Queen Of Time: Like A Moth To A Flame

“Keluar dari ruanganku sekarang!” Teriak Aiden murka pada seluruh pelayan yang sedang membersihkan kamarnya. Pelayan-pelayan itu tampak bergetar ketakutan di tempat, tapi mereka juga tidak berani beranjak karena pekerjaan mereka sama sekali belum selesai. Seharusnya sesuai dengan rencana, Aiden tidak akan menggunakan kamar ini hingga tiga hari ke depan karena mereka harus membersihkan sisa-sisa darah dan mengelurkan barang-barang yang berhubungan dengan Gazelle. Namun tanpa diduga malam ini Aiden justru sudah menempati kamarnya dengan wajah murka yang sangat mengerikan. Salah satu pelayan yang merupakan senior di sana langsung bersimpuh takut di hadapan Aiden untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya.

“Maafkan kami Yang Mulia, kami belum selesai membersihkan kamar anda.”

“Sialan! Aku tidak peduli, keluar dari kamarku sekarang!” Teriak Aiden lagi dengan nada suara yang menggelegar. Pelayan-pelayan itu segera berjalan pergi dengan langkah lebar-lebar dan dengan perasaan yang dipenuhi ketakutan. Lalu setelah pelayan-pelayan itu pergi meninggalkan ruangan Aiden, kepala pelayan itu segera bangkit dari posisi bersimpuhnya sambil menunduk dalam sebelum ia keluar dari ruangan rajanya.

“Yang Mulia, sekali lagi maafkan kami.”

“Ambilkan aku wine.” Perintah Aiden dingin dan datar. Pelayan itu mengangguk patuh dan segera meletakan sebotol wine yang ia ambil dari rak kaca yang berada di sudut ruangan. Setelah ia menyiapkan semuanya, pelayan senior itu langsung berpamitan dan segera berjalan pergi dari ruangan Aiden. Meskipun ia adalah pelayan senior, ia tetap saja merasa takut melihat kemarahan Aiden yang sudah sering dilihatnya sejak bertahun-tahun lalu. Dan menurutnya kemarahan yang dikeluarkan oleh Aiden selalu berhasil membuat orang-orang disekitarnya menjadi merasakan ketakutan yang begitu mencekam.

Brakk

Prangg

“Arghhhhhhhhh!!!”

Aiden menyapu seluruh barang-barang yang berada di atas mejanya dengan tangan-tangannya yang kokoh. Seketika cairan merah yang berasal dari tumpahan wine langsung menggenang di atas kakinya yang bersepatu. Hari ini ia benar-benar merasa marah pada dirinya sendiri dan Calistha. Seharusnya ia memang tidak memperlakukan Calistha dengan sangat kasar seperti tadi. Tapi wanita itu berhasil memporak-porandakan perasaannya. Dan ia sudah lelah membohongi perasaanya sendiri yang merasa terluka.

“Sial kau Calistha! Apa yang telah kau lakukan padaku. Arghh”

Prang!

Aiden melemparkan gelas winenya pada tembok dengan penuh kemarahan yang membara. Serpihan-serpihan beling yang terlihat tajam langsung berserakan di atas lantai marmer kamarnya yang putih. Kini kamar itu benar-benar berantakan dan sangat kotor. Bahkan keadaanya saat ini jauh lebih parah daripada kemarin saat Gazelle dan Spencer bercinta di kamarnya. Aiden kemudian mengacak rambutnya frustasi sambil menelungkupkan dirinya di atas meja. Ia sekarang merasa benar-benar kacau. Tak pernah ia mengalami hal seperti ini selama ia hidup. Bahkan ketika kedua orangtuanya meninggal ia tidak sampai benar-benar merasa frustasi hingga ia tidak bisa berpikir jernih seperti saat ini. Saat itu ia masih bisa memikirkan langkah-langkah yang harus ia ambil untuk menumpas seluruh kejahatan yang terjadi di kerajaan Khronos. Tapi sekarang, ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Ia tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalahnya dengan Calistha. Dan ia juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada Calistha jika ia sangat terluka dengan sikap wanita itu. Ia kecewa dengan sikap Calistha yang terus menerus memikirkan perasaan orang lain, namun wanita itu sama sekali tidak memikirkan perasaanya yang terluka. Ia terluka dengan sikap Calistha yang seakan-akan menggantungkannya dengan perasaannya yang tidak pasti, padahal ia telah memberikan segalanya pada Calistha, perlindungan, tempat bersandar, dan cinta. Semua itu telah ia berikan dengan penuh perasaan dan penuh kesungguhan hati. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang pernah ia berikan ketiga hal itu dengan hati ikhlas yang begitu dalam selain Calistha. Betapa wanita itu telah menjadi bagian dari dirinya yang sangat penting. Tapi nyatanya hal itu tidak berarti apa-apa bagi Calistha. Wanita itu sama sekali tidak menghargai ketulusan hatinya dan hanya memikirkan keadaan orang lain yang jelas-jelas ingin mencelakakan kehidupannya.

Lalu apa lagi yang harus ku berikan padamu?

Aiden mengerang pilu di dalam kegelapan kamarnya yang pekat. Saat-saat seperti ini memang selalu membuatnya merasa benar-benar terpuruk dan tampak mengenaskan. Untung saja ia memiliki kamar yang begitu gelap dan dapat menyembunyikan semua kelemahan yang ia sembunyikan selama ini. Sehingga tidak akan ada seorang pun yang mengetahui sisi kelemahannya.

“Aku harus mengambil tindakan secepatnya. Aku tidak bisa terus menerus seperti ini. Calistha, harus membayar semua ini dengan seluruh jiwa dan raganya.” Seriangai Aiden kejam. Jiwa iblisnya malam ini kembali bangkit karena kemarahannya yang terlalu meluap-luap. Ia kemudian segera bangkit untuk menyalurkan jiwa membunuhnya yang malam ini telah terbangkitkan. Malam ini ia akan berpesta dengan seluruh jiwa-jiwa yang dibunuhnya.

“Spencer, masuk!”

Spencer datang tergopoh-gopoh dari luar kamar sambil menatap ngeri pada ruangan rajanya yang tampak berantakan. Sambil menunduk hormat Spencer langsung memberitahukan pada Aiden jika semuanya sudah siap.

“Para tahanan sudah siap Yang Mulia.”

“Bagus. Malam ini aku akan menguliti mereka satu persatu dan menikmati setiap kesakitan yang mereka rasakan.” Gumam Aiden pelan dengan nada dingin yang begitu mencekam. Bahkan Spencer sendiri merasa merinding dengan aura membunuh yang meguar dari tubuh rajanya. Padahal ia telah menjadi pengawal setia Aiden sejak bertahun-tahun lamanya, tapi menurutnya aura Aiden kali ini lebih menakutkan daripada aura-aura Aiden yang sebelumnya. Malam ini Aiden tampak lebih seperti iblis dan benar-benar terlihat bukan seperti manusia.

Siapa yang bisa membangkitkan aura iblisnya hingga seperti ini?

Spencer membatin pelan sambil ekor matanya memperhatikan Aiden yang telah berjalan keluar dengan langkahnya yang lebar. Ia yakin, malam ini pasti akan banyak teriakan memilukan yang terdengar di dalam istana karena Aiden sebentar lagi akan memberikan siksaan yang begitu mengerikan bagi seluruh tahanan yang berada di dalam penjara bawah tanah. Dan siksaan itu adalah menguliti tubuh mereka satu persatu dengan pisau kecil yang rasanya pasti akan sangat menyakitkan hingga ke dalam lapisan tulang terdalam.

-00-

Sementara itu Calistha saat ini sedang menangis tersedu-sedu di depan Tiffany sambil menelungkupkan kepalanya. Wanita itu terlihat begitu menyesal dengan semua hal yang telah ia lakukan pada Aiden, ia juga mengatakan jika ia tidak tahu jika perkataannya akan membuat Aiden semarah itu padanya karena ia sama sekali tidak bermaksud menyakiti Aiden. Ia hanya sebatas mengutarakan apa yang dipikirkannya dan dirasakannya sebagai seorang wanita.

“Sudahlah, bukankah Aiden memang kejam dan jahat. Lebih baik kau hapus air matamu dan kembalilah ke istana. Aiden pasti sedang mencarimu.” Hibur Tiffany lembut. Wanita itu mengelus puncak kepala Calistha pelan sambil membisikan kata-kata penyemangat agar Calistha tenang. Di dalam hatinya kini bergejolak rasa gembira yang begitu besar karena ia berhasil membuat Calistha mempercayainya setelah Aiden meracuni pikiran adiknya itu dengan fakta-fakta mengenai dirinya. Kali ini ia tidak akan terlalu ambil bagian dalam menghancurkan Aiden, karena yang akan menghancurkan pria itu adalah wanita yang sangat dicintainya sendiri, Calistha.

“Aku tidak bisa. Aku terlalu malu untuk bertemu dengan Aiden. Apa yang dikatan olehnya memang benar, aku adalah wanita egois yang selalu menyakiti semua orang yang berada di sekitarku. Aku jahat, aku wanita yang kejam dan tidak memiliki perasaan.” Raung Calistha menjadi-jadi. Tiffany tampak gusar di sebelah Calistha sambil menggeram tanpa suara. Ia pikir adiknya ini memang merepotkan dan cengeng. Padahal dulu Calistha selalu tampak kuat dan keras kepala, tapi setelah ia hamil, emosinya menjadi sering berubah-ubah dan terkadang ia terlalu melankolis seperti ini.

Ck, apa yang harus kulakukan pada wanita sialan ini?

Tiffany membatin gusar sambil terus membelai rambut Calistha lembut. Sekarang ia merasa kehabisan kata untuk menghibur Calistha karena wanita itu semakin kencang menangis setelah ia menghiburnya. Suasana di sekitar mereka yang sunyi dan senyap juga semakin mendukung aura kesedihan Calistha untuk menguar di udara yang dingin dan mencekam. Apalagi saat ini mereka masih berada di alun-alun kota, tempat dimana mayat Gazelle masih tergantung di atas tiang dengan posisi yang sangat mengenaskan. Jika dipikir-pikir sebenarnya ini adalah saat yang tepat untuk membawa Calistha pergi. Andai saja Gazelle masih hidup, wanita itu pasti akan bersorak senang di sebelahnya sambil membisikan rencana jahat untuk Calistha. Tapi, ia tidak ingin terlalu terbawa emosi mengenai Gazelle. Sekarang sudah menjadi tanggungjawabnya untuk mengambil alih rencana balas dendam ini. Ia bersumpah akan membuat Gazelle bahagia di surga dengan kemenangannya atas Aiden dan Calistha nanti.

“Calistha…” Panggil Tiffany lembut. Seketika Calistha langsung mendongak menghadap Tiffany dengan mata sembabnya yang merah. Kedua matanya yang berair tampak redup dan kehilangan sinar. Namun meskipun begitu Tiffany tetap menariknya untuk berdiri dan menggandeng tangannya erat sambil berjalan menjauh keluar dari area alun-alun.

“Ada apa?”

“Ikutlah denganku.” Jawab Tiffany dengan penuh keyakinan sambil menuntun Calistha keluar dari area alun-alun dan berjalan menjauhi pusat kota Khronos.

-00-

Tetes demi tetes darah mengalir membasahi lantai kayu yang kotor dan lembab. Seorang pesakitan saat ini tengah mengerang keras di hadapan Aiden dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Malam ini Aiden kembali melakukan rutinitasnya yang dulu sering ia lakukan sebelum Calistha datang ke dalam kehidupannya, yaitu menyakiti para pesakitan yang tinggal di dalam penjara bawah tanahnya. Malam ini Aiden telah berhasil membunuh dua pesakitan, dan masih tersisa ratusan pesakitan yang akan ia eksekusi malam ini. Binar bahagia tampak terpancar di mata Aiden kala ia melihat korbannya terus berteriak-teriak memohon ampun padanya sambil merintih kesakitan karena Aiden baru saja menyayat wajahnya.

“Toloooonggggg, ampunn Yyy Yang Mulia, aarghhhhhhh…….”

Suara teriakan melolong itu terdengar begitu nyaring di dalam ruangan sempit nan kotor yang digunakan Aiden untuk mengeksekusi korban-korbannya. Tapi seperti seorang cacat yang tuli, Aiden seolah-olah tidak mendengar suara teriakan mereka dan terus menyayat bagian-bagian tubuh mereka dengan sesuka hati tanpa ampun.

“Teruslah berteriak, dan aku semakin bernafsu untuk menguliti tubuhmu satu persatu.” Bisik Aiden kejam. Pesakitan itu mulai merinding ketakutan ketika Aiden mulai mengarahkan pisau belatinya pada bagian dada kiri. Ia tahu setelah ini Aiden akan mulai menyayati kulit dadanya hingga menembus ke dalam jantung dan hingga akhirnya nanti ia mati. Dan rasanya, sungguh ia tidak bisa membayangkannya. Andai saja ia bisa meminta, maka ia lebih baik dibunuh dengan cara dipenggal daripada dibunuh secara perlahan seperti ini dan harus merasakan kesakitan yang luar biasa.

“Yyyang Mulia Aaaiden, bunuh saja sssaya. Jjjangan lakukan la…Argggggggghh.”

Pria itu kembali berteriak kesakitan seiring dengan tangan-tangan lihai Aiden mulai mengiris kulit dadanya perlahan. Sedangkan ekspresi wajah Aiden benar-benar terlihat kontras dengan wajah sang pesakitan yang tampak menitikan air mata, saat ini Aiden sedang tersenyum bahagia atas penderitaan orang lain.

“Ini adalah balasan bagi pengkhianat busuk sepertimu! Sudah berapa banyak informasi yang kau jual pada pihak musuh, hah? Dasar menjijikan! Kau memberi makan anak dan isterimu dengan sampah busuk dari musuh-musuhku. Kau memang pantas merasakan kesakitan ini.”

“Argggggggghhhhhhhhhhh!”

Aiden lagi-lagi menyayat kulit pria itu dengan belati kecilnya yang tajam. Darah segar mengalir melewat belati yang digenggamnya hingga ke ujung jubah panjang yang dikenakannya. Saat ini ia terlihat seperti seorang psikopat yang haus akan darah. Tapi ia tidak peduli! Selama hal itu dapat mengobati rasa sesaknya yang mengganggu, ia akan melakukannya, menyakiti orang-orang yang memang harus disakiti dengan sangat kejam.

“Yang Mulia, tolong hentikan sebentar.”

Tiba-tiba Spencer datang dengan wajah khawatir yang kentara. Sementara itu Aiden tampak gusar dan langsung melemparkan pisaunya begitu saja ke atas meja sambil mengelap tangannya yang penuh darah dengan kain putih yang telah dipenuhi oleh bercak darah.

“Kau berani mengganggu kesenanganku. Cepat katakan berita apa yang kau bawa, jika kau membawa berita yang tidak penting, maka kau akan menggantikannya untuk menjadi korbanku.” Dengus Aiden kesal. Spencer tampak tenang dan hanya menundukan kepalanya dalam. Sekian tahun mendampingi Aiden sebagai pengawalnya, ia sudah terbiasa dengan semua ini, bahkan terkadang ia ikut membantu Aiden untuk menyiksa para pesakitan yang berada di penjara bawah tanah.

“Maafkan saya Yang Mulia, ini mengenai Yang Mulia Calistha.”

“Ada apa lagi dengannya? Apa ia membuat kekacauan lagi dan saat ini sedang merepotkan penghuni istana?” Tanya Aiden malas. Saat ini ia sedang tidak ingin membahas Calistha dan melihat wanita itu. Rasanya jika ia melihat Calistha, maka hatinya akan kembali sakit karena sikap wanita itu padanya.

“Bukan Yang Mulia, tapi…. saat ini Yang Mulia Calistha hilang.”

“Apa! Hilang. Keparat, apa lagi yang dilakukan wanita bodoh itu.” Murka Aiden sambil menggenggam belati tajamnya yang ia letakan di atas meja. Lalu sedetik kemudian Aiden langsung menusukan belati itu ke dalam jantung sang pesakitan hingga pesakitan itu tewas di tempat dengan keadaan yang mengenaskan.

Jleb

“Kalian memang selalu bekerja dengan tidak becus. Cari wanita bodoh itu sekarang dan bawa dia ke hadapanku!” Perintah Aiden marah. Spencer yang melihat keganasan rajanya hanya mengangguk patuh sambil berlalu pergi untuk mencari calon ratunya yang menyusahkan. Padahal ia kira kehidupannya setelah Gazelle pergi akan sedikit lebih tenang dan damai. Tapi pada kenyataanya tidak ada perubahan yang berarti setelah Gazelle pergi. Keadaan di kerajaan masih tetap saja, dan rajanya yang kejam itu masih tetap kejam dan justru semakin kejam. Lalu apa artinya kematian Gazelle dan pengorbananya kemarin jika pada kenyataanya kematian Gazelle tidak membawa pengaruh apapun pada Aiden?

-00-

Saat ini seluruh penghuni istana tampak sibuk mencari dimana keberadaan Calistha. Seluruh prajurit juga dikerahkan untuk menyisir ke setiap penjuru kerajaan Khronos demi mencari Calistha yang telah kabur. Sementara itu Aiden tampak bersedekap dengan gusar karena para prajuritnya sama sekali belum memberikan kabar mengenai keberadaan Calistha, padahal mereka sudah mencari-cari keberadaan Calistha selama satu jam lamanya. Akhirnya Aiden memutuskan untuk ikut mencari Calistha karena ia merasa jengah dengan kerja anak buahnya yang tidak becus. Padahal seharusnya mencari keberadaan Calistha adalah perkara yang mudah, mengingat ia juga tengah hamil. Tapi kenyataanya prajurit-prajuritnya sama sekali tidak bisa diandalkan untuk mencari Calistha. Mereka hanya terus berputar-putar tanpa membuahkan hasil sama sekali. Benar-benar payah!

“Yang Mulia, anda mau pergi ke mana?”

Tiba-tiba Spencer muncul sambil menatap heran pada Aiden. Pria itu berjalan mendekat pada Aiden sambil membungkuk hormat dengan wajah yang langsung ia tundukan dalam. Ia tahu saat ini Aiden sedang dalam mood yang buruk. Salah sedikit saja bisa-bisa ia langsung mendapat amukan yang dahsyat dari rajanya yang kejam itu.

“Aku akan turun tangan untuk mencari Calistha, mereka benar-benar tidak becus dan tidak bisa diandalkan. Lalu bagaimana denganmu, apa kau sudah menemukan keberadaan Calistha?”

“Maafkan saya Yang Mulia, saya belum mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan Yang Mulia Calistha, tapi saya akan berusaha lebih keras lagi untuk mencari Yang Mulia ratu.”

Aiden berdecak kesal pada Spencer karena pengawal setianya pun sama-sama payah. Ia benar-benar harus mencari keberadaan Calistha sendiri dan menyeret wanita itu pulang ke dalam istananya. Berani-beraninya wanita itu kabur dari istananya setelah apa yang telah Calistha lakukan dulu hingga menyebabkan kerajaanya harus berperang melawan kerajaan Bibury. Dan nanti setelah wanita itu ia temukan, ia akan memberikan pelajaran pada wanita itu agar ia tidak terus menerus bertindak bodoh berdasarkan egonya.

“Ck, kau sama saja dengan prajurit-prajurit lambat itu. Kalau begitu aku memang harus turun tangan untuk menemukan wanita bodoh itu dan menyeretnya pulang ke istana. Kau, lanjutkan pencarianmu ke daerah perbatasan, mungkin saja ia memang ingin pergi keluar dari Khronos karena sikapku yang terlalu keras padanya.”

“Memangnya apa yang anda lakukan pada Yang Mulia Calistha?”

Satu pertanyaan itu langsung lolos begitu saja dari bibir Spencer setelah Aiden tanpa sadar bergumam pelan mengenai alasan kepergian Calistha. Seketika Aiden langsung mendelik tajam pada Spencer sambil mendengus gusar. Ia benar-benar tidak suka jika urusannya dicampuri oleh orang lain, apalagi ini adalah urusan pribadinya dengan Calistha. Ia tidak mungkin akan memberitahukannya pada Spencer.

“Kau tidak perlu tahu, bukan urusanmu.” Jawab Aiden datar. Spencer yang mengetahui ucapannya salah langsung merasa salah tingkah, dan selajutnya ia langsung menunduk sambil meminta maaf pada Aiden.

“Maafkan saya Yang Mulia, saya akan segera menemukan Yang Mulia Calistha.”

Setelah itu Spencer langsung berlalu pergi meninggalkan Aiden sendiri yang masih tampak gusar dengan sikap ingin tahu Spencer yang sangat menyebalkan.

“Dasar, sekarang ia mulai berani padaku. Aku harus memperlakukannya lebih keras lagi.” Gumam Aiden kesal. Pria itu kemudian berjalan pergi menuju aula utama untuk bersiap mencari Calistha. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, sosok wanita yang sejak tadi menjadi objek pencariannya tiba-tiba muncul di hadapannya dengan wajah takut dan juga mata sembab. Wanita itu terlihat begitu canggung berada di hadapannya sambil memilin ujung gaunnya berkali-kali. Lalu tak lama kemudian munculah Tiffany dari balik tubuh rampingnya sedang menatap matanya dengan tatapan tajam dan juga senyum licik yang terpatri di wajah cantiknya.

“Oh, akhirnya kau kembali.” Ucap Aiden datar tanpa menatap Calistha. Kedua matanya saat ini tengah fokus menatap kedua manik Tiffany sambil menguarkan aroma mengintimidasi dari tubuhnya. Namun seakan-akan tak terpengaruh dengan semua itu, Tiffany justru membalasnya dengan tatapan mata yang tak kalah tajamnya dengan tatapan matanya. Ditambah lagi dengan sikap menantangnya yang sangat memuakan membuatnya ingin segera melenyapkan wanita itu dari dunia ini sekarang juga seperti ia melenyapkan Gazelle.

“Mmmaafkan aku, aku tahu aku salah.” Ucap Calistha takut-takut dengan suara bergetar. Seketika perhatian Aiden langsung teralihkan pada Calistha, dan kini ia justru menatap Calistha sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan kesal. Wanita ini memang benar-benar merepotkan. Emosinya mampu dijungkirbalikan begitu saja oleh wanita itu dengan mudah. Bahkan kemarahannya yang sejak tadi meluap-luap dan terasa panas di sekujur tubuhnya, tiba-tiba saja hilang dan digantikan dengan perasaan lega yang begitu menenangkan. Tadi ketika Spencer memberitahukan padanya jika Calistha dan Tiffany tidak ada di dalam istana, seluruh tubuhnya menjadi kaku dan tegang. Ia sangat takut jika Tiffany akan mencelakakan Calistha di luar sana, tapi syukurlah semua itu tidak terjadi. Saat ini Calistha berdiri di hadapannya dengan keadaan sehat dan tampak baik-baik saja. Hanya matanya yang tampak sembab dan bengkak, tapi ia yakin itu bukan karena perbuatan Tiffany, tapi karena perbuatan kasarnya.

“Dari mana saja kau? Kau membuat seisi istana gempar karena tiba-tiba saja kau menghilang dari istanaku? Apa kau ingin mengulang kenangan buruk di masa lalu?” Tanya Aiden datar. Ia sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda marah, namun ia juga tidak menunjukan sikap yang bersahabat. Pria itu benar-benar datar tanpa ekspresi dengan suara dinginnya yang mencekam.

“Aaaku… aku.. maafkan aku.”

Calistha tampak begitu kesulitan untuk menjawab pertanyaan Aiden. Sejak tadi ia hanya memilin-milin ujung gaunnya tanpa berani menatap manik mata Aiden yang legam. Merasa gusar dengan sikap Calistha yang tak kunjung menjawab pertanyaannya, akhirnya Aiden memutuskan untuk menyuruh Calistha pergi ke kamarnya. Ia pikir ia akan menanyai Calistha secara pribadi tanpa ada Tiffany di sana. Dan saat ini ia akan mengintrogasi Tiffany terlebihdahulu. Mengapa wanita itu membawa Calistha kembali padanya, sedangkan ia sangat ingin membunuh Calistha dan melakukan balas dendam padanya.

“Masuklah ke kamarmu sekarang.” Perintah Aiden tegas. Seperti seorang anak kecil berumur lima tahun, Calistha langsung mengangguk patuh dan segera pergi menuju kamarnya. Sementara itu Tiffany tampak tersenyum santai pada Aiden sambil menatap kepergian Calistha dengan tatapan geli yang dipaksakan.

“Haha, kehamilannya merubah Calistha menjadi wanita yang lemah seperti itu.” Ucap Tiffany santai sambil mengendikan dagunya ke arah Calistha. Namun tiba-tiba Aiden langsung menarik lengannya dan mencengkeramnya dengan kuat hingga Tiffany merasa kesakitan dan gusar.

“Apa yang kau lakukan, lepaskan aku.” Marah Tiffany sambil meronta-ronta. Seketika tatapan geli yang sebelumnya ia tunjukan langsung berubah menjadi tatapan marah yang dipenuhi dengan kebencian. Dan justru itulah sikap asli Tiffany.

“Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?” Bisik Aiden penuh penekanan. Tiffany yang awalnya meronta-ronta langsung membalas tatapan menusuk Aiden dengan seringaian liciknya yang tak kalah mengerikan. Ia tidak takut pada Aiden.

“Huh, kau ingin tahu apa yang sedang kurencanakan? Cobalah menerkanya dengan kekuatan ajaibmu, kau bisa melakukannya bukan?” Balas Tiffany santai. Mendengar hal itu Aiden menjadi sangat marah dan langsung mencengkeram lengan Tiffany dengan lebih keras. Tak peduli jika kekuatan cengkeramannya akan meremukan lengan Tiffany, justru ia akan sangat senang jika hal itu terjadi pada wanita licik itu.

“Jika kau berani menyentuh Calistha, maka aku akan membunuhmu dengan cara yang lebih kejam daripada Gazelle.” Ancam Aiden mengerikan. Namun Tiffany tampak tak terpengaruh dan hanya sibuk meronta-ronta karena lengannya terasa sakit.

“Lepaskan, kau menyakiti lenganku.” Balas Tiffany tak kalah galak. Aiden kemudian langsung melepaskan cengkeraman tangannya begitu saja sambil menghempaskan tubuh Tiffany ke belakang. Lalu ia segera berjalan pergi meninggalkan Tiffany yang masih setia berdiri di belakangnya sambil menyeringai sinis ke arahnya.

“Aiden, aku tidak takut dengan ancamanmu. Dan kau tidak akan bisa membunuhku karena sebelum kau melakukannya, aku yang akan membunuhmu terlebihdahulu, melalui Calistha.” Bisik Tiffany licik pada udara kosong di sekitarnya. Namun, tanpa diduga seseorang telah mendengar bisikannya sambil bersembunyi di belakang pilar. Dan saat Tiffany berjalan pergi melewati pilar, orang itu langsung bersembunyi di balik patung prajurit berbaju zirah sambil menatap Tiffany dengan tatapan yang sulit diartikan.

-00-

Calistha masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan gamang yang begitu mengganggu di dalam dadanya. Seharusnya Tiffany tidak menuntunnya untuk kembali ke istana, tapi wanita itu terus memaksanya dan menariknya dengan susah payah agar ia segera masuk ke dalam istana. Apalagi mereka sebelum masuk ke dalam istana sempat berpapasan dengan salah satu prajurit yang wajahnya tampak kelelahan. Dan saat bertemu dengannya prajurit itu langsung berbinar senang dan langsung membungkuk hormat padanya sambil mengatakan jika Aiden sudah mencarinya sejak tadi. Akhirnya ia terpaksa masuk ke dalam istana karena ia merasa tidak tega dengan prajurit-prajurit yang telah diperintahkan oleh Aiden untuk mencarinya. Mereka pasti sangat lelah dan juga kebingunagan karena sejak tadi ia dan Tiffany berjalan melewati jalan rahasia yang hanya diketahaui oleh Tiffany, jalan yang biasanya digunakan oleh Tiffany untuk menyusup keluar dari istana.

Calistha kemudian memutuskan untuk merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi cahaya lampu yang indah. Terbayang dibenaknya bagaimana kamar Aiden yang gelap dan bagaimana kamarnya yang selalu dipenuhi oleh cahaya yang terang. Mereka berdua sebenarnya memiliki latar belakang yang sangat berbeda. Ia adalah wanita yang penuh keceriaan dan dibesarkan dengan penuh cinta oleh orang-orang yang mencintainya. Tapi Aiden, pria itu sudah terbiasa merasakan kesakitan di masa kecilnya sehingga ia tumbuh menjadi pria kaku yang kejam. Namun perlahan-lahan ia dapat beradaptasi dengan cahaya gelap Aiden dan dapat menyesuaikan diri dengan kepribadian Aiden yang kejam. Begitu pun sebaliknya, Aiden juga dapat beradaptasi dengan kepribadiannya yang penuh warna seperti warna lampu yang dipancarkan di atas langit-langit kamarnya. Lalu apa lagi yang membuatnya ragu pada Aiden dan tidak bisa sepenuhnya memberikan cintanya pada Aiden? Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya hingga membuatnya merasa pusing dan frustasi. Padahal Aiden telah banyak berkorban untuknya dan memberikan tempat yang begitu tinggi di sisinya, tapi ia dengan kejamnya selalu menyakiti Aiden dengan sikapnya yang egois.

            Apa aku harus meminta maaf pada Aiden lagi?

Kriett

Suara derit pintu kayu yang dibuka membuat Calistha langsung melompat bangun dari posisi tidurnya. Melihat Aiden yang datang, Calistha hanya mampu menundukan kepalanya tanpa berani untuk menghampiri Aiden yang saat ini sedang berjalan menghampirinya. Ia merasa tidak tahu harus melakukan apa pada Aiden. Ia masih merasa bersalah dengan semua sikap jahatnya pada pria itu.

“Kau belum tidur?”

“Apa? Aa belum, aku baru saja masuk.” Jawab Calistha seadanya. Aiden hanya mengendikan bahu ringan sambil tetap berjalan menghampiri Calistha yang masih setia berdiri di tempatnya dengan tubuh kaku.

“Ada apa denganmu? Apa kau sakit?”

Tangan kanan Aiden langsung terulur ke depan untuk meraba kulit dahi Calistha yang berkerut. Namun Calistha justru berjalan mundur sambil menggelengkan kepalanya, sedangkan telapak tangan Aiden masih menggantung di udara.

“Kau menghindariku?” Tanya Aiden datar. Tangan kanannya ia turunkan perlahan namun langkah kakinya tetap berjalan maju untuk menggapai Calistha. Ia tahu wanita itu saat ini merasa takut padanya karena insiden sore tadi. Tapi saat ini ia tidak ingin mengungkit hal itu lagi. Ia akan menganggap jika hal itu tidak pernah terjadi dan ia hanya ingin hubungannya dengan Calistha kembali seperti dulu, damai dan penuh cinta, meskipun semu.

“Maafkan aku.”

Kini Calistha tampak memberanikan diri untuk menatap manik legam Aiden dengan mata yang terlihat berkaca-kaca. Wanita itu terlihat begitu terluka dam merasa bersalah dengan semua hal yang telah ia lakukan. Lalu sedetik kemudian Calistha langsung mengangkat tangannya untuk merengkuh tubuh Aiden ke dalam pelukannya. Ia sangat merindukan Aiden.

“Maafkan aku, aku mengaku salah.” Ucap Calistha lirih. Aiden menepuk punggung Calistha pelan sambil menghela napas kecil. Wanita itu memang membingungkan. Ia tidak tahu bagaimana pola pikir Calistha sebenarnya, tapi Calistha benar-benar membuatnya bingung dengan sikapnya yang berubah-ubah.

Apakah itu karena kehamilannya?

“Darimana saja kau?”

“Aku hanya pergi ke luar untuk menjernihkan pikiranku.” Bohong Calistha dengan ragu. Saat ini ia tidak mungkin mengatakan pada Aiden jika ia berniat untuk kabur dari kerajaannya. Malam ini ia hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan Aiden yang sore tadi sempat terganggu, dan ia tidak akan berusaha untuk memancing konfrontasi apapun pada Aiden, kecuali jika pria itu yang memulainya.

“Tanpa ijin dariku dan tanpa ditemani oleh Yuri dan Sunny? Apa kau berniat untuk kabur dari kerajaanku, dan dariku?” Selidik Aiden sambil menelisik wajahnya. Seketika pipi Calistha menjadi bersemu merah karena jarak wajah Aiden yang begitu dekat dengan wajahnya. Meskipun mereka sudah pernah berada dalam jarak sedekat itu, tapi tetap saja Calistha akan merasa merona jika Aiden berada dalam jarak yang sedekat ini.

“Tttidak, aku benar-benar hanya ingin menjernihkan pikiranku.” Elak Calistha terbata-bata sambil mencoba untuk menjauh dari Aiden. Tapi Aiden langsung menahan langkahnya karena pria itu masih belum selesai dengannya. Pria itu masih ingin menanyakan banyak hal pada Calistha sekaligus memberikan hukuman atas perbuatan nekat yang wanita itu lakukan.

“Aku tahu kau berbohong padaku, kau berniat kabur dari istanaku karena aku membentakmu dengan sangat kasar sore tadi. Ck, ternyata kau sepengecut itu. Kau dengan mudahnya lari dari masalah yang kau perbuat dengan kabur dariku. Apakah semua keturunan raja Kairos memang seperti itu?”

Calistha langsung merasa tersinggung dengan ucapan Aiden. Meskipun ia pengecut karena berniat untuk kabur dan menghindari masalahnya dengan Aiden, tapi ia tidak suka jika kerajaannya dan kedua orangtuanya harus dilibatkan dalam masalah ini. Jelas-jelas semua ini tidak ada hubungannyaa dengan mereka, untuk apa Aiden menyeret mereka ke dalam masalah ini? Apa karena Aiden sangat membenci keluarganya dan kerajaanya yang telah menyebabkan hidupnya menderita selama ini?

“Mereka tidak ada hubungannya dengan semua ini. Semua sikapku ini bukan karena aku adalah keturunan dari kerajaan Kairos, tapi karena sikapmu yang menyebalkan.” Ucap Calistha geram. Aiden tampak menyeringai sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia suka melihat Calistha dalam keadaan marah seperti ini. Karena Calistha akan terlihat lebih cantik dan juga seksi saat marah.

“Tentu saja mereka berhungan dengan semua ini, karena mereka telah menyumbangkan salah satu sifat menyebalkanmu yang pembangkang dan suka bebuat semaumu sendiri. Memangnya siapa lagi yang akan mewariskan sifat itu jika bukan kedua orangtuamu, raja dan ratu Kairos.”

“Hentikan! Aku tahu jika mereka telah membuat hidupmu menjadi berantakan seperti ini, tapi kumohon jangan melibatkan mereka dalam masalah ini karena mereka memang benar-benar tidak ada hubungannya dengan semua ini. Semua ini karena sikap keras kepala dan sikap egoisku yang besar. Aku mengaku salah, aku memang berniat untuk kabur dan pergi sejauh-jauhnya darimu.”

“Kau berniat memisahkanku dengan anakku sendiri?” Tanya Aiden dengan ekspresi wajah murka. Calistha tampak menghela nafas pelan sambil menatap Aiden penuh penyesalan. Ia merasa masalah ini akan sangat panjang nantinya.

“Aku tidak bermaksud akan memisahkanmu dengan anak ini, aku hanya ingin pergi darimu karena aku merasa bersalah. Aku merasa tidak pantas menjadi ratumu karena aku tidak pernah memberikan apapun padamu. Kau sudah terlalu banyak berkorban untukku. Bahkan kau memberikan posisi yang sangat tinggi untukku. Aku malu pada diriku sendiri Aiden, aku merasa tidak pantas untuk mendapatkan semua itu.” Ucap Calistha frustasi. Aiden menatap datar Calistha tanpa kata dan hanya memandang wajah sendu itu tanpa ekspresi. Entah apa yang saat ini tengah dipikirkan Aiden tentangnya, yang jelas ia merasa pasrah dengan semua hal yang akan dilakukan Aiden padanya. Jika Aiden memang ingin memarahinya dan menghujaninya dengan berbagai macam makian, ia akan menerima semua itu dengan lapang dada. Asalkan Aiden tidak mengungkit-ungkit keluarganya yang telah tenang di alam sana, ia tidak suka jika keluargannya dijadikan sebagai alasan atas sikapnya yang keras kepala dan pembangkang ini.

“Kau sudah selesai? Apa kau merasa puas dengan semua hal yang kau lakukan hari ini? Apa kau puas telah membuat seluruh pengawalku kelelahan hanya untuk mencarimu ke seluruh penjuru Khronos?” Tanya Aiden datar. Saat ini pria itu tampak sudah terpancing emosi dan sangat ingin menghujani Calistha dengan berbagai macam makian dan bentakan. Tapi ia sekuat tenaga menahan semua keinginan itu demi menjaga hati Calistha. Ia tidak ingin wanita itu kembali terluka seperti tadi. Dan sebenarnya ia sendiri cukup menyesali hal itu. Tidak seharusnya Calistha menatapnya dengan pandangan ketakutan seperti tadi, seharusnya Calistha menatapnya dengan tatapan penuh cinta dan memuja.

“Aiden, terkadang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan hidupku saat ini. Aku takut. Aku memiliki banyak ketakutan di dalam kepalaku yang membuatku selalu takut untuk mencintaimu dan memberikan seluruh hidupku untukmu. Maaf, aku belum mempercayaimu sepenuhnya. Tapi aku juga tidak akan menampik jika aku mulai nyaman berada di dekatmu dan aku juga merasa kosong jika kau tidak muncul di hadapanku. Dan yang terpenting kau adalah ayah dari bayi yang kukandung. Kita telah memiliki ikatan yang sangat kuat dengan kehadiran bayi ini. Jadi kuharap kau bisa menungguku. Tapi jika kau tidak bisa menunggu, kau bisa mencari wanita lain yang lebih mencintaimu daripada aku.” Ucap Calistha lirih. Aiden jelas-jelas tidak menyukai ucapan Calistha yang terakhir karena wanita itu seakan-akan mengijinkannya untuk berselingkuh dengan wanita lain. Lalu apa artinya semua kemarahannya hari ini jika Calistha masih tetap mengijinkannya untuk mencintai wanita lain, sementara ia telah menjelaskan pada wanita itu jika ia tidak mungkin mencintai wanita lain selain dirinya.

“Memangnya siapa yang berhak memutuskan hal itu? Ini adalah hidupku, aku bebas memilih wanitaku sendiri. Dan aku sudah memutuskan untuk memilihmu, meskipun kau keras kepala, pembangkang, dan berasal dari keturunan Kairos, aku tidak peduli.”

“Hah, aku tidak tahu apa yang harus kukatan padamu selain ucapan terimakasih. Terimakasih Aiden atas ketulusan hatimu, aku… aku akan berusaha untuk mencintaimu sepenuh hati.”

Calistha kemudian memberanikan diri untuk mencium bibir Aiden sebagai hadiah atas ketulusan dan kesungguhan pria itu mencintainya. Tak pernah terbayang sebelumnya di dalam benaknya bahwa ia akan mendapatkan cinta yang begitu besar seperti ini. Betapa beruntungnya ia karena terlahir sebagi pasangan dari Aiden, karena pria yang ditakdirkan untuknya benar-benar sangat sempurna dan ia tidak yakin bisa mendapatkan pria lain yang sebaik dan setulus Aiden seperti ini.

Aiden membalas pangutan yang dimulai Calistha dengan ciuman penuh perasaan dan menggebu-gebu. Rasanya bibir merah itu telah menjadi candu tersendiri baginya. Ia tidak bisa melupakan rasa bibir itu setiap ia sedang berada jauh dari Calistha. Menurutnya bibirnya dan bibir milik Calistha memiliki daya tarik yang begitu kuat seperti dua batang magnet yang akan terus tertarik satu sama lain dimanapun dan kapanpun mereka berada.

Kruukk

Ciuman mereka tiba-tiba terhenti ketika Aiden mendengar suara aneh yang berasal dari tubuh Calistha. Sedangkan Calistha tampak begitu terkejut sambil menyembunyikan rona merah yang tercetak jelas di wajahnya. Baru saja perutnya berbunyi cukup nyaring karena siang ini ia belum memakan apapun. Sebenarnya malam ini ia berniat untuk makan, tapi ia justru bermasalah dengan Aiden hingga akhirnya ia memutuskan untuk  mengabaikan makan malamnya dan memilih untuk pergi dari istana Khronos. Tapi lihat saja apa yang terjadi dari hasil perbuatannya itu, ia saat ini justru merasa lapar setengah mati dan berakhir dengan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Aiden. Setelah ini ia yakin Aiden akan mengolok-olok suara perutnya yang berisik dan memalukan itu.

“Kau lapar? Kau belum makan?”

Calistha mengangguk pasrah sambil memeluk perutnya erat. Aiden kemudian kembali berdecak sambil menarik lengan Calistha untuk keluar dari kamarnya. Ia akan membawa Calistha ke dapur agar wanita itu dapat meminta pada koki istana untuk memasakan makanan sesuai dengan keinginannya. Apalagi saat ini Calistha sedang hamil, dan biasanya wanita hamil terkadang menginginkan sesuatu untuk dimakan sebagai akibat dari lonjakan hormon yang dialaminya.

“Kita mau kemana?” Tanya Calistha heran. Tiba-tiba saja Aiden menariknya keluar dari kamarnya dan diseret menuju bagian lain istana. Tapi ia sudah dapat menduga jika Aiden pasti akan menyeretnya menuju dapur karena tidak ada tempat lain yang akan didatangi Aiden setelah pria itu dengan telinganya sendiri mendengar suara perutnya yang kelaparan.

“Dapur, kau bisa meminta koki istana untuk memasakan makanan yang kau suka.” Jawab Aiden datar. Kali ini Calistha memilih mengalah dengan diam dan hanya mengikuti langkah lebar kaki Aiden yang terus membawanya menuju dapur.

“Yang Mulia, selamat malam.”

Seorang koki yang sedang membersihkan perlengkapan dapur langsung berdiri hormat sambil tersenyum lembut pada Aiden dan Calistha. Aiden yang melihat bahwa pria muda itu adalah koki di kerajaannya langsung memerintahkan pria itu membuatkan Calistha sepiring makanan yang disukainya. Namun tanpa diduga Calistha justru mencegah koki itu pergi karena hari ini ia sedang ingin memakan masakan Aiden.

“Tunggu, aku sedang tidak ingin memintamu untuk memasakanku makanan. Aku dan bayiku ingin memakan masakan yang dibuat oleh raja Aiden.” Ucap Calistha lembut pada pelayan itu. Seketika Aiden langsung mendengus di sebelah Calistha dan tetap meminta koki itu untuk memasak.

“Jangan bercanda Cals, kau akan memakan masakan dari koki istana.” Geram Aiden jengkel. Jika Calistha terus menguji kesabarannya seperti ini, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada Calistha nanti. Ia merasa benar-benar sudah kehabisan kesabaran dengan sikap Calistha yang kelewat menyebalkan hari ini.

“Aku tidak mau, aku hanya ingin makanan yang dibuat olehmu. Entah mengapa aku sangat ingin melihatmu memasak. Aiden, kumohon… aku dan bayiku membutuhkan asupan nutrisi yang cukup, dan sekarang kami merasa lapar.” Rengek Calistha kekanakan. Aiden tampak menipiskan bibirnya jengkel sambil menatap penuh intimidasi pada koki istana yang sedang menatapnya dan juga Calistha dengan tatapan mata geli.

“Apa yang kau lihat? Kau ingin aku mencongkel kedua matamu yang lacang itu, hah?” Bentak Aiden mengerikan. Koki istana itu langsung menundukan kepalanya dan tampak tidak berani menatap Aiden dan Calistha lagi. Sementara itu, Calistha langsung terkikik pelan ketika melihat reaksi koki istana itu yang sangat lucu. Padahal Aiden tidak mungkin melakukan hal itu, tapi ia sudah sangat ketakutan dan bergetar seperti itu. Lain kali ia akan menasehati Aiden agar ia jangan terlalu keras pada pelayan-pelayannya.

“Maafkan saya Yang Mulia, saya tidak bermaksud seperti itu. Jika anda ingin memasak untuk Yang Mulia Calistha, anda bisa menggunakan dapur sekarang.” Ucap koki itu masih dengan kepala menunduk. Aiden menatap Calistha dengan sorot datar, sedangkan Calistha tampak memohon sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Sambil membuang nafas gusar, Aiden lalu memerintahkan koki itu untuk membawanya ke lemari penyimpanan bahan makanan, karena ia akan memasak makanan untuk Calistha dan bayinya.

“Tunjukan dimana letak lemari penyimpanan bahan makanan padaku.” Titah Aiden penuh kuasa. Mendengar hal itu Calistha langsung bersorak girang sambil berjalan mengikuti Aiden yang telah terlebihdahulu berjalan meninggalkannya. Salah satu tangannya yang bebas refleks mengelus perutnya yang rata sambil bergumam pada calon bayinya jika hari ini mereka akan memakan masakan Aiden yang sangat lezat.

“Nak, sebentar lagi kita akan memakan masakan buatan ayahmu.” Celoteh Calistha riang. Sementara itu Aiden yang berada di depannya tampak mendengus kesal pada sikap Calistha yang terus menerus merepotkannya. Wanita itu benar-benar telah membuatnya harus merasakan emosi yang meluap-luap di dalam hatinya dan juga membuatnya harus ekstra bersabar dalam menghadapi kehamilannya yang mulai aneh. Sekarang Calistha lebih cengeng dan suka merajuk padanya jika ia sudah mulai berlaku keras pada wanita itu. Dan sekarang dengan seenaknya wanita itu menyuruhnya untuk memasak makanan, padahal ia sama sekali tidak pernah memasak. Satu-satunya resep masakan yang diketahuinya adalah cara membuat sup jamur yang pernah diajarkan oleh mendiang ibunya yang bertahun-tahun lalu. Tapi ia berharap semoga Calistha menyukainya, karena ia benar-benar tidak bisa memasakan makanan lain selain itu. Lagipula jika Calistha tidak menyukainya, sudah pasti ia akan memarahi wanita itu habis-habisan dan menghukumnya karena telah mempermalukannya di depan seluruh staff dapur. Bagaimana tidak, seorang raja yang selalu dingin dan arogan tiba-tiba masuk ke dalam dapur untuk membuat semangkuk sup jamur, rasanya itu terlihat aneh dan menggelikan.

“Ini adalah lemari penyimpanan bahan sayuran dan daging. Sedangkan lemari berwarna abu-abu itu adalah tempat penyimpanan bahan-bahan kering seperti jamur dan bumbu-bumbu. Lalu lemari coklat yang berada di ujung ruangan adalah tempat untuk menyimpan gandum.” Terang koki itu menjelaskan. Seluruh penghuni dapur yang awalnya sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing langsung menegang kaku di tempat sambil mencuri-curi pandang pada Aiden dan Calistha yang tiba-tiba datang ke dalam area mereka. Melihat hal itu, Calistha langsung tersenyum lembut pada mereka dan menyuruh mereka untuk tetap berkonsentrasi pada pekerjaan mereka. Namun Aiden, pria itu justru memasang wajah galaknya yang mengerikan sambil menebarkan aura mengintimidasi pada seluruh penghuni dapur yang berani mencuri-curi pandang padanya.

“Apa yang kalian lihat? Kembali pada pekerjaan kalian! Apa kalian ingin pedangku ini melayang ke kedua mata kalian.” Teriak Aiden galak. Seluruh tatapan mata yang awalnya sibuk mencuri-curi pandang langsung beralih begitu saja tanpa berani untuk menatap Aiden dan Calistha lagi.

“Sediakan aku satu tempat untuk memasak sup jamur, dan aku akan mengambil bahan-bahan makanan yang kuperlukan sendiri.” Ucap Aiden pada koki istana. Setelah itu Aiden langsung berjalan begitu saja menuju lemari penyimpanan sayur dan daging untuk mengambil bahan masakan yang akan ia masak.

Sementara itu Calistha tampak sedang mendudukan dirinya di atas kursi kayu sambil bertopang dagu. Ia merasa benar-benar bahagia karena Aiden mau menuruti keinginannya untuk memasakan makanan. Saat ini ia sudah merasa tidak sabar untuk mencicipi masakan hasil buatan Aiden, dan tentu saja karena ini pertama kalinya Aiden membuatkan sesuatu untuknya, Calistha merasa gugup. Sejak tadi ia terus menerkan-nerka masakan apa yang kira-kira akan dimasak oleh Aiden, karena ia sendiri merasa tidak yakin dengan kemampuan memasak Aiden, mengingat ia selamat ini tidak pernah menyentuh area dapur dan hanya disibukan dengan pekerjaan-pekerjaannya yang menggunung dan juga berperang. Sudah pasti kemampuan memasaknya tidak akan sebaik kemampuan berperangnya.

“Kau menyukai wortel dan brokoli?”

Tiba-tiba Aiden berjalan mendekatinya sambil membawa dua buah brokoli dan wortel di dalam genggaman tangannya yang lebar. Pria itu tampak aneh dengan sayur-sayuran itu, membuat Calistha ingin tertawa terbahak-bahak di depan pria itu. Tapi ketika ia melihat raut muram Aiden yang tampak semakin muram, akhirnya Calistha mengurungkan niatnya untuk tertawa. Ia hanya tersenyum kecil sebagai bentuk penghargaan pada pria itu.

“Aku suka keduanya.”

Pria itu kemudian disibukan dengan memotong-motong kedua sayur itu, sementara para penghuni dapur tampak seperti patung di tempat mereka masing-masing karena mereka begitu ketakutan dengan ancaman Aiden yang tidak mungkin main-main. Calistha sendiri sebenarnya merasa cukup iba, tapi ia tidak bisa berbuat apapun karena ia tidak memiliki kuasa di sini. Ia hanyalah wanita biasa yang diberikan kedudukan tinggi oleh Aiden.

Perhatian Calistha tiba-tiba teralihkan dengan suara desisan minyak yang beradu dengan bumbu-bumbu yang ditumis oleh Aiden. Seketika Calistha merasa terpana dengan kemampuan memasak Aiden. Ia pikir sebelumnya Aiden tidak bisa memasak, ternyata ia salah. Kemampuan memasak Aiden terlihat sangat baik. Pria itu tampak luwes saat memegang pan yang ia gunakan untuk menumis bumbu. Merasa diperhatikan, Aiden tiba-tiba mendongak dan langsung bertatapan dengan kedua manik karamel Calistha. Mereka berdua saling bertatapan cukup lama, dan pada akhirnya Aiden yang memutuskan kontak mata itu dengan seringaian mematikannnya yang berhasil membuat jantung Calistha berdegup kencang.

“Kau ternyata pintar memasak.” Komentar Calistha ringan. Saat ini ia telah berjalan mendekati Aiden sambil memberikan mangkuk keramik berwarna putih untuk menuangkan sup yang dibuat oleh Aiden. Pria itu mengangkat bahunya ringan dan tampak tidak peduli dengan komentar Calistha. Setelah dirasa supnya telah matang, Aiden kemudian langsung menuangkan sup itu di atas mangkuk yang telah di siapkan oleh Calistha. Lalu ia meraih sebuah gelas tinggi yang berada tak jauh darinya untuk mengambil jus jeruk yang berada di dalam kulkas.

“Kau tidak keberatan jika meminum segelas jus jeruk?” Tawar Aiden sambil mengangkat gelasnya. Calistha menggeleng tidak masalah sambil mengangkat mangkuk supnya ke atas meja. Beberapa penghuni dapur sesekali masih mencuri pandang ke arah Calistha sambil melirik hasil masakan raja mereka yang selama ini sama sekali tidak pernah memasak.

“Silahkan ratu, selamat makan.” Bisik Aiden menggoda di sebelah telinganya. Tangan kekar pria itu kemudian terulur untuk meletakan segelas jus jeruk yang telah ia ambil dari dalam kulkas. Calistha kemudian menolehkan kepalanya ke samping dengan wajah berbinar-binar bahagia. Lalu tanpa diduga Aiden langsung melumat bibirnya lembut di tengah-tengah penghuni dapur yang tampak terlihat syok dengan kegiatan yang dilakukan oleh raja dan ratu mereka. Sedangkan Aiden yang merasa tidak nyaman dengan tatapan para penghuni istana langsung melepaskan tautan bibirnya dari Calistha dan segera menebarkan aura mengancam pada mereka semua agar mereka tidak terlalu mencuri-curi kesempatan untuk menonton kegiatan berciumannya dengan Calistha.

“Kembali pada pekerjaan kalian masing-masing jika kalian masih menyayangi nyawa kalian.” Gertak Aiden. Para penghuni dapur itu satu persatu berjalan keluar dari dapur karena pekerjaan mereka sebenarnya telah selesai. Kini di dalam dapur yang sepi itu hanya tersisa Calistha dan Aiden yang masih asik dengan kegiatan berciuman mereka.

“Aiden, kau menakuti mereka.” Gumam Calistha tepat di depan bibir Aiden. Aiden melirik sekilas kondisi dapur istana yang saat ini telah kosong, tanpa ada pengganggu yang akan mengganggu kegiatan mereka.

“Mereka telah pergi? Bagus, mereka tidak akan mengganggu kita.” Ucap Aiden santai sambil mendudukan dirinya di sebelah Calistha. Pria itu mengangsurkan sebuah sendok pada Calistha dan meminta Calistha untuk segera mencicipi masakannya.

“Cobalah. Ini adalah satu-satunya masakan yang bisa kubuat.”

Aiden tanpa malu mengakui hal itu di depan Calistha. Sambil mengamati Calistha memasukan sup ke dalam mulutnya, Aiden mulai mengingat kenangan masa kecilnya bersama mendiang ibunya. Saat itu ia benar-benar merasa bahagia. Meskipun ia telah mendapatkan kutukan, tapi ia seakan-akan tidak mendapatkan kutukan karena kedua orangtuanya selalu memperlakukannya seperti anak-anak biasa. Ia dibiarkan bermain dan belajar tanpa dibatasi oleh apapun. Sesekali ayahnya juga akan mengajaknya berburu di hutan, dan jika mereka mendapatkan hewan buruan seperti kelinci atau rusa, ibunya pasti akan memasakan mereka olahan daging kelinci atau daging rusa yang sangat nikmat. Rasanya ia sangat merindukan saat-saat masa kecilnya yang bahagia.

“Ini enak, sangat enak. Kau ingin mencobanya juga?” Tawar Calistha dengan sendok yang diarahkan di depan mulutnya. Tanpa ragu Aiden melahap sesendok sup yang diberikan oleh Calistha sambil memejamkan matanya nikmat.

Rasa ini mengingatkanku padamu ibu.

“Aiden, darimana kau belajar memasak sup ini? Rasanya sangat enak. Aku menyukainya.” Komentar Calistha bahagia. Aiden kemudian menolehkan kepalanya pada Calistha sambil tersenyum lembut pada wanita itu. Malam ini moodnya tiba-tiba kembali cerah setelah ia memasak sup jamur yang dulu pernah diajarkan oleh ibunya. Hatinya pun kini dipenuhi oleh perasaan hangat dan bahagia. Ia tidak lagi merasa marah pada Calistha dan ingin menghukum Calistha, justru ia ingin selalu membelai Calistha agar wanita itu merasa nyaman berada di dekatnya.

“Ibuku yang mengajariku. Saat aku sakit ibuku pernah memasakan sup jamur untukku dan keesokan harinya ia mengajariku untuk membuatnya agar aku bisa membuat sendiri saat aku sakit. Dan ternyata pengalaman itu sangat berharga, sekarang aku bisa membuatkannya untukmu meskipun kau tidak sakit.” Jelas Aiden dengan senyum lembutnya. Calistha merasa begitu tersentuh dengan cerita Aiden hingga akhirnya ia memutuskan untuk memeluk tubuh kokoh Aiden yang berada di sampingnya.

“Terimakasih Aiden, aku sangat menyukainya. Ini adalah masakan terenak yang pernah kumakan.”

Aiden tersenyum sekilas dan membalas pelukan Calistha yang begitu erat pada tubuhnya. Andai saja setiap hari hubungannya dengan Calistha sebaik ini, pasti akan sangat menyenangkan. Tapi sayangnya hubungan mereka selalu diwarnai oleh konflik dan masalah sehingga mereka tidak bisa selalu bersikap hangat satu sama lain seperti ini. Tapi meskipun begitu Aiden sudah cukup bersyukur. Menurutnya kehidupan tanpa sebuah konflik akan terasa membosankan untuknya. Namun kehidupan hanya diisi dengan konflik juga akan menjenuhkan. Memang seharusnya kehidupan itu diwarnai dengan berbagai keadaan. Ia membutuhkan saat-saat manis seperti ini, dan juga saat-saat berkonflik yang menguras tenaga dan emosi. Dan yang terpenting ia membutuhkan Calistha sebagai pelengkap hidupnya.

“Sayang, tapi ini semua tidak gratis. Kau harus membayarnya dengan harga yang sepadan.” Bisik Aiden tiba-tiba dengan seringaian. Seketika Calistha langsung melepaskan pelukannya dari Aiden sambil memandang pria itu dengan tatapan tidak percaya.

“Apa? Kau memungut biaya untuk semangkuk sup dan segelas jus jeruk yang akan kau berikan pada anakmu sendiri? Kau ini ayah macam apa, benar-benar perhitungan.” Cibir Calistha kesal. Namun hal itu hanya ditanggapai Aiden dengan kekehan kecil karena ia merasa cukup geli dengan tanggapan Calistha yang diluar dugaan.

“Aku bukan ayah yang perhitungan Calistha, tapi aku hanya ingin meminta apa yang seharusnya kau berikan padaku. Aku menginginkanmu malam ini.” Bisik Aiden lembut di depan bibir Calistha sebelum pria itu meraup bibirnya dan melumatnya dengan penuh nafsu yang menuntut. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk pasangan Aiden dan Calistha, karena ikatan batin diantara mereka hanya dapat dibangun dengan malam-malam panas mereka yang menggairahkan seperti ini.

26 thoughts on “Queen Of Time: Like A Moth To A Flame

  1. Ukhhh so sweet…. Gni dong aiden sma calista tiap hari jngan brntem mlu…
    Tp pas calistha kbur tiffany ga mmpengaruhi diakn y?? Next

  2. Asyik update..apa rencana tiffany selanjut nya knp dia membawa calista plng ke istana tdk kah dia sadar tidak kah dia iba dan mengurungkan niat nya untuk menyakiti calista apa lgi calista adik nya mempunyai darah yg sama..dan siapa yg mendengar ucapan fany apa pelayan yg nyamar itu ..
    Seneng nya hubungan aiden sama calista membaik lg next

  3. Woaaahhh daebak. Awalnya udah curiga klo tiffany bakal nyerang calistha langsung eh trnyata dia punya rencana ngehancurin aiden lewat calistha juga. Hduh
    Daaaaaaannn yg pling penting adalah moment raja dan ratu. Cieeeehhh
    Bertengkar.. Baikan..Ciuman. hhahha

  4. Kirain Chalista beneran kabur 😂😂 duhh.. Aiden masakin sup buat Chalista tapi malah minta imbalan yang lain 😅😅 next chapter ditunggu bgt Thorr

  5. Pengen ketawa waktu baca yg bagian tiffany pengen gazelle bahagia di surga, heol, wanita jahat kaya dy masa iya masuk surga?? 😂😂
    Sorry yaa author, ntah kenapa aku ga dapat feel baca bagian percakapan aiden sm calistha waktu di kamar, agak aneh gitu sm percakapannya, kaya responnya ga sesuai sm hati aku #apaini 😂😂dan kecewa jg sm aiden ga minta maaf sm calistha, soalnya salah satu alasan calistha kabur jg krn kekasaran dy, walaupun dy menderita juga sii #labil
    Dy blg ga pengen calistha natap dy dg ketakutan, pengennya ditatap dg cinta, tp sikap dy justru bikin kebalikannya, apalagi calistha lg hamil, harusnya dy lebih jaga perasaan calistha, jgn sampai calistha marah atau banci sm dy, dan akhirnya digunakan tiffany bwt mempengaruhi calistha
    Penyihir yg ada di istana bisa ngeliat masa depan kah?
    Bisa aja kan kekasaran aiden bakal munculin masalah besar? Pengennya dy nasihatin aiden

    Penasaran sm org yg dengar ucapan tiffany
    Btw, yg pemikiran spencer ttg ga ada yg berubah sejak kematian gazelle jgn bikin dy nyesel udh bunuh gazelle
    Takut kalo spencer justru berkhianat, apalagi donghae jg kaya tambah kasar gitu ke dy
    Kawan yg jadi lawan lbh mengerikan dibanding lawan yg dr awal emg lawan kita

    Maaf trlalu banyak omong author, ditunggu kelanjutannya

  6. suka banget sama part ini banyak moment yoonhae nya walaupun awalnya mereka berantem tapi akhirnya mereka baikan lagi. tiffany lagi-lagi mempunyai rencana yang akan membahayakan chalista, kenapa dia susah banget percaya pada aiden kalo tiffany itu kakak yang jahat.

  7. selalu berujung sprt itu hihhi
    aiden kalw senyum pst manis bngt y d liat ny
    secara dia raja yg terkenal dgn kekejaman ny
    n apa aiden enggak menyesal kl kemampuan melihat masa depan ny berkurang ?

  8. mereka ber2 emang suka bget adu mulut,,,,
    aiden &calista sama egois dan mudah marah2,,,
    hhhhhh pi tetep aja mereka berakhir dgn sweet setelah saling teriak, bkl ngelakuin hub suami istri ,,,,pdahal blm nikah,,,

  9. Akhirnya Calistha ga jadi pergi baguslah , so sweet banget Aiden cie cie senyum2 sndri liatnya
    Ah tinggal penganggu 1 aja ini dsingkirin semoga Calistha cpet sadar qlo tiffany cuma pura2 baik

  10. Aduh kenapa itu yg di akhir malah kepotong hahahaha …
    kurang suka sama bagian Aiden yg nyiksa tahanan itu ,ngeri dan ngilu kaya bener” terjadi ..
    tpi part Calista minta Aiden masak itu bagus banget ,suka dan gak nyangka seorang raja yg kejam luluh juga sama permintaan ratunya hehehehe next nya perbanyak bikin Aiden kaya gitu yaa …

  11. Kalo author nonton drama radiant office mantep banget ni castnya diubah jadi yoonhaeee wkwkwk

  12. Akhirnya calistha balik lagi gak diapa2in sm fany, seneng lihat aiden senyum terus dan smga kebahagiaan segera mereka dapatkan. Itu siapa yg sembunyi pas liat fany??? Smga aja aiden cpt melenyapkan tifany yg licik. Next

  13. waaah aiden benar2 mengerikan kalau marah. ya ampuun kejem amat. sampe spencer aja ketakutan. duuh untung deh chalista gk jadi kabur. chalista sifatnya emang gk bisa ditebak ya. untung aja aiden sabar hadapinya. and aiden sosweet amat sih masakin makanan buat chalista. meskipun hatinya sedingin es tapi perhatiannya uhh. bikin klepek. dan juga apa maksud perkataan tiffany yg blng ‘aiden akan mati melalui chalista’ apalgi yg akan diperbuatnya. dan juga yg mendengar itu siapa?

  14. raja aiden kalo lagi marah mengerikan, hati raja aiden boleh aja sedingin es tapi perhatiannya bikin hati meleleh so sweet bangget raja aiden..
    kesel juga kalo ngeliat ratu chalista labil gtu.

    pasti tiffany akan ngelakuin hal yg berbahaya lagi, apalagi sekarang penyihir jahat mau menjadikan tiffany penerusnya makin besar kesempatan tiffany nyelakain raja aiden dan ratu chalista.

    berharap orang yg mendengarkan ucapan tiffany untuk menyelakain raja dan ratu adalah pelayan yg ingin membantu raja aiden

  15. Ngeri kalau sifat iblisnya aiden udah keluar , ceritanya bkin gemes , entah kenapa kedua couple ini kalau udah berantem bikin tegang, tapi kalau uda sweet2an bkin senyum2 GJ , next chap d tnggu ne? Fighting

  16. Udh beberapa hri di post tpi bru bisa baca skrng krn browser yg bermslh 😂😂 Alhamdulillah calista nggak jadi kbur :v nggak calista nggak aiden,, emosi mereka sring berubah² 😂😂 Apa rencana fany yg sbnarnya??

    Ciee 😍 Udh berantem lngsng sweet²an 😂😍😍 Aiden masakin calista sup 😁 Jdi pngen jga :v

    Next kk.. Fighting!!

  17. Chalista labil nih..pengen dia jadi bener bener gabisa kehilangan Aiden, sampe cinta mati sama Aiden. Tau sih, it takes some time haha. Penasaran sama orang yang ngasih tau ke Aiden waktu itu kalau tiffany mau nyimpen kutukan di bawah bantal Chalista, trus sama penyihir jahat. Are they could be the same person or not?

  18. So sweet bngt sih Aiden mau juga masakin makanan buat Calistha 😊😊
    Siapa ya yg sembunyi di belakang pilar ????
    Next thor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.