Queen Of Time: Red Heart

“Sial! Kenapa Calistha bisa hamil secepat itu?” Maki Gazelle marah di sebuah gudang kosong di belakang dapur. Tiffany yang saat ini sedang bersama Gazelle juga tampak mengepalkan kedua tangannya kesal karena ia tidak menyangka jika adik bungsunya itu akan hamil secepat itu. Padahal selama ini ia pikir hubungannya dengan Aiden tidak pernah berjalan baik dan hanya sebatas kepalsuan semata, tapi nyatanya adik bungsunya itu sedang mengandung keturunan Aiden, itu berarti hubungan diantara mereka akan semakin kuat dan tidak akan terpisahkan.

“Kupikir mereka tidak akan pernah melakukan hal itu karena mereka sering bertengkar satu sama lain. Huh, adikku memang wanita murahan. Ia sengaja menggoda Aiden dan menjual tubuhnya dengan mudahnya pada pria itu. Aku benar-benar malu memiliki adik sepertinya. Selain pengkhianat, ia juga jalang.” Tambah Tiffany penuh kemarahan. Kedua wanita licik itu saling terdiam satu sama lain untuk memikirkan rencana berikutnya yang akan mereka jalankan. Mereka tidak akan membiarkan Calistha dan bayi dalam kandungannya hidup. Sebentar lagi mereka pasti akan menghancurkan Calistha dan bayinya hingga tak tersisa.

“Kita harus segera menyingkirkan Calistha dan bayinya, apapun yang terjadi. Kau harus cepat-cepat meminta kantong kutukan pada penyihir yang kau ceritakan padaku tadi. Dan aku akan segera menjalankan rencanaku hari ini. Apa kau bisa melakukannya?” Tanya Gazelle pada Tiffany dengan wajah bersungguh-sungguh. Tiffany mengangguk yakin sambil menyeringai licik pada Gazelle. Siang ini juga ia akan menyelinap diam-diam dari istana dan pergi ke pasar untuk menemui penyihir tua yang sangat kuat dan sakti. Ia yakin, penyihir itu dapat membuatkan kutukan yang sangat kejam untuk Calistha agar ia dan bayinya segera mati saat ini juga.

“Kau tenang saja, aku pasti akan mendapatkan kantong kutukan itu hari ini. Tapi selama aku tidak ada, kau harus mengawasi Calistha dan perkembangan wanita itu, mungkin saja sesuatu akan terjadi selama aku pergi, karena kurasa Aiden tidak terlalu suka dengan berita kehamilan Calistha.”

“Apa maksudmu dengan tidak suka?”

Gazelle mengernyitkan dahinya tidak mengerti sambil meminta penjelasan pada Tiffany. Sedangkan wanita bereyes smile itu tampak mengingat-ingat bagaimana ekspresi wajah Aiden saat tabib memberitahukan padanya jika Calistha sedang mengandung. Saat itu wajah Aiden justru tampak pias dan datar. Bahkan pria itu tidak mau repot-repot menunggu Calistha hingga sadar dan memberikan selamat pada Calistha atas berita bahagia itu. Aiden justru langsung berjalan pergi begitu saja sambil memerintahkan Yuri dan Sunny untuk selalu menjaga Calistha. Entah apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka, Tiffany sendiri terus bertanya-tanya di dalam hatinya, tapi ia tidak terlalu ambil pusing atas hal itu, ia justru merasa senang jika Aiden sama sekali tidak mengharapkan kehadiran bayi itu, karena jika Aiden tidak menyukai berita mengenai kehamilan Calistha, maka mungkin saja Aiden akan membuang Calistha dan bayinya jauh-jauh dari kerajaan Khronos. Karena menurutnya Aiden bukan tipe pria penyayang yang baik hati. Selama ini ia yakin jika Aiden sebenarnya hanya ingin memanfaatkan Calistha untuk menyembuhkan kutukannya, selebihnya Aiden sama sekali tidak pernah mengharapkan Calistha berada di sisinya.

“Aiden sepertinya hanya ingin memanfaatkan Calistha sebagai penawar untuk kutukannya. Apa kau tidak melihat bagaimana ekspresi wajah Aiden saat tabib mengatakan jika Calistha sedang mengandung? Pria itu justru terdiam di tempat dengan wajah datarnya yang pias. Menurutku ia sama sekali tidak suka dengan kabar itu dan berencana membuang Calistha dan bayi mereka sejauh-jauhnya dari Khronos jika kutukannya telah sembuh nantinya.”

“Benarkah? Sebenarnya sejak awal aku tidak terlalu yakin dengan kesungguhan Aiden untuk menikahi Calistha karena aku sangat mengenal Aiden. Ia bukan tipe pria yang ingin memiliki keluarga yang bahagia dan hangat. Ia adalah pria kejam yang lebih suka menghabiskan waktunya dengan menggenggam pedang selama berjam-jam di medan perang daripada menjaga keluarganya yang akan terus dibayang-bayangi rasa ketidakamanan karena ia sendiri memiliki banyak musuh di luar sana. Aku, juga sepemikiran denganmu. Setelah ini Calistha dan bayinya pasti akan dibuang oleh Aiden. Tapi sebelum Aiden benar-benar melakukannya, kita harus segera menyingkirkan Calistha dan bayinya agar Aiden tidak terus menerus memandangku sebelah mata dan meremehkan kekuatanku. Aku akan menunjukan padanya jika aku ini adalah wanita kuat yang licik.” Seringai Gazelle mengerikan. Tiffany mengangguk-anggukan kepalanya setuju sambil berjalan keluar untuk segera menjalankan rencananya selanjutnya.

“Tetap awasi orang-orang disekitarmu, beritahu padaku jika kau mendapatkan berita baru nanti.” Pesan Tiffany serius sebelum berjalan pergi meninggalkan Gazelle yang tampak masih menyeringai licik sambil menerawang jauh ke depan.

Aiden, kau pasti akan menjadi milikku!

-00-

Tiffany dengan tenang berjalan keluar dari gudang itu sambil menyapa beberapa pelayan dengan sapaan sekenanya. Selama ini ia tidak terlalu ramah pada pelayan, dan hanya sebatas menyapa mereka dengan sapaan sekedarnya yang menurutnya itu tidak terlalu penting. Ketika ia kembali berpapasan dengan seorang pelayan yang sering melayaninya di kamar, pelayan itu menghentikan langkahnya sambil membungkukan tubuhnya dalam.

“Selamat pagi nona, saya membawa kabar jika Yang Mulia Calistha telah sadar. Mungkin anda ingin melihat bagaimana keadaan Yang Mulia Calistha sekarang.” Ucap pelayan itu sopan. Tiffany tampak hendak mengibaskan tangannya ke udara untuk mengusir pelayan itu. Tapi cepat-cepat ia menahan tangannya di udara karena tiba-tiba saja sekarang ia memiliki ide.

“Benarkah? Bagaimana keadaanya?” Tanya Tiffany penuh minat. Ia merasa penasaran bagaimana perasaan adiknya saat ia sadar, namun tidak mendapati Aiden di sebelahnya. Pasti Calistha sangat terguncang atas fakta itu.

“Yang Mulia Calistha tampak lebih murung, tapi Yang Mulia berusaha untuk tetap tegar.” Jawab pelayan itu jujur. Dengan senyum penuh kelicikan, Tiffany segera meninggalkan pelayan itu untuk menghampiri Calistha. Ia yakin saat ini adik bungsunya itu sangat sedih karena Aiden tidak berada di sisinya untuk membisikan kata-kata cinta atas kehamilannya saat ini.

Hmm, kita lihat sejauh mana hubungan mereka akan bertahan dengan badai yang akan kuciptakan diantara mereka.

“Calistha.”

Tiffany berseru pelan dari ujung pintu sambil mengeluarkan air mata harunya yang palsu. Wanita itu terlihat tersenyum penuh kerinduan pada Calistha sambil berlari untuk menghampiri sang adik yang masih terbaring di atas ranjang besar di kamarnya.

Calistha sendiri saat melihat Tiffany datang langsung mendudukan dirinya, dan bersandar pada kepala ranjang sambil menatap penuh kerinduan pada saudara perempuannya yang sudah lama tak dilihatnya. Selama ia sakit, Aiden selalu melarangnya untuk bertemu dengan Tiffany dan selalu mengatakan jika Tiffany adalah wanita yang jahat. Tapi sepertinya ucapan Aiden sama sekali tidak terbukti. Bagaimana mungkin wanita tulus dan cantik seperti kakaknya adalah seorang monster jahat yang hendak mencelakainya?

Aiden pasti berbohong padaku!

“Tiffany, lama tidak berjumpa denganmu.”

Calistha merentangkan tangannya lebar-lebar dan Tiffany langsung menghambur ke dalam pelukan Calistha yang hangat dan tulus.

“Aku merindukanmu. Bagaimana kabarmu adikku?” Tanya Tiffany sambil berpura-pura menyeka air matanya. Yuri yang melihat perilaku penuh kedustaan yang ditunjukan oleh Tiffany hanya mampu memandang kesal dari kejauhan sambil menyenggol lengan Sunny.

“Lihat, wanita ular itu sedang bersikap sok baik pada Yang Mulia Calistha. Kita harus selalu mengawasinya dan melaporkan sikapnya pada raja Aiden.” Bisik Yuri di telinga Suuny. Wanita imut itu menganggukan kepalanya setuju dengan ekor mata yang tidak pernah lepas dari Calistha dan Tiffany. Ia sendiri sejak awal juga tidak terlalu menyukai Tiffany karena sikap wanita itu yang sangat sombong dan angkuh. Wanita itu benar-benar terlihat berbeda dari Calistha.

“Aku baik-baik saja, luka di kakiku sudah sembuh sekarang. Apa kau suka tinggal di sini?”

Kedua wanita itu saling melepaskan pelukan satu sama lain untuk bertukar cerita mengenai rutinitas mereka selama seminggu ini. Jujur, Tiffany cukup penasaran dengan kegiatan Calistha selama berada di dalam kamar Aiden. Ia sendiri sebenarnya cukup merasa bosan hanya dengan membayangkan bagaimana Calistha melewatkan waktu seminggunya hanya dengan berbaring di atas ranjang Aiden tanpa bisa berjalan-jalan keluar dan menghirup udara segar. Ia yakin adiknya itu pasti juga merasakan kebosanan yang ia rasakan.

“Aku sangat menyukai tinggal di sini. Terimakasih banyak atas pertolonganmu yang mau membujuk raja Aiden agar ia bersedia mengeluarkanku dari penjara bawah tanah yang sangat mengerikan itu. Apa yang kau lakukan selama seminggu ini di dalam kamar raja Aiden? Ia tidak menyakitimu bukan?”

“Syukurlah jika kau menyukainya. Aiden tidak pernah menyakitiku, ia selalu menjagaku dengan baik. Ia juga selalu bersikap ramah dan hangat, walaupun terkadang ia masih sering bersikap dingin jika aku mulai membantah kemauannya. Tiffany, apa aku benar-benar hamil?”

Tiba-tiba saja raut wajah Calistha berubah menjadi resah ketika wanita itu mulai menyinggung mengenai berita kehamilannya. Tiffany sendiri saat ini sedang mencoba menerka-nerka bagaimana perasaan adik bungsunya itu mengenai berita kehamilannya, karena sepertinya adik bungsunya itu sama sekali tidak terlihat senang, justru terlihat murung dan tidak bahagia.

“Ya, tabib mengatakan jika kau hamil. Ada apa? Kenapa dengan wajahmu, sepertinya tidak terlalu menyukai berita tentang kehamilanmu itu?” Tanya Tiffany terlihat prihatin. Calistha menghembuskan nafasnya pelan sambil menatap Tiffany dengan mata sayunya. Entah mengapa ia merasa begitu sedih setelah ia tersadar dari pingsannya beberapa menit yang lalu. Ia merasa hatinya kosong ketika ia tidak mendapati Aiden di sampingnya, sedangkan ia dihadapkan pada sebuah fakta jika ia sedang mengandung. Ia pikir seharusnya Aiden berada di sini sekarang sambil menyambutnya dengan wajah haru dan penuh kebahagiaan karena saat ini ia sedang mengandung keturunannya. Tapi nyatanya Aiden sama sekali tidak ada di sampingnya saat ia sadar, justru Sunny dan Yuri yang berada di sini sambil tersenyum lebar penuh kebahagiaan.

Apakah Aiden tidak menginginkan anak ini?

“Tidak, aku hanya sedang mencari Aiden. Apa kau melihat Aiden?”

“Aku belum melihat Aiden hari ini. Padahal pelayan dan tabib telah mengatakan bahwa kau hamil dan pingsan, tapi ia hanya bersikap datar dan memandangmu dari kejauhan. Setelah itu ia pergi entah kemana. Apa kalian sedang memiliki masalah?”

Tiffany tampak tersenyum licik dibalik wajah prihatinnya. Wanita itu telah berhasil membuat wajah Calistha kembali keruh dengan kata-kata yang diucapkan olehnya. Sayangnya saat ini Yuri dan Sunny berada cukup jauh dari posisi Calistha dan Tiffany, sehingga mereka tidak dapat menyangkal ucapan Tiffany yang penuh kedstaan.

“Benarkah? Mungkin Aiden sedang memiliki banyak pekerjaan. Akhir-akhir ini ia sibuk sekali dan sering pulang larut malam. Ia sering meninggalkanku sendiri di siang hari.” Ucap Calistha menerawang. Tiffany menyimak penuh minat cerita yang dilontarkan oleh Calistha sambil memikirkan kalimat provokasi lain yang dapat membuat Calistha semakin sedih.

“Padahal menurut para prajurit, Khronos dan negeri jajahannya yang lain sedang tidak memiliki masalah. Khronos aman dan semua rakyat hidup damai. Lalu kemana perginya Aiden selama ini? Apa menurutmu Aiden pergi menemuai wanita lain di luar sana? Ah, tapi itu tidak mungkin. Bukankan Aiden hanya mencintaimu? Dia pasti benar-benar memiliki urusan penting di luar sana.” Ucap Tiffany dengan kekehan ringan sambil mengibas-ngibaskan tangannya santai di depan Calistha. Namun wajah Calistha justru terlihat mendung dan ia semakin merasa kesal dengan Aiden. Entah mengapa ucapan Tiffany itu berhasil mengganggu benaknya dan membuatnya tidak mempercayai Aiden. Ia pikir mungkin saja Aiden memiliki wanita lain di luar sana, mengingat ia adalah raja yang tampan dan penuh kuasa. Ditambah lagi pria itu tidak terlalu senang dengan berita kehamilannya.

“Aiden pasti tidak mengharapkan kehadiran bayi ini.”

Tiba-tiba Calistha berseru lirih sambil mengusap perutnya pelan. Hatinya saat ini benar-benar sakit dan sedih. Moodnya juga tiba-tiba menjadi buruk. Ia merasa ingin pergi dari kerajaan ini sekarang juga dan menghindari Aiden selama-lamanya jika Aiden memang benar-benar tidak mengharapkan bayi itu dan memiliki wanita lain. Persetan dengan semua kutukan dan omong kosongnya mengenai takdir, sekarang ia benar-benar malas untuk memikirkan hal itu.

“Apa yang kau katakan, Aiden tidak mungkin seperti itu. Ia adalah raja yang bertanggungjawab. Ia tidak mungkin membenci bayi itu dan mengabaikanmu. Mungkin ia memang sedang memiliki banyak pekerjaan.”

Tiffany kemudian mendudukan dirinya di sebelah Calistha sambil mengelus puncak kepala adiknya sayang. Calistha yang melihat adanya ketulusan yang terpancar di mata Tiffany menjadi sangat merasa bersalah karena ia pernah berpikir jika Tiffany jahat, seperti yang telah dikatakan Aiden padanya.
“Maafkan aku.” Ucap Calistha pelan. Tiffany menoleh bingung sambil mengenyitkan dahinya heran.

“Maaf? Untuk apa? Kurasa kau tidak pernah memiliki kesalahan padaku.” Ucap Tiffany bingung.

“Maafkan aku karena aku pernah berpikir kau jahat setelah insiden sepatu berpaku kemarin. Maafkan aku, aku tahu kau tidak mungkin melakukan hal itu. Kau adalah kakakku, dan aku sangat yakin kau tidak sejahat itu.”

Tiffany menggeleng pelan dan langsung membawa Calistha ke dalam pelukannya. Dalam hati Tiffany puas karena telah berhasil mempengaruhi Calistha dan menanamkan benih-benih kebencian di hati Calistha untuk Aiden. Setelah ini ia yakin, hubungan Calistha dan Aiden pasti akan memburuk dan mereka akan semakin sering melakukan pertengkaran seperti dulu. Dan disaat Calistha lengah, ia akan menyerang Calistha tiba-tiba hingga wanita itu tak berdaya menghadapinya, bahkan Aiden sendiri pun juga tidak akan pernah bisa menyelamatkan Calistha dari kematiannya.

“Terimakasih, kau adalah saudara satu-satunya yang kumiliki. Jika kau membutuhkan sesuatu atau kau ingin meminta bantuanku, katakan saja. Aku pasti akan melakukan apapun untukmu.” Janji Calistha tulus. Tiffany menganggukan kepalanya mengerti dan segera beranjak dari ranjang yang tempati Calistha.

“Beristirahatlah, aku harus pergi ke pasar untuk membeli sesuatu. Yuri dan Sunny akan menemanimu di sini, apa kau tidak keberatan?”

“Tentu, aku akan baik-baik saja. Hati-hati di jalan.” Pesan Calistha sambil memeluk Tiffany sekali lagi. Setelah Calistha melepaskan pelukannya, Tiffany segera berjalan pergi meninggalkan Calistha yang kembali melamun dalam kesendiriannya.

Sementara itu, Tiffany tampak tersenyum sinis sambil menatap Yuri dan Sunny yang balas menatapnya dengan tatapan menusuk. Yuri bahkan dengan terang-terangan menunjukan sikap tidak sukanya pada Tiffany dengan cepat-cepat mengusir wanita itu keluar dari kamar Calistha. Seharusnya Tiffany memang tidak diijinkan untuk mendekati Calistha, tapi melihat sikap wanita itu yang tidak membahayakan, akhirnya Yuri dan Sunny memberikan Tiffany kesempatan untuk bertemu dengan Calistha. Tapi sayangnya pertemuan itu justru akan menjadi malapetaka bagi Calistha dan Aiden.

-00-

Suasana pasar siang ini tampak ramai dan riuh. Banyak pedagang yang saling menjajakan barang-barang dagangan mereka dengan keras, hingga menciptakan suara keributan yang khas. Tiffany, wanita dengan gaun sutra berwarna merah dan jepit rambut bunga berwarna senada tampak sedang menyusuri jalanan pasar yang ramai bersama dengan seorang pelayan setianya. Beberapa pria dengan terang-terangan memandang Tiffany dengan penuh minat sambil berdecak kagum karena kecantikan Tiffany yang terlihat begitu mencolok di tengah-tengah suasana hiruk pikuk pasar yang ramai. Dari kejauhan, Tiffany dapat melihat sebuah rumah dengan gaya kuno yang sangat mencolok, berdiri diantara bangunan-bangunan modern yang lainnya. Rumah itu sekilas tampak seperti rumah kosong yang menyeramkan, namun di dalam rumah itu tinggalah seorang penyihir tua yang sangat sakti. Menurut kabar burung yang tersebar diantara penduduk Khronos, wanita itu dulunya adalah seorang penyihir hitam yang diusir dari kelompoknya. Karena frustasi dan menyimpan dendam, akhirnya penyihir itu memutuskan untuk menjadi peramal di kerajaan Khronos. Namun, diam-diam penyihir itu dapat membantu siapapun yang memiliki dendam yang sangat kuat pada orang lain. Dan penyihir itu dengan senang hati akan membantu siapapun yang akan membalaskan dendam mereka pada orang yang mereka benci.

“Kau tunggu di sini, aku akan mengambil barang pesananku di dalam.” Ucap Tiffany pada pelayan wanitanya. Pelayan itu mengangguk dengan patuh dan memilih untuk menunggu di depan rumah sang penyihir tua itu. Sedangkan Tiffany langsung masuk ke dalam rumah penyihir itu dengan penuh percaya diri. Dua hari yang lalu ia sudah datang dan memesan sebuah kantong kutukan untuk mencelakai Calistha. Dan hari ini ia akan menyerahkan kunci terakhir dari kantong kutukannya, sehelai rambut milik Calistha. Untung saja hari ini Aiden melonggarkan pengawasannya pada Calistha, sehingga ia dapat mendekati adik bungsunya itu dan mengambil sehelai rambutnya secara diam-diam.

“Akhirnya kau datang juga, kau membawa barang yang kubutuhkan?” Tanya penyihir wanita itu sambil berjalan tertatih-tatih menghampiri Tiffany. Suara ketukan tongkat kayunya yang berisik langsung menggema di dalam rumahnya yang gelap dan penuh dengan barang-barang kutukan.

“Ini, aku telah mengambil sehelai rambut milik Calistha. Apa kau sudah menyiapkan kantung kutukannya?”

“Bersabarlah anak muda, kau benar-benar wanita yang tidak sabaran. Aku perlu menyelesaikan ritual terakhirku sebelum kantung kutukan itu dapat berfungsi sepenuhnya. Masuklah.” Ajak penyihir tua itu sambil berjalan mendahului Tiffany untuk masuk ke bagian lain dari rumahnya. Sembari berjalan di belakang penyihir tua itu, Tiffany tampak memandang penuh kengerian pada benda-benda aneh yang dilihatnya di sepanjang ruangan yang dilewatinya. Tapi ia langsung menyeringai licik ketika ia membayangkan tubuh Calistha yang perlahan-lahan akan melemah karena kutukan dari penyihir tua itu. Ia sangat yakin, setelah ini Aiden pun tidak akan bisa menyelamatkan Calistha dari kutukan sang penyihir.

“Sebentar lagi kau akan menjadi bibi bukan? Apa raja tidak mengadakan pesta besar untuk menyambut kehadiran penerus tahtanya?”

Tiba-tiba penyihir itu berucap di depan Tiffany. Sambil tersenyum mengerikan, penyihir itu berbalik ke arah Tiffany sambil mengangkat kantung kutukan yang telah ia siapkan di atas mejanya.

“Aiden? Sepertinya ia tidak akan pernah mengadakan pesta untuk menyambut kehadiran penerus tahtanya, bahkan ia hanya bersikap biasa saja ketika tabib mengatakan padanya jika Calistha sedang mengandung. Kupikir Aiden tidak menyukainya.” Jawab Tiffany tidak peduli. Penyihir itu terkekeh pelan sambil menyampurkan rambut Calistha ke dalam cawan yang berisi barang-barang terkutuk yang telah dipersiapkannya. Penyihir itu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Aiden, apa yang menyebabkan raja itu terlihat tidak bahagia dengan kehamilan Calistha. Dan penyihir itu merasa sangat tidak sabar untuk memberitahukan hal ini pada Tiffany karena ia yakin, Tiffany pasti akan semakin bersemangat untuk melakukan balas dendam pada Calistha.

“Raja sebenarnya sangat bahagia, tapi hanya khawatit.”

“Khawatir? Kukira setiap hari Aiden selalu khawatir. Kau pasti tahu jika selama ini ia memiliki banyak musuh di luar sana. Bagaimana mungkin ia dapat hidup tenang dengan banyak musuh seperti itu.” Cibir Tiffany sambil lalu. Wanita itu tampak sedang mengagumi setiap benda-benda hitam yang berada di dalam rumah si penyihir tanpa mengetahui jika sang penyihir tengah menatapnya dengan tatapan serius dari balik mata tuanya yang sayu.

“Raja Aiden bukan khawatir dengan musuh-musuhnya. Ia saat ini sedang mengkhawatirkan keselamatan ratu dan anaknya. Apa kau tahu jika raja Aiden memiliki kekuatan besar di dalam dirinya?”

Seketika Tiffany langsung berbalik arah sambil menatap penuh minat pada penyihir tua itu. Selama ini ia tidak pernah tahu jika Aiden ternyata memiliki sebuah kekuatan di dalam dirinya. Ia pikir Aiden hanyalah pria biasa yang penuh kutukan dan jalan hidup yang menyedihkan.

“Aiden memiliki kekuatan? Kenapa aku tidak pernah mengetahui hal itu? Kekuatan apa yang tersembunyi di dalam tubuhnya?”

“Ia memiliki kekuatan besar di dalam tubuhnya. Kutukan yang diberikan kepadanya, bukan semata-mata hanya sebuah kutukan. Kutukan itu bagaikan dua mata pedang yang dapat merugikannya, namun juga dapat menguntungkannya. Selama ini Aiden dapat melihat masa depan, dapat hidup kembali, dan dapat menghabisi musuh-musuhnya dengan mudah karena kutukan itu. Namun semua kekuatan itu akan lenyap perlahan-lahan seiring dengan wanita yang ditakdirkan untuknya mengandung. Seharusnya raja Aiden dan adikmu tidak melakukan hal yang tidak seharusnya sebelum mereka menikah, karena sudah pasti kondisi kerajaan masihlah belum stabil seperti saat ini. Masih banyak orang-orang jahat yang mencoba untuk melukai Raja dan pasangannya, sehingga raja seharusnya masih memiliki kekuatan itu untuk menangkal setiap kejahatan yang berusaha melukainya dan sang ratu. Tapi karena saat ini adikmu sedang mengandung, kekuatan raja Aiden semakin lama semakin melemah, ia tidak bisa memprediksi pergerakan musuhnya lagi, dan seiring dengan bertambahnya usia kandungan adikmu, raja Aiden akan dapat dibunuh dengan mudah. Kau bisa membunuh raja Aiden dan adikmu tanpa mereka bisa hidup kembali.” Jelas sang penyihir panjang lebar. Tiffany tampak begitu terkejut dengan sebuah fakta yang baru saja ia ketahui. Pantas saja kelicikannya selama ini selalu diketahui oleh Aiden, ternyata ia memang selalu kalah langkah dengan pria itu. Namun sekarang semua itu tidak akan terjadi lagi, dengan kondisi Calistha yang sedang mengandung, Aiden tidak akan bisa membaca pergerakannya lagi. Ia dapat melakukan apapun dengan mudah tanpa perlu khawatir rencananya akan gagal. Tapi, itu berarti ia tidak boleh membunuh Calistha sekarang. Ia harus tetap mempertahankan kandungan Calistha agar kekuatan Aiden benar-benar semakin lemah dan lenyap.

“Kalau begitu, aku tidak bisa membunuh Calistha sekarang. Setidaknya aku harus menjaga kandungan Calistha hingga benar-benar besar, sehingga Aiden dapat dikalahkan dengan mudah. Berikan aku kantung kutukan yang ringan, setidaknya kantung kutukan itu sifatnya hanya menyiksa, tidak menyakiti. Apa kau bisa?”

“Sudah kuduga kau akan meminta hal ini. Aku sudah menyiapkan kantung kutukan yang akan membuat adikmu tertidur selama tiga hari. Letakan kantung kutukan ini di bawah ranjang milik adikmu, dan ia tidak akan terbangun hingga tiga hari ke depan.” Ucap penyihir itu sambil memberikan sebuah kantung kecil berwarna hitam kusam yang di dalamnya telah terisi berbagai macam barang-barang terkutuk dan sehelai rambut milik Calistha. Tiffany langsung menyeringai licik ketika menerima kantung kutukan itu dan membayangkan bagaimana wajah panik Aiden saat Calistha tidak terbangun dari tidurnya selama tiga hari. Meskipun kedengarannya kutukan itu sangat ringan, tapi efeknya akan sangat mengerikan. Jika Calistha tak kunjung bangun dari tidurnya selama tiga hari, maka ia tidak akan bisa makan dan ia akan lemas saat terbangun nantinya. Dan itu sudah cukup menyiksa untuk ukuran seorang wanita yang sedang mengandung.

“Baiklah, aku akan segera meletakan kantung kutukan ini di bawah ranjangnya. Ini upah untukmu, tiga hari lagi aku akan datang untuk meminta kantung kutukan yang lainnya. Sampai jumpa.” Pamit Tiffany pada si penyihir sambil tersenyum puas. Penyihir itu hanya memandang punggung tegap Tiffany dengan kekehan jahat yang tampak mengerikan. Akhirnya setelah sekian lamanya ia tinggal sendiri di kerajaan Khronos tanpa memiliki satupun penerus, akhirnya ia menemukan seorang penerus yang tepat untuk mewarisi semua kelicikannya dan ilmu hitamnya. Perlahan-lahan ia akan menggiring Tiffany mendekat padanya, lalu ia akan membuat Tiffany menjadi muridnya dan ia akan mengajari semua ilmu hitam yang dikuasainya pada Tiffany. Ia yakin, wanita itu pasti akan mewarisi kejahatannya dengan sempurna.

-00-

Di istana Khronos, Aiden tampak sedang kalut sambil menyesap winenya sendiri di dalam ruangannya yang gelap. Berita tentang kehamilan Calistha yang ia terima hari ini cukup mengganggu pikirannya. Ia merasa belum siap untuk memiliki penerus, karena ia dan Calistha masih dikelilingi oleh orang-orang jahat. Ditambah lagi saat ini Gazelle telah berhasil kabur dari penjara bawah tanahnya berkat bantuan Spencer, semakin menambah daftar orang-orang jahat yang harus ia singkirkan dari Calistha. Aiden kemudian melirik jam dindingnya sekilas sambil mengusap wajahnya frustasi. Jam telah menunjukan pukul tujuh malam, dan ia sama sekali belum melihat kondisi Calistha lagi semenjak pagi tadi. Tapi seorang pelayan telah mengabarkan padanya jika saat ini kondisi Calistha tampak sehat dan wanita itu telah sadar dari pingsanya. Ia juga telah menugaskan Yuri dan Sunny serta pengawal-pengawalnya yang lain untuk memberikan penjagaan ekstra di dalam kamar Calistha sehingga ia tidak perlu membawa Calistha ke dalam kamarnya malam ini. Ia ingin setidaknya berpikir jernih untuk mencari jalan keluar bagi seluruh masalah-masalahnya yang sangat rumit. Dan ia berharap seluruh kekuatannya tidak akan lenyap seiring dengan kandungan Calistha yang akan semakin membesar, karena ia masih memerlukan seluruh kekuatan itu.

Tok tok tok

Ketukan nyaring yang berasal dari pintu langsung membuat Aiden kembali waspada dan mulai menegakan tubuhnya dengan sigap. Dengan suara nyaring, Aiden mempersilahkan sang pengetuk untuk masuk ke dalam ruangannya. Tak berapa lama, pintu coklat besar itu langsung terbuka separuh, dan menampilkan sosok seorang pelayan yang sedang membawa sebuah nampan yang berisi secangkir teh. Tanpa ragu, Aiden langsung memerintahkan pelayan itu untuk masuk dan meletakan tehnya di atas meja. Pelayan yang merupakan Gazelle yang sedang menyamar itu, tampak tersenyum bahagia dibalik topi pelayannya yang lebar. Ia merasa puas karena telah berhasil menipu Aiden dan membuat pria itu lengah. Sekarang ia telah berada di dalam ruang pribadi milik Aiden yang sepi. Tidak ada Calistha dan tidak akan ada prajurit yang mengganggunya. Hari ini ia harus berhasil menggoda Aiden dan menjebak Aiden agar masuk ke dalam perangkapnya.

“Silahkan Yang Mulia.”

Aiden hanya menatap datar pelayan itu dan setelahnya ia kembali berkutat pada perkamen-perkamennya yang tampak berceceran di atas meja. Hari ini sebenarnya ia cukup sibuk dengan berbagai macam pekerjaanya, tapi semua pikirannya justru teralihkan pada Calistha dan calon anaknya hingga membuat semua pekerjaanya tak kunjung terselesaikan.

“Untuk apa kau masih berdiri di sana?”

Tiba-tiba Aiden berseru datar saat ia melihat pelayan wanita itu tak kunjung keluar dari kamarnya dan justru terus berdiri di depan mejanya sambil memeluk nampan yang dipegangnya. Mendengar Aiden sedang menatapnya dengan tajam, Gazelle mulai berseru senang dalam hati karena siasatnya untuk menarik perhatian Aiden berhasil. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk menjerat Aiden ke dalam perangkapnya.

“Apakah Yang Mulia membutuhkan sesuatu yang lain? Saya dengan senang hati a..”

“Tidak, aku hanya ingin kau keluar dari ruanganku.” Potong Aiden cepat dengan suara dingin. Namun tanpa diduga, pelayan itu justru mendekat ke arahnya sambil meletakan nampan yang dipeluknya ke atas meja, hingga membuat sebagian pekerjaannya tertutupi oleh nampan itu.

“Kau yakin, raja?” Tanya Gazelle dengan suara meremehkan, diikuti dengan gerakan tangannya yang langsung melepaskan topi penutup kepalanya begitu saja di hadapan Aiden.

“Hmm, jadi kau memutuskan untuk menyamar menjadi salah satu pelayan di istanaku? Tidak terkejut.” Komentar Aiden datar dengan wajah piasnya. Gazelle dengan berani langsung mendekati Aiden sambil menyapukan tangannya di wajah pria itu. Sudah sejak lama ia menginginkan hal ini. Menginginkan berada di samping Aiden sambil membelai wajah Aiden dengan intens. Ia ingin menunjukan pada Aiden rasa cintanya yang tidak pernah berubah meskipun pria itu telah menolaknya berkali-kali.

“Aiden, aku merindukanmu.” Bisik Gazelle sensual di telinganya. Aiden tampak mengetatkan rahanya sambil memejamkan matanya untuk bersabar. Biarlah kali ini ia mengikuti permainan Gazelle dan membuat wanita terperangkap ke dalam jebakannya.

“Apa kau juga merindukanku?” Bisik Gazelle lagi. Kali ini wanita itu semakin berani dengan mengelus dada bidang Aiden dengan gerakan seduktif. Lalu dengan tak tahu malunya, Gazelle langsung mengecup pipi kiri Aiden hingga menimbulkan bunyi decapan yang begitu nyaring di dalam ruangan Aiden yang senyap.

“Aku selalu ingin melakukan hal itu sejak lama. Aiden, aku mencintaimu. Dan aku tahu kau juga mencintaiku. Kau pasti tidak akan pernah bahagia bersama Calistha. Wanita itu hanya wanita murahan yang tidak pantas bersanding denganmu, hanya aku wanita yang pantas bersanding denganmu Aiden. Hanya aku yang pantas mendampingimu.”

“Kalau begitu buktikan padaku, seberapa pantas dirimua untuk bersanding denganku, karena aku tidak bisa menerima sembarang wanita begitu saja. Wanita yang akan bersanding denganku haruslah wanita yang cantik dan yang terbaik dalam segala hal, termasuk dalam hal keturunan.” Ucap Aiden tenang dan tanpa ekspresi. Mendengar hal itu, Gazelle semakin bersemangat untuk mendekati Aiden karena ia merasa pria itu saat ini sedang memberinya kesempatan. Jika Aiden menginginkan bukti, maka dengan senang hati ia akan melakukannya. Ia akan melakukan apapun agar ia dianggap layak dan dapat bersanding dengan Aiden.

“Aku akan membuktikan padamu. Apa yang kau inginkan dariku? Kau ingin aku mengandung seperti Calistha? Aku akan membuktikan padamu jika bersamaku kau akan mendapatkan keturunan yang terbaik, karena aku memiliki gen unggul di dalam diriku.” Ucap Gazelle seombong dan penuh keyakinan. Kali ini Aiden mulai memalingkan wajahnya tepat ke arah Gazelle untuk melihat bagaimana kesungguhan Gazelle. Sedangkan Gazelle yang sedang ditatap Aiden dengan intens langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk mencium bibir Aiden, namun Aiden berhasil memalingkan wajahnya, sehingga bibir merah itu hanya mendarat di sudut bibir Aiden yang dingin.

“Aku belum mengijinkanmu untuk menyentuhku, jadi jangan coba-coba untuk menciumku jika kau tidak ingin kehilangan kesempatan langka ini.” Seru Aiden dingin. Gazelle langsung menjauhkan bibirnya lagi dari Aiden, tapi kedua tangannya masih terus bergerak dengan aktif membelai dada bidang Aiden dan rahang pria itu yang kokoh. Ia benar-benar terlihat murahan sekarang, ia jalang!

“Maaf, aku benar-benar sudah menantikan hal ini sejak lama. Oh, aku ingin bertanya satu hal padamu, apa kau bahagia dengan berita kehamilan Calistha? Kudengar kau terlihat datar-datar saja menanggapi hal itu, apa kau sebenarnya tidak pernah mengharapkan adanya bayi diantara kalian? Apakah kau hanya sekedar menikmati tubuh Calistha?”

“Itu bukan urusanmu. Kau tidak berhak menanyakan perasaanku pada Calistha, lebih baik kau pikirkan bagaimana nasibmu saat ini karena jika aku tidak puas, maka aku akan langsung memenggal kepalamu sekarang.” Peringat Aiden dengan nada sinis, namun ia masih tetap terlihat tenang. Entah sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh Aiden saat ini. Ia terlihat menerima begitu saja setiap sentuhan yang diberikan oleh Gazelle padanya, tapi ia juga tidak sepenuhnya menerima wanita itu untuk menjadi pendampingnya, jadi ini benar-benar terlihat membingungkan.

“Kuyakin kau akan puas dengan tubuhku, karena tubuhku jauh lebih indah daripada milik Calistha.” Bisik Gazelle lagi dengan lebih intens. Wanita itu semakin berani menyentuh tubuh Aiden dengan tangan-tangan kotornya. Namun Aiden tetap membiarkan hal itu hingga ia merasa jengah dan akhirnya meminta Gazelle untuk berdiri di depannya.

“Menyingkirlah dari tubuhku dan berdirilah di sana, lepaskan pakaianmu, aku ingin menilai seberapa indah tubuhmu.”

Mendengar hal itu, Gazelle langsung melompat turun dari lengan kursi milik Aiden dan dengan semangat langsung melucuti semua pakaiannya hingga hanya menyisakan sebuah bra dan sebuah celana dalam berenda pink. Ia kemudian dengan gerakan erotis mulai meliuk-liukan tubuhnya di depan Aiden sambil membuat gerakan-gerakan yang tidak pantas untuk dilakukan. Tapi menurutnya hal itu sangat pantas untuk dilakukan karena ia ingin menarik perhatian Aiden dengan tubuhnya. Baginya tidak masalah jika Aiden hanya menyukai tubuhnya, yang penting ia dapat terus bersama Aiden, dan secara perlahan ia akan menyingkirkan Calistha nantinya.

“Ahhh Aiden, apa kau menyukainyaaaaaa.” Erang Gazelle dengan suara seksi disertai desahan. Aiden menatap wanita itu datar tanpa berucap apapun. Ia bahkan tidak tanda-tanda jika ia tertarik dengan Gazelle. Namun sikapnya yang datar itu semakin membuat Gazelle menjadi liar dan kembali melakukan gerakan-gerakan erotis yang sangat menjijikan untuk dipandang. Bahkan ia sengaja memasukan kelima jarinya ke dalam celana dalam berenda pinknya untuk menarik perhatian Aiden.

“Sentuh aku Aiden, aku telah siap untukmu.”

“Hmm, kau cukup menggairahkan. Sepertinya kau memang pantas untukku. Pergilah ke ranjang, aku akan mengunci pintu ruanganku agar tidak ada seorang pun yang dapat mengganggu kegiatan kita.” Ucap Aiden datar. Gazelle yang mendengar hal itu merasa bahagia dan hendak melompat ke dalam pelukan Aiden, namun Aiden segera menghentikan gerakannya dan mengisyaratkan wanita itu untuk menunggunya di atas ranjang.

“Jangan coba-coba menyentuhku sekarang karena aku tidak suka disentuh terlebih dulu oleh wanita.”

Gazelle langsung menggangguk mengerti dan segera berjalan menuju ranjang besar milik Aiden dengan penuh suka cita. Akhirnya penantiannya selama bertahun-tahun terbayar juga. Ia dapat menghabiskan malamnya hari ini bersama Aiden tanpa diganggu oleh siapapun, termasuk Calistha. Sebenarnya ia sangat ingin wanita itu menyaksikan sendiri bagaimana pria yang dicintainya sedang bercinta dengan wanita lain, pasti rasanya akan sangat nikmat. Rasa sakit karena dikhianati adalah rasa sakit yang lebih sakit daripada rasa sakit karena sebuah luka tusukan pedang. Bahkan rasa sakit itu dapat terus mengikutimu sampai kapanpun, sampai kau mati sekalipun rasa sakit itu tetap akan kau rasakan.

Tak berapa lama Gazelle merasakan ranjang di sebelahnya meringsek, disusul dengan sepasang lengan kekar yang langsung memeluknya.

“Aiden, apa kau sudah siap untuk menggapai kenikmatan bersamaku?” Tanya Gazelle manja dan langsung meraup bibir tipis Aiden tanpa menunggu jawaban dari pria itu. Malam ini Gazelle bersumpah akan memberikan kepuasan untuk Aiden.  Tak peduli pada harga dirinya yang setelah ini akan di cap sebagai wanita jalang, yang penting ia bisa mendapatkan Aiden di dalam genggamannya. Yang terpenting rasa cintanya yang sudah bertahun-tahun tak terbalaskan dapat dibayar dengan persatuan mereka malam ini.

-00-

Tiffany berjalan tenang menyusuri lorong-lorong sepi di dalam istana Khronos sambil menyembunyikan sebuah kantung kutukan di dalam jubah tidurnya yang panjang. Beberapa penjaga yang berjaga di sepanjang lorong istana tampak tak menaruh curiga sedikitpun pada Tiffany. Mereka justru mengangguk hormat dan sesekali menyapa Tiffany dengan ramah. Tiffany pun juga sesekali membalas sapaan mereka dengan sapaan hangat sekenanya. Tapi semua itu semata-mata untuk membangun citra dirinya dihadapan para pengawal itu agar mereka tidak mencurigainya dan tetap melihatnya sebagai wanita baik yang hangat.

“Selamat malam nona, apa yang anda lakukan di sini malam-malam seperti ini?”

Seorang pelayan berusia setengah baya berhenti sejenak di depan Tiffany sambil menyapa Tiffany ramah. Pelayan tua itu sedang membawa sepiring makanan ringan di atas nampan dan ia sepertinya baru saja keluar dari dalam kamar milik Calistha.

“Aku ingin bertemu dengan Calistha, apa ia sudah tidur?”

“Sudah nona, Yang Mulia telah terlelap sejak beberapa jam yang lalu. Saya baru saja mengambil piring berisi makanan ringan yang diinginkan nona Calistha tadi siang, tapi sepertinya nona Calistha tidak terlalu berselera karena makanan ini hanya berkurang sedikit.” Terang pelayan itu sedikit sedih. Tiffany menganggukan kepalanya mengerti. Ia kemudian segera berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada pelayan itu. Rasanya akan membuang-buang waktu jika ia terus menanggapi ucapan tidak penting pelayan tua itu dan tidak segera meletakan kantung kutukan itu di bawah ranjang Calistha. Lagipula ia yakin saat ini Yuri dan Sunny pasti tidak sedang berada di dalam kamar Calistha karena baru saja ia melihat kedua wanita itu berjalan keluar dari kamar Calistha sambil menguap lebar dan merentangkan tangannya ke udara.

Krieeettt

Perlahan-lahan Tiffany mulai membuka pintu kayu itu sambil melongokan kepalanya ke dalam. Di ujung ruangan Tiffany dapat melihat adiknya sedang tertidur lelap dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Wajah cantiknya yang biasanya selalu bersinar cerah, malam ini tampak sedikit pucat. Calistha malam ini benar-benar telah kehilangan ronanya. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat Tiffany menjadi mengurungkan niatnya untuk mencelakai Calistha, ia justru semakin berambisi untuk menyakiti Calistha setelah melihat bagaimana menderitanya Calistha hari ini karena Aiden yang tidak ada di sampingnya untuk mengucapkan berbagai kata cinta untuknya dan untuk menyambut kehadiran sang penerus yang saar ini sedang tumbuh dan berkembang di dalam rahim Calistha.

“Adikku sayang, semoga kau menjadi lebih tenang setelah beristirahat selama tiga hari. Kuyakin rasa kesalmu pada Aiden akan berkurang setelah malam ini.” Bisik Tiffany pelan sebelum menyelipkan kantung kutukan itu di bawah ranjang besar Calistha. Setelah itu Tiffany segera pergi dari kamar itu dengan seringaian penuh kepuasaan di matanya.

-00-

“Erghh..”

Calistha mengerang pelan sambil perlahan-lahan membuka matanya. Mata bulatnya yang masih belum sepenuhnya terbuka tampak mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk menyesesuaikan diri dengan suasana remang-remang yang terjadi di kamarnya. Sekilas Calistha tampak bingung dan masih mencoba membiasakan diri dengan suasana kamarnya yang baru, dan saat ia tersadar jika ia berada di dalam kamarnya sendiri, bukan di kamar Aiden, hatinya menjadi mencelos. Selama seminggu tinggal di kamar Aiden membuat Calistha telah terbiasa berada di sana. Kini terbangun di tengah-tengah kamarnya sendiri rasanya begitu aneh dan ia merasa dingin. Malam-malam yang lalu Aiden selalu ada di sampingnya untuk memeluknya dan memberikan rasa nyaman di dalam tidurnya sehingga ia tidak pernag merasa kosong seperti malam ini. Calistha kemudian mengusap setitik air mata yang turun membasahi ujung matanya dengan kasar, ia tidak boleh menangis! Ia tidak boleh terlihat lemah dan terlalu bergantung pada Aiden karena Aiden tidak selamanya ada untuknya. Aiden bisa saja pergi dari sisinya kapanpun pria itu mau, jadi ia harus bisa membesarkan hatinya sendiri dan membiasakan diri tanpa Aiden.

“Aku haus.”

Tiba-tiba Calistha menggumam pelan ketika ia merasakan kerongkongannya kering dan tercekat. Dilihatnya meja kecil di sebelah ranjangnya telah kosong, ia berasumsi jika pelayan telah membersihkan semua piring makanannya dan gelas minumnya sore tadi untuk di bawa ke dapur. Calistha kemudian menyapukan pandangannya ke seluruh sudut kamarnya yang luas, namun ia tidak dapat menemukan apa yang ia cari.

Kemana Yuri dan Sunny?

Kedua pelayannya itu tampak tak berada di dalam kamarnya, padahal mereka sudah berjanji akan menemaninya malam ini karena Aiden telah memerintahkan mereka untuk selalu menjaga Calistha dan melindungi wanita itu selama Aiden tidak berada di sisinya.

Merasa semakin haus, akhirnya Calistha memutuskan untuk mengambil minumannya sendiri di dapur. Lagipula ia sudah sering melakukannya. Ia bukan wanita manja dan lemah yang harus selalu bergantung pada pelayan. Ia adalah wanita mandiri dan kuat.

Calistha perlahan-lahan mulai berjalan menyusuri lorong yang sepi. Hari ini suasana di dalam istana tampak lebih sepi dari biasanya. Tapi kemungkinan hal itu hanya asumsinya karena selama ini ia tidak pernah berjalan-jalan di dalam istana malam-malam seperti ini. Hanya beberapa kali ia pernah berjalan keluar dari kamarnya saat dulu hubungannya dengan Aiden masih sangat buruk. Saat itu ia menemukan hal-hal aneh di luar kamarnya dan setelah itu ia memilih untuk tidak melakukan hal itu lagi jika tidak ada Yuri atau Sunny. Tapi karena sekarang ia sudah terbiasa dengan keanehan-keanehan yang terjadi di sekitarnya, rasanya hal ini sama sekali tidak menyeramkan sedikitpun. Berjalan-jalan sendiri di sepanjang lorong yang panjang benar-benar mampu memacu adrenalinnya. Selain itu ia tidak perlu memasang topeng kepalsuan dengan selalu tersenyum dengan setiap pelayan karena saat ini pelayan-pelayan itu telah tidur.

Tidak ada penjaga?

Calistha membatin pelan ketika ia berada beberapa meter dari pintu ruangan Aiden. Biasanya di samping kanan dan kiri pintu itu selalu terdapat dua orang penjaga atau tiga orang penjaga yang bertugas untuk berjaga di depan kamar Aiden. Namun kini ia mendapati pintu itu kosong tanpa kehadiran seorang pun prajurit. Merasa aneh, akhirnya Calistha memilih untuk masuk ke dalam ruangan Aiden dan melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana. Ia pikir hari ini suasana di istana juga sedikit sepi, lebih sepi dari suasana malam biasanya yang selama ini ia rasakan.

Calistha menjulurkan tangannya ke depan dan mencoba untuk mendorong pintu kayu itu perlahan. Suara derit pintu yang samar terdengar begitu jelas di telinga Calistha. Ketika ia melihat suasana gelap di kamar Aiden, sudut bibirnya tampak melengkung sedikit, membayangkan jika ia pernah menjadi bagian dari kegelapan ini. Selama satu minggu berada di dalam ruangan Aiden, nyaris setiap malam Aiden tidak pernah menyalakan penerangan di ruangannya. Pria itu benar-benar lebih menyukai kegelapan pekat daripada suasana terang yang katanya akan menyakiti matanya. Padahal menurutnya suasana terang jauh lebih baik daripada suasana gelap yang mencekam seperti ini. Tapi sekarang ia mulai terbiasa dengan suasana gelap. Ia mulai terbiasa dengan semua hal-hal yang disukai Aiden. Dan sekarang ia merasa begitu tidak sabar untuk mengejutkan Aiden dan sedikit melupakan rasa hausnya yang sejak tadi terasa mencekik kerongkongannya.

“Aiden…”

Calistha memanggil Aiden pelan. Ia mencoba mencari Aiden di sudut kanan ruangannya, tempat dimana Aiden selalu menghabiskan waktunya untuk membaca berlembar-lembar perkamen dan menyelesaikan pekerjaannya. Tapi sayangnya sudut itu kosong, hanya menyisakan satu set meja dan kursi yang tampak tak berpenghuni. Calistha kemudian berasumsi jika saat ini Aiden sedang tidur di atas ranjangnya. Pria itu meskipun terlihat kejam dan arogan, tapi ia tetap pria biasa yang membutuhkan tidur. Dulu ia sempat berpikir jika Aiden tidak membutuhkan tidur karena Aiden adalah sesosok monster baginya, dan ia pikir monster seperti Aiden tidak perlu tidur, namun ia salah. Aiden tetap saja manusia yang terkadang merasakan kesedihan dan kerapuhan, bahkan ia juga tetap pria normal yang membutuhkan wanita untuk memuaskan sisi liarnya, tapi Calistha sendiri tidak tahu apakah selama ini Aiden selalu melakukannya dengan wanita-wanita murahan di luar sana, atau hanya bersama dirinya. Yang jelas Aiden terlihat begitu hebat dan sangat berpengalaman saat bercinta bersamanya.

Calistha mengusap pipi kirinya pelan yang terasa akan terbakar. Ia benar-benar merasa malu dengan pikirannya sendiri karena ia baru saja memikirkan malam-malam panasnya bersama Aiden. Entah betapa munafiknya dirinya sekarang, karena ia telah terjebak ke dalam pesona seorang raja Aiden. Dulu ia selalu memaki pria itu dengan berbagai sumpah serapah dan hinaan yang sangat kasar terkait dengan kehidupan seksual pria itu, namun sekarang justru ia yang terkadang menggoda pria itu untuk menyentuhnya. Ah, betapa masa depan memang sulit untuk diprediksi. Setelah ini ia harus lebih berhati-hati dalam berucap karena mungkin saja ia akan termakan dengan ucapannya sendiri suatu saat nanti.

Srekk

Calistha melihat adanya pergerakan dari ranjang besar Aiden yang berada tak jauh dari meja kerjanya. Samar-samar Calistha dapat melihat gundukan besar yang tertutupi oleh selimut sedang tertidur membelakanginya. Gundukan besar itu sesekali bergerak dan setelah itu kembali tenang dengan irama nafasnya yang teratur. Merasa jika itu Aiden, Calistha pun memutuskan untuk menghampiri pria itu dan melihat bagaimana keadaan pria itu malam ini. Jujur, ia sangat merindukan Aiden karena seharian ini ia sama sekali tidak melihat Aiden. Namun ia terus berusaha membisikan kata-kata positif ke dalam benaknya jika mungkin saja Aiden sedang sibuk sehingga pria itu tidak bisa mengunjunginya dan melihat keadaannya hari ini.

Perlahan-lahan Calistha berjalan mendekat ke arah ranjang besar yang berada beberapa langkah di depannya. Namun sosok lain yang bergelung di sebelah Aiden berhasil mengejutkan Calistha dan membuat wanita itu menghentikan langkahnya seketika. Tatapan mata tak percaya langsung ia arahkan pada Aiden sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali kalau-kalau saat ini ia hanya sedang berhalusinasi. Tapi semakin lama, pemandangan di depan matanya semakin jelas terlihat dan sekarang ia benar-benar merasa yakin jika itu Aiden. Pria itu saat ini tengah dipeluk mesra oleh seorang wanita dan dengan terang-terangan wanita itu bergelung di atas tubuh Aiden untuk meminta Aiden bercinta lagi dengannya.

“Aiden… Gazelle….”

Suara lirih yang tercekat itu berhasil lolos dari bibir tipis Calistha dengan bulir-bulir air mata yang semakin lama semakin deras membanjiri wajahnya. Ini benar-benar sebuah fakta yang sangat menyakitkan untuknya. Tiba-tiba saja kepalanya menjadi pening dan kilasan-kilasan mengenai mimpi buruk yang ia coba lupakan akhir-akhir ini kembali menguar memenuhi rongga kepalanya. Rasanya ia tidak percaya jika mimpi-mimpi itu akan menjadi kenyataan seperti ini. Calistha kemudian mencoba untuk meraih apapun benda yang berada di sekitarnya untuk menjadi penyangga bagi tubuhnya yang sedikit terhuyung. Rasanya ia sangat lemas dan kakinya benar-benar sudah tidak kuat untuk menahan beban tubuhnya sendiri. Suara desahan yang saling bersahut-sahutan di dalam kamar itu menggema dengan cukup nyaring di dalam rongga telinga Calistha, membuatnya semakin merasa lemas dan mual. Pandangannya yang awalnya kabur karena air mata, kini semakin kabur dengan adanya suara-suara desahan yang menjijikan dan juga dentaman di kepalanya yang pening. Hampir saja ia akan terjatuh di atas lantai marmer kamar Aiden yang dingin, tapi sebuah tangan langsung menariknya dan membuatnya berbalik menabrak tubuh kokoh yang entah siapa saat ini berada di depannya.

Bruk

“Aw.”

Calistha merintih pelan dan ingin meronta di dalam pelukan pria itu. Tapi gerakannya langsung terhenti, karena pria itu langsung menguncinya dan membisikan kata-kata yang mengerikan di dalam telinganya.

“Pejamkan matamu, karena ini akan mengerikan.”

Crashh!
Dan darah segar langsung terciprat dengan sangat mengerikan di depannya, menciptakan bercak darah yang begitu mengerikan di atas lantai marmer putih yang bersih tak bercela. Darah itu, darah pengantar kematian.

31 thoughts on “Queen Of Time: Red Heart

  1. Ya ampun di part ini bnr” bikin nangis😭😭😭 tiffany bnr” tdk berubah padahal calista sllu menyayangi nya tapi dia malah ingin ttp melenyap kan calista.
    Dan knp jg aiden tergoda sama gazelle dan calista melihat nya😭😭 dan siapa yg mendekap calista dan siapa yg terbunuh apa gazelle semoga ajja next

  2. Jangan bilang aiden benar2 melakukannya dengan gazele?? Andwe…..aiden tdk blh msk dlm jebakan mereka. Itu siapa yg dg calistha dan terkena pedang??haduhhhhhn aiden please jgn bwt khawatir dong…gue itu suara pedang aiden yg bunuh gazele. Smga calistha gak kenapa2….next!!!!

  3. super gemashhh sama cerita nyaa kyaaa one step closer lagiii yuhuuyyy aku seneng banget thorr😂❤️👌🏼

  4. Don’t tell me…so, sekarang kayanya yang punya kemampuan liat masa depan itu Chalista, trus sebenarnya yang bareng Gazelle itu bukan Aiden, tapi “cloning-nya”, nah yang meluk Chalista di akhir itu baru Aiden. Or maybe….Spencer? Nah…

  5. Jd itu bkan aiden?? Apa mngkin spencer y?? Trus itu tiffany gmna?? Aigooo akh thor jng bkin baper brkpnjangan gni dongs… Next cpet ya

  6. Wih gazelle ma fany makin merajalela.. Mreka bhkan udh jlanin rncana mereka msing² 😱😏 Apa kntong ktukan itu nggk beraksi?? Kirain klo udh di smpn di bwh rnjng calista dia bkl tidur 3 hri?? kok dia bngun tngh malam dn ke kmr aiden?? Huwaa smoga aiden nggk bner² lakuin Itu ma gazelle 😠😏 Apa pnyihir itu dlunya ada bgian pnyihir yg ngutuk aiden dlu?? Apa aiden bunuh gazelle?? Amin 😂😂 Huwaa smoga calista nggak slhphm 😂

    Next kk.. Jgn lama² yah kk.. Fighting!!

  7. Apakah itu Spencer? Dia bunuh Gazelle dengan tangannya sendiri.. seperti perintah yang Aiden ucapkan dan yang meluk Chalista itu Aiden? 😂😂 Alhamdulillah kalo gitu 😂😂 next part DITUNGGU BANGET 😉😉

  8. Wah aku merinding bacanya thor sumpah……
    Jantungku dakdikdukduar….
    Itu yang sama gazelle spencer kan thor
    Tapi yang meluk calista itu aiden kan…… Iyakan…
    Gak sabar baca part selanjutnya TT
    DITUNGGU KELANJUTANNYA
    SEMANGAT 💪

  9. chalista sdh dikasih kutukan tp kok bisa bangun??apa kejadian itu masuk dlm mimpi chalista.yg dipenggal itu gazelle ya,jgn2 yg diranjang itu bkn aiden tp org lain.makin lama makin bikin penasaran sj.tifanny jg knp dpt patner penyihir jahat n dia jg jd tau kelemahan aiden.

  10. aduchhhh kon calista sadar jika tiffany itu jhat sichhhh
    ohoo apa yg dilakukan aiden & gazell ichhhhh
    heeemmm

  11. Siapa yg meluk calista? Aiden kah? Terus yang dibunuh itu si gezelle?
    Kayaknya tiffany salah kasih rambut, kok yoona buktinya bisa bangun? Apa jangan2 yang dikasih itu rambut dia?
    Nextnya ditunggu banget thor

  12. OMG !!!! Part terakhirnya menyeramkan …
    Darah itu ,itu darah Gazelle kan ? Ntah kenapa walaupun blm kebukti tapi yakin itu pasti Gazelle yg di penggal kepalanya sama Aiden ..trus yg part mereka bercinta (Aiden-Gazelle) itu gak bener” terjadi kan ? please jangan sampe lah ka kasian Calistha bayanginnya aja .
    Dan soal penyihir itu tadinya sempet nyangka kalau dia baik ternyata dia malah bongkar semua rahasia Aiden sama Tiffany dan malah berniat bikin Tiffany jadi anak buahnya ..huh di tunggu nextnya banget un biar gak makin bertanya-tanya nih sma kelajutan di part terakhir itu .

  13. ya..ampun kasian liat chalista, padahalkan dia lagi hamil tapi aiden ninggalin dia. juga aiden sebenarnya pun gk mau ninggalin chalista. tapi aiden takut and dia cari cara untuk bisa melindungi chalista dan sang bayi. and gazelle tiffaby emang jahat bener. tiffany uda taro obat itu. apa nanti chalista akan tertidur selama 3 hari 😨😨😨 ya..ampun dan juga gazelle emang jalang. mudah2han aja deh aiden gk naena sama gazelle. bisa aja tuh spencer and yg meluk chalista aiden. tapii yg bunuh gazelle itu siapa? aiden or….?? aduuuh penuh misteri . authornim cepat lanjut

  14. Tiffany naruh kantung kutukan kemana ya?? Salah orang dia?? Lha itu si chalista msih bisa jalan2 nog.
    trus yg lagi sama gazelle itu emang awalnya aiden, tp kyake stelah gazelle buka pkaian itu udh bukan aiden deh. Waksssss klo smpe gazelle dan tiffany slah target, aku mah cukup ngakak 😂

  15. Akhhhhh gregetan sumpah bacanya
    Aiden tega bngt sih nyakitin Calistha padahal kan Calistha lagi hamil tapi dia malah bercinta sama Gazelle akhhhh kesel sama Aiden 😠😠
    Siapa yg meluk Calistha & Apa yg terjadi sama Calistha kok ada darah ???
    Next thor

  16. Tiffany jahat, masa ga ada secuilpun rasa sayang sm calistha. Siapa lg nenek sihir tu, nambah” musuh aja
    Btw, kn kantungnya udh diletakin, tp calistha masih bangun, apa ga mempan, atau blm bereaksi?
    Apa skrg calistha bisa liat masa depan? Kalo Iya, smg dy cepat tau kebusukan tiffany
    Cowo yg sm gazelle bkn aiden kn?
    Soalnya td aiden blg dy mau ngunci pintu, tp pintunya ga kekunci
    Dan yg meluk calistha, aiden kn?
    Dan siapa yg mati di bagian akhir, gazelle kah?

    Penasaran, ditunggu lanjutannya

  17. aiden koq gitu ya niat ny sbnr ny sama gazelle tuh apa
    n siapa yg tega sama yoona ky gitu

  18. Entah harus comment apa, bner2 bikin gemes eon ff.mu , hampir semua sulit d tebak , atau karena otakku yg loading nya lama 🙂
    Terus nenek2 yg nyamar jd pelayan yg mau ngelindungi y0ong mana eon? Atau jgn2 pelayan setengah baya tadi? Adegan akhir bkin aku bingung, aku tunggu next nya aja, fighting 😀

  19. Apakah gazelle mati, alhamdulillah. Tiffany kalau bisa mati juga aja. Next calista sama aiden bersama yah chingu 😊

  20. aku yakin orang yg bersama gazelle itu spancer menyamar jdi raja aiden dan orang yg bersama ratu chalista adalah raja aiden.
    part ini semua masih ambigu ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.