The First (Sequel Of I Love You Series)

Recomended Song Lionheart – Demi Lovato

An Injured Lion still wants to roar

“Brengsek! Jadi Im Minhyuk telah mencuri uangku dan membocorkan rahasia perusahaan pada si keparat Jaehan? Tidak bisa kubiarkan. Dua bedebah itu harus mati ditanganku untuk mempertanggungjawabkan kejahatan mereka, terutama Im Minhyuk. Cari dia dan sita semua aset-aset rumahnya, jangan ada yang tertinggal sedikitpun. Termasuk semua keluarganya, bawa mereka ke sini sekarang juga. Mereka harus membayar semua hal yang telah dilakukan Minhyuk padaku.”

Donghae berkacak pinggang dengan gaya ponggah dengan aura kemarahan yang menguar kental diseluruh tubuhnya. Semua anak buahnya tampak menunduk hormat dan tidak ada satupun yang berani mengeluarkan suara untuk membantahnya. Di ujung ruangan Hyukjae terlihat sibuk dengan koran paginya dan sama sekali tidak tidak peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh sepupunya. Baginya hal itu sudah biasa. Melihat kemarahan Donghae yang meledak-ledak dan tidak bisa dikontrol adalah makanan sehari-harinya.

“Maaf sir, menurut informasi Im Minhyuk hanya memiliki satu anggota keluarga, yaitu putrinya yang bernama Im Yoona.”

“Aku tidak peduli berapa jumlah keluarga keparat itu, yang aku inginkan adalah kematian Im Minhyuk dan juga penderitaan untuk keluarganya.”

“Hae…”

Hyukjae melipat koran paginya dan beranjak berdiri menghampiri Donghae. Pria itu berjalan tenang kearah sepupunya sambil menunjukan wajah innocentnya yang membuat Donghae merasa jengah.

“Jangan menunjukan wajah sok bijak seperti itu Hyuk, wajahmu membuatku muak!”

“Terserah, tapi ini adalah wajahku. Aku hanya ingin bertanya padamu, apa yang akan kau lakukan pada putri Im Minhyuk? Kudengar gadis itu telah dijual ayahnya ke rumah bordil.” Ucap Hyukjae santai. Donghae mengernyitkan dahinya tidak mengerti pada Hyukjae.

“Dijual? Apa kau sudah menemui putrinya?”

“Belum. Aku hanya mendengar informasi itu dari salah satu anak buahmu tadi pagi. Tapi jika gadis itu telah dijual oleh ayahya, itu berarti kau tidak bisa menyentuhnya. Maksudku kau akan dibuat repot karena kau harus menebus gadis itu di rumah bordil. Entah itu adalah salah satu trik Im Minhyuk untuk menjauhkan putrinya darimu atau ia memang benar-benar ayah yang jahat karena ia tega menjual putrinya pada seorang lintah darat pemilik rumah bordil.” Ucap Hyukjae dengan wajah prihatin yang dibuat-buat. Donghae mengetatkan rahangnya marah sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat dibalik saku jasnya. Ia pikir analisa yang dikatakan oleh Hyukjae benar. Im Minhyuk pasti sudah tahu jika cepat atau lambat kebusukannya akan segera terbongkar. Oleh karena itu ia segera mengambil tindakan untuk menjauhkan satu-satunya putri yang ia miliki darinya agar ia tidak bisa menyiksa pria itu melalui putrinya.

“Dimana alamat bordil itu?” Tanya Donghae tiba-tiba dengan rahang yang masih mengetat karena marah. Hyukjae mendongakan wajahnya dan menatap manik kelam Donghae dalam untuk meminta penjelasan dari sepupunya itu.

“Tak masalah jika harus mengeluarkan banyak uang untuk menebus gadis itu. Apapun yang terjadi Im Minhyuk harus menderita sebelum ajal menjemputnya.” Seringai Donghae licik.

“Kau yakin? Kudengar pemilik bordil itu adalah orang yang serakah. Ia pasti akan memberikan harga yang tidak masuk akal untuk putri Im Minhyuk yang kau cari itu. Apalagi kau adalah salah satu bagian dari jajaran pengusaha terkaya di dunia, pemilik bordil itu jelas akan menghabiskan sedikit uangmu hanya untuk sebuah maninan yang tidak penting seperti itu. Lebih baik kau gunakan cara lain untuk menyiksa Im Minhyuk daripada mencari putrinya yang belum tentu bisa memuaskan hasratmu.” Jelas Hyukjae dengan senyuman menggoda. Donghae menggeram gusar dengan hasil pikiran picik Hyukjae yang menganggapnya akan menggunakan putri dari musuhnya untuk bercinta di atas ranjangnya. Hal itu jelas tidak akan terjadi karena ia justru akan membunuh gadis itu di depan ayahnya dengan cara yang sangat tragis untuk menyiksa Im Minhyuk sebelum kematiannya sendiri.

“Singkirkan pikiran kotormu itu Lee Hyukjae! Apapun yang terjadi aku harus mendapatkan gadis itu. Meskipun aku harus menghabiskan seluruh hartaku sekalipun, itu tidak masalah. Asalkan hasrat membunuhku terpenuhi, itu sudah sangat cukup bagiku. Dan aku tidak mungkin akan menyentuh gadis itu karena aku akan membunuh gadis itu tepat di depan si keparat itu.”

Lee Hyukjae mengendikan bahunya ringan dan memilih untuk tidak mengucapkan apapun lagi pada sepupunya. Jika Lee Donghae telah menetapkan sesuatu, maka tidak akan ada satupun yang bisa mencegahnya, termasuk dirinya sendiri, sepupu sekaligus orang kepercayaan Donghae yang telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya bersama pria itu.

-00-

Aroma asap rokok yang kental dan hingar bingar musik disco yang menghentak langsung menyambut Donghae ketika pria itu menginjakan kakinya untuk pertama kali ke sebuah klub murahan yang terletak di pinggir kota. Sekilas Donghae cukup kagum dengan kecerdikan Im Minhyuk yang memilih untuk menyembunyikan putrinya sendiri di sebuah rumah bordil yang sangat kumuh seperti ini. Sayangnya ia tidak mungkin tertipu begitu saja dengan permainan Im Minhyuk. Meskipun pria itu akan menyembunyikan putrinya di tumpukan kotoran sekalipun, ia akan tetap mencarinya dan menggunakan wanita itu untuk menyiksa si keparat Im Minhyuk yang telah menipunya.

“Selamat malam tuan, ada yang bisa kami bantu?”

Seorang wanita bertubuh gempal yang genit langsung menghampiri Donghae dan bersikap begitu agresif padanya. Wanita itu mencoba menarik perhatian Donghae dengan bersikap sok ramah dan juga manis karena ia tahu jika Donghae bukanlah pria sembarangan. Jika ia bisa menarik Donghae untuk menggunakan salah satu jalang-jalang yang dimilikinya, maka ia yakin akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar malam ini.

“Aku ingin melihat koleksi wanita-wanitamu.” Ucap Donghae dingin dan to the point. Pria itu tidak mau membuang waktunya dengan berlama-lama di tempat kumuh itu karena sejujurnya berada di dalam klub itu bukan levelnya. Bahkan ia merasa jijik dengan kursi-kursi busa yang berjejer di depannya sambil memikirkan berapa banyak pasangan yang mungkin telah bercinta di atasnya dan meninggalkan berbagai macam penyakit yang mematikan di sana.

“Oh tentu saya akan menunjukan wanita-wanita terbaik milik kami pada anda. Silahkan anda tunggu sebentar, saya akan memanggilkan mereka semua ke sini.” Ucap wanita gempal itu sambil memberikan kode pada salah satu penjaga klub di sana untuk menyediakan Donghae kursi. Namun Donghae memilih untuk tetap berdiri karena ia tidak sudi untuk duduk di atas kursi yang tidak steril itu. Bisa-bisa ia mati muda jika harus mendaratkan tubuhnya di sana karena virus-virus berbahaya yang dibawa oleh orang-orang menjijikan di sana.

“Jangan terlalu lama, aku bukan pria pengangguran.” Peringat Donghae dingin. Sepeninggal wanita gempal itu, Donghae mencoba mengamati seluruh isi klub itu untuk mengalihkan rasa muaknya yang bergumul di dalam kepalanya. Jika bukan karena ingin membalas dendam pada Im Minhyuk, ia tidak mungkin berada di tempat ini hanya untuk mencari seorang gadis tak dikenal, yang sayangnya sangat berguna untuk membalaskan dendamnya pada Im Minhyuk. Berbagai rencana licik telah tersusun di dalam kepalanya. Mungkin saat ini anak buahnya telah menemukan dimana keberadaan Im Minhyuk. Dan saat Im Minhyuk ditangkap nanti, ia akan membuat Im Minhyuk menyesal dengan apa yang telah diperbuat pria itu padanya. Ia akan mengumpankan gadis malang yang merupakan putri dari Im Minhyuk itu pada para bodyguardnya yang kelaparan. Ia ingin Im Minhyuk melihat putrinya diperkosa oleh seluruh anak buahnya. Lalu di hadapan Im Minhyuk, ia akan menembak gadis itu dengan penuh dramatis agar penderitaan pria itu semakin lengkap. Jadi ia tidak hanya akan melukai fisik pria itu, tapi ia juga akan melukai jiwa pria itu.

“Tttuan, tolong lepaskan aku. Jangan sentuh aku.”

Donghae menoleh kearah sumber suara sambil tersenyum sinis pada seorang wanita yang sedang memohon ketakutan pada seorang pria setengah baya yang sedang memaksanya untuk pergi ke lantai dua, tempat dimana kamar-kamar khusus untuk bercinta disediakan oleh pihak pemilik klub. Ia kemudian mengamati pasangan itu lebih lama sambil mengamati bagaimana ekspresi ketakutan wanita itu yang terlihat cukup menarik di matanya. Tiba-tiba salah satu bodyguardnya mendekatinya dan berbisik tepat di sampingnya.

“Tuan, itu adalah Im Yoona, putri dari Im Minhyuk.”

“Kau yakin?”

Donghae menoleh cepat pada bodyguardnya sambil melirik wanita muda yang sudah menghilang di ujung tangga. Melihat bodyguardnya mengangguk, Donghae langsung bergegas berlari menuju tangga kayu di depannya untuk merebut Yoona dari pria paruh baya yang akan memaksa wanita itu untuk memuaskannya sebentar lagi.

“Tuan, kau mau kemana?”

Tiba-tiba wanita bertubuh gempal itu muncul dan menghalanginya untuk segera mengejar mangsanya yang sebentar lagi akan disentuh oleh pria lain.

“Minggir, aku menginginkan Im Yoona!” Ucap Donghae tegas. Namun wanita itu tak kunjung menyingkir dari jalannya dan justru menahannya dengan lima orang wanita yang terlihat agresif di depannya.

“Kami telah menyediakan wanita-wanita paling baik untuk anda tuan. Im Yoona hanyalah wanita baru yang sama sekali belum berpengalaman karena ia baru saja tiba di sini kemarin sore. Lebih baik anda memilih salah satu diantara mereka untuk memuaskan anda malam ini karena mereka adalah wanita-wanita terbaik milik kami.”

“Aku hanya ingin Im Yoona. Dan malam ini aku akan membelinya, berapapun harga yang kau minta, aku akan membayarnya. Jaejong, urus penebusan untuk wanita bernama Im Yoona itu.” Perintah Donghae tegas pada bodyguardnya dan segera berlari menuju lantai dua untuk menyelamatkan mangsanya dari pria hidung belang yang mungkin akan mengotori wanita incarannya.

“Sialan! Dasar wanita pengganggu!”

Donghae menggerutu pelan karena ia telah kehilangan jejak Yoona. Wanita itu tidak terlihat dimanapun dan kondisi di lantai dua klub itu juga tampak sepi. Ia tidak mungkin membuka semua kamar-kamar itu hanya untuk menemukan seorang gadis yang menurutnya cukup merepotkan itu. Andai saja gadis itu bukan senjatanya untuk membalas Im Minhyuk, mungkin ia akan membiarkan saja gadis itu dikotori oleh pria-pria bejat di sini.

“Jjjangan sakiti aku, kumohon…”

“…………”

“Jjjangan! Kumohon jangan!”

Samar-sama ia mendengar suara teriakan seorang wanita yang berasal dari salah satu kamar yang berada di lorong itu. Ia kemudian segera menelusuri lorong itu satu persatu dengan harapan semoga suara itu memang berasal dari wanita incarannya karena ia ingin sekali pergi dari tempat itu secepatnya.

Brakk!

Donghae mendorong pintu kayu yang tak terkunci itu keras dan langsung menemukan wanita incarannya yang sedang dipaksa untuk melayani pria hidung belang berkepala botak yang terlihat sangat tidak pantas untuk seorang gadis muda seperti Yoona.

“Lepaskan dia brengsek, wanita itu milikku.”

Bugh bugh bugh

Tanpa menunggu lebih lama, Donghae segera menghajar pria itu tanpa memberikan pria itu celah untuk menyerangnya. Dan setelah pria itu terkapar tak berdaya, Donghae segera menarik tangan Yoona untuk keluar dari kamar pengap yang terasa mencekiknya.

“Ayo pergi!”

“Sssiapa kau? Kenapa kau menyelamatkanku?”

“Huh, kau tidak mengenalku? Aku Lee Donghae, ayahmu berhutang banyak padaku. Ayo.”

“Kau mau membawaku kemana?”

“Kau akan tahu nanti.”

Yoona terlihat menurut ketika Donghae menarik tangannya dan membawanya keluar dari klub yang sangat mengerikan itu. Hampir saja ia kehilangan keperawanannya karena pria hidung belang yang sangat mengerikan itu. Andai saja sang ayah tidak menjualnya pada pemilik bordil ini, mungkin ia tidak akan berakhir dengan sangat mengenaskan seperti itu. Dan jika ia bertemu dengan ayahnya nanti, ia akan menuntut penjelasan dari pria yang selama ini selalu ia sayangi itu.

“Tuan, terimakasih banyak karena telah menyelamatkanku malam ini.”

Yoona membungkukan tubuhnya dan tersenyum tulus pada Donghae sebagai rasa terimakasihnya pada pria itu karena telah menyelamatkannya dari pria hidung belang yang hampir memperkosanya. Namun reaksi Donghae yang terlihat acuh tak acuh di depannya membuat Yoona berpikiran buruk mengenai sikapnya yang mungkin kurang sopan dalam mengucapkan terimakasih.

“Masuklah.”

Donghae menyuruh Yoona duduk di sebelahnya dan segera meminta Jaejong untuk menjalankan mobilnya. Sementara itu Yoona hanya bungkam sambil menerka-nerka siapa Donghae sebenarnya. Selama ini ia belum pernah melihat pria itu, apalagi bertemu dengannya. Namun ia langsung mencoba berpikir positif jika Donghae mungkin sajasalah satu rekan bisnis dari ayahnya karena Donghae terlihat seperti bukan pria biasa.

“Eeee… tuan, apa kau akan membawaku pulang ke rumahku?”

Donghae menoleh sekilas dan memberikan wajah misteriusnya pada Yoona yang terlihat begitu menanti jawabannya.

“Kau akan segera tahu nanti. Tapi….”

“Tapi apa?”

Donghae sengaja menggantung kalimatnya untuk membuat Yoona penasaran. Ia pikir putri Im  Minhyuk tidak terlalu buruk. Wanita itu cantik dengan mata bulat yang sangat menggemaskan. Dan yang paling membuatnya tertarik dengan wanita itu adalah karena wanita itu memiliki tatapan lembut yang berhasil mengingatkannya pada sang ibu yang telah lama pergi meninggalkannya.

“Tapi mungkin saja rumahmu sudah disita karena ayahmu yang terlilit hutang dengan diberbagai perusahaan, termasuk perusahaanku.”

Yoona mengernyitkan dahinya tidak mengerti dan terlihat terkejut dengan informasi yang didapatkannya dari pria asing di sebelahnya. Selama ini ayahnya tidak pernah mengatakan apapun mengenai perusahaan dan ia pikir semuanya baik-baik saja. Tapi apa yang dikatakan oleh pria itu mungkin saja benar, mengingat ayahnya kemarin baru saja menjualnya pada seorang lintah darat pemilik rumah bordil yang sangat mengerikan itu.

“Lalu kau akan membawaku kemana?”

Yoona pelahan-lahan mulai menunjukan sifatnya yang keras dan penuh keberanian. Sisi defensifnya mulai muncul untuk melindungi dirinya yang terasa terancam. Jika beberapa menit yang lalu ia berhasil lepas dari cengkeraman buaya, mungkin saat ini ia sedang berada di dalam cengkeraman singa. Pria itu jelas-jelas terlihat berbahaya dengan sikapnya yang dingin dan penuh misteri itu.

“Ke rumahku.”

“Untuk apa?”

“Kau akan tahu nanti.”

-00-

Donghae menyilangkan tangannya di depan dada sambil menatap pria tua yang saat ini wajahnya sudah dipenuhi oleh luka lebam dengan beberapa sudut wajahnya yang berdarah. Beberapa jam yang lalu bodyguardnya menghajar pria tua itu habis-habisan hingga pria tua itu tak bisa berkutik lagi. Namun ajaibnya pria itu belum mati.

“Im Minhyuk, bagaimana perasaanmu saat ini?”

“Hahahaha… luar biasa.” Jawab pria tua itu santai. Meskipun rasa nyeri telah menjalari seluruh tubuhnya hingga terasa mati rasa, namun ia masih bisa bersikap tenang di hadapan Donghae.

“Baguslah kalau begitu. Jadi kau bisa menikmati pertunjukan selanjutnya sebelum ajalmu tiba.”

“Kau menangkap putriku?” Tebak Im Minhyuk tepat sasaran. Donghae menyeringai sinis dan menarik salah satu kursi kayu di dekatnya untuk duduk di hadapan Im Minhyuk. Topik pembicaraan mereka sepertinya akan menarik, sehingga ia perlu kursi untuk memulai percakapan mereka yang akan memakan waktu lama.

“Ya, dan aku cukup kagum pada putrimu yang cantik itu. Pasti akan sangat lezat jika mencicipinya di depanmu.”

Donghae menyeringai sinis di hadapan Im Minhyuk sambil menjilat sudut bibirnya dengan gaya sensual. Namun diluar dugaanya, Im Minhyuk justru tertawa terbahak-bahak dan sama sekali tidak merasa khawatir dengan keadaan putrinya yang sedang diujung taduk.

“Silahkan lakukan sesukamu, aku tidak peduli. Lagipula ia sudah kotor karena aku sengaja mengirimnya ke rumah bordil untuk membayar hutang-hutangku padamu. Bahkan sekarang kau bisa mengambil uangmu di Bank Shinhan karena aku sudah mendepositkannya di sana. Asal kau tahu saja, aku tidak peduli pada putriku!” Ucap Im Minhyuk dengan nada santai. Kini justru Donghae yang merasa tidak terima dengan ucapan Im Minhyuk. Ia pikir selama ini Yoona terlalu berlebihan dalam menilai ayahnya karena pada kenyataanya sang ayah tidak sesuai harapan. Pria itu justru terlihat bahagia karena telah melemparkan anaknya sendiri ke sebuah rumah prostitusi.

“Huh, kau sepertinya memang bukan ayah yang baik untuknya. Andai saja ia tahu jati dirimu yang sebenarnya.”

“Aku memang bukan ayahnya. Dia bukan putriku! Ia hanya anak dari si jalang yang telah menipuku. Dan sekarang aku merasa puas karena telah membuat anak itu menjadi jalang, sama seperti ibunya.”

Entah perasaan dari mana, tapi Donghae merasa sakit dengan ucapan Im Minhyuk yang ditujukan pada Yoona. Wanita itu jelas-jelas terus membela ayahnya di depannya, namun ia tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan sang ayah padanya. Jika wanita itu tahu, ia pasti akan sangat membenci ayahnya.

“Seharusnya kau tidak mengatakan hal itu untuk gadis sebaik dirinya karena ia terus membelamu di depanku.”

“Itu karena dia bodoh! Jika kau ingin mencicipi tubuhnya, maka lakukan saja. Lalu berikan dia pada bodyguard-bodyguardmu yang beringas itu sebagai hadiah, mereka pasti tidak akan menolak bekas wanitamu.” Ucap Im Minhyuk santai. Meskipun memang seperti itu rencana awalnya untuk membalas Im Minhyuk, tapi sekarang ia justru merasa marah dengan ucapan pria itu. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa mengatakan hal itu pada putrinya sendiri. Jelas-jelas Im Yoona adalah putrinya, Im Minhyuk hanya menipunya dengan mengatakan jika Yoona adalah anak dari pria lain. Selama dua hari ini ia telah mencari tahu lebih dalam mengenai asal usul Yoona, dan Yoona memang benar anak dari Im Minhyuk. Bahkan isterinya yang telah lama meninggal itu adalah kekasih Im Minhyuk sejak senior high school, jadi jelas sekali jika Im Yoona adalah putri kandungnya.

“Bagaimana mungkin seorang ayah ingin merusak kehidupan putri kandungnya sendiri? Im Yoona jelas-jelas adalah anak kandungmu, ia bukan anak dari pria lain seperti yang kau katakan sebelumnya karena kau menikah dengan isterimu karena kalian adalah sepasang kekasih sejak senior high school.”

“TIDAK! Ia bukan putriku! Dia adalah pembunuh isteriku.”

Im Minhyuk terlihat terengah-engah karena emosi yang melingkupi dirinya.

“Gadis sialan itu telah membuat wanita yang sangat kucintai meninggal karena melahirkannya. Seharusnya ia tidak perlu hadir diantara kami karena aku tidak membutuhkan keturunan. Yang kubutuhkan adalah isteriku, bukan anak menyusahkan sepertinya yang telah merenggut seluruh kebahagiaannku. Jika kau memang menginginkannya, maka ambilah. Biarkan aku pergi dan sebagai gantinya kau mendapatkan putriku beserta uang yang telah kudepositkan di bank Shinhan. Kau bebas memperlakukannya sesuka hatimu. Bahkan jika kau ingin membunuhnya setelah kau memperkosanya, aku tidak peduli! Aku sama sekali tidak ingin melihatnya lagi di dunia ini.”

Dor!

Tepat setelah Im Minhyuk menyelesaikan kalimatnya, Donghae melepaskan satu peluru di kepala Im Minhyuk hingga kini pria itu telah terjengkang di atas lantai dengan kening berlubang yang tampak mengerikan.

“Ayah yang tidak berguna!” Umpat Donghae emosi. Tiba-tiba ia merasa merindukan keluarganya. Meskipun ayah dan ibunya sibuk, tapi selama ini mereka tidak pernah memperlakukannya dengan begitu jahat seperti Im Minhyuk. Bahkan hingga mereka meninggal dunia, yang tertinggal di dalam kepalanya selalu kenangan manis tentang ayah dan ibunya karena mereka tidak pernah memberikan kenangan buruk padanya. Dan mengingat Yoona yang telah berusaha membela ayahnya di depannya, membuatnya merasa jika pria itu tidak berhak mendapatkan hal itu. Yoona terlalu baik untuk seorang pria jahat seperti Im Minhyuk yang jelas-jelas adalah pria sakit jiwa yang tidak pantas hidup.

“Hae, aku mendengar suara…”

Hyukjae menggantungkan kalimatnya ketika melihat mayat Im Minhyuk yang tampak mengenaskan di depannya. Ia kemudian menatap Donghae untuk meminta penjelasan, tapi sayangnya pria itu hanya bungkam dan terlihat tidak ingin menjelaskan apapun padanya.

“Kupikir kau akan membunuhnya setelah kau menghancurkan putrinya.”

“Kupikir juga begitu, tapi aku berubah pikiran. Yoona terlalu baik untuk pria jahat sepertinya.”

Hyukjae terlihat semakin tidak mengerti dengan perubahan sikap sepupunya yang mulai aneh semenjak Yoona menginjakan kaki di mansion milik mereka. Namun ia tidak berani menyuarakan pikirannya karena ia sendiri tidak yakin dengan hasil analisisnya jika kemungkinan Donghae menyukai wanita itu.

“Suruh mereka membereskannya. Pastikan Coco makan dengan baik.”

Mendengar langkah kaki sepupunya yang mulai menjauh, Hyukjae mulai tersadar dari lamunannya. Ia kemudian meminta beberapa penjaga untuk membawa mayat Im Minhyuk ke kandangn Coco yang berada di halaman belakang.

“Pastikan Coco makan dengan baik.” Ucap Hyukjae meniru gaya bicara Donghae sebelumnya. Coco adalah singa jantan milik Donghae yang merupakan hadiah ulang tahun yang diberikan oleh mendiang ayah Donghae. Dulu ia sempat berpikir jika pamannya itu gila karena memberikan hewan buas itu pada sepupunya sebagai hewan peliharaan. Namun sekarang ia bersyukur dengan adanya Coco di rumah ini, mereka tidak perlu menguburkan mayat-mayat yang telah dibunuh oleh Donghae. Mereka cukup melemparkan mayat-mayat itu ke dalam kandang Coco, dan para polisi itu tidak mungkin bisa melacak dimana keberadaan manusia-manusia yang tiba-tiba menghilang secara misterius.

-00-

Donghae mendorong pintu kayu di depannya perlahan untuk melihat bagaimana keadaan Yoona hari ini. Sejak kemarin ia terus menerima laporan jika Yoona tidak mau sedikitpun menyentuh makanannya hingga kini wajah wanita itu tampak begitu pucat. Tapi dengan ego yang tinggi ia masih saja menolak setiap makanan yang diberikan padanya.

“Kau tidak mau menyentuh makananmu lagi?” Tanya Donghae dengan wajah datar tepat di samping ranjang Yoona. Yoona hanya bergeming di tempat dan tidak sedikitpun merespon ucapan Donghae. Semenjak ia menjadi tawanan pria itu ia sudah tidak memikirkan bagaimana hidupnya lagi. Bahkan ia berencana untuk mati saat ini juga daripada harus bersama dengan pria yang telah menghancurkan kehidupannya.

“Kau telah membunuh ayahku.”

Kalimat pernyataan bernada sinis itu membuat Donghae dapat mengambil kesimpulan jika suara tembakannya yang keras telah terdengar oleh Yoona. Atau mungkin salah satu penjaganya telah memberitahu wanita itu jika ia telah membunuh ayahnya.

“Ya, tiga menit yang lalu.” Jawab Donghae apa adanya. Dan Setelah itu ia langsung mendapatkan sederet kalimat cacian yang berhasil membuat telinga Donghae terasa panas.

“PEMBUNUH! Kau pria keparat dan brengsek yang tidak pantas hidup! Kenapa kau membunuh ayahku, hah? Kenapa?” Teriak Yoona marah. Wanita itu menerjang Donghae dan memukul dada Donghae sekuat mungkin hingga Donghae merasa kesakitan dan akhirnya memilih untuk menindih wanita itu di atas ranjang.

“Kau menyakitiku.” Desis Donghae marah.

“Dan kau lebih menyakitiku karena kau telah membunuh ayahku!” Balas Yoona sengit. Wanita itu memberikan tatapan menusuknya pada Donghae tanpa merasa gentar sedikitpun dengan aura mengintimidasi yang juga dikeluarkan oleh Donghae padanya.

“Untuk apa kau membela pria keparat yang telah menjualmu pada lintah darat itu.”

“Apapun yang ia lakukan padaku itu tidak akan menghilangkan fakta jika aku adalah putrinya. Sejahat-jahatnya ia padaku, ia tetap ayahku. Kau bukan Tuhan yang berhak menghakimi orang lain.” Ucap Yoona menantang. Donghae tertegun di tempat dengan posisi yang masih menindih tubuh Yoona. Ini adalah kali pertama ia mendapatkan penolakan dari seorang wanita. Dan lebih parahnya lagi wanita itu tidak sedikitpun menghargai usahanya yang telah berusaha melindunginya dari pria jahat macam Im Minhyuk yang jika ia biarkan bebas, mungkin ia akan semakin menyakiti wanita cantik yang saat ini masih menatapnya dengan mata bulatnya yang penuh kemarahan itu.

“Aku memang bukan Tuhan. Jika aku adalah Tuhan, aku tidak akan pernah membiarkan orangtuaku pergi meninggalkanku.”

 

Donghae mengedipkan matanya sekali, dan ia langsung menemukan Yoona yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.

“Kau… kenapa?” Tanya Yoona tak mengerti. Wanita itu terlihat sedang memegang semangkuk sup di tangannya untuk diberikan padanya yang sejak tadi merengek meminta dibuatkan semangkuk sup.

“Hanya teringat masa lalu.” Jawab Donghae singkat. Ia lalu meminta Yoona untuk meletakan supnya di meja makan karena ia sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan Yoona. Ia sangat merindukan masakan Yoona yang lezat.

“Apa luka jahitanmu sudah sembuh?”

“Ada apa? Kau ingin merobeknya lagi?” Tanya Donghae sakarstik. Yoona mendengus kesal sambil mengangsurkan sebuah sendok untuk Donghae. Setelah dirawat secara intensif selama empat hari, akhirnya dokter mengijinkan Donghae untuk turun dari ranjang perawatannya. Tapi selama empat hari itu, ia harus selalu berada di samping pria itu untuk menjadi babysitternya karena pria itu jauh lebih manja daripada Hyoje.

“Mommy…”

Hyoje manrik-narik ujung dresnya sambil mengangsurkan gelas susunya yang telah kosong.

“Ayo tidur siang.”

Gadis kecil itu merengek-rengek pada Yoona agar Yoona menemaninya tidur siang. Tapi siang ini ia sama sekali belum mengantuk. Ia masih ingin berbicara pada Donghae mengenai Siwon.

“Pergilah, temani Hyoje tidur.” Perintah Donghae tanpa mengalihkan wajahnya dari mangkuk sup.

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu.”

“Mommy…”

“Tunggu sebentar Hyoje, mommy sedang berbicara pada daddymu.” Ucap Yoona gemas karena gadis kecil itu terus merengek di sampingnya dan terlihat hampir menangis. Tapi tiba-tiba Hyukjae datang dan menggendong Hyoje sambil memeluk gadis kecil itu erat.

“Bagaimana jika Hyoje tidur siang bersama uncle, uncle akan membelikanmu mainan baru jika kau menjadi gadis kecil yang pintar, hm?” Tawar Hyukjae sambil mengedipkan matanya pada keponakan kecilnya. Donghae mendengus tidak suka pada Hyukjae dan menyuruh Hyukjae untuk menyerahkan Hyoje pada Yoona, namun Hyukjae menolak dan memilih untuk membawa Hyoje pergi dari area dapur yang berisik.

“Kau ibunya, seharusnya…”

“Aku tahu, dan kau juga ayahnya. Tapi aku belum terbiasa dengan semua ini, seharusnya kau memahami keadaanku yang belum bisa menerima kalian sepenuhnya. Tapi kau terus memaksaku agar aku bisa menerima kalian dalam waktu singkat.”

Donghae meletakan sendok supnya dan memberikan Yoona tatapan tajam.

“Karena kau memang harus dipaksa. Jika aku tidak memaksamu untuk mencintaiku dan Hyoje, kau pasti akan lebih memikirkan mantan kekasihmu yang sedang membusuk di penjara.” Ucap Donghae tajam.

“Tentu saja aku akan memikirkannya karena kau tidak segera memberikan keputusan untuk meringankan hukumannya. Bagaimanapun ia melakukan hal itu karena sikap jahatmu padanya. Jadi jangan bersikap seolah-olah semua kesalahan itu datangnya dari Siwon oppa.”

“Berhenti mengucapkan namanya di depanku karena aku tidak mau mendengar nama pria itu di rumahku!”

Setelah mengucapkan hal itu, Donghae segera pergi meninggalkan Yoona dengan terlebihdulu menyentak kursi yang didudukinya hingga jatuh tergolek di atas lantai.

Di lain sisi, Yoona hanya mampu menahan seluruh emosinya yang hampir meledak karena sikap Donghae yang selalu berubah ketus ketika ia mulai membahas masalah Siwon. Rasanya begitu sulit membujuk Donghae agar segera menyelesaikan masalahnya dengan Siwon agar pria itu tidak terus menerus didera ketidakpastian di dalam penjara. Tapi sepertinya Donghae tidak berniat sedikitpun untuk menyelesaikan masalahnya dengan Siwon, karena Donghae lebih menginginkan kematian Siwon daripada keadilan untuk Siwon.

25 thoughts on “The First (Sequel Of I Love You Series)

  1. Waeeeee? Kok pendek. MSih pnasaran sma cerita.a
    Tapi auah yoona sharus.a tdk mnybut istri.a jalang lok dia mncintai.a

  2. Entah kenapa merasa yoona bodoh bgt disini
    udh dijual sm ayahnya, masih blg ayahya baik
    udh hampir mati ditangan siwon, masih pengen ngebantuin dy

    Ditunggu kelanjutannya

  3. ada ya bapak jahatnya klewatan gitu 😡 pntesan donghae lngsung nge”Dor” kpalanya… brrti smpai slrang yoona blom tau yg sbnernya tntng bapaknya ya thoor…
    yg sabar ya hae 😁

  4. Yoona smg ingatan ny cepat kembali, enggak tega jg sbnrny sama hyoje yg nsh blm ngerti apa”

  5. Dipart ini hanya menbahas masa lalunya yoona berharap dipart selanjutnya yoona mulai bisa menerima keluarga kecilnya, kasian hyoje kurang perhatian dari yoona

  6. thhhor!!!! yg lee enzo nya trusin dong,,lg rame lohhh,dr dlu dtunggu2 tp gk ngpos2,..please eonnnn

  7. thhhor!!!! yg lee enzo nya trusin dong,,lg rame lohhh,dr dlu dtunggu2 tp gk ngpos2,..please eonnnn.yg ni crtanya bgs,jng klamaan y nrusinnya

  8. ahhh.. suka part ini

    ini awal mereka ketemu yaa.. tapi disini donghae cukup berkesan, udah nyelamatin yoona dari club itu.. tuan im jahat bgt ke putrinya

    ditunggu cerita selanjutnya, waktu awal mereka nikah juga.. sama moment sweet mereka juga thor

  9. Masih gantung😊 berharap ada sequel lg😊 pengin yoona cepet2 pulih dr amnesia nya😊😊😊😊

  10. Jadi Yoona itu anak asli apa bukan coba ,kenapa bapaknya gitu banget ..kalau gini mah bener dukung Donghae lah bapak ko kaya gitu !
    di tunggu next nya un ,suka liat uri YoonHae yg suka berantem” gemes kaya gitu terus ^^

  11. Ahh jinjja .. Ceritanya mutermuter sekali thor. Banyak banget konfliknya sampe bingung sendiri hahah.. Kasih yang ada manis”nya dikit dong thor 😁😁

  12. Ayahnya yoong bner2 kejam, pntas aja hae bunuh dia.. Yoong masih ngotot buat damaiin siwon ma hae,, nah udh nyata2 hae nolak keras ide dia,, smpe2 nama nya aja disebut dia udh marah besar 😂 Mereka msih aja cekcok,, nggak lain mslhnya tuh yoong yg msih perduli ma siwon 😅

    Ditunggu sequel lainnya lgi kk 😅 Maaf baru komen 😅 Fighting kk !!

  13. ohalaa ini flashback donghae&yoona ketemu.. donghae emosi denger bapaknya yoona jahat gitu ama anaknya sendiri wk. penasaran next seriesnya masih flashback atau tidakk, semoga yoona cepat kembalii

  14. Bapaknya Yoona jahat banget, untung ada Donghae yang mau nyelamatin Yoona,,,udah gag sabar nunggu ingatan Yoona kembali,,,,
    Kasih moment Yoohae yg lebih manis dong thor,,,,
    Ditunggu next sequelnya,,>_<

  15. Bapaknya Yoona jahat banget, untung ada Donghae yang mau nyelamatin Yoona,,,udah gag sabar nunggu ingatan Yoona kembali,,,,
    Kasih moment Yoohae yg lebih manis dong thor,,,,
    Ditunggu next sequelnya,,>_<

  16. jahat banget ya bapak nya yoona sampe jual yoona segala,,,untung aja ada donghae yg nyelamatin yoona,,,miga aja yoona cepet inget kembali ingatanya tentang donghae dan anaknya biar mreka hidup bahagia lagi thor,,,😊
    lanjut thor,,,ceritanya masih gantung nich thor,,,,😆😁
    ditunggu kelanjutan ceritanya thor,,,😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.