Bullets Of Justice: This is The Begining Of Our Story (End)

Recomended Song Ali – The Two Of Us by Alfindah

 

Yoona termenung di pinggir trotoar sambil memandangi lalu lalang para intel, petugas kepolisian, dan para tim medis yang sibuk mengevakuasi korban ledakan bom bunuh diri. Rasanya kejadian pagi ini seperti mimpi untuk Yoona. Baru tiga hari yang lalu ia sadar dari amnesiannya yang mengerikan, dan sekarang ia telah dihadapakan pada sebuah kejadian mengerikan lain yang berhasil merenggut beberapa nyawa yang tak berdosa. Banyak anggota intel yang gugur malam ini karena membela dirinya, demi menyelamatkan dirinya dan belenggu mafia kejam yang sejak dulu telah menjadi incara tim mereka. Namun Yoona tidak pernah menyangka jika kejadiannya akan sedahsyat malam ini. Oh Sehun… pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, adik kecilnya yang selalu memujanya, ternyata tak sepolos itu. Oh Sehun selama ini telah menipu banyak orang dengan topeng manisnya yang benar-benar membuat semua orang terlena akan sikapnya yang baik itu. Bahkan ia tidak pernah menduganya sedikitpun hingga ia menjadi sosok Krystal. Wanita muda yang kejam dan haus akan darah.

Yoona memijit pelipisnya pelan sambil mengerang kecil saat ia mengingat hari-harinya ketika menjadi Krystal. Semua yang terjadi padanya selama ia amnesia tak serta merta hilang begitu saja dari kepalanya, justru berbagai macam kejadian yang menimpanya ketika menjadi Krystal turut berputar-putar di dalam kepalanya hingga ia merasa sangat hina. Bayangan ketika ia menjadi strapper terlihat begitu jelas di depan matanya dan membuatnya jijik pada dirinya sendiri. Belum lagi sikap kasarnya pada Donghae hingga ia hampir membunuh Donghae saat di Vegas membuat hatinya sakit dan sesak. Betapa kejamnya dulu saat ia menjadi Krystal. Ia tidak tahu apa yang dilakukan orang-orang jahat itu hingga mereka berhasil menyapu bersih ingatannya sebagai Yoona dan menggantinya menjadi Krystal. Untung saja saat itu ia tidak sampai membunuh Enzo dengan peluru yang ia tembakan pada anak kandungnya sendiri, ia pasti akan benar-benar menyesal jika sampai membahayakan nyawa Enzo. Mungkin ia akan langsung melenyapkan nyawanya sendiri setelah ia sadar dari perbuatan kejamnya pada darah dagingnya sendiri.

Yoona menghapus bulir-bulir air matanya dengan cepat ketika Donghae tengah berjalan kearahnya dengan wajah lelah yang menunjukan kekhawatiran. Yoona berusaha menampilkan senyum hangatnya pada Donghae dan menggenggam tangan pria itu erat-erat untuk menguatkan dirinya sendiri karena ia sangat takut sekarang, entah karena apa.

“Bagaimana penyelidikannya?” Tanya Yoona penasaran. Tiga puluh menit yang lalu mereka mendapatkan kabar jika mobil yang digunakan Sehun untuk kabur tiba-tiba meledak di tengah jalan yang sepi. Dan saat ini tim medis dan anggota penyidik yang lain sedang menangani kasus itu. Mereka ingin memastikan apakah ada korban lain yang ikut terseret dalam ledakan itu atau hanya keempat biang keladi kekacauan malam ini.

“Polisi dan tim medis sedang mengevakuasi korban. Sejauh ini mereka hanya menemukan empat korban tewas dalam ledakan bom itu. Dan menurutku empat korban itu adalah Sehun, Yunho, Park Jaejong, dan Park Juhyuk. Mayat keempat korban setelah ini akan diotopsi untuk menguatkan dugaan kami sebelumnya. Apa kau lelah sayang?”

Donghae mengangkat tangan kirinya yang bebas dari genggaman tangan Yoona untuk mengelus wajah Yoona yang sayu. Serangkaian kejadian yang menimpa isterinya beberapa hari ini pasti membuat jiwanya terguncang. Belum lagi masalah Enzo yang hingga kini masih merasa ketakutan saat melihatnya, membuat Donghae cukup khawatir pada keadaan Yoona.

“Ya, sedikit.” Jawab Yoona seadanya. Wanita itu kemudian menatap manik sendu Donghae dalam sambil mengeluarkan bulir-bulir air mata yang sejak tadi ditahannya.

“Oppa, aku takut….”

Donghae merangkul pundak Yoona dan membiarkan isterinya menyandarkan kepalanya pada pundak tegapnya untuk menumpahkan seluruh air mata yang sudah ditahannya sejak tadi.

“Apa yang harus kulakukan oppa? Bagaimana caranya agar aku bisa kembali menjadi Yoona. Apa yang kulakukan selama ini saat menjadi Krystal benar-benar sangat mengerikan oppa. Bahkan aku hampir membunuhmu di Vegas dan juga hampir membunuh Enzo. Belum lagi aku pernah menyakiti banyak orang yang dulunya selalu berdiri di belakangku sebagai sekutuku. Aku takut oppa. Aku takut mereka membenciku dan tidak mau menerimaku lagi. Malam ini seperti sebuah mimpi buruk untukku oppa.”

“Ssshhh.. tenanglah Yoong, semuanya akan baik-baik saja.”

Donghae berusaha menenangkan Yoona dan membawa Yoona ke dalam pelukannya. Saat ini jiwa isterinya sedang terguncang. Dua tahun menjadi Krystal memang bukan waktu yang singkat. Bahkan ia sendiri sangat tersiksa melewati dua tahun tanpa Yoona. Selama ini ia hanya bisa bersabar, mengawati Yoona dari kejauhan, dan melindungi Yoona dari incaran anak buahnya sendiri yang hendak menggunakan Yoona untuk menangkap Park Juhyuk. Perjuangan mereka hingga pada titik ini benar-benar tidak mudah. Banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk mencapai akhir yang bahagia. Termasuk mengorbankan nyawa seorang pria sebaik Sehun. Jujur ia tidak tahu tentang rencana Sehun yang akan meledakan dirinya sendiri bersama sang bos mafia. Ia pikir Sehun akan menjebak ketiga orang itu untuk dijebloskan ke dalam penjara. Namun ia masih ingat bagaimana sikap Sehun saat ia meminta pria itu bertanggungjawab atas semua sandiwara konyolnya yang telah mereka mainkan selama dua tahun. Pria itu dengan terang-terangan menunjukan sikap ketusnya dan dengan penuh kesungguhan menolak keras idenya untuk menyeret Park Juhyuk dan keponakannya ke dalam penjara. Sehun mengatakan padanya jika Park Juhyuk, Park Jaejong, dan Jung Yunho harus segera dilenyapkan karena mereka adalah kunci penting dari berdirinya organisasi itu. Jika mereka hanya dijebloskan ke penjara, mereka tetap mampu mengontrol bisnis mereka melalui orang-orang dalam yang telah mereka suap. Namun jika mereka mati, mereka tidak akan pernah bisa menyuap siapapun. Mereka akan benar-benar lenyap seperti hantu yang akan segera dikirim ke neraka.

“Ayo kita pulang.”

Donghae memapah tubuh rapuh Yoona menuju mobilnya yang berada di halaman parkir sebuah ruko yang tutup. Dengan pasrah Yoona mengikuti langkah Donghae tanpa mengucapkan sepatah katapun pada suaminya. Namun ia kemudian teringat akan Enzo yang pagi ini mungkin sedang mencari mereka, lebih tepatnya mencari Donghae.

“Bagaimana dengan Enzo? Kita ke rumah sakit sekarang?”

“Tidak Yoong, kita pulang ke rumah kita.”

Donghae menggeleng tegas pada Yoona dan memaksa Yoona masuk ke dalam kursi penumpang. Yoona menatap Donghae tidak setuju dan bersikeras untuk menemui Enzo di rumah sakit. Ia harus segera membuat Enzo kembali percaya padanya dan menganggapnya sebagai ibu.

“Enzo sudah aman bersama eommamu dan eommaku. Eommaku datang semalam setelah kau pergi. Selain itu Jihyun juga menemaninya di rumah sakit.”

Yoona menghembuskan napasnya pasrah dan segera masuk ke dalam mobil. Apa yang dikatakan suaminya benar, saat ini Enzo sudah aman bersama kedua eommanya dan juga wanita baik hati bernama Jihyun. Untuk hari ini setidaknya ia perlu menenangkan pikirannya yang kalut agar ia tidak terbawa emosi saat bertemu Enzo. Kemarin malam ia hampir menangis meraung-raung dan membentak Enzo karena putranya itu terus menatap ketakutan kearahnya. Padahal ia adalah ibunya. Sedangkan saar bersama Jihyun, Enzo justru terlihat nyaman dan sangat menerima kehadiran wanita itu. Yoona jelas cemburu dengan kehadiran Jihyun di dalam keluarganya. Terlebih lagi wanita itu menatap Donghae dengan tatapan penuh cinta yang membara di kedua matanya. Namun ia sadar jika Donghae tak memiliki perasaan apapun pada wanita itu. Sikap Donghae pada Jihyun sejauh yang ia lihat hanyalah sikap seorang pria biasa yang merasa berhutang budi karena Jihyun telah membantunya menjaga Enzo selama ia disibukan dengan misi-misinya di markas.

-00-

Yoona berbaring miring di atas ranjang sambil memandangi wajah Donghae lekat-lekat. Pagi ini mereka memilih untuk pulang ke rumah yang telah lama tidak mereka tinggali bersama sambil mengistirahatkan pikiran serta tubuh mereka yang lelah. Namun Yoona sama sekali tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur. Ia justru sibuk memandangi wajah Donghae sambil mengelus wajah Donghae lembut. Ia terlalu merindukan momen-momen kebersamaan mereka yang telah dua tahun tidak ia rasakan.

“Oppa.. kenapa kau masih menungguku?”

Donghae membuka matanya nyalang sambil menatap manik mata Yoona sungguh-sungguh. Beberapa detik yang lalu ia sudah tenggelam ke dalam alam mimpi yang indah. Namun suara lembut isterinya kembali membuatnya terjaga. Ia sejujurnya masih merasa takut jika apa yang ia rasakan saat ini hanyalah mimpi, maka ia tidak mau kehilangan sedikitpun momen bersama Yoona.

“Karena aku yakin kau masih hidup.”

“Tapi bagaimana jika keyakinanmu saat itu salah dan aku benar-benar Krystal, putri Park Jaejong.”

“Kau isteriku. Ikatan batin diantara kita bukan sebuah ikatan sederhana yang baru saja terbangun Yoona. Kita telah hidup bersama lebih dari sepuluh tahun, dimulai saat kau menjadi bagian dari intel negara. Sinyal yang kau berikan padaku begitu kuat hingga aku yakin jika kau masihlah hidup di luar sana.” Jawab Donghae bersungguh-sungguh. Donghae mengambil tangan Yoona yang masih bertengger di wajahnya lalu mengecupnya dengan lembut.

“Tapi aku pernah melukaimu oppa. Menembakmu ketika di Vegas, meneriakimu dengan kata-kata kasar yang sangat tidak pantas untuk diucapkan, dan melakukan hal-hal murahan di klub malam. Kenapa kau masih setia menungguku? Kenapa kau tidak berpaling pada wanita lain, seperti Jihyun mungkin…” Ucap Yoona dengan suara kecil. Ia takut kalimat terakhirnya akan membuat Donghae marah karena sejak dulu Donghae tidak suka jika Yoona mengait-ngaitkannya dengan wanita lain.

“Aku hanya mencintaimu Yoona. Meskipun kau tidak kembali sekalipun, aku tetap akan mencintaimu dan tidak akan menikah dengan wanita lain. Lagipula aku dan Jihyun tidak memiliki hubungan apapun. Aku telah menganggapnya sebagai adikku sendiri. Meskipun dulu kami pernah dijodohkan, tapi aku tidak pernah mencintai Jihyun karena kau telah berhasil menarik hatiku padamu.”

Yoona tersipu dengan kalimat terakhir Donghae yang sangat romantis itu. Selama ini Donghae jarang mengeluarkan kata-kata romantisnya karena Donghae adalah pria tegas yang tidak mengenal sebuah romantisme. Baginya kata-kata cinta penuh keromantisan tidaklah penting karena pria itu lebih menyukai sebuah tindakan nyata daripada hanya sebuah omong kosong yang tidak terbukti kebenarannya. Namun pagi ini Donghae telah membuktikan padanya jika ia juga mampu bersikap romantis, hanya saja frekuensinya tidak akan sering. Hanya di saat-saat tertentu ketika emosi mereka sedang meluap-luap.

“Jadi itukah alasan Jihyun menangis saat itu?”

“Jihyun menangis? Memangnya ada apa dengannya?” Tanya Donghae tidak mengerti. Yoona tersenyum maklum pada suaminya yang tidak peka itu karena sejak mereka menikah Donghae memang seperti itu. Ia tidak pernah peka pada perasaan orang-orang disekitarnya. Jadi tak jarang ia berteriak langsung pada Donghae jika ia sedang marah, karena Donghae tidak akan paham jika ia hanya menunjukan emosi marahnya hanya dari gestur tubuh.

“Malam itu aku melihat Jihyun menangis di luar kamar Enzo saat aku tiba-tiba muncul sebagai Yoona. Wanita itu jelas sekali terluka karena cintanya padamu tidak terbalas. Apa oppa tidak pernah menyadarinya?”

“Aku tahu. Aku tahu jika Jihyun menyukaiku, tapi aku tidak mau memberi harapan padanya. Kau tahu aku hanya mencintaimu Yoong, berpaling pada wanita lain benar-benar tidak mudah. Sejujurnya aku ini cukup jahat karena memanfaatkan Jihyun untuk membantu mengurus Enzo.” Aku Donghae jujur. Pria itu terlihat begitu terbuka pada isterinya dan tidak mau menutup-nutupi apapun dari Yoona, kecuali masalah Sehun.

“Bicaralah baik-baik dengan Jihyun, jangan membuatnya terluka. Wanita sebaik dan secantik Jihyun pasti bisa mendapatkan pria yang tepat dengan mudah. Aku takut cintanya padamu akan membuatnya tidak peka, maksudku mungkin ia sebenarnya dicintai oleh pria lain yang tulus mencintainya, tapi ia tidak peka karena ia terlalu melihatmu oppa.”

“Apa kau cemburu?”

“Apa?”

Yoona menaikan alisnya sambil menatap Donghae kelimpungan. Sebenarnya ia tidak cemburu, hanya sedikit terganggu. Ya… Ia sedikit terganggu karena selama ia pergi Donghae nyaris saja menjadi milik wanita lain. Untung saja Donghae adalah tipe pria setia yang memiliki hati yang sulit, sehingga posisinya sebagai isteri hingga saat ini masih aman dan tidak tergoyahkan sedikitpun.

“Kkenapa aku harus cemburu?” Tanya Yoona gugup. Donghae tersenyum menyeringai sambil menangkup wajah isterinya yang kecil di depannya. Melihat Yoona yang sedang cemburu memang selalu menjadi favoritnya. Dulu betapa ia sangat merindukan saat-saat seperti ini, dan sekarang ia berhasil mendapatkan momen itu lagi.

“Aku selalu suka melihat wajah cemburumu sayang.”

“Dan aku selalu suka melihat wajah tampanmu oppa.”

Donghae tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium bibir merah muda Yoona yang sangat menggairahkan untuknya. Sebentar saja mereka berdua sudah saling menautkan bibir mereka satu sama lain dengan tempo yang cukup cepat dan menggebu-gebu. Melihat Yoona yang mulai kehabisan napas, Donghae memutuskan untuk mengakhiri ciuman mereka dan membiarkan Yoona menghirup udara sejenak.

“Rasanya masih sama seperti saat Oppa menciumku terakhir kali. Oppa, kenapa kau waktu itu mengajakku ke rumah dan… mengikatku? Lalu… kau menyentuhku.”

Yoona bertanya dengan wajah memerah dan perasaan malu yang luar bisa berkecamuk di dadanya. Meskipun mereka sudah menikah  cukup lama, tapi saat Donghae menyentuhnya beberapa hari yang lalu membuatnya merasa cukup malu. Apalagi saat itu ia tengah menjadi Krystal, bukan menjadi Yoona.

“Awalnya aku hanya ingin mengintrogasimu, mengintimidasimu, dan membuatmu mengakui seluruh perbuatan Park Jaejong, tapi aku terlalu merindukanmu Yoong. Kau benar-benar seperti Yoonaku. Tak peduli saat itu kau terus menyangkal sebagai Krystal, tapi aku tetap menganggapmu sebagai Lee Yoona, isteriku.”

Donghae mengucapkannya dengan sedikit bumbu-bumbu kebohongan yang berhasil dikarangnya. Tentu saja saat itu ia berani mengambil resiko menyentuh Krystal karena ia tahu jika itu Yoona. Tapi sedikit yang disayangkannya adalah karena saat itu ia tidak berhasil mengendalikan dirinya. Andai saja ia tidak lepas kendali, Krystal tidak akan mengamuk dan menembak Enzo.

“Bagaimana jika saat itu aku bukan Yoona? Bagaimana jika Yoona telah benar-benar mati?”

“Sudahlah Yoong.”

Donghae mendesah berat dan tidak mau lagi membahas mengenai masa lalu yang menyakitkan itu. Lagipula ia cukup merasa bersalah karena ia selama ini telah memanfaatkan Sehun dan membuat Sehun harus berkoban dengan jalan yang sangat tragis. Pria itu sangat baik. Donghae berhutang segalanya pada Oh Sehun, kebahagiaanya, keluarganya, dan masa depannya. Jika ia memiliki kesempatan, ia ingin melakukan sesuatu untuk Oh Sehun. Sayangnya Sehun tidak pernah mengatakan apapapun mengenai keinginannya. Satu-satunya keinginan Sehun adalah melihat Yoona bahagia. Jadi ia akan mewujudkan hal itu. Ia akan membahagiakan Yoona dan melindungi Yoona agar pengorbanan Sehun tidak berakhir sia-sia.

“Aku tidak mau lagi membahas masa lalu. Yang aku inginkan sekarang adalah hidup bahagia bersamamu, Enzo, dan anak-anak kita yang lain. Mulai sekarang kau tidak usah lagi menjadi agent. Kau cukup di rumah, menyambutku pulang, dan menjaga anak-anak kita dengan baik.”

Yoona mengangguk mengiyakan dan tersenyum lembut pada Donghae. Lagipula sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya kembali menjadi agent, karena semua agent-agent di markas telah mengetahui hubungan pernikahannya dengan Donghae. Karirnya menjadi seorang intel telah berakhir. Namun ia senang, karena waktunya akan lebih banyak dihabiskan di rumah bersama Enzo. Dan mungkin bersama anak-anak mereka yang lain.

-00-

Pukul dua siang Donghae dan Yoona berjalan beriringan menuju rumah sakit. Setelah mereka beristirahat cukup lama di rumah dan bernostalgia bersama, kini saatnya mereka menjenguk putra tercinta mereka. Selama di perjalanan Yoona tak henti-hentinya mengkhawatirkan kondisi Enzo dan sikap putrnya itu saat bertemu dengannya nanti. Ia cukup takut Enzo akan menolaknya lagi seperti kemarin. Namun Donghae selalu meyakinkannya jika Enzo pasti akan menerimanya lagi. Bagaimanapun mereka adalah ibu dan anak. Ikatan diantara mereka akan lebih dari cukup untuk menghilangkan trauma Enzo atas insiden penembakan beberapa hari yang lalu.

“Oppa, aku takut.”

Yoona menggenggam tangan Donghae erat tepat di depan pintu ruang rawat Enzo. Donghae membalas genggaman tangan Yoona dan meyakinkan Yoona dengan mimik wajahnya jika semuanya akan baik-baik saja.

“Ayo, tidak ada yang perlu kau cemaskan Yoong. Eomma dan eommoni pasti telah memberikan pengertian pada Enzo. Percayalah, Enzo anak yang pintar. Ia pasti akan memahami situasimu dan situasi kita.”

Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam ruang rawat Enzo yang siang itu cukup ramai. Nyonya Lee dan nyonya Im menyambut mereka dengan senyum hangat dan buliran air mata yang terus turun membanjiri wajah keriput mereka saat melihat Yoona dalam keadaan baik-baik saja. Semalam Donghae sempat memberitahu mereka bagaimana kondisi Yoona yang cukup terdesak akibat identitasnya telah diketahui oleh pihak musuh. Tapi syukurlah semuanya baik-baik saja. Sekarang mereka telah berkumpul menjadi sebuah keluarga utuh yang lengkap.

“Eommoni… aku merindukanmu.”

Yoona memeluk ibu mertuanya erat dan menumpahkan seluruh air matanya di pundak sang ibu mertua. Nyonya Im yang berada di belakangnya lantas menepuk pundak Yoona lembut agar Yoona tidak terus menumpahkan air matanya dengan deras.

“Yoong, ada yang ingin bertemu denganmu.”

Yoona mendongakan kepalanya dan mengikuti arah pandangan ibunya. Dari atas blangkar rumah sakit, Enzo sedang merentangkan tangannya lebar-lebar sambil berteriak memanggil ibunya dengan cukup keras.

“Mommy!!!”

Yoona tak kuasa menahan air matanya dan memeluk putra semata wayangnya dengan erat. Akhirnya Enzo tidak lagi menjauhinya dan memandangnya dengan sorot mata ketakutan seperti sebelumnya.

“Sejak tadi Enzo terus mencarimu Yoong. Dia mengkhawatirkanmu.” Ucap nyonya Lee lembut. Wanita paruh baya itu tidak bisa menyembunyikan rasa harunya melihat cucu tampanya yang terlihat begitu bahagia saat bertemu dengan ibu kandungnya kembali. Dan yang paling membuat hati nyonya Lee hangat adalah ketika ia melihat putra semata wayangnya, Lee Donghae. Akhirnya ia bisa melihat binar kebahagiaan yang terpancar dari kedua mata putra tampannya setelah lebih dari dua tahun ia hanya menemukan sorot dingin tanpa gairah dari mata Lee Donghae.

“Maafkan mommy, mommy sudah melukaimu.”

“Enzo sudah memaafkan mommy. Mommy jangan pergi lagi, Enzo merindukanmu mommy.”

“Mommy janji, mommy akan selalu bersama Enzo.” Janji Yoona sungguh-sungguh sambil memluk putra tampannya erat-erat. Dari sudut pandangnya Yoona memberikan kode pada Donghae untuk berbicara dengan Jihyun. Wanita itu saat ini tengah terpekur di sudut ruangan sambil menatap nanar keluarga bahagia yang kembali bersatu di depannya.

“Bisa kita bicara sebentar?”

Jihyun terkesiap kaget dari lamuannya yang segera berjalan mengekori Donghae untuk keluar dari ruang rawat Enzo. Ia sebenarnya cukup bahagia dengan kembalinya Yoona, namun separuh hatinya tidak dapat memungkiri perasaan sakit yang mulai menyusup perlahan dibalik perasaan bahagianya. Ia mencintai Lee Donghae.

“Ada apa?” Tanya Jihyun langsung ketika mereka hanya berdua di depan ruang rawat Enzo. Ia tahu cepat atau lambat Donghae akan mengajaknya berbicara empat mata untuk membicarakan hubungan mereka, lebih tepatnya perasaanya yang hancur saat ini.

“Terimakasih. Aku ingin mengucapkan terimakasih padamu karena selama ini kau telah menjaga Enzo dengan baik. Menyayanginya dan memposisikan dirimu sebagai ibu bagi Enzo, tapi…”

“Tapi sekarang Yoona telah kembali dan kau akan menyuruhku untuk menjauh dari kehidupan kalian?” Sambar Jihyun cepat dengan nada sinis. Donghae menghela napas gusar dengan pikiran buruk Jihyun.

“Aku tidak menyuruhmu untuk menjauh. Kau boleh tetap bertemu Enzo dan datang ke rumahku seperti biasa, tapi sekarang Yoona telah kembali. Jadi aku tidak akan menitipkan Enzo padamu lagi. Mulai sekarang Yoona akan menjadi ibu rumah tangga. Dan mengenai perasaanmu, kuharap kau bisa melupakannya. Carilah pria lain yang benar-benar mencintaimu karena aku tidak mungkin akan membalas perasaanmu.”

Setetes air mata lolos dari kedua mata Jihyun. Sejak tadi ia sudah memprediksi jika Donghae akan mengatakan hal itu. Tapi ia tidak tahu jika rasanya akan sesakit ini meskipu ia sudah mengantisipasinya sejak tadi.

“Maaf karena mencintaimu, aku akan berusaha mencari pria lain yang akan membalas cintaku juga.”

“Kenapa harus minta maaf, kau berhak mencintai siapapun. Aku tidak marah atau melarangmu mencintaiku, aku hanya tidak bisa membalasnya. Kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri, dan aku tidak ingin menyakitimu Jihyun.”

“Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir?”

Donghae melangkahkan kakinya ke depan dan membawa Jihyun ke dalam pelukannya yang hangat. Pelukan ini baginya hanya seperti pelukan antara adik dan kakak. Ia beraharp setelah ini kehidupannya akan menjadi lebih baik. Ia telah melewati hal-hal buruk selama beberapa tahun terakhir ini. Meskipun ia sendiri juga tidak akan menjamin akan benar-benar bebas dari bahaya yang sewaktu-waktu dapat mengincarnya dan juga keluarganya, namun ia bersumpah akan mengorbankan jiwa dan raganya demi kebahagiaan keluarganya. Sekarang ia akan memulai kehidupannya yang lebih baik lagi bersama Yoona dan juga Enzo.

21 thoughts on “Bullets Of Justice: This is The Begining Of Our Story (End)

  1. Ending yah kk? 😂 Akhirnya YoonHae family kembali bersatu 😍😍 Enzo udh nggak takut lagi sma mommy nya 😂 Tapi………………… kyknya masih butuh sequel kk 😂 ffnya kk menggoda banget buat sllu minta sequel 😂 entah itu chapt atau os 😂 sequel nya nggak bakal kelupaan 😅 Fighting kk!!

  2. Ending?? Yakin ini sudah ending?? Serius apa thor?? Padahal ini masih nggantung loh, menurutku ini masih dipertengahan menuju akhir.. setidaknya buat endingnya lebih manis lagi dari ini..
    Mohon dilanjut lagi ceritanya sampai Lee Family melanjutkan kehidupannya seperti semula..

  3. Akhirnya dilanjut jg..
    Sayang bgt udh berakhir ceritanya, tp seneng karna happy ending..
    Semoga ada sequelnya..
    Ditunggu ff keren lainnya thor 🙂

  4. Ini lah ending ff yg hakiki, serumit apapun masalah dan cobaan untuk yoonhae pada akhirnya mereka akan menemukan kebahagiaan nya.
    Thanks author udah buat ff dengan cerita yg luar biasa, ditunggu ff selanjutnya 👍👍

  5. Syukurlah enzo sudah gk takut sama yoona lagi. Semoga aja jihyun mau merelakan donghae untuk yoona dan segera menemukan cinta sejatinya 😅

  6. Syukurlah enzo sudah gk takut sama yoona lagi. Semoga aja jihyun mau merelakan donghae untuk yoona dan segera menemukan cinta sejatinya. Gk sabar deh nunggu lanjutannya 😅

  7. Ceritanya sangat bagus. Gk nyangka akhirnya begin . Tapi udh bisa nebak di part sebelumnya. Maaf baru bisa komen disini skrg

  8. ini endingnya ya??? atau masih ada?
    kurang greget part ini kayak ada
    yang kurang gitu. however thanks
    thor ditunggu cerita lainnya ya.

  9. baru sempet baca ff ini.. dan ini sudah ending kahh .. ayoo kak bikin sequel lagi .. kutip kehidupan yoona setelah menjadi ibu rumah tangga.. hhehehhe… di tunggu kak.. fighting. !!

  10. Akhirnya tamat juga
    Yoona juga udh kembali ke keluarganya. Skrg tinggal jalanin kehidupan sbg ibu rumah tangga yg baik.
    Penjahatnya juga udah tuntas… Tapi sayang, sehun harus mengorbankan diri…

    Berharap ada sequel 1 chapter lg…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.