Bullets Of Justice: Catch The Cucciola (Twelve)

 

Donghae menatap geram pada keputusan nekat Krystal yang lebih memilih untuk menjatuhkan dirinya dari atas balkon daripada menyerah pada dirinya. Dengan cepat Donghae segera menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan sebuah matras di lantai dasar untuk menangkap Krystal. Namun tanpa diduga, ternyata anak buahnya sudah terlebihdahulu menyiapkan sebuah matras di bawah sana, sehingga ketika Donghae hendak menyuarakan perintahnya, suara debum benda jatuh yang berasal dari lantai bawah sudah lebih dulu menyapa indera pendengarannya.

“Kapten, Oh Sehun sudah terlebih dahulu memerintahkan pada kami untuk meyiapkan matras.” Ucap Minseok dari lantai dasar. Mendengar nama Oh Sehun disebut, Donghae langsung mengepalkan tangannya murka karena bagaimanapun Oh Sehun adalah pengkhianat yang menyelinap ke dalam markas. Dan jika Oh Sehun telah memerintahkan anak buahnya telebih dahulu, maka sudah pasti pria itu saat ini sedang memiliki rencana lain.

“Dimana Oh Sehun sekarang?” Geram Donghae dengan suara tertahan. Minseok yang berada di bawah bersama rekan-rekannya tanpa menolehkan kepala kesana kemari untuk mencari keberadaan Sehun di sana, tapi sayangnya ia tidak bisa menemukan keberadaan Sehun di sekitarnya karena terakhir kali ia bertemu dengan Sehun di depan pintu lift.

“Oh Sehun tidak berada di sini kapten. Beberapa saat yang lalu saya bertemu dengannya di depan lift.”

“Sial!”

Minseok sedikit menjauhkan ponselnya sambil mengernyit kaget dengan umpatan tiba-tiba sang kapten. Ia pun kembali mendekatkan ponselnya ke telinga untuk mendengarkan instruksi dari sang kapten lebih lanjut.

“Kau urus wanita itu, aku akan mencari Oh Sehun.”

Setelah itu Minseok tidak mendengar lagi suara sang kapten. Hanya suara putus-putus yang terdengar, tanda jika percakapan diantara mereka telah berakhir. Setelah itu Minseok langsung beralih pada Krystal yang saat ini sedang dikerubungi oleh rekan-rekannya karena wanita itu berusaha melawan setelah ia berhasil terjun dari lantai sepuluh dengan mulus. Meskipun Minseok sedikit kagum dengan keberanian wanita itu, namun tidak ada waktu baginya untuk mengagumi Krystal karena saat ini wanita itu sedang menodongkan pistol pada semua rekan-rekannya yang sedang mengepungnya.

“Letakan pistol itu sekarang juga, atau kami akan melumpuhkan kakimu.”

Suara gertakan Heejin menggema cukup keras di dalam indera pendengaran Krystal. Namun ia jelas tidak akan menurut begitu saja seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Lagipula ia adalah sang lady Bloods, berhadapan dengan kematian, bukan sesuatu yang baru baginya. Ia pasti bisa lolos dari suasana yang tidak menguntungkan itu.

“Huh, kalian pikir aku akan menuruti perintah kalian begitu saja? Cih, aku tidak akan pernah takut pada kalian.”

Dor

Krystal membuat tembakan pertama yang ia layangkan pada Heejin yang beberapa saat yang lalu menggertaknya. Pria itu langsung merintih kesakitan dengan darah yang mengucur deras dari betisnya. Beberapa rekannya yang berada di sebelahnya langsung bergerak cepat untuk menghentikan perdarahan di kaki Heejin karena ia bisa saja mati kehabisan darah jika Krystal ternyata menembak pembuluh darah di kakinya.

Setelah berhasil mengecoh beberapa intel dengan serangannya, Krystal berusaha kabur dan berlari tak tentu arah untuk mencari jalan keluar. Ia berlari kesama kemari dan menjatuhkan barang-barang yang sekiranya dapat memperlambat para intel yang saat ini sedang mengejarnya. Dari kejauhan ia melihat sebuah pintu yang menjadi tempat awalnya ketika ia masuk ke dalam markas itu. Dengan seluruh tenaganya yang tersisa, Krystal mencoba berlari menuju pintu itu yang akan menghubungkannya ke tembok beton yang ia gunakan untuk memanjat masuk ke dalam markas. Namun menurut Sehun ia tidak perlu lagi memanjat tembok beton itu, karena ia sudah membuka satu-satunya pintu yang akan membawanya keluar dari markas itu. Tapi sayangnya ia tidak yakin apakah ia bisa keluar dari dalam markas itu dengan mulus, mengingat saat ini di belakangnya terdapat banyak intel yang ingin menangkapnya hidup-hidup.

“Berhenti!”

Dorr

Krystal mendengar letusan senjata di belakangnya, namun ia berhasil melompat ke kanan agar timah panas itu tidak menembus kakinya. Semakin lama pintu besi itu semakin dekat dan seperti sedang memanggil-manggilnya untuk keluar dari dalam markas. Dan dengan satu kali lompatan, Krystal berhasil melewati penghalang pintu yang terpasang horizontal di depannya. Ia pun segera masuk ke dalam mobilnya, setelah memastikan jika orang-orang suruhan kakeknya telah berhasil kabur dari tempat itu dengan membawa serta ayahnya. Namun dari kejauhan ia tidak sengaja melihat Sehun yang sedang bertarung sengit melawan Lee Donghae yang sepertinya sudah mengetahui semua kebusukannya. Ingin rasanya ia berlari ke dalam dan membantu Sehun, namun sayangnya hal itu akan sama saja seperti bunuh diri, karena sekarang intel-intel itu sudah semakin dekat dengannya.

“Maafkan aku Oh Sehun.”

Krystal menginjak pedal gasnya kuat-kuat sambil menurunkan sedikit kaca mobilnya untuk menembak para intel yang sedang berusaha menghentikannya. Dan suara decitan ban yang begitu nyaring langsung menggema di sekitar gedung itu ketika Krystal mulai meninggalkan area markas intel yang malam ini tampak sangat berantakan karena ulahnya.

“Cepat kalian kejar mobil sedan merah itu dan mobil SUV hitam yang baru saja meninggalkan pelataran parkir, Oh Sehun adalah pengkhianat.”

Tiba-tiba Donghae muncul sambil sedikit terengah diantara para intel yang sedang ribut karena beberapa dari mereka sempat terkena tembakan membabi buta Krystal. Mereka yang tidak terluka segera mengikuti Donghae untuk mengejar Krystal dan Oh Sehun karena saat ini mereka adalah buronan, selain Park Jaejong tentunya.

“Kalian ikut aku, kita harus mendapatkan dua penjahat itu hidup-hidup untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka malam ini.”

Setelah mengucapkan hal itu, Donghae segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju kencang, meninggalkan beberapa anak buahnya yang sedang bersiap. Bagaimanapun ia adalah kapten, kegagalan sedikit saja akan langsung merusak cutra baiknya sebagai kapten, oleh karena itu ia harus bertindak cepat demi nama baiknya dan nasib negaranya yang hampir dirusak oleh sekelompok orang tak bermoral yang hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri.

“Sial, wanita itu ternyata cukup lihai.” Decak Donghae kesal karena saat ini mobil yang dikendarai Krsystal sedang melaju cukup kencang di tengah keramaian jalanan Seoul yang padat. Ia jelas-jelas tidak bisa mengeluarkan senjatanya di tengah-tengah hiruk pikuk warga sipil yang sedang berlalu lalang disekitarnya. Salah-salah ia justru akan membuat sebuah keributan yang menggemparkan rakyat Korea karena melakukan baku tembak di pusat kota.

Tiba-tiba sebuah mobil SUV menyenggol sisi kiri mobilnya dan membuat Donghae sempat kehilangan kendali setirnya untuk sesaat. Namun sedetik kemudian Donghae berhasil menguasai laju mobilnya setelah ia tahu siapa yang baru saja menyenggol mobilnya.

“Oh Sehun keparat, dia benar-benar cari mati.” Geram Donghae kesal. Ia pun segera menginjak pedal gasnya kuat-kuat untuk mengejar Krystal dan Sehun. Pertama-tama ia ingin menyingkirkan Sehun dari jalannya karena saat ini pria itu sedang menghalanginya dari mobil Krystal yang sedang melaju di depannya.

Brakk

Donghae menabrak keras bemper mobil SUV Sehun hingga membuat mobil itu sempat oleng beberapa kali. Suara klakson yang terdengar dari pengemudi lain langsung terdengar bersahut-sahutan, seiringa dengan posisi mobil Sehun yang hendak masuk ke jalur lain yang berlawanan arah. Namun Sehun berhasil menstabilkan posisi mobilnya dengan kembali ke jalur yang sebenarnya dengan sedikit menabrak badan depan mobil Audy yang dikendarai oleh Donghae.

“Oh Sehun, keluar dan menyerahlah!”

Donghae berteriak dari kaca mobilnya yang saat ini sedikit ia turunkan karena ia ingin berbicara dengan Sehun secara baik-baik. Namun tanpa diduga Sehun justru menjawab himbauan itu dengan menabrak badan kiri mobil Donghae cukup keras agar Donghae menyingkir dari jalannya, karena ia jelas tidak akan menyerah begitu saja setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari Bloods.

“Baiklah jika itu maumu, kau bukan anggota dari intel negara sekarang, kau adalah pengkhianat.”

Dengan rahang yang semakin mengetat, Donghae langsung mengeluarkan pistolnya dari sarung pistol yang berada di pinggangnya. Persetan dengan kondisi jalanan yang sedang dipenuhi oleh penduduk sipil, ia harus cepat menghentikan ulah Sehun karena pria itu sudah benar-benar tak termaafkan. Kesabarannya selama ini untuk Sehun telah meluap dan digantikan dengan beribu-ribu perasaan benci karena pengkhianatan Sehun yang begitu rapih. Bahkan setelah bertahun-tahun Sehun bergabung menjadi anggotanya, ia tidak pernah tahu jika Sehun adalah seorang pengkhianat. Dan sekarang adalah waktunya untuk melampiaskan seluruh rasa marahnya yang menggelegak hingga ke puncak ubun-ubunnya.

Dor dor

Dalam dua kali tembakan, Donghae berhasil memecah ban belakang mobil Sehun hingga kini mobil itu tampak oleng dan kehilangan arah. Beberapa kali mobil itu hampir menabrak mobil-mobil yang berada di depannya, namun Sehun rupanya masih cukup ahli untuk membelokan mobil itu ke berbagai arah, meskipun Donghae yakin jika saat ini Sehun cukup kepayahan karena mobilnya sedang melaju kencang ketika ban belakangnya berhasil ia ledakan dengan peluru panasnya.

Brakk

Tiiiinnn tiiinnn

Donghae membanting setirnya ke kanan, ketika sebuah kontainer hampir melindas mobilnya. Namun tanpa diduga, mobil milik Sehun yang sempat tertinggal di belakangnya dan sedang mengalami pecah ban belakang tidak mampu menghindari datangnya truk kontainer yang melaju kencang berlawanan arah dengannya. Dengan kecepatan di atas rata-rata, mobil SUV hitam milik Sehun langsung menabrak badan depan truk kontainer itu cukup keras dan mobil itu langsung terpental ke kiri hingga menembus pembatas jembatan yang berada di sisi kiri mobil yang dikendarainya. Seketika mobil hitam itu langsung tercebur ke dalam dinginnya air sungai Han yang dalam dengan kondisi yang cukup mengenaskan. Beberapa penduduk sipil yang berada di tempat kejadian langsung mengerubungi lokasi kecelakaan itu dengan wajah pucat karena mereka baru saja mendapatkan tontonan langsung kejadian kecelakaan yang begitu mengerikan. Detik-detik meninggalnya Oh Sehun karena menabrak truk kontainer dan tercebur ke dalam sungai Han.

Donghae yang melihat hal itu langsung menepikan mobilnya ke sisi kanan, dan segera berlari ke pinggir jembatan untuk melihat kondisi mobil Sehun yang kini telah ringsek dan perlahan-lahan tenggelam ke dasar sungai Han yang dingin dan gelap.

“Cepat hubungi ambulan dan polisi, seseorang sedang terjebak di dalam mobil itu.”

Donghae menoleh cepat kearah seorang pria tua yang tampak begitu panik dengan kejadian mengerikan yang baru saja ia lihat. Dan bersamaan dengan itu, Donghae seperti melihat sebuah mobil sedan merah yang tampak menjauh dari lokasi tempat kecelakaan yang dialami oleh Sehun. Sambil mengepalkan tangannya marah, Donghae mulai menghubungi markas polisi lalu lintas untuk melacak keberadaan mobil sedan merah itu karena ia yakin jika mobil sedan merah yang baru saja ia lihat adalah mobil sedan merah milik Krystal yang malam ini ia gunakan untuk menyusup kedalam markasnya.

-00-

“Krystal!!”

Park Jaejong berlari dari teras rumah ketika ia melihat mobil sedan merah milik putrinya yang sedang memasuki pelataran rumahnya. Pria itu langsung memeluk Krystal erat ketika wanita muda itu keluar dari dalam mobil dalam keadaan kacau dan berantakan.

“Kau selamat, syukurlah.”

“Ayah…” Gumam Krystal pelan. Entah bagaimana perasaanya saat ini, ia merasa campur aduk. Lagi-lagi ia tidak merasakan perasaan rindu yang seharusnya ia rasakan pada ayahnya, seperti apa yang ia bayangkan selama ini. Tapi sudahlah, bisa bertemu ayahnya dan menyelamatkannya dengan selamat sudah merupakan sebuah keajaiban baginya. Tapi…. bagaimana dengan Oh Sehun, pria itu telah mempertaruhkan segalanya untuknya. Bahkan nyawanya.

“Oh Sehun menyelamatkanku.”

“Lalu dimana ia sekarang? Apa Lee Donghae berhasil menangkapnya?” Tanya Park Jaejong terdengar khawatir. Krystal menggeleng pelan dan segera menarik ayahnya menuju kursi terdekat untuk menceritakan semua hal yang baru saja dialaminya. Jujur saja, separuh dari jiwanya sebenarnya sedikit terkoyak saat melihat mobil SUV milik Sehun yang menabrak truk kontainer dan beberapa kali menabrak bahu jalan sebelum akhirnya membentur pembatas jembatan dan terjun dengan bebas ke dalam sungai Han.

“Oh Sehun meninggal.”

“Apa? Kau tidak sedang bercanda bukan?”

Nada suara Park Jaejong naik satu oktaf, diikuti dengan suara bisikan para pengawal yang selama ini telah mengenal Oh Sehun dengan baik.

“Kapten itu menembak ban belakang mobil milik Sehun ketika ia berusaha untuk menyelamatkanku dari kejaran kapten busuk itu. Oh Sehun mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanku. Ketika kapten itu sedang mengejarku, tiba-tiba ia menghalangi jalan mobil kapten itu hingga kapten itu menembak ban belakangnya agar ia pergi dari jalurnya. Tapi Oh Sehun dengan gigih tetap melindungiku, meskipun ia sudah tidak bisa mengendalikan laju mobilnya. Dan saat sebuah truk kontainer melaju dari arah yang berlawanan, mobil milik Sehun tidak bisa menghindarinya. Ia menabrak truk itu dengan keras hingga terpental ke bahu jalan dan pada akhirnya mobil yang ditumpanginya terjun bebas ke dalam sungai Han.” Tutup Krystal dengan pandangan sendu.  Park  Jaejong menggeram marah dan langsung menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu dimana keberadaan jasad Sehun yang mungkin saat ini sedang berada di ruang otopsi setelah polisi mengurusnya beserta bangkai mobil yang terjun ke dalam sungai Han.

“Yunho, kau harus mencari tahu semua hal tentang Lee Donghae. Kelemahannya, dan hal yang paling ditakutinya, karena aku ingin membalaskan dendam Sehun padanya. Nyawa harus dibayar dengan nyawa.” Ucap Krystal dengan suara mendesis yang mengerikan. Yunho menganggukan kepalanya mengerti dan langsung mengerahkan anak buahnya untuk mencari tahu semua kelemahan yang dimiliki oleh Donghae. Namun tiba-tiba Park Jaejong menyelanya dan membuat Krystal langsung tersenyum penuh kemenangan.

“Cari tahu dimana keberadaan anaknya, kelemahan pria itu saat ini ada pada anaknya. Setelah dua tahun yang lalu aku membunuh isterinya, kini hal terpenting yang tersisa dalam hidupnya adalah anaknya. Kau harus menyerangnya melalui anaknya. Kalau perlu, bunuh saja anaknya untuk membalas dendam atas kematian Sehun hari ini.” Ucap Park Jaejong dengan seringaian mengerikan. Ayah dan anak itu saling menatap satu sama lain dengan pandangan penuh arti yang hanya dimengerti oleh keduanya.

“Tentu ayah, aku pastikan pria itu mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan untuk membayar perbuatannya hari ini, karena ia baru saja membunuh tunanganku.”

“Jadi, apa saja yang telah kau lakukan selama dua tahun ini? Ayah begitu penasaran dengan kinerjamu.” Ucap Park Jaejong mengganti topik pembicaraan.

“Banyak hal ayah, aku telah melakukan banyak hal selama dua tahun ini. Termasuk memajukan Bloods dan bekerjasama dengan kartel narkoba dari Rusia, membuat arena tarung bebas, dan memperluas The Wyn. Kau harus pergi ke Vegas dan melihatnya sendiri ayah.”

Park Jaejong tampak puas dengan kinerja Krystal. Pengorbanannya selama ini ternyata tidak sia-sia, dan keputusannya menunjuk Yunho untuk mendampingi Krystal selama di Vegas adalah pilihan yang tepat, karena terbukti putrinya mampu berkembang sesuai harapan selama dilatih oleh Yunho.

“Tapi…”

“Tapi kenapa? Kau sekarang tampak gusar.”

Krystal memberengut di depan ayahnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada setelah ia teringat akan kakeknya yang tidak pernah menunjukan sikap seperti ayahnya. Kakeknya lebih seperti seorang diktator yang tidak pernah puas dengan hasil kinerjanya. Bahkan pria tua itu selama ini tidak pernah memuji kinerjanya sedikitpun setelah semua hal yang telah dilakukannya. Jika pria itu bukan kakeknya, mungkin ia sudah melenyapkan nyawanya sejak dulu.

“Tapi kakek tidak pernah puas dengan kinerjaku, ia selalu saja menilai kinerjaku rendah dan ia sangat berbeda denganmu ayah, ia tidak pernah menghargai semua kinerjaku.” Gerutu Krystal kesal. Park Jaejong tersenyum maklum pada Krystal ketika mendengar semua cerita Krystal tentang pamannya. Memang sejak dulu pria tua itu selalu menganggap semua pekerjaan anak buahnya biasa saja. Bahkan dirinya yang telah mengorbankan banyak hal untuknya tidak pernah dihargai sedikitpun. Namun sang paman berhasil menunjukan loyalitasnya padanya dengan semua tindakan yang selama ini dilakukannya tanpa sepengetahuannya. Diam-diam pamannya sering menanyakan kabarnya melalui Sehun, dan pamannya juga selama ini telah menempatkan banyak penjaga di sekitar Krystal, namun tanpa diketahui oleh wanita itu untuk menjamin keselamatan Krystal agar tetap aman karena ia telah berjanji padanya untuk selalu menjaga Krytal selama ia mendekam di dalam penjara.

“Sebenarnya kakekmu adalah orang yang loyal, hanya saja ia tidak pernah menunjukannya. Lebih baik kita segera menyusun rencana kita selanjutnya untuk membalas kapten sialan itu karena semakin hari ia semakin menjengkelkan. Ia berniat merusak Bloods dan menghancurkan semua bisnis kita sebagai ajang balas dendam karena kematian isterinya. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan semuanya dengan matang agar pria itu nantinya benar-benar membusuk di dalam neraka yang kita ciptakan.”

Krystal mengangguk setuju dengan ayahnya dan ia langsung bergabung bersama Yunho yang saat ini telah mendapatkan semua data-data mengenai putra Lee Donghae.

“Ayah, aku harus pergi. Aku akan mendiskusikan rencanaku pada Yunho terlebihdahulu. Jika ayah membutuhkanku, maka hubungi saja nomor ponselku, semua penjaga itu sudah memiliki nomor ponselku.”

“Baiklah, semoga rencanamu berhasil. Jangan kecewakan ayah.”

Krystal mengangguk sekilas dan segera masuk ke dalam mobil sedan merahnya dan disusul oleh Yunho di belakangnya. Pria paruh baya itu memperhatikan kepergian anaknya dengan seksama dengan penuh seringaian di wajahnya. Sekarang ia tinggal menggiring Lee Donghae ke dalam jebakannya agar pria itu semakin hancur berkeping-keping dan menjadi serpihan debu yang tak kasat mata.

-00-

Donghae mendekati tim SAR yang sedang sibuk mengeluarkan rongsokan mobil Sehun dari dalam suangai Han. Raut wajah pria itu terlihat begitu datar dan tak terbaca. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Yang jelas ia tidak terlihat menyesal atau merasa bersalah atas insiden yang menimpa Sehun hari ini, justru ia berharap agar Sehun mati dalam insiden kali ini karena pria itu adalah pengkhianat yang selama ini telah menusuknya dari belakang dan telah mencintai isterinya dengan lancang.

“Bagaimana? Apakah proses pengangkatan bangkai mobil itu masih lama?” Tanya Donghae bosan pada salah satu anggota tim SAR yang berdiri di dekatnya. Pria berpakaian kuning itu menoleh malas pada Donghae, namun setelah membaca lencana-lencana yang tersemat di dada kiri Donghae, pria itu langsung menunduk hormat karena ia tahu jika Donghae bukan penduduk sipil biasa.

“Kami sedang melakukan pengangkatan bangkai mobil itu tuan Lee, karena kemarin malam hujan deras mengguyur Seoul, kondisi sungai Han saat ini begitu penuh, sehingga kami mengalami sedikit kendala dalam mengeluarkan bangkai mobil milik korban.” Jelas pria itu sopan. Donghae menatap lurus pada bangkai mobil milik Sehun yang terlihat sedikit menyembul ke permukaan. Ia kemudian mengamati kursi kemudi yang terlihat gelap dan sudah terisi dengan banyak air. Ia sempat meragukan jika Sehun akan selamat dalam insiden kecelakaan kali ini. Tapi tiba-tiba ia teringat akan latar belakang Sehun yang cukup licik selama ini. Mungkin saja jika Sehun berhasil selamat dalam insiden kecelakaan kali ini karena apapun dapat terjadi pada pria itu.

“Lalu bagaimana dengan pengemudi yang masih terjebak di dalam mobil itu, apa kalian sudah menemukannya?”

“Saat ini tim evakuasi sedang menyusuri sungai Han untuk mencari mayat Oh Sehun di sekitar lokasi jatuhnya mobil. Tapi kemungkinan saat ini mayat Oh Sehun masih terjepit di dalam badan mobil karena hingga saat ini tim evakuasi belum menemukan apapun di sekitar sungai Han.”

Donghae mengepalkan tangannya gusar di dalam saku celananya karena ternyata mereka semua belum bisa memberikan penjelasan secara pasti mengenai keadaan Sehun saat ini. Dan jika ternyata Sehun belum mati, maka ia bersumpah akan membunuh pria itu dengan tangannya sendiri.

“Tuan, tim kami telah berhasil mengeluarkan bangkai mobil itu dari dalam sungai Han.”

Donghae melihat sekumpulan tim SAR sedang mengerubungi bangkai mobil milik Sehun yang tampak mengenaskan dan tak berbentuk. Mobil SUV itu terlihat ringsek di beberapa sisi dan Donghae sempat melihat adanya bercak merah di sekitar badan mobil. Namun Donghae tetap tidak yakin jika itu adalah darah milik Sehun karena nyatanya mobil itu kosong, mayat Sehun tidak ada di sana.

“Aku adalah kapten intel negara, Lee Donghae, aku akan mengambil alih kasus ini untuk dibawa ke markas intel negara karena pengemudi yang mengemudikan mobil SUV ini adalah salah satu anggota kami yang hari ini melakukan pengejaran buronan bersamaku. Jadi kalian bisa kembali ke markas kalian, dan aku akan menghubungi mobil derek untuk membawa bangkai mobil ini ke markas. Dan untuk tim evakuasi, aku harap kalian tetap melanjutkan pencarian kalian untuk menemukan mayat pengemudi ini, karena sepertinya bangkai mobil itu telah kosong.”

Donghae berucap angkuh dihadapan seluruh tim SAR yang hari ini telah membantunya untuk mengevakuasi bangkai mobil milik Sehun. Namun diantara mereka ada yang terlihat tidak senang dengan sikap Donghae karena ia dinilai sok berkuasa karena memiliki pangkat yang tinggi dalam intel negara.

“Huh, sombong sekali pria itu. Bukan karena ia seorang kapten, ia berhak memerintahkan kita seenaknya. Kita bukan bawahannya, dan kita tidak perlu patuh terhadap perintahnya.”

“Sssttt.. kecilkan suaramu, ia memandang kearah kita. Lebih baik kita segera pergi dari sini sesuai dengan perintahnya karena bagaimanapun kedudukan intel negara lebih tinggi daripada kita. Apalagi saat ini yang sedang berbicara adalah kapten tertinggi intel negara, jika kau berani macam-macam dengannya maka jabatanmu akan menjadi taruhannya.”

Donghae mengamati dua anggota tim SAR yang masih bertahan di tempat mereka berdiri meskipun ia telah mengusir mereka secara terang-terangan. Ia pun berinisiatif untuk menghampiri mereka dan menanyakan keperluan mereka secara langsung. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, dua orang anggota tim SAR itu langsung berjalan pergi meninggalkan tempat mereka sambil sesekali menoleh ke belakang untuk mencuri pandang kearahnya.

“Dasar pengecut! Mereka hanya berani membicarakanku tanpa berani menghadapiku.” Gerutu Donghae kesal. Ia kemudian berjalan menuju bangkai mobil milik Sehun sambil merogoh saku celananya untuk menghubungi seseorang.

“Halo, kau dan Lay kemarilah. Bawa beberapa anggota intel yang lain untuk mengevakuasi bangkai mobil milik Sehun.”

“Kapten, apa yang terjadi pada Oh Sehun?”

Suara Yeri yang berubah panik di seberang sana membuat Donghae sedikit malas, karena ia harus menjelaskan kronologi kejadian kecelakaan malam ini pada wanita itu.

“Oh Sehun terlibat dalam pengejaran buronan, tapi ia berada di pihak musuh. Ia sengaja menghalang-halangi jalanku untuk menangkap putri Park Jaejong, sehingga aku terpaksa menembak ban belakang mobilnya agar ia menyingkir dari jalanku. Tapi sepertinya hari ini adalah hari kematiaanya karena ia justru menabrak sebuah truk kontainer dan mobil yang dikendarainya terjun bebas ke dalam sungai Han. Saat ini para anggota tim SAR sedang mencari mayatnya.” Jelas Donghae datar dan terkesan tidak peduli dengan nasib Sehun. Karena sebenarnya hal inilah yang ia harapkan, kematian Oh Sehun.

“Aapa… apa Oh Sehun benar-benar meninggal?” Tanya Yeri tergagap. Donghae mengernyitkan dahinya gusar dengan sikap Yeri hari ini yang terlalu banyak bertanya. Padahal biasanya gadis itu selalu menuruti semua perintahnya tanpa banyak bertanya seperti malam ini.

“Tim SAR yang akan memastikan apakah Oh Sehun mati atau tidak. Sekarang yang kuinginkan adalah kedatanganmu bersama Lay dan juga beberapa anggota intel yang lain untuk mengevakuasi bangkai mobil milik Sehun, apa kau mengerti?” Ucap Donghae sedikit menggeram. Yeri bergumam pelan pada Donghae dengan patuh dan setelah itu ia langsung mematikan ponselnya setelah Donghae terlebihdahulu mengakhiri percakapan mereka yang sedikit menjemukan untuknya.

-00-

Dua puluh menit kemudian Yeri datang bersama Lay dan beberapa anggota intel yang lain dengan wajah tegang. Raut wajah mereka menyiratkan sebuah kengerian saat mereka melihat tempat kejadian kecelakaan yang begitu mengerikan dan juga bangkai mobil SUV milik Sehun yang terlihat sudah tak berbentuk. Melihat anak buahnya telah datang, Donghae segera mendatangi mereka untuk memberikan informasi terbaru mengenai jasad Sehun yang belum diketemukan oleh tim SAR.

“Bawa bangkai mobil ini ke markas, kita membutuhkannya untuk barang bukti dan pengusutan kejahatan yang dilakukan oleh Sehun selama ini.”

“Kapten, apa Sehun benar-benar sudah mati?” Tanya Lay prihatin. Bagaimanapun selama ini Lay telah menganggap Sehun seperti saudara kandungnya sendiri, dan baru beberapa saat yang lalu ia tahu jika Sehun sebenarnya adalah seorang pengkhianat yang menyusup ke dalam markas melalui Yeri.

“Aku tidak tahu, tim SAR masih mencoba untuk mencari jasadnya. Tapi jika dalam tiga hari kedepan jasad Sehun tidak ditemukan, maka tim SAR akan menyatakan jika Sehun sudah mati.” Jelas Donghae datar. Lay dan Yeri terlihat begitu sedih mendengar penjelasan dari Donghae karena mereka sama sekali tidak menyangka jika teman setim mereka akan mati dengan cara yang sangat tragis seperti itu. Dan mereka juga yakin jika Sehun tidak akan pernah mendapatkan pemakaman yang layak karena markas jelas tidak akan memberikan penghormatan apapun bagi seorang pengkhianat.

“Kita akan bicarakan masalah ini lagi besok, sekarang kalian bawa bangkai mobil ini ke markas. Aku akan mencari jejak putri Park Jaejong lebih lanjut.”

Yeri mengangguk patuh pada Donghae dan segera menyuruh junior-juniornya untuk menderek mobil SUV milik Sehun yang ringsek. Sepeninggal Donghae, Yeri berjalan menuju pembatas jembatan yang ia duga sebagai tempat jatuhnya mobil Sehun. Pagar jembatan itu kini telah dikelilingi garis polisi dan tampak dijaga ketat oleh pasukan berseragam polisi. Tapi saat ia menunjukan kartu identitasnya sebagai intel, polisi-polisi itu langsung memberinya akses untuk mendekat ke tempat kejadian perkara.

“Aku tidak menyangka jika Sehun akan meninggalkan kita secepat ini. Kupikir ia hanya akan ditangkap oleh kapten Lee dan mendekam di dalam penjara markas yang gelap.” Gumam Yeri pelan. Lay yang berada tepat di belakangnya berjalan pelan menghampiri Yeri sambil menepuk bahu wanita itu untuk menenangkan. Ia pun saat ini juga merasakan kesedihan yang begitu besar karena kepergian Sehun. Tapi ia hanya berharap semoga Sehun mendapatkan kehidupan yang lebih baik di atas sana karena pria itu sangat baik padanya.

“Aku merasa telah kehilangan seorang saudara laki-laki. Ia sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Sejak kapan kau mengetahui pengkhianatannya?”

Yeri menoleh pelan pada Lay sambil menatap teman setimnya dalam. Ia merasa ragu untuk memberitahukan hal ini pada Lay karena ia pikir Lay pasti akan merasa tersakiti dengan informasi yang akan diberikannya.

“Sejak lama. Setelah senior Im meninggal. Saat itu aku melihat Oh Sehun menembak kapten Lee untuk mencegah perbuatan kapten Lee yang akan menembak Park Jaejong. Sejak saat itu aku selalu menyelidikinya dan aku menemukan sesuatu yang mencengangkan jika ia adalah seorang pengkhianat.”

“Apa kapten Lee juga sudah mengetahuinya sejak lama?”

Yeri mengangguk pelan dan kembali mengamati sungai Han yang saat ini dipenuhi oleh orang-orang berseragam kuning yang sedang melakukan penyisiran di sepanjang sungai Han.

“Jadi hanya aku yang tidak mengetahui pengkhianatannya?” Tanya Lay ironi. Yeri memilih untuk diam dan tidak berkata-kata. Saat ini ia terlalu takut terhadap kata-katanya yang mungkin saja dapat menyakiti Lay lebih jauh karena informasi-informasi yang tidak ingin didengarnya. Untuk saat ini biarlah Lay hanya tahu satu kebusukan yang selama ini disembunyikan oleh Sehun. Selanjutnya, mungkin ia akan mengatakannya secara perlahan.

-00-

Dua hari setelah kecelakaan yang menimpa Sehun, tim SAR masih belum bisa menemukan dimana keberadaan jasad Sehun. Lalu markas memutuskan untuk menutup kasus yang menimpa Sehun, karena selain dinilai sebagai kasus yang memalukan untuk markas, kasus itu juga sudah tidak perlu untuk diusut. Jika markas membiarkan kasus tersebut terus diusut, masyarakat akan tahu jika markas intel negara selama ini sering disusupi oleh pihak musuh. Dan berita itu akan membuat masyarakt semakin tidak mempercayai kinerja para intel yang ternyata begitu buruk.

“Ayah merasa bingung dengan keadaan markas saat ini, sepertinya kita perlu melakukan perombakan dewan jenderal untuk mengetahui apakah diantara kami juga terdapat seorang pengkhianat.” Ucap tuan Lee terlihat frustasi saat malam ini ia berkunjung ke ruangan putranya yang berada di lantai lima.

Donghae yang sedang menekuni beberapa berkas yang berisi informasi mengenai Krystal Park langsung mendongakan kepalanya sebentar pada ayahnya sebelum ia kembali tenggelam ke dalam berkas-berkas milik Krystal Park.

“Lakukan saja ayah jika itu memang diperlukan, aku akan sangat mendukung ide ayah itu.” Ucap Donghae tanpa minat. Sesekali dahinya berkerut ketika membaca beberapa informasi yang menurutnya janggal.

“Ayah akan mencoba membicarakan hal ini saat rapat dewan jenderal esok pagi. Ayah harap rapat itu tidak diwarnai kericuhan. Nak, apa yang sedang kau baca? Kau terlihat begitu serius sejak tadi.”

Tiba-tiba tuan Lee merasa penasaran dengan tumpukan berkas-berkas yang sedang ditekuni oleh Donghae. Sejak tadi pria itu tak henti-hentinya mengerutkan dahinya ketika membaca berkas-berkas itu di depannya, dan hal itu tak pelak membuatnya merasa penasaran dengan berkas-berkas yang sedang dibaca oleh anaknya.

“Ini adalah berkas-berkas yang berhubungan dengan putri Park Jaejong, Krystal Park, orang yang telah membawa kabur ayahnya dari markas dua hari yang lalu.”

Tuan Lee berdiri di sebelah Donghae dan ikut membaca setiap tulisan yang tercetak di dalam map merah yang sedang dipegang oleh Donghae.

“Putri Park Jaejong pernah mengalami kecelakaan?”

“Berdasarkan informasi yang kudapatkan dari mantan pengurus rumah tangganya, dulu putri Park Jaejong memang pernah mengalami kecelakaan. Lalu ia dinyatakan koma karena mengalami benturan dan pendarahan yang cukup parah di bagian kepala ketika berusia tujuh belas tahun. Tapi sayangnya pengurus rumah tangga itu dipecat begitu saja tanpa alasan yang jelas oleh Park Jaejong. Ia dipulangkan begitu saja di kampung halaman setelah ia mendengar kabar jika putri Park Jaejong mengalami kritis.”

“Itu cukup mencurigakan.” Gumam tuan Lee sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Pria paruh baya itu kemudian menarik salah satu kursi yang berada di depan meja Donghae.

“Ayah tahu bagaimana kronologi kejadian kecelakaan itu, karena kecelakaan itu terjadi lima tahun yang lalu.”

Donghae mengakat kepalanya dan menatap ayahnya penuh minat.

“Ayah menangani kasus itu? Kenapa aku tidak mengetahuinya?” Tanya Donghae dengan alis berkerut.

“Kecelakaan itu terjadi di bulan desember saat kau sedang pergi ke Nami untuk mengunjungi ibumu bersama Yoona dan Enzo yang saat itu berusia satu tahun. Saat itu adalah malam natal, semua orang sedang bersuka cita untuk menyambut natal. Tapi malam itu terjadi badai salju di Seoul. Jalanan sangat licin karena badai salju yang sangat lebat, dan ayah saat itu sedang dalam perjalanan pulang karena pekerjaan di markas sudah selesai. Saat ayah melewati jalan Ilsandong, ayah melihat sebuah mobil mini cooper melaju begitu kencang di depan ayah. Saat itu ayah sempat membatin jika pengumudi itu adalah pengemudi gila karena ia begitu berani melaju dengan begitu kencang ditengah suasana badai salju yang menyebabkan jalan begitu licin. Namun tak berapa lama ayah mendengar suara benturan yang cukup keras dari arah barat. Cepat-cepat ayah melajukan mobil ayah ke sana, dan di ujung jalan ayah melihat mobil mini cooper itu sudah berasap dan menabrak pembatas jalan dan juga pohon. Lalu ayah segera menghubungi polisi dan pihak rumah sakit untuk mengurus kecelakaan itu. Tapi ayah juga tidak bisa meninggalkan penumpang itu sendiri hingga tim medis dan petugas polisi datang. Akhirnya ayah mendekati mobil itu untuk melihat keadaan sang pengemudi yang saat itu sedang terjepit diantara kursi kemudi dan badan depan mobil yang ringsek. Sebisa mungkin ayah mencoba mengeluarkan wanita itu karena keadaanya yang sudah sangat mengenaskan. Tapi wanita itu sempat sadar untuk beberapa detik dan mengatakan jika namanya adalah Krystal Park. Meski saat itu ayah tidak tahu apa tujuan wanita itu menyebutkan namanya di depan ayah, tapi saat tim medis datang, informasi yang diberikan oleh wanita itu sedikit memudahkan tim medis untuk melacak dimana keberadaan keluarganya. Andai saja saat itu ayah tahu jika wanita itu adalah putri dari Park Jaejong, mungkin ayah akan menggunakan kesempatan itu untuk menangkap Park Jaejong karena bagaimanapun kejahatan pria itu sebenarnya telah terendus sejak lama, namun beberapa oknum telah berhasil menutupinya karena mereka punya jabatan yang penting di pemerintahan.”

Tuan Lee mengakhiri cerita panjangnya dengan bersedekap di depan Donghae sambil menatap putranya dalam. Mengingat Park Jaejong sama saja membuka luka lama putranya tentang kematian sang menantu, tapi ia tidak memiliki pilihan lain selain menceritakannya karena tugas mereka adalah untuk mengusut setiap kasus kejahatan yang terjadi di Seoul.

“Mungkin selama ini Park Jaejong sedang menyembunyikan anaknya yang koma karena anaknya dapat menjadi kelemahannya jika sampai identitas putrinya diketahui oleh musuhnya. Sekarang aku tahu kenapa ia rela mengorbankan dirinya sendiri dua tahun yang lalu untuk di penjara di markas ini, karena saat itu ia hendak membawa putrinya ke Amerika untuk berobat. Dan sekarang putri yang tertidur itu telah kembali. Ia pasti akan melakukan berbagai macam cara untuk membebaskan ayahnya dan melawan musuh-musuh ayahnya karena ia tahu jika ayahnya telah mengorbankan banyak hal untuk kebahagiaannya di masa depan. Tak kusangka jika penjahat licik seperti Park Jaejong juga masih memiliki kebaikan yang begitu besar terhadap putrinya. Ia pasti ayah yang sangat menyayangi putrinya lebih dari apapun.”

“Setiap ayah pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, seperti kau dan Yoona. Kalian selama ini selalu melakukan berbagai macam cara untuk melindungi Enzo dari orang-orang jahat yang mengincar kalian, tapi sayangnya Yoona harus pergi terlebihdahulu meninggalkan kalian karena ia berkorban untuk keselamatan keluarganya. Ayah terkadang merasa menyesal karena dulu telah mengijinkanmu menikah dengan seorah agent seperti Yoona. Andai kau tidak menikah dengan Yoona, mungkin kau akan tetap hidup bahagia dengan keluarga kecilmu.”

“Ayah…”

Donghae menggeram tertahan dengan ucapan ayahnya yang dinilai tidak benar itu. Justru menikah dengan Yoona adalah sebuah kebahagiaan untuknya karena ia menikahi wanita yang tepat. Wanita yang benar-benar mencintainya setulus hati dan wanita yang telah menganugerahinya seorang anak yang begitu tampan dan menggemaskan. Entah apa jadinya jika saat itu sang ayah tidak mengijinkannya menikahi Yoona, mungkin hingga saat ini hidupnya akan tetap suram dan dipenuhi dengan berbagai macam kasus yang tiada habisnya di markas.             “Aku tidak pernah menyesali pernikahanku dengan Yoona, bagiku Yoona adalah cahaya yang menerangi kehidupanku yang suram. Bagiku memiliki Yoona dan Enzo adalah suatu anugerah. Dulu sebelum aku menjadi kapten dan hanya seorang anggota intel biasa, aku sempat berpikir jika sampai umurku menua, aku tidak akan pernah menikah karena aku sadar jika pekerjaanku ini adalah pekerjaan yang penuh bahaya. Melihat ayah yang harus berpisah dari ibu cukup jauh membuatku memutuskan untuk tidak menikah, karena bagiku hidup berjauhan seperti ayah dan ibu hanya akan memberikan penderitaan karena meskipun kalian terikat, tapi kalian tidak bisa bersama karena tuntutan tugas. Tapi setelah aku menjadi kapten dan mengenal Yoona, aku merasa ketakutanku itu hilang. Aku justru semakin berani untuk mencintai Yoona karena kami sama. Kami sama-sama seorang intel dan kami memiliki pengetahuan yang sama mengenai dunia kriminalitas. Jadi aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Yoona dan mengajarinya berbagai macam pelatihan bela diri agar ia bisa melindunginya dirinya sendiri jika aku tidak sedang berada di sampingnya. Jadi ayah tidak perlu merasa menyesal dengan pernikahanku dengan Yoona, karena sejujurnya aku begitu bersyukur saat menikahi Yoona, ia adalah harapanku ayah, harapan untuk kehidupan yang lebih baik.”

“Ya, Yoona juga harapan untuk ayah dan ibumu. Karena dengan hadirnya Yoona, keluarga Lee kini memiliki penerus, Lee Enzo. Sepertinya ayah harus pergi sekarang.”

Donghae membiarkan ayahnya pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Melihat ayahnya yang sedang menyembunyikan air mata kesedihan di balik mata tuanya sudah membuatnya merasa jika saat ini sang ayah sedang dipenuhi dengan luapan emosi yang tak tertahankan. Biarkanlah sang ayah menikmati waktu sendirinya untuk meluapkan emosinya yang saat ini sedang berkumpul di pelupuk matanya.

Drtt drtt drtt

Donghae mendengar ponselnya bergetar beberapa kali di atas meja. Dengan gerakan kalem, Donghae mengambil ponsel hitam itu dan langsung menempelkannya di telinga.

“Ya, ada apa? Apa kau mendapatkan informasi baru?”

“Saya menemukan target bos, saat ini Krystal Park sedang berada di sebuah club di daerah Jaewon.” Ucap seseorang di seberang sana yang merupakan mata-mata khusus yang disewa Donghae. Sejak dua hari yang lalu ia telah memutuskan untuk mengusut kasus Krystal Park sendiri tanpa campur tangan anak buahnya, karena ia tidak ingin rencananya kali ini berantakan. Apalagi ia sudah sedikit trauma dengan adanya pengkhianat yang saat ini tengah membuat kondisi markas semakih memanas. Biarlah kali ini hanya dirinya saja yang mengusut kasus milik Krystal. Jika ia membutuhkan bantuan, ia pasti akan memanggil anak buahnya untuk ikut serta membantunya.

“Baiklah, aku akan ke sana. Tetap lanjutkan pekerjaanmu untuk mengawasi Krystal.”

-00-

Krystal berjalan gusar ke dalam bar sambil sesekali memegangi kepalanya yang berdenyut. Hari ini kakeknya kembali membuatnya kesal dengan menyalahkannya atas meninggalnya Sehun dan beberapa pekerjaanya yang entah kenapa hari ini sedikit berantakan. Ia kemudian berjalan menuju meja bartender untuk memesan beberapa gelas scotch agar ia bisa melupakan semua kekesalannya hari ini.

“Minuman untukmu nona.”

Krystal mengernyitkan dahinya bingung pada seorang pelayan yang tiba-tiba memberikannya segelas margarita, padahal ia sama sekali tidak memesannya. Bahkan ia belum mengatakan apapun untuk memesan minuman.

“Siapa yang memberikan minuman ini padaku? Aku tidak memintanya.” Ucap Krystal dingin. Pelayan itu membungkuk hormat dan menunjuka pada seorang pria berjas hitam yang sedang dikelilingi oleh beberapa orang wanita berpakaian minim di kanan kirinya.

“Pria itu yang memberikan anda minuman.”

Krystal menoleh kearah tatapan bartender itu dan ia langsung menemukan seorang pria parlente yang sedang menatapnya dengan tatapan genit yang memuakan. Pria itu menaikan sedikit topi baretnya sambil mengerling nakal kearah Krystal yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam.

“Well, ini tidak buruk untuk sebuah permulaan, meskipun aku sangat ingin meledakan kepala pria genit itu.” Gumam Krystal pada dirinya sendiri sambil menegak margarita itu dalam sekali tegakan. Ia kemudian memesan lima gelas scotch pada bartender untuk menghilangkan efek berdenyut yang benar-benar memuakan untuknya. Andai saja ia bisa melepas kepalanya, ia pasti akan melakukannya untuk menghilangkan rasa berdenyut itu sesaat dari kepalanya.

“Kau tampak tidak baik-baik saja.”

Krystal menoleh cepat ke kanan ketika ia mendengar sebuah suara yang begitu familiar untuknya.

“Kau, kapten sombong Lee Donghae.” Ucap Krystal dengan aksen sedikit mabuk. Donghae tersenyum miring pada Krystal dan meminta bartender untuk memberinya segelas vodka.

“Huh, akhirnya aku menemukanmu di sini. Jika aku ingin, aku bisa saja menangkapmu dan membawamu ke markas karena kau telah berbuat keributan di markasku dengan melepaskan Park Jaejong dan melenyapkan nyawa salah satu anak buahku, Oh Sehun.”

Krystal tampak tak peduli dengan ocehan Donghae dan tetap menegak scotchnya berkali-kali hingga gelas ke lima.

“Tolong berikan aku satu gelas lagi.” Teriak Krystal pada bartender yang sedang mengelap gelas di depannya. Bartender itu dengan senang hati menuangkan scotch ke dalam gelas Krystal yang telah kosong di depannya.

“Aku tidak membunuh Sehun, kau yang menembak mobilnya hingga ia kehilangan kontrol dan menabrak truk kontainer. Seharusnya kau yang mati, bukan Oh Sehun.” Ucap Krystal tajam sambil menatap lekat kedua mata legam Donghae. Donghae membalas tatapan Krystal tak kalah tajam dan untuk sesaat ia seperti sedang menatap manik madu Yoona yang selama ini ia rindukan. Kedua wanita itu benar-benar mirip. Bahkan bukan hanya sekedar wajah, mata mereka juga sama, mata bulat yang selalu memancarkan ketenangan itu juga dimiliki oleh wanita jahat yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam. Andai itu Yoona, ia pasti sudah memeluknya dengan erat sambil menyalurkan seluruh rasa rindunya yang selama ini ia rasakan.

“Oh Sehun adalah pengkhianat, dan cepat atau lambat Park Jaejong dan yang lainnya juga akan menyusul Oh Sehun di neraka.”

Plakk

Tanpa diduga, Krystal langsung menampar keras pipi Donghae karena ia tidak terima dengan ucapan pria itu.

“Kau berani-beraninya mengatakan hal itu pada ayahku, kau pasti akan mati di tanganku terlebihdahulu sebelum kau berhasil menyentuh ayahku.” Desis Krystal marah. Donghae mengusap pipi kanannya yang terasa panas akibat tamparan Krystal yang keras. Tapi ia hanya menyeringai licik di hadapan wanita itu sambil mencengkeram rahang Krystal kuat-kuat di depannya.

“Bahkan kau masih berada di sini karena kemurahan hatiku yang tidak membawamu ke markas, jadi jangan pernah mengancamku dengan berniat untuk membunuhku karena kau sebenarnya tidak memiliki kekuatan sedikitpun untuk melawanku.”

Dengan kasar Donghae mendorong rahang Krystal ke belakang dan meneguk vodkanya dengan kasar. Krystal yang sudah semakin mabuk tampak meracau tidak jelas sambil mengusap rahangnya yang terasa kebas.

“Ayo ikut aku.”

Donghae menarik lengan Krystal kasar dan memaksa Krystal untuk berdiri. Krystal tampak limbung kesana kemari karena setengah kesadarannya telah menghilang. Entah apa yang telah di masukan ke dalam minumannya, karena ia biasanya tidak pernah sepayah itu dalam urusan alkohol. Seseorang pasti telah menjebaknya dan membuatnya kehilangan kendali atas dirinya.

“Lepaskan! Kau… mau membawaku kemana?” Tanya Krystal terbata-bata dengan kepala berputar dan mata yang berkunang-kunang. Donghae tetap menyeret Krystal pergi dari bar itu tanpa menghiraukan pertanyaan Krystal yang terus diulang-ulang seperti kaset rusak.

“Lepaskan! Jangan… paksa.. aku!”

Krystal menghentakan tangan Donghae kasar, namun setelahnya ia langsung terjerembam ke atas lantai karena kepalanya yang terus berputar-putar serta lantai bar yang sama berputarnya seperti kepalanya yang terasa begitu pening.

“Apa yang terjadi padaku?” Gumam Krystal gusar sambil mencoba berdiri. Namun sebanyak apapun ia mencoba, ia tetap akan jatuh di tempat yang sama tanpa bisa benar-benar berdiri tegak.

“Kau harus ikut denganku dan jangan banyak bertanya.” Ucap Donghae gusar dan kembali menarik lengan Krystal kasar agar segera berdiri. Krystal pun tak memiliki pilihan lain selain mengikuti langkah Donghae, meskipun sebenarnya ia ingin sekali lari karena ia tahu jika ia ikut bersama Donghae, maka ia tidak akan aman. Tapi separuh otaknya terasa seperti lumpuh sekarang, hingga ia tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah Donghae.

“Hey hey hey, bisakah kau… sedikit lembut?” Protes Krystal yang merasa tidak nyaman dengan tarikan tangan Donghae yang sangat kasar itu. Donghae tampak menulikan pendengarannya dan terus membawa Krystal ke dalam mobilnya. Ia kemudian melemparkan Krystal ke dalam kursi penumpang, sebelum ia berlari memutari mobilnya untuk membawa Krystal ke suatu tempat yang ia rahasiakan dari siapapun.

“Diam dan jangan berisik. Kau akan segera tahu dimana aku akan membawamu pergi.” Ucap Donghae dengan seringain licik melalui kaca spion di depannya.

Brak

Donghae memejamkan matanya dalam-dalam menahan emosi yang membuncah di hatinya. Baru saja Krystal memukul dadanya dan menariknya paksa agar ia membalikan tubuhnya ke belakang.

“Jangan pernah memancingku untuk….”

“Kenapa… wajahmu sering muncul di dalam… mimpiku?” Racau Krystal dengan mata setengah terpejam. Donghae menahan dagu Krystal di depannya sambil menatap manik mata bulat itu dalam. Tiba-tiba ia kembali teringat akan Yoona. Wajah Krystal yang saat ini sedang berada tepat di depan wajahnya mau tidak mau membuatnya kembali mengingat luka lama yang selama ini selalu berusaha ia sembunyikan dari siapapun.

“Bibir ini, aku sangat merindukannya.” Gumam Donghae pelan dengan suara serak sambil mengusap bibir Krystal seduktif. Kedua mata mereka saling terkunci satu sama lain dengan wajah Donghae yang semakin mendekat pada Krystal untuk meraup bibir merah muda yang selama ini selalu ia rindukan di setiap malam-malam kesepiannya.

6 thoughts on “Bullets Of Justice: Catch The Cucciola (Twelve)

  1. Akhirnya dilanjut jg ff ini..
    Semoga yoona cpet inget semuanya, makin seru nih ceritanya..
    Next thor..

  2. Hae Mau bawa yoona eitss.. Salah. Mau bawa krystal kmna?

    Sebenarnya apa yg terjadi krystal yoona hae… Ahhh berharap emang krystal udh gk ada dan digantikan sama yoona. Jadi yoona bisa kembali lagi sama haeppa…

    Enzo… Terancam… Aduh haeppa jangan lengah dong

  3. part ini masih bikin tegang euy. kristal park
    who are you? masih misteri semoga lee enzo g knapa” khawatir sama ancaman park jaejong

  4. Kayanya sehun belum mati deh
    Apa tuan lee ga ingat wajah krystal sebelumnya? Maunya donghae nunjukin foto krystal
    Semoga ingatan krystal cepat pulih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.