Bullets Of Justice: Terror (Fifth)

 

Prang!

Seorang wanita yang sedang tertidur lelap di dalam kamarnya langsung membuka matanya lebar-lebar setelah mendengar bunyi kaca pecah yang berasal dari jendela kamarnya. Hembusan angin yang begitu kencang perlahan-lahan menyusup ke dalam kamarnya yang terbuka dan mengalirkan hawa dingin yang begitu mencekam di sekitarnya. Wanita itu dengan langkah gemetar segera menghidupkan lampu kamarnya untuk mengecek kaca jendelanya yang baru saja dipecahkan oleh seseorang.

KYAAA!!

Wanita itu menjerit histeris ketika ia melihat noda merah yang mengotori lantai kamarnya berserta dengan sebuah kertas merah lusuh yang di dalamnya tertulis sebuah kalimat dengan tinta hitam yang telah meluruh karena terkena cairan merah yang terlihat seperti darah.

“Tttolong aku, seseorang telah melemparkan sesuatu yang sangat mengerikan ke dalam kamarku, orang itu terus menerorku sejak seminggu yang lalu.”

“………….”

“Aku bersungguh-sungguh, mereka menginginkanku mati. Hikss, tolong aku, kumohon.”

“…………..”

“Eonni terimakasih, aku tahu kau akan selalu menjadi malaikatku.”

Wanita itu meletakan ponselnya ke atas nakas ranjang dengan tangan yang masih bergetar karena ketakutan. Dipungutnya kertas itu dan dibukanya perlahan kertas merah yang telah dilemparkan ke dalam kamarnya.

“Kau akan mati!” Baca wanita itu dengan suara bergetar sambil meringkuk ketakutan di sudut kamarnya yang senyap.

-00-

“Kau mau kemana?”

Donghae menatap Yoona penuh ingin tahu sambil tengkurap di atas ranjangnya. Sedangkan Yoona terlihat sudah sangat rapi dengan celana kain panjang dan kemeja warna biru tanpa lengan yang terlihat pas di tubuhnya. Wanita yang sedang membubuhkan make upnya itu sedikit menoleh kearah suaminya sambil berkata jika ia akan pergi untuk bertemu dengan kawan lamanya.

“Seminggu yang lalu aku menemukan sahabat lamaku di facebook, lalu hari ini aku akan mengunjungi apartemennya untuk sekedar melepas rindu dan mengobrol ringan karena kami sudah lama tidak bertemu, kira-kira terakhir kali kami bertemu adalah enam tahun yang lalu saat aku sedang menjalani pelatihan menjadi intel.”

Donghae menatap wajah isterinya lekat-lekat dan langsung bangkit dari posisi tidurnya untuk menghampiri sang isteri yang sedang mematut dirinya di depan cermin.

“Siapkan baju untukku, aku akan mengantarmu.” Ucap Donghae cepat sambil melesat ke dalam kamar mandi. Tak lupa pria itu mengambil semua kunci mobil yang tergletak di atas meja rias isterinya sambil tertawa penuh kemenangan.

“Ck, dasar menyebalkan!” Gerutu Yoona kesal sambil berjalan menuju lemari pakaian suaminya untuk menyiapkan sebuah kaos santai dan juga celana pendek untuk mengantarnya menuju apartemen Jung Hyerin.

“Oppa cepatlah, atau aku akan pergi menggunakan taksi.” Teriak Yoona nyaring dari luar kamar mandi sambil berkacak pinggang kesal. Padahal hari ini ia sengaja bangun lebih pagi agar ia tidak membangunkan suaminya yang sedang terlelap. Tapi sialnya suaminya itu justru langsung terbangun ketika mendengar suara langkah kakinya yang berjalan kesana kemari untuk mengambil pakaian dan beberapa perlengkapan make up.

Sembari menunggu suaminya membersihkan diri, Yoona mencoba untuk membuka akun facebooknya untuk mengirimi Jung Hyerin pesan jika hari ini ia akan datang ke apartement wanita itu. Setelah menemukan akun pribadi milik Jung Hyerin, Yoona segera mengetikan beberapa kalimat untuk menanyakan dimana letak apartement Jung Hyerin karena pagi ini ia akan datang berkunjung bersama suaminya.

To: Jung Hyerin

Hyerin-ah, pagi ini aku akan berkunjung ke apartementmu. Bisakah kau mengirimkan alamat apartementmu padaku?

Yoona menunggu pesan balasan dari Jung Hyerin sambil mengingat masa lalunya saat senior high school. Pertama kali ia mengenal Jung Hyerin, wanita itu adalah wanita ceria yang selalu bisa membuat suasana kelasnya terlihat lebih hidup. Selain itu Jung Hyerin juga sangat mudah bergaul dengan orang baru, sehingga saat ia pertama mengenal Jung Hyerin, ia langsung merasa akrab dengan wanita ceria itu. Pertemanan mereka terus berlanjut hingga mereka lulus dari senior high school dan kemudian memutuskan untuk memilih jalur mereka masing-masing. Dan saat itu Jung Hyerin memilih untuk melanjutkan studinya di Universitas Seoul dengan jurusan yang merupakan passionnya, ekonomi bisnis. Sejak senior high school Hyerin selalu bercerita jika ia ingin menjadi seorang pebisnis yang handal sama seperti ayahnya, oleh karena itu ketika ia diterima di jurusan impiannya di Universitas Seoul, Hyerin terlihat sangat bahagia. Bahkan ia sempat menggelar acara syukuran atas keberhasilannya untuk masuk ke dalam jurusan yang sangat diimpikannya. Lalu setelah mereka resmi keluar dari senior high school, mereka tidak pernah bertemu lagi. Ia sendiri terlalu sibuk dengan pelatihannya yang melelahkan di markas bersama dengan suaminya yang menyebalkan itu. Dulu ia sama sekali tidak sempat untuk bermain-main dengan akun media sosialnya karena ia selalu kelelahan dengan semua jadwal latihan yang padat, dan akan langsung tertidur ketika malam. Namun akhir-akhir ini ia sedikit memiliki waktu luang untuk membuka kembali akun media sosialnya dan mencari teman-temannya yang sekarang sudah sukses dengan karir mereka di luar sana.

Ting

Sebuah pesan yang masuk dari Hyerin membuat Yoona tersenyum senang. Akhirnya setelah sekian lama ia tidak bertemu dengan sahabat baiknya itu, sekarang ia dapat kembali bertemu untuk saling mengobrol dan berbagi pengalaman satu sama lain.

To: Im Yoona

Benarkah kau akan mengunjungiku? Aku sangat tidak sabar untuk bertemu denganmu. Datanglah ke apartementku di jalan Cheog-gu nomor 17, apartementku berada di lantai empat nomor 23.

 

To: Jung Hyerin

Baiklah, sampai jumpa di apartementmu.

 

Jawab Yoona cepat sambil membayangkan wajah Jung Hyerin yang sudah lama tak ditemuinya. Bersamaan dengan itu ia melihat suaminya telah selesai dengan urusan mandinya dan saat ini sedang bersiap di sebelahnya.

“Kau sudah tahu dimana alamat apartementnya?”

“Hmm, dia tinggal di apartement Cheog-gu nomor 23. Baru saja ia mengirimkan alamatnya padaku.” Ucap Yoona sambil menunjukan layar ponselnya yang masih tertera pesan dari Hyerin. Donghae mengangguk-anggukan kepalanya mengerti sambil memakai kaus polo berlengan pendek yang dipilihkan oleh isterinya.

“Cepat pakai celana pendekmu oppa, kau ini lama sekali.” Gerutu Yoona tidak sabar sambil berjalan mendekati suaminya untuk menyisir rambut pendek suaminya yang masih basah.

“Ayo, aku sudah siap.”

Yoona meletakan sisir yang ia gunakan ke tempat semula dan segera berjalan mengekori Donghae yang telah terlebihdahulu keluar dari kamar mereka untuk memanasi mesin mobil sebelum mereka pergi.

-00-

Ting tong

Yoona memencet bel apartement itu sekali sambil menunggu sang pemilik apartement untuk membukakan pintu. Di sebelahnya Donghae sedang mengetuk-etukan sepatunya bosan sambil mengamati suasana sepi apartement milik sahabat isterinya.

“Ada yang bisa kubantu.”

Seorang wanita dengan celana pendek selutut dan sebuah kaus santai muncul dari balik pintu sambil menatap bingung pada Yoona dan Donghae. Wanita itu tampak semakin mengernyitkan dahinya tidak mengerti ketika Yoona tiba-tiba memeluknya dengan erat hingga ia hampir saja terjungkal ke belakang.

“Hyerin-ah… lama tak berjumpa, kau pasti sudah lupa dengan wajahku.”

Hyerin masih terlihat bingung untuk beberapa saat, namun akhirnya ia membalas pelukan Yoona dan mempersilahkan Yoona untuk masuk ke dalam apartementnya.

“Maaf, aku benar-benar sudah lupa dengan wajahmu, sekarang kau terlihat lebih cantik dan juga dewasa. Lalu siapa pria yang berada di belakangmu itu?” Tanya Hyerin bingung sambil mengamati Donghae dengan canggung, pasalnya ia hanya menggunakan celana rumah yang terlihat lusuh dan juga kaus pendek yang benar-benar sangat tidak pantas untuk menyambut tamunya.

“Oh perkenalkan, dia suamiku, Lee Donghae.”

“Suamimu? Oh, aku Jung Hyerin, silahkan duduk. Maaf apartemenku sedikit berantakan karena aku baru saja bersih-bersih. Kalian duduklah dulu, aku akan mengganti pakaianku dan membuatkan minuman.” Ucap Hyerin sambil berlari cepat menuju kamarnya. Yoona berteriak keras pada Hyerin agar wanita itu tidak perlu repot-repot membuatkan minuman.

“Temanmu sangat aneh.” Gumam Donghae pelan di sebelah Yoona. Yoona menyikut lengan Donghae pelan dan menyuruh pria itu untuk diam karena ia takut ucapan suaminya itu akan didengar oleh Hyerin.

“Kurasa Hyerin sudah banyak berubah dari yang terakhir kali kuingat, ah.. dan dia juga sudah menikah.”

Yoona berjalan menyeberangi ruang tamu dan mulai melihat foto-foto pernikahan Hyerin yang cantik. Disana Hyerin tampak bahagia bersama suaminya yang sedang menggendongnya di depan altar.

“Lihat, dia menikah dengan kekasihnya saat senior high school.” Tunjuk Yoona pada foto suami Hyerin saat menikah. Donghae menghampiri Yoona untuk melihat rupa sang suami yang dikatakan Yoona sebagai kekasihnya sejak senior high school.

“Perjalanan cinta mereka pasti tidak mudah. Bahkan aku tidak pernah bisa memiliki kekasih yang bertahan lama seperti sahabatmu ini.”

“Jadi oppa pernah memiliki kekasih?”

Tiba-tiba Yoona menoleh ke arah Donghae sambil menatap pria itu tajam. Donghae meringis kecil ke arah Yoona sambil mengelus lengan Yoona agar wanita itu tidak berubah menjadi wanita garang.

“Aku pernah memiliki beberapa teman wanita saat senior high school dan saat aku sudah bekerja sebagai intel, tapi semua kekasihku tidak ada yang bertahan lama karena mereka tidak bisa memahamiku dan pekerjaanku. Hanya kau satu-satunya wanita yang bisa memahamiku, sehingga aku memutuskan untuk cepat-cepat menikahimu ketika aku sudah mantap dengan pilihanku.”

“Dasar tukang rayu! Tidak perlu berkata manis di depanku jika oppa hanya ingin terhindar dari amukanku. Lagipula aku juga memiliki banyak mantan kekasih saat senior high school, jadi oppa jangan terlalu besar kepala karena pernah memiliki banyak kekasih.” Dengus Yoona sebal. Donghae hanya tertawa geli memperhatikan kecemburuan isterinya yang sangat menggemaskan itu. Terkadang Yoona akan berubah menjadi wanita manja yang sangat menggemaskan, tapi terkadang ia juga bisa menjadi wanita kuat yang sangat tangguh, apalagi saat ia sedang bertugas untuk menyelesaikan sebuah misi.

“Yoong, siapa wanita ini?”

Donghae mengangkat sebuah pigura kecil yang terletak di samping sofa. Di dalam foto tersebut Hyerin tampak sedang berpose saling berpelukan dengan seorang wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Jung Hyerin.

“Sepertinya itu Jung Hyura, adik kandung Hyerin yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Hyerin. Dulu saat senior high school banyak guru dan teman-temanku yang mengira jika mereka adalah anak kembar, padahal usia mereka terpaut dua tahun. Sejak dulu Hyerin sangat menyayangi adiknya. Apapun yang ia punya pasti akan ia bagi pada adiknya, begitu pun sebaliknya, Hyura juga sangat menyayangi Hyerin hingga ia rela menunggu Hyerin hingga selesai bimbingan belajar untuk pulang bersama. Padahal kelas Hyura selesai pukul satu, sedangkan kelas Hyerin selesai pukul empat, tapi Hyura tidak pernah keberatan untuk menunggu kakaknya pulang.”

“Tipikal keluarga yang bahagia.” Komentar Donghae sambil lalu. Pria itu kembali duduk di tempatnya semula sambil memperhatikan setiap dekorasi yang memenuhi sudut-sudut ruang tamu milik Jung Hyerin.

“Maaf aku terlalu lama, silahkan dimakan dan diminum.”

Hyerin tiba-tiba muncul dari arah dapur sambil membawa secangkir teh dan juga beberapa makanan ringan di atas nampan. Yoona membantu Hyerin untuk meletakan makanan-makanan itu di atas meja dan mengangsurkan secangkir teh kearah Donghae.

“Terimakasih.”

“Hyerin-ah, jadi pada akhirnya kau menikah dengan Kang Shinjung, kekasihmu saat senior high school? Tak kusangka kalian akan bertahan hingga selama itu. Ngomong-ngomong dimana suamimu sekarang?”

“Shinjung oppa telah meninggal sebulan yang lalu karena kecelakaan mobil.” Jawab Hyerin pelan. Yoona dan Donghae saling bertatapan satu sama lain dengan Yoona yang merasa sangat bersalah karena ia telah membuat sahabatnya kembali bersedih.

“Hyerin-ah maafkan aku, aku tidak tahu jika Kang Shinjung telah meninggal. Aku turut berduka cita.” Ucap Yoona dengan wajah menyesal. Hyerin tersenyum kecil dan mengelus lengan Yoona pelan.

“Tidak apa-apa, sekarang ia sudah berada di tempat yang lebih indah dan lebih baik. Setelah kematian Shinjung oppa aku berusaha untuk lebih tegar dan mencoba untuk hidup lebih mandiri, karena selama ini aku selalu bergantung padanya dalam segala hal. Dan ketika polisi menghubungiku saat Shinjung oppa mengalami kecelakaan, aku terus pingsan berkali-kali hingga dua hari setelah pemakamannya. Tapi kemudian Hyura menguatkanku dan mengatakan padaku jika semuanya akan baik-baik saja tanpa Shinjung oppa karena ia berjanji akan selalu berada di sampingku.”

“Lalu dimana Hyura sekarang, apa ia sedang bekerja?”

“Tiga hari ini ia pergi ke desa untuk mengunjungi pamanku. Mungkin besok ia akan kembali.”

Drt drt drt

Tiba-tiba ponsel milik Hyerin yang berada di atas meja bergetar nyaring dan menimbulkan suara yang berisik. Cepat-cepat wanita itu mengangkatnya sambil memberi kode pada Yoona untuk menuggunya sebentar.

“Halo…”

“……………”

Tidak ada jawaban apapun dari sang penelpon. Yang terdengar hanyalah suara hembusan nafas berat yang terdengar begitu mengerikan di telinga Hyerin. Dengan panik, Hyerin mulai melihat nomor telepon sang penelpon dan ia semakin panik ketika ia sadar jika yang sedang menelponnya saat ini adalah sang penerornya.

“Halo! Katakan sesuatu atau aku akan menutupnya.” Gertak Hyerin keras. Yoona dan Donghae saling bertatapan satu sama lain sambil memperhatikan gerak-gerik Hyerin yang mulai gelisah. Melihat hal itu Yoona semakin menajamkan indera pendengarannya untuk menguping pembicaraan yang terjadi antara Hyerin dan si penelepon.

“Baiklah, aku akan menutup teleponnya sekarang.”

“Pengkhianatanmu dan perilaku kejimu akan mendapatkan balasan yang setimpal, yaitu kematian!”

Tuutt tutt ttutt

Penelpon itu memutuskan sambungan teleponnya sepihak setelah ia mengucapkan kata-kata mengerikan yang berhasil membuat Hyerin bergidik ngeri. Wanita itu langsung melemparkan ponselnya ke atas lantai sambil menangis sesenggukan di atas meja.

“Hyerin, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku mendengar kata-kata yang begitu mengerikan dari penelpon itu?” Tanya Yoona lembut. Hyerin mendongakan kepalanya dengan air mata yang masih membanjiri wajah cantiknya yang terihat pucat.

“Aku mendapatkan teror. Seminggu setelah Shinjung oppa meninggal aku sering mendapatkan telepon dari orang yang tak kukenal. Awalnya kukira itu hanyalah kelakukan orang iseng semata. Tapi semakin lama peneror itu semakin bertingkah mengerikan. Selain menerorku dengan ucapan-ucapan mengerikan dan ancaman, beberapa kali ia mengirimkan paket padaku berisi boneka yang telah ditusuk-tusuk dengan pisau dan diberi darah kucing atau melemparkan sesuatu melalui jendela kamarku seperti yang kualami tadi malam.”

“Boleh kami melihat barang-barang yang dikirim oleh si peneror itu?”

Tiba-tiba Donghae berucap dan  meminta Hyerin menunjukan barang-barang yang telah dikirimkan si peneror padanya.

“Tunggu sebentar, aku akan memperlihatkannya pada kalian.”

Hyerin bangkit berdiri menuju kamarnya dengan suara sesenggukannya yang memilukan.

Sementara itu, Yoona langsung merosot lemas di sebelah Donghae karena lagi-lagi mereka mendapatkan kasus disaat mereka akan menghabiskan waktu liburan mereka dengan tenang.

“Aku lelah oppa, kapan kita bisa benar-benar hidup tenang? Bahkan saat liburpun kita mendapatkan kasus dadakan seperti ini.” Gerutu Yoona kesal sambil meluruskan kakinya di atas karpet. Donghae mengendikan bahunya ringan dan hanya mampu tersenyum kecil menanggapi gerutuan Yoona.

“Bukankah dulu sudah kubilang untung jangan menjadi agent jika kau tidak siap dengan semua kemungkinan buruk yang ada? Lebih baik kau menjadi model jika kau merasa lelah dengan pekerjaanmu sekarang, aku sangat mengijinkannya.”

“Tidak oppa, aku hanya bercanda. Bukankah kau tahu jika aku sangat menginginkan pekerjaan ini, jadi aku tidak akan meninggalkan pekerjaan ini begitu saja meskipun memang terkadang aku merasa bosan dengan rutinitas yang ada.”

Yoona dan Donghae menoleh bersamaan kearah Hyerin ketika wanita itu datang dengan terburu-buru sambil membawa beberapa kotak di tangannya. Wanita itu menjatuhkan kotak-kotak itu di depan Yoona dengan wajah pucat dan tangan bergetar yang terlihat kentara di indera penglihatan Yoona.

“Hyerin, kau baik-baik saja?”

“Baru saja aku menerima teror lagi, sebuah plastik yang berisi cairan merah dilemparkan begitu saja dari luar kamarku hingga membuat kamarku kotor penuh dengan bercak merah seperti darah. Yoona, apa yang harus kulakukan sekarang? Dari hari ke hari peneror itu terus menghantuiku dengan berbagai macam hal-hal mengerikan yang membuatku semakin takut. Malam ini Hyura akan datang karena aku sudah menghubunginya agar ia cepat pulang. Aku takut berada di apartement ini sendirian, setelah ini aku akan mencari apartement baru agar aku terhindar dari peneror sialan itu.” Ucap Hyerin frustasi sambil menelungkupkan kepalanya dianatar lututnya. Yoona memberi kode pada Donghae untuk masuk ke dalam kamar Hyerin dan mengecek bagaimana keadaan kamar itu setelah si peneror melakukan aksinya. Mungkin saja selama ini peneror itu juga meletakan cctv atau perekam disekitar kamar Hyerin, sehingga ia dapat dengan mudah mengontrol berbagai aktivitas yang dilakukan Hyerin.

“Tenanglah, kami akan menolongmu, kami akan menemukan si peneror itu. Kami janji.” Ucap Yoona bersungguh-sungguh di depan Hyerin. Wanita itu memeluk Yoona erat dan menangis sesenggukan di atas pundak Yoona dengan tubuh yang masih bergetar ketakuta.

“Aku menemukan ini di dalam kamar Hyerin, selama ini peneror itu telah memata-matainya.”

Tiba-tiba Donghae muncul dengan sebuah alat perekam kecil dan juga sebuah kabel yang telah diputus Donghae dengan paksa. Melihat apa yang dibawa oleh Donghae, Hyerin semakin menangis histeris karena ternyata ia telah diawasi dengan cukup lama oleh sang peneror. Yoonapun kembali menenangkan Hyerin dan menyuruh Donghae untuk melaporkan apa yang dialami Hyerin pada pihak polisi agar Hyerin memiliki badan hukum yang melindunginya. Tapi ia dan Donghae tetap akan melakukan berbagai macam cara untuk menyelamatkan Hyerin dari penerornya yang sudah kelewat batas itu.

“Hey, berhenti kau!”

Yoona dan Hyerin menoleh bersamaan kearah pintu utama yang baru saja dibuka Donghae. Baru saja mereka mendengar suara Donghae yang berteriak keras sebelum mereka mendengar suara langkah kaki Donghae yang bergerak ribut disepanjang lorong apartement Hyerin yang sepi. Cepat-cepat Yoona dan Hyerin berlari ke depan untuk melihat apa yang sedang terjadi pada Donghae, namun ketika di depan pintu mereka kembali menemukan sebuah paket yang berisi pisau dengan lumuran cairan merah di atasnya. Dengan hati-hati Yoona mengangkat box itu dan membuangnya ke dalam tong sampah karena ia tak ingin Hyerin semakin ketakutan dengan semua barang-barang yang dikirimkan si peneror ke apartementnya. Lalu tak berapa lama Donghae muncul dengan nafas ngos-ngosan dan juga sebuah benda di tangannya.

“Hoshh.. aku hoshh… menemukan ini di depan pintu tangga darurat sebelum orang misterius itu kabur entah kemana.”

Donghae menunjukan sebuah anting-anting di tangannya pada Yoona dan Hyerin. Hyerin yang melihat itu langsung mengangkatnya dan membuangnya ke dalam tong sampah dengan tubuh gemetar dan ketakutan.

“Aku tidak mau melihatnya, tolong jauhkan aku dari benda-benda terkutuk itu.” Jerit Hyerin histeris sambil berlari masuk ke dalam kamarnya. Yoona segera memungut anting-anting itu dari dalam keranjang sampah dan menyuruh Donghae untuk menyimpannya karena mungkin saja anting-anting itu dapat dijadikan alat untuk mengungkap jati diri si peneror sebenarnya.

“Oppa, sepertinya masalah peneror ini benar-benar serius, kita harus terus mendampingin Hyerin hingga pelaku peneror itu ditemukan. Oppa, apa kau bisa melacak nomor si peneror itu?”

“Seharusnya aku bisa melakukannya, tapi di sini kita tidak memiliki peralatan pelacak canggih seperti yang berada di markas.”

Yoona mendesah lesu dan mulai mencari cara agar mereka tetap bisa melacak si peneror itu meskipun mereka tidak memiliki peralatan canggih di apartement Hyerin. Lalu Yoona mulai mengutak-atik ponselnya dan bertanya pada rekannya yang bekerja di bagian teknik jaringan. Ia pikir rekannya itu pasti memiliki solusi lain untuk masalah keterbatasan alat yang mereka miliki.

“Oppa, kita tetap bisa melacak si peneror itu dengan software yang baru saja dikirimkan Sungjae padaku. Lihat, ia sudah mengirimkan softwarenya padaku.”

Yoona menunjukan software pelacak yang baru saja dikirimkan Sungjae padanya. Ia pun mengambil alih ponsel milik Yoona dan mulai mengutak-atik software tersebut agar bisa digunakan untuk melacak si peneror.

“Kita bisa melacaknya saat peneror itu menghubungi Hyerin. Cepat katakan pada Hyerin jika kita bisa melacak keberadaan si peneror itu jika si peneror mulai menghubunginya lagi.”

Yoona pun segera bergegas masuk menyusul Hyerin yang sedang meringkuk ketakutan di dalam kamarnya. Sedangkan Donghae mulai menyiapkan software pemberian Sungjae untuk melakukan pelacakan pada si peneror. Tapi ketika ia tengah asik dengan software itu, tiba-tiba ponsel milik Hyerin yang tergletak di atas karpet berdering kembali. Dengan cepat Donghae segera mengangkat panggilan itu sambil mengaktifkan software pelacaknya untuk melacak jejak si peneror yang meresahkan itu.

“Halo! Siapa kau sebenarnya, keluarlah dan hadapi kami dengan berani. Dasar kau pengecut!” Maki Donghae keras dengan penuh kebencian. Namun si peneror itu tak kunjung membuka suara untuk membalas makian Donghae. Justru yang terdengar oleh Donghae adalah suara hembusan nafas dan juga suara gemerisik daun yang begitu berisik di belakangnya.

“Kalian tidak akan bisa menangkapku….. brzttt brztt brtzzztt.”

Klik

Donghae mengernyitkan dahinya ketika peneror itu akhirnya mematikan sambungan teleponnya setelah beberapa kali ia mendengar suara seperti sinyal jaringan yang tidak stabil dan suara gemrisik daun yang terdengar begitu nyaring di belakangnya. Donghae pun mulai mengecek software pelacaknya yang mulai memunculkan informasi berupa angka geografis dimana si peneror itu berada. Cepat-cepat Donghae menuliskan angka-angka itu di atas sebuah kertas telepon yang ia temukan di atas meja lampu agar ia bisa segera mengetahui dimana keberadaan si peneror itu berada.

“Bagaimana oppa, apa peneror itu sudah menghubungi ponsel Jung Hyerin lagi?”

“Lihat, software pelacak itu berhasil menemukan titik koordinat dimana si peneror itu berada. Segera setelah kita menafsirkan titik-titik koordinat ini, kita dapat menemukan dimana keberadaan si peneror itu sekarang.”

Yoona menganggukan kepalanya mengerti dan segera membantu suaminya untuk menafsirkan angka-angka geografis itu. Lagipula saat ini Hyerin sudah tenang setelah ia menyuruh wanita itu untuk memejamkan matanya sejenak agar ia tidak terus dilanda kepanikan karena memikirkan si peneror yang mungkin saja akan mendatanginya dan membunuhnya hari ini.

“Yoong, aku tahu dimana keberadaan si peneror itu.”

Setelah berkutat dengan angka-angka itu selama tiga puluh menit lamanya, Donghae dapat menafsirkan titik-titik koordinat itu hingga menciptakan sebuah alamat yang begitu lengkap mengenai keberadaan sang peneror itu. Dan setelah Yoona mencari alamat itu melalui internet, mereka menemukan tempat dimana si peneror itu bersembunyi selama ini.

“Pemakaman Ilsan.” Gumam Yoona tak mengerti sambil menunjukan hasil pencariannya pada sang suami. Donghae pun membaca alamat tempat itu dengan seksama dan menemukan sebuah fakta jika alamat yang mereka dapat dari software pelacak mengarah pada pemakaman Ilsan yang berjarak lima kilometer dari apartement Jung Hyerin.

“Kita haru segera kesana untuk memastikan si peneror itu masih berada di sana atau tidak. Lagipula saat ini Hyerin sedang tertidur pulas di kamarnya, jadi kita bisa meninggalkannya sebentar untuk mengecek pemakaman.”

“Ayo kita pergi sekarang, sebelum hari semakin sore karena sebentar lagi matahari akan terbenam, pemakaman Ilsan pasti akan sangat gelap saat malam hari.”

Yoona dan Donghae segera membereskan barang-barang mereka dan bergegas menuju pemakaman Ilsan untuk menyelidiki keberadaan si peneror. Sebelum pergi tak lupa Yoona menempelkan note di depan kamar Hyerin agar wanita itu tidak mencari-carinya setelah terbangun nanti.

“Ayo oppa kita berangkat.”

-00-

Yoona dan Donghae berjalan beriringan di dalam pemakaman Ilsan yang terlihat sepi dan senyap. Matahari hampir saja tenggelam di ufuk barat, dan membuat suasana di dalam pemakaman Ilsan semakin mencekam. Yoona dan Donghae terus berjalan menyusuri setiap makam yang berada di sana untuk menemukan sang peneror yang kemungkinan sedang bersembunyi di dalam makam tersebut. Tapi hingga mereka lelah berputar-putar mengelilingi makam tersebut, mereka sama sekali tidak menemukan satu pun orang di sana. Makam itu sepi, hanya ada mereka berdua yang sejak tadi berjalan kesana kemari tak tentu arah seperti orang bodoh.

“Oppa, kupikir si peneror itu sudah pergi dari makam ini, kita terlambat untuk menemukannya.” Ucap Yoona lelah sambil menyandarkan kepalanya di pundak Donghae. Mereka berdua terus berjalan diantara makam-makam untuk menemukan jalan keluar yang berada di ujung jalan setapak yang mereka lalui.

“Kalau begitu anggap saja kita sedang berkencan.” Jawab Donghae santai. Yoona memukul lengan Donghae pelan sambil memberikan tatapan penuh peringatan pada pria itu.

“Jangan bicara sembarangan oppa, kita sedang berada di dalam makam.” Ucap Yoona memperingatkan. Lee Donghae tertawa mengejek kearah isterinya sambil menuduh isterinya penakut.

“Apa kau takut Yoong?” Goda Donghae sambil berjalan cepat di depannya. Yoona mendengus kesal dengan sikap Donghae yang sedang menggodanya dan hendak pergi meninggalkannya untuk menakut-nakutinya.

“Aku tidak takut oppa! Bukankah dulu sebelum menjadi salah satu intel kami juga pernah menjalani ujian seperti ini, jadi kau tidak bisa menakut-nakutiku dengan trik murahanmu yang tak berguna itu.”

“Benarkah? Kalau begitu sekarang kita berpencar, aku akan pergi ke sisi barat, dan kau pergi ke sisi timur. Siapa tahu kita telah melewatkan sesuatu yang penting di dalam makam ini, karena aku memiliki perasaan yang kuat jika peneror itu sedang mencoba untuk menunjukan sesuatu pada kita.” Tantang Donghae dengan seringaian licik. Yoona menatap Donghae angkuh sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Tentu saja ia akan menerima tawaran itu dengan senang hati, karena ia bukan wanita penakut. Justru ia lebih memilih bertemu hantu karena mereka tidak lebih berbahaya daripada manusia.

“Tidak masalah, lagipula aku bukan wanita penakut. Kita akan bertemu di depan pintu keluar pemakaman.”

Yoona pun segera berjalan pergi mendahului Donghae untuk berjalan ke sisi timur. Suara hewan malam yang mulai keluar dari sarangnya membuat suasana pemakaman itu semakin mencekam. Namun Yoona memilih untuk bersikap santai sambil mengamati deretan batu nisan yang tersusun rapi di samping kanan dan kirinya. Setiap batu nisan yang ia lewati, ia selalu membaca nama-nama yang tertera di atas batu nisan tersebut agar ia dapat menghubungkannya dengan si peneror yang benar-benar misterius itu.

“Yoong, kemarilah.”

Yoona mendengar suara Donghae yang tengah memanggilnya dari sisi sebelah barat. Pria itu melambaikan tangannya dalam kegelapan malam yang membuat Yoona merasa kesulitan untuk melihat sosok suaminya.

“Tunggu sebentar, aku tidak bisa melihat wajah oppa dengan jelas.” Teriak Yoona seperti wanita desa yang hendak berkencan dengan kekasihnya yang berada di desa sebelah. Yoona pun memutuskan untuk mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter yang berada di ponselnya. Tapi ketika ia menyorotkan lampu senternya kearah suara Donghae, tiba-tiba suaminya itu sudah menghilang. Ia pun mengarahkan senter ponselnya ke berbagai arah untuk mencari suaminya, namun hasilnya nihil, suaminya tidak ada dimanapun. Dengan perasaan was-was, Yoona berjalan tergesa-gesa menuju sisi barat makam untuk mencari keberadaan suaminya yang tiba-tiba menghilang.

“Oppa… kau dimana?” Teriak Yoona keras di tengah-tengah makam. Suaranya yang nyaring terdengar menggema disetiap sudut pemakaman, namun suaminya itu sama sekali tak menjawab panggilannya dan hanya suara angin yang terus berdesir disekitarnya. Yoona pun memutuskan untuk berjalan lebih jauh menyisiri pemakaman sisi barat karena ia takut jika si peneror itu telah menangkap suaminya.

Srakk

Yoona mengarahkan senternya ke belakang tubuhnya ketika ia mendengar suara ranting yang bergesekan dengan tanah. Namun tidak ada apapun yang terjadi di belakangnya, hanya ada jejeran makam yang tampak mengerikan diterpa cahaya bulan yang remang-remang. Yoona pun kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari Donghae. Namun tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkeram seseorang dan membuatnya memekik keras karena terkejut.

“Kyaaaa.. Kyaaa, lepaskan aku!!” Teriak Yoona histeris sambil melompat-lompat heboh di tengah makam. Donghae yang mendengar suara teriaka Yoona yang ketakutan langsung tertawa terbahak-bahak dengan ekspresi wajah puas yang menyebalkan.

“Jadi, seperti inikah sikap seorang wanita pemberani?”

“Oppa!! Dasar menyebalkan! Minggir, jangan halangi langkahku.” Bentak Yoona gusar sambil mendorong tubuh Donghae keras ke samping.

“Arghh… Yoong!” Rintih Donghae keras karena ia baru saja terjatuh di atas sebuah makam. Yoona pun membalas suaminya dengan tertawa tak kalah menyebalkannya seperti apa yang dilakukan Donghae padanya.

“Rasakan! Itu adalah balasan untuk orang menyebalkan seperti oppa. Ck, cepat bangun. Kita harus segera pergi untuk menemui Hyerin, kita sudah terlalu lama pergi meninggalkannya.” Ajak Yoona sambil membantu Donghae untuk berdiri. Wanita itu meletakan ponselnya di atas makam yang berada di sebelah Donghae, lalu menarik tangan suaminya untuk berdiri.

“Yoong, siapa nama suami Jung Hyerin yang sudah meninggal?”

“Shinjung, Kang Shingjung.”

“Lihat makam itu, apa itu milik mendiang Kang Shinjung, suami dari sahabatmu?”

Yoona pun menyorot senternya pada sebuah nisan yang baru saja diduduki oleh Donghae saat pria itu terjatuh.

“Kurasa ini memang milik Kang Shinjung, tanggal kematiannya tertulis bulan lalu, jadi ini benar-benar makam Kang Shinjung. Tapi apa hubungannya dengan makam Kang Shinjung dan si peneror itu, apa si peneror itu pernah memiliki hubungan khusus dengan Kang Shinjung sebelum Kang Shinjung meninggal dan memutuskan untuk meneror Hyerin? Ck, aku lupa menanyakan hubungan Hyerin dan Shinjung setelah kami berpisah dari senior high school.” Decak Yoona kesal pada dirinya sendiri. Donghae tampak sibuk berpikir di sebelah Yoona sambil mengamati makam milik Kang Shinjung lekat-lekat.

“Menurutku, Hyerin, Kang Shinjung, dan si peneror itu saling berhubungan, tapi apa? Sampai sejauh ini aku belum bisa menganalisisnya dengan jelas karena kita belum mendapatkan cukup informasi untuk menguak kasus peneroran yang terjadi pada Jung Hyerin. Apa kau merasa ada sesuatu yang janggal dengan Jung Hyerin selama kau berada di apartementnya dan di kamarnya. Mungkin kau menemukan sesuatu yang terlihat mencurigakan di sana?”

Yoona tampak berpikir sebentar sebelum ia memekik heboh dan menyuruh Donghae untuk mengeluarkan anting-anting yang Donghae temukan di depan tangga darurat.

“Oppa, cepat keluarkan anting-anting yang kau termukan di depan tangga darurat.”

Donghae merogoh saku kiri celananya dan memberikan sebuah anting-anting kecil berbandul mutiara yang tampak bersinar tertimpa cahaya bulan yang remang-remang.

“Ada apa dengan anting-anting itu Yoong, apa kau menemukan sesuatu?”

“Oppa sekarang aku ingat dengan anting-anting ini. Sebenarnya anting-anting ini milik Jung Hyerin. Dulu saat senior high school Hyerin pernah menunjukan padaku jika ia dulu mendapatkan hadiah dari mendiang ayahnya sebuah anting-anting yang sama persis dengan milik Hyura, namun milik Hyura memiliki bandul mutiara berwarna hitam, sedangkan milik Hyerin memiliki bandul mutiara berwarna putih. Tadi saat aku menenagkan Hyerin di kamarnya, aku melihat Hyerin menggunakan anting-anting berbandul mutiara hitam dikedua telinganya. Oppa, jangan-jangan wanita yang mengaku sebagai Jung Hyerin sebenarnya adalah Jung Hyura, karena selama ini mereka memiliki wajah yang snagat mirip.”

“Tapi kenapa Hyura harus berpura-pura untuk menjadi kakaknya, kenapa ia harus menyembunyikan identitasnya dari kita?”

“Bagaimana jika sebenarnya Hyerin sedang menyuruh Hyura untuk menjadi dirinya agar ia bisa meminta tolong padaku, karena selama ini Hyerin sudah tahu jika aku bekerja sebagai intel negara. Oppa kita harus kembali ke apartement Jung Hyura, karena mungkin saja wanita itu sedang dalam bahaya.” Ucap Yoona panik. Namun sebelum Yoona berjalan pergi meninggalkannya, Donghae langsung mencengkeram pergelangan tangan Yoona agar Yoona tidak bisa bergerak kemanapun, karena wanita itu harus menjelaskan analisisnya yang membingungkan itu.

“Katakan padaku apa yang sedang terjadi.”

“Menurutku pelaku peneroran Jung Hyura adalah kakaknya sendiri, Jung Hyerin karena selain barang bukti berupa anting-anting yang oppa temukan di depan pintu tangga darurat, si peneror juga terlihat begitu ahli dalam melakukan rencananya. Bahkan peneror itu sampai memasang alat penyadap di dalam kamar Hyura yang selalu tertutup itu. Jika bukan Hyerin yang melakukannya, lalu siapa lagi? Apalagi selama ini Hyura dan Hyerin tinggal di dalam apartement yang sama semenjak Hyura kehilangan suaminya. Jadi, aku sangat yakin jika pelaku peneroran itu adalah Jung Hyerin. Tapi aku masih tidak mengerti dengan motif Jung Hyerin melakukan hal ini pada adiknya sendiri. Bukankah selama ini mereka saling menyayangi satu sama lain?”

“Tapi Yoong, kau melupakan Shinjung dalam analisismu. Kau bilang Shinjung adalah kekasih Jung Hyerin saat senior high school, tapi jika yang kita temui adalah Jung Hyura, berarti pria itu tidak menikah dengan Jung Hyerin, melainkan menikah dengan Jung Hyura, menurutku salah satu alasan Hyerin melakukan hal ini karena Shinjung yang menikah dengan adiknya, bukan dirinya. Sebaiknya kita memang segera kembali ke apartement Jung Hyura untuk menyelidiki masalah ini lebih lanjut dan membuktikan kebenaran analisis kita.”

Pasangan suami isteri itu pun langsung berjalan tergesa-gesa meninggalkan pemakaman Ilsan yang sepi itu untuk membuktikan kebenaran analisis mereka di apartement Jung Hyura, karena hanya wanita itulah yang mengetahui alasan sebenarnya dibalik sikap kakaknya yang terus menerornya selama ini.

-00-

Ting tong

Yoona menekan bel apartement milik Jung Hyura berkali-kali hingga kakinya terasa pegal, karena sejak tadi sang pemilik apartement tak kunjung membukakan pintunya. Padahal mereka sudah berdiri sejak lima belas menit yang lalu sambil menekan bel tersebut secara serampangan.

“Yoong, kita dobrak saja pintunya, aku takut sesuatu yang buruk telah terjadi pada Jung Hyura di dalam sana.”

Yoona menganggukan kepalanya setuju dan sedikit menyingkir menjauh dari pintu karena suaminya hendak mendobrak pintu kayu itu dengan tubuhnya.

Brakk

Dalam tiga kali dorongan akhirnya pintu itu dapat terbuka. Kesan pertama yang dirasakan Yoona saat masuk ke dalam apartement Jung Hyura adalah sepi dan senyap. Tidak ada tanda-tanda adanya kehidupan di dalam apartement tersebut. Bahkan letak barang-barang yang berserakan di ruang tamu masih sama seperti sebelum mereka pergi meninggalkan apartement itu untuk pergi ke pemakaman Ilsan.

“Apa menurut oppa Hyura masih tertidur di dalam kamarnya? Ruangan ini tampak tak berubah sedikitpun sejak kita pergi menuju pemakaman Ilsan. Bahkan ponsel milik Hyura masih berada di atas karpet. Apa menurut oppa Hyura baik-baik saja?”

“Lebih baik kita melihat langsung bagaimana kondisi Hyura di kamarnya daripada kita hanya sekedar menebak-nebaknya di sini.” Ucap Donghae memberi saran. Mereka berduapun semakin masuk ke dalam apartement Jung Hyura untuk mencari keberadaan sang pemilik apartement di dalam sana.

Yoona menyusuri setiap sudut apartement milik Jung Hyura, namun ia sama sekali tidak menemukan Hyura dimanapu kecuali di dalam kamarnya karena ia belum mencoba untuk mencarinya di dalam kamar. Ia pun memanggil suaminya dan menyuruh sang suami untuk mendobrak pintu kamar Hyura yang terkunci. Padahal sebelumnya Yoona merasa yakin jika Hyura tidak mengunci kamarnya dari dalam.

Brakk! Brakk!

Donghae mendobrak pintu coklat itu beberapa kali hingga akhirnya pintu coklat tersebut dapat membuka sempurna dan memunculkan Hyerin dan Hyura sedang memejamkan matanya damai dengan sebuah pisau yang menancap di dada mereka masing-masing.

“Oppa!”

Yoona memekik terkejut sambil menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.

“Oppa, kita terlambat. Hyura dan Hyerin sudah meninggal.” Ucap Yoona penuh penyesalan sambil menyeka bulir-bulir air matanya yang semakin deras membanjiri wajahnya. Namun Donghae langsung menenangkan Yoona dan mengatakan pada Yoona jika semua itu bukan salahnya, karena Donghae baru saja menemukan sebuah surat yang tertempel di depan cermin milik Hyura.

“Sudahlah Yoong, ini bukan salahmu. Hyerin sendiri yang ingin mengakhiri kehidupan adiknya karena adiknya sudah banyak membawa kekecewaan bagi kakaknya. Dan untuk menebus rasa bersalahnya pada sang adik, akhirnya Hyerin memutuskan untuk bunuh diri karena meskipun ia membenci adiknya atas keserakahannya, tapi ia tidak bisa membiarkan adiknya pergi begitu saja. Ia ingin terus bersama adiknya dan mengurus adiknya meskipun mereka sudah tidak hidup lagi di dunia, jadi jangan salahkan dirimu sendiri atas kematian mereka. Terkadang kita memang tidak bisa menyelamatkan orang-orang yang seharusnya kita selamatkan. Tapi kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian ini, karena Tuhan memang sudah menggariskan kematian Jung Hyura hari ini oleh kakak kandungnya. Yang harus kau ingat dari peristiwa hari ini adalah, kau telah berusaha. Kau telah berusaha untuk melindungi sahabatmu dan juga saudara kandung saudaramu, jadi tenanglah dan ikhlaskan kepergian mereka.”

Yoona memeluk tubuh Donghae erat sambil menangis pilu di atas pundak Donghae. Apa yang baru saja dikatakan oleh Donghae memang benar, ia memang tidak bisa selalu menyelamatkan orang-orang yang sedang dalam bahaya, tapi setidaknya hari ini ia telah berusaha untuk melindungi wanita itu dari kejahatan sang peneror. Tapi Tuhan sepertinya berkehendak lain dan ingin mengirim Hyerin dan Hyura ke surga secepatnya.

10 thoughts on “Bullets Of Justice: Terror (Fifth)

  1. Di waktu senggang pun pasti mereka harus di sibukkan sama sebuah kasus ..dan bersyukur nya si kasusnya selalu beres dalam sekali penyelidikan ..
    semoga next chapter nya yg bahagia” dlu yaa .

  2. Part awal sebenarnya seru dan menegangkan thor.. smpai bagian dimana donghae dan yoona mencoba mencari pelaku teror. Cuma di akhir cerita pas bagian dongjae menganalisa penyebab hyerin mengakhiri hidupnya menuruq krg masuk akal thor.. maaf.. but,over all part ini tetep punya keunikan sendiri dan enak tuk dibaca. Gomawo THR Ffnya thor… 3 postingan dlm 1 hari.. keren.

  3. Hyerin dan Hyura sungguh rumit permasalahan mereka Hyerin yang nyamar jadi adiknya dan adiknya Hyura yang serakah. Walaupun Hyerin menyayangi Hyura tapi kenapa harus dibunuh adiknya dan karena rasa sayang ke adiknya melebihi rasa kecewa nya Hyerin ke Hyura jadinya dia bunuh diri deh.

  4. aduchhhhh ngeri bget klau dah teror_teror ky gni,,,
    heeemmm jd slma ini yg jd peneror adlah jung hyerin,,,,pi masalah dua bersaudara itu apa kok jd kyak gini
    heeem bkin yoonhae moment donk biar g tegang ,,,

  5. Kirain disini yg diteror itu hae atau yoong, tpi ternyata mereka dptin kerjaan dadakan buat nyelidikin aksi teror 😂😂 Huwaa smoga aaja yoonhae ttp aman dan kluarga mereka ttp hrmonis..

    next kk.. fighting!

  6. Dari awal udh nebak waktu cewe yg diteror manggilnya eonni, sedangkan hyerin itu kakak
    Ternyata tebakanku bener
    Yg di pemakaman bukannya serem, malah lucu ngeliat yoonhae mesra”an ga liat tempat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.