Bullets Of Justice: Consummate Love (Fourteen)

 

“Krystal, apa kau baik-baik saja?”

Sehun menatap Krystal cemas sambil terus berkonsentrasi pada jalanan di depannya yang cukup ramai. Sejak mereka meninggalkan halaman depan rumah Lee Donghae beberapa menit yang lalu, Krystal tampak linglung dan terkesan seperti orang gila. Ia beberapa kali menggumamkan kata-kata mengenai pembunuh dan juga darah yang membuat Sehun semakin khawatir dengan keadaan wanita itu.

“Kau sudah melakukan hal yang benar, kau memang seharusnya membalas perlakuan bejat pria itu padamu. Kau hebat Krystal.” Puji Sehun sambil mengelus pelan puncak kepala Krystal. Krystal hanya bergeming di tempatnya dan tak sedikitpun merespon ucapan Sehun. Saat ini ia bagaikan seorang mayat hidup yang terlihat begitu mengerikan. Wajahnya yang biasanya memancarkan aura membunuh yang berbahaya kini telah berubah pucat dan tak berwarna. Percobaan pembunuhan yang ia lakukan beberapa saat yang lalu berhasil membuat jiwa Krystal terguncang entah karena apa. Mungkinkah sesuatu telah terjadi padanya?

“Sehun, aku ingin pulang.” Ucap Krystal pelan. Sehun menganggukan kepalanya sambil menghembuskan nafas lega karena setidaknya Krystal masih mau berbicara dengannya. Sempat beberapa saat yang lalu ia berpikir jika Krystal atau Yoona telah berhasil mendapatkan ingatannya kembali karena Krystal tiba-tiba berseru pelan di depannya jika ia bukan Krystal. Tapi ketakutannya itu langsung terhapus seketika setelah ia mengamati gerak-gerik Krystal lebih lanjut. Wanita itu jika memang telah mengingat semuanya, ia pasti tidak akan bersikap bersahabat dengannya seperti saat ini. Krystal atau Yoona yang telah mengingat semua masa lalunya pasti akan langsung menghabisinya tanpa ampun. Karena bagaimanapun juga ia sudah terlibat cukup jauh dalam pemalsuan identitas Yoona hingga pembentukan kepribadian yang sangat mengerikan seperti ini.

“Krystal, apa kau mencintaiku?”

Tiba-tiba Sehun berseru dingin sambil menatap lurus pada pemandangan di depannya yang sebenarnya terlihat sangat membosankan.

“Aku tidak tahu.” Jawab Krystal singkat dan dingin. Sehun menalan riak pahit di tenggorakannya dengan susah payah sambil tersenyum masam untuk dirinya sendiri. Tentu saja sampai kapanpun ia tidak akan pernah mendapatkan cinta dari Krystal atau Yoona karena pria yang selalu mengisi hati wanita itu hanyalah Lee Donghae, tidak akan pernah ada yang lain.

“Kita sudah sampai.”

Belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya, Krystal sudah turun terlebihdahulu dari mobilnya sambil membanting pintu itu dengan keras. Dari kejauhan ia dapat melihat beberapa orang yang dibuat kebingungan dengan sikap Krystal yang aneh setelah ia berhasil menjalankan misinya. Dan tak berapa lama Yunho mengetuk pintu kaca mobil Sehun dan meminta Sehun untuk turun dari mobilnya.

“Aku ingin bicara padamu.”

“Mengenai apa? Krystal? Ya, hari ini ia memang aneh.” Ucap Sehun malas. Yunho tak mempedulikan nada malas Sehun yang terdengar menyebalkan itu, justru ia semakin berhasrat untuk bertanya lebih jauh pada Sehun mengenai keadaan Krystal.

“Apa sesuatu terjadi padanya saat ia sedang menjalankan misinya?”

“Hmm, memangnya apa yang kau harapkan dari seorang ibu yang hampir membunuh anaknya?” Tanya Sehun sakarstik. Sejujurnya ia tidak menyetujui ide gila Park Jaejong yang akan menggunakan Yoona untuk ajang balas dendamnya pada Donghae. Namun bagaimanapun bentuk penolakannya untuk rencana itu, Park Jaejong tidak mempedulikannya. Ia tetap menjalankan rencanaya dan membuat Krystal atau Yoona berakhir seperti orang gila karena baru saja melukai anaknya.

“Jadi anak itu belum mati? Bagaimana bisa? Kupikir Krystal akan membunuh anak itu di depan ayahnya.”

“Apa kau pikir mereka tidak memiliki ikatan batin? Meskipun kita berhasil mencuci seluruh isi otaknya, ia tetap akan memiliki ikatan batin dengan anaknya. Apalagi selama ini ia hanya membunuh orang-orang yang terbukti bersalah padanya, dan seorang anak kecil yang sama sekali tidak memiliki salah padanya tidak seharusnya menjadi target. Aku justru khawatir kejadian hari ini akan membuka ingatannya tentan masa lalunya yang sudah coba kita hilangkan dari kepalanya.” Jelas Sehun sedikit emosi. Yunho hanya menatap Sehun datar dan tampak tak terlalu ambil pusing dengan masalah Yoona dan anaknya. Lagipula hingga sejauh ini Krystal atau Yoona belum menunjukan tanda-tanda akan kembali mengingat masa lalunya. Untuk saat ini ia hanya perlu menekan Krystal lebih kuat agar wanita itu tidak memiliki belas kasihan sedikitpun di dalam dirinya. Krystal harus tumbuh menjadi seorang yang tangguh dan tak memiliki perasaan.

“Ketakutanmu itu tidak beralasan Oh Sehun. Hingga sejauh ini Krystal belum mengingat masa lalunya. Padahal ini sudah lebih dari dua tahun sejak ia mengalami percobaan pembunuhan yang sangat mengerikan itu. Lebih baik kau terus awasi gerak gerik Krystal selama aku tidak berada di sisinya. Karena beberapa hari ini aku akan sibuk menemani bos besar untuk menangani dua pengkhianat yang telah menyusup ke dalam kelompok kita.”

“Tapi kita tetap tidak boleh lengah dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Jika Krystal atau Yoona sadar siapa dirinya yang sesungguhnya, kita semua akan mati.”

“Huh, mengapa kau bisa berpikiran seperti itu Oh Sehun?” Tanya Yunho menyeringai. Sehun mengendikan bahunya acuh dan kemudian berlalu masuk ke dalam rumah utama yang dipenuhi anggota Bloods.

“Entahlah, aku hanya memiliki firasat.” Jawab Sehun sambil lalu.

-00-

Dor!! Enzooooo!!

            Krystal tersentak kaget dari tidurnya dengan nafas memburu dan keringat dingin yang menetes dari pelipisnya. Sudah dua hari ia mengurung dirinya di dalam kamar tanpa mengijinkan siapapun untuk mengusiknya. Dan malam ini ia kembali dihantui bayangan mengerikan dua hari yang lalu ketika ia hampir membunuh Enzo, anaknya sendiri.

“Enzoo… hiks hiks hiks..”

Yoona menangis pilu sambil memeluk lututnya dengan perasaan sakit yang luar biasa menusuk jantungnya. Sejak ia melihat bayangan-bayangan aneh di dalam kepalanya, Krystal atau Yoona mulai menghentikan semua obat yang ia minum. Ia merasa penasaran dengan semua bayangan itu dan perasaan asing yang selalu  menyusup ke dalam hatinya setiap bayangan itu berputar-putar di kepalanya. Dan puncaknya adalah dua hari yang lalu, saat ia dengan kejamnya menembak anaknya sendiri hingga ia melihat tubuh kecil Enzo melayang di udara dengan peluru yang bersarang di punggungnya. Andai saja ia bisa mengingat semuanya sebelum kejadian itu terjadi, Enzo pasti tidak akan mengalami hal yang sangat mengerikan seperti dua hari yang lalu. Apalagi sekarang ia mengingat semua hal yang terjadi pada dirinya saat ia berperan sebagai Krystal. Ia ingat beberapa kali sempat bertemu Enzo dan mereka juga sempat bercaka-cakap. Dan dalam percakapan itu Enzo selalu mengatakan padanya jika ia merindukan ibunya. Tapi bagaimana bisa jika ibunya yang selama ini ia rindukan dan harapkan justru hampir membunuhnya sendiri?

“Enzo… maafkan mommy. Mommy jahat padamu, mommy hampir membunuhmu. Maafkan mommy nak…”

Yoona terus meracau di dalam kamarnya yang gelap sambil menenggelamkan kepalanya diantara lututnya. Beberapa kali ia mendengar suara Sehun yang terus mengetuk pintu kamarnya, namun ia memilih menulikan semua pendengarannya dari semua orang yang ada di dalam rumah ini karena ia membenci mereka semua. Terutama Park Jaejong dan Park Junhyuk, karena mereka semua adalah dalang dibalik semua kebiadaban yang ia lakukan selama ini.

Tok tok tok

“Krystal, apa kau baik-baik saja? Kau belum makan sejak kemarin, keluarlah.”

Yoona mendengar suara Sehun yang pagi ini telah ia dengar lebih dari sepuluh kali dari kamarnya. Ia pun untuk kesekian kalianya kembali menulikan pendengarannya dengan menelungkupkan kepala di atas lututnya. Namun ia tiba-tiba bangkit dari tempat tidurnya dan segera membersihkan penampilannya. Ia tidak bisa hanya terus merenung di dalam kamarnya dan menangisi semua yang terjadi. Ia harus bergerak dan segera menyusun rencana untuk membalas mereka semua. Dan kali ini ia bersumpah, ia akan menghabisi seluruh anggota Bloods dan para pemimpin mereka hingga tak akan ada satupun yang hidup di dunia ini.

“Krystal, kau baik-baik saja?”

Sehun berseru keras ketika akhirnya Yoona keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi yang menandakan jika ia akan pergi ke suatu tempat.

“Minggir Oh Sehun, aku ingin pergi ke suatu tempat.” Ucap Yoona dingin. Sekarang ia benar-benar muak pada Sehun karena ternyata ia adalah pengkhianat yang  selama ini menyusup ke dalam markas. Andai dulu ia tahu jika Sehun adalah pengkhianat, ia pasti akan langsung membunuh Oh Sehun dengan tangannya sendiri.

“Kau ingin pergi? Aku akan menemanimu.”

Ckrek

Yoona menodongkan pistol tepat di pelipis Sehun dan membuat Sehun seketika mengangkat tangannya ke udara dengan wajah bingung yang tercetak jelas di wajahnya.

“Aku akan pergi sendiri. Dan kau jangan coba-coba untuk mengikutiku, karena aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu jika kau mengikutiku.” Ancam Yoona bersungguh-sungguh. Sehun tetap mengangkat tangannya di udara sambil menggeleng pelan pada Yoona dan mempersilahkan Yoona untuk pergi. Dan sepeninggal Yoona dari hadapannya, Sehun langsung menurunkan tangannya sambil menatap Krystal penuh curiga.

“Ada apa denganmu Krystal? Kenapa kau menjadi seperti ini?”

-00-

Yoona berdiri di depan rumah sakit Seoul dengan perasaan gugup dan takut yang menyeruak brutal di dalam dirinya. Kemarin ia tak sengaja mendengar Sehun menyebut rumah sakit Seoul sebagai tempat dimana Enzo dirawat. Dan sekarang disinilah ia berada untuk bertemu Enzo, Donghae, dan juga ibunya. Tapi ia takut. Ia takut mereka akan membencinya dan mengusirnya pergi dari sini karena ia hampir saja membunuh Enzo.

“Oppa…”

Dari kejauhan Yoona sudah bisa melihat Donghae sedang menundukan kepalanya di ruang tunggu dengan raut wajah yang terlihat frustasi. Di sebelahnya berdiri seorang wanita yang sedang mengelus punggung suaminya dengan lembut sambil membisikan kata-kata yang tak dapat didengarnya.

“Oppa, maafkan aku.”

Yoona terisak pelan dari tempatnya berdiri dengan suara pilu. Ia pun memutuskan untuk berjalan semakin dekat pada Donghae agar ia bisa meminta maaf pada pria itu atas semua hal yang telah ia lakukan selama ini padanya.

“Kau!”

Jaekyung berjengit kaget sambil menunjuk Yoona yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Sontak Donghae langsung mendongakan wajahnya dan langsung menatap penuh siaga pada Krystal atau Yoona yang saat ini sedang berdiri di depannya dengan wajah yang dipenuhi air mata.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kali ini aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Enzo atau keluargaku yang lain. Pergi kau dari sini sebelum aku benar-benar membunuhmu.”

Yoona semakin menitikan air matanya deras sambil menatap nanar pada Donghae. Bahkan saat ini suaminya sangat membencinya. Lalu apa yang harus ia lakukan untuk meminta maaf pada pria itu?

“Oppa… oppa!!”

Yoona langsung meringsek turun memeluk kaki Donghae sambil memohon ampun pada pria itu.

“Oppa… maafkan aku. Aku hampir membunuh Enzo, aku telah melukainya. Oppa, tolong maafkan aku.”

“Huh, apa kau ingin membodohiku? Setelah kau menembak putraku tanpa perasaan, kau ingin mengaku sebagai Yoona? Benar-benar picik! Aku tidak akan pernah tertipu dengan sandiwara murahanmu itu!” Teriak Donghae penuh emosi. Jaekyung berusaha menenangkan Donghae dengan mendorong Donghae menjauh dari Yoona. Tapi semakin Jaekyung menjauhkan tubuh Donghae dari Yoona, Yoona justru semakin mendekat sambil merangkak di kaki Donghae untuk mencoba meyakinkan pria itu jika ia benar-benar Yoona yang telah sadar dari lupa ingatannya.

“Oppa… ini aku Lee Yoona, isterimu. Aku.. aku sudah mengingat semuanya oppa. Mereka telah menghapus ingatanku selama ini. Kumohon percayalah padaku.”

Donghae tertegun di tempat sambil memandang Yoona tidak percaya. Ia pun dengan penuh kerinduan segera menarik Yoona berdiri dan mendekapnya dengan erat hingga Yoona saat ini benar-benar meringsek di dalam dadanya.

“Yoona… kau kembali, kau benar-benar Yoona?” Tanya Donghae dengan luapan emosi yang meledak-ledak di dalam dirinya. Jaekyung yang melihat semua kejadian haru itu, memilih untuk pergi perlahan-lahan dari sekitar mereka berdua karena saat ini hatinya benar-benar terasa sakit. Dan ia tidak bisa melihat kebersamaan dua orang itu lebih lama lagi, karena saat ini air  matanya sudah menggenang di kedua pelupuk matanya, siap untuk ditumpahkan sekarang juga.

“Yoona… bagaimana bisa?” Tanya Donghae tak habis pikir. Ia menarik Yoona untuk duduk di sebelahnya sambil tetap menggenggam kedua tangan Yoona erat.

“Ceritanya panjang oppa, tapi selama ini mereka memanfaatkanku untuk menjadi Krystal dan menyuruhku untuk membunuh banyak orang di luar sana. Oppa…. sekarang aku seorang pembunuh. Aku jahat oppa, aku pembunuh.”

Yoona kembali terisak sambil menangkupkan kedua tangannya di wajahnya. Donghae yang melihat hal itu langsung membawa Yoona ke dalam pelukannya dan menenangkan wanita itu agar tidak semakin histeris.

“Ini bukan kemauanmu, jadi kau tidak bersalah Yoong. Mereka yang seharusnya bertanggungjawab atas semua hal buruk yang terjadi padamu. Tenanglah, kau tidak akan menjadi Krystal yang jahat lagi. Sekarang kau adalah Lee Yoona, isteriku dan ibu dari Enzo.”

“Oppa… bagaimana dengan Enzo, apa ia baik-baik saja?”

Donghae menatap Yoona berat dan segera membawa Yoona ke dalam ruang rawat Enzo yang terlihat sunyi. Dan ketika Yoona sudah berdiri tepat di samping ranjang rumah sakit Enzo, Yoona kembali menangis sambil memeluk Donghae dengan erat karena ia tidak bisa melihat anaknya dalam keadaan yang menyedihkan terlalu lama. Ia terlalu takut dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi pada Enzo kecilnya.

“Kemarin dokter sudah mengeluarkan peluru yang bersarang di punggungnya. Tapi akibat dari peluru  itu, tulang punggung Enzo mengalami patah dan merobek otot punggungnya, sehingga hari ini ia harus melakukan operasi kedua untuk memulihkan cedera punggung yang dideritanya. Tapi, dokter belum bisa mengoperasi Enzo hari ini Yoong.” Ucap Donghae terlihat frustasi. Yoona langsung menatap Donghae penuh khawatir sambil mengguncang lengan pria itu agar memberitahu semua hal yang disembunyikan darinya.

“Dokter sedang mencari donor darah untuk Enzo, rumah sakit kekurangan satu kantong darah untuk operasi Enzo hari ini.”

“Kalau begitu aku saja yang menjadi donor darah untuk Enzo. Aku adalah ibunya, aku pasti memiliki golongan darah yang sama dengan Enzo.” Ucap Yoona terburu-buru dengan wajah panik. Namun Donghae langsung menenangkan Yoona dan meminta Yoona untuk duduk di sebelah Enzo terlebihdulu sebelum ia memanggil perawat untuk mengecek darah Yoona.

“Kau duduklah dan tenangkan pikiranmu. Beberapa saat lagi perawat akan datang untuk mengecek darahmu dan membawa Enzo ke ruang operasi. Yoona, apa yang terjadi selama kau bersama Park Jaejong? Apa yang mereka lakukan padamu selama ini?”

“Mereka mencuci otakku. Mereka mengubahku menjadi Krystal, putri Park Jaejong yang telah lama mati karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Oppa… aku benar-benar tidak sanggup memikirkan semua kejahatanku selama aku menjadi Krystal. Aku… aku telah melakukan banyak kesalahan, bahkan aku pernah menembakmu saat di Chicago dan… dan aku pernah menjadi stripper di sana. Ya Tuhan, aku sangat malu oppa. Aku malu dengan diriku yang sangat murahan dan jahat ini.”

“Sssttt…”

Donghae membawa Yoona ke dalam pelukannya dan menyuruh Yoona untuk tenang karena sekali lagi semua itu bukan kemauannya. Keadaanlah yang membuat Yoona terpaksa menjadi seorang wanita nakal yang benar-benar jahat seperti monster.

“Kau tidak boleh terus menerus menyalahkan dirimu. Kau justru harus bangkit dan membalaskan semua rasa marahmu pada Park Jaejong dan…”

“Park Junhyuk.” Jawab Yoona cepat.

“Ya, bos besar yang merupakan pemimpin mereka selama ini. Kita harus membuat mereka membayar atau semua kesakitan yang menimpa keluarga kecil kita Yoong. Apa kau tahu jika semalam aku terpaksa memulangkan eommonim karena sejak semalam ia terus menangisi Enzo hingga aku merasa khawatir dengan keadaan eommonim. Ia sepertinya mengalami trauma karena ia melihat semua kejadian yang dialami Enzo dengan sangat jelas di depan matanya.”

“Kejadian kemarin pasti membuat eomma sangat ketakutan, karena eomma pernah kehilangan appa dalam keadaan yang hampir sama dengan Enzo. Tapi yang membuat eomma bisa tetap tegar selama ini karena eomma tidak melihat sendiri bagaimana proses kematian yang terjadi pada appa. Eomma pasti akan sangat membenciku.” Ucap Yoona frustasi.

“Eommonim tidak akan membencimu, kau adalah putrinya. Selama dua tahun ini eommonim begitu terpuruk hingga ia memutuskan untuk tinggal di desa dan meninggalkan Seoul. Tapi sejak beberapa hari yang lalu eommonim memang datang ke Seoul untuk mengunjungi cucunya. Dan jika ia bertemu denganmu nanti, ia pasti akan sangat senang. Eommonim sangat merindukanmu Yoong.”

Yoona tersenyum getir pada Donghae dan beralih pada Enzo sambil mengelus pelan punggung tangan Enzo yang dingin. Lalu semuanya tiba-tiba menjadi hening ketika Yoona memutuskan untuk tidak mengucapkan apapun dan lebih memilih untuk memandangi wajah Enzo lebih lama. Sedangkan Donghae, ia merasa perlu memberikan kesempatan untuk mengobati kerinduan Yoona pada Enzo. Meskipun saat ini ada banyak hal yang ingin ia lakukan pada Yoona, tapi ia tidak mau mengganggu momen yang terjadi antara ibu dan anak di depannya.

“Yoong…”

Tiba-tiba Donghae berseru pelan ketika ia mengingat sesuatu yang ia lupakan sejak dua hari yang lalu. Dan sekarang karena Yoona sudah berada di depannya, maka ia akan menanyakan pertanyaan itu pada Yoona.

“Oh Sehun, dia masih hidup?”

“Ya, dia hidup oppa. Kecelakaan itu tidak membunuh Sehun karena ia langsung terjun ke dalam sungai Han dengan cepat sebelum mobil SUV miliknya meledak. Setelah itu ia segera bersembunyi untuk menghindari tim pencarian yang saat itu sedang mencari jasadnya di sekitar sungai Han. Oppa, Sehun adalah pengkhianat. Seharusnya sejak dulu kita membunuhnya atau menjebloskannya ke penjara karena ia selama ini ia telah menjual banyak informasi pada Park Jaejong dan pamannya yang jahat itu.” Ucap Yoona geram.

“Aku tahu jika ia memang pengkhinat, tapi semuanya telah terlambat. Sekarang kita harus mencari cara untuk menghancurkan Park Jaejong dan seluruh Bloods karena aku sudah muak dengan mereka semua dan menginginkan keluargaku kembali utuh seperti semula. Yoona.. aku sangat merindukanmu. Saat kukira kau sudah pergi meninggalkanku dan Enzo, aku benar-benar terpuruk. Setiap hari rasanya sangat melelahkan karena aku memikulnya sendiri. Dan sekarang melihatmu telah kembali ke sisiku, aku merasa lega. Karena aku tidak akan berjuang sendiri lagi.”

“Oppa…”

Yoona menatap wajah Donghae berkaca-kaca sambil mengelus lembut wajah pria itu. Sejujurnya ia juga sangat merindukan Donghae dan keluarga kecilnya. Tapi sayangnya ia tidak bisa kembali pada keluarganya sekarang. Ia harus menyelesaikan pertempurannya hingga Park Jaejong benar-benar kalah.

“Terimakasih karena kau telah menungguku.” Bisik Yoona lirih sambil memajukan wajahnya untuk mencium bibir Donghae. Mereka berduapun akhirnya saling menyalurkan rasa rindu mereka masing-masing dengan saling berbagi ciuman penuh perasaan yang didasari oleh kerinduan dan cinta. Tapi sayangnya semua perasaan itu masih belumlah lengkap karena saat ini Enzo masih terbaring kritis di samping mereka.

“Yoong, kita pasti bisa melalui ini dengan baik. Sama seperti biasanya.”

Donghae menutup kalimatnya dengan sebuah kecupan lembut penuh perasaan yang ia sematkan di dahi Yoona. Dan Yoonapun hanya mampu menganggukan kepalanya sambil berharap semoga kali ini mereka memang bisa melaluinya dengan lancar, sama seperti dulu.

“Oppa, tadi aku sempat melihat seorang wanita yang berdiri di sampingmu saat kau berada di ruang tunggu, siapa wanita itu?”

Donghae mengernyitkan dahinya sejenak sambil menatap Yoona dengan wajah bingung. Namun setelahnya ia dapat mengerti, siapa wanita yang dimaksudkan oleh Yoona beberapa saat yang lalu.

“Dia adalah Kim Jaekyung, dia yang selama ini membantuku mengurus Enzo saat aku harus menyelesaikan pekerjaanku di markas. Jaekyung, wanita itu sangat baik dan juga selalu membantuku selama kau tidak ada Yoong.”

“Benarkah? Lain kali jika aku bertemu dengannya lagi, aku harus mengucapkan banyak terimakasih padanya karena ia telah menggantikan posisiku selama aku tidak berada di samping kalian.”

“Ya, tapi tidak ada seorangpun yang menggantikan posisimu di hatiku, kau tetaplah yang terakhir untukku Yoong. Kau selamanya akan menjadi isteriku dan ibu dari anak-anakku.” Ucap Donghae lembut. Mereka berdua saling berbagi kebahagiaan satu sama lain tanpa  menghiraukan seseorang yang saat ini sedang mengintip mereka dari balik pintu dengan perasaan hancur dan kecewa. Sekian lama ia bersabar dan terus berusaha agar ia bisa menempati hati Lee Donghae, tapi nyatanya ia tidak pernah bisa mendapatkan Lee Donghae, karena pria itu sampai kapanpun hanya terikat pada Yoona dan tidak pernah mengijinkan wanita manapun untuk masuk ke dalam hatinya.

Setelah menangis cukup lama di depan ruang rawat Enzo, Jaekyung memutuskan untuk pergi dari tempat itu agar ia bisa mengobati rasa sakit hatinya yang benar-benar terasa perih. Mungkin sebotol alkohol dapat membuatnya melupakan semua rasa sakitnya dan juga rasa cintanya yang bodoh itu. Hari ini ia akan mabuk sepuasanya dan melupakan pria itu.

-00-

“Dimana Krystal?”

Park Jaejong langsung menanyakan dimana keberadaan Krystal setelah dua hari ini ia harus pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi di dalam Bloods.

“Nona Krystal sejak menyelesaikan misinya untuk melukai putra kapten Lee Donghae justru mengurung dirinya di dalam kamar, tuan.” Lapor seorang anak buah yang bertugas menjaga kediaman Park Jaejong itu. Tak berapa lama Sehun muncul dengan santai sambil menggigit apel dari arah dapur.

“Kau hanya melebih-lebihkan. Krystal tidak separah itu, ia hanya mengurung diri di kamarnya karena ia sedang stress memikirkan semua hal-hal membosankan yang terjadi di dalam markas. Jika aku menjadi Krystal, pasti aku akan melakukan hal yang sama.”

“Lalu bagaimana dengan anak si keparat itu, apa Krystal berhasil melakukannya dengan baik?”

Sehun mengendikan bahunya acuh tak acuh, dan dengan tidak sopannya ia berjalan melewati Park Jaejong begitu saja untuk duduk di atas sofa yang nyaman.

“Krystal berhasil melakukan tugasnya dengan baik, saat ini anak itu sedang sekarat di rumah sakit. Dan jika kau beruntung, mungkin anak itu sudah mati.” Ucap Sehun santai. Park Jaejong mengernyitkan dahinya muak dengan sikap Sehun yang terlihat tidak menaruh hormat sedikitpun padanya itu.

“Kenapa hari ini kau tampak kurang ajar? Apa kau sudah tidak ingin bersanding dengan Krystal lagi?”

“Huh, aku hari ini sedang kesal karena kau telah memberikan pekerjaan yang sangat berat pada Krystal. Kau baru saja memberikan misi untuk membunuh darah dagingnya sendiri. Apa kau tahu jika Yoona bereaksi seperti orang gila sesaat setelah ia menembakan peluru itu pada anaknya.” Teriak Sehun geram. Akhirnya seluruh emos yang sejak kemarin ia tahan meledak keluar di depan Park Jaejong. Ia pikir semua rencana pria itu untuk menghancurkan Donghae melalui Krystal atau Yoona harus segera diakhiri, karena ia mulai curiga jika Krystal sedikit demi sedikit berhasil mengingat masa lalunya sejak ia bertemu suaminya, Lee Donghae.

“Kau bilang Krystal baik-baik saja, dan sekarang kau mengatakan jika Krystal tidak baik-baik saja setelah ia melukai putra pria brengsek itu. Sebenarnya bagaimana keadaan Krystal saat ini? Apa kau sedang bermain-main denganku Oh Sehun?” Geram Park Jaejong kesal.

“Sejujurnya Krystal tidak baik-baik saja. Sesaat setelah menembakan peluru itu pada anaknya, Yoo.. maksudku Krystal terlihat gemetar. Ia terus menatap kedua tangannya dengan wajah pucat seperti mayat dan ia juga beberapa kali meracaukan kalimat-kalimat aneh, seperti aku pembunuh dan juga darah. Tapi memang setelah itu ia tidak terlihat aneh atau mencurigakan, ia terlihat seperti Krystal seperti biasanya. Bahkan tadi pagi ia sempat menodongkan pistol padaku saat aku hendak mengantarkannya pergi untuk menenangkan pikiran.”

Park Jaejong menoleh pada pengawal kepercayaannya yang ia tugaskan hari ini untuk mengklarifikasi semua cerita yang dikatakan oleh Sehun. Dan setelah pengawal itu menganggukan kepala, barulah Park Jaejong dapat mempercayai Sehun sepenuhnya.

“Lalu kemana perginya Krystal? Kenapa kau tidak meminta salah satu anggota Bloods untuk mengikutinya? Cari Krystal sekarang, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya.”

“Aku di sini ayah”

Tiba-tiba Krystal atau Yoona muncul dari pintu depan sambil menunjukan wajah malas dan juga bosannya pada sang ayah. Sejak ia menginjakan kakinya di pintu utama, ia sudah bisa mendengar semua keributan yang terjadi karena ayahnya. Dan ia sebenarnya cukup risih dengan sikap posesif yang diberikan Park Jaejong padanya. Kentara sekali jika Park Jaejong sebenarnya sangat membutuhkannya, sehingga ia takut jika sampai ia menghilang barang sedetikpun dari rumahnya.

“Krystal, darimana saja kau? Ayah mengkhawatirkanmu.”

Yoona masuk ke dalam pelukan Park Jaejong dengan perasaan muak dan juga umpatan yang sejak tadi menjerit-jerit di dalam hatinya. Ingin rasanya ia menembakan banyak timah panas ke dalam kepala atau jantung Park Jaejong hingga pria itu tidak bisa lagi mengusik kehidupan rumah tangganya yang bahagia.

“Aku hanya mencari udara segar, ayah tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu. Aku bukan anak kecil lagi yang harus selalu diawasi sepanjang waktu, ayah.” Ucap Krystal dengan nada kesal yang tidak ia tutup-tutupi. Namun Park Jaejong tidak akan pernah setuju dengan permintaan Krystal untuk membiarkannya tanpa pengawasan karena wanita itu sangat rentan. Ia bisa saja sewaktu-waktu mengingat masa lalunya atau terkena pengaruh buruk dari orang lain hingga membuatnya berpaling dari Bloods, sehingga ia harus selalu menjaga Krystal sepanjang hari, selama dua puluh empat jam.

“Kau adalah putri ayah, kau rentan untuk dibunuh. Jadi kemanapun kau pergi, kau harus membawa beberapa anggota Bloods untuk mengawalmu.”

“Terserah ayah!” Jawab Krystal kesal sambil berlalu pergi dari hadapan ayahnya. Namun Park Jaejong langsung berseru lantang dan penuh peringatan pada Krystal agar wanita itu tetap di tempat karena ia masih ingin membicarakan banyak hal pada putri semata wayangnya itu.

“Krystal, apa kau sudah meminum obatmu?”

“Apakah aku harus selalu melapor seperti anak kecil setelah aku meminum obatku? Ayah, sakit kepala ini benar-benar menyebalkan, dan aku tidak mungkin bisa menahan rasa sakit itu tanpa meminum obat sakit kepalaku. Jadi jika ayah khawatir mengenai obatku, maka ayah tenang saja karena aku selalu meminumnya dengan teratur.”

“Bagus, sekarang kau bisa melajutkan kegiatanmu. Tapi turunlah ke meja makan pukul tujuh karena ayah ingin makan malam bersamamu hari ini.”

Tanpa mengatakan sepatah katapun Krystal langsung berlalu pergi menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Namun hari ini ia sudah memiliki rencana lain, karena malam ini ia akan menyelinap pergi untuk menjenguk Enzo di rumah sakit. Menurut dokter, Enzo akan dipindahkan ke ruang perawatan setelah operasi keduanya berhasil dilakukan hari ini. Jadi jika ia beruntung, ia berharap bisa menjadi orang pertama yag dilihat oleh Enzo setelah anak itu pingsan selama dua hari.

-00-

Tok tok tok

Yoona mengetuk pintu kamar rawat Enzo pelan sambil menghembuskan nafasnya panjang-panjang tiga kali. Malam ini ia terlihat begitu gugup dan juga takut. Sayup-sayup ia mendengar suara seorang wanita yang mempersilahkannya untuk masuk. Dengan perasaan gugup, Yoona mulai membuka pintu itu perlahan sambil melongokan kepalanya ke dalam.

“Selamat malam.” Sapa Yoona kikuk. Nyonya Im yang berada di sebelah Enzo langsung menatap Yoona penuh permusuhan dan langsung mengusir Yoona pergi dari ruangan cucunya.

“Mau apa kau datang ke sini, apa kau ingin menyakiti cucuku lagi? Pergi kau dari sini, atau aku akan memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu keluar dari sini!”

“Eomma…”

Yoona bergumam lirih sambil meneteskan air matanya haru, karena akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan eommanya. Namun ketika ia akan mendekat, nyonya Im langsung menghalanginya masuk dan mendorong tubuhnya keluar hingga ia jatuh tersungkur di atas lantai rumah sakit yang dingin.

“Aku bukan eommamu. Aku tidak punya seorang anak yang jahat sepertimu. Wajahmu hanya mirip dengan anakku, tapi kau bukan Yoona!”

“Eomma, aku Yoona. Aku Im Yoona, anak eomma. Eomma maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti Enzo. Mereka menjebakku eomma, mereka mencuci otakku dan membuatku tidak bisa mengingat semua masa laluku. Dan selama dua tahun ini mereka membentukku menjadi pribadi yang jahat dan juga seorang pembunuh eomma. Kumohon eomma, percayalah padaku. Aku adalah Im Yoona, putrimu.”

Nyonya Im menatap wanita yang terlihat seperti mendiang anaknya itu dengan hati bimbang. Sebagian hatinya sebenarnya juga mengatakan bahwa wanita itu adalah putrinya. Tapi sebagian hatinya yang lain menolak hal itu karena ia teringat akan Enzo yang saat ini sedang terbaring lemah karena tembakan wanita jahat yang saat ini sedang mengaku sebagai putrinya.

“Jika kau putriku, kau tidak akan mungkin menembak cucuku, anakmu sendiri. Karena bagaimanapun kalian seharusnya tetap memiliki ikatan batin. Jadi sudah jelas jika kau bukan putriku!” Ucap nyonya Im keras dan hendak menutup pintu putih di belakangnya. Namun Yoona dengan sekuat tenaga mencoba mencegah nyonya Im pergi dengan menghalangi pintu putih itu agar tidak bisa menutup.

“Eomma, aku dan Enzo memang memiliki ikatan batin. Tapi sayangnya hal itu sudah terlambat. Aku mendapatkan ingatanku setelah aku menembak Enzo. Eomma… kumohon ijinkan aku masuk untuk bertemu Enzo, aku sangat merindukannya dan aku ingin meminta maaf padanya karena aku telah menjadi ibu yang buruk baginya. Eomma, tolong percayalah padaku.” Mohon Yoona frustasi dengan buliran air mata yang terus turun membanjiri wajahnya. Nyonya Im tampak tertegun di tempat sambil menimbang-nimbang keputusannya untuk memasukan Yoona ke dalam ruang rawat cucunya atau tidak. Tapi sejujurnya ia cukup takut untuk membiarkan wanita itu masuk ke dalam ruang rawat cucunya karena ia bisa saja sedang melakukan sandiwara untuk membunuh cucunya saat ia lengah.

“Kau tetap tidak boleh masuk. Bisa saja saat ini kau sedang menipuku dan berpura-pura menjadi putriku karena wajah kalian memang mirip. Lebih baik kau pergi sebelum aku berteriak dan memanggil petugas keamanan untuk membawamu ke kantor polisi.”

Nyonya Im berseru dingin pada Yoona sambil mendorong bahu Yoona keras agar wanita itu tidak menghalang-halanginya lagi untuk menutup pintu. Dan bersamaan dengan itu, tiba-tiba Donghae datang diantara mereka sambil memandang keduanya dengan dahi berkerut.

“Eommonim ada apa? Yoona, apa yang kau lakukan di sini?”

“Oppa, aku ingin bertemu Enzo.” Ucap Yoona dengan mata sembap dan wajah memelas. Nyonya Im yang melihat menantunya tidak berekasi apapun pada wanita yang bewajah mirip dengan anaknya itu langsung menatap Donghae dengan wajah bingung.

“Eommonim, Yoona kemarin mengalami lupa ingatan. Penjahat itu mencuci otak Yoona untuk membalaskan dendam mereka padaku. Mereka lalu menggunakan Yoona untuk menyakiti keluarganya sendiri, sehingga kemarin ia terpaksa menembak Enzo. Tapi sekarang Yoona telah kembali. Ia sudah mengingat semuanya dan ingin menebus semua kesalahannya pada Enzo.”

“Bbbenarkah?”

Nyonya Im menatap Yoona berkaca-kaca sambil menangkup wajah Yoona penuh haru. Dan Setelah itu ia langsung memeluk tubuh putrinya erat sambil terisak-isak di pundak Yoona karena akhirnya setelah dua tahun berpisah, mereka berdua dapat bertemu kembali.

“Yoona… Yoona, putriku. Akhirnya kau kembali nak.” Ucap nyonya Im tersedu-sedu. Yoona memeluk eommanya dengan erat dan ia menumpahkan seluruh rasa rindunya pada sang eomma. Dan kini ia tidak lagi merasakan kehampaan seperti saat ia menjadi Krystal. Kini ia benar-benar telah menemukan keluarganya yang benar-benar memiliki ikatan batin dengannya.

“Eomma, aku sangat merindukanmu. Bagaimana keadaan eomma sekarang, apa eomma sehat?”

Yoona menyeka bulir-bulir air mata yang masih menetes dari kedua matanya dan ia menggantinya dengan senyum manis yang sedikit ia paksakan. Nyonya Im kemudian membawa Yoona masuk ke dalam ruang rawat cucunya untuk saling bercerita satu sama lain.

“Eomma sangat sehat, tapi eomma merasakan kesedihan yang begitu mendalam saat kau pergi, lalu eomma memutuskan untuk tinggal di rumah kakekmu yang lama. Eomma merasa sedih jika terus menerus tingga di rumah itu karena disana banyak sekali kenanganmu dan juga appamu. Tapi syukurlah jika kau ternyata masih hidup dan sehat, eomma sangat bersyukur sekali karena kau baik-baik saja.”

Donghae manatap dari kejauhan sambil tersenyum kecil dengan apa yang ia lihat saat ini. Rasanya seperti mimpi saat Yoona tiba-tiba kembali ke dalam hidupnya dan akan mengisi kekosongan hatinya yang hampa. Namun saat ini ia belum bisa memeluk keluarga kecilnya dengan tenang karena Park Jaejong dan antek-anteknya masih berkeliaran di luar sana. Ia harus segera menyusun rencana dan melakukan meeting dengan anak buahnya di markas untuk menjalankan rencananya yang selanjutnya. Dan sebelum semua orang-orang jahat itu menyadari kembalinya ingatan Yoona, ia sudah harus menyerang mereka. Karena saat ini ia bisa menggunakan Yoona sebagai informan dan juga umpan untuk dapat mendekati Park Jaejong dan yang lainnya.

“Oppa, apa yang kau pikirkan? Sejak tadi kau hanya melamun.”

“Aku sedang memikirkan keluarga kita. Sampai Park Jaejong dan pamannya benar-benar dilumpuhkan, kita belum bisa merasakan hidup tenang seperti dulu.”

Yoona meremas lembut telapak tangan Donghae sambil menatap kedua manik sendu itu dalam. Ia tidak akan membiarkan Donghae menanggung sendiri beban berat di pundaknya untuk menghancurkan Park Jaejong. Karena ia pasti juga akan membantu Donghae untuk menghancurkan semua kejahatan yang dilakukan oleh Park Jaejong.

“Kita melakukannya bersama-sama oppa, kau tidak boleh memikirkannya sendiri. Mulai sekarang kau harus membagi semua bebanmu padaku. Seperti dulu, sekarang kita akan kembali bersatu untuk melindungi keluarga kita.”

Donghae menarik telapak tangan Yoona yang masih setia menggenggam tangannya dan mengecupnya lembut.

“Ya, dan kali ini aku tidak akan pernah mengijinkanmu lagi untuk pergi.”

“Daddy… Daddy”

Yoona dan Donghae langsung berlari kearah ranjang ketika suara Enzo yang lemah terdengar beberapa kali memanggil-manggil ayahnya. Tiga orang dewasa itu dengan wajah khawatir langsung menghampiri Enzo dan mengelilingi tubuh lemah bocah kecil itu sambil merapalkan doa masing-masing agar anak mereka dan cucu mereka dalam keadaan baik-baik saja. Pasalnya setelah melakukan operasi dua jam yang lalu, dokter mengatakan jika kondisi Enzo sudah cukup stabil. Dan mereka hanya perlu menunggu bagaimana kondisi Enzo selanjutnya setelah bocah kecil itu membuka mata.

“Daddy….”

Perlahan-lahan Enzo membuka matanya sambil mencoba menatap wajah ayahnya yang pada awalnya masih terlihat kabur. Namun semakin lama ia membuka matanya, wajah tampan ayahnya semakin terlihat jelas di depannya. Dan kini semua orang terlihat lebih lega karena hingga sejauh ini Enzo masih terlihat baik-baik saja.

“Sayang, apa yang kau rasakan sekarang? Apa Enzo menginginkan sesuatu?”

Suara Yoona yang lembut langsung membuat Enzo menegang untuk beberapa saat dan membuat bocah kecil itu memalingkan wajahnya kearah kanan untuk melihat wajah sang pemilik suara. Namun setelah itu raut wajah Enzo justru tampak ketakutan dan ia langsung berteriak histeris pada ayahnya untuk menjauhkan Yoona dari kamarnya.

“Daddy, Enzo takut. Enzo takut pada wanita itu. Meskipun wajahnya mirip dengan mommy, tapi dia telah melukai Enzo. Enzo takut daddy, tolong Enzo.”

Donghae mencoba menenangkan Enzo dengan menyuruh bocah kecil itu tetap berbaring karena luka di punggungnya masih belum mengijinkannya untuk bergerak kesana kemari sesuka hatinya. Lalu ia memberkan isyarat pada Yoona untuk sedikit menjauh, karena Enzo terus menerus histeris ketika Yoona mencoba mendekatinya.

“Sayang, ini mommy. Mommy minta maaf karena telah menembakmu. Mommy tidak sengaja sayang.”

Yoona lagi-lagi menitikan air matanya pilu ketika sekarang putranya sendiri telah berbalik membencinya.

“Yoona, sebaiknya kau pergi dulu. Nanti jika kondisi Enzo sudah lebih baik, kau bisa mendekatinya perlahan-lahan.” Ucap Donghae lembut memberi pengertia. Nyonya Im menatap Yoona prihatin sambil memberikan elusan ringan di pundaknya. Mungkin saat ini Enzo memang belum bisa menerima Yoona sebagai ibunya karena ia memiliki trauma yang cukup pekat di kepalanya. Tapi Yoona sudah bertekad jika ia akan mencoba mendekati Enzo perlahan-lahan. Ia akan mengambil kembali keluarganya dan menghancurkan Park Jaejong untuk selama-lamanya.

-00-

Park Jaejong termenung sendiri di dalam ruangannya sambil menyesap winenya penuh nikmat. Pria paruh baya itu kemudian meletakan gelas winenya di atas meja dan mulai mendesah lagi ketika ia melihat jarum jam yang telah menunjukan pukul dua pagi. Ia pun memutuskan untuk kelur dari ruangannya dan mengecek sendiri keberadaan Krystal di kamarnya untuk memastikan apakah putrinya itu sudah kembali atau belum.

“Tuan, selamat malama.”

Yunho membungkukan tubuhnya hormat pada Park Jaejong ketika pria itu baru keluar dari kamarnya.

“Apa yang kau lakukan di pagi buta seperti ini?” Tanya Park Jaejong sedikit memincingkan matanya. Yunho lagi-lagi menganggukan kepalanya hormat pada Park Jaejong untuk meminta maaf pada atasannya itu.

“Maafkan saya jika anda merasa terganggu tuan, tapi saya sedang menunggu nona Krystal.”

“Jadi Krystal belum pulang? Kemana perginya anak itu. Bahkan tadi ia tidak bergabung untuk makan malam bersama denganku. Apa ia pergi untuk mabuk-mabukan lagi?” Tanya Park Jaejong dengan wajah khawatir. Yunho menggelengkan kepalanya tidak tahu, dan setelah itu ia berusaha mendapatkan informasi lain dari ponselnya.

“Menurut beberapa anggota Bloods yang saya perintahkan untuk mencari nona Krystal di seluruh klub di kota Seoul, mereka sama sekali tidak menemukan nona Krystal di sana. Jadi, malam ini pasti nona Krystal tidak sedang mabuk-mabukan tuan.”

“Lalu kemana perginya anak itu. Menurut Sehun ia sedikit aneh setelah membunuh putra dari kapten itu. Apa menurutmu ingatan Krystal sudah kembali? Jika iya, maka kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi karena ia membawa banyak informasi penting terkait Bloods dan seluruh bisnisku.”

Yunho terlihat ragu untuk menyampaikan pemikirannya pada Park Jaejong. Namun gerak gerik Yunho yang terlihat mencurigakan itu membuat Park Jaejong semakin penasaran dan meminta Yunho untuk berkata jujur padanya.

“Kau merahasiakan sesuatu dariku? Ada apa?” Tanya Park Jaejong penuh selidik. Yunho menggosok-gosokan kedua tangannya ragu, dan akhirnya ia memutuskan untuk mengatakannya pada Park Jaejong.

“Tuan, bagaimana jika kita membongkar kamar milik nona Krystal? Karena beberapa hari ini saya cukup merasa curiga dengan tingkah laku nona Krystal. Apalagi semenjak menyelesaikan misi itu, nona Krystal terus mengurung dirinya di kamar. Kemungkinan besar saat ini nona Krystal sedang menyembunyikan sesuatu dari kita semua.”

Park Jaejong terdiam sejenak untuk mencerna semua kata-kata yang diucapkan Yunho. Dan setelah ia yakin dengan keputusannya, Park Jaejong segera memberi perintah pada Yunho.

“Bongkar kamar Krystal, dan kita lihat apa yang disembunyikannya di dalam sana.”

Kedua orang itu langsung berjalan beriringan menuju kamar Krystal yang berada di lantai dua. Dan saat ini Yunho telah siap dengan kunci cadangan milik Krystal untuk membongkar seluruh rahasia yang dimiliki wanita itu. Sejak beberapa hari yang lalu sebenarnya ia sudah cukup curiga pada Krystal yang selalu menolaknya untuk menemaninya pergi kemanapun. Padahal selama ini Krystal tidak pernah menghindarinya sedikitpun dan selalu bergantung padanya dalam segala hal. Jadi sekarang ia benar-benar harus mewaspadai gerak-gerik Krystal yang tampak mencurigakan itu.

“Kira-kira apa yang disembunyikan Krystal di dalam kamarnya?”

“Lebih baik kita lihat sendiri tuan.”

Yunho membuka pintu kamar Krystal lebar-lebar dan mendapatai kamar itu gelap dan tampak lenggang. Yunhopun segera menghidupkan saklar lampu di sudut kamar Krystal dan membuat kamar itu dalam sekejap berubah menjadi terang benderang. Setelah mendapatkan ijin dari Park Jaejong untuk menggeledah kamar Krystal, Yunhopun segera bergerak kesana kemari untuk mencari hal-hal mencurigakan yang mungkin disembunyikan oleh Krystal di kamarnya. Dan sasaran pertama Yunho, jatuh kepada lemari kecil Krystal yang tersimpan di sudut ruangan karena lemari itu adalah satu-satunya barang yang paling mudah dijangkau diantara semua barang-barang milik Krystal yang tertata rapi di dalam sana.

“Semoga kita bisa segera mendapatkan petunjuk tuan.”

Dalam sekali tarikan, Yunho langsung membuka laci-laci meja itu dan membongkar seluruh isinya di atas lantai.

Srakk

Klang

Yunho dan Park Jaejong saling berpandangan satu sama lain ketika sebuah botol obat tiba-tiba terjatuh dari tumpukan berkas-berkas yang disimpan Krystal di dalam lemarinya. Park Jaejong lalu memungut benda kecil itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara untuk memastikan jika obat itu adalah obat yang sama seperti yang diberikan oleh dokter pribadi krystal atau Yoona di Amerika untuk menekan ingatan masa lalu Yoona.

“Kita harus mencarinya, wanita itu sudah kembali. Ia bukan lagi anakku.” Desis Park Jaejong marah sambil melemparkan botol itu ke atas lantai, menciptakan bunyi gemericik nyaring khas obat-obatan yang bercecer di atas lantai. Pria itu lalu segera mengumpulkan anggota Bloods untuk mencari dimana keberadaan Krystal. Karena apapun yang terjadi mereka harus mendapatkan Krystal sebelum wanita itu melaporkan mereka semua pada pihak kepolisian dan juga menghancurkan seluruh bisnisnya yang telah lama ia jalani.

15 thoughts on “Bullets Of Justice: Consummate Love (Fourteen)

  1. yoona udh kembali… tp masalah baru mulai muncul & keluarga donghae belum bisa hidup tenang… duh makin dag…dig…dug.. aja nunggu kelanjutan nya… next thor jangan terlalu lama”..?

  2. Keren.. Kasian enzo nya jadi trauma.. Semoga park jaejong segera ketangkap jadi yoonhae bisa balik lagi.. Semangat thor!!

  3. mkin mrnegangkan nichhh
    ingatan yoona dah kmbali ,,
    pi enzo masih takut sama yoona,,,,
    Mudah bget dich jaejoong tau klau ingatan yoona dah kmbali…
    heeeem kira2 ,,,apa yg bkl terjadi nich

  4. aaaaaaaaagghhh akhirnya yoona sadar juga bagian terakhir bikin tegang jasa
    lanjuttkan thor
    fightingggggggg

  5. Akhirnya ingatan Yoona kembali ,tapi kalau di pikir” ingatannya pulih cepet amat yakk un ,pas kejadian tembakan itu dan Yoona langsung inget semuanya di mulai dari siapa Yunho dan soal di cuci ingatannya ..kaya Yoona udah pulih ingatannya dari beberapa lama .
    Tapi masa iya semuanya udah harus terbongkar lagi aja seblum Yoona bales semuanya please lah si Park Jaejong gak usah tau dlu sebenernya biar gak rumit gini .
    Btw makin seru ko un ,semoga nextnya cepet ^^

  6. part ini masih menegangkan, untungnya
    yoona ingatan nya pulih …dapat maaf dari
    donghae dan eoma tapi dibenci anak sendiri
    itu menyakitkan kasian yoona.
    penjahatnya semoga cepat dapat balasan.
    next part…please. gomawo thor

  7. Andaikan ingatan Yoona kembali sebelum dia menembak Enzo, pasti enzo tdk merasa trauma seperti ini..
    Setelah mendapatkan keluarga kecilnya kembali, sekarang Yoona menjadi buronan anggota Bloods..
    Ngga tahu apa lagi yang akan terjadi pada mereka.. intinya jangan buat keluarga Lee menderita lagi.. ngga tega sumpah..

  8. part yang luar biasa …masih ada kemarahan, kecewa, sedih…hadeuh g tega liat yoona.
    moga yoonhae couple saling menguatkan. keren thor gomawo …next partnya ditunggu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.