Something Whispers In My Mind

Recomended Song Evanescence – Bring Me To Life

Suara derap langkah kaki mengalun pelan penuh irama disepanjang lorong Kirin High School yang gelap. Seorang guru muda dengan rambut sebahu dan kaca mata minus yang menggantung sempurna di wajah cantiknya terlihat sedang berjalan santai sambil memeluk kertas-kertas hasil ulangan murid-muridnya yang akan ia koreksi di rumahnya. Malam ini ia memutuskan untuk membawa sebagian pekerjaanya yang tidak selesai ke rumah karena malam telah beranjak semakin larut. Pukul sepuluh malam. Sudah menjadi kebiasaanya selama ia menjadi guru di Kirin High School untuk melakukan lembur di sekolah bersama guru-guru yang lain. Namun malam ini ia hanya sendiri. Guru-guru yang lain memilih untuk pulang cepat karena mereka telah menyelesaikan nilai-nilai untuk murid mereka sejak kemarin. Sedangkan guru muda itu belum bisa menyelesaikan tugas-tugasnya karena empat hari yang lalu ia harus mendampingi murid-muridnya melakukan kemah di sebuah perbukitan di distrik Jeolla. Sebuah distrik yang masih kental dengan suasana alam dan juga pedesaanya sehingga tempat itu sering menjadi tempat tujuan para siswa untuk melakukan kemah.

“Ahh kertasku.”

Guru muda itu mendesah berat ketika angin malam menerbangkan salah satu kertas nilai milik muridnya. Dengan susah payah guru muda itu mengejar lembaran kertas putih yang kini terlihat melayang-layang terbawa angin malam hingga jatuh di bawah pohon besar di sekitar taman sekolah.

“Fiuh, untung saja  kertas ini tidak terbang terlalu jauh.” Gumam guru muda itu kecil sambil berjongkok untuk memungut kertas putih itu dan menyatukannya kembali bersama kertas-kertas yang lain. Tiba-tiba guru muda itu merasakan hawa aneh yang tiba-tiba melingkupi tubuhnya. Dengan wajah yang dibuat setenang mungkin, guru muda itu mencoba mengamati pamandangan disekitarnya yang tampak sepi dan juga lenggang. Guru muda itu kemudian mengendikan bahunya acuh dan memilih untuk segera pulang ke rumahnya karena ia pikir ia sudah terlalu lelah hingga memikirkan hal-hal aneh mengenai hantu.

Srakk

Guru muda itu berjingkat kaget dan refleks menoleh ke belakang ketika ia merasakan sebuah pergerakan yang tidak biasa dari balik punggungnya yang terdengar cukup nyaring di telinga sensitifnya. Namun ketika ia membalikan tubuhnya, guru muda itu tak menemukan apapun selain seekor kucing coklat bermata hitam yang sedang mengendus-ngendus tanah di bawahnya sambil sesekali menggesekan kepalanya yang gatal ke tanah hingga menimbulkan bunyi srek yang nyaring.

“Ahh, kau mengagetkanku kucing manis.”

Guru muda itu tersenyum simpul dan segera menyingkirkan segala pikiran buruknya mengenai hantu. Sejak dulu ia tidak pernah percaya pada hantu ataupun roh roh jahat yang sering dibahas oleh murid-muridnya. Baginya makhluk-makhluk seperti itu tidak ada dan hanya khayalan sebagian kecil orang-orang penakut yang ingin merusak mental orang lain.

Guru muda itu lantas merogoh saku celananya untuk mengambil kunci mobilnya yang tersimpan dengan aman di dalam sana. Namun beberapa detik setelah ia membuka pintu mobilnya, ia melihat bayangan seorang wanita muda berambut pendek yang lusuh sedang berdiri di belakangnya sambil menyeringai mengerikan. Dengan terkejut guru muda itu langsung menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan wanita itu tengah melambai kearahnya dari gerbang besar Kirin High School yang menjulang setinggi tiga setengah meter di depannya. Seketika guru muda itu mematung di tempat sambil terus mengamati wanita muda itu dengan wajah tertegun. Wanita yang sedang melambai kearahnya itu menggunakan gaun pendek selutut berwarna hitam dan bando berwarna putih yang tampak serasi dengan wajahnya yang putih namun pucat. Untuk beberapa saat ia terus menatap wanita berwajah pucat itu intens hingga tiba-tiba wanita itu seperti berlari kearahnya dengan wajah menyeramkan sambil mengeluarkan taring-taring tajamnya untuk memakannya bulat-bulat.

“Aaaakkkkkk!!!”

“Guru Im! Guru Im Yoona!”

“Hah… Ma maaf ahjussi Kim, kukira kau adalah wanita pucat berambut pendek yang berdiri di sana.” Tunjuk Yoona pada gerbang Kirin High School yang terlihat kosong. Ahjussi Kim lantas mengikuti arah telunjuk Yoona sambil memincingkan matanya lekat-lekat untuk melihat apa yang sedang ditunjuk oleh guru muda di sampingnya.

“Tidak ada apapun di sana guru Im, mungkin kau hanya kelelahan sehingga melihat bayangan aneh yang sebenarnya tidak ada. Beristirahatlah, ini sudah larut malam. Besok bukankah kau harus mengajar lagi?” Ucap ahjussi Kim lembut. Yoona mengangguk mengerti pada pria tua penjaga sekolah di sampingnya sambil mengucapkan terimakasih karena telah memperhatikannya selama ini.

“Kalau begitu sampai jumpa ahjussi Kim, selamat malam.”

Yoona kemudian masuk ke dalam mobilnya dengan ahjussi Kim yang masih berada di sisi kiri mobilnya untuk mengantar kepergiannya pulang. Setelah itu ia segera menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobilnya pelan, keluar dari halaman parkir Kirin High School yang luas.

Sepeninggal Yoona, ahjussi Kim hendak menutup gerbang utama Kirin High School yang sebelumnya terbuka lebar karena mobil Yoona yang hendak lewat. Namun ketika pria tua itu hampir menutup gerbang tinggi itu, ia melihat di bangku paling belakang mobil yang dikendarai Yoona, seorang wanita berambut pendek sedang menyeringai kearahnya. Wanita berkulit pucat itu menunjukan mata merah yang mengerikan dan juga taring-taringnya yang mengerikan pada ahjussi Kim hingga mobil sedan putih yang dikemudikan oleh Yoona menghilang di persimpangan jalan. Ahjussi Kim kemudian menengok ke belakang, tempat dimana Yoona berdiri sebelumnya sambil menunjukan padanya jika ia melihat seorang wanita berambut pendek sedang berdiri dan hendak memakannya. Ahjussi Kim lantas mendongakan wajahnya kearah langit dan berdoa pada Tuhan agar senantiasa melindungi Yoona dari segala bentuk kejahatan yang hendak mencelakakannya. Karena sekarang pria ia merasa jika nyawa Yoona sedang dalam bahaya.

-00-

“Buka halaman sembilan puluh lima.”

Yoona berteriak keras di depan kelas sambil membuka bukunya sendiri untuk mulai menjelaskan bab baru dalam pelajaran matematika. Sebuah pelajaran yang selama ini paling tidak diminati oleh murid-muridnya. Namun ia selalu berusaha menjelaskan dengan baik agar murid-muridnya tidak bosan, apalagi mengantuk ketika jam pelajarannya sedang berlansung.

“Guru Im, tolong jelaskan lagi materi minggu lalu. Aku sedikit kesulitan mengerjakan tugasmu guru Im.”

“Baiklag Minji, aku akan menjelaskannya lagi.”

Yoona mulai menjelaskan pelajaran minggu lalu dengan gaya mengajar yang santai dan terkesan ramah. Hal itulah yang membuat seluruh murid-muridnya sangat hormat dan patuh padanya karena selama ini ia juga memperlakukan muridnya dengan baik. Tapi tetap saja selalu ada pengacau di dalam kelas yang sering membuat keributan di kelasnya. Seperti pagi ini, saat jam mata pelajaran matematika, seorang siswa berambut panjang dengan kuncir berwarna merah tengah memainkan ponselnya tanpa memperhatikan penjelasan yang diberikan Yoona di depan kelas.

“Nona Jung Hana, bisakah kau kerjakan soal ini?” Ucap Yoona tegas. Selama ini ia memang terkenal baik, namun ia tidak suka bila ia diremehkan begitu saja. Apalagi Hana dalah siswi yang sangat sulit diatur. Hampir setiap guru selalu mengeluh kesulitan bila menyangkut masalah Jung Hana.

“Aku tidak bisa guru Im. Apakah guru sepintar dirimu tidak bisa memahami murid paling bodoh di kelas ini?” Balas Hana acuh tak acuh dengan head set yang terpasang dikedua telinganya.

“Keluarkan saja Hana dari kelas ini guru Im, dia mengganggu kami.” Teriak sang ketua kelas, Choi Jinri pada Yoona. Yoona meminta seluruh muridnya untuk tenang, lalu meminta Hana untuk berdiri di depan kelas hingga jam pelajarannya usai.

“Kau berdiri di depan kelas hingga jam pelajaranku usai Jung Hana.”

“Aku tidak mau. Itu terlalu membosankan dan melelahkan.”

Yoona mencoba mengatur emosinya agar ia tidak meledak di depan seluruh muridnya. Tak pernah ia bayangkan jika ia harus menangani seorang murid bermasalah seperti Hana. Ia lalu berjalan mendekat menuju meja yang digunakan Hana dan memaksa Hana untuk segera berdiri di depan kelas karena emosinya benar-benar telah mengumpul di ubun-ubun kepalanya.

“Jung Hana, jika kau tidak mau berdiri di depan kelas, aku akan melaporkanmu pada kepala sekolah. Tindakanmu ini benar-benar sudah di luar batas.”

Dorong dia Im Yoona… Bunuh dia!

Seketika Yoona mendongak sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Baru saja ia seperti mendengar seseorang berbisik di telinganya, namun sepertinya tidak ada siapapun di sampingnya. Semua muridnya kini tengah duduk di bangku mereka masing-masing dengan tenang. Yoona lalu menggelengkan kepalanya kecil dan berusaha untuk melupakan suara aneh itu.

“Cepat ke depan!” Bentak Yoona jengkel. Hana dengan malas-malasan segera melangkah ke depan dengan wajah pias yang tercetak jelas di wajahnya. Baru beberapa langkah Hana berjalan, tiba-tiba seseorang mendorongnya dari belakang hingga siswi pembuat onar itu terjatuh dan kepalanya membentur kaki meja dengan keras. Sontak seluruh murid langsung berteriak heboh ketika melihat darah mulai merembes di bawah meja. Dengan panik Yoona segera menolong Hana dan membawa Hana ke ruang kesehatan dalam kondisi setengah sadar.

“Ya Tuhan, ayo Hana kita ke ruang kesehatan. Anak-anak kerjakan soal di halaman sembilan puluh lima.” Teriak Yoona panik sambil berjalan tergesa-gesa menuju ruang kesehatan.

Yoona terus memapah Hana yang tampak kesakitan di sampingnya. Ia tidak tahu mengapa muridnya yang bandel itu bisa terjatuh hingga kepalanya mengeluarkan darah. Pasti ia terjatuh karena tidak memperhatikan langkahnya dengan baik dan terlalu fokus pada musik yang didengarnya.

“Guru Im, ada apa?”

Yoona berhenti sejenak ketika kepala sekolah Kang memanggilnya. Pria paruh baya itu, ditemani dengan seorang pria yang sama sekali tak dikenalnya berjalan menghampirinya dengan wajah heran dan juga khawatir.

“Hana terjatuh dan kepalanya membentur kaki meja.”

“Segera bawa Hana ke ruang kesehatan. Dokter sekolah sebentar lagi akan datang untuk menjahit lukanya.”

Yoona langsung mengangguk cepat pada kepala sekolah Kang dan berpamitan untuk pergi ke ruang kesehatan. Dan sekilas ketika berjalan melewati kepala sekolah Kang, Yoona merasa pria yang sejak tadi berdiri di belakang kepala sekolah Kang sedang menatapnya. Entah karena apa, pria itu terus menatapnya intens hingga kepala sekolah Kang mengajak pria itu berbicara dan kembali berjalan menuju ruang kelas IIB yang berada di sayap kanan gedung utama Kirin High School.

-00-

Berita jatuhnya Hana hingga kepalanya harus mendapatkan jahitan sebanyak sepuluh jahitan menjadi hangat diperbincangkan oleh seluruh siswa siswi Kirin High School. Pasalnya mereka tidak mengira jika siswi yang terkenal bandel di sekolah itu akan mendapatkan perlakuan buruk dari guru paling baik di Kirin High School, Im Yoona.

“Kau tahu, aku melihat sendiri guru Im mendorong Hana hingga Hana tersungkur ke lantai. Guru Im pasti sudah kehabisan kesabaran hingga ia bersikap sangat kasar seperti itu.” Cerita Choi Ana berapi-api, sang ratu gosip yang terkenal di Kirin High School.

“Benarkah? Aku tidak percaya. Guru Im adalah guru yang paling baik dan juga ramah. Ia tidak akan mungkin memperlakukan muridnya sekasar itu, meskipun Hana sudah membuatnya jengkel. Kau pasti hanya melebih-lebihkan ceritamu.” Cibir Ahra tidak terima. Sejak dulu Yoona adalah guru favoritnya. Ia tidak pernah suka jika Yoona menjadi bahan gunjingan teman-temannya. Terlebih lagi mereka semua sedang membicarakan keburukan Yoona saat mengajar matematika di kelas IC.

“Sungguh aku tidak berbohong. Guru Im berdiri tepat di sebelahku ketika peristiwa itu terjadi. Terserah jika kalian tidak percaya padaku, kalian bisa tanyakan sendiri pada Leo. Benarkan Leo?” Tanya Ana pada salah satu teman sekelasnya, Park Leo.

“Kurasa kali ini Ana berkata jujur. Tadi aku melihat guru Im mendorong Hana hingga kepala Hana membentur kaki meja dan berdarah. Mungkin guru Im hanya ingin menyuruh Hana agar cepat berdiri di depan kelas. Tapi tindakannya justru berujung fatal seperti itu. Ah sudahlah, kasihan guru Im. Ia pasti merasa bersalah setelah kejadian tadi pagi.”

“Aku setuju dengan Leo, guru Im pasti tidak sengaja. Ah, ngomong-ngomong apa kalian sudah tahu jika sekolah kita kedatangan guru baru?” Tanya Yeun pada teman-temannya.

“Siapa? Apa guru itu akan menggantikan guru sejarah kita yang sudah pensiun minggu lalu?”

“Tepat sekali.” Ucap Yeun sambil menepuk tangannya keras. Ia tiba-tiba menunjuk seorang pria berkemeja biru yang sedang berjalan melintasi kantin dengan buku tebal di tangannya.

“Itu itu guru baru kita. Namanya guru Lee Donghae. Ya Tuhan.. guru Lee tampan sekali.” Ucap Yeun berbinar-binar. Seluruh murid perempuan yang duduk di meja itu langsung menatap berbinar-binar pada guru sejarah mereka yang baru. Pasalnya selama ini mereka selalu dibuat bosan oleh guru sejarah mereka yang lama karena guru sejarah mereka sama sekali tidak menarik dan memiliki gaya mengajar yang membosankan hingga beberapa dari mereka kerap tertidur di kelas.

Teeetttt

“Ahh sudah waktunya masuk. Ayo cepat, jangan sampai kita terlambat dalam pelajaran sejarah karena kali ini guru kita sangat tampan.” Teriak Yeun semangat sambil berlari meninggalkan teman-temannya terlebihdahulu menuju ruang kelasnya yang berada di lantai dua. Leo yang masih berada di kursinya hanya menatap teman-teman perempuannya malas tanpa berniat sedikitpun untuk melakukan hal-hal norak seperti teman-temannya yang langsung berlari dengan semangat untuk bertemu guru baru yang mereka anggap tampan.

“Cih, dasar berlebihan. Kurasa guru Lee tidak lebih tampan dariku.” Gerutu Leo pelan sambil berjalan menyusul teman-temannya.

-00-

Siang ini pelajaran sejarah di kelas IC berjalan menyenangkan. Hampir seluruh murid perempuan menatap kagum sosok guru tampan baru yang bernama Lee Donghae yang saat ini sedang menjelaskan sejarah kemerdekaan Korea Selatan.

“Guru Lee.”

Tiba-tiba Yeun mengangkat tangannya ke udara dan membuat seisi kelas yang sejak awal sedang memperhatikan penjelasan dari Donghae menoleh ingin tahu.

“Ya, ada apa Kim Yeun?”

“Guru Lee, kenapa kau sangat tampan?” Ucap Yeun malu-malu yang langsung membuat seisi kelas menjadi riuh. Donghae hanya menatap murid perempuannya itu sekilas, lalu ia melirik jam tangannya yang telah menunjukan pukul sebelas lebih dua puluh. Dimana jam pelajarannya telah usai.

“Tenang anak-anak! Kita akhiri pelajaran sejarah sampai di sini. Kim Yeun, kuharap minggu depan kau tidak melakukannya lagi.” Peringat Donghae dengan nada dingin. Yeun langsung menundukan kepalanya malu sekaligus merasa bersalah karena perbuatan memalukannya barusan. Ia sungguh tidak menyangka hal itu akan keluar dari mulutnya dan membuat seisi kelas heboh. Padahal ia tahu bahwa Donghae bukan guru sejarah yang suka mendengarkan celotehan tidak penting murid-muridnya. Pria itu mengatakannya sendiri tadi saat sesi perkenalan berlangsung.

Donghae melangkah begitu saja keluar dari kelas IC yang sebelumnya ribut karena Yeun. Sebelum keluar, Donghae sempat melirik bangku kosong di ujung paling belakang kelas yang biasanya selalu ditempati oleh Jung Hana. Murid yang baru saja terluka pagi tadi karena menurut rumor yang beredar di kalangan murid-muridnya, murid malang itu didorong oleh guru Im karena tidak mau menuruti perintahnya. Donghae lalu teringat pada guru muda berkacamata yang pagi tadi bertemu dengannya sambil memapah murid perempuan yang kepalanya terluka. Mengingat itu membuat Donghae sadar jika sejak tadi ia belum bertemu dengan guru itu lagi. Bahkan ketika ia melewati ruang kesehatan, guru itu tak ada di sana untuk menemani Jung Hana yang sedang beristirahat setelah dokter menjahit lukanya.

Donghae kemudian berjalan tenang meninggalkan kelas IC untuk mengambil buku di ruangannya. Satu jam lagi ia memiliki jadwal di kelas yang berbeda, sehingga ia harus mengambil buku untuk siswa kelas tiga di ruangannya. Namun secara kebetulan Donghae berpapasan dengan Yoona. Guru muda yang pagi ini sempat mencuri perhatiannya.

“Selamat siang guru Im.”

Yoona terlihat terkejut dan langsung menoleh kikuk pada Donghae. Sejak tadi ia terus melamun hingga tidak memperhatikan jalannya sendiri. Bahkan ia tidak tahu jika saat ini Donghae telah berdiri di depannya dan ia hampir saja menabrak pria itu jika Donghae tidak menyapanya.

“Aa.. maafkan aku. Aku sedang tidak fokus hari ini.” Ucap Yoona merasa bersalah. Donghae mengamati Yoona dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menelisik yang membuat Yoona sediki tidak nyaman.

“Maaf, apa kau guru baru di sini?” Tanya Yoona untuk mengalihkan perhatian guru baru di depannya agar tidak terus menatapnya seperti itu. Ia cukup risih ditatap oleh seorang pria yang baru ditemuinya dengan pandangan seperti hendak menelanjanginya seperti itu.

“Ya, perkenalkan namaku Lee Donghae. Aku guru sejarah baru, menggantikan guru sejarah lama yang sudah pensiun.”

“Oh, namaku Im Yoona. Aku guru matematika di sini. Eeemm.. apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kurasa aku seperti pernah melihatmu, tapi aku lupa dimana tepatnya.” Ucap Yoona sambil mengingat-ingat. Donghae tersenyum simpul pada Yoona lalu mengedikan bahu ringan.

“Mungkin kita memang pernah bertemu. Tadi pagi saat kau memapah murid yang bernama Jung Hana ke ruang kesehatan, aku berada di sebelah kepala sekolah.”

“Benarkah?” Tanya Yoona tidak yakin. Ia merasa pernah bertemu Donghae sebelumnya, tapi ia tidak yakin jika pertemuan itu adalah tadi pagi ketika ia akan membawa Hana ke ruang kesehatan. Seingatnya pagi ini ia hanya bertemu kepala sekolah Kang, dan sama sekali tidak melihat pria itu berada disampingnya.

“Aaa ya mungkin saja. Aku sedikit panik tadi pagi karena Hana tiba-tiba terjatuh dan kepalanya mengeluarkan banyak darah.”

“Kudengar dari murid-murid di kelas IC kau yang mendorong Hana hingga gadis itu terluka. Apakah benar?”

“Apa?” Pekik Yoona terkejut. Wanita itu terlihat syok karena ia merasa tidak melakukan apapun pada Hana. Ia hanya sedang menunggu Hana dengan jengkel karena murid perempuan itu tak kunjung berdiri untuk melakukan hukumannya. Namun tiba-tiba murid itu sudah tersungkur di atas lantai dengan darah yang merembes keluar dari keningnya yang sobek.

“Aku tidak melakukan apapun pada Hana. Ya Tuhan, ini pasti hanya sebuah kesalahpahaman. Aku harus melihat Hana lagi dan memastikan keadaan anak itu baik-baik saja. Meskipun aku tidak melakukan apapun padanya, tapi aku merasa cukup bersalah padanya. Aku tidak bermaksud membentaknya pagi ini dan menyuruhnya untuk berdiri di depan kelas. Tapi sejak awal pelajaran ia terus mengganggu temannya yang lain dan terlihat tidak memperhatikan pelajaranku, jadi aku menyuruhnya untuk berdiri di depan kelas agar setidaknya ia dapat mendengarkan penjelasan yang kuberikan.” Jelas Yoona panjang lebar. Donghae lalu mengikuti langkah Yoona yang sedang berjalan menuju ruang kesehatan. Meskipun Yoona sedikit merasa aneh pada pria di sebelahnya, namun ia membiarkan begitu saja guru baru itu mengikutinya ke ruang kesehatan.

“Ngomong-ngomong, kau berasal darimana guru Lee?”

Yoona mencoba mencairkan suasana kaku diantara mereka dengan menanyakan pertanyaan klise seputar daerah asal Donghae. Namun Donghae sepertinya sedang tidak ingin memberitahunya karena pria itu hanya menjawabnya dengan jawaban ambigu yang terkesan membingungkan.

“Aku berasal dari pedesaan yang cukup jauh dari Seoul. Aku datang ke Seoul karena ingin menyusul kekasihku.”

“Kekasihmu? Kekasihmu bekerja di Seoul?”

“Ya, sepertinya.” Jawab Donghae misterius. Yoona mengernyitkan dahinya bingung pada Donghae. Namun ia tak lagi bertanya apapun pada Donghae karena mereka telah sampai di ruang kesehatan.

“Hana, bagaimana keadaanmu sekarang?”

Hana membuka matanya dan langsung beringsut mundur karena ketakutan.

“Ggguru Im? Aaku baik-baik saja, ssungguh aku baik-baik saja.”

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud memarahimu dan membuatmu terluka.”

Yoona mengelus kepala Hana lembut dan tersenyum manis di depan Hana yang saat ini tengah menatap ketakutan kearahnya.

“Apa kau ingin minum? Aku akan mengambilkannya untukmu.”

Yoona berjalan ke sudut ruangan untuk mengambil segelas teh yang telah disiapkan untuk Hana. Dengan santai ia mengakat gelas itu dan ia hendak berjalan kembali menuju renjang rawat Hana yang berjarak lima meter di depannya. Namun tiba-tiba ia melihat sesosok wanita pucat yang kemarin dilihatnya di gerbang sekolah sedang mendekati Hana sambil menunjukan taring-taringnya yang tajam. Seketika Yoona merasa syok dan refleks ia berlari kearah Hana untuk memperingatkan gadis itu. Sayangnya langkahnya yang tidak stabil membuat Yoona justru tersandung dan memecahkan gelas berisi teh yang dibawanya hingga hancur berkeping-keping di atas lantai dan menimbulkan suara nyaring yang cukup mengagetkan bagi Hana dan Donghae.

“Mmaafkan aku.” Gagap Yoona sambil mencoba memunguti serpihan-serpihan kaca yang berserakan di atas lantai. Kedua tangan Yoona tampak bergetar karena ia benar-benar masih syok dengan kejadian tiba-tiba yang terjadi di depan matanya. Sungguh sebenarnya ia tidak pernah mempercayai adanya hantu atau makhluk-makhluk halus yang sering mengganggu manusia. Namun kali ini semuanya terasa nyata. Ia merasa wanita berwajah pucat itu akan memakan Hana dengan taring-taring tajamnya yang mengerikan.

“Guru Im, kau baik-baik saja?”

Donghae berjongkok di sebelah Yoona dan membantu Yoona memunguti serpihan kaca yang berceceran di atas lantai. Ia cukup prihatin melihat kondisi Yoona yang tiba-tiba terlihat ketakutan setelah mengambilkan minuman untuk Hana.

“Aku baik-baik saja. Maaf, aku sedikit ceroboh tadi.” Ucap Yoona pada Donghae sambil tersenyum tipis. Ia lalu beranjak berdiri dan keluar dari ruang kesehatan untuk membuang serpihan-serpihan kaca yang berhasil dikumpulkannya. Sedangkan Donghae memilih untuk tetap berada di ruang kesehatan sambil memperhatikan raut wajah Hana yang terlihat lega ketika Yoona mulai berjalan menjauh dari ruang kesehatan untuk mencuci tangan.

“Kau baik-baik saja?”

Hana mengangguk pada Donghae sambil meluruskan kakinya di atas ranjang.

“Anda guru baru?”

“Ya, namaku Lee Donghae. Aku guru sejarah.”

“Oh.” Ucap Hana pendek. Hana lalu menengok keluar lagi untuk memastikan jika Yoona belum kembali ke ruang kesehatan. Ia berharap guru itu tidak perlu muncul lagi di hadapannya karena ia merasa takut dengan guru muda itu.

“Kau takut pada guru Im?”

Hana menoleh kearah Donghae sekilas dan ia tampak ragu untuk menganggukan kepalanya. Tapi ia akhirnya menganggukan kepalanya juga untuk membenarkan ucapan guru baru di depannya.

“Guru Im mendorongku dengan kasar hingga kepalaku terbentur kaki meja. Aku takut melihat guru Im, matanya sangat mengerikan saat marah.”

“Maksudmu bagaimana?”

“Entahlah, aku juga tidak yakin. Tapi aku merasa kedua mata guru Im berkilat-kilat merah ketika ia mendorongku di dalam kelas. Dan sekarang aku merasa takut saat melihatnya.”

Donghae mengamati perubahan wajah Hana yang terlihat lebih pucat ketika membicarakan Yoona. Gadis itu rupanya tidak bohong dan benar-benar terlihat ketakutan pada Yoona. Namun ia merasa cukup aneh karena Yoona justru mengatakan jika ia tidak melakukan apapun pada Hana. Sedangkan gadis muda di depannya jelas-jelas terlihat ketakutan setelah insiden itu terjadi.

“Kalau begitu beristirahatlah. Semoga kau cepat sembuh Hana.” Ucap Donghae tulus dan segera keluar dari ruang kesehatan untuk pergi ke ruangannya.

-00-

Setelah membuang pecahan kaca di tempat sampah terdekat, Yoona segera pergi ke toilet untuk membersihkan tangannya yang terasa lengket akibat air teh yang tumpah di lantai. Ia pun segera membasuh tangannya menggunakan sabun untuk menghilangkan sisa-sisa air teh yang mengotori tangannya. Setelah itu ia mematut dirinya di depan cermin sebentar untuk memastikan jika penampilannya tidak berantakan akibat keterkejutannya tadi.

Blarr

Yoona berjengit kaget ketika pintu toilet di sebelahnya menutup dengan cukup keras karena terpaan angin. Dengan perasaan aneh, Yoona cepat-cepat menyelesaikan kegiatan mencuci tangannya karena ia harus kembali mengajar setelah ini.

“Haaah!”

Yoona berjengit kaget sambil memandangi cermin di depannya. Seorang wanita berwajah pucat dan bergaun merah sedang berdiri di belakangnya sambil menyeringai menyeramkan kearahnya. Yoona tiba-tiba saja tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa mentap wanita pucat itu dengan wajah ketakutan yang membuat seluruh wajahnya juga berubah menjadi pucat. Ia sebenarnya ingin berlari, namun kedua kakinya seperti dipaku di tempat hingga ia tidak bisa melakukan apapun.

“Sssiapa kau. Pergi dari sini!” Teriak Yoona keras dengan suara bergetar yang membuat wanita pucat itu semakin menyeringai kearahnya.

Jjangan ganggu murid-muridku. Jauhi Hana.” Teriak Yoona lagi dan mulai berbalik ke balakang. Namun tiba-tiba wanita pucat itu lenyap begitu saja, digantikan dengan hawa dingin yang mulai menjalar disekitar tengkuknya. Melihat itu, Yoona langsung berlari meninggalkan toilet tanpa memperhatikan jalan di depannya. Ia begitu takut dan juga syok karena tiba-tiba ia mendapatkan gangguan dari roh jahat yang selama ini tidak pernah menganggunya.

Brukk

“Guru Im.”

Yoona mendongakan wajahnya dan hampir saja berteriak jika Donghae tidak cepat-cepat membungkam bibirnya dengan tangannya.

“Ssstt… ada apa?”

“Gguru Lee, mma mmaafkan aku.” Ucap Yoona terengah-engah. Ia pikir Donghae adalah wanita pucat bergaun merah yang mengejarnya karena ia tadi terlalu ketakutan dengan bayang-bayang wanita itu di kepalanya.

“Apa yang terjadi guru Im, kenapa kau terengah-engah seperti ini?”

Yoona yang mendapatkan pertanyaan dari Donghae tampak tak fokus. Ia sejak tadi masih berusaha menoleh ke belakang, kearah toilet wanita yang saat ini terlihat kosong dengan lampu putih yang menyala terang. Merasa tak mendapatkan respon dari Yoona, Donghae akhirnya ikut melongok ke dalam toilet dan membuka pintu toilet itu lebar-lebar.

“Gguru Lee!”

Yoona refleks memekik untuk memperingatkan Donghae agar tidak mendekati toilet wanita yang berhantu.

“Tidak ada apapun di dalam sini.” Ucap Donghae pelan sambil menaikan alisnya bingung. Yoona meneguk ludahnya susah payah dan mengangguk gugup pada Donghae.

“Memang tidak ada apapun di sana. Hanya ada kecoa yang tiba-tiba melintas di kakiku.” Bohong Yoona dengan wajah yang masih terlihat pucat. Donghae lalu menghampiri Yoona dan menatap guru berkacamata itu khawatir.

“Tapi kau yakin tidak apa-apa?”

“Ya, aku baik-baik saja. Kalau begitu aku permisi guru Lee.”

Yoona segera berjalan pergi meninggalkan Donghae sambil menundukan kepalanya dalam-dalam.

Sementara itu Donghae masih bertahan di depan toilet wanita yang sebelumnya digunakan Yoona sambil memandang ke dalam toilet itu lama. Perasaanya mengatakan jika Yoona tidak hanya sekedar melihat kecoa, karena wanita itu tampak sangat ketakutan hingga wajahnya memucat. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam toilet wanita untuk mengecek keadaan toilet itu. Namun sejauh matanya memandang, tidak ada hal aneh apapun yang terjadi di dalam toilet itu. Sebelum keluar dari toilet itu, Donghae sempat menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia menyeringai misterius kearah cermin itu dan langsung berlalu begitu saja tanpa menyadari kehadiran wanita bergaun merah yang sedang berdiri di sisi kanan cermin.

-00-

Yoona merentangkan tangannya ke udara sambil sesekali melakukan gerakan perenggangan untuk menghilangkan efek kaku di tengkuknya karena ia terlalu lama menunduk untuk memasukan nilai murid-muridnya. Diliriknya jam tangannya sekilas, pukul lima sore. Yoona lalu melongokan kepalanya ke luar jendela sambil mengamati keadaan sekolah  yang telah sepi. Sambil mengelus tengkuknya yang tiba-tiba meremang karena membayangkan kejadian tadi siang yang menimpanya, Yoona segera membereskan barang-barangnya untuk pulang. Ia tidak mau mengambil resiko seperti kemarin malam yang terpaksa lembur hingga akhirnya mengalami hal-hal aneh yang mengerikan. Sekarang ia lebih memilih untuk membawa tugas-tugasnya pulang ke rumahnya dan menyelesaikannya di rumah.

“Selamat sore guru Im.”

Yoona menoleh cepat ke belakang dan menemukan guru Song sedang menyapanya ramah. Guru bahasa inggris itu menunggu Yoona untuk menutup pintu ruangannya, lalu mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat parkir.

“Guru Im kudengar hari ini Jung Hana mengalami kecelakaan di kelas. Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa beberapa murid mengatakan jika anda mendorongnya?”

Mendengar pertanyaan dari guru Song, Yoona langsung terlihat murung. Kejadian pagi tadi yang menimpa Hana membuatnya sedikit banyak menjadi sorotan. Banyak yang melihat jika ia yang telah mendorong Hana. Padahal ia benar-benar tidak melakukan apapun pagi tadi. Ia hanya menyuruh Hana untuk maju ke dapan tanpa menyentuh sedikitpun tubuh Hana.

“Entahlah, aku juga tidak tahu guru Song. Aku hanya menyuruh Hana untuk berdiri di depan. Tapi tiba-tiba Hana jatuh dan membentur kaki meja.” Ucap Yoona frustrasi. Guru Song terlihat prihatin melihat keadaan Yoona yang tampak tertekan karena disalahkan oleh beberapa pihak.

“Guru Song, apa kau percaya jika hantu itu ada?” Tanya Yoona ragu-ragu. Guru Song langsung tergelak pelan ketika mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Yoona.

“Hantu? Kurasa hantu itu tidak ada. Kau guru matematika guru Im, saat ini ilmu pengetahuan sudah bisa menjawab semua kejanggalan yang oleh orang-orang jaman dahulu dipercaya sebagai perbuatan setan atau hantu. Ahh, suamiku sudah menjemput, sampai jumpa guru Im.”

Guru Song melambaikan tangannya pelan dan segera masuk ke dalam mobil milik suaminya yang telah terparkir dengan rapi di halaman Kirin High School. Yoona lantas berjalan menuju mobil putihnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebelum membuka pintu mobilnya, Yoona samar-sama mendengar suara ahjussi Kim yang sedang berbicara dengan seseorang di belakangnya. Merasa penasaran ia lalu menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapatkan pria tua itu sedang berbicara pada Donghae.

“Aku yang terakhir ahjussi Kim, tidak ada siapapun lagi di dalam.”

“Baiklah kalau begitu, aku akan mengunci pintunya.”

Ahjussi Kim lantas mengunci pintu di gedung utama Kirin High School setelah Donghae keluar dari gedung itu dan berjalan menuju kearah mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat Yoona memarkir mobilnya.

“Selamat sore guru Lee, kau lembur juga?” Tanya Yoona heran. Ia pikir guru baru seperti Donghae seharusnya tidak perlu lembur karena ia belum memiliki banyak tugas untuk dikerjakan.

“Tidak, aku hanya terlalu asik membaca untuk bahan mengajarku besok. Sampai jumpa guru Im, aku duluan.”

Yoona menganggukan kepalanya kecil pada Donghae dan segera masuk ke dalam mobilnya. Ia segera menghidupkan mesin mobilnya, dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman luas Kirin High School yang sepi.

Sepanjang perjalanan Yoona asik memutar musik kesukaannya melalui mp3 player yang terpasang di dahsboard mobilnya. Sesekali ia bersenandung kecil mengikuti irama dari musik yang diputarnya saat ia tengah berhenti di persimpangan jalan yang sedang menunjukan lampu merah.

“Ahh, lelah sekali hari… hoaamm.. ini.”

Yoona menguap lebar sambil memperhatikan jalanan lenggang disekitarnya. Di depannya ia melihat beberapa pejalan kaki sedang menyeberang jalan. Ia lalu melirik kaca spion di atasnya untuk melihat keadaan di belakang mobilnya.

Deg

Tiba-tiba ia melihat wanita bergaun merah itu sedang duduk di kursi penumpang di belakangnya sambil menundukan kepalanya dalam. Sekujur tubuh Yoona kini mulai dipenuhi keringat dingin dan tanpa sadar ia telah meremas setir kemudinya kuat-kuat karena ia terlalu syok dengan kemunculan hantu itu di dalam mobilnya. Perasaan takut yang siang tadi ia rasakan kini kembali melingkupi hatinya dan membuatnya ingin berteriak. Namun ia seperti kehilangan seluruh suaranya. Dan secara tiba-tiba wanita berambut pendek itu mendongakan kepalanya ke arah Yoona dan menunjukan mata merahnya sambil mengangkat tangannya untuk mencekik leher Yoona.

Mati kau!

            “Aaaaakkkkk!”

Diinnnn diiiiiinnnnnn diiiiinnnnnnn

Yoona langsung tersadar dari teriakannya ketika ia mendengar suara klakson-klakson mobil di belakangnya terdengar bersahut-sahutan. Ia pun dengan napas memburu yang masih terlihat syok langsung menginjak pedal gasnya kuat-kuat untuk segera pergi dari persimpangan jalan itu. Sembari menjalankan mobilnya, Yoona mulai melirik takut-takut kearah kursi penumpang di belakangnya. Ia pun mulai mendesah lega ketika tak didapatinya wanita berkulit pucat itu di sana. Kini kursi penumpang di belakangnya telah kembali normal tanpa adanya sosok mengerikan yang mulai menghantuinya sejak kemarin.

-00-

Keesokan harinya Yoona melihat banyak sekali mobil polisi dan juga ambulan yang terparkir di halaman Kirin High School. Dengan penuh ingin tahu Yoona segera turun dari mobilnya dan bergabung bersama kerumunan murid yang sedang berbisik-bisik di depan gerbang Kirin High School.

“Ada apa?”

“Guru Im, Jung Hana ditemukan meninggal pagi ini di ruang kesehatan.” Beritahu murid itu sambil berbisik-bisik lagi dengan rekannya. Mendengar hal itu Yoona langsung menerobos masuk untuk melihat sendiri apa yang terjadi. Dan ketika ia telah berhasil membelah kerumunan murid-muridnya itu, ia dapat melihat jasad Jung Hana yang sedang diletakan di atas tandu dengan keadaan yang sangat mengerikan. Kedua mata gadis itu terlihat terbuka dengan wajah biru yang benar-benar mengerikan. Di sebelah jasad Jung Hana, kedua orangtuanya terus menangis histeris sambil meminta maaf karena selama ini tidak pernah memperhatikan putri semata wayang mereka.

“Gadis yang malang.”

Yoona langsung menoleh cepat ke kiri dan menemukan Donghae sedang menatap sedih jasad Jung Hana yang mulai dibawa oleh petugas medis.

“Ada apa dengan Hana? Kenapa tiba-tiba saja ia ditemukan meninggal di ruang kesehatan?”

“Ia sepertinya meninggal karena kehabisan napas. Ahjussi Kim menemukannya pagi ini di ruang kesehatan dengan wajah yang tertup oleh bantal. Dugaan sementara ia telah dibunuh. Tapi untuk memastikannya polisi akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.”

“Dibunuh? Kkenapa bisa? Bukankah kemarin kau keluar dari sekolah paling akhir guru Lee?” Tanya Yoona terlihat syok. Donghae mengedikan bahunya sekilas dan menatap sendu kearah Yoona.

“Kupikir seperti itu karena aku melihat ruang kesehatan kosong kemarin. Mungkin saat aku lewat di depan ruang kesehatan gadis itu sedang pergi ke suatu tempat atau mungkin ia telah meninggal saat itu.”

Tiba-tiba Yoona merasakan bulu kuduknya sedikit meremang. Dengan wajah pucat ia langsung menolehkan kepalanya kesana kemari untuk mencari keberadaan hantu itu.

“Ada apa guru Im?”

“Ttidak apa-apa. Kalau begitu aku permisi guru Lee.”

Yoona dengan langkah aneh segera berjalan menuju murid-muridnya yang terlihat terpukul dengan kepergian Jung Hana yang tiba-tiba. Ia lalu mengajak murid-muridnya masuk ke dalam kelas dan berdoa bersama untuk mendiang Jung Hana agar arwahnya tenang.

Sementara itu Donghae hanya tersenyum simpul kearah Yoona sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Satu murid pergi, dan satu lagi akan kembali.” Gumam Donghae kecil dengan senyum misterius yang tidak lepas dari sosok Yoona yang mulai menghilang bersama para muridnya.

-00-

Tiga hari setelah meninggalnya Jung Hana, murid-murid Kirin High School tidak diijinkan lagi untuk tinggal di sekolah lebih lama. Menindaklanjuti adanya rumor yang menyebutkan jika Jung Hana telah dibunuh, pihak sekolah memutuskan untuk mengakhiri jam pelajaran pada pukul tiga sore. Pihak sekolah tidak mau mengambil resiko kejadian mengerikan itu terulang lagi karena saat ini pun banyak murid yang mengalami trauma hingga takut untuk menduduki bangku yang biasa digunakan Hana yang berada di ujung belakang kelas.

“Choi Minah, apa kau juga merasakan hal yang sama denganku?” Tanya Yoon Mira suatu siang. Kedua gadis itu terlihat takut sambil menoleh kearah bangku yang biasa diduduki Jung Hana.

“Aku mengalami trauma setelah kematian Jung Hana. Kadang aku merasa seseorang sedang mengawasiku ketika aku melintas di ruang kesehatan atau di dalam ruang ganti setelah olahraga. Apa kau pikir hantu Jung Hana bergentayangan di sekolah?” Tanya Yoon Mira sambil bergidik ngeri. Choi Minah lantas merapatkan posisi duduknya semakin mendekati teman sebangkunya itu tanpa berani menoleh ke belakang lagi.

“Jangan menakut-nakutiku seperti itu. Aku takut.” Bisik Choi Minah dengan tubuh bergetar. Mereka berdua lantas semakin merapatkan duduk mereka dan kembali memperhatikan pelajaran sejarah yang semula mereka abaikan.

“Ada apa Choi Minah?”

“Aaa tidak guru Lee, aku tidak apa-apa.” Ucap Minah terkejut. Ia lalu semakin menenggelamkan kepalanya ke dalam buku paket yang ia baca agar Donghae tidak mencurigainya yang sedang sibuk mengobrol bersama Yoon Mira.

“Psstt… Minah-ah, apa kau sependapat denganku jika guru Lee tampan?” Bisik Yoon Mira dari balik bukunya. Minahpun reflek menoleh kearah samping dan menganggukan kepalanya setuju.

“Guru Lee adalah guru paling tampan yang pernah dimiliki Kirin High School. Lihatlah senyumnya yang manis itu dan juga matanya yang meneduhkan. Aku selalu ingin pingsan saat guru Lee menatapku dengan kedua matanya yang indah itu.” Bisik Minah  sambil tersenyum-senyum kecil. Yoon Mira yang melihat tingkah aneh sahabatnya langsung memukul kepalanya pelan untuk menyadarkannya dari imajinasinya yang liar mengenai guru sejarah mereka.

“Eeheem! Nona Yoon, nona Choi, apa yang kalian lakukan? Kalian membicarakanku?”

Seketika dua gadis itu langsung terlonjak kaget sambil menatap Donghae takut-takut. Minah yang sejak tadi sibuk membayangkan Donghae terlihat semakin pucat ketika Donghae menangkap basah dirinya sedang membayangkan guru sejarahnya yang tampan itu.

“Kalian keluar dan cuci wajah kalian agar pikiran kalian lebih jernih. Aku tidak suka melihat muridku dengan terang-terangan membicarakanku dengan fantasi liarnya.”

Seluruh murid yang mendengar hal itu langsung mengunci bibir mereka rapat-rapat sambil menatap kasihan kearah Yoona Mira dan Choi Minah yang mendapatkan hukuman dari guru tampan mereka.

“Aisshh, aku malu sekali Minah-ah.” Gerutu Mira sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Minah yang berada di sampingnya juga melakukan hal yang sama sambil menggerutu kesal karena obrolan mereka yang tidak sopan itu telah didengar oleh guru sejarah mereka.

“Seharusnya aku memperhatikan pelajarannya dan tidak sibuk membayangkan guru Lee dengan senyum manisnya. Bodoh!”

“Sudahlah, lebih baik kita segera mencuci wajah kita dan segera kembali ke kelas.”

“Eh tunggu, apa yang mereka lakukan?” Tanya Mira sambil menunjuk sekumpulan gadis-gadis dari club voli yang sedang berkumpul di bawah atap sekolah sambil mendongak ke atas seperti sedang mencari-cari sesuatu.

“Hey, ada apa?”

Yoon Mira menyapa salah satu anggota voli itu dan ikut mendongak ke atas untuk melihat apa yang sedang terjadi.

“Bola Voli kami tersangkut di atas atap. Hyemi sedang berusaha mengambilnya, tapi karena tubuhnya tidak terlalu tinggi, sejak tadi Hyemi belum bisa mengambil bola voli itu.”

“Wahh kasihan sekali. Aku akan membantu Hyemi kalau begitu.”

“Mira-ah, kau mau kemana?” Cegah Minah sambil menahan lengan Mira karena mereka harus segera kembali ke kelas sebelum guru sejarah mereka kembali memberikan hukuman. Namun Yoon Mira berkelit dengan tetap ingin membantu anak-anak club voli mengambilkan bola mereka yang tersangkut di atas atap sekolah. Lagipula ia memiliki postur tubuh yang cukup tinggi, sehingga ia yakin jika ia bisa melakukannya.

“Kau  tunggu saja di bawah, aku akan segera kembali.” Ucap Mira santai dan langsung berlari menuju lantai tiga gedung sekolahnya untuk membantu Hyemi mengambilkan bola voli.

Sebentar saja Mira telah berada di atas pagar pembatas lantai tiga untuk mengambil bola voli yang berjarak satu setengah meter di depannya. Sambil memegang sebuah tongkat bambu pemberian Hyemi, Mira berusaha mengambil bola voli putih yang tinggal sedikit lagi didapatkannya.

“Yoon Mira, apa yang kau lakukan di sana? Kau bisa jatuh.”

“Ahh guru Im, aku sedang mengambil bola voli milik anak-anak club voli yang tersangkut di atap.” Teriak Mira sambil menoleh sekilas kearah Yoona. Ia lalu kembali fokus pada bola volinya yang sedikit lagi akan ia dapatkan.

“Hati-hati, pagar ini sangat licin.”

Yoona berjelan mendekat dan mendongakan kepalanya ke atas untuk melihat posisi bola voli yang akan diambil oleh Mira.

Bunuh dia!

Deg

Yoona merasa bulu kuduknya merinding. Ia dengan langkah pelan mulai mundur ke belakang sambil menoleh ke kanan dan kiri dengan panik. Biasanya wanita bergaun merah itu akan muncul setelah ia mendengar suara bisikan-bisikan aneh yang tiba-tiba memenuhi kepalanya. Ia takut sesuatu yang buruk seperti kejadian jatuhnya Hana di kelasnya dulu kembali terulang.

“Guru Im, kau baik-baik saja?” Tanya Hyemi heran ketika melihat Yoona mulai berjalan mundur dengan wajah pucat.

“Aaaku baik-baik saja. Kau awasi saja Yoon Mira.” Ucap Yoona terbata-bata. Tiba-tiba sekelebat bayangan putih melintas di depannya dan membuatnya terpekik kaget. Refleks Yoona langsung berteriak kencang dan melangkah mundur hingga kakinya terpleset dan jatuh di atas lantai. Bersamaan dengan itu Mira yang sedang fokus mengambil bola voli milik anak-anak club voli merasa terkejut dengan suara teriakan Yoona. Salah satu kakinya yang berpijak di atas pagar pembatas gedung sekolahnya terpleset, dan ia langsung terjun begitu saja ke bawah dengan suara debum yang cukup nyaring, disusul dengan suara jerita anak-anak club voli yang melihat secara langsung detik-detik ketika Yoon Mira jatuh.

“Yoon Mira!”

Yoona berteriak histeris di pinggir pagar sambil melihat ke bawah yang tanahnya telah dipenuhi oleh darah yang terciprat dari seluruh tubuh Yoon Mira. Ia pun dengan panik segera berlari ke lantai satu untuk segera menyelamatkan Yoon Mira sebelum terlambat.

“Cepat panggil ambulan, Yoon Mira  jatuh!” Teriak Yoona pada siapapun yang ia temui. Di ujung tangga Yoona melihat wanita berwajah pucat itu tengah menyeringai kearahnya sambil berjalan mendekati jasad Yoon Mira yang tampak mengenaskan. Dengan histeris Yoona langsut beringsut mundur sambit berkomat-kamit pelan untuk menyuruh hantu wanita pucat itu pergi.

“Kumohon pergilah, pergi! Jangan ganggu aku dan murid-muridku, pergi!”

“Guru Im? Guru Im Yoona? Guru Im Yoona!”

Yoona langsung memeluk Donghae ketakutan ketika pria itu membalik tubuhnya dan berusaha menyadarkannya dari rasa takut yang menderanya. Selama ini kehidupannya tenang dan selalu baik-baik saja. Namun semuanya berubah ketika malam itu untuk pertama kalinya ia melihat sesosok hantu yang berdiri dengan wajah pucat di dekat gerbang utama Kirin High School. Jika ia bisa ia ingin sekali menyingkirkan hantu wanita itu agar tidak lagi mengganggu hidupnya dan juga murid-muridnya.

“Tenanglah, kau pasti syok melihat Yoon Mira jatuh dari lantai tiga.” Ucap Donghae lembut. Ia mengabaikan begitu saja tatapan para siswa yang terus mengarah kearahnya yang sedang memeluk guru matematika mereka dengan erat. Ia lalu menarik paksa tubuh Yoona keluar dari kerumunan para tim medis yang mulai mengangkat tubuh Yoon Mira menuju ambulan.

“Guru Lee, tolong lepaskan aku.” Ucap Yoona lirih. Donghae menuruti keinginan Yoona begitu saja dan membiarkan Yoona beringsut menjauh. Wanita itu jelas terlihat kacau dan sangat merasa bersalah. Ia sejak tadi terus berkomat-kamit kecil dengan kata-kata yang tidak terlalu jelas. Namun dari apa yang Donghae dengar, Yoona sepertinya sedang mengutuk dirinya sendiri karena wanita itu terus mengucapkan kata pembunuh dengan suara kecil.

“Ada apa dengan Yoon Mira?” Tanya Donghae pelan. Ia sebenarnya tidak terlalu yakin jika Yoona akan menjawab pertanyaannya. Namun ia cukup merasa penasaran dengan apa yang baru saja terjadi karena seingatnya ia hanya menyuruh Yoon Mira dan Choi Minah mencuci muka, bukan naik ke lantai tiga hingga menyebabkan terjadinya peristiwa mengerikan beberapa menit yang lalu.

“Aku yang menyebabkan Yoon Mira jatuh, aku seorang pembunuh guru Lee.” Ucap Yoona lirih dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya sejak tadi.

“Bagaimana mungkin kau membunuh Yoon Mira guru Im? Ini pasti hanya sebuah kesalahpahaman.”

“Aaku… aku terpleset dan mengagetkan Yoon Mira yang sedang memanjat pagar untuk mengambil bola voli milik anak-anak club voli. Lalu… lalu Yoon Mira jatuh.” Ucap Yoona histeris. Donghae membawa Yoona ke dalam pelukannya dan menyandarkan kepala Yoona di dalam dada bidangnya yang nyaman.

“Sudah kuduga jika ini pasti hanya sebuah kesalahpahaman. Ayo pulang, aku akan mengantarmu pulang.”

“Tti ttidak perlu guru Lee, aku bisa pulang sendiri. Aku masih ingin menunggu perkembangan selanjutnya dari Yoon Mira.” Tolak Yoona langsung sambil menjauhkan tubuhnya dari Donghae. Ia tiba-tiba merasa malu pada Donghae karena telah bersikap seperti orang gila beberapa menit yang lalu karena kemunculan wanita berkulit pucat yang mendekati jasad Yoon Mira.

“Guru Lee apa kau percaya jika hantu itu ada?” Tanya Yoona tiba-tiba.

“Tergantung disaat seperti apa aku harus mempercayai jika makhluk itu ada.” Jawab Donghae ambigu. Yoona mengernyitkan dahinya tidak mengerti dan berusaha untuk menuntut penjelasan dari Donghae yang terlihat misterius di depannya.

“Aku tidak mengerti, bisakah kau menjelaskannya dengan jelas?”

“Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Ayo kita pulang, kebetulan aku juga tinggal di sebelah rumahmu.” Ajak Donghae sambil bangkit berdiri.

“Kau tinggal di sebelah rumahku? Sejak kapan?” Tanya Yoona terkejut. Seingatnya rumah kosong di sebelah rumahnya sejak lama dijual oleh pemiliknya, namun hingga berbulan-bulan lamanya rumah itu tak juga laku. Dan karena tidak ada yang merawatnya, rumah itu menjadi terlihat seram karena rumput-rumput tinggi yang memenuhi hampir diseluruh pekarangan rumah yang luas. Bahkan anak-anak disekitar kompleks rumahnya sering menyebut rumah itu sebagai rumah hantu karena penampilannya yang menyeramkan layaknya rumah-rumah yang digunakan untuk syuting film horor.

“Sejak satu minggu yang lalu. Kau pasti tidak terlalu memperhatikannya karena aku jarang keluar rumah dan merapikan rumput-rumput liar yang tumbuh tinggi di rumah itu. Saat ini aku sedang mencari seorang tukang kebun yang bisa membersihkannya karena semakin lama aku semakin risih melihatnya. Apa kau punya kenalan seorang tukang kebun?”

Yoona menggeleng. Ia berusaha mengingat-ingat aktivitasnya minggu lalu hingga ia tak menyadari kehadiran Donghae di sebelah rumahnya.

“Maaf, aku memang tidak akan peka dengan lingkungan sekitarku saat lelah.”

“Tidak masalah. Ayo kuantar kau pulang. Setelah aku mengantarmu pulang, aku akan ke rumah sakit untuk mengetahui kabar terbaru dari Mira. Kau tidak perlu khawatir, ini semua bukan salahmu. Ini hanya sebuah kecelakaan.”

“Ya, kuharap memang begitu.” Desah Yoona sedih sambil berjalan gontai mengikuti Donghae yang sudah terlebihdahulu berjalan di depannya.

-00-

“Huhh.. hujan.”

Yoona mendesah kecil sambil menyeruput coklat panasnya sedikit. Di luar hujan deras sedang mengguyur Seoul hingga daun-daun tampak beterbangan kesana kemari karena tertiup angin yang kencang. Suara ranting pohon terdengar beberapa kali mengetuk-ngetuk kaca jendela yang tertutup sempurna. Sambil meneliti tugas dari murid-muridnya, Yoona merapatkan selimut yang ia gunakan untuk menutup kakinya yang dingin. Malam ini badai tengah menerjang Seoul dengan mengerikan. Tak ayal hal itu membuat Yoona sedikit bergidik ngeri sambil memfokuskan perhatiannya pada tugas-tugas matematika yang dikerjakan murid-muridnya. Ia sesekali mengganti-ganti chanel televisi di depannya untuk mengusir rasa bosannya dan juga untuk mengusir perasaan takut yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya. Sejak ia dihantui oleh wanita berkulit pucat itu, setiap hari ia selalu merasa was-was. Terutama bila ia sedang berada di sekolah karena hantu wanita itu kerap menampakan diri di sekolah dan menebarkan teror padanya. Terlebih lagi setiap hantu itu menampakan diri, selalu saja muncul kejadian-kejadian mengerikan yang melibatkan muridnya. Hingga hari ini ia telah kehilangan dua muridnya yang sangat berharga. Sore tadi Donghae menghubunginya jika nyawa Yoon Mira tidak bisa diselematkan. Yoon Mira telah meninggal ketika tim medis akan membawanya ke rumah sakit. Hal itu jelas membuat Yoona semakin tertekan. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya telah ia lakukan hingga petaka-petaka itu datang silih berganti.

Tok tok tok

Yoona mendongakan kepalanya kearah pintu ruang tamu yang tiba-tiba diketuk dengan cukup kencang oleh seseorang. Tanpa pikir panjang ia segera meninggalkan pekerjaanya dan berjalan menuju pintu depan.

“Ya tunggu sebentar.” Teriak Yoona sambil membuka grendel pintu yang terpasang di sisi pintunya.

“Ada ap… kosong? Siapa yang iseng mengetuk pintu rumahku malam-malam seperti ini?” Gerutu Yoona kesal. Ia lalu menutup pintunya lagi dan kembali ke ruang tengah untuk merapikan tugas-tugasnya. Ia pikir ia sudah terlalu lelah dan ingin tidur. Lagipula malam ini terlalu dingin untuk begadang. Akan lebih menyenangkan bila ia bisa menghabiskan sisa malam yang dingin ini dengan bergelung di dalam selimut dengan nyaman.

Setelah selesai mengunci semua pintu dan merapikan semua tugas-tugasnya, Yoona segera masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai atas. Sebelum tidur tak lupa ia memasang alarm di ponselnya agar ia tidak terlambat bangun keesokan harinya karena ia hanya tinggal sendiri di rumah itu. Ayah dan ibunya sejak dua tahun yang lalu memilih untuk tinggal di Daegu dan membuka toko roti di sana. Sedangkan ia tidak ikut pindah karena ia memiliki pekerjaan di Seoul dan ia merasa berat untuk meninggalkan murid-muridnya yang terlanjur dekat dengannya.

Sebelum tidur Yoona berdoa terlebihdahulu agar malam ini tidak ada hal-hal buruk yang mengganggunya. Ia kemudian memejamkan matanya tenang dengan napas teratur yang  terlihat damai.

Srakk

Yoona membuka matanya sedikit ketika mendengar suara gesekan yang tiba-tiba terdengar di kamarnya. Ia lalu melirik kearah jendela dan kembali memejamkan matanya karena suara gesekan itu berasal dari suara ranting-ranting pohon yang bergesekan dengan jendela kamarnya.

Im Yoona…

            Yoona mengernyitkan dahinya. Tiba-tiba saja ia merasa tengkuknya terasa dingin. Namun ia berusaha mengabaikannya dengan tetap memejamkan mata karena ia mulai merasakan keringat dingin mulai menetes di keningnya. Semakin lama hawa dingin itu semakin menyebar di seluruh lehernya hingga ia mulai merasa sesak napas dan ia memutuskan untuk membuka matanya lebar-lebar.

“Kyaaaa!!”

Yoona beringsut mundur menjauhi wanita berkulit pucat yang kini sedang menyeringai di depannya. Sambil menunjukan taring-taringnya yang tajam, wanita itu mulai merangkak mendekati Yoona dan membuat Yoona terpojok di dinding kamarnya.

“Aaapa yang kau lakukan di sini? Pergi! Aku tidak memiliki urusan denganmu!”

Yoona meraung-raung ketakutan sambil menendangi hantu wanita itu dengan kakinya, namun seperti sebuah bayangan. Kakinya justru hanya menendang sebuah udara kosong tanpa bisa menyingkirkan wanita berwajah menyeramkan itu dari hadapannya.

“Kumohon pergilah! Aaaku… jangan ganggu aku.” Teriak Yoona dengan bulir-bulir air mata yang membanjiri wajahnya. Ia tidak bisa bergerak kemanapun sekarang, sedangkan hantu wanita itu telah berada tepat di depan wajahnya sambil mengulurkan tangan-tangan pucatnya untuk mencekik lehernya.

Im Yoona….

            “Aaakhh…. ttolong! Ttolongg…”

Yoona berusaha berteriak dan meminta tolong pada siapapun yang mendengar suaranya ditengah hujan badai yang mengguyur Seoul. Hantu itu kini sedang mencekik lehernya dengan kedua tangannya yang pucat dan berkuku tajam. Sayangnya hingga detik-detik mencekam itu berlalu, tak ada satupun yang datang untuk menyelamatkannya. Perlahan-lahan Yoona merasakan kesadarannya menurun. Pandangannya mengabur dan ia merasa benar-benar pasrah jika ia harus mati malam ini karena hantu wanita yang mencekiknya dengan kuku-kuku panjangnya yang telah menancap sempurna di sisi lehernya. Dan hal terakhir yang mampu dilihat Yoona sebelum kedua matanya benar-benar tertutup adalah mulut lebar wanita pucat itu yang hendak menghisapnya ke dalam rongga mulutnya yang gelap lalu menelannya bulat-bulat.

Bunuh dia…..

-00-

Suara gesekan alas kaki yang berisik dan suara deheman seorang pria yang keras membuat Yoona mengernyitkan dahinya dan mulai membuka matanya perlahan-lahan. Rasa sakit yang menjalari lehernya seketika membuat Yoona terpekik sambil mencoba menyesuaikan diri dengan hawa dingin yang menyergap tubuhnya.

“Aaakhh.. dimana aku?” Erang Yoona linglung sambil menatap buram pemandangan disekitarnya yang terasa familiar.

“Guru Im, akhirnya kau bangun juga.”

Yoona mendongakan kepalanya ke samping sambil mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali yang terasa mengabur. Entah apa yang terjadi padanya semalam, karena tiba-tiba saja sekarang ia telah berada di dalam ruangannya di Kirin High School.

“Guru Lee, apa yang terjadi padaku?” Tanya Yoona lagi seperti seorang yang baru saja sadar dari mabuknya. Donghae berjongkok di sebelah Yoona dan memegang dahi Yoona yang terasa sedikit hangat.

“Kau demam guru Im. Tadi pagi aku melihatmu tidur di atas lantai, kupikir kau lembur semalam dan tertidur di sini.”

Donghae membantu Yoona untuk berdiri dari atas lantai yang dingin lalu mendudukan wanita itu di atas kursi kulitnya yang empuk.

Sementara itu Yoona masih mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya semalam hingga ia bisa berkahir di dalam ruangannya di sekolah.

“Leherku sakit.” Erang Yoona sambil menggerakan lehernya ke kanan dan kiri. Donghae mendekatkan wajahnya ke sisi leher Yoona dan mencoba mengecek kondisi leher Yoona yang tampak memerah dan lecet.

“Apa kau baru saja mengalami kecelakaan, lehermu lecet.”

“Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku. Bahkan aku juga tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini. Seingatku semalam aku sedang tidur dengan nyaman di kamarku, lalu aku tidak mengingat apapun.” Jelas Yoona dengan dahi mengernyit. Donghae menelisik wajah Yoona yang belum sepenuhnya sadar. Wanita itu masih terlihat seperti wanita mabuk yang mengalami hangover dengan rambut sedikit basah dan baju rumah yang juga terlihat lembab.

“Sudahlah, lebih baik kau pulang dan beristirahat di rumah. Aku akan mengatakan pada kepala sekolah Kang jika kau sakit.”

“Kau benar, sepertinya aku memang harus pulang dan beristirahat di rumah karena kepalaku sangat sakit.”

Yoona mulai beranjak berdiri dengan tubuh yang sedikit limbung ke depan. Untung saja Donghae dengan sigap langsung menangkap tubuhnya sebelum jatuh terjerembam ke lantai.

“Kau membawa mobil?”

“Aku juga tidak tahu.”

“Kyyyyaaaaaa!!!”

Tiba-tiba terdengar suara jeritan yang cukup nyaring dari ruangan lain yang tak jauh dari kantor Yoona. Mereka berdua dengan wajah panik dan juga kaget langsung menghampiri sumber suara jeritan itu yang ternyata berasal dari ruang olahraga.

“Ada apa?”

“Iiitu… Choi Minah…”

Ucap seorang siswa dengan wajah pucat sambil menunjuk Choi Minah yang tubuhnya sudah menggantung di langit-langit atap ruang olahraga yang tinggi. Seketika Yoona menutup mulutnya sambil berpegangan pada Donghae karena tubuhnya tiba-tiba terasa limbung lagi. Ini sebuah mimpi buruk untuknya karena dalam beberapa hari ia telah kehilangan tiga muridnya dalam posisi terbunuh di sekolah. Entah apa lagi yang akan terjadi setelah ini, tapi ia sangat yakin jika peristiwa-peristiwa itu terjadi bersamaan dengan kemunculan hantu wanita pucat bergaun merah yang tiba-tiba menghantuinya.

“Kau hubungi petugas medis dan pihak kepolisian. Aku akan menemui kepala sekolah Kang.”

“Ggguru Lee..”

Yoona mencegah Donghae pergi dengan wajah pucat dan bibir bergetar. Wanita itu terlihat semakin kacau karena air mata yang mulai menetes menuruni pipinya.

“Sepertinya aku yang telah membunuh Choi Minah.” Ucap Yoona lagi dengan suara pelan yang nyaris hilang tertelan oleh suara para murid yang mulai berkerumun menyaksikan jasad Choi Minah yang menggantung di langit-langit ruang olahraga.

Flashback

Yoona membuka matanya perlahan dan mulai bangkit berdiri dengan tatapan kosong. Ia keluar dari kamarnya dan menuruni tangga di rumahnya dengan pelan lalu berjalan menuju pintu keluar rumahnya untuk pergi ke suatu tempat. Meski hujan lebat sedang mengguyur Seoul dan terjadi badai, Yoona tetap melangkahkan kakinya tak tentu arah menyusuri jalanan basah kompleks rumahnya yang sepi. Ia terus berjalan keluar dari kompleksnya dan membiarkan seluruh pakaiannya tidurnya basah hingga tubuhnya sedikit menggigil karena udara dingin yang mulai menusuk kulitnya. Sementara itu sosok wanita bergaun merah yang beberapa menit yang lalu mencekik lehernya hingga meninggalkan jejak merah mengerikan di sepanjang leher jenjangnya terus menuntunnya untuk pergi ke sebuah mini market yang merupakan target incaran selanjutnya. Wanita itu dengan suara sehalus kapas terus berbisik di telinga Yoona agar Yoona menemui salah satu muridnya, Choi Minah yang bekerja paruh waktu di sebuah mini market dua puluh empat jam yang lokasinya tak jauh dari Kirin High School.

Klinting

Yoona mendorong pintu kaca di depannya dengan tatapan kosong dan mulai berjalan masuk dengan pakaian basah yang airnya menetes-netes di sepanjang lantai mini market.

“Selamat datang. Oh guru Im?”

Choi Minah langsung membungkukan tubuhnya sembilan puluh derajat ketika melihat Yoona masuk dengan pakaian basahnya dan tatapan mata yang sedikit aneh. Dengan ramah Choi Minah menyambut Yoona dan menanyakan apa yang dibutuhkan Yoona di tengah malam yang dingin itu.

“Ikut aku.” Ucap Yoona datar dengan tatapan kosong. Choi Minah mengernyitkan dahinya heran sambil melirik keluar mini market yang sedang terjadi badai.

“Kau ingin mengajakku kemana guru Im? Di luar sedang hujan deras, dan bajumu juga basah. Apa guru Im ingin membeli sesuatu? Akan kuambilkan.”

“Ikut aku.”

Choi Minah tampak ragu sambil menatap bingung kearah Yoona. Ia lalu melirik jam tangannya sekilas dan memutuskan untuk mengikuti ajakan gurunya. Lagipula sepuluh menit lagi shift malamnya akan segera berakhir, jadi ia sepertinya memang bisa pergi bersama Yoona.

“Kalau begitu tunggu sebentar guru Im, aku akan mengambil barang-barangku dulu.”

Minah lantas berlari ke belakang untuk megambil tas kecilnya yang ia letakan di dalam loker. Sembari bersiap-siap, Minah sesekali melirik kearah gurunya yang sedang duduk dengan pandangan kosong di kursi khusus untuk memakan ramen. Namun ia tidak mau terlalu berburuk sangka pada gurunya dan segera pergi begitu saja untuk menemui Yoona yang telah menunggunya cukup lama karena ia mengirimi ibunya pesan akan pulang terlambat malam ini.

“Ayo guru Im, kita bisa pergi sekarang. Shin Haejo yang akan menggantikanku menjaga toko sudah datang.”

Yoona bangkit berdiri dan keluar begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia terus berjalan menerobos hujan dengan tatapan kosong yang membuat Minah yang sedang berjalan di belakangnya menatap khawatir. Bahkan Yoona tidak merespon sedikitpun ketika ia menawarkan diri untuk berbagi payung dan terus saja melangkah menuju bangunan Kirin High School yang gelap.

“Guru Im, apa yang akan kita lakukan di sekolah?” Teriak Minah sedikit keras. Namun Yoona sama sekali tak merespon dan terus masuk ke dalam gedung Kirin High School yang seharusnya terkunci.

“Aneh, kenapa ahjussi Kim tidak mengunci gerbangnya? Apa guru Im memang sudah meminta ahjussi Kim untuk membukakan gerbangnya?” Gumam Minah heran. Sebelum masuk menyusul Yoona yang telah lebih dulu menghilang dibalik gerbang Kirin High School yang tinggi, Minah sempat menolehkan kepalanya kesana kemari untuk mencari keberadaan ahjussi Kim. Namun sejauh mata memandang yang dilihatnya hanyalah rintik-rintik hujan yang turun semakin lembat dan bayangan pohon-pohon besar yang tampak menyeramkan di halaman Kirin High School. Akhirnya ia memutuskan untuk segera masuk ke dalam sekolah dan menyusul Yoona yang entah berada dimana karena guru matematikanya itu sudah tak terlihat lagi di depannya.

“Guru Im!” Teriak Choi Minah mulai ketakutan. Dengan langkah ragu-ragu ia mulai berjalan melewati kelas-kelas yang gelap dan juga menyeramkan. Suara gemerisik ranting-ranting pohon yang bergerak tak beraturan karena tertiup angin membuat suasana disekitarnya terlihat semakin mencekam dan menakutkan. Dalam hati ia bersumpah akan segera pergi dari sekolahnya itu setelah ia berhasil menarik gurunya itu dengan paksa keluar dari gedung Kirin High School yang menyeramkan karena ia sudah benar-benar ketakutan sekarang.

Setelah melangkah cukup jauh ke dalam gedung sekolahnya, Minah samar-samar melihat Yoona sedang berdiri di bawah atap tempat dimana Yoon Mira jatuh. Dengan perasaan takut dan juga was-was, Minah segera mendekati Yoona dan menepuk pundak gurunya itu pelan agar menyadari kehadirannya. Ia sesekali mengusap tengkuknya yang merinding karena membayangkan jasad Mira tadi pagi yang tergletak tepat di atas tanah yang dipijaknya.

“Guru Im apa yang kita lakukan di sini? Pagi tadi Yoon Mira baru saja jatuh. Apa guru Im merasa sedih dengan kepergian Yoon Mira? Aku juga merasakannya guru Im, Yoon Mira adalah gadis yang baik, aku pasti akan merindukannya.”

Tiba-tiba Yoona melangkah pergi begitu saja tanpa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Minah. Ia berjalan dengan langkah pelan menuju ruang olahraga yang terlihat gelap di depannya. Melihat Yoona berjalan menjauh, Choi Minah langsung mengikti langkah kaki gurunya yang ternyata mengarah menuju ruang olahraga.

“Guru Im, ayo kita pulang. Kurasa ini sudah terlalu berlebihan.” Ajak Minah sambil menarik lengan Yoona yang dingin. Namun Yoona sama sekali tak bergeming dan terus berjalan hingga ke tengah ruang olahraga. Wanita itu lalu menunduk dan memungut sebuah tali tambang yang siang tadi digunakan oleh murid-murid kelas IA untuk berlatih lompat tinggi.

“Guru Im, untuk apa tali tambang itu? Ayo kita pulang. Ibuku akan mencariku jika aku tidak pulang ke rumah tepat waktu.” Gerutu Minah mulai kesal sambil berjalan menghampiri Yoona untuk menarik guru muda itu pulang bersamanya. Ia berencana memaksa Yoona untuk pulang, meskipun gurunya itu tidak mau, tapi ia akan tetap memaksanya pulang karena ia sudah cukup takut berada di sekolahnya yang gelap. Apalagi dengan keadaan gurunya yang sangat aneh seperti itu. Ia mengira Yoona terlalu depresi karena baru saja kehilangan dua muridnya dengan cara yang tragis di sekolah.

“Choi Minah.”

“Ada apa guru Im? Ayo kita pulang.”

“Kemarilah.” Ucap Yoona datar dengan aksen diseret. Choi Minah mengernyitkan dahinya bingung, namun ia tetap menghampiri Yoona yang sedang merentangkan tali tambang di tangannya.

“Apa yang akan guru Im lakukan dengan tal… aahhh… ggu gguru Im.. uhuukk.. lep leppaskan aku. Ttolong! Tttol.. ttolong!”

Yoona menyeringai licik sambil menatap Minah yang mulai kehabisan napas di depannya. Dengan wajah sadisnya Yoona terus menikmati setiap kesakitan yang ditunjukan Minah hingga gadis muda itu benar-benar kehabisan napas dan tak bergerak lagi. Setelah itu ia mulai mengikat leher minah dengan tali tambang yang ia gunakan untuk mencekik Minah dan menggantung tubuh Minah di langit-langit ruang olahraga yang sepi.

Choi Minah… kau milikku…

Flashback end

“Kau hanya bermimpi guru Im.” Ucap Donghae santai ketika mereka berada di dalam ruangannya. Beberapa saat yang lalu Donghae memutuskan untuk membawa Yoona ke ruangannya dan menyerahkan tugas untuk menghubungi tim medis pada rekan gurunya yang lain. Ia merasa prihatin dengan kondisi Yoona yang terlihat tertekan dan juga ketakutan. Namun ia tidak bisa menerima cerita Yoona begitu saja karena ia yakin jika apa yang terjadi pada guru matematika itu hanya mimpi. Tidak mungkin guru matematika itu tega membunuh muridnya sendiri dibawah pengaruh sesosok hantu.

“Kau pasti terlalu syok dengan kejadian meninggalnya Jung Hana dan Yoon Mira sehingga kau berpikir kau telah dirasuki oleh hantu.”

“Tapi kurasa itu memang benar. Aku.. melihat wanita berwajah pucat dan bergaun merah itu sedang berdiri di sebelahku ketika aku mencekik Minah. Ia juga menyeringai kearahku dengan mulut terbuka yang perlahan-lahan menghisap nyawa Minah masuk ke dalam tubuhnya. Kemarin saat Yoon Mira jatuh, aku juga melihat wanita itu sedang menghisap nyawa Mira. Hantu itu pasti akan terus mencari korban selanjutnya. Guru Lee, kumohon percayalah padaku.” Mohon Yoona dengan wajah menyedihkan dan wajah frustrasi yang tercetak jelas di wajahnya.

“Tidak, aku tidak percaya hantu Yoona. Lebih baik kau pulang dan tenangkan dirimu di rumah. Aku akan mengantarmu.”

Yoona mendesah kecil sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan frustrasi. Entah apa yang akan ia lakukan untuk keluar dari lingkaran setan yang mengerikan itu. Saat ini ia yakin jika hantu itu masih mengincar murid-muridnya karena ia dapat merasakan kehadiran hantu itu disekitarnya. Sepertinya ia telah memiliki ikatan dengan hantu itu hingga ia bisa merasakan adanya aura aneh yang melingkupi sekitarnya. Ia kemudian melirik Donghae yang sedang mencoret-coret bukunya dengan wajah serius. Yoona lantas menyipitkan matanya sambil mengingat-ingat wajah Donghae. Tiba-tiba saja ia seperti merasakan de ja vu. Ia yakin pernah bertemu Donghae sebelumnya, tapi ia lupa dimana tepatnya. Ia merasa wajah pria itu tidak asing di matanya.

“Ayo kita pulang Yoona, dan janga menatapku seperti itu.”

-00-

“Tidurlah. Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa menghubungiku. Siang ini aku akan berada di sekolah karena kepala sekolah Kang ingin semua guru dan murid Kirin High School hadir dalam upacara pemakaman Choi Minah.”

“Tolong sampaikan maafku pada semuanya karena aku tidak bisa hadir.”

“Akan kusampaikan nanti. Beristirahatlah, jangan terlalu memikirkan hantu karena hantu itu tidak ada.”

Yoona tersenyum tipis pada Donghae dan melambaikan tangannya kearah Donghae hingga mobil Donghae berjalan menjauh meninggalkannya. Ia lalu berbalik dan berniat masuk ke dalam rumahnya. Namun sebelum masuk, ia sempat melirik sekilas rumah besar di sebelahnya yang kini ditinggali oleh Donghae. Sekilas Yoona merasa jika rumah itu tampak mengerikan. Bagian depan rumah itu masih ditumbuhi rumput-rumput tinggi yang belum dipotong sedikitpun oleh Donghae sejak pria itu tinggal di sana. Tapi Yoona tidak mau berpikiran terlalu jauh mengenai Donghae. Pria itu sudah cukup misterius selama ini. Meskipun mereka sering mengobrol dan mereka beberapa kali pulang bersama, namun tak banyak yang diceritakan oleh Donghae selama ini. Bahkan Donghae selalu berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka ketika ia menanyakan seputar keluarga atau asal-usul pria itu sebelum memutuskan untuk menjadi guru di Seoul.

Yoona menyipitkan matanya heran ketika tiba-tiba ia melihat gorden jendela di rumah Donghae bergerak. Sambil melirik ke kiri dan kanan, ia mulai berjalan menuju ke rumah Donghae untuk mengecek ke dalam rumah Donghae. Entah mengapa ia cukup penasaran dengan pria itu.

Langkahnya yang lebar terus membawa Yoona ke dalam pekarangan rumah Donghae yang terlihat seperti hutan, sangat sepi dan terasa mencekam. Tapi ia terus melangkahkan kakinya ke dalam hingga ia kini telah berada di depan pintu rumah Donghae yang bercat coklat. Yoona lalu berjalan mendekati jendela dan melongokan kepalanya ke dalam rumah Donghae yang gelap. Rupanya Donghae tidak menutup jendela rumahnya dengan gorden terlalu rapat sehingga Yoona dapat mengintip sedikit isi rumah Donghae yang tampak kosong.

“Aneh, tidak ada apapun di dalam.” Gumam Yoona pada dirinya sendiri.

Duuk duuk duukk

Yoona berhenti sejenak sambil mendengarkan dengan seksama suara berisik yang tiba-tiba muncul entah darimana. Ia pun semakin mempertajam pendengarannya untuk mendengarkan suara-suara berisik yang menyerupai suara benturan benda tumpul yang dibenturkan pada papan kayu.

Duuk duuk duuk

Yoona kembali mendengar suara itu. Ia lalu mengintip kaca jendela rumah Donghae untuk meneliti isi rumah itu karena suara berisik itu berasal dari dalam rumah. Namun tidak ada apapun yang bisa ia temukan di dalam rumah gelap itu. Hanya  sebuah kursi goyang kayu dan meja kayu kecil yang terdapat di dalam rumah itu. Yoona lalu menjauhkan wajahnya dari kaca jendela rumah Donghae sambil menatap rumah besar di depannya curiga.

“Kenapa rumah ini…”

Brugh

Yoona membeku ditempat ketika pundaknya tiba-tiba ditepuk oleh seseorang dan disusul dengan suara bass bernada dingin yang sangat dikenalnya.

“Apa yang kau lakukan di depan rumahku?”

“Aaa… guru Lee! Kapan kau kembali?” Tanya Yoona gugup sambil meringis kecil. Kedua bola matanya tampak bergerak-gerak kesana kemari tanpa berani menatap kedua mata Donghae yang teduh namun memancarkan aura mengintimidasi yang mengerikan di depannya.

“Apa yang kau lakukan di depan rumahku?” Ulang Donghae lagi dengan suara mendesis. Yoona tampak kikuk dan mencoba mencari-cari alasan untuk berbohong pada Donghae. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia sedang mengintip rumah pria itu seperti pencuri sambil mencari asal suara aneh yang sejak tadi terdengar berisik disekitar rumah itu.

“Aku sedang mencari kucingku.” Bohong Yoona lancar. Ia langsung saja menggunakan alasan itu karena ia teringat pada kucingnya yang sekarang tinggal bersama kedua orangtuanya di Daegu.

“Apa sudah ketemu?”

“Belum, sepertinya kucingku tidak berada di sini. Maaf telah masuk ke halaman rumahmu tanpa ijin guru Lee, aku permisi.”

Yoona menundukan kepalanya dalam dan langsung cepat-cepat bergegas pergi. Sembari melangkahkan kakinya tergesa dari rumah Donghae, Yoona merasa jika tatapan menusuk Donghae tak lepas sedikitpun darinya hingga ia benar-benar menghilang dibalik pintu pagar kayu di depan rumahnya. Dan entah kenapa ia merasa Donghae sedikit aneh. Pria itu terlihat tidak suka ketika ia masuk ke dalam rumahnya, padahal ia tidak sedang melakukan apapun. Ia hanya ingin memastikan jika apa yang ia dengar tadi adalah nyata. Ia khawatir, ia akan kembali berhalusinasi seperti kemarin malam yang berakhir dengan meninggalnya Choi Minah.

-00-

Yoona menyandarkan tubuhnya yang tak berdaya dibalik pintu ruang tamunya dan meluruh ke atas lantai dengan raut frustrasi yang tercetak jelas di wajahnya. Bayangan ketika ia mencekik Minah dan ketika ia menggantung tubuh gadis remaja itu tampak begitu nyata di kepalanya dan sama sekali bukan terlihat seperti mimpi. Apalagi kondisi rambutnya yang lembab dan juga bajunya yang lembab membuktikan jika semalam ia memang keluar dari rumahnya dalam keadaan hujan lebat lalu membawa Minah ke sekolah untuk dibunuh.

Perlahan-lahan air mata Yoona kembali menetes membasahi kedua pipinya dan terus turun hingga menetes di atas lantai keramik putih yang dipijaknya. Ia sungguh tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Setiap ia mencoba bertanya pada orang lain mengenai hantu, mereka justru menertawakannya dan menganggapnya tak bisa berpikir realistis di tengah abad ke dua puluh satu.

Yoona…

Yoona langsung mendongakan wajahnya dengan penuh antisipasi ketika mendengar suara bisikan yang sama seperti yang selama ini sering ia dengar. Dengan kedua mata berairnya, Yoona menatap nyalang kesana kemari untuk menemukan sosok wanita misterius yang sering menganggunya akhir-akhir ini. Namun setelah itu ia memutuskan untuk pasrah, ia pasrah dan tetap bergeming di tempat tanpa melakukan apapun. Ia telah berada di titik jenuhnya. Ia sudah bosan dengan semua ketakutannya dan juga kekhawatirannya pada sosok wanita pucat yang akan memakannya bulat-bulat. Ia sekarang benar-benar pasrah, menyerahkan jalan hidupnya pada sang pencipta dan membiarkan takdir yang akan menentukan akhir hidupnya. Jika memang yang terbaik baginya adalah menyusul ketiga muridnya ke surga, maka ia akan menerima itu semua dengan hati terbuka. Tak ada gunanya ia terus menghindar dan bersikap seperti orang sakit jiwa yang dipandang aneh oleh orang lain karena mengira dirinya masih mempercayai hal-hal remeh semacam hantu. Di abad dua puluh satu hantu itu tidak ada, namun orang-orang jahat semakin banyak bermunculan.

-00-

Dua hari berlalu dengan begitu cepat bagi Yoona. Kehidupannya dari hari ke hari semakin bertambah buruk setelah ia mengalami berbagai macam peristiwa mengerikan yang juga menimpa murid-muridnya. Kemarin sore sepulang dari sekolah, Yoona kembali dihantui oleh sosok wanita bergaun merah yang akhir-akhir ini sering muncul disekitarnya. Bahkan kini wanita itu terlihat lebih kuat dengan aura yang cukup menyeramkan.

“Hhaahh..”

Yoona menghembuskan napas kecil menikmati pemandangan sore melalui jendela kantornya. Ia lelah, sangat lelah dengan semua ketakutan yang terus menggelayuti hidupnya. Kedua  matanya kini terlihat berkantung dan sangat memprihatinkan karena ia tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak di rumah. Ia takut wanita itu kembali mengganggunya dan membuatnya melakukan hal-hal mengerikan di luar kehendaknya. Tapi ia sangat bersyukur karena hingga detik ini semuanya masih berjalan lancar. Murid-muridnya masih bersekolah seperti biasa dan tidak ada berita buruk mengenai muridnya yang celaka atau muridnya yang tiba-tiba meninggal dalam kondisi yang mengerikan.

“Guru Im.”

Yoona menoleh kearah pintu dan menemukan Donghae sedang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum manis kearahnya. Hubungannya dan Donghae kini semakin dekat karena pria itu sejak dua hari yang lalu sering memberinya dukungan dan menghiburnya agar tidak terlalu menyalahkan diri sendiri atas meninggalnya murid-muridnya. Hal itu sedikit banyak membuat hati Yoona menghangat. Sejak dulu ia tidak pernah terlalu dekat pada pria manapun karena ia mencoba menjaga diri agar tidak mengecewakan kedua orangtuanya yang tinggal di luar kota. Tapi ketika bersama Donghae semuanya terasa berbeda. Ia selalu merasa lebih aman dan merasa Donghae benar-benar menjaganya dengan baik, sehingga ia ingin selalu berada di dekat Donghae untuk menenangkan hatinya yang selalu dilanda perasaan takut.

“Hai, kau masih di sini guru Lee?”

Yoona menarik satu kursi kosong di sebelahnya lalu mempersilahkan Donghae duduk.

“Aku mengkhawatirkanmu. Akhir-akhir ini kau terlihat berbeda, kantung matamu semakin menghitam dan kau juga tampak pucat. Apa kau masih memikirkan kejadian-kejadian mengerikan yang menimpa murid-murid kita?”

“Hmm, tentu saja.” Jawab Yoona lemah dengan senyum masam yang tercetak jelas di wajahnya. Tidak mungkin ia bisa melupakan kejadian itu begitu saja setelah semua kejadian mengerikan yang turut menyeret dirinya. Jika hantu itu tidak menampakan dirinya dan menghantuinya, maka ia tidak akan menjadi semengerikan ini. Tapi hantu itu telah merusak segalanya. Ia telah mengacaukan kehidupannya yang semula tenang penuh dengan warna, kini menjadi kacau dan suram.

“Sudah kukatan padamu untuk melupakan semuanya, itu bukan salahmu Yoong.”

Donghae mulai memanggil Yoona dengan nama kecilnya. Sejak mereka menjadi dekat dua hari yang lalu, Yoona semakin terbuka padanya dan mengijinkannya untuk memanggilnya dengan nama kecilnya.

“Andai aku bisa melakukannya, aku pasti akan melakukannya Hae. Tapi ini sulit, hantu itu… kumohon kali ini biarkan aku mengatakan semuanya padamu.” Ucap Yoona memohon sebelum melanjutkan ceritanya. Selama ini Donghae selalu menghindarinya bila ia mulai mengangkat topik mengenai hantu pada pria itu. Namun kali ini ia benar-benar ingin menceritakan semuanya pada Donghae. Ia ingin mengeluarkan seluruh ganjalan hatinya selama ini agar ia bisa lebih tenang dalam menjalankan hari-harinya setelah ini.

“Hantu itu apa?”

Yoona mendesah lega ketika Donghae memberikan isyarat positif untuk melanjutkan ceritanya mengenai hantu wanita bergaun merah yang sejak beberapa minggu yang lalu sering mengganggunya.

“Hantu itu menerorku. Ia terus mendatangiku dan dari hari ke hari aku merasa auranya semakin kuat. Sejak para gadis itu terbunuh, kekuatannya terasa semakin kuat dan ia menjadi lebih sering muncul di hadapanku. Kira-kira apa yang harus kulakukan?”

“Berlari, menghindarinya.”

“Menurutmu apa aku bisa?” Tanya Yoona lagi dengan wajah sendu.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena jika kau bisa melakukannya, maka kau tidak akan terlihat sepucat ini. Kau tidak bisa melakukannya?”

Yoona mengangguk. Menangguk sekali dengan sorot mata kosong untuk membenarkan tebakan Donghae. Pria itu benar, ia memang tidak akan pernah bisa menghindari wanita bergaun merah itu. Tapi apa sebenarnya yang diinginkan wanita itu darinya? Ia tidak pernah mendapatkan jawaban pasti dari setiap pertanyaanya dan justru selalau mendapatkan teror yang dari hari ke hari semakin mengerikan dan membuatnya frustrasi.

“Lalu apa yang harus kulakukan?” Ucap Yoona mengulang pertanyaan yang sama. Donghae menatap lurus kedalam manik caramel Yoona yang terlihat redup dan berbisik pelan tepat di depan bibir Yoona yang tertutup rapat.

“Tidak ada.”

Bibir tipis itu tiba-tiba saja telah berada di atas bibir pucat Yoona dan melumatnya pelan. Yoona perlahan-lahan memejamkan matanya dan mulai menikmati setiap getaran halus yang dialirkan Donghae ke tubuhnya. Pria itu dengan lembut membawa bibirnya berlayar, menyelami indahnya gairah membara yang memabukan. Lalu kilasan demi kilasan ketika ia pertama kali bertemu dengan Donghae mulai berputar-putar di kepalanya dengan indah, menciptakan sebuah film dengan rangkaian jalan cerita yang indah yang dimulai ketika ia sedang berada di hutan untuk menemani murid-muridnya melakukan kemah beberapa minggu silam.

Pria itu…

            Yoona berhenti menggerakan bibirnya dan terdiam kaku ketika potongan memori yang selama ini ia lupakan kembali muncul dan mengingatkannya akan satu hal, bahwa ia pernah bertemu Donghae sebelumnya, di hutan. Di sebuah desa di Jeolla.

“Ada apa? Apa aku terlalu terburu-buru?”

“Tidak. Aa aku.. aku hanya ingin pulang.” Bisik Yoona pelan dengan tatapan menyelidik yang terus ia arahkan pada Donghae.

Mungkinkah ia berbohong padaku? Kenapa ia melakukan itu? Kenapa ia terus berpura-pura tidak mengenalku dan terus menyembunyikan daerah asalnya bila sebenarnya ia dulu pernah tinggal di Jeolla?

                                                                        -00-

Setibanya di rumah Yoona tak bisa berhenti memikirkan Donghae. Bayang-bayang ketika ia tersesat di hutan dan bertemu Donghae yang saat itu mengobati kakinya yang terkilir mulai terlihat jelas di dalam memori otaknya. Sekarang ia yakin jika pria yang ia temui di hutan menggunakan topi hitam yang sedikit menutupi wajahnya itu adalah Donghae karena ia sempat melihat iris pria itu dari samping dan melihat sudut bibir pria itu yang sedikit tersenyum ketika ia mengucapkan terimakasih berulang-ulang di depannya. Yoona lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju jendela besar di kamarnya untuk melihat rumah besar di samping rumahnya yang kini dihuni oleh Donghae. Dari jendela kamarnya, Yoona dapat melihat jika rumah itu sangat gelap dan suram. Bahkan sepertinya selama ini rumah yang ditinggali oleh Donghae itu tidak pernah terlihat seperti rumah yang berpenghuni karena rumah itu masih memiliki rumput liar yang tinggi dan cat rumahnya juga masih menggunakan cat yang lama yang sudah tampak menguning dan mengelupas di bagian sisi-sisi rumahnya.

Srekk srek

Tiba-tiba saja Yoona mendengar suara gesekan semak-semak yang berasal dari halaman rumah Donghae. Dengan kedua mata yang disipitkan, Yoona mencoba menajamkan netranya agar ia mampu melihat apa yang sedang terjadi di halaman rumah Donghae yang suram. Dari rimbunnya rerumputan tinggi yang tumbuh di halaman rumah Donghae, Yoona dapat melihat pria itu sedang menarik sebuah karung besar yang sepertinya tidak ringan karena ia melihat Donghae menariknya dengan mengerahkan cukup banyak tenaga yang ia punya. Lalu pria itu mengambil sebuah cangkul yang sebelumnya ia letakan di atas tanah untuk dimasukan ke dalam bagasi mobilnya bersama karung besar yang sebelumnya diangkatnya.

“Guru Lee!”

Entah mendapatkan keberanian dari mana, tiba-tiba saja Yoona sudah melambaikan tangannya dari atas jendela kamarnya sambil tersenyum manis kearah Donghae yang terlihat terkejut, namun pria itu berhasil menguasai dirinya dengan baik.

“Tunggu sebentar, aku akan turun.”

Yoona bergegas turun, melompati dua anak tangga sekaligus agar dapat segera bertemu Donghae. Ia terlalu banyak berpikiran buruk mengenai Donghae sejak ia menyadari kenyataan jika mereka pernah bertemu sebelumnya. Dan ia sangat ingin bertanya pada Donghae, alasan pria itu mengapa tidak mengatakan yang sebenarnya padanya.

“Yoona, ini sudah malam.”

Donghae menegur Yoona sambil melirik jam tangannya ketika Yoona telah berdiri di depannya dengan mantel tebal berwarna coklat yang membungkus tubuh kurusnya agar tidak terterpa dinginnya angin malam yang membekukan tulang.

“Aku tidak bisa tidur.”

“Masih memikirkan hantu itu?” Tebak Donghae. Yoona menganggukan kepalanya kecil sambil menendang kerikik-kerikil kecil di kakinya pelan.

“Kau ingin minum coklat panas di rumahku? Udara di luar dingin.”

Dengan senang hati Yoona menerima ajakan Donghae dan mulai mengikuti langkah Donghae masuk ke dalam rumah pria itu. Sekilas Yoona sempat melirik bagasi mobil Donghae yang tidak tertutup dengan sempurna. Gumapalan karung yang sebelumnya diangkat Donghae tampak menjulur keluar dan sedikit menjuntai ke atas tanah. Namun Yoona hanya mampu melihatnya dalam diam tanpa bisa memastikan isi dari karung raksasa itu.

“Duduklah, aku akan menyiapkan coklat panas di dapur.”

Yoona mendudukan dirinya di atas kursi kayu yang tampak sederhana di dalam ruang tamu Donghae yang kosong. Tidak ada apapun di dalam rumah itu, hanya ada kursi kayu sederhana, meja kayu, dan kursi goyang kayu yang teronggok begitu saja di sudut ruangan. Selain itu penerangan yang remang-remang semakin membuat suasana di rumah Donghae terasa mengerikan. Hal itu membuat Yoona seketika meringis takut sambil mengetuk-ngetukan jarinya di atas pahanya untuk mengalihkan rasa takut, bosan, dan juga was-was karena Donghae tak kunjung kembali dari membuat coklat panasnya.

“Kenapa guru Lee lama sekali.” Gumam Yoona mulai tak sabar. Ia lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke sebuah pintu yang sebelumnya dilewati Donghae setelah berpamitan padanya untuk membuat coklat panas. Asumsinya pintu itu akan mengantarkannya menuju dapur atau ruangan lain yang pada akhirnya akan menuju kearah dapur, tapi ia salah. Ruangan yang ia lihat setelah ia melewati pintu adalah sebuah ruangan kosong dengan keadaan yang cukup berantakan. Kursi kayu berjatuhan tak beraturan di atas lantai, tali tambang yang menjulur panjang kesana kemari, dan bercak-bercak kecoklatan yang mengotori hampir disetiap bagian lantai di ruangan itu. Dengan perasaan yang mulai was-was, Yoona mencoba berjalan melewati ruangan itu dan ia menemukan dua pintu yang terletak di sisi kanan dan sisi kiri ruangan itu. Ia pun akhirnya memilih berbelok ke sisi kiri yang pintunya sedikit terbuka. Perlahan-lahan ia mendorong pintu itu dan menemukan sebuah ruangan baru yang ternyata adalah sebuah kamar tidur. Kamar tidur milik Lee Donghae yang hanya mendapatkan penerangan dari cahaya bulan yang cahayanya menembus melalui jendela besar yang menghadap langsung kearah jalanan.

Yoona terus melangkah ke dalam kamar Donghae dan menemukan banyak kertas yang berserakan di atas ranjangnya. Ia lalu menarik kertas-kertas itu dan langsung membungkam bibirnya rapat-rapat karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Lee Donghae memiliki foto wanita bergaun merah yang selama ini menghantuinya dan beberapa foto lain ketika ia sedang membunuh murid-muridnya.

“Calistha mengatakan padaku jika kau masuk ke sini Yoong, apa yang telah kau temukan? Sebuah harta karun?” Tanya Donghae santai sambil bersandar pada sisi pintu kamarnya. Yoona refleks langsung membalikan tubuhnya sambil menatap was-was pada Donghae yang telah berubah menjadi pria menyeramkan.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Katakan padaku? Dan apa maksud semua ini? Kenapa kau memiliki semua gambar ketika aku membunuh murid-muridku? KENAPA?” Teriak Yoona histeris dengan luapan emosi yang tak bisa dibendung. Tatapan matanya menyiratkan kemarahan, kesedihan, kekecewaan, dan berbagai macam emosi lain yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan yang membuatnya semakin marah pada Donghae adalah karena pria itu sejak awal mengetahui sosok wanita bergaun merah yang sering menghantuinya itu.

“Tenang Yoong, aku pasti akan menjelaskan semuanya padamu. Pertama-tama apa yang ingin kau dengar terlebih dahulu? Oh, masalah pertemuan pertama kita? Kita sebelumnya pernah bertemu di hutan, ketika kau sedang mendampingi murid-muridmu berkemah di Jeolla. Kau ingat?”

“Ya aku ingat. Aku mengingatnya saat kau menciumku. Apa ini alasannya kenapa kau tidak mau mengatakan yang sebenarnya, untuk menutupi semua kebusukanmu?”

“Yoona, aku tertarik padamu. Aku menyukaimu ketika pertama kali aku melihatmu sedang mendirikan tenda bersama murid-muridmu yang lain. Kau cantik, kau cerdas, dan kau memiliki sepasang mata bulat bagaikan magnet yang mampu menarikku untuk selalu ingin mendekatimu. Tapi sayangnya aku terikat pada Calistha, pasangan abadiku. Aku tidak bisa memiliki wanita lain untuk bersanding denganku, sehingga aku memutuskan untuk menggunakan tubuhmu sebagai wadah bagi jiwa Calistha yang tidak memiliki raga.” Ucap Donghae sambil memainkan ujung rambut Yoona yang menjuntai. Yoona terpaku di tempat dengan berbagai pikiran kacau yang berkecamuk di dalam kepalanya. Ia tak menyangka jika kepergiannya ke Jeolla adalah awal dari semua malapetaka yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Bahkan karena dua iblis yang mengusik hidupnya, Lee Donghae dan kekasih abadinya, Calistha, ia harus menjadi pembunuh bagi ketiga muridnya. Ia telah membunuh Hana, Mira, dan juga Minah secara tidak sadar entah bagaimana. Namun dari foto-foto yang ia lihat, ia menjadi semakin yakin jika kilasan-kilasan samar yang sering ia lihat seperti mimpi buruk itu adalah nyata.

“Kau membuatku membunuh ketiga muridku! Brengsek!”

Yoona mendorong dada Donghae kuat agar menjauh darinya, namun dengan sigap Donghae langsung menangkap kedua tangan mungil itu dan menguncinya ke belakang.

“Ssshhh… Rileks, tarik napas dan hembuskan perlahan. Sebenarnya kau membunuh empat murid Im Yoona.”

“Ssiapa? Siapa lagi yang kubunuh? SIAPA?” Teriak Yoona frustrasi dengan air mata yang kembali turun membasahi kedua pipinya.

“Kim Yeun. Ahh, tapi karena kau terlalu lama dan mulai berani melawan Calistha, aku yang menggantikanmu untuk membunuh Kim Yeun. Gadis bodoh itu dengan mudah berhasil kuperdaya dan kubunuh kemarin sore setelah kau dengan lancangnya hampir menyelinap masuk ke dalam rumahku. Kau ingat?”

“Jjjadi, jadi suara itu? Suara berisik yang kudengar itu suara Kim Yeun? Kau menculik Kim Yeun dan mengatakan pada semua orang jika Kim Yaeun sedang mengikuti lomba di luar kota? Brengsek kau Lee Donghae! Brengsek! Kau iblis!”

Yoona meronta-ronta sekuat tenaga dari cekalan tangan Donghae yang kuat, namun tanpa diduga pria itu justru menjatuhkannya di atas ranjang dan mengikat kedua tangannya menggunakan tali tambang yang sebelumnya menjutai di atas lantai.

“DIAM! Aku membutuhkan lima tumbal untuk mempersiapkan kebangkitan Calistha, dan aku sebenarnya ada di sini hanya untuk membunuh tumbal ke lima. Sayangnya kau bergerak terlalu lambat dan juga cengeng hingga membuatku harus turun tangan untuk membunuh tumbal ke empat.”

“Lepaskan aku! Aku tidak mau menjadi tumbalmu, kau akan membusuk di neraka Lee Donghae. Akkhh…”

Yoona menjerit keras ketika ia merasakan sebuah tangan yang tak kasat mata mencekik lehernya. Menghimpit jalan pernapasannya hingga ia merasa semakin sesak dan tak bisa bernapas. Di sebelahnya Donghae justru tertawa terbahak-bahak sambil menikmati setiap kesakitan yang sedang dirasakannya seperti dulu saat ia menikmati detik-detik kematian Choi Minah.

“Llle Dddonghae… aaku mempercayaimu, mengapa kau tega melakukan iiini?” Ucap Yoona terengah-engah. Donghae mencondongkan wajahnya kearah Yoona dan berbisik pean tepat di telinga Yoona dengan tawa menggelegar yang membuat Yoona semakin muak.

“Itu adalah kebodohanmu Im Yoona. Terlalu lugu dan polos memang bisa mengantarkan seseorang ke dalam jurang yang dalam. Oyaa, mungkin kau cukup bertanya-tanya mengenai kematian Hana yang tidak kau sadari. Sebenarnya saat itu aku tidak benar-benar pulang terakhir, aku hanya sedang memastikan semuanya aman agar Hana baru ditemukan keesokan paginya dan memastikan penghuni sekolah tidak terlalu curiga karena kau yang telah membunuh Hana dengan mendesakan banyak bantal di atas wajahnya hingga ia mati kehabisan napas. Ahh.. sayang sekali kau tidak mengingat detik-detik menyenangkan itu karena kau sedang dikuasai oleh Calistha.”

“Cih, kau masih membutuhkan satu orang lagi untuk dijadikan tumbal. Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukannya. Kau tidak akan pernah bisa membunuh murid-muridku lagi!”

“Siapa yang mengatakan jika aku akan membunuh muridmu Yoona? Apa aku mengatakannya? Tidak! Aku tidak membutuhkan murid-muridmu yang bodoh itu karena aku hanya tinggal membunuhmu Yoona. Kau adalah tumbal yang ke lima sekaligus wadah bagi Calistha. Jadi setelah ini tubuhmu yang seksi ini akan memiliki tuannya yang baru. Calistha akan mengambil alih semua tubuhmu yang menggoda ini sayang.” Bisik Donghae mesra sambil mendaratkan sebuah kecupan basah di pelipis Yoona. Yoona beringsut jijik dan menatap Donghae dengan tatapan dinginnya yang menusuk, namun hal itu justru membuat Donghae semakin bernafsu untuk menciumi wajahnya lagi dan lagi karena ia menyukai tatapan menusuk yang dilayangkan Yoona padanya. Terlihat menggoda dan seksi.

“Kyaaaa!! Lepaskan aku brengsek! TOLONGGG! TOL…”

Donghae langsung membungkam bibir Yoona dengan menciumnya penuh nafsu dan brutal. Ia tak bisa membiarkan Yoona mengacaukan rencananya yang telah bertahun-tahun disusunnya. Sejak dua tahun yang lalu ia telah memutuskan untuk mencarikan wadah baru bagi Calistha setelah ia berhasil membangkitkan arwah Calistha yang meninggal bertahun-tahun yang lalu karena diracun oleh kakak tirinya. Dulu ia dan Calistha adalah pasangan bahagia yang tinggal di Jeolla dan  hampir saja menikah jika kakak tiri Calistha yang jahat tidak iri kepada adiknya dan memutuskan untuk meracuni adiknya di malam pernikahan dengannya. Ketika Calistha meninggal, ia benar-benar hancur. Ia terpuruk. Ia lalu menggunakan berbagai macam cara agar ia bisa membawa Calistha kembali. Ia ingin membangkitkan Calistha suatu saat nanti dan memberikan Calistha kehidupan ke dua untuk hidup bersamanya. Sayangnya mencari sebuah wadah untuk Calistha tak semudah dugaanya. Selama ini ia terus mencari wadah yang kuat yang benar-benar bisa menampung jiwa Calistha yang juga kuat. Selama ini wadah yang akan ia gunakan untuk menjadi tubuh Calistha selalu menolak roh Calistha dan berakhir dengan kematian wadah itu. Merasa frustrasi, ia pun memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar hutan. Secara kebetulan siang itu ia bertemu Yoona. Dengan wajah polosnya dan mata bulatnya yang bagaikan magnet, Yoona berhasil membuatnya kembali merasakan jatuh cinta. Setelah itu keinginannya untuk menjadikan Yoona sebagai wadah bagi Calistha begitu kuat. Ia yakin jika Yoona adalah wadah yang memang ditakdirkan untuk Calistha. Wanita itu kuat, cerdas, dan cantik. Bahkan tubuh Yoona dapat beradaptasi dengan mudah ketika Calistha beberapa kali masuk kedalam tubuhnya untuk membunuh beberapa tumbal yang harus diserahkan sebagai pertukaran atas kehidupan Calistha nanti. Oleh karena itu ia melakukan segala macam cara agar rencananya benar-benar berhasil. Ia tidak boleh kehilangan Yoona dan harus benar-benar mendapatkan Yoona sebagai wadah baru bagi Calistha karena ia terlanjur menyukai raga Yoona yang menawan.

“Tenanglah sayang, aku janji akan menjaga tubuhmu dengan baik bersama Calistha.” Bisik Donghae lembut sambil memberikan kecupan ringan di pipi Yoona. Yoona mendecih marah dan meludahi wajah Donghae dengan umpatan-umpatan kasar yang berhasil membuat pria itu semakin murka.

“Aku sudah mencoba bersikap baik di depanmu Yoona. Lihat, Calistha sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam tubuhmu yang indah. Kau harus mati.”

Donghae mengeluarkan sebuah pisau dan mulai menggores pergelangan tangannya untuk melakukan ritual. Lilin-lilin yang entah kapan berada di dalam kamar Donghae, tiba-tiba telah menyala dengan terang mengelilingi ranjang besar yang di atasnya diisi oleh Yoona. Melihat itu Yoona menjadi panik dan mencoba bangkit berdiri untuk mengacaukan ritual mengerikan yang sedang dilakukan Donghae. Dengan susah payah ia mencoba turun dari ranjang untuk menyingkirkan berbagai macam persiapan ritual yang telah diisiapkan oleh Donghae. Pria itu menyusun enam buah mangkuk kecil di atas lantai yang kelimanya telah berisi darah, empat darah dari murid-muridnya yang meninggal, dan satu mangkuk lagi berisi darahnya. Hanya tersisa satu mangkuk yang belum terisi. Mangkuk itu nantinya akan digunakan Donghae untuk menampung darah Yoona setelah ia selesai merapal mantra-mantra untuk menyempurnakan ritual itu. Tapi sebelum hal itu terjadi, Yoona sudah terlebihdulu menendang dua lilin yang terletak di dekatnya. Hal itu membuat ujung selimut milik Donghae terbakar dan membuat Donghae menggeram marah. Pria itu dengan kasar menarik Yoona unutuk mendekat dan memaksa tangan Yoona untuk terulur agar ia bisa menyayatnya.

“Lepaskan!”

Yoona terus bergerak-gerak brutal hingga Donghae tidak bisa menyayat pergelangan tangan Yoona. Api yang berkobar dari selimutnya membuatnya harus mengalihkan sedikit perhatiannya untuk memadamkan api itu sebelum kebakaran besar terjadi di rumahnya. Selagi Donghae sibuk memadamkan api, Yoona mencoba untuk kabur dan menumpahkan mangkuk-mangkuk kecil yang berisi darah di depannya. Melihat Yoona yang sedang mengacaukan rencananaya, membuat Donghae langsung meninggalkan begitu saja kegiatannya memadamkan api dan ia langsung menarik tangan Yoona untuk menjauh dari mangkuk-mangkuknya yang berisi darah.

“Aaakkhh…. Lepaskan!”

Yoona merintih kesakitan ketika Donghae menjambak rambutnya dan membawanya mendekat kearah kobaran api. Pria itu dengan paksa menarik tangannya dan meletakannya tepat di atas kobaran api yang sedang menyala-nyala dengan brutalnya di depan mereka.

“Kita sudah tidak memerlukan darah-darah itu Yoona, hanya tinggal mempersembahkan darahmu di atas api ini dan semuanya akan berhasil.”

“Tidak! Lepaskan aku! Pergi!”

Yoona meronta-ronta dan terus mendorong Donghae agar menjauh. Kakinya yang terikat membuatnya tidak bisa melakukan gerakan apapun dengan bebas. Namun ia masih bisa mendorong tubuh Donghae dengan tubuhnya hinnga pisau yang digenggam Donghae terlempar di bawah kakinya.

Plakk

Donghae menampar pipi Yoona keras dan segera memungut pisau itu sebelum Yoona kembali berulah. Ia sudah terlalu muak dengan seluruh perlawanan yang diberikan Yoona dan ia ingin segera mengakhirinya karena sejak tadi Calistha sudah menunggu dengan gelisah di atas ranjangnya. Wanita itu saat ini tengah berbaring sambil memejamkan matanya khawatir, menunggu saat-saat ia dibangkitkan.

“Kau tidak akan bisa melakukan apapun lagi Yoona…” Seringai Donghae licik sambil mengarahkan ujung pisaunya pada pergelangan tangan wanita itu. Yoona yang merasa panik langsung menggunakan kepalanya untuk memukul kepala Donghae.

Dug

“Akkhh sialan!”

Donghae mengumpat keras ketika kepala Yoona berhasil menghantam batang hidungnya hingga terasa ngilu dan mengeluarkan darah. Hal itu berhasil membuatnya lengah untuk beberapa menit dan membuat Yoona berhasil keluar dari kungkungannya. Namun secepat kilat tangan kekar Donghae mencekik leher Yoona, dan membuat Yoona kembali kedalam rengkuhannya dengan suara batuk-batuk khas orang yang sedang kehabisan napas.

“Mari kita segera menyelesaikan ritual ini Yoona.”

Tanpa mempedulikan darah yang menetes dari hidungnya, Donghae segera mengiris pergelangan tangan Yoona dan meneteskan darah Yoona tepat di atas kobaran api yang menyala. Ia dengan senyum puas menyeringai kearah Calistha yang tubuhnya semakin lama semakin memudar bagaikan kabut tipis yang tak kasat mata.

Sementara itu Yoona hanya mampu memejamkan matanya sambil berdoa pada Tuhan untuk memohon pengampunan atas semua dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Ia juga berdoa pada Tuhan agar memberikan tempat yang layak untuk keempat muridnya yang telah meninggal akibat ulah Donghae dan juga kekasihnya yang gila. Mereka dua manusia yang benar-benar gila! Andai ia memiliki kesempatan, maka ia ingin sekali membunuh Donghae untuk membalaskan dendam keempat muridnya yang mati sia-sia secara mengerikan.

“Kita sudah selesai.”

Yoona mengernyitkan dahinya dan mulai membuka matanya perlahan-lahan. Tak ada apapun yang terjadi pada dirinya. Ia masih berada di tempat yang sama dengan Donghae yang masih memegang pinggangnya agar ia tidak bisa berlari kemanapun. Pria itu lalu melepaskan pegangannya dan berjalan menjauh sambil memandang kearah ranjang yang kosong.

“Akhirnya ia telah pergi.”

“Aaa apa maksudmu? Kau? Aku? Tidak ada apapun yang terjadi padaku? Aku masih tetap Im Yoona?” Tanya Yoona bingung sambil meraba-raba tubuhnya sendiri.

Donghae berdeham pelan sambil menyeka darah dihidungnya akibat benturan dari kepala Yoona.

“Maafkan aku. Tapi sekarang semuanya telah berakhir, kau bebas Yoona. Calistha sudah pergi.”

“Maksudmu?”

“Calistha sudah pergi. Aku sudah melenyapkannya. Ini semua memang salahku, lima tahun yang lalu Calistha meninggal karena diracun oleh kakak tirinya. Lalu aku mencoba berbagai cara untuk mengembalikannya agar ia hidup kembali. Terdengar gila memang, tapi aku benar-benar melakukannya. Aku membuat Calistha hidup, meskipun hanya rohnya yang hidup, sedangkan raganya telah membusuk di dalam tanah. Awalnya kehidupan kami baik-baik saja, aku tidak masalah dengan keadaanya yang hanya arwah hingga aku dianggap gila oleh keluargaku. Semakin lama Calistha berubah. Ia bukan lagi wanita lembut yang selama ini kucintai, ia berubah menjadi haus darah dan sering merasuki orang-orang untuk mengambil nyawa mereka. Semakin lama aku semakin tersiksa dengan siklus itu, aku tidak bisa menghentikan kebiasaanya membunuh orang-orang yang tak bersalah. Dan saat kau berada di Jeolla, aku tahu jika Calistha tertarik padamu. Ia akan menggunakanmu sebagai targetnya selanjutnya. Oleh karena itu aku mengikutimu ke Seoul dan mendaftar sebagai guru sejarah agar aku bisa mengawasimu. Biasanya wadah yang digunakan oleh Calistha tidak akan bertahan lama. Mereka akan mati setelah Calistha  menghisap energi mereka hingga tak tersisa. Tapi kau berbeda, kau tetap bertahan meskipun Calistha telah menghisap energimu ketika kau mencelakai Hana dan membunuh Hana di sekolah. Sejak saat itu Calistha menjadi semakin berambisi untuk menjadikanmu wadahnya yang sesungguhnya. Aku terpaksa mengikuti permainannya karena ini adalah satu-satunya cara untuk menghentikannya. Aku diam-diam mengikutimu dan mengawasimu dari jauh ketika kau membunuh murid-muridmu. Sekali lagi maafkan aku Yoona. Aku tidak bisa mencegahnya. Calistha telah berubah menjadi sosok yang berbeda. Bahkan ketika aku menyerahkan jiwaku untuknya agar ia tidak perlu menyakiti orang lain, ia tidak pernah mau. Ia justru akan mengacau dengan membunuh banyak orang. Dan melihatnya tertarik padamu membuatku was-was. Aku takut dia akan menyakitimu seperti korban-korbannya yang lain.”

“Jadi kau yang selama ini menyelamatkanku dari tuduhan pihak sekolah? Mereka pasti memiliki rekaman cctv yang dipasang di setiap sudut sekolah. Dan masalah Yeun? Apa kau yang benar-benar telah membunuhnya?”

“Aku terpaksa. Aku tidak bisa melihatmu semakin depresi Yoona. Jadi satu-satunya cara adalah dengan menggantikan posisimu membunuh Yeun. Yeun adalah target Calistha karena Yeun dengan terang-terangan menyukaiku. Huhh… tapi akhirnya semua ini berakhir. Aku akan lebih tenang setelah ini dan bisa menjalani hari-hariku seperti dulu. Sekali lagi maafkan aku, aku telah menyeretmu kedalam masa laluku yang mengerikan.”

Yoona menatap Donghae dalam dan tiba-tiba ia merasa bersalah pada pria itu. Ia telah melukainya dan ia telah berkata kasar padanya hingga membuatnya terlihat kacau seperti saat ini.

“Aku juga minta maaf padamu guru Lee, aku melukai hidungmu.”

“Tidak masalah, ini hanya luka kecil. Ini akan segera sembuh.” Ucap Donghae kikuk sambil menyeka hidungnya lagi dengan ibu jarinya. Yoona lalu memeluk Donghae erat dan mendaratkan kecupan singkat di bibir pria itu sebelum ia melangkah pergi, pulang ke rumahnya yang nyaman.

“Kalau begitu aku akan… eee.. pulang. Sampai jumpa di sekolah guru Lee.”

Yoona terlihat kikuk di depan Donghae dengan wajah memerah yang sedang menahan malu. Selama ini hubungan mereka tidak pernah jelas. Namun mereka beberapa kali berciuman dengan alasan yang juga tidak jelas. Sejujurnya ia menyukai Donghae, terlebih lagi selama ini Donghae juga menunjukan perhatian yang lebih padanya. Tapi pria itu tidak pernah mengatakan apapun. Perasaanya dan bagaimana kelanjutan hubungan mereka setelah semua ini berakhir pria itu tidak mengatakan padanya. Dan sekarangpun, pria itu juga tidak terlihat akan mengatakan sesuatu. Ia hanya berdiri begitu saja, jarak satu meter di depannya sambil sesekali mengurut tulang hidungnya yang pasti memar.

“Ya, sampai jumpa guru Im.”

Dan akhirnya hanya kata-kata itulah yang keluar dari bibir Donghae, meskipun Yoona sangat berharap lebih daripada itu. Tapi sepertinya ia memang harus puas hanya dengan satu kalimat bernada datar tanpa emosi di dalamnya.

-00-

Yoona Pov

Huuahh… rasanya dua bulan berlalu begitu cepat. Kehidupanku setelah kejadian mengerikan malam itu kembali menjadi normal. Aku kembali mengajar seperti biasa di Kirin High School dan aku menjadi guru favorit murid-murid di sekolahku. Pihak sekolah memutuskan untuk menutup kasus kematian murid-murid kami dan memilih untuk lebih memperketat keamanan sekolah agar kasus mengerikan itu tidak kembali terulang di sekolah. Dan aku yakin hal itu memang tidak akan terulang lagi karena Donghae telah melenyapkan Calistha. Hantu wanita bergaun merah yang menjadi penyebab dari semua kejadian mengerikan itu. Tapi ngomong-ngomong mengenai Donghae, pria itu menghilang. Ia resmi mengundurkan diri pada pihak sekolah tepat setelah ia melenyapkan arwah Calistha. Tidak ada satupun yang tahu kemana Donghae pergi, karena ia hanya meninggalkan surat pengunduran dirinya di atas meja kepala sekolah. Bahkan ia tidak berpamitan padaku, padahal rumah kami bersebelahan. Tapi rumah itu kini telah dijual dan dibeli oleh sepasang suami isteri yang baru saja pindah dari tailand. Pria itu benar-benar pergi, meninggalkanku dengan perasaan cinta yang sejak dulu kusimpan untuknya. Andai aku tahu ia akan pergi, aku pasti akan mengungkapkan perasaanku malam itu setelah aku mencium bibirnya dan memutuskan untuk pulang ke rumah.

“Guru Im, tolong jelaskan lagi soal nomor dua puluh satu.”

“Baiklah, aku akan mengulanginya.”

Aku bangkit dari kursiku dan mulai menerangkan soal matematika yang tidak dipahami oleh muridku. Tak sengaja ekor mataku melihat kearah jendela dan aku menemukan seorang pria berjas hitam yang sedang melihat kearahku sambil menyunggingkan senyumnya dengan manis.

Deg

Tiba-tiba saja aku ingin menangis saat melihat senyuman manis itu. Dia… Lee Donghae. Dia kembali! Tanpa menghiraukan murid-muridku yang kebingungan karena melihatku menangis, aku langsung berlari keluar dan memeluknya erat dalam sekali lompatan kearahnya hingga kurasakan tubuhnya sedikit oleng karena menangkap gerakan tubuhku yang tiba-tiba.

“Aku merindukanmu.” Rengekku manja. Ia terkekeh pelan di pundakku dan membalas pelukanku dengan sama eratnya.

“Kau tahu, semua muridmu sedang menatap kearah kita.”

“Hah? Ini gawat.” Gumamku malu sambil melepaskan pelukanku yang sangat posesif. Namun Donghae langsung menahanku dan tetap mendekapku erat hingga membuatku jengkel karena murid-muridku mulai mengintip kami melalui pintu dan juga jendela.

“Aku kembali untukmu Yoona, aku mencintaimu. Ayo kita menikah.”

Apa? Pernyataan cinta macam apa itu? Ia dengan seenaknya tiba-tiba kembali dan membuat jantungku hampir melompat karena pernyataan cintanya dan juga lamarannya yang tidak romantis itu. Dan ia juga telah membuatku malu karena menjadi bahan tontonan gratis murid-muridku. Tapi aku juga tidak bisa menolaknya. Lamarannya terlalu sayang untuk dilewatkan karena aku telah menunggu moment-moment ini selama dua bulan lamanya. Jadi sepertinya aku memang harus menerimanya. Melupakan sejenak rasa maluku karena kini kami menjadi bahan tontonan gratis murid-murid Kirin High School yang mulai heboh ketika kami dengan tidak tahu malunya justru berciuman di lorong kelas. Ya ampun… kuharap mereka semua tidak mencotoh perbuatan guru mereka yang tidak tahu malu ini.

“Donghae oppa, aku juga mencintaimu. Sangat!”

 

31 thoughts on “Something Whispers In My Mind

  1. Oh benar benar menegangkan…aku pikir donghae akan benar benar membunuh yoona untuk chalista tapi ternyata..bang!! Diluar dugaan…oh lee donghae memang tidak bisa romantis bukan??? 😂😂 good story 👍🏻👍🏻👍🏻

  2. Akhir yang manis, di awal cerita aja udah serem. Dikira yoona bakal jadi tumbal terakhir, untung author baik buat nyelipin moment yoonhae yg bikin senyam senyum diakhirrrr. Overall baguss ceritanya, kayanya semua karya kaka bagus bagus semuaaa. Keep writing

  3. Heummmm kirain hae bneran mau bunuh yoong tp trnyata hae mau lenyapin chalista hihi
    Baca ny merinding disko
    Sereeemm

  4. Seru,, ceritanya beda dari yg biasanya..
    Awalnya udah serem aja, kukira Donghae emg jahat ternyata dia malah yg nolong Yoona
    Endingnya manis bgt..
    Ditunggu ff2 keren lainnya 🙂
    Hwaiting

  5. Bagian awal sampai lenyap nya roh chalista bener-bener serem, apalagi bacanya malem-malem begini, sendirian lagi, merinding…
    aku suka pas endingnya thor..
    Tapi keseluruhan ceritanya bagus… Ditunggu cerita selanjutnya thor…

  6. Aq kira Donghae jahat beneran eh ternyata dia cuma mau melindungi Yoona. Terima kasih chingu udah bikin ff yg awalnya menyeramkan tapi di akhir happy ending 👍👍 ending yg hakiki ini. Next chingu

  7. Bagus banget ceritanya
    Alurnya ngga ketebak.. Awalnya horror akhirnya bahagia.. Sewaktu baca ngiranya bakal tragis endingnya ㅋㅋㅋ
    Horrornya dapet banget
    Sukaaaaa
    Di sini juga dibuat baper sama pengorbanan donghae ㅎㅎㅎ
    Duitunggu karya selanjutnya kak 😉

  8. Sumpah antara takut, kaget, dan marah. Tapi setelah tau niat baiknya donghae oppa aku jdi mulai syuka. Hufft sebenarnya aku merinding baca FF ini tapi aku syuka endingnya kok. D tunggu karya selanjutnya onnie 😊

  9. keren eon, ff nya..
    ngena bgt feel nya..
    ff nya serem, bikin merinding juga, tapi untung happy ending.

    kirain donghae pyschopat dan bakal bunuh yoona, tapi untungnya enggak. malah mereka happy ending dan mau married

    ditunggu ff-ff baru nya yg lain eonni.. keep writing calista eonni, fighting^^

  10. Wow! Gak nyangka akhirnya bakal kaya gini setelah di buat deg degan gak jelas sama adegan dimana Donghae kaya mau bunuh Yoona buat bangkitin Calistha lagi.
    Ternyata semuanya berakhir di luar perkiraan haha, tadinya udah takut aja Donghae beneran bakal bunuh Yoona, soalnya emang sempet curiga juga sama sikap dia selama ini.
    tapi seneng banget sih karna akhirnya kaya gini, di tunggu buat next ff nya dan kalau bisa sequel buat ff yg kemaren yaa Marriege By Accident soalnya gak tau kenapa masih kebayang bayanh ff itu un hahahah ^^

  11. Wakwakwakwa
    Sungguh, cerita horor yang berakhir romantis 😂
    Smpet salah paham sma donghae, slama mmbaca brpikiran buruk trus sma donghae 😂

  12. Horor 😅😅 endingnya butuh sequel 😅 klo ff nya oneshoot pasti blum sah klo nggak ada sequelnya 😅😅 Fighting kk!!

  13. sumpah serem banget bacanya yoona bisa melihat hantu terus hantu itu membunuh murid di sekolahnya. sequel thor….

  14. ff nya bener bener bikin tegang dari awal dan aku kira donghae bakal bunuh yoona tp ternyata gak dan justru happy ending ^.^ bagus thor ff bya 🙂

  15. Genre baru? Dan ini sangat keren..
    Aku pikir ini berhasil, benar2 berhasil.
    Udah serem, deg-degan, tegang pokoknya campur aduk jadi satu rasanya..
    Dan aku kira Yoona akan benar-benar dibunuh oleh Donghae, tapi ternyata… mereka saling mencintai pada akhirnya..

  16. Huuaaaaaa..
    FF YOONHAE GENRE HORROR PERTAMA YANG AKU BACAAAA..
    gilaaaa tragiissss..
    Kereenn dek.. 👏👏👏
    DONGHAE OPPA AKU JUGA MENCINTAIMU, SANGAT!
    Kkkk..
    Romancenya tetep ada walopun cuma nyempil doank.. 😂😂
    Makasih dek buat FF yang keren ini.. 😙😙

  17. Awalnya takut mau baca nih ff soalnya genre horror dan aku anaknya rada penakut 😂 tapi setelah di baca enjoy juga..

    Sumpah ya aku kira donghae bakalan bunuh yoona tapi ternyata donghae justru mau melindungi yoona, emang bener sih ini bukan salah chalista ini salah donghae karna telah menghidupkan chalista dan syukurlah donghae telah meyelesaikan semuanya ..

  18. Kerenn ffnyaa 👍 berasa horrornya apalgi bacanya malam2 begini 😂😂😂 ditunggu ff yoonhae yg lain thorrr 😄

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.