Yes, I Love You

 

Recomended Song Alan Walker – The Spectre

 

 

Yoona mengerjapkan matanya perlahan-lahan dan mulai mengamati ruangan tempatnya berbaring dengan seksama. Wanita muda itu terlihat begitu frustasi ketika akhirnya ia mampu mengenali ruangan itu dengan baik sambil menghela nafasnya dalam. Padahal sebelumnya ia tidak pernah berpikir untuk kembali ke tempat itu lagi. Tapi nyatanya takdir seperti mempermainkannya karena sekarang ia justru kembali terbaring dengan selang infus di dalam kamar yang sama seperti yang terjadi beberapa minggu yang lalu.

“Selamat datang kembali sepupu.”

Yoona menolehkan kepalanya pada sumber suara sambil mengernyit bingung pada seseorang yang beberapa detik lalu menyapanya. Sambil menyipitkan matanya, Yoona mencoba mengingat wajah pria asing yang masih menatapnya dengan sorot jenaka melalui ambang pintu. Namun sayangnya ia tidak bisa menemukan sedikitpun petunjuk mengenai identitas pria asing itu di dalam kepalanya yang kecil hingga akhirnya ia memilih menyerah dan memberikan tatapn tidak mengertinya pada pria itu.

“Baiklah, kau tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatku jika kau memang tidak mampu. Perkenalkan aku Lee Hyukjae, sepupu dari Lee Donghae.”

Mendengar pria itu memperkenalkan diri dengan gaya santai yang terkesan akrab membuat Yoona langsung membandingkan sifat pria itu dengan sifat Donghae yang dingin. Mereka berdua jelas memiliki perbedaan sikap yang mencolok. Begitulah kesan pertama Yoona pada Lee Hyukjae.

“Oh hai, namaku Im Yoona.”

“Nonono! Kau bukan Im Yoona, kau adalah Lee Yoona.” Tegas Hyukjae yang membuat Yoona sedikit gusar dengan pria itu. Sekarang ia akan menarik penilaian positifnya terhadap pria itu.

“Yah baiklah, terserah padamu.”

Yoona akhirnya memilih diam sambil memandangan langit-langit kamarnya dengan bingung. Setelah sadar Yoona memilih untuk mengingat apa yang terjadi padanya beberapa jam terakhir hingga ia harus berakhir di dalam kamar yang sama yang digunakan untuk mengurungnya beberapa minggu yang lalu. Kemudian tiba-tiba potongan demi potongan kejadian ketika ia sedang makan di restoran dengan Siwon, lalu Donghae datang untuk menjemputnya, dan berakhir dengan hujan peluru yang mengerikan mulai membuat Yoona sadar jika keberadaan di sana karena suatu hal mengerikan yang baru saja terjadi padanya. Lalu ia mengingat kejadian terakhir sebelum jatuh tak sadarkan diri di sebelah tubuh dingin Lee Donghae setelag pria itu menggunakan punggungnya untuk menangkis timah panas yang hendak diarahkan padanya. Ya, pria itu menyelamatkannya dari maut dan mengatakan padanya jika ia telah menepati janjinya dengan memberikan ia nyawa dan juga loyalitas.

“Lee Donghae… apa ia baik-baik saja?”

Yoona bertanya dengan suara tercekat yang begitu aneh. Tenggorokannya kini begitu sakit karena sejak sadar ia belum meminum setetespun air untuk menghilangkan dahaganya. Selain itu perasaan takut yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya semakin membuat tenggorokannya sulit untuk digetarkan hingga pada akhirnya hanya suara seperti cekikan yang terlontar dari bibirnya untuk bertanya pada Lee Hyukjae.

“Apa kau berharap Donghae mati?”

Pertanyaan bernada sakarstik yang dilontarkan oleh Hyukjae sedikit membuatnya tertohok. Meskipun awalnya ia memang menginginkan Donghae mati, namun pada akhirnya ia merasa begitu sedih ketika membayangkan pria itu merenggang nyawa. Hatinya sakit saat membayangkan Donghae tertembak karena melindunginya. Dan alasan ia bertanya pada Hyukjae semata-mata untuk melegakan hatinya yang sedang bergemuruh, bukan untuk mendengar kata-kata penuh tuduhan kejam seperti itu.

“Tidak, aku justru berharap sebaliknya. Aku tidak ingin Donghae meninggal.” Cicit Yoona dengan ego super besar yang masih melingkupi hatinya. Namun Hyukjae mampu mendengar adanya kesungguhan dari setiap ucapan Yoona, sehingga ia mampu bernafas lega setelahnya karena setidaknya ikatan batin yang terjalin diantara Yoona dan sepupunya tidak sepenuhnya hilang ketika Yoona mengalami amnesia. Mungkin Yoona hanya perlu diberi sedikit rangsangan untuk mengembalikan ingatannya seperti dulu.

“Lalu apa yang akan kau lakukan jika Donghae masih hidup? Kau ingin kabur lagi darinya?” Tanya Hyukjae datar. Pria itu kemudian memutuskan untuk berjalan sedikit mendekat pada Yoona dan mengambil tempat untuk duduk di atas kursi kayu yang berada di samping ranjang Yoona.

“Entahlah, aku tidak tahu. Mengapa semua orang seperti memaksaku untuk menerima Donghae? Padahal aku tidak bisa mengingat apapun. Hal yang kuingat terakhir kali adalah saat Donghae mengurungku di sini setelah ia menyelamatkanku dari rumah bordil. Sebenarnya aku cukup bingung dengan hidupku saat ini, aku tidak tahu siapa yang harus kupercayai. Kupikir Siwon oppa akan membantuku keluar dari semua hal-hal membingungkan ini, tapi nyatanya ia justru mengumpankanku pada musuh-musuh Donghae yang sangat menginginkan kematian Donghae. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Seharusnya Donghae tidak perlu menyelamatkanku dan membiarkanku mati saat Siwon oppa menodongkan pistol. Aku tidak mau hidup dengan semua kebingungan yang membuatku merasa tercekik dan terancam setiap detiknya.”

Yoona terlihat frustasi sambil mengacak rambutnya gusar. Sedangkan Hyukjae terlihat begitu prihatin menyaksikan sepupu iparnya yang ternyata tidak jauh berbeda dengan kondisi Donghae, frustasi. Mereka berdua sama-sama frustasi dengan masalah mereka yang rumit. Dan sebagai seorang sepupu, ia merasa cukup tidak berguna sekarang karena ia tidak memiliki pengalaman apapun mengenai masalah rumah tangga.

“Kau tidak seharusnya mengatakan seperti itu. Bahkan banyak orang di luar sana yang menginginkan hidup mewah seperti dirimu, tapi kau justru menginginkan mati. Lebih baik mulai sekarang kau belajar untuk menerima peran barumu sebagai ibu dari Lee Hyoje dan isteri dari Lee Donghae karena mereka berdua jelas tidak bisa hidup tanpamu. Menghilangnya kau beberapa hari kemarin membuat mereka cemas, terutama Donghae karena ia begitu takut kehilanganmu. Sepupuku, meskipun ia terlihat dingin, namun sebenarnya ia sangat hangat. Dan kau yang membuatnya mampu mengeluarkan sisi hangat itu selama tiga tahun ini. Kau berhasil mengembalikan Donghae seperti saat kedua orangtuanya masih hidup.”

“Kedua orangtua Donghae sudah meninggal?” Tanya Yoona tidak percaya. Hyukjae mengangguk pelan sambil menghela nafas dalam di depan Yoona.

“Kedua orangtuanya meninggal saat Donghae berusia sepuluh tahun karena kecelakaan pesawat. Jadi bisa kau bayangkan bagaimana hidup Donghae setelah itu tanpa orangtunya? Ia hancur, sangat hancur.”

“Tapi ia membunuh ayahku.” Ucap Yoona tiba-tiba dengan suara gusar. Mengingat Donghae adalah pembunuh dari ayahnya membuat Yoona tidak bisa menerima Donghae sebagai suaminya, apalagi ayah dari anaknya. Andai Donghae bukan pembunuh dari ayahnya, mungkin ia akan dengan senang hati menerima Donghae sebagai suaminya. Bagaimanapun ia adalah wanita normal, ia menyukai paras Donghae yang tampan, ia menyukai harta Donghae yang berlimpah, dan ia juga merasa bangga dengan posisinya sebagai nyonya Lee.

“Donghae memiliki alasan sendiri untuk itu. Aku yakin jika sepupuku tidak mungkin membunuh orang lain tanpa alasan, karena selama ini orang-orang yang menjadi target pembunuhan Donghae adalah orang-orang jahat yang tidak termaafkan. Dan ayahmu adalah salah satu orang yang tak termaafkan untuk Donghae. Bahkan dulu Donghae berencana untuk menyiksa ayahmu terlebihdahulu sebelum membunuhnya, tapi entah kenapa tiba-tiba Donghae berubah pikiran dan memutuskan untuk langsung membunuh ayahmu tanpa menyiksanya. Hanya Donghae yang mengetahui alasan itu, jadi jika kau ingin mengetahui semuanya kau harus menanyakan sendiri pada Donghae.”

“Akan ada banyak waktu untuk menanyakan semua itu pada Donghae, tapi apa kau tahu dimana Siwon oppa sekarang? Apakah ia masih…. hidup?” Tanya Yoona ragu. Meskipun Siwon sudah menipunya dan hampir membunuhnya, tapi sedikit banyak ia tahu apa alasan Siwon melakukan hal itu. Jadi ia tidak bisa membenci Siwon sepenuhnya.

“Siwon? Dia masih hidup. Beruntung pihak Donghae belum memberikan tuntutan apapun padanya, sehingga untuk saat ini ia masih aman berada di penjara. Tapi setelah Donghae pulih nanti, mungkin Siwon akan dijatuhi hukuman mati. Bagaimanapun Donghae memiliki banyak kolega di jajaran kepolisian, jadi memberikan hukuman mati untuk Siwon, rasanya akan sangat mudah untuk dilakukan Donghae.” Seringai Hyukjae licik. Yoona tanpa sadar menelan salivanya ngeri dengan ekspresi wajah Hyukjae saat membiacaran kematian Siwon. Menurutnya Hyukjae dan Donghae tidak ada bedanya, mereka sama-sama kejam dan tidak menghargai nyawa. Jika Hyoje memang anaknya, maka ia akan mendidik gadis dengan ketat agar tidak tumbuh seperti ayah atau pamannya yang mengerikan.

“Apakah bagi kalian nyawa hanya mainan? Mudah sekali kalian membicarakan kematian dan pembunuhan! Kuharap kau tidak mengajarkan hal-hal buruk seperti itu pada Hyoje, anakku harus tumbuh di lingkungan yang kondusif. Tanpa ada darah, kemarahan, kebencian, ataupun dendam.”

“Kupikir Donghae juga tidak akan membiarkan Hyojae terkontaminasi dengan sisi gelapnya. Donghae sudah banyak berubah setelah menikah denganmu. Bahkan ia tak segan-segan membatalkan kontrak kerja bernilai puluhan miliar won ketika Hyoje berulang tahun. Prioritasnya kini hanya kau dan Hyoje, jadi kuharap kau tidak mengecewakannya dengan mencoba kabur dari hidupnya karena ia akan hancur jika kau pergi. Dan selama ini aku selalu iri pada kalian. Aku iri pada Donghae yang bisa menemukan wanita yang tepat untuknya, sedangkan aku belum menemukannya hingga aku setua ini. Aku terlalu takut untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena aku cukup trauma dengan kehidupan keluargaku. Seharusnya aku yang bertemu denganmu terlebihdahulu, bukan Donghae! Ck, sejak dulu ia memang selalu lebih beruntung daripada diriku.” Gerutu Hyukjae kesal. Yoona menatap Hyukjae sangsi dengan salah satu alisnya yang menukik turun.

“Apa kau baru saja mengatakan jika kau menyukaiku? Kau akan menusuk sepupumu sendiri?”

Lee Hyukjae hanya mengedipkan matanya penuh misteri sambil mengendikan bahunya ringan. Rasanya ia begitu rindu menggoda Yoona seperti dulu dan membuat pipi wanita itu merona merah setiap kali ia mengutarakan kata-kata manisnya yang penuh racun. Huh, Yoona memang seharusnya segera mengingat masa lalunya yang penuh kenangan manis dengan Hyukjae, karena wanita itu pasti tidak akan menyesal jika mengingatnya.

“Menurutmu begitu? Sepertinya kau harus segera sembuh untuk mengetahui jawabannya.” Seringai Hyukjae jahil sebelum beranjak pergi sambil tersenyum penuh kepuasan karena ia berhasil membuat Yoona gusar dengan rasa ingin tahunya yang meluap-luap.

-00-

Tokk tokk tokk

Yoona berdiri dengan gugup di depan pintu kayu hitam yang menjulang tinggi di depannya. Setelah sore ini dokter melepas jarum infus yang menusuk punggung tangannya dan mengatakan jika ia baik-baik saja, ia langsung berinisiatif untuk melihat keadaan Donghae yang berada di dalam kamar khusus di dalam mansion besar itu. Tapi entah mengapa sekarang ia justru gugup dan ingin segera melarikan diri dari tempatnya berdiri karena ia tidak tahu apa yang akan ia katakan pada Donghae nanti.

“Mommy…”

Yoona tersentak kaget ketika tangan mungil Hyoje tiba-tiba menyentuh jari-jari lentiknya sambil mendongak penuh ingin tahu pada ibunya yang terlihat sangat gugup.

“Ssayang… bagaimana kabarmu hari ini?”

Yoona berjongkok di depan Hyoje dan menyap balita lucu itu dengan kikuk. Kedua tangan Yoona tampak bergetar ketika terangkat untuk mengelus pipi chubby Hyoje yang menggemaskan. Dalam beberapa menit Yoona tampak terpana dengan kecantikan Hyoje dan kepolosan gadis itu yang sedang menatapnya dengan mata bulatnya. Dalam hati ia masih tidak percaya jika ia pernah melahirkan gadis secantik Hyoje.

“Mommy ingin melihat daddy?” Tanya Hyoje polos. Yoona mengangguk kaku di depan putrinya sambil menatap bergantian pintu hitam yang menjulang di sampingnya.

“Ayo masuk.”

Seketika Yoona dibuat gugup kembali ketika Hyoje mulai menarik-narik tangannya untuk masuk ke dalam ruang rawat Donghae yang masih tertutup. Namun tiba-tiba pintu hitam itu terbuka lebar, menampilkan seorang pria tua berjas putih yang lantas membungkuk hormat pada Yoona.

“Silahkan nyonya Lee jika anda ingin masuk ke dalam.”

Yoona membalas bungkukan itu dengan kaku sambil berjalan menyingkir unruk membiarkan dokter itu lewat.

“Terimakasih dokter, aku akan masuk.”

Setelah dokter tua itu benar-benar pergi, Yoona mulai berjalan pelan ke dalam ruang rawat Donghae dengan tangan yang terus ditarik Hyoje dengan tidak sabar.

“Ayo mommy!” Teriak Hyoje dengan suara melengking. Yoona memberikan isyarat pada Hyoje untuk mengecilkan suaranya dengan membungkam bibir mungil Hyoje karena ia melihat Donghae sedang memejamkan mata.

“Ssshhh… ayo kita keluar, biarkan daddy istirahat.” Bisik Yoona pelan di telinga Hyoje sambil menggendong balita menggemaskan itu. Hyoje menggelengkan kepalanya keras kepala dan tetap menginginkan berada di dalam ruang steril itu untuk menunggu ayahnya.

“Hyoje merindukan daddy, Hyoje ingin melihat daddy.”

“Tapi daddy sedang tidurl. Kita kembali lagi besok pagi, oke?” Ucap Yoona mencoba membujuk gadis kecil itu. Tapi Hyoje tetap berkeras untuk tetap berada di dalam kamar rawat ayahnya dan justru hampir menangis ketika Yoona memaksakan diri untuk membawa gadis itu keluar dari kamar rawat ayahnya.

“Ssshhh… baiklah baiklah, jangan menangis. Mommy tidak akan membawamu keluar.”

Yoona terlihat jengkel dan mulai menurunkan Hyoje di atas ranjang rawat Donghae yang cukup luas. Ia kemudian menarik sebuah kursi kayu yang berada di dekatnya dan mulai duduk di sana sambil mengamati Hyoje yang sedang menciumi pipi ayahnya.

“Hyoje-ya, apa kau menyayangi daddymu?” Tanya Yoona sambil bertopang dagu. Hyoje kemudian mengangguk lucu sebagai jawaban sambil mencium kening Donghae yang tidak tertutup masker oksigen.

“Lalu bagaimana jika daddymu jahat, apa kau akan tetap menyayanginya?”

Gadis kecil itu lantas menatap wajah Yoona dengan mata bening yang terlihat tidak paham dengan maksud ibunya.

“Jahat? Seperti monster?”

“Monster?” Tanya Yoona seperti balik bertanya. Seketika wanita itu tampak begitu bodoh di depan anaknya karena ia belum terbiasa dengan hal-hal berbau anak kecil yang kekanakan. Termasuk pengibaratan orang jahat sebagai monster. Namun jika dipikir lebih jauh, Donghae tampak lebih buruk daripada monster.

“Yaahh anggap saja jika daddymu adalah monster, apa kau akan tetap menyayangi daddymu?”

“Tapi daddy tidak seperti monster, daddy tampan. Kata Minji ahjumma monster itu jelek, sedangkan daddy sangat tampan. Jadi daddy bukan monster.”

Yoona memutar bola matanya malas sambil mengerucutkan bibirnya sebal pada Hyoje. Rasanya percuma saja menanyai Hyoje mengenai Donghae jika gadis kecil itu sangat mengagumi Donghae lebih dari apapun. Bahkan Hyoje sepertinya lebih menyayangi Donghae daripada dirinya.

“Lalu bagaimana dengan mommy? Apa kau menyayangi mommy?”

“Hyoje sayang mommy!” Jawab Hyoje langsung sambil menubruk tubuh Yoona yang berada di pinggir ranjang. Dengan sigap Yoona langsung menangkap Hyoje dan memberikan tatapan galak pada gadis kecil itu karena sikapnya yang ceroboh.

“Hyoje-ya, kau bisa jatuh!”

“Sudahlah, jangan memarahi Hyoje.”

Tiba-tiba suara bass yang terdengar lemah itu menyela kemarahan Yoona dan  membuat Yoona menegang seketika. Ia lantas menurunkan Hyoje dari dekapannya dan bersiap untuk keluar dari kamar itu.

“Maaf jika kami mengganggumu, aku akan keluar sekarang.”

Greb

Yoona menoleh kebalakang dan melihat pergelangan tangannya sedang dicekal oleh Donghae. Ia kemudian memberikan tatapan pada Donghae agar melepaskan cekalan tangannya dari pergelangan tangannya, namun pria itu justru menariknya semakin mendekat dan menyuruhnya untuk duduk di atas ranjangnya.

“Kau mau pergi kemana? Aku lebih suka kau berada di sini.”

“Daddy.. daddy sudah bangun!”

Hyoje memberikan kecupan singkat di pipi Donghae dan memeluk ayahnya hangat hingga membuat Donghae tergelak karena tingkah menggemaskan putrinya. Meskipun punggungnya masih terasa nyeri, namun ia mencoba tertawa untuk Hyoje.

“Hyoje-ya, jangan memeluk daddy terlalu erat nak, kau membuat daddymu kesakitan.”

Melihat Donghae yang terlihat sedang menahan nyeri membuat Yoona langsung berinisiatif untuk menyingkirkan gadis kecil itu dari atas tubuh Donghae. Lagipula ia bisa membayangkan bagaimana nyerinya punggung Donghae setelah sebuah timah panas menembus otot-ototnya kemarin, dan ia tidak setega itu untuk membiarkan Donghae kesakitan karena pelukan Hyoje yang terlalu bersemangat.

“Lebih baik kami keluar saja, beristirahatlah lagi.”

“Aku ingin kalian tetap di sini, jadi jangan pergi kemanapun.” Ucap Donghae datar dan tidak mau dibantah. Yoona mendengus kesal dalam hati melihat sikap arogan Donghae yang tetap saja muncul di saat pria itu sedang sakit dan tak berdaya seperti itu.

“Apa kau memerlukan sesuatu? Aku akan memanggilkan dokter jika kau merasa sakit.”

Yoona mencoba bersikap baik pada Donghae karena ia tidak mau berhutang budi pada pria itu.

“Tidak perlu, dokter sudah memeriksaku beberapa waktu lalu.” Jawab Donghae datar dan terkesan dingin. Kemudian tidak ada lagi percakapan diantara mereka karena Yoona lebih memilih menyibukan diri dengan mengelus rambut panjang Hyoje yang terasa begitu lembut di tangannya. Sedangkan Donghae memilih untuk diam karena sejak dulu ia bukanlah tipe pria yang suka bicara. Namun terlalu lama dengan atmosfer yang canggung itu membuat Donghae gerah dan akhirnya ia berinisiatif untuk sedikit memancing Yoona agar mau berbicara dengannya.

“Apa Hyoje sudah makan?”

“Belum.” Jawab Yoona singkat. Lalu suasana diantara mereka kembali hening karena Yoona lebih memilih untuk mencari kesibukan lain daripada melakukan percakapan kecil dengan Donghae. Wanita itu terlalu naif!

“Dulu kau juga pernah berada di posisiku.”

Tiba-tiba Donghae bersuara dan membuat Yoona seketika menolehkan kepalanya bingung pada pria itu. Melalui mimik wajahnya ia meminta Donghae untuk menjelaskan maksud ucapannya yang terkesan ambigu.

“Kau pernah terbaring di sini… saat melahirkan Hyoje.” Lanjut Donghae dengan senyuman tipis yang berhasil membuat Yoona terpana. Selama ini ia belum pernah melihat senyum tulus Donghae, selain seringaian ataupun senyum kelicikan yang sering ditunjukan padanya hingga membuatnya semakin membenci pria itu. Tapi sekarang melihat Donghae yang sedang menatapnya penuh kelembutan dan ketulusan membuatnya berhasil merubah cara pandanganya mengenai Donghae. Kini ia justru berpikir jika Donghae bukanlah pria jahat seperti yang ia bayangkan selama ini. Lee Donghae juga memiliki sisi lembutnya sendiri yang sangat jarang ia tunjukan pada siapapun.

“Awalnya kau sangat membenciku karena memaksamu untuk menikah denganku hingga akhirnya kau mengandung, tapi saat kau melahirkan Hyoje, pandanganmu tentangku berubah. Entah apa yang dilakukan Hyoje hingga membuatmu tidak lagi membenciku dan justru menerima pernikahan kita dengan penuh suka cita. Kau menjalankan peranmu sebagai isteri dan ibu dengan sangat baik. Tapi sayangnya kau melupakan itu semua. Aku takut kehilanganmu Yoong.”

Yoona tertegun dengan serangkaian kata-kata penuh emosi yang baru pertama kali ia dengar dari seorang Lee Donghae. Ia pikir Donghae adalah manusia tanpa hati.

“Hyoje.. dia gadis yang manis, siapapun pasti akan langsung menyukainya.” Ucap Yoona apa adanya. Ia terlihat bingung untuk menanggapi ucapan Donghae karena itu terkesan terlalu emosional untuknya.

“Apa kau akan meninggalkanku?”

“Aku tidak tahu.”

“Apapun yang akan kau lakukan nanti, aku tidak  akan pernah melepaskanmu. Kau adalah milikku.” Ucap Donghae tegas dan sarat akan ancaman. Yoona menghela nafasnya pelan sambil mencoba untuk tidak terpancing oleh kearoganan Donghae yang sangat menyebalkan.

“Aku tahu jika kau adalah pria penuh kuasa yang tidak akan membiarkan milikmu lepas begitu saja. Tapi bisakah kau sedikit saja menunjukan kesan yang lebih baik di hadapanku? Karena sikapmu yang arogan itu justru akan membuatku membatalkan niat untuk mencoba menerimamu sebagai suamiku dan Hyoje sebagai anakku.”

“Apakah kau melakukan ini untuk Siwon? Untuk keparat yang akan mencelakakan kita berdua?” Sambar Donghae sengit dan hampir membuat kepala Yoona mendidih karena pikiran negatif pria itu.

“Apa di kepalamu itu hanya ada keburukan dan kata-kata kotor? Bagaimana bisa Hyoje mengidolakan ayah yang sangat buruk sepertimu.”

“Bagaimanapun aku adalah ayahnya, wajar jika ia mengidolakanku. Terlepas jika ayahnya adalah seorang bajingan sekalipun, Hyoje tetap akan menganggapku sebagai idolanya.”

“Huh, kurasa kita tidak bisa berbicara sekarang. Aku akan keluar, dan sebaiknya kau dinginkan dulu kepalamu yang mendidih itu.”

Yoona akhirnya memilih untuk keluar dan meninggalkan Donghae bersama Hyoje. Berlama-lama bersama pria itu justru membuatnya semakin sakit kepala karena sikap Donghae yang selalu memikirkan hal-hal buruk tentangnya. Ia muak dengan pria itu!

-00-

Malam harinya ketika semua orang sedang terlelap dalam dunia mereka masing-masing, Donghae terlihat sedang berjalan keluar dari ruang rawatnya dengan piyama biru garis-garis yang terlihat cukup kusut di beberapa bagian. Sejak sore tadi ia tidak bisa memejamkan matanya dengan tenang tanpa sedikitpun memikirkan Yoona. Wanita itu sejak dulu memang selalu mengganggu atensinya hingga ia dibuat kalang kabut dengan sikapnya yang menjadi tidak biasa setelah Yoona hadir dan memporak-porandakan hatinya. Dan sore tadi ia sebenarnya tidak bermaksud untuk bersikap arogan padanya, ia hanya terlalu cemburu dengan Siwon dan takut jika Yoona akan meninggalkannya lagi seperti dulu. Sepuluh hari tanpa Yoona benar-benar membuatnya menjadi pria paling mengerikan yang pernah ada di muka bumi ini. Bahkan Hyukjae mengaku kewalahan untuk menenangkannya yang terus dilanda kecemasan sejak Yoona menghilang dari mansionnya.

Cklek

Donghae menarik gagang pintu perlahan dan menemukan kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Namun melalui sinar bulan yang menyusup masuk dari celah-celah jendela kamarnya, ia bisa melihat siluet tubuh Yoona sedang tertidur dengan nyaman di bawah balutan selimut tebal yang membungkus tubuh kurusnya. Ia kemudian berjalan pelan menuju ranjangnya, dan memutuskan untuk bergabung bersama Yoona untuk tidur. Dalam diam Lee Donghae mengamati wajah cantik isterinya dari samping sambil menyingkirkan anak-anak rambut Yoona yang menjuntai disekitar dahi indah Yoona yang sangat ia sukai. Seakan tak mempedulikan punggung tangannya yang sedikit meneteskan darah akibat jarum infus yang menusuk pergelangan tangannya tadi, ia terus menyikirkan anak-anak rambut Yoona yang menjuntai sambil menikmati setiap sentuhan kulitnya pada permukaan kulit Yoona yang halus.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Suara penuh kecurigaan itu langsung membuat Donghae membuka matanya hingga ia dapat melihat manik madu Yoona yang sedang menatapnya penuh antisipasi. Wanita itu tanpa malu-malu melemparkan tatapan menelisik padanya sambil menarik tangannya turun dari dahi indah milik wanita itu.

“Aku merindukanmu.” Jawab Donghae santai dan terkesan biasa. Sedangkan Yoona perlahan mulai memundurkan tubuhnya dan bersiap untuk menjauh dari tempat Lee Donghae sekarang berada. Namun Donghae langsung menahan pundaknya dan membuatnya seperti terpaku di tempat karena pria itu membuat isyarat untuk tetap diam tanpa bergerak.

“Kau harus mulai terbiasa dengan kehadiranku di ranjangmu, jadi jangan pernah mencoba kabur kemanapun Lee Yoona.”

Yoona menelan salivanya gugup sambil mengarahkan pandangan matanya kearah lain karena ia tidak mau terpengaruh oleh wajah tampan Donghae yang menguarkan aura arogan yang pekat di depannya. Dan mengetahui kegugupannya itu, Donghae justru memaksanya untuk menatap manik matanya yang gelap, segelap hidupnya.

“Apa kau tidak merindukanku, hmm?”

“Tidak!” Jawab Yoona ketus. Donghae justru terkekeh di depannya dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibirnya.

“Tapi aku merindukanmu. Sangat merindukanmu, hingga aku rela melukai punggung tanganku agar aku bisa bergabung bersamamu di sini.”

Yoona kemudian melirik punggung tangan Donghae yang memang sedikit mengeluarkan darah sambil berpura-pura menunjukan sikap tak pedulinya pada pria itu. Tapi entah mendapatkan dorongan dari mana, ia justru menarik tangan kekar itu dari sisi wajahnya dan mengusap darah pria itu dengan sebuah tisu yang berada di samping ranjangnya.

“Kau tidak seharusnya melepas jarum infus itu jika kau merindukanku, kau bisa memanggilku agar aku menemanimu di sana.”

“Aku tidak mau membangunkanmu sayang, lagipula aku juga merasa bosan berada di sana. Aku merindukan kamar kita.” Bisik Donghae mesra. Tubuh Yoona terlihat menegang ketika Donghae mulai mengikis jarak diantara mereka. Dengan posisi mereka yang sangat dekat seperti itu, Donghae pasti akan melakukan kontak fisik yang intim dengannya. Entah itu hanya mencium bibirnya atau membelainya, yang pasti itu akan membuatnya tidak nyaman dan juga gugup.

“Aaapa yang akan kau lakukan?”

“Menurutmu?”

Donghae sengaja meniupkan napas panasnya di permukaan kulit wajah Yoona yang mulai sensitif di depannya. Ia tahu jika sekarang wanita itu sedang gugup, oleh karena itu ia akan membuat Yoona semakin tak berdaya di bawah kuasanya.

“Mmenjauhlah, kau bbaru saja melakukan operasi pengeluaran peluru.” Ucap Yoona gugup sambil menahan dada Donghae agar pria itu tidak semakin mendekat. Namun Donghae justru semakin memperpendek jarak diantara mereka dan menggunakan salah satu tangannya untuk menyingkirkan jari-jari lentik Yoona yang terasa menggelitik dadanya.

“Kurasa ini tidak apa-apa, tubuh bagian depanku masih normal. Hanya punggungku yang sedikit nyeri. Aku masih bisa menggunakan bibirku untuk menciummu dan sedikit bermain.” Bisik Donghae sensual. Yoona menelan salivanya gugup dan mulai bergerak-gerak tidak nyaman dengan posisinya. Kedua tangannya telah bertengger manis di atas pundak kokoh Donghae, sedangkan wajah Donghae semakin lama semakin dekat dengan bibir yang terlihat mengerikan bagi Yoona karena seakan-akan pria itu hendak memakannya.

“Kkkumohon jangan, aku tidak bisa melakukan ini.”

Yoona mencoba menjauhkan kepalanya dari wajah Donghae dengan memundurkan ke belakang. Namun Donghae justru menahan tengkuknya dan membuatnya tidak berkutik dengan tekanan kuat yang menyengat di tekuknya. Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan adalah diam di tempat dan menerima ciuman yang akan diberikan oleh Donghae. Tapi ia tidak mau, ia terlalu gugup dan juga takut!

“Bisa atau tidak, kau harus mulai terbiasa sayang. Karena pasti aku akan melakukan hal yang lebih daripada hanya mencium bibirmu yang AAAARGGHHHH!!!!”

Yoona menekan kuat punggung Donghae yang terluka dengan kedua tangannya yang menjuntai di belakang punggung tegap pria itu. Tak peduli dengan teriakan Donghae atau bekas jahitan pria itu yang akan robek, yang jelas ia hanya ingin melindungi harga dirinya dari perbuatan kurang ajar pria arogan yang telah mengaku sebagai suaminya.

“Apa kau ingin membunuhku, hah!”

Donghae berteriak keras di depan wajah Yoona sambil melengkungkan tubuhnya karena kesakitan. Pria itu terlihat menahan sakit dan mulai mengerang lagi untuk yang ke dua kalinya karena sengatan ngilu yang menyerang punggungnya. Tak bisa ia gambarkan bagaimana rasa sakit itu menusuk punggungnya, namun ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan punggungnya.

“Dddarah! Lee Donghae, kau berdarah! Oh ya Tuhan, aku telah merusak luka jahitanmu.”

Yoona berteriak histeris ketika ia melihat cairan merah yang mulai merembes membasahi piyama bergaris-garis biru yang dikenakan oleh Donghae. Dengan panik ia segera berlari keluar sambil memanggil siapapun untuk menolong Donghae karena ia melihat begitu banyak darah yang tercetak jelas di punggung Donghae.

“Ya Tuhan!!! Apa yang baru saja kulakukan?” Gumam Yoona gemetar sambil menggigit bibirnya panik. Ia kemudian segera meminta pengawal-pengawal Donghae untuk segera menghubungi dokter karena Donghae sepertinya harus melakukan operasi ulang untuk menjahit bekas lukanya yang kembali terbuka.

-00-

Keesekan harinya Yoona terlihat cukup merasa bersalah dengan Donghae. Ia tidak tahu jika ternyata apa yang ia lakukan cukup fatal hingga dokter harus melakukan operasi ulang pada pukul dua pagi untuk menghentikan pendarahan Donghae yang cukup banyak. Menurut dokter Jang luka akibat peluru itu merobek otot punggung Donghae, sehingga akan sedikit lebih lama untuk masa pemulihannya. Dan pagi tadi, sebelum pergi dari mansion mewah milik Donghae, dokter itu sempat berpesan agar Donghae tidak terlalu banyak bergerak terlebihdulu agar bekas jahitannya tidak robek. Dan hal itu berhasil membuat Yoona membungkuk malu pada dokter tua itu karena ia yakin jika dokter itu pasti sudah tahu apa penyebab luka jahitan di punggung Donghae kembali menganga.

“Hai.”

Yoona melambaikan tangannya kaku di depan Donghae yang sedang berbaring dengan tenang di atas ranjang. Pria itu terlihat menggunakan selang infus kembali setelah semalam ia berhasil melepasnya dengan paksa untuk mengunjungi Yoona yang sedang terlelap nyaman di dalam kamar mereka.

“Bagaimana kabarmu?”

“Tidak lebih baik dari kemarin.” Jawab Donghae seadanya. Pria itu kemudian meraih ponselnya dan mulai menyibukan diri dengan tugas-tugas kantornya yang terbengkalai selama dirinya sakit. Meskipun sebenarnya Hyukjae sudah mengambil alih semuanya, tapi ia tetap tidak puas jika ia tidak mengeceknya sendiri.

“Apa kau sudah makan?” Tanya Yoona mencoba perhatian. Pagi ini ia terlihat benar-benar merasa bersalah dan ingin menebus semuanya. Tapi sepertinya Donghae marah padanya dan tidak ingin melihat wajahnya.

“Belum.”

“Apa kau ingin aku mengambilkan makanan untukmu?”

“Tidak perlu. Jihe sudah meletakannya di sana.”

Yoona menolehkan kepalanya kearah telunjuk Donghae dan ia benar-benar menemukan sebaki makanan yang telah disiapkan oleh salah satu maid di mansion ini. Kehadirannya di dalam kamar itu memang tidak diperlukan, ia justru menghancurkan harga dirinya sendiri dengan bersikap sok peduli di depan pria arogan yang telah mengaku sebagai suaminya itu.

“Kalau begitu aku akan pergi.”

Putus Yoona akhirnya dengan dagu terangkat. Sungguh ia merasa harga dirinya telah hancur sekarang, dan ia bersumpah tidak akan melakukan hal itu pada Donghae. Ini adalah untuk pertama dan terakhir kalinya dalam hidupnya.

“Apa aku menyuruhmu pergi?”

Suara bas bernada dingin itu menghentikan langkah Yoona dan membuat Yoona menoleh seketika. Memastikan jika ternyata Donghae sedang berbicara dengannya.

“Kau berbicara denganku?”

“Memangnya pada siapa aku berbicara sekarang? Kemarilah, aku belum menyuruhmu untuk pergi.”

Donghae menyuruh Yoona untuk duduk di kursi menggunakan dagunya. Sedangkan ia dengan angkuhnya kembali menenggelamkan diri pada email-email yang menumpuk di dalam kotak masuk ponselnya.

“Yang benar saja, kau menyuruhku duduk di sini selama tiga puluh menit hanya untuk melihatmu bermain ponsel! Damn! Aku bukan ibumu yang harus mengawasimu saat bermain ponsel tuan Lee!” Teriak Yoona kehabisan kesabaran setelah selama tiga puluh menit hanya menggeram dongkol dengan perintah Donghae yang hanya menyuruhnya untuk duduk tanpa melakukan apapun.

“Kau memang harus sering-sering menatap wajahku karena itu akan membantu untuk mengembalikan ingatanmu yang hilang nyonya Lee.” Jawab Donghae santai sambil mengusapkan ibu jarinya pada layar ponsel untuk melihat email selanjutnya yang telah menanti untuk dibaca. Sementara itu, Yoona terlihat sudah mendidih dengan kemarahannya yang menumpuk hingga ke ubun-ubun kepalanya. Andai saja Donghae tidak dalam keadaan sakit, mungkin ia akan mencakar pria itu dengan brutal.

“Cobalah untuk memujiku daripada mengumpatiku nyonya Lee karena aku lebih suka melihatmu menggunakan otak cantikmu untuk memikirkan kehidupan kita.”

“Brengsek! Apa kau hanya ingin mengujiku, huh?” Teriak Yoona kesal sambil mengepalkan buku-buku tangannya yang terlihat memutih. Dengan santai Donghae meletakan ponselnya dan meminta Yoona untuk mengambilkan makanannya yang telah disiapkan oleh salah satu maidnya beberapa puluh menit yang lalu.

“Tolong ambilkan sarapanku dan suapi aku karena dokter melarangku untuk banyak melakukan gerakan.”

Yoona hampir saja berteriak di hadapan Donghae dan melemparkan baki berisi makanan itu pada wajah Donghae yang menyebalkan. Namun akhirnya ia memilih untuk diam dan menuruti pria itu agar semuanya segera selesai. Jika terus menerus mendebat pria itu, ia justru akan semakin dibuat dongkol karena nyatanya pria itu sangat licik.

“Kenapa kau tidak mencoba untuk makan sendiri, bukankah tanganmu baik-baik saja.”

Yoona sengaja meletakan baki itu dengan keras di atas pangkuan Donghae hingga kuah sup yang masih mengepulkan asap tipis itu terciprat ke atas selimut Donghae yang bersih. Namun tanpa diduga, Donghae justru tidak marah. Pria itu hanya mengangkat alisnya sekilas sambil memaksa Yoona untuk mulai menyuapinya.

“Kau harus merawatku mulai detik ini agar aku bisa segera pulih. Aku tidak bisa terus menerus berbaring di ruangan ini seperti orang tidak berguna dan membiarkan Hyukjae mengambil alih semua pekerjaanku. Aku tidak bisa mempercayai Hyukjae begitu saja.”

“Kenapa tidak bisa?” Tanya Yoona dengan nada menantang sambil menjejalkan sesendok penuh nasi ke dalam mulut Donghae yang terbuka. Hampir saja Donghae tersedak jika ia tidak cepat-cepat mengontrol dirinya sendiri.

“Ini peringatan untukmu nyonye Lee, jika kau tidak bisa bersikap baik padaku, maka aku akan membalasmu dengan lebih kejam setelah aku benar-benar pulih nanti.” Peringat Donghae kesal sambil mengelap bibirnya dengan sapu tangan. Ia kemudian kembali melanjutkan ceritanya mengenai sepupunya, Lee Hyukjae.

“Hyukjae tidak pandai mengelola perusahaan. Oleh karena itu ia belum mendapatkan pasangan hingga sekarang.”

“Aku tidak mengerti dengan hubungan antara perusahaan dan status Hyukjae yang tidak memiliki pasangan.”

“Hyukjae tidak pandai meloby klien, ia bekerja terlalu kaku hingga membuat beberapa klien enggan menginvestasikan uang mereka ketika Hyukjae melakukan presentasi.”

Yoona mengangguk-anggukan kepalanya mengerti sambil memasukan sepotong daging ayam ke dalam mulut Donghae.

“Ohh, sekarang aku mengerti. Jadi sikap playermu itu ternyata cukup berguna untuk menggaet klien-klienmu, begitu?”

“Bahkan itu juga berguna untuk menaklukanmu.”

Tiba-tiba Yoona merasa gugup, namun ia berusaha mengalihkannya dengan melihat layar kardiograf yang menampilkan irama detak jantung Donghae yang stabil.

“Ceritakan padaku apa yang terjadi sebelum aku lupa ingatan.”

“Memangnya apa yang ingin kau ketahui?”

“Apapun, tapi kau mungkin bisa memulainya dari sesuatu yang mengesankan bagimu.” Jawab Yoona memberi usulan. Donghae tersenyum manis pada Yoona dan mulai menceritakan sedikit masa lalu Yoona yang paling berkesan untuknya.

“Hal yang paling mengesankan dalam hidupku ketika aku melihatmu di sebuah klub di distrik gangnam. Saat itu kau terlihat paling mencolok karena kau masih bergitu segar, seperti ikan yang baru saja datang dari laut. Pertama kali aku melihatmu, aku langsung tahu jika kau bukanlah salah satu dari pelacur-pelacur yang bekerja di sana. Dari tatapan matamu, kau terlihat begitu ketakutan dan ingin segera keluar dari tempat terkutuk itu. Tapi saat aku akan menghampirimu, seorang pria muda yang merupakan pemilik dari klub itu menarik tanganmu kasar. Ia menyeretmu untuk pergi ke lantai dua, tempat dimana oran-orang sering menggunakan jasa para jalang untuk memuaskan hasrat mereka. Dan ketika aku sampai di sana, aku mendengar suara jeritan ketakutanmu. Untuk pertama kalinya setelah kedua orangtuaku meninggal aku merasa begitu peduli pada seseorang. Padahal sudah lama sekali aku tidak memiliki perasaan itu. Jadi tanpa berpikir dua kali aku segera menyelamatkanmu dan membunuh pria itu.”

“Tapi bagaimana bisa kau bisa menyukaiku dan menginginkanku untuk menjadi isterimu? Bukankah ayahku telah menipumu dan hampir melarikan diri dengan seluruh harta kekayaanmu?”

“Itu karena aku melihat matamu.”

“Mataku?” Ulang Yoona tidak mengerti. Tiba-tiba saja Donghae sudah menatap manik matanya dengan sungguh-sungguh sambil mengelus pipinya lembut.

“Kau memiliki tatapan tulus yang tidak dimiliki oleh wanita manapun. Saat aku berhasil menyelamatkanmu dari pria jahat itu, kau mengucapkan terimakasih padaku dengan begitu tulus hingga membuat hatiku bergetar. Dan detik itu juga aku bersumpah untuk menjadikanmu milikku. Tak peduli dengan cara kasar atau halus, kau harus menjadi milikku.”

Yoona menatap manik mata Donghae yang menyiratkan kesungguhan itu dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa setelah mendengar suara penuh tekad milik Donghae, hatinya justru bergetar dan terasa perih. Ia pikir hatinya memang telah mengenali Donghae sebagai pasangan hidupnya. Tapi otak yang menyimpan berbagai macam kenangan itu masih enggan untuk membuka diri terhadap Donghae. Sehingga yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menangis tanpa sebuah alasan yang jelas. Ia hanya ingin menangis untuk pria itu.

“Lee Yoona, apa kau mencintaiku?”

Yoona hanya menutup bibirnya rapat tanpa berniat sedikitpun untuk menjawab pertanyaan Donghae. Dan dalam dua detik berikutnya Yoona merasakan bibirnya terasa dilumat lembut oleh Donghae. Pria itu menciumnya dengan penuh perasaan tanpa sedikitpun melukainya seperti hari-hari sebelumnya. Ia pun akhirnya memilih untuk memejamkan mata sambil membalas setiap lumatan Donghae dengan gerakan bibirnya yang kaku.

Ya, aku mencintaimu Lee Donghae….

           

Donghae membuka matanya perlahan dan menemukan ruangan tempat ia dirawat tampak gelap gulita. Ia kemudian mengangkat tangannya yang kaku untuk melepaskan masker oksigen yang terasa mengganjal di wajahnya. Dengan sedikit linglung ia menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Tapi apa yang ia cari ternyata tak ada dimanapun. Ruangan tempatnya dirawat juga sangat bersih, seperti tidak pernah terjadi apapun di sana, padahal ia yakin jika sebelumnya Yoona ada di sana dan mereka sempat bercanda dengan seru hingga membuat sisi-sisi sprei yang melakat di atas ranjangnya kusut.

“Jadi apakah itu hanya mimpi?” Bisik Donghae nanar pada udara kosong. Namun seakan tak mau terlarut dalam kesedihannya, Donghae memilih untuk segera melupakan segalanya dan kembali memejamkan matanya untuk menenangkan hatinya yang meronta karena Yoona.

“Meskipun itu hanya mimpi sekalipun, itu tetap indah.”

 

22 thoughts on “Yes, I Love You

  1. Eiy bukankah ini juga sedikit menggantung 😂 .aku berharap yoona benar benar ingat tentang kehidupannya dengan donghae dan betapa ia mencintai pria arogan dan dingin itu..good story 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

  2. Seperti biasa, selalu bagus dan menarik ceritanya..
    Tp endingnya kok gantung lg thor??
    Sequel please..

  3. Jadi itu semua cuma mimpi ??? yaampun awalnya udah seneng banegt karna mikir mereka bakal rukun kembali ..
    Ayolah buat mereka rukun sesegera mungkin ,masih dengan Yoona dengan sikap yg sama tapi sudah bisa menerima semuanya itu lebih baik dari pada seperti ini ..
    di tunggu next nya sekalee un

  4. Keren min. Cuman masih ngegantung gitu ew. Pengen banget lihat Yoona ngebalas perasaan Donghae. Ditunggu sequelnya.

  5. Dan semuanya hanya mimpi??
    bagiku ini berasa nyata bukan sekedar mimpi donghae.
    kasian donghae dicuekin yoona mulu, kapan sih yoong inget kenangan bersama keluarga kecilnya..
    paling suka saat donghae menggoda yoona wkwkwk.
    berharap ini masih lanjut karna masih gantung thor hehehe

  6. lah gantung thor😭😭😭
    jadi donghae cuma mimpi?
    kirain mereka ketemu beneran
    masih penasarannnnn😭😭
    sequel lagi thor😂😂

  7. semoga yoona cepet maafin donghae dan ingatannya kembali pulih, yoona harus tau kalo donghae sangat mencintainya

    ahh ngak tega liat donghae sakit.. padahal lagi greget-gregetnya donghae mau ngegodain yoona..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.