Lee Family: Rescue Me

Brakk

Suara debuman pintu mobil yang ditutup cukup kasar terdengar begitu nyaring di dalam basement sebuah rumah sakit ternama di Seoul. Seorang wanita dengan rambut panjang sebahunya terlihat begitu sibuk dengan beberapa kantong plastik di tangannya dan juga sebuah ponsel yang terjepit di telinganya. Wanita itu berjalan sedikit tergesa-gesa ke dalam lift yang hampir tertutup, lalu ia segera menekan angka delapan pada tombol lift yang beradi di sisi pintu lift.

“Halo, aku sudah sampai oppa. Aku sudah membawakan makan siangmu dan juga makan siang Hana.”

Yoona sedikit terengah-engah dan meletakan barang-barangnya di lantai lift sambil menghubungi suaminya yang sejak tadi begitu ribut karena ia tak kunjung datang untuk menjemput Hana.

“Jalanan sangat penuh, aku tidak bisa membawa mobilku dengan cepat. Apalagi Daniel sedikit rewel tadi karena aku akan pergi, sedangkan ia harus tinggal di rumah bersama ahjumma Kim.” Dengus Yoona sebal. Tak berapa lama pintu lift di depannya terbuka dan menampilkan pemandangan ruangan serba putih yang terlihat begitu senyap. Ia dengan langkah lebar-lebar segera berjalan menuju ruangan tempat suaminya berada dan memasukan benda persegi yang beberapa lalu ia gunakan untuk menghubungi suaminya yang menyebalkan itu ke dalam tas tangan yang dijinjingnya bersama beberapa kantong plastik yang lain.

“Mommy!!”

Suara teriakan Hana yang begitu cempreng langsung terdengar begitu kencang ketika Yoona membuka pintu ruangan suaminya yang sebelumnya tertutup rapat itu. Ketika melihat ibunya, bocah berusia empat tahun itu langsung berlari menghampiri ibunya yang saat ini masih mengatur sedikit deru nafasnya karena ia beberapa kali harus berlari-lari kecil untuk menemui suaminya yang tidak sabaran itu.

“Kau terlambat dua puluh menit Yoong.”

“Ya Tuhan oppa! Bukankah aku sudah mengatakan padamu jika jalanan sangat penuh hari ini. Lagipula kenapa kau tidak menitipkan Hana pada suster Yeri atau suster Nana jika kau memang memiliki operasi di jam ini. Kuyakin Hana tidak akan merepotkan mereka jika kau menitipkannya sebentar.” Tambah Yoona sebal. Ia lantas meletakan barang-barang bawaanya ke atas meja dan segera menjatuhkan dirinya di atas sofa yang empuk untuk setidaknya beristirahat sejenak. Hari ini tugasnya begitu banyak. Sejak pagi ia sudah membantu ahjumma Kim untuk membersihkan rumah. Belum lagi ia harus mengurus anak-anaknya sebelum Tiffany datang dan mengajak Hana untuk jalan-jalan. Namun karena Tiffany mendapatkan panggilan darurat dari rumah sakit, jadilah Hana dititipkan pada Donghae. Tapi dokter tampan itu sepertinya juga sangat sibuk dengan urusannya, sehingga ia langsung merasa kerepotan saat Hana datang dan menyuruh Yoona untuk cepat-cepat menjemput putri sulung mereka.

“Suster Yeri dan suster Nana sedang menemani dokter Kang di ruang operasi, karena aku tidak bisa mengoperasi pasien yang mengidap gagal jantung itu.”

“Lalu sekarang apa masalahnya? Seharusnya oppa tidak membuatku panik dan terburu-buru seperti tadi.”

Yoona terlihat masih gusar dengan suaminya. Ia pun memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak sambil menjernihkan pikirannya yang mulai jenuh karena banyaknya tugas yang harus ia kerjakan akhir-akhir ini. Padahal ia seharusnya sudah terbantu dengan adanya ahjumma Kim, tapi nyatanya ia masih saja merasa kerepotan dengan seluruh tugas rumah tangganya.

“Masalahnya adalah karena kau terlambat menjemput Hana, aku tidak bisa pergi untuk melakukan operasi. Hari ini rumah sakit sangat sibuk, jika aku menitipkan Hana pada suster Yeri atau Nana, tidak ada yang membantuku di ruang operasi. Tapi untung saja dokter Kang hari ini datang, sehingga aku bisa memintanya untuk menggantikan tugasku hari ini.”

“Hmm maaf.”

Wanita itu berdeham malas sambil menggumamkan kata maaf tidak ikhlasnya pada sang suami yang saat ini sedang bermain bersama Hana. Lagipula akhir-akhir ini Donghae memang lebih egois dan juga manja. Sedikit-sedikit pria itu menyuruhnya ini itu dan justru akan berbalik marah jika ia tidak bisa melakukannya sesuai dengan permintaan sang suami. Terkadang Yoona ingin berteriak di depan wajah pria itu jika sebenarnya juga tak kalah sibuk dari pria itu. Meskipun ia hanya seorang ibu rumah tangga, tapi pekerjaannya justru lebih melelahkan dan menguras emosi daripada seorang dokter.

“Hana-ya, ayo kita pulang.”

Yoona berdiri dari kegiatan berbaringnya dan segera menjulurkan tangannya untuk menggandeng Hana pulang. Gadis berusia empat tahun itu kemudian langsung melompat turun dari pangkuan sang ayah dan segera menyambut uluran tangan sang ibu dengan antusias.

“Kau mau pulang? Kau marah?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku lelah.” Jawab Yoona sambil lalu pada suaminya. Ia kemudian memberikan kode pada Donghae untuk memakan makan siangnya yang telah ia letakan di atas meja. Namun sebelum mereka benar-benar pergi, Donghae tiba-tiba memanggil Hana dan menyuruh gadis kecil itu untuk memberikan ciuman perpisahan pada ayahnya.

“Sayang, kau belum mencium daddymu.”

Yoona memutar bola matanya malas sambil menatap sebal pada Donghae dan Hana yang terlihat begitu mesra satu sama lain. Apakah ia cemburu? Yah, mungkin ia memang sudah cemburu dengan anaknya sendiri karena Hana lebih mendapatkan perhatian dari Donghae akhir-akhir ini.

            “Sampai jumpa daddy, jangan pulang malam-malam karena hari ini Hana ingin menonton fim barbie bersama daddy.”

“Baiklah, akan daddy usahakan. Jadilah anak baik dan jangan membantah ucapan mommymu, Hana mengerti?”

“Siap daddy, Hana akan menjadi anak yang baik.”

Gadis kecil itu bergaya lucu dengan menunjukan tanda hormat pada ayahnya. Setelah itu ia segera berlari menghampiri ibunya yang sedang bersandar pada pinggiran pintu dengan wajah lelahnya.

“Kuharap hari ini kau tidak membuat janji palsu pada Hana atau ia akan marah lagi padamu seperti minggu lalu.”

Donghae menatap isterinya sekilas dan segera menganggukan kepalanya mengerti. Minggu lalu ia memang melakukan kesalahan dengan mengingkari janjinya pada Hana, sehingga keesokan harinya putri sulungnya itu mendiamkannya tanpa mau berbicara padanya. Dan sekarang mungkin Yoona yang sedang memasang mode merajuk padanya, karena wanita itu tidak akan bersikap dingin padanya jika ia tidak sedang marah.

-00-

“Mommy… mommy, aku ingin bertemu Fanny aunty untuk berpamitan dan berterimakasih karena hari ini Fanny aunty sudah mengajakku jalan-jalan.”

“Hmm.. ide bagus, mommy juga kebetulan ingin bertemu Fanny aunty. Kalau begitu ayo kita ke ruangan Fanny aunty.”

Pasangan ibu dan anak itu berjalan beriringan menuju ruangan milik Tiffany yang berada di lantai empat. Mereka berdua terlihat begitu ceria, sambil sesekali Yoona membalas sapaan para pekerja rumah sakit yang sudah mengenalnya sebagai nyonya pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja. Namun meskipun begitu, Yoona tetap rendah hati dan tidak mau disapa dengan sapaan terlalu formal di rumah sakit. Ia lebih suka jika mereka menyapanya dengan sapaan ringan yang terlihat tulus dan disertai dengan senyuman cerah yang begitu manis seperti siang ini.

“Selamat siang nyonya Lee.” Sapa suster Go yang merupakan suster yang melayani Yoona ketika Yoona sempat koma akibat keguguran delapan bulan yang lalu. Suster setengah baya yang terlihat keibuan itu menghampiri Yoona dan segera memeluk Yoona dengan hangat, layaknya anaknya sendiri.

“Suster Go, lama tak berjumpa.”

Yoona membalas pelukan hangat suster Go sambil menyunggingkan senyum manisnya pada suster setengah baya itu. Mereka berdua kemudian saling menanyakan kabar masing-masing dan memutuskan untuk mengobrol sebentar di salah satu bangku rumah sakit yang kosong.

“Setelah delapan bulan berlalu, kini anda terlihat sehat dan kembali bugar. Apa anda sudah tidak merasakan sakit lagi di area perut bawah anda nyonya?”

“Oh itu, terkadang aku masih merasakan keram, tapi menurutku itu tidak masalah karena hanya beberapa menit saja. Mungkin itu efek dari kelelahan karena akhir-akhir ini aku sangat sibuk mengurus kedua anakku dan juga Donghae oppa yang manja itu.” Ucap Yoona dengan aksen gusar yang terlihat lucu. Suster Go yang melihat Yoona sedang membagi keluh kesahnya hanya mampu tersenyum tipis karena ia sendiri juga pernah merasakan repotnya menjadi seorang ibu. Bahkan hingga anak-anaknya sudah menikah seperti saat ini pun mereka tetap saja sering membuat suster Go repot dengan sikap manja mereka ketika sedang berkumpul di rumah.

“Menjadi ibu memang tidak mudah nyonya. Ngomong-ngomong apa yang membawa nyonya kemari, tidak biasanya anda berkunjung ke sini jika anda tidak sedang melakukan cek-up medis bulanan.”

“Hana ingin bertemu Tiffany, ia ingin mengucapkan terimakasih pada auntynya karena tadi pagi Tiffany telah mengajaknya jalan-jalan. Apa Tiffany ada di ruangannya?”

Suster Go tampak berpikir sejenak sebelum ia menggelengkan kepalanya kecewa pada Yoona.

“Sayang sekali nyonya, dokter Fanny sudah pulang lima belas menit yang lalu. Ia sepertinya juga sedang terburu-buru.”

“Wahhh sayang sekali. Hana-ya, Fanny aunty sudah pulang.” Ucap Yoona pada putrinya yang sedang bergelayut manja di pahanya. Hana terlihat begitu kecewa karena ia tidak bisa bertemu dengan Tiffany dan berterimakasih pada wanita baik hati itu. Namun kemudian Yoona berjanji jika ia akan meminta Donghae untuk mengantarkan mereka berkunjung ke rumah Tiffany bersama-sama nanti malam.

“Suster Go, apa rumah sakit sedang membuka cek-up gratis untuk deteksi kanker serviks? Aku melihat beberapa bannernya saat berada di lorong.”

“Hari ini memang kami sedang membuka cek-up gratis untuk deteksi kanker seviks. Baru saja pasien terakhir keluar untuk menjalankan beberapa tes yang sudah disediakan pihak rumah sakit. Apa nyonya Lee tertarik untuk ikut?”

Yoona terlihat berpikir sebentar sambil memikirkan ucapan Tiffany beberapa minggu yang lalu jika deteksi kanker rahim sejak dini sangat baik untuk pencegahan penyakit mematikan itu. Ia kemudian merasa tergelitik untuk mencobanya dan melakukan serangkaian tes untuk memastikan adanya kanker di rahimnya.

“Apa aku boleh mendaftar suster?”

“Tentu saja, siapapun boleh mendaftarkan diri nyonya. Kebetulan sekarang tidak ada pasien yang sedang mengantre, jika anda mau saya bisa meminta dokter Sera memeriksa anda sekarang.”

“Aku mau suster, aku ingin melakukan cek-up dan memastikan jika tidak ada kanker yang tumbuh di tubuhku. Hana, kau tunggu di sini sebentar ya, mommy tidak akan lama.”

Setelah mendapat anggukan dari putri kecilnya, Yoona segera berjalan mengikuti suster Go yang sudah terlebihdulu berjalan di depannya untuk mengantar Yoona menemui dokter Sera. Namun sebelum ia benar-benar melakukan serangkaian cek-up itu, ia sudah yakin jika ia baik-baik saja. Lagipula ia tidak mungkin mengalami suatu penyakit mematikan jika Donghae selalu memastikan kondisinya selalu dalam keadaan sehat. Apalagi sebelum mereka melakukan kegiatan panas yang menguras tenaga hingga lemas, Donghae pasti sudah melakukan serangkaian pemeriksaan kecil karena ia tidak ingin menyakiti isterinya pasca isterinya keguguran dan koma beberapa bulan yang lalu.

-00-

Malam itu keluarga Yoona benar-benar pergi menuju kediaman Hyukjae dan juga Tiffany. Namun tentu saja kepergian mereka ke rumah Hyukjae dan Tiffany berawal dari rengekan berisik Hana yang sangat ingin bertemu dengan aunty baik hatinya itu

“Ini Yoong, kau harus mencicipi kue fenomenal ini. Aku yang membuatnya sore tadi.”

Tiffany meletakan sepiring kue bolu beraneka warna di atas meja dengan tampilan yang lumayan menggiurkan. Hana yang melihat kue itu pertama kali langsung terlihat antusias untuk memasukan kue cantik itu ke dalam mulutnya.

“Noona, Daniel juga mau.”

Tiba-tiba bocah laki-laki berusia tiga tahun itu muncul diantara para wanita yang sedang berbincang di ruang tengah. Tak berapa lama setelah Daniel masuk, Kenzo juga ikut membuntuti pria kecil itu sambil berlari-lari membawa robot merahnya yang cukup besar.

“Sayang, dimana daddymu?”

Tanya Yoona pada Daniel sambil menyodorkan seiris kue buatan Tiffany. Mendapatkan kue dari ibunya, Daniel langsung menerimanya dengan girang sambil berlari keluar untuk menyusul sang ayah yang sedang berbincang dengan unclenya di halaman depan.

“Huh, anak-anak memang sangat aktif di jam-jam seperti ini. Rasanya aku lelah melihat tingkah Kenzo yang seharian ini terus berlari kesana kemari.” Keluh Tiffany sambil menatap putranya yang sudah hilang dibalik pintu utama. Sedangkan Yoona yang melihat hal itu hanya mampu tersenyum kecil karena ia sudah begitu terbiasa dengan sikap heboh Hana dan Daniel di rumah. Bahkan mereka berdua jauh lebih aktif daripada Kenzo hingga terkadang Yoona merasa ingin mengunci kedua anaknya di kamar agar tidak terus menerus berkeliaran di dalam rumah dan membuat kotor.

“Nikmati saja tingkah nakal atau tingkah menggemaskan mereka, suatu saat kau pasti akan merindukan saat-saat ini. Oya, siang tadi aku ke ruanganmu, tapi kau justru sudah pulang.”

“Oh maaf, Kenzo sedikit rewel saat bersama ayahnya, jadi aku memutuskan untuk pulang. Apa karena itu kau akhirnya memutuskan untuk datang ke rumahku malam ini?”

Tiffany terlihat tidak enak pada Yoona karena ia sudah membuat wanita itu repot malam ini karena harus datang ke rumahnya yang cukup jauh jaraknya dari rumahnya.

“Tidak masalah, justru karena aku mendatangi ruanganmu, aku bisa melakukan cek-up papsmear.”

“Kau melakukannya? Itu bagus, dengan begitu kau bisa melakukan deteksi dini penyakit kanker. Lalu kapan hasilnya keluar?”

“Sekitar tiga hari. Tapi suster Go mengatakan padaku jika aku tidak bisa mengambilnya, ia akan menitipkannya padamu.”

“Baiklah, aku akan menerimanya jika suster Go menitipkannya padaku. Tapi untuk apa kau menggunakan tes papsmear seperti itu jika suamimu sendiri sudah bisa memeriksanya.” Goda Tiffany dengan wajah menyebalkan yang sedang menahan tawa. Yoona melemparkan bantal sofa yang berada di sampingnya dan mengenainya tepat di depan wajah Tiffany.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan dokter Stephani Hwang.” Ucap Yoona kesal. Namun Tiffany justru menanggapi kekesalan sahabatnya dengan suara tawa menggelegarnya yang begitu mengerikan hingga Yoona rasanya ingin menyumpal mulut lebar Tiffany dengan bantal sofa lainnya yang berada di runag tamu rumah wanita itu.

“Aku hanya bercanda Yoong, kenapa kau terlihat gusar seperti itu. Atau jangan-jangan kalian….”

“Yakk, apa yang kau pikirkan dokter Hwang! Bersihkan otakmu sekarang juga atau aku akan mengadukan otak kotormu pada Eunhyuk oppa.” Teriak Yoona yang berhasil membuat dua orang yang baru saja masuk ke dalam ruang keluarga di rumah itu menjadi bingung.

“Siapa yang berpikiran kotor Yoong?”

Tiba-tiba Donghae sudah duduk di sebelah isterinya sambil memandang dua wanita dewasa di ruangan itu dengan aneh. Pasalnya beberapa menit yang lalu mereka mendengar suara teriakan yang begitu keras dari dua wanita dewasa yang sebelumnya masih terlihat kalem itu.

“Ah bukan apa-apa oppa, hanya candaan konyol ibu-ibu muda.” Jawab Yoona asal. Namun Tiffany justru masih tertawa terbahak-bahak di depannya, dan membuat Donghae semakin dibuat bingung dengan sikap wanita itu.

“Sudahlah Hae, ibu-ibu muda seperti mereka memang aneh. Justru kau akan terlihat seperti keledai bodoh jika ikut kedalam pembicaraan mereka.”

Brukk

Tiffany melemparkan bantal sofa yang sebelumnya digunakan Yoona untuk melemparkannya ke arah Eunhyuk.

“Jangan berkata seolah-olah kami ini aneh oppa!” Ucap Tiffany galak.

Merasa mendapat amukan dari isterinya, Hyukjaepun memutuskan untuk menyerah sambil mengangkat tangannya ke udara tinggi-tinggi.

“Aku menyerah nyonya, jangan makan aku.”

Dan ucapan Hyukjae itu berhasil membuat ketiga anak kecil yang sedang bermain-main di dalam ruangan itu tertawa terbahak-bahak dengan tingkah lucu Hyukjae.

“Lihat Hyuk, tingkah konyolmu berhasil membuat putriku menertawakanmu. Bersikaplah sedikit berwibawa di depan anak-anak.” Ejek Donghae sadis. Namun Hyukjae hanya menanggapi ejekan itu sambil lalu tanpa merasa tersinggung sedikitpun.

“Lebih baik seperti ini daripada aku menyakiti isteriku dan hampir membunuhnya.” Sindir Hyukjae yang berhasil membuat suasana diantara mereka menjadi canggung karena nyatanya Donghae tidak terlalu suka jika kejadian mengerikan di masa lalu itu kembali diungkit.

“Eee… apa kalian ingin mencicipi kue buatanku?”

Akhirnya Tiffany mengambil inisiatif untuk mencairkan suasana kaku diantara mereka dengan cara bodoh, yaitu dengan menyodorkan kue itu tepat di depan wajah Donghae.

“Terimakasih Tiffany, kuemu pasti enak.”

Yoona sedikit bernafas lega ketika melihat Donghae yang untungnya mampu mengontrol emosinya yang hampir meledak itu. Tak bisa ia bayangkan jika Donghae ikut terpancing dengan ucapan Hyukjae yang memang cukup sensitif untuk suaminya itu.

“Sepertinya ini sudah larut, kami harus pulang sekarang.”

Donghae beranjak berdiri sambil menatap Yoona agar isterinya itu juga ikut berdiri. Yoona sendiri terlihat begitu tidak enak pada Tiffany karena sejujurnya ini belum terlalu larut. Tapi Donghae sepertinya memang sengaja menggunakan alasan itu untuk membawanya pulang karena suasana hatinya yang tiba-tiba memburuk karena sindirian Hyukjae.

“Hana, Daniel, ucapkan salam pada uncle Hyuk dan aunty Fanny.”

Kedua bocah kecil itu dengan tidak rela segera bersalaman pada Hyukjae dan Tiffany untuk yang saat ini terlihat tidak enak pada pasangan Yoona dan Donghae.

“Maaf, aku sudah menyinggungmu.”

Hyukjae meminta maaf pada Donghae ketika Donghae menjabat tangannya untuk berpamitan. Namun karena suasana hati Donghae yang masih buruk, pria itu hanya membalas permintaan maaf itu sekenanya tanpa mempedulikan ekspresi tidak enak Hyukjae padanya.

“Sampai jumpa. Main-mainlah ke rumah jika kau tidak memiliki jadwal di rumah sakit, aku akan senang menyambutmu di rumah.” Ucap Yoona pada Tiffany sebelum ia berjalan menyusul suaminya yang telah menunggunya di dalam mobil.

“Yoong, aku sungguh minta maaf, aku tidak bermaksud untuk membuka luka lama itu. Aku hanya ingin bercanda, tapi sepertinya ucapanku terlalu berlebihan hingga membuat Donghae justru marah padaku.”

“Tidak apa-apa oppa, Donghae oppa mungkin hanya kelelahan hingga ia mudah tersinggung seperti itu. Besok ia pasti sudah baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Aku bisa menjinakan Donghae oppa yang sedang mengamuk.” Bisik Yoona jenaka sebelum ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobilnya dalam sekali hentakan.

-00-

Yoona berjalan keluar mengendap-endap dari kamar Daniel dan mematikan lampu kamar anak itu perlahan agar sang jagoan tidak terbangun karena suara berisik yang diciptakannya. Ia kemudian menutup pintu itu perlahan sambil menggerakan kepalanya ke kiri dan kanan untuk mengurangi rasa pegal yang menderanya. Ibu muda itu lantas beranjak menuju kamarnya sendiri yang berada di lantai yang sama dengan milik anak-anaknya, untuk menyusul sang suami yang mungkin saja sudah terlelap karena semenjak mereka pulang dari rumah keluarga Hyukjae, suaminya itu hanya diam dan langsung masuk ke dalam kamar mereka tanpa mengucapkan apapun padanya.

“Oppa…”

Yoona melongokan kepalanya ke dalam kamar dan mendapati Donghae sedang membaca buku di atas ranjang mereka. Pria itu terlihat begitu serius dengan buku super tebal berbahasa inggris yang menurut Yoona adalah buku ilmu kedokteran keluaran terbaru, yang tentunya juga berisi ilmu-ilmu baru yang setiap saat memang harus dipelajari oleh Donghae karena setiap dokter harus melakukan long life study.

“Hey, kau lama sekali Yoong.”

Yoona mengernyitkan keningnya sambil melangkah santai mendekati suaminya. Jadi ia menungguku?

“Kupikir oppa sudah tidur, ada apa?”

Yoona meringsek masuk ke dalam selimut dan langsung berbaring dengan nyaman di sebelah Donghae. Wanita itu terlihat sudah sangat lelah, namun ia jika Donghae sedang menunggunya untuk membicarakan sesuatu, sehingga mau tidak mau ia harus menunda waktu tidurnya sejenak untuk menemani sang suami berkeluh kesah.

“Tidurlah, hari ini kau terlihat lelah dan pucat.”

“Benarkah? Aku tidak merasa terlihat pucat.” Ucap Yoona sambil meraba-raba wajahnya sendiri. Wanita itu bersikap konyol dengan menggembunkan pipinya kesana kemari dan melakukan sedikit pergerakan wajah yang justru membuat Donghae menjadi gemas pada isterinya.

“Hentikan Yoong, kau membuatku ingin mencubit pipimu.”

Pria itu meletakan bukunya di atas nakas dan bergabung untuk masuk ke dalam selimut yang sama dengan isterinya. Ia kemudian membaringkan tubuhnya ke kiri, sambil menatap wajah Yoona lekat dan dalam.

“Apa akhir-akhir ini aku terlihat aneh?”

“Bahkan setiap hari ini kau ini aneh oppa.” Jawab Yoona spontan yang langsung dihadiahi Donghae dengan cubitan gemas di hidung.

“Oppa sakit!”

“Aku bertanya dengan serius Yoong. Akhir-akhir ini aku merasa moodku tidak stabil, kadang aku merasa begitu bersemangat, dan kadang aku merasa sangat-sangat sensitif.”

“Ya, seperti saat di rumah Hyukjae oppa.” Sambar Yoona cepat pada suaminya. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu mengangguk setuju sambil menerawang langit-langit kamarnya yang kosong.

“Aku tidak tahu kenapa aku merasa sangat marah dengan ucapan Hyukjae, tapi sejujurnya aku tidak bermaksud untuk seperti itu. Aku hanya tidak suka dengan nada ucapan Hyukjae yang seolah-olah ia sangat menyalahkanku atas kejadian yang menimpamu delapan bulan yang lalu, meskipun semua itu memang salahku. Yoong, apa kau membenciku sekarang?”

Yoona menaikan kedua alisnya bingung dengan suaminya. Bukankah dulu mereka telah membahas hal ini dan ia sudah memaafkan suaminya itu. Lalu kenapa malam ini sang suami kembali meminta maaf padanya?

“Aku sudah memaafkanmu oppa. Lagipula aku sudah tidak memikirkan masalah itu, biarlah itu menjadi warna dalam kehidupan rumah tangga kita. Bukankah kehidupan rumah tangga memang seharusnya seperti itu? Senang, susah, bahagia, akan selalu hadir dalam setiap hubungan, jadi jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik oppa minta maaf pada Hyukjae oppa, karena ia terlihat begitu menyesal dengan kata-katanya padamu oppa.”

Donghae kemudian merapatkan tubuhnya sambil menenggelamkan Yoona ke dalam kehangatan dadanya yang bidang. Mungkin ia memang terlalu lelah hingga rasanya ia terlalu sensitif terhadap hal-hal remeh dan sepele seperti itu.

“Selamat tidur oppa, jangan terlalu lelah dan jadilah Lee Donghaeku yang baik setiap hari.”

“Selamat tidur nyonya Lee.”

Kemudian ucapan selamat tidur itu ditutup dengan sebuah ciuman manis yang tidak terlalu menggebu dan setelahnya mereka berdua sama-sama memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah karena aktivitas mereka seharian ini. Besok mereka akan kembali berkutat dengan kegiatan mereka, dan sekarang mereka terlihat sudah tertidur lelap sambil memeluk satu sama lain dengan hangat.

-00-

Siang hari yang begitu terik di Seoul, Yoona terlihat sedang berjalan masuk ke dalam rumah sakit Seoul yang terlihat sangat ramai seperti biasanya. Wanita itu dengan anggun berjalan melewati beberapa pasien yang sedang mengantre di loby untuk menunggu giliran priksa mereka. Seorang penjaga keamanan yang sudah sangat mengenal Yoona, lantas menunduk hormat pada isteri sang pemilik rumah sakit yang sedang menunggu di depan pintu lift bersama dengan pengunjung rumah sakit yang lain.

“Selamat siang nyonya.”

“Selamat siang Kang Juhi ssi.” Balas Yoona tak kalah ramah. Beberapa pengunjung yang melihat kesopanan penjaga keamanan itu pada Yoona terlihat mencuri-curi pandang dengan penuh ingin tahu pada Yoona. Namun Yoona terlihat tak terlalu ambil pusing dengan tatapan menelisik mereka, yang sejujurnya sedikit tidak nyaman untuknya.

Ting

Saat pintu lift terbuka Yoona segera masuk ke dalam kotak elektrik yang akan membawanya menuju ruangan Tiffany. Hari ini ia akan mengambil hasil pemeriksaan papsmear miliknya yang seharusnya ia ambil kemarin, namun karena ia memiliki urusan lain, maka ia baru sempat mengambilnya hari ini.

“Tiffany.”

Yoona memanggil Tiffany yang ternyata sedang berdiri di depan pintu lift sambil membawa beberapa map di tangannya. Wanita bereye smile itu langsung tersenyum cerah pada Yoona dan menarik Yoona untuk sekedar menepi dari para pengunjung yang hendak keluar dari lift.

“Kau akan mengambil hasil pemeriksaan papsmearmu?”

“Ya, aku akan mengambilnya. Apa kau membawa hasilnya?”

“Aku meletakannya di atas meja kerjaku. Kau bisa mengambilnya sendiri Yoong, hari ini aku sedikit sibuk karena aku harus mengurusi tiga persalinan, dan setelah ini aku harus menangani persalinan yang ke tiga. Tidak apa-apa kan jika kau mengambilnya sementara aku pergi ke ruang operasi?”

Yoona mengibaskan tangannya di depan wajah, tanda ia tidak masalah jika harus mengambil hasil labnya sendiri di ruang praktik milik Tiffany.

“Kalau begitu sampai jumpa.”

Tiffany memeluk Yoona sekilas dan segera menghilang dibalik pintu lift yang hampir menutup di belakangnya. Wanita muda bermata rusa itu kemudian bergegas menuju ruangan milik Tiffany yang terletak di sebelah meja informasi.

“Permisi, aku ingin mengambil hasil labku di ruangan dokter Tiffany.” Ucap Yoona pada salah satu suster yang merupakan asisten Tiffany. Suster yang bernama Lee Yura itu langsung mempersilahkan Yoona masuk ke dalam ruangan Tiffany karena sebelumnya Tiffany juga sudah berpesan padanya jika Yoona akan datang untuk mengambil hasil pemeriksaan papsmear.

“Hmm… pasti itu.” Gumam Yoona pelan sambil meraih amplop putih berukuran sedang yang terletak di atas meja milik Tiffany. Di sudut kiri itu tercetak cukup besar namanya dan juga usianya. Karena merasa penasaran, akhirnya ia memutuskan untuk membuka langsung amplop itu dan membacanya.

Pada lembar pertama, Yoona merasa tidak terlalu mengerti dengan istilah-istialah kedokteran yang tercetak di sana. Ia kemudian segera beralih pada lembar ke dua yang mungkin saja akan langsung memberitahukan hasilnya tanpa perlu menjabarkan istilah kedokteran yang cukup rumit itu.

“Ah ini benar-benar tidak berguna, seharusnya mereka tidak perlu mencantumkan istilah-istilah kedokteran yang memusingkan ini. Sepertinya aku harus meminta Donghae oppa untuk…”

Yoona menggantung kalimatnya sambil menatap tak percaya tulisan bercetak tebal yang tertera di bagian paling bawah kertas yang sedang ia genggam.

“Positif kanker?” Ucap Yoona tidak percaya. Seketika ia merasa dunianya berputar dan ia merasa ingin pingsan saat ini juga. Ia pikir selama ini ia tidak memiliki penyakit itu karena Donghae selalu mengatakan jika ia baik-baik saja. Namun tiba-tiba ia mendapati dirinya dalam keadaan mengidap kanker. Bagaimana bisa?

Yoona masih terlihat linglung di dalam ruangan Tiffany dan memutuskan untuk mendudukan dirinya di atas kursi pasien milik Tiffany. Wanita muda itu terlihat pucat seketika dengan tangan bergetar sambil terus membaca hasil pemeriksaannya berkali-kali untuk memastikan jika ia tidak salah membaca. Tapi nyatanya sebanyak apapun ia membaca kertas itu, hasil yang ditunjukan tetap sama, ia positif mengidap kanker serviks setadium tiga.

“Kenapa aku tidak pernah merasakan apapun selama ini?”

Yoona berbisik lirih pada udara dengan air mata yang mulai menetes dari pelupuk matanya. Padahal hari ini ia berencana memberikan amplop itu pada Donghae sebagai bukti bahwa ia mendukung gerakan anti kanker serviks yang dicetuskan oleh suaminya sejak dua minggu yang lalu. Tapi jika hasilnya sangat buruk seperti itu, ia jelas tidak berani menunjukannya pada Lee Donghae. Ia takut Donghae akan sedih dan anak-anaknya pasti juga akan ikut bersedih jika sebentar lagi ibunya akan pergi meninggalkan mereka.

“Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?” Bisik Yoona lirih sambil memasukan amplop putih itu ke dalam tasnya dan mulai berjalan lesu meninggalkan ruangan praktik milik Tiffanya. Wanita itu kemudian bertekad tidak akan menunjukan hasil pemeriksaan papsmear itu pada Donghae agar suaminya tidak bersedih. Ia akan mencoba menjalani hari-harinya dengan penyakit itu hingga nanti ia benar-benar sudah tidak berdaya untuk menahannya.

-00-

Malam hari setelah Yoona menerima hasil pemeriksaan labnya ia tampak sangat lesu dan tidak bersemangat. Beberapa kali ia terlihat melamun dan mengabaikan teriakan anak-anaknya, hingga Donghae berulang kali harus menegurnya yang terlihat seperti wanita linglung itu.

“Yoong, Daniel memanggilmu.”

Entah sudah berapa kali pria itu menegur isterinya yang terus melamun sejak ia datang dari rumah sakit sore tadi.

“Mommy, Daniel mau susu.” Ucap bocah tiga tahun itu terlihat cemberut karena sejak tadi diabaikan oleh ibunya.

“Maaf sayang, hari ini mommy sedang memiliki banyak pikiran.” Bohong Yoona sambil mengulurkan tangannya pada Daniel untuk membuat susu bersama-sama di dapur.

Sementara itu Donghae langsung menatap kepergian isterinya dengan perasaan khawatir. Tidak biasanya Yoona terlihat selesu dan sekacau itu selama ini. Apalagi mereka berdua tidak sedang dalam kondisi bertengkar atau saling mendiami, jadi ia pikir ada sesuatu yang tidak beres pada isterinya. Namun ia masih berusaha menunggu kejujuran dari Yoona, karena biasanya isterinya itu akan langsung bercerita padanya jika ia memiliki masalah.

“Daddy, mommy hari ini aneh. Mommy terus mengabaikan Hana dan Daniel.” Adu putri kecilnya dengan wajah menggemaskan. Donghae lantas berjongkok di depan tubuh kecil putrinya untuk menanyai keadaan isterinya seharian ini.

“Memangnya apa yang dilakukan mommy hari ini? Kenapa mommy terlihat lesu seperti itu dan sering melamun?”

“Hana tidak tahu, tapi ketika Hana pulang dari sekolah, mommy tidak ada di rumah. Kata Han ahjumma mommy pergi ke rumah sakit.”

Donghae mengernyitkan dahinya bingung pada Hana karena ia sama sekali tidak tahu jika isterinya itu pergi ke rumah sakit. Mungkinkah isterinya pergi untuk menemui Tiffany?

“Baiklah, nanti daddy akan bertanya lebih lanjut pada mommy. Sekarang waktunya gadis kecil daddy tidur.”

Donghae menggendong tubuh kecil Hana dan memutar-mutarnya beberapa kali di udara sebelum ia membawa Hana untuk naik ke kamarnya di lantai dua. Suara tawa Hana yang begitu girang ketika sang ayah menggendongnya seperti sebuah pesawat membuat Daniel langsung berlari menghampiri ayahnya dengan wajah iri.

“Daddy!!! Daniel juga mau di gendong!”

-00-

Yoona terbangun di tengah malam dengan keringat dingin yang membasahi dahinya. Baru saja ia bermimpi buruk mengenai penyakitnya dan membuatnya ketakutan setengah mati. Ia kemudian menolehkan kepalanya ke samping, tempat dimana Donghae saat ini sedang tertidur lelap dengan wajah damainya. Perlahan-lahan Yoona mengulurkan tangannya untuk membelai wajah Donghae sambil tersenyum tipis pada pria itu. Sebagai seorang isteri dan juga ibu, ia belum siap untuk meninggalkan orang-orang yang ia cintai. Ia masih ingin hidup bersama keluarga kecilnya hingga berpuluh-puluh tahun yang akan datang dan melihat kedua anaknya tumbuh dewasa. Namun ia sekarang tidak bisa terlalu mengharapkan akhir yang bahagia dari kehidupan kecilnya karena saat ini ada sebuah kanker yang sewaktu-waktu bisa memisahkannya dari kehidupan bersama keluarag kecilnya.

“Yoong..”

Suara serak Donghae tiba-tiba mengejutkan Yoona dan membuat wanita itu menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengelus puncak kepala suaminya. Wanita itu menatap suaminya lembut dan meminta suaminya untuk tidur kembali. Tapi Donghae justru bangkit dari tidurnya dan menatap Yoona sedikit curiga.

“Hari ini kau terlihat aneh, ada apa? Apa kau sedang memiliki masalah? Ceritakan padaku.” Desak Donghae sambil menatap kedua manik rusa Yoona. Yoona mencoba mengakhiri kontak mata mereka dan beralasan jika ia ingin pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Namun Donghae tahu jika isterinya itu sedang berbohong, sehingga ia langsung mencekal pergelangan tangan Yoona sebelum isterinya itu benar-benar beranjak berdiri dari duduknya.

“Ceriatakan padaku ada apa?” Ucap Donghae lebih tegas. Yoona menghela napasnya pelan dan kembali duduk di depan suaminya.

“Aku hanya lelah oppa, kenapa kau jadi mendesakku seperti ini?” Tanya Yoona gusar.

“Aku khawatir padamu Yoong, hari ini kau terlihat aneh setelah pergi ke rumah sakit. Apa kau hari ini pergi untuk menemui Tiffany?” Desak Donghae tanpa mengindahkan raut kesal yang tercetak jelas di wajah Yoona. Namun tanpa Donghae sadari, saat ini Yoona sedang gugup karena ia tidak memiliki asalan yang terdengar masuk akal untuk menjawab pertanyaan dari suaminya itu. Ia tidak mungkin berkata jujur pada Donghae jika ia dinyatakan positif mengidap penyakit kanker, ia tidak mau Donghae mengetahuinya sekarang.

“Aku lelah dan kesal karena oppa selalu sibuk.”

Akhirnya Yoona berhasil mengeluarkan kata-kata dustanya untuk menjawab rasa penasaran Donghae yang menyebalkan itu.

“Lalu? Kupikir kau sudah terbiasa dengan keadaanku yang memang super sibuk ini Yoong. Memangnya sudah berapa tahun kau menjadi isteriku, hingga kau merasa kesal seperti itu saat aku untuk yang kesekian kalian kembali terlihat sibuk akhir-akhir ini.” Ucap Donghae dengan wajah santai. Yoona mengerucutkan bibirnya kesal di depan suaminya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sebenarnya bukan jawaban itu yang ingin Yoona dengar, seharusnya suaminya itu lebih peka dan berusaha meluangkan waktu untuk dirinya dan juga anak-anak. Apalagi umurnya kini mungkin sudah tidak akan lama lagi, mereka harus membuat kenangan sebanyak-banyaknya sebelum penyakit mengerikan itu menggerogoti tubuhnya.

“Kau menyebalkan oppa! Memangnya apa yang oppa kerjakan di luar sana? Apa oppa memiliki wanita lain yang oppa sukai di luar sana?”

Tiba-tiba saja Yoona menyinggung soal wanita yang langsung membuat Donghae bingung. Padahal sebelumnya mereka hanya membahas masalah suasana hati Yoona yang buruk, namun tiba-tiba ia menjadi ikut terlibat ke dalam pembicaraan tengah malam mereka yang terdengar aneh itu.

“Wanita? Kau pikir aku selama ini menghabiskan seluruh hari-hariku dengan mengencani wanita-wanita cantik di luar sana? Ck, kau keterlaluan Yoong jika menuduhku seperti itu.” Balas Donghae kesal. Yoona tiba-tiba merasa mendapat angin segar di kepalanya untuk mulai mempersiapkan calon ibu dan juga calon isteri untuk menggantikannya jika ia meninggal nanti. Ia rasa itu perlu dipersiapkan sejak dini agar ia bisa lebih tenang di alam sana ketika meninggalkan keluarga kecilnya pada wanita yang menurutnya tepat.

“Kalau begitu, apa saat ini oppa sedang tertarik dengan seorang wanita?”

“Kau? Ada apa denganmu sebenarnya?” Tanya Donghae tak habis pikir. Namun Yoona terlihat begitu serius di depannya, membuatnya merasa ada yang tidak beres dengan sikap isterinya hari ini.

“Aku sedang bertanya serius padamu oppa. Ah.. kulihat ada seorang dokter muda yang cantik di rumah sakit, menurut beberapa suster oppa dulu adalah mentornya. Siapa oppa namanya, aku lupa.” Tanya Yoona sambil mengingat-ingat.

“Krystal Jung.” Jawab Donghae datar. Bersamaan dengan itu Yoona langsung menjentikan jarinya tepat di depan wajah Donghae sambil menunjukan wajah berbinar-binarnya yang membuat Donghae sebal.

“Ya, Krystal Jung! Ah.. dia adalah wanita yang cantik dan juga pintar, jika oppa bersanding dengannya pasti akan terlihat sangat serasi. Atau jika oppa tidak ingin wanita muda, oppa bisa bersanding dengan suster Ana yang sudah memiliki satu anak namun baru saja bercerai dengan suaminya. Menurutku suster Ana tidak terlalu buruk, ia memiliki wajah keibuan yang sangat menenangkan.” Ucap Yoona antusias. Donghae mengernyitkan wajahnya dan mulai merasa tidak suka dengan arah pembicaraan mereka yang semakin aneh itu. Apalagi Yoona juga sama terlihat anehnya, karena tidak biasanya wanita itu terlihat santai saat membicarakan seorang wanita yang pernah dekat dengannya, sekalipun itu adalah anjing betina milik Hyukjae yang pernah dibelainya, Yoona pun merasa cemburu.

“Yoong kurasa kau memang sedang sakit jiwa. Ada apa denganmu sebenarnya?”

“Apa oppa sedang menuduhku gila? Aku sehat oppa! Bahkan aku sangat sehat hari ini.” Ucap Yoona berapi-api.

“Lalu apa maksudmu dengan menjodohkanku dengan wanita-wanita yang sama sekali tidak kucintai. Kau terlihat seperti bukan isteriku yang posesif.”

“Bukankah itu bagus, jika aku sudah tidak posesif oppa bisa mendekati wanita manapun dengan bebas. Oppa tidak perlu lagi memikirkanku.”

“Terserah apa katamu Yoong, aku tidak mau mendengarkan ucapanmu yang semakin aneh itu.”

Dengan gusar Donghae segera berbaring miring meninggalkan Yoona yang saat ini juga sedang menatap Donghae sebal karena ia diabaikan oleh suaminya saat sedang membicarakan masalah serius mengenai masa depan mereka.

“Oppa, aku belum selesai. Kita harus membicarakan wanita-wanita yang tepat untuk oppa.” Rengek Yoona sambil mengguncang-guncangkan tubuh Donghae brutal. Namun Donghae tak menghiraukan isterinya dan tetap memejamkan matanya rapat-rapat karena ia merasa cukup jengah dengan kelakuan isterinya yang aneh hari ini.

“Tidur Yoong! Jangan menggangguku.”

“Tapi kita harus membicarakan wanita-wanita itu.”

“Aku lelah!”

Dan pada akhirnya Yoona harus menelan pil kekecewaan karena suaminya sama sekali tidak mau membahas wanita-wanita itu lebih lanjut. Padahal ia ingin sekali memberikan beberapa kandidat calon isteri terbaik yang bisa menggantikan posisinya nanti.

-00-

Keesokan harinya setelah pembicaraan tidak jelas mereka semalam, Yoona terlihat semakin lesu dan juga pucat. Beberapa kali mengeluhkan sakit kepala dan ia merasa jika gejala penyakit kankernya mulai muncul perlahan-perlahan.

“Daniel jangan mengotori lantainya lagi.” Peringat Yoona dengan suara lirih. Namun bocah laki-laki itu tidak mengindahkan peringatan Yoona dan justru semakin mengotori lantai ruang tamu mereka dengan lumpur yang ia bawa dari halaman depan. Akhirnya Yoona terpaksa menyeret bocah kecil itu menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa lumpur yang mengotori hampir seluruh tangan dan kaki pria kecil itu.

“Mommy… mommy, Daniel masih ingin bermain!” Pekik bocah kecil itu sambil meronta-ronta. Namun Yoona dengan sigap langsung mengunci tubuh Daniel dengan kedua kakinya agar anak kecil itu tidak bisa melarikan diri dari dekapannya.

“Mommy lelah, lebih baik kau bermain di kamarmu dan jangan membuat kotoran dengan lumpur.” Ucap Yoona gusar. Sesekali Yoona memegangi kepalanya yang semakin berdenyut akibat kelakuan Daniel yang hari ini sangat menjengkelkan.

“Aku mau bermain lumpur dan membuat patung lumpur untuk noona.” Rengek Danile masih meronta-ronta. Yoonapun akhirnya terpaksa menggendong Daniel yang masih meronta-ronta untuk bermain di kamarnya. Tak peduli seberapa sakit kepalanya saat ini, yang jelas ia harus segera menjauhkan Daniel dari ruang keluarga dan membersihkan semua kekacauan yang dibuat oleh anak bungsunya itu. Apalagi hari ini ahjumma Kim meminta cuti karena saudaranya meninggal, sehingga mau tak mau ia sendiri yang harus membereskan semua kekacauan itu.

“Sekarang kau diam di sini, dan jangan pergi kemana-mana sebelum mommy kembali, mengerti!”

Yoona terlihat begitu tegas pada Daniel dan segera menutup pintu kamar putranya rapat-rapat. Setelah itu ia langsung bekerja keras untuk membersihkan seluruh kekacauan yang dilakukan oleh Daniel. Namun yang paling membuat Yoona jengkel adalah karena lumpur-lumpur itu kini sudah mulai mengering, sehingga ia harus semakin mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengeruk lumpur-lumpur itu dari lantainya yang mengkilap.

“Ya Tuhan, kenapa Daniel hari ini sangat menyusahkan.” Gerutu Yoona masih tetap berjongkok di atas lantai untuk mengeruk sisa-sisa lumpur yang menempel di atas lantai.

Tes

Yoona merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya dan membuat lantai yang dipijakinya ternodai oleh darah. Refleks ibu muda itu langsung menyeka hidungnya dan ia menemukan begitu banyak darah yang mengalir dari lubang hidungnya. Dengan sedikit bingung dan juga panik, Yoona langsung menarik selembar tisu untuk mengelap darahnya yang semakin banyak menetes dari hidungnya.

“Kenapa aku bisa mimisan?”

Yoona membersihkan seluruh darah mimisannya yang cukup banyak itu sambil bertumpu pada pinggiran wastafel dengan wajah pucat. Sayup-sayup ia kemudian mendengar suara berisik yang berasal dari ruang tamu dan disusul dengan teriakan Daniel dari lantai dua yang meneriaki nama daddynya berulang kali.

“Daddy!!”

“Dimana mommymu? Kau mengotori rumah lagi?”

Donghae berkacak pinggang kesal pada anak bungsunya yang hari ini telah menyusahkan ibunya.

“Oppa..”

Yoona terlihat begitu lemah di ujung pintu yang menghubungkan antara dapur dan ruang depan. Salah satu tangan wanita itu masih menggenggam tisu yang penuh bercak darah, dan setelah itu ia terlihat limbung hingga membuat Donghae harus bergerak sigap untuk menangkap tubuh lunglai isterinya yang saat ini sedang tak sadarkan diri di dalam dekapannya.

“Yoong… Lee Yoona!”

Donghae menepuk-nepuk pipi Yoona beberapa kali dan langsung menggendong wanita tak berdaya itu ke dalam kamar mereka. Namun sebelumnya ia sudah terlebihdulu memastikan kecepatan denyut nadi Yoona agar ia tidak salah memberikan pertolongan pertama untuk isterinya yang tiba-tiba pingsan tanpa sebab yang jelas itu.

-00-

“Eungg…”

Yoona melenguh sekali dan mulai membuka matanya perlahan-lahan yang terasa cukup berat. Disebelahnya Donghae masih setia memantau keadaan isterinya sambil mengatur aliran cairan infus yang ia pasang di pergelangan tangan Yoona yang terlihat pucat.

“Kau ingin minum?”

Donghae menyodorkan segelas air putih pada Yoona yang segera diraih oleh wanita itu karena ia merasa sangat kehausan.

“Apa yang terjadi oppa? Kepalaku sakit sekali.” Erang Yoona sambil memegangi kepalanya. Lalu Donghae menyuruh Yoona kembali berbaring karena ia merasa tak tega melihat kondisi isterinya yang terlihat memprihatinkan itu.

“Kau sepertinya kelelahan dan kau pingsan setelah mimisan.” Jelas Donghae terlihat tenang. Yoona kemudian melongokan kepalanya ke ujung pintu sambil menanyakan dimana keberadaan anak-anaknya.

“Mereka sedang tidur siang. Sejak tadi Daniel ribut karena kau tiba-tiba pingsan di depannya, lalu aku menyuruh Hana untuk menemaninya di kamar. Tapi beberapa menit yang lalu saat aku mengeceknya, mereka tengah tertidur pulas sambil berpelukan, jadi kau tidak perlu khawatir. Oiyaa, apa kau kemarin baru saja melakukan pemeriksaan papsmear?”

Seketika wajah Yoona semakin pucat ketika suaminya menyinggung masalah pemeriksaan mengerikan itu. Padahal ia sudah ingin melupakannya dan menyimpulkan jika pingsannya hari ini hanya karena kelelahan, tapi Lee Donghae justru kembali membuatnya teringat akan hasil pemeriksaan papsmear yang mengerikan itu.

“Kenapa kau tak mengatakan padaku? Apa yang kau rasakan Yoong?”

“Eee…”

“Dan Tiffany memberikan hasilnya padaku.” Tambah Donghae yang membuat Yoona semakin mati kutu karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari pria itu.

“Oppa, aku… aaku… aku positif kanker.” Ucap Yoona lirih dan hampir seperti bisikan. Wanita itu terlihat tidak berani menatap wajah Donghae dan hanya menatap langit-langit kamarnya dengan mata berkaca-kaca yang hampir menangis.

“Hasil labku menunjukan jika aku positif mengidap kanker serviks stadium tiga. Maaf karena aku baru mengatakannya, aku terlalu takut oppa.”

Donghae mengernyit tidak mengerti dan langsung menyambar amplop putih yang ia letakan di atas nakas sebelumnya.

“Sejak kapan kau mengidap kanker Yoong, kau sehat. Ini lihatlah.”

Donghae menyerahkan kertas putih itu pada Yoona dan menyuruh isterinya itu untuk membaca sendiri hasilnya yang ternyata memang tertulis negatif.

“Darimana oppa mendapatkan ini? Kkkemarin aku melihat hasilnya positif!” Ucap Yoona tak percaya, ia pun mencoba membola balikan kertas itu dan membaca hasilnya lebih teliti lagi untuk memastikan jika penglihatannya tidak salah kali ini.

“Aku mendapatkan amplop itu dari Tiffany, ia mengatakan padaku jika kau salah mengambil amplop. Amplop yang kau ambil untuk Lee Yuna, bukan Lee Yoona.” Tegas Donghae dengan tawa yang hampir meledak karena merasa konyol dengan isterinya.

“Jjjadi… jadi aku sehat? Aku tidak mengidap kanker?”

Rasanya Yoona ingin berteriak sekeras-kerasnya dan melompat-lompat di atas ranjang jika ia tidak sadar jika saat ini ada sebuah infus yang tertancap di pergelangan tangannya.

“Dasar bodoh! Perhatikan dulu dengan teliti sebelum kau mengambil hasil pemeriksaan di rumah sakit. Untung saja Tiffany memberikannya padaku pagi ini saat aku pergi ke rumah sakit untuk mengambil laptopku yang tertinggal.”

“Lalu kenapa aku merasa sangat pusing dan mimisan oppa?”

“Bukankah sudah kubilang jika kua hanya kelelahan dan kurang gizi karena terlalu banyak mengurus tugas-tugas rumah tangga. Besok aku akan mencari asisten rumah tangga lagi agar kau tidak kelelahan seperti hari ini karena mulai sekarang kau harus memperhatikan kondisi tubuhmu Yoong. Kau hamil dua bulan.”

Lagi-lagi Yoona dibuat terkejut dengan setiap informasi yang diberikan oleh suaminya. Bagaimana mungkin ia bisa hamil jika ia tidak pernah merasakan apapun.

“Karena kau terlalu sibuk mengurus Hana yang mulai sekolah dan juga Daniel, kau jadi tidak sadar jika sebenarnya kau sedang hamil. Dan karena sekarang kau sudah sadar, aku akan kembali lagi ke rumah sakit. Krystal sedang menungguku untuk…”

“TIDAK BOLEH!” Teriak Yoona galak dengan taring yang siap keliar dari kedua sudut bibirnya. Sedangkan Donghae hanya tertawa-tawa santai di samping ranjang sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Bukankah kau ingin mencarikan penggantimu, jadi untuk permulaan aku akan mencoba membangun chemistry dengan Krystal.”

“Awas jika oppa berani macam-macam, aku benar-benar akan meninggalkan oppa bersama Hana, Daniel, dan juga bayi yang sedang kukandung ini.” Ancam Yoona sungguh-sungguh dengan ekspresi wajah mengamuk yang terlihat sangat menggemaskan untuk Donghae. Pria itu kemudian mendekati Yoona dan memberikan ciuman hangat di bibir dan juga pipi Yoona yang kini telah berubah warna menjadi merah karena wanita itu sedang tersipu.

“Tenanglah sayang, sampai kapanpun kau akan menjadi satu-satunya isteriku. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu.”

“Aww… manis sekali, terimakasih oppa. Aku janji tidak akan bertindak bodoh dan berpikiran pendek.” Ucap Yoona dengan wajah bodoh yang menyiratkan penyesalan.

Dan sore itu suasana di rumah keluarga Lee Donghae sudah kembali terlihat normal dengan suara berisik Hana dan Daniel yang sedang berebut mainan. Sementara itu Yoona dan Donghae hanya mengamati mereka dari atas sofa tanpa berniat sedikitpun untuk melerai mereka. Biarlah mereka sibuk dengan suara jeritan mereka yang memang berisik itu, namun justru terdengar menentramkan untuk mereka berdua.

 

4 thoughts on “Lee Family: Rescue Me

  1. akhirnya lee family ada lagi.. yoona ceroboh banget jdi orang, hana sma daniel lucu banget apalagi pas daniel main lumpur ih gemes banget.. next kak ditunggu yoonhae family lainnya

  2. yong masih ceroboh tapi tetep ibu dan istri
    yang baik.
    haepa dasar dokter yang gak peka tapi
    mereka saling melengkapi. suka banget
    cerita ini bikin kesal dan senyum bersamaan.
    next part ditunggu. gomawo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.