Queen Of Time: Still Stuck In That Time

 

Chalista menggeliat kecil sambil mengusap matanya pelan. Semalam tidurnya sedikit tidak nyaman karena Aiden terus memeluknya dengan posesif. Pria itu setelah ia menghabiskan semangkuk supnya hingga tandas langsung menggiringnya menuju kamar dan menyuruhnya tidur. Pria itu sama sekali tidak menyentuhnya seperti apa yang pria itu katakan di dalam dapur. Terkadang Aiden suka menggodanya atau menipunya dengan bualan yang tidak lucu dan sengaja membuatnya panas dingin dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan pria itu lakukan di malam hari.

Sambil mengamati langit-langit kamar tidurnya, Calistha memikirkan berbagai hal yang terjadi pada hidupnya akhir-akhir ini. Semenjak ia tinggal di istana Khronos, kehidupannya benar-benar berbalik seratus delapan puluh derajat. Semua hal yang dulu tak pernah dibayangkannya akan terjadi saat ini, tiba-tiba saja telah terjadi dan membuatnya merasa sedikit aneh. Ditambah lagi saat ini ia sedang mengandung anak Aiden, rasanya itu sedikit sulit untuk dipercaya. Masih teringat jelas di dalam ingatannya bagaimana ia selalu menghina Aiden dan mengatakan kata-kata kasar yang menyakitkan hati pada pria itu, tapi ia justru termakan omongannya sendiri. Ia dengan mudahnya jatuh bertekuk lutut pada Aiden dan seolah-olah telah melupakan masa lalunya yang sangat anti pada Aiden.

Apakah Aiden selama ini juga mengolok-olok kemunafikanku?

Sekelebat bayangan Aiden yang tengah mencibirnya dengan ekspresi wajah kaku dan pias tampak hadir di dalam benak Calistha. Entah mengapa ia tiba-tiba berpikir jika mungkin saja selama ini Aiden selalu mengolok-olok kemunafikannya di belakangnya. Tapi sejujurnya itu hanya pikirannya saja, terkadang ia memang terlalu berburuk sangka pada Aiden mengenai hal-hal yang memang selalu dikhawatirkannya, termasuk mengenai wanita-wanita yang mungkin saja dimiliki oleh Aiden di luar sana. Chalistha kemudian berbaring miring menghadap Aiden yang sedang tertidur di sebelahnya dengan wajah damai. Dalam hati Calistha memuji wajah tampan Aiden yang begitu menakjubkan saat tidur. Menurutnya Aiden akan berubah menjadi sosok yang berbeda saat tidur seperti ini. Ia akan terlihat lebih manusiawi dan terlihat lebih menikmati hidup.

Lama Calistha mengamati wajah Aiden sambil memikirkan masa depannya. Jika dihitung-hitung waktu bulan purnama tinggal sembilan belas hari lagi. Itu berarti ia akan segera menikah dengan Aiden dalam kurun waktu sembilan belas hari ke depan. Betapa waktu berjalan begitu cepat disekitar mereka. Tapi rasanya ia belum terlalu mengenal Aiden dengan baik. Ia hanya sekedar tahu kebiasaan-kebiasaan unik Aiden dan perangai pria itu yang kasar namun penuh dengan maksud tersembunyi di belakangnya. Selain itu ia belum pernah pergi ke luar dari istana untuk mengunjungi calon rakyat-rakyatnya di luar sana. Ia merasa sebagai seorang calon ratu, ia harus melakukan hal itu. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya pada Aiden. Ia terlalu takut akan memancing pertengkarang lagi diantara mereka, padahal ia sedang tidak ingin memuali pertengkarang apapun pada Aiden. Mulai sekarang ia hanya ingin hidup damai hingga nanti saat persalinannya tiba dan hingga nanti Tuhan mencabut nyawanya dari raganya.

Dibelaianya pipi Aiden pelan sambil menatap dalam pada pria itu. Pada usapan pertama, kedua mata pria itu langsung terbuka sempurna sambil menyingkirkan tangan Calistha dari wajahnya, Aiden rupanya tidak terlalu suka mendapatkan sentuhan tiba-tiba dari Calistha sejak insiden Gazelle yang menyusup ke dalam kamarnya dan membelai seluruh tubuhnya hingga ia merasa jijik. Meskipun ia tahu jenis sentuhan itu berbeda, tapi ia merasa tubuhnya sekarang tidak terlalu menyukai belaian dari siapapun.

“Ada apa? Apa kau mengalami mimpi buruk lagi?”

Calistha menggeleng pelan dan semakin menyusupkan tubuhnya ke dalam dekapan hangat Aiden. Sudah beberapa hari ini ia tidak mengalami mimpi buruk seperti malam-malam sebelumnya. Dan ia cukup bersyukur akan hal itu karena ia tidak perlu merasa cemas dan ketakutan saat akan memejamkan mata. Sedikit banyak mimpi buruk itu mempengaruhi kondisi mentalnya. Meskipun ia telah mengatakan pada dirinya sendiri jika semua itu tidak nyata dan hanya bunga tidur, tapi tetap saja ia merasa takut. Semua kilasan yang ia lihat di dalam mimpinya terasa begitu nyata dan bukan semata-mata hanya bunga tidurnya saja.

“Aku baik-baik saja. Aiden, sembilan belas hari lagi kita akan menikah bukan? Apa yang seharusnya kulakukan untuk mempersiapkan hal itu?” Pancing Calistha tenang. Ia harap Aiden akan menjawab pertanyaannya seperti apa yang diinginkannya. Tapi harapannya itu langsung pupus karena Aiden justru menjawabnya dengan jawaban lain yang terdengar begitu tegas dan tak terbantahkan.

“Kau hanya perlu sehat dan hidup.”

Jawaban itu mengalun dengan mantapnya dari dalam bibir Aiden, seakan-akan pria itu hanya menginginkan diri Calistha yang hidup dan sehat. Padahal tujuan Calistha menanyakan hal itu agar Aiden menjawabnya mengenai seputar kehiduan ratu yang akan ia jalani di Khornos, tapi nyatanya tidak. Bagi Aiden keadaan Calistha dalam keadaan yang sehat dan hidup jauh lebih penting dari apapun. Ditambah lagi dengan banyaknya orang-orang jahat yang ingin menghancurkannya dan menyakitinya melalui Calistha, mereka pasti akan terus melakukan berbagai macam cara untuk mewujudkan rencana licik mereka.

“Hanya itu? Yah, itu jawaban yang sangat bagus. Tapi, apakah kau tidak memiliki jawaban yang lain, seperti masukan-masukan untukku sebelum aku menjadi ratu Khronos yang sesungguhnya?”

“Tidak. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang tidak penting seperti itu. Menjadi ratu akan jauh lebih mudah jika keadaanmu sehat dan kau juga dalam keadaan hidup. Lagipula siapa yang membutuhkan seorang ratu yang sakit-sakitan dan juga mati, lebih baik aku mencari wanita lain yang bersedia menuruti perintahku dan tidak suka membangkang sepertimu.” Jawab Aiden telak. Rasanya Calistha ingin mencubiti seluruh tubuh Aiden dengan tangannya yang ganas. Pria itu! Calistha benar-benar merasa kesal padanya.

“Arghh, kenapa kau justru menjawabnya dengan seperti itu? Apa kau memang berencana untuk mencari wanita lain di luar sana? Kalau kau memang ingin mencari wanita lain, carilah. Aku tidak peduli!” Jawab Calistha kesal. Wanita itu langsung membalikan tubuhnya ke samping kiri, membelakangi posisi Aiden yang saat ini sedang terkekeh geli dengan sikap Calistha yang manja. Masih teringat jelas di dalam kepalanya bagaimana dulu sikap Calistha yang sangat keras kepala dengan segala pikiran nekatnya. Namun dalam sekejap wanita itu dapat berubah menjadi sosok yang sangat manis dan juga lucu serta suka sekali merajuk seperti ini. Bukankah wanita memang makhluk yang membingungkan?

“Kau marah? Kau bilang kau tidak akan peduli jika aku mencari wanita lain dan menikahinya? Kau…”

“Aku tidak mengatakan aku tidak akan peduli jika kau menikahi wanita lain! Jika kau memang berencana untuk menikahi wanita lain, kau akan mati.” Ancam Calistha galak. Seketika tawa Aiden pecah dengan sangat keras di hadapan Calistha. Pria itu benar-benar tidak menyangka jika Calistha akan mengancamnya seperti itu. Apakah wanita itu baru saja bersikap posesif padanya?

“Reaksimu benar-benar sangat tak terduga. Apa kau baru saja bersikap posesif padaku, hmm?”

Calistha tampak kelabakan untuk menjawab pertanyaan Aiden. Ia tidak tahu jika reaksinya akan menjadi sasaran empuk bagi Aiden untuk menggodanya. Padahal itu semua benar-benar murni karena sikap spontanitasnya, bukan karena ia posesif pada Aiden. Tapi jika hal itu benar-benar terjadi, sepertinya ia memang akan membunuh Aiden.

“Aap apa, posesif? Aa aku tidakk… Bukan begitu! Aku tidak posesif. Justru jika kau memang berniat mencari wanita lain aku akan membunuhmu dan setelah itu aku akan mencari pria lain yang lebih baik daripada dirimu.” Jawab Calistha akhirnnya dengan suara lantang. Aiden tiba-tiba langsung memeluk Calistha dan membawa tubuh wanita itu mendekat padanya. Pria itu menatap kedua mata Calistha tajam tanpa mengatakan sepatah kata apapun sambil tetap mengurung tubuh Calistha dengan tangan kekarnya, membuat Calistha cukup merinding dengan sikap pria itu yang terkadang terlihat misterius dan mengerikan.

“Siapa yang mengajarimu bersikap seperti itu? Aku jelas tidak akan mengijinkanmu mencari pria lain dan menikahi pria lain selain aku. Dan aku mengaku padamu jika aku pria yang sangat posesif, jadi singkirkan angan-anganmu untuk melirik pria lain selain aku karena jika kau melakukan hal itu, aku akan mengurungmu di dalam kamarku, seumur hidupmu.” Bisik Aiden bersungguh-sungguh. Calistha merasa dirinya kehilangan kata dengan ucapan Aiden. Ia benar-benar tidak bisa mengucapkan sepatah katapun untuk membalas ucapan Aiden karena ia cukup merinding dengan ucapan Aiden yang mengatakan jika ia adalah pria yang posesif. Membayangkan Aiden yang akan mengurung dirinya seumur hidup di dalam kamar pria itu rasanya… benar-benar sangat mengerikan. Lebih mengerikan daripada harus melihat kepala Gazelle yang ditebas oleh Spencer. Dan ia tidak akan mau diperlakukan seperti itu. Ia adalah wanita bebas. Bahkan jika ia tidak sedang hamil seperti saat ini, ia berencana untuk mengikuti latihan pedang dan berkuda di halaman belakang istana. Sejak dulu ia sangat ingin bisa menguasai teknik-teknik berkuda sambil melakukan serangan pada musuh-musuhnya, pasti akan sangat menakjubkan.

“Kau mengancamku? Hmm, ternyata kau cukup licik dan menyebalkan. Kau menggunakan ancaman yang sangat tidak kusukai untuk membuatku tetap berada di sisimu. Baiklah, tidak masalah. Bagaimana jika kita membuat kesepakatan?” Tawar Calistha dengan wajah yang berubah cerah. Entah apa yang dipikirkan wanita itu hingga ia tiba-tiba berubah menjadi sangat berbinar-binar seperti itu. Mungkinkah ia akan menawarkan kompromi diantara mereka?

“Apa? Kau sedang berusaha untuk mengajakku berkompromi denganmu?”

“Anggap saja seperti itu. Jadi begini, diantara kita harus ada kesepakatan tentang komitmen yang akan kita bangun, bagaimana?”

Aiden tampak berpikir sebentar sebelum ia menganggukan kepalanya. Sejujurnya ia tidak terlalu paham dengan jalan pikiran Calistha. Tapi kali ini demi menyenangkan hati Calistha, ia akan menurut pada wanita itu dan mengiyakan semua keinginannya, selama keinginannya bukan sesuatu yang aneh dan merugikan untuknya.

“Jadi apa yang sebenarnya kau inginkan? Aku akan menuruti semua keinginanmu asalkan keinginanmu masuk akal dan tidak merugikanku.”

“Ck, selalu saja memberikan syarat. Permintaanku sama sekali tidak akan merugukanmu karena aku hanya ingin kau berjanji padaku untuk tidak menikah dengan wanita lain selama aku masih hidup, begitupun denganku, aku tidak akan menikah dengan pria lain selama kau masih hidup. Kau setuju?”

Rasanya Aiden ingin tertawa mendengar persyaratan konyol yang diajukan oleh Calistha. Bukankah wanita itu tahu jika ia tidak bisa menikahi wanita lain selain dirinya. Justru ia yang seharusnya mengajukan persyaratan itu pada Calistha karena ia bisa saja menyukai pria lain selain dirinya. Tapi berhubung persyaratan itu tidak merugikannya dan sedikit banyak dapat membantunya untuk mengikat Calistha agar tetap di sisinya, ia akan menerima persyaratan itu.

“Baiklah, kurasa itu tidak sulit. Tapi mengapa tiba-tiba mengajukan persyaratan seperti itu? Apa kau takut kehilangan posisimu sebagai ratu?” Goda Aiden dengan tatapan menyelidik. Wajah Calistha seketika berubah menjadi merah padam karena godaan Aiden. Ia sebenarnya ingin mengelak, tapi mengingat wajahnya yang sudah berubah menjadi semerah tomat itu rasanya tidak mungkin ia akan menyangkal semua godaan Aiden. Ia sudah tertangkap basah oleh Aiden, dan mau tidak mau ia harus mengakuinya.

“Ttentu saja, untuk menjadi ratu seperti sekarang ini sama sekali tidak mudah, jadi aku tidak akan membiarkan wanita lain merebutnya dariku. Dan lagi, persyaratan itu bukan semata-mata karena aku takut posisiku sebagai ratu digantikan oleh orang lain, tapi untuk menjamin kesetianmu. Apapaun dapat terjadi di masa depan, termasuk fisik dan wajahku yang mungkin saja akan berubah menua dan terlihat tidak sempurna di matamu. Aku ingin saat menua nanti kau tetap menjadi Aiden yang selalu mencintaiku.”

Aiden merengkuh Calistha ke dalam pelukannya sambil mengelus punggung wanita itu lembut. Kata-kata yang diucapkan Calistha terasa begitu menyentuh hatinya. Bahkan cintanya untuk Calistha tidak akan sebatas hingga wanita itu menua, tapi selamanya. Selamanya hingga ia tidak dapat merasakan oksigen ini mengaliri paru-parunya lagi.

“Tentu. Sampai kapanpun aku akan tetap menjadi Aidenmu.” Janji Aiden pasti. Calistha tersenyum lembut di dalam pelukan Aiden. Sekarang ia merasa begitu mudah untuk mempercayai apapun yang dikatakan oleh Aiden. Dan sekarang ia benar-benar merasa yakin jika selamanya Aiden akan tetap menjadi Aidennya yang berharga. Aidennya yang hanya diciptakan untuknya.

-00-

Di dalam sebuah ruangan yang sepi seorang pria sedang menatap wajah seorang wanita yang sedang tertidur pulas dengan gaun berwarna putih yang tampak pas membalut tubuh mungilnya. Wanita itu tampak begitu damai dan tenang, seakan-akan wanita itu sama sekali tidak memiliki beban. Pria yang tengah menatap wajah wanita itu tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk membelai wajah sang wanita yang tiba-tiba tersenyum dalam tidurnya. Sembari mengamati wajah cantik sanga wanita, pria itu membawa tangan kanan sang wanita untuk di dekatkan pada bibirnya, dan kemudian dengan penuh perasaan pria itu mencium punggung tangan sang wanita sambil tetap mengamati wajah damai sang wanita yang masih tertidur lelap di hadapannya.

“Bangunlah, dan temui aku di sini.” Gumam pria itu miris sambil menggenggam tangan itu erat. Tapi wanita itu tidak pernah mendengar bisikannya yang miris dan tetap memejamkan matanya dengan damai. Entah kapan wanita itu akan bangun dan mendekapnya penuh sukacita. Yang pasti ia akan tetap menunggu wanita itu hingga ia membuka mata.

“Waktuku selamanya hanya untukmu sayang.”

-00-

Malam hari yang dingin dan sunyi, Spencer masih terjaga sambil mengamati ribuan bintang-bintang yang bertaburan di atas langit Khronos. Musim panas di kerajaan Khornos memang selalu tanpa hujan, sehingga ia dapat mengamati bintang-bintang di atas langit sambil merenungkan banyak hal. Sekilas ia mirip sekali dengan pemuda-pemuda desa yang norak, yang suka meratapi nasib di bawah langit malam yang sunyi. Tapi mau bagaimana lagi, hanya inilah satu-satu cara dan satu-satunya kesempatan yang ia miliki untuk memikirkan semua hal yang telah terjadi padanya akhir-akhir ini.

“Huuuhhh.”

Helaan nafas lelah lolos begitu saja dari bibir Spencer. Hari ini pekerjaannya begitu banyak dan melelahkan. Aiden seharian ini juga terlalu sibuk mengurusi Calistha dan mayat Gazelle, sehingga semua tanggungjawab sang raja harus ia kerjakan sendiri. Tapi sepertinya ia harus lebih bersyukur dengan pekerjaanya sekarang, karena semuanya terasa lebih baik tanpa peperangan. Dulu saat Calistha belum datang ke dalam kehidupan Aiden, dan Aiden masih mencari Calistha, hampir setiap minggu Aiden pasti akan mengibarkan bendera perang pada seluruh musuh-musuhnya yang terbukti menyembunyikan putri-putri kerajaan Kairos. Setiap hari Aiden juga selalu merekrut prajurit baru demi memenangkan setiap peperangan yang ia pimpin. Tapi, setelah Calistha datang ke dalam kehidupan Aiden, Aiden menjadi lebih lunak dan tidak terlalu garang seperti sebelumnya. Pria itu kini jauh lebih bisa mengontrol emosinya yang meluap-luap, yang dulu hampir-hampir tidak pernah bisa dikuasainya. Namun, hari ini sang raja kembali berubah menjadi monster setelah pertengkarannya dengan Calistha, dan itu cukup mengejutkan Spencer. Pasalnya kebiasaan Aiden yang suka menyiksa tahanan dengan sangat kejam seperti itu sudah lama tak dilakukannya. Kehadiran Calistha benar-benar sangat menakjubkan untuk Aiden. Calistha seperti seorang dewi yang turun dari kayangan untuk menolong jiwa rusak Aiden. Tapi terkadang ia merasa Aiden terlalu memuja Calistha. Ia merasa sang raja sudah berubah terlalu jauh dan ia terlihat seperti seorang remaja labil yang sedang dimabuk asmara. Semua ketegasan yang dulu selalu ditampakan oleh Aiden perlahan-lahan mulai melemah. Pria itu tidak lagi menggunakan cara-cara kasar untuk memperingatkan seseorang yang memiliki kesalahan ringan, justru sekarang Aiden selalu memberikan kesempatan pada bawahannya yang terbukti telah melakukan kesalahan ringan, termasuk para menteri yang akhir-akhir ini justru semakin tidak disiplin saat bekerja. Sebenarnya ia ingin memperingatkan hal ini pada Aiden, tapi ia takut akan membuat Aiden tersinggung karena kedudukannya sebagai pengawal setia Aiden masih belum pantas untuk memberikan wejangan pada Aiden. Ia hanya dapat berharap semoga dengan kehadiran sang ratu, raja tidak serta merta menjadi lemah dan kembali menunjukan kekuasaanya yang kejam seperti dulu.

Sembari memikirkan Aiden dan juga nasib kerajaan Khronos, tak sengaja ekor mata Spencer melihat sebuah bayangan hitam yang bergerak dibalik semak-semak rimbun di bawah sana. Refleks kedua matanya langsung terbuka lebar untuk mengamati bayangan hitam yang semakin lama semakin terlihat mencurigakan. Merasa penasaran, akhirnya Spencer memutuskan untuk turun dan mengikuti bayangan hitam itu yang terlihat seperti siluet seorang manusia yang sedang menyelinap keluar dari kerajaan Khronos.

Sesampainya di halaman belakang, Spencer tampak berjalan mengendap-endap mengikuti sosok bayangan hitam yang ternyata adalah Tiffany yang sedang mencoba menyelinap keluar dari pintu rahasia kerajaan. Wanita itu terlihat melihat sekitarnya dengan was-was sambil terus mencengkeram erat jubah hitamnya yang bertudung. Kemudian saat suasana disekitarnya benar-benar aman, Tiffany langsung berjalan keluar, tanpa suara untuk pergi ke rumah sang penyihir.

Dibelakangnya, Spencer terus mengikuti langkah cepat Tiffany yang tampak terburu-buru. Meskipun ia ingin sekali menegur Tiffany dan melaporkan wanita itu pada Aiden, tapi rasa ingin tahunya tentang tujuan wanita itu menyelinap dari kerajaan Khronos lebih besar, sehingga ia memutuskan untuk mengikuti wanita itu dalam diam. Lagipula selama ini ia tahu jika Tiffany bukanlah wanita baik-baik. Sejak awal Aiden membawanya dari kerajaan Diamond, wanita itu telah menunjukan sisi jahatnya, dan hendak menyerang Aiden, namun saat itu ia tidak berhasil melukai Aiden, dan justru berakhir di dalam penjara bawah tanah. Tapi sayangnya sang ratu begitu bodoh dan dengan mudahnya langsung percaya begitu saja pada sikap Tiffany yang busuk. Dan yang paling menyebalkan adalah, Aiden dengan mudahnya langsung menyetujui permintaan Calistha untuk melepaskan Tiffany, padahal jelas-jelas wanita itu adalah wanita yang berbahaya, meskipun wanita itu sempat berkelahi dengan Gazelle dan hampir saja terbunuh oleh Gazelle. Tapi rasanya raja lagi-lagi terlalu lunak pada Calistha.

Duk

Tanpa sengaja Spencer tersandung sebuah batu yang berukuran cukup besar di tengah jalan. Hampir saja ia akan tersungkur di atas tanah yang keras dan kotor. Tapi untung saja ia berhasil menyeimbangkan tubuhnya dan hanya merasa nyeri pada ujung jari-jari kakinya. Namun, Tiffany yang berada di depannya beberapa meter langsung menghentikan langkahnya sambil berbalik arah. Cepat-cepat Spencer melompat ke sisi jalan dan bersembunyi di belakang sebuah bak sampah besar yanga baunya sebenarnya cukup busuk, namun ia tidak memiliki pilihan lain selain menahan bau busuk itu sedikit lebih lama, hingga Tiffany tidak mencurigainya dan segera pergi dari tempatnya berdiri.

“Siapa di sana?” Teriak Tiffany lantang dan terdengar begitu nyaring di tengah suasana sunyi yang tercipta di sekitarnya. Spencer yang mendengar hal itu hanya mampu membungkam bibirnya rapat-rapat sambil berharap semoga Tiffany segera pergi dan tidak mencurigainya. Jangan sampai wanita itu menemukannya di balik bak sampah ini dan menggagalkan rencananya untuk memata-matai wanita itu. Rencananya untuk mengetahui perbuatan busuk Tiffany akan musnah jika wanita itu sampai menemukannya di sana.

“Keluarlah, aku tidak akan menyakitimu.” Teriak Tiffany lagi masih dengan ekspresi wajah was-was. Namun tak ada seorang pun yang muncul untuk menunjukan wujud aslinya di hadapannya. Akhirnya ia memutuskan untuk menemukan sosok itu sendiri, karena ia yakin jika ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya, sebelum suara gedebuk berisik yang menghentikan langkahnya yang terburu-buru.

“Ck, dasar tikus pengganggu.” Decak Tiffany gusar sambil terus melangkah maju untuk menemukan sosok menyebalkan yang telah membuang-buang waktunya sia-sia. Ia bersumpah jika ia menemukan sosok itu, ia akan meminta sang penyihir untuk mengutuk sosok itu dan menghukumnya dengan hukuman yang sangat berat.

Samar-samar Spencer mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat ke arahnya. Merasa yakin jika itu Tiffany, Spencer pun mulai mengambil ancang-ancang untuk keluar dan menyergap Tiffany karena menurutnya ia tidak bisa pergi kemanapun lagi selain bersembunyi dibalik bak sampah itu.

Tap tap tap

Langkah itu semakin lama semakin mendekat dan semakin nyaring bergema di tengah jalanan pasar yang sepi. Dalam hati Spencer menghitung derap langkah Tiffany untuk mempersiapkan ancang-ancangnya. Dan saat ini ia telah siap untuk menyergap Tiffany sekarang.

Srugg

Brukk!

“Kyaaaa! Dasar kucing sialan!”

Myeonggg!

Tiffany menjerit-jerit heboh di tengah jalan sambil menendang seekor kucing coklat yang tiba-tiba melompat ke arahnya. Spencer yang melihat hal itu langsung mengurungkan niatnya untuk menyergap Tiffany dan lebih memilih untuk tetap berdiam diri di tempat sambil mengamati pergerakan Tiffany berikutnya.

“Ah dasar kucing sialan! Seharusnya aku membunuhnya dan memberikan mayatnya pada harimau-harimau kelaparan Aiden. Argghh! Sial!”

Tiffany terus mengumpati kucing malang itu dengan berbagai sumpah serapah yang ia tahu. Dan hal itu berlangsung cukup lama, hingga membuat Spencer merasa geram pada sifat Tiffanya yang benar-benar sangat kasar. Bahkan pada seekor binatangpun Tiffany mampu bersikap sekasar itu, lalu bagaimana dengan manusia? Sungguh Spencer tidak mampu membayangkannya. Sudah pasti wanita itu akan sangat licik dan kejam jika berurusan dengan manusia.

Spencer kemudian kembali mengintip dari celah-celah bak sampah yang sedikit terbukti. Dari jauh ia melihat Tiffanya yang telah berjalan pergi dengan langkah lebar-lebar meninggalkan jalanan sepi yang sebelumnya dipijakinya. Spencer kemudian segera berjalan keluar dari tempat persembunyiannya sambil setengah berlari untuk mengejar langkah lebar-lebar Tiffany yang kian menjauh. Untung saja kucing itu datang disaat yang tepat, jika tidak, ia pasti sudah tertangkap basah oleh Tiffany dan mungkin saja besok ia akan dilaporkan pada raja karena telah bersikap seperti seorang penguntit. Tapi meskipu begitu, malam ini ia akan menggunakan kesempatan yang ada untuk melihat apa yang sebenarnya dilakukan Tiffany di malama-malam dingin seperti ini. Tidak mungkin wanita itu pergi begitu saja tanpa memiliki tujuan. Ia yakin saat ini Tiffany pasti sedang menyusun sebuah rencana jahat untuk seseorang.

Apa yang sebenarnya direncanakan oleh wanita itu?

-00-

Keesokan harinya, seperti biasa, Aiden kembali menjalani rutinitas paginya sebagai seorang raja. Setiap pagi ia akan mendengarkan setiap keluh kesah yang disampaikan oleh rakyat Khronos padanya. Kemudian ia akan melihat setiap laporan yang dikerjakan oleh para menterinya, dan setelah itu ia akan kembali disibukan dengan masalah-masalah kecil yang terjadi di dalam istananya, maupun masalah lain yang berada di luar kerajaanya. Tak berapa lama, Spencer muncul di hadapannya sambil membawa bergulung-gulung perkamen untuk diserahkan padanya. Setelah mendapat anggukan kecil dari Aiden, Spencer segera meletakan perkamen-perkamen itu ke hadapan sang raja sambil menunggu sang raja untuk mendongakan wajahnya ke arahnya.

“Ada apa?”

Akhirnya Aiden mendongakan wajahnya ke arahnya sambil menatap kedua manik matanya dengan tatapan datar penuh intimidasi. Tapi ia tampak tak menghiraukannya dan seolah-olah tidak terjadi apapun diantara mereka. Spencer kemudian segera menceritakan semua pengalamannya semalam saat mengikuti Tiffany yang menyelinap keluar dari istana Khronos.

“Saya ingin memberitahu anda  mengenai nona Tiffany.”

“Tiffany? Ada apa dengan Tiffany? Apa wanita itu berulah lagi?” Geram Aiden tidak suka. Spencer yang melihat gelagat tidak senang Aiden langsung berinisiatif untuk menceritakan semuanya dan tidak akan menunda-nundanya lagi. Menurutnya Aiden harus mengetahui hal ini karena masalah Tiffany kemungikinan besar masih berhubungan dengan Calistha dan juga rajanya, Aiden.

“Kemarin saya melihat nona Tiffany menyelinap keluar dari istana. Karena mencurigakan, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti kemana perginya nona Tiffany, dan ternyata nona Tiffany masuk ke dalam sebuah rumah yang terlihat paling suram diantara rumah-rumah yang lain. Tapi sayangnya saya tidak tahu apa yang dilakukan nona Tiffany di sana, karena saya tidak bisa masuk ke dalam rumah itu.”

“Jadi kau sudah mengetahui dimana rumah penyihir itu?”

Spencer mengernyit heran dan bersiap untuk melontarkan pertanyaan pada Aiden, namun Aiden langsung menyelanya dan menjawab semua rasa penasaran Spencer dengan jawabannya.

“Tiffany saat ini sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkanku dan Calistha. Ia selama ini selalu bekerjasama dengan Gazelle. Untung saja aku berhasil menyingkirkan Gazelle, sehingga tugasku sekarang jauh lebih mudah untuk menyingkirkan Tiffany, tapi ia ternyata telah menemukan partner baru yang lebih mengerikan daripada Gazelle. Bahkan dimalam saat kau membunuh Gazelle, wanita itu diam-diam menyelinap ke dalam kamar Calistha dan menyelipkan sebuah kantong kutukan di bawah ranjang Calistha. Dan semalam mungkin ia sedang meminta penyihir itu untuk memberikan kantong kutukan lain, yang lebih kuat, karena rencananya yang sebelumnya berhasil kugagalkan.”

“Jadi sebenarnya Yang Mulia telah mengetahui semua kelicikan nona Tiffany? Tapi kenapa Yang Mulia melepaskan nona Tiffany begitu saja? Apa semua ini karena Yang Mulia Calistha?”

Aiden menatap tajam pada Spencer dan ia terlihat sangat tidak suka dengan ucapan Spencer. Ia tidak suka jika Spencer menuduhnya lemah hanya karena Calistha. Apapun yang ia lakukan pasti telah ia pikirkan matang-matang, dan ia tidak mungkin salah dalam mengambil keputusan. Termasuk keputusannya untuk melepaskan Tiffany dari penjara bawah tanah.

“Jaga ucapanmu Spencer, Calistha bukanlah alasan untuk melepaskan Tiffany, karena aku memang menginginkan Tiffany keluar dari penjara itu. Dan aku tidak mungkin melakukannya jika aku tidak memikirkan konsekuensinya matang-matang. Jadi singkirkan semua prasangkamu tentang Calistha dan sikapku yang sekarang terlihat lebih lunak, karena semua itu tidak ada hubungannya dengan Calistha.” Geram Aiden marah. Spencer langsung menunduk dalam tanpa berani menatap wajah Aiden. Ia akui ia salah karena ia sudah melangkah terlalu jauh dan membuat rajanya menjadi tidak nyaman seperti ini.

“Lebih baik kau pergi ke rumah itu dan bakar rumah itu beserta penyihir yang tinggal di sana. Kita harus memutus mata rantai antara Tiffany dan penyihir itu. Dan jangan lupa untuk memastikan jika penyihir itu benar-benar telah mati. Kuharap kali ini kau melakukan pekerjaanmu dengan baik, apa kau mengerti?”

“Ya, saya mengerti Yang Mulia, saya akan membakar rumah itu beserta penyihir yang tinggal di dalamnya.”

Setelah menunduk dalam, Spencer segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Aiden dengan seluruh pekerjaanya yang menumpuk. Namun ketika ia hendak menutup pintu di belakangnya, ia berpapasan dengan Calistha yang hendak berjalan masuk ke dalam ruangan Aiden. Sambil menunduk dalam, Spencer berniat membukakan pintu untuk Calistha, tapi tiba-tiba saja wanita itu menghentikan gerakan tangannya dan membuatnya harus menurunkan tangannya aneh karena terlanjur menggantung di udara.

“Aku bisa membukanya sendiri, kau tidak perlu membukakannya untukku.” Ucap Calistha sungkan. Ia merasa bersalah karena telah mengurungkan niat Spencer untuk membukakan pintu untuknya, padahal tangan pria itu sudah menggantung di udara, siap untuk membukakan pintu untuknya. Mereka berdua kemudian sama-sama terdiam di tempat mereka masing-masing karena merasa canggung. Selama ini Calistha tidak pernah melakukan kontak apapun dengan Spencer, padahal Spencer adalah pengawal setia Aiden dan salah satu orang yang sangat dekat dengan Aiden. Tapi, entah mengapa mereka tidak pernah bertegur sapa satu sama lain. Ia merasa selama ini Spencer juga selalu menghindarinya dan tampak enggan untuk bertegur sapa. Pernah suatu hari ia melihat Spencer berada di aula kerajaan, hendak memberikan laporan pada Aiden. Tapi entah mengapa tiba-tiba saja Spencer berbalik arah dan membatalkan niatnya untuk bertemu dengan Aiden, padahal ia saat itu hendak menyapa Spencer dan sedikit bercakap-cakap dengan pria itu seputar kerajaan Khronos dan seluruh rakyatnya.

“Eemm, apa raja sedang sibuk?” Tanya Calistha kikuk. Ia merasa suasana diantara dirinya dan Spencer benar-benar canggung dan sangat tidak enak. Lalu pikiran mengenai Gazelle yang dibunuh oleh pria itu setelah mereka berdua bercinta muncul di dalam kepalanya, membuatnya merasa bersalah dan merasa mual. Ia pikir ia perlu menyampaikan rasa simpatinya pada pria itu karena ia turut merasa berduka cita atas meninggalnya Gazelle.

“Aku turut berdua cita atas meninggalnya Gazelle.”

Untuk sesaat Spencer hanya mampu mematung di tempat sambil menatap lurus pada kedua manik mata Calistha yang cemerlang. Akhirnya ia mendongakan wajahnya untuk menatap manik cemerlang milik Calistha. Dan saat kedua mata itu saling bertatapan satu sama lain, tiba-tiba saja Spencer menyadari sesuatu.

Tatapan matanya…. benar-benar mampu menghipnotisku.

“Aku tahu, pasti sangat sulit.”

“Sulit? Apa maksud anda dengan sulit Yang Mulia?” Tanya Spencer setelah ia berhasil mengembalikan seluruh kesadarannya pada Calistha. Wanita itu menatap Spencer salah tingkah dan mulai menyadari jika ucapannya terdengar sedikit sok tahu dan terkesan terlalu ikut campur dalam urusan pribadi Spencer.

“Eee, maksudku kau pasti merasa… merasa…”

Calistha terlihat bingung untuk melanjutkan kata-katanya. Tatapan mata Spencer yang mengintimidasi membuatnya menjadi gugup dan tidak bisa berpikir jernih. Rasanya ia sangat menyesal karena telah membuka topik ini dan menyebabkan dirinya harus terjebak di dalam situasi yang tidak mengenakan bersama Spencer.

“Maksud anda saya akan merasa bersalah begitu? Tidak Yang Mulia, saya sama sekali tidak merasa bersalah dan menyesal telah melakukan hal itu. Justru saya merasa terhormat karena telah melakukan tugas saya sebagai seorang prajurit sejati yang patuh pada perintah raja.” Jawab Spencer tegas. Pria itu terlihat benar-benar mengerikan dan sangat jauh dari kata baik-baik saja. Ekspresi wajahnya saat ini begitu dingin, dan menurut Calistha sebenarnya Spencer sangat terbebani dengan tugas membunuh Gazelle. Bahkan saat ini Calistha dapat melihat sorot kesakitan dari kedua mata Spencer, namun pria itu mencoba menutupinya dengan mengalihkan perhatiannya ke arah lain dan tidak mau bertatapan dengan manik matanya lagi.

“Selamat pagi Yang Mulia, saya permisi.” Pamit Spencer dingin dan langsung melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Calistha.

Sementara itu Calistha masih berdiri mematung di tempatnya sambil menatap punggung tegap Spencer yang mulai berjalan pergi menjauhinya. Setitik perasaan sesal tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya dan membuatnya merasa tidak nyaman. Kini ia merasa menyesal karena telah mengangkat sebuah topik yang sangat sensitif untuk dibahas. Seharusnya ia tidak menyinggung masalah Gazelle pada Spencer dan hanya menyapa pria itu untuk menciptakan kesan yang baik di mata pengawal setia Aiden. Tapi kesan pertamanya hari ini bersama Spencer justru berakhir buruk. Dan kini ia tidak tahu apakah pria itu akan tetap seperti itu, bersikap dingin dan muram saat berhadapan dengannya, atau pria itu akan melupakan semua kejadian hari ini begitu saja dan bersikap ramah layaknya seorang bawahan kepada ratunya?

“Huh, kenapa aku justru menyakitinya? Dasar bodoh!” Umpat Calistha pada dirinya sendiri sambil berjalan masuk ke dalam ruangan Aiden.

-00-

Kriett

Suara derit pintu yang nyaring membuat Aiden langsung mendongakan kepalanya dari setumpuk perkamen yang sedang dibacanya. Di ujung pintu Calistha tampak tersenyum lembut sambil melambaikan tangannya ceria ke arahnya, namun hal itu hanya dibalas Aiden dengan tatapan datar dan piasnya yang sama sekali tidak bersahabat.

“Ada apa? Aku sedang sibuk.”

Aiden langsung menyerang Calistha dengan kata-kata datarnya sebelum wanita itu menyampaikan maksud kedatangannya menemui dirinya. Merasa kehadirannya tak diharapkan, wajah Calistha langsung berubah murung sambil menghentak-hentakan kakinya ke atas lantai marmer ruangan Aiden.

“Maafkan saya Yang Mulia Raja Aiden yang terhormat, saya tidak bermaksud untuk mengganggu anda, saya hanya ingin meminta ijin untuk berjalan-jalan keluar bersama Sunny dan Yuri, apakah diperbolehkan?” Tanya Calistha gusar dengan nada ketus. Aiden mengernyitkan dahinya tidak suka dan merasa gusar dengan kehadiran Calistha yang selalu mampu memecah konsentrasinya. Sekarang semua pekerjaan itu harus terabaikan begitu saja karena ia tidak bisa mengacuhkan Calistha terlalu lama. Wanita itu benar-benar telah berhasil merusak seluruh konsentrasinya yang sudah ia bangun dengan susah payah pagi ini.

“Kemana kau akan pergi?”

“Hanya di sekitar istana. Aku hanya ingin melihat sudut-sudut istana yang lain, yang belum pernah kukunjungi. Apakah boleh?”

Kali ini Calistha bertanya dengan penuh perasaan dan tersirat nada penuh permohonan disetiap kalimatnya. Ia sangat berharap jika Aiden akan langsung mengijinkannya tanpa memikirkan banyak pertimbangan lagi.

“Hmm, apa aku bisa mempercayaimu untuk pergi dengan selamat dan pulang dalam keadaan selamat juga?”

“Ya Tuhan Aiden, aku hanya pergi keluar untuk jalan-jalan, bukan untuk berperang. Bisakah kau sedikit saja mempercayaiku dan menghilangkan sikap skeptismu padaku?” Erang Calistha frustasi. Aiden hanya menaikan kedua alisnya singkat dan setelah itu ia tampak mulai berpikir. Terakhir kali ia membiarkan Calistha keluar bersama Yuri dan Sunny, Calistha justru pingsan karena kehamilannya. Sekarang ia merasa sedikit sulit untuk mengijinkan Calistha pergi bersama pengawal-pengawalnya keluar dari istana. Wanita itu terkadang suka membahayakan dirinya sendiri dan membuatnya menjadi panik luar biasa karena keadaan wanita itu yang selalu di luar dugaannya. Tapi tidak mengijinkan Calistha keluar pun bukan solusi yang baik, justru membuat Calistha semakin stress dengan keadaanya. Jadi… sekarang ia merasa dilema.

“Apa aku bisa mempercayaimu?”

Calistha memutar bola matanya jengah dan tampak kehabisan kesabaran dengan sikap over protektif yang diberlakukan Aiden. Memangnya apa yang akan dilakukannya di luar sana, ia hanya ingin berjalan-jalan. Tidak lebih!

“Aku janji akan baik-baik saja. Kau bisa mempercayaiku Aiden.” Ucap Calistha geram. Rasanya ia sangat gemas pada Aiden dan ingin mencubit kedua pipi Aiden untuk menyadarkan pria itu jika ia akan baik-baik saja.

“Hati-hati Cals, aku masih bisa membaca pikiranmu.” Peringat Aiden ketika Calistha mulai merencanakan banyak hal di dalam kepalanya. Seketika Calistha langsung tersipu malu karena semua hal yang dipikirkannya memang berhubungan dengan Aiden.

“Jadi.. apa kau mengijinkanku?” Tanya Calistha penuh harap. Aiden menghela napas berat, namun akhirnya ia menganggukan kepalanya pada Calistha sebagai tanda bahwa ia mengijinkan Calistha untuk keluar dan berjalan-jalan di sekitar istana.

“Aaaa, terimakasih Aiden.”

“Tapi..”

Seketika kegembiraannya yang meluap-luap terhenti begitu saja, digantikan dengan perasaan was-was saat menunggu ucapan selanjutnya yang akan dikatakan oleh Aiden. Jangan sampai kebahagiaan yang telah ia gapai adalah kebahagiaan semu yang pada akhirnya akan diruntuhkan oleh Aiden begitu saja.

“Tapi kau harus selalu berhati-hati. Hindari semua hal-hal yang membahayakan.”

“Baiklah, aku mengerti. Sampai.. oh, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu.”

Tiba-tiba saja Calistha teringat pada sikap Spencer yang terlihat dingin dan tampak tidak baik-baik saja. Rasanya ia perlu membicarakan masalah ini pada Aiden karena ini menyangkut perasaan pengawal setianya.

“Aku ingin menanyakan masalah Spencer. Apakah ia selalu menunjukan sikap tak bersahabat dan terlihat dingin?”

“Kau berinteraksi dengannya?”

Aiden justru menjawab pertanyaan Calistha dengan sebuah pertanyaannya yang hanya dapat dijawab Calistha dengan anggukan. Ia takut akan membuat masalah lagi dan menyebabkan Spencer dalam masalah.

“Kau tidak melarangku untuk berinteraksi dengannya bukan?”

“Tidak, aku hanya sebatas bertanya. Tapi menurutku kau jangan terlalu sering berinteraksi dengannya, apalagi saat ini ia sedang dalam masa-masa yang sulit. Meskipun ia mematuhi perintahku untuk membunuh Gazelle, tapi hati kecilnya masih belum menerima itu semua, sehingga akhir-akhir ini ia selalu bersikap lebih sinis dan dingin dibandingkan hari-hari sebelumnya, sebelum ia membunuh Gazelle.”

“Ya, aku mengerti sekarang. Aku pasti telah menyebabkan lukanya kembali menganga. Aku merasa bersalah padanya.” Ucap Calistha sedih. Teringat jelas bagaimana ekspresi wajah Spencer saat ia membahas masalah Gazelle di hadapan pria itu. Sekarang ia benar-benar merasa bersalah.

“Sudahlah lupakan saja. Kau hanya perlu menjauhinya dan tidak menyinggung masalah Gazelle di hadapannya. Sekarang pergilah, aku ingin menyelesaikan semua pekerjaannku.” Usir Aiden terang-terangan. Calistha mengangguk lesu dan segera berjalan pergi, keluar dari ruangan Aiden. Meskipun Aiden dengan mudah menyuruhnya untuk melupakan seluruh masalahnnya dengan Spencer, tapi ia merasa tidak bisa. Ia justru ingin menemui Spencer dan meminta maaf pada pria itu karena telah menyebabkan pria itu merasa tidak nyaman dan kembali terluka dengan kematian Gazelle yang mengenaskan. Dalam hati ia bertekad akan menemui Spencer dan meminta maaf pada pria itu apapun yang terjadi. Tak peduli seberapa sinis dan galaknya sikap pria itu nanti, ia akan tetap menemui pria itu dan meminta maaf padanya atas kelancangannya hari ini.

-00-

“Kebakaran…..Kebakaran, cepat ambilkan air!”

“Tolong, ada kebakaran…”

Suara teriakan para penduduk Khronos yang sedang mencoba memadamkan nyala api yang melalap salah satu rumah penduduk yang berada di tengah pasar terdengar begitu nyaring dan semakin membuat suasana disekitar pasar menjadi mencekam. Beberapa pedagang yang sedang menjajakan dagangannya langsung berlari mencari ember dan air untuk membantu warga yang lain memadamkan nyala api yang semakin membumbung tinggi ke udara. Asap pekat yang hitam membuat seluruh penduduk Khronos yang sedang memadamkan nyala api disekitar rumah itu langsung terbatuk-batuk sesak. Namun dengan sekuat tenaga mereka terus mencoba untuk memadamkan nyala api itu dan menyelamatkan salah satu penduduk Khornos yang masih terjebak di dalam kobaran api yang sangat dahsyat itu.

Spencer mengintai dari kejauhan sambil tersenyum simpul. Pekerjaannya kali ini berjalan dengan lancar. Rumah penyihir itu kini telah habis, dilalap oleh si jago merah yang tanpa pandang bulu melahap semua material yang menyusun rumah itu. Bunyi letupan-letupan kecil yang berasal dari dalam rumah beberapa kali terdengar nyaring di pendengaran Spencer, pertanda jika seluruh rumah beserta isinya benar-benar tidak akan tersisa setelah ini.

“Apa yang terjadi, permisi… tolong biarkan aku lewat.”

Spencer menyeringai puas saat melihat wajah kaku Tiffany yang terlihat begitu terkejut dengan kebakaran besar yang melanda rumah sang penyihir. Setelah ini wanita itu tidak akan bisa mencelakakan raja dan ratu dengan sihir hitam yang berasal dari sang penyihir karena ia sangat yakin jika penyihir itu telah mati.

“Cepat padamkan apinya! Kau, masuklah ke dalam rumah itu. Kau harus menemukan wanita tua yang berada di dalam sana.” Teriak Tiffany emosi sambil mendorong-dorong tubuh seorang pria yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu tampak enggan untuk menyanggupi perintah Tiffany karena ia tidak mungkin bisa menerobos masuk ke dalam rumah yang hampir rubuh, dilalap oleh api besar yang berkobar-kobar di atas langit. Jika ia nekat masuk, ia justru tidak akan bisa keluar lagi dan berakhir mengenaskan bersama dengan penghuni rumah itu yang kemungkinan telah mati.

“Saya tidak bisa nona, apinya terlalu besar. Apalagi bangunan ini sebentar lagi akan rubuh, saya benar-benar tidak bisa masuk ke dalam dan menyelamatkan wanita tua yang tinggal di dalam sana.”

“Dasar penakut! Siapapun, tolong masuk dan selamatkan wanita tua yang terjebak di dalam sana. Hey, apa kalian mendengarkanku?”

Tiffany berseru lantang layaknya orang gila yang berseru pada siapapun yang ditemuinya. Tapi tidak ada satupun yang berani masuk ke dalam rumah itu untuk menyelamatkan Sybil, sang penyihir hitam. Kini Tiffany hanya mampu berlutut pasrah di depan puing-puing rumah Sybil yang tak berbentuk. Rencana besarnya yang ia rencanakan dengan Sybil kemarin malam harus pupus begitu saja karena bencana kebakaran ini. Sambil berlutut dan meratapi rencananya yang gagal, Tiffany tampak mengepalkan tangannya murka dan bersumpah akan menemukan siapapun yang telah mengganggu rencananya dan membunuh Sybil dengan keji.

“Siapapun itu, aku pasti tidak akan membiarkannya hidup tenang.”

-00-

“Ratu, apakah ratu ingin kembali ke istana sekarang?” Tanya Yuri yang berjalan di sebelahnya. Calistha menggelengkan kepalanya pelan sambil menunjuk gumpalan asap hitam tebal yang membumbung di atas langit. Ketiga wanita itu sama-sama mengamati asap hitam itu dengan berbagai pertanyaan yang berkelebat di dalam hati mereka.

“Asap itu berasal dari pusat kota, sesuatu pasti sedang terjadi di sana.” Ucap Sunny khawatir. Yuri menganggukan kepalanya setuju sambil menggandeng tangan Calistha untuk mengajak wanita itu kembali ke istana.

“Lebih baik Yang Mulia segera kembali ke istana, di sini tidak aman untuk ratu.” Ajak Yuri dengan sedikit memaksa. Calistha pun hanya berjalan pasrah mengikuti Yuri dan Sunny yang telah menarik pergelangan tangannya menjauh. Namun, pergerakan kakinya tiba-tiba terhenti karena ia mendengar suara-suara berisik yang berasal dari balik semak-semak yang berada di belakangnya.

“Ssstt, apa kalian mendengarnya?” Tanya Calistha tiba-tiba. Yuri dan Sunny saling bertatapan satu sama lain sambil mengendikan bahunya bingung, karena mereka berdua sama sekali tidak mendengar apapun.

“Suara? Kami tidak mendengar suara apapun?”

Srek srekk

“Ssstt, suara itu berasal dari semak-semak di sebelah sana.”

Tanpa mempedulikan larangan Sunny dan Yuri, Calistha langsung melangkah begitu saja menghampiri semak-semak belukar yang berada di depan matanya. Ia sangat yakin jika suara berisik itu berasal dari balik semak-semak itu, dan ia merasa jika sesuatu yang tidak beres pasti telah terjadi di sana.

“Kyaaaa…!”

Yuri dan Sunny langsung berteriak nyaring saat mereka melihat sebuah tangan yang tampak mengerikan menjulur keluar dari balik semak-semak yang rimbun. Tak berapa lama, sesosok wajah yang juga tampak mengerikan menyembul keluar dari balik semak-semak, membuat Calistha yang melihatnya merasa cukup terkejut, namun sebisa mungkin ia menahan diri agar tidak ikut berteriak seperti Yuri dan Sunny.

“Ttoo Tolong aku…..” Rintih wanita tua itu parau sebelum ia jatuh tak sadarkan diri di hadapannya dengan mengenaskan.

24 thoughts on “Queen Of Time: Still Stuck In That Time

  1. akhirnya yoonhae kembali damai lagi..

    wanita tua yg disemak semak apakah Dia penyihir jahat?
    kalo iya, semoga penyihir jahat itu bisa berubah menjadi baik setelah bertemu dengan ratu chalista.

  2. Wah jangan2 wanita tua itu penyihir yg berhasil lolos dari kebakaran, tambah gawat lw gini kerajaan semakin kacau. Smga calistha tidak kenapa2 nantinya dan juga smga aiden bisa melindungi calistha. Kapan kekuatan aiden balik lagi sihhh? Gue harap penyihir dg aiden kamaren bisa nolong mereka nanti. Next

  3. Just done the scanning. Aiden kok ga pernah perhatian sama kandungan Chalista ya? Hmm 🙁

  4. Muluuss.. cuma pertengkaran ringan aiden calistha yg sama2 posesif.
    hmm.. itu yg minta tolong siapa?? Bukan penyihirnya kn?? Bukan orang jahat kan?
    Lindungilah calistha dan aiden 😊

  5. Sprti.a itu sylbi yg llos dri lbkaran ya?? Dan ykin calistha bkal nlong dia trus bkalan trjd ssuatu deh sma calysta akbat ulah tiffany sma sylbi…#asalnebakk hahahahha
    Ska lahh sma tiap moment sweet.a Aiden-calistha

  6. duuh soswweet amat sih aiden sama chalista. yah 19 hari lagi pernikahan mereka. semoga aja di 19 hari itu gk ada yg terjadi. btw yg tertidur itu siapa ya? aku pikir chalista ternyata enggak. dan duuh sikap dingin kaku aiden gk pernah ilang ya 😧 dan juga yg minta tlng itu. pasti penyihir itu. mudah2han aja deh chalista gk gegabah nolongin dia. chalista kan baik banget sampe dia gk tau. kalau dia menolong orang itu bsa jadi bencana buat dia dan aiden. makin seru authornim. cepat lanjut fighting !!!

  7. apakah itu penyihir tua yang rumah nya terbakar. semoga aja dengan chalista menyelamatkan nya dia bisa baik ke chalista dan memperingati kalo tiffany mempunyai rencana untuk menghancurkanya dan aiden.

  8. Jdi nenek sihir itu lolos yah?? dan malah ktmu ma calista 😱😱 Jgn smpe calista bwa itu pnyihir ke istana,, klo calista bwa psti jdi malapetaka buat mereka dan pasti aiden marah besar lagi trus fany bhgia 😱😠

    Next kk.. Fighting!! Kpn nih update ff slingan?? lnjutan lee family mungkin :v

  9. Huuuh kaya nya tuh penyihir masih hidup dan dia yg bikin kaget calista suny dan yuri..
    Semoga ajja tuh penyihir jadi baik dan gk sbar nunggu pernikahan calista dan aiden ..oh aiden posesif bnget tapi suka calista jg Kaya nya udh mencintai aiden dan siapa pria yg nunggu wanita itu sdar next penasaran

  10. Yg minta tolong itu si penyihir jahat kah thor?
    Eiiitss si chalista sma aiden makin sosweet aja, bikin orang envy mah 😄

  11. Aiden, sikap dinginnya tolong dikurangin, kasian calistha
    Siapa wanita bergaun putih itu? Calistha kah? Mungkin kilasan masa depan yg bakal terjadi
    Sempat mikir, penyihir tu tau kalo spencer ngikutin tiffany
    Bisa aja kn dy udh ngerencanain supaya dy ketemu dan ditolong calistha, jd dy lbh gampang buat nyelakain calistha
    Pernikahan mereka udh dekat, kayanya berharap ga trjd sesuatu mustahil, krn ceritanya pasti udh mau klimaks
    Cm berharap happy ending aja

    Ditunggu lanjutannya

  12. Aiden, sikap dinginnya tolong dikurangin, kasian calistha
    Siapa wanita bergaun putih itu? Calistha kah? Mungkin kilasan masa depan yg bakal terjadi
    Sempat mikir, penyihir tu tau kalo spencer ngikutin tiffany
    Bisa aja kn dy udh ngerencanain supaya dy ketemu dan ditolong calistha, jd dy lbh gampang buat nyelakain calistha
    Pernikahan mereka udh dekat, kayanya berharap ga trjd sesuatu mustahil, krn ceritanya pasti udh mau klimaks
    Cm berharap happy ending aja

    Ditunggu kelanjutannya

  13. Jadi nenek sihir itu lolos? dan malah ktmu ma calista 😱😱 Huwaa 😭😭 jgn smpe calista bwa tuh pnyihir k istana,, bisa² aiden ngamuk lgi ma calista dan buat fany seneng 😭😭 Itu bisa jdi malapetaka buat mereka 😭

    Next kk.. fighting!!

  14. seperti nya penyihir itu masih hidup ,,,,,jgn2 yg disemak2 itu sang penyihir ,,,,
    jgn sampe calista bwa pnyihir itu ke istana ,,,,
    bisa bhaya nanti

  15. Lelaki misterius itu siapa ya & perempuan yg lagi tidur itu siapa ????
    Kayaknya perempuan tua itu penyihir yg selamat dari kebakaran deh
    Lanjut thor

  16. Kayanya itu sybil yg berhasil lolos dari kebakaran !!!
    huh gagal dong ,aku malah berharap di mati aja biar akses Tiffany buat bunuh Calista ke dia putus .

    btw soal moment nya semoga makin di perbanyak yaa ,suka liat Aiden yg luluh dan sikap dingin gak pernah ketinggalan hehehe ..di tunggu nextnya un ^^

  17. YH mah walaupun berantem tetep aja sweet menurutku 🙂
    Siapa yg minta tol0ng ke chalista? Penyihir jahat itukah, next chap fighting eon 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.