Marriage By Accident (Oneshoot)

Recomended Song Epik High ft IU – Love Story

Seorang wanita dengan dagu terangkat berjalan dengan gaya anggun disepanjang loby kantor agensi miliknya. Wanita yang merupakan CEO dari perusahaan yang bergerak di bidang multimedia itu terlihat begitu angkuh dengan wajah cantiknya yang menawan. Sejak kecil ia telah didik oleh kedua orangtuanya untuk menjadi gadis angkuh yang penuh kuasa agar setiap orang yang berhubungan dengan mereka merasa segan. Keluarga Im adalah salah satu keluarga dengan kasta tertinggi di Korea Selatan. Seluruh hak penyiaran dan penerbitan majalah yang beredar di Korea dimiliki oleh Im Corp. Tak heran jika keluarga mereka terkenal sombong dan juga angkuh karena mereka memiliki rahasia-rahasia tersembunyi dari sejumlah artis dan juga pejabat. Sedikit saja membuat masalah dengan keluarga Im, maka ia akan segera menjadi bahan perbincangan masyarakat Korea karena kepiawaian anggota keluarga Im dalam memutarbalikan fakta.

“Nona, Tuan Jo menolak untuk menjadi narasumber dalam kolom bisnis.”

“Berikan bukti perselingkuhannya dua tahun yang lalu. Pria sombong seperti Jo Dohyun sebenarnya tidak pantas menjadi narasumber, tapi kita terpaksa menggunakannya karena beberapa bulan yang lalu peringkat perusahaannya berhasil menyaingin peringkat perusahaan Jang Corp.” Ucap Yoona angkuh pada asistennya.

“Lalu bagaimana dengan Lee Corp? Perusahaan itu terus berada di puncak tangga bisnis dalam tiga tahun ini.”

“Aku yang akan mewawancarainya. Sebuah perusahaan ternama seperti Lee Corp harus mendapatkan kehormatan langsung dariku.” Ucap Yoona angkuh. Sang asisten yang berada di samping kananya sibuk mencatat jadwal milik nona mudanya itu sambil tetap berjalan tergesa-gesa menyamakan langkah kakinya dengan sang nona. Bekerja bersama Im Yoona memang sebuah tantangan untuknya. Karena Im Yoona selalu menyukai kesempurnaan. Tidak boleh ada sedikitpun cacat dalam pekerjaanya atau ia harus bersiap mendengarkan serentetan makian dari nona angkuhnya itu.

“Janji wawancara dengan CEO Lee Corp sudah dibuat nona, besok siang pukul satu di Skye Lounge.”

“Bagus, kupastikan CEO Lee Corp mendapatkan pertanyaan berkualitas dariku. Kau, kembali bekerja atau aku akan mengeluarkanmu dari sini.”

Tiba-tiba Yoona berhenti dan menegur dua orang klining sevice yang sedang asik berbincang di lorong perusahaan lantai empat. Dengan wajah pucat dua orang wanita itu segera menundukan kepalanya pada Yoona dan berjalan tergesa-gesa menuju pantry untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda.

“Tandai dua karyawan pemalas itu. Jika mereka melakukan kesalahan sedikit saja, langsung pecat mereka berdua. Kita tidak membutuhkan karyawan malas seperti mereka.” Ucap Yoona cepat pada Jihyun yang langsung dibalas Jihyun dengan anggukan. Wanita muda itu terlihat prihatin pada dua klining service yang mendapatkan kesialan siang ini karena secara tiba-tiba Yoona mendatangi lantai empat untuk mengecek kinerja karyawan di perusahaanya. Memang selama ini Yoona sering melakukan inspeksi mendadak dengan waktu yang tidak menentu. Terkadang dalam seminggu ia tidak melakukan sidak. Tapi di minggu selanjutnya ia bisa melakukan sidak sebanyak tiga kali dalam seminggu. Hal itu sengaja dilakukannya untuk mempertahankan kualitas perusahaanya agar tetap menjadi perusahaan multimedia nomor satu di Korea.

“Nona Im, baru saja nona Im Hana menghubungi saya, ia menunggu anda di ruangannya.”

“Apa yang dilakukannya di perusahaan. Ia pasti membuat kekacauan lagi.” Dengus Yoona kesal. Ia lantas berjalan menuju lift untuk kembali ke ruangannya di lantai lima belas. Adik semata wayangnya itu pasti telah melakukan sesuatu hingga ia bersedia menginjakan kakinya di perusahaan milik keluarga yang dikelola olehnya.

Semenjak tuan Im dan nyonya Im bercerai, perusahaan Im Corp sepenuhnya menjadi tanggungjawab Yoona. Ibunya tidak mau mengambil alih perusahaan itu dan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga di rumah. Sedangkan sang ayah memilih untuk hidup tenang dengan perusahaan miliknya yang bergerak di bidang ekspedisi. Sejak awal perusahaan Im Corp memang milik mendiang kakek Yoona dari pihak ibu, sehingga setelah bercerai, tuan Im tidak mendapatkan kedudukan apapun di Im Corp. Namun sebelum menjadi suami dari Im Somin ia telah memiliki sebuah perusahaan jasa ekspedisi yang cukup sukses di Korea, sehingga ia memilih untuk kembali pada perusahaan lamanya dan hidup bahagia bersama isteri dan anak laki-lakinya yang baru berusia lima tahun. Selama ini masyarakat Korea tidak mengetahui skandal perselingkuhan tuan Im dengan salah satu model ternama Korea Selatan karena Im Corp telah menutup berita itu rapat-rapat dari pihak manapun. Mereka hanya memberikan alasan ketidakcocokan sebagai latar belakang kandasnya hubungan rumah tangga mereka. Padahal sebenarnya tuan Im sejak sepuluh tahun yang lalu telah memiliki seorang wanita simpanan yang usianya jauh lebih muda dari nyonya Im. Selain itu alasan tuan Im bercerai dengan nyonya Im karena isterinya itu tidak bisa memberinya anak laki-laki. Padahal sejak dulu tuan Im sangat menantikan kehadiran anak laki-laki. Sayangnya nyonya Im mengalami pendarahan ketika melahirkan putri bungsunya dan tidak diijinkan untuk mengandung lagi oleh dokter. Setelah itu tuan Im mulai mencari wanita lain yang bisa memberinya keturunan seorang anak laki-laki. Ia merasa hidupnya belumlah lengkap jika ia belum memiliki anak laki-laki yang bisa meneruskan perusahaan ekspedisinya. Hal itulah yang membuat Yoona sangat terluka. Ia merasa keberadaanya sama sekali tidak pernah dianggap oleh ayahnya. Padahal selama ini ia sangat menyayangi ayahnya dan sangat mengidolakan ayahnya sebagai satu-satunya pria sempurna yang mengisi hidupnya. Tapi anggapan itu pudar begitu saja ketika ayahnya melayangkan gugatan  cerai pada ibunya dan memilih untuk menikahi simpanannya yang telah mengandung bayi laki-laki yang sangat diinginkannya. Yoona benar-benar terpukul atas hal itu. Kesempurnaan yang dulu adalah miliknya, kini telag hilang. Ia sebenarnya bukanlah wanita sempurna seperti apa yang masyarakat Korea Selatan ketahui. Ia hanyalah wanita malang yang selama ini tidak pernah dianggap oleh ayahnya dan harus hidup dengan topeng keangkuhan untuk menutupi kecacatan hidupnya.

“Eonni!!!”

Yoona mendengus geram melihat adiknya yang langsung menghambur ke dalam pelukannya dan berteriak nyaring di depannya. Gadis berusia dua puluh tahun itu langsung menarik Yoona menuju sofa terdekat dan menunjukan sebuah kertas bergambar mobil impiannya pada Yoona.

“Aku ingin mobil ini eonni. Belikan aku satu.”

“Tidak. Kau sudah memiliki mobil Hana, jangan membuang-buang uang untuk hal-hal yang tidak penting seperti itu. Gaya hidupmu selama ini sudah sangat berlebihan. Kau terus menghambur-hamburkan uang eomma untuk pesta dan melakukan hal-hal yang tidak penting. Lebih baik kau belajar agar kau segera lulus. Eonni bosan terus menerus mengeluarkan uang untukmu.”

“Tapi eonni…” Rengek Hana manja. Gadis itu tampak tidak menyerah dengan terus membanjiri Yoona dengan rengekannya yang berisik.

“Jangan merengek di depan eonni, eonni tidak suka mendengar suara rengekanmu yang berisik itu.”

Yoona berusaha menjauhkan kedua tangan adiknya dari lengannya dan segera berjalan menuju meja kerjanya. Masih ada banyak hal yang harus diselesaikannya karena tiga hari yang lalu perusahaanya mendapatkan tawaran kontrak kerja dengan majalah Times dari New York. Tentu hal itu membuat Yoona harus bekerja mati-matian agar perusahaan multimedia miliknya dapat berkembang hingga ke mancanegara. Tapi ia tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan itu jika adiknya terus merengek seperti ini dan membuyarkan konsentrasinya.

“Eonni kumohon, ini adalah mobil impianku. Aku sangat ingin memiliki mobil ini agar aku dapat menyumpal mulut Suzy yang lebar itu.”

“Oh, jadi kau ingin memiliki mobil hanya karena Suzy. Bekerjalah jika kau memang menginginkan mobil itu. Eonni tidak mau membelikannya untukmu. Sudah cukup dua mobil mewah teronggok begitu saja di rumah karena kau jarang memakainya. Justru eonni berencana untuk menjual mobil-mobilmu agar tidak memenuhi garasi rumah yang semakin sempit.”

“Eonni, kenapa kau tega sekali padaku? Aku akan menjadi bahan ejekan mereka jika aku tidak membawa mobil bugati keluaran terbaru saat acara ulang tahun kampus. Eonni kumohon belikan aku mobil ini, aku janji tidak akan meminta mobil lagi padamu. Ini yang terakhir.” Mohon Hana sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya. Yoona mengabaikan begitu saja rengekan adiknya dan ia terus menekuni berkas-berkasnya sambil menulikan kedua telinganya. Ia tidak akan mau memenuhi permintaan adiknya yang manja itu. Kali ini ia harus bersikap tegas pada Hana agar adiknya itu tidak semakin semena-mena.

“Tidak! Sekarang keluarlah, eonni akan bekerja.” Usir Yoona tegas. Hana mengerucutkan bibirnya sebal sambil memukul meja di depannya dengan keras. Ia benar-benar sangat membenci kakaknya yang sangat pelit dan galak itu. Ia merasa kakaknya telah berubah semenjak orangtua mereka bercerai. Padahal dulu kakaknya adalah wanita cerdas yang ceria. Tapi semua keceriaan itu lenyap begitu saja tanpa bekas dan digantikan dengan sikap kejam dan angkuh yang menyebalkan.

“Eonni jahat. Aku benci eonni! Pantas saja tidak ada satupun pria yang tertarik pada eonni karena eonni sombong dan angkuh.”

“Cukup! Keluar dari ruanganku.”

Tanpa diperintah dua kali, Hana segera berjalan keluar dari ruangan kakaknya sambil membanting keras-keras pintu kayu itu hingga membuat Jihyun yang berada di meja kerjanya langsung bergidik ngeri dengan sikap Hana yang kasar.

Sementara itu Yoona tampak kesal sambil memijat pelipisnya yang terasa pening. Memiliki satu adik perempuan yang sangat pembangkan memang sulit. Setiap hari ia harus bertengkar dan membuat ibunya sakit kepala di rumah karena sikap kedua putrinya yang sama-sama keras. Tapi sikap adiknya siang ini sudah melebihi batas. Ia berani membentak kakaknya dan bersikap kurangajar hanya karena sebuah mobil. Hal itu tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja oleh Yoona. Ia harus memberikan Hana peringatan keras atau ia akan mencabut semua fasilitas yang dimiliki oleh adiknya itu.

-00-

“Lee Donghae, sudah berapa kali ayah katakan padamu untuk berhenti bermain-main dengan wanita-wanita murahan itu! Perusahaan kita telah menjadi sorotan karena kelakuanmu yang sangat memalukan di luar sana. Bahkan kau semalam membuat keributan di sebuah bar bersama wanita-wanita murahan yang menjijikan. Apa kau tidak malu dengan reputasimu hah!” Marah Lee Sunghwan pada putranya. Donghae hanya menanggapi kemarahan ayahnya dengan senyum santai sambil membolak-balik kertas laporan di depannya. Ia sungguh bosan mendengarkan semua celotehan ayahnya. Tapi ia tidak bisa menghindarinya karena ia memang salah. Jadi inilah konsekuensi yang harus ditanggungnya.

“Ayah, jangan terlalu membesar-besarkan masalah. Selama aku mampu mengatasinya, ayah tidak perlu ikut campur. Lebih baik ayah mempersiapkan diri untuk menghadapi masa pensiun ayah satu minggu lagi. Apa ayah memerlukan seorang wanita untuk menemani ayah di rumah?”

“Kurangajar! Ayah tidak pernah mendidikmu menjadi pria tak bermoral seperti itu Lee Donghae. Ayah menyesal telah membiarkanku berkuliah di Los Angeles jika pada akhirnya kau hanya menjadi pria pembangkang yang tak tahu diri. Besok perusahaan kita akan mendapatkan wawancara ekslusif dengan pemilik perusahaan Im Corp. Jika kelakuanmu terus seperti ini, mereka bisa menuliskan hal-hal buruk tentang perusahaan kita. Perusahaan ini akan hancur perlahan-lahan karena kelakuan berandalmu itu.”

Donghae menghembuskan napas gusar. Selalu saja ayahnya membesar-besarkan masalah kecil. Apakah salah jika ia menikmati masa mudanya dengan bersenang-senang bersama wanita-wanita cantik di luar sana? Toh ia melakukannya setelah ia menyelesaikan semua kewajibannya sebagai CEO. Jadi apa salahnya jika ia sedikit melepas kepenatan hidupnya dengan bermain. Bukankah ia sama sekali tidak membuat kerugian untuk perusahaanya? Yah, setidaknya ia hanya membuat nama perusahaanya sedikit tercoreng dengan kelakuan bar-barnya yang terkadang di luar batas.

“Ayah, aku tidak melakukan apapun. Ayah tidak perlu takut seperti itu. CEO Im Corp adalah seorang wanita lemah yang dapat ditaklukan dengan mudah. Wanita itu pasti sama saja dengan wanita-wanita kelas atas di luar sana yang hanya gemar bersolek dengan harta kekayaan keluarganya. Aku akan mengatasi wanita itu jika ia berani menuliskan hal-hal buruk tentang perusahaan kita.”

“Tidak semudah itu Hae. Im Yoona adalah wanita yang angkuh dan juga cerdas. Ia tidak akan mudah kau taklukan dengan sikap brengsekmu itu. Reputasinya sebagai wanita yang kejam telah tersebar ke seluruh penjuru Korea. Bahkan para petinggi negara sekelas menteri dan anggota dewan tidak berani macam-macam padanya karena ia memiliki kartu as yang dapat membunuh karir mereka semua.” Jelas Lee Sunghwan berapi-api. Entah harus dengan cara apa ia menasehati putranya yang bebal itu. Ia benar-benar sudah frustrasi melihat kelakuan putra semata wayangnya yang sangat keras kepala dan sangat sulit diatur hingga membuat kepalanya pening. Beruntung putranya itu masih memiliki kredibilitas untuk menjalankan perusahaanya dengan baik sehingga Lee Corp tetap berada di peringkat pertama sebagai perusahaan properti terbaik di Korea.

“Kita lupakan saja CEO Im Corp itu ayah. Bagaimana dengan kerjasama bisnis yang ditawarkan tuan Shin minggu lalu?”

“Tidak ada masalah, tapi ayah tidak suka jika pria tua itu menggunakan hubunganmu dan Eunso sebagai senjata. Ia secara implisit mengancam akan mencabut sahamnya yang bernilai dua persen di perusahaan kita jika Eunso kau campakan. Bukankah pria itu sangat licik.” Gerutu tuan Lee kesal. Donghae tersenyum sinis separuh pada ayahnya sambil mengendikan bahunya ringan.

“Aku sudah memutuskan Eunso kemarin.” Ucap Donghae santai. Lee Sunghwan langsung membulatkan matanya tak percaya sambil menggeram kesal pada putranya.

“Apa kau ingin membuat rugi perusahaan kita? Shin Jongdae akan mencabut dua persen sahamnya jika kau membuang Eunso sesuka hatimu setelah menggunakannya. Katakan padaku, apa yang telah kau lakukan pada Eunso? Kau menidurinya? Menanamkan benih di rahimnya?” Tanya tuan Lee tidak sabar.

“Tidak, aku hanya mengajaknya berkencan biasa. Aku tidak sampai sejauh itu ayah. Eunso bukan wanita yang tepat untuk menghangatkan ranjangku. Lagipula Shin Eunso adalah wanita cerewet yang sangat menyebalkan. Ia suka sekali mengaturku dan menerorku dengan puluhan panggilan darinya. Jadi aku memutuskannya secara sepihak kemarin. Ayah tidak perlu khawatir dengan saham dua persen yang dicabut oleh Shin Jongdae karena aku sudah menemukan penanam saham baru yang bersedia bergabung bersama perusahaan kita. Ayah pasti akan terkejut jika mendengar namanya.”

“Siapa?”

Tuan Lee tampak tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya. Sedangkan Donghae dengan kurangajarnya justru mempermainkan sang ayah dengan tak kunjung memberitahukan nama si penanam saham terbaru yang telah bergabung di dalam perusahaan mereka.

“Im Somin.” Jawab Donghae bangga. Beberapa minggu ini ia rutin bertemu dengan Im Somin untuk membahas masalah penanaman saham yang ingin dilakukan wanita itu di perusahaanya. Nyonya Im tertarik untuk menanam saham di perusahaan Donghae karena ia ingin memperluas jangkauan bisnisnya. Sesekali ia ingin keluar dari lingkaran multimedia dan mencoba hal-hal baru dengan bergabung di sebuah perusahaan properti.

“Im Somin? Pemilik Im Corp?” Tanya Tuan Lee memastikan. Lee Donghae menganggukan kepalanya sombong sambil memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di depannya. Ia merasa bangga karena berhasil membuat wanita yang cukup berkuasa di Korea itu berada di pihaknya. Setidaknya dengan menjadikan Im Somin sebagai salah satu bagian dari Lee Corp maka Im Corp tidak akan berani menuliskan hal-hal buruk terhadap perusahaanya karena jika harga saham di Lee Corp turun, maka Im Somin juga akan mendapatkan imbasnya.

“Kau yakin hal itu dapat membuat perusahaan kita terhindar dari berita-berita miring yang dikeluarkan oleh Im Corp?”

“Sangat yakin ayah. Jadi ayah sekarang bisa duduk tenang di ruangan ayah sambil membayangkan masa depan ayah yang damai.” Ucap Donghae santai. Tuan Lee menatap anak semata wayangnya itu dengan tatapan tidak yakin, namun akhirnya ia memilih untuk meninggalkan ruangan anaknya tanpa kata. Ia tidak bisa mempercayai Donghae begitu saja. Meskipun apa yang dikatakan Donghae benar, Im Corp seharusnya tidak macam-macam dengan perusahaannya jika Im Somin tidak ingin terkena imbasnya. Tapi saat ini bukan Im Somin yang memegang kendali Im Corp, tapi Im Yoona. Wanita itu jelas berbeda dengan ibunya yang selalu terlihat lembut dimanapun ia berada. Im Yoona lebih tegas, dan ia tidak akan peduli meskipun ibunya adalah salah satu bagian dari Lee Corp.

“Jina, suruh sekeretaris Donghae untuk mengawasi anak itu. Jangan sampai hasil wawancara besok mencoreng nama baik Lee Corp karena Im Yoona adalah jurnalis yang sangat berbahaya.” Perintah Lee Sunghwan tegas pada asistennya yang langsung dibalas dengan anggukan cepat.

-00-

Keesokan harinya di kafe Skye Lounge Yoona terlihat sudah siap untuk melakukan wawancara dengan Donghae. Ia ditemani oleh asistennya, Jihyun telah menunggu kedatangan Donghae sejak dua puluh lima menit yang lalu, namun pria pemilik Lee Corp itu belum juga memunculkan batang hidungnya hingga membuat Yoona kesal dan ingin memaki-maki pria itu saat ia datang nanti.

“Kau sudah menghubungi sekretarisnya? Kita sudah menunggunya terlalu lama di sini. Apa ia pikir aku tidak memiliki urusan lain? CEO brengsek itu benar-benar membuatku ingin memaki-makinya nanti.”

“Saya sudah menghubunginya sejak tadi nona, tapi menurut sekretarisnya tuan Lee akan datang sedikit terlambat karena harus menyelesaikan urusan penting.”

“Cih, urusan penting? Urusan penting seperti apa yang membuatku harus menunggu selama ini? Bukankah kita sudah mengajukan jadwal pertemuan ini sejak satu minggu yang lalu? Seharusnya tidak ada lagi alasan murahan seperti itu.” Gerutu Yoona kesal. Tiba-tiba Jihyun berdiri dari duduknya dan membungkuk hormat pada Donghae yang telah berdiri di belakang Yoona dengan wajah inocentnya yang tanpa dosa.

“Maafkan aku nona Im, tapi urusanku ini memang sangat mendadak, sehingga aku tidak bisa datang terpat waktu.”

Yoona melirik Donghae sinis dan memilih untuk langsung mempersilahkan Donghae duduk di kursi di depannya. Tidak ada gunanya juga ia memperpanjang masalah keterlambatan pria itu. Justru ia akan semakin dibuat dongkol karena sesi wawancara mereka menjadi mundur lebih lama dari waktu perkiraan yang sebelumnya telah disepakati.

“Langsung kita mulai saja sesi wawancara siang ini. Bisa anda perkenalkan diri anda terlebihdahulu tuan Lee.” Ucap Yoona sambil mencoret-coret notes kecilnya. Wanita itu terlihat enggan untuk menatap wajah Donghae yang menurutnya memuakan, karena sejak tadi pria itu terus berusaha menggodanya dengan senyuman yang sangat menjijikan baginya.

“Perkenalkan, namaku Lee Donghae.”

Donghae mengulurkan tangannya kearah Yoona yang langsung dibalas Yoona dengan kernyitan aneh. Seingatnya ia hanya meminta pria itu menyebutkan namanya dan beberapa latar belakang karirnya, bukan berkenalan secara formal sambil berjabat tangan seperti itu.

“Anda hanya perlu menyebutkan nama anda dan latar belakang karir anda tuan Lee. Tidak perlu berjabat tangan seperti itu.” Balas Yoona ketus tanpa mengindahkan tangan Donghae yang masih terulur di depannya. Namun tanpa diduga, Donghae tiba-tiba menarik tangan kanannya dan mengajaknya bersalaman secara paksa. Pulpen yang digenggamnya terlempar begitu saja dan menggelinding di bawah meja karena perbuatan tidak sopan Donghae yang membuatnya geram.

“Apa yang kau lakukan tuan Lee? Seharusnya CEO terhormat sepertimu bisa menunjukan sikap terhormat di depan orang lain, tapi nyatanya sikapmu siang ini sangat mengecewakan.” Desis Yoona geram. Ia lantas membungkukan tubuhnya ke bawah untuk mencari pulpen emasnya yang jatuh. Tapi sayangnya pulpen itu telah hilang entah kemana, dan membuat Yoona semakin kesal karena pulpen itu adalah hadiah dari ayahnya yang hingga kini masih ia jaga dengan baik.

“Ambil saja pulpenku, dan maaf atas sikap lancangku nona Im, tapi aku juga tidak suka melihat sikap merendahkanmu yang sangat tidak sopan itu. Bukankah aku sudah meminta maaf atas keterlambatanku hari ini? Seharusnya kau tidak perlu memperpanjang masalah ini dan hanya melakukan sesi wawancara ini dengan baik.” Balas Donghae tak mau kalah. Dua manusia itu saling memandang sengit satu sama lain hingga Yoona memutuskan untuk mengambil pulpen emas milik Donghae dan menggunakannya untuk mengganti pulpennya yang hilang.

“Jadi, bagaimana latar belakang karir anda tuan Lee?”

“Hmm, sebenarnya latar belakang karirku tidak terlalu menarik karena aku langsung mendapatkan posisi CEO setelah ayahku memutuskan untuk rehat dari dunia bisnis. Tapi bukan berarti kemudahan yang kudapatkan membuatku lantas bersantai-santai dan hanya menikmati hasil jerih payah kakek dan juga ayahku. Selama menjabat sebagai CEO di Lee Corp aku terus melakukan inovasi baru untuk mengembangkan sayap bisnisku hingga ke seluruh dunia. Terbukti dengan menjabatnya diriku sebagai CEO, Lee Corp menjadi semakin sukses dan jaya. Baru-baru ini kami membangun sebuah real estate di kawasan elit Dubai yang dalam waktu tiga hari langsung habis terjual dengan keuntungan yang cukup fantastis. Lalu…”

“Cukup tuan Lee, saya rasa anda tidak lagi hanya menceritakan karir kerja anda, tapi anda juga telah membubuhinya dengan nada kesombongan yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga saya. Jadi pada intinya karir anda di dunia bisnis cukup bagus. Tapi kudengar anda memiliki reputasi buruk di kalangan wanita dan gemar membuat onar di club-club malam yang sering anda datangi, bagaimana menurut anda?”

Donghae tersenyum tipis pada Yoona dan terlihat santai di hadapan wanita itu. Meski begitu saat ini ia tengah menyembunyikan banyak kekesalan di hatinya karena Yoona berani memotong ucapannya sebelum ia benar-benar menyelesaikannya dengan baik. Apa yang dikatakan oleh ayahnya memang benar. Im Yoona adalah wanita berbahaya yang sangat kejam. Ia bahkan tidak terpengaruh sedikitpun dengan karismanya yang sejak tadi sudah memancar kuat untuk menaklukan seorang Im Yoona. Mungkin ia juga harus mengikuti alur pemainan wanita itu. Di dunia ini bukan hanya dirinya yang memiliki catatan hitam. Im Yoona pasti juga memilikinya, dan untung saja kemarin ia telah membaca sedikit profil dari wanita itu, sehingga ia bisa sedikit membalas sikap sinis yang ditunjukan Yoona padanya.

“Sebenarnya aku tidak melakukan keonaran apapun. Masalah itu hanya dibesar-besarkan oleh beberapa pihak yang tidak menyukaiku. Dan dari apa yang kulihat, kau adalah salah satunya nona Im. Kau sejak tadi terus bersikap sinis di depanku. Kau benar-benar tidak menyukaiku atau memang inilah sifat aslimu yang membuat semua pria di Korea memilih untuk menghindarimu?” Seringai Donghae penuh kemenangan. Yoona mengepalkan tangannya di bawah meja sambil mencoba tetap bersabar menghadapi sikap Donghae yang berbalik menyerangnya.

“Apa anda tidak terima dengan reputasi bad boy anda hingga harus membawa-bawa nama saya? Saya rasa masalah pribadi saya tidak seharusnya dimasukan ke dalam sesi wawancara ini tuan Lee. Baiklah, pertanyaan selanjutnya, bagaimana menurut anda mengenai trik-trik licik yang sering digunakan oleh pengusaha-pengusaha Korea untuk memuluskan bisnis mereka?”

Yoona memilih untuk segera mengalihkan topik bahasan mengenai dirinya dengan topik bahasan seputar perusahaan Donghae. Ia harap pria itu tidak lagi membuatnya jengkel dan hanya segera menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan lugas karena ia ingin segera pergi dari pria penggoda di depannya.

“Trik licik itu adalah sebuah pilihan nona Im. Pada dasarnya hampir semua pengusaha di Korea pernah menggunakan trik licik karena terkadang beberapa situasi mengharuskan mereka untuk melakukannya. Jadi menurutku trik-trik licik yang kau maksudkan itu bukan trik licik, tapi cara cerdas untuk menghindari masalah.”

“Dari apa yang saya tangkap, itu berarti anda juga pernah melakukan hal itu tuan Lee. Bisakah anda jelaskan dalam hal apa?”

Yoona tersenyum sinis dalam hati. Akhirnya ia bisa membuat Donghae masuk ke dalam jebakannya. Ia tahu reputasi Lee Corp selama ini selalu dikenal positif oleh masyarakat Korea. Tapi ia tidak pernah yakin jika Lee Corp akan terlihat sebersih itu tanpa pernah melakukan sebuah kecurangan atau melakukan hal-hal manipulatif. Pasti ada hal-hal yang membuat Lee Corp terpaksa menggunakan cara-cara licik untuk memajukan perusahaanya. Dan sekarang adalah tugasnya untuk mengorek semua informasi itu dari Lee Donghae.

“Kutekankan sekali lagi jika trik licik yang kau maksud itu menurutku adalah sebuah cara cerdas untuk keluar dari masalah. Kuakui Lee Corp juga pernah melakukannya, tapi kami tidak bisa memberitahunya padamu nona Im karena ini rahasia perusahaan.” Jawab Donghae lugas. Tapi Yoona masih ingin menguji pria itu lagi dengan pertanyaanya yang akan membuat pria itu semakin tersudut.

“Begitukah? Kenapa anda tidak mau mengatakannya pada kami tuan Lee jika yang anda maksud trik licik adalah sebuah ide cerdas untuk keluar dari masalah yang dialami oleh perusahaan anda. Siapa tahu ide cerdas yang anda miliki dapat menginspirasi perusahaan lain.”

“Sekali lagi maaf nona Im Yoona, aku tidak bisa membagikannya padamu.” Geram Donghae kesal. Park Dohyun yang merupakan sekretaris Donghae terlihat begitu was was di sebelah Jihyun. Ia pasti akan mendapatkan masalah dari tuan Lee karena ia tidak bisa membuat sesi wawancara antara atasannya dan CEO Im Corp berjalan lancar. Sudah pasti majalah bisnis terbitan Im Corp edisi minggu depan akan membuat Heading yang buruk mengenai Lee Corp.

“Tuan Lee sepertinya telah masuk ke dalam jebakan nona Im.” Komentar Jihyun pada Park Dohyun. Dohyun menoleh cepat pada Jihyun di sebelahnya sambil mengangguk pasrah dengan wajah menyedihkan.

“Dan aku akan mendapatkan masalah karena ini.”

Sementara itu sesi wawancara antara Donghae dan Yoona terlihat semakin panas. Keduanya sejak tadi terus melemparkan serangan untuk membalas setiap jebakan yang dilayangkan masing-masing pihak. Namun sejak tadi Yoona masih terlihat unggul dibanding Donghae karena bibir tipisnya yang seksi itu mampu memutarbalikan kata-kata yang ambigu hingga mampu membuat Donghae secara tidak sadar terkecoh dan mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak dikatakannya.

“Hmm, selain terkenal dengan kepiawaiannya dalam meloby investor, rupanya anda juga sangat piawai dalam merayu wanita. Apakah ini juga salah satu trik cerdas untuk memajukan perusahaan anda tuan Lee?”

“Apa kau sedang menuduhku melakukan hal-hal murahan untuk mengembangkan karir bisnisku? Oh ayolah nona Im, tanpa harus kurayupun wanita-wanita itu akan dengan senang hati datang kepadaku. Dan asal kau tahu, aku memang pandai meloby para investor untuk berinvestasi di perusahaanku, tapi aku tidak pernah menggunakan cara-cara kotor agar mereka tertarik untuk bergabung ke dalam perusahaanku.”

“Baiklah saya paham tuan Lee. Selanjutnya adalah pertanyaan terakhir.”

Donghae rasanya ingin segera melompat keluar dari kafe Skye Lounge yang terasa sangat menyesakan hari ini. Duduk berhadapan bersama Yoona selama kurang dari satu jam rasanya sudah membuat kepalanya berasap. Berkali-kali wanita itu memberikan pertanyaan jebakan yang membuatnya nyaris mengeluarkan rahasia kotor perusahaanya. Tapi ia yakin sebagian kecil dari rahasia perusahaanya telah ia keluarkan secara tidak sadar akibat pertanyaan-pertanyaan ambigu yang dilontarkan oleh Yoona. Sekarang ia tahu bahwa apa yang dikatakan oleh ayahnya mengenai Im Yoona memang benar, ia adalah wanita yang cerdas dan juga berbahaya. Meskipun Im Somin telah menanamkan saham di perusahaanya, tapi hal itu benar-benar tak membantu untuk menyelamatkan reputasi perusahaanya dari tulisan Im Yoona untuk majalahnya minggu depan.

“Apa keinginan terbesar dalam hidup anda tuan Lee?”

Donghae cukup terkejut dengan pertanyaan terakhir yang diberikan Yoona padanya. Ia pikir Yoona akan menyerangnya dengan serangan telak terkait perusahaanya atau sikap bad boy-nya yang sangat terkenal itu. Tapi diluar dugaanya, Yoona justru menanyakan masalah harapannya di masa depan yang notabenenya adalah sebuah topik bahasan sederhana yang rasanya sangat mustahil untuk ditanyakan oleh seorang Im Yoona.

“Diluar dugaanku, kau menanyakan masalah keinginan terbesarku? Sebenarnya ini cukup sederhana.”

“Apa itu? Semua pembaca majalah kami pasti ingin mengetahuinya, mengingat pengusaha sukses seperti anda pasti tidak pernah kekurangan apapun dalam hidup anda. Anda memiliki materi, anda memiliki jabatan, dan anda bisa memilih wanita manapun sesuka anda.”

“Tidak juga.” Ucap Donghae tenang. Secara kasat mata orang awam pasti akan menganggap kehidupannya sangat indah, karena ia bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan dengan uang-uang yang dihasilkannya setiap hari. Tapi ada satu hal yang tidak pernah ia dapatkan dengan uang. Satu hal yang membuatnya tidak pernah merasa sempurna hingga saat ini.

“Kasih sayang yang tulus dari seorang ibu.”

Yoona tersenyum tipis menanggapi jawaban Donghae sambil menggoreskan penanya di atas kertas notes yang kini telah terisi penuh dengan jawaban-jawaban yang diberikan Donghae. Jawaban terakhir yang diberikan Donghae cukup membuatnya prihatin. Dan ia bisa merasakan bagaimana perasaan Donghae saat ini karena iapun juga sangat kesulitan untuk mendapatkan kasih sayang yang tulus dari orang-orang di sekitarnya.

“Mendengar jawaban dari anda, saya merasa beruntung karena saya memiliki hal itu dari ibu saya. Terimakasih tuan Lee, anda mengingatkan saya untuk selalu berbakti kepada ibu saya.”

“Ibu adalah wanita yang paling mulia, sudah seharusnya kita menghormatinya dengan sepenuh hati.” Balas Donghae dengan wajah sendu. Topik mengenai ibu sejak dulu selalu menjadi momok tersendiri untuknya karena ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Ibunya telah lama meninggal ketika ia berusia dua tahun karena suatu penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Dan sejak itu ia hanya dibesarkan oleh ayahnya dengan gaya pengasuhan khas seorang ayah yang sangat jauh dari harapannya sebagai seorang anak.

“Terimakasih tuan Lee atas waktu anda. Silahkan menunggu majalah terbitan kami minggu depan untuk melihat hasil dari wawancara anda. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih atas kerjasama anda. Selamat siang.”

Yoona kali ini mengulurkan tangannya dan mengajak Donghae berjabat tangan. Ia harus menunjukan kesan di akhir yang baik pada Donghae, meskipun di awal mereka sempat terlibat perang dingin karena sikap Donghae yang menurutnya sangat memuakan sebagai seorang pria.

-00-

Di pagi hari yang menenangkan untuk Yoona, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara ponselnya yang nyaring. Sambil menyisir rambutnya yang bergelombang, Yoona berjalan malas menuju ranjangnya untuk meraih ponsel putih miliknya yang sejak tadi terus berdering dengan nomor ponsel yang tak dikenalnya.

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu.” Sapa Yoona sopan. Suara pertama yang didengar Yoona adalah suara hembusan napas berat yang kemudian disusul oleh suara bass serak khas seorang pria tua.

“Selamat pagi nona Im Yoona. Aku Lee Sunghwan, kau pasti tahu siapa aku.”

Yoona memutar bola matanya malas. Ia pikir ia akan benar-benar mendapatkan telepon penting di pagi harinya yang tenang. Tapi sungguh di luar dugaan, ternyata pemimpin tertinggi Lee Corp yang menghubunginya, ayah dari Lee Donghae.

“Ya, saya tahu siapa anda tuan Lee Sunghwan. Sebuah kejutan untuk saya karena mendapatkan panggilan dari anda di pagi hari yang sangat indah ini. Ada apa tuan Lee Sunghwan?” Tanya Yoona heran dengan senyum manis yang tercetak di wajahnya. Meskipun ia tahu lawan bicaranya tidak akan bisa melihat senyum manisnya, tapi setidaknya Lee Sunghwan dapat mendengar nada bicaranya yang terlihat ceria pagi ini.

“Mungkin kau bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba menghubungimu. Tapi ini karena masalah wawancara yang kau lakukan dengan putraku minggu lalu.”

Yoona sudah menduga jika sang pemilik Lee Corp pasti akan membahas hal itu. Apakah pria itu khawatir dengan hasil wawancara putranya yang luar biasa? Pikir Yoona tak habis pikir.

“Oh, jika anda ingin mengetahui hasil wawancara putra anda minggu lalu anda bisa membaca majalah kami yang akan terbit hari ini. Anda tidak perlu khawatir tuan Lee karena saya tidak menambahkan apapun untuk dituliskan di majalah terbitan kami. Saya hanya menuliskan apa yang dijawab oleh putra anda.”

“Sebenarnya saat ini aku telah membaca majalah terbitan perusahaannmu dan aku cukup terganggu dengan heading yang kau tulis besar-besar di sampul majalahmu nona Im Yoona.”

Yoona ingin tertawa terbahak-bahak mendengar nada emosi yang ditujukan tuan Lee padanya. Memang perusahaanya akan mencetak majalah itu dalam jumlah terbatas untuk disebarkan di kalangan pebisnis. Dan sehari kemudian perusahaanya baru akan mencetak majalah-majalah itu untuk dibaca seluruh masyarakat Korea. Jadi sebelum masyarakat Korea tahu mengenai rahasia tersembunyi para pebisnis, rahasia itu akan tersebar terlebihdahulu di kalangan pebisnis yang lain. Dan tak jarang hal itu akan menjadi sebuah kontroversi yang sangat menyenangkan untuk ia tambahkan di majalah terbitan untuk masyarakat Korea.

“Apa yang salah dengan headingnya tuan Lee? Kurasa heading itu sudah sangat representatif dengan putra anda. Aku menulisnya sesuai dengan apa yang ditunjukan putra anda dihadapanku.”

“Kau menulis heading “Lee Donghae, Pengusaha Kaya Karismatik Penuh Tipu Muslihat” yang sangat besar dan hampir memenuhi seluruh kolom majalahmu. Kau pikir tulisanmu itu tidak merusak nama baik Lee Corp? Belum lagi isi dari majalahmu yang sebagian besar menyoroti kehidupan bebas putraku, membuat aku sebagai ayah merasa telah gagal mendidik putraku. Apa kau pikir hal itu adil dan sama sekali tidak kau tambah-tambahi. Sekarang harga saham di Lee Corp terkena imbas dari ulasan yang kau tulis di majalahmu. Aku tidak bisa membiarkan hal itu menjadi konsumsi masyarakat Korea nona Im.” Desis Lee Sunghwan marah. Ia sadar jika isi dari kolom berita itu benar, tapi setidaknya ia berharap Yoona juga menuliskan hal-hal positif mengenai putranya yang bodoh itu. Ia benar-benar kesal pada Donghae yang terlalu menganggap remeh Im Yoona hingga pada akhirnya mencemari nama baik perusahaan.

“Maaf tuan Lee, tapi memang itulah jawaban yang diberikan putra anda selama sesi wawancara. Jadi saya harap anda bisa menerimanya dengan lapang dada. Mungkin dengan adanya tulisan itu putra anda akan belajar untuk lebih menghargai orang lain dan tidak lagi melakukan hal-hal bodoh yang dapat mencoreng nama baik perusahaanya. Dan maaf tuan Lee, saya masih memiliki banyak urusan, jadi saya akan mengakhiri panggilan ini sekarang.”

Yoona hendak menekan tombol merah pada layar ponselnya sebelum tuan Lee mencegahnya dan mengatakan sesuatu yang membuatnya membatalkan niatnya untuk mengakhiri percakapan alot mereka.

“Datanglah ke kantorku pagi ini. Aku mengetahui masalah perselingkuhan ayahmu yang selama ini selalu kau sembunyikan dari masyarakat Korea. Mari kita membuat kesepakatan nona Im Yoona.”

Sial!

“Pukul berapa aku harus datang ke kantor anda tuan Lee?” Desis Yoona marah. Sekarang keadaan justru berbalik. Tuan Lee kini sedang tersenyum puas di seberang sana, sedangkan Yoona mulai terlihat emosi dengan ancaman tuan Lee yang sungguh tidak bisa ia abaikan begitu saja.

“Pukul setengah sembilan nona Im. Kalau begitu sampai jumpa.”

Yoona melirik jam dindingnya sekilas dan langsung membanting ponselnya dengan kesal ke atas ranjang. Tiga puluh menit lagi ia sudah harus tiba di gedung pencakar langit Lee Corp atau semua rahasianya akan terbongkar begitu saja karena permainan licik Lee Sunghwan.

“Yoona, eomma sudah menyiapkan sarapanmu di bawah.”

Tiba-tiba nyonya Im masuk ke dalam kamar putrinya dan tersenyum dengan manis kearah putrinya yang sedang kesal.

“Aku akan sarapan di kantor saja eomma. Aku harus menemui tuan Lee Sunghwan pagi ini di kantornya.”

“Kau akan pergi ke Lee Corp? Eomma lihat hari ini harga saham di Lee Corp sedikit turun setelah kau menerbitkan majalah hasil wawancaramu dengan putranya. Sedikit banyak berita itu juga mempengaruhi eomma karena eomma adalah salah satu pemegang saham di Lee Corp. Tapi karena Im Corp adalah tanggungjawabmu, maka eomma akan menghormati keputusanmu. Eomma percaya kau mampu mengelola Im Corp dengan baik.”

“Terimakasih eomma atas kepercayaan yang eomma berikan padaku. Aku menyayangi eomma.” Ucap Yoona manja sambil memeluk ibunya hangat. Beginilah sikap asli Yoona jika ia tidak sedang berada di lingkup kantor. Ia akan menunjukan sisi kekanakannya pada sang eomma sambil bermanja-manja ria bersama ibunya. Sayangnya ia duntutut untuk selalu tampil angkuh di muka umum karena ia tidak mau diremehkan lagi seperti dulu. Serapuh apapun dirinya, ia akan tetap berusaha menunjukan pada dunia jika ia baik-baik saja.

-00-

Pukul setengah sembilan kurang lima menit Yoona telah menginjakan kakinya di gedung pencakar langit milik Lee Corp. Kali ini ia tidak ditemani oleh Jihyun. Ia datang seorang diri ke Lee Corp untuk membahas masalah ancaman yang diberikan tuan Lee padanya. Meskipun rasanya ia sangat malas, tapi ancaman itu sangat membahayakan untuknya. Sehingga mau tidak mau ia harus mengalahkan egonya untuk bertemu dengan Lee Sunghwan.

“Aku ingin bertemu dengan tuan Lee Sunghwan. Kami sudah membuat janji untuk bertemu pukul setengah sembilan di kantornya.” Ucap Yoona pada petugas resepsionis yang berdiri dengan manis di depannya. Wanita bernama Yeri itu lantas menghubungi sekretaris atasannya untuk mengonfirmasi janji bertemu yang telah disebutkan Yoona sebelumnya.

“Nona Im, tuan Lee telah menunggu anda di ruangannya di lantai dua puluh. Silahkan anda menggunakan lift khusus di ujung sebelah kanan.” Beritahu Yeri sopan. Yoona menganggukan kepalanya sekilas dan langsung berjalan pergi dengan wajah angkuh andalannya. Beberapa pasang mata sesekali mencuri-curi pandang kearahnya dengan tatapan mencemooh karena sikapnya yang angkuh. Namun ada juga yang memberikan tatapan kagum karena kecantikan dan juga keanggunan yang ditunjukan oleh Yoona.

“Nona Im Yoona? Suatu kehormatan dapat bertemu denganmu di perusahaanku.”

Yoona menatap Donghae tanpa minat dan segera melangkahkan kakinya ke dalam lift. Di sebelahnya Donghae juga mengikutinya untuk masuk ke dalam lift bersama sekretarisnya yang dulu juga ikut menemaninya saat sesi wawancara.

“Lantai dua puluh.” Ucap Yoona ketika Park Dohyun sedang menekankan angka dua puluh lima untuk Donghae. Melihat Yoona yang akan pergi ke lantai dua puluh membuat Donghae bingung dan juga bertanya-tanya karena di lantai itu hanya berisi ruangannya dan ruangan ayahnya. Wanita di sampingnya itu jelas tidak datang untuk menemuinya, jadi sudah pasti Yoona datang ke kantornya untuk bertemu dengan sang ayah.

“Ada perlu apa kau datang menemui ayahku?” Tanya Donghae ingin tahu. Yoona menyilangkan kedua tangannya malas sambil menjawab pertanyaan Donghae dengan jawaban seadanya yang terlintas di kepalanya.

“Hanya ingin membicarakan sesuatu?”

“Hasil wawancaraku denganmu?” Tebak Donghae. Yoona mengangguk kecil membenarkan tebakan Donghae.

“Kembalilah ke kantormu. Kau tak perlu bertemu dengan ayahku, aku yang akan bicara padanya mengenai hasil wawancara itu. Lagipula itu bukan salahmu, kau telah menuliskan apa yang seharusnya kau tuliskan.” Ucap Donghae dengan gaya ponggahnya. Yoona mengernyitkan dahinya tidak suka pada Donghae yang dengan seenaknya mengatur hidupnya.

“Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri tuan Lee Donghae. Lagipula ini bukan hanya tentang hasil wawancara itu, kami juga ingin membicarakan masalah lain.”

Ting

Bersamaan dengan itu lift yang mereka tumpangi berhenti di lantai dua puluh. Tanpa mengucapkan apapun pada Donghae, Yoona segera melangkah keluar dari kotak persegi yang cukup menyesakan untuknya. Namun sebelum ia benar-benar pergi, Donghae tiba-tiba mencekal lengannya dan menghentikan langkahnya yang hampir mencapai ujung lift.

“Jika ayahku menyuruhmu melakukan sesuatu, abaikan saja. Aku akan membantumu jika kau membutuhkan bantuanku.”

“Maaf, kurasa aku masih bisa menghandle masalah ini sendiri tanpa bantuanmu. Sekarang lepaskan tanganmu dari lenganku.”

Donghae melepaskan tangannya begitu saja sambil menatap iris Yoona tajam. Mereka berdua saling bertatapan sengit satu sama lain hingga pintu lift di depan mereka perlahan-lahan menutup dan memutuskan kontak mata diantara mereka.

-00-

“Permisi, aku ingin bertemu dengan tuan Lee Sunghwan.”

“Silahkan masuk nona, tuan Lee telah menunggu anda di dalam.”

Seorang sekretaris dengan rambut panjang mempersilahkan Yoona masuk dengan ramah dan membukakan pintu hitam yang menjulang di depan tubuh mungilnya.

“Oh, akhirnya kau datang juga.” Sambut Lee Sunghwan ceria dengan nada yang dibuat-buat. Yoona tersenyum tipis lalu mendudukan dirinya dengan nyaman di atas sofa beludru berwarna dark coklat yang berada di tengah-tengah ruangan tuan Lee.

“Langsung saja tuan Lee kita bahas masalah kita.”

Yoona terlihat tidak mau berlama-lama untuk membahas masalah mereka karena ia masih memiliki banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Selain itu ia juga tidak mau terlalu banyak berbasa basi dengan tuan Lee yang terlihat ramah di depannya, namun menguarkan aura yang berbahaya.

“Ini, bukankah itu ayahmu dan adik tirimu? Mereka terlihat sangat bahagia bersama.”

Tuan Lee melemparkan beberapa foto kebersamaan tuan Im dengan putranya dan juga isteri keduanya yang tengah berlibur ke pantai. Melihat itu Yoona langsung mengalihkan tatapannya kearah lain sambil menahan nyeri yang berdenyut di hatinya. Tak bisa ia pungkiri jika ayahnya tampak bahagia di foto itu. Mereka bertiga seperti sebuah keluarga kecil yang sangat ingin ia miliki selama ini. Tapi sayangnya keluarga bahagia yang ia harapkan tidak akan pernah terjadi dalam keluarganya karena ayah dan ibunya memilih untuk berpisah. Lalu menyisakan hati-hati rapuh yang tersakiti.

“Jadi untuk apa anda memamerkan foto ayah saya tuan Lee?” Tanya Yoona dengan wajah dingin. Tuan Lee terkekeh pelan sambil menyandarkan tubuhnya dengan santai pada sandaran sofa.

“Foto itu akan menyebar dengan mudah ke seluruh rakyat Korea dan akan menjadi aib bagi keluargamu yang terkenal sempurna tanpa cela. Hmm, bukankah ini menarik Im Yoona? Aku memiliki kartu as yang selama ini selalu kau sembunyikan rapat-rapat dari semua orang. Kau harus menghentikan pencetakan majalah itu.”

“Tentu saja tidak bisa! Majalah itu sudah dicetak dan akan didistribusikan pagi ini. Perusahaanku akan rugi jika aku membatalkan penjualan ratusan eksemplar majalah yang telah susah payah kami produksi minggu lalu.” Ucap Yoona keras dengan wajah tidak setuju. Selain itu jika majalahnya minggu ini tidak diterbitkan, masyarakat Korea akan mempertanyakan alasan dibalik penundaan penerbitan majalah yang selama ini tidak pernah dilakukan oleh Im Corp.

“Kau juga membuat perusahaanku rugi Im Yoona, jangan lupakan itu! Apapun caranya kau harus menghentikan pendistribusian majalah itu atau aku akan menyebarkan aib keluargamu yang selama ini kau tutup-tutupi.” Ancam Lee Sunghwan sungguh-sungguh. Yoona mendengus gusar sambil mempertimbangkan keputusannya untuk membatalkan pendistribusian majalahnya pagi ini. Tapi jika ia melakukannya, maka perusahaannya akan mendapatkan kerugian yang cukup besar. Jika ia tidak mau rugi maka ia harus mengganti artikel mengenai Lee Corp dengan artikel lain agar pendistribusia majalahnya bisa tetap berjalan normal. Namun ia tidak bisa meminta staffnya untuk melakukan hal itu karena mereka belum menyiapkan berita apapun yang bisa menggantikan heading majalah mereka pagi ini. Setidaknya ia harus mencari berita lain yang sama-sama menjual seperti berita milik penerus Lee Corp.

“Aku tidak bisa melakukannya. Kecuali aku memiliki berita pengganti untuk menggantikan berita mengenai perusahaanmu.”

“Kalau begitu kau buat saja berita yang menghebohkan untuk menggantikan berita mengenai putraku yang kau olok habis-habisan di dalam majalahmu.”

“Masalahnya tidak semudah itu mengganti berita lama dengan berita baru tanpa ada persiapan sedikitpun.” Teriak Yoona kesal. Ia sudah melupakan sopan santun yang selama ini diajarkan oleh ibunya kepadanya. Kepalanya saat ini terlalu pening untuk memikirkan segala macam kemungkinan yang bisa terjadi padanya. Jika ia tetap mendistribusikan majalahnya maka aib keluarganya akan tersebar ke seluruh penjuru Korea. Sedangkan jika ia tidak melakukannya maka ia akan mengalami kerugian besar. Ia benar-benar benci berada di titik tengah yang sulit seperti ini. Seharusnya ia memang tidak gegabah menuliskan berita itu karena sedikit banyak berita yang ia muat di majalahnya adalah berita yang ia tulis dengan penuh emosi karena sikap angkuh Donghae yang menyebalkan.

“Kalau begitu kau harus menikah dengan putraku.” Putus tuan Lee yang langsung dibalas Yoona dengan tatapan tak percaya dan wajah garang, siap untuk mengeluarkan protes.

“Anda menyuruh saya untuk menikah dengan Lee Donghae? Apa anda pikir pernikahan hanya digunakan untuk main-main?” Ucap Yoona tak terima. Meskipun hingga saat ini ia masih sendiri, tapi ia juga tidak akan terima bila tiba-tiba harus menikah dengan seorang pria yang sejak awal bertemu sama sekali tidak ia sukai. Lee Donghae terlalu angkuh dan juga bad boy untuknya. Ia tidak suka itu. Sejak dulu ia selalu bercita-cita untuk memiliki suami dengan sifat lembut dan penyayang agar mampu mewujudkan impiannya untuk memiliki keluarga sempurna yang bahagia.

“Tidak ada jalan lain selain ide itu. Hanya berita itu yang mampu menggantikan berita menghebohkan mengenai putraku dan Lee Corp. Ingat, semua ini terjadi juga karena kesalahanmu Im Yoona. Jadi kau pantas menanggung resiko ini. Jika kau ingin perusahaanmu selamat, maka kau harus melakukannya. Selain itu jika kau menikah dengan Donghae, maka perusahaanmu dan perusahaanku akan semakin kuat. Bayangkan bila Lee Corp dan Im Corp berdiri sejajar dan saling menguatkan satu sama lain? Perusahaan kita akan menjadi perusahaan nomor satu yang tak terkalahkan.” Ucap Lee Sunghwan dengan wajah berbinar-binar. Yoona masih mencoba memikirkan jalan keluar lain yang sekiranya lebih baik dari rencana gila Lee Sunghwan yang memintanya untuk menikah dengan Lee Donghae. Sayangnya ia tidak memiliki banyak waktu untuk berpikir. Sebentar lagi staffnya akan mendistribusikan majalah-majalah itu pada masyarakat Korea, ia benar-benar tidak bisa mencari solusi lain untuk menyelamatkan perusahaannya dari kerugian yang cukup besar. Akhirnya dengan terpaksa Yoona meraih ponselnya dan segera menghubungi Jihyun untuk menunda pendistribusian majalah Im Corp untuk sementara.

“Aku sudah menunda jadwal pendistribusiannya. Lalu bagaimana dengan Lee Donghae? Pernikahan ini tidak bisa terlaksana jika Donghae tidak setuju atau menolak perintah anda.”

“Kau tenang saja, Donghae adalah masalahku. Sekarang buatlah artikel mengenai berita pernikahan kalian. Nanti malam aku dan Donghae akan datang ke rumahmu untuk membicarakan masalah pernikahan kalian.”

Yoona mendesah pasrah dan segera berjalan pergi meninggalkan ruangan Lee Sunghwan dengan wajah kesal dan juga hati dongkol. Dalam hitungan menit semua masa depannya tiba-tiba berubah begitu saja. Satu lagi drama dan kepalsuan yang harus ia mainkan dalam hidupnya. Sampai kapan ia akan bertahan dengan drama-drama picisan itu. Ia muak bersikap seolah semuanya baik-baik saja di depan orang lain, padahal nyatanya ia tidak sedang baik-baik saja. Ia ingin dalam hidupnya yang hanya sekali itu, ia bisa bersikap natural seperti orang-orang di luar sana yang bisa menjalani kehidupannya tanpa beban.

-00-

Malam harinya pukul tujuh tepat, Lee Sunghwan dan Lee Donghae benar-benar datang ke rumah Yoona. Kedua pria berbeda generasi itu langsung mendapatkan sambutan hangat dari nyonya Im yang telah mempersiapkan berbagai jamuan makan malam yang cukup banyak di meja makan. Ia dengan penuh sukacita mempersilahkan dua pria bermarga Lee untuk duduk di ruang tamu sementara ia meminta ijin untuk memanggil Yoona yang sedang bersiap-siap di kamarnya.

“Ayah, apa ayah yakin dengan rencana ini? Menikahkan aku dengan Im Yoona hanya untuk menyelamatkan reputasi perusahaan kita? Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran ayah.” Dengus Donghae kesal. Siang ini ia cukup terkejut dengan rencana gila ayahnya yang ingin ia segera menikah dengan Yoona. Padahal ayahnya sangat tahu jika ia dan Yoona tidak pernah memberikan kesan yang baik satu sama lain. Tapi ia sendiri tidak bisa menolak permintaan ayahnya, apa yang ayahnya katakan memang benar. Ia harus mengorbankan dirinya agar perusahaanya kembali stabil seperti dulu. Dan jika semuanya sudah tenang maka ia bisa berpisah dengan Yoona tanpa perlu ada yang dipusingkan dengan hubungan pernikahannya.

“Maaf membuat kalian menunggu lama. Yoona, ayo kemari nak.”

Im Somin menarik sedikit tangan Yoona agar segera duduk di sebelahnya. Sejak tadi wanita itu terus memasang wajah dinginnya yang sangat menjengkelkan untuk dilihat. Padahal wanita itu sendiri yang meminta ijin pada ibunya untuk menikah dengan Lee Donghae.

“Jadi kita akan benar-benar berbesan?” Tanya Im Somin membuka percakapan. Sejujurnya ia cukup terkejut dengan rencana pernikahan putrinya. Tapi ia cukup bahagia jika pria yang akan menjadi menantunya adalah Lee Donghae karena selama ini ia merasa Lee Donghae adalah pria yang baik. Terlepas dari skandal bad boy-nya yang sangat terkenal itu, tapi Im Somin tetap menyukai Donghae sebagai calon menantunya.

“Begitulah Im Somin-ssi. Sebenarnya aku cukup terkejut dengan rencana mereka untuk menikah, tapi ternyata tanpa sepengatahuan kita mereka telah menjalin hubungan yang cukup dekat.” Bohong tuan Lee lancar. Yoona mendengus gusar dalam hati dengan kemampuan akting Lee Sunghwan yang sangat hebat. Padahal ini semua adalah rencananya yang ingin menyelamatkan reputasi perusahaanya semata. Ia lalu melirik Donghae yang sedang duduk dengan tenang di sebelah Lee Sunghwan sambil menyimak setiap percakapan antara ayahnya dan juga ibunya. Pria itu sejauh ini terlihat santai dengan rencana pernikahan yang dicetuskan oleh ayahnya. Apakah pria itu langsung menerimanya begitu saja? Pikir Yoona heran. Ia kemudian berdeham pelan untuk untuk meminta sedikit perhatian dari para tetua yang sedang sibuk membahas rencana pernikahannya.

“Maaf, bisakah aku berbicara dengan Lee Donghae-ssi?”

“Oh tentu saja. Yoona, kenapa kau  bersikap sangat formal seperti itu dengan calon suamimu sendiri?” Tegur nyonya Im. Yoona tampak acuh tak acuh di depan ibunya sambil mengendikan bahu dan berjalan pergi mendahului Donghae menuju taman belakang.

“Maafkan sikapnya nyonya Im, mungkin Yoona hanya terbawa suasana formal di kantor.” Ucap Donghae sebelum ia pergi menyusul Yoona. Nyonya Im mengangguk mengerti lalu membiarkan Donghae pergi menyusul Yoona.

-00-

“Apa kau setuju dengan rencana ayahmu?” Tanya Yoona langsung ketika pria itu baru saja mendaratkan kakinya di taman belakang. Yoona terlihat sedang memandang kosong air kolam renang yang tampak jernih di depannya tanpa menoleh sedikitpun kearah Donghae yang telah berdiri di sebelahnya.

“Memangnya aku bisa apa? Ini juga demi perusahaanku. Lagipula kau sudah menuliskan berita pernikahan kita pada heading majalahmu. Jadi apa aku bisa menolak rencana gila ayahku?”

Untuk beberapa saat mereka terdiam satu sama lain. Baik Yoona maupun Donghae, mereka enggan berbicara saat ini. Tapi sayangnya mereka harus berbicara, setidaknya untuk membahas masalah pernikahan mereka dan bagaimana kehidupan mereka nanti setelah menikah.

“Kita akan tinggal di apartemenku setelah menikah.”

“Apakah itu sebuah perintah?” Tanya Yoona menyindir. Ia tidak suka dengan sikap bossy Donghae yang ditunjukan padanya. Ia merasa mereka berdua memiliki derajat yang sama, sehingga ia tidak mau diperintah oleh Donghae begitu saja. Ia juga memiliki hak untuk memutuskan bagaimana kehidupannya kelak.

“Lalu kau pikir kita akan tinggal dimana? Rumahmu?” Balas Donghae tak mau kalah. Sebentar saja mereka telah terlibat dalam adu mulut yang sangat sengit. Keduanya memiliki ego yang sangat tinggi hingga tak mau mengalah satu sama lain.

“Eomma tidak akan mengijinkanku keluar dari rumah ini. Jadi ya, kita akan tinggal di rumahku.” Ucap Yoona ketus. Donghae mengacak rambutnya gusar lalu memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana hitamnya. Ia merasa semuanya akan semakin sulit jika mereka tinggal di lingkup keluarga Im karena nyonya Im tidak mengetahui alasan dibalik pernikahan mereka yang sebenarnya. Selain itu ia juga harus memasang topeng kepalsuan di depan nyonya Im dan bersikap seolah-olah ia bahagia menikah dengan Yoona. Padahal semua itu hanya keterpaksaan. Ia terpaksa menikah dengan Yoona untuk kebaikan perusahaanya, meskipun memiliki isteri seperti Yoona juga tidak sepenuhnya buruk. Yoona adalah wanita yang cerdas dan juga cantik. Yoona tidak kalah dengan mantan-mantan kekasihnya yang selalu ia kencani. Hanya saja Yoona terlalu angkuh dan galak, sehingga ia merasa tidak akan pernah bahagia dengan pernikahannya. Dulu ia menginginkan sebuah pernikahan yang dapat membuatnya bahagia, dengan wanita yang ia cintai, dan dengan wanita yang mampu melunakan hatinya yang sedikit keras selama ini. Tapi sekarang apa yang ia dapat? Ia justru mendapatkan wanita angkuh dan dingin yang sangat sulit untuk disentuh hingga membuatnya selalu emosi bila berada di dekatnya.

“Seharusnya kau berpikir terlebihdahulu sebelum menerbitkan sebuah artikel yang dapat merusak segalanya. Kau pasti sengaja melakukannya untuk membalas sikapku saat itu. Sekarang lihatlah, akibat dari ulahmu kita harus terjebak di dalam sebuah permainan bodoh yang diciptakan oleh ayahku.”

“Apa kau pikir aku mau menikah denganmu dan memainkan sandiwara bodoh ini? Tidak Lee Donghae! Aku juga melakukannya demi perusahaanku karena ayahmu terus mendesakku untuk menghetikan pendistribusian majalah yang diterbitkan oleh perusahaanku. Dan jika aku menuruti permintaan ayahmu itu, perusahaanku akan mengalami kerugian besar. Jangan bersikap seolah-olah kau yang paling dirugikan dalam hal ini, karena aku juga sangat dirugikan. Aku mengorbankan masa depanku untuk hidup bersama pria angkuh yang gemar merayu wanita sepertimu!” Sembur Yoona berapi-api. Donghae mengepalkan tangannya kesal di dalam saku celananya dengan wajah merah padam penuh amarah. Ini adalah kali pertama ia mendapatkan penghinaan yang begitu besar dari seorang wanita angkuh tak berperasaan seperti Yoona.

“Jaga ucapanmu Im Yoona, karena kau tidak tahu apa-apa tentang diriku. Kau wanita sombong yang tidak pernah dilirik sedikitpun oleh pria-pria di luar sana seharusnya sedikit lebih bersyukur karena dengan sandiwara ini kau mendapatkan kesempatan untuk bersanding dengan pria kaya sepertiku.”

Plakk

Yoona menampar keras pipi Donghae dengan napas memburu dan wajah penuh emosi. Ia tidak terima dengan setiap penghinaan yang dilayangkan pria itu padanya. Jika pria itu mengatakan ia tidak mengetahui apa-apa tentang pria itu, maka pria itu juga seharusnya sadar jika ia juga tidak tahu apa-apa mengenai dirinya.

“Kau berani menamparku?”

“Memangnya kenapa? Kau telah menghinaku Lee Donghae. Asal kau tahu, aku bukan wanita murahan seperti kekasih-kekasih jalangmu yang gemar merayu pria tak bermoral sepertimu. Aku dididik dengan baik oleh ibuku agar menjadi wanita terhormat. Jadi kau jangan pernah merendahkanku jika kau tidak pernah mengetahui apapun tentang diriku.”

Donghae mengelus pipinya kasar yang terasa kebas akibat tamparan Yoona. Ia sebenarnya masih ingin mendebat Yoona dan membalas setiap ucapan kasar yang dilakukan oleh wanita itu. Tapi ia sadar jika kemarahan mereka tidak akan menghasilkan jalan keluar apapun. Justru mereka akan semakin mengobarkan api perang yang begitu besar dan merusak  semua rencana mereka untuk menyelamatkan reputasi perusahaan mereka.

“Kita sudahi pertengkaran kita. Kita sudah sama-sama dewasa dan tidak sepantasnya saling serang seperti itu. Jadi apa yang kau inginkan untuk pernikahan kita.”

Yoona masih terlihat emosi. Namun ia cukup menghargai usaha Donghae yang sedang mencoba mengembalikan arah pembicaraan mereka yang sempat melenceng. Dan ia pun akhirnya memilih untuk berdamai dengan egonya. Ia harus menjadi wanita dewasa dengan kepala dingin untuk menyelesaikan semua masalah yang menghimpitnya.

“Aku ingin kau menghormatiku sebagai isterimu. Jadi jangan pernah membawa jalang-jalangmu di hadapanku. Jika kau ingin menghabiskan waktumu bersama wanita-wanitamu, kau harus pergi sejauh-jauhnya dari hidupku.”

“Kenapa? Apa kau ingin kita benar-benar menjalankan pernikahan ini?” Tanya Donghae penuh selidik. Yoona terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan dari Donghae karena ia belum memiliki jawaban yang tepat untuk pria itu. Ia sebenarnya hanya takut melihat kehidupan orangtuanya, dan ia tidak ingin mengulang hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Ia tidak suka ada pihak ke tiga yang masuk ke dalam hubungan rumah tangganya nanti.

“Aku hanya tidak ingin mengecewakan eommaku yang sangat berharap banyak dengan kehidupan pernikahanku. Kuharap kau dapat mempertimbangkannya.”

Donghae cukup menerima alasan yang diberikan Yoona. Ia pun mengangguk setuju di sebelah Yoona tanpa melayangkan protes apapun. Bukankah ia hanya perlu pergi sejauh-jauhnya dari hadapan Yoona jika ia sedang bersama kekasihnya. Jadi ia hanya perlu mengajak kekasihnya pergi ke tempat-tempat terpencil yang tidak mungkin dikunjungi oleh Yoona.

“Syarat selanjutnya?”

“Untuk sementara hanya itu, syarat yang lain akan menyusul setelah kita menikah karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Jadi kita sesuaikan syarat-syarat yang lain setelah kita menikah.”

“Baiklah. Kunggap semua pembicaraan kita malam ini telah selesai. Dan jangan pernah menyesali keputusanmu  Im Yoona.” Peringat Donghae sebelum pria itu melangkah mundur dan masuk ke dalam ruang tamu untuk bergabung kembali bersama ayahnya yang sedang asik mengobrol bersama nyoya Im.

Tanpa sadar Yoona meneteskan air matanya sambil terisak pelan meratapi nasibnya yang begitu sial karena harus menanggung beban berat akibat perceraian dari kedua orangtuanya. Ia merasa menjadi pihak yang paling terbebani dengan semua kepelikan masalah keluarganya. Sedangkan ibu dan adiknya selama ini dapat menjalani kehidupan mereka dengan bahagia tanpa pernah merasakan beban yang dipikulnya sendiri. Ia menangis dalam diam, menyalahkan Tuhan atas takdirnya yang begitu buruk setelah ia sempat merasakan bagaimana manisnya kehidupan keluarganya dulu.

-00-

Dengan gaun putih mewah dan veil tipis transparan yang menghiasai rambutnya, Yoona tampak begitu anggun di depan pintu gereja bersama tuan Lee di sebelahnya. Wanita itu menatap pintu katedral tinggi di depannya yang menjulang begitu angkuh seperti dirinya. Ia tak pernah menyangka jika ia akan segera melepas masa lajangnya sebentar lagi. Ia akan menjadi isteri dari pemilik Lee Corp dan akan menyandang marga Lee di depan namanya. Hanya saja kebahagiaan itu terasa kurang lengkap untuk Yoona karena ayahnya tidak bisa hadir pagi ini. Lebih tepatnya tuan Im menolak untuk hadir untuk menjadi walinya dalam upacara pernikahannya pagi ini.

“Ayo Yoona.”

Lee Sunghwan berseru pelan di sebelahnya ketika pintu katedral yang tinggi itu pelahan-lahan terbuka dan menampilkan suasana gereja yang begitu indah dengan dekorasi pernikahan yang penuh bunga di dalamnya. Dengan perasaan yang sulit diartikan Yoona menyusupkan tangannya di sela-sela lengan tuan Lee yang begitu kokoh di sebelahnya. Lalu mereka perlahan-lahan mulai berjalan di atas hamparan karpet merah yang akan membawa mereka menuju altar. Kilatan demi kilatan lampu blits dari berbagai kamera terus menghujani Yoona tanpa ampun hingga Yoona dibuat silau. Dalam bayangannya saat ini ia tengah berjalan menuju altar bersama ayahnya untuk menikah bersama seorang pria yang sangat ia cintai. Sayangnya bayangan itu musnah begitu saja ketika tuan Lee tiba-tiba telah mengangsurkan tangannya pada Lee Donghae yang sejak tadi menunggunya di altar dengan stelan tuxedo berwarna hitam.

“Lakukan tugasmu dengan baik Hae.” Bisik Lee Sunghwan sebelum berjalan mundur dari altar. Yoona menatap calon suaminya tanpa minat dan langsung menghadap kepada sang pendeta yang telah siap di depannya untuk mengambil sumpahnya setelah ini.

“Apa kalian telah siap?”

“Kami siap pendeta.” Jawab Donghae tegas. Mereka berdua lantas berdiri berhadap-hadapan untuk memulai mengucapkan janji suci sehidup semati yang akan dipimpin oleh pendeta di depan mereka.

Selama mengucapkan janji suci, Yoona dan Donghae saling menatap satu sama lain dengan perasaan kosong yang sama-sama dirasakan keduanya. Janji suci yang mereka ucapkan tak ubahnya hanya seperti sebuah monolog biasa yang tak ada artinya untuk mereka. Mereka tidak benar-benar mengucapkannya dengan sepenuh hati dan hanya mengikuti setiap perintah yang diberikan sang pendeta kepada mereka.

“Silahkan bertukar cincin dan kau boleh mencium isterimu untuk pertama kalinya sebagai sepasang suami isteri.”

Donghae meraih tangan Yoona yang tampak pucat di depannya, lalu ia memasang sebuah cincin berlian putih yang terlihat begitu indah di jari manis Yoona. Setelah itu Yoona melakukan hal yang sama pada Donghae tanpa sedikitpun menunjukan ekspresi bahagia yang seharusnya ditunjukan oleh pasangan suami isteri yang baru saja menikah.

“Silahkan mencium isteri anda.”

Pendeta itu mengulangi perintahnya ketika Donghae tak kunjung mencium isterinya setelah mereka selesai bertukar cincin. Dengan enggan Donghae maju selangkah dan menangkup pipi Yoona untuk mencium bibir tipis Yoona untuk pertama kali.

Kesan pertama yang ditangkap Donghae saat mencium bibir Yoona adalah dingin. Bibir Yoona benar-benar dingin dan nyaris seperti bongkahan es ketika ia menciumnya. Ia tidak tahu apakah Yoona memang kedinginan atau bibirnya memang terasa sedingin es seperti sifatnya yang dingin. Namun ia tak mau terlalu ambil pusing dengan hal itu karena ia langsung melepaskan tautan diantara mereka setelah selama lima detik bibirnya menempel di atas bibir tipis Yoona.

Dari bangku khusus keluarga mempelai wanita, nyonya Im tak henti-hentinya menitikan air mata haru kala ia melihat putrinya telah resmi menjadi isteri dari Lee Donghae. Ia merasa lega karena akhirnya putri sulungnya itu berhasil mendapatkan pria yang tepat untuk menemani hari-harinya yang sulit. Hana yang duduk di sebelah ibunyapun tak kuasa menyembunyikan perasaan harunya melihat sang kakak yang kini telah mendapatkan pangeran impiannya. Selama dua minggu mengenal Lee Donghae, ia yakin jika pria itu adalah pria yang tepat untuk kakaknnya. Bahkan ia sangat iri pada kakaknya yang berhasil menggaet seorang pangeran tampan pewaris kerajaan bisnis Lee Corp yang sejak dulu selalu menjadi incara para wanita.

“Eomma, aku iri pada Yoona eonni.” Rengek Hana sambil menyeka setitik air mata yang menggenang di sudut matanya. Nyonya Im mengelus pelan puncak kepala putri bungsunya sambil tersenyum manis melihat pasangan pengantin baru yang saat ini sedang membungkuk sembilan puluh derajat untuk mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya pada seluruh tamu undangan yang telah hadir untuk menyaksikan serangkaian prosesi pernikahan yang cukup melelahkan pagi ini. Para tamu undangan itu terlihat begitu bahagia dengan dipersatukannya Im Yoona dan Lee Donghae dalam sebuah ikatan suci karena itu artinya Korea Selatan akan memiliki dua ikon bisnis yang tak terkalahkan.

“Eomma kenapa appa tidak datang?” Tanya Hana sedih. Kegembiraan yang sebelumnya terpancar di wajah nyonya Im pun perlahan-lahan luntur, digantikan dengan raut wajah sedih yang begitu kentara di wajah lelahnya. Selama ini ia tidak pernah membahas masalah kegagalan rumah tangganya pada kedua putrinya dan memilih untuk bersikap acuh tak acuh dengan menganggap semuanya baik-baik saja. Padahal ia sendiri cukup merasa tertekan dan juga sedih. Hanya saja ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Yoona dan Hana karena ia merasa sangat bersalah pada kedua putrinya yang harus menjadi korban atas keegoisan mantan suaminya.

“Appa sudah bahagia dengan keluarganya, eomma tidak bisa memaksa appamu untuk datang.” Ucap nyonya Im apa adanya. Hana menghembuskan napasnya kecil sambil menatap prihatin pada eonninya yang saat ini tengah melakukan sesi foto bersama para tamu undangan. Ia tahu bagaimana perasaan kakaknya. Dan ia berharap semoga setelah ini kakaknya hanya akan mendapatkan kebahagiaan tanpa harus merasakan kesedihan lagi.

-00-

Yoona berjalan susah payah menuju ke kamarnya sambil mengangkat ujung gaunnya tinggi-tinggi. Akhirnya serangakaian prosesi pernikahan yang melelahkan itu berakhir juga. Sebelum melangsukan pernikahan hari ini mereka telah sepakat untuk hanya melakukan upacara pemberkatan di gereja tanpa mengadakan pesta resepsi pernikahan seperti yang dilakukan pasangan-pasangan pengantin pada umumnya, sehingga pukul dua siang mereka sudah bisa menginjakan kaki di rumah untuk beristirahat tanpa harus bersusah payah untuk menyiapkan pesta resepsi pernikahan yang akan membuat mereka semakin kelelahan.

“Biar kubantu.”

Donghae menawarkan diri untuk membantu Yoona mengangkat ujung gaunnya yang berat karena ia merasa kasihan melihat Yoona yang tampak begitu tersiksa sejak mereka berada di gereja. Namun karena dirinya tidak sabar menunggu langkah Yoona yang pendek-pendek akibat heelsnya yang tinggi, Donghae akhirnya memutuskan untuk menggendong Yoona tiba-tiba hingga membuat Yoona memekik heboh setelahnya.

“Siapa yang mengijinkanmu menggendongku? Turunkan aku!” Teriak Yoona kesal. Donghae menatap Yoona datar tanpa minat dan segera melangkah cepat menuju kamar Yoona yang jaraknya cukup jauh akibat rumah keluarga Im yang terlalu luas.

“Aku. Aku adalah suamimu sekarang, jadi aku berhak melakukan apapun padamu.” Balas Donghae tanpa ekspresi. Yoona mendecih kesal di dalam gendongan Donghae sambil mengalungkan lengannya pada leher Donghae. Tubuhnya yang kurus bergoyang-goyang pelan seirama dengan langkah Donghae yang mantap. Pria itu tanpa banyak bertanya langsung berjalan menuju kamar Yoona yang sebelumnya pernah ia datangi. Satu minggu yang lalu ia masuk ke dalam kamar Yoona setelah nyonya Im menyuruhnya untuk langsung menemui Yoona yang saat itu sedang tidak sehat. Jadi sekarang ia merasa tidak asing dengan kamar itu dan langsung mengetahui letaknya tanpa harus bertanya terlebihdulu pada Yoona.

“Turunkan aku.”

Donghae menurunkan Yoona dengan hati-hati ke atas ranjang king size yang diatasnya telah ditaburi dengan berbagai kelopak bunga mawar. Sekilas Yoona merasa jijik dengan pemandangan kamarnya sendiri. Padahal sebelum ia berangkat menuju gereja kamarnya masih terlihat normal tanpa ada satupun kelopak mawar yang tersebar di atas ranjangnya. Tapi sekarang, tempat tidurnya terlihat seperti sebuah kebun mawar dengan berbagai macam kelopak mawar yang ditaburkan di atasnya untuk menyempurnakan kamar pengantinya.

“Kau mendekor kamarmu?”

“Tentu saja tidak. Aku justru menginginkan kamarku tetap seperti biasa, tapi eomma dan Hana pasti telah menyewa seorang dekorator untuk menghiasi kamarku agar terlihat seperti kamar pengantin sungguhan.”

Donghae tersenyum miris dengan kalimat bernada ketus yang diucapkan oleh Yoona. Di mata wanita itu pernikahan mereka seakan-akan tidaklah nyata dan hanya sebuah sandiwara semata. Padahal pagi ini mereka telah melekukan serangkaian prosesi pernikahan yang benar-benar sah di mata Tuhan maupun negara.

“Bisa kau bantu aku membuka pengait gaun ini?” Tanya Yoona sambil berdiri membelakangi Donghae. Wanita itu terlihat sudah tidak sabar untuk menanggalkan semua pernak pernik berbau pernikahan yang sejak dini hari tadi telah melekat di tubuhnya dan membuatnya merasa gerah.

“Aku lupa tidak membawa baju ganti. Kau bisa meminjamiku kaosmu?”

Setelah membuka pengait di punggung Yoona dan membuat sedikit punggung polos Yoona terekspos, Donghae lantas membuka tuxedo hitamnya yang terasa cukup gerah. Siang ini ia hanya ingin tidur karena sejak tiga hari yang lalu ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia harus lembur untuk menyelesaikan semua pekerjaannya karena ia dan Yoona menikah disaat ia sedang memiliki banyak urusan di kantor.

“Tunggu, aku akan mengambilkan kaus milik appaku di kamar eomma.” Ucap Yoona sambil berjalan menuju kamar mandi yang berada di sudut kamarnya.

Setelah Yoona masuk ke dalam kamar mandi, Donghae memutuskan untuk mengamati setiap sudut kamar Yoona yang dulu tidak terlalu diperhatikannya. Di ujung kanan, dekat dengan meja belajar berukuran sedang, Donghae dapat melihat beberapa bingkai foto yang terpajang begitu apik di sana. Tampak foto-foto Yoona ketika berusia balita, remaja, hingga Yoona beranjak dewasa berada di sana. Selain foto-foto Yoona dari berbagai usia, Donghae juga melihat foto Yoona bersama keluarganya saat sedang berlibur di Paris karena foto yang mereka ambil berlatar belakang menara Eiffel yang sangat fenomenal. Tapi yang membuatnya cukup heran hingga detik ini adalah mengapa ia tidak pernah melihat ayah Yoona? Sejauh ini ia belum mengetahui apapun mengenai keluarga Yoona, pun dengan Yoona yang belum mengetahui apapun tentang keluarganya. Jadi mereka menikah seperti sebuah kencan buta karena mereka tidak saling mengetahui latar belakang masing-masing.

“Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan kaus dan celana pendek untukmu.”

Donghae menoleh cepat kearah belakang dan menemukan Yoona yang telah mengganti bajunya dengan sebuah dress rumah berwarna baby pink yang tampak sederhana, namun dapat membuat Yoona terkesan lebih hangat daripada penampilannya selama ini.

Sembari menunggu Yoona mengambilkan kaus untuknya, Donghae memutuskan untuk membuka ponselnya yang telah dipenuhi dengan berbagai pesan selamat dari para koleganya dan juga pesan-pesan mengenai pekerjaanya yang dikirimkan oleh sekretarisnya. Melihat banyaknya pesan yang masuk ke dalam ponselnya membuat Donghae pening dan ingin melemparkan ponselnya ke atas ranjang. Namun tiba-tiba ponselnya bergetar dengan layar yang menampilkan sederet angka-angka yang tak dikenalnya.

“Halo?”

“Oppa! Kenapa kau tega meninggalkanku dan menikah dengan wanita lain?”

Donghae menjauhkan ponselnya dan melihat sederet nomor yang tertera di layar ponselnya sebelum ia berdecak kesal karena ternyata salah satu mantan kekasihnya sedang menghubunginya saat ini. Namun ia tidak tahu mantan kekasihnya yang mana yang sedang menghubunginya.

“Kita sudah berakhir. Jangan hubungi aku lagi Jang Haena.” Ucap Donghae dingin. Wanita di seberang sana langsung mendengus gusar sambil memprotes keras.

“Aku bukan Jang Haena, aku Choi Ana.”

“Oh, aku lupa.” Jawab Donghae acuh tak acuh. Tanpa mengatakan apapun lagi, Donghae langsung mengakhiri begitu saja sambungan telepon itu meski wanita yang mengaku sebagai Choi Ana itu masih berteriak-teriak heboh entah membicarakan apa.

“Dasar pengganggu!” Gerutu Donghae kesal. Inilah salah satu akibatnya jika ia memiliki banyak teman wanita. Ia harus rela hidupnya diteror oleh wanita-wanita itu dengan berbagai alasan yang berbeda.

“Mantan kekasihmu?”

Tiba-tiba Yoona sudah muncul di belakangnya dengan membawa beberapa potong kaus dan juga celana pendek. Tatapan hangat yang sebelumnya sempat di tunjukan Yoona, kini telah berubah menjadi tatapan dingin khas Im Yoona, seperti yang selama ini dilihatnya. Sambil mengendikan bahunya acuh, Donghae segera menghampiri Yoona dan meraih kaus-kaus itu dari tangan Yoona.

“Mereka terkadang memang berisik.” Ucap Donghae asal. Yoona tampak tak bereaksi apapun dan membiarkan Donghae masuk begitu saja ke dalam kamar mandi. Ia lalu berjalan menuju ranjangnya dan menyapu bersih semua kelopak mawar yang sebelumnya berserakan di atas ranjangnya dengan sangat kotor. Ia membuang semua kelopak mawar yang indah itu ke dalam tong sampah hingga kini penampilan kamarnya terlihat lebih normal daripada sebelumnya yang justru terlihat seperti kebun bunga mawar.

“Ibumu dan Hana pasti kecewa jika melihatmu membuang semua mawar-mawar itu.” Komentar Donghae setelah ia selesai dengan urusan mengganti pakaiannya. Pria itu kini tampak lebih santai dengan celana pendek kotak-kotak dan sebuah kaus lengan pendek berwarna biru yang sedikit memperlihatkan otot lengannya yang kekar.

“Mawar-mawar itu membuatku meriding. Akan lebih baik jika mawar-mawar itu berada di dalam tong sampah agar tidak mengganggu tidurku siang ini. Aku lelah.”

Yoona terlihat sudah siap di atas ranjang dengan posisi memunggungi Donghae yang masih berdiri di sekitar pintu kamar mandi. Pria itu cukup ragu untuk bergabung bersama Yoona di atas ranjang karena mereka belum membuat kesepakatan apapun setelah malam itu.

“Tidurlah jika kau lelah.”

Donghae mengangkat alisnya heran, namun ia segera bergabung bersama Yoona di atas ranjang. Entah mengapa Yoona terlihat begitu mempercayainya. Wanita itu dengan mudahnya membiarkannya tidur di sampingnya tanpa ada sedikitpun sekat yang memisahkan mereka.

“Ada yang ingin kau sampaikan?”

“Jangan melebihi batas Lee Donghae-ssi.”

“Panggil aku oppa. Meskipun ini bukan pernikahan yang kita inginkan, tapi kau tetap harus menghormatiku sebagai suamimu.”

Donghae mendengar desisan gusar dari Yoona. Namun ia memilih untuk mengabaikannya dan hanya berbaring menatap langit-langit kamar Yoona yang putih bersih.

“Dimana ayahmu?” Tanya Donghae tiba-tiba. Yoona memejamkan matanya sejenak sambil menahan rasa nyeri yang mulai menggerogoti hatinya. Kenapa pria itu harus mengingatkannya pada ayahnya yang dengan tenaganya tidak mau datang ke acara pernikahan putrinya? Padahal ia telah memohon pada ayahnya untuk datang dan menjadi walinya selama berjalan di altar. Tapi… permohonannya sama sekali tidak diindahkan oleh ayahnya. Ayahnya memilih untuk bersama keluarga barunya tanpa mau sedikitpun melihat kedua putrinya yang menderita karena keegoisannya.

“Ayahku pergi setelah bercerai dengan ibuku.”

“Aku tidak tahu bagaimana kehidupanmu selama ini Yoona, dan sebagai suamimu aku ingin mengetahuinya.”

“Angkuh sekali gaya bicaramu tuan Lee. Kau mengatakannya seperti sedang menyuruh sekretarismu untuk mengerjakan tugas-tugasmu di kantor.” Sindir Yoona sakarstik. Posisi Yoona saat ini masih sama, membelakangi Donghae dengan berbagai raut wajah yang tidak bisa diketahui Donghae.

“Apa kau keberatan untuk menceritakannya padaku Yoona?”

“Kau berhak mengetahuinya. Bukankah aku isterimu?”

Yoona tiba-tiba berbalik dan menatap iris sendu Donghae tajam. Wanita itu terlihat sedang menahan berbagai macam gejolak emosi di dalam dirinya agar tidak meledak di depan Donghae.

“Jadi apa yang terjadi pada ayahmu dan juga ibumu?”

“Mereka berpisah karena ibuku tidak bisa memberikan anak laki-laki yang sangat diinginkan ayahku. Lalu ayahku menikah dengan wanita lain dan memiliki anak laki-laki dari wanita itu. Ada lagi yang ingin kau tanyakan?”

“Tapi kenapa ayahmu tidak hadir di acara pernikahan putrinya sendiri?”

Yoona semakin lama semakin gusar pada Donghae karena pria itu terlalu banyak mengorek masa lalunya yang pahit. Setelah ini ia bersumpah akan melakukan hal yang sama pada Donghae, karena ia juga merasa penasaran dengan sosok ibu mertuanya yang tidak pernah dibahas oleh Donghae selama ini.

“Sudah kukatakan jika ayahku telah memiliki keluarga baru sekarang, ayahku tidak mau lagi bertemu dengan kami.”

Untuk beberapa saat Yoona dan Donghae saling bertatapan satu sama lain dengan posisi tubuh miring yang saling berhadapan. Entah mengapa Donghae ingin melakukan hal itu pada Yoona, sedangkan Yoona hanya mencoba bertahan dengan posisinya yang telah berbalik lebihdulu untuk menghadap Donghae.

“Lalu dimana ibumu? Kau tidak pernah menyinggungnya sedikitpun selama ini.”

“Ibuku sudah lama meninggal, ketika aku berusia dua tahun.”

Seketika Yoona merasa bersalah karena telah mengajukan pertanyaan yang begitu kasar pada Donghae. Namun ia berusaha menutupi rasa bersalahnya dengan menunjukan ekspresi datar tanpa dosa di depan Donghae.

“Sejak ibuku meninggal, aku hanya diasuh oleh ayahku dan juga neneku selama satu tahun. Setelah itu nenekku juga ikut menyusul ibuku ke surga. Lain kali aku akan mengajakmu untuk bertemu dengan ibuku.”

Yoona masih menatap wajah Donghae dalam dengan kedua mata bulatnya yang tanpa ekspresi. Namun tiba-tiba Yoona mengulurkan tangannya kearah wajah Donghae, lalu membelainya dengan lembut.

“Kita berdua sama-sama memiliki kepingan yang hilang dalam kehidupan kita. Mungkin dengan cara ini kita dapat melengkapi kehidupan kita satu sama lain. Tapi aku tidak tahu apakah hal itu benar-benar bisa dilakukan jika hubungan ini semata-mata hanya untuk menyelamatkan perusahaan kita.”

Donghae menahan tangan Yoona yang masih bertengger di wajahnya, lalu ia mengecup bibir Yoona selama tiga detik.

“Mari kita buat pernikahan ini lebih indah, meskipun hanya sebuah sandiwara.” Bisik Donghae pelan dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.

-00-

Keesokan harinya Yoona dan Donghae telah siap dengan pakaian formal mereka untuk pergi ke kantor. Keduanya menuruni tangga secara beriringan, namun keduanya sama-sama hanya diam. Mereka tak banyak bicara setelah bangun tadi pagi dan hanya melakukan apa yang harus mereka lakukan sebelum berangkat ke kantor.

“Selamat pagi, ayo kita sarapan bersama.”

Nyonya Im tampak begitu bahagia menyambut putrinya dan juga menantunya yang terlihat begitu serasi pagi ini. Mereka berdua sama-sama menggunakan stelan kerja berwarna hitam dengan kemeja putih yang terlihat seperti sebuah pakaian pasangan. Padahal Donghae saat ini justru sedang menggunakan pakaian pernikahannya kemarin karena ia belum sempat memindahkan pakaiannya ke rumah Yoona.

“Selamat pagi eomma.” Sapa Yoona singkat. Donghae berjalan kearah nyonya Im dan memeluk nyonya Im hangat. Dan sikap pria itu pada ibunya terus diperhatikan Yoona sejak awal hingga ia telah duduk di atas kursi meja makan dengan nyaman.

“Pagi eommonim, apa eommonim tidur dengan nyenyak semalam?”

“Tentu saja. Aku sangat bahagia hingga tidurku benar-benar nyenyak. Ayo duduklah, kita sarapan bersama.”

Donghae tersenyum lembut pada nyonya Im dan segera mendaratkan tubuhnya pada kursi kosong di sebelah Yoona. Mereka bertiga kemudian makan dengan tenang tanpa ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Tak pelak hal itu membuat Donghae sedikit tidak nyaman karena suasana kaku yang tercipta di meja makan. Sesekali ia ingin merasakan sebuah kehangatan keluarga yang selama ini tak pernah ia rasakan di rumah. Sejak kecil ayahnya terlalu sibuk mewujudkan semua ambisinya di kantor, dan sering meninggalkannya di rumah sendiri bersama para maidnya. Dulu ia berharap dapat menikah dengan seorang gadis dari keluarga biasa-biasa saja agar ia tidak perlu merasakan kekakuan yang sama seperti apa yang ia rasakan di rumahnya. Tapi takdir seseorang memang tidak bisa ia tentukan sendiri. Tuhan yang telah mengatur semuanya dan memberikannya Im Yoona sebagai pendamping hidupnya.

“Apa kau suka masakan eommonim? Eommonim tidak tahu bagaimana seleramu selama ini. Jika kau memiliki alergi pada makanan tertentu katakan saja pada eommonim.” Ucap Im Somin perhatian. Donghae mendongakan wajahnya dari menu sarapan yang ditekuninya sambil tersenyum lembut pada ibu mertuanya. Hal itu secara tidak sadar membuat Yoona berdecih karena ia merasa Donghae sedang menarik simpati ibunya.

“Masakan eommonin sangat enak. Selama ini aku tidak memiliki alergi makanan apapun, hanya saja aku tidak suka dengan makanan pedas dan juga kacang tanah.” Jawab Donghae apa adanya. Nyonya Im langsung menganggukan kepalanya mengerti dan mencatata hal itu baik-baik di dalam kepalanya. Ia berjanji untuk tidak membuat makanan pedas dan makanan yang berbahan dasar dari kacang tanah untuk Donghae.

“Eomma, dimana Hana?”

Akhirnya setelah cukup lama membungkam bibirnya, Yoona bertanya pada ibunya mengenai keberadaan adiknya yang pagi ini tidak muncul di meja makan. Padahal biasanya Hana adalah orang yang paling cerewet dan juga berisik saat sarapan berlangsung.

“Adikmu semalam menginap di rumah temannya. Ia mengatakan bahwa ia memiliki tugas yang harus diselesaikan bersama temannya.”

“Temannya? Pria atau wanita eomma? Kita harus mengawasi Hana dengan ketat eomma karena kelakuan Hana di luar sana sangat mengerikan.” Ucap Yoona dengan nada tidak suka. Donghae yang melihat hal itu hanya menaikan alisnya singkat tanpa berkomentar. Namun selama menyimak pembicaraan antara Yoona dan ibunya ia dapat menyimpulkan jika Yoona adalah seorang kakak yang sangat over protective pada adiknya.

“Hana sepertinya bukan gadis seperti itu. Selama ini aku melihatnya sebagai gadis yang ceria dan penuh semangat. Kau harus memberinya sedikit kebebasan Yoong.”

Yoona menoleh cepat kearah Donghae. Entah bagaimana pria itu telah memanggilnya dengan nama kecilnya yang hanya dilakukan oleh orang-orang terdekatnya. Apakah pria itu merasa sebagai bagian dari orang terdekatnya? Namun ia tidak menyukai saran yang diberikan pria itu padanya karena Lee Donghae jelas tidak tahu bagaimana sifat Hana selama ini yang gemar berpesta dan juga sangat boros.

“Kau belum mengenal Hana dengan baik. Hana adalah gadis boros yang gemar menghabiskan uangku untuk berpesta dan mentraktir teman-temannya. Beberapa minggu yang lalu bahkan ia berteriak-teriak di kantorku karena ingin membeli mobil baru. Kau jangan terlalu membela Hana di depan eomma karena kau tidak tahu bagaimana rasanya memiliki adik yang harus kau lindungi setiap saat.” Ucap Yoona ketus. Nyonya Im yang melihat hal itu langsung menegur Yoona dan mengalihkan topik pembicaraan mereka kearah hal lain agar Yoona tidak semakin bersikap kasar di depan Donghae. Sebagai ibu ia tahu jika niat Yoona memang baik, ia hanya ingin melindungi adiknya dari hal-hal yang tidak diinginkan di luar sana. Tapi cara Yoona bersikap pada Donghae pagi ini membuat ia malu karena ia merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk mengajari Yoona bertatakrama di depan suaminya.

“Sudahlah Yoong, jangan terlalu keras pada suamimu. Lebih baik kita membahas hal lain. Bagaimana perkembangan perusahaanmu Yoong? Apa kalian memiliki rencana untuk menggabungkan Im Corp dan Lee Corp?”

“Kurasa dalam waktu dekat ini kami belum akan melakukannya. Kami hanya akan melakukan kerjasama dengan membantu Lee Corp mengiklankan produk-produknya di majalah Im Corp.” Jawab Yoona sambil menyelesaikan suapan terakhirnya. Wanita itu lantas mengambil air putih di depannya dan meneguknya dengan pelan.

“Selain itu Lee Corp juga akan menjadi sponsor untuk Im Corp dalam hal properti. Kira-kira seperti itulah eommonim bentuk kerjasama yang akan kami lakukan. Jika semuanya berjalan dengan baik, maka kami dapat mempertimbangkan rencana penggabungan Im Corp dan Lee Corp menjadi perusahaan multimedia terbesar dan perusahaan properti terbesar di Korea Selatan maupun manca negara. Apa kau sudah selesai sayang?”

Yoona menatap Donghae malas sambil memutar bola matanya jengah. Pria itu lagi-lagi menunjukan sisi penggodanya yang sangat menyebalkan. Semalam bahkan mereka nyaris berteriak satu sama lain dan membangunkan seisi rumah karena sikap penggoda Donghae yang membuat ia risih. Bagaimana mungkin ia tidak marah, setelah makan malam selesai dan mereka masuk ke dalam kamarnya. Tiba-tiba pria itu bertingkah aneh dan membicarakan masalah malam pertama. Dengan gusar ia langsung melemparkan semua bantal-bantalnya kearah pria itu dan memaki-makinya sepuasnya karena mereka tentu tidak akan pernah melakukan malam pertama. Dan sialnya apa yang ia lakukan semalam justru membuat Donghae tertawa terbahak-bahak di depannya dengan sangat puas karena ia berhasil menggodanya hingga wajahnya memerah karena marah.

“Eomma, kami sudah selesai. Kami akan berangkat ke kantor sekarang.” Pamit Yoona pada ibunya. Yoona lalu berjalan menghampiri ibunya dan memeluk ibunya dengan hangat sambil memberikan kecupan ringan di pipi ibunya. Sedangkan Donghae hanya berdiri di belakang Yoona sambil membungkukan sedikit tubuhnya pada sang ibu mertua.

“Hae apa yang kau lakukan? Kau juga boleh memelukku seperti Yoona, kau adalah putraku sekarang.”

Donghae tersenyum lembut kearah ibu mertuanya lalu memeluknya dengan hangat. Sudah lama sekali ia ingin melakukannya. Dan sekarang Tuhan memberinya kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang selama ini tidak pernah ia dapatkan. Sungguh ia sangat bahagia. Jika seperti ini, maka ia tidak akan pernah mau berpisah dari Yoona. Ia ingin selalu mendapatkan kasih sayang itu dan juga perasaan hangat itu dari ibu mertuanya.

“Hati-hati di jalan.”

Yoona dan Donghae berjalan beriringan menuju garasi mobil milik keluarga Im yang berada di samping rumah. Yoona kemudian memberikan kunci mobilnya pada Donghae dan meminta Donghae untuk menyetir.

“Kita pergi ke kantorku terlebihdahulu, kau tidak perlu menjemputku karena asistenku telah mengantar mobilku ke kantor.”

“Terserah, lakukan apapun sesukamu yang menurutmu baik.” Jawab Yoona acuh tak acuh dan segera masuk ke dalam mobil. Donghae kemudian melakukan hal yang sama seperti Yoona dan melajukan mobilnya meninggalkan halaman luas kediaman keluarga Im. Semalam mereka telah sepakat untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Dan mereka hanya perlu saling menjaga satu sama lain untuk kebaikan perusahaan dan juga keluarga mereka.

-00-

“Bagaimana rasanya tinggal di rumah keluarga Im?”

Donghae menatap ayahnya acuh ketika ia baru saja melangkahkan kakinya ke dalam ruangannya. Sejujurnya ia cukup terkejut dengan kemunculan ayahnya di pagi hari seperti ini di ruangannya. Itu sama sekali bukan gaya ayahnya. Tapi jika ayahnya telah memiliki sebuah keinginan, maka apapun akan dilakukan oleh ayah. Termasuk mencampuri urusannya sekalipun.

“Aku tidak mau kau dikte lagi.”

“Apakah pantas bersikap seperti itu di depan ayahmu sendiri? Ayah hanya menanyakan bagaimana rasanya tinggal di rumah keluarga Im setelah kau menikah dengan Im Yoona. Ayah tidak sedang mendiktemu.” Ucap tuan Lee kesal. Ia lalu beranjak dari kursi kebesaran milik Donghae dan berpindah menuju kursi khusus tamu yang berada di depan meja kerja putranya.

“Apa yang terjadi padaku hingga detik ini karena ayah mendikteku. Jadi semalam aku memutuskan jika menikah dengan Yoona adalah perintah ayah yang terakhir. Selanjutnya aku akan menentukan sendiri jalan hidupku.” Ucap Donghae tegas dan mulai menenggelamkan dirinya kedalam tumpukan berkas yang menggunung di mejanya. Lee Sunghwan tampak terkejut melihat reaksi putranya, namun ia memilih untuk tidak memperkeruh suasana dan menggantinya dengan topik bahasan lain.

“Saham perusahaan kita hari ini kembali stabil.”

“Hmm, baguslah. Jadi pengorbananku tidak sia-sia.” Jawab Donghae ketus. Lee Sunghwan menggeram kesal dengan reaksi putranya pagi ini yang terlihat lebih dingin dari biasanya. Tiba-tiba terlintas di benaknya jika sikap Yoona yang dingin telah menular kepada putranya dan menjadikan putranya menjadi seorang pembangkan seperti ini.

“Apa Yoona menularkan sikap dinginnya padamu?”

“Mungkin. Apa rencana ayah setelah ini? Ayah tidak mungkin akan berhenti begitu saja setelah aku menikah dengan Yoona dan berhasil mengembalikan stabilitas perusahaan bukan?”

Lee Sunghwan menyeringai lebar. Anaknya memang sangat tahu bagaimana sifat ayahnya.

“Tentu saja. Ayah ingin Im Corp dan Lee Corp segera membuat suatu aliansi yang kuat agar posisi kita semakin berada di puncak. Bulan ini perusahaan kita menduduki peringkat dua belas dalam tangga bisnis dunia. Ayah ingin perusahaan kita masuk ke dalam jajaran tiga besar.”

“Hmm, itu ambisi yang bagus.” Komentar Donghae tanpa minat. Memang hal itu bagus dan sangat menggiurkan, tapi ia tidak mau terlalu repot menghabiskan waktunya hanya untuk meningkatkan pamor perusahaanya. Masih ada banyak hal yang perlu ia lakukan di dunia ini selagi usianya masih muda. Jika ia hanya mengikuti kemauan ayahnya yang tak berujung itu, maka ia akan menyesali kehidupannya yang bagaikan robot itu saat ia tua nanti.

“Kau harus bisa menguasai Yoona, dan jangan coba-coba untuk melakukan kebiasaan burukmu setelah kau menikah dengan Yoona karena saat ini kau masih menjadi sorotan publik setelah pernikahanmu dengan Yoona ditulis besar-besar disemua majalah terbitan Im Corp.”

“Aku tidak janji ayah, kami sudah sepakat untuk tidak saling mencampuri urusan kami masing-masing. Jadi aku masih bebas melakukan apapun sesukaku dan Yoona juga bebas melakukan apapun sesukanya. Dan satu hal lagi, apa ayah mengetahui sesuatu mengenai ayah Yoona? Ayahnya tidak datang kemarin dan aku cukup penasaran dengan masalah itu.”

“Yang ayah tahu kedua orangtua Yoona sudah bercerai beberapa tahun yang lalu dan ayahnya kini telah memiliki seorang anak laki-laki dari isteri mudanya. Wajar jika ayahnya tidak datang ke upacara pernikahan putrinya karena ia telah memiliki keluarga baru.”

Donghae mengangkat alisnya heran.

“Begitukah menurut ayah? Kasihan sekali wanita itu.” Komentar Donghae singkat. Tuan Lee tiba-tiba beranjak dari kursinya dan mengucapkan selamat tinggal pada putranya. Ia merasa sudah cukup mengintrogasi putranya pagi ini dan ia harus menyelesaikan pekerjaannya sendiri di ruangannya.

“Sampai jumpa ayah.” Ucap Donghae pada ayahnya tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan matanya dari berkas-berkas yang ia tekuni. Ia merasa lega sekarang karena ayahnya yang menyebalkan itu memutuskan untuk segera keluar dari ruangannya. Entah kenapa hari ini ia hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaanya dan pulang ke rumah mertuanya. Tinggal bersama keluarga Im semalam membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Kasih sayang dari seorang ibu. Ia ingin mendapatkan perhatian lagi dari nyonya Im yang sangat baik dan juga ramah padanya. Meskipun sikap putrinya sangat dingin, setidaknya ibunya yang baik  hati mampu membuatnya cukup betah menjadi bagian dari keluarga Im.

-00-

Yoona berjalan tenang ke dalam gedung kantornya sambil menunjukan wajah angkuhnya seperti biasa. Beberapa karyawan yang melihatnya masuk ke dalam loby kantor secara bergantian memberikan ucapan selamat atas pernikahannya dengan Lee Donghae. Sayangnya ia sama sekali tidak merasa senang dengan ucapan selamat itu. Justru ia merasa semua karyawannya sedang mengolok-olokknya karena pernikahannya dengan Lee Donghae nyatanya hanya sebuah kepalsuan belaka.

“Nona berita pernikahan anda mendapatkan tanggapan positif dari seluruh masyarakat Korea.” Beritahu Jihyun yang sedang membaca berita-berita melalui ipadnya. Yoona hanya menoleh sekilas pada asistennya, lalu kembali melanjutkan langkahnya tak peduli. Baginya semua tanggapan yang diberikan oleh masyarakat Korea pada berita pernikahannya adalah sebuah kepalsuan belaka. Jadi ia tak perlu bersorak-sorak girang ketika mengetahui. Tapi setidaknya pernikahan ini dapat menyelamatkan keluarganya dari aib besar yang telah mereka tutupi selama ini.

“Tapi nona kita mendapatkan sedikit masalah.” Ucap Jihyun tiba-tiba di dalam lift. Saat ini hanya ada mereka berdua di dalam lift karena lift yang mereka tumpangi adalah lift khusus yang hanya diperuntukan baginya dan juga kolega-koleganya.

“Ada apa?”

“Sebuah platform pribadi mengunggah artikel mengenai ketidakmunculan ayah anda dalam penikahan anda nona. Dan pemilik platform itu juga mengunggah beberapa foto ayah anda saat sedang berlibur bersama keluarga barunya ke sebuah pantai. Meskipun gambar yang diunggah juga tidak terlalu jelas.”

Jihyun menunjukan layar ipadnya yang sedang menampilkan tiga gambar Im Seulong yang sedang bercengkerama dengan keluarga kecilnya di pantai. Melihat hal itu hati Yoona terasa diremas dan dicubit dengan begitu kuat. Ia sakit. Sungguh ia merasa sakit saat melihat ayahnya lebih bahagia bersama orang lain daripada bersama ia dan ibunya dulu. Terbersit di benak Yoona jika ayahnya selama ini hanya memanfaatkan harta kekayaan mendiang kakeknya untuk memajukan perusahaan ekspedisinya. Dan setelah perusahaan miliknya maju, sang ayah mencari-cari alasan untuk dapat menceraikan ibunya.

“Suruh bagian IT untuk memblokir platform ini dan menghapus secara permanen semua gambar-gambar itu. Bila perlu cari pemilik platform ini dan berikan ia peringatan agar tidak ikut campur dalam masalah keluargaku.” Ucap Yoona tegas dengan wajah penuh emosi. Jihyun mengangguk mengerti dan segera meminta bagian IT untuk melakukan tugasnya seperti yang diperintahkan oleh Yoona. Sebuah keuntungan bagi Yoona karena perusahaannya adalah pemegang kendali seluruh informasi yang beredar di Korea, sehingga ia dapat dengan mudah menghilangkan aib keluarganya yang ia sembunyikan.

“Mereka sudah menghapus semuanya nona. Untung saja artikel itu baru dibaca oleh lima puluh delapan orang karena artikel itu sebenarnya baru diterbitkan satu jam yang lalu.”

“Kau awasi terus berita mencurigakan yang membahas mengenai keluargaku. Jika ada lagi yang menuliskan artikel murahan di dunia maya, berikan sanksi tegas pada orang itu. Aku tidak mau orang-orang berpikiran buruk mengenai keluargaku.”

“Baik nona.”

-00-

Angin senja yang berhembus pelan menerbangkan helai demi helai rambut Yoona yang berkibar lembut ke belakang. Wanita itu menyandarkan tubuhnya pada kap mobil sambil mengamati seorang pria paruh baya yang sedang menggendong seorang anak laki-laki berusia lima tahun di punggungnya. Tiba-tiba setetes air mata meluncur turun dari mata beningnya dan membasahi kedua pipi pucatnya yang terlihat tirus. Semenjak kedua orangtuanya bercerai, Yoona sering datang diam-diam untuk melihat ayahnya dari kejauhan. Ia begitu menyayangi ayahnya hingga ia tidak pernah bisa menerima kenyataan jika ayahnya kini telah memiliki keluarganya sendiri dan melupakan keluarga lamanya yang menderita secara batin. Memang selama ini baik Hana maupun ibunya tidak pernah menunjukan ekspresi apapun di depannya, namun ia yakin jika mereka berdua juga sama-sama terluka sepertinya.

Yoona kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain dan mulai menghapus bulir-bulir bening itu pelan menggunakan tangannya yang bebas karena sebelah tangannya saat ini sedang menjinjing blazer hitamnya.

“Hhuuuhh…”

Yoona menghembuskan napasnya pelan untuk meloloskan setiap kesesakan yang memenuhi paru-parunya. Ia kemudian bergumam pelan sambil menatap jari manisnya yang telah dilingkari oleh sebuah cincin putih yang tampak berkilauan ditimpa cahaya senja.

“Aku tidak menyangka jika aku telah menikah. Seperti mimpi.”

Yoona menatap cincin itu lama dan memutuskan untuk memasukan tangan kanannya kedalam saku celana. Ia merasa menyesal telah melakukan hal-hal bodoh yang berujung pada pernikahannya bersama Lee Donghae karena dengan menikah dengan Lee Donghae ia tidak akan pernah bisa mewujudkan impiannya. Sebagai seorang wanita ia hanya ingin menikah sekali seumur hidup dan memiliki keluarga utuh yang bahagia. Ia tidak mau mengulangi kesalahan orangtuanya. Tapi melihat bagaimana Donghae membuatnya takut jika pada akhirnya pernikahannya akan berakhir seperti pernikahan orangtuanya. Donghae adalah pria tampan yang terkenal dengan memiliki banyak teman wanita. Meskipun kini Donghae telah menikah dengannya, pria itu tidak mungkin akan terlepas begitu saja dari kehidupannya yang penuh akan wanita. Bahkan semalampun ia telah mendengarkan Donghae berbicara dengan para mantan kekasihnya sebanyak lima kali. Dari apa yang ia dengar wanita-wanita itu menyuarakan kekecewaanya pada Donghae yang tiba-tiba memilih untuk menikah dengannya. Tapi meskipun Donghae terlihat sudah memutuskan para kekasihnya, ia tidak bisa menjamin jika saat ini Donghae tidak mendapatkan wanita baru lagi. Pria itu pasti telah memiliki kekasih baru yang ia kencani diam-diam tanpa sepengetahuannya. Memikirkan hal itu membuat kepala Yoona pening. Ia sebenarnya tidak keberatan jika Donghae memang memiliki kekasih di luar sana, hanya saja sekarang pria itu telah terikat dengannya. Jika pria itu tertangkap sedang membuat keributan seperti biasanya, maka namanya juga akan ikut terseret dan ia juga akan mendapatkan citra buruk di masyarakat karena dianggap tidak bisa menjaga suaminya dengan benar.

Brakk

“Sial!”

Yoona memukul kap mobilnya keras dan terlihat sudah dipenuhi oleh emosi. Bayangan Donghae yang sedang bersenang-senang dengan para kekasihnya tiba-tiba memenuhi otaknya. Ia pun memutuskan untuk segera masuk ke mobilnya dan pulang ke rumah. Namun sebelum ia benar-benar pergi, ia terlebihdulu menyempatkan diri untuk melihat kearah ayahnya yang masih asik bermain-main dengan adik tirinya. Kedekatan mereka membuatnya benar-benar iri!

-00-

Yoona tiba di rumah pukul delapan malam. Setelah ia pergi dari rumah ayahnya, ia memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia memilih untuk pergi ke kafe terdekat dan menenangkan dirinya sejenak sebelum ia benar-benar kembali ke rumah karena ia tidak mau membawa kesesakan hatinya ke rumah. Baginya rumah adalah tempat paling indah dan paling nyaman, sehingga ia hanya ingin pulang ke rumah dalam keadaan baik-baik saja tanpa memikirkan suatu masalah apapun.

“Darimana saja kau? Eommonim mengkhawatirkanmu.”

Ketika masuk ke dalam kamarnya, Yoona langsung disambut dengan serentetan kalimat penuh nada menyelidik dari Donghae. Tak pelak hal itu membuat Yoona kesal dan emosinya kembali membumbung ke ubun-ubun kepalanya.

“Bukan urusanmu. Bukankah kita sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing.” Sindir Yoona kesal. Ia hendak berjalan menuju kamar mandi, namun ia kembali berbalik dan menatap sinis kearah Donghae.

“Biar kutebak, siang ini kau asik bercumbu dengan kekasihmu di kantor bukan? Lain kali jangan pulang dengan kemeja penuh parfum wanita seperti itu, aku mual menciumnya.” Ucap Yoona sinis dan berlalu begitu saja dari hadapan Donghae. Donghae menatap kesal pada Yoona sambil menahan setiap umpatan yang hampir keluar menghujani wanita itu. Siang ini salah satu mantan kekasihnya memang datang ke kantornya. Menggodanya yang sedang sibuk menyelesaikan tugas-tugas kantornya dan mengajaknya untuk kembali menjalin hubungan. Namun ia dengan tegas telah menolak wanita itu dan mengusirnya jauh-jauh dari kantornya karena ia sedang tidak berminat untuk menjalin hubungan dengan wanita manapun. Saat ini yang menjadi prioritasnya adalah Yoona. Entah kenapa ia begitu penasaran dengan kehidupan Yoona yang cukup misterius untuknya. Ia yakin Yoona sebenarnya masih menyembunyikan banyak hal darinya.

Ia kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam yang di dalamnya berisi sebuah kalung. Tiba-tiba saja hari ini ia ingin memberikan sebuah hadiah untuk Yoona. Dan ide untuk memberikan kalung dengan bandul burung merpati melintas begitu saja di kepalanya saat ia sedang makan siang bersama koleganya di sebuah pusat perbelanjaan siang tadi. Karena itulah sore ini ia begitu terburu-buru untuk pulang ke rumah agar ia bisa cepat bertemu dengan Yoona dan memberikan kalung itu sebagai kejutan, tapi wanita itu tak kunjung pulang hingga membuatnya tanpa sadar mengeluarkan emosinya di depan wanita itu.

“Kau sudah makan?”

Donghae menghampiri Yoona yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Wanita itu terlihat baru saja mandi dengan penampilan yang lebih segar.

“Sudah. Aku pergi ke kafe sebelum pulang ke rumah.”

“Oh, aku mempunyai hadiah untukmu.”

Donghae membuka kotak beludrunya, lalu menggantungkan kalung berbandul merpati itu di di atas kepala Yoona yang saat ini sedang menatap pantulan kalung itu dari cermin besar yang menjulang di depannya. Sedetik kemudian Donghae melingkarkan kalung itu di leher Yoona dan mengaitkannya dengan wajah berbinar-binar.

“Kenapa tiba-tiba memberiku hadiah?” Tanya Yoona dingin sambil memegang bandul kalung barunya. Seumur hidup ini adalah pengalaman pertamanya mendapatkan sebuah hadiah dari seorang pria. Mungkin jika yang memberikannya orang lain, ia akan langsung berteriak bahagia sambil memeluk orang itu. Tapi karen hadiah itu dari Donghae, entah kenapa ia justru merasa aneh. Di kepalanya kini bermunculan banyak sekali prasangka buruk mengenai alasan Donghae dibalik hadiah yang diberikannya.

“Aku hanya ingin memberimu hadiah. Kau isteriku, jadi wajar jika aku memberimu hadiah.” Jawab Donghae santai.

“Jadi seperti ini caramu mendapatkan simpati dari wanita-wanita cantik di luar sana? Pantas saja mereka terus mengejar-ngejarmu meskipun kau telah memutuskan mereka sekalipun.” Komentar Yoona pedas. Raut wajah Donghae seketika berubah mengeras dan pria itu menatap tajam Yoona melalui pantulan cermin di depannya. Sungguh niatnya memberikan hadiah itu pada Yoona benar-benar tulus karena ia merasa telah bersikap cukup buruk pada wanita itu selama ini. Tapi niat baiknya justru dibalas dengan serentetan kalimat bernada sinis yang sangat menyakitkan hatinya.

“Apa menurutmu aku seburuk itu? Tidak adakah kebaikan yang bisa kau lihat dariku?” Desis Donghae marah. Yoona menggelengkan kepalanya acuh dan berbalik menghadap kearah Donghae yang berada di belakangnya.

“Tidak, bagiku kau tetap Lee Donghae pembuat onar dan pria brengsek yang gemar mengencani wanita-wanita murahan. Anyway, terimakasih atas hadiahnya. Aku cukup menghargai sikap baikmu hari ini.”

Yoona berlalu begitu saja menuju ranjangnya dan meninggalkan Donghae yang masih mematung di tempat dengan hati terbakar karena amarah. Perkataan wanita itu sudah benar-benar keterlaluan. Seharusnya sore ini ia tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan wanita itu dan menunggunya pulang dengan perasaan membuncah karena ingin segera melihat reaksi Yoona saat menerima hadiah darinya. Ia benar-benar bodoh karena berpikir Yoona akan menyukai hadiah darinya dan bersikap hangat di depannya. Ia sungguh menyesal telah melakukan hal itu!

“Asal kau tahu Im Yoona, kau tidak lebih baik dari wanita jalang yang sering kukencani selama ini karena mereka setidaknya masih menghargai semua pemberian dariku daripada kau yang hanya bersikap angkuh tanpa tahu berterimakasih.” Hardik Donghae penuh emosi sambil berlalu keluar dari kamar Yoona dan membanting pintu kayu itu keras-keras.

Yoona  menatap datar apa yang dilakukan Donghae baru saja di depannya. Ia merasa tidak perlu memikirkan sikap Donghae terlalu jauh karena pria seperti Donghae memang seperti itu, penuh emosi dan gila pujian hanya untuk sebuah hadiah kecil.

“Hah, apa dia pikir kemarahannya akan membuatnya menjadi hebat? Brengsek! Dia justru membuatku semakin tak bersimpati padanya.”

-00-

Keesokan paginya Yoona terbangun sendiri di kamarnya tanpa Donghae. Wanita itu menoleh sekilas kearah sisi ranjangnya yang rapi lalu melenggang santai menuju kamar mandinya. Tebakannya semalam Donghae tidak pulang dan kembali kepada rutinitas malamnya selama ini, pergi ke club dan mengencani wanita-wanita cantik di sana.

Tok tok tok

“Yoona, kau sudah bangun?”

Yoona mendengar suara ibunya di luar kamarnya sambil mengetuk pintu kamarnya beberapa kali. Ia pun segera beranjak dari ranjangnya sambil mengikat rambutnya asal-asalan dan membukakan pintu untuk ibunya.

“Ya eomma, aku sudah bangun.”

“Yoong, apa Donghae semalam tidak pulang?” Tanya ibunya khawatir. Yoona sudah dapat menduganya jika pagi ini ibunya akan menanyakan hal itu padanya. Sejak kemarin Lee Donghae memang selalu mendapatkan perhatian lebih dari ibunya hingga membuatnya sedikit iri.

“Sepertinya begitu eomma.” Jawab Yoona tanpa minat. Nyonya Im menatap anaknya jengkel sambil memukul lengannya pelan.

“Kau ini bagaimana? Seharusnya kau mengkhawatirkan keadaan suamimu, dan menghilangkan sikap acuh tak acuhmu itu Yoong. Apa kalian semalam bertengkar?” Tanya Im Somin tidak sabar. Yoona menganggukan kepalanya kecil di depan ibunya tanpa berniat untuk menutup-nutupinya sedikitpun.

“Kau pasti telah melakukan sesuatu pada Donghae hingga ia menjadi marah seperti itu. Semalam eomma melihat Donghae membanting pintu kamarmu dengan keras. Apa yang kau lakukan padanya?”

“Aku tidak melakukan apapun eomma. Ia yang terlalu emosi semalam karena aku pulang terlambat.” Dengus Yoona kesal. Ia sungguh kesal pada ibunya yang justru membela Donghae dan mencari-cari Donghae ketika pria itu tidak pulang semalam. Padahal selama ini ia selalu pulang telat dan terkadang lembur di kantor, tapi eommanya tidak pernah sekhawatir itu padanya.

“Wajar jika Donghae emosi, semalam ia terus menunggumu pulang dan mengkhawatirkanmu. Bahkan ia tidak mau makan sebelum kau pulang, tapi kau justru membuatnya marah dan pergi begitu saja dari rumah ini. Kau harus meminta maaf padanya, dan membawanya pulang malam ini. Apapun caranya kalian harus berbaikan.” Ucap Im Somin jengkel. Yoona menghembuskan napasnya gusar lalu berjalan masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap. Ia heran mengapa ibunya bisa begitu menyayangi Lee Donghae seperti Lee Donghae adalah putranya sendiri. Seandainya eommanya tahu jika pernikahan mereka hanya sebuah sandiwara, eommanya pasti akan sangat kecewa dan mungkin berbalik membenci Lee Donghae.

-00-

Yoona menatap malas gedung pencakar langit di depannya yang bertuliskan Lee Corp. Pagi ini ibunya memaksanya untuk pergi ke kantor Donghae dan mengantarkan sarapan untuk Donghae karena semalam pria itu belum makan. Ditambah lagi ibunya juga memaksanya untuk meminta maaf pada Donghae karena telah membuat pria itu mengkhawatirkannya semalaman. Sungguh Yoona sangat malas untuk bertemu Donghae pagi ini. Ia masih kesal karena semalam pria itu mengatainya lebih buruk daripada seorang jalang. Jadi sebenarnya mereka sudah impas, karena Donghae juga telah berhasil menyakitinya dengan kalimat bernada tajamnya semalam.

“Nyonya Lee.”

Yoona mengangkat alisnya heran ketika berpapasan dengan salah satu pegawai Donghae. Wanita itu membungkuk hormat dan mempersilahkannya untuk masuk ke dalam lift khusus dewan direksi. Ternyata berita tentang pernikahannya tidak main-main, dan kini semua orang telah mengenalnya sebagai nyonya Lee muda.

“Aku ingin bertemu dengan suamiku.” Ucap Yoona pada sekretaris Donghae yang langsung terlihat panik melihat kedatangan Yoona. Namun wanita itu tidak bisa berbuat apapun karena Yoona langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan atasannya yang berada di samping kanan meja kerjanya.

“Oh, hai Lee Donghae.”

Donghae menghentikan aktifitasnya yang sedang asik berciuman dengan seorang wanita berambut pirang. Wanita itu dengan wajah nakalnya menoleh kearah Yoona dan tersenyum sinis pada Yoona. Sementara itu Yoona hanya mengamati kegiatan suaminya dengan wanita yang sama sekali tak dikenalnya itu sambil menyilangkan tangan di depan dada.

“Kau masih ingat permintaanku sebelumnya? Jangan pernah bermesraan dengan kekasihmu di depanku.”

Dengan langkah tenang dan wajah angkuh, Yoona meletakan kotak bekalnya di atas meja terdekat. Lalu tanpa mengatakan sepatah katapun ia langsung menampar pipi wanita berambut pirang itu dan menjambaknya agar menyingkir dari pangkuan Lee Donghae.

“Aaaa.. apa yang kau lakukan? Sakit!”

“Dasar jalang! Jangan pernah merayu Donghae di hadapanku! Pergi!”

Yoona melemparkan wanita berambut pirang itu keluar dari ruangan Donghae hingga terjerembam di atas lantai dengan wajah menyedihkan yang menahan sakit. Ia kemudian melemparkan tas tangan wanita itu tepat di wajahnya dan menutup pintu bercat coklat itu dengan keras.

Sementara itu Donghae hanya menonton pertunjukan di depannya dalam diam tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Ia tidak menyangka Yoona akan datang ke kantornya setelah pertengkaran sengit mereka semalam. Tapi yang membuatnya cukup kagum pada Yoona adalah sikap berani Yoona ketika mengusir teman kencannya dengan tanpa ampun. Pantas saja jika selama ini Yoona dikenal sebagai wanita kejam berhati dingin.

“Well, dasimu sedikit berantakan oppa.”

Yoona tanpa ekspresi merapikan letak dasi Donghae yang tampak acak-acakan setelah kegiatan panas yang dilakukan pria itu bersama teman kencannya. Setelah selesai merapikan dasinya, Yoona mengelap sudut bibir Donghae yang penuh dengan lipstik merah wanita berambut pirang itu dengan jari-jari lentiknya yang lembut. Tak lupa Yoona juga sedikit membenahi tatanan rambut Donghae yang tampak sedikit berantakan di depannya.

“Sekarang kau terlihat lebih baik. Makanlah sarapanmu oppa, eomma membuatkannya khusus untukmu.”

Yoona melenggang pergi menuju sofa abu-abu yang berada di tengah ruangan, lalu ia membuka satu persatu kotak makannya yang berisi beraneka macam masakan rumahan yang menggiurkan.

“Jadi inikah caramu membalas sikap kasarku semalam?” Tanya Donghae sambil menatap kedua iris karamel Yoona tajam. Ia tahu, sikap tenang yang ditunjukan Yoona saat ini hanyalah sebuah topeng.

“Tidak juga, semalam kita sudah impas. Kau menghinaku lebih buruk dari seorang jalang, dan aku juga menghinamu dengan kata-kata pedasku. Aku hanya tidak suka melihatmu bermesraan di depanku, sangat menjijikan. Apalagi membayangkan wajah eomma yang sangat menyayangi menantu idamannya dengan sangat tulus membuatku merasa tidak terima. Kasih sayang eommaku untukmu terlalu bagus jika selama ini sikapmu ternyata sangat mengecewakan. Sekarang makanlah, aku harus segera ke kantor.” Ucap Yoona dengan gaya angkuhnya. Donghae duduk di sebelah Yoona dan mulai mengambil kotak bekal yang telah disiapkan Yoona di atas meja. Ia merasa cukup bersalah sekarang pada ibu mertuanya yang telah memberinya kasih sayang yang begitu besar padanya, namun ia justru bersikap brengsek dengan bermain-main dengan wanita lain. Seharusnya sebagai menantu yang baik ia dapat membahagiakan ibu mertuanya dan mengacuhkan sikap Yoona yang membuatnya naik darah semalam.

“Eomma mengkhawatirkanmu yang tidak makan semalam. Jadi eomma membawakan makanan yang cukup banyak pagi ini.”

“Aku menunggumu pulang, dan berharap bisa makan malam bersamamu agar hubungan kita sedikit membaik.”

“Seharusnya kau mengatakannya sejak awal. Aku tidak tahu jika kau memang berniat seperti itu. Jadi kemana saja kau semalam?”

“Pulang ke apartemenku.”

“Tidur bersama salah satu kekasihmu?” Tanya Yoona sakarstik.

“Jangan memulainya lagi Yoong, aku tidak seburuk itu. Aku tidur sendiri jika kau ingin tahu. Aku tidak pernah sekalipun membawa wanita ke ranjangku.”

“Tapi kau bercumbu dengannya di kantor? Bagaimana jika orang lain melihatnya, reputasi perusahaanmu akan kembali terancam karena sikapmu yang tidak tahu tempat itu.” Omel Yoona kesal.

“Diamlah, jangan menghakimiku jika kau tidak tahu apapun.” Ucap Donghae memperingatkan. Ia sedang tidak berminat untuk melakukan konfrontasi dengan Yoona pagi ini. Sesekali ia ingin memiliki momen menenangkan bersama Yoona tanpa ada adu mulut sedikitpun.

“Kau memakainya.”

Donghae melirik kearah leher jenjang Yoona yang dihiasi dengan kalung pemberian darinya. Ia pikir Yoona tidak akan pernah mau memakainya karena itu adalah pemberian darinya. Tapi syukurlah jika Yoona mau memakainya, ia cukup senang melihatnya.

“Tentu saja, ini pemberian dari suamiku.”

Tiba-tiba saja Donghae tertawa. Ia merasa geli mendengar gaya bicara Yoona saat menyebutnya sebagai suaminya. Terkesan seperti dipaksakan dan juga aneh untuk didengar olehnya.

“Apa yang kau tertawakan?” Tanya Yoona sebal. Seingatnya ia tidak sedang melucu, namun pria di sampingnya itu justru menertawakannya seperti ia sedang melihat seorang badut lucu.

“Tidak, aku hanya merasa kau benar-benar lucu saat mengatakan hal itu. Seharusnya semalam kau juga melakukan hal ini agar aku tidak perlu marah-marah di depanmu.”

“Kurasa itu karena kau yang terlalu emosional. Gaya bicaraku memang seperti ini, jadi kau jangan terlalu berandai-andai aku akan berbicara lembut di depanmu.” Ucap Yoona sinis. Donghae mengendikan bahunya ringan dan kembali memakan sarapannya yang tinggal separuh. Pagi ini rupanya tidak terlalu buruk untuknya. Meskipun semalam mereka sempat mengibarkan bendera perang, tapi pagi ini semuanya telah kembali seperti semula. Walaupun sikap dingin dan sinis Yoona masih belum bisa dihilangkan, tapi setidaknya Yoona sudah mau berbicara dengannya dan melupakan insiden wanita berambut pirang yang menciumnya. Mungkin jika Yoona sedikit bersikap manis di depannya, semakin lama ia bisa saja mencintai wanita itu. Dan menjadikan pernikahan sandiwara mereka menjadi pernikahan yang sesungguhnya.

-00-

“Jadi kemana kita akan pergi?”

Donghae tersenyum misterius di sebelah Yoona sambil tetap berkonsentrasi pada jalanan ramai di depannya.

“Kau akan tahu nanti.”

Siang ini selepas makan siang Donghae menjemput Yoona untuk pergi ke suatu tempat. Pria itu tidak mengatakan kemana tujuan mereka dan hanya mengajak Yoona begitu saja untuk menemui seseorang. Rasanya tidak adil jika mereka telah menikah, namun tidak pernah menemui wanita paling berjasa yang telah melahirkannya ke dunia. Ya, siang ini Donghae membawa Yoona ke makam ibunya yang berada di distrik Gwangju, kira-kira sekitar satu jam perjalanan bila menggunakan mobil. Dulu ketika remaja, Donghae sering pergi ke makam ibunya untuk mengobati rasa rindunya pada sang ibu. Namun setelah ia dikirim ayahnya ke Amerika untuk menempuh pendidikan bisnis di sana, ia tak pernah lagi mengunjungi ibunya. Dan sekarang untuk pertama kalinya setelah ia menikah, ia ingin mengunjungi ibunya bersama Yoona. Meski Yoona memang bukan sepenuhnya isteri yang ia harapkan selama ini.

“Kita sudah sampai.”

“Tempat apa ini?” Tanya Yoona heran. Suasana sepi dan banyaknya pepohonan rimbun yang tersaji di luar mobil membuat Yoona waspada. Ia takut Donghae akan menjebaknya di tempat sepi seperti itu karena sikap sinisnya selama ini.

“Ayo, sampai kapan kau akan berdiam diri di sana?” Tanya Donghae tidak sabar. Yoona lantas segera turun dari mobil dan mengedarkan pandangannya kearah pagar besar yang menjulang tinggi di depannya.

“Ini makam?”

“Ayo kita masuk.”

Donghae menggandeng tangan Yoona masuk ke dalam makan dengan melewati jalan setapak yang tersusun rapi dari bebatuan. Sesekali Yoona melirik kearah kakinya yang menggunakan heels karena batu-batu yang dipijaknya cukup licin dan juga berlumut.

“Seharusnya kau mengatakan padaku jika akan pergi ke sini, aku bisa mengganti heelsku dengan sandal yang lebih nyaman.” Gerutu Yoona. Hampir saja Yoona terpleset lumut licin yang diinjaknya, namun dengan sigap Donghae segera memegang lengannya agar ia tidak terjerembam jatuh.

“Lihat, aku hampir jatuh karenamu.” Semprot Yoona galak. Lee Donghae memandang gusar pada Yoona dan semakin mengeratkan genggaman tangannya. Wanita yang sedang berjalan di sampingnya itu memang sangat galak dan juga pemarah. Sedikit saja ia melakukan kesalahan, maka Yoona akan langsung menghujaninya dengan berbagai umpatan kekesalan.

“Kita sudah sampai, ini adalah makam eommaku. Eomma, apa kabar?” Sapa Donghae seolah-olah ibunya sedang berdiri di depannya. Donghae lalu menundukan kepalanya dan berdoa untuk ibunya yang sedang beristirahat dengan tenang di surga. Sekilas Yoona memperhatikan apa yang dilakukan Donghae. Ia tak menyangka jika pria brengsek seperti Donghae yang terkenal dengan sikap play boy-nya sangat menyayangi ibunya hingga sedalam itu. Pantas dalam sesi wawancara beberapa bulan yang lalu Donghae pernah mengatakan jika keinginan terbesarnya adalah mendapatkan kasih sayang seorang ibu dengan tulus. Yoona tiba-tiba merasa tertohok dengan apa yang dilakukan Donghae. Seharusnya selama ini ia memperlakukan ibunya dengan baik. Selama ini ia masih beruntung karena Tuhan tidak mengambil ibunya seperti Donghae. Tak bisa ia bayangkan jika ia harus hidup tanpa ibu seperti Donghae. Pasti rasanya sangat tersiksa!

“Eomma perkenalkan, ini isteriku, Lee Yoona.”

“Selamat siang eommonim, senang bertemu dengan eommonim.” Ucap Yoona sopan. Donghae tersenyum lembut kearah Yoona dan merangkul pundak Yoona rapat kearahnya. Ia senang dapat mempertemukan Yoona dengan ibunya hari ini, meski dalam keadaan yang tidak biasa. Tapi ia lega. Akhirnya ia tidak merasa seperti anak yang durhaka karena tidak pernah sekalipun memperkenalkan calon isterinya pada ibunya.

“Apa yang terjadi pada ibumu?” Tanya Yoona pelan.

“Ibuku sakit. Tapi entahlah, aku tidak terlalu ingat karena saat itu usiaku baru dua tahun. Aku mengetahuinya dari ayahku.” Jawab Donghae apa adanya. Yoona mengangguk-anggukan kepalanya kecil sambil menatap nisan putih di depannya dengan perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Selama ini ia tidak pernah merasakan apa yang Donghae rasakan. Ia belum pernah tahu bagaimana rasanya ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh anggota keluarganya. Tapi mungkin rasanya akan sama seperti saat ayahnya meninggalkannya untuk wanita lain.

“Ayo kita pulang. Biarkan ibuku kembali beristirahat.”

Donghae merangkul Yoona keluar dari area pemakaman dalam diam. Mereka berdua sama-sama memilih untuk diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

“Terimakasih kau mau menemaniku bertemu dengan ibuku.”

Yoona mengangkat alisnya sekilas sambil menatap Donghae.

“Bukankah seharusnya aku memang bertemu dengan ibumu. Aku akan menjadi menantu durhaka jika tidak melakukannya.”

Donghae terkekeh pelan di sebelahnya, begitu juga dengan Yoona. Tiba-tiba saja ia ingin tertawa bersama pria di sebelahnya setelah mendengar tawa menenangkan Donghae. Semoga saja kebersamaan mereka hari ini akan membuat hubungan mereka menjadi lebih baik lagi di masa depan.

-00-

Pukul tiga lebih lima menit Yoona sudah tiba di kantornya lagi. Setelah mengunjungi makam ibu Donghae, Yoona meminta Donghae untuk mengantarnya kembali ke kantor karena ia memiliki beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum melakukan meeting bersama salah satu investor yang berasal dari Kanada.

“Mungkin aku akan pulang terlambat.” Ucap Yoona pada Donghae sebelum melangkahkan kakinya keluar dari mobil milik Donghae.

“Jika kau sudah selesai, cepatlah pulang. Jangan membuat eommonim cemas memikirkanmu.”

Yoona mengangguk mengiyakan dan segera berjalan masuk ke dalam kantornya. Namun ketika ia melangkahkan kakinya ke dalam gedung kantornya yang luas, ia merasa tatapan seluruh karyawan padanya sedikit berbeda. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya terlihat berbisik-bisik pelan entah karena apa. Ia pun segera melemparkan tatapan tajam kearah karyawan yang dengan terang-terangan menantangnya sambil menebarkan aura penuh intimidasi pada mereka. Sayangnya wajah angkuhnya itu sama sekali tidak berguna sore ini. Karyawan-karyawan yang beberapa detik yang lalu berbisik-bisik tentangnya kini justru semakin berani menatapnya dan memandang sinis kearahnya.

“Sajangnim tak kusangka selama ini kau cukup munafik. Kau menipu kami semua dengan seluruh kesempurnaan palsu yang kau tunjukan di depan kami.”

“Apa maksudmu? Kau berani melawanku?” Bentak Yoona marah. Ia sungguh tidak akan menoleransi sikap kurangajar karyawan wanita di depannya yang sangat tidak sopan itu.

“Jung Eunji kau dipecat dan silahkan keluar dari perusahaanku sekarang juga.”

“Huh, aku memang berniat keluar dari perusahaan ini Lee Yoona-ssi. Aku muak bekerja di perusahaan yang penuh kepalsuan seperti ini. Setelah ini pasti akan ada banyak karyawan yang mengundurkan diri sama sepertiku karena kau telah menipu kami semua Lee Yoona.”

Yoona menggeram marah sambil mengepalkan tangannya gusar hingga buku-bukunya memutih. Jika ia tidak bisa mengendalikan diri dengan baik, ia pasti sudah menampar wanita kurangajar itu dan menjambak rambutnya hingga ke pintu keluar perusahaanya. Namun ia tidak mau terlalu menarik perhatian diantara ratusan karyawan yang bekerja di perusahaanya, sehingga ia langsung pergi begitu saja dan menghilang dibalik lift.

Ketika berada di dalam lift, Yoona segera menghubungi Jihyun untuk menanyakan apa yang sedang terjadi. Namun berkali-kali ia mencoba menghubungi Jihyun, ponsel wanita itu justru tidak aktif. Hanya suara operator yang terus menjawab panggilannya hingga ia merasa gusar.

“Sial! Dimana Jihyun sekarang? Disaat aku membutuhkan penjelasan darinya, ia justru menghilang.” Umpat Yoona kesal.

Ketika lift berdenting nyaring, Yoona langsung melangkah keluar dari kotak persegi itu dengan langkah terburu-buru. Ia harus segera memastikan apa yang sedang terjadi di perusahaanya sebelum ia menjadi gila karena sikap karyawan-karyawannya yang cukup aneh hari ini.

“Jihyun!”

Yoona berteriak keras pada Jihyun yang sedang mengutak-atik laptopnya. Wanita berkacamata itu lantas mendongak sambil menunjukan wajah panik pada Yoona.

“Nona sesuatu yang buruk terlah terjadi. Sebuah situs online menyebarkan berita mengenai perselingkuhan ayah anda dan berita mengenai pernikahan palsu anda.”

“Apa? Kenapa bisa? Suruh bagian IT untuk memblokirnya.” Teriak Yoona marah. Ia tiba-tiba menjadi panik ketika membuka ponselnya dan ia mendapatkan berbagai macam kecaman dari berbagai pihak. Belum lagi semua situs berita online kini tengah memasang foto keluarganya yang hancur di semua platform. Seketika ia ingin berteriak dan melemparkan ponselnya. Ia tidak pernah menduga jika rahasia besar yang ia simpan selama ini akan benar-benar diketahui oleh publik. Padahal selama ini rahasia-rahasia itu tidak pernah luput sekalipun dari pengawasannya. Tapi kenapa semua ini bisa terjadi? Pertanyaan itu terus berputar-putar di dalam kepala Yoona hingga membuatnya emosi. Satu-satunya orang yang tidak berada di pihaknya dan memiliki bukti-bukti perselingkuhan ayahnya adalah Lee Sunghwan. Pria itu dulu pernah mengancamnya akan menyebarkan bukti-bukti perselingkuhan itu bila ia tidak menuruti keinginannya untuk menikah dengan putranya. Tapi ia telah melakukan semua yang diinginkan pria itu. Ia rela mengorbankan masa depannya sendiri untuk bersanding dengan putranya yang brengsek.

“Siapa yang telah melakukan hal ini padaku?” Desis Yoona geram. Jihyun menatap atasannya cemas, dan menunjukan sebuah platform yang mengunggah foto Yoona dengan Lee Sunghwan di kantornya.

“Nona, semua butki-bukti ini tidak akan bisa dihilangkan dengan mudah. Rahasia anda sudah terlanjur diketahui masyarakat Korea. Kini mereka sedang berlomba-lomba untuk menyiarkan berita ini di berbagai situs online. Anda tidak bisa lagi memblokirnya seperti biasanya nona.”

“Arghhh! Sial! Aku akan menemui Lee Sunghwan dan meminta pertanggungjawaban darinya. Kau atasai kekacauan di perusahaan, jangan sampai karyawan-karyawanku berbalik memusuhiku seperti Jang Eunji sialan itu.”

“Baik nona.” Ucap Jihyun patuh.

Setelah itu Yoona segera berjalan tergesa-gesar keluar dari ruangannya untuk menemui Lee Sunghwan di kantornya. Ia harus menuntut pertanggungjawaban dari pria itu atau ia juga akan membalas perlakuan pria itu dengan menyebarkan hasil wawancara putranya yang dapat membuat perusahaanya kembali goyah.

“Nah itu Im Yoona! Im Yoona-ssi jelaskan pada kami apa yang sedang terjadi? Mengapa selama ini anda tidak pernah mengatakan pada publik jika ayah anda terlibat kasus perselingkuhan?”

Sial!

            Yoona mengumpat dalam hati dan segera berlari menuju mobilnya untuk menghindari para wartawan yang sedang mengejarnya.

“Nona Im Yoona tunggu! Jelaskan pada kami, apa pernikahan anda hanyalah sebuah sandiwara? Nona Im Yoona!”

“Minggir, jangan ganggu aku!”

Yoona berteriak keras dari dalam mobil ketika para wartawan itu mulai mengerubungi mobilnya. Ia dengan wajah merah menahan amarah terus membunyikan klakson mobilnya keras-keras dan segera menginjak pedal gasnya kuat-kuat ketika para wartawan itu mulai memberinya celah untuk lewat. Dengan deru mesin mobil yang menggema, Yoona segera meninggalkan halaman parkir perusahaanya dan meninggalkan banyak wartawan yang terlihat kecewa di belakangnya karena mereka gagal mendapatkan informasi.

-00-

Ketika berada di gedung Lee Corp, Yoona langsung masuk begitu saja tanpa perlu repot-repot bertanya pada resepsionis seperti biasa. Saat ini ia sedang emosi, dan ia ingin segera bertemu Lee Sughwan untuk menuntut seluruh perbuatan pria itu.

“Yoona.”

Yoona menghempaskan tangan Donghae yang sedang mencekal lengannya. Pria itu rupanya juga sedang menunggu lift dan ia merasa cukup heran dengan kemunculan Yoona yang tiba-tiba dengan wajah merah padam menahan marah.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku ingin bertemu ayahmu.”

Ting

Pintu lift terbuka. Tanpa berkata apapun, Yoona segera masuk ke dalam lift dan menekan angka dua puluh yang tertera di sudut kotak lift.

“Apa yang terjadi Yoona? Kenapa kau tiba-tiba ingin bertemu ayahku?”

“Cih, ayahmu itu memang benar-benar licik, ia telah menyebarkan semua aib keluargaku untuk melakukan balas dendam padaku. Kau tahu, semua pernikahan kita terjadi karena ayahmu mengancamku. Ia mengancam akan menyebarkan bukti-bukti perselingkuhan ayahku yang selama ini kusembunyikan dari publik. Dan sekarang ayahmu telah menyebarkannya, semua aib keluargaku kini terpampang di semua situs online dan juga seluruh stasiun televisi. Sekarang kau puas, kau dan ayahmu berhasil menghancurkanku!” Teriak Yoona keras di depan wajah Donghae. Donghae yang selama ini tidak mengetahui apapun tentang hal itu lantas mengernyitkan dahinya bingung. Ayahnya tidak pernah mengatakan padanya jika ia mengancam Yoona dengan ancaman yang sangat menjijikan seperti itu. Ia pikir pernikahannya terjadi hanya untuk menggantikan artikel yang mengulas tentang keburukannya selama ini agar nilai saham di perusahaanya kembali stabil. Tapi ternyata ini lebih dari sekedar itu, dan sialnya ia tidak pernah mengetahuinya selama ini.

“Tunggu Yoona, aku yang akan berbicara pada ayahku.”

“Lepaskan! Kau tidak tahu apa-apa dalam masalah ini, kau hanya robot yang digunakan ayahmu untuk memenuhi semua ambisinya.” Teriak Yoona marah sambil menghempaskan tangan Donghae yang kembali mencekal lengannya. Mereka kemudian sama-sama melangkah keluar dari dalam lift ketika kotak elektronik itu telah berhenti tepat di lantai dua puluh. Namun meskipun begitu aura kemarahan yang menguar dari dalam diri mereka sama sekali belum hilang sepenuhnya. Justru Donghae yang sebelumnya terlihat baik-baik saja, kini terlihat lebih marah daripada Yoona. Pria itu cukup kecewa dengan perbuatan ayahnya yang tega melakukan hal kejam seperti itu untuk menyelamatkan perusahaanya dan ia juga marah pada penghinaan Yoona padanya yang mengatakan jika ia adalah robot yang selama ini dimanfaatkan ayahnya untuk memajukan perusahaanya.

“Ayah, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?”

“Oh, kalian tumben datang mengunjungi ayah. Halo Yoona, apa kabar?” Sapa Lee Sunghwan ramah. Ia lalu mempersilahkan menantunya dan putranya untuk duduk terlebih dahulu di atas sofa di tengah ruangannya. Namun hal itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Yoona dengan kasar.

“Kau membohongiku tuan Lee Sunghwan, kau telah menyebarkan aib keluargaku dan membuatku menjadi bahan cacian semua masyarakat Korea Selatan. Padahal aku sudah mengikuti semua permainanmu untuk menikah dengan putramu demi menyelamatkan perusahaan sialanmu yang mengalami penurunan harga saham. Tapi apa yang kudapatkan dari semua pengorbananku? Bahkan kau telah menghancurkan masa depanku hanya untuk menikah dengan putramu yang brengsek ini. Kalian berdua memang sama saja! Pria sialan yang hanya bisa memeras para wanita!”

Lee Sunghwan terlihat tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Yoona. Sejauh ini ia tidak pernah melakukan apapun. Bahkan ia baru saja selesai melakukan meeting dengan kliennya di sebuah restoran Eropa tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Namun tiba-tiba saja ia mendapatkan serentetan kalimat kasar dari menantunya yang sangat dingin itu.

“Sebenarnya apa yang terjadi?”

Lee Sunghwan bertanya pada putranya setelah Yoona pergi begitu saja dari ruangannya. Wanita itu tidak mau repot-repot tinggal di dalam ruangan itu lebih lama hanya untuk mendengarkan penjelasan dari ayah mertuanya yang tidak mengetahui apapun.

“Seharusnya aku yang bertanya pada ayah, apa yang ayah sembunyikan dariku? Kenapa semua media online mengunggah foto perselingkuhan ayah Yoona dan menuduh pernikahanku dan Yoona adalah pernikahan palsu. Apa yang ayah sepakati bersama Yoona sebelum ayah mendorongku untuk menikah dengan Yoona?”

Donghae menunjukan layar ponselnya yang sedang menampilkan platform sebuah media online. Melihat hal itu, Lee Sunghwan langsung merebut ponsel milik putranya dan memutuskan untuk membacanya lebih jauh.

“Ayah tidak tahu siapa yang melakukan ini. Ayah tidak pernah melakukan apapun.” Ucap Lee Sunghwan membela diri. Donghae langsung merampas begitu saja ponsel miliknya dan memasukan benda persegi itu ke dalam saku celannya dengan penuh emosi.

“Katakan padaku apa yang tidak kuketahui selama ini?”

“Sebenarnya pernikahanmu dan Yoona terjadi karena ayah mengancam Yoona. Ayah memiliki foto bukti-bukti perselingkuhan ayah Yoona dengan kekasihnya yang selama ini selalu disembunyikan Yoona rapat-rapat. Tapi ayah berani bersumpah, bukan ayah yang menyebarkan berita itu. Ayah benar-benar tidak melakukan apapun pada Yoona.” Ucap Lee Sunghwan bersungguh-sunggu. Donghae terlihat terkejut dan juga kecewa pada ayahnya. Selama ini ia selalu menuruti semua perintah ayahnya dengan baik untuk membuat ayahnya bahagia. Tapi apa yang terjadi sekarang sungguh mengecewakannya, ayahnya telah mengancam Yoona tanpa sepengetahuannya dan membuat wanita itu semakin menderita dengan pernikahan palsu mereka.

“Seharusnya ayah tidak perlu melakukan hal itu. Perusahaan bukanlah segala-galanya ayahnya. Lihatlah bagaimana menderitanya Yoona dengan pernikahan ini, ia pasti semakin tertekan dengan ancaman ayah yang akan membeberkan semua aib keluarganya meskipun ayah tidak pernah melakukannya. Sekarang kita harus mencari siapa pelaku sebenarnya agar nama ayah tidak ikut terseret kedalam masalah itu. Lagipula orang itu juga membeberkan kebohongan pernikahanku dan Yoona. Siapapun orang itu, ia pasti adalah orang-orang yang berada di sekitar kita ataupun orang yang sangat dekat dengan Yoona. Ayah, tolong selidiki berita itu, aku akan menemui Yoona. Ia pasti sangat terpuruk saat ini.” Ucap Donghae tergesa-gesa sambil berjalan keluar dari ruangan ayahnya.

-00-

Dibawah langit gelap Seoul yang dingin, seorang wanita berambut panjang sebahu sedang menelungkupkan kepalanya di atas lututnya sambil menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang tiba-tiba dijungkirbalikan begitu saja oleh Tuhan. Dalam hitungan menit sejak berita itu muncul semua orang beramai-ramai menghujatnya dan membencinya. Selain itu mereka juga ikut menghina keluarganya hingga membuat hatinya sakit. Namun yang semakin membuat hatinya sakit adalah saat ia melihat ayahnya tengah bercengkerama bersama keluarga barunya tanpa sedikitpun terbebani dengan berita itu. Padahal awal mula dari semua petaka yang menimpanya adalah karena pria itu. Pria yang pernah ia kagumi dan pria yang selama ini ia panggil dengan sebutan ayah.

“Kenapa aku harus hidup dengan penuh kebohongan seperti ini? Bahkan pernikahankupun juga pernikahan sandiwara yang digunakan untuk menyelamatkan nasib perusahaanku. Hahahaha… aku memang bodoh! Aku bodoh dan tolol!” Ucap Yoona hambar pada dirinya sendiri. Sekarang ia benar-benar merasa hancur. Ia tidak berani menampakan wajahnya pada orang lain, atau bahkan pada keluarganya sendiri karena ia terlalu malu dengan mereka semua. Ibunya pasti juga sangat kecewa karena ternyata pernikahannya hanya sebuah pernikahan sandiwara yang tidak pernah dilandasi cinta.

“Rupanya kau di sini.”

Yoona semakin menenggelamkan kepalanya ke dalam lututnya tanpa mau repot-repot menoleh ke belakang dan berhadapan dengan pria itu. Ia pasti saat ini sedang menertawakan kerapuhannya yang benar-benar sangat menyedihkan setelah selama ini ia selalu bersikap angkuh dan penuh kuasa di depan pria itu. Bahkan beberapa kali ia bersikap kasar dan melontarkan kata-kata pedas yang menyakitkan hati.

“Aku mencarimu kemana-mana. Kenapa kau mematikan ponselmu?”

Donghae menyampirkan mantelnya pada punggung rapuh Yoona yang tampak kedinginan. Pria itu lalu bergabung di sebelah Yoona dan mulai mengamati suasana disekitarnya yang sepi.

“Awalnya aku tidak tahu jika kau berada di sini, tapi ibumu mengatakan padaku jika kau mungkin sedang pergi ke rumah ayahmu. Dan ternyata ibumu benar, kau memang berada di sini.”

Yoona terus membungkam bibirnya rapat-rapat tanpa sedikitpun menanggapi ucapan Donghae. Ia tidak punya keberanian sedikitpun untuk berhadapan dengan pria itu dan menunjukan wajah kacaunya yang mungkin terlihat sangat menyedihkan. Sejak sore tadi ia terus menumpahkan air matanya dan meratapi nasibnya tanpa pernah beranjak dari kursi taman yang ia duduki. Beruntung ayahnya tinggal di wilayah pinggiran Seoul yang masih cukup sepi dan jarang penduduk, sehingga keberadaanya di sana tidak dicurigai atau diketahui siapapun.

“Yoona, bicaralah padaku. Jangan terus memendam semua kesedihanmu sendiri, kau adalah isteriku sekarang. Jadi berbagilah denganku.”

Donghae menyentuh lembut pundak Yoona dan membawa Yoona kedalam pelukannya yang hangat. Tanpa diduga Yoona justru mendekapnya erat dan menumpahkan seluruh air matanya di pundak Donghae hingga pria itu merasakan pundaknya basah oleh air mata Yoona.

“Apa yang harus kulakukan? Semua orang kini membenciku. Mereka semua jijik padaku karena aku sombong, munafik, dan jahat. Aa aku sangat buruk!” Racau Yoona histeris. Donghae mengelus punggung Yoona lembut tanpa bisa berkata apapun. Hatinya sakit melihat Yoona yang begitu hacur di depannya. Apalagi Yoona terus memandang dirinya buruk dengan mengolok-olok dirinya sendiri dengan kata-kata yang tidak pantas. Meskipun selama ini sikap Yoona cukup buruk di mata karyawan dan orang-orang terdekatnya, tapi ia tahu jika hal itu dilakukannya untuk menutupi semua kecacatan yang selama ini disembunyikannya.

“Ayo kita pulang. Kita akan menghadapi masalah ini bersama-sama.”

“Kau tidak perlu melakukannya. Ini semua salahku. Tolong sampaikan maafku pada ayahmu karena aku bersikap tidak sopan padanya.” Ucap Yoona lirih sambil menyeka bulir-bulir air mata yang masih menetes-netes membasahi wajahnya.

“Kita hadapi ini bersama-sama Yoona.”

Donghae menggenggam tangan Yoona dan menatapnya sungguh-sungguh. Ia tidak mungkin membiarkan Yoona terperosok ke dalam jurang kesedihannya sendiri. Apapun yang terjadi ia akan berdiri di samping Yoona dan menggenggam tangan dingin itu erat-erat.

“Sekarang kau adalah bagian dari kehidupanku. Tak peduli hubungan kita yang buruk selama ini, aku akan selalu berada di sampingmu. Aku akan menjadi pelindungmu Yoona, mulai detik ini.” Ucap Donghae yang diakhiri dengan sebuah kecupan panjang yang penuh perasaan di bibir pucat Yoona. Ia tahu janj yang baru saja ia katakan di depan Yoona adalah sebuah janji yang berat. Namun apapun yang terjadi, ia akan berusaha untuk memenuhi janji itu. Demi menyatukan kepingan-kepingan hati Yoona yang retak.

-00-

“Hey..”

Donghae menyapa pelan Yoona di suatu pagi yang mendung. Wanita itu membuka matanya, lantas tersenyum sekilas kearah Donghae.

“Hey.”

“Kau tidur dengan nyenyak?”

“Hahaha.. tentu saja tidak.” Jawab Yoona hambar. Sejak dua hari yang lalu ia tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Semua bayangan mengenai orang-orang yang menghinanya dan juga menghujatnya terus berputar-putar di dalam kepalanya hingga meciptakan sebuah mimpi buruk yang sangat mengerikan untuknya.

“Hari ini kita akan melakukan konfrensi pers.” Beritahu Donghae dengan posisi miring menghadap Yoona. Yoona tiba-tiba membalikan tubuhnya memunggungi Donghae dan sedetik kemudian Donghae melihat pundak Yoona bergetar di depannya. Wanita itu menangis lagi.

“Aku akan menemanimu. Jika kau terus menghindarinya dan bersembunyi, kau akan terus dihantui dengan mimpi buruk itu. Kau harus menghadapinya Yoona.”

“Mudah mengatakannya bagimu, tapi tidak bagiku!” Teriak Yoona penuh air mata. Donghae lantas membawa Yoona kedalam pelukanya dan menenangkannya. Sulit memang untuk membujuk Yoona agar segera menyelesaikan masalahnya karena wanita memiliki trauma yang begitu besar mengenai keluarganya.

“Semuanya akan baik-baik saja jika kau dapat menghadapinya dengan dagu terangkat. Sikapmu yang terus bersembunyi seperti ini hanya akan membuat orang yang menghancurkanmu tertawa puas di atas penderitaanmu. Polisi sedang mencari dalang dibalik penyebaran berita buruk itu, dan dugaanku orang itu berasal dari perusahaanmu, karena salah satu ahli IT yang kuperintahkan untuk melacak sumber berita itu menemukan alamat domain yang sinyalnya berasal dari perusahaanmu, meskipun orang itu telah menyamarkan identitasnya dengan menggunakan nama palsu, alamat palsu, dan nomor telepon palsu.”

“Bagaimana mungkin? Apa seseorang sedang mengkhianatiku sekarang? Selama ini yang mengetahui kehidupan pribadiku hanya Lee Yunwo, ahli IT yang selalu memblokir setiap berita buruk mengenai keluargaku dan Jihyun. Apa Jihyun yang telah menyebarkan berita buruk itu?” Ucap Yoona terlonjak kaget. Setelah berhari-hari terpuruk dalam masalahnya, ia baru menyadari hal itu. Jika pelakunya adalah Lee Yunwo maka pria itu tidak mungkin akan mengunggah berita pernikahan sandiwaranya ke media online. Hanya Jihyun yang mengetahui masalah pernikahan sandiwara itu karena Jihyun selama ini selalu menemaninya kemanapun ia pergi. Bahkan Jihyun juga berada di dekatnya ketika sesi wawancara itu berlangsung. Jadi kemungkinan besar pelakunya memang Jihyun.

“Kenapa Jihyun melakukan ini padaku?” Desis Yoona murka. Sekarang ia benar-benar yakin jika pelakunya adalah Jihyun karena hanya wanita itu yang memiliki kemungkinan untuk melakukannya.

“Kita akan segera mengetahui jawabannya setelah kita melakukan konfrensi pers. Ayo kita hadapi ini bersama-sama.”

Yoona mulai memejamkan matanya ketika Donghae mengecup keningnya lembut penuh perasaan. Hatinya berdesir ketika Donghae melakukan hal itu padanya. Dan hal itu sudah berlangsung sejak dua hari yang lalu. Ketika pria itu dengan wajah khawatir mendatanginya yang sedang menangis sendiri di tengah-tengah taman yang sepi. Apakah ia mulai menyukai Lee Donghae, suaminya sendiri. Entahlah ia juga tidak tahu. Yang pasti ia hanya ingin terus merasakan perasaan tenang ini bersama Donghae.

-00-

Pukul dua belas tepat Yoona dan Donghae keluar secara beriringan dari aula Im Corp yang mereka gunakan untuk melakukan konfrensi pers. Meskipun saat melakukan konfrensi pers Yoona cukup kewalahan mengahadapi serangkaian pertanyaan dari para wartawan yang menyudutkannya, namun Donghae terus menguatkannya di sampingnya hingga ia mampu melewati itu semua dengan lancar.

Kini separuh bebannya telah terangkat. Ia telah berhasil menjelaskan alasan dibalik perceraian orangtuanya, alasan mengapa ia menyembunyikan hal itu dari media, dan alasan pernikahannya dengan Donghae. Ternyata kejujuran tidak seburuk yang ia kira. Sedikit banyak ia merasa bersyukur karena dengan adanya berita itu, ia bisa keluar dari lingkaran kebohongan yang selama ini selalu melingkupinya.

“Terimakasih telah berada di sisiku selama aku terpuruk.” Ucap Yoona tulus pada Donghae ketika mereka hanya berdua di dalam lift. Donghae mengangkat alisnya sekilas dan tersenyum jenaka menanggapi ucapan terimakasih Yoona yang terdengar aneh untuknya.

“Sepertinya aku belum terbiasa dengan ucapan terimakasih darimu. Tapi, aku senang mendengarnya.”

“Tsk, aku sudah berusaha bersikap baik di depanmu tapi kau sepertinya memang lebih suka mendapatkan sikap kasar dariku.”

Donghae terkekeh pelan di sebelah Yoona sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Akhir-akhir ini ia cukup terganggu melihat Yoona yang terus memasang wajah murung di depannya, namun sekarang ia merasa lega karena Yoona telah kembali menjadi Yoona yang galak dan juga dingin. Baginya melihat Yoona yang angkuh lebih baik daripada melihat Yoona yang rapuh dan terus menerus menangis di depannya.

“Kurasa kau memang lebih baik menjadi wanita kasar yang tidak berperasaan daripada wanita lemah yang terus menerus menangis.”

“Lupakan hal itu, anggap saja kau tak pernah melihatku selemah itu. Sejujurnya aku sangat malu menunjukannya di depanmu.” Ucap Yoona acuh tak acuh, namun dengan wajah merah yang terlihat lucu di mata Donghae karena wanita itu sedang berusaha menyembunyikan perasaan malunya.

Ting

Lift berdentang keras dan berhenti di lantai lima belas. Mereka berdua segera melangkah keluar untuk menemui Jihyun yang saat ini sedang bekerja dengan santainya setelah melakukan hal-hal keji pada Yoona.

Plakk

Yoona tak bisa menahan emosinya ketika melihat Jihyun yang terlihat santai, meskipun atasannya sejak dua hari yang lalu tidak datang ke kantor dan terus dihujat oleh masyarakat Korea karena berita yang menyeret kehidupan pribadinya.

“Sajangnim, kenapa anda menampar saya?” Tanya Jihyun polos sambil memegangi pipinya kesakitan. Yoona yang muak melihat sandiwara Jihyun hendak menampar wajah wanita itu lagi dengan tangan kanannya yang terasa panas, namun Donghae langsung mencegahnya dan menariknya sedikit menjauh dari Jihyun.

“Jangan mengotori tanganmu hanya untuk membalas sikap menjijikannya Yoong.” Peringat Donghae dengan wajah dingin. Yoona segera menarik tangannya kasar dari cekalan Donghae dan kembali menatap Jihyun tajam di depannya.

“Mengakulah Choi Jihyun, aku sudah mengetahui kebusukanmu selama ini. Kau yang selama ini telah menyebarkan berita-berita itu dan membuatku dihujat oleh seluruh masyarakat Korea karena kebohonganku selama ini bukan? Mengakulah!”

Jihyun menundukan kepalanya di depan Yoona, lalu wanita itu tertawa keras dan mendongakan kepalanya dengan gaya angkuh yang terlihat sangat memuakan untuk Yoona.

“Yah.. kau benar sajangnim, aku yang telah menyebarkan berita itu. Bagaimana menurutmu sajangnim? Bukankah itu bagus?” Tanya Jihyun dengan wajah santai. Yoona mengeram marah sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat agar tidak kembali memukul wajah Jihyun di depannya. Sungguh ia sangat ingin menghancurkan wajah sombong itu dan menendangnya keluar dari kantornya.

“Dasar wanita tak tahu diri! Selama ini aku selalu memperlakukanmu dengan baik. Bahkan aku telah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri. Tapi apa yang kudapatkan dari kebaikanku? Sebuah pengkhianatan! Kau memang brengsek Choi Jihyun!”

“Hmhmhmhmm… Kau memang baik padaku, tapi kau tidak baik pada ibuku! Apa kau ingat kejadian tujuh tahun yang lalu? Kau pernah memecat ibuku secara tidak terhormat dan menuduh ibuku telah menggoda ayahmu. Padahal selama ini ayahmu yang telah menggoda ibuku. Membujuk ibuku untuk menjadi kekasihnya dengan janji-janji manis yang menggiurkan. Tapi ibuku tidak pernah mau, ibuku terus menghindari ayahmu hingga ibuku dilanda ketakutan hebat hingga nyaris gila. Tapi kau justru menyalahkan ibuku dan menuduhnya sebagai wanita jalang yang hendak merebut ayahmu dari ibumu! Asal kau tahu Im Yoona, ayahmu itu memang pria paling brengsek yang pernah kukenal. Ia dengan bejatnya merayu setiap wanita yang terlihat menarik di matanya untuk kesenangannya semata. Selama ini kau salah besar bila menganggap ayahmu adalah seorang malaikat suci yang baik hati karena kenyataanya ayahmu adalah seorang iblis! Dan untuk perbuatan jahatmu pada ibuku selama ini, kau pantas menerima semua ini. Hahaha… bagaimana rasanya Yoona ketika semua orang membencimu? Menyenangkan bukan?” Ucap Jihyun santai. Yoona tak bisa lagi menahan seluruh amarahnya dan ia hampir saja menerjang Jihyun untuk mencekiknya. Namun Donghae segera menahan tubuhnya dan menguncinya dengan tubuhnya yang kekar.

“Kendalikan dirimu Yoong. Jangan bertindak gegabah!”

“Tidak, jalang itu harus mati! Aku harus membunuhnya!” Teriak Yoona kehilangan kendali. Sedangkan Jihyun terlihat begitu santai dan terlihat tidak takut sedikitpun dengan kemarahan Yoona yang sangat berbahaya di depannya.

“Hahaha.. kau memang manis Lee Donghae-ssi. Pantas saja kau bisa dengan mudah mendapatkan wanita-wanita cantik sesuai dengan keinginanmu Lee Donghae, karena mulutmu yang manis itu sangat beracun! Lihatlah Yoona, sebentar lagi kau pasti juga akan dicampakan oleh pria brengsek ini setelah ia bosan dengan tubuhmu.”

Jihyun terus memprovokasi Yoona dan membuat Yoona geram. Sedangkan Donghae yang sejak tadi mengunci tubuh Yoona agar tidak kehilangan kendali untuk membunuh Jihyun mulai terbakar amarah. Ia tidak terima dengan setiap kata-kata Jihyun yang akan membuat hubungannya dan Yoona kembali memburuk. Tapi ia bukanlah tipe pria gegabah yang akan dengan mudah terpancing emosi karena kata-kata Jihyun. Sejak kecil ia telah dididik ayahnya untuk selalu bisa menggunakan logikanya meskipun ia sedang dilingkupi kemarahan sekalipun. Jadi sekarang adalah gilirannya untuk membungkam mulut lebar Jihyun yang busuk itu.

“Kalian keluarlah! Tangkap wanita jahat ini dan jebloskan ia ke penjara. Ia baru saja telah mengakui semua kejahatannya.”

Bersamaan dengan itu sekelompok polisi keluar dari persembunyian mereka dan segera memborgol tangan Jihyun yang hendak melarikan diri. Wanita itu kini tampak pucat dan ketakutan karena ia tidak menyangka Jika Donghae telah menyiapkan begitu banyak polisi disekitarnya untuk menangkapnya. Mereka semua lantas menyeret Jihyun dengan tangan diborgol untuk keluar dari Im Corp dan mendekam di penjara. Wanita itu sudah tidak bisa lagi mengelak dari semua kejahatannya karena bukti-bukti yang berhubungan dengan kasus kejahatannya telah diungkapkan dengan jelas oleh Jihyun sendiri.

-00-

“Disini kau rupanya, aku mencarimu.”

Donghae berjalan menghampiri Yoona dan mendudukan dirinya di sebelah Yoona yang sedang asik mengamati momen-momen kebersamaan sebuah keluarga bahagia di depannya.

“Betapa bahagianya mereka. Apa yang dikatakan Jihyun tidak benar, ayahku memang seorang malaikat. Bila ia seorang iblis, maka ia tidak mungkin akan menyayangi keluarga barunya seperti itu. Bagaimana menurutmu?” Tanya Yoona tanpa menoleh sedikitpun kearah Donghae. Donghae mendesah berat di sebelahnya dan memutuskan untuk menyetujui pendapat Yoona mengenai ayahnya.

“Terkadang kita memang tidak bisa mendapatkan sesuatu sesuai keinginan kita. Mungkin ayah dan ibumu memiliki alasan lain sebelum memutuskan untuk berpisah.”

“Hmm, mungkin. Tapi sejak dulu aku selalu bercita-cita untuk memiliki keluarga yang bahagia, seperti apa yang kulihat saat ini. Jadi apa yang terjadi pada keluargaku terasa sulit untuk kuterima.”

“Kalau begitu ayo kita buat pernikahan ini menjadi sebuah pernikahan yang bahagia.”

“Hahaha.. tidak usah memaksakan diri seperti itu. Aku tahu kau hanya kasihan melihatku yang menyedihkan ini.”

Yoona tertawa hambar sambil menyeka setitik air mata yang mengalir di sudut matanya.

“Lihat aku! Kali ini aku serius.”

Yoona memutar kepalanya ke samping kiri dan menemukan Donghae sedang menatap wajahnya dalam. Dari apa yang Yoona lihat, Donghae memang terlihat benar-benar serius di depannya.

“Ayo kita wujudkan keluarga impianmu.”

“Kau serius? Jika kau melakukannya kau akan kehilangann kekasih-kekasihmu dan kau tidak akan memiliki kesempatan untuk berkencan dengan wanita-wanita cantik di luar sana. Apa kau sanggup melakukannya?”

“Tidak.” Jawab Donghae singkat sambil menghembuskan napasnya berat.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya atau tidak. Tapi kau bisa menarikku dan membuatku hanya melihat kearahmu. Seperti saat ini, kau membuatku sadar jika pernikahan ini sebenarnya terjadi bukan untuk menyelamatkan perusahaanmu atau perusahaanku, tapi pernikahan ini untuk menyelamatkanmu dari kesedihan masa lalumu, dan untuk menyelamatkanku dari kebrengsekanku selama ini. Maukah kau memulai segalanya bersamaku?”

Yoona terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Donghae karena pria itu terlalu mengejutkannya dengan kesungguhan hatinya untuk memulai kehidupan pernikahan mereka sebagaimana mestinya. Tapi apakah ia bisa mempercayai pria itu? Ia takut akan mengulangi kesalahan yang sama seperti orangtuanya.

“Berikan aku kesempatan.” Ucap Donghae sambil menggenggam tangan Yoona yang dingin.

“Aku memang tidak bisa menjanjikan kehidupan yang mulus tanpa pertengkaran dan air mata, tapi aku bisa menjanjikan sebuah masa depan yang lebih baik untukmu. Dengan keluarga yang bahagia seperti impianmu selama ini.”

Yoona menangkup kedua pipi Donghae, lalu tersenyum lembut pada pria itu.

“Terimakasih untuk semua hal yang telah kau berikan padaku. Ayo kita wujudkan keluarga bahagia milik kita sendiri.” Bisik Yoona parau dengan lelehan air mata yang kembali meluncur turun dari mata beningnya. Dan kebersamaan mereka di sore hari yang mendung itu ditutup dengan sebuah ciuman penuh cinta yang mereka lakukan untuk pertama kalinya. Di bawah langit mendung kota Seoul, mereka berjanji untuk saling menjaga satu sama lain dan mereka bersumpah setia di bawah langit Seoul bahwa mereka akan selalu bersama hingga maut memisahkan mereka.

 

45 thoughts on “Marriage By Accident (Oneshoot)

  1. Eonnie ceritanya keren pliss butuh squel, knp eonnie hobi banget sih buat cerita yang gantung😂 bikin baper tau gak

  2. Wioooooajhhhhh…i need sequel…
    Pasti hubungan yoona akan banyak diganggu ama mantan2 donghae..wkwkwkw

  3. Akhir ny eonni buat fg yg enggak gantung ending ny hihihihi
    Tp aku sempat sedih pas baca bagian yoong yg berusaha nutupin aib keluarga nya
    Sedih dech klw da diposisi yoong

  4. Kenapa pas yoonhae nikah aku malah nangis ya? Pernikahan yg tadinya hanya sebuah kesepakatan bisnis akhirnya bisa mengobati kerinduan lee donghae akan sosok seorang ibu, dan menjadikan donghae pendamping dan penguat im yoona saat dia sedang terpuruk… Suuukaaa thor benar benar menggambarkan bagaimana sakitnya anak dari korban perselingkuhan dan perceraian orangtua…

  5. Yahh udah end ya,,hemm padahal lagi seru serunya nih thor yoona sama donghae udah serius,,terus menurut aku bagian endingnya terlalu kecepetan thor tpi ini opini aku aja yah.
    Pokonya daebaklah klo bisa ada sequelnya thor😂

  6. Dibalik sikap Yoona yg dingin dan angkuh ternyata ada kesedihan dan kerapuhan dalam hatinya. Kayaknya butuh sequel deh chingu, hehe ditunggu cerita2 selanjutnya chingu 👍

  7. Wuiiiih beda dr ceritq2 yoonhae yg lain. Tapi aku lebih suka karakter Yoona wanita yg polos dan lemah lembut tp ff nya kereen

  8. Ceritanya bagus, panjang, puas bacanya..
    Berharap ada sequelnya..
    Pengen liat kehidupan YoonHae selanjutnya setelah ini..
    Ditunggu ff keren lainnya 🙂
    Hwaiting!!

  9. Dasar nih kalo udh author fav saya buat ff selalu keren n gak pasaran 🖒🖒🖒🖒🖒
    Pengen gtu thor dibuat sequel yg kehidupan RT mrk stlh ini hhihihi
    Semangat terus utk berkarya ya thor ;D

  10. Sumpah ini keren banget un, kalau bisa butuh sequel dong buat kehidupan mereka setelah berjanji bakal saling mencintai hehe
    semuanya sampe berasa terkesan di hati ceritanya simple tapi ntah kenpa suka aja.. suka awal pertemuan mereka, suka sama hal yg bisa bikin mereka menikah, suka sama sikap hangat Donghae sama ibu mertua dan suka sama moment” mereka yg sederhana tapi terkesan manis ^^
    dan paling the best moment pas Yoona mergokin Donghae itulah, hahaha gak di sangkat aja.

  11. ternyata dalang di balik semua ini tuh “jihyun” kasihan banget yoona di khianati sekertarisnya sendiri. berharap ada sequelnya deh yoona bisa mencintai donghae dan alasan tuan im & nyonya im bercerai…. apa karna penghianatan??

  12. Banjiiirrr wooyy banjiirrr..
    Nyeseek bacanya..
    Ngefeel bangettt..
    Lumerr nih aermata..
    Kkkk lebay ya..
    Tapi serius mata gue menyipit ini weh.. Basah..
    Sukaaaa pokonyaaaa..
    Makasih dek untuk cerita indahnya ini.. 😚

  13. Bagus ceritanya. Sempet ikut sedih waktu yoona terlihat lemah krn nahan kesedihan yg slama ini dia tutupi. Bersyukur ada donghae disamping dia.
    Happy ending. Smga mrk bisa menjalani kehidupan rumah tangga mereka dg baik.

    Sequel kak. 😊😊😊😁

  14. yaaaa.butuh sequel..panjang bgt sampai butuh 3x untuk bacanya..
    aq penasaran say kisah yoonhae kedepannya setelah mereka mencoba memulai lembaran baru..
    sequel ya sayy.
    mksh..

  15. wow,, hidup yang berat dan kisah yang pelik.. Nggak tau mau ngomong apa kk 😅 ff kk terbaik 😍 ada sequel kah kk? 😅 Ditunggu yah kk..

    fighting!!

  16. Yeyy selesai juga bacanya tapi disetiap cerita oneshoot pasti butuh squel, hehehe
    Nggak nyangka ternyata itu perbuatan jihyun aku kira perbuatan apa donghae

  17. Just finished reading it. Thanks for this gift :* Mungkin bisa kali ya minta hadiah buat valentine juga? hahaha nice one, can’t wait for the horror one hihi *^

  18. Endingnya manisssss..
    Aku suka, ceritanya menarik..
    dan feelnya dapet banget,, pada akhirnya Yoona dan Donghae bersatu dalam satu cinta.. aku bahagia..

  19. karena trauma akan kehidupan orang tua nya yoona jadi kayak gitu..
    aku suka pas bagian donghae bilang “Ayo kita wujudkan keluarga impianmu.” aku terharu ngebaca nya

  20. bener2 puas bacanya . panjang ceritanya .. so nice … next bikin sequel kak. kehidupan pernikahan yoona dan donghae..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.