Bullets OF Justice: The Great Escape (Eleven)

“Tunangan?”

Krstal membeo sambil menatap Sehun tidak suka. Kemudian tatapan matanya beralih pada Yunho yang sedang berdiri di sebelahnya sambil menganggukan kepalanya pelan.

“Ya, tuan Sehun adalah tunangan anda nona.” Ucap Yunho terlihat sungguh-sungguh. Sehun tersenyum manis kearah Krystal dan menepuk bahu wanita itu pelan.

“Mungkin kau lupa padaku karena kecelakaan itu telah merenggut seluruh ingatanmu di masa lalu, tapi aku akan membuatmu kembali mengingatku sebagai tunanganmu. Sedikit demi sedikit kau pasti akan mengingatnya.”

Krystal masih menatap Sehun penuh tanda tanya karena kepalanya sama sekali tidak memiliki ingatan apapun tentang Sehun. Bahkan ia merasa seperti baru saja bertemu dengan pria itu saat ini. Tapi bagaimana mungkin Yunho ataupun kakeknya tidak pernah menyinggung masalah tunangan padanya? Mereka sama sekali tidak pernah menyebut-nyebut nama Sehun selama dua tahun terakhir ini.

“Kau tidak pernah mengatakan padaku jika aku memiliki tunangan.” Ucap Krystal menyalahkan Yunho.

“Bos besar yang memerintakanku untuk tutup mulut, bos tidak ingin kau lengah nona. Mengetahui kau memiliki tunangan akan membuatmu terus didera rasa penasaran bagaimana rupa tunanganmu, padahal kau adalah seorang lady yang harus bertanggungjawab untuk The Wyn dan Bloods, jika kau lengah, maka bisnis keluarga yang telah dirintis oleh ayah bos besar akan hancur begitu saja. Jadi lebih baik kau tidak mengetahui masa lalumu untuk sementara, tapi setelah ini kau pasti akan mengetahui semuanya. Aku akan memberimu informasi apapun yang kau butuhkan nona.”

Krystal menatap Yunho datar dan ia sama sekali tidak tertarik dengan alasan panjang Yunho terkait masa lalunya yang sengaja disembunyikan. Sekarang ia benar-benar merasa sendiri dan tak memiliki sekutu sedikitpun. Satu-satunya pengawal yang ia punya tak pernah sedikitpun menaruh hormat padanya, hanya kakeknya yang memiliki wewenang itu dan ia merasa tidak memiliki ruang karena kakeknya.

“Terserah, kukira itu tidak penting sekarang karena aku tetap tidak bisa mengingat apapun tentang pria ini, siapa namamu?” Tanya Krystal angkuh dengan gayanya yang begitu sombong. Sehun tersenyum manis pada Krystal sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan gaya kalem.

“Oh Sehun, selama ini kau biasa memanggilku Sehun oppa.” Ucap Sehun menjelaskan. Sehun dapat menangkap ekspresi wajah jijik dari raut wajah Krystal, namun ia berusaha mengabaikannya dengan melancarkan aksinya untuk meluluhkan Krystal.

“Tidak masalah kau tidak mengingat namaku, masih ada lain waktu untuk berkenalan satu sama lain.” Ucap Sehun manis. Krystal memilih mengabaikan Sehun dan memberikan kode pada Yunho untuk segera pergi dari bandara karena suasana di sekitar mereka sudah semakin ramai, dan ia cukup risih berada di keramaian yang begitu padat seperti itu.

“Tuggu! Ada apa dengan lehermu sayang?”

Sehun mencekal tangan Krystal dan mencoba untuk menyibak rambut Krystal yang sejak tadi menutupi perban yang terpasang di lehernya. Namun Krystal dengan enggan segera menepis tangan Sehun dan merapikan kembali rambutnya agar menutupi perban putih yang membalut lukanya kemarin.

“Seseorang ingin mencoba membunuhku.”

“Apa? Siapa? Siapa yang berani membunuh seorang lady Bloods, apa ia cari mati? Kau sudah memberi pelajaran pada orang itu?” Tanya Sehun terlihat khawatir. Krystal menatap Sehun tajam dan menggelengkan kepelanya pelan.

“Aku belum memberinya pelajaran, aku hanya sempat menggores lengannya dengan peluruku. Lagipula pria itu tidak berada di sini, jadi kita tidak perlu memikirkannya. Kita harus fokus pada usaha untuk mengeluarkan ayahku dari penjara. Apa kau sudah memiliki rencana untuk membebaskan ayahku? Kali ini aku sendiri yang akan melakukannya, kau cukup membantuku saja untuk masuk ke dalam penjaranya karena menurut kakek kau sudah berada di dalam markas itu cukup lama. Jadi kau pasti tahu seluk beluk markas itu dengan baik.”

“Aku sudah berada di markas itu lebih dari tiga tahun. Tiga tahun aku berusaha untuk menjadi salah satu anggote intel yang terpercaya dan terlihat meyakinkan di hadapan semua orang hingga akhirnya aku bisa menjadi salah satu anggota devisi dua yang berada di bawah kepemimpinan kapten Lee, kapten yang paling disegani di markas itu. Dan selama itu pula aku mempelajari setiap kelemahan mereka dan sesekali mengirimkan informasi ke bos besar dan ayahmu. Kapan kau ingin membebaskan ayahmu?”

“Secepatnya.”

Krystal berseru tegas tanpa keraguan sedikitpun. Di benaknya kini terbersit rasa ingin tahu yang begitu tinggi, bagaimana rupa ayahnya sekarang? Apakah ayahnya semakin kurus karena berada di penjara atau ayahnya akan terlihat lemah. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk membawa ayahnya keluar dan merasakan udara kebebasan yang selama dua tahun ini telah dinanti ayahnya.

“Kalau begitu kita harus segera menyusun rencana untuk membebaskan ayahmu.”

“Ya, sekarang juga kita menyusun rencana itu, di rumahku. Ayo Yunho, kita pulang.”

Krystal berjalan angkuh meninggalkan Sehun yang masih setia berdiri di belakangnya sambil menatap Yunho penuh arti.

“Tidak salah aku menitipkan Krystal padamu, ia tumbuh menjadi wanita tegas yang sangat tangguh, kau pasti telah melatihnya dengan keras.”

“Aku melakukan apa yang bos besar perintahkan padaku.” Jawab Yunho sopan dan segera berjalan pergi untuk menyusul nonanya. Sehun tersenyum menyeringai sambil membayangkan wajah rekan-rekannya dan tentunya sang kapten yang pasti akan sangat terkejut dengan kejutan yang akan dibawanya. Perlahan-lahan ia akan mengungkapkan jati dirinya. Namun saat mereka tahu, mereka tentu sudah tidak bisa berbuat apapun. Dan mereka hanya bisa bertekuk lutut padanya.

“Tunggulah kejutan dariku kawan-kawan.”

-00-

Donghae berjalan gusar ke dalam penjara Park Jaejong untuk mengintrogasi pria itu lagi terkait dengan semua kebusukannya yang telah ia temukan di Amerika. Tapi sialnya ia tidak bisa menggertak Park Jaejong seperti dugaanya karena ia tidak berhasil mendapatkan wanita itu. Ketika berada di Phoenix ia nyaris menangkapnya, tapi sayangnya wanita itu terlalu berani pada kematian. Ia sama sekali tidak gentar ketika ia menodongkan pisau ke lehernya dan berhasil menggores lehernya hingga mengeluarkan darah. Wanita itu justru semakin menantangnya dengan bergerak brutal hingga pisau putihnya justru menggores dalam kulit lehernya. Dan sialnya debu sisa pembongkaran rumah-rumah milik warga berhasil menyamarkan jejak kakinya yang begitu gesit, sehingga pada akhirnya ia harus menelan kekecewaan karena ia tidak berhasil mendapatkan wanita itu. Dan sekarang ia telah berada di markas untuk mengintrogasi Park Jaejong lebih lanjut karena pria itu pasti memiliki banyak informasi mengenai putrinya. Dengan cara apapun ia harus mengintrogasi pria busuk itu agar ia bisa kembali ke Amerika secepatnya untuk menangkap wanita misterius yang mengaku sebagai lady Bloods yang juga berwajah mirip seperti Yoona.

Brakk!

“Bangun!”

Donghae menggebrak jeruju besi Park Jaejong keras ketika ia melihat pria itu sedang meringkuk di atas ranjangnya sambil membelakangi jeruji besi. Pria paruh baya itu terlihat tak bergerak sedikitpun dan hanya diam bagaikan seonggok mayat yang telah busuk, membuat Donghae geram dan ingin memperlakukan pria itu lebih kasar lagi.

“Hey keparat, aku memiliki urusan denganmu! Jika kau tidak bangun, maka aku akan membunuh putrimu yang cantik itu, Krystal Park.”

Mendengar nama putrinya disebut, Park Jaejong langsung membalikan tubuhnya sambil menatap Donghae dengan mata nyalang. Sejak tadi ia memang tidak tidur, ia hanya malas bertemu Donghae dan melakukan introgasi dengan pria itu. Tapi sayangnya pria itu telah membuatnya was-was dengan topik seputar putrinya yang entah mengapa bisa diketahui oleh Donghae. Padahal ia yakin jika ia telah menyembunyikan putrinya dengan aman di Amerika. Dan seharusnya Donghae tidak mengetahui hal itu, meskipun ia sempat pergi ke sana untuk menyelidiki aset-aset milik Bloods. Tapi jika memang Donghae bertemu dengan putrinya di Amerika, maka hal itu akan sangat membahayakan untuknya dan juga Bloods.

“Ada apa? Kenapa kau mengganggu tidur nyanyakku?” Tanya Park Jaejong santai. Ia tidak ingin terlihat terlalu panik di depan Donghae karena pria itu telah berhasil menemukan putrinya.

“Huh, jadi selama ini kau menyembunyikan putrimu di Amerika? Hebat. Sangat hebat. Bahkan kau berhasil menipu kami semua dengan data-data pribadimu yang menyebutkan jika kau tidak memiliki keluarga ataupun keturunan. Pasti kau sangat menyayangi putrimu hingga kau rela membuat identitas palsu demi menyembunyikannya. Tapi sayangnya aku berhasil bertemu dengannya di Las Vegas.” Ucap Donghae dengan seringaian. Park Jaejong tetap mempertahankan ekspresi wajah tenangnya dengan baik meskipun Donghae telah berhasil memprovokasinya dan membuatnya sedikit khawatir.

“Jadi bagaimana? Apakah ia tumbuh dengan baik dan menjadi wanita yang cantik?” Tanya Park Jaejong dengan wajah berminat yang dibuat-buat. Donghae tersenyum sinis pada Park Jaejong dan berjalan mendekati pria itu sambil berpegangan pada jeruji besi yang membatasi mereka.

“Putrimu…. sangat cantik. Tubuhnya begitu mulus dan menggoda, bahkan saat pertama kali melihatnya aku merasa…. ingin mencicipi tubuhnya.” Bisik Donghae sensual. Park Jaejong mengepalkan tangannya marah dan hendak memukul Donghae yang berada di depan jerujinya, namun Donghae berhasil menghindar dan mundur dengan wajah penuh kemenangan yang terlihat puas.

“Keparat kau! Jangan pernah coba-coba untuk mendekati putriku atau kau akan mati!”

“Ayah dan anak benar-benar mirip rupanya. Putrimu juga mengatakan hal yang sama padaku, ia akan membunuhku jika aku berani mengusik ketenangannya. Namun gertakannya itu justru membuatku semakin bersemangat untuk mendapatkannya. Untuk membongkar setiap kebusukan yang telah kau sembunyikan selama ini karena putrimu juga memegang kunci bisnis kotormu. Dia adalah lady Bloods bukan?”

Park Jaejong tampak terkejut ketika Donghae ternyata sudah mengetahui semuanya hingga sejauh itu. Dan ia harus lebih waspada setelah ini dan memberi peringatan pada Sehun untuk melindungi Krystal lebih ketat karena Donghae jelas-jelas akan mengincar putrinya untuk memerasnya.

“Tapi setelah dua tahun kau menangkapku, kau baru mengetahuinya? Terlalu lambat.” Cibir Park Jaejong mencemooh. Donghae kali ini memilih untuk tak ambil pusing dengan cemoohan Park Jaejong padanya karena ia jelas-jelas telah memegang banyak kartu truf milik pria itu.

“Apa itu penting? Oh, sepertinya aku lupa mengatakan padamu, aku telah berhasil melukai putrimu. Aku telah menggores lehernya dengan pisau milikku.”

Donghae mengeluarkan pisaunya yang masih berlumuran darah milik Krystal yang kini telah mengering dan berubah warna menjadi kecoklatan. Pria itu dengan bangga menunjukannya pada Park Jaejong seperti sedang menunjukan sebongkah emas.

“Kau lihat, ini darah milik putrimu. Aku berhasil menggores lehernya dengan cukup dalam. Dan mungkin saja saat ini putrimu telah mati karena kehabisan darah, atau semacamnya, aku tidak tahu. Apapun dapat terjadi padanya karena lehernya terluka.”

“Jangan pernah macam-macam pada putriku atau aku akan membunuhmu!”

“Putrimu akan tetap selamat, asalkan kau bersedia untuk memberikanku semua informasi terkait bisnis gelapmu dan juga bos besar yang selama ini keberadaanya selalu tersembunyi. Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir hingga esok pagi. Dan jika kau tidak menjawab semua pertanyaanku dengan benar, maka aku sendiri yang akan menyeret putrimu ke sini dan membunuhnya di depan matamu.” Ancam Donghae sungguh-sungguh dengan wajah mengerikan. Park Jaejong menggenggam jeruji besinya kuat-kuat sambil menatap marah pada Donghae yang telah berjalan pergi meninggalkannya sendiri dengan berbagai ketakutan yang melingkupi hatinya. Ia kemudian memberikan kode pada cctv dan berharap jika Sehun akan segera datang malam ini karena ia membutuhkan pria itu untuk melindungi putrinya dari Donghae.

-00-

Krystal bersandar pada sandaran sofa sambil mengamati Sehun yang sedang menjelaskan seluk beluk gedung intel negara yang menjadi tempat ditahannya sang ayah. Di depannya telah terhampar sebuah kertas berukuran besar yang berisi peta lokasi gedung intel negara serta lokasi dimana ayahnya dipenjara.

“Ayahmu berada di titik ini, jadi kau harus bisa menembus lokasi ini, ini dan ini agar kau bisa sampai pada ayahmu.” Jelas Sehun sambil menunjuk titik-titik yang telah ia tandai dengan spidol merah. Krystal menatap denah lokasi itu dengan seksama sambil sesekali memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi saat ia menyusup ke dalam gedung intel negara itu.

“Apa mereka tidak memasang ranjau disekitar area gedung? Aku tidak yakin jika menyusup masuk ke dalam markas intel negara akan semudah itu.” Ucap Krystal sangsi. Sehun menggeleng pelan namun jari telunjuknya menunjuk beberapa area yang berada di sekitar gedung intel.

“Kau harus mewaspadai daerah ini, karena di sini para jenderal memasang alat detektor suara, jadi sekecil apapun suara yang ditimbulkan jika berada di area ini akan membuat para pengawas mengetahui jika seseorang sedang berada di tempat ini. Biasanya setiap anggota intel telah dikenali oleh kamera karena mereka telah melakukan tes pupil, dan jika yang tertangkap oleh kamera adalah orang asing, maka alarm akan berbunyi nyaring untuk memberi peringatan jika ada seorang penyusup yang masuk ke dalam markas. Sore tadi aku bertemu dengan ayahmu.”

Tiba-tiba Sehun berucap serius sambil menegakan tubuhnya yang semula sedikit bersandar pada sandaran sofa. Krystal mengangkat sebelah alisnya ingin tahu dan menunggu Sehun melanjutkan kalimatnya.

“Kapten keparat itu telah mengancamnya. Kapten itu menggunakanmu untuk menggali informasi yang sebanyak-banyaknya tentang Bloods dan bos besar. Kapten itu telah mengetahui jati dirimu.”

“Apa? Bagaimana mungkin? Bukankah selama ini Yunho telah menyembunyikan identitasku? Bahkan semua data-data tentangku telah dimanipulasi oleh pihak Bloods, tapi kenapa intel itu tahu jati diriku dan menggunakanku untuk memeras ayah? Kita harus segera membebaskan ayahku.” Ucap Krystal tegas dengan wajah merah padam akibat menahan marah. Yunho mulai mengecek semua anggota Bloods untuk berjaga-jaga jika mungkin saja salah satu dari mereka merupakan seorang pengkhianat. Namun setelah cukup lama ia mengeceknya, namun ia sama sekali tidak menemukan seorangpun pengkhianat di dalam kelompoknya. Semua anggota Bloods dinyatakan bersih karena mereka telah bersumpah setia untuk selalu mengabdi pada Bloods atau mati.

“Mereka semua bersih nona, tidak ada satupun pengkhianat di dalam kelompok kita.”

“Lalu siapa yang membocorkan identitasku? Apa kita akan menyusup ke dalam markas malam ini?”

“Terlalu beresiko jika kita menyusup ke dalam markas hari ini karena kita belum mempersiapkan apapun. Lagipula kau baru saja tiba dari Amerika, kondisimu belum sepenuhnya siap untuk melakukan aksi penyelamatan malam ini. Setidaknya kita harus menunggu hingga esok malam.” Ucap Sehun mencoba memberi masukan. Ia sendiri sebenarnya cukup khawatir dengan Park Jaejong karena pria itu bisa saja goyah jika Donghae sudah mulai mengancamnya menggunakan Krystal. Namun ia telah mengatakan pada Park Jaejong untuk sedikit mengulur waktu agar Krystal benar-benar siap untuk menjalankan misinya.

“Aku sudah mengatakan pada ayahmu untuk sedikit mengulur waktu. Sebenarnya kapten Lee hanya memberinya waktu untuk berpikir hingga esok hari, tapi aku sudah meminta ayahmu untuk meminta kelonggaran waktu pada kapten Lee.”

“Apa ia akan memberikannya? Bagaimana jika kapten itu tidak memberikan kelonggaran waktu pada ayahku. Tapi aku masih tak habis pikir, bagaimana kapten itu bisa mengetahui jati diriku?” Tanya Krystal gusar pada dirinya sendiri. Salah satu tanganya terulur ke atas meja untuk menyambar kaleng birnya yang masih tersisa setengah.

“Beberapa hari yang lalu kapten Lee pergi ke Vegas untuk menyelidiki aset-aset milik Bloods. Salah satu rekanku berhasil menemukan bukti keterkaitan ayahmu dengan The Wyn. Kemudian kapten itu memutuskan untuk pergi ke Las Vegas untuk memeriksanya sendiri. Mungkin ia berhasil menemukanmu di sana.”

Krystal mendecak tidak suka sambil melempar kaleng birnya yang kosong ke arah tembok, menciptakan suara gaduh yang begitu berisik dan memekakan telinga. Namun semua orang yang berada di dalam ruangan itu hanya diam. Mereka tidak berani memperingatkan sang lady yang sedang tersulut api kemarahan.

“Keparat! Bagaimana mungkin kapten itu mengetahui jati diriku begitu saja hanya dalam satu kali perjalana ke Vegas. Ia tidak mungkin mengetahui jati diriku kecuali….”

Krystal menggantung kalimatnya sambil menatap Yunho dan Sehun bergantian. Tiba-tiba saja ia teringat pada seorang pria asing yang hendak membunuhnya ketika berada di Phoenix dan ketika berada di The Wyn.

“Kecuali apa? Apa sesuatu telah terjadi padamu tanpa sepengetahuanku nona?” Tanya Yunho menyelidik. Krystal sedikit menghembuskan nafasnya gusar karena sekarang ia telah menyadari kebodohannya. Sekarang ia yakin jika pria misterius yang digertaknya saat itu adalah sang kapten yang sejak tadi mereka bicarakan karena hanya kepada pria itu ia berbicara dan meneriakan namanya dengan sangat jelas.

“Aku bertemu seorang pria asing ketika berada di Vegas. Pria itu adalah saksi mata dari pembunuhan yang kulakukan, dan pria itu adalah orang yang mengalami luka tembak di lengan ketika berada di The Wyn karena aku menembaknya. Aku sendiri yang telah mengungkapkan identitasku pada pria itu. Aku mengatakan padanya jika aku adalah lady Bloods dan aku juga menyebutkan margaku. Apakah kapten Lee yang kau kenal tidak memiliki isteri? Pria itu beberapa kali mengatakan padaku jika isterinya telah meninggal dua tahun yang lalu karena ayah. Apakah pria yang kutemui adalah kapten Lee?”

Sehun menyugar rambutnya sambil menghembuskan nafasnya berat setelah mendengar semua cerita yang dikatakan oleh Krystal. Ternyata beberapa hari yang lalu Donghae telah bertemu dengan Krystal. Dan pasti kaptennya itu saat ini lebih berambisi untuk memojokan Park Jaejong karena ia telah mengetahui kelemahan pria itu.

“Ya. Pria itu pasti kapten Lee. Dua tahun yang lalu ia memang telah kehilangan isterinya karena isterinya mengetahui identitas Park Jaejong dan juga bos besar, oleh karena itu ayahmu memerintahkan anak buahnya untuk membunuh wanita itu dan membakarnya di dalam gudang tua yang merupakan gudang penyimpanan milik Bloods yang sudah tidak terpakai. Kapten keparat itu pasti akan semakin berambisi untuk menangkapmu karena ia begitu dendam pada ayahmu. Ia tahu jika ayahmu adalah dalang dibalik kematian isterinya yang sangat dicintainya. Apalagi perjuangan mereka untuk bersatu tidaklah mudah, mereka harus menentang peraturan nomor satu di dalam markas, yaitu setiap agent tidak diijinkan untuk menikah satu sama lain, tapi pada kenyataanya mereka menikah. Mereka menikah dan memiliki seorang anak laki-laki.”

“Yah, dia pasti memiliki banyak dendam pada ayahku karena ayahku telah merusak kehidupan rumah tangganya yang kelewat manis itu.” Ucap Krystal penuh penekanan dengan nada mencemooh. Sehun menganggukan kepalanya pelan sambil memikirkan rencana mereka esok malam untuk menyelamatkan Park Jaejong. Rencana mereka harus benar-benar sempurna dan semua itu tergantung pada Krystal karena wanita itu yang akan mengeksekusi rencana mereka esok malam.

“Apa kau siap untuk menjalankan rencana kita besok. Kau tidak boleh gagal. Meskipun aku juga berada di sana untu melindungimu, tapi kau tetap harus berhati-hati. Kau tidak boleh sampai terlihat oleh kapten Lee, karena ia pasti akan langsung mengenalimu karena kalian sudah pernah bertemu sebelumnya.”

“Jadi ia sudah berada di Korea? Damn! Benar-benar sialan pria itu! Aku harus membuat peringatan padanya karena ia telah melukai leherku.”

Krystal tampak berapi-api sambil mengelus lehernya yang sesekali masih terasa nyeri meskipun dokter telah memberinya obat dan perban. Luka yang ditimbulkan oleh serangan pria itu di lehernya benar-benar tidak main-main. Mungkin jika saat itu ia tidak memperhitungkan pergerakannya, pisau itu benar-benar akan mengiris nadinya.

“Tenanglah, jangan terlalu berambisi untuk melakukan balas dendam pada kapten keparat itu karena misimu besok hanyalah untuk menyelamatkan ayahmu. Akan ada saatnya dimana kau bisa membunuh kapten itu dengan tanganmu sendiri.” Ucap Sehun memperingatkan dengan seringaian puas di wajahnya. Krystal menganggukan kepalanya mengerti namun masih dengan wajah kusut karena ia begitu menginginkan kematian Donghae. Tidak ada hal lain yang ingin ia lakukan di dunia ini selain membunuh musuh-musuh ayahnya dan menghancurkan mereka satu persatu hingga mereka benar-benar hancur menjadi serpihan debu yang akan terhempas begitu saja ketika angin datang meniup mereka.

“Yunho, ambilkan obatku. Kepalaku berdentam.” Perintah Krystal tegas sambil berjalan pergi menuju kamarnya untuk beristirahat. Sehun menatap Yunho penuh tanda tanya dan mulai mendekati pria itu untuk mengintrogasinya.

“Apa Krystal masih mengonsumsi obat itu?”

“Ia masih mengonsumsinya, terutama saat kepalanya terasa sakit dan berdentam-dentam. Ia sering mengalami sakit kepala ketika emosinya sedang meluap-luap. Jangan pernah membuatnya mengeluarkan emosi seperti tadi, apalagi dengan menceritakan masa lalu kapten Lee yang tidak penting seperti itu.” Peringat Yunho sebelum berjalan pergi meninggalkan Sehun yang masih termenung di ruang tengah dengan berbagai macam pertanyaan yang berputar-putar di dalam kepalanya.

-00-

“Lee Enzo, apa yang kau lakukan di sini? Jika kau memang belum dijemput, lebih baik kau menunggu di dalam.”

Enzo menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan guru kelasnya sedang menatapnya dengan tatapan khawatir. Bocah kecil itu menggeleng pelan dan bersikeras untuk tetap menunggu ayahnya datang di depan gerbang karena ia tidak mau merepotkan ayahnya yang harus masuk ke dalam sekolah untuk mencarinya jika ia menunggu di dalam.

“Aku akan menunggu daddy di sini, sebentar lagi ia akan datang menjemputku.”

“Memangnya dimana bibimu yang biasanya menjemputmu?” Tanya guru wanita itu penasaran. Enzo kemudian mengingat percakapannya dengan Jaekyung kemarin. Wanita berambut panjang itu kemarin mengatakan padanya jika untuk tiga hari ke depan ia tidak bisa menemani Enzo karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya di luar kota, sehingga untuk sementara waktu ia akan terus di jemput oleh ayahnya dan akan tinggal di rumah bersama neneknya yang kebetulan sedang berada di Seoul.

“Aunt Jae sedang memiliki pekerjaan di luar kota. Sebentar lagi daddy akan datang, miss Song tidak perlu khawatir.”

Wanita berambut sebahu itu mengangguk-angguk mengerti dan mengelus puncak kepala Enzo pelan sebelum ia berjalan pergi untuk masuk ke dalam sekolah yang terlihat sudah cukup sepi.

Setelah guru kelasnya pergi, Enzo kembali melanjutkan kegiatannya dengan melamun sambil menghitungi setiap mobil yang melintas di depannya. Meskipun itu memang konyol, tapi setidaknya menghitungi mobil yang melintas di depannya sedikit mengurangi rasa bosannya karena menunggu sang ayah yang begitu lama. Ia tahu jika ayahnya sangat sibuk, dan ia akan terus menunggu hingga ayahnya menjemput. Pagi ini saat ayahnya datang, ia begitu senang hingga ia ingin langsung diantar oleh ayahnya ke sekolah. Dan untungnya ayahnya langsung mengiyakan keinginannya karena sang ayah rupanya juga cukup merasa bersalah karena sudah beberapa hari ini meninggalkannya di rumah. Namun sebelum ia masuk ke dalam sekolahnya tadi pagi sang ayah sudah mengatakan padanya jika ia tidak bisa berjanji akan menjemputnya tepat waktu karena ia memiliki begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Ia pun mengangguk tidak apa-apa pada sang ayah karena ia cukup mengerti dengan pekerjaan ayahnya yang super sibuk di markas.

Tiba-tiba Enzo merasa lapar dan haus. Ia pun beranjak berdiri untuk pergi ke mini market yang berada di seberang jalan. Kebetulan jam sekolah sudah selesai sejak satu setengah jam yang lalu, sehingga suasana jalanan di depannya tidak terlalu ramai. Hanya beberapa mobil pribadi yang sesekali melintas di depannya. Ia pun mulai berdiri di pinggir jalan untuk menyeberang. Setelah dirasa jalanan cukup sepi, langkah kakinya yang kecil berjalan perlahan melintasi aspal yang membentang di depannya. Namun tiba-tiba sebuah sedan merah melaju dengan cukup kencang dari arah timur dan membuat Enzo terkejut. Bocah kecil itu refleks menghentikan langkahnya dan mematung di tempat dengan kaki gemetar. Kedua kakinya seperti terpaku di atas aspal dan ia tidak bisa menggerakannya sedikitpun. Dengan pasrah Enzo menutup matanya dan hanya membayangkan wajah ibunya yang telah lama pergi.

Ciiittt

Samar-samar Enzo mendengar suara decitan ban yang beradu dengan aspal di depannya. Namun kelopak matanya sama sekali tidak berani membuka matanya karena bayangan sedan merah yang akan melindasnya terus berputar-putar di dalam kepalanya hingga membuatnya merasa ngeri dan hanya mampu mematung di tempat sambil menutup mata.

“Astaga, kau tidak apa-apa nak. Apa kau terluka?”

Sekumpulan pejalan kaki menggiringnya untuk menepi ke seberang jalan. Seorang ibu muda menyodorkan segelas air pada Enzo untuk menenangkannya yang terlihat syok. Tanpa berkata apa-apa, Enzo langsung menegak air itu hingga tandas dengan nafas yang masih terengah beberapa kali.

“Permisi, apa ia baik-baik saja?”

Enzo menurunkan gelas plastiknya dan langsung berhadapan dengan sang pengemudi mobil. Wanita berambut blonde itu menatap Enzo khawatir sambil mengamati tubuhnya untuk memastikan jika Enzo sama sekali tidak terluka. Namun tiba-tiba Enzo melompat dari tempat duduknya dan langsung memeluk wanita itu hingga ia hampir terjengkang ke belakang karena dorongan Enzo yang cukup kuat.

“Mommy…”

Semua pejalan kaki yang masih mengerubungi Enzo langsung berbisik-bisik pelan ketika Enzo langsung memeluk erat sang penabrak yang mereka pikir adalah ibu Enzo.

“Maaf, aku bukan ibumu.”

“Mommy… Aku merindukanmu.” Ucap Enzo lagi tanpa mengindahkan ucapan wanita asing yang dipeluknya. Salah satu ibu muda yang memberikan Enzo segelas air menepuk pundak si penabrak pelan sambil berseru pelan.

“Kenapa kau tidak mengakui anakmu sendiri, lihat dia sangat ketakutan.”

Wanita itu kemudian memutuskan untuk membiarkan Enzo memeluknya sambil menunggu para pejalan kaki itu pergi dari tempatnya berdiri karena ia cukup merasa aneh dengan kehadiran mereka yang tiba-tiba menghujaninya dengan tatapan sinis karena mereka mengira jika ia adalah ibu yang jahat karena hampir saja menabrak anaknya dan tidak mengakui anak yang hampir ia tabrak sebagai anaknya.

“Hey, apa kau baik-baik saja? Aku bukan ibumu, dimana ibumu sekarang? Aku akan mengantarmu pada ibumu.” Ucap wanita itu pelan sambil mendorong tubuh Enzo sedikit menjauh agar ia dapat menatap wajah Enzo secara langsung. Sekilas wanita itu menemukan sebuah kerinduan dan kesedihan yang cukup pekat dari mata bocah kecil itu. Tapi ia memilih untuk mengabaikannya karena semua kesedihan yang dirasakan oleh pria kecil itu bukan urusannya.

“Dimana ibumu? Aku akan mengantarmu pada ibumu.”

“Kau mirip seperti mommyku. Mommyku sudah meninggal.” Ucap Enzo ringan. Wanita itu merasa tertegun dengan ucapan Enzo dengan perasaan ganjil yang tiba-tiba menyusup kedalam hatinya. Tiba-tiba saja ia merasa ada sebuah tangan tak kasat mata yang sedang mencubit hatinya lalu meremasnya hingga ia merasakan rasa sakit ketika bocah polos itu mengatakan jika ia tidak memiliki ibu. Dan ngomong-ngomong mengenai ibu, ia juga tidak memilikinya. Jadi mereka sama.

“Kau tidak pulang?” Tanya wanita itu sedikit lembut. Ia memutuskan untuk mengambil tempat di sebelah Enzo sambil menatap bocah kecil itu dengan mata lembutnya. Mata lembut yang seumur hidup belum pernah ia tunjukan pada siapapun. Hanya pada Enzo ia menunjukan sisi lembutnya yang selama ini terkubur dalam di dalam jiwanya.

“Aku menunggu daddyku. Kupikir kau adalah mommyku, aku sangat merindukannya.”

Krystal mengelus puncak kepala Enzo lembut. Ia sebenarnya tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan Enzo. Karena ia tidak berpengalaman dengan anak-anak.

“Mungkin kami hanya mirip, tapi aku bukan ibumu. Apa kau terluka?”

Enzo menggeleng pelan sambil menatap tangan dan kakinya yang masih terlihat baik-baik saja, tanpa lecet sedikitpun.

“Aku baik-baik saja. Mobilmu tidak sempat menabrakku. Ahh, itu mobil daddyku, aku harus pergi.”

Enzo berseru keras ketika ia melihat mobil sang ayah yang sedang merayap pelan di depan pintu gerbang sekolahnya. Bocah laki-laki itu kemudian berlari cepat sambil melambaikan tangannya pada Krystal untuk menghampiri sang ayah yang telah menunggunya di dalam mobil.

“Sampai jumpa.”

Krystal tersenyum kecil melihat kepergian Enzo yang telah berlari kencang ke seberang jalan untuk menghampiri mobil ayahnya yang telah terparkir rapi di sana. Sejenak Krystal merasa ingin memiliki seorang anak yang akan meramaikan kehidupannya yang sepi dan membosankan. Tapi kemudian ia segera membuang jauh-jauh pikiran sesaatnya mengenai seorang anak karena ia jelas tidak pantas untuk mendapatkannya. Kehidupan gelap yang telah ia jalani selama ini terlalu beresiko jika ia memiliki seorang anak. Jika ia memiliki seorang anak, ia justru akan dipusingkan dengan masalah keselamatan anaknya yang tidak akan pernah mendapatkan kehidupan tenang tanpa kekerasan karena selama ini ia selalu dikelilingi oleh suasana hitam itu. Suasana hitam yang berisi dendam, kemarahan, dan kematian.

“Huh, aku memang konyol.”

Krystal tersenyum getir pada dirinya sendiri sambil memasang kacamata hitamnya kembali untuk menyamarkan wajahnya dari orang-orang yang mungkin sedang mengincarnya.

-00-

“Enzo darimana saja kau? Daddy mencarimu.”

Donghae berjalan cepat kearah Enzo sambil menatap Enzo penuh kekhawatiran karena ia baru saja masuk ke dalam sekolah putranya namun tidak mendapati sang putra berada di dalam halaman sekolahnya. Namun setelah menemukan Enzo dalam keadaan baik-baik saja, kekhawatiran itu perlahan-lahan memudar, digantikan dengan perasaan lega yang tiba-tiba membuncah di dalam hatinya. Sejak tadi ia terus membayangkan berbagai kejadian buruk karena bagaimanapun nyawa Enzo selalu dalam bahaya sejak berita mengenai pernikahannya dan kematiaan Yoona terkuak ke media.

“Enzo hanya membeli minum di depan sana, Enzo juga bertemu dengan…”

Enzo menolehkan kepalanya ke belakang, namun ia tak menemukan mobil wanita yang bewajah mirip dengan ibunya. Dengan sedikit kebingungan ia menoleh kesana kemari untuk mencari dimana keberadaan mobil itu. Tapi sayangnya mobil itu sudah benar-benar pergi dari sana.

“Siapa? Siapa yang kau temui?”

“Seseorang yang mirip dengan mommy, tapi sepertinya ia sudah pergi. Ayo kita pulang dad.” Ajak Enzo dengan wajah lesu sambil berjalan pelan menuju mobil ayahnya. Donghae mengernyit kearah Enzo sambil menatap seluruh sudut mini market yang terlihat sepi.

“Kau pasti merindukan mommymu, ayo kita pergi melihat mommy di pemakaman.”

Enzo langsung mengangguk antusias sambil berseru keras.

“Ayooo.. Aku ingin bertemu mommy.” Teriak bocah kecil itu girang. Donghae tersenyum kecil melihat tingkah Enzo yang begitu bersemangat. Tak terasa kini Enzo telah tumbuh menjadi bocah laki-laki berusia enam tahun yang telah meninggalkan taman kanak-kanaknya. Betapa waktu berjalan begitu cepat setelah Yoona pergi meninggalkan mereka. Namun hidup harus tetap berlanjut. Ia harus tetap membesarkan Enzo dengan penuh semangat agar kelak ia menjadi anak yang dapat membanggakannya dan juga Yoona. Bagaimanapun Enzo adalah malaikat kecil mereka yang membawa seribu harapan yang ingin mereka wujudkan di masa depan. Meskipun sekarang Yoona telah pergi meninggalkannya, namun ia tetap harus mewujudkan semua harapan-harapan itu hingga nanti ia sudah tidak bisa mewujudkannya dan pergi meninggalkan dunia.

“Dad, apa nanti malam kau akan menginap di markas?”

Donghae menganggukan kepalanya sambil sesekali menolehkan kepalanya ke samping untuk menatap wajah Enzo.

“Daddy memiliki banyak pekerjaan di markas. Ada apa?”

“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya merindukan daddy. Kapan kita bisa bermain bersama seperti dulu? Aku ingin bertanding game dengan daddy lagi.”

Donghae mengacak rambut anaknya beberapa kali sambil terkekeh pelan.

“Jadi itu maksudmu menanyakan hal itu pada daddy, tunggulah sebentar. Besok kita akan bertanding game seharian di rumah.” Ucap Donghae bersungguh-sungguh. Enzo berseru girang sambil mengangkat kedua tangannya di atas. Rupanya bocah laki-laki itu benar-benar merindukan ayahnya hingga rencana untuk bertanding game seharian di rumah membuatnya begitu senang bukan main.

“Aku benar-benar tidak sabar untuk mengalahkan daddy dalam semua permainan yang akan kita mainkan besok karena selama ini aku selalu berhasil mengalahkan aunty Jae.” Ucap Enzo terdengar puas. Donghae menggelengkan kepalanya pelan dengan tingakah Enzo yang terkadang terlihat begitu puas ketika ia berhasil membuat Jaekyung berteriak-teriak marah karena ulah bocah itu.

“Jangan suka mengganggu aunt Jae, mengalahlah padanya.”

“Tapi aku suka melihat aunty Jae saat berteriak, ia terlihat lucu.” Ucap Enzo sambil terkikik geli membayangkan wajah garang atau wajah kesal Jaekyung ketika ia menggodanya di rumah. Ia akui sebenarnya Jaekyung adalah wanita yang baik dan juga penyayang, namun terkadang ia sedikit berisik dan terlalu mencampuri urusannya, membuatnya merasa risih jika wanita itu sudah berkeliaran di sekitarnya.

“Ayo turun, ayo kita bertemu mommy.”

Enzo melepas sabuk pengamannya buru-buru ketika mobil yang dikemudikan ayahnya telah terparkir sempurna di dalam sebuah pemakaman umum yang terlihat sepi. Dengan lincah, Enzo berjalan melewati jejeran batu nisan yang terhampar di sekitarnya untuk mencapai makam milik ibunya yang berada di ujung jalan setapak yang dilewatinya.

“Mommy, aku datang. Apa kabar?” Ucap Enzo ringan pada makam ibunya sambil mengelusnya pelan. Bocah kecil itu kemudian membersihkan makam ibunya dari rumput-rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu nisan yang bertuliskan nama Im Yoona di atasnya.

“Yoona, aku datang bersama Enzo. Kami merindukanmu.”

Mereka berdua berjongkok di depan makam Yoona dan mendoakan wanita yang sangat berarti bagi hidup mereka dengan khidmat. Donghae mengatupkan kedua tanganya sambil memejamkan matanya rapat di depan makam Yoona. Di dalam doanya ia berharap semua Yoona selalu bahagia di atas sana dan hidup tenang sambil menunggunya yang suatu saat juga akan menyusulnya untuk pergi meninggalkan hiruk pikuk kehidupan di dunia yang tidak ada habisnya.

“Mommy, aku sangat sangat merindukanmu. Hiduplah dengan baik di atas, sampai jumpa. Aku akan datang lagi untuk mengunjungimu bersama daddy lain waktu.” Janji Enzo sambil mengelus nisan milik Yoona sekali lagi sebelum ia beranjak berdiri dan mengikuti langkah Donghae yang sedang berjalan di depannya untuk meninggalkan area pemakaman. Pasangan ayah dan anak itu kemudian masuk ke dalam mobil hitam yang dikendarai Donghae dalam diam dengan berbagai emosi yang membuncah di hatinya karena mereka sama-sama merasakan kerinduan yang mendalam pada Yoona.

-00-

Krystal menggunakan topeng hitamnya dan mengikat rambut blondenya tinggi-tinggi sebelum ia keluar dari dalam mobil sedan merahnya. Malam ini ia akan membebaskan ayahnya yang masih mendekam di dalam tahana intel negara. Ia pun mulai mengecek peta lokasi yang telah diberikan oleh Sehun pagi ini untuk memastikan jika ia sudah berada di titik yang tepat. Setelah itu ia mulai mengecek senjatanya satu persatu. Malam ini ia sudah menyiapkan pistol semi otomatisnya dan juga pisau peraknya yang telah ia sembunyikan dengan sempurna di kakinya.

“Father, i’m coming.” Gumam Krystal dengan seringaian liciknya. Wanita itu segera keluar dari dalam mobilnya dan mulai memanjat dinding beton yang menjulang tinggi di depannya menggunakan tali yang telah disiapkan oleh Sehun. Siang ini pria itu sengaja memasang sebuah tali tambang disekitar tembok belakang markas untuk memudahkan Krystal memanjat dinding beton markas yang tinggi. Dengan sarung tangan hitamnya dan sepatu karetnya yang melekat pas di kakinya, Krystal mampu memanjat dinding beton itu dengan mudah tanpa menuai kendala sedikitpun. Ia kemudian melompat ke bawah tanpa keraguan sedikitpun dan langsung mendarat dengan sempurna di atas tanah lembab yang ia pijaki sekarang. Sambil menepuk-nepuk pahanya pelan untuk menghilangkan debu halus yang menempel di sana, Krystal mulai menyiapkan senjatanya untuk berjaga-jaga. Meskipun menurut Sehun semuanya akan tetap aman hingga ia berhasil mengeluarkan ayahnya dari dalam penjara, tapi ia tetap harus berjaga-jaga. Ia tidak bisa mempercayai Sehun begitu saja, meskipun ia tunangannya sekalipun, karena ia sama sekali tidak mengenal Oh Sehun.

“Hmm… ternyata markas ini begitu bagus.”

Krystal bergumam pelan sambil mengagumi interior markas yang begitu klasik. Ia pikir suatu saat ia harus merombak markas milik Bloods agar terlihat sama berkelasnya dengan markas negara yang sedang ia susupi. Ketika ia tiba di sebuah persimpangan, Krystal mulai merayap di dinding sambil memastikan keadaan di persimpangan itu tetap sepi dan aman. Di atas dinding Krystal melihat sebuah kamera cctv yang sedang menyorot tepat kearahnya, namun ia tahu jika kamera itu sedang tidak aktif. Sehun dan sekutunya telah memanipulasi kamera itu, hingga cctv sama sekali tidak bisa merekam pergerakannya. Apapun yang ia lakukan sekarang, ia akan tetap aman.

“Kudengar hari ini kapten Lee menyiksa tahanan kita untuk meminta keterangan darinya terkait dengan orang-orang yang selama ini bekerjasama dengannya.”

“Park Jaejong? Bedebah sialan itu memang pantas mendapatkannya. Sejak dua tahun yang lalu ia selalu menyembunyikannya dan bertingkah seperti seorang tolol yang menjengjelkan. Jika aku menjadi kapten Lee, mungkin aku akan langsung memukulnya bertubi-tubi hingga mati. Tapi sayangnya ia adalah kunci untuk membongkar semua kejahatan yang terjadi di Korea, kita tidak bisa membunuhnya.”

Krystal mengepalkan tangannya rapat-rapat dengan rahang mengeras karena menahan marah. Mereka semua dengan terang-terangan telah menghina ayahnya dan menyalahkan ayahnya dalam segala masalah yang sebenarnya bersumber dari kakeknya. Ia harus secepatnya membebaskan sang ayah dan mengakhiri penderitaanya sebelum sang ayah menjadi bulan-bulanan dari kapten mereka yang beringas.

Krystal berjalan menjauh meninggalkan dua agent yang sedang sibuk membicarakan ayahnya dan semua keburukan ayahnya yang berhasil membuatnya naik pitam. Andai ia tidak sedang menyusup, mungkin ia akan langsung menghabisi dua agent itu karena mereka telah menjelek-jelekan ayahnya di depannya.

“Sialan mereka semua. Jika semua ini telah berakhir, aku pasti akan langsung menghabisi mereka dan kapten mereka yang keparat itu.”

Tepat setelah Krystal menyelesaikan kalimat terakhirnya, sepasang langkah kaki tampak berjalan mendekat kearah Krystal yang saat ini sedang bersembunyi dibalik sebuah lemari besar yang berada di lorong di lantai empat. Langkah kaki itu perlahan-lahan semakin mendekat dan suaranya begitu nyaring, menggema di setiap sudut lorong yang sepi. Krystal mulai menyiapkan senjatanya untuk beberapa kemungkinan terburuk yang akan terjadi padanya. Sambil menggenggam ujung pistol kuat-kuat, Krystal berusaha mengintip untuk memastikan siapa dari agent-agent itu yang tengah berjalan kearahnya. Namun ketika ia berhasil mengintipnya, sekelebat bayangan tentang sesuatu yang acak tiba-tiba merayap di dalam kepalanya dan membuat kepalanya menjadi sakit seketika. Ia kemudian menyumpal mulutnya sendiri dengan sarung tangan yang dipakainya agar suara teriakannya yang sedang kesakitan tidak menggema di dalam lorong itu karena saat ini ia tidak sedang sendiri. Kapten Lee sedang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri dan mungkin sebentar lagi pria itu akan menemukannya dibalik lemari kayu dalam keadaan mengenaskan karena ia sedang dilanda sakit kepala hebat yang begitu menyiksanya.

“Arghhh.. sial! Kumohon hentikan semua ini.” Gumam Krystal parau sambil berlutut di atas lantai karena ia sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang begitu berdentam di kepalanya.

Sementara itu, Donghae sedang berjalan di dalam lorong yang sepi untuk kembali ke ruangannya. Namun tiba-tiba saja ia melupakan map hijau yang ia letakan di atas meja jenderal Shin. Dengan sedikit gusar, ia segera berjalan memutar untuk kembali ke dalam ruangan jenderal Shin karena di dalam map itu terdapat data-data penting yang harus ia teliti untuk menyelidiki semua sekutu Park Jaejong yang belum berhasil ia tangkap.

“Arghh…”

Samar-samar Donghae mendengar suara rintihan tertahan yang terdengar begitu lirih disekitar lorong tempatnya berdiri. Ia pun menghentikan langkahnya sambil mengernyitkan dahinya bingung kearah belakang. Namun sedetik kemudian ia memilih untuk mengabaikannya karena suara rintihan itu sudah tak terdengar lagi. Dan ia pikir suara-suara itu wajar terdengar di dalam sana karena tepat di bawah lorong yang ia pijaki adalah tempat penyiksaan para tahanan yang kelas tinggi yang begitu berbahaya. Jika hari sudah petang, mereka akan diintrogasi dengan sedikit siksaan yang akan membuat mereka pada akhirnya bersedia untuk membongkar semua kejahatan mereka.

Krystal bersandar pada dinding sambil sedikit terengah karena ia baru saja mendapatkan serangan sakit kepala yang begitu luar biasa menusuk kepalanya. Selama ini ia tidak pernah mendapatkan serangan yang begitu hebat seperti itu selama berada di Amerika karena Yunho selalu memberikannya obat secara rutin. Namun tiba-tiba saja malam ini ia mendapatkan serangan karena ia melihat Lee Donghae sedang berjalan kearahnya dengan seragam intelnya yang berwarna biru navy. Lalu ia merasa melihat sebuah bayangan aneh yang terlihat buram di dalam kepalanya. Bayangan itu terus berputar-putar di dalam kepalanya untuk beberapa saat hingga akhirnya bayangan itu hilang dan serangannya juga ikut terhenti.

“Ada apa dengan kepalaku sebenarnya?” Erang Krystal pelan sambil melepas topeng hitamnya untuk mengelap titik-titik keringat yang mengumpul di keningnya. Ia kemudian mencoba menormalkan deru nafasnya dan detak jantungnya yang masih menggila karena serangan sakit kepala tiba-tiba yang hampir saja menggagalkan rencananya. Andai ia tidak membungkam bibirnya dengan sarung tangan yang ia pakai, mungkin Donghae akan langsung menemukannya dan meringkusnya untuk ditahan bersama ayahnya di penjara rahasia yang berada di lantai sepuluh. Tapi untung saja dewi fortuna masih memihaknya. Ia berhasil menahan semuanya hingga Donghae pergi dari lorong tempatnya bersembunyi.

Setelah beberapa saat mengatur semua emosinya. Krystal kembali bangkit sambil memakai topeng hitamnya untuk melanjutkan misi penyelamatan yang harus ia lakukan. Kurang selangkah lagi ia akan bertemu dengan ayahnya, oleh karena itu ia tidak boleh gagal dalam misinya kali ini.

-00-

Dengan langkah pelan, Donghae berjalan menyusuri area markasnya yang sepi. Hari ini ia merasa suasana di dalam markas terlihat lebih senyap karena ia tidak melihat satupun agent yang seharusnya berjaga malam ini, padahal seharusnya setiap malam sepuluh agent ditugaskan untuk berpatroli disetiap lantai untuk mengamankan markas. Tapi untuk malam ini ia sama sekali tidak bertemu dengan satupun agent yang berjaga. Ia kemudian mendongak ke atas untuk melihat kamera cctv yang saat ini sedang menyorotnya. Ia pun berinisiatif untuk pergi ke ruang menitor dan mengecek keadaan markas yang malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Meskipun dua hari yang lalu ia baru kembali dari Amerika, tapi ia yakin jika keadaan markas tidak akan berubah begitu saja hanya dalam tiga hari kepergiaannya ke Amerika.

Cklek

Pintu ruang monitor itu terbuka perlahan dan disusul dengan kemunculan Donghae yang tampak terkejut dengan kondisi ruang monitor yang dipenuhi oleh beberapa agent yang sedang tertidur pulas di sudut ruangan. Donghae pun cepat-cepat menghampiri monitor-monitor yang sedang menayangkan kondisi markas yang terlihat tenang tanpa masalah sedikitpun. Namun ia berhasil menemukan sebuah kejanggalan dalam masing-masing monitor karena ternyata monitor-monitor itu hanya menayangkan rekaman cctv tiga hari yang lalu.

“Hey kalian, bangun! Bangun! Shit!”

Donghae menendang kasar kaki agent-agent yang sedang tidur di sudut ruang monitor dengan gusar. Saat ini pikirannya sedang dipenuhi bermacam-macam pikiran buruk karena markas jelas-jelas dalam kondisi genting. Namun sayangnya agent-agent itu tidak ada satupun yang membuka mata setelah Donghae berkali-kali menendang kaki mereka dengan kasar. Mereka masih tetap bergeming di tempat yang sama sambil memejamkan mata mereka rapat-rapat. Donghae pun akhirnya memilih untuk berlari keluar dan mengecek sendiri semua ruangan-ruangan yang berada di dalam markas karena ia khawatir jika beberapa penyusup sedang mencoba untuk mencuri informasi rahasia milik markas.

“Minseok, apa lantai lima aman?”

“Maksud kapten?”

Minseok yang hendak masuk ke dalam lift tampak bingung dengan pertanyaan kaptennya yang terdengar sedikit aneh.

“Markas telah disusupi, aku khawatir jika penyusup itu adalah sekelompok orang yang ingin mencuri informasi rahasia milik markas.”

“Disusupi? Sejauh ini ruang dokumen aman karena saya baru saja keluar dari ruang dokumen setelah merekap data-data kasus kejahatan selama seminggu ini.”

Sejenak Donghae sedikit lega dengan informasi yang diberikan oleh Minseok. Namun tiba-tiba ia teringat akan ruang tahanan yang berada di lantai sembilan dan sepuluh. Jika sekelompok penyusup itu tidak mengincar dokumen rahasia, maka mereka pasti sedang berusaha untuk menolong salah satu tahanan yang berada di dalam markas. Dengan terburu-buru, Donghae segera menekan tombol darurat yang berada di sudut lift untuk memberi tahu siapapun penghuni markas agar bersiap terhadap sekelompok penyusup yang datang ke dalam markas.

“Suruh semua orang yang masih berada di dalam markas untuk memeriksa setiap lantai, aku akan pergi ke lantai sembilan dan sepuluh. Dan jangan lupa untuk mengamankan setiap dokumen rahasia yang dimiliki oleh markas.”

Minseok mengangguk mengerti dan langsung berlari menuju ruang dokumen untuk memastikan jika semua dokumen yang tersimpan di dalam markas dalam keadaan aman.

Sementara itu Donghae langsung menekan angka sembilan pada tombol lift untuk mengecek keadaan lantai itu karena di sana mereka mimiliki puluhan penjahat kelas berat yang akan sangat berbahaya bila dibiarkan lolos begitu saja.

-00-

Krystal mendorong pelan pintu besi yang menjulang tinggi di depannya setelah ia berhasil memasukan beberapa kata sandi yang telah diberikan oleh Sehun siang tadi padanya. Suasana gelap yang mencekam langsung menyambut Krystal ketika pertama kali Krystal membuka ruangan itu dan menemukan banyak jeruji besi yang berjejer rapi di depannya. Kebanyakan jeruji itu gelap dan kosong, tapi beberapa diantaranya berisi tahanan-tahanan yang saat ini sedang memandang aneh padanya karena tiba-tiba saja mereka kedatangan seorang wanita misterius dengan sebuah topeng di wajahnya.

“Ayah..”

Krystal berseru pelan sambil berjalan tenang diantara deretan jerji besi yang dilewatinya. Beberapa tahanan yang berwajah menyeramkan langsung mendekat kearah jeruji besi untuk menggapai tubuhnya dan meminta pertolongan agar ia dikeluarkan dari penjara. Namun Krystal mengabaikan mereka dan hanya berjalan lurus untuk mencari jeruji besi milik ayahnya yang menurut Sehun berada di ujung terdalam ruangan.

“Ayah.”

Krystal berseru pelan sambil menatap kosong pada seorang pria paruh baya yang sedang memeluk lututnya di dalam sebuah jeruji besi yang ukurannya terlihat lebih kecil dari yang lainnya. Ketika mendengar suara kecil Krystal yang memanggilnya, pria paruh baya itu langsung mendongakan wajahnya sambil menyeringai licik pada Krystal yang saat ini juga sedang menyeringai licik di depannya.

“Akhirnya aku menemukanmu ayah, apa kabar.” Ucap Krystal berbasa-basi sambil bergegas untuk membuka gembok pengaman yang dipasang di sudut jeruji besi. Kunci itu dilengkapi dengan beberapa sandi sulit yang untung saja telah diketahui oleh Sehun dan sidik jari sang kapten. Namun Sehun berhasil menduplikasi sidik jari sang kapten, sehingga Krystal dapat membuka pintu tahanan itu dengan mudah dalam sekejap.

“Kau lama sekali nak, ayah sudah menunggumu sejak dua tahun yang lalu.”

“Maafkan aku ayah, banyak hal yang harus kulakukan di Vegas. Tapi mulai detik ini aku akan selalu melindungi ayah, aku janji.”

Park Jaejong merentangkan tangannya lebar-lebar dan menyambut Krystal ke dalam pelukannya. Tanpa ragu Krystal segera memeluk ayahnya erat-erat sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam pundak kecil ayahnya yang sudah dua tahun ini mendekam di dalam penjara intel negara.

“Ayah, ayo kita keluar. Sehun dan yang lainnya sudah menunggu kita di luar.”

Krystal menggiring ayahnya untuk keluar dan melarikan diri dari dalam markas milik intel negara. Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, mereka tiba-tiba mendengar suara alarm peringatan yang begitu nyaring yang berasal dari pengeras suara yang berada di dekat pintu keluar. Dengan sedikit tergesa, Krsytal langsung menarik tangan ayahnya agar segera keluar dari area tahanan karena firasatnya mengatakan jika kedatangannya ke dalam markas telah diketahui oleh seseorang.

“Kita akan kemana?” Tanya Park Jaejong sambil terengah-engah karena ia harus berlari kesana kemari mengikuti langkah lebar Krystal yang begitu cepat.

Krystal kemudian menunjuk lift yang berada sepuluh meter di depan mereka, namun tiba-tiba lift berdenting keras dan membuat Krystal langsung berbelok arah ke kanan karena seseorang sebentar lagi akan muncul dari balik pintu lift yang sedang terbuka di depannya.

“Kita ketahuan, intel-intel itu tahu jika aku sedang menyusup ke dalam markas mereka. Belok ke kiri ayah.”

Krystal berbelok ke arah lorong gelap yang sama sekali tidak diketahuinya. Namun perasaanya mengatakan jika ia harus berbelok ke kiri dan kemudian ia harus mengambil jalan ke kanan karena di ujung jalan itu ada sebuah pintu yang akan mengarahkannya menuju bagian belakang markas.

“Ayah kita memiliki sedikit perubahan rencana, kita tidak bisa turun melalui balkon ini, karena ini terlalu beresiko. Satu-satunya cara kita harus turun dan menemui Sehun di lantai dua karena ia telah menunggu kita di sana untuk turun menggunakan tali. Aku akan mengalihkan perhatian mereka, dan ayah harus segera turun menggunakan lift menuju lantai dua. Setidaknya saat ini kondisi markas sedang sepi, sehingga akan lebih mudah untuk melarikan diri.”

Tanpa menunggu jawaban dari ayahnya, Krystal langsung berlari ke dalam untuk mengecoh anggota intel yang telah naik ke lantai sepuluh. Ia harus menjadi umpan agar sang ayah dapat keluar dengan selamat dari markas ini karena ini adalah misi penyelamatan ayahnya. Ia tidak mau dipermalukan di depan seluruh anggota Bloods karena tidak bisa mengeluarkan ayahnya sendiri dari dalam penjara musuh mereka. Sebagai lady Bloods ia harus menunjukan kompetensinya dengan baik.

Krystal Pov

            Sial! Ini benar-benar sial! Seharusnya rencana kami berjalan mulus tanpa ada gangguan sedikitpun. Tapi tiba-tiba muncul gangguan yang sama sekali tidak kuperkirakan, sehingga aku harus memutar otakku sendiri untuk menyelamatkan nyawaku dan ayah karena aku tidak ingin berakhir di tangan mereka. Apapun yang terjadi aku harus berhasil membawa ayah keluar dari sini.

Srakk

Aku mendengar suara sebuah gesekan yang berasal dari lorong sebelah kiri. Aku pun mulai mengintip di balik tembok untuk mengintai musuhku yang mungkin saat ini telah menyadari keberadaanku. Dari arah samping aku melihat ayah sedang berjalan pelan menuju lift. Sedangkan musuhku sepertinya masih berada di sekitar lift. Aku harus mengalihkan perhatiaanya.

Dengan sedikit tergesa aku mulai berlari ke kiri dan berbelok ke arah kanan untuk menjauhkan musuhku dari area lift. Dan tak berapa lama aku mendengar suara derap langkah kaki yang begitu nyaring di belakangku. Sekarang aku yakin jika umpanku telah dimakan mentah-mentah oleh siapapun yang sedang mengejarku saat ini.

“Berhenti! Berhenti atau aku akan menembakmu!”

Aku tak mempedulikan teriakannya dan terus berlari kesana kemari agar terhindar dari kejarannya. Namun anehnya aku merasa jika gedung ini tidak serumit dugaanku karena aku tidak merasa kesulitan sedikitpun untuk mencari jalan, padahal ini adalah pengalaman pertamaku menginjakan kaki di dalam markas intel negara.

Dorr!

Sialan! Dia membawa pistol. Aku tidak boleh terkena tembakannya.

“Berhenti. Kau harus berhenti!”

Srett

Seseorang di belakangku berhasil menarik topengku dan membuat rambut blondeku berkibar-kibar karena ikatan rambutku terlepas bersamaan dengan tarikan topeng yang dilakukan oleh pria di belakangku. Namun aku harus tetap berlari meskipun saat ini wajahku sedang terekspos dengan jelas karena aku tidak menggunakan penutup wajah apapun. Asalkan pria itu belum melihat wajahku, maka aku aman.

“Krystal Park, aku tahu itu kau.”

Deg

Tiba-tiba jantungku semakin berdetak cepat karena pria itu berhasil menebak identitasku dengan tepat. Dan jika aku tidak salah menebak, maka pria itu adalah kapten Lee Donghae, musuh terbesarku.

Dor

Dengan serampangan aku menembakan pistolku ke belakang karena aku sudah benar-benar terpojok sekarang. Aku sudah tidak menemukan jalan apapun di depanku. Aku tidak bisa pergi kemanapun sekarang.

“Berhenti atau aku akan menembakmu.”

Aku berhenti tepat di atas pagar pembatas balkon sambil menatap pemandangan mengerikan di bawahku. Jika aku terpaksa melompat ke bawah, maka… aku pasti akan mati. Tapi…. aku tidak memiliki pilihan lain, di belakangku musuh sedang mengejarku dan sedang bersiap untuk menembakku. Jika aku tertangkap, maka kehidupanku pasti akan lebih sengsara dari sebuah kematian, dan aku sepertinya lebih baik mati daripada harus mendekam di dalam bangunan busuk ini seumur hidupku.

“Huh, kau tidak akan bisa menangkapku kapten busuk!”

Aku sedikit menolehkan kepalaku ke arahnya dan tanpa keraguan aku segera melompat ke bawah dengan wajah geramnya yang menjadi pemandangan terakhirku.

Udara dingin terasa menusuk kulitku kala tubuhku terlempar jauh ke bawah dengan ritme yang terasa begitu lambat untukku, tapi nyatanya saat ini tubuhku sedang meluncur cepat ke bawah. Dan mungkin dalam hitungan detik aku akan segera hancur bersama dengan masa depanku yang suram.

3 thoughts on “Bullets OF Justice: The Great Escape (Eleven)

  1. Makin yakin kalo krystal itu yoona, pasti obat yg dy minum, yg buat memories dy ilang
    BTW, mending donghae bawa pisau yg ada bekas darah krystal utk tes DNA, spy ngebuktiin kalo dy yoona atau bukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.