Fine (Trilogy Of Make Me Love You)

“Selamat datang di New York Im Yoona.”

Yoona bergumam pelan pada dirinya sendiri setelah ia turun dari pesawat bersama dengan penumpang yang lain. Sambil menarik dua kopornya, Yoona mulai berjalan menyusuri gerbang kedatangan untuk mencari sang supir atau ayahnya yang mungkin datang untuk menjemputnya. Tapi tiba-tiba ia melihat seorang pria Pruh baya sedang melambai kearahnya dengan senyum teduh yang selama ini selalu ditunjukan padanya. Dengan cepat Yoona segera berjalan menghampiri pria itu dan memeluknya dengan erat serta penuh kerinduan.

“Ayah, akhirnya aku bisa memeluk ayah lagi.”

Tuan Im membalas pelukan Yoona dengan hangat sambil mengusap punggung putrinya lembut. Lalu saat Yoona melepaskan pelukannya, tuan Im mengelus perut buncit Yoona dengan penuh kelembutan dan senyum yang terkembang di wajahnya.

“Berapa usianya sekarang?” Tanya tuan Im masih dengan mengelus perut buncit Yoona. Yoona tersenyum pada ayahnya dan menjawab pertanyaan ayahnya dengan malu-malu.

“Sekitar lima bulan dua minggu, sebentar lagi ayah akan memiliki seorang cucu perempuan.” Ucap Yoona memberitahu. Tuan Im langsung tersenyum sumringah dan semakin mengelus perut Yoona intens. Meskipun putrinya mengandung anak dari seorang pria yang tak bertanggungjawab, bukan berarti tuan Im akan membenci Yoona dan calon cucunya. Tuan Im justru sangat bahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang kakek dan bisa menghabiskan masa tuanya dengan bermain-main dengan sang cucu.

“Ayah sangat senang karena sebentar lagi ayah akan memiliki seorang cucu yang pasti akan sama cantiknya dengan putri ayah, kau harus selalu menjaga kandunganmu Yoong.”

“Tentu ayah. Selama di Korea aku rajin pergi ke dokter kandungan untuk mengecek kondisinya dan memantau tumbuh kembangnya. Dan syukurlah, sejak trimester ketiga aku sudah tidak mual-mual lagi, ia bayi yang sangat pengertian.” Cerita Yoona antusias. Tuan Im tersenyum bahagia dan ikut merasakan kebahagiaan yang dipancarkan oleh Yoona. Selama ini ia selalu berusaha menjadi sosok ayah dan juga ibu bagi Yoona setelah isterinya bercerai dengannya sepuluh tahun yang lalu. Tapi untungnya Yoona sendiri adalah anak yang tidak merepotkan, ia tahu bagaimana posisi ayahnya sebagai single parent dan juga seorang pemimpin perusahaan, sehingga selama hidup Yoona tidak pernah menyusahkannya. Hanya saja ia sangat menyayangkan sikap Yoona yang selama ini tidak pernah memberitahukan perihal hubungannya dengan Donghae yang selalu disembunyikan. Andai saja sejak awal Yoona berkata jujur padanya jika ia memiliki seorang kekasih, mungkin Yoona tidak akan menanggung beban seberat ini karena cintanya bertepuk sebelah tahan. Tapi ia tidak mau menyalahkan Yoona atau memarahi Yoona karena perbuatan nekat wanita itu yang menghancurkan masa depannya sendiri. Sebagai orangtua, tuan Im justru berusaha mencarikan seorang calon suami yang tepat untuk Yoona dan mau menerima Yoona apa adanya bersama dengan calon anaknya. Dan untung saja tuan Im menemukan Kim Soohyun yang merupakan rekan bisnisnya selama berada di New York. Pertama kali tuan Im menawarkan putrinya pada Kim Soohyun, pria itu dengan semangat langsung menerimanya dan bersedia untuk menjadi pendamping Yoona. Padahal saat itu tuan Im hanya sekedar ingin memperkenalkan Yoona dan belum membahas mengenai pernikahan atau semacamnya. Namun Kim Soohyun dengan cepat justru meminta pada tuan Im untuk menjadikan Yoona sebagai calon isterinya. Lalu beberapa hari setelahnya, tuan Im mulai menghubungi Yoona dan meminta Yoona untuk pulang agar dapat bertemu dengan calon suaminya. Lagipula Kim Soohyun adalah pria mapan dan memiliki latar belakang keluarga yang baik, sehingga tuan Im langsung menyetujui permintaan Kim Soohyun untuk menjadikan Yoona sebagai isterinya.

“Ayah turut bahagia jika kau bahagia nak.”

Yoona tersenyum lembut pada ayahnya dan merasa matanya kini telah berkaca-kaca. Betapa ia sangat beruntung memiliki seorang ayah yang begitu pengertian dan mau berjuang untuk kebahagiaannya. Meskipun ibunya telah lama pergi meninggalkannya, tapi ia merasa masih  memiliki sosok ibu hingga saat ini karena ayahnya memainkan perannya dengan baik. Dan sekarang ia menyesal karena telah mengecewakan ayahnya dengan mengejar cintanya yang berakhir sia-sia.

“Paman, maaf aku terlalu lama.”

Tiba-tiba seorang pria tampan muncul dari balik tubuh tuan Im sambil tersenyum sungkan pada tuan Im. Pria itu kemudian berbalik dan tersenyum pada Yoona dengan senyum lembutnya yang menenangkan.

“Apa kabar Im Yoona.”

“Kau, kekasih Jessica?” Tanya Yoona tak percaya. Tuan Im mengangkat alisnya bingung dengan reaksi putrinya yang sepertinya telah mengenal Kim Soohyun.

“Oh, sebenarnya aku bukan kekasih Jessica, aku adalah sepupu Jessica.” Ucap Kim Soohyun lancar dan terdengar jujur. Yoona mendengus dalam hati, mencibir Jessica yang benar-benar tidak ingin kalah darinya hingga rela menyeret sepupunya untuk menjadi kekasih gadungannya.

“Kalian sudah saling mengenal?”

Akhirnya tuan Im angkat bicara setelah sebelumnya ia memberikan kesempatan pada putrinya untuk berkenalan dengan Kim Soohyun.

“Kami pernah bertemu sebelumnya di pesta pernikahan temanku di Korea, dan saat itu ia memperkenalkan dirinya sebagai kekasih teman lamaku.”

“Bukan aku yang memperkenalkan diri, tapi Jessica.” Koreksi Kim Soohyun cepat. Yoona tampak tak peduli dan hanya memasang wajah malas. Sedangkan tuan Im hanya menganggukan kepalanya mengerti dan tidak ingin terlalu ikut campur dalam masalah anak muda yang selalu membingungkan itu.

“Kalau begitu mari kita lanjutkan percakapan ini di rumah, lagipula ayah yakin kau pasti merasa lelah nak.” Ucap tuan Im pada Yoona. Yoona mengangguk sekilas dan segera menarik dua kopornya yang berada di samping kanan dan kirinya. Namun dengan sigap Kim Soohyun langsung mengambil alih kopor itu sambil tersenyum manis pada Yoona.

“Biar aku saja yang membawanya.”

“Terserah.” Jawab Yoona acuh dan langsung menyusul ayahnya untuk berjalan beriringan. Sedangkan Kim Soohyun tampak tersenyum aneh dengan berbagai macam rencana di kepalanya untuk menaklukan hati Yoona.

-00-

Yoona memasuki kamarnya sambil menghembuskan nafas dalam-dalam, merasakan bagaimana aroma khas kamarnya yang sejak tujuh bulan lalu sama sekali tidak berubah. Ia pun meletakan kopornya di atas karpet dan mulai membongkar barang-barangnya satu persatu untuk ditata di dalam lemari. Tiba-tiba ia menemukan sebuah sepatu bayi yang pernah diberikan Donghae padanya.

Saat itu ia sedang mendatangi kantor Donghae untuk menggoda pria itu dan membuat pria itu terprovokasi oleh kata-katanya. Tapi entah kenapa saat itu Lee Donghae hanya mengendikan bahunya sekilas dan tiba-tiba meletakan sebuah bungkusan di atas meja. Dengan penasaran ia pun membuka bungkusan itu dan menemukan sepasang sepatu bayi berwarna merah dengan hiasan bola di pinggirnya. Padahal saat itu ia belum tahu jenis kelamin bayinya, dan dengan penuh percaya diri Lee Donghae memberinya sepasang sepatu bayi untuk seorang bayi laki-laki. Lalu ia pun menanyakan pada Donghae mengapa pria itu memberinya sepatu untuk bayi laki-laki, padahal mereka berdua sama-sama belum mengetahui jenis kelamin bayi mereka. Lalu Donghae mengatakan jika ia hanya sekedar iseng membeli sepatu itu karena ia merasa tertarik dengan bentuknya ketika ia dan Yuri sedang berjalan-jalan di mall. Mendengar Lee Donghae menyebut nama Yuri, hatinya menjadi marah dan ia tidak mau menerima sepatu pemberian Donghae. Saat itu ia langsung membuangnya di depan Donghae dan mengatakan jika sepatu itu sangat jelek dan ketinggalan jaman. Tapi keesokan harinya, Lee Donghae datang ke apartementnya untuk mengantar sepatu itu dan mengatakan jika ia tetap harus menerimanya meskipun bentuknya jelek, karena ia membelinya dengan sepenuh hati untuk calon anaknya.

Sekarang Yoona merasa begitu terenyuh ketika melihat sepatu itu, karena bagaimanapun juga Donghae masihlah ayah dari bayi yang dikandungnya. Dan meskipun Donghae mengatakan jika ia membencinya, tapi ia masih terikat dengan anaknya, dan ia tetap peduli pada anaknya meskipun mereka sedang berkonflik sekalipun.

Yoona mengambil sepatu bayi itu dan menyimpannya di dalam lemari pakaiannya. Suatu saat jika bayinya lahir ia akan memakaikan sepatu itu pada anaknya, meskipun anaknya nanti adalah perempuan, itu tidak masalahnya. Apalagi sepatu itu berasal dari ayahnya, ia ingin anaknya tetap merasakan kehadiran ayahnya, meskipun pada kenyataanya ayahnya sama sekali tidak ada di sampingnya.

“Kapan perasaan ini akan hilang untukmu oppa? Meskipun aku sudah menguburnya dan menggantinya dengan kebencian, tapi tetap saja aku tidak bisa. Justru perasaan itu semakin kuat bercokol di hatiku sejak aku mengandung bayi ini. Aku tidak bisa menggantikanmu dengan pria lain.”

Yoona menangis pilu di dalam kamarnya sambil bersandar pada kaki ranjangnya yang kokoh. Bayangan masa lalu mereka yang penuh cinta dan bayangan percintaan mereka yang panas menari-nari di dalam kepalanya dan membuatnya semakin ingin menangis sekencang-kencangnya, meratapai nasib cintanya yang penuh luka. Andai ia dapat mengulang waktu, ia ingin menghapus semua kenangan indahnya dengan Donghae dan berbalik untuk tidak mengenal pria itu sama sekali jika pada akhirnya akan jadi seperti ini. Lebih baik dulu mereka tidak saling mengenal satu sama lain, daripada ia harus merasakan sakit karena mengenal pria itu dan mencintainya.

-00-

Hari demi hari berlalu dan berganti bulan. Tak terasa tiga bulan telah terlewat setelah kepergian Yoona dan Yuri, namun Donghae masih tetap berdiri di tempat yang sama dengan kepasifannya. Tak ada usaha untuk memperbaiki rumah tangganya yang hancur bersama Yuri ataupun usaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Yoona. Ia hanya menjalani hidupnya seperti air. Bangun di pagi hari lalu berangkat ke kantor dan menenggelamkan dirinya pada tumpukan berkas-berkas yang harus ia tandatangani dan ia periksa. Siklus itu terus berlanjut setiap hari hingga tak terasa hari-hari itu telah berkumpul menjadi bulan-bulan yang penuh kesia-siaan bagi Lee Donghae.

Pagi ini pun Donghae kembali memulai harinya seperti siklus yang biasa ia lalui. Pagi-pagi ia membersihkan dirinya di kamar mandi selama lima belas menit, lalu berganti pakaian, menyeduh teh, dan setelah itu ia akan berangkat ke kantor. Sarapan, dan makan siang akan ia gabungkan di jam sebelas, lalu sebelum ia pulang ke rumah ia akan pergi ke restoran terdekat untuk mengisi perutnya yang sebenarnya tidak terlalu lapar. Ia hanya sekedar makan untuk memberikan asupan bagi tubuhnya agar tubuhnya tetap sehat ditengah-tengah keadaanya yang tidak memiliki siapapun untuk mengurusnya.

“Huhhh…”

Donghae menghela nafas pelan sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Dirasanya saat ini hidupnya benar-benar hampa dan membosankan. Tak ada semangat hidup yang dimilikinya untuk memotivasinya agar semakin giat bekerja karena ia tak memiliki siapapun. Terkadang sahabat-sahabatnya saat high school mengunjunginya dan mengajaknya untuk bersenang-senang di klub. Tapi meskipun begitu hati dan pikirannya sama sekali tidak berada di klub, melainkan berada di tempat lain yang sangat jauh. Terkadang sahabat-sahabatnya itu sengaja memberikan seorang wanita dari klub agar Donghae dapat menghabiskan malam-malam kesepiannya dengan salah satu wanita itu. Tapi seperti yang selama ini ia rasakan pada Yuri, ia juga merasa tak bergairah dengan mereka. Baginya mereka hanyalah wanita biasa yang sama sekali tidak bisa menarik perhatiannya untuk bersenang-senang bersama. Justru ia akan bergairah hanya dengan membayangkan malam percintaan panasnya dengan Yoona. Bagaimanapun wanita itu selama ini telah membuatnya kembali mencintainya, dan bertekuk lutut padanya. Terlebih ketika ia mengetahui jika Yoona sedang mengandung anaknya, perasaan cinta itu sebenarnya semakin membuncah di dalam hatinya. Tapi ia tidak bisa mengatakannya. Justru ia telah menyakiti hati dua wanita sekaligus dengan sifatnya yang serakah.

Donghae membuka ponselnya dan menemukan sebuah pesan dari salah satu wanita yang dikenalkan oleh Hyukjae padanya. Ia pun membalas pesan tersebut dan segera bangkit berdiri untuk menemui sang wanita di sebuah kafe Eropa yang tak jauh dari kantornya. Mungkin nanti ia tidak akan tertarik dengan wanita itu, tapi setidaknya ia harus mengharagai usaha Hyukjae untuk mencarikannya seorang wanita agar kehidupannya tidak lagi membosankan dan menyedihkan.

-00-

Donghae pov

            Tak pernah kubayangkan jika kehidupanku setelah bercerai dengan Yuri dan kepergian Yoona akan sangat menyedihkan seperti ini. Setiap hari aku merasa kosong dan hampa. Sebagian jiwaku pergi ke belahan bumi lain sambil membawa beban di pundaknya. Mengingat hal itu aku merasa benar-benar bersalah dan sangat ingin menebusnya. Tapi aku merasa tak punya keberanian untuk melakukan hal itu. Apalagi selama ini aku selalu berlaku kasar padanya. Aku selalu menyakitinya dan membuatnya menangis di malam-malam sunyinya yang dingin. Kira-kira bagaimana kabarnya sekarang? Apa ia sudah menikah dan hidup bahagia dengan suaminya, seperti yang ia katakan dulu?

Dulu aku berencana untuk kembali pulang ke hatinya dan memperbaiki semuanya. Tapi setelah aku merenung selama tiga hari, aku tiba-tiba menjadi sadar. Yoona, ia mengatakan padaku jika ia akan menikah dengan pria pilihan ayahnya. Jika aku datang, aku mungkin akan merusak semuanya dan membuatnya kembali tersakiti. Oleh karena itu aku membatalkan niatku untuk pergi menemuinya dan memilih untuk menjalankan kehidupan hampaku di sini. Tapi hingga tiga bulan berlalu setelah kepergiannya, aku tetap tidak bisa melupakannya. Aku selalu mengingatnya, bahkan saat malam percintaan panas kami yang tak terduga itu, aku selalu membayangkannya. Aku bergairah padanya, dan aku tidak bisa bergairah dengan wanita lain selain dirinya. Im Yoona, dia memang cinta sejatiku. Kepulangannya membuatku kembali mencintainya karena dia bisa membuktikan padaku jika ia bisa membuatku mencintainya. Meskipun sikap keras kepalanya dam liciknya sempat membuatku geram, tapi tanpa sadar aku menikmatinya. Aku menikmati semua permainan yang telah dilakukan Yoona. Wanita itu dalam sekejap mampu menjungkirbalikan hidupku lagi seperti dulu. Bahkan ia membuatku tidak bisa merasakan kasih sayang dari isteriku sendiri. Seharusnya saat ia muncul pada acara pernikahanku, aku langsung membatalkan pernikahanku dengan Yuri, karena pada saat itu pun jantungku terus bergetar dengan brutal tatkala wajah cantiknya meyunggingkan senyum padaku, dan tangan halusnya terulur untuk menjabat tanganku. Ia benar-benar wanita yang menganggumkan dan wanita yang paling kuinginkan. Tapi sekali lagi, aku memang bodoh. Aku dengan naifnya menolak Yoona datang ke dalam kehidupanku dan menganggap jika semuanya akan baik-baik saja karena aku bisa mengendalikan perasaanku padanya. Huh, tapi ternyata aku tidak bisa. Pertahananku bahkan langsung runtuh hanya karena sebuah obat perangsang. Padahal saat itu aku bisa saja menghindarinya dengan pergi ke kamar mandi dan berendam di sana hingga semuanya kembali normal. Tapi sejak awal, sejak Yoona muncul di depan pintu kamarku dengan wajah cantik dan lipstik merah menyala yang seksi, aku sudah mendambakannya. Aku menginginkannya dan semua hal yang kulakukan padanya bukan semata-mata karena obat perangsang, tapi karena diriku sendiri. Aku benar-benar ingin memilikinya saat itu! Dan saat aku terjaga di tengah malam dengan peluh yang membanjiri wajahku setelah bercinta, aku sempat membisikan kata cinta dan ucapan terimakasihku padanya karena ia adalah wanita pertama untukku. Tapi setelah itu aku kembali bersikap dingin padanya. Bahkan aku sempat melemparnya di depan ruanganku saat ia tengah mengandung. Betapa brengseknya aku karena telah memperlakukan wanita yang sedang mengandung anakku dengan sangat kasar seperti itu. Lalu aku merasa bersalah dan memutuskan untuk datang ke apartementnya untuk melihat keadaanya. Tapi lagi-lagi aku bersikap kasar dengan menggedor-gedor pintu apartementnya dengan keras dan kasar. Lalu ia membukakan pintu untukku dengan wajah pucat yang sangat menyedihkan. Ia sedang mengalami morning sickness. Ia mengalami hal itu karena aku! Kemudian aku melihatnya merosot di bawah wastafel dengan keadaan yang sangat tidak berdaya. Dan saat itu aku bersumpah aku ingin selalu melindunginya dan berada di sisinya. Tapi setelah itu aku justru membuat kesepakatan yang membuatnya marah dan merasa terluka. Aku menawarkan diri untuk mengakui anaknya sebagai anakku, namun aku mengancamnya untuk menjauhiku. Ia pun dengan  wajah terluka membalasku dengan kata-kata kasarnya dan langsung pergi begitu saja untuk pulang. Betapa saat itu aku merasa menyesal karena telah mengatakan hal itu padanya. Tapi kemudian ia kembali bersikap licik dengan mengganggu kehidupanku dan Yuri yang tenang. Ia terus menerorku dengan berbagai ancaman yang selalu membuatku was-was. Saat itu aku hanya takut akan menyakiti Yuri, karena keputusan untuk menikahi Yuri adalah keputusan yang kubuat sendiri. Bagaimana jadinya jika keputusan itu justru kulanggar sendiri? Aku tidak siap dengan hal itu. Oleh karena itu aku berbalik mengancam Yoona dan memperlakukannya dengan semena-mena. Aku berbuat kasar padanya dan aku sering menggedor pintu apartementnya untuk marah-marah padanya, untuk menumpahkan semua ketakutan hatiku akan perbuatannya yang akan menghancurkan kehidupan rumah tanggaku dengan Yuri. Padahal seharusnya aku tidak perlu bersikap seperti itu padanya. Dengan aku bersikap seperti itu padanya, ia akan semakin senang dan menganggap usahanya berhasil karena aku telah termakan oleh provokasinya. Tapi lagi-lagi aku memang tidak bisa menahan diri. Semua itu terjadi karena aku memiliki maksud lain. Aku ingin melihat wajahnya dan aku ingin melihat keadaanya. Lalu saat usia kandungannya menginjak lima bulan, untuk pertama kalinya aku merasakan pergerakan bayiku di perutnya. Saat itu di tengah-tengah aura kemarahan yang melingkupi kami, ia tiba-tiba menempelkan tanganku di atas permukaan perutnya yang membuncit. Ia menyuruhku untuk merasakan pergerakan anak kami yang begitu aktif. Saat itu rasanya benar-benar tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku sangat bahagia dan aku merasa seperti seorang ayah sungguhan yang sedang menanti kelihiran anaknya. Tapi dibalik sikap manisnya itu, ternyata ia sedang merencanakan sesuatu. Ia sengaja membuatku terlihat seperti itu agar Yuri melihatnya dan kami berpisah. Dan apa yang diinginkannya benar-benar terjadi. Tak lama setelah hal itu terjadi, Yuri memintaku untuk bercerai. Tapi kemudian ia justru meninggalkanku. Ia pergi meninggalkanku dengan segala kesalahpahaman yang mungkin bersarang di kepalanya. Meskipun ia tahu jika selama ini aku masih mencintainya dan menginginkannya. Tapi ia tidak tahu jika aku telah bercerai dengan Yuri karena ia kembali ke New York. Ia tidak tahu jika usahanya untuk membawaku kembali padanya berhasil. Dan ia tidak tahu jika kehidupanku sekarang sangat menyedihkan setelah kepergiaannya.

“Permisi, apakah kau Jung Hana, wanita yang mengirmiku pesan beberapa menit yang lalu?”

Aku bertanya pada seorang wanita muda yang sedang duduk sendiri di dalam sebuah kafe sambil memandangi pemandangan jalanan Seoul yang mendung. Seketika wanita itu menoleh padaku sambil menyunggingkan senyum yang menghangatkan hati, tapi entah kenapa menurutku hanya senyum Yoona yang benar-benar dapat menghangatkan hatiku.

Aku menarik kursi kayu yang berada di depannya dan mulai menyapanya dengan sapaan basa-basi yang membosankan. Sebenarnya ini semua kulakukan demi Hyukjae. Berkali-kali pria itu datang ke kantorku atau ke rumahku untuk melihat bagaimana keadaanku setelah aku berpisah dengan Yuri dan kehilangan Yoona. Selama ini dia adalah satu-satunya sahabatku yang mengetahui semua masalahku. Bahkan orantuaku pun tidak tahu mengapa aku dan Yuri tiba-tiba bercerai. Mereka hanya tahu jika kami berdua bercerai karena kami ternyata tidak cocok satu sama lain, bukan karena masalah wanita yang tiba-tiba datang di tengah-tengah kehidupan kami. Untung saja orangtuaku cukup memahamiku dan tidak ingin ikut campur terlalu jauh, sehingga mereka akhirnya menerima keputusanku, meskipun dengan perasaan sedikit kecewa karena mereka menyukai Yuri.

“Jadi Lee Donghae ssi, sebelum ini kau sudah pernah menikah?”

Aku tersenyum sekilas dan menganggukan kepalaku santai. Sudah banyak wanita-wanita di luar sana yang menanyakan statusku yang pernah menikah sebelumnya, dan aku tidak malu dengan hal itu. Aku justru merasa senang karena setelah aku bercerai dengan Yuri, aku dapat memahami apa itu artinya cinta dan pengorbanan.

“Aku sudah pernah menikah dan kami bercerai karena seorang wanita yang muncul di tengah-tengah hubungan kami, karena aku menghamili wanita itu.”

Jung Hana tersenyum kecil di depanku dan membuatku tertegun sejenak. Biasanya wanita-wanita yang dikenalkan Hyukjae padaku akan terbelalak kaget dan memandangku sinis setelah aku mengucapkan hal yang sejujurnya pada mereka. Namun wanita yang sedang duduk di depanku ini justru tersenyum kecil dan sama sekali tidak melemparkan tatapan jijik atau memusuhi padaku. Sebenarnya siapa dia?

“Wow, aku benar-benar kagum dengan pengakuanmu yang jujur itu. Dan aku sangat menyukainya. Menurutku pria yang jujur dan tidak menutup-nutupi masa lalunya itu sangat sulit untuk dicari.”

“Jadi kau menganggap pria brengsek sepertiku ini seperti itu? Hmm, aku sangat kagum dengan kemampuan toleransimu pada masa lalu seseorang. Tapi jika kau tertarik padaku dan menginginkanku untuk tertarik padamu juga, maaf aku tidak bisa. Aku ke sini hanya karena aku tidak ingin mengecewakan Hyukjae. Lebih baik aku pergi sekarang dan lebih baik kau cari saja pria lain yang jauh lebih baik dariku karena kau pantas mendapatkan yang terbaik, bukan pria yang sudah rusak sepertiku.”

Setelah mengucapkan rentetan kalimat yang cukup panjang itu, aku berniat untuk pergi dan menyelesaikan tugas-tugasku di kantor. Sejak awal aku memang tidak pernah tertarik pada wanita manapun dan hanya sebatas menghargai Hyukjae. Oleh karena itu aku selalu menghancurkan imejku sendiri agar mereka  berbalik membenciku. Namun wanita yang satu ini berbeda, ia justru menganggap kejujuranku adalah sesuatu yang berharga dan mengagumkan, sehingga aku tidak ingin bertahan di sini terlalu lama agar wanita itu tidak berharap lebih padaku. Pengalaman saat aku masih berstatus sebagai suami Yuri, aku membiarkan saja Yoona masuk ke dalam hidupku dan berharap semakin lama ia akan semakin tersakiti dengan hubunganku dan Yuri. Namun dugaanku salah, Yoona adalah wanita kuat yang memiliki pola pikir yang berbeda dari kebanyakan wanita pada umumnya. Sehingga membiarkannya masuk ke dalam kehidupanku dan Yuri justru membuatnya semakin memiliki kesempatan untuk mengambil hatiku, dan pada akhirnya ia berhasil. Ia berhasil membuatku kembali bertekuk lutut padanya dengan segala kelicikannya yang memabukan.

“Tunggu, kau salah Lee Donghae ssi. Aku memang tertarik denganmu, tapi aku tidak ingin menjalin hubungan denganmu. Aku hanya ingin mengenalmu dan berbagi pengalaman denganmu karena aku juga pernah mengalami hal yang sama denganmu, aku pernah menikah dan sekarang aku telah bercerai dengan suamiku, tapi bukan karena seorang wanita, karena sebab lain. Jadi maukah kau duduk dan berbagi cerita denganku?”

Aku terhenyak sejenak oleh ucapan wanita itu. Penawarannya benar-benar mengusik hatiku untuk kembali duduk dan mengucapkan berbagai keluh kesah yang selama ini mengganjal di hatiku. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali duduk di tempatku sambil menatap manik mata Jung Hana dalam. Kuharap ia benar-benar membuktikan ucapannya dan tidak menganggap hal ini sebagai tahap pendekatan ke hubungan yang lebih serius.

“Baik, aku akan tinggal dan berbagi cerita denganmu.”

Aku kembali mendudukan diriku di depannya sambil menunggunya untuk mengucapkan sesuatu padaku. Lagipula aku cukup penasaran dengan masa lalunya yang membuatnya harus ditinggalkan. Padahal menurutku dia adalah wanita yang menarik dan akan digilai banyak pria.

“Pertama-tama aku ingin mengetahui alasanmu bercerai dengan isterimu dan mengapa kau bisa terlibat dengan wanita lain?”

“Alasan kami bercerai tentu saja karena kehadiran orang ketiga di dalam kehidupan rumah tangga kami. Dan kenapa aku bisa terlibat dengan wanita itu karena dia adalah mantan kekasihku yang pergi lima tahun lalu karena ingin melanjutkan studinya di Amerika. Tapi karena ia jarang memberiku kabar, aku berpikir ia telah melupakanku dan membuatku patah hati di sini. Tapi tanpa kutahu ternyata ia sedang berjuang keras di sana untuk membahagiakan ayahnya, satu-satunya keluarga yang ia miliki agar ia bisa menjadi seorang pebisnis yang sukses. Lalu sepuluh bulan yang lalu ia tiba-tiba muncul di acara pernikahanku dan menebarkan teror di dalam kehidupan rumah tanggaku. Ia mencoba untuk menarikku ke dalam pelukannya kembali, dan membuatku tidak bisa menikmati kehidupan rumah tanggaku karena aku sebenarnya masih mencintainya. Yah.. dalam hal ini akulah yang salah. Disaat hatiku belum siap untuk menerima wanita lain, aku mengambil keputusan yang gegabah untuk menikahinya dan berharap jika suatu saat luka hatiku akan sembuh karena kehadiran wanita itu. Tapi siapa sangka jika ternyata mantan kekasihku itu datang dan memporak-porandakan hatiku. Dalam sekejap ia telah membuatku goyah dengan janji suci yang telah kubuat di atas altar. Ia berhasil menjungkirbalikan dan membawaku ke dalam pelukannya. Bahkan ia merencanakan banyak rencana gila yang selama ini tidak pernah kupikirkan. Seperti menghancurkan dirinya sendiri agar mengandung darah dagingku. Itu semua ia rencanakan dengan sangat matang dan halus. Ia pertama-tama membuat isteriku tertidur di dalam ruang spa, kemudian ia datang ke kamarku dengan dalih ingin menyelesaikan semua permasalahn kami di masa lalu. Tapi ternyata ia justru memperumit masalah diantara kami dengan memasukan obat perangsang ke dalam wine yang kuminum, lalu semuanya terjadi. Malam pertama yang seharusnya kulakukan dengan isteriku justru kulakukan dengannya. Dan setelah malam percintaan kami, aku sama sekali tidak bisa menyentuh isteriku. Setiap kali aku ingin melakukannya, justru bayangan percintaanku dan mantan kekasihku yang muncul dan membuatku tidak sanggup untuk menyentuh isteriku karena aku tidak ingin menyakitinya terlalu jauh. Ia adalah wanita yang baik, dan ia seharusnya mendapatkan pria yang lebih baik dariku untuk hidup bersamanya. Jadi ketika semuanya telah terbongkar dan ia mengirimkan surat cerai padaku, aku langsung menandatanganinya tanpa perlawanan. Keesokan harinya aku membawa surat itu ke pengadilan dan kami langsung dinyatakan bercerai saat itu juga.”

Jung Hana menatapku dengan tatapan prihatin yang sulit diartikan. Di satu sisi ia sepertinya merasa iba padaku, namun di sisi lain aku juga melihat adanya kilatan tidak suka di sudut matanya. Tapi menurutku itu wajar. Semua wanita yang mengetahui masa laluku memang harus membenciku dan menjauhiku agar mereka tidak mendapatkan apa yang didapatkan Yuri dan Yoona dariku.

“Wow, itu benar-benar cerita yang rumit Lee Donghae ssi, dan juga menyedihkan. Lalu dimana kekasihmu itu setelah kau bercerai dengan isterimu, kenapa kau tidak menikah dengannya jika kau memiliki anak darinya?”

“Huh, dia pergi. Setelah dia menghancurkan segalanya, dia pergi meninggalkanku ke Amerika dan hendak dijodohkan oleh ayahnya. Mungkin ia juga sama frustasinya denganku, sehingga ia langsung menerima penawaran ayahnya begitu saja, dan pergi meninggalkanku yang sedang hancur di sini. Tapi menurutku ia tidak tahu tentang perceraianku dengan isteriku, sehingga ia memutuskan untuk pergi setelah ia pikir semua usahanya tidak membuahkan hasil. Padahal apa yang ia lakukan selama ini untuk membawaku kembali padanya benar-benar berhasil. Ia berhasil membuatku kembali bertekuk lutut padanya.”

“Lalu kenapa kau tidak berusaha untuk menyusulnya ke Amerika dan menjelaskan semuanya? Kurasa jika saat itu kau langsung pergi menyusulnya, semua belum terlambat. Tapi jika kau sekarang ingin memperjuangkannya, aku tidak yakin ia masih sendiri. Bagaimanapun ayahnya pasti tidak ingin anaknya terpuruk terlalu lama, jadi mungkin saja sekarang ia telah menikah dengan pria yang dijodohkan dengannya. Dan yang paling penting mungkin anakmu sudah lahir ke dunia dan akan memanggil pria itu dengan sebut ayah. Apa kau tidak ingin mendengarkan anakmu memanggilmu ayah?”

Aku menyipitkan mataku tak suka pada Jung Hana. Jelas-jelas wanita itu saat ini sedang memprovokasiku agar aku terbakar amarah dan melakukan hal gila dengan pergi ke Amerika dan mencari Yoona, serta merebut Yoona beserta anakku dari pria Amerika yang sudah berstatus sebagai suaminya. Lalu apa bedanya aku dengan Yoona? Aku tidak ingin menjadi Yoona dengan merusak rumah tangganya dengan pria lain. Dan aku juga tidak ingin mengenal anakku dengan cara licik seperti itu, meskipun aku sangat ingin melakukannya.

“Kau sedang memprovokasiku? Maaf saja, aku tidak akan terpengaruh oleh provokasimu. Lagipula aku hanya ingin memberi kesempatan padanya untuk hidup lebih baik bersama suminya dan juga anakku. Jadi jangan harap aku akan memenuhi keinginanmu untuk pergi ke Amerika dan menghancurkan rumah tangganya, seperti ia menghancurkan rumah tanggaku.”

“Tapi Lee Donghae ssi, bukankan cinta itu egois? Jika kau mencintainya dan anakmu, seharusnya kau memperjuangkan cintamu untuknya. Bagaimana jika selama ini ia justru tidak hidup dengan baik karena selalu memikirkanmu? Bukankah ia juga sangat mencintaimu?”

Rasanya pembicaraan ini mulai membuatku emosi dan berbalik membenci Jung Hana. Padahal kupikir ia akan memberiku masukan-masukan yang membangun agar aku terbebas dari perasaan sakit yang menyiksa ini. Tapi ia justru semakin menyulut bara api di dalam diriku agar semakin berkobar dan menghanguskan apapun yang berada di depannya. Ck, sebaiknya aku memang harus pergi dari sini sekarang juga.

“Jung Hana ssi, sepertinya aku harus pergi sekarang karena jam makan siangku sudah habis. Aku harus kembali bekerja dan menenggelamkan diriku bersama tumpukan berkas yang harus kutandatangani hari ini. Sampai jumpa, dan kau tidak perlu menghubungiku lagi.”

Aku langsung berjalan pergi tanpa menunggu persetujuan darinya. Tapi ia sepertinya tidak menunjukan reaksi apa-apa dengan kata-kataku yang sedikit kasar itu. Semoga saja ini acara kencan yang terakhir. Aku tidak akan mau menerima ajakan kencan dari wanita manapun lagi karena semua terasa sama. Mereka hambar dan tak menggairahkan!

Donghae pov end

Jung Hana tersenyum tipis mendapati kemarahan Donghae yang begitu meluap-luap setelah ia memancing sedikit konvrontasi dengannya. Padahal ia hanya ingin menyadarkan Donghae dari sikap bodohnya yang seakan baik-baik saja dengan kehidupan cintanya yang hancur, padahal pria itu sedang menahan sakit hati yang dalam karena ditinggalkan untuk yang kedua kalinya oleh wanita yang sangat dicintainya. Tapi menyadarkan seorang pria yang keras kepala seperti Donghae memang sulit. Perlu banyak lecutan-lecutan emosi yang dikeluarkan agar Donghae mau bertindak dan memperjuangkan cintanya untuk Yoona yang saat ini sama-sama sedang bertahan di atas kerapuhan hatinya yang akan hancur.

“Halo, bersabarlah Im Yoona, aku akan membawakan pria itu untukmu.” Ucap Hana pada ponselnya sambil memandang tubuh tegap Donghae yang telah menghilang dibalik pintu kaca kafe.

-00-

Yoona terlihat sedang mendekorasi kamar putrinya yang tiga minggu lagi akan terlahir ke dunia. Sejak sebulan yang lalu ayahnya sudah melarangnya untuk datang ke kantor dan hanya menyuruhnya untuk beristirahat di rumah. Sehingga terkadang ia merasa bosan dan membutuhkan banyak kegiatan untuk mengalihkan rasa bosannya itu. Lalu untuk mengusir kebosanannya hari ini, Im Yoona memutuskan untuk mendekor kamar calon anaknya nanti agar terlihat cantik sesuai dengan calon penghuni kamar itu yang akan segera lahir. Dan mengenai rencana pernikahannya dengan Kim Soohyun, sampai sekarang ia belum terlalu memikirkannya karena ia hanya ingin fokus pada kelahiran anak pertamanya. Lagipula pria itu juga tidak mau memaksanya dan ingin mengenal Yoona lebih jauh, sehingga ia tak terlalu ambis pusing dengan sikap Yoona yang sangat pasif terhadap rencana pernikahan mereka.

“Apa masih ada barang-barang lain yang ingin kau pindahkan ke sini?”

Kim Soohyun masuk ke dalam kamar besar bernuansa baby pink yang sedang ditata Yoona untuk calon anaknya. Pria itu tampak menyeka bulir-bulir keringat yang mentes dari dahinya setelah pagi ini ia membantu Yoona untuk mengangkat barang-barang berat, seperti box bayi dan lemari pakaian untuk calon anak Yoona yang akan lahir.

“Tidak, ini sudah selesai. Bersihkan saja dirimu.” Ucap Yooan sedikit keras sambil menata baju-baju bayinya ke dalam lemari. Jessica yang berada di sebelahnya menyenggol Yoona pelan tatkala Kim Soohyun tak segera pergi untuk membersihkan dirinya.

“Ya Tuhan, kau sangat kotor, aku tidak mau dekat-dekat denganmu jika kau belum membersihkan dirimu dan kau belum terlihat segar.” Dengus Yoona sebal dengan tatapan galak. Kim Soohyun meringis kecil dengan omelan Yoona dan segera berlalu pergi untuk membersihkan diri. Sedangkan Jessica yang berada di sebelahnya langsung terkikik geli dengan kelakukan sepupunya yang ajaib itu.

“Lihat, dia hanya mau menurut dengan omelanmu Yoong.” Ucap Jessica sambil kembali membantu Yoona untuk memasukan pakaian-pakian bayinya ke dalam lemari. Sejak Kim Soohyun akan menikah dengan Yoona, Jessica menjadi lebih dekat dengan Yoona, dan kini mereka mejadi teman akrab. Kebencian yang dulu sempat melingkupi mereka karena seorang pria, kini telah memudar dan digantikan dengan persahabatan yang penuh keceriaan. Lagipula Jessica baru saja bertungangan dengan seorang pengusaha asal Amerika yang merupakan rekan bisnis Kim Soohyun, sehingga ia memutuskan untuk pindah ke Amerika dan akan menemani Yoona hingga waktu kelahirannya nanti.

“Tapi sepupumu itu benar-benar menjengkelkan. Terkadang ia akan sangat keras kepala dan tidak mau diantur seperti seorang anak kecil. Lalu bagaimana sikapnya kelak jika anaku sudah lahir, apa ia bisa menjadi sosok ayah yang baik untuk anakku?” Oceh Yoona panjang lebar sambil bersandar pada tembok. Akhirnya kegiatan menata kamar calon anaknya selesai, dan sekarang ia tinggal beristirahat untuk mengistirahatkan otot-otot tubuhnya yang terasa semakin kaku seiring dengan kondisi kehamilannya yang semakin membesar.

Jessica menatap Yoona dalam diam sambil memikirkan berbagai macam pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Sejak menjalin persahabatan dengan Yoona beberapa bulan yang lalu, ia sekarang menjadi lebih paham dengan perasaan Yoona. Meskipun Yoona selama ini selalu bersikap biasa dan sering menggerutu denga sikap sepupunya, tapi ia tahu jika Yoona sedang menyembunyikan banyak kesedihan di dalam hatinya. Sebagai seorang wanita yang menjadi saksi kisah cinta Yoona dan Donghae, ia tahu hingga detik ini Yoona belum bisa melupakan Donghae. Bahkan cinta wanita itu untuk Donghae mungkin semakin besar seiring dengan hari kelahiran anaknya yang semakin dekat karena nantinya bayi itu pasti akan mewarisi sesuatu dari Donghae, entah wajahnya, sifatnya, atau mungkin senyumnya yang meneduhkan.

“Apa kau sudah menghubungi Donghae setelah kau kembali ke sini?”

Yoona membuka matanya cepat setelah mendengar Jessica mengungkit nama seorang pria yang akhir-akhir menjadi pantangan di rumahnya untuk disebut. Sejak Jessica dekat dengannya, wanita itu memang tidak pernah menanyakan hubungannya dengan Donghae. Tapi ia jelas tahu jika bayi yang berada di dalam rahimnya adalah bayinya dan Donghae. Hanya saja selama ini Jessica seperti menjaga perasaanya dari pria itu. Tapi entah kenapa tiba-tiba Jessica menyebutkan nama pria itu di rumah ini setelah sekian lama ia tidak pernah mendengar nama itu lagi disebut.

“Tidak, belum. Aku belum menghubunginya sejak aku tiba di sini. Kupikir saat ini ia telah bahagia dengan isterinya.” Ucap Yoona berpura-pura acuh. Padahal kini dadanya sedang bergemuruh sesak membayangkan Donghae yang sedang berbahagia dengan Yuri. Sedangkan ia di sini menahan pilu bersama dengan pria yang sama sekali tidak dicintainya.

“Kenapa kau bisa mengatakan hal itu jika kenyataanya kau belum pernah menghubunginya? Mungkin saja saat ini keadaanya juga sama menyedihkannya denganmu karena ia berpikir kau sudah bahagia dengan seorang pria yang dijodohkan oleh ayahmu.”

“Entahlah Sica, aku hanya tidak ingin menambah perih hatiku yang sudah hancur. Aku hanya ingin sedikit ketenangan sebelum hari persalinanku tiba. Oya, apa kau sudah mencoba croissant yang dijual di toko roti di 22 Avenue, orang-orang bilang croissant disana sangat enak dan gurih, cocok dimakan untuk sarapan. Jika kau belum mencobanya bagaimana jika kita pergi ke sana saat makan siang, kurasa kita bisa membeli roti lain selain croissant yang menurut kebanyakan orang juga enak.” Ucap Yoona mencoba mengalihkan perhatian Jessica dari Donghae. Meskipun ia cukup tidak enak dengan Jessica, tapi rasanya itu lebih baik daripada ia mengeluarkan kata-kata kasar untuk memperingatkan Jessica agar tidak mengungkit-ungkit nama Donghae lagi.

“Lebih baik kau mencoba untuk menghubunginya Yoong, mungkin kau akan memiliki semangatmu lagi setelah mendengarnya. Dan mengenai tawaranmu untuk pergi ke toko roti, mungkin lain kali. Setelah ini aku akan makan siang bersama tunanganku dan melakukan fitting gaun pengantin. Sampai jumpa pregnant mom.”

Jessica mengecup pipi Yoona sekilas dan segera pergi meninggalkan Yoona yang sedang menghela nafas pelan sambil memikirkan saran yang diberikan oleh Jessica. Sebenarnya ia bisa saja menghubungi Donghae sekarang, tapi ia ragu, apakah hatinya sudah siap untuk menerima semua hal-hal yang akan ia dengar nanti. Tapi jika ia tidak mencobanya, ia akan terus dibayang-bayangi wajah Donghae setiap harinya.

Yoona menimang-nimang ponsel putihnya dengan perasaan ragu. Di layar ponselnya saat ini terpampang jelas nomor kontak Donghae yang menunggunya untuk menekan tombol call. Akhirnya dengan seluruh keyakinan yang ia miliki, ia mulai menenak tombol call yang ada di layar ponselnya.

Tuuuutt

Tuuuutt

Tuuuutt

Detik demi detik ia menunggu Donghae menjawab panggilannya, rasanya terlalu lama untuk Yoona. Dan tiba-tiba perasaan ragu itu muncul di dalam hatinya dan membuat Yoona hendak mematikan sambungan teleponnya. Tapi suara bass di seberang sana membuat Yoona mematung dan tak bisa berkata apa-apa ketika Donghae akhirnya menjawab panggilannya.

“Halo, Yoong….”

Hening..

Yoona sama sekali tidak bisa menggerakan bibirnya untuk sekedar menjawab panggilan dari pria yang sangat dicintainya itu. Sebersit perasaan senang yang tiba-tiba menyusup di dalam hatinya ketika Donghae ternyata masih menyimpan nomor ponselnya. Pria itu jelas tidak akan menyapanya jika pria itu tidak menyimpan nomor ponselnya yang dulu sering ia gunakan untuk meneror pria itu. Tapi perasaan senang itu tiba-tiba memudar seiring dengan pikirannya yang mengatakan jika sebenarnya Donghae hanya sekedar menyimpan nomor ponselnya saja tanpa pernah mengingatnya. Jika pria itu memang menyimpan nomor ponselnya, kenapa selama ini ia tidak pernah menghubunginya? Padahal ia sengaja tidak mengganti nomor ponselnya agar Donghae bisa menghubunginya, kapanpun pria itu membutuhkannya atau sekedar ingin mengetahui keadaan anaknya. Tapi pada kenyataanya pria itu sama sekali tidak pernah menghubunginya meskipun ia masih menyimpan nomor ponselnya. Pria itu sudah tak menganggapnya ada. Pria itu sudah melupakan semua tentang dirinya dan cinta yang pernah mereka rajut bersama.

“Yoong, apa kau masih disana?”

“Ehem..”

Yoona membasahi kerongkongannya yang tercekat untuk menjawab pertanyaan Donghae di seberang sana. Nyatanya sampai kapanpun pria itu akan selalu menggetarkan hatinya dan membuatnya gugup.

“Ya, aku masih disini. Bagaimana kabarmu sekarang Lee Donghae ssi?” Tanya Yoona pelan dan nyaris seperti bisikan. Tapi untung saja Donghae masih mendengar kata-kata itu dengan jelas meskipun Yoona mengucapkannya dengan sangat pelan.

“Aku baik, Yuri merawatku dengan baik di sini. Bagaimana denganmu?”

Bagaikan tersambar petir ribuan volt, mendengar nama wanita itu disebut lagi oleh Donghae membuat jantungnya seakan-akan berhenti berdetak. Padahal di sini ia selalu memikirkan pria itu dan masih berharap jika suatu saat pria itu akan kembali kepadanya dan membawanya kedalam pelukanya. Tapi nyatanya pria itu memang sudah kehilangan rasa cinta untuk dirinya. Ia sudah tidak diinginkan lagi oleh Donghae. Dan seharusnya ia juga segera menikah dengan Kim Soohyun agar perasaan sesak itu lama-lama akan pergi dan digantikan dengan kebahagiaan yang tak bertepi. Ia bosan hidup dengan penuh kesedihan. Ia hanya ingin bahagia. Ia ingin merasakan kebahagiaan, meskipun hanya sekali.

“Oo oh, aku baik. Soohyun oppa merawatku dengan baik.” Jawab Yoona dengan suara bergetar. Saat ini ia sedang menahan suara tangisnya agar tidak pecah dihadapan Donghae. Ia tidak mau dicap sebagai wanita lemah, dan ia sangat membenci hal itu.

“Syukurlah jika kau sehat. Kapan kau akan melahirkan, atau mungkinkah kau sudah melahirkan sekarang?”

“Belum, aku belum melahirkan. Dokter memperkirakan aku akan melahirkan tiga minggu lagi, tapi aku sudah mulai menyiapkannya sejak minggu lalu. Menurut dokter bayiku bisa lahir kapan saja, tidak harus tiga minggu lagi. Jadi ayah sudah melarangku untuk pergi ke kantor sejak satu bulan yang lalu.”

Yoona mendengar Donghae menghela nafas pelan di seberang sana. Dan pembicaraan mereka sempat terhenti untuk beberapa saat ketika Donghae tak kunjung membalas ucapannya.

“Disana kau dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu dengan tulus, kau pantas mendapatkannya. Kau memang seharusnya berada di sana, bersama ayahmu dan juga suamimu.”

Setetes air mata turun membasahi wajah Yoona ketika ia tak bisa lagi membendung emosinya yang membuncah di dalam dada. Seenaknya saja pria itu mengatakan jika tempat yang terbaik untuknya adalah di New York, padahal hatinya sama sekali tidak bahagia. Hatinya merasa tertekan dan terus menerus  memanggil nama Donghae di malam-malam gelapnya yang sunyi. Andai saja pria itu tahu apa yang ia rasakan disini, akankah ia juga mengatakan hal itu dengan perasaan lega?

“Andai aku juga berpikir seperti itu, aku pasti akan lebih menikmati hidupku di sini. Kalau begitu sampai jumpa Lee Donghae ssi, semoga kau selalu bahagia.”

Yoona memutus sambungan itu secara sepihak dan ia langsung menangis sejadi-jadinya dengan perasaan sakit yang luar biasa sakit hingga tak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundaknya pelan dan membawa Yoona ke dalam pelukannya.

Kim Soohyun sejak awal telah berdiri di ambang pintu sambil menyaksikan Yoona yang sedang menghubungi mantan kekasihnya. Namun ketika Yoona mulai menumpahkan air matanya, Kim Soohyun tiba-tiba merasa tertegun dan ingin mendengar semua pembicaraan Yoona lebih lanjut. Ia tahu jika selama ini Yoona masih sangat mencintai mantan kekasihnya dan sangat berharap untuk kembali. Tapi meskipun begitu ia tidak mau menyerah begitu saja untuk mendapatkan Yoona. Ia tetap akan berusaha untuk mendapatkan Yoona meskipun hati itu masih tertutup untuknya.

“Kim Soohyun ssi, menikahlah denganku setelah bayi ini lahir.”

Kim Soohyun mematung ditempat dengan permintaan Yoona padanya. Meskipun Yoona memang memintanya untuk menikahinya, tapi ia tahu jika hati wanita itu hanya untuk Lee Donghae seorang. Tapi hal itu tidak masalah untuknya, selama ia masih mendapatkan raga Yoona, ia akan mengubah hati itu perlahan-lahan agar berbalik mencintainya dan memujanya.

“Pasti Yoona, aku pasti akan menikahimu setelah anakmu lahir.”

-00-

Donghae memandangi ponselnya dalam diam setelah Yoona memutuskan sambungan telepon mereka secara sepihak. Padahal ia masih ingin mendengarkan suara merdu itu lagi dan menanyakan kabar Yoona selama di Amerika, namun wanita itu justru mengakhirinya dengan terlalu cepat dan suara bergetar.

Sejenak Donghae memikirkan tentang penyebab suara Yoona yang tiba-tiba berubah serak dan bergetar ketika sedang menghubunginya. Padahal ia pikir suara Yoona sebelumnya terdengar baik-baik saja.

Apa wanita itu menangis karena ucapanku?

Sekelebat bayangan tentang Yoona yang menangis karena ucapannya membuat pikiran Donghae terganggu. Jika memang benar Yoona menangis karena mendengar semua ucapannya, maka ia benar-benar harus diberi hukuman yang seberat-beratnya oleh Tuhan karena lagi-lagi ia menghancurkan hati wanita rapuh seperti Yoona.

Dengan gerakan cepat Donghae segera menghubungi sekretarisnya untuk memesankan satu tiket penerbangan ke New York. Hari ini juga ia akan terbang ke sana dan menjelaskan pada Yoona mengenai keadaanya saat ini. Persetan dengan status Yoona yang mungkin sudah menjadi isteri pria lain. Yang jelas saat ini ia hanya ingin mengatakan yang sejujurnya pada Yoona, dan ia tidak ingin membohongi wanita itu lagi jika ia sangat mencintainya melebihi apapun.

-00-

Malam hari Yoona mengundang Kim Soohyun, Jessica, dan tunangannya untuk makan malam di rumahnaya bersama sang ayah. Hari ini setelah ia menumpahkan seluruh air matanya di dada bidang Kim Soohyun ia memutuskan ingin melupakan semuanya dengan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang telah memberikan limpahan kasih sayang untuknya beberapa bulan terakhir. Lalu ia segera mengundang Jessica dan tunangannya agar mereka datang ke rumah dan menyebarkan kebahagiaan padanya. Karena menurut pikiran konyolnya kebahagiaan orang lain dapat menular padanya jika ia berada disekitar orang itu. Dan satu-satunya orang yang sedang berbahagia adalah Jessica, oleh karena itu ia sangat berharap dapat merasakan kebahagiaan yang sama seperti Jessica.

“Yoong, aku tidak tahu jika kau bisa memasak makanan seenak ini.” Puji Jessica sambil memotong daging steaknya semangat. Jemy yang merupakan tunangan Jessica mengangguk setuju sambil meneguk winenya. Kim Soohyun yang berada di sebelah Yoona refleks merangkul bahu Yoona dengan bangga.

“Tentu saja, calon isteriku harus bisa memasak dengan lezat agar aku selalu merindukan masakannya dimanapun aku berada.”

“Ck, lepaskan tanganmu oppa, tanganmu berat.” Ucap Yoona bercanda. Semua orang yang berada di ruangan tersebut langsung menertawakan wajah lucu Soohyun yang cemberut karena mendapat penolakan dari Yoona.

“Jadi kapan kalian akan menikah? Ayah sudah mencarikan beberapa gedung pernikahan untuk kalian menikah nanti.”

Tiba-tiba tuan Im menanyakan hal itu pada Yoona dan membuat Yoona seidkit bingung untuk menjawabnya. Meskipun ia sudah memutuskan akan menikah dengan Kim Soohyun setelah melahirkan bayinya, tapi ia belum siap untuk bicara serius dengan ayahnya mengenai rencana pernikahannya karena ia tidak tahu apakah keputusannya itu tepat atau hanya karena emosinya.

“Abeoji, Jeesica, Jemy, hari ini dihadapan kalian semua aku akan melamar Yoona secara resmi. Dan kami sudah menetukan jika kami akan menikah setelah Yoona melahirkan.”

Semua orang yang berada di dalam ruang makan bertepuk riuh merayakan berita bahagia yang dibawa oleh Kim Soohyun. Sedangkan Yoona hanya tersenyum tipis sambil membalas pelukan Jessica yang begitu erat di tubuhnya. Lalu tanpa diduga Kim Soohyun berlutut di sebelah Yoona sambil menyodorkan sebuah cincin putih dengan berlian indah di atasnya.

“Im Yoona, menikahlah denganku.” Ucap Kim Soohyun bersungguh-sungguh. Yoona menatap semua orang yang berada di seluruh meja makan untuk meminta persetujuan sebelum ia mengiyakan permintaan Kim Soohyun. Dan saat ayahnya menganggukan kepala, Yoona dengan pelan menjawab ya.

“Ya, aku akan menikah denganmu.”

Kim Soohyun mendongakan kepalanya penuh kelegaan dan langsung memasang cincin itu di jari manis Yoona. Kemudian ia memeluk Yoona dan mengecup kening Yoona lembut di depan ayah Yoona dan sepupunya, Jessica serta tunangan Jessica.

“Terimakasih Yoona atas kesempatan yang kau berikan padaku, aku janji aku akan selalu membahagiakanmu dan akan menjadi sandaranmu kapanpun kau membutuhkanku.”

Yoona menganggukan kepalanya kecil dan menyuruh Kim Soohyun untuk kembali melanjutkan acara makannya yang tertunda.

Malam itu semua orang yang berada di kediaman tuan Im tengah bersuka cita atas rencana pernikahan Yoona dan Kim Soohyun yang akan segera dilaksanakan setelah Yoona melahirkan. Namun Yoona tampak tak begitu senang dengan keputusan itu karena ia belum sepenuhnya memberikan hatinya untuk Kim Soohyun. Hatinya hingga saat ini masih dimiliki oleh Lee Donghae. Tapi meski begitu Yoona mencoba untuk menerima pernikahan itu karena pada akhirnya ia tidak akan pernah bersanding dengan Lee Donghae. Pria itu sudah bahagia dengan wanita pilihannya dan ia juga akan bahagia dengan pria pilihan ayahnya.

Ting Tong

Tiba-tiba bunyi bel di pintu depan menghentikan tawa semua orang yang berada di runag makan. Yoona yang sejak tadi ingin meninggalkan ruang makan langsung beranjak berdiri dengan alasan ingin membukakan pintu bagi siapapun yang saat ini sedang berdiri di depan rumahnya.

“Apa kau perlu kutemani ke depan?”

“Ya ampun, apa kau pikir aku selemah itu hingga perlu kau temani seperti anak TK?” Gerutu Yoona pada Kim Soohyun. Wanita itupun segera berjalan pelan menuju pintu depan sambil menyangga pinggangnya yang terasa semakin pegal karena selalu membawa beban berat selama hampir sembilan bulan ini.

Cklek

Yoona membuka pintu itu pelan dan ia langsung mematung di tempat ketika ia menemukan Donghae sedang berdiri di depannya dengan senyum teduh yang selama ini ia rindukan. Pria itu menyapanya pelan sambil mengamati perubahan tubuhnya yang sudah pasti lebih buncit dari yang terakhir kali pria itu lihat.

“Darimana kau tahu alamatku?”

Pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh Yoona untuk Donghae adalah pertanyaan bernada sinis yang sarat akan ketidaksenangan akan kehadiran pria itu. Padahal dalam hati Yoona sedang menangis bahagia karena akhirnya ia dapat melihat wajah pria itu lagi.

“Aku menyewa seorang detektif untuk mencari tahu dimana alamatmu. Tapi itu tidak penting Yoong, aku ke sini hanya ingin menjelaskan semuanya padamu. Aku hanya ingin jujur padamu.”

Donghae menggenggam jari-jari Yoona lembut dan hendak mencium punggung tangan Yoona yang saat ini sedang bergetar. Namun ketika ia menemukan sebuah cincin di jari manis Yoona, Donghae segera mengurungkan niat itu dan hanya menahan tangan Yoona di udara.

“Jadi kau sudah benar-benar menikah?” Tanya Donghae nanar. Ia pikir Yoona tidak akan menikah secepat itu setelah pergi meninggalkannya. Tapi nyatanya saat ini Yoona telah menikah dengan pria yang dijodohkan dengannya. Dan mungkin pria itu setelah ini juga akan menjadi ayah dari anaknya, seperti yang pernah dikatakan Jung Hana padanya.

Tiba-tiba sekelebat bayangan mengenai keluarga bahagia yang akan dimiliki Yoona muncul di kepalanya, membuatnya merasa sakit dan tidak suka disaat yang bersamaan. Bagaimana mungkin Yoona akan bahagia bersama keluarganya, sedangkan ia terbuang begitu saja tanpa orang-orang yang mencintainya dan juga dicintainya. Apakah ia harus merebut Yoona dan anaknya? Tapi ia tahu jika hal itu adalah tindakan paling egois yang pernah dipikirkannya, mengingat ia dulu pernah menyakiti Yoona dan berniat untuk tidak mengakui anaknya yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang di rahim Yoona. Oh Ya Tuhan, ia sungguh menyesal pernah melakukan hal itu pada Yoona. Ia menyesal telah menyakiti hati Yoona dan membuat wanita itu menangis karenanya.

“Itu tidak penting Lee Donghae ssi, sekarang apa yang kau inginkan dengan datang ke sini?” Tanya Yoona ketus dan tidak bersahabat. Sesekali Yoona menoleh ke dalam untuk memastikan jika salah satu orang-orang yang sedang makan di meja makan tidak datang dan memergokinya sedang bersama Donghae. Terutama ayahnya, karena ayahnya sangat membenci Donghae atas perbuatan tidak bertanggungjawab pria itu padanya.

“Berikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya padamu, aku.. aku minta maaf atas perbuatanku selama ini padamu, dan aku sangat menyesal telah melakukan hal itu padamu. Kumohon maafkan aku Yoong.”

“Hhhuh, setelah berbulan-bulan aku memberikanmu kesempatan untuk meminta maaf padaku, kau baru melakukannya sekarang? Kemana saja kau selama ini? Apa kau terlalu dibutakan oleh cintamu pada Yuri, sehingga kau tidak sempat mengucapkan hanya sekedar kata maaf padaku?” Tanya Yoona dengan wajah angkuh. Donghae mengusap wajahnya gusar dan tampak frustasi. Pria itu tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan pada Yoona jika ia telah lama bercerai dengan Yuri. Dan satu-satunya alasan mengapa ia tidak pernah mengucapkan hal itu pada Yoona karena ia terlalu takut untuk menghadapi kemarahan Yoona yang akan berujung dengan menyakiti hati wanita itu lagi, seperti saat ini.

“Aku sebenarnya telah lama bercerai dengan Yuri. Aku bercerai tepat di hari keberangkatanmu ke New York.”

Yoona membelalakan matanya tak percaya sambil memandangi cincin pertunangannya dengan Kim Soohyun. Kenapa pria itu tidak pernah mengatakan padanya jika pria itu bercerai? Andai saja pria itu mengatakannya sejak dulu, mungkin ia tidak akan mengambil keputusan gegabah dengan meminta Kim Soohyun menikahinya. Tapi jika sekarang ia membatalkan pernikahannya dengan Kim Soohyun, ia pasti akan melukai pria itu. Bagainapun pria itu telah banyak berkorban untuknya selama ini. Bahkan pria itu rela menjadi ayah dari anak yang dikandungnya. Sedangkan ayah dari bayi itu yang sebenarnya tak pernah menampakan batang hidungnya hanya untuk sekedar meminta maaf padanya.

“Baguslah jika kau sudah bercerai dengan Yuri, wanita sebaik dirinya tidak pantas mendapatkan pria brengsek sepertimu.”

Donghae memejamkan matanya pedih saat mendengar kata-kata kasar Yoona tentang dirinya. Namun hati kecilnya terus berteriak jika ia pantas mendapatkan hal itu karena selama ini ia telah menyakiti wanita itu dan Yuri.

“Aku memang brengsek, bajingan, keparat, dan pria yang paling buruk diantara bajingan-bajingan di luar sana, tapi aku mohon tolong maafkan aku. Berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku.”

“Pergi dari sini!”

Yoona mengumpat keras dan mendorong Donghae dari rumahnya. Ia tidak suka melihat pria itu memohon-mohon untuk diberikan kesempatan setelah selama ini ia selalu memberikan kesempatan untuk pria itu agar mempertanggungjawabkan seluruh kesalahannya.

“Yoong, tolong berikan…..”

“Pergi dari rumahku sekarang juga dan jangan pernah datang kembali!”

Blarrr
Yoona membanting pintu rumahnya keras dan langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya. Saat ia melewati ruang makan, seluruh keluarganya menatapnya dengan tatapan tanda tanya, namun hal itu langsung dicuhkan Yoona begitu saja karena saat ini pikirannya sedang kacau.

“Yoona, ada apa?”

Kim Soohyun berlari mengejarnya menaiki anak tangga. Namun Yoona segera mengusir pria itu menjauh karena saat ini ia sedang ingin mendinginkan kepalanya yang panas akibat ulah Donghae.

“Tolong berikan aku waktu, aku butuh waktu untuk sendiri.”

Kim Soohyun mundur beberapa langkah dan membiarkan Yoona berlalu pergi menuju kamarnya. Pria itu memandang Yoona sedih dan segera turun dengan perasaan sedih karena lagi-lagi ia ditolak oleh Yoona ketika wanita itu memiliki masalah.

“Ada apa dengan Yoona?” Tanya tuan Im khawatir ketika Kim Soohyun kembali ke meja makan tanpa membawa Yoona bersamanya. Pria itu tersenyum kecil dan menggeleng pelan sambil menuangkan sedikit wine ke dalam gelasnya.

“Tidak apa-apa. Ia hanya sedang kesal karena seseorang yang salah alamat.”

“Benarkah? Tapi ia terlihat sangat kacau.” Ucap Jessica tidak yakin.

“Hormon wanita hamil benar-benar tidak stabil. Dan Yoona sedang mengalami hal itu.” Ucap Kim Soohyun santai sambil mengendikan bahunya ringan. Jessica menganggukan kepalanya mengerti dan tak bertanya macam-macam lagi mengenai perubahan sikap Yoona yang drastis itu. Ia pikir penjelasan sepupunya itu memang masuk akal, dan ia sudah membuktikannya sendiri selama menjadi teman dekat Yoona selama beberapa bulan terakhir ini.

Kim Soohyun tiba-tiba meletakan gelas winenya dan meminta ijin pada semua orang yang sedang berkumpul di meja makan untuk pergi ke kamar mandi. Tapi saat ia hendak berbelok ke arah kamar mandi, ia justru berbelok ke arah lain yang akan membawanya ke pintu depan. Tiba-tiba ia merasa penasaran dengan apa yang membuat Yoona semarah dan sekacau itu. Padahal Yoona sebelumnya hanya berpamitan untuk membukakan pintu untuk seseorang yang menekan bel rumahnya.

Setelah tiba di pintu depan, Kim Soohyun membuka pintu itu pelan dan mengamati seluruh halaman luas milik keluarga Im. Sekilas ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Tapi tanpa sengaja ekor matanya melihat sebuah taksi yang berhenti di depan rumah Yoona. Lalu seorang pria muda dengan stelan jas masuk ke dalam taksi tersebut dan segera menghilang bersama dengan taksi kuning yang membawanya.

“Lee Donghae…”

Tanpa sadar Kim Soohyun mengepalkan tangannya marah ketika akhirnya ia tahu apa yang menjadi penyebab perubahan sikap Yoona beberapa saat yang lalu. Dalam hati ia bersumpah akan melakukan berbagai macam cara untuk memisahkan Yoona dan Donghae agar pria itu tidak terus menerus menebarkan kesedihan di dalam hidup Yoona.

-00-

Donghae menyesap segelas wine sambil memandangi pemandangan kota New York melalui balkon kamarnya. Semalam setelah ia pergi dari rumah Yoona ia telah bertekad untuk melakukan berbagai macam cara agar Yoona memaafkannya. Meskipun rasanya hal itu hampir mustahil mengingat Yoona sangat membencinya dan tak ingin melihatnya lagi, tapi ia benar-benar ingin meminta maaf pada Yoona. Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Yoona agar hidupnya tidak terus menerus dihantui perasaan bersalah karena ia pernah menyakiti Yoona.

“Hari ini aku harus kembali ke rumah itu. Aku harus menemui Yoona.” Gumam Donghae penuh tekad. Pria itu menggenggema gelas winenya erat-erat sambil menggeram marah ketika ia mengingat cincin emas putih yang melingkar di jari manis Yoona. Meskipun ia memang tidak pantas berharap lebih untuk bersanding dengan Yoona, tapi entah mengapa ia merasa tidak suka ketika melihat Yoona mengenakan cincin pernikahannya. Hatinya terasa tercubit mengetahui fakta jika saat ini Yoona sedang bersanding dengan pria lain dan bukan dirinya. Dan hal itu mau tidak mau mengingatkannya pada kejadian sepuluh bulan yang lalu saat Yoona datang di tengah-tengah kehidupan rumah tangganya.

“Jadi seperti inikah perasaanmu saat itu Yoong?” Gumam Donghae nanar sambil menatap pemandangan jalanan kota New York yang padat.

-00-

Yoona sedang menyiram bunga di taman sambil bersenandung kecil menikmati suasana tenang di pagi hari yang sepi. Pagi ini ia merasa lebih baik setelah semalam ia terus menangisi pria brengsek seperti Donghae. Padahal ia sudah bertekad pada dirinya sendiri, ia tidak akan mengeluarkan air matanya untuk Donghae, tapi ketika pria itu datang tepat di depan matanya, pertahanannya justru runtuh dan ia kembali menangis untuk pria itu.

“Yoona..”

Yoona terkesiap kaget ketika tiba-tiba Donghae muncul di depannya dengan wajah sendu. Pria itu berjalan mendekatinya dan ia melangkah mundur untuk menghindari pria itu. Tapi pria itu tampak tidak mau menyerah dan terus berjalan maju untuk mendekati Yoona meskipun Yoona telah berusaha untuk menghindari pria itu. Tanpa sadar Yoona menginjak lilitan selang yang berada di bawah kakinya dan membuat tubuhnya limbung. Dengan cepat Donghae segera berlari untuk menahan tubuh Yoona agar Yoona tidak jatuh dan menghantam tanah yang keras dan membuat kandungannya terluka.

Yoona menatap isris sendu itu dalam ketika ia dan Donghae masih di posisi yang sama dengan Donghae yang sedang berusaha untuk menahan beban tubuhnya yang berat.

“Untuk apa kau datang ke sini lagi?” Tanya Yoona lirih dengan mata berkaca-kaca. Sebelah tangannya terulur untuk membelai permukaan wajah Donghae yang sudah lama tak ia rasakan.

“Aku ingin menjelaskan semuanya padamu Yoona, aku tidak ingin hidup dengan bayang-bayang penyesalan dan kebohongan. Jadi kumohon, ijikan aku untuk menjelaskan semuanya padamu. Semua hal yang tidak kau ketahui setelah kau kembali ke New York.”

Yoona manatap iris sendu itu sekali lagi dan mencoba menemukan kesungguhan di mata teduh itu. Dan semakin lama ia menatap mata itu, ia merasa terhanyut dengan tatapan itu lagi hingga ia hampir kehilangan kesadarannya jika ia tidak cepat-cepat berdiri dan beranjak untuk mematikan keran air yang sejak tadi terus menyala dan terbuang percuma. Ia kemudian mengajak Donghae masuk ke ruang tamu agar pria itu dapat menjelaskan semua hal yang menurut pria itu tidak diketahuinya karena ia sudah terlanjur kembali ke Amerika.

“Duduklah, aku akan mengambilkan minum untukmu.”

Donghe menurut dan membiarkan Yoona pergi untuk mengambilkannya minuman. Lagipula dengan Yoona pergi, ia akan memiliki kesempatan untuk menyusun kata-kata di otaknya agar menjadi sebuah kalimat yang indah dan tidak menyakitkan untuk Yoona.

“Ini minumlah.”

Yoona meletakan secangkir teh di atas meja untuk Donghae. Wanita itu kemudian mengambil tempat duduk yang paling jauh dari Donghae agar ia bisa menjaga jarak dengan Donghae. Lagipula jantungnya masih setia berdetak dengan kencang setiap kali ia berada di dekat Donghae, oleh karena itu ia tidak mau Donghae mendengarnya jika ia duduk di terlalu dekat dengan pria itu.

“Kau tenang saja, aku tidak akan menyerangmu seperti dulu. Kali ini aku dalam keadaan normal.” Sindir Donghae halus ketika ia melihat Yoona sengaja mengambil posisi tempat duduk yang lumayan jauh darinya. Yoona menatap pria itu acuh tak acuh dan memilih untuk mengabaikan sindirian tidak penting itu.           “Cepat katakan semua yang ingin kau katakan padaku, sebentar lagi Soohyun oppa akan pulang untuk makan siang, aku tidak mau ia salah paham dengan kehadiranmu di sini.” Ucap Yoona sinis dan ketus.

“Jadi aku ingin mengatakan padamu jika aku sudah bercerai dengan Yuri,….”

“Bukankah kau sudah mengatakan hal itu kemarin.” Potong Yoona cepat dan lagi-lagi dengan nada ketus. Donghae menghembuskan nafasnya kasar dan mencoba untuk bersabar menghadapi Yoona yang mulai menunjukan sikap defensifnya yang menyebalkan.

“Jangan memotong ucapanku Im Yoona, aku sedang berusaha untuk merangkai kata-kata di dalam kepalaku.”

“Baiklah, silahkan lanjutkan kata-katamu.”

Yoona menyilangkan salah satu kakinya dan mencoba untuk terlihat lebih angkuh di depan Donghae. Dan Donghae cukup sadar jika Yoona mulai menunjukan sisi mendominasinya itu di hadapannya.

“Aku telah bercerai dengan Yuri tepat disaat kau kembali ke New York, jadi aku ingin minta maaf padamu karena kemarin aku telah membohongimu saat kau menelponku.”

“Hmm, bukankah berbohong adalah keahlianmu.” Komentar Yoona enteng sambil memainkan kuku jarinya. Donghae menggeram kesal dalam diam dan mencoba untuk mengabaikan sikap Yoona yang mulai menjengkelkan.

“Lalu disaat yang bersamaan kau meninggalkan sebuah pesan suara jika kau akan kembali ke New York dan menikah dengan pria yang dijodohkan denganmu. Saat mendengar hal itu, sebenarnya aku hancur. Padahal aku berencana untuk mengajakmu berbaikan dan membangun sebuah rumah tangga yang bahagia. Tapi nyatanya kau pergi dan akan menikah dengan pria lain yang lebih baik dariku, jadi aku memutuskan untuk membiarkanmu pergi meskipun hatiku menjerit.”

“Darimana kau tahu jika Kim Soohyun adalah pria yang lebih baik darimu jika kau tidak pernah melihatnya secara langsung bagaimana perasaanku selama ini saat bersamanya? Apa kau tahu jika kebahagiaanku hanya saat bersamamu? Apa kau tahu jika hatiku sebenarnya hanya untukmu? Tapi kau tidak pernah sekali saja berkorban dan berusaha untuk mendapatkanku. Padahal selama ini aku sudah banyak berkorban untuk membawamu kembali dan menyadarkan hatimu pada wanita yang sesungguhnya kau cintai. Kau memang egois Lee Donghae. Bahkan sejak berbulan-bulan lamanya kau tidak pernah menghubungiku dan hanya menungguku untuk menghubungimu. Sebenarnya kau pria macam apa Lee Donghae ssi.”

Yoona meluapkan seluruh amarahnya di hadapan Lee Donghae yang juga telah siap dengan segala bantahannya. Ketika wanita itu mulai mengungkit-ungkit kesungguhan hatinya untuk mengejar cinta wanita itu, Donghae mulai merasa tidak terima jika Yoona menganggapnya sebagai pria pasif jika pada kenyataanya ia hanya ingin memberikan Yoona kesempatan untuk merasakan kebahagiaan dengan pria lain, karena ia merasa begitu buruk di hadapan Yoona. Tapi nyatanya Yoona justru menginginkan hal yang sebaliknya. Wanita itu menginginkannya berjuang untuk wanita itu dan merebutnya dari pria lain yang jelas-jelas sedang mengulurkan tangannya untuk menolong Yoona dari rengkuhan pria brengsek sepertinya.

“Aku bukannya ingin membiarkanmu bersama pria lain, aku hanya tidak ingin menyakitimu terlalu jauh Im Yoona. Bahkan setiap malam aku selalu memikirkanmu dan anak kita yang nantinya akan menganggap pria lain yang bukan ayahnya sebagai ayah. Aku sakit membayangkan itu Yoong, bahkan aku merasa benar-benar terpuruk setelah kau pergi. Aku mendapatkan karma dari Tuhan karena telah menyia-nyiakanmu selama ini.”

“Kenapa harus selama itu kau menyadari perasaanmu oppa, padahal sejak awal kau jelas-jelas tidak mencintai Yuri. Tapi kau terlalu serakah hanya untuk melepaskan salah satu dari kami. Kau ingin menguasai kami semua untuk dirimu sendiri. Kau memang pria brengsek Lee Donghae.”

Donghae mengepalkan tangannya tidak terima ketika Yoona melayangkan cacian dan makian yang menyakitkan itu. Padahal ia berusaha untuk melepaskan Yuri agar dapat kembali bersamanya. Tapi wanita itu justru menghakiminya sesuka hati hanya karena ia terlambat untuk membawa wanita itu kembali ke dalam pelukannya.

“Apa kau sudah puas menghinaku dengan kata-kata kasarmu? Kalau kau memang tidak bahagia bersama Kim Soohyun, maka kembalilah padaku. Aku akan berusaha untuk menjadi Lee Donghae yang lebih baik dan aku akan berusaha untuk tidak menyakitimu lagi.”

“Apa kau pikir semudah itu memintaku kembali setelah selama ini kau selalu menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan. Lihatlah, aku sudah bertunangan dengan Kim Soohyun. Kami akan menikah setelah aku melahirkan anakmu, jadi jangan harap kau bisa mendapatkan kesempatan untuk membaku ke dalam pelukanmu lagi.”

Lee Donghae tersenyum sinis mendengar penuturan Yoona. Bahkan dulu wanita itu mampu berbuat nekat ketika ia sudah resmi menjadi suami dari wanita lain. Dan sekarang status wanita itu dengan calon suaminya hanya sekedar bertunangan, tentu ia dapat menghancurkan ikatan itu dengan lebih mudah karena ikatan mereka hanya sebatas ikatan diantara manusia, bukan ikatan diantara manusia dan Tuhan seperti ikatannya dengan Yuri yang pernah Yoona hancurkan dulu.

“Kau dan calon suamimu hanya sekedar bertunangan Im Yoona, kau belum menikah dengannya seperti aku menikah dengan Yuri dulu. Jika kau bisa menghancurkan ikatan pernikahanku dengan mudah, kenapa aku tidak bisa melakukannya juga? Bukankah ikatan yang terjalin dianara kau dan calon suamimu jauh lebih rentan, hmm?” Desis Donghae mengerikan. Yoona bergidik ngeri ketika melihat sisi lain Donghae yang selama ini tidak pernah dilihatnya. Ia pikir Donghae hanyalah pria lemah yang akan mudah dikalahkan dengan sedikit tindakan nekat, tapi nyatanya tatapan bersungguh-sungguh Donghae kali ini lebih mengerikan dan terlihat meyakinkan. Ia takut jika Lee Donghae akan menyakiti Kim Soohyun nantinya.

“Jangan pernah berbuat nekat Lee Donghae atau kau akan menerima akibatnya.” Ancam Yoona bersungguh-sungguh. Namun Donghae tampak tak takut sedikitpun dan justru berjalan mendekati Yoona yang kini sedang beringsut ketakutan di atas sofa. Entah mengapa Yoona sangat takut dengan sorot mata Donghae yang bagaikan iblis itu. Ia bukan seperti Donghae yang ia kenal selama ini. Ia seperti makhluk lain yang tiba-tiba muncul setelah sekian lama tertidur di dalam tubuh Donghae.

“Aku tidak takut dengan ancamanmu Im Yoona. Bahkan jika kau mengancam akan membunuhku sekalipun, aku tidak takut. Bagiku memperjuangkan cintaku untuk wanita yang juga mencintaiku dan saat ini sedang mengandung anaku jauh lebih penting dari sekedar kematian yang sewaktu-waktu dapat menjemput siapapun. Jadi kau harus lihat tindakan apa yang akan kuambil untuk menyingkirkan Kim Soohyun dari hidupmu.”

Bughh

Tiba-tiba Donghae terpelanting ke atas lantai ketika sebuah tinjuan menghantam keras tepat di rahang kanannya. Yoona memekik terkejut dan langsung menemukan ayahnya yang tampak begitu marah luar biasa dengan deru nafas yang memburu. Pria paruh baya itu berjalan cepat ke arah Donghae dan langsung menghujani Donghae dengan pukulan yang bertubi-tubi ketika Donghae masih dalam keadaan berbaring di atas lantai. Sekuat tenaga Yoona berusaha memisahkan ayahnya dari Donghae agar ayahnya tidak terus menerus memukul Donghae yang bisa-bisa membuat Donghae mati karena amarah ayahanya yang sedang menggila.

“Keparat! Jadi kau yang selama ini telah menghancurkan masa depan anakku dan menolak untuk mempertanggungjawabkan perbuatan bejatmu. Kau benar-benar pria tak tahu malu dan brengsek, kau pantas mati!”

Bugh Bugh Bugh

Lagi-lagi tuan Im menghajar Donghae hingga Donghae menderita luka-luka yang cukup parah di wajahnya. Namun Donghae seperti membiarkan tuan Im melakukannya, karena ia terlihat tidak melakukan perlawanan sedikitpun.

“Ayah kumohon hentikan, ayah bisa membunhnya jika ayah terus memukul Donghae oppa seperti itu.”

“Biarkan saja pria ini mati Yoong! Pria ini yang telah membuat ayah kehilangan putri ayah, dan pria ini yang membuat masa depan putri ayah hancur. Ayah tidak akan membiarkan pria ini hidup dengan senyum mengembang di atas penderitaanmu!”

Yoona menagis histeris sambil mencoba melindungi tubuh Donghae dari pukulan ayahnya. Karena percuma saja ia terus membujuk ayahnya untuk berhenti memukuli Donghae jika pada kenyataanya ayahnya sangat ingin membunuh Donghae. Satu-satunya cara agar ayahnya tidak terus menerus memukul Donghae adalah dengan menjadi tameng untuk Donghae karena ayahnya tidak mungkin akan memukulnya yang sedang hamil.

“Yoong minggirlah, jangan menghalangi ayahmu untuk memukulku, aku pantas mendapatkannya.” Ucap Donghae terbata-bata sambil mencoba menyingkirkan tubuh Yoona yang sedang menjadi tameng untuk melindunginya dari sang ayah yang sedang mengamuk.

“Yoona, pergi dari sana sekarang juga jika kau tidak ingin ayah menyakitimu.”

“Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum ayah bernar-benar berhenti untuk memukuli Donghae oppa. Ayah, Donghae oppa bukan satu-satunya pihak yang salah di sini, aku juga salah karena pernah merusah rumah tangga Donghae oppa dengan isterinya. Jadi kumohon berhentilah untuk menyakiti Donghae oppa.” Mohon Yoona dengan air mata yang sudah membanjiri wajah pucatnya. Tuan Im kemudian jatuh terduduk di atas karpet dengan wajah yang sulit diartikan. Dari sorot matanya, tuan Im jelas merasa bersalah pada Donghae. Namun di sisi lain tuan Im masih memancarkan aura kebencian untuk Donghae karena pria itu pernah menyakiti putri semata wayangnya.

“Berdirilah, aku akan mengobatimu.”

Yoona membantu Donghae untuk berdiri setelah tuan Im terlihat lebih tenang. Ia kemudian meninggalkan Donghae sebentar untuk mengambil kotak obat setelah ia memastikan jika ayahnya tidak akan menghajar Donghae lagi.

“Apa yang kau lakukan pada putriku, kenapa ia bisa begitu tergila-gila padamu?”

Tiba-tiba tuan Im bersuara pelan tanpa ekspresi di sebelah Donghae. Mendengar hal itu Donghae hanya mampu mengerutkan alisnya tidak mengerti karena ia jelas-jelas tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan tuan Im padanya. Lagipula ia tidak pernah memberikan apapun pada Yoona selain rasa sakit yang begitu menyiksa, yang menyebabkan hati Yoona hancur berkeping-keping.

“Aku sama sekali tidak pernah memberikan apapun padanya, aku justru sering menyakiti hatinya.” Ucap Donghae jujur. Tuan terdiam sejenak dengan jawaban jujur Donghae dan segera beranjak pergi meninggalkan rumahnya dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Ketika Yoona kembali, Donghae memberikan tatapan penuh penyesalan pada Yoona karena ia telah mengacaukan semuanya. Namun Yoona memberikan tatapan lembut menenangkan dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.

“Ayahmu pergi sambil melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, apakah ia akan baik-baik saja?”

“Tenang saja, ayahku adalah seorang pembalap, jadi kau tidak usah menghkhawatirkannya. Sebentar lagi ia pasti akan kembali seperti semula, ia hanya sedang dilingkupi perasaan marahnya yang sudah sejak lama ia tahan. Dan ketika kau tiba-tiba muncul di rumahnya, ayahku seperti mendapatkan sasaran empuk yang selama ini ditunggunya. Jadi tolong maafkan ayah.”

Donghae tersenyum sekilas pada Yoona dan menganggukan kepalanya kecil.

“Aku sudah memaafkan ayahmu.”

Yoona tersenyum lembut pada Donghae dan kembali melanjutkan aktivitasnya untuk mengobati luka Donghae yang cukup parah karena hantaman ayahnya. Dalam hati Yoona berharap semoga masalahnya benar-benar akan selesai setelah ini karena ia lelah dengan kehidupannya yang penuh kesakitan. Ia hanya ingin hidup bahagia dan tenang bersama putrinya kelak.

-00-

Keesokan harinya Yoona terbangun dengan keadaan sakit yang luar biasa di perutnya. Bahkan sebenarnya sejak semalam Yoona sudah mulai merasakan kontraksi, tapi ia mengabaikannya begitu saja karena dokter pernah mengatakan jika hal itu wajar terjadi menjelang kelahiran bayinya. Tapi pagi ini rasanya perutnya benar-benar sakit dan ia merasa akan melahirkan sebentar lagi. Dengan susah payah Yoona merah ponselnya dan menekan beberapa digit angka yang sangat dihafalnya di luar kepala.

“Halo, sepertinya aaku… Hhuuhhh… akan melahirkan.” Ucap Yoona terbata-bata sambil menghembuskan nafasnya pelan. Diaturnya deru nafasnya pelan agar tidak memburu dan membuatnya semakin panik. Namu seseorang yang dihubungi Yoona justru terdengar sedang panik luar biasa, apalagi ia baru saja bangun tidur dan langsung mendapatkan kabar mengejutkan dari Yoona.

“Apa kau sudah pergi ke rumah sakit? Aku akan menyusulmu ke sana. Katakan di rumah sakit mana kau sekarang?”

“Aku akan melahirkan di rumah sakit Eddinburg. Datanglah, aku ingin kau melihat anak kita untuk pertama kalinya.”

Yoona menangis dalam diam ketika ia membayangkan putrinya hari ini akan lahir ke dunia. Meskipun pada akhirnya ia tidak akan bersama Donghae, ia sangat berharap Donghae akan menemaninya di dalam ruang bersalin untuk menyaksikan kelahiran anak pertama mereka.

“Aku pasti akan datang, aku janji Yoong.”

Yoona mengangguk pelan dan segera mematikan sambungan telepon itu untuk memanggil ayahnya yang berada di bawah.

“AYAHHH!!”

Yoona berteriak kencang dan ia merasakan air ketubannya sedang merembes keluar ketika ia berteriak terlalu kuat untuk memanggil ayahnya. Ia pun berusaha untuk berdiri dan keluar dari kamarnya agar sang ayah mendengar suara teriakannya. Namun baru beberapa langkah Yoona meninggalkan kamarnya, tiba-tiba Kim Soohyun berlari ke arahnya dengan wajah panik.

“Yoona ada apa denganmu, astaga! Kau akan melahirkan.” Ucap Kim Soohyun panik. Cepat-cepat pria itu menggendong Yoona menuruni tangga dan memasukan Yoona ke dalam mobil, sedangkan tuan Im sedang berlari tergopoh-gopoh di belakangnya sambil membawakan tas yang telah Yoona siapkan untuk melahirkan.

“Ayah cepat, aku merasa sudah mengalami beberapa pembukaan.” Teriak Yoona tak sabar di dalam mobil. Sang ayah segera melompat ke dalam kursi penumpang sambil menenangkan Yoona dalam proses persalinan pertamanya.

“Tenang Yoong, ayah di sini bersamamu, ayah akan menggenggam tanganmu dan menunggmu hingga cucu ayah lahir.”

Yoona sudah tak merespon segala macam ucapan ayahnya karena konsentrasinya saat ini lebih pada perutnya yang terasa sakit dan juga pergerakan bayinya yang terasa semakin turun. Sambil memejamkan matanya, Yoona terus memanjatkan doa pada Tuhan, semoga Tuha senantiasa memberikan keselamat untuknya dan juga bayinya agar mereka dapat berkumpul dan menjadi sebuah keluarga yang bahagia.

Tuhan tolong lindungi kami dan bawalah dia untukku….

-00-

Donghae berlari-lari dengan ribut di dalam rumah sakit Eddinburg dengan perasaan panik yang luar biasa. Baru saja ia membuka matanya dari alam mimpi yang membuainya semalam, tiba-tiba Yoona menghubunginya dan mengatakan jika anak mereka akan lahir. Dengan panik ia langsung memakai celana panjang dan kemejanya asal-asalan tanpa mencuci wajahnya terlebihdahulu. Persetan dengan tatapan aneh semua orang yang akan mengarah padanya, mereka tidak tahu bagaimana rasanya seorang ayah yang akan menyaksikan kelahiran bayinya.

“Suster, dimana ruangan nyonya Im Yoona yang hari ini akan melahirkan?”

“Nyonya Im Yoona baru saja masuk ke dalam ruang bersalin. Anda bisa menunggu bersama kerabat nyonya Im Yoona yang lain di sana.”

Suster itu menunjuk sudut ruang tunggu yang telah diisi oleh ayah Yoona dan Kim Soohyun. Sejenak Donghae merasa takut untuk bertemu tuan Im karena ia tidak ingin memancing keributan di rumah sakit. Tapi ia telah berjanji pada Yoona untuk datang dan menyaksikan putri pertama mereka lahir ke dunia.

Dengan langkah mantap Lee Donghae mulai berjalan mendekati ruang bersalin. Hari ini ia datang ke rumah sakit hanya untuk Yoona, jadi apapun yang terjadi ia akan berusaha untuk masuk ke dalam dan melihat kelahiran putri pertamanya.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Tatapan sinis dari ayah Yoona langsung menghujamnya ketika ia tiba di depan ruang bersalin rumah sakit Eddinburg. Pria paruh baya itu menatap Donghae tajam dan langsung menghadang jalan Donghae untuk masuk ke dalam ruang bersalin dan menemui Yoona.

“Saya datang untuk menyaksikan kelahiran putri saya, saya telah berjanji pada Yoona untuk….”

“Lebih baik kau pergi, Yoona tidak membutuhkanmu. Kim Soohyun akan masuk ke dalam dan menemani Yoona selama persalinannya berlangsung.”

“Tapi tuan, saat ini Yoona sedang berjuang untuk melahirkan anak saya, jadi saya ingin memberikan dukungan untuk Yoona dan menyaksikan kelahiran putri pertama kami.”

Cih, putrimu?”

Tuan Im mendecih tidak suka sambil menatap Donghae tajam. Baginya Donghae bukanlah ayah yang baik untuk cucunya, dan ia tidak akan membiarkan Donghae masuk dan mengganggu proses persalinan Yoona.

“Pergi kau dari sini atau aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.” Ancam tuan Im sungguh-sungguh. Kim Soohyun yang melihat adanya gelagat yang tidak beres langsung mencoba untuk menjauhkan Donghae dari tuan Im. Tapi dengan kasar Donghae langsung menepis tangan Kim Soohyun yang sedang berusaha untuk menariknya mundur.

“Lepaskan tanganku! Aku tidak takut mati. Bahkan jika kau ingin membunuhku di detik ini juga, aku sudah siap. Aku siap mati demi menepati janjiku pada Yoona.”

“Kurangajar, kau berani menantangku rupanya.”

Tanpa pikir panjang tuan Im segera melayangkan pukulannya pada Donghae. Namun tidak seperti kemarin, kali Donghae berusaha menghindari pukulan yang dilayangkan tuan Im padanya, namun ia tidak mencoba untuk membalasnya. Ia hanya berusaha untuk menghindar karena ia harus bisa masuk ke dalam ruang bersalin tempat Yoona melahirkan.

“Kemari kau, dasar pria sialan! Kau tidak pantas untuk putriku, kau harus mati!”

“Abeoji tenanglah, ini di rumah sakit. Abeoji harus mengontrol emosi abeoji.”

“Lepaskan aku! Kau seharusnya membelaku dan membantuku untuk menghabisi pria brengsek ini. Dia telah merusak anakku dan masa depan anakku.” Ucap tuan Im membabi buta dan terus memberontak di dalam cekalan Kim Soohyun. Sementara itu Donghae mencoba untuk melewati tuan Im yang masih setia berdiri di depan ruang bersalin yang digunakan putrinya tanpa membiarkannya untuk masuk ke dalam.

Tiba-tiba sekumpulan petugas keamanan datang untuk melerai pertengkaran yang terjadi pada tuan Im dan Donghae Petugas itu dengan sigap langsung menangkap Donghae ketika Kim Soohyun memberikan perintah untuk menangkap Donghae dan membawa pergi pria itu dari rumah sakit karena Dongahe merupakan sumber keributan yang menyebabkan tuan Im bertindak brutal. Tapi Donghae terus meronta-ronta dengan kuat di dalam cekalan petugas-petugas itu karena ia merasa memiliki janji dengan Yoona dan ia harus masuk ke dalam ruang bersalin itu apapun yang terjadi.

“Yoona! Yoona aku di sini, Yoona aku datang untukmu.”

Donghae berteriak keras di tengah-tengah usaha petugas itu untuk menyeret Donghae pergi dari ruang bersalin. Sedangkan tuan Im yang melihat kepergian Donghae dengan lima orang petugas keamanan disekitarnya untuk menyeret tubuhnya keluar dari rumah sakit langsung tersenyum sinis sambil menepuk bahu Kim Soohyun bangga.

“Kerja bagus nak, kau berhasil mengusir pengganggu itu dari sini.”

-00-

“Ughhhh…. Ugghhhh…”

Yoona terus berusaha mengejan dengan kuat untuk mengeluarkan putrinya yang sebentar lagi akan merasakan indahnya dunia. Beberapa suster yang membantu proses kelahirannya terus menyemangati Yoona agar Yoona terus mendorong bayinya dengan kuat karena kepala sang bayi sudah terlihat dan akan segera keluar.

“Terus nyonya, lakukan dengan kuat. Kami sudah bisa melihat kepala putrimu yang sedang menyembul keluar.”

Samar-sama di tengah usahanya untuk mengejan, Yoona mendengar suara ribut-ribut yang berasal dari luar. Sesekali Yoona juga mendengar suara hantaman yang begitu keras dan menyayat hatinya. Ia tahu jika saat ini ayahnya pasti sedang memukuli Donghae lagi karena pria itu berusaha untuk masuk ke dalam ruang bersalin.

Sembari mengejan, Yoona menangis memikirkan Donghae yang juga sedang berusaha di luar sana untuk menepati janjinya. Tapi meskipun Donghae tidak berada di sampingnya sekalipun, ia tetap akan mengnggap Donghae telah menepati janjinya, karena Donghae sebenarnya sudah datang. Hanya saja ayahnya terus menghalangi Donghae di luar, sehingga Donghae tidak bisa masuk ke dalam untuk menemaninya melahirkan bayi mereka.

“Nyonya ayo dorong dengan kuat, jangan berhenti. Jika kau berhenti bayimu akan kekurangan oksigen.” Ucap suster itu mengingatkan. Yoona pun segera mendorong bayinya dengan kuat dengan tenaga yang sudah menipis. Rasanya ia ingin menyerah sekarang juga. Tapi tiba-tiba teriakan nyaring Donghae dari luar membangkitkan semangatnya lagi.

“Yoona! Yoona aku di sini, Yoona aku datang untukmu.”

Oppa….

            Oppa, aku akan berusaha untukmu…

            Sekuat tenaga Yoona terus mendorong bayinya agar keluar dari rahimnya. Para suster yang berada di samping kanan kirinya tak hentinya menyemangatinya untuk terus mengejan dan mendorong agar bayinya yang sudah terlihat separuh bisa segera keluar sepenuhnya dari rahimnya.

“Ayo nyonya, tinggal sedikit lagi. Anda tinggal mengejan sekali lagi dengan kuat untuk mengeluarkan bayi anda.”

Brakk!!

Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka lebar dan menampakan sosok Lee Donghae yang sedang terengah-engah dan berusaha untuk menghampiri Yoona yang sedang kepayahan untuk melahirkan anak mereka.

“Yoona, ayo kau pasti bisa. Aku sudah bisa melihat wajah anak kita yang cantik.”

“Oppa… Ughhhhh………..”

Yoona menggenggam erat tangan Donghae dan kembali melakukan dorongan panjang sekali lagi untuk mengeluarkan anaknya. Dan tak berapa lama setelah Yoona mendorong anaknya dengan sekuat tenaga, tiba-tiba ia mendengar suara tangis bayi yang begitu kencang. Ia mendengar suara tangis anaknya yang nyaring.

“Yoong kau berhasil.” Bisik Donghae lembut di telinga Yoona sambil mengecup kening Yoona lembut. Yoona menangis harus di atas blangkarnya ketika suster memberikan seorang bayi mungil yang masih berlumuran darah pada Donghae. Donghae mengecup pipi mungil anaknya penuh haru dan langsung memberikan bayi cantik mereka pada Yoona.

“Dia sangat cantik sepertimu Yoong.”

“Bayiku… anakku..”

Yoona mendekap anaknya erat ketika Donghae meletakan bayi mungil itu di atas dada Yoona. Donghae kemudian membisikan di telinga Yoona sebuah nama yang selama ini telah ia siapkan untuk anaknya.

“Namanya adalah Lee Hyura. Tolong jaga ia baik-baik Yoong.”

Setelah itu Donghae kembali diseret keluar oleh sepuluh petugas keamanan yang sengaja dipanggil tuan Im dan Kim Soohyun untuk meringkus Donghae. Namun kali ini Donghae menuruti petugas itu dan segera pergi tanpa perlawanan meninggalkan ruang bersalin Yoona. Baginya melihat putri dan Yoona selamat setelah proses persalinan yang melelahkan sudah cukup baginya. Dan yang terpenting ia telah menepati janjinya untuk Yoona.

Berbahagialah bersama Lee Hyura. Selamanya aku akan selalu mencintai kalian…

29 thoughts on “Fine (Trilogy Of Make Me Love You)

  1. Ouhh aku sungguh tersentuh dgn perjuangan donghae untuk mendapatkan yoona..dan di scene ending saya mewek 😭😭 itu benar benar menyentuh saat donghae membisikkan nama anak mereka dan saat donghae di seret paksa oleh petugas keamanan 😭😭😭 dan lee hyura selamat datang 🎊🎊….ah aku tidak sabar untuk trilogi yg terakhir mungkin??? 😅😅 good storyyy 👍🏻👍🏻👍🏻

  2. Udah end kah? 😮
    Yah thooor ko gantung banget 😭😭😭
    Kan ksian donghaenya 😢😢

  3. Ini udah end thor?
    Hwaaaa autorniim gantung banget😭😭😭
    Kan kasian donghaenya 😢
    Please di lanjut yah 🙏✌

  4. Sediih 😭😭 Mereka sma2 menanggung sakit.. dan saat mereka akan kmbali bersma,, ada pnganggu 😭😭😠 Nggk tau mau bilang apa lgi.. kasian ma yoonhae nya 😭😭 dan untng hae bisa liat anaknya lahir. apa yg bkal hae lakuin stelah ini?? Ini masih ada lnjutannya kan kk??

    fighting!!

  5. heeeemmmm harus y yoonhae pisah lagi,,,,knpa siiichhhh ,,,,pdhal mereka saling mencintai,,,,,,

  6. trilogi kan ini, masih ada 1 yang harus ditunggu berarti😣
    please itu aku masih ga percaya sm soohyun sama jessica, kurang srek aja bacanya tiba2 jessica langsung jadi sahabat gitu sama yoona kek ada yang ganjal gitu😅 apalagi soohyun kek dendam banget sama donghae, apa emang karna jess dulu suka sama donghae? ah pokoknya masih ada yg ganjal disini😅 mohon dilurusin di part 3 yang selanjutnya ya kak…
    rasaku itu tn.im juga kek di manipulasi sama soohyun, tak tau lah pusing haha😂
    pokoknya endingnya yoona harus sama donghae kak, g bakalnaku biarin itu soohyun dapet nikah sama yoona *biar aku gentayangin nanti di mimpi kk, biar keinginanku terwujud😅*
    pokoknya ditunggu lanjutannya kak, kalo bisa yg cepet kak ehehehe😂 ditunggu juga bullets of justicenya 💕

  7. Aduh kenapa sequelnya mereka gk bersatu kan donghae udah menyesali perbuatannya dan mau kembali lagi ke yoona karena dia masih mencintai yoona dan anaknya udah lahir kedunia. aku harap masih ada lagi sequelnya aku ingin yoonhae bahagia bersama anak mereka Lee Hyura…..

  8. Woahhh…. akhirnya donghae jujur jg sama yoona ttg keadaan dia yg sebenarnya… usaha yoona bwt merebut donghae berhasil tp kenapa dia malah pergi, kn jd rumit…apalagi appq yoona benci banget sm dia, gak sia2 usaha donghae bwt liat yoona melahirkan anak nx, mga ja mereka bisa bersatu… gue pengen liat perjuangan donghae mengejar yoona nekatan mana cinta nx? Apakah donghae bakal relain yoona sm plhn tn. Im lw iya, gue harap yoona balik lagi berbuat nekat biar bisa sama donghae lagi….. dan anaknya, karna sepertinya yoona cinta mati banget sama donghae dan rela melakukan apapun demi dapetin donghae lagi….nggak ada salahnya dia nekat lagi bwt balik sm donghae dan anak nx…..next!!!!

  9. Ceritanya jd dibalik, giliran Donghae yg ngrasain gimana jd Yoona. Tp endingnya masih gantung, Donghae sm Yoona kenapa ga bersatu?? Huhu
    Semoga msh ada lanjutannya ya Authornim 😊😊

  10. Noh kan dongek nyesel tapi untungnya dia mau memperbaiki hubungannya sama yoong .
    Masih Ada lanjutannya kah thor??
    Berharap sih ada soalnya masih gantung

  11. Endingnyaaa…. Ini masih ada sequel lagi kan thor?? Ada ya? Pasti ada.. kutunggu…
    Dr awal baca udah ngerasain gimana rumitx donghae dan yoona utk bersatu. Stelah pisah dr yuri nyatanya gak semudah itu mereka bs bersama. Sebenernya kesel juga karna donghae lebih memilih sakit dlm diamnya drpd berusaha mngejar dan kasih penjelasan sm yoona. Tp seperti biasa, author slalu punya banyak ide utk membuat cerita ini klimaks. Moga next ada moment antara lee hyura dgn appa dan eommanya.

  12. Yaampun akhirnya ngenes banget un ,kenapa Donghae pasrah gitu kirain setelah kejadian kemaren ayah Yoona bakal luluh sama Donghae karna Yoona nya juga udah luluh dan maafin Donghae .
    Semoga setelah ini ada titik terang deh buat hubungan mereka ,pokoknya mereka harus bisa bersatu apapun halangannya ..
    Soal Jung Hana tadi sebenernya dia siapa ??? tadinya sempet mikir dia jahat ternyata malah mau nolong YoonHae biar bersatu toh ..dan soal Kim Soohyun sepupu Jessica juga kirain cuma boong dan akal akalan Kim Soohyun ternyata emang bener yaa ..yaudahlah apapun yg terjadi pokoknya harus ada titik terang buat hubungan mereka ^^

  13. Kchn bgt Donghae hrus berjuang u/ dpt maaf dr yoona mungkin Donghae d nyerah u dpt kn yoona kembali d Donghae spt x akn pergi

  14. huh hah nyesek bgt ff ny
    enggak mw kl lee hyura pisah sm ayah ny
    ayo author satukan yoonhae 🙁

  15. Waahhh kasian yoonhae hubungannya hrs terhalang, sekarang giliran Donghae yg ingin merebut Yoona Dr Soohyun, next semoga yh bersatu.

  16. haepa mah g jujur dari awal sama yoong
    jadi aja keburu tunangan tapi gpp sebelum
    janur kuning melengkung masih bisa berjodoh
    toh saling mencintai apalagi ada baby cantik
    pengikat hubungan mereka. gumawo thor keren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.