Queen Of Time Sequel: Have A Blast

Calistha membuka matanya perlahan ketika dirasakannya sentuhan lembut tangan seseorang sedang membelai rambutnya pelan. Sembari menggeliat kecil, Calistha tersenyum manis pada Aiden yang saat ini sedang duduk di tepi ranjangnya sambil membelai surai coklatnya lembut.

“Hmm, apa yang kau lakukan?” Tanya Calistha dengan suara serak. Seharian ini mereka melakukan berbagai macam hal yang selama ini tidak pernah mereka lakukan. Mulai dari berkuda bersama berkeliling kota Khronos, memancing di sungai, dan melakukan piknik di tengah hutan perbatasan timur yang selama ini belum pernah ia kunjungi. Lalu pada akhirnya merasa kelelahan dan langsung jatuh tertidur ketika mereka tiba di istana.

Calistha melirik jam coklatnya sekilas untuk menerka sudah berapa lama ia tertidur. Tapi sayangnya jam itu masih berhenti berdetak, dan saat ia melirik wajah Aiden sekilas, tampaknya sang pengendali waktu belum memiliki niat untuk mengembalikannya dalam waktu dekat.

Aiden belum mengembalikan waktunya seperti semula?

“Kau sangat lelah.”

Kalimat pernyataan pertama yang dilontarkan Aiden setelah ia membuka matanya membuat Calistha sedikit tertegun bingung. Ia pikir saat ini Aiden sedang tidak ingin membicarakan hal itu, karena raut wajah pria itu mengatakan hal yang sebaliknya.

“Kau sedang memiliki masalah? Emm, dan mengenai waktunya, apa kau tidak ingin mengembalikannya seperti semula?” Tanya Calistha hati-hati. Aiden tampak termenung sejenak dan tidak langsung menjawab pertanyaan Calistha. Ia terlihat seperti sedang memiliki beban yang sangat berat di pundaknya.

“Aku merasa takut. Untuk pertama kalinya aku merasakan takut Cals.”

Calistha langsung membawa Aiden kedalam pelukannya sambil mengelus kepala pria itu pelan. Ia pikir setelah ia bangun dan menjadi sosok yang baru untuk Aiden, semua masalah pria itu akan hilang seketika. Tapi nyatanya semua itu tidak semudah yang ia pikirkan. Aiden ternyata masih memiliki ganjalan lain di hatinya selain keadaanya yang sudah lebih dewasa dan mulai menerima takdirnya. Tapi sebenarnya apa lagi yang dipikirkan pria itu? Bukankah semua masalah yang terjadi diantara mereka sudah selesai?

“Takut? Bukankah hal itu wajar terjadi? Semua orang memiliki ketakutan Aiden, mungkin kau hanya tidak menyadarinya selama ini. Jauh di dalam lubuk hatimu kau masih memilikinya, karena kau bukan monster.” Ucap Calistha menenangkan. Aiden mengambil kedua tangan Calistha dan mengecup punggung tangan itu penuh cinta. Meskipun sebenarnya Calistha adalah sumber ketakutannya, namun wanita itu pula yang bisa menenangkan hatinya dan menghangatkannya.

“Terimakasih, kau membuat hatiku menjadi lebih baik. Sebenarnya aku sangat merindukan Spencer dan seluruh rakyatku, tapi aku takut. Aku takut kau akan berubah pikiran saat bertemu Max dan memutuskan untuk melakukan semuanya. Bagaimanapun juga semua yang kau alami di dunia mimpi, sebagian besar adalah hasil penglihatanku di masa depan. Selama ini semua penglihatanku tidak pernah salah Cals, apa yang kulihat pasti akan benar-benar terjadi dan tidak dapat kucegah. Aku takut kau juga akan melakukan hal itu, pergi bersama Max dan membuatku hancur.”

Aiden bercerita dengan penuh perasaan dan mata sendu seperti seorang pesakitan yang sedang dilanda patah hati. Namun Calistha langsung tersenyum menenangkan dan menggenggam tangan lebar itu erat di atas pangkuannya.

“Apa kau percaya padaku? Apa kau yakin dengan perasaanku? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Aiden, aku akan selalu berada di sampingmu. Meskipun kau memang telah melihat banyak kejadian menyakitkan di masa depan, tapi percayalah padaku dan pada hatiku, aku bukan Calistha yang dulu lagi, aku telah berubah. Banyak hal yang mengubahku dan membuatku menjadi Calistha yang lebih baik. Jadi kumohon lupakan semua penglihatan itu dan untuk kali ini percayalah padaku. Jika aku terbukti mengkhianatimu, kau boleh menghukumku dengan hukuman yang sangat berat atau bahkan memenggal kepalaku dan menggantungkannya di tengah alun-alun sama seperti yang kau lakukan pada Gazelle di dalam mimpiku.”

Aiden terkekeh pelan dengan ucapan Calistha sambil mengacak-acak surai coklat itu sedikit keras.

“Kau pikir aku akan sampai hati melakukan hal itu padamu? Yang benar saja Cals. Meskipun kau mati, aku tetap akan memperlakukanmu dengan sangat terhormat. Aku akan meletakanmu di dalam peti kaca dan mengawetkan tubuhmu. Tentu aku tidak akan memperlakukanmu sama seperti Gazelle.”

“Ck, kau justru akan terlihat seperti raja sakit karena menyimpan sebuah mayat di dalam istanamu. Dan aku jelas-jelas tidak ingin diperlakukan seperti itu, terdengar sangat mengerikan.” Ucap Calistha sambil bergidik ngeri. Aiden kemudian menyipitkan mata di depan Calistha sambil menatap wajah cantik wanita itu bersungguh-sungguh.

“Apa kau tahu jika ruangan yang berada tepat di bawah kamarmu ini adalah ruang eksekusi untuk para tahanan yang membangkang, jadi sudah pasti ruangan itu berisi banyak mayat dan juga hantu-hantu dari para pesakitan yang mungkin saja akan melayang-layang di dalam kamarmu. Kamarmu ini mungkin saja berhantu Cals.”

Bugh

Calistha melemparkan sebuah bantal besar ke arah Aiden sambil bersungut-sungut kesal. Pria itu jelas tahu jika ia sedikit takut dengan hal-hal yang berbau mistis seperti itu, tapi dengan jahilnya pria itu justru mengarang cerita yang sangat tidak pantas untuk diceritakan padanya.

“Itu tidak lucu Aiden! Aku tidak percaya padamu.” Teriak Calistha kesal. Aiden tertawa terbahak-bahak di depan Calistha dengan wajah yang sangat menyebalkan, membuat Calistha ingin memukul pria itu lagi dengan bantal atau benda lain yang mungkin lebih keras daripada bantal.

“Kalau kau tidak percaya, kau bisa menanyakannya pada Spencer nanti.”

“Lebih baik kau segera mengembalikan waktu ini seperti semula dan hadapi semua ketakutanmu yang aneh itu, kita lihat apa yang akan terjadi setelah ini.”

Aiden menghembuskan nafasnya pelan dan setelahnya ia langsung menjentikan jari tangannya tanpa banyak berpikir atau menimbang-nimbang niatannya lagi.

Tekk

“Selamat datang di dunia yang sesungguhnya Cals.”

Refleks kedua mata Calistha langsung melihat jam dinding coklat besar yang berada di sudut ruangannya, sekarang jam itu benar-benar berdetak dan berputar kembali seperti semula. Dengan penuh sukacita Calistha langsung memeluk Aiden dan mengucapkan banyak terimakasih pada pria itu.

“Terimakasih banyak Aiden, mulai detik ini mari kita hadapi semuanya bersama-sama. Kau dan aku, kita akan bersama-sama hingga akhir.”

Aiden membalas pelukan itu sambil menganggukan kepalanya pelan. Kali ini ia akan memberikan kepercayaan itu pada Calistha. Karena ia yakin Calistha tidak akan pernah mengkhianatinya dan membuatnya menyesal karena telah meletakan kepercayaan itu pada Calistha.

“Tepati janjimu Cals, dan selesaikan masalahmu dengan Max hari ini sebelum pernikahan kita esok pagi.”

-00-

Max berlari tergesa-gesa menyusuri lorong-lorong panjang yang berada di dalam istana Khronos. Pagi ini entah mengapa ia merasa berbeda, seperti ia baru saja dibangunkan dari sebuah mimpi yang panjang. Tapi tentu saja hal itu sangat konyol untuk dipikirkan mengingat pagi ini ia baru saja tiba di kerajaan Khronos setelah menempuh perjalanan panjang dari hutan terlarang di kerajaannya, kerajaan Hora. Dari kejauhan Max melihat sang pengawal setia Aiden, Spencer, tengah berjalan dalam diam sambil menatap pergerakannya yang berisik. Dengan hormat Max berpura-pura menundukan kepalanya dan berusaha bersikap seperti seorang prajurit pada umumnya.

“Mengapa kau berlari-lari seperti itu, apakah sesuatu yang buruk telah terjadi?”

“Tidak tuan, semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Saya.. saya hanya ingin menyampaikan pesan pada Yang Mulia ratu Calistha jika raja Aiden sedang menunggu ratu di dalam ruangannya.”

Spencer terlihat tidak menunjukan ekspresi apapun ketika Max mengatakan hal itu. Ia hanya menganggukan kepalanya sekilas dan sedikit menggeser tubuhnya ke kanan untuk memberikan jalan pada Max untuk lewat.

“Kalau begitu bergegaslah.” Ucap Spencer sambil lalu tanpa mempedulikan kernyitan heran di mata Max. Ia pikir Spencer akan memberikan berbagai macam pertanyaan untuknya dan menyulitkan langkahnya untuk menemui Calistha, ternyata pria itu cukup mudah untuk dilewati dan tidak perlu melakukan kebohongan lebih untuk menipu sang pengawal setia.

Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku.

Max mengendikan bahunya ringan dan segera berjalan kembali menyusuri lorong-lorong panjang untuk menuju ke tempat kamar Calistha berada. Sembari berjalan, Max juga mengamati setiap pintu yang ia temui di lorong-lorong panjang yang cukup remang-remang itu, menurut Gazelle kamar yang ditempati oleh Calistha adalah kamar yang memiliki ukiran pintu paling indah dan berada di ujung lorong bangunan utama istana.

Ukiran itu…

Max langsung bersorak girang ketika ia menemukan sebuah pintu di ujung lorong dengan ukiran yang terlihat lebih indah dari pintu-pintu yang dilewatinya. Dengan penuh keyakinan Max langsung mengetuk pintu itu dan mendorong gagang logam itu hingga pintu kayu dengan ukuran yang cukup besar itu terbuka lebar di depannya.

Kriettt

Calistha yang mendengar bunyi pintu yang berderit langsung melepaskan pelukannya dari Aiden sambil menatap terkejut pada Max yang saat ini juga sedang menatap terkejut pada Calistha.

“Mmaafkan saya.” Ucap Max terbata-bata. Ia pikir ia hanya akan menemukan Calistah sendiri di dalam kamarnya, tapi ternyata ia justru mendapatkan kejutan dengan keberadaan Aiden di dalam kamar Calistha dan sedang memeluk wanita itu dengan erat. Bahkan meskipun Calistha telah melepaskan pelukannya dari pria itu, salah satu tangan Aiden masih setia bertengger di atas pinggang Calistha dengan posesif seakan-akan menunjukan pada Max jika Calistha adalah wanitanya.

“Kita rupanya sedang kedatangan tamu. Ada perlu apa kau datang ke sini?”

Calistha sedikit menyikut pinggang Aiden yang sedang berseru dingin pada Max. Meskipun Aiden sudah mengetahui penyamaran pria itu tapi Calistha ingin setidaknya pria arogan itu berpura-pura tidak tahu dan hanya menganggap Max sebagai seorang prajurit biasa. Lagipula seharusnya Aiden juga kembali ke kamarnya untuk bertemu dengan Gazelle yang sedang menunggunya di sana.

“Saya hanya ingin melaporkan jika prajurit yang ditugaskan untuk mengawal Yang Mulia ratu Calistha hari ini sedang sakit, sehingga saya yang akan menggantikan tugas prajurit itu untuk mengawal Yang Mulia Calistha.”

“Oh, kalau begitu lakukan tugasmu dengan baik. Jangan sampai terjadi sesuatu pada calon isteriku, karena besok kami akan melangsungkan pernikahan.” Peringat Aiden tegas pada Max. Aiden kemudian beralih pada Calistha dan menyempatkan diri untuk mencium bibir Calistha sekilas sebelum ia berjalan acuh melewati Max yang tampak syok dengan pemandangan pasangan kasmaran dihadapannya. Sedangkan Calistha sendiri tampak tersipu malu dan hanya menerima perlakukan dari Aiden tanpa banyak membantah.

Sepeninggal Aiden, suasana di dalam kamar Calistha tampak hening. Calistha yang sudah mengetahui penyamaran Max hanya mencoba untuk berpura-pura tidak tahu dan hanya menunggu Max untuk mengungkapkan jati dirinya. Sedangkan Max yang masih setia berdiri di depan Calistha tampak sedikit ragu untuk menunjukan jati dirinya yang sebenarnya dan mengatakan pada Calistha mengenai maksud dan tujuannya datang ke kerajaan Khronos. Padahal sebelumnya ia begitu yakin akan membawa Calistha pergi dan mengungkapkan seluruh perasaanya pada wanita yang sangat dicintainya itu. Tapi melihat bagaimana sikap Calistha pada Aiden dan aura kebahagiaan yang dipancarkan Calistha saat Aiden memperlakukan wanita itu dengan lembut membuat Max kehilangan seluruh semangatnya yang menggebu. Kini yang tersisa hanyalah perasaan ragu yang begitu meluap-luap di dalam hatinya.

“Ehem, apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?”

Calistha berdeham sekali untuk menyadarkan Max dari kebisuannya yang panjang. Pria itu kemudian mendongakan wajahnya dan dengan ragu mulai melepas helm prajurit yang menutupi wajahnya dari Calistha.

“Cals, ini aku.”

Calistha berpura-pura terkejut sambil menutup mulutnya yang sedikit menganga.

“Max! Ya Tuhan, ini sungguh-sungguh kau? Oh Max, aku sangat merindukanmu.” Ucap Calistha girang dan langsung menghambur ke dalam pelukan Max. Max dengan senang hati juga membalas pelukan hangat dari Calistha dengan senyum bahagia yang terpancar di wajah frustasinya.

“Aku juga sangat merindukanmu Cals, sangat. Bagaimana kabarmu, apa kau baik-baik saja?”

Calistha melepaskan pelukannya dari Max dan membawa Max untuk duduk di atas sofa empuk yang berada di tengah-tengah kamarnya. Ada banyak hal yang akan ia bicarakan dengan Max, dan ia membutuhkan tempat yang nyaman untuk membicarakan semua hal sensitif itu pada Max.

“Duduklah, ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu.”

Max dengan senang hati mendudukan dirinya di sebelah Calistha sambil tetap menggenggam telapak tangan kanan Calistha dengan erat. Sedangkan Calistha yang menerima perlakuan itu hanya mampu menatap nanar pada ekspresi wajah Max yang tampak bahagia. Saat ini ia merasa menjadi wanita yang sangat jahat. Setelah ini mungkin ia akan mematahkan hati seorang pria yang sedang dilandan kasmaran itu.

“Jadi bagaimana? Apa raja itu memperlakukanmu dengan buruk selama kau berada di kerajaannya?” Tanya Max membuka percakapan. Calistha tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya pelan. Kali ini ia akan memperbaiki semua kesalahannya yang ia perbuat di masa lalu. Dan ini adalah awal dari petaka yang dulu pernah terjadi.

“Raja Aiden sama sekali tidak memperlakukanku dengan buruk. Ia sebenarnya adalah raja yang baik. Lalu bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan selama ini di luar sana?”

Mendengar cerita Calistha yang tampak bahagia saat berada di kerajaan Khronos membuat Max sedikit tersenyum masam. Perasaan bahagia yang sebelumnya membuncah di dalam hatinya tiba-tiba menghilang begitu saja dan digantikan dengan perasaan sedih dan terguncang. Ia merasa takut dengan kenyataan yang akan menamparnya setelah ini.

“Aku dan ibuku berhasil bertahan di luar sana, dan kami bertemu dengan Gazelle. Ia yang menyelamatkanku dan menyembuhkan lukaku.”

Calistha menatap sedih pada perut Max yang mengalami luka tusukan. Masih teringat jelas di dalam kepalanya bagaimana kondisi Max dulu ketika kerajaan Khronos menyerang kerajaan Hora dan Aiden melukai pria itu cukup parah dibagian perutnya. Tapi saat ini ia tidak bisa menyalahkan Aiden atau berbalik pada Max. Semua kejadian buruk itu adalah awal yang membawanya menuju kebahagiaan seperti ini. Dan ia hanya harus bersikap bijak untuk menyikapi semuanya.

“Apakah ratu baik-baik saja? Maksudku… apakah ia bisa hidup dengan baik di luar kerajaan?”

“Ibuku baik-baik saja, meskipun ia selalu menghabiskan seluruh harinya dengan menggerutu, tapi kupikir ia bisa menjalaninya dengan baik. Cals, maafkan sikap ibuku dulu, maafkan sikap ibuku yang telah menghinamu dan memberikanmu pada raja Aiden.”

Calistha menggenggam tangan Max erat dan mengangguk pelan pada pria itu. Ia sekarang telah melupakan semua kepahitan yang pernah melandanya di masa lalu. Sekarang ia hanya ingin menatap masa depannya yang indah bersama Aiden.

“Aku sudah memaafkan ibumu Max. Dan sebenarnya ia sama sekali tidak salah. Seharusnya aku memang berada di sini bersama Aiden.”

“Cals, apa kau ingin lepas dari cengkeraman pria itu? Apa kau ingin pergi dari sini? Aku bisa membawamu pergi dari kerajaan ini dan membuatmu lepas dari cengkeraman raja kejam itu.”

Tiba-tiba tubuh Calistha langsung menegang di tempat. Kejadian demi kejadian yang pernah ia alami di masa lalu membuatnya begitu takut untuk menjawab pertanyaan dari Max. Masih teringat jelas di dalam kepalanya bagaimana saat itu ia mengiyakan tawaran Max dengan penuh sukacita. Dan ternyata pilihannya itu justru membawa malapetaka yang sangat mengerikan untuknya. Max mati, Gazelle mati, Tiffany mati, lalu dirinya melakukan bunuh diri. Semua ingatan itu sungguh membuatnya merasa trauma.

“Cals, apa kau baik-baik saja?” Tanya Max khawatir sambil mengguncang bahu Calistha pelan. Tiba-tiba saja Calistha menjadi pucat ketika ia menawarkan sebuah kebebasan pada wanita itu. Entah ancaman apa yang diberikan oleh Aiden, ia pikir saat ini keadaan Calistha sedang terguncang dan wanita itu membutuhkan pertolongan segera.

“Apa raja kejam itu mengancammu? Kau tidak perlu khawatir Cals, aku pasti akan melindungimu. Dan seteah ini kita bisa hidup bebas di luar sana. Aku mencintaimu Cals.” Tutup Max dengan suara tegas. Mendengar hal itu, Calistha tak kuasa untuk menitikan air mata. Ia sekarang merasa bingung dan tidak bisa mengatakan apapun pada Max. Tenggorokannya terasa kelu dan sakit hanya untuk mengatakan semua kebenaran yang ia sembunyikan dari pria itu.

“Aiden sama sekali tidak mengancamku, ia sama sekali tidak melakukan apapun padaku. Hubungan kami selama ini berjalan baik.”

“Lalu, apa yang membuatmu menangis seperti ini? Apa aku menyakitimu?” Tanya Max merasa bersalah. Calistha menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil menggenggam tangan Max agar pria itu berhenti untuk mengkhawatirkannya dan menyalahkan dirinya. Sejak awal Max adalah pria yang sangat baik, bahkan pria itu terlalu baik untuknya sehingga ia merasa tidak sampai hati untuk mengatakan semua kebenaran yang ia sembunyikan dan menghancurkan hati pria itu. Apalagi Max baru saja menyatakan perasaanya. Pasti akan sangat menyakitkan jika ia tiba-tiba mengatakan pada Max jika ia dan Aiden akan segera menikah dan ia mencintai Aiden.

“Aku hanya… aku merasa tidak sanggup untuk mengatakannya padamu.”

Hening sesaat, tidak ada satupun diantara mereka yang mengeluarkan suaranya, dan itu semakin membuat Calistha frustasi. Akhirnya ia membulatkan tekad untuk mengatakan semuanya pada Max. Persetan dengan semua kesakitan dan kepedihan yang akan dirasakan oleh pria itu, karena ini adalah satu-satunya cara untuk mencegah semua malapetaka itu terjadi.

“Max, sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu atas semua kesialan yang kau alami selama ini. Andai saja orangtuamu tidak menerimaku dan memberikanku perlidungan kau pasti akan tetap baik-baik dan akan menjadi raja yang hebat untuk kerajaanmu.”

“Cals…

“Biarkan aku melanjutkan ucapanku, dan tolong dengarkanlah.”

Max membungkam bibirnya rapat-rapat dan membiarkan Calistha menyelesaikan semua ucapannya. Ia pikir wanita itu sedang memiliki masalah dan ingin mengungkapkan sesuatu padanya.

“Max, aku tidak bisa menerima cintamu. Aku… aku mencintai Aiden.”

Deg

Max merasa jantungnya sedang diremas begitu kuat hingga ia merasa sesak dan tidak bisa bernafas. Pernyataan Calistha mengenai perasaan wanita itu pada pria lain membuat Max merasa seluruh dunianya runtuh. Ia hidup dan bertahan hingga sejauh ini hanya demi Calistha, lalu wanita itu dengan teganya langsung menghancurkan hatinya saat ia mengharapkan sesuatu yang lebih pada wanita itu.

Seperti inikah rasanya menjadi yang tidak diharapkan….

“Max.. tolong maafkan aku, aku benar-benar tidak berdaya dengan perasaan ini. Aku mencintai Aiden, dan ini adalah yang terbaik untuk masa depan kita.”

“Begitukah? Jadi menurutmu ini adalah yang terbaik untuk masa depan kita? Aku kecewa padamu.” Desis Max marah. Pria itu hendak berjalan pergi meninggalkan Calistha yang masih terisak pelan di atas sofa nyamannya, tapi tangan lembut itu segera menahan lengan Max agar pria itu tidak pergi.

“Max kumohon dengarkan penjelasanku terlebih dahulu, aku memiliki alasan atas keputusanku ini Max. Aku hanya ingin memperbaiki semuanya dan membuatmu bahagia.”

“Bahagia? Kau justru baru saja menghancurkan kebahagiaanku. Dan kau bukan seperti Calistha yang kukenal.”

Pria itu menghempaskan tangan Calistha begitu saja dan segera berjalan pergi meninggalkan Calistha yang sangat terkejut dengan perlakukan kasar pria itu. Percuma saja ia berada di sana jika wanita itu sama sekali tidak mengharapkannya dan justru mencintai musuhnya, lebih baik ia pergi dan memperbaiki hidupnya yang telah hancur dan berantakan.

“Max tunggu, aku bisa menjelaskan semuanya. Kau harus mendengarkan semua penjelasanku.” Mohon Calistha sambil mengejar langkah Max. Pria itu dengan berat hati akhirnya menghentikan langkahnya dan tanpa diduga langsung memeluk Calistha dengan erat.

“Maafkan aku karena aku baru saja menjadi pria egois, tapi aku sangat mencintaimu Cals, tak bisakah kau kembali padaku dan melupakan Aiden, ia bukan raja yang baik, ia yang telah menghancurkan kerajaanmu.”

Calistha memejamkan matanya sedih tanpa tahu apa yang harus ia katakan pada Max.

“Aku tidak bisa Max, kami sudah terikat. Aku dan Aiden, kami sudah ditakdirkan untuk berpasangan. Jika aku melawan takdir ini, malapetaka akan datang pada kami dan orang-orang yang berada disekitar kami, termasuk dirimu. Tolong merketikah sedikit Max, merketilah posisiku sebagai seorang wanita yang tidak memiliki pilihan.” Erang Calistha frustasi. Max melepaskan pelukannya pada Calistha sambil menatap wanita itu nanar. Ia merasa sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk bersanding dengan Calistha. Dan kini ia merasa seperti seorang gelandangan yang tidak memiliki apapun untuk bertahan hidup.

“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Aku sudah tidak memiliki apapun lagi di dunia ini Cals, semua harta berharga yang kumiliki telah direnggut oleh raja kejam itu, bahkan wanita yang sangat kucintaipun juga harus direbut paksa olehnya, aku.. memang pria yang tak berguna. Aku sangat menyedihkan Cals. Pantas saja raja itu dapat merebut kerajaanku dengan mudah, ini semua memang karena salahku. Ini semua karena ketololanku dalam menjadi penerus ayahku.”

Max terus memaki-maki dirinya sendiri di depan Calistha seperti seorang tolol yang sudah tidak memiliki semangat hidup. Dan Calistha sendiri seperti tidak memiliki daya untuk menghentikan pria itu. Yang ingin ia lakukan sekarang adalah mencari Aiden dan meminta pria itu untuk setidaknya memberikan Max kerajaanya kembali agar pria itu kembali mendapatkan arti dalam hidupnya.

“Max, tolong hentikan semua racauanmu yang tidak berguna itu. Meskipun kita tidak bisa saling memiliki satu sama lain, tapi kau tetap bagian dari hidupku. Aku tidak akan pernah melupakanmu Max, kau adalah pria yang sangat berarti untukku. Kau adalah kakakku. Tak bisa kubayangkan jika aku tidak memilikimu sebagai seorang kakak, pasti aku tidak akan menjadi seorang wanita tegar dan tangguh seperti ini. Dan yang terpenting aku tidak akan bisa menjadi seorang Calistha yang kau kenal. Jadi kumohon, berhentilah untuk menyalahkan dirimu sendiri atas semua hal yang telah terjadi. Semua ini adalah kehendak dari sang pencipta. Kita hanya harus melewatinya dengan kepala terangkat dan semangat yang membara, seperti yang dikatakan oleh ayahmu saat kita masih kanak-kanak.” Hibur Calistha riang. Max tersenyum getir pada Calistha ketika wanita itu mengingatkannya pada sosok sang ayah yang menjadi panutannya.

“Terimakasih Cals, sampai kapanpun kau akan menjadi satu-satunya wanita yang mengisi hatiku.”

“Oh Max akhirnya kau…”

Calistha tak kuasa membendung air matanya dan rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya. Akhirnya Max dapat menerima keputusannya dan memahami keadaanya yang serba sulit ini. Dan hari ini Calistha merasa benar-benar bahagia karena satu masalah terbesarnya telah berhasil ia atasi. Kini ia telah siap untuk melangkah ke dalam kehidupan yang sesungguhnya. Dunia kehidupan yang akan menuntunnya menjadi seorang wanita dewasa yang akan membina hubungan rumah tangganya kelak bersama Aiden dan anak-anaknya nanti.

-00-

Sementara itu saat ini Aiden sedang menyelesaikan permasalahannya sendiri dengan Gazelle. Sebelum ia melangsungkan acara pernikahannya besok, ia harus menyelesaikan semua kesalahpahaman yang selama ini terjadi diantaranya dan Gazella agar kehidupannya nanti tidak dipenuhi dengan orang-orang jahat yang ingin melakukan balas dendam padanya dan membunuh ratunya.

Dengan satu kali dorongan Aiden berhasil membuka pintu kayu yang berdiri menjulang di hadapannya. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, hari ini tepat pukul sebelas, ia akan bertemu dengan Gazelle di dalam ruangannya.

“Gazelle.”

Gazelle berjengit terkejut ketika tiba-tiba Aiden berdiri di hadapannya dan menghalanginya untuk keluar dari kamarnya. Di belakang Gazelle, Aiden dapat melihat Spencer yang tengah menatap punggung tegap Gazelle dengan pandangan nanar. Refleks pria itu menundukan kepalanya ketika sang raja saat ini sedang berada di depannya.

“Maafkan atas kelancangan saya Yang Mulia, saya ke sini karena saya ingin memperingatkan Gazelle.” Ucap Spencer dengan kepala tertunduk. Aiden mengangguk sekilas dan meminta Spencer untuk keluar dari ruangannya. Ia membutuhkan privasi untuk berbicara empat mata dengan Gazelle.

“Kau bisa keluar sekarang, aku ingin berbicara serius dengan Gazelle.”

Spencer mengangguk mengerti dan langsung berjalan pergi tanpa bertanya-tanya lebih lanjut. Dan ketika ia berpapasan dengan Gazelle di ambang pintu, pria itu sempat menatap sinis pada Gazelle sambil tersenyum mengejek karena sebentar lagi wanita itu akan mendapatkan masalah karena penyamarannya telah diketahui oleh Aiden.

“Lama tak berjumpa, bagaimana kabarmu Gazelle?”

Aiden mempersilahkan Gazelle duduk di atas sofa yang berada di sudut ruangannya sambil tetap bersikap santai, seolah-olah mereka tidak memiliki masalah yang buruk di masa lalu. Sementara itu, Gazelle tampak menatap was-was pada Aiden yang terlihat tenang namun menguarkan aura menakutkan dari tubuhnya. Meskipun perasaan itu masih bercokol di dalam hatinya, tapi tidak serta merta perasaan itu membuatnya menjadi wanita bodoh yang akan dengan mudah masuk ke dalam jebakan yang diabuat oleh Aiden. Ia tidak akan mungkin tertipu lagi seperti dulu.

“Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak perlu duduk di atas sofamu yang mahal itu, aku lebih baik berdiri di sini.” Tolak Gazelle mentah-mentah. Aiden menatap datar pada Gazelle sambil mengendikan bahunya acuh, sampai kapanpun wanita itu akan tetap keras kepala, jadi tidak ada gunanya jika ia mencoba memaksa Gazelle untuk mendudukan dirinya di atas sofa yang ia gunakan. Toh ia sama sekali tidak dirugikan dengan kekeras kepalaan wanita itu. Justru wanita itu yang akan menyesal jika menolak kebaikan hatinya yang mempersilahkannya untuk duduk dengan nyaman.

“Aku ingin membicarakan banyak hal padamu, terkait dengan kaum pemberontak, penyamaranmu hari ini, dan juga masa lalu kita yang tidak menyenangkan.” Ucap Aiden datar dengan sorot mata tajam yang mengarah tepat di kedua manik mata Gazelle. Gazelle sendiri langsung membeku di tempat ketika Aiden menyebutkan semua kepentingan pria itu padanya. Apalagi mengenai masa lalunya dengan pria itu yang sangat membekas di hatinya, membuat Gazelle kembali berharap lebih pada Aiden.

“Kau boleh membicarakan semua hal itu padaku, tapi mengenai masa lalu kita… bukankah itu sudah selesai? Tidak ada yang bisa kita bahas lagi saat ini Aiden.”

Aiden menggeram marah dalam diam ketika mendengar penolakan dari wanita itu. Ia pikir sekarang Gazelle telah berubah menjadi sosok lain yang lebih pembangkang dan sama sekali tidak sopan padanya, meskipun dulu mereka memang memiliki hubungan yang dekat satu sama lain.

“Benarkah? Lalu jika ini tidak ada kaitannya dengan masa lalu, untuk apa kau datang ke kerajaanku dan berniat untuk membawa kabur ratuku untuk kau bunuh? Dan jika semuanya telah selesai, mengapa kau memutuskan untuk pergi dari kerajaanku? Apa kau sadar jika perbuatanmu itu telah melukai kedua orangtuamu dan membuat mereka kecewa padamu?” Tanya Aiden telak. Gazelle terlihat tidak mampu berkata-kata dan hanya bungkam dengan semua pertanyaan yang dilontarkan Aiden padanya. Rupanya selama ini pria itu memperhatikannya.

“Selama ini kau memperhatikanku?”

Gazelle menatap sendu pada Aiden yang saat ini juga tengah menatapnya. Wanita itu perlahan-lahan menurunkan topeng angkuhnya dan kembali menjadi sosok Gazelle yang dikenal oleh Aiden. Wanita itu kemudian menyerah dengan egonya dan memutuskan untuk duduk di atas sofa yang berada di seberang Aiden.

“Sayangnya ya, selama ini aku selalu memperhatikanmu, aku sangat prihatin dengan keadaanmu.”

“Tapi kenapa kau hanya diam? Kau tidak melakukan apapun untuk mencegahku, dan kau justru mencintai wanita lain yang jelas-jelas selalu menolakmu! Kau jahat Aiden!” Maki Gazelle keras dengan nafas terengah-engah. Aiden yang melihat kemarahan itu dari diri Gazelle hanya mampu membungkam bibirnya rapat-rapat sambil memikirkan ucapan selanjutnya yang akan ia ucapkan pada Gazelle. Hari ini ia tidak boleh membuat masalah baru dan harus menyelesaikan semua masalahnya agar keinginannya untuk hidup bahagia setelah hari pernikahannya dapat menjadi nyata.

“Karena kau yang membuatku memilih hal itu. Bukankah kau tahu jika aku sangat tidak suka dengan wanita murahan, dan kau justru menggodaku dengan sangat menjijikan. Apakah semua itu karena salahku?”

“Ya, semua itu karena salahmu dan perasaan sial ini. Andai aku tidak mencintaimu dan mencintai pria lain, aku pasti tidak akan melakukan perbuatan yang sangat menjijikan seperti itu. Apa kau tahu bagaimana beratnya perasaanku sebelum melakukan hal yang sangat menjijikan itu? Aku sangat malu Aiden, aku malu! Tapi demi mendapatkan cintamu, aku rela melakukan apapun hingga sejauh itu. Bahkan aku sudah menyiapkan surat permintaan maaf untuk kedua orangtuaku yang kusimpan di dalam lemari barang-barang berhargaku, tapi mungkin mereka tidak menemukannya sehingga mereka terus terlihat sedih dan seakan-akan begitu terpuruk dengan kepergiaanku. Andai saja mereka menemukan surat itu, mereka pasti akan sangat membenciku dan tidak akan mengharapkan aku kembali pada mereka.”

Aiden bergeming kaku di tempatnya dengan semua fakta baru yang ia ketahui. Selama ini ia terlalu sibuk dengan pencariannya pada sang ratu yang ditakdirkan untuknya hingga ia sama sekali tidak mempedulikan Gazelle dan perasaan hancur wanita itu. Tapi sebagai seorang pria ia tidak ingin menjadi pihak yang dipersalahkan, ia ingin menjadi pihak yang selalu benar.

“Itu semua adalah karena ambisimu dan obsesimu padaku, kau tidak benar-benar mencintaiku.”

Brakk

Gazelle memukul keras meja kayu yang berada di depannya. Menjadi makhluk bernama wanita itu memang sulit, dan ia sangat membenci pria angkuh yang saat ini sedang menyalahkannya atas perasaan cinta yang ia miliki. Bukankah cinta itu adalah anugerah?

“Kau sejak awal hanya ingin mengejekku dengan segala tingkah tololku di masa lalu yang terlalu menggilaimu. Lebih baik aku pergi dari sini, tidak ada gunanya kita bicara jika semuanya tetap sama saja.”

Gazelle melangkah keluar dengan perasaan marah dan terhina yang luar biasa. Pria yang sangat ia cintai dan ia puja selama ini adalah pria yang sangat egois. Pria itu dengan kejamnya menghinanya dan menyalahkannya atas semua kesalahan pria itu. Andai saja pria itu sedikit bersikap lunak dan tidak menghinanya dengan kata-kata kasar, mungkin ia tidak akan menjadi seperti ini. Mungkin ia akan tetap bertahan di kerajaan ini dan akan mencoba mencari pria lain yang benar-benar tulus mencintainya.

“Gazelle, apa yang kau katakan tentangku memang benar. Aku adalah pria yang paling egois dan sangat tidak memiliki perasaan. Aku selalu mementingkan kepentinganku sendiri tanpa menyadari perasaan orang-orang disekitarku. Aku juga sering menyakiti orang-orang yang selama ini selalu berada di sekitarku, dan juga membantuku ketika aku terpuruk. Aku ini memang bukan pria yang baik dan penuh cinta. Tapi ada satu hal yang setiap hari selalu memenuhi kepalaku, sesuatu yang tidak berhubungan dengan kerajaanku dan juga Calistha, yaitu bagaimana keadaanmu. Selama ini aku menempatkan beberapa mata-mata ke dalam kelompok pemberontak semata-mata hanya untuk mengawasi gerak-gerikmu dan memantau keadaanmu. Jika kau sudah mulai menlencerng, aku akan meminta mata-mata itu untuk menghentikanmu apapun yang terjadi. Sebenarnya aku sangat peduli padamu. Terkadang aku merindukan saat-saat kita bersama, menjadi sepasang sahabat yang dipenuhi dengan perasaan bahagia, tapi sayangnya waktu terus berjalan, membuat kita semakin dewasa dan harus mengemban tanggungjawab masing-masing. Seiring berjalannya waktu aku harus mengambil tanggungjawab penuh atas kerajaanku yang saat itu hampir hancur. Selain itu aku juga mendapatkan kutukan yang sangat menyusahkan seperti ini, sehingga aku harus bekerja lebih keras untuk menghilangkan kutukan ini agar semua rakyatku tidak hidup sengsara karena sikapku yang selama ini seperti monster. Dan meskipun aku tidak bisa menjadikanmu sebagai ratuku, tapi kau tetap memiliki tempat di hatiku, karena bagaimanapun kita adalah sepasang sahabat. Gazelle, aku minta maaf atas semua kesalahanku di masa lalu. Apa kau ingin memaafkanku?”

Gazelle membeku di tempat dan tampak tak kuasa untuk berbalik menghadap Aiden. Semua kata-kata yang diucapkan pria itu berhasil membuatnya merasa sesak dan ingin menangis dengan sekencang-kencangnya.

Mengapa pria itu selalu bisa menjungkirbalikan semuanya?

“Gazelle.”

Cukup lama Gazelle membeku di tempat tanpa membalikan tubuhnya sedikitpun hingga membuat Aiden merasa khawatir dengan keadaan wanita itu. Apa yang diucapkannya hari ini adalah gambaran dari perasaanya selama ini. Meskipun ia sangat menjunjung tinggi harga dirinya sebagai seorang pria, tapi ia akhir-akhir ini telah memikirkan semua kesalahannya di masa lalu pada wanita itu. Tak seharusnya ia bersikap terlalu keras pada Gazelle saat wanita itu sedang dibutakan oleh cinta. Karena itu bukan karena kesalahannya. Tapi saat itu ia juga tak ingin memberikan harapan palsu pada Gazelle, sehingga ia memutuskan untuk bersikap kontra terhadap perasaan yang dimiliki oleh Gazelle.

“Aku terpaksa melakukan hal itu karena aku tak ingin memberikan harapan palsu padamu. Dan sebagai seorang pria, aku tidak ditakdirkan memiliki perasaan lembut yang harus senantiasa menjaga perasaan wanita yang memiliki perasaan lebih padaku. Aku sudah terbiasa hidup di dalam lingkungan keras yang tidak mengenal belas kasih, jadi sekali lagi aku minta maaf.”

Gazelle akhirnya berbalik dan menatap Aiden dengan wajah yang sudah dipenuhi oleh air mata. Semua hal yang diucapkan pria arogan itu berhasil membuat hatinya tersentuh dan terasa teriris. Selama ini ia juga telah salah karena ia ingin memaksa Aiden untuk mencintainya, padahal jelas-jelas Aiden bukan pria yang ditakdirkan untuknya. Pria itu memiliki pasangan sendiri yang akan membebaskannya dari kutukan yang selama ini membelenggu jiwanya hingga terkadang ia berubah menjadi monster kejam.

“Aiden… apa yang kulakukan selama ini semata-mata karena aku marah padamu karena kau begitu kasar padaku. Dan sebenarnya selama ini aku hanya mengharapkan permintaan maaf darimu. Aku… aku hanya ingin mendengar kata-kata maaf itu darimu.” Ucap Gazelle terbata-bata masih dengan air mata yang menganak sungai di pipinya. Aiden tersenyum lembut pada Gazelle dan segera merengkuh Gazelle ke dalam pelukannya. Ini adalah pelukan dari seorang sahabat untuk sahabat lama yang telah ia sakiti. Ia harap setelah ini ia tidak melakukan kesalahan yang sama lagi dan lebih menghargai orang-orang yang berjasa di dalam hidupnya. Dan setelah ini ia hanya ingin hidup bahagia bersama Calistha dan keluarga kecilnya kelak.

-00-

“Hmm, Yang Mulia anda hari ini tampak cantik sekali.” Puji Yuri takjub sambil membantu Calistha memasangkan tiara kecil di atas kepalanya. Calistha kemudian balas tersenyum lembut pada Yuri sambil memegang pipinya yang bersemu merah. Dulu saat seperti ini adalah saat-saat yang paling menyengsarakan untuk Calistha, bahkan saat itu ia terlihat seperti seorang mayat hidup. Tapi sekarang lihatlah, ia tampak begitu cantik dengan mata berbinar-binar dan pipi yang bersemu merah. Kali ini ia siap menjalankan pernikahannya bersama Aiden.

“Yuri, aku sangat gugup. Bagaimana ini?” Tanya Calistha cemas. Yuri dan Sunny yang berada di dalam ruangan itu langsung menenangkan Calistha dan mengatakan pada Calistha jika semuanya akan baik-baik saja.

“Tapi aku akan berjalan di antara ribuan rakyat Khronos yang akan menyaksikan pernikahanku, aku takut akan melakukan kesalahan, seperti tersandung karpet atau menginjak gaunku sendiri.” Racau Calistha konyol. Yuri dan Sunny saling terkikik geli dengan kelakukan ratu mereka yang tampak ajaib itu. Padahal semalam Calistha terlihat santai dan lebih banyak bersenda gurau dengan Gazelle dan juga Max. Ngomong-ngomong mengenai mereka berdua, tiba-tiba Calistha teringat jika hari ini Gazelle akan menjadi pembawa cincin di acara pernikahannya nanti, tapi sejak tadi ia belum melihat wanita itu berada di dalam kamarnya. Kira-kira dimana keberadaannya saat ini?

“Sunny, apa kau tahu dimana keberadaan Gazelle? Sejak tadi aku belum melihat batang hidungnya di sini?” Tanya Calistha heran. Kedua dayang itu kompak langsung menunjuk pada pintu kamarnya yang terbuka lebar, di sana terlihat jelas sosok Gazelle sedang beradu mulut dengan Spencer.

“Sudah kubilang jangan berdiri di depan jalanku, aku ingin masuk ke dalam dan bertemu Calistha.”

“Tapi aku tidak tahu apakah kau akan mencelakakan sang ratu atau tidak.”

“Aku tidak akan melakukan apapun, aku hanya akan mengambil kotak cincin yang akan kubawa nanti di altar.”

“Tidak, kau tidak boleh masuk sebelum Yang Mulia ratu mengijinkanmu masuk.”

Spencer terus menahan Gazelle untuk masuk ke dalam kamar Calistha dan membuat Gazelle tampak sangat konyol dengan sikap pria itu. Akhirnya ia memutuskan untuk tetap berdiri di luar pintu kamar Calistha sambil menyilangkan kedua tangannya kesal.

“Spencer, biarkan Gazelle masuk. Ia hanya akan mengambil ini.”

Calistha berseru lembut dari balik tubuh Spencer dan membuat Gazelle langsung tersenyum sumringah. Wanita itu reflek langsung menjulurkan lidahnya dan melenggang masuk melewati Spencer yang sedang bersungut-sungut kesal di belakangnya.

“Ehem, anda dan Gazelle sepertinya cocok, bagaimana jika setelah ini anda menikah.” Goda Sunny jahil. Sontak kedua manusia itu langsung berteriak keras ke arah Sunny dan membuat wanita mungil itu langsung menutup telinganya rapat-rapat.

“Cih, tidak sudi!!”

-00-

Suara musik klasik yang khas dan taburan bunga warna warni tampak meramaikan suasana pernikahan Aiden dan Calistha yang terlihat begitu mewah. Ribuan rakyat Khronos dari berbagai kota juga tampak hadir di sana untuk memberikan doa pada ratu dan raja mereka yang sebentar lagi akan dipersatukan oleh ikatan pernikahan.

Calistha berdiri dengan gugup di depan pintu masuk aula istana ditemani oleh Gazelle dan Max. Kali ini yang akan menjadi walinya dalam pernikahan ini adalah Max karena ia sudah menganggap Max seperti kakak kandungnya sendiri.

“Cals, tanganmu sangat dingin.”

“Max, aku sangat gugup. Oh Tuhan, bagaimana jika kita tidak perlu melewati bagian ini dan hanya langsung melakukan janji suci di depan altar. Aku takut melakukan kesalahan saat berjalan di sepanjang karpet merah.” Racau Calistha dengan tangan yang menggenggam erat lengan Max. Pria itu kemudian menenangkan Calistha dan membelai kepala Calistha agar wanita itu tidak semakin gugup.

“Tenanglah Cals, semuanya akan baik-baik saja. Kau pasti tidak akan sempat memikirkan langkah kakimu atau pikiran konyolmu yang lain karena kau akan langsung terpana dengan ketampanan Aiden.”

Tiba-tiba pintu coklat di depan Calistha terbuka seiring dengan Max yang menyelesaikan kalimatnya. Ribuan mata yang memadati aula itu tampak berdecak kagum dengan kecantikan Calistha yang begitu menakjubkan. Dari kejauhan Calistha dapat melihat Aiden sedang menunggunya di atas altar dengan menggunakan setelan tuxedo berwarna putih. Dan seketika Calistha langsung terpana dengan ketampanan Aiden. Apa yang dikatakan oleh Max benar, ia tidak sempat memikirkan hal-hal konyol yang berada di dalam kepalanya dan hanya sibuk memandangai Aiden yang saat ini sedang tersenyum lembut ke arah dengan tangan yang telah terulur untuk meminta jari-jari tangannya.

“Tolong bahagiakan Calistha dan jaga Calistha.” Pesan Max bersungguh-sungguh sebelum ia memberikan Calistha pada Aiden. Dengan tegas Aiden menganggukan kepalanya dan langsung menarik tangan Calistha untuk berdiri bersisian dengannya.

“Apakah Yang Mulia raja Aiden dan ratu Calistha telah siap?” Tanya sang tetua sambil mempersiapkan kitab pernikahan di atas podium.

Kedua manusia itu saling bertatapan satu sama lain sambil berseru dengan lantang pada sang tetua.

“Ya, kami siap.”

Akhirnya Aiden dan Calistha berhasil melangsungkan pernikahan mereka dengan khidmat dan penuh sukacita. Semua orang kini turut bahagia atas pernikahan Aiden dan Calistha. Meskipun semua kebahagiaan ini tidak dilalui dengan mudah, tapi nyatanya mereka mampu melewati setiap kepahitan itu dengan kepala terangkat dan penuh keteguhan. Dan walaupun awalnya rasa benci itu begitu pekat menyelimuti hati Calistha, tapi pada akhirnya cinta dan kesabaran Aidenlah yang berhasil menyatukan mereka ke dalam ikatan suci yang begitu sakral dan khidmat.

 

~1 Tahun kemudian~

“Wahh, bayi kalian sangat manis. Lihat, ia sedang menghisap jempolnya dengan hisapan yang lucu. Ahh, aku ingin segera memiliki bayi yang lucu seperti ini.” Bisik Gazelle heboh sambil memandangi bayi Calistha dan Aiden yang sedang tertidur lelap di dalam box bayinya.

“Kalau begitu kau harus segera menikah, bukankah kau sudah memiliki kekasih?” Goda Calistha geli di sebelah Gazelle. Wanita muda itu sontak menatap horor pada Calistha sambil mendecih kesal.

“Cih, jika yang kau maksud adalah Spencer, maaf-maaf saja, aku tidak berminat.”

“Sepertinya aku baru saja mendengar seseorang menyebut namaku.”

Tiba-tiba Spencer muncul dari balik pintu bersama Aiden. Untuk sesaat Gazelle cukup terpana dengan penampilan Aiden saat ini. Pria itu kini tampak lebih berwibawa dan juga lebih tenang setelah menikah. Namun hal itu sebatas rasa kagum antar sahabat, tidak lebih. Ia sekarang sudah tidak memiliki perasaan itu lagi. Semenjak ia tinggal di kerajaan Hora bersama Max dan ikut membantu pria itu memulihkan kondisi kerajaannya, perasaan itu lama-lama terabaikan dan kini sudah sepenuhnya hilang dari hatinya.

“Gazelle, lama tak berjumpa, bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Hmm, aku baik Yang Mulia.” Canda Gazelle sambil memeluk tubuh Aiden hangat.

“Kau sudah lama sekali tidak datang ke sini, setiap hari Spencer selalu resah karena memikirkanmu.”

Kali ini Aiden mulai ikut menggoda Spencer dan Gazelle hingga kedua manusia itu mendengus kesal. Rupanya kejahilan isterinya selama ini telah menular kepadanya.

“Ck, jangan memulai lagi Aiden, aku ke sini karena ingin melihat keponakan tampanku, bukan ingin bertemu dengan pria lemah itu.”

“Apa kau bilang, lemah? Lalu siapa yang menolongmu dulu saat kau terjatuh dari kuda dan menenangkanmu saat kau patah hati? Kau tidak berhak menghinaku seperti itu.” Balas Spencer tidak terima. Gazelle kemudian mulai membalas setiap ejekan demi ejekan yang dilontarkan oleh Spencer dengan suara berisik, hingga membuat Cal-el kecil menangis karena suara nyaring mereka.

“Kalian telah mengganggu tidur anakku, lebih baik kalian keluar dari kamarku.” Usir Aiden kesal sambil meraih tubuh putranya ke dalam dekapannya. Sedangkan Gazelle dan Spencer saling menyalahkan satu sama lain sambil melangkahkan kaki mereka keluar dari kamar pasangan Aiden dan Calisha.

“Sssshhh, tenanglah nak, ayah dan ibumu ada di sini.” Ucap Aiden lembut. Calistha tersenyum kecil memperhatikan sikap Aiden yang semakin hari semakin mengalami kemajuan. Apalagi setelah kelahiran Cal-el seminggu yang lalu, sikap Aiden kini semakin lembut dan juga semakin perhatian pada keluarga kecilnya. Tak jarang Aiden mengajaknya berjalan-jalan ke pasar bersama Cal-el tanpa ditemani pengawal. Kini Aiden telah berubah menjadi raja yang bijaksana dan semakin di segani oleh rakyat-rakyatnya.

“Sayang, seprtinya Cal-el haus.” Panggil Aiden pelan. Calistha kemudian mengambil alih Cal-el dari dekapan sang ayah dan segera memberikan apa yang dibutuhkan oleh putra kecilnya.

“Ohh, dia selalu rakus sepertimu.” Canda Calistha dengan kikikan ketika Cal-el langsung menghisap putingnya kuat-kuat. Sedangkan Aiden hanya tersenyum kecil sambil mengecup puncak kepala isteri dan anaknya secara bergantian.

“Kalian adalah harta terindah dalam hidupku. Terimakasih Cals, kau telah memberikan kebahagiaan untukku setelah hampir tiga puluh tahun aku hidup sebagai monster.”

“Hmm, kurasa kita saling melengkapi satu sama lain. Kau juga telah membuatku menjadi isteri yang paling beruntung dan menjadi ibu dari seorang anak yang hebat, terimakasih Aiden. Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu Cals.”

Pernyataan cinta dari masing-masing pasangan kasmaran itu akhirnya ditutup dengan ciuman penuh cinta dari keduanya dengan Cal-el yang berada di tengah-tengah mereka dan sedang tersenyum bahagia dengan kebersamaan kedua orangtuanya yang manis.

29 thoughts on “Queen Of Time Sequel: Have A Blast

  1. Yeeey sequel nya keluar seneng nya calista aiden hidup bahagia dan gazelle dan max jga menerima semua nya dengan lapang dada
    Jadi gazelle hanya ingin aiden minta maaf dan hbngan gazelle dan aiden jg membaik sperti dlu dan max jga menerima semua keputusan calista 😊 dan spancer sama gazelle berantem mulu ya😂😂 author makasih sequel nya aiden calista sweet😙😙

  2. Cieeee cieeee
    Senyum” sndiri bacanya thor
    Sumpah sequelnya keren bangets 😍😍😍
    Smuanya bahagia

  3. Happy ending 😂 Akhirnya gazelle brubah dan mereka kmbali bershbt.. Aiden jg brubah bnget :v Sequel lgi dong pngen tahu aiden gmna klo lgi ngurus anak :v

    fIghting kk.. Ff lee family nya kpn dilnjut nih kk? Yg bullets of justice jga..

  4. Wahhh bahagianya pengen moment aiden chalista baby nya banyak in dan gazzelle ama spencer nikah aja btw ini belum ending ceritanya kan 😊😀

  5. akhirnya yoonhae bsa bersatu dan hidup bhagia,,,,
    dan gazella dah sadar,,,,
    omg spencer dan gazelle slu adu mulut,,,
    max jg dah bsa bangkit lagi ???
    HAPPY ENDING

  6. Awwwww mesam mesem senyam senyum 😊
    syukur semuanya berjalan baik. Bahagia deh.
    Sebenernya pengen liat sampe Cal-el stidaknya umur anak2 lah. Lhah ini masih bayi, haha
    Ending yg membahagiakan. Puas. Thanks 😊

  7. yoonhae so sweet..
    akhirnya yoonhae hidup bahagia, max dan gazelle bisa menerima dengan lapang dada.
    baca ff ini hati ku jdi berbunga bunga.. di tunggu karya baru mu thor

  8. Akhirnya happy ending, masalah dg max dan gazelle terselesaikan, untung donghae mau merendahkan harga dirinya dg minta maaf, ternyata selama ini gazelle cm nunggu kata maaf dr donghae

    Gimana nasib tiffany? Kasian, tiffany yg terlupakan 😂

  9. Wah gua baper… 😂😂 minta sequel lagi boleh gak huhuhuhu
    Gak mau pisah rasanya 😂😣
    Ditunggu karya selanjutnya thor
    SEMANGAT 😚💪💪

  10. Akhirnya chalista aiden bahagia, senyum-senyum sendiri deh liat mereka, syukur deh gazelle mau berubah dan juga changmin cepet amat berubahnya gitu donk 😉 tapi disini gazelle sama hyukjae kayak tom and jerry ya, berantam mulu haha rasain tuh kan dimarahin aiden. Happy ending deh.

  11. maniiissss sekali ending ny suka suka suka setelah sekian lama aiden jd monster skrg berubah skali

  12. sosweet YoonHae……
    suka banget sama endingnya walaupun gk ngebahas tiffany tapi aku seneng ternyata ff Queen Of Time ada sequelnya.

  13. Akhirnya happy ending rasanya gak pengen kalo nih cerita udah ending pengennya terus lanjut 😂😂 ditunggu ff lainnya thor 😊

  14. Happy end 🙂 seneng ngelihat YH bersama tanpa menyakiti hati gazelle n max , entah kenapa pesan ceritanya dpt bgt waktu aiden minta mf ke gazelle , bikin baperr , oh iya nasib tiffany gmana eon? Msh di penjarakah dia? next ff d tnggu ne? Fighting

  15. Next eon jngan lama2 ya akhirnya ada jga sequelnya maaf eon baru sempet coment maklum mhasiswa tingkat 6 lgi sibuk buat ngrjain tugas tpi udh bca bru coment skrang yg queen of time
    Please ya eon jngan hiatus ya bnyak author yg hiatus ff yoonhar cuma eonni yg msih bertahan ☺

  16. Next eon jngan lama2 ya trs jga please jngan hiatus eon cznya rata2 author yg ngepost ff yoonhae udh pda haitus maaf ya eon baru coment ff eonni yg queen of time maklum mahasiswa tingkat 6 sibuk ngrjain tugas

  17. Akhirnyaa ..kebahagiaan yg sesungguhnya datang buat mereka ^^
    semuanya damai Max dan Gazelle kembali kejalan yg lurus (?)
    Tapi apa kabar sama Tiffany ??? gak pernah di keluarin dari penjara tuh ,dan soal nama anak mereka agak anaeh Cal-el baru denger nama kaya gitu 😀 hahaha.

    Tapi over all bagus lah un dan di tunggu ff lainnya muncul ^^

  18. it’s just sooo sweet, i like the ending. Apa hanya aku yang baca ff ini sambil senyum2 gaje wkwkwk…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.