Queen Of Time: The Mysterious One

 

Spencer berjalan dengan penuh percaya diri menghampiri Aiden yang sedang berbicara serius dengan menteri ekonomi. Wajahnya tampak menyiratkan kepuasaan karena hari ini ia berhasil melakukan perintah dari Aiden dengan lancar, dan tanpa ada suatu kendala apapun. Justru hari ini ia seperti mendapatkan dua keberuntungan sekaligus karena telah membuat penyihir itu mati dan membuat Tiffany menjerit histeris di tengah-tengah kerumunan rakyat Khronos. Dan bayangan Tiffany yang sedang menjerit-jerit di tengah-tengah pasar tadi semakin menambah rasa puas dalam dirinya.

“Yang Mulia.”

Spencer memanggil Aiden pelan dan membuat Aiden langsung menoleh pada sang pengawal setia yang tengah menatapnya dengan serius. Raja arogan itu memberikan isyarat untuk menunggunya sebentar, dan kemudian ia kembali berbicara serius dengan sang menteri ekonomi. Kira-kira lima menit kemudian, menteri ekonomi itu pamit undur diri dan tak lupa membungkuk hormat pada Aiden untuk memberikan penghormtan. Lalu saat berjalan melewati Spencer, menteri itu menyempatkan diri untuk menepuk pundak Spencer pelan sambil tersenyum penuh ketenangan.

“Semoga harimu menyenangkan nak.” Ucap menteri tua itu ramah pada Spencer dan segera berjalan pergi meninggalkan sang raja dan sang pengawal setia untuk berbicara empat mata.

“Jadi apa yang kau bawa untukku hari ini?”

Tanya Aiden akhirnya di atas singgasananya yang megah. Pria itu terlihat begitu berkuasa dengan jubah kebesarannya yang berkibar pelan diterpa angin siang yang cukup terik yang berhembus dari fentilasi atap. Mendengar rajanya bertanya, Spencer langsung menunduk hormat sambil menatap Aiden penuh percaya diri.

“Saya berhasil melakukan tugas saya dengan baik. Penyihir itu kini telah mati, bahkan saya sempat melihat Tiffany yang sedang meraung-raung di depan rumah penyihir itu sambil meminta tolong pada siapapun yang ditemuinya untuk menyelamatkan penyihir itu. Tapi tidak ada satupun yang bisa melakukannya karena api sudah berkobar cukup besar, dan tentu saja mereka tidak mau membahayakan nyawa mereka untuk menolong penyihir itu yang terjebak di dalam rumahnya yang terbakar.”

Aiden mendengarkan semua penjelasan Spencer dengan seksama sambil menyeringai senang. Rasanya saat ini ia ingin menemui Tiffany dan mencemooh wanita licik itu karena sikap bodohnya yang telah mempermalukan dirinya sendiri di depan seluruh rakyat-rakyatnya. Ahh, ia benar-benar tidak sabar untuk melihat wajah Tiffany hari ini. Pasti akan sangat menyenangkan melihat wajah marahnya yang dipenuhi oleh api dendam.

“Bagus. Sekarang kau bisa pergi, hari ini kau bebas untuk melakukan apapun. Aku memberimu libur karena kerja kerasmu hari ini.”

Spencer mendongakan wajahnya senang dan langsung menunduk dalam pada Aiden. Akhirnya ia mendapatkan waktu libur untuk bersenang-senang. Setidaknya hari ini ia akan pergi ke hutan untuk berburu dan merasakan menjadi pria bebas yang tidak terikat pada raja.

“Terimakasih Yang Mulia, kalau begitu saya permisi.” Pamit Spencer sopan sambil membungkuk hormat. Pria itu kemudian berjalan pergi meninggalkan Aiden dengan senyum cerah yang mengembang di bibirnya. Berbagai macam rencana telah ia susun di dalam kepalanya untuk mengisi waktu liburannya hari ini. Dan ia benar-benar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka yang jarang sekali diberikan oleh rajanya yang arogan.

Sepeninggal Spencer, Aiden tampak termenung di atas singgasananya sambil menatap para pelayan yang hendak menyiapkan hidangan makan siang. Pekerjaanya hari ini telah selesai, dan sebentar lagi ia akan bertemu Calistha di meja makan, kira-kira apa yang sedang dilakukan wanita itu di luar sana? Pertanyaan itu melayang-layang di dalam kepalanya sambil membayangkan wajah Calistha yang selalu cantik dengan rona merah di pipinya. Aiden kemudian juga membayangkan bagaimana kehidupannya kelak setelah Calistha melahirkan keturunannya. Selama ini ia terbiasa hidup sendiri dengan kearogannya dan kekerasan hatinya. Tapi mengingat jika Calistha tengah mengandung anaknya, dan kehidupannya setelah ini akan lengkap, rasanya… ia sungguh tidak bisa menggambarkannya. Ada rasa bahagia dan hangat yang menyusup ke dalam hatinya, membuatnya ingin selalu tersenyum aneh setiap bayangan Calistha dan bayangan calon anaknya kelak melintas di dalam kepalanya. Terkadang ia berpikir, akan menjadi seperti apa calon anaknya kelak? Apakah ia akan mirip seperti dirinya ataukah ia akan mirip seperti Calistha? Tapi pada akhirnya, ia akan menjawab lantang di dalam hatinya bahwa ia tidak peduli dengan semua itu. Asalkan Calistha dan anaknya selamat, semua itu sudah cukup baginya. Justru ia tidak ingin anaknya mewarisi sifat begisnya karena ia ingin anaknya kelak dikenal sebagai raja yang baik, bukan raja yang kejam sepertinya hingga menakuti banyak orang.

Ditengah-tengah lamunannya mengenai Calistha dan calon anaknya, seorang pelayan muda datang sambil menundukan kepalanya penuh hormat. Pelayan itu menyampaikan pada Aiden jika hidangan untuk makan siang telah siap, dan Aiden sudah bisa menyantapnya sekarang. Pria itu mengangguk mengerti dan hendak berjalan menuju ruang makan, tapi ia tiba-tiba teringat pada Calistha yang hingga siang ini belum memunculkan batang hidungnya. Ia pun memutuskan untuk menanyakan keberadaan wanita cantik itu pada si pelayan yang masih setia membungkuk di tempat tanpa bergerak sedikitpun sejak tadi.

“Apa kau tahu dimana Calistha?”

Pelayan itu tampak berpikir sejenak sambil menganggukan kepalanya pelan. Beberapa menit yang lalu ia memang bertemu sang calon ratu di sayap kanan istana. Ia melihat sang ratu sedang bersama dua pengawal setianya, Yuri dan Sunny, dan seorang wanita tua yang terlihat sangat mengerikan. Namun saat ia hendak menghampiri mereka dan membantu mereka untuk membawa wanita tua itu, sang calon ratu justru menyuruhnya untuk pergi dan menyelesaikan tugas-tugasnya. Dan kemudian ia segera pergi sambil mengangguk patuh tanpa bertanya hal-hal lain lagi, karena itu diluar wewenangnya.

“Saya melihat Yang Mulia Calistha sedang bersama nona Yuri dan Sunny, mereka berdua dan Yang Mulia Calistha sepertinya akan pergi ke sayap kanan untuk membaringkan seorang wanita tua yang sedang tak sadarkan diri. Tapi saya tidak tahu siapa wanita itu karena Yang Mulia langsung menyuruh saya untuk pergi.”

Aiden mengernyitkan dahinya heran saat mendengar cerita dari si pelayan itu. Menurutnya Calistha sedang menyembunyikan sesuatu darinya dan wanita itu kemungkinan akan membahayakan dirinya lagi. Lagipula mengapa Calistha tidak bertanya padanya dulu jika ia ingin membawa seseorang ke dalam istananya? Seharusnya wanita itu meminta ijin padanya, sebelum membawa seseorang yang tidak dikenalnya ke dalam lingkungan istana. Ia benar-benar harus mencari Calistha sekarang.

“Ya, kau boleh pergi.” Usir Aiden dingin. Pelayan itu tampak bernafas lega sambil berjalan terbirit-birit meninggalkan Aiden. Aura iblis Aiden yang menguar dari tubuh pria itu rupanya telah membuat si pelayan merasa tertekan dan begitu takut berada di dekatnya. Tapi ia tidak peduli, karena saat ini ia harus segera mencari Calistha dan mengintrogasi wanita itu.

-00-

Di dalam sebuah kamar yang remang-remang, Calistha dengan penuh ketelatenan sedang menyelimuti wanita tua yang saat ini sedang berbaring damai di atas ranjang empuk yang nyaman. Wanita tua itu kini tampak lebih baik dan lebih bersih dari sebelumnya. Yuri dan Sunny juga telah mengganti pakaian kotor wanita itu dengan pakaian lain yang lebih bersih, sehingga wanita itu kini tidak terlalu menyeramkan lagi bagi mereka.

“Yang Mulia, sebaiknya anda segera memberitahukan hal ini pada raja Aiden, raja pasti akan marah jika anda tiba-tiba membawa seseorang nenek tua tanpa memberitahukannya pada raja.” Ucap Yuri menasehati. Calistha mengangguk mengerti sambil menimbang-nimbang saran Yuri. Tapi hati kecilnya merasa tidak yakin dengan ucapan Yuri karena ia sangat tahu bagaimana sifat Aiden, ia pasti akan marah besar dan justru akan mengusir wanita tua tak berdaya ini dari istanannya. Yah, ia memang salah karena telah memasukan orang asing ke dalam istana pria itu, tapi ia sendiri tidak mungkin membiarkan wanita itu tergletak begitu saja di luar sana dengan keadaan yang sangat kotor dan mengenaskan. Menurutnya wanita itu baru saja terkena musibah, namun sayangnya ia tidak bisa menanyakan hal itu lebih lanjut karena sejak tadi wanita itu tak kunjung sadar juga.

“Aku pasti akan memberitahu Aiden nanti. Lebih baik sekarang kita biarkan wanita ini beristirahat. Dan mungkin setelah makan siang dengan Aiden aku akan mengajak Aiden ke sini untuk melihat keadaan wanita tua yang malang ini, sekaligus mengatakan yang sebenarnya pada Aiden jika aku telah membawa masuk seorang wanita asing ke dalam istananya. Kuharap Aiden tidak marah dengan tindakanku kali ini. Semoga saja ia mengerti dengan maksud baikku.” Ucap Calistha penuh permohonan pada dirinya sendiri. Ketiga wanita itu segera berjalan pergi meninggalkan sang wanita tua untuk beristirahat. Tapi siapa sangka, ketika pintu kayu itu tertutup, wanita tua itu membuka matanya perlahan sambil melirik licik pada pintu coklat yang baru saja ditutup oleh Sunny.

“Ternyata kakak beradik itu benar-benar memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Calistha… wanita itu mungkin akan menerima sedikit belas kasihan dariku.” Gumam Sybil pada dirinya sendiri.

-00-

Tiffany masih berdiri mematung di depan puing-puing reruntuhan rumah Sybil. Sore ini api yang melalap rumah Sybil berhasil dipadamkan oleh seluruh penduduk Khronos yang sejak siang tadi terus berupaya untuk memadamkan kobaran api yang terus menjilat-jilat ke udara dengan sangat mengerikan. Tapi meskipun kobaran api itu kini telah padam, Tiffany tetap merasa sedih karena lagi-lagi ia kehilangan partner yang akan membantunya untuk menghancurkan Calistha dan Aiden. Padahal menurutnya keberadaan Sybil akan aman, karena jauh dari jangkauan Aiden, tapi nyatanya saat ini Aiden telah membakar rumah Sybil dan membunuh wanita tua itu hidup-hidup di dalam sana. Andai saja waktu dapat diputar, ia ingin datang lebih cepat ke rumah Sybil dan memperingatkan wanita itu jika Aiden hendak membakar rumahnya. Tapi sekali lagi, semua itu hanya angan-angannya. Angan-angan yang tidak akan pernah terwujud karena semua telah terjadi. Sybil telah mati di dalam sana, wanita malang yang licik itu telah pergi.

Tiffany kemudian memutuskan untuk kembali ke istana dan menyusun rencana lain untuk membunuh Aiden. Saat ini tekadnya telah bulat. Ia tidak akan menunggu-nunggu lagi lebih lama dan akan langsung menghabisi Aiden saat pria itu lengah. Persetan dengan kehamilan Calistha yang akan melemahkan pria itu. Ia tidak akan menunggu lebih lama lagi untuk menghabisi Calistha dan Aiden, karena saat ia memiliki kesempatan, ia akan langsung melakukannya dengan cepat, dengan kejam, dan dengan bersih. Lalu ia akan mengambil alih tahta Khronos untuk kebebasannya dan untuk kebebasan seluruh kaum pemberontak yang ditindas oleh Aiden.

-00-

Aiden tampak melangkah lebar-lebar di sepanjang koridor menuju sayap kanan istana. Perasaanya benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu Calistha. Ia merasa perlu menanyakan pada Calistha perihal wanita asing yang dibawa oleh wanita itu ke dalam istananya. Dan jika wanita itu terbukti bersikap gegabah lagi, mungkin ia akan memberikan hukuman yang lebih keras pada wanita itu.

“Calistha.”

Aiden berseru lantang saat melihat Calistha yang sedang berjalan bersama Yuri dan Sunny di depannya. Wanita terlihat cukup terkejut saat menatapnya, namun sebisa mungkin Calistha bersikap tenang sambil melambaikan tangannya ringan ke arah Aiden.

“Aiden, apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Calistha heran. Aiden tampak bersikap datar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sementara itu, Yuri dan Sunny langsung pamit undur diri karena mereka tidak mau mengganggu waktu pribadi sang raja dan ratu.

“Siapa yang kau bawa ke dalam istanaku?” Tanya Aiden langsung tanpa basa-basi. Seketika raut wajah Calistha menjadi pucat. Ia pikir berita mengenai wanita asing itu tidak akan secepat itu terdengar oleh Aiden, tapi nyatanya pria itu langsung mengetahuinya dan sekarang ia tengah menuntut penjelasan darinya.

Kenapa cepat sekali?

            “Eee.. jadi begini, aku.. aku membawa seorang wanita yang sedang sekarat untuk kuobati. Ia sepertinya baru saja dirampok, ia terlihat sangat menyedihkan dan tak berdaya. Dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja di luar sana.” Jelas Calistha dengan wajah memelas. Aiden masih menatap kedua manik mata Calistha dengan datar tanpa berniat untuk mengalihkan tatapan matanya yang menusuk pada objek lain. Kali ini ia harus lebih keras lagi pada Calistha agar wanita itu tidak terus-menerus hidup dengan sesuka hati tanpa menghormatinya sebagai raja.

“Kau langsung membawanya ke istanaku? Apa kau pikir kau mempunyai kuasa di sini?” Tanya Aiden datar penuh amarah. Calistha meneguk salivanya susah payah sambil terus mencoba untuk mempertahankan dirinya yang sedang diintimidasi oleh Aiden. Meskipun pria itu adalah raja dan memiliki hak penuh di sini, tapi ia tidak akan membiarkan Aiden menguasainya. Sebisa mungkin ia akan menunjukan pada Aiden jika ia bukan wanita lemah yang mudah ditindas oleh kearogansian pria itu. Dan soal kuasa yang dipertanyakan oleh pria itu, ia memang tidak memilikinya. Tapi secepatnya ia akan segera memiliki kuasa itu.

“Aku memang tidak memiliki kuasa apapun di sini, tapi aku menolong wanita itu berdasarkan hati nurani. Bukankah kau menyayangi rakyatmu? Kau tidak ingin mereka terluka bukan? Jadi biarkan wanita itu tetap tinggal di sini, aku yang akan merawatnya.”

“Aku tidak menanyakan hati nuranimu ataupun kebaikanmu pada wanita itu, tapi aku menanyakan kuasamu? Kau tidak seharusnya memasukan wanita asing itu ke dalam istanaku tanpa persetujuan dariku? Apa kau tidak sadar dengan banyak bahaya yang berkeliaran di sekitarmu? Mungkin saja wanita itu jahat dan salah satu dari orang-orang yang menginginkanmu mati. Apa kau tidak pernah memikirkan hal itu?”

Aiden berseru lantang dengan penuh kemurkaan. Sedangkan Calistha tampak sudah bersiap untuk membalas pria itu. Ia pikir Aiden sudah berlebihan dan terlalu ketakutan dengan keadaanya yang sebenarnya baik-baik saja. Ia merasa wanita itu sama sekali tidak berbahaya. Dan ia yakin wanita itu tidak akan mencelakakannya.

“Kurasa kau sudah terlalu berlebihan Aiden. Kau terlalu takut dengan bayang-bayang masa lalumu yang kelam. Padahal semuanya tidak seperti yang kau pikirkan. Jelas-jelas wanita itu bukan wanita jahat yang akan mencelakaiku, wanita itu adalah wanita lemah yang perlu ditolong dan diselamatkan. Kuharap kau mengerti dengan maksudku dan tidak perlu terlalu berlebihan dalam menjagaku, aku bisa menjaga diriku sendiri.” Ucap Calistha tegas. Aiden tampak terdiam di tempat dengan jawaban Calistha. Dan sedetik kemudian pria itu langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Calistha.

Melihat Aiden yang langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun membuat Calistha merasa kesal dan juga merasa bersalah disaat yang bersamaan. Ia pikir Aiden akhir-akhir ini terlalu sensitif dan mudah sekali tersinggung dengan ucapannya, padahal ia tidak berniat untuk menyinggung pria itu, ia hanya ingin menyadarkan pria itu dari ketakutannya yang berlebihan akan keselamatan jiwanya.

“Huhh..”

Calistha menghembuskan nafasnya pelan, dan kemudian ia segera pergi meninggalkan lorong itu untuk beristirahat di kamarnya. Terlalu lama berdebat dengan Aiden membuat seluruh tenaganya terkuras hanya untuk menahan seluruh emosinya pada pria itu. Dan akhirnya jalan satu-satunya untuk meredakan kekesalannya hari ini adalah dengan menghindari pria itu dan membatasi kontak dengan pria itu. Karena satu-satunya hal yang bisa meredakan perang dingin yang terjadi diantara mereka hanyalah waktu. Ya, ini hanyalah masalah waktu.

-00-

Pria bermata gelap itu menatap wanita di depannya sambil mengerutkan dahinya bingung. Dilihatnya saat ini sang wanita tengah tertidur dengan wajah gelisah dan dahi yang terus berkerut gusar. Entah mimpi apa yang saat ini tengah dialami oleh wanita itu, yang jelas ia terlihat begitu terganggu dan tidak nyaman.

Dielusnya dahi itu lembut untuk menghilangkan kerutan-kerutan samar yang tercetak jelas di dahi indahnya. Kemudian ia mengecup dahi itu lembut sambil membisikan kata-kata pengantar tidur yang begitu menenangkan sambil menggenggam tangan-tangan mungil itu erat di dalam telapak tangannya yang hangat.

“Sayang, nikmatilah semua hal yang kau rasakan saat ini. Aku akan tetap menunggumu di sini hingga kau membuka matamu untukku.”

-00-

Tiffany berjalan dengan tergesa-gesa ke dalam istana Khronos dengan wajah dingin dan marah. Hari ini ia berencana untuk menemui Aiden dan memaki pria itu dengan seluruh amarah yang dipendamnya. Ia merasa sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama untuk menyerang pria kejam itu. Setidaknya hari ini ia ingin meluapkan rasa kesalnya dengan memaki-maki Aiden sepuasnya dan setelah itu ia akan kembali berlindung dibawah lengan Calistha yang nyaman. Ya, setelah ia selesai menumpahkan seluruh kemarahannya pada Aiden ia akan berlari pada Calistha dan bersikap seperti seorang anak kecil yang memerlukan perlindungan dari pria jahat sekelas Aiden.

“Aku ingin bertemu raja Aiden.”

Tiffany berseru dingin pada dua penjaga yang bersiaga di depan pintu ruangan Aiden. Penjaga-penjaga itu menatap Tiffany sekilas dan setelah itu segera mengijinkan wanita itu untuk masuk ke dalam. Setelah dua pengawal itu memberikan jalan, Tiffany tanpa ragu langsung melangkahkan kakinya ke dalam ruangan pribadi Aiden, dan kedua manik karamelnya tanpa takut sedikitpun langsung menantang manik gelap Aiden yang sejak tadi terus menatapnya dengan tatapan menusuk.

“Selamat siang adik iparku, raja Aiden yang terhormat.” Sapa Tiffany santai namun penuh dengan kesinisan. Aiden yang tak menyangka jika Tiffany akan mendatanginya dengan cepat seperti ini langsung menyeringai sinis dibalik kursi kebesarannya yang gelap. Tatapan matanya yang setajam tatapan elang tampak bersinar mengerikan di dalam suasana kamarnya yang selalu temaram. Pria itu memberikan isyarat pada Tiffany untuk duduk di salah satu kursi di depannya sambil memberikan tatapan penuh ejekan.

“Jadi setelah kau kehilangan salah satu teman jahatmu hari ini kau memutuskan untuk menyerah padaku?”

Tiffany menatap kedua manik gelap Aiden penuh kebencian sambil melipat kedua tangannya di depan dada penuh kesombongan. Bahkan meskipun ia dalam keadaan sekarat dan hampir mati sekalipun, ia tidak akan sudi untuk menyerah begitu saja pada Aiden. Selamanya ia akan tetap membenci pria itu dan menganggap pria itu sebagai musuh.

“Huh, menyerah? Kau pikir aku selemah itu? Aku tidak akan menyerah begitu saja padamu. Justru kedatanganku ke sini karena aku ingin menegaskan padamu jika aku masih tetap kuat walaupun kau telah menghancurkan seluruh rencanaku dan membunuh semua orang-orang yang berada di pihakku. Aku tidak akan pernah menyerah di bawah kuasamu. Tanpa mereka, aku akan tetap membunuhmu dan menghancurkan Calistha.” Ucap Tiffany penuh keyakinan. Nafasnya tampak memburu, seolah-olah ia baru saja berlari dengan jarak ribuan kilometer jauhnya. Wanita itu saat ini sedang dalam kondisi yang benar-benar tidak bersahabat. Jika Aiden terus memancingnya dengan kata-kata sinis dan mencemoohnya, tidak menutup kemungkinan Tiffany akan bertindak nekat dan menyerangnya saat ini dengan brutal.

“Begitukah? Tapi aku tidak yakin. Memangnya apa yang bisa kau lakukan tanpa mereka? Selama ini kau hanya menjadi bayang-bayang mereka sambil mengatasnamakan dirimu dalam kesuksesan mereka. Kau tak ubahnya seperti seorang kutu yang selalu hinggap di rambut orang-orang. Kau parasit yang menjijikan Tiffany.”

Aiden mencemooh wanita itu habis-habisan dengan kata-katanya yang tajam dan menyakitkan. Sementara itu Tiffany sudah terlihat begitu marah sambil mengepalkan kedua tangannya di balik tubuhnya. Ingin rasanya ia menyerang pria arogan yang saat ini tengah menyeringai licik di depannya sambil melayangkan tatapan mencemooh yang begitu menyebalkan. Ekor matanya kemudian memindai seluruh ruangan Aiden untuk mencari sebuah senjata yang kira-kira dapat ia gunakan untuk menyerang Aiden. Rasanya momen kali ini akan sangat pas untuknya menyerang Aiden karena saat ini mereka berdua benar-benar sedang saling berhadapan satu sama lain. Jika ia dapat menemukan pedang atau sebuah benda runcing lain, ia dapat melukai Aiden dengan mudah.

“Kau mencari sebuah senjata? Tepat di bawah kakimu aku menyimpan sebuah belati. Jika kau ingin menggunakannya untuk menyerangku, maka ambilah. Aku akan sangat senang sekali jika kau ingin melawanku sekarang. Bukankah waktunya sudah sangat pas? Kita, berada di dalam sebuah ruangan yang sunyi dan gelap, tanpa ada seorangpun di sini selain kita berdua. Jika kau berhasil melukaiku, tidak akan ada satupun yang melihatnya. Kau bisa menceritakan cerita omong kosongmu pada orang-orang dan meyakinkan mereka jika kau bukan pelaku yang melukaiku. Dan yang terpenting kau bisa meracuni pikiran Calistha dengan kata-katamu yang seperti racun itu.” Ucap Aiden menyindir. Tiffany melirik sekilas lantai marmer yang berada di bawah kakinya. Tepat di sebelah kanan kakinya, ia melihat sebuah belati kecil yang terselip di bawah ruang penyimpanan tersembunyi di bawah kursi yang ia duduki. Ternayata pria itu tidak main-main dengan kata-katanya. Ia benar-benar menantangnya untuk menyerangnya saat ini.

“Jadi kau baru saja membaca pikiranku? Hebat! Kau memang sangat tahu apa yang kuinginkan saat ini adik ipar. Kalau begitu, aku akan mengambil belati ini sekarang.”

Tiffany kemudian segera menundukan tubuhnya untuk mengambil belati itu dari bawah kursinya. Pasti akan sangat menyenangkan jika ujung runcing belati itu dapat menancap di dada sebelah kiri Aiden. Dirabanya ujung belati yang dingin itu perlahan. Pada sentuhan pertama Tiffany dapat merasakan bagaimana tajam dan berbahaya belati itu jika digunakan untuk menyerang lawannya. Dan ia yakin belati itu dapat digunakan untuk membunuh Aiden.

Sringg

Sebuah benda dingin tiba-tiba menempel di leher Tiffany dan membuat wanita itu langsung menyeringai sinis. Pria itu, tentu saja bukan pria bodoh dan tolol yang akan membiarkannya menggunakan belati itu dengan mudah. Pria itu sebenarnya pasti telah memiliki rencana lain di dalam kepalanya.

“Kau pasti sudah dapat menebaknya. Tidak mungkin aku membiarkanmu mengambil belati itu sementara aku tidak memiliki senjata apapun dibalik jubah kebesaranku ini bukan?”

Tiffany mendongakan kepalanya santai dan tersenyum remeh pada Aiden. Apakah pria itu mengira jika ia sebodoh itu? Tentu saja ia sudah memperkirakannya. Seorang Aiden tidak mungkin tidak menyembunyikan pedang dibalik jubah kebesarannya yang mewah. Apalagi selama ini pria itu selalu dikelilingin oleh orang-orang jahat yang sudah siap untuk membunuhnya, sudah pasti pria itu selalu menyembunyikan senjata untuk melawan setiap musuhnya yang hendak mendekat dan menghabisinya dengan keji.

“Hahaha, tentu saja aku tidak sebodoh itu adik ipar. Aku sudah tahu semua gelagatmu yang mencurigakan itu.”

Cring

Klak

Tiffany mengayunkan belatinya dengan keras tepat ke arah pedang Aiden yang bersarang di lehernya. Bunyi pedang yang saling beradu dengan belati terdengar begitu nyaring di dalam ruangan Aiden yang begitu sunyi. Dua mata itu kini saling bertatapan satu sama lain dengan penuh permusuhan. Mereka berdua terlihat benar-benar sudah siap untuk saling menyerang satu sama lain.

“Aku… ingin… membunuhmu… saat… ini.. juga Aiden.” Desisi Tiffany pelan penuh penekanan. Sementara itu Aiden hanya menanggapi wanita itu santai sambil mengendikan bahunya acuh. Apapun yang akan wanita itu lakukan padanya, ia siap untuk menerimanya. Ia akan menghadapi setiap serangan yang dilayangkan wanita itu padanya dengan penuh sukacita, karena ia sangat menyukai pertarungan yang begitu memacu adrenalin seperti saat ini.

“Tentu, kau bisa melakukannya sekarang.”

Tak

Sring

Tanpa menunggu lebih lama lagi Tiffany langsung mengarahkan belatinya pada dada kiri Aiden. Tapi Aiden dengan sigap langsung menangkis serangan wanita itu dengan pedangnya yang panjang dan berusaha untuk menjatuhkan belati itu dari tangan Tiffany. Sabetan demi sabetan ia layangkan pada Tiffany dan berhasil mengenai lengan kiri Tiffany hingga wanita itu merintih kesakitan. Namun luka itu tampak tidak mempengaruhi niat Tiffany untuk membunuh Aiden. Wanita itu dengan gigih tetap memberikan serangan-serangan pada Aiden meskipun saat ini lengannya terasa begitu perih dan sakit.

Sring! Brakk!

Serangan Tiffany yang membabi buta menyebabkan meja kayu yang berada di depannya jatuh terguling karena kebrutalannya. Dan meja kayu itu sukses menimpa kaki Aiden, namun Aiden berhasil menendangnya dan menyingkirkannya dari kakinya yang berdenyut. Tak bisa ia pungkiri, jika Tiffany adalah petarung yang tangguh. Dan jiwa itu juga pernah ia lihat dari Calistha saat mereka berdua sedang bertarung melawan prajurit Bibury beberapa bulan yang lalu.

Takk

Lagi-lagi Tiffany menyerangnya dan hampir menggoras lengan kanannya, namun ia berhasil menghindar dan menyebabkan belati itu berbenturan dengan pedangnya. Tetes demi tetes darah berjatuhan mengotori lantai marmer putih semula bersih. Kini Aiden pun juga terlihat memiliki beberapa luka di tubuhnya. Meskipun Tiffany adalah seorang wanita, namun kemampuannya dalam memegang senjata benar-benar sangat baik. Wanita itu bahkan berhasil melukai bagian-bagian tubuhnya yang sebenarnya sangat sulit untuk dijangkau dengan belatinya yang kecil dan pendek. Ia benar-benar tidak bisa meremehkan Tiffany begitu saja.

“Hosh hosh hosh, aku tidak akan menyerah hingga kau benar-benar mati di tanganku.” Ucap Tiffany susah payah dengan nafas memburu. Sebagian bajunya telah robek dan kulitnya juga mengelurkan darah segar yang terus menetes di atas lantai marmer yang saat ini terlihat begitu kotor. Namun tekadnya untuk membunuh Aiden begitu kuat, hingga ia tidak mau menyerah begitu saja di bawah kaki Aiden. Ia justru semakin berambisi untuk mengalahkan Aiden dan membuktikan pada pria itu jika ia adalah wanita tangguh yang sangat berbahaya.

“Kau memang wanita yang tangguh Tiffany, tapi aku tidak akan membiarkanmu hidup dan menang melawanku.”

Aiden kemudian kembali menyerang Tiffany dengan serangan bertubi-tubi yang mematikan. Pria itu kini tidak ingin bermain-main lagi dengan Tiffany dan ingin segera menyelesaikan duel mereka yang penuh akan dendam itu. Lagipula ia sudah tidak sabar untuk membunuh Tiffany dan membuat wanita itu berakhir hari ini juga dengan seluruh rencana liciknya. Ia rasa ini adalah saat yang tepat untuk mematahkan sayap terakhir Tiffany.

Takk

“Akhh.”

“Aiden!”

Tiffany merintih kesakitan, disusul dengan suara teriakan Calistha dari ambang pintu yang terlihat murka. Wanita cantik itu langsung menyerbu masuk ke dalam ruangan Aiden dan langsung menubruk Tiffany untuk menolong wanita itu yang terluka. Sedangkan Aiden langsung menatap drama picisan antara Tiffany dengan Calistha datar sambil menendang belati tajam yang berhasil ia singkirkan dari tangan Tiffany. Padahal tinggal sedikit lagi ia dapat menebas kepala wanita licik itu dengan pedangnya, namun sayang, Calistha harus datang disaat yang tidak tepat dan merusak semua rencananya untuk membunuh Tiffany hari ini. Padahal tadi ia sudah berhasil menyerang Tiffany dan membuat pergelangan tangan wanita itu terluka karena pedangnya, tapi lagi-lagi keberuntungan belum memihak padanya. Kali ini Tuhan masih memberikan Tiffany untuk hidup, atau untuk membuat rencana lain yang lebih jahat.

“Apa yang kau lakukan pada saudaraku?”

Kali ini Aiden harus bersiap untuk menghadapi kemarahan Calistha yang berapi-api. Akhirnya apa yang ia takutkan benar-benar terjadi, Calistha hari ini melihatnya sedang menyakiti Tiffany dan hampi saja membunuhnya. Ia berani bertaruh setelah ini hubungannya pasti akan semakin memburuk dan lebih terpuruk dari pertengkarang mereka selama ini.

“Dia wanita jahat.”

Hanya satu kalimat itu yang bisa Aiden ucapkan pada Calistha. Pria itu saat ini merasa tidak bisa mengucapkan kata-kata lain selain kata-kata itu untuk mendiskripsikan sikap Tiffany selama ini. Tapi, apakah dengan kalimat itu Calistha akan percaya padanya? Jawabannya tentu saja tidak!

“Kau hampir saja membunuh kakakku Aiden. Sebenarnya apa yang ada di dalam kepalamu? Kenapa menganggap semua orang yang berhubungan denganku adalah orang-orang jahat? Tidak bisakah kau menyingkirkan pikiran itu dari kepalamu? Kurasa kali ini kau sudah berlebihan Aiden. Dan jika Tiffany mengalami luka yang parah karena perbuatanmu, aku akan pergi dari kerajaan ini dan aku akan membatalkan semua rencana pernikahan kita. Persetan dengan kutukan dan bayi yang saat ini kukandung, aku bisa membesarkannya sendiri tanpa bantuanmu.”

Aiden menggeram marah dengan keputusan sepihak yang dilayangkan oleh Calistha. Wanita itu selalu seenaknya saja memutuskan segalanya tanpa berpikir panjang terlebihdahulu. Tidakkah wanita itu melihat bagaimana wajah puas Tiffany yang saat ini tengah tersenyum penuh kemenangan dibelakangnya?

            Sila!!

“Kupikir kau sudah salah menilai saudaramu Calistha? Dan untuk keputusan sepihakmu itu, aku jelas-jelas menolak. Jika kau berani melangkahkan kakimu seinchipun keluar dari istanaku, kau akan melihat kemarahanku yang dahsyat.” Ancam Aiden tak kalah mengerikan.

“Terserah apa yang akan kau lakukan setelah ini, aku tidak peduli! Bahkan jika kau ingin menyatakan perang dan menyakiti seluruh orang-orang yang tak bersalah di luar sana, aku tidak peduli! Aku sudah benar-benar muak dengan sikapmu yang kasar ini Aiden. Aku muak hidup denganmu!”

Wanita itu mendengus marah dan segera pergi sambil memapah Tiffany yang terluka cukup parah di beberapa bagian tubuhnya. Sementara itu sembari memapah Tiffany menjauh dari ruangan Aiden, Calistha dapat mendengar suara barang-barang yang pecah dan berjatuhan dari dalam ruangan Aiden. Entah apa yang dilakukan pria itu untuk menyalurkan kemarahannya kali ini, yang jelas pria itu saat ini benar-benar marah dan sedang melampiaskan kemarahannya dengan merusak seluruh isi kamarnya dengan seluruh sisi liarnya yang mengerikan. Setelah ini ia harus memperingatkan seluruh penghuni istana agar jangan mendekat ke ruangan Aiden untuk sementara waktu, karena nyawa mereka bisa saja dalam bahaya.

-00-

Calistha membebat setiap inchi luka Tiffany dengan lembut dan hati-hati. Wanita itu sebisa mungkin berusaha untuk berhati-hati dalam mengobati luka Tiffany agar saudara kandungnya itu tidak terlalu kesakitan dengan setiap luka yang ditorehkan oleh Aiden. Berkali-kali Calistha melayangkan kata maaf atas nama Aiden pada Tiffany untuk semua kesalahan yang dilakukan Aiden hari ini. Meskipun ia belum tahu pasti apa yang menjadi penyebab Aiden marah dan hampir membunuh Tiffany, tapi ia yakin jika saudaranya itu pasti tidak bersalah. Ini semua pasti hanya sebuah kesalahpahaman yang berujung mengerikan karena sikap tempramen Aiden. Ya, kira-kira begitulah apa yang dipikirkan Calistha saat ini.

“Tiffany, jadi apa yang sebenarnya terjadi?”

Setelah Calistha selesai dengan semua perban di tubuh Tiffany, wanita itu mulai bertanya untuk mengetahui akar permasalahan antara dua manusia itu. Tiffany sendiri ketika Calistha mulai bertanya langsung memasang mimik wajah ketakutan sambil menitikan air matanya pilu. Dalam hati ia tersenyum menang saat membayangkan wajah marah Aiden yang sangat tidak terima dengan keputusan sepihak Calistha yang hendak membatalkan pernikahan mereka. Rasanya ia benar-benar bahagia dengan kekalahannya hari ini.

“Sssbbernarnya… sbbenarnya…”

Calistha mengelus lengan Tiffany pelan untuk menenangkan wanita itu agar lebih tenang. Ia tahu saat ini Tiffany merasa trauma dan terpukul dengan kejadian mengerikan yang menimpanya hari ini.

“Tenanglah, ceritakan perlahan padaku.” Ucap Calistha lembut. Tiffany tampak menghembuskan nafasnya berkali-kali sebelum akhirnya ia menceritakan semua cerita bohongnya pada Calistha.

“Sssbbernarnya… sebenarnya aku hanya meminta Aiden untuk lebih peduli pada rakyatnya. Hari ini salah satu rumah penduduk Khronos terbakar, dan tidak ada satupun rakyat Khronos yang mau menyelematkan pemilik rumah itu saat kebakaran sedang berlangsung, sehingga dapat dipastikan jika pemilik rumah itu mati terbakar di dalam rumahnya. Lalu aku melaporkan kejadian itu pada Aiden, tapi.. tapi Aiden justru marah dan menduhku sebagai wanita jahat. Ia menuduhku sebagai dalang dari kekacauan yang selama ini terjadi di kerajaannya, lalu…. lalu.. lalu ia ingin membunuhku.”

Tiffany menangis histeris diakhir kalimatnya sambil menelungkupkan kepalanya di atas pangkuan Calistha. Wanita itu terlihat begitu meyakinkan dengan sandiwara picisannya yang sangat murahan, namun berhasil memperdaya Calistha. Sedangkan Calistha tampak percaya begitu saja dengan cerita Tiffany dan langsung membawa tubuh wanita jahat itu ke dalam pelukannya. Ia berkali-kali membisikan kata-kata menenangkan sambil meminta maaf pada Tiffany atas semua sikap jahat yang dilakukan Aiden padanya. Ia tidak menyangka jika ketakutan berlebih Aiden pada hal-hal jahat yang menurut pria itu sedang terjadi disekitarnya akan membawa dampak yang sangat parah seperti saat ini. Sekarang ia benar-benar harus memperingatkan Aiden dengan tegas, sebelum pria itu semakin bertambah brutal dengan keyakinannya yang tak masuk akal.

“Tenanglah, setelah ini Aiden tidak akan menyakitimu lagi. Aku kan memperingatkan Aiden dengan tegas dan membuatnya sadar dengan semua ketakutan berlebihannya yang tidak masuk akal itu.”

“Tapi apakah cara itu akan berhasil? Aiden benar-benar sangat mengerikan. Ia hampir saja membunuhku Cals. Untung saja aku menemukan belati di dalam ruangannya, sehingga aku dapat bertahan cukup lama di dalam sana hinga kau datang.” Ucap Tiffany mendramatisir. Calistha terus mengelus lembut puncak kepala Tiffany untuk menenangkan wanita itu. Sesekali ia juga membisikan kata-kata penyemangat dan janji-janji untuk menenangkan Tiffany dan menghilangkan trauma wanita itu pada Aiden. Menurutnya saat ini jiwa Tiffany sedang benar-benar tergoncang.

“Sekarang tidurlah. Aku akan berbicara pada Aiden dan menyelesaikan masalah ini secepatnya.”

“Terimakasih Cals, kau memang adikku yang sangat baik. Aku menyayangimu Cals.” Ucap Tiffany parau sambil menghambur ke dalam pelukan Calistha. Calistha menghela nafas lega dan langsung membalas pelukan Tiffany dengan erat. Ia harap Aiden dalam keadaan mood yang bagus setelah ini, karena hari ini ia harus meluruskan semua masalahnya dengan pria itu.

-00-

Aiden masih bertahan di dalam ruangannya sambil mengerang frustasi. Menghancurkan seisi kamarnya sama sekali tidak melegakan hatinya dan justru semakin membuat emosinya memuncak. Pada akhirnya ia memutuskan untuk merenung sambil memikirkan berbagai macam kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam waktu dekat ini, termasuk kegilaan Calistha yang ingin pergi dari sisinya dan lebih memilih Tiffany. Membayangkan Calistha akan pergi dari sisinya membuat Aiden panik dan juga takut luarbiasa. Ia tidak mau kehilangan Calistha, sampai kapanpun Calistha harus berada di sisinya dan menjadi ratunya. Jika Calistha pergi, ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya. Yang jelas ia akan menjadi pria yang kehilangan arah, sama seperti dulu.

Sembari menelungkupkan kepalanya frustasi di atas meja, Aiden mulai memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Jika dipikir-pikir sejak kedatangan Calistha ke dalam kerajaanya, ia sering sekali dilanda keresahan dan kefrustasian yang menyakitkan kepala. Padahal dulu keruwetan yang melandannya hanya sebatas keruwetan peperangan, namun sekarang keruwetan itu berubah menjadi lebih komplek dan semakin memusingkan dirinya.

“Arghhh! Apa yang telah wanita itu lakukan padaku?”

“Yang Mulia.”

Ditengah-tengah kefrustasian yang melanda Aiden, tiba-tiba seseorang memanggil Aiden dengan panik dari ambang pintu. Orang itu, yang merupakan penyihir yang sedang menyamar menjadi pelayan tampak begitu panik dan terlihat sangat terburu-buru. Bahkan karena terlalu terburu-buru, wanita itu sampai tidak memperhatikan langkahnya yang bisa saja terkena serpihan benda tajam yang baru saja dihancurkan oleh Aiden. Sambil mengatur nafasnya yang memburu, wanita itu langsung membungkuk hormat penuh penyesalan pada Aiden atas sikapnya yang kurang sopan itu.

“Ada apa Zurich, kau datang disaat yang tidak tepat.” Ucap Aiden malas. Zurich kemudian mulai mengamati ruangan disekitarnya dengan pandangan ngeri. Sejak tadi ia sama sekali tidak sadar jika ruangan pribadi sang raja benar-benar sangat berantakan dan kotor. Untung saja kedua kakinya yang dilapisi sol sepatu tipis tidak terluka dan terkena serpihan benda-benda tajam yang berserakan di atas lantai.

“Yang Mulia ini gawat. Sybil ada di dalam istana ini.” Lapor Zurich buru-buru. Aiden yang tidak mengetahui arah pembicaraan wanita setengah baya itu hanya mampu mengerutkan dahinya bingung sambil menatap wanita baya itu penuh tanda tanya.

“Aku tidak mengerti maksudmu? Siapa Sybil?”

“Sybil adalah penyihir jahat yang membantu Tiffany untuk melukai Yang Mulia Calistha. Saat ini Sybil berada di sini dan sedang berada di sayap kanan istana.”

“Apa! Bagaimana bisa? Bukankah Spencer sudah membakar rumahnya dan membunuhnya?” Teriak Aiden murka. Pria itu langsung menggebrak meja garang sambil berdiri murka dari singgasananya yang nyaman. Sedangkan Zurich hanya mampu menatap kegarangan Aiden dengan wajah tenang sambil berpikir. Sore ini sebenarnya ia tidak sengaja pergi ke sayap kanan istana untuk mengantarkan minuman pesanan Calistha untuk wanita yang ditolongnya. Tapi ketika ia masuk ke dalam kamar itu, betapa terkejutnya ia karena wanita yang ditolong Calistha adalah Sybil, si penyihir hitam yang bekerjasama dengan Tiffany untuk menghancurkan Calistha. Dan pada saat ia datang, Sybil refleks membuka matanya lebar-lebar karena ia dapat merasakan auranya yang merupakan sesama penyihir. Begitu membuka matanya, Sybil langsung menyeringai licik pada wajahnya yang terlihat terkejut. Tapi sayangnya ia tidak bisa mengetahui apa yang akan dilakukan Sybil setelah ini karena ia tidak bisa membaca pikiran Sybil. Wanita itu sengaja mengunci pikirannya dari siapapun dan hanya sebatas menyapanya dengan sapaan santai.

“Anda harus segera mengusirnya dari istana ini Yang Mulia, sebelum hal buruk menimpa anda dan Yang Mulia Calistha.” Saran Zurich pada Aiden. Namun Aiden langsung menggelengkan kepalanya keras dan justru menyuarakan ide lain yang lebih tepat untuk mengatasi Sybil.

“Kita tidak bisa hanya mengusirnya begitu saja, kita harus membunuhnya sebelum ia melakukan hal-hal jahat padaku dan Calistha.”

Dengan penuh tekad Aiden langsung berjalan pergi keluar dari ruangannya, disusul oleh Zurich di belakangnya. Wanita itu terlihat begitu kepayahan untuk mengejar langkah Aiden yang lebar-lebar. Para pengawal yang berjaga di sepanjang lorong langsung menunduk hormat ketika Aiden berjalan melewati mereka sambil membawa pedang emasnya dalam keadaan terhunus. Dalam hati mereka menerka-nerka, siapa yang malam ini akan dieksekusi oleh Aiden, karena biasanya Aiden hanya membawa pedangnya dalam keadaan terhunus jika Aiden tidak sedang diharuskan untuk membunuh para pesakitan yang semakin menjengkelkan di penjara bawah tanah. Tapi kali ini tentu saja Aiden tidak akan mengeksekusi para pesakitan, kali ini Aiden benar-benar akan mengeksekusi seseorang yang seharusnya sudah mati hari ini, sang penyihir.

-00-

Calistha berjalan penuh antisipasi menuju ruangan Aiden. Berbagai macam pertanyaan telah ia siapkan di dalam kepalanya untuk menuntut penjelasan dari Aiden. Meskipun ia mengganggap Aiden berlebihan dengan sikap over protektifnya, tapi ia merasa tidak adil pada pria itu karena ia sama sekali belum memberikan Aiden kesempatan untuk membela diri. Ia yakin, sebenarnya Aiden pasti memiliki maksud tersendiri dibalik sikap kasar dan arogannya, oleh karena itu ia akan memberikan kesempatan pada Aiden untuk menjelaskan semuanya. Dan jika pria itu telah menjelaskannya, setelah ini ia akan mengambil keputusan, apakah ia akan tetap berada di sini atau tidak.

Ketika tiba di depan ruangan pribadi Aiden, pintu coklat itu tampak menganga lebar dengan berbagai macam kekacauan yang terlihat jelas di dalamnya. Calistha kemudian memutuskan untuk masuk sambil sebelumnya ia melongokan kepalanya terlebihdahulu untuk mencari keberadaan Aiden. Namun berkali-kali ia menelusuri ruangan itu untuk mencari keberadaan Aiden, ruangan itu tampak kososng. Aiden sama sekali tidak berada di dalam sana. Ia kemudian bertanya pada salah satu prajurit yang berdiri tak jauh dari pintu ruangan Aiden karena pasti tahu dimana keberadaan Aiden sekarang.

“Apa kau tahu dimana raja Aiden berada?”

“Raja baru saja pergi menuju sayap kanan istana sambil membawa sebuah pedang dalam keadaan terhunus, sepertinya raja akan mengeksekusi seseorang.”

Mendengar hal itu, Calistha langsung berjalan pergi menyusuri lorong-lorong panjang untuk menuju sayap kanan istana. Saat ini pikirannya benar-benar panik karena penjaga itu baru saja mengatakan jika Aiden keluar dari ruangannya sambil membawa pedang dalam keadaan terhunus. Berbagai macam bayangan jika Aiden akan mengeksekusi seseorang langsung berputar-putar di dalam kepalanya dan membuatnya ngeri. Apalagi pengawal-pengawal itu mengatakan jika Aiden berjalan menuju sayap kanan istana yang saat ini ditempati oleh wanita tua yang siang tadi ditolongnya. Meskipun ia mencoba untuk menepis semua kemungkinan terburuk yang mungkin saja dapat terjadi, tapi hati kecilnya terus berteriak jika sebenarnya Aiden saat ini hendak mengeksekusi wanita malang yang siang tadi ditolongnya. Meskipun jika dipikir-pikir, untuk apa Aiden mengeksekusi wanita itu tanpa alasan yang jelas? Tapi hal itu mungkin saja dapat terjadi, mengingat bagaimana kegilaan Aiden hari ini yang hampir saja membunuh Tiffany, jadi tidak menutup kemungkinan jika Aiden juga akan melakukan hal yang sama pada wanita malang itu.

Samar-samar Calistha dapat mendengar suara teriakan Aiden yang berasal dari ruangan wanita malang itu. Dengan langkah cepat yang semakin khawatir, Calistha langsung menuju ruangan itu sambil terus berkomat-kamit dalam hati semoga wanita itu baik-baik saja.

“Aiden!” Panggil Calistha histeris ketika ia melihat Aiden sedang menarik paksa wanita malang itu dari atas ranjangnya dalam keadaan lemah. Cepat-cepat Calistha berlari menyerbu Aiden dan mendorong tubuh pria itu kuat-kuat agar menjauh dari wanita malang yang siang tadi ditolongnya.

“Minggir Calistha, kau menghalangiku untuk membunuh penyihir itu!”

“Apa yang kau lakukan? Kau gila! Dia bukan penyihir, dia hanya wanita malang yang baru saja tertimpa musibah. Berani kau maju dan menghunuskan pedangmu padanya, aku akan pergi dari kerajaan ini.” Ancam Calistha bersungguh-sungguh. Dibelakangnya Sybil tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Zurich dengan tatapan mengejek. Saat ini ia merasa sangat diuntungkan karena Calistha mempercayainya. Bahkan saat ini Calistha berada tepat di depannya, akan sangat mudah baginya jika ia ingin membunuh Calistha dari belakang seperti ini.

“Yang Mulia anda harus pergi sekarang, dia bukan wanita baik-baik, wanita itu adalah penyihir hitam yang akan mencelakai anda.”

Akhirnya Zurich memutuskan buka suara untuk membantu Aiden. Dilihatnya saat ini Aiden telah kehabisan kesabaran dan ingin sekali menerjang Calistha, tapi Zurich masih memintanya untuk bersabar karena Zurich khawatir, penyihir itu justru akan menyerang Calistha langsung jika Aiden nekad untuk maju dan menyerang penyihir itu.

“Siapa kau? Kenapa kau justru membela Aiden, apa kau tidak bisa melihat bagaimana lemahnya wanita ini? Dia baru saja tertimpa musibah.”

“Persetan denganmu Cals, aku tidak peduli jika kau akan pergi dari sisiku.”

Dengan ancang-ancang yang pasti, Aiden langsung berjalan menerjang tubuh Calistha untuk menjangkau penyihir jahat itu. Namun sang penyihir dengan sigap langsung mengarahkan sihir hitamnya untuk membalik pedang yang digenggam Aiden agar berbalik menyerang Calistha. Sebisa mungkin Aiden menahan pedang itu agar tidak menusuk Calistha. Zurich yang melihat hal itu juga langsung membantu Aiden dengan memberikan serangan pada Sybil dan membuat wanita jahat itu terjungkal jatuh ke belakang.

Sementara itu, Calistha tiba-tiba saja menjadi wanita linglung yang tampak tidak mengerti dengan semua hal-hal aneh yang baru saja terjadi. Dilihatnya Aiden, Sybil, dan Zurich yang terlihat sama-sama kepayahan. Ia merasa bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Suara teriakan Aiden yang menyuruhnya untuk pergi sejauh mungkin dari ruangan itu, bahkan tak dihiraukannya. Ia hanya terus memandangai ketiga manusia itu bingung sambil berdiri linglung ditempatnya semula.

“Calistha….. cepat pergi!” Bentak Aiden tak sabar. Pria itu sudah tidak kuat lagi untuk menahan gerakan pedang itu agar tidak menusuk Calistha, sedangkan pedang itu juga tidak bisa dilepaskan dari tangannya. Seperti ada perekat kuat yang menyatukan pedang itu dengan telapak tangan kanannya.

“Kau tidak akan bisa menghalangi pedang itu untuk membunuh targetnya karena mantra itu adalah mantra terkuat dan tidak ada penyihir manapun yang bisa mematahkannya.” Ucap Sybil sambil tersenyum puas pada Aiden dan Calistha. Zurich yang merasa geram dengan kelakukan Sybil langsung melayangkan mantra mematikannya dan berhasil membuat Sybil pingsan. Zurich kemudian mencoba berbagai macam mantra yang ia ketahui dapat digunakan untuk membatalkan sihir Sybil, tapi semua mantra yang diucapkannya terasa sia-sia karena mantra itu tidak bisa digunakan untuk memecahkan mantra mematikan Sybil. Dengan nafas tersenggal-senggal, akhirnya Aiden memerintahkan Zurich untuk membawa Calistha pergi dari ruangan itu, karena tangannya sudah benar-benar tidak kuat untuk menahan gerakan pedang itu. Saat ini pedang itu sudah berada di dekat leher Calistha dan hampir menusuk urat nadi Calistha, jika saja Aiden tidak menahannya dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya.

“Cepat bawa Calistha pergi! Pedang ini benar-benar akan membunuh Calistha.”

“Aiden, kau… aku tidak mau meninggalkanmu sendiri.”

Akhirnya kesadaran Calistha kembali. Kedua matanya telah dibanjiri oleh air mata yang begitu banyak, mengalir turun membasahi kedua pipi mulusnya. Zurich pun segera menarik tangan Calistha untuk keluar dan tak membiarkan Calistha berlama-lama di dalam ruangan itu bersama Aiden. Akan sangat bahaya jika Aiden tidak bisa menahan pedang itu lagi dan justru akan membunuh Calistha.

“Lepaskan aku, aku ingin menolong Aiden.” Teriak Calistha meronta-ronta sambil berusaha untuk melepaskan cekalan tangannya dari tangan Zurich. Berkali-kali Calistha terus menoleh ke belakang untuk melihat bagaimana kondisi Aiden saat ini. Ia merasa takut dengan semua kejadian mengerikan yang baru saja terjadi di depan matanya. Dan sekarang ia merasa menyesal karena telah membela penyihir jahat yang ternyata benar-benar akan membunuhnya.

“Yang Mulia anda harus segera pergi, raja Aiden tidak bisa menahan pedang itu lebih lama lagi. Jika anda nekad untuk berada di dalam sana, anda akan terbunuh.”

“Tapi bagaimana dengan Aiden? Pedang itu juga bisa membunuhnya.”

“Anda tenang saja. Saya akan….”

“Arghhh!!”

Refleks mereka berdua langsung menoleh ke belakang ketika suara erangan Aiden menggema begitu nyaring di belakang mereka. Merasa Zurich sedang lengah, Calistha langsung berlari pergi untuk menghampiri Aiden yang sudah tidak bisa menahan pedang itu lagi lebih lama. Suara teriakan Zurich yang terus memperingatkannya agar jangan mendekat terdengar begitu nyaring di belakangnya, namun sama sekali tidak dipedulikan oleh Calistha, ia lebih memilih untuk menghampiri Aiden yang terlihat sedang kepayahan untuk menahan pedang emasnya yang terlihat semakin memberontak dari genggaman tangannya.

“Cals, jangan mendekat!”

“Tidak. Aku ingin menolongmu.” Jawab Calistha gigih. Akhirnya Aiden tidak bisa melakukan hal lain selain mengarahkan pedang itu pada tubuhnya sendiri. Teriakan Calistha yang memilukan, meneriakan nama Aiden, terdengar begitu nyaring seiring dengan tubuh Aiden yang meluruh ke atas lantai.

“Aiden, tidak! Apa yang kau lakukan, Aiden….”

Calistha menangis pilu sambil mengguncang-guncang tubuh lemah Aiden yang telah bersimbah darah. Wanita itu kemudian mencabut pedang emas itu dari dada kiri Aiden dan menyuruh Zurich untuk menyembuhkan luka menganga Aiden dengan mantranya.

“Bukankah kau penyihir? Cepat sembuhkan Aiden dengan mantramu, Aiden terlihat sangat tersiksa.” Teriak Calistha tidak sabar. Zurich kemudian mencoba mantra penyembuhnya pada Aiden, tapi mantra itu hanya sebatas menghambat perdarahan yang terjadi pada dada kiri Aiden karena mantra yang digunakan Sybil ternyata memang tidak mudah untuk dipatahkan. Hanya Sybil yang bisa mematahkan mantra itu, karena ia yang telah melayangkan mantra itu pada Aiden. Namun sayangnya saat ini Sybil sedang dalam keadaan tak sadarkan diri karena Zurich baru saja menyerang penyihir itu dengan mantra mematikannya.

“Saya tidak bisa menyembuhkan luka itu, hanya Sybil yang bisa melakukannya karena ia yang melakukannya.”

Calistha langsung menjerit frustasi sambil menepuk pipi Aiden berkali-kali. Ia takut kehilangan Aiden, ia benar-benar takut ditinggalkan oleh pria itu.

“Aiden.. kumohon bangunlah, maafkan aku.”

“Arghhh, Cals.”

Aiden memanggil Calistha pelan sambil menahan rasa sakit yang begitu dahsyat di dadanya. Ia merasa sebentar lagi ia akan mati, rasa sakit itu benar-benar tak tertahankan dan sangat menyiksa.

“Aaaiden, bertahanlah. Zurich sedang mencoba untuk membangunkan Sybil. Kau pasti akan sembuh, ya kau pasti akan sembuh.”

Kata-kata itu rasanya seperti kata-kata penguat untuk dirinya sendiri, karena saat ini ia pun merasa tidak yakin dengan kesembuhan Aiden. Luka pria itu benar-benar parah dan seperti tidak bisa disembuhkan, namun hati kecilnya terus memberinya semangat agar ia tidak pesimis dan harus optimis dengan keyakinannya jika Aiden akan sembuh.

“Cals, aaku tidak bisa……”

“Aiden!! Aiden, bangunlah. Aiden! Aiden!”

Kedua mata itu akhirnya tertutup sempurna dengan lemah di atas pangkuan Calistha. Ternyata kekuatannya hanya sebatas itu. Ia tidak bisa mempertahankan kesadarannya lagi lebih lama dan memilih pasrah dengan takdir Tuhan. Dan jika Tuhan menakdirkan ia mati, maka ia akan mati dengan senang hati dan dengan perasaan damai.

Jadi, seperti inikah rasanya kematian?

28 thoughts on “Queen Of Time: The Mysterious One

  1. Ya ampun sedih banget yoona knp sih sllu percaya sama tiffany .
    Semoga ajja luka aiden bsa sembuh dan penyihir jhat itu mau membantu calista karna calista pernah menolong nya dan tdak terjadi sesuatu sama aiden😭😭 next

  2. Boleh aku bilanh calistha bodoh enggak ?
    D sn gemas bgt sama calistha
    Udh d bilang sama aiden tuk enggak dekat” sm org lain tp
    Arrggghhhh

  3. Semoga aiden tidak meninggal dan bisa sembuh..
    Kenapa masalahnya jadi semakin rumit,, aq harap aiden dan calistha bisa secepatnya mendapatkan kebahagiaan..
    Next ya..

  4. Aideeeeenn 😭😭😭😭 bener” dibikin sebel sama chalista di part ini
    Smoga sybil cepet sadar dan brsedia mengobati aiden

  5. OMG !!! pingin maki2 chalista disini. kenapa sih susah amat ngebunuh tiffany? hampir aja. ihh chalista. selalu aja gitu. ngakunya salah minta maap terus diulangi lagi. tuh kan jadi nyesal sendiri liat. gara2 dia aiden jadi bunuh dirinya sendiri demi selamatkan chalista.rasain tuh. mudah2han deh chalista nyesal senyesal2nya. 😡😡 tapi gk rela juga liat aiden mati. huhu auhthornim kayak mana nasib aiden? dan juga soal chalista. serah lu deh chals. mau buat apa. jangankan aiden. gue aja yg baca uda jengah amat liat sifat chalista

  6. chalista sellu bikin onar,udah berkali2 melakukan kesalahan yg bisa berakibat fatal tapi tetap saja tdk mau diperingatkan n berbuat semaunya sendiri.

  7. kesel banget sama calista sumpah itu orang kaya gk punya otak, terlalu polos dan bodoh, susah banget di bilangin sifat keras kepalanya bener” bikin orang emosi, biarlah buat si calista nyesel sma sikap dia dan mulai lebih nurut sama aiden

  8. dasar calista terlalu polos apa bodoh sichhhh,,,,
    heeeemmm gimna dgn aiden ???
    ,Dah berulang kali calista melakukan hal2 yg mbahayakan dirinya,,,,meskipun niatnya baek pi tetep saja ,,,,
    bikiiiin emosi saja,,,,
    tiffany pasti bkl bhagia melihat aiden ky gitu

  9. kesel bngt liat calistha polos bngt bikin kesel. thor bukakan mata hati calistha biar gk gampang dibodohin

  10. Jujur aja mulai ngerasa bosan baca ff ini, tolong autor jangan pesimis sama komen aku ini. Bukan mksd menjatuhkan semangat. Tpj calista terlalu egois dalam ff ini dan terlalu ceroboh dan gak percayaan, jadi pribadi aku sendiri merasa kesal dan gak seru lagi baca ff ini kayak pertama ff ini muncul. Jujur aku suka sama semua ff dsni bahkan aku ada ff favorit dsni
    Jadi autor ini saran aja. Keep fighting

  11. Calista 😂😂
    Tuh kan, Chalista lagi-lagi ga mau dengerin omongan Aiden 😂😂😂 Aiden meninggal? Next chapter ditunggu banget thorr 😂😂😂

  12. Calista 😂😂
    Tuh kan, Chalista lagi-lagi ga mau dengerin omongan Aiden 😂😂😂 Aiden meninggal? Next chapter ditunggu banget thorr 😂😂😂 Fighting!!!

  13. Nguras emosi bngt 😒😒 Tuh bener kan calista bwa tuh pnyihir dan berakhir kyk gini?? Calista bener² B*D*H, BEG*, T*L*L,, pokoknya smua deh. Dia mudh bnget kepengaruh dan malah nggk percaya ma aiden 👿😡 Kesel bnget deh ma calista,, kyk pngen gimanain gitu 👿 Calista sllu slh dlm mnilai kepribadiannya org,, dan malah bahayakan dirinya sndiri.. Andai calista nggk dtng,, pasti fany dah ninggal 😠 Huwaaaa aiden 😭😭 Zurich ma Sybil sma2 ngeluarin mantra mematikan, tpi mntra nya sybil bkin aiden kesiksa.. Aiden matikah atau belum.. Antara kasian ma calista tpi masih kesel ada ma sikap dia ma aiden 😠😠

    Maafin kta² kasar aku kk.. Terllu ke bwa emosi.. :v Next kk.. Fighting!!

  14. Wah daebak eonni , aku jadi ke bw em0si jadinya . Entah kenapa aq mkin penasaran ama next chapt.x , d tnggu ne? Fighting

  15. Kenapa sih calistha selalu membangkang disaat dy salah, giliran dy benar dy ga mempertahankan egonya
    Kesal banget sama sifat dy, dan akibatnya aiden yg kena
    Penasaran sm wanita dan pria yg tidur itu, kirain itu calistha sm aiden
    Kirain belas kasih yg bakal dikasih sybil ga bakal biarin calistha mati, jd wanita yg tidur itu calistha
    Penasaran sm kelanjutannya, ditunggu updetannya

  16. authoorrr;;;;;
    maaf aku baru komen dichapter ini😭 selama ini aku jadi siders😭 maafin ya thor;;;;
    kok nyesek kali ya dichap ini huhuhu
    itu juga chalista duhhh, mbok ya sadar gitu lo… padahal dia yang egois, tapi malah nyalahin semuanya ke aiden😡
    sekarang baru tau kan kalo aiden itu bener?? kesel kali aku liat chalista nya thor… baru sadar kl liat aiden udh begitu, semua untuk siapa? untuk dia juga hhzzz
    tapi aiden itu ga mati kan thor? masih bisa hidup kan? please jangan smp mati😫😫
    next chap kapan thor? jangan lama2 please😭
    sadarkan juga itu chalista dari egonya… aiden jugaaaaaa….

    maap thor, keknya panjang banget ya aku komennya hahaha
    next chap ditunggu thor👼 fighting!!💪

  17. Ohhh?? Apakah aiden akan mati?? Tidak tidak aku harap drama ini segera berakhir dan tiffany kau harus mempertanggung jawabkan ini…ah aku masih penasaran pada kedua orang yg ada di chapter sebelumnya?? Siapa yg sdng tidak sadar? Dan siapa yg mengharapkannya bangun?? Apa ini adalah mimpi dari permpuan itu??? Ohh begitu banyak teka teki dalam cerita ini…good storyyyu 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

  18. Benci slma.a sma calistha,,gdek sma dia…pkok.a bkin calistha mnderita aja deh,,sblum brstu sma aiden…tdur rtusan thun kek…

  19. Entah mau nyalahin siapa disini?? Aiden dan Calistha juga sama2 punya sikap negatif sih.. nah kan klo udah gini trus harus gmna?
    Masa iya aiden mati gtu aja, tiffany psti seneng bgt itu.
    Bner2 nih story gk bisa aku tebak kelanjutannya, next thor jgn lama2. Klo bisa sbelum puasa udah end yah 😊

  20. sumpah thor ini bener gini ni ending nya ?aa ya ampun pgn nangis chalistha ya ampun so stupid:( ayo kak next terusss jgn lama2 aku dah suudzon yg engak2 nihhh yukkkk :))))

  21. sumpah gk rela kalo aiden meninggal. lagian juga sih chalista kenapa juga dia susah banget percaya sama aiden padahal dia selalu nyelamatin dia bahkan sampai mengorbankan dirinya sendiri tapi masih gk percaya aja. sumpah deh kesel banget sama tiffany kenapa chalista susah banget sih buat percaya kalo tiffany itu jahat. nextnya jgn lama-lama thor

  22. Aaahhhhhhhhh knp jadi deg-deg an ginihh thor😭😭 kerennn bangett ff nya kaya nnton film nya 😣😣 tolong sembuhin aiden😭 dan tolong itu tifany di musnahkan saja mengganggu kebahagiaan chalista dan aiden😡 aku menunggu chap selanjutnya 😉😉

  23. Sumpah kesel banget sama chalista, susah banget dibilanginnya sih, bikin gondok banget calista. Semoga donghae gapapa
    Nextnya ditunggu banget thorr, jangan lama2

  24. chalista antara polos dan bodoh..
    dari part awal Aku berharap makin hari chalista bisa berubah menjadi bijaksana nyatanya chalista sampai akhir tidak bisa berubah..

    apakah ff ini sudah end?
    kalo sudah masih ngantung thor butuh sequel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.