Behind The Mask (Oneshoot)

Recomended Song Red Velvet – Kingdom Come

Lima bulan berlalu sejak pernikahan itu dibatalkan. Kini Yoona kembali menjalani hari-harinya seperti biasa. Pergi ke kampus, menemani ayahnya rapat, belajar, dan menunggu pria itu. Lee Donghae.. Satu nama yang didengungkan Yoona setiap kali wanita itu merindukan sosok dingin yang selama ini telah berhasil mencuri hatinya. Keberadaan Lee Donghae sejak lima bulan lalu hilang begitu saja dan tidak ada satupun anggota keluarga Donghae yang tahu. Presiden Kang mengatakan jika Donghae sementara ini masih berada di Kazakistan untuk membantu pemulihan negara itu pasca perang, namun putra sulungnya itu tidak pernah menghubunginya barang sekalipun untuk memberitahu bagaimana keadaannya saat ini. Yoona akhirnya berusaha untuk sabar dengan tetap menunggu Donghae hingga pria itu kembali ke Korea. Setidaknya hingga detik ini Donghae belum dikabarkan mati atau mengalami sesuatu yang membahayakan nyawanya di luar sana, sehingga ia dapat menenangkan hatinya yang gundah sambil menunggu kemunculan pria itu di Korea.

“Ayah, apa hubungan ayah dengan paman Kang sudah membaik?” Tanya Yoona di suatu pagi ketika sarapan bersama sang ayahnya. Sejak presiden Kang mengabarkan pembatalan pernikahan itu, sikap menteri Im pada sahabatnya sedikit dingin. Sebagai seorang ayah, tentu saja ia kecewa dengan perilaku Taecyeon yang sangat mengecewakan itu. Untung saja ia belum menyerahkan putrinya pada pria brengsek itu untuk menikah dengan Yoona. Jika itu sampai terjadi, ia pasti akan menyesalinya seumur hidup. Apalagi ini menyangkut janjinya pada sang mendiang isteri. Ia akan dihantui rasa bersalah pada isterinya karena menyerahkan putri satu-satunya yang mereka miliki pada pria bejat seperti Taecyeon. Tapi saat itu presiden Kang menawarkan Donghae sebagai pengganti Taecyeon untuk menikahi Yoona. Dan hingga detik ini ia belum memberitahu Yoona jika Donghae suatu saat akan menikahinya. Lebih baik Yoona tidak tahu mengenai berita itu karena ia sendiri tidak begitu yakin dengan kondisi Donghae. Memang Donghae selama ini memiliki reputasi yang baik. Ia adalah jenderal kebanggaan Korea Selatan dan prestasinya juga sudah tidak diragukan lagi. Tapi ia bukan mencari itu semua untuk menjadi kriteria suami anaknya. Ia hanya ingin anaknya selalu aman dan mendapatkan kasih sayang dari suaminya. Sedangkan jika bersama Donghae, ia tidak tahu apakah Yoona akan aman. Pria itu memiliki banyak sekali musuh. Belum lagi sikap dinginnya dan juga kakunya membuatnya ragu jika pria itu bisa memberikan putrinya limpahan kasih sayang sebesar ia memberikannya pada Yoona. Sekarang ia berpikir jika tak ada satupun anak dari sahabatnya itu yang pantas untuk bersanding dengan Yoona. Putrinya terlalu berharga untuk bersanding dengan Donghae. Tapi ia sendiri tidak memiliki kandidat pria yang tepat untuk Yoona karena semua putra dari koleganya berumur jauh di atas Yoona atau jauh di bawa Yoona. Jadi mau tidak mau ia memang harus menerima Donghae sebagai calon menantunya nanti jika Donghae kembali. Jika Donghae tidak kembali, maka ia akan memberikan kesempatan pada Yoona untuk mencari pria yang benar-benar dicintai oleh putrinya. Tidak berasal dari keluarga terpandang tidak masalah, asalkan pria itu benar-benar baik dan mau mencintai putrinya dengan tulus.

“Ayah.. apa yang ayah pikirkan?”

Yoona menyentuh tangan ayahnya pelan ketika ayahnya justru melamun tanpa merespon pertanyaanya. Im Jaehyuk tersenyum lembut pada putrinya dan mengelus telapak tangan putrinya yang masih berada di atas tangannya dengan lembut.

“Ayah hanya memikirkanmu Yoona. Ayah masih merasa kecewa dengan sikap Taecyeon. Ia seharusnya bisa menjadi contoh yang baik karena dia adalah putra dari presiden Kang. Tapi sudahlah, itu tidak penting lagi sekarang. Yang penting kau dan Taecyeon tidak jadi menikah. Ayah benar-benar lega karena tidak melepasmu pada pria brengsek itu.”

Yoona menatap sedih pada ayahnya yang tampak frustrasi itu. Ia tahu ayahnya sangat mengkhawatirkan masa depannya karena umur ayahnya kini sudah tidak muda lagi. Andai ia bisa berkata jujur pada ayahnya jika ia mencintai Donghae dan ingin bersama pria itu. Tapi ia terlalu takut. Ia takut ayahnya akan mendatangi Donghae suatu saat nanti dan memaksa pria itu untuk menikahinya. Bukankah selama ini ia hanya merasakan cinta sepihak? Donghae tidak pernah mencintainya. Dan sang ayah yang teramat sangat menyayanginya itu pasti akan mengabulkan apapun permintaanya. Jadi sekarang yang mampu ia lakukan hanyalah menunggu Donghae dan berharap jika pria itu mau menikahinya agar sang ayah tidak terus dilanda kegundahan seperti ini. Sakit rasanya melihat keluarga satu-satunya yang ia miliki justru merasa frustrasi karena masa depannya yang tidak jelas.

“Yoona, apa kau sedang menyukai seseorang?”

Yoona mematung. Ia merasa syok karena ayahnya tiba-tiba menanyakan hal itu padanya.

 

Apa selama ini ayah menyadarinya?

Yoona bergumam dalam hati sambil menatap ayahnya bingung. Ia terlalu takut untuk berkata jujur pada ayahnya mengenai perasaanya untuk Donghae.

“Kenapa ayah tiba-tiba bertanya seperti itu?”

Yoona memilih mencaritahu alasan ayahnya terlebihdahulu mengapa tiba-tiba menanyakan hal itu padanya. Ia tidak mau nantinya ia justru salah menjawab karena pertanyaan ayahnya masih terasa sedikit ambigu untuknya.

“Jika kau memiliki seseorang yang kau suka, katakan saja pada ayah. Ayah lihat dulu sebenarnya kau tidak terlalu tertarik pada Taecyeon. Jadi apa kau memiliki pria yang kau suka? Teman kuliahmu mungkin?” Tanya tuan Im santai. Yoona menatap ayahnya sekilas dan memutuskan untuk menggelengkan kepala. Ia tidak berbohong pada ayahnya. Bukankah sang ayah menanyakannya dalam konteks teman kuliah? Jika memang seperti itu, maka jawabannya memang tidak. Tidak ada satupun pria di kampusnya yang menarik di matanya setelah ia melihat jenderal Lee dan jatuh cinta pada pria dingin itu pada pandangan pertama.

“Tidak ada pria yang benar-benar kusukai ayah. Di kampusku semua pria terlihat tidak menarik.” Jawab Yoona apa adanya. Im Jaehyuk menaikan alisnya sambil mengendikan bahunya acuh.

“Selama ini kau tidak pernah bercerita pada ayah mengenai tipe pria idealmu. Kira-kira tipe pria seperti apa yang kau inginkan Yoong?”

Yoona tampak berpikir. Saat ini yang ada di dalam kepalanya adalah wajah jenderal Lee yang terlihat dingin dan juga kaku. Lalu ia membayangkan wajah Donghae ketika pria itu sedang menyiksa korbannya. Dari semua hal tentang Donghae yang ia bayangkan, tidak ada satupun yang bisa ia katakan pada ayahnya. Jika ia mengatakan pada ayahnya jika pria yang ia sukai adalah pria sociopat, bisa-bisa sang ayah justru terkena serangan jantung mendadak karena mengiranya tidak waras. Ia kemudian mencoba memimirkan sikap positif yang dimiliki oleh Donghae. Pria itu setidaknya memiliki sedikit sikap baik dalam dirinya, meskipun jarang dimunculkan oleh pria itu.

“Aku menyukai pria yang baik, yang bisa melindungiku dan mengobatiku jika aku sakit.”

Satu-satunya hal yang paling berkesan tentang Donghae adalah ketika pria itu mengobati luka-lukanya setelah pria itu menyakitinya. Meski saat itu ia tak sadarkan diri. Tapi entah kenapa membayangkan ketika Donghae mengobatinya, membuat jantungnya berdebar. Setidaknya ia merasa Donghae masih menaruh perhatian padanya setelah pria itu menyakitinya dengan sadis.

“Hanya itu? Tidak ada yang lain? Ayah rasa semua pria hampir memiliki sikap seperti itu.”

“Tidak juga. Kebanyakan pria tidak seperti itu. Bagaimana menurut ayah jika seorang pria bersedia mengobati seorang wanita setelah ia menyakitinya? Bukankah pria itu terlihat sangat perhatian?”

Im Jaehyuk menatap putrinya curiga.

“Kau pernah disakiti oleh seorang pria?”

“Aapa? Tidak.”

Yoona terlihat gugup sambil menyibukan diri dengan makannya yang hampir habis. Jangan sampai ayahnya berpikiran macam-macam tentang dirinya karena satu-satunya peristiwa yang membuat ia terluka secara fisik adalah ketika Donghae menggoreskan pisau di pipinya dan juga mencekiknya. Jika sampai ayahnya berpikir tentang peristiwa itu, ayahnya bisa mencurigainya menyukai Lee Donghae.

“Bukan seperti itu maksudku. Ini bukan tentang diriku. Aku hanya pernah melihat sebuah drama di televisi.” Bohong Yoona dengan wajah gugup. Tuan Im tampak percaya begitu saja tanpa ingin bertanya lebih lanjut pada putrinya. Ia pun segera menyelsaikan kegiatan sarapannya dan tidak lagi mengajak putrinya bicara. Satu jam lagi ia memiliki agenda untuk melihat proyek pembangunan jalan di Jeolla. Sedangkan nanti malam ia harus sudah berada di Seoul untuk menghadiri acara makan malam yang diadakan di Blue House untuk menyambut kepulangan Lee Donghae dan untuk merayakan keberhasilan pria itu dalam menjalankan misinya.

Tiba-tiba saja Im Jaehyuk mendongakan kepalanya dan buru-buru mengatakan pada Yoona mengenai undangan makan malam itu karena semua keluarga menteri diundang oleh presiden Kang untuk menghadirinya.

“Ayah lupa, malam ini akan diadakan pesta makan malam di Blue House untuk menyambut kepulangan jenderal Lee dan merayakan keberhasilan jenderal Lee dalam menyelesaikan misinya.”

Yoona seketika ingin berteriak girang dan memeluk ayahnya karena terlalu bahagia dengan kabar yang dibawa oleh ayahnya. Akhirnya pria yang selama ini selalu mengganggu tidur nyenyaknya kembali ke Korea setelah sekian lama menghilang tanpa kabar. Namun Yoona segera menormalkan ekspresi wajahnya agar sang ayah tidak curiga padanya.

“Jadi ayah malam ini tidak akan makan di rumah?” Tanya Yoona datar. Im Jaehyuk pun kembali melanjutkan kalimatnya.

“Ya, dan kau juga diundang ke acara itu. Semua keluarga menteri negara akan menghadiri acara itu. Jadi jangan lupa untuk datang ke Blue House pukul enam. Acara akan dimulai pukul setengah tujuh. Jangan sampai terlambat.”

Yoona menggangguk kecil pada ayahnya sambil menyembunyikan perasaan girang yang membuncah di hatinya. Akhirnya setelah lima bulan ia menanti pria itu, kini ia benar-benar bisa melihat wajah pria itu dari jarak dekat. Ia tidak perlu lagi memandangan foto Donghae yang ia simpan di dalam ponselnya secara diam-diam ketika pria itu dulu menjadi pangawalnya. Sekarang ia benar-benar akan bertemu Donghae secara nyata.

“Ayah pergi dulu. Berdandanlah dengan cantik, jangan mengecewakan ayah.”

Yoona mengecup pipi ayahnya sekilas dan melambaikan tangannya pada sang ayah untuk mengantar kepergian ayahnya. Setelah ayahnya benar-benar pergi, Yoona mulai melompat-lompat di ruang makan seperti gadis gila yang baru saja merasakan jatuh cinta. Dengan panik, ia langsung berlari menuju kamarnya untuk memilih sebuah gaun yang paling cantik untuk ia kenakan di acara pesta makan malamn nanti. Ia ingin menunjukan pada Donghae bahwa ia bukanlah anak kecil, tapi ia seorang wanita dewasa yang pantas bersanding dengan pria dewasa sepertinya.

“Jenderal Lee! Kau pasti akan terkejut dengan perubahanku!” Teriak Yoona penuh tekad di dalam kamarnya.

-00-

Malam harinya suasana di sekitar Blue House tampak begitu ramai dan berisik. Satu persatu mobil milik para menteri mulai memasuki halaman parkir Blue House yang luas yang di dalamnya membawa para penjabat penting dan keluarganya. Yoona turun dengan anggun dari sebuah mobil limosin berwarna putih. Wanita itu terlihat begitu dewasa dengan balutan dress hitam panjang yang tampak sempurna membungkus tubuh indahnya. Malam ini Yoona sengaja menggelung rambutnya dengan gaya minimalis agar ia terlihat lebih dewasa dan tidak lagi dianggap sebagai gadis kecil Im Jaehyuk yang selalu mengekori kemanapun ayahnya pergi. Dengan penuh keanggunan, Yoona mulai berjalan memasuki aula Blue House yang luas bersama para tamu undangan yang lain. Ketika Yoona menaiki anak tangga yang mengarah menuju aula, kaki jenjangnya tampak begitu sempurna dan indah. Salah satu putra menteri Jo Hyunsu yang selama ini menyukai Yoona langsung berjalan mendekati Yoona sambil menyapa wanita itu dengan gaya sok akrabnya.

“Selamat malam nona Yoona. Lama tak berjumpa.”

Yoona tersenyum manis pada Jo Jimin sambil membalas sapaan pria itu seadanya. Jujur saja ia sangat malas bertemu pria itu karena selama ini Jimin dengan terang-terangan selalu menunjukan rasa tertariknya padanya. Lima bulan yang lalu sebelum ia menikah dengan Taecyeon, Jimin pernah datang ke rumahnya dan memohon-mohon padanya untuk membatalkan pernikahan itu. Untung saja saat itu Donghae masih menjadi pengawalnya, sehingga pria itu dapat mengusirnya karena ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran pria itu di rumahnya.

“Selamat malam Jo Jimin.”

Yoona terlihat tidak mau berbasa basi dengan Jimin karena Jimin bukan seleranya. Apalagi umur Jimin terpaut dua tahun lebih muda darinya, membuat Jimin terlihat seperti seorang bocah ingusan bagi Yoona.

“Hari ini kau terlihat sangat cantik. Aku bersyukur pernikahanmu dan Taecyeon dibatalkan.”

Yoona mendengus gusar dalam hati. Bisa-bisanya pria itu tersenyum bahagia di atas kesedihan orang lain. Meskipun ia juga merasa lega karena pernikahannya dibatalkan, tapi bagaimana jika keluarga presiden Kang mendengarnya? Mereka pasti akan merasa terluka.

“Perkataanmu itu bisa melukai orang lain.”

“Ah maafkan aku Yoona, aku hanya merasa lega karena kau tidak jadi menikah dengan Kang Taecyeon. Eee.. apa sekarang kau sedang sendiri?”

Yoona semakin ingin kabur dari Jo Jimin. Pria cerewet itu benar-benar menguji kesabarannya. Tiba-tiba ia melihat Yuri yang merupakan putri dari menteri kesehatan sedang berjalan menuju aula utama Blue House. Sambil berpura-pura tidak mendengarkan Jimin, Yoona segera berjalan tergesa menghampiri Yuri.

“Eonni..”

Yoona memeluk Yuri dan merangkul wanita itu untuk masuk ke dalam aula bersamanya. Diliriknya Jimin yang tampak sedikit kesal di belakangnya. Namun ia tidak peduli dan segera melangkah masuk ke dalam aula bersama Yuri.

“Yoona, apa kabar? Aku turut sedih mendengar kabar dibatalkannya pernikahanmu.” Ucap Yuri sambil mengelus punggung Yoona. Yoona tersenyum santai dan mengibaskan tangannya di depan Yuri.

“Tidak apa-apa eonni, aku baik-baik saja. Bagaimana kabar eonni sekarang?”

“Aku baik. Akhir-akhir ini aku sedang disibukan dengan pembukaan butik baruku di Singapura. Jika kau sedang berlibur ke Singapura, jangan lupa untuk berkunjung di butikku ya? Aku pasti akan memberimu diskon khusus.” Ucap Yuri sambil mengedipkan sebelah matanya. Yoona tertawa renyah menanggapi ucapan Yuri dan mengangkat ibu jarinya sebagai jawaban atas permintaan Yuri.

“Ah eonni, sepertinya kita harus berpisah.”

Yoona melihat deretan meja-meja bundar yang telah diberi nama di tengah-tengahnya. Pihak Blue House rupanya telah mengatur para tamu undangan sedemikian rupa, sehingga mereka tidak bisa duduk sesuka hati mereka. Dengan berat hati Yoona berpisah dari Yuri dan mulai mencari posisi tempat duduknya. Ia berjalan kesana kemari melewati beberapa tamu undangan sambil memperhatikan setiap meja yang berisikan nama-nama para tamu undangan yang hadir dalam jamuan makan malam itu.

“Permisi, aku mencari meja atas nama Im Yoona.”

Yoona bertanya pada salah satu wanita pengatur jalannya acara yang sedang berkomunikasi menggunakan walkie talkie. Wanita itupun dengan sigap mengeluarkan kertas panjang yang tersimpan di dalam saku roknya dan mulai mencari nama Yoona dalam daftar deretan para tamu.

“Mari ikut saya nona, akan saya tunjukan meja anda.”

Yoona berjalan pelan mengikuti langkah wanita itu sambil sesekali melirik deretan kursi untuk keluarga presiden. Sayangnya di sana belum terlihat tanda-tanda kemunculan Donghae. Presiden Kang saat ini sedang duduk bersama isterinya, ayahnya, juga beberapa menteri utama lain yang mendapatkan kehormatan lebih dalam acara ini. Dengan kecewa, Yoona segera mengalihkan tatapan matanya untuk mengikuti langkah wanita pengatur acara di depannya.

“Silahkan nona, ini meja anda.”

“Terimakasih.”

Yoona menarik kursi yang bertuliskan namanya lalu mulai bergabung bersama para tamu undangan yang lain. Ternyata ia mendapatkan meja yang berada paling dekat dengan podium. Dari tempatnya duduk Yoona dapat melihat seluruh sisi podium dengan jelas, dan ia berharap dapat memandangi wajah Donghae sepuasnya saat pria itu naik ke atas panggung nanti.

“Yoona, kita bertemu lagi.”

Yoona langsung menoleh cepat ke samping kiri sambil memberikan senyum masam pada Jimin. Lagi-lagi ia bertemu dengan pria itu. Susah payah ia menghindari Jimin beberapa menit yang lalu, tapi mereka justru dipertemukan di meja yang sama.

“Hai.” Ucap Yoona singkat. Yoona kemudian mengalihkan tatapan matanya kearah lain untuk menyapa tamu-tamu yang duduk di meja yang sama dengannya.

“Hey, kau Im Yoona bukan? Putri menteri Im Jaehyuk?”

Yoona menganggukan kepalanya anggun sambil tersenyum manis pada wanita muda yang duduk di sebelah kanannya.

“Dan kau… Moon Caerin bukan?” Tanya Yoona ragu. Dulu sepertinya ia pernah bertemu dengan wanita itu, tapi ia lupa dimana tepatnya mereka bertemu karena itu sudah lama berlalu.

“Ya, aku Moon Caerin. Dulu kita pernah bertemu dalam pesta perayaan ulangtahun Korea Selatan dua tahun yang lalu. Kau masih ingat?”

Yoona menggelengkan kepalanya malu sambil menatap Caerin merasa bersalah.

“Ingatanku sangat buruk. Tapi aku memang merasa pernah bertemu denganmu. Jadi apa kesibukanmu sekarang?”

Yoona dan Caerin tampak akrab satu sama lain. Namun diam-diam Yoona memang sengaja mengajak Caerin terus mengobrol dengannya agar ia bisa menghindari Jimin yang cerewet. Sejak tadi pria itu berusaha untuk bergabung ke dalam obrolan mereka, namun selalu gagal karena Caerin tidak bisa berhenti menggerakan bibirnya untuk bercerita.

“Yoona, bagaimana menurutmu pesta ini? Aku merasa bosan berada di sini?”

Yoona merasa tertarik dengan wanita di sebelahnya. Jarang sekali ada orang yang merasa tidak tertarik dengan acara pesta yang sangat meriah seperti ini. Bahkan sejak tadi ia terus mendengar obrolan dari beberapa wanita yang membicarakan tentang Donghae. Kebanyakan dari mereka ingin melihat Donghae secara langsung dan membuktikan mitos yang beredar jika Donghae adalah jenderal dingin yang sangat tampan.

“Kenapa? Semua orang tampak antusias.”

“Ini membosankan. Kenapa kita harus berada di sini untuk menyambut jenderal kaku seperti jenderal Lee? Meskipun ia memang telah berhasil menyelesaikan misinya, tapi menurutku ini berlebihan. Jenderal itu terkesan ingin pamer dengan kehebatannya.” Cibir Caerin sakarstik. Yoona terlihat bingung untuk mengomentari ucapan Caerin karena ia sendiri tidak setuju dengan pandangan wanita itu. Tentu saja Donghae layak mendapat apresiasi seperti ini agar ia sadar jika ada banyak orang yang mencintainya.

Obrolan merekapun teralihkan dengan sapaan selamat malam dari presiden Kang yang sedang memberikan sambutan di atas podium. Pria paruh baya itu dengan penuh wibawa memukau sebagian besar para tamu dengan kepiawaiannya dalam berpidato. Yoona sendiri merasa bangga pada presiden Kang yang terlihat begitu berwibawa dengan kata sambutannya.

“Hari ini Jenderal Lee kita telah kembali dari misi perdamaian yang diberikan padanya sejak lima bulan yang lalu. Malam ini kita akan merayakan keberhasilan jenderal Lee dan menyambutnya dengan penuh sukacita karena jenderal Lee sekali lagi telah membuat negara kita mendapatkan penilaian positif di mata dunia. Baiklah, mari kita undang jenderal Lee Donghae untuk naik ke atas podium.”

Tiba-tiba Yoona merasa gugup dan berdebar-debar seiring dengan terbukanya pintu utama aula Blue House yang tengah menampakan sosok jenderal Lee dengan balutan tuxedo hitam dan kemeja putih yang terlihat begitu pas di tubuhnya. Tatapan seluruh tamu undangan kini hanya terfokus pada Donghae dan kegagahan Donghae saat berjalan memasuki aula utama Blue House. Kedua mata bulat Yoona tak bisa sedikitpun lepas dari sosok tampan Lee Donghae yang tiba-tiba juga menatapnya ketika pria itu berjalan melewati mejanya. Yoona seketika menunduk kikuk dan berpura-pura sedang membetulkan posisi tatanan rambutnya yang terlihat baik-baik saja.

“Dia benar-benar jenderal yang dingin.” Bisik Caerin di sebelahnya. Yoona tak mengindahkan bisikan Caerin dan hanya terus menunduk untuk mengurangi kegugupannya karena Donghae kini sedang berdiri di depannya untuk memberikan sambutan. Pria itu berdiri di atas podium dengan pandangan lurus yang menghujam setiap mata yang tengah melihat kearahnya dengan wajah terpesona. Sekilas pria itu sempat melirik Yoona yang sejak kedatangannya memilih untuk menyembunyikan wajahnya dengan menunduk kearah meja. Namun pria itu tak ingin memikirkannya lebih lanjut dan segera untuk memulai sambutannya.

“Terimakasih.”

Itu adalah kata pertama yang didengar Yoona saat Donghae melakukan pidato sambutannya. Sejak tadi ia terus menyembunyikan wajahnya dengan menunduk kearah meja karena ia tidak bisa menenangkan degup jantungnya yang menggila sejak kemunculan Donghae. Ia benar-benar merasa gugup sekaligus bahagia karena akhirnya ia dapat melihat Donghae lagi setelah lebih dari lima bulan pria itu menghilang tanpa kabar. Yoona sesekali mencuri-curi pandangan kearah Donghae yang masih memberi sambutan di atas panggung. Sejauh yang ia lihat, kini Donghae terlihat lebih berisi. Otot-otot pria itu terlihat lebih menonjol dan garis rahang pria itu juga telah berubah menjadi lebih keras. Ia yakin, selama berada di Kazakistan, Donghae benar-benar bekerja keras agar misinya berjalan dengan baik.

“Malam ini aku juga akan mengumumkan pada kalian semua jika aku akan menikah.”

Deg

Jantung Yoona seperti diremas kuat saat mendengarkan kata-kata Donghae yang sangat mengejutkan itu. Ia lalu memilih untuk menulikan telinganya karena ia tidak siap mendengar kalimat selanjutnya saat Donghae akan memanggil calon isterinya ke atas podium. Ia tidak siap dengan semua ini. Padahal baru saja ia merasa senang karena kepulangan pria itu. Tapi kesenangannya itu justru harus hancur karena pria itu akan memperkenalkan calon isterinya pada seluruh tamu undangan yang hadir di acara ini. Yoona rasanya ingin menangis dan berlari pulang sekarang juga. Ia tidak mau mengikuti acara itu lagi karena hatinya terlanjur perih dengan berita pernikahan Donghae.

“Nona Im Yoona, silahkan maju ke depan.”

Yoona menoleh ke kiri dan kanan dengan wajah bingung. Sejak tadi ia tidak menyimak ucapan pria itu hingga ia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi ia tiba-tiba mendengar namanya disebuat dan semua orang kini tengah menatapnya dengan senyum bahagia di wajah mereka masing-masing.

“Yoona, majulah. Jenderal Lee sudah menunggumu.” Bisik Caerin di sebelahnya. Yoona menoleh cepat pada wanita itu sambil berbisik untuk menanyakan apa yang terjadi.

“Kenapa semua orang melihatku seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Jenderal Lee memanggilmu. Apa kau sudah lupa pada calon suamimu sendiri?” Bisik Caerin gemas. Wanita itu terlihat tidak enak pada Yoona karena sebelumnya ia telah mengolok-olok Donghae di depannya yang merupakan calon isteri dari pria itu. Sedangkan Yoona masih terlihat seperti orang linglung hingga Donghae tiba-tiba telah berdiri di sampingnya.

“Yoona, aku memintamu untuk maju ke depan.”

Tatapan dingin pria itu menusuk tepat di tengah mata madunya hingga membuat jantung Yoona kembali berdebar-debar. Dengan wajah tegang dan gerakan kaku, Yoona segera berdiri dan mengikuti langkah Donghae ke atas panggung. Yoona terus menundukan wajahnya malu tanpa berani menatap para tamu yang kini sedang menatapnya. Seluruh telapak tangannya terasa dingin dan ia merasa mati rasa. Seharusnya Donghae menggenggam tangannya seperti pasangan-pasangan dalam drama yang sering ditontonnya. Sayangnya pria itu sama sekali tidak melakukan hal itu. Donghae dengan gaya angkuhnya berjalan mendahuluinya dan membiarkannya berada di belakangnya seperti seorang asisten. Sungguh mereka sama sekali tidak romantis dan justru terlihat sangat kikuk, terutama Yoona.

“Jadi ini adalah calon isteriku, Im Yoona.”

Donghae berucap tanpa ekspresi pada seluruh tamu undangan yang hadir. Di sebelahnya, Yoona masih setia menundukan kepalanya tanpa berani menatap ke depan hingga sebuah tangan besar menggenggam tangannya yang dingin dan dan refleks membuatnya mendongakan kepala karena terkejut.

“Kami akan menikah minggu depan.”

Yoona membulatkan matanya tak percaya sambil menatap Donghae yang masih setia memandang lurus ke depan dari samping.

Apa pria ini gila? Dia bisa membuatku mati berdiri di sini.

            Batin Yoona menjerit keras meruntuki sikap tak terduga Donghae yang hari ini membuat dirinya tampak bodoh di depan semua orang. Setelah acara ini selesai, ia harus menuntut banyak penjelasan dari pria itu.

“Ada yang ingin kau sampaikan Yoona?”

Donghae mengangsurkan sebuah mic kearah Yoona yang langsung diambil wanita itu dengan tangan bergetar.

“Selamat malam semuanya. Pertama-tama aku ingin mengucapkan selamat datang untuk jenderal Lee dan mengucapkan terimakasih atas kejutan yang ia berikan padaku. Sungguh aku tidak tahu jika malam ini jenderal Lee akan mengumumkan rencana pernikahan kami. Dan… terimakasih karena telah berbahagia untuk kami.”

Yoona cepat-cepat mengakhiri sambutannya dan segera memberikan mic itu pada Donghae. Ia merasa tidak sanggup untuk berkata-kata lagi karena sejujurnya ia masih merasa syok dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Setelah Donghae menutup sambutannya, mereka segera berjalan turun meninggalkan podium untuk bergabung bersama presiden Kang dan juga menteri Im yang telah menunggu mereka di meja khusus di sisi panggung.

Sementara itu tanpa sadar Yoona tengah mencengkeram tangan Donghae erat karena ia terlalu gugup dengan semua hal mengejutkan malam ini. Bahkan ia merasa tidak bisa berjalan dengan benar karena kakinya sekarang terasa seperti jelly yang benar-benar lembek. Rasanya ia ingin segera menghilang dari acara ini.

“Selamat nak, ayah bangga padamu.”

Yoona tersentak kaget ketika tangan pria itu tiba-tiba terlepas dari genggamannya. Ia melihat presiden Kang sedang memeluk tubuh Donghae penuh haru di depannya.

“Bagaimana perasaanmu sayang?”

Yoona menoleh cepat kearah ayahnya yang saat ini sedang menarik tangannya untuk duduk di sebelahnya.

“Ayah, aku benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Bagaimana bisa jenderal Lee akan menikahiku? Tanya Yoona pada ayahnya. Tuan Im menghela napasnya pelan dan mulai menjelaskan semuanya pada Yoona.

“Sejak awal jenderal Lee akan menikahimu. Ia akan menggantikan Taecyeon untuk memenuhi wasiat ibumu.”

Yoona merasa terluka dengan berita itu. Ia pikir Donghae sudah benar-benar mencintainya, tapi ternyata pria itu menikahinya hanya sekedar untuk memenuhi tanggungjawabnya sebagai putra sulung presiden Kang. Tapi Yoona tidak mau membuat ayahnya sedih dengan reaksinya sehingga ia berpura-pura memasang wajah senang di hadapan ayahnya.

“Jadi ayah setuju jika jenderal Lee akan menikahiku?”

“Ayah setuju jika kau setuju dan bahagia.”

“Aku setuju ayah, aku bahagia.” Tambah Yoona sambil mengganggam tangan ayahnya. Hal itu tak luput sedikitpun dari iris hitam Donghae. Pria itu bisa melihat adanya sinar kesedihan setelah ayahnya menjelaskan semuanya. Namun ia memilih diam dan mengabaikan begitu saja apa yang terjadi di depannya karena ia akan menjelaskannya nanti. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan pada Yoona tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia yakin Yoona belum sepenuhnya tahu apa yang terjadi antara dirinya, ayahnya, dan juga menteri Im.

-00-

Di dalam mobil yang hening, suara hembusan mesin pendingin ruangan terdengar begitu berisik menemani suasana sunyi yang terjalin diantara Donghae dan Yoona. Sejak masuk ke dalam mobil, baik Yoona maupun Donghae, keduanya belum sedikitpun membuka bibir mereka untuk saling menyapa atau saling menanyakan kabar masing-masing. Keduanya memilih untuk membungkam bibir mereka rapat-rapat tanpa mau mengalah pada ego mereka yang tinggi. Meskipun ada banyak hal yang ingin diucapkan Yoona pada Donghae, namun wanita itu terlalu malas untuk memulai sebuah percakapan. Sekali-sekali ia ingin Donghae yang memulainya. Sekedar membukanya dengan pertanyaan apa kabar atau ucapan salam yang menunjukan jika pria itu peduli padanya. Namun hingga detik-detik berlalu menjadi menit, pria itu tak kunjung membuka bibirnya untuk memulai sebuah percakapan dengannya. Justru dirinya merasa kesal karena terlalu menanti sesuatu yang tidak akan mungkin dilakukan oleh Lee Donghae yang dingin.

“Kau tidak ingin menjelaskan apapun padaku?”

Yoona bertanya dengan nada sinis karena terlalu terbawa emosi dengan gejolak batinya. Hari ini banyak sekali kejutan yang diberikan pria itu padanya hingga ia merasa seperti wanaita bodoh karena tidak mengerti apa-apa ketika pria itu memanggilnya untuk naik ke atas panggung empat jam yang lalu. Namun pria di sebelahnya justru tidak menoleh sedikitpun kearahnya dan hanya menatap jalanan lenggang di depannya dengan penuh konsentrasi.

“Baiklah, bagaimana kabarmu?”

Akhirnya Yoona mengalah. Ia mencoba menanyakan kabar Donghae terlebihdahulu sebelum ia membombardir pria itu dengan pertanyaan-pertanyaan penting seputar rencana pernikahan mereka yang sangat mengejutkannya. Kali ini Donghae menoleh sekilas padanya dan menjawab pertanyaanya dengan jawaban singkat. Sangat singkat!

“Baik.”

Yoona rasanya ingin mencubit pipi Donghae dan berteriak di depan wajah pria itu jika ia kesal. Ia sangat kesal pada pria yang selalu bersikap dingin padanya, sementara ia selalu tampak cerewet di depan pria itu. Memangnya apa salahnya menjawab pertanyaanya dengan jawaban yang panjang? Apa pria itu takut dituntut bayaran mahal untuk setiap kalimat yang keluar dari bibirnya?

“Lalu?”

Tidak ada jawaban apapun dari pria itu. Yang terdengar justru helaan napasnya sendiri karena terlalu jengah dengan keheningan yang terjadi diantara mereka.

“Jenderal Lee, bisa kau berikan jawaban yang jelas padaku? Apa kau baik-baik saja selama berada di Kazakistan? Kau terlihat lebih berotot sekarang, dan kau juga terlihat lebih dingin dari saat terakhir kali kita bertemu. Apa saja yang terjadi selama menjalankan tugas?” Tanya Yoona penuh penekanan dengan suara yang sengaja ia tekan seperti desisan ular. Jika ia tidak menekannya, mungkin yang keluar dari bibirnya adalah serentetan kalimat teriakan yang akan merusak pendengaran pria di sebelahnya. Sekarang ia benar-benar membutuhkan sesuatu untuk melampiaskan kemarahannya!

“Apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan?”

Yoona rasanya ingin membenturkan kepalanya ke kaca mobil di sebelahnya sekarang karena terlalu kesalnya dengan sikap Donghae yang terlihat menggemaskan untuknya. Yahh.. menggemaskan untuk dicakar dan dipukul hingga pria itu babak belur dan menyerah di bawah kuasanya.

“Aku sedang menanyakan keadaanmu jenderal Lee. Aku merindukanmu. Aku menunggumu selama berbulan-bulan tanpa suatu kepastian kau akan kembali atau tidak, sedangkan tidak ada satupun yang mengetahui bagaimana keadaanmu. Apa kau tidak memiliki ponsel? Bahkan kau sama sekali tidak menghubungi ayah atau ibumu untuk sekedar memberitahu jika kau masih hidup di luar sana. Apa kau tidak pernah sekalipun berpikir jika aku mengkhawatirkanmu? Dan hari ini tiba-tiba kau muncul dengan sebuah kejutan yang luar biasa. Kau melamarku di depan seluruh tamu undangan ayahmu. Tapi aku tidak tahu apakah lamaran itu tulus atau hanya sekedar paksaan karena kau ingin menggantikan posisi Taecyeon untuk menikahiku. Aku tahu, kau pasti merasa terikat dengan janji yang dibuat oleh ayah dan ibumu pada mendiang ibuku. Tapi sejujurnya aku tidak ingin sebuah keterpaksaan. Jika kau memang tidak mencintaiku, tidak ingin menikahiku, dan hanya terpaksa melakukannya, maka batalkan saja. Aku tidak mau menyiksamu dengan cinta sepihak yang kumiliki.”

Yoona mengakhiri serangkaian kalimat panjangnya dengan nafas memburu dan aura menggebu-gebu yang masih terlihat disekitar wajahnya. Sedari tadi ia sudah tidak tahan untuk mengeluarkan seluruh emosinya pada pria itu. Dan ketika mereka memiliki kesempatan untuk saling berbicara, pria itu justru diam. Benar-benar diam hingga membuatnya ingin mencekik pria itu.

Tiba-tiba Yoona merasa mobil yang ditumpanginya sedikit melambar. Pria itu menghentikan mobilnya di pinggir ruko-ruko yang sedang tutup lalu menciumnya. Pria itu benar-benar mencium tepat di bibirnya hingga ia hanya bisa mematung sambil membulatkan matanya lebar-lebar tanpa sempat membalas lumatan pria itu di bibirnya yang kini sudah terlepas.

“Aku akan menjelaskannya nanti di rumahku. Sekarang diamlah dan jangan menggangguku menyetir.”

Yoona masih mematung di tempatnya setelah beberapa menit yang lalu pria itu menciumnya tanpa permisi. Ia tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Donghae padanya. Pria itu lagi-lagi mencuri ciuman darinya dan membuat jantungnya serasa ingin melompat keluar dadanya. Kini setelah sekian lama mereka menempuh perjalanan dari Blue House ia baru sadar jika mereka benar-benar tidak sedang menuju ke rumahnya, tapi menuju ke rumah pria itu karena mereka sekarang telah berada di jalan tol yang sepi yang mengarah ke luar Seoul. Tapi kemudian Yoona teringat pada ayahnya. Jika Donghae memang akan mengajaknya ke rumah pria itu, lalu bagaimana dengan ayahnya? Ayahnya pasti akan sangat khawatir karena ia tidak pulang malam ini.

“Ayahku… Bagaimana jika ayahku mencariku?”

Yoona memutuskan untuk bertanya pada Donghae. Meskpun pria itu telah melarangnya untuk berbicara, tapi mulutnya terasa gatal untuk bertanya pada pria itu. Ia tak bisa barang sedetikpun mengunci bibirnya rapat-rapat seperti apa yang pria itu lakukan. Ia sudah terbiasa menggunakan bibirnya untuk mengeluarkan berbagai pertanyaan yang mengganggu pikirannya.

“Ayahmu malam ini tidak akan pulang. Ada urusan dengan presiden yang harus diselesaikan ayahmu di Macau.”

“Jadi kau menculikku selagi ayahku pergi?” Tanya Yoona dengan nada penuh tuduhan. Donghae mendecih kesal di sebelahnya lantas mengulurkan tangannya ke samping untuk memutar wajah Yoona agar menghadap ke depan.

“Perhatikan saja pemandangan di depan. Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu. Aku risih!”

“Kalau begitu jawab pertanyaanku.”

Yoona menoleh lagi ke samping dan langsung dihalangi Donghae dengan tangannya. Pria itu rupanya tidak main-main dengan ucapannya mengenai tatapan Yoona yang membuatnya risih.

“Kali ini aku tidak akan menyakitimu lagi, jadi kau tidak perlu khawatir. Ayahmu tidak akan curiga jika kau tidak pulang malam ini karena kupastikan kondisimu besok akan tetap sama dengan kondisimu saat ini.”

“Lalu bagaimana jika para maid mengadu pada ayahku jika aku tidak pulang?”

“Hyukjae sudah kusuruh untuk mengarang cerita pada maidmu.”

“Tapi kenapa kita harus ke rumahmu? Bukankah lebih aman bila kita berbicara di rumahku?”

“Bisakah kau diam. Kau membuatku pusing dengan pertanyaanmu.” Ucap Donghae kesal. Pria itu mulai tidak sabar dengan sikap cerewet Yoona yang menjengkelkan. Padahal sebentar lagi mereka akan menikah, lalu bagaimana dengan kehidupannya nanti? Mungkin ia akan sering-sering berada di luar rumah untuk menghindari kecerewetan Yoona dan baru benar-benar akan pulang ketika Yoona sudah tertidur pulas. Rasanya ia tidak akan sanggup menghadapi kecerewetan Yoona yang sangat mengerikan itu.

“Apa aku boleh melihat wajahmu sekarang?”

Yoona bertanya dengan bodohnya sambil mencuri-curi pandang kearah Donghae. Pria itu terlihat menggeram kesal sambil menginjak pedal gasnya kuat-kuat untuk menunjukan pada Yoona jika ia sedang kesal pada wanita itu. Tapi bukanya takut dengan aksi kebut-kebutan yang dilakukan Donghae, Yoona justru terlihat girang dan mulai memutar lagu rock yang cukup menghentak untuk melengkapi adrenalinnya yang sedang melonjak naik. Ia kemudian dengan gilanya mulai membuka atap mobil sport milik Donghae dan melompat naik ke atas kursinya untuk menikmati udara malam yang sangat dingin di luar sana.

“Apa yang kau lakukan, turun! Turun sekarang juga dari sana Im Yoona!”

Donghae mendesis penuh peringatan pada Yoona sambil menarik turun kaki Yoona dari kursi mobil mahalnya. Namun bukannya menuruti perintah pria itu, Yoona justru semakin mengeraskan suara musiknya agar ia tidak perlu mendengarkan suara Donghae yang berisik.

“Im Yoona, jika kau tidak turun sekarang juga aku akan menutup atap itu dan membuat kepalamu terjepit.”

Donghae rupanya tidak main-main dengan ucapannya. Ia benar-benar menekan tombol close untuk menutup atap mobilnya dan membuat Yoona terkesiap kaget hingga ia langsung menundukan kepalanya karena ia hampir terjepit diantara atap mobil Donghae yang menutup.

“Apa kau gila? Kau ingin memutuskan leherku?” Marah Yoona sambil menghentak-hentakan kakinya kesal. Kini ia sudah kembali duduk di kursinya dan Donghae juga sudah mematikan musik rock berisik yang membuat gendang telinganya hampir pecah.

“Sekali lagi kau bersikap bar-bar seperti itu, bukan hanya lehermu yang akan putus, seluruh tangan dan kakimu juga akan putus.”

“Kau bilang kau tidak akan menyakitiku dan mengembalikanku dengan aman ke rumah? Huh omong kosong!” Cibir Yoona kesal. Ia kesal sekali pada pria di sampingnya yang terlalu kaku dan tidak tahu bagaimana cara bersenang-senang. Sebenarnya apa yang dilakukan pria itu selama ini? Apa pria itu juga pernah merasakan masa-masa senior high school yang indah?

“Ngomong-ngomong bagaimana kehidupanmu saat sekolah dulu? Orang-orang sering mengatakan jika masa senior high school adalah masa yang paling indah untuk bersenang-senang. Apa dulu kau juga menghabiskan waktumu dengan bersenang-senang? Ah.. tapi aku tidak yakin. Melihat bagaimana sikapmu yang sangat kaku seperti sekarang, aku yakin dulu kau tidak memiliki teman dan tidak pernah menikmati masa-masa pacaran yang indah. Huh…. jadi merindukan mantan-mantan kekasihku.”

Yoona mulai berakting bodoh dengan membayangkan wajah para mantan kekasihnya. Di sebelahnya, Donghae sama sekali tak bereaksi dan hanya menatap lurus jalanan di depannya. Namun tiba-tiba pria itu mengeluarkan komentarnya yang berhasil membungkam bibir Yoona rapat-rapat hingga Yoona tak bisa berkutik.

“Bukankah kau masuk ke sekolah khusus wanita?”

Yoona meruntuki kebodohannya sambil membuang wajahnya ke samping. Ia benar-benar tolol karena ia lupa jika Lee Donghae adalah sahabat Lee Hyukjae. Apa yang Hyukjae ketahui, pria itu pasti juga mengetahuinya. Dan dulu Lee Hyukjae pernah beberapa kali menjemputnya ketika sang supir tiba-tiba sakit atau memiliki keperluan keluarga yang mendadak. Jadi Lee Hyukjae pasti menceritakan pada pria itu jika ia bersekolah di sekolah khusus wanita dan tidak mungkin ada satupun makhluk bernama pria di sana. Pria itu pasti mengiranya mengalami kelainan seksual setelah ini.

“Jadi siapa saja mantan kekasihmu? Kita harus saling terbuka sebelum kita menikah.”

Yoona semakin tidak punya nyali untuk berhadapan dengan Donghae. Niat awalnya ingin memojokan Donghae, justru dirinya sendiri yang sekarang terpojok. Pria itu pasti merasa puas karena ia berhasil membungkam bibirnya dalam satu kali serangan telak.

“Eee.. Iitu.. Iiitu bukan mantan kekasihku saat senior high school, tapi saat junior high school. Sekarang katakan padaku siapa saja mantan kekasihmu.”

Yoona mencoba mengelak dan mengakhiri kalimatnya dengan kalimat pertanyaan seputar mantan kekasih Donghae. Meskipun pria itu telah berhasil memojokannya, tapi ia tidak akan kalah begitu saja. Sekarang gilirannya untuk menyerang pria itu

“Itu tidak penting. Sekarang turunlah, kita sudah sampai.”

Yoona mendengus kesal dan segera keluar dari mobil nyaman milik Donghae. Ia kesal pada Donghae karena pria itu sepertinya masih enggan membagi masa lalunya yang misterius padanya. Padahal sebentar lagi mereka akan menikah. Ia tidak tahu bagaimana kehidupan rumah tangganya kelak bersama Donghae. Mungkinkah mereka akan memiliki keluarga kecil yang bahagia? Atau justru akan berakhir teragis di tengah jalan? Ia tidak tahu.

Donghae membawa Yoona masuk ke dalam rumahnya yang sepi. Ketika melewati pos penjagaan, beberapa tentara dengan pangkat rendah langsung memberi hormat pada Donghae dan Yoona dengan gaya khas tentara yang kaku. Melihat tentara-tentara itu, Yoona mencibir dalam hati. Mereka semua tampak sangat mirip seperti Donghae yang sangat kaku dan tidak memiliki selera humor. Pantas saja rumah Donghae terlihat lebih suram dari rumah-rumah yang lain karena tidak pernah mendapatkan sentuhan hangat dari pemiliknya.

“Duduklah.”

Donghae menyuruh Yoona untuk duduk di atas sofa putih yang berada di ruang utama. Ruangan itu masih terlihat sama seperti terakhir kali Yoona datang ke rumah itu lima bulan yang lalu. Tidak ada yang berubah sedikitpun sejak Donghae pergi. Bahkan Yoona tidak menemukan setitik debupun menempel pada sofa itu. Para penjaga di rumah Donghae selalu memastikan semua hal di rumah ini tampak rapi dan teratur sesuai selera Donghae.

“Jadi aku bisa bertanya sekarang?”

“Bertanyalah.”

Yoona terlihat tidak sabar untuk mengeluarkan seluruh pertanyaan yang sejak tadi ia simpan di dalam kepalanya. Terlalu banyak misteri yang dibawa oleh pria itu hingga rasanya apapun yang bersangkutan dengan Donghae bisa berubah menjadi sebuah misteri. Seperti rencana pernikahannya dengan Donghae yang justru menjadi misteri besar untuknya karena ia tidak pernah tahu tentang hal itu.

“Kenapa kita harus berbicara di sini? Bukankah di rumahku lebih aman?”

“Ada cctv yang mengawasi setiap gerak gerik kita di sana. Aku tidak bisa mengambil resiko yang berbahaya jika pembicaraan kita ternyata pembicaraan yang rahasia.”

Donghae meletakan sekaleng jus di depan Yoona dan ia sendiri meminum bir kaleng yang baru saja ia ambil dari kulkas. Yoona mengambil kaleng jus itu sangsi sambil menatap Donghae tidak terima.

“Kau memberiku jus? Yang benar saja, aku bukan anak kecil lagi.”

“Minum!” Perintah Donghae tegas. Pria itu tidak mau mendengar protes apapun dari Yoona karena kepalanya kini sedang pening. Ia merasa terjebak dengan janjinya sendiri. Sekarang ia baru menyadari jika menikahi Yoona tidak akan semudah perkiraannya karena itu berarti ia harus memberikan perlindungan pada Yoona setiap saat. Belum lagi jika ia mendapatkan misi di luar negeri, ia tidak tahu bagaimana nasib Yoona nanti.

“Jadi kenapa tiba-tiba kau ingin menikahiku? Apa rencanamu sebenarnya?”

“Aku merasa bertanggungjawab pada keluargaku. Satu-satunya adik yang kumiliki ternyata tidak bisa memenuhi janji itu. Sedangkan aku hidup selama ini karena mereka, jadi aku merasa harus membalas kebaikan mereka dengan menggantikan Taecyeon untuk menikahimu.”

Yoona menghela napas pelan. Sebenarnya ia tidak mau mendengar alasan itu keluar dari bibir tipis Donghae karena ia tahu alasan pria itu akan sangat menyakitkan untuknya. Lebih baik ia hidup dalam kebohongan yang indah daripada kejujuran yang terasa pahit.

“Tidak ada cinta?” Tanya Yoona tidak yakin. Ia meruntuki kebodohannya karena menanyakan hal bodoh itu pada Donghae jika jawabannya sudah sangat jelas berdengung di dalam otaknya.

“Tidak ada. Pernikahan ini tidak dibangun atas dasar cinta, tapi janji dan komitmen yang tinggi. Jadi jangan pernah menanyakan perihal cinta lagi padaku. Aku sudah menunjukan sisi gelapku padamu, dan kau pasti tahu bagaimana hatiku. Tanpa cinta.”

“Kau akan tersiksa jika seperti itu. Aku dapat mencari pria lain yang mencintaiku dan dapat melindungiku. Kau tidak perlu memenuhi janji bodoh itu. Lagipula ibuku juga tidak akan menyalahkanmu atas semua ini karena ini juga bukan kehendak kita.”

Yoona terlihat lesu. Ia tidak mau memaksa Donghae melakukans sesuatu dengan keterpaksaan karena pria itu pasti akan menderita nantinya.

“Aku tetap akan menikahimu.” Ucap Donghae telak. Yoona mendengus kesal dengan sikap Donghae yang selalu memaksanya sesuka pria itu.

“Dan pernikahan ini akan menjadi pernikahan yang benar-benar pernikahan.” Tambah Donghae. Yoona menatap pria itu tak mengerti.

“Maksudmu?”

“Pernikahan kita bukan pernikahan main-main. Jadi kau tetap harus menjalankan tugasmu sebagai isteri.”

“Termasuk memiliki keturunan?”

Seketika wajah Yoona bersemu merah. Wanita itu telah membayangkan banyak hal di dalam kepalanya hingga membuatnya bergidik ngeri sekaligus malu disaat yang bersamaan.

“Masalah itu, kita lihat saja nanti.” Bisik Donghae tepat di depan wajahnya sambil mencondongkan tubuh berototnya kearah Yoona. Yoona mencoba memundurkan wajahnya agar tidak terlalu dekat dengan Donghae karena hembusan napas pria itu terasa menggelitik wajahnya yang mulai terlihat gugup.

“Bbbaiklah. Lalu apa lagi?” Tanya Yoona sambil mengalihkan wajahnya kearah lain. Wajahnya saat ini masih teras panas karena efek wajah Donghae yang terlalu dekat dengannya. Pria itu selalu tahu bagaimana caranya membuatnya tersipu dengan semua sisi misterius pria itu.

“Ini adalah hal yang paling penting, kau harus belajar bela diri. Aku tidak bisa terus melindungimu. Sewaktu-waktu rumahku akan kedatangan tamu yang bisa membahayakanmu, jadi bersiaplah untuk menjalani latihan keras mulai besok.”

“Mulai besok? Aku harus menyiapkan segala keperluan pernikahan.” Tolak Yoona mentah-mentah. Donghae menatap wanita itu tanpa ekspresi dan mulai mengajukan opsi ke dua.

“Setelah kita menikah, kau harus berlatih bela diri. Dan ini harus, kau tidak boleh menolaknya.”

“Jadi aku akan tinggal di sini setelah menikah?”

“Ingat, pernikahan kita bukan pernikahan main-main. Jadi kau harus menghormatiku sebagai suamimu, termasuk tinggal di sini bersamaku.”

Yoona meneguk ludahnya gugup. Kedua bola matanya langsung mengitari area rumah Donghae yang sangat minimalis tanpa sentuhan tangan wanita itu. Tinggal di rumah Donghae nantinya akan membuatnya banyak bekerja untuk merombak tampilan kaku di rumah pria itu. Ia pastikan rumah ini akan sama nyamannya dengan rumah milik ayahnya yang sudah ia tinggali selama dua puluh dua tahun hidupnya.

“Kenapa? Kau tidak terbiasa hidup tanpa maid?” Tanya Donghae mencemooh. Yoona menatap sengit Donghae yang meremehkannya dan membalas pria itu dengan wajah angkuh andalannya.

“Kita lihat saja nanti jenderal Lee siapa yang benar-benar bisa menyesuaikan diri, kau atau aku.”

Donghae memilih untuk tidak melajutkan pembicaraan mereka. Ia menegak birnya dalam sekali teguk dan meremas kaleng itu kuat-kuat hingga ringsek di dalam genggaman tangannya. Pria itu lalu memilih pergi meninggalkan Yoona untuk melampiaskan semua gejolak batinnya di ruangan senjata miliknya. Sedikit banyak ucapan Yoona mampu mempengaruhi pikirannya. Ia khawatir wanita itu akan menyeretnya ke dalam kehidupan hangatnya yang selama ini selalu ia hindari agar ia tidak terlihat lemah di hadapan musuh-musuhnya. Ia membutuhkan segala ketangguhan dan sikap dingin yang sudah ia pupuk sejak lama di dalam dirinya. Ia harus bisa mempekuat pertahanan dirinya mulai sekarang. Jangan sampai wanita itu membuatnya lemah dan juga rentan.

-00-

Satu minggu terasa begitu cepat untuk Yoona dan Donghae. Rasanya baru kemarin mereka membicarakan semua rencana kehidupan mereka setelah menikah. Dan hari ini tiba-tiba semuanya telah terjadi. Donghae dan Yoona kini telah resmi menikah. Pagi tadi mereka telah melakukan janji pernikahan di gereja terbesar Seoul yang merupakan gereja agung di Korea Selatan. Malam ini mereka sedang menggelar resepsi pernikahan di sebuah ball room hotel bintang lima yang merupakan hotel terbaik di Seoul. Yoona yang menggunakan gaun malam bernuansa gold tampak begitu anggun dan cantik. Ia dengan penuh senyuman menyambut setiap tamu yang hadir sambil merangkul lengan Donghae yang kaku di sebelahnya. Pria itu sejak tadi hanya diam tanpa melengkungkan sedikit sudut bibirnya untuk menyambut para tamu yang datang. Sikapnya itu benar-benar terlihat kontras dengan sikap Yoona  yang hangat. Tak heran jika banyak tamu undangan yang membicarakan sikap keduanya yang sangat kontras, dingin dan hangat.

“Jenderal, tersenyumlah sedikit.” Bisik Yoona sambil menyalami beberapa tamu undangan yang baru saja hadir. Donghae mengabaikan begitu saja bisikan isteinya dan tetap memasang wajah datarnya yang dingin untuk menyambut setiap tamu yang datang untuk bersalaman dengannya.

“Kenapa sulit sekali membuatmu terlihat ramah. Mereka membicarakan kita jenderal.” Geram Yoona. Wanita itu sudah cukup jengan dengan gunjingan para tamu undangan yang sejak tadi terus membicarakan sikap mereka yang kontras. Setidaknya Yoona ingin Donghae menunjukan senyumnya di hadapan para tamu, meskipun itu bukan senyum lebar seperti miliknya.

“Mereka tidak berhak mengatur kehidupan kita.” Balas Donghae datar seperti biasanya. Yoona hanya mampu menghela napas kecil dibalik senyum lebarnya yang ia tunjukan pada semua orang. Menyuruh Donghae bersikap hangat di hadapan semua orang memang hampir tidak mungkin. Pria itu terlalu kaku dan menjunjung tinggi idealismenya. Ia tidak akan pernah mau menunjukan sikap ramahnya yang menurutnya akan sangat menggelikan jika sampai ia melakukannya.

“Sampai kapan kita akan melakukan hal bodoh seperti ini?”

Yoona mulai menyadari ketidaknyamanan Donghae. Pria itu sejak tadi sudah ingin membawanya pergi dari ball room yang sangat penuh itu. Tapi ini semua karena presiden Kang memiliki banyak relasi. Tidak mungkin mereka ijin untuk meninggalkan ball room terlebihdahulu, sementara mereka adalah tokoh utamanya. Satu-satunya hal yang harus dilakukan Donghae sekarang adalah bersabar hingga para tamu undangan itu pulang nanti.

“Bersabarlah. Ayahmu memiliki banyak sekali relasi. Kita tidak bisa pulang begitu saja.”

“Aku muak berada di sini.” Desis Donghae tertahan. Yoona mencoba menenangkan Donghae dengan menggenggam tangan pria itu. Meski ia tahu Donghae tidak akan membalas genggaman tangannya, tapi setidaknya Yoona berusaha untuk menunjukan pada pria itu jika ia peduli padanya.

“Setelah acara ini selesai, kita akan langsung pulang ke rumahku.”

Yoona menoleh cepat kearah Donghae dan menunjukan wajah protesnya. Ia sudah menyiapkan kamar penuh kelopak bunga mawar di rumahnya. Jika ia pulang ke rumah pria itu, lalu siapa yang akan menempati kamar pengantinnya?

“Ke rumahmu yang suram itu?”

“Apa kau bilang?”

“Rumahmu yang suram. Kenapa kita harus pulang ke sana setelah menikah. Tidak bisakah kita tinggal di rumah ayahku selama satu minggu. Aku belum menyiapkan apapun untuk dibawa ke rumahmu.” Dengus Yoona kesal.

“Aku adalah suamimu sekarang, jadi kau harus patuh pada apapun perintahku.”

Yoona langsung menatap Donghae tidak terima dan ingin kembali memprotes pria itu. Ia merasa Donghae tidak adil. Ia yang mencintai pria itu sepenuh hati dan ia yang menginginkan pernikahan ini. Tapi pria itu yang boleh berkuasa atas hubungan pernikahan mereka. Seharusnya jika pria itu hanya terpaksa menikahinya, ia tidak perlu menetapkan peraturan yang terlihat seperti pernikahan sungguhan. Apalagi di sini ia yang akan lebih sering dirugikan oleh sikap Donghae. Pria itu membuatnya terlihat seperti isteri yang menderita dan juga isteri yang beruntung disaat bersamaan. Beberapa kali ia mendengar cibiran para wanita yang mengatakan ia akan menderita setelah menikah dengan Lee Donghae yang kaku. Selain itu ada juga yang merasa iri padanya karena ia berhasil mendapatkan jenderal Lee yang tampan, yang ketangguhannya tidak bisa diragukan lagi. Lalu ia harus bersikap seperti apa sekarang? Senang? Jelas ia senang karena ia akhirnya bisa menikah dengan Lee Donghae, pangeran impiannya. Tapi rasa senangnya itu tidak akan sebanding dengan rasa getir yang akan ia rasakan setelah ini. Menghadapi sikap Donghae yang berubah-ubah akan sangat menguji emosinya. Belum lagi jika sisi gelap Donghae muncul, ia harus siap dengan segala konsekuensi yang ada. Termasuk mati sekalipun.

“Ayo kita pulang.”

“Apa?”

Yoona mendongak kaget dan ingin menuntut penjelasan dari Donghae karena semua tamu undangan belum sepenuhnya pulang. Tapi pria itu justru sudah menyeretnya untuk pulang.

“Acara ini sudah dinyatakan berakhir oleh MC bodoh itu. Aku tidak mau membuang waktuku untuk terus berdiri seperti pajangan di sana. Kita pulang sekarang.”

“Tapi bagaimana dengan ayah ibumu dan ayahku. Mereka masih sibuk menyambut para tamu yang baru saja datang. Kita tidak bisa meninggalkan acara ini sesuka hatimu.” Ucap Yoona sambil mengangkat gaunnya tinggi-tinggi karena Donghae terus menarik tangannya hingga ia hampir terjatuh karena gaunnya sendiri yang panjang.

“Ahh.. gaunku! Jenderal, kau membuatku hampir jatuh karena menginjak gaunku sendiri.” Marah Yoona sambil terus berusaha menyeimbangkan langkahnya yang goyah. Ia terlihat seperti seorang balita yang baru belajar berjalan akibat heelsnya yang tinggi dan juga gaunnya yang menjuntai. Tiba-tiba Donghae menghentikan langkahnya dan langsung menggendong Yoona tanpa mempedulikan pekikan terkejut wanita itu.

“Yakkk.. apa-apaan ini. Turunkan aku!”

Yoona berbisik pelan sambil menyembunyikan wajahnya yang merah padam dibalik dada bidang Donghae. Semua tamu undangan tampak tersenyum-senyum menggoda kearah mereka melihat aksi romantis Donghae yang sedang menggendong isterinya. Padahal Donghae melakukan itu karena ia sudah risih dengan celotehan Yoona mengenai gaunnya yang terinjak atau heelsnya yang mengganggu langkahnya dan membuatnya hampir jatuh. Ia hanya ingin segera pulang dan menjauh sesegera mungkin dari dari keramaian yang ada di sana.

“Ayah, aku dan Yoona akan pulang sekarang.”

“Kalian akan pulang?”

Im Jaehyuk dan Kang Hyunjeong terkejut melihat Donghae sedang menggendong Yoona dan tampak terburu-buru untuk pulang, padahal masih banyak tamu yang baru saja datang. Nyonya Kang yang melihat itu segera mendekati putranya dan menegurnya.

“Tinggalah sebentar lagi. Masih banyak tamu yang akan datang nanti.”

“Maaf ibu, tapi Yoona sudah terlihat kelelahan. Kami harus pulang sekarang.”

Yoona mendecih dalam hati sambil melemparkan tatapan tidak terimanya pada Donghae. Pria itu seenaknya saja menggunakan dirinya sebagai alasan, padahal ia tidak pernah mengeluhkan lelah. Ia justru masih ingin berlama-lama di ball room itu untuk menyambut para tamu yang baru saja datang.

“Baiklah kalau begitu. Kau akan pulang ke rumah ayah kan?” Tanya tuan Im pada Donghae.

“Maaf ayah, kami akan pulang ke rumahku.”

“Ayah…”

Yoona menatap ayahnya penuh sesal karena ia sekarang tidak bisa membantah kemauan Donghae. Pria itu telah menjadi suaminya, dan ia wajib mengikuti semua kemauan suaminya.

“Kalau begitu berhati-hatilah. Yoona, ayah pasti akan merindukanmu.”

Yoona ingin sekali turun dari gendongan Donghae dan berpelukan dengan ayahnya. Tapi pria itu tak mengijinkannya untuk turun dan tetap mendekapnya erat di dalam pelukannya. Donghae hanya malas untuk menunggu Yoona berpelukan dengan ayahnya yang pasti akan memakan waktu lama karena Yoona adalah wanita manja.

“Sampai jumpa ayah.. ibu..”

Yoona melambai pada ayahnya dan juga ibunya yang sedang menatapnya dengan tatapan prihatin. Mereka semua sadar akan sikap tegas dan kaku Donghae. Sehingga mereka tidak bisa berbuat apapun untuk menghentikan Donghae untuk membawa Yoona pulang.

-00-

“Jenderal Lee, turunkan aku! Aku malu. Aku bisa berjalan sendiri.” Teriak Yoona ketika mereka telah berada di luar ball room menuju tempat parkir khusus. Donghae tak menghiraukan teriakan Yoona dan tetap menggendong Yoona ala bridal style karena ia malas menunggu langkah Yoona yang lambat. Gaun wanita itu yang berat pasti akan menjadi alasan Yoona untuk tidak berjalan cepat mengikutinya. Padahal ia sudah lelah dan gerah. Ia ingin segera melepas jasnya dan menggantinya dengan pakaian santai yang nyaman.

“Jenderal Lee! Kau mendengarkanku atau tidak?”

“Aku mendengarkanmu karena aku juga memiliki indera pendengaran.”

“Kalau begitu sekarang turunkan aku. Aku bisa berjalan sendiri.”

“Diamlah! Sebentar lagi kita akan sampai.”

Yoona mendengus kesal di dalam gendongan Donghae. Pria itu lagi-lagi membuatnya kesal dengan sikapnya yang keras dan juga dingin. Ia benar-benar harus ekstra sabar setelah ini karena mulai detik ini ia akan menjadi bagian dari hidup Lee Donghae yang kaku dan dingin.

“Dimana cincinmu?”

Ketika turun dari gendongan Donghae, Yoona tak melihat cincin pernikahan mereka di jari manis Lee Donghae. Wanita itu dengan gusar membolak balik telapak tangan suaminya yang langsung dihempaskan Donghae karena ia risih.

“Masuk.”

“Dimana cincin pernikahan kita? Kau melepasnya? Kenapa? Itu adalah tanda jika kau telah menikah. Kau tidak bisa melepaskannya begitu saja dan berkeliaran tanpa cincin itu. Orang-orang akan mengira kau pria lajang yang bebas.”

Donghae menunggu Yoona untuk menyelesaikan serentetan kalimatnya, lalu ia mendorong Yoona masuk ke dalam mobilnya dan segera memasangkan Yoona sabuk pengaman di tubuhnya sebelum mulut cerewet wanita itu terbuka lagi.

“Jenderal Lee! Arghh…”

Yoona berteriak jengkel di dalam mobil suaminya. Terkadang ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa ia bisa mencintai pria menjengkelkan seperti Donghae. Seharusnya ia menikah dengan pria romantis yang bisa memahami dirinya dengan baik. Bukan pria dingin yang sangat irit bicara seperti Donghae.

“Bisakah kau diam. Kepalaku pening.”

Donghae melepaskan jasnya dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Yoona yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya kearah lain dengan wajah yang sudah merah padam. Ia sangat gugup sekarang. Pikirannya sudah berkelana kesana kemari. Apalagi Donghae saat ini sedang bertelanjang dada di sebelahnya.

“Tolong ambilkan bajuku di belakang.”

“Aaapa?”

Yoona mau tidak mau menoleh ke samping dan melihat Donghae sedang menatapnya dengan mata elangnya.

“Tolong ambilkan bajuku di belakang kursimu.”

Yoona terlihat seperti seorang wanita bodoh di depan Donghae dengan mengagumi tubuh berotot Donghae terlebihdulu sebelum berbalik untuk mengambil sebuah kaus yang terselip di belakang kursinya.

“Ini, kau mencari benda ini bukan.”

Yoona menoleh kearah Donghae dan melihat pria itu sedang menunjukan kalungnya yang berbandul cincin pernikahan mereka. Seketika Yoona merasa malu karena sejak tadi ia terus berteriak-teriak pada Donghae seperti wanita bar-bar, padahal Donghae menggunakan cincin pernikahan mereka sebagai kalung.

“Kau tidak mengatakannya.” Komentar Yoona. Wanita itu tidak mau terlihat bodoh di depan Donghae, meskipun dari gestur tubuhnya sudah terlihat jika ia sedang menahan malu karena telah menuduh Donghae melepas cicin pernikahan mereka.

“Aku tidak suka terlalu banyak berbicara, aku lebih suka menunjukannya dengan tindakan.”

“Tapi wanita tidak bisa seperti itu.” Sembur Yoona kesal. Wanita sepertinya jelas membutuhkan jawaban berupa kata-kata, bukan berupa tindakan yang terkadang hanya mampu dipahami oleh pria itu sendiri.

“Belajarlah untuk memahamiku mulai sekarang.”

“Jenderal, terkadang aku bingung pada diriku sendiri. Mengapa aku bisa jatuh cinta padamu, sedangkan kau sering membuatku jengkel dan berteriak-teriak seperti wanita liar yang bar-bar. Jika kau ingin aku memahamimu, kau juga harus memahamiku.”

“Aku sudah bersedia menikah denganmu, jadi jangan terlalu menuntut apapun dariku.”

Yoona diam. Ia akan selalu diam jika Donghae telah menyerangya dengan kalimat telak seputar alasan pria itu menikahinya. Pria itu selalu merasa di atas angin dan menggap dirinya telah melakukan hal yang besar dengan menikahinya, padahal ia juga sama berkorbannya dengan pria itu. Ia mengorbankan kehidupannya yang nyaman untuk mengikuti pria itu dan menjadi isteri yang baik. Meskipun ia memang mencintai pria itu, tapi bukan berarti Donghae dapat memperlakukannya sesuka hatinta. Ia benci berada di posisi ini. Sungguh ia ingin menangis sekarang dan kembali bersama ayahnya. Ia tidak mau tinggal bersama Donghae.

“Hapus air matamu. Aku tidak suka memiliki isteri yang cengeng.”

Yoona semakin mengeluarkan air matanya dengan deras. Kata-kata Donghae sudah sangat keterlaluan. Ia yang selama dua puluh dua tahun hidup tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari ayahnya tidak terbiasa dengan kata-kata menyakitkan seperti itu. Ia benar-benar harus mengeraskan hatinya mulai detik ini agar ia tidak merasa sakit setiap Donghae melemparkan kalimat-kalimat pedas di depannya.

“Bahkan ayahku tidak pernah memarahiku, kenapa kau memarahiku.” Ucap Yoona kesal sambil menyeka bulir-bulir air mata yang masih mengalir di pipinya.

Donghae benar-benar merasa geram melihat sikap Yoona yang kekanakan. Ia tidak terbiasa menghadapi wanita yang manja dan juga cengeng seperti Yoona.

“Aku bukan ayahmu. Sikap cengeng dan manjamu akan merepotkanku, jadi buang semua sikap manjamu mulai sekarang karena kau harus hidup dengan mandiri setelah ini. Besok kau harus memasak dan menyiapkan semua keperluanku. Tidak ada maid yang bekerja di rumahku. Aku hanya memiliki beberapa prajurit yang akan menjaga rumahku. Selebihnya kau melakukan sendiri seluruh tugas-tugas rumah tangga.”

“Lalu bagaimana dengan kuliahku?”

“Apa aku melarangmu untuk kuliah? Kau tetap akan kuliah setelah kau menyelesaikan tugas-tugasmu.”

“Sebenarnya kau ingin aku menjadi isterimu atau pelayanmu?” Sungut Yoona kesal. Sebenarnya ia tidak mempermasalahkan tugas-tugas rumah tangga yang akan menjadi tugasnya nanti. Ia hanya kesal dengan cara Donghae memerintahnya yang terkesan seperti sedang memerintah pelayan.

“Terserah kau ingin menganggap dirimu sebagai isteriku atau pelayanku.”

Ia menyerah! Ia benar-benar menyerah beradu mulut dengan Lee Donghae. Pria itu benar-benar memiliki lidah setajam pisau yang mematikan. Setiap kata-katanya berhasil dijawab oleh pria itu dengan kata-kata pedas yang terdengar menyakitkan sekaligus menjengkelkan. Ia akhirnya memilih untuk memejamkan matanya dan mendinginkan kepalanya yang sedang berasap. Ia berharap saat membuka matanya nanti semuanya sudah berubah menjadi lebih baik.

-00-

Yoona terlihat sedang menggeliat kecil dan mulai mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa kabur. Ia kemudian menguap dengan lebarnya sambil merentangkan tangannya ke udara. Dengan mata yang masih mengantuk, Yoona mulai menyipitkan matanya untuk melihat suasana asing yang tersaji di depannya. Kini ia sudah berada di sebuah kamar luas dengan nuansa putih. Kamar itu terlihat sangat minimalis dengan sebuah ranjang king size di tengah-tengah ruangan, lemari coklat besar di sudut ruangan, meja kerja, dan sebuah pintu di ujung kanan yang merupakan kamar mandi.

Yoona lantas berdiri dari posisi tidurnya dan memilih untuk berjalan-jalan di sekitar kamarnya. Ia mendekati jendela besar yang menghadap ke taman sambil memikirkan kamar pengantinnya yang tidak terpakai malam ini. Padahal sejak dua hari yang lalu ia sudah menyiapkan banyak hal. Bahkan ia menyiapkan satu set lingeri di kamarnya. Entah apa yang ia pikirkan kemarin. Ia benar-benar heboh hingga harus mencari refrensi mengenai kamar pengantin kesana kemari karena ia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Dan sekarang ia justru berakhir di kamar minimalis milik pria itu. Percuma saja ia memesan bunga mawar khusus dengan harga ratusan ribu won untuk ditaburkan di kamarnya, jika pada akhirnya ia menghabiskan malam pertamanya di rumah pria itu.

Tiba-tiba Yoona teringat jika ia belum mengganti gaunnya dengan baju santai. Wanita itu kemudian menjadi panik karena ia tidak membawa apapun ke rumah pria itu. Satu-satunya pakaian yang ia bawa adalah gaun pengantin yang saat ini melekat di tubuhnya. Ia pun berinisiatif untuk mencari Donghae dan meminta pria itu bertanggungjawab atas ulahnya karena sekarang ia ingin mengganti pakiannya yang berat dengan baju santai yang lebih nyaman. Saat ia akan berbalik, tiba-tiba ia melihat pintu di ujung ruangan terbuka. Donghae muncul dengan rambut basah dan handuk putih yang melilit tubuh pria itu sebatas pinggang, sedangkan tubuh bagian atas pria itu polos tanpa sehelai benangpun. Yoona meneguk ludahnya gugup. Pria itu saat ini benar-benar terlihat seksi di matanya. Apalagi kalung putih milik Donghae semakin menambah kejantanan pria itu di mata Yoona. Tanpa sadar Yoona terus memelototi tubuh Donghae hingga Donghae mengejutkannya dan menangkap basahnya sedang mengagumi tubuh atletisnya.

“Kau sudah bangun?”

“Sssudah.” Jawab Yoona tergagap. Ia segera memalingkan wajahnya kearah lain sambil memegang dadanya yang lagi-lagi bergemuruh karena Donghae. Yoona merasakan langkah Donghae sedang mendekat kearahnya.

“Kau ingin mandi?”

“Aku tidak membawa baju.” Ucap Yoona apa adanya. Wanita itu menatap Donghae memelas sambil mengangkat gaunnya yang terasa tidak nyaman. Donghae yang berada di sebelahnya lalu beranjak menuju lemari pakaiannya untuk mengambil baju santai untuknya. Yoona yang melihat itu lantas kembali mengomel di dalam hatinya karena lagi-lagi ia diabaikan oleh Donghae. Pria itu dengan teganya membiarkannya tidur malam ini dengan gaun berat yang masih membungkus tubuhnya. Ingin rasanya ia mencekik pria itu dan kabur ke rumahnya agar ia bisa tidur nyaman malam ini.

Pluk

Tangan Yoona refleks menangkap sebuah kaus yang dilemparkan Donghae kearahnya. Lalu pria itu melemparkan sebuah celana panjang bermotif garis-garis kearah Yoona yang langsung ditangkap wanita itu dengan baik.

“Pakai itu.” Ucap Donghae yang terdengar seperti sebuah perintah. Yoona menatap kaus itu dengan seksama dan ia baru menyadari jika kaus itu adalah kaus milik Donghae yang nantinya pasti akan tampak kebesaran di tubuhnya. Yoona menatap kaus itu dengan dahi berkerut sambil membatin tidak suka. Jelas sekali kaus itu sangat tidak berkelas untuknya. Terlebih lagi kaus itu tidak akan membuatnya tampak seksi, justru ia akan terlihat seperti orang-orangan sawah saat memakainya karena terlalu besar. Yoona hampir saja meneriakan protesnya pada Donghae, namun bibirnya sudah lebih dulu dibungkam Donghae dengan perintah tegas milik pria itu.

“Cepat ganti gaunmu sekarang. Aku tidak menerima protes! Lebih baik kau memakai baju itu daripada kau menggunakan gaun berat itu sepanjang malam.”

“Tapi ini terlalu besar untukku.” Protes Yoona. Mulut wanita itu memang tidak pernah bisa menahan setiap gejolak protes yang ingin ia layangkan, terutama jika bersama Donghae.

“Apa kau berharap menggunakan lingeri seksi malam ini? Huh, aku tidak tertarik.”

Yoona merasa dirinya tertampar dengan kata-kata Donghae. Bagaimana mungkin pria itu tahu jika malam ini ia berencana menggunakan lingeri? Sayangnya rencana itu digagalkan oleh Donghae karena mereka justru tinggal di rumah pria itu, bukan di rumahnya.

“Tidak tertarik? Apa kau penyuka sesama jenis.” Dengus Yoona gusar. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir lancang Yoona karena ia sudah terlalu kesal dengan Lee Donghae. Apalagi pria itu telah menghancurkan semua rencananya yang telah ia susun matang-matang sejak dua hari lalu. Ah.. pasti lilin aroma terapi di kamarnya juga akan menjadi sampah setelah ini. Padahal ia sudah susah payah memesan lilin itu secara khusus dari pembuatnya agar memiliki aroma sesuai kesukaanya.

“Hati-hati saat berbicara Im Yoona.”

Yoona hampir saja terjungkal jatuh jika Donghae tidak menahan pinggangnya karena terlalu terkejut dengan kemunculan pria itu di sampingnya. Padahal sebelumnya ia masih melihat Donghae sedang menggunakan kaus di dekat lemarinya, dan sekarang tiba-tiba pria itu sudah berada di sampingnya yang sejak tadi sibuk melepas pernak-pernik yang masih menempel di tubuhnya.

“Kau mengejutkanku jenderal! Jangan muncul tiba-tiba seperti hantu!” Marah Yoona. Ia pun melepaskan tangan Donghae dari pinggangnya dan kembali melanjutkan kegiatannya melepaskan segala aksesoris yang menempel di tubunya. Ia kemudian mencoba melepaskan resleting gaunnya agar ia dapat lebih mudah mengganti pakaiannya saat berada di dalam kamar mandi. Sayangnya tangannya terlalu pendek untuk mencapai ujung resleting yang menggantung rendah di punggungnya yang terbuka. Dan tanpa ia minta, Donghae tiba-tiba telah menarik turun resleting gaunnya hingga turun ke ujung terbawah resleting itu. Refleks Yoona segera menahan bagian depan gaunnya agar tidak merosot ke bawah karena ia pasti akan langsung telanjang di depan pria itu. Dengan malu ia berlari-lari terbirit-birit menuju kamar mandi, namun langkahnya justru ditahan oleh Donghae karena pria itu tanpa aba-aba langsung mendorongnya jatuh ke atas ranjang yang empuk di belakangnya.

“Jenderal, aku ingin mengganti pakaianku. Seenaknya saja kau melepaskan gaunku dan membuat tubuh polosku hampir terekspos.” Omel Yoona kesal. Sekilas Yoona melihat kilatan mengerikan dari mata elang milik Donghae yang membuatnya seketika menjadi gugup. Ia tidak tahu apa maksud pria itu mendorongnya ke atas ranjang. Tapi pria itu saat ini sedang memerangkapnya dengan tubuh kekar berototnya.

 

Apa yang akan dilakukan pria dingin ini?

            Yoona semakin mencengkeram erat gaunnya agar tidak melorot turun. Ia gugup dan juga takut karena tatapan mengintimidasi Donghae yang sangat mengerikan. Ia ingin kabur dari pria itu, tapi ia tidak bisa. Kakinya terhalang oleh tubuh pria itu, sehingga ia hanya mampu terdiam di tempatnya sambil menatap gugup kedua mata Donghae yang mengerikan.

“Kau mengatakan aku gay?”

“Aaapa?”

Yoona sungguh tak sadar saat mengatakan hal itu. Itu hanya kata-kata spontan yang keluar dari bibir laknatnya. Dan pria itu sepertinya terlalu menganggap serius ucapannya hingga membuatnya sedikit terpancing seperti itu.

“Kita lihat, apa aku benar-benar gay seperti yang kau katakan.”

Donghae tiba-tiba menarik turun gaunnya dan membuat tubuh atas Yoona terpampang sempurna di depan Donghae. Yoona yang menyadari hal itu mencoba menghalangi pandangan Donghae dari dadanya yang hanya tertutup bra. Meskipun ia sadar Donghae adalah suaminya sekarang, tapi ia tetap saja malu dan belum siap. Setidaknya ia membutuhkan sedikit waktu untuk menyiapkan diri. Tapi Donghae dengan nakalnya justru menarik tangan itu menyingkir dan menguncinya di atas kepalanya dengan tangannya yang besar.

“Aapa yang akan kau lakukan jenderal? Kkau tidak akan memintaku untuk… untuk….”

Yoona tak bisa melanjutkan kata-katanya karena ia merasa malu untuk mengungkapkannya.

“Melakukan malam pertama.”

Yoona membulatkan matanya sempurna dengan kata-kata vulgar Donghae. Bahkan ia perlu mencari kalimat yang tepat untuk mengucapkannya, sedangkan pria itu dengan mudahnya langsung mengucapkannya begitu saja tanpa mempedulikan kedua pipinya yang telah bersemu merah.

“Aku tidak akan memintamu untuk melakukannya.”

“Lalu?” Tanya Yoona penasaran. Jika pria itu tidak memintanya, lalu untuk apa pria itu saat ini menindihnya. Terlebih lagi ia sudah setengah telanjang di depannya. Tidak, dia tidak benar-benar setengah telanjang. Pria itu hanya melihat dadanya yang tertutup bra dan sedikit perut ratanya karena ujung gaunnya hanya merosot hingga sebatas pinggul.

“Aku hanya ingin mengetes diriku sendiri apakah aku penyuka sesama jenis atau tidak.”

Tanpa aba-aba pria itu langsung melumat bibir Yoona dan membelitkan lidahnya ke dalam lidah kaku Yoona yang selama ini selalu wanita itu gunakan untuk memprotesnya. Dan dalam sekejap Yoona langsung tunduk di bawah kuasanya. Wanita itu benar-benar dibuat tak berdaya dengan sikap Donghae yang sering berubah-ubah itu. Kadang pria itu terlihat begitu dingin tak tersentuh, kadang pria itu terlihat mesum dengan menunjukan tindakan-tindakan tak terduganya seperti ini.

“Ahh..”

Yoona memekik tertahan ketika Donghae lagi-lagi menggigit bibirnya. Pria itu rupanya memang menyukai rasa darahnya yang manis hingga lagi-lagi ia melukai sudut bibirnya agar berdarah. Yoona tampak terengah-engah di sela-sela ciuman mereka yang panjang. Ia dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Donghae agar menjauh lalu ia berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang hampir kosong.

Donghae menatap Yoona yang sedang terengah-engah di bawahnya dengan seringaian puas. Akhirnya ia bisa membalas wanita itu karena mulut lancangnya berani menghinanya gay. Mata elang Donghae memindai setiap pergerakan yang Yoona lakukan. Dan gerakan dada Yoona yang naik turun karena terengah-engah seketika membuatnya terganggu. Ia tidak pernah merasa selepas itu sebelumnya. Biasanya ia mampu mengendalikan dirinya dengan baik. Tapi jika bersama Yoona entah kenapa ia pasti akan kehilangan kontrol dirinya hingga ia bisa berbuat terlalu jauh pada wanita itu.

Donghae menatap wajah Yoona di bawahnya yang masih terengah-engah. Seketika sisi lain dalam dirinya berbisik untuk memiliki Yoona malam ini. Apalagi melihat Yoona yang tampak kacau di bawahnya semakin membuatnya bergairah untuk menyentuh Yoona. Ia pun menundukan wajahnya dan mencium leher jenjang Yoona dan membuat wanita itu lagi-lagi terkesiap terkejut. Apalagi ciuman itu terus turun hingga berheti di atas lipatan dadanya. Yoona bergerak-bergerak tidak nyaman di dalam kungkungan Donghae. Ia yakin setelah ini leher dan dadanya akan memerah karena ulah Donghae. Namun tiba-tiba Donghae mengangkat wajahnya dan pergi meninggalkan dirinya yang tampak kacau dan juga terkejut dengan gerakan tiba-tiba pria itu yang pergi meninggalkannya.

“Ganti pakaianmu sekarang.”

Yoona melongo tak percaya dengan perubaha sikap Donghae yang lagi-lagi membuatnya tidak paham dengan jalan pikiran pria itu. Beberapa detik yang lalu Donghae berhasil membuatnya melambung dengan sentuhan pria itu. Dan sekarang pria itu membuatnya bingung dengan sikap pria itu yang terlihat kembali dingin.

“Ada apa? Kau meninggalkanku begitu saja seperti ini? Hebat!” Teriak Yoona kesal. Ia segera bangkit berdiri sambil menaikan gaunnya agar menutupi dadanya yang sekarang terlihat memerah karena ulah Donghae. Namun pria itu tak menghiraukan teriakan Yoona dan justru membanting pintu kamarnya keras hingga membuat Yoona terkesiap lagi.

“Ada apa dengan pria itu? Benar-benar aneh.”

-00-

Donghae termenung di luar kamarnya sambil menatap pintu kayu di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Hampir saja malam ini ia melakukan sesuatu di luar akal sehatnya. Jika ia tidak segera menjauh dari tubuh Yoona, ia tidak yakin ia dapat menghentikan dirinya setelah itu. Tubuh Yoona terasa bagai candu untuknya. Sejak ia mencium Yoona untuk pertama kalinya, ia merasa selalu terpanggil untuk mencicipinya lagi. Dan malam ini ketika ia mencicipi bagian tubuh Yoona yang lain, ia merasa… menyukainya. Ia menyukai tubuh Yoona yang manis dan sangat menggairahkan itu. Tapi ia sudah bertekad untuk tidak menyentuh Yoona sekarang. Ini belum saatnya karena ia ingin menunjukan pada Yoona bagaimana hidupnya selama ini berjalan. Ia akan bersikap adil pada Yoona. Jika nanti wanita itu tidak menyukai kehidupannya, ia akan melepas Yoona begitu saja. Jadi ia tidak akan merusak wanita itu sebelum wanita itu yakin dengan jalan hidupnya yang akan ia tempuh bersamanya.

-00-

“Bangun.”

Donghae mengguncang tubuh Yoona sekali dan menarik selimut tebal yang digunakan wanita itu untuk tidur semalam. Sambil menggeliat-geliat tidak nyaman karena dingin, Yoona lantas membuka matanya sambil menatap kesal pada Donghae karena ia masih sangat mengantuk. Semalam ia baru tertidur pukul dua pagi setelah menemani Donghae berlatih senjata di ruangan khusus milik pria itu. Tapi sebenarnya itu karena kemauannya sendiri. Donghae sudah menyuruhnya untuk naik ke kamar dan tidur, namun dengan keras kepalanya ia memilih untuk menemani Donghae berlatih sambil mengagumi kegagahan Donghae dalam menggunakan berbagai macam senjata.

“Jam berapa ini?” Tanya Yoona dengan mata setengah terpejam. Donghae melemparkan sebuah jam weker ke arahnya dan jatuh tepat di atas pangkuan wanita itu.

“Hah? Ini masih pukul setengah enam. Masih terlalu pagi untuk bangun.”

Yoona hampir saja menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang yang menggoda untuk kembali tidur, tapi Donghae sudah terlebihdulu menarik tangannya dan menyeretnya agar turun dari atas ranjang.

“Aku tidak suka memiliki isteri pemalas. Sekarang cepatlah mandi dan buatkan sarapan.”

Yoona mendengus kesal sambil menghempaskan tangan Donghae. Ia dengan malas-malasan segera berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya terlebihdulu agar aura-aura ingin tidur yang masih melingkupinya segera hilang.

“Aku tidak memiliki baju!”

Yoona berteriak di dalam kamar mandi sambil membasuhkan air dingin ke wajahnya. Wanita itu meruntuk kesal karena Donghae tidak memiliki keran air panas seperti di rumah ayahnya. Bahkan bathtube milik pria itu juga hanya memiliki satu keran air dingin. Di sini ia benar-benar harus mandi dengan air dingin yang pasti akan membuat tubuhnya menggigil nanti. Padahal jika di rumahnya, ia biasa menggunakan air hangat untuk mandi di pagi hari. Terutama jika ia harus mandi di bawah jam enam jika ia memiliki kelas pagi di kampus.

“Pakai saja baju itu, kita akan mengambil baju-bajumu nanti.”

“Apa? Menggunakan baju ini lagi? Yang benar saja, baju ini terlihat jelek di tubuhku. Aku seperti menggunakan karung beras saat menggunakannya.” Protes Yoona sebal dari pintu kamar mandi. Wanita itu kini terlihat lebih segar setelah mengguyur wajahnya dengan air dingin yang benar-benar dingin. Entah kenapa ia merasa jika keran air dingin di rumah Donghae memiliki suhu air yang lebih dingin dari suhu air normal. Ia seperti baru saja membasuh wajahnya dengan air es yang baru saja keluar dari dalam kulkas daripada air biasa yang bersuhu normal.

“Aku tidak melihat wanita dari penampilannya.” Jawab Donghae dingin. Yoona mendengus sebal dan segera berjalan menghampiri Donghae yang sedang berdiri dengan kaku sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kau mau pergi kemana?”

Yoona benar-benar baru menyadari penampilan Donghae yang terlihat sudah rapi di depannya. Pria itu tampak telah siap dengan celana jeans dan kemeja warna navy yang digulung sebatas siku. Penampilan mereka pagi ini benar-benar sangat kontras, Yoona yang kumal, dan Donghae yang rapi.

“Jam berapa kau bangun jenderal? Bukankah semalam aku tidur lebihdulu?” Tanya Yoona heran. Donghae menipiskan bibirnya melihat tingkah Yoona yang memang sangat kekanakan dan juga manja. Bahkan ia yang seorang pria justru bangun terlebihdulu daripada ia yang seorang wanita. Benar-benar memalukan! Inilah yang membuat Donghae selalu malas jika memiliki isteri seorang wanita manja seperti Yoona, wanita itu tidak terbiasa hidup disiplin seperti dirinya, sehingga ia harus mengeluarkan sedikit tenaga ekstra untuk membuat Yoona agar disiplin sepertinya.

“Aku sudah terbiasa bangun pagi. Setiap hari kau harus bangun pukul setengah lima pagi, setelah itu kita berlatih bela diri sebelum kau berangkat ke kampus. Jika kau terlambat, aku akan menghukummu.”

Yoona tampak syok dengan peraturan baru yang ditetapkan Donghae. Selama ini ia selalu bangun pukul enam. Kadang ia justru bangun pukul tujuh jika ia tidak memiliki kelas pagi. Dan sekarang ia harus bangun pukul setengah lima? Hell no! Ia pasti tidak akan bisa melakukannya. Ia benar-benar memasang banyak alarm di sekitar ranjangnya agar ia tidak kesiangan dan mendapat hukuman dari Lee Donghae.

“Aku tidak bisa jenderal, aku tidak bisa bangun sepagi itu.” Ucap Yoona lesu. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara berbicara dengan suaminya. Jika ia memprotes dengan kata-kata kasar, suaminya justru akan bersikap semakin kejam. Jika ia menangis, maka Donghae akan mengeluarkan kata-kata pedas yang menyakitkan hati. Akhirnya ia memilih jalan tengah dengan tidak menangis dan juga berteriak-teriak marah seperti biasanya agar Donghae tidak semakin kejam padanya.

“Jika kau tidak bisa melakukannya, lebih baik kau tidak usah menjadi isteriku.”

“Memangnya siapa yang ingin menikah denganku? Bukankah kau sendiri yang mengumumkannya di hadapan semua orang. Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menikah denganku.” Balas Yoona sengit. Ia rasanya sudah terlalu sakit hati dengan setiap kata-kata yang dilontarkan oleh Donghae. Tak pernah sekalipun ia mendengar Donghae sedikit saja bersikap romantis di depannya. Selalu saja kata-kata kasar yang keluar dari bibir tipis milik pria itu.

“Kau harus belajar untuk disiplin Yoona, dan aku tidak mau mendengar protes apapun darimu. Sekarang cepat siapkan sarapan dan setelah itu mandi. Waktumu untuk memasak dua puluh menit dimulai dari sekarang.”

Yoona melebarkan matanya tak percaya sambil menatap pria itu dengan tatapan syoknya. Mana mungkin ia bisa memasak dalam waktu sesingkat itu. Masakan apa pula yang bisa ia masak untuk pria itu jika ia hanya memberinya waktu dua puluh menit. Bahkan ia sudah membuang waktunya selama satu menit hanya untuk menatap pria itu syok tanpa melakukan kegiatan apapun yang berguna.

“Waktumu terus berjalan Yoona, aku benar-benar akan memberimu hukuman jika masakanmu tidak matang dalam waktu dua puluh menit.”

Setelah memberikan peringatan dan juga ancaman, Donghae segera berjalan keluar dari kamarnya tanpa menghiraukan Yoona yang masih menatap suaminya dengan syok. Baru satu hari ia hidup bersama Lee Donghae sebagai suaminya, dan ia sudah dibuat syok oleh berbagai macam aturan aneh yang ditetapkan oleh pria itu. Mungkin setelah ini Lee Donghae akan semakin membuatnya terkejut dengan hal-hal misterius yang selama ini selalu disimpan pria itu rapat-rapat dari semua orang.

-00-

Pukul setengah delapan Yoona telah siap di meja makan dengan pakaian kebesaran milik Donghae dan juga celana bahan panjang yang sama kebesarannya dengan kaus yang ia kenakan. Yoona terlihat sudah lebih segar setelah mandi dengan air yang super dingin di kamar mandi milik Donghae. Ia yang awalnya tidak terbiasa mau tidak mau harus mengikuti kebiasaan Donghae mulai sekarang. Ia memang tidak bisa terus menerus mempertahankan sifat manjanya atau sifat kekanakannya karena sekarang ia adalah seorang isteri. Ia harus belajar untuk menjadi wanita dewasa yang mampu mengurus rumah tangganya dengan baik.

“Apa ini?”

Donghae bergabung di meja makan dan langsung menanyakan hasil masakan Yoona yang tersaji di atas meja. Wanita itu dengan sebalnya segera meminta Donghae duduk dan memakan makananya tanpa banyak memprotes karena itu adalah hasil masakan yang bisa ia masak dalam waktu lima belas menit.

“Aku hanya bisa memasak telur mata sapi dan roti panggang dalam waktu lima belas menit. Aku juga membuatkanmu teh dan kopi karena aku tidak tahu apa minuman kesukaanmu di pagi hari.”

Donghae menarik salah satu kursi kayu di depan Yoona dan mulai memakan makanannya dalam diam. Sebenarnya ia bukan tipe pria pemilih karena ia sudah terbiasa memakan apapun ketika sedang menjalankan misinya di daerah terpencil. Ia hanya ingin menguji Yoona dan menanyakan pada wanita itu apa yang ia masak pagi ini. Dan mengenai kopi atau teh, ia sepertinya lebih menyukai air putih untuk menemani sarapannya.

“Aku hanya minum teh saat sore hari dan kopi saat sedang lembur, jadi siapkan saja air putih saat sarapan.”

Yoona mendengus kesal sambil memasukan potongan besar roti ke dalam mulutnya. Lagipula mana mungkin ia tahu bagaimana kebiasaan Donghae jika pria itu tidak pernah mengatakan apapun padanya.

“Jadi kemana kita akan pergi setelah ini?” Tanya Yoona mengganti topik pembicaraan. Ia tidak mau membahas masalah sarapan mereka yang nantinya justru akan membuatnya dongkol. Lebih baik ia menanyakan kegiatan mereka untuk hari ini karena ia masih dalam masa cuti kuliah. Ia sengaja mengambil cuti selama dua minggu untuk mempersiapkan hari pernikahannya dan juga masa bulan madunya. Tapi mengenai bulan madu, sepertinya ia tidak perlu berharap terlalu banyak karena Lee Donghae tidak akan mungkin mengajaknya berlibur ke tempat-tempat romantis seperti impiannya selama ini.

“Ke rumah ayahmu. Kita perlu mengambil beberapa keperluanmu karena kau mulai sekarang akan tinggal di sini.”

“Apa sesekali kita bisa menginap di rumah ayah?” Tanya Yoona penuh harap. Ia tidak bisa berpisah dari ayahnya begitu saja setelah apa yang ia lalui bersama ayahnya selama ini. Dan ia merasa jika ayahnya pasti akan sangat kesepian setelah ia menikah karena seluruh waktunya hanya akan ia berikan untuk Donghae. Jadi ia ingin sesekali mereka menginap di rumah ayahnya agar ayahnya tidak kesepian jika tidak sedang sibuk di luar rumah.

“Mungkin.” Jawab pria itu pendek. Yoona mendesah lesu dan kembali melanjutkan kegiatan sarapannya yang masih tersisa separuh. Tiba-tiba dalam kebisuan yang tengah menyelimuti mereka, Yoona memiliki ide untuk merombak sebagian penampilan rumah Donghae. Sejujurnya ia tidak terlalu suka dengan gaya rumah Donghae yang terlalu minimalis dan juga suram. Padahal rumah pria itu cukup besar menurutnya, tidak kalah dengan rumah ayahnya yang berada di Seoul. Hanya saja pria itu tidak menatanya dengan baik sehingga rumah itu terkesan suram dan juga membosankan.

“Apa aku boleh menambahkan sedikit pernak pernik di rumahmu? Kulihat rumah ini terlalu kaku dan tidak menarik. Aku ingin menambahkan sedikit perabotan di dalam rumah ini agar terlihat lebih berwarna dan tidak monoton.”

“Terserah. Lakukan apapun sesukamu, tapi kau tidak boleh melanggar batasan-batasan yang telah kutetapkan.”

“Hmm baiklah, aku janji tidak akan melanggar aturan yang kau tetapkan. Emm.. ngomong-ngomong, apa prajuritmu tidak makan?” Tanya Yoona heran. Selama ini ia selalu melihat prajurit-prajurit Donghae berjaga di rumahnya, tapi ia tidak tahu siapa yang memasak untuk para tentara itu karena Donghae tidak pernah memiliki asisten rumah tangga. Bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana Donghae menyiapkan makanannya selama ini.

“Ada seorang wanita yang memasakan makanan untuk mereka. Tapi ia tidak memasak di sini, tapi di rumahnya.”

“Apakah wanita itu masih muda?” Tanya Yoona tertarik. Selama ini ia tidak pernah melihat seorangpun wanita di rumah itu. Dan sekarang Donghae mengatakan padanya jika ada seorang wanita yang ia pekerjakan untuk menyediakan makanan bagi prajurit-prajuritnya. Ia jadi merasa penasaran dan ingin bertemu dengan wanita itu.

“Nanti kau juga akan bertemu dengannya.”

Yoona sebenarnya ingin bertanya lagi pada Donghae. Namun dari gelagat yang ditunjukan Donghae, pria itu sepertinya mulai jengah dengan semua pertanyaan yang ia lontarkan sejak tadi. Sehingga ia memutuskan untuk diam dan segera menyelesaikan sarapannya. Masih ada banyak waktu untuk bertanya pada Donghae dan mengetahui sisi lain Donghae yang misterius.

-00-

Yoona dan Donghae kini sedang dalam perjalana menuju suatu tempat. Baru saja mobil SUV milik Donghae meninggalkan halaman luas kediaman menteri Im dan sekarang mereka akan pergi ke suatu tempat yang Yoona sendiri tidak tahu. Sejak mereka keluar dari rumah menteri Im, Donghae tak mengatakan apapun dan hanya menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobilnya.

Sekarang mereka sedang berada di jalan yang tidak mengarah ke kediaman Donghae. Mobil Donghae saat ini tengah melaju tenang menuju ke suatu tempat yang selama ini belum pernah didatangi Yoona. Dengan penuh ingin tahu Yoona ingin bertanya pada Donghae, namun niatnya langsung tertunda karena suara Donghae yang tiba-tiba bergema di udara.

“Kamarmu terlihat kotor.”

Yoona refkeks menolehkan kepalanya ke samping sambil mengernyit tidak mengerti kearah Donghae.

“Banyak sampah di dalam kamarmu. Kenapa para maidmu tidak membersihkannya.”

Mendengar hal itu Yoona lantas menyimpulkan jika Donghae tadi sempat melihat-lihat isi kamarnya selagi ia memasukan barang-barangnya ke dalam kopor. Memang para maidnya belum menyentuh kamarnya sedikitpun untuk membesihkannya karena kamarnya memang dipersiapkan untuk malam pertamanya. Namun ia tidak menyangka jika Donghae justru menganggapnya itu kotor karena menurutnya itu masih terlihat cantik dengan kelopak-kelopak bunga mawar yang bertebaran di sekitar lantai kamarnya.

“Aku menyiapkannya untuk malam pengantin kita. Tapi kita justru berakhir di dalam kamarmu yang suram. Bahkan dengan kaus kebesaran yang sama sekali tidak seksi. Jadi jangan mengejek kamarku kotor karena kamarmu juga tidak jauh lebih baik dari kamarku.” Cibir Yoona kesal. Entah kenapa setiap berbicara dengan Donghae ia selalu merasa kesal dan ingin marah. Pria itu suka sekali mengomentari apapun yang berkaitan dengannya dengan kata-kata pedas yang menyakitkan hati hingga membuatnya gerah ingin menyerang pria itu dengan kata-kata ketusnya.

“Semua yang kulihat di dalam kamarmu adalah sampah. Kelopak bunga, lilin, dan sampah-sampah itu seharusnya kau buang. Kamar seharusnya digunakan untuk tidur, bukan untuk melakukan ritual bodoh dengan menggunakan lilin dan kelopak bunga bawar.”

“Sampah? Aku memesan bunga-bunga itu khusus dengan harga ratusan ribu won agar malam pertama kita terlihat lebih romantis, tapi kau malah menyebutnya sebagai sampah. Sia-sia aku menyiapkan semuanya jika pada akhirnya aku justru tidak bisa menikmati itu semua. Uang ratusan ribu wonku hanya akan berakhir di tempat pembuangan sampah!”

Yoona terus mengomel kesal sambil menatap pemandangan membosankan di depannya. Ia pikir bisa menikah dengan Donghae akan membuatnya bahagia, ternyata tidak! Dalam kehidupan pernikahan tidak cukup hanya dengan cinta. Ada banyak hal yang lebih kompleks dari cinta yang harus ia pelajari mulai dari sekarang. Termasuk bagaimana caranya menyesuaikan diri dengan pasangan agar kehidupan mereka lebih harmonis.

“Lebih baik kau memberikan uangmu pada orang-orang yang membutuhkan daripada membeli sampah-sampah yang tidak berguna seperti itu.”

Yoona rasanya ingin marah. Tapi percuma saja ia marah jika pada akhirnya pria itu akan mengomentarinya dengan kalimat pedasnya yang menjengkelkan. Akhirnya ia memilih untuk memainkan ponselnya dan melihat postingan teman-temannya di akun sosial media milik mereka. Setidaknya dengan melihat foto-foto lucu yang diunggah oleh teman-temannya, rasa kesalnya pada Donghae menjadi sedikit berkurang. Hanya sedikit, tapi tidak sepenuhnya menghilang.

-00-

Yoona turun dari mobil milik Donghae dan menatap bangunan di depannya dengan wajah bertanya-tanya. Ia belum pernah datang ke tempat itu sebelumnya, dan ia merasa asing. Apalagi dari depan ia melihat banyak sekali anak-anak kecil sedang bermain-main dengan riuhnya tanpa beban, dan terlihat lepas. Ia kemudian mengikuti Donghae berjalan masuk ke dalam bangunan itu dan bertemu dengan anak-anak kecil menggemaskan yang langsung mengerubungi mereka.

“Oppa!! Aku merindukanmu.”

Seorang gadis kecil berlari kearah Donghae dan langsung melompat ke dalam gendongan Donghae. Yoona yang melihat itu tampak terkejut karena ia belum pernah melihat Donghae tampak semanusiawi itu. Kini ia benar-benar melihat sisi lain Donghae yang sangat berbeda. Donghae tampak lebih lembut dan juga perhatian pada anak-anak itu. Bahkan Donghae dapat berinteraksi seperti pria normal yang sangat jauh dari kata sociopat. Ia merasa menemukan diri Donghae yang baru. Donghae yang ia lihat saat ini terlihat seperti bukan Lee Donghae yang menikahinya di depan Tuhan dan pastur agung kemarin pagi.

“Oppa, siapa nona cantik ini?”

“Halo, namaku Lee Yoona.”

Yoona memperkenalkan diri dengan ramah sambil berjongkok pada salah satu anak kecil yang kira-kira berusia sekitar delapan tahun.

“Lee Donghae, kau kah itu?”

Seorang wanita muda berteriak dari dalam rumah dan segera berjalan keluar untuk menghampiri Donghae yang sedang bercengkerama dengan anak-anak kecil itu. Donghae tersenyum lembut pada wanita itu dan melambaikan tangannya sekilas ke udara.

“Lama sekali kau tidak pernah datang ke sini, mereka mencarimu.”

Wanita itu berceloteh ringan dan belum menyadari keberadaan Yoona di sebelah Donghae. Baru beberapa menit kemudian Donghae menarik pinggang Yoona mendekat dan memperkenalkan Yoona pada wanita muda berkaus hijau di depannya.

“Kenalkan ini isteriku, Yoona.”

Yoona mengulurkan tangannya dengan sungkan yang langsung disambut wanita muda itu antusias.

“Jadi kau lama sekali tak muncul karena menikah? Kau jahat! Kau tidak mengundang kami.” Ucap wanita itu pura-purah marah. Donghae menggeleng cepat dan segera menjelaskan keadaanya yang sebenarnya pada wanita itu. Alasannya tak mengundang wanita itu saat acara pernikahannya.

“Kami baru saja menikah kemarin. Lima bulan yang lalu aku mendapatkan tugas di Kazakistan, dan baru saja kembali seminggu yang lalu. Jadi aku tak sempat mengundangmu ke acara pernikahanku.”

“Alasan macam apa itu? Kau memiliki banyak prajurit yang bisa kau perintah sesuka hatimu. Memerintahkan mereka untuk mengirimkan undangan ke panti asuhan ini jelas bukan sesuatu yang sulit. Kau hanya beralasan.” Cibir wanita itu ringan. Namun Donghae sama sekali tidak marah, Donghae justru tertawa kecil dengan cibiran wanita itu. Yoona yang melihatnya cukup terkejut. Ia tidak pernah melihat Donghae seakrab itu pada seorang wanita. Bahkan pria itu tidak bisa bersikap sesantai itu padanya. Jadi siapa wanita itu sebenarnya?

“Ahh.. ayo masuk ke dalam, kita mengobrol di dalam.”

Donghae menurunkan gadis kecil yang tadi digendongnya lalu mengelus puncak kepala gadis itu lembut.

“Selamat ulangtahun Dayeong-ah, maaf oppa tidak membawa kado untukmu.”

“Tidak apa-apa oppa. Terimakasih karena telah mengingat hari ulangtahun Dayeong.”

Yoona yang sejak tadi hanya menjadi pengamat semakin dibuat penasaran dengan sisi lain Donghae yang baru ia ketahui hari ini. Setelah pagi tadi ia melihat sisi tegas Donghae yang sangat kejam menurutnya, sekarang ia melihat sisi lembut Donghae yang mampu membuat hatinya meleleh. Ketulusan yang pria itu tunjukan pada anak-anak itu sangat murni. Donghae sama sekali tidak berpura-pura. Apa yang ia lihat saat ini menunjukan jika Donghae sangat mencintai anak-anak itu seperti keluarganya sendiri. Yoonapun semakin tidak sabar untuk bertanya pada pria itu. Dalam sekejap pria itu berhasil mengubah penilaiannya tentang sosok suaminya yang kejam menjadi sosok suaminya yang lembut penuh perhatian. Jadi siapakah mereka sebenarnya?

“Jadi tempat apa ini sebenarnya?”

“Ini adalah panti asuhan tempat aku dibuang oleh pamanku dulu.”

Yoona tertegun di tempat. Ia tidak menyangka jika Donghae masih mau mengunjungi panti asuhan ini setelah pria itu mendapatkan pengalaman buruk di tempat ini. Tapi sejauh yang ia lihat panti asuha ini tidak seburuk yang Donghae katakan. Panti asuhan ini terlihat seperti panti asuhan pada umumnya yang membiarkan anak-anaknya saling bersenda gurau satu sama lain.

“Apa wanita itu pemilik panti asuhan ini?”

“Bukan. Jung Sojung adalah rekanku dulu. Ia yang mengurus panti asuhan ini setelah pemiliknya yang kejam itu mati.”

“Apa kau yang membunuhnya?” Tanya Yoona was-was. Melihat sisi gelap Donghae yang mengerikan membuat Yoona berspekulasi buruk pada pria itu. Meskipun hal itu belum tentu benar.

“Sebenarnya aku juga ingin melakukannya. Tapi pria keparat itu sudah lebih dulu ditemukan tak bernyawa setelah mengalami overdosis karena mengonsumsi obat-obatan terlarang.”

Yoona merasa menyesal karena telah berprasangka buruk pada Donghae. Ia lalu meraih tangan Donghae dan menggumamkan kata maaf pada pria itu.

“Kau menyembunyikan banyak sekali hal-hal tak terduga di dalam dirimu jenderal. Maaf karena aku selalu berprasangka buruk padamu selama ini.”

Donghae hanya menatap lurus ke depan tanpa menoleh sedikitpun untuk menanggapi permintaan maaf Yoona yang terdengar tulus. Apa yang ia tunjukan pada Yoona hari ini belum sepenuhnya dapat mengungkapkan siapa dirinya yang sesungguhnya pada wanita itu. Yoona masih perlu banyak belajar untuk mengetahui sisi lain dari dirinya yang selama ini selalu ia sembunyikan rapat-rapat dari semua orang. Dan hingga saat itu tiba Yoona belum bisa menyimpulkan apakah Lee Donghae jenis pria yang baik ataukah pria mengerikan seperti yang orang lain katakan tentangnya selama ini.

“Jenderal Lee meskipun kau tidak mencintaiku, tapi aku akan selalu mencintaimu.”

Donghae menyeringai licik dalam diam sambil tetap menatap lurus ke depan. Wanita itu belum melihat bagaimana dirinya yang sesungguhnya.

29 thoughts on “Behind The Mask (Oneshoot)

  1. Gntung lagi kan??
    Aku kira bkalan jd part trakhir,,tp trnyta emng ff inii bkalan d bkin chapter…
    Ggal oneshoot😆😆

  2. tuhkan endingnya gantung lagiiii 😭😭 sequel lagi kk 😅😂😅 kyknya yoong bakal bnyak makan hati deh,, donghaenya kaku bener, dinginnya ngalahin kutub utara 😅😅 Moga aja yoong bertahan trus dan hae jga sadar.. 😅 Next kk.. fighting.. jgn lama2 yah kk..

  3. Penasaran gimana Donghae yang sebenar-benarnya.. dan Yoong kuatkan dirimu menghadapi sikap Donghae yang berubah-rubah 😂 kasian juga liat Yoona 😣 next thor 😍😍

  4. Sepertinya butuh sequel lagi hahahaha..
    Akhirnya mereka menikah tadinya aku pikir mereka bakal nikah pas presiden kang resmi batalin pernikhana Yoona – Taechyeon trus langsung di ganti Donghae ternyata malah harus di gantung dlu selama 5 Bulan ya???.
    Tapi intinya tetep menikah sih walaupun aku aja bingung pernikahan seperti apa yg sedang mereka jalankan, kejam banget ya Donghae buat manis mania sedikit boleh kali un biar jangan terlalu kaku.. Hehe di tunggu next sequelnya.

  5. Ga suka sm sifat donghae, jahat bgt, kasian yoona
    Kalo ada sequelnya, pengen donghae dpt balesan, krn apapun alasan dy bersikap kaya gitu, ttp aja kasian sm yoona

    Pengen liat donghae berjuang bwt dptin yoona, entah tiba” nantinya yoona terancam bahaya atau gmn

    Ditunggu sequelnya

  6. YoonHae nikah jg, tp donghae kok gitu amat ke yoona.
    Masih blum ketebak gimana ceritanya n gmana karakter donghae sebenernya..
    Lanjut thor penasaran 🙂

  7. Eonniii ini sih lagi dan lagi wajib banget ada lanjutan ny.
    Eonni kenapa senang sekali membuat gantung aku 🙁
    Klw sprt ini aku bisa terus”an minta sequel ny

  8. Yoona!! Entah kenapa aku salut sama perasaan cintanya terhadap Donghae..
    Dan sangat disayangkan sekali malam pertama mereka gagal.. 🙊
    Yang sangat penting adalah tidak hanya Yoona yang merasa tertantang untuk mengetahui semua sisi lain yang terpendam dari seorang jendral Lee Donghae, aku justru lebih penasaran dari Yoona.. haha
    Jadi untuk Author, nextnya jangan kelamaan ya ^^

  9. Wahhh masih gantung. Donghae nikahin yoona karna janji dan tanggungjawab pd keluarga nx.. kapan dia mulai cinta sm yoona? Salut dehhh sm yoona yg trz berjuang sm sikap kaku nx donghae, mga ja nanti donghare bisa hangat sama dia dan yoona bisa meluluhkan hati jend. Lee yg beku dan kaku. Next!!!! Sequel lagi thor masih gantung ituuu… masih pengen liat gimana kehidupan rumah tangga yoonhae,,,, perjuangan yoona mendapatkan cinta donghae. Next!!!

  10. yah yah yaaah authoorr 😭😭 ini psti oneshoot series ya 😁
    Donghae penuh misteri, smpai skarang blom bisa nebak bgaimana donghae yg ssungguhnya

  11. Ini masih ada sequelnya kan kak? Masih gantung kak ceritanya hoho..
    Donghae masih misterius gitu.. Terus apakah yoona bisa membuat donghae jadi sosok yg lebih hangat ? Kehidupan pernikahan mereka akankah bahagia atau malah tetap kayak camp pelatihan militer gitu? Banyak pertanyaan yg timbul kak hehehe. Tetep berharap ada sequel sih.
    Ditunggu karya yoonhae berikutnya kak. Semangat nulisnya kak 😉😊😊

  12. Donghae benar” seorang yg misterius. Kira” apalagi yg akan di tunjukan donghae pada yoona tentang dirinya… Next thor jangan lama”…

  13. Akhirnya mereka nikah juga ya walaupun Donghae masih belum bisa mencintai Yoona sih
    Masih gantung nih thor lanjut ya thor 😂😂

  14. Siapa Donghae sesungguhnya???
    Ini ada squelnya pasti iya kan eon ???
    Ditunggu squel selanjutnya 😂😂😂

  15. yoona harus banyak sabar nih ngadapin donghae karna belum kenal donghae yang sebenarnya tuh seperti apa??? jadi gk sabar nunggu kelanjutannya.. .

  16. Wooooo donghae memang misterius bget nich.
    Salut yoona tetep cinta ma donghae.
    Lucu klau mereka suka adu muluut.
    Heeeem kyaknya hae bakal takluk ma yoona hehehe

  17. donghae nya sumpah di sini dingin bgt ke yoona .. jdi kasian sma yoonanya kak .. selanjutnya tolong buat donghaenya luluh sma yoona kak .. di tunggu next ceritanya

  18. donghae nya sumpah di sini dingin bgt ke yoona .. jdi kasian sma yoonanya kak .. selanjutnya tolong buat donghaenya luluh sma yoona kak .. di tunggu next ceritanya

  19. donghae nya sumpah di sini dingin bgt ke yoona .. jdi kasian sma yoonanya kak .. selanjutnya tolong buat donghaenya luluh sma yoona kak .. di tunggu next ceritanya

  20. chapter ini …benar-benar bikin kesel liat
    kelakuan haepa
    yoong yg hangat dan wewed donghae
    yang dingin aihhh dua kutub yg hrs
    saling melengkapi.

  21. Ternyata udah ada sequelnya.. Kirain lom d lanjut.. Dan ternyata lom final total.. Please sequel lagi thor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.