Start From Zero (Sequel Of I Love You Series)

Recomended Song Demi Lovato – Tell Me You Love Me

 

 

Donghae berjalan masuk dengan gaya ponggahnya ke dalam mansion tanpa menyapa para maidnya yang telah berjejer rapi di pintu depan. Malam ini ia begitu lelah setelah melewatkan serangkaian kejadian penuh emosi di kantornya dan juga di kantor Jihyun. Hingga detik ini ia masih tak habis pikir dengan tindakan nekat Jihyun siang ini yang dengan terang-terangan menggodanya di kantornya. Bahkan jika ia tidak memiliki pertahanan diri yang baik, ia pasti akan dengan mudah terjerat dalam jebakan Jihyun. Sayangnya semenjak ia mengenal Yoona, semua wanita seksi ataupun cantik di luar sana yang ditemuinya menjadi tidak menarik. Mereka hanya sebatas cantik secara fisik menurutnya, namun mereka tidak memiliki manner yang cantik yang bisa membangkitkan gairahnya untuk menyentuh mereka, sehingga ia tidak pernah lagi bermain-main dengan wanita murahan di luar sana. Ia lebih senang menghabiskan berjam-jam waktunya bergelung bersama Yoona di atas ranjang mereka yang hangat dan juga nyaman.

Tiba-tiba saja Donghae merasa bergairah dan ingin segera bertemu Yoona. Bayangan percintaan panas mereka kemarin membuat Donghae tidak sabar untuk segera menyeret Yoona ke atas ranjang. Ia ingin melihat wajah polos Yoona yang gelagapan ketika ia mulai menggodanya, atau wajah merah Yoona ketika kemarin wanita itu menonton salah satu jenis film yang sering diputar Hyukjae. Sepupunya itu memang gila, ia memiliki hobi yang sangat mengerikan. Tapi Hyukjae jelas tidak sepertinya yang lebih mengerikan karena pernah merasakan berbagai macam kenakalan remaja yang kadarnya lebih parah daripada hanya sekedar menonton film-film dewasa.

“Daddy!!”

Hyoje berlari kencang menyambut ayahnya yang sedang berjalan memasuki ruang tamu. Gadis kecil itu merentangkan tangannya lebar-lebar dan melompat begitu saja ke dalam dekapannya yang hangat. Donghae dengan penuh kasih sayang menggendong Hyoje dan memberikan beberapa kecupan di pipi serta puncak kepala Hyoje yang menguarkan aroma wangi khas anak-anak.

“Daddy… Kenapa daddy baru pulang?”

Hyoje dengan manja memeluk leher Donghae dan bersandar dengan nyaman di atas pundak tegapnya. Donghae terkekeh pelan dengan sikap manja Hyoje sambil membawa Hyoje menyusuri ruang tamunya untuk menuju ruang keluarga di sebelah ruang tamu.

“Daddy memiliki banyak pekerjaan di kantor. Bukankah daddy biasanya selalu pulang malam? Bahkan daddy lebih sering pulang saat kau sudah tertidur. Ada apa? Kau merindukan daddy?”

Hyoje mengangguk di dalam pelukan Donghae sambil tetap bermanja-manja pada ayahnya. Melihat itu Donghae teringat akan sikap Yoona dulu yang juga sama manjanya seperti Hyoje. Meskipun diawal kehamilannya sikap Yoona masih belum terlalu bersahabat, namun di bulan-bulan menjelang kelahiran Hyoje, Yoona justru menjadi sangat manja padanya. Bahkan wanita itu tanpa malu-malu menahannya untuk tidak pergi ke kantor dan hanya menemaninya seharian di rumah. Jika dipikir-pikir itu adalah salah satu sikap aneh Yoona yang secara tidak langsung menunjukan padanya jika wanita itu telah menerimanya. Hanya saja Yoona terlalu gengsi untuk mengungkapkannya dan menggunaka alasan klise masalah keinginan anak mereka untuk menahannya agar tetap bersamanya di rumah.

“Apa yang kau lakukan hari ini sayang?”

Donghae menanyakan kegiatan putrinya hari ini dan memilih untuk duduk sejenak di atas sofa hitam yang cukup nyaman di ruang keluarga. Sudah lama sekali ia tidak berinteraksi dengan putrinya sedekat ini karena ia terlalu dibuat kalut oleh masalah Yoona dan juga Siwon. Dua orang itu cukup menyita atensinya bulan ini. Belum lagi masalah punggungnya yang tertembak karena insiden penembakan yang dilakukan Siwon membuatnya tidak bebas bergerak. Dokter melarang keras dirinya untuk melakukan aktivitas berat karena khawatir lukanya akan kembali menganga seperti saat Yoona menyerangnya malam itu. Praktis sejak kejadian-kejadian yang cukup rumit itu ia menjadi tidak memperhatikan Hyoje. Ia hanya sesekali memandangi putrinya dari kejauhan saat sedang bermain bersama para maid, Hyukjae, maupun Yoona.

“Hari ini Hyoje memasak bersama mommy, mommy membuatkan Hyoje omellet dengan taburan keju yang super lezat.” Cerita Hyoje lucu dengan gaya anak-anaknya. Donghae tersenyum lembut pada putrinya sambil mengelus surai panjang itu pelan. Melihat Hyoje yang sangat ceria malam ini berhasil membuat keruwetan pikirannya menjadi hilang begitu saja. Sejak ia menikah dengan Yoona dan memiliki Hyoje, ia tidak lagi berminat pergi ke klub untuk menenangkan kesuntukan hatinya. Baginya melihat keluarga kecilnya yang manis di rumah sudah mampu membuat semua masalahnya menguap dan pergi begitu saja. Mereka adalah orang-orang yang berhasil membuatnya merasa berarti hidup di dunia ini. Ia tidak lagi merasa seperti seorang yang dimanfaatkan untuk memberikan uang, namun keberadaanya benar-benar dihargai sebagai seorang kepala keluarga dan juga ayah. Seperti yang Hyoje lakukan sekarang ini. Gadis kecilnya memeluknya erat karena benar-benar merindukannya bukan karena ia adalah pria kaya yang menghasilkan banyak uang dari hasil bisnisnya selama ini. Dan hatinya pasti akan selalu menghangat setiap ia melihat putri kecilnya yang sangat cantik dan juga menggemaskan ini.

“Dimana mommy sekarang?”

“Di belakang, bersama uncle Hyukjae.”

Donghae tanpa sadar menghembuskan napasnya gusar. Lagi-lagi Hyukjae menghabiskan waktu bersama isterinya. Memang untuk beberapa hari kedepan ia memberikan kelonggaran pada Hyukjae untuk bersenang-senang setelah pria itu dulu menghandle semua pekerjaanya di kantor. Tapi bukan berarti kesempatan yang ia berikan dapat dimanfaatkan untuk mendekati Yoona. Jujur ia sangat cemburu pada Hyukjae. Pria itu dengan tidak adilnya dapat menyusup masuk ke dalam kehidupan Yoona yang baru, sedangkan ia tidak. Ia harus berusaha dengan sangat keras agar dapat memenangkan hati Yoona untuk yang ke dua kalinya. Ia lelah. Sesekali ia ingin Yoona sendiri yang datang padanya sambil memeluknya erat seperti dulu.

“Ayo kita menemui mommymu.”

Hyoje mengangguk dalam dekapan Donghae dan tampak sibuk memainkan ujung dasi Donghae yang telah kusut.

“Daddy.. Hyoje mau jalan-jalan ke kebun binatang. Melihat gajah, beruang, burung, dan singa, rooaaarrrr.”

Hyoje menirukan suara singa dan gaya singa khas anak-anak yang tampak menggemaskan untuk Donghae. Ia tak kuasa menahan perasaan gemasnya dengan menciumi pipi Hyoje dan menggelitiki tubuh Hyoje yang berada di dalam dekapannya.

“Ahahahhhahaaa.. Daddy!! Geliiii… Ahahahahaa…”

“Hmm.. Setelah daddy tidak sibuk, kita akan ke kebun binatang.” Janji Donghae. Hyoje berteriak girang sambil mengangkat tangannya ke udara dan menciumi wajah Donghae berkali-kali sebagai bentuk rasa senangnya.

Sementara itu ketika Donghae telah menginjakan kakinya di dapur, ia melihat Hyukjae dan Yoona sedang berbicara serius. Lebih tepatnya Hyukjae sedang mendesak Yoona untuk mengatakan sesuatu, sedangkan isterinya itu terus berkelit dengan sibuk meletakan piring-piring di atas meja.

“Ayolah, ceritakan padaku ada apa? Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku Yoong.”

“Tidak oppa, kau ini terlalu sok tahu. Aku hanya lelah, itu saja. Aku pusing dengan masalah Siwon oppa yang tidak segera menemukan titik terang. Bahkan aku tidak tahu bagaimana prosedur yang benar untuk menangani kasus percobaan pembunuhan yang dilakukan Siwon oppa.” Keluh Yoona gusar.

“Ada apa?”

Yoona dan Hyukjae langsung menoleh bersamaan kearah sumber suara. Yoona yang melihat Donghae datang bersama Hyoje berusaha untuk menghindari kontak mata yang sejak tadi dilakukan Donghae. Sedangkan Hyukjae tampak menyambut Donghae dengan santai dan menarikan sebuah kursi untuk Donghae duduk.

“Duduk Hae. Yoona sudah membuatkan sup ikan kesukaanmu.”

Yoona meletakan semangkuk sup ikan di depan Donghae dan mangkuk yang lain di depan Hyukjae. Ia kemudian mengambil alih Hyoje dari gendongan Donghae dan menyuruh Donghae untuk memakan makanannya.

“Mommy, Hyojae mau jus.”

Hyoje merengek manja pada Yoona di atas kursi khususnya ketika Yoona meletakan gadis kecil itu untuk menyiapkan menu makan malam untuk Hyoje.

“Ini, minum perlahan oke.”

Yoona meletakan segelas jus di depan Hyoje sambil memberikan peringatan dengan jari telunjuknya. Sedangkan Donghae hanya memandang itu semua dengan kerutan samar yang tercetak jelas di wajahnya. Ia merasa sesuatu telah terjadi pada Yoona dan wanita itu sedang mencoba untuk menutupinya.

“Kau tidak makan?” Tanya Donghae sambil menyendok kuah sup ikanya. Yoona mengambil tempat di sebelah Hyojae sambil meletakan menu makan malam milik Hyoje.

“Aku akan makan setelah menyuapi Hyoje. Hyoje-ah, ayo buka mulutmu.”

Yoona memasukan sesendok sup jamur ke dalam mulut Hyoje yang langsung dimakan gadis kecil itu dengan lahap. Hyoje cukup kelaparan malam ini karena ia telah melewatkan jam makan snacknya sore tadi karena Yoona lupa menyiapkan cemilan ringan untuk teman menonton kartun putrinya.

“Besok kita akan menghadiri persidangan kasus percobaan pembunuhan Siwon.”

“Hae, apa kita harus membicarakannya saat makan?”

“Suasana saat ini sedang bagus untuk membahas masalah itu Hyuk.”

Hyukjae tampak tak setuju saat Donghae mulai membawa sebuah topik yang cukup serius ke meja makan. Namun Donghae tampak tak peduli dan tetap melanjutkan pembicaraanya mengenai Siwon. Lagipula ia yakin Hyoje akan tetap baik-baik saja, gadis kecil itu juga tidak mungkin akan paham apa yang sedang dibicarakan oleh empat orang dewasa di depannya. Tapi menurut Hyukjae hal itu tetap saja tidak baik untuk dilakukan, sehingga ia tidak mau terlalu banyak menimpali informasi yang dibawa oleh Donghae mengenai kasus yang menimpa Siwon.

“Kenapa mendadak sekali? Bahkan aku belum mengurus masalah pengacara dan hal penting lainnya.” Timpal Yoona bingung. Dalam hati Yoona cukup yakin jika Donghae telah melakukan sesuatu siang tadi hingga berujung pada dipercepatnya proses hukum yang menimpa Siwon. Seketika ia merasa muak dan jijik saat membayangkan Donghae. Ia pikir sekarang bukan hanya wanita yang bisa bersikap murahan, namun pria juga bisa melakukan hal yang sama.

“Kau terlalu lambat Yoong, aku tidak sabar jika harus menunggumu untuk bergerak, jadi lebih baik aku yang mengambil tindakan.”

“Kami sebenarnya akan menemui Jihyun siang tadi, tapi Jihyun sedang sibuk saat kami datang.” Beritahu Hyukjae. Donghae menatap Yoona untuk meminta penjelasan, sedangkan Yoona langsung mengalihkan tatapan matanya pada Hyoje dengan sibuk menyuapi Hyoje yang sangat lahap menelan makanannya.

“Benarkah? Kenapa aku tidak bertemu dengan kalian?” Tanya Donghae sambil mengernyitkan dahinya.

“Mungkin kau sedang berada di ruangan komisaris Ahn.”

Jawaban yang diberikan oleh Yoona cukup masuk akal karena ia memang sempat menemui komisaris Ahn setelah Jihyun melakukan hal yang menjijikan padanya. Namun melihat gelagat aneh yang sedang ditunjukan Yoona membuatnya tidak yakin jika Yoona berada di kantor kepolisian saat ia sedang bertemu komisaris Ahn, bisa saja Yoona melihatnya saat ia sedang berada di dalam ruangan Jihyun.

“Kenapa tidak menungguku jika kau datang ke kantor polisi? Kau bisa pulang bersamaku.”

“Aku takut mengganggumu.” Jawab Yoona seadanya. Donghae memilih untuk diam dan tidak melemparkan pertanyaan apapun lagi pada Yoona. Ia tahu suasana hati Yoona sedang tidak baik malam ini, sehingga ia memilih untuk segera menghabiskan makan malamnya lalu naik ke kamarnya untuk mandi. Ia membutuhkan banyak siraman air dingin malam ini untuk menjernihkan kepalanya dari berbagai macam prasangka yang berputar-putar di dalam kepalanya.

-00-

“Kau yakin kau baik-baik saja?”

Donghae menahan tangan Yoona ketika wanita itu hendak berjalan meghampiri Siwon yang sedang duduk di atas kursi pesakitan. Yoona menatap Donghae tajam dan menyuruh Donghae untuk melepaskan cekalan tangannya yang cukup kuat di lengannya yang kecil.

“Aku baik-baik saja oppa. Mari kita selesaikan semua masalah ini.” Jawab Yoona tegas. Ketika menatap manik pekat Donghae, ekor matanya tak sengaja menangkap siluet wajah Jihyun tepat di belakang Donghae. Seketika ia merasa muak. Ia tahu wanita itu bukanlah wanita berkelas seperti yang diceritakan Hyukjae padanya. Wanita itu tak ubahnya seperti sebuah sampah yang mengotori kehidupan rumah tangganya. Namun yang membuatnya sakit adalah sikap Donghae pada wanita itu yang terlihat baik-baik saja. Bahkan Donghae tak mengatakan apapun padanya sejak kemarin setelah makan malam mereka. Pria itu memilih untuk segera tidur setelah mereka makan malam tanpa membahas apapun lagi. Lalu pagi ini Donghae juga tak banyak bicara. Pria itu tiba-tiba saja mengajaknya untuk pergi ke pengadilan pukul setengah sembilan pagi.

“Jangan melebihi batas.”

Satu kalimat itu menjadi kalimat terakhir sebelum Donghae melepaskan cekalan tangannya pada lengan Yoona dan membiarkan isterinya pergi menemui Siwon. Meskipun ia sendiri sangat tidak rela, namun ia harus melakukannya kali ini agar semuanya segera berakhir. Ia ingin Siwon segera mendapatkan hukumannya dan ia segera mendapatkan ketenteramannya lagi.

“Kau tidak duduk?”

Sebuah suara menginterupsi pikiran Donghae dan membuat pria itu harus berbalik ke belakang untuk bertatapan dengan sang lawan bicaranya. Namun hanya dari nada suaranya Donghae sudah dapat menebak jika wanita itu adalah Ahn Jihyun.

“Aku akan duduk sekarang.”

Donghae meninggalkan Jihyun begitu saja dengan aura dingin yang menguar dari seluruh tubuhnya. Setelah insiden kemarin ia berharap tidak perlu lagi bertemu dengan Jihyun karena ia muak dengan wanita itu. Jangan sampai masalah baru muncul di dalam keluarganya setelah ia berhasil mencari jalan keluar untuk masalah Siwon. Jihyun hanya masa lalunya. Dan ia telah membuang Jihyun dari kehidupannya bersama dengan wanita-wanita murahan lain yang pernah mengisi hari-harinya dulu.

“Boleh aku duduk di sini?”

Donghae tanpa kata hanya menatap lurus ke depan tanpa mengindahkan Jihyun yang telah mendaratkan dirinya dengan nyaman di sebelahnya. Tatapan matanya kini hanya terkunci pada Yoona dan Choi Siwon yang sedang sibuk berinteraksi di depan sana dengan kepala berasap karena terlalu keras menahan setiap emosi yang menguar di dalam hatinya. Ia tidak suka melihat Yoona begitu perhatian pada Siwon, padahal bedebah sialan itu pernah hampir membahayakan nyawanya dan juga hampir membunuhnya.

“Mereka terlihat sangat dekat, apa mereka pernah memiliki hubungan sebelumnya?”

Lagi-lagi Jihyun bersuara di sebelahnya tanpa memikirkan bagaimana hatinya saat ini yang sedang meletup-letup menahan kecemburuan. Ingin rasanya ia membentak wanita itu dan mendorongnya menjauh, tapi ia tidak mungkin melakukannya. Mereka sedang berada di tempat umum. Ia tidak mau mengotori nama baiknya hanya karena sebuah gangguan kecil yang ditimbulkan oleh Jihyun, jadi ia berusaha tetap diam tanpa terpengaruh sedikitpun pada Jihyun.

“Maafkan aku Hae, perbuatanku kemarin memang sangat tidak pantas. Aku seharusnya menghormati keputusanmu dan tidak mengganggumu karena kau sudah bahagia dengan keluargamu. Tapi kumohon jangan mendiamiku seperti ini, aku ingin tetap menjalin hubungan yang baik denganmu.”

“Jangan harap aku mau melakukannya, karena aku tahu seperti apa dirimu Ahn Jihyun.” Peringat Donghae tegas. Jihyun tak ubahnya seperti kucing yang begitu manis dan menggemaskan saat ia sedang tenang, namun jika ia sedang marah, maka ia tidak akan segan-segan menggunakan kuku-kuku tajamnya untuk menyakiti orang lain.

“Kenapa kau berburuk sangka padaku? Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita yang renggang. Aku tahu aku bodoh, seharusnya aku tidak menggodamu dengan cara murahan seperti kemarin. Tapi aku terlalu kalut Hae, kupikir kau masih Lee Donghae yang dulu, yang tidak mengenal cinta. Kumohon maafkan aku.”

“Jika kau ingin aku memaafkanmu, maka pergilah dari hadapanku sekarang karena aku sangat muak melihatmu di sini.” Desisi Donghae tajam sambil memberikan tatapan penuh intimidasi pada Jihyun. Jihyun membalas tatapan tajam Donghae dengan sorot sedih yang terlihat jelas dari kedua matanya, namun ia tak kunjung beranjak dari tempat duduknya. Ia dengan keras kepalanya tetap duduk di sebelah Donghae hingga persidangan itu dimulai.

-00-

Di lain tempat Yoona sedang bersama Siwon untuk memberikan dukukan pada pria itu sebelum hakim memulai sidang untuk menetapkan hukuman bagi pria itu. Dengan wajah sayu Siwon menyambut kedatangan Yoona dengan senyum manisnya yang sedikit dipaksakan. Yoona melihat banyak sekali perubahan yang terjadi pada wajah Siwon. Siwon saat ini tampak lebih kurus dan juga pucat. Kantung mata di kedua mata Siwon juga terlihat sangat mengerikan. Ia dengan penuh prihatin menangkup pipi Siwon sambil menatap manik sayu itu dengan tatapan sedih.

“Kenapa oppa? Apa yang mereka lakukan padamu?”

Siwon menurunkan tangan Yoona dari wajahnya dan menggeleng lemah. Semua yang terjadi padanya hingga detik ini adalah karena Lee Donghae. Ia tahu jika penyiksaan yang ia dapatkan selama berada di penjara adalah karena Donghae. Pria itu adalah pria dengan segala kekuasaan yang mengelilinginya. Hanya dengan menjentikan ibu jarinya, maka semuanya akan ia dapatkan dengan mudah. Termasuk menyiksa dirinya hingga hampir mati di dalam penjara. Untung saja Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bernapas, meskipun rasanya hidup di saat-saat yang tidak menguntungkan seperti saat ini tidak ada bedanya dengan sebuah kematian yang menyakitkan.

“Kau datang? Maafkan perbuatanku dulu Yoong. Aku tidak bermaksud menyakitimu.”

“Aku tahu oppa. Kau adalah pria yang baik. Jika bukan karena dendam, kau pasti tidak akan melakukan hal itu.”

Yoona menggenggam tangan Siwon erat dan menatap manik sayu itu dalam. Di belakang tubuh Siwon, ia dapat melihat Donghae sedang menatapnya dengan tajam. Kedua mata elang pria itu memerintahkannya untuk menjauhi Siwon secepatnya, namun ia mengabaikannya dan hanya fokus pada Siwon. Tak berapa lama ekor matanya menangkap sosok Jihyun yang kini sedang mendekati suaminya. Wanita itu dengan tidak tahu malunya mencoba mengalihkan perhatian Donghae yang sejak tadi sedang sibuk menatapnya.

“Yoong, kau harus hidup bahagia?”

“Yya? Ada apa oppa?”

Yoona tampak tidak fokus dan tidak bisa menangkap maksud ucapan Siwon dengan jelas. Ia pun segera menyudahi pandangan matanya pada sang suami agar ia bisa mendengarkan setiap kalimat yang dilontarkan Siwon dengan jelas.

“Kau harus hidup bahagia. Bersama pria jahat itu.”

Siwon terlihat masih begitu dendam pada Donghae, namun tak bisa dipungkiri jika ia telah kalah dari pria itu. Sejak tiga tahun yang lalu pun sebenarnya ia telah kalah, hanya saja ia masih bertahan pada egonya untuk mengalahkan Donghae, sehingga ia tidak pernah menyerah untuk menjatuhkan Donghae hingga sejauh ini. Sayangnya sekarang ia merasa telah benar-benar kalah. Tak ada lagi harapan untuk menjatuhkan Donghae karena pria itu memang bukan lawannya.

“Kau tahu, Lee Donghae adalah pria yang jahat. Dulu ia memporak-porandakan bisnisku, lalu ia juga mengambil kebahagiaanku. Bahkan ia juga hampir membunuhku beberapa kali. Dia benar-benar pria yang sangat jahat Yoong. Bertahun-tahun aku mencoba menghancurkannya. Aku berusaha mendekatimu yang telah menjadi isterinya agar dapat membantuku untuk menghancurkannya, namun ternyata kau justru berbalik mencintainya. Dua tahun hidup bersama Donghae dan memiliki anak membuat cara pandangmu pada Donghae berubah. Kau mencintai Donghae dan mulai menerima pernikahan kalian. Belum lagi anak kalian yang sangat menggemaskan membuatmu tidak bisa lagi kembali padaku. Di tahun ke tiga pernikahanmu kau semakin jauh dariku. Setiap kali kita bertemu secara diam-diam kau tidak pernah berhenti membujukku untuk melupakan semua dendamku pada Donghae. Kau selalu mengatakan padaku jika Donghae sebenarnya adalah pria yang sangat baik yang tidak pernah menyakiti orang lain tanpa alasan yang jelas. Saat itu aku benar-benar sakit Yoong. Wanita yang selama ini kuperjuangkan ternyata telah berpaling dariku. Kau benar-benar memujanya saat itu. Membenarkan semua perbuatannya dan kau tidak lagi menyalahkannya karena telah membunuh ayahmu atau menghancurkan bisnisku. Kau justru membujukku untuk bergabung bersama bisnis yang dirintis oleh si keparat Lee Donghae…..”

“Oppa…”

Yoona mendesah frustasi sambil menenangkan Siwon agar tidak terlalu terbawa emosi. Tapi Siwon tak mengindahkan tegurannya dan tetap melanjutkan ceritanya dengan emosi yang begitu membara di kedua matanya.

“Suatu hari kita kembali bertemu. Di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai dan yang biasa kau datangi untuk berbelanja keperluan rumah tanggamu. Kita bertemu untuk membicarakan masalah rencanaku karena aku sudah muak dan bosan menunggu. Selama dua tahun kau menahanku agar aku tidak bergerak untuk membalaskan dendamku pada Donghae, tapi kau justru menikmati peranmu sebagai isteri dari pria itu. Aku yang mulai sadar akan sikapmu memutuskan untuk segera mengambil tindakan, namun kau siang itu menolaknya dengan keras. Kau dengan terang-terangan mengatakan padaku jika kau telah berubah. Kau mencintai pria itu dan tidak mau lagi membantuku. Kau mengancam akan mengadukanku pada Donghae dan membiarkan Donghae mengambil tindakan untuk semua rencana jahat yang telah kurencanakan. Aku yang tidak terima berusaha mengejarmu. Tapi kau justru terus berlari untuk menghindariku hingga akhirnya kau tertabrak. Aku melihatmu saat itu sedang merenggang nyawa di depanku, tapi aku hanya melihatmu tanpa melakukan apapun. Aku berharap saat itu kau mati agar kau tidak bisa membeberkan rencanaku pada suamimu yang brengsek itu. Tapi aku justru dikejutkan dengan berita mengenai kondisimu yang mengalami koma. Seluruh masyarakat Korea turut bersedih atas insiden yang menimpamu karena Lee Donghae memiliki pengaruh yang begitu kuat di Korea. Setiap hari beritamu selalu disiarkan dan kondisimu selalu dipantau. Meskipun kau disembunyikan di dalam rumahnya yang megah, tapi beritamu terus saja berkeliaran di media elektronik. Jujur aku benci melihatmu yang bahagia bersama si keparat itu. Aku ingin membunuhmu dan malam itu aku sebenarnya berniat untuk melenyapkanmu juga setelah melenyapkan si keparat itu. Sayangnya Tuhan tidak mengijinkan aku melakukannya. Lagi-lagi aku gagal untuk yang kesekian kalinya. Aku justru semakin terpuruk dengan kehidupanku yang menyedihkan ini. Mungkin sebentar lagi hakim akan menjatuhi hukuman mati untukku karena pria itu jelas tidak akan memberikan ampunan padaku. Namun kau harus ingat Yoong bahwa sejak awal kau memang ditakdirkan bersama pria itu. Sebenci apapun kau padanya, kau akan tetap berakhir dengannya karena kau adalah takdirnya. Aku ingin meminta maaf padamu karena telah melakukan banyak sekali kesalahan padamu selama ini Yoong. Meskipun kau tidak mengingatnya, tapi aku adalah saksi dari kisah cintamu pada pria itu Yoong. Lee Donghae adalah pria yang benar-benar kau cintai di masa lalu. Jadi berbahagialah dengannya. Dan kau boleh membenciku karena aku memang pantas untuk dibenci.”

Yoona tak kuasa menahan air matanya dan ia langsung memeluk Siwon dengan erat. Meskipun ia cukup marah dengan semua pengakuan yang diberikan Siwon, namun ia juga cukup terharu pada keberanian Siwon untuk mengakuinya. Ia tahu, jauh di dalam hati Siwon, pria itu sangat baik. Namun karena memiliki dendam yang begitu besar, pria itu akhirnya berubah menjadi monster yang haus akan darah.

“Lepaskan Yoong, waktumu bersamanya sudah habis.”

Tiba-tiba Yoona merasa pelukanya dipisahkan begitu saja dan ia langsung diseret manjauhi kursi pesakitan Siwon untuk duduk di sebuah kursi khusus para saksi. Dengan gusar ia menghempaskan cekalan tangan Donghae di lengannya dan menyuruh Donghae untuk menjauh darinya karena ia masih muak pada pria itu. Seenaknya saja ia melarangnya untuk menjauhi Siwon yang notabenenya telah berkata jujur padanya, sedangkan pria itu bebas berdekatan dengan Jihyun kapanpun ia mau.

“Apa yang kau lakukan?”

“Duduk atau aku akan mengajukan hukuman mati untuk Siwon.” Perintah Donghae tegas. Yoona duduk dengan wajah gusar sambil membuang wajahnya kearah lain.

“Kau sudah melebihi batas Lee Yoona, kau harus mendapatkan hukuman setelah ini.”

“Kenapa harus aku yang mendapatkan hukuman? Padahal aku tidak melakukan apapun dengan Siwon. Justru kau yang seenaknya berdekatan dengan Jihyun dan melakukan hal-hal menjijikan bersama Jihyun tidak mendapatkan hukuman apapun. Seharusnya aku yang memberikan hukuman padamu karena kau telah menipuku! Kau selama ini selalu memaksaku untuk menerimamu menjadi suamiku dan ayah dari anakku, tapi di belakangku kau tetap saja pria jahat yang selama ini kukenal. Jangan pernah menyentuhku lagi atau mengatur hidupku lagi karena aku muak denganmu!”

Kata-kata penuh ketegasan itu menjadi akhir dari sesi percakapan sengit mereka sebelum hakim memberikan tanda jika persidangan akan segera dimulai. Donghae yang merasa susana diantara mereka sedang tidak kondusif memilih untuk mengalah dan tidak memaksa Yoona untuk beradu mulut dengannya. Niat awalnya untuk memberikan peringatan pada Yoona tidak berjalan baik. Wanita itu justru membalik tuduhannya dengan mengaitkannya dengan Jihyun. Sekarang ia harus meredam kemarahannya dan berusaha fokus pada jalannya persidangan.

-00-

Pukul setengah satu siang, Donghae dan Yoona tiba di rumah setelah melewati sesi sidang yang cukup alot di pengadilan. Namun untungnya hari ini Donghae cukup baik. Ia tidak mengajukan tuntutan untuk menjatuhi Siwon dengan hukuman mati, Donghae hanya menuntut untuk dijatuhi hukuman penjara selama dua puluh lima tahun tanpa denda, sehingga pada akhirnya hakim memutuskan menjatuhi hukuman penjara untuk Siwon. Namun meskipun begitu suasana hati Yoona juga tak kunjung membaik. Bahkan Yoona langsung berlalu begitu saja ke kamar mereka tanpa mengindahkan sapaan hangat Hyukjae di ruang tamu ketika mereka berdua telah menginjakan kaki mereka di mansion mewah milik keluarga Lee.

“Ada apa dengannya? Apa persidangan hari ini tidak berjalan lancar?” Tanya Hyukjae penasaran. Tidak biasanya Yoona mengabaikannya seperti itu setelah mereka mengikrarkan diri untuk menjadi sepupu ipar yang saling menyayangi satu sama lain.

“Entahlah, tiba-tiba saja ia marah dan bersikap seperti itu. Mungkin ia sedang kesal pada Jihyun karena ia sempat membawa-bawa nama Jihyun dalam pembicaraan kami.”

“Apa itu ada hubungannya dengan sikap aneh Yoona kemarin?” Tanya Hyukjae tidak yakin. Pasalnya Yoona sendiri juga tidak mau mengaku padanya. Wanita itu tiba-tiba saja bersikap aneh setelah mereka datang ke markas kepolisian tanpa berhasil menemui Jihyun kemarin siang.

“Ada apa dengannya kemarin?”

“Kemarin kami datang ke kantor polisi untuk bertemu Jihyun, tapi tak berapa lama setelah masuk Yoona kembali keluar dan mengajakku untuk segera pergi. Ia mengatakan padaku jika Jihyun sedang memiliki urusan penting sehingga ia tidak bisa menemuinya untuk mengurus masalah Siwon. Apa kau kemarin bertemu dengan Jihyun? Kemarin kau juga datang kan?”

Donghae berpikir sejenak dan mulai mengambil kesimpulan jika Yoona telah salah paham. Ia yakin kemarin siang Yoona melihat dirinya sedang bersama Jihyun di dalam ruangan wanita itu. Dan sialnya kemarin Jihyun sedang menggodanya hingga ia terpaksa memberikan pelajaran pada wanita itu dengan cara-cara yang bisa membuat siapapun menjadi salah paham hanya dengan melihatnya.

“Yoona pasti salah paham.”

“Apa maksudmu?”

“Kemarin aku bertemu dengan Jihyun, lalu ia menggodaku dan membuatku harus memberikan sedikit pelajaran padanya. Mungkin Yoona berpikir aku sedang berciuman dengan Jihyun dan melakukan hal-hal intim lainnya. Yah, sekarang aku tahu apa masalahnya.” Ucap Donghae santai. Meskipun ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan pada Yoona nanti agar Yoona tidak salah paham, namun setidaknya masalah itu bukan masalah serius. Masalah mereka tentang Siwon telah berhasil ia selesaikan, dan ia akan segera menyelesaikan masalah kesalahpahaman itu juga.

“Aku senang mendengarnya kalau begitu.” Ucap Hyukjae tiba-tiba sambil terkekeh kecil. Donghae menaikan alisnya tidak mengerti. Semakin lama ia semakin tidak bisa menebak jalan pikiran sepupunya yang aneh itu.

“Yoona cemburu pada Jihyun. Bukankah itu bagus? Itu berarti ia sudah menerimamu Hae. Kau harus berbangga diri sekarang.” Ucap Hyukjae santai sambil menepuk pundak Donghae pelan. Donghae tersenyum kecil menanggapi ucapan Hyukjae dan mulai merasakan dadanya menghangat. Ia tahu cepat atau lambat Yoona akan menyadari perasaanya padanya karena perasaan itu tidak akan mungkin hilang bersama memorinya. Perasaan itu akan tetap tersimpan di dalam hatinya.

“Hyuk bantu aku.”

Tiba-tiba Donghae mendapatkan ide untuk meredakan kemarahan Yoona. Ia dengan wajah penuh misteri segera mengambil ponselnya dan menghubungi beberapa orang yang dapat membantu mewujudkan rencananya.

“Apa yang harus kulakukan untukmu sepupu?”

“Bantu aku meluluhkan hati Yoona.” Ucap Donghae sambil menerawang jauh ke depan. Malam ini akan menjadi awal dari segalanya. Yoona, Hyoje, dan dirinya.

-00-

Tok tok tok

Yoona mengangkat kepalanya dari bantal dan mulai melirik jam besar yang tergantung di dinding kamarnya. Pukul lima sore. Ia telah tertidur cukup lama sejak ia pulang dari pengadilan untuk menghadiri persidangan Siwon.

Dengan malas Yoona segera beranjak dari ranjangnya yang nyaman dan sedikit menyugar rambut berantakannya agar tidak mengganggu pandangan matanya yang masih sedikit kabur.

“Ya… tunggu sebentar.”

Yoona membuka pintu kamarnya dan langsung menemukan salah satu maidnya sedang membawa bungkusan besar di tangannya.

“Nyonya, tuan Donghae berpesan pada anda untuk menggunakan gaun ini.”

“Gaun? Untuk apa?”

Yoona menerima gaun itu sambil memikirkan apa yang akan dilakukan Donghae malam ini. Sejujurnya ia masih kesal pada pria itu, namun Donghae sendiri juga tidak memberikan penjelasan apapun padanya hingga membuatnya merasa dongkol hingga detik ini. Dugaanya, jika Donghae tidak ingin menjelaskan apapun maka apa yang dilakukan suaminya kemarin bersama Jihyun benar-benar nyata. Mereka melakukan hal menjijikan yang tidak pantas di kantor wanita itu.

“Tuan tidak mengatakan apapun nyonya, tapi anda diminta untuk mengenakannya malam ini. Kalau begitu saya permisi.”

Yoona membawa masuk gaun putih panjang dengan potongan dada rendah itu ke dalam kamarnya dan melemparnya begitu saja ke atas ranjang. Ia merasa malas untuk menggunakan gaun panjang yang terlihat sangat ribet itu. Apa Donghae pikir ia bisa diluluhkan begitu saja hanya dengan sebuah gaun? Yoona mendecih kesal tanpa sadar sambil berkacak pinggang di depan gaun cantik yang terhampar di atas ranjangnya.

“Untuk apa pria menyebalkan itu memberikanku gaun? Hahh, aku benar-benar kesal padanya!” Racau Yoona seperti orang gila. Ia pun memutuskan untuk mandi agar tubuhnya terasa lebih segar. Dan yang lebih penting ia ingin menyegarkan pikirannya dari rasa cemburu bodoh yang ia rasakan sejak kemarin.

-00-

“Yoona, kenapa kau masih menggunakan pakaian santai seperti itu?”

Hyukjae yang hendak masuk ke dalam kamarnya segera menghentikan Yoona yang hendak turun ke bawah. Pria itu menahan tubuh Yoona dan mengamati Yoona dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan menelisik yang membuat Yoona risih.

“Memangnya kenapa oppa? Aku tidak akan pergi kemanapun hari ini.”

“Tapi Donghae menyuruhmu untuk menggunakan gaun yang diberikan padamu sore tadi. Ayo cepat ganti bajumu!”

Hyukjae mendorong tubuh Yoona masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan suara melengking Yoona yang terus berteriak-teriak agar pria itu menjauh darinya.

“Hyukjae oppa! Lepaskan!”

“Kau harus menggunakan gaun itu sekarang dan berdandan dengan cantik!”

Hyukjae berkacak pinggang dengan galak di depan Yoona sambil mengangsurkan gaun putih yang sebelumnya diletakan begitu saja di atas ranjang. Dengan gusar Yoona merampas gaun putih itu dan segera membukanya dari plastik bening yang membungkusnya.

“Apa oppa ingin melihatku berganti pakaian? Cepat keluar!” Usir Yoona galak. Hyukjae tertawa kecil sambil mengangkat kedua tangannya di udara.

“Yahh… sebenarnya aku ingin melakukannya, tapi aku masih sayang pada nyawaku Yoong. Donghae akan langsung membunuhku jika aku melihatmu berganti pakain.”

“Dasar kalian menyebalkan! Keluar oppa!”

Yoona mendorong tubuh Hyukjae kasar dan membanting pintu kamarnya dengan keras tepat di depan wajah Hyukjae. Melihat itu Hyukjae hanya mampu menggelengkan kepalanya sambil meraba dadanya tak habis pikir.

“Benar-benar pasangan yang mengerikan.” Gumam Hyukjae sambil lalu.

-00-

Di taman belakang Donghae telah siap dengan sebuah meja bulat dan berbagai hidangan yang tertata di atasnya. Malam ini ia ingin melakukan dinner bersama Yoona. Dan ini adalah dinner pertama yang ia lakukan semenjak Yoona kehilangan ingatannya. Dulu ia sempat membuat pesta untuk menyambut kembalinya Yoona dari masa komanya, tapi Yoona justru kabur dan membat semua rencananya menjadi kacau. Padahal malam itu ia ingin memperkenalkan Yoon pada semua relasi bisnisnya yang ia undang secara khusus ke rumahnya. Tapi sudahlah, itu hanya masa lalu yang pahit. Ia tidak perlu lagi mengingatnya dan hanya menjalani hari-harinya saat ini untuk masa depan yang lebih baik.

“Hai…”

Donghae menoleh sekilas dan menemukan Jihyun sedang menyapanya dengan senyum manis. Wanita itu melirik sekilas berbagai hidangan yang tersaji di atas meja sambil membatin senang karena ia pikir Donghae akan mengajaknya untuk makan malam bersama.

“Apa aku terlambat?” Tanya Jihyun sambil berjalan mendekati Donghae, hendak menarik sebuah kursi yang paling dekat dengannya. Namun Donghae segera mencekal tangan itu dan menahannya agar tidak duduk di atas kursi yang ia persiapkan untuk Yoona. Malam ini ia jelas tidak akan mengajak Jihyun untuk makan malam bersama Yoona.

“Tunggu, kau tetap berdiri.”

Jihyun dengan kikuk menarik tangannya kembali dan tetap berdiri dengan kaku di sebelah Donghae. Sejujurnya ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Donghae, namun beberapa jam yang lalu pria itu menghubunginya dan menyuruhnya untuk datang ke rumahnya. Tentu saja ia dengan senang hati segera datang karena hal ini memang yang telah ditunggunya. Ia pikir Donghae telah berubah pikiran mengenai tawarannya kemarin.

“Ehem..”

Suara dehaman Yoona membuat Donghae refleks berbalik dan menatap Yoona dari ujung  kaki hingga ujung kepala. Wanita itu tampak begitu menawan dengan gaun putih pemberiannya dan rambut panjang yang ia gerai dengan anggun. Donghae benar-benar tak bisa melepaskan tatapannya dari Yoona hingga Yoona berjalan kearahnya dan meminta penjelasan atas kedatangan Jihyun di rumah mereka.

“Jadi, ada apa ini sebenarnya?”

Yoona masih terlihat dingin seperti sebelumnya. Namun wanita itu sebisa mungkin mengontrol emosinya agar tidak meledak di hadapan dua manusia menjijikan yang sangat dibencinya sejak kemarin.

“Kita akan makan malam sayang.”

“Bersama mantan kekasihmu?” Tanya Yoona sakarstik. Donghae tersenyum samar dibalik wajah dinginnya dan segera menarik pinggang Yoona agar mendekat kepadanya. Malam ini ia memiliki rencana untuk menyadarkan Jihyun sekaligus untuk menjelaskan pada Yoona jika ia telah salah paham dengan apa yang ia lihat kemarin. Rencananya hari ini bisa dibilang cukup efektif. Dalam sekali eksekusi, dua wanita akan mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan.

“Tidak, tentu saja tidak sayang. Kita hanya akan makan malam berdua, tapi malam ini aku memang mengundang Jihyun datang untuk menjelaskan semua kesalahpahaman yang telah terjadi antara kau dan aku. Jihyun, cepat jelaskan apa yang terjadi kemarin siang di kantormu!”

Yoona refleks menoleh kearah Donghae dengan mimik bingung yang tercetak jelas di wajahnya. Ia pikir Donghae tidak tahu penyebab dari kemarahannya hari ini, tapi ternyata Donghae tahu segalanya dan sengaja mengundang Jihyun untuk mengakui semua perbuatannya karena pria itu sadar jika semua penjelasannya hanya akan menjadi omong kosong jika ia tidak mendatangkan pihak lain yang juga terlibat dalam kegiatan mereka kemarin siang di kantor wanita itu. Tapi yang menjadi pertanyaanya adalah apakah Jihyun benar-benar akan mengakuinya atau justru akan semakin memperumit keadaan diantara mereka bertiga?

“Aap apa? Apa maksudmu Hae?”

Donghae menggeram kesal. Jihyun benar-benar menguji kesabarannya sejak kemarin. Ia tidak tahu bahwa wanita itu semakin lama semakin berubah menjadi wanita bodoh yang tidak berguna. Bahkan ia juga murahan.

“Jelaskan pada Yoona apa yang telah kau lakukan padaku kemarin! Jangan coba-coba untuk berbohong atau mengarang cerita Ahn Jihyun karena aku tidak segan-segan untuk membeberkan kebusukanmu yang telah menerima suap dari salah satu anggota parlemen.”

Seketika wajah polos tanpa dosa itu berubah menjadi pucat. Donghae telah mengetahui rahasianya yang sudah ia tutup sangat rapat sejak berbulan-bulan yang lalu. Tapi sayangnya Donghae adalah pria penuh kuasa yang akan dengan mudah mendapatkan apapun yang ia inginkan, termasuk informasi remeh mengenai kejahatan para anggota dewan yang sebenarnya sudah lama menjadi rahasia umum.

“Kau licik! Kenapa kau mengancamku seperti itu?” Tanya Jihyun tidak terima. Yoona terlihat cukup bosan dan ingin segera pergi karena dua manusia yang sedang bersitegang di depannya justru membahas hal-hal tak penting yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan dirinya.

“Aku tidak akan menggunakan cara licik jika kau tidak menjebakku. Sekarang cepat katakan yang sebenarnya pada Yoona atau rahasiamu akan segera diketahui oleh ayahmu dan seluruh rakya Korea!”

“Baik baik baik! Aku akan mengakui semuanya! Yoona, aku mengaku salah. Donghae dan aku tidak pernah melakukan apapun. Aku yang menggodanya agar ia mengkhianatimu. Tapi Donghae justru menolakku mentah-mentah dan membuat harga diriku tertampar! Aku mengaku masih memiliki perasaan untuk Donghae, namun Donghae tidak pernah memiliki perasaan apapun padaku. Donghae hanya mencintaimu, jadi aku minta maaf atas semua sikap menjijikanku kemarin.”

Jihyun menyelesaikan kalimat panjangnya dalam satu tarikan napas dan segera berlalu pergi tanpa menunggu persetujuan dari Donghae maupun Yoona. Padahal Yoona ingin sekali melakukan sesuatu pada wanita itu karena ia telah membuatnya uring-uringan sejak kemarin dan terlihat seperti remaja bodoh yang baru saja patah hati.

See, kau telah mendengar semuanya Yoong. Aku tidak melakukan apapun dengannya.” Ucap Donghae santai dengan wajah khasnya yang sombong seperti biasa. Yoona mendecih sebal dan menyilangkan tangannya di depan dada. Ia tidak menyangka jika dulu ia pernah bahagia dan memuja pria sombong di depannya. Tapi mengingat bagaimana Siwon menjelaskan masa lalunya yang rumit itu membuatnya percaya jika dulu maupun sekarang perasaannya untuk Donghae masihlah sama, ia mencintai pria itu. Hanya saja ingatannya tentang keburukan pria itu lebih dominan dan membuatnya membenci pria itu untuk semua kejahatan yang diingatnya.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang? Makan?” Tanya Yoona sangsi. Sungguh ia masih belum bisa menghilangkan sikap sakarstiknya pada Donghae meskipun pria itu telah mengklarifikasi masalah kesalahanpahamannya. Ia masih terlalu dongkol karena pria itu membuatnya menahan kesal semalaman dan membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.

“Bisakah sekali saja kau membuang sikap aroganmu itu? Aku sudah berusaha melunakan sikapku untukmu malam ini. Aku ingin berdamai denganmu dan memulai semuanya dari awal. Tidak peduli apakah ingatanmu telah kembali atau mungkin tidak akan pernah kembali. Yang terpenting adalah kehidupan kita saat ini dan kehidupan kita di masa depan. Biarlah masa lalu menjadi sebuah kenangan yang akan menjadi bagian dari perjalanan cinta kita.”

Yoona menganga. Ia benar-benar menganga mendengarkan sederet kalimat panjang Donghae yang sarat akan nada frustrasi dan juga kegusaran. Pria itu pasti telah bekerja keras untuk berdamai dengan egonya karena ia tahu Donghae bukan tipe pria romantis yang gemar mengumbar kata-kata seperti tadi.

“Apa aku harus terharu?”

Donghae berdecak dan memilih untuk duduk di kursi yang berada di depannya. Tidak ada gunanya membalas setiap ucapan sengit Yoona karena wanita itu masih dipenuhi aura kemarahan karena kesalahpahamannya. Lebih baik ia mempersiapkan kejutan berikutnya untuk Yoona.

“Duduklah, kita makan sekarang.”

Yoona menarik kursi di depannya dan segera duduk dengan manis. Wanita itu mengambil gelas tinggi di depannya yang berisi wine lalu menyesapnya. Sementara itu Donghae memilih untuk segera memulai acara makan malamnya karena ia lapar. Persetan dengan dinner romantis yang direncanakannya karena Yoona pun sepertinya juga tidak terlalu menyukainya. Terbukti dengan sikap Yoona malam ini yang justru bersikap arogan padanya meskipun ia sudah berusah untuk mengklarifikasi kesalahpahaman diantara mereka.

“Makanlah.”

Yoona membuka penutup makannya dan ia langsung dibuat bertanya-tanya dengan sebuah kotak beludru merah yang terletak di tengah-tengah piringnya.

“Ini apa?”

Donghae menyambar kotak beludru itu cepat dan dengan gerakan tiba-tiba pula ia sudah berlutut di depan tubuh isterinya sambil memegang kotak merah itu dengan gaya yang sangat kaku.

“Jangan tertawa, aku tahu ini sama sekali tidak romantis.”

Seketika tawa Yoona pecah. Ucapan pria itu justru membuatnya tertawa hingga air matanya mengalir turun dari sudut matanya karena tawanya yang terlalu keras.

“Apa kau sedang ingin melucu? Bangunlah oppa, aku tahu kau bukan pria romantis.”

Ingin rasanya Donghae membanting kotak beludru itu dan membentak Yoona karena wanita itu sama sekali tidak menghargai usahanya. Ia telah berguru pada Hyukjae selama satu jam agar ia bisa melakukan satu hal romantis di depan Yoona. Tapi hasilnya, ia justru terlihat seperti seorang badut di depan Yoona daripada seorang gentleman.

“Lee Yoona, aku sedang berusaha memperbaiki segalanya.”

Takk!

Donghae tak tahan lagi dan langsung membanting kotak merah itu di atas meja. Harga dirinya benar-benar hancur malam ini karena ia mengikuti saran konyol Hyukjae untuk menjadi pria romantis. Sampai matipun ia tidak akan pernah bisa menjadi pria romantis seperti sepupunya.

“Jadi ini apa?”

Yoona mulai membuka kotak beludru itu setelah ia berhasil mengendalikan tawanya yang keras. Entah mengapa setelah Jihyun mengakui segalanya, hatinya terasa lebih ringan. Ia lega jika ternyata Donghae tidak berselingkuh dengan wanita itu. Ia bahkan semalam nyaris mencekik Donghae saat pria itu tertidur pulas di sebelahnya. Ia kesal pada Donghae yang bisa tidur dengan mudahnya di sebelahnya, sedangkan dirinya tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun karena terus dihantui bayangan perselingkuhan Donghae dan Jihyun.

“Aaapa maksudnya ini?” Tanya Yoona bingung. Ia menemukan sebuah cincin berlian yang begitu indah di dalam kotak beludru itu. Donghae lalu mengambilnya dan menarik tangan kanan Yoona untuk menyematkan cincin itu di jari manis isterinya.

“Cincin pernikahan kita. Aku ingin memulainya dari awal lagi. Dulu aku memasangkannya dengan penuh paksaan di jari manismu hingga jarimu sedikit lecet. Dan sekarang aku akan memasangnya dengan hati-hati agar jari-jarimu ini tidak lecet.”

Donghae memasangkan cincin itu pelahan lalu mengecup punggung tangan isterinya lembut. Yoona yang melihat itu hanya mampu terdiam sambil menahan setiap gejolak haru yang berdesakan di dalam dadanya. Meskipun ia tidak bisa mengingat apapun, namun hatinya mengingatnya. Ia merasakan kelembutan dan perasaan tulus itu di hatinya. Sekarang ia benar-benar yakin jika hatinya hanya untuk pria itu, begitu juga sebaliknya.

“Maafkan aku karena pernah menjadi pria brengsek dalam hidupmu. Tapi kau harus tahu jika kau adalah satu-satunya wanita yang bisa memenangkan hatiku. Aku telah bersumpah di hadapan Tuhan empat tahun yang lalu untuk selalu setia kepadamu, dan sekarang aku kembali bersumpah di depanmu jika aku akan selalu setia kepadamu. Aku tidak akan tidak akan pernah menduakanmu Yoona, kau adalah satu-satunya wanita yang berhasil mengubah hidupku yang semula suram menjadi penuh warna. Terlebih saat kau melahirkan Hyoje, aku benar-benar merasa menjadi pria paling bahagia dan juga beruntung saat kau melahirkan Hyoje untuk melengkapi kehidupan rumah tangga kita. Sekarang aku tidak peduli lagi dengan ingatanmu atau apapun yang terjadi di masa lalu, yang terpenting adalah sekarang dan masa depan. Yoong, jadilah wanitak untuk selama-lamanya. Hingga aku tidak bernapas lagi dan tidak bisa menggenggam jemari ini.”

Sekarang Yoona benar-benar menitikan air mata haru. Ia tidak menyangka Donghae bisa melakukan hal seromantis ini padanya. Kesan galak maupun dingin yang biasanya ditunjukan pria itu seketika hilang entah kemana. Yang ia lihat saat ini adalah Lee Donghae yang lembut dan penuh dengan keromantisan. Tanpa dapat mengatakan apapun, Yoona langsung menarik kerah kemeja Donghae dan mencium pria itu. Melumatnya dan menyalurkan seluruh perasaan cinta yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia harap dengan ciuman itu Donghae dapat memahami perasaanya yang juga sangat mencintai pria itu.

“Katakan kau mencintaiku Yoong.”

“Aku mencintaimu oppa. Maaf karena pernah melupakanmu, tapi hatiku mengingat seluruh cintamu oppa.” Bisik Yoona parau di depan bibir Donghae. Donghae tersenyum lembut pada Yoona dan kembali melumat bibir merah muda itu. Ia tidak mau kehilangan barang sedikitpun kesempatan untuk menyalurkan rasa cintanya pada Yoona, terlebih lagi wanita itu kini telah menerimanya. Menerima kehadirannya seutuhnya seperti dua tahun yang lalu saat wanita itu melahirkan Hyoje.

“Jadi sekarang kau benar-benar mencintaiku? Aku tidak mau dikecewakan seperti dulu Yoong. Kau hadir di dalam mimpiku dan mengatakan jika kau mencintaiku, tapi ternyata itu hanya sebuah mimpi.”

“Mimpi? Tidak oppa, aku pernah mengatakannya. Setelah dokter mengobati lukamu, aku pernah mengatakannya. Hanya saja saat itu aku mengatakannya dengan ragu-ragu. Lalu kau jatuh tertidur setelahnya karena pengaruh obat yang sebelumnya kau minum. Jadi itu bukan mimpi.”

Donghae memandangi senyum itu lekat-lekat dan merekamnya dengan sungguh-sungguh di dalam memorinya. Dulu ia pernah merasa sangat buruk karena ia telah membuat Yoona menderita. Dan setelah itu ia selalu bertekad pada dirinya sendiri untuk membuat Yoona selalu tersenyum dan merasa bahagia dengan pernikahan mereka.

“Berjanjilah untuk selalu tersenyum di depanku Yoong, karena aku juga akan berusaha untuk membuatmu tersenyum. Seperti saat ini.”

Yoona tersenyum manis di depan Donghae dan Donghae tidak bisa mengabaikannya dengan tidak mencium bibir Yoona yang seksi.

“Ahh aku bosan dengan akhir yang penuh ciuman.” Gumam Yoona yang langsung membuat Donghae menghentikan gerakan tubuhnya. Saat ini mereka masih saling mencondongkan tubuhnya dengan sebuah meja yang berukuran sedang di tengah-tengah mereka. Mungkin jika mereka tidak sedang dimabuk cinta, punggung keduanya sudah terasa pegal.

“Kalau begitu kita tutup makan malam ini dengan sebuah rencana untuk masa depan kita. Menambah satu kehidupan baru di rumah ini, hmm?” Tanya Donghae menggoda. Yoona membalas godaan Donghae dengan kerlingan nakal sambil berbisik penuh nada sensual yang di depan pria itu.

“Tawaran yang menarik. Hyukjae oppa sepertinya sudah memiliki persediaan film yang baru.”

Namun pada akhirnya Donghae tetap mencium bibir Yoona dan membawa Yoona ke dalam pelukannya. Ia menyapu bersih seluruh hidangan mahal yang tersaji di atas meja agar ia bisa dengan mudah menjelajahi setiap inci tubuh Yoona yang sejak tadi memanggil-manggilnya untuk mendekat.

-00-

“Hyoje-ah, kenapa pamanmu ini selalu menjadi bagian yang paling menyedihkan?” Tanya Hyukjae menyedihkan sambil menatap nanar pasangan yang tengah kasmaran di bawahnya. Saat ini ia tengah mengintip kegiatan dinner yang dilakukan oleh sepupunya dari balkon kediaman mereka di lantai dua. Sementara itu Hyoje tampak tak peduli dan terlihat sibuk memainkan boneka barbienya yang baru saja dibelikan oleh Donghae.

“Uncle, temani Hyoje bermain barbie.” Rengek Hyoje dengan wajah memelasnya yang membuat Hyukjae gemas. Pria itu segera membawa keponakannya masuk ke dalam rumah dan meninggalkan kegiatannya untuk mengintip sang sepupu yang sudah mulai panas di bawah sana.

“Baiklah, kita bermain barbie sekarang. Paman pastikan kau akan segera mendapatkan adik setelah ini.” Ucap Hyukjae girang sambil mengecup pipi Hyoje gemas.

30 thoughts on “Start From Zero (Sequel Of I Love You Series)

  1. Yessss akhir yg bahagia Yoonhae wlau Yoona hilanh memorynya…thankk ya Thor mau mengabulkan kemauan readermu yg maksa…di tunggu ff Yoonhae lainnya..

  2. Yeahh walaupun yoona gak kembali ingatan nx tapi dia bisa merasakan ketulusan cinta donghae padanya, and happy end… ya hyukjae emg selalu penuh dg koleksi film yadong sampe yoona ketularan….

  3. Yeaaayyyy
    Yoona mencintai hae lg
    Ya mau gmn pun mereka pst punya ikatan batin yg kuat.
    Hyoje ya smg cepat dpt adik baru

  4. Your Comment
    ada lanjutanya lagi ya. senyum senyum sendiri kangen mereka nih. huu. terimakasih authornim telah menyempatkan waktu untuk menulis ini. wkwk

  5. ahhh akhirnyaaaaa….
    bikin sequel lagi dong kak, masih pengen liat romantisnya mereka kayak gimana😆😆
    thank youu udh diupdate, ditunggu selanjutnya ya kak😆😆😆

  6. Huaa akhirnya update sequelnyaa .. Keren!! akhirnyaaaa yoona balik lagi sama donghae.. Sukaaa 😂😍😍

  7. Pada akhirnya YoonHae bersatu kembali..
    Dan untuk Hyukjae, terima saja nasibmu nak.. ngga usah iri.. haha.
    Masih ada sequelnya kah?? Setidaknya sampai Hyoje benar2 punya adik baru..
    ditunggu FF yang lainnya..

  8. Aww sosweet 😍😍🙈 akhirnya yoonhae bersatu lgi dan udh nggk ada lagi kesalahpahaman antara Yoonhae.. Fighting kk.. 😚😚

  9. Akhirnya beres dan semua masalahnya jelas.. tinggal nunggu the next sequel buat liat kebahagian mereka selanjutnya setelah akur.. semoga Hyoje bener” punya adik nya dan semoga Hyukjae juga cepet” punya pasangan ya biar gak baper terus liat keromantisan YoonHae kekekekeke

  10. yeeeyy akhirnya saling mengungkapkan cintaa .. ngakak jga sma scene.na hyukjae oppa wkwkwk.. next.na di tunggu lagi ..

  11. ditunggu kehadiran keluarga barunya.
    ternyata hati yang berbicara, lupa
    tapi rasa tulus dari hati selalu akan ada.
    gomawi thor next chap nya ditunggu

  12. yeayy akhirnya semua kembali ke yang seharusnya. yak LDH ga dimana2 begitu kelakuannya haha. bisa dong nih sequel hyoje punya adik wkwk.

  13. Kekekek suka suka endingnya. YoonHae jjang!!! Tapi ditunggu sequelnya yah thor kalau ada. Hehehe fighting 😊

  14. kerennnnnn eonni di tunggu sampai yoona hamil anak ke 2 😁😁😁
    hwaithing eonni ✊✊🎉🎉😘😘😍

  15. Akhirnya… Yoona bisa terima hae jadi suaminya. Kalo udah jodoh ya gituuu. 😅
    Hyojae nnti main sama adeknya yaaa.. Pengen ada sequel, liat reaksi hyojae punya adek. 😁😁

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.