LEE FAMILY: HAPPY MOTHER’s DAY (You’re Perfect Mom and Wife Ever)

FMV Yoona – Perfect by Girls’ Generation.3.9

 

 

“Oppa.. bangun..”

Yoona mencolek wajah Donghae yang tengah tertidur pulas sambil menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangannya. Pria yang baru tertidur dua jam yang lalu itu lantas mengerang sambil memiringkan tubuhnya ke kanan untuk meraih bantal besar yang sangat menggiurkan untuk dipeluk.

“Oppa, bukankah kau ada jadwal operasi pukul sembilan? Ini sudah pukul delapan.” Ucap Yoona mulai tak sabar. Dengan malas-malasan Donghae bangkit berdiri sambil mengacak-acak rambutnya frustrasi. Selalu saja kesibukan membuatnya kelelahan dan akhirnya ia tidak bisa tertidur dengan nyaman. Akhir tahun memang akan selalu sibuk untuk Donghae.

“Yoong… aku lelah.” Rengek Donghae manja seperti anak kecil. Pria itu meraih pinggang Yoona tiba-tiba dan menenggelamkan kepalanya di atas permukaan pinggang Yoona yang nyaman sambil memejamkan matanya damai.

“Jika oppa lelah, kenapa oppa tidak menyuruh dokter lain untuk menggantikan jadwal oppa hari ini?” Tanya Yoona lembut sambil mengelus puncak kepala Donghae. Wanita itu terlihat begitu prihatin dengan wajah suaminya yang sangat lusuh akibat terlalu kelelahan itu. Pagi ini Donghae baru saja pulang pukul lima setelah semalam ia memiliki jadwal operasi dan harus lembur untuk mengecek laporan akhir tahun rumah sakitnya. Dan sekarang pukul delapan, suaminya itu sudah harus kembali lagi ke rumah sakit untuk operasinya yang entah ke berapa.

“Mereka semua sibuk, tidak ada yang memiliki jadwal kosong karena aku sudah meminta mereka untuk menghandle semua jadwalku di akhir tahun hingga minggu pertama tahun depan. Aku ingin kita memiliki liburan yang benar-benar utuh, tanpa gangguan sedikitpun.”

Yoona merasa tersentuh dengan jawaban Donghae. Demi libur natal dan tahun baru di London, Donghae rala kelelahan agar liburan mereka sempurna. Oh.. rasanya Yoona ingin sekali menciumi wajah tampan suaminya ini.

“Kalau begitu aku akan siapkan oppa air hangat agar oppa lebih rileks. Dan ngomong-ngomong terimakasih atas perngorbanan oppa.”

“Itu tidak masalah Yoong. Aku mencintai kalian, jadi aku pasti akan melakukan apapun untuk kalian agar kalian bahagia.”

Hmm.. Donghae memang memiliki mulut manis yang mampu membuat Yoona hampir menangis haru karena ucapan pria itu. Tapi di sisi lain Donghae juga memiliki mulut pedas yang kadang membuat Yoona setengah mati ingin menutupnya dengan plester. Seperti yang terjadi empat hari yang lalu ketika Yoona sedang mengalami mual-mual karena morning sicknessnya dan juga karena perutnya yang seharian tidak ia isi apapun, hingga berujung pada sakit maaghnya yang kambuh. Tapi ketika ia sedang susah payah menahan gejolak rasa mualnya yang mengerikan, Donghae justru menyalahkannya karena ia terlalu egois dengan tidak mau makan seharian. Padahal alasan dibalik ia tidak makan seharian saat itu karena perutnya menolak apapun. Setiap ia ingin makan, ia justru mual hingga ia merasa kesal karena ia tidak bisa makan apapun, meskipun sebenarnya ia sangat ingin makan. Tapi tetap saja suaminya itu tidak mau mengerti dirinya, dan justru sibuk menyalahkan hingga malam itu mereka berakhir dengan pertengkaran konyol karena Yoona ngambek. Namun keesokan harinya Donghae menyadari kesalahannya dan pria itu dengan penuh keromantisan meminta maaf padanya sambil membawakan senampan makanan yang ia masak sendiri. Betapa Lee Donghae sebenarnya adalah suami yang tidak sempurna, namun pria itu selalu berusaha untuk melengkapinya agar menjadi sempurna di mata Yoona dan anak-anaknya.

“Yoong, sepertinya besok kau benar-benar akan pergi sendiri ke London bersama Hana dan Daniel. Tanggal dua puluh dua aku masih memiliki jadwal rapat dengan semua staff rumah sakit. Lalu tanggal dua puluh tiga aku harus pergi ke Jeju untuk mengisi seminar kesehatan jantung di sana. Jadi aku benar-benar baru bisa menyusul kalian tanggal dua puluh empat. Itupun aku mendapatkan penerbangan pukul empat sore. Jadi sepertinya kita tidak bisa menghabiskan malam natal bersama.” Ucap Donghae dengan berat hati. Yoona mengangguk mengerti pada suaminya sambil tetap mengelus puncak kepala Donghae lembut.

“Tidak apa-apa. Justru saat natal nanti aku akan menjemputmu di bandara bersama anak-anak.”

“Kenapa? Tidak perlu, aku bisa meminta supir appa untuk menjemputku atau naik taksi.” Ucap Donghae sambil mendongakan kepalanya pada Yoona. Namun Yoona menggeleng cepat sambil memberikan senyum simpul pada Donghae.

“Tidak, aku ingin merayakan pagi natal bersamamu. Jika oppa menggunakan pesawat pukul empat sore, maka oppa akan tiba pukul tujuh pagi bukan? Setelah menjemput oppa, kita bisa pergi ke London Eye untuk merayakan natal bersama di sana. Aku sudah membayangkan indahnya London Eye di pagi natal yang diselimuti salju.”

Yoona tersenyum sumringah sambil membayangkan rencananya yang menakjubkan. Sedangkan Donghae nampak setuju-setuju saja dengan rencana Yoona, karena ia setelah itu tidak melayangkan protes apapun dan justru sibuk menciumi perut Yoona yang sudah terlihat sedikit membuncit karena kehamilannya yang memasuki bulan ketiga.

“Ahh.. oppa geli.”

Yoona yang tiba-tiba merasa geli, segera menyingkirkan kepala Donghae dari perutnya. Lagipula ia harus segera menyiapkan air hangat untuk Donghae karena saat ini jam telah menunjukan pukul delapan lebih lima belas menit.

“Oppa jika kau tetap seperti ini, kau akan membuat pasienmu semakin menderita. Lihat, empat puluh lima menit lagi menuju pukul sembilan. Oppa belum mandi, sarapan, dan perjalanan oppa sendiri akan memakan banyak waktu.”

Yoona mulai mengomel seperti ahjumma-ahjumma di pasar sambil berjalan pergi menuju kamar mandi yang berada di sudut kamarnya. Sementara itu, Donghae memilih untuk kembali berbaring sambil menutup wajahnya dengan bantal. Persetan dengan suara berisik Yoona yang akan mengomelinya. Saat ini ia benar-benar lelah, dan ia akan meminta asistennya untuk menunda waktu operasi menjadi tiga puluh lama lebih lama dari waktu yang telah ditentukan.

-00-

“Mommy… mommy, apa Hana perlu membawa ini?”

Yoona yang sedang memasukan baju-baju milik Hana ke dalam kopor langsung menoleh pada putrinya yang sedang membawa sebuah topi rajut berwarna pink di tangan kanannya.

“Tidak perlu sayang, mommy sudah membawakanmu topi yang diberikan oleh Leeteuk ahjussi. Kau harus memakai pemberian dari Leeteuk ahjussi agar Leeteuk ahjussi senang.” Ucap Yoona sambil memasukan baju-baju milik Hana yang lain. Melihat Yoona yang tak mengijinkannya membawa topi rajut berwarna pink membuat Hana kesal. Padahal ia sangat ingin memakai topi ranjut yang dibelikan oleh Donghae minggu lalu di sebuah pusat perbelanjaan ternama di Korea. Tapi sayangnya sang ibu tak mengijinkannya karena ia harus memakai topi pemberian pamannya yang menurutnya sudah terlihat jelek itu.

“Topi pemberian ahjussi sudah jelek, Hana tidak suka.” Ucap gadis kecil itu memprotes. Yoona menghembuskan napasnya kecil dan segera beralih pada Hana. Gadis kecilnya itu harus ia nasihati sebelum ia akan kelepasan berbicara ketika di London nanti. Tidak enak jika sampai Leeteuk mendengarnya karena pria itu pasti akan kecewa.

“Hana, kau tidak boleh berkata seperti itu. Topi pemberian ahjussi masih bagus, hanya sedikit kotor karena Hana jarang memakainya. Kita tidak boleh mencela barang pemberian orang lain karena orang yang memberikannya akan merasa sedih. Apa Hana senang jika Daniel mencela barang pemberian Hana?” Tanya Yoona sambil mengelus puncak kepala putrinya sayang. Hana menggeleng kecil, namun masih dengan wajah cemberutnya yang terlihat menggemaskan.

“Tidak. Hana marah jika Daniel tidak menyukai barang pemberian Hana. Seperti kemarin saat Daniel membuang boneka katak yang Hana belikan untuk Daniel ketika pergi bersama Daddy ke supermarket.”

Yoona tersenyum kecil dengan jawaban putrinya. Memang seperti inilah cara untuk memberikan pengertian pada putrinya yang telah tumbuh semakin dewasa. Ia tidak bisa hanya memarahi Hana tanpa memberikan contoh real. Kemarahan justru akan membuat Hana semakin kesal dan membenci dirinya karena menjadi ibu yang galak.

“Kalau begitu Hana tahun bukan bagaimana perasaan ahjussi jika Hana tidak memakai topi pemberian Leeteuk ahjussi?”

“Hmm… Hana akan memakai topi pemberian Leeteuk ahjussi.” Ucap Hana kecil dengan wajah yang sudah lebih manis. Yoona lalu tersenyum cerah pada Hana sambil menyuruh gadis kecil itu membantunya memasukan baju-baju miliknya ke dalam kopor.

“Mommy mommy.. apa kita akan menginap lama di rumah kakek dan nenek?”

“Sepertinya kita akan berada di London selama dua minggu. Besok kita akan berangkat pukul satu siang.” Beritahu Yoona. Wanita itu kini terlihat meluruskan kakinya di atas ranjang lebar milik Hana sambil mengurut punggungnya yang terasa pegal. Entah nanti bagaimana punggungnya jika kandungannya semakin membesar. Bahkan baru tiga bulan saja ia sudah sepegal itu.

“Lalu bagaimana dengan daddy? Kata daddy besok daddy masih memiliki pekerjaan di rumah sakit.”

“Daddy akan menyusul. Jadi kita tidak bisa merayakan malam natal bersama daddy karena daddy masih dalam perjalanan. Daddy baru tiba di London pukul tujuh pagi.”

Hana mengangguk-angguk mengerti sambil mengelus perut Yoona yang sedikit membuncit dibalik kaus ketatnya.

“Mommy, apa Hana akan memiliki adik lagi?”

“Iya sayang. Apa kau senang?”

“Senang!” Teriak Hana bersemangat. Yoona menggelengkan kepalanya tak habis pikir sambil mengelus puncak kepala Hana lembut. Sejak dulu Hana dan suaminya memang sangat kompak untuk membujuknya agar cepat hamil. Tapi ia sendiri terus menolaknya karena ia belum siap dengan semua kerepotan yang ada. Dan sekarang ia merasa pasrah dengan semua hal yang telah diberikan Tuhan padanya. Ia sebenarnya sangat bersyukur karena ia diberi kemudahan dalam memiliki anak dan hidup di keluarga yang berkecukupan, sehingga apa yang ia inginkan tidak pernah menjadi kendala. Meskipun sebenarnya kehidupannya tidak melulu selalu senang. Ada kalanya ia merasa lelah dan marah hingga rasanya ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Apalagi jika Donghae sedang sibuk di luar rumah dan ia harus mengurus segala keperluan di rumah sendirian, sungguh rasanya saat itu ia ingin mengeluh dan menangis. Ditambah lagi terkadang ia juga bertengkar kecil dengan Donghae karena masalah sepele, yahhh seperti itulah kehidupan rumah tangga. Tidak ada yang benar-benar mulus tanpa cela. Setiap keluarga pasti memiliki kekurangan dari keluarga lain. Oleh karena itu Yoona sekarang mencoba bersyukur dengan segala hal yang telah ia miliki. Ia tidak ingin Tuhan menjadi marah padanya karena ia tidak bersyukur dan terus mengeluh dengan kerepotan yang akan semakin bertambah kedepannya.

“Mommy mommy…”

“Ya sayang.”

Yoona menoleh cepat pada Hana setelah sebelumnya ia terlalu asik melamum hingga melupakan putri kecilnya yang sedang aktif bertanya sejak tadi.

“Kira-kira adik Hana perempuan atau laki-laki?”

“Hmm.. mommy juga tidak tahu. Coba kau tanya saja pada daddymu, dia yang membuatnya.” Jawab Yoona asal. Sungguh ia tidak tahu darimana datangnya kata-kata itu. Tiba-tiba saja kata itu yang melintas di dalam kepalanya, hingga ia spontan mengatakan hal itu pada Hana.

“Memang bagaimana cara daddy membuatnya? Apa daddy memiliki mesin ajaib untuk membuat adik bayi? Kalau daddy punya, Hana juga ingin membuat adik bayi. Hana ingin adik perempuan yang cantik.”

Tiba-tiba saja Yoona kehilangan kata-kata. Ia tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan Hana yang sangat kritis itu, dan ini semua memang karena salahnya yang asal menjawab.

“Lebih baik kau tanyakan pada daddymu nanti. Mommy akan menyiapkan malam di bawah.”

Akhirnya dengan tidak bertanggungjawab Yoona memilih kabur dengan alasan akan memasak makan malam di dapur. Padahal alasan sesungguhnya adalah karena ia tidak bisa memberikan jawaban yang benar pada Hana. Dan ia sekarang sedang meruntuki kebodohannya sendiri karena sudah berbicara yang aneh-aneh pada gadis sekritis Hana.

“Aishhh, apa yang telah aku katakan pada Hana? Benar-benar bodoh!” Runtuk Yoona gusar sambil berjalan tergesa-gesa menuju dapur.

-00-

Malam harinya di kediaman keluarga Lee tampak sudah lebih tenang dan sepi. Hampir seluruh penghuni rumah itu telah jatuh tertidur setelah sebelumnya rumah itu terlihat berisik karena suara Hana dan Daniel yang begitu keras saat mereka berebut mainan. Tapi untung saja Donghae segera mengambil alih Hana agar mengalah pada Daniel. Pria itu mengajak Hana bermain di halaman belakang, sedangkan Yoona bersama Daniel di ruang tamu agar kedua bocah itu tidak terus berteriak dan berakhir dengan saling menyakiti satu sama lain. Tapi setelah satu jam berpisah, baik Hana dan Daniel saling mencari satu sama lain. Mereka sejatinya tidak bisa berpisah, hanya saja terkadang mereka akan saling bertengkar untuk hal-hal yang sepele.

“Daniel sudah tidur?”

Donghae bertanya pada Yoona yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka. Wanita itu terlihat sedang menutup pintu kamarnya sambil mengangguk sekilas pada suaminya.

“Sudah. Ia minta tidur bersama Hana. Anak itu memang tidak pernah bisa jauh dari Hana, tapi ia juga sering membuat kakaknya kesal karena sikap jahilnya. Dia benar-benar sangat mirip denganmu oppa.” Cibir Yoona sambil lalu. Donghae menatap Yoona tak terima sambil menyipitkan matanya.

“Mana mungkin? Aku adalah pria baik-baik yang selalu menebarkan cinta. Aku tidak pernah berbuat jahil seperti itu.” Balas Donghae tak terima. Yoona yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk mencuci wajah lantas berjalan ke arah Donghae sambil menunjukan wajah sinisnya.

“Apa oppa lupa bagaimana kelakuan oppa dulu saat orientasi mahasiswa baru? Bahkan oppa saat itu lebih kejam dari Daniel. Oppa mendebatku di hadapan seluruh mahasiswa baru dan juga para senior. Selain itu oppa juga bersikap sangat menyebalkan, hingga rasanya aku ingin mencakari wajah oppa.”

“Huh, masa depan memang penuh kejutan.”

Donghae yang mendengarnya langsung tergelak saat mengingat masa lalunya dengan Yoona yang selalu diwarnai keributan. Ia benar-benar tidak pernah menyangka jika ia akan berakhir dengan menikah bersama Yoona. Bahkan hingga memiliki hampir tiga orang anak seperti saat ini.

“Itu benar-benar tidak terduga. Terkadang aku juga heran, kenapa aku bisa menikah denganmu, padahal dulu aku digilai banyak wanita cantik.”

Bughh

Yoona melempar Donghae dengan salah satu bantal yang berhasil dijangkaunya. Pria itu benar-benar membuat moodnya berubah hanya dengan satu kata, yaitu wanita. Bagaimanapun dulu Donghae memang idola di kampusnya. Banyak sekali wanita-wanita Asia maupun wanita asing yang menyukai Donghae. Bahkan ia pernah mendengar jika salah satu wanita tercantik di kampusnya mengatakan dengan terang-terangan pada Donghae jika ia menyukainya di lapangan kampus. Tapi karena saat itu ia belum tertarik pada Donghae, maka ia hanya bersikap acuh tak acuh tanpa mempedulikannya. Namun sekarang ia merasa penasaran dengan nasib wanita itu, karena selama ini Donghae tak pernah membahasnya.

“Ngomong-ngomong apa oppa tahu bagaimana kabar wanita tercantik di kampus yang dulu pernah menyatakan cinta pada oppa di lapangan kampus?”

“Siapa?”

Donghae yang sudah lupa dengan masa lalunya lantas menyipitkan matanya bingung sambil mengingat-ingat kejadian sepuluh tahun silam. Rasanya benar-benar sulit menemukan sebuah memori yang telah terkubur cukup lama di dalam otaknya. Apalagi kini kepalanya sudah dipenuhi dengan berbagai macam urusan pekerjaan yang melelahkan, membuat Donghae ingin menyerah untuk mencari salah satu memorinya yang sudah lama ia lupakan itu.

“Entahlah, bahkan aku tidak ingat jika aku pernah mengalaminya.” Ringis Donghae kecil. Yoona mencubit perut Donghae gemas karena tidak puas dengan jawaban Donghae. Sungguh ia sangat penasaran dengan wanita itu sekarang.

“Dasar! Dimana otak cerdas oppa yang selalu dibangga-banggakan itu? Bahkan mengingat masa lalu saja oppa tidak mampu. Jangan-jangan sepuluh tahun lagi oppa akan melupakanku dan anak-anak karena terlalu asik dengan pasien-pasien oppa.” Cibir Yoona kesal. Donghae lantas menarik Yoona ke dalam pelukannya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Yoona gemas karena sikap kekanakan Yoona yang terkadang muncul jika mereka sedang berdua saja.

“Mana mungkin aku melupakanmu sayang, kau isteriku. Aku tidak mungkin akan melupakan kalian. Terutama wajah jelekmu saat marah.”

Yoona spontan langsung mencubit perut Donghae sambil mendengus kesal di dalam pelukan suaminya.

“Jelek-jelek seperti ini aku yang melahirkan anak-anakmu, jadi bersikap baiklah padaku. Sekarang lihatlah hasil dari perbuatanmu. Seharusnya aku memang menggunakan kotrasepsi agar tidak terus hamil seperti ini.” Keluh Yoona frustrasi.

“Aku tidak pernah mengijinkanmu untuk menggunakan alat kotrasepsi, jadi jangan pernah coba-coba untuk melakukannya.” Peringat Donghae serius. Yoona mendecih sebal dan mulai meminta Donghae untuk melepaskan kungkungannya yang tidak nyaman.

“Kalau begitu oppa yang harus berhati-hati saat melakukannya. Aku sebenarnya tidak masalah dengan memiliki anak lagi. Tapi proses yang harus dilalui selama hamil hingga melahirkan itu sungguh sangat melelahkan oppa.”

“Baiklah, aku akan memberikan jeda yang cukup lama setelah kau melahirkan anak ke tiga.”

Yoona melebarkan matanya tak percaya dengan jawaban Donghae yang terdengar sangat menyebalkan itu. Jelas sekali jika suaminya masih berambisi untuk memiliki anak lain setelah anak ke tiga mereka lahir. Ya Tuhan, mungkin setelah ini Yoona harus banyak-banyak berdoa pada Tuhan agar suaminya itu tidak khilaf dan menyentuhnya secara brutal seperti sebelum-sebelumnya.

“Terserah apa katamu oppa. Apa kau pikir aku ini sapi perah. Kadang aku merasa kesal dengan ucapan ibu-ibu yang selalu mengomentariku yang terus-terusan hamil. Mereka dengan menyebalkannya menggosipkanku saat aku sedang mengantar Hana ke sekolah.”

“Mereka hanya iri padamu Yoong. Kau cantik, kau memiliki anak-anak yang lucu, suamimu tampan dan juga kaya, selain itu Tuhan juga selalu memberimu kemudahan untuk memiliki anak. Kau memiliki kehidupan yang sempurna sayang. Kau tidak perlu mendengarkan ucapan mereka.” Hibur Donghae menenangkan. Namun Yoona justru terlihat semakin cemberut dengan jawaban Donghae yang seolah-olah sedang memuji dirinya sendiri.

“Apa harus menggunakan embel embel suami tampan yang kaya raya oppa?” Tanya Yoona malas. Donghae tertawa garing di sebelahnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Bukankah itu kenyataan?”

“Yayayaya, terserah kau saja oppa. Memang sulit memiliki suami yang penuh percaya diri sepertimu oppa. Sudahlah, besok pagi oppa harus memimpin rapat bukan? Lebih baik kita segera tidur.”

Yoona mulai merapikan bantal-bantal dan juga selimut untuk dirinya tidur. Namun belum sempat ia membaringkan tubuhnya di atas kasur, Donghae sudah lebih dulu menarik sikunya dan menahannya dalam posisi duduk.

“Ada apa oppa?”

“Aku baru ingat, apa yang kau katakan pada Hana sebelumnya? Kenapa ia bertanya padaku mengenai cara membuat bayi?”

Tiba-tiba Yoona teringat akan percakapan anehnya dengan Hana sore tadi. Tapi yang membuatnya terkejut adalah ternyata gadis kecilnya itu benar-benar menganggap serius ucapannya, padahal ia hanya asal-asalan menjawabnya.

“Oh itu, Hana bertanya mengenai jenis kelamin adiknya. Tapi karena aku malas menjawabnya aku kemudian berkata asal-asalan padanya. Aku mengatakan padanya untuk bertanya padamu karena kau yang membuatnya.”

“Aku? Yang benar saja, bahkan kau juga ikut andil.” Komentar Donghae tak terima.

“Kenapa kau mengatakan hal-hal aneh seperti itu  pada Hana. Otaknya bisa terkontaminasi oleh kata-katamu yang tidak pantas itu Yoong.” Ucap Donghae lagi. Yoona yang tidak terima dengan komentar Donghae sebelumnya, lantas membalas ucapan Donghae yang tidak benar itu.

“Jelas-jelas kau yang menginginkannya oppa. Kau yang membuatku hamil seperti ini.”

“Memang, tapi kau menikmatinya juga.” Balas Donghae tak mau kalah. Yoona memutar matanya jengah dengan kelakuan Donghae yang berubah menjadi sangat tidak dewasa itu. Lagipula apa salahnya jika ia menikmatinya? Toh itu lebih baik daripada ia menolak keinginan suaminya.

“Sudahlah, pembicaraan kita semakin tidak sehat oppa. Lebih baik kita tidur, aku tidak mau bangun terlambat besok karena aku harus mempersiapkan keberangkatan kami ke London.”

Yoona akhirnya benar-benar menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut yang nyaman dan mulai memejamkan matanya. Sementara itu Donghae masih terjaga sambil memikirkan semua jawaban yang ia berikan pada Hana.

 

“Daddy daddy.. bagaimana caranya membuat adik bayi? Hana juga ingin membuat adik bayi.”

            “Mudah. Kau hanya perlu mengusap-usap perut mommy dan berdoa pada Tuhan, maka kau akan langsung memiliki adik.”

            “Hah? Kalau begitu tolong usap perutku dad.”

                                                                        -00-

Ting tongg

Tiffany berdiri dengan manis di depan pintu kayu besar yang menjulang di depannya sambil memegang sebuah bingkisan besar di kedua tangannya. Di samping kanannya, tampak Kenzo yang terlihat begitu tidak sabar untuk bertemu kakak beradik Hana dan Daniel.

“Kenzo ingin bertemu noona dan hyung.” Ucap Kenzo tak sabar. Tiffany memberikan kode dengan gerakan bibirnya agar sabar karena mungkin Yoona sedang sibuk menyelesaikan tugas-tugasnya di dalam rumah.

Cklekk

“Tiffany!! Ayo masuk. Kenzo-ya.. Hana, Daniel, Kenzo datang.” Teriak Yoona keras sambil membantu Tiffany membawa bingkisan besar yang dibawa wanita itu. Mereka berdua lantas saling berpelukan dan berbicara heboh ala ibu-ibu muda.

“Kau tumben datang ke sini, kau sudah libur?” Tanya Yoona heran karena beberapa waktu lalu ibu muda itu mengeluh padanya di rumah sakit dengan seluruh kesibukannya menjelang hari natal dan pergantian tahun.

“Ini hari pertamaku libur. Rasanya senang sekali Yoong.” Ucap Tiffany heboh. Ibu-ibu muda itu lantas berjalan beriringan menuju dapur, tempat paling nyaman bagi mereka untuk bercerita sambil menikmati kudapan yang disediakan oleh Yoona.

“Akhirnya kau bisa libur juga. Pasti menyenangkan sekali.” Komentar Yoona sambil meletakan jus strawberry di depan Tiffany. Kebetulan ia baru saja membuat jus strawberry karena keinginan ngidamnya.

“Wahh terimakasih Yoong. Ya, aku memang senang sekali. Apalagi pagi tadi Hyukjae oppa memberikanku kejutan bersama Kenzo. Mereka berdua entah bagaimana caranya tiba-tiba sudah muncul di dalam kamar ketika aku baru saja membuka mataku sambil memegang kue dan juga balon yang bertuliskan selamat hari ibu. Itu sungguh tak terduga, karena Hyukjae oppa sendiri juga sama sibuknya sepertiku, tapi ia masih mengingat hari ibu yang jatuh pada hari ini, tanggal dua puluh dua Desember.”

Yoona seketika berpikir tentang Donghae. Suaminya itu bahkan hari ini tak mengatakan apapun. Ia justru langsung pergi setelah menyelesaikan sarapannya dengan terburu-buru.

 

Ah sudahlah. Untuk apa perayaan hari ibu, itu tidak penting untukku.”

 

Yoona terlihat sibuk membatin tanpa mendengarkan cerita Tiffany dengan jelas. Namun meskipun begitu ia cukup iri pada Tiffany. Bahkan Hyukjae yang notabenenya terlihat cuek pun masih mengingat tanggal-tanggal penting seperti itu. Lalu bagaimana dengannya? Donghae sepertinya sama sekali tidak ingat akan hari ibu yang jatuh pada tanggal dua puluh dua Desember itu.

“Yoong! Hey..”

“Ehh.. ya, ada apa?”

Tiffany menyentuh pelan telapak tangan Yoona untuk mengembalikan kesadaran wanita itu. Padahal sejak tadi ia telah bercerita banyak hal pada wanita itu, tapi sang lawan bicara justru sibuk melamun di depannya.

“Ck, aku sedang berbicara padamu Yoong. Oooya, kapan kau akan berangkat ke London? Beberapa waktu yang lalu aku sempat bertanya pada Donghae oppa mengenai rencana natal kalian. Lalu Donghae oppa menjawab jika kalian akan merayakan natal di London bersama keluarga besar kalian.”

“Iya, kami memang akan merayakan natal di sana. Sudah lama kami tidak ke London karena biasanya eomma dan appa Donghae yang akan datang ke Korea untuk merayakan natal bersama cucu-cucunya. Tapi sekarang kami berpikir untuk pergi ke London dan merayakan natal bersama yang lain. Lagipula Daniel selama ini belum pernah kami ajak ke London, kecuali saat dulu ia berumur kurang dari satu bulan.”

Tiffany mengangguk-angguk mengerti dan mulai menyeruput jus strawberrnya dengan nikmat.

“Tahun ini justru kakek dan nenek Kenzo yang datang ke Korea, mereka ingin merasakan natal dengan suasana baru di sini.” Ucap Tiffany memberi tahu. Yoona menganggukan kepalanya mengerti dan meletakan sepiring kue yang baru ia ambil dari kulkas.

“Kemarin aku membuat cake, cobalah.”

“Wahh.. kelihatannya enak. Kenzo-ya, kau mau kue?”

Tiffany berteriak keras untuk memanggil Kenzo yang sedang bermain bersama Hana dan Daniel di ruang tengah. Tak berapa lama ketiga bocah kecil itu tampak berlari-lari kecil untuk menghampiri ibu-ibu mereka yang sedang mengobrol di dapur.

“Kau mau kue? Aunty Yoona yang membuatnya.”

Tiffany memberikan sepotong kue berwarna coklat pada Kenzo yang langsung dijawab oleh bocah kecil itu dengan anggukan.

“Mommy, Daniel juga mau.”

Daniel mengambil sepotong kue dari piring lebar yang diletakan Yoona di atas meja pantry, lalu  memakannya sambil berdiri.

“Duduk sayang.”

Yoona mengangkat tubuh Daniel dan mendudukan pria kecil itu di atas kursi tinggi yang berada di dekatnya.

“Oya Yoong, ngomong-ngomong apa kau sudah mempersiapkan semua keperluan Hana dan Daniel untuk kepergian kalian ke London hari ini? Sudah lama Daniel tidak pergi ke London, bisa saja ia akan merasa tidak nyaman saat berada di pesawat, sama seperti Kenzo saat aku mengajaknya ke Amerika.”

“Oh, aku lupa. Terakhir kali kami pergi ke London ketika usia Daniel sekitar satu bulan. Dan sekarang usia Daniel tiga tahun, ia pasti akan merasa jet-lag selama perjalanan.”

Tiffany mengangguk mengiyakan sambil mengamati putranya yang tengah sibuk memakan kue coklat dengan remah-remah roti yang mengotori lantai rumah Yoona.

“Yoong, lantai rumahmu kotor, maafkan Kenzo.” Ucap Tiffany terlihat menyesal. Ia berusah mengambil remah-remah roti yang berjatuhan di atas lantai, namun hasilnya tetap tidak maksimal karena tidak bisa benar-benar bersih.

“Tidak masalah, bibi Kim akan membersihkannya nanti. Oya, apa kau memiliki rencana liburan akhir tahun?” Tanya Yoona mengganti topik pembicaraan.

“Entahlah, tapi Hyukjae oppa sepertinya akan membawa ayah dan ibuku pergi ke Jeju atau pulau Nami. Orangtuaku belum pernah ke sana sebelumnya, jadi mereka sangat antusias ketika aku mengatakan rencana Hyukjae oppa pada mereka. Bagaimana denganmu Yoong?”

“Sebenarnya aku ingin pergi ke Roma bersama anak-anak. Tapi aku tidak tahu bagaimana Donghae oppa nanti, terkadang ia menerima panggilan mendadak untuk membantu ayah mertuaku mengurus rumah sakit di London. Bagaimanapun rumah sakit itu telah menjadi milik Donghae oppa, meskipun Donghae oppa di sana hanya sebagai pengawas yang mengawasi kinerja Sehun.”

“Huh, pasti Donghae oppa sangat lelah. Pekerjaanya benar-benar gila. Kudengar ia masih harus mengisi acara seminar di luar kota besok.”

“Memang. Jadi kami tidak bisa berangkat bersama ke London. Dan kami juga tidak bisa merayakan malam natal bersama karena Donghae oppa masih dalam perjalanan.” Jawab Yoona lesu. Sebagai seorang isteri dan ibu, tentu saja Yoona ingin semua keluarganya berkumpul di hari yang sangat istimewa seperti natal. Tapi mau bagaimana lagi, pekerjaan tetaplah pekerjaan. Donghae harus menyelesaikan semua tanggungjawabnya tanpa bisa berbuat apapun.

“Yahh.. Donghae oppa memang sangat sibuk. Tapi ngomong-ngomong sesibuk apapun Donghae oppa, ia tetap saja bisa menyempatkan diri untuk… membuat baby.” Bisik Tiffany sambil melirik perut Yoona yang sedikit membuncit. Yoona memukul lengan Tiffany pelan sambil bersungut-sungut pada wanita Amerika itu.

“Dasar kau ini! Kalau masalah anak, jangan ditanya lagi. Sepertinya Donghae oppa memiliki obsesi yang sangat mengerikan pada bayi. Kau lihat sendiri kan bagaimana reaksi Donghae oppa saat dulu aku memintamu obat pencegah kehamilan, ia benar-benar sangat marah dan hampir menceraikanku. Untung saja aku tidak meminumnya, tapi setelah itu munculah bayi ini. Huhh.. dia benar-benar mengerikan.” Keluh Yoona frustrasi. Tiffany terbahak sebentar ketika melihat bagaimana ekspresi wajah Yoona yang lucu. Ia tahu bagaimana gilanya obsesi Donghae untuk memiliki banyak anak. Untung saja pria itu kaya, jadi ia bisa menghidupi semua anaknya tanpa harus pusing-pusing memikirkan biaya. Tapi sebagai gantinya, pria itu harus selalu bekerja keras hingga terkadang tidak pulang ke rumah untuk menyelesaikan semua tugas-tugasnya.

“Tapi menurutku apa yang dilakukan Donghae oppa benar. Ia jelas tidak ingin anak-anaknya bernasib sama sepertinya yang kelelahan karena harus mengurus banyak hal sendiri. Mungkin jika saudara Donghae oppa yang berada di London tidak memutuskan untuk memiliki bisnis sendiri, pekerjaan Donghae oppa akan lebih ringan. Tapi sayangnya setiap orang memiliki jalan mereka masing-masing, jadi Donghae oppa tidak bisa memaksa kakaknya untuk membatunya mengurus aset-aset milik ayahnya yang semakin banyak itu.”

“Ya, kau benar Fanny-ah. Leeteuk oppa benar-benar tidak mau mengambil alih aset-aset itu barang satupun. Jadi mau tidak mau Donghae oppa yang harus menghandlenya.”

Kedua wanita itu akhirnya terus bercerita banyak hal mengenai anak-anak mereka, suami mereka, dan kondisi rumah tangga mereka. Melalui cerita-cerita Tiffany, Yoona setidaknya dapat terhibur dan tidak merasa ia sedang berjuang sendiri. Nyatanya apa yang ia alami juga sama seperti Tiffany. Hanya perbedaanya ia tidak bekerja dan harus mengurus dua anak sekaligus, di tambah Donghae jika suaminya itu sedang manja. Sedangkan Tiffany harus mengurus satu anak dan juga menyelesaikan semua pekerjaanya yang terkadang juga mengharuskannya untuk lembur, padahal ia adalah seorang ibu. Jadi rasanya tetap sama saja. Semua ibu pasti akan merasa kelelahan meskipun dengan berbagai latar kehidupan yang berbeda.

“Yoong kami pamit pulang dulu. Ini sudah siang, dan sebentar lagi kau juga harus berangkat ke bandara kan? Selamat hari ibu untuk kita, dan selamat natal.”

Tiffany bersalaman pada Yoona dan memeluk tubuh Yoona erat sebelum ia dan Kenzo benar-benar masuk ke dalam mobilnya untuk pulang. Sementara itu Daniel dan Hana tampak tenang berdiri di samping kanan dan kiri tubuh ibunya sambil melambaikan tangan pada Kenzo yang tengah duduk manis di samping Tiffany.

“Daahh… Selamat liburan Kenzo-ya!!” Teriak Hana keras hingga membuat Yoona harus menutup telinganya yang berdengung. Rupanya Hana memang mewarisi gen suaranya yang cempreng dan juga berisik.

-00-

Pukul setengah dua, Yoona dan kedua anaknya telah berada di dalam pesawat untuk melakukan penerbangan ke London. Namun karena cucaca tidak bersahabat, mereka harus sedikit bersabar di dalam pesawat untuk menunggu pesawat yang mereka tumpangi benar-benar lepas landas. Di dalam pesawat Yoona tak henti-hentinya menatap Daniel yang sepertinya terlihat gugup di sebelahnya. Pria kecil itu sejak tadi terus terdiam kaku tanpa mengucapkan sepatah katapun sejak mereka masuk ke dalam pesawat. Berbeda dengan Hana yang tampak santai sambil memainkan game dari ponsel milik Yoona.

“Sayang, apa kau takut?”

Yoona mencoba mengajak Daniel berbicara sambil menggenggam tangan Daniel yang mulai dingin. Ia pun segera mengambil selimut yang berada di dalam bagasi penyimpanan di atas kepalanya agar Daniel tidak merasa kedinginan selama perjalanan.

“Daniel kenapa mom?” Tanya Hana tiba-tiba. Gadis kecil itu rupanya sudah bosan dengan permainan gamenya yang monoton itu, sehingga ia memutuskan untuk meletakan ponsel milik ibunya di atas pangkuan sang ibu.

“Daniel sepertinya gugup.”

Setelah dirasa Daniel cukup hangat, Yoona kembali duduk di posisinya sambil tetap mengamati Daniel yang masih saja terlihat tegang.

“Kau mau susu?” Tawar Yoona pada Daniel. Bocah kecil itu mengangguk kecil pada ibunya sambil meminta makanan kecil yang dibawa oleh Hana.

“Hana, Daniel ingin snackmu.”

Tanpa diminta dua kali, Hana segera memberikan snack miliknya pada Daniel yang duduk di sebelah kiri ibunya.

“Mommy.. bagaimana jika kita menelpon daddy?”

Hana menggunakan gesture tubuh memohon yang sangat menggemaskan. Membuat Yoona tidak bisa  mengabaikan begitu saja kelucuan Hana dan memotretnya untuk dikirimkan pada Donghae.

“Baiklah, ayo kita coba menghubungi daddymu yang super sibuk itu.”

Yoona kemudian segera menekan speed dial satu untuk menghubungi Donghae. Tapi sayangnya panggilan itu langsung dijawab oleh suara operator yang menandakan jika ponsel milik Donghae sedang dalam mode off.

“Sayang sekali, daddymu pasti sedang sibuk. Ia mematikan ponselnya.” Ucap Yoona pada Hana. Hana terlihat kecewa, namun setelahnya ia berhasil melupakan kekecewaanya dengan mengamati pemandangan langit Seoul yang kelabu di luar jendela.

-00-

“Yoong!”

Yoona tersenyum cerah pada Leeteuk yang sedang melambaikan tangannya di depan gerbang kedatangan. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu terlihat sudah menunggunya bersama dengan ayah dan ibu Donghae.

“Granny!!” Teriak Hana heboh sambil berlari menghampiri kakek dan neneknya. Berbeda dengan Hana yang tampak ceria. Daniel justru terlihat lesu di sebelah Yoona karena selama perjalanan bocah kecil itu mengalami mabuk udara. Sebenarnya Daniel tidak mau berjalan sendiri dan meminta Yoona untuk menggendongnya, tapi karena Yoona sedang hamil dan harus mendorong troli milik mereka yang penuh dengan kopor-kopor, akhirnya Daniel terpaksa berjalan sendiri di sebelahnya, meskipun dengan wajah kesal bercampur lelah yang sangat tidak enak untuk di lihat.

“Selamat datang Yoong.”

Nyonya Lee memeluk Yoona hangat sambil menepuk pundak menantunya pelan. Setelah nyonya Lee, kini giliran tuan Lee yang juga ikut memeluk Yoona sambil mengelus puncak kepala Yoona lembut.

“Wah… ada apa dengan jagoan kecil paman?”

Leeteuk berjongkok di depan Daniel sambil mencolek pipi chubby Daniel. Namun karena mood bocah kecil itu sedang buruk, ia langsung menepis tangan Leeteuk kasar sambil memeluk paha Yoona kuat-kuat untuk menyembunyikan wajahnya.

“Dia mengalami mabuk udara oppa. Sekarang suasana hatinya sedang tidak baik. Sejak tadi ia terus rewel dan memintaku untuk menggendongnya, tapi karena aku sedang hamil, jadi aku tidak bisa menggendongnya.” Jelas Yoona panjang lebar. Namun ketiga orang dewasa di sana tampak sedikit terkejut dengan kata-kata hamil yang baru saja diucapkan oleh Yoona.

“Kau hamil Yoong?” Tanya Leeteuk tak percaya. Ia pun mulai mengamati tubuh Yoona dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk membuktikan jika adik iparnya itu memang sedang hamil.

“Ohh maaf, aku lupa memberitahu eomma dan appa jika aku sedang hamil tiga bulan.”

“Selamat Yoong, kami senang karena kami akan memiliki anggota baru lagi. Tapi apa ini tidak terlalu cepat, kau kan baru saja mengalami keguguran beberapa bulan yang lalu.” Ucap nyonya Lee terlihat khawatir. Yoona tersenyum menenangkan pada ibu mertuanya dan menggeleng kecil.

“Ini tidak apa-apa eomma, semuanya baik-baik saja.”

“Huh, Donghae sepertinya benar-benar maniak. Lihatlah appa kelakuan anak bungsumu itu, dia sudah seperti mesin pembuat anak.” Dengus Leeteuk lucu. Yoona tergelak pelan dengan ucapan Leeteuk, namun ia juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Leeteuk jika Donghae memang maniak bayi yang sangat mengerikan.

“Tidak apa-apa jika ia melakukannya pada isterinya. Kau itu seharusnya malu pada adikmu yang sudah menikah dan akan memiliki tiga anak. Kapan kau akan menikah dan tidak membuat appa khawatir dengan kelakuanmu yang gila kerja itu.”

Mendapat serangan dari ayahnya, Leeteuk hanya diam dan mulai mengalihkannya dengan membantu Yoona untuk membawa barang-barangnya ke dalam mobil.

“Ayo semuanya kita ke mobil, sepertinya Daniel sudah kelelahan.” Ucap Leeteuk sambil lalu tanpa memedulikan gelengan sebal tuan Lee yang merasa diacuhkan.

“Sudahlah appa, mungkin Leeteuk oppa memang belum menemukan calon yang tepat. Nanti jika ia sudah mantap dengan pilihannya, ia pasti akan segera menikah.” Hibur Yoona sambil menepuk bahu ayah mertuanya pelan.

“Ck, tapi anak itu terlalu banyak bermain-main Yoong. Ia seperti tidak ingat umur. Tahun depan umurnya akan bertambah menjadi tiga puluh enam. Lalu sampai kapan appa harus menunggu? Bisa-bisa appa tidak bisa menyaksikan pernikahannya kelak karena sudah pergi menemui Tuhan.”

“Hus, jangan berbicara seperti itu. Kita pasti bisa melihat putra sulung kita yang keras kepala itu menikah.” Sambar nyonya Lee yang berada di sebelahnya. Yoonapun memilih bungkam dan tidak berkata apa-apa lagi pada kedua mertuanya. Ia sendiri merasa tidak berhak ikut menghakimi kakak iparnya yang hingga setua itu belum menikah. Takdir setiap orang tidak pernah sama, dan ia cukup dewasa untuk memikirkan hal itu.

-00-

Donghae berjalan pelan ke dalam rumahnya sambil merenggangkan otot-otot lengannya yang kaku. Ia pun melirik jam yang melingkar di tangannya sekilas, dan mendapati jika saat ini waktu telah menunjukan pukul dua pagi. Ia merasa hari-harinya terlalu cepat berlalu karena kesibukannya yang sangat padat.

Sambil tetap merenggangkan otot-otot tubuhnya, Donghae mulai berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sekarang ia merasa begitu hampa karena isteri dan kedua anaknya telah pergi ke London. Siang ini sebenarnya ia ingin mengantar mereka ke bandara, namun karena rapat yang dipimpinnya tertunda satu jam, maka ia tidak bisa mengantar isteri dan anak-anaknya pergi ke bandara.

Krekk

Donghae membuka lemari pakaiannya dan mulai mengganti pakaiannya dengan pakaian santai untuk tidur. Biasanya jika ia pulang dalam keadaan lelah seperti ini Yoona akan mengambilkan secangkir teh dan menyiapkan air hangat di kamar mandi untuk ia sekedar membasuh wajahnya yang lelah. Tapi sekarang Yoona sedang pergi ke London. Tidak ada yang akan menyiapkan air hangat dan juga teh hangat jika Yoona pergi, sehingga ia memutuskan untuk mencuci muka dengan air dingin dan segera tidur. Besok ia masih memiliki jadwal seminar di luar kota yang mengharuskannya untuk berangkat pagi-pagi.

Brukk

Tanpa sengaja Donghae menjatuhkan sebuah kotak hitam dari saku jas dokternya yang akan ia gantung di dalam lemari. Sambil menepuk jidatnya, Donghae segera memungut kotak itu dan meletakannya di dalam lemari.

“Aku lupa mengucapkan selamat hari ibu dan memberikan kado ini pada Yoona.” Gumam Donghae pelan. Ia pun teringat jika tadi pagi sebenarnya ia sudah mempersiapkan hadiah untuk Yoona dan akan memberikan kado itu pada Yoona, tapi ketika ia hendak turun untuk sarapan, seorang staff dari rumah sakit menghubunginya agar segera tiba di rumah sakit. Akhirnya ia melupakan niat awalnya untuk mengucapkan selamat hari ibu pada Yoona dan juga memberikan kado yang telah ia siapkan pada Yoona. Padahal ia sengaja memasukan kotak itu ke dalam saku jasnya agar tidak lupa, tapi tetap saja ia melupakannya karena kepalanya sudah terlalu penuh dengan berbagai macam pekerjaan yang memusingkan. Mungkin apa yang dikatakan oleh Yoona semalam benar, suatu saat ia bisa saja melupakan Yoona dan anak-anaknya karena terlalu sibuk di rumah sakit.

“Huuuff… Selamat hari ibu Yoong. Dan maafkan aku…” Gumam Donghae pelan sebelum menutup mata sambil melirik sisi sebelah kanannya yang kosong. Dan tak lama kemudian ia telah memejamkan matanya rapat-rapat untuk menyelami alam mimpinya yang indah.

-00-

Helaan napas berkali-kali terdengar dari wanita cantik  bersurai coklat yang sejak tadi terus mencoba menghubungi suaminya. Sambil bertopang dagu di atas meja, Yoona mulai mencoba menghubungi suaminya lagi. Tapi sayangnya sang suami tak juga menjawab panggilannya hingga ia merasa kesal dan ingin sekali berteriak pada suaminya saat suaminya menjawab panggilannya nanti.

“Oppa! Aishh.. kau dimana? Apa kau sudah bangun?”

Yoona mendengus kesal pada ponselnya, seakan-akan benda persegi itu dapat menjawab pertanyaanya. Karena lelah, akhirnya Yoona memutuskan untuk berbaring lagi di atas ranjangnya yang empuk. Wanita itu kemudian mulai melirik jam dinding yang terpasang sempurna di sudut kamarnya. Seharusnya saat ini suaminya itu sudah bangun, mengingat di Korea Selatan waktu telah menunjukan pukul tujuh pagi. Tapi nyatanya Donghae sama sekali tak menjawab panggilannya, membuatnya khawatir jika suaminya itu akan kesiangan bangun. Apalagi hari ini beberapa pekerjaanya sudah mulai libur, sehingga hanya ada satpam rumah dan juga suaminya di rumah. Setidaknya jika bibi Kim tidak libur, ia masih bisa mengandalkan bibi Kim untuk membangunkan suaminya yang pemalas. Tapi jika bibi Kim sudah mengambil libur, ia tidak yakin suaminya bisa bangun tepat waktu karena satpam penjaga rumah tidak mungkin masuk ke dalam rumah untuk membangunkan suaminya. Kecuali jika suaminya telah berpesan sebelumnya.

Drrrt drrttt

Tiba-tiba ponsel di sebelahnya bergetar. Dengan cepat Yoona menyambar ponsel itu dan menemukan nama suami tercintanya tertera di dalam layar ponsel miliknya. Cepat-cepat Yoona menggeser tombol hijau di layar ponselnya untuk segera mengangkat panggilan dari sang suami tercinta.

“Oppa!”

Tanpa bisa menahan-nahannya lagi, Yoona langsung berteriak memanggil suaminya, membuat Donghae yang sedang berada dalam perjalanan menuju bandara refleks langsung menjauhkan benda persegi itu dari telinganya.

“Oppa, kenapa kau tidak menjawab panggilanku?”

“Ya Tuhan, kecilkan suaramu sayang, kau bisa merusak telingaku.” Omel Donghae kesal. Yoona tampak tak peduli dengan omelan Donghae. Rasanya ia lebih kesal pada Donghae sekarang karena sejak tadi suami tercintanya itu tak kunjung mengangkat panggilannya yang sudah berkali-kali ia lakukan.

“Aku sedang mengurus keperluanku Yoong. Kau tahu kan aku berada di rumah sendiri. Tidak ada yang menyiapkanku air hangat, pakaian, bahkan sarapan. Aku merasa seperti pria kesepian di sini.” Keluh Donghae konyol. Namun Yoona hanya menanggapinya dengan cibiran sengit.

“Dasar manja! Itu karena oppa selalu bergantung padaku.”

“Eh, memangnya kenapa jika aku bergantung padamu? Kau isteriku. Sudah seharusnya kau melayani suamimu Yoong. Aku jadi ingin segera pergi ke London, rasanya malas sekali berada di Korea, tapi tidak ada siapapun.” Ucap Donghae kekanakan. Yoona terlihat memutar bola matanya jengah dengan sikap manja Donghae yang mulai muncul. Jika sudah seperti ini, sikap Donghae akan sangat mirip dengan sikap Daniel. Like father like son!

“Bersabarlah oppa, hanya tingga sehari lagi. Setelah itu kau bisa segera ke London dan bersenang-senang sepuasnya bersama kami. Ngomong-ngomong oppa sudah sarapan? Aku menyiapkan beberapa sandwich di kulkas yang bisa dipanaskan di microwave.”

“Sudah. Aku sudah membaca semua pesanmu yang kau tempel di semua sudut dapur. Kau tidak percaya padaku? Bagaimanapun aku ini tetap pria dewasa yang cerdas Yoong, aku tidak sebodoh itu hanya untuk memanaskan sandwich di microwave dan memakan buah-buahan yang telah kau siapkan di dalam kulkas.”

“Tapi kau sering lupa oppa.” Balas Yoona tak mau kalah. Suaminya itu jika tidak diingatkan akan sering lupa karena jadwalnya yang padat. Sehingga Yoona merasa perlu menempelkan banyak note di setiap sudut rumahnya agar sang suami tidak lupa untuk melakukan hal-hal yang biasanya ia ingatkan, seperti sarapan.

“Ngomong-ngomong kenapa kau tidak tidur? Ini sudah larut malam di sana, bahkan sudah hampir memasuki tanggal dua puluh tiga.”

“Aku mengkhawatirkanmu oppa. Aku takut kau bangun kesiangan dan mengacaukan segalanya.”

Samar-samar Yoona dapat mendengar suara dengusan Donghae dari ujung telepon. Ia yakin suaminya itu pasti kesal karena ucapannya.

“Hmm.. kau memang isteri yang sangat pengertian Yoong.” Ucap Donghae malas.

“Ngomong-ngomong bagaimana keadaan eomma, appa, dan Leeteuk hyung?” Tanya Donghae membuka percakapan baru.

“Mereka terlihat sehat. Mereka juga sempat terkejut saat aku memberitahu mereka jika aku sedang hamil tiga bulan.”

“Benarkah? Kenapa?” Tanya Donghae heran. Baginya berita mengenai kehamilan Yoona adalah berita yang seharusnya disambut dengan suka cita, bukan dengan keterkejutan.

“Yahh.. bagaimana mereka tidak terkejut. Bahkan baru beberapa bulan yang lalu aku mengalami keguguran, dan sekarang mereka sudah mendapatkan kabar jika aku tengah mengandung. Bahkan Leeteuk oppa sampai menyebutmu maniak karena seringnya oppa menghamiliku.”

Donghae sedikit tertawa sangsi dengan ucapan Yoona. Pasalnya kata-kata yang Yoona gunakan terdengar memiliki makna buruk jika di dengar oleh orang-orang awam disekitar mereka.

“Kata-katamu benar-benar terdengar ambigu Yoong. Jika orang lain mendengarnya, mereka pasti akan berpikir yang tidak-tidak tentangku. Tapi maniak lebih baik daripada ahjussi tua yang tidak laku-laku seperti Leeteuk hyung. Coba bayangkan, ia sudah berumur tiga puluh lima tahun, tapi ia sama sekali belum memiliki pasangan. Sedangkan aku, di usiaku yang menginjak tiga puluh tahun, aku hampir memiliki tiga orang anak. Jika ia pria normal, seharusnya ia segera mencari pendamping hidup untuk menemani masa senjanya.”

“Jadi oppa pikir Leeteuk oppa tidak normal? Seharusnya oppa lebih dewasa dalam menyikapi pilihan Leeteuk oppa. Ia pasti memiliki alasan tersendiri dibalik keputusannya itu. Lagipula oppa bisa menikah denganku karena saat itu oppa memaksaku untuk menerima lamaran oppa. Jika oppa tidak memaksaku, aku mungkin saat itu bisa melanjutkan kuliahku dan saat ini sedang bekerja di sebuah perusahaan terkenal.” Ucap Yoona sambil membayangkan masa lalunya yang penuh warna. Dulu ia berencana untuk melanjutkan kuliahnya di Amerika dan membangun karir yang cemerlang di sana. Tapi sebelum ia benar-benar lulus untuk program sarjananya, Donghae sudah lebih dulu melamarnya dan memaksanya untuk menikah. Sehingga pada akhirnya ia membatalkan niatnya untuk membangun karir di dunia bisnis, seperti yang ia cita-citakan sejak kecil.

“Sejak awal takdirmu memang menikah denganku Yoong, jadi terima saja takdir dari Tuhan. Kau seharusnya merasa bersyukur karena aku memaksamu untuk menikah denganku. Kau masih ingat kan jika aku ini adalah cassanova kampus?”

Dia mulai lagi…

Yoona terlihat membatin kesal ucapan Donghae. Selalu saja pria itu menyombongkan dirinya yang dulu pernah menjadi cassanova kampus.

“Please, jangan membuatku jengah dengan percakapan kita oppa. Kemarin malam kau sudah mengatakannya, jadi aku sudah cukup bosan untuk mendengarnya lagi.”

“Baiklah baiklah, aku akan menutup teleponnya sekarang. Aku harus check-in di bandara. Sampai jumpa tanggal dua puluh lima Yoong, selamat hari ibu dan selamat natal.”

Tanpa sadar Yoona mengukir senyum di bibirnya karena ternyata Donghae mengingat hari ibu yang jatuh pada tanggal dua puluh dua. Ia pikir Donghae tidak akan mempedulikan hal-hal seperti itu, tapi nyatanya di tengah kesibukan suaminya yang sangat padat, pria itu masih mengingat hari ibu yang sebenarnya tidak terlalu spesial, namun entah mengapa ia merasa senang jika Donghae ternyata mengingatnya.

-00-

Butiran salju dan suara lonceng gereja yang saling bersahut-sahutan di udara membuat semua orang terbangun dengan penuh suka cita dari alam mimpu mereka. Hari yang mereka tunggu-tunggu akhirnya telah tiba, hari natal! Dimana pada hari ini semua orang merayakannya dengan penuh suka cita sambil bercengkerama bersama keluarga masing-masing dan ditemani dengan segelas eggnog yang lezat.

“Selamat pagi, selama natal Yoona.”

Yoona yang baru turun dari kamarnya langsung disambut dengan senyum manis kakak iparnya di ujung tangga. Pria berlesung pipit itu merentangkan tangannya lebar dan meminta Yoona untuk memberikan pelukan hangat di pagi natal yang indah.

“Selamat pagi oppa, selamat natal. Dimana eomma dan appa?” Tanya Yoona mencari-cari keberadaan mertuanya di sekitar ruang utama yang terlihat kosong.

“Mereka pergi ke gereja lima belas menit yang lalu. Ngomong-ngomong kau mau kemana pagi-pagi seperti ini? Kau… Hana dan Daniel, kalian terlihat sangat rapi?” Tanya Leeteuk sambil mengamati penampilan adik iparnya dan kedua keponakannya yang terlihat sudah siap dengan pakaian hangat yang membungkus tubuh mereka.

“Kami akan pergi ke bandara untuk menjemput Donghae oppa.”

“Kenapa tidak meminta supir yang menjemputnya atau biarkan ia naik taksi. Aku yakin ia bisa pulang sendiri tanpa harus dijemput oleh supir appa.”

“Jangan, biarkan tuan James merayakan natal bersama keluarganya. Lagipula aku ingin merayakan pagi natal di depan London Eye bersama Hana dan Daniel, jadi aku memutuskan untuk menjemputnya sendiri.” Jelas Yoona bersemangat. Leeteuk mengangguk-angguk mengerti dan memberikan jalan untuk Yoona dan kedua keponakannya untuk lewat. Ia yakin, mereka berdua pasti sudah merindukan ayah mereka.

“Hana-ya, berikan kiss untuk uncle.”

Leeteuk berjongkok di depan keponakan cantiknya sambil memiringkan wajahnya ke kanan. Setelah itu Hana langsung mencium pipi pamannya dengan senang hati diikuti oleh Daniel yang juga ikut mencium pipi uncle tampannya.

“Mana kado untuk Hana?”

“Mana kado untuk Daniel?”

Seketika Leeteuk dibuat mati kutu oleh dua keponakannya karena ia belum mempersiapkan kado apapun untuk mereka. Rencananya hari ini ia akan mengajak dua keponakannya untuk berjalan-jalan dan memilih sendiri kado yang mereka suka di festival natal yang digelar di sekitar Camden market. Tapi itu nanti ketika matahari sudah benar-benar menyinari kota London yang diselimuti salju.

“Eee… paman belum menyiapkan kado untuk kalian.” Ucap Leeteuk kikuk. Yoona yang paham akan situasi Leeteuk langsung menarik Hana dan Daniel mundur agar tidak terus mendesak pamannya untuk memberikan kado.

“Hana-ya, Daniel-ya jangan mendesak uncle seperti itu. Pasti uncle tetap akan memberikan kado natal kalian nanti. Nah sekarang ucapkan selamat tinggal pada uncle karena kita harus menjemput daddy sekarang.”

“Maaf, uncle belum menyiapkan kado untuk kalian.”

“Tidak apa-apa oppa, mereka pasti mengerti.” Ucap Yoona sambil menepuk pundak Leeteuk pelan. Setelah berpamitan pada Leeteuk, ibu dan anak itu segera masuk ke dalam mobil dan pergi ke bandara Howthrone untuk menjemput Donghae. Keluarga kecil itu rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan salah satu anggota keluarga mereka yang kehadirannya sudah mereka nantikan sejak kemarin.

-00-

Donghae melepas kacamata hitamnya sambil menghirup udara dingin London dalam-dalam ketika ia baru saja turun dari pesawat. Tampak suasana bandara di pagi natal sangat sepi dan juga tenang karena sebagian penduduk London tidak mengambil penerbangan di saat natal. Dengan wajah lelahnya Donghae segera berjalan bersama penumpang yang lain untuk keluar dari area lepas landas yang cukup dingin. Sembari berjalan, Donghae memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya yang hangat karena ia merasa cukup menggigil sekarang. Ia khawatir akan terserang demam di sini karena udara dingin dan stamina tubuhnya yang tidak maksimal. Tapi semoga saja apa yang ia takutkan tidak terjadi karena jika sampai itu terjadi ia akan mengacaukan rencana liburan yang telah ia susun bersama Yoona.

“DADDY!!!”

Suara teriakan Hana dan Daniel yang sangat keras langsung membuat Donghae tersenyum sambil melambaikan tangannya pada kedua anaknya yang menggemaskan. Ketika melihat daddynya sedang tersenyum sumringah kearahnya, kedua anak itu langsung berlomba-lomba untuk mencapai tubuh ayahnya terlebihdulu dan memeluknya dengan erat.

“Daddy selamat natal.” Ucap Hana manis. Donghae mengelus puncak kepala Hana lembut dan mencium pipi chubby itu dengan gemas.

“Selamat natal juga Hana-ya. Selamat natal Daniel, dan selamat natal mommy.”

Donghae memberikan kecupan singkat di bibir Yoona sambil merangkul isterinya mendekat. Mereka berempat tampak begitu manis di tengah-tengah aula bandara yang sangat besar. Sebentar saja mereka telah menjadi bahan tontonan karena kehangatan yang menguar dari kebersamaan mereka.

“Selamat natal oppa. Semoga Tuhan selalu melindungi kita semua.” Doa Yoona tulus. Mereka berempat lalu berjalan beriringan keluar dari bandara dengan tangan Donghae yang saling bertaut pada tangan Hana dan Daniel.

“Jadi kemana kita akan menhabiskan pagi natal kita?”

“LONDON EYE!” Teriak Hana dan Daniel bersemangat. Refleks Donghae langsung menoleh pada Yoona karena kedua anaknya seperti itu pasti karena pengaruh dari isterinya yang manipulatif.

“Kau telah mengajari mereka dengan baik Yoong. Ooya, selamat hari ibu untukmu. Maaf aku terlambat mengucapkannya, aku lupa mengatakannya padamu kemarin. Terimakasih karena telah menjadi isteri dan ibu yang sempurna untuk kami. Semoga Tuhan selalu memberikan kebahagiaan untukmu sayang.”

Melihat Donghae yang tiba-tiba bersikap romantis membuat Yoona merasa terenyuh sekaligus ingin menangis. Ini benar-benar momen yang sangat langka karena Donghae adalah pria kaku yang sangat sulit untuk bersikap romantis seperti saat ini.

“Ohhh.. Daddy Hae sangat romantis. Dari mana oppa belajar kata-kata itu? Apa oppa berusaha menghafalnya ketika di dalam pesawat?”

Seketika suasana romantis yang terbangun diantara mereka hancur karena sikap menyebalkan Yoona yang benar-benar mengganggu itu.

“Aishh.. seharusnya kau tidak merusaknya dengan kata-kata menyebalkanmu itu Yoong. Seharusnya kau menangis haru dan memelukku dengan erat seperti di film-film yang sering kau tonton di malam sabtu.” Dengus Donghae sebal. Yoona terbahak di depan suaminya sambil mencolek hidung Donghae pelan agar pria itu tidak ngambek di depan anak-anaknya.

“Jangan seperti itu oppa, kau membuat Hana dan Daniel ingin menertawakanmu. Nah, sekarang mana kado untukku? Kau tidak melupakannya kan?”

Yoona pura-pura meminta kado pada Donghae karena ia yakin suaminya itu pasti tidak menyiapkan apapun untuknya sama seperti sebelum-sebelumnya. Tapi tanpa disangka-sangka, Donghae telah menggenggam pergelangan tangannya lalu memasangkan sebuah gelang dengan batu-batu permata biru di yang melingkar cantik di tangan putihnya.

“Ini kado natal sekaligus kado hari ibu untukmu, semoga kau menyukainya.” Ucap Donghae tulus. Kali ini Yoona benar-benar merasa tersentuh hingga ia merasakan air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Sungguh ia merasa natal tahun ini adalah natal yang paling indah untuknya karena ia bisa merayakannya dengan penuh kebahagaiaan bersama keluarga kecilnya. Meskipun Donghae tidak bisa bercengkerama di malam natal sambil menikmati segelas eggnog, tapi ia bersyukur karena saat ini Donghae telah ada di depan matanya untuk merayakan hari penuh suka cita itu bersama mereka semua.

“Terimakasih oppa, ini sangat indah.”

“Mana kado untuk Hana?”

“Mana kado untuk Daniel?”

“Daddy curang! Daddy hanya memberikan kado untuk mommy.”

Melihat ibu mereka mendapatkan kado spesial dari ayah mereka membuat Hana dan Daniel langsung melayangkan protes pada ayahnya. Mereka berdua langsung terlihat cemberut ketika ayahnya hanya meringis kecil sambil mengatakan jika ia belum menyiapkan kado untuk kedua malaikat kecilnya.

“Maaf, daddy belum menyiapkan kado untuk kalian.”

“Daddy jahat!”

“Daddy jahat!”

Kedua kakak beradik itu secara bergantian menunjukan rasa kesalnya pada sang ayah sambil membalikan tubuh mereka masing-masing membelakangi sang ayah. Melihat itu Yoona hanya mampu terkikik geli karena tingkah menggemaskan kedua malaikatnya yang sangat kompak itu.

“Lihat, ini karena mereka sering melihatmu merajuk di depanku. Sekarang mereka meniru gayamu ketika merajuk.” Ucap Donghae menyalahkan Yoona.

“Kenapa oppa menyalahkanku? Dasar menyebalkan. Hana, Daniel, ayo kita tinggalkan daddy, daddy sangat menyebalkan.”

Seketika tiga manusia itu berbalik pergi dan meninggalkan Donghae sendiri yang masih tidak percaya dengan kelakuan isteri serta anak-anaknya. Sekarang ia merasa harus selalu mendampingi anak-anaknya, sebelum mereka berdua berubah mengerikan sama seperti Yoona.

“Yakk! Kenapa mereka meninggalkanku? Percuma aku membelikan perhiasan mahal jika Yoona juga ikut marah. Aishh..”

Donghae menggerutu kesal pada dirinya sendiri dan segera berjalan cepat menyusul isteri dan anaknya yang telah berjalan jauh di depannya.

 

25 thoughts on “LEE FAMILY: HAPPY MOTHER’s DAY (You’re Perfect Mom and Wife Ever)

  1. Ohoooo ada jg ff yg bisa d baca
    Smoga yoona sllu bahagia. Kadian jg lok keseringan hamil, apalagi bru slse lguguran

  2. keluarga bahagia ..
    yaampun aku seneng banget baca ff mereka yg kaya gini ,romantis nya dapet banget aku suka kisah mereka yg yaa kaya gini ..gak terlalu sweet tapi gak terlalu aneh juga haha
    di tunggu buat nextnya lagi un ^^

  3. sweeeettttt… :* :* :*
    sakinah mawaddah warrahmah terus ye yoong bersama donghae.. kkkkk
    makasih saeng udah lanjut lee family ini.. :*

  4. Oh aku pikir akan berakhir dengan adegan romantis tapi ternyata……sungguh luar biasa menggemaskan melihat tingkah keluarga donghae 😂😂 good story 👍🏻👍🏻👍🏻

  5. Astaga yoona apa yang kamu ucapkan ke anakmu “hana” 😂
    Ya ampun donghae istri dan anaknya ngambek tuh😁😂

  6. Gemes sama tingkah mereka ya ampun……
    Kapan update lagi thor…… 😂😂#maksa ditunggu ff selanjutnya semangat… 💪

  7. Ouuuhh manisnyaaa 😍😍 Keluarga romantis 😍 Lee family series is the best 😅😍 Sllu ditunggu2 update tntng hana sama daniel nya 😅 Ditunggu series lanjutnnya kk.. fighting!!

    bullets of justice blum slesai kan kk? ditunggu yah..

  8. Sukaaa banget sama lee family
    Hae pria kaku tp kalau sudah romantis dan bersikap manis bwt yoonh makin terbius hehehe
    Suka suka suka bangeeeettttr

  9. aahhhh I miss Lee family… OMG mrka lucu n sweet bgt,,, ff author always DAEBAK… mengakhiri 2017 dngn baca ff author aassikk perfect… dtggu ff author lainnya fighting 💪💕

  10. Qlo liat lee family bawaanya senyam senyum sendri apalg liat kelakuan donghae yang rada2 haha , aduh donghae emang doyan bngt bikin anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.