Bullets Of Justice: Dangerous Woman (Nine)

Seorang wanita berambut pirang sepunggung sedang mengamati perkembangan bisnis keluarganya dari lantai atas. Wanita itu ditemani oleh seorang pelayan setianya yang sejak dulu selalu berada di sampingnya untuk menjadi penjaganya dan juga penasehatnya disaat ia membutuhkan saran untuk setiap keputusan yang akan diambilnya.

“Apa kakek sudah sampai?” Tanya wanita itu sambil menyesap vodkanya. Padahal jam masih menunjukan pukul dua siang, tapi wanita itu sudah meminum minuman beralkohol dengan kadar alkohol yang cukup tinggi di siang hari. Sepertinya ia sedang memiliki banyak masalah.

“Pesawat tuan besar akan mendarat pukul empat sore nona.”

Pelayan setianya memberitahu sang nona sambil melihat jadwal penerbangan tuan besarnya yang sebentar lagi akan tiba di Amerika. Tapi sejauh ini pria itu melihat jika nonanya tidak terlalu senang dengan kedatangan sang kakek, padahal sebelum-sebelum ini sang nona begitu antusias untuk bertemu dengan sang kakek yang sudah lama tak dilihatnya.

“Sepertinya nona tidak terlalu senang dengan kedatangan tuan besar?”

Wanita itu menghembuskan nafas kecil sambil memandang seluruh sudut kasino miliknya dengan gusar.

“Aku bukannya tidak senang, tapi aku hanya bingung bagaimana cara menghadapi kakek jika pengiriman kemarin menuai kendala. Salah satu orang kita tertangkap polisi di pelabuhan karena membawa dua ratus kilo mariyuana. Untung saja kita memiliki orang dalam yang bekerjasama dengan Bloods, sehingga pengiriman itu berhasil dilakukan. Tapi kakek akan bertanya ini itu yang membuat kepalaku semakin pusing karena pekerjaan kita yang semakin hari semakin menumpuk. Mungkin hari ini aku tidak akan menemui kakek terlebihdahulu, aku ingin mendinginkan kepalaku yang panas.” Ucap wanita itu frustasi sambil menegak vodkanya dalam satu kali teguk.

Tiba-tiba ponsel milik Yunho bergetar, membuat sang pemilik ponsel langsung mengangkat panggilan itu cepat ketika ia membaca nama yang tertera di dalam layar ponselnya.

“Selamat siang, tuan besar.”

Wanita itu menoleh gusar kearah pelayannya karena sekarang pria itu sedang berbicara dengan kakeknya. Padahal baru saja ia mengatakan jika ia ingin menghindarinya untuk sesaat.

“Tuan besar ini berbicara dengan anda nona.”

Yoona mengumpat kesal pada pelayannya dan langsung merebut ponsel hitam itu dengan kasar. Padahal ia sudah mematikan ponselnya agar sang kakek tidak berbicara macam-macam dengannya. Tapi apa yang ia dapat, justru pria tolol di sebelahnya yang membuatnya harus berbicara dengan sang kakek.

“Kau sepertinya sedang ingin menghindari kakek, ada apa Krystal? Apa kau telah membuat kesalahan?”

Krystal mendengus kesal sambil mengumpati kakeknya dalam hati. Ia paling tidak suka jika pekerjaannya diremehkan dan setelah itu ia akan mendapat tekanan dari kakeknya.

“Aku tidak membuat kesalahan apapun, aku sudah berhasil mengurus semuanya. Jadi kakek tidak perlu khawatir.”

“Pengiriman kemarin mengalami kendala bukan? Krystal, kau harus memperbaiki kinerjamu lagi nak, jika kau tidak ingin merugikan bisnis keluarga kita. Ingat, ayahmu mengorbankan dirinya untuk kejayaan keluarga kita, untuk masa depanmu, jadi jangan kecewakan ayahmu.”

Sialan! Dasar tua bangka!

Lagi-lagi Krystal mengumpati kakeknya dalam hati karena sang kakek yang dinilainya terlalu mengontrolnya seperti robot. Padahal selama ini ia sudah berusaha keras untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin Bloods. Tapi tetap saja sang kakek masih meremehkan kemampuannya.

“Ya, aku tahu kek. Kakek sudah mengatakan hal itu berulang kali. Aku akan berusaha lebih keras lagi setelah ini. Ngomong-ngomong kapan kakek akan datang? Aku ingin menunjukan kasino baru milik Bloods yang berada di Chicago. Sementara ini kasino milik Bloods di Las Vegas memiliki perkembangan yang cukup pesat. Aku yakin kelompok kita akan semakin mendapatkan kepercayaan dari kartel narkoba di Itali untuk memasarkan dagangan mereka karena Bloods mampu menunjukan kompetensinya selama dua tahun terakhir ini.”

Pria tua yang merupakan kakek Krystal tertawa puas dengan kinerja cucunya yang memang jauh lebih baik dari keponakannya, Park Jaejong. Tapi ia tidak ingin menghujani Krystal dengan banyak pujian karena pujian akan melemahkannya. Ia justru akan memberikan banyak cacian untuk menguatkan Krystal agar wanita itu tumbuh menjadi wanita yang tangguh.

“Aku akan melihatnya nanti. Sekarang aku sedang berada di pesawat, dan pukul empat kau harus menjemputku di bandara, karena aku ingin melihat perkembangan bisnismu di Amerika. Dan sebenarnya aku sedang mempertimbangkanmu untuk kembali ke Korea, karena di sini aku membutuhkan banyak sekutu untuk membantuku. Dan juga, kita harus mulai  menyusun rencana untuk mengeluarkan Jaejong. Ayahmu sudah dua tahun mendekam di penjaran. Meskipun aku telah menempatkan orang-orang kepercayaanku di sana, tapi itu tidak serta merta dapat membebaskannya. Kapten mereka sungguh sangat pintar untuk menahan Jaejong di sana meskipun beberapa kasusnya telah dinyatakan tak bersalah.”

“Sebenarnya kasus apa yang selama ini menjerat ayah? Kenapa orang-orang kita tidak bisa membebaskannya begitu saja?” Tanya Krystal ingin tahu. Setelah ia terbangun dari masa komanya yang cukup panjang, Yunho hanya mengatakan jika ayahnya sedang berada di tahanan intel negara di Korea dan itu semua terjadi karena ayahnya ingin melindunginya. Tapi sayangnya ia tidak bisa mengingat wajah ayahnya dengan jelas, karena menurut Yunho luka benturan akibat kecelakaan yang dialaminya dua setengah tahun yang lalu telah menyebabkan ia kehilangan sebagian memory masa lalunya. Bahkan terkadang ia merasakan sakit kepala yang cukup menyiksa ketika ia lupa meminum obatnya untuk sesaat.

“Itu semua sangat rumit, tapi ada satu kasus yang benar-benar menjerat ayahmu hingga ayahmu tidak bisa menghindarinya. Kasus itu adalah kasus kematian salah satu intel Korea di masa lalu. Saat itu anak buah ayahmu sengaja mengatakan pada intel-intel itu jika ayahmu yang telah membunuh salah satu rekan mereka agar intel-intel itu tidak bisa menahan keberangkatanmu ke Amerika untuk berobat. Ia rela mengorbankan dirinya untuk kesembuhan putrinya yang sangat ia sayangi, jadi kuharap kau tidak mengecewakan ayahmu.”

Krystal mencoba memejamkan matanya untuk mengingat bagaimana wajah ayahnya yang selama ini telah berkorban untuknya. Tapi semakin ia berusaha untuk mengingat, seluruh sisi kepalanya justru terasa sakit dan terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Tanpa sadar Krystal mengerang dan membuat Yunho langsung menepuk pundaknya dengan khawatir.

“Nona, kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja, jangan pedulikan aku.”

Krystal membuka matanya dengan sedikit terengah karena efek sakit kepala yang menyiksanya. Mungkin ia akan berusaha mengingatnya lain kali.

“Kakek aku akan menutup sambungan teleponnya, sampai jumpa nanti.”

Tanpa menunggu persetujuan dari kakeknya, Krystal segera menutup sambungan teleponnya sambil berdecak kesal karena sakit kepalanya tak kunjung berhenti setelah ia mencoba untuk mengingat masa lalunya. Ia tidak bisa meminum obatnya sekarang untuk menghilangkan efek pening yang menderanya karena ia baru saja menegak sebotol vodka. Setidaknya ia harus menunggu selama dua jam untuk bisa meminum obat sakit kepalanya. Tapi ia tidak bisa menunggu hal itu terlalu lama. Sakit kepala itu benar-benar menyiksanya hingga rasanya ia ingin melepas kepalanya sejenak agar ia bisa menghirup udara pengap klubnya tanpa harus merasakan sakit kepala yang menyiksa.

“Yunho, suntikan aku morfin sekarang. Aku sudah tidak tahan.” Perintah Krystal dengan nada yang sedikit memburu. Yunho segera mengambil tas miliknya yang berada di atas meja, lalu ia menyiapkan peralatan suntik dan sebotol kecil morfin yang didapatkannya dari salah satu dokter khusus Bloods. Selama ini jika Krystal mengalami sakit kepala yang tak tertahankan, ia akan menyuntikan sedikit dosis morfin untuk membantu Krystal agar lebih rileks. Terutama saat Krystal tengah mengonsumi alkohol seperti siang ini. Obat yang diresepkan dokter untuknya tidak boleh terkontaminasi dengan alkohol, sehingga Krystal tidak bisa meminumnya disaat ia tengah meneguk alkohol. Tapi untung saja ia masih bisa menggunakan sedikit dosis morfin untuk menghilangkan rasa sakit yang berdentam-dentam di kepala Krystal.

“Aku akan tidur sebentar. Jika pesawat kakek sudah mendarat tolong bangunkan aku.” Ucap Krystal dengan nada memerintah sambil memejamkan matanya perlahan. Kini berangsur-angsur sakit kepalanya menghilang. Tapi terkadang di dalam setiap tidurnya ia memimpikan berbagai hal aneh yang cukup membuatnya bertanya-tanya, sebenarnya siapakah dirinya dulu sebelum ia terbaring koma di rumah sakit? Dan mengapa ia hanya menemukan Yunho sebagai pengawal setianya selama ini?

-00-

Donghae mengetuk-etukan pena di mejanya sambil mengamati setiap nama yang telah ia tuliskan di dalam sebuah papan putih di kantornya. Sudah dua tahun ia menyelidiki setiap nama yang diberikan oleh Park Jaejong dan anak buahnya, tapi hingga sejauh ini ia sama sekali belum menemukan titik terang terkait bos besar yang menjadi ketua sindikat mafia di Korea. Padahal dulu ia berpikir jika ia menangkap Park Jaejong, ia akan lebih mudah untuk mendekati sang bosa besar. Tapi nyatanya perkiraanya itu salah, ia sama sekeli belum menemukan titik terang mengenai sang bos mafia yang selama ini selalu bersembunyi dibalik punggung para aparat pemerintah. Bahkan kini ia merasa sulit untuk mempercayai sesama agent atau jenderal-jenderal yang bekerja di markas ini karena mereka semua memiliki peluang untuk terlibat di dalam jaringan itu. Bahkan satu tahun yang lalu ia dibuat terkejut dengan sebuah fakta yang mengungkapkan jika salah satu anggota dewan jenderal, Ahn Jaehyun, terlibat dalam jaringan mafia tersebut. Lalu tak lama setelah berita itu terungkap, Ahn Jaehyun ditemukan meninggal bersama dengan seluruh keluarganya di kediamannya dengan luka tembak di setiap kepala mereka masing-masing. Bahkan pembunuhan itu benar-benar tak tanggung-tanggung. Salah satu cucu Ahn Jaehyun yang sedang berkuliah di Australia turut menjadi sasaran pembunuhan karena kesalahan kakeknya yang mungkin dinilai telah menyalahi aturan dari jaringan mafia yang diikutinya. Tapi hal itu sebenarnya sama sekali tidak mengejutkan Donghae, karena seja dulu kehidupan gelap seperti itu tidak akan pernah pandang bulu. Mereka akan membunuh siapa saja yang dinilai berkhianat dan mereka juga tidak segan-segan membunuh keluarganya sendiri jika keluarganya juga melakukan pengkhinatan, karena loyalitas dalam kelompok adalah segala-galanya untuk mereka.

“Yoong, aku belum bisa mengungkapkan siapa orang-orang yang terlibat dalam pembunuhmu dan juga pembunuhan ayahmu. Maafkan aku.”

Donghae bergumam pelan pada foto Yoona yang terpasang di atas mejanya. Dua tahun tanpa Yoona merupakan saat-saat yang sangat berat untuknya. Tapi selama ini ia selalu mendapatkan kekuatan dari Enzo. Putranya itu sekarang begitu dewasa dan sangat memahaminya. Ia juga tidak pernah rewel lagi jika harus berada di rumah bersama Jaekyung. Meskipun terkadang ia sedikit protes akan kecerewetan Jaekyung yang selalu mengaturnya ini itu.

Tok tok tok

Donghae menoleh sekilas pada pintunya yang tiba-tiba diketuk. Ia pun membetulkan letak duduknya dan menyuruh sang pengetuk untuk masuk ke dalam ruangannya.

“Yeri, ada apa?”

“Kapten, aku menemukan ini.”

Yeri menunjukan layar tabletnya pada Donghae, namun ia terlebihdahulu menutup pintu ruangan Donghae rapat-rapat. Selama dua tahun ini ia diam-diam bekerjasama dengan Donghae untuk menyelidiki kasus kematian Yoona dan keterlibatan Sehun yang selama ini selalu dicurigainya sebagai salah satu pengkhianat yang menyusup ke dalam markas. Tapi sayangnya selama lebih dari satu tahun ia mengawasi gerak gerik Sehun, pria itu semakin berhati-hati dalam melangkah. Ia tidak lagi menunjukan kejanggalanya seperti dulu, dan justru semakin loyal terhadap markas, membuat Yeri tidak memiliki kesempatan untuk mencari bukti fisik keterlibatan Sehun terhadap sindikat mafia itu.

“Kelompok mafia Bloods dikabarkan adalah kelompok mafia yang diketuai oleh orang Korea? Darimana artikel ini kau dapatkan? Bukankah selama ini kelompok itu diketuai oleh sekumpulan orang Jamaica?” Tanya Donghae heran. Bertahun-tahun ia menyelidiki kasus kehidupan sindikat mafia, namun ia luput akan satu nama yang selama ini ia pikir sebagai sindikat mafia dari Jamaica.

“Artikel ini adalah artikel rahasia kapten. Diam-diam aku bergabung dengan tim pemburu berita yang selama ini selalu mencoba menguak kasus perkembangan sindikat mafia di luar negeri, dan ternyata salah satu anggota tim pemburu berita berhasil menemukan informasi jika Bloods sebenarnya adalah kelompok sindikat mafia milik keturunan orang Korea. Selama ini mereka hanya menyamarkannya agar mereka tidak terlalu terlihat mencolok karena Korea Selatan memiliki peraturan keras terhadap pertumbuhan jaringan mafia sejak Park Boyoung menjabat sebagai president. Dan yang paling mencengangkan, saat ini pemegang kekuasaan kelompok mafia tersebut di Amerika adalah seorang wanita. Sayangnya orang itu tidak berhasil mengungkap identitas wanita tersebut karena hal itu terlalu berbahaya untuk hidupnya. Ia bisa saja dibunuh karena telah menyebarkan berita itu ke forum kami yang merupakan forum umum yang sewaktu-waktu dapat diretas dan dibocorkan ke pihak umum. Apa kapten ingin menyelidiki kelompok mafia ini di Amerika?”

Donghae tampak berpikir sejenak untuk mempertimbangkan tawaran Yeri. Ia pikir ia memang perlu menyelidiki sindikat itu lebih lanjut. Tapi rencananya ini tidak boleh bocor dan diketahui oleh pihak manapun, karena sekali lagi, markas sangat rentan untuk disusupi.

“Informasi yang kau berikan sangat menarik, dan sepertinya aku harus ke sana untuk menyelidiki  sindikat itu. Tapi Amerika sangat luas, aku tidak mungkin mengelilingi semua negara bagian Amerika hanya untuk menyelidiki sindikat mafia yang berasal dari Korea Selatan itu. Apa kau memiliki informasi yang lebih spesifik terkait kelompok Bloods?”

“Sebenarnya saya memilikinya kapten. Jadi, sejak tiga bulan yang lalu saya meminta tolong pada Jieun untuk meretas semua akses yang digunakan oleh Sehun. Dan pagi ini saya menemukan informasi jika Sehun telah membeli lima buah tiket pesawat kelas vvip untuk pergi ke Las Vegas dan Chicago. Bukankah itu sangat mencurigakan kapten, padahal ia sama sekali tidak berencana untuk mengambil cuti minggu ini. Menurut kapten, apakah Sehun sedang memesankan tiket pesawat untuk orang lain?”

Donghae lagi-lagi mengernyitkan dahinya untuk memikirkan asumsi yang dikatakan oleh Yeri. Selama ini ia sudah sering memperhatikan Sehun, dan ia sepertinya memang terlibat dalam sindikat itu. Tapi ia belum ingin memproses Sehun karena pria itu juga berguna untuknya. Setidaknya secara tidak langsung Sehun memberikannya informasi juga melalui setiap gerak geriknya yang mencurigakan.

“Kapan pesawat itu akan berangkat ke Vegas?”

“Menurut jadwal keberangkatan yang ditetapkan oleh pihak bandara, pesawat itu akan berangkat pukul sebelas.”

“Sial!”

Donghae mengumpat keras ketika ia melihat jika saat ini jam telah menunjukan pukul setengah sebelas siang. Ia hanya memiliki waktu tiga puluh menit untuk mengurus semuanya. Padahal ia sama sekali belum menyiapkan apapun untuk keberangkatannya ke luar negeri, bahkan passportnya masih dalam masa perpanjangan di kantor imigrasi.

“Aku tidak mungkin menyiapkan semuanya dalam waktu tiga puluh menit. Passportku masih berada di kantor imigrasi.”

“Passport bukan masalah kapten, karena saya sudah menyiapkannya tadi pagi dibantu oleh Minzi. Ini passport kapten.”

Yeri meletakan passport milik Donghae di atas meja dengan wajah sumringah. Namun sedetik kemudian ia teringat jika ia belum membeli tiket untuk Donghae, sehingga kaptennya itu tetap tidak akan bisa pergi ke Las Vegas.

“Terimakasih, ini sudah lebih dari cukup. Aku akan meminta bantuan temanku yang bekerja di bandara untuk memberikanku tiket ke Vegas. Tolong rahasiakan kepergianku ke Vegas. Katakan saja jika aku sedang pergi ke Nami untuk mengunjungi ibuku bersama Enzo. Aku akan mengatakan hal ini pada ayahku. Sekali lagi terimakasih atas semua hal yang telah kau lakukan selama ini. Kau adalah agent yang hebat.”

Yeri tersenyum kecil pada Donghae sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Dalam hati Yeri berdoa semoga kaptennya itu berhasil mengungkapkan kebenaran yang selama ini tersemnbunyi dibalik kelicikan agent-agent yang berada di markas, karena ia hanya ingin pembunuhan yang terjadi pada Yoona segera terungkap dan pembunuh itu mendapatkan hukuman yang setimpal.

-00-

Krystal berdecak kesal pada Yunho karena pria itu baru saja membangunkannya dan membuatnya harus meninggalkan dunia mimpinya yang nyaman. Padahal ia sedang ingin sedikit bersantai sebelum kakeknya datang dan mungkin akan membuatnya tidak bisa tidur beberapa hari kedepan. Tapi Yunho baru saja mengatakan jika salah satu bos kartel narkoba dari Itali datang untuk melakukan transaksi di The Wyn. Dan sebagai tuan rumah yang baik, mau tidak mau Krystal harus turun dan menyambut rekan barunya dengan sambutan yang bersahabat.

“Tuan Angelo telah menunggumu di bawah nona.”

“Aku tahu. Tunggulah sebentar, aku akan merapikan penampilanku dulu.”

Krystal berjalan pergi menuju ruangannya yang berada di lantai tiga gedung kasinonya. Ia harus setidaknya terlihat layak di depan bos besar kartel narkoba itu agar mereka semakin tertarik untuk melakukan kerjasama dengannya. Bukankah pria sangat lemah terhadap wanita? Untuk itu ia akan menggunakan sisi terlemah pria untuk menjerat mereka.

Lima belas menit kemudian Krystal muncul di depan Yunho dengan sebuah gaun ketat lima belas senti di atas lutut yang begitu menggairahkan. Dibalik gaunnya yang seksi, Krystal sengaja menggunakan celana dalam berenda yang akan terlihat jelas jika ia sedikit membungkukan tubuhnya. Dan ia sengaja tidak menggunakan branya agar para pria hidung belang itu semakin bergairah ketika melihatnya, dan setelah itu mereka akan jatuh ke dalam kelicikannya.

“Ayo, kita temui mereka sekarang.”

Yunho hanya diam ketika melihat nonanya yang begitu berani sore ini. Meskipun selama ini Krystal juga diam-diam sering menjadi stripper di The Wyn tanpa sepengetahuan orang-orang, tapi penampilannya hari benar-benar sedikit mengejutkannya. Pasalnya jika menjadi dirinya sendiri, Krystal lebih suka terlihat anggun, bukan terlihat seperti seorang pelacur seperti hari ini.

“Buon pomeriggio (selamat sore). Ciao, io sono Krystal.”

Krystal mencoba mengambil kesan pertama mereka dengan bahasa Itali yang sedikit dipelajarinya satu tahun yang lalu. Pria muda yang bernama Angelo itu terlihat begitu tertarik dengan wajah Krystal yang memancarkan kecantikan khas orang Asia dan kepribadian Krystal yang terlihat sopan, namun mengurakan aura kuat mendominasi dari tubuhnya.

“Angelo. Kau terlihat seperti bukan sang Lady dari kasino ini, kau terlihat lebih berkelas.” Bisik pria itu menggoda. Krystal berpura-pura tersenyum malu sambil mempersilahkan sang tamu untuk duduk. Saat ia membungkukan tubuhnya, kedua mata Angelo tak bisa lepas dari dada Krystal yang begitu terekspos. Jelas sekali pria itu sangat menginginkan Krystal, namun Krystal ingin sedikit bermain-main dengan pria itu agar ia bertekuk lutut padanya.

“Jadi apakah tuan ingin melakukan kerjasama dengan Bloods?” Tanya Krystal memulai percakapan. Pria itu menyandarkan tubuhnya santai pada sandaran kursi sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“Kau bisa memanggilku Angelo, aku tidak suka suatu kerjasama yang terkesan formal, dolcezza (sayang).”

Krystal tersenyum miring dan mulai menampakan smirknya. Ia tidak perlu lagi berpura-pura rupanya.

“Baiklah, aku setuju. Jadi Angelo, kerjasama seperti apa yang kau inginkan antara Bloods dan kelompokmu, Amore?”

“Kerjasama yang saling menguntungkan tentu saja. Kulihat kau memiliki tempat-tempat yang sangat strategis untuk melakukan bisnis gelap di Vegas dan Chicago, aku pikir tempat-tempat yang kau miliki itu dapat membantuku meningkatkan pendapatan bisnisku. Apa kau setuju untuk bekerjasama denganku?”

Krystal berpikir sejenak dan tidak serta merta mengiyakan tawaran Angelo. Lagipula ini merupakan kerjasama dalam hal kotor, dan pasti akan ada banyak hal kotor yang berada di belakang bisnis ini. Dia tidak mau terjebak ke dalam hal kotor itu, sebelum ia memastikannya terlebihdahulu.

“Apa kau memiliki syarat lain dalam perjanjian ini Angelo?”

“Haha, tak kusangka kau sangat cerdik dolcezza. Aku memang memiliki persyaratan lain dalam kerjasama ini, karena kita tidak mungkin terikat begitu saja tanpa sebuah persyaratan yang manis, bukan begitu Il Mio Tesoro?”

            Semakin lama Krystal mulai jengah dengan sikap Angelo yang terlalu banyak menggoda itu. Bahkan dengan terang-terangan pria itu menunjukan gelagat aneh yang membuatnya begitu jijik dan ingin menampar pria itu sekarang juga. Tapi ini adalah salah satu tantangan untuknya. Ia harus bisa menaklukan pria itu dan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dan kartel yang dipimpinnya.

“Well, aku menerima persyaratan yang kau ajukan. Tapi untuk hari ini aku tidak bisa menemanimu lebih lama, kakeku akan datang, dan aku harus menjemputnya. Apa kau tidak keberatan Angelo?”

Yunho yang sejak tadi mengamati ekspresi Angelo yang begitu mendambakan Krystal merasa ingin terkikik dengan penolakan halus Krystal. Pasalnya pria itu terlihat sudah begitu mengharapkan sebuah percintaan panas dengan Krystal untuk memulai kesepakan kerjasama mereka. Tapi ia tahu jika Krystal tidak akan pernah mau melayani pria-pria seperti mereka karena ia adalah wanita angkuh dengan harga diri yang begitu tinggi, dan selama ini belum ada seorang priapun yang mampu menyeret Krystal ke atas ranjang nyaman mereka yang panas.

“Sayang sekali Lady, tapi mungkin lain kali kau bisa menemaniku lebih lama.”

Krystal tersenyum lembut pada Angelo dan segera berdiri dari duduknya. Tak lupa ia sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Angelo sambil mengusap pipi pria itu lembut dan berbisik.

“Terimakasih atas pengertianmu Angelo, semoga kerjasama kita akan saling menguntungkan kedepannya.”

Angelo terlihat menahan nafas ketika ia melihat dada Krystal yang terpampang jelas di depannya. Andai saja Krystal tidak sedang terburu-buru untuk menjemput kakeknya, ia pasti akan menarik wanita itu sekarang juga ke atas pangkuannya dan mencumbunya hingga puas. Ahh… bahkan dirinya kini sudah benar-benar bergairah hanya karena sentuhan lembut Krystal di pipinya.

“Damn, carikan aku wanita untuk menemaniku sekarang!” Perintah Angelo gusar sambil berjalan pergi meninggalkan mejanya untuk berpindah ke kamar hotel terdekat.

-00-

Krystal tertawa terbahak-bahak di dalam mobil sambil membayangkan wajah Angelo yang tersiksa. Ia yakin jika Angelo akan sangat gusar setelah kepergiaanya karena ia berhasil membuat pria itu bergairah. Kini ia telah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai dari pakaian sebelumnya yang ia gunakan. Sebuah kaos putih dan celana pendek, serta hoodie yang dapat menyamarkan wajahnya dari pandangan orang-orang asing di luar sana. Entah kenapa sejak dulu ia tidak terlalu suka mengekspos wajahnya, meskipun ia akui ia memiliki wajah yang dapat menarik pria manapun untuk mendekat padanya. Tapi ia tidak suka terlihat mencolok. Ia lebih suka tersamarkan diantara orang-orang biasa karena bagaimanapun ia adalah salah satu anggota mafia yang berbahaya di Amerika. Ia memiliki banyak musuh di luar sana yang sewaktu-waktu dapat membunuhnya jika kinerjanya tidak bagus. Dan selama ini ia hanya sebatas mempertontonkan dirinya di depan umum ketika ia menjadi stripper.

“Pesawat kakek sudah mendarat?”

Krystal bertanya pada Yunho saat mereka berdua telah tiba di gerbang kedatangan internasional dan saat ini sedang menunggu kakeknya dengan bosan. Sesekali Krystal memainkan ponselnya sambil mendengarkan lagu-lagu favoritnya untuk mengusir rasa bosan yang menderanya.

“Seharusnya tuan besar sudah sampai, pesawatnya mendarat sepuluh menit yang lalu.”

“Kalau begitu kau tunggulah di sini, aku akan pergi ke toilet sebentar.”

Krystal berjalan pergi menuju toilet sambil memainkan ponselnya yang berisi banyak email dari beberapa rekan bisnisnya. Sesekali Krystal mendengus gusar dengan laporan yang ia dapat dari salah satu anak buahnya jika pengiriman atau pekerjaan mereka mengalami kendala. Padahal hari ini sang kakek pasti akan meminta laporan pengiriman yang dilakukan bulan ini. Ahh.. ia semakin malas untuk bertemu kakeknya.

Bruk

Krystal menabrak bahu seseorang dengan keras hingga membuatnya sedikit meringis karena sakit. Namun ia lebih memilih untuk segera pergi dan tidak mengatakan apapun pada sang penabrak karena ia sedang malas untuk berurusan dengan seseorang. Biarlah orang itu menuduhnya sebagai wanita angkuh yang sombong. Karena pada kenyataanya ia memang demikian.

-00-

Donghae berjalan pelan menuruni undakan tangga ketika ia telah tiba di Vegas. Ia mengamati setiap sudut bandara internasional Vegas dengan wajah datar. Hari ini ia datang untuk menjalankan sebuah misi. Ia harus bisa menemukan bukti-bukti kejahatan itu secepatnya agar ia tidak terus dihantui perasaan bersalah karena ia telah menyebabkan Yoona meninggal. Ia pun mengingat interaksinya dengan Park Jaejong yang telah ia lakukan selama dua tahun ini. Pria itu selama ini tidak pernah memberikannya informasi yang sebenarnya, tapi pria itu justru membuatnya semakin pusing dengan berbagai teka-teki yang sejak dulu selalu diucapkan pria itu saat ia mengintrogasinya.

Seekor anak ayam bisa berubah menjadi bebek jika ia dibesarkan oleh seekor bebek, begitupun dengan seekor anak ayam dapat berubah menjadi singa apabila dibesarkan oleh singa.

            Ia pikir saat itu Park Jaejong sedang meracau karena tekanan batin yang dialaminya. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin apa yang dikatakan oleh Park Jaejong mengandung makna tertentu.

Bruk

Donghae mengelus bahunya yang ditabrak oleh seseorang. Namun saat ia menoleh wanita itu sudah berjalan menjauh tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dengan gusar ia berniat untuk menegur wanita itu agar jangan berjalan sambil menggunakan ponsel, namun ia justru dibuat terkejut dengan siluet wanita itu yang telah berbelok menuju toilet.

Yoona…

Dengan penuh tekad Donghae berjalan menuju toilet wanita dan mennggu di depan toilet itu untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri jika apa yang ia lihat bukan hanya halusinasinya. Ia sangat yakin jika wanita yang baru saja menabrak pundaknya adalah Yoona karena mereka memiliki postur tubuh yang sama dan siluet wajah yang sama. Hanya saja wanita itu berambut blonde, sedangkan Yoona berambut coklat gelap. Tapi ia tiba-tiba teringat jika saat itu ia sendiri yang menemukan mayat Yoona. Kalung yang tergantung di leher mayat itu sudah menjadi bukti jika mayat itu benar-benar Yoona. Tapi bagaimana mungkin sekarang ia menemukan seorang wanita yang sangat mirip dengan Yoona? Andai ia boleh meminta pada Tuhan, ia berharap semoga mayat yang ia temukan dua tahun yang lalu bukan mayat Yoona. Ia berharap jika Park Jaejong yang kejam itu saat ini tengah menjebaknya dengan memalsukan kematian Yoona.

Cklek

Donghae menatap pintu itu penuh antisipasi dengan detak jantung yang bergumuruh. Sejak tadi ia menunggu di depan toilet itu, dan belum ada siapapun yang masuk. Sehingga ia berharap jika seseorang yang akan keluar dari toilet itu adalah wanita yang telah menabraknya.

“Tunggu..”

Donghae mencekal tangan wanita itu dengan wajah terkejut yang tercetak jelas di wajahnya. Sedangkan Krystal tampak marah dan langsung mengibaskan tangan Donghae keras untuk menghalau pria itu pergi. Tapi sayangya cengkeraman tangan Donghae terlalu kuat, hingga membuat pergelangan tangannya terasa nyeri.

“Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan padaku?” Teriak Krystal marah. Donghae menatap wajah Krystal lekat-lekat dan hampir tidak menemukan cela atas kemiripan wanita itu dengan Yoona. Hanya rambut mereka yang berbeda karena Yoona memiliki warna rambut coklat gelap, sedangkan wanita itu berambut blonde.

“Yoona…” Gumam Donghae dengan rahang mengetat. Beribu-ribu perasaan rindu dan emosi tengah menggelegak di hatinya hingga membuatnya nyaris ingin menubruk wanita itu untuk memeluknya. Tapi tatapan tajam dan ekspresi marah dari wanita itu membuatnya mengurungkan niatnya untuk merengkuh tubuh ramping itu karena sepertinya wanita itu memang bukan Yoona. Ia hanya orang lain yang kebetulan berwajah sama seperti Yoona.

“Lepaskan aku brengsek, atau aku akan berteriak!” Bentak Krystal kasar sambil menghempaskan tangan Donghae sekali lagi. Kali ini Donghae memilih untuk melepaskan tangan kecil itu sambil menatap datar pada sang wanita yang sedang menunjukan kemarahan yang meluap-luap di depannya.

Yoonanya tidak mungkin berkata kasar padanya

Sebuah bisikan menggema pelan di telinganya ketika ia mengingat sebuah fakta jika Yoona bukanlah wanita kasar yang akan mengumpati orang yang tidak dikenalnya seperti itu. Meskipun ia memang telah berbuat kurangajar dengan mencekal pergelangan tangan wanita itu.

“Minggir! Jangan halangi jalanku.” Ucap wanita itu ketus. Donghae menggeser sedikit kakinya dan membiarkan wanita itu pergi. Hatinya saat ini sedang merasa sakit karena pertemuan yang tidak terduga dengan wanita yang berwajah mirip seperti Yoona, namun ternyata ia bukan Yoona. Donghae pun menolehkan kepalanya kearah perginya wanita itu sambil menatap tubuh wanita itu dengan perasaan perih.

Ia sangat merindukan Yoona

-00-

“Yunho..”

Krystal memanggil Yunho pelan ketika pria itu terlihat sedang bercakap-cakap dengan seorang pria tua di depannya. Kedua pria itu refleks membalikan tubuh mereka dengan salah satu pria yang langsung tersenyum sinis pada Krystal.

“Cucuku, Krystal Park.”

Krystal berjalan kaku mendekati pria itu dan mencoba memeluk kakeknya dengan hangat. Namun ketika Krystal memeluk tubuh kakeknya, ia merasakan sesuatu yang hampa. Ia merasa tidak mengenali kakeknya karena selama ini mereka memang tidak pernah bertemu dan hanya sering melakukan percakapan melalui telepon atau panggilan video.

“Kau sepertinya tidak senang dengan kedatanganku, apa kau sedang memiliki suatu masalah yang kau sembunyikan?”

“Tidak, aku hanya… merasa sedikit asing.” Jawab Krystal apa adanya. Pria tua itu terkekeh pelan dan kembali membawa Krystal kedalam pelukannya. Tidak ada rasa marah ataupun kecewa karena ternyata cucunya sendiri merasa asing dengannya. Ia justru merasa maklum dan bertekad ingin menambah kedekatannya dengan Krystal karena sekarang Krystal adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki selain Park Jaejong.

“Tidak apa-apa, kita memang tidak pernah bertemu sebelumnya bukan? Lebih tepatnya kau yang selama ini mengalami sakit, sehingga kau tidak pernah melihatku dalam keadaan nyata. Tapi setelah ini kita akan lebih sering menghabiskan waktu bersama, karena aku akan menjadi mentormu untuk meneruskan bisnis keluarga kita.”

Krystal melihat sebuah seringaian yang begitu mengerikan dari kakeknya. Namun ia tidak heran jika sang kakek memiliki tatapan yang begitu mengerikan dibandingkan kakek-kakek lain yang dimiliki oleh kebanyakan orang karena kakeknya adalah ketua Bloods, pemilik The Wyn, sebuah sindikat mafia yang sangat diperhitungkan di dunia. Jika kau berani macam-macam, maka bersiaplah untuk kehilangan nyawamu saat itu juga.

“Bagaimana dengan ayah? Apa ia baik-baik saja di penjara?”

“Saat ini? Saat ini ia lebih dari baik-baik saja di penjara itu. Anak buahku memperlakukannya dengan baik, namun kapten mereka yang bertanggungjawab atas kasus ayahmu sering berbuat kasar pada ayahmu untuk mencari informasi penting yang disembunyikan ayahmu. Terakhir kudengar ayahmu mendapat pukulan di perut karena memberikan informasi palsu. Mungkin setelah ini hidupnya akan lebih menderita di tangan kapten itu karena ia tak kunjung memberikan informasi penting yang dibutuhkan oleh sang kapten.”

Krystal mengernyit tidak suka membayangkan ayahnya yang babak belur di dalam penjara. Meskipun ia belum pernah melihat bagaimana rupa asli sang ayah, tapi Yunho sering menceritakan padanya dan menunjukan beberapa foto ayahnya saat sedang melakukan kerjasama atau melakukan sesuatu untuk Bloods. Rasanya ia tidak terima jika ternyata di luar sana ada yang memperlakukan ayahnya dengan serendah itu.

“Kapan kita akan mengeluarkan ayah dari markas itu? Ia pasti merasa tertekan di sana.”

“Sabar, jangan terlalu terburu-buru. Jika waktunya sudah tepat, kita pasti akan membawa keluar ayahmu dari tempat rongsokan itu. Sekarang lebih baik kau tunjukan pada kakek bagaimana hasil kerja kerasmu selama ini. Yunho baru saja mengatakan padaku jika kau berhasil melakukan kerjasama dengan kartel narkoba dari Italia, Angelo. Kakek benar-benar bangga padamu karena akhirnya kau bisa menaklukan pria angkuh yang naif itu.”

Krystal tersenyum kecil dan langsung membawa kakeknya menuju mobil. Akan ada banyak hal yang ingin ia tunjukan pada kakeknya. Terkait jerih payahnya selama ini untuk mengembangkan Bloods agar menjadi salah satu kelompok mafia yang diperhitungkan di dunia. Apalagi selama ini ia melakukannya dengan tidak mudah. Banyak anggota Bloods yang dulu meremehkannya karena ia seorang wanita. Namun setelah ia berhasil menunjukan kompetensinya, mereka semua seperti berlomba-lomba untuk mencium kakinya sambil bersujud-sujud di bawah kakinya. Benar-benar munafik.

-00-

Hari ini Krystal sedang gerah. Ia ingin menyalurkan rasa marah dan kesalnya dengan menari sepuasnya di The Wyn. Yunho yang sejak tadi berada di belakangnya terus mengikuti langkah kakinya yang sudah berpijak di pintu masuk The Wyn. Ia kemudian menoleh gusar pada Yunho yang menyuruh pria itu menjaga jarak darinya karena ia tidak ingin dikenali sebagai Lady The Wyn.

“Menjauhlah dariku, aku tidak ingin siapapun mengenaliku sebagai Lady The Wyn.”

“Nona ingin menjadi stripper malam ini?” Tanya Yunho sangsi pada Krystal. Pasalnya diantara stripper yang ada, Krystal adalah salah satu stripper yang paling mencolok. Selama ini jika sedang menari Krystal selalu menggunakan topeng dan menggunakan gaun yang lebih tertutup daripada stripper yang lain. Tak pelak hal itu membuat pengunjung The Wyn semakin antusias untuk melihat Krystal menari, karena mereka begitu penasaran dengan rupa Krystal yang sebenarnya, sehingga terkadang salah satu pengunjung The Wyn secara terang-terangan memintanya untuk menjadi teman tidur mereka. Tapi sayangnya, Krystal pasti akan selalu membunuh pria-pria itu di kamar hotel. Ia tidak mau kesuciannya direbut oleh pria asing yang sama sekali tidak dikenalnya. Apalagi jika pria itu adalah pria brengsek, ia sama sekali tidak akan mau.

“Apa aku terlihat seperti akan menari balet? Pergi jauh-jauh dariku, aku tidak ingin kau mengacaukan kesenanganku hari ini. Cukup kakek yang membuat moodku menjadi buruk hari ini. Kakek tua itu benar-benar menyebalkan.”

“Tapi nona, apa yang dikatakan tuan Juhyuk benar, anda memang seharusnya mengambil langkah tegas pada mereka. Nona harus mengusir para gelandangan itu agar mereka segera mencari tempat lain, karena tempat itu sudah dibeli oleh The Wyn dan akan dibangun menjadi arena tarung bebas.”

Krystal mendecakan lidahnya pada Yunho yang lagi-lagi terlalu ikut campur dengan urusannya. Lagipula urusan penggusuran lahan itu bukan teritori Yunho, pria itu hanya seorang pelayan, bukan pengatur hidupnya.

“Kau tidak perlu ikut campur, aku bisa menyelesaikannya dengan caraku sendiri. Sebelum aku kembali ke Korea kupastikan sengketa itu sudah selesai. Sekarang biarkan aku bersenang-senang.”

Krystal segera memasang topeng putihnya dan langsung melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri ke dalam kasino miliknya. Malam ini pengunjung sedang ramai, dan mereka langsung bersiul-siul menggoda ketika melihat ia berjalan menaiki panggung untuk mulai melakukan tarian strip yang sudah ditunggu-tunggu oleh para pria hidung belang di depannya.

Alunan musik yang cukup keras mengawali gerakan Krystal dalam melakukan tarian erotis. Ia meliukan tubuhnya kesana kemari dengan gerakan yang begitu menggoda, membuat sebagian pengunjung yang tengah melakukan kegiatan mereka langsung teralihkan ketika melihat Krystal mulai menari. Salah satu pria dengan stelan jas hitam berjalan sedikit limbung ke atas panggung. Pria itu mendekati Krystal yang sedang meliukan tubuhnya di dekat sebuah tiang panjang berwarna maroon yang biasanya juga digunakan oleh penari stripper lain. Pria itu merangkul bahu Krystal tiba-tiba dan mendekatkan wajahnya hingga hampir menyentuh bibir Krystal, namun Krystal langsung menahannya sambil menggeram marah.

“Ladies and gentlemen, wanita ini akan menjadi milikku malam ini.” Teriak pria itu meracau dengan aksen mabuknya. Krystal mencoba bersabar dengan mengikuti permainan pria itu. Dibalik pinggangnya ia telah menyiapkan sebuah pistol semi otomatis yang berperedam. Hanya menunggu saat yang tepat ia akan memecahkan kepala pria itu hingga hancur berkeping-keping.

“Ayo sayang, kita bersenang-senang.”

Krystal mengetatkan rahangnya marah, namun ia dengan wajah malaikatnya yang menipu justru tersenyum menggoda dibalik topeng putih berbulu angsa yang dikenakannya. Ia lalu sedikit menyeret pria itu agar turun dari panggung karena ia sudah tidak bisa berlama-lama memainkan sandiwara murahan itu. Apalagi saat ini kedua tangannya sudah gatal untuk menarik pelatuk pistolnya agar pria kurangajar itu mendapatkan hukuman yang setimpal. Berani-beraninya ia menggoda seorang Lady Bloods, Krystal Park.

“Sayang, kau akan membawaku kemana, hmm?” Ucap pria itu sambil mengelus pipi Krystal. Ia berdecak kesal dan segera menghempaskan tangan kurangajar itu dari wajahnya, namun pria mabuk itu justru merapatkan tubuhnya pada Krystal dan memojokan tubuh Krystal di basement The Wyn yang sepi.

“Kau tahu, aku sudah lama menginginkanmu.”

“Hmm.. dan aku juga sudah lama ingin meledakan kepalamu.” Desis Krystal pelan sambil membuka topeng bulu angsanya pelan dan menyeringai mengerikan pada pria mabuk itu.

-00-

Donghae berdiri di depan sebuah kasino mewah yang berada di kompleks Paradise Way, Vegas. Dua jam yang lalu Yeri memberikan informasi jika kasino itu merupakan kasino milik Bloods yang dicurigai sebagai kelompok mafia yang berasal dari Korea Selatan. Donghae sedikit merapikan jas armaninya sebelum berjalan masuk ke dalam kasino itu untuk menyelidiki apapun yang bisa ia selidiki. Dan jauh di dalam hatinya ia sangat berharap jika keputusannya untuk menyelidiki kasino itu tidak salah, karena ia benar-benar sangat membutuhkan informasi itu untuk menjebloskan orang-orang licik yang telah merusak negaranya.

“Tolong angkat tangan anda tuan.”

Donghae mengangkat tangannya dan seorang petugas mulai menggeledah seluruh jasnya untuk menemukan barang-barang yang tidak boleh dibawa masuk ke dalam kasino.

“Pisau?”

Donghae mengendikan bahunya acuh tak acuh dan membiarkan petugas itu mengambil pisau lipat yang ia sembunyikan di dalam saku jasnya. Ia hanya sedang berjaga-jaga, bukan untuk melakukan suatu kejahatan.

“Aku sudah tidak membawa apapun lagi.” Ucap Donghae datar ketika petugas itu terus meraba tubuhnya setelah ia menemukan sebuah pisau lipat di dalam jas yang dikenakan oleh Donghae.

Setelah dirasa Donghae memang tidak membawa senjata apapun, Donghae diijinkan masuk ke dalam ruang utama kasino yang besar. Sekilas Donghae cukup kagum dengan interior kasino yang begitu berkelas. Tapi sayangnya tempat itu adalah sarang bagi penjahat-penjahat berbahaya yang selama ini selalu menjadi buronan intel-intel sepertinya. Ia yakin jika di dalam kasino ini ia akan menemukan banyak penjahat yang seharusnya membusuk di penjara, namun mereka berhasil lolos karena mereka memiliki kekuasaan.

“Tolong berikan aku satu koin.”

Donghae mencoba bermain jackpot untuk menyamarkan gerak geriknya yang mungkin mencurigakan. Sembari bermain jackpot, kedua matanya terus bergerak kesana kemari untuk mengawasi keadaan sekitar. Tanpa sengaja ekor matanya melihat seorang wanita yang tengah menari dengan sangat gemulai di atas panggung. Wanita itu menggunakan gaun putih dengan belahan sebatas betis dan juga sebuah topeng putih berhiaskan bulu angsa. Merasa tertarik dengan wanita itu, Donghae mencoba berjalan mendekat kearah panggung dan meninggalkan permainan jackpotnya yang belum sepenuhnya ia mainkan. Wanita itu mengingatkannya pada seseorang yang pernah ia termui sebelumnya, namun ia tidak yakin dengan dugaanya.

“Yoona..”

Lagi-lagi gumaman itu yang keluar dari bibir Donghae ketika ia merasa jika siluet wanita itu sangat mirip dengan Yoona. Ia pun semakin intens memperhatikan wanita itu sambil sesekali menyesap wine yang dipesannya. Ia begitu penasaran dengan wanita itu, dan berharap ia akan membuak topengnya setelah ia selesai menari. Namun tanpa diduga, seorang pria dengan stelan jas hitam berjalan sempoyongan ke atas panggung dan mencoba untuk merayu wanita itu. Sesekali sang pria membela wajah stripper itu dan hendak menciumnya, tapi sang stripper dengan sigap menghindari sentuhan pria itu dan justru menyeret pria itu untuk turun dari atas panggung. Sekilas Donghae mendengar jika pria itu hendak membawa sang wanita ke atas ranjangnya.

Diam-diam Donghae berjalan mengikuti stripper itu untuk melihat apa yang akan mereka lakukan. Sebenarnya ia cukup curiga dengan gerak gerik sang stripper karena ia terlihat begitu berani dan tidak seperti seorang stripper yang notabenenya adalah seorang pelacur rendahan. Ketika berada di basement, Donghae melihat stripper itu membuka topengnya dan menodongkan pistolnya tepat di kepala pria itu. Untuk sesaat Donghae terpaku di tempat karena ia merasa mengenali wanita itu. Ia adalah wanita yang ditemuinya di bandara. Ia adalah wanita yang sangat mirip dengan Yoona.

“Aku sudah muak melihat pria hidung belang sepertimu. Dan aku sudah melihat gerak gerikmu selama ini di sini, kau adalah salah satu pria brengsek yang telah menggagalkan pengiriman paket ke Irlandia. Kau harus mati!”

Dor

Donghae menonton serangkaian peristiwa dramatis itu dalam diam. Tiba-tiba ia merasa tertarik dengan ucapan wanita itu dan ingin mengetahui latar belakang wanita itu lebih lanjut. Karena selain memiliki wajah yang sangat mirip dengan Yoona, wanita itu juga sempat membicarakan sebuah paket yang ia yakini pasti berisi sesuatu yang penting. Karena jika tidak, wanita itu tidak akan segan-segan mengotori tangannya hanya untuk membunuh seorang pria mabuk yang tak sadarkan diri.

Srek

Gerakan Donghae yang tiba-tiba membuat wanita itu waspada dan langsung menodongkan pistol kearah Donghae. Donghae mengangkat kedua tangannya di atas kepala, dan berjalan mendekati wanita itu dengan gerakan santai.

Krystal mengamati gerakan pria itu yang santai sambil mengambil ancang-ancang untuk menarik pelatuknya. Bagaimanapun pria itu adalah saksi mata dari pembunuhan yang baru saja ia lakukan. Dan jika ia sedang sial, pria itu dapat membuatnya harus berurusan dengan polisi yang merepotkan.

“Tembakan yang bagus, aku suka. Jadi apa klienmu telah mengecewakanmu?”

Donghae berhenti sejauh dua meter dari tempat wanita itu berdiri. Ia masih menaikan kedua tangannya di atas kepala, pertanda ia datang secara baik-baik, bukan untuk memulai suatu pertikaian. Namun Krystal sudah memasang ancang-ancang waspada karena ia sama sekali tidak mengenal pria asing itu.

“Siapa kau? Apa kau salah satu anggota Outfit atau Taiwaness Triad? Katakan saja, aku tidak takut.” Ucap Krystal lantang. Sejak dulu Bloods memang memiliki masalah dengan kedua kelompok itu karena mereka sama-sama memperebutkan jalur perdagangan gelap yang berada di Asia dan Eropa.

“Aku bukan salah satu dari mereka, aku hanya pengunjung yang kebetulan melihatmu sedang menyeret seorang pria mabuk yang saat ini sudah tergeletak mengenaskan di bawah kakimu. Ngomong-ngomong, wajahmu mengingatkanku pada isteriku yang sudah meninggal, Lee Yoona.”

Tiba-tiba Donghae menarik tangan Krystal yang sedang menodongkan pistol kearahnya, dan ia mengunci tangan Krystal ke belakang, sehingga Krystal saat ini berada di dalam dekapan Donghae dengan ujung pistol yang mengarah pada kepalanya sendiri.

“Sial! Lepaskan aku brengsek! Aku bukan isterimu atau siapapun yang berhubungan denganmu. Jadi kuperingatkan padamu untuk melepaskanku sebelum peluru di pistol ini melubangi kepalamu.”

Donghae tersenyum mencemooh sambil menyeringai licik pada Krystal. Ia tahu jika wanita itu hanya menggertaknya, karena ia tidak akan mungkin bisa menyerangnya dalam keadaan terkunci seperti itu. Kecuali ia mengetahui triknya.

“Hahaha, lakukan saja jika kau bisa. Tapi ngomong-ngomong, berapa tarifmu untuk satu malam, sayang? Karena aku merasa tertarik dengan tubuhmu.”

“Keparat! Bedebah sialan! Aku tidak serendah itu. Aku adalah Lady Bloods, dan tidak ada yang bisa bermain-main denganku.”

Krystal mulai memberontak di dalam cekalan tangan Donghae, dan ia mencoba menyerang Donghae agar pria itu lengah dan mengendurkan cengkeramannya yang menyakitkan. Suara tembakan berkali-kali terdengar di dalam basement yang sepi itu karena Krystal berusaha membunuh Donghae dengan pistolnya, namun selalu meleset karena gerakan gesit Donghae. Sekarang ia hanya memiliki satu peluru untuk membunuh Donghae. Mau tidak mau ia harus mencoba peruntungannya sebelum ia melawan pria asing itu dengan tekhnik-tekhnik bela diri yang dipelajarinya selama ini.

Dor

Darah segar merembes dari lengan kiri Donghae ketika Krystal berhasil menembakan peluru terakhirnya pada Donghae. Tapi sayangnya peluru itu tidak mematikan Donghae, hanya sedikit melukainya, dan membuat pria itu bergeming di tempat tanpa mengeluh kesakitan.

“Itu adalah peringatan untukmu. Dan kutekankan padamu sekarang juga jika aku bukan istermu atau siapapun yang kau kenal, karena aku adalah Krystal Park, salah satu pemimpin Bloods. Jika kau berani macam-macam denganku, maka aku tidak segan-segan untuk membunuhmu. Anggap saja hari ini kau sedang beruntung karena peluruku tidak sampai mengoyak kepalamu hingga pecah berkeping-keping.”

Donghae menatap wanita itu dalam diam tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Saat ini yang berkecamuk di dalam kepalanya justru satu, mengapa wanita itu mengetahui teknik kuncian yang ia gunakan. Padahal selama ini satu-satunya wanita yang pernah mempelajarinya hanyalah Yoona.

13 thoughts on “Bullets Of Justice: Dangerous Woman (Nine)

  1. Tehnik kuncian yg hanya yoona mengetahui?? Ah apa krystal adalah yoona?? Maksudku apa mungkin wanita yg mati digudang adalah krystal yg sebenarnya?? Pertukaran tubuh?? Ah entahlah aku sangat bingung..banyak sekali yg harus kita pecahkan dalam cerita…good storyyy 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

  2. Fix, ternyata yoona belum mati 😊😊
    Yaampun thor, sumpah ceritanya makin rumit sih, jd si krystal itu yoona yg dicuci otaknya atau hilang ingatan gitu?? hmm
    Lanjut thor, makin seru 😊😊

  3. Ooooww daebakk 👍👍 Apa park jaejoong nyelamatin yoong dan dia jdiin anaknya? atau gmana? apa iya krystal itu yoong ??Penuh teka-teki 😂😂 Nah, tuhkan sehun mkin aneh 😂 Apa yg dtng bersma kakeknya krystal(?) itu sehun? Dan secara krystal kan nggk terllu tau gmana kluarga dia sndiri, dan dia jga amnesia kan? moga aja tuh beneran yoong.. Dan smoga hae bisa nyelesain misi dia dan plus dptin yoong(krystal) kmbali..

    Next kk.. makin seru 😂😂 Fighting!

  4. kakak ga nyadar ya ada typo?? aakk krystal itu yoonaaaa 😆😆
    duh kakeknya yoona ternyata jahat yaaa…
    tak disangka, itu juga bilang ayahnya yoona mendekam dipenjara bohong kan itu kak??
    donghae udah mulai nyadar ya kalo itu yoona, wah ditunggu deh kak lanjutannya… gasabar ini kkk~~ 😆
    fighting!😊😊

  5. krystal ? itu yoona bukan ? author aku penasaran sgt
    bgmn bs krystal itu mirip bgt sma yoona.
    ayo eonni lanjut terus ff ny
    smg kebenaran ny cepat terungkap

  6. aseli puzzle sedikitnya mulai ada
    titik terang sy yakin crystal park adalah
    Lee yoona. itu berdasarkan teka teki park
    jaejong. dari awal udah dag dig dug tegang
    selupa apapun hati nurani berbicara kebenaran.
    orang asing mengaku keluarga tetap tidak
    ada getaran nya. mirip past and furious 6 apa 7
    saat leety lupa ingatan. keren thor bacanya
    bikin tegang ma penasaran banyak jempol
    buat penulisnya. love it

  7. Krystal beneran Yoona kn?
    Kata” jaejong yg soal anak ayam lbh memperkuat, ditambah krystal jg ga ingat keluarganya
    Biarkan yoona tetap hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.