(maybe) I LOVE YOU

 

Recomended Song: Yoon Mirae – I LOVE YOU

 

Ditengah pekatnya malam, wanita itu terus berlari dan berlari demi menghindari kejaran para pria berjas hitam yang beberapa saat yang lalu berhasil menemukan keberadaanya karena ia terlalu sulit untuk berlari dengan gaun berat yang membungkus tubuh kurusnya. Selain itu perihnya telapak kaki yang menderanya juga semakin membuat laju lari Lee Yoona melemah, sehingga ia memutuskan untuk pasrah dengan nafas memburu yang tidak beraturan.

“Hosh hoshh hosshh… Pria itu cepat sekali menyadari kepergianku hoshh hoshh… aku sudah tidak kuat untuk berlari lagi.”

Yoona berjalan tertatih-tatih diantara beberapa pejalan kaki yang saat ini sedang menatapnya aneh. Sebuah kursi halte yang tampak begitu menarik langsung menjadi sasaran Yoona untuk mengistirahatkan kakinya sejenak karena kini kedua kakinya sudah benar-benar lecet akibat terus bergesekan dengan aspal.

“Apa kau baik-baik saja?”

Seorang wanita tua yang sedang menunggu bus tampak begitu prihatin melihat kondisi Yoona yang menyedihkan. Wanita baik hati itu kemudian memberikan tempat untuk Yoona disampingnya sambil mengelus punggung Yoona yang masih naik turun tak beraturan karena terlalu lama berlari.

“Sayang sekali aku tidak membawa minum.” Gumam wanita tua itu menyesal. Yoona memaksakan senyum tipisnya pada wanita itu sambil mengibaskan tangannya beberapa kali karena ia merasa baik-baik saja tanpa minuman sekalipun.

“Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Hanya sedikit kelelahan karena aku baru saja kabur dari cengkeraman orang-orang jahat.”

“Orang-orang jahat? Berapa banyak orang-orang jahat yang mengejarmu, memangnya apa yang kau lakukan?”

“Ceritanya panjang.”

Yoona berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya sambil memikirkan inti dari masalah yang menimpanya karena ia tidak mungkin menceritakan semua kesialannya hingga ia harus berakhir terengah-engah di dalam sebuah halte seperti ini.

“Ayahku mengambil uang pria jahat itu, lalu pria jahat itu mengambilku sebagai ganti atas uang yang diambil ayahku, tapi pria itu juga membunuh ayahku setelah ia berhasil mendapatkan kembali hartanya yang dicuri oleh ayahku.”

“Kasihan sekali nasibmu nak, semoga Tuhan memberikan jalan keluar untuk masalahmu yang rumit itu. Lalu kemana kau akan pergi?” Tanya wanita tua itu ingin tahu. Yoona tertegun sejenak sambil menggelengkan kepalanya tidak yakin pada wanita tua itu. Ia bahkan baru saja bangun dari komanya dan ia sendiri juga tidak tahu kemana ia harus pergi sekarang karena kini ia sebatang kara. Namun tiba-tiba ia teringat Siwon, kekasihnya itu pasti mau menolongnya untuk lepas dari belenggu Lee Donghae. Tapi sayangnya kini ia tidak tahu dimana Siwon berada, ia hanya mengingat nomor ponsel milik Siwon yang ia hafal di luar kepala.

“Nyonya, bolehkah aku meminjam ponselmu? Aku ingin menghubungi temanku.”

Tiba-tiba saja ia mendapatkan ide untuk menghubungi Siwon. Meskipun sebenarnya ia tidak yakin apakah Siwon masih menggunakan nomor ponsel yang sama setelah empat tahun berlalu, tapi setidaknya ia harus mencobanya terlebihdulu.

“Tentu saja kau boleh meminjamnya.”

Wanita itu memberikan ponsel hitamnya pada Yoona dan menunggu dengan sabar ketika Yoona mulai menempelkan benda persegi itu ke samping telinganya sambil berharap-harap cemas pada seseorang yang diteleponnya.

“Halo!”

Yoona hampir saja terlonjak girang ketika sambungan teleponnya diangakat oleh seseorang di seberang sana. Setidaknya dengan diangkatnya panggila itu ia masih memiliki sedikit harapan jika yang menjawab panggilannya adalah kekasihnya, Choi Siwon.

“Siwon oppa? Apa ini benar Siwon oppa?”

“Ya ini aku, ada yang bisa kubantu?”

“Siwon oppa!! Apa kau masih mengingatku, aku Yoona, kekasihmu.” Ucap Yoona girang sambil memukul-mukulkan tangannya pada pahanya. Wanita yang duduk di sebelahnya terlihat ikut lega ketika wanita malang disebelahnya telah menemukan temannya yang mungkin dapat menolongnya karena ia sendiri merasa tidak mampu untuk menolong wanita malang itu selain menolong untuk meminjamkan ponselnya.

“Oppa, kau dimana? Anak buah Lee Donghae mengejarku, mereka ingin menangkapku lagi. Bisakah kau menjemputku sekarang? Aku sedang berada di halte di sekitar Namsan Tower.”

Hening beberapa saat hingga membuat Yoona sedikit panik. Ia takut kekasihnya itu tidak mau menjemputnya karena mungkin saat ini kekasihnya itu telah memiliki wanita lain setelah empat tahun berlalu. Tapi kemudian senyum cerah itu kembali terukir di wajahnya kala Siwon mengiyakan permintaannya dan berjanji akan menjemputnya di halte bus yang telah disebutkan oleh Yoona sebelumnya.

“Gomawo oppa, aku akan menunggumu.” Ucap Yoona penuh kelegaan dan langsung mengembalikan ponsel itu pada sang pemilik. Tak berapa lama bus yang ditunggu oleh wanita tua itu datang, dan dengan berat hati wanita itu berpamitan pada Yoona untu pergi terlebihdulu.

“Busku sudah datang, semoga kau lekas mendapatkan jalan keluar untuk masalahmu.”

“Terimakasih ahjumma, aku tidak akan melupakan kebaikan hati ahjumma.”

Setelah berpamitan wanita tua itu segera masuk ke dalam bus sambil melambaikan tangan pada Yoona yang juga sedang melambaikan tangan kearahnya. Di dalam bus wanita tua itu memilih untuk duduk di sebuah kursi yang berada di deret paling depan, dekat pintu keluar agar ia tidak perlu berjalan terlalu jauh sebelum turun di halte bus berikutnya. Sembari menunggu bus yang membawanya tiba di halte berikutnya, wanita tua itu ikut menyimak siaran berita yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi yang sedang mengumumkan berita kehilangan.

“Selamat malam pemirsa, baru saja kami mendapatkan kabar bahwa isteri dari salah seorang pengusaha paling berpengaruh di Korea Selatan menghilang. Oleh karena itu apabila pemirsa melihat wanita ini berada disekitar kalian, kami harap anda segera menghubungi nomor berikut untuk melaporkan keberadaan wanita itu. Sekian berita yang dapat kami sampaikan, selamat malam.”

Wanita itu terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat karena di dalam televisi itu ia dapat melihat wajah wanita yang baru saja ia temui sedang tersenyum manis sambil menggandeng seorang gadis kecil yang terlihat menggemaskan di sebelahnya.

“Huh, pasti masalah keluarga. Orang-orang kaya memang suka mencari sensasi.” Komentar pengemudi bus itu sambil lalu. Tapi wanita itu memilih untuk tidak berkomentar apapun sambil menerka-nerka di dalam kepalanya apa yang sebenarnya terjadi pada wanita malang yang baru saja ia temui beberapa saat yang lalu.

-00-

Yoona masih menunggu dengan setia di dalam halte sepi itu sambil menggosok-gosokan tangannya pada lengannya yang terbuka. Udara Seoul yang sangat dingin membuatnya menggigil beberapa kali sambil terus berdoa agar kekasihnya segera muncul untuk menjemputnya karena ia sudah tidak kuat dengan hawa dingin yang mulai menusuk tulangnya dengan ganas.

Tiinn

Suara klakson mobil yang tiba-tiba dibunyikan di depannya membuat Yoona terkejut sekaligus waspada. Dengan penuh perhitungan Yoona mulai mengamati mobil itu untuk memastikan jika si pemilik mobil bukanlah Lee Donghae atau salah satu anak buahnya. Dan setelah cukup lama Yoona memperhatikan mobil itu, ia dapat bernafas lega karena mobil itu jelas bukan milik Lee Donghae karena mobil itu terlihat seperti mobil bekas yang tidak mungkin dimiliki oleh pria super kaya seperti Lee Donghae. Meskipun ia belum pernah melihat bagaimana bentuk mobil milik Donghae semenjak ia bangun dari koma, namun ia yakin jika pria itu pasti memiliki selera yang sangat tinggi untuk kriteria mobilnya.

“Yoona..”

Yoona langsung bangkit dan memeluk Siwon dengan erat ketika pria itu turun dari mobil sambil menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Pria itu lantas membalas pelukannya dengan kikuk dan kemudian menelisik tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Ada apa denganmu Yoong?”

“Oppa untung saja kau datang, aku dikejar oleh anak buah pria brengsek itu. Lee Donghae mengejarku dan ingin mengurungku lagi di dalam rumah sialannya yang mewah itu.”

Siwon terlihat cukup bingung dengan penjelasan yang diberikan oleh Yoona. Namun ia memilih untuk membawa Yoona masuk ke dalam mobilnya terlebihdulu karena cuaca yang semakin dingin disekitar mereka.

“Masuklah, kita bicarakan di jalan.”

Kedua manusia berbeda jenis itu lantas segera pergi meninggalkan area halte bus yang terlihat sangat sepi itu. Di sisi lain mereka juga khawatir dengan kemunculan anak buah Donghae yang bisa saja muncul tiba-tiba di sana untuk menangkap Yoona, sehingga mereka memilih cara aman dengan segera pergi dari halte bus itu tanpa menimbulkan kecurigaan dari segelintir pejalan kaki yang berlalu-lalang di sana.

“Oppa aku merindukanmu.”

Satu kalimat pertama akhirnya lolos dari bibir Yoona sejak ia menginjakan kaki di dalam mobil milik Siwon. Wanita itu terlihat begitu sumringah ketika mengucapkan hal itu pada Siwon sambil menggenggam tangan kanan Siwon yang bebas. Berbeda dengan Yoona yang terlihat begitu bahagia saat bertemu dengannya, Siwon justru merasa aneh dengan Yoona karena terakhir kali mereka bertemu, Yoona terlihat sangat membencinya.

“Aku juga, apa kau baik-baik saja?”

Siwon masih terlihat tak percaya dengan perubahan sikap Yoona yang begitu tiba-tiba padanya. Ia kemudian memikirkan berbagai macam pikiran buruk di dalam kepalanya mengenai Yoona. Mungkin saja ini jebakan. Yoona tidak mungkin berubah begitu cepat dan terlihat baik-baik saja setelah apa yang kulakukan padanya. Atau jangan-jangan kecelakaan itu yang membuat Yoona menjadi seperti ini?

“Aku tidak baik-baik saja oppa.”

Yoona menjawab lesu sambil menatap kosong pada jalanan gelap di luar jendela. Sejujurnya saat ini ia tengah kebingungan. Ia bingung dengan apa yang terjadi selama ini dan ia tidak tahu pada siapa ia harus percaya. Tapi karena Siwon adalah kekasihnya, maka ia memilih untuk menanyakan semua fakta-fakte mengerikan yang baru saja didapatkannya dari Lee Donghae, karena ia yakin kekasihnya tidak akan menipunya.

“Ada apa, apa pria itu menyakitimu?”

“Entahlah oppa, tapi aku bingung. Beberapa saat yang lalu aku terbangun di rumah pria sialan itu dengan berbagai fakta mengejutkan yang baru saja kuketahui. Oppa, apakah benar aku sudah menikah dengan Lee Donghae dan memiliki seorang anak bernama Lee Hyoje?” Tanya Yoona terlihat frustasi. Siwon tampak berpikir cukup lama untuk mencerna setiap kata yang dikeluarkan oleh Yoona. Saat ini ia sedang menelaah kondisi Yoona yang sesungguhnya untuk memanipulasi wanita itu.

“Ya, kalian sudah menikah empat tahun yang lalu.” Jawab Siwon datar. Yoona langsung mendesah kecewa sambil mengacak rambutnya frustasi. Akhirnya apa yang ditakutkannya terjadi, ia menikah dengan musuh terbesarnya dan memiliki anak dari pria brengsek itu. Tak pernah terbayang sedikitpun di dalam benaknya bahwa ia akan menikah dengan pria yang telah membunuh ayahnya sendiri dan menghancurkan hidupnya. Rasanya ia lebih baik mati daripada harus menerima fakta mengerikan itu.

“Bagaimana bisa aku menikah dengan pria brengsek itu? Aku pasti sedang dalam pengaruh obat ketika melakukannya karena aku sama sekali tidak mengingat apapun tentang kejadian empat tahun yang lalu. Pikiranku rasanya seperti kosong dan hanya diisi dengan kenangan tentang kita oppa.”

“Maafkan aku Yoona, dulu aku tidak bisa menolongmu dari cengkeraman pria itu. Ia telah menghancurkan hidupku. Pria keparat itu menghancurkan bisnis keluargaku dan membuatku menjadi pria miskin yang menyedihkan. Kemudian ia mengambilmu dariku dan menikahimu dengan paksa. Dan setelah kau menikah, hidupku menjadi benar-benar hancur. Namun aku berusaha untuk bangkit dengan bekerja sebagai petugas pom bensin. Aku berusaha mengumpulkan sisa-sisa harga diriku untuk membalas si keparat itu Yoong.”

Yoona menutup mulutnya tak percaya dengan semua cerita penuh emosi yang dikatakan Siwon padanya. Betapa pria itu selama ini menderita karenanya, dan mungkin selama pria itu menderita, ia justru sedang bersukacita bersama pria yang telah menghancurkan kehidupan kekasihnya bersama dengan anaknya bersama pria itu.

“Oooppa maafkanku.” Ucap Yoona lirih dengan mata berkaca-kaca dan air mata yang hampir terjatuh bebas dari pelupuk matanya. Namun Siwon langsung menenangkannya dengan menggenggam telapak tangannya kuat, meremasnya dengan lembut untuk mengatakan jika semuanya baik-baik saja karena ia berhasil melewatinya dengan baik.

“Tidak apa-apa Yoona, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, yang terpenting sekarang kau telah kembali padaku.”

“Terimakasih oppa karena kau telah bertahan untukku. Tapi, bolehkah aku bertanya mengenai ayahku? Apakah ayahku benar telah dibunuh oleh Lee Donghae?”

“Yoona maafkan aku.”

Lagi-lagi Siwon menunjukan rasa bersalahanya pada wanita itu karena di masa lalu ia memang tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan kehidupan wanitanya. Bahkan untuk menyelematkan kehidupannya sendiri saja ia nyaris tidak mampu karena pria itu benar-benar telah mengambil segalanya, harta, jabatan, dan cintanya. Andai ia bukan pria dengan sifat pantang menyerah, mungkin ia sudah bunuh diri saat itu juga. Tapi ia memilih untuk tidak melakukannya. Ia memilih untuk kembali berjuang agar suatu saat ia dapat mengambil miliknya yang telah diambil oleh Lee Donghae, terutama Yoona. Namun sebelum kecelakaan itu menimpa Yoona, wanita itu sudah sepenuhnya berubah. Yoona perlahan-lahan mulai melupakannya dan berpaling pada suaminya. Ia memilih untuk menerima Lee Donghae dan membesarkan anaknya bersama pria itu. Yoona yang sesungguhnya telah melupakannya. Namun kini Tuhan seperti berpihak padanya. Akibat dari kecelakaan itu Yoona sepertinya mendapatkan lupa ingatan, sehingga ia tidak bisa mengingat semua kenangan bahagianya bersama keluarga kecilnya. Dan hal itu akan dimanfaatkan oleh Siwon untuk membalaskan dendamnya pada Lee Donghae. Ia akan menggunakan Yoona untuk menghancurkan pria itu hingga ia tidak bisa bangkit lagi untuk selamanya.

“Oppa tolong ceritakan padaku apa yang telah terjadi selama ini.” Pinta Yoona dengan wajah memohon yang terlihat begitu terpukul di sebelahnya. Siwonpun memutuskan untuk menepikan mobilnya sejenak agar ia bisa menguatkan separuh hati Yoona yang terkoyak karena beberapa cerita karangannya.

“Yoona, aku pasti akan menceritakan padamu semua hal yang telah kau lewatkan selama empat tahun ini. Dan mulai sekarang kita harus berjuang bersama-sama jika kita ingin menghancurkan Lee Donghae. Saat ini hanya kaulah yang kumiliki Yoong, tolong jangan pergi lagi.”

Mendengar permintaan Siwon yang terdengar bersungguh-sungguh dan menyiratkan kesakitan itu membuat Yoona tak kuasa membendung air matanya di depan kekasihnya. Kemudian Siwon segera membawanya ke dalam pelukannya sambil tersenyum licik penuh kemenangan.

Kali ini kau akan mati di tanganku Lee Donghae!

-00-

Hyukjae pov 

            Ini sudah dua hari sejak menghilangnya Yoona, dan sejak itu pula aku melihat sepupuku yang juga merupakan atasanku berubah menjadi pria pemurung yang sangat mengerikan. Setiap hari ia selalu terlihat uring-uringan yang berujung pada kemarahan besar pada seluruh bawahannya yang tak bersalah. Terkadang aku merasa prihatin dengan kehidupannya yang sejak dulu tidak pernah mulus. Sikapnya yang terbentuk sekarang merupakan hasil didikan kakek kami yang keras.

Masih sangat kuingat dengan jelas bagaimana hancurnya Donghae saat kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan pesawat. Kami memang berasal dari keluarga yang terpandang, jadi bepergian menggunakan pesawat adalah makanan sehari-hari kami. Bahkan aku dan Donghae sudah menaiki pesawat sejak usia kami menginjak dua minggu, jadi bagi kami pesawat sudah seperti mobil yang sering kami gunakan untuk pergi ke tempat-tempat tujuan kami. Namun saat itu sesuatu yang buruk menimpa Donghae, kedua orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat saat mereka sedang terbang menuju Swiss untuk mengurusi aset-aset mereka yang berada di sana. Saat itu untuk pertama kalinya aku melihat Donghae menjadi sosok yang pemurung dan terlihat sudah tidak memiliki semangat hidup lagi karena sejak kecil ia memang sangat dekat dengan kedua orangtuanya, terutama ibunya. Meskipun kedua orangtua Donghae sangat sibuk, namun mereka tetap menyisihkan waktu mereka untuk Donghae. Berbeda denganku yang sejak dulu tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ibu, karena ibuku meninggal saat melahirkanku. Sedangkan aku sendiri tidak terlalu dekat dengan ayahku, karena ayahku adalah tipe pria kaku yang tidak bisa bersikap hangat pada anaknya. Dulu melihat Donghae yang begitu akrab dengan kedua orangtuanya membuatku sangat iri. Aku ingin memiliki keluarga sempurna seperti milik Donghae. Tapi sayangnya keluarga sempurna milik sepupuku itu tidak bertahan lama, karena keluarga bahagia itu hanya mampu bertaha selama sepuluh tahun. Dan setelah itu hak asuh Donghae jatuh pada kakek kami karena memang hanya kakeklah satu-satunya keluarga yang kami miliki. Meskipun aku memiliki seorang ayah yang hingga saat ini masih hidup, namun aku tak pernah sekalipun menganggap ayahku bagian dari keluarga karena ia memang tidak pernah ada untukku. Bahkan disaat adik kandungnya meninggal karena kecelakaan pesawat, ia hanya menghubungiku dan menyuruhku untuk mengatakan pada Donghae jika ia turut berduka cita atas kematian adiknya. Yaahh, ayahku memang jerk sejati. Dan aku sangat membencinya hingga detik ini.

Kemudian setelah kedua orangtuanya dimakamkan, Donghae resmi tinggal di rumah utama, bersamaku dan kakek. Namun hingga berbulan-bulan Donghae tinggal bersama kami, ia masih tidak bisa melupakan kesedihannya. Berbagai cara telah kulakukan untuk menghiburnya, namun itu tidak pernah berhasil karena Donghae adalah tipe pria yang keras. Dan mungkin kekerasannya itu hanya mampu dihancurkan oleh ibunya. Karena cukup prihatin dengan kondisi Donghae yang mulai terperosok jauh ke dalam kesedihannya, kakek mulai bersikap tegas padanya. Ia tidak lagi membiarkan Donghae berkubang dalam kesedihannya, kakek mulai memberikan pendidikan yang keras pada Donghae agar ia bisa tumbuh seperti yang diharapkan oleh kakek, menjadi penerus klan Lee yang terhormat. Sejak dulu kakek memang tidak pernah mengharapkanku menjadi pemimpin dari semua perusahaannya karena kakek tahu aku tidak memiliki kemampuan dalam hal memimpin. Ia tahu jika aku memiliki satu kelemahan yang hingga saat inipun aku tidak tahu apa, namun aku cukup bersyukur karena itu tandanya aku tidak perlu berlajar keras seperti Donghae, hingga dulu aku sering melihat Donghae bangun dengan wajah seperti zombie karena ia kurang tidur. Setiap hari kakek selalu menjejali kami dengan berbagai pelajaran hingga rasanya otak kami akan meledak, namun untukku, kakek hanya memberikan waktu belajar selama sepuluh jam, sedangkan Donghae lima belas jam, namun sisa jamnya digunakan untuk belajar hal-hal mengenai kepemimpinan yang diajarkan langsung oleh kakekku karena menurutnya gaya kepemimpinan di keluarga Lee hanya mampu diturunkan secara turun temurun dan tidak bisa dipelajari di sekolah maupun bersama guru privat manapun.

Delapan tahun kemudian sejak kedua orangtua Donghae meninggal, kakek kamipun juga turut menyusul anak bungsu dan menantunya untuk menghadap sang pencipta. Kakek meninggal karena sakit keras yang dideritanya sejak tiga tahun belakangan. Ketika kakek meninggal kami berdua sangat merasa sedih. Terutama aku, karena aku selama ini belum pernah merasakan rasanya kehilangan, sedangkan Donghae sudah pernah mengalaminya, sehingga ketika kakek meninggal, Donghae hanya menunjukan kesedihan samar kemudian ia kembali bersikap biasa seperti tidak pernah terjadi apapun padanya. Keesokan harinya, atau lebih tepatnya sehari setelah kakek kami meninggal, pengacara pribadi kakek langsung datang ke rumah kami dan memberikan seluruh harta-harta milik keluarga Lee kepada kami. Namun kakek meninggalkan tanggungjawab yang lebih banyak pada Donghae karena sejak awal ia memang telah disiapkan untuk menjadi penerus klan Lee. Dan setelah itu aku merasa hidup Donghae seperti sebuah mesin yang diprogram untuk pergi ke universitas dan kantor. Meskipun sejak kecil kami sudah dijejali berbagai macam pelajaran, namun kami tetap harus pergi ke universitas dan menjalankan pendidikan yang setinggi-tingginya demi meningkatkan kredibilitas kami sebagai anggota keluarga Lee dan juga penerus keluarga Lee.

Di awal masa perkuliahan Lee Donghae masih bersikap wajar, dengan pergi ke universitas sesuai jadwal, lalu ia akan pulang sebentar untuk makan siang, dan setelah itu melanjutkan aktivitasnya dengan menjadi CEO di perusahaan utama milik Lee Corp. Hal itu kira-kira berjalan sekitar tujuh bulan. Namun setelah itu aku melihat sosok Lee Donghae yang berbeda. Ia terlihat bukan lagi seperti sepupuku yang dingin dan penurut, ia mulai berani melanggar aturan yang dibuat mendiang kakek kami dan ia mulai menikmati hidup seperti apa yang seharusnya kami lakukan sejak dulu. Tapi semakin lama aku merasa apa yang dilakukan oleh Donghae mulai menyimpang. Ia terjerumus ke dalam kelompok radikal Korea dan ia hampir saja ditangkap oleh polisi karena ia beberapa kali bergabung dalam sindikat itu untuk membunuh orang-orang yang menurut mereka bersalah. Namun karena kekuasaan keluarga kami, akhirnya Donghae lolos dari hukum itu dan polisi tidak pernah lagi memasukan namanya ke dalam kelompok radikal itu. Tapi setelah ia mendapatkan masalah yang cukup berbahaya seperti itu, ia sama sekali tidak jera. Ia kemudian mencoba berbagai hal menantang lain dengan menjadi salah satu pemain tetap dalam arena tarung bebas bersama para preman dan pembunuh bayaran yang lain. Setiap pagi, aku pasti akan menemukan satu atau dua luka lebam di wajahnya. Selebihnya aku bisa melihat lengan kirinya diperban, kakinya pincang, atau salah satu rusuknya patah. Yahh, bisa kukatakan saat itu merupakan titik balik seorang Lee Donghae, dimana biasanya ia menjalani kehidupannya dengan penuh kebosanan, kemudian ia mulai mencoba sesuatu yang lebih menantang dalam hidupnya. Bahkan dulu ia pernah terkenal karena image playernya yang sangat luar biasa gila. Dalam sehari mungkin ia bisa mengencani dua atau tiga wanita sekaligus, yang keseluruhannya adalah wanita-wanita berkelas yang biasanya adalah anak salah satu pejabat, artis, atau anak dari rekan bisnis kakek. Tapi kupikir saat itu Donghae memang hanya ingin bermain-main dengan kehidupannya. Ia hanya ingin merasakan apa yang telah ia lewatkan selama ini karena didikan keras dari kakek kami.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia kami, Donghae mulai bersikap lebih dewasa. Ia mulai meninggalkan kehidupan hitamnya dan mulai fokus dengan kursi kehormatannya untuk meneruskan kejayaan klan Lee. Saat itu entah kepala kami sedang terbentur atau apa, kami berdiskusi mengenai masa depan perusahaan kami yang beberapa tahun sempat terbengkalai karena kebengalan kami. Saat itu kami berdiskusi seperti dua orang pria dewasa yang terlihat bijaksana dan penuh ambisi yang meluap-luap. Kemudian sejak saat itu aku mulai sadar jika kami sudah benar-benar matang dan dewasa. Kami bukan lagi anak ingusan berusia sepuluh tahun yang selalu dilingkupi kesedihan karena tidak memiliki orangtua atau anak remaja liar yang sering membuat keributan untuk mengganggu orang lain. Kini kami adalah pria dewasa yang harus menggantikan tugas kakek untuk menjaga kejayaan dan kehormatan keluarga Lee. Namun sikap arogan dan licik Donghae tak bisa hilang begitu saja. Sikap yang ia bawa dari kelompok radikal itu terus melekat dalam dirinya, sehingga siapapun yang berani menghalangi langkahnya, maka ia tidak segan-segan untuk membunuh orang itu. Hingga pada suatu hari ada seorang pria tua bodoh yang berusaha mencuri sedikit uang milik Donghae untuk melunasi hutang-hutangnya. Tapi sialnya pria itu sudah terlebihdulu tertangkap basah oleh Donghae saat sedang melakukan transaksi dengan salah satu musuhnya. Sehingga tanpa perlu berlama-lama Donghae langsung menghancurkan kehidupan pria itu hingga tak ada yang tersisa sedikitpun. Bahkan Donghae telah merencanakan balasan yang cukup keji untuk pria itu, yaitu dengan memperkosa anaknya di depan pria bodoh itu sebelum ia membunuh putrinya di depannya agar pria itu merasakan kehancuran yang sehancur-hancurnya. Tapi entah kenapa semuanya berubah begitu saja ketika Donghae melihat putri pria bodoh itu untuk pertama kalinya. Niat Donghae untuk memperkosa wanita itu ia batalkan dan ia justru menyekap wanita itu untuk berhari-hari, namun ia juga tak kunjung mengambil tindakan untuk wanita itu. Justru Donghae menembak pria malang itu seminggu kemudian tanpa repot-repot membiarkan pria itu tersiksa terlebihdulu seperti rencana awalnya. Dan malam harinya, ketika aku menemuinya untuk mengetahui alasannya mengapa ia memutuskan untuk mengakhiri kehidupan pria itu lebih cepat, Donghae hanya menjawab jika pria itu memang tidak pantas hidup. Namun belakangan aku tahu alasan dibalik sikap Donghae yang memilih untuk membunuh pria tua itu karena pria itu menjual anaknya sendiri pada mafia untuk menjadi pelacur di rumah bordil.

Dan sekarang aku sangat paham jika Donghae begitu mencintai isterinya. Meskipun Donghae tidak pernah mengatakan secara gamblang jika ia mencintai Yoona, namun setiap tindakan yang ia tunjukan pada isterinya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan jika ia sangat mencintai Yoona. Sepupuku yang dulu selalu menutup hatinya untuk seorang wanita, kini merasakan kepayahan karena harus berhadapan dengan seorang wanita keras yang tak mudah ditaklukan. Jika selama ini semua wanita tunduk di bawah kakinya karena semua hal yang ia miliki, Yoona justru meludah di wajahnya dan sama sekali tidak mau tunduk di bawah kuasa Donghae yang sangat dominan itu. Namun sebagai seorang saksi dan penonton dari kisah cinta mereka yang rumit, aku sebenarnya sangat kagum dengan perjuangan mereka untuk menyesuaikan satu sama lain karena pada dasarnya mereka memiliki dua kepribadian yang sangat bertolak belakang. Dan hal itu mereka lakukan demi sebuah kehidupan kecil yang mulai tumbuh di rahim Yoona dua bulan sejak mereka menikah. Mereka rela menurunkan ego mereka demi keponakanku yang sangat menggemaskan, Lee Hyoje. Bisa dikatakan jika Lee Hyoje adalah seorang malaikat yang diturunkan Tuhan untuk memadamkan bara api yang selama ini membentang diantara kedua manusia keras itu, Lee Donghae dan Im Yoona. Kini setelah sekian lama aku tidak melihat sisi mengerikan Donghae, sisi itu kini muncul kembali. Lee Donghae kembali menjadi dirinya yang dulu, saat ia belum bertemu dengan Yoona. Ia kembali menjadi pria dingin mengerikan yang hampir tak tersentuh karena ia terus berkutat dengan kemarahannya sendiri.

“Daddy.. Uncle, kenapa daddy hanya duduk di sana tanpa melakukan apapun? Apa daddy sudah tidak sayang padaku?”

Pagi ini aku mendapati keponakanku melakukan protes padaku karena daddynya yang mulai tak perhatian padanya. Sebagai satu-satunya paman yang ia miliki, aku mencoba menjawabnya dengan jawaban diplomatis yang lebih diterima oleh anak-anak. Tapi sialnya keponakanku itu terlalu kritis hingga aku dibuat mati kutu dengan pertanyaannya yang seperti tak berujung itu.

“Uncle, apa mommy dan daddy tidak saling menyayangi lagi? Sejak mommy bangun dari tidur panjangnya Hyoje tidak pernah melihat mommy bersikap lembut lagi pada daddy, Hyoje justru melihat mommy marah-marah pada daddy.”

“Mereka saling menyayangi, angel….”

“Tapi kenapa mommy pergi?” Potong Hyoje cepat dengan wajah jengkel dan hampir menumpahkan air mata karena jawabanku yang tidak memuaskannya dan juga karena luapan emosinya ketika melihat orangtuanya sibuk dengan ego mereka masing-masing.

“Mommymu hanya ingin menjernihkan pikiran sejenak, ia pasti akan kembali atau daddymu yang mengerikan itu akan menyeret mommymu untuk kembali.” Jawabku akhirnya dengan nada frustasi. Jujur aku sudah kehabisan kata untuk menjawab setiap pertanyaan kritisnya. Dan hal itu tak pelak membuatku teringat pada Yoona, karena sejauh yang kukenal ia ternyata adalah wanita lembut yang sangat baik. Selama ini ia sering mengunjungiku dan membawakan berbagai makanan lezat hasil masakannya karena ia sangat pintar memasak. Padahal dulu aku sempat berpikir jika Yoona sama saja dengan jalang-jalang di luar sana. Tapi…. aku salah. Aku bahkan benar-benar menyesal karena pernah menilainya dengan sangat buruk seperti itu, karena sebenarnya Yoona memiliki sisi keibuan yang selama ini tertutup oleh sisi kerasnya. Dan menurutku hal itulah yang membuat Donghae tak bisa berpaling dari Yoona karena sejak hubungan mereka membaik, Donghae seperti menemukan sosok ibunya dalam diri Yoona. Meskipun beberapa kali mereka kerap melakukan adu mulut, namun tetap saja mereka akan kembali baik-baik saja, dan justru pamer kemesraan di depanku hingga aku benar-benar iri dengan kehidupan rumah tangga mereka yang sempurna. Mungkin saat ini Tuhan hanya ingin menguji ketahanan cinta mereka melalui kecelakaan yang menimpa Yoona hingga berujung pada hilangnya ingatan wanita itu.

“Hyuk, apa kau sudah menemukan dimana keberadaan Siwon?”

Tiba-tiba saja Donghae sudah muncul di hadapanku sambil mengelus puncak kepala anaknya dengan sayang. Ia kemudian meraih Hyoje dari gendonganku dan memeluk erat putrinya sambil menciumi puncak kepala Hyoje berkali-kali. Mungkin jika aku adalah wanita, aku pasti sudah menangis karena melihat interaksi mereka yang sangat mengiris hati dan juga mengharukan. Mereka pasti sangat kehilangan sosok Yoona.

“Sejauh ini anak buahku masih mencari, tapi menurut anak buahku saat ini Siwon sudah tidak bekerja di pom bensin itu, ia sudah mengundurkan diri dua minggu sebelum Yoona kecelakaan. Tapi ada satu hal yang membuatku berpikir jika Siwon berkaitan dengan kecelakaan yang terjadi pada Yoona karena kamera cctv yang dipasang di supermarket menangkap potret wajah Siwon yang sedang berada di antara kerumunan orang-orang yang mengerubungi Yoona, namun setelah itu ia memilih pergi dan terlihat seperti tidak pernah melihat sebuah kecelakaan yang menimpa mantan kekasihnya. Menurutmu apa yang terjadi pada mereka? Mungkinkah mereka terlibat konflik sebelumnya hingga menyebabkan Yoona berjalan tergesa-gesa di supermarket dan tidak melihat adanya mobil yang melaju kencang di depannya?”

“Kenapa kau berpikir seperti itu? Kau tidak sedang ingin menguji kesabaranku bukan? Kehilangan Yoona dan mengetahui fakta bahwa Yoona melupakanku sudah membuatku sangat marah, sekarang kau justru menambahi masalahku dengan hipotesis baru mengenai kedekatan Siwon dan Yoona di belakangku, kau sengaja ingin membuatku meledak, hah?” Desis Donghae penuh peringatan di depanku. Aku mencoba menenangkannya dengan menepuk punggungnya santai sambil memperingatinya jika Hyoje saat ini sedang tertidur di dalam pelukannya. Jika ia tidak bisa mengontrol emosinya dan berbicara terlalu keras, Hyoje bisa saja terbangun dan juga menangis karena terkejut.

“Aku tidak ingin membuatmu semakin meledak, tapi aku hanya ingin kau menyelidiki lebih jauh mengenai Siwon karena pria itu cukup misterius. Ia pasti memiliki rencana tersendiri untuk membalasmu karena ia selama ini begitu gigih dalam membangun kehidupannya yang kau hancurkan sebelumnya. Lebih baik kau mulai mempersiapkan diri unruk hal-hal mengejutkan yang akan terjadi pada hidupmu.” Peringatku padanya. Donghae tampak termenung di depanku sambil mengetatkan rahangnya kuat-kuat. Ia pasti sedang menahan amarah yang meluap-luap di dalam dirinya, tapi keadaannya saat ini menututnya untuk berpikir dengan kepala dingin karena jika ia hanya mengedepankan kemarahannya, ia justru akan dikalahkan oleh Siwon dengan mudah karena pria itu sejak awal sudah memikirkan tentang hal ini, membuat Donghae marah dan lengah disaat bersamaan.

“Aku pasti akan segera mengumpulkan bukti-bukti mengenai Choi Siwon, dan jika Yoona memang benar bersama Siwon saat ini, maka aku akan membiarkan mereka bersama untuk beberapa saat. Hanya beberapa saat sebelum aku memisahkan mereka untuk selama-lamanya.”

Aku bisa melihat adanya kilatan amarah, dendam, dan kesakitan yang begitu pekat di dalam matanya. Dalam keadaan seperti ini maka Donghae akan sangat berbahaya untuk siapapun. Dan siapapun yang berani menantang Donghae dalam keadaan seperti ini, maka orang itu harus siap dengan resiko kematian yang akan dihadapinya.

Hyukjae pov end

                                                                        -00-

“Jjjangan sakitii aku, kumohon…”

            “Ssshhh… aku tidak akan menyakitimu sayang, aku akan menikmati tubuhmu.”

            “Jjjangan, kumohon jangan!”

Brakk

            “Lepaskan dia brengsek, wanita itu milikku.”

Bugh bugh bugh

            “Kyaaaa!!!”

            “Ayo pergi!”

            “Sssiapa kau? Kenapa kau menyelamatkanku?”

            “Huh, kau tidak mengenalku? Aku Lee Donghae, ayahmu berhutang banyak padaku. Ayo.”

            “Kau mau membawaku kemana?”

            “Kau akan tahu nanti.”

 

 

            “Kau membunuh ayahku!”

            “Ya, aku membunuh pria keparat itu. Memangnya kenapa? Bukankah seharusnya kau berterimakasih padaku karena aku telah membunuh bedebah busuk yang sudah menjualmu ke rumah bordil.”

            “Tidak, dia tetap ayahku! Kau pembunuh! Lepaskan aku, kembalikan kehidupanku! Aku tidak mau di sini. Aku tidak mau! Kau pembunuh, lepaskan akuuuuuuu!!”

Yoona terbangun dengan keringat yang mengucur deras dari keningnya dan juga nafas yang tampak memburu. Cepat-cepat wanita itu meraih gelas berisi air putih di samping ranjangnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering akibat mimpi buruk yang sering dialaminya sejak ia kabur dari rumah pria itu, pria yang telah mengaku sebagai suaminya, Lee Donghae.

Tok tok tok

“Yoona, kau sudah bangun?”

“Yyya, aku sudah bangun.” Jawab Yoona tergagap ketika Siwon mengetuk pintu kamarnya beberapa kali. Wanita itu kemudian segera menyingkap selimut tebalnya dan berjalan menuju jendela besar yang berada di kamarnya untuk menghirup udara segar pagi hari yang menenangkan. Saat ia membuka jendela, cahaya matahari langsung menyorot wajahnya tanpa malu-malu dan membuatnya seketika menyipitkan matanya karena silau. Ia kemudian menatap setiap lalu lalng pejalan kaki yang berjalan di bawah apartemen milik Siwon yang terlihat cukup menarik untuknya. Dari atas sana ia bisa melihat orang-orang itu terlihat bahagia dan seolah-olah tanpa beban. Berbeda dengannya yang selalu dihantui mimpi buruk hingga membuat tidurnya tidak nyaman. Bahkan semakin lama ia bersama dengan Siwon, mimpi-mimpi itu justru seperti hantu yang terus menerornya setiap malam. Dan tak jarang ia mengalami insomnia karena ia tidak bisa memejamkan matanya lagi jika mimpi mengenai pria itu selalu hadir di tengah-tengah tidur nyenyaknya.

“Kenapa mimpi itu terasa nyata?” Gumam Yoona pelan pada udara kosong disekitarnya. Ekor matanya lantas kembali menyapu keadaan para pejalan kaki di bawah sana yang setidaknya mampu mengalihkannya dari mimpi-mimpi buruk yang dialaminya. Namun dari kejauhan ia dapat melihat seorang pria dengan stelan jas hitam sedang berdiri di bawah lampu jalan sambil menatapnya intens. Awalnya ia pikir pria itu hanya iseng dengan menatapnya secara acak di tengah-tengah kegiatannya yang sedang menunggu bus atau apapun itu, namun lambat laun Yoona mulai menyadari jika pria itu memang sedang menatapnya dengan sengaja. Pria itu berkacamata itu bahkan memberikan seringaian mengerikan padanya hingga membuatnya berdebar-debar dengan wajah pucat. Ia takut jika pria itu adalah salah satu mata-mata yang disewa Donghae untuk menemukannya. Namun setelah beberapa saat ia menatap pria itu, tiba-tiba saja pria misterius itu menurunkan kacamatanya sedikit dan menyeringai kearahnya dengan wajah mengerikan hingga membuat wajahnya pucat pasi.

“Lee Donghae…. Tidak mungkin!”

Yoona mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikirannya yang mulai teracuni oleh sosok Lee Donghae yang sering menghantui tidur nyenyaknya. Ia lalu memberanikan diri untuk kembali melihat ke bawah, namun sayangnya pria itu sudah menghilang dari tempatnya. Kini tempat pria itu berdiri sudah digantikan oleh seorang wanita muda yang tampak sedang menunggu datangnya bus yang akan menjemputnya. Yoona kemudian menangkupkan wajahnya dengan frustasi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali agar ia tidak perlu memikrkan ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi. Lagipula ia sudah berhasil hidup dengan baik selama sepuluh hari ini tanpa adanya Donghae ataupun anak buahnya yang mencarinya, jadi ia harus yakin jika semuanya akan baik-baik saja. Pria itu tidak mungkin menemukannya di dalam apartemen milik Siwon yang tersembunyi karena Siwon memang memilih tinggal di apartemen yang jauh dari pusat kota.

“Yoona…”

“Haahh!!”

Yoona berjengit kaget ketika Siwon menyentuh pundaknya dan menatap khawatir kearahnya. Pria itu melihat adanya raut ketakutan di wajah pucat Yoona, lalu ia menarik Yoona ke dalam pelukaanya agar wanita itu lebih tenang.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Siwon pelan yang langsung dijawab Yoona dengan gelengan kepala.

“Aku melihat pria itu di bawah sana. Ia sedang menatapku dengan seringaian yang sangat mengerikan dan aku sangat takut oppa. Aku takut pria itu akan datang dan mengurungku lagi di rumahnya yang seperti neraka itu. Oppa, aku takut.” Ucap Yoona lirih sambil menangis di dalam pelukan Siwon yang hangat. Siwon kemudian melongokan kepalanya sedikit ke bawah untuk memastikan jika apa yang Yoona katakan benar, tapi sayangnya ia tidak melihat apapun yang tampak mencurigakan di bawah sana. Ia justru melihat sekumpulan remaja sedang bersenda gurau sambil berteriak-teriak berisik dengan suara mereka yang mengganggu. Merasa jika Yoona sudah mulai terlarut dalam ketakutannya, Siwon merasa perlu untuk meluruskannya pada Yoona. Ia tidak ingin Yoona terus menerus dihantui oleh bayang-bayang pria keparat itu dan berubah menjadi wanita gila yang terus berhalusinasi mengenai sesuatu yang tidak nyata.

“Yoong, lihat aku.”

Siwon memaksa Yoona untuk mendongak dengan menarik dagu wanita itu kearahnya.

“Apa yang kau lihat tidak nyata. Lee Donghae tidak mungkin menemukanmu di sini karena tempat ini sangat jauh dari pusat kota, jadi kau tidak perlu mencemaskan apapun selama berada di sini. Aku akan selalu melindungimu Yoong, aku janji.” Ucap Siwon sungguh-sungguh sambil menatap manik karamel itu dalam. Siwon lalu mendekatkan wajahnya dan mulai melumat bibir Yoona lembut. Sedangkan Yoona secara refleks langsung menutup matanya sambil menikmati setiap getaran yang diberikan Siwon pada bibirnya. Namun… saat ia menutup matanya, lagi-lagi bayang-bayang yang terlihat mengabur mulai berlomba-lomba untuk menyusup di dalam kepalanya hingga membuatnya pening.

 

“Aku akan memberi nama putri kita Lee Hyoje karena ia bagaikan sesosok malaikat yang datang untuk menyinari kehidupan kita yang penuh dengan kegelapan. Terimakasih Yoona, karena kau telah memberikanku sesuatu yang tak pernah kurasakan selama ini.”

 

            “Ini untukmu, kupikir ini adalah hari ulang tahunmu karena menurut anak buahku kau lahir di tanggal tiga puluh mei. Selamat ulang tahun.”

            “Terimakasih, ini adalah kado yang indah.”

 

            “Yoona, meskipun aku tidak pernah menyatakan perasaan cintaku seperti pria-pria lain di luar sana, tapi percayalah jika aku akan selalu memberikan nyawaku dan loyalitasku padamu. Tolong jangan pernah meninggalkanku, tetaplah di sisiku sebagai isteriku dan ibu dari anak-anakku.”

           

            “Lee Yoona dan Lee Hyoje, kalian adalah wanita-wanita yang sangat berharga untukku.”

            Tiba-tiba Yoona mendorong tubuh Siwon dan memutuskan tautan bibir diantara mereka dengan paksa sambil menatap Siwon dengan tatapan sedih dan perasaan bersalah.

“Maafkan aku oppa, aku… aku sepertinya merasa pusing.” Ucap Yoona dengan wajah kacau yang terlihat menyedihkan. Melihat Yoona yang kembali dilanda kemurungan membuat Siwon ungin merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya lagi, namun Yoona menolaknya dan meminta Siwon untuk meninggalkannya sendiri di dalam kamar karena ingin menjernihkan pikirannya sejenak dari bayang-bayang aneh yang kembali menyusup ke dalam kepalanya.

“Tolong berikan aku waktu sebentar oppa, setelah itu aku janji akan keluar untuk sarapan bersamamu.”

“Apa kau baik-baik saja? Kau ingin aku mengambilkan secangkir teh?” Tawar Siwon dengan wajah khawatir. Yoona menggelengkan kepalanya lemah sambil menangkup pipi Siwon dengan kedua telapak tangannya yang terasa dingin.

“Aku hanya ingin berbaring sebentar, aku janji setelah itu aku akan baik-baik saja.”

Siwon pun mengangguk mengerti sambil mengecup kedua tangan Yoona bergantian dan segera beranjak keluar dari kamar wanita yang ia cintai.

Sepeninggal Siwon dari kamarnya, tubuh Yoona langsung meluruh di samping ranjang sambil menelungkupkan kepalanya diantara kedua lututnya. Meskipun saat ini ia tidak bisa mengingat apapun di masa lalu, tapi ia yakin jika semua bayangan yang ia lihat akhir-akhir ini adalah potongan kejadian di masa lalu yang melibatkannya. Dan setelah melihat itu semua, kini hatinya merasa ragu. Ia ragu apakah ia bisa menjalani kehidupannya dengan Siwon jika bayangan itu terus menghantuinya hingga rasanya ia hampir gila. Ia tidak mungkin bisa hidup bahagia dengan kekasihnya, sementara bayangan pria lain dan juga anak kandungnya terus menari-nari di dalam kepalanya.

“Argghhhh!!! Kenapa rasanya menyakitkan.” Ucap Yoona frustasi sambil menekan dadanya yang terasa sesak. Mungkin ia memang tidak boleh terus bersembunyi bersama Siwon, ia harus keluar dari persembunyiaannya dan menyelesaikan masalahnya dengan pria itu, atau ia akan hidup menderita seumur hidup karena menanggung beban mental yang begitu berat di hatinya.

-00-

“Yoona kuharap hari ini kau akan lebih bahagia.”

“Uhumm, tapi… kemana kita akan pergi oppa?” Tanya Yoona penarasan sambil menatap penuh antusias pohon-pohon pinus yang terlewat oleh mobil Siwon yang melaju dengan kecepatan sedang. Malam ini mereka memutuskan untuk pergi keluar dan menghirup udara segara untuk mengusir kepenatan yang mengganggu pikiran mereka akhir-akhir ini. Selain itu Siwon juga ingin membuktikan pada Yoona jika ketakutan wanita itu tidak nyata. Ia ingin membuat Yoona melupakan seluruh masa lalunya bersama Donghae dan hanya menatapnya seorang sebagai pria yang sangat dicintainya. Lagipula sekarang ia telah memiliki sekutu yang akan membantunya untuk menjatuhkan Donghae sehingga ia tidak perlu khawatir jika pria itu akan menghancurkannya seperti dulu.

“Hari ini aku akan membawamu ke tempat pertama kali kita berkencan.”

“Berkencan? Tunggu, memangnya dimana tempat kita pertama kali berkencan oppa? Bukankah saat itu kita bertemu di perusahaan saat kau baru saja menjalin kerjasama dengan perusahaan ayahku?” Tanya Yoona sambil berpikir. Wanita itu mencoba mencari sisa-sisa memorinya di masa lalu mengenai hubungannya dengan Siwon, namun sayangnya yang terlintas di dalam pikirannya pertama kali adalah Donghae dan tubuh atletis pria itu setelah mereka melakukan percintaan panas yang dipaksakan malam itu.

“Yoona.. apa kau baik-baik saja?”

Siwon memegang telapak tangan Yoona khawatir ketika Yoona cukup lama terdiam di sampingnya dengan kening berkerut-kerut dan wajah terganggu. Namun cepat-cepat Yoona mengembalikan kesadarannya dan tersenyum sumringah di depan Siwon untuk menunjukan jika ia baik-baik saja.

“Aku tidak apa-apa, hanya sedang berpikir.” Bohong Yoona dengan lancar. Akhirnya Yoona memilih untuk menyerah dan tidak melanjutkan kegiatannya untuk berpikir karena setiap kali ia menggunakan otaknya untuk menggali masa lalu, justru kenangannya bersama Donghae dan Hyoje yang muncul di dalam kepalanya.

“Baiklah, aku akan memberitahumu. Malam ini kita akan mendatangi restoran sushi, restoran yang menjadi tempat pertama kali kita berkencan.”

Siwon mengambil tangan Yoona yang bertengger manis di atas dashboard, kemudia ia menciumi jari-jari lentik itu satu persatu hingga membuat Yoona terkikik karena geli.

“Sayang sekali aku tidak terlalu ingat bagaimana kencan pertama kita oppa, tapi kuharap aku akan selalu mengingat kencan kita hari ini.”

Yoona menyunggingkan senyum lebarnya pada Siwon dan terlihat begitu antusias dengan acara makan malam mereka. Dari samping, Siwon tersenyum lega karena akhirnya ia dapat melihat senyum cantik Yoona yang telah lama ia rindukan. Sejak wanita itu tinggal bersamanya, Yoona lebih sering terlihat murung dan pucat karena serangan mimpi buruk yang menurut wanita itu sangat mengganggunya, namun ia harap rencananya kali ini dapat membangkitkan semangat Yoona untuk melupakan masa lalunya dan mulai menjalani masa depannya dengan penuh sukacita.

-00-

Yoona dan Siwon sedang bersenda gurau di salah satu meja di dalam restoran sushi sambil mengenang masa lalu mereka yang sedikit dilupakan Yoona. Sesekali Siwon memberikan lelucon yang membuat Yoona tertawa hingga Yoona rasanya mampu melupakan masalahnya sejenak. Tak berapa lama seorang pelayan muncul dengan satu nampan penuh berisi makanan pesanan mereka yang terlihat banyak untuk dimana oleh dua orang. Namun kali ini Siwon memang sengaja memesan semua makanan spesial di restoran itu untuk merayakan kebahagiaanya hari ini karena mampu merebut Yoona kembali dari Lee Donghae. Lebih tepatnya ia berhasil memanfaatkan amnesia Yoona dengan baik untuk memiliki wanita itu, sekaligus untuk membalaskan dendamnya pada Lee Donghae.

“Oppa, kita sepertinya memesan terlalu banyak makanan. Aku tidak yakin bisa menghabiskan semua ini.”

Yoona terlihat begitu berbinar-binar dengan semua makanan yang tersaji di depannya. Ingin sekali ia menghabiskan semua makanan itu sendirian karena terlihat begitu menggiurkan, tapi sayangnya ia yakin jika perutnya tidak akan muat untuk menampung semua itu.

“Aku sengaja memesan semua makanan ini untukmu Yoong, dulu kau sangat suka sushi dengan perpaduan daging alpukat yang lembut di dalamnya.”

Siwon menyumpit sebuah sushi dengan irisan buah alpukat di dalamnya lalu menyuapkannya pada Yoona dengan begitu mesra hingga membuat kedua pipi Yoona bersemu merah dengan sangat menggemaskan.

“Bagaimana, kau suka?”

“Hmm, aku suka. Kurasa sushi jenis ini memang sushi favoritku. Sekarang giliran aku yang menyuapimu oppa.”

Yoona menyumpit sebuah sushi dengan balutan rumput laut di luarnya lalu mengarahkan irian sushi yang menggoda itu tepat di depan mulut Siwon. Dengan penuh sukacita Siwon menelan sushi itu bulat-bulat dan tersenyum manis pada Yoona dengan binar-binar bahagia yang terpancar dari wajahnya.

“Sudah lama sekali kita tidak melakukan makan malam romatis seperti Yoong. Sejak kau menikah dengan Lee Donghae dan menjalani kehidupan penuh kemewahan khas pria itu, kau berubah menjadi seorang wanita yang sulit untuk kugapai.”

“Maaf.”

Sedikit banyak ucapan Siwon mengenai Yoona memang benar. Semenjak menikah dan memiliki Hyoje, Yoona berubah menjadi wanita yang lebih berkelas khas seorang Lee Donghae. Setiap ia berusaha untuk menemui Yoona, wanita itu pasti selalu dikelilingi oleh pria-pria berjas hitam yang tidak pernah absen sedikitpun dari sekitar Yoona. Tapi meskipun begitu sebenarnya Yoona masihlah menjadi Yoonanya yang dulu, yang lembut dan penuh kasih sayang. Namun akhir-akhir ini ia menyadari jika cinta Yoona untuknya sudah sepenuhnya lenyap. Wanita itu tidak lagi memandangnya sebagai pria yang dicintainya, tapi lebih pada pria yang dikasihaninya. Beberapa kali Yoona memberikannya secara sembunyi-bunyi dari suaminya. Terkadang Yoona juga menitipkan makanan yang diberikan kepada salah satu rekannya untuk diberikan kepadanya. Tapi semakin lama ia muak dengan sikap Yoona padanya. Tujuannya mendekati Yoona adalah untuk mengambil kembali wanita itu dari sisi Lee Donghae, tapi sayangnya hati Yoona sudah berpaling pada pria itu. Entah apa yang dilakukan oleh Donghae hingga mampu membuat cinta Yoona untuknya berubah begitu saja. Karena ia sudah tidak tahan, ia memutuskan untuk mengatakan pada Yoona secara gamblang jika ia sangat mencintai wanita itu dan ia juga sudah bergabung dengan salah satu musuh terbesar Donghae untuk menghancurkan pria itu. Tapi sayangnya siang itu ia justru mendapatkan jawaban yang begitu mengejutkan dari Yoona. Secara terang-terangan Yoona mengatakan jika ia tidak lagi mencintainya. Ia dengan jujur mengatakan jika hatinya telah dimiliki oleh Donghae sepenuhnya dan ia sangat mencintai pria itu lebih dari apapun. Terlebih mereka sudah memiliki Hyoje yang merupakan pelengkap bagi hubungan rumah tangga mereka, sehingga ia tidak bisa lagi meneruskan hubungan cinta mereka yang pernah terjalin di masa lalu. Mendengar hal itu tentu saja ia marah. Pria mana yang tidak marah dan kecewa saat wanita yang ia perjuangkan mati-matian justru memilih pria lain yang telah memberikan segalanya. Ia kemudian memaksa Yoona untuk berdiri di sampingnya dan meninggalkan Donghae, tapi sayangnya wanita itu tidak mau dan marah. Yoona marah padanya dan memutuskan untuk segera kembali pada bodyguard-bodyguardnya yang telah menunggu di dalam mobil. Tapi karena saat itu ia sedang dipenuhi oleh kemarahan yang meluap-luap, ia mencoba mengejar Yoona agar wanita itu memikirkan kembali keputusannya untuk bertahan bersama Donghae karena ia masih sangat mencintai wanita itu dan ingin kembali bersama meskipun Yoona telah memiliki anak. Dan akhirnya karena Yoona terlalu terburu-buru untuk menjauh darinya, ia tidak menyadari jika ada sebuah mobil yang melaju kencang kearahnya. Dalam jarak dua meter ia melihat tubuh Yoona melayang dan kepala Yoona membentur aspal dengan keras karena ulahnya yang terus mendesak wanita itu untuk meninggalkan suami dan anaknya. Tapi setelah melihat Yoona tampak mengenaskan dengan darah yang bercecer di sekitar kepalanya, ia justru hanya memandang tubuh itu dengan datar dan meninggalkannya begitu saja tanpa berniat sedikitpun untuk menolongnya. Bahkan saat itu ia berharap agar Yoona mati daripada wanita itu harus hidup namun dimiliki oleh pria perusak kehidupannya. Tapi Tuhan justru tetap menghidupkan Yoona, namun dengan sebagian ingatan yang terhapus.

“Oppa, aku ingin ke toilet sebentar.”

Yoona menyentuh tangannya lembut dan terlihat terburu-buru untuk pergi ke toilet. Ia lalu bersiap berdiri untuk menemani wanita itu pergi ke toilet, namun Yoona segera menahannya dan memberikan senyuman menenangkan jika ia akan baik-baik saja.

“Aku bisa sendiri, oppa tunggu saja di sini.”

-00-

Yoona keluar dari bilik toilet dan mulai berjalan menuju wastafel untuk memperbaiki sedikit makeupnya yang luntur. Dengan gerakan luwes Yoona menambahkan sedikit bedak pada wajahnya dan memoleskan lipstik berwarna merah di bibirnya untuk mempertegas kembali penampilannya yang sedikit luntur akibat ia terlalu bersemangat untuk memakan semua sushi-sushi yang dipesan Siwon untuknya.

Sembari berdandan ia mengamati suasana kamar mandi di sekitarnya yang tampak sepi. Malam ini restoran yang ia datangi memang tidak terlalu padat, sehingga ia tidak heran jika saat ini ia sedang berada di dalam kamar mandi sendirian. Namun seketika bulu kuduknya meremang kala ia mendengar suara kloset yang ditutup dengan begitu keras dari balik sebuah bilik. Dengan perlahan Yoona mendekati bilik itu dan sedikit menempelkan telinganya ke dalam untuk memastikan jika bilik toilet itu sedang digunakan. Padahal sebelumnya ia sangat yakin jika ia hanya sendirian di dalam toilet itu. Tapi ia segera menepis jauh-jauh pikirannya yang liar agar ia tidak merasa takut dengan pikirannya sendiri.

“Semuanya akan baik-baik saja Yoong, semuanya akan baik-baik saja.”

Yoona mencoba mensugesti dirinya sendiri sambil mengatur nafasnya agar lebih rileks. Ia kemudian segera berbalik untuk berjalan pergi meninggalkan ruangan sempit yang sepi itu. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ia mendengar suara pintu di belakangnya terbuka, disusul dengan hembusan nafas hangat yang terasa begitu familiar di tengkuknya.

“Boo! Aku menemukanmu Yoong.”

Mendengar suara pria yang begitu familiar di telinganya membuat Yoona membeku seketika di tempat. Akhirnya apa yang ia takutkan menjadi kenyataan. Pria itu berhasil menemukannya.

“Sayang, aku merindukanmu.” Bisik pria itu seduktif di telinganya sambil memainkan helaian rambut yang menjuntai di sisi wajahnya dengan gerakan menggoda.

“Aaapa yang kau lakukan di sini?” Tanya Yoona tergagap sambil memejamkan matanya ketakutan. Dengan gerakan cepat Donghae langsung membalik tubuh kurus Yoona agar menghadap kearahnya yang membelai wajah cantik itu sambil memejamkan matanya penuh kenikmatan.

“Tentu saja untuk mejemputmu sayang, memangnya apa lagi, hmm?”

Donghae mulai mengendusi wajah Yoona dengan salah satu tangannya yang masih setia menari-nari disekitaran wajah Yoona. Lalu bibir tipis itu mulai menciumi setiap inci wajah Yoona dengan begitu rakus untuk mengobatik kerinduannya yang begitu menggila pada wanita itu.

“Kau tidak melakukan apapun dengan pria itu bukan? Karena jika pria itu berani menyentuhmu, kupastikan setelah ini kepalanya akan terpisah jauh dari tubuhnya.”

“Jangan bunuh Siwon oppa, dia tidak ada hubungannya dengan semua ini. Bawa saja aku dan tinggalkan Siwon oppa.” Ucap Yoona penuh permohonan. Kali ini ia memutuskan untuk menyelesaikan masalahnya dengan Donghae karena ia tidak mau dibuat ketakutan seperti beberapa hari yang lalu karena ia menghindar dari masalah yang seharusnya ia hadapi. Meskipun memang ia tidak mau kembali pada pria itu, tapi setidaknya ia tidak dihantui rasa cemas dan ketakutan setiap malam karena ia terus merasa Donghae selalu mengintainya dari balik jendela kamarnya yang gelap.

“Hmm, aku setuuju dengan idemu, kita memang tidak boleh melibatkan orang luar ke dalam urusan rumah tangga kita. Dan sebelum kita pergi, aku ingin mencicipi bibirmu terlebihdahulu.”

Donghae mendekatkan wajahnya pada bibir Yoona dan mencium bibir wanita itu dengan menggebu-gebu dan sarat akan kerinduan. Yoonapun memilih untuk menutup matanya tanpa perlawana. Kali ini ia ingin membuktikan semua mimpi-mimpinya mengenai Donghae. Ia ingin hatinya menunjukan padanya siapa yang sebenarnya benar-benar ia cintai, Siwon atau Donghae. Saat ini meskipun Donghae menciumnya dengan penuh nafsu dan mungkin juga gairah, tapi ia justru menikmatinya. Ia seperti merindukan sentuhan itu dan tak ingin Donghae mengakhirinya dengan cepat. Selain itu bayang-bayang yang kerap menghantuinya terlihat semakin jelas ketika ia sedang berciuman dengan Donghae. Bayangan itu berputar-putar di dalam kepalanya seperti sebuah roll film yang sedang memutarkan film kehidupan mengenai dirinya dan juga pria itu bertahun-tahun yang lalu.

“Kurasa kita harus segera pergi dan mencari ranjang, malam ini kau terlihat menggoda Yoong.” Bisik Donghae serak di depan bibir Yoona. Yoona terlihat tersipu di depan Donghae, namun ia mencoba menyembunyikannya dengan bersikap acuh tak acuh. Sebisa mungkin ia menyembunyikan kegugupannya dengan bersikap sinis dan menolak genggaman tangan Donghae yang hangat di pergelangan tangannya.

“Kuharap kau benar-benar menepati janjimu dengan tidak menyentuh Siwon oppa seujung kukupun.” Peringat Yoona sebelum mereka keluar dari dalam toilet yang sepi. Donghae menggeram tidak suka pada Yoona, dan setelah itu ia segera menarik tangan Yoona sedikit lebih cepat karena mereka harus segera meninggalkan restoran itu. Beberapa saat yang lalu ketika ia tiba di sana, ia melihat beberapa orang mencurigakan yang sedang berjaga di sekitar lokasi restoran itu. Dan jika ia tidak salah mengira, maka orang-orang itu pasti adalah salah satu musuhnya yang telah bekerjasama dengan Siwon.

“Ssshhh…”

Ketika mereka akan melangkah keluar, tiba-tiba Donghae manarik tubuh Yoona dan memeluk wanita itu sambil berbisik lirih di telinganya.

“Sial! Mereka di sini.” Geram Donghae tertahan sambil menatap nyalang pada Siwon yang sedang berbicara pada beberapa orang dengan stelan jas. Yoona yang merasa penasaran mulai melirik arah pandang Donghae dan seketika ia merasa khawatir dengan keselamatan Siwon.

“Siapa orang-orang itu? Mereka bukan bagian dari anak buahmu yang akan mencelakai Siwon oppa kan?”

“Berhentilah memikirkan keselamatan orang lain yang hampir menghancurkan hubungan rumah tangga kita. Apa kau tidak bisa melihat jika mantan kekasihmu itu adalah orang yang licik, ia telah menyiapkan banyak ranjau di sekitar restoran ini untuk menangkapku. Ia tahu jika hari ini aku akan datang untuk menjemputmu.” Geram Donghae kesal karena sejak tadi Yoona terus menerus memikirkan Siwon tanpa memikirkan keselamatannya sendiri yang diujung tanduk.

“Memangnya apa yang dilakukan Siwon oppa? Kau jangan meracuni otakku dengan pikiran negatifmu mengenai Siwon oppa karena aku lebih mengenal Siwon oppa daripada dirimu.”

“Benarkah? Mari kita buktikan kalau begitu.”

Donghae kemudian menarik Yoona untuk keluar dari pintu belakang karena mereka jelas tidak mungkin keluar melalui pintu depan. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, beberapa pria dengan stelan jas serba hitam mulai mengejar mereka dan menghujani mereka dengan hujan peluru yang berhasil membuat kedua lutut Yoona gemetar karena ketakuran.

“Aaapa yang mereka inginkan? Mengapa mereka menembaki kita seperti itu?” Tanya Yoona ketakutan dibalik meja kasir yang cukup sempit untuk menampung dua orang sekaligus. Disebelahnya Donghae tampak menahan gusar karena ia dengan bodohonya telah masuk ke dalam perangkap Choi Siwon. Atau mungkin saja ada sesuatu yang tidak beres pada Yoona.

“Aku perlu melihat tubuhmu.”

Tanpa menunggu persetujuan dari Yoona, Donghae langsung meraba setiap inci tubuh Yoona untuk mencari alat-alat mencurigakan yang kemungkinan telah dipasang Siwon disekiatar tubuh Yoona, karena pria itu tidak mungkin mengetahui dimana keberadaanya jika ia tidak meletakan sesuatu pada tubuh Yoona..

“Apa yang kau lakukan padaku, hentikan!” Bentak Yoona marah sambil mencoba menjauhkan tubuh Donghae darinya. Namun tak lama kemudian Donghae menunjukan sebuah microphone kecil yang tersembunyi dibalik lipatan gaunnya sambil menyeringai penuh cemooh padanya.

“Lihat, mantan kekasihmu yang licik itu telah menggunakanmu sebagai umpan.”

Tanpa berlama-lama Donghae langsung menginjak microphone itu hingga hancur menjadi kepingan-kepingan kecil. Sedangkan Yoona masih belum bisa mempercayai kebenaran yang baru saja ia ketahui jika ternyata Siwon telah memanfaatkannya untuk menghancurkan Donghae. Ia sengaja dibawa keluar dari apartemen untuk memancing kedatangan Donghae karena sudah lebih dari satu minggu ia hanya mendekam di dalam apartemen untuk bersembunyi dari Donghae.

“Sekarang kita harus keluar dari sini, anak buahku sedang mencoba membereskan mereka. Tapi kau tidak boleh pergi seincipun dari sisiku karena kau rentan menjadi sasaran mereka. Sebisa mungkin aku akan melindungimu dari orang-orang jahat itu dan aku tidak akan membiarkanmu terluka sedikitpun.”

Untuk pertama kalinya Yoona dibuat tak berkutik dengan kata-kata Donghae yang begitu menyentuhnya itu. Ketika ia melihat manik pekat Donghae, ia bisa melihat adanya ketulusan yang selama ini tidak ia sadar dari Donghae. Ia pikir selama ini ia terlalu dibutakan dengan kemarahannya pada pria itu dan segala dendamnya karena pria itu sudah menghancurkan kehidupan tenangnya. Tapi jika Tuhan masih memberinya kesempatan, ia ingin menemukan kembali ingatannya yang hilang dan merubah penilaianya mengenai sosok Lee Donghae yang selalu terlihat jahat di matanya.

Ckrekk

“Sekarang ayo kita bergerak!”

Setelah menarik slot pelurunya dalam kondisi siaga, Donghae langsung menarik tangan Yoona keluar dari persembunyian sambil berlari tergesa-gesa melewati setiap pria-pria berjas hitam yang sedang mengincar mereka berdua. Dari kejauhan Siwon hanya mampu melihat Yoona sedang berusaha kabur bersama Donghae dengan hati teriris. Meskipun selama ini ia mencoba untuk mendapatkan wanita itu kembali, tapi nyatanya hati wanita itu sudah tertaut pada Donghae terlalu dalam. Sehingga meskipun Yoona tidak bisa mengingat kehidupannya yang manis bersama Donghae, tapi hati wanita itu tetap bergetar hanya untuk Donghae.

“Sekarang giliranmu, kau harus buktikan pada bos jika kau loyal padanya. Bunuh wanita itu dan juga pria keparat itu.”

Siwon menerima pistol kedap suara itu tanpa ekspresi dan langsung berjalan pelan membelah lautan mayat yang bergelimpangan di hadapannya. Sejak awal takdirnya memang bukan untuk memiliki Yoona, tapi untuk menghabisi Yoona sebagai bukti atas kesetiaanya pada bos besar yang telah menolongnya selama ini dari keterpurukan. Selain itu jika ia membiarkan Yoona hidup, ia sudah pasti tidak akan bisa mendapatkan wanita itu kembali. Jadi lebih baik ia mengakhiri semuanya sekarang agar hatinya yang telah terluka itu tidak semakin perih dan membusuk bersama kemarahannya yang tak bisa ia salurkan.

“Yoona berhenti!”

Dorr

Suara Siwon menggelegar bersamaan dengan bunyi peluru Donghae yang melesat cepat dan menembus dada salah satu musuhnya yang kini terkapar tak berdaya dengan darah segar yang mengalir dari dadanya. Ketiga orang itu kini saling berhadapan satu sama lain dengan ujung pistol yang saling diacungkan dalam kondisi siaga.

“Siwon oppa kenapa kau melakukan semua ini? Turunkan pistolmu, kita akhiri semua ini dengan damai.” Bujuk Yoona lembut dengan perasaan was-was. Salah satu tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung jas Donghae dengan erat seiring dengan luapan emosi yang membuncah di dalam dadanya.

“Aku harus membunuhmu dan pria keparat itu Yoong, jadi aku tidak bisa mengakhiri semua ini dengan damai seperti keinginanmu.”

“Oppa bukankah kita saling mencintai, kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kukira selama ini kau adalah kekasih sekaligus keluarga yang akan menolongku di saat aku terpuruk setelah aku tidak memiliki siapapun di duni ini, tapi kenapa kau justru melakukan hal ini?”

“Saling mencintai? Kau bilang kita saling mencintai? Kita tidak saling mencintai Yoong, hanya aku yang mencintaimu, sedangkan kau mencintai pria keparat yang telah membuat kehidupan kita menjadi hancur. Selama ini kau tidak pernah mencintaiku dan hanya mengasihaniku sebagai pria miskin yang tidak memiliki apa-apa. Bahkan di hari sebelum kau kecelakaan kau dengan terang-terangan memintaku untuk mundur karena kau ingin hidup bahagia bersama keluargamu. Kau egois Yoong! Kau meninggalkanku dengan berbagai kehancuran, sementara kau mendapatkan segala kebahagiaan dan juga gelimangan harta dari pria itu. Seharusnya saat itu kau mati agar aku tidak perlu membunuhmu dengan tanganku sendiri seperti ini.”

“Brengsek! Kau yang seharusnya mati!”

Donghae sudah bersiap untuk menembak Siwon, namun Yoona langsung menhalanginya dengan berdiri tepat di depannya sambil merentangkan tangannya lebar-lebar ke kanan dan ke kiri.

“Jangan tembak Siwon oppa, ia tidak bersalah.”

“Minggir Yoong! Kau tidak usah membelanya di depanku karena aku tetap akan membunuhnya apapun yang terjadi. Sekarang minggir!” Teriak Donghae marah sambil menarik tubuh Yoona agar menyingkir dari hadapannya.

Dorr

“Kyaaa!!!”

Brukk

Yoona berteriak histeris ketika tubuh Donghae tiba-tiba meluruh di dalam dekapannya dengan darah yang mulai mengucur deras dari punggungnya. Pria itu langsung terkulai begitu saja di atas dada Yoona sambil menahan rasa sakit yang mulai menjalar di setiap tubuhnya.

“Donghae!! Lee Donghae sadarlah! Donghae!”

Yoona mencoba mempertahankan kesadaran Donghae yang mulai menipis dengan menepuk-nepuk pipi pria itu berkali-kali dan juga mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tapi meskipun begitu tetap saja kesadaran Donghae berangsur-angsur menurun dan pria itu mulai memejamkan matanya dengan nafas tersenggal.

“Aaakhh… apa kau iingat jika aaku tidak ppernah menyatakan ccintaku padamu sselama ini, ttapi aku telah berjanji ppadamu akhh… uuntuk memberikan nyawaku dan jjuga lo loyalitasku padamu. Dan sekarang.. aku membuktikannya padamu Yyyong.”

“Tidak tidak tidak! Kau tidak boleh mati, kau masih berhutang banyak penjelasan padaku. Lee Donghae bangun! Bangun sekarang juga, Lee Donghae! Kau tidak boleh mati! Pria brengsek! Ayo bangun! Kubilang bangun sekarang juga!”

Yoona mengguncang-guncangkan tubuh Donghae berkali-kali sambil memaki-maki pria itu agar Donghae segera bangun untuk membalas setiap kata-kata kasar yang ia ucapkan seperti biasanya. Namun sekeras apapun ia berusaha, Donghae tetap menutup matanya rapat dengan nafas tersenggal yang perlahan-lahan mulai melemah di depannya. Tanpa sadar bulir-bulir air mata mulai mengalir dari matanya dengan deras hingga ia tak dapat menghentikan tamgis histerisnya yang memilukan. Padahal seharusnya ia berpesta pora atas kekalahan Lee Donghae malam ini. Tapi nyatanya ia justru mengeluarkan air mata untuk pria itu dan merasa takut ditinggalkan oleh pria itu. Melihat Donghae yang sedang berjuang diantara kematian dan kehidupan membuat hatinya sakit. Hatinya tidak mengijinkan pria itu pergi, sedangkan akal sehatnya terus bersorak untuk kematian pria itu.

Sekarang ia bingung, apa yang sebenarnya ia inginkan, kematian pria itu atau pria itu bernafas untuk dirinya?

28 thoughts on “(maybe) I LOVE YOU

  1. Complicated,,,, sequel dong… jgn sampe donghae nx ninggalin yoona, ntar yg bunuh siwon siapa klw bkn donghae. Hyuk jga gak muncul2, hikzzz sedihhh

  2. Yoona sdh tau hyoje adalah anak.a, tidkkah dia brpikir dia mrindukan.a ato mrasa brslah mninggalkn anak.a??

  3. Ada sequel lagi kah ? masa iya berakhir gini aja ..setelah Yoona yang kecelakaan sekarang Donghae yg harus meregang nyawa karna ketembak ..ayolah butuh end yg bahagia un .

  4. masih ada sequel kah ? please butuh sequel un ..belum liat mereka bener” bahagia ..baru aja Yoona yg kecelakaan dan sembuh masa iya sekarang Donghae nya juga ketembak ..satuin mereka kembali .

  5. jangan smpe hae ninggal 😭😭 dan ternyata siwon dibalik kecelakaannya yoong dan ini lagi2 ulah dia 😭😭 Huwaa sedihh,, moga hae cpat ditolong dan slamat..

    next kk.. fighting!!

  6. Yoona ayo cpet sadar dr amnesia ny kasian hae sm hyoje
    Mrk membutuhkan mu yoong
    Hae oppa semoga enggak knp” :”(

  7. ahh baper, donghae bisa nepatin janjinya buat yoona.. jadi selama ini donghae belum ngungkapin perasaan cinta ke yoona.. harus diungkapin segera dong thor.. biar yoonhae nd hyoje bersatu

    semoga nyawanya donghae bisa diselamatkan..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.