Red Wine (Oneshoot)

Video by: Alfindah –  Always In My Heart

 

“Chersss!!!”

Suara dentingan gelas yang saling beradu terselip diantara hiruk pikuk keramaian ballroom sebuah hotel yang baru saja menggelar pertunjukan busana dari seorang desainer ternama Amerika. Kumpulan gadis-gadis cantik yang merupakan peraga dari busana-busana yang tak kalah cantik itu terlihat sedang bersenda gurau dengan sebuah gelas berisi cairan merah di tangan mereka masing-masing. Malam ini mereka akan makan sepuasnya. Melupakan segala macam diet dan momok mengenai berat badan yang sudah menyiksa mereka hampir tiga bulan yang lalu karena baju-baju super mini rancangan desainer itu tidak akan menarik di tubuh mereka jika mereka tidak menjaga pola makan mereka berbulan-bulan sebelum perhelatan akbar itu dilaksanakan.

“Ya Tuhan!!! Akhirnya aku bisa makan pizza.” Jerit seorang model sambil melahap pizza di tangannya besar-besar. Rekan-rekannya yang berada di meja itu hanya menatap salah satu rekan mereka dengan tawa maklum, mengingat usaha Rebeca tiga bulan ini untuk menjaga postur tubuhnya agar tetap ideal hingga hari peragaan busana itu tiba tidak mudah.

“Makanlah yang banyak Bec, selagi bos tidak melirikmu di ujung sana.” Canda Calistha sambil menyodorkan sepiring besar pizza di depan rekannya. Rebecca telah menghabiskan sepotong pizza di tangannya, ia kemudian mengambil potongan lain dari piring yang disodorkan Calistha.

“Kau tidak makan Cals. Sejak tadi kau hanya minum wine dan memesan salad. Oh ayolah, kita sudah free. Kita tidak perlu lagi memikirkan diet yang menyebalkan itu untuk satu bulan kedepan, jadi kau bisa makan monster-monster berlemak yang lezat itu untuk malam ini.”

Calistha menggeleng pelan sambil mengendikan bahu pada salad-salad yang berada di depannya.

“Kurasa malam ini aku hanya ingin makan salad. Aku sudah kenyang dengan sepotong ubi tadi.”

“Apa kau takut tidak terlihat menarik lagi di depan bos?” Tanya rekannya yang lain yang duduk di sebelah kanannya sambil melirik genit pada bos mereka yang saat ini juga sedang menatap mereka dengan tatapan intens. Lebih tepatnya pria itu sedang menatap Calistha.

“Tidak, sama sekali tidak. Aku tidak tertarik dengan bos genit yang menyebalkan itu. Lagipula aku sudah menikah. Jadi ambil saja bos itu untuk kalian. Aku sama sekali tidak tertarik.” Ucap Calistha pedas. Rekan-rekannya langsung terbahak menertawakan ekspresi wajah Calistha yang terlihat begitu muak dan juga jijik pada pria tampan yang merupakan bos mereka. Sudah menjadi rahasia umum jika bos agensi mereka memang tertarik pada Calistha dan sejak dulu selalu mencoba mendapatkan perhatian dari Calistha. Tapi sayangnya Calistha terlalu galak dan cuek, sehingga ia tidak pernah sedikitpun menanggapi godaan dari bosnya yang tampan. Bahkan beberapa kali Calistha membentak pria itu karena sikap kurang ajarnya yang menjengkelkan. Seperti mencolek dagunya, mencium pipinya di tempat umum, bahkan mengaku-ngaku pada rekan bisnisnya jika Calistha adalah kekasihnya. Such a player!

“Oya, apa suamimu sudah kembali dari Korea? Kau bilang ia sedang mengunjungi keluarganya yang sakit bukan?” Tanya Becca di sebelah Calistha. Calistha menatap wajah Rebecca lesu sambil menggelengkan kepalanya lemah.

“Belum. Ia bilang penyakit kakeknya sangat parah, sehingga ia akan menetap di Korea lebih lama. Mungkin aku akan menggunakan waktu bebasku bulan depan untuk menyusulnya ke Korea. Aku merasa seperti cucu menantu yang tidak tahu diri karena jarang sekali menengok keluarga Siwon oppa di Korea. Dan kali ini aku akan menghabiskan hari liburku untuk mengunjungi saudara-saudaraku di Korea.”

“Aww.. aku pasti akan sangat merindukanmu Cals. Bulan depan aku juga akan pulang ke San Diego, ibuku terus menerus menghubungiku dan menyuruhku untuk pulang karena akan ada gathering keluarga di rumah besar. Jadi aku harus datang. Aku harus berbaur bersama keponakan-keponakanku yang nakal-nakal itu.” Ucap Rebecca dengan wajah kesal yang dibuat-buat. Calistha tergelak pelan di sebelahnya dan kembali menyesap winenya dengan nikmat.

“Hai ladies..”

“Hai tampan!!” Teriak model-model itu serempak kecuali Calistha yang mendengus gusar karena kemunculan pria itu di mejanya.

“Kerja kalian hari ini sangat spektakuler, kuucapkan selamat pada kalian. Dan karena kerja keras kalian, aku akan memberikan bonus pada gaji kalian bulan ini.”

“Waaa… Itu benar-benar berita yang sangat luar biasa.” Teriak wanita-wanita itu heboh sambol ber high five ria karena akan mendapatkan kenaikan gaji dari bos mereka. Tidak sia-sia selama ini mereka menekan perut mereka agar tetap terjaga di mode langsing jika pada akhirnya mereka mendapatkan bayaran yang setimpal dari penyiksaan yang sangat mengerikan itu.

“Bos, apa kau sedang mencari Calistha?” Tanya Lisa menggoda. Aiden tersenyum manis pada Lisa sambil melirik Calistha yang sejak tadi hanya terduduk kaku di depannya. Wanita itu jelas sekali tidak mau bertemu dengannya.

“Hmm.. awalnya, tapi sepertinya ia sedang tidak ingin bertemu denganku. Bukankah dia sangat sulit untuk ditaklukan.” Canda Aiden dengan tawa renyahnya yang berhasil menarik perhatian wanita-wanita cantik di hotel itu. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Calistha, karena ia justru merasa muak pada Aiden yang sejak tadi terus menggoda wanita-wanita di sana dengan trik trik player andalannya. Untung ia bukan jenis wanita yang mudah tertipu dengan wajah malaikat Aiden yang penuh dusta itu.

“Bos, apa malam ini kau perlu penghangat ranjang?”

“Penghangat ranjang yaa? Hmm.. kedengarannya menarik.” Ucap Aiden sambil melirik Calistha. Rebecca yang berada di sebelah Calistha langsung menyikut-nyikut lengan Calistha untuk menggoda wanita muda itu. Namun hal itu hanya ditanggapi Calistha kalem sambil menyesap red winenya lagi.

“Apa kau mau menjadi penghangat ranjangku Cals?”

Aiden mencondongkan kepalanya tepat di samping kepala Calistha dan berbisik sensual di telinga waniata itu. Semua wanita yang berada di sana langsung bersorak sorai melihat kelakuan bos mereka yang sangat gentle itu, apalagi jika pada Calistha.

“Menjauhlah dari sana sialan!” Balas Calistha ketus. Aiden tersenyum manis di sebelah wanita itu dan langsung mendaratkan satu kecupan ringan di pipi Calistha yang merona.

“Jangan menciumku sembarangan! Aku sudah menikah. Persetan dengan statusmu yang merupakan bosku! Jika kau terus melakukan hal itu, aku benar-benar akan keluar dari agensimu.” Ancam Calistha galak sambil mengelap bekas kecupan Aiden dengan serbet putih di pangkuannya. Ia benar-benar muak dengan kelakuan pria itu sekarang.

“Coba saja jika kau bisa. Kujamin tidak akan ada satupun agensi yang mau menerimamu. Karena aku masih menyimpannya.” Bisik Aiden pelan di telinganya dengan penuh kemenangan. Seketika wajah Calistha berubah pucat pasi mendengar ancaman yang dilontarkan Aiden. Pria itu memang benar-benar busuk karena sengaja memanfaatkan kelemahannya untuk tetap menahannya di agensi pria itu. Andai suaminya bukan kakak dari bosnya yang sangat menyebalkan itu, ia pasti akan lebih mudah keluar dari agensi ini. Tapi sayangnya suaminya itu terlalu positif thingking pada adiknya dan menganggap semua kelakuan kurang ajar adiknya sebagai lelucon yang tidak perlu dipusingkan. Katanya apa yang dilakukan oleh Aiden hanyalah candaan biasa antara kakak ipar dan adik ipar. Tapi nyatanya, ia sama sekali tidak merasa seperti itu. Apa yang dilakukan Aiden sudah melewati batas menurutnya. Aiden terlalu kurangajar. Dan bahkan ia terkesan seperti melecehkannya dengan menyentuh bagian-bagian yang seharusnya tak disentuh, seperti pinggul misalnya. Dan ia muak dengan pria itu.

“Chers! Tidak baik mengumpatiku di dalam kepala cantikmu itu Cals.” Ucap Aiden santai sambil mengadukan ujung gelasnya dengan ujung gelas milik Calistha yang masih tergenggam di dalam tangan mungil itu dengan erat karena menahan kesal pada kelakuan pria menyebalkan di sampingnya.

“Pergi! Jangan menggangguku, aku ingin bersenang-senang.”

“Justru di sini aku berperan sebagai penjagamu Cals, Andrew yang meminta.” Ucap Aiden sambil menunjukan ponselnya yang menampakan sederet kalimat percakapan antara dirinya dan juga suami tersayangnya yang juga sama menyebalkannya karena justru menitipkan dirinya pada adik ipar yang brengsek ini.

“Aku bukan anak kecil, aku bisa menjaga diriku sendiri Aiden Lee!” Ucap Calistha penuh penekanan. Aiden tampak tak peduli dan justru tersenyum manis pada Rebecca yang memberinya tempat duduk di samping Calistha.

“Silahkan bos, kurasa aku akan pergi bersama pria seksi di sana.” Bisik Rebecca genit sambil melirik seorang pria negro yang sedang menatapnya intens. Calistha mendengus kesal pada Rebecca sambil menatap kepergian sahabatnya itu dengan tajam. Ia rasa semua orang memang sudah tertipu dengan pesona Aiden yang sangat brengsek itu. Tapi tentu saja hal itu tidak berlaku untuknya, ia adalah musuh nomor satu Aiden. Dan sampai kapanpun ia tidak akan pernah tertarik dengan pesona mematikan pria itu.

“Sayang, kau mau berdansa denganku?”

Aiden mengulurkan tangan kanannya di depan Calistha, namun hanya dibalas wanita itu dengan lirikan tajam. Lagipula mana mungkin ia mau menerima ajakan pria itu. Ia sudah bersuami, ingat! Dan ia tidak berminat untuk membuat sebuah skandal dengan adik iparnya yang memuakan itu.

“Ayolah Cals, Andrew tidak akan marah hanya karena kau berdansa denganku. Bukankah aku ini adalah adik kesayangannya? Apapun yang kulakukan, ia pasti tidak akan pernah memprotesnya.”

“Aku tidak berminat untuk berdansa denganmu Aiden.” Balas Calistha ketus. Wanita itu kemudian menyibukan diri dengan menyalakan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Siwon yang berada di Korea, tapi sayangnya justru suara operator yang menjawab panggilannya.

“Dia tidak akan menjawab panggilanmu honey, kau pikir jam berapa sekarang di sana? Ia pasti sedang melakukan meeting bersama rekan-rekan bisnisnya.”

“Sial!”

Chalista mengumpat keras sambil meletakan keras ponselnya ke atas meja. Kesempatannya untuk menghindari Aiden yang menyebalkan sirna karena ia lupa jika sekarang di Korea sudah menunjukan pukul empat sore. Itu berarti saat ini suaminya sedang bertermu dengan koleganya atau sedang melakukan banyak kesibukan di kantor yang jelas-jelas tidak bisa ia ganggu. Lalu apa yang harus ia lakukans sekarang? Berdansa dengan si player Aiden? Oh hell! Itu benar-benar ide yang sangat buruk.

“Kau tidak memiliki alasan untuk menolakku Calistha. Kau harus berdansa denganku sekarang.”

Dengan penuh paksaan, Aiden menarik tangan Calistha untuk berdiri dan menyeret langkah wanita itu yang berat untuk berdiri di tengah-tengah ballroom. Suara alunan musik yang sangat lembut begitu pas untuk mengiringi langkah mereka di atas lantai dansa. Namun sayangnya Calistha tidak sedang dalam suasana hati yang bagus untuk berdansa. Apalagi itu bersama Aiden!

“Aku tidak mau berdansa denganmu.”

Calistha menghempaskan tangan Aiden yang bertengger di pinggulnya dengan manis. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada suasana ballroom yang ramai sambil memandangi satu persatu rekannya yang kini sudah tenggelam dengan kesibukan mereka masing-masing. Namun ia masih sempat melihat segerombolan wanita yang sedang menatapnya dengan wajah sinis karena ia baru saja menolak Aiden untuk mengajaknya berdansa. Well, mereka semua adalah fans-fans bodoh Aiden yang tertipu dengan wajah malaikat Aiden.

“Kenapa tidak mau? Lihat, kita terlihat serasi di sini, dan kita harus berdansa bersama untuk menunjukan pada semua orang jika kita adalah keluarga yang bahagia.” Ucap Aiden dengan senyum menjijikan. Calistha terlihat semakin muak dengan Aiden. Ia hendak beranjak pergi dan meninggalkan Aiden sendiri dengan monolognya yang tidak penting itu. Namun tiba-tiba Aiden mencekal lengannya dan memaksanya untuk bergerak bersama alunan musik yang telah berubah menjadi lebih cepat.

“Tidak ada penolakan! Kau harus berdansa denganku.”

Akhirnya Calistha tidak bisa berkutik dengan perintah Aiden yang mutlak. Wanita itu dengan terpaksa mengikuti setiap langkah Aiden yang menyeretnya kesana kemari, sesuka hati pria itu. Bahkan ia sekarang merasa tidak benar-benar menapak lantai, karena Aiden menyuruhnya untuk berdiri di atas kakinya agar ia tidak bisa bergerak sesuka hati dan hanya mengikuti langkah pria itu berdasarkan alunan musik klasik yang indah. Mungkin jika saat ini suaminya tidak sedang berada di Korea, ia pasti lebih memilih berdansa bersama suaminya. Tapi sayangnya sejak dulu suaminya itu selalu sibuk. Ia hampir terlihat seperti pajangan berjalan di rumah megah suaminya karena ia sangat jarang berinteraksi dengan pria itu. Hanya sesekali di akhir pekan mereka akan menghabiskan waktu bersama untuk bersantai, menonton film, atau sekedar bermalas-malasan di atas karpet berbulu sambil mendengarkan musik. Selebihnya, mereka jarang sekali bertemu. Justru ia lebih sering bertemu dengan adik iparnya yang menyebalkan itu daripada bertemu dengan suaminya tercinta. Bisa dikatakan Aiden selalu berada di semua tempat yang ia datangi. Baik itu di kantor agensi atau di lokasi tempat pemotretannya, yang jelas pria itu seperti kuman yang sangat mengganggu dan juga menyebalkan.

Cup

“Jangan terlalu banyak melamun cantik, kau merusak wajah cantikmu.” Bisik Aiden tepat di depan wajah Calistha setelah mencium pipi wanita itu ringan. Calistha tampak menatap Aiden sekilas tanpa berniat membalas ucapan pria itu. Sampai kapanpun Aiden akan terus bertingkah sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaanya yang dongkol. Jadi kali ini ia akan memilih diam sambil menikmati setiap alunan musik klasik itu dengan perasaan kesal yang menyiksa.

-00-

“Good Morning Honey…”

Calistha mengerutkan wajahnya terganggu dengan suara berisik yang tiba-tiba muncul di dalam kamarnya yang nyaman. Dengan malas, Calistha mengambil bantal dan menyumpal telinganya dengan sebuah bantal yang berhasil diraihnya. Namun tiba-tiba ia merasakan sisi ranjangnya sedikit berderit, lalu disusul dengan tarikan selimut yang sangat kuat hingga ia merasa menggigil karena kaki jenjangnya yang tak tertutup apapun langsung terterpa tiupan pendingin ruangan yang distel dengan suhu maksimal.

“Aiden! Apa yang kau lakukan di kamarku? Keluar!” Teriak Calistha marah sambil merebut selimut hijau yang sedang digenggam oleh Aiden. Sekilas Aiden justru terpana melihat penampilan acak-acakan Calistha yang sialnya sangat menggairahkan untuknya. Rambut coklat Calistha yang panjang menjuntai liar kesana kemari, dan tubuh ramping Calistha hanya dibalut dengan baju tidur mini yang sudah tampak kusut di beberapa sisinya. Mungkin jika ia tidak menggunakan akal sehatnya untuk berpikir, ia sudah mendorong wanita cantik itu ke atas ranjang untuk melakukan kegiatan pagi yang sangat menggairahkan.

“Apa yang kau lihat?”

Calistha melilitkan selimut tebal itu pada tubuhnya untuk menghalangi mata Aiden dari lekuk-lekuk tubuhnya yang mungkin sangat terekspos jelas dari baju tidur mininya. Apalagi pandangan pria itu kini sudah terlihat sangat membahayakan dengan kilat-kilat gairah yang tercetak jelas di mata sendunya. Ia kemudian segera berpikir cepat untuk menjauh dari jangkauan pria itu. Ia tidak mau mengambil resiko menjadi menu santapan Aiden yang jelas-jelas sedang terlihat kelaparan itu.

“Selamat pagi Yoong.”

Donghae menyapa Yoona sambil memberikan senyum andalannya yang mematikan. Namun sayangnya hal itu tidak berlaku pada Yoona karena wanita itu justru melemparnya dengan bantal besar yang berada di atas ranjangnya.

“Pergi kau dari kamarku! Kau tidak seharusnya menyusup masuk ke dalam kamar kakak iparmu. Nicholasss!!! Nicholaassss!!” Teriak Yoona memanggil kepala pelayan di rumahnya untuk mengusir Donghae dari kamarnya. Namun sekeras apapun ia memanggil pria paruh baya itu, ia sama sekali tidak menampakan batang hidungnya untuk memenuhi panggilan sang majikan yang sedang naik pitam.

“Nicholas sedang pergi ke supermarket, aku menyuruhnya untuk membeli bahan-bahan kebutuhan rumah tangga yang sudah habis.” Jawab Donghae enteng. Pria itu kemudian berjalan ke sudut ruangan untuk mendudukan dirinya di atas sofa maroon yang terlihat begitu menggoda untuk diduduki.

“Untuk apa kau menyuruh Nicholas untuk berbelanja, dia kepala pelayan di rumahku, bukan rumahmu.”

“Tapi ini adalah rumah hyungku, jadi aku memiliki hak untuk mengatur semua pekerja di sini. Terutama saat hyungku sedang tidak berada di sini.” Balas Donghae mutlak. Yoona mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menahan setiap amarah yang bergejolak di dalam dadanya. Terhitung sudah dua tahun ia menikah dengan Siwon, tak pernah sekalipun hidupnya merasa tenang karena Donghae selalu mengacaukannya. Bahkan pria itu juga selalu mengacaukan semua hal romantis yang coba ia bangun bersama suami tercintanya. Jadi marah pada pria itu rasanya justru hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga, ia lebih baik mandi untuk menghindari pria menyebalkan itu.

“Kau mau kemana sayang?”

“Tutup mulutmu sialan! Atau aku akan melemparnya dengan sandal rumahku.” Balas Yoona sengit dan langsung menutup pintu kamar mandinya keras-keras. Donghae tergelak di dalam kamar Yoona sambil memandangi pintu coklat itu beberapa saat sebelum ia kembali duduk di atas sofa maroon yang semula ia duduki. Pria itu kemudian mengitari kamar luas milik kakaknya dan juga wanita galak itu yang sudah biasa ia masuki. Di dalam kamar itu banyak sekali foto-foto Yoona ketika bersama Siwon dan juga foto ketika Yoona sedang menerima penghargaan. Wanita itu memang sangat populer. Bahkan sejak di bangku senior high school Yoona sudah sangat populer, meskipun saat itu Yoona bukan termasuk salah satu wanita populer yang seksi di sana, tapi Yoona sangat populer saat itu. Hingga ia menjadi bahan taruhannya dan juga teman-temannya. Hah… masa lalu memang sangat lucu untuk dikenang.

Donghae menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa dan memejamkan matanya sejenak. Semalam ia lembur setelah mengantarkan Yoona pulang dengan selamat ke mansion milik kakaknya. Meskipun sepanjang perjalanan wanita itu selalu membalas setiap ucapannya dengan kata-kata pedas, namun ia menyukai itu. Ia menyukai isteri dari kakaknya, lebih tepatnya ia mencintai wanita itu. Andai dulu ia menemukan wanita itu terlebihdulu sebelum kakaknya, mungkin ia yang akan bersanding dengan wanita itu saat ini.

-00-

Suara denting sendok dan garpu terdengar bersahut-sahutan di dalam ruang makan mewah milik Yoona. Di atas meja tertata banyak makanan lezat yang telah disiapkan oleh para maid yang bekerja di kediaman mewah itu. Namun terdapat sedikit pengecualian untuk makanan milik Donghae, karena makanan itu dimasak oleh Yoona sendiri.

“Makananmu lezat, aku suka.”

Suara Donghae yang ringan memecah suasana hening yang sebelumnya tercipta diantara keduanya. Yoona melirik pria itu sekilas dan kembali melanjutkan kegiatan makannya yang sempat tertunda karena harus melirik pria itu.

“Masakanmu mengingatkanku pada eommaku yang sudah meninggal.” Ucap Donghae lagi. Yoona menghela napas pelan tanpa menghiraukan ucapan Donghae. Ia tahu jika saat ini Donghae sedang berusaha mengajaknya untuk berbicara. Tapi ia sedang tidak mood untuk berbicara dengan pria itu. Apalagi itu menyangkut mendiang ibunya yang telah meninggal tujuh tahun lalu.

“Kau belajar dengan baik untuk menduplikatnya. Apa kau masih mengingat rasa masakannya sampai sekarang?”

Tak

Yoona membanting sendoknya kasar dan menatap Donghae tajam. Ia kesal karena pria itu sejak tadi terus mengajaknya = berbicara padahal ia sedang tidak ingin berbicara dengan pria itu. Terlebih lagi jika membicarakan masa lalu yang sudah lama ia kubur rapat-rapat di dalam hatinya.

Menyebalkan! Apa yang sebenarnya ia inginkan!

            “Kenapa kau sejak tadi terus berbicara? Makan saja makananmu dan diam.”

“Aku hanya ingin bertanya. Kupikir kau masih mengingat saat pertama kali ibuku mengajakmu makan siang di rumahku delapan tahun lalu. Rasa masakanmu sama seperti masakan ibuku, dan aku menyukainya.”

Pria itu memang kepala batu!

“Aku sudah lupa. Aku hanya asal memasukan bahan-bahan ke dalam masakan itu. Seharusnya aku memasukan racun ke dalam makananmu agar kau mati dan tidak terus menerus menggangguku.”

“Hmm.. kau tidak mungkin melakukannya padaku.” Balas Donghae dengan senyum manis yang membuat Yoona muak. Pria itu akhirnya memilih diam dan melanjutkan sisa makanannya yang tinggal separuh. Sejak dulu ia memang sangat suka mengganggu Yoona. Lebih tepatnya setelah ia mengetahui jika Yoona adalah calon isteri kakaknya dua setengah tahun yang lalu.

“Apa kau akan pergi ke Korea? Menyusul Siwon Hyung?”

Yoona melirik Donghae sekilas dari balik bulu matanya. Ia takut pria itu akan mengikutinya jika ia mengatakan pada pria itu jika sore ini akan terbang ke Korea.

“Hari ini aku akan terbang ke Korea, apa kau…”

“Kau mengikutiku?” Tuduh Yoona sambil menggebrak meja. Wanita itu terlihat sangat kesal setelah mendengar berita dari pria itu jika ia juga akan pergi ke Korea. Memangnya apa yang akan dilakukan oleh pria berandal itu? Mengunjungi kakeknya juga? Sepertinya tidak mungkin!

“Oh, jadi kau benar akan ke Korea sore ini? Menarik, mungkin kita bisa berada di dalam pesawat yang sama dan duduk bersebelahan.” Ucap Donghae santai tanpa dosa. Yoona lagi-lagi menghela napas berat untuk menanggapi setiap kelakuan ajaib Donghae.

“Tidak mungkin. Aku sudah memesan penerbangan first class sejak minggu lalu, jadi kita tidak mungkin berada di dalam satu pesawat yang sama. Lagipula apa yang akan kau lakukan di Korea? Menjenguk kakek? Huh, memangnya cucu berandal sepertimu diharapkan oleh kakek?” Cibir Yoona kejam. Donghae menipiskan bibirnya dan hanya menatap Yoona datar. Ia tahu jika wanita itu sangat membencinya, tapi ia tidak suka jika Yoona menganggapnya sejahat itu pada kakeknya karena kenyataanya ia sangat dekat dengan kakeknya. Hanya saja ia tidak pintar mengungkapkan rasa sayangnya sama seperti Siwon.

“Aku memiliki pekerjaan di Korea. Jadi kupikir aku bisa sekalian menjenguk kakek dan bertemu Siwon hyung.”

“Huh, kuharap kau tidak mengacaukan hidupku selama di Korea karena aku ingin menghabiskan waktu liburku untuk bersenang-senang dengan Siwon oppa. Aku harus mulai menjalankan program bayiku.”

Donghae terdiam cukup lama untuk mencerna setiap kalimat yang diucapkan Yoona.

“Kau model… kau akan berubah gendut jika mengandung.” Komentar Donghae datar. Yoona menaikan alis matanya tidak mengerti dengan komentar Donghae yang terdengar datar dan sakarstik itu.

“Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku akan vakum dari dunia model dan menjadi ibu rumah tangga untuk membesarkan anak-anakku. Lagipula Siwon oppa sudah bekerja, untuk apa aku juga ikut bekerja. Hartanya tidak akan habis jika aku menghabiskannya bersama anak-anakku.” Komentar Yoona ringan tanpa memperhatikan perubahan raut wajah Donghae yang terlihat mendung.

“Tapi kontrakmu masih berlaku untuk tahun depan.”

“Apa kau akan mempersulit proses resignku Lee Donghae? Aku adalah kakak iparmu, seharusnya kau senang jika aku akan memberimu keponakan lucu. Kenapa kau terlihat sangat tidak senang seperti itu?” Balas Yoona kesal. Sungguh ia tidak mengerti jalan pikiran pria itu. Seharusnya ia senang karena akhirnya ia memiliki kejelasan untuk hubungannya dengan kakaknya yang sejak dulu berjalan datar tanpa gairah. Ia sudah memikirkan matang-matang untuk itu, bahkan ia sudah memikirkannya sejak satu bulan yang lalu dengan banyak pertimbangan dari rekan-rekan kerjanya.

“Aku hanya membicarakan profesionalitasmu sebagai model Lee Yoona. Dan ini bukan masalah senang dan tidak senang. Di kontrak sudah tertera dengan jelas jika kau mengakhiri kontrak sebelum masa berlakunya selesai, kau akan mendapatkan denda yang sangat besar karena akan membuat perusahaanku rugi.”

Yoona mendengus kesal. Kenapa adik iparnya itu tidak pernah membiarkan hidupnya mudah?

“Pasti Siwon oppa akan membayar dendanya. Kau ini memang adik ipar yang kejam.”

“Kau jauh lebih kejam Yoona. Kau adalah wanita yang paling kejam.”

Yoona melongo tidak percaya dengan balasan dari Donghae yang bernada dingin itu. Padahal seumur hidupnya ia tidak pernah melakukan apapun pada pria itu. Justru pria itu yang sering mengganggu hidupnya dan merusak hidupnya. Lalu dengan seenaknya pria itu mengatakan jika ia adalah wanita yang paling kejam. Hell! Ia tidak terima.

“Kau bilang apa? Aku kejam? Huh, yang benar saja. Hey Lee Donghae! Aku belum selesai bicara!” Teriak Yoona ketika Donghae justru meninggalkannya begitu saja dengan teriakannya yang sangat lantang.

Sambil memijit pelipisnya yang pening, Yoona mendorong piringnya menjauh yang masih menyisakan setengah dari sarapannya yang belum habis. Berdebat dengan Donghae membuatnya malas untuk melanjutkan sisa sarapannya. Ia pun memilih untuk bersiap karena ia tidak ingin ketinggalan pesawatnya sore ini.

Siwon oppa! Tunggu aku.

                                                                        -00-

Yoona mengerucutkan bibirnya sebal sambil menatap pemandangan membosankan yang tersaji di luar jendela pesawatnya. Awan sore yang kelabu terlihat sama seperti suasana hatinya sekarang yang kelabu. Ia merasa menyesal mengambil penerbangan first class ini.

“Yoong, kau mau memesan sesuatu?”

Donghae bertanya disampingnya sambil membolak-balik buku menu yang digengganggamnya. Sore ini pria itu tiba-tiba muncul di sebelahnya dengan senyum tanpa dosanya yang menyebalkan. Padahal masih teringat jelas diingatannya bagaimana pria itu marah sebelum pergi meninggalkan mansionnya. Namun tiba-tiba saja pria itu sudah muncul di sebelahnya dan seolah sudah lupa dengan pertengkaran kecil mereka pagi tadi.

“Aku mau wine. Aku ingin mabuk dan tertidur agar tidak perlu melihat wajahmu.”

“Wine tidak bagus diminum saat perjalanan jauh. Lebih baik kau minum susu hangat dan makan beberapa keping biskuit.”

“Kau pikir aku bayi.” Sembur Yoona kesal. Namun Donghae tetap memesankan menu itu untuk Yoona ketika seorang pramugari lewat untuk mencatat pesanan Donghae.

“Kenapa kau bisa berada di sini? Kau pasti mengikutiku.” Tuduh Yoona entah yang sudah ke berapa kali. Sejak pria itu mendudukan diri di sebelahnya pun Yoona sudah melontarkan kalimat tuduhan itu berulang kali hingga Donghae rasanya bosan mendengarnya.

“Aku tidak tahu, asistenku yang memesankannya. Lagipula aku tidak tahu jika kau juga menggunakan pesawat ini.” Jawab Donghae enteng. Tak berapa lama seorang pramugari datang untuk menyerahkan pesanan Donghae sambil tersenyum manis pada Donghae yang juga dibalas oleh Donghae dengan senyum manis andalannya.

“Dasar player!”

Donghae memberikan senyumannya cukup lama hingga pramugari itu menghilang dari lorong kabin pesawat milik mereka.

 

“Apa kau cemburu? Kau bisa mendapatkan senyumku sepuas yang kau mau, aku akan memberikannya cuma-cuma.”

Yoona memperlihatkan wajah jijik ketika Donghae tersenyum dengan sangat menggoda di depannya. Wanita itu kemudian meraih gelas susu yang disodorkan Donghae dan kembali berbalik menghadap jendela.

“Apa kau sudah memberitahu Siwon hyung jika kau akan pulang?”

“Aku ingin memberinya kejutan. Jadi aku tidak memberitahunya jika aku pulang hari ini.”

“Ohh… okay.”

Yoona mendengar adanya nada aneh yang dikeluarkan oleh Donghae. Dengan penuh curiga wanita itu berbalik pada menghadap pria itu sambil menyipitkan matanya curiga.

“Jangan-jangan kau sudah memberitahunya…”

“Sebenarnya aku mengirimkan foto kita pada Siwon hyung, kau mau lihat?”

Donghae menunjukan layar ponselnya yang berisi potret dirinya yang sedang menghadap ke arah jendela dan juga foto pria itu yang tengah menunjukan wajah datarnya yang terlihat menawan.

“Aaargghhh!!! Dasar bodoh! Kau memang pria paling menyebalkan Lee Donghae! Menjauhlah dariku.” Marah Yoona sambil mendorong bahu Donghae keras hingga Donghae sedikit terdorong ke belakang. Pria itu tampak diam menghadapi kemarahan Yoona sambil memandang wajah wanita itu dari samping.

“Kapan kau akan bersikap lembut padaku Yoong?”

-00-

Daun daun yang berguguran terlihat begitu indah di depan halaman luas mansion milik keluarga Lee. Siwon menurunkan kaca mobilnya sedikit sambil menatap helai demi helai daun kuning yang jatuh dengan bebasnya dari pohon-pohon besar yang tumbuh di sekitar rumah kakeknya. Tak terasa sudah lebih dari tiga minggu ia berada di Korea. Mengurusi kakeknya yang sakit dan juga perusahaan utama milik keluarga Lee. Terkadang ia merasa kasihan dan merindukan Yoona. Isterinya itu pasti kesal karena ia selalu meninggalkannya untuk urusan bisnis, tapi untung saja ia memiliki adik yang selalu memastikan isterinya tetap aman di Amerika, jadi ia tenang berada di sini. Ia percaya jika Donghae dapat menjaga Yoona untuknya hingga ia kembali nanti dari Korea.

“Selamat sore tuan.”

Siwon membalas bungkukan hormat salah satu kepala pelayan yang membukakan pintu mobil untuknya. Pria paruh baya itu mengekorinya dalam dia di belakang tubuhnya. Namun tiba-tiba Siwon berbalik ketika ia teringat sesuatu.

“Apa Donghae dan isteriku sudah tiba?”

“Ahh.. mereka…”

“Lee Donghae! Pergi kau sialan!”

Tuan Kim menggantungkan kalimatnya di udara ketika mereka mendengar suara teriakan Yoona yang begitu khas dari dalam mansion mewah itu. Spontan ia menaikan alisnya sambil mengendikan bahunya ringan pada Kim Jimin, kepala pelayan di mansion kakeknya.

“Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan suara-suara berisik itu Kim.” Ucap Siwon ringan sambil menepuk pundak tuan Kim. Setelah itu ia segera masuk ke dalam mansion untuk bertemu dengan adik serta isterinya tercintanya yang sangat ia rindukan.

“Siwon oppa!”

Yoona melompat ke dalam pelukan Siwon dan langsung memeluk pria itu erat. Siwonpun membalas pelukan Yoona tak kalah eratnya sambil menciumi puncak kepala Yoona beberapa kali.

“Oppa… aku merindukanmu.” Rengek Yoona manja. Dari kejauhan Donghae hanya melihat itu sambil berjalan mendekat ke arah Siwon.

“Hai hyung.”

Donghae dan Siwon saling berpelukan sejenak setelah sebelumnya Donghae menarik tubuh Yoona paksa yang menempel pada Siwon.

“Akhirnya kalian tiba dengan selamat. Apa kau sudah melihat keadaan kakek?” Tanya Siwon pada Donghae sambil mendudukan dirinya pada sofa beludru yang berada di ruang tengah.

“Aku baru saja datang. Apa kakek tidak terganggu dengan teriakan isterimu?” Sindir Donghae sambil melirik Yoona mencibir. Yoona membalas tatapan menyebalkan Donghae dengan tatapan galak sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ini semua salah pria itu. Seandainya pria itu tidak menciumnya di depan para maid dan merangkul pinggangnya seperti sepasang kekasih, ia pasti tidak akan berteriak pada pria itu. Ia tidak mau para maid itu salah paham dan mengira mereka adalah pasangan kekasih. Selain itu ia juga ingin menjaga perasaan Siwon. Terkadang ia takut Siwon akan marah padanya karena kelakuan Donghae yang seenak jidat itu, menciumnya, memeluknya, mencoleknya, atau melakukan kontak fisik lainnya. Tapi untung saja hingga sejauh ini Siwon tidak pernah mempermasalahkannya. Justru pria itu pernah berkata padanya jika lebih baik Donghae yang menyentuhnya daripada pria lain. Entah terbuat dari apa hati pria itu, namun ia sangat sabar dalam menghadapi Donghae. Berbeda dengannya yang akan selalu naik pitam setiap melihat Donghae di depannya.

“Sebentar lagi kakek pasti akan turun. Biasanya kakek akan bergabung untuk makan malam di meja makan, keadaan kakek sudah jauh lebih baik sekarang.” Tambah Siwon memberi informasi. Donghae menganggukan kepalanya mengerti sambil meraih ponselnya untuk mengecek email-email penting yang mungkin masuk ke dalam ponselnya.

“Kakek..”

Tiba-tiba Yoona berseru keras sambil berlari menuju anak tangga untuk menghampiri kakek Lee yang sedang bersiap untuk turun ke bawah. Pria berusia akhir delapan puluh itu terlihat begitu segar dengan baju rumahnya. Ketika melihat Yoona, pria itu langsung tersenyum manis sambil merentangkan tangannya lebar-lebar untuk menyambut pelukan dari cucu menantunya.

“Ya Tuhan.. aku tidak percaya kau akan datang Yoong. Lama tidak berjumpa.”

Kakek Lee memeluk tubuh Yoona erat sambil menepuknya beberapa kali. Tak berapa lama Donghae muncul di belakang tubuh Yoona sambil memberikan senyum aneh andalannya ketika bertemu sang kakek.

“Kakek… Apa kabar?”

Plaak

“Kau ini dasar cucu tak tahu diri.”

Kakek Lee memukul kepala Donghae keras dan membuat Donghae mengaduh kesakitan sambil bersembunyi di belakang tubuh Yoona agar tidak mendapatkan serangan pukulan yang menyakitkan dari kakeknya yang galak.

“Kakek, kenapa kau memukulku?” Rengek Donghae. Yoona yang risih dengan keberadaan Donghae di belakangnya berusaha untuk mengusir Donghae menjauh darinya agar kakek Lee dapat memukulnya dengan leluasa.

“Kau tidak pernah mengunjungi kakekmu yang sudah tua ini. Apa saja yang kau lakukan di Amerika. Seharusnya kau mengurus kakek, bukannya sibuk bermain-main di luar sana. Kau justru melimpahkan semua tugasmu pada hyungmu. Mulai sekarang kau tidak perlu kembali ke Amerika, tugasmu adalah mengurus semua aset milik keluarga Lee di sini.”

“Rasakan!”

Yoona berbisik kejam di sebelah Donghae sambil menginjak kaki pria itu. Rasanya puas sekali melihat pria itu tampak tak berdaya di bawah amukan kakek Lee.

“Aku tidak bisa kakek, aku memiliki perusahaan yang harus kuurus di Amerika.” Ucap Donghae memelas. Namun Yoona langsung menyangkalnya dengan cepat.

“Bohong! Lee Donghae terus menggoda model-model cantik di luar negeri kek, dia bahkan sudah mengencani empat model dalam satu minggu.”

“Benarkah? Kalau begitu kau harus tinggal di Korea, kau tidak boleh kembali lagi ke Amerika.”

Donghae memberikan tatapan tajam sambil memberikan ancaman yang tersirat dari sorot matanya yang tajam. Di kepalanya ia sudah menyiapkan banyak rencana untuk membalas perbuatan Yoona hari ini karena telah membuatnya menjadi sasaran kemarahan sang kakek. Dan parahnya ia mungkin memang akan ditahan di Korea karena ia memang harus mengurus perusahaan keluarga di Korea.

“Kakek saatnya makan malam, ayo kita mengobrol di ruang makan.”

Siwon datang dan menengahi keributan kecil yang terjadi diantara Yoona dan Donghae. Selama berada di Amerika ia sudah kenyang dengan semua pertengkaran konyol yang terjadi antara mereka, sehingga ia tak pernah merasa terganggu lagi dengan semua itu. Justru terkadang ia merasa lucu ketika melihat tingkah konyol Donghae saat beradu mulut dengan isterinya.

“Akhirnya rumah ini terasa hidup kembali… Bukankah sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini?” Ucap kakek Lee membuka pembicaraan ketika mereka semua sedang berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Yoona yang sebelumnya sedang membantu Siwon mengambil makanan langsung menoleh pada kakek Lee dengan tatapan menyesal.

“Maafkan aku kakek, aku jarang mengunjungi kakek di Korea. Pekerjaanku di Amerika sangat padat.”

“Kau seharusnya tidak perlu bekerja, bukankah Siwon sudah mencukupi semua kebutuhanmu, mengapa kau harus bekerja? Seharusnya kalian sudah mempersiapkan diri untuk program kehamilan.”

“Uhukk”

Donghae memukul-mukul dadanya cepat ketika ia merasakan sesak di dadanya akibat tersedak air putih yang ia minum. Seketika semua orang yang berada di meja makan itu memberikan tatapan aneh pada Donghae dengan dahi berkerut di masing-masing wajah mereka. Namun Siwon yang merasa kasihan dengan keadaan Donghae langsung menghampiri adik kecilnya itu dan memberikan beberapa kali tepukan di punggungnya.

“Terimakasih hyung.”

“Berhati-hatilah saat minum, kau bisa mati ketika tersedak.”

“Iya, kau ini ceroboh sekali Hae. Seharusnya kau segera mencari calon isteri agar ada yang memperhatikanmu dan mengurusmu. Lihatlah Siwon, ia sudah menikah dengan Yoona dan hidup bahagia, seharusnya kau juga mencontoh kakakmu ini.” Nasihat kakek Lee yang dibalas Donghae dengan decakan kesal. Sejak dulu topik yang selalu dibahas kakeknya adalah mengenai isteri isteri dan isteri, hingga rasanya ia merasa muak dengan hal itu. Untuk sekarang ia merasa belum membutuhkan isteri. Ia terlalu menikmati kehidupan indahnya saat dapat menggoda Yoona, dan jika ia memiliki isteri, ia tidak yakin dapat menggoda Yoona dengan leluasa. Selain itu ia sebenarnya memiliki perasaan lebih pada Yoona.

“Kakek kenapa kau selalu membahas masalah isteri, aku masih menyukai kehidupan lajangku. Memiliki isteri hanya akan mempersulit hidupku.” Ucap Donghae gusar. Kakek Lee yang berada di sebelahnya langsung memukul kepala Donghae lagi karena sikap kurang ajar cucu tersayangnya itu.

“Kau ini, selalu saja membantah semua ucapan kakek. Kau ini satu-satunya cucu kakek, seharusnya kau segera menikah dan memberikan kakek cucu-cucu yang lucu sebelum kakek pergi dari dunia ini. Andai ibumu masih ada, ia pasti juga menginginkan hal yang sama seperti kakek.” Ucap kakek Lee panjang lebar. Donghae tampak malas mendengarkan nasihat kakeknya yang membosankan itu memilih untuk menyantap makanannya dengan keadaan mood yang sangat buruk.

“Sepertinya tahun ini aku dan Siwon oppa akan mulai program bayi itu, tolong doakan kami kakek.” Ucap Yoona terdengar manis. Kakek Lee tersenyum sumringah sambil mengelus puncak kepala Yoona sayang.

“Itu berita bagus. Kalian sudah lama menikah dan ini adalah saatnya kalian untuk memiliki keturunan. Kakek yakin Siwon dapat menjadi ayah yang hebat dan suami yang bisa diandalkan. Tidak seperti Donghae yang hanya sibuk bermain-main di luar sana.”

“Kakek.. bisakah kakek berhenti mengomentariku? Aku pasti akan menikah jika aku sudah menemukan wanita yang tepat. Lagipula saat ini aku sudah memiliki wanita yang kusuka.” Ucap Donghae gusar. Terus dibanding-bandingkan dengan Siwon sejak tadi membuat telinga Donghae terasa panas. Mereka semua tidak tahu bagaimana perasaanya yang sebenarnya. Hanya ibunyalah yang tahu siapa wanita yang benar-benar ia cintai. Tapi sayangnya ibunya telah pergi karena penyakit asma  yang dideritanya sejak masih muda.

“Kalau begitu perkenalkan pada kakek. Kakek ingin tahu bagaimana seleramu. Jangan-jangan kau hanya mencari wanita genit yang hanya bisa menghabiskan hartamu saja.”

Yoona terlihat begitu puas sambil melirik-lirik Donghae jenaka. Tak pernah sekalipun ia merasa sebehagia ini karena akhirnya ia menemukan orang yang tepat untuk menaklukan Donghae. Mungkin ia memang harus berada di dekat kakek Lee agar Donghae tidak bisa mengganggunya seperti di Amerika.

“Kakek kami sudah selesai, kami akan naik ke atas untuk beristirahat.”

Siwon yang sejak tadi hanya diam mulai berdiri dari tempat duduknya sambil menggandeng Yoona untuk naik ke kamar mereka. Melihat keduanya yang hendak beranjak meninggalkan meja makan, kakek Lee hanya mengangguk tanpa memberikan komentar apapun. Sudah sepantasnya Siwon memiliki waktu bersama dengan isterinya setelah lebih dari beberapa pekan pria itu tidak bertemu dengan isterinya karena harus menghandle semua urusan perusahaan di Korea.

“Kapan kau akan menyusul hyungmu? Memiliki isteri dan juga keluarga yang sempurna. Kau adalah cucu kakek satu-satunya, kakek ingin melihat cucu kakek bahagia dengan wanita pilihannya sebelum kakek pergi dari dunia ini.”

“Kenapa kakek terus mengatakan hal itu. Kakek tidak akan pergi kemanapun. Suatu saat nanti kakek pasti akan melihatku berjalan di altar bersama calon isteriku, jadi kakek tidak usah berpikir macam-macam.”

“Tapi kapan?” Tanya kakek Lee memburu. Donghae mulai merasakan atmosphere yang tidak mengenakan dari kakeknya. Pembicaraan mereka malam ini pasti akan lama, melihat bagaimana bersemangatnya sang kakek ketika membahas rencana masa depannya.

“Nanti setelah aku benar-benar menemukan wanita yang tepat. Sekarang aku hanya ingin mengembangkan perusahaan agensiku di Amerika. Aku belum bisa membagi perhatianku dengan masalah keluarga kakek.”

“Tinggalkan agensimu di Amerika.” Ucap sang kakek tegas. Donghae menahan setiap gejolak emosi yang sejak tadi telah berkumpul di ubun-ubun kepalanya dengan mengepalkan tangannya di bwah meja. Sejak dulu kakeknya itu selalu melarangnya untuk mendirikan perusahaanya sendiri. Bahkan jika bukan karena Yoona, ia tidak akan mau repot-repot datang ke Korea karena pasti sang kakek akan melarangnya untuk kembali ke Amerika.

“Kau seharusnya mengambil alih perusahaan pusat di Korea karena semua aset keluarga Lee akan menjadi milikmu. Kau adalah penerus keluarga Lee yang sesungguhnya. Darah keluarga Lee hanya mengalir di tubuhmu, bukan pada Siwon. Siwon adalah anak yang diadopsi ibumu dari panti asuhan, jadi kau sudah seharusnya mengambil tanggungjawab itu dan bukan melimpahkannya pada Siwon.”

“Kakek tidak seharusnya berkata seperti itu. Siwon hyung akan tersinggung jika mendengarnya.” Peringat Donghae sambil melirik pintu kamar Siwon yang tertutup rapat. Untung saja pria itu saat ini sudah nyaman bersama Yoona di dalam kamarnya. Tapi, apa kabar dengan hatinya sekarang?

“Kakek tidak akan berkata seperti ini jika kau sudah melakukan semua tugasmu dan tidak melimpahkannya pada Siwon. Jika kau tidak egois seperti ini, ia pasti akan hidup bahagia bersama isterinya.”

Donghae memejamkan matanya sejenak untuk menahan semua amarah yang ingin segera menyembur keluar. Ia tidak mau membuat kakeknya sakit. Kakek Lee adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya selain Yoona dan Siwon. Ia tidak ingin merasakan penyesalan seperti dulu saat ibunya meninggal. Sungguh saat itu ia benar-benar hancur karena ia ditinggalkan oleh dua orang wanita sekaligus.

“Kita lanjutkan pembicaraan kita besok pagi. Aku lelah dan ingin istirahat sekarang.”

Tanpa menunggu jawaban dari kakek Lee, Donghae langsung  beranjak begitu saja dari tempat duduknya. Meskipun ia tahu perbuatannya sangat tidak sopan, tapi itu lebih baik daripada ia meledakan amarahnya di depan kakeknya yang rapuh. Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa lalu.

-00-

“Oppa.. aku merindukanmu.”

Yoona bergelayut manja di pundak Siwon sambil bersandar pada sandaran ranjang yang nyaman. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melakukan hal itu karena pekerjaan mereka yang menuntut mereka untuk tidak bisa saling bertemu satu sama lain.

“Aku juga merindukanmu. Bagaimana kegiatanmu selama aku tidak berada di Amerika?” Tanya Siwon sambil mengelus surai-surai lembut milik Yoona.

“Seperti biasa, adikmu yang menyebalkan itu selalu menggangguku. Bahkan ia kerap kali berlaku kurang ajar dengan menyentuh tubuhku sesukanya. Aku risih dengan sikapnya oppa, aku takut orang-orang akan berpikir negatif karena perilakunya yang kurang ajar itu.” Cerita Yoona menggebu-gebu. Siwon hanya tersenyum kecil menanggapi cerita isterinya. Ia tahu jika Donghae memang sangat jahil pada isterinya. Bahkan sejak pertama ia memperkenalkan Yoona pada keluarga besarnya, Donghae langsung menjahili Yoona. Meskipun terkadang ia merasa iri dengan kedekatan Yoona dan Donghae, tapi ia selalu berpikir positif terhadap keduanya. Apalagi Lee Donghae adalah adiknya sendiri, Donghae tidak mungkin berbuat macam-macam pada Yoona. Justru dengan adanya Donghae ia merasa lega karena Donghae dapat menjaga Yoona selama ia sibuk mengembangkan perusahaan Lee Corp di Amerika. Memang seharusnya Donghae yang mengambil semua perusahaan itu, tapi hingga saat ini pria itu belum berminat untuk menghandle semuanya. Lee Donghae menjujung idealisme yang tinggi mengenai kesuksesan yang harus diraih dengan usahanya sendiri, sehingga mau tak mau ia harus mengalah. Untuk saat ini ia akan menggantikan Donghae sebagai pemimpin di Lee Corp. Dan jika Donghae sudah siap nanti, ia akan mengembalikannya pada Donghae.

“Oppa, menurutmu bagaimana dengan program bayi yang akan kujalani, apa kau setuju?” Tanya Yoona memecahkan lamunannya mengenai Donghae. Jari-jari Yoona yang lentik terasa menggelitik dadanya karena wanita itu sengaja memainkan kancing-kancing piyamanya.

“Itu bagus.”

Hanya satu komentar sederhana itu yang mampu dikeluarkan Siwon. Selebihnya pria itu merasa bingung. Ia merasa belum pantas menjadi ayah sekarang.

“Hanya itu? Oppa tidak senang jika aku akan mengandung dan melahirkan bayi yang lucu? Apa oppa berpikir aku akan menjadi gendut dan jelek sama seperti Lee Donghae yang menyebalkan itu?” Tanya Yoona gusar. Siwon pun mengecup dahi Yoona kilat untuk meredakan kemarahan wanita itu.

“Bukan begitu. Bahkan aku tidak peduli dengan tubuhmu karena kau akan selalu terlihat cantik dengan caramu sendiri. Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu, bukankah kau terikat kontrak dengan perusahaan Donghae?”

“Aku memang masih terikat kontrak dengan perusahaan Donghae hingga tahun depan. Tapi bisakah oppa membujuk Donghae agar mempermudah proses resignku? Dia mengatakan akan menuntutku untuk membayar denda sesuai ketentuan yang tertulis di dalam kontrak kerja. Dia sengaja mempersulitku agar aku tetap berada di agensinya dan menjadi bahan godaanya setiap waktu.” Adu Yoona kesal. Namun apa yang diharapkan Yoona ternyata tidak terkabul karena Siwon sepertinya tidak berniat sedikitpun untuk membantunya. Siwon justru menyuruhnya agar tetap mematuhi isi kontrak itu karena itu adalah konsekuensi dari apa yang telah dipilihnya di masa lalu.

“Lalu untuk apa aku memiliki suami yang kaya raya jika ia tidak bisa membantuku untuk membayar denda perusahaan. Oppa dan Donghae sama saja, kalian menyebalkan.”

Percakapan mereka malam itu akhirnya ditutup dengan merajuknya Yoona. Wanita itu kemudian memilih untuk tidur terlebihdulu dengan posisi membelakangi suaminya. Melihat hal itu Siwon hanya menghela napas kecil sambil mengelus puncak kepala Yoona lembut.

“Aku sama sekali tidak ingin mempersulitmu, tapi aku hanya ingin kau bertanggungjawab pada pilihanmu. Suatu saat kau tidak akan bisa mengandalkan hartaku untuk menyelesaikan masalahmu. Ada saatnya kau harus mengandalkan dirimu sendiri untuk menyelesaikan semua masalah yang kau hadapi, meskipun itu memang sangat menyusahkan untuk kehidupanmu.” Bisik Siwon tepat di telinga Yoona. Ia pun mengecup pipi Yoona lembut dan beranjak pergi untuk keluar dari kamarnya. Ia butuh sedikit pelampiasan malam ini untuk pikirannya yang sedang kacau. Dan ia harap setelah pikirannya jernih nanti, ia dapat memperbaiki hubungannya dengan Yoona.

-00-

“Selamat pagi!”

Yoona mendengus kesal ketika ia berpapasan dengan Donghae di ujung tangga. Selalu saja Donghae mengganggu pagi harinya. Ditambah lagi semalam ia baru saja berdebat masalah kontrak kerjanya dengan agensi milik Donghae, jadi mood wanita itu saat ini sedang benar-benar buruk.

“Lebih baik kau tidak memulai perdebatan denganku pagi ini karena aku sedang tidak dalam mood yang bagus. Apa kau melihat Siwon oppa?” Tanya Yoona sambil melongok kesana kemari untuk mencari keberadaan Siwon di dalam mansion mewah milik keluarga Lee.

“Hyung sudah berangkat ke kantor.” Jawab Donghae apa adanya. Pagi tadi sebelum ia pergi joging, ia melihat Siwon berjalan terburu-buru pergi menggunakan mobilnya. Meskipun ia cukup curiga karena Siwon pagi ini menyetir sendiri, tapi ia tidak ingin membuat Yoona cemas karena mood wanita itu pagi ini memang terlihat sangat buruk.

“Ke kantor? Kenapa pagi sekali? Ia benar-benar tidak bertanggungjawab, meninggalkanku begitu saja saat hubungan kami belum membaik.” Gerutu Yoona kesal. Donghae mengangkat alisnya ringan. Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya saat ia melihat Yoona yang terlihat sudah rapi pagi ini.

“Ayo ikut aku!” Ucap Donghae sambil menarik tangan Yoona cepat.

“Kyaaaa.. kau mau membawaku kemana? Lepaskan!”

Yoona berteriak sekencang-kencangnya dan mencoba melepaskan cekalan tangan Donghae dan pergelangan tangannya, namun pria itu justru semakin mengeratkan genggaman tangannya hingga ia tidak bisa berkutik sedikitpun.

“Kita jalan-jalan. Bukankah kita sudah lama tidak berjalan-jalan di kompleks mansion ini. Aku ingin mengulang masa lalu kita ketika kau masih menjadi kekasihku.”

“Aku tidak mau! Lepaskan aku Lee Donghae! Aku sudah mengubur semua kenangan menyedihkan itu. Jadi jangan pernah memaksaku untuk mengingatnya. Aku sudah bahagia bersama Siwon. Kau seharusnya tidak melakukan hal itu pada kakak iparmu!”

Yoona menyentakkan tangan Donghae keras sambil menatap kedua mata sendu Donghae tajam. Hembusan angin dingin yang menerpa anak-anak rambutnya yang menjuntai semakin menambah dramatis suasana diantara mereka. Namun kali ini Donghae tidak akan membiarkan Yoona pergi begitu saja. Untuk terakhir kalinya ia ingin mengenang masa-masa indah itu sebelum Yoona memutuskan untuk fokus pada hubungan rumah tangganya dengan Siwon. Semalam entah mengapa ia mulai berpikir mengenai masa depannya sendiri. Apa yang dikatakan oleh kakek Lee terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya hingga ia tidak bisa memejamkan mata. Dan semalam ia mulai menyerah dengan usahanya untuk membawa Yoona kembali. Kebodohannya di masa lalu memang tidak akan pernah bisa diperbaiki. Ia yang telah merusak Yoona dan mengecewakan wanita itu hingga wanita itu menghilang dari kehidupannya. Jadi sekarang ia hanya ingin mengenang semua itu untuk hari ini, sebelum ia merelakan Yoona untuk bahagia bersama Siwon.

“Maafkan aku, dulu aku pernah menyakitimu.”

“Cih, setelah bertahun-tahun berlalu dan kau baru meminta maaf sekarang? Kemana saja kau selama ini Lee Donghae, hah?” Sembur Yoona sinis. Donghae menatap manik madu Yoona sendu sambil tersenyum nanar pada wanita itu.

“Aku… Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan padamu Yoona. Aku menyesal. Dulu aku pernah merusakmu dan mempermainkan perasaanmu yang murni.”

“Huh, dulu kau memang kejam. Kau memanfaatkan gadis nerd yang aneh itu untuk bahan taruhan. Dan paling parahnya kau memperkosaku! Kau ingat? Lupa? Huh, kuyakin kau sudah melupakannya.” Ucap Yoona sinis. Donghae maju ke depan untuk menjangkau tubuh Yoona agar ia dapat memeluk wanita itu. Tapi sayangnya Yoona langsung melangkah mundur setiap ia berusaha mendekati wanita itu.

“Aku tidak pernah lupa. Bahkan hingga tahun-tahun berlalu dengan sangat menyedihkan, aku tidak pernah melupakannya. Aku menyesal Yoong. Dulu aku mencarimu, hingga aku tidak memikirkan eomma yang sakit. Dan ketika aku menyerah untuk menemukanmu, aku sudah terlambat untuk menyelamatkan eomma. Eomma pergi disaat hatiku hancur karena baru saja kehilanganmu. Setelah itu aku memilih untuk menjalankan kehidupanku seperti biasa, berharap aku bisa memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu. Bahkan di detik Siwon memperkenalkanmu padaku, aku masih menyewa detektif swasta untuk mencarimu. Aku ingin meminta maaf dan mempertanggungjawabkan perbuatanku Yoong. Dulu eomma sangat marah ketika aku menceritakan semua kelakuanku padanya. Eomma bahkan memukulku dengan rotan ketika itu karena ia sangat marah pada dirinya dan diriku. Eomma merasa telah gagal menjadi ibu yang baik. Mungkin karena itu eomma akhirnya jatuh sakit dan meninggal. Ini semua memang salahku Yoona, aku minta maaf.”

Tanpa sadar Yoona menitikan air mata ketika mendengar semua pengakuan dari Donghae. Sekeras apapun ia mengubur masa lalunya yang menyakitkan dan bersikap jika semua itu baik-baik saja, nyatanya tidak akan pernah bisa mengaburkan luka lamanya. Ia akui dulu ia mencintai Donghae dan tertarik pada pria itu. Tapi semua itu berubah ketika ia mengetahui semua kebusukan pria itu. Donghae hanya menjadikannya bahan taruhan. Lalu dimalam ia menolong pria itu yang sedang mabuk berat di dalam sebuah kedai soju, pria itu justru mendorongnya ke dalam sebuah kotak telepon yang sepi dan memperkosanya. Sungguh itu adalah kenangan yang sangat mengerikan. Jika ia bukan wanita yang kuat, ia pasti sudah mati saat ini karena ia terus dihantui perasaan kotor untuk beberapa bulan.

“Malam itu aku bertemu dengan eommamu. Aku menjenguk eommamu sebelum eommamu meninggal keesokan harinya.”

Donghae terlihat terkejut dengan informasi itu. Ia pikir Yoona sangat membencinya dan tidak akan mungkin mau bertemu dengan ibunya yang saat itu sedang sakit.

“Kau tidak pernah mengatakannya….”

“Sudah kubilang padamu, aku tidak mau membuka kembali luka lama. Tapi saat ini aku ingin mengatakannya padamu. Malam itu eommamu menangis sambil meminta maaf padaku. Eommamu terlihat benar-benar menyesal dan terus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjadi orangtua yang baik untukmu. Ia benar-benar wanita yang sangat hebat dan mengagumkan. Kau seharusnya tidak menyia-nyiakannya seperti itu. Tapi bukankah masa lalu tetaplah masa lalu. Semuanya tidak akan pernah bisa diubah. Bahkan dengan menangis darah sekalipun kita tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semuanya. Jadi saat itu aku sudah memaafkanmu. Karena eommamu, aku akhirnya berusaha untuk membuka diri dan menerima semuanya sebagai kenakalan anak remaja yang tidak perlu diingat lagi di masa depan. Apa kau tahu siapa yang memberikanku beasiswa sekolah model di Amerika? Eommamu. Malam itu eommamu bertanya padaku kemana aku akan melanjutkan pendidikanku setelah lulus dari senior high school. Aku lalu menceritakan semuanya pada eommamu mengenai keadaan paman dan bibiku yang tidak bisa menyekolahkanku hingga jenjang lebih tinggi. Dan tiba-tiba eommamu menawariku untuk mengambil kelas modelling di Amerika.”

“Lalu bagaimana bisa kau menjadi model di agensiku? Kau tidak mungkin  mendaftarkan diri sebagai model di agensiku jika kau tahu jika agensi itu milikku.” Tanya Donghae dengan dahi berkerut.

“Bukankah kau pernah membeli sebuah agensi yang sedang collapse? Aku berasal dari agensi itu. Aku memang tidak akan mungkin bekerja di bawah agensimu karena aku sangat menghindarimu. Tapi takdir benar-benar tidak terduga karena aku justru menikah dengan hyungmu sendiri. Aku…”

Grepp

Tiba-tiba Donghae memeluk tubuh Yoona dengan erat dan menenggelamkan wajah sembab Yoona ke dalam dada bidangnya yang hangat. Ia sadar jika kesalahannya pada wanita itu sangat fatal. Oleh karena itu ia ingin memperbaikinya. Ia ingin membuat wanita itu tidak membencinya karena ia sangat mencintai wanita itu.

“Yoona, aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal. Andai saat itu aku bisa menemukanmu lebih cepat, aku ingin memperbaiki semuanya, aku ingin mempertanggungjawabkan perbuatan brengsekku padamu di masa lalu. Tolong maafkan aku Yoona.” Mohon Donghae dengan suara serak. Saat ini ia sudah tidak bisa menahan lelehan air matanya sendiri yang terasa menyesakan. Semua fakta dan pengakuan yang diucapkan oleh Yoona membuatnya semakin merasa brengsek di hadapan wanita itu. Bahkan ia merasa tidak pantas hidup di dunia ini. Kehidupan yang diberikan oleh Tuhan padanya terlalu mewah untuk seorang pria brengsek sepertinya.

“Aku sudah memaafkanmu. Bahkan sebelum kau memintanya, aku sudah memaafkanmu. Kehidupan ini terlalu indah untuk diisi dengan perasaan dendam, jadi aku memutuskan untuk memaafkanmu dan membuka lembaran baru di Amerika. Kau tidak perlu merasa bersalah lagi sekarang.”

Dengan sedikit paksaan Yoona mendorong tubuh Donghae agar pria itu melepaskan pelukannya yang terlampau erat. Kini hatinya merasa lebih lega setelah ia menceritakan semuanya. Tidak ada lagi hal-hal yang sembunyikan di dalam kepalanya yang cantik. Masa lalu selamanya akan menjadi masa lalu yang penuh akan lika liku kehidupan yang pelik.

“Terimakasih Yoona.”

“Sekarang hapus air matamu yang menggelikan itu. Kau tidak pantas dengan air mata yang menganak sungai di pipimu.” Canda Yoona sambil meghapus air matanya sendiri. Donghae tertawa hambar di depan Yoona dan mulai menghapus sisa-sisa air mata yang mulai mengering di pipinya. Jika semua modelnya melihat hal memalukan ini, image playernya pasti akan hancur karena air mata konyol yang beberapa saat lalu mengalir di pipinya.

“Jadi sekarang kita berbaikan?” Tanya Donghae ragu. Yoona menunjukan raut datarnya di depan Donghae sambil menyipitkan matanya. Namun beberapa detik kemudian wanita itu merangkul bahu Donghae ringan sambil menganggukan kepalanya.

“Kita berbaikan! Ayo pergi, kau ingin mengajakku pergi ke suatu tempat bukan?”

Donghae tersenyum kecil pada Yoona dan membalas rangkulan wanita itu pada pundaknya. Beban berat yang selama ini dipikulnya karena perasaan bersalah yang amat sangat mencekiknya di masa lalu kini telah hilang. Ia berharap kedepannya ia segera menemukan wanita yang tepat untuk menggantikan posisi Yoona di hatinya.

-00-

Yoona berlari-lari di dalam lapangan basket sambil merentangkan kedua tangannya ke udara. Masih teringat jelas bagaimana dulu ia sering menemani Donghae bermain basket ketika ia masih menjadi kekasih pria itu di bangku high school. Meskipun saat itu ternyata ia hanya menjadi bahan taruhan Donghae dan teman-temannya, namun tetap saja hal itu terasa begitu berkesan untuknya karena saat itu rasanya seperti mimpi. Seorang gadis nerd yang tidak pernah disadari keberadaanya di sekolah elit itu tiba-tiba menjadi kekasih dari pangeran sekolah dan juga anak dari pemilik sekolah. Terkadang ia merindukan saat-saat itu, dimana perlakuan semua orang langsung berubah drastis ketika ia resmi menjad kekasih dari sang pangeran sekolah. Bahkan sekelompok gadis-gadis genit yang tidak pernah menyadari keberadaanya, tiba-tiba datang menghampirinya dan memintanya untuk menjadi salah satu bagian dari kelompok mereka. Namun tentu saja saat itu ia menolaknya karena ia sudah tahu bagaimana kebusukan mereka yang hanya ingin memanfaatkan statusnya sebagai kekasih Lee Donghae.

“Hei..”

Donghae tiba-tiba mengagetkannya dengan memeluknya erat dari belakang sambil berbisik mesra disamping telinganya.

“Hei, kau sudah selesai bermain?” Tanya Yoona heran. Baru beberapa menit yang lalu Donghae meminta ijin padanya untuk bermain basket. Tapi sekarang pria itu sudah berada di belakangnya sambil memeluk tubuhnya erat.

“Untuk apa kau bermain jika tidak ada yang berteriak-teriak heboh dengan suara cemprengnya di bangku penonton.” Goda Donghae jahil sambil mencium pipi Yoona ringan. Seketika pipinya Yoona bersemu merah karena tiba-tiba saja ia mengingat saat memalukan itu, ketika ia dengan hebohnya meneriakan nama Donghae dari bangku penonton hingga semua orang menatapnya aneh. Mengingat masa lalunya sendiri yang bar-bar membuat Yoona ingin menenggelamkan dirinya sendiri ke dasar lautan. Bagaimana bisa ia yang sangat anggun sekarang ini dulunya amat sangat mengerikan dengan kacamata tebal yang menghiasi wajahnya.

“Itu benar-benar pengalaman yang sangat memalukan. Kenapa kau masih mengingatnya.” Runtuk Yoona kesal. Tapi Donghae justru terkekeh sambil memandangi wajahnya yang telah berubah cemberut.

“Aku suka. Saat itu hatiku berdesir dan aku menjadi lebih semangat. Apa aku boleh jujur, sebenarnya kau sangat populer di kalangan teman-temanku.”

“Benarkah?” Tanya Yoona tak percaya. Bagaimana mungkin gadis nerd di sekolahnya dulu begitu populer di kalangan rekan-rekan Donghae. Bahkan ia sendiri merasa keberadaanya tidak akan pernah disadari oleh teman-teman sekelasnya sendiri.

“Salah satu dari kami pernah melihatmu melepas kaca mata dan menggerai rambutmu setelah pelajaran olahraga selesai. Lalu ia terpesona dengan kecantikanmu yang sangat alami. Oleh karena itu kami membuat… permainan bodoh itu. Mereka ingin mengujiku, apakah pesonaku bisa menaklukanmu. Dan ternyata aku bisa. Sejak saat itu mereka terus bertanya mengenai kecantikanmu padaku hingga telingaku rasanya panas. Tanpa kusadari saat itu aku merasa cemburu padamu.”

“Cemburu? Kau cemburu padaku? Hahahahahaa.. tidak mungkin!” Ucap Yoona dengan tawa kerasnya menertawakan Donghae. Bagaimana bisa gadis nerd yang aneh sepertinya berhasil membuat pangeran sekolah seperti Donghae cemburu. Lee Donghae pasti sedang menipunya!

“Aku serius Yoong. Bahkan aku juga cemburu pada hyungku. Aku mencintamu Yoona.”

Yoona mematung di tempat setelah mendengar pernyataan cinta Donghae yang tiba-tiba. Bagaimana mungkin Donghae mencintainya? Selama ini ia tidak pernah memikirkan hal itu karena sikap player Donghae. Pria itu tidak mungkin benar-benar mencintainya, lagipula ia sudah menikah dengan Siwon sekarang. Ia adalah kakak ipar pria itu.

“Itu tidak lucu Donghae. Aku kakak iparmu.” Ucap Yoona dengan tawa hambar. Donghae mengelus tengkuknya sendiri sambil menundukan kepalanya ke tanah. Pria itu tahu jika Yoona dalah isteri dari kakaknya. Tapi ia juga tidak bisa menyembunyikan perasaannya lebih lama. Ia butuh mengatakannya pada wanita yang dicintainya.

“Aku tahu. Tapi tunggu… apa kau berpikir aku akan menjadikanmu kekasihku? Kau ingin menjadi kekasihku? Hahahahhahahhhaa… Aku tidak mungkin akan menyakiti hyungku sendiri Yoong. Hahahahaa.. Aku hanya sebatas mengatakan perasaanku, aku tidak memintamu menjadi kekasihku.”

Seketika Yoona merasa malu dengan pikirannya yang sangat liar itu. Ia pikir Donghae menginginkannya untuk menjadi kekasihnya karena ucapan pria itu saat menyatakan perasaanya benar-benar seperti seseorang yang sedang meminta seorang wanita untuk menjadi kekasihnya. Jadi apa ia salah jika ia berpikiran demikian?

“Sialan! Aku tidak berpikir seperti itu!” Teriak Yoona salah tingkah. Seluruh wajahnya kini telah berubah warna menjadi merah karena pikirannya sendiri yang konyol.

“Tenang nyonya Lee, take it easy. Tidak apa-apa jika kau berpikir seperti itu. Aku tidak akan melaporkannya pada Siwon hyung jika kau ingin menjadi kekasihku.”

Plakk

“Itu tidak lucu Lee Donghae!”

Yoona memukul lengan Donghae keras dan mendorong pria itu agar menyingkir dari hadapannya. Namun dibalik sikapnya yang kasar, ia sedang menyembunyikan rasa malunya akibat pikiran liarnya yang diketahui oleh Donghae beberapa saat yang lalu.

“Hei hei hei, kau mau kemana? Kita masih belum selesai.”

Donghae menarik tangan Yoona dan mendekapnya erat. Awalnya Yoona meronta, namun pada akhirnya wanita itu pasrah dan justru membalas pelukan Donghae.

“Kau tahu, aku merasa sangat lega sekarang.”

“Hmm..” Jawab Yoona dengan suara tenggorokannya. Wanita itu memejamkan mata di dalam dekapan Donghae sambil mengingat kenangan masa lalunya di sekolah itu bersama Donghae ketika ia menjadi kekasih pria itu. Rasanya baru kemarin ia mengenakan seragam sekolah dan kaca mata tebal yang membingkai wajahnya, namun sekarang ia telah menjadi model Amerika yang sukses dan sangat modis. Masa depan… memang misteri.

“Donghae…”

Donghae menundukan wajahnya sedikit ke bawah ketika Yoona memanggilnya. Sepasang mata rusa yang bening dan bulat itu tengah menatapnya dengan sungguh-sungguh hingga rasanya ia ingin menciumi kedua mata itu karena gemas. Namun kata-kata yang diucapkan Yoona selanjutnya berhasil membuatnya kesal dan justru ingin memberi hukuman pada wanita itu.

“Kau bau! Lepaskan tanganmu dari tubuhku. Arghhh menjijikan!”

“Apa? Bau? Huh, rasakan ini.. rasakan!”

Donghae justru mendekap tubuh Yoona semakin erat agar tubuh wanita itu juga sama baunya karena terkena keringatnya yang lengket.

“Kyaaaaa… Lee Donghae! Kau menjijikan!” Teriak Yoona nyaring disusul dengan tawa renyah Donghae yang terdengar merdu untuk Yoona. Ini adalah kali pertama ia melihat Donghae dapat tertawa lepas selain tawa jahil yang selama ini sering pria itu tunjukan padanya. Mungkin apa yang terjadi pada mereka beberapa saat yang lalu berhasil membuat Donghae lega hingga akhirnya pria itu dapat tertawa lepas seperti ini. Ia berharap semoga kedepanya hubungan mereka tetap akan berjalan baik-baik saja tanpa ada konflik yang berarti.

-00-

Sore itu Yoona terlihat begitu sibuk di dalam dapur dengan beberapa maid yang hanya menatapnya dari kejauhan. Gerakannya yang begitu lincah kesana kemari membuat para maid itu kagum. Apalagi saat ini Yoona sedang menunjukan skill memasaknya yang luar biasa, membuat para maid dan juga juru dapur tercengang tak percaya. Beberapa saat yang lalu mereka semua dipaksa oleh Yoona untuk diam dan tidak mengganggunya memasak. Hari ini ia ingin membuat makan malam spesial untuk merayakan hari berbaikannya dengan Donghae. Meskipun rasanya memang terdengar berlebihan, tapi sungguh ia sangat bersyukur dengan peristiwa berbaikannya kemarin. Ia sekarang tidak menyimpan beban itu lagi. Ia dapat menjalani hari-harinya di masa depan dengan perasaan seringan kapas yang sangat melegakan untuknya.

“Nyonya, apa nyonya membutuhkan bantuan?” Tanya seorang kepala dapur pada Yoona ketika Yoona sedang asik memotong bawang bombai.

“Tidak tidak, aku bisa melakukannya sendiri. Tapi… Oh tunggu.”

Yoona menghentikan langkah kepala dapur yang hendak menjauh. Pria paruh baya itu tampak menunggu perintah dari nyonyanya dengan sabar di ambang pintu.

“Apa kakek Lee memiliki gudang penyimpanan anggur?”

“Ya nyonya, Tuan Lee memiliki gudang penyimpanan anggur di gudang bawah tanah.”

“Kalau begitu siapkan anggur terbaik milik kakek Lee dan letakan di meja makan, aku ingin makan malam hari ini tampak sempurna.” Ucap Yoona senang. Ia pun kembali melanjutkan kegiatan memasaknya yang tertunda. Sambil memotong-motong sayuran dan juga memasak daging Yoona membayangkan wajah suaminya yang pasti akan terkejut dengan pesta makan malam yang ia siapkan hari ini. Dan yang paling ia tunggu adalah bagaimana reaksi suaminya ketika mengetahui jika ia dan Donghae tidak akan seperti anjing dan kucing lagi. Suaminya itu pasti akan kaget setengah mati karena ini adalah pertama kalinya ia benar-benar terlihat akur dengan Donghae sejak dua tahun lamanya.

“Hmm… Apa yang kau lakukan sayang?”

Yoona menoleh cepat dan langsung menemukan Donghae di atas meja pantry. Jelas sekali jika pria itu yang datang karena suaminya tidak pernah memanggilnya dengan panggilan romantis seperti itu. Suaminya adalah pria kaku yang sangat gila kerja!

“Hai, kau sudah pulang?” Tanya Yoona berbasa-basi. Sejujurnya ia terkadang merasa cukup aneh dengan suasana mereka yang damai tanpa adu mulut.

“Hari ini tidak banyak pekerjaan yang kulakukan di kantor, Siwon hyung telah menghandlenya dengan baik. Jadi aku memilih untuk pulang lebih dulu. Kau tahu… aku sangat merindukanmu.” Bisik Donghae tepat di belakang tubuh Yoona sambil memeluk tubuh ramping itu dari belakang. Entah bagaimana pria itu bisa bergerak secepat itu dan menyusup di belakang tubuh Yoona. Yang jelas saat ini posisi mereka dapat membuat siapapun yang melihat mereka menjadi salah paham.

“Donghae, lepaskan tanganmu sekarang juga, aku tidak bisa memasak.”

Yoona bergerak ke kanan sambil melepaskan jalinan tangan Donghae yang sebelumnya melingkar sempurna di pinggangnya. Meskipun rasanya berat, akhirnya Donghae memilih untuk melepaskannya dan berpindah ke samping Yoona.

“Perlu bantuan?” Tawar Donghae tulus. Yoona menaikan satu alisnya pada Donghae sambil memandang remeh pria itu.

“Kau bisa memasak?”

“Tentu saja. Dulu aku sering membantu eomma ketika memasak.” Sombong Donghae sambil mendongakan kepalanya. Yoona berdecak meremehkan, namun ia akhirnya mengijinkan Donghae untuk membantunya.

“Tolong masukan sayur-sayuran itu ke dalam panci.” Perintah Yoona sambil menunjuk tumpukan sayur yang telah ia cuci. Sementara itu ia sedang mengecek daging panggangnya yang terlihat sudah menguarkan asap putih yang harum.

“Arghhh..”

Brukk brukk brukk

“Lee Donghae! Apa yang kau lakukan?”

Yoona berteriak kesal pada Donghae yang tengah meniup-niup jarinya tanpa mempedulikan semua sayuran yang telah jatuh ke atas lantai.

“Dasar bodoh! Kau menjatuhkan semua sayurnya.”

“Tanganku terkena cipratan kuah kaldumu!” Balas Donghae tak kalah keras. Yoona berjalan mendekat dan mulai memunguti sayur itu satu persatu. Ia kemudian mencucinya lagi dan memasukannya ke dalam panci yang telah mendidih. Sementara itu Donghae masih setia di tempanya sambil terus meniup niup tangannya.

“Dasar cengeng! Lebih baik kau tunggu saja di depan, kau menggangguku di sini!” Usir Yoona kejam. Donghae menatap Yoona memelas dengan wajah merajuknya yang membuat Yoona kesal.

“Baiklah baiklah, kemari.”

Yoona menarik tangan Donghae yang sebelumnya terciprat kuah kaldunya dengan gusar. Tatapan memelas pria itu nyatanya tidak bisa membuatnya berkutik. Ia tidak akan tega membiarkan pria itu kesakitan seperti itu.

“Ini memerah Yoong.”

“Mana? Kau menipuku?” Tanya Yoona sambil membolak-balik tangan Donghae yang nyatanya baik-baik saja.

Cup

“Kau tertipu nyonya Lee!”

Tiba-tiba Donghae mengecup bibirnya kilat sambil berteriak heboh menjauhi Yoona. Yoona yang sadar akan kebodohannya langsung berlari menyusul Donghae yang telah lebih dulu menghilang dari dapur. Ia harus mendapatkan pria kurangajar itu!

“Lee Donghae! Awas kau! Aku tidak akan memaafkanmu.” Teriak Yoona dengan suara cemprengnya yang nyaring. Sedangkan Donghae tampak tertawa puas di halaman belakang sambil memberikan tatapan mengejek pada Yoona.

“Tangkap aku jika kau bisa Yoong.”

Byuurrr

Donghae terjun ke dalam kolam renang sambil berenang menjauh dari Yoona. Sementara itu Yoona tampak bersungut-sungut di pinggir kolam renang karena ia tidak bisa menangkap Donghae. Ia tidak bisa berenang!

“Awas kau Lee Donghae, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja.” Teriak Yoona kesal. Ia dengan nekat menceburkan diri ke dalam kolam renang yang ia pikir tidak akan terlalu tinggi. Meskipun ia tidak bisa berenang, tapi ia masih bisa berjalan di dalam kolam renang. Jadi ia berpikir akan melakukan hal itu untuk mengejar Donghae. Namun ketika ia masuk ke dalam air, ia sama sekali tidak bisa merasakan dasar kolam di kakinya. Justru semakin lama air-air itu menenggelamkan tubuhnya yang seringan kapan dan membuat pasokan oksigennya menipis. Ia mencoba menggapai-gapai udara kosong di atas kepalanya setelah dirasa air kolam itu menenggelamkan tubuhnya. Samar-samar ia masih dapat mendengar suara panik Donghae yang mencoba mengangkatnya dari dalam kolam renang. Namun banyaknya air yang masuk ke dalam paru-parunya membuatnya sesak dan mengambil seluruh kesadarannya. Ia pikir ia akan mati saat ini karena tubuhnya yang terasa melayang-layang di udara dengan bebasnya.

“YOONA! LEE YOONA! Bangun bodoh! Lee Yoona!”

Dengan panik Donghae membawa Yoona ke tepi kolam renang sambil menepuk-nepuk pipi Yoona yang tampak pucat. Bibir merah yang biasanya selalu melontarkan kalimat pedas itu kini telah  berubah menjadi biru keunguan yang sangat mengerikan. Beberapa maid yang melihat kejadian itu langsung berlari menghambur ke tepi kolam renang untuk menonton aksi penyelamatan yang dilakukan tuan mudanya.

“Ada apa ini?”

Melihat suara ribut yang berasal dari kolam renang membuat kakek Lee terganggu dari istirahat sorenya dan membuat pria tua itu segera menghampiri sumber keributan yang berada di taman belakang rumahnya.

“Yoona tenggelam.” Jawab Donghae panik sambil mencoba memberikan pertolongan pertama. Donghae mencoba melakukan CPR pada Yoona agar detak jantungnya tidak melemah. Lalu ia mulai memberikan nafas buatan beberapa kali untuk mengeluarkan sejumlah air yang sempat ditelan oleh Yoona.

“Cepat panggil dokter Yang Jino! Cucu menantuku sedang merenggang nyawa.” Perintah kakek Lee panik pada maid-maidnya. Mereka semuapun akhirnya berhamburan pergi untuk menghubungi dokter keluarga dan juga mempersiapkan kamar untuk Yoona.

“Ayoo ayoo.. sadarlah.”

Sementara itu Donghae masih mencoba memberikan nafas buatan untuk Yoona. Namun belum ada tanda-tanda Yoona akan membuka mata. Justru wajah Yoona kini tampak sepucat mayat dengan bibir membiru yang sama pucatnya. Kondisi Yoona saat ini benar-benar membuatnya takut.

Uhukk uhuukkk

Tiba-tiba Yoona terbatuk-batuk dan mengeluarkan banyak air yang sempat ditelannya saat tenggelam di dalam kolam renang. Refleks setelah wanita itu memuntahkan air-air dari dalam perutnya, Yoona langsung memuk leher Donghae erat. Wanita itu menangis ketakutan di dalam leher Donghae yang nyaman.

“Aku takut..” Ucap Yoona lemah. Donghae tampak meghela napas lega sambil mengelus punggung Yoona lembut.

“Tenanglah, aku…”

“Yoona! Apa Yoona baik-baik saja.”

Tiba-tiba Siwon datang dan langsung menghambur kearah Yoona. Melihat suaminya telah kembali, Yoona refleks melepaskan pelukannya pada Donghae dan beralih pada Siwon yang langsung menggendong tubuhnya yang basah untuk berganti pakaian.

“Oppa.. aku takut.” Tangis Yoona di dalam pelukan Siwon. Melihat itu Donghae hanya menatap nanar sambil menertawakan dirinya sendiri yang tampak seperti orang tolol.

“Cepat ganti pakaianmu, kau bisa sakit dengan pakaian basah seperti itu.”

Kakek Lee tiba-tiba datang sambil menepuk pundaknya lembut. Tatapan sendu dari mata tuanya membuat Donghae merasa terenyuh untuk pertama kalinya. Ini adalah pertama kalinya kakek Lee memandangnya dengan tatapan teduh yang sangat menenangkan untuknya.

“Ya, aku akan mengganti pakaianku sekarang. Terimakasih kakek.”

-00-

Malam harinya seluruh keluarga Lee tetap melakukan makan malam bersama seperti apa yang direncanakan Yoona. Meskipun wanita itu baru saja mengalami insiden mengerikan sore tadi, namun hal itu tidak menyurutkan niatnya sedikitpun untuk melanjutkan pesta kecil-kecilan yang telah ia siapkan untuk merayakan hubungannya dan Donghae yang telah membaik.

“Oppa, bagaimana rasanya? Apa ini enak? Aku yang memasak semua ini sendiri.” Tanya Yoona antusias pada Siwon yang sedang memasukan seluruh makanan yang telah diletakan Yoona di dalam piringnya.

“Enak. Kau memasak dengan sangat baik. Rasanya seperti masakan kepala koki di rumah ini. Aku tidak tahu kau sangat pintar memasak Yoong.” Puji Siwon tulus sambil mengacak rambut Yoona lembut. Mendapat pujian dari Siwon hati Yoona langsung berbunga-bunga. Ini adalah pengalaman pertamanya memasakan sesuatu untuk Siwon karena selama ini suaminya itu jarang makan di rumah. Atau saat suaminya makan di rumah, ia sedang sibuk dengan jadwalnya sehingga ia tidak pernah memasakan sesuatu untuk Siwon. Justru Donghae yang selalu mencicipi semua hasil masakannya ketika di Amerika.

“Kau ini terlalu sibuk hyung, jadi kau tidak pernah mencicipi bagaimana masakan Yoona sebelumnya. Tapi ia memang sangat pintar memasak, rasa masakannya sama seperti eomma.”

Yoona menatap Donghae tulus sambil membisikan kata terimakasih karena pria itu telah memujinya.

“Eomma? Ahh.. aku merindukan eomma. Eomma pasti sudah hidup bahagia di atas sana. Kapan-kapan kita harus mengunjungi makam eomma dan appa.” Usul Siwon yang langsung mendapatkan anggukan antusias dari Yoona.

Mereka berempat pun akhirnya melanjutkan makan mereka dalam diam dengan ditemani oleh suara dentingan sendok dan garpu. Suasana hening yang tercipta diantara mereka benar-benar suasana yang sangat jarang terjadi. Apalagi semenjak Siwon menikah dengan Yoona, karena Donghae dan Yoona tidak pernah akur selama ini. Selalu saja muncul pertengkaran kecil ketika mereka berkumpul. Tapi melihat mereka berdua telah berubah membuat Siwon senang dan lega. Akhirnya isterinya dan adiknya tidak saling adu mulut seperti dulu.

“Ngomong-ngomong aku penasaran, apa yang membuat kalian tiba-tiba memutuskan untuk berbaikan?” Tanya Siwon memecah kesunyian diantara mereka. Donghae dan Yoona yang duduk saling berhadapn hanya mampu melemparkan tatapan bingung mereka satu sama lain. Tidak mungkin mereka akan mengatakan hal sebenarnya pada Siwon, karena itu sama saja akan menghancurkan hubungan pernikahan diantara Siwon dan Yoona. Lalu? Akhirnya Yoona yang mengambil inisiatif untuk menjawab.

“Kami sekarang sadar oppa, kami sudah sama-sama dewasa, kami tidak bisa terus menerus bertengkar seperti anak kecil. Jadi sekarang kami memutuskan untuk saling mendukung.”

Donghae hanya mengangguk kecil tanpa berniat untuk berkomentar sedikitpun. Andai ia bisa berteriak, maka ia akan berteriak sekarang di depan hyungnya jika ia mencintai Yoona. Dan jika perlu ia ingin meminta ijin pada hyungnya untuk menikahi Yoona. Gila! Ya dia memang gila. Tapi ia merasa itu lebih baik daripada hyungnya memiliki Yoona namun tidak bisa membahagiakan Yoona. Hyungnya yang keparat itu telah menipu semua orang dengan wajah malaikatnya yang terlihat menjijikan di matanya.

“Ooya.. dua hari ke depan aku akan pergi Jeonju, ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan di sana.”

“Oppa kau harus menjaga kesehatanmu kalau begitu, akhir-akhir ini kau terlihat sangat sibuk.” Komentar Yoona khawatir.

“Aku sudah selesai.”

Donghae tiba-tiba beranjak dari kursinya dan meminta ijin untuk naik terlebih dulu ke kamarnya. Melihat hal itu, Yoona hampir saja melayangkan kalimat protes pada Donghae karena acara makan malam mereka sebenarnya belum selesai. Ia belum membuka anggur terbaik milik kakek Lee yang telah disiapkan oleh kepala koki sore tadi. Namun melihat tatapan datar Donghae yang tampak mengerikan membuat Yoona mengurungkan niatnya untuk melayangkan kata-kata protes pada pria itu. Ia tahu jika Donghae tengah dalam kondisi yang tidak baik, sehingga ia akhirnya membiarkan Donghae pergi begitu saja tanpa menyelesaikan acara makan malam mereka.

-00-

“Apa yang kau lakukan?”

Donghae turun dari kamarnya dan melihat Yoona tampak kerepotan dengan berbagai macam barang di kedua tangannya. Ia pun segera mengambil alih barang-barang itu dan membawanya menuju taman belakang.

“Aku akan membuat dinner spesial di sini bersama Siwon oppa. Bukankah hari ini ia akan kembali dari Jeonju?” Ucap Yoona riang sambil menata banyak lilin di atas meja. Melihat Yoona yang tampak riang seperti itu membuat Donghae sakit. Ia yang seharusnya berada di posisi Siwon untuk wanita itu. Ia tidak bisa berpura-pura melupakan perasaan cintanya pada wanita itu dan menjadi adik ipar yang manis.

“Yoona… selamat ulang tahun.”

Yoona melompat girang memeluk Donghae sambil berteriak bahagia.

“Kau mengingat hari ulang tahunku? Ya Tuhannn… aku senang sekali, akhirnya seseorang mengingat hari ulang tahunku, terimakasih Donghae.”

Yoona memberikan kecupan ringan di pipi Donghae sambil melepaskan pelukannya yang hampir mencekik pria itu.

“Aku punya hadiah untukmu.”

“Benarkah? Apa?”

Tiba-tiba Donghae mengangsurkan sebuah kotak beludru berwarna merah di depan Yoona.

“Seandainya kau bukan isteri dari hyungku, aku ingin melamarmu. Tapi karena kau adalah kakak iparku, maka terimalah ini sebagai hadiah ulang tahun dariku.”

Yoona menutup mulutnya sambil menahan bulir-bulir air mata yang hampir menetes dari pelupuk matanya. Sore ini Donghae memberinya sebuah cincin emas putih bertahtakan berlian yang begitu cantik di atasnya.

“Kkkenapa kau berkata seperti itu? Apa kau mencintaiku?” Tanya Yoona terbata-bata dengan suara serak. Setetes air mata tiba-tiba lolos begitu saja dari mata Yoona karena ia tak bisa lagi membendung air mata yang sejak tadi sudah berdesak-desakan di kedua matanya. Sekarang ia Tuhan telah mempermainkan hidupnya. Bagaimana bisa ia menikah dengan kakak dari mantan kekasihnya sendiri dan menjalin hubungan aneh dengan mantan kekasihnya tanpa status yang jelas. Apakah ini sama saja dengan berselingkuh di belakang suaminya? Tapi… mereka tidak pernah melakukan apapun selama ini, hanya sebatas kontak fisik dan saling melempar candaan satu sama lain. Ia sudah merasa nyaman bersama Lee Donghae, jadi ia merasa semua hal yang mereka lakukan selama ini tidak mengandung arti apapun. Meski beberapa orang yang melihatnya berspekulasi yang tidak tidak.

“Sangat. Jika kau bertanya apa aku mencintamu, maka jawabannya adalah aku sangat mencintaimu Yoong. Aku tahu selama ini kau tidak bahagia bersama Siwon hyung, kau hanya dijadikan sebagai boneka untuk menyempurnakan statusnya sebagai CEO. Aku tidak pernah melihatmu tertawa lepas bersama hyung meskipun kau berusaha keras untuk melakukannya. Sekarang jujurlah pada dirimu sendiri, siapa yang benar-benar kau cintai? Siapa yang benar-benar diinginkan oleh hatimu?”

Yoona membisu dan semakin menangis deras di hadapan Donghae. Kenapa pria itu harus memberikan pertanyaan yang teramat sulit padanya, karena ia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu. Hatinya terlalu bimbing untuk memutuskan siapa orang paling ia butuhkan untuk menemani akhir hidupnya. Tapi semua yang dikatakan oleh Donghae benar, selama ini ia merasa telah menjadi boneka pelengkap untuk Siwon. Keberadaannya di sisi pria itu hanya sebagai simbol kemapanan dan kesempurnaan pria itu, tapi hati pria itu tidak dekat dengannya. Berbeda dengan Donghae, meskipun pria itu menyebalkan dan sering bersikap semaunya, tapi pria itu dekat. Hati mereka dekat satu sama lain dan ia merasa kosong ketika Donghae tidak ada di sisi. Tapi… ia tidak bisa meninggalkan Siwon. Ia harus menjaga komitmennya yang sejak awal telah ia bangun di atas altar. Jika ia hanya menuruti egonya saja, ia tidak tahu berapa banyak hati yang akan terluka atas perbuatannya. Ia tidak mau menyakiti kakek Lee dan membuat dua orang saudara terpecah hanya karena dirinya. Jadi untuk sekarang ijinkan ia untuk berbohong di depan pria itu, Lee Donghae.

“Ak aku… menginginkan Siwon oppa. Maafkan aku Donghae, aku tidak mencintaimu. Aku sudah menganggapmu sebagai adik ipar sekaligus teman yang selalu menemaniku disaat aku kesepian. Sekali lagi maafkan aku.”

Sakit. Hati Donghae benar-benar sakit mendengar hal itu. Tapi ia tahu jika Yoona sedang berbohong. Akhir-akhir ini hubungan mereka sudah semakin membaik dan ia tahu jika Yoona juga memiliki perasaan yang sama padanya. Wanita itu hanya takut akan mengacaukan segalanya karena ia dan Siwon adalah saudara.

“Kau bohong Yoona, kau bohong! Aku tahu kau juga mencintaiku, kau hanya takut menghancurkan hubungan persaudaraan diantara kami jika kau lebih memilihku. Tapi asal kau tahu saja, aku dan Siwon tidak memiliki hubungan apapun. Dia bukan anak kandung eommaku, ia hanyalah anak yang diadopsi eomma dari panti asuhan. Jika kau memang tidak bahagia, katakan saja yang sejujurnya pada Siwon, aku yakin dia tidak akan keberatan untuk melepaskanmu.” Ucap Donghae berapi-api. Saat ini perasaanya sedang bercampur aduk menjadi satu. Marah, sedih, sesak, dan frustrasi. Perasaan itu terasa menohok keras ulu hatinya hingga ia merasa ingin meledak sekarang juga. Ia benci berada di situasi ini, dimana ia merasa tidak berdaya dengan perasaanya sendiri.

“Aku berkata jujur, aku memang membutuhkan Siwon oppa daripada dirimu. Kau hanya terlalu berlebihan menafsirkan sikapku selama ini. Lagipula sejak awal aku sudah tahu jika kalian bukan saudara kandung, jadi jika kau pikir aku takut akan merusak hubungan saudara kalian, kau salah. Ini semua kukatakan karena aku tidak memiliki perasaan apapun padamu.”

“Tidak, kau bohong Yoona. Kau tidak mencintai Siwon. Kau hanya berpura-pura mempertahankan idealismemu yang tinggi. Jika kau terus membohongi dirimu seperti ini, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Sampai kapanpun kau tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan.” Ucap Donghae tegas. Yoona menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya sambil menangis sesenggukan di depan pria itu. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia bingung! Rasanya ia ingin tenggelam ke dalam bumi sekarang juga daripada harus menghadapi perasaannya yang membingungkan.

“Yoona.. lihat aku, tatap mataku.”

Donghae menurunkan kedua tangan Yoona yang memenjara wajah wanita itu dari pandangannya. Dengan air mata yang masih menetes dari kedua matanya, Yoona berusaha menatap manik sendu Donghae yang terlihat semakin sendu. Ia tahu jika pria itu saat ini sedang merasakan kesakitan yang luar biasa di hatinya, tapi kesakitan itu lebih baik daripada ia mendatangkan banyak kesakitan untuk orang lain. Untuk kali ini ia benar-benar minta maaf pada Donghae karena ia harus menyakiti pria itu dengan sangat dalam.

“Jawabanku tidak berubah sedikitpun, aku membutuhkan Siwon oppa. Aku mencintai Siwon oppa.” Ucap Yoona lantang dengan suara bergetar. Bersamaan dengan itu Donghae menjatuhkan tangan-tangan Yoona yang sebelumnya ia genggam dengan hati sakit dan hancur. Pria itu kemudian berjalan menjauh dengan kepala tertunduk yang sangat menyedihkan. Ia baru saja di tolak oleh wanita yang sangat-sangat ia cintai. Dan hal itu benar-benar lebih meyakitkan dari sebuah kematian. Sunggu ia sangat membenci perasaan laknat itu. Ia benci mencintai seseorang!

-00-

Malam hari udara dingin berhembus dengan ganasnya di kota Seoul. Daun-daun kering yang telah menguning berhamburan kesana kemari seiring dengan tiupan angin yan berhembus kencang menerpa pohon-pohon kokoh di halaman belakang mansion keluarga Lee. Di tengah-tengah taman seorang wanita dengan gaun putih selutut tampak menundukan kepalanya lesu sambil menahan tangis yang hampir pecah. Sudah lebih dari empat jam ia menunggu kedatangan suaminya untuk merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh delapan. Namun hingga detik telah menjadi menit dan menit telah menjadi jam, pria itu sama sekali tak memunculkan batang hidungnya di sana. Bahkan hanya untuk sekedar memberinya kabar dimana kebaradaanya sekarangpun tidak. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Rasanya ia begitu marah pada dirinya sendiri. Untuk bisa membuat makan malam sempurna ini ia harus mengorbankan satu orang yang saat ini mungkin telah membencinya dengan teramat sangat hingga mungkin pria itu tidak akan mau melihatnya lagi. Sedikit demi sedikit perasaan bersalah itu mulai berdesak-desakan memasuki hatinya dan membuat hatinya kini semakin sesak. Ia ingin mengulang waktu dan meminta maaf pada pria itu. Sungguh yang ia butuhkan adalah kehadiran pria itu. Ia tidak membutuhkan kehadiran suaminya sama sekali.

“Kau bisa sakit jika terus menunggunya di sini.”

Tiba-tiba pundaknya terasa hangat dan berat. Sebuah jaket bulu tebal telah tersampir di pundaknya untuk menutupi pundaknya yang telah menggigil sejak tadi. Dan dua detik kemudian wanita itu langsung berbalik dan memeluk tubuh hangat pria baik hati yang selama ini selalu ada untuknya.

“Lee Donghae… hikss hikss hikss..”

Yoona menangis sesegukan di dalam dada bidang Donghae sambil memeluk tubuh pria itu erat. Sementara itu Donghae tampak begitu kasihan dengan keadaan Yoona yang tampak begitu kacau karena sejak sore wanita itu terus menunggu Siwon yang nyatanya saat ini sedang bersenang-senang tanpa memikirkan isterinya sedikitpun.

“Ssshhh… sudahlah, jangan keluarkan air matamu yang berharga untuk menangisi si brengsek itu.” Ucap Donghae menenangkan.

“Dia sudah berjanji padaku siang tadi jika ia akan pulang hari ini, tapi nyatanya ia berbohong padaku. Aaa.. aaku sudah menyiapkan semuanya. Bahkan ia sama sekali tidak ingat dengan hari ulang tahunku. Donghae.. maafkan aku.”

“Ssshhh…. tenanglah, tidak usah terlalu memikirkan masalah tadi. Aku tidak marah padamu, aku hanya marah pada diriku sendiri. Aku salah Yoona, maafkan aku.” Ucap Donghae lagi untuk menenangkan Yoona. Sebenarnya ia ingin memberitahu Yoona dimana Siwon saat ini, namun melihat kondisi Yoona yang sangat rapuh seperti ini, ia rasa ia tidak bisa memberitahunya. Yoona lebih baik memang tidak tahu. Terkadang kebohongan itu lebih manis daripada kejujuran. Meskipun rasa manis itu hanya sebuah kesemuan belaka.

“Donghae… Aaa aku… aku membutuhkanmu, tolong jangan pergi dari sisiku. Tetaplah menjadi adik iparku yang selalu ada untukku. Aku.. aku tidak bisa meninggalkan Siwon oppa. Aku tidak mau merusak hubungan persaudaraan diantara kalian, dan aku juga tidak ingin membuat kakek Lee sedih. Kalian adalah satu-satunya keluarga yang aku punya.”

“Yoona, aku tidak bisa menjadi adik iparmu. Aku mencintaimu. Sekarang katakan padaku, apa kau juga mencintaiku?”

Yoona menatap manik sendu Donghae dalam dengan perasaan bimbang yang menggelayuti hatinya. Ia sungguh takut dengan kata-katanya sendiri karena bagaimanapun kata-kata akan memiliki dampak yang lebih berbahaya jika diucapkan tanpa pikir panjang.

“Aa.. Aku….”

Yoona menghela napasnya berat sambil mengumpulkan semua keberanian yang ia punya. Kali ini ia harus bisa mengatakannya pada Donghae. Ia tidak akan lari lagi dari pria itu dan berbohong untuk yang kesekian kalinya karena ia memang sebenarnya lebih mencintai Donghae.

“Aku mencintaimu Lee Donghae.”

Akhirnya satu kalimat itu lolos dari bibil mungil Yoona dan disusul dengan  pangutan bibir Donghae yang tiba-tiba. Pria itu langsung mencium bibir Yoona dalam dan penuh perasaan setelah satu kalimat yang sejak tadi sangat ia tunggu terlontar dari bibir Yoona. Rasanya tidak ada hal yang paling membahagiakan di dunia ini selain rasa cinta yang kau miliki juga disambut dengan baik oleh orang yang cintai. Dan saat ini begitulah perasaan Donghae, ia merasa begitu semangat dan semua beban yang sebelumnya menggelayuti pundaknya tiba-tiba terangkat begitu saja setelah Yoona mengucapkan kalimat cinta yang sejak tadi ia tunggu. Andai wanita itu tidak memiliki idealisme yang tinggi dalam dirinya, mungkin mereka tidak perlu saling bertengkar satu sama lain hingga berakhir dengan air mata seperti tadi. Namun hidup memang tidak pernah mudah. Dan hidup memerlukan kesakitan.

“Aku juga mencintaimu Lee Yoona.” Bisik Donghae mesra sebelum ia kembali melumat bibir merah muda Yoona yang terasa bagai candu untuknya.

Dan malam itu semuanya berlalu begitu saja. Donghae dan Yoona saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing yang telah tertunda selama tujuh tahun lamanya karena kebodohan Donghae di masa lalu. Namun untuk mendapatkan akhir bahagia tanpa cela memang tidak mudah. Masih ada banyak hal yang harus mereka lakukan agar mereka dapat bersatu atau mereka hanya harus puas dengan status mereka sebagai adik dan kakak ipar.

-00-

“Hyung aku ingin bicara denganmu.”

Pagi-pagi sekali ketika matahari masih malu-malu menampakan diri di langit, Donghae telah datang ke kantor Lee Corp untuk berbicara empat mata dengan pria itu. Sebagai seorang pria sejati, ia akan membicarakan semuanya secara baik-baik dengan hyungnya. Meskipun rasanya hal itu sangat malas untuk ia lakukan mengingat bagaimana sikap ular hyungnya di luar sana.

“Hae, tumben kau datang pagi-pagi seperti ini, ada apa?” Tanya Siwon santai sambil membetulkan letak dasinya yang terlihat miring. Pria dengan postur tubuh tegap itu berjalan mendekati Donghae dengan aroma mint yang menguar begitu kental dari tubuhnya. Ditambah lagi keadaan rambutnya yang masih basah membuat Donghae berspekulasi jika Siwon baru saja selesai mandi.

“Aku ingin membicarakan masalah Yoona.”

“Yoona? Ada apa dengan Yoona? Apa ia baik-baik saja?”

Siwon bertanya pada Donghae dengan raut khawatir yang tercetak jelas di wajahnya. Ia pun berangsur-angsur mengingat janjinya pada Yoona kemarin sore untuk pulang dan makan malam di rumah. Namun karena ia memiliki sesuatu yang mendesak, sehingga ia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah semalam.

“Yoona tidak baik-baik saja, semalam ia menunggumu hingga tubuhnya menggigil di halaman belakang. Kemarin adalah hari ulang tahunnya.” Ucap Donghae datar. Seketika Siwon tampak terkejut sambil menepuk jidatnya pelan.

“Aku lupa. Sungguh aku lupa jika kemarin adalah hari ulang tahunnya. Lalu bagaimana keadaanya sekarang? Apa ia sakit?” Tanya Siwon merasa bersalah. Melihat bagaimana raut kepanikan yang ditunjukan Siwon di depannya, Donghae justru berdesih muak sambil menunjukan ekspresi wajah jijik pada kakaknya.

“Kau tidak perlu berpura-pura memikirkan Yoona jika nyatanya kau sama sekali tidak peduli pada Yoona. Daripada kau hanya menjadikan Yoona sebagai boneka pajanganmu, lebih baik kau menceraikannya. Kau tidak pantas menjadi suami Yoona.” Ucap Donghae tajam. Siwon terbebelalak kaget dengan ucapan Donghae dan mencoba membaca raut wajah Donghae yang terlihat bersungguh-sungguh. Jelas sekali jika Donghae tidak sedang bercanda dengannya. Lalu kenapa tiba-tiba adiknya memintanya untuk bercerai dengan isterinya?

“Kau memintaku menceraikan Yoona? Apa maksudmu Hae? Aku yidak mengerti.” Ucap Siwon dengan mata memincing.

“Aku dan Yoona saling mencintai. Aku ingin menikahi Yoona. Jadi kau harus menceraikan Yoona sekarang.”

Bugh

Tiba-tiba Siwon melayangkan pukulannya yang tak terduga pada wajah Donghae. Pria itu dengan nafas memburu hendak menghajar wajah adiknya lagi, namun dengan sigap Donghae menangkisnya dan membanting tubuh Siwon ke lantai.

“Kau mencintai isteriku? APA KAU GILA HAH? Dia kakak iparmu Hae, Yoona adalah isteriku. Kenapa kau tega menusukku dari belakang? Apa kalian sering melakukan sesutu tanpa sepengetahuanku? Kau menyalahgunakan kepercayaan yang kuberikan padamu Hae, aku kecewa padamu.” Teriak Siwon emosi sambil menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Pria itu lantas bangkit dari lantai sambil menepuk-nepuk celana bahannya yang mahal beberapa kali.

“Aku mencintai Yoona. Bahkan kami sudah bersama sejak senior high school. Tapi karena kebodohanku aku membuat Yoona terluka dan pergi dari hidupku. Bertahun-tahun aku mencoba mencarinya, namun aku selalu gagal menemukan dimana keberadaan Yoona. Tapi takdir sepertinya berkata lain karena aku justru dipertemukan dengan Yoona melalui dirimu yang saat itu tengah memperkenalkan calon isterimu pada semua orang.”

“Lalu kenapa saat itu kau tidak mengatakan apapun? Kenapa selama ini kau hanya diam?”

“KARENA AKU TIDAK INGIN MELUKAI YOONA! Kupikir dengan membiarkannya menikah denganmu, ia akan bahagia. Tapi nyatanya tidak, ia sama sekali tidak bahagia setelah menikah denganmu karena kau hanya memperlakukannya seperti boneka pajangan yang kau gunakan untuk menemanimu dalam setiap acara perusahaan relasi bisnismu. Sekarang aku tanya, apa kau pernah melihat Yoona tertawa saat bersamamu, hah? Apa kau pernah merawat Yoona saat sakit? Apa kau pernah berada di sisinya ketika ia sedang terseret skandal pencemaran nama baik? APA KAU PERNAH MENJALANKAN PERANMU SEBAGAI SUAMI HAH? JAWAB!” Marah Donghae keras. Namun Siwon tampak diam dan terlihat tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan Donghae. Memang selama ini ia terlalu sibuk mengurusi perusahaan Lee Corp yang sangat besar hingga ia menelantarkan Yoona dan tidak pernah ada di saat wanita itu membutuhkannya.

“Tapi aku  melakukan ini untuk kemajuan Lee Corp. Setiap hari aku menghandle semua pekerjaan kantor yang seharusnya menjadi tanggungjawabmu.”

“Hah, omong kosong!” Maki Donghae telak. Ia tahu selama ini Siwon tidak serta merta mengurusi perusahaan milik keluarganya. Siwon hanya menggunakan hal itu sebagai alasan untuk menutupi kebusukannya yang tidak pernah diketahui oleh Yoona.

“Aku tahu selama ini kau sedang berselingkuh bersama sekertarismua Hwang Miyoung. Bukankah dia adalah cinta pertamamu saat senior high school? Keputusanmu untuk menikahi Yoona dua tahun yang lalu karena kau ingin melupakan kekasihmu. Tapi enam bulan yang lalu tanpa sengaja kau bertemu lagi dengannya ketika ia melamar pekerjaan di kantormu sebagai sekertaris. Dan semalam kau tidak pulang karena kau sedang bersama mantan kekasihmu bukan? Kau menginap di apartemen yang kau berikan pada wanita itu selama kalian berada di Seoul. Dasar picik! Kau menjijikan hyung.” Maki Donghae keras dan terlihat begitu marah. Siwon yang tidak mengira jika Donghae akan mengetahui perselingkuhannya dengan Tiffanya menjadi panik. Ia takut Donghae akan melaporkannya pada Yoona dan membuat dirinya dibenci oleh kakek Lee. Bagaimanapun selama ini ia selalu berusaha untuk mendapatkan cinta dari pria tua itu dengan seluruh kerja keras yang telah susah payah ia lakukan.

“Tolong jangan katakan hal itu pada Yoona.” Ucap Siwon pelan. Namun Donghae jelas akan mengatakannya pada Yoona, hanya saja bukan dalam waktu dekat. Ia akan mengatakannya perlahan agar Yoona tidak hancur karena pengorbanan wanita itu untuk mempertahankan hubungan pernikahannya ternyata sia-sia.

“Lebih baik kau ceraikan Yoona dan biarkan Yoona bebas. Ia tidak seharusnya mengorbankan hidupnya hanya untuk pria keparat sepertimu. Jika dalam waktu seminggu kau belum menceraikan Yoona, aku akan membongkar semua kebusukanmu di depan Yoona dan kakek Lee.” Ancam Donghae penuh emosi dan segera berjalan pergi meninggalkan ruangan Siwon sambil membanting pintu. Ketika berada di luar ruangan hyungnya, ia melihat sekertaris itu sedang menatapanya dengan raut wajah ketakutan. Ia yakin jika wanita itu mendengar semua pembicaraannya dengan Siwon. Tapi ia tidak peduli! Justru wanita itu memang harus takut agar ia tidak terus menerus menjadi parasit di dalam hubungan rumah tangga orang lain.

“Katakan pada hyungku untuk menceraikan isterinya secepatnya atau aku akan membongkar seluruh kebusukan kalian di hadapan semua orang.” Ancam Donghae dengan suara desisan bak ular yang terdengar mengerikan. Tiffanypun hanya dapat mengangguk kaku dengan sikap kejam Donghae yang sangat mengerikan sambil mencengkeram lipatan roknya kuat-kuat.

“Bbbaik, aaku akan mengatakannya pada Siwon oppa.”

-00-

“Nyonya, seseorang mengirimkan surat untuk anda.”

Yoona yang sedang membaca salah satu buku milik kakek Lee untuk mengusir kebosanannya siang ini langsung mendongak cepat ketika salah satu maid mengangsurkan sebuah surat beramplop coklat yang di atasnya tertera lambang pengadilan negeri Korea Selatan.

“Siapa yang mengirimkannya?”

“Saya tidak tahu nyonya. Tapi sepertinya ini surat resmi dari pengadilan karena yang mengantarkannya adalah dua orang berjas yang didadanya juga memiliki lambang yang sama dengan lambang surat ini. Kalau begitu saya permisi nyonya.”

Pelayan itu membungkuk hormat pada Yoona dan segera pamit undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

Dengan sedikit was was, Yoona mulai membuka amplop coklat itu untuk membaca isinya. Rasanya sedikit aneh jika ia tiba-tiba mendapatkan surat dari pengadilan negeri Korea Selatan, sedangkan ia baru beberapa pekan berada di Seoul.

“Surat percerian?”

Seketika jantung Yoona berdegup kencang ketika kalimat demi kalimat telah berhasil ia baca dan semuanya menunjuk pada satu kesimpulan bahwa ia telah diceraikan oleh suaminya. Lee Siwon.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Kke kenapa Siwon oppa menceraikanku?” Gumam Yoona sedih dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya. Tanpa pikir panjang ia segera berjalan menuju lantai dua, tempat dimana Donghae berada. Ia harus meminta penjelasan pada pria itu terkait surat perceraian yang tiba-tiba dilayangkan Siwon padanya. Padahal beberapa hari yang lalu hubungannya dengan suaminya tampak baik-baik saja. Meskipun beberapa hari sebelumnya ia sempat kesal karena suaminya tidak datang untuk merayakan hari ulang tahunnya, namun mereka telah berbaikan. Ia telah memaafkan suaminya dan suaminya juga telah meminta maaf padanya. Jadi bagaimana mungkin pria itu tiba-tiba melayangkan surat cerai jika bukan karena Lee Donghae. Pria itu pasti telah bertindak nekat karena dua hari yang lalu ia menolak lamaran pria itu. Meskipun ia memang mencintai Donghae, tapi ia keputusannya untuk bertahan bersama Siwon sudah bulat. Ia tidak mau melukai seluruh keluarga Lee hanya karena keegoisannya.

“Sayang, apa yang kau lakukan di kamarku?”

PLAKK

Yoona menampar pipi Donghae keras dengan seluruh amarah yang melingkupi hatinya.

“Yoona, kenapa kau menamparku?”

Donghae yang merasa tidak memiliki masalah apapun pada Yoona menjadi terpancing emosi dan balas membentak Yoona.

“Kenapa? Justru aku yang ingin bertanya padamu, kenapa Siwon oppa mengirimkan surat cerai ini padaku. Apa yang telah kau katakan padanya, hah?” Tanya Yoona keras hingga membuat beberapa maid yang melintas di sekitar kamar Donghae mulai berbisik-bisik kecil membicarakan hubungan diantara Yoona dan Donghae yang kembali memanas setelah sebelumnya mereka selalu tampak kompak dan romantis.

“Aku menyuruhnya untuk menceraikanmu dan aku mengatakan padanya jika aku mencintaimu. Kenapa? Bukankah itu lebih baik? Lebih baik Siwon menceraikanmu daripada kau tersiksa hidup bersamanya.” Balas Donghae keras. Tak ada lagi sikap lembut yang biasanya ia tunjukan pada Yoona karena saat ini ia sudah terlalu muak dengan sandiwara yang ia, Yoona, dan Siwon mainkan. Mereka bertiga sebenarnya sama-sama tersiksa dengan semua ini. Hanya saja ego dan idealisme Yoona yang tinggi yang membuat semuanya menjadi sulit.

“Kenapa kau mencampuri kehidupan rumah tanggaku. Bukankah sudah kukatakan jika aku tidak bisa menikah denganmu. Meskipun kita saling mencintai, tapi bukan berarti kita bisa hidup bersama dalam sebuah ikatan. Perbuatanmu ini pasti telah menyakiti Siwon oppa. Ia pasti sekarang sangat membenciku karena ia telah mengetahui jika aku mencintaimu. Kau itu benar-benar pria brengsek yang menyebalkan. Aku menyesal telah mengenalmu dan memberimu kesempatan ke dua untuk berbaikan. Seharusnya kau pergi sejauh-jauhnya dari hidupku Lee. Kau perusak. Kau menghancurkan hidupku.” Maki Yoona dengan lelehan air mata di kedua pipinya. Donghae menatap Yoona nanar dengan perasaan sakit yang luar biasa menghujam jantungnya. Bagaimana mungkin wanita yang sejak awal berusaha ia perjuangkan justru berbalik membencinya dan melontarkan kata-kata kasar yang menyakitkan hati.

“Seharusnya sebelum kau melemparkan semua tuduhan dan makianmu padaku, kau tanyakan dulu pada suamimu apa yang telah ia perbuat di belakangmu. Aku hanya berusaha memperjuangkan kebahagianmu agar kau tidak merasakan sakit ketika mengetahui semuanya. Asal kau tahu Yoona, aku tulus mencintaimu dan aku ingin kau bahagia, meskipun itu hanya sekali.” Desis Donghae penuh amarah sebelum ia berjalan pergi meninggalkan Yoona yang masih menangis sesegukan di dalam kamarnya.

Ketika berada di ujung pintu, Donghae berpapasan dengan Siwon yang hendak masuk ke dalam rumah. Pria itu terlihat terburu-buru sambil menyampirkan jasnya di salah satu tangannya dan tangan lain yang sedang menjinjing tas hitam.

“Hae, apa kau melihat Yoona? Aku ingin menjelaskan terlebihdulu alasan mengapa aku mengajukan cerai di pengadilan padanya, namun pengadilan sudah terlanjur mengirim surat cerai itu tadi siang.”

“Yoona sedang menangis di kamarku. Lebih baik kau segera jelaskan semuanya padanya sebelum ia benar-benar berubah membencimu.” Jawab Donghae dingin dan segera keluar menuju mobilnya. Siang ini ia butuh udara segar untuk menjernihkan pikirannya yang sangat kacau.

-00-

Suasana di dalam ruang tengah yang hening itu tampak begitu canggung untuk Siwon setelah satu jam yang lalu ia menceritakan semua rahasia besarnya pada Yoona. Wanita itu terlihat begitu dingin di depannya tanpa memberikan komentar apapun terkait perselingkuhannya bersama sang sekretaris. Namun daripada ia mendapatkan Yoona yang terdiam seperti itu, lebih baik ia mendapatkan ribuan makian dari Yoona karena saat ini ia justru merasa khawatir pada Yoona yang sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikitpun sejak ia mengakui semuanya pada wanita itu.

“Yoong… katakanlah sesuatu. Berteriaklah jika kau memang marah atau menangislah jika kau merasa sangat sedih. Jangan memendam semuanya karena kau justru membuatku khawatir.” Ucap Siwon memecah keheningan diantara mereka. Namun sedetik kemudian yang terlontar justru tawa hambar yang terdengar menyedihkan dan menyayat hati.

“Hahahaahaa.. hahaa.. apa kau pikir aku akan marah padamu? Huh, bahkan aku tidak bisa mengeluarkan air mataku meskipun aku ingin. Hahahaa.. yang bisa kulakukan saat ini hanya tertawa oppa karena semua amarah dan air mataku sudah kuberikan pada Donghae. DONGHAE! Pria yang dengan sepenuh hati mencintaiku dan rela memberikan semua hal yang ia miliki untuk kebahagiaanku. Tapi aku justru memberikannya ribuan makian yang sangat kasar padanya. Aku menumpahkan seluruh amarahku pada pria sebaik Lee Donghae oppa! Apa kau sadar aku telah melakukan banyak kesalahan fatal karena ingin menjauhkanmu dari rasa sakit, tapi nyatanya aku justru menyakiti pria yang benar-benar kucintai dengan sangat dalam hingga hatinya hancur. Kau.. Arghhh!! Aku membencimu Siwon oppa! Kau pria sialan yang benar-benar memuakan!”

“Nyonya… nyonyaa.. Pihak rumah sakit memberikan kabar jika beberapa saat yang lalu tuan Lee Donghae mengalami kecelakaan dan tuan Lee Donghae.. tidak selamat.”

“Lee Donghae kecelakaan? Dddi mana dia sekarang?”

Yoona tak kuasa membendung air matanya ketika bayangan buruk mengenai Donghae satu persatu mulai menyusup ke dalam otaknya. Kilasan-kilasan masa lalu hingga kejadian beberapa jam yang lalu ketika ia memaki-maki Donghae mulai berputar di dalam kepalanya bagaikan sebuah film yang teramat sangat menyakitkan hatinya. Dengan sedikit limbung, ia segera meminta supir keluarga Lee untuk mengantarnya menuju rumah sakit yang telah disebutkan oleh maidnya.

“Aku akan mengantarmu Yoong.”

“Tidak perlu! Bahkan kau tidak perlu repot-repot datang ke rumah sakit. Urusi saja jalang milikmu sialan.”

Setelah itu ia segera memerintahkan supir Kang untuk menjalankan mobilnya menuju rumah sakit pusat Seoul yang beberapa saat lalu memberinya kabar mengenai kecelakaan yang menimpa Donghae.

Sepanjang perjalanan Yoona terus berdoa pada Tuhan, memohon agar Tuhan menyelamatkan Donghae dan tidak mengambil Donghae terlalu cepat karena ia ingin menebus semua kesalahannya pada pria itu. Ia ingin meminta maaf pada pria itu atas semua perbuatan kasarnya karena telah menuduh pria itu sebagai perusak rumah tangganya.

 

Aku menyesal telah mengenalmu dan memberimu kesempatan ke dua untuk berbaikan. Seharusnya kau pergi sejauh-jauhnya dari hidupku Lee. Kau perusak. Kau menghancurkan hidupku.

 

            Yoona memejamkan matanya penuh kesakitan ketika kalimat itu terus berputar-putar di dalam kepalanya dan membuat hatinya semakin sakit. Ia telah salah menilai Donghae. Ia salah telah memperlakukan Donghae dengan tidak adil disaat pria itu selalu ada untuknya. Bahkan Donghae adalah satu-satunya orang yang selalu mengingat hari ulang tahunnya dan tidak pernah absen memberikannya kado sejak ia menikah dengan Siwon. Seharusnya ia membalas semua perbuatan baik pria itu dengan seluruh cinta yang ia miliki, tapi nyatanya ia justru memberikan banyak kesakitan pada pria itu. Ia telah mengecewakan pria itu terlalu banyak.

 

Aku hanya berusaha memperjuangkan kebahagianmu agar kau tidak merasakan sakit ketika mengetahui semuanya. Asal kau tahu Yoona, aku tulus mencintaimu dan aku ingin kau bahagia, meskipun itu hanya sekali

 

“Hikss hikss hikss… Lee Donghae jangan tinggalkan aku, kumohon.” Bisik Yoona seperti pesakitan di dalam mobil yang hening itu. Sungguh saat ini ia berharap jika Donghae hanya berbohong dan sedang mengerjainya seperti biasa. Ia berharap saat tiba di rumah sakit nanti ia melihat senyum jahil Donghae karena telah berhasil menipunya dengan berita kecelakaan palsu yang dikarang oleh pria itu.

“Nyonya, kita sudah sampai.”

“Hiks hikss.. terimakasih ahjussi.”

Yoona membuka pintu mobil itu dengan berat sambil menyeka air matanya yang masih terus menganak sungai di kedua pipinya. Dari kejauhan ia dapat melihat sekumpulan polisi tengah berada di depan rumah sakit dengan sebuah mobil audi putih yang telah ringsek disemua sisinya. Tanpa bisa membendung air matanya lagi, Yoona langsung menangis sekeras-kerasnya sambil berlari masuk ke dalam rumah sakit. Ia tahu siapa pemilik mobil itu. Ia mengenali setiap inci mobil itu dengan baik karena pemiliknya. Namun ia berharap ia salah. Ia berharap itu bukan mobil milik Donghae karena ia tidak akan sanggup menerima kenyataan pahit yang akan segera menamparnya.

“Aapa bbenar telah terjadi.. kkecelakaan?” Tanya Yoona terbata-bata pada petugas resepsionis yang berada di loby rumah sakit. Melihat Yoona yang tampak sangat kacau, perawat itu langsung dapat menyimpulkan jika Yoona adalah anggota keluarga dari korban kecelakaan nahas yang terjadi beberapa jam yang lalu.

“Ini adalah kartu identitas yang berhasil didapatkan oleh polisi dari dalam mobil korban. Silahkan anda lihat terlebihdahulu nyonya.”

Petugas resepsionis itu mengangsurkan sebuah kartu identitas berwarna putih lusuh yang di beberapa sisinya terkena cipratan noda darah. Dengan tangan bergetar Yoona mengambil kartu identitas itu dan membaca setiap kata yang tertera di dalam kartu identitas itu.

“Lee Donghae… Tttidak mungkin.. Ini tidak mungkin.” Bisik Yoona lirih sebelum ia jatuh pingsan dan membuat beberapa orang disekitarnya panik karena ia tiba-tiba sudah tergletak begitu saja di atas lantai tanpa ada yang sempat menahannya.

 

           Lee Donghae kau tidak mungkin pergi meninggalkanku secepat ini kan? Ini pasti hanya bagian dari sandiwara konyolmu. Bukankah kau mencintaiku? Lee Donghae… Kumohon janga tinggalkan aku.

-00-

Yoona Pov

Aku membuka mataku perlahan dan menemukan diriku tengah berada di kamarku dengan pakaian hitam yang membungkus seluruh tubuhku. Di lengan kiriku telah melingkar tiga buah garis putih yang menandakan jika aku adalah salah satu anggota keluarga yang sedang berkabung.

Dengan nafas berat dan mata sembab yang terlihat bengkak, aku mencoba memejamkan mataku kembali sambil berharap jika semua ini hanya mimpi. Namun saat aku membuka mataku, lagi-lagi aku berada di tempat yang sama, dan dengan pakaian yang sama. Ini bukan mimpi. Ini benar-benar terjadi. Lee Donghae telah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya dalam sebuah kecelakaan mobil yang menewaskannya. Kemarin… dengan mata kepalaku sendiri aku telah melihat tubuh kaku Donghae yang sudah dibersihkan. Namun dari pakaian yang ia kenakan, aku bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya kecelakaan itu menimpanya karena hampir seluruh pakaiannya telah berlumuran darah. Lee Donghaeku… telah pergi. Ia meninggalkanku dengan beribu-ribu penyesalan karena aku tidak sempat meminta maaf padanya. Membalas semua kebaikannya… dan menjadi isterinya, seperti yang ia inginkan.

“Hikss.. Donghae.. kenapa kau benar-benar pergi? Hikss.. hikss.. aku tidak benar-benar menginginkanmu pergi..”

Aku menangis sesenggukan di dalam kamarku yang sunyi sambil membayangkan wajah muram Donghae ketika aku mencacinya dengan makian kasar yang tak berperi kemanusiaan. Ia pasti sakit… Ia pasti sangat kesakitan dengan semua ucapanku padanya.. Tuhan, kenapa kau justru mengambil Donghae? Kenapa bukan aku? Aku yang telah menyakitinya, aku yang telah menghancurkan hidupnya, tapi kenapa kau justru mengambilnya terlebih dulu Tuhan… Kenapa?

“Nyonya, jenazah tuan Lee akan segera dimakamkan. Tuan besar meminta anda untuk turun ke bawah.”

Dengan tatapan kosong aku mengikuti langkah maid itu yang menuntunku untuk turun ke bawah, bergabung bersama ratusan pelayat yang semuanya tampak muram ketika melihat peti mati milik Donghae yang telah diangkat oleh beberapa petugas pengurus jenazah untuk dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya.

“Yoona.. Jangan seperti itu, kau harus kuat. Donghae tidak akan suka melihatmu seperti ini.”

Kakek Lee merangkul pundakku dan membawaku ke dalam dekapannya yang hangat. Kakek kini tampak begitu rapuh dan hancur karena ditinggalkan oleh Donghae, cucu satu-satunya yang ia miliki. Ini semua salahku! Aku yang menyebabkan mereka semua menangis dan membuat kakek Lee semakin rapuh di usianya yang menua. Aku.. aku yang telah menghancurkan keluarga ini dengan keegoisanku.

“Kakek, aku ingin mengantar Donghae hingga ke pemakaman.”

Kakek Lee melepaskan pelukannya dan mengijinkanku ikut bersama petugas pembawa peti mati Donghae. Di barisan depan Siwon memimpin barisan itu sambil membawa foto tampan Lee Donghae yang sedang tersenyum manis menghadap kamera. Aku pasti akan sangat merindukan senyum itu, juga suaranya, sentuhannya, dan segala hal yang ada pada Donghae, aku pasti akan sangat merindukannya.

-00-

Hujan lebat tampak mengguyur Seoul ketika proses pemakaman Donghae telah selesai dilakukan. Kini tinggal tersisa aku dan Siwon yang sedang menungguku untuk beranjak dari pusara Donghae. Tapi aku masih ingin di sini. Aku ingin minum wine untuk terakhir kalinya bersamanya. Tak peduli hujam lebat yang telah membasahi seluruh tubuhku, aku hanya ingin memberikan penghormatan terakhir untuk Donghae.

“Yoona, ayo kita pulang.”

“Tinggalkan aku sendiri. Aku ingin minum wine untuk terakhir kalinya bersama Donghae.” Ucapku dingin. Tak berapa lama aku merasakan suara langkah kaki Siwon yang mulai menjauh. Baguslah jika ia sadar dan memutuskan untuk pergi karena aku sungguh muak dengannya.

Ketika pemakaman ini sudah benar-benar kosong, aku mulai membuka tutup red wine Chateau Grand Bourdies Graves tahun 1990 yang telah kusiapkan sejak pagi tadi. Wine ini adalah wine yang dibuat di tahun kelahiranku. Aku kemudian menyiramkan setengah isi wine itu ke atas pusara Donghae dan menuangkan sisanya ke dalam gelas bening berkaki tinggi yang juga telah kusiapkan sejak pagi. Tetes demi tetes air hujan masuk ke dalam gelas wineku dan membuat warna wineku semakin lama semakin memudar. Seharusnya wine ini kuminum bersamanya di malam aku membuat pesta makan malam untuk merayakan hari berbaikan kami. Tapi saat itu ia terlihat terburu-buru meninggalkan meja makan dan tidak sempat meminum wine ini, sehingga aku memutuskan untuk menyimpannya dan membukanya di saat yang tepat. Tapi aku tidak menyangka jika wine ini akhirnya kubuka dihari ia dimakamkan. Mari kita menikmati wine ini untuk yang terakhir kalinya.

“Cheers! Aku mencintaimu Lee Donghae.”

 

30 thoughts on “Red Wine (Oneshoot)

  1. DAEBAAAAAAKKKKKKK
    FF NY SUKSE BUAT AKU NANGIS
    CERITA NY ENGGAK KETEBAK DAEEEEBAAKKKKK
    aku sedih knp mereka engga bs bersatu di akhir ny
    1 keegoisan berdampak besar pd seseorang
    Jinjja Daebak

  2. Aku belum baca tapi liat komen bilangnya sad end jadii ragu buat baca
    Paling gag suka ff sad end 🙁

    Please jangan buat ff sad end lagi padahal aku liat teasernya bagus tapi sad end 🙁

  3. Kenapa sad ending thor :-(((( bener bener bikin nangis ffnya :((
    keren thor dan ceritanya juga gak bisa di tebak ternyata siwon jahat selingkuh dari yoona dan donghae kenapa meninggap disaat yoona sudah mengetahui semuanyaa 🙁 coba kalau donghae gak meninggal mungkin yoonhae bisa bersatu. Tp keren thor ffnya! ditunggu ff yoonhae lainnya tp yg happy ending dong thor~ hehe

  4. Pntesan ykin bkalan ga ada sequel,,org sad end
    Akhh author tega bkin donghae.a mninggal,,akh author tega ga bkin yoonhar brsatuuu

    Msti ada crita pngobat ff inii😢😢

  5. Sumpah sedih banget baca ceritanya. Masa sih donghae meninggal apalagi dia udah banyak berkorban untuk yoona dan keluarganya. Bisakah aku minta sequelnya tapi jangan donghae yang meninggal ganti aja dengan orang lain, maaf kalo maksa. Aku gk rela banget endnya mereka gk bisa kembali bersama lagi.

  6. endingnya kok rada ga srek ya thor??
    maksudnya kek terlalu dipaksain banget tiba2 kecelakaan gitu, tiba2 peran donghae di akhir ff ini kayak menurun gitu ga sekompleks biasanya. jadi ga se greget biasanya gitu.
    itu menurutku sih thor😅😅 *meskipun aku kurang suka ff dengan ending yang sad* tapi kalo komentar ku ini bener2 kok tanpa memandang satu sisi yang aku suka ending yang happy🙂
    kurang lebihnya aku mohon maaf hehehe
    ditunggu ff selanjutnya… fighting^^

  7. Satu kata, NYESEK!
    ini nyeseknya paket komplit ya saeng.. Donghae ngejar ngejar yoona tapi yoonanya batu, YoonHae momentnya ddikiiitttt, donghae yang terus menderita hingga akhirnya tiada.. Saeengg.. Donghae tuh gak bisa diginiin… 😭😭😭 (kkkkkk.. 😂😂) Sedihlah pokonya… oohhh ini Real OneShoot ya saeng donghaenya mati biar gak ada yang nagih nagih sequel.. 😆😆😆
    Tetep gak bisa dipungkiri ceritanya tetep DAEBAK versi nyonya ChalistaSaqila 👏👏👏
    Semangat terus saeng.. Kobarkan Api semangatmuuuu.. 🔥🔥🔥 😆😆 dan Terima kasih juga saeng udah bikin karya yang Indah ini.. 😙😙😙 aku rindu karya Romance mu.. Ditunggu saeng.. 😂😂 sehat sehat terus ya.. 😗😗

  8. Oh jadi Yoona itu mantan Donghae di masa lalu tohhhh ..jadi penasaran sama kisah mereka di masalalu pas pacaran ..kayanya seru walaupun itu cuma pura” di mata Donghae .
    btw ..itu terakhirnya masa iya gitu un gantung banget ..kayanya minta di tagih sequel nih hehe .

  9. Daebakkk 👍👍👍👍👍 Feelnya ngena bnget kk,, smpe nangis baca nya 😭😭 Dari awal aja udh nyakitin tpi kirain bkl happy ending,, trnyta sakitnya lebih paraaahhh 😭😭 Perjuangan hae yg sia2.. dia perjuangan bnget buat bisa ma yoong lgi meski sikapnya yoong bertolak belakang bnget.. dia rela lakuin apa aja. nahan sakit hatinya dia krn berkli2 ditolak ma yoong.. Smpet bahagia liat hbungan mereka kmbli baik stlah buka-bukaan tntng perasaan mereka tpi nyatanya itu mbwa dmpk yg lebih dahsyat 😭😭 Nggak tega hae harus ninggal 😭

    kyknya butuh pelengkap gitu 😅 kyk sequel gitu 😅😅 aku cmn ikutan sma yg lain kk 😂

    Feelnya luar biasa ngena.. fighting kk..

  10. Sad ending….😭😭😭
    Kenapa Donghae meninggal disaat Yoona membutuhkan dukungannya???Mmmm…masih bisakah berharap jika Donghae meninggal hanya dalam mimpi Yoona thor…..????😓😓

  11. huwaaa.. kenapa sad ending 😢😢

    butuh sequel dong eon..
    ceritain waktu donghae taruhan sama temen²nya untuk dapetin yoona, dan waktu mereka lagi pacaran

  12. kenapa jadi sad ending ya thor,,,,sedih dech,,,😢
    kenapa dbikin donghae nya meninggal thor,,,😣
    bagus sich ceritanya, tapi gag suka kalo sad ending,,,
    ditunggu ff lainnya ya thor,,,kalo bisa yg happy ending dong,,,hehe😉

  13. Kerennnnnn …
    Ending yg tak bisa ditebak kirain bakal nikah yoonhaenya ternyata malah ditinggal yoonanya.
    Siwon dan yoona cerai kan ? Pantes kenapa siwon ngasih lampu hijau donghae buat jaga yoona, karena dia punya simpanan.. hhmmm kesel loat siwonnya yg buat yoona jd pajangan 🤔

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.