My Immortal (Yoona Side)

Recomended Song Evanescnece – My Immortal

 

“Hahh…”

Aku mendesah kecil mengamati rintik-rintik hujan yang mulai turun dengan deras di luar jendela mobil yang kutumpangi. Seoul di bulan September memang akan lebih sering hujan sebelum rintik-rintik itu akan berubah membeku di akhir bulan Oktober. Berbicara mengenai hujan, membuatku teringat pada pria itu. Pria hujan. Kira-kira apa  yang sedang ia lakukan sekarang? Aku merindukannya. Sudah lama kami tidak saling menyapa, meskipun sebenarnya beberapa kali kami sering berpapasan. Ia terlalu dingin untuk menyapaku setelah aku mengecewakannya berkali-kali. Ya, itu memang salahku. Terlalu asik dengan peran yang kuambil dalam drama, hingga aku melebihi batas dan melupakan perasaanya. Wajar jika ia marah, dan memutuskan hubungan kami. Aku memang salah. Kupikir tidak masalah sedikit menjalin hubungan akrab dengan pria lain, tapi ternyata itu buruk. Aku merasakan sendiri bagaimana sakitnya melihat ia terlihat akrab dengan wanita lain hingga rela mengantarkan wanita itu pulang ke apartemen menggunakan mobilnya. Itu benar-benar sangat sakit. Pantas jika ia marah dan memutuskan untuk berpisah denganku, karena ia sudah tidak tahan dengan semua rasa sakit itu. Ia pasti sudah terlalu muak denganku yang tidak pernah bisa menghargai perasaanya yang tulus untukku.

“Yoong, kita sudah sampai.”

Yuri eonni menyenggol lenganku pelan dan membuatku tersadar jika kami saat ini telah tiba di depan gedung KBS. Hari ini aku dan Yuri mendapatkan pekerjaan untuk menjadi MC dalam sebuah acara tahunan untuk merayakan ulangtahun stasiun acara ini. Pasti akan ada banyak idol dan juga artis yang akan kami temui nanti, termasuk Donghae oppa dan oppa-oppa super junior yang lain. Ya Tuhan…. malam ini pasti akan menjadi malam yang sangat berat untukku. Aku tidak mau diabaikan. Bertemu dengannya sungguh membuat hatiku terluka. Sejak kami berpisah sepuluh bulan yang lalu, Donghae oppa tidak pernah lagi bersikap hangat di depanku. Ia selalu menunjukan sikap dinginnya dan memilih untuk menghindariku bila aku berada di lingkup yang sama dengannya. Bahkan saat Hyukjae oppa mengorbol denganku, ia langsung pergi begitu saja tanpa mau menunggu Hyukjae oppa untuk pergi bersamanya. Padahal saat itu mereka akan melakukan perform untuk sub unit D&E di studio SBS. Donghae oppa memang telah berbalik membenciku, berkali-kali aku mencoba meminta maaf padanya dan memohon untuk setidaknya menjalin hubungan persahabatan yang baik seperti dulu, tapi ia tidak mau. Donghae oppa tidak pernah mau berbicara denganku, bahkan menatapku pun dia enggan.

“Yoong, kenapa kau terus melamun seperti itu? Lihat, banyak kamera di depan gedung KBS. Tersenyumlah.” Perintah Yuri eonni sambil merangkul tanganku. Aku mulai mengamati sekitarku dan menemukan beberapa wartawan memang sedang membidikan kamera mereka kearah kami. Huh, haruskah aku berpura-pura lagi? Berpura-pura jika aku baik-baik saja dengan senyum lebar yang terpatri di wajahku. Menjadi publik figur memang tidak seindah yang dibayangkan. Kami dituntut untuk selalu terlihat menarik dan juga cantik. Meskipun kami sedang mengalami hal yang sulit sekalipun,  kami tetap harus menunjukan senyum lebar kami agar para fans kami tidak mencemooh kami di rumah dengan ketidakprofesionalan kami.

“Eonni, kita akan melakukan rehearsal terlebihdahulu atau makeup?”

“Sepertinya kita akan melakukan rehearsal terlebihdulu untuk mengatur mic, sound, dan urutan perform para pengisi acara. Taeyeon eonni sudah berada di dalam sejak dua puluh menit yang lalu dan ia terus menerorku dengan mengatakan apa kalian sudah datang berkali-kali hingga membuatku kesal.” Ucap Yuri eonni gusar. Aku terkekeh kecil melihat tingakah Yuri eonni yang sangat lucu ketika sedang kesal. Taeyeon eonni berhasil membuat Yuri jengkel dengan ratusan pesannya yang berisi kata-kata yang sama. Tapi wajar jika Taeyeon eonni terus menanyakan kehadiran kami, malam ini ia bernyanyi sendiri. Sejak beberapa member memutuskan untuk berkarir di bidang mereka masing-masing, hanya Taeyeon eonni yang masih aktif bernyanyi. Karena memang Taeyeon eonni memiliki passion di bidang itu, sedangkan aku tidak. Aku lebih menyukai bidang akting, hal itulah membuatku kerap bertemu aktor-aktor tampan hingga aku melupakan batasku.

“Yoong, hari ini akan ada banyak idol dari agensi kita. Ini akan benar-benar terlihat seperti smtown. Oh.. betapa aku sangat merindukan saat-saat itu.” Celoteh Yuri eonni di sebelahku. Aku tidak terlalu menanggapi celotehannya dan tetap berjalan dalam diam sambil sesekali membalas bungkukan para junior kami yang beberapa kali berpapasan dengan kami. Aku jadi merindukan masa-masa itu, masa ketika aku menjadi junior dan harus menunduk hormat pada para senior kami ketika kami akan perform di sebuah acara. Betapa waktu berlalu dengan begitu cepat. Sekarang aku justru telah menjadi senior mereka, tapi aku merasa kehidupanku masih sama. Seperti tidak ada yang berubah sedikitpun dari bertambahnya status usiaku, aku masih tetap kekanakan dan cengeng.

“Ah super junior oppa!” Teriak Yuri eonni heboh. Beberapa meter di depan kami beberapa member super junior sedang berjalan beriringan untuk masuk ke dalam ruang ganti mereka. Melihat Yuri eonni yang heboh dan berlari menghampiri mereka, membuatku gugup. Pria itu pasti ada di sana, bersama dengan Hyukjae oppa, Leeteuk oppa, dan Yesung oppa. Apa yang harus kulakukan? Aku takut bertemu dengannya.

“Oppa, lama tak berjumpa. Aku merindukan kalian.”

Aku berdiri di sebelah Yuri eonni dan mendengarkan semua celotehan Yuri eonni yang cukup keras. Beberapa staff dan juga idol pengisi acara malam ini terlihat menoleh kearah Yuri eonni setiap kali Yuri eonni mengeluarkan suara kerasnya. Namun hal itu sepertinya sama sekali tak menganggu Yuri eonni karena ia masihs saja berbicara dengan suara kerasnya yang heboh. Dan kini kehebohan Yuri eonni semakin bertambah dengan hadirnya Heechul oppa yang tiba-tiba muncul dari belakang…. Donghae oppa.

“Woahh… Yoongie, lama tak berjumpa kau semakin cantik.”

Heechul oppa merangkul bahuku dan mencolek daguku jahil yang membuatku refleks menepis tangannya menjauh.

“Oppa, jangan menggodaku.”

“Ah.. kalian akan menjadi MC malam ini? Padahal aku merindukan saat kalian menyanyikan lagu-lagu kalian.” Desah Heechul oppa kecewa.

“Taeyeon eonni akan menjadi salah satu pengisi acara hari ini. Jadi kau tidak perlu terlalu kecewa oppa.”

“Minggir hyung, aku harus bersiap-siap.”

Pria itu tanpa menoleh sedikitpun menyuruh Heechul oppa menyikingkir dari pintu masuk ruang ganti mereka. Kenapa ia belum bisa memaafkan aku. Ini sudah lebih dari sepuluh bulan sejak kami berpisah, tapi sikapnya padaku tetap sama seperti saat pertama kali ia meminta berpisah dariku. Dingin, datar, dan tak tersentuh.

“Dasar anak itu! Kau bisa lewat di belakangku.” Runtuk Heechul oppa kesal dan refleks menggeser tubuhku juga karena ia masih merangkul pundakku.

“Kalian belum berbaikan?”

Tiba-tiba Hyukjae oppa berbisik di sebelahku. Entah sejak kapan ia sudah berdiri di sana dengan wajah serius yang tercetak jelas di wajahnya.

“Seperti yang kau lihat oppa. Aku sudah berusaha, tapi ia masih saja seperti itu.” Bisikku pelan. Aku tidak mau idol lain mendengarkan pembicaraan serius kami karena tidak ada yang mengetahui hubunganku dengan Donghae oppa sejak dulu, hanya beberapa artis SM yang memang benar-benar dekat dengan kami.

“Apa kau sekarang sedang dekat dengan Yunho? Aku melihat videomu saat sedang menghadiri ulangtahun Yunho, mereka pikir kau sedang menjalin hubungan dengan Yunho.”

“Apa?”

Aku terkekeh pelan pada mereka. Bodoh jika mereka juga berpikir seperti itu karena aku dan Yunho oppa memang sudah dekat sejak dulu. Selain karena Yunho oppa berasal dari daerah yang sama dengan Donghae oppa, Yunho oppa juga sudah kuanggap seperti oppa kandungku sendiri. Ia selalu memberiku masukan mengenai hubunganku dengan Donghae oppa yang memburuk. Dan mengenai pesta ulangtahunnya kemarin, Yunho oppa mengundangku karena ia juga mengundang Donghae oppa. Sayangnya Donghae oppa tidak hadir. Mungkin ia tidak hadir karena aku juga berada di sana.

“Aku dan Yunho oppa hanya memiliki hubungan biasa, sama seperti aku dengan Heechul oppa, Yesung oppa, Leeteuk oppa, dan yang lainnya.”

“Tidak seperti kau dengan Donghae?”

Tiba-tiba Leeteuk oppa berucap dan membuatku seketika merasa sakit. Hubunganku dan Donghae oppa sangat buruk.

“Oppa sepertinya kami harus bersiap-siap untuk rehearsal sekarang. Sampai jumpa, semoga sukses.”

Aku menghindari pertanyaan Leeteuk oppa dan cepat-cepat pergi menuju stage. Yuri eonni terlihat tergesa-gesa mengikutiku di belakang setelah ia selesai berpamitan dengan semua member super junior.

“Kenapa kau menghindari pertanyaan Leeteuk oppa? Mereka hanya ingin hubunganmu dan Donghae oppa kembali membaik.”

Aku mengabaikan begitu saja pertanyaan Yuri eonni dan berpura-pura tidak mendengarnya karena suara berisik para staff yang sedang menyiapkan stage.

“Yoona.”

Yuri eonni memegang pundakku dan menekannya sedikit kuat. Mau tak mau aku menoleh kearahnya dan bertingkah seolah-olah aku tidak mendengarkan pertanyaannya sebelumnya.

“Ada apa eonni? Di sini berisik.” Ucapku sedikit berteriak.

“Kenapa kau menghindari pertanyaan dari Leeteuk oppa?”

Sial! Kenapa Yuri eonni tidak bisa memahami perasaanku? Ia jelas tahu bagaimana hubunganku dengan Donghae oppa yang sangat buruk, tapi kenapa ia harus menanyakannya lagi?

“Karena memang tidak ada yang perlu dijelaskan pada Leeteuk oppa. Bukankah kalian sudah melihat sendiri bagaimana sikap Donghae oppa ketika melihatku di sana? Ia mengabaikanku. Bertingkah seolah-olah aku adalah hantu yang tak kasat mata. Ia tidak mau bertemu denganku eonni, bahkan melihatkupun ia tidak mau. Lalu bagaimana caranya aku memperbaiki hubungan kami? Padahal selama ini aku sudah berusaha.” Jelasku penuh emosi. Suaraku tadi kurasa benar-benar sangat keras karena Yuri eonni langsung menatapku sambil membelalakan matanya terkejut. Semoga saja tidak ada yang mendengarkan pembicaraan kami mengenai hubunganku dan Donghae oppa.

“Maafkan aku Yoona, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu. Aku hanya prihatin melihatmu dan Donghae oppa menjadi seperti ini. Jika kau membutuhkan bantuanku untuk berbicara dengan Donghae oppa, aku pasti akan membantumu.”

“Terimakasih eonni. Tapi kurasa itu tidak perlu. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah memaafkanku.” Ucapku getir. Aku pun memilih untuk menghentikan topik pembicaraan kami dan segera naik ke stage untuk melakukan rehearsal. Tak ada gunanya kami tetap berdebat dengan topik yang sama, bila pada akhirnya aku hanya menemukan kebuntuan. Hubunganku dan Donghae oppa memang tidak akan pernah kembali seperti dulu.

-00-

“Terimakasih telah bekerja keras hari ini.”

Aku membungkukan sedikit tubuhku pada Yonghwa CNBLUE yang malam ini menjadi rekanku dan juga Yuri eonni dalam memandu acara ulangtahun KBS. Menyenangkan rasanya bekerjasama dengan Yonghwa karena ia adalah pria yang mudah bergaul dan menguasai situsai stage dengan baik.

“Sampai jumpa di acara yang lain Yoona, senang bekerja denganmu.”

Yonghwa menepuk pundakku pelan dan bergegas berjalan pergi. Namun sebelum ia benar-benar pergi, aku melihatnya sedikit menganggukan kepalanya pada seseorang. Merasa penasaran, akupun menoleh kebalakang dan langsung menemukan pria itu sedang tersenyum kecil pada Yonghwa. Aku mematung di tempat. Bingung. Apakah aku harus menyapanya atau berpura-pura tidak melihatnya. Tapi ia terlanjur melihatku sedang menatap kearahnya dengan perasaan gugup yang membuatku kikuk.

“Hai.”

Aku mencoba menyapanya sambil tersenyum tipis kearahnya. Namun ia hanya menatapku sekilas tanpa sedikitpun membalas sapaanku. Ia justru melangkah begitu saja melewatiku dengan wajah dinginnya. Kurasakan air mataku mulai menggenang di pelupuk mataku. Ini benar-benar menyakitkan. Orang yang dulu sangat dekat denganku, kini berbalik memusuhiku. Apa ia tidak bisa sedikit saja memaafkanku? Melupakan semua masa lalu kami yang kelam dan mencoba memperbaiki hubungan kami yang hancur?

“Donghae oppa!”

Aku mendengar seseorang memanggilnya di belakangku. Sambil menyeka sedikit air mataku yang menetes di pipiku, aku mencoba bertahan di tempat untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.

“Jihyun-ah, lama tak berjumpa. Kulihat kau semakin menawan sekarang. Apa kau menerima tawaran sutradara untuk menjadi lawan mainku?”

“Ya Tuhan, jadi itu kau oppa? Aku mau! Sungguh aku mau, setelah ini aku akan langsung memberitahu sutradara drama itu jika aku menerima tawaran mereka.”

Jadi itu Son Jihyun? Ahh… kenapa sakit sekali melihat Donghae oppa terlihat akrab dengan wanita lain. Mereka bahkan akan memiliki projek drama bersama. Itu berarti mereka akan sering bertemu dan menjalin hubungan yang lebih dekat setelah ini. Apakah aku masih memiliki hak untuk cemburu? Aku benar-benar cemburu dengan kedekatan Donghae oppa dengan Jihyun. Aku tidak suka jika milikku diusik oleh wanita lain. Sayangnya saat ini Donghae oppa bukan milikku lagi. Aku tidak berhak melarangnya dekat dengan wanita manapun, dan aku juga tidak berhak untuk cemburu padanya. Kisah cinta kami sudah benar-benar berakhir sejak sepuluh bulan yang lalu.

“Yoona, ternyata kau di sini. Aku mencarimu sejak tadi.”

Aku cepat-cepat mengusap sisa-sisa air mataku yang masih menempel di ujung mataku. Taeyeon eonni tidak boleh melihat ini atau aku akan mendapatkan masalah karena omelannya yang selalu menyuruhku untuk selalu kuat setiap kali aku mulai mengingat Donghae oppa.

“Aaa eonni, aku sedang mencari Yuri eonni.” Bohongku dengan senyum lebar yang tersungging di wajahku. Taeyeon eonnni menatapku curiga, lalu merangkul lenganku untuk berjalan ke ruang ganti yang berada di belakangku. Seketika kedua mataku langsung disuguhkan dengan pemandangan Donghae oppa yang sedang asik bercengkrama bersama Jihyun. Oh tidak, ini benar-benar pedih. Seharusnya Taeyeon eonni tidak mengajakku untuk pergi ke ruang ganti sekarang karena aku tidak mau melihat mereka terlihat akrab di depanku, sedangkan pria itu sama sekali tidak menghiraukanku sejak tadi.

“Yuri sedang menunggumu di ruang ganti, apa kau lupa? Ayo kita menyusul Yuri.”

“Aaa eonni, aku akan bertemu dengan Yunho oppa terlebihdahulu, kami berjanji untuk membicarakan sesuatu di ruang ganti TVXQ.” Bohongku sambil menghentikan langkah Taeyeon eonni yang terus menerus menarik tanganku. Aku tidak mau melihat Donghae oppa bersama Jihyun, itu akan menyakiti mataku dan juga hatiku. Bahkan saat ini kelopak mataku sudah hampir menumpahkan air mata lagi karena melihat mereka sedang tertawa bersama.

“Yunho oppa tidak ada di sana, aku sudah ke sana untuk mencarimu beberapa menit yang lalu. Ayo kita menyusul Yuri, aku sudah gerah dengan gaun berat ini.”

Tanpa bisa mengelak lagi, akhirnya aku terpaksa mengikuti langkah Taeyeon eonni, berjalan menuju ruang ganti kami, dan terpaksa harus melihat kearah Donghae oppa yang masih asik bersama Son Jihyun. Bahkan kini member four minutes yang lain sedang berkumpul mengerubungi Donghae oppa. Sebenci itukah kau dengan aku oppa hingga kau enggan melihat kearahku, tapi kau terlihat sangat bahagia saat bersama mereka.

“Ahh Donghae oppa, Jihyun-ssi, Hyuna-ssi, dan… kalian semua, selamat malam.” Sapa Taeyeon eonni pada mereka semua. Eonni pasti tidak hafal dengan nama semua member sehingga ia hanya memberikan sapaan seadanya pada mereka. Aku dengan terpaksa mengikuti apa yang Taeyeon eonni lakukan dan berpura-pura memasang wajah sumringah di depan mereka.

“Jihyun ssi selamat malam.”

“Oh Yoona-ssi, Taeyeon-ssi selamat malam. Kerja yang bagus, aku menyukai lagu barumu Taeyeon-ssi.” Ucap Jihyun berbasa-basi. Sedangkan Donghae oppa sejak tadi hanya diam. Ia tidak sedikitpun mengeluarkan suaranya untuk menanggapi sapaan Taeyeon eonni yang sejak awal ditujukan padanya.

“Jihyun-ah aku harus pergi. Hubungi saja ponselku jika kau membutuhkan sesuatu atau jika kau ingin membicarakan masalah drama itu. Aku sangat menunggu kabar baik mengenai keputusanmu untuk bergabung dalam drama Kang Ilwook.”

“Aku pasti akan menyetujuinya. Sudah lama aku ingin menjadi lawan mainmu oppa.”

“Baiklah, selamat malam semuanya. Selamat malam Taeyeon-ah.”

Ia mengabaikanku lagi. Kenapa? Kenapa sulit sekali membuatnya melihat kearahku seperti dulu. Tuhan… aku tidak bisa terus seperti ini. Aku masih mencintainya. Tapi jika ia tidak mencintaiku lagi, setidaknya aku ingin hubungan kami tidak seburuk ini. Aku ingin kami menjadi sepasang sahabat, seperti Tiffany eonni dan Nickhun oppa, mereka tetap menjalin hubungan yang baik meskipun hubungan mereka telah berakhir. Atau seperti hubunganku dan Seunggi oppa, kami tetap menjalin hubungan pertemanan yang baik meskipun saat itu kami hanya korban dari kelicikan agensi kami.

Huhh… aku tidak mau memikirkannya lagi. Ini terlalu menyakitkan untukku.

-00-

Satu minggu berlalu sejak kami bertemu di acara ulangtahun KBS, aku semakin sibuk dengan berbagai macam kegiatan. Pun dengannya, ia pasti juga sedang sibuk akhir-akhir ini karena drama terbarunya. Sejak ia mengobrol bersama Jihyun dan akan melakukan projek baru, aku rutin mengikuti setiap beritanya dan aku diam-diam juga memantau akun sosial medianya. Seperti yang kulakukan siang ini saat aku baru saja selesai melakukan syuting CF. Aku membuka akun instagram milik Donghae oppa dan mulai melihat foto-foto baru yang diunggah Donghae oppa di akun sosial media miliknya.

Deg

Apa ini? Donghae oppa memposting foto untuk promosi drama terbarunya. Mereka terlihat sangat mesra, bahkan mereka seperti pasangan sungguhan. Jadi seperti inikah perasaan Donghae oppa setiap aku melakukan skinship bersama pria lain? Ternyata cemburu itu sangat menyakitkan. Andai aku tahu bagaimana perasaan Donghae oppa dulu, aku tidak akan melebihi batas seperti itu. Tapi… sudahlah, semuanya sudah berlalu. Aku harus segera melupakannya dan melanjutkan kehidupanku seperti biasa.

“Yoong, lusa kau memiliki jadwal pemotretan di Jepang untuk sebuah majalah fashion di sana.” Beritahu manager oppa. Aku mengangguk lesu dan hanya mendengarkan setiap kata-kata yang dikeluarkan manager oppa di depanku.

“Bersama Lee Donghae.”

Lee Donghae? Donghae oppa? Apa maksud manager oppa dengan bersama Lee Donghae?

“Maksud oppa?”

“Ck, kau tidak mendengarkan penjelasan dariku? Kau akan melakukan pemotretan bersama Lee Donghae super junior karena popularitas kalian di Jepang sedang melambung tinggi. Setelah kau sukses dengan beberapa brand di Jepang dan Donghae yang sukses dengan album terbarunya bersama Lee Hyukjae, mereka ingin kalian terlihat dalam satu frame.”

“Kenapa harus bersamaku? Bukankah seharusnya mereka melakukan pemotretan bersama D&E?”

“Mereka ingin sesuatu yang baru. Sudah banyak majalah lain yang meliput D&E minggu lalu. Untuk minggu ini mereka ingin sesuatu yang baru, dan salah satunya dengan memasangkanmu dan Lee Donghae dalam satu frame.”

Hmm.. apakah aku harus besorak senang? Ini justru lebih seperti sebuah cobaan daripada sebuah kebahagiaan. Apa yang akan kulakukan nanti bersamanya? Pasti akan sangat canggung setelah berbulan-bulan kami tidak saling menyapa dan tiba-tiba harus terlihat baik-baik saja di depan kamera.

“Baiklah. Apa tema pemotretan untuk besok?”

“Musim gugur. Cinta di musim gugur yang romantis.”

Hmm… sulit. Ini akan sulit. Mungkin jika pemotretan itu dilakukan saat hubungan kami masih berjalan baik, maka semuanya akan mudah. Tapi.. kami dipaksa untuk berpose layaknya dua manusia yang sedang jatuh cinta, sedangkan di hati kami terisi berbagai macam kebencian, itu pasti akan sulit. Sebenarnya aku tidak pernah membencinya, aku masih mencintainya. Donghae oppa yang sangat membenciku hingga detik ini karena aku sering menyakiti hatinya, membuat banyak skandal dengan aktor-aktor tampan di luar sana.

“Apa aku masih memiliki jadwal lagi setelah ini oppa?”

“Sepertinya tidak ada. Kau bebas setelah ini hingga besok, jadi kau bisa bersantai di rumah. Jangan lupa lusa kau akan ke Jepang bersama Donghae pukul sembilan pagi. Jangan terlambat, karena pesawatmu akan berangkat pukul setengah sepuluh.”

Tidak ada hal yang paling indah selain mendengarkan manajer oppa yang mengatakan jika aku memiliki waktu bebas. Setelah ini aku bisa mengunjungi apartemen sunny eonni untuk bermain bersam sogeum. Kebetulan aku tidak memiliki kegiatan apapun atau rencana ingin pergi kemanapun. Mungkin jika aku masih bersama Donghae oppa, aku akan mengunjungi apartemennya dan menghabiskan waktuku berjam-jam di sana, seperti dulu. Bermain game, memasak, tidur, mengobrol, bertengkar, dan melakukan hal-hal konyol lainnya. Yah.. terkadang kami memang bertingkah seperti anak kecil karena masa muda kami yang terlalu disibukan dengan dunia hiburan. Dulu aku dan Donghae oppa sering berandai-andai, jika kami menikah nanti, kami tidak ingin anak kami mengikuti jejak kami. Kami ingin anak kami tumbuh seperti anak-anak pada umumnya dan menikmati masa muda mereka dengan penuh sukacita. Pengalaman berada di dunia hiburan bertahun-tahun membuat kami khawatir jika anak kami kelak akan mengalami depresi jika harus merasakan kejamnya dunia artis yang membesarkan nama kami. Tapi itu adalah angan-angan kami dulu. Dulu ketika kami masih dalam keadaan baik-baik saja. Masih menjadi pasangan legendaris SM Entertainment yang selalu menjadi bahan perbincangan seluruh artis SM dan juga para trainee. Rasanya malu jika mengingat masa-masa itu karena pada kenataanya kami tidak bisa mempertahankannya. Semenjak kami disibukan dengan berbagai urusan pekerjaan, kami memang jarang bertemu. Jika kami memaksakan diri untuk bertemu disaat kami sama-sama lelah, maka kami hanya akan berakhir dengan pertengkaran. Hal-hal seperti itu mulai sering terjadi sejak dua tahun yang lalu, setelah Donghae oppa sukses dengan sub unitnya dan aku sukses dengan drama-dramaku di luar negeri. Seandainya saat ini Tuhan memberikanku kesempatan, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin  menjadi Im Yoona yang baru. Yang tidak egois dan bisa memahami perasaan orang lain. Terkadang aku sendiri merasa jika aku ini egois. Rumor yang mengatakan jika aku adalah anak kesayangan SM Entertainment tidak sepenuhnya salah. Sejak debut aku selalu mendapatkan perhatian lebih dari agensi. Selain itu aku juga memiliki lebih banyak tawaran pekerjaan sejak debut. Hal itu membuatku merasa di atas segalanya. Aku merasa lebih baik dari semua memberku yang lain hingga akhirnya aku menjadi sombong. Karena itulah terkadang aku sulit untuk memahami orang lain. Aku hanya ingin orang lain memahamiku, sedangkan aku tidak pernah peduli pada orang lain. Sama halnya dengan Donghae oppa. Dulu aku selalu memaksanya untuk memahamiku, mencintaiku, dan hanya melihat kearahku. Tapi aku tidak pernah memahaminya. Aku bebas melakukan apapun sesukaku tanpa memikirkan perasaanya hingga pada akhirnya ia benar-benar marah dan hidupku seperti dijungkirbalikan. Aku kehilangan pria yang benar-benar tulus mencintaiku. Pria yang telah mencurahkan seluruh cintanya hanya untukku hingga ia memasukan seluruh perasaanya ke dalam baik-bait lagu yang indah. Aku masih ingat bagaimana romantisnya Donghae oppa ketika menciptakan lagu berjudul “Y” yang merupakan inisial namaku. Setiap lirik dari lagu itu adalah curahan hati Donghae oppa ketika kami sedang bertengkar. Ia dengan penuh emosi menuliskan lirik lagu itu dan rekaman lagunya untuk pertama kali ia kirimkan kepadaku. Sebelum super junior merilis lagu itu, Donghae oppa terlebihdulu mengirimkannya padaku untuk kudengarkan. Melalui lagu itu ia ingin aku tahu jika ia sangat menyesal dengan semua kebodohannya yang telah membuatku marah dan juga menangis. Padahal menurutku semua itu bukan semata-mata kesalahannya, aku juga salah dalam hal itu. Tapi hanya Donghae oppa yang merasa bersalah dalam hal itu. Sedangkan aku justru bersikap seperti satu-satunya pihak yang tersakiti hingga pada akhirnya aku tidak meminta maaf padanya. Aku hanya menjadi pihak yang memberinya maaf tanpa menyadari jika aku juga salah dalam hal itu.

“Halo?”

Aku meneguk ludahku gugup. Aku memutuskan untuk menghubunginya siang ini dan membatalkan rencanaku untuk pergi ke apartemen Sunny eonni. Aku terlalu merindukannya dan aku ingin tahu bagaimana pendapatnya tentang pemotretan kami besok lusa di Jepang.

“Halo, ini aku Yoona.” Ucapku dengan suara kecil. Tiba-tiba saja aku mendengar suara desahan berat yang keluar dari bibirnya. Apa aku telah mengganggu waktunya hingga ia bereaksi semalas itu ketika mendapatkan telepon dariku?

“Ada apa? Aku sedang sibuk hari ini.”

“Ooh.. Maaf, aku hanya ingin bertanya tentang pemotretan di Jepang lusa. Tapi jika kau sedang sibuk, aku akan mematikan sambungan teleponnya sekarang. Maaf karena telah mengganggumu.”

Aku bersiap untuk menekan tombol merah pada ponselku sebelum suara bassnya menghentikan gerakan ibu jariku di udara dan membuatku membatalkan niatku untuk menekan tombol merah itu.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Hah? Aaa.. Apa kau menyetujuinya?”

“Tentu saja. Aku adalah seorang artis profesional, masalah pribadi tidak akan mempengaruhiku sedikitpun. Jika kau sudah tidak memiliki pertanyaan lagi, aku akan menutup teleponnya sekarang.”

Oppa, makan siangnya sudah siap.

            Tunggulah di meja makan Eunso-ah, aku akan menyusulmu sebentar lagi.

 

Jadi itukah alasannya ingin segera mengakhiri percakapan kami? Ia sedang bersama Eunso, pasangannya dalam reality show We Got Married. Rasanya sakit melihat Donghae oppa lagi-lagi terlihat dekat dengan wanita lain. Air mataku perlahan-lahan mulai merembes dari dalam pelupuk mataku. Aku tidak bisa menahan rasa sakit dan juga cemburu ketika mengetahui jika Donghae oppa memang telah melupakanku. Aku ini memang bodoh karena masih mengharapkannya untuk kembali bersamaku. Bodoh kau Im Yoona! Bodoh!

“Halo? Aku akan menutup teleponmu sekarang.”

“Hiks!”

Aku membungkam bibirku rapat-rapat ketika tangisanku terdengar cukup keras di telepon. Aku tidak boleh terlihat lemah di depannya. Aku harus terlihat baik-baik saja, meskipun hatiku sedang hancur berkeping-keping sekarang.

“Kau sedang bersama Eunso? Mmaaf karena telah mengganggu waktumu. Sampai jumpa.”

Aku langsung menekan tombol merah dan menjejalkan ponsel putihku begitu saja kedalam tas. Aku sudah tidak bisa lagi menyembunyikan isak tangisku. Air mataku tumpah seketika setelah percakapan singkatku dan Donghae oppa yang menyakitkan. Sungguh aku tidak menyangka jika rasanya benar-benar seperti ditikam ribuan belati, sangat sakit! Kenapa ia bisa begitu mudahnya melupakanku, sedangkan aku tidak? KENAPA? Aku tidak ingin terus merasakan kesakitan ini. Meskipun aku tahu jika ini adalah salah satu bentuk hukuman untukku yang selama ini telah menyia-nyiakan pria yang sangat mencintaiku. Aku benar-benar menyerah dengan hukuman ini Tuhan. Aku tidak bisa, tidak akan pernah bisa.

-00-

Tik tok tik tok tik tok

Detik jam rasanya berbunyi cukup nyaring diantara keheningan yang kami ciptakan. Suara berisik baling-baling pesawat atau suara pramugari dari pengeras suara nyatanya sama sekali tidak bisa memecahkan kebekuan yang terjadi diantara kami. Pria yang duduk tepat di sebelahku terlihat sangat beku dengan wajah keras yang membingkai wajahnya. Entah kemana perginya wajah hangat penuh cinta yang dulu pernah ia tunjukan padaku. Yang jelas semua itu telah hilang. Hilang tanpa ada sedikitpun yang tersisa untukku.

“Selamat pagi, anda ingin memesan sesuatu?”

“Kopi tanpa gula satu.”

Aku tertegun mendengarkan pesanannya. Sejak kapan Donghae oppa menyukai kopi pahit? Sejak dulu ia selalu menyukai kopi dengan creamer kental yang manis. Ia selalu marah setiap kali aku membuatkan kopi tanpa creamer dan gula yang banyak di dalam kopinya. Tapi sekarang, ia justru meminum kopi pahit. Ada apa denganmu oppa? Kenapa sepuluh bulan berpisah denganmu membuatku sama sekali tidak mengenalmu?

“Anda nona, apa yang ingin anda pesan?” Tanya pramugari itu beralih padaku.

“Jus jeruk dan roti.”

Pramugari itu mengangguk mengerti dan segera pergi untuk mengambilkan pesanan kami. Dan setelah pramugari itu berlalu, suasana diantara kami kembali hening. Donghae oppa terlihat enggan untuk melihat kearah lain selain menatap kearah depan yang hanya menampilkan pemandangan membosankan kabin pesawat. Apa ia tidak ingin sedikit saja mengobrol denganku?

“Oppa, boleh aku bertanya sesuatu padamu?”

“Apa?”

Oh, entah kenapa aku menjadi ragu untuk mengatakannya. Nada suara Donghae oppa terlalu dingin. Rasanya aku ingin menangis sekarang karena aku tidak terbiasa dengan ini semua. Aku merindukan Donghae oppa yang hangat dan penuh senyuman.

“Bagaimana kehidupan oppa sekarang?”

“Baik, seperti biasa.”

Apakah itu sebuah sindiran untukku? Ia seperti tidak terpengaruh dengan hubungan kami yang kandas. Padahal aku sangat terguncang. Benar-benar terguncang hingga aku tidak bisa menjalani hari-hariku dengan baik seperti dulu. Rasanya ada yang hilang dalam diriku setelah Donghae oppa tidak lagi menjadi bagian dari hidupku.

“Oppa sedang menjalin hubungan dengan Eunso?”

Sungguh aku tidak bisa membiarkan bibirku untuk tidak menanyakan hal itu. Sejak aku menghubungi Donghae oppa dua hari yang lalu, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku terlalu memikirkan hubungan Donghae oppa dan juga Eunso yang seharusnya bukan menjadi urusanku. Tapi.. aku terlalu penasaran dengan mereka, dan terlalu tidak rela jika Donghae oppa harus jatuh ke pelukan wanita lain. Hanya aku yang boleh memiliki Donghae oppa. Hanya aku!

“Apakah itu penting untuk kau tanyakan? Kau seharusnya tahu batas-batasmu Im Yoona-ssi. Itu adalah urusanku.”

Hatiku benar-benar tertohok dengan kalimat tegas bernada sinis itu. Kenapa ia menghukumku dengan cara seperti ini? Tidak bisakah ia hanya bersikap biasa dan melupakan semuanya? Karena akupun juga tersakiti dengan semua ini. Aku sakit melihat sikap dinginnya. Aku sakit melihatnya bersama wanita lain. Dan aku sakit saat ia menganggapku sebagai wanita asing dengan menggunakan embel-embel ssi di akhir namaku.

“Kau berubah oppa, sangat berubah! Aku tahu kau kecewa padaku, aku tahu kau marah padaku. Tapi tidak bisakah kau tetap bersikap biasa. Berbaikan denganku dan saling memaafkan satu sama lain? Sikapmu yang seperti ini sama sekali tidak menunjukan sikap seorang pria dewasa berumur tiga puluh tiga tahun. Apa kau pikir aku tidak kecewa, tidak sedih, dan tidak marah dengan semua ini? Aku juga merasakan hal yang sama denganmu oppa. Jadi jangan bersikap seolah-olah kau adalah pihak yang paling menderita dalam dalam hal ini. Meskipun selama ini aku sering mengecewakanmu. Aku terlalu menikmati peranku dalam drama hingga aku melebihi batas. Aku terlalu dekat dengan Ji Chang Wook oppa, aku terlalu dekat dengan Hong Joghyun oppa hingga membuat banyak netter mencurigaiku sebagai perusak hubungan Hong Jonghyun dengan kekasihnya. Selain itu aku juga pernah menjalin hubungan palsu dengan Lee Seunggi tanpa sepengetahuanmu. Dan masih banyak lagi hal-hal mengecewakan yang kulakukan padamu di masa lalu, tapi aku sudah berusaha meminta maaf padamu oppa. Aku minta maaf atas semua kesalahanku dan sikap egoisku selama ini. Apa kau tidak bisa memaafkanku? Melupakan semua masa lalu pahit kita dan hanya menatap masa depan dengan perasaan ringan?”

“Kau sudah selesai? Hhaah… kau tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya Im Yoona-ssi. Kesedihan, kekecewaan, dan rasa dikhianati yang kau berikan padaku lebih parah daripada apa yang kau bayangkan. Aku salah jika berpikir kau akan segera menyadari kesalahanmu, tapi nyatanya kau tetap sama. Egois!”

Hatiku hancur. Benar-benar hancur hingga membuat dadaku terasa sesak. Kalimat yang ia ucapkan padaku benar-benar membuatku tidak bisa menahan setiap air mata yang sejak tadi selalu kutahan agar tidak tumpah dan membuatku terlihat menyedihkan di depannya. Nyatanya air mata ini tetap saja tumpah dengan derasnya hingga pramugari yang mengantarkan makanan pesanan kami menatapku bingung dan langsung mengangsurkan sekotak tisu kearahku.

“Nona, apa kau baik-baik saja?”

Aku mengusap air mataku dengan tisu dan mengangguk kecil untuk menjawab kekhawatirannya.

“Aku baik-baik saja, hanya merindukan orangtuaku.” Bohongku dengan alasan konyol. Setelah memastikan jika aku baik-baik saja, pramugari itu segera pergi sambil memberikan kata-kata penyemangat yang membuatku sedikit terhibur.

Sementara itu tersangka utama yang menyebabkan aku menangis dengan sangat menyedihkan di sini hanya memandang lurus ke depan sambil sesekali menyeruput kopi hitamnya tanpa sedikitpun peduli padaku. Ia dengan kejamnya membiarkanku berkubang sendiri di dalam kesedihan yang ia ciptakan. Adilkah ia memberikan hukuman seperti ini padaku? Adilkah Lee Donghae? Kau benar-benar pria paling kejam yang pernah kukenal Lee Donghae! Kau menyakitiku!

-00-

Ckreek ckrek ckrek

Aku dengan penuh profesional melakukan setiap instruksi yang diperintahkan oleh sang fotografer padaku, lebih tepatnya pada kami. Siang ini kami mengambil gambar di area Shibuya yang sangat ramai oleh penduduk Jepang. Meskipun musim gugur sedang berlangsung dan hawa cukup dingin di sini, tapi masih banyak pejalan kaki yang berdesak-desakan di area Shibuya. Hal itulah yang membuat pihak sponsor tertarik untuk melakukan pemotretan di lokasi ini karena latar belakang pengguna jalan di Shibuya akan semakin mendramatisir kisah cinta kami dalam tema pemotretan kali ini.

“Tolong rapatkan tubuh kalian sedikit dengan posisi kening yang saling menempel.”

Tanpa sadar aku menghembuskan napasku kasar dan mulai menghadap kearahnya dengan posisi kedua tanganku yang melingkar pada lehernya dan kedua mataku yang terkunci di kedua mata sendunya yang juga sedang menatapku tajam. Dari kedua matanya, aku bisa melihat banyak emosi yang terpancar di sana. Ia pasti semakin marah padaku sejak insiden di pesawat kemarin, dimana aku dengan kasarnya menumpahkan seluruh kemarahanku padanya.

“Im Yoona-ssi bisakah kau menghadap kearah kamera.”

Aku segera menolehkan wajahku kearah kamera dan meninggalkan Donghae oppa tetap pada posisinya yang masih menempelkan keningnya di pelipisku. Ini adalah sesi pemotretan yang sangat intim dengan tokoh utamanya yang tidak memiliki kemistry sama sekali. Apakah fotografer itu tahu jika aura kami sangat bertolak belakang hari ini?

“Baiklah, sesi pemotretan hari ini selesai. Kita lanjutkan lagi beberapa pemotretan besok pagi di area Gunung Fuji saat matahari terbit. Terimakasih atas kerjasama kalian hari ini.”

Aku membungkukan tubuhku hormat dan berjabat tangan dengan sang fotografer yang hari ini sudah begitu hebat mengambil gambar kami. Setelah itu aku segera berjalan menuju van untuk mengambil baju-bajuku. Aku perlu mengganti semua pernak-pernik yang menempel di tubuhku dengan pakaianku yang nyaman. Namun selama aku berada di dalam van, tak kulihat sedikitpun Donghae oppa di sana. Ia langsung lenyap begitu saja tepat ketika fotografer berusia akhir empat puluh itu berpamitan padaku. Ia pasti menghindariku lagi.

“Yoong, kau sudah mengganti pakaianmu?”

“Belum. Apa aku harus berganti pakaian di sini?” Tanyaku pada manager oppa yang sedang melongok dari celah pintu van yang sedikit terbuka.

“Tentu saja tidak. Masuklah ke hotel itu, aku sudah memesan satu kamar untuk berganti pakaian. Satu jam lagi pihak dari majalah fashion itu akan mewawancaraimu dan Donghae secara terpisah.”

Aku mengangguk mengerti dan segera melangkah keluar dari dalam van. Kupikir aku akan benar-benar bebas setelah ini, ternyata tidak!

Ketika memasuki loby hotel yang cukup sepi, aku melihat Donghae oppa sedang berbicara melalui telepon. Dari raut wajahnya ia sepertinya sedang berbicara dengan seseorang yang penting karena wajahnya terlihat sangat serius dan beberapa kali ia juga mengerutkan keningnya dengan raut wajah mengeras. Kira-kira siapa yang sedang berbicara dengan Donghae oppa?

Sambil berpura-pura lewat di belakangnya, aku berusaha mencuri dengar pembicaraanya dengan sang penelpon.

“Tenanglah Eunso-ah, aku akan segera pulang tiga hari lagi. Jangan panik, tetaplah bersikap santai.”

Eunso? Jadi Eunso yang sedang berbicara dengan Donghae oppa? Tapi kenapa raut wajah Donghae oppa terlihat mengeras seperti itu? Apa sesuatu sedang terjadi pada mereka?

“Apa yang kau lakukan di sana?”

Aku terperanjat kaget ketika tiba-tiba ia menoleh ke belakang dan memergokiku sedang menguping pembicaraanya. Dengan wajah malu aku segera berlalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya. Ia terlihat sangat mengerikan, dan aku sangat takut melihat wajahnya yang sedang marah itu.

-00-

Pukul setengah tiga sore seluruh pekerjaanku untuk hari ini telah selesai. Manager oppa memberikanku waktu bebas untuk melakukan apapun sesukaku. Hmm.. ini sangat menyenangkan. Tapi hal ini akan lebih menyenangkan jika aku bisa mengajak Donghae oppa berjalan-jalan. Seperti dulu saat kami sedang melakukan tour smtown di beberapa kota di Jepang. Aku merindukan saat-saat itu.

“Oppa!”

Tiba-tiba saja pria itu melintas di depanku dengan kaus santai dan ripped jeans biru yang terlihat sempurna untuk menemani waktu santainya sore ini. Ketika melihatnya menghentikan langkahnya, aku cepat-cepat menghampirinya dan tersenyum manis kearahnya.

“Kau mau pergi ke suatu tempat? Aku ingin minta maaf untuk kejadian kemarin saat di pesawat.”

“Lupakan saja. Itu bukan suatu hal yang harus diperpanjang.” Jawabnya datar. Aku mencoba bersabar dengan sikapnya dan terlihat baik-baik saja, meskipun hatiku sakit.

“Jadi kau mau pergi kemana?”

“Mencari makanan dan suasana baru.”

“Boleh aku ikut?”

Aku tidak memiliki kenalan di Jepang yang bisa menemaniku berjalan-jalan. Akan sangat aneh jika aku pergi sendiri, sedangkan manager oppa sore ini memilih untuk tidur di hotel karena semalam ia terlalu sibuk mengurus semua pekerjaanku di Korea setelah aku kembali dari Jepang.

“Terserah.”

Ia berlalu begitu saja setelah mengucapkan satu kalimat bernada dingin yang membuatku kembali harus menghela napas. Kenapa ia tidak bisa sedikit saja membukakan pintu maaf untukku? Apakah kesalahanku terlalu fatal untuknya? Hmm.. tentu saja. Bodoh jika aku masih menanyakannya karena Donghae oppa tidak mungkin akan sebenci ini padaku jika aku tidak melukainya terlalu dalam.

-00-

Sepanjang perjalanan menuju kedai ramen yang cukup terkenal di Jepang, kami hanya diam satu sama lain dengan kesibukan kami masing-masing. Kulihat sejak tadi Donghae oppa terus menatap layar ponselnya sambil membalas setiap pesan yang entah datang dari siapa. Sedangkan aku sejak tadi terus mengawasi gerak geriknya tanpa melakukan apapun. Sore ini aku sengaja mematikan ponselku karena aku sedang malas menerima pesan atau panggilan dari siapapun. Aku hanya ingin menikmati setiap momentku bersama Donghae oppa, tapi sayangnya ia justru terlalu sibuk dengan ponselnya.

“Halo. Tenanglah Eunso-ah, aku akan segera pulang ke Korea. Apa kau sudah ke dokter?”

Lagi-lagi Eunso menghubungi Donghae oppa. Kenapa wanita itu terus menerus mengganggu Donghae oppa? Dan kenapa Donghae oppa menyuruhnya untuk pergi ke dokter? Aku sungguh dibuat penasaran dengan hubungan mereka. Setelah kami berpisah, Donghae oppa mulai membuka diri pada wanita manapun. Ia tidak lagi seperti dulu yang selalu menjaga jarak dengan wanita lain untuk menjaga perasaanku. Sekarang ia adalah pria bebas yang berhak menentukan kehidupannya sendiri.

“Jangan lupa untuk makan dan minum vitamin, ia pasti membutuhkannya.” Ucap Donghae oppa melalui teleponnya. Aku mengernyitkan dahiku sambil memikirkan seseorang yang dimaksud oleh Donghae oppa. Jelas-jelas Donghae oppa menyebutkan “ia” dalam pembicaraan mereka, itu berarti mereka sedang membicarakan orang lain. Tapi siapa? Ya Tuhan, aku benar-benar cemburu. Aku belum bisa merelakan Donghae oppa bersama wanita lain. Ini terlalu sulit dan menyakitkan untukku.

“Kau… sedang membicarakan siapa?” Tanyaku pelan setelah ia memutuskan sambungan teleponnya dengan Eunso. Ia menoleh sekilas padaku, lalu kembali menatap ke depan tanpa menjawab pertanyaanku sedikitpun. Melihatnya yang enggan menjawab pertanyaanku, membuatku menyerah dan tidak lagi mencoba untuk mengorek informasi  darinya. Percuma saja menayakan hal itu padanya jika ia justru membalasku dengan tatapan dinginnya yang menusuk.

“Kuharap kau tidak mencampuri urusanku Yoona-ssi, karena kita sudah berakhir. Kau hanya rekan kerjaku sekarang.”

Ia mengucapkan kalimat itu dalam satu kali tarikan napas dan pandangan lurus ke depan tanpa melihat kerahku sedikitpun yang sedang terluka di sampingnya. Perasaan sesak yang sejak tadi kutahan, kini semakin membuncah di hatiku dan membuatku seperti tidak bisa bernafas dengan benar. Sedetik kemudian aku merasakan cairan hangat itu mulai berkumpul di pelupuk mataku. Aku ingin menangis lagi. Sayangnya aku tidak mau terlihat lemah seperti kemarin, aku tidak mau Donghae oppa menganggapku lemah dan cengeng setelah perpisahan kami. Meskipun pada kenyataanya memang begitu.

“Selamat datang.”

Ketika tiba di kedai ramen, aku tersenyum getir pada pelayan kedai yang menyambut kami dengan penuh senyuman. Pelayan itu terlihat begitu senang ketika kami datang dan langsung memberikan tempat terbaik di kedainya karena sepertinya ia mengenal kami sebagai artis dari Korea.

“Buatkan saja makanan yang sama seperti miliknya.” Tunjukku pada menu makanan yang dipesan Donghae oppa. Aku sudah tidak berselera makan lagi setelah Donghae oppa lagi-lagi menyakiti hatiku. Justru sebenarnya aku ingin kembali ke hotel dan bergelung di atas bantal untuk menangis sekencang-kencangnya di sana. Tapi itu tidak mungkin kulakukan sekarang karena aku tidak mau terlihat kembali rapuh di hadapan Donghae oppa.

Sembari menunggu pesanan kami datang, aku memutuskan untuk menghidupkan ponselku, aku ingin melihat apakah aku memiliki pesan-pesan baru yang penting dan juga panggilan penting dari rekan-rekanku di Korea.

Drtt drtt

Baru beberapa menit ponselku menyala, tiba-tiba benda persegi itu sudah bergetar dengan nama Yunho oppa yang terpampang di layarnya. Tanpa menunggu waktu lama, aku segera menekan tombol hijau dan menerima panggilan teleponnya. Tumben sekali ia menghubungiku, ada apa?

“Ya Yunho oppa?”

“Yoong, kau dimana?”

“Aku di Jepang, ada pekerjaan di sini. Tumben oppa menghubungiku?” Tanyaku heran. Hubungan kami selama ini memang sangat dekat, ia sudah kuanggap seperti kakak kandungku sendiri. Dan terkadang hubungan kami yang sangat dekat itu membuat beberapa orang salah paham. Termasuk saat kami pergi bersama-sama ke pesta haloween yang didakan oleh perusahaan dan saat aku menghadiri acara ulang tahunnya. Saat menghadiri pesta haloween itu, aku terpaksa berangkat bersama Yunho oppa karena kami ternyata berada di salon yang sama dan Donghae oppa tidak bisa menjemputku karena harus menghadiri acara pernikahan Song Hye Kyo eonni. Tapi lagi-lagi media membesar-besarkan berita itu dengan menyebutkan jika aku memiliki hubungan khusus dengan Yunho oppa, padahal itu sama sekali tidak benar.

“Oh syukurlah.”

“Kenapa oppa berkata seperti itu?”

Aku heran. Yunho oppa terlihat lega ketika mengetahuiku sedang berada di Jepang.

“Tidak, bukan apa-apa. Kau hanya bersama managermu?”

“Tidak, aku bersama Donghae oppa juga. Kami menjadi pasangan untuk pemotretan bertema musim gugur di sini.”

Kulihat Donghae oppa melirik kearahku ketika aku menyebut namanya. Namun sedetik kemudian ia kembali fokus pada layar ponselnya.

“Bisa aku berbicara dengannya?” Tanya Yunho oppa serius. Tanpa menanyakan apapun, aku langsung mengangsurkan ponselku pada Donghae oppa yang sedang menatapku datar.

“Yunho oppa ingin berbicara denganmu.”

Tanpa mengatakan apapun, ia langsung mengambil ponselku dan pergi begitu saja dari meja kami. Ia berjalan keluar dari kedai dan berbicara serius dengan Yunho oppa. Sebenarnya ada apa dengan mereka? Aku sungguh dibuat penasaran dengan sikap mereka yang aneh. Apa ini ada hubungannya dengan sesuatu hal yang disembunyikan Yunho oppa?

Sepuluh menit kemudian Donghae oppa kembali dengan wajah mengeras menahan kesal sambil meletakan ponselku sedikit kasar di atas meja.

“Ada apa oppa?”

“Pangeranmu, Jung Yunho! Ia benar-benar brengsek!”

Aku terkejut mendengar Donghae oppa mengumpati Yunho oppa sekasar itu. Dan apa katanya? Pangeranku? Yang benar saja. Hubungan kami hanya sebatas kakak dan adik, ia tahu hal itu dengan jelas. Lalu apa masalahnya hingga ia tiba-tiba berkata seperti itu di depanku?

“Aku tidak tahu apa masalahmu oppa, tapi kenapa kau berubah menjadi sekasar itu. Bahkan pada Yunho oppa yang jelas-jelas sudah kau anggap seperti saudara kandungmu sendiri.” Ucapku penuh peringatan. Semakin lama aku semakin jengah dengan sikapnya. Apa ia pikir aku bisa sesabar itu dengan sikapnya yang sejak berminggu-minggu yang lalu terus terlihat semena-mena bila di depanku? Tidak! Aku jelas tidak bisa sesabar itu. Aku memiliki perasaan dan ia sudah membuatku berada di batas kesabaranku.

“Yunho? Huh, dia bukan lagi saudara bagiku. Tidak ada saudara yang lebih memilih untuk membela wanita lain yang jelas-jelas telah menyakitiku. Dan sekarang ia justru mencampuri urusanku demi wanita itu. Tidak perlu kujelaskan siapa wanita itu bukan? Aku tahu kau tidak bodoh untuk mengetahuinya.”

“Jadi kau sedang menyalahkanku sekarang? Kau menuduhku memiliki hubungan dengan Yunho oppa seperti yang lainnya? Kau bodoh oppa jika ikut terpengaruh dengan skandal itu. Aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Yunho oppa! Ia sudah kuanggap seperti oppa  kandungku sendiri.”

“Huh, oppa kandung yang akan berubah menjadi kekasih? Kalian tidak memiliki hubungan darah apapun Yoona-ssi, jadi tidak menutup kemungkinan jika Yunho akan menggantikan posisiku di hatimu. Terlebih kau memiliki bakat yang luar biasa untuk menarik pria-pria tampan disekitarmu. Membuat Yunho bersimpati denganmu dan rela membelamu mati-matian sudah cukup membuktikan padaku jika kau telah menggunakan kepolosanmu untuk mempengaruhi Yunho. Oh, dan sepertinya kau juga baru saja menjadi pihak ke tiga dalam hubungan Hong Jonghyun, kekasihmu dalam drama. Aku benar bukan?”

Plakk

Aku sudah tidak kuat lagi mendengarkan setiap kata-katanya. Donghae oppa sudah benar-benar keterlaluan. Ia secara tidak langsung telah menghinaku sebagai wanita murahan yang gemar menggoda pria-pria di luar sana. Dimana kewarasannya hingga ia mengira jika aku sepicik itu?

“Kau tidak berhak menghinaku seperti itu oppa! Aku tidak masalah jika kau memang tidak bisa memaafkanku. Tapi jangan pernah menganggapku sebagai wanita murahan karena aku tidak seperti itu. Bahkan selama ini aku sudah berusaha untuk meminta maaf padamu, aku mencoba menjaga jarak dengan pria-pria di luar sana karena aku masih mencintaimu oppa. Perasaanku hanya untukmu! Tapi kenapa kau justru berpikiran picik seperti itu, menuduhku sebagai wanita murahan yang gemar menggoda banyak pria di luar sana. Aku kecewa padamu! Seharusnya aku tidak perlu mempertahankan perasaan bodoh ini untukmu karena kau sama sekali tak pantas untuk mendapatkannya.”

Aku segera berdiri dan hendak berlalu pergi dari hadapannya, tapi ia tiba-tiba mencekal lenganku dan memberikan tatapan marah padaku. Persetan dengan perasaanya, ia berhak menerima hal itu.

“Kau, lupakan saja perasaan bodoh itu. Kita tidak akan pernah kembali seperti dulu karena aku muak melihatmu.”

Setetes air mata lolos begitu saja dari mataku dan diikuti dengan buliran selanjutnya yang semakin deras membanjiri wajahku. Dengan kasar Donghae oppa mendorong lenganku dan berlalu pergi meninggalkanku sendiri yang terlihat hancur berkeping-keping dan juga menyedihkan. Susah payah selama ini aku mengemis maaf padanya, dan seperti itu balasannya. Ia muak melihatku! Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan untuk menghilangkan rasa sesak ini? Ini benar-benar lebih menyakitkan dari apapun.

Drt drt drt

“Ha halo?”

“Yoona, ada apa denganmu? Kenapa kau menangis?”

“Aak aku… hiks.. Aku hancur Yunho oppa.” Isakku parau pada Yunho oppa yang tiba-tiba menghubungiku. Mungkin ini masih ada hubungannya dengan masalah Donghae oppa tadi. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi hal itu memicu pertengkaran diantara mereka hingga menyeret namaku ke dalamanya. Sebenarnya ada apa dengan mereka?

“Pria sialan itu, apa yang ia lakukan padamu?” Teriak Yunho oppa marah. Aku refleks menjauhkan ponselku sambil terus terisak sedih. Kenapa semuanya justru semakin memburuk? Aku tidak pernah mengharapkan hal ini terjadi.

“Oppa… sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa Donghae oppa sangat marah?”

“Si bodoh itu terlalu cemburu padaku Yoong. Donghae masih mencintaimu, tapi ia terlalu bodoh dan tolol untuk memperbaiki semuanya. Ia sudah terlanjur membuat kesalahan fatal bersama Eunso.”

“Maksud oppa?” Tanyaku tak mengerti. Semoga saja ini bukan sesuatu yang buruk. Aku belum siap kehilangan Donghae oppa. Apalagi melihat Donghae oppa bersanding dengan wanita lain.

“Eunso hamil.”

Apa? Tidak tidak, itu pasti tidak benar! Donghae oppa tidak mungkin melakukan sesuatu hingga sejauh itu. Bahkan ia tidak pernah mau menyentuhku lebih dari ciuman. Ia selalu menghormati wanita, ia tidak mungkin melakukan hal bejat itu pada Eunso. Tuhan… kumohon jangan membuatku semakin hancur dengan berita ini.

“Donghae oppa tidak mungkin melakukannya kan oppa?”

“Aku tidak tahu Yoong. Aku menghubunginya beberapa menit yang lalu juga karena ingin menanyakan hal itu padanya. Tapi ia justru marah, ia memaki-makiku ketika aku menyadarkannya jika kau masih mencintainya. Donghae sekarang telah berubah Yoong, aku benar-benar sudah tidak mengenalnya lagi.”

Tiba-tiba saja kepalaku menjadi pening. Berbagai bayangan buruk tentang Eunso dan Donghae oppa mulai menghantuiku. Sepertinya aku memang harus menyiapkan mentalku untuk kemungkinan terburuk selanjutnya. Jika Eunso hamil, maka secepatnya mereka pasti akan menikah. Dan aku akan benar-benar kehilangan Donghae oppa untuk selamanya.

“Yoona.. kau masih di sana?”

“Ya oppa, aku masih di sini.”

“Tenanglah, semua itu belum tentu benar. Kita tunggu saja konfirmasi selanjutnya. Donghae belum bisa memberikan kejelasan apapun, karena ia masih berada di Jepang. Berita hari ini hanya dikeluarkan secara sepihak oleh Eunso, ia mengatakan jika ia akan menikah dengan Donghae. Sedangkan berita mengenai kehamilan itu diketahui dari seorang wartawan yang kebetulan mengikuti Eunso secara diam-diam ke rumah sakit.”

Hhhahh… rasanya aku sudah tidak bisa menjabarkan bagaimana perasaanku saat ini. Sedih, marah, hancur, semuanya bercampur menjadi satu hingga aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan setelah ini. Mungkin mati lebih baik daripada harus hidup dengan perasaan hancur seperti ini.

“Baiklah oppa, aku akan menutup teleponnya sekarang. Sampai jumpa.”

Aku langsung mematikan ponselku dan melemparkannya asal ke dalam tas. Tak kupedulikan tatapan aneh pelayan wanita yang sedang berdiri di samping mejaku untuk mengantarkan makanan pesananku dan Donghae oppa. Aku hanya memberikan kode pada pelayan itu untuk membawa kembali makanannya ke dalam karena aku sudah kehilangan selera makanku. Yang kubutuhkan saat ini hanyalah meja kayu ini untuk menumpahkan seluruh air mataku dan juga rasa sesakku. Dan jika aku boleh meminta, semoga semua ini tidaklah nyata. Semoga semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir ketika aku membuka mata nanti.

-00-

Tiga hari berada di Jepang benar-benar buruk. Nyaris selama tiga hari di sana aku terus menumpahkan air mataku. Hanya saat sedang melakukan sesi pemotretan terakhir aku tidak menumpahkan air mata. Selebihnya aku terus menumpahkan air mataku hingga kedua mataku bengkak seperti mata ikan. Beberapa kali stylis yang merias wajahku di sana menanyakan kondisiku yang sangat berantakan setiap ia merias wajahku. Tapi aku hanya menjawabnya jika aku kurang tidur selama di Jepang. Yah.. hanya itu satu-satunya alasan klise yang kupunya. Tidak mungkin aku mengatakan jika aku baru saja patah hati dan dimaki-maki oleh Donghae oppa dengan kata-kata kasarnya. Stylish itu pasti akan sangat heboh bila mengetahui hubunganku dan Donghae oppa. Tapi bagian yang paling buruk ketika aku melakukan sesi pemotretan adalah saat aku harus berpose mesra dengan Donghae oppa. Sungguh itu adalah hal tersulit yang harus kulakukan selama aku menjadi artis. Aku benar-benar ingin menangis ketika fotografer itu menyuruh Donghae oppa melakukan back hug atau merangkul bahuku dengan salah satu tangannya yang memegang daguku menggoda. Pemotretan itu benar-benar menyiksa hatiku. Dan setelah semuanya selesai, Donghae oppa langsung pergi meninggalkanku. Pulang lebihdulu ke Korea dengan penerbangan paling awal yang bisa ditemuinya pagi tadi. Ingin rasanya aku mengatakan pada semua orang jika aku tersiksa, aku sakit, dan aku ingin pergi dari dunia ini selamanya. Menjadi artis nyatanya bukanlah hal yang menyenangkan. Setiap saat aku harus dituntut sempurna, meskipun hatiku rapuh. Dan sekarang setelaha aku menginjakan kaki di Korea, aku langsung disuguhkan dengan berbagai macam berita mengenai pernikahan Donghae oppa dan Eunso yang memenuhi hampir di seluruh layar LED yang terpasang di pusat kota. Selama perjalanan menuju apartemenku, aku memutuskan untuk menenggelamkan diri bersama ponselku yang sejak kemarin tidak kusentuh sama sekali. Sebisa mungkin aku menghindari melihat layar LED itu karena hatiku sakit saat melihat foto lama Donghae oppa dan Eunso ketika mereka menjadi pasangan virtual dalam We Got Married. Mereka terlihat bahagia, tersenyum satu sama lain dengan tuxedo hitam dan gaun pengantin putih yang sangat pas membalut tubuh indah Eunso. Ya Tuhan, kenapa hatiku tidak pernah rela membiarkan Donghae oppa bersama wanita lain. Aku masih berharap ini semua mimpi dan suatu saat nanti Donghae oppa akan kembali padaku.

“Halo?”

Aku mengangkat panggilan telepon dari Taeyeon eonni yang tiba-tiba saja menghubungiku. Mungkin ia khawatir dengan keadaanku yang sedang depresi ini sehingga ia memutuskan untuk sedikit memastikan keadaanku, apakah aku masih hidup atau tidak.

“Yoona, kau dimana? Kau sudah pulang dari Jepang?”

“Sudah eonni, ada apa? Aku masih hidup jika itu yang eonni takutkan.”

Kudengar Taeyeon eonni sedikit mengomel di seberang sana dan hal itu sedikit banyak membuatku terhibur. Aku selalu suka mendengar suara omelan Taeyeon eonni yang menggemaskan.

“Kami mengkhawatirkanmu Yoong, kau baik-baik saja setelah mendengar berita itu?”

Aku menghela napas pendek dan menggelengkan kepalaku kecil menanggapi pertanyaan Taeyeon eonni. Tidak mungkin aku akan baik-baik saja dengan berita itu. Bahkan kedua mataku kini sudah kembali bengkak karena aku baru saja selesai menangis sebelum Taeyeon eonni menelponku.

“Tidak, aku sangat tidak baik-baik saja eonni. Tapi aku bisa apa. Itu adalah keputusan Donghae oppa. Eonni tahu sendiri jika hubungan kami sudah lama berakhir. Jadi itu hak Donghae oppa jika ia ingin menikah dengan Eunso. Hanya saja aku kecewa padanya karena ia telah menghamili Eunso. Selama ini aku mengenal Donghae oppa sebagai pria yang baik, ia selalu menghormati wanita. Tapi kenapa ia bisa melakukan tindakan yang sebejat itu eonni. Aku… aku sungguh kecewa padanya.” Desahku sedih. Lagi-lagi air mataku kembali turun setelah aku membicarakan Donghae oppa dan mengingat masa-masa indah kami dulu ketika sedang menjalin hubungan. Bersama Donghae oppa lebih dari lima tahun membuatku tidak bisa melupakan sosoknya begitu saja. Ia terlalu berarti untukku, dan aku pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menerima semua berita ini.

“Yoona aku sedang bersama super junior oppa. Datanglah ke apartemen Leeteuk oppa sekarang karena kami sedang bersama Donghae oppa.”

“Hah? Apa maksudmu eonni?”

“Datanglah, kau pasti ingin menanyakan banyak hal pada Donghae oppa. Sejak tadi ia tidak mau mengatakan apapun. Bahkan hingga Shindong oppa marah dan hendak menghajarnya, ia hanya diam. Ia tidak mau mengatakan apapun terkait berita itu.”

“Tapi eonni, bagaimana jika kedatanganku justru akan memperkeruh suasana. Kami sudah terlalu banyak bertengkar selama di Jepang.” Desahku frustrasi.

“Cobalah untuk datang Yoong, mungkin kau bisa membujuk Donghae oppa untuk menceritakan pada kami tentang kebenaran yang sedang ia tutupi.”

Aku terdiam gamang dengan permintaan Taeyeon eonni. Aku sungguh takut untuk bertemu Donghae oppa. Aku masih merasa trauma dengan semua sikap kasarnya yang ia tunjukan padaku kemarin. Tapi jika memang ini satu-satunya cara untuk mengungkap semua kebenaran yang disembunyikan Donghae oppa, aku akan melakukannya.

“Baiklah eonni, lima belas menit lagi aku akan tiba di sana.”

-00-

Keheningan melanda kami sejak tiga puluh dua menit yang lalu. Donghae oppa sejak tadi sama sekali tidak berbicara apapun dan hanya memandang pemandangan Seoul yang kelabu dari balkon apartemen milik Leeteuk oppa yang tinggi. Apa yang dikatakan Taeyeon eonni benar, Donghae oppa sama sekali tidak mengatakan apapun. Dan tadi Heecehul oppa sempat berteriak padanya karena ia terlalu kesal dengan kebisuan yang dilakukan Donghae oppa. Tapi aku melihat sedikit ada luka lebam di sudut bibirnya. Mungkin seseorang telah memukulnya. Melihat Donghae oppa yang sangat menyebalkan seperti itu, siapapun pasti ingin memukulnya. Bahkan jika aku memiliki keberanian untuk melakukannya, aku pasti akan melakukannya sejak tadi karena aku sudah bosan menunggunya untuk berbicara. Sedangkan tidak ada tanda-tanda apapun jika sebentar lagi ia akan mengakhiri kebisuan panjangnya itu.

“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan padamu oppa. Aku, dan semua orang-orang di sana terlalu bingung denganmu. Kau berubah! Sangat berubah hingga kami tidak lagi mengenalmu. Bahkan Yunho oppapun juga sudah tidak mengenalmu. Dimana perginya Donghae oppa yang kami kenal? Dimana Donghae oppaku yang selama ini kukenal?”

Aku terisak pelan sambil mengalihkan pandanganku kearah lain. Aku tidak kuat lagi untuk melanjutkan kata-kataku. Terlebih lagi saat melihat wajahnya yang mengeras, namun sarat akan kekosongan di mata sendunya.

“Donghae yang kalian kenal telah mati. Aku memang bukan Donghaemu lagi Yoong.”

“Setidaknya jadilah Donghae mereka jika kau tidak bisa menjadi Donghaeku lagi oppa. Lihatlah, mereka sangat mengkhawatirkanmu. Mereka peduli padamu dan mereka ingin tahu yang sebenarnya. Apakah kau benar-benar telah menghamili Eunso dan akan menikah dengannya. Saat ini mereka semua membutuhkan kejelasan darimu.” Teriakku kesal sambil tetap terisak-isak kecil. Tiba-tiba ia menoleh kearahku dan mencengkeram pundakku erat agar aku melihat kearah mata sendunya yang telah berubah menjadi penuh emosi.

“Apa kau juga berpikir begitu? Berapa lama waktu yang telah kau habiskan untuk mengenalku Yoong? Berapa lama hah?”

Aku memejamkan kedua mataku erat-erat sambil menahan isak tangisku agar tidak meledak semakin histeris di depannya. Aku sungguh takut menghadapi Donghae oppa yang sangat menakutkan seperti ini. Ia terlihat seperti monster. Dan aku belum pernah menghadapi sisi lain Donghae oppa yang mengerikan ini.

“Lebih dari lima tahun oppa. Aku mengenalmu lebih dari lima tahun! Dan aku tidak tahu apakah kau benar-benar melakukannya atau tidak karena semuanya terasa abu-abu untukku. Kau memang bisa saja melakukannya. Kau berhak melakukannya karena aku bukan lagi bagian dari hidupmu.”

Genggaman tangan Donghae oppa di pundakku terlepas begitu saja, dan perlahan-lahan ia mundur ke belakang. Menjauh sejauh dua meter dan membuatku tiba-tiba harus merasakan kekosongan yang sangat pekat darinya.

“Kupikir kau bisa meyakinkanku untuk merubah keputusanku. Ternyata aku salah, kau sama saja dengan mereka. Hanya melihatku dari luar, tanpa pernah memahami hatiku. Kebersamaan kita selama lebih dari lima tahun ini nyatanya tidak membuatmu belajar untuk memahamiku. Kau hanya ingin dipahami, tapi kau tidak pernah mencoba untuk memahamiku. Seharusnya kau tahu jika aku tidak mungkin melakukan hal itu. Tapi jika kau memang berpikir seperti itu, maka anggaplah demikian. Anggaplah aku sebagai pria brengsek sialan yang benar-benar buruk. Semoga kau bahagia dengan hidupmu.”

Blarr

Aku merosot lemah di atas lantai dan menangis meraung-raung sekeras yang aku bisa. Pertemuan kami hari ini benar-benar telah menyadarkanku jika hubunganku aku dan Donghae oppa memang telah berakhir. Kami bukan lagi pasangan yang ditakdirkan Tuhan untuk bersama. Kami sekarang hanyalah dua orang manusia yang tidak saling mengenal yang akan hidup di jalan kami masing-masing. Setelah ini tidak ada lagi Im Yoona dan Lee Donghae dengan segala impian untuk masa depan mereka. YoonHae telah mati, terkubur bersama harapan kami yang turut musnah bersama romansa cinta kami di masa lalu.

30 thoughts on “My Immortal (Yoona Side)

  1. 😭😭😭😭 kok mewek bacanyaa.. haa apa yang terjadi sebenernya inii.. aku penasaran Donghae side nya ni thor.. cepet-cepet publish ya thor.. fighting !!

  2. Donghae terlalu egois disini
    Entah kenapa, aku merasa keterlauan bgt, cm krn kedekatan yoona sm lawan main dy, donghae smpe segitunya
    Dan sblmnya dy yg blg donghae yg dulu udh mati, seharusnya dy ga berhak nyalahin yoona, kalo yoona ga kenal lg sm dy

    Pokoknya ga suka sm donghae disini, terlalu egois dan kasar
    Maaf, terlalu kebawa cerita
    Ditunggu donghae sidenya

  3. End?? Aku terkejut 😱 lagi asik2 baca eh end😁.
    Eonni hati2 loh di minta sequel 😂..
    Bang ongek jaat amat ya tapi firasat aku ada something nih 😁😂

  4. Ini apa yaa?? Kok sakit ya.. 😭😭
    Kisah cinta ini terlalu menyakitkan untuk dibaca sumpah.. rasanya sangat tidak rela jika YoonHae seperti ini..
    ini diluar bayanganku, aku pikir Author akan membuat sebuah kisah cinta yang manis untuk mereka tapi melihat kenyataannya.. yahh sudahlah.. tentu saja Author bebas berkreasi sesuai keinginannya kan.. hanya saja harapan reader terkadang tidak sesuai dengan jalan pikiran author.. dan ini cukup mengejutkan.. haha 😁😀
    ini wajib di lanjut!! Sesegera mungkin!! Buat semuanya membaik.. aku ingin YoonHae dipersatukan dalam cerita ini.. yahh setidaknya author bisa mengabulkan permintaanku yang ini.. haha..
    Semangat thor 💪🙌

  5. Maaf sblumnya aku tahu ini hanya ff tp dr semua ff Yoonhae yg Author buat ini kok kayak buat ff Yoonhae,gmana nya cara nyampaikannya??maaf aku nggak enak nulisnya…

  6. Huaa eonnie demi apaa aku gak berharap ini sad ending 😢 pliss ini cerita mesti happy end 😢 eonnie pliss bikin happy ending jgn buat aku galau karna cerita ini bener”n kayak real eonnie 😥

  7. Oh God… Kenapa sesakit ini
    Baca yoona side aja udah bikin aku nangis apalagi kalo ditambah donghae side nantinya…
    Aku harap ada sequel yg bahagia, kembali bersatunya yoonhae…

  8. terlalu banyak rasa sakit yang yoona rasakan???
    eunso hamil anak siapa kok yang tanggung jawab donghae??
    gk sabr nunggu lanjutan (donghae slide)…….

  9. Kok endingnya gitu Thor. argggg mau sequelnya dg. Jangan endingnya gantung gitu dg Thor. Please. Pleaseee

  10. Kan gantung lagi, bikin baper pula. Chingu kamu harus tanggung jawab buatin sequel, pokonya GK mau tau😤😭😭

  11. Apa Donghae benar” melakukan nya? Sepertinya gak mungkin Donghae menghamili eunsoo,secara YoonHae masih saling mencintai. Dan Yoona, bersabarlah…. Next thor & jangan di gantung….

  12. Benar benar sialan 😭😭😭 pagi pagi sudah dibuat mewek masa 😭😭😭 oh yoongie aku harap kau akan tetap bertahan dan semoga kau akan menemukan kebahagiaan😢😢 aku tidak sabar untuk donghae side dan mengetahui perasaan donghae yg sebenarnya…ah semoga mereka tetap bersama 😢😢 aku harap hubungan mereka di dunia nyata selamanya akan baik baik saja…good storyyyy 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

  13. ANDWAEEEEEEEE!!!!!!
    Donghae kenawaeee????
    Nyeseeekk weehh..
    Ini ditunggu banget bagian POV Donghaenya dek..
    SUKAAAAAAA BANGAADD ma cerita kehidupan real mereka kaya gini tuh.. Ff moment pake delusi gini tuh DEBES!! 😂😂😂
    Sering sering ya dek bikin cerita kehidupan real mereka walopun delusinya kuat disini.. Aku sukaaaaaaaaa.. Makasih ya dek.. 😚😚😚

  14. Cerita sepanjang ini, v ndk ada titik terang.a
    Donghae.a mnyakiti dri sndiri. Yg dia lkukan hanya marah. Dia berubah brsikap brengsek, tapi msih minta di pahami sperti dia yg dulu. Aneeeeh

  15. Sad ending😭😭😭😭 knapa dibuat sad ending sih thor?😭😭😭 ini msih ada lanjutannya kan?

  16. Kasihan yoona terus2an disakiti donghae,,
    Tp jujur kurang suka ma karakter yoona disni, karena menurutku dia terlalu lemah berkali2 disakiti tp masih mengharap mereka bisa kembali…
    Moga2 yg donghae side ada titik terang knp sikap donghae bisa jahat banget ma yoona…

    Ditunggu lanjutannya thor…

  17. kecewa …..sedihhhh….
    hubungan yang manis harus berakhir
    tragis penuh intrik. come one…ayolah
    saling memaafkan dan saling menguatkan
    perbaiki semua karena cinta sejati penuh
    perjuangan dan pengorbanan.

  18. Apa iniiiiiii kenapa jadi mellowwww gini..
    belum puas kalau akhirnya belum happy end.. kalau ini Yoona side berarti bakal ada Donghae side dong yaa dan itu harus, gak tega kalau harus liat mereka kaya gini trus.. nyeseknya berasa Nyata walaupun amat sangat nggak mau klau kejadiannya sampe nyata.. amit amit yaa pokoknya di tunggu buat Donghae side nya un.

  19. aisshhh pengen cakar donghae..
    kalo berita itu ngga bener kenapa donghae tidak membantahnya!! cukup hae jangan menyiksa dirimu sendiri.. dan seberapa besar kesalahan yg telah dilakukan yoona sehingga donghae begitu membencinya..

    endingnya gak enak, butuh sekuel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.