikapnya yang over protective pada Aleyna itu memang sudah keterlaluan. Tapi ia sendiri juga tidak bisa mengendalikannya. Mungkin jika ia hanya orang biasa, ia sudah tergolong sebagai seseorang yang membutuhkan terapi dari seorang konselor. Bagaimanapun seorang konselor sebenarnya juga manusia biasa. Mereka tidak selamanya menjadi penolong, ada kalanya mereka juga berada di posisi dimana mereka harus ditolong oleh orang lain.

“Sudah kuduga, kau tidak mungkin membiarkan Aleyna berkeliaran terlalu jauh dari hidupmu. Kupikir sebenarnya kau ini cukup sakit dan perlu mendapatkan penanganan dari konselor.”

“Hey, aku juga manusia biasa. Lagipula hari ini Yuri di rumah sendiri, suaminya pergi ke Busan selama dua hari untuk urusan pekerjaan, jadi apa salahnya jika aku dan Aleyna menginap di sana? Mungkin dengan begitu aku bisa melupakan sedikit kejenuhan pikiranku.”

“Selamat siang.”

Yoona dan Jihoo kompak menoleh kearah sumber suara ketika tiba-tiba mereka mendapatkan sapaan selamat siang dari seseorang yang tidak mereka kenal.

“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?” Sapa Yoona ramah. Wibawanya sebagai konselor muncul begitu saja setelah seorang calon klien mendatanginya secara tiba-tiba. Padahal sebelumnya ia sedang sibuk bercanda dengan Jihoo hingga mengeluarkan suara yang cukup keras.

“Maaf, apa aku datang di waktu istirahat? Aku ke sini untuk melakukan konsultasi masalah putriku.”

Yoona menatap putri calon kliennya yang terlihat berbeda dari anak-anak seusianya. Gadis kecil yang ia perkirakan berusia empat tahun itu memiliki pandangan tidak fokus dan seperti sedang bermain-main dengan imajinasinya. Dari tanda-tanda yang ditunjukan gadis kecil itu, mungkin ia mengalami gangguan retardasi mental atau autis.

“Oh silahkan masuk ke dalam ruangan saya, kebetulan jam istirahat saya cukup fleksibel.” Ucap Yoona ramah. Ia tidak akan tega menolak seorang klien yang benar-benar membutuhkan pertolongannya seperti ini. Apalagi calon kliennya ini tidak mungkin akan menceritakan cerita fiktif seperti kliennya yang sebelumnya. Calon kliennya siang ini benar-benar sedang membutuhkan bantuannya.

“Jihoo, tolong kau siapkan alat-alat tes untuk putrinya.”

“Baik, tunggu sebentar.”

Setelah memberi perintah pada Jihoo, Yoona segera membawa masuk klieannya ke dalam ruangan tertutup untuk melakukan sesi konseling yang rahasia. Selama menjadi konselor, Yoona selalu memastikan jika seluruh masalah yang diceritakan oleh kliennya akan terjaga kerahasiannya. Ia tidak pernah sekalipun melanggar kode etik profesinya mengenai kerahasiaan cerita klien karena ia cukup menghormati pengalaman masa lalu kliennya yang sebagian besar berisi pengalaman buruk.

-00-

Donghae berdiri di depan kantor konseling milik negara sambil menggenggam kertas lusuh yang siang tadi ditinggalkan Hyukjae di mejanya. Sejak tadi ia hanya berdiri di sana dan tampak ragu untuk masuk ke dalam. Egonya sebagai pria terhormat dengan segala harga dirinya setinggi langit membuatnya ragu untuk masuk dan melakukan sesi konseling bersama konselor yang telah disebutkan di dalam kertas lusuh yang digenggamnya.

“Ck, memalukan!” Decak Donghae pelan, namun ia memutuskan untuk berjalan masuk ke dalam gedung itu. Kali ini ia memutuskan untuk sedikit berdamai dengan egonya demi hubungan rumah tangganya yang lebih baik. Ia sudah bertekad akan berubah menjadi Lee Donghae yang lebih tegas setelah ini. Ia tidak mau diatur oleh isterinya lagi, oleh karena itu ia akan meminta saran pada konselor itu agar harga dirinya dapat kembali utuh seperti sedia kala.

“Maaf jam untuk konseling kami telah berakhir.”

Ketika melangkah melewati pintu kaca bening di depannya, Donghae langsung mendapatkan kesan buruk karena ia baru saja ditolak. Tapi ia sudah terlanjur datang. Ia sudah menurunkan semua egonya demi menginjakan kaki di sini, jadi ia tidak akan mundur dengan mudah.

“Tapi aku membutuhkan sesi konseling saat ini juga. Aku sedang menghadapi masalah serius.”

Sisi dominan dan arogan Donghae mulai muncul. Ia kini terlihat begitu garang dengan mimik piasnya yang tercetak jelas di wajah aristrokatnya.

“Maaf, anda bisa datang lagi besok pukul sembilan. Saat ini konselor kami sudah pulang.”

“Ck, tidak profesional. Di sini tertulis jika jam konseling akan dilayani hingga pukul lima, ini bahkan masih kurang lima menit sebelum pukul lima. Seharusnya kalian masih menyediakan jasa konseling hingga pukul lima nanti.” Ucap Donghae keras kepala. Petugas resepsionis itu terlihat mulai gusar dengan sikap Donghae yang semakin menjadi-jadi di depannya. Seumur hidup ia bekerja di sana, ia belum pernah menemukan seorang klien yang sangat menyebalkan seperti Donghae.

“Anda tidak mungkin akan melakukan sesi konseling dalam waktu lima menit tuan. Jadi sebaiknya anda datang lagi besok untuk melakukan sesi konseling sesuai dengan prosedur kantor kami.” Ucap petugas resepsionis itu mencoba bersabar. Ekor matanya perlahan-lahan mulai memberikan kode pada petugas keamanan yang sedang berdiri tak jauh darinya. Setelah ini ia benar-benar akan meminta petugas keamanan itu untuk menyeret Donghae jika pria itu tetap saja bersikeras untuk melakukan sesi konseling di jam pulang seperti ini.

“Tidak bisa, aku harus melakukan sesi konseling hari ini. Masalahku sangat mendesak.” Tolak Donghae mentah-mentah. Ia benar-benar akan masuk sendiri ke semua ruangan di gedung itu demi mencari satu konselor yang bersedia memberikan solusi atas masalahnya. Lagipula ia tidak yakin jika besok ia masih memiliki pikiran gila seperti sore ini yang memutuskan untuk menerima saran dari Hyukjae. Bisa saja besok pikiran warasnya telah kembali dan ia tidak akan mendatangi tempat ini untuk melakukan sesi konseling.

“Maaf tuan, anda tidak bisa melakukannya saat ini. Jika anda terus bersikeras seperti itu, saya akan meminta petugas keamanan untuk menyeret anda keluar dari sini.” Peringat petugas resepsionis itu tegas. Bersamaan dengan itu, Yoona muncul dari dalam lift dan melihat keributan yang terjadi anatar Jang Nara, dan seorang pria asing yang terlihat begitu marah dengan wajah merah padam.

“Ada apa ini?” Tanya Yoona heran. Kedua manusia itu secara bersamaan menoleh kearah Yoona dengan berbagai macam ekspresi yang tidak bisa dimengerti Yoona dengan jelas.

“Nona Im, pria ini bersikeras untuk melakukan sesi konseling di jam tutup kantor. Saya menyuruhnya untuk datang lagi besok, tapi ia menolak dan justru membuat keributan.”

“Maaf, apakah anda…”

“Aku ingin melakukan sesi konseling sekarang.” Potong Donghae cepat. Yoona langsung memejamkan matany sejenak demi menetralkan emosinya yang bisa saja ikut tersulut seperti Nara.

“Tapi tuan jam konseling sudah berakhir. Saya harus pulang untuk mengurus putri saya.”

“Itu bukan alasan nona. Bahkan ini masih pukul lima kurang satu menit, kau harus bersikap profesional seperti apa yang tertera di kertas ini.” Tunjuk Donghae pada kertas brosur lusuh yang digengganggamnya. Seketika Yoona menjadi dongkol dan ingin menyuruh kedua petugas keamanan itu untuk menyeret Donghae keluar. Tapi melihat kesungguhan yang terlihat di mata Donghae membuatnya tidak tega dan memutuskan untuk memberi Donghae kesempatan sore ini.

“Baiklah, anda bisa melakukan sesi konseling sekarang. Tapi waktu saya tidak banyak, saya hanya bisa memberikan anda waktu satu jam. Bagaimana?” Tawar Yoona mencoba kalem. Hari ini benar-benar hari yang penuh ujian untuknya karena dalam satu hari ia telah dihadapkan dengan dua manusia yang sangat menyebalkan dan juga keras kepala.

“Tidak masalah, aku hanya ingin tahu apakah kau benar-benar memiliki kredibilitas tinggi seperti apa yang tertulis di kertas ini.”

Yoona seketika ingin menendang Donghae jauh-jauh dari kantornya dengan heels tujuh senti yang saat ini sedang ia gunakan. Pria itu, setelah menguji kesabarannya dengan semua sikap keras kepalanya, ia masih saja membuat masalah dengan mencibir kredibilitasnya. Ia akan buktikan pada pria itu jika ia memiliki kredibilitas dan juga kemampuan yang hebat sebagai seorang konselor. Ia pastikan setelah ini pria itu akan bertekuk lutut di bawah kakinya karena dan menelan bulat-bulat seluruh arogansinya hingga tersedak.

“Silahkan anda isi form data-data ini terlebihdahulu.”

Yoona meletakan selembar kertas putih yang berisi data diri yang harus Donghae isi. Namun Donghae sudah terlebihdulu memperlihatkan keengganannya dengan mendorong jauh-jauh kertas itu dari hadapannya.

“Apakah perlu data-data seperti itu? Yang kubutuhkan saat ini adalah sesi konseling, bukan sesi mengisi data diri yang tidak penting seperti itu.”

“Tapi anda harus mengisinya sebagai arsip untuk kami. Lagipula latar belakang kehidupan anda sangat penting untuk menganalisa lebih jauh masalah yang sedang anda hadapi.”

“Jadi kau tidak bisa memberikanku solusi hanya dengan sekali bercerita? Payah!” Cibir Donghae sakarstik. Yoona menghembuskan napasnya panjang-panjang, mencoba bersabar dengan sikap kliennya yang sangat menjengkelkan sore ini. Diliriknya jam hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia sudah menghabiskan tujuh menit waktunya hanya untuk meminta pria itu mengisi form data diri. Jika pria itu terus bersikap keras kepala seperti itu, maka sesi konseling yang mereka lakukan akan berlangsung lebih lama dari waktu yang sebelumnya ia janjikan. Tidak! Ia tidak mau pulang lebih lama lagi dari waktu yang seharusnya. Ia sudah merindukan Aleyna, ia sudah tidak sabar untuk mendengar celotehan gadis mungil itu hari ini.

“Jika anda tidak mau mengisinya, maka saya yang akan mengisikannya untuk anda. Anda hanya perlu menjawab setiap pertanyaan yang saya ajukan, dan setelah itu saya akan mencatatnya di sini. Kali ini saya mohon kerjasamanya tuan, sesi konseling ini tidak akan segera dimulai jika anda terus bersikap keras kepala dan tidak mau bekerjasama dengan kami.”

“Baiklah, selesaikan dengan cepat.”

Yoona akhirnya bisa menghembuskan napasnya lega setelah Donghae menyatakan kesediaannya untuk bekerjasama dengannya. Meskipun ia tidak yakin jika sesi konseling selanjutnya akan berjalan dengan baik, tapi setidaknya untuk langkah pertama ia sudah berhasil melaluinya dengan lancar tanpa perlawanan yang cukup berarti dari pria asing di depannya.

28 thoughts on “Kontratransferensi Part 1: Becoming A Helper

  1. Donghae ga mau cerai sama Jihyun? 😣😣 ngek ngekk
    Donghae orangnya keras kepala bgt yaa.. pertemuan pertama yang nyebalkan.. next part ditunggu banget ya thor

  2. Baru babak awal jadi semuanya masih terasa aman hahaha, di tunggu banget nextnya thor.. gak sabar tau kisah mereka selanjutnya.. dari trailer aja udah bikin penasaran apalagi fullnya di tunggu banget pokoknya.

  3. Next next next thor. Gak sabar lihat interaksi mereka pas konseling. Wkwkwkwk ditnggu sangat sangat ditnggu next chapter nya 😍😍

  4. Kok nama-nama mantan suami Yoona bikin aku nyesek ya, kyak nggak terima gitu kalau Yoona pernah menikah dengan mereka😏😏, semoga ini ada di ff hehe. Next chingu sangat ditunggu kelanjutan ceritanya, semangat 💪💪

  5. Jihyun keterlaluan bgt, segitunya sm donghae, kasian liat donghae jd suami takut istri,
    Tp nyebelin jg dy, keras kepala, untung yoona sabar ngadepinnya

    Ga sabar baca sesi konseling mereka

  6. Pertemuan pertama yg buruk…aku rasa sesi konseling juga akan benar benar buruk di hari pertama 😂 Donghae yg arogan memang benar benar minta dipukul kan??😂 Belum ada konflik yg muncul tpi benar benar cerita yg membuat penasaran.. Good story 👍🏻👍🏻👍🏻

  7. Hidupnya yoong rumit, hidupnya hae nggk jauh beda 😂😂 dan mmng mereka ditakdirkan utk bertemu 😅

    next kk.. fighting kk,, jgn lama2 yah kk 😉😉

  8. Belum greget ceritanya, mungkin momentnya belum ada jadi belum greget,
    Ditunggu next chapternya author-nim :*

  9. Ah selalu suka pokonya sama semua ff mu eonnn😘😘😘😘
    Tapi disini kesel juga yaa ama Ongek ekeke tp seruuu bgt😍
    Nextt secepatnya yaa eoniee😘😘😘

  10. Okey..
    Janda dan calon duda bertemu.. Kkkkkk
    Yaaa sebenarnya rada gak nerima sih YoonHae bukan yang pertama dalam Cinta.. Tapi jelas akan jadi yang terakhir kan..
    Okey semangat terus dek.. Ditunggu next chapt nya..

  11. waktunya pulang eh malah di ganggu sama pasien yang membuat keributan yoona yang sabar ya kalo ngadapin donghae….

  12. Yoona udah pernah nikah 2 kali?? Kok ngga rela rasanya yahh.. Donghae juga udah nikah disini.. huhuhu..
    Donghae ngeyel banget ternyata.. minta dibantu keluar dari masalahnya malah dianya rese.. bikin kesel orang lain kan..
    cepet dilanjut ya thor..

  13. Kmarin dah baca teaser nya di FoY dan skarang baca yang full ver tmbah sukses buat pnasaran sma jalan ceritanya
    Next chapter nya ditunggu unn jangan lama2

  14. Kenapa harus malu hae bertemu konselor? Tapi walaupun malu hae tetep ngelakuin saran hyuk.
    Kesen pertama yoonhae bertemu gokil abiss

  15. Ya tuhan donghae bnar”keras kepala ya, bkal seru ini nnti dongae sma yoonanya sma”kl keras kepala

  16. Donghae sngat keras kpala…yoona dh nikah dua kli…wow…trus kyak mna ya klnjutan hbngan mereka…akannkh mereka nnti y lbh dkat ge…

  17. baru baca ff baru’mu eonni..
    udah nebak, pasti bakalan seru ff nya eonni.. genre’nya juga keren

    di awal pertemuan yoonhae, yoona dibikin kesel sama sikap bossy’nya donghae

  18. baru pertama ketemu aja udh berantem.. gmn selanjutnya? kya tom and jerry aja.. ckck

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.