Bullets Of Justice: The Fiance (Ten)

“Siapa kau? Kenapa kau mengetahui teknik kuncian itu?”

Tak

Donghae menendang pistol yang digenggam Krystal dan mengunci tubuh ramping wanita itu menggunakan tubuhnya. Tak peduli darah yang merembes dari lengannya dan menetes-netes di atas lantai yang dipijaknya, saat ini yang ia inginkan hanyalah mengetahui jati diri wanita itu yang sesungguhnya karena ia begitu mirip dengan Yoona. Dan setiap inci tubuhnya mengalirkan sengatan listrik yang sejak dulu selalu ia rasakan jika bersentuhan dengan Yoona.

“Kuulangi sekali lagi, siapa kau sebenarnya?”

Krystal memutar bola matanya malas sambil mencoba untuk lepas dari kungkungan Donghae. Darah segar yang mengalir dari lengan Donghae membuatnya jijik dan merasa ingin muntah. Tapi sayangnya Donghae kali ini tidak ingin melepaskannya dengan mudah karena pria itu memiliki begitu banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya terkait dirinya.

“Apakah penjelasanku sebelumnya kurang jelas? Aku, KRYSTAL PARK! Pemilik sekaligus pemimpin Bloods. Jika kau tahu siapa aku sebenarnya, sebaiknya kau segera lepaskan tanganmu dari tubuhku karena aku tidak segan-segan untuk membunuhmu, meskipun aku harus mengejarmu hingga keseluruh duniapun. Pasti akan kulakukan.” Ucap Krystal penuh tekad. Donghae tersenyum getir dengan ucapan wanita itu dan segera melepaskan tangannya dari tubuh Krystal. Diliriknya sekilas luka menganga yang bersarang di lengannya. Itu bukan kali pertamanya ia mendapatkan luka yang sama di lengannya karena dulu ia juga pernah mendapatkannya.

“Kau mengingatkanku pada isteriku.” Ucap Donghae datar dan segera berjalan pergi meninggalkan Krystal yang masih berdiri di tempat sambil menatap marah pada Donghae yang telah menyusahkannya hari ini.

Flashback

            “Pandangan mata harus sejajar dengan arah datangnya peluru. Kau harus fokus dan jangan sekali-sekali kau lengah, karena musuh tidak akan segan-segan untuk membunuhmu. Lalu tarik pelatuknya.”

Donghae berdiri di belakang Yoona sambil mengajari Yoona teknik-teknik menembak yang benar agar kemampuan Yoona lebih baik lagi. Meskipun Yoona memang sudah menguasai semua tekhnik yang diajarkannya, tapi ia tetap harus mengasahnya berulang kali agar tekhnik itu semakin tajam melekat di dalam pikiran Yoona.

Dorr!

“Bagus, kau berhasil menembak pusat sasaran. Kemampuanmu semakin meningkat Yoong.”

Yoona tersenyum senang sambil menatap Donghae berbinar-binar. Akhirnya setelah sekian lama ia menjadi murid sang kapten, ia dapat mendengar kalimat pujian itu dari bibir Lee Donghae. Bahkan selama ini ia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan pujian itu karena sikap kaptennya yang pelit akan pujian.

“Hmm.. kau sedang merayuku kapten.” Goda Yoona dengan kerlingan nakal. Donghae menatap kedua manik Yoona tajam, lalu tiba-tiba ia memlintir tangan Yoona ke belakang. Yoona mengaduh kesakitan sambil mendengus gusar karena sang kapten yang tiba-tiba menyerangnya disaat ia sedang tidak siap.

“Pelajaran ke dua, kau tidak boleh lengan Yoong, meskipun itu kekasihmu sendiri.” Seringai Donghae puas. Yoona masih mengaduh kesakitan karena Donghae tak kunjung melepaskan kunciannya. Pria itu justru semakin memperparah rasa sakitnya dengan ikut mengunci tangan kanannya yang sedang menggenggam pistol agar mengarah tepat kearah lehernya sendiri.

“Dalam satu kali tarikan, kau bisa mati.”

“Lepaskan aku kapten Lee!! Kau ingin membunuh kekasihmu sendiri? Yang benar saja!” Bentak Yoona kesal. Donghae hanya menatap Yoona tajam dan tidak berniat sedikitpun untuk melepaskan kuncian tangannya dari Yoona.

“Lawan aku, dan carilah tekhnik untuk melepaskannya.”

Yoona mendengus kesal dan mulai bergerak-gerak brutal, namun Donghae sudah mencekal tangannya dengan kuat hingga gerakannya terasa sia-sia saja.

Sepuluh menit kemudian Yoona masih berada di tempat yang sama dengan Donghae yang masih membelit tubuhnya. Jika saja salah satu agent memasuki ruangan itu, mereka berdua tentu saja akan mendapatkan hukuman karena skandal mereka. Namun mereka sengaja memilih waktu berlatih di atas pukul sebelas malam karena tidak ada satupun agent yang masih berkeliaran di dalam markas di atas pukul sebelas. Semua orang tentu saja akan memilih untuk tenggelam kedalam alam mimpi mereka masing-masing daripada harus melakukan latihan yang melelahkan seperti Yoona.

“Oppa… hosh hosh hoshh aku menyerah.”

Yoona terlihat lemas di dalam cekalan Donghae dengan tangan yang masih berada di belakang tubuhnya dan juga di samping lehernya. Wanita itu terkulai lemah di dalam cekalan Donghae, namun Donghae tetap enggan untuk melepaskan Yoona. Karena ia memang ingin menguji Yoona.

“Jika kau lemah, musuhmu akan dengan mudah menembakmu.”

“Jadi kau juga akan membunuhku sekarang? Ya Tuhan, bahkan kita baru saja memulai hubungan ini satu bulan yang lalu. Kau ingin membunuh kekasihmu sendiri?” Teriak Yoona kesal. Donghae tetap mempertahankan ekspresi datar tak terbacanya di depan Yoona. Ia pikir kekasihnya itu kini lebih manja dari biasanya.

“Tidak ada pengecualian untukmu Yoong, meskipun kau kekasihku. Saat berada di lapangan kau hanya memiliki dua pilihan, membunuh atau dibunuh. Bagaimana jika sewaktu-waktu aku berdiri di pihak musuh, apa kau tidak ingin menyingkirkanku? Apakah kau masih tetap ingin mempertahankanku meskipun aku adalah pengkhianat yang harus dimusnahkan?” Bisik Donghae tepat di telinga Yoona. Udara hangat yang berhembus dari hidungnya menerpa kulit leher Yoona dan menyebabkan wanita itu sedikit menggeliat geli. Namun Donghae masih tetap mempertahankan posisinya hingga Yoona benar-benar melawannya dan melepaskan kunciannya dari tubuhnya sendiri.

“Dibunuh atau membunuh… Baiklah, jika itu keinginanmu kapten.”

Yoona mulai menggunakan tekhnik bela dirinya untuk melawan Donghae. Salah satu kakinya ia arahkan ke belakang untuk menendang tulang kering Donghae, namun Donghae berhasil menghindar dan justru memelintir tangannya semakin ke kanan hingga Yoona memekik kesakitan karena tangannya terasa hampir patah. Namun ia tidak ingin dicap sebagai wanita lemah oleh Donghae, ia tetap harus melawannya meskipun Donghae memang kejam karena memperlakukannya seperti itu.

“Aku tidak akan kalah darimu.. hosh hosh, aku pasti bisa.”

Yoona kembali menggunakan tekhnik bela dirinya untuk melawan Donghae terlebihdahulu sebelum ia bisa melepaskan diri dari cekalan Donghae. Ia mencona menyikut perut Donghae dan kali ini ia berhasil membuat Donghae sedikit mengendurkan cekalan tangan kanannya, namun hanya sedikit. Setelah itu Donghae kembali mencekalnya, dan justru kali ini lebih kuat hingga ia mendengar suara gemeretak tulang yang seperti akan patah.

“Akhh… apa tulangku patah?”

“Lawan aku dan gunakan semua senjata yang kau punya. Tanganmu akan benar-benar patah jika kau hanya mengeluh dan tidak melakukan apapun untuk melepaskan tubuhmu dari cekalanku. Dan seandainya hari ini aku adalah kekasihmu yang ternyata berkhianat, apakah kau akan tetap membiarkanku hipup Yoong?”

Yoona terpaku di tempat dengan seluruh kalimat bisikan yang diucapkan Donghae. Malam ini pria itu terlalu aneh karena tiba-tiba menyerangnya. Dan ia pikir mungkin saja Donghae adalah salah satu pengkhianat, karena tidak ada yang bisa menduga apa yang telah terjadi pada salah satu anggota intel di markas. Bahkan salah satu dewan jenderalpun kemungkinan bisa berubah menjadi seorang pengkhianat hanya demi harta dan wanita, lalu bagaimana dengan kekasihnya? Tentu ia juga memiliki peluang yang sama untuk menjadi pengkhianat.

Bugh.. bughh

Yoona menendang tulang kering Donghae dengan brutal dan mulai mengambil ancang-ancang untuk melepaskan tangan kanan Donghae yang masih setia bertengger di dekat lehernya dengan moncong pistol yang menempel sempurna di urat nadinya. Ia pun mulai melepaskan cekalan di tangan kirinya agar ia bisa menyikut perut Donghae dan melepaskan diri dari pria itu. Dan Donghae pun seperti tidak ingin mempermudah gerakan Yoona karena pria itu turut melawan hingga Yoona merasa kedua tangannya semakin ngilu akibat perbuatan Donghae.

“Kenapa? Apa kau sudah menyerah.”

Yoona menatap Donghae garang dan dengan sekuat tenaga ia menggunakan siku kanannya untuk menghentak tangan kanan Donghae. Setelah itu ia mencoba untuk melemahkan Donghae dengan menendang tulang betis Donghae dan membuat pria itu sedikit mengendurkan cekalan tangan kirinya. Lalu ia membuat gerakan memutar untuk melepaskan cekalan tangan kirinya hingga pada akhirnya mereka dapat saling berhadap-hadapan dengan tangan kiri Yoona yang masih berada di dalam genggaman tangan Donghae.

“Bagus, sekarang tembak aku. Dengan begitu kau bisa terbebas dari cekalan tanganku.” Ucap Donghae santai. Yoona manatap pistol semi otomatis yang berada di tangan kanannya. Pistol itu sekarang sudah kosong karena ia telah menggunakan peluru terakhirnya untuk menembak papan sasaran. Dan satu jam yang lalu kekasihnya itu mengatakan jika ia hanya mengisi satu peluru agar Yoona dapat benar-benar memanfaatkan kesempatannya dengan baik. Karena satu peluru akan sangat berharga untuk menembak musuh-musuhnya.

“Kau akan menyesal karean melawanku kapten.” Seringai Yoona sinis dan langsung menarik pelatuk pistolnya.

Dorr

Yoona terpekik kaget ketika pistolnya mengeluarkan peluru yang langsung melesat ke arah Donghae. Dan dalam sekejap lantai yang dipijak oleh Donghae telah kotor oleh tetesan darah yang merembes dari lengan Donghae.

Klang

Yoona membuang pistolnya sembarangan dan langsung berlari menghambur kearah Donghae yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan datar.

“Oppa.. oppa.. maafkan aku, kupikir pistol itu kosong. Aku tidak berniat untuk membunuhmu.”

Yoona hampir menangis ketika melihat lengan Donghae yang telah berdarah-darah di depannya. Ia kemudian merobek lengan bajunya untuk menghentikan pendarahan yang terjadi pada lengan kiri Donghae. Setetes bulir bening turun membasahi pipi Yoona karena ia begitu takut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia tidak tahu jika pistol itu dapat melukai Donghae.

“Kau hanya menembaknya di lengan? Lain kali kau tidak perlu ragu untuk menembaknya tepat di sini.”

Donghae membawa tangan Yoona untuk meraba dada kirinya yang saat ini sedang berdetak teratur. Mata bening Yoona dan mata sendu Donghae yang tegas saling bertatapan satu sama lain untuk waktu yang cukup lama. Tanpa Yoona sadar, setets bulir bening itu kembali lolos dari pelupuk matanya dan membuat Donghae refleks menghapusnya dengan tangan kanannya yang bebas.

“Kau tidak pantas menangisi musuhmu yang terluka.”

“Tapi kau bukan musuhku. Berhenti bermain sandiwara disaat genting seperti ini! Apa kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu.” Ucap Yoona berang. Ia pun melepaskan tangannya yang berada di dada kiri Donghae untuk mengncangkan ikatan kain di lengan Donghae agar Donghae tidak kehabisan darah. Kemudian dengan sedikit paksaan Yoona menarik tangan Donghae agar berdiri karena pria itu harus segera mendapatkan perawatan di rumah sakit.

“Kita harus pergi ke rumah sakit sekarang.”

“Tenanglah, ini bukan luka yang serius. Tapi kau harus selalu mengingat semua tekhnik yang kuajarkan hari ini, karena tekhnik itu sangat penting untuk melindungi dirimu disaat kau terdesak oleh musuh. Dan sekarang hapus air matamu, aku tidak suka melihatmu menangis.”

Donghae mengusap bulir-bulir air mata yang menuruni pipi Yoona dengan lembut, lalu ia mencium kening Yoona untuk menenangkan wanita itu agar ia berhenti menjatuhkan air matanya yang berharga. Sejujurnya, ia sangat benci melihat Yoona menangis. Dan selama ini ia selalu bersumpah pada dirinya sendiri untuk selalu melindungi Yoona agar Yoona tidak perlu menumpahkan air matanya lagi di depannya.

Flashback end

                                                            -00-

Krystal memandang gusar tubuh tegap pria asing yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. Tetesan darah yang merembes dari lengan kirinya tampak seperti jejak yang mengikuti kepergian langkah kakinya. Tak berapa lama, Yunho muncul dari sebuah lorong sambil menatapnya khawatir. Pelayan setianya itu mengamati tubuh Krystal lekat-lekat dan mencoba memastikan jika sang majikan baik-baik saja. Setelah lima menit Yunho meneliti tubuh Krystal dan tak ada yang perlu dikhawatirkan, barulah pria itu dapat bernafas lega sambil menghembuskan nafasnya tenang.

“Nona, apa yang terjadi? Kenapa banyak sekali noda darah yang berceceran di sini?”

Yunho mengamati jejak tetesan darah yang tampak tak terputus dibalik gelapnya lantai basement yang pekat. Disampingnya Yunho dapat melihat seonggok mayat yang baru saja dibunuh oleh nonanya. Ia pun bersiap untuk menghubungi salah satu anak buahnya untuk membereskan kekacauan yang baru saja terjadi di The Wyn. Namun Krystal sudah lebih dulu berucap dan membuatnya mengurungkan niatnya untuk menghubungi sang anak buah.

“Ada seorang pria asing yang melihatku membunuh pria itu.”

“Kenapa kau membiarkannya lolos begitu saja nona? Pria itu bisa saja menyusahkanmu. Bukankah selama ini aku selalu mengajarimu untuk selalu bekerja dengan bersih, dan jangan tinggalkan sedikitpun saksi mata dalam setiap perbuatan yang kau lakukan. La…”

“Diam!”

Krystal berucap keras dengan nafas yang sedikit memburu. Kepalanya sakit, dan Yunho justru menceramahinya dengan kata-kata yang sama sekali tidak berguna untuknya. Dan lagi, seharusnya pria itu membantunya untuk menangkap pria asing itu, bukan mengguruinya seakan-akan dia adalah pria yang paling bijak dan benar.

“Aku tidak butuh nasihat darimu, yang kubutuhkan adalah tindakanmu. Kau cari pria itu dan habisi dia saat kau menemukannya. Pria itu memiliki luka tembak di lengannya, dan kau bisa mengikuti jejak darah yang ditinggalkan pria itu sebelum keluar dari basement ini. Apa kau mengerti?”

Yunho mengangguk mengerti dan mulai berbicara dengan anak buahnya. Pria itu memberikan serangkaian intruksi yang begitu lengkap untuk anak buahnya dan membiarkan Krystal sendiri dengan rasa sakit yang teramat sangat di kepalanya. Tanpa sadar Krystal sudah berpegangan pada dinding dan ia nyaris saja tersungkur ke tanah jika Yunho tidak dengan sigap menangkap tubuhnya yang limbung.

“Kita pulang sekarang nona, kau harus segera meminum obatmu.”

Krystal tak mengucapkan sepatah katapun dan hanya terdiam pasrah membiarkan Yunho menyeretnya keluar dari basement kasino miliknya. Seluruh tenaganya kini seakan luruh tak tersisa, dan digantikan dengan sakit kepala yang begitu menghentak di kepalanya. Padahal siang ini ia sudah menyuruh Yunho untuk memberikannya morfin, tapi tetap saja cairan itu tidak bisa menyembuhkan sakit kepalanya. Cairan itu hanya bisa melumpuhkan syarafnya, bukan membuat penyakitnya pergi atau hilang bagaikan hantu yang tak kasat mata.

-00-

Donghae memejamkan matanya rapat-rapat, meresapi rasa sakit yang menjalar di sekitar lengan kirinya. Meskipun dokter telah mengeluarkan pelurunya satu jam yang lalu, namun rasa sakit itu semakin bertambah menyakitkan seiring dengan efek obat bius yang semakin menipis. Di tengah-tengah rasa sakit yang menjalar di lengannya, Donghae tiba-tiba teringat pada Enzo. Sejak ia tiba di Amerika tadi sore, ia sama sekali belum memberitahu Enzo jika saat ini ia tengah berada di luar negeri. Ia pun membuka matanya nyalang dan mulai mencari ponselnya yang ia simpan di dalam laci di sebelah blangkarnya.

“Halo”

Suara Jaekyung yang begitu khas langsung mengalun di pendengarannya seelah ia menempelkan benda persegi itu di telinga kanannya. Donghae menghela nafasnya pelan dan mulai menyiapkan mentalnya untuk berbicara dengan Jaekyung.

“Lee Donghae! Kau dimana? Kenapa kau tidak pulang? Apa sesuatu terjadi padamu? Kau dimana sekarang? Cepat katakan padaku, aku sangat mengkhawatirkanmu.”

Jaekyung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan hingga membuat telinganya terasa berdengung. Donghae kembali menempelkan benda persegi itu di telinganya, dan berusaha bersikap sedikit lembut pada Jaekyung, meskipun mulutnya ingin sekali membentak wanita cerewet itu.

“Aku di Amerika. Aku ingin berbicara dengan Enzo, apa ia sudah tidur?”

“Apa!! Kau di Amerika? Bagaimana bisa? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi padamu? Suramu terlihat serak, kau pasti sedang sakit. Ayo mengakulah Lee Donghae, kau membuatku khawatir.”

Donghae menggeram kesal dengan rekasi berlebihan Jaekyung yang sangat berlebihan. Suara wanita itu yang berisik tak pelak membuatnya justru semakin sakit kepala dan semakin merasakan sakit akibat lukanya yang berdenyut. Tapi ia tidak bisa mengabaikan Jaekyung begitu saja karena ia ingin berbicara dengan Enzo. Mau tidak mau ia harus mendengarkan siksaan mengerikan itu sebelum ia benar-benar bisa berbicara dengan anaknya.

“Aku baik-baik saja, hanya sedikit mengalami kecelakaan sehingga saat ini aku sedang berada di rumah sakit. Kuharap kau tidak menanggapinya terlalu heboh karena aku merasa terganggu dengan suramu yang berisik. Jadi..”

“Tapi apa kau benar-benar baik saja? Aku akan menyusulmu bila…”

“Jangan memotong ucapanku dan panggil Enzo.”

Akhirnya Donghae kehilangan kesabarannya dan terpaksa harus membentak Jaekyung. Dengan sedikit terkejut Jaekyung segera berlari menuju lantai dua untuk memanggil Enzo yang mungkin sedang berganti pakaian sepulang sekolah.

“Daddy..”

Donghae tersenyum sumringah ketika suara Enzo akhirnya mengalun ringan di telepon. Rasa sakit yang sebelumnya terasa menusuk di lengannya, kini berangsur-angsur berkurang setelah ia mendengar suara Enzo yang begitu ceria di seberang telepon. Mau tidak mau ketika ia membayangkan Enzo, wajah Yoona juga turut berputar-putar di dalam kepalanya, seakan-akan tengah tersenyum lembut kearahnya. Namun ia segera menyingkirkan bayangan itu dan ia mulai fokus pada Enzo yang telah menunggunya sejak tadi.

“Hai, bagaimana kabarmu nak?”

“Aku baik-baik saja. Daddy tidak pulang? Sekarang aku sedang berganti pakaian sepulang sekolah.”

Donghae refleks melirik jam tangannya yang baru menunjukan pukul dua belas dini hari, namun saat ini di Korea telah menunjukan pukul dua siang, jadi tak heran jika Enzo sudah selesai mengikuti pelajaran di sekolah, sedangkan di sini bahkan matahari sama sekali belum terbit.

“Daddy sedang bekerja, dan mungkin daddy tidak akan pulang hingga tiga hari kedepan. Kau baik-baiklah di rumah bersama aunty Jae, jangan merepotkannya.”

Donghae mendengar suara helaan nafas Enzo yang terdengar begitu lirih di seberang telepon, ia tahu jika Enzo pasti sedang menggerutu kesal di dalam hati karena lagi-lagi ia harus tinggal bersama Jaekyung yang cerewet. Tapi besok ibu mertuanya akan datang dan menginap di rumahnya karena nyonya Im merindukan cucunya, jadi setidaknya Enzo akan sedikit tertolong dengan kemunculan neneknya

“Halmeoni akan datang besok, tolong kau katakan pada aunty Jae untuk menjemput halmeoni di stasiun. Dan tolong katakan pada halmeoni jika daddy sedang memiliki pekerjaan penting, jadi daddy akan sedikit terlambat menemui halmeoni.”

Enzo mengangguk tanpa suara sambil menatap kosong pada foto Yoona yang terpajang di dinding ruang tamu. Bocah kecil itu menatap foto itu lama, lalu tanpa sadar ia bergumam pelan pada Donghae.

“Dad, aku merindukan mommy. Ayo kita mengunjungi mommy.”

“Kita akan mengunjungi mommy setelah daddy kembali, jadi tunggulah sebentar hingga daddy pulang.”

“Hmm… jangan terlalu lama, aku tidak suka mendengar suara aunty Jae yang melengking.” Ucap Enzo merajuk. Donghae tertawa pelan dan mengiyakan permintaan putra semata wayangnya yang menggemaskan. Ia pasti akan pulang secepatnya setelah semua misteri yang mengganggunya terpecahkan. Lagipula ia begitu penasaran dengan jati diri sang lady Bloods yang memiliki wajah yang begitu mirip dengan Yoona. Namun ia sangat berharap jika wanita itu benar-benar Krystal, karena ia tidak bisa membayangkan jika wanita itu adalah Yoona. Terlalu beresiko dan akan membuatnya lemah karena pada akhirnya ia harus membunuh wanita itu karena mereka terbukti berada di kutub yang saling berlawanan.

“Daddy akan segera pulang. Jaga dirimu baik-baik, jangan menyusahkan aunty Jae.”

Donghae mengakhiri sambungan teleponnya dengan segala emosi yang menyusup di hatinya. Sejak Yoona pergi dua tahun yang lalu, pembicaraanya dengan Enzo selalu membuatnya merasa memiliki emosi yang meluap-luap. Mungkin karena Enzo terlalu mirip dengan Yoona dan ia sangat merindukan Yoona, sehingga terkadang ia merasa lemah jika ia sedang berbicara dengan Enzo. Tapi orangtua tetaplah orangtua. Sekeras apapun usahanya untuk menjadi tegas, ia tetaplah seorang ayah untuk Enzo yang akan mengeluarkan sisi lembutnya untuk sang anak. Jadi ia rasa topeng dingin dan kakunya tidak akan berlaku jika ia sedang berbicara dengan Enzo.

Srek

Donghae mendengar suara mencurigakan yang berasal dari ruang perawatannya. Ia pun dengan waspada mulai turun dari blangkarnya untuk mengintip keadaan di luar ruang rawatnya yang kebetulan sepi.

Krekk krekk

Suara tiang infus yang diseret perlahan menambah suasana mencekam yang terjadi di lorong rumah sakit tempat Donghae dirawat. Donghae mencoba untuk meneliti setiap sudut lorong yang sepi, namun tidak apapun yang mencurigakan. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamar rawatnya dan beristirahat. Besok ia harus melanjutkan penyelidikannya terhadap The Wyn, Bloods, dan juga lady Bloods yang bernama Krystal Park. Karena ketiga objek itu sepertinya akan memberikan jawaban yang tepat untuk semua pertanyaan yang selama ini bersarang di kepalanya.

-00-

Suara sol sepatu yang beradu dengan lantai berbunyi nyaring di tengah-tengah lorong yang sepi. Di ujung ruangan tampak seorang pria setengah baya sedang duduk diam sambil memainkan sendok bekas makan siangnya untuk menggambar sebuah jam di dinding ruang tahanannya.

“Oh Sehun.” Gumam pria itu pelan sambil berbalik cepat kearah datangnya sumber suara. Sehun yang melihat Park Jaejong tengah menyeringai kearahnya langsung membalas seringaian itu dengan sebuah senyum licik yang tercetak jelas di wajahnya.

“Kau semakin lama semakin mengenali suara langkah kakiku. Bos, apa kau suka tinggal di sini?” Tanya Sehun dengan nada mencemooh. Park Jaejong berusaha mengabaikan tatapan mencemooh Sehun dan ia kembali pada aktivitas menggambar jam di dinding ruang tahanannya yang telah ditempatinya selama kurang lebih dua tahun ini. Tapi meskipun begitu, ia cukup senang tinggal di dalam sana, karena hidupnya terasa jauh lebih tenang selama ia berada di dalam penjara. Namun terkadang ia begitu merindukan kebebasannya yang sebenarnya hanyalah kebebasan semu. Ia merindukan pamannya yang licik, dan ia merindukan putrinya yang dulu terbaring koma.

“Bagaimana dengan Krystal, kau sudah mendapatkan kabar darinya?”

Sehun menyeringai kecil mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir Park Jaejong. Ia tahu jika pria paruh baya itu sangat mencintai putrinya. Bahkan mungkin rasa cintanya melebihi rasa cintanya terhadap dirinya sendiri.

“Bos besar sedang mengunjunginya sekarang, dan ia dalam keadaan baik-baik saja. Tak lama lagi ia akan datang ke Korea dan membebaskanmu, jadi bersiaplah untuk menyongsong kebebasanmu bos.”

Park Jaejong seketika menoleh kearah Sehun setelah mendengar berita mengejutkan yang dibawa oleh pria licik itu. Akhirnya penantiannya selama dua tahun terbayar sudah dengan keadaan putrinya yang baik-baik saja dan setelah ia akan segera dipertemukan dengan putrinya yang sudah dua tahun ini tidak ditemuinya. Andai saja Sehun tidak berada di sana, mungkin ia akan menitikan air matanya karena ia terlalu bahagia. Tapi egonya sebagai seorang bos berhasil menekan perasaan emosi yang meluap-luap di hatinya hingga ia mampu mengendalikannya dengan baik.

“Benarkah? Aku lega mendengarnya. Lalu bagaimana perkembangan penyelidikan kapten Lee sekarang? Huh, dia benar-benar pria yang tangguh, tapi sayangnya ia bodoh.” Ucap Park Jaejong mencemooh. Sehun tersenyum sinis bersama Park Jaejong dan mereka berdua sama-sama menertawakan Donghae yang selama ini telah diperdaya oleh mereka sejak lama. Andai saja Donghae tahu, mungkin ia akan langsung membunuh Oh Sehun sekarang juga karena ia adalah seorang pengkhianat.

“Saat ini kapten sedang pergi ke Nami untuk mengunjungi ibunya bersama anaknya yang malang itu. Tapi sayangnya hari ini aku melihat putra kapten Lee sedang belajar di sekolahnya seperti biasa. Lalu kemana perginya kapten Lee? Apa kau tahu bos?” Tanya Sehun penuh misteri. Park Jaejong menatap Sehun sungguh-sungguh dengan raut wajah yang mengatakan jika ia tidak tahu kemana perginya Lee Donghae. Lagipula ia terus berada di dalam penjara seharian ini, tentu saja ia tidak akan tahu dimana Lee Donghae berada.

“Ia pergi ke Vegas. Seseorang selama ini telah menyadap semua ucapanku, jadi kemungkinan besar pria sialan itu telah mengetahui kebusukanmu. Oleh karena itu aku datang ke sini untuk membicarakan rencana kita lebih lanjut. Cepat atau lambat kapten busuk itu pasti akan segera memprosesku. Jadi sebelum hal itu terjadi aku sudah harus keluar dari sini, bersamamu.”

“Jadi kau takut? Aku melihat ketakutan di matamu Oh Sehun.”

Park Jaejong tersenyum mengejek pada Sehun sambil berjalan mundur untuk duduk bersila dan bersandar pada tembok. Sebagai seorang bos ia tentu saja tidak akan peduli pada Sehun jika kedudukannya hanyalah anak buah biasa. Tapi sayangnya Sehun memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada itu. Mau tidak mau ia harus memutar otak untuk menyelematkan Sehun dari jerat hukum yang akan diterimanya bila kapten gila itu ternyata telah mengetahui semuanya.

“Jika sesuatu terjadi padaku, maka putrimu yang berharga itu juga akan mengalami masalah. Jadi pikirkanlah rencana yang bagus untuk menyelamatkanku, dan putrimu.”

“Huh, dasar! Kau mengancamku? Siapa yang kira-kira telah membantu kapten sialan itu? Aku yakin salah satu rekanmu pasti telah membantunya untuk menjadi mata-matamu.”

“Kim Yeri…”

Sehun bergumam pelan sambil membayangkan Yeri yang selama ini selalu bersikap tak bersahabat dan juga defensif bila berada di dekatnya. Bahkan dua tahun yang lalu Yeri berhasil memojokannya dan mengetahui jika ia telah menembak Donghae agar Donghae tidak menembak Park Jaejong di bandara. Tapi ia masih ragu apakah itu Yeri, karena wanita itu begitu kekanakan dan manja. Tapi jika Minzi yang melakukannya, ia akan sangat percaya karena Minzi adalah wanita yang tangguh. Apalagi selama ini Minzi selalu terlihat aneh dengan berbisik-bisik di telepon ketika sedang menghubungi seseorang. Ia harus segera menyelidiki semua rekan-rekannya karena mereka semua berpotensi untuk menghancurkannya.

“Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi di sekitarku. Aku akan menyelidikinya terlebihdahulu sebelum Krystal kembali dan mengeluarkanmu dari sini, karena aku memiliki rencana tersendiri untuk keluar dari markas yang memuakan ini. Aku sudah bosan berada di sini dan aku merindukan kehidupan lamaku yang penuh dengan wanita, seks, asap rokok, dan semuanya yang berkaitan dengan dunia malam. Aku merindukan The Wyn.”

Park Jaejong tersenyum sinis menatap Sehun sambil menyelipkan kedua tangannya ke belakang untuk menjadi bantalan kepalanya. Sehun adalah pria yang licik. Tanpa bantuannya pun sebenarnya pria itu bisa menghancurkan rekan-rekannya sendiri, hanya saja terkadang Oh Sehun terlalu malas untuk melakukannya karena ia sudah terlanjur bergantung padanya. Meskipun terkadang ia cukup kagum dengan tindakan spontan yang dilakukan Sehun.

“Aku akan membantumu dari belakang, jadi lakukanlah apapun yang menurutmu memang pantas untuk dilakukan. Sekarang pergilah, penjaga akan datang untuk mengecek setiap tahanan, jangan sampai mereka mencurigaimu sebelum tujuan kita terlaksana.”

Sehun mengangguk kecil pada Park Jaejong sebelum ia berjalan pergi meninggalkan area tahanan khusus yang berada di lantai dasar markas. Sehun sekilas sempat melihat kamera cctv yang terpasang di beberapa sudut penjara, tapi setelah ini ia akan membereskan semua jejaknya dengan pergi ke ruang kontrol dan menghapus semua rekaman cctv yang memunculkan dirinya. Ia telah menyuap seorang agent untuk berdiri di belakangnya dan menjadi mata-mata untuk memantau setiap agent yang memiliki tingkah yang mencurigakan. Jadi sampai kapapun ia akan tetap satu langkah lebih pintar dari semua agent-agent yang berada di markas itu.

“Apa yang kau temukan?”

Sehun menempelkan ponselnya ke telinga sambil menekan sebuah angka pada lift untuk naik ke lantai lima. Di seberang sana salah satu mata-mata yang ia suap mulai mengatakan semua informasi yang baru saja didapatkannya.

“Kim Yeri sedang menggeledah barang-barangmu.”

Sehun tersenyum sinis sambil memasukan benda persegi itu ke dalam saku celanannya. Akhirnya ia berhasil menemukan sang tikus yang selama ini telah mematai-matainya. Ia pastikan setelah ini wanita itu akan mendapatkan pelajaran yang berharga dari sikapnya yang terlalu mencampuri urusannya. Wanita itu akan mati!

-00-

Krystal menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang dengan mata nyalang yang menghadap kearah balkon kamarnya. Semalam setelah meminum obat sakit kepalanya, Krystal langsung jatuh tertidur begitu saja tanpa sempat menanyakan perihal penyelidikan sang anak buah terhadap pria asing yang kemarin menemuinya. Namun jika ia mengamati pria itu lekat-lekat, ia merasa jika pria itu adalah seseorang yang berbahaya. Ia tidak terlihat takut padanya meskipun ia telah membuka identitasnya secara terang-terangan pada pria itu. Bahkan pria itu justru berhasil membuatnya gusar dengan ucapannya yang mengatakan jika ia memiliki wajah yang sangat mirip dengan mendiang isterinya. Dan lagi, bahkan pria itu tidak terlihat panik ketika ia menggores lengannya hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak dari sana. Ia yakin, pria itu pasti seseorang yang berbahaya, dan seseorang yang telah terbiasa dengan darah dan pistol.

“Selamat pagi nona.”

Seorang wanita paruh baya yang selama dua tahun ini selalu melayaninya di rumah masuk ke kamarnya sambil membawa sebuah baki yang berisi sarapannya pagi ini. Wanita berusia pertengahan lima puluhan itu menatap Krystal lembut sambil menunjukan menu makan paginya yang menggiurkan pada Krystal.

“Sandwich, salad buah, dan segelas susu madu kesukaan nona. Apa nona ingin sarapan sekarang?”

“Letakan saja di meja, aku akan memakannya setelah ini. Apa Yunho berada di bawah?”

“Tuan Yunho berada di bawah bersama dengan bos besar. Mereka terlihat sangat serius. Apa nona tidak ingin bergabung dengan mereka?”

Krystal menatap malas pada Bekah yang menatapnya seolah-olah sedang mengejek. Bukankah ia tahu jika ia sedang kesal dengan kakeknya?

“Aku malas bertemu dengan pria tua itu. Dia menyebalkan dan menyusahkan. Aku menyesal telah menginginkan pertemuan dengannya selama ini karena ternyata ia sangat jauh dari perkiraanku.” Dengus Krystal kesal. Bekah tersenyum lembut pada Krystal dan mendudukan dirinya di sebelah wanita cantik itu.

“Kau tidak boleh seperti itu, ia adalah kakekmu.” Nasihat Bekah bijak. Dua tahun ia menemani Krystal di saat senang dan susah membuat mereka tanpa sadar merasa nyaman satu sama lain. Selama ini Krystal sudah menganggap Bekah seperti ibunya sendiri karena wanita itu begitu bijak dan selalu sabar dalam menghadapi sikapnya yang terkadang kasar. Bahkan ia masih ingat bagaimana sikapnya pada Bekah saat pertama kali ia bertemu dengan wanita itu. Ia pernah mengamuk dan melemparkan sebuah mangkuk berisi stew kearah wanita itu hingga keesokan harinya ia melihat tangan Bekah melepuh karena perbutan kasarnya yang saat itu sedang marah pada Yunho, namun ia melampiaskannya pada Bekah karena wanita itu sedang berada di kamarnya disaat yang tidak tepat. Tapi setelah itu ia merasa bersalah, dan mulai bersikap sedikit lembut pada Bekah. Ia tidak ingin menyakiti wanita tua yang selama ini telah merawatnya seperti anaknya sendiri itu.

“Tapi pria tua itu benar-benar menyebalkan. Ia menuntut banyak hal dariku, dan ia juga membuatku sakit kepala dengan semua perintahnya yang terlalu semena-mena. Bekah, aku akan kembali ke Korea minggu depan.”

Bekah menatap Krystal sedih sambil mengelus puncak kepala Krystal lembut. Ia tahu cepat atau lambat Krystal pasti akan dibawa ke Korea oleh sang bos besar karena ia sempat mendengar jika bisnis mereka sedang menuai kendala di sana.

“Aku pasti akan merindukanmu. Jangan menyusahkan tuan Yunho di sana.” Canda Bekah sambil tertawa. Krystal merengut kesal dengan candaan Bekah, namun tiba-tiba ia menatap Bekah sungguh-sungguh sambil menggenggam tangan wanita itu erat.

“Apa kau akan kembali ke rumahmu setelah aku tidak di sini lagi?”

Bekah menggeleng pelan pada Krystal sambil menatap wanita muda itu sendu.

“Aku akan tetap di sini. Tempatku di sini nona, Bloods tidak akan pernah mengijinkan siapapun yang pernah menjadi bagian Bloods untuk keluar. Kecuali jika ia mati. Lagipula meskipun nona tidak di sini lagi, aku tetap harus menjaga rumah ini agar senantiasa bersih. Ingat nona, aku sudah berada di sini jauh sebelum nona datang. Jadi tidak masalah jika aku harus tetap di sini meskipun nona tidak akan tinggal di rumah ini lagi.”

“Tapi, bukankah kau memiliki keluarga di Perancis? Kau harusnya pulang dan bertemu dengan keluargamu. Aku akan meminta Yunho untuk membebaskanmu. Apapun yang terjdi kau harus pulang dan bertemu keluargamu. Dan jika kau tetap ingin bekerja di sini, maka kau akan selalu memiliki tempat di sini. Tapi setidaknya kau harus pulang untuk menjenguk keluargamu. Kau harus menunjukan pada keluargamu jika kau masih hidup.”

Tanpa sadar Bekah meneteskan air mata dan ia langsung memeluk tubuh nonanya yang selama dua tahun ini telah ia layani. Meskipun pada awalnya Krystal bersikap dingin padanya, tapi berkat kesabarannya, ia berhasil menghancurkan dinding pertahanan Krystal yang begitu kokoh dan membuat wanita itu lebih menjadi dirinya sendiri jika berada di dalam rumah.

“Terimakasih nona, semoga Tuhan senantiasa melindungi nona.”

Bekah menghapus air matanya sambil menatap Krystal penuh senyuman.

“Keluarlah Bekah, nona Krystal harus segera bersiap. Jangan menghambatnya dengan air mata buayamu.”

Tiba-tiba Yunho muncul dari ambang pintu sambil menatap Bekah datar. Sejak Bekah memeluk Krystal, ia telah berdiri di sana sambil menonton drama picisan itu dengan muak. Ia tidak suka jika Krystal dilemahkan oleh air mata, karena hal itu dapat mengganggu kredibilitasnya sebagai lady Bloods.

“Yunho, biarkan Bekah pulang ke Perancis. Ia harus bertemu dengan keluarganya setelah sekian lama ia tidak pernah kembali ke Perancis.” Perintah Krystal dingin. Yunho mengangguk kecil dan memberikan isyarat pada Bekah untuk keluar dari kamar Krystal.

“Seseorang akan mengurus kepulangannya. Sekarang bersiaplah, karena kau harus menyelesaikan semua pekerjaan yang kau janjikan pada bos besar.”

Krystal mendengus gusar dan segera beranjak memasuki kamar mandi untuk menyegarkan dirinya yang gerah. Setelah Krystal benar-benar menghilang dibalik pintu kamar mandinya, Yunho segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.

“Pertemukan Bekah dengan keluarganya.” Perintah pria itu dingin dengan seringaian tipis yang tercetak samar di wajahnya.

-00-

 

Yeri membaca berulang-ulang daftar nama tempat yang ia temukan di dalam loker milik Sehun. Kemarin malam tanpa sepengetahuan siapapun ia nekat pergi ke ruang loker untuk mencongkel loker milik Sehun. Dan setelah ia mengobrak-abrik isinya, ia mendapatkan sebuah kertas yang bertuliskan nama-nama tempat. Nama pertama yang tertulis di sana adalah The Wyn, lalu ia juga menemukan nama-nama daerah yang terasa asing di telinganya.

“San Jose, Phoenix, San Antonio, Dallas, dan Houston. Apa semua daerah ini berhubungan dengan mafia itu?” Gumam Yeri curiga. Ia kemudian mulai mencari tahu semua daerah-daerah itu melalui internet. Nama daerah pertama yang Yeri ketikan di dalam kolom pencarian adalah Houston. Tak berselang lama munculah deskripsi lengkap mengenai Houston yang merupakan kota terbesar keempat di Amerika. Namun setelah sekian lama ia mencari, ia tidak menemukan apapun yang mencurigakan dari Houston, lagipula letaknya juga cukup jauh dari Vegas, sehingga Yeri menyingkirkan nama itu untuk sesaat dan mulai mencari nama daerah lain yang mungkin saja menjadi tempat pergerakan sang mafia yang misterius. Ia pun mulai mengetikan nama Phoenix pada kolom pencarian. Dua detik kemudian munculah deskripsi singkat dari kota Phoenix yang merupakan kota terpanas di Amerika. Di sana banyak sekali didirikan bar-bar dengan suasana liar yang biasanya beraliran country. Yeri pun semakin menelusuri daerah itu lebih lanjut dan di sana ia menemukan sebuah fakta jika di tempat tersebut banyak ditemukan tempat tarung bebas. Yeri pun cepat-cepat menandai tempat itu dan ia kemudian membuat daftar nama-nama daerah yang harus ia kirimkan pada Donghae, karena beberapa menit yang lalu kaptennya mengirimkan pesan teks untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai The Wyn. Dan siapa sangka jika ia justru menemukan daftar nama-nama daerah itu di dalam loker milik Sehun yang berhasil ia bobol.

“Yeri, apa yang kau lakukan di sini?”

Yeri berjengit kaget setelah ia berhasil menekan tombol send pada ponselnya. Cepat-cepat gadis itu mengumpulkan semua kertas-kertasnya, dan ia dengan refleks menutup layar laptopnya kasar karena ia mendengar suara langkah kaki Sehun yang mendekat.

“Ssehun, apa yang kau lakukan di sini malam-malam?” Tanya Yeri gugup. Sehun mengintip sekilas meja kerja Yeri sambil tersenyum sinis. Ia tahu jika Yeri mengambil daftar nama daerah yang berisi aset-aset milik Bloods.

“Aku? Tentu saja aku berpatroli, hari ini adalah jadwal jagaku. Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak pulang?” Tanya Sehun tenang. Pria itu mengambil kursi di sebelahnya dan ia mendudukan dirinya di depan Yeri. Melihat hal itu, Yeri langsung meneguk ludahnya gugup karena Sehun justru duduk di depannya, bukannya langsung pergi meninggalkannya sendiri.

“Ohh.. aku sedang mengerjakan pekerjaanku yang belum kuselesaikan. Aku harus membuat analisis kasus untuk kasus pembunuhan yang terjadi minggu lalu.” Bohong Yeri gugup. Tanpa sepengetahuan Sehun, Yeri sedang meremas-remas kedua tangannya di bawah meja. Ingin rasanya ia pergi sejauh-jauhnya dari Sehun, tapi sayangnya ia masih memiliki satu pekerjaan lagi untuk diselesaikan.

“Kupikir kau sudah menyelesaikannya. Akhir-akhir ini kau terlihat dekat dengan kapten Lee, apa kau berencana untuk menggantikan posisi senior Im.”

“Apa? Tentu saja tidak. Aku sama sekali tidak berpikir untuk menjadi kekasih kapten Lee, aku hanya.. hanya sedang berkonsultasi. Ya berkonsultasi. Kau tahu sendiri kan bagaimana rumitnya pekerjaan kita, dulu setiap kali aku merasa kesulitan, aku pasti akan bertanya pada senior Im, tapi sayangnya ia telah pergi. Jadi aku tidak memiliki pilihan lain selain bertanya langsung pada kapten Lee, meskipun aku terkadang merasa sungkan.”

Sehun mengangguk-anggukan kepalanya mengerti sambil melirik ponsel putih milik Yeri yang tergletak di atas meja. Di sana ia melihat sebuah notifikasi pesan masuk, dan berapa lama munculah panggilan masuk yang berasal dari Donghae.

“Yeri, kapten Lee menghubungimu.”

Yeri tersentak kaget dan langsung menatap ponselnya dengan gugup. Kedua tangannya terasa kaku karena ia begitu takut jika kebohongannya diketahui oleh Sehun.

“Kau tidak ingin mengangakatnya? Kapten sudah menghubungimu sejak tadi.”

Yeri mengangguk kaku dan segera mengambil ponselnya yang masih berkedip-kedip terang di tangannya. Sekilas ia menatap Sehun sebelum ia memutuskan untuk menekan tombol hijau dan mencoba untuk melakukan sandiwara di depan Sehun.

“Kapten… maaf, aku sedang berbicara dengan Sehun.”

Yeri sengaja menekan kata Sehun untuk memberi tahu Donghae jika saat ini ia sedang bersama pria itu.

“Kapten, aku merindukanmu.”

Sehun berteriak jenaka sambil tertawa keras di depan Yeri. Setelah itu ia memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Yeri sendiri untuk berbicara dengan Donghae.

“Kapten, ia sekarang sudah pergi, apa yang ingin kapten bicarakan denganku?”

“……….”

“Sebaiknya anda menyelidiki distrik Phoenix karena banyak hal-hal yang janggal di sana.”

“……….”

“Ya, distrik lain tidak terlalu mencurigakan seperti Phoenix karena distrik lain merupakan jalur pelayaran, jadi saya menduga jika mafia-mafia itu hanya menggunakan distrik lain untuk melakukan transaksi. Tapi untuk distrik Phoenix, disana sama sekali tidak ada jalur perdagangan yang menguntungkan. Hanya ada gurun dan suhu di sana juga lebih panas dari distrik lain sehingga saya merasa curiga dengan distrik itu.”

“………..”

“Saya akan mengurus sisanya di sini. Semoga beruntung kapten”

Yeri meletakan ponsel putihnya sambil melongok keluar untuk memastikan jika tidak ada siapapun yang mendengar ucapannya. Tapi siapa sangka jika Sehun sebenarnya masih berdiri di balik pilar dan ia mencuri dengar semuanya dengan jelas.

-00-

“Jadi sudah sejauh ini kakek mencampuri urusanku?”

Krystal menatap datar pemandangan ricuh yang terjadi di depan matanya. Siang ini sang kakek telah mengerahkan sebagian anggota Bloods untuk menggusur para gelandangan dan pengemis yang tinggal di atas tanah milik Bloods. Namun seharusnya pekerjaan itu menjadi tanggungjawab Krystal karena proyek pembangunan arena tarung bebas merupakan ide Krystal untuk menambah aset milik Bloods. Tapi sang kakek rupanya sudah tidak sabar dengan tindakan Krystal yang dinilaianya terlalu lembut pada gelandangan-gelandangan itu.

“Bos besar ingin segera memulai pembangunan itu nona, dan kupikir kau memang terlalu lunak pada mereka.”

“Diam kau! Kau adalah pengawalku, seharusnya kau membelaku, bukan membela kakek tua itu. Kau tunggu di sini, aku akan melihat keadaan disekitar sini.”

Yunho menggeleng tidak setuju dan langsung mencekal tangan Krystal. Membiarkan Krystal berjalan sendiri tanpa perlindungan dari anggota Bloods sama saja dengan bunuh diri. Para gelandangan itu sedang berada pada puncak emosi mereka yang tidak stabil. Salah-salah Krystal justru akan menjadi sasaran empuk kemarahan mereka atas penggusuran yang terkesan tidak wajar dan semena-mena.

“Aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku membawa pistol dan juga pisau di saku celanaku. Apa kau masih meragukanku?”

Yunho melepaskan cekalan tangannya begitu saja dan ia membiarkan Krystal berjalan pergi menjauh darinya. Meskipun sebagian hatinya tidak yakin dengan keadaan nonanya itu, tapi sekali-sekali ia memang harus melepaskan Krystal sendiri agar wanita itu menjadi wanita tangguh.

-00-

Krystal berjalan menyusuri lorong-lorong perkampungan kumuh itu dengan perasaan tak menentu. Melihat banyak wanita dan anak kecil yang sedang menangis histeris di depannya membuat Krystal merasa tersentuh. Bagaimanapun mereka terlalu dini untuk merasakan kejamnya kehidupan dunia yang sangat mengerikan itu. Tapi sayangnya ia tidak bisa berbuat apapun. Sejak awal ide ini berasal darinya. Dan ia sendiri yang memilih lokasi ini sebagai lokasi arena tarung bebas karena suhu di sini cukup panas, sehingga mampu membakar amarah setiap peserta yang nantinya akan bergabung ke dalam ring. Tapi ia tidak menyangka jika proses penggusurannya akan berjalan sedramatis ini. Apalagi sang kakek sampai membawa berbagai macam alat berat untuk meratakan semua rumah-rumah milik warga itu dengan kejam. Jika seperti ini ia merasa telah menjadi monster untuk anak-anak yang tak berdosa.

“Huaaa.. mama… mama…”

Seorang anak perempuan menangis di depannya sambil mencari ibunya kesana kemari. Krystal tampak terpaku di tempat sambil menatap anak perempuan berkulit putih itu lama. Debu-debu yang bertebaran dari mesin alat berat yang dugunakan anak buahnya membuat tubuh anak itu seakan-akan mengabur oleh gumpalan debu yang menenggelamkan tubuh mungilnya. Dari arah berlawanan Krystal dapat melihat sebuah buldozer yang melaju lambat kearah gadis perempuan itu berdiri. Dengan sigap Krystal segera meraih tubuh gadis kecil itu ke dalam pelukannya agar terhindar dari ganasnya mesin buldozer yang mampu menggilas siapapun yang berani menghalangi jalannya.

“Apa kau baik-baik saja?”

Srett

Tiba-tiba seseorang mendorong tubuhnya cepat dan membenturkannya ke permukaan dinding batu yang kusam. Sekilas Krystal tidak bisa melihat wajah sang pendorong yang telah menghantamkan tubuhnya pada dinding batu di belakangnya. Namun setelah debu-debu itu memudar, Krystal dapat melihat wajah pria itu dengan jelas. Bahkan Krystal dapat melihat manik legam milik pria itu yang saat ini sedang menatapnya dengan intens.

“Apa yang akan kau lakukan pada gadis kecil itu? Apa kau berencana membunuhnya setelah semua kekejaman yang lakukan pada keluarganya?” Desis pria itu tajam. Krystal membalas tatapan intens pria itu dengan pandangan berani yang menantang. Seharusnya sejak awal ia tidak membiarkan pria itu lolos setelah ia melihat semua aksi pembunuhan yang ia lakukan.

“Itu bukan urusanmu, ini adalah tanah milikku, jadi aku memiliki hak penuh untuk mengusir mereka.”

“Huh, hak? Bahkan kau harus menyuap pejabat setempat untuk mendapatkan sertifikat tanah ini. Sebenarnya sejak awal tanah ini tidak diperuntukan untukmu, tapi kau dan anak buahmu yang licik itu telah menyuap walikota distrik ini agar kau bisa membangun arena tarung bebas. Dasar wanita picik. Seharusnya kau membusuk di penjara bersama para antek-antek sialanmu itu. Sayangnya ini bukan daerah kekuasaanku, seandainya kau berada di negaraku, mungkin kau akan langsung membusuk di dalam penjara.”

Krystal menatap marah pria asing itu sambil meronta-ronta untuk dilepaskan. Salah satu tangannya sudah bersiap untuk mengambil pisau lipat yang ia sembunyikan di dalam saku celana, tapi sayangnya pria itu sudah lebih dulu membaca gerak geriknya, sehingga ia hanya mampu menelan pil pahit karena saat ini pisau miliknya telah berada di bawah sepatu pria itu.

“Kau sudah dua kali membuat keributan denganku, dan ini adalah kali ketiga kau mencari mati denganku. Apa kau masih berpikir jika aku adalah isterimu yang sudah mati itu? Apa kau pikir aku adalah jelmaannya?”

“Jangan pernah membawa-bawa nama isteriku ke dalam pembicaraan kita karena ia bukan topik yang kita bicarakan. Tapi tujuanku datang ke sini adalah untuk mencarimu, karena kau dan ayahmu adalah penyebab kematian isteriku. Isteriku meninggal dalam keadaan terbakar karena Park Jaejong yang keparat itu membunuhnya! Dan kau harus membayar semua kebusukan ayahmu!” Bentak Donghae emosi. Krystal menatap Donghae datar dan tanpa ekspresi. Namun kedua matanya terus menatap wajah Donghae intens guna mencari adanya kebohongan yang terpancar dari pria itu. Tapi sayangnya pria itu sama sekali tidak berbohong. Sorot matanya yang tajam yang saat ini tengah mengunci pandangannya terlihat membara dan seperti diselimuti dendam pekat. Apakah ayahnya benar-benar telah membunuh isteri pria gila itu?

“Darimana kau tahu jika Park Jaejong adalah ayahku?”

Donghae menyeringai tipis, dan tiba-tiba salah satu tangannya menyusup ke dalam leher Krystal untuk mengambil sebuah alat penyadap kecil yang ia tempel di sana beberapa waktu yang lalu.

“Lihat, benda kecil ini yang memberitahu semuanya. Huh, akhirnya aku menemukan berlian cantik milik Park Jaejong yang selama ini telah ia sembunyikan dari orang-orang yang mengincarnya. Kau dapat menjadi sanderaku untuk membuka mulut ayahmu yang busuk itu.”

Tiba-tiba saja Krystal teringat akan pria misterius yang telah menabraknya saat ia baru saja keluar dari The Wyn. Rupanya sejak awal pria itu telah mengincarnya dan sekarang ia semakin mengincarnya karena ia adalah anak Park Jaejong, pria yang telah membunuh isterinya.

“Keparat! Kau tidak akan bisa menangkapku.”

Dengan gerakan cepat Donghae mengambil pisau lipat yang ia sembunyikan dibalik jaket kulitnya dan segera menempelkan benda tajam itu ke leher Krystal untuk membuat wanita itu diam. Sedikit saja Krystal bergerak, maka mata pisau yang runcing itu akan melukai kulit lehernya yang mulus.

“Lihatlah, pisau ini dapat melukai kulit lehermu dengan mudah jika kau bergerak untuk melawanku.”

Donghae sengaja menggoreskan ujung pisau itu pada leher Krystal agar wanita itu diam dan tidak banyak bicara. Tapi Krystal justru berani melawannya dengan mendorong paksa tubuhnya, sehingga pisau yang digenggamnya menggores dalam leher Krystal. Namun Krystal tampak tak peduli dengan darah yang menets di lehernya. Wanita itu justru langsung berlari sekuat tenaga untuk menghindari Donghae yang sudah mengejarnya dibalik debu tebal yang menyelimuti tubuhnya. Mungkin jika debu-debu itu tidak bertebaran di sana, ia akan ditangkap dengan mudah oleh pria gila itu. Tapi untung saja debu itu berahasil menyamarkan siluet tubuhnya yang kecil, sehingga ia bisa sedikit memanfaatkannya untuk kabur.

“Nona, apa yang terjadi? Leher anda…”

“Cepat pergi, seseorang ingin membunuhku!”

Krystal segera berlari menuju mobilnya diikuti oleh Yunho di belakangnya. Pria itu meneriaki semua anak buahnya untuk waspada karena seseorang hampir saja membunuh Krystal. Tapi untung saja wanita itu masih beruntung karena pria gila itu belum sempat membunuhnya atau menyanderanya untuk memeras Park Jaejong.

“Temukan pria asing yang telah melukai nona Krystal, lalu bunuh pria itu dengan sadis. Darah harus dibayar dengan darah!” Teriak Yunho memberi perintah sebelum ia melajukan mobilnya cepat menuju rumah sakit untuk mengobati leher Krystal yang terluka cukup dalam.

-00-

Sehun melajukan mobilnya dengan kecepatan standar sambil bersenandung kecil mengikuti irama lagu yang sedang diputarnya. Hari ini moodnya sedang dalam suasana yang baik karena ia akan segera bertemu dengan tunangannya. Sejak pagi Sehun telah menyiapkan penyambuyan yang meriah untuk sang tunangan yang akan segera mendarat di bandara Incheon lima belas menit lagi. Bahkan Sehun rela mengambil cuti hari ini hanya untuk menyambut sang tunangan yang sudah lebih dari dua tahun ini tidak ia temui.

“Tolong parkirkan mobilku.”

Sehun berseru pelan pada petugas vallet sambil melemparkan kunci mobilnya cepat kearah sang vallet. Setelah itu ia segera menunggu di depan pintu kedatangan internasioanl bersama dengan para penjemput yang juga akan menjemput sanak saudara mereka.

“Ck, aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu. Bagaimana rupanya sekarang? Apa ia bertambah cantik?”

Sehun terus bergumam pelan sambil tersenyum kecil membayangkan wajah sang tunangan yang mungkin akan membuatnya semakin terpesona ketika melihatnya. Lalu ketika gerombolan penumpang pesawat keluar dari gerbang kedatangan, Sehun langsung memusatkan perhatiannya untuk mencari sang tunangan diantara lautan manusia yang sedang berjejalan di depannya. Namun tak berapa lama, seorang pria dengan setelan jas hitam keluar dari gerbang kedatangan bersama dengan seorang wanita bergaun putih selutut yang sedang berjalan di depannya. Refleks Sehun mengangkat tangannya dan meneriakan nama pria itu untuk menunjukan kehadirannya.

“Ahh.. akhirnya kau datang juga.” Ucap Sehun senang sambil memeluk tubuh ramping wanita itu antusias. Namun sang wanita sama sekali tidak terlihat senang dan justru menatap wajah Sehun gusar sambil mendorong tubuh Sehun agar menjauh dari tubuhnya.

“Siapa kau? Aku tidak mengenalmu.”

Sehun terkekeh pelan sambil memegang bahu wanita itu erat agar sejajar dengan wajahnya.

“Aku adalah Oh Sehun, tunanganmu. Dan selamat datang kembali Krystal Park.”

17 thoughts on “Bullets Of Justice: The Fiance (Ten)

  1. duucchh ni ff makin ketjeh aja
    konflik nu makin” apalagi misteri siapa krystal sbnr ny
    n muncul tunangan sehun aduuchh
    hae cepat ungkap semua ny ya

  2. Oh sehun?? 😮😦 jadi dugaan yeri benar jika penghianat itu adalah sehun?? Dan krystal?? Siapa dia sebenarnya?? Apa dia benar benar anak park jaejong atau yoona yg lupa ingatan atau sdh di cuci otaknya karna obat obatan yg dia konsumsi??? Ahh ini benar benar complicated…good storyyy 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

  3. kebayang saat yong dilatih keras oleh
    kapten lee. oh sehun beneran penghianat
    yang kejam. yong kapan dirimu sadar???
    hadeuh penjahatnya makin leluasa.
    makin tegang neh ceritanya. keren
    gomawo thor

  4. Ampun dah makin rumit ceritanya thor. Masalahnya makin banyak. Donghae makin banyak musuhnya huhu
    Tapi seru, jalan ceritanya ga ngebosenin..
    Ditunggu next chapter 😉

  5. Berarti yg di amerika itu bneran yoona?

    Tp ko bisa ketuker gitu 😕 apa ini ulahnya sehun 😒

  6. Makin bingung ,bingung mau nuduh siapa lagi yang sebenernya berkhianat dan bener” baik .
    Sehun aja yg aku sangka baik di awal ternyata seorang pengkhianat ,Yunho juga mencurigakan .
    Soal Yoona ..sebenernya 60% aku yakin dia Yoona asli tapi 40% ragu ..sikapnya beda walaupun Donghae sempet ngeyakinin satu hal ..yaudahlah semoga YoonHae bisa segera bersatu kembali kasian Enzo lagipula juga udah eneg juga sama sikap Jaekyung yg sok sok khawatir berlebihan sama Donghae .

  7. apa maksudnya ini aku yakin banget kalo krystal itu yoona tapi ko bisa ya dia anak jaejoong dan tunangannya sehun. ceritanya makin rumit aja nih gk sabar banget nunggu lanjutan ceritanya…..

  8. Makin kesini makin tegang aja ceritanya..
    krystal = yoona??
    Yoona = krystal??
    Tapi kenapa sehun ngaku2 tunangannya krystal??
    Perjuangan Donghae semakin diuji.. Donghae terlihat keren malahan. Tapi kangen Yoona sumvehh -,-

  9. tuhkan sehuuuun 😌😭 jdi mata2 nya brsih amat.. sehun kejam ihh 🤔 krystal? apa emang itu yoon? ketukar kah atau dia emng amnesia? donghae hmpir aja dptin krystal.. dan apaa? krystal tunangan sehun? dijodohin? krystal kok nggk suka dkt2 sehun 😂😂

    maaf bru komen kk 😂 fighting!!

  10. Ternyata sehun emg penghianat, gmn nasib yeri nanti?
    Konfliknya makin banyak, apa bener sehun tunangan Krysta atau cm ngaku”?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.