Queen Of Time: King Aiden and Queen Calistha

 

“Yang Mulia, keadaan Yang Mulia Aiden semakin parah.”

Dengan berat hati Spencer mengabarkan berita itu pada Calistha setelah tabib istana selesai mengobati luka Aiden. Calistha yang saat ini tengah berada di dalam kamarnya semakin menenggelamkan wajahnya di atas bantal sambil menangis tersedu-sedu membayangkan keadaan Aiden saat ini. Ia tahu jika Aiden memang tidak akan sembuh. Obat-obatan yang diberikan oleh tabib istana sama sekali tidak berpengaruh apapun pada luka Aiden. Sejak awal Zurich sudah mengatakan padanya, tapi ia tetap bersikeras ingin mencobanya terlebihdahulu setelah Sybil sendiri tidak bisa menyembuhkan luka Aiden. Penyihir licik itu benar-benar memberikan mantra yang sangat kuat hingga ia sendiri tidak bisa menarik mantra itu. Sekarang luka tusukan dari pedang itu semakin parah, luka itu tidak bisa ditutup dan semakin lama justru semakin terbuka lebar, membuat Aiden harus kehilangan darahnya perlahan-lahan. Rasanya saat ini ia benar-benar menyesal karena telah bertindak bodoh dan menyebabkan Aiden harus terluka. Tapi semua hal yang ia lakukan hari ini benar-benar murni karena rasa simpatinya pada penyihir jahat itu. Ia tidak tahu jika wanita malang yang ditolongnya adalah seorang penyihir yang justru ingin menghancurkannya dan Aiden. Andai saja ia bisa memutar waktu, ia ingin semua ini tidak pernah terjadi.

“Spencer.”

Tiba-tiba saja Calistha melompat turun dari ranjangnya sambil menatap manik mata Spencer dalam. Wanita itu tampak berbinar-binar ceria dan segera meminta Spencer untuk mengantarnya menemui Aiden.

“Antar aku untuk menemui Aiden, kurasa aku tahu bagaimana caranya untuk menyembuhkan luka Aiden.” Ucap Calistha berbinar-binar. Ia kemudian segera berjalan pergi diikuti oleh Spencer di belakangnya. Meskipun Spencer sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh calon ratunya itu, tapi ia pikir sang ratu pasti sedang memiliki jalan keluar lain untuk kesembuhan rajanya. Ia sendiri jujur belum ingin kehilangan Aiden. Meskipun Aiden memang jahat dan bertangan besi, tapi sikap kepemimpinan Aiden memang benar-benar tak tergantikan. Menurutnya tidak ada raja dari kerajaan lain yang memiliki ketegasan, kebijaksanaan, dan kebaikan yang sama beratnya selain raja Aiden. Selain itu ia juga telah menganggap Aiden sebagai saudara kandungnya sendiri, ia tidak mau kehilangan sosok Aiden dari hidupnya. Ia masih menginginkan Aiden untuk menjadi rajanya dan panutannya.

“Spencer, apa kau mengetahui kekuatan yang dimiliki oleh Aiden?”

“Kekuatan? Entahlah, saya tidak yakin. Raja Aiden adalah orang yang sangat tertutup, raja jarang sekali membicarakan hal-hal pribadinya pada saya. Jadi saya tidak yakin mengenai kekuatan yang dimiliki oleh raja Aiden.” Terang Spencer sambil mengernyitkan dahinya. Selama ini Aiden memang tidak terlalu terbuka padanya. Menurutnya kehidupan raja terlalu rumit untuk diceritakan dan dijalankan, sehingga ia sendiri juga tidak pernah mencari tahu jika Aiden tidak menceritakannya sendiri padanya. Hal itu jauh lebih sopan daripda ia harus mengikuti kemanapun raja pergi sambil mengamati apa saja yang dilakukan raja selama ini. Lagipula meskipun ia adalah pengawal setia Aiden, ia justru jarang berada di sekitar sang raja jika di hari-hari biasa. Ia hanya berada di sisi raja saat sedang berperang atau saat sedang menyusun peraturan-peraturan untuk kerajaan jajahannya, jadi ia tidak pernah tahu jika Aiden memiliki kekuatan di dalam dirinya.

“Sebenarnya Aiden memiliki kekuatan. Kutukan itu selain membawa malapetaka, juga membawa berkah bagi Aiden, karena dengan adanya kutukan itu ia bisa melihat masa depan, membaca pikiran, dan hidup lagi dari kematian. Tapi sayangnya akhir-akhir ini kekuatannya semakin melemah setelah kehamilanku. Aku sebenarnya juga tidak terlalu yakin dengan dengan pemikiranku ini, tapi kurasa itu bisa dicoba.” Ucap Calistha sedih. Lagi-lagi ia merasa begitu tolol dan ia sebenarnya cukup malu untuk menemui Aiden. Tadi setelah tabib datang dan mengambil alih Aiden untuk diobati, ia langsung berlari menuju kamarnya untuk menumpahkan seluruh kesedihan dan rasa marah yang bergumul di hatinya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia merasa seluruh rakyat Khronos hari ini akan membencinya karena ia telah menyebabkan raja mereka sekarang. Jika Aiden hari ini mati, mungkin ia akan memilih untuk ikut menyusul Aiden. Ia lebih baik mati daripada harus hidup sendiri tanpa Aiden. Dan meskipun hal itu terkesan pengecut, ia tidak peduli! Toh selama ini ia juga selalu bersikap pengecut dengan bersembunyi dibalik kediktaktoran Aiden atas semua kesalahannya pada rakyat Bibury, jadi menjadi pengecut sekali lagi rasanya bukan masalah untuknya.

“Spencer, bukankah itu Sybil? Mengapa ia berada di sana, bukankah seharusnya… Tiffany!”

Calistha berlari cepat mengejar Tiffany yang saat ini sedang berjalan beriringan bersama Sybil. Spencer yang berada di belakangnya langsung memperingatkan Calistha dengan keras dan mencoba untuk menahan laju lari wanita itu karena saat ini ia sedang hamil.

“Yang Mulia, anda sedang hamil. Pelankan laju langkah anda.”

“Tapi aku harus mengejar Tiffany, ia dalam bahaya. Penyihir itu bersama Tiffany.” Balas Calistha masih dengan berlari-lari kecil. Akhirnya Spencer tidak memiliki pilihan lain selain memegang bahu Calistha dan menghentikan wanita itu secara paksa. Ia kemudian berlari lebih kencang mengejar Tiffany dan menyuruh Calistha untuk menunggu di tempat.

“Saya akan membawakan nona Tiffany untuk anda.”

Secepat kilat Spencer berlari mengejar Tiffany yang sedang berjalan menuju balkon istana. Ia sebenarnya ingin mengatakan pada Calistha jika Tiffany pasti akan tetap baik-baik saja meskipun sedang bersama Sybil, tapi rasanya hal itu akan sangat sia-sia, mengingat Calistha masih berpikir jika Tiffany adalah saudara kandungnya yang baik. Dan menurutnya hal ini adalah satu-satunya jalan untuk menyadarkan Calistha jika Tiffany adalah wanita yang jahat, yaitu dengan membawa Tiffany langsung ke hadapannya.

“Nona Tiffany.”

Tiffany menghentikan langkahnya dan tampak tidak suka dengan kemunculan Spencer. Wanita itu langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap Spencer angkuh.

“Ada apa? Kau ingin menghalangi langkahku?”

“Tidak, saya sama sekali tidak ingin menghalangi langkah anda. Saya hanya ingin mengatakan jika Yang Mulia Calistha ingin bertemu dengan anda.”

Tiffany dan Sybil saling bertatapan satu sama lain saat mendengar berita dari Spencer. Namun akhirnya Tiffany mengangguk dan meminta pada Spencer untuk mengantarnya menemui Calistha.

“Antarkan aku padanya, kebetulan aku juga  ingin memperkenalkan temanku padanya.” Seringai Tiffany licik. Kedua wanita jahat itu kemudian berjalan beriringin di belakang Spencer untuk menemui Calistha yang telah menunggu mereka di sudut lorong.

“Kau ingin bertemu denganku?”

“Tiffany, apa yang kau lakukan di sini? Seharusnya kau beristirahat di kamarmu karena luka-lukamu belum sembuh. Dan untuk apa kau berjalan beriringan bersama penyihir jahat itu? Shrusnya penyihir itu di kurung di penjara bawah tanah, tapi kenapa ia bisa berada di sini?” Tanya Calistha panik dan ingin menjauhkan Tiffany dari Sybil, tapi Tiffany justru menghentakan tangan Calistha kuat dari pergelangan tangannya dan menatap kedua manik Calistha tajam.

“Apa yang kau lakukan? Kau tidak berhak mengaturku!” Bentak Tiffany galak. Calistha benar-benar merasa terkejut dengan sikap Tiffany yang tiba-tiba berubah menjadi seorang yang sangat tidak dikenalnya. Wanita itu menjadi lebih kasar dan jahat, dan sama sekali tidak terlihat seperti Tiffany.

“Aku tidak mengaturmu, aku hanya memperingatkanmu. Wanita itu berbahaya. Mengapa ia bisa berada di sini? Pengawal! Pengawal! Dimana semua pengawal yang seharusnya menjaga sel tahanan penyihir jahat itu?” Teriak Calistha gusar yang langsung ditanggapi Tiffany dengan kekehan. Wanita itu mencemooh kebodohan Calistha sambil terkikik geli bersama sang penyihir.

“Kau ini benar-benar bodoh rupanya. Pengawal-pengawal idiot itu sekarang sedang beristirahat di dalam penjara bawah tanah karena Sybil membuat mereka tertidur. Asal kau tahu saja, sebenarnya aku yang telah mengeluarkan Sybil dari penjara, karena kami berdua adalah partner.”

“Partner? Apa maksudmu Tiffany? Kau pasti hanya bercanda. Kau pasti tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu bukan?”

Calistha mulai terlihat panik dengan ekspresi wajah Tiffany yang sama sekali tidak menunjukan ekspresi main-main. Wanita cantik itu saat ini justru sedang menatap Calistha dengan tatapan datarnya yang terlihat mengerikan. Dan itu semakin menguatkan dugaan Calistha jika sebebarnya Tiffany berada di pihak sang penyihir.

“Apa aku terlihat sedang bercanda? Asal kau tahu saja Cals, aku sebenarnya sangat membencimu. Aku selalu berusaha mencelakaimu dan membunuhmu untuk membalaskan dendam ayah dan ibu padamu, tapi raja kejam itu selalu bisa menggagalkannya. Tapi saat ini raja brengsek itu sedang sekarat, itu berarti malaikat pelindungmu tidak akan bisa lagi melindungimu dan calon bayimu kelak. Kau akan mati di tanganku Cals.” Ucap Tiffany penuh tekad. Calistha memejamkan matanya pilu saat mendengar semua pengakuan tak terduga dari satu-satunya saudara kandung yang ia miliki. Ia pikir Tiffany tidak akan melakukan hal-hal jahat seperti yang dikatakan oleh Aiden padanya karena mereka adalah saudara. Tapi, fakta ini benar-benar mencengangkannya. Ternyata selama ini Tiffany sangat membencinya dan sangat ingin membunuhnya.

Ya Tuhan, apa yang baru saja kulakukan? Aku baru saja mengacaukan kehidupanku sendiri dan Aiden.

“Kenapa kau tak pernah mengatakannya sejak awal? Selama ini aku selalu mempercayaimu sebagai saudara perempuanku, tapi kau justru mengkhianatiku dan hampir membunuh Aiden. Kau jahat Tiffany! Kau wanita licik dan kejam!”

Dengan membabi buta Calistha menyerang Tiffany dan ingin membunuh wanita jahat itu saat ini juga. Seluruh emosi yang ia pendam pada akhirnya pecah dan membuatnya berubah menjadi wanita brutal yang sangat mengerikan. Sementara itu, Spencer terlihat sibuk untuk melerai Calistha dan Tiffany yang sedang berkelahi di depannya dengan gaya bar-bar. Kedua wanita sedarah itu sama-sama memiliki watak keras yang sangat sulit untuk dipatahkan. Namun pada akhirnya Spencer berhasil menjauhkan Calistha dari Tiffany setelah salah satu pengawal menyampaikan pesan jika keadaan Aiden semakin memburuk.

“Yang Mulia, lebih baik anda segera menemui Yang Mulia Aiden, kondisi raja sudah semakin kritis. Saya tidak ingin anda menjadi semakin menyesal nantinya.” Peringat Spencer tegas ketika Calistha hendak maju kembali untuk mencekik kakak kandungnya. Dengan kasar Calistha menghempaskan tangan Spencer yang masih berada di kedua lengannya untuk lepas, kemudian ia segera berjalan pergi meninggalkan Tiffany dan sang penyihir sambil melayangkan tatapan kebencian dan membunuh yang begitu kentara dari matanya.

“Calistha, kupastikan sebentar lagi kau juga akan mati dan membusuk di neraka bersama Aiden. Oh, dan juga dengan calon anak kalian kelak.” Teriak Tiffany lantang mengiringi kepergian Calistha dari hadapannya.

-00-

“Kenapa kau mencegahku untuk membunuh Tiffany?” Teriak Calistha kesal pada Spencer yang berjalan di belakangnya. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di belakang Calistha sambil menatap datar pada sang ratu.

“Apakah anda ingin membuang-buang waktu anda untuk hal-hal yang tidak penting seperti itu?”

“Tidak penting? Bagaimana mungkin membunuh Tiffany bukan sesuatu yang tidak penting! Dia adalah wanita jahat, saudara kandungku adalah wanita jahat yang selama ini menusukku dari belakang! Ya Tuhan, kau tidak tahu bagaimana rasanya perasaanku saat ini. Aku marah, sedih, dan benci pada diriku sendiri. Aku menyesal, aku menyesal karena telah mempercayai Tiffany dan melupakan Aiden. Bahkan aku sudah tidak bisa menangis lagi untuk menumpahkan semua kesedihanku, air mataku seakan telah kering. Aku.. aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan setelah ini. Aku takut Aiden akan pergi meninggalkanku.” Isak Calistha lirih. Spencer menatap ratunya itu dengan pandangan bersimpati. Ia tahu jika apa yang baru saja dialami oleh Calistha sangat berat dan terkesan mendadak, tapi bagaimanapun juga Calistha harus menghadapinya dengan tenang dan jangan bertindak gegabah. Apalagi saat ini para prajurit di istana Khronos sedang tidak berdaya untuk menghadapi sang penyihir dan Tiffany, bisa gawat jika sang penyihir justru memberikan kutukan yang mengerikan pada Calistha dan seluruh rakyat Khronos. Saat ini satu-satunya hal yang menyebabkan Sybil tidak melakukan tindakan jahatnya adalah karena ia merasa berhutang budi pada Calistha dan sebagian kekuatannya telah berhasil disegel oleh Zurich. Bagaimanapun juga wanita itu pernah menolongnya yang sedang dalam keadaan sekarat, meskipun ia sendiri juga membenci perilaku Aiden yang telah membakar rumahnya dan hampir membunuhnya, tapi ia masih menghargai usaha Calistha untuk menolongnya dan merawatnya.

“Anda harus menghadapinya dengan kepala dingin Yang Mulia, jangan terlalu bertindak gegabah atau anda justru akan membahayakan nyawa anda sendiri. Saat ini Yang Mulia Aiden sedang membutuhkan anda, jadi saya harap anda bisa menahan diri anda untuk tidak melakukan hal-hal membahayakan dan ceroboh sebelum raja benar-benar pulih. Lagipula saat ini anda justru harus berada di samping raja, karena mungkin saja Tiffany akan melakukan rencana jahatnya lagi untuk membunuh raja Aiden secara cepat. Bukankah anda sudah tahu bagaimana sikap Tiffany yang sebenarnya?”

“Tapi aku masih merasa tak habis pikir, mengapa Tiffany menjadi sangat jahat seperti itu? Selama ini aku selalu dirundung rasa bersalah pada keluargaku, dan aku berharap dapat menebus semua rasa bersalahku pada satu-satunya keluarga yang kumiliki. Tapi aku tidak menyangka jika saudaraku adalah wanita yang jahat. Ia ternyata selama ini menyimpan dendam padaku atas kehancuran Kairos dan kematian kedua orangtuaku. Spencer, apakah lebih baik aku mati?” Tanya Calistha dengan wajah linglung.

“Apa yang anda katakan Yang Mulia, raja Aiden telah banyak berkorban untuk anda. Anda tidak seharusnya menyia-nyiakan semua pengorbanan raja. Kematian bukan jalan untuk menyelesaikan masalah.”

Spencer dengan emosi mengguncang-guncangkan bahu Calistha dengan keras agar wanita itu segera sadar dengan kebodohannya. Meskipun sikapnya itu memang tidak sopan, tapi ia merasa harus melakukannya. Apa yang dipikirkan oleh ratunya itu benar-benar berhasil memancing emosinya. Bagaiman mungkin ratunya itu ingin mati, sementara rajanya selama ini selalu berusaha mati-matian untuk melindunginya dari kematian.

“Lebih baik anda segera masuk dan temui raja. Saat ini raja sedang kritis. Jika sekiranya anda memiliki rencana untuk menyembuhkan raja, saya pasti akan membantu.”

Calistha mengangguk lemah sambil menyeka bulir-bulir air mata yang turun membasahi wajahnya. Akhirnya ia bisa menangis lagi setelah ia mengeluarkan sebagian ganjalan yang mengganggu di hatinya. Dengan berat hati ia mulai melangkah masuk ke dalam aula istana. Disana banyak sekali menteri yang berkumpul untuk melihat bagaimana keadaan raja mereka. Tatapan mata iba langsung terarah pada Calistha ketika ia mulai berjalan untuk mendekati ranjang besar yang berada di tengah-tangah ruangan. Salah satu menteri tiba-tiba berjalan menghampiri Calistha dan memeluk Calistha hangat layaknya anaknya sendiri. Menteri tua itu mengucapkan kata-kata penyemangat untuk Calistha dan membisikan kata-kata penguat untuk meyakinkan Calistha jika Aiden akan baik-baik saja. Calistha kemudian membalas pelukan itu dengan perasaan haru sambil membayangkan jika menteri itu adalah ayahnya sendiri.

“Terimakasih banyak menteri Golem, kuharap Yang Mulia benar-benar akan sembuh setelah ini.”

Menteri Golem tersenyum prihatin pada Calistha dan melepaskan pelukannya untuk membiarkan Calistha pergi menemui Aiden. Saat ini Aiden sedang terbaring lemah di atas ranjang besarnya dengan perban putih yang membebat seluruh dada bidangnya. Bercak darah yang cukup besar tampak tercetak jelas di atas perban putih yang membebat luka Aiden, padahal tabib istana belum lama mengganti perban itu, tapi perban itu sudah dipenuhi oleh rembesan darahnya lagi. Kekuatan dari sihir yang digunakan oleh Sybil memang luar biasa, sihir itu benar-benar tidak bisa dipatahkan oleh Zurich dan tidak ada obat yang bisa menghentikan perdarahan yang berada di dada kiri Aiden. Dan saat ini mereka seperti menunggu saat-saat kematian raja mereka yang sangat menyedihkan.

“Yang Mulia, maafkan saya.”

Zurich berseru pelan sambil menundukan kepalanya bersalah. Ia benar-benar merasa menyesal karena tidak bisa menolong rajanya dari kematian yang akan menjemputnya sebentar lagi.

“Tidak apa-apa, kau sudah berusaha keras. Apa kau sudah menyegel kekuatan Sybil?”

“Saya sudah memberikan mantra unuk menangkal kekuatannya, tapi sepertinya mantra itu tidak bekerja dengan sempurna karena Sybil masih bisa menggunakan mantra-mantra ringan untuk melemahkan penjagaan prajurit Khronos. Tapi anda tenang saja, Sybil tetap tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk membunuh orang. Dan ia juga tidak akan pergi kemanapun karena saat ini ia bersama Tiffany, jika wanita itu tidak pergi dari istana, maka Sybil juga tidak akan pergi kemanapun.”

“Ya, aku mengerti. Terimakasih banyak atas semua hal yang telah kau lakukan.”

Dengan langkah berat, Calistha semakin berjalan mendekati Aiden. Pria itu sesekali tampak menahan rasa sakit yang mendera dadanya sambil meraba dadanya yang terasa berdenyut. Tangan Calistha yang bergetar kemudian terulur untuk menggenggam telapak tangan Aiden yang terasa dingin. Perlahan-lahan pria itu membuka matanya dan tersenyum sayu pada Calistha.

“Aku akan mati.” Lirih Aiden serak. Calistha menggigit bibirnya perih sambil menahan isakannya yang hampir lolos. Setetes demi setetes air mata akhirnya meluncur turun dari kedua manik karamel Calistha yang bening. Wanita itu kemudian terisak keras di sebelah Aiden sambil menenggelamkan kepalanya pada lengan Aiden yang bebas.

“Maafkan aku Aiden, maafkan aku.”

Aiden mengelus kepala Calistha kepayahan sambil menahan rasa sakit yang semakin mendera dada kirinya.

“Tttenanglah, kau tidak salah. Aakku akan baik-bbaik saja.”

“Aiden kumohon bertahanlah. Kau pernah mengatakan padaku jika aku bisa hidup kembali jika mati. Sekarang aku akan melakukannya, aku akan mengulang waktu untuk mencegah semua ini terjadi.”

“Kkau tidak bisa melakukannya. Kau sedang mengandung, kekuatan itu sudah hilang dan tidak akan bisa kau gunakan lagi. Kau justru akan mati jika melakukan hal itu.” Jelas Aiden lemah. Mendengar hal itu Calistha semakin menangis fruustasi sambil menelungkupkan kepalanya di atas lengan Aiden. Satu-satunya harapan yang ia miliki musnah. Ia tidak akan bisa menyelamatkan Aiden. Ia tidak akan pernah melihat pria itu lagi setelah hari ini.

“Lalu apa yang harus kulakukan? Apapun yang terjadi, kau harus hidup. Kami semua masih membutuhkanmu.”

“Aku tidak bisa Cals, waktuku sudah habis. Akhirnya aku harus mati. Meskipun rasanya berat untuk meninggalkanmu, tapi aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Iini sangat menyakitkan. Berada di ambang kematian benar-benar ssssangat menyakitkan.”

Calistha menggenggam tangan Aiden kuat-kuat ketika pria itu mulai mengerang kesakitan sambil memegang dada kirinya yang terasa tertusuk-tusuk. Darah segar mulai merembes keluar dari perban putihnya yang semula kering, kini sudah basah oleh darah. Luka yang tusukan yang bersarang di dada kiri Aiden semakin lama-semakin menganga dan terus mengeluarkan darah segar dari sana. Padahal tabib sudah memberikan banyak perban untuk menahan perdarahan yang terjadi pada dada kiri Aiden, namun semua itu rasanya sia-sia saja. Karena luka itu semakin lama justru semakin terbuka lebar.

“Aiden kumohon bertahanlah, aku akan mencari cara untuk menyembuhkan lukamu.” Isak Calistha lemah. Aiden tersenyum getir pada Calistha sambil mengulurkan tangannya susah payah untuk mengelus kepala Calistha. Ini adalah saat-saat terakhirnya untuk bertemu Calistha. Sebentar lagi ia tidak akan bisa melihat wajah cantik itu atau mengelus surai kecoklatannya yang lembut lagi. Semua yang ia lihat saat ini sebentar lagi akan pergi dan akan menjadi kenangan yang sangat indah untuk selamanya.

“Iiini sudah waktunya Cals, aku tidak bisa lagi bertahan. Berjanjilah padaku untuk selalu hidup dengan baik dan jangan bertindak bodoh. Aaaku telah menyuruh Zurich untuk melindungimu dan membawamu pergi dari Khronos jika keadaan di sini menjadi memburuk. Aaaaku..”

“Tidak Aiden, jangan katakan itu. Kau akan tetap hidup dan memimpin kerajaan ini seperti biasanya. Kau harus hidup untuk melindungiku dari Tiffany dan penyihir jahat itu.” Sela Calistha histeris. Wanita itu langsung menghambur ke dalam pelukan Aiden dan menenggelamkan wajahnya di atas dada Aiden yang tidak terluka. Saat Calistha bersandar di dadanya, nafas Aiden terdengar tersenggal-senggal dan tampak tidak stabil. Kedua matanya juga semakin mengabur dan tampak tak fokus lagi.

Sudah saatnya

“Ccals, dengarkan aku. Kau harus ttetap hidup, apapun yang terjadi. Sekarang aaku ttidak bisa lagi mmelindungimu dari Tiffany dan Sybil. Tugasku untuk menjagamu telah selesai. Sekarang saatnya kau untuk membuka matamu.”

Calistha mengernyit bingung sambil menyela bulir-bulir air mata yang mengaburkan pandangannya. Wanita itu menatap Aiden dalam dengan perasaan bingung. Berkali-kali Aiden terus menyuruhnya untuk membuka mata. Dan seruan itu semakin lama-semakin melemah seiring dengan nafas Aiden yang terhenti.

“Aiden… Tidakkkk!! Jangan pergi…”

Calistha berseru kencang dengan air mata yang terus menganak sungai dari kedua matanya. Ia menelungkupkan kepalanya diantara kedua lututnya sambil terus menangis dengan histeris. Suara tangisnya yang memilukan terdengar begitu menyayat hati dan menyedihkan. Hari ini ia sedang berduka, ia benar-benar telah kehilangan Aiden dari hidupnya. Kebodohan yang terus menerus ia lakukan selama ini akhirnya berakhir dengan sangat buruk, ia menyesal.

“Aiden, aku menyesal. Tolong jangan tinggalkan aku.”

Seseorang memegang pundak Calistha lembut dan sedikit menariknya untuk bangkit. Tarikan itu begitu kuat dan keras hingga membuat Calistha langsung tertarik begitu saja dengan pasrah. Lalu dengan penuh perasaan orang itu memeluk Calistha dengan erat sambil mengelus surai-surai kecoklatan Calistha dengan lembut.

“Akhirnya kau membuka matamu.”

Seketika tubuh Calistha langsung membeku. Ia melepaskan pelukan itu dengan paksa sambil menatap tak percaya pada Aiden yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan datar khas pria itu, namun menenangkan. Calistha kemudian menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan yang saat ini sedang ditempatinya.

Aku berada di kamarku?

“Kau menangis dan berteriak sangat keras, apa kau baik-baik saja?”

Calistha tampak seperti orang linglung sambil memandangi Aiden tidak percaya. Ia masih berpikir jika Aiden telah mati, tapi pria itu kini justru sedang berada di hadapannya dalam keadaan sehat dan tanpa cacat sedikitpun. Aiden masih terlihat segar dan wajahnya terlihat sangat segar. Calistha kemudian meraba-raba wajah Aiden dengan tangan bergetar sambil menganga tak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat. Ia pikir Aiden telah mati.

“Kkau nyata?” Tanya Calistha tak percaya. Aiden yang awalnya memejamkan matanya sambil menikmati belaian tangan Calistha langsung membuka matanya lebar untuk melihat manik mata karamel yang sudah lama ia rindukan. Hari ini ia akan menjawab semuanya.

“Aku nyata, aku sudah lama menunggumu.” Bisik Aiden mesra sambil mengecup bibir Calistha sekilas. Pipi wanita itu seketika tampak merona merah dan ia langsung membawa Aiden ke dalam pelukannya. Ia menangis tersedu-sedu di pundak Aiden, namun setelahnya ia berteriak bahagia karena Aidennya masih hidup.

“Aiden, kukira kau benar-benar pergi meninggalkanku. Aku sangat takut. Apakah aku sudah tertidur cukup lama? Jam berapa sekarang?”

Calistha langsung melirik jam coklat besar yang berada di sudut ruangan, tapi jam itu justru terlihat mati dan sama sekali tidak berdetak. Jam coklat raksasa yang selama ini tidak pernah berhenti berdetak tiba-tiba berhenti berdetak.

“Aiden, apa jam itu rusak?”

“Tidak. Sudah lama jam itu memang tidak berdetak. Sejak kau melakukan percobaan bunuh diri di hari pernikahan kita, jam itu tidak pernah berdetak lagi. Aku menghentikan waktu di sini selama kau tertidur dan bermimpi.”

Calistha memandang Aiden tidak percaya sambil mengernyitkan dahinya bingung. Sungguh ia tidak mengerti dengan penjelasan dari Aiden. Refleks ia memegang perut ratanya dan mencoba untuk merasakan keberadaan bayinya, tapi ia tidak bisa merasakan apapun. Ia tidak bisa merasakan adanya kehidupan di dalam rahimnya.

“Aiden aku benar-benar tidak mengerti. Dan mengapa aku tidak bisa merasakan kehadirannya?”

Aiden menggenggam erat tangan Calistha dan mengecupnya dengan lembut. Penjelasannya kali ini pasti akan membingungkan untuk Calistha.

“Kau selama ini tertidur Cals, semua yang kau alami hanyalah bagian dari mimpimu. Aku sengaja membuatmu tertidur dan menghentikan waktu di sini agar kau bisa belajar dari kesalahanmu di dunia mimpi. Aku tidak mau mengambil resiko membiarkanmu bertindak ceroboh di dunia nyata. Jadi aku terpaksa melakukan hal ini padamu.” Jelas Aiden panjang lebar. Calistha masih terlihat bingung dengan penjelasan Aiden, namun setelahnya ia justru menubruk tubuh Aiden dan memeluk pria itu dengan erat.

“Jadi semua itu tidak nyata? Kau, Max, dan Gazelle tidak mati? Kalian masih hidup? Oh Ya Tuhan, aku sangat lega sekarang. Dan kau juga tidak menyerbu kerajaraan Bibury?”

Aiden menggelengkan kepalanya mantap dan membalas pelukan Calistha dengan lebih erat. Saat ini ia bisa merasakan bagaimana rasa senang itu meluap-luap dari diri Calistha. Ia pikir Calistha memang telah belajar dari semua kesalahannya di dalam mimpi.

“Tapi itu semua bisa saja terjadi jika kau tidak mendengarkanku dan terus bersikap sesuka hatimu.”

“Aku janji akan selalu menuruti perkataanmu, aku menyesal Aiden. Aku ingin hidup bersamamu.”

“Hmm, apa kau sudah menyadari perasaanmu?” Tanya Aiden menggoda. Calistha menganggukan kepalanya malu dan semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam pundak nyaman Aiden. Persetan dengan pikiran pria itu yang akan mengolok-oloknya, ia tidak peduli! Saat ini ia sangat memerlukan Aiden dan memerlukan tubuh pria itu untuk memeluknya. Ia sangat merindukan Aiden.

“Aiden, apakah aku bisa melihat Max? Ini hari apa?”

“Ini adalah hari sebelum pernikahan kita besok, hari dimana Max dan Gazelle datang untuk mengajakmu melarikan diri dan istanaku.” Ucap Aiden menjelaskan. Tiba-tiba Calistha melepaskan pelukan Aiden dan menatap pria itu sungguh-sungguh dengan kedua matanya yang besar. Sepertinya ia sedang memiliki ide di kapalanya.

“Biarkan aku bertemu Max, aku harus mencegah Max dan Gazelle untuk masuk ke istana ini. Mereka harus pergi sejauh mungkin dari Khronos agar kau tidak membunuh mereka.”

Aiden menghela nafas berat dan langsung menarik Calistha untuk berdiri. Meskipun ia belum yakin apakah Calistha benar-benar sudah berubah atau belum, tapi ia harus mencobanya. Kali ini ia akan mengantar Calistha ke halaman belakang untuk bertemu Max dan Gazelle yang seharusnya saat ini tengah bersembunyi di halaman belakang istananya.

“Ayo, mereka pasti sedang berada di halaman belakang.”

Dengan penuh semangat Calistha langsung melompat turun dari ranjang besarnya yang nyaman. Gaun putih yang digunakannya langsung berkibar-kibar heboh seiring dengan gerakan tubuhnya yang benar-benar aktif. Sekilas ia mirip seperti seorang anak kecil yang baru bangung dari tidur panjangnya yang nyaman.

“Hati-hati Cals, kau hanya akan bertemu Max, bukan kekasihmu.” Sindir Aiden sakarstik. Calistha terkekeh geli dengan sindiran Aiden sambil merangkul bahu pria itu ringan. Dengan nakal Calistha mengerlingkan sebelah matanya jahil, dan setelah itu ia langsung melumat bibir Donghae lembut.

“Tenang saja, aku milikmu raja.” Bisik Calistha mesra dan langsung berlari meninggalkan Aiden. Pria itu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya heran sambil melipat kedua dadanya di depan dada. Akhirnya Calisthanya kembali. Akhirnya ia dapat melihat senyum cantik itu lagi di kehidupannya yang hampa.

“Aiden, sebelum aku bertemu Max, bolehkah aku melihat Tiffany? Ia masih berada di dalam penjara bukan?”

Aiden menganggukan kepalanya mengerti dan segera menggenggam tangan Calistha untuk menuju penjara bawah tanah. Hari ini adalah hari milik sang ratu, dan ia akan akan melakukan apapun demi kebahagiaan wanita yang paling dicintainya.

“Kuharap kali ini kau tidak merengek-rengek padaku untuk mengeluarkan Tiffany dari penjara. Kau tentu masih ingat dengan semua kekacauan yang terjadi setelah kau membebaskan Tiffany bukan?”

“Tentu saja tidak, aku tidak akan memintamu untuk membebaskan Tiffany karena tempatnya memang berada di sana. Membebaskannya dari penjara ternyata bukan keputusan yang tepat. Sekarang aku tahu maksudmu Aiden. Tapi, sepertinya kau sangat tahu apa saja isi mimpiku, bagaimana bisa?”

Aiden tersenyum misterius di hadapan Calistha sambil berdeham pelan untuk mengurangi kegugupannya. Sebenarnya semua mimpi yang dialami Calistha sedikit banyak adalah karena ulahnya, ia yang telah mengatur mimpi itu sesuai dengan penglihatannya yang ia lihat di malam sebelum Calistha melarikan diri dari istananya. Tapi beberapa dari mimpi itu juga telah ia manipulasi agar sesuai dengan kehendaknya, termasuk mimpi dimana Calistha bersikap sangat manja dan bersikap agresif padanya, dan juga mimpi saat malam-malam percintaan panas mereka selama ini. Semua mimpi itu adalah hasil keisengannya karena ingin membuat Calistha bertekuk lutut padanya.

“Hey, jawab pertanyaanku. Kenapa kau justru tampak gugup?” Kejar Calistha gigih. Aiden terus berjalan di depan Calistha tanpa menghiraukan suara nyaring Calistha yang terus menuntutnya untuk menjawabnya.

“Aiden, kau pasti menyembunyikan sesuatu dariku.” Rengek Calistha manja. Akhirnya Aiden tetap memilih untuk bungkam sambil menahan geli karena sikap Calistha yang sangat menggemaskan. Mungkin lain kali ia akan menceritakannya pada Calistha, ketika mereka telah resmi menikah, sehingga Calistha tidak akan marah padanya dan mengancam akan membatalkan rencana pernikahan mereka yang telah di depan mata.

-00-

 

Calistha menatap Tiffany di depannya dengan perasaan bersalah. Ada setitik rasa iba dan dorongan untuk mengeluarkan Tiffany dari dalam sel tahanannya, tapi mengingat bagaimana sikap Tiffany ketika wanita itu bebas membuat Calistha bergidik ngeri dan sekuat tenaga menahan dorongan untuk merengek pada Aiden dan membiarkan Tiffany hidup bebas di luar penjara.

“Apa kau sudah puas menatap saudara kandungmu?” Tanya Aiden datar sambil bersandar pada ujung jeruji besi milik Tiffany yang berkarat. Calistha kemudian menolehkan kepalanya ke arah Aiden sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“Aku sebenarnya merasa iba pada Tiffany, bagaimanapun juga kami adalah saudara. Tapi, aku tidak bisa mengeluarkannya dari sini. Aku takut ia akan membuat rencana jahat jika aku mengeluarkannya dari sini. Jadi, ia memang lebih baik berada di sini.” Ucap Calistha nanar sambil memandang wajah Tiffany sendu. Saat ini Tiffany sedang bersandar pada tembok penjara sambil memejamkan matanya damai. Entah sebenarnya apa yang sedang Tiffany lakukan saat Aiden menghentikan waktu di sekitar Khronos, yang jelas Tiffany lebih terlihat seperti sedang tertidur.

“Mungkin kau bisa mendekatinya perlahan-lahan setelah ini. Penyebab semua sikap jahatnya adalah karena aku menghancurkan kerajaan Diamond dan membunuh kekasihnya. Jujur aku mengaku salah, tapi saat itu aku memang harus melakukannya. Jadi, kau bisa sedikit memberinya perhatian sedikit demi sedikit dan membangun keyakinan jika kau adalah adik kandungnya yang memperhatikannya. Selain itu kau juga harus meyakinkan Tiffany jika kau bukan penyebab dari kehancuran kerajaan Kairos, semua itu adalah murni dari kesalahan kedua orangtua kalian.” Jelas Aiden memberi nasihat. Calistha mengangguk paham sambil menatap Tiffany dalam sebelum ia memutuskan untuk pergi menemui Max.

“Ayo, sekarang kita harus menemui Max.” Ajak Calistha ceria yang langsung dibalas Aiden dengan dengusan. Rupanya pria itu masih merasa kesal dan cemburu dengan Max, meskipun Calistha jelas-jelas telah memilihnya saat ini.

“Kau terlihat sangat bahagia.” Sindir Aiden sakarstik. Calistha tersenyum lebar pada Aiden sambil menganggukan kepalanya semangat.

“Aku memang sedang bahagia sekarang. Ini adalah saatnya untuk meminta maaf pada Max dan juga Gazelle. Kira-kira apa yang akan kau lakukan pada Max?”

Aiden menoleh bingung sambil mengernyitkan dahinya heran.

“Aku? Mungkin aku akan membunuhnya jika ia berani menggodamu dan mengajakmu untuk melarikan diri dari kerajaanku.”

Dug

Refleks Calistha langsung menyikut pinggang Aiden sambil menatap pria itu galak.

“Ck, jangan sekali-sekali kau menggunakan cara itu untuk menyakiti Max, dia pria yang baik. Bagaimana jika kau kembalikan saja kerajaan Hora padanya? Bukankah kau sudah memiliki banyak kerajaan jajahan? Berikan Max kerajaanya kembali dan sedikit prajuritmu untuk membantunya membangun kerajaanya, dan nanti kalian bisa saling bekerjasama satu sama lain. Bagaimana?” Tanya Calistha berbinar-binar. Sedangkan Aiden langsung mendengus tidak suka pada ide Calistha. Lagipula ia sama sekali tidak berencana untuk menyerahkan Hora pada raja lemah seperti Max. Dan ia juga tidak yakin dengan cara Max memimpin kerajaan nantinya, mengingat ia begitu mudah terluka dan dikalahkan saat peperangan beberapa waktu yang lalu.

“Aku tidak bisa melakukannya, apa yang sudah kuambil tidak dapat kukembalikan lagi. Lagipula aku sama sekali tidak yakin dengangaya kepemimpinan Max, karena dia bukan jenis pria yang tangguh. Bahkan ia juga tidak bisa melindungimu dari ibunya yang bermulut pedas itu.”

“Lalu apa bedanya kau dengan ratu Hora, kau juga sama-sama bermulut pedas.” Cibir Calistha kesal. Merasa tidak terima dengan cibiran Calistha, Aiden langsung menarik tangan Calistha dan membuat tubuh wanita itu menabrak tubuh tegapnya dengan keras.

“Tentu saja aku berbeda, karena aku dapat melindungimu dan memperlakukanmu dengan baik.” Bisik Aiden menggoda dan langsung melumat bibir Calistha mesra. Calistha pun refleks langsung mengalungkan lengannya pada leher Aiden sambil membalas setiap lumatan yang dilakukan oleh Aiden padanya. Rasanya ia begitu merindukan jenis ciuman ini, ia sudah lama tidak melakukannya dengan Aiden.

“Hmm, lebih baik kau segera melepaskanku sebelum kau semakin tidak bisa mengendalikan dirimu.” Peringat Calistha sambil meronta pelan dari kungkungan tubuh Aiden. Pria itu dengan mudah langsung melepaskan Calistha begitu saja dan kembali melanjutkan langkahnya menuju taman belakang. Saat ini suasana diantara mereka benar-benar mendukung untuk melakukan hal yang lebih, sehingga Aiden sendiri merasa cukup was-was jika ia akan lepas kendali seperti yang terjadi di dalam mimpi Calistha.

“Aiden, kapan kau akan mengembalikan waktu seperti semula? Rasanya sedikit aneh berada di dunia yang sepi seperti ini. Apa kau tidak merasa kesepian saat kau menungguku untuk bangun?”

“Aku bosan, sangat bosan. Tapi pengorbananku ini tidak sebanding dengan apa yang akan kudapatkan ketika kau membuka matamu nanti, jadi itu tidak masalah untukku.”

Diam-diam Calistha menatap wajah Aiden dengan perasaan haru. Ia merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia karena mendapatkan Aiden sebagai pasangannya. Meskipun semua kebahagiaan ini tidak ia dapatkan dengan mudah, tapi ia cukup bersyukur dengan semua masalah yang terjadi padanya selama ini. Secara tidak langsung masalah-masalah itu mendewasakannya dan membuatnya memahami makna hidup sesungguhnya.

“Kita sepertinya terlalu cepat, Max dan Gazelle belum tiba di sini.”

Calistha melongokan kepalanya kesana kemari sambil mencari-cari keberadaan Max dan Gazelle yang mungkin saja telah tiba disekitar area istana, tapi sepertinya apa yang dikatakan oleh Aiden memang benar, mereka datang terlalu cepat ke sana sehingga Gazelle dan Max masih berada di tempat yang lain.

“Kita harus memundurkan waktunya sedikit lebih lama.”

Tak

Aiden menjentikan jari tangannya cepat dan seketika area disekitar mereka menjadi berjalan lebih cepat dan setelahnya kembali tenang.

“Max!” Teriak Calistha girang dan langsung memeluk Max erat. Aiden yang melihat tingkah berlebihan Calistha hanya mampu memandang malas sambil mendengus kesal. Untung saja saat ia sedang menghentikan waktu yang terjadi disekitar mereka, jika tidak, mungkin ia akan menyeret Calistha pergi sejauh-jauhnya dari Max.

“Oh, aku sangat merindukan Max. Aiden, bolehkah aku menemui Max saat semuanya telah kembali normal?”

“Tidak, kau hanya boleh bertemu Max saat aku sedang bersamamu, aku tidak ingin kejadian kau kabur dari istanaku terulang kembali.” Jawab Aiden ketus. Calistha langsung mengerucutkan bibirnya kesal sambil menginja kaki Aiden gemas. Namun hal itu tidak berpengaruh apapun pada Aiden karena Aiden menggunakan alas kaki tebal khas seorang raja.

“Jadi kau takut aku akan pergi meninggalkanmu? Dasar kekanakan!” Cibir Calistha kesal.

“Bukankah itu bentuk refleksi dari sikapmu sendiri, kau wanita kekanakn yang manja. Lebih baik aku mengekorimu kemanapun kau pergi agar aku bisa mengawasi setiap kelakukan ajaibmu yang merepotkan itu.” Balas Aiden tak kalah kejam. Dalam sekejap kedua manusia itu langsung terlibat dalam adu mulut yang sengit. Baik Calistha maupun Aiden, mereka berdua sama-sama tidak ingin mengalah dan ingin tetap mempertahankan argumen mereka masing-masing. Akhirnya Aiden yang merasa jengah langsung menarik Calistha ke dalam pelukannya dan membungkam bibir wanita itu dengan bibir tipisnya yang lembut.

“Hmm, aku ingin menghentikan waktu ini sedikit lebih lama.” Erang Aiden di sela-sela ciuman mereka yang panas. Calistha kemudian mendorong tubuh Aiden keras saat ia merasakan pasokan udara di dalam paru-parunya mulai menipis.

“Hoshh.. hossh, apa maksudmu?” Tanya Calistha dengan nafas memburu. Aiden dengan jahil mendekatkan wajahnya ke arah Calistha dan mencium bibir mungil yang sedikit terbuka itu dengan gemas.

“Kupikir ini sangat menyenangkan, kau dan aku, kita berdua dalam satu tempat yang tidak memiliki sistem perputaran waktu. Kita bisa melakukan percintaan panas tanpa ada seorangpun yang mengganggu kita.” Bisik Aiden jahil. Pipi Calistha tiba-tiba langsung bersemu merah dan ia segera mengejar Aiden yang telah berlari cukup jauh untuk menghindari teriakan dan amukan darinya.

“Aiden!!! Selesaikan dulu semua urusanmu, dasar pria cabul!” Teriak Calistha heboh sambil terus mengejar Aiden yang telah berlari cukup jauh memasuki istana.

end???

30 thoughts on “Queen Of Time: King Aiden and Queen Calistha

  1. JADI SEMUANYA CUMA MIMPI?! Daebak. Pantes Aiden cuek banget sama kehamilan Chalista. Jadi itu tuh waktunya lagi berhenti? Selama Chalista tidur, cuma Aiden yang bangun? Wow.

  2. Bener” ga nyangka kalo semua cm mimpi calistha, tp gpp, stidaknya dg begitu mereka bisa mencegah terjadinya hal buruk
    Endingnya gantung, pengen sequel

    Ditunggu sequel dan ff selanjutnya, fighting

  3. Haaaaa… awalnya sempet ngira kalo itu cuma mimpi chalista, tapi ga kepikiran juga kalo mimpinya itu pas sebelum hari Chalista kabur 😂😂 Ya Tuhan.. Aiden benar-benar jenius 😂😂 bangga sama Aiden ☺☺
    Dan sepertinya ini harus ada squelnya #ngarep
    Author… thanks bgt udah bikin cerita yang bener-bener bikin aku panas dingin bacanya 😂😂 nungguin lanjutannya kadang suka greget, padahal ngepostnya cepet 😂😂 Author terbaik 👍👍 ditunggu ff lainnya 😃😃

  4. heeeooollll jd semua yg terjdi itu hnya mimpi calista ,,,
    aduchhhhh ,,,,,
    heeemmmm jd aiden yg menghentikan waktu,,,,
    kok end sichhh pdhal mereka blm menikahhhh

  5. omg bnr2 tak terduga,jd semuanya hanyalah mimpi dan itu salah satu taktik aiden untuk menyadarkan chalista tnpa hrs menanggung resiko yg sgt besar.bnr2 ide cemerlang.

  6. Woah udh end happy end yeyy
    Jdi semua itu hanya mimpi calista dan itu semua yg akan terjadi di masa depan jika aiden tdak membuat calista tidur akan terjadi kekacawan hhhah seru dan gk nyangka udh end sequel dong thor .oh ya Q jg nunggu sequel2 ff km thor yg km janjiin 😉😉

  7. Jadi selama ini semuanya cuma mimpi???? Thanks thor gue kirain aiden kmrn benar2 sekarat, senang akhirnya smua cma mimpi…. aiden yg bwt mimpi calishta spya fia sadar dg org2 jahat dsktr nx. Next!!! Gue pengen lihat pernikahan aiden calistha….

  8. Jangan end dong chingu.. ternyata semua itu hanya mimpi alhamdulillah.. akhirnya yoonhae bersatu.. nunggu hari bahagia nya mereka.. jangan end yah hehehe 😅

  9. astga mimpi Calistha panjang banget aku pikir aiden bakal meninggal ternyata semua itu hanya mimpi. akhirnya Calistha tidak menyesali perbuatannya, untung aiden bisa menghentikan waktu kalo enggak bisa-bisa dia udah mati gara2 Calistha sendiri yang keras kepala dan gk percaya sama aiden.

  10. Woaahhhhhh… daebaak.
    Calistha selama ini mimpi. Luar biasa. Gk terlintas dipikiranku klo ini bkal terjadi.
    smoga stelah ini King Aiden dan Queen Calistha bner2 bersama dan memimpin Khronos dalam damai.
    NEXT 😁

  11. duh seneng banget itu semua cuma mimpi biar calistha mengerti padahal udah deg degan banget aiden mau mati TT…jangan end dulu dong itu masih nanggung thor, lanjutin dong please

  12. Rasanya lega, tau kalo slama ini yg dialami mereka cuma mimpi..

    Next.. Gregetan aku

  13. END???
    Butuh sequel thor, pengen liat yoonhae menikah dan mempunyai anak.

    dan ternyata semua kejadian hanyalah mimpi chalista, benar benar tidak bisa di tebak…

    dengan mimpi itu ratu chalista bisa belajar dan menjadi orang yg tidak ceroboh lagi.

    ku tunggu ff barunya thor

  14. Aq comment berkali-kali napa gk masuk ya eon, but over all ff nya bikin greget , dpt bgt feelnya, calista bener2 bkin baper , sifatnya keras kepala tp di akhir dia sadar juga 🙂 aiden juga karakternya aku sukaaaa bener2 bijaksana,tegas dan berwibawa. Next ff d tnggu ne? Fighting

  15. blm end kan ? mereka kan blm menikah
    smg mereka happy ending itu harapan aku hihihihi

  16. Ternyata smw rencana aiden agar chalista sadar siapa yg jahat sebenar.a 😄😄😄
    Udh kebawa perasaan bgt di awal kirain aiden bakal meninggal😅😅 tp alhamdulillah aiden ga jd meninggal dan chalista sadar siapa yg jahat😄😄

    Sequel dong thor pengen baca pas aiden sm chalista nikah trus hamil dan punya anak hidup bahagia tanpa ada yg ganggu 😊😊😊 ya ya yahhh

  17. yaah ampun jadi itu semua hanya mimpi dan ini balik flashback ke part 4?? debak !!! jinja daebak !!! authornim memang gk terduga. keren.aku uda mau nangis pas aiden akan mati. kasian juga nanti liat chalista. waah aiden hebat banget ya. nungguin chalista bangun sampe waktu diberhentiin. dan juga chalista?? dia bangun langsung uda cinta sama aiden. aduuuh gk bisa berkata apa2. meskipun endingnya gk puas. tapi ini debak banget authornim. tapi kurang deh. mau liat mereka nikaah 😂😂

  18. yaah ampun jadi itu semua hanya mimpi dan ini balik flashback ke part 4?? debak !!! jinja daebak !!! authornim memang gk terduga. keren.aku uda mau nangis pas aiden akan mati. kasian juga nanti liat chalista. waah aiden hebat banget ya. nungguin chalista bangun sampe waktu diberhentiin. dan juga chalista?? dia bangun langsung uda cinta sama aiden. aduuuh gk bisa berkata apa2. meskipun endingnya gk puas. tapi ini debak banget authornim

  19. Kadi semua itu MIMPI? autooooooorrr kau sukses menjungkir balikkan ekspresiku 😂😂😂
    Kirain ini tadi bakalan sad end, eh ternyata 😄😄
    Ini belom end kan, msih ada lanjutannya kan thor 😉

  20. What?? Jadi slma ini, mulai dari calista kabur, aiden bnuh org, dan sgalanya itu cman mimpi??? Daebakk! Jdi saat itu aiden gunain kekuatannya yah?? dan apa?? mimpi itu smua aiden yg rancang? trmsk yg Nc?? Woww 😃😱😱 Cieee aiden klo udh cpek debat ma calista lngsng main tarik lngsng cium :v

    ini end kk?? blum kan? klo iya,, sequel dong kakk.. Klo blum lnjuuuuuttt 😁😁 Fighting”!

  21. Ditunggu yaa ff yoonhae yg haenya udh ahjusi2 gt sementara yoong masih polos 2 gmn gt

  22. Jadi ini semua cuma mimpi? Tapi masih penasaran sama pernikahan mereka. Butuh squelll

  23. Yaampun udah sejauh ini chapter yg kita baca dan semua kejadian itu cuma MIMPI ????
    Oh eonie ..ada seneng nya tapi ada gemesnya juga sih ,gemes banget kenapa semua yg kita keselin dan di saat semuanya udah mau kelar malah cuma minpi hahahaha

    Tapi yaudahlah ,mungkin emang kaya gitu jalan ceritanya di tunggu saja lanjutannya karya gk setuju kalau ini udah end ??? butuh sequel apa lanjutan lagi mungkin ^^

  24. Sumpah bener-bener gak nyangka banget kalo semua itu cuman mimpi & yang ngelakuin itu semua Aiden dia yang buat Calistha tertidur & menghentikan waktu agar Calistha belajar dari kesalahannya di dunia mimpi. Daebak 🙀🙀
    Jangan end dulu thor kan mereka belum nikah 😺😺

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.