Make Me Love You (Oneshoot)

 

Suara merdu musik klasik terdengar begitu indah di setiap penjuru ball room hotel bintang lima yang megah. Seorang wanita dengan gaun putih yang cantik dan seorang pria dengan tuksedo yang gagah terlihat sedang bersuka cita merayakan pesta pernikahan mereka. Ratusan tamu undangan yang datang memenuhi ball room terlihat begitu bahagia atas kebahagiaan sepasang pengantin yang siang ini resmi menjadi sepasang suami isteri di hadapan Tuhan. Yoona tersenyum sinis melihat pasangan pengantin itu sambil memegang gelas winenya. Dari lantai dua ball room Yoona dapat melihat pancaran bahagia yang dikeluarkan oleh sang pengantin. Namun ia merasa hal itu bukan pancaran kebahagiaan yang sesungguhnya karena ia merasa yakin jika dirinyalah sumber dari kebahagiaan sang pengantin pria.

“Im Yoona, apa yang kau lakukan disini? Kukira kau tidak akan datang untuk menyaksikan mantan pacarmu menikah dengan wanita lain.. Atau mungkin sebenarnya ia masihlah kekasihmu?”

Yoona tersenyum sinis pada sang wanita yang siang ini telah memprovokasinya. Ia tahu Jessica sebenarnya hanya ingin menaburkan garam di atas luka hatinya. Tapi tentu saja ia tidak akan termakan oleh provokasi itu dengan mudah karena ia sudah menyiapkan berbagai macam rencana untuk mengembalikan semua kebahagiaannya.

“Hmm.. aku hanya ingin melihat bagaimana pesta pernikahannya berlangsung, mengingat dulu ia juga pernah menjajikan hal yang sama padaku. Sebuah pesta pernikahan yang indah dengan ribuan tamu undangan yang turut berbahagia atas kebahagiaan kami. Tapi… sudahlah, itu hanya masa lalu. Bukankah yang terpenting adalah masa depan, aku tidak peduli dengan masa lalu.” Jawab Yoona santai sambil menyesap winenya anggun. Jessica tampak sedikit kesal karena rencananya untuk memprovokasi Yoona gagal. Sejak dulu ia memang tidak pernah menyukai Yoona karena Yoona selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, perhatian dari guru, prestasi, bahkan Yoona mendapatkan cinta dari pria yang sangat disukainya, Lee Donghae. Tapi sekarang ia bersyukur karena ternyata Yoona juga tidak bisa mendapatkan Lee Donghae untuk menjadi miliknya, jadi kedudukan mereka sekarang sama. Atau mungkin dirinya merasa jauh di atas angin karena pada dasarnya ia tidak perlu merasa sakit seperti Yoona karena kekasihnya atau mantan kekasihnya kini sudah menjadi milik wanita lain.

“Baiklah kalau begitu kita lupakan saja pasangan yang sedang berbahagia itu, jadi apa sekarang kau sudah memiliki kekasih?”

Tiba-tiba Jessica melambai pada seorang pria yang sedang berjalan ke arahnya sambil membawa sepiring kue di tangannya. Pria itu tersenyum manis ke arah Jessica ketika wanita itu melambaikan tangan ke arahnya dan menyuruhnya untuk mendekat.

“Hai, maaf aku terlalu lama. Kue ini sepertinya adalah sang primadona dalam pesta ini.” Ucap pria itu mencoba melucu sambil mengendikan bahunya pada sepotong kue yang berada di dalam piringnya. Yoona sama sekali tidak tertarik dengan pria aneh yang baru saja dipanggil Jessica. Namun dalam hati Yoona sudah menduga jika Jessica pasti akan memamerkan pria itu sebagai kekasihnya.

“Yoona, perkenalkan dia adalah Kim Soohyun, kekasihku.” Ucap Jessica berlebihan sambil bergelayut manja di lengan pria itu. Yoona melirik sekilas pria itu tanpa minat sambil menyunggingkan senyum separuh yang tampak sinis.

“Oh, syukurlah jika kau memiliki kekasih, kukira kau tidak akan dilirik oleh pria manapun.”

Kim Soohyun terlihat terkikik sedikit, namun ia segera menormalkan ekspersi wajahnya setelah Jessica terlihat memberengut pada pria itu.

“Ck, kau memang menyedihkan Im Yoona. Kau sengaja mengolokku di depan kekasihku karena kau tidak ingin terlihat menyedihkan di pesta pernikahan mantan kekasihmu bukan? Hahaha, kau memang wanita yang malang Im Yoona.”

Yoona menatap Jessica datar dengan ekspresi wajah yang tak terbaca. Wanita itu bisa saja membalas Jessica dan membuat wanita itu menyesal karena perbuatan kurang ajarnya, tapi ia tidak akan melakukan hal itu di sini, di pesta pernikahan kekasihnya, atau mungkin sekarang telah berubah menjadi mantan kekasihnya, karena hari ini ia hanya ingin menjadi wanita terakhir yang memberikan selamat pada Lee Donghae atas pernikahannya dan membuat pria itu kembali melihatnya. Seperti dulu saat mereka masih bersama dan saling mengikrarkan janji satu sama lain untuk kehidupan impian mereka.

“Begitukah? Terimakasih Jessica karena kau telah memperjelas statusku sebagai wanita malang yang menyedihkan.” Ucap Yoona dingin dan tanpa ekspersi. Jessica tersenyum puas sambil mengamit lengan Kim Soohyun untuk mengajak pria itu bersalaman dengan sang pengantin.

“Kalau begitu kami akan turun untuk bertemu dengan pengantin kita yang berbahagia. Apa kau ingin bergabung bersama kami untuk bertemu Lee Donghae dan Kwon Yuri?” Tawar Jessica lembut. Yoona hanya menggeleng pelan sambil mempersilahkan Jessica untuk pergi terlebihdahulu. Lagipula ia juga tidak sudi untuk turun ke sana bersama Jessica. Lebih baik ia turun sendiri dan memberikan ucapan selamat secara pribadi pada Lee Donghae.

“Kau duluan saja, karena aku akan menjadi wanita terakhir yang memberikan selamat pada pasangan bahagia itu.” Ucap Yoona penuh makna sambil menerawang jauh pada mantan kekasihnya yang sejak tadi tak henti-hentinya mengumbar senyum pada setiap tamu undangan bersama dengan isterinya, Kwon Yuri.

-00-

Donghae menggandeng tangan Yuri lembut untuk duduk di salah satu kursi kosong yang berada di ujung ruangan. Sejak tadi mereka terus menyapa para tamu hingga kaki mereka merasa lelah karena mereka terus berdiri sambil mengumbar senyum manis mereka pada siapapun yang mereka temui.

“Oppa, apa kau ingin minum? Aku akan mengambil minuman di sana.” Tunjuk Yuri pada sebuah meja panjang yang berisi beraneka macam minuman. Lee Donghae meneguk ludahnya penuh minat ketika sepasang matanya menatap deretan minuman dingin berbagai warna dengan tampilan yang sangat menggiurkan.

“Tolong ambilkan aku satu, maaf karena aku tidak bisa menemanimu mengambil minuman.”

“Tidak masalah, kau tunggu saja disini, aku akan segera kembali.”

Yuri beranjak pergi sambil menjinjing tutunya sedikit ke atas. Donghae pun menyandarkan punggungnya lelah sambil menatap ratusan tamu undangan yang sedang menikmati hidangan terbaik yang disediakan oleh hotel bintang lima miliknya. Rasanya ia sedikit tidak percaya jika pada akhirnya ia akan menikah dengan seorang wanita seperti Yuri, wanita lembut yang sejak tiga bulan ini sering mengisi hari-harinya. Perkenalan mereka bermula ketika mereka sama-sama menghadiri sebuah acara amal yang diadakan oleh salah satu badan amal nasional yang berada di Korea. Saat itu Yuri datang sebagai perwakilan dari ayah dan ibunya. Saat itu mereka sempat mengobrol sebentar karena kedua orangtua mereka ternyata saling mengenal satu sama lain. Lalu tiga hari kemudian orangtua Donghae mencoba menjodohkan Donghae dengan Yuri karena mereka pikir Donghae selama ini tidak pernah menunjukan tanda-tanda jika ia tertarik dengan seorang wanita. Karena terus didesak orangtuanya, akhirnya Donghae menyerah dan memilih untuk mengikuti saran dari kedua orangtuanya. Selama tiga bulan Donghae mencoba mengenal Yuri lebih dalam dan berusaha untuk menerima Yuri sebagai calon isterinya, meskipun rasanya itu sangat sulit, mengingat hatinya selama ini selalu dipenuhi oleh nama kekasihnya yang sudah lama pergi tanpa memberikan kabar.

“Huh…”

Donghae menghembuskan nafasnya kasar dan mencoba untuk melupakan bayang-bayang sang kekasihnya yang masih terus berputar-putar di dalam kepalanya.

Aku tidak boleh mengingatnya lagi, dia hanyalah masa lalu yang menyakitkan… Aku harus melupakan Yoona!”

            “Lee Donghae ssi…”

Donghae mendongakan kepalanya dan mematung di tempat ketika ia melihat sosok Yoona telah berdiri di depannya dengan gaun berwarna pink segar selutut yang tampak pas di tubuhnya. Wanita itu menggunakan riasan tipis yang terlihat cantik di usianya yang semakin matang. Untuk sesaat Donghae cukup terpesona dengan perubahan fisik Yoona yang terlihat semakin dewasa dan cantik. Namun kekaguman itu segera lenyap setelah ia melihat sebuah cincin putih bertahtakan berlian kecil yang melingkar di jari manisnya.

Aku sudah menikah….

“Im Yoona, apa kabar?”

Yoona tersenyum tipis dan mengambil tempat di sebelah Donghae yang kosong. Tatapan mata mereka saling beradu satu sama lain dengan kilatan masa lalu yang terlihat membara dikedua mata mereka. Mereka memiliki masa lalu yang belum terselesaikan!

“Aku sangat baik, long time no see. Aku tak menyangka jika kau akan menikah secepat ini. Aku baru saja kembali dari Amerika, dan aku menerima sebuah kartu undangan yang ditujukan untuk ayahku. Jujur aku merasa terkejut.”

Donghae mencoba menelisik ke dalam mata rusa Yoona yang terlihat dingin. Tatapan mata itu kini benar-benar berbeda dengan tatapan mata Yoona yang dikenalnya lima tahun yang lalu.

“Aku memang mengundang perusahaan ayahmu karena beberapa kali kami terlibat kerjasama.” Ucap Donghae apa adanya.

“Ya aku tahu. Pernikahanmu mengingatkanku pada seseorang, seseorang yang pernah berjanji akan menikahiku dan membuatkanku sebuah pesta yang sangat mewah.” Cerita Yoona ringan, namun Donghae dapat mendengar jelas adanya nada ironi disetiap kalimat yang dilontarkan Yoona. Wanita itu jelas-jelas sedang menyindirnya.

“Oh, itu berarti sebentar lagi kau akan menyusulku.”

“Hmm, mungkin.”

Keduanya terdiam cukup lama, saling mengenang masa lalu masing-masing yang penuh kenangan dan penuh kebahagiaan. Namun sayangnya kenangan itu tak bertahan lama dan hanya sebuah kenangan masa-masa remaja yang dipenuhi roman picisan.

“Oppa, ini minumanmu.”

Yoona mendongak dan menatap Yuri yang sedang mengulurkan sebuah gelas berisi cairan berwarna hijau terang yang sangat menggiurkan. Dengan penuh sukacita Donghae menerimanya dan langsung meneguknya hingga tandas. Sensasi dingin cairan yang mengalir di tenggorokannya berhasil mengurangi ketegangan yang terjadi akibat kemunculan Yoona yang tak pernah diduganya.

“Oh maaf, apakah kau salah satu teman Donghae oppa?”

Yoona tersenyum lembut pada Yuri setelah ia menyunggingkan senyum tipis penuh makna yang dilayangkan pada Donghae.

“Ya, aku adalah salah satu teman Donghae oppa saat senior high school, lebih tepatnya Donghae oppa adalah seniorku. Perkenalkan, aku Im Yoona.” Ucap Yoona ramah. Donghae tampak menatap Yoona penuh antisipasi karena ia tahu jika Yoona tidak benar-benar ingin berkenalan dengan Yuri, tapi mungkin ingin menghancurkan Yuri.

“Wahhh… aku senang mengenal salah satu teman Donghae oppa, aku Kwon Yuri, ah.. tapi sekarang mungkin namaku Lee Yuri.”

Yuri terlihat ramah dan begitu polos di mata Yoona, padahal wanita itu sedang berhadapan dengan seorang wanita yang memiliki seribu satu niat busuk di dalam kepalanya untuk menyingkirkan Yuri dari sisi Donghae. Apalagi mendengar wanita itu menyebutkan marga barunya, membuatnya merasa ingin benar-benar menyingkirkan Yuri untuk selamanya dari Donghae karena seharusnya marga itu tersemat di depan namanya, bukan di depan nama Yuri yang notabenenya adalah wanita ingusan yang baru saja mengenal Donghae.

“Nama yang cantik, betapa aku juga sangat menginginkan hal yang sama denganmu.”

“Kau adalah wanita yang cantik, sebentar lagi kau pasti akan segera menyusul kami untuk menikah dan memiliki keluargamu sendiri yang penuh cinta.”

Yuri tampaknya tidak terlalu memahami maksud ucapan Yoona sebenarnya, sehingga ia tidak pernah membayangkan jika apa yang dimaksud oleh wanita berwajah tenang di depannya adalah untuk merebut Donghae dari sisinya. Tapi berbeda dengan Yuri, Donghae sangat tahu apa yang tersirat dibalik kata-kata Yoona yang tenang namun penuh dengan maksud terselubung itu, dan sebelum Yoona berkata lebih jauh mengenai hubungan mereka di masa lalu, ia harus cepat-cepat menjauhkan Yuri dari Yoona.

“Yuri, sepertinya kau harus menyapa paman dan bibimu yang baru saja datang, setelah ini aku akan menyusulmu ke sana.”

Yuri melihat arah telunjuk Donghae yang sedang menunjuk sepasang pria dan wanita setengah baya dengan stelan mahal yang baru saja masuk ke dalam ball romm. Wanita yang ditunjuk Donghae tampak tersenyum pada Yuri sambil melambai lembut pada keponakannya yang sedang berbahagia.

“Yoona maafkan aku, sepertinya aku harus menemui paman dan bibiku yang baru saja tiba dari Kanada, apa kau tak keberatan jika aku pergi sekarang?”

“Oh tentu, aku sama sekali tidak keberatan, kau harus segera menemui paman dan bibimu serta memberikan pelukan selamat datang pada mereka karena mereka telah tiba dengan selamat di Korea. Dan mengenai pernikahanmu, aku turut bahagia, semoga kehidupan rumah tanggamu berjalan lancar.” Ucap Yoona terdengar tulus. Yuri menganggukan kepalanya penuh terimakasih dan segera pergi meninggalkan Donghae dan Yoona yang masih bertahan dengan sinyal-sinyal kebencian di kepala mereka.

“Yuri adalah wanita yang polos dan ceria, terlihat seperti bukan tipemu.”

Donghae menatap Yoona penuh permusuhan dan jelas tidak suka dengan sikap terang-terangan Yoona yang ingin merusak kebahagiaannya dengan Yuri.

“Jangan pernah mengganggu Yuri atau kehidupan rumah tanggaku, karena kupastikan kau akan sangat menyesal jika melakukannya. Aku tidak akan tinggal diam dengan segala kelicikan yang sedang kau pikirkan saat ini.” Ancam Donghae dengan suara rendah. Yoona tersenyum simpul sambil mendorong bahu Donghae yang sedikit condong padanya. Ia tidak mau terlihat sedang menggoda suami wanita lain di hari pernikahannya, atau lebih tepatnya belum.

“Apa kau takut dengan kedatanganku ke Korea? Huh, kupikir kau adalah pria tangguh yang penuh keberanian untuk memperjuangkan cintamu, tapi nyatanya kau langsung goyah hanya dengan satu godaan, jadi kita lihat saja apakah kau bisa menghalangiku untuk menghancurkan rumah tanggamu yang penuh tipuan itu?”

“Kau tidak harus menyeret Yuri ke dalam masa lalu kita karena semuanya telah berakhir. Keputusanmu saat itu untuk meninggalkanku ke Amerika sudah kuanggap sebagai keputusan untuk berpisah, jadi jangan pernah berharap untuk kembali padaku untuk melanjutkan kisah cinta yang sudah lama kandas ditelan waktu.”

Yoona mengepalkan tangannya marah di belakang tubuhnya. Pria yang saat ini sedang berdiri di depannya bukan lagi pria penuh cinta yang dikenalnya dulu. Pria itu saat ini telah berubah menjadi orang lain yang jelas-jelas sudah menolak kehadirannya. Pria itu telah melupakan masa lalu mereka dan segala cerita manis yang pernah mereka buat dulu.

“Jadi kau menyalahkanku atas berakhirnya hubungan kita yang tidak jelas ini? Bukankah aku sudah mengatakannya padamu jika aku  ingin fokus pada pendidikanku selama di Amerika, kenapa kau tega menyakitiku? Kau membuatku kecewa dengan keputusanmu? Dan diantara kita belum ada kata putus sekalipun, jadi kau masih tetap milikku.”

“Huh, bagiku kepergianmu ke Amerika adalah tanda bagi berakhirnya hubungan kita. Apa kau ingat jika aku pernah mengatakan padamu jika aku tidak bisa menjalin hubungan jarak jauh dengan wanita manapun, jadi jangan pernah berharap untuk kembali lagi padaku setelah apa yang telah kau lakukan selama ini.”

Donghae memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya sebelum ia berjalan pergi meninggalkan Yoona dengan berbagai macam kebencian yang bersarang di hatinya.

“Ini belum berakhir Lee Donghae, aku akan membuatmu mencintaiku lagi, bahkan bertekuk lutut untukku.” Geram Yoona penuh janji sambil menatap punggung tegap Donghae yang telah menjauh.

-00-

Yoona menatap kosong pada jalanan basah di luar hotel tempat ia menginap. Seorang pelayan dengan seragam hitam putih datang menghampirinya sambil membawa secangkir coklat panas yang tercium begitu harum di indera penciumannya. Yoona kemudian mengucapkan terimakasih pada sang pelayan sambil menyunggingkan senyum manisnya yang akhir-akhir ini jarang ia tunjukan pada siapapun.

“Terimakasih.”

Setelah pelayan itu pergi Yoona kembali memandang kosong pada pemandangan di luar hotel yang tampak lembab dengan titik-titik air hujan yang masih turun membasahi bumi. Sejenak Yoona berpikir jika suasana di laur sangatlah pas untuk berbagi kehangatan dan saling memeluk satu sama lain di atas ranjang.

Lee Donghae….

            Satu nama itu terlintas di benaknya dengan berbagai macam spekulasi yang bersarang di dalam kepala cantiknya. Sore ini hujan turun membasahi Seoul, dan sore ini acara pernikahan Yuri dan Donghae telah selesai dilaksanakan. Yoona tiba-tiba merasa ngeri dengan pikirannya yang membayangkan Donghae dan Yuri sedang melakukan malam pertama mereka dengan intim di tengah suasana gerimis yang sangat pas di luar sana. Cepat-cepat Yoona meraih ponsel putihnya yang tergeletak di atas meja untuk menghubungi seseorang. Ia tidak mau apa yang ia bayangkan menjadi kenyataan. Ia belum siap untuk memberikan Donghae pada siapapun. Ia harus melakukan sesuatu.

“Halo, apa kau sudah melakukan apa yang sudah kuperintahkan?”

“…………”

“Bagus. Jangan biarkan wanita itu pergi kemanapun, alihkan perhatiannya dan buat ia sibuk, aku akan mengurus sisanya.” Ucap Yoona puas dengan senyum kemenangan. Saat ini anak buahnya sedang mengurus Yuri yang sedang melakukan paket treatmen yang telah ia siapkan untuk menjauhkan Yuri dari Donghae. Dan sekarang adalah saat yang tepat untuk menyeret Donghae ke dalam jebakannya.

“Setelah ia rileks, berikan ia obat tidur dengan dosis tinggi, buat ia terus tidur hingga esok hari.”

“Baik nona, akan saya lakukan.”

Setelah sambungan terputus, Yoona segera memasukan ponsel putihnya ke dalam clutch bagnya dan segera pergi menuju president suit room yang berada di lantai teratas hotel yang sedang ia tempati. Ia akan menemui kekasihnya.

“I’m coming for you Lee Donghae….”

-00-

Yuri terlihat begitu rileks dengan paket treatmen yang disediakan pihak hotel untuknya. Ia pikir melakukan treatmen sebelum melakukan malam pertama yang menegangkan sangat bagus untuk mengurangi rasa gugupnya. Lagipula ia juga berencana untuk memberikan Donghae kejutan setelah pria itu kembali dari urusan kantornya yang entah apa. Malam ini ia ingin membuat Donghae terkesan padanya dan membuat pria itu tidak akan pernah melupakan malam pertama mereka yang menakjubkan.

“Nona bisakah kau pijat bagian pundakku, sepertinya daerah itu sedikit pegal.”

“Tentu nyonya, tapi agar anda merasa lebih rileks ada baiknya anda meminum teh herbal hasil racikan kami. Teh ini akan meningkatkan perasaan rileks dan membuat aura positif anda lebih terpancar.”

“Benarkah?”

Yuri segera bangkit dan menerima secangkir teh yang masih mengepulkan asap tipis di atasnya. Teh itu terlihat begitu menggiurkan dan terasa begitu menenangkan ketika ia menghirup aromanya. Tanpa pikir panjang Yuri segera menyeruput teh itu dan langsung menghabiskannya hingga tandas ketika ia merasakan betapa nikmatnya teh itu di dalam mulutnya.

“Hahhh, aku merasa lebih segar setelah meminum teh itu. Apa kita bisa melanjutkan sesi treatmen kita? Hoaamm..” Tanya Yuri sambil menguap. Pelayan wanita itu mempersilahkan Yuri untuk kembali berbaring di atas ranjang sebelum ia kembali memijit tubuh Yuri dengan minyak aroma terapi.

“Tenanglah nyonya, dan nikmati setiap ketenangan yang merayapi pikiran anda.”

Yuri pun mulai memejamkan matanya perlahan setelah ia merasa kedua matanya sudah tidak kuat lagi untuk terjaga. Dan pada akhirnya Yuri benar-benar jatuh tertidur dengan wajah damai yang terlihat rileks.

-00-

Donghae memasuki kamarnya dalam diam setelah ia menekan beberapa angka kombinasi yang terpasang di pintu kamarnya. Baru saja ia mendapatkan panggilan dari sekretarisnya jika proyek mereka sedikit menuai masalah dan sang sekretaris membutuhkan kehadirannya untuk menentukan keputusan apa yang akan diambil pihaknya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Setelah selama satu jam ia berkutat dengan sekretarisnya dan jajaran direksi yang lain, akhirnya ia menemukan titik terang untuk perusahaanya. Tapi ia sekarang merasa bersalah pada Yuri karena telah meninggalkan wanita itu terlalu lama. Apalagi hari ini adalah hari pernikahan mereka, seharusnya ia tidak membiarkan Yuri kesepian di dalam kamar hotel mewah mereka yang besar sambil menunggunya pulang dari kantor. Tapi mau bagaimana lagi, masalah kantornya begitu mendadak dan menuntutnya untuk segera turun tangan.

“Yuri…”

Donghae memanggil nama Yuri sedikit keras ketika ia mendapati kamarnya begitu sunyi dan senyap. Ia kemudian masuk ke dalam kamar pengantinnya dan tidak mendapati Yuri di sana. Padahal satu jam yang lalu wanita itu mengatakan akan menunggunya di kamar hingga ia kembali. Donghae pun memutuskan untuk menghubungi Yuri, tapi sayangnya wanita itu meninggalkan ponselnya di atas nakas ranjang.

“Kemana perginya wanita itu?” Gumam Donghae pada dirinya sendiri.

Tok tok tok

Ditengah-tengah pikirannya yang kalut mencari Yuri, tiba-tiba ia mendengar suara pintu kamarnya yang diketuk cukup keras. Tanpa pikir panjang Donghae segera membukakan pintu kamarnya untuk seseorang yang ia pikir adalah Yuri.

“Yuri, darimana saja…”

“Selamat sore Lee Donghae ssi.”

Donghae mematung di tempat dengan kehadiran Yoona di depan kamarnya. Pria itu langsung mengubah eksperesi wajah sumringahnya menjadi ekspresi wajah dingin yang tidak bersahabat.

“Untuk apa kau datang ke sini, kurasa kau tidak memiliki keperluan apapun denganku atau Yuri?”

Yoona menyunggingkan senyum tipisnya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Aku memang tidak memiliki urusan dengan Yuri, tapi aku memiliki urusan denganmu. Apa aku boleh masuk ke dalam?” Tanya Yoona sopan namun tersirat nada menjengkelkan di dalam suaranya. Mendengar hal itu Donghae tetap bergeming di tempatnya dan ia sepertinya tidak mengijinkan Yoona untuk masuk ke dalam kamarnya dan Yuri.

“Seorang pria yang sudah menikah tidak pantas membiarkan wanita yang bukan keluarganya untuk masuk ke dalam kamarnya, jadi kau tidak bisa masuk ke dalam kamarku Im Yoona.”

“Ya Tuhan, itu sangat menohok sekali. Apa kau takut pada isterimu? Kau takut isterimu tahu jika aku adalah kekasihmu dan wanita yang pernah mengisi hatimu dulu, hm?” Tanya Yoona menantang. Lee Donghae menggeram kesal dengan sikap Yoona yang semakin berani. Padahal jelas-jelas ia sudah mengusir wanita itu secara halus, tapi sikap keras kepalanya yang menyebalkan itu membuatnya terpaksa harus bersikap kasar untuk mengusir wanita masa lalunya.

“Takut? Aku sama sekali tidak takut, bahkan aku berencana untuk menceritakan semua masa laluku padanya malam ini, jadi lebih baik kau pergi karena hari ini adalah malam pertama kami.”

Setelah mengucapkan hal itu Donghae hendak menutup pintu kamarnya agar terhindar dari Yoona, namun dengan sigap wanita itu menyelipkan kakinya diantara celah pintu yang hampir menutup.

“Kalau begitu berikan aku kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan kita. Sebotol wine dan sedikit percakapan kurasa sudah cukup.” Bujuk Yoona gigih. Donghae tampak berpikir sejenak untuk menerima tawaran Yoona. Wanita yang sedang berdiri di hadapannya saat ini bukanlah wanita yang sama dengan wanita cantik yang dulu pernah dicintainya. Wanita yang saat ini sedang berdiri memohon padanya adalah wanita licik dengan seribu topeng yang hendak menghancurkan rumah tangganya yang baru saja ia bangun.

“Hanya sebentar dan kau harus segera pergi sebelum Yuri datang.”

Donghae pun membukakan pintu kamarnya untuk Yoona dan mempersilahkan Yoona duduk di atas sofa ruang tamunya.

“Kau akan berdiri seperti itu?” Tanya Yoona sangsi ketika ia melihat Donghae yang tidak mau duduk di sebelahnya, dan justru menghindarinya seperti sebuah wabah.

“Bicaralah, jangan pedulikan aku.”

“Hmm baiklah, aku…”

Tok tok tok

Yoona menghentikan kalimatnya di udara ketika ia mendengar suara ketukan pintu yang cukup nyaring dari luar.

“Sepertinya minuman pesananku sudah datang, apa kau ingin membukakan pintu agar pelayan itu dapat meletakan minuman kita di dalam kamar?”

Donghae mendengus kesal dengan sikap Yoona yang terkesan bertele-tele dan mengulur-ulur waktu. Padahal waktunya tidak banyak dan ia harus segera mencari Yuri yang tiba-tiba menghilang dari kamarnya.

“Maaf mengganggu waktu anda, saya mengantarkan pesanan minuman atas nama nona Yoona.”

“Ya masuklah, dia di dalam.” Ucap Dongahe dingin. Pelayan itu menganggukan kepalanya pelan dan segera mendorong trolinya ke dalam kamar Donghae dengan sebotol anggur merah dan sebucket es batu yang terlihat menguarkan asap dingin di atasnya.

“Letakan saja di sini, dan ini tip untukmu.”

Yoona menyelipkan beberapa lembar won pada pelayan itu sambil tersenyum manis penuh makna. Setelah itu si pelayan laki-laki itu segera pergi dari kamar Donghae dengan sebuah senyum yang ia sunggingkan pada Donghae yang sedang menatapnya dengan penuh kecurigaan.

“Selamat sore tuan, selamat beristirahat.”

Donghae mendengus kesal pada pelayan aneh itu dan segera menghempaskan pintu kamarnya dengan kasar. Ia tahu saat ini Yoona pasti sedang memiliki rencana jahat di dalam kepalanya. Tapi sayangnya ia tidak memiliki bukti untuk memperkuat dugaan itu, sehingga ia tidak bisa mengusir Yoona dengan cepat dari kamarnya, dan hanya menunggu wanita itu untuk keluar dengan sendirinya nanti.

“Jadi kita bisa bicara sekarang?”

Yoona menuangkan cairan wine ke dalam gelas tinggi dan memberikannya pada Donghae. Sebelum menerima minuman itu dari Yoona, Donghae sempat merasa ragu dan ingin menolaknya. Tapi pada akhirnya ia memilih untuk menerimanya agar Yoona tidak bertingkah semakin menyebalkan di depannya.

“Sekarang bicaralah, aku akan mendengarkannya.”

“Kalau begitu apa yang ingin kau dengar dariku?” Tanya Yoona tenang. Wanita itu menyesap sedikit winenya sambil menyilangkan salah satu kakinya dengan angkuh.

“Apapun yang ingin kau ceritakan padaku, aku akan mendengarkannya.”

“Baiklah, aku akan mulai dengan perasaanku yang hancur setelah melihat kartu undangan pernikahanmu yang kutemukan di atas meja kerja ayahku, padahal sebelum aku kembali, aku selalu membayangkan wajahmu dan membayangkan masa depan kita yang indah dengan banyak anak di sekeliling kita. Dan sebenarnya aku berencana untuk memberimu kejutan atas kepulanganku satu minggu yang lalu, tapi aku sendiri yang justru dikejutkan dengan berita pernikahanmu. Kenapa kau tega menyakitiku Donghae oppa?” Tanya Yoona lemah. Donghae menatap Yoona datar tanpa memberikan komentar apapun. Ia tahu jika saat ini Yoona sedang berakting di depannya. Tapi ia sadar jika apa yang dikatakan oleh Yoona adalah hal yang benar-benar dialami oleh wanita itu. Dan Donghae dapat melihat adanya sorot kesakitan itu dari mata bulatnya.

“Kupikir hubungan kita sudah berakhir sejak tiga tahun yang lalu saat kau memutuskan meninggalkanku demi ambisimu untuk menjadi seorang pebisnis yang sukses di Amerika. Jadi jangan salahkan aku jika aku memutuskan untuk menikah dengan wanita lain dan tidak memikirkanmu karena namamu sudah lama terhapus dari hatiku.”

Yoona menatap manik mata Donghae penuh kebencian sambil menyesap winenya lagi. Apa yang dikatakan pria itu padanya benar-benar menyakitinya. Dengan kejamnya pria itu mengatakan jika namanya sudah lama terhapus dari hatinya. Padahal selama ini ia selalu memikirkan Donghae dan segala impiannya yang ingin diwujudkannya bersama pria itu.

“Begitukah? Kurasa kau memang egois. Selama ini aku tidak pernah melarangmu untuk melakukan semua kegiatan yang kau suka, lalu saat aku memintamu untuk sebentar saja menungguku, kau langsung berpaling begitu saja dengan mudah. Kenapa semua pria selalu egois dan hanya memikirkan kebahagiaanya sendiri?” Ucap Yoona nanar. Donghae memandang Yoona dalam diam dan tampak tak berminat untuk berkomentar. Pria itu lebih memilih untuk menyesap winenya dan pada akhirnya ia menegak wine itu langsung dalam sekali tegukan.

“Apa kau mencintai Yuri?”

Suasana diantara mereka tiba-tiba berubah mencekam ketika Yoona mulai melontarkan pertanyaan seputar perasaan pria itu pada isterinya. Namun sebenarnya dalam hati Yoona masih menyimpan sebuah keyakinan jika Donghae sama sekali tidak mencintai isterinya, ia yakin jika kekasihnya itu masih mencintainya. Hanya saja mungkin Donghae sedang mencoba untuk mengubur cinta itu dalam-dalam di hatinya.

“Aku mencintainya.”

Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Donghae memilih untuk buka suara terkait perasaanya pada Yuri. Lagipula mereka sudah resmi menikah di hadapan Tuhan. Ia yakin perasaan itu akan segera tumbuh seiring berjalannya waktu, meskipun saat ini perasaan itu belum muncul. Dan ia sekarang sedikit takut jika perasaan itu nantinya tidak akan muncul pada Yuri karena kehadiran Yoona yang merusak segalanya. Segala rencana manis yang telah ia siapkan semenjak ia memutuskan untuk meninggalkan masa lalu dan melangkah ke depan bersama Yuri.

“Huh, kurasa kau mengucapkannya dengan sedikit tidak berperasaan. Kau terlalu datar ketika mengucapkannya. Berbeda ketika dulu kau menyatakannya padaku di sebuah bukit berbintang yang….”

“Cukup!” Sela Donghae tiba-tiba sambil mendorong tubuh Yoona ke belakang hingga membentur sandaran sofa putih yang sedang didudukinya. Yoona menatap manik mata Donghae dalam-dalam sambil menyunggingkan senyum separuhnya yang sinis. Ia tahu jika kata-katanya telah mengusik Donghae dan berhasil memprovokasi pria itu.

“Dulu dan sekarang tidaklah sama. Dulu aku memang menyatakan perasaanku dengan suasana yang romantis dan penuh dengan cinta. Tapi apa kau tidak lihat, sekarang Yuri justru mendapatkan yang lebih baik darimu, karena aku menyatakan semua perasaanku di depan Tuhan dan di depan seluruh keluargaku. Jadi kau jangan terlalu percaya diri dengan perasaanku padamu, karena kenyataanya apa yang kau dapat dulu tidak lebih baik dari apa yang didapatkan Yuri. Bahkan saat itu keluargamu atau keluargaku tidak ada yang mengetahui hubungan kita. Kau tak ubahnya seperti wanita simpanan untukku Im Yoona.”

Plakk

Yoona menampar pipi Donghae keras-keras sambil menahan air matanya yang hendak menggenang di pelupuk matanya. Tapi ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Donghae. Apalagi pria itu baru saja menghinanya dan mengatakannya sebagai wanita simpanan. Dulu ia memang tidak ingin memberitahukan hubungannya pada keluarganya karena ia tidak ingin ayahnya kecewa. Sejak dulu ia hanya ingin membuktikan pada ayahnya jika ia adalah anak yang pintar dan bisa diandalkan, oleh karena itu ia sudah bertekad untuk tidak menjalin hubungan dengan pria manapun hingga ia lulus dari senior high school. Tapi sayangnya saat itu ia terpikat pada seniornya yang tampan dan merupakan cassanova di sekolahnya. Dan perasaan itu semakin tidak bisa ia abaikan setelah Donghae juga menyatakan perasaanya di sebuah bukit berbintang yang indah.

“Jangan pernah menghinaku seperti itu karena kau adalah pria brengsek yang telah membuatku menjadi seperti ini. Kau yang membuatku terjerat ke dalam pesonamu dan membuatku melanggar seluruh mpphhhfff……”

Tiba-tiba Donghae mencium bibir Yoona dan menekan tengkuk Yoona dengan kuat. Pria itu melumat bibir Yoona rakus hingga Yoona merasa kalap untuk mengimbangi permainan bibir pria itu yang sangat ahli.

“Apa yang telah kau masukan ke dalam minumanku Im Yoona?” Tanya Donghae dengan suara tertahan. Terlihat jelas jika Donghae sedang menahan gairahnya yang benar-benar tak bisa ia kendalikan. Sedangkan Yoona justru semakin memperparah siksaan gairah Donghae dengan memainkan jari-jari lentiknya di atas dada Donghae yang bidang.

“Ternyata kau cukup cepat untuk menyadarinya jika aku telah memasukan obat perangsang di dalam minumanmu. Dan aku telah memasukan obat itu dalam dosis tinggi, malam ini kau jelas tidak akan bisa tidur jika kau tidak menyalurkannya. Ahh.. tapi sayangnya isterimu sedang tidak ada di sini untuk melayanimu, jadi bagaimana jika kita sedikit bermain-main malam ini, hmm?”

Yoona mendekap kepala Donghae dan menghembuskan nafasnya di atas telinga Donghae yang telah berubah menjadi sangat sensitif. Pria itu menggeram kesal dengan rencana Yoona yang tidak ia sadari. Seharusnya sejak awal ia mengusir Yoona dan tidak sedikitpun memberikan Yoona kesempatan untuk masuk ke dalam kamarnya. Sekarang ia benar-benar merasa tersiksa dengan tubuhnya yang tiba-tiba berubah menjadi sangat sensitif. Bahkan helaan nafas Yoona yang jatuh di atas telinganya berhasil membut dirinya semakin terangsang dan tidak bisa menahan diri. Dan sekarang satu-satunya wanita yang bisa menolongnya adalah Yoona. Jika ia menunggu Yuri datang, ia tidak yakin ia bisa menahan semua siksaan itu lebih lama lagi. Apalagi pandangannya kini sudah semakin kabur karena dipenuhi kabut gairah yang hampir membutakan matanya. Mau tidak mau ia harus melakukannya dengan Yoona.

“Sialan! Kau sengaja menjebakku agar hubunganku dengan Yuri hancur, kau memang licik Yoong! Kau wanita murahan.”

“Uhumm… katakan saja apapun sesukamu, tapi satu-satunya wanita yang bisa menolongmu sekarang adalah aku, jadi lebih baik bersikap baiklah padaku, atau kau akan menyesal karena telah menyia-nyiakan kehadiranku di sini.”

Yoona mengakhiri kalimatnya sambil meniupkan hembusan-hembusan udara panas yang semakin membakar tubuh Donghae. Pria itu akhirnya mendorong tubuh Yoona semakin berbaring di atas sofa dan menindih tubuh itu dengan penuh kuasa. Persetan dengan statusnya yang telah resmi menjadi suami wanita lain, yang jelas ia harus segera menyalurkan hasrat itu sekarang, sebelum ia semakin tersiksa dengan semua kelicikan Yoona.

“Datanglah padaku oppa, dan aku tidak akan menolakmu.” Bisik Yoona parau di telinga Donghe sebelum Donghae melumat bibir merah itu dengan brutal dan tenggelam dalam pusaran gairah yang diciptakan oleh Yoona.

-00-

Keesokan harinya Yuri terduduk di atas ranjang spa dengan kepala yang berdenyut dan juga mata yang berputar-putar. Wanita itu mencoba menfokuskan pandangannya pada suasana disekitarnya yang sepi. Ia kemudian mencoba turun dari atas ranjangnya sambil mencari pelayan wanita yang kemarin memberikan servis treatmen kepadanya.

“Jam berapa ini, kenapa tidak ada yang membangunkanku?”

Yuri bergumam panik pada dirinya sambil mengamati jam dinding yang menunjukan angka delapan. Dengan panik ia segera menggunakan sandalnya dan bergegas pergi dari ruang spa tanpa mempedulikan pelayan hotel yang mungkin akan mencarinya. Lagipula ia juga merasa kesal pada petugas spa itu yang tidak membangunkannya dan justru membiarkannya terlelap hingga pagi hari. Padahal kemarin adalah malam pertama yang seharusnya ia habiskan bersama Donghae. Tapi karena ia terlalu asik dengan treatamen spa spesial yang disediakan oleh pihak hotel ia justru melewatkan malam indah itu dengan sia-sia.

“Ck, lama sekali liftnya.” Gumam Yuri gusar. Wanita itu menunggu lift turun sambil mengetuk-etukan ujung sandalnya pada lantai marmer yang berada di bawahnya. Terlihat monitor lift sedang berhenti di lantai tujuh, lantai dimana kamarnya berada. Ia pun mencoba untuk lebih bersabar dengan mensugesti dirinya sendiri jika Donghae tidak akan marah karena kepergiannya yang tiba-tiba semalam dan tidak kembali hingga keesokan harinya.

Ting

Yuri mendesah lega ketika akhirnya lift itu telah berhenti tepat di lantai satu. Lalu tak berapa lama pintu lift itu terbuka dan menampilkan sosok Yoona yang terlihat sudah rapi dengan kemeja formal dan juga rok pendek selutut.

“Im Yoona.. kau Im Yoona bukan?” Tanya Yuri antusias dengan wajah sumringah. Yoona tersenyum tipis pada Yuri dan memberikan jalan untuk Yuri agar dapat masuk ke dalam lift.

“Senang bertemu lagi denganmu Lee Yuri.”

“Kau juga menginap di hotel ini, kupikir kau tinggal di Seoul.”

“Aku memang tinggal di Seoul, tapi semalam aku memiliki urusan penting di sini, sehingga aku memutuskan untuk menginap. Maaf tapi aku harus segera pergi, sampai jumpa di lain waktu, semoga harimu menyenangkan.”

Yuri melambaikan tangan pada Yoona ramah sebelum Yoona benar-benar pergi meninggalkannya. Melihat Yoona, ia merasa iri dengan kesempurnaan yang dipancarkan oleh Yoona. Betapa ia sangat ingin memiliki pribadi yang menarik seperti Yoona agar banyak pria yang menyukainya. Tapi cepat-cepat pikiran itu ditepisnya karena ia harus segera pergi untuk menemui suaminya yang mungkin saat ini sedang menunggunya dengan khawatir di kamar mereka.

-00-

Donghae membuka matanya perlahan karena cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jedela kamarnya yang terbuka lebar. Di liriknya sebelah ranjangnya yang telah kosong dan rapi, padahal satu jam yang lalu ia masih merasakan kehadiran Yoona di sana, bahkan ia sempat memeluk wanita itu erat sebelum ia kembali memejamkan matanya karena lelah.

Dengan langkah berat, Donghae mulai bangkit dari ranjangnya untuk mencuci muka dan membersihkan diri di kamar mandi. Rasanya semalam ia begitu menikmati permainan panasnya dengan Yoona, meskipun semua itu memang di bawah pengaruh obat perangsang yang dimasukan Yoona ke dalam minumannya, tapi ia merasa tidak seperti itu. Ia merasa menikmatinya dan ia masih mengingatnya dengan jelas hingga sekarang, bagaimana lembutnya kulit Yoona atau bagaimana desahan nikmat wanita itu yang mengalun merdu di telinganya. Tapi ia tidak boleh membiarkan hal itu terus bersarang di dalam otaknya karena apa yang ia lakukan dengan Yoona semalam hanyalah kegiatan bersenang-senang yang tidak memiliki makna apapun. Ia tidak boleh membiarkan Yoona menang dan menguasi pikirannya yang selama ini memang selalu dipenuhi oleh bayangan wanita itu. Yang harus ia tanamkan saat ini di dalam kepalanya adalah wajah Yuri dan sebuah fakta jika ia telah menjadi suami dari wanita yang bernama Kwon Yuri.

Cklek

Donghae menoleh cepat pada pintu utama yang tiba-tiba dibuka oleh seseorang. Ia pun segera berjalan cepat menuju pintu depan untuk melihat siapa lagi yang telah masuk ke dalam kamarnya, karena sejak kedatangan Yoona semalam, ia merasa sedikit paranoid dengan siapapun yang berusaha masuk ke dalama kamarnya.

“Yuri, kau darimana saja?”

Donghae menghampiri Yuri dan memeluk wanita itu erat. Yuri meneguk ludahnya gugup sambil membalas pelukan Donghae yang begitu erat di punggungnya.

“Oppa maafkan aku, aku membuatmu khawatir.” Ucap Yuri merasa bersalah. Donghae melepaskan pelukannya pada Yuri dan mengamati tubuh Yuri lekat-lekat dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memastikan jika wanita yang saat ini telah berstatus sebagai isterinya itu dalam keadaan yang baik-baik saja.

“Tidak apa-apa, yang penting kau kembali dalam keadaan baik-baik saja. Tapi kemana saja kau semalam, aku mencarimu kemana-mana dan mengkhawatirkan keadaanmu sepanjang malam.”

“Aku… aku semalam tertidur di ruang spa, sepertinya aku sangat lelah hingga aku tertidur dengan pulas di sana ketika petugas spa memberiku treatmen yang sangat menyenangkan dan juga nyaman. Sekali lagi aku minta maaf oppa, aku janji tidak akan melakukannya lagi.”

Donghae tampak berpikir sejenak ketika mendengar semua cerita yang dipaparkan oleh Yuri padanya. Dan dari semua cerita itu ia langsung menarik kesimpulan jika apa yang terjadi padanya kemarin adalah serangkaian rencana licik yang sedang dijalankan oleh Yoona. Wanita itu pasti telah melakukan sesuatu untuk membuat Yuri menghilang semalam, sehingga ia dapat mendekatinya yang sedang dibutakan oleh kabut gairah.

Mulai sekarang ia harus selalu berhati-hati dengan sikap Yoona karena wanita itu jelas-jelas sedang mencoba untuk mendapatkan hatinya kembali, meskipun tak dapat dipungkiri jika separuh hatinya saat ini masih dimiliki oleh Yoona. Tapi ia sudah memutuskan untuk menikah dengan Yuri dan meninggalkan masa lalunya yang menyakitkan dengan Yoona. Jadi apapun yang terjadi ia tidak boleh goyah dan masuk ke dalam perangkap yang telah dibuat oleh Yoona.

“Oppa, apa kau baik-baik saja?”

“Ya aku baik-baik saja, lebih baik kau segera bersiap karena hari ini kita akan pulang ke rumah.”

Yuri tampak kecewa dengan keputusan Donghae yang akan membawanya ke rumah. Padahal hari ini ia ingin menghabiskan waktu bersama Donghae karena semalam ia gagal mendapatkannya. Tapi pada akhirnya ia memilih pasrah dan mengikuti semua perintah Donghae, karena tak ada gunanya juga ia menolak jika Donghae sudah memutuskan kehendaknya.

-00-

Sejak malam panas bersama Yoona, Donghae semakin tidak bisa melupakan wajah Yoona dari kepalanya. Bahkan hingga dua bulan lamanya ia belum menyentuh Yuri karena ia tidak bisa merasakan apapun ketika bersama Yuri. Tubuhnya justru selalu mendambakan Yoona dan hanya menginginkan Yoona. Tapi selama itu ia juga terus memberikan pengawasan ekstra ketat pada Yuri karena ia takut Yoona akan mencelakai Yuri karena wanita itu belum berhasil mendapatkannya. Meskipun Yoona beberapa kali mengancam akan memberikan video panas mereka pada Yuri, namun Donghae selalu berhasil menggagalkan niat busuk Yoona untuk menghancurkan rumah tangganya. Seperti yang dilakukan Yoona dua hari yang lalu. Wanita itu dengan nekat mendatangi Yuri di butiknya untuk mendekati Yuri dan mengatakan pada Yuri apa yang sebenarnya terjadi pada saat malam pengantin mereka. Tapi saat itu Donghae berhasil membuat Yuri pergi sebelum Yoona datang ke butiknya, sehingga Yoona tidak bisa bertemu dengan Yuri dan membeberkan semua rahasia panas mereka.

Tok tok tok

Lamunan Donghae seketika buyar ketika ia mendengar suara pintu yang diketuk cukup keras dari luar. Donghae pun segera mempersilahkan sang pengetuk untuk masuk ke dalam ruangannya.

“Ya silahkan masuk.” Ucap Donghae tanpa melihat tamunya yang masuk ke dalam ruangannya. Setelah beberapa saat barulah Donghae mendongakan kepalanya untuk melihat sang pengetuk yang sejak tadi tidak mengatakan sepatah katapun.

“Selamat siang tuan Lee.” Sapa Yoona ramah yang terkesan dibuat-buat. Donghae menghembuskan nafasnya gusar dan tampak tak mau repot-repot untuk mempersilahkan Yoona duduk. Tapi Yoona dengan sendirinya justru mendaratkan tubuhnya di atas kursi empuk yang berada di depan meja kerjanya.

“Mau apa kau datang ke kantorku? Apa kau ingin mengacaukan hidupku lagi dan mengusik Yuri?” Tanya Donghae sakarstik. Yoona tersenyum manis sambil melipat tangannya di atas meja. Ternyata pria tampan yang ada di depannya itu cukup pintar untuk membaca niat hatinya yang memang ingin menghancurkan kehidupan rumah tangganya.

“Apa wajahku terlihat sejahat itu? Tapi sepertinya kau memang benar, aku memang datang ke sini untuk mengusikmu.” Jawab Yoona santai dan tanpa dosa. Donghae pun segera bangkit dari kursinya dan ia tiba-tiba menarik tangan Yoona kasar untuk keluar dari ruangannya.

“Lee Donghae, lepaskan tanganmu dari tanganku!” Bentak Yoona tak terima dan langsung menghempaskan tangan kekar itu begitu saja dari pergelangan tangannya.

“Aku saat ini sedang tidak memiliki waktu untuk bermain-main denganmu, jadi lebih baik kau segera pergi dari kantorku!” Usir Donghae kasar dan kembali menyeret Yoona untuk keluar dari ruangannya. Yoona meronta-ronta kesakitan di dalam cekalan tangan Donghae sambil mencoba untuk memukul dada Donghae yang keras.

“Aku bisa keluar sendiri dan kau tidak perlu menyeretku seperti ini!” Bentak Yoona tak mau kalah. Tapi seakan Donghae tuli dengan semua teriakan Yoona, Donghae terus menyeret tangan Yoona dan melemparkan Yoona begitu saja di depan pintu ruangannya. Yoona tersungkur cukup keras di atas lantai sambil meringis nyeri pada lututnya yang langsung menghantam lantai terlebihdahulu. Tapi Donghae benar-benar sudah kehabisan kesabaran untuk menghadapi semua tingkah Yoona, sehingga ia tidak memiliki cara lain selain memberikan perlakuan kasar pada Yoona untuk mengusir wanita itu dari hidupnya.

“Pergi dari kantorku dan jangan pernah coba-coba untuk menampakan dirimu kembali atau aku akan mengambil tindakan keras padamu. Aku akan melenyapkanmu dari dunia ini jika kau terus mencoba untuk menghancurkan hidupku.” Ancam Donghae kasar dan segera membanting pintu ruangannya keras. Yoona yang masih dalam posisi terduduk di atas lantai hanya mampu memberikan tatapan penuh dendam pada pintu kayu yang saat ini sudah tertutup rapat. Meskipun pria itu telah memperlakukannya dengan kasar, ia bersumpah tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Donghae kembali ke dalam pelukannya.

-00-

Yuri menatap semua masakan yang telah ia tata di atas meja dengan perasaan puas. Sore ini ia telah berencana untuk memasakan hidangan spesial untuk Donghae agar mereka dapat menhabiskan malam ini dengan saling berbicara satu sama lain terkait sikap Donghae yang selama dua bulan ini terasa aneh. Sebagai seorang wanita ia merasa jika Donghae sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Bahkan ia merasa aneh dengan sikap Donghae yang selama ini tidak mau berhubungan suami isteri dengannya dan hanya memeluknya dengan erat sepanjang malam. Pernah suatu hari ia berusaha untuk menanyakan hal itu pada Donghae, tapi pria itu justru mengatakan jika ia sedang lelah sehingga ia tidak berminat untuk melakukan hal itu bersamanya. Tapi kejadian itu sudah lama berlalu, tapi hingga saat ini pun Donghae seperti masih enggan untuk melakukan kewajibannya sebagai suami. Pria itu sama sekali tidak pernah menyentuhnya dan pasti akan langsung tidur ketika ia pulang dari kantor larut malam.

Samar-sama Yuri mendengar suara deru mesin mobil yang cukup berisik dari garasi di samping rumahnya. Yuri pun bergegas untuk menyambut suaminya yang saat ini sedang berjalan masuk ke dalam rumahnya.

“Oppa, akhirnya kau pulang juga. Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu.”

Donghae tersenyum manis pada Yuri dan mengelus puncak kepala wanita itu pelan.

“Terimakasih, aku akan langsung makan sekarang.” Ucap Donghae sambil melepaskan jas hitam yang dikenakannya. Yuri mengambil alih jas itu dan segera melatakannya di kamar mereka sementara Dongahe mencuci tangan di dapur.

“Oppa tunggulah di ruang makan, aku akan meletakan jas ini di kamar.”

Donghae menganggukan kepalanya dan segera melangkahkan kakinya dengan ringan menuju ruang makan.

Sementara itu Yuri mulai menaiki satu per satu anak tangga yang akan membawanya menuju kamarnya dan Donghae. Hari ini ia merasa tidak sabar untuk makan malam bersama Donghae dan membicarakan semua hal yang selama ini mungkin telah disembunyikan Donghae darinya.

Yuri pun mengibaskan jas hitam Donghae sebentar sebelum menyimpannya di dalam lemari mereka. Namun tiba-tiba ia melihat sesuatu yang terlempar keluar dari dalam saku jas milik Donghae. Benda itu terlempar cukup tinggi ke udara dan jatuh tepat di bawah kakinya. Dengan penasaran Yuri segera memungut benda tersebut dan melihatnya dengan seksama.

“Testpack…”

Yuri bergumam pelan sambil mengamati sebuah testpack yang menunjukan dua garis merah di permukaanya. Tiba-tiba berbagai macam pikiran buruk berkelebatan di dalam kepalanya terkait perilaku aneh Donghae selama ini. Ia takut jika ternyata Donghae telah memiliki wanita lain di luar sana yang lebih berarti darinya.

“Aku harus segera mengklarisifikasinya dengan Donghae oppa.” Ucap Yuri penuh tekad sambil memasukan testpack itu ke dalam saku baju rumahnya. Ia pun bergegas untuk turun ke ruang makan dan berencana akan menanyakan perihal testpack itu setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka, karena ia tidak ingin makan malam yang telah ia rencanakan rusak hanya karena sebuah testpack yang mungkin tidak sengaja berada di dalam saku jas Donghae.

-00-

Yoona mengelus perut datarnya lembut sambil bersandar pada sandaran ranjangnya dengan wajah pucat. Sore ini setelah ia mencium aroma udang rebus di jalan, tiba-tiba ia merasa mual dan ingin menumpahkan seluruh isi perutnya. Tapi sayangnya rasa mual itu tak berhenti begitu saja setelah ia mengeluarkan seluruh isi perutnya, rasa mualnya itu justru semakin bertambah parah hingga ia merasa lemas. Bahkan saat ini perutnya terasa begitu perih karena ia tidak bisa memasukan makanan apapun. Sejak tadi ia sudah mencoba untuk memasukan sepotong biskuit, tapi yang terjadi ia justru kembali muntah di kamar mandi dengan perasaan yang benar-benar tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

“Oh Tuhan… ini sangat menyiksa.” Gumam Yoona lemas pada dirinya sendiri. Namun ia sama sekali tidak membenci kehamilannya, justru ia merasa bahagia karena ia sekarang memiliki sebagian dari diri Donghae di dalam rahimnya.

“Nak tumbuhlah dengan baik di dalam sana, eomma janji, eomma akan selalu memperjuangkanmu dan menjauhkanmu dari orang-orang jahat di luar sana.” Gumam Yoona sungguh-sungguh sambil mengelus perutnya lagi.

Brak brak brak

Seseorang tiba-tiba menggedor pintu apartemen Yoona dengan keras dan membuat Yoona cukup terkejut. Dengan lemas, Yoona mencoba untuk bangkit dan membukakan pintu bagi sang tamu yang tidak punya sopan santun itu.

“Ya… tunggu sebentar.” Ucap Yoona dengan suara parau. Ia pun bergegas membuka kenop pintu apartemennya untuk memarahi siapapun yang telah berani mengganggu waktu istirahatnya.

“Apa maksudmu dengan meletakan benda ini di dalam saku jasku?”

Yoona langsung mendapatkan amukan Donghae ketika pintu apartemennya benar-benar telah terbuka sempurna. Wanita itu meskipun cukup terkejut, namun ia berusaha untuk menyembunyikan ekspresi keterkejutannya dengan bersikap datar dan tenang di hadapan Donghae. Tapi sayangnya hal itu sangat sulit untuk dilakukan di tengah rasa mual yang mendera perutnya dengan dahsyat.

“Tentu saja untuk memberitahumu hal yang sebenarnya.” Ucap Yoona angkuh di hadapan Donghae. Donghae melempar testpack itu keras di depan Yoona hingga terasa seperti sebuah tamparan yang cukup keras di mata Yoona. Rasa sesak yang menyeruak di hatinya akibat perbuatan kasar Donghae membuatnya ingin menangis sekeras-kerasnya sekarang. Apalagi rasa mual yang bergejolak di dalam perutnya semakin membuatnya tidak tahan dan ia segera berlari ke dalam toilet untuk memuntahkan apapun yang masih tersisa di dalam perutnya.

“Yoona berhenti, aku belum selesai berbicara denganmu!”

Donghae mengikuti arah langkah Yoona dan langsung mematung di ambang pintu ketika ia melihat Yoona sedang memuntahkan cairan lambung yang berwarna bening di atas westafel. Setelah memuntahkan semuanya, Yoona langsung merosot di atas lantai dengan kepala yang terkulai di samping tembok.

“Tolong jangan ganggu aku sekarang, aku tidak dalam keadaan yang baik untuk melayani perdebatanmu.” Ucap Yoona lemah. Melihat itu semua hati kecil Donghae langsung berontak dan ingin berbuat sesuatu untuk Yoona. Kilasan kejadian saat ia melemparkan tubuh Yoona di kantor membuatnya merasa bersalah. Padahal saat ini Yoona sedang mengandung anaknya, tapi ia dengan brengseknya berlaku kasar pada seorang ibu hamil. Ia sekarang merasa seperti seorang pria brengsek yang seharusnya diberikan hukuman yang seberat-beratnya oleh Tuhan.

“Ayo, aku akan membantumu.”

Yoona tampak pasrah ketika Donghae mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju kamarnya. Saat ini tenaganya telah terkuras habis karena rasa mual yang menderanya sejak tadi. Sebenarnya ia ingin pergi ke dokter, tapi ia tidak bisa melakukannya sekarang karena ia benar-benar sangat lemah hanya untuk berjalan sekalipun. Tapi jika Donghae bersedia, Yoona sangat ingin meminta tolong pada pria itu untuk membawanya ke rumah sakit.

“Bisakah kau mengantarku ke rumah sakit? Aku harus meminta obat anti mual pada dokter.” Ucap Yoona lirih. Donghae yang merasa iba dengan keadaan Yoona akhirnya memilih untuk sedikit berdamai dengan egonya dan mengantar Yoona ke rumah sakit. Lagipula jika ia membiarkan Yoona tak berdaya seperti ini, hati kecilnya tidak akan pernah tega.

“Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Tapi…”

Yoona mendongakan wajahnya untuk menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan oleh Donghae.

“Tapi jangan terlalu berharap lebih karena aku tidak akan bertindak lebih jauh daripada ini.”

“Ya aku tahu.”

Yoona mengangguk kecil sambil berjalan pelan menuju lemarinya untuk mengambil jaketnya yang berada di dalam sana. Tapi meskipun Donghae tidak akan mengakui bayi itu sebagai anaknya, Yoona tidak akan berhenti berusaha untuk membawa Donghae kembali padanya.

-00-

Yuri termenung sendiri di dalam kamarnya sambil memikirkan ucapan Donghae beberapa jam yang lalu ketika ia meminta penjelasan pada suaminya terkait testpack yang ia temukan di dalam saku jasnya. Saat itu Donghae terlihat cukup terkejut dan tampak akan marah. Namun pria itu langsung menyembunyikan ekspresi wajah marahnya dengan bersikap datar dan mengatakan jika testpack itu milik isteri temannya yang tak sengaja terbawa olehnya karena temannya menunjukan testpack itu padanya. Namun Yuri merasa cukup aneh dengan penjelasan Donghae yang terdengar sedikit tak masuk akal. Ia pikir pria dewasa manapun tidak akan melakukan hal kekanakan seperti itu untuk mengungkapkan rasa bahagiannya karena ia akan memiliki seorang anak. Lagipula Donghae bukanlah tipe pria kekanakan yang akan menanggapi sikap temannya dengan perilaku kekanakan pula. Selama ini Donghae lebih seperti seorang pria dewasa yang tertutup dan penuh teka teki. Bahkan selama dua bulan ini ia menjadi isterinya, ia masih harus meraba-raba bagaimana sikap Donghae yang sebenarnya karena pria itu benar-benar tak tertebak. Tapi sejak awal ia menikah dengan Donghae, ia sudah meyakinkan dirinya sendiri jika ia pasti mampu mencairkan hati Donghae yang beku dan hampir tak tersentuh itu.

“Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan pada Donghae oppa?”

Yuri bergumam frustasi sambil memeluk lututnya kalut. Lalu tiba-tiba ia teringat pada Yoona yang merupakan junior Donghae saat senior high school. Beberapa kali ia sering bertemu Yooan disekitar kantor Donghae pada jam makan siang, dan ia pikir Yoona dapat menjadi kunci untuk menguak masa lalu Donghae yang tak pernah ia ketahui selama ini.

“Besok aku harus menemui Yoona, dia adalah satu-satunya kunci untuk mencari tahu masa lalu Donghae oppa. Ya aku harus melakukannya.” Gumam Yuri semangat sambil mengepalkan tangannya ke udara.

-00-

Yoona terkulai lemah di atas ranjang rumah sakit ketika dokter mulai memeriksa keadaannya. Dokter wanita itu tersenyum manis ke arah Yoona dan menyuruh Yoona untuk bangkit setelah ia selesai memeriksa kondisi Yoona.

“Bagaimana keadaannya dok?”

“Keadaan isteri anda baik, mual-mual dan muntah yang dirasakan nyonya Yoona adalah hal wajar yang terjadi pada ibu hamil di trimester pertama, jadi anda tidak perlu khawatir. Saya akan memberikan vitamin dan obat anti mual pada nyonya Yoona agar ia tidak mengalami morning sickness ataupun perasaan mual lainnya.” Ucap dokter itu sambil menuliskan resep di atas kertas. Donghae memandang Yoona sekilas dengan berbagai macam hal yang berkecamuk di dalam kepalanya. Ia pikir Yoona memang sudah merencanakan kehamilannya sejak awal untuk menarik simpatinya, tapi ia pikir hal itu tidak boleh terjadi karena ia tidak akan memberikan harapan lebih pada Yoona. Anggap saja apa yang ia lakukan hari ini hanyalah karena dorongan hati nuraninya semata, bukan karena hal lain.

“Nah ini resep untuk nyonya Yoona yang harus ditebus di apotek. Setiap bulan nyonya Yoona harus datang ke rumah sakit untuk melakukan cek kandungan agar bayi yang berada di dalam kandungan nyonya Yoona akan terus sehat hingga hari persalinan nanti.”

Yoona mengangguk pelan pada dokter Kim dan segera turun dari atas ranjang rumah sakit yang cukup tinggi. Ketika Donghae menawarkan bantuan untuk membantunya turun, Yoona langsung mengabaikannya dan terlihat acuh pada Donghae.

“Terimakasih dok, saya akan datang kembali bulan depan.” Ucap Yoona lirih dengan senyum kecil yang ia paksakan. Donghae pun melakukan hal yang sama dengan Yoona dan segera berjalan di belakang Yoona untuk keluar dari ruangan dokter Kim.

Selama berjalan di lorong rumah sakit, baik Yoona maupun Donghae saling terdiam satu sama lain tanpa ada satupun diantara mereka yang berniat untuk membuka percakapan. Yoona lebih memilih untuk membungkam bibirnya rapat-rapat karena ia sedang malas untuk berdebat dengan Donghae. Sedangkan Donghae memilih untuk diam karena ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada seorang ibu hamil seperti Yoona. Andai saja Yoona adalah isterinya, mungkin ceritanya akan berbeda. Tapi sayangnya saat ini hubungannya dengan Yoona sedang tidak jelas, dan justru ia sedang berusaha untuk lepas dari belenggu Yoona yang mengganggu. Namun sekarang Yoona justru semakin membelenggunya dengan hadirnya sang buah hati di dalam rahim Yoona. Lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Apakah ia harus menyakiti wanita polos seperti Yuri untuk memperjuangkan hubungannya dengan wanita licik seperti Yoona?

“Pulanglah, aku akan pulang menggunakan taksi.”

Tiba-tiba Yoona berseru pelan sambil menengokan kepalanya sekilas kearah Donghae.

“Apa kau yakin? Jika kau masih merasa lemas dan mual tidak perlu memaksakan diri untuk pulang sendiri, aku akan mengantarmu.”

“Kurasa sekarang sudah lebih baik, aku bisa pulang sendiri. Lagipula Yuri pasti akan menunggumu di rumah.” Ucap Yoona acuh dan segera berjalan pergi meninggalkan Donghae. Tapi tiba-tiba Donghae mencekal pergelangan tangannya dan membuatnya harus menghentikan langkahnya tiba-tiba.

“Tunggu, aku ingin membicarakan mengenai status janin yang berada di dalam kandunganmu.”

“Ya bicaralah, aku akan mendengarkannya tanpa membantah.” Ucap Yoona malas. Lagipula apa yang akan ia harapkan dari Donghae, jelas sekali jika Donghae tidak akan mau menerima bayi itu. Tapi untuk saat ini bukan itu permasalahan yang merisaukannya, tapi rencananya untuk memisahkan Yuri dari Donghae. Dengan keadaanya yang sedang mengandung ia akan menjadi sangat rentan dan tidak bisa bertindak sesuka hatinya seperti dulu. Ia harus selalu berhati-hati dalam melakukan segala hal karena ia tidak ingin mencelakakan buah hatinya.

“Bayi itu, aku akan mengakuinya sebagai anakku selama kau tidak mencoba untuk mengatakannya pada Yuri. Jika kau bersiap baik dan manis, maka aku akan mempertimbangkan untuk menjalankan peranku sebagai ayah dari anak itu.”

“Huh, bahkan aku sama sekali tidak keberatan jika kau tidak mengakuinya sebagai anakmu karena hal itu akan jauh lebih baik daripada aku harus mengorbankan perasaanku untuk melihatmu bahagia bersama Yuri.”

Setelah mengucapkan hal itu Yoona segera pergi meninggalkan Donghae yang sedang menahan kesal dengan sikap keras kepala Yoona. Ia harus tetap mewaspadai pergerakan Yoona, karena meskipun ia sedang mengandung, Yoona tetap akan mejalankan rencana liciknya untuk menghancurkan kehidupan rumah tangganya bersama Yuri. Dan sebisa mungkin ia harus memasang banyak penjaga disekitar Yuri agar Yoona tidak bisa mendekati Yuri dan menghasut Yuri dengan kata-kata manisnya.

-00-

Yuri mengetuk-etukan jarinya dengan bosan di atas meja sambil menunggu seseorang yang telah ditunggunya sejak tadi. Hari ini untuk kesekian kalinya ia kembali membohongi Donghae dengan mengatakan jika ia akan pergi makan siang bersama sahabat lamanya. Padahal sejujurnya siang ini ia membuat janji dengan Yoona untuk sekedar mengobrol seputar kehidupan sehari-hari mereka dan juga mengenai kehamilan Yoona. Pertama kali ia mengetahui tentang kehamilan Yoona saat usia kandungan Yoona berusia tiga bulan. Saat itu hubungannya dengan Yoona sudah dapat dikatakan sangat dekat sehingga Yoona memutuskan untuk menceritakan kondisi kehamilannya padanya. Tentu saja saat itu ia merasa terkejut karena ia tahu jika Yoona sama sekali belum menikah. Tapi kemudian ia merasa maklum dengan kehamilan itu karena Yoona mengatakan jika mereka melakukannya karena saling mencintai. Namun mereka belum bisa menikah dalam waktu dekat karena sang pria yang merupakan ayah dari janin yang dikandung Yoona sedang memiliki masalah pelik dengan keluarganya, sehingga ia harus sedikit bersabar untuk menunggu hari bahagia itu tiba. Setelah itu hubungan diantara mereka terjalin semakin erat. Ia merasa nyaman bersama Yoona dan telah menganggap Yoona sebagai sahabatnya. Namun sayangnya ia tidak bisa menemui Yoona dengan leluasa karena Donghae tanpa alasan yang jelas tiba-tiba melarangnya untuk bertemu dengan Yoona. Saat ia menanyakan perihal alasan pria itu melarangnya, Donghae hanya mengatakan jika Yoona bukanlah wanita yang baik seperti apa yang ia lihat, pria itu mengatakan jika Yoona memiliki sisi lain yang begitu mengerikan dan harus ia hindari. Tapi tentu saja ia tidak bisa mematuhi perintah Donghae karena ia bukan anak kecil yang bisa dihasut begitu saja. Beberapa bulan mengenal Yoona dan saling menumpahkan keluh kesah satu sama lain membuat Yuri yakin jika Yoona bukanlah wanita jahat seperti yang dikatakan oleh Donghae padanya selama ini. Ia lebih merasa jika Yoona adalah wanita kesepian yang membutuhkan seorang teman. Apalagi keadaanya saat ini sedang mengandung seorang diri tanpa pendamping yang berada di sisinya, membuat Yuri merasa iba dan ingin menjadi seorang sahabat untuk Yoona.

Tring

Suara bel yang berdentang di pintu masuk kafe membuat Yuri cepat-cepat menoleh kearah sumber suara. Wanita itu kemudian tersenyum cerah sambil melambaikan tangannya pada seorang wanita muda dengan dress selutut berwarna peach dan dengan perut yang semakin menonjol dibalik dressnya.

“Hai, maaf aku terlambat, aku harus menyelesaikan pekerjaanku di kantor terlebihdahulu.” Ucap Yoona beralasan. Yuri tersenyum memaklumi dan segera menyodorkan secangkir teh herbal untuk Yoona.

“Minumlah, kau pasti merasa haus setelah berkutat seharian dengan tumpukan laporan di kantor. Terkadang aku merasa iba padamu, saat kau sedang hamil kau diharuskan untuk mengerjakan semua pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh orang lain. Apa kau tidak merasa lelah, apalagi usia kandunganmu telah mencapai bulan ke lima, tinggal empat bulan lagi kau akan melahirkan dan menjadi seorang ibu bagi anakmu, apa kau akan tetap seperti ini setelah melahirkan nanti?”

Yoona tersenyum simpul sambil mengelus perutnya lembut. Sejujurnya ia tidak tahu apakah ia akan tetap seperti ini atau tidak, yang jelas usahanya untuk membawa Donghae kembali ke dalam pelukannya masih belum membuahkan hasil yang signifikan. Selama beberapa bulan terakhir ia mendekati Yuri, ia sedikit mendapat pencerahan mengenai Donghae. Apalagi terkait perilaku pria itu yang hingga saat ini belum menyetuh Yuri sedikitpun. Jadi bisa dikatakan jika ia adalah wanita pertama yang berhasil membawa Donghae ke dalam kehangatan tubuhnya, dan ia juga merupakan wanita pertama yang sedang mengandung penerus keluarga Lee. Semua fakta yang berhasil ia dapatkan dari Yuri semakin membuatnya yakin jika perasaan Donghae untuknya sebenarnya sama sekali belum berubah. Hanya saja Donghae tidak bisa melepaskan perasaan itu sesuka hatinya karena saat ini ia terikat dengan sebuah janji suci di hadapan Tuhan. Dan karena sejak awal ia telah memutuskan untuk menjadi iblis pengganggu diantara hubungan pernikahan Yuri dan Donghae, maka ia sama sekali tidak keberatan jika harus menggunakan berbagai macam cara untuk memisahkan hubungan pernikahan Yuri dan Dongahe.

“Kita lihat saja apa yang akan terjadi di masa depan.” Ucap Yoona misterius. Yuri tampaknya menghormati jawaban Yoona dan tidak berniat untuk menggali informasi lebih jauh lagi. Sebenarnya ia merasa cukup iri pada Yoona karena wanita itu saat ini sedang mengandung anak dari pria yang dicintainya. Sedangkan ia hingga sekarang sama sekali belum bisa mengandung penerus keluarga Lee karena Donghae yang selalu enggan untuk menyentuhnya. Padahal berbagai cara telah ia lakukan, namun Donghae selalu menanggapinya dengan dingin dan berakhir dengan mereka yang hanya saling berpelukan satu sama lain di atas ranjang. Terkadang ia merasa tidak memeiliki Donghae sepenuhnya di rumah. Pria itu seperti sedang menyembunyikan separuh dirinya yang lain di suatu tempat yang tak pernah diketahuinya.

“Yuri, aku ingin mengatakan sesuatu hal padamu, terkait ayah dari bayi ini.”

Yoona mengelus perutnya lembut dengan senyum misterius yang terpatri di wajahnya. Yuri menatap wajah Yoona dalam dan terlihat begitu ingin tahu tentang ayah dari bayi yang dikandung Yoona. Sudah beberapa bulan ini ia bermain tebak-tebakan bersama dirinya sendiri untuk menduga-duga siapa ayah dari bayi yang sedang dikandung Yoona. Dan sekarang setelah sekian lama, akhirnya Yoona berniat untuk memberitahunya secara langsung padanya, ia benar-benar tidak sabar untuk mengetahuinya!

“Siapa? Kau tahu, aku selama ini selalu menerka-nerka siapa pria beruntung yang berhasil mendapatkan tempat di hatimu.”

“Tapi  kupikir ia tak seberuntung itu, justru mungkin ini adalah petaka baginya karena mendapatkanku sebagai wanita yang sedang mengandung anaknya. Sebenarnya ayah dari bayi ini sudah menikah dengan wanita lain.”

“Yyya Tuhan, benarkah? Apa yang terjadi?”

Yuri memekik tak percaya sambil menatap prihatin pada Yoona. Ia pikir Yoona adalah wanita yang paling beruntung di dunia, tapi teryata ia salah, Yoona nyatanya tak seberuntung itu.

“Ceritanya panjang, tapi intinya ayah dari anak ini telah menikah dengan wanita lain beberapa bulan yang lalu. Dan sebenarnya tujuanku kembali ke Korea adalah untuk merebut pria itu dari isterinya, karena aku sangat yakin jika pria itu masih mencintaiku.” Ucap Yoona mantap dengan wajah angkuhnya. Yuri merasa tertegun dengan ucapan Yoona, di sisi lain ia menilai Yoona sebagai wanita jahat, tapi di sisi lain ia juga mendukung perbuatan Yoona karena ia merasa jika pria itu memang masih mencintai Yoona. Buktinya pria itu justru memiliki anak dari Yoona, bukan dari isterinya, jadi sudah jelas jika pria itu memang mencintai Yoona dan Yoona berhak untuk memperjuangnkannya. Tapi yang menjadi pertanyaan, siapa sosok pria itu sebenarnya?

“Jadi siapa pria itu sebenarnya, apa kau berniat untuk memperkenalkannya padaku?”

“Hmm, apa kau yakin ingin bertemu dengan pria itu? Sayangnya saat ini ia sedang sibuk, tapi lain kali aku akan membawanya dan memperkenalkannya padamu. Karena kupikir kau memang harus bertemu dengannya dan mengenalnya agar kau dapat menilainya sebagai pria yang mencitaiku atau tidak.”

Drt drt drt

Tiba-tiba ponsel di dalam tas putih Yoona bergetar nyaring beberapa kali. Yoona kemudian meminta ijin pada Yuri untuk mengangkat ponselnya sebentar. Namun tak lama kemudian Yoona sudah kembali dengan gelagat yang terlihat terburu-buru.

“Sepertinya aku harus pergi sekarang, ada masalah di kantor yang harus kuselesaikan. Lain kali aku akan memperkenalkan pria itu padamu, sampai jumpa.”

Yuri melambaikan tangannya pelan seiring dengan kepergian Yoona yang terburu-buru. Wanita itupun menghembuskan nafasnya pelan sambil meletakan kepalanya di atas meja kafe yang masih kosong. Hari ini pertemuannya dengan Yoona terlalu singkat hingga mereka belum sempat memesan makanan dan juga mengobrol mengenai Donghae, padahal ia sangat ingin mengetahui cerita Yoona mengenai Donghae yang dulunya merupakan cassanova di sekolahnya. Tapi sudahlah, setidaknya hari ini ia telah mengetahui sedikit rahasia besar Yoona jika sebenarnya bayi itu secara tidak langsung belum memiliki ayah karena ayah dari bayi itu masih menjadi suami dari wanita lain.

-00-

Yoona berjalan tergesa-gesa ke dalam sebuah kantor dengan perasaan kesal yang membuncah di dalam dadanya. Tatapan para penghuni kantor yang menatapnya sedang berlari-lari membuat Yoona cukup risih dan juga jengah. Lagipula ia tidak merasa aneh dengan keadaanya sekarang yang memang sedang hamil, namun orang-orang tetap saja berpikir terlalu berlebihan terhadap wanita hamil yang sedang berlari-lari di dalam kantor.

“Aku ingin bertemu Lee Donghae sekarang.” Ucap Yoona tanpa basa-basi pada sekretaris Donghae yang sedang mengerjakan tugas-tugasnya di depan ruangan Donghae. Sekretaris itu menganggukan kepalanya dan segera mengantar Yoona untuk masuk ke dalam ruangan atasannya. Sekretaris itu beberapa kali tampak mencuri-curi pandang ke arah Yoona dan perutnya yang semakin membuncit. Sudah beberapa bulan terakhir ini Yoona sering datang ke ruang atasannya dan pasti akan terjadi keributan setiap Yoona datang. Tapi entah mengapa atasannya itu tetap saja membiarkan Yoona datang ke kantornya dan tidak pernah berpesan padanya sedikitpun untuk mengusir Yoona untuk datang. Justru atasannya itu menyuruhnya untuk memasukan Yoona ke dalam ruangannya meskipun ia sedang tidak berada di kantor sekalipun.

“Lee Donghae ssi, aku ingin berbicara denganmu.” Teriak Yoona menggelegar di ambang pintu dengan tatapan marah. Sekretaris itu tampak meneguk ludahnya terkejut dengan suara amukan Yoona yang menggelegar itu. Padahal dari luar Yoona terlihat seperti seorang wanita anggun yang lembut, namun tiba-tiba saja Yoona sudah berubah seperti seekor singa betina yang hendak melahap siapapun yang berani mengusiknya.

“Jimin kau bisa tinggalkan kami sendiri.” Usir Donghae pada sekretarisnya ketika ia mendapati wanita itu masih berdiri mematung di ambang pintu dengan keterkejutannya atas kelakuan Yoona yang bar-bar.

“Jadi apa yang memicu kelakuan bar-barmu hari ini Im Yoona?” Tanya Donghae santai sambil tersenyum manis pada Yoona. Yoona mendengus kesal dengan sikap sok manis Dongahae yang jelas-jelas hanya sebuah tipuan belaka. Ia tahu jika pria menyebalkan itu baru saja melakukan sesuatu pada perusahaannya yang akan berakibat fatal jika ia tidak segera bertindak. Tapi permasalahannya adalah beberapa bulan terakhir ini mereka memang sudah sering melakukan gencatan senjata untuk menjatuhkan satu sama lain dan membuat salah satu diantara mereka bertekuk lutut kalah. Namun hari ini strategi yang dilakukan Donghae untuk menjatuhkannya benar-benar akan sangat sulit untuk diatasi karena pria itu melibatkan perusahaanya, perusahaan ayahnya yang sangat berharga. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja dengan permainan kotor Donghae hari ini, ia pasti memiliki cara yang lebih baik untuk mengalahkan Donghae dan membuat pria itu bertekuk lutut padanya.

“Huh, dasar pria bermuka dua, kenapa kau membatalkan kerjasama perusahaan ayahku dengan anak perusahaanmu yang berada di Nami? Kau seharusnya tidak boleh melakukan cara-cara kotor seperti itu jika kau ingin menjatuhkanku, karena semua ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan ayahku.” Ucap Yoona tegas dan berapi-api. Lee Donghae tersenyum santai ke arah Yoona sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Andai saja wanita yang saat ini sedang mengamuk di depannya tidak memulai gencatan senjata ini terlebihdahulu, mungkin ia juga tidak akan melakukan cara kotor itu. Tapi apa boleh buat, Yoona nyatanya terlalu keras kepala hanya untuk menyerah dan berhenti untuk mengganggu kehidupan rumah tangganya dan Yuri yang akhir-akhir ini sedikit memanas.

“Sebenarnya semua ini kulakukan karena perbuatanmu yang terus menerus menemui Yuri meskipun aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhinya. Bahkan kau baru saja bertemu dengan Yuri sebelum kau berteriak-teriak di kantorku. Jadi apa aku salah jika mengambil tindakan tegas seperti ini?”

Brakk!

“Brengsek! Jika ini menyangkut masalah pribadi seharusnya kau tidak perlu melibatkan perusahaan ayahku. Lagipula Yuri memang seharusnya tahu mengenai perbuatan busukmu selama ini, kau telah menghamiliku dan menolak untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu padaku.”

“Jaga ucapanmu Im Yoona, ini semua adalah permainanmu. Kau sengaja menjebakku dan membuatku melakukan hal itu agar kau dapat mengikatku dan membawaku kembali padamu. Kau wanita yang licik.”

Donghae mencengkeram dagu Yoona keras hingga membuat Yoona meringis kesakitan karena dagunya terasa akan remuk.

“Lepaskan tanganmu, kau menyakitiku.” Erang Yoona tertahan sambil mencoba melepaskan cengkeraman tangan Donghae dari dagunya. Tapi Donghae masih belum bersedia melakukannya karena ia ingin menyiksa Yoona sedikit lebih lama agar Yoona tidak terus menerus memberikan teror pada kehidupan rumah tangganya.

“Jika kau berjanji padaku untuk menjauhi Yuri dan menutup rapat-rapat semua rahasia itu darinya, aku akan mengembalikan kerjasama perusahaanmu seperti semula. Jadi yang perlu kau lakukan hanyalah bersikap manis dan jangan pernah menemui Yuri lagi, apa kau bisa melakukannya?”

Yoona menatap Donghae tajam dengan wajah angkuhnya yang terlihat menahan kesakitan akibat cengkeraman tangan kekar Donghae di dagunya. Namun wanita itu jelas tidak menunjukan tanda-tanda akan mengibarkan bendera putih di depan Donghae. Justru Yoona semakin berang dan ia bersumpah akan membeberkan semua rahasia itu pada semua orang, termasuk Yuri.

“Kau mengancamku? Jika kau berani menghancurkan perusahaan ayahku, aku justru akan bersikap nekat dengan membeberkan semua rahasia busukmu pada semua orang dan memberitahukannya pada Yuri apa yang selama ini dilakukan suaminya di luar sana hingga ia enggan untuk menyentuh isterinya sendiri. Donghae oppa, aku tahu jika kau tidak bisa menyentuh Yuri, kau tidak bergairah dengannya.” Seringai Yoona licik dengan wajah puas. Donghae menggeram marah dan menghempaskan dagu Yoona begitu saja hingga tubuh Yoona sedikit terdorong ke belakang dan membentur tembok. Wanita itu meringis kesakitan sambil sedikit berlutut menahan nyeri yang menjalar disekitar perutnya.

“Ahh…”

“Aku tahu kau sedang berpura-pura Im Yoona, jadi jangan coba-coba untuk menipuku.”

Tapi setelah cukup lama Yoona masih terlihat kesakitan dan masih berjongkok di dekat tembok. Dengan gusar Donghae menghampiri Yoona dan memapah Yoona untuk duduk di atas sofa. Meskipun selama ini ia membenci Yoona dan sangat ingin memberi pelajaran pada Yoona, tapi ia tetap tak bisa mengabaikan Yoona begitu saja. Sesekali ia tetap memperhatikan Yoona dengan mengamati keadaan wanita itu dari jauh, dan memantaunya melalui dokter kandungan yang sering didatangi Yoona selama ini.

“Minumlah, mungkin aku memang sudah keterlaluan padamu karena mendorongmu terlalu keras. Maafkan aku.” Ucap Donghae dingin sambil menyodorkan segelas air putih pada Yoona. Yoona menerima air putih itu tanpa banyak bicara dan langsung menyeruputnya sedikit untuk membuatnya tenang.

“Tidak apa-apa, itu bukan salahmu. Aku hanya…”

Yoona menghentikan kalimatnya di udara dan membuat Donghae cukup penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Yoona. Namun tiba-tiba Yoona menarik tangannya dan menempelkan telapak tangannya yang besar ke atas permukaan perutnya yang buncit.

“Dia menendang cukup keras dan aku merasa kesakitan karena tendangannya.”

Donghae membeku di tempat dengan perasaan takjub yang tak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Telapak tangannya kini merasakan adanya tendangan yang cukup kuat dari dalam perut Yoona. Dan ia tidak pernah tahu jika merasakan pergerakan buah hatinya akan memberikan efek yang begitu luar biasa bagi dirinya.

“Apa ia sering melakukannya?” Tanya Donghae dengan telapak tangan yang masih menempel di atas permukaan perut Yoona. Yoona menganggukan kepalanya sambil mengelus perutnya pelan disebelah telapak tangan Donghae.

“Beberapa kali saat malam hari dan pagi hari. Tapi ia paling aktif saat siang hari seperti ini, seperti ia sedang memberiku semangat untuk bekerja. Sejak berusia tiga bulan ia menjadi lebih tenang dan tidak pernah memicu gejolak mual di perutku, dia benar-benar bayi yang sangat pengertian.”

Donghae menatap Yoona dalam dan merasa menemukan diri Yoona kembali. Yoonanya yang dulu memiliki sorot mata lembut dan menenangkan, seperti yang ia lihat saat ini ketika Yoona membicarakan tentang bayinya.

“Syukurlah jika ia tumbuh dengan sehat, dan kuharap bayi itu dapat memberikamu kebahagiaan nantinya.”

Yoona tersenyum simpul dengan ucapan Donghae dan langsung memeluk Donghae erat. Entah mengapa suasana hatinya sering berubah-ubah tak menentu setelah kehamilannya semakin membesar. Terkadang ia merasa begitu berapi-api dan ingin marah pada siapapun yang telah menghalangi langkahnya, tapi terkadang ia bisa bersikap begitu lembut terhadap orang lain yang seharusnya ia benci.

“Donghae oppa… Apa kau tahu jika saat ini isterimu yang cantik itu sedang mengintip kita melalui celah pintu ruanganmu yang terbuka?” Bisik Yoona pelan dengan seringaian licik. Refleks Donghae menoleh pada celah pintu yang memang sedikit terbuka dan di sana ia bisa melihat tatapan mata Yuri yang terlihat terluka dan juga dipenuhi buliran air mata. Melihat Yuri yang akan pergi, Donghae langsung mendorong tubuh Yoona kasar sambil memberikan tatapan tajam penuh kemurkaan pada wanita licik yang sejak tadi sedang bersembunyi dibalik topeng malaikatnya.

“Jadi sejak tadi kau hanya menjebakku?”

“Terserah jika kau memang berpikir seperti itu, tapi yang jelas itu semua adalah balasan karena kau telah berani mengusik perusahaan ayahku. Sekarang nikmatilah kehancuran rumah tanggamu Donghae oppa.” Ucap Yoona lembut dengan senyum licik. Donghae mengumpat keras dan langsung berlari meninggalkan Yoona untuk mengejar Yuri.

Sementara itu Yoona terlihat sedang merapikan dressnya yang sedikit kusut sambil mengelus perut buncitnya pelan. Ternyata keputusannya untuk menghubungi Yuri sebelum ia masuk ke dalam ruangan Donghae adalah rencana yang sangat tepat untuk membalas perlakuan Donghae padanya. Dan sekarang ia yakin jika rumah tangga Donghae tidak akan pernah bisa diselamatkan.

Nikmatilah kehancuranmu oppa….

-00-

Donghae berlari kencang mengejar Yuri yang telah menghilang dibalik pintu lift. Sebelum pintu itu tertutup Donghae sempat melihat tatapan terluka Yuri dan buliran air mata yang jatuh menganak sungai di pipinya. Sekarang ia merasa begitu bodoh dan merasa bersalah pada Yuri. Seharusnya ia telah mengantisipasi hal ini sebelumnya ketika Yoona mulai mengeluarkan wajah malaikatnya.

“Sial! Arghhhh.”

Donghae mengacak-acak rambutnya gusar sambil menendang pintu lift yang tak kunjung terbuka. Setelah ini ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada hubungannya dan Yuri, tapi yang jelas wanita itu pasti akan membencinya. Ia pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana untuk menghubungi Yuri. Setidaknya ia ingin sedikit berusaha untuk memperbaiki semuanya daripada ia hanya berdiri di depan lift dengan perasaan marah dan gusar.

“Halo…”

Donghae mendesah lega ketika akhirnya Yuri menjawab panggilan teleponnya. Wanita itu terdengar sedang tersengguk-sengguk di seberang sana.

“Yuri kau dimana? Kita perlu bicara.”

“Hiks, apa lagi yang perlu dibicarakan oppa, semuanya sudah jelas. Kau mencintai Im Yoona dan sekarang ia tengah mengandung anakmu. Betapa bodohnya aku karena selama ini hanya menjadi objek permainan kalian.” Ucap Yuri tersengguk-sengguk. Donghae mengusap wajahnya kasar dan segera masuk ke dalam lift ketika pintu lift di depannya terbuka lebar.

“Tapi kita tetap perlu bicara, apa yang kau lihat tadi tidak sesuai dengan jalan fikiranmu. Aku dan Yoona tidak memiliki hubungan apapun, dan selama ini ia telah menjebakku agar aku bersedia untuk kembali padanya.” Ucap Donghae mencoba menjelaskan. Namun yang terdengar selanjutnya adalah suara tawa kesakitan yang penuh ironi. Yuri menertawakan omong kosong Donghae yang terdengar sangat tak masuk akal itu.

“Menjebakmu? Lalu bagaimana dengan hubungan pernikahan kita? Bahkan sampai detik ini kau sama sekali belum pernah menyentuhku, jelas-jelas kau masih mencintai Yoona dan tidak bisa berpaling darinya. Apakah kehamilan Yoona tidak cukup untuk menjadi bukti kebusukanmu, Lee Donghae?” Tanya Yuri marah. Donghae menghembuskan nafasnya gusar dan bersumpah akan membalas perbuatan Yoona dengan lebih keji daripada apa yang dilakukan wanita itu padanya. Sudah cukup ia bersikap baik pada Yoona dengan menghormatinya sebagai ibu dari anaknya, tapi perbuatan wanita itu sudah kelewat batas. Ia tidak bisa lagi bersabar menghadapi wanita itu.

“Aku minta maaf atas sikapku selama ini, kuakui aku memang belum bisa melakukan itu denganmu karena aku tidak ingin menyakitimu. Aku tidak mau melakukannya sambil membayangkan wajah wanita lain di kepalaku, jadi kumohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Kita mulai semuanya dari awal lagi.” Bujuk Donghae setengah memohon. Namun Yuri tak langsung mengiyakan permohonannya dan hanya tersengguk-sengguk di seberang sana. Ia terdengar cukup terluka dengan semua fakta menyakitkan yang baru saja terjadi.

“Aku tidak bisa memutuskannya sekarang, aku perlu waktu untuk berpikir dan menjernihkan pikiranku. Jadi untuk beberapa hari kedepan tolong jangan menggangguku.”

Setelah mengucapkan hal itu Yuri segera memutuskan sambungan teleponnya dan mencabut kartu sim ponselnya agar Donghae tidak bisa menghubunginya atau melacak keberadaanya karena untuk beberapa hari ke depan ia perlu waktu untuk merenung dan berpikir.

-00-

“Yoong, kapan kau akan kembali ke Amerika, ayah sudah menyiapkan calon suami yang akan merawatmu dan calon anakmu dengan baik di sini. Tolong untuk kali ini turuti perintah ayah, ayah hanya ingin melihatmu bahagia nak. Ayah tidak ingin kau tersakiti karena mengejar pria itu.”

Yoona mengembuskan nafasnya pelan sambil memejamkan matanya gamang. Sejak seminggu yang lalu ayahnya sudah menyuruhnya untuk kembali ke Amerika karena ia akan dikenalkan oleh calon suaminya. Tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia masih sangat mencintai Donghae. Dan sebulan yang lalu ayahnya sempat marah padanya karena ia berbuat nekat dengan menghancurkan masa depannya sendiri hanya demi seorang pria yang belum tentu masih mencintainya. Tapi entah kenapa sejak awal ia merasa yakin jika Donghae masih mencintainya. Pria itu sebenarnya masih mencintainya dibalik sikapnya yang sedang berusaha untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya dengan Yuri.

“Lusa aku akan kembali. Ayah tenang saja, kali ini aku tidak akan membantah permintaan ayah.” Ucap Yoona pasrah melalui telepon. Tuan Im tersenyum puas pada jawaban putrinya yang terdengar menurut itu. Ia pikir putrinya sekarang telah berubah menjadi lebih menurut setelah usahanya tidak membuahkan hasil sama sekali dan justru menjerumuskan putrinya pada masa depan yang suram. Tapi untungnya ia sudah menemukan pria yang tepat untuk Yoona dan mau menerima Yoona dengan kehamilannya. Jadi sekarang ia merasa tenang dan tidak perlu khawatir lagi dengan masa depan putrinya.

“Kalau begitu ayah akan menunggu kedatanganmu, jangan lupa untuk menghubungi ayah atau tuan Cole jika kau telah tiba di bandara.”

“Baik ayah, aku akan segera menghubungi ayah saat pesawatku sudah mendarat di bandara. Sampai jumpa ayah, aku mencintaimu.”

Yoona menutup sambungan teleponnya dengan perasaan sedih dan malas. Dilihatnya dua kopor yang telah ia siapkan di sudut kamarnya yang akan ia bawa ke Amerika. Ia merasa belum ingin meninggalkan negara kelahirannya dan juga cinta sejatinya. Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya memang sudah tidak ada harapan untuk dirinya kembali pada Donghae. Tapi paling tidak ia sudah berhasil menebar teror pada kehidupan pria itu, sehingga bukan hanya ia saja yang merasakan sakit, Donghae juga akan merasakan hal yang sama.

-00-

“Bagaimana abeoji, apa Yoona akan kembali?”

Tuan Im membalikan tubuhnya dari jendela besar yang berhadapan dengan pemandangan ramai kota New York. Pria setengah baya itu lantas meletakan ponselnya di atas meja dan menghampiri pria muda yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.

“Tenanglah Soohyun-ah, Yoona akan pulang lusa.”

“Benarkah? Aku merasa tidak sabar untuk bertemu dengannya lusa, ia pasti akan terkejut saat bertemu denganku.” Ucap Kim Soohyun penuh misteri. Tuan Im menaikan alisnya sekilas dan mengendikan bahunya tidak peduli, menurutnya ia tidak perlu lagi ikut campur terlalu dalam pada permasalahan putrinya atau calon menantunya karena ia yakin mereka pasti dapat menemukan titik tengah untuk hubungan mereka.

“Abeoji harap kau akan menerima Yoona apa adanya karena saat ini ia sedang mengandung bayi dari pria lain.”

“Abeoji tenang saja, aku akan menerima Yoona apa adanya dan akan membahagiakan Yoona dengan sepenuh hati.” Ucap Kim Soohyun penuh janji dengan senyum manis yang terukir di wajahnya.

-00-

Yoona menutup tirai apartemennya dengan gerakan lambat sambil memandang sendu pada jalanan Seoul yang ada di bawah sana. Hari ini adalah hari keberangkatannya menuju Amerika. Tapi ia merasa begitu berat untuk kembali ke negara keduanya itu. Masih ada hati yang tertinggal di sini, dan ia merasa berat untuk meninggalkannya.

“Hhhhahhh… dua jam lagi aku akan meninggalkan Seoul.” Gumam Yoona lirih sambil memandangi jam dinding yang berdetak cepat di dalam kamarnya.

Dua hari ini ia tidak pernah lagi bertemu Donghae. Pria itu bahkan tidak datang ke apartemennya untuk menumpahkan seluruh amarahnya seperti yang biasa dilakukan oleh pria itu.

Dipandanginya ponsel putih di tangannya sambil menimbang-nimbang apakah ia perlu menghubungi Donghae atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk menekan beberapa digit angka yang sudah dihafalnya di luar kepala untuk menghubungi Donghae. Setidaknya ia ingin berpamitan terlebihdahulu pada Donghae dan jika Donghae tiba-tiba menahannya ia dengan senang hati akan tetap tinggal. Namun sepertinya hal itu akan menjadi angan-angannya belaka karena saat ini Lee Donghae pasti sedang sibuk mengurus masalah rumah tangganya dengan Yuri. Pria itu jelas tidak akan pernah menahannya untuk tetap berada di Seoul, bahkan ia sendiri tidak yakin apakah Donghae akan mengucapkan salam perpisahan padanya atau tidak.

“Nomor yang anda tuju sedang di luar jangkauan, silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi bip berikut.”

Yoona menghembuskan nafasnya pelan ketika suara sang operator yang justru menjawab panggilannya untuk Donghae. Sebulir air mata jatuh membasahi pipi putihnya yang semakin terlihat kurus. Ia sebenarnya lelah, tapi ia tetap tidak boleh berhenti berusaha. Bahkan meskipun ini adalah kesempatan terakhirnya untuk membujuk Donghae agar kembali padanya, maka ia akan menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.

Donghae oppa… kuharap kau tidak terlambat untuk mendengarkan hal ini.

                                                            -00-

Donghae berjalan gontai ke dalam rumahnya yang sepi dan senyap. Sudah dua hari ini ia tidak pulang ke rumah dan hanya sibuk mencari Yuri. Namun pagi tadi Yuri menghubunginya jika ia telah membuat keputusan dan Donghae dapat mendengar keputusannya di rumah. Tapi setelah ia sampai di depan rumahnya, ia sama sekali tak menemukan mobil yang biasa digunakan oleh Yuri. Dan rumahnya juga terlihat sunyi dan senyap. Dengan gontai Donghae mencoba untuk masuk ke dalam untuk menemukan Yuri yang mungkin saja memang sedang berada di dalam. Tapi hingga ia menghabiskan waktu dua puluh menit untuk mengitari rumahnya, ia sama sekali tak menemukan Yuri. Wanita itu telah pergi dari rumahnya bersama dengan seluruh barang-barang pribadi miliknya.

Donghae kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya dan mengistiratkan pikirannya yang terasa lelah. Namun dari kejauhan Donghae melihat sebuah amplop coklat berukuran sedang dan sebuah amplop putih berukuran kecil yang tergeletak di atas ranjangnya. Dengan penasaran, Donghae segera membuka amplop coklat tersebut dan ia langsung menemukan sebuah surat cerai yang telah ditandatangani oleh Yuri. Lalu saat ia membuka amplop putih kecil yang tergletak di atas ranjangnya, ia menemukan surat pribadi dengan tulisan tangan Yuri. Surat itu begitu rapi dan runtut dengan panjang dua halaman yang terasa menyesakan untuk Donghae. Ia tahu jika di dalam surat pribadi tersebut ia akan menemukan seluruh jawabannya dengan jelas.

Dear Donghae oppa…

Oppa maafkan aku karena telah membuatmu tertekan dengan pernikahan kita. Aku benar-benar tidak tahu jika kau masih mencintai kekasihmu yang beberapa tahun telah pergi meninggalkanmu. Melalui Yoona aku tahu jika kau adalah tipe pria setia yang akan sulit untuk menerima kehadiran orang baru, dan aku dengan bodohnya memaksakan diri untuk masuk ke dalam hatimu disaat kau masih mengharapkan kehadiran kekasihmu.

            Oppa, aku tahu jika kau masih sangat mencintai kekasihmu, Im Yoona. Seharusnya sejak awal aku menyadari adanya gelagat aneh yang tercetak jelas dari bahasa tubuhmu ketika Yoona datang untuk memberikan ucapan selamat di acara pesta pernikahan kita. Tapi lagi-lagi aku terlalu dibutakan oleh ambisiku untuk memilikimu. Aku terlalu egois untuk memahami hatimu yang masih berlabuh pada wanita lain.

            Oppa, aku tidak marah atau membencimu atau semua hal yang kau lakukan di belakangku selama ini. Tapi aku akan sangat membencimu jika kau tidak mempertanggungjawabkan perbuatanmu dan berbalik membenci Yoona, karena pada kenyataanya wanita itu hanya menginginkan kebahagiaannya kembali. Yoona hanya ingin memperjuangkan hubungan diantara kalian yang sudah lama terputus.

            Oppa, kuharap setelah ini kau dapat menikah dengan Yoona dan memiliki keluarga yang bahagia bersama wanita yang kau cintai. Dan aku juga akan melakukan hal yang sama sepertimu, aku akan mencari kebahagiaanku sendiri dan menikahi pria yang benar-benar mencintaiku sebesar aku mencintainya.

            Yang terakhir, aku ingin mengucapkan beribu-ribu terimakasih untuk oppa atas semua cinta dan kasih sayang yang telah oppa berikan padaku selama ini. Semoga di masa yang akan datang kita dapat dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik dan dengan pasangan kita masing-masing. Sampai jumpa oppa, semoga kau selalu bahagia dan tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. –Kwon Yuri-

Donghae meremas kertas putih itu kuat-kuat sambil menyeka buliran air mata yang sudah berkumpul di sudut pelupuk matanya. Hari ini ia telah menyakiti seorang wanita yang begitu baik dan polos seperti Yuri. Seharusnya sejak awal memutuskan untuk jujur pada Yuri agar kehidupan rumah tangganya tak berakhir dengan menyedihkan seperti ini. Apalagi Yuri terus menjadi pihak yang merasa bersalah atas sikap brengseknya selama ini. Ck, ia memang pria brengsek yang menyedihkan! Ia seharusnya mati.

Donghae merogoh saku celananya dan berniat untuk menghubungi Yoona karena sejak dua hari yang lalu ia tidak pernah menerornya dengan ribuan pesan singkat dan juga ratusan panggilan yang mengganggu. Padahal biasanya Yoona selalu melakukan rutinitas yang menyebalkan itu untuk mengusik hidupnya. Ia takut sesuatu yang buruk telah terjadi padanya.

“Hhahh.”

Donghae mendesah berat karena ia tak menemukan satupun panggilan atau pesan singkat yang berasal dari Yoona. Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi dan suara sang operator memberitahunya jika ia memiliki pesan telepon yang harus ia dengar. Dengan gugup, Donghae mulai menekan angka satu untuk mendengarkan pesan telepon yang ditinggalkan oleh seseorang untuknya.

“Donghae oppa….”

Deg

Tiba-tiba Donghae merasa jantungnya seperti berhenti berdetak ketika suara Yoona yang terdengar parau memenuhi indera pendengarannya. Berbagai pikiran buruk tiba-tiba melintas di benaknya dan membuatnya takut. Sekarang ia mengakui jika ia sangat takut kehilangan Yoona, dan ia masih sangat mencintai wanita licik dengan seribu satu tipu muslihat itu.

“Oppa, eemmm… aku hanya ingin mengatakan jika hari ini aku akan kembali ke Amerika. Ayahku menyuruhku untuk segera pulang dan ia akan mengenalkanku pada calon suamiku. Mungkin ini adalah panggilan teleponku yang terakhir karena setelah ini aku janji tidak akan mengusik kehidupanmu lagi. Dan mengenai perbuatanku beberapa bulan terakhir, aku minta maaf. Saat itu aku benar-benar kalut dan merasa tidak terima dengan berita pernikahanmu yang terkesan mendadak itu, padahal aku sangat mencintaimu. Selama di Amerika tak pernah aku melewatkan hari-hariku tanpa membayangkan wajahmu sambil berharap agar studiku cepat selesai agar aku bisa segera kembali padamu. Tapi berita mengenai pernikahanmu membuatku sangat kecewa. Hatiku hancur saat melihatmu berjalan menuju panggung bersama seorang wanita yang telah resmi menjadi isterimu. Padahal dulu aku yang akan menempati posisi itu. Tapi sudahlah, aku tidak akan membahasnya lagi dan akan melupakannya mulai saat ini. Aku akan hidup dengan baik di Amerika bersama anak kita, dan jika kau merasa penat dan sangat merindukan anak kita, maka pulanglah. Rumahmu akan selalu terbuka untukmu, dan rumahmu akan selalu menerima kehadiranmu, kapanpun dan dimanapun kau berada. Selamat tinggal oppa, dan tolong sampaikan maafku untuk Yuri.

Lagi-lagi Donghae menyeka bulir-bulir air matanya yang kembali menggenang di pelupuk matanya. Hari ini ia telah ditinggalkan oleh dua orang wanita yang sangat berarti bagi hidupnya. Tak bisa ia bayangkan kehidupannya setelah ini saat dua wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya pergi. Namun tiba-tiba ia teringat akan kata-kata Yoona yang menyuruhnya untuk pulang kapanpun ia merasa lelah dan penat dengan semua beban yang dipikulnya. Dan mungkin sekarang ia memang harus pulang ke rumah yang tepat.

Im Yoona, aku pasti akan pulang ke rumahku.

 

Epilog

“Oppa, kira-kira apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

Donghae menolehkan wajahnya pada sang kekasih sambil menaikan alisnya tak mengerti.

“Apa yang akan kulakukan? Tentu saja aku akan belajar untuk masuk ke perguruan tinggi yang sesuai dengan cita-citaku.”

“Ck bukan itu maksudku.”

Yoona berdecak kesal sambil mengamati wajah kekasihnya gusar. Mereka berdua kemudian memutuskan untuk duduk sejenak di sebuah kursi taman yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Memangnya apa yang kau maksud? Terkadang aku tidak bisa menerka jalan pikiranmu. Jika yang kau maksud adalah apa yang akan kulakukan setelah acara kencan kita, maka aku akan menjawab jika setelah ini aku akan pulang.”

“Ya, kau memang harus selalu pulang oppa, ke rumahmu. Dan dengan senang hati aku akan menjadi rumahmu.” Ucap Yoona riang dengan semburat merah di pipinya.

“Ooww, jadi itu yang kau maksud. Jadi kau sedang bersikap romatis padaku. Ya Tuhan, kekasihku ini memang menggemaskan.” Canda Donghae sambil mencubit hidung Yoona gemas. Yoona meronta-rota brutal di depan wajah Donghae dan menyuruh Donghae untuk melepaskan jepitan di hidungnya. Namun tiba-tiba Donghae langsung memajukan wajahnya cepat dan berbisik pelan di depan bibir Yoona.

“Sampai kapanpun kau adalah rumahku, Im Yoona.”

34 thoughts on “Make Me Love You (Oneshoot)

  1. Akkkkk endingnya gantung kak😭😭
    terus gimana itu kenapa kok soohyun yang bakal nikahin yoona??
    donghae juga perkataan terakhirnya bikin penasaran.
    please bikin sequelnya kak😭😭
    ditunggu ya kak 😣😣

  2. Ya ampun kak greget bgt awal2 tau sifat yoona yg posesif bgt pgn nya sama donghae but di ending mewek,bagus bgt ceritanya luvs❣Butuh sequel nich ahahaha ditunggu❤️Selalu suka ending nya ngak ketebak😘

  3. donghae kasar banget ke yoona. yoona juga salah sih yaa, ngak terima donghae udah jadi milik orang lain..

    bikin sequel dong, thor..
    ini nanggung bgt sumpah.
    semoga donghae lekas nyusul yoona dan bayinya, semoga mereka bisa kumpul bersama

  4. Ahh jadi inikah akhirnya?? Yoona tidak mendapatkan donghae dan donghae kehilangan istri dan “rumahnya”…kim soohyun?? Bukankah dia kekasih jessica?? Ah aku pikir masih ada penyelesaian akhir nya bukan?? Bagaimana tentang Kim soohyun?? Kehamilan yoona dan donghae?? …good storyyy 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

  5. Aurhor boleh nggak sih aku agak greedy minta sequel😂😂 sumpah ini cerita yoonhae yang fresh dan nagih banget. Tapi moment yoomhaenya kurang. Dan kejelasan donghae jadi ketemu yoona pas akhir nggak tau😂😂 author yang baik please sequel ya, selalu ditunggu banget cerita2nya bener2 semua bikin nagih. Bravo author semangat terus nulisnya. Semoga swmua urusannya diperlancar😘😘💜💜💜

  6. Sequel donk thor.. Butuh squel 😢 kasihan Yoona nya, bila perlu bikin dongek nyesel 😥

  7. Disini yoona keren,dia berani untuk mempertahankan hubungannya sama donghae.
    TPi menurut aku ceritanya gantung thor

  8. Jujur aja, ga suka sm sifat kasarnya donghae
    Tau sii yoona yg salah, tp dy kasar bgt, kasian yoonanya
    Dy ga pengen ngejaga rumah tanggalnya, tp hatinya ga bisa nerima yuri
    Akhirnya donghae cerai jg sm yuri, dan dy bakal kehilangan yoona
    Sebelnya, masa donghae ga merasa marah wktu yoona blg, anaknya bakal dpt bapak baru

    Soohyun bukannya pacar jessica? Kenapa tiba” nyampe di amerika, dan mau nikahin yoona? Apa dy punya rencana jahat?

    Seharusnya ffnya judulnya make you love me ga sih? Soalnya disini donghae ga ada minta yoona buat bikin dy jatuh cinta
    Ini ada sequelnya kn?
    Maaf kalo trlalu bnyk omong, ditunggu ff lain (sequel) nya

  9. bnr2 menyesakkan 😭😭😭😭😭😭. yoona bnr2 akan menikah dg soohyun.soohyun itu yg dulu diperkenalkan sbgai pacar sica kan.

  10. Kasihan sebenarnya yoong.. dia ngelakuin gitu karna dia bener” cinta sama donghae.. next chap yg lain ditunggu

  11. aigoo ff ny nyesek bgt eonni
    sbnr ny enggak tw siapa yg salah n siapa yg benar d sn
    tp smua tersakiti gitu

  12. Huwaaa sedihnya 😭😭 Knpa harus gini endingnya?? apa happy end atau sad end? ini gantung kk 😭 Sequel boleh 😂😂

    Sebenarnya yoong itu pura2 tegar,, dan dia ttp kuat meski hae nolak dia.. Dan smuanya begini deh,, yuri yg udh tahu smuanya dan milih pergi dan yoong jg akhirnya nyerah yah?? Dan hae?? i dont know 😂😂 Pengennya sih ada sequelnya kk..

    Fighting!! Minal Aidin wal faidzin kk 😁😚

  13. Semoga ada sequelnya.
    yoona memang salah karena ninggalin donghae dan menghancurkan keluarganya.
    tapi donghae salah juga kenapa dia gk mau nunggu yoona dan menikah dengan wanita lain……… aku tunggu sequelnya Chingu.

  14. Kirain series thor trnyata oneshot 😁
    Ngga ada yg jahat, semua baik, smua jg tersakiti 😁😁
    Seka bgt sama endingnya, kirain yuri bklan baikan sm hae, tp nyatanya hnya yoonalah rumah bagi donghae *cuitcuiit

  15. ngegantung banget kk
    plis bikin sequelnyaa
    buat donfhae nyesal udah nyakitin yoona dan buat yoona gag mau balik ke korea lagi gara” kenangan buruknya kk

  16. Wah….Yoona… Aku gak tau harus mendukung atau benci karakter yoona disini?? Melihat cr awal yg yoona pakai utk merebut hati donghae. Tp aku juga gak suka lihat donghae menikah dgn yuri. Author…sebenarnya ending ff ini masih gantung. Apa yg akan terjadi dgn masa depan yoona dan donghae?? Apakah yoona akan jadi nikah dgn soohyun atau kembali dgn donghae?? Di ending ada kalimat “rumah yg sebenarnya”.. sepertinya feelingq author akan buat sequel dr ff ini. Kalo itu bener,,aq sangat menantinya thor..😊 yg terakhir,,ff’mu selalu susah ditebak dan puas dgn ceritanya. Gomawo utk ff ini thor…

  17. Nyesek bnget hae jgat bnget sih dia tega bersikap kasar sama yoona.yoona kan lgi ngandung anak nya walau pun yoona melakukan hal licik dengan menjebak hae. Itu karna yoona hanya ingin memperjuangkan cinta nya. Ahhh gantung thor bikin yoonhae bersatu

  18. Nyesek bnget hae jgat bnget sih dia tega bersikap kasar sama yoona.yoona kan lgi ngandung anak nya walau pun yoona melakukan hal licik dengan menjebak hae. Itu karna yoona hanya ingin memperjuangkan cinta nya. Ahhh gantung thor bikin yoonhae bersatu

  19. Semuanya sama2 salah, salah Donghae juga ga nunggu Yoona. Tapi seneng akhirnya Donghae balik lagi ke Yoona..
    Authornim, sequel pleasee 😊😊

  20. Butuh sequel dong un ,gemes banget sama Donghae dia gak suka ,dia kasar tapi dia masih gak bisa lupain Yoona .
    Btw itu kenapa Kim Soo Hyun mau jadi calon suami Yoona bukannya dia pacarnya Jessica ya ??
    yaudah di tunggu sequel atau ff nya yg lain un ,kenapa minta sequel sih karena penasaran aja gimana akhir kisah mereka setelah Donghae sadar kalau rumah dia itu Yoona dan Yoona adalah tempat dia kembali .

  21. daebakk keren thor..
    pada akhirnya donghae tidak mendapatkan siapapun.
    itu kim soohyun, cowok yang sama jessica di pernikahan donghae dan yuri kah?
    kenapa dia ngebet bgt pengen nikah sama yoona? apa dia punya rencana jahat ke yoona dan donghae?

    ditunggu sequelnya, dan semoga disini donghae berhasil meraih yoona ke pelukannya kembali.

  22. ternyata ini part awal ya hehehe baca cerita
    trilogi bulak balik nemunya cuma sequel.
    keren yoona kesannya perempuan gmna gitu
    tapi pada dasarnya yoonhae masih saling cinta
    hanya salah komonikasi ma salah paham.
    keren thor yuri tenang aja Tuhan akan siapkan
    pengganti haepa yg beneran tulus mencitaimu.

  23. disini yoona jahat dan juga licik, tapi kasian ngeliat yoona kayak gtu..
    kaget ternyata soohyun yg akan menjadi calon suami yoona, sepertinya soohyun punya rencana jahat terhadap yoona..
    semoga donghae bisa bertemu lagi ama yoona

  24. disini yoona jahat dan juga licik, tapi kasian ngeliat yoona kayak gtu..
    andai peran yuri diganti seohyun, karna menurutku yuri sifatnya sexy bukan polos dan baik hehehe
    kaget ternyata soohyun yg akan menjadi calon suami yoona, sepertinya soohyun punya rencana jahat terhadap yoona..
    semoga donghae bisa bertemu lagi ama yoona

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.