Lovesick Fool (Oneshoot)

Recomended Song Ed Sheeran – Photograph

 

Yoona Pov

Dia adalah pria paling dingin yang pernah kutemui. Wajahnya yang kaku selalu menampakan senyum segaris yang tidak bisa dikatakan sebagai sebuah senyuman. Setiap kali aku melihatnya jantungku terasa ingin melompat dari rongganya. Entah apa yang dilakukan pria dewasa itu padaku, tapi ia berhasil membuatku jatuh cinta padanya ketika aku berusia delapan belas tahun. Dia adalah cinta pertamaku. Dan sekarang usiaku telah menginjak dua puluh satu tahun. Jadi sudah tiga tahun lamanya aku mengagumi pria itu dari kejauhan. Memandanginya dari kejauhan sambil berandai-andai jika suatu saat aku bisa bersanding dengannya di altar. Andai ia adalah pria biasa, mungkin aku akan lebih mudah untuk menggapainya. Sayangnya ia adalah pria yang tidak biasa. Sangat tidak biasa! Ia adalah jenderal Korea Selatan, pemimpin pasukan keamanan presiden yang terkadang juga mengawal ayahku yang merupakan seorang menteri. Tapi menurut rumor yang beredar, pria itu sebenarnya adalah anak angkat presiden. Dulu, menurut cerita yang sering kudengar dari wanita-wanita tukang gosip di Blue House, presiden menemukan pria itu ketika ia sedang kabur dari panti asuhan dan tanpa sengaja menabrak tuan presiden ketika sedang berjalan-jalan bersama isterinya. Karena saat itu tuan presiden… ahh, lebih baik jika aku menyebutnya paman Kang Hyunjeong, jadi saat itu paman Hyunjeong belum memiliki anak, sehingga ia memutuskan untuk mengadopsi pria itu sebagai anaknya. Tapi entah mengapa selama aku mengikuti ayahku dalam acara kenegaraan, aku belum pernah melihat pria itu pulang ke kediaman pribadi paman Hyunjeong. Justru yang kutahu ia memiliki rumah yang ia tinggali sendiri bersama beberapa anak buahnya yang berjaga di sekitar rumahnya. Selain itu ia masih memiliki banyak hal yang selalu ia tutup rapat-rapat dari orang lain. Hal itulah yang membuatku tertarik padanya. Di saat semua orang memuji kecantikanku, mengagumi kepintaranku, dan menyukai segala hal yang ada pada diriku, ia justru terlihat biasa saja dan terkesan mengabaikanku. Pernah suatu kali aku mengajaknya mengobrol ketika aku sedang menunggu ayahku yang sedang memimpin rapat bersama menteri yang lain, tapi pria itu justru terdiam kaku di sebelahku tanpa sedikitpun merespon ucapanku. Sungguh, itu rasanya sangat menyebalkan. Bagaimana mungkin ia bisa mengabaikan wanita cantik sepertiku? Kadang aku berpikir jika ia adalah seorang pria yang menyukai sesama jenis karena selama ini yang kutahu ia sangat dekat dengan salah satu anak buahnya, yang juga merupakan rekan satu tim ketika pelatihan dulu. Pria itu adalah Lee Hyukjae. Berbeda dengan Lee Donghae, Lee Hyukjae sangat ramah dan juga memiliki selera humor yang tinggi. Beberapa kali kami terlibat obrolan seru hingga membuatku tidak merasa jenuh ketika harus menemani ayah bertugas. Sayangnya aku tidak memiliki rasa apapun pada Hyukjae oppa, ia lebih seperti kakakku sendiri, sehingga aku selalu merasa nyaman ketika bersamanya.

Namun kedua pria itu sama hebatnya. Saat mereka bertugas, mereka akan menjadi tim yang sangat mengerikan. Ketangguhan mereka dalam bertugas dan melindungi negara telah menyebar luas di seantero Korea. Tak diragukan lagi jika mereka adalah sosok pria-pria hebat yang akan membuat wanita berteriak heboh karena kejantanan mereka. Oh Damn! Bahkan aku sangat menginginkan Jenderal Lee menjadi pelindungku. Benar-benar pelindung yang akan melindungiku hingga aku mati, lebih tepatnya menjadi pasangan hidupku.

 

Siang ini aku kembali menemani ayahku untuk bertemu dengan paman Hyunjeong di Blue House. Dari kejauhan aku dapat melihat jenderal Lee sedang mengamankan area sekitar Blue House karena akhir-akhir ini banyak sekali kabar yang menyebutkan jika beberapa kelompok radikal dari luar negeri atau teroris sudah menyebar di Korea Selatan. Jadi penjagaan untuk paman Hyunjeong semakin diperketat. Tapi ditengah kekhawatiran masyarakat Korea mengenai isu teroris, aku justru merasa gembira. Dengan adanya isu itu, kesempatanku untuk melihat jenderal Lee dari dekat semakin besar. Bahkan hampir disetiap acara kenegaraan, jenderal Lee selalu hadir untuk memastikan jika presiden dalam keadaan aman. Ini benar-benar berkah untukku!

“Nona Yoona, anda diminta oleh tuan menteri untuk menunggu di ruangannya.”

“Tidak perlu, aku akan menunggu di sini.” Tolakku halus. Tentu saja aku tidak mau pergi dari sini karena aku masih asik dengan jenderal Lee yang tampan. Ya Tuhan.. aku menyukai tatapan matanya yang tajam dan tegas itu. Ia benar-benar pria seksi yang sangat menggairahkan! Omo! Jenderal Lee melihatku. Pria itu menatapku intens dengan mata elangnya hingga membuat tubuhku bergetar. Ya ampun.. aku bisa meleleh dengan tatapan tajamnya itu.

“Nona Yoona, kau tidak lelah?”

Tiba-tiba seseorang yang tidak kuharapkan kehadirannya berdiri di hadapanku dan menghalangiku untuk melihat jenderal Lee ku yang tampan. Ckk.. Hyukjae oppa memang pria sialan!

“Kapten Lee Hyukjae yang terhormat, tolong menyingkirlah dari hadapanku sekarang juga karena kau menghalangi mataku untuk melihat…”

“Jenderal Lee yang tampan?” Sela Hyukjae oppa dengan senyum anehnya. Aku menggerutu sebal di depannya dan langsung menggeser paksa tubuhnya dengan tangaku. Tapi ketika tubuh Hyukjae oppa sudah benar-benar menyingkir, jenderal Lee sudah menghilang. Huhh, ini semua karena Lee Hyukjae yang menyebalkan!

“Oppa, kau membuatku tidak bisa menatapnya. Lihat, sekarang ia sudah pergi.” Gerutuku kesal. Hyukjae oppa terbahak-bahak dengan puas lalu memutuskan untuk duduk di sampingku.

“Ia memiliki tugas lain hari ini, jadi ia menyuruhku menggantikan tugasnya untuk mengamankan tuan presiden.”

“Dia pergi? Kemana?”

Entah sejak kapan perasaan ini muncul. Tapi aku selalu merasa was-was jika Hyukjae oppa mulai memberitahuku mengenai tugas-tugas baru yang harus diselesaikan jenderal Lee. Setiap hari aku selalu memohon pada Tuhan untuk melindungi jenderal Lee karena ia memiliki resiko pekerjaannya yang sangat berbahaya. Aku tidak mau kehilangannya. Tidak sebelum aku menyatakan perasaanku yang sebenarnya.

“Dia pergi untuk menangkap penjahat negara. Tidak perlu mencemaskannya, ia pasti akan baik-baik saja.”

Hyukjae oppa memang selalu tahu apa yang kurasakan. Sepertinya Hyukjae oppa lebih pantas menjadi kakakku karena ia selalu memahamiku lebih daripada aku memahami diriku sendiri. Terlebih sejak kecil aku tidak memiliki ibu. Ibuku meninggal ketika melahirkanku. Jadi aku tumbuh dewasa tanpa mendapatkan sentuhan kasih sayang dari seorang ibu. Disaat teman-temanku berbagi kisah dengan ibu-ibu mereka, aku justru harus memendamnya sendiri karena ayah terlalu sibuk untuk mendengarkan setiap ocehan yang keluar dari mulutku. Tapi sejak aku mengenal Hyukjae oppa, aku bisa menceritakan semua masalahku padanya. Tidak ada apapun yang aku sembunyikan darinya. Bahkan aku mengakui perasaanku untuk jenderal Lee padanya. Dan mungkin jenderal Lee sebenarnya mengetahui tentang perasaanku itu. Hanya saja ia memilih mengabaikannya karena aku tidak sebanding dengannya. Ia hanya menganggapku sebagai anak kecil manja yang selalu mengekor di belakang ayahku kemanapun ayahku pergi. Yah.. memang seperti itulah diriku.

Yoona Pov End

-00-

“Nona Im Yoona, mobil yang akan mengantar anda pulang sudah siap di depan.”

Yoona menolehkan kepalanya cepat pada seorang wanita berjas hitam yang merupakan anggota keamanan negara. Wanita yang menggunakan earphone di telinga itu tampak mempersilahkan Yoona untuk pergi menuju pintu depan karena mobil yang akan mengantarnya sudah siap.

“Pulang? Apa ayah yang menyuruhku untuk pulang?” Tanya Yoona tidak mengerti. Rencananya hari ia akan menemani ayahnya hingga rapat selesai lalu pergi makan siang bersama untuk merayakan hari anniversary pernikahan ayah dan ibunya. Tapi sepertinya sang ayah tidak bisa memenuhi janjinya sekarang. Terbukti dengan adanya mobil yang sudah dipersiapkan untuk mengantarnya pulang. Mungkin ayahnya malam ini tidak akan pulang ke rumah.

“Ya, tuan Im Jaehyuk yang meminta anda untuk pulang terlebihdulu nona, karena setelah rapat ini selesai tuan Im Jaehyuk akan terbang ke Taiwan untuk mengurusi beberapa pekerjaan di sana.”

Yoona menghela napas kecil mendengar penjelasan dari wanita itu. Ia tahu ayahnya memang sangat sibuk. Jadi ia tidak bisa berharap banyak atau merajuk seperti anak kecil agar ayahnya menepati janjinya. Sekarang ia telah dewasa. Ia tahu bagaimana sulitnya menjadi ayahnya yang harus membagi waktu antara keluarga dan juga pekerjaannya yang banyak.

“Pulanglah. Lain kali kau masih bisa pergi dengan ayahmu.” Ucap Hyukjae pelan. Pria itu tersenyum menenangkan dan menepuk bahu Yoona dua kali agar Yoona tidak terlihat murung karena rencana makan siangnya dengan sang ayah terpaksa dibatalkan.

“Aku tidak apa-apa. Aku tahu bagaimana kesibukan ayah. Kalau begitu aku pulang sekarang, jaga diri oppa baik-baik.”

Yoona tersenyum manis pada Hyukjae dan segera melangkah pergi bersama wanita berjas yang ditugaskan untuk mengawalnya hingga pintu depan.

Selama melangkahkan kakinya di lorong-lorong bangunan Blue House yang luas Yoona terus menerka-nerka, siapa yang malam ini akan ditugaskan untuk menjaganya. Biasanya jika ayahnya tidak pulang ke rumah, ayahnya akan menugaskan beberapa penjaga tambahan yang bertugas untuk menemaninya di rumah. Sayangnya terkadang ia merasa kesal dengan penjaga-penjaga itu karena mereka tidak pernah memperlakukannya dengan hangat. Mereka semua terlalu menjaga batas dengannya hingga rasanya ia seperti hidup sendiri di tengah-tengah puluhan penjaga yang berjaga disekitar rumahnya.

“Silahkan nona.”

Wanita berjas itu membukakan pintu mobil di depannya lebar-lebar dan menundukan kepalanya kecil sebagai bentuk penghormatan pada Yoona.

“Terimakasih.” Ucap Yoona ramah dan balas membungkuk pada wanita itu. Ia tahu jika umur wanita itu lebih tua darinya. Jadi ia merasa harus membalas bungkukan tubuh wanita itu seperti apa yang sering diajarkan ayahnya saat ia masih kecil.

“Nona Im, silahkan gunakan sabuk pengaman anda.”

Yoona membeku di tempat sambil menatap kaca spion di depannya. Sepasang mata sendu yang selama ini selalu ia perhatikan diam-diam kini sedang menatapnya dengan tatapan meneduhkan. Meskipun sorot mata pria itu tajam, namun Yoona justru merasa hangat ketika kedua iris hitam milik Lee Donghae bertubrukan dengan iris karamelnya. Ia seperti merasakan getaran-getaran listrik kecil yang merambat melalui matanya lalu menjalar ke seluruh tubuhnya. Semakin lama getaran-getaran itu membuat tubuhnya terasa panas hingga ia merasakan kedua pipinya kini juga ikut memanas seiring dengan tatapan pria itu yang semakin intens. Namun tak berapa lama Donghae mengalihkan tatapan matanya pada jalanan di depannya dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman luas Blue House.

“Anda sudah memasang sabuk pengaman anda?”

Tanpa menatap kaca spion di depannya, Donghae bertanya lagi pada Yoona agar wanita itu tidak lupa memasang sabuk pengaman di tubuhnya agar ia tetap aman.

“Sudah.” Jawab Yoona pelan. Ia terlihat begitu gugup di dalam mobil hingga ia terlihat seperti patung karena posisi duduknya yang benar-benar tidak relaks. Namun ia berusaha tenang sambil menghembuskan napasnya pelan. Saat-saat seperti ini adalah sebuah kesempatan baginya untuk lebih banyak berbicara dengan Lee Donghae. Jika biasanya ia hanya puas dengan memandangi Donghae dari kejauhan, maka sekarang Tuhan telah memberinya kesempatan untuk membuat pria itu sedikit meliriknya.

“Apa kau yang ditugaskan untuk menjagaku malam ini?”

Yoona merasa sedikit aneh dengan ucapannya sendiri. Seperti ia sedang bertanya pada kekasihnya. Padahal pria itu memang sudah seharusnya menjaganya karena sang ayah tidak pulang malam ini.

“Benar nona, saya yang akan berjaga di rumah anda bersama anak buah saya yang lain.”

Yoona tanpa sadar mendengus gusar dengan gaya bicara Donghae yang terlalu formal. Sebenarnya pria itu benar, karena ia sedang bekerja sehingga ia mengutamakan profesionalitasnya. Tapi bisakah ia bersikap biasa saja di depannya? Ia tidak suka diperlakukan berlebihan seperti itu karena ia tetap saja wanita biasa.

“Tapi kenapa Hyukjae oppa mengatakan kau memiliki tugas lain? Ahh.. dia pasti telah menipuku.”

Yoona bergumam pelan sambil membayangkan wajah Hyukjae yang mungkin saat ini sedang tertawa puas karena berhasil menipunya.

“Kapten Lee Hyukjae benar, karena ini adalah tugas saya.”

“Bisakah kau menggunakan bahasa informal? Aku risih saat mendengarnya.”

Donghae melirik Yoona dari balik kaca spionnya dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Melalui wajahnya Yoona tahu jika Donghae tidak setuju karena pria itu sangat menjunjung tinggi profesionalitas dalam bekerja. Tapi ia sungguh tidak menyukainya. Bukan hanya pria itu saja yang ia minta untuk bersikap informal padanya. Seluruh penjaga di rumahnya dan penjaga-penjaga yang lain akan ia mintai hal serupa karena ia sangat muak mendengarkan kalimat-kalimat kaku itu disekitarnya.

“Jika itu memang keinginanmu, aku akan melakukannya.”

Yoona tersenyum puas sambil melirik Donghae yang sudah kembali fokus pada jalanan di depannya. Meskipun ia sedikit kecewa karena tidak bisa memandang mata teduh itu lagi, tapi ia bertekad akan melakukan segala macam cara agar ia bisa lebih dekat pada jenderal dingin itu. Kali ini ia harus berhasil mendapatkan hati pria itu.

-00-

Ketika tiba di rumahnya, Yoona langsung melompat turun dan segera berjalan masuk ke dalam rumahnya. Beberapa penjaga berseragam yang ditugaskan oleh ayahnya untuk menjaganya langsung menunduk hormat ketika ia melangkahkan kakinya ke dalam rumah mewahnya. Dan bungkukan itu terus berlanjut ketika mereka melihat pemimpin tertinggi mereka sedang berjalan tenang ke dalam rumah milik menteri Im Jaehyuk bersama putri menteri itu.

“Apa semuanya aman?”

“Aman jenderal! Tidak ada apapun yang perlu dikhawatirkan.”

Donghae mengangguk kecil dan segera berjalan masuk ke dalam rumah menteri Im untuk memastikan keadaan Yoona.

“Jenderal Lee, kau ingin minum sesuatu?”

Donghae melihat Yoona sedang melongokan kepalanya dari ujung pintu dapur. Pria itu tanpa kata menyusul Yoona yang sudah berada di dapur lalu duduk di atas kursi pantry.

“Cukup air putih saja.”

Yoona mengernyitkan dahinya sangsi dengan sikap dingin Donghae yang sudah benar-benar kelewat batas itu. Tidak bisakah pria itu bersikap biasa saat bersamanya? Bukankah mereka saat ini hanya berdua di dalam dapur? Tidak ada salahnya jika Lee Donghae melepaskan topeng dinginnya dan mulai bersikap hangat pada adik kecilnya yang manis itu.

“Kenapa kau sangat kaku jenderal Lee? Sesekali aku ingin mengobrol santai denganmu.”

Yoona terlihat frustrasi sambil meletakan segelas air putih di depan Donghae. Seharusnya pria itu bisa bersikap lebih santai dengannya karena keluarga presiden Kang dan ayahnya sangat dekat sejak kecil hingga ia sudah terbiasa bermain di rumah paman Kang bersama putra paman Kang yang usianya hanya terpaut tiga tahun lebih tua darinya, Kang Taecyeon. Namun dulu ia memang tidak banyak berinteraksi dengan Lee Donghae karena pria itu selalu sibuk berlatih dan belajar untuk masuk ke camp militer. Ketika ia berusia tujuh tahun, Lee Donghae sudah berusia tujuh belas tahun, tak heran jika dulu mereka tidak pernah terlihat dekat seperti ia dengan Taecyeon. Ia hanya sesekali menyapa Donghae ketika pria itu sedang berada di rumah sambil menatap pria itu aneh karena dulu Donghae sangat pendiam. Sayangnya ketika ia berusia dua belas tahun dan kembali berkunjung ke rumah paman Kang, Donghae sudah pindah. Pria itu memilih tinggal sendiri dan menjauh dari keluarganya karena ia tidak ingin terlihat lemah. Sejak ia berusia dua puluh tahun ia mulai sadar jika suatu saat keluarga pasti akan menjadi titik lemahnya. Seperti apa yang terjadi pada ayah kandungnya sebelum meninggal. Keluarga menjadi titik lemah ayahnya hingga sang ayah harus tewas dalam keadaan yang mengenaskan bersama ibunya karena dibunuh oleh kakaknya sendiri. Jadi sebisa mungkin ia mencoba menjauh dari keluarga angkatnya. Ia tidak mau keluarga angkatnya terluka karena ia sebenarnya sangat menyayangi mereka. Ia sangat berterimakasih pada ayah angkatnya, presiden Kang, yang telah mengadopsinya dari panti asuhan dan memberikan banyak limpahan kasih sayang untuknya. Oleh karena itu ia rela memberikan apapun yang dimilikinya untuk keluarga presiden Kang. Apapun yang bisa ia berikan untuk membalas kebaikan mereka, pasti ia akan langsung memberikannya tanpa harus berpikir dua kali.

“Kita tidak perlu mengobrol. Lanjutkan saja kegiatanmu.”

“Aku tahu kau ini sangat dingin dan angkuh jenderal. Tapi aku yakin kau memiliki sisi hangat yang bisa kau tunjukan padaku. Kau bukan monster atau pembunuh berdarah dingin seperti yang mereka katakan selama ini. Jadi bersikaplah seperti manusia biasa.”

Donghae manatap iris karamel Yoona tajam. Pria itu memandang Yoona cukup lama hingga Yoona merasa gugup. Tanpa sadar ia meremas-remas tangannya sendiri di bawah meja tanpa berani menatap iris pekat Donghae yang begitu mengerikan. Ia menyesal telah mengatakan kata-kata lancang itu pada Donghae. Dan ia tidak menyangka jika ucapannya itu membuat Donghae bersikap mengerikan di depannya.

“Mereka benar tentangku. Aku adalah monster dan seorang pembunuh berdarah dingin. Jadi jangan berharap lebih padaku.”

Pria itu kemudian memundurkan sedikit kursinya dan berjalan pergi meninggalkan Yoona sendirian di dapur. Tak peduli wanita itu akan terluka dengan sikapnya atau akan menilainya sebagai pria jahat yang tak memiliki hati. Karena memang seperti itulah dirinya. Ia tidak suka berpura-pura atau membuat orang lain terkesan pada dirinya karena ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri.

-00-

Sore hari yang mendung, rintik-rintik hujan mulai berjatuhan membasahi jalanan lenggang disekitar Blue House. Daun-daun kering yang kekuningan berterbangan kesana kemari tertiup angin dingin bercampur hujan yang semakin lama semakin deras. Ditengah-tengah derasnya hujan yang mengguyur kota Seoul, sebuah mobil sedan berwarna hitam tampak memasuki kawasan Blue House yang luas dengan diiringi oleh beberapa mobil lain di belakangnya. Mobil yang melaju kencang melintasi jalanan licin itu membawa seorang penumpang penting di dalamnya. Seorang pria dengan garis wajah tegas yang saat ini sedang menatap kosong rintik-rintik hujan di luar jendela mobilnya dengan berbagai macam perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Pria itu beberapa kali menghela napas pendek dan tampak enggan untuk keluar dari dalam mobil. Namun ketika beberapa orang suruhan ayahnya telah menunggunya di luar sambil menyiapkan payung untuknya, mau tidak mau ia segera turun dari mobil mewah itu dan berjalan masuk bersama pria-pria berjas yang telah disiapkan oleh ayahnya untuk menyambut kepulangannya dari Kanada sore ini.

“Selamat datang di Korea tuan Taecyeon.”

Taecyeon tersenyum tipis pada salah satu asisten ayahnya dan segera melangkah masuk ke dalam ruangan ayahnya. Kepulangannya ke Korea kali ini bukan tanpa alasan. Sejak tiga hari yang lalu ayahnya terus menghubunginya dan menyuruhnya untuk segera kembali ke Korea. Ia yakin ayahnya pasti memiliki sebuah rencana untuknya. Rencana yang mungkin bisa mengacaukan masa depannya karena ia sebenarnya tidak begitu suka dengan kehidupan yang diciptakan oleh ayahnya. Ia lebih suka kehidupan bebasnya di Kanada dan menjadi seorang seniman. Sejak dulu ia selalu bercita-cita menjadi seorang seniman, tapi ayahnya yang keras itu terus memaksanya dan mendikte hidupnya untuk menjadi tokoh masyarakat agar sama seperti ayahnya. Padahal ia tidak menyukainya. Ia tidak suka menjadi sorotan publik dan hanya ingin hidup normal bersama orang-orang yang ia sayangi. Terkadang ia merasa iri dengan kakaknya. Kakak angkatnya itu mampu membuat ayahnya luluh dengan semua pilihannya dan selalu bangga dengan setiap prestasi yang dicapainya. Terlebih lagi sang kakak kini telah berhasil menjadi seorang jenderal tertinggi di Korea Selatan. Sedangkan dirinya tidak pernah menjadi apapun yang berharga di mata ayahnya karena ia tidak pernah bernar-benar melakukan sesuatu dengan senang hati. Semua hal yang ia lakukan ini semata-mata karena perintah ayahnya.

“Akhirnya kau tiba juga Taecyeon.

Pria paruh baya itu menyambut kedatangan anaknya tanpa mengalihkan perhatiannya pada setumpuk berkas-berkas yang perlu ia pelajari. Hari ini ia terlihat sangat sibuk karena ia harus segera memeriksa berkas-berkas itu sebelum ia pergi ke Taiwan bersama beberapa menteri yang lain sore ini.

“Ada apa? Kenapa ayah menyuruhku pulang?” Tanya Taecyeon terlihat tidak sopan. Pria itu merasa tidak perlu bersikap hormat pada ayahnya karena ayahnya juga tidak pernah menghormatinya.

“Ayah akan memberitahumu setelaha ayah pulang dari Taiwan. Apa kau sudah bertemu ibumu?”

Taecyeon mengetatkan rahangnya dan berusaha mengontrol emosinya agar tidak meledak di depan ayahnya. Ia tidak mau hari pertamanya di Korea menjadi buruk karena emosinya yang meluap-luap.

“Belum. Setelah pesawatku mendarat, aku segera pergi ke sini karena menurut asisten ayah, ayah ingin bertemu denganku secepatnya.”

“Ya, tapi untuk saat ini ayah tidak bisa. Jadi lebih baik ayah memberitahumu setelah ayah kembali dari Taiwan. O..iya, temuilah kakakmu. Ia pasti senang melihatmu kembali.”

Taecyeon mendengus pelan sambil mengalihkan tatapannya dari sang ayah. Tanpa sengaja ekor matanya menatap deretan foto yang dipasang oleh ayahnya di dalam ruang kerjanya. Dalam salah satu foto yang dipasang di sana, ia melihat sang ayah tampak begitu bangga merangkul pundak  kakaknya ketika sang kakak mendapatkan gelar jenderal untuk pertama kalinya satu tahun yang lalu. Sementara di foto lain ayahnya tampak begitu datar tanpa merangkul pundaknya ketika ia baru saja diwisuda dari senior high school enam tahun yang lalu.

 

Ayah memang tidak pernah menyayangiku…

 

            “Kenapa kau masih di sini? Ayah sedang tidak bisa berbicara denganmu sekarang.”

Kang Hyunjeong mengusir anaknya santai tanpa mempedulikan perasaan Taecyeon yang terluka. Pria itu kemudian bangkit berdiri begitu saja dan hendak meninggalkan ruangan milik ayahnya. Tapi tiba-tiba pintu di ruangan ayahna terbuka begitu saja dan menampilkan sosok sang asisten yang datang sambil membawa berkas-berkas lain yang perlu diteliti atasannya.

“Tuan, Jenderal Lee ingin bertemu dengan anda sebentar. Saat ini ia sedang menunggu di luar.”

“Suruh dia masuk. Kebetulan aku juga ingin bertemu dengannya.”

Taecyeon merasakan adanya perbedaan dalam nada suara ayahnya. Sang ayah terlihat lebih bersemangat ketika hendak bertemu kakaknya. Padahal sebelumnya pria itu mengatakan jika ia sangat sibuk. Tapi ia rela mengorbankan waktu sibuknya untuk bertemu sang kakak. Berbeda dengannya, sang ayah sama sekali tidak mau meluangkan waktunya untuk bertemu dengannya. Padahal ia datang ke Korea karena permintaan ayahnya. Tapi pria itu justru mengabaikannya.

“Hyung…”

Taecyeon menyapa Donghae dan memeluk pria itu hangat. Jika ia membenci ayahnya, maka ia justru sangat menyayangi kakaknya. Sejak dulu ia tidak pernah membenci Donghae meskipun pria itu jelas lebih banyak mendapatkan perhatian dari ayahnya. Selama ini ia selalu menghormati Donghae dan menyayangi Donghae seperti kakaknya sendiri. Begitupun dengan Donghae, ia juga selalu menyayangi Taecyeon. Apapun yang ia miliki selalu ia berikan pada Taecyeon agar Taecyeon merasa bahagia karena ia sadar jika selama ini sang ayah lebih menyayanginya daripada Taecyeon.

“Kapan kau datang?”

“Pesawatku baru saja mendarat empat puluh menit yang lalu. Bagaimana kabarmu hyung? Kau sepertinya semakin gagah sekarang.” Canda Taecyeon sambil mengamati perubahan postur tubuh Donghae yang semakin tegap dan kekar di depannya. Ia tahu jika selama ini sang kakak selalu berlatih keras untuk menjadi jenderal yang hebat.

“Biasa saja. Tidak ada yang berubah dariku. Sekarang kau terlihat semakin dewasa.”

“Ah, tidak juga.” Ucap Taecyeon malu sambil mengelus tengkuknya kikuk. Kedua kakak beradik itu sebentar saja langsung terlibat percakapan seru hingga melupakan tujuan mereka sebelumnya.

“Jenderal Lee, presiden Kang telah menunggu anda di dalam.”

Tiba-tiba asisten presiden Kang muncul dan mengingatkan Donghae untuk segera masuk ke dalam ruangan ayah angkatnya. Taecyeon yang mengerti situasi langsung buru-buru pamit pada kakaknya dan  menyuruh sang kakak untuk segera masuk ke dalam ruangan ayahnya.

“Cepatlah masuk, jangan membuat ayah menunggu lama,”

Tanpa berkata-kata lagi Donghae segera masuk ke dalam ruangan ayahnya dan meninggalkan Taecyeon sendiri dengan perasaan hampa yang kembali melingkupi hatinya. Seharusnya ia memang tidak pulang dan tinggal di Ottawa saja. Rasanya pulang ataupun tidak tetap sama saja. Sama-sama merasa sendiri dan terasingkan. Bahkan di negaranya sendiri.

“Taecyeon, kau kah itu?”

Taecyeon reflek mendongakan kepalanya ketika seseorang tiba-tiba memanggilnya. Dengan senyum yang merekah di wajahnya Taecyeon segera berjalan menghampiri pria paruh baya yang telah menyapanya lalu membungkuk hormat di depan pria paruh baya itu.

“Selamat sore paman Im Jaehyuk, lama tak berjumpa.”

Dua orang berbeda generasi itu lantas saling berpelukan dan tertawa bersama untuk beberapa saat.

“Kau sekarang terlihat semakin tampan dan dewasa. Bagaimana Kanada? Apa menyenangkan tinggal di sana?” Goda Im Jaehyuk sambil menaik turunkan alis matanya. Pria itu meskipun usianya tidak muda lagi, namun jiwanya masihlah seperti anak muda karena putri satu-satunya yang tidak mengijinkannya untuk menua secara mental. Jadilah ia selalu mengikuti berita terbaru mengenai anak-anak muda Korea Selatan agar ia dapat mengimbangi putri semata wayangnya yang cerdas dan juga cerewet.

“Di Kanada memang lebih menyenangkan daripada Korea Selatan paman. Di sana tidak ada aturan yang begitu mengikat tentang budaya seperti di Korea. kehidupan di sana jauh lebih bebas dan juga fleksibel. Setelah tinggal di sana aku justru terkadang malas untuk pulang ke Seoul.”

Plakk

“Jangan seperti itu, bagaimanapun Korea adalah negara asalmu. Meskipun wanita-wanita di Korea tidak secantik wanita Kanada, tapi jangan pernah merasa bosan dengan negaramu sendiri.”

Im Jaehyuk memukul lengan Taecyeon pelan sambil memperingati pria muda itu dengan sedikit candaan yang terselip di setiap kalimatnya. Taecyeon sendiri merasa apa yang dilakukan oleh teman dekat ayahnya itu bukan sebuah bentuk kemarahan, tapi sebegai bentuk nasihat yang disampaikan oleh ayah kepada anaknya. Seharusnya ayahnya juga bisa memperlakukannya sama seperti Im Jaehyuk memperlakukannya. Tapi sayangnya ayahnya tidak bisa. Ayahnya adalah pria yang terlalu kaku dan otoriter tanpa selera humor seperti yang dimiliki oleh Im Jaehyuk.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Yoona sekarang paman? Kudengar Yoona sekarang sedang menempuh jenjang masternya di Seoul University, kenapa paman tidak mengirimnya ke luar negeri?”

“Ah anak itu.”

Im Jaehyuk mendesah pelan ketika membicarakan putri manjanya. Lalu ia kembali melanjutkan ucapannya pada Taecyeon yang masih setia menunggu kelanjutan ceritanya.

“Paman bahkan sudah bosan memintanya untuk berkuliah ke luar negeri. Sejak ia lulus dari senior high school ia tidak pernah mau melanjutkan studi ke luar negeri. Alasannya karena ia tidak ingin berpisah dari ayahnya. Anak itu bahkan sering mengikuti paman kemanapun paman pergi. Jika ia tidak sedang sibuk, ia pasti akan menemani paman melakukan rapat di beberapa kota atau menunggu paman menyelesaikan rapat di Blue House. Hari ini ia juga datang ke sini karena rencananya kami akan makan siang bersama untuk merayakan hari anniversary pernikahan paman, tapi sayangnya paman tiba-tiba harus memimpin rapat yang cukup alot hingga paman terpaksa membatalkan rencana paman untuk makan siang bersama. Malam ini hyungmu yang akan menjaga Yoona. Karena beberapa bulan terakhir ini sering beredar kabar mengenai kelompok-kelompok radikal yang telah memasuki Korea Selatan, paman jadi sedikit was-was dengan keselamatannya. Yoona adalah anak paman satu-satunya, paman tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padanya.”

Taecyeon menganggukan kepala mengerti sambil tersenyum kecil memaklumi sikap protektif Im Jaehyuk. Dulu ia dan Yoona sangat dekat. Umur mereka yang tak terpaut jauh membuat mereka cocok satu sama lain dan sering menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah. Entah ia yang datang ke rumah Yoona atau Yoona yang datang ke rumahnya untuk bermain, yang jelas mereka sering menghabiskan waktu bersama hingga usia Yoona menginjak dua belas tahun. Setelah itu ia terlalu disibukan dengan masa-masa senior high schoolnya yang indah. Dimana ia mulai belajar mengenal wanita, berpacaran, bahkan tawuran hingga menyebabkan ayahnya dipanggil oleh pihak sekolah. Dan setelah ia lulus dari senior high school ia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Kanada agar ia tidak perlu bertemu dengan ayahnya lagi. Sejak dulu ia sadar jika ia dan ayahnya bagaikan api dan air yang tidak akan pernah bisa bersatu meskipun dipaksakan sekalipun.

“Menteri Im, selamat sore.”

“Jenderal Lee, senang bertemu denganmu. Bagaimana, apa putriku merepotkan?”

Donghae tersenyum samar pada Im Jaehyuk sambil menggelengkan kepalanya kecil. Sejauh ini Yoona belum merepotkan. Hanya saja wanita itu terlalu cerewet dan terlalu menuntutnya untuk melakukan ini dan itu hingga ia merasa kesal dengan wanita itu. Beruntung ia masih bisa mengontrol emosinya saat di depan wanita itu dan tidak sampai membentaknya.

“Syukurlah jika ia tidak merepotkanmu. Anak itu sebenarnya tidak terlalu suka melakukan hal-hal aneh yang di luar batas, tapi sikap cerewetnya yang di luar batas itu kadang membuat orang lain yang berada di sekitarnya menjadi tidak nyaman.”

Dalam hati Donghae membenarkan ucapan Im Jaehyuk jika Yoona adalah gadis yang cerewet karena ia sudah membuktikannya sendiri beberapa jam yang lalu.

“Yoona pasti sudah banyak berubah. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya.” Komentar Taecyeon. Im Jaehyuk menggangguk setuju.

“Datanglah ke rumah paman. Yoona pasti senang melihatmu kembali dari Kanada.”

“Pasti aku akan datang ke rumah paman. Aku juga merindukan saat-saat aku bermain bersama Yoona dulu.”

Donghae terlihat menyimak sekilas pembicaraan antara adiknya dan juga menteri Im tanpa banyak berkomentar. Sejak dulu ia memang tidak terlalu dekat dengan Im Jaehyuk. Ia hanya sebatas mengenal Im Jaehyuk sebagai teman dekat ayahnya karena hari-harinya dulu lebih disibukan dengan belajar dan berlatih untuk masuk ke camp pelatihan militer. Terkadang hatinya juga merasa hampa karena ia tidak memiliki siapapun yang benar-benar dekat dengannya. Namun ia selalu memupus perasaan hampa itu dengan menghabiskan hari-harinya di camp pelatihan untuk melatih anak buahnya agar ia tidak merasa sendiri dan kesepian.

“Sepertinya aku harus segera ke bandara bersama ayah kalian. Kami memiliki agenda kerja di Taiwan. Jenderal Lee, tolong jaga Yoona dengan baik.” Pesan Im Jaehyuk sebelum pergi sambil menepuk pundak Taecyeon pelan.

“Kau sudah bertemu ibu?”

“Belum. Aku langsung datang ke sini setelah pesawatku mendarat karena ayah mengatakan ingin membicarakan hal penting padaku.”

“Kalau begitu aku akan mengantarmu.”

Tanpa banyak berkata-kata, Donghae langsung berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman parkir Blue House. Di belakangnya Taecyeon mengikuti tanpa berniat untuk melakukan pembicaraan pada kakaknya. Terkadang ia merasa terhalang oleh tembok pemisah yang sangat tinggi saat bersama Donghae karena kakaknya itu tidak pernah benar-benar membiarkan orang lain masuk ke dalam hidupnya dan mengetahui semua rahasia kelamnya yang ia tutup rapat-rapat dari semua orang yang dikenalnya, termasuk dirinya, adiknya sendiri.

-00-

Malam hari yang cukup sunyi di kediaman menteri Im, Yoona tampak sedang menata beberapa makanan di atas meja. Hari ini ia sengaja memaksa maidnya untuk tidak memasak karena ia ingin menyiapkan sebuah hidangan yang istimewa untuk Donghae. Ia pun dengan tidak sabar mulai menunggu di meja makan sambil menatap semua masakan yang ia masak dengan gugup. Ia tidak sabar melihat reaksi Donghae saat mencicipi hasil masakannya nanti. Ia harap malam ini dapat mengesankan jenderal dingin yang kaku itu.

“Apa semua baik-baik saja?”

“Jenderal Lee…”

Yoona tersenyum sumringah ketika Donghae tiba-tiba muncul di hadapannya. Malam ini pria itu tampak berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya dengan celana jeans dan jaket kulit yang terlihat maskulin. Biasanya ia selalu melihat Donghae dengan seragam tentaranya yang tampak monoton, meskipun pria itu tetap terlihat tampan dengan seragam berwarna hijau kebanggan Korea Selatan itu.

“Ayo duduk, kita makan malam bersama.” Ajak Yoona antusias. Berbeda dengan Yoona yang terlihat antusias, Donghae justru terlihat tak berminat dan hendak menolak ajakan Yoona untuk makan bersamanya.

“Aku akan makan bersama yang lain.”

“Apa kau baru saja menolak ajakanku?”

Yoona yang tidak lagi canggung pada Donghae mulai menunjukan sikap aslinya tanpa malu-malu. Ia tidak suka jika ajakan tulusnya ditolak begitu saja. Terlebih ia sudah memasakan semua makanan itu untuk pria dingin menyebalkan yang sedang menatapnya dengan tatapan datar yang angkuh itu.

“Makanlah dan jangan mencoba mendebatku.” Ucap Donghae penuh peringatan. Tanpa takut, Yoona mendekati Donghae dan menarik tangan pria itu untuk duduk di kursi yang telah ia siapkan. Namun pria itu justru menghempaskan tangannya kasar dan membuat hatinya cukup terluka dengan perlakuan pria itu.

“Jangan sentuh aku. Jika aku tidak mau, maka jangan coba-coba untuk memaksaku.”

Kali ini Donghae terlihat lebih berbahaya dari sebelumnya. Wajah dingin pria itu telah menunjukan aura kemarahan yang begitu pekat. Sekali lagi Yoona bersikap lancang padanya, maka ia tidak segan-segan untuk berbuat kasar pada wanita itu. Tidak peduli jika Yoona adalah anak dari menteri Im, baginya semua manusia sama saja. Siapa saja yang telah melanggar kode etik yang telah ditentukannya, maka ia akan menghukum orang itu tanpa pandang bulu. Dan sejak dulu ia tidak pernah membiarkan orang asing menyentuhnya, terutama seorang wanita.

“Ayahku menyuruhmu untuk menjagaku, tapi kau malah melukaiku. Apa ini yang dilakukan oleh jenderal terhormat sepertimu, hah?”

Yoona terlihat marah dan terluka disaat yang bersamaan. Ia tidak pernah merasa sekesal ini pada orang lain karena mereka tidak pernah memperlakukannya dengan sangat buruk seperti Donghae memperlakukannya.

“Kau yang memaksaku melakukannya.” Desis Donghae mencoba membela diri. Ia adalah anggota militer yang sudah terbiasa dengan keadilan. Jika orang itu tidak benar-benar bersalah, maka ia tidak mungkin menghukum orang itu.

“Terserah kau jenderal Lee, tapi jika kau tidak makan, maka aku juga tidak akan makan.”

Yoona berteriak kesal di depan Donghae dan segera berjalan pergi menuju kamarnya di lantai dua. Ia rasanya menyesal karena memiliki perasaan lebih pada pria dingin yang tidak memiliki hati seperti jenderal Lee. Seharusnya Tuhan membuatnya mencintai pria lain yang benar-benar akan membalas cintanya, bukan mencintai pria dingin seperti jenderal Lee yang entah akan membalas cintanya atau akan terus menyakitinya seperti malam ini.

-00-

 

Ketika malam beranjak semakin larut, Donghae memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya dan beristirahat. Ia yang sebelumnya berada di post penjagaan bersama rekan-rekan anggota militer yang lain memutuskan untuk berganti sift dengan penjaga lain yang sebelumnya telah beristirahat. Meskipun ia tidak mengantuk, tapi ia harus mengistirahatkan tubuhnya. Besok ia masih memiliki banyak pekerjaan. Termasuk melakukan introgasi pada penyusup dari Korea Utara yang berhasil ditangkapnya dua hari yang lalu.

Ketika ia melewati ruang makan, tak sengaja ekor matanya mentap hidangan-hidangan di atas meja yang masih utuh tak tersentuh. Rupanya Yoona benar-benar merealisasikan ancamannya untuk tidak makan jika Donghae tidak mau makan bersamanya. Dengan geram, Donghae memutuskan untuk naik ke lantai dua dan melihat bagaimana kondisi Yoona. Masih teringat dengan jelas di kepalanya bagaimana dulu ketika Yoona berusia tiga belas tahun, ia pernah terserang sakit lambung ketika sedang berkunjung ke rumah ayah angkatnya. Saat itu Yoona menghebohkan seluruh penghuni rumah karena ia tiba-tiba mengerang kesakitan di atas lantai sambil memegangi perutnya seperti orang sekarat padahal saat itu ayah dan ibunya sedang tidak berada di rumah. Hanya Taecyeon dan para maid yang tinggal di rumah. Untung saja saat itu ia baru saja pulang dari camp militer setelah berlatih, sehingga ia bisa membawa Yoona ke rumah sakit sebelum wanita itu benar-benar mati karena penyakit maagh kronis yang dideritanya. Dan sekarang dengan sombongnya wanita itu justru bermain-bermain dengan kematiannya sendiri.

 

Dasar wanita! Merepotkan!

 

            Dua menit kemudian Donghae telah berdiri di depan kamar Yoona dengan perasaan ragu. Kode etik yang dianutnya melarang keras dirinya untuk masuk ke dalam teritori milik wanita. Tapi di sisi lain ia tidak bisa diam begitu saja dengan perasaan aneh yang menyusup di dalam hatinya karena ia mencemaskan wanita manja itu. Apa yang akan dikatakan oleh menteri Im besok jika ia tahu anaknya sakit karena dirinya yang menolak makan bersama putrinya. Reputasinya sebagai jenderal tertinggi di Korea Selatan akan tercoreng karena ia tidak bisa menjaga putri menteri Im dengan benar. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar milik Yoona yang untung saja tidak dikunci oleh wanita itu.

“Ck, ia tidak mengunci kamarnya?”

Donghae bergumam pelan sambil berdecak jengkel karena Yoona rupanya sangat ceroboh. Bagaimana jika salah satu penjaga di bawah menyusup ke dalam kamarnya? Atau jika tiba-tiba rumahnya diserang oleh sekompok orang jahat? Wanita itu pasti akan dengan mudah dijadikan target incaran.

Suasana ketika berada di dalam kamar Yoona adalah gelap. Wanita itu rupanya sengaja mematikan seluruh lampu kamarnya hingga hanya tersisa sedikit cahaya dari bulan yang menyusup masuk ke dalam kamarnya melalui jendela besar yang menghadap kearah taman. Tapi meskipun suasana di dalam kamar itu gelap, Donghae masih bisa melihat bagaimana keadaan kamar Yoona yang rapi. Padangan pria itu langsung tertuju pada ranjang king size milik Yoona yang tampak rapi. Wanita itu terlihat sedang tertidur dengan tenang dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Merasa tidak ada yang aneh dengan Yoona, Donghae memutuskan untuk pergi dari kamar wanita itu. Lagipula ia sendiri merasa tidak nyaman berada di dalam kamar asing itu karena apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan aturan yang dibuatnya. Tidak boleh bersentuhan dengan wanita, tidak boleh masuk ke dalam teritori wanita, dan tidak boleh mencintai wanita!

Donghae kemudian berbalik dan hendak berjalan pergi dari kamar milik Yoona. Namun tiba-tiba seseorang menyergapnya dan mendorong tubuhnya hingga ia jatuh tertidur di atas ranjang milik Yoona dengan suara debum yang cukup nyaring.

“Siapa kau? Apa yang kau lakukan di kamarku?”

Donghae merasa mengenali suara itu. Suara Yoona. Wanita manja itu kini sedang menindih tubuhnya dengan kedua tangan mungilnya yang diposisikan sempurna di atas dada dan juga lehernya agar ia tidak bisa bergerak. Sekilas Donghae cukup kagum dengan kemampuan Yoona, karena wanita itu ternyata tidak selemah yang ia bayangkan. Namun wanita itu masih belum menyadari jika orang yang disergapnya adalah dirinya.

“Hahhh? Jenderal Lee..”

Yoona memekik terkejut ketika ia sadar jika pria yang telah ia sergap adalah Lee Donghae. Namun bukanya melepaskan pria itu, Yoona justru menatap iris pekat itu lama hingga ia meneguk ludahnya sendiri karena gugup. Sungguh saat ini jantungnya seperti sedang dipompa dua kali lipat lebih kencang. Pria yang saat ini berada di bawah tubuhnya benar-benar memiliki ketampanan yang luar biasa hingga ia tidak mampu berkedip barang sedetikpun dari wajah tampan Lee Donghae. Sayangnya kegiatan itu harus berakhir karena Lee Donghae langsung membalik tubuhnya ketika ia lengah dan kini menekan tubuhnya yang kecil di bawah kungkungan tubuhnya yang besar.

“Kau tidak seharusnya melihat apa yang tidak boleh kau lihat nona Im. Jangan pernah menatap wajahku lagi.”

Yoona terpaku di tempat tanpa bisa berkata apapun. Meski Donghae telah menyingkir dari atas tubuhnya, tapi ia tetap saja terpaku di tempat sambil berkedip-kedip tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.

“Kenapa kau belum tidur?”

Yoona segara tersadar dari fantasi liarnya setelah suara dingin itu kembali menggema di dalam kamarnya yang gelap. Dengan gerakan yang sedikit kikuk dan wajah memerah, Yoona segera beranjak bangun untuk menyalakan lampu di dalam kamarnya. Tidak enak rasanya berada di dalam kamar yang gelap bersama seorang pria dingin yang sangat menggairahkan seperti Lee Donghae.

“Maaf, aku tidak tahu jika itu kau jenderal Lee. Kupikir ada seorang penyusup karena aku mendengar suara langkah kaki yang tiba-tiba mendekat dan suara kenop pintu yang diputar.”

Yoona merasa bersalah sambil memainkan jari-jarinya gugup. Ia takut Donghae akan marah karena ia sudah menyergap pria itu tanpa memastikan terlebihdulu siapa yang telah masuk ke dalam kamarnya.

“Lupakan saja! Kenapa kau belum tidur?”

Donghae kembali mengulang pertanyaanya yang belum dijawab oleh Yoona.

“Ee… ituuu… ituu.. karena aku lapar.” Jawab Yoona dengan suara kecil. Wanita itu jelas sangat malu dengan keadaanya yang memalukan karena ia malam ini benar-benar tidak bisa tidur karena kelaparan. Berbagai macam jenis makanan yang telah ia masak hari ini terus berputar-putar di dalam kepalanya ketika ia berusaha memejamkan matanya. Bayang-bayang itu terus mengganggunya dan seakan mengejeknya karena ia tidak bisa memakan makanan-makanan itu karena ia sedang merajuk pada Donghae. Akhirnya sejak tadi ia hanya sibuk bergerak kesana kemari di atas ranjangnya tanpa benar-benar bisa tertidur pulas.

“Kalau begitu makanlah. Tidak usah keras kepala karena kau memiliki penyakit maagh yang akan sangat merepotkan jika kambuh.”

Yoona menatap Donghae tak percaya karena pria itu ternyata tahu jika ia memiliki penyakit maagh yang sangat berbahaya jika kambuh.

“Kau tahu? Apa ayahku memberitahumu?”

“Itu tidak penting. Cepat makanlah dan tidur. Aku tidak mau mendapatkan masalah karena kelakuanmu yang merepotkan.” Dengus Donghae sambil berjalan pergi meninggalkan kamar Yoona. Namun Yoona tak menyerah begitu saja. Ia terus mengejar Donghae untuk meminta jawaban dari pria itu.

“Katakan padaku, siapa yang memberitahumu jika aku memiliki maagh kronis?”

Donghae mengabaikan begitu saja pertanyaan Yoona dan terus berjalan menuruni anak tangga di depannya. Namun sikap dinginnya itu justru membuat Yoona semakin tertantang untuk terus meminta jawaban darinya hingga ia benar-benar risih dibuatnya.

“Diam dan makanlah.”

“Aku tidak mau makan jika kau tidak menjawab pertanyaanku jenderal Lee.”

Yoona mulai mengeluarkan jurus merajuknya yang sangat dibenci Donghae. Bisakah sekali saja wanita itu menjadi wanita penurut yang manis?

“Aku pernah membawamu ke rumah sakit ketika sakit maaghmu kambuh saat kau berusia tiga belas tahun.”

Yoona mulai mengingat-ingat masa lalunya yang terasa samar. Namun kemudian ia berhasil mengingatnya karena dulu ia memang pernah dilarikan ke rumah sakit oleh seseorang yang ia tidak tahu siapa ketika ia mendadak terserang sakit perut yang sangat mengerikan sembilan tahun lalu.

“Jadi itu kau jend.. ahhh..”

Yoona hampir saja terpeleset karena ia tidak memperhatikan jalannya. Beruntung Donghae yang berada di depannya dengan sigap menahan pinggangnya agar ia tidak terjerembam jatuh dari atas tangga yang cukup tinggi.

“Dasar ceroboh.”

Yoona mendengus kesal dan segera melepaskan tangan Donghae dari pinggangnya.

“Jika memang tidak mau menyelamatkanku, tidak usah menyelamatkanku. Biarkan saja aku terjatuh dan mati. Itu lebih baik daripada aku terus menerus mendengar kata-kata ketusmu jenderal Lee.” Ucap Yoona kesal sambil berjalan mendahului Donghae menuju meja makan.

Sementara itu Donghae hanya diam dan tidak mau mengeluarkan komentar apapun untuk Yoona. Wanita manja seperti Yoona memang tidak akan pernah cocok dengan dirinya yang penuh ketegasan. Apapun yang ia lakukan justru akan membuat Yoona kesal padanya. Jadi lebih baik ia diam dan membiarkan wanita itu melakukan apapun sesuka hatinya.

-00-

Keesokan harinya Donghae kembali ke rumahnya untuk bersiap-siap menuju camp militer. Setelah pagi ini ia memastikan Yoona baik-baik saja dan pergi ke kampus dengan aman bersama salah satu anak buahnya, Donghae memutuskan kembali ke kediamannya yang jauh dari hiruk pikuk keramaian Seoul. Ia sengaja memilih lokasi rumah yang berada di pinggir Seoul agar ia bisa hidup tenang tanpa ada seorangpun yang dapat mengusik ketenangannya.

Hal pertama yang ia lakukan ketika di rumah adalah mengecek keadaan hewan peliharaannya. Di rumahnya yang cukup besar itu ia memiliki lima anjing herder yang ia pelihara untuk menemani hari-harinya yang membosankan. Jika ia sedang ingin menikmati pertunjukan, maka ia akan membawa sebuah mayat yang bisa ia lemparkan ke dalam kandang anjing herdernya dan melihat anjing-anjingnya saling berebut daging segar yang masih mengeluarkan darah.

“Apa mereka sudah makan?”

Donghae bertanya pada salah satu anak buahnya yang ia beri tugas untuk menjaga anjing-anjingnya ketika ia sedang pergi menjalankan tugas. Petugas itu mengangguk mengiyakan sambil menunjuk sisa daging yang baru saja dilemparkannya ke dalam kandang.

“Untuk nanti sore jangan beri makan mereka. Sepertinya akan ada daging segar untuk diberikan pada mereka besok. Jadi biarkan mereka kelaparan hingga besok.”

Donghae menyeringai licik sambil membayangkan tahanannya yang akan menjadi santapan anjing-anjing herdernya besok. Penyusup itu berhak mendapatkan hukuman yang sangat keji karena ia telah berani menjual informasi untuk Korea Utara.

Donghae kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya untuk menyeduh kopi. Kebiasaanya sejak ia masuk ke camp militer adalah minum kopi tanpa gula karena ia perlu kafein itu agar menjaganya tetap segar selama bertugas.

Setelah ia selesai menyiapkan kopi, Donghae kemudian memanaskan makanan kaleng yang ia simpan di dalam kulkas. Pagi ini ia tidak akan memasak seperti pagi-pagi sebelumnya karena ia tidak memiliki banyak waktu. Dan ini semua karena sikap kekanakan Yoona yang kembali membuatnya jengkel di pagi hari sebelum ia pulang ke kediamannya.

Sembari menunggu makanan bekunya matang, Donghae segera mandi dan bersiap-siap di kamarnya di lantai dua. Ia tidak boleh membuang-buang waktunya untuk melamun atau merenungkan hal-hal bodoh mengenai hidupnya karena itu bisa membuatnya lemah. Keluarga dan masa lalu adalah kelemahan terbesar seorang manusia. Dan itulah yang selalu ditanamkan Donghae di dalam otaknya agar ia tidak menjadi pria melankolis di tengah-tengah kesunyian hidupnya.

Donghae memejamkan matanya rapat-rapat ketika air dingin perlahan-lahan menghujani kepalanya dan mengalir turun menyusuri garis-garis tegas wajahnya hingga ke seluruh tubuhnya. Sekelebat bayangan tentang peristiwa kematian ayah dan ibunya kembali menyusup ke dalam kepalanya. Suara teriakan dan bentakan yang terus menerus berputar di dalam kepalanya membuat Donghae tanpa sadar mengernyit sambil menikmati setiap kepahitan masa lalu yang berusaha ia pendam. Pamannya adalah orang paling keji yang telah membunuh kedua orangtuanya. Dan pamannya juga yang telah mengirimkannya ke panti asuhan mengerikan, dimana pemilik pantinya justru mempekerjakan anak-anak panti untuk kesenangan hidupnya. Oleh karena itu dua bulan setelah ia tinggal di panti asuhan itu ia memilih kabur. Dan untungnya ia bertemu dengan orang yang sangat baik seperti Kang Hyunjeong yang mau mengadopsinya dari panti asuhan mengerikan itu. Tapi luka tetaplah luka. Tidak ada yang bisa menyembuhkan lukanya yang terlanjur berdarah dan menganga. Karena pamannya yang keji, ia tumbuh menjadi seorang individu yang dingin dan kejam. Ketika ia berumur sepuluh tahun ia pernah memukul temannya yang nakal karena mengolok-oloknya di kelas. Setelah itu ia merasa begitu puas. Ia menikmati setiap rasa sakit yang dirasakan oleh temannya. Seiring berjalannya waktu ia mulai sadar jika ia memiliki sesuatu dalam dirinya yang membuatnya menjadi gila. Gila untuk menyakiti orang lain dan membuat orang lain menderita. Oleh karena itu ia memilih untuk masuk ke camp militer setelah ia lulus dari high school agar ia mampu mengontrol setiap keinginannya menyakiti orang lain. Bagaimanapun ia tidak ingin tumbuh seperti pamannya yang biadap. Ia ingin hidup sebagai seseorang yang berguna agar ia mampu membalas kebaikan Kang Hyunjeong yang telah mengadopsinya dari panti asuhan hingga ia bisa menjadi pria hebat seperti saat ini.

Cukup lama Donghae memejamkan matanya dan menikmati setiap kesakitan yang ditimbulkan oleh masa lalunya. Setelah itu ia segera keluar dari kamar mandi untuk bersiap-siap menuju markas. Baginya masa lalu tidak boleh terlalu lama menguasai pikirannya karena masa lalu itu dapat membangkitkan hasrat gilanya untuk menyakiti orang lain yang selama ini sudah ia tahan dengan serangkaian kode etik yang dulu diterapkan oleh pelatihnya di camp militer. Pelatih itu adalah satu-satunya orang yang mengetahui kegilaanya dan mengetahui rahasia kelam yang ia sembunyikan. Sayangnya pelatihnya itu kini sudah meninggal. Dan itu membuatnya semakin membenci hidupnya yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang tak berumur panjang. Oleh karena itu ia tidak mau orang lain masuk terlalu dalam ke dalam hidupnya agar mereka tidak bernasib sama seperti ayah  ibunya dan juga pelatihnya. Ia tidak mau menyeret orang lain ke dalam pusaran kesialan yang dibawanya karena ia yakin kutukan itu memang diberikan Tuhan padanya.

-00-

“Ibu, apa yang sedang ibu lakukan?”

Taecyeon yang baru saja turun dari kamarnya langsung menyapa sang ibu yang sedang sibuk berkutat di dalam dapur. Waniat paruh baya itu dan salah satu maid di rumahnya tampak begitu sibuk memotong-motong sayuran dan juga daging yang jumlahnya cukup banyak di atas konter dapur.

“Akan ada jamuan makan malam hari ini untuk membicarakan rencana pernikahanmu.”

Taecyeon mengernyit tidak mengerti dan mulai meminta penjelasan yang lebih lengkap dari ibunya.

“Pernikahanku? Kenapa tidak ada yang memberitahukannya padaku?” Tanya Taecyeon sedikit emosi. Sejak dulu hidupnya selalu didikte oleh ayahnya. Ia seperti tidak memiliki hak untuk menentukan hidupnya sendiri. Dan sekarang ayah dan ibunya telah merencanakan sebuah pernikahan yang tidak pernah dibicarakan padanya. Bagaimana ia tidak marah jika seperti itu?

“Apa ayahmu belum memberitahumu? Kau akan dijodohkan dengan Yoona, teman masa kecilmu.”

“Tapi kenapa mendadak? Ayah dan ibu tidak pernah membahas ini sebelumnya padaku. Bukankah aku yang akan menjalani kehidupanku kelak, seharusnya ayah dan ibu membicarakan hal ini padaku terlebihdulu.” Protes Taecyeon geram. Sekarang ia benar-benar merasa muak dengan hidupnya. Sebenarnya tidak masalah jika ia akan dijodohkan dengan Yoona karena sejak dulu ia dan Yoona sudah berteman baik, jadi pasti akan mudah menerima Yoona sebagai calon isterinya. Tapi bukan itu yang ia inginkan. Ia hanya ingin ayah ibunya menghormatinya sebagai anak mereka yang juga memiliki pendapat untuk diutarakan. Bukan karena ia adalah anak kandung mereka, mereka berhak mendikter seluruh jalan hidupnya. Bahkan Tuhanpun tidak pernah mengatur kehidupan makhluknya sedetail itu.

“Ibu sebenarnya ingin membahasnya sejak dulu, tapi kau selalu sulit untuk dihubungi. Bahkan untuk kembali ke Korea pun kau harus diancam oleh ayahmu dulu. Jadi bagaimana mungkin ibu memiliki kesempatan untuk membicarakan rencana ini padamu. Lagipula ibu pikir kau sudah mengetahuinya dari ayahmu. Lebih baik sekarang kau persiapkan dirimu agar kau tidak memalukan keluarga kita saat makan malam nanti.”

Nyonya Kang dengan mudahnya mengucapkan hal itu di depan putra bungsunya yang telah dilingkupi amarah. Jika saat ini Taecyeon tidak sadar dengan kedudukannya sebagai anak, mungkin ia akan melemparkan sekumpulan sumpah serapah untuk ibunya.

“Kenapa kalian selalu mengatur hidupku? Kenapa kalian tidak pernah mengatur hyung?”

“Karena hyungmu lebih dewasa darimu. Lagipula ibu tidak mungkin memaksakan hyungmu seperti ibu memaksamu karena hyungmu sangat dingin. Bahkan ia memilih untuk tinggal terpisah dari kita. Terkadang ibu juga merindukan hyungmu. Tolong katakan pada hyungmu untuk datang ke acara makan malam hari ini. Apapun yang terjadi ia harus datang.”

Taecyeon dapat melihat adanya sorot sedih dari kedua mata ibunya. Tak bisa dipungkiri jika ibunya juga sangat mencintai hyungnya, sama seperti ayahnya. Tapi selama ini ibunya selalu berusaha bersikap adil di depannya agar ia tidak merasa cemburu pada hyungnya.

“Ibu tenang saja, aku pasti akan menyeret hyung pulang malam ini.” Janji Taecyeon sebelum pergi meninggalkan ibunya yang masih berkutat dengan masakannya. Namun sepeninggal Taecyeon, nyonya Kang menitikan air mata melihat keadaan Taecyeon yang tampak tertekan karean suaminya. Ia tahu Taecyeon tidak pernah suka dengan jurusan kuliah yang diambilnya di Kanada. Dan sekarang putra bungsunya itu harus menjadi korban dari keegoisan suaminya. Karena ia tahu suaminya itu tidak mungkin meminta Donghae untuk menikahi Yoona. Donghae terlalu keras dan dingin hanya untuk menerima segala perintah tegas dari suaminya. Sedangkan mereka telah berjanji pada mendiang ibu Yoona untuk menikahkan salah satu putra mereka pada Yoona agar Yoona senantiasa memiliki malaikat penjaga disaat ia tidak lagi bernafas.

-00-

Udara malam yang menusuk tulang membuat Yoona refleks mengeratkan mantelnya pada tubuh kurusnya yang hanya dibalut mini dress selutut. Dengan gugup ia masuk ke dalam  rumah megah yang menjulang tinggi di hadapannya untuk makan malam. Ketika ia hendak masuk ke dalam rumah, seorang pria yang pagi tadi sempat membuatnya kesal juga hendak masuk ke dalam rumah dengan stelan jas hitam yang terlihat sempurna membalut tubuhnya. Lagi-lagi Yoona terpana pada sosok Donghae yang dingin di depannya. Bahkan pria itu sama sekali tidak meliriknya dan menganggap kehadirannya ada di sana. Tapi tetap saja perasaan Yoona hanya terpatri pada pria itu.

“Jenderal Lee..”

Yoona memberanikan diri menyapa pria itu dan mensjajarkan langkahnya dengan pria dingin itu. Susah payah ia menaiki satu persatu anak tangga dengan heels tingginya yang hampir membuatnya terjungkal. Untung saja ia berhasil menjaga keseimbangannya dengan baik hingga tak berakhir memalukan lagi di hadapan pria itu.

“Kau juga akan makan malam bersama mereka?”

Yoona jelas tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya ketika bertanya pada pria dingin itu karena ia tahu Donghae tidak terlalu dekat dengan keluarga angkatnya.

“Mereka tetaplah keluargaku.” Jawab Donghae singkat. Yoona mengangguk-anggukan kepala mengerti dan memilih untuk tidak banyak bertanya pada pria itu. Entah kenapa hari ini ia merasa mood pria itu lebih buruk daripada kemarin. Mungkin sesuatu telah terjadi padanya, sehingga Yoona tidak ingin mengganggu pria itu lebih jauh lagi.

Setibanya di ruang utama, Yoona langsung disambut hangat oleh nyonya Kang dan juga Taecyeon. Sedangkan tuan Im dan tuan Kang akan menyusul nanti karena pesawat mereka mengalami delay.

“Selamat malam bibi, terimakasih telah mengundangku dan ayah untuk makan malam.”

Yoona terlihat begitu akrab dan langsung merasa nyaman mengobrol bersama nyonya Kang. Sebentar saja suara mereka berdua sudah mendominasi seisi ruang utama dan membuat dua pria di dalam ruangan itu seperti pajangan hidup.

“Bagaimana kabar bibi? Lama sekali kita tidak pernah bertemu.”

“Bibi baik-baik saja Yoong. Bagaimana denganmu? Bibi tidak menyangka jika kini kau telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik. Oya, apa kau sudah bertemu Taecyeon?”

Yoona menggeleng pelan dan langsung menoleh ke samping untuk beradu tatap dengan Taecyeon yang juga sedang menatapnya.

“Kemarilah, kau tidak ingin memeluk Yoona? Kalian sudah lama tidak bertemu bukan?”

Yoona tanpa malu-malu merentangkan tangannya dan masuk ke dalam pelukan Taecyeon yang hangat. Untuk beberapa saat mereka berdua terhanyut dalam kegiatan berpelukan mereka yang syahdu.

“Oppa, selamat datang di Korea. Aku merindukanmu.”

“Aish.. kenapa kau jadi cengeng seperti ini? Aku juga merindukanmu Yoong. Sudah lama kita tidak bertemu dan kau semakin menawan.” Goda Taecyeon sambil mencolek dagu Yoona agar wanita itu menghentikan air  mata harunya.

“Aku hanya terharu karena setelah sekian lama kita tidak pernah bertemu karena kesibukan kita masing-masing, akhirnya kita bisa bertemu kembali. Kau sekarang juga terlihat lebih dewasa.”

Yoona memutar-mutar tubuh Taecyeon di depannya dengan gaya jenaka. Sementara itu Donghae hanya menatap datar kedekatan diantara keduanya tanpa berniat mengusiknya. Malam ini ia melihat adiknya lebih bahagia, terutama setelah bertemu dengan Yoona. Ia yakin adiknya itu akan sangat setuju dengan rencana pernikahan yang kemarin sempat disinggug oleh ayahnya ketika ia bertemu degan ayahnya di Blue House. Tapi ia tidak tahu bagaimana dengan Yoona karena wanita itu dengan terang-terangan menunjukan kertertarikannya padanya. Wanita itu menyukainya.

“Ayo kita lanjutkan obrolan kita di meja makan sambil menunggu ayah kalian. Bibi sudah membuat banyak makanan untukmu Yoong.”

Nyonya Kang segera menarik Yoona menuju meja makan. Di belakang mereka, Donghae dan Taecyeon juga mengekor.

“Hyung, kau datang?” Tanya Taecyeon untuk mencairkan suasana. Tak bisa dipungkiri jika berjalan di sebelah hyungya membuatnya merasakan aura dingin yang dipancarkan oleh hyungnya.

“Aku tidak boleh mengecewakan ibu.”

“Kupikir kau tidak akan mau menghadiri acara perjodohan seperti ini. Jujur aku tidak setuju dengan rencana ayah yang akan menjodohkanku. Tapi jika wanita itu Yoona, aku akan menuruti ayah untuk menikahinya.” Bisik Taecyeon berbinar-binar. Dari sudut matanya Donghae dapat melihat sedikit binar yang coba ditutupi oleh adiknya itu. Ia tahu adiknya menyukai Yoona.

“Jadi kau menyukai Yoona?”

“Bagaimana menurutmu hyung? Apa Yoona akan menerima perjodohan ini?”

“Coba kau tanya padanya.”

Taecyeon mendesah berat dengan jawaban hyungnya yang sama sekali tidak membantu itu. Meski hyungnya selama ini tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, setidaknya ia berharap hyungnya mampu memberikan jawaban dari sudut pandangnya sendiri. Ia yakin hyungnya memiliki sense yang tajam untuk menilai orang lain daripada dirinya.

“Ayolah hyung, jangan membuatku semakin gugup. Aku takut Yoona akan menolakku.”

“Kenapa kau harus takut? Yakinlah pada dirimu sendiri.”

“Entah kenapa keyakinanku hilang saat melihat Yoona masuk ke dalam rumah bersamamu. Aku seperti melihat tatapan penuh cinta yang dilayangkan Yoona padamu, meskipun aku juga tidak yakin.”

Donghae menepuk pundak Taecyeon pelan dan memberi nasihat pada pria itu.

“Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, apa yang kau lihat bisa saja salah.”

Taecyeon terdiam dengan nasihat hyungnya. Ia memang harus memastikan sendiri bagaimana perasaan Yoona padanya. Lagipula apa yang ia katakan pada Donghae hanya sebatas pandangannya. Bisa saja hal itu salah, tapi bisa juga tidak. Yang harus ia lakukan sekarang adalah mendekati Yoona dan memastikan jika wanita itu mencintainya.

“Nah, sepertinya kita bisa memulai acara makan malam kita. Sang tuan rumah dan rekannya sudah datang.”

Nyonya Kang menyambut suaminya dan juga Im Jaehyuk yang berjalan masuk ke ruang makan dengan penuh senyuman. Meski gurat-gurat kelelahan tampak jelas di wajah tua meraka masing-masing, tapi hal itu tak menyurutkan niat mereka untuk melanjutkan acara makan malam yang telah mereka rencanakan sejak jauh-jauh hari.

“Ayah, apa ayah lelah?”

Yoona terlihat cukup khawatir dengan keadaan ayahnya yang memang tampak lelah. Namun Im Jaehyuk segera menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menenangkan kearah putrinya.

“Kau tenang saja Yoong, ayahmu ini meskipun tua, tapi ayah memiliki semangat anak muda. Jadi kau tenang saja. Ahh.. isterimu sudah menyiapkan banyak makanan Hyunjeong-ah.”

“Dasar kau ini, melihat makanan langsung melotot.” Canda Kang Hyunjeong. Suasana di meja makanpun semakin hidup dengan kehadiran dua tetua yang sangat berisik. Berbeda sekali dengan Donghae yang sejak tadi hanya diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia lebih suka menghabiskan makannya dengan cepat agar ia bisa segera pulang ke kediamannya karena ia masih memiliki banyak pekerjaan setelah ini. Berada di tengah-tengah keluarga seperti ini terasa begitu rentan baginya. Jangan sampai musuh-musuhnya tahu jika ia adalah putra angkat dari Kang Hyunjeong karena mereka bisa saja menargetkan keluarga angkatnya ini jika suatu saat ia lalai.

Sementara itu Yoona yang duduk tepat di depan Donghae tidak bisa melepaskan tatapan matanya sedikitpun dari pria itu. Kebisuan yang dilakukan Donghae membuatnya semakin penasaran dengan sosok pria  dingin itu. Sejak tadi ia terus bertanya-tanya di dalam kepala cantiknya, kira-kira apa yang sedang dipikirkan Donghae saat ini, mengapa pria itu bisa mempertahankan kekakuannya di tengah-tengah suasana berisik yang tercipta diantara ayahnya dan juga pamannya. Sayangnya kegiatan memperhatikan Lee Donghae tidak bisa bertahan lama, karena Taecyeon mulai mengajaknya untuk berbicara.

“Yoong, apa kau sudah memiliki kekasih?”

Yoona menoleh cepat kearah Taecyeon dan menggelengkan kepalanya.

“Belum. Ayah tidak pernah mengijinkanku memiliki kekasih, padahal banyak rekanku yang sudah memiliki kekasih. Kadang aku iri dan ingin memiliki seorang kekasih juga. Lalu mengajaknya berkencan seperti pasangan-pasangan pada umumnya.”

Yoona tampak berandai-andai dengan imajinasinya sendiri. Seandainya ia dan Donghae adalah sepasang kekasih, lalu mereka akan berkencan. Rasanya Yoona ingin terkikik geli dengan angan-angannya yang konyol itu karena Donghae tidak mungkin mau berkencan dengannya di tempat terbuka. Terlalu beresiko bagi seorang jenderal untuk terlihat di tempat umum bersama kekasihnya, meskipun sebenarnya sebagian penduduk Korea tidak akan memperhatikan mereka secara detail.

“Ayahmu pasti sangat menyayangimu. Ia…”

“Aku sudah selesai.”

Semua orang menatap kearah Donghae yang sudah selesai dengan makanannya. Pria itu sedang mengelap tangannya dengan serbet dan bersiap untuk pamit meninggalkan ruang makan.

“Kau mau kemana Hae? Tinggalah di sini sebentar lagi, ayah bahkan belum mengumumkan inti dari acara makan malam ini.” Desah Kang Hyunjeong berat. Namun Donghae sepertinya tetap akan bersikeras untuk pulang karena ia tidak bisa berada di tempat itu lebih lama lagi.

“Maafkan aku.”

Kang Hyunjeong menggelengkan kepalanya dan meminta Donghae tetap duduk di tempat untuk beberapa saat. Ia akan mengumumkan berita penting itu sekarang tanpa menunda-nundanya lagi karena Donghae benar-benar akan segera pergi.

“Kalau begitu ayah akan mengumumkan mengenai perjodohan antara Yoona dan Taecyeon. Kau keluarga kami Hae, kau juga harus berbahagia saat adikmu bahagia.” Ucap Kang Hyunjeong tersenyum lembut. Donghae susah payah membentuk garis lengkung di wajahnya untuk menyenangkan sang ayah. Sejujurnya ia tidak peduli jika adiknya sedang berbahagia atau tidak. Jelas kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh adiknya tidak akan pernah bisa mempengaruhinya karena ia sudah lupa bagaimana caranya untuk bahagia.

Sementara itu Yoona tampak terkejut dengan berita perjodohan itu. Sekarang ia mengerti jika tujuan dari makan malam hari ini adalah untuk membicarakan pertunangannya dan juga Taecyeon yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Tapi sayangnya ia tidak memiliki perasaan apapun pada Taecyeon. Hatinya sudah lebih dulu jatuh pada sosok Lee Donghae yang kaku dan dingin. Rasanya saat ini ia ingin menangis sekencang-kencangnya dan mengatakan pada semua orang jika ia hanya ingin menikah dengan Lee Donghae. Ia tidak pernah merasakan ketertarikan apapun pada Taecyeon karena ia telah menganggap Taecyeon sebagai sahabatnya sendiri. Dan ketika Lee Donghae beranjak pergi meninggalkan ruang makan, Yoona tiba-tiba bangkit berdiri dengan alasan ingin pergi ke toilet. Namun Yoona tak benar-benar pergi ke toilet, Yoona justru menyusul Donghae yang hendak masuk ke dalam mobilnya untuk pulang.

“Kenapa kau diam saja dan tidak mengatakan apapun?”

Donghae menaikan alisnya tanpa menjawab pertanyaan Yoona. Pria itu lebih memilih membuka pintu mobilnya dan segera masuk ke dalam kursi kemudi karena ia harus benar-benar pergi dari rumah itu secepatnya.

Brakk

Yoona mendorong keras pintu mobil itu dan menghalangi Donghae untuk masuk ke dalam. Donghae mengetatkan rahangnya dan menatap Yoona tajam. Lagi-lagi wanita itu berulah dan membuatnya jengkel.

            Apa sebenarnya yang diinginkan wanita ini?

 

“Lebih baik kau masuk ke dalam, aku harus pergi sekarang.” Desis Donghae dengan wajah geram. Namun Yoona sama sekali tidak terpengaruh, wanita itu justru mendongakan dagunya angkuh di depan Donghae untuk menunjukan pada pria itu jika ia sedang marah dan juga kecewa.

“Kenapa kau diam saja. Aku tahu jenderal, kau tidak bodoh! Dan pasti Hyukjae oppa telah memberitahumu jika aku mencintaimu. Tapi kenapa kau seakan tidak peduli saat paman akan menjodohkanku dengan Taecyeon? Apa kau tidak mencintaiku?” Cicit Yoona kecil dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangannya. Yoona nekat mengungkapkan seluruh perasaanya selama ini pada Lee Donghae karena ia tidak memiliki pilihan lain. Toh ia tak peduli lagi dengan harga dirinya sebagai seorang wanita karena memang seperti itulah resikonya bila ia mencintai seorang pria yang dingin seperti Lee Donghae.

“Aku tidak hidup untuk cinta. Jadi lupakan saja perasaan bodohmu itu. Dan aku sama sekali tidak mencintaimu. Kembalilah ke dalam dan berbahagialah bersama Taecyeon.”

Serasa dihujam oleh ribuan belati. Hati Yoona rasanya sudah hancur berkeping-keping karena kalimat penolakan Donghae yang sangat menyakitkan. Bahkan dengan kejamnya pria itu langsung meninggalkannya begitu saja setelah ia berhasil menghancurkan hatinya menjadi serpihan-serpihan kecil seperti debu. Udara dingin yang berhembus menerpa kulitnya seakan sedang tertawa mengejeknya karena ia baru saja patah hati. Dengan wajah menunduk Yoona segera kembali ke ruang makan sambil menghapus sisa-sisa air mata yang masih menggenang di pulupuk matanya. Jangan sampai mereka tahu jika ia sedang patah hati.

“Yoona kemarilah..”

Nyonya Kang melambaikan tangannya dan menyuruh Yoona untuk segera duduk di kursinya. Dengan senyum palsu yang terkambang di wajahnya, Yoona segera duduk di kursinya sambil menatap bingung pada para orangtua yang terlihat berbinar-binar.

“Ada apa? Kalian sepertinya ingin menyampaikan sesuatu padaku.”

“Jadi kami sudah sepakat untuk tidak mengadakan sesi pertunangan, tapi kami akan langsung menikahkanmu dengan Taecyeon.” Ucap nyonya Kang berbinar-binar. Yoona mematung sejenak di tempatnya dan merasa syok. Ia tidak mengira ini akan terjadi. Padahal sebelumnya ia berharap jika mereka bertunangan terlebihdulu perlahan-lahan ia bisa memberikan pengertian pada Taecyeon jika ia tidak mencintainya. Tapi jika mereka tidak melangsungkan pertunangan? Rasanya ia tidak sanggup memikirkan hal itu. Ia akan terikat selamanya dengan Taecyeon, sementara ia sama sekali tidak mencintai pria itu.

“Apa kau setuju oppa?”

Yoona kini beralih pada Taecyeon. Berharap pria itu menolaknya, sehingga ia memiliki alasan yang lebih kuat untuk menolaknya. Tapi ketika pria itu mengangguk dengan senyum manis yang terkembang di wajahnya, Yoona merasa seluruh masa depannya sudah hancur di depan matanya. Ia tidak memiliki alasan yang kuat untuk untuk menolak rencana orangtuanya dan juga rencana orangtua Taecyeon.

“Kau tidak perlu khawatir. Saat kita menikah nanti kita tetap akan hidup seperti biasa. Kau melanjutkan kuliahmu di Korea, dan aku juga akan melanjutkan kuliahku di Kanada. Aku juga tidak akan memaksamu untuk tinggal di Kanada jika kau memang tidak mau.”

Yoona tersenyum kecil dan tampak pasrah. Terserah jika mereka menginginkan pernikahannya dipercepat. Tapi ia takut akan menyakiti kehidupan mereka nanti. Bagaimanapun sejak awal ia telah menyukai Donghae. Ia terobsesi pada pria itu karena semua misteri yang disembunyikan pria itu dibalik wajah dinginnya. Setidaknya ia masih memiliki beberapa hari sebelum pernikahannya dengan Taecyeon benar-benar dilaksanakan. Dan selama itu ia akan berusaha membuat Donghae mencintainya.

-00-

Dorr!

“Berhenti! Atau aku akan membuat kedua kakimu hancur!”

Lee Donghae mengejar seorang buronan negara yang hendak kabur melalui jalur laut. Sejak empat hari yang lalu ia telah melakukan penyelidikan mengenai buronan itu dan melakukan kamuflase untuk menangkap sindikatnya. Dan sekarang ia telah berhasil menemukan bos sindikat itu dan ia akan menangkapnya untuk diitrogasi. Kerja kerasnya selama empat hari ini benar-benar tidak sia-sia karena pria itu berhasil mendapatkan kunci untuk membongkar sindikat yang lain.

“Bawa yang lain ke penjara khusus, dan bawa bos mereka ke rumahku. Aku ingin sedikit bermain-main dengannya.”

Donghae menyeringai puas sambil membayangkan pria licik itu akan menjadi korbannya hari ini. Sudah lama ia tidak menyiksa orang dan menikmati setiap kesakitan yang mereka tunjukan. Pasti rasanya akan sangat luar biasa untuknya.

Selama di perjalanan menuju kediamannya, Donghae tak henti-hentinya membayangkan wajah korbannya hari ini yang akan tampak menyedihkan di depannya. Dengan tangan terikat dan kaki terikat, ia akan menyayat setiap inci tubuh itu hingga korbannya bersedia memberikan keterangan terkait sindikat yang lain. Aroma anyir darah yang menguar di dalam mobil yang ditumpanginya bersama sang korban yang terluka membuat adrenalin Donghae semakin meningkat. Entah sejak kapan ia menyukai aroma itu, tapi sejak ia memukul temannya hingga hidungnya mengeluarkan darah, ia mulai tertarik dengan aroma itu. Terlebih lagi ia sangat menikmati saat-saat korbannya mengerang kesakitan akibat luka yang ditimbulkannya.

“Kita sudah sampai jenderal.”

“Seret pria itu ke basement. Aku akan menyusul.”

Donghae turun dan masuk ke dalam rumahnya terlebihdulu. Sementara beberapa anak buahya yang lain mengurus korbannya hari ini untuk dibawa ke dalam basement, tempat dimana Donghae selama ini mengkesekusi korbannya dan juga berlatih segala macam senjata. Di ruangan itu Donghae menyimpan banyak senjata mengerikan yang selama ini ia dapatkan dari berbagai tempat, termasuk pasar gelap. Obsesinya pada senjata mulai terlihat ketika ia pertama kali masuk ke dalam camp militer dan menemukan berbagai macam senjata dengan berbagai fungsi. Setelah itu ia berusaha mencari sendiri senjata-senjata itu untuk melengkapi koleksinya.

“Jjje… jenderal?”

Yoona tercekat di depat pintu rumah Donghae ketika melihat beberapa anak buah pria itu sedang menyeret seorang penjahat yang berdarah-darah menuju ke ruangan khusus di dalam rumahnya. Yoona yang selama ini selalu hidup tenang tanpa darah mendadak mual dan juga pusing. Namun sebelum ia berhasil menguasai tubuhnya, tiba-tiba ia merasakan lengannya di cengkeram seseorang dan tubuhnya dibenturkan ke arah tembok.

“Apa yang kau lakukan di rumahku?” Desis Donghae bagaikan ular yang sedang marah. Pria itu tidak pernah senang jika daerah teritorinya dimasuki oleh orang asing tanpa seijinnya. Dan siapa pula yang membiarkan wanita ini masuk? Ia bersumpah akan membunuh orang itu jika ia menemukannya.

“Jjenderal, kau melukaiku.” Rintih Yoona dengan wajah ketakutan. Ia belum pernah melihat Donghae semengerikan ini. Memang Donghae selama ini terkenal sebagai jenderal yang mengerikan, tapi ia tidak menyangka jika Donghae juga akan bersikap kasar padanya.

“Siapa yang mengijinkanmu masuk ke dalam rumahku?”

Donghae bertanya pelan dengan raut wajah tenang yang terlihat mengerikan. Pria itu sekilas terlihat baik-baik saja dan tidak dilingkupi emosi. Tapi Yoona sadar jika saat ini Donghae sangat marah. Pria itu hanya menyamarkannya untuk membuat dirinya semakin ketakutan. Tapi ia tidak boleh menyerah! Ia datang ke rumah ini atas informasi dari Lee Hyukjae. Sejak beberapa hari yang lalu ia terus merengek pada Hyukjae untuk memberitahunya dimana alamat Donghae tinggal karena bibi Kang dan paman Kang tidak memberikan alamat kediaman Donghae dengan jelas. Untung saja pria bergusi pink itu bersedia memberitahunya setelah ia terus merengek selama tiga hari pada pria itu. Dan sekarang setelah susah payah ia mendapatkan alamat rumah pria mengerikan itu, ia masih harus melewati ujian lain agar Donghae mau berbicara dengannya, yaitu kemarahan pria itu. Ia sudah menduganya sejak awal jika apa yang ia lakukan hari ini pasti akan membawa konsekuesi buruk. Tapi jika ia akan mati hari ini di tangan pria itu, maka ia sudah siap. Ia siap menjadi salah satu korban pria itu dan menjadi santapan anjing-anjingnya yang sempat ia lihat beberapa saat yang lalu.

“Kau tidak ingin menjawab pertanyaanku?”

Donghae berbisik rendah di telinganya dan mengirimkan sinyal bahaya yang begitu pekat dari alunan suaranya. Yoona tetap memejamkan matanya dan enggan membuka matanya untuk menatap wajah Donghae karena ia sangat takut dengan ekspresi mengerikan yang diperlihatkan Donghae di depannya.

“Baiklah, kalau begitu mari kutunjukan sebuah pertunjukan sebelum aku menghukummu Yoona.”

Yoona diseret paksa oleh Donghae ke dalam ruang basement. Suara rintihan Yoona yang terasa memilukan sama sekali tak dihiraukan oleh Donghae. Pria itu marah dan ingin membunuh wanita itu. Sejak dulu ia tidak suka kehidupannya dicampuri oleh orang lain, dan wanita itu terlalu berani dengan datang ke rumahnya dan menantangnya dengan wajah angkuh yang penuh ketakutan itu.

Brughh

Yoona terhempas ke tembok begitu saja ketika Donghae melemparnya ke sisi kiri. Wanita itu mengerang kesakitan dan berusaha bangkit dari posisi jatuhnya yang sangat menyakitkan. Samar-sama Yoona mulai menyesuaikan indera penglihatannya dengan suasana remang-remang yang tercipta disekitar tempatnya berdiri. Setelah ia cukup terbiasa, ia mulai menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan berukuran lima belas kali sepuluh meter itu. Dan betapa terkejutnya Yoona ketika ia menemukan banyak sekali senjata yang tersimpan disetiap sudut ruangan itu. Yoona kemudian melihat Donghae sedang mengeluarkan sebuah kotak hitam yang ukurannya cukup besar. Dengan perasaan takut, Yoona mencoba mendekati Donghae dan melihat apa yang akan dilakukan oleh Donghae.

“Kemarilah Yoona, jika kau ingin melihatnya.”

Donghae mengeluarkan sebuah pisau dengan ujung runcing yang terlihat berkilat-kilat tertimpa cahaya matahari yang menerobos dari celah-celah ventilasi. Pria itu dengan seringaian mengerikan mendekatkan pisau itu ke hidungnya dan mengendusnya seperti orang sakit jiwa.

“Kau lihat, pisau ini dapat memutus urat nadimu dalam sekali tusuk.”

Slapp

Dengan gerakan tiba-tiba Donghae melemparkan pisau itu dan menggores tepat di pipi kiri Yoona. Yoona merasakan darah merembes dari pipinya. Tapi ia seakan tak bisa menggerakan tubuhnya karena ia terlalu syok. Pisau itu terlempar tepat di samping wajahnya dan menancap tepat di atas permukaan tembok di belakangnya. Ia yakin Donghae sengaaja melakukannya untuk mengintimidasinya. Karena jika pria itu mau, ia bisa saja melemparkan pisau itu tepat di lehernya.

“Aw maaf, kau terluka.”

Donghae mendekat dan mengusap tetesan darah yang masih merembes dari wajah Yoona. Sambil memejamkan matanya, pria itu menghirup dalam-dalam aroma darah yang mengalir di sisi kiri wajah Yoona. Sedangkan Yoona tampak tak bisa bergerak ketika pria itu berdiri begitu dekat dengan wajahnya. Jantungnya kini semakin berdegup kencang. Perpaduan antara rasa takut dan juga gugup yang sedang melingkupinya. Andai ia bisa bersuara sekarang ia ingin mengumpat karena pria itu justru terlihat mengerikan dan juga tampan disaat yang bersamaan.

“Hmm.. aku suka aroma darahmu. Manis…” Gumam Donghae sambil menyeka darah itu dengan ibu jarinya. Setelah itu ia segera berjalan pergi, meninggalkan Yoona untuk mengeksekusi korbannya yang telah menunggu. Untuk Yoona, ia akan melanjutkannya nanti. Ia sudah cukup puas melihat wajah ketakutan Yoona dan mencium bau anyir darah milik Yoona yang beraroma manis. Entah itu hanya fantasinya atau memang darah Yoona berbeda dengan darah semua korbannya. Yoona memiliki aroma darah yang lebih feminin dan juga menggairahkan. Untuk pertama kalinya ia merasa begitu bergairah pada korbannya karena aroma darah yang menguar dari tubuh Yoona.

“Jenderal.. apa yang akan kau lakukan padanya?”

Yoona yang mulai terbiasa dengan kegilaan Donghae mencoba untuk mendekati pria itu. Ini adalah saat-saat yang ia tunggu sejak dulu, yaitu melihat setiap misteri yang disembunyikan oleh Donghae dibalik sikap dinginnya. Dan ia tidak akan menyia-nyiakan begitu saja kesempatan ini karena dengan begitu ia bisa mempelajari sisi gelap Donghae.

“Ini adalah sebuah pertunjukan untuk menyambutmu Yoona. Kau seharusnya tidak datang ke tempat ini karena kau pasti akan menyesal.”

Dan slap

Tanpa aba-aba Donghae menusuk tulang belikat korbannya hingga membuat korbannya berteriak histeris seperti orang kesetenan. Sangat kontras dengan Donghae, karena pria itu justru tersenyum manis pada Yoona sambil menunjukan seringai liciknya.

“Setiap orang yang telah melanggar aturan berhak menerima kesakitan seperti ini. Dan setelah ini giliranmu untuk merasakannya.”

Yoona membalas tatapan Donghae dengan sorot mata datar. Sekarang ia tahu kenapa Donghae sangat suka menyiksa korbannya, karena korbannya akan terlihat menyedihkan dan juga ketakutan di matanya. Ekspresi wajah seperti itu yang membuat Donghae justru semakin senang dan puas, sehingga ia tidak akan menunjukan ekspresi ketakutan itu lagi. Ia akan bersikap tenang dan mencoba memahami pria itu melalui setia gerak geriknya.

“Mencoba tenang, hah?”

Donghae mencabut pisau yang ia gunakan untuk menusuk korbannya sambil menyeringai sinis kearah Yoona. Setelah itu ia berbalik dan mulai melakukan sesi introgasi tahap pertama.

“Katakan siapa yang tergabung di dalam sindikat mafia-mafia itu?”

“Aku tidak tahu.”

Plakk

Satu tamparan lolos begitu saja dan membuat darah menyembur keluar dari mulut pria itu. Yoona yang melihat seluruh sikap sadis Donghae hanya mampu menghela napas pelan sambil memandang Donghae prihatin. Kini perasaan kagum yang ia tunjukan pada pria itu bertambah menjadi perasaan kasihan karena pria itu ternyata memiliki kehidupan yang kompleks di masa lalu hingga menyebabkan menjadi seorang sociopat seperti ini. Sebagai seorang mahasiswa psikologi, Yoona tahu bagaimana ciri-ciri seorang sociopat seperti Donghae. Apa yang dilakukan pria itu sebenarnya adalah refleksi dari kehidupan masa lalunya. Jika pria itu memang memiliki masa lalu yang baik-baik saja, maka ia tidak mungkin akan bersikap keji dan setenang itu ketika berada di luar rumah. Tiba-tiba sebuah pertanyaan terbersit di benaknya, apakah paman Kang tahu? Tapi melihat kondisi Donghae yang sangat parah seperti itu membuat Yoona yakin jika paman, dan bibi, serta Taecyeon tidak mengetahui kegilaan yang disembunyikan oleh Donghae. Pria itu terlalu pintar menyembunyikannya hingga tidak ada satupun yang menaruh curiga padanya.

“Aaaarrgghhhh!!”

Setelah cukup lama melamun, Yoona disadarkan dengan suara erangan yang cukup panjang dan juga menyayat hati. Pria itu kini sedang menahan sakit akibat pisau tajam yang ditancapkan oleh Donghae di pahanya dan tanpa perasaan Donghae menarik pisau itu hingga ke ujung lututnya. Perasaan ngeri dan juga ngilu seketika meryap ke dalam benak Yoona. Ia mencoba mengalihkan tatapan  matanya kearah lain agar ia tidak melihat pria itu disiksa oleh Donghae dengan cara yang mengerikan.

“Jenderal Lee, kau sudah membuatnya tersiksa. Jangan siksa dia lagi.” Teriak Yoona tidak tahan. Ia harus menghentikan perilaku mengerikan Donghae. Meskipun orang itu memang bersalah, tapi Donghae tidak berhak melakukan hal itu. Bahkan Tuhanpun tidak sekejam itu dalam menghukum manusia-manusia berdosa di muka bumi ini. Dan apa yang dilakukan oleh Donghae itu sudah melebihi batas.

“Tutup mulutmu! Aku tidak suka ada orang lain yang mengganggu kesenanganku. Hah, apa kau juga ingin merasakannya?”

Donghae mendorong tubuh Yoona ke tembok dan mencekiknya. Ia dengan senyum malaikatnya menikmati setiap kesakitan yang dirasakan oleh Yoona. Suara tercekat Yoona dan suara batuk-batuk yang dikeluarkan oleh Yoona terdengar seperti alunan lagu yang begitu indah di telinganya. Apalagi mata bulat itu kini perlahan-lahan mulai kehilangan sinarnya seiring dengan cekikan di leher jenjangnya yang semakin kencang.

“Ttoo.. tolong… uhukk uhuukk.. Jenderal Lee… uhukk uhuukk sadarlah… Aaaku tahu kau.. uhuukk… uhuukk.. adalah orang yyaang baik.. uhukk uhuuk..”

Donghae tertegun mendengar kalimat penuh ketulusan yang diucapkan oleh Yoona. Meskipun ia telah melukainya dan hendak membunuhnya, wanita itu masih saja memandangnya sebagai pria baik-baik.

Brugh

Donghae melepaskan cekikan tangannya dan membuat Yoona seketika meluruh ke atas lantai. Wanita itu tampak begitu lemah sekaligus lega karena Donghae belum membunuhnya.

“Tte.. tterimakasih jenderal Lee.”

Dengan terbata-bata Yoona berusaha mengucapkan terimakasih pada Donghae dan tersenyum pada pria itu sebelum kesadarannya menghilang dan ia jatuh tak berdaya di atas lantai kotor di bawahnya.

-00-

Malam harinya kediaman menteri Im digemparkan oleh menghilangnya Yoona. Sejak sore, menteri Im dan beberapa pasukan khusus Korea Selatan mencoba melacak keberadaan Yoona. Namun wanita itu tak bisa ditemukan dimanapun. Hal itu membuat menteri Im semakin cemas dan memutuskan untuk membatalkan perjalanannya ke Amerika hingga putri semata wayangnya ditemukan.

“Apa kalian belum menemukan keberadaan putriku?” Tanya Im Jaehyuk was-was. Ia berharap tentara-tentara di depannya itu memberikan jawaban yang memuaskan untuknya. Tapi ketika salah satu dari mereka memberikan sorot mata menyesal dengan gelengan kepala, seketika Im Jaehyuk merasa dunianya benar-benar hancur. Ia kacau dan ia takut. Putri semata wayangnya tidak boleh terluka. Dan ini semua salahnya karena selalu membiarkan Yoona pergi kemanapun sendiri tanpa pengawasan yang ketat.

“Apa kalian tahu apa yang dilakukan Yoona sebelum menghilang?” Tanya Im Jaehyuk pada para maidnya. Semua maid yang ia kumpulkan di ruang tengah hanya mampu menundukan kepala sambil menggelengkan kepalanya tidak tahu. Pasalnya siang ini sang nona terlihat normal dan tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan. Nonanya pagi ini melakukan sarapan seperti biasa, lalu berangkat ke kampus bersama supir pribadi keluarga Im. Tidak ada hal aneh menurut mereka, kecuali supir Shin yang tiba-tiba mendongakan kepalanya dan memanggil majikannya pelan.

“Tuan, sebelum kami tiba di kampus, nona Yoona sempat bertemu dengan kapten Hyukjae di sebuah kafe. Tapi mereka hanya sebentar, kira-kira nona Yoona hanya masuk ke dalam kafe itu selama sepuluh menit, setelah itu nona Yoona masuk ke dalam mobil dan kami pergi ke kampus seperti biasa.”

Im Jaehyuk mengernyit curiga dan langsung memerintahkan asistennya untuk menghubungi Lee Hyukjae. Ia yakin kapten itu pasti memiliki jawaban atas menghilangnya Yoona malam ini.

“Tuan, ini kapten Hyukjae.”

Asisten itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri tuan Im sambil mengangsurkan sebuah ponsel kearahnya.

“Selamat malam menteri Im.”

Lee Hyukjae menyapa menteri Im dengan tenang, seolah-olah tidak sedang terjadi apapun. Menteri Im pun memutuskan untuk berbicara baik-baik pada Lee Hyukjae. Ia harus tetap tenang meskipun hatinya kini sedang sangat kacau hingga rasanya ia ingin membentak siapapun yang berada di depannya. Tapi ia tahu itu tidak akan menyelesaikan masalah.

“Kapten Hyukjae ssi, apa kau tahu dimana keberadaan Yoona? Putriku menghilang sore ini saat supir pribadinya menjemputnya di kampus.”

“Yoona menghilang? Bagaimana bisa menteri Im? Pagi ini kami memang sempat bertemu, Yoona datang untuk menyerahkan uang bantuan untuk diserahkan pada korban bencana kelaparan di Ethiopia. Lusa Tim yang saya pimpin akan berangkat ke Ethiopia untuk menyalurkan bantuan dari pemerintah Korea Selatan.”

Menteri Im memejamkan matanya frustrasi karena satu-satunya orang yang melihat Yoona terkahir kali tidak memiliki informasi yang ia inginkan mengenai keberadaan Yoona. Sekarang ia benar-benar yakin jika Yoona sedang diculik oleh pihak-pihak yang ingin melakukan balas dendam padanya karena selama ini ia selalu menolak untuk menerima suap. Dengan kecewa Im Jaehyuk segera mengakhiri sambungannya dengan Hyukjae sambil menatap nanar pada para maidnya. Ia merasa tidak berguna karena ia tidak bisa menjaga putrinya dengan baik! Dan sepanjang malam yang penuh emosi itu, tuan Im terus menyalahkan dirinya sendiri atas menghilangnya Yoona.

-00-

Sementara itu di kediaman Donghae yang sunyi, Yoona masih setia memejamkan mata setelah wanita itu lemas akibat cekikan Donghae. Di sudut  tergelap kamar itu, Donghae mentap nyalang sosok wanita di atas ranjangnya sambil menunggu wanita itu membuka matanya. Entah bagaimana perasaan pria itu sekarang, ia terlihat sangat kacau. Sehari ini ia jelas telah melanggar beberapa kode etik yang selama ini selalu menjaganya dari segala kegilaan akal pikirannya. Tapi semua ini karena Yoona! Jika wanita itu tidak menerobos masuk ke dalam rumahnya dan bersikap sok berani dengan menantangnya, ia tidak akan semakin bernafsu untuk melenyapkan wanita itu. Namun ada satu hal yang membuat Donghae tidak bisa membunuh Yoona. Tatapan wanita itu yang menyiratkan ketulusan dan juga harapan mampu membuat hati nuraninya sedikit luluh. Tak pernah sekalipun ia bertemu seorang wanita seperti Yoona yang mampu menggetarkan hatinya karena ketulusan yang ia miliki. Sayangnya ia tidak boleh membiarkan Yoona masuk ke dalam hidupnya. Ia adalah manusia bengis yang rusak. Sedangkan Yoona adalah wanita lembut yang memiliki masa depan yang cerah. Yoona akan jauh lebih baik bila hidup bersama adiknya daripada bersama dirinya yang jelas-jelas adalah sociopat.

“Sial! Menteri Im mulai mencurigaiku.”

Tiba-tiba Hyukjae muncul dari luar kamar sambil berteriak-teriak gusar. Donghae yang melihat itu segera bangkit dan mendorong Hyukjae menjauh agar suaranya tidak mengganggu Yoona.

“Ini semua karenamu Hae, kau menyakiti Yoona dan membuat Yoona pingsan. Sekarang seluruh pasukan khusus Korea Selatan sedang mencari Yoona. Jika sampai mereka menemukan Yoona di sini dalam keadaan mengenaskan seperti itu, kau akan mati! Karirmu sebagai jenderal akan tamat Hae!”

Bugh

Donghae meninju wajah Hyukjae keras dan membuat pria bergusi pink itu terhuyung beberapa meter ke belakang. Sikap Hyukjae yang cerewet membuat tangannya gatal ingin menyumpal mulut besar pria itu.

“Kau tahu jika Yoona akan berakhir seperti itu, tapi kau membiarkannya masuk ke dalam rumahku. Kau yang seharusnya  disalahkan atas semua ini!”

Hyukjae terdiam di tempat sambil menatap Donghae penuh penyesalan. Ia pikir Donghae tidak akan melewati batasnya, mengingat selama ini pria itu mampu menahan dirinya dengan baik. Tapi siapa sangka jika sikap Yoona yang keras kepala itu mampu membuat Donghae kehilangan kesabarannya, sehingga pria itu berbuat nekat dan menyakiti Yoona. Mereka berdua harus secepatnya menyusun rencana jika tidak ingin karir mereka hancur.

“Kita harus segera melakukan sesuatu sebelum mereka menemukan Yoona di rumahmu.”

 

“Jenderal Lee…”

Dua pria itu menoleh cepat kearah pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. Hyukjae yang melihat Yoona telah sadar dari pingsannya langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya. Perasaan bersalah dan juga menyesal langsung melingkupi hati Hyukjae ketika ia melihat bagaimana kacaunya Yoona saat ini setelah mengalami serangkaian kejadian yang mengerikan yang dilakukan oleh Donghae padanya.

“Aku tidak apa-apa oppa, jangan merasa bersalah seperti itu.” Hibur Yoona menenangkan. Wanita itu mencoba tersenyum tulus pada Hyukjae dan terus meyakinkan Hyukjae jika ia baik-baik saja. Ia sadar jika semua ini bukan serta merta kesalahan Hyukjae, tapi kesalahannya yang memaksa masuk ke dalam rumah Donghae. Jadi ia tidak akan menyalahkan siapapun atas kejadian yang menimpanya hari ini. Ia cukup menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu keras kepala dan terobsesi pada Donghae.

“Maaf, wajahmu terluka dan lehermu juga membiru.”

“Tidak apa-apa oppa, lagipula oppa sudah mengobatiku.”

“Bukan aku yang melakukannya, tapi…”

Tanpa perlu mendengarkan penjelasan Hyukjae lebih lanjut, Yoona langsung menoleh kearah Donghae yang juga sedang menatapnya. Tatapan mata pria itu masih terlihat sama, dingin dan penuh misteri. Yoona kemudian menyunggingkan senyum lembut pada Donghae sambil menggumamkan kata-kata terimkasih yang mampu dipahami Donghae dengan jelas.

“Aku tahu kau adalah orang yang baik jenderal Lee.”

Donghae segera mengalihkan tatapan matanya kearah lain agar ia tidak perlu merasa kasihan saat melihat Yoona. Wanita itu jelas-jelas terlihat seperti ular baginya karena sewaktu-waktu dapat menyemburkan bisa yang sangat mematikan padanya. Jika ia lengah, maka seluruh hatinya akan dengan mudah menerima wanita itu ke dalam hidupnya. Dan ia tidak mau itu terjadi.

“Sekarang kita harus menyusun rencana untuk memulangkan Yoona tanpa dicurigai oleh menteri Im. Kau harus bertanggungjawab atas semua perbutanmu hari ini Hae.”

Donghae mendengus gusar dan segera menarik Yoona dari dekapan Hyukjae.

“Apa yang akan kau lakukan pada Yoona?” Tanya Hyukjae was-was. Ia sudah bersiap untuk menarik Yoona lagi dari cekalan tangan Donghae jika Donghae berniat melakukan hal buruk lagi pada Yoona. Namun jawaban yang dilontarkan oleh Donghae berhasil membuatnya lega dan membatalkan niatnya untuk membawa Yoona kembali ke dalam pelukannya.

“Aku akan memulangkan Yoona, tapi dengan sedikit sandiwara.” Ucap Donghae santai dengan seringaian andalannya. Yoona tampak pasrah di bawah cekalan tangan Donghae ketika pria itu menariknya menuju mobil dan memasangkan sabuk pengaman secara rapi di tubuhnya.

“Jangan coba-coba melapor pada ayahmu atau presiden Kang. Karena hari ini aku sudah berbaik hati membiarkanmu hidup nona Yoona.” Desis Donghae mengerikan. Yoona hanya tersenyum kecil menanggapi ancaman Donghae sambil mengangguk santai.

“Kau tenang saja jenderal, aku tidak akan mengatakan apapun pada ayahku karena aku masih memiliki perasaan untukmu.”

Donghae langsung menghempaskan pintu mobilnya begitu saja setelah Yoona berhasil membuatnya jengkel karena pernyataan cinta yang selalu didengungkan wanita itu di hadapannya. Apa wanita itu buta hingga tidak bisa membedakan antara pria waras dan pria sakit jiwa? Yoona benar-benar wanita bodoh karena memilih mencintai seorang sociopat seperti Lee Donghae.

-00-

Dan sandiwara yang mereka rencanakan akhirnya benar-benar dimulai. Pertama Donghae mengantarkan Yoona ke kediaman menteri Im sambil membawa bukti mayat korbannya yang hari ini ia siksa. Donghae mengambinghitamkan orang itu sebagai penyerang Yoona. Lalu ia dengan penuh ketenangan menceritakan pada tuan Im jika ia berhasil menyelamatkan Yoona setelah menerima laporan dari Lee Hyukjae jika Yoona menghilang. Dan dengan penuh terimakasih tuan Im merangkul tubuh Donghae dan mengajak Donghae masuk ke dalam rumahnya. Malam ini, pria yang merupakan sociopat itu telah menjadi seorang super hero bagi menteri Im. Dan semua itu juga berkat kemampuan akting Yoona yang berhasil meyakinkan menteri Im jika ia telah diculik dan disiksa hingga pipinya tergores lalu diselematkan oleh Donghae.

“Ayah, jenderal Lee malam ini telah melindungiku dengan baik. Bahkan ia juga mengobati luka-lukaku sebelum aku diantarkan pulang ke rumah.” Ucap Yoona sungguh-sungguh. Apa yang Yoona katakan adalah sebuah kebenaran karena yang mengobati luka-lukanya adalah Lee Donghae sendiri. Meskipun pria itu juga yang telah menyakitinya.

“Jenderal Lee, aku benar-benar berterimakasih padamu. Kau telah membawa putriku kembali padaku. Aku sungguh tidak bisa membayangkan jika penjahat itu berhasil melukai putriku lebih jauh, aku pasti tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.”

“Itu memang sudah menjadi tugasku.” Jawab Donghae karismatik. Ketenangan dan kepiawaian Donghae dalam memikat orang lain membuat semua orang tidak akan pernah menyangka jika Donghae adalah seorang sociopat yang sangat berbahaya. Semua gerak gerik yang ditunjukan oleh Donghae selalu bersih dan rapi, sehingga kegialaan yang selama ini ia tutupi dengan wajah angkuhnya itu tidak akan pernah diketahui oleh siapapun. Termasuk keluarga angkatnya sendiri.

“Ayah, tapi aku benar-benar takut. Bagaimana jika orang-orang yang menyerangku itu muncul lagi?” Tanya Yoona sambil melirik Donghae. Wanita itu sengaja memancing ayahnya untuk memberikan penjagaan ekstra padanya agar ia bisa menjerat pria itu ke dalam sandiwaranya sendiri.

“Tenanglah sayang, ayah tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu lagi. Ayah akan meminta pasukan khusus untuk terus mengawalmu.”

“Tapi ayah…”

Yoona lagi-lagi melirik Donghae untuk melihat reaksi pria itu yang masih tetap dingin. Namun dibalik ekspresi dingin itu, Yoona tahu jika Donghae sebenarnya sedang mengintimidasinya.

“Ya, ada apa?”

“Aku tidak suka diikuti oleh banyak orang. Itu akan terlihat sangat mencolok dan seakan-akan aku adalah putri dari orang penting. Lebih baik ayah meminta jenderal Lee untuk menjadi pengawalku. Bukankah jenderal Lee adalah jenderal terhebat yang dimiliki Korea Selatan? Ia pasti bisa menjagaku tanpa perlu melibatkan banyak pasukan.”

Yoona tersenyum penuh kemenangan sambil melirik Donghae yang saat ini sedang menahan amarahnya sambil memberikan tatapan dingin yang sangat menusuk padanya. Ia tahu jika pria itu akan berusaha untuk menghindarinya setelah kejadian ini dan ia akan kehilangan kesempatan untuk membuat Lee Donghae mencintainya. Jadi ia sengaja meminta ayahya untuk menjadikan Lee Donghae sebagai pengawalnya agar pria itu tidak bisa menghindarinya atau menjauh darinya.

 

Sekarang kau masuk ke dalam perangkapku jenderal Lee

 

“Baiklah jika itu maumu. Jenderal Lee, mulai sekarang jadilah pengawal untuk putriku. Aku akan meminta ijin pada presiden Kang dan menyuruhnya untuk membuatkan surat perintah secara resmi.”

Donghae terlihat tidak bisa menolak perintah dari menteri Im. Apa yang diminta oleh menteri Im merupakan bagian dari tugasnya. Jika ia menolak permintaan itu di depan seluruh anak buahnya, maka ia akan kehilangan harga dirinya sebagai jenderal. Karena jenderal yang baik adalah jenderal yang mau melakukan apapun demia kebaikan dan keselamatan warga sipil.

“Baik menteri Im, saya akan menjadi pengawal untuk putri anda.”

-00-

Dua minggu setelah kejadian itu, kini Donghae benar-benar menjadi pengawal Yoona. Setiap hari pria itu mengikuti kemanapun Yoona pergi. Bahkan ia juga harus mengikuti Yoona ketika wanita itu sedang berkencan dengan Taecyeon. Kemanapun Yoona melangkah, Donghae pasti selalu berada di belakangnya. Tapi meskipun begitu sikap Donghae pada Yoona tidak pernah berubah. Pria itu tetap menunjukan sikap dinginnya pada Yoona setiap Yoona mencoba mendekati pria itu. Tapi hal itu tidak pernah menjadi masalah untuk Yoona, karena ia yakin suatu saat perjuangannya pasti tidak akan sia-sia.

“Yoona, kenapa kau terus meminta Donghae hyung menjadi pengawalmu? Bukankah semuanya baik-baik saja?”

Taecyeon suatu saat bertanya pada Yoona ketika mereka sedang makan siang di sebuah restoran cepat saji di pusat perbelanjaan Seoul. Dua meja di belakang mereka, duduk Lee Donghae sendiri dengan kaca mata hitam yang membingkai iris tegasnya. Pria itu tampak begitu kaku sambil mengamati gerak gerik Yoona dari jauh. Dan disaat yang bersamaan Yoona juga tengah melirik pria itu sambil menyunggingkan senyum penuh makna yang hanya dipahami oleh Donghae.

“Biarkan saja, bukankah itu memang tugasnya?” Jawab Yoona acuh tak acuh. Donghae mengarahkan tatapan tajamnya kearah Yoona karena pria itu dapat mendengar dengan jelas setiap pembicaraan yang tengah dilakukan oleh Yoona dan juga adiknya. Sejak awal ia sadar jika semua ini adalah akal-akalan Yoona untuk membalasnya. Untungnya hingga sejauh ini Yoona tidak membuat kesabarannya habis seperti dulu, sehingga semuanya berjalan lancar selama ia menjadi pengawal wanita manja itu.

“Oppa, apa kau pernah memiliki kekasih?”

“Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?”

Taecyeon tampak kikuk dengan pertanyaan Yoona seputar kekasih. Ia sejauh ini belum memiliki kekasih. Tapi ia menjalani kehidupan percintaan yang bebas di Kanada karena ia tetaplah pria normal yang membutuhkan wanita di sisinya.

“Hanya ingin bertanya. Aku tidak mau pernikahan kita hancur karena wanita lain. Jadi aku ingin oppa jujur padaku sekarang, apa oppa memiliki kekasih atau seorang wanita yang dekat dengan oppa?”

Taecyeon tampak ragu untuk menjawabnya. Ia takut Yoona akan marah jika ia mengatakan hal yang sejujurnya.

“Hanya teman dekat. Tapi dia bukan kekasihku, jadi kau tenang saja Yoong.”

Yoona mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dan tampak tak berminat untuk mengorek informasi lebih lanjut mengenai wanita itu. Ia justru lebih tertarik pada Donghae yang tiba-tiba sudah didekati oleh dua orang wanita cantik yang ingin bergabung bersamanya di mejanya yang kosong.

“Hyung memang populer.” Komentar Taecyeon ketika ia mengikuti arah pandang Yoona. Yoona yang semula tidak fokus, kembali terfokus pada Taecyeon dan bertanya pada pria itu.

“Apa? Kau mengatakan apa?” Ulang Yoona seperti orang bodoh. Taecyeon terkekeh pelan sambil mencubit pipi Yoona gemas.

“Hyungku memang populer. Lihat, ia sudah mendapatkan dua wanita di sisinya. Andai ia bukan pria kaku dan dingin, ia pasti sudah memiliki kekasih. Sayangnya ia memang memilih untuk sendiri. Ia terlalu mencintai pekerjaanya daripada wanita.” Ucap Taecyeon sambil tertawa kecil. Yoona menatap Donghae dalam diam sambil terus memperhatikan sikap Donghae yang tampak tidak nyaman dengan kehadiran dua wanita di sampingnya. Terlebih lagi mereka terlihat sangat agresif dengan terus menanyai Donghae ini itu hingga membuat Donghae ingin melempar mereka jauh-jauh dari kursi yang mereka duduki. Merasa kasihan, akhirnya Yoona memilih mendekati Donghae dan merangkul lengan pria itu.

“Sayang, ayo kita pergi. Aku mendadak ingin makan di tempat lain.”

Donghae tak berkomentar apapun dan segera pergi meninggalkan dua wanita berisik yang tadi terus mengganggunya. Mereka kemudian menghampiri Taecyeon dan berpamitan pada pria itu dengan alasan masih memiliki banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan.

“Oppa, aku sepertinya harus pergi sekarang. Aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

“Baiklah, kalau begitu hati-hati. Oya, jangan lupa untuk melakukan fitting baju besok pagi supaya pemilik butik itu memiliki waktu untuk memperbaiki gaunmu jika kau merasa kurang nyaman atau kau merasa kurang bagus. Seminggu lagi resepsi pernikahan kita akan segera dilangsungkan. Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu lagi Yoong.”

Taecyeon menarik Yoona mendekat dan mencium kening wanita itu mesra. Sedangkan Yoona tampak begitu pasrah sambil melirik gugup pada Donghae. Ia ingin tahu bagaimana reaksi pria itu melihat kemesraanya dengan sang adik. Tapi sayangnya apa yang diinginkan Yoona tidak terjadi. Lee Donghae tampak baik-baik saja dan sama sekali tidak terganggu dengan kemesraan yang terjadi antara dirinya dan juga Taecyeon.

Setelah cukup lama mencium kening Yoona, Taecyeon melangkah mundur dan tersenyum manis kearah Yoona.

“Hati-hati di jalan. Hyung, tolong jaga calon isteriku dengan baik.”

Donghae mengangguk sekilas pada Taecyeon dan segera berjalan pergi mengikuti langkah Yoona yang menjauh.

Selama di perjalanan tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan kata-kata. Yoona yang biasanya selalu cerewet, memilih untuk membungkam bibirnya rapat-rapat sambil menatap jalanan di depannya dengan tatapan kosong.

Seminggu lagi ia dan Taecyeon akan melangsungkan pernikahan mereka. Ia belum berhasil membuat Donghae mencintainya. Padahal ia sudah berusaha menggoda pria itu agar tertarik padanya. Namun semuanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Lee Donghae tetap saja bersikap dingin padanya dan juga acuh tak acuh, seperti tidak ada hal spesial yang terjadi diantara mereka. Padahal Yoona ingin sekali saja pria itu membalas perasaannya.

“Aku ingin ke rumahmu.”

Tidak ada jawaban apapun dari Donghae. Pria itu seakan-akan menulikan pendengarannya dan tetap melajukan mobilnya kearah kediaman menteri Im.

“Kubilang aku ingin ke rumahmu, apa kau tidak mendengarnya!”

Yoona berteriak jengkel di samping Donghae sambil menatap pria itu tajam. Hari ini ia merasa lebih frustrasi dan ingin melampiaskannya dengan melakukan sesuatu. Dan ia rasa ia bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan di rumah Donghae yang sangat mengerikan namun menyimpan daya tarik sendiri untuk dirinya.

“Rumahku tidak terbuka untuk umum.” Ucap Donghae dingin. Ia tidak akan pernah membiarkan Yoona kembali ke rumahnya karena ia bisa saja kehilangan kendali seperti dulu.

“Tapi aku ingin pergi ke rumahmu. Aku ingin belajar menggunakan pisau. Aku sedang frustrasi hari ini.”

Yoona mendesah pelan sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi penumpang yang didudukinya. Ia yakin, Donghae pasti tidak akan mau membawanya ke rumahnya yang penuh dengan senjata-senjata mengerikan itu. Tapi tiba-tiba Donghae memutar laju mobilnya dan membawa Yoona keluar dari area Seoul.

“Kita mau kemana?”

“Ke rumahku.”

“Kau mau membawaku ke rumahmu? Ahhh.. terimakasih jenderal Lee!”

Yoona berteriak girang dan refleks memeluk Donghae dari samping. Mendapat pelukan dari Yoona, Donghae hanya diam. Ia tak benar-benar menyukai pelukan itu, tapi ia juga tak bereaksi apapun agar Yoona menyingkirkan lengannya yang mengganggu dari tubuhnya. Ia benar-benar hanya diam sambil berkonsentrasi pada jalanan lenggang di depannya.

“Kenapa kau memilih menjauhi keluargamu?”

“Karena keluarga hanya akan membuatmu lemah.”

Yoona tertegun dengan jawaban Donghae. Pria itu jelas memiliki masa lalu yang buruk tentang keluarganya, hingga pria itu terlihat begitu antipati dan enggan mendekati kehidupan nyaman presiden Kang. Yoona mencoba membaca raut wajah Donghae yang tampak pias. Ia yakin, disetiap wajah dingin Donghae, pasti selalu tersembunyi sebuah ekspresi yang berusaha disembunyikan oleh pria itu.

“Aku menyukai keluargaku. Meskipun aku hanya memiliki ayah, tapi aku benar-benar mensyukurinya. Dulu aku pernah merasa kesal, kenapa Tuhan sangat kejam padaku. Tuhan mengambil ibuku ketika aku baru saja lahir ke dunia. Tapi semakin dewasa aku semakin sadar jika semua ini adalah bagian dari kehidupan. Aku memang tidak sebahagia teman-temanku yang memiliki orangtua lengkap, tapi aku bisa merasa bahagia dengan cara lain.”

“Cara seperti apa yang bisa membuatmu bahagia?”

Yoona menyunggingkan senyum cerah ketika Donghae terlihat tertarik dengan ceritanya.

“Banyak hal. Salah satunya aku bisa mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dan juga harta yang berlimpah dari ayah. Sedangkan temanku yang memiliki keluarga lengkap tidak memiliki keberuntungan finansial yang sama denganku. Lalu bagaimana denganmu jenderal?”

“Kau tidak perlu mengetahuinya.”

“Kenapa? Aku sudah menceritakan masa laluku, seharusnya kau juga melakukannya?”

“Huh, aku tidak sama sepertimu.”

Yoona mulai menyerah untuk memaksa Donghae bercerita padanya. Pria itu terlalu tertutup hingga rasanya sangat sulit untuk menembus lapisan tebal itu. Tapi bukan berarti ia tidak bisa melakukannya. Suatu saat nanti ia pasti bisa melakukannya.

“Turunlah, kita sudah sampai.”

Yoona menatap bangunan megah di depannya sambil bergidik ngeri. Masih segar diingatannya bagaimana dulu Donghae memperlakukannya dengan kasar di rumah itu. Namun ia sudah bertekad pada dirinya sendiri untuk melawan semua ketakutan itu. Selama ini ia hanya berpura-pura terlihat baik-baik saja di depan semua orang, termasuk Donghae. Tapi sebenarnya ia menyembunyikan trauma yang begitu besar di kepalanya. Terkadang ia mengalami mimpi buruk dan melihat Donghae membunuhnya dengan keji. Dan mimpi itu benar-benar membuatnya tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini.

“Kau… tidak akan mencekikku lagi kan?”

Donghae menatap Yoona sekilas dan memberikan wanita itu seringaian mengerikan yang sering ia tunjukan pada musuh-musuhnya.

“Kita lihat saja nanti.”

Yoona mencoba tenang dengan menghembuskan napasnya kuat-kuat dari rongga dadanya. Ia harus bisa melawan rasa traumanya.

“Jenderal Lee, kenapa kau memilih rumah ini sebagai tempat tinggalmu?”

Yoona tak bisa menahan rasa ingin tahunya ketika mereka mulai masuk ke dalam rumah Donghae. Kali ini mereka masuk secara baik-baik melalui pintu utama, tidak melalui pintu basement yang tampak suram di belakang rumah Donghae.

“Rumah ini terasa cocok untukku.”

Yoona mengamati isi rumah Donghae yang tampak polos tanpa sentuhan apapun di dalamnya. Pria itu bahkan hanya meletakan satu sofa putih di tengah-tengah ruang tamu yang luas dan juga sebuah meja sederhana di tengahnya. Namun menurut Yoona sofa dan meja itu tidak pernah digunakan, hanya sering dibersihkan sekali dalam seminggu karena sofa itu terlihat sangat bersih, seperti tidak pernah diduduki.

“Siapa saja yang pernah datang ke rumah ini?”

“Hyukjae dan beberapa anak buahku.”

“Kau tidak pernah mengundang wanita ke sini?” Tanya Yoona berniat menggoda. Namun rupanya Donghae menanggapi serius pertanyaan itu.

“Satu-satunya wanita yang pernah menerobos masuk ke dalam rumahku adalah kau. Beruntung aku tidak membunuhmu saat itu karena aku tidak pernah suka jika orang lain mengganggu wilayah teritoriku.”

“Rumahmu bagus, untuk ukuran seorang sociopat sepertimu. Kenapa kau menyembunyikannya dari orang lain? Apa karena rumah ini juga kau gunakan untuk mengeksekusi korban-korbanmu?”

Yoona kini berada di dalam ruang baca milik Donghae. Ia tak menyangka jika Donghae memiliki ruang baca yang cukup nyaman dan juga koleksi buku-buku yang lumayan banyak. Yoona menggunakan kesempatan itu untuk mencari buku-buku yang sekiranya menarik minatnya. Tapi daripada melihat buku-buku itu, Yoona sejujurnya lebih tertarik pada pemiliknya.

“Rumah ini kubangun bukan untuk kupamerkan tapi untuk meredam sisi gilaku. Kau sendiri cukup tahu jika aku bukanlah pria normal seperti pria-pria yang kau temui selama ini. Aku adalah pembunuh.”

Yoona cukup miris dengan ucapan pria itu. Secara tak langsung Donghae telah merendahkan dirinya sendiri sebagai pembunuh. Padahal pria itu tak seburuk itu. Donghae masih memiliki sisi positif yang tidak pernah disadari oleh pria itu.

“Jangan menganggap rendah dirimu sendiri jenderal, kau tidak seburuk itu.”

Entah memiliki keberanian darimana, tapi saat ini Yoona sedang memeluk tubuh tegap Donghae dari belakang. Yoona menyandarkan kepalanya untuk beberapa saat di punggung tegap itu sebelum Donghae melepaskan belitan lengannya dan berjalan menjauhinya.

“Ayo kutunjukan bagaimana cara mengatasi rasa frustrasimu.”

Yoona mengikuti langkah Donghae menuju ruang bawah tanah yang dulu digunakan untuk menyiksa korbannya. Ketika Yoona mulai menuruni undakan gelap di depannya, ia merasa bulu kuduknya sedikit merinding. Dulu ia pernah melihat orang lain terluka di tempat itu dan ia juga pernah terluka di sana. Rasanya ia ingin berhenti berjalan dan kembali ke ruanga baca yang nyaman di lantai dua. Tapi ia sudah bertekad untuk menyembuhkan ketakutannya, sehingga ia terus berusaha melangkahkan kakinya ke bawah, mengikuti lengkah lebar Donghae yang sudah lebih dulu sampai di ujung tangga.

“Jjjenderal, kenapa gelap sekali? Aku tidak bisa melihat apapun di sini. Ahhh…”

Yoona hampir saja terpeleset undakan batu licin yang dipijaknya. Beruntung Donghae dengan sigap berhasil menarik lengannya dan menjaganya agar tidak jatuh berguling-guling di atas undakan batu yang keras.

“Kecerobohanmu bisa membuatmu merenggang nyawa nona Im.”

Yoona mendengus kesal. Selalu saja pria itu memberi peringatan dengan kalimat-kalimat mengerikan yang sangat tidak ingin ia dengar. Sesekali ia ingin mendengar Donghae mengucapkan sesuatu yang romantis padanya dan membuatnya melambung dengan sikap lembutnya.

“Bisakah sekali saja kau bersikap lembut? Pantas kau tidak memiliki kekasih. Tidak akan ada wanita yang mau mendekatimu jika kau terus bersikap dingin seperti ini.”

“Aku tidak berniat untuk memiliki kekasih. Jadi aku tidak perlu bepura-pura lembut untuk menjerat mereka. Bahkan tanpa aku bersikap romantispun seorang wanita bodoh justru mengumpankan dirinya sendiri padaku.”

Yoona menganga tak percaya dengan jawaban Donghae yang sarat akan sindiran itu. Ia tahu siapa wanita bodoh yang dimaksud oleh pria itu karena ia tidak bodoh untuk mengartikan setiap makna yang tersirat dari kalimat-kalimat itu.

“Ajari aku bermain pisau.”

“Seperti ini?”

Slap

Yoona berjengit di tempat ketika sebuah pisau tiba-tiba melayang ke sampingnya. Namun kali ini pisau itu tidak mengenainya karena Donghae memang tidak mengarahkan pisau itu kearahnya. Tapi ia cukup terkejut dengan kemunculan pisau itu yang tiba-tiba.

“Terakhir kali kau berdiri di sana, aku melukai wajahmu yang berharga itu. Apa kau tahu, kau memiliki darah yang sangat manis.”

Yoona tahu itu bukan kalimat godaan yang ditunjukan oleh seorang pria pada kekasihnya. Namun Yoona merasakan pipinya tiba-tiba memanas ketika Donghae mengatakan hal itu padanya.

“Kau suka mencicipi rasa darah? Benar-benar aneh!”

“Tidak juga. Kutunjukan bagaimana cara mencicipi darah yang sesungguhnya.”

“Aaaahh..”

Yoona memekik terkejut ketika Donghae menarik tangannya dan mencium bibirnya penuh nafsu. Pria itu menggerakan bibirnya brutal hingga Yoona tidak bisa mengimbangi ciumannya yang sangat gila. Ditengah-tengah ciuman mereka yang penuh nafsu, Yoona tiba-tiba merasakan rasa asin di dalam mulutnya. Semakin lama rasa asin itu semakin kuat hingga ia merasa seperti baru saja menelan garam. Namun ia segera menyadarinya jika rasa asin yang baru saja dicecapnya adalah rasa darah. Pria itu tanpa ia sadari telah melukai bibirnya.

Jadi inikah kesakitan yang tertutupi oleh kenikmatan?

            “Rasa darahmu masih tetap sama, manis.”

Donghae menyeka sudut bibirnya yang terkena sedikit noda darah dari bibir Yoona  yang digigitnya. Ia kemudian menjulurkan tangannya dan mengelus sudut bibir Yoona yang masih mengeluarkan sedikit darah karena luka gigitan yang ia berikan. Tapi hebatnya ia berhasil melukai wanita itu tanpa membuat wanita itu kesakitan. Justru Yoona terhanyut dalam permainannya yang penuh tipu muslihat itu.

“Perhatiakan musuhmu Yoona, jika kau tidak waspada kau akan dikalahkan dengan mudah.”

“Aku tidak menganggapmu musuhku, jadi jangan mengatakan seolah-olah aku ini wanita bodoh yang berhasil kau perdaya dengan ciuman penuh nafsumu. Kau pasti bohong jika kau mengatakan tidak pernah berdekatan dengan wanita. Caramu menciumku menunjukan jika kau adalah seorang pencium yang handal.”

“Yahh… tidak terlihat dekat dengan wanita bukan berarti tidak pernah mencicipinya Yoona.” Jawab Donghae santai dengan smirk andalannya. Yoona menganga tak percaya sambil menatap pria itu sungguh-sungguh untuk meminta kepastian. Sayangnya Donghae terlihat tak mau melanjutkan obrolan mereka seputar wanita dan justru memberinya sebuah pisau berukuran sedang yang tampak begitu runcing.

“Cobalah untuk melempar tepat di titik sasaran itu.”

“Huh, ini mudah. Aku pasti bisa melakukannya.” Ucap Yoona sombong sambil mengayunkan tangan kanannya untuk melempar benda runcing itu. Dan apa yang terjadi sungguh di luar dugaan Yoona karena pisau itu ternyata meleset.

“Ahh, ini pasti karena pisaumu yang tidak tajam. Aku akan mencobanya sekali lagi.”

Yoona mengambil sebuah pisau yang berukuran lebih besar dari pisau pertama. Ia pun mulai mengayunkan tangan kanannya dan mengarahkan seluruh energinya pada benda runcing yang digenggamnya. Ia tidak boleh terlihat bodoh di depan Lee Donghae. Tapi, lagi-lagi ia meleset. Pisau ke dua justru melesat jauh dari titik sasaran dan berakhir jatuh di atas tanah dengan bunyi klontang yang cukup nyaring. Yoona mengambil lagi pisau ke tiga. Ia seperti terlalu bernafsu untuk terlihat hebat di depan Donghae hingga ia terlalu terburu-buru dan mengesampingkan tekhnik.

“Hentikan!”

Donghae merebut pisau ke tiga dari Yoona dan melemparnya tepat mengenai titik sasaran. Yoona mendengus gusar dan menatap Donghae kesal.

“Baiklah, kau menang. Kau hebat, dan aku bodoh!”

“Sombong!” Balas Donghae sakarstik. Pria itu mengambil sebuah pisau dari kotak pisau di depannya, lalu menggenggamkan benda runcing itu di tangan Yoona. Setelah itu ia mulai mengajari Yoona bagaimana cara memegang pisau yang benar dan juga bagaimana ancang-ancang yang pas supaya pisau itu dapat melesat jauh dan menancap dengan tepat di tengah-tengah titik sasaran.

Ketika Donghae membungkuk di sisi wajahnya, Yoona merasa jantungnya benar-benar akan melompat dari rongganya. Ia merasa wajah Donghae begitu dekat dan gerakan pria itu di sampingnya begitu intim, padahal mereka hanya sedang belajar melempar pisau. Tapi tetap saja Yoona merasa itu bukan hanya sekedar berlatih karena ia sama sekali tidak fokus dengan instruksi yang diberikan oleh Donghae.

Slap

Yoona berjengit kaget ketika pisau itu tiba-tiba sudah melesat jauh di depannya. Sejak tadi ia terlalu sibuk mengagumi wajah Donghae hingga ia tidak sadar jika pisau itu sudah terlempar jauh dari tangannya dan menancap sempurna pada titik sasaran.

“Kau tidak memperhatikannya bukan?”

“Aap apa? Tidak, aku memperhatikannya.” Jawab Yoona tergagap. Donghae terkekeh di depannya dan membuat Yoona seketika terpana. Ini adalah kali pertama ia melihat Donghae tertawa di depannya, meskipun bukan jenis tawa yang keras, tapi ia merasa itu adalah sebuah kemajuan untuk Lee Donghae.

“Kau tertawa?” Tanya Yoona terpana. Donghae menghentikan kekehannya dan menatap Yoona aneh.

“Aku tetaplah manusia biasa.”

Jawaban singkat Donghae membuat Yoona sadar jika Donghae sebenarnya tidak sekaku itu. Selama ini ia hanya belum menemukan obyek yang lucu yang bisa membuatnya tertawa.

 

Jadi apakah aku lucu? Aku rela terlihat bodoh di depanmu jika itu bisa membuatmu tertawa jenderal Lee..

 

Yoona tertegun cukup lama dengan pikirannya sendiri. Ia ingin membuat Donghae terus tertawa di depannya dan menjadikan pria itu pria normal yang benar-benar normal tanpa kesakitan dari masa lalu. Sayangnya ia hampir kehabisan waktu. Seminggu lagi ia akan menikah dengan Taecyeon. Dan hingga sejauh ini ia hanya mampu membuat perubahan kecil pada diri Lee Donghae. Apa lagi yang harus ia lakukan pada pria itu setelah ini?

“Sejak kapan kau suka bermain pisau?”

“Sejak aku berada di camp pelatihan. Pelatihku yang mengajarinya karena ia tahu aku memiliki hal lain yang tidak sama seperti rekan-rekanku.”

“Kapan pertama kali kau membunuh orang?”

Yoona merasa seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi tahanannya. Namun ia benar-benar penasaran dengan masa lalu pria itu. Terlalu banyak yang disembunyikan hingga ingin mengorek informasi itu satu persatu agar ia bisa memahami Donghae lebih jauh.

“Ketika aku berumur sembilan belas tahun. Kenapa, kau takut?”

Yoona menggeleng. Yoona sama sekali tidak takut. Ia justru merasa bangga karena Donghae mau berkata jujur padanya. Sangat sulit menemukan pria yang benar-benar akan jujur di depan seorang wanita. Terlebih pria itu memiliki cerita yang kelam di masa lalu.

“Apa kau mencintai keluarga angkatmu?”

“Tentu saja. Aku sangat bersyukur karena dulu aku diadopsi oleh presiden Kang. Jika aku saat itu tidak berusaha kabur dari panti asuhan dan menabrak presiden Kang dan isterinya yang sedang berjalan-jalan, mungkin aku akan menjadi Lee Donghae yang lebih mengerikan dari ini. Panti asuhan tempat aku tinggal dulu tidak memperlakukan kami dengan baik. Mereka memaksa anak-anak untuk bekerja demi menunjang kehidupan mewah pemilik panti. Berada di sana rasanya seperti berada di Neraka. Ditambah lagi aku memiliki pengalaman buruk dengan keluargaku, ayah dan ibuku dibunuh oleh pamanku sendiri karena keserakahan pamanku. Tapi ayahku memang terlalu bodoh. Ia terlalu mengagung-agungkan ikatan keluarganya hingga ia tidak sadar jika selama itu ia selalu ditipu oleh pamanku. Dan puncaknya ketika ayahku akhirnya menyadari perbuatan pamanku. Ayahku akan melaporkan paman pada polisi karena telah menggelapkan banyak uang perusahaan untuk kesenangan pribadi. Namun sebelum ayahku melaporkannya, ayah dan ibuku sudah lebihdulu dibunuh oleh pamanku. Lalu aku dikirim ke panti asuhan mengerikan itu dan ditinggalkan begitu saja tanpa sepeser uang, bahkan baju. Dan hari itu semuanya dimulai. Aku yang masih sangat kecil, sudah memendam banyak luka di dalam diriku. Aku menjadi paranoid dengan ikatan keluarga dan aku tidak pernah benar-benar mempercayakan sesuatu pada orang lain. Jika kau bertanya pada presiden Kang mengenai masa laluku, dia pasti tidak akan bisa menceritakannya dengan pasti karena ia sendiri tidak tahu bagaimana diriku yang sesungguhnya. Aku selalu memasang topeng di depannya dan juga di depan ibuku. Yang mereka tahu adalah sosok diriku yang penuh prestasi dan ketangguhan. Tapi mereka tidak tahu sisi kelamku. Kau adalah orang pertama yang mengetahui semuanya. Dan kau harus mendengarkan ini baik-baik.”

Yoona menanti kata-kata Donghae berikutnya dengan perasaan gugup. Ia tidak menyangka jika pria itu akhirnya memilih terbuka padanya, setelah sekian lama ia melakukan banyak cara untuk membuat pria itu terbuka.

“Terimakasih karena telah mencintaiku, tapi aku tidak bisa membalasnya. Kau harus menikah dengan Taecyeon dan hidup bahagia bersamanya. Meskipun Taecyeon bukan pria sempurna, karena ia sebenarnya juga sama menyedihkannya sepertiku. Sejak kecil Taecyeon terlalu banyak mendapatkan tekanan dari ayah kami hingga ia tumbuh menjadi pria dewasa yang tidak bahagia. Tapi aku melihat ia sangat bahagia saat bersamamu, jadi bahagiakanlah dia. Dia adalah satu-satunya adik yang kumiliki. Jika dia bahagia, aku pasti juga akan bahagia.”

Yoona tanpa sadar telah menitikan air matanya. Ini adalah sebuah pembicaraan paling emosional yang pernah ia lakukan. Bagaimana mungkin seorang pria dingin dan sociopat seperti Donghae masih memikirkan kebahagiaan orang lain. Seharusnya pria itu bersikap egois dan tidak memikirkan kebahagiaan keluarganya. Nyatanya Lee Donghae tidak seperti itu. Ia masihlah memiliki hati nurani yang sangat bersih di dalam hatinya yang paling dalam yang selama ini selalu tertutupi oleh sikap kejamnya yang ternyata adalah bentuk dari sebuah kesakitan di masa lalu. Yoona masih terisak-isak sendiri dengan pikirannya tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun pada Donghae. Sedangkan Donghae hanya membiarkan Yoona menangis, tanpa berniat untuk menghentikannya.

“Kenapa kau masih memikirkan kebahagiaan orang lain? Apa kau tidak ingin bahagia?”

“Bagiku melihat keluargaku bahagia, itu sudah cukup. Aku tidak perlu lagi memikirkan kebahagiaan untukku sendiri. Itu…”

“Lalu bagaimana dengan kebahagiaanku? Kau tidak memikirkannya?” Sela Yoona cepat. Wanita itu masih mengeluarkan air matanya di depan Donghae tanpa berniat untuk mencegah air mata itu menetes. Entah kenapa hari ini ia terlalu emosional. Semua hal yang diceritakan oleh Donghae dan perasaanya yang tak terbalas memicu semua air mata itu tumpah dari rongga matanya. Jika dipikir-pikir pria itu kejam. Ia memastikan keluarganya sendiri bahagia, tapi ia tidak memastikan kebahagiaan Yoona.

“Kau pasti akan bahagia suatu saat nanti.”

“Bagaimana mungkin aku akan bahagia jika aku menikahi orang yang tidak kucintai. Kau terus saja memikirkan perasaan keluargamu tapi kau tidak memikirkan perasaanku. Pernikahan tanpa cinta itu sama saja dengan hidup di neraka. Kau sendiri tahu bagaimana rasanya hidup seperti di neraka, tapi kau justru mendorongku untuk masuk ke dalam neraka. Apa kau tidak bisa sedikit saja membalas perasaanku?”

“Tidak, aku tidak bisa. Kau bukan bagian dari keluargaku, jadi aku tidak perlu memikirkan kebahagiaanmu.”

Donghae berucap sinis dan segera berjalan pergi meninggalkan Yoona. Kini pria itu telah kembali menjadi Lee Donghae yang dingin dan angkuh. Semua kelembutan yang ditunjukan pria itu tadi seakan telah menguap dari dirinya dan digantikan dengan sosok Lee Donghae yang sesungguhnya.

Yoona menangis sesenggukan di dalam basement itu sambil menekan dadanya yang terasa sakit. Kisah cintanya benar-benar akan berakhir tragis. Ia menyesal telah menyukai Lee Donghae sejak ia masih duduk di bangku high school. Jika ia bisa meminta pada Tuhan, ia ingin mencintai pria lain yang benar-benar akan membalas cintanya daripada mencintai seorang pria dingin dan tak berperasaan seperti Donghae. Hatinya benar-benar sakit, dan ia merasa tidak sanggup menatap masa depannya. Ia telah benar-benar hancur menjadi serpihan debu yang hanya tinggal menunggu angin untuk menerbangkannya.

-00-

Keesokan harinya Yoona tak pernah lagi melihat Donghae. Pria itu dengan teganya pergi setelah menghancurkan hatinya menjadi serpihan debu. Tanpa mengatakan padanya, Lee Donghae menerima tugas untuk menjadi duta perdamaian di negara perang di daerah timur tengah, dan tugas pria itu untuk menjadi pengawalnya telah digantikan oleh orang lain. Namun Yoona telah meminta pada ayahnya untuk menghentikan pengawalan itu karena ia yakin ia akan terus baik-baik saja tanpa adanya pengawalan seperti sebelumnya. Toh orang yang menyakitinya telah pergi, untuk apa lagi ia dilindungi. Sejak awal mereka hanya bersandiwara untuk menutupi kegilaan Donghae yang sangat mengerikan. Jadi Yoona yakin jika ia akan baik-baik saja tanpa adanya pengawal disekitarnya.

“Aku tidak perlu pengawal lagi ayah. Lagipula aku juga ingin fokus dengan pernikahanku tiga hari lagi. Jadi aku akan menghabiskan banyak waktu bersama teman-temanku hingga malam pernikahanku. Ayah tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja.”

“Tapi ayah tidak mau mengambil resiko seperti dulu. Ayah tidak mau putri ayah terluka.”

“Ayah, percayalah padaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kali ini aku benar-benar akan baik-baik saja.” Mohon Yoona sungguh-sungguh. Menteri Im tidak bisa berkata tidak bila putrinya telah memberikan tatapan penuh permohonan padanya. Ia pun dengan berat hati menganggukan kepala dan mengijinkan Yoona untuk terbebas dari pengawalnya.

“Baiklah, kau tidak akan diikuti oleh pengawal lagi. Tapi kau harus berhati-hati dan jangan membuat ayah khawatir.”

“Aku janji ayah. Aku tidak akan membuat ayah terkena serangan jantung lagi.” Canda Yoona sambil terkekeh pelan. Im Jaehyuk menatap putri semata wayangnya tak habis pikir sambil menggelengkan kepalanya jenaka. Tapi ada satu hal yang mengganggu dirinya sejak beberapa hari yang lalu. Ia merasa putrinya sedikit berbeda semenjak Donghae mengundurkan diri sebagai pengawalnya karena presiden memberikan perintah untuk menjadi pemimpin pasukan elit dalam misi perdamaian. Sekarang Yoona terlihat lebih pemurung dan tidak bersemangat. Padahal selama ini ia melihat anak gadisnya selalu menggebu-gebu dan penuh dengan ambisi yang ingin ia lakukan di masa depan. Tapi kini Yoona terlihat lebih penurut. Ia tidak banyak membantah keinginannya untuk mempercepat hari pernikahannya dengan Taecyeon dan Yoona lebih sering menghabiskan waktunya di rumah jika ia sedang tidak memiliki pekerjaan di kampus. Padahal dulu hampir setiap hari Yoona mengekorinya kemanapun ia pergi. Entah ia akan pergi ke Blue House atau menghadiri acara-acara kenegaraan yang lain, Yoona pasti akan bersikeras untuk ikut dengan alasan ingin menambah relasi. Tapi semenjak Donghae pergi, Yoona berubah. Putrinya menjadi lebih pendiam dan seperti tidak memiliki semangat hidup. Apa ini karena jenderal Lee? Ia sempat berpikir jika Yoona menyukai jenderal dingin dan angkuh itu. Namun ia segera menepis pikirannya sendiri karena ia tidak mau semakin membebani Yoona yang tampak lebih pemurung itu.

-00-

H-1 sebelum pernikahan mewah Yoona dan Taecyeon dilangsungkan. Sejak pagi kediaman keluarga Kang telah ramai dengan petugas dekorasi dan juga petugas katering yang hendak menyempurnakan hari besar pasangan Yoona dan Taecyeon besok. Karangan bunga dari berbagai pihak terus datang silih berganti hingga memadati halaman luas rumah mewah Kang Hyunjeong. Presiden yang masih berada di Blue Housepun terus menerima berbagai macam ucapan selamat dari berbagai duta negara atas pernikahan putra bungsunya dengan putri menteri Im yang akan dilangsungkan besok pagi. Selain itu hari ini presiden juga tampak berbahagia karena pasukan perdamaian yang dipimpin oleh Donghae berhasil melakukan misi dengan baik. Mereka berhasil menjadi perantara perdamaian antar dua negara yang berseteru dan kini pasukan yang dipimpin Donghae sedang memantau proses pemulihan infrastruktur dua negara yang sangat kacau semenjak terjadinya perang. Namun setidaknya dua negara tersebut sudah berdamai dan warganya mulai bergotong royong untuk membangun negaranya agar menjadi lebih baik dibantu oleh para tentara dari Korea Selatan.

“Jun Shinjung, tolong beritahu supirku untuk menjemput Donghae di bandara. Hari ini ia telah kembali dari Kazakistan.”

“Baik tuan. Apa jenderal Lee sengaja pulang untuk menghadiri pesta pernikahan adiknya?”

“Sepertinya begitu. Meskipun selama ini ia selalu terlihat dingin dan tak peduli, tapi ia sangat menyayangi keluarganya. Aku bisa merasakannya dari setiap perbuatan yang ia lakukan. Ia benar-benar tidak pernah mengecewakanku.” Ucap Kang Hyungjeong bangga. Asisten Jun hanya mengangguk-anggukan kepala dan segera pamit undur diri untuk meminta supir pribadi presiden Kang menjemput Donghae di bandara.

-00-

Siang ini Yoona tampak tak bersemangat. Besok adalah hari pernikahannya, tapi ia justru memikirkan Donghae dan berharap pria itu tiba-tiba akan muncul di hadapannya untuk mencegah semua mimpi buruk yang akan terjadi padanya.

Yoona menelungkupkan tubunya di atas kasur tanpa beniat untuk turun ke bawah dan bergabung bersama para maidnya yang tengah sibuk memasak dan mendekorasi rumahnya agar terlihat cantik di hari penikahannya besok.

Semenjak Donghae pergi, Yoona merasa hampa. Pria itu telah meninggalkan banyak hal untuknya. Kesedihan, kesakitan, dan kebahagiaan. Melalui Donghae, ia menjadi sadar jika di luar sana banyak sekali orang-orang yang tak seberuntung dirinya. Mereka terlihat kuat, namun di dalamnya begitu rapuh. Karena Donghae kini ia memiliki tujuan yang jelas. Jika dulu ia selalu bimbang untuk memilih menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga, kini dengan mantap ia akan memilih untuk menjadi wanita karir. Ia ingin membantu orang-orang yang bernasib sama seperti Donghae agar mereka tidak lagi terpuruk. Ia ingin orang-orang itu bahagia, sama seperti ia ingin Donghae bahagia dan terbebas dari masa lalunya yang menyakitkan.

“Nona, kiriman gaun pengantin anda sudah datang.”

Seorang maid masuk ke dalam kamarnya dan meletakan sebuah kotak besar yang berisi gaun pernikahannya. Ia terlihat tak begitu berminat dengan gaun itu dan hanya membiarkannya teronggok di atas lantai. Baginya gaun itu tidak ada artinya jika ia sama sekali tidak bahagia dengan hari pernikahannya besok. Gaun itu terasa tidak akan pernah sempurna tanpa kebahagiaan dari sang pemakainya.

“Huh.. Jenderal Lee..”

Yoona mendesah pelan sambil membayangkan wajah Donghae yang setiap hari terus menari-nari di dalam otaknya.

“Kenapa kau tega menyakitiku?”

Lagi-lagi Yoona menumpahkan air matanya setiap ia mengingat Donghae dan pembicaraan terakhir mereka di rumah pria itu. Perasaan sesak yang menyeruak di dalam hatinya tidak bisa ia tahan dan membuatnya selalu menitikan air mata setiap ia mengingat perkataan Donghae untuk bahagia. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah bahagia jika bukan pria itu yang menjadi sumber kebahagiaanya. Setelah ini ia mungkin hanya akan hidup sebagai cangkang kosong yang hanya terlihat indah di luar, namun didalamnya ia telah mati.

-00-

Donghae berjalan masuk ke dalam rumah mewah yang sudah lama tak ia kunjungi. Pria itu dengan wajah dingin seperti biasa melewati para penjaga yang berjaga di depan rumah ayah angkatnya yang tampak menunduk hormat ketika melihatnya datang.

“Taecyeon di dalam?” Tanya Donghae pada salah satu penjaga. Penjaga itu menganggukan kepalanya.

“Tuan Taecyeon baru saja datang, sepertinya ia baru saja melakukan pesta bujang bersama teman-temannya. Sedangkan tuan Kang dan nyonya Kang pergi ke Blue House untuk menyambut para tamu dari berbagai negara yang akan menghadiri pesta pernikahan tuan Taecyeon besok pagi.”

Donghae mengangguk mengerti dan segera berjalan ke dalam rumah untuk bertemu adik bungsunya. Ia ingin mengucapkan selamat padanya sebagai seorang kakak. Selama ini ia sadar, ia tidak bisa menjadi sosok hyung yang baik dan tidak pernah ada di saat adiknya membutuhkan dirinya, jadi hari ini ia menyempatkan datang ke rumah ayah angkatnya khusus untuk memberikan selamat pada Taecyeon dan juga meminta maaf karena ia tidak bisa hadir di acara pernikahan adiknya besok. Pasukannya membutuhkan kehadirannya untuk memimpin misi perdamaian yang belum sepenuhnya selesai.

Suara langkah kakinya yang cukup nyaring mulai memenuhi setiap sudut ruangan yang tampak sepi itu. Di ruang tamu Donghae melihat banyak sekali karangan bunga yang dikirimkan untuk menyambut pernikahan adiknya. Seketika Donghae teringat Yoona. Bagaimana kabar wanita itu saat ini? Dan apakah wanita itu bahagia? Kira-kira seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di benak Donghae. Namun Donghae tak mau memikirkannya lebih jauh. Ia tidak boleh membiarkan akal sehatnya dikuasai oleh Yoona, karena ia tidak boleh mencintai wanita itu.

Donghae tiba di depan kamar adiknya dan hendak membuka pintu kayu itu untuk memberikan kejutan pada adiknya. Namun ia justru dikejutkan dengan suara-suara aneh yang berasal dari kamar adiknya. Logikanya mulai berpikir keras untuk menyangkal hal-hal negatif yang sedang berkeliaran di dalam kepalanya. Tapi ia bukan pria polos yang tidak tahu jenis suara apa yang sedang terdengar dari kamar adiknya. Dengan perasaan yang memburu, Donghae langsung mendobrak pintu kamar yang terkunci itu dengan kakinya dan ia menemukan Taecyeon sedang melakukan perbuatan yang sangat menjijikan dengan salah satu maid yang bekerja di rumah ayah angkatnya.

“Kau keluar dan ambil seluruh barang-barangmu sebelum aku melaporkan perbuatanmu pada ayahku dan membunuhmu!”

Wanita itu bergetar ketakutan dan segera memunguti pakaiannya yang tercecer di atas lantai kamar Taecyeon. Sementara itu Taecyeon tampak terkejut dan langsung menyambar pakaiannya untuk menjelaskan pada Donghae apa yang sebenarnya terjadi. Namun seluruh tubuh Donghae telah dipenuhi oleh aura kemarahan yang begitu pekat hingga tanpa pikir panjang Donghae langsung menghujani wajah Taecyeon dengan pukulan bertubi-tubi yang membuat Taecyeon kewalahan dan jatuh tersungkur di atas lantai dengan darah yang menets dari hidung serta bibirnya yang sobek.

“Perbuatanmu benar-benar seperti binatang! Ayah pasti akan kecewa melihatmu seperti ini.”

Taecyeon tidak pernah mengira jika perbuatan bejatnya akan diketahui oleh sang kakak. Terlebih lagi sang kakak memergokinya di malam pernikahannya sendiri. Ia pasti akan mendapatkan masalah karena perbuatannya malam ini.

“Batalkan pernikahanmu dengan Yoona. Ia tidak pantas menikah dengan pria binatang sepertimu!”

Donghae terlihat benar-benar marah dan juga kecewa pada Taecyeon. Apa yang ia pikirkan selama ini tentang adiknya ternyata salah besar. Taecyeon bukanlah adiknya yang polos lagi. Kebebasan selama di Kanada dan banyaknya tekanan dari sang ayah membuat Taecyeon menjadi pria bejat yang tak bermoral. Ia merasa menyesal karena pernah menyuruh Yoona untuk berbahagia bersama Taecyeon karena pada kenyataanya wanita itu justru akan merasakan neraka dunia jika menikah dengan adiknya.

“Hyung… aku bisa jelaskan.”

“Aku tidak mau mendengarkan apapun darimu. Aku akan mengatakan pada ayah untuk membatalkan pernikahanmu dengan Yoona. Yoona tidak pantas mendapatkan pria bejat sepertimu!”

Setelah puas memaki-maki Taecyeon, Donghae segera pergi dari rumah itu dengan wajah marah yang belum sepenuhnya hilang dari dirinya. Ia kemudian menghubungi ayahnya dan meminta pada ayahnya untuk membatalkan pernikahan Taecyeon dengan Yoona karena ia akan menjadi orang yang sangat berdosa bila membiarkan hal itu terjadi. Ia terlalu banyak menyakiti Yoona selama ini, dan ia tidak akan membiarkan Yoona tersakiti lebih dalam lagi.

“Kenapa tiba-tiba kau ingin membatalkan pernikahan adikmu? Ayah akan sangat malu jika pesta itu dibatalkan.”

“Ayah…”

Kang Hyunjeong tertegun. Ini adalah panggilan ayah yang sudah lama tidak diucapkan Donghae padanya. Sejak pria itu menjadi bagian dari anggota militer, putranya itu lebih sering memanggilnya dengan panggilan formal dan tidak pernah lagi memanggilnya ayah. Apa saat ini Donghae sedang mengajaknya berbicara sebagai anak dan ayah?

“Jika ayah tetap membiarkan Taecyeon menikahi Yoona, Yoona akan tersakiti. Taecyeon telah berbuat hal yang tidak pantas dengan salah satu maid di rumah. Ayah harus membatalkan rencana penikahan itu atau ayah akan menyesal karena tidak menuruti kata-kataku.”

“Lalu bagaimana dengan pernikahan itu? Ayah dan ibumu sudah berjanji pada mendiang ibu Yoona untuk menikahkan Yoona dengan salah satu anak ayah agar Yoona memiliki pelindung yang tepat jika kedua orangtuanya telah pergi. Ayah tidak bisa mengingkari janji ayah.”

Donghae mendengar adanya nada frustrasi dari suara ayahnya. Membuat janji memang sangat sulit. Dan ia merasa bertanggungjawab juga dengan janji itu karena ia yang meminta ayahnya membatalkan pernikahan adiknya dengan Yoona.

“Apa ayah masih mengaggapku sebagai anak ayah?”

“Tentu saja. Kau selamanya akan menjadi putra sulung Kang Hyunjeong meskipun kau menolak mengganti margamu menjadi marga ayah, tapi kau tetap putra ayah.”

“Kalau begitu aku yang akan menggantikan Taecyeon, setelah aku menyelesaikan misiku.”

“Baiklah.”

Donghae mengakhiri sambungan ponselnya dan segera mematikan benda persegi itu sebelum ia melangkah masuk ke dalam bandara. Malam ini juga ia harus terbang ke Kazakistan untuk menyelesaikan misinya. Tapi ia cukup merasa lega karena ia telah menyelamatkan masa depan Yoona sebelum wanita itu hancur bersama adiknya. Kini ia berharap semoga Yoona masih bersedia menunggunya hingga ia benar-benar menyelesaikan tugasnya di negara yang sedang berkonflik itu. Tapi jika Yoona memutuskan untuk menikah dengan pria lain jika belum kembali, maka ia akan menerima keputusan wanita itu.

-00-

Pagi itu udara Seoul tampak begitu cerah dan indah. Sejak pagi-pagi sekali kediaman menteri Im sudah disibukan dengan persiapan pesta pernikahan Yoona yang akan diadakan beberapa jam lagi.

Di dalam kamarnya, Yoona sedang mempersiapkan diri untuk menghadiri upacara pemberkatan di sebuah gereja paling bersejarah di Seoul. Sambil mematut di depan cermin, Yoona melihat bayangan dirinya yang tampak sangat menawan menggunakan gaun pengantin panjang yang didesain khusus untuknya. Pagi ini akhirnya tiba, beberapa jam lagi ia akan resmi menjadi isteri dari Kang Taecyeon.

“Hhhuhhh…”

Yoona menghela napas panjang sekali lagi dan mencoba menguatkan dirinya agar ia tidak berpikir untuk kabur sebelum upacara pemberkatannya dimulai. Ini adalah keinginan Donghae. Pria itu akan bahagia jika adiknya bahagia. Maka ia akan berusaha membahagiakan pria itu melalui adiknya. Tak peduli jika saat ini hatinya tengah menahan perih, tapi ia harus tetap berusaha demi kebahagiaan Lee Donghae.

“Kau sudah siap?”

Tuan Im melongokan kepalanya dari ujung pintu sambil menatap putrinya penuh haru. Akhirnya ia bisa menepati janjinya pada mendiang isterinya untuk mengantarkan Yoona menuju kehidupan baru yang akan membawa lebih banyak kebahagiaan untuk Yoona. Meski rasanya berat melepaskan satu-satunya putri yang ia miliki, tapi merasa cukup lega karena ia akan menyerahkan Yoona pada orang yang tepat.

“Ayo, kita sudah hampir terlambat.”

“Tuan, presiden Kang ingin bertemu anda di bawah.”

Tiba-tiba seorang pelayan datang dan menginterupsi suasana haru yang terjadi di tengah-tengah ayah dan anak itu. Dengan sedikit bingung, Im Jaehyuk segera turun ke bawah untuk menemui calon besannya.

Sementara itu Yoona memilih mengintip dari lantai atas karena gaunnya terasa berat untuk digunakan berjalan.

“Ada apa Hyunjeong-ah? Kami baru saja akan berangkat menuju gereja.”

“Jaehyuk-ah maafkan aku.”

Presiden Kang terlihat begitu menyesal dengan berita yang akan ia sampaikan. Tapi ia tidak memiliki pilihan lain selain mengatakannya karena ini demi kebaikan putri sahabatnya.

“Kami membatalkan pernikahan Yoona dan Taecyeon.”

“Kenapa mendadak seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi?”

Yoona tak bisa mendengar lagi apa yang dikatakan oleh calon mertuanya dan juga ayahnya di bawah sana karena saat ini ia sedang menangis karena bahagia. Rasanya perasaan lega itu mulai menyusup ke dalam hatinya sedikit demi sedikit dan membuatnya hampir tidak bisa bernafas karena luapan bahagia yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Beberapa maid yang melihat hal itu merasa prihatin karena mereka mengira Yoona sedang menangisi nasib pernikahannya yang dibatalkan. Padahal sejujurnya wanita itu sedang menangis bahagia karena akhirnya Tuhan mengabulkan doanya.

“Nona, sabarlah.”

“Aku bahagia.” Jawab Yoona tak peduli dan segera berjalan menuju kamarnya untuk melepaskan gaun berat yang menyiksa tubuhnya. Namun meskipun begitu kebahagiaan yang dirasakan Yoona masihlah belum lengkap karena wanita itu belum bisa mendapatkan hati Donghae.

“Jenderal…. dimanapun kau berada sekarang, aku tetap akan menunggumu….”

 

 

 

28 thoughts on “Lovesick Fool (Oneshoot)

  1. Ah cerita.a bagus,tp masih gantung
    Kira” donghae bsa jatuh cinta sama yoona atw ngga dan bakal nikah.
    Ditunggu kelanjutan.a

  2. Donghae benar” mengerikan..
    Tp berkat yoona dia mulai sedikit berubah…
    Lanjut sequel thor.. terlalu gantung end nya.

  3. Njiiir itu manusia atau es batu 😂😂
    Ini ada sequelnya kah thor? Msih nggantung loh 😉
    Berharap ada
    Cerita, gaya bahasa, dan keseluruhan ajib bgt thor… sprti biasa aku slalu trkagum” dgn karyamu ☺☺😘

  4. Njiiir itu manusia atau es batu 😂😂
    Ini ada sequelnya kah thor? Msih nggantung loh 😉
    Berharap ada
    Cerita, gaya bahasa, dan keseluruhan ajib bgt thor… sprti biasa aku slalu trkagum” dgn karyamu ☺☺😘

  5. Eiiiiii eonni selalu buat ending yg gantung kikiki
    Aku butuh sequell harus wajib sekali ada sequel. Tetap mau ny yoonhae .
    Donghae gitu” gentle bngt

  6. Yah kenapa gantung author , buat sequel ya agar penantian Yoona terhadap Donghae tidak sia2

  7. untungnya taecyeon gk baik seperti pikiran donghae sebelumnya. semua aja deh donghae sama yoona bisa nikah. aku nunggu sequel thor 😆😉

  8. Astaga.. Donghae jadi psikopat yang mengerikan disini meski begitu Yoona tidak takut sama sekali bahkan masih tetap mencintai Donghae..
    Aku bahagia pada akhirnya Donghae yang akan menikahi Yoona..
    Pokoknya ini harus ada squelnya..
    penasaran dengan kehidupan mereka setelah menikah..

  9. Endingnya bikin nyesek 😭😭😭
    Apakah Donghae bakal menepati janjinya????
    Squel, ini hukumnya Harus Thor 😉😉😉

  10. Kasian yoona, makan ati sm sikap donghae
    Semoga cerita ini ada sequelnya, dan kalo ada pengen donghae nikah sm yoona emg krn cinta, bukan tanggung jawab

  11. SEQUEELLLLL 😂😂 AKU BUTUH SEQUEL NYA SECEPATNYA KK.. AKHIRNYA PERJUANGANNYA YOONG BAKAL KE BALAS.. NGGAK TAHU MAU KOMEN APA YG PENTING AKU BUTUH SEQUEL KK..

    FIGHTING

  12. Eonni ff nya keren tapi gantung
    Herann banget km sukaa bangett bikin ff ngegantung atau sad end

    Padahal cerita ff km Bagus”semuaa
    Please sequelnyaa ya

  13. Y ampunnnn donghae bner2 sicopatttt nichh .
    Serem bgeetsss
    Yoona dah bener2 jatuh cinta ma jenderal lee.
    Padahal dia tahu klau jenderal lee menakutkan hehehhehe.
    Butuhhhh sequel nich. Heeeeem kok hae tiba2 mau nikah sama yoona, meskipun buaat gantiin taecyoon.
    G nyangka kalau taecyoon kya gitu, bejat bgeeettttsssss

  14. Sumpah awalnya aku pikir ini kisah romantis yg bakal banya lucu nya ,tapi ternyata cukup mengerikan ya ..gak nyangka Donghae punya sisi gelap kaya gitu dan Yoona tetep suka .
    btw kirain di bikin oneshoot gini bakal langsung beres sampe Donghae nikahin Yoona tapi ternyata di potong dluuu ,huh berarti wajib nunggu sequel ini mah .
    di tunggu sequel un ^^

  15. Hwaaa donghae dingin dan kaku banget memang,,, hae mikirin yoona jg yeahh walaupun akhirnya donghae yg batalin tapi dia janji mw nikahin yoona…sequel dong thor!!!! Yoonhae bisa bersama.

  16. Wannnnnjiiir wkwkwkwkwwkwkwkwkkwkwkw ecieee viewer akhirnya nikah sm donghaeeee. Uuuhuyau sequeeeel

  17. keren eonni ff nya..
    donghae dingin bgtt, tapi akhirnya dia mau nikahin yoona..
    berharap di sequel donghae juga bisa mencintai yoona eon

  18. Aaah knp lom tuntas.. Masih gantung ini thor.. Keren ceritanya.. Lama sekali gk baca ff lagi.. Mungkin sekitar hampir 1th gk pernah baca ff.. Sekali baca ff.. Fbnya keren lagi.. Please sequel thor..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.