Chance To Back Off (Oneshoot)

Recomended Song Sia – Unstoppable

Pagi menjelang siang yang terik, Yoona terus mendengarkan serangkaian celoteh Krystal yang sedang membicarakan kebaikan Donghae di depannya. Jenderal angkuh itu ternyata memiliki sisi lembut yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dari semua orang. Dan kali ini ia membiarkan Yoona mengetahuinya melalui Krystal. Ia tidak mau repot-repot mengumbar kebaikannya pada orang lain dan hanya membiarkan Krystal menceritakan semua hal yang wanita itu tahu.

“Kami dulu sebenarnya tidak saling mengenal, karena Donghae sangat dingin dan juga sinis pada semua orang. Tapi setelah ia diadopsi, ia diam-diam sering datang ke panti asuhan ini untuk melihat teman-temannya. Ternyata ia cukup peka terhadap kondisi teman-temannya yang menderita di sini dan memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk menghindarkan kami dari kekejaman pria brengsek itu.” Cerita Krystal berapi-api. Yoona hanya mengangguk-anggukan kepalanya kecil sambil menyimak setiap cerita yang dceritakan Krystal. Sesekali ia juga melirik Donghae yang sedang menatap lurus teman masa kecilnya tanpa memberikan komentar apapun.

“Lalu bagaimana setelah itu?”

“Donghae meminta ayahnya untuk mengawasi panti asuhan ini. Setiap seminggu sekali suruhan ayah Donghae datang untuk membawa bahan makanan dan juga memberikan uang demi kemajuan panti asuhan ini. Namun uang-uang itu justru digunakan oleh pria brengsek itu untuk berjudi. Tapi setidaknya ia tidak menyiksa kami lagi, ia membiarkan kami bermain dan juga bersekolah dengan bantuan biaya dari pemerintah.”

“Dan itu berlangsung hingga bertahun-tahun?” Tanya Yoona tak percaya. Bagaimana mungkin anak-anak kecil seperti yang ia lihat di halaman panti asuhan dulu mengalami hal yang sangat tidak menyenangkan di panti asuhan ini. Beruntung ayahnya sangat menyayanginya dan ia tidak harus tinggal di panti asuhan meskipun ibunya telah meninggal saat melahirkannya.

“Ya, kami semua bertahan hingga aku sudah benar-benar siap untuk membunuhnya.”

Yoona melebarkan matanya tak percaya dengan ucapan Donghae. Bagaimana bisa pria itu bersikap sangat santai di depan sahabatnya ketika ia sedang membicarakan masalah pembunuhan. Jika hanya di depannya ia tidak masalah, tapi bagaimana dengan Krystal? Ia takut wanita itu akan syok setelah mendengar kalimat bernada dingin yang dilontarkan oleh Donghae. Tapi setelah ia menoleh lagi pada Krystal, yang ia temukan justru sebaliknya. Wanita itu justru bersikap biasa saja sambil menaikan kedua alisnya santai.

“Yah… sayangya pria itu sudah lebih dulu mati setelah mengalami overdosis. Tapi baguslah, jadi kami tidak perlu lagi menderita karena ulahnya. Sekarang lihatlah, tanpa pria itu panti asuhan ini bisa berdiri kokoh dengan bangunan yang layak. Dulu, setiap hujan kami akan tidur di atas kasur yang basah karena atap bangunan ini bocor. Belum lagi kamar mandi yang tidak layak pakai dan juga dapur yang penuh tikus. Sungguh aku tidak pernah menyangka jika aku masih tetap hidup setelah aku memakan makanan yang dimasak dari dapur menjijikan itu.” Ucap Krystal dengan mimik jijik yang terlihat lucu. Yoona tanpa sadar tertawa melihat tingkah Krystal dan hal itu tidak luput dari pandangan Donghae. Sejak tadi ia terus mengamati reaksi Yoona ketika Krystal membicarakan masa lalunya. Pilihan untuk membawa Yoona ke panti asuhan ini memang tepat karena teman masa kecilnya yang cerewet itu pasti akan langsung membeberkan apapun kenangan yang pernah dialaminya. Ia tidak perlu repot-repot mengeluarkan tenaganya untuk memberitahu Yoona bagaimana kehidupannya dulu. Perlahan-lahan wanita itu akan tahu bagaimana sifatnya selama ini.

“Oh ya ampun, ini sudah siang. Aku akan menyiapkan makan siang dulu. Kalian juga harus makan siang di sini. Tidak ada penolakan Lee Donghae!” Peringat Krystal galak sebelum Donghae mengeluarkan suaranya. Donghae akhirnya memilih diam dan beranjak pergi menuju halaman untuk bermain bersama anak-anak panti. Sedangkan Yoona memilih untuk mengikuti Krystal ke dapur untuk membantu wanita cantik itu memasak.

“Krystal ssi, apa kau satu-satunya wanita dewasa di sini?” Tanya Yoona heran sambil mengamati Krystal yang mulai sibuk mengeluarkan sayuran dari dalam kulkas. Ketika Krystal tampak kesulitan untuk membawa sayur-sayur dingin dari dalam kulkas ia dengan sigap membantu wanita itu meletakan sayur-sayur ke atas meja yang jumlahnya cukup banyak.

“Sekarang mungkin aku adalah satu-satunya wanita dewasa di sini. Tidak banyak teman-temanku yang ingin kembali ke panti ini setelah mereka beranjak dewasa dan bebas mencari pekerjaan di luar panti.” Ucap Krystal terlihat murung. Yoona tampak menyesal karena telah mengungkit-ungkit masa lalu Krystal yang kelihatannya tidak terlalu menyenangkan. Apalagi wanita itu kini terlihat lebih diam daripada sebelumnya yang cukup aktif menceritakan apapun kenangan masa kecilnya. Ia merasa harus segera meminta maaf pada wanita itu.

“Ohh Krystal, maafkan aku.”

“Hah, apa?”

Krystal yang sebelumnya sibuk mengupas bawang langsung mendongak dan menatap Yoona bingung.

“Maaf karena telah membuatmu tidak nyaman.” Jelas Yoona. Setelah itu ia memilih untuk memotong-motong daging ikan yang akan ia goreng menggunakan tepung. Ia tidak berani lagi bertanya macam-macam pada Krystal karena wanita itu tidak terlalu suka dengan cerita masa lalunya. Sedangkan ia sendiri tidak memiliki topik yang bagus untuk dibicarakan bersama Krystal. Selain karena mereka baru saja bertemu, ia tidak tahu apakah ia dan Krystal memiliki kecocokan dalam suatu hal. Ia sendiri sebenarnya cenderung tertutup dan tidak terlalu mengikuti berita-berita terbaru yang sedang hangat diperbincangkan masyarakat Korea. Mungkin saat ini mereka sedang membicarakan pernikahannya dengan Lee Donghae. Ya, setidaknya itulah yang dipikirkan Yoona saat ini, mengingat bagaimana mendadaknya dan mewahnya pernikahannya kemarin, meskipun pernikahan itu rasanya masih seperti mimpi untuknya.

“Dulu aku tinggal disini bersama sahabatku yang lain, Kim Taeyeon dan Cho Kyuhyun. Mereka adalah teman-temanku yang masih bertahan di panti ini hingga kami sama-sama beranjak dewasa.” Cerita Krystal tiba-tiba. Yoona yang awalnya sedang sibuk menuang minyak ke dalam penggorengan, langsung memusatkan perhatiannya pada Krystal. Ia cukup tertarik dengan cerita Krystal mengenai keadaan panti asuhan ini di masa lalu dan bagaimana Donghae. Setidaknya melalui Krystal ia bisa mengetahui bagaimana Donghae di masa lalu.

“Lalu dimana mereka sekarang?”

“Pergi.” Jawab Krystal singkat. Lagi-lagi Yoona merasa bersalah pada Krystal dan juga merasa kesal pada Krystal disaat yang bersamaan. Bagaimana mungkin wanita itu menceritakan sesuatu yang pada akhirnya hanya dapat membuat wanita itu sedih saat mengingatnya. Terlebih lagi ia sekarang merasa tidak enak pada wanita itu karena lagi-lagi menanyakan hal-hal yang sensitif.

“Maaf, kau pasti berpikir aku merasa terganggu dengan kisah masa laluku yang tidak terlalu indah di panti ini. Tapi sebenarnya aku merasa biasa saja. Maksudku apa yang terjadi padaku dulu sama sekali tidak membuatku sedih, hanya saja aku bingung untuk menceritakannya padamu Yoona. Sejak dulu kami anak-anak panti selalu dihadapkan dengan masalah yang rumit, bahkan setelah pria brengsek itu matipun, kami tetap mendapatkan masalah yang rumit.”

“Lalu bagaimana dengan jenderal Lee?”

“Oh, Lee Donghae..”

Krystal tampak berpikir. Tiba-tiba saja ia mendapatkan ide untuk menceritakan sedikit dari masa lalunya yang berkaitan dengan Donghae. Ia yakin Yoona akan jauh lebih tertarik jika ia membicarakan masalah Donghae daripada masalah penderitaan mereka di masa lalu.

“Donghae, aku, Taeyeon, dan Kyuhyun adalah satu-satunya penghuni panti generasi tua yang masih peduli pada panti asuhan ini. Setidaknya itu dulu, satu setengah tahun yang lalu. Sekarang hanya tersisa aku dan Donghae saja yang masih memperjuangkan nasib anak-anak yang tinggal di panti asuhan ini. Taeyeon dan Kyuhyun memilih keluar untuk menjalankan kehidupan mereka masing-masing. Mungkin kau tidak mengenal Kyuhyun, tapi aku yakin kau pasti mengenal Taeyeon.” Ucap Krystal semangat. Yoona menggeleng pelan sambil mengingat-ingat seluruh relasinya yang mungkin bernama Kim Taeyeon. Namun sejauh yang ia ingat, ia sama sekali tidak mengenal Taeyeon ataupun memiliki seorang teman bernama Taeyeon. Lalu siapa Kim Taeyeon itu?

“Kau tidak tahu? Ckckckk.. kau pasti tidak pernah menonton televisi atau membaca majalah gosip. Nama Kim Taeyeon akhir-akhir ini sedang menjadi bahan pembicaraan masyarakat Korea karena berbagai skandal yang menjeratnya. Bahkan akhir-akhir ini kudengar Taeyeon sedang terjerat masalah perselingkuhan dengan salah satu pejabat pemilik stasiun televisi.” Cerita Krystal menggebu-gebu.

“Benarkah?” Tanya Yoona tak percaya. Padahal ia pikir saat ini masyarakat Korea sedang gempar membicarakan pernikahannya dengan Lee Donghae. Ternyata ia salah. Ia terlalu percaya diri.

“Yahh.. meskipun aku tidak ingin mempercayainya, tapi memang seperti itulah adanya. Kim Taeyeon yang dulunya gadis ceria yang lugu, kini telah berubah menjadi wanita dewasa dengan seribu satu pesona. Dulu kami sangat frustrasi dengan kemiskinan kami. Meskipun Donghae setiap hari membantu kami, tapi uang itu selalu habis untuk membeli keperluan panti dan juga merenovasi bangunan panti. Padahal terkadang kami ingin membeli sesuatu dan bergaya seperti remaja-remaja pada umumnya. Lalu Taeyeon dan Kyuhyun memutuskan untuk mencari pekerjaan agar kami setidaknya memiliki uang sendiri untuk membeli barang-barang yang kami inginkan. Tapi mereka tidak mengijinkanku untuk mencari pekerjaan dan hanya menjadi pengurus di panti ini. Hari pertama mereka mencari pekerjaan, tidak ada satupun dari mereka yang mendapatkannya. Saat itu Kyuhyun melamar pekerjaan menjadi seorang bartender, sedangkan Taeyeon melamar pekerjaan untuk menjadi seorang pelayan di sebuah kafe. Namun keduanya gagal karena saat itu mereka belum memiliki pengalaman apapun. Lalu Kyuhyun memutuskan untuk menjadi klining service di sebuah perusahaan, dan Kyuhyun berhasil mendapatkan pekerjaan itu. Sedangkan Taeyeon masih belum menemukan pekerjaan yang pas untuk dirinya. Suatu hari Taeyeon mendapatkan sebuah pamflet yang berisi lowongan pekerjaan untuk menjadi seorang penyayi bar. Dengan ragu-ragu Taeyeon mencoba mendaftarkan diri untuk menjadi penyanyi di bar itu karena ia tidak memiliki pilihan lain. Hanya itu kesempatan yang ia miliki dan ia mau tidak mau harus mengambil kesempatan itu. Aku ingat sekali bagaimana kegugupan Taeyeon ketika manager bar memanggilnya untuk wawancara. Aku yang menemaninya untuk melakukan sesi wawancara terus memberinya semangat dan mendoakannya agar ia mendapatkan pekerjaan itu, meskipun sebenarnya kami berdua sama-sama tahu jika menjadi seorang penyayi bar sama saja dengan menjadi seorang pelacur. Setidaknya itulah anggapan masyarakat, meskipun sebenarnya juga tidak seperti itu. Dan pada akhirnya Taeyeon mendapatkan pekerjaan itu. Di tiga bulan pertama, Kyuhyun atau aku sering menjemputnya di bar setelah ia selesai menyayi. Karena ia selalu pulang di atas jam sepuluh, maka aku dan Kyuhyun memutuskan untuk bergantian menunggu Taeyeon di halte bus agar Taeyeon tidak kesepian atau diganggu oleh orang-orang jahat yang mungkin hendak mengganggunya. Tapi setelah tiga bulan berjalan, baik aku maupun Kyuhyun sama-sama merasa bosan. Kyuhyun yang mengambil kerja part time di sebuah mini market tidak bisa lagi menjemput Taeyeon karena waktu bekerjanya dimulai pukul sepuluh malam hingga pukul enam pagi. Sedangkan aku kadang jatuh tertidur sebelum pukul sepuluh karena terlalu lelah mengurus panti sendiri sejak pagi. Akhirnya tidak ada lagi yang menemani Taeyeon pulang. Dan Taeyeon awalnya tidak masalah dengan hal itu. Namun setelah enam bulan bekerja di bar itu dan pulang sendiri, Taeyeon perlahan-lahan berubah. Ia yang dulunya adalah gadis lugu, berubah menjadi gadis modern yang sangat modis. Setiap hari aku melihat barang-barang bermerk berserakan di atas ranjangnya dan ia akan pergi ke bar bersama seseorang menggunakan mobil. Aku dan Kyuhyunpun menjadi curiga. Kami mulai mengorek informasi tentang hal itu, namun Taeyeon selalu mengatakan jika semua hal yang ia dapatkan adalah pemberian dari rekan kerjanya. Karena tidak percaya, akhirnya aku dan Kyuhyun memutuskan untuk membuntuti Taeyeon. Kami menitipkan anak-anak panti pada Donghae yang siang itu kebetulan datang untuk mengunjungi panti. Apa yang Taeyeon katakan jelas sekali penuh dengan bualan. Sayangnya sesutu yang buruk terjadi saat itu. Kyuhyun mengalami kecelakaan dan meninggal setelah aku berusaha membawanya ke rumah sakit. Jadi karena kami terlalu fokus pada Taeyeon, kami tidak melihat ada sebuah bus yang melintas cukup kencang di depan kami. Aku yang pertama sadar langsung melompat mundur agar aku tidak terserempet bus itu, tapi Kyuhyun… pria itu tidak melihat bus itu datang dan tubuh tingginya terlempar begitu saja setelah bagian depan bus itu menghantam tubuhnya dengan keras. Aku dengan panik langsung membawanya ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong. Kami semua merasa sangat kehilangan dan juga sedih. Seminggu setelah Kyuhyun meninggal aku mengaku pada Taeyeon jika penyebab Kyuhyun tertabrak bus adalah karena kami mengikutinya. Taeyeon sangat marah padaku dan setelah itu ia memutuskan untuk pergi dari panti asuhan ini. Donghae mencoba menahan Taeyeon dan berbicara padanya, tapi Taeyeon sama sekali tidak goyah. Padahal awalnya kupikir Donghae akan berhasil membujuknya karena siang itu aku melihat Taeyeon menangis di pundaknya dan Taeyeon tampak lebih baik. Tapi keesokan harinya aku menemukan Taeyeon telah siap dengan semua barang-barangnya dan tanpa mengatakan apapun padaku ia pergi begitu saja dari panti ini dengan seorang pria yang tidak kukenal. Berhari-hari aku bertanya pada Donghae apa yang sebenarnya terjadi pada Taeyeon karena ia selalu mengalihkan topik mengenai Taeyeon setiap kali aku mempertanyakannya. Bahkan ia sempat menghilang selama satu bulan untuk melakukan sebuah misi yang aku sendiri tidak tahu apa, dan ia baru benar-benar muncul beberapa hari kemudian. Mungkin saat itu Donghae pikir aku telah melupakan masalah Taeyeon, tapi nyatanya aku tidak pernah melupakannya sedikitpun. Aku terus teringat pada Taeyeon hingga aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Akhirnya hari itu Donghae menceritakan semuanya. Jadi selama ini Taeyeon sebenarnya sedang menjalin hubungan dengan seorang pengusaha kaya raya yang ditemuinya di bar tempat ia bekerja. Namun Taeyeon tidak bisa menceritakan padaku karena aku jelas akan menentang hubungan mereka. Dan yang paling membuatku marah pada Donghae adalah ternyata ia sudah mengetahui semuanya jauh sebelum aku dan Kyuhyun memutuskan untuk mengikuti Taeyeon. Lee Donghae selama ini tahu jika Taeyeon sedang menjalin hubungan dengan seorang pria kaya yang bisa mencukupi semua kebutuhannya. Tapi pria itu memilih untuk tidak peduli dan membiarkan Taeyeon bersama pria itu karena ia pikir Taeyeon bahagia. Selama dua bulan aku mendiami Donghae dan tidak pernah menyapanya jika ia datang berkunjung. Namun akhirnya aku sadar jika apa yang kulakukan padanya justru akan membuat hubungan kami renggang dan pada akhirnya aku akan kehilangan satu-satunya sahabat yang kumiliki. Jadi aku memutuskan untuk berbaikan dengan Donghae setelah itu dan melupakan segalanya. Aku memulai membuka lembaran hidup baru bersama anak-anak malang itu dan memutuskan untuk menjadi kakak sekaligus ibu bagi mereka.”

Yoona terperangah tak percaya dengan lika-liku kehidupan Krystal dan sahabat-sahabatnya dulu. Ia tidak menyangka Jika Donghae pernah memiliki sahabat dan juga kehilangan seorang sahabat. Pasti sangat sulit. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Donghae dapat melalui hari-harinya dengan dagu terangkat dan wajah datar yang seakan-akan menunjukan jika ia baik-baik saja. Padahal di dalamnya pria itu menyembunyikan banyak sekali kesakitan dan juga kepahitan.

“Krystal… Aku….”

Yoona kehilangan kata-kata. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada wanita kuat itu karena ia belum pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Krystal. Selama ini hidupnya terlalu lurus tanpa masalah, sehingga ia tidak bisa berkomentar apapun atau hanya sekedar memberikan nasihat karena ia tidak tahu bagaimana rasanya menjalani kehidupan yang penuh lika liku seperti itu.

“Tidak apa-apa Yoona, aku baik-baik saja. Aku merasa sangat lega sekarang karena aku bisa menumpahkan seluruh beban pikiranku padamu karena aku selama ini tidak memiliki siapapun untuk berbagi cerita. Meskipun aku memiliki Donghae, tapi kau pasti tahu bagaimana sifat Donghae. Pria itu sangat dingin dan juga misterius hingga rasanya sulit untuk membicarakan masalah sensitif seperti itu padanya. Ngomong-ngomong bagaimana hubungan kalian sebelum kalian memutuskan untuk menikah? Jujur aku sangat terkejut siang ini karena tiba-tiba ia datang ke sini bersama seorang wanita yang merupakan isterinya karena dulu kupikir Lee Donghae tidak akan pernah menikah. Selama ini aku tidak tahu apakah ia tertarik pada wanita atau tidak, dan sebenarnya dulu aku sempat berpikir jika Lee Donghae adalah penyuka sesama jenis selain itu ia juga sangat dingin pada orang lain. Bagaimana mungkin ia bisa menikah dengan sikapnya yang sangat mengerikan itu. Jika ada seorang wanita yang mendekatinya, kuyakin mereka akan langsung mundur setelah merasakan bagaimana dinginnya pria itu. Jadi bagaimana kisah cinta kalian selama ini?”

Dalam hati Yoona membenarkan seluruh ucapan Krystal. Donghae memang pria yang sangat dingin dan hampir tidak tersentuh. Mungkin jika ia bukan wanita yang keras kepala, ia juga tidak akan menikah dengan Lee Donghae. Bersyukur kedua orangtuanya dan orangtua angkat Donghae pernah membuat janji bodoh mengenai masa depannya, sehingga ia bisa berakhir bersama Lee Donghae saat ini. Tapi mengenai kisah cintanya? Ia tidak yakin ia bisa menceritakannya karena ia tidak memiliki kisah cinta apapun dengan Lee Donghae. Semua hal yang ia lakukan selama ini hanyalah cinta sepihak. Ia sangat mencintai Donghae dan Donghae tidak mencintainya. Tapi entahlah, mungkin suatu saat Tuhan memberikan sebuah keajaiban dengan membuat Lee Donghae mencintainya. Atau jika pria itu memang tidak mencintainya, setidaknya ia bersikap lebih lembut padanya dan tidak memperlakukannya seperti seorang tentara junior.

“Eeee… entahlah, aku juga tidak tahu.” Jawab Yoona apa adanya. Krystal mendelik kearahnya dan tetap memaksanya untuk menceritakan kisah cintanya pada Donghae.

“Kau tahu sendiri bagaimana tidak tersentuhnya jenderal Lee, jadi kami memang tidak memiliki kisah cinta apapun. Kami menikah hanya karena janji orangtua kami di masa lalu.”

“Jadi kalian hanya berpura-pura menikah seperti di dalam drama-drama yang sering kutonton?” Teriak Krystal heboh. Yoona memutar bola matanya malas sambil berjalan menuju meja makan untuk meletakan ikan gorengnya yang telah matang. Ia tak habis pikir dengan pikiran Krystal yang terlalu konyol dan juga berlebihan. Beruntung ia jarang menonton drama karena ia tidak pernah memiliki waktu luang di rumah. Ia lebih sering menghabiskan waktu luangnya di kampus atau menemani ayahnya di kantor pemerintahan.

“Tentu saja tidak. Kami menikah seperti biasa di gereja dan tidak memiliki niatan untuk menjadikan pernikahan ini sebagai pernikahan main-main. Kami berdua telah sepakat untuk mejalani peran kami sebagai suami dan juga isteri.”

“Wahhh.. manis sekali. Aku jadi merasa iri. Bagaimana bisa pria sekaku dan sedingin Lee Donghae bisa menerimanya dengan mudah. Ia memang penuh dengan kejutan. Bagaimana perasaanmu setelah menikah dengannya?”

“Bahagia.” Jawab Yoona spontan tanpa banyak berpikir. Sungguh ia sangat bahagia setelah menikah dengan Lee Donghae karena ia menikah dengan pria yang sangat ia cintai. Meskipun sifat Donghae sangat jauh dari sifat pria-pria pada umumnya, tapi ia tetap bahagia. Justru ia merasa kehidupan rumah tangganya akan berjalan dengan seru dan penuh tantangan. Yeah, tantangan untuk menaklukan hati Lee Donghae!

“Biar kutebak, kau pasti sangat mencintai Lee Donghae.” Ucap Krystal yakin dengan senyum menggoda. Tanpa malu-malu Yoona menganggukan kepalanya dan membenarkan tebakan Krystal. Tidak ada gunanya ia menutup-nutupi perasaanya pada Krystal karena wajahnya tidak bisa berbohong. Donghae dan Hyukjae pernah mengatakan padanya jika wajahnya seperti sebuah buku yang dapat dengan mudah dibaca oleh orang lain.

“Begitulah, itu memang mudah sekali ditebak. Tapi jenderal Lee… ia sangat misterius. Aku bahkan kesulitan untuk memahami maksudnya ataupun keinginannya.”

“Tenanglah, perlahan-lahan kau pasti bisa memahaminya.” Hibur Krystal sambil menepuk pundak Yoona beberapa kali. Yoona tersenyum lembut pada Krystal dan menggumamkan terimakasih melalui gerakan bibirnya. Tak berapa lama pintu ruang depan dipenuhi oleh suara teriakan anak-anak panti dan gemuruh langkah kaki mereka yang sedang berlomba-lomba masuk ke dalam rumah. Yoona dan Krystalpun bergegas menata meja makan sebelum anak-anak itu merengek berisik karena masakan mereka belum mereka letakan di meja makan.

“Noonaaaaa… laparrr!!”

“Eonni lapaaaarrr!!”

“Astaga! Aku benar-benar membenci rengekan mereka.” Gerutu Krystal sambil membawa setumpuk piring menuju meja makan. Sedangkan Yoona hanya mampu tersenyum geli sambil menatap Donghae dari kejauhan yang sedang membantu anak-anak panti itu duduk di atas kursi.

 

Jenderal Lee… Aku tahu kau tidak seburuk itu, tapi juga tidak sebaik itu…

-00-

“Terimakasih telah mengajakku ke panti asuhan. Sangat menyenangkan di sana. Aku menyukai Krystal dan juga anak-anak di sana yang sangat manis.” Ucap Yoona ketika mereka berdua sedang berada di dalam mobil menuju kediaman Donghae. Donghae tak mengucapkan sepatah katapun pada Yoona dan tetap menyetir. Yoona menghembuskan napasnya pelan dan mulai melirik jam tangannya. Pukul dua siang. Ia pun menyandarkan kepalanya santai sambil memikirkan kegiatan apa yang akan ia lakukan setelah ini. Perkuliahannya baru dimulai minggu depan, ia seharusnya menghabiskan waktu seminggu cutinya untuk melakukan hal-hal romantis bersama Donghae. Tapi… tentu saja ia tidak akan melakukannya. Mustahil Donghae akan mengajaknya pergi ke tempat-tempat romantis. Bahkan ia tidak tahu apakah Donghae juga mengambil waktu cuti setelah menikah, karena pria itu sejak kemarin tidak mengatakan apapun.

“Apa kita akan kembali ke rumahmu?”

“Kita akan pulang. Aku memiliki beberapa urusan, jadi aku harus pergi ke markas militer setelah ini.”

Yoona menghembuskan napasnya gusar. Siang ini ia bisa mati kebosanan di rumah besar itu karena Donghae akan pergi meninggalkannya.

“Kau tidak mengambil cuti setelah menikah?”

“Untuk apa? Waktu liburku hanya kemarin.” Jawab pria itu datar. Yoona mencoba menarik napasnya dalam-dalam dan membesarkan hatinya agar tidak terlalu emosi dengan sikap Donghae. Baru saja ia melihat sisi lain Donghae yang lembut, dan sekarang pria itu telah menunjukan sikap aslinya. Sungguh ia memang harus bersabar dalam menghadapi setiap perubahan sikap Donghae yang tiba-tiba.

“Lalu untuk apa aku mengambil cuti kuliah satu minggu jika kau ternyata tidak mengambil cuti.” Gerutu Yoona kesal.

“Apa aku pernah menyuruhmu untuk mengambil cuti? Mulai besok kita akan berlatih beladiri karena aku tidak bisa terus melindungimu. Aku akan lebih sibuk mulai minggu depan dan akan sering meninggalkanmu sendiri.”

“Ck, kenapa kau memperlakukanku seperti tentara junior? Apa aku tidak pantas menjadi isterimu.” Decak Yoona sebal. Jika memang Donghae tidak bisa menemaninya selama ia cuti kuliah, pria itu tidak harus memperlakukannya seperti seorang tentara. Daripada berlatih beladiri ia bisa pulang ke rumah ayahnya dan menghabiskan waktunya di rumah untuk mencoba resep-resep masakan baru atau melakukan hal lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan latihan beladiri yang melelahkan.

“Aku tidak pernah mengatakan hal itu. Dan aku tidak menerima penolakan! Kau harus berlatih mandiri dan juga disiplin.”

“Apa aku tidak bisa pulang ke rumah ayahku?”

“Kau baru saja pulang, apa kau tidak bisa menjadi isteri yang penurut sekali saja?” Geram Donghae kesal. Yoona tampak memberengut dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Selalu saja pembicaraan mereka berakhir dengan adu mulut yang membuatnya kesal.

“Turun.”

Tanpa menunggu perintah dua kali Yoona segera turun dan membanting pintu SUV di belakangnya dengan keras. Dan tepat setelah pintu mobil itu ditutup oleh Yoona, Donghae segera memacu mobilnya pergi tanpa mengatakan apapun pada Yoona. Bahkan pria itu tidak mau repot-repot berpamitan atau memeberitahu Yoona jam berapa ia akan pulang.

“Menyebalkan! Jenderal brengsek!” Umpat Yoona kesal sambil menendang kerikil kecil di depannya. Saat ini ia berharap jika kerikil kecil itu adalah Donghae agar ia bisa melampiaskan seluruh amarahnya yang telah membumbung tingga ke udara.

“Apa? Kembali bekerja, jangan menghiraukanku!” Sembur Yoona galak pada anak buah Donghae yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh. Yoona dengan dongkol segera masuk ke dalam rumahnya dan menghempaskan tubuhnya begitu saja ke atas sofa putih yang berada di ruang tamu.

Untuk sesaat Yoona mencoba untuk mengatur emosinya sambil memejamkan matanya. Siang ini ia harus melakukan sesuatu untuk mengusir kebosanannya. Tiba-tiba saja ia teringat jika Donghae telah memberikan ijin untuk merubah sedikit tatanan rumahnya yang kaku. Ia pun segera menyambar ponselnya dan menghubungi orang-orang yang bisa membantunya untuk mendesain ulang rumah membosankan milik Donghae. Dengan penuh semangat ia segera pergi ke kamarnya dan mengganti pakainnya dengan kaos longgar milik Donghae dan juga celana panjang milik Donghae. Seharusnya ia menggunakan pakain miliknya sendiri, tapi karena terlalu kesal pada Donghae ia lupa menurunkan dua kopornya yang berada di dalam mobil Donghae. Alhasil sekarang ia harus kembali menggunakan pakaian milik Donghae yang membuatnya terlihat seperti karung beras berjalan.

“Hhah.. baiklah, kita akan mulai dengan ruang tamu.”

Yoona mulai menggeser meja dan juga sofa putih ke ujung ruangan. Ia ingin membuat ruang tamu itu tidak terlihat monoton dengan menambahkan beberapa vas bunga dan meja kecil untuk meletakan tanaman. Setidaknya ruang tamu yang terlihat suram itu akan terlihat sedikit hidup dengan adanya bunga-bunga cantik yang akan ia letakan di sudut kiri ruangan, di dekat pintu utama.

“Yoong…”

Yoona menolehkan kepalanya cepat ke belakang dan langsung menemukan Hyukjae sedang menatapnya bingung dengan dahi berkerut. Pria itu dengan senyum gusinya berjalan menghampiri Yoona dan memeluk wanita yang telah ia anggap sebagai adik kandungnya itu.

“Halo pengantin baru, bagaimana kabarmu hari ini?”

“Buruk. Apa yang oppa lakukan di sini?” Tanya Yoona heran. Karena terlalu asik memindahkan barang-barang milik Donghae ia jadi tidak mendengar apapun. Bahkan ia tidak tahu kapan Hyukjae membuka pintu rumahnya.

“Dimana Donghae? Kenapa kau memindahkan semua barangnya?”

“Dia pergi, dan sekarang aku sedang merombak sedikit tampilan rumahnya. Lihatlah, rumah ini tampak suram. Aku ingin rumah ini tampak lebih hangat dan juga hidup.” Ucap Yoona sambil menunjuk sudut-sudut ruang tamunya yang masih memiliki banyak ruang kosong.

“Dia meninggalkanmu sendiri di sini? Lee Donghae benar-benar keterlaluan. Apa kau tidak memiliki maid yang bisa membantumu?”

Yoona menggeleng. Donghae tidak akan pernah mengijinkannya memiliki maid karena pria itu ingin semua hal yang berkaitan dengan rumah tangga mereka hanya dikerjakan olehnya.

“Aku harus belajar mandiri dan juga disiplin mulai sekarang. Bahkan ia akan mengajariku beladiri besok. Setiap hari aku harus bangun pukul setengah lima dan mandi dengan air es yang super dingin di kamar mandinya. Oppa… jenderalmu itu memang kejam dan tidak memiliki perasaan.” Rengek Yoona seperti anak kecil. Hyukjae hanya mampu menatap Yoona prihatin sambil membantu Yoona menata barang-barang milik Donghae agar sesuai dengan selera wanita cantik di depannya. Dalam hati ia mengumpati sahabatnya sekaligus atasannya yang sangat kejam itu. Bahkan Donghae memperlakukan Yoona sama seperti ia memperlakukan anak buahnya sendiri. Ia benar-benar pria sakit jiwa.

“Kupikir kau tidak akan menikah dengan Donghae.”

Hyukjae tiba-tiba bersuara setelah mereka cukup lama terdiam. Yoona mendongakan kepalanya sambil sesekali menepuk debu halus yang menempel di kaosnya. Jujur ia tidak menyangka Hyukjuae akan mengatakan hal itu padanya karena sejak dulu Hyukjae sangat tahu bagaimana dirinya sangat tergila-gila pada Lee Donghae.

“Kami terikat pada perjanjian bodoh yang dibuat oleh orangtua angkat jenderal Lee dan orangtuaku.”

“Tidak. Ini pasti lebih daripada itu. Bukankah kau tahu bagaimana sikap kejam Donghae, aku khawatir dia akan hilang kendali suatu saat nanti dan kembali melukaimu. Tidak ada jaminan ia akan bersikap lunak seperti saat itu.”

Yoona menatap Hyukjae sendu. Sejujurnya ia tidak tahu mengapa ia sangat mencintai Donghae hingga sejauh ini. Selama ini ia tidak pernah memikirkan apapun mengenai sikap kejam pria itu, ia hanya sekedar mengikuti kata hatinya yang sangat yakin pada Donghae. Ia yakin Donghae adalah takdirnya yang akan memberikan kebahagiaan untuknya suatu saat nanti.

“Aku bisa menjaga diriku oppa. Jenderal Lee pasti tidak akan bersikap kasar padaku lagi setelah kami menikah.” Ucap Yoona menenangkan. Namun kata-kata itu lebih seperti ditunjukan untuk dirinya sendiri. Untuk menguatkan hatinya yang ragu dan juga bimbang setelah mendengar kata-kata dari Hyukjae.

“Jika Donghae melukaimu lagi, katakan padaku. Aku pasti akan memberikan pelajaran padanya jika ia berani melukaimu, meskipun itu hanya seujung kuku.”

Yoona tertawa mendengar kata-kata penuh janji Hyukjae. Ia tahu Lee Hyukjae memang sangat menyayanginya, dan ia benar-benar bersyukur karena telah mengenal Lee Hyukjae selama ini.

“Ngomong-ngomong apa hari ini kalian tidak melaukan sesuatu?”

“Hah, apa maksud oppa? Jika oppa berpikir jenderal Lee akan melakukan hal-hal romantis bersamaku, maka lupakan saja! Tapi hari ini kami pergi ke panti asuhan.”

“Oh, jadi Donghae mulai menunjukan masa lalunya.” Komentar Hyukjae datar. Ia tahu cepat atau lambat Donghae akan sedikit demi sedikit menunjukan bagaimana kehidupannya pada Yoona. Tapi yang selalu ia takutkan adalah sisi sociopat Donghae yang muncul. Pria itu akan berubah menjadi pria kejam yang sangat mengerikan jika sisi sociopatnya mulai terbangun dari tidur panjangnya. Sekilas Donghae memang mirip seperti seseorang yang memiliki alterego, namun Donghae tidak seperti alterego yang akan berubah menjadi pria manis atau pria yang baik karena seorang sociopat seperti Donghae hanya memiliki satu kepribadian yang akan terus terlihat sama. Hanya saja mereka akan lebih mengerikan saat sedang marah atau sesuatu yang menjadi milik mereka diusik oleh orang lain.

“Kau pernah datang ke panti asuhan itu?”

“Ya, beberapa kali. Kau pasti telah bertemu si gadis cerewet Krystal.”

“Aku bertemu dengan Krystal dan membicarakan banyak hal mengenai masa lalu mereka. Apa kau mengenal Kim Taeyeon? Krystal mengatakan padaku jika dulu mereka berempat adalah penghuni panti asuhan, Krystal, Kim Taeyeon, Jenderal Lee, dan juga Cho Kyuhyun. Tapi Cho Kyuhyun telah meninggal, sehingga hanya tersisa mereka bertiga.”

Hyukjae tampak berpikir. Ia tidak tahu siapa itu Kim Taeyeon, tapi ia sendiri juga merasa tidak asing dengan nama itu. Seperti ia pernah mendengarnya, namun ia lupa dimana tepatnya ia pernah mendengar nama itu. Dan seingatnya selama ini Donghae tidak pernah menceritakan apapun mengenai Kim Taeyeon padanya. Hanya Krystal satu-satunya wanita yang pernah dikenalkan padanya.

“Entahlah, aku sepertinya pernah mendengar nama itu, tapi aku tidak tahu dimana. Memangnya ada apa dengan wanita bernama Kim Taeyeon itu?”

“Dia adalah salah satu sahabat jenderal Lee. Kupikir oppa mengenalnya karena oppa sangat dekat dengan jenderal Lee.”

“Sebenarnya tidak juga. Ada hal-hal dimana Lee Donghae tidak menceritakannya padaku. Meskipun kami memang terlihat dekat, tapi Donghae selalu memiliki rahasia yang tidak ia bagi pada siapapun.”

Yoona mengangguk setuju membenarkan ucapan Hyukjae. Lee Donghae adalah pria paling misterius yang pernah dikenalnya. Dan ia mungkin membutuhkan waktu seumur hidupnya untuk mengenal Lee Donghae yang sesungguhnya.

-00-

Donghae berjalan tenang kedalam sebuah kafe bernuansa eropa klasik di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Seoul. Pria itu dengan pandangan lurus dan sorot mata tajam mengitari seluruh area kafe untuk mencari keberadaan seseorang yang ingin bertemu dengannya. Siang ini ia mendapatkan pesan dari seorang teman lama yang mengajaknya untuk bertemu di sebuah restoran eropa klasik. Memang sudah lama sekali mereka tidak bertemu, dan ia pikir ini adalah kesempatan yang bagus untuk bertemu dengan wanita itu.

“Lee Donghae.”

Donghae menganggukan kepalanya samar ketika ia melihat seorang wanita melambai kearahnya. Wanita dengan celana jeans, jaket kulit, serta topi hitam yang menyembunyikan wajahnya itu tampak tersenyum sumringah kearah Donghae yang sedang berjalan kearahnya.

“Hai, akhirnya kau datang.” Ucap wanita itu lega. Ia mengangsurkan secangkir americano yang telah ia pesan sebelumnya karena ia tahu jika Donghae sangat menyukai americano.

“Lama tidak berjumpa Taeyeon-ssi.” Sapa Donghae dengan gaya khasnya yang dingin namun selalu berhasil memikat siapapun lawan bicaranya.

“Selamat atas pernikahanmu dengan Im Yoona. Kenapa kau tidak mengundangku?” Gerutu Taeyeon kesal. Donghae menyeruput americanonya sedikit sebelum ia menjawab pertanyaan bernada kesal dari Taeyeon.

“Maaf, pernikahan itu memang mendadak dan aku sama sekali tidak ikut andil dalam persiapannya. Isteriku dan keluarga angkatku yang melakukannya.” Tambah Donghae. Taeyeon tampak mengerti, lalu ia mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang dari dalam tasnya. Dengan penuh senyuman Taeyeon memberikan kotak itu pada Donghae.

“Hadiah pernikahanmu. Seandainya kau mengundangku, aku pasti akan datang.”

Taeyeon tiba-tiba memegang tangan Donghae dan memaksa pria itu menerima hadiahnya. Namun dibalik sikap Taeyeon yang terlihat ceria itu Donghae tahu jika Taeyeon sebenarnya hanya mencuri-curi kesempatan untuk menyentuh tangannya. Sejak dulu ia sadar jika wanita itu tertarik padanya.

“Terimakasih atas hadiahnya.”

Donghae menarik tangannya menjauh dari Taeyeon dan meletakan kotak hitam itu di sebelah cangkir americanonya. Andai Taeyeon bukan salah satu sahabatnya, ia pasti tidak akan mau datang untuk menemui wanita itu. Apalagi ia sudah membohongi Yoona tentang pertemuannya ini. Ia merasa sedikit bersalah atas hal ini, meskipun ia tidak sepenuhnya berbohong pada wanita itu karena ia sedang menjalankan sebuah misi.

“Aa.. bagaimana kabar panti asuhan sekarang?”

“Baik. Datanglah ke panti asuhan, Krystal sangat merindukanmu.” Ucap Donghae apa adanya. Taeyeon tersenyum masam sambil menggelengkan kepalanya kecil. Meskipun ia masih peduli pada panti asuhan itu, namun ia tidak bisa kembali lagi ke sana. Sekarang ia telah memiliki kehidupannya sendiri. Kehidupannya yang glamour dan juga sempurna. Sekarang ia bukan lagi Kim Taeyeon gadis panti asuhan. Sekarang ia adalah seorang penyanyi Korea berbakat dan seorang isteri dari pria kaya raya, pemiliki sebuah perusahaan terbesar nomor dua di Korea dan seorang anggota dewan parlemen.

“Kau tahu sendiri bagaimana kondisiku dan juga Krystal, aku tidak mungkin ke sana.”

“Kenapa tidak? Semakin lama aku semakin tidak mengenalmu Kim Taeyeon.” Desis Donghae tajam sarat akan sindiran. Taeyeon tersenyum tipis sambil memandangi wajah pria tampan di depannya lekat-lekat.

“Aku bukan lagi Kim Taeyeon gadis panti asuhan yang lugu dan polos Lee Donghae. Kehidupanku telah berubah, jadi wajar jika kau tidak terlalu mengenalku sekarang. Lebih baik kita membahas masalah lain saja, aku sedang malas membahas masa lalu kelam kita.” Ucap Taeyeon mengalihkan pembicaraan. Separuh hatinya merasa kesal dengan sindiran Donghae, namun separuh hatinya lagi berusaha menenangkan dirinya agar ia tidak lepas kendali dan mengeluarkan seluruh emosinya di hadapan rekan masa kecilnya dulu. Ia harus terlihat baik-baik saja di hadapan Lee Donghae, meskipun saat ini ia ingin sekali menyingkirkan meja diantara mereka dan melompat ke dalam pelukan Donghae yang hangat. Sejujurnya ia cukup tersiksa dengan kehidupannya yang tidak pernah mendatangkan kepuasan untuknya. Meskipun ia kaya dan telah memiliki segalanya, ia merasa seperti sebuah cangkang kosong yang hanya menunggu cangkang itu hancur dengan sendirinya karena termakan usia.

“Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa mengenal putri menteri Im Jaehyuk dan memutuskan untuk menikah dengannya?” Tanya Taeyeon setelah mereka sempat bersitegang karena masalah masa lalu mereka yang rumit. Namun sebenarnya hanya Taeyeon yang merasa terganggu dan sempat menunjukan emosinya, sedangkan Donghae terlihat seperti biasa. Dingin tanpa emosi yang tercetak di wajahnya.

“Apakah itu penting? Lebih baik kita membicarakan masalahmu karena kau yang memintaku untuk datang.” Balas Donghae dingin. Ia benar-benar jengah dengan pertanyaan itu. Memangnya kenapa jika ia menikah? Toh sejak dulu ia adalah pria normal. Ia hanya sekedar menghindari sebuah komitmen macam pernikahan karena ia sadar jika komitmen dalam hubungan pernikahan akan membuatnya lebih lemah hingga dapat menjegal langkahnya sebagai seorang jenderal.

“Masalahku? Oh, masalahku adalah aku tidak bisa bahagia. Asal kau tahu Lee Donghae, aku merasa tidak pernah bahagia meskipun aku telah menjadi penyayi yang sukses, menikah dengan pria-pria kaya dan berhasil mengeruk harta kekayaan dari suami-suamiku. Aku selalu merasa kosong. Seperti ada sebuah lubang yang menganga begitu besar di hatiku.”

“Itu karena kau tidak pernah mengikuti saranku. Aku memintamu untuk berhenti dan memulai karirmu dengan jalan yang bersih, tapi kau mengabaikanku dan terus melangkah dengan jalan yang kau pilih. Jadi apa yang harus kukatan sekarang untuk masalahmu? Lain kali kau harus memikirkannya baik-baik sebelum memutuskan untuk bertemu denganku karena untuk bertemu denganmu aku harus meninggalkan isteriku sendiri di rumah.”

Taeyeon semakin tersenyum getir dibalik topi hitam yang menyembunyikan sebagian wajahnya. Pria yang sedang duduk di hadapannya itu memang bukan jenis pria peka yang akan dengan mudah menangkap maksud tersembunyi di balik kalimatnya. Tapi sudahlah, ia tidak mau memikirkan hal itu lagi. Hatinya akan semakin koyak jika ia terus berkubang di dalam kesedihan yang sama.

“Kau pasti sangat mencintai isterimu. Kenapa akhirnya kau memutuskan untuk memilih Im Yoona setelah dulu kau selalu menolak wanita manapun yang mencoba mendekatimu, termasuk aku.” Bisik Taeyeon pelan diakhir kalimatnya. Kabar mengenai pernikahan Lee Donghae dan juga Im Yoona benar-benar membuat Taeyeon terkejut dan uring-uringan sepanjang hari. Sejak dulu ia selalu menunjukan gelagat ketertarikan pada sahabatnya yang tampan itu, namun pria itu tidak pernah menyambutnya. Lee Donghae tidak pernah meliriknya sedikitpun dan hanya memposisikan dirinya sebagai teman cerita setelah ia benar-benar keluar dari panti asuhan. Selama ini satu-satunya sahabat yang dimilikinya adalah Donghae. Jika dulu Krystal sangat dekat dengan Kyuhyun, maka ia sangat dekat dengan Donghae. Sayangnya Lee Donghae bukan tipe pria yang mudah untuk ditaklukan. Siang itu sebelum ia memutuskan untuk keluar dari panti asuhan, ia mencoba mengatakan pada Donghae jika ia menyukainya. Namun Donghae justru terdiam kaku dan menyuruhnya untuk mengusir perasaan bodoh itu secepatnya karena ia tidak akan pernah membalas perasaan wanita manapun. Setelah itu ia memutuskan untuk pergi dari panti asuhan dan hidup bersama kekasihnya yang merupakan pemilik bar tempat ia bekerja sebagai penyanyi dengan harapan ia bisa melupakan rasa sukanya pada Donghae dan juga melupakan kesedihannya karena kehilangan Kyuhyun. Sedikit banyak ia menyalahkan Krystal atas meninggalnya Kyuhyun karena semua petaka itu memang berasal dari Krystal. Jika Krystal tidak mencurigainya dan mengajak Kyuhyun untuk memata-matainya, maka semuanya akan baik-baik saja. Ditambah lagi perasaan bodoh yang tumbuh di hatinya untuk Donghae semakin membuatnya tidak sanggup untuk tinggal di panti asuhan itu lebih lama lagi.

“Kembalilah ke jalurmu Kim Taeyeon. Kau tidak berhak mengatur perasaanku.” Peringat Donghae untuk yang kesekian kalinya. Namun Taeyeon sama sekali tidak terpengaruh dengan peringatan itu. Ia justru tertawa sinis sambil menatap Donghae tajam.

“Sekarang aku tahu, kau tidak benar-benar mencintai isterimu bukan? Ada apa Lee Donghae? Apa alasanmu sebenarnya menikahi Im Yoona, hmm?”

Donghae diam. Ia terlihat tidak terpancing sedikitpun dengan provokasi yang sedang dilakukan Taeyeon.

“Kau benar, aku menikahi Yoona bukan karena cinta tapi untuk memperkuat posisiku. Dengan menjadi menantu menteri Im, jabatanku sebagai jenderal akan semakin kuat.”

 

Taeyeon tersenyum puas. Analisisnya memang tepat. Lee Donghae tidak akan mungkin melakukan sesuatu tanpa membawa keuntungan bagi dirinya sendiri. Dan selama ini ia melakukan seperti apa yang Donghae lakukan. Ia mendekati pria-pria kaya yang berkuasa untuk memperkuat posisi artisnya karena dunia hiburan adalah dunia yang kejam. Jika ia tidak pintar-pintar memanfaatkan situasi, maka ia akan kembali tergelincir ke kehidupannya yang menyedihkan.

“Aku tahu kau tidak pernah mencintai siapapun Lee Donghae. Kau hanya mencintai dirimu sendiri, sama sepertiku.”

Donghae tersenyum menyeringai kearah Taeyeon dan menyeruput sisa kopinya dengan gaya ponggah yang berkelas. Wanita itu sepertinya telah masuk kedalam permainannya.

“Aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik Taeyeon.”

Lee Donghae lantas beranjak begitu saja dari kursinya dan segera berjalan menjauh meninggalkan Taeyeon.

Sementara itu kedua mata Taeyeon tak bisa lepas dari punggung tegap Donghae yang mulai menghilang dibalik pintu coklat tinggi yang memisahkan antara kafe dan area pusat perbelanjaan yang lain. Ia berharap dapat bertemu dengan sahabat masa kecilnya itu lagi agar ia dapat mengisi lubang di hatinya yang semakin menganga.

“Oppa? Ya, aku akan segera pulang. Tunggu aku di rumah oppa.”

Taeyeon mematikan sambungan teleponnya dan segera beranjak berdiri dari kursinya yang nyaman. Sebelum pergi ia sempat merapikan sedikit penyamarannya dan menyelipkan beberapa lembar uang di bawah cangkir kopi pesanannya. Kini saatnya ia kembali ke kehidupan penuh dramanya lagi bersama suami bodohnya yang tolol.

-00-

Malam telah beranjak semakin larut dan angin berhembus cukup kencang menerbangkan daun-daun kering yang berguguran di tanah. Rembulan malam ini juga tampak malu-malu memunculkan sinarnya dan memilih untuk bersembunyi dibalik awan pekat yang siap menumpahkan titik-titik air ke permukaan bumi. Donghae baru saja turun dari mobil SUVnya dan ia langsung mendapat sambutan dari anak buahnya yang berjaga di rumahnya.

“Yoona sudah tidur?” Tanya Donghae pada salah satu anak buahnya.

“Sudah jenderal. Kami telah mengecek keadaan rumah lima belas menit yang lalu, dan sepertinya nyonya Yoona sudah berada di dalam kamarnya.” Jawab tentara muda itu lugas. Donghae menggangguk kecil dan segera berlalu masuk ke dalam rumahnya. Pukul setengah dua belas malam. Sebenarnya ia tidak berniat untuk pulang selarut ini, tapi keadaan yang memaksanya. Setelah bertemu Taeyeon, ia mendapatkan telepon dari ayahnya yang memintanya untuk bertemu di Blue House. Kemudian saat ia hendak pulang pukul delapan tadi, mertuanya tiba-tiba memanggilnya dan mengajaknya untuk makan malam bersama. Sebenarnya itu bukan sekedar makan malam biasa karena sepanjang acara makan malam itu tuan Im terus menjejalinya dengan berbagai macam wejangan untuk menjaga Yoona.

Lee Donghae tanpa sadar menyentuh telinganya sambil menggeram gusar dengan setiap kalimat yang dijejalkan tuan Im ke dalam telinganya. Andai ia tidak memiliki kontrol diri yang baik, ia pasti sudah mengeluarkan seluruh umpatan kasarnya karena ia tidak pernah suka digurui. Sebagai seorang pria dan tentu saja suami dari Lee Yoona ia jelas tahu apa yang menjadi kewajibannya. Ia tidak perlu lagi mendapatkan berbagai wejangan karena ia benar-benar telah memahami seluruh perannya dan juga tugasnya.

Cklek

Donghae membuka pintu kayu di depannya perlahan dan ia menemukan isi kamarnya yang tampak sedikit berbeda. Ia kemudian melirik Yoona yang sedang bergelung nyaman di atas ranjangnya dengan pakaian miliknya yang tampak kebesaran. Ia yakin siang ini wanita itu telah melakukan sesuatu dengan rumahnya. Terbukti dengan beberapa barang miliknya yang tidak lagi berada di tempat semula. Namun ia merasa tidak masalah dengan semua itu. Asalkan Yoona tidak mengusik ruang senjatanya, maka ia akan tetap baik-baik saja.

Dengan langkah tenang tanpa menimbulkan suara, Donghae mulai berjalan menuju rak sepatu miliknya di ujung ruangan. Ia melepaskan sepatunya dan meletakannya dengan rapi di atas rak sepatu yang posisinya kini telah berubah. Setelah itu ia berjalan menuju ranjang dan mulai merangkak naik untuk menyusul Yoona ke alam mimpi. Namun sebelum ia benar-benar memejamkan mata, Donghae menyempatkan diri untuk menatap Yoona sebentar sambil memikirkan perkataan Taeyeon siang tadi padanya. Ia tidak mencintai Yoona. Tidak! Perasaan itu tidak pernah ada di dalam dirinya. Namun ia juga tidak semata-mata memanfaatkan Yoona untuk menguatkan posisinya sebagai jenderal. Lalu apa alasannya menikahi Yoona? Balas budi, menggantikan posisi Taecyeon, dan karena ia kasihan pada wanita itu. Ya, itulah alasannya menikahi Yoona. Bukankah ia tidak terlalu buruk? Setidaknya ia menikahi Yoona bukan untuk memanfaatkan wanita itu. Dan karena ia telah memilih untuk menikahi Yoona, maka ia akan mencoba berkomitmen pada wanita itu.

“Jenderal Lee…”

Yoona mendesah pelan dalam tidurnya dan tiba-tiba berbalik kearahnya. Bibir wanita itu bergerak-gerak sedikit dan kelopak matanya tampak hampir terbuka. Namun setelahnya ia kembali memejamkan mata sambil bergelung dengan nyaman di dalam dada bidang Donghae. Donghae menatap Yoona tajam dengan kedua tangannya yang berada di sisi kanan dan sisi kiri tubuhnya. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya ketika Yoona dalam kondisi tidak sadar memeluknya. Ia pun akhirnya memeluk Yoona dan menenggelamkan tubuh kecil Yoona di dalam tubuhnya yang besar. Nalurinya sebagai pria yang ingin melindungi wanitanya muncul begitu saja sesaat setelah melihat Yoona bergelung di dalam dada bidangnya. Ada perasaan nyaman dan juga damai melihat Yoona sedang tertidur nyeyak di dalam dekapannya.

“Kau terlihat lebih manis saat tidur, tapi kau akan menjadi wanita cerewet saat membuka mata.” Gumam Donghae pelan. Ia lantas mengecup puncak kepala Yoona yang menguarkan aroma khas bunga lavender yang menenangkan lalu ia memejamkan matanya sejenak untuk meresapinya. Selain menyukai darah Yoona yang manis, ia juga menyukai aroma tubuh Yoona yang unik. Ia belum pernah mencium wangi seperti milik Yoona pada wanita lain, wanita yang menjadi targetnya atau wanita yang dengan terang-terangan mengaguminya. Jadi apa ia harus mensyukuri pernikahannya? Tapi tetap saja ia mengkhawatirkan masa depan Yoona. Seharusnya dulu ia tidak gegabah mengatakan pada ayah angkatnya untuk menggantikan posisi Taecyeon menikahi Yoona. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan pria brengsek seperti Taecyeon menikahi Yoona. Yoona adalah wanita baik hati dengan hati selembut kapas yang harus dijaga oleh pria yang tepat. Sayangnya ia sendiri juga bukan pria yang tepat untuk Yoona. Masih teringat dengan jelas di kepalanya bagaimana ayah mertuanya bersikap sinis padanya malam ini. Tuan Im dengan terang-terangan mengatakan padanya jika ia sebenarnya tidak terlalu suka dirinya menjadi suami putrinya. Jika ia hanya menjadi pengawal putrinya, tuan Im masih bisa mempercayainya, namun untuk menjadi suami dari anaknya, sejujurnya ia belum benar-benar bisa menerima hal itu. Namun melihat Yoona bahagia saat bersama dengan dirinya membuat tuan Im tidak bisa berbuat apapun. Sebagai seorang ayah ia bisa merasakan getar-getar kebahagiaan yang dirasakan oleh putrinya. Dan tuan Im tahu jika dulu Yoona sama sekali tidak menyukai Taecyeon. Ia melihat Yoona lebih bahagia saat menghabiskan hari-harinya bersama Donghae yang saat itu sedang menjadi pengawalnya. Dari sanalah tuan Im kemudian menyimpulkan jika putrinya selama ini menyukai jenderal Lee yang terkenal dingin dan juga kejam. Dan secara kebetulan isterinya dulu meminta dirinya untuk menikahkan Yoona dengan putra dari sahabatnya, Park Hyunjeong, sehingga ia tidak bisa melakukan apapun lagi selain menerima pernikahan itu dan menyerahkan Yoona pada pria dingin yang terkenal kejam seperti Lee Donghae.

Donghae tanpa sadar mengepalkan tangannya kesal dengan setiap sikap sinis yang ditunjukan ayah mertuanya padanya. Meskipun ia tidak peduli dengan hal-hal remeh seperti itu, tapi ia tetap merasa kesal jika orang lain meremehkannya. Terlebih lagi orang itu adalah ayah mertuanya sendiri. Akan ia buktikan pada ayah mertuanya jika ia bisa melindungi Yoona dengan caranya sendiri. Meskipun ia juga tidak bisa menjamin Yoona akan tetap utuh tanpa luka. Setidaknya ia tetap akan menepati janjinya pada Tuhan di altar jika ia akan menjaga Yoona seumur hidupnya.

-00-

Yoona menggeliat pelan sambil mengucek-ucek matanya. Namun kedua matanya masih terasa enggan untuk terbuka. Ia justru kembali merapatkan tubuhnya ke sisi kanan untuk mencari kehangatan yang sejak tadi melingkupinya. Dengan nyaman Yoona kembali memejamkan matanya dan berniat untuk melanjutkan tidurnya. Namun suara dingin yang sangat dikenalnya tiba-tiba menyusup ke dalam indera pendengarannya dan memaksanya untuk segera membuka matanya yang berat.

“Bangun. Kau harus sudah siap pukul setengah lima tepat nona manja.”

Yoona membuka matanya perlahan dan mendongakan kepalanya ke atas. Refleks ia langsung bergeser mundur setelah ia sadar jika sejak tadi ia begitu posesif memeluk Donghae. Seketika pipi putihnya berubah menjadi merah padam dan ia menjadi salah tingkah pada Donghae. Padahal pria di depannya saat ini justru menatapnya datar tanpa terlihatan keberatan sedikitpun dengan sikapnya yang sangat posesif sejak semalam.

“Kkapan kau pulang?” Tanya Yoona terbata-bata. Ia mencoba menormalkan degup jantungnya dan mulai menguasai dirinya lagi yang sempat bertingkah bodoh di depan Lee Donghae.

“Pukul setengah dua belas.” Jawab Donghae pendek. Yoona dengan takut-takut mencoba mendongakan kepalanya dan menatap mata Donghae yang saat ini sedang menatapnya dengan iris matanya yang tajam. Untuk pertama kalinya ia melihat penampilan Donghae yang acak-acakan khas pria yang baru bangun tidur. Meskipun begitu Donghae tetap terlihat tampan dimatanya. Rambutnya yang tidak tersisir rapi seperti biasanya menambah kesan seksi yang membuat Yoona dengan susah payah menelan ludahnya. Ditambah lagi posisi pria itu yang kini sedang berbaring miring dengan salah satu tangannya yang ia jadikan bantal, membuat Donghae tampak seperti pria-pria hot yang sering ia lihat di dalam majalah-majalah fashion.

 

Damn! Kenapa jenderal Lee sangat seksi. Ya Tuhan, ia bisa membuatku pingsan hanya dengan tatapannya yang tajam itu!

 

Yoona terlihat sibuk membatin dengan gerakan mata yang tak bisa berhenti dari tubuh Donghae dari ujung kepala hingga ujung kaki. Namun kesenangannya itu tidak bertahan lama karena Donghae langsung menginterupsinya dengan kalimatnya yang tajam dan juga dingin.

“Apa kau sedang menelanjangiku dengan kedua matamu yang hampir menggelinding keluar itu? Cepat bangun dan mandi, waktumu haya tersisa dua puluh tiga menit.”

“Aaapa?”

Seakan tersadar dari lamunannya, Yoona segera bangkit berdiri dan berjalan terbirit-birit menuju kamar mandi. Wajahnya kini benar-benar terlihat memerah hingga terasa panas. Pria itu telah menangkap basahnya sedang berfantasi liar dengan tubuhnya. Lee Donghae pasti akan berpikiran macam-macam tentangnya setelah ini. Seharusnya ia bisa mengendalikan dirinya untuk tidak terlalu mengangumi penampilan acak-acakan Donghae di pagi hari yang sangat seksi. Tapi sayangnya ia tidak bisa, karena Donghae terlalu seksi untuknya.

“Arghh.. apa yang baru saja kulakukan!” Runtuk Yoona kesal. Ia masih berusaha menormalkan degup jantungnya sambil mengipasi wajahnya yang masih terasa panas. Setelah ia merasa lebih baik, ia segera menyalakan keran bathtube dan mengisinya dengan air dingin. Seketika Yoona bergidik ngeri dan tidak ingin mandi. Tapi jika ia tidak mandi, Donghae pasti akan menghukumnya. Ia pun akhirnya mencelupkan tubuhnya ke dalam bathtube yang telah penuh dan langsung menggigil kedinginan setelahnya. Ingin rasanya ia melompat keluar dan langsung berpakaian karena ia benar-benar tidak kuat dengan hawa dingin yang mulai menusuk-nusuk tulangnya.

“Astaga! Aku tidak ingin mandi!” Teriak Yoona sambil memejamkan matanya kedinginan. Secepat kilat ia segera mengambil sabun dan menyelesaikan kegiatan mandinya secepat yang ia bisa. Setelah itu ia segera mengambil bathdrobenya dan melangkah terburu-buru keluar dari kamar mandi.

“Aku sudah selesai.” Ucap Yoona di depan pintu kamar mandi. Donghae yang baru saja melakukan perenggangan dengan tubuh topless langsung menatap Yoona intens sambil mengamati tubuh kecil Yoona yang tampak tenggelam dibalik bathdrobe miliknya.

“Pakaianmu masih berada di dalam mobil.”

“Kalau begitu aku akan mengambilnya.” Ucap Yoona cepat karena ia tidak kuat lagi berada di dalam satu ruangan dengan Donghae. Terlebih lagi Donghae sedang topless. Pikiran sucinya langsung terkotori begitu saja dengan pemandangan indah di pagi hari yang mampu membuat jantungnya berdegup ribut. Sebentar lagi mungkin ia akan terkena serangan jantung tiba-tiba karena penampilan seksi Donghae pagi ini.

“Kau tunggu di sini, aku yang akan mengambil kopor-kopormu.”

Tanpa menunggu jawaban dari Yoona, Donghae langsung berjalan keluar dan meninggalkan Yoona sendiri dengan wajah yang kembali bersemu merah.

“Ya Tuhan, ada apa dengan diriku?”

Yoona mengipas-ngipas wajahnya di depan cermin sambil menggembungkan pipinya lucu. Ia sekarang terlihat seperti buah strawberry raksasa karena seluruh wajahnya yang benar-benar merah.

“Ada apa dengan wajahmu?”

“Hahh!!”

Yoona berjengit kaget ketika Donghae tiba-tiba telah menundukan wajahnya di sebelahnya. Pria itu menatap pantulan wajah Yoona dari cermin dengan wajah datar tanpa ekspresinya. Namun hal itu berhasil membuat Yoona salah tingkah dan langsung melangkah menjauhi Donghae.

“Tidak, ha hanya… hanya kedinginan.” Bohong Yoona. Ia segera beralih pada kopornya dan berpura-pura menyibukan diri dengan mengaduk-aduk isi kopornya. Setelah itu ia segera melangkah menuju kamar mandi untuk mengenakan pakaiannya.

“Cepat. Aku akan menunggumu di bawah.” Teriak Donghae sedikit keras dari luar kamar mandi. Yoona bergumam pelan dan ia segera mengenakan pakaiannya secepat yang ia bisa. Jangan sampai ia mendapatkan amukan dari Donghae atau hukuman. Karena pria itu tidak pernah main-main dengan hukuman yang akan ia berikan. Meskipun Yoona adalah isterinya sendiri.

-00-

“Push up lima puluh kali!”

“Apa?”

Yoona berteriak kesal setelah ia selesai melakukan sit up sebanyak tujuh puluh kali. Napasnya terlihat masih memburu dan peluh juga tampak menetes-netes membanjiri pelipisnya. Belum lagi detak jantungnya masih berdegup kencang karena sejak tadi pria itu terus menyuruhnya melakukan olahraga fisik yang sangat melelahkan. Sebelumnya pria itu juga menyuruhnya untuk berlari mengelilingi halaman rumahnya sebanyak sepuluh kali. Dan sekarang pria itu menyuruhnya untuk melakukan push up. Lee Donghae memang gila! Ia benar-benar akan menjadikan isterinya sendiri seperti anak buahnya yang tangguh dan kuat di militer.

“Aku tidak menerima protes. Cepat lakukan!”

Dengan wajah gusar Yoona mulai memposisikan dirinya untuk bersiap push up. Rasanya tangan dan kakinya sebentar lagi akan patah karena ia tidak terbiasa melakukan olahraga fisik yang sangat berat seperti itu. Selama ini ia hanya melakukan joging disekitar rumahnya. Bersyukur ia memiliki tubuh yang ramping, sehingga ia tidak pernah repot-repot melakukan olahraga berat di rumah. Namun sekarang Lee Donghae justru memperlakukannya seperti seorang tentara rendahan yang harus melakukan ini dan itu.

“Satu!”

Yoona mulai menekuk tangannya ke bawah untuk memulai gerakan push up. Di sebelahnya Donghae juga melakukan hal yang sama dengannya. Sejak tadi pria itu terus menemani Yoona melakukan olahraga fisik. Tidak mungkin ia hanya menyuruh Yoona melakukan olahraga ketahanan fisik sedangkan ia tidak ikut melakukannya. Ia bukan tipe pria seperti itu!

“Dua!”

Yoona mengikuti setiap aba-aba yang diberikan Donghae hingga pria itu selesai menghitung. Kedua lengannya kini terasa berkedut nyeri karena dipaksa untuk melakukan pekerjaan berat. Sedangkan Donghae tampak begitu santai sambil mengelap peluhnya menggunakan handuk kecil di sebelahnya.

“Seharusnya aku tidak perlu mandi tadi.” Gerutu Yoona kesal. Sekarang seluruh tubuhnya terasa lengket dan juga bau. Ia harus mandi lagi dan merasakan dinginnya air kamar mandi Donghae yang sangat mengerikan itu lagi.

“Apa aku menyuruhmu mandi? Bodoh!”

“Bodoh? Kau yang bodoh dan kejam jenderal Lee. Kau ingin membuatku terlihat seperti kuli? Otot-otot tanganku akan besar seperti milikmu dan aku tidak akan terlihat anggun lagi.” Sembur Yoona kesal. Beberapa tentara muda yang kebetulan lewat sesekali mencuri-curi pandang kearah mereka yang terlihat begitu kontras. Yoona yang cerewet dan Donghae yang dingin.

“Perhatikan jalan di depan kalian atau kalian akan celaka karena kebodohan kalian sendiri.” Teriak Donghae tegas pada anak buahnya. Seketika mereka langsung pergi begitu saja dengan kepala kaku yang langsung menghadap ke depan. Yoona yang melihat itu refleks menirukan gaya bicara Donghae dengan wajah yang sengaja ia buat sejelek mungkin. Ia terlalu kesal pada Donghae karena pria itu hari ini membohonginya. Kemarin pria itu mengatakan jika mereka hanya akan berlatih beladiri, tapi nyatanya ia juga harus melakukan olahraga fisik yang melelahkan. Rasanya ia ingin pulang ke rumah ayahnya dan berlindung dibalik punggung tegap ayahnya agar Donghae tidak bisa menyuruhnya melakukan ini dan itu sesuka hatinya.

“Dasar manja. Jangan harap ayahmu dapat menolongmu karena kau adalah milikku. Setelah kau menikah denganku, maka ayahmu tidak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga kita.”

“Tapi kau menyiksaku dan hampir membunuhku!” Balas Yoona tak kalah sengit. Tiba-tiba saja Donghae telah memojokannya ke dinding dan mengunci tubuhnya dengan lengan kekarnya yang keras. Pria itu menghimpit tubuh kecilnya dengan tubuhnya yang besar dan menekan lengan kanannya pada leher Yoona hingga Yoona merasa sesak dan terbatuk-batuk beberapa kali.

“Uhuukk.. uhuukk… jenderal Lee… Lllepaskan! Uhuuk uhuukk..”

“Hmm, ini yang dinamakan hampir membunuh Lee Yoona. Bagaimana rasanya?”

Yoona bergidik ngeri dengan perubahan wajah Donghae yang tampak mengerikan. Sisi gila pria itu tiba-tiba muncul begitu saja karena terpancing oleh emosi Yoona yang meledak-ledak. Padahal beberapa hari sebelumnya pria itu telah berhasil mengendalikan dirinya. Namun entah kenapa pagi ini ia kembali kehilangan kendali dirinya dan hampir membunuh Yoona. Untuk beberapa saat Donghae masih bertahan pada posisinya sebelum akhirnya melepaskan Yoona dengan keadaan Yoona yang sedikit lemas di depannya.

“Jangan pernah berteriak padaku lagi.” Desis Donghae marah dan langsung meninggalkan Yoona begitu saja yang masih mencoba menormalkan detak jantungnya yang menggila. Lagi-lagi ia hampir mati di tangan Donghae. Untung saja pria itu kembali mendapatkan kewarasannya sebelum hal buruk itu terjadi. Dengan langkah terhuyung-huyung Yoonapun bergegas menuju basement milik suaminya karena Donghae tidak mungkin membatalkan sesi latihannya meskipun ia hampir mati kehabisan napas karena himpitan pria itu di lehernya.

-00-

“Jenderal Lee…”

Yoona memanggil Donghae pelan sambil menyusuri undakan batu menuju ruang senjata milik Donghae. Setelah meminum segelas air dan menormalkan detak jantungnya Yoona tampak lebih baik. Ia melupakan peristiwa mengerikan itu begitu saja dan kembali bersikap biasa seolah-olah tidak pernah terjadi apapun padanya. Padahal ia hampir saja mati beberapa menit yang lalu.

“Kemarilah, latihan pertamamu adalah memukul samsak ini dengan benar.”

Yoona melihat Donghae sedang berdiri di depan samsak besar di sebuah ruangan yang berukuran cukup besar di sisi kanan yang juga berada di dalam ruang senjata milik Donghae.

“Aku tidak tahu jika kau memiliki ruangan ini jenderal.” Ucap Yoona tampak terkagum-kagum dengan desain interior ruang berlatih yang terlihat lebih elegan dan juga tidak suram. Mungkin karena ruangan itu difungsikan sebagai ruang berlatih, maka Donghae memberikan banyak pencahayaan di dalamnya. Sedangkan untuk ruang senjata, Donghae tidak terlalu memberikan banyak pencahayaan karena ruangan itu juga difungsikan untuk mengintrogasi korban-korbannya.

“Lakukan seperti yang kulakukan.”

Bugh bugh

Donghae memukul dan menendang samsak itu dengan keras di depan Yoona. Lalu ia menyingkirkan tubuhnya ke samping kanan agar Yoona dapat berlatih memukul samsak di depannya.

Dengan kikuk Yoona mulai menirukan apa yang dilakukan Donghae. Dan ternyata memukul samsak tidak semudah yang ia bayangkan. Samsak yang sebelumnya terlihat seperti guling itu nyatanya tidak seempuk guling yang sering ia peluk di kamarnya. Samsak itu lebih keras dan juga sangat menyakitkan ketika mengenai punggung tangannya dan juga kakinya. Ia ingin menyerah dan menyudahi latihan itu. Tapi Donghae menatapnya tajam dan terus menyuruhnya untuk melakukan hal itu berulang kali hingga ia benar-benar puas dengan hasil latihan Yoona pagi ini.

Tiga puluh lima menit kemudian akhirnya Donghae menyuruhnya untuk berhenti. Pria itu melirik jam tanganya dan melihat jika jam telah menunjukan pukul enam pagi. Satu jam lagi ia memiliki janji bertemu dengan beberapa kapten untuk membicarakan masalah keamanan negara. Ia pun memutuskan untuk menyudahi sesi latihan hari itu dan menyuruh Yoona untuk segera melakukan tugasnya sebagai isteri yang baik.

“Memasaklah, satu jam lagi aku harus pergi.” Ucap Donghae acuh tak acuh. Yoona yang terlihat kelelahan di atas matras tampak malas untuk beranjak ke atas. Ia masih sangat lelah, dan dengan seenaknya pria itu memerintahnya untuk memasak. Ia tidak sanggup hidup seperti ini, ia membutuhkan para maidnya.

“Kau makan saja di luar jenderal, aku lelah.” Ucap Yoona halus sambil memejamkan matanya. Namun sedetik kemudian Yoona merasakan tubuhnya diguncang dengan cukup keras dan kedua tangannya tiba-tiba ditarik untuk berdiri.

“Apa gunanya memiliki isteri jika aku tetap makan di luar. Kau harus memasak untukku Lee Yoona.” Desis Donghae penuh penekanan. Lagi-lagi pria itu menggunakan statusnya sebagai isteri untuk memperbudaknya. Ya, ia menganggap Donghae telah memperbudaknya karena pria itu terus menyuruhnya melakukan ini dan itu tanpa memikirkan fisiknya yang sudah sangat kelelahan.

“Lalu apa gunanya aku memiliki suami jika ia tidak bisa melindungiku dan memperlakukanku seperti tentara rendahan.” Balas Yoona sengit. Donghae menatap Yoona tajam dan Yoona langsung teringat peristiwa pencekikan beberapa saat yang lalu. Dengan takut ia segera mengalihkan pandangan matanya kearah lain untuk mengurangi kegugupannya karena tatapan mengintimidasi Donghae.

“Lihat aku.”

Donghae memaksa Yoona menatap wajah tampannya yang dingin dan juga mengerikan. Susah payah Yoona meneguk ludahnya di depan Donghae saat pria itu menatapnya dengan intens. Namun sedetik kemudian Donghae menunjukan senyum manisnya di depan Yoona. Pria itu benar-benar menunjukan senyum manisnya yang tampak tulus hingga Yoona dibuat terkejut oleh pria itu. Ia refleks mengangkat tangannya untuk membelai wajah Donghae yang tampak seperti malaikat di depannya. Dan dengan penuh kelembutan Donghae mengecup jari-jarinya hingga membuat dirinya terasa akan melayang karena perlakuan lembut yang Donghae tunjukan padanya.

“Kau tidak marah?” Tanya Yoona memastikan.

“Marah? Untuk apa aku marah pada isteriku sendiri, hm?” Bisik Donghae tepat di depan bibir Yoona. Seketika Yoona merasa gugup karena tak berapa lama Donghae langsung melumat bibirnya dan menggigit ujung bibirnya seperti biasa dengan cukup keras. Yoona refleks membuka mulutnya karena merasakan sengatan perih di ujung bibirnya. Hal itu lantas dimanfaatkan Donghae untuk menerobos masuk ke dalam mulut Yoona untuk memperdalam ciuman mereka yang menggebu-gebu.

“Kau tahu aku suka memiliki isteri yang bisa mengimbangiku.” Bisik Donghae ketika mereka telah mengakhiri tautan bibir mereka yang menggebu. Yoona yang masih terengah-engah mencoba merespon ucapan Donghae dengan bertanya pada pria itu karena ia cukup bingung dengan kalimat ambigu yang sering dilontarkan Donghae padanya.

“Apa maksudmu jenderal Lee?”

“Bukankah menyenangkan jika kau juga bisa mengimbangi ciumanku yang menggebu-gebu? Sama halnya dengan beladiri Yoona, jika kau bisa mengimbangiku, maka rasanya akan lebih….. fantastis.” Bisik Donghae sensual di telinga Yoona. Yoona merasakan bulu kuduknya meremang seiring dengan bisikan Donghae yang sensual dan hembusan napas pria itu yang terasa menggelitik di sekitar titik sensitifnya. Ia dengan tidak nyaman berusaha melepaskan diri dari Donghae yang telah mengurungnya sejak tadi dengan tubuh berototnya. Namun pria itu rupanya belum mengijinkan Yoona untuk pergi. Ia tidak akan melepas Yoona begitu saja sebelum ia memberikan sedikit pelajaran pada wanita itu.

“Kau tahu, aku tidak pernah menikahi wanita untuk menjadi anak buahku. Tidak Yoona, aku tidak menganggapmu sebagai anak buahku.” Bisik Donghae lagi sambil membelai wajah Yoona dengan ekspresi dingin mengerikan khas psikopat. Yoona mau tidak mau mencoba menghadapi Donghae yang lagi-lagi kembali bersikap mengerikan di depannya. Entah sampai kapan ia akan terus seperti ini, merasakan ketakutan dan cinta dalam satu waktu.

“Yoona.. Yoona… Yoona… Kau adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuatku kehilangan kendali. Hmmmhaahh..”

Donghae menghirup aroma rambut Yoona yang telah bercampur dengan aroma keringat yang khas. Pria itu menghirupnya sambil memejamkan matanya rapat-rapat, seakan-akan ia begitu memuja aroma itu dan memuja sang wanita pemiliki aroma itu, Lee Yoona. Akhir-akhir ini ia memang merasa gila karena Yoona. Wanita itu adalah satu-satunya wanita yang berani menentangnya dan juga membentaknya dengan gaya angkuhnya. Selain itu Yoona adalah satu-satunya wanita yang berani memberikan perasaan cinta pada seorang pria sociopat sepertinya. Ia pikir Yoona dan dirinya adalah dua orang yang sama. Sama-sama gila, namun dengan cara mereka masing-masing.

“Jjenderal Lee, ada apa denganmu?”

“Aku? Aku baik-baik saja sayang. Saat ini aku sedang tidak ingin melukaimu, jadi kau tenang saja. Aku hanya sedikit memberimu… pelajaran!”

“Akhh..”

Yoona tersentak kaget ketika Donghae tiba-tiba menarik pinggangnya hingga tubuhnya membentur tubuh tegap Donghae yang keras. Perlahan-lahan Donghae mendekatkan wajahnya kearahnya dan menempelkan dahinya tepat di dahinya dengan tatapan mata tajam yang membuat Yoona semakin gentar untuk membalas tatapan Donghae yang setajam tatapan elang yang hendak memburu mangsanya.

“Menurutmu apa aku pernah melakukan ini pada anak buahku? Jawab!” Ucap Donghae keras. Yoona memejamkan matanya sejenak untuk meredam ketakutannya dan sedetik kemudian ia membuka matanya kembali sambil menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi Donghae menunjukan sisi dirinya yang lain. Padahal baru beberapa saat yang lalu pria itu memperlakukannya dengan sangat lembut, bahkan tersenyum manis di depannya. Tapi sekarang, pria itu telah berubah menjadi sosok Lee Donghae yang kejam dan tak berperasaan. Apa ini pelajaran yang dimaksud oleh Lee Donghae? Pelajaran yang akan terus diingat Yoona seumur hidupnya.

“Jawab dengan suaramu yang angkuh itu Lee Yoona!”

Donghae menarik rambut Yoona ke belakang dan membuat Yoona merintih kesakitan karena pria itu seperti hendak mencabut seluruh rambutnya.

“Tidak, kau tidak pernah melakukan hal ini pada anak buahmu jenderal Lee. Lepaskan aku! Akhh… kau menyakitiku lagi.” Rintih Yoona tertahan. Tanpa diminta dua kali Donghae langsung melepaskan cengkeraman tangannya dari rambut Yoona dan membiarkan Yoona terhuyung beberapa kali karena tidak siap dengan gerakannya yang tiba-tiba. Namun Yoona merasa cukup lega karena Donghae kali ini tidak menyiksanya lebih lama. Pria itu memutuskan untuk menjauh dari tubuhnya, sehingga ia dapat menyimpulkan jika Donghae tidak akan melakukan apapun lagi padanya.

“Kau tahu aku tidak pernah melakukan hal ini pada anak buahku. Jadi kau seharusnya tidak menyimpulkan tindakanku ini semata-mata untuk membuatmu terlihat sama seperti anak buahku. Kau adalah isteriku. Kau adalah isteri dari jenderal dengan banyak musuh di luar sana! Aku tidak bisa setiap saat melindungimu dan aku tidak bisa mempercayakanmu pada anak buahku. Satu-satunya cara agar kau tetap aman adalah dengan membuatmu setara denganku. Kau seharusnya memahami itu Yoona. Dan kau harus ingat jika aku tidak suka mendengar kata-kata aroganmu yang sombong itu. Jika kau ingin mundur, maka mundurlah. Aku tidak akan menahanmu untuk tetap berada di sisiku. Pikirkan itu baik-baik, dan mundurlah selagi aku memberimu kesempatan untuk melakukannya.”

Donghae mengakhiri pagi mencekam itu dengan serentetan kalimat panjang yang berhasil membuat hati Yoona bergetar. Alih-alih ia menangis disaat Donghae menyakitinya, Yoona justru menangis saat Donghae meninggalkannya dengan kata-kata menyakitkan seputar perpisahan. Secara tidak langsung pria itu memberinya kesempatan untuk bercerai. Padahal usia pernikahan mereka belum genap seminggu, tapi ia merasa kehidupan pernikahannya sangat berat. Ia belum terbiasa dengan segala jalan pikiran Donghae yang rumit. Ditambah lagi sifat sociopat Donghae yang bisa muncul kapan saja, membuat Yoona merasa frustrasi dengan kehidupannya. Ia jelas tidak ingin mundur atau berpisah dari Donghae. Tapi ia juga tidak bisa hidup seperti ini. Terkadang dilambungkan dan terkadang dihempaskan. Sesekali ia ingin Donghae yang mengerti dirinya, bukan ia yang terus menerus memahami pria itu, sedangkan pria itu bebas melakukan apapun sesuai kehendaknya. Ia ingin keadilan! Ia ingin pria itu juga mengerti dirinya. Meski hanya sekali.

-00-

Siang hari yang mendung, Yoona tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Hyukjae. Pria itu dengan wajah khawatir menatapnya dan memeluknya dengan erat. Ia pun dengan senang hati menerima pelukan itu sambil menangis terisak di bahu Lee Hyukjae. Saat ini ia memang membutuhkan seseorang untuk menenangkan hatinya yang kacau. Setelah mereka bertengkar hebat pagi ini, Donghae langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Ia meninggalkan Yoona sendiri di rumahnya dengan hati hancur karena setiap perbuatan dan juga kata-kata tajamnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Hyukjae lembut. Siang ini ia bertemu Donghae di markas dan sahabatnya itu langsung memintanya untuk datang ke rumah. Rupanya selama ini Donghae tahu jika ia dan Yoona cukup dekat. Bahkan Donghae tahu jika kemarin Hyukjae sempat datang ke rumahnya. Dugaannya, Lee Donghae tahu karena penjaga-penjaga di rumahnya melaporkan hal itu. Namun yang membuatnya siang ini langsung menyetir terburu-buru ke rumah Donghae adalah karena pria itu mengatakan padanya jika Yoona sedang membutuhkan dirinya. Sadar jika Yoona sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, ia segera pergi ke rumah sahabatnya itu untuk melihat kondisi Yoona. Saat ini ia adalah satu-satunya pihak yang mengetahui kondisi Donghae yang sebenarnya. Sehingga ia tidak bisa hanya diam tanpa melakukan apapun untuk memperbaiki kekacauan yang dibuat oleh sahabatnya. Terlebih lagi kekacauan itu menyeret adik kesayangannya, Im Yoona. Ia tidak mungkin akan berdiam diri jika Yoona sedang tersakiti. Bahkan bila perlu ia akan melawan sahabatnya sendiri jika sahabatnya itu terbukti kembali melakukan hal-hal buruk pada Yoona.

“Oppa, kenapa jenderal Lee tidak pernah sekali saja memahami diriku? Kenapa harus aku yang memahaminya?” Tanya Yoona parau. Hyukjae berusaha menenangkan Yoona dan membawa Yoona untuk duduk di atas sofa maroon yang dulunya adalah sofa putih milik Donghae yang telah digantinya.

“Bukankah sudah kukatakan untuk tidak melangkah terlalu jauh kedalam kehidupan Donghae. Kau pasti akan semakin tersakiti Yoong. Mundurlah jika kau memang tidak sanggup menjalaninya. Donghae bukan pria biasa seperti yang kau kenal di luar sana. Donghae berbeda. Dia adalah pria kejam yang menyembunyikan banyak misteri di dalam dirinya.”

“Tidak oppa, itu bukan jalan keluar. Mundur dari kehidupannya bukanlah jalan keluar karena aku sudah terlanjur masuk ke dalamnya. Satu-satunya hal yang harus kulakukan adalah bertahan. Aku yakin suatu saat jenderal Lee akan berubah. Bagaimanapun jenderal Lee adalah manusia, dan jenderal Lee memiliki hati.” Ucap Yoona yakin. Hyukjae menghembuskan napasnya pasrah sambil memandang prihatin pada Yoona. Kesungguhan yang terpancar dari kedua mata Yoona terlihat seperti kobaran api yang membara di matanya. Yoona adalah tipe wanita keras kepala yang tidak mudah goyah hanya dengan satu terpaan masalah seperti ini. Dan ia yakin Yoona akan tetap maju apapun yang terjadi.

“Kau sudah siap menghadapi apapun yang terjadi padamu? Sikap kasar, sikap kejam, dan sikap dingin Donghae, kau siap menghadapinya?”

“Aku selalu siap oppa. Sebenarnya aku sedih bukan karena jenderal Lee menyakitiku secara fisik, tapi aku sedih karena ia menyakiti hatiku. Ia dengan terang-terangan memberiku ijin untuk mundur. Padahal oppa tahu jika selama ini aku telah berusaha mati-matian untuk berada di sisinya. Tapi ia dengan mudah hendak melepasku begitu saja. Wanita mana yang tidak sakit jika pria yang dicintainya mengatakan hal itu dengan mudahnya?” Ucap Yoona berapi-api. Hyukjae mengelus pundak Yoona lembut untuk meredakan gejolak emosi yang sedang berkobar di dalam diri Yoona. Tidak mudah memang menghadapi Lee Donghae, tapi ia yakin Yoona mampu melakukannya. Secara perlahan.

“Aku selalu bersamamu Yoong. Katakan padaku jika kau membutuhkanku, maka aku akan datang untukmu.”

“Terimakasih oppa. Aku menyayangimu.” Ucap Yoona penuh haru sambil memeluk Hyukjae erat.

Tanpa mereka sadari seseorang sedang memata-matai mereka dari kejauhan sambil membidik setiap momen yang mereka ciptakan. Pria itu menyeringai puas dengan hasil bidikannya dan segera melangkah pergi dari rumah itu sebelum penjaga-penjaga lain menyadari keberadaanya yang diam-diam selama ini telah menyamar sebagai salah satu penjaga di rumah Donghae untuk memberi informasi pada bos yang telah membayarnya.

-00-

Donghae siang ini datang ke kantor seperti biasanya. Dengan menggunakan seragam kebanggaan rakyat Korea Selatan yang berwarna hijau keki dan sepatu boot bersol tebal, Donghae melangkah dengan gaya ponggahnya menuju ruang meeting di lantai delapan. Siang ini ia mendapatkan panggilan untuk menyelesaikan sebuah misi. Misi rahasia, namun misi kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Dalam misi kali ini mungkin ia tidak akan membutuhkan kekerasan. Justru ia diharuskan menjadi pria lembut yang terasa begitu memuakan untuknya. Ia terpaksa harus merubah sikap dinginnya yang mendarah daging dengan sifat penuh kelembutan yang merupakan kepura-puraan terkonyol dalam hidupnya.

“Menteri pertahanan telah menunggu di dalam jenderal.” Lapor salah satu anak buahnya yang merupakan sekretarisnya. Dalam dunia militer, Lee Donghae tetap seperti pemimpin-pemimpin pada umumnya yang memiliki sekretaris untuk mengatur seluruh jadwalnya. Ia tidak hanya melakukan tugas di lapangan, namun terkadang ia harus membereskan masalah internal negara yang menurutnya penuh dengan drama dan kelicikan dari orang-orang di dalamnya.

“Hmm, aku akan segera menemuinya.”

Donghae menarik pintu besi di depannya dan membungkukan kepalanya sekilas pada seorang pria tua berjas yang telah menunggunya di dalam ruangan. Pria itu tersenyum menyambut kedatangannya dan menyuruh Donghae untuk segera duduk di sebelahnya karena ia membawa misi penting untuk dijalankan Donghae.

“Maaf jenderal, mungkin aku sedikit mengganggu waktu bersama isterimu.” Ucap Kang Eunjo pada Donghae sebagai pembukaan. Donghae tidak terlalu menanggapi ucapan tuan Kang yang merupakan kalimat basa basi. Ia justru langsung membahas misi barunya yang telah tertulis dengan jelas di dalam booklet di depannya.

“Apa saja kejahatannya?” Tanya Donghae langsung sambil membuka-buka booklet itu. Kang Eunjo mengendikan bahunya sekilas dan mulai membicarakan misi barunya untuk Donghae dengan serius. Tak masalah baginya jika Donghae tak menghiraukan kalimat basa basinya. Justru ia senang jika Donghae langsung menyambut misi barunya tanpa perlu membicarakan hal-hal yang tidak penting.

“Pencucian uang, pemerasan, dan terlibat dengan beberapa pejabat yang korup. Selama ini ia selalu bersembunyi dibalik topeng manisnya. Bagaimana menurutmu?”

“Mengerikan. Penipu ulung dan seseorang yang manipulatif. Kenapa kau tidak berniat menangkapnya sejak dulu? Sepak terjangnya di dunia politik sudah lama terjadi sejak ia sukses memperalat salah satu pejabat dan menguras seluruh hartanya. Belum lagi ia juga pernah diisukan menggunakan popularitasnya untuk membantu salah satu anggota dewan mencalonkan diri menjadi kepala daerah di distrik Gwang-ju. Kejahatannya sangat banyak, tapi kenapa tidak ada satupun dari petinggi negara ini yang berminat untuk menangkapnya?”

Donghae membombardir Kang Eunjo dengan serentetan analisisnya yang tepat sasaran. Sejak dulu target mereka memang orang yang berbahaya. Namun karena orang itu memiliki dukungan dari beberapa pejabat penting di Korea, kejahatannya dapat disembunyikan dengan rapi tanpa bisa diendus oleh orang lain. Namun tetap saja orang itu memiliki kelemahan. Dan Kang Eunjo tahu jika kelemahan orang itu ada pada Donghae.

“Aku sedang menunggu saat yang tepat. Orang ini memiliki banyak dukungan dari pejabat negara. Jika kau berhasil menangkapnya, maka kita akan mendapatkan penjahat-penjahat yang lain. Apa kau siap melakukan misimu kali ini?”

“Aku selalu siap tuan Kang Eunjo. Sudah menjadi tanggungjawabku untuk melindungi negara ini dari orang-orang jahat.”

“Itu berarti kau sudah siap dengan segala resiko yang akan kau hadapi. Keluargamu, isterimu, mungkin akan dalam bahaya.” Peringat Kang Eunjo. Donghae tersenyum separuh dan menunjukan sisi keangkuhannya pada pria berumur di depannya. Sejak dulu menantang bahaya adalah pekerjaanya. Tak peduli ia memiliki keluarga yang harus ia khawatirkan di rumah, ia tetap akan menghadapi setiap musuhnya dengan kepala terangkat tanpa pernah takut sekalipun. Masalah keluarganya, ia tetap akan melindungi mereka dengan caranya sendiri. Jadi tidak ada alasan untuknya takut pada misi-misi berbahaya yang diberikan kepadanya.

“Aku selalu siap dengan segala resikonya. Aku akan segera menjalankan misi ini secepatnya dan memberikan hasilnya padamu. Kuyakin orang itu akan dengan mudah masuk ke dalam perangkapku.” Ucap Donghae yakin dengan seringain licik andalannya. Kang Eunjo mempercayakan sepenuhnya misi itu pada Donghae dan ia tidak memberikan tuntutan apapun. Ia yakin Donghae pasti akan melakukannya dengan baik. Namun sebelum pergi dari ruangan meeting itu, Kang Eunjo merasa tergelitik untuk bertanya seputar kehidupan jenderal dingin itu yang cukup misterius. Sebelumnya ia pikir Donghae tidak akan bisa diganggu karena pria itu masih dalam suasana pengantin baru. Tapi pagi tadi ia buat terheran-heran dengan laporan asistennya jika Donghae sejak kemarin bahkan telah aktif datang ke markas seperti biasa. Hal itu lantas menjadi sebuah pertanyaan besar untuk Kang Eunjo, apakah Donghae tidak membutuhkan waktu bersenang-senang bersama isterinya? Apa rumor itu benar, Donghae menikah hanya untuk memperkuat posisinya dalam kemiliteran Seoul?

“Kau tidak pergi berbulan madu jenderal?”

“Tidak.” Jawab Donghae singkat. Pria itu terlihat menunggu Kang Eunjo untuk meninggalkan ruang meeting. Namun sayangnya pria tua itu justru bersandar santai pada sofa yang didudukinya dan menanyakan sebuah topik yang cukup sentimentil untuknya. Apalagi ia baru saja bertengkar dengan Yoona, lagi. Sebenarnya hal itu sama sekali tidak mempengaruhinya. Lagipula ia telah menyuruh Hyukjae untuk menenangkan Yoona di rumah karena ia jelas tidak akan bisa melakukan hal itu. Nanti ia akan pulang dan bersikap seperti biasa pada Yoona, seperti tidak pernah terjadi apapun diantara mereka.

“Apa kau tidak membutuhkan waktu berdua yang lebih intim bersama isterimu? Kupikir kau dulu tidak akan menikah jenderal.” Ucap Kang Eunjo terkekeh pelan. Donghae menipiskan bibirnya dan menatap pria tua itu tajam. Ia muak dengan pertanyaan itu. Hampir setiap orang pasti akan mempertanyakan hal yang sama. Apakah ia salah menikahi Yoona? Dan apakah setelah menikah ia harus berbulan madu di tempat-tempat romantis? Kenapa orang-orang repot memikirkan kehidupan pernikahannya, sedangkan ia sendiri tampak tak peduli dengan semua itu. Lagipula untuk apa ia pergi berbulan madu? Jika ia mau ia bisa menghabiskan waktunya berjam-jam di rumah untuk bercinta dengan Yoona seperti pasangan-pasangan menikah pada umumnya. Tapi ia tidak mau. Tidak sebelum Yoona yakin dengan masa depannya yang suram karena memilih bertahan bersamanya.

“Aku tidak membutuhkan bulan madu. Jika aku mau aku bisa bercinta dengan isteriku dimanapun dan kapanpun waktunya. Untuk sekarang prioritasku adalah melindungi negara. Seharusnya menteri pertahanan negara tidak perlu membahas hal-hal tidak penting seperti itu tuan Kang Eunjo. Bukankah itu urusan pribadiku dan isteriku?” Ucap Donghae datar dan sarat akan sindiran. Kang Eunjo yang mendapat sindiran cukup keras langsung membungkam bibirnya rapat-rapat dan segera pamit untuk pergi dari markas militer terbesar di Korea Selatan. Secara tidak langsung Donghae telah mengusirnya dan menyuruhnya untuk cepat-cepat pergi dari markas itu karena Donghae rupanya tidak menyukai topik bahasannya.

“Kalau begitu aku akan pergi jenderal. Maaf telah mencampuri urusan pribadimu dan semoga kau segera mendapatkan hasil dari misimu.”

Donghae mengangguk sekilas dan mengantar tuan Kang Eunjo hingga pintu keluar ruang meeting. Setelah itu ia meminta sekretrisnya yang mengantarkan tuan Kang hingga keluar dari pintu utama markas. Ia sendiri memilih untuk pergi ke kantornya dan mulai menyusun rencana untuk menyelesaikan misinya. Kali ini ia mungkin akan mengajak bermain beberapa orang yang bisa membantunya untuk segera menyelesaikan misi itu.

“Yoona… Dia akan menjadi orang yang tepat untuk masuk kedalam permainanku.” Gumam Donghae sambil menyeringai licik membayangkan rencana briliannya.

-00-

Bugh bugh bugh…

“Pukul dengan keras!”

Bugh bugh!

Yoona mengerahkan seluruh tenaganya pada samsak di depannya. Hari ini adalah hari ke tiga ia menjalani latihan beladiri bersama Donghae. Pagi ini semuanya berjalan dengan lancar. Yoona mulai memposisikan dirinya sebagai isteri yang baik untuk Donghae. Ia tidak lagi membantah ucapan Donghae dan berusaha untuk memahami Donghae. Keputusannya untuk bertahan bersama Donghae telah bulat. Ia akan berusaha sekuat tenaga agar hubungan rumah tangganya bersama Donghae dapat bertahan hingga kelak mereka dipisahkan oleh maut.

“Cukup. Beristirahatlah lima menit setelah ini kita akan mulai berlatih untuk menggunakan senjata.”

“Senjata? Pistol?” Tanya Yoona tak yakin. Ia pikir Donghae tidak akan mengajarinya cara menggunakan senjata, ternyata pria itu benar-benar mengajarinya paket komplit, cara beladiri dan cara menggunakan senjata.

“Kau juga harus bisa menggunakan pistol dan juga pisau. Jika kau bisa menggunakannya, tidak akan ada yang berani menyakitimu.”

Yoona mencibir dalam hati sambil meneguk air putihnya. Satu-satunya orang yang sering menyakitinya adalah Donghae. Bahkan hingga ia berumur dua puluh dua tahun, ia belum pernah benar-benar bertemu dengan orang jahat yang ini menyakitinya. Jadi seharusnya ia belajar beladiri bukan untuk menaklukan orang jahat yang hendak menyakitinya tapi untuk menaklukan Donghae yang sering menyakitinya.

“Jenderal, malam ini akan diadakan pesta makan malam di kediaman menteri Hong. Kau dan aku diundang untuk menghadirinya.” Ucap Yoona memberitahu. Kemarin malam ayahnya menghubunginya dan menyampaikan undangan itu. Ayahnya mengatakan jika ia dan Donghae harus hadir di acara pesta makan malam itu karena sekarang mereka adalah bagian dari pejabat penting negara.

“Aku akan meminta sekretarisku untuk mengosongkan jadwalku malam ini.”

Yoona menaikan alisnya heran. Tumben Donghae langsung menerima ajakannya tanpa perlawanan. Biasanya pria itu paling tidak suka mendatangi acara-acara glamor penuh keramaian karena acara itu membuatnya bosan. Dulu Hyukjae sering mengeluh padanya karena ia sering dipaksa Donghae untuk menggantikan pria itu menghadiri acara jamuan makan malam yang diadakan oleh pejabat-pejabat negara.

“Kalau begitu pukul enam kita berangkat. Acara jamuan makan malam itu dimulai pukul tujuh, dan karena jarak rumah kita cukup jauh dari kediaman menteri Hong, jadi kita harus berangkat lebih awal.”

“Hari ini aku harus merekrut tentara-tentara junior di markas, jadi aku akan pulang pukul lima.”

“Baiklah, aku akan menyiapkan pakaianmu jenderal. Kau lebih suka menggunakan dasi kupu-kupu atau dasi biasa?” Tanya Yoona antusias. Ia sangat senang melihat sikap Donghae yang sejak kemarin tampak tenang dan tidak menunjukan emosinya. Mungkin Lee Hyukjae telah menasihati Donghae agar tidak terlalu keras pada Yoona karena sebelumnya Lee Hyukjae berjanji akan menegur Donghae di markas.

“Terserah kau. Ambil ini.”

Donghae melemparkan sebuah pistol hitam tanpa peluru kearah Yoona. Dengan sigap Yoona langsung menangkapnya dan mulai mencobanya sambil mengarahkan ujung pistol itu kearah Donghae.

“Coba tarik pelatuknya.”

“Apa?”

Yoona langsung mendongakan kepalanya dan menurunkan pistolnya yang semula diarahkan pada Donghae.

“Tarik pelatuknya dan arahkan padaku.” Perintah Donghae tegas. Yoona membulatkan matanya tidak percaya dan langsung menggelengkan kepalanya cepat. Ia belum siap ditinggalkan oleh Donghae. Lagipula ia hanya bermain-main dengan pistol itu. Ia tidak berniat menembak Donghae.

“Lakukan! Pistol itu kosong. Aku tidak mungkin gegabah meletakan peluru di sana dan menyuruhmu untuk membunuhku.” Geram Donghae kesal. Ia paling tidak suka jika harus menunggu dan mengulang perintahnya. Ia sudah terbiasa memberi perintah sekali dan anak buahnya akan langsung bergerak sesuai dengan instruksinya. Berbeda dengan Yoona yang suka sekali membuatnya harus mengulang-ngulang perintahnya hingga ia merasa geram.

“Kenapa kau tidak mengatakannya.”

Ckrekk

“Begini?”

Yoona mencoba menarik pelatuknya sekali kearah Donghae. Dan apa yang dikatakan Donghae memang benar jika pistol itu kosong. Mengetahui hal itu, Yoona justru semakin bernafsu untuk menembaki Donghae. Meskipun pistol itu kosong, tapi setidaknya ia bisa membayangkan bagaimana timah panas itu melesat keluar dari ujung pistolnya dan tepat mengenai Donghae. Mungkin jika ia sedang marah atau kesal pada pria itu ia bisa melakukannya untuk menghilangkan rasa kesalnya yang sering membuncah hingga ke ubun-ubun.

“Terlalu kaku, amatiran, dan sombong! Sekarang lihat aku.”

Donghae menggunakan kacamata coklat beningnya dan mulai melakukan ancang-ancang untuk menembak papan sasaran yang berada lima puluh meter dari tempatnya berdiri. Kedua mata elangnya dengan tajam memperhatikan titik merah di tengah papan itu dan ia mulai bersiap untuk menarik pelatuknya.

Dor

“Akhh..”

Yoona memekik kaget dan refleks langsung menutup mulutnya ketika Donghae menoleh tajam kearahnya. Ia pikir pistol yang digunakan oleh Donghae juga kosong sehingga ia tidak siap ketika ia mendengar bunyi letusan yang cukup memekakan telinganya.

“Pakai pelindung telinga. Telingamu akan berdenging jika kau belum terbiasa mendengar suara letusan seperti ini.” Perintah Donghae sambil menunjuk kotak peralatan milinya yang di dalamnya berisi pelindung telinga, sarung tangan, dan juga kacamata.

“Apa aku akan berlatih menggunakan pistol sungguhan?”

“Sejak tadi kau sudah memegang pistol sungguhan.” Balas Donghae acuh tak acuh. Yoona menepuk jidatnya sendiri gemas sambil memutar bola matanya malas.

“Maksudku pistol yang benar-benar berpeluru, bukan pistol kosong seperti yang kau berikan padaku jenderal.” Ucap Yoona gemas. Kadang ia berpikir jika Donghae terlalu bodoh atau terlalu kaku karena kata-kata dengan makna kiasan yang sering diucapkannya selalu direspon dengan jawaban secara harfiah.

“Pertama-tama kau harus memegang pistolmu seperti ini.”

Yoona terkesiap kaget ketika Donghae tiba-tiba berdiri di belakangnya dan meluruskan tangannya ke depan untuk memposisikan diri sebelum menembak. Padahal beberapa saat yang lalu pria itu masih berada beberapa meter darinya, namun tiba-tiba pria itu sudah memposisikan dirinya di belakang tubuhnya untuk mengajarinya bagaimana cara menggunakan senjata yang baik dan benar.

“Pandanganmu harus terkunci pada targetmu. Jangan pernah melihat kearah lain yang tidak penting, kedua matamu harus benar-benar terfokus pada satu target. Lalu tarik pelatuknya.”

Dor!

Yoona hampir saja menjatuhkan pistolnya ke lantai jika Donghae tidak menahan tangannya agar tetap memegang pistol itu. Lagi-lagi ia terlalu banyak melamun hingga ia tidak sadar jika pistolnya telah ditukar oleh Donghae dengan pistol yang berisi peluru. Dengan degup jantung yang memburu Yoona mendengus sebal pada Donghae sambil menggerak-gerakan tangan Donghae yang masih setia menggenggam tangannya untuk memegang pistol.

“Lepaskan, kau membuatku kaget jenderal.”

“Aku sudah memperingatkanmu untuk fokus.” Ucap Donghae tajam yang dibalas Yoona dengan delikan kesal. Sampai kapan hidupnya akan terasa seprti di camp militer? Ia ingin hidup normal seperti seorang isteri pada umumnya. Tapi jika ia melakukan protes, Dongahe pasti akan mengeluarkan sisi psikopatnya yang sangat mengerikan untuk menngintimidasinya.

“Lihat titik merah di depan. Fokus, lalu tarik pelatukmu.” Ucap Donghae tepat di samping telinga Yoona dengan tubuh yang sedikit condong ke depann. Sebisa mungkin Yoona memfokuskan dirinya pada instruksi yang diberikan oleh Donghae. Tapi nyatanya hal itu sangat sulit untuk dilakukan di tengah jantungnya yang sedang berdegup menggila. Yoona menelan ludahnya susah payah dan mencoba fokus pada titik merah yang berjarak lima puluh meter dari tempatnya berdiri. Semakin cepat ia menyelesaikan latihannya, maka ia akan segera terlepas dari Donghae. Ia tidak bisa terus dalam posisi intim seperti itu dengan fantasi liar yang mulai memenuhi otaknya.

“Kau sudah mengunci targetmu?”

“Iiya.” Angguk Yoona gugup. Kepalanya terlihat seperti kepala robot yang sedang bergerak kaku di sebelah kepala Donghae.

“Sekarang tarik pelatuknya.”

Dor

Yoona menarik pelatuknya dengan perasaan takut dan tangan bergetar, sehingga pelurunya meleset mengenai tembok baja yang berada di belakang papan bidikan.

“Kau harus fokus dan jangan ragu. Jika kau ragu kau tidak akan bisa mengenai sasaranmu dengan tepat.” Ucap Donghae mulai melepaskan genggaman tangannya dari tangan Yoona. Yoona mendesah lega dan segera bergerak menjauhi Donghae untuk menenangkan degup jantungnya yang menggila. Ia kemudian melirik jam tangannya yang telah menunjukan pukul setengah tujuh pagi. \. Ia pun segera mengembalikan peralatannya ke tempat semula dan meminta ijin pada Donghae untuk pergi ke dapur. Ia harus memasak pagi ini sebelum Donghae pergi ke markas pukul delapan nanti.

“Jenderal Lee kau ingin aku memasak apa pagi ini?”

“Terserah.” Jawab Donghae acuh tak acuh sambil menscroll layar ponselnya ke bawah dengan serius. Yoona yang cukup penasaran dengan kegiatan Donghae mencoba mencuri-curi pandangan kearah ponsel milik Donghae. Sekilas Yoona melihat sebuah foto seorang wanita dengan punggung terbuka yang tampak seksi di dalam ponsel milik pria itu. Seketika ia merasa was-was dan ingin menanyakan siapa wanita itu pada Donghae. Tapi Donghae buru-buru mematikan layar ponselnya dan berjalan pergi meninggalkannya tanpa menghiraukan keberadaanya di ruangan itu yang sedang menahan rasa kesal dan juga kehwatiran pada pria itu.

“Siapa wanita itu? Kenapa jenderal Lee menyimpan fotonya di dalam ponselnya?” Gumam Yoona curiga. Separuh hatinya kini mulai dilingkupi api cemburu yang perlahan-lahan mulai membakar habis hatinya. Ia harus segera mencari informasi tentang wanita itu dan jangan sampai Lee Donghae bermain api di belakangnya.

-00-

Yoona melirik-lirik Donghae yang tampak tenang mengunyah makanannya di meja makan. Sejak tadi pikirannya tidak bisa fokus karena terus memikirkan wanita seksi yang fotonya ia lihat di dalam ponsel milik Donghae.

“Jenderal Lee, aku pergi ke kamar sebentar.”

Yoona menggeser kursinya pelan dan segera berlari menuju tangga dengan terburu-buru. Ia harus mengambil ponsel milik Donghae yang pria itu tinggalkan di dalam kamar. Ia ingin tahu siapa wanita itu sebenarnya, kenapa Donghae sampai menyimpan foto wanita itu, sedangkan selama ini Donghae tidak pernah menyimpan fotonya di dalam ponselnya.

“Ahh.. dimana ponselnya?” Gumam Yoona panik sambil membuka seluruh laci meja di kamarnya. Ia yakin Donghae tidak membawa ponselnya karena selama empat hari ia menjadi isteri dari Lee Donghae, pria itu lebih suka makan dengan tenang di meja makan. Saat makan Donghae akan meninggalkan seluruh pekerjaanya dan ia tidak pernah mau menerima panggilan ketika sedang makan.

“Aha.. itu dia.”

Yoona segera meraih ponsel hitam milik Donghae yang tergletak di dalam lemari pakaian milik mereka. Dengan was-was Yoona segera membuka ponsel itu dan ia langsung mendesah lega ketika Donghae ternyata tidak mengunci ponselnya dengan password. Dengan mudah ia dapat membuka seluruh folder milik Donghae yang ternyata tidak sesederhana yang ia kira. Di dalam ponsel milik Donghae terdapat banyak folder dengan kode-kode aneh yang membuat Yoona pusing. Namun ia tidak menyerah begitu saja. Ia terus membuka-buka semua folder yang tersimpan di dalam ponsel milik Donghae hingga ia berhenti pada folder terakhir yang bertuliskan masa lalu. Dengan perasaan penuh harap Yoona mulai membuka folder itu dan ia langsung menemukan beberapa foto seorang wanita yang sempat ia lihat beberapa saat yang lalu. Ia pun memutuskan untuk melihat foto wanita itu dengan seksama sambil membaca keterangan yang tertera di setiap foto.

Punggung indahnya seperti sebuah magnet. Ia seorang manipulator cantik.

Tatapannya yang setajam elang adalah senjatanya untuk memikat hati setiap pria.

Kim Taeyeon, masa laluku yang telah berubah

Yoona mengerutkan dahinya ketika ia membaca kalimat demi kalimat yang tercetak jelas di layar ponsel milik Donghae. Entah siapa yang menulis tulisan-tulisan itu, namun ia merasa itu seperti tulisan Donghae. Gaya kalimatnya yang terlihat kaku dan misterius membuat Yoona yakin jika kata-kata itu adalah hasil tulisan Donghae. Lalu pada folder lain Yoona menemukan sebuah note yang hanya berisi tiga kata sederhana dengan arti yang cukup ambigu untuk Yoona.

“Cinta, pengkhianatan, kehancuran.”

Yoona seketika dibuat pusing dengan serangkaian teka-teki yang ia temukan di dalam ponsel Donghae. Rasanya ia harus banyak-banyak belajar untuk memahami Donghae karena pria itu begitu sulit untuk ditebak. Lalu siapa wanita itu? Yoona terus berpikir dan berpikir hingga akhirnya ia menemukan titik terang mengenai wanita itu. Kim Taeyeon adalah satu dari tiga sahabat Donghae yang dulu tinggal di panti asuhan.

Tak

Yoona menjentikan jarinya puas ketika ia berhasil menemukan jawaban mengenai identitas wanita itu. Namun satu jawaban itu justru semakin menimbulkan banyak pertanyaan di dalam benaknya. Ada hubungan apa antara Kim Taeyeon dengan suaminya? Mengapa suaminya menyimpan foto sahabat masa kecilnya? Dan kenapa pria itu tidak pernah mengenalkannya pada Kim Taeyeon jika ternyata mereka memiliki hubungan yang sangat dekat?

Dak dak dak dak…

“Hah jenderal Lee!” Pekik Yoona heboh ketika ia mulai mendengar suara sepatu boot Donghae menaiki anak tangga. Cepat-cepat ia meletakan ponsel itu ke tempat semula dan ia langsung berlari menuju kamar mandi agar seolah-olah ia baru saja keluar dari kamar mandi. Jangan sampai Donghae tahu jika ia baru saja membuka-buka ponsel milik pria itu atau ia akan menjadi santapan kegilaan pria itu lagi seperti sebelumnya.

“Apa yang kau lakukan di kamar?”

“Jenderal… Aku baru saja buang air. Perutku sakit.” Ringis Yoona sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang basah. Donghae menatap Yoona sekilas dan langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam lemari. Pria itu terlihat membuka ponselnya sekilas sebelum ia memasukannya ke dalam saku celananya dan bergegas pergi dari kamar mereka.

Sepeninggal Donghae, Yoona langsung bernapas lega sambil bersandar pada dinding bercat putih di belakangnya. Untung saja Donghae tidak menyadari kepanikan yang tercetak samar di wajahnya. Ia pun cepat-cepat mengambil ponselnya dan mengetik beberapa pesan singkat untuk Hyukjae. Mungkin saja pria itu tahu tentang Kim Taeyeon dan bersedia memberitahunya. Andai ia memiliki nomor ponsel Krystal, mungkin ia juga akan menghubungi wanita itu. Sayangnya dulu ia tak sempat memintanya karena mereka terlalu asik menceritakan masa lalu mereka masing-masing.

-00-

Yoona memutar-mutar tubuhnya di depan cermin sambil mematut dirinya yang tampak anggun menggunakan gaun hitam. Beberapa meter di belakangnya Donghae sedang sibuk merapikan penampilannya dan memasang dasi hitam bergaris silver yang dipilihkan Yoona untuknya.

“Biar aku yang memasangkannya.”

Yoona mengambil alih dasi milik Donghae dan mulai menyimpulkan dasi itu dengan rapi di leher Donghae.

“Pakai mantelmu, udara sangat dingin di luar.”

Donghae melirik gaun Yoona yang terbuka dan menyuruh Yoona untuk memakai mantelnya. Wanita itu seketika menepuk jidatnya sambil meringis kecil pada Donghae.

“Aku lupa membawa mantel hitamku.”

Tiba-tiba Donghae menyampirkan jas hitamnya di pundak Yoona dan berlalu pergi keluar dari kamar.

Yoona yang melihat tingkah manis Donghae langsung tersenyum-senyum bahagia sambil menciumi jas milik Donghae yang menguarkan aroma maskulin yang khas. Ia benar-benar harus merekam momen ini di dalam otaknya karena sikap Donghae malam ini yang tampak manis akan menjadi kenangan paling indah dalam hidupnya.

Yoona melangkah hati-hati ke dalam mobil dengan dibantu oleh salah satu anak buah Donghae. Ia dengan sigap menahan pintu mobil untuk Yoona dan menutupkan pintu mobil itu setelah Yoona benar-benar telah duduk dengan nyaman di dalam mobil. Yoona lalu menurunkan kaca mobilnya sedikit dan mengucapkan terimakasih pada tentara-tentara muda itu.

“Ternyata mereka sangat baik dan ramah.” Komentar Yoona ketika mobil mereka telah berjalan meninggalkan kediaman Donghae yang luas. Donghae yang mendengar komentar itu hanya membungkam bibirnya rapat-rapat tanpa berniat sedikitpun untuk membalas komentar Yoona. Tapi kali ini sepertinya Yoona memang ingin mengajaknya berbicara, sehingga wanita itu terus membicarakan berbagai macam hal hingga membuatnya mau tak mau membuka bibirnya untuk sekedar menuruti keinginan Yoona.

“Apa kau tidak lelah terus mengoceh seperti itu?”

“Hha? Tidak, aku sama sekali tidak lelah. Ini menyenangkan. Ayolah jenderal Lee, apa kau tidak bosan terus bersikap dingin seperti itu? Sesekali bersikaplah lebih hangat dan ramah pada orang lain.”

“Aku tidak bisa.” Jawab Donghae cepat. Yoona mendecih pelan di sebelahnya dan kembali mengajak Donghae berbicara.

“Bagaimana kabar Krystal?” Pancing Yoona. Ia ingin menanyakan tentang Kim Taeyeon pada Donghae, namun akan memulainya melalui Krystal.

“Baik.”

“Benarkah? Apa kau sering menghubunginya?”

“Tidak. Tapi sepertinya ia baik-baik saja karena ia tidak menghubungiku jika ia sedang memiliki masalah.”

“Oh..” Gumam Yoona kecil. Otaknya mencoba merangkai kata-kata selanjutnya untuk memecah kesunyian diantara mereka.

“Lalu bagaimana dengan Kim Taeyeon? Krystal mengatakan padaku jika ia memiliki satu sahabat yang telah lama pergi dari panti asuhan. Apa kau juga sering bertemu dengannya jenderal?”

“Tidak. Kami tidak pernah bertemu.” Jawab Donghae dingin. Yoona tampak kecewa dan juga sakit dengan jawaban Donghae. Jelas-jelas pria itu menyimpan foto Taeyeon di dalam ponselnya dan meletakannya di dalam folder khusus. Lagipula tanggal di foto itu tidak bisa menipu jika baru-baru ini Donghae sempat bertemu Taeyeon atau mungkin pria itu meminta seorang mata-mata untuk mengawasi wanita bernama Kim Taeyeon.

“Apa yang Krystal katakan padamu?”

Yoona menoleh ke kiri, berusaha menyembunyikan kekecewaan di hatinya dengan menatap suaminya dengan wajah ceria.

“Tidak banyak. Hanya masa lalu kalian dan tragedi meninggalnya Cho Kyuhyun. Krystal mengatakan padaku jika ia sangat menyesal karena telah membuat Cho Kyuhyun celaka dan meninggal.”

“Itu murni kecelakaan. Seharusnya Taeyeon berpikiran dewasa dan tidak semata-mata menyalahkan Krystal.” Ucap Donghae menjelaskan. Entah apa maksud Donghae menjelaskan hal itu pada Yoona yang jelas-jelas tidak memiliki hubungan apapun dengan kejadian itu. Tapi tiba-tiba saja pria itu ingin menjelaskannya pada Yoona.

“Apa kau yakin tidak pernah bertemu Kim Taeyeon? Mungkin kau ingin mencoba membuat hubungan diantara Taeyeon dan Krystal membaik.”

“Tidak. Kenapa aku harus peduli pada mereka dan kenapa kau seperti memaksaku untuk bertemu Taeyeon? Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?” Tanya Donghae penuh selidik. Seketika Yoona menjadi panik dan gugup. Ia tidak menyangka jika Donghae akan langsung mengeluarkan emosinya setelah ia mendesaknya dengan pertanyaan seputar Kim Taeyeon. Pria itu tidak boleh tahu jika ia telah lancang membuka-buka ponselnya demi mendapatkan informasi mengenai Taeyeon.

“Aku tidak menyembunyikan apapun. Ini semua karena aku merasa kasihan pada Krystal. Ia terlihat sangat menyesal dengan sikapnya di masa lalu dan ingin sekali memperbaiki hubungannya dengan Kim Taeyeon. Dan kupikir kau bisa membantu Krystal karena kau adalah satu-satunya pihak yang berhubungan dengan mereka.” Kilah Yoona dengan napas memburu. Ia benar-benar harus berpikir keras untuk mengarang semua jawabannya agar terdengar masuk akal di telinga Donghae.

“Urusan mereka bukan urusanku. Aku memiliki urusanku sendiri yang jauh lebih penting daripada sekedar mengurusi pertengkarang konyol mereka.” Balas Donghae dingin. Yoona akhirnya memilih diam dan tak meneruskan usahanya untuk mengorek informasi mengenai Taeyeon. Melihat Donghae yang terlihat emosi seperti itu membuatnya takut. Ia harus bisa meredam setiap pertengkaran yang hampir terjadi diantara mereka karena ia telah bertekad untuk bertahan dengan pernikahannya.

-00-

Yoona berjalan anggun bersama Donghae kedalam kediaman menteri Hong. Karpet merah yang terbentang sepanjang pintu masuk hingga tengah-tengah aula menjadi jalan khusus untuk Yoona dan juga Donghae yang saat ini sedang menjadi pusat perhatian. Semenjak mereka menikah, mereka belum lagi terlihat menghadiri acara bersama, sehingga kedatangan mereka malam ini menjadi momen yang begitu dinanti oleh para pejabat Korea yang cukup terkejut dengan pernikahan jenderal kebanggaan mereka.

“Selamat malam.” Sapa Yoona ramah pada nyonya Hong, sang pemilik acara. Yoona melepaskan rangkulan tangannya pada lengan Donghae dan memeluk nyonya Hong dengan hangat. Wanita paruh baya itu tersenyum begitu lembut kearah Yoona dan mengucapkan terimakasih pada Yoona karena terlah bersedia hadir di acara jamuan makan malam yang digelar oleh keluarga besar Hong.

“Maaf nyonya Hong, kami permisi sebentar untuk menyapa para tamu undangan yang lain.”

“Oh tentu. Semoga kau menyukai jamuan dari kami.”

Yoona menganggukan kepalanya pelan dan segera berlalu pergi bersama Donghae. Mereka berdua lantas berpisah karena Yoona ingin bertemu dengan ayahnya. Sedangkan Donghae beralasan ingin menyapa para jenderal senior yang kebetulan juga hadir dalam acara jamuan makan malam itu, padahal sebenarnya ia sedang menghindari ayah mertuanya karena pembicaraan mereka malam itu masih menyisakan kekesalan di hati Donghae.

“Ayah..”

Yoona memeluk tuan Im erat sambil menatap wajah ayahnya lekat-lekat untuk memastikan jika ayahnya baik-baik saja. Semenjak ia menikah ia belum bertemu dengan ayahnya lagi karena mereka sama-sama sibuk. Tuan Im yang harus menyelesaikan pekerjaannya dan Yoona yang harus selalu siap melayani Donghae di rumah. Selama ini mereka hanya sesekali berbicara melalui telepon untuk mengobati rasa rindu masing-masing. Bagaimanapun selama ini mereka hanya hidup berdua tanpa memiliki keluarga yang lainnya, sehingga ikatan batin diantara mereka terjalin dengan lebih kuat.

“Bagaimana kabarmu nak? Kau bahagia?” Tanya tuan Im hangat. Yoona menganggukan kepalanya ringan dengan senyum bahagia yang terpatri di wajahnya.

“Aku sangat bahagia ayah. Ayah terlihat lebih kurus, apa ayah tidak makan dengan baik?” Tanya Yoona khawatir. Ia menatap wajah ayahnya dengan perasaan sedih karena ia tidak bisa lagi memperhatikan ayahnya seperti dulu. Semua waktunya kini hanya untuk mengabdi pada Lee Donghae karena ia ingin mengubah hidup Donghae yang sebelumnya suram menjadi lebih berwarna. Dan untuk mewujudkan hal itu ia harus bekerja lebih keras diawal kehidupan rumah tangganya. Setidaknya ia ingin Donghae tahu bahwa cintanya untuk pria itu sangat nyata dan bukan hanya sekedar ucapan di bibir belaka.

“Ayah hanya sedikit sibuk akhir-akhir ini. Dimana Donghae, ayah tidak melihatnya bersamamu?”

“Ah, jenderal Lee sedang menyapa para jenderal senior. Aku akan mencarinya ayah.” Ucap Yoona merasa tidak enak. Seharusnya Donghae menyapa ayah mertuanya terlebihdulu sebelum memutuskan untuk menyapa para jenderal senior. Yoonapun segera pergi untuk mencari Donghae. Ia mengitari aula itu sambil sesekali menyapa para tamu yang dikenalnya.

“Dimana jenderal Lee?” Gumam Yoona gusar. Ia sudah mengitari aula itu kesana kemari, namun ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Donghae dimanapun. Karena lelah, ia akhirnya memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang kosong sambil menatap nanar lalu lalang para tamu undangan yang tampak begitu bahagia.

Tiba-tiba ekor matanya melihat seorang wanita yang dikenalnya. Pandangan mata Yoona terus mengikuti kemana wanita itu pergi hingga pandangan matanya terhenti pada interaksi antara wanita itu dengan seorang pria yang sangat dikenalnya. Lee Donghae. Mereka berdua lantas berjalan keluar dari dalam aula dengan gerak gerik yang cukup mencurigakan untuk Yoona hingga membuatnya memutuskan untuk mengikuti mereka.

Kau berbohong jenderal! Kau berbohong!

                                                                        -00-

Donghae sedang menyapa para jenderal senior yang dulu menjadi mentornya. Ia dengan sikapnya yang dingin berusaha beramah tamah dengan para jenderal yang kini sudah tampak menua. Tak sengaja ekor matanya melihat Taeyeon sedang berjalan kedalam aula dengan gaun merah panjang dan rambut pirang yang digulung ke atas hingga menampilkan punggung indahnya yang terekspos. Secara kebetulan Kim Taeyeon juga tengah menatap kearahnya dan ia dengan gestur tubuhnya meminta Donghae untuk mengikutinya.

“Maaf, aku harus pergi sekarang.”

Donghae meminta ijin pada para jenderal untuk pergi menemui Taeyeon yang saat ini sedang menunggunya dibalik pilar besar di dekat jalan keluar. Mereka pun secara beriringan keluar dari aula itu dan mencari tempat yang lebih sepi untuk berbicara empat mata.

“Aku senang melihatmu di sini.”

Taeyeon tiba-tiba memeluknya sambil menepuk punggungnya beberapa kali. Donghae hanya menanggapi pelukan Taeyeon tanpa minat dengan tangan yang bertengger kaku di permukaan punggung Taeyeon yang terbuka.

“Kau datang bersama isterimu?”

“Ya, dan dia sedang menemui ayahnya.”

“Baguslah kalau begitu.” Ucap Taeyeon lega. Ia lalu mengajak Donghae untuk duduk di sebuah bangku taman yang kosong untuk membicarakan masalahnya yang cukup serius.

“Aku membutuhkan bantuanmu.” Ucap Taeyeon langsung dengan wajah frustrasi. Donghae menaikan alisnya sambil menunggu penjelasan selanjutnya dari Taeyeon. Kira-kira masalah apa lagi yang akan dibawa Taeyeon kepadanya. Ia sebenarnya cukup bosan melihat Taeyeon yang terus dikejar-kejar masalah. Tapi memang wanita itu adalah wanita keras kepala. Ia tidak pernah jera dengan masalah-masalahnya dan terus membuat masalah baru setelah masalah lamanya terselesaikan.

“Bantu aku keluar dari negara ini.” Ucap Taeyeon terdengar panik. Wanita mencoba mengambil simpati Donghae dengan menggenggam tangan Donghae erat-erat dan menunjukan wajah memelasnya yang terlihat menyedihkan. Sementara itu Donghae tampak tak terpengaruh dan memilih untuk mengintrogasi Taeyeon terlebihdahulu.

“Apa lagi yang kau lakukan? Selama ini aku sudah membantumu untuk keluar dari setiap masalah yang kau timbulkan. Jika kau bukan sahabatku, mungkin aku akan menjebloskanmu ke dalam penjara.”

“Kumohon Donghae bantu aku, aku janji ini yang terakhir. Aku.. aku terlibat kasus pencucian uang dan beberapa dewan parlemen sudah mencium kebusukanku. Tapi itu semua kulakukan bersama Jang Hyesong, kepala distrik Jeolla dan beberapa kepala daerah yang lain. Mereka mengancam akan membawaku membusuk di penjara bersama mereka jika kebusukan mereka diketahui oleh petinggi negara yang lain. Dan ini semua terjadi karena kebodohanku, aku terlalu gegabah melakukan transaksi di bank dengan menggunakan uang-uang itu. Sekarang mereka sedang menyelidiki asal muasal uang-uang palsu itu. Kumohon Lee Donghae bantu aku.” Rengek Taeyeon dengan air mata palsunya. Donghae menipiskan bibirnya gusar sambil menahan seluruh emosinya yang hendak meledak. Seharusnya sahabatnya itu memang dihentikan karena daftar kejahatannya sudah sangat menumpuk. Dimulai dengan kasus perselingkuhannya dengan salah satu anggota dewan satu setengah tahun yang lalu, kemudian ia ikut terlibat dalam penggelapan dana yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki infrastruktur di distrik Gwangwon. Setelah ia berpisah dengan anggota dewan itu, ia mulai mencari mangsa lain yang dapat diperdaya. Dari hari ke hari Taeyeon terus berulah hingga Donghae dibuat geram dengan kelakuan wanita itu. Pasalnya Taeyeon akan berlari kearahnya bila wanita itu sudah mulai terdesak dan tidak dapat bergerak kemanapun. Ia dengan wajah memelasnya dan dalih ikatan persahabatan di masa lalu akan merengek-rengek padanya untuk membantunya lolos dari jerat hukum. Dan kali ini ia kembali merengek padanya untuk membantunya melarikan diri ke luar negeri karena cepat atau lambat kebusukannya pasti akan segera diketahui oleh para petinggi negara.

“Donghae kumohon. Aku tidak memiliki keluarga selain dirimu. Kau harus menolongku. Bukankah kau menyayangiku? Selama ini aku hanya berusaha untuk hidup lebih baik. Aku tidak mau lagi jatuh miskin seperti saat kita tinggal di panti asuhan. Aku berharap setelah aku memiliki segalanya, aku ingin hidup bahagia bersamamu. Aku menyukaimu Donghae. Aku menyayangimu bukan karena persahabatan kita, tapi aku benar-benar menyayangimu sebagai seorang wanita dewasa. Andai selama ini kau menyadari perasaanku, aku tidak mungkin akan bertindak sejauh ini dengan menjadi wanita simpanan para pejabat. Kumohon lindungi aku Hae.”

Taeyeon memeluk Donghae erat dan menangis tersedu-sedu di pundak Donghae. Melihat itu Donghae hanya diam dan membiarkan Taeyeon menangis sepuasnya di pundaknya.

Dari kejauhan Yoona melihat semua adegan itu dengan hati perih dan mata berkaca-kaca. Apa yang dikatakan Donghae nyatanya tidak terbukti. Pria itu mengaku padanya jika ia tidak pernah bertemu dengan Taeyeon, tapi apa yang ia saksikan saat ini justru sebaliknya. Mereka berduat tampak sangat dekat satu sama lain dan tampak seperti sepasang kekasih. Ditambah lagi cara Taeyeon merengek pada Donghae membuat Yoona sangat sakit. Wanita itu menyukai suaminya dan suaminya terlihat begitu peduli pada Taeyeon hingga ia rela melakukan apapun demi wanita itu. Bahkan menurut apa yang didengar Yoona, Donghae rela melanggar aturan-aturan hukum yang berlaku demi menyelamatkan Taeyeon dari kebusukannya.

Dengan langkah gontai Yoona segera meninggalkan taman itu sambil menyeka bulir-bulir air mata yang terus menganak sungai di pipinya. Ia tidak mau lagi berada di tempat itu dan ingin pulang ke rumahnya untuk menenangkan diri. Persetan dengan Donghae yang akan mencarinya. Ia tidak peduli pada pria itu.

“Yoona.”

Yoona mendongak dengan mata sembab ketika seseorang tiba-tiba berdiri di depannya dan menatapnya dengan wajah khawatir.

“Hyukjae oppa..”

Yoona langsung menghambur ke dalam pelukan Hyukjae dan kembali menangis di dalam pelukan pria itu. Lagi-lagi ia menangis di pelukan Hyukjae karena Lee Donghae. Sampai kapan hatinya akan terus dipermainkan oleh Donghae? Apakah pengorbanannya selama ini belum cukup untuk membuat pria itu melihat kearahnya dan membalas cintanya?

-00-

Keesokan harinya Yoona terbangun sendiri di kamarnya yang dingin. Semalaman ia menangis dan sepertinya semalam Donghae tidak pulang. Dengan mata yang masih sembab Yoona meraih ponselnya untuk melihat apakah Donghae menghubunginya atau tidak karena semalam ia langsung pulang begitu saja bersama Hyukjae tanpa mempedulikan Donghae yang mungkin akan mencarinya. Dan ternyata ia mendapatkan dua panggilan tak terjawab dari dari Donghae dan satu pesan belum terbaca dari pria itu. Dalam pesan itu Donghae menyalahkannya yang tiba-tiba menghilang begitu saja dari pesta perjamuan dan membuatnya harus mencari-cari wanita itu di dalam ball room. Yoona mendengus kesal dan tampak malas untuk melanjutkan membaca isi pesan itu, namun ia juga ingin tahu dimana keberadaan Donghae sekarang karena pria itu tidak pulang ke rumah mereka.

 

Lain kali jangan membuatku terlihat bodoh dengan mencarimu kesana kemari. Katakan padaku jika kau memang ingin pulang bersama Hyukjae. Istirahatlah di rumah, aku tidak pulang malam ini.

           

Kira-kira seperti itulah isi pesan singkat Donghae yang membuat Yoona semakin geram. Seenaknya saja pria itu menyalahkannya yang tiba-tiba menghilang dari acara jamuan makan malam, padahal semua ini karena pria dingin itu. Jika ia tidak seenaknya berpelukan dengan wanita lain dan berbohong padanya, ia pasti tidak akan merasa sekacau ini.

Bruk

Yoona kembali menjatuhkan kepalanya dengan lunglai ke atas bantalnya yang empuk. Pagi ini hatinya benar-benar merasa hampa dan kosong. Ia ingin menyerah. Bertahan bersama Donghae memang tak semudah perkiraanya. Banyak sekali kerikil-kerikil tajam yang melukai setiap perjalananya hingga ia benar-benar merasa tak berdaya. Ia merindukan ayahnya. Ia ingin kembali ke masa kanak-kanaknya yang indah agar ia tidak perlu memikirkan masa depannya yang rumit.

-00-

“Arghh sial!”

Donghae memukul setir mobilnya keras dan terus mengumpat dengan keras untuk menyalurkan rasa marahnya. Hari ini misinya hampir gagal. Rencana yang ia susun matang-matang justru berbalik kearahnya seperti sebuah boomerang yang justru melukai pemiliknya sendiri. Dengan aura kemarahan yang begitu kental dari tubuhnya, Donghae segera keluar dari mobilnya dan berjalan tergesa-gesa ke dalam rumahnya. Ia membutuhkan pelampiasan. Ia ingin membunuh dan menyiksa seseorang sekarang juga.

“Jenderal Lee, akhirnya kau pulang.”

Yoona menyambut kedatangan Donghae dengan senyum tulus yang berusaha ia tunjukan di depan Donghae. Meski sakit rasanya saat melihat Donghae, tapi Yoona berusaha meredamnya dan berpikir untuk menyelesaikan masalah diantara mereka secara baik-baik. Namun melihat kondisi Donghae yang tampak kacau sore ini membuat Yoona merasa khawatir pada pria itu. Ia dengan langkah terburu-buru segera menghampiri Donghae untuk menanyakan apa yang terjadi, namun pria itu justru menghentikannya dan mendorongnya menjauh.

“Jangan mendekat! Aku tidak ingin melukaimu lagi.”

“Jenderal ada apa denganmu? Katakan padaku.”

Yoona mengabaikan peringatan dari Donghae dan tetap melangkah mendekati Donghae. Yoona mencoba menyentuh wajah Donghae yang tampak begitu mengerikan di depannya. Namun tanpa diduga Donghae justru mendorongnya keras ke lantai dan menyapu bersih semua hidangan yang telah dimasakn Yoona sore ini. Suara pecahan piring dan peralatan makan yang berjatuhan langsung terdengar begitu nyaring di indera pendengaran Yoona. Wanita itu tampak begitu syok dan hanya bisa mematung di tempat tanpa bisa bergerak sedikitpun. Sendi-sendinya terasa kaku. Dan ia benar-benar tidak bisa menghindar barang sedikitpun ketika serpihan-serpihan kaca itu melukai kaki serta telapak tangan kirinya. Rembesan darahpun mulai mengalir perlahan dari kaki Yoona yang terluka. Melihat darah yang mengalir lambat di atas lantai putih membuat Donghae tidak bisa berpikir rasional. Sejak dulu ia menyukai darah, dan kegilaanya akan semakin bertambah ketika ia melihat darah segar mengalir di depan matanya.

Seketika Yoona beringsut mundur ketika Donghae perlahan-lahan mendekatinya. Dengan wajah yang tampak mengerikan, Donghae berusaha menggapai Yoona untuk mencicipi setiap tetes darah yang mengalir keluar dari permukaan kulit Yoona yang tergores.

“Aku sudah memperingatkanmu untuk pergi, tapi kau tidak mengindahkan peringatanku Yoona. Jadi jangan salahkan aku jika kau akan kembali terluka.” Seringai Donghae mengerikan. Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya ketakutan sambil menyeka bulir-bulir air matanya yang semakin deras menuruni pipinya. Ia takut. Ia benar-benar takut saat melihat Donghae yang mulai berubah menjadi sangat menyeramkan seperti ini. Kini posisinya sudah benar-benar terpojok. Tidak ada lagi ruang baginya untuk menghindari Donghae karena di belakangnya telah terbentang tembok besar nan kokoh yang menghalanginya untuk pergi kemanapun. Seringain Donghae di depannya terlihat semakin mengerikan. Pria itu tampak begitu puas melihat mangsanya yang tidak bisa lagi melarikan diri darinya.

“Jje jenderal Lee.. kumohon sadarlah. Kau bukan monster, kau adalah pria yang baik. Jangan membuat dirimu terlihat seperti monster. Kumohon jangan sakiti aku.”

Yoona menundukan kepalanya ketakutan dan memejamkan matanya rapat-rapat ketika Donghae menundukan kepalanya tepat di depannya. Ia sangat takut dengan tidakana Donghae berikutnya. Bisa saja pria itu akan menjambaknya atau mencekiknya seperti dulu. Apapun dapat terjadi ketika Donghae sedang dikuasi oleh kegilaanya yang mengerikan.

“Aku adalah monster Yoona. Kau tidak seharusnya mendekatiku dan bermimpi akan mendapatkan hidup bahagia layaknya seorang putri. Sekarang lihat aku! Tatap wajah pria monster ini Yoona.”

Yoona mendongakan wajah dan menatap mata kelam Donghae dengan matanya yang dipenuhi oleh air mata. Ia begitu sedih melihat keadaan Donghae yang seperti ini. Pria itu berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

“Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai monster, karena kau adalah suamiku. Pria yang sangat kucintai.” Ucap Yoona lemah dengan tangan berdarahnya yang mencoba membelai wajah Donghae. Donghae memejamkan matanya nikmat, menikmati setiap belaian lembut dari telapak tangan Yoona yang menguarkan aroma darah yang manis. Ia tidak percaya bahwa wanita di di depannya ini masih tetap pada pendiriannya untuk hidup bersamanya yang jelas-jelas telah menyakitinya berulang-ulang. Ia telah menunjukan seluruh sisi gelapnya dan Yoona masih bertahan bersamanya. Apakah itu tandanya jika Yoona adalah takdirnya? Wanita yang akan menemaninya saat ia menua nanti, dan wanita yang akan melahirkan keturunannya. Membayangkan hal itu membuat jantung Donghae terasa seperti diremas begitu kuat. Ia merasakan sakit yang Yoona rasakan. Ia merasakan itu semua setelah ia melihat wajah penuh air mata Yoona yang mencoba tetap tegar di depannya. Donghae lalu membuka matanya dan mencium kening Yoona penuh perasaan. Ia tidak bisa menyakiti Yoona. Ia ingin melihat Yoona bahagia bersamanya. Dan ia akan segera mewujudkan hal itu.

“Maafkan aku.”

Donghae mengangkat tubuh Yoona dan membawa Yoona ke kamar mereka. Lalu ia segera mengobati luka-luka Yoona dalam diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Satu-satunya kalimat yang diucapkan Donghae setelah kegilaanya mereda adalah kata maaf. Sungguh Yoona tidak percaya dengan apa yang ia dengar, bahwa Donghae meminta maaf padanya. Namun ia bahagia jika pada akhirnya Donghae berhasil mengendalikan kegilaannya yang mengerikan.

“Aku akan mengantarmu ke rumah ayahmu.” Ucap Donghae setelah ia selesai mengobati luka-luka Yoona. Pria itu mengulurkan tangannya di depan Yoona yang langsung disambut Yoona dengan pelukan.

“Kenapa? Kenapa aku harus ke rumah ayahku?”

“Kau lebih aman di sana.”

“Lalu bagaimana denganmu jenderal? Kau tidak sedang baik-baik saja.” Ucap Yoona parau. Donghae mengelus punggung Yoona lembut sambil menghirup dalam aroma rambut Yoona yang menenangkan.

“Aku akan menemui Kim Taeyeon. Tinggalah di rumah ayahmu untuk sementara.”

Yoona mematung di tempat dengan perasaan cemburu yang bergemuruh di dalam dadanya. Donghae akan menemui Taeyeon. Wanita yang jelas-jelas menyukai suaminya. Apa karena itu Donghae menyuruhnya untuk tinggal di rumah ayahnya? Donghae akan pergi bersama Taeyeon dan membantu wanita itu untuk kabur dari jerat hukum. Yoona hampir mengeluarkan protesnya, namun Donghae langsung membungkamnya dengan sebuah kalimat bernada ketegasan yang menunjukan padanya bahwa pria itu tidak mau dibantah.

“Aku tidak menerima penolakan!”

-00-

Lima hari berlalu begitu saja tanpa ada kepastian. Sejak Donghae mengantarkan Yoona ke rumah ayahnnya, ia belum lagi menemui Yoona. Ia masih enggan berhadapan dengan Yoona karena ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Mendadak ia menjadi seperti pria lemah yang kehilangan keberaniannya untuk menemui Yoona. Ia takut akan menggores hati Yoona yang rapuh itu lagi. Ia sekarang menyadari betapa besarnya cinta Yoona untuknya. Sedangkan dirinya belum bisa memberikan apapun untuk Yoona. Hatinya seperti telah mati. Ia hanya bisa merasakan cinta tanpa bisa memberikan cinta.

“Hae… apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Hyukjae heran ketika melihat sahabat sekaligus atasannya itu sedang merenung sendiri di dalam ruang meeting yang sangat sepi. Baru saja ia menyelesaikan meeting dengan menteri Kang yang memintanya untuk membereskan Taeyeon. Dan kemarin ia telah berhasil menuntaskan misi itu. Tepat sebelum Taeyeon melarikan diri, polisi datang untuk menjebloskan Taeyeon ke penjara. Sebagai seorang sahabat, ia tidak mau melihat hidup Taeyeon rusak lebih jauh lagi. Taeyeon memang harus dihentikan karena semua perbuatannya sudah tidak dapat ditoleransi lagi. Bahkan ia sendiri sudah sangat jengah melihat kehidupan Taeyeon yang terlihat seperti kutu loncat. Pergi dari satu pejabat ke pejabat yang lain untuk mengeruk harta mereka dan memanfaatkan kekuasaan mereka.

“Pulanglah dan temui Yoona.”

“Dia lebih baik tinggal bersama ayahnya.” Ucap Donghae datar. Sifatnya yang dingin telah kembali. Meskipun begitu Hyukjae tahu jika Donghae sebenarnya sangat merindukan Yoona.

“Yoona terus mencarimu, dia selalu menunggumu untuk menjemputnya. Kenapa kau tidak menjelaskan semuanya padanya. Kau membiarkan Yoona terus bersedih karena kesalahpahamannya. Ia pikir kau dan Taeyeon menjalin hubungan. Apa kau sengaja melakukannya?”

“Biarkan saja. Aku sengaja mengusirnya pergi dari hidupku.”

Hyukjae mendesah berat sambil menatap Donghae prihatin. Mengapa sahabatnya menjadi sangat menyedihkan seperti itu hanya karena masalah cinta? Bukankah ia sudah terbiasa menghadapi masalah berat dan konflik besar yang menuai peperangan? Kenapa hanya karena sebuah cinta Lee Donghae menjadi sangat lembek seperti ini? Ia tak ubahnya seperti remaja ingusan yang sedang mencoba mempertahankan egonya yang tinggi. Hyukjae rasanya benar-benar gemas melihat sikap Donghae. Ia ingin sekali menendang Donghae untuk pergi menjemput Yoona di rumah ayahnya karena Yoona juga membutuhkan dirinya.

“Tolol! Idiot! Aku tidak menyangka jika kau adalah jenderal yang bodoh Hae.” Ucap Hyukjae tajam. Donghae menatapnya tajam namun tidak melakukan apapun karena apa yang dikatakan Hyukjae memang benar. Ia tolol, ia idiot, dan ia bodoh. Hanya karena masalah perasaan yang rumit seperti ini dapat membuatnya menjadi pria lemah.

“Lebih baik kau pergi. Selesaikan tugas-tugasmu sebelum aku memberimu sanksi.”

Hyukjae mendecih sebal. Ia berjalan mendekati Donghae dan menarik kerah kemeja pria itu hingga membuat Donghae emosi dan akhirnya melayangkan satu pukulan kearah Hyukjae.

“Jangan pernah mencampuri urusanku. Urus saja urusanmu sendiri!”

“Urusan Yoona juga akan menjadi urusanku karena Yoona sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Aku tidak akan tinggal diam jika Yoona terus menerus kau sakiti seperti ini. Memangnya apa sulitnya membalas perasaan tulus Yoona yang rela mengorbankan hidupnya untuk hidup bersama pria gila sepertimu. Jika kau memang tidak mencintainya, setidaknya kau bisa memperlakukan Yoona dengan lebih lembut. Yoona selama ini telah mencoba memahamimu dan mengalah untukmu agar kehidupan pernikahan kalian bahagia. Tapi kau justru selalu mengujinya dengan sikapmu yang berubah-ubah dan hampir membunuhnya beberapa kali. Apa kau sadar tindakanmu itu sangat menyakitinya? Mana janjimu yang akan melindunginya di depan altar? Kau hanya bisa menjaga negara ini agar tetap damai, tapi kau tidak bisa menjaga perasaan Yoona agar tetap damai dan bahagia. Aku kecewa padamu Hae, kau tidak pantas menjadi jenderal!”

Hyukjae berlalu begitu saja dengan sudut bibir membiru karena pukulan Donghae. Ia tak peduli lagi pada Donghae dan ia sudah muak pada pria itu. Persetan jika pangkatnya akan diturunkan karena ia telah menghina seorang jenderal. Pangkat dan segala kehormatan itu tidak penting. Baginya kebahagiaan orang lain lebih penting daripada hanya sekedar pangkat yang dapat dibeli.

-00-

“Selamat sore jenderal, sa….”

“Pergi dan jangan ganggu aku. Aku sedang tidak ingin mendengar laporan apapun.”

Tentara junior itu langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan membatalkan niatnya untuk memberitahu Donghae jika seseorang sedang menunggunya di dalam rumah.

Donghae memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Sudah empat hari ia tidak pulang ke rumah. Selama ini ia terus menyibukan dirinya di markas dengan berbagai pekerjaan yang harus diselesaikannya. Namun hari ini ia tidak bisa lagi tinggal di markas karena ucapan Hyukjae. Sedikit banyak apa yang dikatakan Hyukjae mempengaruhi pikirannya dan membuatnya semakin merasa bersalah pada Yoona.

“Arghh sial!” Umpat Donghae kesal. Lagi-lagi wajah Yoona menari-nari di dalam kepalanya dan membuatnya semakin merasa bersalah pada wanita itu. Ia tidak seharusnya merasa bersalah pada Yoona karena semua ini adalah keinginanya. Ia yang menginginkan Yoona mengetahui kehidupannya dan sikap gilanya. Tapi kenapa ia justru merasa bersalah pada wanita itu? Bukankah dengan begini Yoona dapat memikirkan keputusannya untuk bertahan bersamanya? Ia yakin Yoona tidak akan mau melanjutkan pernikahan mereka setelah ia menunjukan semua kegilaanya di depan wanita itu.

“Jenderal Lee…”

Donghae mendongak, menatap Yoona yang saat ini tengah menatapnya dengan sorot penuh kerinduan di dalam kamar mereka. Sejak kapan Yoona berada di sana? Satu pertanyaan itu berputar-putar di dalam kepala Donghae. Sejak tadi ia tidak menyadari keberadaan Yoona di sana dan ia juga tidak melihat sepatu Yoona di depan rumah. Jadi bagaimana bisa wanita itu ada di sana? Bukankah ia belum memutuskan untuk membawa Yoona pulang?

“Aku menunggumu untuk menjemputku jenderal, tapi kau tak pernah datang. Kemana saja kau selama ini jenderal Lee? Apa kau tidak merindukanku?”

Yoona berjalan mendekat kearah Donghae dengan senyum manisnya yang tidak pernah berubah sejak pertama kali ia melihat senyuman itu. Yoona selalu berusaha terlihat baik-baik saja di depannya. Padahal nyatanya wanita itu sedang menyembunyikan kesedihan yang besar di hatinya.

Grep

Yoona memeluk Donghae erat dan menenggelamkan kepalanya di dalam dada bidang Donghae yang nyaman. Berhari-hari hidup terpisah dari Donghae membuatnya sangat merindukan pelukan ini. Ia rindu saat Donghae memeluknya di malam hari. Dan ia juga merindukan sikap dingin Donghae yang sering membuatnya berteriak gemas dan uring-uringan. Ia merindukan semua yang ada pada Donghae. Bahkan ia juga merindukan kegilaan itu. Selama empat hari berpisah dari Donghae, Yoona mulai sadar jika sampai kapanpun Donghae tidak akan bisa dipisahkan dari kegilaanya. Kepribadian itu akan terus melekat di dalam diri Donghae hingga Donghae menua dan pergi dari dunia ini. Namun satu hal yang bisa dilakukan Yoona untuk menekan kegilaan suaminya, yaitu dengan memberinya limpahan cinta. Yoona yakin cintanya yang tulus pada Donghae dapat membuat Donghae berubah perlahan-lahan.

“Seharusnya kau tidak kembali sebelum aku menjemputmu.”

“Menunggumu benar-benar lama jenderal. Aku sudah sangat merindukanmu. Oh, dan aku perlu mengambil ini darimu.”

Yoona menjulurkan tangannya untuk menggapai kerah seragam militer Donghae dan melepaskan sebuah microchip yang ia tempelkan di sana sejak berhari-hari yang lalu. Jadi selama ini ia mendengarkan semua pembicaraan Donghae dan tidak ada satupun dari peristiwa empat hari yang lalu terlewatkan oleh Yoona. Mulai dari masalah Taeyeon hingga kebohongan Donghae untuk menyingkirkan Yoona dari hidupnya.

“Siapa yang mengajarimu melakukan hal ini?”

Donghae merebut paksa microchip itu lalu menginjaknya tanpa ampun dengan sepatu bootsnya yang besar.

“Hyukjae oppa yang memberikannya padaku, tapi aku belajar darimu jenderal. Aku belajar menjadi licik darimu.” Seringai Yoona puas. Sekarang mereka tampak begitu serasi dengan sifat mereka yang hampir sama. Sedikit banyak Donghae telah mempengaruhi Yoona dan begitu juga sebaliknya.

“Jangan pernah menyuruhku pergi dari hidupmu jenderal karena kau adalah sumber kebahagiaanku. Tidak masalah jika aku harus hidup bersama kegilaanmu, tapi bersama kita akan menekannya perlahan-lahan. Kau bukan monster jenderal, kau adalah manusia dengan sejuta pesona yang berhasil menarikku masuk ke dalam kehidupanmu yang penuh kejutan. Aku mencintaimu jenderal Lee.”

Dengan penuh keberanian Yoona menarik kerah seragam militer Donghae dan melumat bibr tipis Donghae dengan rakus. Kedua kakinya tampak berjinjit untu menyamakan tingginya dengan tinggi Donghae yang menjulang. Kedua manusia itu saling melumat satu sama lain hingga keduanya sama-sama kehilangan kendali dan menginginkan hal lebih dari sekedar ciuman panas.

Bruk

Donghae mendorong tubuh Yoona ke atas ranjang mereka dan segera merangkak naik ke atas tubuh Yoona yang tampak begitu kecil di bawahnya.

“Karena kau memutuskan untuk bertahan, maka tidak ada kesempatan lagi bagimu untuk mundur Yoona. Sekarang aku benar-benar akan mengambil hakku atas dirimu.”

“Hmm, lakukan jenderal. Miliki diriku seutuhnya. Hatiku dan juga tubuhku.” Ucap Yoona yang langsung dibungkam Donghae dengan bibirnya.

 

Epilog

Srakk

Hyukjae mendongakan kepalanya ketika ia mendapati setumpuk foto Yoona bertebaran di atas meja kerjanya. Di depannya Donghae sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan dan wajah merah padam yang sedang menahan murka.

“Apa mak…”

Bugh

“Jangan pernah memata-matai isteriku lagi atau bedebah sialan itu akan mati di tanganku.” Potong Donghae cepat sebelum Hyukjae berhasil menyelesaikan kalimatnya. Setelah memberikan ancaman pada Hyukjae, Donghae segera pergi dari ruangan milik sahabatnya dengan terlebihdahulu mendorong seorang pemuda berusia akhir tiga puluhan yang telah babak belur karena baru saja dipukuli olehnya.

“Maaf bos, kita ketahuan.”

“Bodoh, cepat pergi ke ruang kesehatan dan obati luka-lukamu.” Geram Hyukjae kesal sambil mengusap pipi kananya yang terasa kebas.

33 thoughts on “Chance To Back Off (Oneshoot)

  1. Finally donghae nerima cinta yoona juga, yoona sabar banget sama cinta nx ke hae jd ketularan sifat donghae yg licik kn dia nx. Btw itu hyukjae kenapa mata-matain isteri nx donghae??? Ngamuk kn suami nx yoona jend.lee donghae yg dingin itu….next!!!

  2. This is sooooo good!! Sooo intense!!! I’m so excited!!

    Udah end? Gaakan ada series lainnya dari cerita ini?

  3. Feeling nya ngena banget, sukses buat aku nangisss bombay, bikin yg buat aku senyum senyum dong thor

  4. Yahh epilog dilanjut chingu nanggung nih kelanjutan maslah taeyeon smpek donghae kyaknya sudah mulai terbuka dan membuka hatinya untuk yoona keep fighting👍👍
    Jangan lama lama ya😊😊😊😊

  5. Yahh epilog dilanjut chingu nanggung nih kelanjutan maslah taeyeon smpek donghae kyaknya sudah mulai terbuka dan membuka hatinya untuk yoona keep fighting👍👍
    Jangan lama lama ya😊😊😊😊

  6. donghae pernah suka sama taeyeon??
    gimana dengan yoona??
    semoga aja donghae cepet suka sama yoona….

  7. Misi rahasia lagi?? Tapi apa donghae akan benar benar melibatkan yoona dalam misinya?? Dan jendral Lee aku pikir dia sudah mulai mencintai yoona bukan?? O..ooo.. Lee hyukjae kau benar benar mencari perkara dgn jendral lee..😂😂😂Ah aku berharap semoga mereka berakhir dengan bahagia seperti apa yg yoona harapkan hidup menjadi seorang istri..good storyy 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

  8. Wahhh akhirnya dilanjut jg..
    Donghae mulai luluh sm sikap yoona. Lanjut thor, pngen tau gmana sikap donghae ke yoona nantinya..
    Sequel pleaseeeee..

  9. Author-nim, Demi apa aku sangat suka ini..
    YoonHae, mereka berdua berhasil membuatku uring2an sekaligus gemas dgn semua kelakuannya.
    Oh tunggu dulu.. jangan bilang ini sudah END?? Tolong dilanjut lagi ceritanya thor..
    Seharusnya masih ada banyak kisah yang bisa disajikan setelah Donghae melunakan sikapnya terhadap Yoona..
    Dan ini belum sepenuhnya Happy Ending lohh.. Setidaknya buat yang benar2 mereka bahagia.. terutama Yoona..
    Oke ini terlalu panjang,, tapi ini ceritanya sungguh menarik jika dibuat sequel lagi.. haha..
    Mohon pertimbangannya ya Thor.. karena aku suka Donghae yang berperan sbg orang psikopat yang penuh dengan misteri..

  10. Huaa epilognya gantung banget.. Masih penasaran gimana akhirnya jendral lee sama yoona.. Pliss lah thor dibuat lanjutannya 😂😁

  11. Yahhh ko tiba2 udh end dan epilog aj sie author pdhal lagi seru2nga tuh mereka diranjang wkwkwkwk
    Tolong bkinin sequel yg happy end nya dong thor cerita ttg keharmonisan rumah tangga yoonhaenya hehehe
    Tpi tetep ko Ceritanya bagus banget
    Fighting ya thor

  12. Ini masih ada kelanjutan nya ya kan author? Buat ending yang hakiki juga donk Thor. Buatin sequel pokoknya

  13. Ih ternyata yang jadi spy hyukjae jangan2 suka lagi sama yoona
    Harus ada lanjutannya ya author hehe

  14. Apa ini part akhirnya?
    Agak ngegantung? Apa donghae udh bisa bener” nerima yoona dan bahagiain dy?
    Kenapa hyukjae mata”in yoona?
    Utk mastiin keadaan yoona, krn suka sm yoona, atau ada hal lain?

  15. Eonni ini end ? Eonni dirimu suka sekali membuat diriku digantung dgn ending ff mu 🙁
    Ini wajib ada sequel ny
    Mana moment manis yoonhae
    Sifat hae yg manis aku blm lihat
    Slm ini lihat ny moment mengerikan semua

  16. Sukak.. Akhirnya yoona memutuskan utk bertahan dg donghae dan mau nerima apapun ttg donghae. Smg yoona kuat trus2an sama manusia dingin cem jenderal lee.

    Agak khawatir krn yoona mau dijadikan perangkap, buat nangkap pejabat jahat yg bakal diringkus sama jenderal lee.

    Smg jenderal lee bisa segera balas perasaan Cinta yoona

  17. itu maksud epilog nya apa yaa, ko agak bingung.. apa Hyukjae yg ngelakuin itu jadi mata mata di rumah Donghae.. terasa gk mungkin tapi kenapa epilognya bikin semua trasa mungkin.
    Pas di mau bagian akhir aku suka banget itu, akhirnya Yoona bisa nyeimbangin Donghae dan akhirnya mereka bener” bisa kaya suami-istri sesungguhnya hahaha..
    semoga ada kelanjutan dari epilognya dan semoga hubungan lebih sweet lagi nanti.

  18. greget jga ni sma sikap dinginnya donghae ke yoona . ayoo lah kak bikin sequel lgi buat donghae sikapnya lebih hangat lgi ke yoona.. kasian yoonanya .. fighting kak !!!

  19. yong cintamu tulus pada oppa hae yang
    dingin, kaku dan kejam semoga semua
    akan membaik dan cintamu terbalas
    yong fighting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.