You Dont Go (Sequel Of Growing Pains)

Recomended Song D&E –  You Don’t Go

 

Srakk

Yoona melempar lembar demi lembar fotonya bersama Donghae ke atas tanah lembab di depannya sambil menggenggam sebuah korek api di tangan kirinya. Hari ini ia sudah bertekad untuk mengakhiri segalanya. Mengakhiri segala cerita cintanya bersama Donghae, karena hari ini Donghae akan resmi menikah dengan So Eunso. Sudah cukup ia berandai-andai selama ini, berharap jika semua ini hanya mimpi atau salah satu bagian dari projek dramanya yang akan berakhir bahagia. Tapi.. ia salah, ini nyata dan ia tidak hidup dalam sebuah drama yang dapat ia atur sendiri jalan hidupnya. Sekarang, Tuhan yang berhak menentukan akhir dari ceritanya. Dan inilah akhir dari segalanya. Ia bukanlah pasangan dari Lee Donghae. Ia bukan wanita yang terikat benang merah dengan Lee Donghae. Jadi sekarang ia akan mengakhiri segalanya. Membuka lembaran hidup baru, lalu ia akan mencari seseorang yang kelak akan mendampinginya berdiri di altar untuk mengucapkan janji sehidup semati yang sesungguhnya.

“Semoga bahagia oppa.”

Crasshh

Yoona menyalakan korek apinya, lalu melemparnya pada tumpukan foto di depannya yang perlahan-lahan mulai hangus terbakar. Dengan pandangan nanar, Yoona menatap satu persatu potret dirinya di masa lalu yang setelah ini akan menjadi abu, sama seperti kisah cintanya yang telah musnah, menjadi abu. Yoona lalu mendongak ke atas, kearah bintang-bintang yang sedang bersinar terang di atasnya. Sangat kontras sekali dengan kedua matanya yang mendung, siap menumpahkan bulir-bulir air mata yang sejak tadi ia tahan agar tidak meluncur turun dari kedua mata beningnya. Ia akhirnya terseguk, terisak-isak sendiri di bawah langit malam Seoul yang cerah dengan segala keperihan yang mendera dirinya. Ia benar-benar ingin semua ini hanya mimpi, agar disaat terbangun nanti ia hanya akan merasa kelegaan karena semua ini tidak nyata. Ia belum siap melihat Donghae bersanding dengan wanita lain. Tidak! Bahkan ia tidak akan pernah siap sampai kapanpun.

“Yoona… Apa yang kau lakukan di sini?”

Seketika Yoona menghapus air matanya sambil tersenyum getir pada Sunny. Wanita berambut sebahu itu berlari ke arah Yoona dan memeluknya erat layaknya pelukan seorang kakak pada adiknya sendiri. Ia tahu bagaimana hancurnya Yoona setelah berita pernikahan Donghae dan So Eunso terus ditayangkan oleh media Korea sejak seminggu yang lalu. Yoona pasti sangat sedih. Ia tahu itu. Bahkan ia turut prihatin pada kondisi Yoona, namun ia tidak bisa melakukan apapun. Yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan pelukan hangat khas seorang kakak dan juga semangat agar Yoona dapat menjalani kehidupannya dengan lebih baik setelah ini.

“Tenanglah Yoong, semuanya telah berakhir. Donghae oppa baru saja mengumumkan pada media jika pernikahannya dibatalkan. Dan hal itu dibenarkan oleh Hyuk oppa karena Eunso yang tiba-tiba pergi bersama mantan kekasihnya, ayah dari bayi yang dikandung Eunso.”

“Itu tetap tidak akan merubah apapun eonni, karena kami sudah berakhir.” Cicit Yoona parau sambil menghapus bulir-bulir air mata yang masih terus meluncur dengan bebas dari kedua mata bulatnya, padahal ia sejak tadi sudah menahannya agar tidak keluar di hadapan Sunny, tapi sepertinya usahanya itu gagal. Ia tetap saja tidak bisa berhenti menangis dan menunjukan sisi rapuhnya yang menyedihkan di depan Sunny.

“Masih ada kesempatan Yoong, bukankah ia juga masih mencintaimu? Kalian berdua hanya sedang mengalami kesalahanpahaman, karena ego kalian masing-masing.” Tambah Sunny menasehati. Selama ini ia cukup mengamati hubungan Yoona dan Donghae yang dari hari ke hari terus diwarnai intrik dan momok mengenai kecemburuan ataupun keegoisan karena keduanya menganggap jika diri mereka sama-sama benar. Padahal jika dilihat dari kacamata orang lain, mereka berdua sebenarnya sama-sama egois. Mementingkan diri mereka sendiri tanpa mau mengalah untuk kebaikan hubungan mereka. Hanya Yoona yang akhirnya mencoba mengalah setelah hubungan mereka berubah menjadi keruh, tapi sayangnya hal itu tidak membuahkan apapun. Justru hal itu adalah awal dari kehancuran hubungan mereka berdua.

“Jangan terlalu dipikirkan. Kau harus bangkit dari keterpurukanmu dan membiarkan waktu mengobati luka hatimu. Jika Donghae oppa bukan jodohmu, kau pasti akan menemukan pria lain yang jauh lebih baik untuk menggantikan posisi Donghae oppa di hatimu. Tolong jangan buat kami khawatir dengan keadaanmu Yoong, jadilah Yoona kami yang ceria, jahil, dan menyebalkan seperti sebelumnya. Jika kau membutuhkan teman untuk berbagi kesedihan, kami siap melakukannya. Dan kami semua juga meminta padamu, tolong jangan menempatkan dirimu sebagai pihak yang paling salah dalam kandasnya hubunganmu dan Donghae oppa. Pria itu juga turut andil dalam hal ini Yoong. Ia dengan semua keegoisannya dan amarahnya yang telah memperkeruh suasana diantara kalian. Jadi aku mohon, jangan pernah seperti ini lagi. Kau harus kuat, kau adalah si kuat yang tidak boleh terlihat lemah hanya karena pria brengsek itu. Sekarang tersenyumlah! Tunjukan pada semua orang jika kau baik-baik saja dan kau adalah wanita yang kuat.”

Sunny memberi semangat dengan gaya menggebu-gebu yang terlihat lucu hingga membuat Yoona mau tak mau terkekeh sambil menyeka buliran air matanya di pipi. Ia begitu bersyukur karena memiliki eonni-eonni yang begitu sayang padanya, mempedulikannya dan memberikan dukungan padanya di saat ia terpuruk dan membutuhkan sosok mereka sebagai kakak yang akan memberikan pelukan dan juga semangat.

“Terimakasih eonni, setelah ini aku tidak akan menangis lagi. Ini yang terakhir.” Janji Yoona bersungguh-sungguh. Sunny mengacungkan jari kelingkingnya dan mengajak Yoona untuk menautkan jari kelingking bersama sebagai jaminan atas janji yang telah dibuat oleh wanita itu.

“Janji?”

“Janji.”

Mereka berdua lantas terkekeh besama, melupakan seluruh kesedihan yang masih dirasakan Yoona, namun coba untuk dilupakan oleh wanita itu. Perlahan-lahan api yang sebelumnya menyala terang, padam. Menyisakan abu-abu hitam yang akan segera terbang tertiup angin. Bersamaan dengan perginya butiran abu itu, Yoona berharap bahwa kesedihannya setelah ini juga akan pergi. Dan hanya menggantikan kesedihan hatinya dengan sebuah kebahagiaan yang tak berujung.

-00-

Donghae melepas tuxedonya, dasinya, juga sepatunya dengan kasar sambil mengumpat pada udara kosong seperti seorang pria sakit jiwa yang baru saja keluar dari pusat rehabilatasi. Di depannya, Heechul dan Hyukjae sibuk menonton sambil mengedikan bahu mereka acuh, menyaksikan sahabat mereka yang sedang dipenuhi amarah sejak mereka keluar dari gereja tempat pemberkatan seharusnya berlangsung.

“Paparazzi itu benar-benar merepotkan, bahkan ia sampai mengejarku hingga ke apartemen.” Runtuk Donghae kesal pada kedua sahabatnya yang sama-sama terlihat tak peduli. Hari ini semua member super junior rencananya akan menghadiri upacara pemberkatan pernikahan Donghae sebagai bentuk dukungan mereka pada keputusan sepihak Donghae yang akhir-akhir ini cukup menuai masalah. Tapi setibanya di sana mereka justru dikejutkan dengan pembatalan pernikahan dan banyaknya paparazzi yang telah mengantre di sepanjang pintu masuk gereja untuk mencari tahu kabar terkini mengenai batalnya rencana pernikahan mereka yang selama ini sudah cukup heboh di kalangan masyarakat Korea. Tapi karena Donghae masih dalam mood yang tidak baik-baik saja, ia memilih untuk menghindari semua paparazzi itu dan pergi melalui pintu belakang. Sialnya, beberapa paparazzi yang sudah menduga jika hal itu akan terjadi telah menunggunya sambil berkerumun sesak di sana. Jadi sepanjang siang ini mereka hanya menghabiskan waktu di jalan selama lebih dari satu jam hanya untuk berputar-putar kesana kemari, menghindari kejaran paparazzi yang terus mengincarnya seperti buronan paling dicari di Korea.

“Bagaimana perasaanmu sekarang Hae?”

Heechul, pria yang sejak tadi bermain game di ponselnya dengan gaya tidak peduli akhirnya angkat bicara untuk menanyakan keadaan adik bungsunya yang tampak kesal di ujung ruangan.

“Hey hyung, apa kau tidak bisa melihat wajah jeleknya yang lusuh itu? Jelas-jelas ia baru saja menjadi buronan paparazzi, perasaanya pasti sangat senang.” Timpal Hyukjae dengan wajah mengejek yang sangat menyebalkan. Donghae mendengus gusar dan langsung meninggalkan keduanya untuk masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Ia perlu mendinginkan pikirannya sejenak dari kepelikan hidupnya yang sangat rumit akhir-akhir ini. Apalagi ibunya tadi jelas-jelas marah padanya karena ia hendak menikahi wanita tak tahu diri seperti Eunso. Memang ini semua salah wanita itu. Jika ia tidak memilih untuk kabur bersama kekasihnya, maka semua kejadian tidak menyenangkan hari ini tidak mungkin terjadi. Tapi ia juga tidak bisa menahan Eunso untuk bersamanya jika pada kenyataanya wanita itu masih mencintai mantan kekasihnya. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Menangis meraung-raung seperti dirinya dua puluh tahun yang lalu? Ahh.. sepertinya itu sudah tak pantas lagi untuk dilakukan oleh pria berusia awal tiga puluhan sepertinya. Mau tidak mau ia harus keluar, menghadapi dunia dan menunjukan pada semua orang jika ia baik-baik saja. Ia baik-baik saja dengan seluruh rumor miring yang menggelayutinya dan juga rasa malu yang ternyata juga ikut menggelayutinya setelah pernikahannya gagal pagi ini.

“Aku harus tidur… dan mematikan ponsel sialan ini.”

Dengan gerakan tangan yang sudah sangat ahli, Donghae melepas baterai di ponselnya dan menyimpan benda persegi itu di dalam laci di samping tempat tidurnya agar hari ini ia tidak mendapatkan gangguan dari siapapun. Cukup sudah semua kerumitan yang ia alami hari ini. Ia ingin rehat sejenak dari semua itu sambil menyusun rencana untuk menjawab berbagai macam pertanyaan yang besok pasti akan ditanyakan paparazzi padanya. Tidak mungkin ia akan terus berdiam diri di dalam apartemennya yang nyaman tanpa melakukan apapun, karena hidup harus tetap berjalan. Serumit apapun masalah yang ia hadapi, kehidupannya akan terus berjalan dan berputar. Kecuali jika ia memilih untuk mengakhiri hidupnya sekarang dan mengucapkan selamat tinggal pada semua orang yang ia cintai. Tapi tidak! Ia bukan pria sepengecut itu, yang lari dari masalah setelah ia sendiri yang membuatnya menjadi kacau. Jadi ia sudah bertekad akan menyelesaikan semua kekacauan ini satu persatu agar kehidupannya yang damai tanpa masalah dapat kembali ia rasakan seperti dulu. Sudah cukup ia bemain-main dengan kariernya hingga melibatkan semua member grupnya yang seharusnya tidak ikut terseret ke dalam masalahnya.

Apa aku egois?

            Satu pertanyaan itu yang sejak berhari-hari yang lalu, bahkan hingga detik ini masih terus berputar-putar di kepalanya. Sejak ia mengakhiri hubungannya dengan Yoona, ia rasa kehidupannya tidak berubah semakin baik. Dan karena itulah ia berpikir jika dirinya sudah terlalu egois selama ini. Donghae lalu memejamkan matanya damai dan nafasnya mulai terlihat teratur. Ia berusaha mengistirahatkan fisik serta perasaanya yang terlalu lelah. Meskipun sebenarnya ia sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang. Selalu saja mimpi buruk mengenai pertengkarannya dan Yoona menghantui setiap tidur nyenyaknya. Sore itu adalah hari yang mendung ketika ia memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Setelah segala gejolak batin yang menghantuinya, ia memutuskan untuk datang ke rumah Yoona dan mengakhiri semuanya. Dengan wajah pias dan nada dingin, ia mengatakan pada Yoona jika ia tidak bisa lagi melanjutkan hubungan mereka. Ia lalu menulikan pendengarannya saat itu agar ia tidak perlu mendengar nada kesakitan yang dikeluarkan Yoona. Saat itu ia benar-benar terlihat seperti robot yang tidak memiliki hati. Ia abaikan begitu saja suara pilu Yoona yang menuntut penjelasan darinya mengapa ia tiba-tiba memintanya putus. Dan setelah itu dengan kejamnya ia mendorong bahu Yoona yang saat itu sedang mencoba menghentikan langkahnya yang hendak menjauh.

Oppa… ada apa denganmu? Kita bisa selesaikan masalah ini baik-baik tanpa harus mengakhiri hubungan kita seperti ini oppa. Oppa… Oppa!

           

Tanpa belas kasihan, Lee Donghae pergi meninggalkan Yoona. Meninggalkan wanita itu terduduk sendiri di atas aspal kotor yang perlahan-lahan mulai basah karena rintik hujan yang turun dari langit Seoul. Tapi, di dalam mobilnya yang sunyi, Lee Donghae terus mengamati Yoona dari kaca spionnya dengan perasaan hancur. Ia sebenarnya juga tidak ingin melakukan hal itu. Namun emosinya yang menggebu-gebu membuatnya tidak bisa lagi mengembalikan keadaan yang terlanjur keruh. Ia terlalu cemburu pada kedekatan Yoona dan Lee Seunggi. Melihat mereka yang sangat serasi dengan banyak pendukung membuat kepercayaan dirinya luruh. Ia hancur dengan harga dirinya sendiri, dan sekarang ia semakin hancur karena hatinya juga ikut meluruh bersama kesedihan yang ia rasakan.

-00-

“Super junior! Dimana super junior? Sebentar lagi mereka harus tampil.”

Suara staff SM Entertainment terdengar begitu nyaring diantara hiruk pikuk para artis dan juga staff yang ikut berpartisipasi dalam konser tahunan yang diadakan oleh keluarga SM Entertainment tersebut. Kali ini mereka menggelar konser selama dua hari penuh di negara Singapura dengan rangkaian acara yang begitu padat. Sejak pagi semua staff tampak sibuk, dan kali ini mereka menjadi lebih sibuk karena salah satu grup band asuhan SM Entertainment yang cukup senior itu belum bersiap di belakang panggung untuk melakukan perform selanjutnya.

“Ayo cepat. Setelah Fx selesai, kalian sudah harus berada di stage.” Seru staff panggung dari ambang pintu. Leeteuk yang merupakan ketua dari grup itu terlihat merasa bersalah dan memberi kode pada staff itu jika setelah ini mereka akan segera pergi ke panggung. Mereka saat ini sedang mengalami situasi gawat karena salah satu member mereka tiba-tiba sakit karena salah makan hingga menyebabkannya muntah-muntah.

“Lee Donghae sakit, ia akan absen untuk malam ini.” Ucap Leeteuk. Staff panggung itu melirik Donghae sebentar yang terlihat tak berdaya di atas sofa lalu menganggukan kepalanya memaklumi.

“Kalian cepatlah ke stage, Donghae bisa tinggal di sini hingga acara ini selesai atau setelah ini aku akan meminta salah satu staff mengantarkannya ke rumah sakit.”

“Pergilah hyung, aku baik-baik saja. Aku akan pergi ke rumah sakit setelah ini.” Ucap Donghae parau sambil memejamkan matanya kesakitan. Perutnya terasa sakit, dan sejak tadi ia tidak bisa menghilangkan perasaan mual yang menderanya hingga ia terlihat sangat lemah sekarang. Belum lagi rasa dingin yang merayap di seluruh tubuhnya semakin memperparah penyakitnya kali ini. Padahal sore ini ia hanya memakan menu seafood yang disediakan oleh pihak katering, tapi entah kenapa ia bisa berakhir menjadi keracunan seperti ini. Mungkin karena sejak dua minggu yang lalu jadwalnya padat dan ia juga kurang istirahat, sehingga daya tubuhnya menjadi melemah. Jadi sekarang ia tidak bisa melakukan apapun hingga seseorang datang untuk mengantarkannya ke rumah sakit.

“Kami pergi dulu Hae, jika kau membutuhkan sesuatu mintalah bantuan pada staff-staff yang bertugas di luar.” Pesan Hyukjae sebelum berjalan pergi meninggalkan ruang ganti. Sekarang tinggalah Donghae sendiri dengan seluruh perasaan tidak nyaman yang bergejolak di dalam perutnya. Seluruh permukaan kulitnya mengeluarkan keringat dingin hingga kemeja yang ia gunakan terasa basah.

Brakk

Donghae berlari menuju kamar mandi dan mendorong pintunya kasar ketika perutnya mulai bergejolak dan ingin menumpahkan seluruh isinya. Namun ketika ia sudah siap di depan westafel, ia tidak bisa mengeluarkan apapun. Perutnya hanya bergejolak, tapi ia sudah tidak memiliki apapun untuk dikeluarkan dari dalam perutnya, sehingga ia hanya mampu bersandar di depan westafel sambil menatap nanar pada pantulan dirinya di cermin.

Tok tok tok

Donghae mendengar suara ruang ganti yang ia tempati diketuk. Namun karena ia tidak memiliki tenaga sedikitpun, ia hanya membiarkan sang pengetuk itu masuk atau justru pergi karena ia tak kunjung menjawab panggilan itu. Tak berapa lama ia tak mendengar lagi suara ketukan itu. Dengan napas berat ia mulai melangkah keluar dari kamar mandi dengan mata sayu yang semakin menghiasi wajahnya.

Deg

“Oppa?”

Donghae mematung di tempat, terkejut saat melihat Yoona yang juga sama-sama terkejut saat melihatnya. Wanita itu sedang menggenggam ponsel milik Yesung yang entah kenapa bisa berada di tangannya.

“Aa aaku hanya ingin meletakan ponsel milik Yesung oppa.”

Buru-buru Yoona berjalan menuju meja rias dan meletakan ponsel putih milik Yesung di sana. Ia lalu berencana untuk segera keluar dari ruang ganti milik super junior, namun melihat Donghae yang tampak pucat di atas sofa membuatnya tidak tega dan memutuskan untuk kembali dan menghampiri pria itu.

“Oppa, kau sakit.”

Yoona berdiri dengan jarak yang cukup jauh sambil memandang Donghae prihatin. Pria itu hanya mengangguk sekilas sebagai jawaban, lalu mencoba memejamkan matanya yang berat karena efek kepalanya yang pusing. Melihat Donghae yang sedang sakit dan banyaknya keringat yang membanjiri wajahnya, membuat Yoona berinisitif untuk mengambil tisu dan mengelap seluruh keringat di wajah Donghae. Tapi ketika ia telah berada di samping tubuh Donghae, ia sedikit ragu. Ia takut akan mengganggu Donghae dan membuat pria itu kembali marah seperti dulu.

“Kau masih di sini?”

Seketika Yoona terperanjat. Ia menatap kaget pada Donghae yang juga sedang menatapnya dengan mata sendunya yang sangat ia rindukan.

“Kau.. terlihat berkeringat.”

Tanpa menunggu persetujuan dari Donghae, ia langsung maju dan mengelap seluruh keringat yang membanjiri wajah Donghae. Persetan dengan tatapan Donghae yang seakan mengulitinya, ia tidak peduli! Saat ini ia hanya ingin membantu pria itu, sebagai teman. Dan ia benar-benar tidak punya maksud apapun selain menolong pria itu yang sedang sakit.

“Terimakasih. Aku bisa melakukannya sendiri.”

Yoona mengahalau tangan Donghae yang hendak mengambil tisu dari tangannya dan menyuruh pria itu tetap diam karena ia sedang berkonsentrasi dengan pekerjaanya. Ia seketika berubah menjadi Yoona yang galak dan cerewet. Semua kecanggungan dan ketakutan yang melingkupinya hilang tak berbekas dan digantikan dengan sikap cerewet yang terdengar menyebalkan untuk Donghae.

“Kau sudah pergi ke dokter?”

“Belum. Manajer hyung akan mengantarku setelah acara ini selesai.”

“Ck, seharusnya mereka segera mengantarmu ke rumah sakit. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkanmu minum.”

Yoona berjalan cepat menuju meja kayu di dekat pintu dan mengambil salah satu botol air mineral yang disediakan di sana. Ia saat ini sungguh merasa khawatir pada kondisi Donghae yang terlihat sangat mengkhawatirkan. Apalagi wajah pucat pria itu menunjukan padanya jika pria itu memang benar-benar sakit. Dulu Donghae juga pernah collapse seperti saat ini. Bahkan hingga harus di rawat di rumah sakit selama tiga hari. Dan selama itu, ia yang terus menjaga Donghae dengan seluruh sikap cerewetnya hingga Donghae sembuh. Membayangkan mereka sudah tidak lagi bersama sekarang membuat Yoona miris. Dulu ia yang akan merawat Donghae saat pria itu sakit, tapi sekarang? Ia tidak bisa lagi selulasa dulu. Statusnya yang hanya sebagai mantan kekasih membuatnya tidak akan bisa bergerak leluasa seperti dulu. Terlebih, berita mengenai hubungannya yang kandas bersama Donghae cukup menjadi bahan pembicaraan yang sensitif di kalangan artis SM Entertainment.

“Minumlah oppa, aku akan memanggil staff untuk mengantarmu ke rumah sakit. Kuharap setelah ini kau akan menjaga dirimu lebih baik lagi.”

“Hmm.. sepertinya aku collapse lagi dan juga keracunan makanan.” Jawab Donghae apa adanya. Mata sendunya memperhatikan setiap pergerakan yang dibuat oleh Yoona. Dan ia sejak tadi cukup merasa lega karena orang yang datang ke dalam ruang gantinya adalah Yoona. Wanita yang sangat ingin ia lihat keadaanya sejak ia gagal menikahi Eunso.

“Bagaimana kabarmu sekarang?”

“Aku baik. Kau bisa lihat oppa, aku dalam keadaan sehat.” Jawab Yoona santai. Wanita itu terlihat lebih ceria, dan itu membuat Donghae bersyukur karena ia tidak akan menjadi pihak yang paling disalahkan atas semua kesedihan yang melanda Yoona akhir-akhir ini.

“Baguslah. Aku senang melihatmu tersenyum lagi seperti dulu.”

“Aku juga senang karena akhirnya aku bisa melupakan semuanya dan kembali bersikap normal seperti sebelumnya.” Balas Yoona tanpa beban. Namun Donghae melihatnya justru seperti tidak alami. Dari sudut pandangnya Yoona seperti tengah mengejeknya dengan senyum cerahnya yang manis.

“Bisa kau panggilkan salah satu staff sekarang, aku sudah tidak tahan lagi.”

“Oh, apa aku semakin memperparah keadaanmu? Maafkan aku oppa, tapi aku akan pergi sekarang dan memanggil salah satu staff untuk mengantarmu ke rumah sakit. Semoga kau cepat sembuh oppa.”

Donghae menatap nanar punggung Yoona yang menghilang begitu cepat dibalik pintu. Ia pikir ia telah membuat wanita itu terluka dengan kata-katanya, atau mungkin ia telah mengingatkan wanita itu pada luka lamanya yang menganga. Entahlah, ia sekarang tidak mengerti dengan kehidupannya sendiri. Ia pikir apapun yang ia lakukan sekarang terasa salah, bahkan pada membernya pun ia sering membuat mereka gusar.

“Tuhan, apakah ini karma untukku? Hmm… aku memang pantas mendapatkannya.”

-00-

Tiga hari berlalu begitu saja. Yoona menjalani aktivitasnya seperti biasa. Setelah SM Town sukses menggelar konser besar di Singapura, pihak agensi memberikan libur pada artisnya selama tiga hari. Mengetahui hal itu beberapa diantara mereka memilih untuk tetap berada di Singapura dan menghabiskan waktu liburan mereka dengan bersenang-senang di sana. Begitu juga dengan Yoona. Wanita itu memilih untuk menghabiskan waktu liburannya dengan tetap berada di China bersama Taeyeon dan Yuri. Kedua eonninya itu ngotot ingin mengunjungi taman bermain paling terkenal di Singapura dan menghabiskan waktu liburan mereka dengan mengunjungi mal-mal terkenal di Singapura demi memuaskan nafsu belanja mereka. Sedangkan beberapa member yang lain memilih pulang ke Korea dan menghabiskan waktu liburan mereka dengan beristirahat di rumah. Namun alasan Yoona tetap tinggal di Singapura bukan karena ingin menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang bersama kedua eonninya, tapi karena ia ingin menemani Donghae. Pria itu adalah alasannya tetap berada di Singapura karena Donghae disarankan oleh dokter untuk dirawat di rumah sakit karena penyakitnya yang cukup serius. Donghae mengalami keracunan makanan karena ia ternyata alergi pada zat-zat tertentu dan juga mengalami tukak lambung, semacam penyakit pencernaan akibat mengonsumsi makanan tertentu yang seharusnya tidak boleh dikonsumsi oleh lambungnya, sehingga mau tidak mau ia harus tetap tinggal di Singapura untuk melakukan perawatan intensif di rumah sakit. Sedangkan member super junior yang lain memilih untuk pergi, bersenang-senang dengan hari libur mereka tanpa mempedulikan Donghae yang menurut mereka sudah biasa mengalami penyakit semacam itu. Hanya sesekali mereka datang untuk melihat bagaimana keadaan Donghae, itupun hanya di hari pertama setelah Donghae dirawat di rumah sakit. Selebihnya, mereka tidak pernah muncul lagi dan hanya menanyakan kabar Donghae melalui telepon.

“Kau sudah makan?” Tanya Yoona saat ia baru saja datang dari hotel tempatnya menginap. Wanita itu pagi ini datang dengan wajah gusar dan rambut acak-acakan yang entah karena apa. Dari raut wajahnya Donghae menduga, mungkin Yoona baru saja mendapatkan suatu kesialan di jalan.

“Sudah, perawat di sini memberikanku makanan yang sangat mengerikan.” Tunjuk Donghae pada mangkuk putihnya yang masih berisi separuh porsi makanan. Tapi melihat Donghae yang telah menghabiskan separuh porsi makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit sudah membuat Yoona senang. Pasalnya dua hari yang lalu Donghae sempat mogok makanan dan benar-benar tidak mau makan hingga perawat terpaksa memberikan makanan melalui cairan infus. Jadi Donghae mendapatkan asupan makanan cair seperti KA-EN MG3 yang Yoona sendiri bahkan tidak mengerti saat dokter menjelaskannya.

“Ada masalah?”

“Taeyeon eonni dan Yuri eonni membuatku harus berputar-putar Singapura hingga menyebabkan rambutku berantakan karena mereka menyewa taksi dengan jendela rusak yang tidak bisa ditutup. Awalnya aku sudah mengatakan pada mereka jika aku akan langsung ke rumah sakit, tapi mereka justru mengatakan pada supir taksi itu jika mereka ingin diantarkan berkeliling Singapura terlebihdulu.” Cerita Yoona penuh emosi. Donghae terkekeh pelan melihat bagaimana menggebu-gebunya Yoona saat bercerita. Bisa ia bayangkan bagaimana puasnya Yuri dan Taeyeon tadi karena berhasil membuat Yoona super kesal seperti saat ini.

“Besok aku sudah boleh pulang, terimakasih atas kebaikanmu selama ini.”

“Hmm, sama-sama.”

Yoona terlihat acuh tak acuh dan sibuk memainkan ponselnya tanpa menoleh kearah Donghae. Baru saja ia mendapatkan pesan dari Ji Chang Wook jika pria itu ingin bertemu. Sayangnya ia sedang berada di Singapura dan mungkin baru akan kembali ke Korea lusa. Setelah Donghae pulang besok, ia akan menikmati waktu seharinya di Singapura dengan bersenang-senang tanpa beban. Membeli semua hal yang ia inginkan di Singapura, dan membuang semua kesedihan yang tak berguna di hatinya.

“Yoona, aku belum meminta maaf padamu atas semua kesalahanku selama ini. Emm… sebenarnya aku sudah pernah meminta maaf sebelum hari pernikahanku dan Eunso, tapi alangkah baiknya jika aku meminta maaf padamu sekali lagi karena kurasa kesalahanku sangat tidak termaafkan.”

Yoona mendongak, memberikan senyum tipis pada Donghae lalu berkutat lagi dengan ponselnya. Sejujurnya ia sangat malas membahas masalah itu lagi. Baginya semua itu hanyalah masa lalu yang telah ia lupakan. Ia tidak mau mengingat kesakitan itu lagi dan ia hanya ingin menjalin hubungan baik dengan semua orang, termasuk pada Donghae.

“Lupakan saja, itu hanyalah bagian dari lika liku kehidupan kita. Aku sudah memaafkanmu dan melupakan semuanya, jadi tidak perlu dipikirkan lagi. Ngomong-ngomong bagaimana projek dramamu? Kemarin aku sempat menontonnya, dan aku sangat suka dengan aktingmu oppa, terlihat nyata.”

Donghae tersipu malu dan menggaruk tengkuknya dengan kikuk. Momen-momen santai yang terkesan tanpa beban ini mengingatkannya pada masa lalu. Ketika ia dan Yoona masih pasangan kekasih baru yang belum memiliki banyak tuntutan. Saat itu mereka berdua hanya menjalani hubungan mereka seperti air. Dan terkadang mereka berdua justru hanya terlihat sebagai sepasang teman karena gaya berpacaran mereka yang memang sangat kuno. Namun sekarang Donghae justru merindukan gaya kuno berpacaran mereka daripada gaya berpacarannya beberapa tahun terakhir kemarin yang justru menimbulkan banyak konflik. Mungkin mereka memang lebih cocok seperti itu, berpacaran namun tidak terlalu mengikat. Tapi jika diingat-ingat, awal dari segala masalah itu adalah ketika karir Yoona mulai menanjak cemerlang dan Yoona mulai mengenal berbagai macam jenis pria di luar sana. Sedangkan dirinya saat itu belum setenar sekarang. Bahkan produser-produserpun masih jarang yang meliriknya, berbeda dengan sekarang yang setiap saat selalu mendapatkan tawaran untuk membuat ost, model iklan, sampul majalah, dan tawaran bermain drama. Terkadang manusia itu kurang bersyukur. Dulu disaat semua kehidupannya sudah terasa pas, ia justru meminta diberikan harta lebih agar ia tidak kalah dengan para aktor di luar sana. Dan setelah Tuhan memberikannya, justru timbul masalah baru yang lebih rumit dan tidak bisa ia atasi. Jadi sekarang ia benar-benar belajar dari masa lalunya. Sampai kapanpun manusia itu memang tidak akan pernah puas dengan kehidupannya. Semakin diberikan kehidupan yang bagus, maka ia akan terus menuntut untuk diberikan kehidupan yang lebih bagus dari kehidupannya yang sebelumnya. Siklus itu akan terus terjadi, berulang-ulang hingga pada akhirnya Tuhan jengah dan memilih untuk menarik semua kenikmatan yang Ia berika. Untung saja setelah Tuhan mengambil Yoona dari sisinya, Tuhan sedikit berbaik hati padanya dengan membiarkan Yoona tetap berada di dekatnya.

“Oppa, menurutmu apa Ji Chang Wook oppa baik?”

“Baik. Aku melihatnya sebagai pria lembut dan juga bertanggungjawab. Ada apa?”

“Hmm, kalau begitu aku akan mempertimbangkan tawaran kencannya minggu depan. Ia mengajakku dinner di restoran yang cukup mahal di Gangnam, apa ini bukan sebuah ajakan kencan?”

Donghae menganggukan kepalanya mengerti. Sambil bersandar pada kepala ranjang, ia sibuk menikmati ekspresi wajah Yoona yang terus berubah-ubah sejak bertukar pesan dengan Ji Chang Wook. Jika memang Yoona bahagia bersama Ji Chang Wook, maka ia akan membiarkan Yoona bersama pria itu. Lagipula ia yakin, Tuhan tidak pernah salah. Jika ia dan Yoona memang berjodoh, suatu saat pasti akan ada jalan untuk kembali pada Yoona. Tuhan tidak mungkin salah memberikan jodoh padanya maupun Yoona, terbukti dengan gagalnya pernikahanya dan Eunso kemarin membuktikan jika ia dan Eunso memang tidak berjodoh. Hanya, Tuhan ingin sekali-sekali memberi pelajaran padanya agar ia tidak terlalu sombong dengan kehidupannya saat ini.

19 thoughts on “You Dont Go (Sequel Of Growing Pains)

  1. Yah yah, gantung lg thor endingnya..
    Kirain mrk bakal balikan..
    Lanjut dong, bikin happy ending yaa 😊😊😊😊:) *maksa
    Ditunggu ff2mu yg lain, hwaiting 🙂

  2. Jadi mereka blum resmi kmbali bersma lagi yah? Need sequel again 😅 Stdknya mereka saling perhatian kmbali stu sma lain..

    Sequel again.. Fighting kk

  3. Sakit tapi tak berdarah karena kau selalu menggantung hubungan Yoona dan Donghae chingu😥😥. Kuharap ada sequel lagi ya chingu. Next chingu

  4. aigo…donghae gagal nikah eh yoona yang
    mulai move on mulai akan kencan.
    gimana takdir membawa mereka aja …

  5. Eonni kenapa gantung lg
    Mau ny yoonhae bersatu lagiiii
    😢😢😢
    Kenapa mereka masih slg menyakiti perasaan sendri sich
    Jd gregetan sendiri aku ny

  6. Kembali baik tapi dengan keadaan yang sedikit aneh.. hahahaha
    di tunggu nextnya chapter nya un..

  7. Thor. Pencerahan dong,, isi ma judulnya blum nemu kecocoknnya dimna,, maaf 🙏 isi kepala lgi kusut,, 🤣 🤣

  8. Demi apaaaa ini digantungin lagi???? 😭😭😭 kelamaan dek.. Huhuhu tapi tetep sabar nunggu dah.. Dirimu juga tetep semangat ya dek..

  9. syukurlah donghae udah bisa benar-benar memaafkan yoona. yoona bilang gitu ke donghae apa cuma buat nguji donghae aja?? cemburu apa enggak? semoga aja mereka bisa bersama lagi.

  10. Gak bisa berkata-kata sama lanjutannya nih.
    Bagus banget krn kita diingetin buat gak egois dan sombong.
    Kadang kita menuntut banyak hal, padahal harusnya kita bersyukur sama apa yg udah kita punya.
    Belajar mengerti orang lain dan bersikap dewasa.
    Semoga Donghae & Yoona bisa dapet kebahagiaan mereka.

  11. Nyesek banget kenapa harus berakhir dengan yoonhae yang saling mengikhlaskan pinginnya haeppa nyesel udah nyia-nyiain yoongnie smpek segitunya
    Next ff dtunggu unn

  12. End??
    Aku kira hubungan yoonhae bakal balik lagi dan endingnya mereka go publik..
    Kayaknya butuh sequel lagi thor

  13. Krain mreka bersatu thor,tpi stdaknya hbungan mreka berakhir dengan baik smga ad sequelnya thor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.