Bullets Of Justice: The Last Mission (Fiveteen)

 

“Halo, kau dimana?”

“Itu bukan urusanmu.” Jawab Yoona ketus pada Sehun yang sedang menghubunginya. Wanita itu menepikan mobilnya di depan sebuah mini market yang buka dua puluh empat jam untuk membeli sesuatu karena ia merasa begitu lapar. Namun ketika ia akan turun, ia melihat sebuah mobil hitam yang juga berhenti tak jauh dari tempatnya berhenti. Ia pun mengurungkan niatnya untuk turun dan kembali melajukan mobilnya untuk mengetes apakah mobil hitam itu benar-benar mengikutinya atau tidak.

“Itu menjadi urusanku sekarang karena kau adalah tunanganku.” Balas Sehun tegas. Yoona mendengus tak suka dan bersiap untuk mematikan sambungan teleponnya, namun nada peringatan yang dilontarkan oleh Sehun berhasil menghentikan niatnya untuk menekan tombol merah di ponselnya.

“Jangan pernah berpikir untuk mematikan sambungan ponselmu Krystal Park. Aku tahu saat ini kau sedang diikuti.”

Krystal melirik kaca spionnya dan melihat mobil sedan hitam yang memang sedang mengikutinya. Ia kemudian membuka laci mobilnya dan menarik sebuah pistol yang selalu ia simpan di dalam sana.

“Siapa mereka? Kenapa mereka mengikutiku?” Tanya Yoona pura-pura tidak tahu. Tapi sebagian hatinya berspekulasi jika penguntitnya mungkin saja berasal dari Bloods yang telah mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya atau mungkin saja berasal dari markas yang mengira jika ia adalah putri dari Park Jaejong.

“Pergilah ke rumah utama, aku akan menjelaskannya di sana.”

“Rumah utama? Untuk apa? Aku tidak sedang ingin bertemu kakek.” Ucap Yoona gusar. Sungguh yang ia inginkan saat ini adalah tidur karena ia sangat lelah. Belum lagi ia harus menyusun rencana untuk menhancurkan mafia-mafia itu agar ia bisa segera kembali pada keluarganya.

“Ada sedikit masalah di rumah, di sini banyak sekali agent-agent. Entah bagaimana mereka bisa menemukan rumah ini, tapi ayahmu dan yang lainnya sedang dalam perjalanan menuju rumah utama. Dan yang mengikutimu adalah anggota Bloods, mereka hanya ingin memastikan kau aman.”

Yoona menghembuskan nafasnya pelan sambil melirik spionnya untuk melihat mobil sedan hitam yang masih setia mengikutinya. Ia pun memutuskan untuk mengikuti perintah Sehun. Meskipun ia cukup bingung karena beberapa saat yang lalu suaminya tidak mengatakan apapun mengenai penyerangan ke rumah Park Jaejong.

“Baiklah, aku akan pergi ke rumah utama. Tapi apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana mungkin mereka mengetahui dimana letak rumahku?”

“Entahlah, mungkin Bloods telah disusupi oleh pengkhianat.”

Seketika keringat dingin meluncur dari kening Yoona. Meskipun ia yakin jika yang dimaksud oleh Sehun bukan dirinya, tapi ia merasa jika penyusup itu dirinya. Apalagi beberapa menit yang lalu ia baru saja memberitahukan semua informasi yang diketahuinya pada Lee Donghae, suaminya.

“Hmm, aku akan mendengarkan cerita selengkapnya di rumah utama. Cepatlah datang.”

Setelah itu Yoona langsung menutup sambungan teleponnya dan berniat untuk menghubungi suaminya. Tapi sayangnya ponsel milik Donghae sedang tidak aktif. Ia pun mencoba untuk tenang dengan berpikir positif. Dan apapun yang terjadi ia akan bertahan sekuat tenaga. Identitasnya tidak boleh terbongkar sekarang karena ia memerlukan perannya sebagai Krystal untuk membongkar semua kebusukan Park Jaejong dan juga Park Juhyuk.

-00-

Lee Donghae berjalan lebar-lebar ke dalam markas dengan rahang mengetat.

“Kapten, apa yang terjadi?”

“Kalian bersiaplah, malam ini kita akan meringkus mafia-mafia itu.” Perintah Donghae tegas. Yeri dan Lay yang masih tidak mengerti dengan jalan pikiran kaptennya berusaha mengejar langkah Donghae yang lebar-lebar.

“Kenapa mendadak kapten? Apa kapten yakin akan melakukannya malam ini?”

“Aku yakin. Ini adalah satu-satunya kesempatan yang kita miliki sebelum mereka kembali melarikan diri dan sulit untuk dilacak. Siapkan lima tim untuk menyerang di lima titik. Aku akan memberikan alamat detailnya setelah ini.”

Yeri dan Lay saling berpandangan satu sama lain dan mengangguk bersamaan pada Donghae. Mereka kemudian membiarkan Donghae pergi menuju ruang jenderal utama dan tidak melayangkan banyak pertanyaan lagi.

“Aku terkejut dengan rencana ini, kenapa sangat mendadak.” Tanya Yeri dengan mimik tidak percaya. Lay mengangguk mengiyakan dan menghalau Yeri supaya pergi ke divisi amunisi untuk memanggil seluruh agent yang dibutuhkan oleh kaptennya.

“Kupikir juga begitu, apa ini karena salah satu anggota mafia itu menembak putra kapten Lee kemarin?”

“Ahh iya, Enzo ditembak kemarin namun kapten mengatakan padaku jika kondisinya sudah stabil.”

“Apapun yang diperintahkan kapten Lee, aku yakin jika itu memang yang terbaik. Lagipula aku sudah cukup bosan dengan mafia-mafia itu. Bayangkan, sudah berapa tahun kita mencoba menangkap mereka dan selalu menuai kegagalan hingga kita harus kehilangan senior Im. Sekarang adalah saatnya kita membalaskan dendam senior Im dan mengamankan negara tercinta kita.”

Yeri mengangguk kecil pada Lay dan tersenyum kecil pada pria itu.

“Ya, kita akan membuat mereka membayar atas kematian senior Im.”

-00-

Yoona memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah Park Juhyuk, kakek palsu yang lebih dari dua tahun ini turut andil dalam membentuk kepribadian kejamnya. Sebelum turun Yoona menyelipkan pistol di belakang ikat pinggangnya dan menatap spionnya sebentar untuk memastikan jika penampilannya tidak mencurigakan. Ia kemudian menoleh ke belakang, tempat dimana mobil sedan hitam yang mengikutinya sejak tadi juga sedang memarkirkan mobilnya.

“Huh, siapa sebenarnya mereka?” Gumam Yoona kesal. Biasanya anggota Bloods tidak seperti itu. Mereka jelas tidak akan mengganggu privasinya karena ia pernah melarang mereka untuk ikut campur dalam urusannya, kecuali Yunho karena ia adalah asistennya sekaligus pelayannya dan juga mentornya. Tapi… entahlah untuk sekarang, ia jelas tidak akan mempercayakan urusannya pada Yunho lagi karena ia ingin menghancurkan organisasi ini sedikit demi sedikit.

“Nona Krystal…”

Seorang anggota Bloods tingkat rendah menyapanya dan membukakan pintu utama mansion mewah milik Park Juhyuk di depannya. Yoona yang sedang berperan menjadi Krystal berpura-pura bersikap angkuh seperti biasa dan tidak menggubris sedikitpun sapaan pria muda yang terlihat tulus itu.

“Apa kakek ada?”

Sebelum ia benar-benar melangkah masuk, Yoona menghentikan langkahnya dan berbalik sedikit untuk bertanya pada sang pembuka pintu itu.

“Tuan besar ada di ruangannya.”

Yoona mengangguk mengerti dan segera melangkah masuk, namun ia berhenti sejenak ketika penjaga itu mulai berbicara lagi.

“Tuan baru saja melihat keadaan gudang minuman keras ilegal di pelabuhan yang mendapatkan serangan dari agent-agent intel negara malam ini.”

Yoona terdiam di tempat, namun ia tidak sedikitpun menoleh pada pria itu. Di cengkeramnya ujung pistol hitam yang ia selipkan di balik ikat pinggang kuat-kuat. Sekarang ia khawatir jika mereka telah mengetahui kebohongannya.

“Aku akan bertemu dengan kakek untuk membicarakan hal itu.” Ucap Yoona akhirnya setelah cukup lama ia terdiam di tempat. Saat ini otaknya sedang bekerja untuk memikirkan berbagai macam kemungkinan yang terjadi. Ia tidak mau semua kesempatan ini menjadi sia-sia hanya karena kecerobohannya.

“Kakek…”

Yoona langsung masuk ke dalam ruangan coklat bernuansa klasik itu ketika salah satu anggota Bloods membukakan pintu untuknya. Di dalam sana tuan Park Juhyuk sedang merenung di atas kursi kebesarannya sambil menopangkan kepalanya di atas dua tangannya yang bertaut. Dan ketika ia mendengar suara cucunya, ia langsung mendongakan kepalanya sambil tersenyum getir.

“Mereka sudah tahu, ada seorang penyusup di dalam Bloods.”

“Kakek, sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Yoona berpura-pura prihatin. Ia berjalan mendekati Park Juhyuk sambil menyambar gelas wine milik kakeknya yang berada di dalam bar mini. Ia dengan wajah penuh prihatin memberikan gelas itu pada kakeknya dan mencoba terlihat simpatik di depan kakek palsunya, meskipun saat ini batinnya sedang menjerit girang.

“Bloods telah dikhianati oleh orang yang berbahaya. Tidak mungkin agent-agent itu tahu seluk beluk Bloods secara detail jika mereka tidak mendapatkan informasi dari orang yang sangat penting di dalam Bloods. Mereka saat ini telah mengobrak-abrik gudang minuman kerasku dan juga gudang senjata ilegalku. Padahal selama ini dua aset itu selalu tersembunyi dengan aman karena hanya sedikit anggota Bloods yang mengetahuinya. Bahkan aku tidak pernah membiarkan pekerja di sana keluar dalam keadaan hidup. Setiap pekerja harus bekerja di sana seumur hidup mereka, dan jika mereka ingin keluar, maka mereka harus mati. Jadi tidak mungkin ada seorang pun yang tahu tentang bisnis itu, kecuali orang-orang penting yang berada di dalam Bloods.”

“Jika memang seperti itu, ia pasti orang yang sangat hebat karena ia berhasil mengelabuhi kakek dan juga ayah. Baru saja Sehun menghubungiku, ia mengatakan jika agent-agent itu telah menyerbu ke rumah. Well, kita harus bertindak cepat kakek, sebelum bisnis kakek benar-benar hancur.”

Prangg!!

Park Juhyuk melemparkan gelas winenya asal dan membuat cairan merah itu berceceran di atas lantai dengan beling-beling berwarna emas yang berasal dari gelas mahal itu. Kemarahannya saat ini benar-benar sedang meluap-luap. Dan sebagai pemimpin utama Bloods ia harus segera bertindak sebelum semua bisnisnya benar-benar hancur seperti apa yang dikatakan oleh Krystal padanya.

“Ini tidak boleh terjadi, pengkhianat itu harus mati.”

Ckrek

Seiring dengan ucapan Park Juhyuk yang terhenti, pria tua itu menodongkan pistol kearah Krystal dengan slot peluru yang telah aktif, siap untuk menembak Krystal kapanpun.

“Kau bukan Krystal, kau Im Yoona!”

Yoona tersenyum sinis pada Park Juhyuk sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Akhirnya kau mengetahuinya juga kakek, ups maaf, mungkin kau bukan kakekku. Tapi aku cukup berterimakasih pada kalian yang telah merawatku selama ini dan menjadikanku sebagai Krystal kalian yang berharga, namun juga kejam.” Ucap Yoona santai. Kedua tangannya masih setia berada di depan dada dan ia terlihat tak gentar sedikitpun meski Park Juhyuk bisa saja menembaknya kapanpun.

“Kau telah menghancurkan bisnisku! Aku pasti akan segera membunuhmu, tapi aku ingin melakukannya di depan keponakanku yang bodoh itu karena selama ini ia masih mempertahankanmu meskipun aku sudah memperingatkannya sejak dulu.”

“Sebenarnya aku tidak terima dengan tuduhanmu itu tuan karena aku tidak sepenuhnya menghancurkan bisnis-bisnismu, lebih tepatnya belum, karena aku baru merencanakannya bersama suamiku beberapa saat yang lalu. Tapi jika pada akhirnya penyerangan ini sedikit dipercepat, aku tidak masalah. Toh kalian cepat atau lambat akan segera hancur.”

Ckrek

Yoona kemudian menari pistol hitamnya dan ikut menodongkan senjata api itu pada Park Juhyuk. Mereka berdua saling bertatapan sengit tanpa mempedulikan suara gaduh yang berasal dari luar ruangan yang kedap suara itu.

Brakk

“Paman! Krystal!”

Park Jaejong masuk dengan peluh yang membanjiri wajahnya dan juga mimik panik yang tercetak jelas di wajahnya. Dibelakangnya Yunho juga ikut mengekori sambil menatap penuh antisipasi pada Yoona dan juga Park Juhyuk yang saling menodongkan pistol satu sama lain.

“Ini semua salahmu, seharusnya dulu kau langsung membunuh wanita itu dan tidak mengangkatnya sebagai anak. Lihat apa yang ia lakukan sekarang setelah apa yang telah kita berikan padanya. Bahkan pengorbananmu selama ini hanya berakhir sia-sia.” Sembur Park Juhyuk dengan nada sengit. Park Jaejong yang sejak awal telah memperingatkan pamannya mengenai Krystal yang telah mengingat semuanya kini mulai goyah karena bagaimanapun ia cukup menyayangi Yoona sebagai Krystal. Wajah mereka berdua benar-benar mirip, dan hal itulah yang membuatnya tidak bisa membunuh Yoona. Mungkin ia harus meminta orang lain untuk melakukannya.

“Membunuhnya tidak akan menjadi jalan keluar paman, agent-agent itu tetap akan menghancurkan bisnis kita. Wanita ini justru bisa kita gunakan untuk mengancam kapten keparat itu karena ia tidak mungkin akan melukai isterinya sendiri.” Ucap Park Jaejong memberi jalan tengah. Yoona menggeram tertahan dengan rencana picik Park Jaejong. Sejak dulu ia selalu dijadikan kambing hitam untuk menghancurkan keluarganya sendiri. Dan sekarang selagi ia memiliki kesempatan, ia akan membunuh mereka semua untuk membalaskan dendam atas perbuatan mereka padanya selama ini.

Dor! Dor!

Prang

Yoona menembak Park Jaejong, namun sayangnya pelurunya meleset karena Yunho langsung melompat untuk menyelematkan Park Jaejong sehingga peluru itu hanya melukai kaki Yuho dan juga memecahkan satu guci besar yang berada di belakang mereka.

“Sialan! Lihat apa yang ia lakukan sekarang, kau benar-benar bodoh karena tetap menganggapnya sebagai Krystal, dia bukan Krystal! Dia akan menghancurkan kita!”

Dor

Dorr

Park Juhyuk mencoba menembak Yoona, namun Yoona berhasil menghindar dan membalas tembakan Park Juhyuk padanya, namun sayangnya tembakan itu meleset karena Yoona menembaknya tidak dengan fokus yang penuh.

“Krystal! Hentikan semua ini, kau berada di dalam mansion utama Bloods. Saat ini semua anggota Bloods sudah bersiap di luar sana. Jika kau membunuh salah satu diantara kami, kau jelas tidak akan selamat karena mereka pasti akan membunuhmu tepat ketika kau melangkahkan kakimu keluar dari ruangan ini. Jika kau masih ingin berkumpul dengan keluargamu, lebih baik kau turuti perintahku. Buang senjata itu sekarang juga!” Perintah Park Jaejong tegas. Yoona tersenyum sinis pada Park Jaejong dan justru menodongkan pistolnya tepat di depan wajah Park Jaejong yang sedang menatapnya dengan serius.

“Kau pikir aku takut? Selama ini kau telah membentukku sebagai wanita tangguh yang jahat. Membunuh orang bukan lagi masalah untukku, bahkan selama ini aku sudah membunuh banyak orang di luar sana. Jadi, membunuh sekali lagi untuk malam ini, rasanya tidak masalah.”

Dor

Yoona melepaskan satu pelurunya dan peluru itu berhasil menggores wajah Park Jaejong yang terlihat syok di depannya.

“Yoona! Apa yang kau lakukan?”

Tiba-tiba Sehun muncul dengan beberapa percikan darah yang mengotori kemeja putihnya. Pria itu memberikan kode pada Park Juhyuk agar menahan tembakannya karena ia yang akan membereskan Yoona untuk mereka.

“Jatuhkan senjatamu sekarang juga!”

“Tidak! Kau pengkhianat sialan Oh Sehun! Selama ini aku mempercayaimu dan memperlakukanmu dengan baik seperti adikku sendiri, tapi kau justru mengkhianatiku.”

“Aku tidak mau menjadi adikmu, aku mencintaimu.”

Dengan gerakan gesit, Oh Sehun mengunci lengan Yoona dan menjatuhkan pistol itu ke atas lantai. Ia kemudian menempelkan ujung pistol itu tepat di kening Yoona untuk menggertak Yoona yang justru sedang tersenyum santai di bawah kungkungannya.

“Pria sepertimu tidak pantas mendapatkan cinta Oh Sehuh, bahkan dari Yeri sekalipun.”

“Jangan bawa orang lain ke dalam pembicaraan kita Yoona.” Geram Sehun memperingatkan. Yunho yang melihat Sehun mampu menangani Yoona, memberikan kode pada Park Juhyuk dan juga Park Jaejong untuk segera keluar dari mansion itu. Setidaknya mereka bertiga harus selamat untuk memulihkan kembali kondisi Bloods yang malam ini cukup terancam.

“Kalian tunggulah di halaman belakang, aku sudah mengamankan tempat itu dan menyiapkan mobil untuk kalian. Setelah aku menangani Yoona, aku akan membawa kalian ke tempat yang aman. Aku tahu dimana tempat yang aman untuk kalian.” Ucap Sehun tegas pada Yunho yang sedang berusaha berjalan dengan kaki penuh darah yang terasa menyakitkan untuknya. Namun pria itu mematuhi perintah Sehun dan segera membawa kedua bosnya untuk mengamankan diri sesuai perintah Sehun.

“Kau membuatku kehilangan mereka! Lepaskan aku!” Teriak Yoona meronta-ronta.

“Diam! Jangan banyak bergerak atau aku benar-benar akan menembakmu Im Yoona.” Teriak Sehun murka. Pria itu menyeret Yoona untuk keluar dari ruangan Park Juhyuk sambil tetap menodongkan pistol di kening Yoona. Dan ketika mereka melintasi ruang utama mansion itu, Yoona dapat melihat puluhan mayat yang tergletak mengenaskan dengan kepala berlubang atau jatung yang berlubang. Bahkan sebagian dari mereka ada yang sedang merenggang nyawa dengan kondisi yang mengenaskan.

“Lihat, bahkan agent-agent itu sudah kalah telak dengan jumlah anggota Bloods yang banyak. Jika kau membunuh Park Jaejong dan Park Juhyuk di dalam sana, berapa banyak peluru yang akan bersarang di dalam tubuhmu senior?”

Yoona mengepalkan tangannya penuh kebencian ketika ia melihat banyak agent-agent yang mati di mansion besar itu. Namun sebagian masih bertahan dengan kondisi yang terlihat cukup memprihatinkan. Dan disaat-saat seperti ini ia membutuhkan sosok suaminya untuk membantunya.

“Donghae oppa pasti tidak akan membiarkanmu hidup!”

“Memang, kapten keparat itu tidak pernah sedetikpun membiarkanku hidup sejak aku mengatakan yang sebenarnya. Hentikan serangan kalian! Aku tidak akan menyakiti wanita ini jika kalian mengentikannya.”

“Oh Sehun!”

“Oh Sehun, lepaskan Yoona!”

Donghae dan Yeri berteriak bersamaan dengan mimik wajah terkejut dan juga geram. Yeri yang mengira Sehun telah mati terlihat tak percaya ketika melihat sosok Sehun yang terlihat sangat bugar tanpa cela. Sementara itu, Donghae terlihat begitu waspada dengan ujung pistol yang sudah siap untuk menembak Sehun kapan saja.

“Aku akan melepaskan Yoona asalkan kalian juga berhenti untuk menghancurkan tempat ini.”

“Tahan serangan kalian!”

Donghae memberi perintah pada anak buahnya dan langsung diikuti mereka dengan patuh. Namun saat ini keadaan diantara mereka justru semakin panas karena kedua belah pihak sama-sama sedang bersitegang dan sudah siap satu sama lain untuk saling membunuh.

“Serahkan Yoona sekarang, dan aku tak akan melukai anggota Bloods yang masih tersisa.”

“Huh, apa jaminannya kau tidak akan menyerang mereka setelah aku memberikan isterimu yang berharga ini padamu kapten?”

“Nyawaku! Jika aku melukai mereka, kau boleh mengambil nyawaku.”

Semua orang yang berada di sana menatap Donghae dengan jaminan yang dilontarkan oleh pria itu. Jelas tujuan mereka ke sana adalah untuk membunuh semua anggota Bloods yang mematikan jaringan bisnis mereka. Namun jika mereka tidak bisa melukai mereka, lalu untuk apa mereka berada di sana?

“Nyawa ya? Sebuah jaminan yang cukup berharga, mengingat wanita ini juga sama berharganya dengan nyawamu kapten.”

Sehun kemudian mendorong tubuh Yoona ke depan dan membuat Yoona hampir jatuh karena keseimbangan tubuhnya yang goyah. Namun dengan sigap Donghae langsung menangkapnya dan menyembunyikan Yoona di belakang tubuhnya.

“Sekarang tarik seluruh anak buahmu!” Ucap Sehun menagih janji Donghae. Namun Donghae justru menyeringai licik di depannya dengan wajahnya yang terlihat berbahaya.

“Aku bertaruh dengan nyawaku jika aku tidak akan melukai mereka, tapi aku akan membunuh mereka. Serang mereka dan jangan sisakan satupun dari mereka!”

Sehun terbelalak tak percaya sambil mengumpat keras di depan Donghae. Ia pun segera pergi untuk menyelamatkan diri. Berlama-lama berada di sana sama saja dengan bunuh diri.

“Keparat kalian semua!”

Dor dor dorrr

Sehun mengarahkan tembakan berkali-kali untuk melindungi dirinya yang sudah dikepung oleh mantan rekan-rekannya di intel negara.

“Jangan biarkan Oh Sehun kabur! Yoona, kau bisa melindungi dirimu sendiri?”

“Oppa tenang saja, aku pasti melindungi diriku sendiri. Setelah ini kita akan kembali bersama, sebagai keluarga yang bahagia.”

Yoona tersenyum lembut pada Donghae dan meraih pistol hitam yang diangsurkan Donghae padanya. Setelah itu mereka berdua berpisah untuk menyelesaikan misi besar mereka. Dan malam itu semuanya menjadi awal dari segalanya. Awal kebahagiaan Lee Donghae dan Lee Yoona, dan juga keluarga kecil mereka.

-00-

“Oh Sehun, apa yang terjadi?”

“Kita harus segera pergi, mereka akan segera menghancurkan tempat ini.”

Sehun segera melompat masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Park Jaejong yang sejak tadi sedang menunggunya dengan gelisah.

“Mereka semua telah dikalahkan oleh intel-intel itu?”

“Jumlah mereka sangat banyak.” Jawab Sehun singkat. Ia segera menginjak pedal gasnya kuat-kuat untuk segera pergi dari mansion mewah yang selama dua puluh tahun terakhir ini sudah ia anggap seperti rumahnya sendiri. Namun ini adalah konsekuensi yang harus ia hadapi. Sejak awal ia memang tidak seharusnya berada di dua tempat yang saling bertolak belakang, karena sekarang ia goyah.

“Oh Sehun, apa ini?”

Yunho mengangkat gumpalan kabel yang tersembunyi di belakang kursi kemudi Sehun dan juga sebuah kotak misterius yang juga mengeluarkan bunyi misterius.

“Bom.”

“Bom? Apa kau sedang bercanda?” Tanya Yunho geram sambil melemparkan gumpalan kabel itu ke bawa kakinya. Ia menarik kemeja Sehun dari samping dan memaksa Sehun untuk menghentikan mobil yang dikemudikannya, namun pria itu justru menginjak pedal gasnya semakin kuat hingga membuat Yunho terpelanting ke belakang karena ia sengaja membelokan mobilnya tiba-tiba.

“Seharusnya sejak awal kalian tidak memaksaku untuk berdiri diantara dua sisi. Dan sekarang aku harus memilih salah satu diantara sisi itu, jadi kalian harus menerimanya.”

“Apa kau ingin bunuh diri bersama kami?”

Park Juhyuk yang sejak tadi hanya diam, akhirnya membuka suara untuk bertanya pada Sehun. Di tangannya masih tergenggam pistol yang bisa saja ia gunakan untuk menembak Sehun dan menghentikan semua rencana gila anak angkatnya. Tapi sayangnya Sehun menggenggam pemicu bomnya, jika ia membunuh Sehun sekarang, mereka semua akan tetap mati karena ledakan bom yang berada di bawah kaki mereka.

“Ini adalah yang terbaik, tidak ada hal yang paling baik selain kematian bukan?”

“Kau gila! Hentikan mobil ini sekarang juga.”

Park Jaejong yang berada di sebelahnya  berusaha merebut kendali mobil yang dikemudikan oleh Sehun hingga beberapa kali mobil itu menabrak pembatas jalan. Namun hal itu tetap tidak menggoyahkan Sehun. Sejak awal ia telah bersumpah untuk mengakhiri segalanya, maka sekarang ia harus menepatinya.

“Sampai jumpa lagi, di neraka.”

Duaaarrr!

 

 

Epilog

Sehun Side

Sejak kematian Yoona, suasana di markas ini semakin suram. Ditambah lagi dengan berbagai kejadian tidak menyenangkan yang terjadi di markas ini, membuat semua agent terlihat tidak bersemangat dari biasanya.

Siang inipun aku merasakan hal yang hampa. Biasanya kami akan bekerja dengan penuh semangat bersama Yoona, tapi saat ini ia sedang berjuang di Amerika. Semalam aku mendapatkan kabar jika ia sudah melewati masa kritisnya, tapi ia belum juga membuka mata. Aku harap ia segera sadar dan bisa kembali di tengah-tengah kami.

“Oh Sehun…”

Brukk

Tiba-tiba seseorang menyudutkanku ke dinding dan membuatku terdesak diantara dinding dan pria itu. Namun beberapa detik kemudian aku segera sadar jika pria yang menghimpitku adalah kapten kami, Lee Donghae.

“Kapten, apa yang kapten lakukan?”

“Akting yang sangat bagus Oh Sehun. Aku sudah mengetahui semuanya.” Ucapnya dengan tawa sinis yang tercetak jelas di wajahnya. Aku mengernyitkan dahiku tidak mengerti dan berusaha tetap tenang di hadapannya.

“Kau yang menembakku ketika aku akan menghentikan Park Jaejong, dan kau juga bersikap aneh ketika Yoona terjebak di dalam gedung yang terbakar itu. Oh Sehun aku tahu semuanya, kau adalah mata-mata dari sindikat mafia itu.”

Aku menyeringai licik di depannya dan menyentakan tangan Donghae dari kerah kemejaku. Sekarang tidak ada yang perlu di tutup-tutupi lagi, ia sudah tahu semuanya.

“Kau benar kapten Lee Donghae, aku memang mata-mata Park Jaejong.”

“Brengsek!!”

Bughh

Aku terpelanting ke samping setelah menerima pukulan yang cukup keras darinya. Kurasakan sudut bibirku terasa berkedut dan juga perih, ia benar-benar kapten sialan!

“Jadi selama ini kau yang menjual informasi markas pada mafia-mafia itu? Kau seharusnya mati Oh Sehun!”

Kini pria itu sudah menodongkan pistol kearahku dengan keadaan aktif, jika ia mau, ia hanya tinggal menarik pelatuk itu dan…. aku akan mati sekarang juga.

“Jika kau membunuhku sekarang, aku tidak bisa menyelamatkan Yoona.”

Entah ini baik atau buruk, tapi aku belum ingin mati sekarang. Masih ada banyak hal yang harus kulakukan, salah satunya adalah memastikan Yoona selamat.

“Yoona sudah pergi, jadi jangan pernah menggunakan Yoona untuk menolong dirimu sendiri.”

“Tapi bagaimana jika Yoona masih hidup dan saat ini sedang menjalani perawatan di Amerika? Aku telah menyelamatkannya sebelum ia mati terbakar.”

Lee Donghae terlihat ling lung dan hanya menggantungkan pistol yang digenggamnya di udara. Ia pasti terkejut dengan informasi ini, tapi aku tidak yakin ia akan mempercayainya secepat itu.

“Apa karena kau mencintainya?”

Aku menatapnya tidak mengerti. Kapten ini memang suka sekali membuat lawan bicaranya bingung dengan jalan pikirannya.

“Kau menyelamatkannya, apa karena kau mencintai isteriku?”

Aku mengganggukan kepalaku secara spontan dan berusaha untuk berdiri. Kulihat kapten itu masih setia menodongkan pistol kearahku, namun sepertinya ia juga tidak berniat untuk menembakannya kearahku. Lebih tepatnya tidak sekarang.

“Mungkin itu salah satu alasanku melakukannya.”

“Lalu bagaimana keadaanya sekarang?”

“Baik, ia sudah melewati masa kritisnya dan dokter sedang menunggunya membuka mata untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya. Jadi kau percaya jika kau menyelamatkan Yoona?” Tanyaku tak yakin. Apakah semudah itu mempercayaiku? Terlebih lagi ia baru saja mengetahui pengkhianatanku, seharusnya ia tidak mempercayai ucapanku dengan mudah.

“Aku tidak melihat adanya kebohongan di wajahmu, jadi aku percaya. Aku ingin bertemu Yoona.”

“Tidak bisa.”

Ia menggeram marah di depanku sambil mengepalkan buku-buku tangannya hingga memutih. Tapi meskipun ia akan menghajarku hingga mati, ia tetap tidak akan bisa menemui Yoona karena jika ia menemuinya, semua usahaku untuk menyelamatkan Yoona akan berakhir sia-sia.

“Kau tidak boleh menemui Yoona hingga saatnya tepat karena saat ini Yoona sedang dibawah pengawasan Bloods, organisasi mafia milik Park Jaejong dan Park Juhyuk.”

“Lalu apa yang sebenarnya kau rencanakan?”

“Aku tidak tahu.” Jawabku jujur. Tapi aku sedang memikirkannya sekarang. Aku sedang memikirkan banyak rencana untuk mengakhiri sandiwara yang kuciptakan sendiri.

“Ikuti saja permainanku, dan kau pasti akan bertemu Yoona suatu saat nanti. Tapi untuk saat ini kau tidak bisa bertemu Yoona. Selain karena kondisinya yang belum memungkinkan, semua rencanaku akan gagal jika kau tidak mengukuti permainanku kapten Lee. Bagaimanapun aku tidak menginginkan senior Im pergi dengan sangat mengenaskan seperti itu, ia berhak mendapatkan kematian yang indah.”

“Kalau begitu terimakasih.”

Wow, bolehkah aku bersorak karena mendapatkan ucapan terimakasih dari seorang kapten seperti Lee Donghae? Ini benar-benar tidak terduga. Meskipun sebenarnya aku sangat malas untuk mengakuinya, tapi dia adalah sosok pemimpin yang sempurna.

“Kenapa kau berterimakasih padaku? Seharusnya kau marah padaku karena aku sudah mengkhianatimu dan mencintai isterimu.”

“Memang, tapi untuk apa? Niat baikmu harus mendapatkan apresiasi, dan untuk perasaanmu pada Yoona, itu adalah hakmu. Selama kau tidak menggaggu rumah tanggaku, aku tidak akan membunuhmu.”

Aku terkekeh geli di hadapannya tanpa mempedulikan ekspresi dinginnya yang kaku. Kupikir setelah ini penilaianku padanya akan berubah, ia adalah kapten yang bijaksana.

“Tapi aku akan tetap mengawasimu. Jadi jangan coba-coba untuk keluar dari jalanmu Oh Sehun, karena aku tidak akan melepaskanmu.”

Setelah memberikan ancaman yang cukup menggertak itu, ia segera pergi meninggalkanku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Padahal aku sangat berharap ia mengatakan sesuatu padaku, tapi sudahlah. Mungkin lain kali kami akan terlibat dalam pembicaraan yang lebih serius, mengingat kini kami berada di dalam satu tim yang sama. Tim untuk menyelamatkan Im Yoona.

-00-

Bughh

“Brengsek!”

Aku menyeka setitik darah yang mengalir di sudut bibirku. Sudah lama ia tidak pernah menghajarku sejak saat itu, tapi setelah dua tahun berlalu ia kembali menghajarku karena aku lalai dengan tugasku.

“Ini semua salahmu Oh Sehun, bukankah seharusnya kau mengawasi Yoona? Dia baru saja menembak anakku karena Park Jaejong keparat yang telah mencuci otaknya!”

“Maafkan aku, kuakui itu karena kelalaianku.”

Aku bangkit dari tanah dan sedikit menepuk-nepuk celana bahanku yang terkotori oleh debu.

“Jika terjadi sesuatu yang serius pada Enzo, kau adalah orang pertama yang akan kucari Oh Sehun.” Geramnya dengan suara tertahan. Aku mengendikan bahuku ringan dan mengahalunya untuk duduk di atas kursi taman yang kosong. Kami sepertinya harus berbicara serius untuk mengakhiri sandiwara kami.

“Kupastikan Yoona tidak akan melakukan hal itu lagi, karena kupikir ingatannya sedikit demi sedikit mulai kembali. Apalagi semenjak kau mengajaknya ke rumahmu dan membuatnya mengingat sedikit masa lalu kalian di sana.” Godaku padanya. Namun kapten Lee adalah orang yang sangat sulit untuk menanggapi sebuah lelucon, sehingga aku justru terkesan seperti orang gila di hadapannya.

“Katakan apa yang akan kau lakukan setelah ini karena aku sudah muak bermain sandiwara denganmu, aku ingin Yoona kembali padaku karena Enzo terus menerus menginginkan Yoona kembali.”

“Tenang kapten, aku pasti akan segera mengakhiri sandiwara ini karena aku sendiri sudah muak dengan hidupku. Sesekali aku ingin melakukan hal yang benar untuk orang lain.” Ucapku apa adanya. Pada akhirnya aku harus menentukan titik pijakku. Aku tidak bisa terus menerus berdiri diantara dua titik kebaikan dan kejahatan. Rasanya sungguh sangat melelahkan. Aku harus berdiri di salah satu titik itu dan menerima segala konsekuensi yang ada, termasuk konsekuensi untuk mati sekalipun.

“Kau harus menepati janjimu untuk melindungi Yoona. Karena semua ini adalah idemu.”

“Tanpa kau ingatkan sekalipun, aku tetap akan menepati janjiku. Karena memang inilah tugasku, melindungi keluargamu dan menjadi tumbal untuk kehidupan bahagia kalian.”

19 thoughts on “Bullets Of Justice: The Last Mission (Fiveteen)

  1. Wiiih trnyata dibalik smua itu ada fakta baru yang muncul.. ternyata donghae udh tahu yoong msih hidup dan bekerja smaa ma sehun buat nyelamatin yoong,, dan skrng sehun bner2 buktiin janjinya,, mereka ber4 yg dimobil bneran udh ninggal?? jgn2 nnti mereka tba2 muncul lagi kyk sehun 😂😂 Yoonhae udh kmbali bersatuuuu 😍😍

    ini blum end kan kak?? next.. fighting!!

  2. Jadi inilah akhir dri segalanya, trnyata sehun yg mrncanakan smua ini dan donghae tau? Bnr” sulit dipercaya, suhuun 😢😢 smoga ngga mati dia pantas utk bahagia

  3. Seru, selalu deh jalan ceritanya ga ketebak..
    Ternyata Donghae sm Sehun kerjasama dibelakang itu..
    Jd kasihan sm Sehun, dia mau berkorban banyak buat Yoona.
    Ditunggu gimana ceritanya keluarga YoonHae utuh lg..
    Lanjut thor 🙂

  4. Jadi oh sehun mengorbankan nyawanya?? Demi yoonhae??? Oh kau membuatku terkesan sehun ah…semoga yoona dan donghae bisa menjalani kehidupan rumah tangga tanpa pengganggu 😊😊 goos storyy 👍🏻👍🏻👍🏻

  5. Akhirnya publis juga, jadi selama ini Sehun dan Donghae oppa jadi partner untuk menyelamatkan Yoona eonni,, penasaran apa Sehun benar2 mau bunuh diri? Next, kalau ini end sequel dong

  6. wadaw gakepikiran kalo ternyata sandiwara ginii, kereen. ini langsung ending thor?? huuu:( jangan dongg bikin after storynya, penasaran beneran happy ending kan? wkwk.

  7. Sehun.. ternyata dia ada dipihak Donghae!
    Ngga nyangka sumpah! Berkat rasa cintanya terhadap Yoona dia rela berkorban..
    pokoknya masih ngga nyangka aja Sehun dan Donghae mereka ada pihak yang sama.. sama2 untuk menyelamatkan Yoona dari Bloods.
    Jalan ceritanya keren pokoknya lahh.. susah ditebak..

  8. ternyata sehun baik juga dia kerjasama sama donghae
    gak sabar sama kelanjutannya pasti makin seru
    part selanjutnya thor semangat

  9. Sukaak.. Plot twistnya anti mainstream hahah nggak nyangka kalo sehun ternyata dipihaknya donghae 😍😍

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.